STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS CABAI MERAH KERITING (Capsicum annuum L.)DI DESA GEKBRONGKECAMATAN GEKBRONG KABUPATENCIANJUR SKRIPSI Oleh : Ririn Setiawati 41205420120006 FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI AGRIBISNIS UNIVERSITAS NUSA BANGSA BOGOR 2024 STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS CABAI MERAH KERITING (Capsicim annuum L.)DI DESA GEKBRONG KECAMATAN GEKBRONG KABUPATEN CIANJUR SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Nusa Bangsa Oleh : Ririn Setiawati 41205420120006 FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI AGRIBISNIS UNIVERSITAS NUSA BANGSA BOGOR 2024 PERNYATAAN SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Strategi Pengembangan AgribisnisCabai Merah Keriting (Capsicum annuum L.)di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur” adalah murni karya saya dengan arahan Dosen Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari Karya Ilmiah yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir dari skripsi ini. Bogor, Agustus 2024 Ririn Setiawati NPM. 41205420120006 RINGKASAN RIRIN SETIAWATI Strategi Pengembangan AgribisnisCabai Merah Keriting (Capsicum annuum L.)di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur dibawah bimbingan LINAR HUMAIRA dan UNDANG. Kabupaten Cianjur merupakan daerah penyangga yang dapat menjaga kestabilan pasokan produksi cabai merah keriting di Jawa Barat. Salah satu daerah di Kabupaten Cianjur penghasil cabai merah keriting berada di Desa Gekbrong. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong, produksi cabai merah keriting tidak dapat dipastikan jumlahnya, hal tersebut disebabkan resiko terjadi gagal panen yang tinggi akibat hama, penyakit, dan cuaca. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 2020 luas panen Kecamatan Gekbrong untuk tanaman cabai merah keriting sebesar 74 ha dengan jumlah produksi sebesar 453 kuintal. Tahun 2021 terjadi kenaikan luas panen menjadi 118 ha dan jumlah produksi sebesar 1044 kuintal. Namun, tahun 2022 terjadi penurunan luas panen secara siginifikan yaitu hanya 4 ha dan jumlah produksi sebesar 230 kuintal. Tujuan penelitian ini untuk enganalisis sistem agribisnis petani cabai di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur, mengidentifikasi kondisi faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) yang terjadi dalam pengembanganagribisnis cabai merah keriting di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur, dan menentukan pilihan strategi alternatif yang tepat diterapkan dalam pengembangan agribisnis cabai merah keriting di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur. Hasil penelitian menunjukan petani cabai keriting di Desa Gekbrong telah menerapkan sistem agribisnis dari hulu ke hilir. Sistem agribisnis secara umum pada petani cabai Kampung Babakan sudah lengkap dijalankan, mulai dari subsistem pengadaan input, subsistem produksi, subsistem pengolahan dan pascapanen, subsistem pemasaran dan subsistem penunjang. Subsistem agribisnis dimulai dari subsistem pengadaan input terdiri atas benih, media semai, pupuk kandang, pestisida dan pupuk kimia. Subsistem produksi terdiri dari pengolahan lahan, penyemaian dan budidaya tanaman. Subsistem penanganan hasil pertanian terdiri dari sortasi dan penimbangan. Subsistem pemasaran petani yaitu satu saluran. Petani cabai keriting dengan manajemen yang baik dan struktur organisasi yang sesuai memiliki fondasi yang kuat untuk operasional yang efisien dan pengelolaan keuangan yang sehat. Namun, kurangnya perencanaan pemasaran dan ketergantungan pada tengkulak membatasi potensi pendapatan mereka. Selain itu, meskipun fasilitas dan peralatan dalam kondisi baik, kurangnya penelitian dan pengembangan menghambat inovasi dan diversifikasi produk.Strategi yang tepat untuk digunakan berdasarkan posisi (pada sel V-pertahankan/pelihara) adalah pengembangan produk dan penetrasi pasar dengan strategi yang dihasilkan ada 9 pilihan berdasarkan matriks SWOT Kata Kunci :Cabai Keriting, Strategi Pengembangan Usaha, Sistem Agribisnis, analisis SWOT SUMMARY RIRIN SETIAWATI Strategy for Farming Development of Curly Red Chilies (Capsicum annuum L.) in Gekbrong Village, Gekbrong District, Cianjur Regency under the guidance of LINAR HUMAIRA dan UNDANG. Cianjur Regency is a buffer area that can maintain the stability of the supply of curly red chili production in West Java. One of the areas in Cianjur Regency that produces curly red chilies is in Gekbrong Village. Based on interviews with curly red chili farmers in Gekbrong Village, the quantity of curly red chili production cannot be ascertained, this is due to the high risk of crop failure due to pests, disease and weather. Based on data from the Central Statistics Agency (BPS), in 2020 the harvest area in Gekbrong District for curly red chili plants was 74 ha with total production of 453 quintals. In 2021 there will be an increase in harvested area to 118 ha and total production of 1044 quintals. However, in 2022 there will be a significant decrease in harvested area, namely only 4 ha and total production of 230 quintals. The aim of this research is to analyze the agribusiness system of chili farmers in Gekbrong Village, Gekbrong District, Cianjur Regency, identify the conditions of internal factors (strengths and weaknesses) and external factors (opportunities and threats) that occur in the development of curly red chili farming in Gekbrong Village, Gekbrong District, Cianjur Regency, and determine the appropriate alternative strategy to be implemented in developing curly red chili farming in Gekbrong Village, Gekbrong District, Cianjur Regency. The research results show that curly chili farmers in Gekbrong Village have implemented an agribusiness system from upstream to downstream. The agribusiness system in general for chili farmers in Babakan Village is complete, starting from the input procurement subsystem, production subsystem, processing and post-harvest subsystem, marketing subsystem and supporting subsystem. The agribusiness subsystem starts from the input procurement subsystem consisting of seeds, seedling media, manure, pesticides and chemical fertilizers. The production subsystem consists of land processing, seeding and plant cultivation. The agricultural product handling subsystem consists of sorting and weighing. The farmer marketing subsystem is one channel. Curly chili farmers with good management and an appropriate organizational structure have a strong foundation for efficient operations and sound financial management. However, lack of marketing planning and dependence on middlemen limits their revenue potential. Additionally, although facilities and equipment are in good condition, a lack of research and development hinders product innovation and diversification. The appropriate strategy to use based on position (in cell V-defend/maintain) is product development and market penetration with the resulting strategy being 9 options based on the SWOT matrix Keywords : Curly Chili, Business Development Strategy, Agribusiness System, SWOT Analysis LEMBAR PENGESAHAN Judul Penelitian : Strategi Pengembangan AgribisnisCabai Merah Keriting (Capsicum annuum L.)di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur Nama : Ririn Setiawati NPM : 41205420120006 Fakultas : Pertanian Program Studi : Agribisnis Menyetujui Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Ir. Linar Humaira, MS. Dr. Undang, SP., M.Si. NIDN. 0019048304 NIDN. 0005116402 Mengetahui Dekan Fakultas Pertanian Universitas Nusa Bangsa Ketua Program Studi Agribisnis Universitas Nusa Bangsa Ir. Sari Anggarawati, M.Si. Ir. Dyah Budibruri Wibaningwati, M.Sc NIDN. 0406046502 NIDN. 0407026702 Tanggal Lulus: LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI Judul Penelitian : Strategi Pengembangan Agribisnis Cabai Merah Keriting (Capsicum annuum L.)di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur Nama : Ririn Setiawati NPM : 41205420120006 Fakultas : Pertanian Program Studi : Agribisnis Diterima sebagai salah satu syarat kelulusan pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Nusa Bangsa TIM PENGUJI 1. Ketua Sidang : Ir. Linar Humaira, MS. (…………………....) 2. Wakil Ketua : Dr. Undang, SP., M.Si (…………………...). 3. Penguji I : Dr. Faizal Maad. M.Si. (…………………....) 4. Penguji II : Dr. Anna Fitriani. S.P., M.Si (…………………....) 5. Penguji III :Anak Agung Eka Suwarnata, S.P., M.Agb (…………………....) Tanggal Sidang: 20 Agustus 2024 RIWAYAT HIDUP Penulis bernama lengkap Ririn Setiawati lahir di Bogor pada tanggal 28 Januari 2002 dari pasangan Bapak Ahmad Taufik dan Ibu Nurhayati. Penulis merupakan lulusan dari SDN 1 Dramaga pada tahun 2014 dan melanjutkan sekolah SMP di SMPN 1 Dramaga pada tahun 2014-2017 lalu menempuh SMA di SMAN 1Ciampea pada tahun 2017-2020 lalu penulis melanjutkan pendidikannya di Universitas Nusa Bangsa dan menjadi mahasiswa di Program Sarjana pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Nusa Bangsa. Selama menjadi mahasiswa di Fakultas Pertanian Universitas Nusa Bangsa, penulis aktif terlibat pada kegiatan organisasi BEM tingkat universitas sertafakultas. Selain itu, penulis juga aktif dalam kegiatan mahasiswa seperti paduan suara,ikatan muslim Universitas Nusa Bangsa dan Nusa Bangsa Herpetarium,untuk kegiatan eksternal kampus penulis juga telah mengikuti kegiatan kampus merdeka yaitu KKNT LLDIKTI wilayah IV , Bertani Untuk NegeriBatch6 , sertaturut ikut serta dalam programWirausaha Merdeka (WMK) yang diselenggarakan olehkampus merdeka yang dilaksanakan diInstitut Pertanian Bogor. KATA PENGANTAR Bismillahirrohmanirrohim Alhamdulillah, penulis panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya yang telah memberikan kesempatan pada penulis sehingga dapat menyelesaikan proposal usulan penelitian tepat pada waktunya. Proposal usulan penelitian ini berjudul “Strategi Pengembangan AgribisnisCabai Merah Keriting (Capsicum annuum L.)di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur”. Judul ini diangkat sebagai usulan penelitian karena ketertarikan penulis terhadap pemasaran cabai yang semakin hari terjadi impluktuasi harga sehingga dijadikan objek penelitian. Atas bantuan, bimbingan serta dorongan berbagai pihak, segala hambatan dan kesulitan yang ada dalam proses penulisan proposal usulan penelitian ini dapat teratasi dengan baik. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Ir. Linar Humaira, M.S selaku Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Bangsa yang dalam hal ini berperan sebagai Dosen Pembimbing Pertama pada penelitian yang akan penulis laksanakan. 2. Dr. Undang, SP, M.Siyang dalam hal ini juga berperan sebagai Dosen Pembimbing Kedua pada penelitian yang akan penulis laksanakan. 3. Ir. Dyah Budibruri Wibaningwati, M.Sc selaku Ketua Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Nusa Bangsa, M.S selaku Dosen Pembimbing Akademik yang senantiasa memberikan arahan serta bimbingan akademik selama penulis melaksanakan kegiatan perkuliahan. 4. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Bangsa yang telah memberikan ilmu pengetahuan, bimbingan serta arahan kepada penulis. 5. Segenap Keluarga Mahasiswa Fakultas Pertanian yang senantiasa membersamai dalam setiap proses yang penulis lakukan. 6. Keluarga tercinta yang telah memberikan dukungan penuh kepada penulis sehingga penulis dapat berada di tahap ini. 7. Kepada pihak yang telah membantu proses penyusunan penelitian ini. ii Akhir kata, penulis menyadari tanpa ridho dan pertolongan dari Allah SWT, serta bantuan, dukungan dan motivasi dari semua pihak skripsi ini tidak dapat diselesaikan. Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penulisan ini, penulis ucapkan banyak terima kasih dan semoga Allah SWT membalas segala bentuk kebaikan kalian. Aamiin Yarabbal’alamin. Bogor, Agustus 2024 Ririn Setiawati DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Rantai Pemasaran Cabai Petani ........................................................................12 Gambar 2. Model Lima Kekuatan Porter ...........................................................................16 Gambar 3. Kerangka Pemikiran .........................................................................................20 Gambar 3.Model Matriks IE (Internal External) di Tahap Pencocokan.............................26 Gambar 5. Matriks SWOT dalam Tahap Pencocokan .......................................................29 Gambar 6 Lahan Petani di Desa Gekbrong, 2024 ..............................................................33 Gambar 7 Benih Cabai Keriting F1 Hybrid di Desa Gekbrong, 2024 ...............................34 Gambar 8. Kegiatan Penyemaian Tanaman Cabai Keriting, 2024 .....................................35 Gambar 9. Kegiatan Persiapan Lahan Cabai Keriting di Desa Gekbrong .........................36 Gambar 10. Kegiatan Panen Cabai Keriting di Desa Gekbrong ........................................39 Gambar 8 Saluran Pemasaran Cabai Keriting di Desa Gekbrong ......................................39 Gambar 12. Matriks IE Petani Cabai di Desa Gekbrong ...................................................55 2 DAFTAR ISI DAFTAR ISI ............................................................................................................ 2 DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... 2 DAFTAR TABEL..................................................................................................... 5 I. PENDAHULUAN ........................................................................................... 7 A. Latar Belakang ............................................................................................. 7 B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 9 C. Tujuan Penelitian.......................................................................................... 9 D. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 9 E. Batasan dan Ruang Lingkup Penelitian ..................................................... 10 II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................. 11 A. Agribisnis Cabai ......................................................................................... 11 B. Manajemen Strategi ................................................................................... 12 C. Analisis Lingkungan Internal ..................................................................... 13 D. Analisis Lingkungan Eksternal .................................................................. 14 E. Formulasi Tahap Strategi ........................................................................... 17 F. Penelitian Terdahulu ................................................................................... 18 G. Kerangka Pemikiran ................................................................................... 19 III. METODOLOGI PENELITIAN ................................................................. 21 A. Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................................... 21 B. Jenis dan Sumber Data ............................................................................... 21 C. Metode Pengumpulan Data ........................................................................ 21 D. Metode Pengolahan dan Analisis Data ....................................................... 