Uploaded by common.user152467

Strategi Pengembangan Agribisnis Cabai Merah Keriting di Gekbrong

advertisement
STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS CABAI MERAH
KERITING (Capsicum annuum L.)DI DESA
GEKBRONGKECAMATAN GEKBRONG
KABUPATENCIANJUR
SKRIPSI
Oleh :
Ririn Setiawati
41205420120006
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
UNIVERSITAS NUSA BANGSA
BOGOR
2024
STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS CABAI MERAH
KERITING (Capsicim annuum L.)DI DESA GEKBRONG
KECAMATAN GEKBRONG KABUPATEN CIANJUR
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program
Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Nusa Bangsa
Oleh :
Ririn Setiawati
41205420120006
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
UNIVERSITAS NUSA BANGSA
BOGOR
2024
PERNYATAAN SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Strategi
Pengembangan AgribisnisCabai Merah Keriting (Capsicum annuum L.)di Desa
Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur” adalah murni karya saya
dengan arahan Dosen Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun
kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari
Karya Ilmiah yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir dari
skripsi ini.
Bogor, Agustus 2024
Ririn Setiawati
NPM. 41205420120006
RINGKASAN
RIRIN SETIAWATI Strategi Pengembangan AgribisnisCabai Merah Keriting
(Capsicum annuum L.)di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten
Cianjur dibawah bimbingan LINAR HUMAIRA dan UNDANG.
Kabupaten Cianjur merupakan daerah penyangga yang dapat menjaga
kestabilan pasokan produksi cabai merah keriting di Jawa Barat. Salah satu daerah
di Kabupaten Cianjur penghasil cabai merah keriting berada di Desa Gekbrong.
Berdasarkan hasil wawancara dengan petani cabai merah keriting di Desa
Gekbrong, produksi cabai merah keriting tidak dapat dipastikan jumlahnya, hal
tersebut disebabkan resiko terjadi gagal panen yang tinggi akibat hama, penyakit,
dan cuaca. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 2020 luas
panen Kecamatan Gekbrong untuk tanaman cabai merah keriting sebesar 74 ha
dengan jumlah produksi sebesar 453 kuintal. Tahun 2021 terjadi kenaikan luas
panen menjadi 118 ha dan jumlah produksi sebesar 1044 kuintal. Namun, tahun
2022 terjadi penurunan luas panen secara siginifikan yaitu hanya 4 ha dan jumlah
produksi sebesar 230 kuintal.
Tujuan penelitian ini untuk enganalisis sistem agribisnis petani cabai di
Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur, mengidentifikasi
kondisi faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang
dan ancaman) yang terjadi dalam pengembanganagribisnis cabai merah keriting di
Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur, dan menentukan
pilihan strategi alternatif yang tepat diterapkan dalam pengembangan agribisnis
cabai merah keriting di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur.
Hasil penelitian menunjukan petani cabai keriting di Desa Gekbrong telah
menerapkan sistem agribisnis dari hulu ke hilir. Sistem agribisnis secara umum
pada petani cabai Kampung Babakan sudah lengkap dijalankan, mulai dari
subsistem pengadaan input, subsistem produksi, subsistem pengolahan dan
pascapanen, subsistem pemasaran dan subsistem penunjang. Subsistem agribisnis
dimulai dari subsistem pengadaan input terdiri atas benih, media semai, pupuk
kandang, pestisida dan pupuk kimia. Subsistem produksi terdiri dari pengolahan
lahan, penyemaian dan budidaya tanaman. Subsistem penanganan hasil pertanian
terdiri dari sortasi dan penimbangan. Subsistem pemasaran petani yaitu satu
saluran. Petani cabai keriting dengan manajemen yang baik dan struktur
organisasi yang sesuai memiliki fondasi yang kuat untuk operasional yang efisien
dan pengelolaan keuangan yang sehat. Namun, kurangnya perencanaan pemasaran
dan ketergantungan pada tengkulak membatasi potensi pendapatan mereka. Selain
itu, meskipun fasilitas dan peralatan dalam kondisi baik, kurangnya penelitian dan
pengembangan menghambat inovasi dan diversifikasi produk.Strategi yang tepat
untuk digunakan berdasarkan posisi (pada sel V-pertahankan/pelihara) adalah
pengembangan produk dan penetrasi pasar dengan strategi yang dihasilkan ada 9
pilihan berdasarkan matriks SWOT
Kata Kunci :Cabai Keriting, Strategi Pengembangan Usaha, Sistem Agribisnis,
analisis SWOT
SUMMARY
RIRIN SETIAWATI Strategy for Farming Development of Curly Red Chilies
(Capsicum annuum L.) in Gekbrong Village, Gekbrong District, Cianjur Regency
under the guidance of LINAR HUMAIRA dan UNDANG.
Cianjur Regency is a buffer area that can maintain the stability of the
supply of curly red chili production in West Java. One of the areas in Cianjur
Regency that produces curly red chilies is in Gekbrong Village. Based on
interviews with curly red chili farmers in Gekbrong Village, the quantity of curly
red chili production cannot be ascertained, this is due to the high risk of crop
failure due to pests, disease and weather. Based on data from the Central Statistics
Agency (BPS), in 2020 the harvest area in Gekbrong District for curly red chili
plants was 74 ha with total production of 453 quintals. In 2021 there will be an
increase in harvested area to 118 ha and total production of 1044 quintals.
However, in 2022 there will be a significant decrease in harvested area, namely
only 4 ha and total production of 230 quintals.
The aim of this research is to analyze the agribusiness system of chili
farmers in Gekbrong Village, Gekbrong District, Cianjur Regency, identify the
conditions of internal factors (strengths and weaknesses) and external factors
(opportunities and threats) that occur in the development of curly red chili farming
in Gekbrong Village, Gekbrong District, Cianjur Regency, and determine the
appropriate alternative strategy to be implemented in developing curly red chili
farming in Gekbrong Village, Gekbrong District, Cianjur Regency.
The research results show that curly chili farmers in Gekbrong Village
have implemented an agribusiness system from upstream to downstream. The
agribusiness system in general for chili farmers in Babakan Village is complete,
starting from the input procurement subsystem, production subsystem, processing
and post-harvest subsystem, marketing subsystem and supporting subsystem. The
agribusiness subsystem starts from the input procurement subsystem consisting of
seeds, seedling media, manure, pesticides and chemical fertilizers. The production
subsystem consists of land processing, seeding and plant cultivation. The
agricultural product handling subsystem consists of sorting and weighing. The
farmer marketing subsystem is one channel. Curly chili farmers with good
management and an appropriate organizational structure have a strong foundation
for efficient operations and sound financial management. However, lack of
marketing planning and dependence on middlemen limits their revenue potential.
Additionally, although facilities and equipment are in good condition, a lack of
research and development hinders product innovation and diversification. The
appropriate strategy to use based on position (in cell V-defend/maintain) is
product development and market penetration with the resulting strategy being 9
options based on the SWOT matrix
Keywords : Curly Chili, Business Development Strategy, Agribusiness System,
SWOT Analysis
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Penelitian
: Strategi
Pengembangan
AgribisnisCabai
Merah
Keriting (Capsicum annuum L.)di Desa Gekbrong
Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur
Nama
: Ririn Setiawati
NPM
: 41205420120006
Fakultas
: Pertanian
Program Studi
: Agribisnis
Menyetujui
Dosen Pembimbing I
Dosen Pembimbing II
Ir. Linar Humaira, MS.
Dr. Undang, SP., M.Si.
NIDN. 0019048304
NIDN. 0005116402
Mengetahui
Dekan Fakultas Pertanian
Universitas Nusa Bangsa
Ketua Program Studi Agribisnis
Universitas Nusa Bangsa
Ir. Sari Anggarawati, M.Si.
Ir. Dyah Budibruri Wibaningwati, M.Sc
NIDN. 0406046502
NIDN. 0407026702
Tanggal Lulus:
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI
Judul Penelitian
: Strategi
Pengembangan Agribisnis
Cabai
Merah
Keriting (Capsicum annuum L.)di Desa Gekbrong
Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur
Nama
: Ririn Setiawati
NPM
: 41205420120006
Fakultas
: Pertanian
Program Studi
: Agribisnis
Diterima sebagai salah satu syarat kelulusan pada Program Studi Agribisnis
Fakultas Pertanian Universitas Nusa Bangsa
TIM PENGUJI
1. Ketua Sidang : Ir. Linar Humaira, MS.
(…………………....)
2. Wakil Ketua : Dr. Undang, SP., M.Si
(…………………...).
3. Penguji I : Dr. Faizal Maad. M.Si.
(…………………....)
4. Penguji II : Dr. Anna Fitriani. S.P., M.Si
(…………………....)
5. Penguji III :Anak Agung Eka Suwarnata, S.P., M.Agb
(…………………....)
Tanggal Sidang: 20 Agustus 2024
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Ririn Setiawati lahir di
Bogor pada tanggal 28 Januari 2002 dari pasangan
Bapak Ahmad Taufik dan Ibu Nurhayati. Penulis
merupakan lulusan dari SDN 1 Dramaga pada tahun
2014 dan melanjutkan sekolah SMP di SMPN 1
Dramaga pada tahun 2014-2017 lalu menempuh SMA
di SMAN 1Ciampea pada tahun 2017-2020 lalu penulis melanjutkan
pendidikannya di Universitas Nusa Bangsa dan menjadi mahasiswa di
Program Sarjana pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian
Universitas Nusa Bangsa. Selama menjadi mahasiswa di Fakultas
Pertanian Universitas Nusa Bangsa, penulis aktif terlibat pada kegiatan
organisasi BEM tingkat universitas sertafakultas. Selain itu, penulis juga
aktif dalam kegiatan mahasiswa seperti paduan suara,ikatan muslim
Universitas Nusa Bangsa dan Nusa Bangsa Herpetarium,untuk kegiatan
eksternal kampus penulis juga telah mengikuti kegiatan kampus merdeka
yaitu KKNT LLDIKTI wilayah IV , Bertani Untuk NegeriBatch6 ,
sertaturut ikut serta dalam programWirausaha Merdeka (WMK) yang
diselenggarakan olehkampus merdeka yang dilaksanakan diInstitut
Pertanian Bogor.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim
Alhamdulillah, penulis panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT
atas segala nikmat dan karunia-Nya yang telah memberikan kesempatan pada
penulis sehingga dapat menyelesaikan proposal usulan penelitian tepat pada
waktunya. Proposal usulan penelitian ini berjudul “Strategi Pengembangan
AgribisnisCabai Merah Keriting (Capsicum annuum L.)di Desa Gekbrong
Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur”. Judul ini diangkat sebagai usulan
penelitian karena ketertarikan penulis terhadap pemasaran cabai yang semakin hari
terjadi impluktuasi harga sehingga dijadikan objek penelitian. Atas bantuan,
bimbingan serta dorongan berbagai pihak, segala hambatan dan kesulitan yang ada
dalam proses penulisan proposal usulan penelitian ini dapat teratasi dengan baik.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih
kepada:
1. Ir. Linar Humaira, M.S selaku Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa
Bangsa yang dalam hal ini berperan sebagai Dosen Pembimbing Pertama pada
penelitian yang akan penulis laksanakan.
2. Dr. Undang, SP, M.Siyang dalam hal ini juga berperan sebagai Dosen
Pembimbing Kedua pada penelitian yang akan penulis laksanakan.
3. Ir. Dyah Budibruri Wibaningwati, M.Sc selaku Ketua Program Studi Agribisnis
Fakultas Pertanian Universitas Nusa Bangsa, M.S selaku Dosen Pembimbing
Akademik yang senantiasa memberikan arahan serta bimbingan akademik
selama penulis melaksanakan kegiatan perkuliahan.
4. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Bangsa yang telah
memberikan ilmu pengetahuan, bimbingan serta arahan kepada penulis.
5. Segenap
Keluarga
Mahasiswa
Fakultas
Pertanian
yang
senantiasa
membersamai dalam setiap proses yang penulis lakukan.
6. Keluarga tercinta yang telah memberikan dukungan penuh kepada penulis
sehingga penulis dapat berada di tahap ini.
7. Kepada pihak yang telah membantu proses penyusunan penelitian ini.
ii
Akhir kata, penulis menyadari tanpa ridho dan pertolongan dari Allah SWT,
serta bantuan, dukungan dan motivasi dari semua pihak skripsi ini tidak dapat
diselesaikan. Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penulisan
ini, penulis ucapkan banyak terima kasih dan semoga Allah SWT membalas segala
bentuk kebaikan kalian. Aamiin Yarabbal’alamin.
Bogor, Agustus 2024
Ririn Setiawati
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Rantai Pemasaran Cabai Petani ........................................................................12
Gambar 2. Model Lima Kekuatan Porter ...........................................................................16
Gambar 3. Kerangka Pemikiran .........................................................................................20
Gambar 3.Model Matriks IE (Internal External) di Tahap Pencocokan.............................26
Gambar 5. Matriks SWOT dalam Tahap Pencocokan .......................................................29
Gambar 6 Lahan Petani di Desa Gekbrong, 2024 ..............................................................33
Gambar 7 Benih Cabai Keriting F1 Hybrid di Desa Gekbrong, 2024 ...............................34
Gambar 8. Kegiatan Penyemaian Tanaman Cabai Keriting, 2024 .....................................35
Gambar 9. Kegiatan Persiapan Lahan Cabai Keriting di Desa Gekbrong .........................36
Gambar 10. Kegiatan Panen Cabai Keriting di Desa Gekbrong ........................................39
Gambar 8 Saluran Pemasaran Cabai Keriting di Desa Gekbrong ......................................39
Gambar 12. Matriks IE Petani Cabai di Desa Gekbrong ...................................................55
2
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ............................................................................................................ 2
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... 2
DAFTAR TABEL..................................................................................................... 5
I.
PENDAHULUAN ........................................................................................... 7
A.
Latar Belakang ............................................................................................. 7
B.
Rumusan Masalah ........................................................................................ 9
C.
Tujuan Penelitian.......................................................................................... 9
D.
Manfaat Penelitian ....................................................................................... 9
E.
Batasan dan Ruang Lingkup Penelitian ..................................................... 10
II.
TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................. 11
A.
Agribisnis Cabai ......................................................................................... 11
B.
Manajemen Strategi ................................................................................... 12
C.
Analisis Lingkungan Internal ..................................................................... 13
D.
Analisis Lingkungan Eksternal .................................................................. 14
E.
Formulasi Tahap Strategi ........................................................................... 17
F.
Penelitian Terdahulu ................................................................................... 18
G.
Kerangka Pemikiran ................................................................................... 19
III.
METODOLOGI PENELITIAN ................................................................. 21
A.
Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................................... 21
B.
Jenis dan Sumber Data ............................................................................... 21
C.
Metode Pengumpulan Data ........................................................................ 21
D.
Metode Pengolahan dan Analisis Data ....................................................... 21
E.
Analisis Strategi Pengembangan Usaha ..................................................... 21
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................. 29
A.
Sistem Agribisnis Petani Cabai Keriting di Desa Gekbrong ...................... 29
B. Identifikasi Lingkungan Internal dan Eksternal Usaha Petani Cabai di Desa
Gekbrong ............................................................................................................ 41
C.
V.
Strategi Pengembangan Usaha Petani Cabai Keriting di Desa Gekbrong . 47
KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................................... 60
A.
Kesimpulan ................................................................................................ 60
B.
Saran ........................................................................................................... 62
3
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 63
LAMPIRAN ........................................................................................................... 66
4
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Matriks IFE (Internal Factor Evaluation) di Tahap Input ....................................22
Tabel 2. Matriks EFE (External Factor Evaluation) di Tahap Input...................................24
Tabel 3. Penilaian Bobot Untuk Matriks IFE dan Matriks EFE.........................................25
Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin.........................................30
Tabel 5 Karakteristik Responden Pengalaman Berusahatani .............................................32
Tabel 6. Matriks IFE Usaha Cabai di Desa Gekbrong, 2024 .............................................52
Tabel 7. Matriks EFE Usaha Cabai di Desa Gekbrong, 2024 ............................................54
Tabel 8. Matriks SWOT Usaha Cabai Keriting di Desa Gekbrong, 2024..........................59
5
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1. Luas panen dan jumlah produksi cabai merah keriting ........................................ 8
6
I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki potensi cukup besar di
bidang pertanian dengan tersedianya keadaan iklim tropis dan kondisi tanah yang
subur sesuai untuk bercocok tanam. Sehingga perkembangan jumlah produksi
pada sektor pertanian dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap pajak
negara, peningkatan devisa negara, dan penyerapan tenaga kerja (Salasa,2021).
Sub kategori hortikultura telah berkontribusi secara nyata dalam mendukung
perekonomian nasional, baik dalam penyedia produk pangan, kesehatan dan
kosmetika, perdagangan, penciptaan produk domestik bruto maupun penyerapan
tenaga kerja (BPS, 2017).
Salah satu komoditas hortikultura yaitu sayur-sayuran, baik sayuran daun
maupun sayuran buah memiliki nilai ekonomis tinggi dan mempunyai potensi
untuk terus dikembangkan. Dalam perkembangannya, sayur-sayuran cukup
memberikan keuntungan yang besar karena didukung oleh potensi sumberdaya
alam, sumberdaya manusia, ketersediaan, teknologi, dan potensi serapan pasar di
dalam negeri maupun pasar internasional yang terus meningkat.
Cabai (Capsicum annuum L.) merupakan tanaman hortikultura yang
memiliki nilai ekonomi serta nutrisi yang tinggi. Kandungan gizi yang terdapat
pada tanaman cabai seperti protein, lemak, karbohidrat, kalsium, vit (A dan C)
menjadikan cabai sebagai komoditi yang dibutuhkan masyarakat untuk bahan
masakan (Rindani, 2015). Cabai merah keriting merupakan tanaman musiman
yang berkayu, tumbuh di daerah dengan iklim tropis. Tanaman ini dapat tumbuh
dan berkembang biak didataran tinggi maupun dataran rendah.
Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi cabai merahkeriting di
Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistika (2023) produksi cabai
merahkeriting di Jawa Barat mengalami fluktuasi selama lima tahun terakhir, pada
tahun 2018 jumlah produksi cabai merah keriting yaitu sebesar 274 ton, lalu
mengalami penurunan menjadi 264 ton pada tahun 2019. Namun pada tahun 2020
mengalami peningkatan menjadi 265 ton. Tahun 2021 produksi cabai
7
merahkeriting mengalami penurunan drastis, yaitu menjadi 174 ton. Kemudian
meningkat di tahun 2022 sebesar 195 ton dan kembali mengalami penurunan di
tahun 2023, yaitu menjadi 186 ton. Penurunan mutu dan produksi cabai yang tidak
stabil disebabkan oleh serangan organisme pengganggu tanaman, posisi petani
masih lemah dalam pemasaran sehingga harga jual cabai rendah, modal petani
yang terbatas sehingga penggunaan sarana produksi belum optimal, masih
jarangnya dilakukan pengolahan cabai, serta peran layanan penunjang yang belum
dimanfaatkan secara optimal (Syifawanda dkk, 2022)
Kabupaten Cianjur merupakan daerah penyangga yang dapat menjaga
kestabilan pasokanproduksi cabai merah keriting di Jawa Barat. Salah satu daerah
di Kabupaten Cianjur penghasil cabai merah keriting berada di Desa Gekbrong.
Berdasarkan hasil wawancara dengan petani cabai merah keriting di Desa
Gekbrong, produksi cabai merah keriting tidak dapat dipastikan jumlahnya, hal
tersebut disebabkan resiko terjadi gagal panen yang tinggi akibat hama, penyakit,
dan cuaca. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dapat dilihat pada
grafik berikut :
Luas Panen dan Jumlah Produksi Cabai Merah Keriting
di Desa Gekbrong
140
118
120
104,4
100
80
60
74
45,3
40
23
20
4
0
2020
2021
Luas Panen (ha)
2022
Jumlah Produksi (ton)
Grafik 1. Luas panen dan jumlah produksi cabai merah keriting
Tahun 2020 luas panen Kecamatan Gekbrong untuk tanaman cabai merah
keriting sebesar 74 ha dengan jumlah produksi sebesar 45,3 ton. Tahun 2021
terjadi kenaikan luas panen menjadi 118 ha dan jumlah produksi sebesar 104,4
8
ton. Namun, tahun 2022 terjadi penurunan luas panen secara siginifikan yaitu
hanya 4 ha dan jumlah produksi sebesar 23 ton sehingga untuk dapat memperkuat
usaha petani dalam membudidayakan cabai merah keriting maka perlu dilakukan
analisis lingkungan internal dan eksternal untuk dapat diidentifikasi faktor internal
(kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) serta
merumuskan pilihan strategi yang tepat bagi pengembangan usaha yang
dijalankan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka diperlukan suatu analisis untuk
mengidentifikasi faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal
(peluang dan ancaman) serta merumuskan pilihan strategi yang tepat. Berikut
adalah rumusan masalah yang akan diteliti, antara lain yaitu :
1. Bagaimana kondisi faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor
eksternal (peluang dan ancaman) yang ada dalam pengembangan agribisnis
cabai merah keriting di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten
Cianjur.
2. Bagaimana pilihan strategi
alternatif
yang tepat
diterapkan dalam
pengembangan agribisnis cabai merah keriting di Desa Gekbrong Kecamatan
Gekbrong Kabupaten Cianjur.
C. Tujuan Penelitian
1. Menganalisis serta mengidentifikasi kondisi faktor internal (kekuatan
dan
kelemahan)danfaktoreksternal(peluangdanancaman)
yang
terjadidalam pengembangan agribisnis cabai merah keriting dan sistem
agribisnis petani cabai di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong
Kabupaten Cianjur.
2. Menentukan pilihan strategi alternatif yang tepat diterapkan dalam
pengembangan agribisnis cabai merah keriting di Desa Gekbrong
Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah informasi serta
sumbangan bahan kajian bagi penelitian selanjutnya, khususnya mengenai strategi
9
pengembangan agribisnis cabai merah keriting (Capsicum annuum L.).Penelitian
ini juga diharapkan dapat memberikan masukkan kepada para pelaku
agribisniscabai merah keriting dalam mengembangkan usaha yang dijalankan.
Terlebih penelitian ini dapat menjadi informasi dan kajian untuk seluruh
masyarakat yang akan memulai agribisnispada komoditas cabai.
E. Batasan dan Ruang Lingkup Penelitian
Batasan serta ruang lingkup pada penelitian ini membahas mengenai
analisis lingkungan internal dan eksternal agribisnis cabai merah keriting pada
musim tanam ke-2 serta menentukan pilihan strategi yang tepat bagi petani dalam
mengembangkan usahanya. Penelitian ini dilakukan di wilayah Desa Gekbrong
Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur.
10
II.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Agribisnis Cabai
Capsicum annuum L. dikenal sebagai cabai merah, terdiri atas cabai merah
besar, cabai keriting, dan paprikamerupakan komoditas sayuran yang banyak
mendapat perhatian karena memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Kebutuhan
akan cabai terus meningkat setiap tahun sejalan dengan meningkatnya jumlah
penduduk dan berkembangnya industri yang membutuhkan bahan baku cabai
(Harpenas, 2011). Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) (2017), komoditas cabai
memiliki peluang usaha yang cukup baik dapat dilihat dari kebutuhan dalam
negeri dan luar negeri yang menjadikan tanaman cabai sebagai komoditas yang
mempunyai prospek pasar menjanjikan. Kebutuhan masyarakat Indonesia akan
cabai terus meningkat setiap tahunnya. Namun, harganya sering mengalami
fluktuasi yang sangat drastis(Harpenas, 2011).
Menurut Shinta (2011) agribisnis adalah suatu kesatuan usaha yang meliputi
salah satu atau keseluruhan dari mata rantai pengadaan saprodi, produksi,
pengolahan hasil dan pemasaran dihasilkan agribisnis atau hasil olahannya.
Agribisnis merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai subsistem yaitu :
1. Subsistem penyediaan input atau sarana produksi, mengacu pada komponen
input baik untuk usaha, maupun untuk komponen dalam agribisnis.
2. Subsistem produksi, di dalam komponen inilah berlangsungnya kegiatan
pertanian yang mengubah input menjadi produk primer.
3. Subsistem pascapanen, subsistem ini yang bertanggung jawab atas
pengubahan bentuk bahan baku yang dihasilkan oleh agribisnis menjadi
produk akhir pada tingkat pengecer. Pada subsistem ini menghasilkan nilai
tambah paling besar dibanding dengan subsistem lainnya.
4. Subsistem pemasaran, subsistem ini mencakup pemasaran hasil-hasil
agribisnis. Kegiatan utama subsistem ini adalah pengembangan informasi
rantai pemasaran. Rantai pemasaran cabai merah keriting dapat dilihat sebagai
berikut:
11
Gambar 1. Rantai Pemasaran Cabai Petani
5. Subsistem penunjang, merupakan subsistem yang menunjang kegiatan
prapanen dan pascapanen yang meliputi penyuluhan, perbankan, kebijakan
pemerintah, pembangunan dan lain-lain
B. Manajemen Strategi
Menurut David dan Forest (2016), manajemen strategi dapat dideskripsikan
sebagai keterampilan dan pengetahuan dalam merencanakan, melaksanakan, dan
mengevaluasi keputusan yang melibatkan berbagai fungsi organisasi untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan utama dari manajemen strategi
adalah menciptakan dan mengidentifikasi peluang baru dan inovatif untuk masa
depan, dengan fokus pada perencanaan jangka panjang. Manfaat dari manajemen
strategi adalah membantu organisasi dalam merumuskan strategi melalui
pendekatan yang lebih sistematis, terstruktur, dan logis dalam pengambilan
keputusan strategis. Assauri (2017) menyatakan bahwa keputusan strategi dalam
strategi manajemen adalah keputusan yang terkait dengan pengembangan jangka
panjang dari organisasi untuk meningkatkan kompetensi yang berbeda dari
sebelumnya.
Kesuksesan
strategi
sangat
tergantung
pada
efektivitas
implementasinya.
Manajemen strategi meliputi tiga tahap utama: merumuskan strategi,
menjalankan strategi, dan menyiarkan strategi. Merumuskan strategi melibatkan
langkah-langkah seperti membentuk visi dan misi organisasi, mengidentifikasi
peluang dan ancaman dari lingkungan eksternal, menggali kekuatan dan
kelemahan internal, serta menetapkan tujuan jangka panjang. Implementasi
12
strategi membutuhkan pembentukan tujuan spesifik, kebijakan, dan penentuan
alokasi sumber daya agar strategi tersebut dapat dijalankan dengan sukses.
Implementasi strategi berarti mengubah formulasi strategi menjadi tindakan
konkret yang dapat dijalankan oleh organisasi. Evaluasi strategi merupakan tahap
terakhir dalam manajemen strategi. Menurut David dan Forest (2016), ada tiga
kegiatan utama dalam evaluasi strategi, yakni meninjau faktor-faktor internal dan
eksternal yang menjadi dasar strategi, mengukur kinerja, dan mengambil tindakan
korektif.
C. Analisis Lingkungan Internal
Untuk mengenali kelebihan dan kekurangan suatu usaha, diperlukan analisis
lingkungan internal. Identifikasi kekuatan dan kelemahan ini kemudian dapat
dinilai untuk melihat agribisnis secara keseluruhan. Lingkungan internal agribisnis
mencakup berbagai aspek, seperti manajemen, produksi, pemasaran, keuangan,
penelitian dan pengembangan, serta sistem informasi manajemen(David dan
Forest, 2016). Enam hal tersebut yang menjadi kekuatan utama dalam
menganalisis kondisi internal, yakni:
1. Manajemen
Manajemen terdiri dari aktivitas-aktivitas penting yang merupakan ukuran
dalam perencanaan strategis karena organisasi menggunakan kekuatan
manajemen
untuk
mendapatkan
keuntungan
dan
memperbaiki
area
manajemen yang kurang optimal. Menurut David dan Forest (2016), terdapat
lima kegiatan inti dalam manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian,
pemotivasian, penunjukkan staf, dan pengendalian.
2. Pemasaran
Pemasaran melibatkan deskripsi, antisipasi, pembuatan, dan pemenuhan
kebutuhan konsumen untuk produk dan jasa (David dan Forest, 2016). Dalam
analisis pemasaran, terdapat bauran pemasaran yang terdiri dari empat
kelompok yang diketahui sebagai "4P" yaitu produk, harga, tempat, dan
promosi (Kotler dan Keller, 2009).
3. Keuangan
Menetapkan kekuatan dan kelemahan keuangan sebuah usaha adalah hal yang
sangat vital dalam merumuskan strategi secara efisien. Pertimbangan utama
13
dalam menilai posisi kompetitif usaha dan daya tarik investasi sering kali
didasarkan pada kondisi keuangan usaha. Menurut David dan Forest (2016),
keuangan memiliki kecenderungan untuk mengubah strategi yang telah ada
dan merombak rencana implementasi.
4. Produksi atau Operasional
Aktivitas produksi atau operasional dalam sebuah bisnisyakni untuk merubah
bahan input menjadi output baru yang dapat diterima oleh masyarakat.
Terdapat lima aktivitas yang dapat dinalisis yang meliputi proses produksi,
kapasitas produksi, persediaan, tenaga kerja, dan kualitas (David dan Forest,
2016).
5. Penelitian dan Pengembangan
Perubahan eksternal dapat mempengaruhi kondisi internal, sehingga
diperlukan penelitian dan pengembangan untuk menyesuaikan diri dengan
perubahan tersebut. Hal ini dapat dicapai melalui pengembangan produk,
peningkatan kualitas produk, penyempurnaan proses produksi,
atau
pengurangan biaya produksi. Secara umum, penelitian dan pengembangan ini
bertujuan untuk mendukung usaha yang sudah ada, menciptakan produk baru,
meningkatkan efisiensi produksi, serta memperluas kemampuan penggunaan
teknologi dalam usahatani (David dan Forest, 2016).
6. Sistem Informasi Manajemen
David dan Forest (2016) menjelaskan bahwa sistem dapat berupa aktivitas
seperti mengumpulkan, menyimpan, dan menyajikan informasi guna
memberikan informasi yang jelas dan bermanfaat. Sistem informasi
manajemen memiliki kemampuan untuk meningkatkan kualitas pengambilan
keputusan manajerial dan juga memungkinkan untuk menyampaikan
informasi secara cepat dan efisien.
D. Analisis Lingkungan Eksternal
Analisis kondisi eksternal diinterpretasikan sebagai peluang dan ancaman
yang dihadapi oleh sebuah usaha. Kondisi Eksternal dibagi menjadi lingkungan
makro
dan
lingkungan
industri.
Menurut
David
dan
Forest
(2016)
mengelompokkan lingkungan makro meliputi lima kategori sebagai berikut:
1. Lingkungan Makro
14
Lingkungan makro mengacu pada faktor eksternal usaha yang mempengaruhi
kinerja agribisnis. Lingkungan ini menghadirkan peluang
dan ancaman bagi
bisnis. Lingkungan makro eksternal meliputi kebijakan ekonomi, sosial, politik
dan pemerintahan, teknologi dan faktor demografi.
a.
Ekonomi
Dalam menyusun strategi, kekuatan ekonomi sangat penting bagi pelaku
usaha. Faktor ekonomi mengakibatkan daya tarik potensi dari berbagai
strategi. Beberapa faktor ekonomi, seperti inflasi, suku bunga, fluktuasi mata
uang, dan kondisi pasar, dapat mempengaruhi pemasaran produk.
b.
Sosial, Budaya, dan Lingkungan
Segala jenis pasar, produk, pelanggan, dan layanan akan terpengaruh dengan
perubahan secara signifikan dalam aspek budaya, sosial, dan lingkungan.
Setiap usaha memiliki sejumlah tujuan yang berbeda, termasuk pencapaian
laba dan pencapaian yang tidak berorientasi pada laba, serta menghadapi
peluang dan ancaman yang terjadi akibat transisi budaya, sosial, lingkungan,
dan demografi. Tren-tren dalam bidang budaya, sosial, lingkungan, dan
demografi memengaruhi pola kerja, gaya hidup, produksi, dan pola konsumsi
masyarakat. Perubahan baru ini menghasikan berbagai jenis pelanggan,
layanan serta kebutuhan akan produk yang berbedasehingga strategi yang
digunakan juga akan bervariasi.
c.
Politik, Pemerintahan, dan Hukum
Faktorpemerintahan, politik dan hukum juga memiliki dampak besar terhadap
organisasi, baik itu usaha kecil maupun besar. Pemerintah di tingkat pusat
maupun daerah bertanggung jawab untuk membuat regulasi, menderegulasi,
memberikan subsidi, menciptakan lapangan kerja, dan berperan sebagai
konsumen utama bagi organisasi. Terdapat beberapa faktor pemerintahan,
politik dan hukum yang bisa menjadi peluang dan ancaman bagi usahatani,
terutama untukpetani yangbergantung dengansubsidi pemerintahataukontrak.
d.
Teknologi
Teknologi dapat membawa peluang dan ancaman besar sehingga perlu
dipertimbangkan saat menyusun strategi bisnis. Perkembangan teknologi yang
cepat memiliki dampak besar terhadap berbagai aspek bisnis seperti produk,
15
layanan, pasar,strategi pemasaran, distributor,pemasok, pelanggan, posisi
kompetitif,
pesaing
danproses
produksi.
Perkembangan
teknologi
menghasilkan pasar baru, mendorong inovasi produk, mengganti dinamika
biaya dalam persaingan industri, serta meningkatkan layanan dan produk yang
telah ada dan kuno. Kekuatan teknologi juga menghasilkan keunggulan
bersaing baru yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
2. Lingkungan Industri
Terkait lingkungan industri, penekanan diberikan pada karakteristik
persaingan di lingkungan tempat beroperasi. Ini melibatkan faktor-faktor
mengenai persaingan, seperti ancaman yang dihadapi oleh petani dan kekuatan
yang dimilikinya, serta faktor-faktor persaingan internal seperti masuknya
pendatang baru, produk pengganti, kebutuhan pelanggan, pemasok, dan pesaing
seperti yang dapat dilihat pada Gambar 2berikut :
Gambar 2.Model Lima Kekuatan Porter
Ruang lingkup kelima kekuatan bersaing tersebut, antara lain:
a. Ancaman pendatang baru, yang dapat ditentukan dengan hambatan masuk ke
dalam usaha, antara lain, hambatan harga, respon incumbent, biaya yang
tinggi, pengalaman incumbent dalamusaha, keunggulan biaya, diferensiasi
produk, akses distribusi, kebijakan pemerintah dan switching cost.
b. Kekuatan tawar-menawar pemasok, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain tingkat konsentrasi pasar, diversifikasi, switching cost, organisasi
16
pemasok dan pemerintah. Pemasok yang kuat dapat menekan profitabilitas
dari usahatani yang tidak mampu untuk mengimbangi kenaikan harga.
c. Kekuatan tawar-menawar pembeli dipengaruhi oleh beragam faktor seperti
diferensiasi, kepentingan, akses informasi,tingkat pendapatan, konsentrasi,
preferensi terhadap kualitas produk, dan switching cost.
d. Ancaman produk subtitusi, yang ditentukan oleh harga produk subtitusi,
switching cost, dan kualitas produk. Ancaman dari produk subtitusi
menyebabkan industri membatasi laba potensial dengan menetapkan batas
harga maksimum yang dapat diberlakukan. Mengidentifikasi produk
pengganti memerlukan usaha untuk menemukan barang/jasa lain yang mampu
menggantikan kegunaan yang sama dengan barang/jasa dalam industri.
