Uploaded by common.user152952

pdf-lp-eliminasi-fekal

advertisement
CHZNPHM ZEMDHFUCUHM
ECOIOMH\O AEGHC
\OTO HCAOYHMO FH\HMHF
GDZ-1
ZPNBPHI \TUDO ZPNAE\O MEP\ \TOGE\ GFHPO\IH GHPHRHMB
Kcm. Zhmbghc Zerjuhmbhm Gi 8 @y Zhss Ghrhwhmb 48<81
0000/0008
A. Konsep Eliminasi Fekal
1. Definisi Eliminasi Fekal
Eliminasi fekal adalah proses pembuangan sisa metabolisme berupa feses yang
berasal dari saluran pencernaan melalui anus (Kozier, B., et. all, 2011).
2. Tanda & Gejala
a. Konstipasi
—
Menurunnya frekuensi BAB
—
Pengeluaran feses yang sulit, keras, dan mengejan
—
Nyeri rectum
b. Impaction
—
Tidak BAB
—
Anoreksia
—
Kembung/Kram
—
Nyeri rectum
c. Diare
-
BAB sering dengan cairan dan fesef yang tidak berbentuk
-
Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat
-
Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang menyebabkan
meningkatkan sekresi mukosa
-
Feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontroldan
menahan BAB
d. Inkontiensia Fekal
-
Tidak mampu mengontrol BAB dan udara dari anus
-
BAB encer dan jumlahnya banyak
-
Gangguan fungsi spingter anal, penyakit neuromuskuler, trauma spinal
cord dan tumor spingter anal eksternal
e. Flatulens
-
Menumpuknya gas pada lumen intestinal
-
Dinding usus meregang dan distendend, merasa penuh, nyeri dan kram
-
Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus)
f.
Hemorroid
-
Pembengkakkan vena pada dinding rectum
-
Perdarahan jika dinding pembuluh darah vena meregang
-
Merasa panas dan gatal jika terjadi inflamasi
-
Nyeri
3. Pathway
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Eliminasi Fekal
a. Usia
Setaip tahap perkembangan/usia memiliki kemampuan mengontrol defekasi
yang berbeda. Bayi belum memiliki kemampuan mengontrol secara penuh
dalam buang air besar, usia lanjut proses pengontrolan tersebut mengalami
penurunan.
b. Diet
Diet atau pola atau jenis makanan yang dikonsumsi dapat mempengaruhi
proses defekasi. Makanan yang memiliki kandungan serat tinggi dapat
membantu proses percepatan defekasi dan jumlah yang di konsumsi pun
dapat memengaruhinya.
c. Asupan Cairan
Pemasukan cairan yang kurang dalam tubuh membuat defekasi menjadi
keras oleh karena absorspi kurang sehingga dapat memengaruhi kesulitan
proses defekasi.
d. Aktivitas
Aktivitas dapat memengaruhi proses defekasi karena melalui aktivitas tonus
otot abdomen, pelvis, dan diafragma dapat membantu kelancaran proses
defekasi, sehingga proses defekasi sehingga proses gerakan peristaltik pada
daerah kolon dapat bertambah bak dan memudahkan dalam membantu
proses kelancaran proses defekasi.
e. Pengobatan
Pengobatan dapat memengaruhi proses defekasi, seperti penggunaan
laksansia atau antasida yang terlalu sering.
f.
Gaya Hidup
Kebiasaan atau gaya hidup dapat memengaruhi proses defekasi. Hal ini
dapat terlihat pada seseorang yang memiliki gaya hidup sehat atau
kebiasaan melakukan buang air besar di tempat yang bersih atau toilet.
Maka, ketika orang tersebut buang air besar di tempat yang terbuka atau
tempat yang kotor, ia mengalami kesulitan dalam proses defekasi.
g. Penyakit
Beberapa penyakit dapat memengaruhi proses defekasi, biasanya penyakitpenyakit yang berhubungan langsung pada sistem pencernaan, seperti
gastroenteristis atau penyakit infeksi lainnya.
h. Nyeri
Adanya nyeri dapat memengaruhi kemampuan atau keinginan untuk
berdefekasi, seperti nyeri pada beberapa kasus hemoroid dan episiotomi.
i.
