Uploaded by vanyadawan2710

Radiofarmaka di Rumah Sakit: Makalah Farmasi Nuklir

advertisement
MAKALAH OBAT RADIOFARMAKA DI RUMAH SAKIT
Disusun Oleh :
1. Yosepha Oktovanya Jebe Dawan (234111210)
2. Serly Yolanda Sarong (234111204)
KELAS/SEMESTER : F/VIII
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS CITRA BANGSA
KUPANG
2026
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas berkat,
rahmat, dan penyertaan-Nya, penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Obat Radiofarmaka di Rumah
Sakit” dengan baik dan tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun sebagai salah satu bentuk pemenuhan tugas
perkuliahan sekaligus untuk menambah wawasan dan pemahaman
mengenai obat radiofarmaka yang digunakan dalam pelayanan kesehatan di
rumah sakit. Pembahasan dalam makalah ini mencakup pengertian
radiofarmaka,
jenis
dan
karakteristik
radiofarmaka,
penggunaan
radiofarmaka untuk tujuan diagnostik dan terapi, serta pengelolaan dan
pelayanan radiofarmaka di rumah sakit.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih
terdapat kekurangan, baik dari segi penyusunan maupun isi pembahasan.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun
dari pembaca demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini di masa yang
akan datang.
Penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat dan menambah
pengetahuan bagi pembaca, khususnya mengenai peran dan penggunaan
obat radiofarmaka dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Kupang, 8 Oktober 2026.
Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan telah
menghasilkan berbagai metode untuk membantu proses diagnosis dan pengobatan
penyakit. Salah satu perkembangan tersebut adalah pemanfaatan teknologi nuklir
dalam bidang kedokteran melalui penggunaan radiofarmaka. Radiofarmaka
merupakan sediaan farmasi yang mengandung radionuklida dan digunakan untuk
tujuan diagnosis maupun terapi. Penggunaan radiofarmaka menjadi salah satu
bagian penting dalam pelayanan kedokteran nuklir karena dapat memberikan
informasi mengenai fungsi dan aktivitas organ tubuh secara lebih spesifik.
Di rumah sakit, radiofarmaka digunakan terutama pada pelayanan kedokteran
nuklir untuk membantu mendeteksi, mengevaluasi, dan menangani berbagai
kondisi medis. Pada pemeriksaan diagnostik, radiofarmaka dapat digunakan untuk
menggambarkan fungsi organ seperti jantung, tulang, ginjal, tiroid, serta organ
lainnya. Berbeda dengan pemeriksaan radiologi konvensional yang umumnya
memberikan gambaran struktur anatomi, pemeriksaan kedokteran nuklir dengan
radiofarmaka dapat memberikan informasi mengenai fungsi fisiologis dan proses
metabolisme suatu organ. Hal tersebut menjadikan radiofarmaka memiliki peranan
penting dalam mendukung diagnosis dan pemantauan kondisi pasien.
Selain untuk diagnosis, beberapa radiofarmaka juga dapat digunakan dalam
terapi. Radiofarmaka terapeutik bekerja dengan memanfaatkan radiasi dari
radionuklida untuk memberikan efek pada jaringan atau sel yang menjadi target.
Salah satu contohnya adalah penggunaan radioiodin untuk terapi penyakit tertentu
pada kelenjar tiroid. Dengan demikian, pemanfaatan radiofarmaka tidak hanya
berperan dalam mengetahui adanya suatu kelainan, tetapi juga dapat digunakan
sebagai bagian dari tindakan pengobatan pada kondisi tertentu.
