VII. TEKNOLOGI BETON 7.1. Pendahuluan Beton telah dikenal sebagai bahan pilihan utama bahan bangunan karena mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan. Beton diperoleh dari pencampuran agregat halus dan kasar dengan menambahkan secukupnya bahan perekat semen dan air sebagai bahan pembantu guna keperluan reaksi kimia yang menghasilkan pengerasan dan pertambahan kekuatan yang berlangsung terus di bawah suatu kelembaban dan suhu tertentu. Sifat-sifat beton yang menguntungkan diantaranya adalah harganya yang relatif murah, (pasir, kerikil, air, mudah diperoleh dan murah kecuali semen Portland), berkekuatan tekan tinggi, mudah dibentuk, tahan aus, tahan kebakaran, tahan cuaca, tidak berkarat, dan hampir tidak memerlukan perawatan khusus selama masa pemakaian struktur. Tetapi disamping sifat-sifat beton yang menguntungkan ternyata terdapat beberapa kelemahan beton yaitu kuat tariknya biasa diabaikan dalam perencanaan. Hal ini dikarenakan kuat tarik beton hanya seper-dua puluh kuat tekan beton. Kelemahan lainnya adalah bersifat getas (brittle) dan sulit diperoleh beton yang kedap/rapat air. Dengan adanya beberapa keburukan beton maka untuk mengatasinya telah dilakukan berbagai usaha dan penelitian yaitu di antaranya dengan diberikan tambahan baja tulangan atau tulangan kasa, beton serat, penggunaan bahan tambah (additive), perancangan bahan campuran secara tepat,dan penggunaan bahan susun beton yang bermutu baik. Kekuatan, keawetan, dan sifat beton yang lain tergantung dari sifat bahan dasar pembentuk beton, nilai perbandingan bahan dasar beton, cara pengadukan, pengerjaan, penuangan, pemadatan, dan perawatan selama proses pengerasan. Untuk membuat beton yang baik maka harus diperhitungkan dengan seksama cara-cara memperoleh adukan beton segar (fresh concrete) yang baik dan beton keras (hard concrete) yang dihasilkan juga baik. Beton segar yang baik adalah beton segar yang dapat diaduk, diangkut, dituang, dan dipadatkan, tidak ada kecenderungan terjadi pemisahan agregat dari adukan (segregation) maupun pemisahan air dan semen dari adukan (bleeding). Hal ini karena segregasi ataupun bleeding mengakibatkan beton keras yang diperoleh akan berkualitas buruk. 90 Pencapaian kuat beton yang baik perlu diperhatikan kepadatan dan kekerasan massanya karena umumnya semakin keras dan padat massa penyusunnya makin tinggi kekuatan dan durability-nya. Untuk memperoleh kekuatan tekan beton yang tinggi ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan selain faktor air semen dan kepadatan beton. Faktor-faktor tersebut diantaranya: 1. jenis dan kualitas semen, 2. jenis dan bentuk permukaan agregat, 3. kondisi perawatan beton, 4. suhu lingkungan sekitar beton, 5. umur beton. Gambar 7.1. Contoh Konstruksi Menggunakan Bahan Beton 91 7.2. Air 7.2.1. Umum Air merupakan bahan dasar pembentuk beton yang penting namun harganya paling murah. Air dibutuhkan untuk kelangsungan reaksi semen (tanpa air, semen tidak dapat bereaksi mengeras) serta menjadi pelumas antara butir-butir agregat agar adukan beton mudah dikerjakan dan dipadatkan. Penggunaan air dalam pembuatan beton selain untuk menjamin kelangsungan reaksi hidrasi semen juga diperlukan untuk perawatan keras beton. Air mempengaruhi sifat beton yaitu sifat workability adukan, kekuatan, susut, dan keawetan beton. Untuk dapat bereaksi dengan semen jumlah air yang diperlukan sekitar 25% berat semen saja, tetapi dalam kenyataannya nilai faktor air semen yang dipakai bila kurang dari 0,35 adukan beton akan sulit dikerjakan. Kelebihan air ini digunakan sebagai pelumas. Namun perlu diperhatikan bahwa tambahan air untuk pelumas tidak boleh terlampau banyak karena akan terjadi bleeding dan dihasilkan beton yang berpori yang kuat tekannya rendah. 7.2.2. Syarat-syarat air Air yang digunakan untuk campuran beton dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak, asam, alkali, garam, bahan organik, atau bahan lain yang merusak beton. Secara umum, air yang sebaiknya digunakan adalah yang dapat diminum, tawar, tidak berbau, dihembus udara tidak keruh. Namun air campuran beton tidak harus memenuhi standar persyaratan air minum. Bila terdapat keragu-raguan mengenai air yang akan digunakan sebagai campuran beton maka sebaiknya dilakukan pengujian kuat tekan beton dengan air tersebut. Hasilnya harus lebih dari 90% dari kuat tekan beton dengan air suling. Sebaiknya dibandingkan pula awal ikatan (tidak boleh berselisih lebih dari 30 menit) dan sifat bentuk kekal dari adonan mortar. Adanya lumpur dalam air di atas 2 gr/lt, garam-garam mangaan, timah, seng, tembaga, timah hitam dapat mengurangi kekuatan beton. Seng klorida dapat memperlambat ikatan awal beton. Timbal nitrat dapat merusak beton. Sodium iodate, sodium posphate, sodium arsenat, sodium borat dapat mengurangi kuat awal beton (menjadi sangat rendah). Sodium karbonat dan potasium menyebabkan ikatan menjadi sangat cepat dan mengurangi kekuatan beton. 92 Air laut sebagai air campuran beton menyebabkan berkurangnya kuat tekan beton 10-20%. Air laut umumnya mengandung 3,5% larutan garam (78% sodium klorida dan 15% magnesium sulfat). Air laut tidak boleh digunakan untuk campuran beton bertulang ataupun beton prategang karena resiko korosi tulangan lebih besar. Selain hal tersebut air laut sebagai campuran adukan beton menyebabkan terjadinya efflorescence (pemekaran) yang tidak terlihat karena rambatan kadar air membawa garam yang terlarut ke permukaan. Chlorida dalam air laut menyebabkan korosi yang parah pada tulangan, kecuali ada tindakan untuk menjamin beton akan padat dan kedap air. Apabila terpaksa menggunakan air laut sebagai air campuran beton maka diimbangi dengan penggunaan semen portland yang lebih banyak (sehingga fas rendah), tidak digunakan untuk beton bertulang, selimut beton dibuat lebih tebal. Tabel 7.1. Kadar Sulfat dan Penyerangan oleh Sulfat Penyerangan oleh sulfat Dapat diabaikan Positif Keras Sangat keras Sulfat dapat larut dalam air (sebagai SO 4) dalam contoh-contoh tanah (%) 0,00 – 0,10 0,10 – 0,20 0,20 – 2,00 2,00 atau lebih Sulfat dalam contohcontoh air (x 10-6) 0 – 150 150 – 1500 1500 – 10000 10000 atau lebih Air limbah industri yang mengandung asam atau alkali sebaiknya tidak digunakan sebagai air campuran beton. Adanya ganggang dalam air campuran beton menyebabkan berkurangnya lekatan antara agregat dengan pasta semen. Kandungan gula akan memperlambat ikatan awal dan berkurangnya kekuatan beton. Air untuk perawatan beton sebaiknya tidak menimbulkan noda atau endapan yang dapat merusak warna permukaan beton sehingga tidak sedap dipandang. Besi dan zat organik dalam air umumnya sebagai penyebab utama pengotoran atau perubahan warna terutama jika perawatan cukup lama. 7.3. Semen 7.3.1. Umum Semen portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker yang terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidrolis dengan gips sebagai bahan tambahan untuk mengatur awal ikatan semen. 93 Faktor yang mempengaruhi sifat-sifat semen ialah komposisi kimiawi dan kehalusan penggilingan. Penggilingan yang lebih halus mempercepat reaksi dari bermacam-macam bahan pembentuk semen dengan air tetapi tidak mengubah sifat-sifat inherent (tidak dapat dipisahkan). Kehalusan penggilingan mempermudah pengerjaan adukan beton dan dapat mengurangi bleeding yaitu naiknya sejumlah air ke permukaan beton. 7.3.2. Proses Pembuatan Proses pembuatan semen portland ada dua cara produksi yaitu proses kering dan basah. Pada proses kering bahan-bahan dihancurkan, dikeringkan, kemudian digiling dengan bola penggiling untuk dijadikan serbuk. Selanjutnya serbuk tersebut dibakar dalam tanur putar datar dengan kondisi kering. Pada proses basah, bahan-bahan dihancurkan kemudian digiling bersama dengan air sehingga menjadi seperti bubur kemudian diuji komposisi kimiawinya dengan mengubah kandungan kapur dan tanah liat selanjutnya dibakar dalam tanur putar datar. Dari proses kering dan basah diperoleh klinker keras yang kemudian digiling halus dengan ditambahkan gips tak terbakar (CaSO4 + 2H2O) sebanyak 2% untuk mengontrol dan memperlambat waktu pengerasan (awal ikatan semen). Gambar 7.2. Proses Pembuatan Semen 7.3.3. Susunan Kimia Perbedaan sifat jenis semen yang satu terhadap yang lain dapat terjadi karena perbedaan susunan kimia maupun kehalusan butir-butirnya. Unsur utama yang terkandung dalam semen (yang paling berpengaruh terhadap sifat semen) digolongkan ke dalam empat bagian seperti yang tercantum dalam Tabel 7.2. 94 Tabel 7.2. Komposisi Unsur Utama Semen Nama Unsur Trikalsium Silikat Dikalsium Silikat Trikalsium Aluminat Tetrakalsium Aluminoferit Komposisi Kimia 3CaO.SiO2 2CaO.SiO2 3CaO.Al2O3 4CaO.Al2O3.Fe2O3 Lambang C3S C2S C3A C4AF Selain unsur utama juga terdapat unsur lain dalam jumlah kecil yaitu MgO, TiO2, Mn2O3, K2O, dan Na2O2. Dari unsur-unsur tersebut perlu diperhatikan Sodium oksida dan Potasium, Na2O dan K2O ,karena merupakan alkali yang dapat bereaksi dengan agregat yang menyebabkan disintegrasi pada beton dan mempengaruhi kekuatan beton. Komposisi oksida pada semen portland tertera dalam Tabel 7.3. Tabel 7.3. Komposisi Oksida Semen Portland Oksida CaO SiO2 Al2O3 Fe2O3 MgO Alkali SO3 Jumlah (%) 60-67 17-25 3-8 0.5-0.6 0.1-4.0 0.2-1.3 1-3 Dua unsur utama dalam semen C3S dan C2S (70%-80%) merupakan unsur yang dominan dalam memberikan sifat semen. Bila semen terkena air, maka C3S akan segera berhidrasi dan menghasilkan panas. Unsur ini berpengaruh besar terhadap pengerasan semen, terutama setelah berumur 14 hari. Sebaliknya, C2S beraksi dengan air lebih lambat sehingga hanya berpengaruh terhadap pengerasan semen lebih dari 7 hari dan memberikan kekuatan akhir. Unsur C2S ini membuat semen tahan terhadap serangan kimia dan mempengaruhi susut pengeringan. Unsur ketiga, C3A, beraksi dengan sangat cepat dan memberikan kekuatan sesudah 24 jam. Unsur ini bereaksi secara eksotermik dan sangat berpengaruh terhadap panas hidrasi tertinggi, baik pada pengerasan awal maupun pada pengerasan akhir. C3A dapat beraksi dengan sulfat yang mengakibatkan pengembangan beton keras dan dapat terjadi retak-retak pada betonnya, sehingga kadar C3A tidak boleh terlalu banyak (kurang dari 10%) karena beton yang dihasilkan akan kurang tahan terhadap asam sulfat. Untuk semen tahan sulfat unsur C3A maksimum 5%. Unsur keempat, C4AF, kurang begitu besar pengaruhnya terhadap proses pengerasan semen. 