PROPOSAL PENELITIAN REPRESENTASI KOMUNIKASI EKOLOGIS PADA KOLABORASI EVENT IKLIM FEST DALAM ROCK IN CELEBEBES DI KOTA MAKASSAR DIAJUKAN OLEH: ANJAS PUTRA DAYAN 06520220010 PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS SASTRA, ILMU KOMUNIKASI, DAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR 2026 DAFTAR ISI DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1 A. Latar Belakang ......................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .................................................................................... 7 C. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 7 D. Manfaat Penelitian.................................................................................... 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................... 9 A. Komunikasi .............................................................................................. 9 B. Komunikasi Ekologis ............................................................................. 14 C. Representasi ........................................................................................... 16 D. Event sebagai Media Komunikasi ........................................................... 17 E. Teori Semiotika ...................................................................................... 19 F. Landasan Teori ....................................................................................... 22 G. Penelitian Terdahulu ............................................................................... 26 H. Kerangka Konsep ................................................................................... 28 I. Alur Pikir ............................................................................................... 30 J. Definisi Operasional ............................................................................... 31 BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 33 A. Tipe dan Paradigma Penelitian................................................................ 33 B. Waktu Penelitian .................................................................................... 34 C. Unit Analisis........................................................................................... 34 D. Jenis Data ............................................................................................... 35 E. Teknik Pengumpulan Data ...................................................................... 35 F. Teknik Analisis Data .............................................................................. 36 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 39 ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perubahan iklim merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang semakin kompleks dan menjadi perhatian utama di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Fenomena ini ditandai dengan meningkatnya suhu ratarata bumi, perubahan pola curah hujan, meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana alam, serta terjadinya kerusakan ekosistem yang berdampak luas terhadap kehidupan manusia. Dampak perubahan iklim tidak hanya dirasakan pada aspek lingkungan semata, tetapi juga memengaruhi aspek sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan iklim merupakan persoalan multidimensional yang memerlukan perhatian serius serta keterlibatan berbagai pihak dalam penanganannya. Dampak perubahan iklim semakin terasa, terutama di wilayah perkotaan. Kota besar sebagai pusat aktivitas manusia memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi serta menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, industri, dan pembangunan. Tingginya aktivitas tersebut berimplikasi pada meningkatnya konsumsi energi, penggunaan kendaraan bermotor, serta produksi limbah yang berdampak pada peningkatan emisi gas rumah kaca. Selain itu, fenomena urbanisasi yang terus meningkat juga menyebabkan tekanan terhadap lingkungan semakin besar, seperti berkurangnya ruang terbuka hijau, meningkatnya pencemaran udara, serta permasalahan pengelolaan sampah. 1 2 Kota besar menjadi ruang bertemunya berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang yang beragam, serta menjadi pusat perkembangan teknologi dan informasi. Hal ini menjadikan kota besar sebagai tempat yang strategis untuk mengembangkan berbagai gerakan sosial, termasuk dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim. Dalam konteks tersebut, komunikasi memegang peranan penting sebagai sarana untuk menyampaikan informasi, membangun kesadaran, serta mendorong perubahan perilaku masyarakat. Komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai alat penyampaian pesan, tetapi juga sebagai proses sosial yang melibatkan interaksi, pertukaran makna, serta pembentukan persepsi di antara individu dan kelompok. Menurut Hafied Cangara (2014), komunikasi memiliki fungsi informatif, edukatif, persuasif, dan rekreatif yang dapat digunakan untuk memengaruhi pola pikir dan tindakan masyarakat. Dalam konteks lingkungan, komunikasi menjadi sarana penting untuk meningkatkan kesadaran ekologis serta mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Lebih lanjut, Onong Uchjana Effendy (2003) menyatakan bahwa komunikasi yang efektif harus mampu menyentuh tiga aspek utama, yaitu aspek kognitif, afektif, dan konatif. Aspek kognitif berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman individu terhadap suatu isu, aspek afektif berkaitan dengan perasaan atau sikap, sedangkan aspek konatif berkaitan dengan tindakan atau perilaku. Dalam kaitannya dengan komunikasi 3 lingkungan, ketiga aspek tersebut harus dapat terintegrasi agar pesan yang disampaikan tidak hanya dipahami, tetapi juga mampu menumbuhkan kepedulian dan mendorong tindakan nyata dari masyarakat. Seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, strategi komunikasi juga mengalami perubahan. Pendekatan komunikasi yang bersifat konvensional, seperti kampanye melalui media cetak atau penyuluhan formal, dinilai kurang efektif dalam menjangkau generasi muda yang memiliki karakteristik dinamis dan cenderung lebih tertarik pada media yang bersifat visual dan interaktif. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan komunikasi yang lebih kreatif, inovatif, dan partisipatif agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Salah satu pendekatan yang berkembang dalam komunikasi modern adalah melalui pemanfaatan budaya populer. Budaya populer merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang memiliki daya tarik tinggi, khususnya bagi generasi muda. Melalui budaya populer, pesan-pesan sosial dapat disampaikan dengan cara yang lebih menarik, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Dalam hal ini, media hiburan seperti musik, film, dan event kreatif menjadi sarana yang potensial untuk menyampaikan pesan-pesan sosial, termasuk isu lingkungan. Event musik sebagai bagian dari budaya populer memiliki peran yang penting dalam membentuk opini dan perilaku masyarakat. Event musik tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide dan nilai di antara 4 audiens. Selain itu, event musik juga mampu menciptakan pengalaman langsung (experience) yang dapat memperkuat pemahaman dan keterlibatan audiens terhadap pesan yang disampaikan. Menurut Prasetyo (2019) dalam Jurnal Komunikasi, event musik memiliki keunggulan dalam menyampaikan pesan sosial karena mampu menjangkau audiens dalam jumlah besar serta menciptakan interaksi yang bersifat langsung dan emosional. Hal ini menjadikan event musik sebagai media komunikasi yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan yang bersifat persuasif. Selain itu, penelitian Wibowo (2020) dalam Jurnal Penelitian Komunikasi menunjukkan bahwa kegiatan publik seperti event dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu tertentu melalui pendekatan yang partisipatif dan interaktif. Dalam konteks komunikasi lingkungan, event musik dapat dimanfaatkan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan ekologis kepada masyarakat. Melalui berbagai aktivitas yang dilakukan selama event, seperti kampanye lingkungan, edukasi publik, serta praktik ramah lingkungan, pesan-pesan ekologis dapat disampaikan secara lebih menarik dan mudah dipahami. Selain itu, keterlibatan langsung audiens dalam berbagai aktivitas tersebut juga dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi mereka terhadap isu lingkungan. Salah satu event musik yang memiliki potensi tersebut adalah Rock in Celebes, yang diselenggarakan di kota besar dan melibatkan berbagai musisi, komunitas kreatif, serta audiens dari berbagai latar belakang. Event ini tidak hanya berfokus pada hiburan, tetapi juga mulai mengintegrasikan isu-isu sosial 5 dan lingkungan dalam pelaksanaannya. Melalui kolaborasi dengan komunitas lingkungan dan berbagai pihak terkait, event ini menghadirkan berbagai program dan aktivitas yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu perubahan iklim. Kolaborasi yang terjalin dalam event ini menunjukkan adanya sinergi antara sektor kreatif dan gerakan lingkungan. Penyelenggara event, musisi, komunitas lingkungan, serta audiens memiliki peran masing-masing dalam menyampaikan dan menerima pesan-pesan ekologis. Pendekatan kolaboratif ini menjadi penting karena isu lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan partisipasi aktif dari berbagai pihak. Penelitian oleh Sari dan Nugroho (2021) dalam Jurnal Komunikasi Pembangunan menunjukkan bahwa komunikasi lingkungan yang dilakukan secara kolaboratif dapat meningkatkan efektivitas penyampaian pesan serta memperkuat keterlibatan masyarakat. Dalam perspektif ilmu komunikasi, fenomena tersebut dapat dianalisis melalui konsep representasi. Menurut Burhan Bungin (2011), representasi merupakan proses pembentukan makna melalui simbol, bahasa, dan praktik sosial yang dipengaruhi oleh konteks budaya. Dalam event musik, representasi komunikasi ekologis dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti pesan yang disampaikan oleh musisi, visualisasi kampanye lingkungan, penggunaan simbol-simbol ramah lingkungan, serta praktik nyata yang dilakukan selama event berlangsung. Representasi komunikasi ekologis dalam event musik menjadi penting untuk dikaji karena memiliki pengaruh terhadap cara pandang dan perilaku 6 masyarakat terhadap lingkungan. Pesan yang dikemas dalam bentuk yang menarik dan kontekstual cenderung lebih mudah diterima oleh audiens dibandingkan dengan pendekatan yang bersifat formal dan satu arah. Selain itu, pengalaman langsung yang dirasakan oleh audiens selama event berlangsung juga dapat memperkuat pemahaman serta meningkatkan kesadaran mereka terhadap isu lingkungan. Namun demikian, dalam konteks kota besar, komunikasi ekologis tidak terlepas dari berbagai tantangan. Keberagaman latar belakang audiens, perbedaan tingkat pendidikan, serta tingginya arus informasi dapat memengaruhi efektivitas penyampaian pesan. Selain itu, adanya kecenderungan masyarakat perkotaan yang lebih fokus pada aspek hiburan juga menjadi tantangan tersendiri dalam menyampaikan pesan-pesan ekologis. Oleh karena itu, diperlukan strategi komunikasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu menarik perhatian dan melibatkan audiens secara aktif. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa event musik seperti Rock in Celebes memiliki potensi yang besar sebagai media komunikasi ekologis yang mampu menggabungkan antara hiburan dan edukasi. Melalui pendekatan yang kreatif dan kolaboratif, pesan-pesan lingkungan dapat disampaikan secara lebih efektif kepada masyarakat. Namun, untuk memahami secara lebih mendalam bagaimana representasi komunikasi ekologis tersebut dibangun dan komprehensif. dimaknai oleh audiens, diperlukan penelitian yang 7 Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis representasi komunikasi ekologis pada kolaborasi event iklim dalam Rock in Celebes di kota besar. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian komunikasi lingkungan di Indonesia, serta menjadi referensi bagi penyelenggara event dan berbagai pihak terkait dalam merancang strategi komunikasi yang lebih efektif, kreatif, dan berkelanjutan. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, maka rumusan masalah dapat dijabarkan sebagai beriut: 1. Bagaimana representasi komunikasi ekologis dalam kolaborasi event iklim pada Rock in Celebes di kota besar? 2. Bagaimana pesan, simbol, serta respons audiens terhadap komunikasi ekologis yang disampaikan dalam event Rock in Celebes? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Untuk menganalisis representasi komunikasi ekologis dalam kolaborasi event iklim pada Rock in Celebes di kota besar. 2. Untuk mengidentifikasi dan memahami pesan, simbol, serta respons audiens terhadap komunikasi ekologis yang disampaikan dalam event Rock in Celebes. 8 3. Untuk mengidentifikasi makna penerimaan dan keikhlasan yang direpresentasikan oleh lagu “kekal” dalam semiotika ferdinan. D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu komunikasi, khususnya pada kajian komunikasi lingkungan (ekologis) dan teori representasi. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memperkaya literatur mengenai pemanfaatan media budaya populer, seperti event musik, sebagai sarana komunikasi ekologis dalam menyampaikan isu perubahan iklim.. 2. Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dan referensi bagi penyelenggara event, komunitas lingkungan, serta pihak terkait dalam merancang dan melaksanakan kegiatan yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai strategi komunikasi yang efektif dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap isu lingkungan melalui pendekatan yang kreatif dan partisipatif. 3. Manfaat Akademis Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengkaji topik serupa, khususnya dalam bidang komunikasi lingkungan dan budaya populer. Selain itu, penelitian ini juga 9 dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran serta pengembangan penelitian di lingkungan akademik, terutama dalam kajian ilmu komunikasi. