LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA 1 VEKTOR PARALELOGRAM (LABORATORIUM DESAIN MEKANIK) Disusun Oleh FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS JEMBER 2025 BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Vektor adalah salah satu konsep dasar yang sangat penting dalam pembelajaran fisika karena hampir seluruh besaran fisis seperti gaya, kecepatan, dan percepatan memerlukan representasi besar sekaligus arah. Untuk menjumlahkan besaran vektor, tidak dapat dilakukan secara aritmetika biasa karena arahnya harus diperhatikan. Salah satu metode yang umum digunakan adalah hukum paralelogram vektor. Vektor memiliki dua unsur penting yaitu besar dan arah, dan konsep ini memainkan peran krusial dalam berbagai aplikasi ilmu pengetahuan dan teknik, salah satu topik utama dalam materi vektor adalah penentuan resultan gaya, yaitu gaya tunggal yang mewakili efek gabungan dari beberapa gaya yang bekerja pada suatu benda, yang secara umum dapat ditentukan melalui metode grafis (poligon dan jajargenjang/paralelogram) maupun metode analitis. Selain sudut antara gaya, besaran massa benda turut memengaruhi besar resultan yang dihasilkan, sehingga pemahaman terhadap keduanya menjadi penting dalam menganalisis vektor gaya (Sipayanti dkk., 2024). Praktikum ini bertujuan untuk memverifikasi hukum tersebut dan memahami penerapannya dalam permasalahan gaya seimbang. Melalui praktikum vektor, mahasiswa berkesempatan untuk memahami penerapan konsep ini secara nyata. Sejalan dengan perkembangan pendidikan fisika, berbagai penelitian terbaru juga menekankan pentingnya pemahaman konsep vektor melalui pendekatan praktikum maupun digital. Praktikum virtual berbasis Problem Solving Lab (PSL) juga efektif membantu mahasiswa memahami konsep arah dan resultan gaya (Rahmawati, 2025). Integrasi simulasi teknologi pendidikan terbukti meningkatkan pemahaman operasi vektor mahasiswa (Prabowo & Nurhidayah, 2024).. Pengembangan media pembelajaran berbasis saintifik maupun media digital interaktif, seperti VirtumFi, dinilai valid, praktis, dan mampu meningkatkan pemahaman konsep penguraian vektor (Sari & Andriani, 2023; Putri et al., 2022). Selain itu, penggunaan video pembelajaran (Kurniawan, 2021). Dan penerapan model Problem Based Learning (PBL) terbukti mampu meningkatkan motivasi, keaktifan, dan hasil belajar siswa dalam memahami vektor (Hidayat & Mulyani, 2020). Praktikum vektor memiliki peran yang sangat penting, tidak hanya untuk memperkuat pemahaman konsep dasar, tetapi juga untuk mengembangkan keterampilan analisis dan berpikir kritis. Melalui pendekatan praktikum langsung maupun integrasi teknologi terbaru, mahasiswa dapat memperoleh bekal nyata untuk memahami serta memecahkan persoalan dalam bidang fisika maupun teknik secara lebih efektif. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana cara menentukan resultan vektor dari gaya-gaya yang bekerja pada suatu titik? 2. Bagaimana cara mengetahui besar sudut yang terbentuk akibat perubahan nilai tegangan tali pada katrol sejajar dan tidak sejajar? 3. Bagaimana cara menganalisis distribusi gaya pada suatu rangkaian tegangan tali pada katrol sejajar dan tidak sejajar? 1.3 Tujuan dan Manfaat 1.3.1 Tujuan Tujuan dalam praktikum fisika dasar mengenai Vektor Parallelogram adalah sebagai berikut : a. Mahasiswa mempelajari cara menentukan resultan vektor dari gaya-gaya yang bekerja pada suatu titik. b. Mahasiswa mengetahui sudut yang terbentuk akibat perubahan nilai tegangan tali pada katrol sejajar dan tidak sejajar. c. Mahasiswa menganalisis distribusi gaya pada suatu rangkaian tegangan tali pada katrol sejajar dan tidak sejajar. 1.3.2 Manfaat Tujuan dalam praktikum fisika dasar mengenai Vektor Paralelogram adalah sebagai berikut : a. Mahasiswa mempelajari cara menentukan resultan vektor dari gaya-gaya yang bekerja pada suatu titik. b. Mahasiswa mengetahui sudut yang terbentuk akibat perubahan nilai tegangan tali pada katrol sejajar dan tidak sejajar. c. Mahasiswa menganalisis distribusi gaya pada suatu rangkaian tegangan tali pada katrol sejajar dan tidak sejajar. BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Vektor Vektor merupakan salah satu konsep fundamental dalam fisika karena banyak besaran, seperti perpindahan, kecepatan, percepatan, dan gaya, direpresentasikan dalam bentuk vektor. Berbeda dengan skalar yang hanya memiliki besar, vektor memiliki magnitude dan arah, sehingga pemahaman konsep ini menjadi prasyarat untuk mempelajari materi fisika lebih lanjut. Representasi vektor dapat dilakukan melalui diagram panah maupun bentuk komponen pada koordinat kartesius, yang memudahkan analisis perhitungan (Prabowo & Nurhidayah, 2024). Metode komponen merupakan cara sistematis untuk menjumlahkan atau menguraikan vektor dengan menggunakan sumbu koordinat kartesius. Setiap vektor dapat diuraikan menjadi komponen sumbu-x dan sumbu-y dengan bantuan fungsi trigonometri. Jika sebuah vektor A→ memiliki besar A dan arah sudut θ terhadap sumbu-x, maka komponennya adalah: Ax = A cos cos θ dan Ay = A sin sin θ …………....(2.1) Keterangan: A = besar dari vector. π = sudut yang dibentuk vektor A terhadap sumbu-x positif. π΄π₯ = komponen vektor A pada arah sumbu-x (horizontal). π΄π¦ = komponen vektor A pada arah sumbu-y (vertikal). 2.2 Penjumlahan Vektor Penjumlahan vektor merupakan proses menggabungkan dua atau lebih vektor untuk memperoleh sebuah vektor tunggal yang disebut resultan. Proses ini dapat dilakukan dengan metode grafis maupun analitis. Metode grafis biasanya menggunakan segitiga, jajar genjang, dan poligon, sedangkan metode analitis dilakukan dengan menguraikan vektor ke dalam komponen kartesius. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemahaman konsep penjumlahan vektor masih menjadi tantangan bagi mahasiswa, terutama dalam menghubungkan representasi matematis dengan representasi fisik (Rizki et al., 2021). 