95 Tabel 7.4. Sifat Senyawa Penyusun Semen Portland Senyawa C3S C2S C3A C4AF Lajureaksi Sedang Lambat Besar Lambat Panas-ikatan (tiap satuan) Sedang Kecil Besar Kecil Nilai ikatan awal Baik Kurang Baik kurang Nilai ikatan pada optimum Baik Baik Kurang kurang Senyawa penyusun semen portland memberikan sifat-sifat khusus pada semen berdasarkan kadar yang dikandungnya, Tabel 7.4. dan Gambar 7.3. yang menunjukkan hubungan antara umur, kuat tekan, dan unsur utama semen (berdasarkan tipe semen). Gambar 7.3. Hubungan Umur, Kuat Tekan, dan Tipe Semen Tabel 7.5. Kadar Senyawa dan Sifat Tipe-tipe Semen Portland senyawa biasa C3S C2S C3A C4AF Bandingan kuat tekan setelah berumur 3 hari 28 hari 3 bulan Pengurangan/tambahan panas hidrasi pada umur 1-7 hari (dibandingkan dengan SP biasa) 45 27 11 8 Tipe semen portland Cepat Panas rendah mengeras 28 53 49 19 4 10 12 10 Tahan sulfat 38 43 4 8 100 100 100 190 130 115 50 65 90 65 65 85 0 (+) 50% (-) 40 – 50% (-1) 25 - 40% 96 7.3.4. Hidrasi Semen Proses hidrasi berlangsung bila semen telah beraksi dengan air. Proses hidrasi pada semen portland sangat kompleks, tidak semua reaksi dapat diketahui secara rinci. Rumus proses kimia untuk reaksi hidrasi dari unsur C2S dan C3S dapat ditulis sebagi berikut : 2C3S + 6H2O → C3S2H3 + 3Ca(OH)2 2C2S + 4H2O → C3S2H3 + Ca(OH)2 Hasil utama dari proses di atas adalah C3S2H3 biasa disebut tobermorite yang berbentuk gel dan berfungsi sebagai bahan perekat. Hasil lainnya adalah 3Ca(OH)2 yang dapat larut dalam air sehingga menyebabkan beton porous. Panas hidrasi didefinisikan sebagai kuantitas panas dalam kalori/gram pada semen yang terhidrasi. Waktu berlangsungnya dihitung sampai proses hidrasi berlangsung sempurna pada temperatur tertentu Laju perubahan panas bergantung pada komposisi semen. Laju hidrasi dan perubahan panas bertambah besar sejalan dengan semakin halusnya semen, walaupun kuantitas total panas yang dibebaskan tidak dipengaruhi oleh kehalusan tersebut. 7.3.5. Pengikatan Dan Pengerasan Di awal reaksi hidrasi dihasilkan Ca(OH)2, etteringite, dan C3S2H3 yang membentuk coating pada partikel semen serta etteringite membentuk coating pada 3CaO.Al2O3 yang mengakibatkan reaksi hidrasi tertahan (Dormant Period), selama satu sampai tiga jam (pasta semen masih plastis dan workable). Periode ini berakhir dengan pecahnya coating, reaksi hidrasi terjadi kembali dan initial setting segera terjadi yaitu waktu mulai adonan terjadi sampai mulai terjadi kekakuan tertentu dimana adonan mulai tidak workable. Selama beberapa jam reaksi hidasi dari 3CaO.SiO2 terjadi dan menghasilkan C3S2H3 dengan volume dua kali volume semen. C3S2H3 ini yang menghasilkan kekakuan dan menghalangi mobilitas partikel-partikel semen, yang akhirnya pasta semen menjadi kaku, final setting tercapai yaitu waktu mulai adonan terjadi sampai terjadi kekakuan penuh. Waktu pengikatan (setting time) dari semen dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya adalah : 1. kandungan C3A, semakin besar akan menyebabkan setting time yang pendek, 2. kandungan gips (CaSO4.2H2O), menghasilkan setting time yang semakin panjang, 97 3. kehalusan semen, menghasilkan setting time yang semakin pendek. Penambahan air Dormant Period Pasta plastis dan mudah dibentuk Initial setting time min 45 menit Final setting time max. 7 jam Initial set setting Pasta kaku dan tidak mudah dibentuk Final set hardening Padat dan kaku dan mulai mengeras Proses pengerasan Gambar 7.4. Mekanisme Proses Pengikatan dan Pengerasan Semen Normal 7.3.6. Jenis Semen Portland Sesuai dengan tujuan pemakaiannya semen portland di Indonesia dibagi menjadi lima jenis. 1. Jenis I (Nomal Protland Cement) Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain, aplikasi pada bangunan umum (rumah, gedung, jembatan, pasangan batu/bata). Semen ini tidak baik digunakan untuk bangunan massa karena dapat menimbulkan selisih temperatur yang besar antara bagian dalam dan luar bangunan sehingga dapat timbul retak-retak pengerasan. 2. Jenis II (Modified Portland Cement) Semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang. Panas hidrasinya lebih rendah dibandingkan semen tipe I sehingga dapat mengurangi retak-retak pengerasan jika diaplikasikan pada bangunan massa. Aplikasi penggunaan semen ini untuk bangunan tebal (pir, pilar, dinding penahan tanah yang tebal, bendungan, dermaga). 98 3. Jenis III (High Early Strength Portland Cement) Semen Portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi. Aplikasi untuk pembuatan perbaikan bangunan beton yang harus segera digunakan atau segera dilepas bekisting-nya, jalan raya, lapangan terbang. 4. Jenis IV (Low Heat Portland Cement) Semen Portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah. Tumbuhnya kekuatan berjalan lambat. Jenis ini digunakan untuk bangunan beton massa (bendungan). 5. Jenis V (Sulfate Resisting Portland Cement) Semen Portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan sangat tahan terhadap sulfat. Semen jenis ini pengerasannya berjalan lebih lambat dibandingkan dengan semen tipe I. Penggunaannya adalah pada bangunan yang terletak pada lingkungan yang mengandung sulfat pekat (tanah atau air yang tinggi kadar alkalinya) contoh aplikasi pada bendungan dan pemecah gelombang. 7.3.7. Jenis Semen Lain/Khusus Selain kelima jenis semen yang telah disebutkan di atas, ada jenis semen lain yang biasanya digunakan untuk beberapa pekerjaan tertentu, yaitu : 1. Semen Portland Pozolan (PPC) Semen Portland Pozolan adalah suatu bahan pengikat hidrolis yang dibuat dengan menggiling bersama terak semen portland dan bahan yang mempunyai sifat pozolan, atau mencampur secara merata bubuk semen portland dan bubuk bahan yang mempunyai sifat pozolan. Campuran beton dan mortar menggunakan PPC mempunyai sifat pengerjaan yang mudah. Pada campuran beton dengan PPC akan terjadi perpanjangan waktu pengikatan, dibandingkan dengan semen biasa tipe I berselisih sekitar 45 menit. Panas hidrasi dan suhu beton dengan PPC rendah. Kekuatan tekan beton dengan semen pozolan pada umur awal lebih rendah tetapi pada umur lama akan menjadi semakin tinggi karena masih terjadi reaksi antara silika aktif pozolan dengan Ca(OH)2 membentuk senyawa CSH. Beton dengan PPC akan memiliki ketahanan yang lebih baik. Semen ini cocok digunakan untuk bangunan di laut, pengairan, dan beton massa. 99 2. Semen Masonry dan Mixed Cement Semen yang diproduksi dari pencampuran terak semen portland dan gips dengan satu atau lebih bahan anorganik yang bersifat inert. Kuat tekan dari beton yang menggunakan semen ini rendah (max. 20 MPa). Sifat-sifat dari semen ini adalah plastis dan tidak cepat kaku, pengerjaan mudah (cocok untuk pasangan bata, tegel), memberikan hasil permukaan plester yang licin dan halus karena sifat pengerutan dan penyusutannya sangat kecil, memiliki panas hidrasi yang rendah, memiliki pori-pori permukaan yang sangat kecil dan warna yang lebih terang sehingga akan menghemat biaya pengecatan, cocok untuk pekerjaan konstruksi ringan. 7.3.8. Penyimpanan Semen Penyimpanan semen diperlukan jika distribusi semen tidak teratur. Dalam penyimpanan semen harus dijauhkan dari uap air, namun butir-butir semen yang berhubungan dengan udara akan menyerap air secara perlahan-lahan dan menyebabkan terjadinya kerusakan pada semen. Penyerapan air 1-2% tidak mempengaruhi kualitas semen tetapi dapat memperlambat proses pengerasan semen dan mengurangi kekuatan semen. Semen tidak boleh disimpan langsung nyentuh tanah karena semen menjadi lebih reaktif dalam menyerap kadar uap air dari kelembaban di sekelilingnya. Semen yang berbentuk curah (tidak dalam kantong/zak) dapat disimpan dalam tempat penyimpanan setinggi minimal 2 m. Biasanya bagian luar sekitar 5 cm akan mengeras dan tidak dapat digunakan. Semen dalam zak dapat disimpan lebih lama jika disimpan di atas lembaran alas yang kedap air, dinding dan lantai yang tidak porous, dan jendela ditutup sangat rapat. Semen yang telah disimpan lebih dari 6 bulan sejak dibuat, sebelum digunakan sebaiknya diuji dahulu karena kekuatannya berkurang sekitar 40%. Bongkahan semen yang tidak dapat diremas dengan tangan merupakan petunjuk praktis bahwa semen sudah tidak memenuhi syarat untuk digunakan. Penyimpanan semen harus dilakukan sedemikian rupa sehingga semen yang dikirm paling awal dapat dipakai paling awal juga. 7.3.9. Pengujian Semen Untuk mendapatkan semen yang berkualitas/bermutu sesuai ketentuan/SNI, maka harus dilakukan beberapa pengujian, antara lain : 100 1. Kehalusan Kehalusan butir semen diperoleh dengan menggunakan ayakan 0,09 mm. Semakin halus butirnya, semakin luas jumlah permukaan butir (tiap satuan berat), mengakibatkan semakin sempurna dan cepat pengikatan dan pengerasannya. Secara umum, semen berbutir halus meningkatkan kohesi pada beton segar dan dapat pula mengurangi bleeding tetapi menambah kecenderungan beton untuk menyusut lebih banyak dan mempermudah terjadinya retak susut. Menurut ASTM, uji kehalusan dengan menggunakan turbidimeter Wagner, kehalusan diukur dengan specific surface (mm2/kg). Berdasarkan British Standar syarat kehalusan semen tipe I 225 mm2/kg sedangkan ASTM 280 mm2/kg. 2. Komposisi kimia Harus ditangani oleh ahli kimia dengan batasan proporsi bahan penyusun sesuai standar. Syarat penting yang harus diperhatikan adalah kadar MgO dan SO3 tidak melebihi persentase tertentu karena bila berlebihan akan mengakibatkan semen tidak bersifat kekal. 3. Kekuatan Dilakukan pengujian kuat tekan mortar dan beton. Untuk kuat tekan mortar semen tipe I dengan perbandingan 1:3 dan berukuran kubus 2,78 inchi (70 mm) menurut British Standar umur 3 dan 7 hari berturut-turut 15 dan 23 MPa. Pada pengujian kubus beton berukuran 4 inch (100 mm) dan ukuran agregat maksimum ¾ inchi (20 mm) dengan perbandingan 1:2:4 dan f.a.s. 0,6 pada umur 3 dan 7 hari kuat tekannya berturut-turut 8 dan 14 MPa. 4. Waktu pengikatan Ikatan awal tidak boleh dimulai dalam 1 jam setelah semen bercampur dengan air. Syarat ini diperlukan untuk mengolah, mengangkut, menempatkan adukan pada cetakan. Waktu ikat awal merupakan periode waktu mulai saat semen dicampur air sampai dengan jarum pada alat vicat (dibebani 300 gr) masuk sedalam 5mm-7mm dari dasar cetakan vicat dan tidak dapat masuk lagi (berhenti tetap). Pengujian waktu ikat juga bertujuan untuk menentukan jumlah air yang diperlukan untuk menghasilkan pasta semen dengan konsistensi normal. 5. Sifat kekal bentuk Pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa keutuhan beton terhadap timbulnya pengembangan yang tidak dikehendaki. 101 Cara pemeriksaan dengan membuat adonan semen dengan konsistensi normal ditempatkan di atas plat kaca dengan ukuran diameter 12 cm dan tebal dipusat 1,3 cm. Setelah berumur 24 jam disimpan dalam ruangan lembab kemudian direndam dalam air selama 27 hari atau dididihkan dalam air selama 3 jam dan diamati apakah terjadi perubahan bentuk, retak-retak pada adonan tadi. Menurut ASTM digunakan adonan berukuran 1 x 1 inchi dan panjang 10 inchi, disimpan selama 24 jam kemudian diletakkan dalam autoclave. Temperatur autoclave dinaikkan hingga dalam 1-1¼ jam terdapat tekanan uap 295 psi dan dipertahankan selama 3 jam. Selanjutnya benda uji tersebut dihitung selisih panjang sebelum dan sesudah pengujian, harus memenuhi syarat pengembangan kurang dari 0,5%. 