Uploaded by User148404

Modul Ajar Sistem Respirasi Kelompok 6

advertisement
1
2
3
Tujuan Pembelajaran
1. Peserta didik dapat memahami dua macam proses respirasi dan mengidentifikasi bagian
anatomi pada organ sistem respirasi
2. Peserta didik mampu memahami siklus inspirasi dan siklus ekspirasi
3. Peserta didik mampu memahami proses ventilasi paru dan peran kritis alveoli dalam
pertukaran gas
4. Peserta didik dapat menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi paru,
seperti tekanan atmosfer dan elastisitas paru.
5. Peserta didik memiliki pemahaman mendalam tentang konsep difusi dan perfusi
6. Peserta didik dapat menganalisis volume udara paru-paru dan kapasitas paru-paru
Bahan Bacaan Modul Ajar
1. Anatomi Sistem Respirasi
2. Proses Respirasi Internal dan Eksternal
3. Fisiologi Respirasi Inspirasi dan Eekspirasi
4. Ventilasi Paru dan Peran Alveoli
5. Faktor Terjadinya Ventilasi Paru-Paru
6. Difusi dan Perfusi Sistem Respirasi
7. Volume Udara dan Kapasitas Udara Paru-Paru
8. Kelainan dan Penyakit pada Sistem Respirasi
4
ANATOMI SISTEM RESPIRASI
Energi penting untuk mempertahankan berbagai aktivitas sel yang menunjang
kehidupan, misalnya sintesis protein dan transpor aktif menembus membran plasma. Sel-sel
tubuh membutuhkan pasokan O2 yang terus-menerus untuk menopang reaksi kimia penghasil
energi. CO2 yang dihasilkan selama reaksi-reaksi tersebut harus dikeluarkan dari tubuh dengan
kecepatan yang sama dengan kecepatan produksinya, untuk mencegah fluktuasi pH yang
membahayakan. Dengan tetap mempertahankan keseimbangan antara asam dan basa, karena
CO2 menghasilkan asam karbonat. Respirasi adalah keseluruhan proses yang melaksanakan
pemindahan pasif O2 dari atmosfer ke jaringan untuk menunjang metabolisme sel, serta
pemindahan pasif terus-menerus CO2 yang dihasilkan oleh metabolisme dari jaringan ke
atmosfer. Sistem pernapasan berperan dalam homeostasis dengan mempertukarkan CO2 dan O2
antara atmosfer dan darah. Darah mengangkut CO2 dan O2, antara sistem pernapasan dan
jaringan.
Gambar 1. Anatomy organ system respiration
Saluran napas saluran napas respiratorik yaitu menghantarkan udara antara atmosfer dan
alveolus
Sistem respirasi mencakup saluran napas yang menuju alveoli. Alveoli itu sendiri dan
struktur-struktur thoraks yang berperan menyebabkan aliran udara masuk dan keluar alveoli
melalui saluran napas. Saluran napas yang berupa seperti tabung atau pipa yang mengangkut
udara antara atmosfer dan alveolus, yang merupakan satu-satunya tempat pertukaran gas antara
udara dan darah. Saluran napas berawal dari saluran nasal. Saluran nasal membuka celah lalu
masuk ke dalam faring, yang berfungsi sebagai saluran bersama untuk sistem pernapasan dan
5
pencernaan. Terdapat dua saluran yang berasal dari faring hingga trakea, yang dilalui oleh
udara untuk menuju alveoli dan esofagus, serta dilalui oleh makanan untuk menuju lambung.