21 E. Analisis Strategi Pengembangan Usaha ..................................................... 21 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................. 29 A. Sistem Agribisnis Petani Cabai Keriting di Desa Gekbrong ...................... 29 B. Identifikasi Lingkungan Internal dan Eksternal Usaha Petani Cabai di Desa Gekbrong ............................................................................................................ 41 C. V. Strategi Pengembangan Usaha Petani Cabai Keriting di Desa Gekbrong . 47 KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................................... 60 A. Kesimpulan ................................................................................................ 60 B. Saran ........................................................................................................... 62 3 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 63 LAMPIRAN ........................................................................................................... 66 4 DAFTAR TABEL Tabel 1. Matriks IFE (Internal Factor Evaluation) di Tahap Input ....................................22 Tabel 2. Matriks EFE (External Factor Evaluation) di Tahap Input...................................24 Tabel 3. Penilaian Bobot Untuk Matriks IFE dan Matriks EFE.........................................25 Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin.........................................30 Tabel 5 Karakteristik Responden Pengalaman Berusahatani .............................................32 Tabel 6. Matriks IFE Usaha Cabai di Desa Gekbrong, 2024 .............................................52 Tabel 7. Matriks EFE Usaha Cabai di Desa Gekbrong, 2024 ............................................54 Tabel 8. Matriks SWOT Usaha Cabai Keriting di Desa Gekbrong, 2024..........................59 5 DAFTAR GRAFIK Grafik 1. Luas panen dan jumlah produksi cabai merah keriting ........................................ 8 6 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki potensi cukup besar di bidang pertanian dengan tersedianya keadaan iklim tropis dan kondisi tanah yang subur sesuai untuk bercocok tanam. Sehingga perkembangan jumlah produksi pada sektor pertanian dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap pajak negara, peningkatan devisa negara, dan penyerapan tenaga kerja (Salasa,2021). Sub kategori hortikultura telah berkontribusi secara nyata dalam mendukung perekonomian nasional, baik dalam penyedia produk pangan, kesehatan dan kosmetika, perdagangan, penciptaan produk domestik bruto maupun penyerapan tenaga kerja (BPS, 2017). Salah satu komoditas hortikultura yaitu sayur-sayuran, baik sayuran daun maupun sayuran buah memiliki nilai ekonomis tinggi dan mempunyai potensi untuk terus dikembangkan. Dalam perkembangannya, sayur-sayuran cukup memberikan keuntungan yang besar karena didukung oleh potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, ketersediaan, teknologi, dan potensi serapan pasar di dalam negeri maupun pasar internasional yang terus meningkat. Cabai (Capsicum annuum L.) merupakan tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomi serta nutrisi yang tinggi. Kandungan gizi yang terdapat pada tanaman cabai seperti protein, lemak, karbohidrat, kalsium, vit (A dan C) menjadikan cabai sebagai komoditi yang dibutuhkan masyarakat untuk bahan masakan (Rindani, 2015). Cabai merah keriting merupakan tanaman musiman yang berkayu, tumbuh di daerah dengan iklim tropis. Tanaman ini dapat tumbuh dan berkembang biak didataran tinggi maupun dataran rendah. Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi cabai merahkeriting di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistika (2023) produksi cabai merahkeriting di Jawa Barat mengalami fluktuasi selama lima tahun terakhir, pada tahun 2018 jumlah produksi cabai merah keriting yaitu sebesar 274 ton, lalu mengalami penurunan menjadi 264 ton pada tahun 2019. Namun pada tahun 2020 mengalami peningkatan menjadi 265 ton. Tahun 2021 produksi cabai 7 merahkeriting mengalami penurunan drastis, yaitu menjadi 174 ton. Kemudian meningkat di tahun 2022 sebesar 195 ton dan kembali mengalami penurunan di tahun 2023, yaitu menjadi 186 ton. Penurunan mutu dan produksi cabai yang tidak stabil disebabkan oleh serangan organisme pengganggu tanaman, posisi petani masih lemah dalam pemasaran sehingga harga jual cabai rendah, modal petani yang terbatas sehingga penggunaan sarana produksi belum optimal, masih jarangnya dilakukan pengolahan cabai, serta peran layanan penunjang yang belum dimanfaatkan secara optimal (Syifawanda dkk, 2022) Kabupaten Cianjur merupakan daerah penyangga yang dapat menjaga kestabilan pasokanproduksi cabai merah keriting di Jawa Barat. Salah satu daerah di Kabupaten Cianjur penghasil cabai merah keriting berada di Desa Gekbrong. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong, produksi cabai merah keriting tidak dapat dipastikan jumlahnya, hal tersebut disebabkan resiko terjadi gagal panen yang tinggi akibat hama, penyakit, dan cuaca. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dapat dilihat pada grafik berikut : Luas Panen dan Jumlah Produksi Cabai Merah Keriting di Desa Gekbrong 140 118 120 104,4 100 80 60 74 45,3 40 23 20 4 0 2020 2021 Luas Panen (ha) 2022 Jumlah Produksi (ton) Grafik 1. Luas panen dan jumlah produksi cabai merah keriting Tahun 2020 luas panen Kecamatan Gekbrong untuk tanaman cabai merah keriting sebesar 74 ha dengan jumlah produksi sebesar 45,3 ton. Tahun 2021 terjadi kenaikan luas panen menjadi 118 ha dan jumlah produksi sebesar 104,4 8 ton. Namun, tahun 2022 terjadi penurunan luas panen secara siginifikan yaitu hanya 4 ha dan jumlah produksi sebesar 23 ton sehingga untuk dapat memperkuat usaha petani dalam membudidayakan cabai merah keriting maka perlu dilakukan analisis lingkungan internal dan eksternal untuk dapat diidentifikasi faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) serta merumuskan pilihan strategi yang tepat bagi pengembangan usaha yang dijalankan. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, maka diperlukan suatu analisis untuk mengidentifikasi faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) serta merumuskan pilihan strategi yang tepat. Berikut adalah rumusan masalah yang akan diteliti, antara lain yaitu : 1. Bagaimana kondisi faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) yang ada dalam pengembangan agribisnis cabai merah keriting di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur. 2. Bagaimana pilihan strategi alternatif yang tepat diterapkan dalam pengembangan agribisnis cabai merah keriting di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur. C. Tujuan Penelitian 1. Menganalisis serta mengidentifikasi kondisi faktor internal (kekuatan dan kelemahan)danfaktoreksternal(peluangdanancaman) yang terjadidalam pengembangan agribisnis cabai merah keriting dan sistem agribisnis petani cabai di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur. 2. Menentukan pilihan strategi alternatif yang tepat diterapkan dalam pengembangan agribisnis cabai merah keriting di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur. D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah informasi serta sumbangan bahan kajian bagi penelitian selanjutnya, khususnya mengenai strategi 9 pengembangan agribisnis cabai merah keriting (Capsicum annuum L.).Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan masukkan kepada para pelaku agribisniscabai merah keriting dalam mengembangkan usaha yang dijalankan. Terlebih penelitian ini dapat menjadi informasi dan kajian untuk seluruh masyarakat yang akan memulai agribisnispada komoditas cabai. E. Batasan dan Ruang Lingkup Penelitian Batasan serta ruang lingkup pada penelitian ini membahas mengenai analisis lingkungan internal dan eksternal agribisnis cabai merah keriting pada musim tanam ke-2 serta menentukan pilihan strategi yang tepat bagi petani dalam mengembangkan usahanya. Penelitian ini dilakukan di wilayah Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur. 10 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Agribisnis Cabai Capsicum annuum L. dikenal sebagai cabai merah, terdiri atas cabai merah besar, cabai keriting, dan paprikamerupakan komoditas sayuran yang banyak mendapat perhatian karena memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Kebutuhan akan cabai terus meningkat setiap tahun sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri yang membutuhkan bahan baku cabai (Harpenas, 2011). Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) (2017), komoditas cabai memiliki peluang usaha yang cukup baik dapat dilihat dari kebutuhan dalam negeri dan luar negeri yang menjadikan tanaman cabai sebagai komoditas yang mempunyai prospek pasar menjanjikan. Kebutuhan masyarakat Indonesia akan cabai terus meningkat setiap tahunnya. Namun, harganya sering mengalami fluktuasi yang sangat drastis(Harpenas, 2011). Menurut Shinta (2011) agribisnis adalah suatu kesatuan usaha yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai pengadaan saprodi, produksi, pengolahan hasil dan pemasaran dihasilkan agribisnis atau hasil olahannya. Agribisnis merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai subsistem yaitu : 1. Subsistem penyediaan input atau sarana produksi, mengacu pada komponen input baik untuk usaha, maupun untuk komponen dalam agribisnis. 2. Subsistem produksi, di dalam komponen inilah berlangsungnya kegiatan pertanian yang mengubah input menjadi produk primer. 3. Subsistem pascapanen, subsistem ini yang bertanggung jawab atas pengubahan bentuk bahan baku yang dihasilkan oleh agribisnis menjadi produk akhir pada tingkat pengecer. Pada subsistem ini menghasilkan nilai tambah paling besar dibanding dengan subsistem lainnya. 4. Subsistem pemasaran, subsistem ini mencakup pemasaran hasil-hasil agribisnis. Kegiatan utama subsistem ini adalah pengembangan informasi rantai pemasaran. Rantai pemasaran cabai merah keriting dapat dilihat sebagai berikut: 11 Gambar 1. Rantai Pemasaran Cabai Petani 5. Subsistem penunjang, merupakan subsistem yang menunjang kegiatan prapanen dan pascapanen yang meliputi penyuluhan, perbankan, kebijakan pemerintah, pembangunan dan lain-lain B. Manajemen Strategi Menurut David dan Forest (2016), manajemen strategi dapat dideskripsikan sebagai keterampilan dan pengetahuan dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi keputusan yang melibatkan berbagai fungsi organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan utama dari manajemen strategi adalah menciptakan dan mengidentifikasi peluang baru dan inovatif untuk masa depan, dengan fokus pada perencanaan jangka panjang. Manfaat dari manajemen strategi adalah membantu organisasi dalam merumuskan strategi melalui pendekatan yang lebih sistematis, terstruktur, dan logis dalam pengambilan keputusan strategis. Assauri (2017) menyatakan bahwa keputusan strategi dalam strategi manajemen adalah keputusan yang terkait dengan pengembangan jangka panjang dari organisasi untuk meningkatkan kompetensi yang berbeda dari sebelumnya. Kesuksesan strategi sangat tergantung pada efektivitas implementasinya. Manajemen strategi meliputi tiga tahap utama: merumuskan strategi, menjalankan strategi, dan menyiarkan strategi. Merumuskan strategi melibatkan langkah-langkah seperti membentuk visi dan misi organisasi, mengidentifikasi peluang dan ancaman dari lingkungan eksternal, menggali kekuatan dan kelemahan internal, serta menetapkan tujuan jangka panjang. Implementasi 12 strategi membutuhkan pembentukan tujuan spesifik, kebijakan, dan penentuan alokasi sumber daya agar strategi tersebut dapat dijalankan dengan sukses. Implementasi strategi berarti mengubah formulasi strategi menjadi tindakan konkret yang dapat dijalankan oleh organisasi. Evaluasi strategi merupakan tahap terakhir dalam manajemen strategi. Menurut David dan Forest (2016), ada tiga kegiatan utama dalam evaluasi strategi, yakni meninjau faktor-faktor internal dan eksternal yang menjadi dasar strategi, mengukur kinerja, dan mengambil tindakan korektif. C. Analisis Lingkungan Internal Untuk mengenali kelebihan dan kekurangan suatu usaha, diperlukan analisis lingkungan internal. Identifikasi kekuatan dan kelemahan ini kemudian dapat dinilai untuk melihat agribisnis secara keseluruhan. Lingkungan internal agribisnis mencakup berbagai aspek, seperti manajemen, produksi, pemasaran, keuangan, penelitian dan pengembangan, serta sistem informasi manajemen(David dan Forest, 2016). Enam hal tersebut yang menjadi kekuatan utama dalam menganalisis kondisi internal, yakni: 1. Manajemen Manajemen terdiri dari aktivitas-aktivitas penting yang merupakan ukuran dalam perencanaan strategis karena organisasi menggunakan kekuatan manajemen untuk mendapatkan keuntungan dan memperbaiki area manajemen yang kurang optimal. Menurut David dan Forest (2016), terdapat lima kegiatan inti dalam manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pemotivasian, penunjukkan staf, dan pengendalian. 2. Pemasaran Pemasaran melibatkan deskripsi, antisipasi, pembuatan, dan pemenuhan kebutuhan konsumen untuk produk dan jasa (David dan Forest, 2016). Dalam analisis pemasaran, terdapat bauran pemasaran yang terdiri dari empat kelompok yang diketahui sebagai "4P" yaitu produk, harga, tempat, dan promosi (Kotler dan Keller, 2009). 3. Keuangan Menetapkan kekuatan dan kelemahan keuangan sebuah usaha adalah hal yang sangat vital dalam merumuskan strategi secara efisien. Pertimbangan utama 13 dalam menilai posisi kompetitif usaha dan daya tarik investasi sering kali didasarkan pada kondisi keuangan usaha. Menurut David dan Forest (2016), keuangan memiliki kecenderungan untuk mengubah strategi yang telah ada dan merombak rencana implementasi. 4. Produksi atau Operasional Aktivitas produksi atau operasional dalam sebuah bisnisyakni untuk merubah bahan input menjadi output baru yang dapat diterima oleh masyarakat. Terdapat lima aktivitas yang dapat dinalisis yang meliputi proses produksi, kapasitas produksi, persediaan, tenaga kerja, dan kualitas (David dan Forest, 2016). 5. Penelitian dan Pengembangan Perubahan eksternal dapat mempengaruhi kondisi internal, sehingga diperlukan penelitian dan pengembangan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Hal ini dapat dicapai melalui pengembangan produk, peningkatan kualitas produk, penyempurnaan proses produksi, atau pengurangan biaya produksi. Secara umum, penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk mendukung usaha yang sudah ada, menciptakan produk baru, meningkatkan efisiensi produksi, serta memperluas kemampuan penggunaan teknologi dalam usahatani (David dan Forest, 2016). 