Uploaded by common.user152629

Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA NY.M DENGAN DIAGNOSA MEDIS DIABETES MELITUS (DM) DI
RUANG YUDHISTIRA RSUD BHAKTI DHARMA HUSADA SURABAYA
DISUSUN OLEH :
Deshinta Armadayanti (P27820324065)
DOSEN PEMBIMBING :
Eko Rustamaji W, SST, M.Tr.Kep
NIP. 19770420 200212 1 003
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
PROGRAM DIPLOMA TIGA KAMPUS SUTOPO
JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES SURABAYA
TAHUN 2026
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Pendahuluan dan Asuhan keperawatan ini dibuat dan disusun sebagai bukti
bahwa mahasiswa di bawah ini mengikuti Praktik Klinik Keperawatan Medikal Bedah:
Nama
NIM
Kelas / Semester
Kompetensi
Waktu Pelaksanaan
Tempat
: Deshinta Armadayanti
: P27820324065
: Tingkat 2 Reguler B / Semester 4
: Keperawatan Medikal Bedah
: 01 - 07 Juni 2026
: RSUD Bhakti Dharma Husada
Surabaya, 07 Juni 2026
Deshinta Armadayanti
P27820324065
Menyetujui,
Kepala Ruangan Yudhistira
RSUD Bhakti Dharma Husada
Pembimbing Ruangan Yudhistira
RSUD Bhakti Dharma Husada
Yenny Hariyanto, S.Kep.Ns
NIP. 19840110 201001 2 013
Nila Rochaniyah, A.Md. Kep
NIP. 19840718 201001 2 019
Dosen pembimbing
Program Studi D-III Keperawatan Sutopo Surabaya
Eko Rustamaji W, SST, M.Tr.Kep
NIP. 19770420 200212 1 003
BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN
A. DEFINISI DIABETES MELITUS
Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit yang diakibatkan terganggunya
proses metabolisme glukosa di dalam tubuh yang disertai berbagai kelainan
metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi
kronik pada mata, ginjal, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis
dengan karakteristik hiperglikemia (American Diabetes Association, 2023).
Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit gangguan metabolik akibat pankreas tidak
memproduksi cukup insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang
diproduksi secara efektif, akibatnya terjadi peningkatan konsentrasi glukosa di
dalam darah atau hiperglikemia. Gula darah sewaktu melebihi 200 mg/dl dan gula
darah puasa melebihi 126 mg/dl. (PUSDATIN Kemenkes RI, 2022).
B. ETIOLOGI
Diabetes dapat terjadi ketika sel beta dipankreas tidak merespon insulin, atau
ketika tubuh tidak dapat memproduksi cukup insulin untuk menjaga kadar gula
darah kisaran normal. Beberapa faktor penyebab penyakit diabetes (Lestasi, 2022):
a. Perkembangan diabetes dipengaruhi oleh jenis kelamin atau kromosom.
Terlepas dari kenyataan bahwa wanita membawa gen yang diturunkan kepada
anak-anak mereka, tetapi laki-laki paling beresiko terkena diabetes.
b. Virus dan Bakteri
Human coxsackievirus B4, rubella, dan golongan virus lain adalah tiga virus
penyebab diabetes melitus. Virus-virus ini menyerang sel beta secara sitolitik,
yang mengakibatkan kematian atau kerusakan sel. Selain itu, virus-virus
tersebut dapat menyebabkan hilangnya sel beta melalui respon autoimun.
c. Bahan Toksik dan Beracun
Sel beta dapat secara langsung dirusak oleh zat-zat beracun seperti pyrinuron
(digunakan untuk membunuh hewan pengerat), alloxan dan streptosoctin
(sediaan jamur). Sianida dari singkong adalah komponen lainnya.
d. Nutrisi
Nutrisi dan gizi berlebihan (overnutrition) merupakan salah satu faktor resiko
diabet es. Karena asupan makanan yang berlebihan, orang yang kelebihan berat
badan atau obesitas lebih mungkin terkena diabetes.
C. KLASIFIKASI
Menurut Prodia Occupational Health Institute (2021), diabetes melitus dibagi
menjadi 4 tipe. Tipe tersebut adalah DM tipe 1, DM tipe 2, DM gestational dan
DM karena sindrom lainnya.
