Uploaded by common.user152426

Proposal Penelitian Komunikasi Ekologis di Rock in Celebes

advertisement
PROPOSAL PENELITIAN
REPRESENTASI KOMUNIKASI EKOLOGIS PADA KOLABORASI
EVENT IKLIM FEST DALAM ROCK IN CELEBEBES
DI KOTA MAKASSAR
DIAJUKAN OLEH:
ANJAS PUTRA DAYAN
06520220010
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS SASTRA, ILMU KOMUNIKASI, DAN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2026
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
A.
Latar Belakang ......................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah .................................................................................... 7
C.
Tujuan Penelitian ...................................................................................... 7
D.
Manfaat Penelitian.................................................................................... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................... 9
A.
Komunikasi .............................................................................................. 9
B.
Komunikasi Ekologis ............................................................................. 14
C.
Representasi ........................................................................................... 16
D.
Event sebagai Media Komunikasi ........................................................... 17
E.
Teori Semiotika ...................................................................................... 19
F.
Landasan Teori ....................................................................................... 22
G.
Penelitian Terdahulu ............................................................................... 26
H.
Kerangka Konsep ................................................................................... 28
I.
Alur Pikir ............................................................................................... 30
J.
Definisi Operasional ............................................................................... 31
BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 33
A.
Tipe dan Paradigma Penelitian................................................................ 33
B.
Waktu Penelitian .................................................................................... 34
C.
Unit Analisis........................................................................................... 34
D.
Jenis Data ............................................................................................... 35
E.
Teknik Pengumpulan Data ...................................................................... 35
F.
Teknik Analisis Data .............................................................................. 36
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 39
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perubahan iklim merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang
semakin kompleks dan menjadi perhatian utama di berbagai belahan dunia,
termasuk di Indonesia. Fenomena ini ditandai dengan meningkatnya suhu ratarata bumi, perubahan pola curah hujan, meningkatnya frekuensi dan intensitas
bencana alam, serta terjadinya kerusakan ekosistem yang berdampak luas
terhadap kehidupan manusia. Dampak perubahan iklim tidak hanya dirasakan
pada aspek lingkungan semata, tetapi juga memengaruhi aspek sosial,
ekonomi, dan budaya masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan
iklim merupakan persoalan multidimensional yang memerlukan perhatian
serius serta keterlibatan berbagai pihak dalam penanganannya.
Dampak perubahan iklim semakin terasa, terutama di wilayah perkotaan.
Kota besar sebagai pusat aktivitas manusia memiliki tingkat kepadatan
penduduk yang tinggi serta menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, industri, dan
pembangunan. Tingginya aktivitas tersebut berimplikasi pada meningkatnya
konsumsi energi, penggunaan kendaraan bermotor, serta produksi limbah yang
berdampak pada peningkatan emisi gas rumah kaca. Selain itu, fenomena
urbanisasi yang terus meningkat juga menyebabkan tekanan terhadap
lingkungan semakin besar, seperti berkurangnya ruang terbuka hijau,
meningkatnya pencemaran udara, serta permasalahan pengelolaan sampah.
1
2
Kota besar menjadi ruang bertemunya berbagai kelompok masyarakat
dengan latar belakang yang beragam, serta menjadi pusat perkembangan
teknologi dan informasi. Hal ini menjadikan kota besar sebagai tempat yang
strategis untuk mengembangkan berbagai gerakan sosial, termasuk dalam
upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan dan
perubahan iklim.
Dalam konteks tersebut, komunikasi memegang peranan penting sebagai
sarana untuk menyampaikan informasi, membangun kesadaran, serta
mendorong perubahan perilaku masyarakat. Komunikasi tidak hanya berfungsi
sebagai alat penyampaian pesan, tetapi juga sebagai proses sosial yang
melibatkan interaksi, pertukaran makna, serta pembentukan persepsi di antara
individu dan kelompok. Menurut Hafied Cangara (2014), komunikasi memiliki
fungsi informatif, edukatif, persuasif, dan rekreatif yang dapat digunakan untuk
memengaruhi pola pikir dan tindakan masyarakat. Dalam konteks lingkungan,
komunikasi menjadi sarana penting untuk meningkatkan kesadaran ekologis
serta
mendorong
partisipasi
masyarakat
dalam
menjaga
kelestarian
lingkungan.
Lebih lanjut, Onong Uchjana Effendy (2003) menyatakan bahwa
komunikasi yang efektif harus mampu menyentuh tiga aspek utama, yaitu
aspek kognitif, afektif, dan konatif. Aspek kognitif berkaitan dengan
pengetahuan dan pemahaman individu terhadap suatu isu, aspek afektif
berkaitan dengan perasaan atau sikap, sedangkan aspek konatif berkaitan
dengan tindakan atau perilaku. Dalam kaitannya dengan komunikasi
3
lingkungan, ketiga aspek tersebut harus dapat terintegrasi agar pesan yang
disampaikan tidak hanya dipahami, tetapi juga mampu menumbuhkan
kepedulian dan mendorong tindakan nyata dari masyarakat.
Seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup
masyarakat, strategi komunikasi juga mengalami perubahan. Pendekatan
komunikasi yang bersifat konvensional, seperti kampanye melalui media cetak
atau penyuluhan formal, dinilai kurang efektif dalam menjangkau generasi
muda yang memiliki karakteristik dinamis dan cenderung lebih tertarik pada
media yang bersifat visual dan interaktif. Oleh karena itu, diperlukan
pendekatan komunikasi yang lebih kreatif, inovatif, dan partisipatif agar pesan
yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.
Salah satu pendekatan yang berkembang dalam komunikasi modern adalah
melalui pemanfaatan budaya populer. Budaya populer merupakan bagian dari
kehidupan sehari-hari masyarakat yang memiliki daya tarik tinggi, khususnya
bagi generasi muda. Melalui budaya populer, pesan-pesan sosial dapat
disampaikan dengan cara yang lebih menarik, mudah dipahami, dan relevan
dengan kehidupan masyarakat. Dalam hal ini, media hiburan seperti musik,
film, dan event kreatif menjadi sarana yang potensial untuk menyampaikan
pesan-pesan sosial, termasuk isu lingkungan.
Event musik sebagai bagian dari budaya populer memiliki peran yang
penting dalam membentuk opini dan perilaku masyarakat. Event musik tidak
hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai ruang interaksi
sosial yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide dan nilai di antara
4
audiens. Selain itu, event musik juga mampu menciptakan pengalaman
langsung (experience) yang dapat memperkuat pemahaman dan keterlibatan
audiens terhadap pesan yang disampaikan.
Menurut Prasetyo (2019) dalam Jurnal Komunikasi, event musik memiliki
keunggulan dalam menyampaikan pesan sosial karena mampu menjangkau
audiens dalam jumlah besar serta menciptakan interaksi yang bersifat langsung
dan emosional. Hal ini menjadikan event musik sebagai media komunikasi
yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan yang bersifat persuasif. Selain
itu, penelitian Wibowo (2020) dalam Jurnal Penelitian Komunikasi
menunjukkan bahwa kegiatan publik seperti event dapat meningkatkan
kesadaran masyarakat terhadap isu tertentu melalui pendekatan yang
partisipatif dan interaktif.
Dalam konteks komunikasi lingkungan, event musik dapat dimanfaatkan
sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan ekologis kepada masyarakat.
Melalui berbagai aktivitas yang dilakukan selama event, seperti kampanye
lingkungan, edukasi publik, serta praktik ramah lingkungan, pesan-pesan
ekologis dapat disampaikan secara lebih menarik dan mudah dipahami. Selain
itu, keterlibatan langsung audiens dalam berbagai aktivitas tersebut juga dapat
meningkatkan kesadaran dan partisipasi mereka terhadap isu lingkungan.
