Uploaded by common.user151875

Industri Mikroalga Paper

advertisement
POTENSI MIKROALGA Tetraselmis Sp SEBAGAI BAHAN BAKU
BIOETANOL
Amirul Muslimin
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Jenderal Soedirman
Jl. Soeparno Komplek GOR Soesilo Sudarman, Karangwangkal,
Purwokerto, 53123, Indonesia
*Corresponding author, e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Kebutuhan akan sumber energi terbarukan ditengah isu perubahan iklim
dan pemanasan global sebuah keniscayaan. Sumber energi berbasis
biomassa non-pangan mendorong pengembangan bioetanol. Mikroalga
Tetraselmis sp. merupakan salah satu kekayaan hayati potensial karena
memiliki produktivitas biomassa tinggi, kandungan karbohidrat yang dapat
dikonversi menjadi gula fermentabel, serta tidak bersaing dengan
kebutuhan lahan dan pangan. Tulisan ini bertujuan untuk mereview secara
kritis potensi mikroalga Tetraselmis sp. sebagai bahan baku bioetanol,
dengan menitikberatkan pada karakteristik biomassa, teknologi
pretreatment, proses hidrolisis dan fermentasi, serta tantangan
pengembangannya pada skala industri. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa
biomassa Tetraselmis sp., khususnya Tetraselmis chuii, mampu
menghasilkan bioetanol pada skala laboratorium setelah melalui proses
pretreatment dan fermentasi, meskipun rendemen yang diperoleh masih
relatif rendah. Optimalisasi kondisi kultur, pemilihan metode pretreatment
yang efisien, serta integrasi konsep biorefinery menjadi kunci
pengembangan Tetraselmis sp. sebagai bahan baku bioetanol
berkelanjutan.
Kata kunci: Tetraselmis sp., bioetanol, mikroalga, energi terbarukan,
biomassa non-pangan
PENDAHULUAN
Perubahan iklim dan pemanasan global menjadi isu penting dunia saat ini.
Salah satu penyebab utamanya adalah penggunaan bahan bakar fosil
untuk berbagai bidang kehidupan mulai rumah tangga, kendaraan dan
industri sehingga meningkatkan emisi gas rumah kaca (Vinsela Jeev,
2024). Oleh karena itu, pengembangan energi terbarukan berbasis
biomassa non-pangan menjadi salah satu strategi penting dalam transisi
energi berkelanjutan (Demirbas, 2009; Naik et al., 2010). Mikroalga dinilai
lebih unggul dibandingkan biomassa terestrial karena produktivitasnya
tinggi, siklus panen yang cepat, serta tidak memerlukan lahan subur
maupun air tawar dalam jumlah besar (Chisti, 2007). Salah satu mikroalga
laut yang memiliki potensi besar adalah Tetraselmis sp., yang secara
tradisional dimanfaatkan sebagai pakan alami dalam akuakultur (Assadad
et al., 2010; Brown et al., 1997) Dalam beberapa tahun terakhir, Tetraselmis
sp. mulai dikaji sebagai bahan baku bioetanol generasi lanjut karena
kandungan karbohidratnya yang dapat dikonversi menjadi gula fermentabel
(Harun et al., 2010). Oleh karena itu, kajian ini difokuskan pada potensi
Tetraselmis sp. sebagai bahan baku bioetanol terbarukan.
MIKROALGA Tetraselmis sp.
Mikroalga merupakan kelompok alga berukuran mikroskopis yang
umumnya dijumpai di perairan tawar maupun laut. Mikroalga bersifat
uniseluler dan dapat hidup secara soliter maupun membentuk koloni, serta
memiliki kemampuan fotosintesis yang berperan penting dalam ekosistem
perairan (Assadad et al., 2010). Salah satu jenis mikroalga adalah
Tetraselmis sp yang termasuk dalam mikroalga hijau (Chlorophyta).
