Uploaded by common.user152684

Analisis Kebutuhan Prasarana Permukiman Pesisir Bolaang Mongondow Utara

advertisement
Available online http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/SABUA
SABUA
Volume 11 No. 2, Tahun 2022
P-ISSN 2085-7020
Analisis Kebutuhan Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum Permukiman
Pesisir di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
Analysis Of Infrastructure, Facilities, And Public Utilities Needs Of
Coastal Settlements In North Bolaang Mongondow District
Azzahra Putri Utamia, Windy Mononimbarb, Rachmat Prijadi c
a
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Sam Ratulangi, Manado, Indonesia
b
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Sam Ratulangi, Manado, Indonesia
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Sam Ratulangi, Manado, Indonesia
[email protected]
a
Abstrak
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara yang
memiliki kawasan pesisir pantai dan terdapat 48 desa di enam desa yang memiliki garis pantai dan
termasuk dalam kawasan pesisir. Prasarana, sarana dan utilitas umum di permukiman pesisir Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara juga masih ada yang belum tersedia dan terlayani. Penelitian ini betujuan
untuk mengidentifikasi ketersediaan serta menganalisis kebutuhan prasarana, sarana dan utilitas umum
permukiman pesisir di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang menggunakan analisis deskriptif
kualitatif, analisis spasial dan analisis kuantitatif. Dari hasil analisis kebutuhan prasarana sarana dan
utilitas umum maka sampai dengan tahun 2040 terdapat prasarana yang perlu ditambahkan agar bisa
memenuhi Standar Pelayanan Minimal seperti jaringan drainase, jaringan persampahan dan jaringan air
minum. Untuk sarana sampai dengan tahun 2040 sarana yang tersedia saat ini masih SNI 03-1733-2004
dan belum membutuhkan penambahan namun perlu ada peningkatan atau perbaikan. Untuk kebutuhan
utilitas umum sampai dengan tahun 2040 masih membutuhkan penambahan untuk jaringan listrik,
jaringan telekomunikasi dan proteksi kebakaran. Dari hasil tersebut dapat menunjukkan bahwa masih
terdapat prasarana dan utilitas umum yang perlu ditambah agar kebutuhan prasarana, sarana dan utilitas di
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara terpenuhi sampai tahun 2040.
Kata Kunci : Analisis, Permukiman Pesisir, Prasarana, Sarana, Utilitas Umum
Abstract
North Bolaang Mongondow Regency is one of the regencies in North Sulawesi Province which has a
coastal area and there are 48 villages in six sub-districts that have a coastline and are included in the
coastal area. Infrastructure, facilities and public utilities in coastal settlements in North Bolaang
Mongondow Regency are also still unavailable and underserved. This research aims to identify the
availability and analyse the need for infrastructure, facilities and public utilities for coastal settlements in
North Bolaang Mongondow Regency using qualitative descriptive analysis, spatial analysis and
quantitative analysis. From the analysis of the needs for public facilities and utilities, until 2040 there are
infrastructures that need to be added in order to meet the Minimum Service Standards such as drainage
networks, waste networks and drinking water networks. For facilities up to 2040, the currently available
facilities are still SNI 03-1733-2004 and do not require addition, but there needs to be an increase or
improvement. For the needs of public utilities until 2040, they still require additions for the electricity
network, telecommunications network and fire protection. From these results, it can be shown that there
are still public infrastructure and utilities that need to be added so that the needs for infrastructure,
facilities and utilities in North Bolaang Mongondow Regency are met until 2040.
Keyword : Analysis, Coastal Settlements, Infrastructure, Facilities, Public Utilities
Sabua (Vol.11 No. 2, Tahun 2022)
50
1.
Utami, Mononimbar, Prijadi / Sabua
Pendahuluan
Fenomena yang terjadi di kawasan permukiman pesisir yaitu terciptanya permukiman
yang terjadi secara alami karena faktor mata pencaharian sebagai nelayan dan berkembang
menjadi sebuah kampung nelayan, yang menyebabkan pembangunan fisik di kawasan tersebut
menjadi tidak terencana dan tidak tertata dengan baik. Hal ini menjadikan terbentuknya
kawasan tersebut menjadi permukiman kumuh. Persoalan ini berhubungan erat dengan
minimnya penyediaan layanan dasar di kawasan permukiman pesisir dikarenakan kurangnya
ketersediaan prasarana, sarana serta utilitas umum yang sesuai dengan Standar Pelayanan
Minimal maupun Standar Nasional Indonesia untuk kawasan permukiman.
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara memiliki kawasan
pesisir pantai yang tumbuh menjadi kawasan permukiman kumuh. Berdasarkan SK Bupati
Bolaang Mongondow Utara Nomor 36 Tahun 2014 dari 10 kawasan yang teridentifikasi
permukiman kumuh 8 diantaranya masuk pada Kawasan pesisir dengan luas sebesar 40,74 Ha.