Produk pengganti yang patut diperhatikan adalah produk yang cenderung
menawarkan harga atau kinerja yang lebih berkualitas daripada produk petani
dan diproduksi oleh usahatani yang memiliki keuntungan yang tinggi.
e. Persaingan internal dalam agribisnis ditentukan oleh sejumlah faktor,
termasuk hambatan masuk dan keluar, struktur biaya, switching cost,
pengalaman petani,pertumbuhan pasar, dan perbedaan dalam strategi yang
digunakan
untuk
meraih
posisi
dengan
strategi
pengenalan
produk,peningkatan layanan atau jaminan kepada pelanggan, persaingan
harga, dan perang iklan.
E. Formulasi Tahap Strategi
Pentingnya integrasi teknik formulasi strategi dalam kerangka kerja
pembuatan keputusan sehingga memungkinkan dapat diterapkan untuk semua
jenis dan skala organisasi yang dapat membantu dalam proses identifikasi dan
pemilihan strategi (David dan Forest, 2016).
Langkah pertama dalam mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang
terdiri dari matriks IFE (Internal Factor Evaluation) dan matriks EFE (External
Factor Evaluation). Langkah kedua dalam proses merumuskan strategi adalah
tahap pencocokan, yang bertujuan untuk menciptakan alternatif strategi yang
sesuai dengan faktor-faktor internal dan eksternal yang krusial. Dalam pencocokan
tahap, beberapa matriks, seperti matriks IE dan matriks SWOT, digunakan untuk
menghasilkan berbagai alternatif strategi yang mendukung pencarian strategi
17
prioritas pada tahap keputusan (David dan Forest, 2016). Berikut merupakan
contoh dari perhitungan analisis IFE dan EFE (Lumika, 2017) :
F. Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh Lubis dkk (2019) yang berjudul “Strategi
Pengembangan
Agribisnis
CabaiMerah
di
Kabupaten
Sleman
dengan
MetodeAnalytical Hierarchy Process”. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 5
aspek kekuatan, 5 aspek kelemahan, 5 aspek peluang, dan 5 aspek ancaman.
Seluruh aspek internal dan eksternal menjadi dasar dalam membuat alternatif
strategi. Posisi matrik grand strategy terletak pada kuadran I. Terdapat 5 alternatif
strategi yang dihasilkan dan dimasukan ke dalam struktur hirarki AHP. Dari 5
18
alternatif strategi, yang terpilih adalah strategi 05 dengan nilai bobot prioritas
0.357, yaitu pengembangan pasar lelang cabai dengan teknologi digital.
Penelitian yang dilakukan oleh Sulaeni dan Wibowo (2018) yang berjudul
“Strategi Pengembangan Agribisnis Cabai Merah di Kawasan Agropolitan
Kabupaten Serang”. Hasil analisis menunjukkanbahwa dalam satu musim petani
cabai di daerah agropolitan Kabupaten Serang berpenghasilan Rp.53.881.058,84 /
hektar. Hal ini disebabkan kolaborasi antara elemen petani, birokrat, pengusaha
danelemen pendukung. Hasil analisis regresi dalam penelitian agribisnis cabai
merah di wilayahagropolitan Kabupaten Serang adalah Y = 6,213 + 0,435X10,338X2 + 0,136X3 + 0,017X4-0,404X5+ 1,031X6. Benih, pupuk, mulsa, dan
tenaga kerja sangat berpengaruh terhadap pendapatanpertanian cabai merah. Jika
pengukuran 4 faktor tidak sesuai dengan lima peternakan, itu dapatmempengaruhi
atau mengurangi pendapatan petani. Berdasarkan hasil analisis SWOT dengan
nilaimenunjukkan bahwa perbedaan peluang dan ancaman adalah 0,92, sedangkan
perbedaan antarakekuatan dan kelemahan adalah 0,82. Kemudian strategi
pengembangan cabai merah di wilayahAgropolitan Kabupaten Serang adalah di
kuadran I di mana ia mendukung strategi agresif yangmenggambarkan situasi
yang
sangat
baik
karena
memiliki
peluang
dan
kekuatan,
sehingga
dapatmemanfaatkan peluang yang ada, strategi yang harus diimplementasikan
mendukung kebijakanpertumbuhan yang agresif. Dalam mendukung kebijakan
pertumbuhan yang agresif, strategi prioritasyang dapat diterapkan dalam upaya
pengembangan agribisnis untuk pertanian cabai dalammenyerang kabupaten
agropolitan
adalah
dengan
melaksanakan
lima
strategi
pertanian,
menanammenggunakan benih unggul dan memanfaatkan kesuburan tanah dan
mengoptimalkan sumber dayamanusia sehingga produksi sumber daya terbatas
dan serangan organisme penyakit tanaman dapatdiatasi.
G. Kerangka Pemikiran
Petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong mengalami penurunan
produksi cabai merah keriting yang diakibatkan oleh beberapa faktor, salah
satunya adalah terjadi gagal panen. Maka dari itu, perlu dilakukan analisis
lingkungan internal dan lingkungan eksternal agribisnis untuk dapat disusun
19
strategi yang tepat digunakan oleh petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong.
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2.
Penurunan Produksi Cabai Merah
Keriting di Desa Gekbrong
Analisis Lingkungan Internal dan
Lingkungan Eksternal agribisnis
Cabai Merah Keriting di Desa
Gekbrong
Strategi Pengembangan
Cabai Merah Keriting
Gekbrong
Identifikasi Faktor
Internal dan Eksternal
Formulasi Strategi:
1. Matriks IE
2. Matriks SWOT
1. Matriks IFE
2. Matriks EFE
Usahatani
di Desa
Rekomendasi Strategi
Pengembangan agribisnis Cabai
Merah Keriting di Desa Gekbrong
keterangan:
1. IFE (Internal Factor Evaluation)
2. EFE (External Factor Evaluation)
3. SWOT(strengths/kekuatan, weaknesses/kelemahan,
opportunities/peluang, dan threats/ancaman)
Gambar 3. Kerangka Pemikiran
20
III.
METODOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Rencana penelitian ini akan dilakukan di wilayah Desa Gekbrong Kecamatan
Gekbrong Kabupaten Cianjur. Kegiatan pengambilan data pada penelitian ini akan
dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2024.
B. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang akan digunakan adalah jenis data primer dan sekunder yang
terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Data primer bersumber dariwawancara
langsung denganresponden yang sudah ditentukan. Data sekunder bersumber dari
studi pustaka dan informasi dari beberapa instansi terkait seperti Badan Pusat
Statistik (BPS) dan sumber referensi-referensi lainnya berupa makalah, hasil
penelitian terdahulu dari jurnal.
C. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang akan digunakan pada penelitian ini adalah:
Penentuan sampel petani dalam penelitian ini dilakukan dengan metode purposive
sampling yaitu para judgement expertdiantaranya petani cabai yang telah
berproduksi dan menjual hasil panen, ketuakelompok tani, dan ketua
Gapoktan.Jumlah responden yang dijadikan sampel sebanyak 10 responden, terdiri
dari 4 orang ketua kelompok tani, 1 orang Gapoktan, dan 5 orang petani
cabai.Pihak eksternal yang dijadikan responden adalah penyuluh pertanian Desa
Gekbrong sebanyak 1 orang.
D. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Metode analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis strategi
pengembangan usaha yang meliputi Matriks IFE, Matriks EFE, Matriks IE, dan
Matriks SWOT. Data primer yang telah didapatkan dalam penelitian ini kemudian
diolah dengan menggunakan Microsoft Excel.
E. Analisis Strategi Pengembangan Usaha
Analisis strategi pengembangan usaha cabai merah dengan menggunakan
metode wawancara dan pengisian kuesioner oleh responden yang terkait strategi
21
pengembangan usaha. Kuesioner berisi pertanyaan yang didapatkan dari hasil
studi literatur untuk mendapatkan variabel berupa kekuatan, kelemahan, peluang
dan ancaman. Hasil dari kuesioner tersebut selanjutnya akan dikonfirmasi ulang
kepada pihak responden agar mendapatkan variabel yang sesuai dengan keadaan
lingkungan usaha pada petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong. Analisis
strategi pengembangan dilakukan menggunakan matriks IFE, matriks EFE,
matriks IE, dan matriks SWOT. Berikut merupakan penjelasan dari analisis
strategi pengembangan:
1. Matriks IFE (Internal Factor Evaluation)
Matriks IFE digunakan untuk mengidentifikasi faktor internal yaitu
kekuatan dan kelemahan yang dimiliki petani cabai merah keriting di Desa
Gekbrong dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Matriks IFE (Internal Factor Evaluation) di Tahap Input
Faktor-faktor internal
Kekuatan
Kelemahan
-
Bobot
Peringkat
Skor Tertimbang
-
-
-
-
-
-
Total
Sumber : David dan Forest (2016)
Langkah-langkah dalam mengidentifikasi faktor internal dalam matriks IFE
sebagai berikut:
1) Membuat daftar faktor internal, termasuk kekuatan dan kelemahan yang
sesuai dengan kondisi usaha petani cabai merah keriting di Desa
Gekbrong.
2) Menentukan bobot masing-masing faktor internal kekuatan dan kelemahan
dengan rentang berkisar antara 0,0 (tidak penting) hingga 1,0 (penting).
Pembobotan akan diberikanpada faktor-faktor yang dianggap berdampak
pada kemajuan agribisnis cabai dan pemberian bobot akan dilakukan oleh
responden dari pihak internal maupun eksternal. Bobot total untuk semua
faktor internal harus berjumlah satu (1,0).
22
3) Memberikan penilaian skala 1 hingga 4 untuk setiap faktor internal, baik
kekuatan maupun kelemahan. Peringkat 1 = kelemahan besar, peringkat 2
= kelemahan kecil, peringkat 3 = kekuatan kecil, 4 = kekuatan besar.
Responden dari pihak internal maupun eksternal memberikan peringkat
yang disesuaikan dengan setiap variabel yang ada. Dalam pemberian
peringkat,
penting
untuk
memperhatikan
bahwa
kekuatan
harus
mendapatkan peringkat 3 atau 4, sementara kelemahan sebaliknya diberi
peringkat 1 atau 2.
4) Perkalian bobot dengan peringkat untuk setiap faktor internal, baik
kekuatan maupun kelemahan, digunakan untuk menentukan hasil skor
tertimbang.
5) Menentukan total skor tertimbang faktor internalagribisnis dengan
menjumlahkan setiap faktor kekuatan dan kelemahan
Total skor tertimbang dalam matriks IFE berkisar dari rendah yaitu, 1,0
hingga tinggi yaitu, 4,0 tanpa memperhatikan jumlah faktor yang ada, dengan
skor rata-rata sebesar 2,5. Total skor yang kurang dari 2,5 menunjukkan petani
cabai merah keriting di Desa Gekbrong Indonesia mempunyai kelemahan
internal. Total skor di atas 2,5 menunjukkan memiliki kekuatan internal.
2. Matriks EFE (Eksternal Factor Evaluation)
Untuk mengidentifikasi faktor eksternal yaitu peluang dan ancaman yang
dimiliki petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong menggunakan matriks
EFE. Identifikasi faktor eksternal di matriks EFE dilakukan dengan langkahlangkah sebagai berikut (David dan Forest, 2016) :
1) Membuat daftar faktor eksternal berupa peluang dan ancaman
menyesuaikan kondisi lingkungan eksternalagribisnis.
2) Menentukan bobot masing-masing faktor eksternal peluang dan ancaman
dengan rentang berkisar antara 0,0 (tidak penting) hingga 1,0 (penting).
Pemberian bobot akan dilakukan oleh responden yang berperan dalam
perumusan strategi. Bobot total untuk semua faktor eksternal harus
berjumlah satu (1,0).
3) Memberikan penilaian skala 1 hingga 4 untuk setiap faktor eksternal
untuk mengindikasikan seberapa besarpetani cabai merah keriting di
23
Desa Gekbrong merespon peluang dan ancaman yang ada di industrinya.
Peringkat 4 = tanggapan untuk menggapai peluang yang sangat besar,
peringkat 3 = tanggapan untuk menggapai peluang cukup besar, peringkat
2 = tanggapan untuk mengatasi ancaman yang cukup tinggi , peringkat 1
= tanggapan untuk mengatasi ancaman sangat tinggi. Pemberian
peringkat didasarkan pada efektivitas strategi. Mengkalikan bobot dengan
peringkat pada setiap faktor eksternal peluang dan ancaman untuk
menentukan hasil skor tertimbang.
4) Menentukan total skor tertimbang faktor eksternal agribisnis dengan
menjumlahkan setiap faktor peluang dan ancaman
Matriks EFE dalam strategi pengembangan usaha tanaman cabai secara
lebih detail dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Matriks EFE (External Factor Evaluation) di Tahap Input
Faktor-faktor eksternal
Bobot
Peringkat
Skor Tertimbang
Peluang
Ancaman
-
-
-
-
-
-
-
Total
Sumber: David dan Forest (2016)
Nilai total skor yang tertimbang dalam matriks EFE berkisar dari 1,0
(rendah) hingga 4,0 (tinggi), tanpa memperhatikan jumlah faktor yang ada
dengan skor rata-ratanya adalah 2,5. Total skor tertimbang di atas 2,5
menunjukkan bahwa agribisnis merespon baik peluang dan ancaman yang ada
di industrinya. Strategi agribisnis yang efektif, peluang dapat dimanfaatkan
dan dampak dari ancaman eksternal dapat diminimalkan. Menurut David
(2016), jika skor total tertimbang kurang dari 2,5 menunjukkan bahwa strategi
usahatani tidak memanfaatkan peluang atau menghindari ancaman eksternal.
Penetapan bobot dalam menganalisis internal dan eksternal usahatani cabai
menggunakan kuesioner dengan memberikan pertanyaan kepada para pakar
yang
paham
kondisi
usahataani
cabai
merah
keriting
di
Desa
24
Gekbrongmelalui metode paired comparison (perbandingan berpasangan).
Metode ini digunakan untuk menilai bobot dari setiap faktor internal dan
eksternal. Tabel penilaian pembobotan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Penilaian Bobot Untuk Matriks IFE dan Matriks EFE
IFE/EFE
A
B
C
D
A
Total
Xi
B
C
D
𝑛
Total
∑ 𝑥𝑖
𝑖=1
Sumber : David dan Forest, 2016
Penentuan bobot untuk setiap faktor menggunakan skala 1, 2, dan 3. Skala
ini digunakan dalam pengisian kolom dengan interpretasi sebagai berikut:
1 = Indikator horizontal kurang penting daripada indikator vertikal
2 = Indikator horizontal sama penting dengan indikator vertikal
3 = Indikator horizontal lebih penting daripada indikator vertikal
Untuk membaca perbandingan dimulai dari variabel baris (indikator
vertikal) dibandingkan dengan variabel kolom (indikator horizontal) dan perlu
tetap konsisten dalam penilaian.
3. Matriks IE
Matriks IE merupakan langkah untuk menggabungkan skor tertimbang dari
matriks EFE (External Factor Evaluation) dan IFE (Internal Factor
Evaluation) ke dalam satu matriks. Matriks IE menggunakan faktor internal
dan eksternal untuk mengevaluasi posisi usaha dengan total skor tertimbang
yang ditetapkan dalam setiap sel.
Matriks IE memiliki tiga pengaruh utama yang berdampak pada strategi
yang berbeda. Dampak-dampak tersebut terdiri dari Growth and Build
(pertumbuhan dan pengembangan) yang berada di sel I, II, dan IV. Salah satu
strategi efektif adalah menerapkan strategi intensif seperti penetrasi pasar,
pengembangan pasar, atau pengembangan produk, serta strategi integratif
seperti integrasi ke belakang, ke depan, dan horizontal. Hold and Maintain
(pertahankan dan jaga) digunakan untuk sel III, V, dan VII. Strategi yang
25
biasanya diterapkan meliputi penetrasi pasar dan pengembangan produk.
Sedangkan Harvest or Divest (panen atau divestasi) diterapkan pada sel VI,
VIII, dan IX. Beberapa strategi yang sering digunakan dalam konteks ini
adalah strategi divestasi, strategi diversifikasi konglomerat, dan strategi
likuidasi (David dan Forest, 2016). Matriks IE dapat dilihat pada Gambar 3.
Kuat 3.0-4.0
Sedang 2.0-2.99
Lemah 1.0-1.99
Tinggi 3.0-4.0
I
II
III
Sedang 2.0-2.99
IV
V
VI
Rendah 1.0-1.99
VII
VIII
IX
Sumber : David dan Forest (2016)
Gambar 4.Model Matriks IE (Internal External) di Tahap Pencocokan
Menurut Rangkuti (2016), matriks internal dan eksternal dikembangkan
dari model General Electric (GE-Model). Matriks IE terdiri dari 9 sel dengan
tiga strategi utama. Pertama, strategi pertumbuhan (growth strategy) pada sel
I, II, dan V yang fokus pada pertumbuhan usaha itu sendiri atau diversifikasi
(sel VII dan VIII). Kedua, strategi stabilitas (stability strategy) pada sel IV
dan V yang diimplementasikan tanpa mengubah strategi yang sudah
ditetapkan. Dan ketiga, retrenchment strategy (sel III, VI, dan IX) yang
bertujuan mengurangi kegiatan agribisnis cabai merah keriting.