1. Diabetes Melitus Tipe 1
Diabetes melitus tipe 1 merupakan tipe diabetes yang terjadi dikarenakan
ketidakmampuan tubuh untuk membuat insulin sama sekali sehingga gula tidak
mampu menghantarkan ke sel. Suntikan insulin diperlukan bagi penderita diabetes
tipe 1 untuk menjalani kehidupan serta beraktivitas secara normal kembali. Jika
tidak mendapatkan insulin tubuh penderita akan mengalami masalah umum seperti
kelemahan hingga penurunan kesadaran. Kondisi gawat darurat dinamakan dengan
asidosis metabolik.
2. Diabetes Melitus Tipe 2
Diabetes melitus tipe 2 merupakan tipe DM dimana tubuh mampu memproduksi
insulin tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan insulin itu sendiri. Pilihan gaya
hidup yang tidak sehat termasuk kurangnya aktivitas dan meningkatnya konsumsi
makanan cepat saji sangat berkaitan dengan keadaan ini.
3. Diabetes Melitus Gestational
Diabetes Melitus Gastational adalah ketidakseimbangan kadar gula darah selama
kehamilan. Ketidakseimbangan hormon dalam tubuh beresiko besar selama
kehamilan. Ketidakseimbangan hormon, termasuk yang melibatkan hormon
insulin, juga dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat. Selama tubuh dapat
menangani terlalu banyak gula darah, kondisi ini tidak akan membahayakan.
4. Diabetes Melitus Syndrome Lainnya
Diabetes Melitus Syndrome lainnya adalah jenis DM yang terjadi disebabkan oleh
beberapa hal, seperti kanker pankreas atau penggunaan obat yang meningkatkan
kadar gula darah.
D. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi pada DM yaitu berupa resistensi insulin dan gangguan
aktivitas sel beta pankreas. Kondisi yang dikenal sebagai resistensi insulin terjadi
ketika tubuh memproduksi lebih banyak insulin untuk menjaga kadar gula darah
tetap normal. Resistensi insulin umumnya terjadi pada individu yang memiliki
obesitas. Karena insulin tidak dapat berfungsi dengan baik dalam sel lemak,
pankreas harus dapat mengimbanginya dengan memproduksi lebih banyak insulin.
Biasanya, peningkatan resistensi insulin dapat diimbangi oleh sel beta yang
memproduksi insulin yang memadai. Namun, karena aktivitas sel beta pankreas
telah menurun sekitar 50%, jumlah insulin yang diproduksi oleh sel-sel ini tidak
cukup untuk mengimbangi peningkatan resistensi insulin (Decroli, 2022).
Hiperglikemia atau peningkatan glukosa darah, dapat diakibatkan oleh
produksi insulin yang tidak mencukupi. Hiperglikemia kronis dapat memperburuk
resistensi insulin, merusak sel beta, dan mempercepat perkembangan penyakit DM
(Decoli, 2022). Namun, efek negatif dari penggunaan insulin plus sulfoilurea
sebagai pengobatan untuk menghentikan kenaikan kadar glukosa darah dapat
menurunkan kadar glukosa darah (hipoglikemia) pada pederita diabetes (Rusdi,
2020).
E. PATHWAY
Diabetes melitus
Genetik
Gaya hidup
Kekurangan insulin
Penurunan ke
anak beda jenis
kelamin
Mengonsumsi
makanan yang
berlebihan
Gula darah
meningkat
Poliuria
Sel B terganggu
Ketidakseimbangan
produksi insulin
Hiperglikemia
Ketidakstabilan
kadar glukosa
darah (D.0027)
Peningkatan
kadar kolesterol
Penumpukan
plak di dinding
pembuluh darah
arteri
Mudah lelah
Intoleransi
aktivitas (D.0056)
Risiko jatuh
(D.0143)
Penyumbatan
aliran darah ke
jantung
Dehidrasi
Stroke
Gangguan
mobilitas fisik
(D.0054)
Risiko
hipovolemia
(D.0034)
Sumber: lestari (2023)
Penglihatan
kabur
Luka sulit
sembuh
Gangguan
integritas kulit
(D.0129)
F. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Lestari et al. (2021), Beberapa tanda dan gejala yang terjadi pada
penderita ulkus diabetik antara lain:
a. Sering merasakan kesemutan pada kaki.
b. Muncul rasa nyeri pada kaki meskipun dalam keadaan istirahat
c. Penurunan atau hilangnya sensitivitas terhadap rasa sakit (mati rasa/baal) pada
kaki.
d. Terjadi kerusakan jaringan yang ditandai dengan nekrosis.
e. Poliuria (banyak kencing)
f. Pandangan kabur
g. Melemahnya denyut nadi pada arteri dorsalis pedis, tibialis, dan poplitea.
h. Kaki menjadi kaku, dengan kuku yang menebal dan kulit yang tampak kering.
i. Terdapat pembengkakan (oedema) dan luka mengeluarkan cairan (eksudat).