2.3 Metode Jajargenjang Penjumlahan dua vektor a dan b dengan metode jajargenjang dilakukan dengan menggambar vektor a dan b pada satu titik tangkap, kemudian dibuat garis pertolongan sehingga dua vektor dan garis pertolongan tadi berbentuk jajargenjang. Vektor yang didapat dari titik tangkap kedua vektor ke ujung adalah vektor hasil penjumlahannya. Pengurangan vektor sama dengan penjumlahan dengan vektor negatifnya perhatikan pada Gambar 2.1. Gambar 2.1 Penjumlahan Vektor dengan Metode Jajargenjang (Sumber: https://www.fisikane.web.id/2021/09/penjumlahan-vektor.html) Hitungan untuk besarnya vector: R = π = |π | √π΄2 + π΅ + 2π΄π΅πππ π =…………..…….(2.2) Keterangan: π = Sudut yang terbentuk oleh vektor A dan B 2.4 Metode Segitiga Metode segitiga dilakukan dengan meletakkan pangkal vektor kedua pada ujung vektor pertama. Resultan vektor kemudian ditarik dari pangkal vektor pertama ke ujung vektor terakhir. Metode ini efektif digunakan untuk menjumlahkan dua vektor dan sering dipakai dalam pembelajaran karena bentuknya sederhana (Wahyuni, 2022). Gambar 2.2 Resultan vektor dengan metode segitiga (Sumber: https://idschool.net/sma/penjumlahan-dan-pengurangan-vektor-serta-sifatsifatnya/) 2.5 Metode Poligon (Segi Banyak) Metode poligon digunakan ketika menjumlahkan lebih dari dua vektor. Caranya dengan menempatkan setiap vektor secara berurutan, di mana pangkal vektor berikutnya diletakkan pada ujung vektor sebelumnya. Resultan digambarkan sebagai garis dari pangkal vektor pertama ke ujung vektor terakhir. (Sari dan Andriani, 2023). Menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran digital berbasis poligon dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa dalam menjumlahkan banyak vektor sekaligus. π = π΄ + π΅ + πΆ…………………………..(2.3) 2.6 Metode Uraian Metode uraian atau metode komponen dilakukan dengan menguraikan vektor ke dalam komponen sumbu-x dan sumbu-y. Seluruh komponen pada sumbu-x dijumlahkan, begitu pula komponen pada sumbu-y. Besar resultan ditentukan dengan teorema Pythagoras, sedangkan arah ditentukan oleh fungsi trigonometri. BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum vektor dilaksanakan pada hari Jumat, 11 September 2026 pada pukul 15.10 - 17.50 di Laboratorium Desain Mekanik, Gedung IsDB, Fakultas teknik, Universitas Jember. 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat a. Papan gaya Papan gaya atau force table adalah salah satu alat praktikum fisika yang digunakan untuk mempelajari konsep vektor gaya dan resultannya. Alat ini biasanya terdiri dari beberapa katrol yang dapat dipindahkan, tali, serta beban sebagai sumber gaya. Gambar 3.1 Papan gaya b. Busur derajat Busur derajat adalah alat ukur sudut yang berbentuk setengah lingkaran (180°) atau lingkaran penuh (360°), digunakan untuk mengukur besar sudut dalam satuan derajat. Dalam praktikum fisika, busur derajat sering digunakan untuk menentukan arah atau sudut suatu vektor, misalnya pada percobaan penjumlahan vektor dengan metode grafis atau saat menggunakan papan gaya (force table). Ketelitian penggunaan busur derajat menentukan keakuratan hasil percobaan karena kesalahan pengukuran sudut akan berpengaruh langsung terhadap hasil perhitungan resultan vektor (Rahmawati, 2025). Gambar 3.2 Busur derajat c. Tali Tali dalam praktikum fisika merupakan media perantara gaya yang berfungsi