LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.M DENGAN DIAGNOSA MEDIS DIABETES MELITUS (DM) DI RUANG YUDHISTIRA RSUD BHAKTI DHARMA HUSADA SURABAYA DISUSUN OLEH : Deshinta Armadayanti (P27820324065) DOSEN PEMBIMBING : Eko Rustamaji W, SST, M.Tr.Kep NIP. 19770420 200212 1 003 PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM DIPLOMA TIGA KAMPUS SUTOPO JURUSAN KEPERAWATAN POLTEKKES KEMENKES SURABAYA TAHUN 2026 LEMBAR PENGESAHAN Laporan Pendahuluan dan Asuhan keperawatan ini dibuat dan disusun sebagai bukti bahwa mahasiswa di bawah ini mengikuti Praktik Klinik Keperawatan Medikal Bedah: Nama NIM Kelas / Semester Kompetensi Waktu Pelaksanaan Tempat : Deshinta Armadayanti : P27820324065 : Tingkat 2 Reguler B / Semester 4 : Keperawatan Medikal Bedah : 01 - 07 Juni 2026 : RSUD Bhakti Dharma Husada Surabaya, 07 Juni 2026 Deshinta Armadayanti P27820324065 Menyetujui, Kepala Ruangan Yudhistira RSUD Bhakti Dharma Husada Pembimbing Ruangan Yudhistira RSUD Bhakti Dharma Husada Yenny Hariyanto, S.Kep.Ns NIP. 19840110 201001 2 013 Nila Rochaniyah, A.Md. Kep NIP. 19840718 201001 2 019 Dosen pembimbing Program Studi D-III Keperawatan Sutopo Surabaya Eko Rustamaji W, SST, M.Tr.Kep NIP. 19770420 200212 1 003 BAB I LAPORAN PENDAHULUAN A. DEFINISI DIABETES MELITUS Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit yang diakibatkan terganggunya proses metabolisme glukosa di dalam tubuh yang disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dengan karakteristik hiperglikemia (American Diabetes Association, 2023). Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit gangguan metabolik akibat pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif, akibatnya terjadi peningkatan konsentrasi glukosa di dalam darah atau hiperglikemia. Gula darah sewaktu melebihi 200 mg/dl dan gula darah puasa melebihi 126 mg/dl. (PUSDATIN Kemenkes RI, 2022). B. ETIOLOGI Diabetes dapat terjadi ketika sel beta dipankreas tidak merespon insulin, atau ketika tubuh tidak dapat memproduksi cukup insulin untuk menjaga kadar gula darah kisaran normal. Beberapa faktor penyebab penyakit diabetes (Lestasi, 2022): a. Perkembangan diabetes dipengaruhi oleh jenis kelamin atau kromosom. Terlepas dari kenyataan bahwa wanita membawa gen yang diturunkan kepada anak-anak mereka, tetapi laki-laki paling beresiko terkena diabetes. b. Virus dan Bakteri Human coxsackievirus B4, rubella, dan golongan virus lain adalah tiga virus penyebab diabetes melitus. Virus-virus ini menyerang sel beta secara sitolitik, yang mengakibatkan kematian atau kerusakan sel. Selain itu, virus-virus tersebut dapat menyebabkan hilangnya sel beta melalui respon autoimun. c. Bahan Toksik dan Beracun Sel beta dapat secara langsung dirusak oleh zat-zat beracun seperti pyrinuron (digunakan untuk membunuh hewan pengerat), alloxan dan streptosoctin (sediaan jamur). Sianida dari singkong adalah komponen lainnya. d. Nutrisi Nutrisi dan gizi berlebihan (overnutrition) merupakan salah satu faktor resiko diabet es. Karena asupan makanan yang berlebihan, orang yang kelebihan berat badan atau obesitas lebih mungkin terkena diabetes. C. KLASIFIKASI Menurut Prodia Occupational Health Institute (2021), diabetes melitus dibagi menjadi 4 tipe. Tipe tersebut adalah DM tipe 1, DM tipe 2, DM gestational dan DM karena sindrom lainnya. 1. Diabetes Melitus Tipe 1 Diabetes melitus tipe 1 merupakan tipe diabetes yang terjadi dikarenakan ketidakmampuan tubuh untuk membuat insulin sama sekali sehingga gula tidak mampu menghantarkan ke sel. Suntikan insulin diperlukan bagi penderita diabetes tipe 1 untuk menjalani kehidupan serta beraktivitas secara normal kembali. Jika tidak mendapatkan insulin tubuh penderita akan mengalami masalah umum seperti kelemahan hingga penurunan kesadaran. Kondisi gawat darurat dinamakan dengan asidosis metabolik. 