Nama : Yuliana Pratiwi Asti NIM : 512020023 Prodi : Agroteknologi tahun angkatan 2020 Tugas Pengantar Ilmu Pertanian Peran Serangga Sebagai Penghasil Bahan Alami Dalam Pembuatan Pakaian Pendahuluan Salah satu serangga yang dapat menghasilkan bahan alami yang berguna dalam pembuatan pakaian adalah ulat sutra. Ulat sutra atau yang memiliki nama ilmiah Bombyx mori merupakan salah satu jenis serangga yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi karna dapat menghasilkan benang sutra. Ulat sutra hanya mengkonsumsi daun murbei sebagai makanannya. (Faradilla & Alias, 2018) (Putro et al., 2016) Ulat yang berasal dari keluarga Bombycidae ini dapat makan sepanjang siang dan malam. Kemudian jika warna kepalanya berubah menjadi lebih gelap, maka ulat sutra akan segera berganti kulit. Ulat sutra dapat mengalami pergantian kulit sebanyak empat kali dalam masa hidupnya. Benang sutra yang dihasilkan ulat sutra, memiliki panjang 300 – 900 meter per kepompong dan memiliki diameter 10 mikrometer. Budidaya Ulat Sutra Ulat sutra yang dibudidaya dengan baik dan benar, akan menghasilkan benang sutra yang berkualitas pula. Untuk membudidayakan ulat sutra, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Antara lain : 1) Suhu dan kelembapan Suhu yang ideal untuk membudidayakan ulat sutra berkisar antara 23 – 28o C dengan kelembapan berkisar antara 80 – 90%. Jika ulat sutra dibudidayakan dengan suhu lebih panas, maka produktivitas akan menurun dikarenakan ulat sutra merupakan hewan berdarah dingin (Katu et al., 2019) 2) Ketinggian lokasi budidaya Ketinggian lokasi yang cocok untuk membudidayakan ulat sutra berkisar antara 300 – 800 m dpl. Ketinggian lokasi yang ideal mampu memberikan pengaruh yang baik terhadap kualitas dan kuantitas ulat yang dihasilkan. (M & Bisjoe, 2013) Proses Produksi Ulat Sutra Dalam membudidayakan ulat sutra, ada tiga tahap yang dapat dilakukan. Antara lain (M & Bisjoe, 2013) : 1) Penanganan telur ulat sutra Apabila telur ulat sutra menimbulkan titik biru, maka dapat dilakukan proses penggelapan dan penerangan terhadap telur ulat tersebut. Proses ini bertujuan supaya penetasan telur dapat dilakukan secara merata. Setelah telur ulat menetas, kemudian dilakukan desinfeksi dengan menggunakan kaporit dengan konsentrasi 5% yang kemudian dicampur dengan kapur dengan konsentrasi 95%. Proses desinfeksi ini dilakukan sekitar pukul 09.00 pagi, kemudian dilanjut dengan pemberian pangan berupa daun murbei muda yang telah dipotong sekitar 5 x 5 mm sebanyak 100 gram setiap kotak telur. 2) Pemeliharaan ulat kecil Ulat kecil dapat hidup dengan baik apabila kondisi lingkungannya mendukung dalam perkembangbiakannya. Kondisi lingkungan yang baik yaitu memiliki suhu 26 – 28 oC dengan kelembapan berkisar 80 – 90%. Pakan untuk ulat kecil berupa daun murbei yang telah dipotong berkisar antara 0,5 – 3 cm sebanyak 3-4 kali dalam sehari. Apabila sebagian besar ulat kecil telah melakukan pergantian kulit, maka akan diberikan desinfeksi berupa kaporit dengan konsentrasi 5% yang dicampur dengan kapur dengan konsentrasi 95%. Wadah/tempat budidaya ulat disesuaikan dengan perkembangan ulat tersebut. 3) Pemeliharaan ulat besar Ulat besar dapat hidup pada lingkungan yang memiliki suhu berkisar 24 – 26o C dengan kelembapan berkisar antara 70 – 75%. Pakan untuk ulat besar berupa daun murbei yang berumur 2,5 – 3 bulan, dengan pemberian pakan sebanyak 3 – 4 kali dalam sehari. Ulat yang telah mengalami pergantian kulit, akan diberikan desinfeksi dengan campuran kaporit dan kapur dengan perbandingan 1 : 9 (10 gram kaporit : 90 gram kapur). Selain desinfeksi pada ulat, dibutuhkan juga desinfeksi pada alat dan ruang pemeliharaan dengan menggunakan larutan desinfeksi dengan dosis 5 gram kaporit per liter air. Setelah 21 hari sejak ulat mulai dipelihara, ulat akan membentuk kepompong. Setelah ulat membuat kepompong, pada hari ke 5 atau ke 6, kepompong dapat dipanen kemudian diolah menjadi benang. Pemanfaatan Benang Sutra Kepompong ulat sutra yang dihasilkan ulat besar kemudian dipintal hingga menjadi benang sutra. Benang sutra dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk pakaian misalnya sarung tenun, baju, atau rok lilit. Produk pakaian yang dihasilkan dari benang sutra, memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan benang serat-serat alam lainnya misalnya serat pelepah pohon pisang, dan lain sebagainya. Nilai ekonomi yang tinggi ini juga dipengaruhi oleh perawatan dan budidaya ulat sutra yang cukup sulit serta waktu yang dibutuhkan dalam budidaya pun cukup lama. (Faradilla & Alias, 2018) Kesimpulan 1) Ulat sutra atau Bombyx mori adalah salah satu jenis serangga yang dapat menghasilkan bahan alami berupa benang sutra yang dapat diolah menjadi berbagai produk pakaian. 2) Dalam membudidayakan ulat sutra, diperlukan beberapa hal yang harus diperhatikan dari factor lingkungan agar menghasilkan benang sutra yang berkualitas. 3) Ulat sutra memiliki nilai ekonomi yang tinggi karna benang yang dihasilkan dapat bermanfaat, hal itu dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan di masa yang akan datang. Daftar pustaka Faradilla, F., & Alias, S. (2018). PRODUK BENANG SUTRA BERKUALITAS MELALUI TEKNIK SERIKULTUR DENGAN PAKAN YANG DIKEMBANGKAN SECARA IN VITRO. Jurnal Hutan Tropis. https://doi.org/10.20527/jht.v5i2.4369 Katu, U., Rosmilawaty, R., & Iswanto, A. (2019). PERANCANGAN ALAT SISTEM PENGONTROLAN SUHU DAN KELEMBAPAN RUANG BUDIDAYA ULAT SUTERA BERBASIS WIRELESS. VERTEX ELEKTRO. https://doi.org/10.26618/jte.v1i2.2382 M, N., & Bisjoe, A. R. H. (2013). BUDIDAYA ULAT SUTERA DI DESA SUDU, KECAMATAN ALLA, KABUPATEN ENREKANG, SULAWESI SELATAN. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. https://doi.org/10.20886/jpht.2013.10.4.229-239 Putro, S. D. K., Lestari, U., & Lukiati, B. (2016). PENGEMBANGAN BUKU AJAR PERKEMBANGAN HEWAN BERBASIS PENELITIAN METAMORFOSIS. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan.