Uploaded by nuriresqiyanti15

Makalah Corporate Governance: Tata Kelola Perusahaan

advertisement
MAKALAH
CORPORATE GOVERNANCE
(TATA KELOLA PERUSAHAAN)
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Strategik
Dosen pengampu: Dr. Yusuf Abdullah., S.E., M.M
Kelompok 1:
Sri Rahayu
213403508
Anisa Rizqi Pebian
223403177
Pingkan Triasih Anggraeni 223403183
Fahmi Muhamad Kamil
223403212
Nazwa Humaira Kusnadi
223403277
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SILIWANGI
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Corporate Governance”.
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
“Manajemen Strategik”.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Dr. Yusuf Abdullah., S.E., M.M
selaku dosen mata kuliah Manajemen Strategik yang telah memberikan tugas ini sehingga
dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian
pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan karena
keterbatasan kami. Maka dari itu penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran untuk
menyempurnakan makalah ini. Semoga apa yang ditulis dapat bermanfaat bagi semua pihak
yang membutuhkan.
Tasikmalaya, 28 Agustus 2024
Tim Penyusun
1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................................... 1
DAFTAR ISI ....................................................................................................................... 2
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................... 1
1.1
Latar Belakang ........................................................................................................ 1
1.2
Rumusan Masalah ................................................................................................... 2
1.3
Tujuan Penelitian .................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................................... 3
2.1 Pengertian Corporate Governance ................................................................................ 3
2.2 Manfaat Penerapan Corporate Governance.................................................................. 5
2.3 Perkembangan Corporate Governance ......................................................................... 6
2.4 Prinsip-prinsip Corporate Governance ......................................................................... 7
2.5 Struktur Corporate Governance .................................................................................... 9
2.6 Komponen Governance.............................................................................................. 12
2.7 Tahap-Tahap Penerapan Corporate Governance ......................................................... 13
2.8 Kasus PT Jiwasraya gagal menerapkan Good Corporate Governance (GCG) ............. 15
BAB III PENUTUP ........................................................................................................... 17
3.1 Kesimpulan................................................................................................................ 17
3.2 Saran ......................................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 19
2
DAFTAR GAMBAR
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penerapan corporate governance di Indonesia mengalami peningkatan perhatian
signifikan setelah krisis ekonomi yang melanda negara pada tahun 1998. Krisis tersebut
membuka mata banyak pihak terhadap kelemahan yang ada dalam tata kelola
perusahaan di Indonesia, yang diidentifikasi sebagai salah satu faktor penyebab utama
ketidakstabilan ekonomi. Sebelum krisis, praktik tata kelola perusahaan di Indonesia
cenderung lemah, dengan kurangnya transparansi, akuntabilitas, dan mekanisme
pengawasan yang efektif. Situasi ini memicu kerugian besar bagi investor, kreditor, dan
masyarakat luas, serta mengakibatkan kepercayaan publik terhadap sistem ekonomi
Indonesia menurun drastis. Akibatnya, krisis tersebut menjadi momentum bagi
pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengevaluasi dan memperkuat
penerapan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG) sebagai langkah preventif
untuk mencegah terulangnya krisis serupa di masa depan.
Sejak krisis ekonomi 1998, pemerintah Indonesia, bersama dengan berbagai organisasi
dan sektor swasta, telah berupaya keras untuk mendorong adopsi prinsip-prinsip GCG
di seluruh perusahaan, baik di sektor publik maupun swasta. Upaya ini diwujudkan
melalui berbagai regulasi, kebijakan, dan program yang dirancang untuk memperkuat
sistem tata kelola perusahaan. Salah satu langkah penting adalah pembentukan Komite
Nasional Kebijakan Governance (KNKG) yang bertugas mengembangkan pedoman
GCG dan mempromosikan penerapannya di berbagai industri. Selain itu, Bursa Efek
Indonesia (BEI) juga memainkan peran penting dalam mendorong perusahaan terbuka
untuk mematuhi standar GCG sebagai bagian dari persyaratan pencatatan di bursa.
Meski demikian, upaya-upaya ini masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk
resistensi terhadap perubahan dari kalangan internal perusahaan yang sudah lama
terbiasa dengan budaya korporasi yang kurang mendukung tata kelola yang baik.
Salah satu tantangan utama dalam penerapan GCG di Indonesia adalah perbedaan
kepentingan yang sering kali muncul antara pemegang saham mayoritas dan
manajemen perusahaan. Dalam banyak kasus, pemegang saham mayoritas memiliki
kekuasaan
yang
mengesampingkan
besar
dalam
kepentingan
pengambilan
pemegang
1
keputusan,
saham
minoritas
yang
terkadang
dan
pemangku
kepentingan lainnya. Selain itu, kurangnya sumber daya manusia yang kompeten dalam
bidang tata kelola perusahaan juga menjadi hambatan yang signifikan. Banyak
perusahaan masih menghadapi kesulitan dalam menemukan dan mempertahankan
profesional dengan keahlian yang memadai dalam GCG. Hal ini diperparah oleh kultur
korporasi yang belum sepenuhnya mendukung transparansi dan akuntabilitas, sehingga
menunda penerapan GCG secara efektif. Oleh karena itu, meskipun kemajuan telah
dicapai sejak krisis 1998, masih diperlukan upaya berkelanjutan dan komprehensif
untuk mengatasi tantangan-tantangan ini demi tercapainya tata kelola perusahaan yang
lebih baik di Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Corporate Governance?