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Komunikasi 1. Definisi Komunikasi Komunikasi merupakan proses fundamental dalam kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas sosial sehari-hari. Melalui komunikasi, individu dapat menyampaikan ide, perasaan, informasi, serta membangun hubungan dengan orang lain. Komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai alat pertukaran pesan, tetapi juga sebagai sarana untuk membentuk pemahaman, membangun kesepakatan, serta menciptakan makna bersama dalam kehidupan sosial. Menururt Hafied Cangara (2014), menyatakan bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui saluran tertentu dengan tujuan menghasilkan efek tertentu. Definisi ini menunjukkan bahwa komunikasi melibatkan beberapa unsur penting yang saling berkaitan, seperti pengirim pesan, pesan itu sendiri, media yang digunakan, penerima pesan, serta efek yang dihasilkan. Sementara itu, Deddy Mulyana (2018) memandang komunikasi sebagai proses sosial yang melibatkan pertukaran makna di antara individu. Dalam perspektif ini, komunikasi tidak hanya dipahami sebagai proses penyampaian pesan secara linear, tetapi juga sebagai proses interaktif yang memungkinkan terjadinya interpretasi dan pemaknaan oleh masing-masing individu. Setiap individu memiliki latar belakang, pengalaman, dan 9 10 konteks sosial yang berbeda, sehingga makna yang dihasilkan dalam komunikasi juga dapat berbeda. Komunikasi juga tidak hanya terbatas pada penggunaan bahasa verbal, tetapi mencakup komunikasi nonverbal seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh, simbol, warna, dan berbagai tanda lainnya yang memiliki makna tertentu. Dalam banyak kasus, komunikasi nonverbal justru memiliki peran yang sangat penting dalam memperkuat atau bahkan menggantikan pesan verbal. Oleh karena itu, komunikasi harus dipahami sebagai proses yang kompleks dan multidimensional. Dalam perkembangannya, komunikasi tidak lagi dipandang sebagai proses satu arah (linear), melainkan sebagai proses dua arah yang melibatkan interaksi antara komunikator dan komunikan. Dalam proses ini, penerima pesan tidak hanya berperan sebagai pihak yang pasif, tetapi juga aktif dalam menafsirkan, merespons, dan bahkan memproduksi kembali pesan yang diterima. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi merupakan proses yang dinamis dan terus berkembang. 2. Karakteristik Komunikasi Komunikasi sebagai suatu proses sosial memiliki sejumlah karakteristik yang menunjukkan bahwa komunikasi bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Menurut Deddy Mulyana (2018), karakteristik komunikasi dapat dijelaskan sebagai berikut: 11 a) Bersifat dinamis Komunikasi bersifat dinamis karena prosesnya terus berubah dan berkembang sesuai dengan situasi, kondisi, serta hubungan antarindividu. Setiap interaksi komunikasi dipengaruhi oleh waktu, tempat, dan keadaan sosial yang berbeda. b) Bersifat Simbolik Komunikasi menggunakan simbol-simbol dalam menyampaikan makna, baik berupa bahasa verbal maupun nonverbal. Simbol tersebut dapat berupa kata-kata, gambar, warna, maupun gestur yang memiliki arti tertentu, namun maknanya dapat berbeda tergantung pada pengalaman dan latar belakang individu. c) Bersifat Kontekstual Komunikasi tidak terlepas dari konteks yang melingkupinya, seperti konteks sosial, budaya, dan lingkungan. Konteks ini sangat memengaruhi bagaimana pesan disampaikan dan ditafsirkan oleh penerima. d) Bersifat Transaksional Komunikasi merupakan proses dua arah yang melibatkan interaksi antara komunikator dan komunikan. Dalam proses ini, kedua pihak saling memengaruhi dan berperan aktif dalam membentuk makna. 12 e) Bersifat Kesinambungan Komunikasi berlangsung secara terus-menerus selama individu melakukan interaksi sosial. Proses ini tidak pernah berhenti selama manusia masih berhubungan dengan orang lain. 3. Unsur Komunikasi Dalam proses komunikasi terdapat sejumlah unsur yang saling berkaitan dan menentukan efektivitas penyampaian pesan. Unsur-unsur komunikasi merupakan komponen fundamental yang harus ada dalam setiap proses komunikasi agar tujuan komunikasi dapat tercapai secara optimal. Menurut Hafied Cangara (2014), unsur-unsur komunikasi meliputi komunikator, pesan, media, komunikan, efek, umpan balik, dan gangguan, yang dapat dijelaskan sebagai berikut: a) Komunikator Komunikator merupakan pihak yang berperan sebagai pengirim pesan dalam proses komunikasi. Komunikator dapat berupa individu, kelompok, maupun lembaga yang memiliki tujuan tertentu dalam menyampaikan pesan. Kredibilitas, kemampuan komunikasi, serta pemahaman komunikator terhadap audiens menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan komunikasi. b) Pesan Pesan adalah informasi, ide, atau makna yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Pesan dapat disampaikan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Kejelasan, sistematika, dan relevansi 13 pesan sangat memengaruhi tingkat pemahaman komunikan terhadap isi komunikasi yang disampaikan. c) Media atau Saluran Media merupakan sarana atau alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan. Media dapat berupa komunikasi langsung maupun melalui perantara seperti media massa dan media digital. Pemilihan media yang tepat akan menentukan efektivitas penyampaian pesan. d) Komunikan Komunikan adalah pihak yang menerima pesan dari komunikator. Komunikan tidak hanya berperan sebagai penerima pasif, tetapi juga sebagai pihak yang aktif dalam menginterpretasikan pesan berdasarkan latar belakang sosial, budaya, dan pengalaman yang dimiliki. e) Efek Efek merupakan dampak yang dihasilkan dari proses komunikasi, baik dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap, maupun perilaku. Efek ini menjadi indikator keberhasilan komunikasi dalam mencapai tujuan yang diharapkan. f) Umpan Balik Umpan balik adalah respons yang diberikan oleh komunikan terhadap pesan yang diterima. Umpan balik berfungsi sebagai indikator untuk mengetahui sejauh mana pesan telah dipahami dan diterima oleh komunikan. 14 g) Gangguan Gangguan adalah segala bentuk hambatan yang dapat memengaruhi proses komunikasi sehingga pesan tidak tersampaikan secara efektif. Gangguan dapat bersifat fisik, psikologis, maupun semantik, yang dapat menyebabkan terjadinya distorsi makna dalam komunikasi. B. Komunikasi Ekologis Komunikasi ekologis merupakan salah satu kajian dalam ilmu komunikasi yang berfokus pada penyampaian pesan-pesan yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Dalam konteks global saat ini, komunikasi ekologis menjadi semakin penting seiring meningkatnya berbagai permasalahan lingkungan seperti perubahan iklim, pencemaran, dan kerusakan ekosistem. Komunikasi ekologis tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai upaya strategis dalam membangun kesadaran, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap lingkungan. Secara konseptual, komunikasi ekologis dapat dipahami sebagai proses penyampaian dan pertukaran makna mengenai isu-isu lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Menurut Deddy Mulyana (2018), komunikasi merupakan proses sosial yang memungkinkan terjadinya pertukaran makna di antara individu. Dalam konteks ini, komunikasi ekologis tidak hanya menyampaikan fakta atau informasi lingkungan, tetapi juga membentuk cara pandang dan interpretasi masyarakat terhadap isu-isu tersebut. 