Ketersediaan prasarana, sarana dan utilitas yang belum berfungsi optimal menjadi indikator
pertumbuhan kawasan kumuh di kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Wiarni, Mononimbar,
dan Supardjo, 2018). Untuk itu perlu diidentifikasi ketersediaan dan kondisi prasarana, sarana
dan utilitas umum selanjutnya dilakukan analisis kebutuhan untuk perencanaan 20 (dua puluh)
tahun ke depan dalam rangka menangani permasalahan permukiman pesisir di Kabupaten
Bolaang
Mongondow
Utara.
2.
Metode
Penelitian ini menggunakan tiga teknik analisa data, yaitu analisa deskriptif kualitatif,
analisa spasial dan analisa kuantitatif. Analisis deskriptif kualitatif dilakukan dengan
menguraikan ataupun menggambarkan dengan jelas mengenai ketersediaan prasarana, sarana
dan utilitas umum permukiman pesisir di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara sesuai dengan
hasil survei dan wawancara. Untuk analisis spasial dipakai untuk mengolah data yang
berhubungan dengan keruangan yang di olah dari hasil observasi lapangan serta data-data
sekunder yang di analisis menggunakan aplikasi GIS dengan hasil akhir dalam bentuk
pemetaan.
Sedangkan analisis kuantitatif yang digunakan untuk menganalisis laju pertumbuhan
penduduk serta perhitungan berdasarkan hasil survei dengan membandingkan jumlah PSU yang
telah ada dengan yang diproyeksikan menggunakan Standar Nasional Indonesia Nomor 031733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan dan pedoman
Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman dan
Pekerjaan Umum yang dihitung sesuai dengan jumlah penduduk yang telah diproyeksikan untuk
20 tahun mendatang dan di bagi dengan standar jiwa setiap sarana lalu di kurangi dengan
jumlah eksisting yang ada.
3.
Kajian literatur
4.1. Kawasan Permukiman
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Permukiman menyatakan
bahwa permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan
perumahan yang mempunyai prasarana, sarana utilitas umum serta mempunyai penunjang
kegiatan fungsi lain di kawasan perdesaan maupun kawasan perkotaan. Selanjutnya menurut
Sadana (2014:21) menjelaskan komponen dari lingkungan hidup di daerah perdesaan atau
perkotaan dan digunakan sebagai tempat tinggal yang berfungsi sebagai lingkungan hunian atau
lingkungan tempat tinggal yang mendukung kehidupan dan kegiatannya untuk menunjang matapencahariannya disebut dengan kawasan permukiman.
4.2. Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum Permukiman Pesisir
Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan
Permukiman, prasarana adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan hunian yang memenuhi
standar tertentu untuk kebutuhan bertempat tinggal yang layak, sehat, aman dan nyaman.
Sabua (Vol.11 No. 2, Tahun 2022)
Nama belakang penulis pertama, Nama belakang penulis kedua /Sabua
51
Prasarana permukiman dibutuhkan karena menjadi aspek penting dan wajib ada di kawasan
permukiman. Prasarana permukiman dalam hal ini meliputi: Jaringan Jalan, Jaringan Drainase,
Jaringan Persampahan, Jaringan Air Limbah, dan Jaringan Air Minum. Sedangkan menurut
Patandianan (2011) kebutuhan prasarana kampung nelayan yaitu dermaga dan tambatan perahu.
Selain itu dibutuhkan prasarana lainnya seperti tanggul dan pemecah gelombang.
Sarana adalah fasilitas dalam lingkungan hunian yang berfungsi untuk mendukung
pengembangan dan penyelenggaraan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Kebutuhan sarana
permukiman dibagi atas sarana perdagangan dan niaga, sarana pemerintahan, sarana kesehatan,
sarana peribadatan, sarana ruang terbuka, taman dan lapangan olahraga serta sarana pendidikan.
Patandianan (2011) menjelaskan beberapa sarana khusus untuk kampung nelayan yaitu Tempat
Pelelangan Ikan (TPI) dan Tempat Penjemuran Ikan.
Utilitas umum adalah kelengkapan penunjang untuk pelayanan lingkungan hunian.
Pelayanan yang termasuk dalam utilitas umum seperti listrik dan telepon dibutuhkan agar
bangunan di lingkungan permukiman dapat beroperasi (SNI 03-1733-2004). Utilitas umum
permukiman dalam hal ini meliputi jaringan listrik, jaringan telekomunikasi dan proteksi
kebakaran.
4.
Hasil dan Pembahasan
4.1. Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum Permukiman Pesisir
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi
Sulawesi Utara yang memiliki total 117 desa/kelurahan dan 6 kecamatan dengan luas wilayah
berdasarkan data perhitungan ArcGIS sebesar 1.941,12 km2 dengan luas kawasan permukiman
6,52 km2. Sedangkan wilayah penelitian yang berada di kawasan pesisir yaitu Kecamatan
Sangkub dengan 5 desa sampel dan memiliki luas wilayah 339,63 km2, Kecamatan Bintauna
dengan 5 desa sampel dan luas wilayah 5,79 km2, Kecamatan Bolangitang Timur dengan 4 desa
sampel dan luas wilayah 9,44 km2, Kecamatan Bolangitang Barat dengan 5 desa sampel dan
luas wilayah 9,97 km2 dan Kecamatan Pinogaluman dengan 9 desa sampel dan luas wilayah
42,38 km2.
Gambar 1. Peta Delineasi Wilayah Penelitian (RTRW Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, 2022)
4.2. Ketersediaan Prasarana Permukiman Pesisir