2. Apa manfaat dari penerapan Corporate Governance?
3. Bagaimana perkembangan dari Corporate Governance?
4. Bagaimana mengenai prinsip - prinsip Corporate Governance?
5. Bagaimana struktur Corporate Governance?
6. Bagaimana komponen dari Corporate Governance?
7. Bagaimana tahap-tahap dari penerapan Corporate Governance?
8. Bagaimana contoh kasus mengenai Corporate Governance?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengertian dari Corporate Governance
2. Untuk mengetahui manfaat dari penerapan Corporate Governance
3. Untuk mengetahui perkembangan dari Corporate Governance
4. Untuk mengetahui mengenai prinsip - prinsip Corporate Governance
5. Untuk mengetahui struktur Corporate Governance
6. Untuk mengetahui komponen dari Corporate Governance
7. Untuk mengetahui tahap - tahap dari penerapan dari Corporate Governance
8. Untuk mengetahui contoh kasus dari Corporate Governance
9. Untuk memenuhi salah satu tugas kelompok pada mata kuliah Manajemen
Stratejik
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Corporate Governance
Corporate governance merupakan sistem yang esensial dalam pengelolaan perusahaan, yang
mengatur bagaimana sebuah perusahaan dikelola dan diawasi secara menyeluruh. Sistem ini
melibatkan serangkaian proses, kebijakan, dan aturan yang bertujuan untuk memastikan bahwa
setiap aspek pengelolaan perusahaan berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, baik
dari segi hukum maupun etika bisnis. Dalam corporate governance, tidak hanya fokus pada
pemenuhan kebutuhan pemegang saham, tetapi juga menjaga keseimbangan yang adil antara
berbagai pemangku kepentingan. Karyawan, pelanggan, kreditor, dan masyarakat luas
semuanya memiliki peran penting yang harus dipertimbangkan dalam setiap keputusan yang
diambil oleh manajemen perusahaan. Dengan demikian, corporate governance berfungsi
sebagai kerangka kerja yang memungkinkan perusahaan untuk bertindak secara transparan dan
bertanggung jawab dalam upaya mencapai tujuan bisnisnya. Selain itu, corporate governance
juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pengelolaan
perusahaan yang efisien dan berkelanjutan. Melalui penerapan mekanisme pengawasan yang
kuat, perusahaan dapat memastikan bahwa operasi sehari-hari berjalan lancar, sejalan dengan
visi dan misi perusahaan. Dewan direksi, manajemen, dan komite audit memainkan peran kunci
dalam pengawasan ini, memastikan bahwa setiap tindakan yang diambil oleh perusahaan
selaras dengan kepentingan jangka panjang pemegang saham dan pemangku kepentingan
lainnya. Mekanisme ini dirancang untuk mengidentifikasi dan mengatasi potensi konflik
kepentingan serta mencegah penyalahgunaan kekuasaan yang dapat merugikan perusahaan
secara keseluruhan. [1]
Corporate governance berfungsi sebagai penjaga yang memastikan bahwa keputusan yang
diambil oleh manajemen selalu sejalan dengan kepentingan terbaik perusahaan dan pemangku
kepentingan. Pengawasan yang ketat dan sistematis memungkinkan perusahaan untuk
meminimalkan risiko yang terkait dengan penyalahgunaan wewenang atau keputusan yang
merugikan. Hal ini penting tidak hanya untuk melindungi aset dan reputasi perusahaan tetapi
juga untuk membangun kepercayaan di antara semua pihak yang berkepentingan. Dengan
demikian, corporate governance bukan hanya sekadar pedoman operasional, tetapi juga fondasi
yang mendukung pertumbuhan dan keberlanjutan perusahaan di tengah lingkungan bisnis yang
kompetitif dan dinamis.
3
Salah satu aspek penting dari corporate governance adalah peningkatan transparansi dalam
pengelolaan perusahaan. Dengan transparansi yang baik, perusahaan dapat memberikan
informasi yang jelas dan akurat kepada pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya,
sehingga mereka dapat membuat keputusan yang lebih baik terkait dengan investasi dan
keterlibatan mereka dengan perusahaan.
Tujuan utama dari corporate governance adalah untuk memastikan bahwa perusahaan dikelola
dengan cara yang dapat meningkatkan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan
memberikan manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan. Beberapa tujuan utama corporate
governance antara lain:[2]
1. Meningkatkan Transparansi dan Akuntabilitas: Corporate governance bertujuan untuk
meningkatkan transparansi dalam pengambilan keputusan dan akuntabilitas manajemen
terhadap pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Ini dilakukan dengan
menerapkan sistem pelaporan yang jelas dan akurat, serta menetapkan mekanisme pengawasan
yang efektif untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil oleh manajemen sesuai dengan
kepentingan terbaik perusahaan.