Penggunaan radiofarmaka di rumah sakit memerlukan perhatian khusus karena
selain memiliki karakteristik sebagai sediaan farmasi, radiofarmaka juga
mengandung bahan radioaktif. Oleh sebab itu, proses penerimaan, penyimpanan,
penyiapan, pemeriksaan mutu, penggunaan, hingga pembuangan limbah
radiofarmaka harus dilakukan sesuai dengan prosedur dan ketentuan keselamatan
radiasi. Penanganan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko paparan radiasi
terhadap pasien, tenaga kesehatan, maupun lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan
tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi serta memahami prinsip penggunaan
radiofarmaka dan keselamatan radiasi.
Pelayanan radiofarmaka di rumah sakit juga melibatkan kerja sama berbagai
tenaga kesehatan, termasuk dokter spesialis kedokteran nuklir, apoteker, tenaga
teknis kefarmasian, fisikawan medis, radiografer, perawat, serta tenaga kesehatan
lainnya. Dalam hal ini, tenaga kefarmasian memiliki peranan dalam aspek
pengelolaan sediaan radiofarmaka sesuai dengan kewenangan dan kompetensinya.
Pengelolaan tersebut perlu memperhatikan aspek mutu, keamanan, efektivitas, serta
keselamatan pasien dan petugas.
Berdasarkan uraian tersebut, pemahaman mengenai obat radiofarmaka di rumah
sakit menjadi penting bagi mahasiswa farmasi maupun tenaga kesehatan.
Pengetahuan mengenai pengertian, jenis, penggunaan, prinsip kerja, pengelolaan,
serta aspek keselamatan radiofarmaka diperlukan agar pemanfaatan radiofarmaka
dapat dilakukan secara tepat, aman, dan memberikan manfaat optimal bagi pasien.
Oleh karena itu, makalah ini membahas mengenai obat radiofarmaka di rumah
sakit, meliputi pengertian, jenis, penggunaan, pengelolaan, serta aspek keselamatan
dalam pelayanan radiofarmaka.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan obat radiofarmaka dan bagaimana konsep dasar
penggunaannya di rumah sakit?
2. Apa fungsi obat radiofarmaka serta bagaimana prinsip kerja radiofarmaka
dalam pelayanan kesehatan?
3. Bagaimana regulasi serta peraturan UU obat radiofarmaka serta bagaimana
prinsip kerja radiofarmaka dalam pelayanan kesehatan?
4. Apa saja contoh obat radiofarmaka yang digunakan di rumah sakit serta apa
kegunaan masing-masing?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian serta konsep dasar obat
radiofarmaka dan penggunaannya di rumah sakit.
2. Untuk mengetahui fungsi obat radiofarmaka serta memahami prinsip kerja
radiofarmaka dalam pelayanan kesehatan.
3. Untuk mengetahui regulasi dan peratuaran UU mengenai obat radiofarmaka
di rumah sakit.
4. Untuk mengetahui contoh obat radiofarmaka yang dapat digunakan di
rumah sakit serta kegunannya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi dan Konsep Obat Radiofarmaka
Radiofarmaka merupakan salah satu kelompok sediaan farmasi yang memiliki
karakteristik khusus karena mengandung radionuklida atau zat radioaktif yang
digunakan untuk kepentingan medis. Secara umum, radiofarmaka dapat dipahami
sebagai sediaan farmasi yang mengandung radioisotop dan digunakan untuk tujuan
diagnostik maupun terapeutik. World Health Organization (2017), menjelaskan
bahwa radiofarmaka merupakan formulasi farmasi yang terdiri atas zat radioaktif,
baik berupa radioisotop maupun molekul yang diberi label radioisotop, yang
ditujukan untuk diagnosis atau terapi.
Radiofarmaka memiliki perbedaan dengan obat konvensional. Pada obat
konvensional, efek utama umumnya diperoleh melalui aktivitas farmakologis atau
interaksi zat aktif dengan target biologis. Sementara itu, radiofarmaka
memanfaatkan karakteristik radionuklida yang dapat memancarkan radiasi. Radiasi
tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan gambaran fungsi organ atau
memberikan efek terapeutik pada jaringan tertentu. Oleh karena itu, radiofarmaka
memiliki dua aspek yang harus diperhatikan secara bersamaan, yaitu aspek
kefarmasian dan aspek keselamatan radiasi. WHO dan IAEA juga menekankan
bahwa radiofarmaka merupakan formulasi obat yang unik karena mengandung
radioisotop sehingga aspek mutu, keamanan, penyimpanan, produksi, dan
penggunaannya harus memenuhi ketentuan kefarmasian sekaligus ketentuan
mengenai bahan radioaktif.