Kerusakan Sensoris dan Motoris
Kerusakan pada sistem sensoris dan motoris dapat memengaruhi proses
defekasi karena dapat menimbulkan proses penurunan stimulasi sensoris
dalam berdefeksi. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh kerusakan pada
tulang belakang atau kerusakan saraf lainnya.
5. Masalah Eliminasi Fekal
Terdapat empat masalah eliminasi fekal, yaitu konstipasi, diare, inkontinensia
alvi, dan flatulens (Kozier, B., et. all, 2011).
a. Konstipasi
Konstipasi adalah defekasi yang kurang dari tiga kali perminggu. Dengan
menunjukan pengeluaran feses yang kering, keras atau tanpa pengeluaran
feses. Konstipasi terjadi jika pergerakan feses di usus besar berjalan lambat,
sehingga memungkinkan bertambahnya waktu absorpsi cairan di usus besar.
Konstipasi mengakibatkan sulitnya pengeluaran feses dan bertambahnya
upaya atau penekanan otot-otot volunter.
b. Diare
Diare merupakan pengeluaran feses encer dan peningkatan frekuensi
defekasi.
c. Inkontinensia alvi
Inkontinensia alvi (bowel) atau disebut juga inkontinensia fekal adalah
hilangnya kekmampuan volunter untuk mengontrol pengeluaran fekal dan
gas dari spinter anal. Inkontinensia fekal secara umum dihubungkan dengan
gangguan fungsi sfingter anal atau suplaisarafnya.
d. Flatulens
Flatulens
adalah
keberadaan
flatus
yang
berlebihan
di
usus
dan
menyebabkan peregangan dan inflasi usus (distensi usus). Terdapat tiga
sumber utama penyebab flatulens, yaitu kerja bakteria dalam kime di usus
besar, udara yang tertelan, dan gas yang berdifusi diantara aliran darah dan
usus.
6. Penatalaksanaan Keperawatan
Tujuan dari penatalaksaan ini adalah memulihkan dan mempertahankan pola
eliminasi yang baik dan mencegah komplikasi yang dapat terjadi akibat
gangguan eliminasi tersebut
Modifikasi gaya hidup :
a. Diet
-
Makanan tinggi serat (konstipasi)
-
Makanan lunak, porsi sedikit tapi sering (diare)
-
Batasi makanan yang menghasilkam\n gas (kol, buncis, bawang merah)
b. Asupan Cairan
-
Intake: 2000-3000 cc perhari (sesuai toleransi)
-
Hindari: cairan yang terlalu hangat atau terlalu dingin, kafein dan
minuman berkarbonasi
c. Aktivitas/Latihan
-
Posisi terlentang : klien menguatkan otot abdomen dengan menariknya
kedalam menahannya selama 10 detik kemudian merelaksasikannya ini
harus sebanyak 5 sampai 10 kali atau tergantung pada kesehatan klien.
-
Posisi terlentang : kontraksikan otot paha dan tahan selama 10 detik,
ulangi latihan 5-10 kali, 4 kali sehari, ini membantu klien yang tirah
baring mendapatkan kekuatan otot paha, sehingga defekasi normal.
-
Ajarkan teknik ihsshbe h`dniemt, vhcshcvh ihmeuver, napas dalam
d. Tindakan Pencegahan
-
Management stres
-
Hindari kebiasaan minum alkohol dan merokok
-
Diskusikan kebiasaan defekasi
-
Modifikasi lingkungan
-
Jaga privasi klien
-
Ajarkan posisi BAB yang baik
-
Monitor integritas kulit
-
Monitor vithc sibm dan tanda-tanda dehidrasi
-
Kompres panas dan dingin jika nyeri
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan USG
b. Pemeriksaan foto rontgen
c. Pemeriksaan laboratorium feses dan urin
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Riwayat keperawatan
Pada riwayat keperawatan, hal-hal yang harus di kaji, antara lain:
1) Pola defekasi
a) Frekuensi (berapa kali per hari / minggu?)
b) Apakah frekuensi tersebut pernah berubah?
c) Apa penyebabnya?
