MAKALAH OBAT RADIOFARMAKA DI RUMAH SAKIT Disusun Oleh : 1. Yosepha Oktovanya Jebe Dawan (234111210) 2. Serly Yolanda Sarong (234111204) KELAS/SEMESTER : F/VIII PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS CITRA BANGSA KUPANG 2026 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat, rahmat, dan penyertaan-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Obat Radiofarmaka di Rumah Sakit” dengan baik dan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun sebagai salah satu bentuk pemenuhan tugas perkuliahan sekaligus untuk menambah wawasan dan pemahaman mengenai obat radiofarmaka yang digunakan dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pembahasan dalam makalah ini mencakup pengertian radiofarmaka, jenis dan karakteristik radiofarmaka, penggunaan radiofarmaka untuk tujuan diagnostik dan terapi, serta pengelolaan dan pelayanan radiofarmaka di rumah sakit. Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan, baik dari segi penyusunan maupun isi pembahasan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini di masa yang akan datang. Penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat dan menambah pengetahuan bagi pembaca, khususnya mengenai peran dan penggunaan obat radiofarmaka dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Kupang, 8 Oktober 2026. Penulis BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan telah menghasilkan berbagai metode untuk membantu proses diagnosis dan pengobatan penyakit. Salah satu perkembangan tersebut adalah pemanfaatan teknologi nuklir dalam bidang kedokteran melalui penggunaan radiofarmaka. Radiofarmaka merupakan sediaan farmasi yang mengandung radionuklida dan digunakan untuk tujuan diagnosis maupun terapi. Penggunaan radiofarmaka menjadi salah satu bagian penting dalam pelayanan kedokteran nuklir karena dapat memberikan informasi mengenai fungsi dan aktivitas organ tubuh secara lebih spesifik. Di rumah sakit, radiofarmaka digunakan terutama pada pelayanan kedokteran nuklir untuk membantu mendeteksi, mengevaluasi, dan menangani berbagai kondisi medis. Pada pemeriksaan diagnostik, radiofarmaka dapat digunakan untuk menggambarkan fungsi organ seperti jantung, tulang, ginjal, tiroid, serta organ lainnya. Berbeda dengan pemeriksaan radiologi konvensional yang umumnya memberikan gambaran struktur anatomi, pemeriksaan kedokteran nuklir dengan radiofarmaka dapat memberikan informasi mengenai fungsi fisiologis dan proses metabolisme suatu organ. Hal tersebut menjadikan radiofarmaka memiliki peranan penting dalam mendukung diagnosis dan pemantauan kondisi pasien. Selain untuk diagnosis, beberapa radiofarmaka juga dapat digunakan dalam terapi. Radiofarmaka terapeutik bekerja dengan memanfaatkan radiasi dari radionuklida untuk memberikan efek pada jaringan atau sel yang menjadi target. Salah satu contohnya adalah penggunaan radioiodin untuk terapi penyakit tertentu pada kelenjar tiroid. Dengan demikian, pemanfaatan radiofarmaka tidak hanya berperan dalam mengetahui adanya suatu kelainan, tetapi juga dapat digunakan sebagai bagian dari tindakan pengobatan pada kondisi tertentu. Penggunaan radiofarmaka di rumah sakit memerlukan perhatian khusus karena selain memiliki karakteristik sebagai sediaan farmasi, radiofarmaka juga mengandung bahan radioaktif. Oleh sebab itu, proses penerimaan, penyimpanan, penyiapan, pemeriksaan mutu, penggunaan, hingga pembuangan limbah radiofarmaka harus dilakukan sesuai dengan prosedur dan ketentuan keselamatan radiasi. Penanganan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko paparan radiasi terhadap pasien, tenaga kesehatan, maupun lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi serta memahami prinsip penggunaan radiofarmaka dan keselamatan radiasi. Pelayanan radiofarmaka