15 Dalam kajian jurnal, komunikasi ekologis juga dipahami sebagai proses yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga transformasional. Sebagaimana dinyatakan oleh N. M. Siregar dan M. L. Kahpi (2023) bahwa komunikasi lingkungan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga berperan dalam membentuk kesadaran dan perilaku masyarakat terhadap isuisu ekologis. Pernyataan ini menunjukkan bahwa komunikasi ekologis memiliki peran penting dalam proses perubahan sosial. Komunikasi ekologis juga menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam proses komunikasi. Menurut R. Anwar, S. Sarwoprasodjo, dan D. R. Hapsari (2026), komunikasi lingkungan yang efektif menuntut keterlibatan aktif masyarakat sebagai subjek, bukan hanya sebagai objek komunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi ekologis bersifat partisipatif dan kolaboratif. Dalam praktiknya, komunikasi ekologis memiliki beberapa karakteristik utama, yaitu bersifat edukatif, persuasif, dan partisipatif. Komunikasi ekologis bersifat edukatif karena memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai kondisi lingkungan, bersifat persuasif karena bertujuan memengaruhi sikap dan perilaku, serta bersifat partisipatif karena melibatkan masyarakat dalam proses komunikasi. Perkembangan teknologi informasi turut memengaruhi cara penyampaian komunikasi ekologis. Saat ini, pesan-pesan lingkungan dapat disampaikan melalui berbagai media, termasuk media digital dan media sosial. Menurut Y. S. Pambudi dan C. Sudaryantiningsih (2024), media digital memberikan ruang yang luas bagi penyebaran pesan lingkungan secara cepat dan interaktif kepada 16 masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi ekologis bersifat adaptif terhadap perkembangan teknologi. Video klip adalah media audiovisual yang memadukan tanda dan simbol unt uk menyampaikan pesan tertentu. Media ini dapat merepresentasikan makna sesuai dengan tujuan pesan yang ingin dikomunikasikan. Pembuatan video klip melibatkan berbagai teknik, termasuk live shot dan animasi. Teknik live shot melibatkan pemeran, baik manusia maupun makhluk hidup lainnya, yang dapat dimainkan oleh satu orang atau lebih. Dalam teknik ini, adeganadegan dibangun secara dramatis untuk menciptakan alur cerita yang menarik. Menurut Caffery, video klip terbagi menjadi dua jenis dasar, yaitu Performance Video dan Concept Video. Performance Video menampilkan musisi yang sedang bernyanyi di atas panggung, sementara Concept Video menyajikan sebuah konsep atau alur cerita yang disesuaikan dengan lirik lagu. Dengan demikian, kedua jenis video klip ini memiliki pendekatan berbeda dalam menyampaikan pesan musik kepada penonton (Lukietta& Samatan, 2022). C. Representasi Representasi merupakan konsep penting dalam kajian komunikasi yang berkaitan dengan bagaimana makna dibentuk, dikonstruksi, dan disampaikan melalui simbol, bahasa, serta praktik sosial. Representasi tidak hanya berfungsi untuk menggambarkan realitas, tetapi juga berperan dalam membentuk cara pandang individu maupun kelompok terhadap suatu fenomena. Dengan 17 demikian, representasi bersifat aktif dan konstruktif dalam membangun realitas sosial. Representasi dipahami sebagai proses konstruksi sosial yang melibatkan pembentukan makna melalui interaksi antara individu dengan lingkungan sosial dan budaya. Dalam proses ini, makna tidak muncul secara alami, melainkan dibentuk melalui sistem simbol dan bahasa yang digunakan dalam masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa makna sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya yang melingkupinya (Bungin, 2011). Dalam semiotika, tanda terdiri atas dua unsur utama, yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda merujuk pada bentuk fisik dari tanda, sedangkan petanda merujuk pada konsep atau makna yang diwakili. Saussure menjelaskan bahwa tanda merupakan kesatuan antara penanda dan petanda, serta hubungan keduanya bersifat arbitrer, yaitu ditentukan oleh kesepakatan sosial (Saussure, 2011). D. Event sebagai Media Komunikasi Event merupakan salah satu bentuk media komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan kepada khalayak secara langsung melalui interaksi dan pengalaman yang nyata. Berbeda dengan media massa yang cenderung bersifat satu arah, event memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah yang melibatkan partisipasi aktif dari audiens. Hal ini menjadikan event sebagai media komunikasi yang efektif dalam menyampaikan pesan, membangun hubungan, serta menciptakan pengalaman yang berkesan bagi peserta (Mulyana, 2018). 18 Dalam perspektif komunikasi, event tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media strategis dalam menyampaikan pesan sosial, budaya, maupun lingkungan. Melalui event, pesan dapat dikemas secara kreatif dan interaktif sehingga lebih mudah dipahami dan diterima oleh audiens. Event juga mampu menciptakan pengalaman langsung yang dapat memperkuat pemaknaan pesan karena audiens terlibat secara emosional dan sosial dalam kegiatan tersebut (Getz, 2008). Event memiliki karakteristik yang unik sebagai media komunikasi, yaitu bersifat temporer, interaktif, dan berbasis pengalaman (experiential). Event bersifat temporer karena berlangsung dalam waktu tertentu, namun memiliki dampak yang dapat bertahan lama dalam ingatan audiens. Event juga bersifat interaktif karena melibatkan komunikasi langsung antara penyelenggara dan peserta. Sementara itu, pengalaman yang diperoleh selama event berlangsung menjadi faktor penting dalam membentuk persepsi dan pemahaman audiens terhadap pesan yang disampaikan. Dalam konteks komunikasi modern, event sering digunakan sebagai bagian dari strategi komunikasi terpadu (integrated communication), di mana event dikombinasikan dengan media lain seperti media sosial dan media massa untuk memperluas jangkauan pesan. Dengan adanya dukungan teknologi digital, event tidak hanya terbatas pada ruang fisik, tetapi juga dapat menjangkau audiens yang lebih luas melalui dokumentasi dan publikasi secara online (Pambudi & Sudaryantiningsih, 2024). Event juga memiliki peran penting dalam membangun keterlibatan (engagement) audiens. Keterlibatan ini terjadi 19 karena audiens tidak hanya menjadi penerima pesan, tetapi juga berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan yang berlangsung. Partisipasi tersebut dapat berupa interaksi langsung, keterlibatan dalam aktivitas, maupun respons terhadap pesan yang disampaikan. Tingginya tingkat keterlibatan audiens dalam event dapat meningkatkan efektivitas komunikasi serta memperkuat dampak pesan yang disampaikan (Noor, 2013). Dalam event Rock in Celebes, event musik berperan sebagai media komunikasi yang tidak hanya menyampaikan hiburan, tetapi juga pesan-pesan ekologis. Pesan tersebut disampaikan melalui berbagai bentuk, seperti visualisasi simbol lingkungan, kampanye ramah lingkungan, serta praktik nyata yang dilakukan selama event berlangsung. Selain itu, interaksi