2. Mengurangi Risiko dan Mencegah Kecurangan: Corporate governance dirancang untuk
mengurangi risiko yang terkait dengan pengelolaan perusahaan, seperti risiko keuangan,
operasional, dan reputasi. Dengan adanya mekanisme pengawasan yang ketat, perusahaan
dapat mencegah terjadinya kecurangan atau penyalahgunaan kekuasaan oleh manajemen, yang
dapat merugikan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya.
3. Meningkatkan Kepercayaan Publik: Dengan menerapkan corporate governance yang baik,
perusahaan dapat membangun dan mempertahankan kepercayaan dari pemegang saham,
pelanggan, kreditor, dan masyarakat luas. Kepercayaan ini penting untuk keberhasilan jangka
panjang perusahaan, karena perusahaan yang dipercaya oleh publik akan lebih mudah menarik
investasi, mitra bisnis, dan pelanggan.
4. Memastikan Kepatuhan terhadap Hukum dan Regulasi: Corporate governance juga
bertujuan untuk memastikan bahwa perusahaan selalu mematuhi hukum dan peraturan yang
berlaku. Ini termasuk kepatuhan terhadap peraturan pasar modal, standar akuntansi, dan
peraturan lain yang relevan. Kepatuhan ini penting untuk menghindari sanksi hukum yang
dapat merugikan perusahaan, serta untuk menjaga reputasi perusahaan di mata publik.
5. Menciptakan Nilai Jangka Panjang: Tujuan akhir dari corporate governance adalah
menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya.
4
Ini dilakukan dengan memastikan bahwa perusahaan dikelola secara efisien, efektif, dan
berkelanjutan, sehingga dapat mencapai pertumbuhan yang stabil dan memberikan kontribusi
positif bagi perekonomian serta masyarakat luas.
Dengan corporate governance yang baik, perusahaan dapat menghadapi tantangan bisnis
dengan lebih percaya diri, karena mereka memiliki sistem yang kuat untuk mengelola risiko
dan mengambil keputusan yang tepat. Selain itu, corporate governance yang efektif juga
memungkinkan perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis, seperti
perubahan regulasi atau dinamika pasar, yang pada akhirnya akan mendukung keberhasilan
jangka panjang perusahaan.
2.2 Manfaat Penerapan Corporate Governance
Menurut Hon Justice Owen dalam laporannya tentang HIH Insurance Company Ltd
menyatakan bahwa "manfaat dari penerapan tata kelola perusahaan yang baik tidak selalu sama
untuk setiap perusahaan. Bahkan di antara perusahaan publik, banyak perbedaan faktor-faktor
internal seperti sejarah perusahaan, jenis bisnis, risiko yang dihadapi, struktur permodalan, dan
manajemen dapat mempengaruhi hasil yang diperoleh.” Dengan kata lain, manfaat maksimal
yang diraih oleh satu perusahaan mungkin tidak sepenuhnya bisa dicapai oleh perusahaan
lain.[3]
Namun manfaat secara umum yang biasanya banyak dari perusahaan memperolehnya Menurut
Forum of Corporate Governance in Indonesia (FCGI) [4], yaitu:
1. Meningkatkan Kinerja Perusahaan
Dengan tata kelola yang baik, proses pengambilan keputusan menjadi lebih efektif,
efisiensi operasional meningkat, dan pelayanan kepada pemangku kepentingan menjadi
lebih baik.
2. Mempermudah Akses Dana
Perusahaan bisa mendapatkan dana dengan biaya yang lebih rendah, yang pada
akhirnya akan meningkatkan nilai perusahaan.
3. Meningkatkan Kepercayaan Investor
Kepercayaan investor akan pulih, sehingga mereka lebih tertarik untuk berinvestasi di
Indonesia.
4. Kepuasan Pemegang Saham
5
Pemegang saham akan lebih puas dengan kinerja perusahaan, yang juga akan
meningkatkan nilai saham dan dividen.
2.3 Perkembangan Corporate Governance
Awal Pembentukan (sebelum 1990)
Corporate governance atau tata kelola perusahaan pertama kali diperkenalkan oleh Adam
Smith pada 1776 dengan Shareholding Theory, yang menekankan bahwa tujuan utama
perusahaan adalah memaksimalkan keuntungan bagi pemegang saham. Pada masa itu,
corporate governance tidak diatur secara ketat dan hanya berfokus pada keuntungan finansial
tanpa mempertimbangkan aspek lain.
Krisis dan Reformasi (1990)
Krisis pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, seperti skandal Enron dan WorldCom, menyoroti
kelemahan tata kelola perusahaan, terutama dalam hal transparansi dan akuntabilitas
manajerial. Namun skandal-skandal ini mendorong perubahan besar, seperti munculnya
Cadbury Report oleh Cadbury Committee di Inggris pada 1992, yang memperkenalkan
Corporate Governance secara signifikan yang di dalam laporannya menetapkan prinsip tata
kelola perusahaan yang lebih baik, termasuk transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab
dewan direksi. Laporan ini menjadi dasar bagi banyak kode etik di berbagai negara.
Peningkatan Regulasi dan Kode Etik (2002)
Memasuki 2000-an, regulasi corporate governance semakin diperkuat dengan adanya
Sarbanes-Oxley Act di AS pada 2002 sebagai respons terhadap skandal keuangan, yang
mengatur transparansi keuangan dan akuntabilitas manajemen. Di tingkat internasional, OECD
Principles of Corporate Governance tahun 2004 menyediakan pedoman global untuk tata kelola
yang baik.