Salah satu event musik yang memiliki potensi tersebut adalah Rock in
Celebes, yang diselenggarakan di kota besar dan melibatkan berbagai musisi,
komunitas kreatif, serta audiens dari berbagai latar belakang. Event ini tidak
hanya berfokus pada hiburan, tetapi juga mulai mengintegrasikan isu-isu sosial
5
dan lingkungan dalam pelaksanaannya. Melalui kolaborasi dengan komunitas
lingkungan dan berbagai pihak terkait, event ini menghadirkan berbagai
program dan aktivitas yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran
masyarakat terhadap isu perubahan iklim.
Kolaborasi yang terjalin dalam event ini menunjukkan adanya sinergi antara
sektor kreatif dan gerakan lingkungan. Penyelenggara event, musisi, komunitas
lingkungan,
serta
audiens
memiliki
peran
masing-masing
dalam
menyampaikan dan menerima pesan-pesan ekologis. Pendekatan kolaboratif
ini menjadi penting karena isu lingkungan merupakan tanggung jawab bersama
yang memerlukan partisipasi aktif dari berbagai pihak. Penelitian oleh Sari dan
Nugroho (2021) dalam Jurnal Komunikasi Pembangunan menunjukkan bahwa
komunikasi lingkungan yang dilakukan secara kolaboratif dapat meningkatkan
efektivitas penyampaian pesan serta memperkuat keterlibatan masyarakat.
Dalam perspektif ilmu komunikasi, fenomena tersebut dapat dianalisis
melalui konsep representasi. Menurut Burhan Bungin (2011), representasi
merupakan proses pembentukan makna melalui simbol, bahasa, dan praktik
sosial yang dipengaruhi oleh konteks budaya. Dalam event musik, representasi
komunikasi ekologis dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti pesan yang
disampaikan oleh musisi, visualisasi kampanye lingkungan, penggunaan
simbol-simbol ramah lingkungan, serta praktik nyata yang dilakukan selama
event berlangsung.
Representasi komunikasi ekologis dalam event musik menjadi penting
untuk dikaji karena memiliki pengaruh terhadap cara pandang dan perilaku
6
masyarakat terhadap lingkungan. Pesan yang dikemas dalam bentuk yang
menarik dan kontekstual cenderung lebih mudah diterima oleh audiens
dibandingkan dengan pendekatan yang bersifat formal dan satu arah. Selain itu,
pengalaman langsung yang dirasakan oleh audiens selama event berlangsung
juga dapat memperkuat pemahaman serta meningkatkan kesadaran mereka
terhadap isu lingkungan.
Namun demikian, dalam konteks kota besar, komunikasi ekologis tidak
terlepas dari berbagai tantangan. Keberagaman latar belakang audiens,
perbedaan tingkat pendidikan, serta tingginya arus informasi dapat
memengaruhi
efektivitas
penyampaian
pesan.
Selain
itu,
adanya
kecenderungan masyarakat perkotaan yang lebih fokus pada aspek hiburan
juga menjadi tantangan tersendiri dalam menyampaikan pesan-pesan ekologis.
Oleh karena itu, diperlukan strategi komunikasi yang tidak hanya informatif,
tetapi juga mampu menarik perhatian dan melibatkan audiens secara aktif.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa event musik seperti
Rock in Celebes memiliki potensi yang besar sebagai media komunikasi
ekologis yang mampu menggabungkan antara hiburan dan edukasi. Melalui
pendekatan yang kreatif dan kolaboratif, pesan-pesan lingkungan dapat
disampaikan secara lebih efektif kepada masyarakat. Namun, untuk memahami
secara lebih mendalam bagaimana representasi komunikasi ekologis tersebut
dibangun
dan
komprehensif.
dimaknai
oleh
audiens,
diperlukan
penelitian
yang
7
Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis representasi
komunikasi ekologis pada kolaborasi event iklim dalam Rock in Celebes di
kota besar. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam
pengembangan kajian komunikasi lingkungan di Indonesia, serta menjadi
referensi bagi penyelenggara event dan berbagai pihak terkait dalam
merancang strategi komunikasi yang lebih efektif, kreatif, dan berkelanjutan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, maka rumusan masalah
dapat dijabarkan sebagai beriut:
1. Bagaimana representasi komunikasi ekologis dalam kolaborasi event iklim
pada Rock in Celebes di kota besar?
2. Bagaimana pesan, simbol, serta respons audiens terhadap komunikasi
ekologis yang disampaikan dalam event Rock in Celebes?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian dapat
dijabarkan sebagai berikut:
1. Untuk menganalisis representasi komunikasi ekologis dalam kolaborasi
event iklim pada Rock in Celebes di kota besar.
2. Untuk mengidentifikasi dan memahami pesan, simbol, serta respons
audiens terhadap komunikasi ekologis yang disampaikan dalam event Rock
in Celebes.
8
3. Untuk
mengidentifikasi makna penerimaan dan keikhlasan yang
direpresentasikan oleh lagu “kekal” dalam semiotika ferdinan.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam
pengembangan ilmu komunikasi, khususnya pada kajian komunikasi
lingkungan (ekologis) dan teori representasi. Selain itu, penelitian ini juga
diharapkan dapat memperkaya literatur mengenai pemanfaatan media
budaya populer, seperti event musik, sebagai sarana komunikasi ekologis
dalam menyampaikan isu perubahan iklim..
2.
Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dan
referensi bagi penyelenggara event, komunitas lingkungan, serta pihak
terkait dalam merancang dan melaksanakan kegiatan yang lebih ramah
lingkungan. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan
wawasan mengenai strategi komunikasi yang efektif dalam meningkatkan
kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap isu lingkungan melalui
pendekatan yang kreatif dan partisipatif.
3. Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti
selanjutnya yang ingin mengkaji topik serupa, khususnya dalam bidang
komunikasi lingkungan dan budaya populer. Selain itu, penelitian ini juga
9
dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran serta pengembangan
penelitian di lingkungan akademik, terutama dalam kajian ilmu
komunikasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Komunikasi
1. Definisi Komunikasi
Komunikasi merupakan proses fundamental dalam kehidupan
manusia yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas sosial sehari-hari.
Melalui komunikasi, individu dapat menyampaikan ide, perasaan,
informasi, serta membangun hubungan dengan orang lain. Komunikasi
tidak hanya berfungsi sebagai alat pertukaran pesan, tetapi juga sebagai
sarana untuk membentuk pemahaman, membangun kesepakatan, serta
menciptakan makna bersama dalam kehidupan sosial.
Menururt Hafied Cangara (2014), menyatakan bahwa komunikasi
merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator kepada
komunikan melalui saluran tertentu dengan tujuan menghasilkan efek
tertentu. Definisi ini menunjukkan bahwa komunikasi melibatkan beberapa
unsur penting yang saling berkaitan, seperti pengirim pesan, pesan itu
sendiri, media yang digunakan, penerima pesan, serta efek yang dihasilkan.
Sementara itu, Deddy Mulyana (2018) memandang komunikasi
sebagai proses sosial yang melibatkan pertukaran makna di antara individu.
Dalam perspektif ini, komunikasi tidak hanya dipahami sebagai proses
penyampaian pesan secara linear, tetapi juga sebagai proses interaktif yang
memungkinkan terjadinya interpretasi dan pemaknaan oleh masing-masing
individu. Setiap individu memiliki latar belakang, pengalaman, dan
9
10
konteks sosial yang berbeda, sehingga makna yang dihasilkan dalam
komunikasi juga dapat berbeda.