2) Perilaku defekasi
a) Apakah klien menggunakan laktasif?
b) Bagaimana cara klien mempertahankan pola defekasi?
3) Deskripsi feses
a) Warna
b) Tekstur
c) Bau
4) Diet
a) Makanan apa yang mempengaruhi perubahan pola defekasi klien?
b) Makanan apa yang biasa klien makan?
c) Makanan apa yang klien hindari / pantang?
d) Apakah klien makan secara teratur?
5) Cairan : Jumlah dan jenis minuman yang di konsumsi setiap hari
6) Aktivitas
a) Kegiatan sehari-hari (mis: olahraga)
b) Kegiatan spesifik yang dilakukan klien (mis: penggunaan laktasif,
enema, atau kebiasaan mmengkonsumsi sesuatu sebelum defekasi)
7) Penggunaan medikasi : Apakah klien bergantung pada obat-obatan yang
dapat mempengaruhi pola defekasinya?
8) Stress
a) Apakah klien mengalami stress yang berkepanjangan?
b) Koping apa yang klien gunakan dalam menghadapi stress?
c) Bagaimana respons klien terhadap stress? Positif atau negatif?
9) Pembedahan atau penyakit menetap
a) Apakah klien pernah menjalani tindakan bedah mengganggu pola
defekasinya?
b) Apakah klien pernah menderita penyakit yang mempengaruhi sistem
gastrointestinal?
10) Pemeriksaan fisik : data fokus
a) Mulut : Inspeksi gigi, lidah dan gusi klien. Gigi yang buruk atau
struktur gigi yang buruk mempengaruhi kemampuan mengunyah.
b) Abdomen (pada posisi telentang)
(1) Inspeksi: amati abdomen untuk melihat bentuknya, kesimetrisan,
adanya distensi atau gerak peristaltik
(2) Auskultasi:
dengarkan
bising
usus,
perhatikan
intensitas,
frekuensi, dan kualitasnya
(3) Perkusi: mengetahui adanya distensi berupa cairan, massa, atau
udara. Mulailah pada bagian kanan atas dan sterusnya
(4) Palpasi: mengetahui konsistensi abdomen serta adanya nyeri
tekan atau massa di permukaan abdomen
c) Rektum dan Anus (pada posisi Litotomi atau Sims)
(1) Inspeksi: amati daerah perineal untuk melihat adanya tanda-tanda
inflamasi, perubahan warna, lesi, lecet, fistula, konsistensi,
hemoroid.
(2) Palpasi: dinding rektum dan rasakan adanya nodul, massa, nyeri
tekan. Tentukan lokasi dan ukurannya
d) Feses : Amati feses klien dan catat konsistensi, bentuk, bau, warna,
dan jumlahnya. Amati pula unsur abnormal yang terdapat pada feses.
e) Pemeriksaan penunjang
(1) Pemeriksaan Laboratorium
—
Spesimen Feses : Dilakukan untuk samar darah (mikroskopik)
di dalam feses dan kultur hanya membutuhkan sedikit sampel
—
Tes Guaiak : Tes pemeriksaan darah samar di feses (fecal
occult
blood
testing,
FOBT),
mikroskopik di dalam feses
yang
menhitung
darah
(2) Pemeriksaan Diagnostik
(a) Visualisasi Langsung
—
Endoskop fiberoptik : Instrument optik yang dilengkapi
dengan lensa pengamat, selang fleksibel yang panjang,
dan sebuah sumber cahaya pada bagian ujungnya. Alat ini
memungkinkan penampakan struktur pada ujung selang
dan pemasukan instrument khusus untuk biopsi.