6. Sistem Informasi Manajemen David dan Forest (2016) menjelaskan bahwa sistem dapat berupa aktivitas seperti mengumpulkan, menyimpan, dan menyajikan informasi guna memberikan informasi yang jelas dan bermanfaat. Sistem informasi manajemen memiliki kemampuan untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan manajerial dan juga memungkinkan untuk menyampaikan informasi secara cepat dan efisien. D. Analisis Lingkungan Eksternal Analisis kondisi eksternal diinterpretasikan sebagai peluang dan ancaman yang dihadapi oleh sebuah usaha. Kondisi Eksternal dibagi menjadi lingkungan makro dan lingkungan industri. Menurut David dan Forest (2016) mengelompokkan lingkungan makro meliputi lima kategori sebagai berikut: 1. Lingkungan Makro 14 Lingkungan makro mengacu pada faktor eksternal usaha yang mempengaruhi kinerja agribisnis. Lingkungan ini menghadirkan peluang dan ancaman bagi bisnis. Lingkungan makro eksternal meliputi kebijakan ekonomi, sosial, politik dan pemerintahan, teknologi dan faktor demografi. a. Ekonomi Dalam menyusun strategi, kekuatan ekonomi sangat penting bagi pelaku usaha. Faktor ekonomi mengakibatkan daya tarik potensi dari berbagai strategi. Beberapa faktor ekonomi, seperti inflasi, suku bunga, fluktuasi mata uang, dan kondisi pasar, dapat mempengaruhi pemasaran produk. b. Sosial, Budaya, dan Lingkungan Segala jenis pasar, produk, pelanggan, dan layanan akan terpengaruh dengan perubahan secara signifikan dalam aspek budaya, sosial, dan lingkungan. Setiap usaha memiliki sejumlah tujuan yang berbeda, termasuk pencapaian laba dan pencapaian yang tidak berorientasi pada laba, serta menghadapi peluang dan ancaman yang terjadi akibat transisi budaya, sosial, lingkungan, dan demografi. Tren-tren dalam bidang budaya, sosial, lingkungan, dan demografi memengaruhi pola kerja, gaya hidup, produksi, dan pola konsumsi masyarakat. Perubahan baru ini menghasikan berbagai jenis pelanggan, layanan serta kebutuhan akan produk yang berbedasehingga strategi yang digunakan juga akan bervariasi. c. Politik, Pemerintahan, dan Hukum Faktorpemerintahan, politik dan hukum juga memiliki dampak besar terhadap organisasi, baik itu usaha kecil maupun besar. Pemerintah di tingkat pusat maupun daerah bertanggung jawab untuk membuat regulasi, menderegulasi, memberikan subsidi, menciptakan lapangan kerja, dan berperan sebagai konsumen utama bagi organisasi. Terdapat beberapa faktor pemerintahan, politik dan hukum yang bisa menjadi peluang dan ancaman bagi usahatani, terutama untukpetani yangbergantung dengansubsidi pemerintahataukontrak. d. Teknologi Teknologi dapat membawa peluang dan ancaman besar sehingga perlu dipertimbangkan saat menyusun strategi bisnis. Perkembangan teknologi yang cepat memiliki dampak besar terhadap berbagai aspek bisnis seperti produk, 15 layanan, pasar,strategi pemasaran, distributor,pemasok, pelanggan, posisi kompetitif, pesaing danproses produksi. Perkembangan teknologi menghasilkan pasar baru, mendorong inovasi produk, mengganti dinamika biaya dalam persaingan industri, serta meningkatkan layanan dan produk yang telah ada dan kuno. Kekuatan teknologi juga menghasilkan keunggulan bersaing baru yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya. 2. Lingkungan Industri Terkait lingkungan industri, penekanan diberikan pada karakteristik persaingan di lingkungan tempat beroperasi. Ini melibatkan faktor-faktor mengenai persaingan, seperti ancaman yang dihadapi oleh petani dan kekuatan yang dimilikinya, serta faktor-faktor persaingan internal seperti masuknya pendatang baru, produk pengganti, kebutuhan pelanggan, pemasok, dan pesaing seperti yang dapat dilihat pada Gambar 2berikut : Gambar 2.Model Lima Kekuatan Porter Ruang lingkup kelima kekuatan bersaing tersebut, antara lain: a. Ancaman pendatang baru, yang dapat ditentukan dengan hambatan masuk ke dalam usaha, antara lain, hambatan harga, respon incumbent, biaya yang tinggi, pengalaman incumbent dalamusaha, keunggulan biaya, diferensiasi produk, akses distribusi, kebijakan pemerintah dan switching cost. b. Kekuatan tawar-menawar pemasok, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain tingkat konsentrasi pasar, diversifikasi, switching cost, organisasi 16 pemasok dan pemerintah. Pemasok yang kuat dapat menekan profitabilitas dari usahatani yang tidak mampu untuk mengimbangi kenaikan harga. c. Kekuatan tawar-menawar pembeli dipengaruhi oleh beragam faktor seperti diferensiasi, kepentingan, akses informasi,tingkat pendapatan, konsentrasi, preferensi terhadap kualitas produk, dan switching cost. d. Ancaman produk subtitusi, yang ditentukan oleh harga produk subtitusi, switching cost, dan kualitas produk. Ancaman dari produk subtitusi menyebabkan industri membatasi laba potensial dengan menetapkan batas harga maksimum yang dapat diberlakukan. Mengidentifikasi produk pengganti memerlukan usaha untuk menemukan barang/jasa lain yang mampu menggantikan kegunaan yang sama dengan barang/jasa dalam industri. Produk pengganti yang patut diperhatikan adalah produk yang cenderung menawarkan harga atau kinerja yang lebih berkualitas daripada produk petani dan diproduksi oleh usahatani yang memiliki keuntungan yang tinggi. e. Persaingan internal dalam agribisnis ditentukan oleh sejumlah faktor, termasuk hambatan masuk dan keluar, struktur biaya, switching cost, pengalaman petani,pertumbuhan pasar, dan perbedaan dalam strategi yang digunakan untuk meraih posisi dengan strategi pengenalan produk,peningkatan layanan atau jaminan kepada pelanggan, persaingan harga, dan perang iklan. E. Formulasi Tahap Strategi Pentingnya integrasi teknik formulasi strategi dalam kerangka kerja pembuatan keputusan sehingga memungkinkan dapat diterapkan untuk semua jenis dan skala organisasi yang dapat membantu dalam proses identifikasi dan pemilihan strategi (David dan Forest, 2016). Langkah pertama dalam mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang terdiri dari matriks IFE (Internal Factor Evaluation) dan matriks EFE (External Factor Evaluation). Langkah kedua dalam proses merumuskan strategi adalah tahap pencocokan, yang bertujuan untuk menciptakan alternatif strategi yang sesuai dengan faktor-faktor internal dan eksternal yang krusial. Dalam pencocokan tahap, beberapa matriks, seperti matriks IE dan matriks SWOT, digunakan untuk menghasilkan berbagai alternatif strategi yang mendukung pencarian strategi 17 prioritas pada tahap keputusan (David dan Forest, 2016). Berikut merupakan contoh dari perhitungan analisis IFE dan EFE (Lumika, 2017) : F. Penelitian Terdahulu Penelitian yang dilakukan oleh Lubis dkk (2019) yang berjudul “Strategi Pengembangan Agribisnis CabaiMerah di Kabupaten Sleman dengan MetodeAnalytical Hierarchy Process”. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 5 aspek kekuatan, 5 aspek kelemahan, 5 aspek peluang, dan 5 aspek ancaman. Seluruh aspek internal dan eksternal menjadi dasar dalam membuat alternatif strategi. Posisi matrik grand strategy terletak pada kuadran I. Terdapat 5 alternatif strategi yang dihasilkan dan dimasukan ke dalam struktur hirarki AHP. Dari 5 18 alternatif strategi, yang terpilih adalah strategi 05 dengan nilai bobot prioritas 0.357, yaitu pengembangan pasar lelang cabai dengan teknologi digital. Penelitian yang dilakukan oleh Sulaeni dan Wibowo (2018) yang berjudul “Strategi Pengembangan Agribisnis Cabai Merah di Kawasan Agropolitan Kabupaten Serang”. Hasil analisis menunjukkanbahwa dalam satu musim petani cabai di daerah agropolitan Kabupaten Serang berpenghasilan Rp.53.881.058,84 / hektar. Hal ini disebabkan kolaborasi antara elemen petani, birokrat, pengusaha danelemen pendukung. Hasil analisis regresi dalam penelitian agribisnis cabai merah di wilayahagropolitan Kabupaten Serang adalah Y = 6,213 + 0,435X10,338X2 + 0,136X3 + 0,017X4-0,404X5+ 1,031X6. Benih, pupuk, mulsa, dan tenaga kerja sangat berpengaruh terhadap pendapatanpertanian cabai merah. Jika pengukuran 4 faktor tidak sesuai dengan lima peternakan, itu dapatmempengaruhi atau mengurangi pendapatan petani. Berdasarkan hasil analisis SWOT dengan nilaimenunjukkan bahwa perbedaan peluang dan ancaman adalah 0,92, sedangkan perbedaan antarakekuatan dan kelemahan adalah 0,82. Kemudian strategi pengembangan cabai merah di wilayahAgropolitan Kabupaten Serang adalah di kuadran I di mana ia mendukung strategi agresif yangmenggambarkan situasi yang sangat baik karena memiliki peluang dan kekuatan, sehingga dapatmemanfaatkan peluang yang ada, strategi yang harus diimplementasikan mendukung kebijakanpertumbuhan yang agresif. Dalam mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif, strategi prioritasyang dapat diterapkan dalam upaya pengembangan agribisnis untuk pertanian cabai dalammenyerang kabupaten agropolitan adalah dengan melaksanakan lima strategi pertanian, menanammenggunakan benih unggul dan memanfaatkan kesuburan tanah dan mengoptimalkan sumber dayamanusia sehingga produksi sumber daya terbatas dan serangan organisme penyakit tanaman dapatdiatasi. G. Kerangka Pemikiran Petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong mengalami penurunan produksi cabai merah keriting yang diakibatkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah terjadi gagal panen. Maka dari itu, perlu dilakukan analisis lingkungan internal dan lingkungan eksternal agribisnis untuk dapat disusun 19 strategi yang tepat digunakan oleh petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2. Penurunan Produksi Cabai Merah Keriting di Desa Gekbrong Analisis Lingkungan Internal dan Lingkungan Eksternal agribisnis Cabai Merah Keriting di Desa Gekbrong Strategi Pengembangan Cabai Merah Keriting Gekbrong Identifikasi Faktor Internal dan Eksternal Formulasi Strategi: 1. Matriks IE 2. Matriks SWOT 1. Matriks IFE 2. Matriks EFE Usahatani di Desa Rekomendasi Strategi Pengembangan agribisnis Cabai Merah Keriting di Desa Gekbrong keterangan: 1. IFE (Internal Factor Evaluation) 2. EFE (External Factor Evaluation) 3. SWOT(strengths/kekuatan, weaknesses/kelemahan, opportunities/peluang, dan threats/ancaman) Gambar 3. Kerangka Pemikiran 20 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Rencana penelitian ini akan dilakukan di wilayah Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur. Kegiatan pengambilan data pada penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2024. B. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang akan digunakan adalah jenis data primer dan sekunder yang terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Data primer bersumber dariwawancara langsung denganresponden yang sudah ditentukan. Data sekunder bersumber dari studi pustaka dan informasi dari beberapa instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan sumber referensi-referensi lainnya berupa makalah, hasil penelitian terdahulu dari jurnal. C. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang akan digunakan pada penelitian ini adalah: Penentuan sampel petani dalam penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu para judgement expertdiantaranya petani cabai yang telah berproduksi dan menjual hasil panen, ketuakelompok tani, dan ketua Gapoktan.Jumlah responden yang dijadikan sampel sebanyak 10 responden, terdiri dari 4 orang ketua kelompok tani, 1 orang Gapoktan, dan 5 orang petani cabai.Pihak eksternal yang dijadikan responden adalah penyuluh pertanian Desa Gekbrong sebanyak 1 orang. D. Metode Pengolahan dan Analisis Data Metode analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis strategi pengembangan usaha yang meliputi Matriks IFE, Matriks EFE, Matriks IE, dan Matriks SWOT. Data primer yang telah didapatkan dalam penelitian ini kemudian diolah dengan menggunakan Microsoft Excel. E. Analisis Strategi Pengembangan Usaha Analisis strategi pengembangan usaha cabai merah dengan menggunakan metode wawancara dan pengisian kuesioner oleh responden yang terkait strategi 21 pengembangan usaha. Kuesioner berisi pertanyaan yang didapatkan dari hasil studi literatur untuk mendapatkan variabel berupa kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Hasil dari kuesioner tersebut selanjutnya akan dikonfirmasi ulang kepada pihak responden agar mendapatkan variabel yang sesuai dengan keadaan lingkungan usaha pada petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong. Analisis strategi pengembangan dilakukan menggunakan matriks IFE, matriks EFE, matriks IE, dan matriks SWOT. Berikut merupakan penjelasan dari analisis strategi pengembangan: 1. Matriks IFE (Internal Factor Evaluation) Matriks IFE digunakan untuk mengidentifikasi faktor internal yaitu kekuatan dan kelemahan yang dimiliki petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Matriks IFE (Internal Factor Evaluation) di Tahap Input Faktor-faktor internal Kekuatan Kelemahan - Bobot Peringkat Skor Tertimbang - - - - - - Total Sumber : David dan Forest (2016) Langkah-langkah dalam mengidentifikasi faktor internal dalam matriks IFE sebagai berikut: 1) Membuat daftar faktor internal, termasuk kekuatan dan kelemahan yang sesuai dengan kondisi usaha petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong. 2) Menentukan bobot masing-masing faktor internal kekuatan dan kelemahan dengan rentang berkisar antara 0,0 (tidak penting) hingga 1,0 (penting). Pembobotan akan diberikanpada faktor-faktor yang dianggap berdampak pada kemajuan agribisnis cabai dan pemberian bobot akan dilakukan oleh responden dari pihak internal maupun eksternal. Bobot total untuk semua faktor internal harus berjumlah satu (1,0). 22 3) Memberikan penilaian skala 1 hingga 4 untuk setiap faktor internal, baik kekuatan maupun kelemahan. Peringkat 1 = kelemahan besar, peringkat 2 = kelemahan kecil, peringkat 3 = kekuatan kecil, 4 = kekuatan besar. Responden dari pihak internal maupun eksternal memberikan peringkat yang disesuaikan dengan setiap variabel yang ada. Dalam pemberian peringkat, penting untuk memperhatikan bahwa kekuatan harus mendapatkan peringkat 3 atau 4, sementara kelemahan sebaliknya diberi peringkat 1 atau 2. 4) Perkalian bobot dengan peringkat untuk setiap faktor internal, baik kekuatan maupun kelemahan, digunakan untuk menentukan hasil skor tertimbang. 5) Menentukan total skor tertimbang faktor internalagribisnis dengan menjumlahkan setiap faktor kekuatan dan kelemahan Total skor tertimbang dalam matriks IFE berkisar dari rendah yaitu, 1,0 hingga tinggi yaitu, 4,0 tanpa memperhatikan jumlah faktor yang ada, dengan skor rata-rata sebesar 2,5. Total skor yang kurang dari 2,5 menunjukkan petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong Indonesia mempunyai kelemahan internal. Total skor di atas 2,5 menunjukkan memiliki kekuatan internal. 2. Matriks EFE (Eksternal Factor Evaluation) Untuk mengidentifikasi faktor eksternal yaitu peluang dan ancaman yang dimiliki petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong menggunakan matriks EFE. Identifikasi faktor eksternal di matriks EFE dilakukan dengan langkahlangkah sebagai berikut (David dan Forest, 2016) : 1) Membuat daftar faktor eksternal berupa peluang dan ancaman menyesuaikan kondisi lingkungan eksternalagribisnis. 2) Menentukan bobot masing-masing faktor eksternal peluang dan ancaman dengan rentang berkisar antara 0,0 (tidak penting) hingga 1,0 (penting). Pemberian bobot akan dilakukan oleh responden yang berperan dalam perumusan strategi. Bobot total untuk semua faktor eksternal harus berjumlah satu (1,0). 3) Memberikan penilaian skala 1 hingga 4 untuk setiap faktor eksternal untuk mengindikasikan seberapa besarpetani cabai merah keriting di 23 Desa Gekbrong merespon peluang dan ancaman yang ada di industrinya. Peringkat 4 = tanggapan untuk menggapai peluang yang sangat besar, peringkat 3 = tanggapan untuk menggapai peluang cukup besar, peringkat 2 = tanggapan untuk mengatasi ancaman yang cukup tinggi , peringkat 1 = tanggapan untuk mengatasi ancaman sangat tinggi. Pemberian peringkat didasarkan pada efektivitas strategi. Mengkalikan bobot dengan peringkat pada setiap faktor eksternal peluang dan ancaman untuk menentukan hasil skor tertimbang. 