di rumah sakit juga melibatkan kerja sama berbagai tenaga kesehatan, termasuk dokter spesialis kedokteran nuklir, apoteker, tenaga teknis kefarmasian, fisikawan medis, radiografer, perawat, serta tenaga kesehatan lainnya. Dalam hal ini, tenaga kefarmasian memiliki peranan dalam aspek pengelolaan sediaan radiofarmaka sesuai dengan kewenangan dan kompetensinya. Pengelolaan tersebut perlu memperhatikan aspek mutu, keamanan, efektivitas, serta keselamatan pasien dan petugas. Berdasarkan uraian tersebut, pemahaman mengenai obat radiofarmaka di rumah sakit menjadi penting bagi mahasiswa farmasi maupun tenaga kesehatan. Pengetahuan mengenai pengertian, jenis, penggunaan, prinsip kerja, pengelolaan, serta aspek keselamatan radiofarmaka diperlukan agar pemanfaatan radiofarmaka dapat dilakukan secara tepat, aman, dan memberikan manfaat optimal bagi pasien. Oleh karena itu, makalah ini membahas mengenai obat radiofarmaka di rumah sakit, meliputi pengertian, jenis, penggunaan, pengelolaan, serta aspek keselamatan dalam pelayanan radiofarmaka. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan obat radiofarmaka dan bagaimana konsep dasar penggunaannya di rumah sakit? 2. Apa fungsi obat radiofarmaka serta bagaimana prinsip kerja radiofarmaka dalam pelayanan kesehatan? 3. Bagaimana regulasi serta peraturan UU obat radiofarmaka serta bagaimana prinsip kerja radiofarmaka dalam pelayanan kesehatan? 4. Apa saja contoh obat radiofarmaka yang digunakan di rumah sakit serta apa kegunaan masing-masing? 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian serta konsep dasar obat radiofarmaka dan penggunaannya di rumah sakit. 2. Untuk mengetahui fungsi obat radiofarmaka serta memahami prinsip kerja radiofarmaka dalam pelayanan kesehatan. 3. Untuk mengetahui regulasi dan peratuaran UU mengenai obat radiofarmaka di rumah sakit. 4. Untuk mengetahui contoh obat radiofarmaka yang dapat digunakan di rumah sakit serta kegunannya. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi dan Konsep Obat Radiofarmaka Radiofarmaka merupakan salah satu kelompok sediaan farmasi yang memiliki karakteristik khusus karena mengandung radionuklida atau zat radioaktif yang digunakan untuk kepentingan medis. Secara umum, radiofarmaka dapat dipahami sebagai sediaan farmasi yang mengandung radioisotop dan digunakan untuk tujuan diagnostik maupun terapeutik. World Health Organization (2017), menjelaskan bahwa radiofarmaka merupakan formulasi farmasi yang terdiri atas zat radioaktif, baik berupa radioisotop maupun molekul yang diberi label radioisotop, yang ditujukan untuk diagnosis atau terapi. Radiofarmaka memiliki perbedaan dengan obat konvensional. Pada obat konvensional, efek utama umumnya diperoleh melalui aktivitas farmakologis atau interaksi zat aktif dengan target biologis. Sementara itu, radiofarmaka memanfaatkan karakteristik radionuklida yang dapat memancarkan radiasi. Radiasi tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan gambaran fungsi organ atau memberikan efek terapeutik pada jaringan tertentu. Oleh karena itu, radiofarmaka memiliki dua aspek yang harus diperhatikan secara bersamaan, yaitu aspek kefarmasian dan aspek keselamatan radiasi. WHO dan IAEA juga menekankan bahwa radiofarmaka merupakan formulasi obat yang unik karena mengandung radioisotop sehingga aspek mutu, keamanan, penyimpanan, produksi, dan penggunaannya harus memenuhi ketentuan kefarmasian sekaligus ketentuan mengenai bahan radioaktif. Dalam pelayanan rumah sakit, radiofarmaka digunakan terutama pada kedokteran nuklir. Kedokteran nuklir merupakan cabang pelayanan kedokteran yang memanfaatkan radionuklida atau radiofarmaka untuk tujuan diagnostik dan terapi berdasarkan proses fisiologis, patologis, metabolisme, hingga tingkat molekuler. Dengan