—
Protoskopi : Instrument yang kaku, berbentuk selang yang
dilengkapi
dengan
sumber
cahaya.
Memungkinkan
visualisasi anus dan rektum dan memungkinkan dokter
mengumpulkan
spesimen
jaringan
dan
membekukan
sumber-sumber perdarahan. Namun instrument ini kurang
fleksibel daripada skop fiberotik dan lebih berpotensi
menimbulkan gangguan kenyamanan.
—
Endoskopi
atau
Gastroskopi
UGI
memungkinkan
visualisasi esophagus, lambung dan duodenum
—
Sigmoidiskopi : Memungkinkan visualisasi anus, rektum
dan
kolon
sigmoid
dan
memungkinkan
dokter
mengumpulkan spesimen jaringan
(b) Visualisasi Tidak Langsung
Pemeriksaan media kontras dengan menggunakan sinar X
memunngkinkan dokter melihat esophagus bagian bawah,
lambung dan duodenum
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang muncul (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017):
a. Diagnosa I : Diare
1) Definisi : Pengeluaran feses yang sering, lunak dan tidak berbentuk.
2) Penyebab
Fisiologis :
-
Inflamasi gastrointestinal
-
Iritasi gastrointestinal
-
Proses infeksi
-
Malabsorpsi
Psikologis :
-
Kecemasan
-
Tingkat stres tinggi
Situasional :
-
Terpapar kontaminan
-
Terpapar toksin
-
Penyalahgunaan laksatif
-
Penyalahgunaan zat
-
Program
pengobatan
(agen
tiroid,
analgesik,
ferosulfat, antasida, cimetidine dan antibiotik)
-
Perubahan air dan makanan
-
Bakteri pada air
3) Gejala dan tanda
Gejala dan tanda mayor
Subjektif : Objektif :
-
Defekasi lebih dari tiga kali dalam 24 jam
-
Feses lembek atau cair
Gejala dan tanda minor
Subjektif:
-
Urgency
-
Nyeri atau kram abdomen
Objektif:
-
Frekuensi peristaltik meningkat
-
Bising usus hiperaktif
4) Kondisi klinis terkait
a) Kanker kolon
b) Diνerticulitis
c) Iritasi usus
d) Crohn's disease
pelunak
feses,
e) Ulkus peptikum
f) Gastritis
g) Spasme kolon
h) Kolitis ulseratif
i)
Hipertiroidisme
j)
Demam typoid
k) Malaria
l)
Sigelosis
m) Kolera
n) Disentri
o) Hepatitis
b. Diagnosa II : Inkontinensia Fekal
1) Definisi : Perubahan kebiasaan buang air besar dari pola normal yang
ditandai dengan pengeluaran feses secara involunter (tidak sadar)
2) Penyebab
a) Kerusakan susunan saraf motirik bawah
b) Penurunan tonus otot
c) Gangguan kognitif
d) Penyalahgunaan laksatif
e) Kehilangan fungsi pengendalian sfingter rektum
f) Pascaoperasi pullthrough dan penutupan kolostomi
g) Ketidakmampuan mencapai kamar kecil
h) Diare kronis
i)
Stres berlebihan
3) Gejala dan tanda
Gejala dan tanda mayor
Subjektif :
-
Tidak mampu mengontrol pengeluaran feses
-
Tidak mampu menunda defekasi
Objektif :
-
Feses keluar sedikit-sedikit dan sering
Gejala dan tanda minor
Subjektif : Objektif :
-
Bau feses
-
Kulit perinal kemerahan
4) Kondisi klinis terkait
a) Spina bifida
b) Atresia ani
c) Penyakit hirschsprung
c. Diagnosa III : Konstipasi
1) Definisi : Penurunan defekasi normal yang disertai pengeluaran feses
sulit dan tidak tuntas serta feses kering dan banyak
2) Penyebab
Fisiologis :
-
Penurunan motilitas gastrointestinal
-
Ketidakadekuatan pertumbuhan gigi
-
Ketidakcukupan diet
-