untuk meneruskan tarikan atau tegangan dari beban menuju alat percobaan. Pada praktikum vektor menggunakan papan gaya (force table), tali digunakan untuk menyalurkan gaya dari beban yang digantung melalui katrol hingga mencapai cincin pada pusat papan gaya. Keberadaan tali memungkinkan gaya dari berbagai arah dapat dianalisis secara akurat sehingga mahasiswa dapat mengamati prinsip keseimbangan dan resultan gaya secara langsung (Rizki, Nugraha, & Sari, 2021). Gambar 3.3 Tali 3.2.2 Bahan a. Beban Beban dalam praktikum fisika adalah massa yang digunakan sebagai sumber gaya melalui pengaruh gravitasi. Secara prinsip, beban berupa benda bermassa tertentu yang ketika digantung akan menghasilkan gaya berat dengan persamaan π = π ⋅ π di mana π adalah massa beban dan π adalah percepatan gravitasi. Dalam praktikum vektor, khususnya menggunakan papan gaya (force table), beban berfungsi untuk memberikan gaya yang diteruskan melalui tali dan katrol menuju pusat papan gaya sehingga dapat dipelajari resultan dan keseimbangan gaya (Rizki, Nugraha, & Sari, 2021). Gambar 3.3 Beban 3.3 Prosedur Praktikum 3.3.1 Katrol Sejajar a. Persiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk praktikum. b. Atur beban A dan beban B dengan sejajar. c. Letakkan beban C di tengah antara tali TA dan TB. d. Tambahkan beban sesuai variasi pada titik A. e. Ukur sudut tali α dan β pada titik C dengan menggunakan busur derajat. f. Lakukan pencatatan hasil pengamatan di tabel yang disediakan. g. Ulangi percobaan sampai data ke 5 dengan mengubah variasi TB dan TC. 3.3.2 Katrol Tidak Sejajar a. Persiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk praktikum.Atur beban A dan beban B dengan tidak sejajar. b. Letakkan beban C di tengah antara tali TA dan TB. c. Tambahkan beban sesuai variasi pada titik A. d. Ukur sudut tali α dan β pada titik C dengan menggunakan busur derajat. e. Lakukan pencatatan hasil pengamatan di tabel yang disediakan. f. Ulangi percobaan sampai data ke 5 dengan mengubah variasi TB dan TC. BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Praktikum 4.1.1 Data Pengamatan Katrol Sejajar dengan Merubah Nilai TA Tabel 4.1 Data pengamatan katrol sejajar dengan merubah nilai TA TC (gr) No TA (gr) Sudut α TB (gr) Sudut β 1 100 25 100 30 100 2 120 30 100 25 100 3 140 30 100 15 100 4.1.2 Data Pengamatan Katrol Sejajar dengan Merubah Nilai TB Tabel 4.2 Data pengamatan katrol sejajar dengan merubah nilai TB No TA (gr) Sudut α TB (gr) Sudut β TC (gr) 1 100 20 100 30 100 2 100 20 120 30 100 3 100 15 140 40 100 4.1.3 Data Pengamatan Katrol Tidak Sejajar dengan Merubah Nilai TA Tabel 4.4 Data pengamatan katrol tidak sejajar dengan merubah nilai TA No TA (gr) Sudut α TB (gr) Sudut β TC (gr) 1 100 25 100 40 100 2 110 25 100 35 100 3 120 15 100 35 100 4.1.5 Data Pengamatan Katrol Tidak Sejajar dengan Merubah Nilai TB Tabel 4.5 Data pengamatan katrol tidak sejajar dengan merubah nilai TB No TA (gr) Sudut α TB (gr) Sudut β TC (gr) 1 100 40 100 19 100 2 100 30 110 45 100 3 100 20 120 45 100 4.1.6 Data Pengamatan Katrol Tidak Sejajar dengan