2. Diabetes Melitus Tipe 2 Diabetes melitus tipe 2 merupakan tipe DM dimana tubuh mampu memproduksi insulin tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan insulin itu sendiri. Pilihan gaya hidup yang tidak sehat termasuk kurangnya aktivitas dan meningkatnya konsumsi makanan cepat saji sangat berkaitan dengan keadaan ini. 3. Diabetes Melitus Gestational Diabetes Melitus Gastational adalah ketidakseimbangan kadar gula darah selama kehamilan. Ketidakseimbangan hormon dalam tubuh beresiko besar selama kehamilan. Ketidakseimbangan hormon, termasuk yang melibatkan hormon insulin, juga dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat. Selama tubuh dapat menangani terlalu banyak gula darah, kondisi ini tidak akan membahayakan. 4. Diabetes Melitus Syndrome Lainnya Diabetes Melitus Syndrome lainnya adalah jenis DM yang terjadi disebabkan oleh beberapa hal, seperti kanker pankreas atau penggunaan obat yang meningkatkan kadar gula darah. D. PATOFISIOLOGI Patofisiologi pada DM yaitu berupa resistensi insulin dan gangguan aktivitas sel beta pankreas. Kondisi yang dikenal sebagai resistensi insulin terjadi ketika tubuh memproduksi lebih banyak insulin untuk menjaga kadar gula darah tetap normal. Resistensi insulin umumnya terjadi pada individu yang memiliki obesitas. Karena insulin tidak dapat berfungsi dengan baik dalam sel lemak, pankreas harus dapat mengimbanginya dengan memproduksi lebih banyak insulin. Biasanya, peningkatan resistensi insulin dapat diimbangi oleh sel beta yang memproduksi insulin yang memadai. Namun, karena aktivitas sel beta pankreas telah menurun sekitar 50%, jumlah insulin yang diproduksi oleh sel-sel ini tidak cukup untuk mengimbangi peningkatan resistensi insulin (Decroli, 2022). Hiperglikemia atau peningkatan glukosa darah, dapat diakibatkan oleh produksi insulin yang tidak mencukupi. Hiperglikemia kronis dapat memperburuk resistensi insulin, merusak sel beta, dan mempercepat perkembangan penyakit DM (Decoli, 2022). Namun, efek negatif dari penggunaan insulin plus sulfoilurea sebagai pengobatan untuk menghentikan kenaikan kadar glukosa darah dapat menurunkan kadar glukosa darah (hipoglikemia) pada pederita diabetes (Rusdi, 2020). E. PATHWAY Diabetes melitus Genetik Gaya hidup Kekurangan insulin Penurunan ke anak beda jenis kelamin Mengonsumsi makanan yang berlebihan Gula darah meningkat Poliuria Sel B terganggu Ketidakseimbangan produksi insulin Hiperglikemia Ketidakstabilan kadar glukosa darah (D.0027) Peningkatan kadar kolesterol Penumpukan plak di dinding pembuluh darah arteri Mudah lelah Intoleransi aktivitas (D.0056) Risiko jatuh (D.0143) Penyumbatan aliran darah ke jantung Dehidrasi Stroke Gangguan mobilitas fisik (D.0054) Risiko hipovolemia (D.0034) Sumber: lestari (2023) Penglihatan kabur Luka sulit sembuh Gangguan integritas kulit (D.0129) F. MANIFESTASI KLINIS Menurut Lestari et al. (2021), Beberapa tanda dan gejala yang terjadi pada penderita ulkus diabetik antara lain: a. Sering merasakan kesemutan pada kaki. b. Muncul rasa nyeri pada kaki meskipun dalam keadaan istirahat c. Penurunan atau hilangnya sensitivitas terhadap rasa sakit (mati rasa/baal) pada kaki. d. Terjadi kerusakan jaringan yang ditandai dengan nekrosis. e. Poliuria (banyak kencing) f. Pandangan kabur g. Melemahnya denyut nadi pada arteri dorsalis pedis, tibialis, dan poplitea. h. Kaki menjadi kaku, dengan kuku yang