Uploaded by common.user153175

ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR

advertisement
ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah ISBD
Dosen Pengampu:
Drs. Mesra, M.Sn
Disusun Oleh: Kelompok 1
Adilla Ulfhi
(5213351032)
Ichsan Aulia
(5213351016)
Khoirul Nizam
(5213351040)
M. Tondi Nasma
(5213351019)
Septian Putra Nugraha
(5213351025)
PENDIDIKAN TEKNOLOGI INFORMATIKA DAN KOMPUTER
PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, Yang telah memberikan rahmat-Nya
sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini yang berjudul Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
ISBD yang diberikan oleh bapak Drs. Mesra, M.Sn. Selain itu, makalah ini juga bertujuan
untuk menambah wawasan dan juga menjadi pengalaman penyusun dalam materi Ilmu Sosial
dan Budaya Dasar yang dimana makalah ini akan berguna bagi para pembaca dan juga bagi
penulis.
Kami mengucapkan terima kasih kepada bapak Drs. Mesra, M.Sn. selaku dosen dari
mata kuliah ISBD yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan
dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni.
Kami mengharapkan makalah ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam
mempelajari Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Dan kami selaku penulis menyadari masih banyak
kekurangan yang ada pada makalah kami ini.
Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca khususnya
pada Dosen Bidang Studi ini. Demi kesempurnaan dalam membuat makalah (karya tulis) pada
waktu mendatang. Untuk itu kami selaku penulis mengucapkan terima kasih.
Medan, Agustus 2023
Kelompok 1
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................................................... 2
DAFTAR ISI............................................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 4
A.
LATAR BELAKANG........................................................................................................................ 4
B.
RUMUSAN MASALAH .................................................................................................................. 4
C.
TUJUAN ....................................................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................................................... 6
A
Dasar Pemikiran .......................................................................................................................... 6
B
Visi dan Misi ................................................................................................................................ 7
C
Tujuan Pembelajaran .................................................................................................................. 8
D
Pendidikan Umum....................................................................................................................... 8
E
Interdisipliner .............................................................................................................................. 9
F
Model Pembelajaran ................................................................................................................. 10
BAB III PENUTUP ................................................................................................................................... 13
A.
KESIMPULAN ............................................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 14
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam era globalisasi dan interkoneksi yang semakin mendalam, pemahaman tentang
ilmu sosial dan budaya dasar menjadi semakin penting. Perkembangan teknologi, komunikasi,
dan transportasi telah mempersempit jarak dan waktu antara berbagai komunitas di seluruh
dunia. Fenomena ini memberikan dampak yang signifikan pada interaksi sosial, dinamika
budaya, serta cara manusia berinteraksi dalam masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman yang
baik tentang ilmu sosial dan budaya dasar menjadi dasar penting bagi setiap individu, terlebih
bagi mereka yang ingin mengembangkan wawasan lebih dalam tentang dunia yang kompleks
ini.
Ilmu sosial melibatkan kajian tentang perilaku manusia dalam konteks sosial, termasuk
interaksi sosial, pembentukan norma, nilai, serta struktur masyarakat. Disiplin ilmu ini
mencakup berbagai bidang, seperti sosiologi, antropologi, psikologi sosial, ekonomi, politik,
dan sebagainya. Sedangkan budaya merujuk pada pola-pola kehidupan yang terbangun
bersama oleh suatu kelompok masyarakat, termasuk bahasa, kepercayaan, adat istiadat, seni,
dan teknologi yang mereka hasilkan. Kajian tentang budaya mencakup antropologi budaya,
studi budaya populer, etnografi, dan sejumlah pendekatan lain yang membantu menganalisis
kompleksitas kehidupan manusia.
Makalah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman awal yang kokoh tentang ilmu
sosial dan budaya dasar kepada pembaca. Melalui pemahaman ini, pembaca akan dapat
mengenali dampak globalisasi, perubahan sosial, dan perbedaan budaya yang dapat
memengaruhi interaksi sehari-hari. Makalah ini akan membahas konsep-konsep mendasar
dalam ilmu sosial, seperti struktur sosial, konflik, identitas sosial, serta teori-teori yang
membantu menjelaskan perilaku manusia dalam masyarakat. Selain itu, aspek-aspek budaya
seperti multikulturalisme, asimilasi budaya, dan dinamika perubahan budaya juga akan
dijelaskan.