Dalam pelayanan rumah sakit, radiofarmaka digunakan terutama pada
kedokteran nuklir. Kedokteran nuklir merupakan cabang pelayanan kedokteran
yang memanfaatkan radionuklida atau radiofarmaka untuk tujuan diagnostik dan
terapi berdasarkan proses fisiologis, patologis, metabolisme, hingga tingkat
molekuler. Dengan demikian, radiofarmaka memungkinkan tenaga medis
memperoleh informasi mengenai fungsi suatu organ, bukan hanya bentuk atau
struktur anatominya. WHO menyebutkan bahwa kedokteran nuklir dapat
membantu menggambarkan proses fisiologis di dalam tubuh dan memberikan
informasi mengenai kondisi serta fungsi berbagai organ dan jaringan.
Radiofarmaka pada umumnya terdiri atas dua komponen utama, yaitu
radionuklida dan molekul pembawa atau senyawa pembawa. Radionuklida
merupakan bagian yang menghasilkan radiasi, sedangkan molekul pembawa
berperan mengarahkan radionuklida menuju organ, jaringan, atau proses biologis
tertentu. Kombinasi keduanya memungkinkan radiofarmaka mencapai target yang
diinginkan sehingga radiasi yang dipancarkan dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan pemeriksaan maupun pengobatan.
Konsep penggunaan radiofarmaka didasarkan pada kemampuan suatu senyawa
untuk mengikuti proses biologis tertentu di dalam tubuh. Setelah radiofarmaka
diberikan kepada pasien, radiofarmaka akan terdistribusi sesuai karakteristik
biologis senyawa pembawanya. Distribusi tersebut kemudian dapat dideteksi
menggunakan peralatan kedokteran nuklir. Pada pemeriksaan diagnostik, distribusi
radiofarmaka dapat menghasilkan gambaran yang menunjukkan aktivitas atau
fungsi organ tertentu.
Radiofarmaka juga memiliki karakteristik berupa waktu paruh radioaktif.
Radionuklida akan mengalami peluruhan secara alami sehingga aktivitas
radioaktifnya berkurang seiring waktu. Karakteristik tersebut menyebabkan
beberapa radiofarmaka memiliki masa simpan yang relatif pendek dibandingkan
obat biasa. WHO menjelaskan bahwa peluruhan radionuklida dari waktu ke waktu
merupakan salah satu karakteristik paling menonjol dari radiofarmaka dan dapat
menyebabkan keterbatasan masa simpan produk.
Oleh karena itu, pengelolaan radiofarmaka di rumah sakit harus dilakukan secara
terencana. Proses mulai dari penerimaan, penyimpanan, penyiapan, pemeriksaan
kualitas, pemberian kepada pasien, hingga pengelolaan sisa atau limbah harus
memperhatikan aspek mutu obat dan keselamatan radiasi. Hal ini menjadi salah satu
alasan mengapa pelayanan radiofarmaka membutuhkan tenaga profesional dengan
kompetensi khusus serta fasilitas yang sesuai.
2.2 Fungsi dan Prinsip Kerja Obat Radiofarmaka
2.2.1 Fungsi Radiofarmaka
a) Radiofarmaka untuk diagnosis :
Radiofarmaka diagnostik digunakan untuk membantu mengetahui
kondisi dan fungsi organ atau jaringan tubuh. Setelah radiofarmaka
diberikan kepada pasien, radionuklida akan memancarkan radiasi yang
dapat dideteksi menggunakan alat tertentu. Distribusi radiofarmaka
kemudian diolah menjadi gambaran yang memberikan informasi mengenai
fungsi fisiologis organ.