Jaringan Jalan
Sistem jaringan jalan di wilayah penelitian telah tersedia jalan arteri, jalan lokal jalan
lingkungan dan jalan setapak. Sedangkan berdasarkan kualitas jalan untuk jalan kondisi baik
yaitu jalan yang bermaterial jalan aspal, paving block dan beton, dan kondisi jalan buruk yaitu
berupa jalan rusak, jalan pasir dan batu (sirtu) dan jalan tanah. Berikut ini adalah tabel kondisi
jalan.
Dalam Permen PU No. 1 Tahun 2014 untuk target capaian SPM kondisi jalan baik dan
sedang yaitu 60% dari jumlah panjang jalan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jalan di
Sabua (Vol.11 No. 2, Tahun 2022)
52
Utami, Mononimbar, Prijadi / Sabua
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara sudah melampaui standar pelayanan minimal sebesar
15,4%.

Jaringan Drainase
Jaringan drainase di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara memiliki total panjang
drainase yang tersedia yaitu 40.004 meter dan yang tidak tersedia sepanjang 81.662 meter.
Sedangkan kondisi saluran drainase yang tersedia sudah baik namun di beberapa masih
terputus-putus dan tidak saling terhubung. Ada juga yang bersampah dan tertutup dengan tanah.
Ditinjau dari Permen PU No. 1 Tahun 2014 untuk target capaian SPM pelayanan drainase
yaitu 50% KK terlayani dari total jumlah kepala keluarga yang ada. Sehingga dapat diketahui
bahwa pelayanan drainase di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara belum mencapai standar
pelayanan minimal.

Jaringan Persampahan
Kondisi jaringan persampahan di 4 dari 6 kecamatan yang ada belum tersedia sistem
jaringan persampahan dengan pengangkutan sampah ke TPA. Pengelolaan sampah di
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara masih diolah dengan menggunakan cara konvensional
yaitu membakar sampah di halaman rumah secara individu dan tidak tersedia TPS 3R.
Berdasarkan perhitungan di atas yang ditinjau dari Permen PU No. 1 Tahun 2014 untuk
target capaian SPM pelayanan persampahan yaitu 20% dari total penduduk, sehingga
berdasarkan perhitungan SPM di atas maka diketahui untuk pelayanan jaringan persampahan
belum memenuhi standar untuk pelayanan satu kecamatan yaitu dengan nilai 0,00%.