G. KOMPLIKASI
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2022), apabila Diabetes
Melitus tidak ditangani dengan optimal, berbagai komplikasi serius dapat terjadi,
di antaranya:
1. Neuropati (kerusakan saraf): Diabetes dapat menyebabkan kerusakan pada
sistem saraf di seluruh tubuh, khususnya di area tangan dan kaki.
2. Nefropati (kerusakan ginjal): Penyakit ini dapat memengaruhi pembuluh
darah di ginjal dan mengganggu fungsinya.
3. Gangguan penglihatan: Masalah seperti retinopati diabetik, katarak,
glaukoma, dan gangguan visual lainnya dapat muncul akibat diabetes.
4. Gangguan sistem kardiovaskular: Diabetes meningkatkan risiko terjadinya
penyakit pembuluh darah perifer, serta kondisi serius lainnya seperti serangan
jantung, penyakit jantung, dan stroke.
5. Luka dan infeksi yang sulit sembuh: Penderita Diabetes sering mengalami
gangguan dalam proses penyembuhan luka dan lebih rentan terhadap infeksi
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang DM (Thamrin et al., 2023) sebagai berikut:
a. Gula darah sewaktu (GDS) normal ≤ 200 mg/dL.
b. Glukosa darah puasa (GDP): Tes ini dilakukan menggunakan sampel darah
yang diambil setelah berpuasa atau periode bebas kalori minimal 8 jam. Nilai
GDP normal adalah < 126 mg/dL.
c. Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO): Tes ini dilakukan menggunakan sampel
darah vena 2 jam setelah pemberian glukosa oral 75 g. Nilai TTGO normal
adalah ≤ 200 mg/dL.
d. HbAlc normal < 6,5%: Pemeriksaan Darah Leukosit Pemeriksaan darah pada
penderita ulkus diabetikum yang bertujuan untuk mendeteksi adanya infeksi
atau inflamasi yang sering menyertai komplikasi luka pada diabetes. Kadar
leukosit umumnya lebih tinggi dibandingkan pasien diabetes tanpa ulkus.
I. PENATALAKSANAAN
Selain penggunaan terapi farmakologis seperti suntikan insulin atau obat penurun
gula darah, pengobatan DM juga dimulai dengan penerapan gaya hidup sehat,
termasuk aktivitas fisik teratur dan perubahan pola makan. Obat antihiperglikemik
oral dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan terapi lain. Pasien harus
segera dirujuk ke fasilitas perawatan sekunder atau tersier jika terjadi gangguan
metabolisme serius seperti ketoasidosis, stres berat, penurunan berat badan drastis,
atau adanya keton dalam urin. (PERKENI, 2021).
Pemahaman pasien terhadap proses pemantauan mandiri, kemampuan mengenali
gejala awal serta tanda peringatan hiperglikemia, dan mengetahui cara
penanganannya sangatlah penting. Berikut ini merupakan beberapa aspek kunci
dalam penanganan Diabetes Melitus (PERKENI, 2021).
a. Edukasi: Mendorong gaya hidup sehat melalui pendidikan diabetes dan
pemantauan mandiri kadar glukosa darah (PGDM).
b. Terapi Nutrisi Medis (TNM): Ini merupakan komponen krusial dalam
perawatan diabetes yang mencakup penerapan strategi nutrisi yang tepat.
c. Latihan Fisik: Salah satu pilar utama dalam pengobatan diabetes adalah
olahraga yang teratur.
d. Terapi farmakologis: Gaya hidup sehat yang melibatkan pola makan seimbang
dan aktivitas fisik yang cukup harus dipadukan dengan pengobatan. Terapi
farmakologis mencakup penggunaan obat-obatan, baik suntikan maupun oral.
Obat-obatan oral seperti inhibitor DPP4, sulfonylurea, atau metformin kadangkadang di rekomendasikan untuk mendukung manejemen penyakit ini.
BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Anamnesis
Merupakan tahap awal dari proses keperawatan. Semua data dikumpulkan secara
sistematis dan komprehensif dengan aspek biologis, psikologis, sosial, maupun
spiritual pasien
a. Data Umum
Tanyakan pada pasien tentang nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama,
suku, tanggal masuk RS dan lainnya mengenai identitas klien.
b. Keluhan Utama
Adanya rasa nyeri ketika digerakan, namun terkadang asimtomatis. Ada
terlihat suatu benjolan yang suatu benjolan yang letaknya di dekat sendi.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Alasan awal pasien dirawat di rumah sakit biasanya karena mereka datang
dengan keluhan seperti mual dan tiga gejala diabetes melitus (polifagia,
poliuria, polidipsia). Selain itu, pasien juga mengalami mati rasa,
kesemutan, penglihatan kabur, lemas, dan luka yang lambat sembuh.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Merupakan bagaimana kondisi pasien di masa lalu yang mendasari DM.
Terdapat riwayat penyakit yang berkaitan dengan defisiensi insulin seperti
keganasan pada pankreas, obesitas, terjadi infeksi, dan menurunnya produksi
insulin yang disebabkan oleh konsumsi obat-obatan tertentu.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
bisa dilihat pada silsilah keluarga (genogram), pada pasien dengan ulkus
diabetikum biasanya anggota keluarga juga memiliki penyakit keturunan
seperti diabetes melitus, riwayat hipertensi, dan masalah kardiovaskuler
seperti jantung (Sholikhan, 2020).
f. Keadaan Umum
a. Penilaian tingkat kesadaran
1. Compos Mentis (Sadar Penuh)
Sadar sepenuhnya, orientasi baik terhadap diri, waktu, dan tempat.
2. Apatis
Kesadaran menurun, tampak acuh tak acuh, segan berhubungan dengan
lingkungan.
3. Delirium
Penurunan kesadaran disertai kekacauan motorik, disorientasi, dan siklus
tidur terganggu.
4. Somnolen
Mengantuk dalam, mudah dibangunkan dengan rangsangan, namun
tertidur lagi.
5. Stupor
Mengantuk dalam, hanya bereaksi dengan rangsangan nyeri yang kuat.
6. Koma
Tingkat terendah, tidak ada
eksternal/nyeri. (Sholikhan, 2020)
respons
terhadap
rangsangan
b. Penelitian Kuantitatif
Diukur dengan GCS (Glasgow Coma Scale)
a. Eye
Spontan membuka mata
Membuka mata dengan perintah suara
Membuka mata dengan rangsangan nyeri
Tidak membuka mata
(4)
(3)
(2)
(1)
b. Verbal
Orientasi baik
Bingung, bicara kacau
Ngelantur/kata-kata tidak sesuai
Mengerang
Tidak bersuara
(5)
(4)
(3)
(2)
(1)
c. Motorik
Mengikuti perintah
Melokalisir nyeri
Menarik ekstremitas untuk menjauhi nyeri
Fleksi abnormal
Ektensi abnormal
Tidak ada gerakan
(6)
(5)
(4)
(3)
(2)
(1)
(Sholikhan, 2020)
g. Pemeriksaan Head To Toe
1. Pemeriksaan kepala dan rambut
a. Inpeksi : Kesimetrisan kepala, rambut kotor, bau atau bau pada
rambut, kulit pada kepala kotor.
b. Palpasi : Dengan cara merotasi dengan lembut ujung jari ke bawah
dari tengah garis kepala ke samping. Untuk memenuhi adanya bentuk
kepala ada pembengkakan atau tidak, nyeri tekan, kekuatan akar pada
bagian rambut (setyanegara, 2022)
2. Mata
a. Inspeksi : Simetris atau tidak
b. Palpasi : Bola mata teraba kenyal dan melenting (setyanegara, 2022)
3. Hidung
a. Inspeksi : Adanya secret, tidak ada perdarahan, tidak ada gangguan
pada penciuman, lubang hidung simetris, lubang hidung tampak
kotor
b. Palpasi : Adanya nyeri atau tidak pada saat di tekan sinusnya.
4. Telinga
a. Inspeksi : Simetris atau tidak, adanya serumen pada telinga
b. Palpasi : Biasanya ada tidaknya nyeri tekan pada bagian telinga
5. Mulut
a. Inspeksi : Mulut tanpak kotor, giginya berwarna kuning, adanya sisa
makanan yang menyangkut pada gigi, mengalami gangguan
pengecap, lidah berwarna putih, bibir tanpak pucat.
6. Kulit dan kuku
a. Palpasi : Warna kulit tampak pucat, kulit tanpak kotor, bau pada
kulit di anggota badannya, pada gangguan mobilitas fisik umumnya
terdapat lesi atau dekubitus pada tulang yang menonjol seperti
punggung, kuku tampak panjang dan kotor.
b. Palpasi : Tugor kulit buruk di karenakan kekurangan cairan
7. Leher
a. Inspeksi : Kaku pada leher saat di tundukkan, leher bagian belakang
tanpak kotor.
b. Palpasi : Ada tidaknya pembesaran kelenjar teroid, ada tidaknya
deviasi trakea.