menebal dan kulit yang tampak kering. i. Terdapat pembengkakan (oedema) dan luka mengeluarkan cairan (eksudat). G. KOMPLIKASI Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2022), apabila Diabetes Melitus tidak ditangani dengan optimal, berbagai komplikasi serius dapat terjadi, di antaranya: 1. Neuropati (kerusakan saraf): Diabetes dapat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf di seluruh tubuh, khususnya di area tangan dan kaki. 2. Nefropati (kerusakan ginjal): Penyakit ini dapat memengaruhi pembuluh darah di ginjal dan mengganggu fungsinya. 3. Gangguan penglihatan: Masalah seperti retinopati diabetik, katarak, glaukoma, dan gangguan visual lainnya dapat muncul akibat diabetes. 4. Gangguan sistem kardiovaskular: Diabetes meningkatkan risiko terjadinya penyakit pembuluh darah perifer, serta kondisi serius lainnya seperti serangan jantung, penyakit jantung, dan stroke. 5. Luka dan infeksi yang sulit sembuh: Penderita Diabetes sering mengalami gangguan dalam proses penyembuhan luka dan lebih rentan terhadap infeksi H. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang DM (Thamrin et al., 2023) sebagai berikut: a. Gula darah sewaktu (GDS) normal ≤ 200 mg/dL. b. Glukosa darah puasa (GDP): Tes ini dilakukan menggunakan sampel darah yang diambil setelah berpuasa atau periode bebas kalori minimal 8 jam. Nilai GDP normal adalah < 126 mg/dL. c. Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO): Tes ini dilakukan menggunakan sampel darah vena 2 jam setelah pemberian glukosa oral 75 g. Nilai TTGO normal adalah ≤ 200 mg/dL. d. HbAlc normal < 6,5%: Pemeriksaan Darah Leukosit Pemeriksaan darah pada penderita ulkus diabetikum yang bertujuan untuk mendeteksi adanya infeksi atau inflamasi yang sering menyertai komplikasi luka pada diabetes. Kadar leukosit umumnya lebih tinggi dibandingkan pasien diabetes tanpa ulkus. I. PENATALAKSANAAN Selain penggunaan terapi farmakologis seperti suntikan insulin atau obat penurun gula darah, pengobatan DM juga dimulai dengan penerapan gaya hidup sehat, termasuk aktivitas fisik teratur dan perubahan pola makan. Obat antihiperglikemik oral dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan terapi lain. Pasien harus segera dirujuk ke fasilitas perawatan sekunder atau tersier jika terjadi gangguan metabolisme serius seperti ketoasidosis, stres berat, penurunan berat badan drastis, atau adanya keton dalam urin. (PERKENI, 2021). Pemahaman pasien terhadap proses pemantauan mandiri, kemampuan mengenali gejala awal serta tanda peringatan hiperglikemia, dan mengetahui cara penanganannya sangatlah penting. Berikut ini merupakan beberapa aspek kunci dalam penanganan Diabetes Melitus (PERKENI, 2021). a. Edukasi: Mendorong gaya hidup sehat melalui pendidikan diabetes dan pemantauan mandiri kadar glukosa darah (PGDM). b. Terapi Nutrisi Medis (TNM): Ini merupakan komponen krusial dalam perawatan diabetes yang mencakup penerapan strategi nutrisi yang tepat. c. Latihan Fisik: Salah satu pilar utama dalam pengobatan diabetes adalah olahraga yang teratur. d. Terapi farmakologis: Gaya hidup sehat yang melibatkan pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang cukup harus dipadukan dengan pengobatan. Terapi farmakologis mencakup penggunaan obat-obatan, baik suntikan maupun oral. Obat-obatan oral seperti inhibitor DPP4, sulfonylurea, atau metformin kadangkadang di rekomendasikan untuk mendukung manejemen penyakit ini. BAB II KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN 1. Anamnesis Merupakan tahap awal dari proses keperawatan. Semua data dikumpulkan secara sistematis dan komprehensif dengan