Jaringan Air Limbah
Ketersediaan jaringan air limbah yang terlayani untuk kepemilikkan jamban pribadi yang
sudah terhubung dengan tangki septik berjumlah 6.747 unit sedangkan untuk ketersediaan MCK
umum berjumlah 129 unit. Sedangkan telah tersedia juga pengolahan air limbah dengan IPAL
dan septik komunal meskipun tidak di semua kecamatan tersedia. Ditinjau Permen PU No. 1
Tahun 2014 untuk target capaian SPM pengolahan air limbah yang terlayani yaitu 60% dari
total KK terlayani sehingga untuk pelayanan jaringan air limbah dalam hal ini jamban yang
terhubung dengan tangki septik di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara sudah mencapai SPM
dengan nilai 87%.

Jaringan Air Minum
Berdasarkan hasil survei untuk sambungan jaringan perpipaan PAM/PAMSIMAS di
permukiman desa-desa pesisir wilayah penelitian berjumlah total 1.615 sambungan rumah dan
tersedia di semua kecamatan meskipun tidak di semua desa yang telah terlayani jaringan
perpipaan.

Dermaga, Tanggul dan Tambatan Perahu
Dari hasil survei dan wawancara di desa-desa penelitian dermaga hanya terdapat di
Kecamatan Pinogaluman dan tidak berfungsi, sedangkan tanggul pemecah ombak terdapat di
lima desa yang ada di Kecamatan Bintauna, Kecamatan Bolangitang Timur, Kecamatan
Bolangitang Barat, Kecamatan Kaidipang dan Kecamatan Pinogaluman. Sedangkan untuk
tambatan perahu berdasarkan hasil wawancara dan survei lapangan di desa-desa pesisir
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, belum tersedia lokasi khusus untuk tambatan perahu
dan nelayan hanya menambatkan perahunya di pesisir pantai yang ditarik ke arah daratan.
4.3. Ketersediaan Sarana Permukiman Pesisir
Untuk Sarana Permukiman Pesisir yaitu Sarana Kesehatan, Sarana Pendidikan, Sarana
Peribadatan, Sarana Pemerintahan dan pelayanan umum, Sarana Perdagangan dan Niaga telah
tersedia di semua Kecamatan dan memenuhi standar SNI.
Sedangkan untuk tempat pelelangan ikan berdasarkan hasil wawancara dan survei
lapangan di desa-desa pesisir Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, terdapat TPI di 3 dari 6
kecamatan wilayah penelitian yaitu Kecamatan Bolangitang Barat, Desa Kecamatan Kaidipang
dan Kecamatan Pinogaluman namun saat ini tidak lagi dimanfaatkan. Tepat Penjemuran Ikan
juga hanya tersedia di Kecamatan Pinogaluman yang sudah tidak dimanfaatkan.
Sabua (Vol.11 No. 2, Tahun 2022)
Nama belakang penulis pertama, Nama belakang penulis kedua /Sabua
53
4.4. Ketersediaan Utilitas Umum Permukiman Pesisir
Semua kecamatan di wilayah penelitian yang berada di Kabupaten Bolaang Mongondow
Utara untuk ketersediaan jaringan listrik telah tersedia gardu distribusi. Sedangkan ±94%
penduduk telah menggunakan listrik dengan meteran sendiri. Pengguna listrik PLN tanpa
meteran di semua kecamatan memiliki total sebanyak 441 KK.
Dalam ketersediaan jaringan telekomunikasi di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
belum terlayani jaringan telepon maupun internet secara merata karena masih ada kecamatan
yang desanya masih terdapat sinyal lemah seperti di Kecamatan Sangkub dan Kecamatan
Bolangitang Barat. Hal ini dapat terjadi karena tidak tersedia menara telepon seluler (BTS) atau
menara BTS tersebut jauh dari desa pesisir, sehingga untuk menelepon harus mencari titik yang
tepat agar mendapatkan sinyal.
Dan untuk ketersediaan proteksi kebakaran diketahui semua kecamatan di Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara belum tersedia utilitas proteksi kebakaran. Hanya terdapat satu
aspek yang memenuhi proteksi kebakaran yaitu ketersediaan jalan lingkungan yang sudah
sesuai dengan standar lebar minimal 3,5 meter namun belum di semua ruas jalan memiliki lebar
sesuai dengan standar. Sumber air untuk keperluan pemadam kebaran hanya tersedia dari
sumber alami yaitu air sumur, sungai serta laut. Sarana komunikasi untuk menelepon instansi
kebakaran juga belum tersedia karena tidak ada pos kebakaran di semua kecamatan di
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
4.5. Kebutuhan Prasarana Permukiman Pesisir
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan prasarana permukiman pesisir di Kabupaten Bolaang
Mongondow Utara, diketahui untuk tabel dengan keterangan hijau sudah memenuhi standar,
warna kuning memenuhi setengah dari standar dan warna merah kurang dari standar.