8. Dada thorak
1. Paru
a. Inspeksi : Jika normal gerak dinding dada simetris
b. Palpasi : Ada tidaknya nyeri tekan
c. Perkusi : Perkusi sonor
d. Auskultasi : Bunyi napas di dapatkan ada terdengan ronkhi,
wheezing, suara napas tambahan, atau pernapasan tidak teratur
karena penurunan reflex batuk atau menelan
2. Jantung
a. Inspeksi : Batas jantung ICS kanan 2 dan kiri ICS 4
b. Palpasi : Batas kanan ICS 2 dan ICS 5 mid axial kanan
c. Perkusi : Pekak dalam batas normal
d. Auskultasi : Bunyi S1 dan S2 tunggal
3. Abdomen
a. Inspeksi : Simetris, terdapat benjolan atau tidak, terdapat lesi
atau tidak
b. Palpasi : Bising usus normal
c. Perkusi : Terkadang tidak ada nyeri tekan
d. Auskultasi : Terkadang timpani
4. Genetalia
a. Inspeksi : Terdapat pubis atau tidak, terdapat hemoroid atau
tidak, genetalia tanpak kotor atau bersih
5. Ekstermitas
a. Inspeksi : Adanya penurunan otot, sering terjadi kelumpuhan di
salah satu bagian sisi tubuh.
6. Integument
a. Inpeksi : Warna kulit, kebersihan kulit, terdapat lesi atau tidak,
CRT (setyanegara, 2022)
h. Pemeriksaan Fisik
1. B1 (Breath)
Pada inspeksi didapatkan klien batuk, peningkatan produksi sputum,
sesak napas, penggunaan otot bantu napas, dan peningkatan frekuensi
pernapasan. Auskultasi bunyi napas tambahan seperti ronkhi pada klien
dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk yang
menurun yang sering didapatkan pada klien stroke dengan penurunan
tingkat kesadaran koma. Pada klien dengan tingkat kesadaran compos
mends, pengkajian inspeksi pernapasannya tidak ada kelainan. Palpasi
toraks didapatkan taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi
tidak didapatkan bunyi napas tambahan.
2. B2 (Blood)
Pengkajian pada sistem kardiovaskular didapatkan renjatan (syok
hipovolemik) yang sering terjadi pada klien stroke. Tekanan darah
biasanya terjadi peningkatan dan dapat terjadi hipertensi masif (tekanan
darah >200 mmHg).
3. B3 (Brain)
Pemeriksaan 12 Saraf kranial :
1. Saraf Olfaktorius (N. I) : saraf sensorik, untuk penciuman.
2. Saraf Optikus (N. II) : saraf sensorik, untuk penglihatan.
3. Saraf Okulomotorius (N. III) : saraf motorik, untuk mengangkat
kelopak mata dan kontraksi pupil.
4. Saraf troklearis (N. IV) : saraf motorik, untuk pergerakan bola mata.
5. Saraf Trigeminalis (N. V) : saraf motorik, gerakan mengunyah,
sensasi wajah, lidah dan gigi, reflek kornea dan reflek berkedip.
6. Saraf Abdusen (N. VI) : saraf motorik, pergerakan bola mata
kesamping melalui otot lateralis.
7. Saraf Fasialis (N. VII) : saraf motorik, untuk ekspresi wajah.
8. Saraf Vestibulokoklear (N. VIII) : saraf sensorik, untuk pendengaran
dan keseimbangan.
9. Saraf Glosofaringeus (N. IX) : saraf sensorik dan motorik, untuk
sensasi rasa
10. Saraf Vagus (N. X) : saraf sensorik dan motorik, reflek muntah dan
menelan.
11. Saraf Asesorius (N. XI) : saraf motorik, untuk menggerakan bahu.
12. Saraf Hipoglosus (N. XII) : saraf motorik, untuk menggerakan lidah.
4. B4 (Bladder)
Setelah stroke klien mungkin mengalami inkontinensia urine sementara
karena konfusi, ketidakmampuan mengomunikasikan kebutuhan, dan
ketidakmampuan untuk mengendalikan kandung kemih karena
kerusakan kontrol motorik dan postural. Kadang kontrol sfingter urine
eksternal hilang atau berkurang. Selama periode ini, dilakukan
kateterisasi intermiten dengan teknik steril. Inkontinensia urine yang
berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis luas.