Corporate Governance Berkelanjutan (2010 - sekarang)
Pada 2010-an hingga sekarang, corporate governance semakin berkembang dengan
memperluas fokusnya ke aspek ESG (Environmental, Social, and Governance). Perusahaan
tidak lagi hanya fokus pada keuntungan finansial, tetapi juga mempertimbangkan dampak
lingkungan, sosial, serta tata kelola yang baik. Digitalisasi dan teknologi juga membawa
tantangan baru, seperti keamanan siber dan perlindungan data, namun juga memberikan
peluang untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas.[5]
6
Corporate Governance di Indonesia
Di Indonesia, perkembangan corporate governance mengikuti tren global, terutama terkait
transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan pemegang saham. Meski demikian, implementasi
di Indonesia menyesuaikan dengan konteks lokal, dan adopsi reformasi kadang berjalan lebih
lambat dibandingkan negara maju. Namun, secara keseluruhan, Indonesia terus berupaya
menerapkan prinsip-prinsip corporate governance sesuai standar internasional demi memenuhi
kebutuhan pasar dan pemangku kepentingan.[6]
2.4 Prinsip-prinsip Corporate Governance
Secara umum terdapat lima prinsip dasar dari good corporate governance yaitu:
1. Transparency (keterbukaan informasi),
Berhubungan dengan kualitas informasi yang disajikan oleh perusahaan, keterbukaan dalam
melaksanakan proses pengambilan keputusan, keterbukaan dalam mengemukakan informasi
materiil, dan relevan bagi Perusahaan. Oleh karena itu Perusahaan dituntut untuk menyediakan
informasi yang jelas, akurat, tepat waktu dan dapat dibandingkan.
Prinsip ini diwujudkan antara lain dengan mengembangkan sistem akuntansi yang berbasis
standar akuntansi dan best practices yang menjamin adanya laporan keuangan dan
pengungkapan yang berkualitas, mengembangkan Information Technology (IT) dan
Management Information System (MIS) untuk menjamin adanya pengukuran kinerja yang
memadai dan proses pengambilan keputusan yang efektif oleh Dewan Komisaris dan Direksi,
mengembangkan Enterprise risk management yang memastikan bahwa semua risiko signifikan
telah diidentifikasi, diukur, dan dapat dikelola pada tingkat toleransi yang jelas, mengumumkan
jabatan yang kosong secara terbuka. Sebagai tambahan penjelasan, menurut Undang-Undang
Pasar Modal, Pasal 75 ayat (1), disebutkan bahwa setiap pengumuman dalam media masa yang
berhubungan dengan suatu penawaran umum, dilarang memuat keterangan yang tidak benar
tentang fakta material dan atau tidak memuat pernyataan tentang fakta material yang
diperlukan agar keterangan yang dimuat di dalam pengumuman tersebut tidak memberikan
gambaran yang menyesatkan.
2. Accountability (akuntabilitas)
Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar.
Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan
perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku
7
kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja
yang berkesinambungan. Akuntabilitas dilaksanakan dengan adanya dewan komisaris, direksi
independen, beserta kewajiban-kewajibannya kepada pemegang saham dan stakeholders
lainnya. Dewan direksi bertanggung jawab atas keberhasilan pengelolaan perusahaan dalam
rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh pemegang saham. Komisaris bertanggung
jawab atas keberhasilan pengawasan dan wajib memberikan nasehat kepada direksi atas
pengelolaan perusahaan sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Pemegang saham
bertanggung jawab atas keberhasilan pembinaan dalam rangka pengelolaan perusahaan.
3. Responsibility (pertanggungjawaban)
Kesesuaian (kepatuhan) di dalam pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang
sehat serta peraturan perundangan yang berlaku. Responsibilitas menekankan pada adanya
sistem yang jelas untuk mengatur mekanisme pertanggungjawaban perusahaan kepada
pemegang saham dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Prinsip ini menuntut perusahaan
maupun pimpinan dan manajer perusahaan melakukan kegiatannya secara bertanggung jawab.
Hal ini merupakan tanggung jawab korporasi sebagai anggota masyarakat yang tunduk kepada
hukum dan bertindak dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan masyarakat sekitarnya.
Sebelumnya perusahaan diharuskan membentuk Sekretaris perusahaan yang berfungsi untuk
mengikuti perkembangan peraturan pasar modal; memberikan pelayanan informasi kepada
masyarakat, dan memberikan masukan kepada Direksi atas kepatuhan terhadap peraturan
perundangan pasar modal. Prinsip ini diwujudkan dengan kesadaran bahwa tanggung jawab
merupakan konsekuensi logis dari adanya wewenang, menyadari akan adanya tanggung jawab
sosial, menghindari penyalahgunaan kekuasaan, menjadi profesional dan menjunjung etika,
dan memelihara lingkungan bisnis yang sehat.