Jaringan Jalan
Secara SPM sudah terpenuhi, namun untuk meningkatkan kualitas pelayanan perlu
ditingkatkan kualitas jalan sebesar 24,45% atau 30.208 meter, dengan kecamatan yang paling
membutuhkan penangan yaitu di Kecamatan Pinogaluman dengan panjang 9.410 meter. Berikut
ini merupakan tabel kebutuhan jaringan jalan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
Tabel 3. Kebutuhan Jaringan Jalan (Analisa Penulis, 2022)
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Kecamatan
Sangkub
Bintauna
Bolangitang Timur
Bolangitang Barat
Kaidipang
Pinogaluman
Kabupaten
Ketersediaan Kebutuhan
85,17%
71,01%
87,47%
66,60%
60%
79,89%
64,91%
75,46%
Ket.

Jaringan Drainase
Kebutuhan jaringan drainase belum terpenuhi SPM dan agar sesuai SPM membutuhkan
penambahan pelayanan 11,55% atau 1.056 KK dan pada tahun 2040 membutuhkan
penambahan 21,25% atau 2.512 KK. Berikut ini merupakan tabel kebutuhan jaringan drainase
di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
Tabel 4. Kebutuhan Jaringan Drainase (Analisa Penulis, 2022)
No.
Kecamatan
Ketersediaan Kebutuhan
1.
Sangkub
25,70%
2.
Bintauna
59,79%
3.
Bolangitang Timur
20,17%
4.
Bolangitang Barat
35,60%
Ket.
50%
Sabua (Vol.11 No. 2, Tahun 2022)
54
Utami, Mononimbar, Prijadi / Sabua
5.
Kaidipang
56,25%
6.
Pinogaluman
27,92%
Kabupaten
39,45%

Jaringan Persampahan
Kebutuhan jaringan persampahan untuk dapat memenuhi SPM membutuhkan penyediaan
pelayanan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R sebanyak 12 TPS untuk proyeksi tahun 2040.
Berikut ini merupakan tabel kebutuhan jaringan persampahan di Kabupaten Bolaang
Mongondow Utara.
Tabel 5. Kebutuhan Jaringan Persampahan (Analisa Penulis, 2022)
No.
Kecamatan
1.
Sangkub
2.
3.
4.
5.
6.
Bintauna
Bolangitang Timur
Bolangitang Barat
Kaidipang
Pinogaluman
Kabupaten
TPS 3R
Ketersediaan Kebutuhan
0
1
0
3
0
2
0
1
0
3
0
0
Ket.
2
12

Jaringan Air Limbah
Kebutuhan jaringan air limbah secara SPM sudah terpenuhi untuk tahun 2020 namun
masih membutuhkan penambahan pelayanan yaitu keterlayanan jamban pribadi pada tahun
2040 yaitu sebesar 3,61% atau di 396 KK. Berikut ini merupakan tabel kebutuhan jaringan air
limbah di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
Tabel 6. Kebutuhan Jaringan Air Limbah (Analisa Penulis, 2022)
No.
Kecamatan
1. Sangkub
Ketersediaan Kebutuhan
89,64%
2.
Bintauna
87,48%
3.
Bolangitang Timur
82,02%
4.
Bolangitang Barat
77,90%
5.
Kaidipang
97,24%
6.
Pinogaluman
87,33%
Kabupaten
Ket.
60%
87,19%