Pentingnya memahami ilmu sosial dan budaya dasar tidak hanya relevan dalam lingkup
akademis, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pemahaman ini, individu dapat
lebih bijaksana dalam menghadapi perubahan sosial dan budaya, menghormati
keanekaragaman, dan menjalin hubungan yang lebih baik dengan orang-orang dari latar
belakang budaya yang berbeda. Oleh karena itu, makalah ini diharapkan dapat menjadi
panduan awal yang berguna bagi siapa saja yang ingin menjelajahi dunia ilmu sosial dan
budaya dasar.
B. RUMUSAN MASALAH
 Menjelaskan Dasar Pemikiran dari Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.
 Menjelaskan Visi dan Misi dari Ilmu Sosisal dan Budaya Dasar.
 Menjelaskan Tujuan Pembelajaran dari Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.
4



Menjelaskan Pendidikan Umum dari Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.
Menjelaskan Interdisipliner dari Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.
Menjelaskan Model Pembelajaran dari Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.
C. TUJUAN
 Menambah wawasan kepada pembaca mengenai Ilmu Sosial dan Budaya Dasar bagi
mahasiswa.
 Menyelesaikan tugas dalam mata ISBD.
 Menambah pengetahuan pembaca dalam memandang pentingnya Ilmu Sosial dan Budaya
Dasar.
5
BAB II
PEMBAHASAN
A Dasar Pemikiran
Pada Oktober 1998 UNESCO mendeklarasikan agar Pendidikan Tinggi mampu
menjadi tiang penyangga dalam usaha membentuk kemampuan masyarakat untuk
melaksanakan demokrasi dan mengupayakan perdamaian diseluruh dunia. Deklarasi
tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa pendidikan tinggi pada abad XXI harus
memainkan peran sebagai suatu komponen vital dari pembangunan budaya, sosial, ekonomi
dan politik.
Sehubungan ini, Ditjen Pendidikan Tinggi Depdiknas bertugas merancang fungsi
prospektifnya melalui analisis berkelanjutan tentang masalah sosial, ekonomi, budaya, dan
kecenderungan politik untuk kemudian bertindak sebagai pemandu dalam mengatasi
bencana, mampu melihat kemasa depan, mengantisipasi dan menyiapkan peringatan
perdana dan melaksanakan perannya sebagai pelayanan masyarakat.
Untuk melaksanakan kedua misi ini perguruan tinggi diharapkan memberikan mata
kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar pengganti mata kuliah ilmu sosial dasar dan ilmu
Budaya dasar yang sebelumnya merupakan mata kuliah yang terpisah.
Di Universitas Negeri Medan Mata Kuliah limu Sosial dan Budaya Dasar ini baru
diajarkan pada tahun akademik 2009-2010 atas tuntunan Undang-undang No 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang ini lebih membuka peluang bagi staf
pengajar di perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya dengan
dukungan sarana, prasarana dan fasilitas yang mencukupi. Pada Pasal 40 Ayat 1 butir (e),
disebutkan bahwa: Pendidik dan tenaga kependidikan berhak memperoleh kesempatan
menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas untuk menunjang kelancaran pelaksanaan
tugasnya‘‘.
Bersamaan dengan pemberian hak seperti ini, pada Pasal 40 Ayat 2 butir (a),
dicantumkan tugas dan kewajiban dosen yaitu ‘‘menciptakan suasana yang bermakna
menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis‘‘. Pemberian hak dan kewajiban yang disebut
pada kedua Ayat pada Pasal 40 ini bertujuan untuk mengurangi dominasi interaksi belajar
mengajar yang cenderung satu arah yang menuai kritik karena sifatnya indoktrinatif.
Perubahan peran dosen seperti yang telah disinggung diatas, berhubungan erat dengan
Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas RI No. 38 Tahun 2002 dan juga berhubungan dengan
visi mata kuliah berkehidupan bermasyarakat (MBB) diperguruan tinggi.
Pada Pasal 1 visi MBB dijelaskan bahwa ‘‘Mahasiswa selaku individu dan makhluk
sosial yang beradab, bertanggungjawab terhadap sumber daya alam dan lingkungannya‘‘
6
serta memiliki landasan pengetahuan, wawasan, dan keyakinan sebagai bekal hidup
bermasyarakat.
Peran yang sama disinggung pada Pasal 2 misi Mata Kuliah berkehidupan
bermasyarakat yaitu: memberikan dasar-dasar nilai estetika etika dan moral kepada
mahasiswa serta memberikan panduan bagi penyelenggara pendidikan dalam membina
pemahaman mahasiswa tentang keanekaragaman dan kesetaraan serta menghormati
martabat manusia sebagai individu dan makhluk sosial di dalam kehidupan bermasyarakat.