4. Fairness (kesetaraan dan kewajaran)
Perlakuan yang adil dan setara di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul
berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yang berlaku. Praktik kewajaran juga
mencakup adanya sistem hukum dan peraturan serta penegakannya yang jelas dan berlaku bagi
semua pihak. Hal ini penting untuk melindungi kepentingan pemegang saham dari praktik
kecurangan (fraud) oleh orang dalam yang merugikan pihak lain. Setiap anggota direksi harus
melakukan keterbukaan jika menemukan transaksi-transaksi yang mengandung benturan
kepentingan. Prinsip ini diwujudkan antara lain dengan membuat peraturan korporasi yang
melindungi kepentingan minoritas, membuat pedoman perilaku perusahaan (corporate
conduct) dan atau kebijakan-kebijakan yang melindungi korporasi terhadap perbuatan buruk
8
orang dalam, self- dealing, dan konflik kepentingan, menetapkan peran dan tanggung jawab
Dewan Komisaris, Direksi, dan Komite, termasuk sistem renumerasi, menyajikan informasi
secara wajar atau pengungkapan penuh material apapun, mengedepankan Equal Job
Opportunity.
5. Independency (kemandirian)
Suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan
pengaruh/tekanan dari pihak manajemen yang tidak sesuai dengan peraturan dan perundanganundangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.[4]
2.5 Struktur Corporate Governance
Struktur governance, dapat diartikan sebagai suatu kerangka dalam organisasi untuk
menerapkan berbagai prinsip governance sehingga prinsip tersebut dapat dibagi, dijalankan
serta dikendalikan. Secara spesifik, struktur governance harus didesain untuk mendukung
jalannya aktivitas organisasi secara bertanggungjawab dan terkendali.[6]
1. Model Anglo-Saxon
Pada dasarnya struktur governance diatur oleh Undang-undang sebagai dasar legalitas
berdirinya sebuah entitas. Misalnya dalam model AngloSaxon, struktur governance akan terdiri
dari RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham), Board of Directors (representasi dari para
pemegang saham/pemilik), serta Executive managers (manajemen yang akan menjalankan
aktivitas). Model Anglo-Saxon ini disebut dengan Single board system yaitu struktur CG yang
tidak memisahkan keanggotaan dewan komisaris dan dewan direksi. Dalam sistem ini anggota
dewan komisaris juga merangkap anggota dewan direksi dan kedua dewan ini disebut sebagai
board of directors.
Gambar 1.1 SCG Single-Board System (Anglo-Saxon Model)
Sumber : Tjager dkk (2003) dan Syakhroza (2005)
9
2. Model Continental Europe
Sedangkan untuk model Continental Europe, struktur governance terdiri dari RUPS, Dewan
Komisaris, Dewan Direktur, dan Manajer Eksekutif (manajemen). Struktur semacam ini
disebut Two board system, yaitu struktur CG yang dengan tegas memisahkan keanggotaan
dewan, yakni antara keanggotaan dewan komisaris sebagai pengawas dan dewan direksi
sebagai eksekutif perusahaan.
Dalam model two-board system, RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) merupakan struktur
tertinggi yang mengangkat dan memberhentikan dewan komisaris yang mewakili para
pemegang saham untuk melakukan kontrol terhadap manajemen. Dewan komisaris
membawahi langsung dewan direksi dan mempunyai kewenangan untuk mengangkat dan
memberhentikan dewan direksi serta melakukan tugas pengawasan terhadap kegiatan direksi
dalam menjalankan perusahaan. Posisi dewan komisaris dalam model ini relatif kuat terhadap
direksi sehingga fungsi pengendalian/kontrol terhadap kegiatan manajemen dapat berjalan
dengan efektif[6]
Gambar 1.2 SCG Model Dual-Board System
Sumber : Tjager dkk (2003) dan Syakhroza (2005)
3. Model Governance di Indonesia
Perusahaan-perusahaan di Indonesia pada umumnya berbasis two-board system atau two-tier
board system seperti kebanyakan perusahaan di Eropa (model Continental Europe). Hanya ada
perbedaan dalam kedudukan dewan komisaris yang tidak langsung membawahi dewan direksi.
10
Gambar 1. 4 SCG di Indonesia (Dual-Board System)
Sumber : Tjager dkk (2003) dan Syakhroza (2005)
Dengan melihat posisi yang sejajar antara dewan komisaris dan dewan direksi (manajemen)
pada perusahaan–perusahaan di Indonesia, mengakibatkan kedudukan dewan komisaris di
Indonesia tidak sekuat seperti dewan komisaris di Continental Europe karena dewan komisaris
tidak berwenang mengangkat dan memberhentikan dewan direksi. Dewan direksi tidak harus
bertanggung jawab terhadap dewan komisaris. Bila ditinjau dari perspektif good governance,
kedududukan yang sejajar ini dapat mengakibatkan pelaksanaan fungsi pengendalian (control)
berjalan kurang efektif karena bisa saja dewan komisaris dianggap oleh dewan direksi sebagai
partner kerja, bukan sebagai pengawas kerja dewan direksi. Hal ini bisa menjadi salah satu
hambatan untuk melaksanakan GCG pada perusahaan-perusahaan di Indonesia. [6]
Walsh dan Seward (1990) menyatakan bahwa terdapat 2 mekanisme untuk membantu
menyamakan perbedaan kepentingan antara pemegang saham dan manajer dalam rangka
penerapan GCG, yaitu: (1) mekanisme pengendalian internal perusahaan, dan (2) mekanisme
pengendalian eksternal berdasarkan pasar.