demikian, radiofarmaka memungkinkan tenaga medis memperoleh informasi mengenai fungsi suatu organ, bukan hanya bentuk atau struktur anatominya. WHO menyebutkan bahwa kedokteran nuklir dapat membantu menggambarkan proses fisiologis di dalam tubuh dan memberikan informasi mengenai kondisi serta fungsi berbagai organ dan jaringan. Radiofarmaka pada umumnya terdiri atas dua komponen utama, yaitu radionuklida dan molekul pembawa atau senyawa pembawa. Radionuklida merupakan bagian yang menghasilkan radiasi, sedangkan molekul pembawa berperan mengarahkan radionuklida menuju organ, jaringan, atau proses biologis tertentu. Kombinasi keduanya memungkinkan radiofarmaka mencapai target yang diinginkan sehingga radiasi yang dipancarkan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pemeriksaan maupun pengobatan. Konsep penggunaan radiofarmaka didasarkan pada kemampuan suatu senyawa untuk mengikuti proses biologis tertentu di dalam tubuh. Setelah radiofarmaka diberikan kepada pasien, radiofarmaka akan terdistribusi sesuai karakteristik biologis senyawa pembawanya. Distribusi tersebut kemudian dapat dideteksi menggunakan peralatan kedokteran nuklir. Pada pemeriksaan diagnostik, distribusi radiofarmaka dapat menghasilkan gambaran yang menunjukkan aktivitas atau fungsi organ tertentu. Radiofarmaka juga memiliki karakteristik berupa waktu paruh radioaktif. Radionuklida akan mengalami peluruhan secara alami sehingga aktivitas radioaktifnya berkurang seiring waktu. Karakteristik tersebut menyebabkan beberapa radiofarmaka memiliki masa simpan yang relatif pendek dibandingkan obat biasa. WHO menjelaskan bahwa peluruhan radionuklida dari waktu ke waktu merupakan salah satu karakteristik paling menonjol dari radiofarmaka dan dapat menyebabkan keterbatasan masa simpan produk. Oleh karena itu, pengelolaan radiofarmaka di rumah sakit harus dilakukan secara terencana. Proses mulai dari penerimaan, penyimpanan, penyiapan, pemeriksaan kualitas, pemberian kepada pasien, hingga pengelolaan sisa atau limbah harus memperhatikan aspek mutu obat dan keselamatan radiasi. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa pelayanan radiofarmaka membutuhkan tenaga profesional dengan kompetensi khusus serta fasilitas yang sesuai. 2.2 Fungsi dan Prinsip Kerja Obat Radiofarmaka 2.2.1 Fungsi Radiofarmaka a) Radiofarmaka untuk diagnosis : Radiofarmaka diagnostik digunakan untuk membantu mengetahui kondisi dan fungsi organ atau jaringan tubuh. Setelah radiofarmaka diberikan kepada pasien, radionuklida akan memancarkan radiasi yang dapat dideteksi menggunakan alat tertentu. Distribusi radiofarmaka kemudian diolah menjadi gambaran yang memberikan informasi mengenai fungsi fisiologis organ. Penggunaan radiofarmaka diagnostik memiliki keunggulan karena dapat memberikan informasi fungsional. Pemeriksaan kedokteran nuklir dapat digunakan untuk membantu mengevaluasi berbagai organ, antara lain jantung, tulang, ginjal, hati, paru-paru, otak, dan kelenjar tiroid. Dalam pemeriksaan tertentu, radiofarmaka dapat menunjukkan adanya perubahan aktivitas jaringan sebelum perubahan anatomi terlihat secara jelas. Pada pemeriksaan diagnostik, jenis radiasi yang digunakan umumnya berupa radiasi yang dapat dideteksi dari luar tubuh. WHO menjelaskan bahwa sifat sinar gamma yang dipancarkan oleh radionuklida memungkinkan distribusi radiofarmaka ditelusuri dan divisualisasikan secara noninvasif sehingga memberikan informasi mengenai fungsi jaringan atau organ target. Salah satu teknologi yang digunakan adalah Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT). SPECT menggunakan deteksi foton yang dipancarkan oleh radionuklida untuk menghasilkan gambaran distribusi radiofarmaka dalam tubuh. Selain SPECT, terdapat Positron Emission Tomography (PET) yang memanfaatkan radionuklida pemancar positron. Pada PET, distribusi radiofarmaka dapat dipetakan secara tiga dimensi sehingga dapat memberikan informasi metabolik dan fungsional yang lebih spesifik. b) Radiofarmaka untuk terapi : Selain digunakan untuk diagnosis, radiofarmaka juga dapat digunakan untuk terapi. Radiofarmaka terapeutik membawa radionuklida menuju jaringan target dan kemudian memberikan radiasi yang dapat merusak atau menghancurkan sel yang menjadi sasaran terapi. Pada radiofarmaka terapeutik, radiasi yang dihasilkan harus memiliki karakteristik yang sesuai dengan tujuan terapi. Radiasi, seperti partikel beta pada radionuklida tertentu, dapat memberikan energi pada jaringan target sehingga menyebabkan kerusakan pada sel. WHO menjelaskan bahwa dalam terapi, energi radiasi dari radionuklida dapat diarahkan ke jaringan target untuk merusak sebagian atau seluruh jaringan yang sakit. Contoh penggunaannya adalah radioiodin pada penyakit tertentu yang berhubungan dengan kelenjar tiroid. Radioiodin dapat dimanfaatkan karena kelenjar tiroid secara fisiologis mengambil iodium. Dengan memanfaatkan mekanisme tersebut, radionuklida iodium dapat terkonsentrasi pada jaringan tiroid dan radiasinya digunakan untuk tujuan terapi. Radiofarmaka terapeutik juga memiliki peran dalam penanganan beberapa jenis kanker. Perkembangan kedokteran nuklir memungkinkan penggunaan pendekatan yang lebih terarah, yaitu radionuklida dibawa menuju target biologis tertentu sehingga efek radiasi diupayakan lebih banyak terjadi pada jaringan sasaran. 2.2.2 Prinsip Kerja Radiofarmaka Prinsip kerja radiofarmaka pada dasarnya melibatkan beberapa tahap. Pertama, radiofarmaka diberikan kepada pasien melalui rute yang sesuai dengan tujuan pemeriksaan atau terapi. Rute pemberian dapat berbeda bergantung pada jenis radiofarmaka dan prosedur yang dilakukan. Setelah masuk ke dalam tubuh, radiofarmaka akan mengalami distribusi. Molekul pembawa pada radiofarmaka menentukan kecenderungan radiofarmaka untuk mencapai organ atau jaringan tertentu. Mekanisme pelokalannya dapat terjadi melalui proses fisiologis, metabolisme, transportasi aktif, difusi, atau interaksi spesifik antara molekul radiofarmaka dengan target biologis. Selanjutnya, radionuklida yang terdapat dalam radiofarmaka akan mengalami peluruhan dan menghasilkan radiasi. Pada radiofarmaka diagnostik, radiasi tersebut dideteksi menggunakan peralatan kedokteran nuklir. Hasil deteksi kemudian diolah menjadi gambaran atau informasi mengenai distribusi radiofarmaka. Pada radiofarmaka terapeutik, radiasi yang dipancarkan digunakan untuk menghasilkan efek biologis pada jaringan target. Dengan demikian, prinsip terapi radiofarmaka berbeda dengan diagnostik. Pada diagnostik, radiasi dimanfaatkan terutama sebagai sinyal untuk memperoleh informasi, sedangkan pada terapi radiasi dimanfaatkan sebagai agen untuk memberikan efek terhadap jaringan yang menjadi sasaran. Prinsip tersebut menyebabkan pemilihan radionuklida menjadi sangat penting. Radionuklida untuk diagnosis harus memiliki karakteristik radiasi yang sesuai untuk dideteksi dengan alat pencitraan serta memberikan paparan radiasi yang dapat dikendalikan. Sementara itu, radionuklida untuk terapi harus mampu memberikan energi yang cukup untuk menghasilkan efek terapeutik pada jaringan target. Karena radiofarmaka diberikan kepada pasien, aspek jaminan mutu menjadi sangat penting. WHO menyatakan bahwa mutu radiofarmaka berhubungan langsung dengan ketepatan diagnosis dan keamanan pasien, baik dari aspek farmasi maupun aspek radiasi. 