Biomassa Tetraselmis sp tersusun atas komponen utama berupa
karbohidrat, protein, dan lipid dengan proporsi yang bervariasi tergantung
kondisi kultur. Kandungan karbohidrat, yang mencakup polisakarida
struktural seperti selulosa dan hemiselulosa, menjadikan mikroalga ini
berpotensi sebagai bahan baku bioetanol. Selain itu, fraksi organik total
biomassa dapat dimanfaatkan sebagai substrat pencernaan anaerob untuk
menghasilkan biogas. Keunggulan lain Tetraselmis sp. adalah
kemampuannya tumbuh pada air laut atau payau, sehingga tidak
bergantung pada sumber air tawar.
BIOETANOL
Bioetanol adalah etanol atau etil alkohol (C₂H₅OH) yang berbentuk cair,
bening, tidak berwarna, bersifat biodegradable, serta relatif tidak
menyebabkan korosi sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan bakar
alternatif ramah lingkungan (Assadad et al., 2010). Bioetanol dapat
dihasilkan dari proses fermentasi, yaitu dengan merubah gula menjadi
bioetanol dengan bantuan mikroorganisme. Mikroorganisme yang dapat
digunakan antara lain bakteri (Zysmomonas mobilis dan Eschericia coli)
dan kapang (Saccharomyces cerevisiae). Produksi bioetanol dari mikroalga
Tetraselmis sp. umumnya melibatkan tahapan pemanenan biomassa,
pretreatment, hidrolisis, dan fermentasi (Negara et al., 2019). Kandungan
karbohidrat mikroalga berperan penting dalam menentukan potensi
produksi bioetanol (Harun et al., 2009). Namun, struktur dinding sel
mikroalga yang kompleks sering menjadi kendala utama dalam pelepasan
gula fermentabel.
Beberapa penelitian melaporkan bahwa hidrolisis asam encer dan
enzimatik mampu meningkatkan kadar gula reduksi dari biomassa
Tetraselmis, khususnya Tetraselmis chuii (Markou & Nerantzis, 2013). Gula
hasil hidrolisis tersebut selanjutnya difermentasi menggunakan
Saccharomyces cerevisiae untuk menghasilkan bioetanol (Chen et al.,
2011). Meskipun konsentrasi etanol yang dihasilkan masih relatif rendah
pada skala laboratorium, hasil ini menunjukkan kelayakan teknis
Tetraselmis sp. sebagai bahan baku bioetanol generasi lanjut.
Optimalisasi kondisi kultur mikroalga, metode pretreatment berenergi
rendah, serta efisiensi fermentasi menjadi faktor kunci dalam meningkatkan
rendemen bioetanol dari Tetraselmis sp (Slade & Bauen, 2013).
TAHAPAN PRODUKSI BIOETANOL
Produksi bioetanol diawali dengan persiapan bahan baku dengan biomassa
kaya karbohidrat, pretreatment, Hidrolisis, Fermentasi, Destilasi sehingga
menghasilkan bioetanol. Tahapan produksi bioetanol dapat dilihat pada
gambar berikut.
Sumber. Silva et al., (2023)
Kultivasi
Proses ini dilakukan dengan membudidayakan mikroalga di media kultur
dengan pemberian cahaya, nutrien dan CO2 sehingga dapat berfotosintesis
dengan optimal. Ketersediaan kadar nutrien dan yang tinggi akan
membentuk klorofil yang berakibat pada pembelahan sel dan fotosintesis
yang tinggi (Wardani et al., 2022), sehingga akan menghasilkan biomassa
yang kaya karbohidrat.
Pemanenan (Sentrifugasi) dan Pengeringan
Pemanenan mikroalga terdapat banyak teknik yang dapat diaplikasikan
yaitu flokulasi, sentrifugasi, dan filtrasi(Ariyanti et al., 2012). Sentrifugasi
merupakan salah satu teknik pemanenan dengan memisahkan padatan
dan cairan dengan menggunakan gaya sentrifugal sebagai driving force
(Ariyanti et al., 2012). Perbedaan teknik pemanenan dapat memberikan
penrbedaan nyata terhadap berat kering biomassa, yang dimana teknik
sentrifugasi lebih tinggi dari filtrasi dan lebih rendah dari flokulasi (Djunaedi,
2016). Pengeringan dilakukan setelah didapat biomassa yang telah
terpisah dari cairan.