antara musisi, penyelenggara, dan audiens juga menjadi bagian dari proses komunikasi yang memperkuat penyampaian pesan. Dengan demikian, event sebagai media komunikasi dalam penelitian ini dipahami sebagai sarana strategis yang digunakan untuk menyampaikan pesan secara interaktif, partisipatif, dan berbasis pengalaman. Event tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi yang mampu membentuk kesadaran, sikap, dan perilaku audiens terhadap isu lingkungan, khususnya dalam konteks event Rock in Celebes. E. Teori Semiotika 1. Pengertian Semiotika Secara etimologis, istilah “semiotika” berasal dari bahasa Yunani “semeion“ yang berarti tanda. Dalam pengertian dasar, tanda dipahami 20 sebagai sesuatu yang, melalui kesepakatan sosial yang telah terbentuk, dapat mewakili sesuatu yang lain. Pada dasarnya, tanda berfungsi sebagai penunjuk yang merujuk pada keberadaan sesuatu di luar dirinya (Keriyono, 2024). Secara terminologis, semiotika dipahami sebagai suatu disiplin ilmu yang mengkaji berbagai objek, peristiwa, serta aspek kebudayaan sebagai tanda. Dalam perkembangannya, semiotika berfokus pada studi mengenai tanda-tanda, termasuk sistem serta mekanisme yang mengatur penggunaannya (Wibowo, 2013). Semiotika pada dasarnya merupakan suatu bidang ilmu sekaligus pendekatan analisis yang digunakan untuk mengkaji sistem tanda. Dalam hal ini, tanda berperan sebagai sarana yang membantu manusia dalam memahami realitas di sekitarnya serta membangun hubungan sosial dengan orang lain. Dalam konteks media sinematik, tanda-tanda yang digunakan umumnya bersifat piktografik, yaitu tanda visual yang menggambarkan objek tertentu secara ikonik (Sobur, 2017). Semiotika merupakan kerangka teoritis yang digunakan untuk mengkaji sistem tanda sebagai bentuk representasi dari berbagai hal, seperti objek fisik, gagasan, situasi, maupun pengalaman emosional. Kajian ini telah berkembang menjadi salah satu pendekatan penting dalam studi komunikasi. Littlejohn menjelaskan bahwa inti dari semiotika adalah proses mengungkap makna yang terdapat dalam suatu tanda serta menafsirkannya, 21 sehingga dapat dipahami bagaimana pesan dikonstruksi dan disampaikan oleh komunikator (Littlejohn, dalam Kevinia et al., 2022). Konsep semiotika dalam kajian budaya pertama kali banyak dikembangkan melalui pemikiran Yuri Lotman yang menekankan pentingnya sistem budaya dalam memahami sebuah teks. Lotman memandang bahwa analisis teks tidak hanya berhenti pada isi teks itu sendiri, tetapi juga berkaitan dengan proses identifikasi budaya serta cara budaya tersebut ditransmisikan. Dalam sebuah teks terdapat berbagai kode yang saling berhubungan secara kompleks, yang kemudian membentuk struktur makna dan relasi baru dalam sistem budaya (Yudithadewi & Parikesit, 2021). 2. Konsep Semiotika Ferdinan De Saussure Ferdinand de Saussure dikenal sebagai salah satu tokoh utama yang meletakkan dasar bagi perkembangan semiotika modern. Pemikirannya menjadi landasan bagi berbagai aliran semiotik yang berkembang setelahnya. Saussure memandang tanda linguistik sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari dua unsur yang tidak dapat dipisahkan, seperti dua sisi dari satu lembar kertas. Dalam konsep tersebut, penanda (signifiant) merujuk pada bentuk fisik atau aspek material dari tanda, sedangkan petanda (signifié) mengacu pada konsep atau makna yang ada dalam pikiran. Kedua unsur ini saling berkaitan dan membentuk sistem makna dalam bahasa (Siregar, 2019). 22 Ferdinand de Saussure memperkenalkan empat prinsip fundamental dalam studi linguistik yang membentuk kerangka teoritis penting. Konsepkonsep kunci tersebut meliputi: (1) pembedaan antara langue (sistem bahasa) dan parole (penggunaan bahasa aktual), (2) relasi antara penanda (signifiant) dan petanda (signifié), (3) pendekatan sinkronik versus diakronik dalam analisis bahasa, serta (4) hubungan sintagmatik dan paradigmatik dalam struktur linguistik. Meskipun beberapa istilah ini telah ada sebelumnya, Saussure merupakan tokoh pertama yang memformulasikan dan menerapkan istilah-istilah tersebut secara sistematis dalam pengajaran linguistiknya (Hamzah, 2020). Konsep dikotomi Saussure ini kemudian menjadi landasan bagi pengembangan teori semiotika modern, termasuk pemikiran Roland Barthes yang memperluas cakupan analisis semiotik ke bidang budaya (Dayu & Syadli, 2020). F. Landasan Teori 1. Teori Semiotika Ferdinand De Saussure Ferdinand de Saussure (1857-1913) dalam karya monumentalnya "Course in General Linguistics" mendefinisikan semiotika sebagai disiplin ilmu yang mempelajari sistem tanda sebagai bagian integral dari kehidupan sosial. Definisi ini mengandung pemahaman mendasar bahwa tanda-tanda tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terikat dalam konteks relasi sosial. Terdapat dua sistem yang saling berhubungan dalam konsep ini: sistem tanda (sign system) yang mengatur struktur tanda itu sendiri, dan sistem sosial (social system) yang menjadi landasan kebermaknaannya. 23 Saussure menekankan bahwa penggunaan tanda dalam bahasa diatur oleh kesepakatan sosial yang berlaku dalam suatu masyarakat. Kesepakatan tersebut menentukan bagaimana tanda dipilih, disusun, dan digunakan sehingga menghasilkan makna serta nilai sosial tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa makna tanda tidak bersifat alami atau universal, melainkan terbentuk melalui kesepakatan bersama dalam komunitas bahasa dan budaya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap tanda selalu bersifat relasional dan bergantung pada konteks sosial tempat tanda tersebut digunakan (Erlangga et al., 2021). Menurut teori semiotika Saussure, tanda merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara dua unsur utama, yaitu penanda (signifier) yang merujuk pada bentuk fisik seperti bunyi, tulisan, atau simbol yang dapat diamati, serta petanda (signified) yang mengacu pada konsep atau makna yang terbentuk dalam pikiran manusia. Hubungan antara keduanya bersifat arbitrer, namun tetap didasarkan pada kesepakatan sosial dalam suatu komunitas bahasa. Dengan demikian, makna tanda tidak muncul secara mandiri, melainkan melalui proses interpretasi dalam sistem tanda yang lebih luas, di mana makna terbentuk melalui relasi antar tanda (Talani et al., 2023). 