Komunikasi juga tidak hanya terbatas pada penggunaan bahasa
verbal, tetapi mencakup komunikasi nonverbal seperti ekspresi wajah,
gerakan tubuh, simbol, warna, dan berbagai tanda lainnya yang memiliki
makna tertentu. Dalam banyak kasus, komunikasi nonverbal justru
memiliki peran yang sangat penting dalam memperkuat atau bahkan
menggantikan pesan verbal. Oleh karena itu, komunikasi harus dipahami
sebagai proses yang kompleks dan multidimensional.
Dalam perkembangannya, komunikasi tidak lagi dipandang sebagai
proses satu arah (linear), melainkan sebagai proses dua arah yang
melibatkan interaksi antara komunikator dan komunikan. Dalam proses ini,
penerima pesan tidak hanya berperan sebagai pihak yang pasif, tetapi juga
aktif dalam menafsirkan, merespons, dan bahkan memproduksi kembali
pesan yang diterima. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi merupakan
proses yang dinamis dan terus berkembang.
2. Karakteristik Komunikasi
Komunikasi sebagai suatu proses sosial memiliki sejumlah karakteristik
yang menunjukkan bahwa komunikasi bersifat kompleks dan dipengaruhi
oleh berbagai faktor. Menurut Deddy Mulyana (2018), karakteristik
komunikasi dapat dijelaskan sebagai berikut:
11
a) Bersifat dinamis
Komunikasi bersifat dinamis karena prosesnya terus berubah dan
berkembang
sesuai
dengan
situasi,
kondisi,
serta
hubungan
antarindividu. Setiap interaksi komunikasi dipengaruhi oleh waktu,
tempat, dan keadaan sosial yang berbeda.
b) Bersifat Simbolik
Komunikasi menggunakan simbol-simbol dalam menyampaikan
makna, baik berupa bahasa verbal maupun nonverbal. Simbol tersebut
dapat berupa kata-kata, gambar, warna, maupun gestur yang memiliki
arti tertentu, namun maknanya dapat berbeda tergantung pada
pengalaman dan latar belakang individu.
c) Bersifat Kontekstual
Komunikasi tidak terlepas dari konteks yang melingkupinya, seperti
konteks sosial, budaya, dan lingkungan. Konteks ini sangat
memengaruhi bagaimana pesan disampaikan dan ditafsirkan oleh
penerima.
d) Bersifat Transaksional
Komunikasi merupakan proses dua arah yang melibatkan interaksi
antara komunikator dan komunikan. Dalam proses ini, kedua pihak
saling memengaruhi dan berperan aktif dalam membentuk makna.
12
e) Bersifat Kesinambungan
Komunikasi berlangsung secara terus-menerus selama individu
melakukan interaksi sosial. Proses ini tidak pernah berhenti selama
manusia masih berhubungan dengan orang lain.
3. Unsur Komunikasi
Dalam proses komunikasi terdapat sejumlah unsur yang saling
berkaitan dan menentukan efektivitas penyampaian pesan. Unsur-unsur
komunikasi merupakan komponen fundamental yang harus ada dalam
setiap proses komunikasi agar tujuan komunikasi dapat tercapai secara
optimal. Menurut Hafied Cangara (2014), unsur-unsur komunikasi meliputi
komunikator, pesan, media, komunikan, efek, umpan balik, dan gangguan,
yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Komunikator
Komunikator merupakan pihak yang berperan sebagai pengirim
pesan dalam proses komunikasi. Komunikator dapat berupa individu,
kelompok, maupun lembaga yang memiliki tujuan tertentu dalam
menyampaikan pesan. Kredibilitas, kemampuan komunikasi, serta
pemahaman komunikator terhadap audiens menjadi faktor penting
dalam menentukan keberhasilan komunikasi.
b) Pesan
Pesan adalah informasi, ide, atau makna yang disampaikan oleh
komunikator kepada komunikan. Pesan dapat disampaikan dalam
bentuk verbal maupun nonverbal. Kejelasan, sistematika, dan relevansi
13
pesan sangat memengaruhi tingkat pemahaman komunikan terhadap isi
komunikasi yang disampaikan.
c) Media atau Saluran
Media merupakan sarana atau alat yang digunakan untuk
menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan. Media
dapat berupa komunikasi langsung maupun melalui perantara seperti
media massa dan media digital. Pemilihan media yang tepat akan
menentukan efektivitas penyampaian pesan.
d) Komunikan
Komunikan adalah pihak yang menerima pesan dari komunikator.
Komunikan tidak hanya berperan sebagai penerima pasif, tetapi juga
sebagai pihak yang aktif dalam menginterpretasikan pesan berdasarkan
latar belakang sosial, budaya, dan pengalaman yang dimiliki.
e) Efek
Efek merupakan dampak yang dihasilkan dari proses komunikasi,
baik dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap, maupun perilaku.
Efek ini menjadi indikator keberhasilan komunikasi dalam mencapai
tujuan yang diharapkan.
f) Umpan Balik
Umpan balik adalah respons yang diberikan oleh komunikan
terhadap pesan yang diterima. Umpan balik berfungsi sebagai indikator
untuk mengetahui sejauh mana pesan telah dipahami dan diterima oleh
komunikan.
14
g) Gangguan
Gangguan adalah segala bentuk hambatan yang dapat memengaruhi
proses komunikasi sehingga pesan tidak tersampaikan secara efektif.
Gangguan dapat bersifat fisik, psikologis, maupun semantik, yang
dapat menyebabkan terjadinya distorsi makna dalam komunikasi.
B. Komunikasi Ekologis
Komunikasi ekologis merupakan salah satu kajian dalam ilmu komunikasi
yang berfokus pada penyampaian pesan-pesan yang berkaitan dengan
lingkungan hidup. Dalam konteks global saat ini, komunikasi ekologis menjadi
semakin penting seiring meningkatnya berbagai permasalahan lingkungan
seperti perubahan iklim, pencemaran, dan kerusakan ekosistem. Komunikasi
ekologis tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi
juga sebagai upaya strategis dalam membangun kesadaran, sikap, dan perilaku
masyarakat terhadap lingkungan.
Secara konseptual, komunikasi ekologis dapat dipahami sebagai proses
penyampaian dan pertukaran makna mengenai isu-isu lingkungan yang
bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta mendorong partisipasi
masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Menurut Deddy Mulyana
(2018), komunikasi merupakan proses sosial yang memungkinkan terjadinya
pertukaran makna di antara individu. Dalam konteks ini, komunikasi ekologis
tidak hanya menyampaikan fakta atau informasi lingkungan, tetapi juga
membentuk cara pandang dan interpretasi masyarakat terhadap isu-isu tersebut.
15
Dalam kajian jurnal, komunikasi ekologis juga dipahami sebagai proses
yang tidak hanya bersifat
informatif, tetapi juga transformasional.
Sebagaimana dinyatakan oleh N. M. Siregar dan M. L. Kahpi (2023) bahwa
komunikasi lingkungan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga
berperan dalam membentuk kesadaran dan perilaku masyarakat terhadap isuisu ekologis. Pernyataan ini menunjukkan bahwa komunikasi ekologis
memiliki peran penting dalam proses perubahan sosial.
Komunikasi ekologis juga menekankan pentingnya partisipasi masyarakat
dalam proses komunikasi. Menurut R. Anwar, S. Sarwoprasodjo, dan D. R.
Hapsari (2026), komunikasi lingkungan yang efektif menuntut keterlibatan
aktif masyarakat sebagai subjek, bukan hanya sebagai objek komunikasi. Hal
ini menunjukkan bahwa komunikasi ekologis bersifat partisipatif dan
kolaboratif. Dalam praktiknya, komunikasi ekologis memiliki beberapa
karakteristik utama, yaitu bersifat edukatif, persuasif, dan partisipatif.