Penggunaan radiofarmaka diagnostik memiliki keunggulan karena dapat
memberikan informasi fungsional. Pemeriksaan kedokteran nuklir dapat
digunakan untuk membantu mengevaluasi berbagai organ, antara lain
jantung, tulang, ginjal, hati, paru-paru, otak, dan kelenjar tiroid. Dalam
pemeriksaan tertentu, radiofarmaka dapat menunjukkan adanya perubahan
aktivitas jaringan sebelum perubahan anatomi terlihat secara jelas.
Pada pemeriksaan diagnostik, jenis radiasi yang digunakan umumnya
berupa radiasi yang dapat dideteksi dari luar tubuh. WHO menjelaskan
bahwa
sifat
sinar
gamma
yang
dipancarkan
oleh
radionuklida
memungkinkan distribusi radiofarmaka ditelusuri dan divisualisasikan
secara noninvasif sehingga memberikan informasi mengenai fungsi
jaringan atau organ target.
Salah satu teknologi yang digunakan adalah Single Photon Emission
Computed Tomography (SPECT). SPECT menggunakan deteksi foton yang
dipancarkan oleh radionuklida untuk menghasilkan gambaran distribusi
radiofarmaka dalam tubuh. Selain SPECT, terdapat Positron Emission
Tomography (PET) yang memanfaatkan radionuklida pemancar positron.
Pada PET, distribusi radiofarmaka dapat dipetakan secara tiga dimensi
sehingga dapat memberikan informasi metabolik dan fungsional yang lebih
spesifik.
b) Radiofarmaka untuk terapi :
Selain digunakan untuk diagnosis, radiofarmaka juga dapat digunakan
untuk terapi. Radiofarmaka terapeutik membawa radionuklida menuju
jaringan target dan kemudian memberikan radiasi yang dapat merusak atau
menghancurkan sel yang menjadi sasaran terapi.
Pada radiofarmaka terapeutik, radiasi yang dihasilkan harus memiliki
karakteristik yang sesuai dengan tujuan terapi. Radiasi, seperti partikel beta
pada radionuklida tertentu, dapat memberikan energi pada jaringan target
sehingga menyebabkan kerusakan pada sel. WHO menjelaskan bahwa
dalam terapi, energi radiasi dari radionuklida dapat diarahkan ke jaringan
target untuk merusak sebagian atau seluruh jaringan yang sakit.
Contoh penggunaannya adalah radioiodin pada penyakit tertentu yang
berhubungan dengan kelenjar tiroid. Radioiodin dapat dimanfaatkan karena
kelenjar tiroid secara fisiologis mengambil iodium. Dengan memanfaatkan
mekanisme tersebut, radionuklida iodium dapat terkonsentrasi pada
jaringan tiroid dan radiasinya digunakan untuk tujuan terapi.
Radiofarmaka terapeutik juga memiliki peran dalam penanganan
beberapa jenis kanker. Perkembangan kedokteran nuklir memungkinkan
penggunaan pendekatan yang lebih terarah, yaitu radionuklida dibawa
menuju target biologis tertentu sehingga efek radiasi diupayakan lebih
banyak terjadi pada jaringan sasaran.
2.2.2 Prinsip Kerja Radiofarmaka
Prinsip kerja radiofarmaka pada dasarnya melibatkan beberapa tahap. Pertama,
radiofarmaka diberikan kepada pasien melalui rute yang sesuai dengan tujuan
pemeriksaan atau terapi. Rute pemberian dapat berbeda bergantung pada jenis
radiofarmaka dan prosedur yang dilakukan.
Setelah masuk ke dalam tubuh, radiofarmaka akan mengalami distribusi.