Pretreatment
Salah satu tantangan utama dalam produksi bioetanol dari mikroalga
Tetraselmis sp adalah kebutuhan pretreatment untuk merusak dinding sel
dan meningkatkan aksesibilitas karbohidrat. Berbagai metode pretreatment
telah dikaji, antara lain perlakuan asam, basa, termal, dan ultrasonikasi.
Setiap metode memiliki kelebihan dan keterbatasan, baik dari segi efisiensi
pelepasan gula maupun kebutuhan energi dan biaya operasional.
Pretreatment asam encer relatif efektif dalam meningkatkan gula reduksi,
namun berpotensi menghasilkan senyawa penghambat fermentasi.
Sementara itu, pretreatment enzimatik lebih ramah lingkungan tetapi masih
terkendala biaya enzim yang tinggi (Padil et al., 2017). Oleh karena itu,
penelitian terkini banyak diarahkan pada kombinasi pretreatment berenergi
rendah dan proses fermentasi yang lebih toleran terhadap inhibitor, guna
meningkatkan efisiensi produksi bioetanol dari biomassa Tetraselmis sp.
Hidrolisis
Hidrolisis dilakukan untuk mengubah polisakarida menjadi gula sederhana.
Hidrolisis umumnya dilakukan dengan menggunakan asam encer,
perlakuan termal, atau enzim hidrolitik tergantung dari karakter biomassa
(Negara et al., 2019). Meningkatnya jumlah biomassa dan waktu hidrolisis
akan memiliki pengaruh terhadap hasil konsentrasi glukosa.
Fermentasi
Laurtan gula hasil hidrolisis difermentasi pada suhu 29-30 oC dengan
menggunakan mikroorganisme, umumnya yang digunakan adalah
(Saccharomyces cerevisiae) yaitu jamur yang terdiri dari satu sel
berproduksi dengan membentuk tunas, dan melakukan proses glikolisis
dengan mengubah gulan menjadi etanol (Negara et al., 2019)
Destilasi
Tahap akhir adalah distilasi untuk memisahkan dan memurnikan etanol dari
campuran hasil fermentasi.
PROSPEK PENGEMBANGAN BIOETANOL
Pengembangan bioetanol berbasis Tetraselmis sp. memiliki prospek yang
menjanjikan dalam konteks energi terbarukan berkelanjutan, terutama
sebagai bioetanol generasi lanjut yang tidak bersaing dengan pangan.
Integrasi produksi bioetanol dengan pemanfaatan fraksi biomassa lain,
seperti protein dan pigmen, memungkinkan penerapan konsep biorefinery
untuk meningkatkan nilai ekonomi keseluruhan proses.
Namun demikian, penerapan produksi pada skala industri masih
memerlukan kajian lanjutan yang meliputi tiga aspek yaitu keseimbangan
energi dan karbon, dampak lingkungan dan biaya produksi (Slade & Bauen,
2013). Penelitian yang berfokus pada peningkatan rendemen bioetanol,
efisiensi energi pretreatment, serta pemanfaatan air laut sebagai media
kultur menjadi kunci untuk mendorong pengembangan bioetanol berbasis
Tetraselmis sp. secara komersial dan berkelanjutan.
KESIMPULAN
Mikroalga Tetraselmis sp. memiliki potensi yang menjanjikan sebagai
bahan baku bioetanol generasi lanjut karena produktivitas biomassa yang
tinggi, kandungan karbohidrat yang dapat dikonversi menjadi gula
fermentabel, serta tidak bersaing dengan pangan dan lahan pertanian
(Chisti, 2007; Harun et al., 2010). Meskipun demikian, tantangan utama
masih terletak pada kebutuhan pretreatment yang efisien dan peningkatan
rendemen fermentasi. Oleh karena itu, penelitian lanjutan yang terintegrasi
antara aspek biologi, teknologi proses, dan analisis kelayakan sangat
diperlukan untuk mendukung pengembangan bioetanol berbasis
Tetraselmis sp. secara berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Ariyanti, D., Noer, D., & Handayani, A. (2012). Mikroalga Sebagai Sumber
Biomasa Terbarukan: Teknik Kultivasi dan Pemanenan. Metana, 6(2),
35–40. https://ejournal.undip.ac.id/index.php/metana/article/view/3431
Assadad, L., Utomo, B. S. B., & Sari, R. N. (2010). Pemanfaatan Mikroalga
Sebagai Bahan Baku Bioethanol Volume 5, No.2. 27 januari 2015.