Merubah Nilai TC Tabel 4.6 Data pengamatan satrol tidak sejajar dengan merubah nilai TC No TA (gr) Sudut α TB (gr) Sudut β TC (gr) 4.2 1 100 40 100 20 100 2 100 30 100 45 110 3 100 45 100 45 120 Perhitungan 4.2.1 Perhitungan Kesetimbangan Gaya pada Katrol Sejajar a. Variasi beban pada tali A 1) Percobaan 1 π΄π₯ = (−TA × Cos α) + (TB × Cos β) = (−0,98 m/s² × Cos 25°) + (0,98 m/s²× Cos 30°) = (−0,98 × 0,90) + (0,98 × 0,8866) = −0,013N π΄π¦ = (TA × Sin α) + (TB × Sin β) - TC =(−09,8 m/s² × Sin 25°) + (− 9,8 m/s² − Sin 30°) − (0,98 m/s²) = (−0,98 × 0,4426) + (0,98 × 0,5) - 0,98 = 0,056 N ΣF = √Fx ² + Fy ² = √(−0,013)2 + (0,056 )2 =0,057 N 2) Percobaan 2 ΣFx = (−TA × Cos α) + (TB × Cos β) = (−1,176m/π 2 × Cos 30°) + (0,98 m/s² × Cos 25°) = (−1,176 × 0,866) + (0,98 ×0,90) = −0,136 N ΣFy = (TA × Sin α) + (TB × Sin β) - TC = (1,176m/s² × Sin 30°) + (0,98 m/s² × Sin 25°) − 0,98 m/s² = (1,176 × 0,5) + (0,98 × 0,4426) − 0,98 = 0,042 N ΣF = √Fx ² + Fy ² = √(−0,136)² + (0,042)² = 1,142 N 3) Percobaan 3 ΣFx = (−TA × Cos α) + (TB × Cos β) = (−1,372 m/s² × πΆππ 30°) + (0,98 m/s² × Cos 15°) = (−1,372 × 0,891) + (0,98 × 0,972) = −0,2699 N ΣFy = (TA × Sin α) + (TB × Sin β) - TC = (1,372 × Sin 30°) + (0,98 m/s² × Sin 15°) - (0,98 m/s²) = (1,372 × 0,5) + (0,98 × 0,2588) − 0,98 = −0,04 N ΣF = √Fx ² + Fy ² = √(−0,2699)² + (−0,04 )² = 0,273 N b. Variasi beban pada tali B 1) Percobaan 1 ΣFx = (−TA × Cos α) + (TB × Cos β) = (−0,98 m/s² × πΆππ 20°) + (0,98 m/s² × Cos 30°) = (−0,98 × 0,951) + (0,98 × 0,891) = −0,0588 N ΣFy = (TA × Sin α) + (TB × Sin β) − TC = (0,98 m/s² × Sin 20°) + (0,98 m/s² × Sin 30°) − (0,98 m/s²) = (0,98 × 0,31) + (0,98 × 0,454) − 0,98 = −0,231 N ΣF= √Fx ² + Fy ² = √(−0,0588)² + (−0,231)² = 0,238 N 2) Percobaan 2 ΣFx = (−TA × Cos α) + (TB × Cos β) = (−0,98 m/s² × Cos 20°) + (1,176 × Cos 30°) = (-0,98 × 0,951) + (1,176 × 0,891) = 0,116 N ΣFy = (TA × Sin α) + (TB × Sin β) - TC = (0,98 m/s² × Sin 20°) + (1,176 m/s² × Sin 30) - (0,98 m/s²) = (0,98 × 0,31) + (1,176× 0,454) - 0,98 = −1,142 N ΣF = √FX ² + Fy ² = √0,116 ² + (−1,142 )² = 1,154 N 3) Percobaan 3 ΣFx = (−TA × Cos α) + (TB × Cos β) = (−0,98 m/s² × Cos 15°) + (1,372 m/s² × Cos 40°) = (−0,98 × 0,972) + (1,372 × 0,809) = 0,157 N ΣFy = (TA × Sin α) + (TB × Sin β) - TC = (0,98 m/s² × Sin 15°) + (1,372 m/s² × Sin 40°) − (0,98 m/s²) = (0,98 × 0,233) + (1,372 × 0,588) − 0,98 = 0,055 N ΣπΉ= √Fx ² + Fy ² = √ 0,157² + 0,055² = 0,166 N 4.2.2 Perhitungan Kesetimbangan Gaya pada Katrol Tidak Sejajar a. Variasi beban pada tali A 1) Percobaan 1 ΣFx = (−TA × Cos α) + (TB × Cos β) = (−0,98 m/s² × Cos 25°) + (0,98 m/s² × Cos 40°) = (−0,98 × 0,924) + (0,98 × 0,809) = − 0,113 N ΣFy = (TA × Sin α) + (TB × Sin β) - TC = (0,98 m/s² × Sin 25°) + (0,98 m/s² × Sin 40°) – (0,98 m/s²) = (0,98 ×0,309) − (0,98 × 0,588) − 0,98 = −1,253 N ΣF = √Fx ² + Fy ² = √(−0,113)² + (−1,253)² = 1,772 N 2) Percobaan 2 ΣFx = (−TA × Cos α) + (TB × Cos β) = (−1,078 m/s² × Cos 25°) + (0,98 m/s² × Cos 35°) = (−1,078 × 0,924) + (0,98 × 0,809) = −0,203 N ΣFy = (TA × Sin α) + (TB × Sin β) - TC = (1,078 m/s² × Sin 25°) + (0,98 