Mekanisme pengendalian internal adalah pengendalian perusahaan yang dilakukan
dengan membuat seperangkat aturan yang mengatur tentang mekanisme bagi hasil, baik yang
berupa keuntungan, return maupun risiko-risiko yang disetujui oleh prinsipal dan agen. Salah
satu pilihan mekanisme pengendalian internal untuk menyamakan kepentingan pemegang
saham dan manajer adalah kontrak insentif jangka panjang (Walsh dan Seward, 1990; Jensen,
1993).
Mekanisme pengendalian eksternal adalah pengendalian perusahaan yang dilakukan
oleh pasar. Menurut teori pasar untuk pengendalian perusahaan (market for corporate control),
11
pada saat diketahui bahwa manajemen berperilaku menguntungkan diri sendiri, kinerja
perusahaan akan menurun yang direfleksikan oleh nilai saham perusahaan. Pada kondisi
tersebut, kelompok menajer lain akan menggantikan manajer yang sedang memegang jabatan.
Dengan demikian bekerjanya market for corporate control bisa menghambat tindakan
menguntungkan diri manajer sendiri (Jensen dan Meckling, 1976).
2.6 Komponen Governance
1) Dewan Komisaris
Dewan komisaris dalam suatu perusahaan lebih ditekankan pada fungsi monitoring dari
implementasi kebijakan direksi. Peran komisaris ini diharapkan akan meminimalisir
permasalahan agensi yang timbul antara dewan direksi dengan pemegang saham. Oleh karena
itu dewan komisaris seharusnya dapat mengawasi kinerja dewan direksi sehingga kinerja yang
dihasilkan sesuai dengan kepentingan pemegang saham. Dewan Komisaris memegang peranan
penting dalam mengarahkan strategi dan mengawasi jalannya perusahaan serta memastikan
bahwa para manajer benar-benar meningkatkan kinerja perusahaan sebagai bagian daripada
pencapaian tujuan perusahaan.[7]
2) Dewan Direksi
Dewan direksi dalam suatu perusahaan akan menentukan kebijakan yang akan diambil atau
strategi perusahaan tersebut secara jangka pendek maupun jangka panjang.
3) Dewan Komisaris Independen
Salah satu permasalahan dalam penerapan CG adalah adanya CEO yang memiliki kekuatan
yang lebih besar dibandingkan dengan dewan komisaris. Padahal fungsi dari dewan komisaris
ini adalah untuk mengawasi kinerja dari dewan direksi yang dipimpin oleh CEO tersebut.
Efektivitas dewan komisaris dalam menyeimbangkan kekuatan CEO tersebut sangat
dipengaruhi oleh tingkat independensi dari dewan komisaris tersebut. Komisaris independen
merupakan posisi terbaik untuk melaksanakan fungsi monitoring agar tercipta perusahaan yang
good corporate governance.
4) Komite Audit
Komite audit yang bertanggung jawab untuk mengawasi laporan keuangan, mengawasi audit
eksternal, dan mengamati sistem pengendalian internal (termasuk audit internal) dapat
12
mengurangi sifat opportunistic manajemen yang melakukan manajemen laba (earnings
management) dengan cara mengawasi laporan keuangan dan melakukan pengawasan pada
audit eksternal.[8]
2.7 Tahap-Tahap Penerapan Corporate Governance
Dalam pelaksanaan penerapan Corporate Governance, penting bagi perusahaan untuk
melakukan pentahapan yang cermat berdasarkan analisis atas situasi dan kondisi perusahaan,
dan tingkat kesiapannya, sehingga penerapan Corporate Governance dapat berjalan lancar dan
mendapatkan dukungan dari seluruh unsur di dalam perusahaan. Pada umumnya, tahapan yang
digunakan sebagai berikut (Chinn, 2000; Shaw,2003).[9]
1) Tahap Persiapan
Tahap ini terdiri atas 3 langkah utama:
a. Awareness building, yaitu langkah awal untuk membangun kesadaran mengenai arti penting
Corporate Governance dan komitmen bersama dalam penerapannya. Upaya ini dapat dilakukan
dengan meminta bantuan tenaga ahli independen dari luar perusahaan. Bentuk kegiatan dapat
dilakukan melalui seminar, lokakarya, dan diskusi kelompok.
b. Corporate governance assessment, yaitu upaya untuk mengukur atau lebih tepatnya
memetakan kondisi perusahaan dalam penerapan Corporate Governance saat ini. Langkah ini
perlu guna memastikan titik awal level penerapan Corporate Governance dan untuk
mengidentifikasi langkah-langkah yang tepat guna mempersiapkan infrastruktur dan struktur
perusahaan yang kondusif bagi penerapan Corporate Governance secara efektif. Dengan kata
lain, Corporate Governance assessment dibutuhkan untuk mengidentifikasi aspek-aspek apa
yang perlu mendapatkan perhatian terlebih dahulu, dan langkah-langkah apa yang dapat
diambil untuk mewujudkannya.