Pembinaan yang dilakukan berpedoman kepada nilai budaya melalui pranata
pendidikan serta penyadaran akan tanggung jawab mahasiswa dalam mengelola sumber
daya alam dan lingkungan dalam kehidupan mereka bermasyarakat, baik nasional maupun
global, yang mengarah kepada tindak kekaryaan seseorang sesuai dengan kompetensi
keahlian masing-masing. Visi dan misi seperti ini tidak dapat lagi dilaksanakan hanya
dengan memperkenalkan konsep-konsep teoritis tanpa memberikan kesempatan kepada
mahasiswa melakukan kajian, kritik, analisis serta memberi kontribusi kepada pengambil
kebijakan dalam memperbaiki kehidupan dan lingkungannya.
Untuk mendukung ketercapaian tujuan tersebut, pada pasal 5 Keputusan Dirjen Dikti
Depdiknas 2002 dijelaskan tugas dan kewajiban dosen agar melaksanakan metode
pembelajaran yang berpusat kepada proses belajar mahasiswa.
Dosen disarankan membimbing mahasiswa memahami gejala yang terjadi dalam
kehidupan manusia melalui perspektif masyarakat, kebudayaan dan lingkungan alam
dengan pembahasan yang kritis dan analitis. Dengan metode seperti ini mahasiswa yang
dipersiapkan menjadi anggota masyarakat, termotivasi dan mampu berpartisipasi secara
aktif dalam mengaktualisasikan dan melembagakan masyarakat madani. Dengan strategi
seperti ini, pendidikan tinggi diharapkan mampu menghasilkan mahasiswa yang unggul
secara intelektual, anggun secara moral, kompeten menguasai ipteks, serta memiliki
koinitmen tinggi untuk berbagai peran sosial
B Visi dan Misi
Sebagai tindak lanjut dari visi dan misi serta kompetensi Mata Kuliah Berkehidupan
Bermasyarakat diatas, dikembangkan visi mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar yang
mengarahkan mahasiswa, selaku individu dan makhluk sosial yang beradab, memiliki
landasan pengetahuan, wawasan, serta keyakinan untuk bersikap kritis, peka dan arif dalam
menghadapi persoalan sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat. Selanjutnya misi
ISBD dideskrisikan sebagai berikut:
1. Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang keragaman, kesetaraan dan martabat
manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
7
2. Memberikan dasar-dasar nilai estetika, etika dan moral, hukum dan budaya sebagai
landasan untuk menghormati dan menghargai antara sesama manusia sehingga akan
terwujud masyarakat yang tertib, teratur dan sejahtera.
3. Memberikan dasar-dasar untuk memahami masalah sosial dan budaya serta mampu
bersikap kritis, analitis dan responsif untuk memecahkan masalah tersebut secara arif
di masyarakat.
C Tujuan Pembelajaran
Atas dasar misi tersebut dikembangkan tujuan pembelajaran ISBD sebagai berikut:
1. Mengembangkan kesadaran mahasiswa untuk menguasai pengetahuan tentang
keragaman dan kesetaraan manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam
kehidupan bermasyarakat.
2. Menumbuhkan sikap kritis, peka dan arif pada mahasiswa dalam memahami dan
memecahkan masalah sosial budaya dengan landasan nilai estetika, etika, moral,
dan hukum dalam kehidupan bermasyarakat.
3. Memberikan landasan pengetahuan dan wawasan yang luas serta keyakinan kepada
mahasiswa sebagai bekal hidup bermasyarakat, selaku individu dan makhluk sosial
yang beradab dalam mempraktekkan pengetahuan akademis dan keahliannya.
Berdasarkan visi dan misi serta tujuannya diatas, maka mata kuliah Ilmu Sosial
dan Budaya Dasar termasuk dalam kategori mata kuliah pendidikan umum (General
Education) yang bertujuan untuk membina mahasiswa menjadi warga masyarakat dan
warga negara yang baik. Pendidikan yang dilaksanakan berkenaan dengan pengembangan
seluruh kepribadian dalam kaitannya dengan masyarakat dan lingkungan hidup.
D Pendidikan Umum
Pendidikan umum merupakan proses pembangkitan makna-makna esensial yang
membimbing pelaksanaan hidup manusia melalui perluasan dan pendalaman makna-makna.
(Phenik. 1964: 6-8, dalam Setiadi (2008:7).