4) Menentukan total skor tertimbang faktor eksternal agribisnis dengan menjumlahkan setiap faktor peluang dan ancaman Matriks EFE dalam strategi pengembangan usaha tanaman cabai secara lebih detail dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Matriks EFE (External Factor Evaluation) di Tahap Input Faktor-faktor eksternal Bobot Peringkat Skor Tertimbang Peluang Ancaman - - - - - - - Total Sumber: David dan Forest (2016) Nilai total skor yang tertimbang dalam matriks EFE berkisar dari 1,0 (rendah) hingga 4,0 (tinggi), tanpa memperhatikan jumlah faktor yang ada dengan skor rata-ratanya adalah 2,5. Total skor tertimbang di atas 2,5 menunjukkan bahwa agribisnis merespon baik peluang dan ancaman yang ada di industrinya. Strategi agribisnis yang efektif, peluang dapat dimanfaatkan dan dampak dari ancaman eksternal dapat diminimalkan. Menurut David (2016), jika skor total tertimbang kurang dari 2,5 menunjukkan bahwa strategi usahatani tidak memanfaatkan peluang atau menghindari ancaman eksternal. Penetapan bobot dalam menganalisis internal dan eksternal usahatani cabai menggunakan kuesioner dengan memberikan pertanyaan kepada para pakar yang paham kondisi usahataani cabai merah keriting di Desa 24 Gekbrongmelalui metode paired comparison (perbandingan berpasangan). Metode ini digunakan untuk menilai bobot dari setiap faktor internal dan eksternal. Tabel penilaian pembobotan dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Penilaian Bobot Untuk Matriks IFE dan Matriks EFE IFE/EFE A B C D A Total Xi B C D 𝑛 Total ∑ 𝑥𝑖 𝑖=1 Sumber : David dan Forest, 2016 Penentuan bobot untuk setiap faktor menggunakan skala 1, 2, dan 3. Skala ini digunakan dalam pengisian kolom dengan interpretasi sebagai berikut: 1 = Indikator horizontal kurang penting daripada indikator vertikal 2 = Indikator horizontal sama penting dengan indikator vertikal 3 = Indikator horizontal lebih penting daripada indikator vertikal Untuk membaca perbandingan dimulai dari variabel baris (indikator vertikal) dibandingkan dengan variabel kolom (indikator horizontal) dan perlu tetap konsisten dalam penilaian. 3. Matriks IE Matriks IE merupakan langkah untuk menggabungkan skor tertimbang dari matriks EFE (External Factor Evaluation) dan IFE (Internal Factor Evaluation) ke dalam satu matriks. Matriks IE menggunakan faktor internal dan eksternal untuk mengevaluasi posisi usaha dengan total skor tertimbang yang ditetapkan dalam setiap sel. Matriks IE memiliki tiga pengaruh utama yang berdampak pada strategi yang berbeda. Dampak-dampak tersebut terdiri dari Growth and Build (pertumbuhan dan pengembangan) yang berada di sel I, II, dan IV. Salah satu strategi efektif adalah menerapkan strategi intensif seperti penetrasi pasar, pengembangan pasar, atau pengembangan produk, serta strategi integratif seperti integrasi ke belakang, ke depan, dan horizontal. Hold and Maintain (pertahankan dan jaga) digunakan untuk sel III, V, dan VII. Strategi yang 25 biasanya diterapkan meliputi penetrasi pasar dan pengembangan produk. Sedangkan Harvest or Divest (panen atau divestasi) diterapkan pada sel VI, VIII, dan IX. Beberapa strategi yang sering digunakan dalam konteks ini adalah strategi divestasi, strategi diversifikasi konglomerat, dan strategi likuidasi (David dan Forest, 2016). Matriks IE dapat dilihat pada Gambar 3. Kuat 3.0-4.0 Sedang 2.0-2.99 Lemah 1.0-1.99 Tinggi 3.0-4.0 I II III Sedang 2.0-2.99 IV V VI Rendah 1.0-1.99 VII VIII IX Sumber : David dan Forest (2016) Gambar 4.Model Matriks IE (Internal External) di Tahap Pencocokan Menurut Rangkuti (2016), matriks internal dan eksternal dikembangkan dari model General Electric (GE-Model). Matriks IE terdiri dari 9 sel dengan tiga strategi utama. Pertama, strategi pertumbuhan (growth strategy) pada sel I, II, dan V yang fokus pada pertumbuhan usaha itu sendiri atau diversifikasi (sel VII dan VIII). Kedua, strategi stabilitas (stability strategy) pada sel IV dan V yang diimplementasikan tanpa mengubah strategi yang sudah ditetapkan. Dan ketiga, retrenchment strategy (sel III, VI, dan IX) yang bertujuan mengurangi kegiatan agribisnis cabai merah keriting. 4. Kuadran SWOT Gambar 4. Kuadran SWOT Kuadran SWOT digunakan dalam analisis SWOT untuk mengorganisir faktorfaktor internal dan eksternal dalam suatu perusahaan atau situasi ke dalam empat kuadran yang berbeda. Setiap kuadran mewakili kombinasi antara 26 faktor-faktor positif dan negatif, serta peluang dan tantangan. Berikut adalah penjelasan singkat tentang setiap kuadran SWOT: Kuadran I: Strengths (Kekuatan) - Opportunities (Peluang) Kuadran I adalah area yang menggambarkan kombinasi kekuatan internal yang dimiliki perusahaan dengan peluang eksternal yang ada di pasar. Pada kuadran ini, perusahaan dapat memanfaatkan kekuatan-kekuatannya untuk mengambil keuntungan dari peluang yang tersedia. Perusahaan dapat menggunakan keunggulan kompetitif dan sumber daya yang kuat untuk menciptakan strategi yang efektif dan sukses. Strategi yang diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (growth oriented strategy) Kuadran II: Strengths (Kekuatan) - Threats (Ancaman) Kuadran II adalah area yang melibatkan kombinasi antara kekuatan internal perusahaan dengan ancaman eksternal yang dihadapinya. Perusahaan harus menggunakan kekuatan-kekuatannya untuk mengatasi atau mengurangi dampak dari ancaman-ancaman yang ada di lingkungan bisnis. Ini membutuhkan strategi pertahanan yang efektif dan kemampuan untuk memanfaatkan keunggulan yang dimiliki agar tetap kompetitif di pasar. Strategi yang perlu diterapkan adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi diversifikasi (produk/pasar). Kuadran III: Weaknesses (Kelemahan) Opportunities (Peluang) Kuadran III mencakup kelemahan internal yang dimiliki perusahaan dengan peluang eksternal yang ada. Perusahaan harus melakukan evaluasi yang jujur terhadap kelemahankelemahan ini dan mencari cara untuk memanfaatkan peluang yang tersedia di pasar. Ini mungkin melibatkan peningkatan atau perbaikan dalam hal-hal yang perusahaan lemah, sehingga dapat mengambil keuntungan dari peluang yang ada. Strategi yang perlu diterapkan adalah meminimalkan masalah-masalah perusahaan sehingga dapat merebut peluang pasar yang lebih baik atau mendukung strategi turnaround. Kuadran IV: Weaknesses (Kelemahan) - Threats (Ancaman) Kuadran IV adalah area yang mencakup kelemahan internal perusahaan dengan ancaman eksternal yang ada. Pada kuadran ini, perusahaan harus berhati-hati untuk mengidentifikasi dan mengatasi kelemahan-kelemahan yang dapat memperburuk dampak dari ancaman yang dihadapi. Dalam situasi ini, 27 perusahaan perlu mengembangkan strategi untuk memperbaiki kelemahan internal dan menghadapi ancaman yang ada atau disebut juga strategi defensif. Pemahaman terhadap keempat kuadran ini membantu perusahaan dalam merumuskan strategi yang tepat. Kuadran I menjadi target untuk dimaksimalkan, Kuadran II mengidentifikasi area perbaikan, Kuadran III menunjukkan kekuatan yang bisa diandalkan dalam menghadapi ancaman, dan Kuadran IV mengingatkan perusahaan terhadap kelemahan yang dapat memperburuk ancaman. Analisis SWOT secara keseluruhan membantu perusahaan dalam merencanakan langkah-langkah yang efektif untuk mencapai tujuan dan memanfaatkan peluang yang ada (Assylla, 2022). 5. Matriks SWOT (Strength, Weakness, Opportunites, Threat) Matriks SWOT digunakan untuk menentukan strategi alternatif yang dapat dipilih oleh petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong dengan mempertimbangkan kondisi faktor kunci internal dan eksternal. Matriks SWOT akan menghasilkan beberapa alternatif strategi dalam empat strategi utama (SO, ST, WO, WT). Menurut Rangkuti (2016), analisis matriks SWOT fokus pada memaksimalkan kekuatan dan peluang, sekaligus meminimalkan kelemahan dan ancaman secara bersamaan. Menurut David (2016), ada delapan langkah yang perlu diikuti untuk membentuk sebuah matriks SWOT, yaitu : 1. Membuat daftar kekuatan internal kunci 2. Membuat daftar kelemahan internal kunci 3. Membuat daftar peluang eksternal kunci 4. Membuat daftar ancaman eksternal kunci 5. Melakukan pencocokan kekuatan internal dengan peluang eksternal dan strategi SO dicatat dalam sel yang ditentukan. 6. Melakukan pencocokan kelemahan internal dengan peluang eksternal dan mencatat strategi WO dalam sel yang ditetapkan. 7. Melakukan pencocokan kekuatan dalam agribisnisdengan ancaman yang datang dari luar dan mencatat strategi ST dalam sel yang ditentukan 8. Mencocokkan kelemahan internal dengan ancaman eksternal dan mencatat strategi WT dalam sel yang ditentukan. 28 Ada beberapa kegunaan analisis SWOT dalam membantu pengambilan keputusan, antara lain (Fahmi 2014) : a. Memberikan deskripsi dari empat sudut pandang yaitu kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman sehingga pengambil keputusan dapat memiliki pemahaman yang lebih komprehensif. b. Dapat digunakan sebagai panduan dalam merencanakan keputusan jangka panjang c. Dapat menjadi penilaian rutin dalam melihat proses dari setiap keputusan yang telah dibuat. Matriks SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) menurut David (2016) dapat dilihat pada Gambar 4. Kekuatan (S) 1. … 2. … 3. … Kelemahan (W) 1. … 2. … 3. … Peluang (O) 1. … 2. … 3. … Strategi SO Menggunakan kekuatan yang ada untuk memanfaatkan peluang Strategi WO mengatasi kelemahan dengan memanfaatkan peluang yang ada Ancaman (T) 1. … 2. … 3. … Strategi ST Menggunakan kekuatan untuk menghindari ancaman yang ada Strategi WT Meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman Faktor Internal Faktor Eksternal Sumber : David dan Forest (2016) Gambar 5.Matriks SWOT dalam Tahap Pencocokan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Batas Desa, Kondisi Geografis dan Demografis Desa Gekbrong adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur dengan luas wilayah administratif sebanyak 1.563,5 ha yang terdiri dari : 1. Lahan Darat : 748 ha 2. Lahan Ladang : 205 ha 3. Pemukiman : 55 ha 29 4. Persawahan : 27 ha 5. Perkebunan : 457 ha 6. Perkantoran : 3 ha 7. Lahan Pekarangan : 2 ha 8. Lahan Lainnya : 49 ha 9. Luas Tanah Kas Desa :17,5 ha Secara Topografi Desa Gekbrong merupakan daerah perbukitan/dataran tinggi dengan iklim yang sejuk sehingga banyak mengacu pada pola taman sayur mayur dan palawija. Secara Geografis, Desa Gekbrong berbatasan dengan daerah-daerah sebagai berikut : 1. Sebelah Utara : Desa Kebunpeuteuy 2. Sebelah Selatan : Desa Cikahuripan 3. Sebelah Barat : Desa Titisan 4. Sebelah Timur : Desa Songgom B. Karakteristik Petani Di Desa Gekbrong Penentuan sampel petani dalam penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu para judgement expert diantaranya petani cabai yang telah berproduksi dan menjual hasil panen, ketua kelompok tani, dan ketua Gapoktan. Jumlah responden yang dijadikan sampel sebanyak 26 responden, terdiri dari 22 orang petani cabai sebagai pihak internal sedangkan pihak eksternal yang dijadikan responden adalah penyuluh pertanian Desa Gekbrong sebanyak 4 orang. Karakteristik utama dari sampel penelitian ini adalah petanicabai merah keriting yang berada di Desa Gekbrong, Kecamatan Gekbrong, KabupatenCianjur.Karakteristikmeliputiumur,jeniskelamin,pendidikantera khir,luaslahan,statuskepemilikanlahandanpengalamanberusahatani.Berikut beberapakarakteristikpetanicabaimerahdiDesaGekbrong, Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No Jenis Jumlah Kelamin (orang) Presentase(%) 30 1 Laki-laki 24 92,3% 2 Perempuan 2 7,7% 26 100% Total Sumber : Analisis Data Primer, 2024 Berdasarkan hasil wawancara Dari tabel 4 menunjukan bahwa dalam penelitian ini terdapat dua jenis kelamin responden. Jumlah responden dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 26 orang dengan persentase 92,3%, sedangkan jumlah responden dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 2 orang dengan presentase 7,7%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa responden cabai merah di Desa Gekbrong didominasi oleh responden dengan jenis kelamin laki-laki. Hal ini disebabkan karena matapencaharian utama keluarga di Desa Gekbrong adalah pertanian. 31 Tabel 5 Karakteristik Responden Pengalaman Berusahatani No Pengalaman Jumlah Presentase Berusahatani (Orang) (%) (Tahun) 1 <10 8 30,7% 2 11-20 7 26,9% 3 21-30 4 15,3% 4 31-30 4 15,3% 5 41-50 2 7,7% 6 >50 1 4,1% 26 100% Total Berdasarkan Tabel 5 diatas, dapat dilihat data pengalaman berusahatani di Desa Gekbrong sebagian besar berada pada kisaran 10 sampai 30 tahun dengan jumlah petani yang sudah berusahatani kurang dari 20 tahun sebanyak 8 orang atau sama dengan 30,7% dari total presentasi responden, petani dengan pengalaman 11 sampai 20 tahun sebanyak 7 orang dan petani dengan pengalaman 21 sampai 30 tahun sebanyak 4 orang. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani di Desa Gekbrong sudah berpengalaman dalam berusahatani. Kebanyakan petani memulai dan melanjutkan usahatani pada saat mereka berada pada usia sekolah dan ada juga setelah menikah atau berkeluarga. C. Sistem Agribisnis Petani Cabai Keriting di Desa Gekbrong Pada analisis sistem agribisnis, terdapat 5 susbsistem agribisnis yaitu subsistem pengadaan input, subsistem budidaya, subsistem pascapanen, subsistem pemasaran, dan subsistem penunjang. 