5. B5 (Bowel)
Didapatkan adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun,
mual muntah pada fase akut. Mual sampai muntah disebabkan oleh
peningkatan produksi asam lambung sehingga menimbulkan masalah
pemenuhan nutrisi. Pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat
penurunan peristaltik usus. Adanya inkontinensia alvi yang berlanjut
menunjukkan kerusakan neurologis luas.
6. B6 (Bone)
Adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan
sensori atau paralise hemiplegi, serta mudah lelah menyebabkan masalah
pada pola aktivitas dan istirahat. (setyanegara, 2022)
2. Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola Persepsi Kesehatan
Mengambarkan penjelasan pribadi klien mengenai kesehatan dan
kesejahteraan
b. Pola nutrisi
Dikaji pola nutrisi klien sebelum dan sesudah masuk rumah sakit yaitu
frekuensi makan, nafsu makan, porsi makan yang dihabiskan, makanan
yang membuat alergi, makanan diet, pemasangan NGT.
c. Pola eliminasi
Dikaji pola eliminasi BAK sebelum dan sesudah di rumah sakit yaitu
frekuensi, warna, keluhan BAK, penggunaan alat bantu (kateter). dikaji
pola eliminasi BAB sebelum dan sesudah di rumah sakit yaitu frekuensi,
waktu, warna, keluhan BAB.
d. Pola aktivitas dan Latihan
Pada penderita ganglion wrist biasanya tidak dapat beraktivitas sepenuhnya
karena pada salah satu anggota bagian tubuhnya mengalami nyeri
e. Pola istirahat dan tidur
Terkadang pasien mengalami gangguan pada pola tidurnya karena adanya
rasa nyeri pada benjolan di pergelangan tangan
f. Pola kognitif-persepsi
Dikaji pola persepsi sensorik, pembuat keputusan.
g. Pola persepsi diri
Dikaji pola konsep dan persepsi diri klien (seperti konsep diri /
penghargaan, pola emosional, gambaran diri)
h. Pola nilai kepercayaan
Dikaji pola nilai, kepercayaan dan tujuan yang mempengaruhi pilihan dan
keputusan klien. (Setyanegara, 2022)
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan menggambarkan reaksi individu atau kelompok
manusia (risiko status kesehatan atau perubahan pola) dan diturunkan dari proses
pengkajian pertama yang dilakukan melalui proses analitis (Setiawan, et al., 2023).
1. Ketidakstabilan kadar glukosa darah (D.0027)
2. Intoleransi aktivitas (D.0056)
3. Risiko jatuh (D.0143)
4. Risiko hipovolemia (D.0034)
5. Gangguan integritas kulit atau jaringan (D.0129)
6. Gangguan mobilitas fisik (D.0054)
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa
Tujuan Keperawatan Intervensi Keperawatan
NO
Keperawatan
(SLKI)
(SIKI)
(SDKI)
1.
Ketidakstabilan
Setelah dilakukan
Manajemen
kadar glukosa
intervensi keperawatan Hiperglikemia (I.03115)
darah b.d
selama 8 jam/1x24 jam,
resistensi insulin maka tingkat kestabilan Observasi
(D.0027)
kadar glukosa darah
meningkat, dengan
1. Identifikasi
kriteria hasil: (L.03022)
kemungkinan penyebab
hiperglikemia
1. Koordinasi
2. Identifikasi situasi yang
meningkat
menyebabkan
2. Kesadaran
kebutuhan insulin
meningkat
meningkat (mis.
3. Mengantuk menurun
penyakit kambuhan)
4. Pusing menurun
3. Monitor kadar glukosa
5. Lelah menurun
darah, Jika perlu
6. Rasa lapar menurun 4. Monitor tanda dan
7. Gemetar menurun
gejala hiperglikemia
8. Berkeringat menurun
(mis. poliuria,
9. Mulut kering
polidipsia, polifagia,
menurun
kelemahan, malaise,
10. Rasa haus menurun
pandangan kabur, sakit
11. Perilaku aneh
kepala)
menurun
5. Monitor intake dan
12. Kesulitan bicara
output cairan
menurun
6. Monitor keton urine,
13. Palpitasi menurun
kadar analisa gas darah,
14. Kadar glukosa dalam
elektrolit, tekanan darah
darah membaik
ortostatik dan frekuensi
15. Kadar glukosa dalam
nadi
urine membaik
16. Jumlah urine
Terapeutik
membaik
7. Berikan asupan cairan
oral
8. Konsultasi dengan
medis jika tanda dan
gejala hiperglikemia
tetap dan ada atau
memburuk
9. Fasilitasi ambulans jika
ada hipotensi ortostatik
Edukasi
10. Anjurkan menghindari
olahraga saat kadar
glukosa darah lebih
dari 250 mg/dL
11. Anjurkan monitor
kadar glukosa darah
secara mandiri
12. Anjurkan kepatuhan
terhadap diet dan
olahraga
13. Ajarkan indikasi dan
pentingnya pengujian
keton urin, Jika perlu
14. Ajarkan pengelolaan
diabetes (mis.
penggunaan insulin,
obat oral, monitor
asupan cairan,
penggantian
karbohidrat, dan
bantuan profesional
kesehatan)
Kolaborasi
15. Kolaborasi pemberian
insulin, Jika perlu
16. Kolaborasi pemberian
cairan IV, Jika perlu
17. Kolaborasi pemberian
kalium, Jika perlu
2.
Gangguan
integritas kulit
atau jaringan b.d
penurunan
mobilitas
(D.0129)
Setelah dilakukan
Perawatan luka (I.14564)
intervensi keperawatan
selama 8 jam/1x24 jam, Observasi
maka tingkat
penyembuhan luka
1. Monitor karakteristik
meningkat, dengan
luka (mis. drainase,
kriteria hasil: (L.14130)
warna, ukuran, bau)
2. Monitor tanda-tanda
1. Penyatuan kulit
infeksi
meningkat
2. Penyatuan tepi luka Terapeutik
meningkat
3. Jaringan granulasi
3. Lepaskan balutan dan
meningkat
plester secara perlahan
4. Pembentukan
4. Cukur rambut di
jaringan parut
sekitar daerah luka,
meningkat
jika perlu
5. Edema pada sisi luka 5. Bersihkan dengan
menurun
cairan NaCl atau
6. Peradangan luka
pembersih nontoksik,
menurun
sesuai kebutuhan
7. Nyeri menurun
6. Bersihkan jaringan
8. Drainase purulen
nekrotik
menurun
7. Berikan salep yang
9. Drainase serosa
sesuai ke kulit atau
menurun
Lesi, jika perlu
10. Drainase sanguinis
8. Pasang balutan sesuai
menurun
jenis luka
11. Drainase
9. Pertahankan teknik
serosanguinis
steril saat melakukan
menurun
perawatan luka
12. Eritema pada kulit
sekitar menurun
13. Peningkatan suhu
kulit menurun
14. Bau tidak sedap pada
luka menurun
15. Nekrosis menurun
16. Infeksi menurun
10. Ganti balutan sesuai
jumlah eksudat dan
drainase
11. Jadwalkan perubahan
posisi setiap 2 jam atau
sesuai kondisi pasien
12. Berikan diet dengan
kalori 30-35
kkal/kgBB/hari dan
protein 1,25-1,5
g/kgBB/hari
13. Berikan suplemen
vitamin dan mineral
(mis. vitamin A,
vitamin C, Zinc, asam
amino), sesuai indikasi
14. Berikan terapi TENS
(stimulasi saraf
transkutaneus), jika
perlu
Edukasi
15. Jelaskan tanda dan
gejala infeksi
16. Anjurkan
mengkonsumsi
makanan tinggi kalori
dan protein
17. Ajarkan prosedur
perawatan luka secara
mandiri
Kolaborasi
18. Kolaborasi prosedur
debridement (mis.
enzimatik, biologis,
mekanis, autolitik),
jika perlu
19. Kolaborasi pemberian
antibiotik, jika perlu
D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Implementasi keperawatan atau tindakan keperawatan merupakan perilaku
yang spesifik yang dikerjakan oleh perawat untuk melakukan tindakan keperawatan
yang telah direncanakan (intervensi keperawatan). Tindakan - tindakan pada
intervensi keperawatan terdiri dari observasi, terapeutik, kolaborasi, dan edukasi
(PPNI, 2020). Implementasi adalah tindakan yang direncanakan dalam rencana
keperawatan . Perawat melakukan pengawasan terhadap keberhasilan intervensi
dilakukan, dan menilai perkembangan pasien terhadap pencapaian tujuan atau hasil
yang diharapkan. Tujuan dari implementasi adalah membantu pasien dalam
mencapai tujuan yang ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan,
pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping (Muttaqin,
2022).
E. EVALUASI
Penilaian keperawatan adalah mengukur keberhasilan dari rencana , dan
pelaksanaan tindakan keperawatan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasien.