Molekul pembawa pada radiofarmaka menentukan kecenderungan radiofarmaka
untuk mencapai organ atau jaringan tertentu. Mekanisme pelokalannya dapat terjadi
melalui proses fisiologis, metabolisme, transportasi aktif, difusi, atau interaksi
spesifik antara molekul radiofarmaka dengan target biologis.
Selanjutnya, radionuklida yang terdapat dalam radiofarmaka akan mengalami
peluruhan dan menghasilkan radiasi. Pada radiofarmaka diagnostik, radiasi tersebut
dideteksi menggunakan peralatan kedokteran nuklir. Hasil deteksi kemudian diolah
menjadi gambaran atau informasi mengenai distribusi radiofarmaka.
Pada radiofarmaka terapeutik, radiasi yang dipancarkan digunakan untuk
menghasilkan efek biologis pada jaringan target. Dengan demikian, prinsip terapi
radiofarmaka berbeda dengan diagnostik. Pada diagnostik, radiasi dimanfaatkan
terutama sebagai sinyal untuk memperoleh informasi, sedangkan pada terapi radiasi
dimanfaatkan sebagai agen untuk memberikan efek terhadap jaringan yang menjadi
sasaran.
Prinsip tersebut menyebabkan pemilihan radionuklida menjadi sangat penting.
Radionuklida untuk diagnosis harus memiliki karakteristik radiasi yang sesuai
untuk dideteksi dengan alat pencitraan serta memberikan paparan radiasi yang
dapat dikendalikan. Sementara itu, radionuklida untuk terapi harus mampu
memberikan energi yang cukup untuk menghasilkan efek terapeutik pada jaringan
target.
Karena radiofarmaka diberikan kepada pasien, aspek jaminan mutu menjadi
sangat penting. WHO menyatakan bahwa mutu radiofarmaka berhubungan
langsung dengan ketepatan diagnosis dan keamanan pasien, baik dari aspek farmasi
maupun aspek radiasi.
2.3 Regulasi dan Peraturan Perundang-Undangan Radiofarmaka
Penggunaan radiofarmaka di rumah sakit tidak dapat dilakukan secara bebas
karena radiofarmaka mengandung zat radioaktif. Oleh karena itu, penggunaannya
di Indonesia diatur melalui berbagai peraturan perundang-undangan yang
mencakup aspek ketenaganukliran, keselamatan radiasi, keamanan zat radioaktif,
pelayanan kesehatan, serta aspek kefarmasian.
2.3.1 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran
Salah satu dasar hukum utama dalam pemanfaatan tenaga nuklir di Indonesia
adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1997 tentang
Ketenaganukliran. Peraturan ini menjadi landasan hukum dalam penguasaan,
pemanfaatan, pengembangan, serta pengawasan tenaga nuklir di Indonesia.
Undang-undang tersebut menegaskan bahwa pemanfaatan tenaga nuklir harus
dilakukan dengan memperhatikan keselamatan, keamanan, kesehatan pekerja dan
masyarakat, serta perlindungan terhadap lingkungan. Hal tersebut penting karena
tenaga nuklir memiliki manfaat yang besar, tetapi juga dapat menimbulkan bahaya
apabila penggunaannya tidak dilakukan secara tepat.
Dalam konteks rumah sakit, ketentuan tersebut menjadi dasar bahwa
penggunaan radionuklida dan radiofarmaka harus dilakukan secara terkendali dan
sesuai dengan persyaratan keselamatan. Dengan demikian, rumah sakit yang
menyelenggarakan pelayanan kedokteran nuklir harus memenuhi ketentuan terkait
fasilitas, sumber daya manusia, peralatan, prosedur, serta keselamatan radiasi.
2.3.2 Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2023
Regulasi penting lainnya adalah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 45 Tahun 2023 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Zat
Radioaktif. Peraturan ini ditetapkan pada 17 Oktober 2023 dan menjadi regulasi
yang lebih baru dalam mengatur keselamatan radiasi pengion serta keamanan zat
radioaktif.