Komunikasi ekologis bersifat edukatif karena memberikan pengetahuan
kepada masyarakat mengenai kondisi lingkungan, bersifat persuasif karena
bertujuan memengaruhi sikap dan perilaku, serta bersifat partisipatif karena
melibatkan masyarakat dalam proses komunikasi.
Perkembangan teknologi informasi turut memengaruhi cara penyampaian
komunikasi ekologis. Saat ini, pesan-pesan lingkungan dapat disampaikan
melalui berbagai media, termasuk media digital dan media sosial. Menurut Y.
S. Pambudi dan C. Sudaryantiningsih (2024), media digital memberikan ruang
yang luas bagi penyebaran pesan lingkungan secara cepat dan interaktif kepada
16
masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi ekologis bersifat adaptif
terhadap perkembangan teknologi.
Video klip adalah media audiovisual yang memadukan tanda dan simbol unt
uk menyampaikan pesan tertentu. Media ini dapat merepresentasikan
makna sesuai dengan tujuan pesan yang ingin dikomunikasikan. Pembuatan
video klip melibatkan berbagai teknik, termasuk live shot dan animasi. Teknik
live shot melibatkan pemeran, baik manusia maupun makhluk hidup lainnya,
yang dapat dimainkan oleh satu orang atau lebih. Dalam teknik ini, adeganadegan dibangun secara dramatis untuk menciptakan alur cerita yang menarik.
Menurut Caffery, video klip terbagi menjadi dua jenis dasar, yaitu
Performance Video dan Concept Video. Performance Video menampilkan
musisi yang sedang bernyanyi di atas panggung, sementara Concept Video
menyajikan sebuah konsep atau alur cerita yang disesuaikan dengan lirik lagu.
Dengan demikian, kedua jenis video klip ini memiliki pendekatan berbeda
dalam menyampaikan pesan musik kepada penonton (Lukietta& Samatan,
2022).
C. Representasi
Representasi merupakan konsep penting dalam kajian komunikasi yang
berkaitan dengan bagaimana makna dibentuk, dikonstruksi, dan disampaikan
melalui simbol, bahasa, serta praktik sosial. Representasi tidak hanya berfungsi
untuk menggambarkan realitas, tetapi juga berperan dalam membentuk cara
pandang individu maupun kelompok terhadap suatu fenomena. Dengan
17
demikian, representasi bersifat aktif dan konstruktif dalam membangun realitas
sosial.
Representasi dipahami sebagai proses konstruksi sosial yang melibatkan
pembentukan makna melalui interaksi antara individu dengan lingkungan
sosial dan budaya. Dalam proses ini, makna tidak muncul secara alami,
melainkan dibentuk melalui sistem simbol dan bahasa yang digunakan dalam
masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa makna sangat dipengaruhi oleh
konteks sosial dan budaya yang melingkupinya (Bungin, 2011). Dalam
semiotika, tanda terdiri atas dua unsur utama, yaitu penanda (signifier) dan
petanda (signified). Penanda merujuk pada bentuk fisik dari tanda, sedangkan
petanda merujuk pada konsep atau makna yang diwakili. Saussure menjelaskan
bahwa tanda merupakan kesatuan antara penanda dan petanda, serta hubungan
keduanya bersifat arbitrer, yaitu ditentukan oleh kesepakatan sosial (Saussure,
2011).
D. Event sebagai Media Komunikasi
Event merupakan salah satu bentuk media komunikasi yang digunakan
untuk menyampaikan pesan kepada khalayak secara langsung melalui interaksi
dan pengalaman yang nyata. Berbeda dengan media massa yang cenderung
bersifat satu arah, event memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah yang
melibatkan partisipasi aktif dari audiens. Hal ini menjadikan event sebagai
media komunikasi yang efektif dalam menyampaikan pesan, membangun
hubungan, serta menciptakan pengalaman yang berkesan bagi peserta
(Mulyana, 2018).
18
Dalam perspektif komunikasi, event tidak hanya berfungsi sebagai sarana
hiburan, tetapi juga sebagai media strategis dalam menyampaikan pesan sosial,
budaya, maupun lingkungan. Melalui event, pesan dapat dikemas secara kreatif
dan interaktif sehingga lebih mudah dipahami dan diterima oleh audiens. Event
juga mampu menciptakan pengalaman langsung yang dapat memperkuat
pemaknaan pesan karena audiens terlibat secara emosional dan sosial dalam
kegiatan tersebut (Getz, 2008).
Event memiliki karakteristik yang unik sebagai media komunikasi, yaitu
bersifat temporer, interaktif, dan berbasis pengalaman (experiential). Event
bersifat temporer karena berlangsung dalam waktu tertentu, namun memiliki
dampak yang dapat bertahan lama dalam ingatan audiens. Event juga bersifat
interaktif karena melibatkan komunikasi langsung antara penyelenggara dan
peserta. Sementara itu, pengalaman yang diperoleh selama event berlangsung
menjadi faktor penting dalam membentuk persepsi dan pemahaman audiens
terhadap pesan yang disampaikan.
Dalam konteks komunikasi modern, event sering digunakan sebagai bagian
dari strategi komunikasi terpadu (integrated communication), di mana event
dikombinasikan dengan media lain seperti media sosial dan media massa untuk
memperluas jangkauan pesan. Dengan adanya dukungan teknologi digital,
event tidak hanya terbatas pada ruang fisik, tetapi juga dapat menjangkau
audiens yang lebih luas melalui dokumentasi dan publikasi secara online
(Pambudi & Sudaryantiningsih, 2024). Event juga memiliki peran penting
dalam membangun keterlibatan (engagement) audiens. Keterlibatan ini terjadi
19
karena audiens tidak hanya menjadi penerima pesan, tetapi juga berpartisipasi
secara aktif dalam kegiatan yang berlangsung. Partisipasi tersebut dapat berupa
interaksi langsung, keterlibatan dalam aktivitas, maupun respons terhadap
pesan yang disampaikan. Tingginya tingkat keterlibatan audiens dalam event
dapat meningkatkan efektivitas komunikasi serta memperkuat dampak pesan
yang disampaikan (Noor, 2013).
Dalam event Rock in Celebes, event musik berperan sebagai media
komunikasi yang tidak hanya menyampaikan hiburan, tetapi juga pesan-pesan
ekologis. Pesan tersebut disampaikan melalui berbagai bentuk, seperti
visualisasi simbol lingkungan, kampanye ramah lingkungan, serta praktik
nyata yang dilakukan selama event berlangsung. Selain itu, interaksi antara
musisi, penyelenggara, dan audiens juga menjadi bagian dari proses
komunikasi yang memperkuat penyampaian pesan. Dengan demikian, event
sebagai media komunikasi dalam penelitian ini dipahami sebagai sarana
strategis yang digunakan untuk menyampaikan pesan secara interaktif,
partisipatif, dan berbasis pengalaman. Event tidak hanya berfungsi sebagai
media hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi yang mampu membentuk
kesadaran, sikap, dan perilaku audiens terhadap isu lingkungan, khususnya
dalam konteks event Rock in Celebes.
E. Teori Semiotika
1. Pengertian Semiotika
Secara etimologis, istilah “semiotika” berasal dari bahasa Yunani
“semeion“ yang berarti tanda. Dalam pengertian dasar, tanda dipahami
20
sebagai sesuatu yang, melalui kesepakatan sosial yang telah terbentuk, dapat
mewakili sesuatu yang lain. Pada dasarnya, tanda berfungsi sebagai
penunjuk yang merujuk pada keberadaan sesuatu di luar dirinya (Keriyono,
2024).