4. Kuadran SWOT
Gambar 4. Kuadran SWOT
Kuadran SWOT digunakan dalam analisis SWOT untuk mengorganisir faktorfaktor internal dan eksternal dalam suatu perusahaan atau situasi ke dalam
empat kuadran yang berbeda. Setiap kuadran mewakili kombinasi antara
26
faktor-faktor positif dan negatif, serta peluang dan tantangan. Berikut adalah
penjelasan singkat tentang setiap kuadran SWOT: Kuadran I: Strengths
(Kekuatan) - Opportunities (Peluang) Kuadran I adalah area yang
menggambarkan kombinasi kekuatan internal yang dimiliki perusahaan dengan
peluang eksternal yang ada di pasar. Pada kuadran ini, perusahaan dapat
memanfaatkan kekuatan-kekuatannya untuk mengambil keuntungan dari
peluang yang tersedia. Perusahaan dapat menggunakan keunggulan kompetitif
dan sumber daya yang kuat untuk menciptakan strategi yang efektif dan sukses.
Strategi yang diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan
pertumbuhan yang agresif (growth oriented strategy) Kuadran II: Strengths
(Kekuatan) - Threats (Ancaman) Kuadran II adalah area yang melibatkan
kombinasi antara kekuatan internal perusahaan dengan ancaman eksternal yang
dihadapinya. Perusahaan harus menggunakan kekuatan-kekuatannya untuk
mengatasi atau mengurangi dampak dari ancaman-ancaman yang ada di
lingkungan bisnis. Ini membutuhkan strategi pertahanan yang efektif dan
kemampuan untuk memanfaatkan keunggulan yang dimiliki agar tetap
kompetitif di pasar. Strategi yang perlu diterapkan adalah menggunakan
kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi
diversifikasi (produk/pasar). Kuadran III: Weaknesses (Kelemahan) Opportunities (Peluang) Kuadran III mencakup kelemahan internal yang
dimiliki perusahaan dengan peluang eksternal yang ada. Perusahaan harus
melakukan evaluasi yang jujur terhadap kelemahankelemahan ini dan mencari
cara untuk memanfaatkan peluang yang tersedia di pasar. Ini mungkin
melibatkan peningkatan atau perbaikan dalam hal-hal yang perusahaan lemah,
sehingga dapat mengambil keuntungan dari peluang yang ada. Strategi yang
perlu diterapkan adalah meminimalkan masalah-masalah perusahaan sehingga
dapat merebut peluang pasar yang lebih baik atau mendukung strategi turnaround. Kuadran IV: Weaknesses (Kelemahan) - Threats (Ancaman) Kuadran
IV adalah area yang mencakup kelemahan internal perusahaan dengan ancaman
eksternal yang ada. Pada kuadran ini, perusahaan harus berhati-hati untuk
mengidentifikasi
dan
mengatasi
kelemahan-kelemahan
yang
dapat
memperburuk dampak dari ancaman yang dihadapi. Dalam situasi ini,
27
perusahaan perlu mengembangkan strategi untuk memperbaiki kelemahan
internal dan menghadapi ancaman yang ada atau disebut juga strategi defensif.
Pemahaman terhadap keempat kuadran ini membantu perusahaan dalam
merumuskan
strategi
yang
tepat.
Kuadran
I
menjadi
target
untuk
dimaksimalkan, Kuadran II mengidentifikasi area perbaikan, Kuadran III
menunjukkan kekuatan yang bisa diandalkan dalam menghadapi ancaman, dan
Kuadran IV mengingatkan perusahaan terhadap kelemahan yang dapat
memperburuk ancaman. Analisis SWOT secara keseluruhan membantu
perusahaan dalam merencanakan langkah-langkah yang efektif untuk mencapai
tujuan dan memanfaatkan peluang yang ada (Assylla, 2022).
5. Matriks SWOT (Strength, Weakness, Opportunites, Threat)
Matriks SWOT digunakan untuk menentukan strategi alternatif yang dapat
dipilih oleh petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong dengan
mempertimbangkan kondisi faktor kunci internal dan eksternal. Matriks
SWOT akan menghasilkan beberapa alternatif strategi dalam empat strategi
utama (SO, ST, WO, WT). Menurut Rangkuti (2016), analisis matriks SWOT
fokus pada memaksimalkan kekuatan dan peluang, sekaligus meminimalkan
kelemahan dan ancaman secara bersamaan. Menurut David (2016), ada
delapan langkah yang perlu diikuti untuk membentuk sebuah matriks SWOT,
yaitu :
1. Membuat daftar kekuatan internal kunci
2. Membuat daftar kelemahan internal kunci
3. Membuat daftar peluang eksternal kunci
4. Membuat daftar ancaman eksternal kunci
5. Melakukan pencocokan kekuatan internal dengan peluang eksternal dan
strategi SO dicatat dalam sel yang ditentukan.
6. Melakukan pencocokan kelemahan internal dengan peluang eksternal dan
mencatat strategi WO dalam sel yang ditetapkan.
7. Melakukan pencocokan kekuatan dalam agribisnisdengan ancaman yang
datang dari luar dan mencatat strategi ST dalam sel yang ditentukan
8. Mencocokkan kelemahan internal dengan ancaman eksternal dan
mencatat strategi WT dalam sel yang ditentukan.
28
Ada beberapa kegunaan analisis SWOT dalam membantu pengambilan
keputusan, antara lain (Fahmi 2014) :
a. Memberikan deskripsi dari empat sudut pandang yaitu kekuatan,
kelemahan, peluang, dan ancaman sehingga pengambil keputusan dapat
memiliki pemahaman yang lebih komprehensif.
b. Dapat digunakan sebagai panduan dalam merencanakan keputusan jangka
panjang
c. Dapat menjadi penilaian rutin dalam melihat proses dari setiap keputusan
yang telah dibuat.
Matriks SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) menurut David
(2016) dapat dilihat pada Gambar 4.
Kekuatan (S)
1. …
2. …
3. …
Kelemahan (W)
1. …
2. …
3. …
Peluang (O)
1. …
2. …
3. …
Strategi SO
Menggunakan kekuatan
yang ada untuk
memanfaatkan peluang
Strategi WO
mengatasi kelemahan
dengan memanfaatkan
peluang yang ada
Ancaman (T)
1. …
2. …
3. …
Strategi ST
Menggunakan kekuatan
untuk menghindari
ancaman yang ada
Strategi WT
Meminimalkan
kelemahan dan
menghindari ancaman
Faktor Internal
Faktor Eksternal
Sumber : David dan Forest (2016)
Gambar 5.Matriks SWOT dalam Tahap Pencocokan
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Batas Desa, Kondisi Geografis dan Demografis
Desa Gekbrong adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Gekbrong,
Kabupaten Cianjur dengan luas wilayah administratif sebanyak 1.563,5 ha yang
terdiri dari :
1. Lahan Darat : 748 ha
2. Lahan Ladang : 205 ha
3. Pemukiman : 55 ha
29
4. Persawahan : 27 ha
5. Perkebunan : 457 ha
6. Perkantoran : 3 ha
7. Lahan Pekarangan : 2 ha
8. Lahan Lainnya : 49 ha
9. Luas Tanah Kas Desa :17,5 ha
Secara Topografi Desa Gekbrong merupakan daerah perbukitan/dataran tinggi
dengan iklim yang sejuk sehingga banyak mengacu pada pola taman sayur mayur
dan palawija. Secara Geografis, Desa Gekbrong berbatasan dengan daerah-daerah
sebagai berikut :
1. Sebelah Utara : Desa Kebunpeuteuy
2. Sebelah Selatan : Desa Cikahuripan
3. Sebelah Barat : Desa Titisan
4. Sebelah Timur : Desa Songgom
B. Karakteristik Petani Di Desa Gekbrong
Penentuan sampel petani dalam penelitian ini dilakukan dengan
metode purposive sampling yaitu para judgement expert diantaranya
petani cabai yang telah berproduksi dan menjual hasil panen, ketua
kelompok tani, dan ketua Gapoktan. Jumlah responden yang dijadikan
sampel sebanyak 26 responden, terdiri dari 22 orang petani cabai sebagai
pihak internal sedangkan pihak eksternal yang dijadikan responden adalah
penyuluh pertanian Desa Gekbrong sebanyak 4 orang.
Karakteristik utama dari sampel penelitian ini adalah petanicabai
merah keriting yang berada di Desa Gekbrong, Kecamatan Gekbrong,
KabupatenCianjur.Karakteristikmeliputiumur,jeniskelamin,pendidikantera
khir,luaslahan,statuskepemilikanlahandanpengalamanberusahatani.Berikut
beberapakarakteristikpetanicabaimerahdiDesaGekbrong,
Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No
Jenis
Jumlah
Kelamin
(orang)
Presentase(%)
30
1
Laki-laki
24
92,3%
2
Perempuan
2
7,7%
26
100%
Total
Sumber : Analisis Data Primer, 2024
Berdasarkan hasil wawancara Dari tabel 4 menunjukan bahwa dalam
penelitian ini terdapat dua jenis kelamin responden. Jumlah responden dengan
jenis kelamin laki-laki sebanyak 26 orang dengan persentase 92,3%, sedangkan
jumlah responden dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 2 orang dengan
presentase 7,7%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa responden cabai merah di
Desa Gekbrong didominasi oleh responden dengan jenis kelamin laki-laki. Hal ini
disebabkan karena matapencaharian utama keluarga di Desa Gekbrong adalah
pertanian.
31
Tabel 5 Karakteristik Responden Pengalaman Berusahatani
No
Pengalaman
Jumlah
Presentase
Berusahatani
(Orang)
(%)
(Tahun)
1
<10
8
30,7%
2
11-20
7
26,9%
3
21-30
4
15,3%
4
31-30
4
15,3%
5
41-50
2
7,7%
6
>50
1
4,1%
26
100%
Total
Berdasarkan Tabel 5 diatas, dapat dilihat data pengalaman berusahatani di
Desa Gekbrong sebagian besar berada pada kisaran 10 sampai 30 tahun dengan
jumlah petani yang sudah berusahatani kurang dari 20 tahun sebanyak 8 orang atau
sama dengan 30,7% dari total presentasi responden, petani dengan pengalaman 11
sampai 20 tahun sebanyak 7 orang dan petani dengan pengalaman 21 sampai 30
tahun sebanyak 4 orang. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani di Desa
Gekbrong sudah berpengalaman dalam berusahatani. Kebanyakan petani memulai
dan melanjutkan usahatani pada saat mereka berada pada usia sekolah dan ada juga
setelah menikah atau berkeluarga.
C. Sistem Agribisnis Petani Cabai Keriting di Desa Gekbrong
Pada analisis sistem agribisnis, terdapat 5 susbsistem agribisnis yaitu
subsistem pengadaan input, subsistem budidaya, subsistem pascapanen, subsistem
pemasaran, dan subsistem penunjang.
1. Subsistem Pengadaan Input
Berdasarkan hasil wawancara dengan petanicabai keriting di Desa
Gekbrong, dalam pengadaan input produksi yaitu terdiri dari lahan, benih, media
32
semai, dolomit, pupuk kandang, pupuk kimia, dan pestisida. Peralatan yang
digunakan yaitu cangkul, arit, sprayer gendong, drum, tugal, dan alat kocor. Untuk
peralatan pascapanen terdiri atas ember, dan karung. Pelaku-pelaku kegiatan
pengadaan dan penyaluran sarana produksi adalah perorangan, perusahaan swasta,
pemerintah, koperasi. Betapa pentingnya subsistem ini mengingat perlunya
keterpaduan
dari
berbagai
unsur
itu
guna
mewujudkansuksesagribisnis.Industriyangmeyediakansaranaproduksipertanian
disebut juga sebagai agroindustri hulu (Bahri, 2016).
BerdasarkanhasilwawancaradenganpetanicabaikeritingdiDesaGekbro
ng, dalam pengadaan input produksi yaitu terdiri dari lahan, benih, media
semai, dolomit, pupuk kandang, pupuk kimia, dan pestisida. Peralatan yang
digunakan yaitu cangkul, arit, sprayer gendong, drum, tugal, dan alat kocor.
Untuk peralatan pascapanen terdiri atas ember, dan karung.
Luas lahan yang digunakan petani untuk cabai keriting cukup beragam.
Rerata lahan cabai keriting yang dimiliki petani di Desa Gekbrong berkisar 1000
m2 hingga 5000 m2. Berikut merupakan lahan petani sampel dapat dilihat pada
Gambar 6.
a. Lahan Bapak Ade
b. Lahan Bapak Oleh
c. Lahan Bapak Basuki
d. Lahan Bapak Jajang
Gambar 6 Lahan Petani di Desa Gekbrong
33
Adapun benih cabai keriting yang digunakan petani berbeda-beda dengan
varietas yang berbeda-beda pula. Ada yang menggunakan benih cabai keriting dari
Oriental Seed, Tani Murni, maupun Panah Merah. Begitupun dengan pupuk dan
pestisida yang digunakan untuk produksi cabai keriting sangat beragam. Petani
biasanya menggunakan pupuk kandang dengan kohe ayam ataupun kohe kambing,
serta pupuk kimia. Adapun Pupuk kimia yang biasa digunakan yaitu pupuk NPK
Mutiara, Phonska, dan TSP. Pembelian benih cabai keriting, pupuk dan pestisida
dari toko yang berada di Pasar Gekbrong dan toko disekitar tempat tinggal petani.
Benih cabai keriting yang sering digunakan petani dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7Benih Cabai Keriting F1 Hybriddi Desa Gekbrong
2. Subsistem Budidaya Cabai Keriting
Kegiatan budidaya cabai keriting petani di Desa Gekbrong menggunakan
pola tumpangsari dengan tanaman lain seperti tomat, kubis, dan sawi. Tujuan dari
pola tumpangsari yaitu untuk menambah pendapatan sementara selagi menunggu
tanaman cabai keriting memasuki masa panen. Produksi cabai keriting diawali
dengan penyemaian, persiapan lahan tempat tanam, penanaman, pemeliharaan,
panen dan pascapanen. (Edufarmers, 2023)
2.1 Penyemaian
Persemaian benih merupakan tahapan yang terpenting untuk budidaya
tanaman padi yang akan disemai dari benih menjadi bibit (Ginting et al., 2018).
Penyemaian yang dilakukan petanicabai keriting di Desa Gekbrong yaitu
34
menggunakan netpot yang terbuat dari daun pisang. Petani biasa menyebut
“pocis”. Media semai yang digunakan yaitu campuran bahan arang sekam dan
tanah. Ada juga petani yang menggunakan cocopeat dan pupuk kandang pada
media semai. Perlakuan benih setiap petani berbeda-beda, ada yang direndam
dengan air hangat kuku dan ada juga yang tidak diberi perlakukan. Kemudian,
benih dimasukan satu per satu pada lubang netpot yang telah disimpan ditempat
persemaian. Benih yang telah dimasukkan ditutupi dengan tanah dan disiram. Lalu
ditutup menggunakan jaring dan plastik UV yang disangga dengan kayu bambu
berbentuk U terbalik. Hal tersebut dilakukan agar tanaman cabai cepat
berkecambah dan mengurangi gangguan seperti hama maupun hewan lainnya.
Kegiatan penyemaian dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Kegiatan Penyemaian Tanaman Cabai Keriting
2.2Persiapan Lahan
Persiapan lahan diawali dengan membersihkan lahan atau sanitasi gulma.
Sisa tanaman yang ada di bedengan dicangkul dan dibuat lubang pada tanah
(ditugal) untuk mengubur sisa tanaman. Bedeng yang telah dibersihkan diberi
pupuk kandang dan dolomit. Beberapa petani juga menambahkan batang pisang
yang dicacah untuk menambah unsur hara. Bedengan didiamkan selama 3 hari
sebelum digunakan kembali dengan tujuan agar unsur hara dalam tanah dapat
terurai dengan baik, selanjutnya dipasang mulsa pada bedengan. Pemasangan
mulsa bertujuan menghindari tumbuhnya gulma yang dapat menjadi sarang hama.
Kegiatan persiapan lahan dapat dilihat pada Gambar 9.
35
Pembuatan Bedengan
Pemasangan Mulsa
Gambar 9. Kegiatan Persiapan Lahan Cabai Keriting di Desa Gekbrong
Pemasangan mulsa dilakukan dengan cara menarik plastik mulsa dari
ujungke ujung bedengan dengan kuat, setelah itu setiap ujung dikunci
menggunakan patok kayu yang ditancap ke tanah dengan kuat. Patok ditancap ke
tanah dengan jarak 50 cm dari setiap patok satu ke patok yang lainya. Hal ini
bertujuan untuk menguatkan bedengan.
Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya produksi cabai antara
lain kekeringan, banjir, serangan hama dan penyakit serta adanya persaingan
dengan
gulma.Untukmenanggulangimasalahdiatas,salahsatuusahauntukmeningkatka
n produksicabaiadalahdenganpenggunaanmulsaataupenutuptanah, karena
mulsa
dapatmenahanpenguapanairtanahakibatprosespenguapanairolehsinarmatahar
i sehingga kelembaban dapat dipertahankan lebih lama (Hasibuan., 2015).
Mulsa merupakanpenutup tanaman yang dimaksudkanuntuk menjaga
kelembabantanah dan mengendalikan pertumbuhan gulma dan penyakit agar
tanaman dapat tumbuh subur (Yetnawati dan Hasnelly, 2021). Rumakuway
et al. (2016) menyatakan peranan mulsa sebagai pengatur kelembaban.