Jaringan Air Minum
Kebutuhan jaringan air minum dalam hal ini penyediaan jaringan perpipaan PAM/
PAMSIMAS belum memenuhi SPM sehingga membutuhkan penambahan pelayanan 59.27%
atau di 4.580 KK dan pada tahun 2040 membutuhkan penambahan 65,37% atau di 6.946 KK.
Berikut ini merupakan tabel kebutuhan jaringan air minum di Kabupaten Bolaang Mongondow
Utara.
Tabel 7. Kebutuhan Jaringan Air Minum (Analisa Penulis, 2022)
No.
Kecamatan
1. Sangkub
Ketersediaan Kebutuhan
15,44%
2.
Bintauna
18,22%
3.
Bolangitang Timur
10,94%
4.
Bolangitang Barat
14,90%
5.
Kaidipang
43,61%
6.
Pinogaluman
25,28%
Kabupaten
Sabua (Vol.11 No. 2, Tahun 2022)
23,50%
81,77%
Ket.
Nama belakang penulis pertama, Nama belakang penulis kedua /Sabua
55

Dermaga, Tanggul dan Tambatan Perahu
Kebutuhan dermaga berdasarkan hasil analisis untuk kabupaten Bolaang Mongondow
Utara belum membutuhkan penambahan dermaga. Namun dermaga yang sudah ada yaitu di
Kecamatan Pinogaluman membutuhkan perbaikan akibat kerusakan. Untuk hasil analisis
kebutuhan tanggul bahwa di semua kecamatan membutuhkan tanggul khususnya di desa-desa
yang permukimannya berbatasan langsung dengan pantai. Sedangkan beberapa tanggul yang
sudah ada membutuhkan perbaikan tanggul agar dapat lebih tinggi dari sebelumnya karena air
laut masih dapat masuk ke permukiman saat gelombang pasang. Sedangkan kebutuhan tambatan
perahu berdasarkan hasil analisis hanya dibutuhkan di beberapa desa yang mayoritas
penduduknya berprofesi sebagai nelayan, yaitu di Kecamatan Pinogaluman. Berdasarkan hasil
analisis diatas dapat diketahui untuk kecamatan yang masuk dalam prioritas penanganan untuk
kebutuhan prasarana permukiman pesisir yaitu di Kecamatan Bolangitang Timur dan yang
terendah yaitu di Kecamatan Kaidipang. Berikut ini peta prioritas penangan prasarana di
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
Gambar 2. Peta Prioritas Penyediaan Kebutuhan Prasarana Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
(Hasil Analisis, 2022)
4.6. Kebutuhan Sarana Permukiman Pesisir
Berdasarkan hasil analisis proyeksi kebutuhan sarana yang di analisis berdasarkan Standar
Nasional Indonesia (SNI) 03-1733-2004, diketahui bahwa semua sarana yaitu sarana kesehatan,
sarana pendidikan, sarana peribadatan, sarana pemerintahan, sarana perdagangan dan niaga dan
sarana ruang terbuka, taman dan lapangan olahraga di enam kecamatan wilayah penelitian
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara untuk proyeksi 20 tahun ke depan masih mencukupi
kebutuhan di tahun 2040. Berikut ini merupakan jumlah sarana di setiap sarana dan kecamatan
yang ada dalam tabel kebutuhan sarana di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
Tabel 8. Kebutuhan Sarana (Analisa Penulis, 2022)
No. Kecamatan
1. Sangkub
2. Bintauna
Bolangitang
3.
Timur
Bolangitang
4.
Barat
5. Kaidipang
6. Pinogaluman
Jumlah
Kesehatan
T
B
10
4
12
8
Pendidikan Peribadatan Pemerintahan Perdagangan
T
B
T
B
T
B
T
B
9
2
15
5
15
3
49
10
12
10
8
3
11
0
68
27
RTH
T
B
6
1
9
3
7
6
8
7
15
7
15
6
59
22
6
2
12
5
8
6
9
1
9
3
58
14
4
1
8
15
59
8
7
38
18
23
78
7
20
52
7
12
66
4
2
22
8
16
74
9
6
27
63
107
404
28
24
125
5
12
42
3
2
12
Ket.
Keterangan :
T = Ketersediaan
B = Kebutuhan
Sabua (Vol.11 No. 2, Tahun 2022)
56
Utami, Mononimbar, Prijadi / Sabua
Gambar 3. Peta Kebutuhan Sarana Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Hasil Analisis, 2022)