1) Signifier (penanda) dan Signified (petanda) Menurut Saussure, bahasa merupakan suatu sistem tanda yang tersusun atas dua unsur yang tidak dapat dipisahkan, yaitu penanda (signifiant) sebagai bentuk bunyi atau tulisan, serta petanda (signifié) 24 sebagai konsep atau makna yang terkandung di dalamnya. Kedua unsur tersebut membentuk kesatuan dalam tanda linguistik. Hubungan antara bentuk dan makna bersifat arbitrer, karena ditentukan oleh kesepakatan sosial yang berlaku dalam suatu komunitas bahasa (Hamzah, 2020). Dalam teori semiotika linguistik, tanda terdiri atas dua unsur utama yang saling berkaitan, yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda merujuk pada bentuk fisik yang dapat diamati, seperti bunyi dalam bahasa lisan maupun tulisan dalam bahasa tertulis, sedangkan petanda mengacu pada konsep atau makna yang terbentuk dalam pikiran. Hamzah (2019) menjelaskan bahwa dalam praktik kebahasaan, kedua unsur tersebut saling berkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan, karena bentuk fisik selalu mengandung makna, dan makna selalu membutuhkan wujud fisik untuk dapat dikomunikasikan. Hubungan ini menunjukkan bahwa bahasa merupakan sistem tanda yang utuh, di mana aspek material dan konseptual saling melengkapi dalam proses pemaknaan. Dalam kajian semiotika struktural, hubungan antara penanda (signifier) dan petanda (signified) dipahami sebagai relasi yang bersifat dialektis dan tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling bergantung, karena petanda tidak dapat dipahami tanpa penanda, demikian pula penanda tidak memiliki makna tanpa petanda. Hubungan ini menunjukkan bahwa tanda bekerja seperti dua sisi yang saling melengkapi dalam satu kesatuan sistem makna. Selain itu, relasi antara 25 tanda dan objek yang dirujuk bersifat arbitrer, yaitu tidak memiliki hubungan alami, melainkan terbentuk melalui kesepakatan sosial dalam masyarakat. Sebagai contoh, penggunaan kata tertentu untuk menyebut suatu objek merupakan hasil konvensi historis, bukan hubungan yang bersifat alamiah, sehingga istilah yang digunakan dapat berbeda antar budaya meskipun merujuk pada objek yang sama (Hamzah, 2019). 2. Teori Manajemen Makna Koordinat (Coordinated Management of Meaning - CMM) Coordinated Management of Meaning (CMM) merupakan teori komunikasi yang dikembangkan oleh W. Barnett Pearce, Vernon Cronen, dan kolega sebagai kerangka untuk memahami dinamika interaksi sosial. Teori ini memandang komunikasi sebagai proses koordinasi makna yang kompleks, di mana individu secara aktif menyesuaikan tindakan dan interpretasi mereka dalam konteks sosial tertentu (Littlejohn & Foss, 2014). Pearce dan Cronen menjelaskan bahwa CMM menekankan hubungan timbal balik antara individu dengan orang lain serta bagaimana makna pesan terbentuk melalui proses interpretasi dalam interaksi komunikasi (Rizal & Yuwita, 2021). Selain itu, Philipsen menambahkan bahwa pendekatan CMM memiliki keunggulan karena mampu menghubungkan analisis pada tingkat individu dengan konteks sosial yang lebih luas, sehingga memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai bagaimana makna dibentuk, dikelola, dan dinegosiasikan dalam kehidupan sehari-hari (West & Turner, 2017). Dengan demikian, teori 26 CMM memandang komunikasi bukan hanya sebagai proses pertukaran informasi, tetapi sebagai proses negosiasi makna yang berlangsung secara terus-menerus dalam jaringan hubungan sosial. G. Penelitian Terdahulu 1. Penelitian oleh Sindy Widianty Putri (2024) dengan judul Strategi Komunikasi Lingkungan pada Kampanye Sustainable Beauty “Waste Down Kindness Up Sociolla Recycle Station” dalam Meningkatkan Kesadaran Lingkungan berasal dari Universitas Pasundan. Menggunakan metode kualitatif, penelitian ini menganalisis komunikasi dalam kampanye berbasis kolaborasi antara brand dan program keberlanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kampanye yang dikemas secara kreatif, interaktif, dan kolaboratif mampu meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat, khususnya dalam pengelolaan limbah produk kecantikan, serta mendorong partisipasi langsung melalui fasilitas daur ulang yang disediakan. Penelitian ini relevan karena menunjukkan bahwa komunikasi ekologis dapat dikemas dalam bentuk event atau program kolaboratif. 2. Penelitian oleh Ahmad Zaki (2024) dengan judul Analisis Strategi Komunikasi Lingkungan Komunitas Zero Waste Indonesia dalam Mengampanyekan Gaya Hidup Minim Sampah berasal dari Universitas Brawijaya. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teori komunikasi lingkungan Robert Cox, penelitian ini mengkaji strategi komunikasi yang digunakan komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media sosial, kegiatan edukasi, serta kolaborasi 27 komunitas menjadi strategi utama dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat, sehingga kampanye gaya hidup minim sampah dapat diterima dan diterapkan oleh masyarakat luas. Penelitian ini relevan karena menekankan pentingnya strategi komunikasi dalam kampanye lingkungan berbasis komunitas. 3. Penelitian oleh Aminah Swarnawati, Siska Yuningsih, Oktaviana Purnamasari, dan Eti Sri Nurhayati (2023) dengan judul Strategi Komunikasi Lingkungan dalam Kampanye Minim Sampah. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menganalisis peran bank sampah sebagai agen komunikasi dalam menyebarkan gaya hidup minim sampah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi lingkungan dilakukan secara berkelanjutan melalui edukasi langsung, sosialisasi, dan praktik pengelolaan sampah, sehingga mampu mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih peduli terhadap lingkungan serta meningkatkan partisipasi dalam program bank sampah. Penelitian ini relevan karena memperlihatkan bagaimana komunikasi ekologis dikonstruksi dalam aktivitas kampanye sosial. 4. Penelitian oleh Raden Tasya Athiyyah Goesda, Hasan Sazali, dan Abdul Rasyid (2022) dengan judul Analisis Komunikasi Persuasif pada Akun Instagram @ZeroWaste.id_Official dalam Pelestarian Lingkungan. Menggunakan metode kualitatif, penelitian ini menganalisis isi pesan dan teknik komunikasi persuasif dalam konten media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pesan persuasif berbasis visual, narasi 28 edukatif, dan ajakan partisipatif mampu mempengaruhi sikap dan perilaku audiens dalam mendukung pelestarian lingkungan, khususnya dalam mengurangi sampah. Penelitian ini relevan karena memperlihatkan representasi komunikasi ekologis melalui media sosial. H. Kerangka Konsep Penelitian ini berangkat dari pemahaman bahwa event musik tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi yang mampu menyampaikan berbagai pesan sosial, termasuk isu lingkungan. Dalam konteks ini, event Rock in Celebes dipandang sebagai ruang komunikasi yang menghadirkan berbagai bentuk simbol, pesan, dan praktik yang berkaitan dengan komunikasi ekologis. Simbol dan praktik tersebut dapat berupa visualisasi panggung, kampanye lingkungan, penggunaan atribut ramah lingkungan, hingga narasi yang disampaikan oleh penyelenggara maupun musisi selama event berlangsung. Untuk memahami makna yang terkandung dalam simbol dan praktik tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika yang merujuk pada pemikiran Ferdinand de Saussure serta Roland Barthes. Dalam perspektif ini, setiap tanda dianalisis melalui hubungan antara penanda (signifier) sebagai bentuk fisik yang dapat diamati dan petanda (signified) sebagai makna yang terbentuk dalam pikiran. Selain itu, analisis juga dilakukan pada tingkat denotasi dan konotasi untuk mengungkap makna literal maupun makna yang lebih dalam yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial dan budaya. 