2.3 Penanaman
Dalam pembuatan lubang tanam, bedengan yang sudah dipasang mulsa,
dilubangi dan ditugal pada kedalaman kurang lebih 8 -12 cm, kemudian
melakukan penanaman bibit cabai keriting yang berusia 25Hari Setelah Semai
(HSS). Penanaman diawali dengan memindahkan bibit dengan hati-hati agar bibit
tidak patah/rusak. Bibit cabai keriting dimasukan kedalam lubang yang sudah
dibuat, kemudian ditutup kembali dengan menggunakan tanah agar cabai keriting
dapat tumbuh dengan baik. Kemudian dilakukan pemasangan ajir pada saat cabai
36
berusia 7 HST (Hari Setelah Tanam). Pemasangan ajir dilakukan di awaltanam
agar ajir tidak merusak akar tanaman cabai.
2.4Pemeliharaan
Berdasarkan kegiatan petani dalam bertani tanaman cabai, pemeliharaan
tanaman cabai keriting dimulai dari pemberian pupuk setiap seminggu sekali.
Pemberian pupuk dilakukan dengan cara pupuk dilarutkan dengan air terlebih
dahulu lalu disiramkan pada tanaman cabai menggunakan alat kocor. Pada minggu
berikutnya di semprotkan pestisida tergantung pada gangguan yang dialami
tanaman cabai. Untuk penyiraman, petani menyiram tanaman cabai pada saat
memasuki musim kemarau menggunakan sprayer dan air yang digunakan adalah
air tadah hujan atau air sungai.
Kegiatan penyulaman dilakukan jika ada bibit tanaman cabai yang sudah
ditanam kemudian mati. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan petani,
persentase kematian pada bibit tanaman cabai yaitu 5% - 10%. Tanaman yang mati
diganti dengan sisa bibit tanaman cabai pada saat penyemaian. Penyiangan gulma
dilakukan dengan pembersihan gulma yang ada pada lubang mulsa tanaman cabai
karena walaupun sudah memakai mulsa terkadang tetap masih ada gulma yang
tumbuh yang jika dibiarkan akan merugikan tanaman. Penyiangan gulma
dilakukan dengan cara manual yaitu dengan cara dikored dan dicabut. Penyiangan
gulma bertujuan agar tidak mengganggu tanaman, menjaga estetika kebun dan
tidak menjadi sarang hama atau predator dari luar.
2.5Panen
Masa tanam Cabai Keriting dalam satu kali periode tanam yaitu 6-7 bulan.
Proses panen bisa dilakukan setelah cabai keriting berusia kurang lebih 3 bulan.
Panen berikutnya dapat dilakukan setiap satu sampai dua minggu tergantung dari
kesehatanataukesuburantanamancabai.Beberapa petanimemperolehhasilpanen 10
– 12 kg untuk 8 kali panen, hasil panen lainnya yaitu setelah tanaman berumur
duahinggatigabulanrata-ratapanensetiappohonmenghasilkan1kg(Anonimous,
2012).
Masa tanam Cabai Keriting dalam satu kali periode tanam yaitu 6-7 bulan.
Proses panen bisa dilakukan setelah cabai keriting berusia kurang lebih 3 bulan.
37
Panen berikutnya dapat dilakukan setiap satu sampai dua minggu tergantung dari
kesehatan atau kesuburan tanaman cabai. Buah cabai dapat dipanen dengan ciri
buah telah masak secara fisiologis atau berwarna merah. Namun terkadang petani
memanen buah cabai lebih awal saat buah cabai masih berwarna hijau
dikarenakan tanaman cabai sudah terserang penyakit. Pemanenan buah cabai
dilakukan dengan cara memetik buah beserta tangkainya. Pemetikan dilakukan
dengan tangan tanpa menggunakan alat apapun, kemudian dimasukan kedalam
ember atau karung.
3.
Subsistem Pasca Panen
Pascapanen cabai keriting di Desa Gekbrong melakukan kegiatan sorting,
yaitu penyortiran antara buah cabai yang baik dan yang sudah rusak. Setelah itu
dimasukkan kedalam karung dan ditimbang. Kemudian langsung dijual pada
tengkulak dan hasil panen tersebut diangkut oleh tengkulak sehingga petani tidak
melakukan kegiatan pengantaran atau pengiriman. Pembelian hasil panen cabai
keriting tergantung petani menjual Cabai Merah Keriting atau Cabai Hijau
Keriting.
Penanganan pascapanen cabai merahdilakukanuntuk meningkatkan
nilai jual, daya simpan, menyediakan bahan baku industri dan
meningkatkan pendapatan petani (Taufik, 2011)
Pascapanen cabai keriting di Desa Gekbrong melakukan kegiatan sorting,
yaitu penyortiran antara buah cabai yang baik dan yang sudah rusak. Setelah itu
dimasukkan ke dalam karung dan ditimbang. Kemudian langsung dijual pada
tengkulakdan hasil panen tersebut diangkut oleh tengkulak sehingga petanitidak
melakukan kegiatan pengantaran atau pengiriman.Cabai Merah Keriting
memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan Cabai Hijau Keriting.
Kegiatan panen Cabai Keriting dapat dilihat pada Gambar 10.
38
Gambar 10. Kegiatan Panen Cabai Keriting di Desa Gekbrong
4. Subsistem Pemasaran
Pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya ada individu dan
kelompok untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan
menciptakan,menawarkandansecarabebasmempertukarkanprodukyangbernilai
dengan pihak lain (Kotler, 2009).Subsistem pemasaran cabai keriting dapat
dikatakan belum baik disebabkan karena bentuk pasar yang cenderung oligopsoni
sehingga mengakibatkan petani tidak bisa menentukan harga atau sebagai price
taker. Selain itu, informasi pasar yang minim membuat petani tidak tahu jika
terjadi perubahan harga ditingkat pedagang sehingga pedagang yang biasanya
menetapkan harga terlebih dahulu tergantung permintaan pasar.
4.1Saluran Pemasaran Cabai Keriting Para Petani
Saluran pemasaran Cabai Keriting pada petani di Desa Gekbrong dimulai
dari petani kemudian ke tengkulak lalu ke pedagang besar ke pedagang pengecer
dan konsumen rumah tangga. Saluran pemasaran dapat dilihat pada Gambar 8.
Petani
Tengkulak
Pedagang
Besar
Pengecer
Konsumen/
Rumah
Tangga
Gambar 11 Saluran Pemasaran Cabai Keriting di Desa Gekbrong
Petani di Desa Gekbrong hanya mampu melakukan pemasaran ke tengkulak
saja. Hal tersebut terjadi bukan karena petani memiliki keterikatan hutang pada
tengkulak akan tetapi belum bisa menjual hasil pertaniannya langsung ke
pedagang besar disebabkan pengetahuan yang terbatas mengenai pasar dan belum
mempunyai transportasi yang memadai untuk proses distribusi langsung ke pasar.
Adapun untuk hasil pertanian yang dipasarkan kepada tengkulak yaitu berupa
39
Cabai Keriting segar. Cabai Keriting yang dijual petani ada yang matang
sempurna yaitu berwarna merah ada juga yang dijual hijau. Biasanya harga cabai
keriting hijau akan lebih murah dibandingkan dengan harga cabai keriting merah.
Pada saat Kuliah Kerja Lapangan tahun2023dimusimpanen, rata-rata harga
yang ditetapkan oleh tengkulak terhadap petani cabai keriting di Desa Gekbrong
yaitu berkisar antara 13.000 sampai 27.000 per kilo. Harga cabai keriting terkecil
yang pernah diperoleh petani dari tengkulak yaitu sebesar 7.000/kg. Adapun harga
cabai keriting paling besar yang pernah diperoleh petani dari tengkulak yaitu
mencapai 65.000/kg. Perubahan harga yang sangat berbeda jauh inilah yang
menyebabkan Cabai Keriting termasuk sebagai komoditas dengan fluktuasi harga
yang tinggi.
Proses distribusi Cabai Keriting ke tengkulak cukup sederhana. Petani tidak
mengantarkan hasil panen Cabai Keriting ke tengkulak. Akan tetapi tengkulak
yang akan mengambil hasil panen cabai keriting langsung ke lahan petani setelah
proses pascapanen selesai. Dengan begitu petani tidak perlu mengeluarkan biaya
transportasi untuk proses pendistribusian Cabai Keriting di Desa Gekbrong.
5. Subsistem Penunjang
Subsistem penunjang agribisnis (kelembagaan) atau supporting
institution adalah semua jenis kegiatan yang berfungsi untuk mendukung
dan melayani serta mengembangkan subsistem hulu subsistem usaha tani,
subsistem hilir,dan subsistem pemasaran. (2012) Maulidah
Lembaga-
lembaga yang terkait dalam kegiatan ini adalah penyuluh pertanian dan
lembaga penyediaan modal.
5.1 Lembaga Pendidikan
Lembaga Pendidikan merupakan penunjang yang mendukung dalam
produksi Cabai Keriting pada petani Desa Gekbrong. Yayasan Edufarmers
International merupakan lembaga pendidikan bagi petani di Desa Gekbrong
karena mempunyai tujuan untuk meningkatkan pengetahuan petani dalam
berbudidaya serta menjadi penghubung antara mahasiswa dan petani.
5.2 Lembaga Pemerintahan
40
Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) merupakan penunjang yang dapat
mendukung dalam subsistem produksi di Desa Gekbrong, Balai Penyuluhan
Pertanian Kecamatan Gekbrong berperan untuk memberikan penyuluhan kepada
para petani terkait cara budidaya yang benar dan lebih modern untuk
meningkatkan produktivitas, memberi contoh tata kelola keuangan yang baik,
serta cara mengurangi tingkat kegagalan panen.
6. Masalah dan Kendala Agribisnis Komoditas Cabai Keriting Petani
Beberapa kendala agribisnis yang dihadapi oleh petani Desa Gekbrong pada
komoditas cabai keriting yaitu
1) Pada
subisistem
pengadaan
sarana
produksi
yaitu
masih
menggunakan alat yang sederhana sehingga membutuhkan waktu
kerja yang cukup lama.
2) Pada subsistem produksi yaitu teknik budidaya yang tidak sesuai
dengan Standar Operasional Prosedur yang dikeluarkan oleh
Kementan.
3) Pada subsistem penanganan dan pengolahan hasil pertanian yaitu
belum adanya proses grading dan petani belum bisa mengolah cabai
keriting menjadi suatu produk yang dapat memiliki nilai jual lebih
tinggi.
4) Pada subsistem pemasaran yaitu petani belum bisa menjual cabai
keriting langsung kepada konsumen akhir.
5) Pada subsistem penunjang yaitu belum adanya kemitraan yang dapat
membantu meningkatkan produktivitas petani.
D. IdentifikasiLingkungan Internal dan Eksternal Usaha Petani Cabai di
Desa Gekbrong
a. Analisis Lingkungan Internal Usaha Petani Cabai Keriting di Desa
Gekbrong
Secara umum lingkungan harus dianalisis kekuatannya
karenamempengaruhipembuat
keputusandanperencanaan
yaitu
kekuatan teknologi, ekonomi, demografi, sosial budaya serta politik
41
dan hukum. Faktor internal adalah kejadian dan kecenderungan
dalam suatu organisasi yang mempengaruhi manajemen, karyawan
dan budaya organisasi. Budaya organisasi adalah nilai-nilai
keyakinan dan sikap yang berlaku di antara anggota organisasi
(Marhumi 2018).
1. Manajemen
Petani memiliki struktur organisasi kelompok tani yang sesuai
sehingga cenderung lebih terorganisir dalam pengelolaan lahan, tenaga
kerja, dan sumber daya lainnya. Struktur organisasi yang baik
memungkinkan koordinasi yang lebih baik di antara anggota kelompok
tani, meningkatkan produktivitas dan kolaborasi. Keberhasilan manajemen
dan struktur organisasi sangat bergantung pada kualitas ketua kelompok
tani yang dimiliki. Jika ketua kelompok tani tidak efektif, ini dapat
mengurangi efisiensi dan menghambat kemajuan.
2. Pemasaran
Petani cabai keriting di Desa Gekbrong menjual langsung hasil panen
cabai keriting ke tengkulak memberikan jaminan penjualan yang cepat dan
pembayaran yang segera, mengurangi risiko penumpukan stok. Namun,
tanpa
perencanaan
pemasaran,
petani
kehilangan
peluang
untuk
mendapatkan harga yang lebih baik danperluasan pasar. Ketergantungan
pada tengkulak juga membuat petani rentan terhadap fluktuasi harga yang
ditentukan oleh tengkulak. Fokus pada satu saluran distribusi dapat
menghambat dalan peningkatan pendapatan.
3. Keuangan
Petani cabai keriting di Desa Gekbrong mengalokasikan modalnya
dengan efektif menunjukkan pengelolaan keuangan yang baik, memastikan
bahwa sumber daya digunakan secara optimal untuk meningkatkan
produksi dan efisiensi. Petani di Desa Gekbrong juga terbebas dari utang
modal yang berarti petani tidak terbebani oleh pembayaran bunga atau
kewajiban keuangan lainnya, memungkinkan fleksibilitas yang lebih besar
dalam pengelolaan keuangan.
4. Produksi
42
Petani cabai keriting di Desa Gekbrong memiliki fasilitas dan peralatan
dalam kondisi baik memastikan operasional produksi berjalan lancar dan
efisien, serta mengurangi risiko kerusakan dan penundaan. Peralatan yang
dirawat dengan baik mengurangi biaya perbaikan dan memperpanjang
umur peralatan,
yang secara keseluruhan meningkatkan efisiensi
operasional. Namun, petani belum memiliki teknologi yang lebih canggih
untuk meningkatkan efisiensi dan hasil produksi lebih lanjut.
5. Penelitian dan Pengembangan
Belum adanya pengembangan produk dari hasil panen cabai keriting
yang rusak sehingga petani cabai keriting di Desa Gekbrong belum bisa
memanfaatkan peluang untuk menciptakan produk turunan dari cabai
keriting yang dapat meningkatkan nilai tambah dan pendapatan. Ini juga
membuat petani kurang adaptif terhadap perubahan preferensi pasar.
b. Analisis Lingkungan Eksternal
Analisis lingkungan eksternal usaha petani cabai keriting di Desa
Gekbrong meliputi ekonomi, sosial, budaya, demografi dan lingkungan alam,
politik, dan teknologi serta lingkungan industri (lima kekuatan porter) yaitu
ancaman pendatang baru, kekuatan tawar menawar pembeli, kekuatan tawar
menawar pemasok, ancaman produk substitusi serta persaingan anggota
industri.
1. Lingkungan Makro
a. Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi yang baik meningkatkan daya beli masyarakat,
sehingga
permintaan
meningkat.Namun,adanya
untuk
produk
inflasi
dan
seperti
fluktuasi
cabai
nilai
tukar
keriting
dapat
mempengaruhi harga input pertanian seperti pupuk dan pestisida. Biaya
produksi yang meningkat dapat mengurangi keuntungan petani. Jawa Barat
merupakan sentra produksi cabai merah keriting sehingga kebutuhan akan
permintaan cabai merah keriting berpusat pada Jawa Barat. Hal ini dapat
menjadi peluang untuk petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong untuk
melakukan perluasan wilayah pasar agar dapat meningkatkan penjualan.
43
b. Sosial, Budaya, dan Lingkungan
Meningkatnya kesadaran akan kesehatan dan tren konsumsi makanan
pedas dapat meningkatkan permintaan cabai keriting. Menjamurnya bisnis
kuliner pedas seperti Seblak Prasmanan dan Bakso Mercon akibat
kemudahan akses media digitalisasi yang cepat sehingga dapat menjadi
peluang untuk petani di Desa Gekbrong untuk meningkatkan jumlah
produksi.
Namun, perubahan iklim dan cuaca ekstrem seperti kekeringan, banjir,
dan suhu yang tidak menentu dapat mempengaruhi produksi cabai
keriting.Ketersediaan dan pengelolaan sumber daya seperti air dan tanah
yang baik sangat penting untuk pertanian. Praktik pertanian berkelanjutan
harus diterapkan untuk menjaga kesuburan tanah. Kehilangan ekosistem
yang seimbang dapat meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit.
c. Politik, Pemerintahan, dan Hukum
Pemerintah Indonesia memiliki berbagai kebijakan dan program untuk
mendukung
sektor
pertanian,
termasuk
subsidi
pupuk,
program
pengembangan pertanian, dan bantuan teknis untuk petani. Namun,
perubahan kebijakan bisa mempengaruhi petani secara signifikan.Stabilitas
politik yang baik mendukung lingkungan yang kondusif untuk pertanian.
Namun, ketidakstabilan politik bisa mempengaruhi kebijakan dan program
pertanian.Kebijakan pemerintah terkait impor dan ekspor juga berpengaruh.
Regulasi yang mendukung ekspor dapat membuka pasar internasional,
sementara kebijakan proteksionis bisa melindungi petani dari persaingan
luar.
Regulasi terkait penggunaan pestisida, pupuk, dan bahan kimia lainnya
berdampak pada praktik pertanian dengan kepatuhan terhadap standar
keamanan pangan juga penting. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani
di Desa Gekbrong, pupuk bersubsidi belum merata didapatkan oleh petani
dan kebijakan penetapan harga yang belum tegas oleh pemerintah setempat
mengancam petani untuk menjual hasil panen dengan harga yang tidak
sesuai.
44
d. Teknologi
Adopsi teknologi baru seperti sistem irigasi modern, penggunaan drone
untuk pemantauan tanaman, dan teknologi sensor dapat meningkatkan
efisiensi produksi dan kualitas hasil panen.Adanya pengembangan varietas
cabai yang lebih tahan hama dan penyakit dapat membantu meningkatkan
produktivitas petani. Teknologi digital juga dapat membantu petani
mendapatkan informasi pasar, cuaca, dan teknik pertanian terbaru.
Beberapa kalangan akademika telah banyak menemukan teknologi
pertanian yang dapat membantu petani di Desa Gekbrong. Namun,
pengetahuan yang terbatas dan dana yang tidak mumpuni membuat sebagian
petani enggan menerapkan teknologi tersebut.