m/s² × Sin 35°) − (0,98 m/s²) = (1,078 × 0,233) + (0,98 × 0,522) − 0,98 = − 0,217 N ΣF = √Fx ² + Fy ² = √(−0,203)² + (−0,217)² =0,297 N 3) Percobaan 3 ΣFx = (−TA × Cos α) + (TB × Cos β) = (−1,176 m/s² × Cos 20°) + (0,98 m/s²× Cos 35°) = (−1,176 × 0,951) + (0,98 × 0,852) = −0,283 N ΣFx = (TA × Sin α) + (TB × Sin β) - TC = (1,176 m/s² Sin 20°) +(0,98 m/s² × Sin 35°) − (0,98 m/s²) = (1,176 × 0,309) + (0,98 ×0,853) − 0,98 = 0,219 N ΣF = √Fx ² + Fy ² ΣF = √(−0,283)² + (0,219)² ΣπΉ= 0,360 N b. Variasi beban pada tali B 1) Percobaan 1 ΣFx = (−TA × Cos α) + (TB × Cos β) = (−0,98 m/s² × Cos 40°) + (0,98 m/s² × Cos 19°) = (−0,98 × 0,809) + (0,98 × 0,956) = 0,144 N ΣFy = (TA × Sin α) + (TB × Sin β) - TC = (0,98 m/s² × Sin 40°) + (0,98 m/s² × Sin 19°) – (0,98 m/s²) = (0,98 × 0,5878) − (0,98 × 0,294) − 0,98 = −0,116 N ΣF = √Fx ² + Fy ² = √0,144 ² + (−0,116)² = 0,185 N 2) Percobaan 2 ΣFx = (−TA × Cos α) + (TB × Cos β) =(−0,98 m/s² × Cos 30°) + (1,078 m/s² × Cos 45°) = (−0,98 × 0,891) + (1,078 × 0,760) = −0,814 N ΣFy = (TA × Sin α) + (TB × Sin β) - TC = (0,98 m/s² × Sin 30°) + (1,078 m/s² × Sin 45°) – (0,98 m/s²) = (0,98 × 0,233) + (1,078 × 0,649) − 0,98 = −0,052 N ΣF = √Fx ² + Fy ² = √(−0,814)² + (−0,052)² = 0,817 N 3) Percobaan 3 ΣFx = (−TA × Cos α) + (TB × Cos β) = (−0,98 m/s² × Cos 20°) + (1,176 m/s² × Cos 45°) = (−0,98 × 0,951) + (1,176 × 0,76) =0,052 N ΣF = (TA × Sin α) + (TB × Sin β) - TC = (0,98 m/s² Sin 20°) + (1,176 m/s² × Sin 45°) – (0,98 m/s²) = (0,98 × 0,309) + (1,176 × 0,522) −0,98 = −0,0633 N ΣF= √πΉπ₯ ² + πΉπ¦ ² = √(0,052²) + (−1,24) = 1,112 N c. Variasi Beban pada tali C 1) Percobaan 1 ΣFx = (−TA × Cos α) + (TB × Cos β) = (−0,98 m/s² × Cos 40°) + (0,98 m/s² × Cos 20°) = (−0,98 ×0,809) + (0,98 × 0,951) = 0,0536 N ΣFy = (TA × Sin α) + (TB × Sin β) - TC = (0,98 m/s² × Sin 40°) + (0,98 m/s² × Sin 20°) – (0,98 m/s²) = (0,98 × 0,588) + (0,98 × 0,649) − 0,98 = 0,322 N ΣF = √πΉπ₯ ² + πΉπ¦ ² = √0,0536 ² + 0,322² = 0,326N 2) Percobaan 2 ΣFx = (−TA × Cos α) + (TB × Cos β) = (−0,98 m/s² × Cos 30°) + (1,078 m/s² × Cos 45°) = (−0,98 × 0,924) + (1,078× 0,76) = −0,086 N ΣFy = (TA × Sin α) + (TB × Sin β) - TC = (0,98 m/s² × Sin 30°) + (1,078 m/s² × Sin 45°) – (0,98 m/s²) = (0,98 × 0,454) + (1,078× 0,6494) – 0,98 = 0,165 N ΣF = √πΉπ₯ ² + πΉπ¦ ² = √(−0,086)² + ( 0,165)² = 0,186 N 3) Percobaan 3 ΣFx = (−TA × Cos α) + (TB × Cos β) = (−0,98 m/s² × Cos 45°) + (0,98 m/s² × πΆππ 45°) = (−0,98 × 0,76) + (0,98 × 0,76) =0N ΣFy = (TA × Sin α) + (TB × Sin β) - TC = (0,98 m/s² × Sin 45°) + (0,98 m/s² × Sin 45°) – (1,176 m/s²) = (0,98 × 0,649) + (0,98 × 0,649) − 1,176 = 0,096 N ΣF = √Fx ² + Fy ² = √0² + 0,096² = 0,096 N 4.3 Analisis 4.3.1 Analisis Kesetimbangan Gaya Pada Katrol Sejajar Perubahan beban pada TA, TB, atau TC sangat berpengaruh dalam pengukuran sudut α dan β yang terbentuk. Semakin besar beban pada salah satu tali, sudut tali tersebut semakin mengecil, sedangkan sudut tali lainnya membesar agar sistem tetap setimbang. Dari hasil perhitungan Fx dan Fy kami telah mendapatkan nilai nol dan nilai yang mendekati nol. Hal ini tidak terlalu sesuai dengan teori keseimbangan gaya, yang dimana seharusnya hasilnya adalah ∑F = 0. Ini mungkin terjadi karena saat praktikum ada kesalahan pada alat yang menyebabkan terjadinya gesekan pada katrol. 