2.3 Regulasi dan Peraturan Perundang-Undangan Radiofarmaka Penggunaan radiofarmaka di rumah sakit tidak dapat dilakukan secara bebas karena radiofarmaka mengandung zat radioaktif. Oleh karena itu, penggunaannya di Indonesia diatur melalui berbagai peraturan perundang-undangan yang mencakup aspek ketenaganukliran, keselamatan radiasi, keamanan zat radioaktif, pelayanan kesehatan, serta aspek kefarmasian. 2.3.1 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran Salah satu dasar hukum utama dalam pemanfaatan tenaga nuklir di Indonesia adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran. Peraturan ini menjadi landasan hukum dalam penguasaan, pemanfaatan, pengembangan, serta pengawasan tenaga nuklir di Indonesia. Undang-undang tersebut menegaskan bahwa pemanfaatan tenaga nuklir harus dilakukan dengan memperhatikan keselamatan, keamanan, kesehatan pekerja dan masyarakat, serta perlindungan terhadap lingkungan. Hal tersebut penting karena tenaga nuklir memiliki manfaat yang besar, tetapi juga dapat menimbulkan bahaya apabila penggunaannya tidak dilakukan secara tepat. Dalam konteks rumah sakit, ketentuan tersebut menjadi dasar bahwa penggunaan radionuklida dan radiofarmaka harus dilakukan secara terkendali dan sesuai dengan persyaratan keselamatan. Dengan demikian, rumah sakit yang menyelenggarakan pelayanan kedokteran nuklir harus memenuhi ketentuan terkait fasilitas, sumber daya manusia, peralatan, prosedur, serta keselamatan radiasi. 2.3.2 Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2023 Regulasi penting lainnya adalah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2023 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Zat Radioaktif. Peraturan ini ditetapkan pada 17 Oktober 2023 dan menjadi regulasi yang lebih baru dalam mengatur keselamatan radiasi pengion serta keamanan zat radioaktif. PP Nomor 45 Tahun 2023 menggantikan PP Nomor 33 Tahun 2007 yang sebelumnya mengatur keselamatan radiasi pengion dan keamanan sumber radioaktif. JDIH BAPETEN menyatakan bahwa PP Nomor 33 Tahun 2007 telah dicabut oleh PP Nomor 45 Tahun 2023. Dalam kaitannya dengan radiofarmaka, regulasi ini penting karena radiofarmaka merupakan salah satu bentuk pemanfaatan zat radioaktif di bidang kesehatan. Prinsip keselamatan radiasi bertujuan untuk melindungi pasien, pekerja, masyarakat, serta lingkungan dari risiko radiasi yang tidak diperlukan. 2.3.3 Peraturan BAPETEN Nomor 6 Tahun 2020 Pada aspek produksi radionuklida untuk radiofarmaka, terdapat Peraturan Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 6 Tahun 2020 tentang Keselamatan Radiasi dalam Produksi Radioisotop untuk Radiofarmaka. Peraturan tersebut ditetapkan pada 22 Juni 2020 dan mengatur keselamatan radiasi dalam kegiatan produksi radioisotop yang digunakan untuk radiofarmaka. Regulasi ini menunjukkan bahwa keselamatan tidak hanya diperhatikan ketika radiofarmaka digunakan kepada pasien, tetapi juga sejak tahap produksi radioisotop. Hal tersebut penting karena kualitas dan keselamatan radiofarmaka sangat dipengaruhi oleh proses produksi, penanganan bahan radioaktif, fasilitas, peralatan, serta kompetensi personel. 2.3.4 Peraturan BAPETETN Nomoe 4 Tahun 2013 Peraturan Kepala BAPETEN Nomor 4 Tahun 2013 tentang Keselamatan Radiasi dalam Pemanfaatan Tenaga Nuklir yang mengatur aspek keselamatan dalam pemanfaatan tenaga nuklir. Dalam praktiknya, regulasi keselamatan radiasi menjadi dasar dalam penerapan prinsip proteksi radiasi. Prinsip ini diperlukan untuk memastikan bahwa penggunaan radiasi memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan risiko yang ditimbulkannya. 