2. Lingkungan Industri
Pendekatan yang sering digunakan untuk menganalisis lingkungan industri
adalah analisis lima kekuatan Porter (Porter’s Five Forces Analysis). Berikut
adalah rinciannya:
a. Ancaman Pendatang Baru
Memulai usaha pertanian cabai keriting memerlukan modal yang
signifikan untuk pembelian lahan, bibit, pupuk, dan peralatan. Hal ini bisa
menjadi penghalang bagi pendatang baru.Petani besar yang sudah mapan
memiliki skala ekonomi yang lebih baik, memungkinkan mereka untuk
mengurangi biaya per unit dibandingkan petani baru yang masih beroperasi
dalam skala kecil.Petani yang sudah mapan memiliki hubungan yang baik
dengan pengepul, pedagang grosir, dan pengecer, sedangkan pendatang
baru mungkin kesulitan membangun jaringan distribusi yang efisien.Petani
di Desa Gekbrong juga memiliki kelompok tani dan gabungan kelompok
tani
yang
didalamnya
mereka
saling
berbagi
pengalaman
dan
bersilaturahmi sehingga tidak ada ancaman untuk pendatang baru.
b. Kekuatan Pemasok
Pemasok input pertanian seperti pupuk, pestisida, dan bibit memiliki
kekuatan yang cukup besar jika jumlah mereka terbatas. Petani di Desa
Gekbrong bergantung pada pemasok untuk mendapatkan bahan input.Biaya
45
untuk beralih dari satu pemasok ke pemasok lain juga mempengaruhi petani
sehingga pemasok dapat menjadi ancaman untuk petani di Desa Gekbrong.
c. Kekuatan Pembeli
Jika petani menjual cabai keriting kepada sejumlah kecil pembeli besar,
pembeli tersebut memiliki kekuatan lebih besar untuk menekan harga.
Namun, jika ada banyak pembeli, kekuatan mereka menurun.Cabai keriting
adalah produk yang cukup standar, sehingga pembeli bisa beralih ke
pemasok lain dengan mudah jika mereka mendapatkan harga yang lebih
baik.Jika petani sangat bergantung pada beberapa pembeli besar, pembeli
tersebut memiliki kekuatan lebih besar sehingga hal ini dapat menjadi
ancaman untuk petani di Desa Gekbrong.
d. Ancaman Produk Pengganti
Ancaman dari produk pengganti bisa datang dari cabai jenis lain atau dari
bahan pengganti yang dapat digunakan dalam masakan. Namun, untuk
konsumen yang sangat menyukai cabai keriting, ancaman ini mungkin
relatif rendah.Jika produk pengganti menawarkan harga yang lebih murah
atau kualitas yang lebih baik, konsumen mungkin beralih. Namun, cabai
keriting memiliki karakteristik unik yang mungkin sulit digantikan oleh
produk lain sehingga hal ini tidak terlalu menjadi ancaman untuk petani di
Desa Gekbrong.
e. Persaingan Antar Pelaku Industri
Banyaknya petani cabai keriting di Indonesia menciptakan persaingan
yang ketat. Petani bersaing dalam hal harga, kualitas, dan distribusi.Jika
industri cabai keriting tumbuh dengan baik, persaingan mungkin kurang
intensif karena ada cukup permintaan untuk semua. Namun, jika
pertumbuhan
melambat
atau
menurun,
persaingan
dapat
meningkat.Meskipun cabai keriting adalah produk standar, beberapa petani
mungkin mencoba membedakan produk mereka melalui kualitas yang lebih
baik atau praktik pertanian organik, yang dapat menarik segmen pasar
tertentu.Petani di Desa Gekbrong juga memungkinkan terjadinya panen
raya dimana saat jumlah produksi melambung sedangkan permintaan
46
sedikit maka hal ini menjadi persaingan antar petani untuk menjual hasil
panennya.
E. Strategi Pengembangan Usaha Petani Cabai Keriting di Desa Gekbrong
Strategi dalam pengembangan usaha cabai keriting di Desa Gekbrong ini
menggunakan analisis IFE dan EFE, IE, dan SWOT yaitu dengan cara
mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi
pengembangan agribisnis kemudian menentukan strategi yang tepat untuk
pengembangan usaha cabai keriting di Desa Gekbrong. Faktor-faktor internal
yang dimiliki petani cabai keriting di Desa Gekbrong terdiri dari kekuatan dan
kelemahan sedangkan faktor eksternal yang dimiliki petani cabai keriting di
Desa Gekbrong terdiri dari peluang dan ancaman. Faktor-faktor tersebut dapat
menunjang proses perumusan strategi sebagai berikut:
1. Faktor-Faktor Internal Usaha Cabai Keriting di Desa Gekbrong
1) Kekuatan
a. Berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang baik terhadap budidaya
cabai keriting
Petani yang telah lama menanam cabai keriting biasanya memiliki
pengetahuan mendalam tentang teknik budidaya, pemupukan, dan
pengendalian hama. Pengetahuan ini membantu mereka mengoptimalkan
hasil panen dan kualitas produk. Pengalaman juga memungkinkan mereka
untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah dengan lebih cepat dan
efektif.
b. Permodalan petani yang cukup baik
Petani cabai keriting di Desa Gekbrong mampu mengalokasikan
modalnya secara efektif tanpa memiliki utang menunjukkan manajemen
keuangan yang kuat dan disiplin dalam pengelolaan sumber daya. Mereka
mengendalikan biaya operasional untuk efisiensi produksi. Pengelolaan
keuangan yang baik memungkinkan mereka untuk tetap stabil dan mandiri
secara finansial, tanpa tekanan dari kewajiban utang, sehingga dapat
menghadapi fluktuasi pasar dan risiko operasional dengan lebih baik.
Meskipun keterbatasan modal dapat membatasi ekspansi cepat, pendekatan
47
ini memberikan fleksibilitas dan ketahanan yang lebih besar dalam jangka
panjang.
c. Dukungan dari lembaga pemerintah dan lembaga non-pemerintah
Adanya dukungan dari lembaga pemerintah seperti dari Balai
Penyuluh Pertanian yang rutin berkunjung ke lahan petani untuk
melakukan monitoring terhadap perkembangan tanaman cabai petani.
Juga dari lembaga non-pemerintah dari Yayasan Edufarmers International
yang membantu petani dalam mengelola budidaya cabai keriting.
d. Motivasi tinggi petani dalam menjalankan usaha cabai keriting
Petani cabai keriting yang memiliki motivasi tinggi untuk
menanam tanaman cabai menunjukkan semangat yang besar dalam
menjalankan usaha pertaniannya. Mereka terus berupaya meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman dan pelatihan serta
selalu mencari cara untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil
panen.
e. Kebersamaan dan solidaritas yang kuat
Desa Gekbrong memiliki Gabungan Kelompok Tani Gede Pangrango
yang merupakan organisasi terstruktur dan terarah sehingga membentuk
kebersamaan dan solidaritas yang kuat antar petani, serta meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh anggota dalam
membudidayakan cabai. Kemampuan manajerial yang baik dapat
melaksanakan program-program dengan efektif. Dengan memahami secara
menyeluruh keadaan lingkungan internalnya, Gapoktan Gede Pangrango
dapat merumuskan strategi yang lebih baik untuk memberdayakan petani
dan mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
2) Kelemahan
a. Biaya Produksi Tinggi
Produksi cabai keriting memerlukan investasi yang signifikan
dalam hal bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja. Petani juga harus
menghadapi biaya untuk irigasi dan perlengkapan lainnya. Tingginya
biaya produksi ini dapat menjadi beban, terutama bagi petani kecil yang
memiliki keterbatasan modal.
48
b. Penanganan hama dan penyakit yang belum baik
Tanaman cabai sangat rentan terhadap berbagai penyakit seperti
layu bakteri, antraknosa, dan serangan hama seperti kutu daun dan ulat.
Penyakit dan hama dapat menyebabkan penurunan hasil panen yang
signifikan atau bahkan gagal panen. Petani cabai di Desa Gekbrong masih
kesulitan dalam menangani hama dan penyakit pada tanaman cabai. Petani
harus terus-menerus memantau tanaman mereka dan melakukan tindakan
pencegahan yang memerlukan waktu dan biaya tambahan.
c. Hanya memiliki satu saluran distribusi pemasaran
Petani cabai keriting hanya memiliki satu saluran distribusi ke
tengkulak sehingga beresiko signifikan terhadap ketergantungan yang
tinggi pada satu pembeli. Ketergantungan ini membuat mereka rentan
terhadap fluktuasi harga yang dikendalikan oleh tengkulak, sering kali
merugikan posisi tawar mereka dan mengurangi potensi keuntungan.
Selain itu, jika terjadi gangguan dalam hubungan dengan tengkulak atau
perubahan dalam permintaan dari tengkulak tersebut, petani bisa kesulitan
menjual hasil panennya, yang dapat menyebabkan kerugian finansial dan
penumpukan stok. Kurangnya saluran distribusi juga membatasi peluang
untuk menjangkau pasar yang lebih luas atau mendapatkan harga yang
lebih kompetitif.
d. Kegiatan usaha cabai yang masih sederhana dan mengikuti pola yang
sudah berjalan
Petani cabai keriting di Desa Gekbrong menjalankan kegiatan
usaha cabai keriting secara sederhana dan hanya mengikuti pola yang
sudah berjalan. Metode tradisional ini sering kali kurang adaptif terhadap
perubahan teknologi dan pasar, sehingga produktivitas dan efisiensi
cenderung rendah. Petani tersebut mungkin juga melewatkan peluang
untuk meningkatkan hasil panen melalui teknik pertanian modern atau
inovasi. Keterbatasan dalam pengetahuan dan penerapan praktik pertanian
terbaru dapat membuat mereka rentan terhadap hama, penyakit tanaman,
dan perubahan iklim, yang semuanya dapat berdampak negatif pada hasil
dan kualitas panen.
49
2. Faktor-Faktor Eksternal Usaha Cabai Keriting di Desa Gekbrong
1) Peluang
a. Permintaan dan harga jualtinggi
Cabai keriting adalah bahan pokok dalam masakan Indonesia,
digunakan dalam berbagai hidangan mulai dari sambal hingga bumbu
masakan. Permintaan yang konsisten dari rumah tangga, restoran, dan
industri makanan memastikan pasar yang stabil dan luas untuk cabai
keriting. Selain itu, meningkatnya popularitas masakan pedas secara
global membuka peluang lebih besar di pasar internasional. Harga cabai
keriting cenderung tinggi terutama saat musim paceklik atau saat produksi
menurun karena faktor cuaca atau serangan hama. Ini memberikan
peluang keuntungan yang lebih besar bagi petani cabai keriting di Desa
Gekbrong. Saat pasokan terbatas dan permintaan tetap tinggi, harga dapat
meningkat secara signifikan, memberikan pendapatan yang lebih tinggi
kepada petani yang mampu mempertahankan produksi.
b. Peningkatan Permintaan Ekspor
Pasar internasional mulai menunjukkan minat terhadap cabai keriting,
terutama di negara-negara dengan populasi imigran Indonesia atau yang
menyukai masakan pedas. Ekspor cabai keriting membuka peluang pasar
baru dan bisa memberikan harga yang lebih baik. Dengan standar kualitas
yang baik dan sertifikasi yang diperlukan, petani cabai keriting di Desa
Gekbrong dapat mengakses pasar global yang lebih luas.
c. Inovasi Teknologi
Penggunaan teknologi pertanian modern seperti irigasi tetes, sensor tanah,
dan pertanian berbasis data dapat meningkatkan efisiensi produksi.
Teknologi ini membantu petani mengoptimalkan penggunaan air dan
pupuk, mengurangi biaya, dan meningkatkan hasil panen. Teknologi juga
memungkinkan pemantauan kondisi tanaman secara real-time, sehingga
tindakan cepat dapat diambil jika ada masalah.
d. Diversifikasi Produk
Mengembangkan produk olahan dari cabai keriting, seperti saus, bubuk
cabai, dan acar, dapat membuka pasar baru dan meningkatkan pendapatan.
50
Diversifikasi ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah produk tetapi juga
membantu mengurangi risiko pasar dengan menawarkan berbagai produk
yang bisa menarik konsumen yang berbeda.
2) Ancaman
a. Perubahan Iklim dan ketergantungan cuaca
Perubahan iklim yang tidak menentu, seperti meningkatnya suhu,
perubahan pola curah hujan, dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem, dapat
berdampak buruk pada produksi cabai. Tanaman cabai sangat sensitif
terhadap perubahan lingkungan, sehingga perubahan iklim dapat
menyebabkan penurunan hasil panen dan kualitas produk.Produksi cabai
sangat bergantung pada kondisi cuaca yang baik. Cuaca ekstrem seperti
hujan lebat, kekeringan, atau perubahan iklim dapat merusak tanaman,
mengurangi hasil panen, dan bahkan menyebabkan gagal panen.
Ketergantungan ini membuat produksi cabai menjadi tidak stabil dan sulit
diprediksi.Persaingan yang ketat
Persaingan dengan petani lain, baik di tingkat lokal maupun internasional,
dapat mempengaruhi harga dan pasar. Jika produksi meningkat secara
signifikan, kelebihan pasokan dapat menyebabkan penurunan harga. Selain
itu, persaingan dari cabai impor dengan harga lebih murah bisa
mengancam posisi petani lokal di pasar.
b. Kebijakan Pemerintah yang Tidak Mendukung
Perubahan kebijakan pemerintah yang tidak mendukung sektor
pertanian bisa berdampak negatif. Misalnya, pengurangan subsidi,
perubahan regulasi ekspor-impor, atau kebijakan perdagangan yang tidak
menguntungkan bisa merugikan petani. Kebijakan ini dapat meningkatkan
biaya produksi atau membatasi akses ke pasar.Ketidakstabilan Ekonomi
Ketidakstabilan ekonomi, seperti inflasi, penurunan daya beli konsumen,
atau krisis ekonomi, dapat mempengaruhi permintaan pasar. Dalam situasi
ekonomi yang tidak stabil, konsumen cenderung mengurangi pengeluaran
mereka, termasuk untuk produk cabai, yang bisa mengurangi permintaan
dan harga di pasar. Harga cabai keriting di pasar dapat berfluktuasi dengan
cepat,
dipengaruhi
oleh
musim,
cuaca,
dan
tingkat
produksi.
51
Ketidakstabilan harga ini membuat pendapatan petani tidak menentu.
Ketika produksi melimpah dan harga jatuh, petani terancam mengalami
kerugian.
3. Analisis Matriks IFE dan Matriks EFE
Faktor-faktor kunci dari lingkungan internal dan eksternal petani
cabai keriting di Desa Gekbrong kemudian diolah menggunakan matriks
IFE dan matriks EFE agar dapat menemukan strategi yang tepat untuk
petani.
1. Analisis Matriks IFE (Internal Factor Evaluation)
Analisis matriks IFE digunakan untuk merumuskan faktor-faktor
kunci lingkungan internal. Petani cabai keriting di Desa Gekbrong
memiliki lingkungan internal yang terdiri dari lima kekuatan dan empat
kelemahan sebagai faktor-faktor kunci dengan memberikan bobot dan
peringkat yang didapatkan berdasarkan penilaian dari responden kemudian
mendapatkan hasil yang dikalikan dengan skor tertimbang. Analisis
matriks IFE dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Matriks IFE Usaha Cabai di Desa Gekbrong, 2024
Faktor-faktor Internal
Bobot Peringkat
Skor
Tertimbang
Kekuatan
A Berpengalaman dan memiliki
pengetahuan yang baik terhadap
budidaya cabai keriting
B Permodalan petani yang cukup
baik
C Dukungan
dari
lembaga
pemerintah dan lembaga nonpemerintah
D Motivasi tinggi petani dalam
menjalankan usaha cabai keriting
E Kebersamaan dan solidaritas
yang kuat
Kelemahan
F Biaya Produksi Tinggi
G Penanganan hama dan penyakit
yang belum baik
H Hanya memiliki satu saluran
0,114
4
0,455
0,098
3,5
0,343
0,104
4
0,416
0,106
3,75
0,396
0,120
3,75
0,449
0,128
0,108
2
1,25
0,256
0,135
0,108
1,75
0,189
52
distribusi pemasaran
I Kegiatan usaha cabai yang masih
sederhana dan mengikuti pola
yang sudah berjalan
Total
Sumber: Data Primer, 2024 (Diolah)
0,116
1,75
0,203
2,839
Berdasarkan hasil perhitungan matriks IFE pada Tabel 6
menunjukkan bahwa hasil kekuatan utama yang dimiliki petani cabai di
Desa Gekbrong yaitu berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang
baik terhadap budidaya cabai keriting dengan skor sebesar 0,455.
Kelemahan utama yang dimiliki yaitu keterbatasan pengetahuan dan
keterampilan anggota kelompok dengan skor 0,135. Hasil faktor
internal menunjukkan total skor sebesar 2,839 artinya petani cabai di
Desa Gekbrongmemiliki kekuatan internal karena memiliki total skor
yang diatas 2,5. Skor total kekuatan lebih besar dari skor total
kelemahan sehinggapetani cabai di Desa Gekbrong dapat menggunakan
kekuatan untuk mengatasi kelemahan yang ada dalam menjalankan
usaha cabai. Hasil penelitian ini sejalan dengan Lubis dan Mulyana
(2021) namun berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Arsyad et
al,
(2018)
dengan
hasil
penelitian
yaitu
rumusan
strategi
pengembangan agribisnis cabai merah terhadap kuadran2 sebesar
3,2443 dengan strategi S-T (Strength- Threats). Begitu pula
denganApriyanto dan Chofyan (2021) yang berada di kuadran III. Hal
ini menunjukkan bahwa rumusan strategi berdasarkan meminimalisir
kelemahan dan memanfaatkan peluang yang ada.