PP Nomor 45 Tahun 2023 menggantikan PP Nomor 33 Tahun 2007 yang
sebelumnya mengatur keselamatan radiasi pengion dan keamanan sumber
radioaktif. JDIH BAPETEN menyatakan bahwa PP Nomor 33 Tahun 2007 telah
dicabut oleh PP Nomor 45 Tahun 2023.
Dalam kaitannya dengan radiofarmaka, regulasi ini penting karena radiofarmaka
merupakan salah satu bentuk pemanfaatan zat radioaktif di bidang kesehatan.
Prinsip keselamatan radiasi bertujuan untuk melindungi pasien, pekerja,
masyarakat, serta lingkungan dari risiko radiasi yang tidak diperlukan.
2.3.3 Peraturan BAPETEN Nomor 6 Tahun 2020
Pada aspek produksi radionuklida untuk radiofarmaka, terdapat Peraturan Badan
Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 6 Tahun 2020 tentang Keselamatan Radiasi dalam
Produksi Radioisotop untuk Radiofarmaka. Peraturan tersebut ditetapkan pada 22
Juni 2020 dan mengatur keselamatan radiasi dalam kegiatan produksi radioisotop
yang digunakan untuk radiofarmaka.
Regulasi ini menunjukkan bahwa keselamatan tidak hanya diperhatikan ketika
radiofarmaka digunakan kepada pasien, tetapi juga sejak tahap produksi
radioisotop. Hal tersebut penting karena kualitas dan keselamatan radiofarmaka
sangat dipengaruhi oleh proses produksi, penanganan bahan radioaktif, fasilitas,
peralatan, serta kompetensi personel.
2.3.4 Peraturan BAPETETN Nomoe 4 Tahun 2013
Peraturan Kepala BAPETEN Nomor 4 Tahun 2013 tentang Keselamatan
Radiasi dalam Pemanfaatan Tenaga Nuklir yang mengatur aspek keselamatan
dalam pemanfaatan tenaga nuklir.
Dalam praktiknya, regulasi keselamatan radiasi menjadi dasar dalam penerapan
prinsip proteksi radiasi. Prinsip ini diperlukan untuk memastikan bahwa
penggunaan radiasi memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan risiko
yang ditimbulkannya.
2.4 Contoh Obat Radiofarmaka di Rumah Sakit & Kegunaanya
1. Technetium-99m (Tc-99m) :
Technetium-99m (Tc-99m) merupakan salah satu radionuklida yang
sangat banyak digunakan dalam kedokteran nuklir diagnostik. Tc-99m
dapat digunakan dalam bentuk senyawa atau kit radiofarmaka yang berbeda
sesuai dengan organ atau fungsi yang ingin diperiksa.
Tc-99m dapat digunakan dalam berbagai pemeriksaan, misalnya
pemeriksaan tulang, ginjal, jantung, hati dan sistem hepatobilier, serta organ
lainnya. Penggunaannya luas karena karakteristik fisiknya sesuai untuk
pencitraan menggunakan kamera gamma. Dalam pemeriksaan diagnostik,
distribusi Tc-99m dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas dan
fungsi jaringan target. Karena itu, Tc-99m memiliki peranan penting dalam
pemeriksaan kedokteran nuklir.
2. Fluorodeoxyglucose F-18 (18F-FDG) :
18F-fluorodeoxyglucose (18F-FDG) merupakan radiofarmaka yang
banyak digunakan dalam pemeriksaan PET. Senyawa ini merupakan analog
glukosa sehingga dapat mengikuti proses metabolisme glukosa dalam
tubuh.