Ketidakcukupan asupan serat
-
Ketidakcukupan asupan cairan
-
Aganglionik (penyakit hircsprung)
-
Kelemahan otot abdomen
Psikologis :
-
Konfusi
-
Depresi
-
Gangguan emosional
Situasional :
-
Perubahan kebiasaan makan (jenis makanan, jadwal makan)
-
Ketidakadekuatan toileting
-
Aktivitas fisik harian kurang dari yang dianjurkan
-
Penyalahgunaan laksatif
-
Efek agen farmakologis
-
Ketidakteraturan kebiasaan defekasi
-
Kebiasaan menahan dorongan defekasi
-
Perubahan lingkungan
3) Gejala dan tanda
Gejala dan tanda mayor
Subjektif :
-
Defekasi kurang dari 2 kali seminggu
-
Pengeluaran feses lama dan sulit
Objektif :
-
Feses keras
-
Peristaltik usus menurun
Gejala dan tanda minor
Subjektif :
-
Mengejan saat defekasi
Objektif :
-
Distensi abdomen
-
Kelemahan umum
-
Teraba massa pada rektal
4) Kondisi klinis terkait
a) Lesi atau cedera pada medula spinalis
b) Spina bifida
c) Stroke
d) Sklerosis multipel
e) Penyakit parkinson
f) Demensia
g) Hiperparatiroidesme
h) Hipoparatiroidisme
i)
Ketidakseimbangan elektrolit
j)
Hemoroid
k) Obesitas
l)
Pasca operasi obstruksi bowel
m) Kehamilan
n) Pembesaran prostat
o) Abses rektal
p) Fisura anorektal
q) Striktura anorektal
r) Prolaps rektal
s) Ulkus rektal
t)
Rektokel
u) Tumor
v) Penyakit hircsprung
w) Impaksi feses
3. Luaran Keperawatan
Luaran keperawatan berdasarkan diagnose yang muncul adalah (Tim Pokja
SLKI DPP PPNI)
a. Diagnosa I : Diare
Luaran Keperawatan : Eliminasi Fekal (L.13113)
Tujuan : ketersediaan sokongan dari orang lain untuk memenuhi kebutuhan
individu yang, menjalani perawatan
Ekspektasi : Meningkat
Kriteria Hasil : Kemampuan meminta bantuan pada orang lain, Bantuan
yang ditawarkan oleh orang lain, Dukungan emosi yang disediakan oleh
orang lain, Jaringan sosial yang membantu : Meningkat
b. Diagnosa II : Inkontinensia Fekal
Luaran Keperawatan : Kontinensia Fekal (L.04035)
Tujuan : Pola normal kebiasaan buang air besar
Ekspektasi : Membaik
Kriteria Hasil : Pengontrolan pengeluaran feses : Meningkat, Defekasi,
Frekuensi buang air besar, kondisi kulit perianal : Membaik
c. Diagnosa III : Konstipasi
Luaran Keperawatan : Eliminasi Fekal (L.13113)
Tujuan : ketersediaan sokongan dari orang lain untuk memenuhi kebutuhan
individu yang, menjalani perawatan
Ekspektasi : Meningkat
Kriteria Hasil : Kemampuan meminta bantuan pada orang lain, Bantuan
yang ditawarkan oleh orang lain, Dukungan emosi yang disediakan oleh
orang lain, Jaringan sosial yang membantu : Meningkat
4. Rencana Tindakan
Intervensi keperawatan berdasarkan diagnosa yang muncul adalah (Tim Pokja
SIKI DPP PPNI):
a. Diganosa I : Diare
Intervensi : Manajemen Diare
1) Observasi :
-
Identifikasi
penyebab
diare
(inflamasi
gastrointestinal,
iritasi
gastrointestinal, proses infeksi, malabsorpsi, ansietas, stres, efek
obat-obatan, pemberian botol susu)
-
Identifikasi riwayat pemberian makanan
-
Identifikasi gejala invaginasi (tangisan keras, kepucatan pada bayi)
-
Monitor warna, volume, frekuensi, dan konsistensi tinja
-
Monitor tanda dan gejala hypovolemia (takikardia, nadi teraba