Tempat Pelelangan Ikan dan Tempat Penjemuran Ikan
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan sarana Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara, hanya Kecamatan Pinogaluman yang tidak membutuhkan TPI
karena nelayan menjual ikannya langsung kepada pengepul ikan kemudian ke konsumen dan ke
pasar terdekat. Sedangkan TPI di Kecamatan Pinogaluman masih berfungsi namun belum sesuai
dengan standar. Sehingga meskipun TPI tersebut didirikan di pantai sebaiknya tersedia sumber
air bersih dan saluran drainase yang memadai untuk TPI.

Tempat Penjemuran Ikan
Dari hasil analisis tempat penjemuran ikan diketahui bahwa semua kecamatan di
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara tidak membutuhkan tempat penjemuran ikan khusus.
Sedangkan di Kecamatan Pinogaluman dibutuhkan perbaikan kembali tempat penjemuran ikan
yang disediakan oleh pemerintah dalam hal ini dalam kebutuhkan saluran pembuangan dan
tempat pengeringan ikan yang bersih serta menyediakan saluran drainase di tempat pengeringan
ikan.
4.7. Kebutuhan Utilitas Umum Permukiman Pesisir
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan utilitas umum permukiman pesisir di Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara, diketahui untuk tabel dengan keterangan hijau sudah memenuhi
standar, warna kuning memenuhi setengah dari standar dan warna merah kurang dari standar.

Jaringan Listrik
Kebutuhan jaringan listrik di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, untuk proyeksi 20
tahun ke depan membutuhkan penambahan pelayanan jaringan listrik dalam hal ini yang
terlayani dan memiliki meteran listrik PLN untuk rumah tangga, sehingga pada tahun 2040
membutuhkan penambahan pelayanan meteran listrik dari total 6 kecamatan yaitu 3.515 KK.
Berikut ini merupakan tabel kebutuhan jaringan listrik di Kabupaten Bolaang Mongondow
Utara.
Tabel 9. Proyeksi Kebutuhan Jaringan Listrik (Analisa Penulis, 2022)
No.
Kecamatan
1. Sangkub
Ketersediaan
89,84%
2.
Bintauna
92,35%
3.
Bolangitang Timur
87,54%
4.
Bolangitang Barat
97,85%
5.
Kaidipang
98,27%
6.
Pinogaluman
97,16%
Kabupaten
Sabua (Vol.11 No. 2, Tahun 2022)
94,29%
Kebutuhan
100%
Ket.
Nama belakang penulis pertama, Nama belakang penulis kedua /Sabua
57

Jaringan Telekomunikasi
Hasil analisis kebutuhan jaringan telekomunikasi di Kabupaten Bolaang Mongondow
Utara diketahui bahwa di Kecamatan Bintauna dan Kecamatan Bolangitang Timur belum
membutuhkan menara telepon baru atau pemancar karena sinyal sudah dalam keadaan baik dan
lancar. Namun di beberapa desa sampel di Kecamatan Sangkub, Kecamatan Bolangitang Barat,
Kecamatan Kaidipang dan Kecamatan Pinogaluman membutuhkan penambahan pelayanan
jaringan telekomunikasi baik dengan penambahan menara BTS maupun pemancar jaringan
tambahan. Berikut ini merupakan tabel kebutuhan jaringan telekomunikasi di Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara.
Tabel 10. Kebutuhan Jaringan Telekomunikasi (Analisa Penulis, 2022)
No.
Kecamatan
Ketersediaan
Kebutuhan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Ket.
Sangkub
Bintauna
Bolangitang Timur
Bolangitang Barat
Kaidipang
Pinogaluman
3 menara
3 menara
1 menara
1 menara
2 menara
1 menara
1 menara
3 pemancar jaringan
1 pemancar jaringan
2 pemancar jaringan
Kabupaten
11 menara
1 menara, 6 pemancar