1. Subsistem Pengadaan Input Berdasarkan hasil wawancara dengan petanicabai keriting di Desa Gekbrong, dalam pengadaan input produksi yaitu terdiri dari lahan, benih, media 32 semai, dolomit, pupuk kandang, pupuk kimia, dan pestisida. Peralatan yang digunakan yaitu cangkul, arit, sprayer gendong, drum, tugal, dan alat kocor. Untuk peralatan pascapanen terdiri atas ember, dan karung. Pelaku-pelaku kegiatan pengadaan dan penyaluran sarana produksi adalah perorangan, perusahaan swasta, pemerintah, koperasi. Betapa pentingnya subsistem ini mengingat perlunya keterpaduan dari berbagai unsur itu guna mewujudkansuksesagribisnis.Industriyangmeyediakansaranaproduksipertanian disebut juga sebagai agroindustri hulu (Bahri, 2016). BerdasarkanhasilwawancaradenganpetanicabaikeritingdiDesaGekbro ng, dalam pengadaan input produksi yaitu terdiri dari lahan, benih, media semai, dolomit, pupuk kandang, pupuk kimia, dan pestisida. Peralatan yang digunakan yaitu cangkul, arit, sprayer gendong, drum, tugal, dan alat kocor. Untuk peralatan pascapanen terdiri atas ember, dan karung. Luas lahan yang digunakan petani untuk cabai keriting cukup beragam. Rerata lahan cabai keriting yang dimiliki petani di Desa Gekbrong berkisar 1000 m2 hingga 5000 m2. Berikut merupakan lahan petani sampel dapat dilihat pada Gambar 6. a. Lahan Bapak Ade b. Lahan Bapak Oleh c. Lahan Bapak Basuki d. Lahan Bapak Jajang Gambar 6 Lahan Petani di Desa Gekbrong 33 Adapun benih cabai keriting yang digunakan petani berbeda-beda dengan varietas yang berbeda-beda pula. Ada yang menggunakan benih cabai keriting dari Oriental Seed, Tani Murni, maupun Panah Merah. Begitupun dengan pupuk dan pestisida yang digunakan untuk produksi cabai keriting sangat beragam. Petani biasanya menggunakan pupuk kandang dengan kohe ayam ataupun kohe kambing, serta pupuk kimia. Adapun Pupuk kimia yang biasa digunakan yaitu pupuk NPK Mutiara, Phonska, dan TSP. Pembelian benih cabai keriting, pupuk dan pestisida dari toko yang berada di Pasar Gekbrong dan toko disekitar tempat tinggal petani. Benih cabai keriting yang sering digunakan petani dapat dilihat pada Gambar 7. Gambar 7Benih Cabai Keriting F1 Hybriddi Desa Gekbrong 2. Subsistem Budidaya Cabai Keriting Kegiatan budidaya cabai keriting petani di Desa Gekbrong menggunakan pola tumpangsari dengan tanaman lain seperti tomat, kubis, dan sawi. Tujuan dari pola tumpangsari yaitu untuk menambah pendapatan sementara selagi menunggu tanaman cabai keriting memasuki masa panen. Produksi cabai keriting diawali dengan penyemaian, persiapan lahan tempat tanam, penanaman, pemeliharaan, panen dan pascapanen. (Edufarmers, 2023) 2.1 Penyemaian Persemaian benih merupakan tahapan yang terpenting untuk budidaya tanaman padi yang akan disemai dari benih menjadi bibit (Ginting et al., 2018). Penyemaian yang dilakukan petanicabai keriting di Desa Gekbrong yaitu 34 menggunakan netpot yang terbuat dari daun pisang. Petani biasa menyebut “pocis”. Media semai yang digunakan yaitu campuran bahan arang sekam dan tanah. Ada juga petani yang menggunakan cocopeat dan pupuk kandang pada media semai. Perlakuan benih setiap petani berbeda-beda, ada yang direndam dengan air hangat kuku dan ada juga yang tidak diberi perlakukan. Kemudian, benih dimasukan satu per satu pada lubang netpot yang telah disimpan ditempat persemaian. Benih yang telah dimasukkan ditutupi dengan tanah dan disiram. Lalu ditutup menggunakan jaring dan plastik UV yang disangga dengan kayu bambu berbentuk U terbalik. Hal tersebut dilakukan agar tanaman cabai cepat berkecambah dan mengurangi gangguan seperti hama maupun hewan lainnya. Kegiatan penyemaian dapat dilihat pada Gambar 8. Gambar 8. Kegiatan Penyemaian Tanaman Cabai Keriting 2.2Persiapan Lahan Persiapan lahan diawali dengan membersihkan lahan atau sanitasi gulma. Sisa tanaman yang ada di bedengan dicangkul dan dibuat lubang pada tanah (ditugal) untuk mengubur sisa tanaman. Bedeng yang telah dibersihkan diberi pupuk kandang dan dolomit. Beberapa petani juga menambahkan batang pisang yang dicacah untuk menambah unsur hara. Bedengan didiamkan selama 3 hari sebelum digunakan kembali dengan tujuan agar unsur hara dalam tanah dapat terurai dengan baik, selanjutnya dipasang mulsa pada bedengan. Pemasangan mulsa bertujuan menghindari tumbuhnya gulma yang dapat menjadi sarang hama. Kegiatan persiapan lahan dapat dilihat pada Gambar 9. 35 Pembuatan Bedengan Pemasangan Mulsa Gambar 9. Kegiatan Persiapan Lahan Cabai Keriting di Desa Gekbrong Pemasangan mulsa dilakukan dengan cara menarik plastik mulsa dari ujungke ujung bedengan dengan kuat, setelah itu setiap ujung dikunci menggunakan patok kayu yang ditancap ke tanah dengan kuat. Patok ditancap ke tanah dengan jarak 50 cm dari setiap patok satu ke patok yang lainya. Hal ini bertujuan untuk menguatkan bedengan. Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya produksi cabai antara lain kekeringan, banjir, serangan hama dan penyakit serta adanya persaingan dengan gulma.Untukmenanggulangimasalahdiatas,salahsatuusahauntukmeningkatka n produksicabaiadalahdenganpenggunaanmulsaataupenutuptanah, karena mulsa dapatmenahanpenguapanairtanahakibatprosespenguapanairolehsinarmatahar i sehingga kelembaban dapat dipertahankan lebih lama (Hasibuan., 2015). Mulsa merupakanpenutup tanaman yang dimaksudkanuntuk menjaga kelembabantanah dan mengendalikan pertumbuhan gulma dan penyakit agar tanaman dapat tumbuh subur (Yetnawati dan Hasnelly, 2021). Rumakuway et al. (2016) menyatakan peranan mulsa sebagai pengatur kelembaban. 2.3 Penanaman Dalam pembuatan lubang tanam, bedengan yang sudah dipasang mulsa, dilubangi dan ditugal pada kedalaman kurang lebih 8 -12 cm, kemudian melakukan penanaman bibit cabai keriting yang berusia 25Hari Setelah Semai (HSS). Penanaman diawali dengan memindahkan bibit dengan hati-hati agar bibit tidak patah/rusak. Bibit cabai keriting dimasukan kedalam lubang yang sudah dibuat, kemudian ditutup kembali dengan menggunakan tanah agar cabai keriting dapat tumbuh dengan baik. Kemudian dilakukan pemasangan ajir pada saat cabai 36 berusia 7 HST (Hari Setelah Tanam). Pemasangan ajir dilakukan di awaltanam agar ajir tidak merusak akar tanaman cabai. 2.4Pemeliharaan Berdasarkan kegiatan petani dalam bertani tanaman cabai, pemeliharaan tanaman cabai keriting dimulai dari pemberian pupuk setiap seminggu sekali. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara pupuk dilarutkan dengan air terlebih dahulu lalu disiramkan pada tanaman cabai menggunakan alat kocor. Pada minggu berikutnya di semprotkan pestisida tergantung pada gangguan yang dialami tanaman cabai. Untuk penyiraman, petani menyiram tanaman cabai pada saat memasuki musim kemarau menggunakan sprayer dan air yang digunakan adalah air tadah hujan atau air sungai. Kegiatan penyulaman dilakukan jika ada bibit tanaman cabai yang sudah ditanam kemudian mati. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan petani, persentase kematian pada bibit tanaman cabai yaitu 5% - 10%. Tanaman yang mati diganti dengan sisa bibit tanaman cabai pada saat penyemaian. Penyiangan gulma dilakukan dengan pembersihan gulma yang ada pada lubang mulsa tanaman cabai karena walaupun sudah memakai mulsa terkadang tetap masih ada gulma yang tumbuh yang jika dibiarkan akan merugikan tanaman. Penyiangan gulma dilakukan dengan cara manual yaitu dengan cara dikored dan dicabut. Penyiangan gulma bertujuan agar tidak mengganggu tanaman, menjaga estetika kebun dan tidak menjadi sarang hama atau predator dari luar. 2.5Panen Masa tanam Cabai Keriting dalam satu kali periode tanam yaitu 6-7 bulan. Proses panen bisa dilakukan setelah cabai keriting berusia kurang lebih 3 bulan. Panen berikutnya dapat dilakukan setiap satu sampai dua minggu tergantung dari kesehatanataukesuburantanamancabai.Beberapa petanimemperolehhasilpanen 10 – 12 kg untuk 8 kali panen, hasil panen lainnya yaitu setelah tanaman berumur duahinggatigabulanrata-ratapanensetiappohonmenghasilkan1kg(Anonimous, 2012). Masa tanam Cabai Keriting dalam satu kali periode tanam yaitu 6-7 bulan. Proses panen bisa dilakukan setelah cabai keriting berusia kurang lebih 3 bulan. 37 Panen berikutnya dapat dilakukan setiap satu sampai dua minggu tergantung dari kesehatan atau kesuburan tanaman cabai. Buah cabai dapat dipanen dengan ciri buah telah masak secara fisiologis atau berwarna merah. Namun terkadang petani memanen buah cabai lebih awal saat buah cabai masih berwarna hijau dikarenakan tanaman cabai sudah terserang penyakit. Pemanenan buah cabai dilakukan dengan cara memetik buah beserta tangkainya. Pemetikan dilakukan dengan tangan tanpa menggunakan alat apapun, kemudian dimasukan kedalam ember atau karung. 3. Subsistem Pasca Panen Pascapanen cabai keriting di Desa Gekbrong melakukan kegiatan sorting, yaitu penyortiran antara buah cabai yang baik dan yang sudah rusak. Setelah itu dimasukkan kedalam karung dan ditimbang. Kemudian langsung dijual pada tengkulak dan hasil panen tersebut diangkut oleh tengkulak sehingga petani tidak melakukan kegiatan pengantaran atau pengiriman. Pembelian hasil panen cabai keriting tergantung petani menjual Cabai Merah Keriting atau Cabai Hijau Keriting. Penanganan pascapanen cabai merahdilakukanuntuk meningkatkan nilai jual, daya simpan, menyediakan bahan baku industri dan meningkatkan pendapatan petani (Taufik, 2011) Pascapanen cabai keriting di Desa Gekbrong melakukan kegiatan sorting, yaitu penyortiran antara buah cabai yang baik dan yang sudah rusak. Setelah itu dimasukkan ke dalam karung dan ditimbang. Kemudian langsung dijual pada tengkulakdan hasil panen tersebut diangkut oleh tengkulak sehingga petanitidak melakukan kegiatan pengantaran atau pengiriman.Cabai Merah Keriting memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan Cabai Hijau Keriting. Kegiatan panen Cabai Keriting dapat dilihat pada Gambar 10. 38 Gambar 10. Kegiatan Panen Cabai Keriting di Desa Gekbrong 4. Subsistem Pemasaran Pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya ada individu dan kelompok untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan,menawarkandansecarabebasmempertukarkanprodukyangbernilai dengan pihak lain (Kotler, 2009).Subsistem pemasaran cabai keriting dapat dikatakan belum baik disebabkan karena bentuk pasar yang cenderung oligopsoni sehingga mengakibatkan petani tidak bisa menentukan harga atau sebagai price taker. Selain itu, informasi pasar yang minim membuat petani tidak tahu jika terjadi perubahan harga ditingkat pedagang sehingga pedagang yang biasanya menetapkan harga terlebih dahulu tergantung permintaan pasar. 4.1Saluran Pemasaran Cabai Keriting Para Petani Saluran pemasaran Cabai Keriting pada petani di Desa Gekbrong dimulai dari petani kemudian ke tengkulak lalu ke pedagang besar ke pedagang pengecer dan konsumen rumah tangga. Saluran pemasaran dapat dilihat pada Gambar 8. Petani Tengkulak Pedagang Besar Pengecer Konsumen/ Rumah Tangga Gambar 11 Saluran Pemasaran Cabai Keriting di Desa Gekbrong Petani di Desa Gekbrong hanya mampu melakukan pemasaran ke tengkulak saja. Hal tersebut terjadi bukan karena petani memiliki keterikatan hutang pada tengkulak akan tetapi belum bisa menjual hasil pertaniannya langsung ke pedagang besar disebabkan pengetahuan yang terbatas mengenai pasar dan belum mempunyai transportasi yang memadai untuk proses distribusi langsung ke pasar. Adapun untuk hasil pertanian yang dipasarkan kepada tengkulak yaitu berupa 39 Cabai Keriting segar. Cabai Keriting yang dijual petani ada yang matang sempurna yaitu berwarna merah ada juga yang dijual hijau. Biasanya harga cabai keriting hijau akan lebih murah dibandingkan dengan harga cabai keriting merah. Pada saat Kuliah Kerja Lapangan tahun2023dimusimpanen, rata-rata harga yang ditetapkan oleh tengkulak terhadap petani cabai keriting di Desa Gekbrong yaitu berkisar antara 13.000 sampai 27.000 per kilo. Harga cabai keriting terkecil yang pernah diperoleh petani dari tengkulak yaitu sebesar 7.000/kg. Adapun harga cabai keriting paling besar yang pernah diperoleh petani dari tengkulak yaitu mencapai 65.000/kg. Perubahan harga yang sangat berbeda jauh inilah yang menyebabkan Cabai Keriting termasuk sebagai komoditas dengan fluktuasi harga yang tinggi. Proses distribusi Cabai Keriting ke tengkulak cukup sederhana. Petani tidak mengantarkan hasil panen Cabai Keriting ke tengkulak. Akan tetapi tengkulak yang akan mengambil hasil panen cabai keriting langsung ke lahan petani setelah proses pascapanen selesai. Dengan begitu petani tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi untuk proses pendistribusian Cabai Keriting di Desa Gekbrong. 5. Subsistem Penunjang Subsistem penunjang agribisnis (kelembagaan) atau supporting institution adalah semua jenis kegiatan yang berfungsi untuk mendukung dan melayani serta mengembangkan subsistem hulu subsistem usaha tani, subsistem hilir,dan subsistem pemasaran. (2012) Maulidah Lembaga- lembaga yang terkait dalam kegiatan ini adalah penyuluh pertanian dan lembaga penyediaan modal. 5.1 Lembaga Pendidikan Lembaga Pendidikan merupakan penunjang yang mendukung dalam produksi Cabai Keriting pada petani Desa Gekbrong. Yayasan Edufarmers International merupakan lembaga pendidikan bagi petani di Desa Gekbrong karena mempunyai tujuan untuk meningkatkan pengetahuan petani dalam berbudidaya serta menjadi penghubung antara mahasiswa dan petani. 5.2 Lembaga Pemerintahan 40 Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) merupakan penunjang yang dapat mendukung dalam subsistem produksi di Desa Gekbrong, Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Gekbrong berperan untuk memberikan penyuluhan kepada para petani terkait cara budidaya yang benar dan lebih modern untuk meningkatkan produktivitas, memberi contoh tata kelola keuangan yang baik, serta cara mengurangi tingkat kegagalan panen. 6. Masalah dan Kendala Agribisnis Komoditas Cabai Keriting Petani Beberapa kendala agribisnis yang dihadapi oleh petani Desa Gekbrong pada komoditas cabai keriting yaitu 1) Pada subisistem pengadaan sarana produksi yaitu masih menggunakan alat yang sederhana sehingga membutuhkan waktu kerja yang cukup lama. 2) Pada subsistem produksi yaitu teknik budidaya yang tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur yang dikeluarkan oleh Kementan. 3) Pada subsistem penanganan dan pengolahan hasil pertanian yaitu belum adanya proses grading dan petani belum bisa mengolah cabai keriting menjadi suatu produk yang dapat memiliki nilai jual lebih tinggi. 4) Pada subsistem pemasaran yaitu petani belum bisa menjual cabai keriting langsung kepada konsumen akhir. 5) Pada subsistem penunjang yaitu belum adanya kemitraan yang dapat membantu meningkatkan produktivitas petani. D. IdentifikasiLingkungan Internal dan Eksternal Usaha Petani Cabai di Desa Gekbrong a. Analisis Lingkungan Internal Usaha Petani Cabai Keriting di Desa Gekbrong Secara umum lingkungan harus dianalisis kekuatannya karenamempengaruhipembuat keputusandanperencanaan yaitu kekuatan teknologi, ekonomi, demografi, sosial budaya serta politik 41 dan hukum. Faktor internal adalah kejadian dan kecenderungan dalam suatu organisasi yang mempengaruhi manajemen, karyawan dan budaya organisasi. Budaya organisasi adalah nilai-nilai keyakinan dan sikap yang berlaku di antara anggota organisasi (Marhumi 2018). 1. Manajemen Petani memiliki struktur organisasi kelompok tani yang sesuai sehingga cenderung lebih terorganisir dalam pengelolaan lahan, tenaga kerja, dan sumber daya lainnya. Struktur organisasi yang baik memungkinkan koordinasi yang lebih baik di antara anggota kelompok tani, meningkatkan produktivitas dan kolaborasi. Keberhasilan manajemen dan struktur organisasi sangat bergantung pada kualitas ketua kelompok tani yang dimiliki. Jika ketua kelompok tani tidak efektif, ini dapat mengurangi efisiensi dan menghambat kemajuan. 2. Pemasaran Petani cabai keriting di Desa Gekbrong menjual langsung hasil panen cabai keriting ke tengkulak memberikan jaminan penjualan yang cepat dan pembayaran yang segera, mengurangi risiko penumpukan stok. Namun, tanpa perencanaan pemasaran, petani kehilangan peluang untuk mendapatkan harga yang lebih baik danperluasan pasar. Ketergantungan pada tengkulak juga membuat petani rentan terhadap fluktuasi harga yang ditentukan oleh tengkulak. Fokus pada satu saluran distribusi dapat menghambat dalan peningkatan pendapatan. 3. Keuangan Petani cabai keriting di Desa Gekbrong mengalokasikan modalnya dengan efektif menunjukkan pengelolaan keuangan yang baik, memastikan bahwa sumber daya digunakan secara optimal untuk meningkatkan produksi dan efisiensi. Petani di Desa Gekbrong juga terbebas dari utang modal yang berarti petani tidak terbebani oleh pembayaran bunga atau kewajiban keuangan lainnya, memungkinkan fleksibilitas yang lebih besar dalam pengelolaan keuangan. 4. Produksi 42 Petani cabai keriting di Desa Gekbrong memiliki fasilitas dan peralatan dalam kondisi baik memastikan operasional produksi berjalan lancar dan efisien, serta mengurangi risiko kerusakan dan penundaan. Peralatan yang dirawat dengan baik mengurangi biaya perbaikan dan memperpanjang umur peralatan, yang secara keseluruhan meningkatkan efisiensi operasional. Namun, petani belum memiliki teknologi yang lebih canggih untuk meningkatkan efisiensi dan hasil produksi lebih lanjut. 