7.3.10. Pasta Semen Air diperlukan untuk proses ikatan dan pengerasan semen portland. Campuran air dan semen dinamakan dengan pasta semen. Antara senyawa-senyawa semen portland dan air terjadi reaksi kimia yang menghasilkan gel (1 cc semen menghasilkan 2 cc pasta semen). Reaksi dimulai pada permukaan butir-butir semen dan melanjut ke dalam butir. Apabila air campuran pada awal relatif banyak, maka jarak butir-butir semen besar. Pertumbuhan gel leluasa, pori-pori gel mudah terbentuk sehingga setelah mengeras diperoleh bahan yang sifat tembus airnya (permeabilitas) besar, struktur kontinu kurang kuat. Sebaliknya bila air campuran pada awal relatif sedikit, maka pertumbuhan gel tidak leluasa, gel dari butir-butir semen berlainan akan saling berdesarkan dan berkaitan. Akibatnya pori-pori gel tidak mudah terbentuk dan tinggal kecil-kecil saja. Setelah mengeras, sifat tembus air bahannya rendah dan kerangka kontinuya kuat. Kekuatan pasta semen yang telah mengeras dianggap suatu fungsi pangkat dari gel space ratio (nilai banding antara volum gel dan jumlah volum gel +rongga kapiler). Semakin besar nilai ini semakin besar pula nilai kekuatannya. Terlihat bahwa kualitas pasta semen dipengaruhi oleh fas (faktor air semen) yaitu harga dari jumlah air yang digunakan dibagi dengan jumlah semen portland untuk campuran beton. Pasta semen pada adukan beton berpengaruh pada workability adukan, kekuatan, sifat tembus air, dan susut pengerasan. 102 7.4. Agregat 7.4.1. Umum Agregat merupakan bahan susun beton yang persentasenya paling banyak yaitu sebesar 70% volume mortar atau beton. Agregat juga mempengaruhi sifat-sifat beton yang dihasilkan. Tujuan dalam pemakaian agregat dalam adukan beton adalah untuk penghematan penggunaan semen portland (menyebabkan beton menjadi lebih murah), menghasilkan kekuatan besar pada betonnya, mengurangi terjadinya susut pengerasan, mencapai ukuran pampat beton, dan workability beton yang baik. Gradasi agregat merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan, karena bila butir-butir agregat berukuran seragam akan dihasilkan volume pori yang besar, sebaliknya bila ukuran butir-butir agregat bervariasi (well graded) volume pori akan kecil. Hal ini dikarenakan butiran kecil akan mengisi pori diantara butiran yang lebih besar. Agregat yang digunakan diharapkan memiliki kemampatan yang tinggi, sehingga volume porinya sedikit, berarti hanya membutuhkan bahan ikat yang sedikit. Agregat dibedakan berdasarkan besar ukuran butirnya, agregat kasar (kerikil) ukuran butirnya di atas 4,80 cm sedangkan di bawah 4,80 cm dinamakan dengan agregat halus (pasir). Dalam praktek agregat umumnya digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu batu (besar butir lebih dari 40 mm), kerikil (besar butir 5mm – 40mm), pasir (besar butir 0,15mm – 5mm), debu dan lumpur (besar butir kurang dari 0,15mm, menyebabkan turunnya kekuatan beton). Agregat harus mempunyai bentuk yang baik (bulat atau mendekati kubus), bersih, keras, kuat, gradasi baik, memiliki kestabilan kimiawi, tahan aus dan cuaca. Agregat diperoleh dari alam, pemecahan batu, maupun buatan. Agregat buatan diperoleh dari terak tanur tinggi (pembuatan besi-baja) yang kemudian dipecah-pecah, tanah liat yang dibakar (keramik, ringan, dan berpori), abu terbang yang mengeras. 7.4.2. Pasir Atau Agregat Halus Pasir alam dapat diperoleh dari dalam tanah (pasir galian), pada dasar sungai (pasir sungai), dan tepi laut (pasir laut). Pasir galian biasanya bersudut, tajam , berpori dan bebas dari kandungan garam, tetapi harus dibersihkan dari tanah. Pasir sungai, umumnya berbutir halus, bulat (akibat gesekan dengan arus sungai), daya lekat kurang karena berbutir bulat dan halus. Pasir laut butirnya halus dan bulat karena gesekan, mengandung garam-garaman yang menyebabkan pasir selalu agak basah (dapat menimbulkan kerusakan beton dan 103 tulangan dalam beton) dan akan terjadi pengembangan volume bila digunakan sebagai bahan susun beton sehingga pasir laut sebaiknya tidak digunakan. Agar pasir yang digunakan dapat menghasilkan beton bermutu baik sesuai yang disyaratkan, maka pasir harus memenuhi syarat-syarat : 1. Berbutir tajam dan keras dimaksudkan untuk kaitan yang baik dalam adukan. 2. Bersifat kekal (tidak mudah pecah dan hancur) untuk ketahanan terhadap perubahan lingkungan (panas, hujan). Untuk pengujian sifat kekal dari pasir dengan menggunakan larutan Na2SO4 dengan cara direndam dan dikeringkan sebanyak lima kali dan kehilangan berat terbesar 10% atau menggunakan MgSO4 dengan kehilangan berat 15%. 3. Tidak mengandung lumpur (bagian yang lolos ayakan 0,063 mm) lebih dari 5%. Hal ini dikarenakan kandungan lumpur yang tinggi akan memperbesar bidang kontak antara agregat dengan air mengakibatkan dibutuhkan air lebih banyak sehingga mempersulit proses pemadatan, 4. Tidak mengandung bahan organik dikarenakan dapat bereaksi dengan senyawa dari semen portland. Pengujian kandungan zat organik dengan menggunakan larutan NaOH 3% dengan cara pasir direndam selama 24 jam dan warna yang dihasilkan dicocokkan dengan warna standar yaitu sesuai dengan Gardner Color Standard no. 11 dan tidak boleh berwarna lebih gelap. Pasir yang tidak memenuhi pengujian warna ini juga dapat digunakan bila kuat tekan adukan dengan pasir tersebut saat umur 7 dan 28 hari tidak kurang dari 95% kuat tekan adukan dengan pasir sama tetapi telah dicuci dalam larutan NaOH 3% yang dicuci lagi dengan air pada umur sama. 5. Gradasi sesuai yang disyaratkan. Gradasi yang disyaratkan dalam SK-SNI-T-15-199003 kekasaran pasir dibagi menjadi empat kelompok menurut gradasinya yaitu pasir halus, agak halus, agak kasar, dan kasar seperti dalam Tabel 7.6. dan Gambar 7.5. Tabel 7.6. Gradasi Pasir Persen berat butir yang lewat ayakan Lubang ayakan (mm) Daerah I Daerah II Daerah III Daerah IV 10,0 4,8 2,4 1,2 0,6 0,3 0,15 100 90-100 60-95 30-70 15-34 5-20 0-10 100 90-100 75-100 55-90 35-59 8-30 0-10 100 90-100 85-100 75-100 60-79 12-40 0-10 100 95-100 95-100 90-100 80-100 15-50 0-15 Keterangan : daerah I daerah II = pasir kasar = pasir agak kasar daerah III daerah IV = pasir agak halus = pasir halus 104 berat butir yang lewat ayakan (%) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 0,15 0,30 0,60 1,2 2,4 4,8 10 Lubang ayakan (m m ) Gambar 7.5. Gradasi Pasir (SK-SNI-T-15-1990-03) 7.4.3. Kerikil Atau Agregat Kasar Agregat kasar dapat diperoleh dari alam (hasil desinterasi alam, biasanya berbentuk bulat), hasil pemecahan batu menjadi berukuran sesuai yang diinginkan dengan menggunakan tenaga manusia maupun mesin pemecah batu, agregat buatan dengan menggunakan tanah liat bakar (keramik) yang dibentuk bulat-bulat dan agregat buatan dari terak tanur tinggi. Agar dapat menghasilkan beton bermutu baik sesuai yang disyaratkan, maka krikil harus memenuhi syarat-syarat: 1. Berbutir keras dan tidak berpori agar dapat menghasilkan beton yang keras dan sifat tembus air kecil. Pengujian kekerasan agregat kasar untuk beton dengan menggunakan mesin aus Los Angeles atau Bejana Rudeloff dengan persyaratan seperti Tabel 7.7. 2. Bersifat kekal (tidak mudah hancur atau pecah). Untuk pengujian sifat kekal dari agregat kasar menggunakan larutan Na2SO4 dengan cara direndam dan dikeringkan sebanyak lima kali dan kehilangan berat maksimum 12% sedangkan menggunakan larutan MgSO4 kehilangan berat maksimum 18%. 3. Tidak mengandung lumpur lebih dari 1%. 4. Tidak mengandung zat yang reaktif alkali (dapat menyebabkan pengembangan beton), 5. Tidak boleh lebih dari 20% bentuk butir pipih (butir pipih kurang mampu menahan beban, rongga besar, membutuhkan pasta semen banyak). 6. Bergradasi baik agar beton yang dihasilkan pampat. Adapun gradasi kerikil yang baik sebaiknya masuk dalam batas-batas yang tercantum dalam Tabel 7.8 dan Gambar 7.6. 105 Tabel 7.7. Persyaratan Kekerasan Agregat Kasar untuk Beton Kekuatan beton Bejana Rudeloff (maksimum bagian yang hancur, menembus ayakan 2mm) dalam % 19-30 mm 9,5-19 mm Mesin Los Angeles (maksimum bagian yang hancur menembus ayakan 1,7 mm dalam %) Kelas I(sampai 10 MPa) 30 32 50 Kelas II (10-20 MPa) 22 24 40 Kelas III (diatas 20 MPa) 14 16 27 Tabel 7.8. Gradasi Kerikil Lubang 40 20 10 4,8 Besar butir maksimum. (% berat butir yang lewat ayakan). 40 mm 20 mm 95-100 100 30-70 95-100 10-35 25-55 0-5 0-10 berat butir yang lew at ayakan (%) 100 80 60 40 20 0 4,8 10 lubang ayakan 20 40 Gambar 7.6. Gradasi Kerikil Gambar 7.7. Mesin Aus Los Angeles 7.4.4. Ukuran butir maksimum agregat Adukan beton dengan tingkat kemudahan pengerjaan yang sama atau kekuatan yang sama akan membutuhkan semen yang lebih sedikit bila dipakai butir-butir kerikil 106 yang besar-besar. Oleh karena itu untuk mengurangi jumlah semen dibutuhkan ukuran butir maksimum agregat sebesar-besarnya. Pengurangan jumlah semen juga mengurangi panas hidrasi sehingga retak akibat susut berkurang. Tetapi dalam pemilihan ukuran butir maksimum agergat tidak dapat terlalu besar, ada faktor-faktor yang membatasi yaitu : 1. ukuran maksimum butir agregat tidak boleh melebihi ¾ kali jarak bersih antar baja tulangan atau antara baja tulangan dengan cetakan, 2. ukuran maksimum butir agregat tidak boleh lebih besar dari 1/3 kali tebal plat, 3. ukuran maksimum butir agregat tidak boleh lebih besar dari 1/5 kali jarak terkecil antara bidang samping cetakan. 