Secara terminologis, semiotika dipahami sebagai suatu disiplin ilmu
yang mengkaji berbagai objek, peristiwa, serta aspek kebudayaan sebagai
tanda. Dalam perkembangannya, semiotika berfokus pada studi mengenai
tanda-tanda,
termasuk
sistem
serta
mekanisme
yang
mengatur
penggunaannya (Wibowo, 2013).
Semiotika pada dasarnya merupakan suatu bidang ilmu sekaligus
pendekatan analisis yang digunakan untuk mengkaji sistem tanda. Dalam
hal ini, tanda berperan sebagai sarana yang membantu manusia dalam
memahami realitas di sekitarnya serta membangun hubungan sosial dengan
orang lain. Dalam konteks media sinematik, tanda-tanda yang digunakan
umumnya bersifat piktografik, yaitu tanda visual yang menggambarkan
objek tertentu secara ikonik (Sobur, 2017).
Semiotika merupakan kerangka teoritis yang digunakan untuk
mengkaji sistem tanda sebagai bentuk representasi dari berbagai hal, seperti
objek fisik, gagasan, situasi, maupun pengalaman emosional. Kajian ini
telah berkembang menjadi salah satu pendekatan penting dalam studi
komunikasi. Littlejohn menjelaskan bahwa inti dari semiotika adalah proses
mengungkap makna yang terdapat dalam suatu tanda serta menafsirkannya,
21
sehingga dapat dipahami bagaimana pesan dikonstruksi dan disampaikan
oleh komunikator (Littlejohn, dalam Kevinia et al., 2022).
Konsep semiotika dalam kajian budaya pertama kali banyak
dikembangkan melalui pemikiran Yuri Lotman yang menekankan
pentingnya sistem budaya dalam memahami sebuah teks. Lotman
memandang bahwa analisis teks tidak hanya berhenti pada isi teks itu
sendiri, tetapi juga berkaitan dengan proses identifikasi budaya serta cara
budaya tersebut ditransmisikan. Dalam sebuah teks terdapat berbagai kode
yang saling berhubungan secara kompleks, yang kemudian membentuk
struktur makna dan relasi baru dalam sistem budaya (Yudithadewi &
Parikesit, 2021).
2. Konsep Semiotika Ferdinan De Saussure
Ferdinand de Saussure dikenal sebagai salah satu tokoh utama yang
meletakkan dasar bagi perkembangan semiotika modern. Pemikirannya
menjadi landasan bagi berbagai aliran semiotik yang berkembang
setelahnya. Saussure memandang tanda linguistik sebagai suatu kesatuan
yang terdiri dari dua unsur yang tidak dapat dipisahkan, seperti dua sisi dari
satu lembar kertas. Dalam konsep tersebut, penanda (signifiant) merujuk
pada bentuk fisik atau aspek material dari tanda, sedangkan petanda
(signifié) mengacu pada konsep atau makna yang ada dalam pikiran. Kedua
unsur ini saling berkaitan dan membentuk sistem makna dalam bahasa
(Siregar, 2019).
22
Ferdinand de Saussure memperkenalkan empat prinsip fundamental
dalam studi linguistik yang membentuk kerangka teoritis penting. Konsepkonsep kunci tersebut meliputi: (1) pembedaan antara langue (sistem
bahasa) dan parole (penggunaan bahasa aktual), (2) relasi antara penanda
(signifiant) dan petanda (signifié), (3) pendekatan sinkronik versus
diakronik dalam analisis bahasa, serta (4) hubungan sintagmatik dan
paradigmatik dalam struktur linguistik. Meskipun beberapa istilah ini telah
ada
sebelumnya,
Saussure
merupakan
tokoh
pertama
yang
memformulasikan dan menerapkan istilah-istilah tersebut secara sistematis
dalam pengajaran linguistiknya (Hamzah, 2020). Konsep dikotomi
Saussure ini kemudian menjadi landasan bagi pengembangan teori
semiotika modern, termasuk pemikiran Roland Barthes yang memperluas
cakupan analisis semiotik ke bidang budaya (Dayu & Syadli, 2020).
F. Landasan Teori
1. Teori Semiotika Ferdinand De Saussure
Ferdinand de Saussure (1857-1913) dalam karya monumentalnya
"Course in General Linguistics" mendefinisikan semiotika sebagai disiplin
ilmu yang mempelajari sistem tanda sebagai bagian integral dari kehidupan
sosial. Definisi ini mengandung pemahaman mendasar bahwa tanda-tanda
tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terikat dalam konteks relasi sosial.
Terdapat dua sistem yang saling berhubungan dalam konsep ini: sistem
tanda (sign system) yang mengatur struktur tanda itu sendiri, dan sistem
sosial (social system) yang menjadi landasan kebermaknaannya.
23
Saussure menekankan bahwa penggunaan tanda dalam bahasa diatur
oleh kesepakatan sosial yang berlaku dalam suatu masyarakat. Kesepakatan
tersebut menentukan bagaimana tanda dipilih, disusun, dan digunakan
sehingga menghasilkan makna serta nilai sosial tertentu. Hal ini
menunjukkan bahwa makna tanda tidak bersifat alami atau universal,
melainkan terbentuk melalui kesepakatan bersama dalam komunitas
bahasa dan budaya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap tanda selalu
bersifat relasional dan bergantung pada konteks sosial tempat tanda
tersebut digunakan (Erlangga et al., 2021).
Menurut teori semiotika Saussure, tanda merupakan kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan antara dua unsur utama, yaitu penanda (signifier)
yang merujuk pada bentuk fisik seperti bunyi, tulisan, atau simbol yang
dapat diamati, serta petanda (signified) yang mengacu pada konsep atau
makna yang terbentuk dalam pikiran manusia. Hubungan antara keduanya
bersifat arbitrer, namun tetap didasarkan pada kesepakatan sosial dalam
suatu komunitas bahasa. Dengan demikian, makna tanda tidak muncul
secara mandiri, melainkan melalui proses interpretasi dalam sistem tanda
yang lebih luas, di mana makna terbentuk melalui relasi antar tanda (Talani
et al., 2023).
1) Signifier (penanda) dan Signified (petanda)
Menurut Saussure, bahasa merupakan suatu sistem tanda yang
tersusun atas dua unsur yang tidak dapat dipisahkan, yaitu penanda
(signifiant) sebagai bentuk bunyi atau tulisan, serta petanda (signifié)
24
sebagai konsep atau makna yang terkandung di dalamnya. Kedua unsur
tersebut membentuk kesatuan dalam tanda linguistik. Hubungan antara
bentuk dan makna bersifat arbitrer, karena ditentukan oleh kesepakatan
sosial yang berlaku dalam suatu komunitas bahasa (Hamzah, 2020).
Dalam teori semiotika linguistik, tanda terdiri atas dua unsur utama
yang saling berkaitan, yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified).
Penanda merujuk pada bentuk fisik yang dapat diamati, seperti bunyi
dalam bahasa lisan maupun tulisan dalam bahasa tertulis, sedangkan
petanda mengacu pada konsep atau makna yang terbentuk dalam
pikiran. Hamzah (2019) menjelaskan bahwa dalam praktik kebahasaan,
kedua unsur tersebut saling berkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan,
karena bentuk fisik selalu mengandung makna, dan makna selalu
membutuhkan wujud fisik untuk dapat dikomunikasikan. Hubungan ini
menunjukkan bahwa bahasa merupakan sistem tanda yang utuh, di
mana aspek material dan konseptual saling melengkapi dalam proses
pemaknaan.