5. Penelitian dan Pengembangan Belum adanya pengembangan produk dari hasil panen cabai keriting yang rusak sehingga petani cabai keriting di Desa Gekbrong belum bisa memanfaatkan peluang untuk menciptakan produk turunan dari cabai keriting yang dapat meningkatkan nilai tambah dan pendapatan. Ini juga membuat petani kurang adaptif terhadap perubahan preferensi pasar. b. Analisis Lingkungan Eksternal Analisis lingkungan eksternal usaha petani cabai keriting di Desa Gekbrong meliputi ekonomi, sosial, budaya, demografi dan lingkungan alam, politik, dan teknologi serta lingkungan industri (lima kekuatan porter) yaitu ancaman pendatang baru, kekuatan tawar menawar pembeli, kekuatan tawar menawar pemasok, ancaman produk substitusi serta persaingan anggota industri. 1. Lingkungan Makro a. Ekonomi Pertumbuhan ekonomi yang baik meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga permintaan meningkat.Namun,adanya untuk produk inflasi dan seperti fluktuasi cabai nilai tukar keriting dapat mempengaruhi harga input pertanian seperti pupuk dan pestisida. Biaya produksi yang meningkat dapat mengurangi keuntungan petani. Jawa Barat merupakan sentra produksi cabai merah keriting sehingga kebutuhan akan permintaan cabai merah keriting berpusat pada Jawa Barat. Hal ini dapat menjadi peluang untuk petani cabai merah keriting di Desa Gekbrong untuk melakukan perluasan wilayah pasar agar dapat meningkatkan penjualan. 43 b. Sosial, Budaya, dan Lingkungan Meningkatnya kesadaran akan kesehatan dan tren konsumsi makanan pedas dapat meningkatkan permintaan cabai keriting. Menjamurnya bisnis kuliner pedas seperti Seblak Prasmanan dan Bakso Mercon akibat kemudahan akses media digitalisasi yang cepat sehingga dapat menjadi peluang untuk petani di Desa Gekbrong untuk meningkatkan jumlah produksi. Namun, perubahan iklim dan cuaca ekstrem seperti kekeringan, banjir, dan suhu yang tidak menentu dapat mempengaruhi produksi cabai keriting.Ketersediaan dan pengelolaan sumber daya seperti air dan tanah yang baik sangat penting untuk pertanian. Praktik pertanian berkelanjutan harus diterapkan untuk menjaga kesuburan tanah. Kehilangan ekosistem yang seimbang dapat meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit. c. Politik, Pemerintahan, dan Hukum Pemerintah Indonesia memiliki berbagai kebijakan dan program untuk mendukung sektor pertanian, termasuk subsidi pupuk, program pengembangan pertanian, dan bantuan teknis untuk petani. Namun, perubahan kebijakan bisa mempengaruhi petani secara signifikan.Stabilitas politik yang baik mendukung lingkungan yang kondusif untuk pertanian. Namun, ketidakstabilan politik bisa mempengaruhi kebijakan dan program pertanian.Kebijakan pemerintah terkait impor dan ekspor juga berpengaruh. Regulasi yang mendukung ekspor dapat membuka pasar internasional, sementara kebijakan proteksionis bisa melindungi petani dari persaingan luar. Regulasi terkait penggunaan pestisida, pupuk, dan bahan kimia lainnya berdampak pada praktik pertanian dengan kepatuhan terhadap standar keamanan pangan juga penting. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani di Desa Gekbrong, pupuk bersubsidi belum merata didapatkan oleh petani dan kebijakan penetapan harga yang belum tegas oleh pemerintah setempat mengancam petani untuk menjual hasil panen dengan harga yang tidak sesuai. 44 d. Teknologi Adopsi teknologi baru seperti sistem irigasi modern, penggunaan drone untuk pemantauan tanaman, dan teknologi sensor dapat meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas hasil panen.Adanya pengembangan varietas cabai yang lebih tahan hama dan penyakit dapat membantu meningkatkan produktivitas petani. Teknologi digital juga dapat membantu petani mendapatkan informasi pasar, cuaca, dan teknik pertanian terbaru. Beberapa kalangan akademika telah banyak menemukan teknologi pertanian yang dapat membantu petani di Desa Gekbrong. Namun, pengetahuan yang terbatas dan dana yang tidak mumpuni membuat sebagian petani enggan menerapkan teknologi tersebut. 2. Lingkungan Industri Pendekatan yang sering digunakan untuk menganalisis lingkungan industri adalah analisis lima kekuatan Porter (Porter’s Five Forces Analysis). Berikut adalah rinciannya: a. Ancaman Pendatang Baru Memulai usaha pertanian cabai keriting memerlukan modal yang signifikan untuk pembelian lahan, bibit, pupuk, dan peralatan. Hal ini bisa menjadi penghalang bagi pendatang baru.Petani besar yang sudah mapan memiliki skala ekonomi yang lebih baik, memungkinkan mereka untuk mengurangi biaya per unit dibandingkan petani baru yang masih beroperasi dalam skala kecil.Petani yang sudah mapan memiliki hubungan yang baik dengan pengepul, pedagang grosir, dan pengecer, sedangkan pendatang baru mungkin kesulitan membangun jaringan distribusi yang efisien.Petani di Desa Gekbrong juga memiliki kelompok tani dan gabungan kelompok tani yang didalamnya mereka saling berbagi pengalaman dan bersilaturahmi sehingga tidak ada ancaman untuk pendatang baru. b. Kekuatan Pemasok Pemasok input pertanian seperti pupuk, pestisida, dan bibit memiliki kekuatan yang cukup besar jika jumlah mereka terbatas. Petani di Desa Gekbrong bergantung pada pemasok untuk mendapatkan bahan input.Biaya 45 untuk beralih dari satu pemasok ke pemasok lain juga mempengaruhi petani sehingga pemasok dapat menjadi ancaman untuk petani di Desa Gekbrong. c. Kekuatan Pembeli Jika petani menjual cabai keriting kepada sejumlah kecil pembeli besar, pembeli tersebut memiliki kekuatan lebih besar untuk menekan harga. Namun, jika ada banyak pembeli, kekuatan mereka menurun.Cabai keriting adalah produk yang cukup standar, sehingga pembeli bisa beralih ke pemasok lain dengan mudah jika mereka mendapatkan harga yang lebih baik.Jika petani sangat bergantung pada beberapa pembeli besar, pembeli tersebut memiliki kekuatan lebih besar sehingga hal ini dapat menjadi ancaman untuk petani di Desa Gekbrong. d. Ancaman Produk Pengganti Ancaman dari produk pengganti bisa datang dari cabai jenis lain atau dari bahan pengganti yang dapat digunakan dalam masakan. Namun, untuk konsumen yang sangat menyukai cabai keriting, ancaman ini mungkin relatif rendah.Jika produk pengganti menawarkan harga yang lebih murah atau kualitas yang lebih baik, konsumen mungkin beralih. Namun, cabai keriting memiliki karakteristik unik yang mungkin sulit digantikan oleh produk lain sehingga hal ini tidak terlalu menjadi ancaman untuk petani di Desa Gekbrong. e. Persaingan Antar Pelaku Industri Banyaknya petani cabai keriting di Indonesia menciptakan persaingan yang ketat. Petani bersaing dalam hal harga, kualitas, dan distribusi.Jika industri cabai keriting tumbuh dengan baik, persaingan mungkin kurang intensif karena ada cukup permintaan untuk semua. Namun, jika pertumbuhan melambat atau menurun, persaingan dapat meningkat.Meskipun cabai keriting adalah produk standar, beberapa petani mungkin mencoba membedakan produk mereka melalui kualitas yang lebih baik atau praktik pertanian organik, yang dapat menarik segmen pasar tertentu.Petani di Desa Gekbrong juga memungkinkan terjadinya panen raya dimana saat jumlah produksi melambung sedangkan permintaan 46 sedikit maka hal ini menjadi persaingan antar petani untuk menjual hasil panennya. E. Strategi Pengembangan Usaha Petani Cabai Keriting di Desa Gekbrong Strategi dalam pengembangan usaha cabai keriting di Desa Gekbrong ini menggunakan analisis IFE dan EFE, IE, dan SWOT yaitu dengan cara mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan agribisnis kemudian menentukan strategi yang tepat untuk pengembangan usaha cabai keriting di Desa Gekbrong. Faktor-faktor internal yang dimiliki petani cabai keriting di Desa Gekbrong terdiri dari kekuatan dan kelemahan sedangkan faktor eksternal yang dimiliki petani cabai keriting di Desa Gekbrong terdiri dari peluang dan ancaman. Faktor-faktor tersebut dapat menunjang proses perumusan strategi sebagai berikut: 1. Faktor-Faktor Internal Usaha Cabai Keriting di Desa Gekbrong 1) Kekuatan a. Berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang baik terhadap budidaya cabai keriting Petani yang telah lama menanam cabai keriting biasanya memiliki pengetahuan mendalam tentang teknik budidaya, pemupukan, dan pengendalian hama. Pengetahuan ini membantu mereka mengoptimalkan hasil panen dan kualitas produk. Pengalaman juga memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah dengan lebih cepat dan efektif. b. Permodalan petani yang cukup baik Petani cabai keriting di Desa Gekbrong mampu mengalokasikan modalnya secara efektif tanpa memiliki utang menunjukkan manajemen keuangan yang kuat dan disiplin dalam pengelolaan sumber daya. Mereka mengendalikan biaya operasional untuk efisiensi produksi. Pengelolaan keuangan yang baik memungkinkan mereka untuk tetap stabil dan mandiri secara finansial, tanpa tekanan dari kewajiban utang, sehingga dapat menghadapi fluktuasi pasar dan risiko operasional dengan lebih baik. Meskipun keterbatasan modal dapat membatasi ekspansi cepat, pendekatan 47 ini memberikan fleksibilitas dan ketahanan yang lebih besar dalam jangka panjang. c. Dukungan dari lembaga pemerintah dan lembaga non-pemerintah Adanya dukungan dari lembaga pemerintah seperti dari Balai Penyuluh Pertanian yang rutin berkunjung ke lahan petani untuk melakukan monitoring terhadap perkembangan tanaman cabai petani. Juga dari lembaga non-pemerintah dari Yayasan Edufarmers International yang membantu petani dalam mengelola budidaya cabai keriting. d. Motivasi tinggi petani dalam menjalankan usaha cabai keriting Petani cabai keriting yang memiliki motivasi tinggi untuk menanam tanaman cabai menunjukkan semangat yang besar dalam menjalankan usaha pertaniannya. Mereka terus berupaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman dan pelatihan serta selalu mencari cara untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen. e. Kebersamaan dan solidaritas yang kuat Desa Gekbrong memiliki Gabungan Kelompok Tani Gede Pangrango yang merupakan organisasi terstruktur dan terarah sehingga membentuk kebersamaan dan solidaritas yang kuat antar petani, serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh anggota dalam membudidayakan cabai. Kemampuan manajerial yang baik dapat melaksanakan program-program dengan efektif. Dengan memahami secara menyeluruh keadaan lingkungan internalnya, Gapoktan Gede Pangrango dapat merumuskan strategi yang lebih baik untuk memberdayakan petani dan mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. 2) Kelemahan a. Biaya Produksi Tinggi Produksi cabai keriting memerlukan investasi yang signifikan dalam hal bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja. Petani juga harus menghadapi biaya untuk irigasi dan perlengkapan lainnya. Tingginya biaya produksi ini dapat menjadi beban, terutama bagi petani kecil yang memiliki keterbatasan modal. 48 b. Penanganan hama dan penyakit yang belum baik Tanaman cabai sangat rentan terhadap berbagai penyakit seperti layu bakteri, antraknosa, dan serangan hama seperti kutu daun dan ulat. Penyakit dan hama dapat menyebabkan penurunan hasil panen yang signifikan atau bahkan gagal panen. Petani cabai di Desa Gekbrong masih kesulitan dalam menangani hama dan penyakit pada tanaman cabai. Petani harus terus-menerus memantau tanaman mereka dan melakukan tindakan pencegahan yang memerlukan waktu dan biaya tambahan. c. Hanya memiliki satu saluran distribusi pemasaran Petani cabai keriting hanya memiliki satu saluran distribusi ke tengkulak sehingga beresiko signifikan terhadap ketergantungan yang tinggi pada satu pembeli. Ketergantungan ini membuat mereka rentan terhadap fluktuasi harga yang dikendalikan oleh tengkulak, sering kali merugikan posisi tawar mereka dan mengurangi potensi keuntungan. Selain itu, jika terjadi gangguan dalam hubungan dengan tengkulak atau perubahan dalam permintaan dari tengkulak tersebut, petani bisa kesulitan menjual hasil panennya, yang dapat menyebabkan kerugian finansial dan penumpukan stok. Kurangnya saluran distribusi juga membatasi peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas atau mendapatkan harga yang lebih kompetitif. d. Kegiatan usaha cabai yang masih sederhana dan mengikuti pola yang sudah berjalan Petani cabai keriting di Desa Gekbrong menjalankan kegiatan usaha cabai keriting secara sederhana dan hanya mengikuti pola yang sudah berjalan. Metode tradisional ini sering kali kurang adaptif terhadap perubahan teknologi dan pasar, sehingga produktivitas dan efisiensi cenderung rendah. Petani tersebut mungkin juga melewatkan peluang untuk meningkatkan hasil panen melalui teknik pertanian modern atau inovasi. Keterbatasan dalam pengetahuan dan penerapan praktik pertanian terbaru dapat membuat mereka rentan terhadap hama, penyakit tanaman, dan perubahan iklim, yang semuanya dapat berdampak negatif pada hasil dan kualitas panen. 49 2. Faktor-Faktor Eksternal Usaha Cabai Keriting di Desa Gekbrong 1) Peluang a. Permintaan dan harga jualtinggi Cabai keriting adalah bahan pokok dalam masakan Indonesia, digunakan dalam berbagai hidangan mulai dari sambal hingga bumbu masakan. Permintaan yang konsisten dari rumah tangga, restoran, dan industri makanan memastikan pasar yang stabil dan luas untuk cabai keriting. Selain itu, meningkatnya popularitas masakan pedas secara global membuka peluang lebih besar di pasar internasional. Harga cabai keriting cenderung tinggi terutama saat musim paceklik atau saat produksi menurun karena faktor cuaca atau serangan hama. Ini memberikan peluang keuntungan yang lebih besar bagi petani cabai keriting di Desa Gekbrong. Saat pasokan terbatas dan permintaan tetap tinggi, harga dapat meningkat secara signifikan, memberikan pendapatan yang lebih tinggi kepada petani yang mampu mempertahankan produksi. b. Peningkatan Permintaan Ekspor Pasar internasional mulai menunjukkan minat terhadap cabai keriting, terutama di negara-negara dengan populasi imigran Indonesia atau yang menyukai masakan pedas. Ekspor cabai keriting membuka peluang pasar baru dan bisa memberikan harga yang lebih baik. Dengan standar kualitas yang baik dan sertifikasi yang diperlukan, petani cabai keriting di Desa Gekbrong dapat mengakses pasar global yang lebih luas. c. Inovasi Teknologi Penggunaan teknologi pertanian modern seperti irigasi tetes, sensor tanah, dan pertanian berbasis data dapat meningkatkan efisiensi produksi. Teknologi ini membantu petani mengoptimalkan penggunaan air dan pupuk, mengurangi biaya, dan meningkatkan hasil panen. Teknologi juga memungkinkan pemantauan kondisi tanaman secara real-time, sehingga tindakan cepat dapat diambil jika ada masalah. d. Diversifikasi Produk Mengembangkan produk olahan dari cabai keriting, seperti saus, bubuk cabai, dan acar, dapat membuka pasar baru dan meningkatkan pendapatan. 50 Diversifikasi ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah produk tetapi juga membantu mengurangi risiko pasar dengan menawarkan berbagai produk yang bisa menarik konsumen yang berbeda. 