7.4.5. Gradasi agregat Gradasi agregat adalah distribusi ukuran butiran dari agregat. Bila butir-butir agregat mempunyai ukuran yang seragam volume pori akan besar, sebaliknya bila ukuran butir bervariasi maka akan terjadi volume pori yang kecil sehingga beton yang dihasilkan lebih pampat. Sebagai pernyataan gradasi digunakan persentase dari berat butir yang tertinggal atau lewat dari suatu susunan ayakan dengan lubang 40mm, 20mm, 10mm, 4,8mm, 2,4mm, 1,2mm, 0,6mm, 0,3mm, 0,15mm. Untuk memperoleh adukan beton yang ideal gradasi agregat (campuran antara pasir dan kerikil) harus dalam batas-batas pada Tabel 7.9., 7.10., 7.11., 7.12. atau Gambar 7.8., 7.9., 7.10., 7.11. Gradasi agregat masuk dalam kurva 1 dan 2 diperoleh adukan beton yang kasar, sesuai untuk f.a.s. rendah, mudah dikerjakan tetapi mudah terjadi pemisahan kerikil. Gradasi agregat dalam kurva 3 dan 4 diperoleh adukan beton yang halus, lebih kohesif, sulit dikerjakan, perlu f.a.s. tinggi. Tabel 7.9. Persen Butiran yang Lewat Ayakan (%) untuk Agregat dengan Butir Maksimum 40 mm. Lubang (mm) 38 19 9,6 4,8 2,4 1,2 0,6 0,3 0,15 Kurva 1 100 50 36 24 18 12 7 3 0 Kurva 2 100 59 44 32 25 17 12 7 0 Kurva 3 100 67 52 40 31 24 17 11 2 Kurva 4 100 75 60 47 38 30 23 15 5 107 Tabel 7.10. Persen Butiran yang Lewat Ayakan (%) untuk Agregat dengan Butir Maksimum 30 mm. Lubang (mm) 38 19 9,6 4,8 2,4 1,2 0,6 0,3 0,15 Kurva 1 1.1..6.1.1 100 74 47 28 18 10 6 4 0 Kurva 2 100 86 70 52 40 30 21 11 1 Kurva 3 100 93 82 70 57 46 32 19 4 Tabel 7.11. Persen Butiran yang Lewat Ayakan (%) untuk Agregat dengan Butir Maksimum 20 mm. Lubang (mm) 19 9,6 4,8 2,4 1,2 0,6 0,3 0,15 Kurva 1 100 45 30 23 16 9 2 0 Kurva 2 100 55 35 28 21 14 3 0 Kurva 3 100 65 42 35 28 21 5 0 Kurva 4 100 75 48 42 34 27 12 2 Tabel 7.12. Persen Butiran yang Lewat Ayakan (%) untuk Agregat dengan Butir Maksimum 10 mm. Lubang (mm) 9,6 4,8 2,4 1,2 0,6 0,3 0,15 Kurva 1 100 30 20 16 12 4 0 Kurva 2 100 45 33 26 19 8 1 Kurva 3 100 60 46 37 28 14 3 Kurva 4 100 75 60 46 34 20 6 108 Gambar 7.8. Gradasi Agregat dengan Butir Maksimum 40 mm berat butir yang lewat (%) 100 100 82 80 60 (3) 46 40 32 20 4 1 0 0,15 0,3 19 21 11 4 6 0,6 74 70 70 0 93 86 57 52 47 (2) 40 30 28 (1) 18 10 1,2 2,4 4,8 9,6 19 30 lubang ayakan, mm Gambar 7.9. Gradasi Agregat dengan Butir Maksimum 30 mm 109 100 berat butir yang lewat (%) 100 80 75 (4) (3) 48 (2) 42 (1) 60 42 35 28 23 40 20 0 2 0 12 5 3 2 0,15 0,3 34 28 21 16 27 21 14 9 0,6 1,2 65 55 45 35 30 2,4 4,8 9,6 19 lubang ayakan, mm Gambar 7.10. Gradasi Agregat dengan Butir Maksimum 20 mm 100 berat butir yang lewat (%) 100 (4) 80 75 (3) 60 46 40 37 34 28 20 0 6 3 1 0 0,15 20 14 8 4 0,3 46 45 33 30 26 19 12 0,6 60 (2) (1) 60 20 16 1,2 2,4 4,8 9,6 lubang ayakan, mm Gambar 7.11. Gradasi Agregat dengan Butir Maksimum 10 mm Gradasi agregat yang biasa digunakan dalam campuran adukan beton adalah : 1. Gradasi sela Gradasi sela didefinisikan sebagai suatu agregat dengan gradasi salah satu fraksi atau lebih berukuran tertentu tidak ada. Bila terdapat gradasi sela maka : a. pada fas dan rasio agregat tertentu kemudahan pekerjaan akan tinggi bila kandungan pasir lebih sedikit, 110 b. pada campuran beton segar yang mudah dikerjakan akan terjadi kecenderungan mudah mengalami segregasi, c. tidak tampak berpengaruh terhadap kuat tekan dan tarik beton. 2. Gradasi seragam Biasanya digunakan untuk beton ringan jenis beton tanpa pasir, atau untuk mengisi agregat dengan gradasi sela atau untuk tambahan agergat dengan gradasi campuran yang kurang memenuhi syarat. 7.4.6. Modulus halus butir Modulus halus butir adalah suatu indek yang dipakai untuk menjadi ukuran kehalusan atau kekasaran butir-butir agregat. Modulus halus butir (mhb) didefinisikan sebagai jumlah persen komulatif butir agregat yang tertinggal di atas satu set ayakan dan kemudian dibagi 100. Susunan lubang ayakan adalah 40 mm, 20 mm, 10 mm, 4,80 mm, 2,40 mm, 1,20 mm, 0,60 mm, 0,30 mm, 0,15 mm. Makin besar nilai mhb maka makin besar butir-butir agregatnya. Pasir pada umumnya memiliki nilai mhb 1,5 sampai 3,8 dan kerikil 5 sampai 8. Mhb selain untuk ukuran kehalusan butir agregat juga dapat digunakan untuk mencari nilai perbandingan antara pasir dan kerikil untuk adukan beton. Mhb campuran pasir dan kerikil untuk beton sekitar 5 sampai 6,5. Tabel 7.13. Hitungan Mhb Pasir lubang ayakan (mm) 40 20 20 4.8 2.4 1.2 0.6 0.3 0.15 0 (sisa) jumlah Mhb = berat tertinggal (gr) 0 0 0 48 74 184 210 288 172 24 1000 berat tertinggal (%) komulatif 0 0 0 4.80 7.40 18.40 21.00 28.80 17.20 2.40 100.00% 0 0 0 4.80 12.20 30.60 51.60 80.40 97.60 -277.20% 277.20 = 2 .8 100 111 Tabel 7.14. Hitungan Mhb Kerikil lubang ayakan (mm) 40 20 20 4.8 2.4 1.2 0.6 0.3 0.15 0 (sisa) jumlah Mhb = berat tertinggal (gr) 0 2500 1250 1200 50 0 0 0 0 0 5000 berat tertinggal (%) komulatif 0 50 25 24 1 0 0 0 0 0 100.00 0 50 75 99 100 100 100 100 100 -724 724 = 7 .2 100 Persentase berat pasir terhadap kerikil = K−C x100% C−P Mhb campuran agregat untuk beton berkisar 5-6.5 , misal direncanakan 5,6 W= 7,2 − 5,6 = 57% 5,6 − 2,8 Berat pasir terhadap kerikil 57% atau 57 : 100 atau 1 :1,75 atau berat pasir 36% dan kerikil 64%. Misalkan direncanakan campuran pasir 40% dan kerikil 60% maka campuran pasir : Tabel 7.15. Hitungan Campuran Agregat lubang ayakan (mm) berat pasir (%) (1) (2) 40 100 20 100 10 100 4.8 95.2 2.4 87.8 1.2 69.4 0.6 48.4 0.3 19.6 0.15 2.4 berat kerikil (%) (3) 100 50 25 1 0 0 0 0 0 (2) x P (3) x K (4) (5) 40 40 40 38.08 35.12 27.76 19.36 7.84 0.96 60 30 15 0.6 0 0 0 0 0 (4) + (5) 100 70 55 38.68 35.12 27.76 19.36 7.84 0.96 Kemudian terapkan hasil perhitungan pada Tabel 7.15. terhadap grafik gradasi. 112 7.4.7. Pengaruh kadar air pada pasir Berat satuan pasir dipengaruhi oleh kandungan air dalam pasir. Adanya air menyebabkan terjadinya tegangan muka air di antara butir-butir pasir yang akan menimbulkan tegangan ke samping pada butir-butirnya sehingga butir-butir tidak dapat saling dekat. Makin halus butir pasir makin besar efek pengembangan volume ini. Pasir halus dengan kadar air sekitar 5-8% (kadar air = berat air dibagi berat butir pasir) menyebabkan pengembangan volume sampai 25-40%. Cara pengujian pengembangan volume pasir adalah dengan menggunakan gelas ukur untuk mengukur volume pasir yang sedikit mengandung air. Tinggi pasir diukur (h1) kemudian pasir dikeluarkan dari gelas ukur, kemudian pada gelas ukur diisikan air sebanyak ½ h1 selanjutnya tambahkan pasir yang tadi aduk dan tunggu sampai air mengendap. Ukur tinggi pasir yang mengendap (h2). Pengembangan volume pasir dapat diperoleh dengan rumus berikut : (h1-h2)/h2 Jika pasir diukur menurut volume dan tidak diberikan koreksi terhadap adanya pengembangan volume, maka campuran beton akan kekurangan pasir dari yang direncanakan. Contohnya untuk campuran beton 1:2:3 bila terjadi penggunaan pasir yang pengembangan volumenya 20% maka sebenarnya adukan beton dibuat sesuai dengan perbandingan 1:1,6:3. Sehingga untuk beton dengan mutu lebih 20 MPa disarankan tidak menggunaan perbandingan volume karena untuk mencegah ketidaktepatan takaran bahan susun beton dikarenakan adanya pengembangan volume pasir. Dalam penelitian beton di dalam laboratorium, sebaiknya pasir yang digunakan dalam kedaan SSD (Saturated Surface Dry) atau jenuh muka/kering permukaan. Hal ini dapat dicapai dengan pembasahan pasir yang kemudian diangin-anginkan. Uji SSD dengan menggunakan kerucut konik (diameter bawah 3½ inch, diameter atas 1½ inch, tinggi 3 inch) . Pasir diisikan ke dalam kerucut kemudian ditumbuk dengan tongkat dan cetakan diangkat tegak. Perhatikan bentuk pasir, bila berbentuk kerucut berarti pasirnya basah, jika puncaknya turun kurang lebih separuh tinggi maka keadaan SSD pasir telah tercapai. Akibatnya pasirnya tidak menyerap air campuran atau menambah air campuran. Keadaan kandungan air agregat dibedakan menjadi beberapa tingkatan, yaitu seperti yang tertera berikut : 1. kering tungku, benar-benar tidak berair, dapat secara penuh menyerap air, 2. kering udara, butir permukaan agregat kering tetapi mengandung sedikit air di dalam porinya, sehingga masih dapat menyerap sedikit air adukan, 113 3. jenuh kering muka (SSD), tidak ada air dipermukaan tetapi butir-butirnya berisi air, tidak akan menyerap dan menambah air dalam adukan beton, 4. basah, butir-butir mengandung banyak air baik di permukaan maupun di dalam butiran, sehingga akan menambah air dalam adukan beton. 7.4.8. Berat jenis agregat Agregat dibedakan bedakan berdasarkan berat jenisnya terdiri dari agregat normal (bj. 2,5-2,7), berat (bj. lebih dari 2,8) , dan ringan (bj kurang dari 2). Beton yang dihasilkan dengan agregat normal adalah beton dengan bj sekitar 2,4 dan kuat tekan 15-40 MPa. Agregat berat biasa digunakan untuk beton yang digunakan untuk menahan radiasi, dihasilkan beton dengan bj 5. Agregat ringan biasanya untuk beton non struktural. Kelebihan dari beton dengan agregat ringan adalah berat sendiri beton yang rendah., lebih tahan api, dan isolator panas. Beton dengan agregat ringan biasanya kuat tarik dan modulus elastisitasnya rendah, susut dan rayapan lebih tinggi, perlu selimut beton yang lebih tebal untuk mencegah korosi pada tulangan (permeabilitas besar). 7.5.Sifat-Sifat Adukan Beton Beberapa keadaan yang mempengaruhi sifat-sifat adukan beton akan dijelaskan di bawah ini. 7.5.1. Konsistensi Konsistensi menunjukkan kekentalan adukan beton, perlawanan gesekan atau gaya yang diperlukan untuk awal mengalir. Sifat ini dipengaruhi oleh jumlah dan jenis semen, nilai faktor air semen, jenis dan susunan butir bahan batuan, dan penggunaan zat tambah. Konsistensi adukan dapat diperiksa dengan menggunakan pengujian slump. Gambar 7.11. Pengukuran slump Cara pengujian slump dengan menggunakan kerucut Abrams berukuran diameter lubang atas 10cm dan bawah 20 cm, tinggi 30 cm. Cetakan diletakkan di alas yang datar, 114 tidak menyerap air, dan jauh dari getaran. Kemudian adukan beton segar dituang sebanyak 3 kali ke dalam cetakan masing-masing 1/3 tinggi corong dan ditusuk-tusuk 25 kali dengan tongkat baja. Ketika isi cetakan telah penuh permukaan diratakan dan dibiarkan 30 detik . Selanjutnya corong kerucut diangkat vertikal ke atas secara perlahan. Turunnya adukan beton diukur (Gambar 7.11.), kemudian dibandingkan dengan tinggi awal (kerucut Abrams), itu adalah nilai slump-nya. Jika nilai slump makin tinggi maka adukan beton makin cair/encer. Tabel 7.16. Nilai Maksimum dan Minimum Slump Jenis konstruksi Dinding, fondasi telapak bertulang, fondasi plat Fondasi telapak tidak bertulang, kaison, struktur bawah tanah Pelat, balok, kolom, dan dinding Pengerasan jalan Pembetonan massal Maksimum (cm) 12,5 9,0 Minimum (cm) 5,0 2,5 15,0 7,5 7,5 7,5 5,0 2,5 7.5.2. Sifat mudah dikerjakan (workability) Sifat ini merupakan ukuran tingkat kemudahan adukan beton untuk diaduk, disalurkan, dituang, dipampatkan, tanpa timbul pemisahan bahan susun. Unsur-unsur yang mempengaruhi sifat ini adalah : 1. jumlah air campuran beton, makin banyak makin mudah beton segar dikerjakan, 2. penambahan semen dalam campuran akan memudahkan cara pengadukan beton karena biasanya diikuti penambahan air agar nilai fas tetap, 3. gradasi campuran pasir dan kerikil, gradasi baik campuran beton mudah dikerjakan, 4. pemakaian butir agregat yang bulat, memudahkan pengerjaan adukan beton, 5. pemakaian butir maksimum agregat berpengaruh terhadap kemudahan pengerjaan beton, 6. sifat saling lekat (perlawanan terhadap pemisahan bahan susun), akan memudahkan pengerjaan. 7.5.3. Segregasi Kecenderungan butir-butir kerikil untuk memisahkan diri dari campuran adukan beton disebut segregasi. Kecenderungan ini dipengaruhi oleh : 1. campuran beton yang kurus (kurang semen), 115 2. terlalu banyak air, 3. semakin besar ukuran butir kerikil, 4. semakin kasar permukaan butir kerikil. Pemisahan kerikil dari adukan beton berakibat kurang baik terhadap betonnya setelah mengeras. Untuk mengurangi kecenderungan pemisahan kerikil tersebut maka diusahakan hal-hal berikut : 1. air yang diberikan sesedikit mungkin, 2. adukan beton jangan dijatuhkan dengan ketinggian yang terlalu besar, 3. cara pengangkutan, penuangan maupun pemadatan harus mengikuti cara-cara yang betul. 