Selanjutnya, Phenix menjelaskan 6 pola makna esensial yang melekat dalam kehidupan
masyarakat dan budaya manusia yaitu: simbolik, empirik, estetik, sinoetik, etik, dan
sinoptik.
1. Makna simbolik meliputi bahasa, matematika, termasuk juga isyarat-isyarat,
upacara-upacara, tanda-tanda kebesaran, dan sebagainya Makna ini sangat
berarti dalam kehidupan berbudaya manusia.
2. Makna empirik mengembangkan kemampuan teoritis, generalisasi berdasarkan
fakta-fakta dan kenyataan yang bisa diamati.
8
3. Makna estetik meliputi seni dan musik, tari, sastra, dan lain-lainya berkenaan
dengan keindahan dan kehalusan serta keunikan berdasarkan persepsi subyektif
berjiwa seni.
4. Makna sinoetik berkenaan dengan perasaan, kesan, penghayatan dan kesadaran
yang mendalam. Di dalam makna ini termasuk, empati, dan simpati. Makna etik
berkenaan dengan aspek-aspek moral, akhlak, prilaku yang luhur, tanggung
jawab.
5. Makna sinoptik berkenaan dengan pengertian-pengertian yang terpadu dan
mendalam seperti agama, filsafat, pengetahuan sejarah yang menuntut nalar
masa lampau dan hal-hal yang bernuansa sprititual (Nursyid. 2002: 109).
Sebagai bagian dari general education ISBD, bukanlah satu disiplin ilmu dan juga
bukan bagian dari ilmu-ilmu sosial maupun ilmu – ilmu budaya. Mata kuliah ISBD lebih
merupakan studi tentang makna – makna esensial dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan ilmu
budaya sebagai bahan analisis dalam memecahkan masalah-masalah sosial dan budaya yang
berlangsung di dalam masyarakat.
Muatan mata kuliah ISBD terdiri dari tema-tema yang berhubungan dengan ilmu sosial
dan humaniora beserta kegiatan dasar manusia. Metode berpikirnya mengadopsi ilmu
pengetahuan alam, disiplin ilmu pendidikan. Teori belajar dan mengajarnya menggunakan
psikologi pendidikan.
E Interdisipliner
Ilmu Sosial Dasar (Basic Social Studies) dan Ilmu Budaya Dasar (Basic Humanities)
diajarkan di Indonesia sejak sekitar tahun 1970-an. Pembelajarannya bertujuan untuk
mendekatkan berbagai disiplin ilmu dalam satu studi yang integratif, dengan maksud agar
dalam kehidupannya sehari-hari, mahasiswa dari segala cabang disiplin ilmu dapat
berdialog dan mampu melihat permasalahan dalam masyarakat secara interdisipliner.
Permasalahan masyarakat yang semakin kompleks, memerlukan kajian dari multi
disiplin ilmu. Khusus dalam mata kuliah ISBD, multi disiplin ilmu ini mencakup ilmu
sejarah, geografi, antropologi, hukum, politik, sosiologi, seni, sastra, dan psikologi sosial.
Pendekatan pembelajaran dapat dilakukan dengan pendekatan struktural, fungsional,
maupun pendekatan antar bidang ilmu (interfield). Dalam pendekatan struktural, pengkajian
masalah dilakukan dari beberapa ilmu sosial maupun ilmu budaya, tetapi sistematika salah
satu ilmu tersebut masih kelihatan dominan sebagai pisau analisisnya. Dengan pendekatan
fungsional, pelaksanaan pembelajaran bertitik tolak dari masalah-masalah yang terdapat di
dalam masyarakat atau lingkungan sosial mahasiswa atau masalah-masalah budaya di mana
mahasiswa terlibat secara langsung.
9
Karena luasnya pembahasan, pendekatan fungsional ini tidak berangkat dari satu disiplin
ilmu dan karena banyaknya konsep yang saling bersintesis dan tumpang tindih, identitas
dari setiap disiplin ilmu hampir tidak kelihatan.
Proses belajar diawali dengan menentukan atau merumuskan masalah, mengumpulkan
data informasi, mengkaji latar belakang dan penyebabnya, mencari peraturan yang
berhubungan, mengkaji kebijakan publik yang berlaku, meneliti sikap masyarakat terhadap
masalah tersebut, dan mencari berbagai alternatif solusi untuk kemudian memberikan
rekomendasi kepada pengambil kebijakan publik untuk memecahkan masalah tersebut.