18F-FDG banyak dimanfaatkan terutama dalam bidang onkologi untuk
membantu mendeteksi dan mengevaluasi jaringan dengan aktivitas
metabolisme glukosa yang meningkat. Pemeriksaan ini juga dapat
digunakan untuk membantu menilai respons terhadap terapi dan mendeteksi
kemungkinan kekambuhan penyakit. Selain dalam onkologi, 18F-FDG
dapat digunakan pada bidang tertentu seperti neurologi dan kardiologi
berdasarkan indikasi klinis.
3. Iodium-131 (I-131) :
Iodium-131 (I-131) merupakan radiofarmaka yang dapat digunakan
untuk tujuan diagnostik maupun terapeutik, tetapi sangat dikenal dalam
penggunaannya untuk terapi penyakit tiroid.
Kelenjar tiroid secara fisiologis menggunakan iodium dalam sintesis
hormon tiroid. Sifat tersebut dapat dimanfaatkan dengan memberikan
radioiodin sehingga I-131 dapat terkonsentrasi pada jaringan tiroid. Radiasi
yang dihasilkan kemudian dapat memberikan efek terapeutik terhadap
jaringan yang menjadi sasaran.
I-131 dapat digunakan pada kondisi tertentu seperti hipertiroidisme dan
kanker tiroid sesuai dengan indikasi medis. Penggunaannya harus dilakukan
secara hati-hati dengan memperhatikan dosis, kondisi pasien, proteksi
radiasi, dan prosedur keselamatan.
4. Lutetium-177 (Lu-177) :
Lutetium-177 (Lu-177) merupakan radionuklida yang dapat digunakan
untuk terapi radionuklida bertarget. Lu-177 dapat dikombinasikan dengan
molekul pembawa yang mempunyai afinitas terhadap target tertentu pada
sel penyakit.
Prinsip tersebut memungkinkan radiasi terapeutik diarahkan lebih
spesifik ke jaringan target. Penggunaan Lu-177 berkembang pada terapi
beberapa penyakit, terutama dalam bidang onkologi dan terapi radionuklida
bertarget.
5. Gallium-68 (Ga-68) :
Gallium-68 (Ga-68) merupakan radionuklida yang digunakan pada
pemeriksaan PET dengan radiofarmaka tertentu. Salah satu pemanfaatannya
adalah sebagai bagian dari radiofarmaka yang menargetkan reseptor tertentu
pada sel tumor.
Penggunaan Ga-68 berkembang dalam bidang kedokteran nuklir,
khususnya untuk pencitraan tumor tertentu. Dengan prinsip penargetan
molekuler, radiofarmaka berbasis Ga-68 dapat membantu mengidentifikasi
lokasi jaringan yang mengekspresikan target biologis tertentu.
6. Samarium-153 (Sm-153) :
Samarium-153 (Sm-153) merupakan salah satu radionuklida yang dapat
digunakan dalam radiofarmaka terapeutik. Salah satu penggunaannya
adalah untuk membantu mengurangi nyeri yang berhubungan dengan
metastasis tulang pada kondisi tertentu.
Radiofarmaka akan terlokalisasi pada area tulang yang mengalami aktivitas
tertentu sehingga radiasi yang dipancarkan dapat memberikan efek
terapeutik. Penggunaan harus dilakukan berdasarkan pertimbangan medis
dan protokol kedokteran nuklir.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Radiofarmaka merupakan sediaan farmasi yang mengandung radionuklida dan
digunakan dalam bidang kedokteran nuklir untuk tujuan diagnostik maupun
terapeutik. Radiofarmaka memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari
obat konvensional karena selain memiliki aspek farmasi, radiofarmaka juga
memiliki aspek radioaktif yang membutuhkan pengendalian dan proteksi radiasi.
Fungsi radiofarmaka dapat dibedakan menjadi dua kelompok utama, yaitu
radiofarmaka diagnostik dan radiofarmaka terapeutik. Radiofarmaka diagnostik
digunakan untuk memperoleh informasi mengenai fungsi dan aktivitas organ
melalui deteksi radiasi yang dipancarkan, sedangkan radiofarmaka terapeutik
digunakan untuk memberikan efek radiasi pada jaringan target sehingga dapat
membantu mengobati kondisi tertentu.