aspek biologis, psikologis, sosial, maupun spiritual pasien a. Data Umum Tanyakan pada pasien tentang nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, suku, tanggal masuk RS dan lainnya mengenai identitas klien. b. Keluhan Utama Adanya rasa nyeri ketika digerakan, namun terkadang asimtomatis. Ada terlihat suatu benjolan yang suatu benjolan yang letaknya di dekat sendi. c. Riwayat Penyakit Sekarang Alasan awal pasien dirawat di rumah sakit biasanya karena mereka datang dengan keluhan seperti mual dan tiga gejala diabetes melitus (polifagia, poliuria, polidipsia). Selain itu, pasien juga mengalami mati rasa, kesemutan, penglihatan kabur, lemas, dan luka yang lambat sembuh. d. Riwayat Penyakit Dahulu Merupakan bagaimana kondisi pasien di masa lalu yang mendasari DM. Terdapat riwayat penyakit yang berkaitan dengan defisiensi insulin seperti keganasan pada pankreas, obesitas, terjadi infeksi, dan menurunnya produksi insulin yang disebabkan oleh konsumsi obat-obatan tertentu. e. Riwayat Penyakit Keluarga bisa dilihat pada silsilah keluarga (genogram), pada pasien dengan ulkus diabetikum biasanya anggota keluarga juga memiliki penyakit keturunan seperti diabetes melitus, riwayat hipertensi, dan masalah kardiovaskuler seperti jantung (Sholikhan, 2020). f. Keadaan Umum a. Penilaian tingkat kesadaran 1. Compos Mentis (Sadar Penuh) Sadar sepenuhnya, orientasi baik terhadap diri, waktu, dan tempat. 2. Apatis Kesadaran menurun, tampak acuh tak acuh, segan berhubungan dengan lingkungan. 3. Delirium Penurunan kesadaran disertai kekacauan motorik, disorientasi, dan siklus tidur terganggu. 4. Somnolen Mengantuk dalam, mudah dibangunkan dengan rangsangan, namun tertidur lagi. 5. Stupor Mengantuk dalam, hanya bereaksi dengan rangsangan nyeri yang kuat. 6. Koma Tingkat terendah, tidak ada eksternal/nyeri. (Sholikhan, 2020) respons terhadap rangsangan b. Penelitian Kuantitatif Diukur dengan GCS (Glasgow Coma Scale) a. Eye Spontan membuka mata Membuka mata dengan perintah suara Membuka mata dengan rangsangan nyeri Tidak membuka mata (4) (3) (2) (1) b. Verbal Orientasi baik Bingung, bicara kacau Ngelantur/kata-kata tidak sesuai Mengerang Tidak bersuara (5) (4) (3) (2) (1) c. Motorik Mengikuti perintah Melokalisir nyeri Menarik ekstremitas untuk menjauhi nyeri Fleksi abnormal Ektensi abnormal Tidak ada gerakan (6) (5) (4) (3) (2) (1) (Sholikhan, 2020) g. Pemeriksaan Head To Toe 1. Pemeriksaan kepala dan rambut a. Inpeksi : Kesimetrisan kepala, rambut kotor, bau atau bau pada rambut, kulit pada kepala kotor. b. Palpasi : Dengan cara merotasi dengan lembut ujung jari ke bawah dari tengah garis kepala ke samping. Untuk memenuhi adanya bentuk kepala ada pembengkakan atau tidak, nyeri tekan, kekuatan akar pada bagian rambut (setyanegara, 2022) 2. Mata a. Inspeksi : Simetris atau tidak b. Palpasi : Bola mata teraba kenyal dan melenting (setyanegara, 2022) 3. Hidung a. Inspeksi : Adanya secret, tidak ada perdarahan, tidak ada gangguan pada penciuman, lubang hidung simetris, lubang hidung tampak kotor b. Palpasi : Adanya nyeri atau tidak pada saat di tekan sinusnya. 4. Telinga a. Inspeksi : Simetris atau tidak, adanya serumen pada telinga b. Palpasi : Biasanya ada tidaknya nyeri tekan pada bagian telinga 5. Mulut a. Inspeksi : Mulut tanpak kotor, giginya berwarna kuning, adanya sisa makanan yang menyangkut pada gigi, mengalami gangguan pengecap, lidah berwarna putih, bibir tanpak pucat. 