Squalen, 5(2), 51–58.
Brown, M. R., Jeffrey, S. W., Volkman, J. K., & Dunstan, G. A. (1997).
Nutritional properties of microalgae for mariculture. Aquaculture,
151(1–4), 315–331. https://doi.org/10.1016/S0044-8486(96)01501-3
Chen, C. Y., Yeh, K. L., Aisyah, R., Lee, D. J., & Chang, J. S. (2011).
Cultivation, photobioreactor design and harvesting of microalgae for
biodiesel production: A critical review. Bioresource Technology, 102(1),
71–81. https://doi.org/10.1016/j.biortech.2010.06.159
Chisti, Y. (2007). Biodiesel from microalgae. Biotechnology Advances,
25(3), 294–306. https://doi.org/10.1016/j.biotechadv.2007.02.001
Demirbas, A. (2009). Biofuels securing the planet’s future energy needs.
Energy Conversion and Management, 50(9), 2239–2249.
https://doi.org/10.1016/j.enconman.2009.05.010
Djunaedi, A. (2016). Produksi Biomassa Mikroalga (Tetraselmis chuii)
Dengan Sistem Pemanenan Berbeda. Jurnal Kelautan Tropis, 18(2),
107–111. https://doi.org/10.14710/jkt.v18i2.521
Harun, R., Danquah, M. K., & Forde, G. M. (2009). Microalgal biomass as a
fermentation feedstock for bioethanol production. Chemical
Technology and Biotechnology, December 2010, 23–25.
Markou, G., & Nerantzis, E. (2013). Microalgae for high-value compounds
and biofuels production: A review with focus on cultivation under stress
conditions.
Biotechnology
Advances,
31(8),
1532–1542.
https://doi.org/10.1016/j.biotechadv.2013.07.011
Naik, S. N., Goud, V. V., Rout, P. K., & Dalai, A. K. (2010). Production of
first and second generation biofuels: A comprehensive review.
Renewable and Sustainable Energy Reviews, 14(2), 578–597.
https://doi.org/10.1016/j.rser.2009.10.003
Negara, B. F. S., Nursalim, N., Herliany, N. E., Renta, P. P., Purnama, D.,
& Utami, M. A. F. (2019). PERANAN DAN PEMANFAATAN
MIKROALGA Tetraselmis chuii SEBAGAI BIOETANOL. Jurnal
Enggano, 4(2), 136–147. https://doi.org/10.31186/jenggano.4.2.136147
Padil, P., Syamsiah, S., Hidayat, M., & Kasiamdari, R. S. (2017). Kinerja
Enzim Ganda Pada Pretreatment Mikroalga Untuk Produksi Bioetanol.
Jurnal
Bahan
Alam
Terbarukan,
5(2),
92–100.
https://doi.org/10.15294/jbat.v5i2.7564
Silva, G., Cerqueira, K., Rodrigues, J., Silva, K., Coelho, D., & Souza, R.
(2023). Cultivation of Microalgae Chlorella vulgaris in Open Reactor for
Bioethanol
Production.
Phycology,
3(2),
325–336.
https://doi.org/10.3390/phycology3020021
Slade, R., & Bauen, A. (2013). Micro-algae cultivation for biofuels: Cost,
energy balance, environmental impacts and future prospects. Biomass
and
Bioenergy,
53(0),
29–38.
https://doi.org/10.1016/j.biombioe.2012.12.019
Vinsela Jeev, T. (2024). Causes and Effects of Climate Change in
Education. Shanlax International Journal of Arts, Science and
Humanities,
11(S2-Feb),
65–68.
https://doi.org/10.34293/sijash.v11is2-feb.7423
Wardani, N. K., Supriyantini, E., & Santosa, G. W. (2022). Pengaruh
Konsentrasi Pupuk Walne Terhadap Laju Pertumbuhan dan
Kandungan Klorofil-a Tetraselmis chuii. Journal of Marine Research,
11(1), 77–85. https://doi.org/10.14710/jmr.v11i1.31732
Download