Prinsip kerja radiofarmaka didasarkan pada distribusi senyawa radiofarmaka di
dalam tubuh sesuai dengan karakteristik biologis dan targetnya. Pada diagnostik,
radiasi digunakan sebagai sinyal untuk menghasilkan gambaran atau informasi
fisiologis, sedangkan pada terapi radiasi digunakan untuk memberikan efek
terhadap jaringan yang menjadi target.
Penggunaan radiofarmaka di Indonesia memiliki dasar hukum yang cukup luas.
UU No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran menjadi salah satu dasar utama
pemanfaatan tenaga nuklir. Selanjutnya, PP No. 45 Tahun 2023 tentang
Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Zat Radioaktif menjadi regulasi
penting dalam aspek keselamatan radiasi dan keamanan zat radioaktif. Selain itu,
terdapat regulasi BAPETEN terkait produksi radioisotop untuk radiofarmaka serta
ketentuan
Kementerian
kedokteran nuklir.
Kesehatan
mengenai
penyelenggaraan
pelayanan
Contoh radiofarmaka yang dapat digunakan di rumah sakit antara lain Tc-99m
untuk pemeriksaan diagnostik, 18F-FDG untuk pencitraan PET, I-131 untuk
diagnosis atau terapi terutama pada kondisi tiroid tertentu, serta radionuklida seperti
Ga-68 dan Lu-177 untuk aplikasi kedokteran nuklir yang lebih spesifik. Pemilihan
radiofarmaka harus didasarkan pada indikasi medis, karakteristik radionuklida,
kondisi pasien, serta prosedur keselamatan yang berlaku.
Dengan demikian, penggunaan radiofarmaka di rumah sakit harus dilaksanakan
secara tepat, aman, dan terkendali. Pengelolaannya memerlukan kerja sama
berbagai tenaga profesional serta kepatuhan terhadap regulasi kefarmasian,
pelayanan kesehatan, dan keselamatan radiasi agar manfaat radiofarmaka dapat
diperoleh secara optimal dengan risiko yang dapat diminimalkan.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengawas Tenaga Nuklir. (1997). Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran. Jakarta: BAPETEN.
Badan Pengawas Tenaga Nuklir. (2013). Peraturan Kepala Badan Pengawas
Tenaga Nuklir Nomor 4 Tahun 2013 tentang Keselamatan Radiasi dalam
Pemanfaatan Tenaga Nuklir. Jakarta: BAPETEN.
Badan Pengawas Tenaga Nuklir. (2020). Peraturan Badan Pengawas Tenaga
Nuklir Nomor 6 Tahun 2020 tentang Keselamatan Radiasi dalam Produksi
Radioisotop untuk Radiofarmaka. Jakarta: BAPETEN.
Badan Pengawas Tenaga Nuklir. (2023). Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 45 Tahun 2023 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan
Keamanan Zat Radioaktif. Jakarta: BAPETEN.
Badan Pengawas Tenaga Nuklir. (2024). Peraturan Badan Pengawas Tenaga
Nuklir Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2024 tentang Keamanan Zat
Radioaktif. Jakarta: BAPETEN.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Standar Penetapan
Penyelenggaraan Kedokteran Nuklir. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia.
World Health Organization. (2017). Radiopharmaceuticals. Geneva: World
Health Organization.
World Health Organization. (2023). Strengthening radiopharmaceutical product
guidelines for enhanced safety and quality. Geneva: World Health Organization.
World Health Organization. (2023). Health products policy and standards:
Radiopharmaceuticals. Geneva: World Health Organization.
International Atomic Energy Agency. (2018). Radiation Protection and Safety in
Medical Uses of Ionizing Radiation. Vienna: IAEA.
Download