29 Melalui proses analisis semiotika tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana komunikasi ekologis direpresentasikan dalam event musik. Representasi ini tidak hanya dilihat dari pesan yang disampaikan secara eksplisit, tetapi juga dari makna yang dibangun melalui simbol, praktik, dan interaksi yang terjadi selama event berlangsung. Dengan demikian, komunikasi ekologis dalam penelitian ini dipahami sebagai hasil konstruksi makna yang terbentuk melalui sistem tanda dalam konteks budaya populer. Hasil dari proses representasi tersebut selanjutnya akan mengarah pada pemaknaan audiens terhadap isu lingkungan. Audiens sebagai penerima pesan memiliki peran aktif dalam menginterpretasikan simbol dan pesan yang disampaikan, sehingga makna yang terbentuk dapat berbeda-beda tergantung pada latar belakang, pengalaman, dan konteks sosial masing-masing individu. Oleh karena itu, kerangka konsep penelitian ini menempatkan event Rock in Celebes sebagai media komunikasi, simbol dan pesan ekologis sebagai objek analisis, pendekatan semiotika sebagai alat analisis, serta representasi komunikasi ekologis sebagai hasil utama yang kemudian memengaruhi pemaknaan audiens terhadap isu lingkungan. 30 I. Alur Pikir Gambar 2.1 Alur Pikir 31 J. Definisi Operasional 1. Representasi Komunikasi Ekologis Representasi komunikasi ekologis dalam penelitian ini diartikan sebagai proses penggambaran atau penyajian pesan-pesan lingkungan yang ditampilkan melalui simbol, narasi, dan praktik dalam event Rock in Celebes. Representasi ini dianalisis berdasarkan bagaimana makna lingkungan dikonstruksi melalui tanda-tanda yang muncul, baik secara visual maupun verbal, serta bagaimana pesan tersebut mencerminkan kepedulian terhadap isu lingkungan. 2. Event Rock in Celebes Event Rock in Celebes didefinisikan sebagai festival musik yang menjadi objek penelitian, khususnya dalam konteks kolaborasi dengan kampanye atau aktivitas yang berkaitan dengan isu perubahan iklim. Event ini dipandang sebagai media komunikasi yang menghadirkan interaksi antara penyelenggara, musisi, dan audiens dalam menyampaikan pesan sosial, termasuk pesan ekologis. 3. Komunikasi Ekologis Komunikasi ekologis merupakan proses penyampaian pesan yang berkaitan dengan isu lingkungan hidup, seperti perubahan iklim, pengelolaan sampah, dan keberlanjutan. Dalam penelitian ini, komunikasi ekologis diidentifikasi melalui pesan, simbol, dan praktik yang menunjukkan upaya peningkatan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan. 32 4. Simbol dan Pesan Ekologis Simbol dan pesan ekologis adalah segala bentuk tanda yang digunakan dalam event yang mengandung makna lingkungan. Simbol dapat berupa visual (warna, gambar, logo, atribut ramah lingkungan), sedangkan pesan dapat berupa narasi, slogan, atau kampanye yang disampaikan selama event berlangsung. 5. Analisis Semiotika Analisis semiotika dalam penelitian ini merupakan metode untuk mengkaji tanda dengan mengacu pada pemikiran Ferdinand de Saussure dan Roland Barthes. Analisis dilakukan melalui identifikasi penanda (signifier) dan petanda (signified), serta pengungkapan makna denotasi dan konotasi dari simbol dan pesan yang ditemukan dalam event. 6. Makna Denotasi Makna denotasi adalah makna literal atau makna langsung dari suatu tanda yang dapat diamati secara objektif. Dalam penelitian ini, makna denotasi digunakan untuk mengidentifikasi arti dasar dari simbol dan pesan ekologis yang muncul dalam event. 7. Makna Konotasi Makna konotasi adalah makna tambahan atau makna yang bersifat implisit yang dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya. Dalam penelitian ini, makna konotasi digunakan untuk memahami pesan-pesan tersembunyi atau nilai-nilai ekologis yang ingin disampaikan melalui event. 8. Pemaknaan Audiens 33 Pemaknaan audiens diartikan sebagai proses interpretasi yang dilakukan oleh pengunjung event terhadap simbol dan pesan ekologis yang disampaikan. Pemaknaan ini bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh latar belakang, pengalaman, serta pemahaman individu terhadap isu lingkungan. BAB III METODE PENELITIAN A. Tipe dan Paradigma Penelitian Metode deskriptif kualitatif dengan paradigma interpretif digunakan untuk memahami makna-makna sosial yang muncul dari simbol, bahasa, dan representasi dalam konteks kehidupan nyata. Paradigma interpretif berusaha menafsirkan makna subjektif berdasarkan pengalaman dan pemahaman individu terhadap realitas sosial yang kompleks. Pendekatan ini relevan untuk mengkaji karya seni seperti video klip, karena memberi ruang bagi peneliti untuk mengeksplorasi pesan-pesan tersembunyi melalui simbol visual dan verbal yang digunakan (Sugiyono, 2016). Penelitian ini juga menggunakan pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure yang menekankan pada hubungan antara penanda (signifier) dan petanda (signified) dalam membentuk makna. Saussure memandang bahwa tanda tidak berdiri sendiri, melainkan dibentuk oleh struktur bahasa dan konteks budaya di sekitarnya. Dalam video klip “Kekal”, simbol-simbol yang muncul baik melalui gestur, warna, maupun alur visual dapat ditafsirkan sebagai ekspresi penerimaan dan keikhlasan dalam relasi keluarga, sesuai dengan pendekatan interpretatif yang bersifat mendalam dan reflektif (Bungin, 2015). 33 34 B. Waktu Penelitian Waktu penelitian yang dibutuhkan selama kurang lebih 1 bulan yang dilakukan di Universitas Muslim Indonesia melalui proses penelitian dilaksanakan dalam empat pekan dengan tahapan yang terstruktur. Pada pekan pertama, kegiatan difokuskan pada studi literatur dan perencanaan, yaitu mencari referensi terkait lagu, teori yang digunakan, serta metode penelitian yang relevan. Hasil dari tahap ini adalah tersusunnya proposal penelitian. Pekan kedua diisi dengan kegiatan pengumpulan data, meliputi pengambilan objek penelitian berupa teks lirik dan audio yang merepresentasikan komunikasi simbolik. Data mentah yang terkumpul pada tahap ini menjadi bahan utama untuk analisis. Memasuki pekan ketiga, peneliti mulai menganalisis data yang telah dikumpulkan dengan menggunakan teori dan referensi yang telah diperoleh sebelumnya, sehingga menghasilkan analisis awal. Pada pekan terakhir, yaitu pekan keempat, dilakukan penulisan laporan penelitian berdasarkan hasil analisis yang ada, sekaligus melakukan revisi akhir dan penyuntingan untuk memastikan kualitas laporan. Tahap ini menghasilkan laporan penelitian yang siap disajikan. C. Unit Analisis Unit analisis dalam penelitian ini adalah representasi komunikasi ekologis dalam event Rock in Celebes. Fokus penelitian meliputi pesan, simbol, dan praktik komunikasi lingkungan yang ditampilkan selama event berlangsung, serta interaksi antara penyelenggara, musisi, komunitas, dan audiens dalam 35 membentuk makna komunikasi ekologis. Dengan demikian, analisis tidak hanya pada pesan, tetapi juga pada konteks sosial yang melingkupinya. D. Jenis Data 1. Data Primer Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari sumber utama melalui wawancara dengan informan, observasi terhadap pelaksanaan event Rock in Celebes, serta dokumentasi berupa foto, video, dan catatan lapangan yang berkaitan dengan komunikasi ekologis dalam event tersebut. Data ini digunakan untuk menggali informasi secara mendalam mengenai proses, pesan, dan praktik komunikasi yang terjadi. 