Pendekatan antar bidang (interfield), bertitik tolak dari ruang lingkup yang luas seperti
misalnya masalah kemanusiaan dengan tema reformasi, masalah politik dengan tema
demokrasi dan pemilu. Masing- masing masalah dikaji dari berbagai disiplin ilmu yang lebih
luas misalnya dari sisi pandang bahasa, IPA. Dapat juga dilakukan pendekatan wilayah (the
area approach) dengan berusaha menyusun bahan kuliah berdasarkan kebudayaan suatu
daerah yang meliputi berbagai aspeknya seperti aspek sejarah, antropologi, teknologi,
agama, dan sebagainya.
F Model Pembelajaran
Ada beberapa model dan metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pengajaran
mata kuliah ISBD. Walaupun metode ceramah, tanya jawab dan diskusi masih dipandang
penting untuk memberi penjelasan dasar-dasar ilmiah serta materi esensisal yang menjadi
konsep dasar masalah yang akan dibahas, model pembelajaran problem solving, inquiri,
klasifikasi nilai, model aksi sosial, serta forto folio based learning sangat perlu
dikembangkan. Model-model ini sangat membutuhkan keterampilan mahasiswa dalam
mengatasi teknik pemecahan masalah.
1. Alternatif Model Pembelajaran ISBD
a. Pengertian ISBD
Bila pendekatan multidisiplin atau interdisipliner digunakan dalam ISBD, maka
metode ceramah tidak bisa lagi mendominasi aktivitas perkuliahan, karna itu multimetode
harus digunakan secara bervariasi sesuai dengan kebutuhan interaksi kelas. Ceramahnya,
tanya jawab, dan diskusi tentu saja masih dipandang penting terutama untuk memberikan
penjelasan dasas-dasar ilmiah serta materi esensial yang menjadi basic concept masalah
yang akan dibahas, akan tetapi model pembelajaran problem solving, inquiry, klasifikasi
nilai, science technology and society, social action model, serta portofolio based learnng
sangat diperlukan untuk mengembangkan empat plar pendidikan yang dikemukakan
UNESCO.
Beberapa model pembelajaran yang disebutkan terakhir, sangat membutuhkan
keterampilan mahasiswa untuk menguasai teknik pemecahan masalah. Masalah sendiri
dapat diartikan setiap kesulitan yang merintangi atau belum ada jawabannya secara pasti
10
dan membutuhkan pemecahannya apabila manusia ingin maju dan berkembang terus. Tentu
pengertian itu berbeda denagn persoalan yang bisa diartikan sebagai suatu masalah yang
sudah ada jawabannya. Dalam ISBD sebaiknya yang dipecahkan itu bukan persoalan, akan
tetapi masalah.
John dewey dalam bukunya, How We Think (1910), mengemukakan langkah
pemecahan masalah sebagai berikut :
1) A feeling of perplexy;
2) The definiton of the problem;
3) Sugesting an testing hypotheses;
4) Development of the best solution by reasoning and
5) Testing of the conclution followed by consideration of necessary. Kalau
disederhanakan sama dengan langkah-langkah kegiatan ilmiah, yaitu mulai:
a) Merasakan adanya masalah;
b) Merumuskan masalah;
c) Menetapkan hipotesis atau membuat pertanyaan-pertanyaan penelitian
untuk memecahkan masalah;
d) menetapkan sumber data yang akan dijadikan objek penelitian;
e) Membuat instrumen untuk melakukan penelitian,
f) Melakukan pengumpulan data;
g) Melakukan klasifikasi dan analisis data;
h) Menguji hipotesis atau pembahasan hasil penelitian;
i) Rekomendasi.
Model pemecahan masalah dari John Dewey ini mendasari model-model pembelajaran
lain yang yang melibatkan mahasiswa untuk melakukan penyelidikan, seperti Model
Klarifikasi Nilai dari Louis Rath (1977), Model Kegiatan Sosial dari Fred Newmann (1977),
sciences technology and society dari Peter Rubba (1982). Perkembangan Moral Kognitif
dari Lawrence Kohlberg (1984), dan beberapa model pembelajaran yang sekarang ini
digunakan untuk mengaplikasikan kurikulum berbasis kompetensi seperti Model
Pembelajaran Portofolio dan Model Pembelajaran Kontekstual.
2. Proses Pembelajaran Berbasis Portofolio
a. Pengertian
Istilah portofolio berasal dari kata kerja ‘potare’ berarti membawa dan kata benda
bahasa latin ‘foglio’, yang berarti lembaran atau ‘kertas kerja’. Portofolio tempat berisikan
benda pekerjaan, lembaran, nilai dan profesional.