c. Corporate governance manual building, yaitu langkah berikut setelah Corporate Governance
assessment dilakukan. Berdasarkan hasil pemetaan tingkat kesiapan perusahaan dan upaya
identifikasi prioritas penerapannya, penyusunan manual atau pedoman implementasi Corporate
Governance dapat disusun. Penyusunan manual dapat dilakukan dengan bantuan tenaga ahli
independen dari luar perusahaan. Manual ini dapat dibedakan antara manual untuk organ-organ
perusahaan dan manual untuk keseluruhan anggota perusahaan, mencakup berbagai aspek
seperti:
13
a. Kebijakan GCG perusahaan
b. Pedoman GCG bagi organ-organ perusahaan
c. Pedoman perilaku
d. Audit committee charter
e. Kebijakan disclosure dan transparansi
f. Kebijakan dan kerangka manajemen risiko
g. Roadmap implementasi
2) Tahap Implementasi
Tahap ini terdiri atas 3 langkah utama yakni:
a. Sosialisasi, diperlukan untuk memperkenalkan kepada seluruh perusahaan berbagai aspek
yang terkait dengan implementasi Corporate Governance khususnya mengenai pedoman
penerapan Corporate Governance. Upaya sosialisasi perlu dilakukan dengan suatu tim khusus
yang dibentuk untuk itu, langsung berada di bawah pengawasan direktur utama atau salah satu
direktur yang ditunjuk sebagai Corporate Governance champion di perusahaan.
b. Implementasi, yaitu kegiatan yang dilakukan sejalan dengan pedoman Corporate
Governance yang ada, berdasar roadmap yang telah disusun. Implementasi harus bersifat top
down approach yang melibatkan dewan komisaris dan direksi perusahaan. Implementasi
hendaknya mencakup pula upaya manajemen perubahan (change management) guna
mengawal proses perubahan yang ditimbulkan oleh implementasi Corporate Governance.
c. Internalisasi, yaitu tahap jangka panjang dalam implementasi. Internalisasi mencakup upaya
upaya untuk memperkenalkan Corporate Governance di dalam seluruh proses bisnis
perusahaan kerja, dan berbagai peraturan perusahaan. Dengan upaya ini dapat dipastikan
bahwa penerapan Corporate Governance bukan sekedar dipermukaan atau sekedar suatu
kepatuhan yang bersifat superficial, tetapi benar- benar tercermin dalam seluruh aktivitas
perusahaan.
3) Tahap Evaluasi
14
Tahap evaluasi adalah tahap yang perlu dilakukan secara teratur dari waktu ke waktu untuk
mengukur sejauh mana efektivitas penerapan Corporate Governance telah dilakukan dengan
meminta pihak independen melakukan audit implementasi dan scoring atas praktik Corporate
Governance yang ada. Evaluasi dapat membantu perusahaan memetakan kembali kondisi dan
situasi serta capaian perusahaan dalam implementasi Corporate Governance sehingga dapat
mengupayakan perbaikan-perbaikan yang perlu berdasarkan rekomendasi yang diberikan.[9]
2.8 Kasus PT Jiwasraya gagal menerapkan Good Corporate Governance (GCG)
Kasus Jiwasraya adalah salah satu skandal keuangan terbesar di Indonesia, yang tidak hanya
melibatkan kerugian finansial besar tetapi juga menunjukkan kegagalan serius dalam
penerapan Good Corporate Governance (GCG). Perusahaan asuransi milik negara ini terjebak
dalam investasi berisiko tinggi dan tidak likuid, yang menyebabkan mereka gagal membayar
klaim nasabah, terutama untuk produk JS Saving Plan. Dalam kasus ini, Jiwasraya secara
sistematis melanggar prinsip-prinsip GCG, yaitu transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab,
independensi, dan keadilan.[10]
Pertama, Jiwasraya gagal menerapkan prinsip transparansi. Sejak tahun 2006, perusahaan ini
terlibat dalam window dressing atau manipulasi laporan keuangan, sehingga laporan yang
disajikan tidak mencerminkan kondisi nyata perusahaan. Masalah ini baru terungkap pada audit
tahun 2017.
Kedua, akuntabilitas juga diabaikan. Dana nasabah dari produk JS Saving Plan diinvestasikan
ke saham-saham berisiko tinggi yang tidak memiliki fundamental yang baik, melanggar prinsip
tanggung jawab perusahaan dalam mengelola dana nasabah secara aman.
Selain itu, Jiwasraya juga gagal memenuhi prinsip tanggung jawab (responsibility) dengan
tidak membayar klaim polis nasabah hingga mencapai Rp 802 miliar. Ini menunjukkan
pengabaian terhadap kewajiban utama perusahaan untuk melindungi kepentingan nasabah.
Prinsip independensi juga dilanggar karena terdapat dugaan konflik kepentingan dalam
pengelolaan investasi. Dari 13 manajer investasi yang terlibat, beberapa diduga memiliki
kepentingan pribadi dengan manajemen Jiwasraya, memperburuk situasi.
Terakhir, Jiwasraya gagal menerapkan prinsip keadilan (fairness) dengan tidak memenuhi hakhak nasabah dan pemangku kepentingan lainnya sesuai dengan perjanjian yang telah
disepakati.