Dalam kajian semiotika struktural, hubungan antara penanda
(signifier) dan petanda (signified) dipahami sebagai relasi yang bersifat
dialektis dan tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling bergantung,
karena petanda tidak dapat dipahami tanpa penanda, demikian pula
penanda tidak memiliki makna tanpa petanda. Hubungan ini
menunjukkan bahwa tanda bekerja seperti dua sisi yang saling
melengkapi dalam satu kesatuan sistem makna. Selain itu, relasi antara
25
tanda dan objek yang dirujuk bersifat arbitrer, yaitu tidak memiliki
hubungan alami, melainkan terbentuk melalui kesepakatan sosial dalam
masyarakat. Sebagai contoh, penggunaan kata tertentu untuk menyebut
suatu objek merupakan hasil konvensi historis, bukan hubungan yang
bersifat alamiah, sehingga istilah yang digunakan dapat berbeda antar
budaya meskipun merujuk pada objek yang sama (Hamzah, 2019).
2. Teori Manajemen Makna Koordinat (Coordinated Management of
Meaning - CMM)
Coordinated Management of Meaning (CMM) merupakan teori
komunikasi yang dikembangkan oleh W. Barnett Pearce, Vernon Cronen,
dan kolega sebagai kerangka untuk memahami dinamika interaksi sosial.
Teori ini memandang komunikasi sebagai proses koordinasi makna yang
kompleks, di mana individu secara aktif menyesuaikan tindakan dan
interpretasi mereka dalam konteks sosial tertentu (Littlejohn & Foss, 2014).
Pearce dan Cronen menjelaskan bahwa CMM menekankan
hubungan timbal balik antara individu dengan orang lain serta bagaimana
makna pesan terbentuk melalui proses interpretasi dalam interaksi
komunikasi (Rizal & Yuwita, 2021). Selain itu, Philipsen menambahkan
bahwa
pendekatan
CMM
memiliki
keunggulan
karena
mampu
menghubungkan analisis pada tingkat individu dengan konteks sosial yang
lebih luas, sehingga memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh
mengenai bagaimana makna dibentuk, dikelola, dan dinegosiasikan dalam
kehidupan sehari-hari (West & Turner, 2017). Dengan demikian, teori
26
CMM memandang komunikasi bukan hanya sebagai proses pertukaran
informasi, tetapi sebagai proses negosiasi makna yang berlangsung secara
terus-menerus dalam jaringan hubungan sosial.
G. Penelitian Terdahulu
1. Penelitian oleh Sindy Widianty Putri (2024) dengan judul Strategi
Komunikasi Lingkungan pada Kampanye Sustainable Beauty “Waste Down
Kindness Up Sociolla Recycle Station” dalam Meningkatkan Kesadaran
Lingkungan berasal dari Universitas Pasundan. Menggunakan metode
kualitatif, penelitian ini menganalisis komunikasi dalam kampanye berbasis
kolaborasi antara brand dan program keberlanjutan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kampanye yang dikemas secara kreatif, interaktif, dan
kolaboratif mampu meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat,
khususnya dalam pengelolaan limbah produk kecantikan, serta mendorong
partisipasi langsung melalui fasilitas daur ulang yang disediakan. Penelitian
ini relevan karena menunjukkan bahwa komunikasi ekologis dapat dikemas
dalam bentuk event atau program kolaboratif.
2. Penelitian oleh Ahmad Zaki (2024) dengan judul Analisis Strategi
Komunikasi Lingkungan Komunitas Zero Waste Indonesia dalam
Mengampanyekan Gaya Hidup Minim Sampah berasal dari Universitas
Brawijaya. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teori
komunikasi lingkungan Robert Cox, penelitian ini mengkaji strategi
komunikasi yang digunakan komunitas. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pemanfaatan media sosial, kegiatan edukasi, serta kolaborasi
27
komunitas menjadi strategi utama dalam membangun kesadaran kolektif
masyarakat, sehingga kampanye gaya hidup minim sampah dapat diterima
dan diterapkan oleh masyarakat luas. Penelitian ini relevan karena
menekankan pentingnya strategi komunikasi dalam kampanye lingkungan
berbasis komunitas.
3. Penelitian oleh Aminah Swarnawati, Siska Yuningsih, Oktaviana
Purnamasari, dan Eti Sri Nurhayati (2023) dengan judul Strategi
Komunikasi Lingkungan dalam Kampanye Minim Sampah. Menggunakan
pendekatan kualitatif, penelitian ini menganalisis peran bank sampah
sebagai agen komunikasi dalam menyebarkan gaya hidup minim sampah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi lingkungan dilakukan
secara berkelanjutan melalui edukasi langsung, sosialisasi, dan praktik
pengelolaan sampah, sehingga mampu mengubah perilaku masyarakat
menjadi lebih peduli terhadap lingkungan serta meningkatkan partisipasi
dalam program bank sampah. Penelitian ini relevan karena memperlihatkan
bagaimana komunikasi ekologis dikonstruksi dalam aktivitas kampanye
sosial.
4. Penelitian oleh Raden Tasya Athiyyah Goesda, Hasan Sazali, dan Abdul
Rasyid (2022) dengan judul Analisis Komunikasi Persuasif pada Akun
Instagram
@ZeroWaste.id_Official
dalam
Pelestarian
Lingkungan.
Menggunakan metode kualitatif, penelitian ini menganalisis isi pesan dan
teknik komunikasi persuasif dalam konten media sosial. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penggunaan pesan persuasif berbasis visual, narasi
28
edukatif, dan ajakan partisipatif mampu mempengaruhi sikap dan perilaku
audiens dalam mendukung pelestarian lingkungan, khususnya dalam
mengurangi sampah. Penelitian ini relevan karena memperlihatkan
representasi komunikasi ekologis melalui media sosial.
H. Kerangka Konsep
Penelitian ini berangkat dari pemahaman bahwa event musik tidak hanya
berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi yang
mampu menyampaikan berbagai pesan sosial, termasuk isu lingkungan. Dalam
konteks ini, event Rock in Celebes dipandang sebagai ruang komunikasi yang
menghadirkan berbagai bentuk simbol, pesan, dan praktik yang berkaitan
dengan komunikasi ekologis. Simbol dan praktik tersebut dapat berupa
visualisasi panggung, kampanye lingkungan, penggunaan atribut ramah
lingkungan, hingga narasi yang disampaikan oleh penyelenggara maupun
musisi selama event berlangsung.
Untuk memahami makna yang terkandung dalam simbol dan praktik
tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika yang merujuk pada
pemikiran Ferdinand de Saussure serta Roland Barthes. Dalam perspektif ini,
setiap tanda dianalisis melalui hubungan antara penanda (signifier) sebagai
bentuk fisik yang dapat diamati dan petanda (signified) sebagai makna yang
terbentuk dalam pikiran. Selain itu, analisis juga dilakukan pada tingkat
denotasi dan konotasi untuk mengungkap makna literal maupun makna yang
lebih dalam yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial dan budaya.
29
Melalui proses analisis semiotika tersebut, penelitian ini bertujuan untuk
mengungkap bagaimana komunikasi ekologis direpresentasikan dalam event
musik. Representasi ini tidak hanya dilihat dari pesan yang disampaikan secara
eksplisit, tetapi juga dari makna yang dibangun melalui simbol, praktik, dan
interaksi yang terjadi selama event berlangsung. Dengan demikian, komunikasi
ekologis dalam penelitian ini dipahami sebagai hasil konstruksi makna yang
terbentuk melalui sistem tanda dalam konteks budaya populer.