2. Data Sekunder Data sekunder merupakan data pendukung yang diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, jurnal ilmiah, penelitian terdahulu, serta media online yang relevan dengan topik penelitian. Data ini digunakan untuk memperkuat landasan teori serta mendukung analisis terhadap data primer dalam penelitian ini. E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi Non Partisipan Peneliti menggunakan teknik observasi non partisipan untuk mengumpulkan data. Dalam hal ini, peneliti mengamati secara langsung pelaksanaan event Rock in Celebes tanpa terlibat secara aktif dalam kegiatan tersebut. Peneliti memperhatikan berbagai bentuk komunikasi ekologis yang muncul, seperti pesan yang disampaikan oleh penyelenggara dan 36 musisi, penggunaan simbol dan visual ramah lingkungan, serta praktik pengelolaan sampah selama event berlangsung. Selain itu, peneliti juga mengamati perilaku dan respons audiens terhadap pesan-pesan lingkungan yang ditampilkan. 2. Dokumentasi Data dokumentasi dapat berupa foto, video, poster, serta materi kampanye lingkungan yang digunakan dalam event Rock in Celebes. Selain itu, dokumentasi juga dapat berupa arsip atau informasi dari media sosial dan sumber online yang berkaitan dengan pelaksanaan event. Data ini digunakan untuk melengkapi dan memperkuat hasil observasi dan wawancara. F. Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari proses pengumpulan data selanjutnya diolah dan diinterpretasikan berdasarkan hasil observasi dan dokumentasi. Data tersebut kemudian disajikan secara deskriptif untuk mengidentifikasi permasalahan yang diteliti. Menurut Miles dan Huberman (dalam Moleong, 2018), analisis data terdiri dari tiga tahapan yang berlangsung secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan atau verifikasi. Ketiga tahapan tersebut dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut: 1. Redukasi Data 37 Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian, penyederhanaan, serta pengelompokan data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam tahap ini, peneliti menyeleksi data yang relevan dengan fokus penelitian, yaitu representasi komunikasi ekologis dalam event Rock in Celebes, sehingga data yang digunakan lebih terarah dan sistematis. 2. Penyajian Data Penyajian data dilakukan dengan menyusun dan mengorganisasikan data yang telah direduksi ke dalam bentuk narasi deskriptif. Data disajikan secara sistematis agar memudahkan peneliti dalam memahami hubungan antar data serta menemukan pola-pola yang berkaitan dengan komunikasi ekologis yang terjadi dalam event tersebut. 3. Menarik Kesimpulan Penarikan kesimpulan merupakan tahap akhir dalam analisis data, di mana peneliti menginterpretasikan data yang telah disajikan untuk menemukan makna dan menjawab rumusan masalah penelitian. Kesimpulan yang dihasilkan bersifat sementara dan dapat berkembang sesuai dengan temuan data di lapangan hingga diperoleh hasil yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Kesimpulan akhir tidak hanya dihasilkan pada tahap pengumpulan data, tetapi juga perlu melalui proses verifikasi agar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Secara skematis, proses analisis data dengan menggunakan 38 model analisis interaktif Miles dan Huberman dapat digambarkan melalui bagan berikut: Gambar 3.1. Model Analisis Data Interaktif Miles dan Huberman DAFTAR PUSTAKA BUKU: Alex Sobur. (2017). Semiotika komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Burhan Bungin. (2011). Konstruksi sosial media massa: Kekuatan pengaruh media massa, iklan televisi dan keputusan konsumen serta kritik terhadap Peter L. Berger & Thomas Luckmann. Jakarta: Kencana. Cangara, Hafied. (2014). Pengantar ilmu komunikasi. Rajawali Pers. Indiwan Seto Wahyu Wibowo. (2013). Semiotika komunikasi: Aplikasi praktis bagi penelitian dan skripsi komunikasi. Jakarta: Mitra Wacana Media. Joseph A. DeVito, & West, R. (2017). Interpersonal communication: Everyday encounters. Cengage Learning. Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2011). Theories of human communication (10th ed.). Waveland Press. Lotman, Y. M. (1990). Universe of the mind: A semiotic theory of culture. London: I.B. Tauris. Mulyana, Deddy. (2018). Ilmu komunikasi: Suatu pengantar. Remaja Rosdakarya. Noor, Any. (2013). Manajemen event. Bandung: Alfabeta. Hafied Cangara. (2014). Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers. Onong Uchjana Effendy. (2003). Ilmu komunikasi: Teori dan praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sugiyono. (2016). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta. Stephen W. Littlejohn, & Foss, K. A. (2014). Theories of human communication (11th ed.). Waveland Press. 39 40 JURNAL: Anwar, R., Sarwoprasodjo, S., & Hapsari, D. R. (2026). Teori komunikasi lingkungan: Partisipasi publik dalam pengelolaan kawasan konservasi bagi masyarakat adat di Papua. Awaliah, P., & Safira22, M. R. (2024). Representasi pesan self acceptance pada video klip Yura Yunita “Tutur Batin”. DIGIMUN-Digital Communication Journal, 1(1), 1-15. Erlangga, C. Y., Utomo, I. W., & Anisti, A. (2021). Konstruksi nilai romantisme dalam lirik lagu (analisis semiotika ferdinand de saussure pada lirik lagu" melukis senja"). Linimasa: Jurnal Ilmu Komunikasi, 4(2), 149-160. Getz, Donald. (2008). Event tourism: Definition, evolution, and research. Tourism Management, 29(3), 403–428 Goesda, R. T. A., Sazali, H., & Rasyid, A. (2022). Analisis komunikasi persuasif pada akun Instagram @ZeroWaste.id_Official dalam pelestarian lingkungan. Hamzah, A. A. (2020). Analisis Makna Intergrasi-Interkoneksi. Pappasang, 2(2), 33-53. Keriyono. (2024). Tradisi teori komunikasi semiotika. Jurnal Pariwara, 4(1), 1–8. Prasetyo, A. (2019). Event musik sebagai media komunikasi sosial. Jurnal Komunikasi, 11(2), 120–135. Sari, D., & Nugroho, R. (2021). Komunikasi lingkungan berbasis kolaborasi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Jurnal Komunikasi Pembangunan, 19(1), 45–60. Siregar, M. (2019). Kritik terhadap teori dekonstruksi Derrida. Journal of Urban Sociology, 2(1), 65-75. Siregar, N. M., & Kahpi, M. L. (2023). Konsep komunikasi lingkungan (environmental communication, ecological communication). Talani, N. S., Kamuli, S., & Juniarti, G. (2023). Problem tafsir semiotika dalam kajian media dan komunikasi: Sebuah tinjauan kritis. Bricolage: Jurnal Magister Ilmu Komunikasi, 9(1), 103-116. Wibowo, A. (2020). Efektivitas kampanye lingkungan melalui kegiatan publik. Jurnal Penelitian Komunikasi, 23(1), 67–80. 41 Putri, S. W. (2024). Strategi komunikasi lingkungan pada kampanye sustainable beauty “Waste Down Kindness Up Sociolla Recycle Station” dalam meningkatkan kesadaran lingkungan (Skripsi, Universitas Pasundan). Swarnawati, A., Yuningsih, S., Purnamasari, O., & Nurhayati, E. S. (2023). Strategi komunikasi lingkungan dalam kampanye minim sampah. Perspektif Komunikasi, 7(2). Zaki, A. (2024). Analisis strategi komunikasi lingkungan komunitas Zero Waste Indonesia dalam mengampanyekan gaya hidup minim sampah (Skripsi, Universitas Brawijaya).