4.3.2 Analisis Kesetimbangan Gaya Pada Katrol Tidak Sejajar Variasi beban menghasilkan perubahan sudut yang lebih signifikan dibandingkan katrol sejajar. Perhitungan menunjukkan adanya deviasi kecil pada nilai Fx dan Fy, namun resultan R masih mendekati nol. Hal ini juga tidak terlalu sesuai dengan teori keseimbangan gaya, yang dimana seharusnya hasilnya adalah ∑F = 0. Ini mungkin terjadi karena saat praktikum ada kesalahan pada alat yang menyebabkan terjadinya gesekan pada katrol. Ada pula penyebab lainnya seperti kurangnya ketelitian dalam mengukur sudut BAB 5 PENUTUP 5.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum modul 1 ini antara lain, 1. Resultan ditentukan dengan memproyeksikan setiap gaya ke komponen x dan y menggunakan fungsi trigonometri, lalu menjumlahkannya secara vektor. 2. Pada katrol sejajar, sudut lebih mudah ditentukan melalui perbandingan komponen gaya karena sistem dua dimensi, sedangkan pada katrol tidak sejajar sudut lebih kompleks karena melibatkan tiga gaya dengan arah berbeda. 3. Pada katrol sejajar distribusi gaya cenderung sistematis dengan kecenderungan gaya normal menurun seiring sudut, sedangkan pada katrol tidak sejajar distribusi bersifat tidak linear akibat interaksi vektor dalam ruang tiga dimensi. 5.2 Saran Saran yang dapat diberikan antara lain 1. Tambahkan variasi massa beban lebih banyak untuk mengamati hubungan linear dan non linear gaya normal terhadap massa dan sudut. 2. Perkecil faktor kesalahan, seperti gesekan pada katrol dan ketidaktepatan pengukuran sudut. 3. Lengkapi praktikum dengan simulasi perangkat lunak analisis vektor agar hasil eksperimen dapat dibandingkan dengan teori dan model simulasi. DAFTAR PUSTAKA Putri, M., Santoso, H., & Lestari, F. (2022). Pengembangan e-book fisika dasar berbasis pendekatan saintifik pada materi vektor dan kinematika. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, 10(3), 355–364. Rahmawati, N. (2025). Peningkatan kemampuan analitis melalui praktikum virtual vektor dengan metode Problem Solving Lab (PSL). Physics Education Journal, 7(2), 77–85. https://ojs.unsulbar.ac.id/index.php/phy/article/view/4322 Rizki, M., Nugraha, R., & Sari, L. (2021). Senior high school students’ understanding of vector concepts in mathematical and physical representations. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 17(1), 45–56. https://doi.org/10.15294/jpfi.v17i1.34975 SARI, W. P. SURVEI PEMAHAMAN KONSEP VEKTOR SISWA SMA DI KECAMATAN NATAR. Sari, P., & Andriani, R. (2023). Pengembangan media pembelajaran VirtumFi pada materi penguraian vektor. Jurnal Pendidikan Fisika, 11(2), 89–98. https://doi.org/10.24252/jpf.v11i2.25915 Smith, J., & Jones, A. (2024). Students’ use of unit vector representations in introductory physics. Physical Review Physics Education Research, 20(1), 010150. https://doi.org/10.1103/PhysRevPhysEducRes.20.010150