6. Kulit dan kuku a. Palpasi : Warna kulit tampak pucat, kulit tanpak kotor, bau pada kulit di anggota badannya, pada gangguan mobilitas fisik umumnya terdapat lesi atau dekubitus pada tulang yang menonjol seperti punggung, kuku tampak panjang dan kotor. b. Palpasi : Tugor kulit buruk di karenakan kekurangan cairan 7. Leher a. Inspeksi : Kaku pada leher saat di tundukkan, leher bagian belakang tanpak kotor. b. Palpasi : Ada tidaknya pembesaran kelenjar teroid, ada tidaknya deviasi trakea. 8. Dada thorak 1. Paru a. Inspeksi : Jika normal gerak dinding dada simetris b. Palpasi : Ada tidaknya nyeri tekan c. Perkusi : Perkusi sonor d. Auskultasi : Bunyi napas di dapatkan ada terdengan ronkhi, wheezing, suara napas tambahan, atau pernapasan tidak teratur karena penurunan reflex batuk atau menelan 2. Jantung a. Inspeksi : Batas jantung ICS kanan 2 dan kiri ICS 4 b. Palpasi : Batas kanan ICS 2 dan ICS 5 mid axial kanan c. Perkusi : Pekak dalam batas normal d. Auskultasi : Bunyi S1 dan S2 tunggal 3. Abdomen a. Inspeksi : Simetris, terdapat benjolan atau tidak, terdapat lesi atau tidak b. Palpasi : Bising usus normal c. Perkusi : Terkadang tidak ada nyeri tekan d. Auskultasi : Terkadang timpani 4. Genetalia a. Inspeksi : Terdapat pubis atau tidak, terdapat hemoroid atau tidak, genetalia tanpak kotor atau bersih 5. Ekstermitas a. Inspeksi : Adanya penurunan otot, sering terjadi kelumpuhan di salah satu bagian sisi tubuh. 6. Integument a. Inpeksi : Warna kulit, kebersihan kulit, terdapat lesi atau tidak, CRT (setyanegara, 2022) h. Pemeriksaan Fisik 1. B1 (Breath) Pada inspeksi didapatkan klien batuk, peningkatan produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot bantu napas, dan peningkatan frekuensi pernapasan. Auskultasi bunyi napas tambahan seperti ronkhi pada klien dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk yang menurun yang sering didapatkan pada klien stroke dengan penurunan tingkat kesadaran koma. Pada klien dengan tingkat kesadaran compos mends, pengkajian inspeksi pernapasannya tidak ada kelainan. Palpasi toraks didapatkan taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi tidak didapatkan bunyi napas tambahan. 2. B2 (Blood) Pengkajian pada sistem kardiovaskular didapatkan renjatan (syok hipovolemik) yang sering terjadi pada klien stroke. Tekanan darah biasanya terjadi peningkatan dan dapat terjadi hipertensi masif (tekanan darah >200 mmHg). 3. B3 (Brain) Pemeriksaan 12 Saraf kranial : 1. Saraf Olfaktorius (N. I) : saraf sensorik, untuk penciuman. 2. Saraf Optikus (N. II) : saraf sensorik, untuk penglihatan. 3. Saraf Okulomotorius (N. III) : saraf motorik, untuk mengangkat kelopak mata dan kontraksi pupil. 4. Saraf troklearis (N. IV) : saraf motorik, untuk pergerakan bola mata. 5. Saraf Trigeminalis (N. V) : saraf motorik, gerakan mengunyah, sensasi wajah, lidah dan gigi, reflek kornea dan reflek berkedip. 6. Saraf Abdusen (N. VI) : saraf motorik, pergerakan bola mata kesamping melalui otot lateralis. 7. Saraf Fasialis (N. VII) : saraf motorik, untuk ekspresi wajah. 8. Saraf Vestibulokoklear (N. VIII) : saraf sensorik, untuk pendengaran dan keseimbangan. 9. Saraf Glosofaringeus (N. IX) : saraf sensorik dan motorik, untuk sensasi rasa 10. Saraf Vagus (N. X) : saraf sensorik dan motorik, reflek muntah dan menelan. 11. Saraf Asesorius (N. XI) : saraf motorik, untuk menggerakan bahu. 12. Saraf Hipoglosus (N. XII) : saraf motorik, untuk menggerakan lidah. 