7.5.4. Bleeding Kecenderungan air campuran untuk naik ke atas (memisahkan diri) pada beton segar yang baru saja dipadatkan disebut bleeding. Air naik ke atas sambil membawa semen dan butir-butir halus pasir yang pada akhirnya setelah beton mengeras akan tampak sebagai lapisan selaput lemah yang disebut laitance. Sebaiknya lapisan ini dihilangkan kemudian beton dilapisi dengan mortar yang susunannya sesuai. Bila terjadi bleeding maka beton akan berongga sehingga kualitasnya berkurang. Pemisahan air dapat dikurangi dengan cara-cara sebagai berikut : 1. jumlah air campuran tidak melebihi kebutuhan untuk mencapai sifat mudah dikerjakan, 2. campuran dengan semen lebih banyak, menyebabkan air terpegang merata dalam adukan beton, 3. jenis semen yang butir-butirnya lebih halus, menyebabkan makin luas permukaan semen dan mempermudah pengikatan, 4. bahan batuan bergradasi baik, sehingga workability adukan baik akibatnya penggunaan pasta semen tidak berlebihan, 5. pasir alam yang agak bulat, akan mengurangi gesekan antar butir menyebabkan workability adukan baik, membantu pasta semen sebagai pelumas , 6. zat tambah. 7.6.Perancangan Campuran Adukan Beton 7.6.1. Pertimbangan Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam perancangan campuran adukan beton : 1. Kualitas bahan yang tersedia. 116 Kualitas bahan yang tersedia, untuk semen kualitasnya dijamin oleh pabriknya tetapi perlu diperhatikan kondisi semen yang ada di lapangan (tanggal kadaluarsa dan telah mengeras atau belum). Air perlu diteliti apakah air di lapangan layak digunakan untuk campuran beton atau tidak, perlu dipertimbangkan apakah perlu mengambil air dari lokasi lain. Agregat harus diuji apakah memenuhi persyaratan yang direncanakan atau tidak, kemudian perlu dipertimbangkan apakah harus mengambil agregat dari lokasi lain. 2. Kualitas beton yang diinginkan. Kualitas beton yang diinginkan setelah beton mengeras adalah kuat, awet, tahan cuaca, kedap air. Sifat-sifat tersebut dipengaruhi oleh cara pembuatan adukan beton, pengecoran dan perawatan keras. 3. Biaya yang rendah. Biaya beton dipengaruhi oleh hal-hal berikut : harga bahan susun yang tersedia, harga bekisting dan perancah, upah tenaga manusia, perbandingan campuran adukan beton, sifat mudah dikerjakan. Harga bahan susun menyebabkan beton menjadi mahal apabila tidak dapat diperoleh dilokasi sekitar proyek. Bekesiting dan perancah umumnya dari kayu sehingga hanya dapat digunakan sekali tetapi untuk bekisting dan perancah logam dapat digunakan berkali-kali tetapi harganya mahal. 7.6.2. Perbandingan campuran Perbandingan volum tidak memberikan hasil yang tetap karena perbedaan menakar, kepampatan, dan kadar air (pembesaran volume), gradasi batuan dll. Pada perbandingan volum, fas tidak diperhatikan padahal sangat mempengaruhi sifat dan kualitas beton. 7.6.3. Kuat tekan beton Sifat beton pada umumnya lebih baik jika kuat tekannya lebih tinggi. Dengan demikian untuk meninjau mutu beton biasanya secara kasar hanya ditinjau kuat tekannya saja. Faktor-faktor yang berpengaruh pada kuat tekan beton adalah fas dan kepadatan, umur beton, jenis semen, jumlah semen, dan sifat agregat. 1. Faktor air semen Hubungan antara fas dengan kuat tekan beton sesuai dengan rumus : f’c = A B1,5.x …………………….(7.1) 117 dengan : f’c = kuat tekan beton A,B = konstanta X = fas Dari rumus 7.1. tampak bahwa makin rendah nilai fas maka kuat tekan betonnya makin tinggi. 2. Umur beton Kuat tekan beton bertambah sesuai dengan bertambahnya umur beton. Kecepatan bertambahnya kekuatan beton dipengaruhi oleh fas, suhu perawatan. Makin tinggi fas makin lambat kenaikan kekuatan betonnya, semakin tingi suhu perawatan semakin cepat kenaikan kekuatan betonnya. 3. Jumlah semen Jumlah kandungan semen berpengaruh terhadap kekuatan beton. Jika fas sama, beton dengan variasi jumlah pasta semen memperlihatkan hal-hal berikut : a. makin banyak jumlah pasta semen, makin encer adukan betonnya, harga makin tinggi, adukan mudah berpori, permukaan beton halus dan licin, susut pengerasan makin besar, b. makin kurang jumlah pasta semen, makin kaku adukan betonnya, harga makin rendah, sulit pengisian rongga-rongga, permukaan beton kasap, susut pengerasan berkurang, c. jumlah pasta semen terlalu kurang, tidak semua rongga terisi penuh, menghasilkan adukan kasar, sukar ditempatkan, terjadi sarang-sarang kerikil. 4. Sifat Agregat Pengaruh kekuatan agregat terhadap kekuatan beton tidak begitu besar karena biasanya agregat lebih kuat dari pasta semen, namun bila dikehendaki beton berkekuatan tinggi maka kekuatan agregat yang digunakan tidak boleh lebih rendah dari pasta semen. Sifat agregat yang paling berpengaruh terhadap kekuatan beton adalah kekasaran permukaan dan ukuran butir maksimum agregat. Permukaan yang halus pada kerikil berpengaruh pada lekatan dan besar tegangan saat retak beton mulai terbentuk. Besar ukuran butir agregat mempengaruhi kuat tekan beton. Ukuran agregat maksimum lebih besar akan memerlukan jumlah pasta semen yang lebih sedikit dalam pengisian rongga antar butir sehingga kuat tekannya lebih tinggi. Tapi sebaliknya karena butir-butir agregatnya besar maka luas permukaan menjadi sempit sehingga lekatan antara agregat dan pasta semen kurang kuat. Butir 118 besar akan menghalangi susutan pasta sehingga retak-retak kecil pasta di sekitar agregat mudah terjadi akibatnya kekuatan beton menjadi rendah. Sehingga dalam penggunaan ukuran butir agregat disarankan memakai 20 mm karena dengan menggunakan agregat yang butir maksimumnya tidak terlalu besar menyebabkan luas permukaan makin lebar sehingga gesekan makin banyak, perekatan antar bahan susun beton makin baik. 7.6.4. Perancangan cara ACI (American Concrete Institute) s/d hal 121 ACI menyarankan cara campuran yang memperhatikan nilai ekonomi, bahan yang tersedia, kemudahan perawatan, keawetan, dan kekuatan yang dikehendaki. Cara ACI memperhatikan bahwa konsistensi campuran beton dipengaruhi oleh ukuran maksimum agregat dan jumlah air per meter kubik. Langkah-langkah perancangan cara ACI : 1. tentukan kuat tekan rata-rata beton, berdasarkan kuat tekan yang disyaratkan (f’c) dan nilai margin (tergantung mutu pelaksanaan pembuatan adukan beton). Nilai margin diperoleh dari : m = 1,64.Sd …………………….. 7.3. dengan Sd adalah deviasi standar (lihat Tabel 7.17.) Tabel 7.17. Nilai Sd (deviasi standar) dalam kg/cm2 Volume Pekerjaan keterangan m3 Kecil < 1000 Sedang 1000-3000 Besar > 3000 Mutu pelaksanaan Baik sekali baik 45 < Sd ≤ 55 55 < Sd ≤ 65 35 < Sd ≤ 45 45 < Sd ≤ 55 25 < Sd ≤ 35 35 < Sd ≤ 45 Cukup 65 < Sd ≤ 85 55 < Sd ≤ 75 45 < Sd ≤ 55 Nilai kuat tekan beton rata-rata dihitung dengan rumus : f’cr = f’c + m ………………………….. 7.4. 2. tentukan faktor air semen berdasarkan f’cr pada umur yang dikehendaki (Tabel 7.18. dan jenis struktur serta kondisi lingkungannnya (Tabel 7.19.). Dari dua nilai fas yang diperoleh pilih yang paling rendah. Tabel 7.18. Hubungan Fas dengan f’cr Beton Umur 28 hari fas 0,356 0,445 0,534 0,623 0,712 0,801 f’cr (MPa) beton biasa 42,5 35,0 28,0 22,5 17,5 14,0 119 3. tentukan nilai slump dan ukuran maksimum agregat berdasarkan jenis strukturnya. (Tabel 7.20., 7.21.) Tabel 7.19. Fas Maksimum Jenis struktur dan kondisi lingkungan Beton di dalam ruang bangunan : a. kedaan keliling non-korosif b. keadaan keliling korosif karena kondensasi atau uap korosif Beton di luar ruang bangunan : a. tidak terlindung dari hujan dan terik matahari langsung b. terlindung dari hujan dan terik matahari langsung Beton yang masuk ke dalam tanah : a. mengalami kedaan basah dan kering berganti-ganti b. mendapat pengaruh sulfat alkali dari tanah atau air tanah Beton yang kontinu berhubungan dengan air : a. air tawar b. air laut fas max 0,60 0,52 0,60 0,60 0,55 0,52 0,57 0,52 Tabel 7.20. Nilai Slump (cm) Pemakaian beton Maks. Min. Dinding, plat fondasi, dan fondasi telapak bertulang 12,5 5,0 Fondasi telapak tidak bertulang, kaison, dan struktur di bawah 9,0 2,5 tanah Pelat, balok, kolom, dan dinding 15,0 7,5 Pengerasan jalan 7,5 5,0 Pembetonan massa 7,5 2,5 Tabel 7.21. Ukuran Maksimum Agregat (mm) Dimensi minimum (mm) 62,5 150 300 750 Balok/kolom 12,5 40 40 80 Plat 20 40 80 80 4. tentukan jumlah kebutuhan air (berdasarkan umuran maksimum agregat dan slump) perhatikan Tabel 7.22. Tabel 7.22. Kebutuhan Air untuk Adukan Beton (liter) Slump Mm 25-50 75-100 150-175 Udara terperangkap Ukuran maksimum agregat (mm) 10 20 40 206 182 162 226 203 177 240 212 188 3% 2% 1% 120 5. hitung semen yang diperlukan, berdasarkan hasil langkah (2) dan (4) 6. tetapkan volume agregat kasar yang diperlukan per meter kubik berdasarkan ukuran maksimum agregat dan mhb pasir (Tabel 7.23) Tabel 7.23. Kebutuhan Agregat Kasar per meter kubik Beton Ukuran max Agregat 10 20 40 80 150 Mhb pasir 2,6 2,8 0,44 0,42 0,63 0,61 0,74 0,72 0,82 0,80 0,88 0,86 2,4 0,46 0,65 0,76 0,84 0,90 3,0 0,40 0,59 0,70 0,78 0,84 7. hitung volume agregat halus yang diperlukan berdasarkan jumlah air, semen, agregat kasar, dan udara terperangkap dalam adukan dengan cara hitungan volume absolut. Contoh Rencanakan campuran adukan beton dengan cara ACI jika diketahui sebagai berikut : f’c = 20 MPa Mutu pekerjaan dan volume pekerjaan cukup. Beton berada dalam lingkunan non korosif. Jenis struktur adalah balok dan kolom gedung. Ukuran agregat maksimum 40 mm. bj semen = 3,15 ; bj pasir = 2,6 ; bj kerikil = 2,6 ; b.satuan kerikil = 1,6 mhb pasir = 2,80. Penyelesaian Dari Tabel 7.17. diperoleh : Sd = 6,5 MPa sehingga m = 1,64.6,5 = 10,66 MPa f’cr = f’c + m = 20 +10,66 = 30,66 MPa dari Tabel 7.18. dengan interpolasi diperoleh nilai fas = 0,534 − dan Tabel 7.19. diperoleh : 30,66 − 28 .(0,534 − 0,445) = 0,5 35 − 28 nilai fas = 0,60 sehingga dipilih nilai fas = 0,5 nilai slump dari Tabel 7.20. diperoleh : 75-150 mm, ukuran maksimum agregat kasar 40 mm. 121 tentukan kebutuhan air dari Tabel 7.22. dengan slump 100 mm dan maksimum agregat 40 mm diperoleh : kebutuhan air = 177 liter = 177 kg = 0,177 ton sehingga : kebutuhan semen = 177 = 354 kg = 0,354 ton 0,5 Tabel 7.23. diperoleh volume kebutuhan kerikil = 0,72 m3 sehingga kebutuhan kerikil = 0,72.1,6 = 1,152 ton = 1152 kg ⎞ ⎛ 0,177 0,354 1,152 3 + + + 0,01⎟⎟ = 0,2575 m 3,15 2,6 ⎠ ⎝ 1 volume kebutuhan pasir = 1 − ⎜⎜ sehingga : kebutuhan pasir = 0,2575.2,6 = 0,6696 ton = 669,6 kg kontrol berat beton = 177 + 354 + 1152 + 669,6 = 2352,6 kg/m3 (perkiraan benar). Sehingga perbandingan berat kebutuhan bahan adalah 1 : 1,89 : 3,25 dengan fas 0,5. Kebutuhan bahan untuk 1 m3 beton adalah : Air = 177 liter Semen = 354 kg Pasir = 669,6 kg Kerikil = 1152 kg Jika ternyata kebutuhan air untuk mencapai nilai slump-nya : 1. lebih dari 177 liter maka pasta semen ditambah (fas tetap) 2. kurang dari 177 liter maka jumlah pasir ditambahkan dengan volume padat yang sesuai dengan selisih volume air. Misalkan jika kebutuhan air dari contoh di atas ternyata untuk mencapai slump hanya perlu 160 liter maka kebutuhan bahan susun beton mengalami perubahan dengan menambahkan pasir sesuai dengan selisih volume air yaitu : 0,177 – 0,160 = 0,017 m3 sehingga penambahan pasir = 0,017 . 