2. Analisis Matriks EFE (External Factor Evaluation)
Analisis matriks EFE (External Factor Evaluation) digunakan
untuk merumuskan faktor-faktor kunci lingkungan eksternal. Lingkungan
eksternal petani cabai di Desa Gekbrong terdiri dari empat kekuatan dan
empat kelemahan sebagai faktor-faktor kunci. Perhitungan matriks EFE
(External Factor Evaluation) sama dengan perhitungan matriks IFE
(Internal Factor Evaluation) yaitu dengan memberikan pembobotan dan
peringkat yang didapatkan berdasarkan penilaian dari responden kemudian
53
mendapatkan hasil yang dikalikan dengan skor tertimbang. Analisis
matriks EFE dapat dilihat pada Tabel .
Tabel 7. Matriks EFE Usaha Cabai di Desa Gekbrong, 2024
Faktor-faktor Internal
Bobot Peringkat
Peluang
A Permintaan dan harga jual tinggi
B Peningkatan Permintaan Ekspor
C Inovasi Teknologi
D Diversifikasi Produk
Ancaman
Iklim
E Perubahan
ketergantungan cuaca
F Persaingan yang ketat
G Kebijakan Pemerintah
Tidak Mendukung
H Ketidakstabilan Ekonomi
Skor
Tertimbang
0,129
0,135
4
4
0,515
0,542
0,102
4
0,409
0,118
3,75
0,442
dan
0,140
1,25
0,175
yang
0,122
0,129
1,5
1,75
0,183
0,226
0,125
1,25
0,156
Total
Sumber: Data Primer, 2024 (Diolah)
2,647
Berdasarkan hasil perhitungan matriks EFE pada tabel 7
menunjukkan bahwa hasil peluang yang dapat dimanfaatkan petani cabai
di Desa Gekbrong dalam mengembangkan usahacabai yaitu peningkatan
permintaan ekspor dengan skor 0,542. Ancaman yang perlu diwaspadai
dalam pengembangan agribisnis yaitu perubahan iklim dan ketergantungan
cuacadengan skor 0,175. Hasil faktor eksternal menunjukkan total skor
sebesar 2,647 artinya petani cabai di Desa Gekbrong merespon cukup baik
peluang yang ada dan dapat mewaspadai ancaman yang ada. Skor total
peluang lebih besar dari skor total ancaman sehingga petani cabai di Desa
Gekbrong dapat meraih dan memanfaatkan peluang yang ada untuk
mengatasi ancaman dalam mengembangkan usaha cabai.
54
4. Analisis Matriks IE (Internal Eksternal)
Analisis matriks IE merupakan tahap analisis penginputan data dengan
memanfaatkan total skor tertimbang dari faktor-faktor kunci pada matriks
IFE dan matriks EFE. Hasil total skor tertimbang dapat menentukan dan
melihat posisi petani cabai di Desa Gekbrong yang dijalankan diantara
sembilan sel yang terdapat di matriks. Berdasarkan total skor tertimbang
matriks IFE sebesar 2,839 dan matriks EFE 2,647 sehingga petani cabai di
Desa Gekbrongberada menghasilkan posisi pada sel ke V, dapat dilihat pada
Gambar 12.
Kuat 3.0-4.0
Sedang 2.0-2.99
I
II
Tinggi 3.0-4.0
Tumbuh/Kembangkan Tumbuh/Kembangkan
IV
V
Sedang 2.0-2.99
Tumbuh/Kembangkan
Pertahankan/Pelihara
VII
VIII
Rendah 1.0-1.99
Pertahankan/Pelihara
Divestasi
Sumber: Data Primer, Tahun 2024 (Diolah)
Lemah 1.0-1.99
III
Pertahankan
VI
Penciutan
IX
Likuidasi
Gambar 12.Matriks IE Petani Cabai di Desa Gekbrong
Berdasarkan hasil analisis matriks IE yang berada di kuadran V
menunjukkan bahwapetani cabai di Desa Gekbrongdapat dipertahankan atau
dipelihara. Strategi yang dapat diterapkan petani cabai di Desa Gekbrong
yaitu dengan penetrasi pasar dengan melakukan usaha meningkatkan
produktivitas usaha dan perluasan saluran distribusi pasar.
Petani dapat melakukan pelatihan untuk produk turunan cabai dan
melakukan
kegiatan
promosidenganmemanfaatkanteknologi
internet.Pengelolaaninternalyang baik dapat memudahkan petani dalam
menghadapi faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pengembangan
usaha dalam mencapai peluang dan menghindari ancaman yang akan datang
dapat meningkatkan nilai faktor eksternal.
Pengembangan produk dilakukan peningkatan kualitas produksi saat
ini, serta membuat produk turunan dari cabai merah menjadi produk olahan
industrisepertisaussambal,aboncabai,danjugacabaibubukuntukkeperluan
segmentasi pasar yang lebih luas. Untuk menghindari kerugian maka perlu
55
dilakukan
tindakan-tindakan
yang
dapat
mencegah
terjadinya
kerusakancabaimerahdiantaranyamelaluipengolahan(Ridwanetal,2017).
Penanganan pascapanen cabai merah dilakukan untuk meningkatkan
nilai jual, daya simpan, menyediakan bahan baku industri dan meningkatkan
pendapatan petani (Taufik, 2011). Berikut ini merupakan strategi yang
dihasilkan dari analisis SWOT.
Gabungan Matrik diagram SWOT 4 KUADRAN
Y
4
3
-
I
1
III
2
(1,276 , 1,168)
1
IV
Y
X
1
2
3
4
II
Gambar 13. Gabungan Diagram Matriks SWOT
5. Analisis Matriks SWOT
Berdasarkan hasil matriks SWOT pengembangan usaha cabai keriting
di Desa Gekbrong menghasilkan tujuh strategi yang dapat digunakan untuk
menentukan prioritas strategi, Berikut penjelasan dari sembilan alternatif
strategi, yaitu :
1.
Strategi SO (Strengh-Opprotunities)
Strategi
kekuatan
S-O
ini
merupakan
strategi
yang
menggunakan
dalam memanfaatkan peluang yang ada. Strategi S-O dalam
pengembangan usaha cabai keriting di Desa Gekbrong ini sebagai berikut ;
a. Penguatan kerjasama pasar antara petani cabai keriting dengan
pedagang
cabai
keriting yang orientasi kiriman ke luar daerah
(pedagang pengirim)
b. Penguatan kerjasama mitra (Kemitraan) dalam hal persediaan
saprodi antara pedagang dengan petani cabai keriting
56
c. Penguatan kelembagaan
kelompok tani cabai
keriting dengan
penyuluh pertanian untuk pemecahan persolan petani dalam kegiatan
usaha cabai keriting.
2.
Strategi ST (Strenght-Threat)
Strategi S-T inimerupakan strategi yang menggunakan kekuatan
dengan melihat ancaman yang ada dalam kegiatan usahacabai keriting.
Strategi S-T dalam pengembangan usaha cabai keriting di Desa Gekbrong
sebagai berikut ;
a. Pembuatan standar budidaya cabai keriting (SOP) dalam upaya
mengurangi risiko usaha cabai keriting
b. Peningkatkan kompetensi petani cabai keriting, tidak hanya dalam hal
pengetahuan budidaya tetapi juga pengetahuan tentang pasar cabai
keriting
3.
Strategi WO (Weakness-Opportunities)
Strategi
kelemahan
W-O
ini
merupakan
strategi
dengan
melihat
dengan memperhatikan adanya aspek peluang dalam kegiatan
usaha cabai keriting. Strategi W-O dalam pengembangan agribisnis cabai
keriting di Desa Gekbrong sebagai berikut ;
a. Pelatihan dan pembinaan petani cabai keriting dalam meningkatkan
produksi dan penerimaan usahatani cabai keriting
b. Pelatihan dan pembinaan dalam penanganan cabai keriting pascapanen
serta diversifikasi produk turunan
4.
Strategi WT (Weakness-Threat)
Strategi
W-T
ini
merupakan
strategi
dengan
melihat
kelemahan
dengan memperhatikan adanya aspek ancaman juga dalam kegiatan
agribisnis cabai keriting. Strategi W-T dalam pengembanganagribisnis cabai
keriting di Desa Gekbrong sebagai berikut ;
a. Pembuatan Pusat Informasi Usaha Cabai Keriting di Desa Gekbrong,
sehingga petani terbuka dan mudah mengetahui informasi yang
berkaitan dengan agribisnis cabai keriting.
b. Pembinaan kepada petani dalam pengendalian risiko usaha cabai keriting
di Desa Gekbrong
57
58
Kekuatan (S)
1. Berpengalaman
dan
memiliki pengetahuan
yang baik terhadap
budidaya cabai keriting
2. Permodalan petani yang
cukup baik
3. Dukungan dari lembaga
pemerintah
dan
lembaga
nonpemerintah
4. Motivasi tinggi petani
dalam
menjalankan
usaha cabai keriting
5. Kebersamaan dan
solidaritas yang kuat
Strategi SO
Kelemahan (W)
1. Biaya Produksi Tinggi
2. Penanganan hama dan
penyakit yang belum
baik
3. Hanya memiliki satu
saluran
distribusi
pemasaran
4. Kegiatan usaha cabai
yang masih sederhana
dan mengikuti pola
yang sudah berjalan
Peluang (O)
Strategi WO
1. Permintaan dan harga
1. Penguatan kerjasama
1. Pelatihan dan
jual tinggi
pasar antara petani
pembinaan petani cabai
2. Peningkatan Permintaan
cabai keriting dengan
keriting dalam
Ekspor
pedagang cabai
meningkatkan produksi
3. Inovasi Teknologi
keriting ke luar daerah
dan penerimaan
4. Diversifikasi Produk
(S1, S4, O1)
agribisniscabai keriting
2. Penguatan kerjasama
(W1, W2, W4, O3)
mitra dalam hal
2. Pelatihan dan
persediaan saprodi
pembinaan dalam
antara pedagang dengan
penanganan cabai
petani cabai keriting
keriting pascapanen
(S2, O3)
serta diversifikasi
3. Penguatan
produk turunan (W3,
kelembagaan kelompok
O4)
tani cabai keriting
dengan penyuluh
pertanian (S3, O2)
Ancaman (T)
Strategi ST
Strategi WT
1. Perubahan Iklim dan
1. Pembuatan standar
1. Pembuatan Pusat
ketergantungan cuaca
budidaya cabai
Informasi Usaha
2. Persaingan yang ketat
keriting (SOP) (S1, T1,
Cabai Keriting di
3. Kebijakan
Pemerintah
T2
Desa Gekbrong (W3,
yang Tidak Mendukung
2. Peningkatkan
T3
4. Ketidakstabilan Ekonomi
kompetensi petani cabai 2. Pembinaan kepada
keriting terkait
petani dalam
pengetahuan tentang
pengendalian risiko
pasar cabai keriting (S5,
usaha cabai keriting di
T4
Desa Gekbrong (W3,
T1
Tabel 8. Matriks SWOT Usaha Cabai Keriting di Desa Gekbrong, 2024
59
V.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka diperoleh kesimpulan
sebagai berikut :
Faktor-faktor internal yang dimiliki petani cabai keriting di Desa Gekbrong
terdiri dari kekuatan dan kelemahan sedangkan faktor eksternal yang dimiliki
petani cabai keriting di Desa Gekbrong terdiri dari peluang dan ancaman.Hasil
faktor internal menunjukkan total skor sebesar 2,839 artinya petani cabai di Desa
Gekbrong memiliki kekuatan internal karena memiliki total skor yang diatas 2,5.
Skor total kekuatan lebih besar dari skor total kelemahan sehinggapetani cabai di
Desa Gekbrong dapat menggunakan kekuatan untuk mengatasi kelemahan yang
ada dalam menjalankan usaha cabai. Sedangkan Hasil faktor eksternal
menunjukkan total skor sebesar 2,647 artinya petani cabai di Desa Gekbrong
merespon cukup baik peluang yang ada dan dapat mewaspadai ancaman yang ada.
Skor total peluang lebih besar dari skor total ancaman sehingga petani cabai di
Desa Gekbrong dapat meraih dan memanfaatkan peluang yang ada untuk
mengatasi ancaman dalam mengembangkan usaha cabai.
Petani cabai keriting di Desa Gekbrong telah menerapkan sistem agribisnis
dari hulu ke hilir. Sistem agribisnis secara umum pada petani cabai Kampung
Babakan sudah lengkap dijalankan, mulai dari subsistem pengadaan input,
subsistem produksi, subsistem pengolahan dan pascapanen, subsistem pemasaran
dan subsistem penunjang. Subsistem agribisnis dimulai dari subsistem pengadaan
input terdiri atas benih, media semai, pupuk kandang, pestisida dan pupuk kimia.
Subsistem produksi terdiri dari pengolahan lahan, penyemaian dan budidaya
tanaman. Subsistem penangan hasil pertanian terdiri dari sortasi dan penimbangan.
Subsistem pemasaran petani yaitu satu saluran.
Petani cabai keriting dengan manajemen yang baik dan struktur organisasi
yang sesuai memiliki fondasi yang kuat untuk operasional yang efisien dan
pengelolaan keuangan yang sehat. Namun, kurangnya perencanaan pemasaran dan
ketergantungan pada tengkulak membatasi potensi pendapatan mereka. Selain itu,
meskipun fasilitas dan peralatan dalam kondisi baik, kurangnya penelitian dan
60
pengembangan
menghambat
inovasi
dan
diversifikasi
produk.
Untuk
meningkatkan keberlanjutan dan profitabilitas, petani perlu fokus pada
perencanaan pemasaran yang lebih baik dan berinvestasi dalam penelitian dan
pengembangan produk.
Strategi yang tepat untuk digunakan berdasarkan posisi (pada sel Vpertahankan/pelihara) adalah pengembangan produk dan penetrasi pasar dengan
strategi yang dihasilkan ada 9 pilihan berdasarkan matriks SWOT yaitu sebagai
berikut :
1. Strategi SO (Strengh-Opprotunities)
Strategi
kekuatan
S-O
ini
merupakan
strategi
yang
menggunakan
dalam memanfaatkan peluang yang ada. Strategi S-O dalam
pengembangan usaha cabai keriting di Desa Gekbrong ini sebagai berikut ;
d. Penguatan kerjasama pasar antara petani cabai keriting dengan
pedagang
cabai
keriting yang orientasi kiriman ke luar daerah
(pedagang pengirim)
e. Penguatan kerjasama mitra (Kemitraan) dalam hal persediaan
saprodi antara pedagang dengan petani cabai keriting
f. Penguatan kelembagaan
kelompok tani cabai
keriting dengan
penyuluh pertanian untuk pemecahan persolan petani dalam kegiatan
usaha cabai keriting.
2. Strategi ST (Strenght-Threat)
Strategi S-T inimerupakan strategi yang menggunakan kekuatan
dengan melihat ancaman yang ada dalam kegiatan usahacabai keriting.
Strategi S-T dalam pengembangan usaha cabai keriting di Desa Gekbrong
sebagai berikut ;
c. Pembuatan standar budidaya cabai keriting (SOP) dalam upaya
mengurangi risiko usaha cabai keriting
d. Peningkatkan kompetensi petani cabai keriting, tidak hanya dalam hal
pengetahuan budidaya tetapi juga pengetahuan tentang pasar cabai
keriting
3. Strategi WO (Weakness-Opportunities)
61
Strategi
kelemahan
W-O
ini
merupakan
strategi
dengan
melihat
dengan memperhatikan adanya aspek peluang dalam kegiatan
usaha cabai keriting. Strategi W-O dalam pengembangan agribisnis cabai
keriting di Desa Gekbrong sebagai berikut ;
c. Pelatihan dan pembinaan petani cabai keriting dalam meningkatkan
produksi dan penerimaan usahatani cabai keriting
d. Pelatihan dan pembinaan dalam penanganan cabai keriting pascapanen
serta diversifikasi produk turunan
4. Strategi WT (Weakness-Threat)
Strategi
W-T
ini
merupakan
strategi
dengan
melihat
kelemahan
dengan memperhatikan adanya aspek ancaman juga dalam kegiatan
agribisnis cabai keriting. Strategi W-T dalam pengembanganagribisnis cabai
keriting di Desa Gekbrong sebagai berikut ;
c. Pembuatan Pusat Informasi Usaha Cabai Keriting di Desa Gekbrong,
sehingga petani terbuka dan mudah mengetahui informasi yang
berkaitan dengan agribisnis cabai keriting.
d. Pembinaan kepada petani dalam pengendalian risiko usaha cabai keriting
di Desa Gekbrong
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan, penulis
memberikan saran kepada petani cabai keriting di Desa Gekbrong sebaiknya
mengoptimalkan saranaproduksimenggunakanalatalatyanglebihmodernuntukmengefektifkan waktu kerja.
1. Petani dapat melakukan pengolahan hasil pertanian guna menambah
pendapatan jika hargan turu dan produk banyak contoh dibuat cabai kering,
pasta ataupun bumbu.
2. Petanisebaiknyaberbudidaya
yangsesuaidenganGAPtanamancabai
untuk
menghindari resiko.
3. Petani dapat menjalin kerjasama dengan mitra terkait sehingga lebih bisa
menstabilkan harga cabai keriting.
62
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 2012. Cabai rawit: Sinar cukup, panen kian lebat (2).
http://peluangusaha.kontan. co.id/news/cabai-rawit-sinar-cukuppanenkian- lebat-2thort.Lembang. Bandung Vol:XXVI. No. 1.1993
Arifin danArsyad. M(2016).PengantarAgribisnis. Bandung: Muhajidpress.