4. B4 (Bladder) Setelah stroke klien mungkin mengalami inkontinensia urine sementara karena konfusi, ketidakmampuan mengomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk mengendalikan kandung kemih karena kerusakan kontrol motorik dan postural. Kadang kontrol sfingter urine eksternal hilang atau berkurang. Selama periode ini, dilakukan kateterisasi intermiten dengan teknik steril. Inkontinensia urine yang berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis luas. 5. B5 (Bowel) Didapatkan adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun, mual muntah pada fase akut. Mual sampai muntah disebabkan oleh peningkatan produksi asam lambung sehingga menimbulkan masalah pemenuhan nutrisi. Pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus. Adanya inkontinensia alvi yang berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis luas. 6. B6 (Bone) Adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralise hemiplegi, serta mudah lelah menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan istirahat. (setyanegara, 2022) 2. Pola Fungsi Kesehatan a. Pola Persepsi Kesehatan Mengambarkan penjelasan pribadi klien mengenai kesehatan dan kesejahteraan b. Pola nutrisi Dikaji pola nutrisi klien sebelum dan sesudah masuk rumah sakit yaitu frekuensi makan, nafsu makan, porsi makan yang dihabiskan, makanan yang membuat alergi, makanan diet, pemasangan NGT. c. Pola eliminasi Dikaji pola eliminasi BAK sebelum dan sesudah di rumah sakit yaitu frekuensi, warna, keluhan BAK, penggunaan alat bantu (kateter). dikaji pola eliminasi BAB sebelum dan sesudah di rumah sakit yaitu frekuensi, waktu, warna, keluhan BAB. d. Pola aktivitas dan Latihan Pada penderita ganglion wrist biasanya tidak dapat beraktivitas sepenuhnya karena pada salah satu anggota bagian tubuhnya mengalami nyeri e. Pola istirahat dan tidur Terkadang pasien mengalami gangguan pada pola tidurnya karena adanya rasa nyeri pada benjolan di pergelangan tangan f. Pola kognitif-persepsi Dikaji pola persepsi sensorik, pembuat keputusan. g. Pola persepsi diri Dikaji pola konsep dan persepsi diri klien (seperti konsep diri / penghargaan, pola emosional, gambaran diri) h. Pola nilai kepercayaan Dikaji pola nilai, kepercayaan dan tujuan yang mempengaruhi pilihan dan keputusan klien. (Setyanegara, 2022) B. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan menggambarkan reaksi individu atau kelompok manusia (risiko status kesehatan atau perubahan pola) dan diturunkan dari proses pengkajian pertama yang dilakukan melalui proses analitis (Setiawan, et al., 2023). 1. Ketidakstabilan kadar glukosa darah (D.0027) 2. Intoleransi aktivitas (D.0056) 3. Risiko jatuh (D.0143) 4. Risiko hipovolemia (D.0034) 5. Gangguan integritas kulit atau jaringan (D.0129) 6. Gangguan mobilitas fisik (D.0054) C. INTERVENSI KEPERAWATAN Diagnosa Tujuan Keperawatan Intervensi Keperawatan NO Keperawatan (SLKI) (SIKI) (SDKI) 1. Ketidakstabilan Setelah dilakukan Manajemen kadar glukosa intervensi keperawatan Hiperglikemia (I.03115) darah b.d selama 8 jam/1x24 jam, resistensi insulin maka tingkat kestabilan Observasi (D.0027) kadar glukosa darah meningkat, dengan 1. Identifikasi kriteria hasil: (L.03022) kemungkinan penyebab hiperglikemia 1. Koordinasi 2. Identifikasi situasi yang meningkat menyebabkan 2. Kesadaran kebutuhan insulin meningkat meningkat (mis. 3. Mengantuk menurun penyakit kambuhan) 4. Pusing menurun 3. Monitor kadar glukosa 5. Lelah menurun darah, Jika perlu 6. Rasa lapar menurun 4. Monitor tanda dan 7. Gemetar menurun gejala hiperglikemia 8. Berkeringat menurun (mis. poliuria, 9. Mulut kering polidipsia, polifagia, menurun kelemahan, malaise, 10. Rasa haus menurun pandangan kabur, sakit 11. Perilaku aneh kepala) menurun 5. Monitor intake dan 12. Kesulitan bicara output cairan menurun 6. Monitor keton urine, 13. Palpitasi menurun kadar analisa gas darah, 14. Kadar glukosa dalam elektrolit, tekanan darah darah membaik ortostatik