2,6 = 0,0442 ton = 44,2 kg Maka kebutuhan pasir = 669,6 + 44,2 = 713,8 kg. Misalkan kebutuhan air untuk mencapai slump sebesar 185 liter maka kebutuhan bahan susun beton mengalami perubahan. Air = 185 liter = 185 kg = 0,185 ton Semen = 185 = 370 kg = 0,37 ton 0,5 122 Kerikil = 1152 kg = 1,152 ton ⎞ ⎛ 0,185 0,370 1,152 3 + + + 0,01⎟⎟ = 0,2445 m = 0,2445.2,6 = 0,6356 ton=635,6 kg 3,15 2,6 ⎠ ⎝ 1 Pasir = 1 − ⎜⎜ 7.6.5. Perancangan cara SNI T-15-1990-03 Perancangan cara ini menggunakan tabel dan grafik. Langkah-langkah perancangan cara SNI T-15-1990-03 : 1. tentukan f’c pada umur tertentu 2. menentukan f’cr berdasarkan rumus : f’cr = f’c + M ………………….... 7.5. M = k.Sd Dengan …………….............7.6. M = nilai margin, MPa k = 1,64 Sd = deviasi standar, MPa Dengan penetapan nilai deviasi standar sebagai berikut : Deviasi standar ditetapkan berdasarkan tingkat mutu pengendalian pelaksanaan pencampuran betonnya. Makin baik mutu pelaksanaan makin kecil nilai deviasi standar. Penetapan nilai deviasi standar (Sd) berdasarkan pengalaman praktek pelaksaan pekerjaan pada waktu lalu (sebelumnya) untuk pembuatan mutu beton yang sama dan bahan dasar yang sama (Tabel 7.24.) Tabel 7.24. Nilai Deviasi Standar Berdasarkan Tingkat Pengendalian Mutu Pelaksanaan Tingkat pengendalian mutu pekerjaan Memuaskan Sangat baik Baik Cukup Jelek Tanpa kendali Sd (MPa) 2,8 3,5 4,2 5,6 7,0 8,4 a. Jika pelaksana mempunyai catatan data hasil pembuatan beton serupa pada masa lalu, maka persyaratannya jumlah data hasil uji minimum 30 buah (1 data diperoleh dari kuat tekan 2 silinder yang diuji pada umur 28 hari atau umur lain yang ditetapkan). Jika jumlah data kurang dari 30 buah maka dilakukan koreksi (tabel 7.25.) terhadap nilai deviasi standar. 123 Tabel 7.25. Faktor Pengali Deviasi Standar Jumlah data Faktor kali 30 1,0 25 1,03 20 1,08 15 1,16 <15 Tidak boleh Untuk nilai antara digunakan interpolasi b. Jika pelaksana tidak mempunyai catatan/pengalaman hasil pengujian pada masa lalu yang memenuhi persyaratan (termasuk data kurang dari 15) maka diambil nilai margin sebesar 12 MPa (diperoleh dari M = 1,64.7 = 11,48 = 12). 3. penetapan perkiraan kuat tekan beton (tabel 7.26.)berdasarkan jenis semen (I, II, III, IV atau V), umur dan jenis agregat kasar. Agregat kasar dibedakan menjadi agregat alami (tidak dipecahkan) atau batu pecah. Tabel 7.26. Perkiraan Kuat Tekan Beton Jenis semen Jenis agregat kasar I, II, IV, V Batu alami Batu pecah Batu alami Batu pecah III Kuat tekan (MPa) pada umur 3 7 28 91 Benda uji 17 23 33 40 Silinder 19 27 37 45 21 28 38 44 Silinder 25 33 44 48 4. tentukan fas berdasarkan grafik 7. 12. 5. penetapan fas maksimum dan kandungan semen minimum berdasarkan Tabel 7.24., 7.25. dan 7.26. Tabel 7.24. Persyaratan Fas Maksimum dan Semen Minimum (kg/m3) untuk Berbagai Pembetonan dan Lingkungan Khusus Jenis struktur dan kondisi lingkungan Beton di dalam ruang bangunan : a. kedaan keliling non-korosif b. keadaan keliling korosif karena kondensasi atau uap korosif Beton di luar ruang bangunan : a. tidak terlindung dari hujan dan terik matahari langsung b. terlindung dari hujan dan terik matahari langsung Beton yang masuk ke dalam tanah : a. mengalami kedaan basah dan kering berganti-ganti b. mendapat pengaruh sulfat alkali dari tanah atau air tanah Beton yang kontinu berhubungan dengan air : a. air tawar b. air laut semen min. fas max 275 325 0,60 0,52 325 275 0,60 0,60 325 0,55 tabel 7.24. tabel 7.25. 124 Gambar 7.12. Hubungan Fas dengan Kuat Tekan Rata-rata Silinder Beton Tabel 7.25. Ketentuan Minimum Beton Bertulang Kedap Air Kondisi Fas lingkungan maks. berhubungan dengan Air tawar Air payau Air laut 0,50 0,45 0,50 0,45 Tipe semen I , II, III, IV, dan V I dengan pozolan (15-40%) atau PPC II, V Kandungan semen minimum (kg/m3) Ukuran agregat max. 40 mm 20 mm 280 300 340 380 290 330 330 370 125 6. tentukan nilai slump berdasarkan penggunaan adukan beton pada jenis struktur (lihat Tabel 7.20). 7. menentukan kebutuhan air permeter kubik menggunakan Tabel 7.22. berdasarkan besar butir agregat maksimum. Tabel 7.26. Fas Maksimum dan Semen Minimum (kg/m3) untuk Beton yang Berhubungan dengan Air Tanah Mengandung Sulfat Konsentrasi sulfat dalam bentuk SO3 Total SO3 (%) < 0,2 SO3 dalam campuran air : tanah = 2:1 (gr/lt) < 1,0 0,2-0,5 0,5-1,0 1,0-2,0 > 2,0 Sulfat (SO3) dalam air tanah (gr/lt) < 0,3 1,0-1,9 0,3-1,2 1,9-3,1 1,2-2,5 3,1-5,6 > 5,6 2,5-5,0 > 5,0 Tipe semen Kandungan semen min (kg/m3) berdasarkan agregat maksimum 40 20 10 mm mm mm Fas 280 300 350 0,5 290 330 280 0,5 270 330 380 0,55 270 310 360 0,55 340 380 430 0,45 290 330 330 330 370 370 380 420 420 0,50 0,45 0,45 I dengan atau tanpa Pozolan (15-40%) I tanpa Pozolan I dengan Pozolan (1540%) atau PPC II atau V I dengan tanpa Pozolan (1540%) atau PPC II atau V II atau V II atau V Tabel 7.27. Jumlah Kebutuhan Air Per Meter Kubik Slump (mm) Ukuran agregat maksimum 10 20 40 Jenis agregat Batu alami Batu pecah Batu alami Batu pecah Batu alami Batu pecah 0-10 10-30 30-60 60-100 150 180 135 170 115 155 180 205 160 190 140 175 205 230 180 210 160 190 225 250 195 225 175 205 Apabila agregat halus dan agregat kasar yang dipakai dari jenis yang berbeda (alami dan pecahan) maka jumlah air diperkirakan dengan rumus : A = 0,67.Ah + 0,33. Ak ……………….. 7.7. Dengan A = jumlah air yang diperlukan Ah = jumlah air yang diperlukan menurut agregat halusnya Ak = jumlah air yang diperlukan menurut agregat kasarnya 126 8. hitung kebutuhan semen yang diperlukan berdasarkan fas dan kebutuhan air per meter kubik dan kemudian dibandingkan dengan kebutuhan semen minimum berdasarkan langkah (5) dipilih yang terbesar. 9. penyesuaian jumlah fas jika pada langkah (8) kebutuhan semen yang digunakan terjadi perubahan. 10. tentukan susunan besar butir agregat halus (pasir) dan agregat kasar dengan menggunakan tabel dan gambar. Batas gradasi pasir daerah gradasi 1 % agregat yang lewat ayakan 100 100 95 90 100 90 80 70 70 60 60 50 40 34 30 20 10 0 0,075 20 10 0 0,15 30 15 5 0,30 0,60 1,2 2,4 4,8 9,6 ayakan Gambar 7.13. Batas Gradasi Pasir Daerah Gradasi 1 Batas gradasi pasir daerah gradasi 2 % agregat yang lewat ayakan 100 100 90 100 90 80 100 90 75 70 60 59 50 40 30 30 55 35 20 10 0 0,075 10 8 0 0,15 0,30 0,60 1,2 2,4 4,8 9,6 ayakan Gambar 7.14. Batas Gradasi Pasir Daerah Gradasi 2 127 Batas gradasi pasir daerah gradasi 3 % agregat yang lewat ayakan 100 100 90 80 79 70 60 100 100 100 90 85 75 60 50 40 40 30 20 10 12 0 0,15 0,30 10 0 0,075 0,60 1,2 2,4 4,8 9,6 ayakan Gambar 7.15. Batas Gradasi Pasir Daerah Gradasi 3 Batas gradasi pasir daerah gradasi 4 % agregat yang lewat ayakan 100 100 100 90 90 100 95 100 95 100 80 80 70 60 50 50 40 30 20 15 15 0 0,15 0,30 10 0 0,075 0,60 1,2 2,4 4,8 9,6 ayakan Gambar 7.16. Batas gradasi pasir daerah gradasi 4 11. penentuan perbandingan agregat halus dan kasar dengan menggunakan Gambar 7.17., 7.18., dan 7.19. berdasarkan ukuran butir maksimum agregat, slump, daerah gradasi pasir 12. menentukan bj agregat campuran dihitung dengan rumus : bj campuran = P K .bj pasir + .bj ker ikil …………… 7.8. 100 100 dengan P = persentase pasir terhadap agregat campuran K = persentase kerikil terhadap agregat campuran 128 Bj pasir dan kerikil diperoleh dari hasil pemeriksaan laboratorium, bila tidak ada data maka dapat diambil 2,6 untuk agregat alami dan 2,7 untuk batu pecah. Gambar 7.17. Grafik Persentase Agregat Halus terhadap Agregat Campuran untuk Ukuran Butir Maksimum 10 mm Gambar 7.18. Grafik Persentase Agregat Halus terhadap Agregat Campuran untuk Ukuran Butir Maksimum 20 mm 129 Gambar 7.19. Grafik Persentase Agregat Halus terhadap Agregat Campuran untuk Ukuran Butir Maksimum 40 mm 13. menentukan bj beton dengan menggunakan Gambar 7.20. berdasarkan hasil langkah (12) yaitu bj agregat campuran dan kebutuhan air dari langkah (7). Gambar 7.20. Grafik Hubungan Kandungan Air, Bj Agregat Campuran, dan Berat Beton 130 14. kebutuhan agregat campuran ditentukan berdasarkan berat beton permeter kubik dikurangi berat air dan semen. 15. hitung kebutuhan agregat berdasarkan persentase agregat halus terhadap agregat campuran dari langkah (11) yaitu dengan cara dikalikan terhadap berat kebutuhan agregat campuran. 16. tentukan agregat kasar yang diperlukan. Contoh Diketahui : Beton untuk balok dan kolom bangunan gedung. Kuat tekan beton disyaratkan f’c = 20 Mpa, Jenis semen tipe I Jenis kerikil alami, dengan ukuran maksimum 40 mm Nilai slump 100 mm Jenis pasir agak kasar (golongan 2) Tabel 7.28. Penyelesaian No. 1 2 Uraian f’c margin 3 f’cr jenis semen jenis kerikil fas (gambar 7.12. hal 128) fas maksimum (tabel 7.24.-7.26) Æ fas yang dipilih nilai slump (tabel 7.20.) ukuran maksimum butir kerikil kebutuhan air (tabel 7.27.) kebutuhan semen minimum (tabel 7.24.-7.26.) kebutuhan semen (langkah 5 dan 7) Æ semen yang dipilih penyesuaian fas 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 golongan pasir persentase pasir thd campuran (gambar 7.17.-7.19.) bj campuran (tidak ada data) berat beton (gambar 7.20.) berdasar data air, bj campuran berat agregat (pasir+kerikil) berat pasir (perhatikan langkah 16) berat kerikil 20 MPa 12 MPa (tidak ada data pengalaman sebelumnya) 32 MPa (20+12) I (biasa) Alami 0,48 0,60 0,48 (terendah) 100 mm 40 mm 175 liter = 175 kg 275 kg 175/0,48 = 364,6 = 365 kg 365 kg (tetap seperti hitungan) fas tetap karena kebutuhan semen seperti hitungan 2 35 % 2,6 (agregat alami) 2380 kg/m3 2380-(175+365) = 1840 kg/m3 1840.35% = 644 kg 1840-644 = 1196 kg 131 sehingga kebutuhan bahan susun untuk 1 m3 : Air = 175 liter Semen = 365 kg Pasir = 644 kg Kerikil = 1196 kg Atau perbandingan berat : 1 : 1,76 : 3,28 dengan fas 0,48 7.7.Kuat desak yang dituju Menurut SNI T-15-1990-03 : f’c = f’cr – 1,64 x s x faktor kali dengan s= Ni.(f ' ci − f ' cr ) 2 = deviasi standar N −1 i =1 N ∑ f’ci = kuat desak masing-masing benda uji N ∑ f ' ci f’cr = i =1 N = kuat desak beton rata-rata N = seluruh benda uji f’c = kuat desak karakteristik beton dengan 5% kemungkinan dari kuat desak benda uji yang tidak memenuhi syarat. (f’c digunakan sebagai dasar hitungan pada perencanaan struktur beton bertulang). Tabel 7.29. Contoh Perhitungan Kuat Desak Beton interval 12-14 14-16 16-18 18-20 20-22 22-24 24-26 26-28 28-30 jumlah frekuensi 1 1 3 4 1 0 5 3 2 20 tengah interval (f'ci) 13 15 17 19 21 23 25 27 29 -- f’cr = 440 = 22 MPa 20 s= 460 = 4,92 MPa 20 − 1 Ni.f'ci f'ci-f'cr Ni.