Hasil dari proses representasi tersebut selanjutnya akan mengarah pada
pemaknaan audiens terhadap isu lingkungan. Audiens sebagai penerima pesan
memiliki peran aktif dalam menginterpretasikan simbol dan pesan yang
disampaikan, sehingga makna yang terbentuk dapat berbeda-beda tergantung
pada latar belakang, pengalaman, dan konteks sosial masing-masing individu.
Oleh karena itu, kerangka konsep penelitian ini menempatkan event Rock in
Celebes sebagai media komunikasi, simbol dan pesan ekologis sebagai objek
analisis, pendekatan semiotika sebagai alat analisis, serta representasi
komunikasi ekologis sebagai hasil utama yang kemudian memengaruhi
pemaknaan audiens terhadap isu lingkungan.
30
I. Alur Pikir
Gambar 2.1 Alur Pikir
31
J. Definisi Operasional
1. Representasi Komunikasi Ekologis
Representasi komunikasi ekologis dalam penelitian ini diartikan
sebagai proses penggambaran atau penyajian pesan-pesan lingkungan yang
ditampilkan melalui simbol, narasi, dan praktik dalam event Rock in
Celebes. Representasi ini dianalisis berdasarkan bagaimana makna
lingkungan dikonstruksi melalui tanda-tanda yang muncul, baik secara
visual maupun verbal, serta bagaimana pesan tersebut mencerminkan
kepedulian terhadap isu lingkungan.
2. Event Rock in Celebes
Event Rock in Celebes didefinisikan sebagai festival musik yang
menjadi objek penelitian, khususnya dalam konteks kolaborasi dengan
kampanye atau aktivitas yang berkaitan dengan isu perubahan iklim. Event
ini dipandang sebagai media komunikasi yang menghadirkan interaksi
antara penyelenggara, musisi, dan audiens dalam menyampaikan pesan
sosial, termasuk pesan ekologis.
3. Komunikasi Ekologis
Komunikasi ekologis merupakan proses penyampaian pesan yang
berkaitan dengan isu lingkungan hidup, seperti perubahan iklim,
pengelolaan sampah, dan keberlanjutan. Dalam penelitian ini, komunikasi
ekologis diidentifikasi melalui pesan, simbol, dan praktik yang
menunjukkan upaya peningkatan kesadaran dan kepedulian terhadap
lingkungan.
32
4. Simbol dan Pesan Ekologis
Simbol dan pesan ekologis adalah segala bentuk tanda yang
digunakan dalam event yang mengandung makna lingkungan. Simbol dapat
berupa visual (warna, gambar, logo, atribut ramah lingkungan), sedangkan
pesan dapat berupa narasi, slogan, atau kampanye yang disampaikan selama
event berlangsung.
5. Analisis Semiotika
Analisis semiotika dalam penelitian ini merupakan metode untuk
mengkaji tanda dengan mengacu pada pemikiran Ferdinand de Saussure dan
Roland Barthes. Analisis dilakukan melalui identifikasi penanda (signifier)
dan petanda (signified), serta pengungkapan makna denotasi dan konotasi
dari simbol dan pesan yang ditemukan dalam event.
6. Makna Denotasi
Makna denotasi adalah makna literal atau makna langsung dari suatu
tanda yang dapat diamati secara objektif. Dalam penelitian ini, makna
denotasi digunakan untuk mengidentifikasi arti dasar dari simbol dan pesan
ekologis yang muncul dalam event.
7. Makna Konotasi
Makna konotasi adalah makna tambahan atau makna yang bersifat
implisit yang dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya. Dalam penelitian
ini, makna konotasi digunakan untuk memahami pesan-pesan tersembunyi
atau nilai-nilai ekologis yang ingin disampaikan melalui event.
8. Pemaknaan Audiens
33
Pemaknaan audiens diartikan sebagai proses interpretasi yang
dilakukan oleh pengunjung event terhadap simbol dan pesan ekologis yang
disampaikan. Pemaknaan ini bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh latar
belakang, pengalaman, serta pemahaman individu terhadap isu lingkungan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tipe dan Paradigma Penelitian
Metode deskriptif kualitatif dengan paradigma interpretif digunakan untuk
memahami makna-makna sosial yang muncul dari simbol, bahasa, dan
representasi dalam konteks kehidupan nyata. Paradigma interpretif berusaha
menafsirkan makna subjektif berdasarkan pengalaman dan pemahaman
individu terhadap realitas sosial yang kompleks. Pendekatan ini relevan untuk
mengkaji karya seni seperti video klip, karena memberi ruang bagi peneliti
untuk mengeksplorasi pesan-pesan tersembunyi melalui simbol visual dan
verbal yang digunakan (Sugiyono, 2016).
Penelitian ini juga menggunakan pendekatan semiotika Ferdinand de
Saussure yang menekankan pada hubungan antara penanda (signifier) dan
petanda (signified) dalam membentuk makna. Saussure memandang bahwa
tanda tidak berdiri sendiri, melainkan dibentuk oleh struktur bahasa dan
konteks budaya di sekitarnya. Dalam video klip “Kekal”, simbol-simbol yang
muncul baik melalui gestur, warna, maupun alur visual dapat ditafsirkan
sebagai ekspresi penerimaan dan keikhlasan dalam relasi keluarga, sesuai
dengan pendekatan interpretatif yang bersifat mendalam dan reflektif (Bungin,
2015).
33
34
B. Waktu Penelitian
Waktu penelitian yang dibutuhkan selama kurang lebih 1 bulan yang
dilakukan di Universitas Muslim Indonesia melalui proses penelitian
dilaksanakan dalam empat pekan dengan tahapan yang terstruktur. Pada pekan
pertama, kegiatan difokuskan pada studi literatur dan perencanaan, yaitu
mencari referensi terkait lagu, teori yang digunakan, serta metode penelitian
yang relevan. Hasil dari tahap ini adalah tersusunnya proposal penelitian.
Pekan kedua diisi dengan kegiatan pengumpulan data, meliputi pengambilan
objek penelitian berupa teks lirik dan audio yang merepresentasikan
komunikasi simbolik. Data mentah yang terkumpul pada tahap ini menjadi
bahan utama untuk analisis. Memasuki pekan ketiga, peneliti mulai
menganalisis data yang telah dikumpulkan dengan menggunakan teori dan
referensi yang telah diperoleh sebelumnya, sehingga menghasilkan analisis
awal. Pada pekan terakhir, yaitu pekan keempat, dilakukan penulisan laporan
penelitian berdasarkan hasil analisis yang ada, sekaligus melakukan revisi
akhir dan penyuntingan untuk memastikan kualitas laporan. Tahap ini
menghasilkan laporan penelitian yang siap disajikan.
C. Unit Analisis
Unit analisis dalam penelitian ini adalah representasi komunikasi ekologis
dalam event Rock in Celebes. Fokus penelitian meliputi pesan, simbol, dan
praktik komunikasi lingkungan yang ditampilkan selama event berlangsung,
serta interaksi antara penyelenggara, musisi, komunitas, dan audiens dalam
35
membentuk makna komunikasi ekologis. Dengan demikian, analisis tidak
hanya pada pesan, tetapi juga pada konteks sosial yang melingkupinya.
D. Jenis Data
1. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari
sumber utama melalui wawancara dengan informan, observasi terhadap
pelaksanaan event Rock in Celebes, serta dokumentasi berupa foto, video,
dan catatan lapangan yang berkaitan dengan komunikasi ekologis dalam
event tersebut. Data ini digunakan untuk menggali informasi secara
mendalam mengenai proses, pesan, dan praktik komunikasi yang terjadi.
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data pendukung yang diperoleh dari
berbagai sumber seperti buku, jurnal ilmiah, penelitian terdahulu, serta
media online yang relevan dengan topik penelitian. Data ini digunakan
untuk memperkuat landasan teori serta mendukung analisis terhadap data
primer dalam penelitian ini.
E. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi Non Partisipan
Peneliti menggunakan teknik observasi non partisipan untuk
mengumpulkan data. Dalam hal ini, peneliti mengamati secara langsung
pelaksanaan event Rock in Celebes tanpa terlibat secara aktif dalam kegiatan
tersebut. Peneliti memperhatikan berbagai bentuk komunikasi ekologis
yang muncul, seperti pesan yang disampaikan oleh penyelenggara dan
36
musisi, penggunaan simbol dan visual ramah lingkungan, serta praktik
pengelolaan sampah selama event berlangsung. Selain itu, peneliti juga
mengamati perilaku dan respons audiens terhadap pesan-pesan lingkungan
yang ditampilkan.
2. Dokumentasi
Data dokumentasi dapat berupa foto, video, poster, serta materi
kampanye lingkungan yang digunakan dalam event Rock in Celebes. Selain
itu, dokumentasi juga dapat berupa arsip atau informasi dari media sosial
dan sumber online yang berkaitan dengan pelaksanaan event. Data ini
digunakan untuk melengkapi dan memperkuat hasil observasi dan
wawancara.
F. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis
kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari proses pengumpulan data selanjutnya
diolah dan diinterpretasikan berdasarkan hasil observasi dan dokumentasi.
Data tersebut kemudian disajikan secara deskriptif untuk mengidentifikasi
permasalahan yang diteliti.
Menurut Miles dan Huberman (dalam Moleong, 2018), analisis data terdiri
dari tiga tahapan yang berlangsung secara bersamaan, yaitu reduksi data,
penyajian data, serta penarikan kesimpulan atau verifikasi. Ketiga tahapan
tersebut dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut:
1. Redukasi Data
37
Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian,
penyederhanaan, serta pengelompokan data yang diperoleh dari hasil
observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam tahap ini, peneliti
menyeleksi data yang relevan dengan fokus penelitian, yaitu representasi
komunikasi ekologis dalam event Rock in Celebes, sehingga data yang
digunakan lebih terarah dan sistematis.
2. Penyajian Data
Penyajian data dilakukan dengan menyusun dan mengorganisasikan
data yang telah direduksi ke dalam bentuk narasi deskriptif. Data disajikan
secara sistematis agar memudahkan peneliti dalam memahami hubungan
antar data serta menemukan pola-pola yang berkaitan dengan komunikasi
ekologis yang terjadi dalam event tersebut.
3. Menarik Kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan tahap akhir dalam analisis data, di
mana peneliti menginterpretasikan data yang telah disajikan untuk
menemukan makna dan menjawab rumusan masalah penelitian.
Kesimpulan yang dihasilkan bersifat sementara dan dapat berkembang
sesuai dengan temuan data di lapangan hingga diperoleh hasil yang valid
dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kesimpulan akhir tidak hanya dihasilkan pada tahap pengumpulan data,
tetapi juga perlu melalui proses verifikasi agar dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah. Secara skematis, proses analisis data dengan menggunakan
38
model analisis interaktif Miles dan Huberman dapat digambarkan melalui
bagan berikut:
Gambar 3.1. Model Analisis Data Interaktif Miles dan Huberman
DAFTAR PUSTAKA
BUKU:
Alex Sobur. (2017). Semiotika komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Burhan Bungin. (2011). Konstruksi sosial media massa: Kekuatan pengaruh media
massa, iklan televisi dan keputusan konsumen serta kritik terhadap Peter L. Berger
& Thomas Luckmann. Jakarta: Kencana.
Cangara, Hafied. (2014). Pengantar ilmu komunikasi. Rajawali Pers.
Indiwan Seto Wahyu Wibowo. (2013). Semiotika komunikasi: Aplikasi praktis
bagi penelitian dan skripsi komunikasi. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Joseph A. DeVito, & West, R. (2017). Interpersonal communication: Everyday
encounters. Cengage Learning.
Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2011). Theories of human communication (10th
ed.). Waveland Press.
Lotman, Y. M. (1990). Universe of the mind: A semiotic theory of culture.
London: I.B. Tauris.
Mulyana, Deddy. (2018). Ilmu komunikasi: Suatu pengantar. Remaja Rosdakarya.
Noor, Any. (2013). Manajemen event. Bandung: Alfabeta.
Hafied Cangara. (2014). Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers.
Onong Uchjana Effendy. (2003). Ilmu komunikasi: Teori dan praktik. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. (2016). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Stephen W. Littlejohn, & Foss, K. A. (2014). Theories of human communication
(11th ed.). Waveland Press.
39
40
JURNAL:
Anwar, R., Sarwoprasodjo, S., & Hapsari, D. R. (2026). Teori komunikasi
lingkungan: Partisipasi publik dalam pengelolaan kawasan konservasi bagi
masyarakat adat di Papua.
Awaliah, P., & Safira22, M. R. (2024). Representasi pesan self acceptance pada
video klip Yura Yunita “Tutur Batin”. DIGIMUN-Digital Communication
Journal, 1(1), 1-15.
Erlangga, C. Y., Utomo, I. W., & Anisti, A. (2021). Konstruksi nilai romantisme
dalam lirik lagu (analisis semiotika ferdinand de saussure pada lirik lagu"
melukis senja"). Linimasa: Jurnal Ilmu Komunikasi, 4(2), 149-160.
Getz, Donald. (2008). Event tourism: Definition, evolution, and research. Tourism
Management, 29(3), 403–428
Goesda, R. T. A., Sazali, H., & Rasyid, A. (2022). Analisis komunikasi persuasif
pada akun Instagram @ZeroWaste.id_Official dalam pelestarian lingkungan.
Hamzah, A. A. (2020). Analisis Makna Intergrasi-Interkoneksi. Pappasang, 2(2),
33-53.
Keriyono. (2024). Tradisi teori komunikasi semiotika. Jurnal Pariwara, 4(1), 1–8.
Prasetyo, A. (2019). Event musik sebagai media komunikasi sosial. Jurnal
Komunikasi, 11(2), 120–135.
Sari, D., & Nugroho, R. (2021). Komunikasi lingkungan berbasis kolaborasi
dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Jurnal Komunikasi Pembangunan,
19(1), 45–60.
Siregar, M. (2019). Kritik terhadap teori dekonstruksi Derrida. Journal of Urban
Sociology, 2(1), 65-75.
Siregar, N. M., & Kahpi, M. L. (2023). Konsep komunikasi lingkungan
(environmental communication, ecological communication).
Talani, N. S., Kamuli, S., & Juniarti, G. (2023). Problem tafsir semiotika dalam
kajian media dan komunikasi: Sebuah tinjauan kritis. Bricolage: Jurnal
Magister Ilmu Komunikasi, 9(1), 103-116.
Wibowo, A. (2020). Efektivitas kampanye lingkungan melalui kegiatan publik.
Jurnal Penelitian Komunikasi, 23(1), 67–80.
41
Putri, S. W. (2024). Strategi komunikasi lingkungan pada kampanye sustainable
beauty “Waste Down Kindness Up Sociolla Recycle Station” dalam
meningkatkan kesadaran lingkungan (Skripsi, Universitas Pasundan).
Swarnawati, A., Yuningsih, S., Purnamasari, O., & Nurhayati, E. S. (2023). Strategi
komunikasi lingkungan dalam kampanye minim sampah. Perspektif
Komunikasi, 7(2).
Zaki, A. (2024). Analisis strategi komunikasi lingkungan komunitas Zero Waste
Indonesia dalam mengampanyekan gaya hidup minim sampah (Skripsi,
Universitas Brawijaya).
Download