Udara dalam keadaan normal masuk ke faring melalui nostril, tetapi udara juga dapat masuk
melalui mulut ketika saluran nasal tersumbat. Karena faring berfungsi sebagai saluran bersama
untuk udara dan makanan maka sewaktu menelan terjadi mekanisme refleks yang menutup
trakea agar makanan masuk ke esofagus dan bukan ke saluran napas. Esofagus selalu tertutup
kecuali ketika menelan makanan, kareena untuk mencegah udara masuk ke lambung sewaktu
bernapas. Laring atau voice box, terlerak di pintu masuk trakea. Jika pada laki laki akan
membentuk tonjolan anterior laring berupa jakun "Adam's apple”. Trakea berperan sebagai
saluran pada proses ventilasi dan sebagai jalur pengeluaran sekret trakea atau bronkus. Trakea
bermula pada batas bawah kartilago krikoid yang memanjang hingga setinggi carina dengan
panjang rata-rata 10-13 cm. Dibentuk dari cincin-cincin tulang rawan berbentuk huruf C yang
kemudian membentuk dinding anterior dan lateral dari trakea serta terhubung secara posterior
oleh dinding membran dari trakea. Di belakang laring, trakea terbagi menjadi dua cabang
utama, yaitu bronchus kanan dan kiri dengan masing-masing masuk ke alveoli kanan dan kiri.
Di dalam masing-masing alveoli, bronkus terus bercabang-cabang menjadi saluran napas yang
semakin sempit, pendek, dan banyak, seperti percabangan sebuah pohon tracheobronchial.
Fungsi dari pohon tracheobronchial yaitu untuk memfasilitasi aliran udara masuk dan keluar
dari alveoli. Pembagian menjadi dua cabang (divisi dikotom), setiap cabang terbagi menjadi
dua cabang yang lebih kecil, yang dimulai dari trachea dan berakhir pada sacus alveoli
diperkirakan terjadi sebanyak 23 kali atau 23 generasi. Pada setiap generasi, jumlah jalur udara
diperkirakan berganda. Setiap sacus alveoli berisi rata-rata 17 alveoli dan diperkirakan pada
rata-rata orang dewasa terdapat 300 juta alveoli sebagai membrane yang sangat luas (50-100
m2) sebagai tempat pertukaran gas. Cabang-cabang yang lebih kecil dikenal sebagai
bronchiolus. Di ujung bronchiolus terminal berkelompok alveolus, kantung-kantung udara
halus tempat pertukaran gas antara udara dan darah. Agar aliran udara dapat masuk dan keluar
bagian alveoli sebagai tempat pertukaran berlangsung, kontinum saluran napas penghantar dari
pintu masuk melalui bronkiolus terminal hingga alveolus harus tetap terbuka. Trakea dan
bronchus adalah tabung yang cukup kaku tak berotot yang di kelilingi oleh serangkaian cincin
tulang rawan yang mencegah saluran in menyempit. Bronchiolus tidak memiliki tulang rawan
untuk menjaganya tetap terbuka. Dinding saluran in mengandung otot polos yang disarafi oleh
sistem saraf otonom dan peka terhadap hormon dan bahan kimia lokal tertentu. Faktor-faktor
ini mengatur jumlah udara yang mengalir dari atmosfer ke setiap lobus alveolus, dengan
6
mengubah derajat kontraksi otot polos bronchiolus sehingga mengubah kaliber saluran napas
terminal.
Alveolus adalah tempat pertukaran gas berbentuk kantong udara berdinding tipis yang
dapat mengembang dan dikelilingi oleh kapiler alveoli. Dinding sel alveoli terdiri dari sel epitel
squamosa yang tipis, permukaan eksternal alveoli dilingkupi oleh kapiler pulmonari,
dinding/membrane alveolar dan kapiler tersebut membentuk membrane respirasi, pertukaran
gas pada membrane respirasi terjadi dengan proses difusi. Menurut hukum difusi Fick, semakin
pendek jarak yang harus ditempuh oleh difusi, semakin besar laju difusi. Juga, semakin besar
luas permukaan tempat difusi berlangsung, semakin besar laju difusi. Alveolus adalah
kelompok-kelompok kantung mirip anggur yang berdinding tipis dan dapat mengembang di
ujung cabang saluran napas penghantar. Selain itu, pertemuan udara alveolus dengan darah
memiliki tempat luas yang sangat besar bagi pertukaran gas. Alveolus mengandung sekitar 300
juta alveoli, masing-masing bergaris tengah 300 um. Sedemikian padatnya anyaman kapiler
alveoli sehingga setiap alveolus dikelilingi oleh lembaran darah yang hampir kontinyu.