lemah, tekanan darah turun, turgor kulit turun, mukosa mulut kering,
CRT melambat, BB menurun)
-
Monitor iritasi dan ulserasi kulit di daerah perinal
-
Monitor jumlah pengeluaran diare
-
Monitor keamanan penyiapan makanan
2) Terapeutik
-
Berikan asupan cairan oral (larutan garam gula, oralit, pedyalite,
renalyte)
-
Pasang jalur intravena
-
Berikan cairan intravena (ringer asetat, ringer laktat)
-
Ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit
-
Ambil sampel feses untuk kultur
3) Edukasi
-
Anjurkan makanan porsi kecil dan sering secara bertahap
-
Anjurkan
menghindari
makanan
pembentuk
gas,
pedas
dan
mengandung laktosa
-
Anjurkan melanjutkan pemberian ASI
4) Kolaborasi
-
Kolaborasi pemberian obat antimotilitas (loperamide, difenoksilat)
-
Kolaborasi
pemberian
obat
antispasmodic
atau
spasmolitik
(papaverin, ekstrak belladonna, mebeverine)
-
Kolaborasi pemberian obat pengeras feses (atapulgit, smektit,
koalin-pektin)
b. Diagnosa II : Inkontinensia Fekal
Intervensi : Latihan Eliminasi Fekal
1) Observasi
-
Monitor peristaltik usus secara teratur
2) Terapeutik
-
Anjurkan waktu yang konsisten untuk buang air besar
-
Berikan privasi, kenyamanan dan posisi yang meningkatkan proses
defekasi
-
Gunakan enema rendah
-
Anjurkan dilatasi rektal digital
-
Ubah program latihan eliminasi fekal
3) Edukasi
-
Anjurkan mengkonsumsi makanan tertentu, sesuai program atau
hasil konsultasi
-
Anjurkan asupan cairan yang adekuat sesuai kebutuhan
-
Anjurkan olah raga sesuai toleransi
4) Kolaborasi
-
Kolaborasi penggunaan supositoria
c. Diagnosa III : Konstipasi
Intervensi : Manajemen Eliminasi Fekal
1) Observasi
-
Identifikasi masalah usus dan penggunaan obat pencahar
-
Identifikasi pengobatan yang berefek pada kondisi gastrointestinal
-
Monitor buang air besar (warna, frekuensi, konsistensi, volume)
-
Monitor tanda dan gejala diare, konstipasi, atau impaksi
2) Terapeutik
-
Berikan air hangat setelah makan
-
Jadwalkan waktu defekasi bersama pasien
-
Sediakan makanaan tinggi serat
3) Edukasi
-
Jelaskan jenis makananan yang membantu meningkatkan keteraturan
peristaltik usus
-
Anjurkan mencatat warna, frekuensi, konsistensi, volume feses
-
Anjurkan meningkatkan aktifitas fisik, sesuai toleransi
-
Anjurkan
pengurangan
asupan
makanan
yang
meningatkan
pembentukan gas
-
Anjurkan mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi serat
-
Anjurkan meningkatkan asupan cairan, jika tidak ada kontraindikasi
4) Kolaborasi
-
Kolaborasi pemberian obat supositoria anal
DAFTAR PU\TAKA
Kozier, B., et. all. (2011). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, &
Praktik. Jakarta: EGC.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:
Definisi Dan Indikator Diagnortik. Jakarta: DPP PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Interνensi Keperawatan Indonesia:
Definisi Dan Tindakan Keperawatan. Jakarta: DPP PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi
Dan Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta: DPP PPNI.
Download