Beberapa kegiatan yang harus diikuti perawat (Muttaqin, 2022) :
1. Mengakaji ulang tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan
2. Mengumpulkan data yang berhubungan dengan hasil yang diharapkan
3. Mengukur pencapaian tujuan
4. Mencatat atau hasil pengukuran pencapaian tujuan
5. Melakukan revisi atau modifikasi terhadap rencana keperawataan bila perlu
Hasil evaluasi yang menentukan apakah masalah teratasi, teratasi sebagian, atau
tidak teratasi, adalah dengan cara membandingkan antara SOAP (SubjectiveObjective-Assesment-Planning)
S (Subjective) adalah informasi berupa ungkapan yang didapat dari lansia
setelah tindakan diberikan
O (Objective) adalah informasi yang didapat berupa hasil pengamatan, penilaian,
pengukuran, yang dilakukan oleh perawat setelah tindakan dilakukan.
A (Assesment) adalah membandingkan antara informasi subjective dan objective
dengan tujuan dan kriteria hasil, kemudian diambil kesimpulan bahwa masalah
teratasi, teratasi sebagian, atau tidak teratasi
P (Planning) adalah rencana keperawatan lanjutan yang akan dilakukan
berdasarkan hasil analisis
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, S., & Muzakir, A. (2022). Terapi Nutrisi Medis pada Diabetes Melitus.
Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 15(2), 45-51.
Afdal, M., & Candra, R. (2021). Sistem Pakar Berbasis Android Untuk Diagnosa
Awal Penyakit Kulit Dermatofitosis. Jurnal Ilmiah Rekayasa Dan
Manajemen Sistem Informasi, https://doi.org/10.24014/rmsi.v7i1.11999
7(1), 103.
Aini, N. & Aridiana, L.M., 2023. Asuhan Keperawatan Pada System Pasien Dengan
Gangguan System Endokrin. Jakarta: Salemba Medika
Cahyo, A. S. S., & Nadirahilah, N. (2023). Hubungan Pengetahuan tentang
Pencegahan Ulkus Diabetik dengan Sikap Perawatan Ulkus Diabetik pada
Penderita Diabetes Mellitus di RW 04 Jatijajar Kota Depok. Mahesa:
Malahayati
Health
Student
Journal,
3(1),
92-105.
https://doi.org/10.33024/mahesa.v3i1.9154
Colin, V., & Listiana, D. (2022). Efektivitas Perawatan Luka Dengan Metode
Perawatan Luka Modern Dan Perawatan Luka Konvensional Pada Pasien
Diabetes Melitus. Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan, 10(3), 520-528.
https://doi.org/10.33366/jc.v1013.2112
Efendi, et al. (2021). Pengaruh Implementasi 4 Pilar Penatalaksanaan Diabetes
Mellitus Terhadap Pengetahuan pada Penderita Diabetes Mellitus Di
Puskesmas Kandang Kota Bengkulu. Journal of Nursing and Public Health,
9(2), 74-80
Feliciyanvi Uverni, Sanny Frisca, & Novita Elisabeth Daeli. (2024). Penerapan
Perawatan Kaki Terhadap Resiko Ulkus Pada Penderita Diabetes Mellitus di
Wilayah Kelurahan Sukarami. Jurnal Ventilator, 2(3), 34-41.
https://doi.org/10.59680 ventilator1213 1237
Riskesdas (2022). Prevalensi diabetes melitus di Kalimantan Timur.
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin. Diakses
Rabu, 1 Februari 2023.
Sepia Putri Regina Prayoga, & Annisa Andriyani. (2024). Penerapan Perawatan
Luka Ulkus Diabetik dengan Nacl 0.9% pada Pasien Diabetes Melitus di RS
PKU Muhammadiyah Karanganyar. Protein: Jurnal Ilmu Keperawatan Dan
Kebidanan., 2(4), 179-187. https://doi.org/10.61132/protein.v2i4.725
Thamrin, H., Sutjahjo, A., Pranoto, A., & Soelistijo, S. A. (2023). Association of
Metabolic Syndrome with Albuminuria in Diabetes Mellitus Type 2.
Biomolecular
and
Health
Science
Journal,
2(2),
82.
https://doi.org/10.20473/bhsj.v2i2.14964
Trisnawati. (2021). Factors Related To the Occurrence of Diabetic Ulcuses in
Patients With Diabetes Melitus. Indonesian Journal of Nursing and Health
Sciences, 4(2), 85-94.