Paru menempati sebagian besar rongga thoraks
Terdapat dua buah para, masing-masing dibagi menjadi beberapa lobus dan masing-masing
mendapat satu bronkus. Jaringan paru itu sendiri terdiri dari serangkaian saluran napas yang
sangat bercabang-cabang, alveolus, pembuluh darah paru, dan sejumlah besar jaringan ikat
elastik. Satu-satunya otot di dalam paru adalah otot polos di dinding arteriol dan dinding
bronchiolus, dimana keduanya berada di bawah kontrol. Tidak terdapat otot di dalam dinding
alveolus untuk mengembangkan atau mengempiskan alveolus selama proses bernapas.
Perubahan volume aveoli akibat perubahan volume alveolus yang menyertainya, ditimbulkan
oleh perubahan dalam dimensi rongga thoraks. Paru menempati sebagian besar volume rongga
thoraks dan struktur-struktur lain di thoraks adalah jantung dan pembuluh-pembuluh
terkaitnya, esofagus, timus, dan beberapa saraf. Thoraks luar dibentuk oleh 12 pasang iga
melengkung, yang berhubungan dengan sternum (tulang dada) di anterior dan vertebra
thorakalis (tulang punggung) di posterior. Sangkar iga merupakan tulang protektif bagi paru
dan jantung. Diafragma, yang membentuk lantai rongga thoraks, adalah suatu lembaran otot
rangka yang lebar, berbentuk seperti kubah, dan memisahkan secara total rongga thoraks dari
rongga abdomen. Otot ini ditembus hanya oleh esofagus dan pembuluh darah yang melintasi
rongga toraks dan abdomen. Di leher, otot dan jaringan ikat menutup rongga thoraks. Satu-
7
satunya komunikasi antara thoraks dan atmosfer adalah melalui saluran napas ke dalam
alveolus. Seperti alveoli, thoraks mengandung banyak jaringan ikat elastik.
Respirasi mencakup dua proses yang terpisah tetapi berkaitan yaitu respirasi internal dan
respirasi eksternal, kedua proses tersebut digambarkan seperti berikut;
Gambar 2. Respirasi eksternal dan internal
RESPIRASI INTERNAL
Istilah respirasi internal atau respirasi sel merujuk kepada proses-proses metabolik intrasel
yang dilakukan di dalam mitokondria, yang menggunakan O2 dan menghasilkan CO2 selagi
mengambil energi dari molekul nutrient. Respiratory quotient (RQ), rasio CO2 yang
dihasilkan terhadap O2 yang dikonsumsi, bervariasi bergantung pada jenis makanan yang
dikonsumsi. Jika karbohidrat yang digunakan maka RQ adalah 1; yaitu, untuk setiap molekul
O2 yang dikonsumsi, satu molekul CO2 diproduksi. Untuk lemak, RQ adalah 0,7; untuk protein,
RQnya adalah 0,8.
8
RESPIRASI EKSTERNAL
Istilah respirasi eksternal merujuk kepada seluruh rangkaian kejadian dalam pertukaran O2 dan
CO2 antara lingkungan eksternal dan antar organ tubuh. Respirasi eksternal, memiliki cakupan
sebanyak empat langkah atau empat proses yang terjadi, yang pertama adalah udara secara
bergantian dimasukkan ke dan dikeluarkan dari paru sehingga udara dapat dipertukarkan antara
atmosfer (lingkungan eksternal) dan kantung udara (alveolus) paru. Pertukaran ini
dilaksanakan oleh tindakan mekanis bernapas, atau ventilasi. Kecepatan ventilasi diatur untuk
menyesuaikan aliran udara antara atmosfer dan alveolus sesuai kebutuhan metabolik tubuh
akan penyerápan O2 dan pengeluaran CO2. Kemudian yang kedua yaitu O2 dan CO2 mengalami
terjadinya pertukaran antara udara di alveolus dan darah di dalam kapiler paru melalui proses
difusi. Selanjutnya sirkulasi pada darah akan mengangkut O2 dan CO2 antara paru dan jaringan.