2) Ancaman a. Perubahan Iklim dan ketergantungan cuaca Perubahan iklim yang tidak menentu, seperti meningkatnya suhu, perubahan pola curah hujan, dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem, dapat berdampak buruk pada produksi cabai. Tanaman cabai sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, sehingga perubahan iklim dapat menyebabkan penurunan hasil panen dan kualitas produk.Produksi cabai sangat bergantung pada kondisi cuaca yang baik. Cuaca ekstrem seperti hujan lebat, kekeringan, atau perubahan iklim dapat merusak tanaman, mengurangi hasil panen, dan bahkan menyebabkan gagal panen. Ketergantungan ini membuat produksi cabai menjadi tidak stabil dan sulit diprediksi.Persaingan yang ketat Persaingan dengan petani lain, baik di tingkat lokal maupun internasional, dapat mempengaruhi harga dan pasar. Jika produksi meningkat secara signifikan, kelebihan pasokan dapat menyebabkan penurunan harga. Selain itu, persaingan dari cabai impor dengan harga lebih murah bisa mengancam posisi petani lokal di pasar. b. Kebijakan Pemerintah yang Tidak Mendukung Perubahan kebijakan pemerintah yang tidak mendukung sektor pertanian bisa berdampak negatif. Misalnya, pengurangan subsidi, perubahan regulasi ekspor-impor, atau kebijakan perdagangan yang tidak menguntungkan bisa merugikan petani. Kebijakan ini dapat meningkatkan biaya produksi atau membatasi akses ke pasar.Ketidakstabilan Ekonomi Ketidakstabilan ekonomi, seperti inflasi, penurunan daya beli konsumen, atau krisis ekonomi, dapat mempengaruhi permintaan pasar. Dalam situasi ekonomi yang tidak stabil, konsumen cenderung mengurangi pengeluaran mereka, termasuk untuk produk cabai, yang bisa mengurangi permintaan dan harga di pasar. Harga cabai keriting di pasar dapat berfluktuasi dengan cepat, dipengaruhi oleh musim, cuaca, dan tingkat produksi. 51 Ketidakstabilan harga ini membuat pendapatan petani tidak menentu. Ketika produksi melimpah dan harga jatuh, petani terancam mengalami kerugian. 3. Analisis Matriks IFE dan Matriks EFE Faktor-faktor kunci dari lingkungan internal dan eksternal petani cabai keriting di Desa Gekbrong kemudian diolah menggunakan matriks IFE dan matriks EFE agar dapat menemukan strategi yang tepat untuk petani. 1. Analisis Matriks IFE (Internal Factor Evaluation) Analisis matriks IFE digunakan untuk merumuskan faktor-faktor kunci lingkungan internal. Petani cabai keriting di Desa Gekbrong memiliki lingkungan internal yang terdiri dari lima kekuatan dan empat kelemahan sebagai faktor-faktor kunci dengan memberikan bobot dan peringkat yang didapatkan berdasarkan penilaian dari responden kemudian mendapatkan hasil yang dikalikan dengan skor tertimbang. Analisis matriks IFE dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Matriks IFE Usaha Cabai di Desa Gekbrong, 2024 Faktor-faktor Internal Bobot Peringkat Skor Tertimbang Kekuatan A Berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang baik terhadap budidaya cabai keriting B Permodalan petani yang cukup baik C Dukungan dari lembaga pemerintah dan lembaga nonpemerintah D Motivasi tinggi petani dalam menjalankan usaha cabai keriting E Kebersamaan dan solidaritas yang kuat Kelemahan F Biaya Produksi Tinggi G Penanganan hama dan penyakit yang belum baik H Hanya memiliki satu saluran 0,114 4 0,455 0,098 3,5 0,343 0,104 4 0,416 0,106 3,75 0,396 0,120 3,75 0,449 0,128 0,108 2 1,25 0,256 0,135 0,108 1,75 0,189 52 distribusi pemasaran I Kegiatan usaha cabai yang masih sederhana dan mengikuti pola yang sudah berjalan Total Sumber: Data Primer, 2024 (Diolah) 0,116 1,75 0,203 2,839 Berdasarkan hasil perhitungan matriks IFE pada Tabel 6 menunjukkan bahwa hasil kekuatan utama yang dimiliki petani cabai di Desa Gekbrong yaitu berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang baik terhadap budidaya cabai keriting dengan skor sebesar 0,455. Kelemahan utama yang dimiliki yaitu keterbatasan pengetahuan dan keterampilan anggota kelompok dengan skor 0,135. Hasil faktor internal menunjukkan total skor sebesar 2,839 artinya petani cabai di Desa Gekbrongmemiliki kekuatan internal karena memiliki total skor yang diatas 2,5. Skor total kekuatan lebih besar dari skor total kelemahan sehinggapetani cabai di Desa Gekbrong dapat menggunakan kekuatan untuk mengatasi kelemahan yang ada dalam menjalankan usaha cabai. Hasil penelitian ini sejalan dengan Lubis dan Mulyana (2021) namun berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Arsyad et al, (2018) dengan hasil penelitian yaitu rumusan strategi pengembangan agribisnis cabai merah terhadap kuadran2 sebesar 3,2443 dengan strategi S-T (Strength- Threats). Begitu pula denganApriyanto dan Chofyan (2021) yang berada di kuadran III. Hal ini menunjukkan bahwa rumusan strategi berdasarkan meminimalisir kelemahan dan memanfaatkan peluang yang ada. 2. Analisis Matriks EFE (External Factor Evaluation) Analisis matriks EFE (External Factor Evaluation) digunakan untuk merumuskan faktor-faktor kunci lingkungan eksternal. Lingkungan eksternal petani cabai di Desa Gekbrong terdiri dari empat kekuatan dan empat kelemahan sebagai faktor-faktor kunci. Perhitungan matriks EFE (External Factor Evaluation) sama dengan perhitungan matriks IFE (Internal Factor Evaluation) yaitu dengan memberikan pembobotan dan peringkat yang didapatkan berdasarkan penilaian dari responden kemudian 53 mendapatkan hasil yang dikalikan dengan skor tertimbang. Analisis matriks EFE dapat dilihat pada Tabel . Tabel 7. Matriks EFE Usaha Cabai di Desa Gekbrong, 2024 Faktor-faktor Internal Bobot Peringkat Peluang A Permintaan dan harga jual tinggi B Peningkatan Permintaan Ekspor C Inovasi Teknologi D Diversifikasi Produk Ancaman Iklim E Perubahan ketergantungan cuaca F Persaingan yang ketat G Kebijakan Pemerintah Tidak Mendukung H Ketidakstabilan Ekonomi Skor Tertimbang 0,129 0,135 4 4 0,515 0,542 0,102 4 0,409 0,118 3,75 0,442 dan 0,140 1,25 0,175 yang 0,122 0,129 1,5 1,75 0,183 0,226 0,125 1,25 0,156 Total Sumber: Data Primer, 2024 (Diolah) 2,647 Berdasarkan hasil perhitungan matriks EFE pada tabel 7 menunjukkan bahwa hasil peluang yang dapat dimanfaatkan petani cabai di Desa Gekbrong dalam mengembangkan usahacabai yaitu peningkatan permintaan ekspor dengan skor 0,542. Ancaman yang perlu diwaspadai dalam pengembangan agribisnis yaitu perubahan iklim dan ketergantungan cuacadengan skor 0,175. Hasil faktor eksternal menunjukkan total skor sebesar 2,647 artinya petani cabai di Desa Gekbrong merespon cukup baik peluang yang ada dan dapat mewaspadai ancaman yang ada. Skor total peluang lebih besar dari skor total ancaman sehingga petani cabai di Desa Gekbrong dapat meraih dan memanfaatkan peluang yang ada untuk mengatasi ancaman dalam mengembangkan usaha cabai. 54 4. Analisis Matriks IE (Internal Eksternal) Analisis matriks IE merupakan tahap analisis penginputan data dengan memanfaatkan total skor tertimbang dari faktor-faktor kunci pada matriks IFE dan matriks EFE. Hasil total skor tertimbang dapat menentukan dan melihat posisi petani cabai di Desa Gekbrong yang dijalankan diantara sembilan sel yang terdapat di matriks. Berdasarkan total skor tertimbang matriks IFE sebesar 2,839 dan matriks EFE 2,647 sehingga petani cabai di Desa Gekbrongberada menghasilkan posisi pada sel ke V, dapat dilihat pada Gambar 12. Kuat 3.0-4.0 Sedang 2.0-2.99 I II Tinggi 3.0-4.0 Tumbuh/Kembangkan Tumbuh/Kembangkan IV V Sedang 2.0-2.99 Tumbuh/Kembangkan Pertahankan/Pelihara VII VIII Rendah 1.0-1.99 Pertahankan/Pelihara Divestasi Sumber: Data Primer, Tahun 2024 (Diolah) Lemah 1.0-1.99 III Pertahankan VI Penciutan IX Likuidasi Gambar 12.Matriks IE Petani Cabai di Desa Gekbrong Berdasarkan hasil analisis matriks IE yang berada di kuadran V menunjukkan bahwapetani cabai di Desa Gekbrongdapat dipertahankan atau dipelihara. Strategi yang dapat diterapkan petani cabai di Desa Gekbrong yaitu dengan penetrasi pasar dengan melakukan usaha meningkatkan produktivitas usaha dan perluasan saluran distribusi pasar. Petani dapat melakukan pelatihan untuk produk turunan cabai dan melakukan kegiatan promosidenganmemanfaatkanteknologi internet.Pengelolaaninternalyang baik dapat memudahkan petani dalam menghadapi faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pengembangan usaha dalam mencapai peluang dan menghindari ancaman yang akan datang dapat meningkatkan nilai faktor eksternal. Pengembangan produk dilakukan peningkatan kualitas produksi saat ini, serta membuat produk turunan dari cabai merah menjadi produk olahan industrisepertisaussambal,aboncabai,danjugacabaibubukuntukkeperluan segmentasi pasar yang lebih luas. Untuk menghindari kerugian maka perlu 55 dilakukan tindakan-tindakan yang dapat mencegah terjadinya kerusakancabaimerahdiantaranyamelaluipengolahan(Ridwanetal,2017). Penanganan pascapanen cabai merah dilakukan untuk meningkatkan nilai jual, daya simpan, menyediakan bahan baku industri dan meningkatkan pendapatan petani (Taufik, 2011). Berikut ini merupakan strategi yang dihasilkan dari analisis SWOT. Gabungan Matrik diagram SWOT 4 KUADRAN Y 4 3 - I 1 III 2 (1,276 , 1,168) 1 IV Y X 1 2 3 4 II Gambar 13. Gabungan Diagram Matriks SWOT 5. Analisis Matriks SWOT Berdasarkan hasil matriks SWOT pengembangan usaha cabai keriting di Desa Gekbrong menghasilkan tujuh strategi yang dapat digunakan untuk menentukan prioritas strategi, Berikut penjelasan dari sembilan alternatif strategi, yaitu : 1. Strategi SO (Strengh-Opprotunities) Strategi kekuatan S-O ini merupakan strategi yang menggunakan dalam memanfaatkan peluang yang ada. Strategi S-O dalam pengembangan usaha cabai keriting di Desa Gekbrong ini sebagai berikut ; a. Penguatan kerjasama pasar antara petani cabai keriting dengan pedagang cabai keriting yang orientasi kiriman ke luar daerah (pedagang pengirim) b. Penguatan kerjasama mitra (Kemitraan) dalam hal persediaan saprodi antara pedagang dengan petani cabai keriting 56 c. Penguatan kelembagaan kelompok tani cabai keriting dengan penyuluh pertanian untuk pemecahan persolan petani dalam kegiatan usaha cabai keriting. 2. Strategi ST (Strenght-Threat) Strategi S-T inimerupakan strategi yang menggunakan kekuatan dengan melihat ancaman yang ada dalam kegiatan usahacabai keriting. Strategi S-T dalam pengembangan usaha cabai keriting di Desa Gekbrong sebagai berikut ; a. Pembuatan standar budidaya cabai keriting (SOP) dalam upaya mengurangi risiko usaha cabai keriting b. Peningkatkan kompetensi petani cabai keriting, tidak hanya dalam hal pengetahuan budidaya tetapi juga pengetahuan tentang pasar cabai keriting 3. Strategi WO (Weakness-Opportunities) Strategi kelemahan W-O ini merupakan strategi dengan melihat dengan memperhatikan adanya aspek peluang dalam kegiatan usaha cabai keriting. Strategi W-O dalam pengembangan agribisnis cabai keriting di Desa Gekbrong sebagai berikut ; a. Pelatihan dan pembinaan petani cabai keriting dalam meningkatkan produksi dan penerimaan usahatani cabai keriting b. Pelatihan dan pembinaan dalam penanganan cabai keriting pascapanen serta diversifikasi produk turunan 4. Strategi WT (Weakness-Threat) Strategi W-T ini merupakan strategi dengan melihat kelemahan dengan memperhatikan adanya aspek ancaman juga dalam kegiatan agribisnis cabai keriting. Strategi W-T dalam pengembanganagribisnis cabai keriting di Desa Gekbrong sebagai berikut ; a. Pembuatan Pusat Informasi Usaha Cabai Keriting di Desa Gekbrong, sehingga petani terbuka dan mudah mengetahui informasi yang berkaitan dengan agribisnis cabai keriting. b. Pembinaan kepada petani dalam pengendalian risiko usaha cabai keriting di Desa Gekbrong 57 58 Kekuatan (S) 1. Berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang baik terhadap budidaya cabai keriting 2. Permodalan petani yang cukup baik 3. Dukungan dari lembaga pemerintah dan lembaga nonpemerintah 4. Motivasi tinggi petani dalam menjalankan usaha cabai keriting 5. Kebersamaan dan solidaritas yang kuat Strategi SO Kelemahan (W) 1. Biaya Produksi Tinggi 2. Penanganan hama dan penyakit yang belum baik 3. Hanya memiliki satu saluran distribusi pemasaran 4. Kegiatan usaha cabai yang masih sederhana dan mengikuti pola yang sudah berjalan Peluang (O) Strategi WO 1. Permintaan dan harga 1. Penguatan kerjasama 1. Pelatihan dan jual tinggi pasar antara petani pembinaan petani cabai 2. Peningkatan Permintaan cabai keriting dengan keriting dalam Ekspor pedagang cabai meningkatkan produksi 3. Inovasi Teknologi keriting ke luar daerah dan penerimaan 4. Diversifikasi Produk (S1, S4, O1) agribisniscabai keriting 2. Penguatan kerjasama (W1, W2, W4, O3) mitra dalam hal 2. Pelatihan dan persediaan saprodi pembinaan dalam antara pedagang dengan penanganan cabai petani cabai keriting keriting pascapanen (S2, O3) serta diversifikasi 3. Penguatan produk turunan (W3, kelembagaan kelompok O4) tani cabai keriting dengan penyuluh pertanian (S3, O2) Ancaman (T) Strategi ST Strategi WT 1. Perubahan Iklim dan 1. Pembuatan standar 1. Pembuatan Pusat ketergantungan cuaca budidaya cabai Informasi Usaha 2. Persaingan yang ketat keriting (SOP) (S1, T1, Cabai Keriting di 3. Kebijakan Pemerintah T2 Desa Gekbrong (W3, yang Tidak Mendukung 2. Peningkatkan T3 4. Ketidakstabilan Ekonomi kompetensi petani cabai 2. Pembinaan kepada keriting terkait petani dalam pengetahuan tentang pengendalian risiko pasar cabai keriting (S5, usaha cabai keriting di T4 Desa Gekbrong (W3, T1 Tabel 8. Matriks SWOT Usaha Cabai Keriting di Desa Gekbrong, 2024 59 V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut : Faktor-faktor internal yang dimiliki petani cabai keriting di Desa Gekbrong terdiri dari kekuatan dan kelemahan sedangkan faktor eksternal yang dimiliki petani cabai keriting di Desa Gekbrong terdiri dari peluang dan ancaman.Hasil faktor internal menunjukkan total skor sebesar 2,839 artinya petani cabai di Desa Gekbrong memiliki kekuatan internal karena memiliki total skor yang diatas 2,5. Skor total kekuatan lebih besar dari skor total kelemahan sehinggapetani cabai di Desa Gekbrong dapat menggunakan kekuatan untuk mengatasi kelemahan yang ada dalam menjalankan usaha cabai. Sedangkan Hasil faktor eksternal menunjukkan total skor sebesar 2,647 artinya petani cabai di Desa Gekbrong merespon cukup baik peluang yang ada dan dapat mewaspadai ancaman yang ada. Skor total peluang lebih besar dari skor total ancaman sehingga petani cabai di Desa Gekbrong dapat meraih dan memanfaatkan peluang yang ada untuk mengatasi ancaman dalam mengembangkan usaha cabai. Petani cabai keriting di Desa Gekbrong telah menerapkan sistem agribisnis dari hulu ke hilir. Sistem agribisnis secara umum pada petani cabai Kampung Babakan sudah lengkap dijalankan, mulai dari subsistem pengadaan input, subsistem produksi, subsistem pengolahan dan pascapanen, subsistem pemasaran dan subsistem penunjang. Subsistem agribisnis dimulai dari subsistem pengadaan input terdiri atas benih, media semai, pupuk kandang, pestisida dan pupuk kimia. Subsistem produksi terdiri dari pengolahan lahan, penyemaian dan budidaya tanaman. Subsistem penangan hasil pertanian terdiri dari sortasi dan penimbangan. Subsistem pemasaran petani yaitu satu saluran. Petani cabai keriting dengan manajemen yang baik dan struktur organisasi yang sesuai memiliki fondasi yang kuat untuk operasional yang efisien dan pengelolaan keuangan yang sehat. Namun, kurangnya perencanaan pemasaran dan ketergantungan pada tengkulak membatasi potensi pendapatan mereka. Selain itu, meskipun fasilitas dan peralatan dalam kondisi baik, kurangnya penelitian dan 60 pengembangan menghambat inovasi dan diversifikasi produk. Untuk meningkatkan keberlanjutan dan profitabilitas, petani perlu fokus pada perencanaan pemasaran yang lebih baik dan berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan produk. Strategi yang tepat untuk digunakan berdasarkan posisi (pada sel Vpertahankan/pelihara) adalah pengembangan produk dan penetrasi pasar dengan strategi yang dihasilkan ada 9 pilihan berdasarkan matriks SWOT yaitu sebagai berikut : 1. Strategi SO (Strengh-Opprotunities) Strategi kekuatan S-O ini merupakan strategi yang menggunakan dalam memanfaatkan peluang yang ada. Strategi S-O dalam pengembangan usaha cabai keriting di Desa Gekbrong ini sebagai berikut ; d. Penguatan kerjasama pasar antara petani cabai keriting dengan pedagang cabai keriting yang orientasi kiriman ke luar daerah (pedagang pengirim) e. Penguatan kerjasama mitra (Kemitraan) dalam hal persediaan saprodi antara pedagang dengan petani cabai keriting f. Penguatan kelembagaan kelompok tani cabai keriting dengan penyuluh pertanian untuk pemecahan persolan petani dalam kegiatan usaha cabai keriting. 