dan frekuensi 15. Kadar glukosa dalam nadi urine membaik 16. Jumlah urine Terapeutik membaik 7. Berikan asupan cairan oral 8. Konsultasi dengan medis jika tanda dan gejala hiperglikemia tetap dan ada atau memburuk 9. Fasilitasi ambulans jika ada hipotensi ortostatik Edukasi 10. Anjurkan menghindari olahraga saat kadar glukosa darah lebih dari 250 mg/dL 11. Anjurkan monitor kadar glukosa darah secara mandiri 12. Anjurkan kepatuhan terhadap diet dan olahraga 13. Ajarkan indikasi dan pentingnya pengujian keton urin, Jika perlu 14. Ajarkan pengelolaan diabetes (mis. penggunaan insulin, obat oral, monitor asupan cairan, penggantian karbohidrat, dan bantuan profesional kesehatan) Kolaborasi 15. Kolaborasi pemberian insulin, Jika perlu 16. Kolaborasi pemberian cairan IV, Jika perlu 17. Kolaborasi pemberian kalium, Jika perlu 2. Gangguan integritas kulit atau jaringan b.d penurunan mobilitas (D.0129) Setelah dilakukan Perawatan luka (I.14564) intervensi keperawatan selama 8 jam/1x24 jam, Observasi maka tingkat penyembuhan luka 1. Monitor karakteristik meningkat, dengan luka (mis. drainase, kriteria hasil: (L.14130) warna, ukuran, bau) 2. Monitor tanda-tanda 1. Penyatuan kulit infeksi meningkat 2. Penyatuan tepi luka Terapeutik meningkat 3. Jaringan granulasi 3. Lepaskan balutan dan meningkat plester secara perlahan 4. Pembentukan 4. Cukur rambut di jaringan parut sekitar daerah luka, meningkat jika perlu 5. Edema pada sisi luka 5. Bersihkan dengan menurun cairan NaCl atau 6. Peradangan luka pembersih nontoksik, menurun sesuai kebutuhan 7. Nyeri menurun 6. Bersihkan jaringan 8. Drainase purulen nekrotik menurun 7. Berikan salep yang 9. Drainase serosa sesuai ke kulit atau menurun Lesi, jika perlu 10. Drainase sanguinis 8. Pasang balutan sesuai menurun jenis luka 11. Drainase 9. Pertahankan teknik serosanguinis steril saat melakukan menurun perawatan luka 12. Eritema pada kulit sekitar menurun 13. Peningkatan suhu kulit menurun 14. Bau tidak sedap pada luka menurun 15. Nekrosis menurun 16. Infeksi menurun 10. Ganti balutan sesuai jumlah eksudat dan drainase 11. Jadwalkan perubahan posisi setiap 2 jam atau sesuai kondisi pasien 12. Berikan diet dengan kalori 30-35 kkal/kgBB/hari dan protein 1,25-1,5 g/kgBB/hari 13. Berikan suplemen vitamin dan mineral (mis. vitamin A, vitamin C, Zinc, asam amino), sesuai indikasi 14. Berikan terapi TENS (stimulasi saraf transkutaneus), jika perlu Edukasi 15. Jelaskan tanda dan gejala infeksi 16. Anjurkan mengkonsumsi makanan tinggi kalori dan protein 17. Ajarkan prosedur perawatan luka secara mandiri Kolaborasi 18. Kolaborasi prosedur debridement (mis. enzimatik, biologis, mekanis, autolitik), jika perlu 19. Kolaborasi pemberian antibiotik, jika perlu D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Implementasi keperawatan atau tindakan keperawatan merupakan perilaku yang spesifik yang dikerjakan oleh perawat untuk melakukan tindakan keperawatan yang telah direncanakan (intervensi keperawatan). Tindakan - tindakan pada intervensi keperawatan terdiri dari observasi, terapeutik, kolaborasi, dan edukasi (PPNI, 2020). Implementasi adalah tindakan yang direncanakan dalam rencana keperawatan . Perawat melakukan pengawasan terhadap keberhasilan intervensi dilakukan, dan menilai perkembangan pasien terhadap pencapaian tujuan atau hasil yang diharapkan. Tujuan dari implementasi adalah membantu pasien dalam mencapai tujuan yang ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping (Muttaqin, 2022). E. EVALUASI Penilaian keperawatan adalah mengukur keberhasilan dari rencana , dan pelaksanaan tindakan