Dalam konteks pendidikan, pengertian portofolio menurut D. Budimansyah (2002, h.12) Portofolio sebenarnya diartikan sebagai suatu wujud benda fisik, sebagai suatu kegiatan
sosial pedadogis, maupun sebagai adjective. Sebagai suatu wujud benda fisik itu adalah
bundel, yakni dokumentasi hasil pekerjaan peserta didik yang disimpan seperti bundelan
hasil hasil pre-test, tugas, post test, dll. Sedangkan sebagai model pembelajaran Boediono
11
(2001) mengatakan bahwa portofolio adalah inovasi pembelajaran yang dirancang untuk
membantu peserta didik memahami teori secara mendalam melalui pengalaman belajar
praktik-empirik. Sedangkan menurut U. Syarifudin (2002, hlm. 31) mengatakan bahwa
portofolio adalah tampilan tampilan visual dan audio yang disusun secara sistematis
melukiskan proses berpikir yang didukung oleh seluruh data yang relevan sehungga
melukiskan pengalaman belajar terpadu yang dialami sebagai suatu kesatuan mahasiswa di
dalam kelas. Dengan demikian model pembelajaran portofolio adalah pembelajaran yang
melibatkan mahasiswa secara aktif dan kooperatif mulai dari menentukan masalah secara
demokratis, mengumpulkan data, menentukan solusi permasalahan sehingga dia mampu
menilai, dan memengaruhi kebijakan umum dari hasil temuannya.
b. Langkah langkah pembelajaran
Budimansyah (2002: 14) menetapkan ada lima langkah pembelajaran portofolio yang
meliputi sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi Masalah.
2) Memilih masalah untuk kajian kelas.
3) Mengumpulkan informasi tentang masalah yang akan dikaji oleh kelas.
4) Mengembangkan portofolio kelas.
5) Kriteria penilaian portofolio.
12
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sebagai tindak lanjut dari visi dan misi serta kompetensi Mata Kuliah Berkehidupan
Bermasyarakat diatas, dikembangkan visi mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar yang
mengarahkan mahasiswa, selaku individu dan makhluk sosial yang beradab, memiliki
landasan pengetahuan, wawasan, serta keyakinan untuk bersikap kritis, peka dan arif dalam
menghadapi persoalan sosial dan budaya yang berkembang di Masyarakat.
Muatan mata kuliah ISBD terdiri dari tema-tema yang berhubungan dengan ilmu sosial
dan humaniora beserta kegiatan dasar manusia. Metode berpikirnya mengadopsi ilmu
pengetahuan alam, disiplin ilmu pendidikan. Teori belajar dan mengajarnya menggunakan
psikologi pendidikan.
Pendidikan umum merupakan proses pembangkitan makna-makna esensial yang
membimbing pelaksanaan hidup manusia melalui perluasan dan pendalaman makna-makna.
(Phenik. 1964: 6-8, dalam Setiadi (2008:7).
Ilmu Sosial Dasar (Basic Social Studies) dan Ilmu Budaya Dasar (Basic Humanities)
diajarkan di Indonesia sejak sekitar tahun 1970-an. Pembelajarannya bertujuan untuk
mendekatkan berbagai disiplin ilmu dalam satu studi yang integratif, dengan maksud agar
dalam kehidupannya sehari-hari, mahasiswa dari segala cabang disiplin ilmu dapat
berdialog dan mampu melihat permasalahan dalam masyarakat secara interdisipliner.
Ada beberapa model dan metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pengajaran
mata kuliah ISBD. Walaupun metode ceramah, tanya jawab dan diskusi masih dipandang
penting untuk memberi penjelasan dasar-dasar ilmiah serta materi esensisal yang menjadi
konsep dasar masalah yang akan dibahas, model pembelajaran problem solving, inquiri,
klasifikasi nilai, model aksi sosial, serta forto folio based learning sangat perlu
dikembangkan. Model-model ini sangat membutuhkan keterampilan mahasiswa dalam
mengatasi teknik pemecahan masalah.
13
DAFTAR PUSTAKA
Setiadi, E. M. (2017). Ilmu sosial & budaya dasar. Kencana.
Tumanggor, R., Ridlo, K., & H Nurochim, M. M. (2017). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.
Kencana.
Sri Wiratma, & Onggal Sihite (2021). Ilmu Sosial Budaya Dasar Edisi Revisi. Medan:
UNIMED PRESS
14
Download