2. Strategi ST (Strenght-Threat) Strategi S-T inimerupakan strategi yang menggunakan kekuatan dengan melihat ancaman yang ada dalam kegiatan usahacabai keriting. Strategi S-T dalam pengembangan usaha cabai keriting di Desa Gekbrong sebagai berikut ; c. Pembuatan standar budidaya cabai keriting (SOP) dalam upaya mengurangi risiko usaha cabai keriting d. Peningkatkan kompetensi petani cabai keriting, tidak hanya dalam hal pengetahuan budidaya tetapi juga pengetahuan tentang pasar cabai keriting 3. Strategi WO (Weakness-Opportunities) 61 Strategi kelemahan W-O ini merupakan strategi dengan melihat dengan memperhatikan adanya aspek peluang dalam kegiatan usaha cabai keriting. Strategi W-O dalam pengembangan agribisnis cabai keriting di Desa Gekbrong sebagai berikut ; c. Pelatihan dan pembinaan petani cabai keriting dalam meningkatkan produksi dan penerimaan usahatani cabai keriting d. Pelatihan dan pembinaan dalam penanganan cabai keriting pascapanen serta diversifikasi produk turunan 4. Strategi WT (Weakness-Threat) Strategi W-T ini merupakan strategi dengan melihat kelemahan dengan memperhatikan adanya aspek ancaman juga dalam kegiatan agribisnis cabai keriting. Strategi W-T dalam pengembanganagribisnis cabai keriting di Desa Gekbrong sebagai berikut ; c. Pembuatan Pusat Informasi Usaha Cabai Keriting di Desa Gekbrong, sehingga petani terbuka dan mudah mengetahui informasi yang berkaitan dengan agribisnis cabai keriting. d. Pembinaan kepada petani dalam pengendalian risiko usaha cabai keriting di Desa Gekbrong B. Saran Berdasarkan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan, penulis memberikan saran kepada petani cabai keriting di Desa Gekbrong sebaiknya mengoptimalkan saranaproduksimenggunakanalatalatyanglebihmodernuntukmengefektifkan waktu kerja. 1. Petani dapat melakukan pengolahan hasil pertanian guna menambah pendapatan jika hargan turu dan produk banyak contoh dibuat cabai kering, pasta ataupun bumbu. 2. Petanisebaiknyaberbudidaya yangsesuaidenganGAPtanamancabai untuk menghindari resiko. 3. Petani dapat menjalin kerjasama dengan mitra terkait sehingga lebih bisa menstabilkan harga cabai keriting. 62 DAFTAR PUSTAKA Anonimous, 2012. Cabai rawit: Sinar cukup, panen kian lebat (2). http://peluangusaha.kontan. co.id/news/cabai-rawit-sinar-cukuppanenkian- lebat-2thort.Lembang. Bandung Vol:XXVI. No. 1.1993 Arifin danArsyad. M(2016).PengantarAgribisnis. Bandung: Muhajidpress. ISBN 987-979-762-500-9. Apriyanto, M. T., dan Chofyan, I. (2021). Development Strategy of Red Chili Agribusiness in Agropolitan Area, Ciamis Regency. Jurnal Perencanaan Wilayah Dan Kota, 16(1), 9–16. https://doi.org/10.29313/jpwk.v16i1 Arsyd,M.,Darman,S., danDamayanti,L.(2018).IncomeAnalysisandDevelopment Strategy of Chilli Farming System in Tibo Village, Sindue Sub District of Donggala District. J. Agroland, 25(3), 214–223. Assauri,S.2017.StrategicManagement:SustainableCompetitiveAdvantages. Depok :RajawaliPers. BPS.2017.StatistikPertanian2017.Jakarta:BadanPusatStatistik Indonesia. BPS.2021.Provinsi Jawa Barat Dalam Angka.Jakarta: Badan Pusat Statistik Indonesia. Bahri, H., 2016.PengadaandanPenyaluran Sarana Produksi. Makalah. http://haerulbahri11.blogspot.co.id/2016/01/vbehaviorurldefaultvmlo.html. (Diakses 9 Agustus 2024). David,F.R., d a n Forest,R.D.2016.ManajemenStrategik:SuatuPendekatan Keunggulan Bersaing. Yogyakarta : Salemba Empat. Fahmi, I. 2014. Studi Kelayakan Bisnis dan Keputusan Investasi. Jakarta : MitraWacana Media. Fathoni, 2012. Sistem, Konsep, dan Pendekatan Agribisnis. Artikel. https://fathoni0809.wordpress.com/bahankuliah/pengantaragribisnis/. (Diakses 9 Agustus 2024). Ginting, E.T.U.B., Rizaldi, T., dan Sigalingging, R. 2018. Metode Optimum Pengoperasian untuk Peningkatan Kerja Alat Penyemai Benih padaSistem Dapog. Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian, 6(2): 354358. Harpenas,A.danDermawan,R.,2011, Budidayacabaiunggul,PenebarSwadaya: Jakarta. Hasibuan, ASZ. 2015. Pemanfaatan Bahan Organik Dalam Perbaikan Beberapa Sifat Tanah Pasir Pantai Selatan Kulon Progo. Planta Tropika Journal of Agro Science. 3 (1). Insan cita. 2016. Pemasaran cabai. https://belajartani.com/pantas-saja-hargacabai-mahal-rantai-pemasarannya-aja-begini/. (Diakses 28 Juli 2024). 63 Kahana, B. P. 2008. Strategi PengembanganAgribisnis Cabai Merah di Kawasan Agropolitan Kabupaten Magelang. Journal. Universitas Diponegoro. Kotler,P.,danKeller,K.L.2009.ManajemenPemasaran,EdisiKetigaBelas.Jakarta :PenerbitErlangga Lubis, F.A., Harisudin, M., dan Fajarningsih, R. U.(2019). StrategiPengembangan Agribisnis Cabai Merah di Kabupaten Sleman dengan Metode Analytical Hierarchy Process. AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research, 5(2), 119-128. Lubis, F. A., dan Mulyara, B. (2021). SWOT analysis of red chili agribusiness development.Jurnal ofAgribusiness Sciences, 04(02), 67–77. Lumika, N. C., & Tarore, M. L. (2017). Strategi Pengembangan Cabai Keriting di Kecamatan Modayag Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. AGRI-SOSIOEKONOMI, 13(2A), 145-156. Marhumi. (2018). Pengaruh Faktor Internal, Eksternal Organisasi Dan Pendanaan TerhadapMutuPerguruanTinggiDanImplikasinyaPadaPeningkatanCitr a Perguruan Tinggi Swasta Di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Dan Bisnis (Stieb) Perdana Mandiri Purwakarta. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol.2 No.1. ISSN: 2338-0411. Maulidah,Silvana.2012.PengantarManajemenAgribisnis.Malang:UBPress. Porter,M.E.,dan A.Maulana.(2008).StrategiBersaing,TeknikMenganalisis Industri dan Pesaing. Jakarta: Erlangga. Sulaeni, S., dan Wibowo, A. S. (2018). Strategi Pengembangan Agribisnis Cabai Merah Dikawasan Agropolitan Kabupaten Serang. Jurnal Agribisnis Terpadu, 11(2), 141-151. Rangkuti,F.2016.AnalisisSWOT:TeknikMembedahKasusBisnis.PTGramedia Pustaka Utama. Jakarta. Ridwan, MunawarAA, Khatir R. 2017.PeningkatanKualitasCabaiMerahKering Dengan Perlakuan Blanching Dalam Natrium Metabisulfit. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian. 2 (2) : 404-415. Rindani, M. 2015. Kesesuaian lahan tanaman cabai merah di lahan jorong kota KenagarianLubuakBatingkok,Kecamatan.Harau,Kabupaten.LimaPulu h Kot Payakumbuh. Nasional Ecopedon. 2(2): 28-33. Salasa,A.R.2021.ParadigmadanDimensiStrategiKetahananPanganIndonesia. JurnalAdministrasiPublik.13(1) :269-274. Shinta,A.2011.IlmuUsahatani.Malang:Penerbit UBPress Syifawanda Yasmin, R. A., Hepiana Lestari, D. A. and Marlina, L. 2022. The Performance of Red ChilliAgribusiness System at Tunas Harapan 64 Farmer Group, Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian. 18(3) : 259276. doi: 10.20956/jsep.v18i3.21620. Taufik, M. (2011). Analisis Pendapatan Usahatani dan Penanganan Pascapanen Cabai Merah. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Badan Litbang Pertanian. 30 (2) : 66-7. Yetnawatidan Hasnelly. 2021. Pengaruh Beberapa Jenis Mulsa OrganikTerhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Terung (Solanum melongena L). Jurnal Sains Agro. Vol. 6 (1). 65 LAMPIRAN Lampiran 1. Kuesioner Penelitian A. Daftar Pertanyaan Audit: 1. Apakah petani menggunakan strategi dalam menjual cabai? (Jika ya, strategi seperti apa?) a. Ya, menggunakan b. Tidak 2. Apakah struktur organisasi kelompok tani sudah sesuai? (Jika tidak, kendala apa yang dihadapi?) a. Sudah sesuai b. Belum sesuai 3. Apakah petani melakukan pemasaran dan perencanaan dalam menjual cabai? (Jika ya, bagaimana dalam melakukan perencanaan pemasaran tersebut?) a. Ya, melakukan pemasaran dan perencanaan b. Tidak, langsung menjual ke tengkulak 4. Apakah saluran distribusi saat ini sudah baik? (Bagaimana salurannya?) a. Sudah b. Belum 5. Apakah proses penganggaran modal efektif? a. Ya, modal dialokasikan dengan baik b. Belum, sebagian modal digunakan untuk kebutuhan sehari-hari 6. Apakah petani memiliki utang untuk permodalan? (Jika ya, berapa jumlahnya) a. Ya b. Tidak 7. Apakah fasilitas, peralatan, dan mesin dalam kondisi yang baik? a. Ya b. Tidak 8. Apakah pasokan bahan input tersedia dan stabil harganya? a. Ya, selalu tersedia dan stabil b. Tidak, bahan input terkadang langka dan tidak stabil harganya 9. Apakah petani melakukan pengembangan produk cabai? a. Ya b. Tidak 10. Apakah petani menggunakan teknologi dalam membudidayakan cabai? a. Ya b. Tidak 66 B. Hasil Presentase Quisioner KATEGORI JUMLAH PETANI (ORANG) 30 PRESENTASE(%) Struktur organisasi sudah sesuai 30 100% Petani melakukan pemasaran, perencanaan dalam menjual cabai merah keriting 3 10% Saluran distribusi sudah baik 22 73,3% Proses penganggaran modal efektif 30 100% Petani memiliki hutang untuk permodalan 3 10% Fasilitas, peralatan, dan mesin dalam kondisi baik Menyediakan stok/bahan input dan stabil harganya Petani melakukan pengembangan produk cabai 30 100% 3 10% 30 100% Penggunaan teknologi dalam membudidaya cabai 30 100% Petani menggunakan strategi dalam penjualannya 100% C. Pembobotan IFE/EFE A A B C D Total Xi B C D 𝑛 Total ∑ 𝑥𝑖 𝑖=1 67 D. Pemeringkatan IFE/EFE Faktor-faktor internal Kekuatan A B Kelemahan C Bobot Peringkat Skor Tertimbang Bobot Peringkat Skor Tertimbang D Total Faktor-faktor eksternal Peluang A B Ancaman C D Total 68 Lampiran 2 Penilaian Pembobotan Terhadap Faktor-faktor Internal Petani IFE A B C D E F G H I IFE A B C D E F G H I Kekuatan A. Berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang baik terhadap budidaya cabai keriting B. Permodalan petani yang cukup baik C. Dukungan dari lembaga pemerintah dan lembaga non-pemerintah D. Motivasi tinggi petani dalam menjalankan usaha cabai keriting E. Kebersamaan dan solidaritas yang kuat Kelemahan F. Biaya Produksi Tinggi G. Penanganan hama dan penyakit yang belum baik H. Hanya memiliki satu saluran distribusi pemasaran I. Kegiatan usaha cabai yang masih sederhana dan mengikuti pola yang sudah berjalan A 2 2 2 3 3 2 2 2 A 2 2 2 1 3 3 1 3 B 2 2 2 2 3 2 2 1 B 2 2 2 2 3 3 1 3 C 2 2 2 1 1 2 2 1 C 2 2 2 1 2 3 3 3 Responden 1 D E F G 2 1 1 2 2 2 1 2 2 3 3 2 2 2 2 2 1 3 1 3 3 2 1 1 2 1 1 2 2 3 3 1 Total Responden 2 D E F G 2 3 1 1 2 2 1 1 2 3 2 1 2 3 3 2 3 3 1 1 3 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 3 Total H 2 2 2 2 3 3 2 I 2 3 2 2 1 1 3 3 Total Bobot 14 0,113 14 0,113 16 0,129 14 0,113 13 0,105 15 0,121 13 0,105 13 0,105 12 0,097 124 1 I 1 1 1 3 3 3 1 3 Total Bobot 15 0,116 12 0,093 12 0,093 17 0,132 17 0,132 16 0,124 13 0,101 12 0,093 15 0,116 129 1 1 H 3 3 1 2 3 3 3 3 69 IFE A B C D E F G H I IFE A B C D E F G H I A 2 2 2 2 3 3 2 2 A 3 3 3 3 3 2 2 3 B 2 2 2 3 3 3 1 3 B 1 3 3 2 2 2 2 2 C 2 2 2 2 3 3 2 2 C 1 1 3 3 3 2 2 2 Responden 3 D E F G 2 2 1 1 2 1 1 1 2 2 1 1 2 1 2 2 1 2 3 3 2 2 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 Total Responden 4 D E F G 1 1 1 2 1 2 2 2 1 1 1 2 1 2 2 3 2 2 2 2 3 2 2 1 3 2 2 2 2 2 2 3 Total H 2 3 2 2 2 1 2 I 2 1 2 1 2 2 2 2 Total Bobot 14 0,111 11 0,087 12 0,095 12 0,095 14 0,111 17 0,135 16 0,127 14 0,111 16 0,127 126 1 I 1 2 2 2 2 2 1 2 Total Bobot 10 0,082 12 0,098 12 0,098 14 0,115 16 0,131 16 0,131 12 0,098 15 0,123 15 0,123 122 1 2 H 2 2 2 1 2 2 2 2 70 Lampiran 3 Penilaian Pembobotan Terhadap Faktor-faktor Eksternal Petani EFE A B C D E F G H EFE A B C D E F G H Peluang A. Permintaan dan harga jual tinggi B. Peningkatan Permintaan Ekspor C. Inovasi Teknologi D. Diversifikasi Produk Ancaman E. Perubahan Iklim dan ketergantungan cuaca F. Persaingan yang ketat G. Kebijakan Pemerintah yang Tidak Mendukung H. Ketidakstabilan Ekonomi A 2 1 1 3 1 1 1 A 2 2 2 1 3 2 1 B 2 1 3 3 1 1 3 B 2 2 2 1 3 2 1 C 3 3 2 3 3 3 3 C 2 2 2 1 3 3 1 Responden 1 D E F 3 1 3 1 1 3 2 1 1 2 1 2 3 3 1 3 1 1 3 3 3 Total Responden 2 D E F 2 3 1 2 3 1 2 3 1 3 3 1 3 1 1 2 3 3 1 1 1 Total G 3 3 1 1 3 3 H 3 1 1 1 1 1 3 Total 18 14 8 11 18 13 13 17 112 Bobot 0,161 0,125 0,071 0,098 0,161 0,116 0,116 0,152 1 H 3 3 3 3 3 3 3 Total 15 15 14 17 11 15 18 7 112 Bobot 0,134 0,134 0,125 0,152 0,098 0,134 0,161 0,063 1 1 G 2 2 1 2 1 1 1 71 EFE A B C D E F G H EFE A B C D E F G H A 2 2 1 2 3 2 2 A 3 2 2 3 3 3 3 B 2 1 1 2 1 1 1 B 1 2 3 2 1 3 3 C 2 3 2 2 2 2 2 C 2 2 2 3 2 3 3 Responden 3 D E F 3 2 3 3 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 Total Responden 1 D E F 2 1 1 1 2 3 2 1 2 1 1 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 Total G 2 3 2 3 2 2 H 2 3 2 3 2 2 2 Total 16 19 13 14 14 14 12 12 114 Bobot 0,140 0,167 0,114 0,123 0,123 0,123 0,105 0,105 1 H 1 1 1 1 1 1 2 Total 9 13 11 11 15 13 20 20 112 Bobot 0,080 0,116 0,098 0,098 0,134 0,116 0,179 0,179 1 2 G 1 1 1 1 1 1 2 72 Lampiran 4Rata-rata Penilaian Pembobotan Terhadap Faktor-faktor Internal Petani Total Bobot Faktorfaktor strategis internal Responden 1 A B C D E 0,113 0,113 0,129 0,113 0,105 F G H I 0,121 0,105 0,105 0,097 Responden 2 Responden 4 Ratarata Bobot 0,111 0,087 0,095 0,095 0,111 0,082 0,098 0,098 0,115 0,131 0,106 0,098 0,104 0,114 0,120 0,135 0,127 0,111 0,127 0,131 0,098 0,123 0,123 0,128 0,108 0,108 0,116 Responden 3 Kekuatan 0,116 0,093 0,093 0,132 0,132 Kelemahan 0,124 0,101 0,093 0,116 Lampiran 5 Rata-rata Penilaian Pembobotan Terhadap Faktor-faktor Eksternal Petani Total Bobot Faktorfaktor strategis eksternal Responden 1 A B C D 0,161 0,125 0,071 0,098 E F G H 0,161 0,116 0,116 0,152 Responden 2 Responden 3 Peluang 0,134 0,134 0,125 0,152 Ancaman 0,098 0,134 0,161 0,063 Responden 4 Ratarata Bobot 0,140 0,167 0,114 0,123 0,080 0,116 0,098 0,098 0,129 0,135 0,102 0,118 0,123 0,123 0,105 0,105 0,134 0,116 0,179 0,179 0,129 0,122 0,140 0,125 73 Lampiran 6Rata-rata Penilaian Peringkat Terhadap Faktor-faktor Internal Petani Faktorfaktor Strategis Internal Peringkat Responden 1 A B C D E 4 4 4 4 3 F G H I 2 2 1 2 Responden 2 Responden 3 Responden 4 Kekuatan 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Kelemahan 2 2 2 2 1 2 2 1 1 2 1 2 Rata-rata Peringkat 3,75 3,5 4 4 3,75 2 1,75 1,25 1,75 Lampiran 7 Rata-rata Penilaian Peringkat Terhadap Faktor-faktor Eksternal Petani Faktorfaktor Strategis Eksternal Peringkat Responden 1 A B C D 4 4 4 3 E F G H 2 1 1 1 Responden 2 Responden 3 Responden 4 Peluang 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Ancaman 2 2 1 2 1 2 2 1 1 2 1 1 Rata-rata Peringka t 4 4 4 3,75 1,75 1,5 1,25 1,25 74 Lampiran 8 Dokumentasi Penelitian 1. Pak Dedi 2. Pak Basuki 3. Bu Safitri 4. Pak Etah &Pak Dadang 5. Pak Ace 6. Pak Jajang 75 7. Pak H. Jujum 8. Pertemuan bersama Petani 9. Pertemuan bersama Petani dan PPL 10. Pertemuan bersama BPP dan PPL 76