keperawatan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasien. Beberapa kegiatan yang harus diikuti perawat (Muttaqin, 2022) : 1. Mengakaji ulang tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan 2. Mengumpulkan data yang berhubungan dengan hasil yang diharapkan 3. Mengukur pencapaian tujuan 4. Mencatat atau hasil pengukuran pencapaian tujuan 5. Melakukan revisi atau modifikasi terhadap rencana keperawataan bila perlu Hasil evaluasi yang menentukan apakah masalah teratasi, teratasi sebagian, atau tidak teratasi, adalah dengan cara membandingkan antara SOAP (SubjectiveObjective-Assesment-Planning) S (Subjective) adalah informasi berupa ungkapan yang didapat dari lansia setelah tindakan diberikan O (Objective) adalah informasi yang didapat berupa hasil pengamatan, penilaian, pengukuran, yang dilakukan oleh perawat setelah tindakan dilakukan. A (Assesment) adalah membandingkan antara informasi subjective dan objective dengan tujuan dan kriteria hasil, kemudian diambil kesimpulan bahwa masalah teratasi, teratasi sebagian, atau tidak teratasi P (Planning) adalah rencana keperawatan lanjutan yang akan dilakukan berdasarkan hasil analisis DAFTAR PUSTAKA Abdullah, S., & Muzakir, A. (2022). Terapi Nutrisi Medis pada Diabetes Melitus. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 15(2), 45-51. Afdal, M., & Candra, R. (2021). Sistem Pakar Berbasis Android Untuk Diagnosa Awal Penyakit Kulit Dermatofitosis. Jurnal Ilmiah Rekayasa Dan Manajemen Sistem Informasi, https://doi.org/10.24014/rmsi.v7i1.11999 7(1), 103. Aini, N. & Aridiana, L.M., 2023. Asuhan Keperawatan Pada System Pasien Dengan Gangguan System Endokrin. Jakarta: Salemba Medika Cahyo, A. S. S., & Nadirahilah, N. (2023). Hubungan Pengetahuan tentang Pencegahan Ulkus Diabetik dengan Sikap Perawatan Ulkus Diabetik pada Penderita Diabetes Mellitus di RW 04 Jatijajar Kota Depok. Mahesa: Malahayati Health Student Journal, 3(1), 92-105. https://doi.org/10.33024/mahesa.v3i1.9154 Colin, V., & Listiana, D. (2022). Efektivitas Perawatan Luka Dengan Metode Perawatan Luka Modern Dan Perawatan Luka Konvensional Pada Pasien Diabetes Melitus. Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan, 10(3), 520-528. https://doi.org/10.33366/jc.v1013.2112 Efendi, et al. (2021). Pengaruh Implementasi 4 Pilar Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terhadap Pengetahuan pada Penderita Diabetes Mellitus Di Puskesmas Kandang Kota Bengkulu. Journal of Nursing and Public Health, 9(2), 74-80 Feliciyanvi Uverni, Sanny Frisca, & Novita Elisabeth Daeli. (2024). Penerapan Perawatan Kaki Terhadap Resiko Ulkus Pada Penderita Diabetes Mellitus di Wilayah Kelurahan Sukarami. Jurnal Ventilator, 2(3), 34-41. https://doi.org/10.59680 ventilator1213 1237 Riskesdas (2022). Prevalensi diabetes melitus di Kalimantan Timur. http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin. Diakses Rabu, 1 Februari 2023. Sepia Putri Regina Prayoga, & Annisa Andriyani. (2024). Penerapan Perawatan Luka Ulkus Diabetik dengan Nacl 0.9% pada Pasien Diabetes Melitus di RS PKU Muhammadiyah Karanganyar. Protein: Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan., 2(4), 179-187. https://doi.org/10.61132/protein.v2i4.725 Thamrin, H., Sutjahjo, A., Pranoto, A., & Soelistijo, S. A. (2023). Association of Metabolic Syndrome with Albuminuria in Diabetes Mellitus Type 2. Biomolecular and Health Science Journal, 2(2), 82. https://doi.org/10.20473/bhsj.v2i2.14964 Trisnawati. (2021). Factors Related To the Occurrence of Diabetic Ulcuses in Patients With Diabetes Melitus. Indonesian Journal of Nursing and Health Sciences, 4(2), 85-94.