Proteksi Kebakaran
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan proteksi kebakaran di Kabupaten Bolaang
Mongondow Utara, diketahui semua kecamatan membutuhkan ketersediaan prasarana dan
sarana penunjang proteksi kebakaran seperti jalan yang masih perlu dilakukan pelebaran
minimal 3,5 meter, kebutuhan pasokan air untuk kebutuhan pemadam kebakaran serta sarana
penunjang lainnya seperti sarana komunikasi, pos kebakaran dan alat pemadam api ringan serta
mobil pompa.
Tabel 11. Kebutuhan Proteksi Kebakaran (Analisa Penulis, 2022)
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Kecamatan
Sangkub
Bintauna
Bolangitang Timur
Bolangitang Barat
Kaidipang
Pinogaluman
Kabupaten
Ketersediaan
Kebutuhan
Ket.
Tidak Ada
Prasarana Sarana
Proteksi Kebakaran
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan utilitas umum di Kabupaten Bolaang Mongondow
Utara diketahui bahwa Kecamatan Sangkub merupakan kecamatan yang paling membutuhkan
penyediaan utilitas umum, sedangkan Kecamatan Bintauna merupakan kecamatan yang
terendah yang membutuhkan penyediaan utilitas umum.
Sabua (Vol.11 No. 2, Tahun 2022)
58
Utami, Mononimbar, Prijadi / Sabua
Gambar 4. Peta Kebutuhan Utilitas Umum Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Hasil Analisis, 2022)
5.
Kesimpulan
Dari hasil analisis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan yaitu ketersediaan
prasarana, sarana dan utilitas umum di permukiman pesisir Kabupaten Bolaang Mongondow
Utara menunjukan bahwa sudah tersedia di desa-desa pesisir wilayah penelitian. Namun
beberapa prasarana seperti jaringan drainase, jaringan persampahan dan jaringan air minum
memiliki kondisi kurang baik dan belum memenuhi Standar Pelayanan Minimum. Begitu juga
untuk utilitas umum Di beberapa desa penelitian masih ada yang belum terlayani jaringan
telekomunikasi di Kecamatan Sangkub, Kecamatan Bolangitang Barat, Kecamatan dan
Kecamatan Pinogaluman. Sedangkan untuk proteksi kebakaran tidak tersedia di Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara. Sedangkan untuk ketersediaan sarana sudah menunjukan telah
tersedianya sarana di semua wilayah penelitian dan telah sesuai dengan Standar Nasional
Indonesia 03-1733-2004. Sedangkan ketersediaan sarana Tempat Pelalangan Ikan dan Tempat
Penjemuran Ikan hanya berada di Kecamatan Pinogaluman.
Kebutuhan Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum di Kabupaten Bolaang Mongondow
Utara menunjukkan bahwa kebutuhan penangan prasarana yang paling tinggi yaitu berada di
Kecamatan Bolangitang Timur sedangan yang terendah berada di Kecamatan Kaidipang.
Sedangkan untuk kebutuhan sarana dari hasil proyeksi pada tahun 2040 semua sarana masih
memenuhi standar dan belum membutuhkan penambahan sarana. Untuk kecamatan dengan
kebutuhan penyediaan utilitas umum yang paling tinggi berada di Kecamatan Sangkub
sedangkan yang terendah berada di Kecamatan Bintauna.
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2020). Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dalam Angka 2020.
Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
Himan, Syarif dan Rahim. (2018). Analisis Ketersediaan Prasarana dan Sarana Permukiman
Nelayan di Kelurahan Lakologou Kecamatan Kokalukuna Kota Baubau. Makassar: Jurnal
Perencanaan Wilayah, Vol 3 No. 2.
Kuswartojo, T. (2005). Perumahan dan Pemukiman di Indonesia: Upaya Membuat
Perkembangan Kehidupan yang Berkelanjutan”. Bandung: Penerbit ITB.
Sadana, A. (2014). Perencanaan Kawasan Permukiman. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Setiawan, H. (2016). Studi Ketersediaan dan Kebutuhan Sarana dan Prasarana Dasar
Permukiman Nelayan di Kelurahan Untia Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar. Makassar:
Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Standar Nasional Indonesia 03-1733-2004 Tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan
Perumahan.
Undang–Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Undang–Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil.
Undang–Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Wiarni, S., Mononimbar,W., Supardjo, S. (2018). Analisis Tingkat Kekumuhan Kawasan
Permukiman Di Kecamatan Kotamobagu Timur. Manado: Jurnal Spasial, Vol 5 No. 1, 61-70.
Sabua (Vol.11 No. 2, Tahun 2022)
Download