(f'ci-f'cr)2 13 -9 81 15 -7 49 51 -5 75 76 -3 36 21 -1 1 0 1 0 125 3 45 81 5 75 58 7 98 440 -460 132 f’c = f’cr – 1,64 x s x faktor kali (lihat tabel 7.25. halaman 127) = 22 –1,64 x 4,92 x 1,08 = 13,286 MPa δ = koefisien variasi = s 4,92 = = 22,4% f ' cr 22 Tabel 7.30. Koefisien Variasi (Concrete Manual) % lebih besar 95 90 85 80 15 75,5 81 84,5 87,5 Koefisien variasi 16 17 18 19 73,5 72 70 68,5 79 78 77 75,5 83,5 82,5 81 80 86,5 85,5 84,5 84 20 67 74 79 83 Berdasarkan Tabel 7.30. target kuat desak rencana 20 MPa (f’c) maka untuk koefisien variasi sebesar 20% kuat desak rata-rata adalah sebesar 20/67% = 29,9 MPa. 7.8.Evaluasi Pekerjaan Beton Kekuatan beton yang diproduksi di lapangan cenderung bervariasi dari adukan ke adukan, besar variasi tersebut bergantung : 1. mutu bahan (agregat, air), 2. cara pengadukan, 3. stabilitas pekerja. Dengan adanya variasi tersebut maka diperlukan pengawasan terhadap mutu pembuatan beton agar diperoleh mutu beton yang hampir seragam dan memenuhi kuat tekan yang disyaratkan pada RKS. Caranya dengan mengambil contoh adukan secara acak yang kemudian dibuat benda uji silinder dari beberapa adukan yang dibuat sehingga mencerminkan variasi mutu beton selama proses pembuatan beton berlangsung. Benda uji silinder yang diambil selama pelaksanaan proyek dicek kuat tekannya pada umur 28 hari. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan benda uji untuk evaluasi pekerjaan lapangan adalah: 1. benda uji yang diambil dirawat sesuai dengan cara perawatan di lapangan, 2. cara perawatan di lapangan harus ditingkatkan bila kuat tekan benda uji yang dirawat di lapangan ≤ 85%.f’c yang dirawat di laboratorium, kecuali jika kuat tekan benda uji yang dirawat di lapangan masih lebih tinggi dari f’c + 3,5MPa. 133 Syarat yang harus dipenuhi : 1. nilai rata-rata dari semua pasangan hasil uji (empat hasil uji kuat tekan) tidak kurang dari (f’c + 0,82.Sd), dengan Sd ditentukan dari mutu pekerjaan (Tabel 7.24) atau bila ada ada data pelaksanaan sebelumnya dapat diambil nilai Sd sesuai dengan hasil pelaksanaan pekerjaannya, 2. tidak satupun hasil uji tekan (rata-rata dua silinder) kurang dari 0,85.f’c. Jika salah satu syarat di atas tidak terpenuhi maka adukan beton berikutnya harus diperbaiki (diambil tindakan untuk meningkatkan kuat tekan rata-rata adukan beton berikutnya), harus diambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa daya dukung struktur beton yang sudah dibuat tidak membahayakan terhadap beban yang akan ditahan, yaitu : 1. analisis ulang struktur berdasarkan kuat tekan beton yang sesungguhnya (aktual) atau 2. uji tidak merusak (non destructive test) yaitu dengan Hammer Test atau uji semi destructive test yaitu dengan uji bor inti (core drill) pada daerah yang diperkirakan kurang memenuhi syarat. Pada pengujian Hammer Test dilakukan pukulan sebanyak 10 kali pada titik pukul yang berbeda dengan daerah permukaan seluas 100x100 mm. Hasil pengujiannya akan memiliki nilai deviasi standar yang lebih besar dari hasil uji tekan langsung. Syarat hasil uji bor inti : a. rata-rata kuat tekan dari 3 benda uji bor inti (1 titik bor) tidak kurang dari 0,85.f’c, b. kuat tekan masing-masing benda uji tidak kurang dari 0,75.f’c. Untuk uji bor inti hal-hal yang perlu diperhatikan adalah : a. umur beton minimal 14 hari, b. diameter benda uji bor inti minimum tiga kali ukuran maksimum kerikil yang digunakan dalam beton, c. pengeboran harus tegak lurus elemen struktur, d. lubang bor tidak memotong tulangan utama, e. lubang bor harus segera ditutup dengan beton yang mutunya tidak kurang dari beton semula, Pada uji bor inti kuat tekan beton dianggap tidak membahayakan bila : a. kuat tekan rata-rata dari tiga benda uji (satu titik bor 3 benda uji) mempunyai kuat tekan tidak kurang dari 0,85.f’c, b. kuat tekan masing-masing benda uji bor tidak satupun kurang dari 0,75.f’c. 134 3. jika hasil uji bor inti tidak memenuhi syarat maka uji selanjutnya adalah uji beban pada struktur yang diragukan. Tabel 7.31. Contoh Hasil Pengujian Proyek A di Yogyakarta Syarat RKS f’c = 25MPa dan Sd = 4 Mpa no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 waktu pengambilan silinder beton tanggal 21/6/92 21/6/92 22/6/92 23/6/92 23/6/92 23/6/92 23/6/92 24/6/92 24/6/92 24/6/92 24/6/92 25/6/92 25/6/92 26/6/92 26/6/92 26/6/92 26/6/92 26/6/92 27/6/92 28/6/92 28/6/92 28/6/92 28/6/92 28/6/92 28/6/92 29/6/92 29/6/92 29/6/92 29/6/92 29/6/92 29/6/92 29/6/92 30/6/92 30/6/92 jam 08.00 09.00 11.00 10.00 12.00 08.00 09.00 11.00 10.00 12.00 08.00 09.00 11.00 10.00 12.00 08.00 09.00 11.00 10.00 12.00 08.00 09.00 11.00 10.00 12.00 08.00 09.00 11.00 10.00 12.00 08.00 09.00 11.00 10.00 kode F-1 F-2 F-3 F-4 F-5 A-1 A-2 A-3 A-4 A-5 D-1 D-2 D-3 E-1 E-2 O-1 O-2 O-3 O-4 O-5 O-6 O-7 N-1 N-2 N-3 B-1 B-2 B-3 B-4 B-5 S-1 S-2 S-3 S-4 sil.A 29 30 27 24 24 28 31 26 25 29 26 30 28 30 22 24 29 26 32 24 32 26 26 25 27 26 31 27 22 24 32 27 27 26 kuat tekan silinder beton (MPa) hasil sil.B rata-rata 4 hasil uji uji 33 31 -24 27 -25 26 -30 27 27.75 31 27.5 26.875 26 27 26.875 29 30 27.875 24 25 27.375 29 27 27.25 31 30 28 27 26.5 27.125 26 28 27.875 32 30 28.625 32 31 28.875 26 24 28.25 27 25.5 27.625 25 27 26.875 31 28.5 26.25 30 31 28 26 25 27.875 28 30 28.625 30 28 28.5 28 27 27.5 28 26.5 27.875 23 25 26.625 28 27 26.375 26 28.5 26.75 23 25 26.375 26 24 26.125 26 25 25.625 30 31 26.25 29 28 27 28 27.5 27.875 29 27.5 28.5 135 Dari hasil pengujian tersebut terlihat : 1. tidak satupun hasil uji (rata-rata 2 silinder beton yang dibuat dari satu kali pengambilan adukan) yang kurang dari 0,85.f’c = 0,85.25 = 21,25 MPa .Jadi memenuhi persyaratan f’c = 25 MPa 2. nilai rata-rata dari empat hasil uji berurutan ada yang kurang dari f’c+0,82.Sd = 25+0,82.4 = 28,28 MPa , maka beton berikutnya mutunya harus ditingkatkan kuat tekannya. Hasil uji kuat tekan silinder beton 34 30 28 26 24 22 33 31 29 27 25 23 21 19 17 15 13 11 9 7 5 3 1 20 nom er pegam bilan adukan silinder A silinder B hasil uji 25 MPa 21,25 MPa Gambar 7.21. Hasil Uji Kuat Tekan Silinder Beton Nilai rata-rata 4 hasil uji 30 29 28 27 26 25 24 31 29 27 25 23 21 19 17 15 13 11 9 7 5 3 23 1 kuat tekan, MPa kuat tekan, MPa 32 nom er pengam bilan benda uji rata-rata 4 hasil uji 25 MPa 28,28 MPa Gambar 7.22. Nilai Rata-rata dari Empat Hasil Uji 136 7.9.Pengecoran Adukan Beton 7.9.1. Pengangkutan Pengangkutan beton dari instalasi/wadah pencampur ke tempat pencetakan harus memenuhi persyaratan yaitu : 1. pengangkutan harus cepat agar beton tidak mengering atau kehilangan workabilitas atau plastisitas selama mencampur dan mencetak, 2. segregasi harus dikurangi seminimal mungkin agar terhindar dari beton yang tidak seragam kekuatannya, 3. pengangkutan harus terorganisir sehingga selama pencetakan tidak terjadi keterlambatan, sambungan dingin, atau sambungan konstruksi. Beberapa cara pengangkutan adukan beton ke lokasi penuangan dengan menggunakan alatalat : 1. gerobak beroda satu, kereta dorong, digunakan untuk angkutan jarak pendek, cara penuangan dari instalasi pencampur adalah adukan beton jatuh vertikal, 2. truk aduk (pada beton ready mixed), perlu diperhatikan jarak lokasi pembuatan adukan terhadap lokasi proyek, sebaiknya diperhatikan waktu yang diperlukan apakah perlu adanya tambahan zat campur yang memperlambat setting time adukan beton, 3. talang yang curam, gerakan adukan dibantu dengan cara disorong menggunakan tongkat, perlu diperhatikan kemungkinan menguapnya air campuran akibat panas matahari, 4. kerekan, crane, untuk angkutan ke atas adukan beton, 5. pompa beton, melalui pipa-pipa, adukan beton harus plastik, agar aliran adukan lancar maka ukuran butir maksimum tidak terlalu besar, perlu tambahan zat tambah agar adukan menjadi encer. 7.9.2. Penuangan Segregasi adalah salah satu kesalahan yang diakibatkan oleh cara pengecoran yang jelek, biasanya terjadi pada penuangan beton dengan menggunakan talang yaitu jatuhnya adukan beton pada cetakan tidak jatuh vertikal. Adukan beton harus dituang vertikal untuk mencegah terjadinya pemisahan bahan susun. Bila adukan dijatuhkan miring dalam cetakan maka butir agregat yang besar akan bergerak cepat miring/tidak vertikal, sedangkan pasir dan pasta semen jatuh vertikal. Maka 137 dari itu dibutuhkan papan tahan (kayu) yang tegak lurus aliran adukan beton untuk memaksa adukan jatuh vertikal. Tindakan yang harus dilakukan saat pelaksanaan penuangan beton : 1. beton ditimbun sedekat mungkin dengan tempat akhir (cetakan) agar mudah penangannya dan tidak ditimbun dalam jumlah besar pada tempat tertentu, 2. beton dicor dalam lapisan horisontal dan setiap lapisannya dipadatkan merata sebelum lapis berikutnya dituang, 3. pembetonan harus dikerjakan secara menerus untuk menghindari penampilan garisgaris tahapan pencoran pada bangunan yang sudah jadi, 4. beton harus dikerjakan secara merata ke dalam tempat-tempat disekitar tulangan dan sarana lain yang ditanam dalam beton. Dalam pelaksanaan praktek pengecoran besar-besaran/beton massa hal-hal yang perlu diperhatikan : 1. pengadaan dan kemampuan penyediaan beton utnuk menyelesaikan pengecoran dalan satu operasi, 2. pemeriksaan kualitas beton yang digunakan, 3. pengadaan tenaga kerja dengan kemungkinan mengambil tenaga dari luar dan kemungkinan pergiliran regu kerja, 4. batasan jumlah cetakan dan penulangan yang dapat dipasang untuk sekali pengecoran, 5. teknik perawatan yang akan dipakai sesuai dengan keadaan cuca di sekitarnya yang berlaku pada saat pengecoran, 6. rangkaian yang dipakai untuk mengecor pada tempat-tempat yang berdekatan. Untuk pengecoran di bawah muka air digunakan pipa tremi. Air sebaiknya diam/tidak mengalir. Pipa beton diturunkan sampai dasar, katub di ujung bawah pipa dibuka, adukan beton keluar dan naik mendesak airnya. Pengisian dengan adukan beton diteruskan sambil pipa pelan-pelan ditarik ke atas. Ujung bawah pipa harus selalu di bawah muka adukan beton di luar pipanya, supaya selalu terpisah dari airnya. Dalam pengecoran ini harus menggunakan semen dan pasir lebih banyak. 