15
Akibat dari kegagalan ini, Jiwasraya mengalami tekanan likuiditas yang parah, dengan aset
tercatat hanya tersisa Rp 15,72 triliun pada laporan keuangan tahun buku 2020. Setelah melalui
proses yang panjang, Jiwasraya menyelesaikan restrukturisasi polis pada akhir Desember 2023,
yang diikuti oleh 99,7 persen pemegang polis. Perusahaan ini kemudian memasuki proses
likuidasi, menandakan bahwa Jiwasraya secara resmi tidak lagi beroperasi.
Kegagalan Jiwasraya dalam menerapkan GCG menyebabkan kerugian triliunan rupiah bagi
negara dan nasabah, serta menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi di
Indonesia. Kasus ini memberikan dampak luas, termasuk kerugian negara, kerugian nasabah,
kerusakan reputasi industri asuransi, serta mendorong reformasi dan pengawasan yang lebih
ketat terhadap sektor keuangan di Indonesia. Kasus Jiwasraya menjadi pelajaran penting bagi
sektor keuangan tentang perlunya penerapan GCG yang ketat untuk menjaga transparansi,
akuntabilitas, dan tanggung jawab perusahaan kepada semua pemangku kepentingan.[11]
16
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Corporate governance adalah sistem esensial dalam pengelolaan perusahaan yang mengatur
dan mengawasi cara perusahaan dikelola dengan fokus pada transparansi, akuntabilitas, dan
keseimbangan kepentingan berbagai pemangku kepentingan. Corporate governance yang baik
memperbaiki transparansi, mengurangi risiko, meningkatkan kepercayaan publik, memastikan
kepatuhan hukum, dan menciptakan nilai jangka panjang.
Penerapan corporate governance menawarkan manfaat seperti peningkatan kinerja perusahaan,
kemudahan akses dana, dan peningkatan kepercayaan investor.
Kasus Jiwasraya merupakan salah satu skandal keuangan terbesar di Indonesia yang menyoroti
kegagalan dalam penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan berdampak luas
pada sektor asuransi serta perekonomian negara sehingga Dampak dari kegagalan GCG di
Jiwasraya sangat besar, mulai dari kerugian negara, kerugian nasabah, hingga kerusakan
reputasi industri asuransi Indonesia. Kasus ini mendorong reformasi sektor keuangan dengan
memperketat pengawasan dan memperbaiki prinsip-prinsip corporate governance untuk
mencegah kejadian serupa di masa depan.
3.2 Saran
1. Peningkatan Transparansi: Perusahaan sebaiknya terus meningkatkan transparansi
dengan menyediakan informasi yang jelas, akurat, dan tepat waktu kepada pemangku
kepentingan.
2. Penguatan Akuntabilitas: Implementasikan sistem akuntabilitas yang lebih ketat untuk
memastikan bahwa setiap tindakan manajemen dapat dipertanggungjawabkan dengan
jelas.
3. Fokus pada ESG: Perusahaan harus mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan
tata kelola (ESG) dalam kebijakan corporate governance mereka untuk memenuhi
ekspektasi pemangku kepentingan dan berkontribusi pada keberlanjutan jangka
panjang.
4. Evaluasi dan Adaptasi: Lakukan evaluasi rutin terhadap sistem corporate governance
dan adaptasi terhadap perubahan lingkungan bisnis dan regulasi.
17
5. Pengembangan Sumber
Daya
Manusia:
Investasikan dalam pelatihan dan
pengembangan bagi anggota dewan komisaris dan direksi untuk memastikan mereka
memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam pengelolaan dan
pengawasan perusahaan.
18
DAFTAR PUSTAKA
[1]
E. Wibowo, “IMPLEMENTASI GOOD CORPORATE GOVERNANCE DI
INDONESIA,” 2010.
[2]
“110-Article Text-173-1-10-20170322”.
[3]
“Corporate Governance-Tinjauan Teori dan Praktis.” [Online]. Available:
https://www.researchgate.net/publication/371574819
[4]
“NASKAH BUKU LENGKAP CORPORATE GOVERNANCE”.
[5]
“16505-Article Text-16503-1-10-20080902”.
[6]
E. Syofyan, GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG). 2021.
[7]
B. Cinintya Pratama, “CORPORATE GOVERNANCE: Teori, Perspektif, dan
Praktik,” 2020. [Online]. Available:
https://www.researchgate.net/publication/340829226
[8]
“Corporate Governance-Tinjauan Teori dan Praktis.” [Online]. Available:
https://www.researchgate.net/publication/371574819
[9]
“Tahap Penerapan Corporate Governance.”
[10] M. Phoebe, T. Putri, I. Fasawwa Putri, J. Joubert, and I. Panelewen,
“KETIDAKPATUHAN TERHADAP PRINSIP GOOD CORPORATE
GOVERNANCE DALAM KASUS PT JIWASRAYA: TINJAUAN HUKUM DAN
IMPLIKASI BAGI PERUSAHAAN BUMN,” vol. 5, no. 4, 2023, doi:
10.31933/unesrev.v5i4.
[11] “1982-ArticleText-5714-publish-2”.
19
Download