2.4 Contoh Obat Radiofarmaka di Rumah Sakit & Kegunaanya 1. Technetium-99m (Tc-99m) : Technetium-99m (Tc-99m) merupakan salah satu radionuklida yang sangat banyak digunakan dalam kedokteran nuklir diagnostik. Tc-99m dapat digunakan dalam bentuk senyawa atau kit radiofarmaka yang berbeda sesuai dengan organ atau fungsi yang ingin diperiksa. Tc-99m dapat digunakan dalam berbagai pemeriksaan, misalnya pemeriksaan tulang, ginjal, jantung, hati dan sistem hepatobilier, serta organ lainnya. Penggunaannya luas karena karakteristik fisiknya sesuai untuk pencitraan menggunakan kamera gamma. Dalam pemeriksaan diagnostik, distribusi Tc-99m dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas dan fungsi jaringan target. Karena itu, Tc-99m memiliki peranan penting dalam pemeriksaan kedokteran nuklir. 2. Fluorodeoxyglucose F-18 (18F-FDG) : 18F-fluorodeoxyglucose (18F-FDG) merupakan radiofarmaka yang banyak digunakan dalam pemeriksaan PET. Senyawa ini merupakan analog glukosa sehingga dapat mengikuti proses metabolisme glukosa dalam tubuh. 18F-FDG banyak dimanfaatkan terutama dalam bidang onkologi untuk membantu mendeteksi dan mengevaluasi jaringan dengan aktivitas metabolisme glukosa yang meningkat. Pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk membantu menilai respons terhadap terapi dan mendeteksi kemungkinan kekambuhan penyakit. Selain dalam onkologi, 18F-FDG dapat digunakan pada bidang tertentu seperti neurologi dan kardiologi berdasarkan indikasi klinis. 3. Iodium-131 (I-131) : Iodium-131 (I-131) merupakan radiofarmaka yang dapat digunakan untuk tujuan diagnostik maupun terapeutik, tetapi sangat dikenal dalam penggunaannya untuk terapi penyakit tiroid. Kelenjar tiroid secara fisiologis menggunakan iodium dalam sintesis hormon tiroid. Sifat tersebut dapat dimanfaatkan dengan memberikan radioiodin sehingga I-131 dapat terkonsentrasi pada jaringan tiroid. Radiasi yang dihasilkan kemudian dapat memberikan efek terapeutik terhadap jaringan yang menjadi sasaran. I-131 dapat digunakan pada kondisi tertentu seperti hipertiroidisme dan kanker tiroid sesuai dengan indikasi medis. Penggunaannya harus dilakukan secara hati-hati dengan memperhatikan dosis, kondisi pasien, proteksi radiasi, dan prosedur keselamatan. 4. Lutetium-177 (Lu-177) : Lutetium-177 (Lu-177) merupakan radionuklida yang dapat digunakan untuk terapi radionuklida bertarget. Lu-177 dapat dikombinasikan dengan molekul pembawa yang mempunyai afinitas terhadap target tertentu pada sel penyakit. Prinsip tersebut memungkinkan radiasi terapeutik diarahkan lebih spesifik ke jaringan target. Penggunaan Lu-177 berkembang pada terapi beberapa penyakit, terutama dalam bidang onkologi dan terapi radionuklida bertarget. 5. Gallium-68 (Ga-68) : Gallium-68 (Ga-68) merupakan radionuklida yang digunakan pada pemeriksaan PET dengan radiofarmaka tertentu. Salah satu pemanfaatannya adalah sebagai bagian dari radiofarmaka yang menargetkan reseptor tertentu pada sel tumor. Penggunaan Ga-68 berkembang dalam bidang kedokteran nuklir, khususnya untuk pencitraan tumor tertentu. Dengan prinsip penargetan molekuler, radiofarmaka berbasis Ga-68 dapat membantu mengidentifikasi lokasi jaringan yang mengekspresikan target biologis tertentu. 6. Samarium-153 (Sm-153) : Samarium-153 (Sm-153) merupakan salah satu radionuklida yang dapat digunakan dalam radiofarmaka terapeutik. Salah satu penggunaannya adalah untuk membantu mengurangi nyeri yang berhubungan dengan metastasis tulang pada kondisi tertentu. Radiofarmaka akan terlokalisasi pada area tulang yang mengalami aktivitas tertentu sehingga radiasi yang dipancarkan dapat memberikan efek terapeutik. Penggunaan harus dilakukan berdasarkan pertimbangan medis dan protokol kedokteran nuklir. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Radiofarmaka merupakan sediaan farmasi yang mengandung radionuklida dan digunakan dalam bidang kedokteran nuklir untuk tujuan diagnostik maupun terapeutik. Radiofarmaka memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari obat konvensional karena selain memiliki aspek farmasi, radiofarmaka juga memiliki aspek radioaktif yang membutuhkan pengendalian dan proteksi radiasi. Fungsi radiofarmaka dapat dibedakan menjadi dua kelompok utama, yaitu radiofarmaka diagnostik dan radiofarmaka terapeutik. Radiofarmaka diagnostik digunakan untuk memperoleh informasi mengenai fungsi dan aktivitas organ melalui deteksi radiasi yang dipancarkan, sedangkan radiofarmaka terapeutik digunakan untuk memberikan efek radiasi pada jaringan target sehingga dapat membantu mengobati kondisi tertentu. Prinsip kerja radiofarmaka didasarkan pada distribusi senyawa radiofarmaka di dalam tubuh sesuai dengan karakteristik biologis dan targetnya. Pada diagnostik, radiasi digunakan sebagai sinyal untuk menghasilkan gambaran atau informasi fisiologis, sedangkan pada terapi radiasi digunakan untuk memberikan efek terhadap jaringan yang menjadi target. Penggunaan radiofarmaka di Indonesia memiliki dasar hukum yang cukup luas. UU No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran menjadi salah satu dasar utama pemanfaatan tenaga nuklir. Selanjutnya, PP No. 45 Tahun 2023 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Zat Radioaktif menjadi regulasi penting dalam aspek keselamatan radiasi dan keamanan zat radioaktif. Selain itu, terdapat regulasi BAPETEN terkait produksi radioisotop untuk radiofarmaka serta ketentuan Kementerian kedokteran nuklir. Kesehatan mengenai penyelenggaraan pelayanan Contoh radiofarmaka yang dapat digunakan di rumah sakit antara lain Tc-99m untuk pemeriksaan diagnostik, 18F-FDG untuk pencitraan PET, I-131 untuk diagnosis atau terapi terutama pada kondisi tiroid tertentu, serta radionuklida seperti Ga-68 dan Lu-177 untuk aplikasi kedokteran nuklir yang lebih spesifik. Pemilihan radiofarmaka harus didasarkan pada indikasi medis, karakteristik radionuklida, kondisi pasien, serta prosedur keselamatan yang berlaku. Dengan demikian, penggunaan radiofarmaka di rumah sakit harus dilaksanakan secara tepat, aman, dan terkendali. Pengelolaannya memerlukan kerja sama berbagai tenaga profesional serta kepatuhan terhadap regulasi kefarmasian, pelayanan kesehatan, dan keselamatan radiasi agar manfaat radiofarmaka dapat diperoleh secara optimal dengan risiko yang dapat diminimalkan. DAFTAR PUSTAKA Badan Pengawas Tenaga Nuklir. (1997). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran. Jakarta: BAPETEN. Badan Pengawas Tenaga Nuklir. (2013). Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 4 Tahun 2013 tentang Keselamatan Radiasi dalam Pemanfaatan Tenaga Nuklir. Jakarta: BAPETEN. Badan Pengawas Tenaga Nuklir. (2020). Peraturan Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 6 Tahun 2020 tentang Keselamatan Radiasi dalam Produksi Radioisotop untuk Radiofarmaka. Jakarta: BAPETEN. Badan Pengawas Tenaga Nuklir. (2023). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2023 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Zat Radioaktif. Jakarta: BAPETEN. Badan Pengawas Tenaga Nuklir. (2024). Peraturan Badan Pengawas Tenaga Nuklir Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2024 tentang Keamanan Zat Radioaktif. Jakarta: BAPETEN. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Standar Penetapan Penyelenggaraan Kedokteran Nuklir. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. World Health Organization. (2017). Radiopharmaceuticals. Geneva: World Health Organization. World Health Organization. (2023). Strengthening radiopharmaceutical product guidelines for enhanced safety and quality. Geneva: World Health Organization. World Health Organization. (2023). Health products policy and standards: Radiopharmaceuticals. Geneva: World Health Organization. International Atomic Energy Agency. (2018). Radiation Protection and Safety in Medical Uses of Ionizing Radiation. Vienna: IAEA.