138 Gambar 7.23. Cara Menangani Campuran Beton 139 Gambar 7.24. Cara Penuangan Adukan Beton Tidak Terjadi Sambungan Dingin dan Segregasi 7.10. Pemadatan Tujuan pemadatan beton adalah untuk menghilangkan rongga-rongga udara dan untuk mencapai kepadatan yang maksimal. Pemadatan juga menjamin suatu pelekatan yang baik antara beton dengan permukaan tulangan atau sarana lain yang ikut dicor. Adukan beton sebaiknya tidak terlalu encer karena akan mengakibatkan terjadi halhal yang tidak diinginkan saat dilakukan pemadatan yaitu segregasi, laitance yang 140 berlebihan pada permukaan beton, beton lemah, kepadatan beton rendah karena ruang ditempati oleh air yang berlebihan. Untuk memperoleh hasil adukan beton yang homogin dan pampat maka dapat dilakukan pemadatan dengan cara : 1. menusuk-nusuk adukan beton dengan tongkat (pemadatan dengan tangan), 2. menggunakan alat/mesin getar yaitu internal vibrator dan eksternal vibrator (mesin getar yang ditempelkan pada cetakan, mesin getar permukaan). Dalam penggunaan internal vibrator hal-hal yang harus diperhatikan adalah : 1. vibrator jangan digunakan untuk mendorong beton secara lateral ke dalam cetakan karena dapat menimbulkan segregasi, sebaiknya posisi vibrator vertikal, 2. dalam pemadatan, vibrator tidak menyentuh cetakan dan tulangan karena dapat merusak cetakan dan posisi tulangan, 3. vibrator harus segera ditarik bila telah tampak pasta semen di permukaan beton, 4. penggetaran yang berlebihan dapat mengakibatkan terjadinya segregasi. Untuk eksternal vibrator dapat digunakan alat : 1. jenis hammer yang digerakkan elektrik dan tekanan angin, digunakan untuk memadatkan adukan beton yang tidak terjangkau internal vibrator, 2. meja getar (vibrating table), digunakan untuk beton pracetak. Gambar 7.25. Hubungan antara Kehilangan Kekuatan dengan Ruangan Rongga Udara 141 7.11. Perawatan beton Perawatan beton atau mortar bertujuan menjaga agar beton/mortar setelah final setting selalu terjaga kandungan airnya agar proses hidrasi semen berlangsung dengan baik/sempurna. Bila hal ini tidak dilakukan akan menimbulkan retak-retak pada beton/mortar Terdapat beberapa metode, material, dan prosedur dalam perawatan beton yang memberikan prinsip dasar sama yaitu pemeliharaan kelembaban dan suhu agar sifat yang diinginkan dapat tercapai . Suhu tinggi dapat mempercepat dan menyempurnakan terjadinya reaksi dalam beton, sehingga beton dapat cepat mengeras. Durasi yang tidak terlalu lama tidak menyebabkan terjadinya penguapan air yang masih tertinggal dalam beton secara menyeluruh, sehingga beton masih dapat menyempurnakan proses hidrasinya. Semakin tinggi suhunya, reaksi kimia makin cepat berlangsung dan mengakibatkan beton memperoleh kekuatannya lebih awal, tetapi dengan makin tinggi suhu maka permeabilitas air makin meningkat karena hilangnya sebagian air yang menempati pori-pori kapiler. Kondisi ini menyebabkan susut berlebihan dan retak sebagai akibat hidrasi tidak lengkap karena kekurangan air. Sifat kekuatan dan durability beton perkembangannya akan penuh jika beton telah dirawat. Dengan kata lain, perawatan seharusnya dimulai secepatnya dan suhu dikontrol, untuk itu beton harus disimpan pada panas yang secukupnya untuk menghasilkan kekuatan yang dikehendaki pada umur tertentu. Tiga hari pertama proses pengerasan beton merupakan proses yang menentukan hasil akhir dari sifat beton. Seperti terlihat pada Gambar 7.4. beton yang dirawat dengan moist curing selama 28 hari memberikan hasil yang paling baik untuk pencapaian kekuatan akhir. Rata-rata pencapaian kekuatan beton tidak hanya bergantung pada lama waktu pelaksanaan perawatan keras tetapi juga dipengaruhi oleh temperatur pada saat pelaksaan rawatan yang terlihat pada Gambar 7.26. Cara perawatan keras beton setelah beton berumur 1 hari dapat dilakukan dengan cara : 1. menggenangi dengan air pada pembuatan bagian konstruksi yang datar, 2. memerciki dengan tetesan air terus menerus, 3. menutup dengan goni basah yang secara berkala dibasahi dengan air, 4. menutupi dengan lembar plastika, 5. menutupi dengan zat bantu yang disemprotkan pada permukaan adukan beton. 142 Gambar 7.26..Kekuatan Beton setelah Moist-curing Gambar 7.27. Kekuatan Beton setelah Steam Curing pada Temperatur Berbeda dengan f.a.s=0,5 (Neville, 1987) 143 Untuk campuran beton dengan f.a.s 0,3 sampai 0,7 peningkatan pertumbuhan kekuatan dapat dicapai dengan singkat dengan menggunakan sistem perawatan uap air (steam curing). Metode steam curing dibedakan menjadi low pressure steam curing (suhu uap air kurang dari 100°C, pada tekanan atmosfir) dan high pressure steam curing (suhu lebih tinggi dari 100°C dan pada tekanan 8 atm). Prosedur normal steam curing dilakukan setelah beton berumur 2 sampai 6 jam yang disebut sebagai presteaming period. Pada low pressure steam curing rata-rata kenaikan temperatur 10°C -20°C perjam dan maksimum temperatur 85°C-90°C. Temperatur yang lebih tinggi tidak akan menambahkan kekuatan pada beton, dan pada kenyataanya temperatur 70°C dirasa telah cukup. Beton yang telah selesai di steam curing didinginkan secara perlahan-lahan pada ruangan yang hangat sampai suhunya mencapai sekitar 25°C sebelum diletakkan di luar. Siklus steam curing yang dilakukan bila ingin dicapai kekuatan beton sekitar 70% dari kekuatan beton pada umur 28 hari adalah selama 16 sampai 24 jam. Untuk kasus beton dengan f.a.s. tinggi, kecepatan rata-rata kenaikan temperatur selama perawatan dapat menyebabkan lebih rendahnya kekuatan pada umur 28 hari dibandingkan beton normal curing. Rata-rata kenaikan temperatur dapat menyebabkan reduksi kekuatan ikat. Kenaikan suhu awal pada saat setting time dapat merusak beton karena beton segar lemah terhadap kenaikan temperatur yang mengakibatkan timbulnya banyak pori pada beton. Gambar 7.28. Siklus Steam Curing (Neville, 1987) Prosedur steam curing yang dilakukan setelah beton berumur 3 sampai 5 jam (dirawat dengan normal moist curing), rata-rata kenaikan temperatur sebesar 22°-35°C 144 perjam sampai dengan maksimum temperatur 66°-82°C dan siklus pelaksanaan tidak melebihi 18 jam termasuk delay temperatur maksimum (Gambar7.28.). Proses pengerasan dapat dipersingkat dengan menggunakan cara perawatan steam curing (uap air dengan suhu tinggi) tetapi hanya dapat dilakukan pada beton pracetak. 7.12. Bahan Tambahan Untuk Beton Bahan tambahan untuk beton adalah suatu bahan berupa bubuk atau cairan yang dibubuhkan/ ditambahkan ke dalam campuran beton selama proses pengadukan dalam jumlah tertentu untuk merubah sifat beton. Tujuan dari penambahan bahan tambahan dalam campuran beton adalah untuk mendapatkan sifat-sifat khusus dari beton yaitu kemudahan pengerjaan, waktu ikatan, pengerasan, kekedapan, dan keawetan. Bahan tambahan untuk beton secara umum dapat dibedakan menjadi dua yaitu bahan tambah yang bersifat kimiawi (chemical admixture) dan bahan tambah yang bersifat mineral (additive). Bahan tambah kimia lebih banyak mengubah perilaku beton pada saat pelaksanaan pekerjaan (lebih banyak digunakan untuk memperbaiki kinerja pelakssanaan). Bahan tambah aditif merupakan bahan tambah yang digunakan untuk perbaikan kinerja kekuatan beton. 7.12.1. Jenis-jenis bahan kimia tambahan untuk beton Sesuai dengan SK SNI S-18-1990-03 tentang bahan tambahan untuk beton dibedakan menjadi 7 tipe seperti di bawah ini. 1. Tipe A (Water reducer) adalah bahan kimia tambahan untuk mengurangi jumlah air campuran untuk menghasilkan beton sesuai dengan konsistensi yang ditetapkan. 2. Tipe B (Retarder) adalah bahan tambahan untuk memperlambat waktu pengikatan beton. 3. Tipe C (Accelerator) adalah bahan kimia tambahan untuk mempercepat waktu pengikatan dan menambah kekuatan awal beton. 4. Tipe D (Water reducer and Retarder) adalah bahan tambahan berfungsi ganda, yaitu untuk mengurangi jumlah air campuran untuk menghasilkan beton sesuai konsistensinya dan memperlambat waktu pengikatan beton. 5. Tipe E (Water reducer and Accelerator) adalah bahan kimia tambahan berfungsi ganda, yaitu untuk mengurangi jumlah air campuran untuk menghasilkan beton sesuai 145 konsistensinya dan mempercepat waktu pengikatan dan menambah kekuatan awal beton. 6. Tipe F (Water Reducing and High Range) adalah bahan yang digunakan untuk mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan sebanyak 12% atau lebih untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu. Kadar pengurangan air dalam bahan ini lebih tinggi sehingga kekuatan beton yang dihasilkan lebih tinggi dengan air yang sedikit, tetapi tingkat kemudahan pekerjaan juga lebih tinggi. Jenis bahan tambah ini dapat berupa superplasticizer. 7. Tipe G (Water Reducing and High Range Retarding) adalah bahan tambahan yang berfungsi untuk mengurangi jumlah air pencampur sebanyak 12% atau lebih yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu dan juga menghambat pengikatan beton. Jenis bahan ini merupakan bahan gabungan superplasticizer dengan menunda waktu pengikatan beton. 7.12.2. Bahan tambah mineral/aditif Bahan tambah ini dimaksudkan untuk memperbaiki kinerja beton. Pada saat ini, bahan tambah mineral lebih banyak digunakan untuk memperbaiki kinerja kuat tekan beton. Beberapa keuntungan penggunaan bahan tambah mineral adalah sebagai berikut : 1. memperbaiki kinerja (Workability), 2. mengurangi panas hidrasi, 3. mengurangi biaya pekerjaan beton, 4. mempertinggi daya tahan terhadap serangan sulfat, 5. mempertinggi daya tahan terhadap serangan reaksi alkali-silika, 6. memperlama usia beton, 7. mempertinggi kekuatan tekan beton, 8. menambah keawetan beton, 9. mengurangi penyusutan, 10. mengurangi porositas dan daya serap air dalam beton. Contoh bahan tambah mineral : 1. Abu terbang batu bara Abu terbang (fly ash) didefinisikan sebagai butiran hasil residu pembakaran batu bara atau bubuk batu bara. Fly ash dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu abu terbang yang normal yang dihasilkan dari pembakaran batubara antrasit atau batu bara bitomius (kelas F), abu terbang yang dihasilkan dari batu bara jenis lignite atau subbitumeus 146 (kelas C), dan abu terbang yang dihasilkan dari hasil kalsinasi pozolan alam seperti tanah diatonice, shole, tuft, batu apung (kelas N).. 2. Slag Slag merupakan hasil pembakaran tanur tunggi. Definisi slag dalam ASTM. C989, “Standard spesification for ground granulated Blast-Furnace Slag for use in concrete and mortar”, adalah produk non-metal yang merupakan mineral berbentuk halus, granular hasil pembakaran yang kemudian didinginkan, misalnya dengan mencelupkan dalam air (hasil proses tanur tinggi). 7.12.3. Bahan tambah pembentuk gelembung udara Bahan tambah pembentuk gelembung udara adalah bahan yang digunakan sebagai bahan beton, yang ditambahkan segera ke dalam campuran beton sebelum atau selama pencampuran, untuk membentuk gelembung udara. Penambahan bahan ini akan mempengaruhi kecepatan pengerasan dan setting time. 7.12.4. Waterproofing admixture Tujuan penambahan bahan ini adalah membuat beton berkurang sifat permeabilitasnya. Dengan penambahan bahan ini menyebabkan kadar air berkurang dengan workability adukan beton yang sama, menambahkan sejumlah udara dalam beton, mengandung mineral filler halus sehingga pori beton berkurang. 7.13. Daftar Pustaka Anonim, 1990, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal (SK SNI T-151990-03), Yayasan Badan Penerbit Pekerjaan Umum, Jakarta Anonim, 1982, Persyaratan Umum Bahan Bangunan Di Indonesia (PUBI-1982), Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan, Bandung Anonim, 1997, Pertemuan Teknis Tentang Penggunaan Semen, Departemen Pekerjaan Umum DIY, Yogyakarta Antono, Achmad, 1988, Teknologi Beton, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta Gambhir, ML, 1986, Concrete Technology, Tata McGraw-Hill Publishing Company Limited, New Delhi Murdock, L.j., Brook, K.M., Hindarko Stephanus, 1986, Bahan dan Praktek Beton, Erlangga, Jakarta 147 Neville, AM, 1987, Concrete Technology, Longman Scientific and Technical Tjokrodimuljo, 1996, Teknologi Beton, Nafiri, Yogyakarta 148