ISBN 987-979-762-500-9.
Apriyanto, M. T., dan Chofyan, I. (2021). Development Strategy of Red Chili
Agribusiness in Agropolitan Area, Ciamis Regency. Jurnal
Perencanaan Wilayah Dan Kota, 16(1), 9–16.
https://doi.org/10.29313/jpwk.v16i1
Arsyd,M.,Darman,S., danDamayanti,L.(2018).IncomeAnalysisandDevelopment
Strategy of Chilli Farming System in Tibo Village, Sindue Sub
District of Donggala District. J. Agroland, 25(3), 214–223.
Assauri,S.2017.StrategicManagement:SustainableCompetitiveAdvantages.
Depok :RajawaliPers.
BPS.2017.StatistikPertanian2017.Jakarta:BadanPusatStatistik Indonesia.
BPS.2021.Provinsi Jawa Barat Dalam Angka.Jakarta: Badan Pusat Statistik
Indonesia.
Bahri, H., 2016.PengadaandanPenyaluran
Sarana Produksi.
Makalah. http://haerulbahri11.blogspot.co.id/2016/01/vbehaviorurldefaultvmlo.html. (Diakses 9 Agustus 2024).
David,F.R., d a n Forest,R.D.2016.ManajemenStrategik:SuatuPendekatan
Keunggulan Bersaing. Yogyakarta : Salemba Empat.
Fahmi, I. 2014. Studi Kelayakan Bisnis dan Keputusan Investasi. Jakarta :
MitraWacana Media.
Fathoni,
2012. Sistem, Konsep, dan Pendekatan Agribisnis.
Artikel. https://fathoni0809.wordpress.com/bahankuliah/pengantaragribisnis/. (Diakses 9 Agustus 2024).
Ginting, E.T.U.B., Rizaldi, T., dan Sigalingging, R. 2018. Metode Optimum
Pengoperasian untuk Peningkatan Kerja Alat Penyemai Benih
padaSistem Dapog. Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian, 6(2): 354358.
Harpenas,A.danDermawan,R.,2011, Budidayacabaiunggul,PenebarSwadaya:
Jakarta.
Hasibuan, ASZ. 2015. Pemanfaatan Bahan Organik Dalam Perbaikan
Beberapa Sifat Tanah Pasir Pantai Selatan Kulon Progo. Planta
Tropika Journal of Agro Science. 3 (1).
Insan cita. 2016. Pemasaran cabai. https://belajartani.com/pantas-saja-hargacabai-mahal-rantai-pemasarannya-aja-begini/. (Diakses 28 Juli 2024).
63
Kahana, B. P. 2008. Strategi PengembanganAgribisnis Cabai Merah di
Kawasan Agropolitan Kabupaten Magelang. Journal. Universitas
Diponegoro.
Kotler,P.,danKeller,K.L.2009.ManajemenPemasaran,EdisiKetigaBelas.Jakarta
:PenerbitErlangga
Lubis, F.A., Harisudin, M., dan Fajarningsih, R. U.(2019).
StrategiPengembangan Agribisnis Cabai Merah di Kabupaten
Sleman dengan Metode Analytical Hierarchy Process.
AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development
Research, 5(2), 119-128.
Lubis, F. A., dan Mulyara, B. (2021). SWOT analysis of red chili agribusiness
development.Jurnal ofAgribusiness Sciences, 04(02), 67–77.
Lumika, N. C., & Tarore, M. L. (2017). Strategi Pengembangan Cabai
Keriting di Kecamatan Modayag Kabupaten Bolaang Mongondow
Timur. AGRI-SOSIOEKONOMI, 13(2A), 145-156.
Marhumi. (2018). Pengaruh Faktor Internal, Eksternal Organisasi Dan
Pendanaan
TerhadapMutuPerguruanTinggiDanImplikasinyaPadaPeningkatanCitr
a Perguruan Tinggi Swasta Di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Dan
Bisnis (Stieb) Perdana Mandiri Purwakarta. Jurnal Ekonomi dan
Bisnis, Vol.2 No.1. ISSN: 2338-0411.
Maulidah,Silvana.2012.PengantarManajemenAgribisnis.Malang:UBPress.
Porter,M.E.,dan A.Maulana.(2008).StrategiBersaing,TeknikMenganalisis Industri
dan Pesaing. Jakarta: Erlangga.
Sulaeni, S., dan Wibowo, A. S. (2018). Strategi Pengembangan Agribisnis
Cabai Merah Dikawasan Agropolitan Kabupaten Serang. Jurnal
Agribisnis Terpadu, 11(2), 141-151.
Rangkuti,F.2016.AnalisisSWOT:TeknikMembedahKasusBisnis.PTGramedia
Pustaka Utama. Jakarta.
Ridwan, MunawarAA, Khatir R.
2017.PeningkatanKualitasCabaiMerahKering Dengan Perlakuan
Blanching Dalam Natrium Metabisulfit. Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Pertanian. 2 (2) : 404-415.
Rindani, M. 2015. Kesesuaian lahan tanaman cabai merah di lahan jorong
kota
KenagarianLubuakBatingkok,Kecamatan.Harau,Kabupaten.LimaPulu
h Kot Payakumbuh. Nasional Ecopedon. 2(2): 28-33.
Salasa,A.R.2021.ParadigmadanDimensiStrategiKetahananPanganIndonesia.
JurnalAdministrasiPublik.13(1) :269-274.
Shinta,A.2011.IlmuUsahatani.Malang:Penerbit UBPress
Syifawanda Yasmin, R. A., Hepiana Lestari, D. A. and Marlina, L. 2022. The
Performance of Red ChilliAgribusiness System at Tunas Harapan
64
Farmer Group, Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian. 18(3) : 259276. doi: 10.20956/jsep.v18i3.21620.
Taufik, M. (2011). Analisis Pendapatan Usahatani dan Penanganan
Pascapanen Cabai Merah. Jurnal Penelitian dan Pengembangan
Pertanian, Badan Litbang Pertanian. 30 (2) : 66-7.
Yetnawatidan Hasnelly. 2021. Pengaruh Beberapa Jenis Mulsa
OrganikTerhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Terung (Solanum
melongena L). Jurnal Sains Agro. Vol. 6 (1).
65
LAMPIRAN
Lampiran 1. Kuesioner Penelitian
A. Daftar Pertanyaan Audit:
1. Apakah petani menggunakan strategi dalam menjual cabai? (Jika ya,
strategi seperti apa?)
a. Ya, menggunakan
b. Tidak
2. Apakah struktur organisasi kelompok tani sudah sesuai? (Jika tidak,
kendala apa yang dihadapi?)
a. Sudah sesuai
b. Belum sesuai
3. Apakah petani melakukan pemasaran dan perencanaan dalam menjual
cabai? (Jika ya, bagaimana dalam melakukan perencanaan pemasaran
tersebut?)
a. Ya, melakukan pemasaran dan perencanaan
b. Tidak, langsung menjual ke tengkulak
4. Apakah saluran distribusi saat ini sudah baik? (Bagaimana salurannya?)
a. Sudah
b. Belum
5. Apakah proses penganggaran modal efektif?
a. Ya, modal dialokasikan dengan baik
b. Belum, sebagian modal digunakan untuk kebutuhan sehari-hari
6. Apakah petani memiliki utang untuk permodalan? (Jika ya, berapa
jumlahnya)
a. Ya
b. Tidak
7. Apakah fasilitas, peralatan, dan mesin dalam kondisi yang baik?
a. Ya
b. Tidak
8. Apakah pasokan bahan input tersedia dan stabil harganya?
a. Ya, selalu tersedia dan stabil
b. Tidak, bahan input terkadang langka dan tidak stabil harganya
9. Apakah petani melakukan pengembangan produk cabai?
a. Ya
b. Tidak
10. Apakah petani menggunakan teknologi dalam membudidayakan cabai?
a. Ya
b. Tidak
66
B. Hasil Presentase Quisioner
KATEGORI
JUMLAH
PETANI
(ORANG)
30
PRESENTASE(%)
Struktur organisasi sudah sesuai
30
100%
Petani melakukan pemasaran, perencanaan
dalam menjual cabai merah keriting
3
10%
Saluran distribusi sudah baik
22
73,3%
Proses penganggaran modal efektif
30
100%
Petani memiliki hutang untuk permodalan
3
10%
Fasilitas, peralatan, dan mesin dalam kondisi
baik
Menyediakan stok/bahan input dan stabil
harganya
Petani melakukan pengembangan produk
cabai
30
100%
3
10%
30
100%
Penggunaan teknologi dalam membudidaya
cabai
30
100%
Petani menggunakan strategi dalam
penjualannya
100%
C. Pembobotan
IFE/EFE
A
A
B
C
D
Total
Xi
B
C
D
𝑛
Total
∑ 𝑥𝑖
𝑖=1
67
D. Pemeringkatan IFE/EFE
Faktor-faktor internal
Kekuatan
A
B
Kelemahan
C
Bobot
Peringkat
Skor Tertimbang
Bobot
Peringkat
Skor Tertimbang
D
Total
Faktor-faktor eksternal
Peluang
A
B
Ancaman
C
D
Total
68
Lampiran 2 Penilaian Pembobotan Terhadap Faktor-faktor Internal Petani


IFE
A
B
C
D
E
F
G
H
I
IFE
A
B
C
D
E
F
G
H
I
Kekuatan
A. Berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang baik terhadap
budidaya cabai keriting
B. Permodalan petani yang cukup baik
C. Dukungan dari lembaga pemerintah dan lembaga non-pemerintah
D. Motivasi tinggi petani dalam menjalankan usaha cabai keriting
E. Kebersamaan dan solidaritas yang kuat
Kelemahan
F. Biaya Produksi Tinggi
G. Penanganan hama dan penyakit yang belum baik
H. Hanya memiliki satu saluran distribusi pemasaran
I. Kegiatan usaha cabai yang masih sederhana dan mengikuti pola yang
sudah berjalan
A
2
2
2
3
3
2
2
2
A
2
2
2
1
3
3
1
3
B
2
2
2
2
3
2
2
1
B
2
2
2
2
3
3
1
3
C
2
2
2
1
1
2
2
1
C
2
2
2
1
2
3
3
3
Responden 1
D
E
F
G
2
1
1
2
2
2
1
2
2
3
3
2
2
2
2
2
1
3
1
3
3
2
1
1
2
1
1
2
2
3
3
1
Total
Responden 2
D
E
F
G
2
3
1
1
2
2
1
1
2
3
2
1
2
3
3
2
3
3
1
1
3
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
3
Total
H
2
2
2
2
3
3
2
I
2
3
2
2
1
1
3
3
Total Bobot
14
0,113
14
0,113
16
0,129
14
0,113
13
0,105
15
0,121
13
0,105
13
0,105
12
0,097
124
1
I
1
1
1
3
3
3
1
3
Total Bobot
15
0,116
12
0,093
12
0,093
17
0,132
17
0,132
16
0,124
13
0,101
12
0,093
15
0,116
129
1
1
H
3
3
1
2
3
3
3
3
69
IFE
A
B
C
D
E
F
G
H
I
IFE
A
B
C
D
E
F
G
H
I
A
2
2
2
2
3
3
2
2
A
3
3
3
3
3
2
2
3
B
2
2
2
3
3
3
1
3
B
1
3
3
2
2
2
2
2
C
2
2
2
2
3
3
2
2
C
1
1
3
3
3
2
2
2
Responden 3
D
E
F
G
2
2
1
1
2
1
1
1
2
2
1
1
2
1
2
2
1
2
3
3
2
2
2
2
2
2
3
2
3
2
2
2
Total
Responden 4
D
E
F
G
1
1
1
2
1
2
2
2
1
1
1
2
1
2
2
3
2
2
2
2
3
2
2
1
3
2
2
2
2
2
2
3
Total
H
2
3
2
2
2
1
2
I
2
1
2
1
2
2
2
2
Total Bobot
14
0,111
11
0,087
12
0,095
12
0,095
14
0,111
17
0,135
16
0,127
14
0,111
16
0,127
126
1
I
1
2
2
2
2
2
1
2
Total Bobot
10
0,082
12
0,098
12
0,098
14
0,115
16
0,131
16
0,131
12
0,098
15
0,123
15
0,123
122
1
2
H
2
2
2
1
2
2
2
2
70
Lampiran 3 Penilaian Pembobotan Terhadap Faktor-faktor Eksternal Petani


EFE
A
B
C
D
E
F
G
H
EFE
A
B
C
D
E
F
G
H
Peluang
A. Permintaan dan harga jual tinggi
B. Peningkatan Permintaan Ekspor
C. Inovasi Teknologi
D. Diversifikasi Produk
Ancaman
E. Perubahan Iklim dan ketergantungan cuaca
F. Persaingan yang ketat
G. Kebijakan Pemerintah yang Tidak Mendukung
H. Ketidakstabilan Ekonomi
A
2
1
1
3
1
1
1
A
2
2
2
1
3
2
1
B
2
1
3
3
1
1
3
B
2
2
2
1
3
2
1
C
3
3
2
3
3
3
3
C
2
2
2
1
3
3
1
Responden 1
D
E
F
3
1
3
1
1
3
2
1
1
2
1
2
3
3
1
3
1
1
3
3
3
Total
Responden 2
D
E
F
2
3
1
2
3
1
2
3
1
3
3
1
3
1
1
2
3
3
1
1
1
Total
G
3
3
1
1
3
3
H
3
1
1
1
1
1
3
Total
18
14
8
11
18
13
13
17
112
Bobot
0,161
0,125
0,071
0,098
0,161
0,116
0,116
0,152
1
H
3
3
3
3
3
3
3
Total
15
15
14
17
11
15
18
7
112
Bobot
0,134
0,134
0,125
0,152
0,098
0,134
0,161
0,063
1
1
G
2
2
1
2
1
1
1
71
EFE
A
B
C
D
E
F
G
H
EFE
A
B
C
D
E
F
G
H
A
2
2
1
2
3
2
2
A
3
2
2
3
3
3
3
B
2
1
1
2
1
1
1
B
1
2
3
2
1
3
3
C
2
3
2
2
2
2
2
C
2
2
2
3
2
3
3
Responden 3
D
E
F
3
2
3
3
2
3
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
1
2
2
Total
Responden 1
D
E
F
2
1
1
1
2
3
2
1
2
1
1
3
2
3
2
3
3
3
3
3
3
Total
G
2
3
2
3
2
2
H
2
3
2
3
2
2
2
Total
16
19
13
14
14
14
12
12
114
Bobot
0,140
0,167
0,114
0,123
0,123
0,123
0,105
0,105
1
H
1
1
1
1
1
1
2
Total
9
13
11
11
15
13
20
20
112
Bobot
0,080
0,116
0,098
0,098
0,134
0,116
0,179
0,179
1
2
G
1
1
1
1
1
1
2
72
Lampiran 4Rata-rata Penilaian Pembobotan Terhadap Faktor-faktor Internal
Petani
Total Bobot
Faktorfaktor
strategis
internal
Responden 1
A
B
C
D
E
0,113
0,113
0,129
0,113
0,105
F
G
H
I
0,121
0,105
0,105
0,097
Responden 2
Responden 4
Ratarata
Bobot
0,111
0,087
0,095
0,095
0,111
0,082
0,098
0,098
0,115
0,131
0,106
0,098
0,104
0,114
0,120
0,135
0,127
0,111
0,127
0,131
0,098
0,123
0,123
0,128
0,108
0,108
0,116
Responden 3
Kekuatan
0,116
0,093
0,093
0,132
0,132
Kelemahan
0,124
0,101
0,093
0,116
Lampiran 5 Rata-rata Penilaian Pembobotan Terhadap Faktor-faktor Eksternal
Petani
Total Bobot
Faktorfaktor
strategis
eksternal
Responden 1
A
B
C
D
0,161
0,125
0,071
0,098
E
F
G
H
0,161
0,116
0,116
0,152
Responden 2
Responden 3
Peluang
0,134
0,134
0,125
0,152
Ancaman
0,098
0,134
0,161
0,063
Responden 4
Ratarata
Bobot
0,140
0,167
0,114
0,123
0,080
0,116
0,098
0,098
0,129
0,135
0,102
0,118
0,123
0,123
0,105
0,105
0,134
0,116
0,179
0,179
0,129
0,122
0,140
0,125
73
Lampiran 6Rata-rata Penilaian Peringkat Terhadap Faktor-faktor Internal Petani
Faktorfaktor
Strategis
Internal
Peringkat
Responden 1
A
B
C
D
E
4
4
4
4
3
F
G
H
I
2
2
1
2
Responden 2 Responden 3 Responden 4
Kekuatan
3
4
4
3
4
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
Kelemahan
2
2
2
2
1
2
2
1
1
2
1
2
Rata-rata
Peringkat
3,75
3,5
4
4
3,75
2
1,75
1,25
1,75
Lampiran 7 Rata-rata Penilaian Peringkat Terhadap Faktor-faktor Eksternal Petani
Faktorfaktor
Strategis
Eksternal
Peringkat
Responden 1
A
B
C
D
4
4
4
3
E
F
G
H
2
1
1
1
Responden 2 Responden 3 Responden 4
Peluang
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
Ancaman
2
2
1
2
1
2
2
1
1
2
1
1
Rata-rata
Peringka
t
4
4
4
3,75
1,75
1,5
1,25
1,25
74
Lampiran 8 Dokumentasi Penelitian
1. Pak Dedi
2. Pak Basuki
3. Bu Safitri
4. Pak Etah &Pak Dadang
5. Pak Ace
6. Pak Jajang
75
7. Pak H. Jujum
8. Pertemuan bersama Petani
9. Pertemuan bersama Petani dan PPL
10. Pertemuan bersama BPP dan PPL
76
Download