Dan kemudian terakhir O2 dan CO2 dipertukarkan antara jaringan dan darah melalui proses
difusi menembus kapiler sistemik (jaringan).
Komposisi udara ketika mencapai alveolus-alveolus. Sebagian oksigen larut dalam
cairan yang membasahi epitel yang tipis dari alveolus. Kemudian oksigen berdifusi ke dalam
darah yang terdapat dalam banyak kapiler-kapiler yang terdapat dalam dinding alveolusalveolus. Seperti pada kodok, sebagian besar oksigen kemudian bersenyawa dengan
hemoglobin yang terdapat dalam sel-sel darah merah. Fungsi utama dari hemoglobin bagi
tubuh manusia yaitu adalah sebagai pengangkut dan pengikat oksigen untuk diedarkan ke
seluruh jaringan tubuh dari paru-paru dan dalam peredaran darah. Tingkatan hemoglobin
dengan oksigen disebut dengan HbO2 (Oksihemoglobin). Selain perannya mengangkut dan
mengikat oksigen, hemoglobin juga berfungsi untuk mengangkut CO2 (karbon dioksida) dan
karbon monoksida membentuk ikatan karbon monoksida disebut ikatan HbCO2 (karbon
9
monoksida hemoglobin) rangkaian ini disebut proses bilirubin. Secara simultan, sebagian
karbon dioksida dalam darah itu akan berdifusi ke dalam alveolus-alveolus yang dapat
ditembuskan keluar. Sirkulasi darah kemudian membawa oksigen ke semua sel-sel dari badan.
Sementara itu, darah mengambil karbondioksida dari sel-sel ini untuk diangkut kembali ke
kapiler-kapiler alveolus-alveolus.
Pada manusia, efisiensi pertukaran hawa di dalam paru-paru meningkat oleh karena
adanya diafragma. Diafragma adalah sekat berotot berbentuk kubah, membagi rongga badan
menjadi dua bagian adalah rongga perut (abdomen) yang mengandung jerohan - lambung, usus
dan sebagainya dan rongga dada (toraks) yang mengandung jantung dan paru-paru. Permukaan
sebelah dalam rongga dada dan permukaan luar paru-paru diselaputi oleh membran tipis ialah
pleura. Dengan perantaraan lapisan cairan tipis yang terdapat di antara kedua selaput tadi,
pleura paru-paru melekat dengan erat pada pleura rongga dada. Saluran pleura ini memisahkan
antara masing-masing alveoli dari dinding toraks. Selaput Pleura merupakan membran serosa
yang melingkupi parenkim paru, mediastinum, diafragma serta tulang iga; terdiri dari pleura
parietalis dan viseralis. Pleura parietal: berada di sisi luar dari paru-paru yang akan berdekatan
atau seperti menempel dengan dinding toraks. Pleura visceralis: berada di sisi dalam dari paruparu yang menempel dengan permukaan eksternal paru, jadi nantinya akan menempel dengan
alveoli-alveoli.
Rongga atau kantung pleura terisi sejumlah tertentu cairan yang memisahkan kedua
pleura tersebut sehingga memungkinkan pergerakan kedua pleura tanpa hambatan selama
proses respirasi. Cairan pada rongga pleura juga berfungsi mengurangi gesekan/friction antara
pleura parietalis dan viseralis serta menjaga paru - paru dari tekanan dinding dada. Cairan
pleura berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler pleura, ruang interstitial paru, kelenjar getah
bening intratoraks, pembuluh darah intratoraks dan rongga peritoneum. Jumlah cairan pleura
dipengaruhi oleh perbedaan tekanan antara pembuluh-pembuluh kapiler pleura dengan rongga
pleura sesuai hukum Starling serta kemampuan eliminasi cairan oleh sistem penyaliran limfatik
pleura parietal. Pada keadaan normal jumlah cairan pleura sangat sedikit (0,1-0,2 mL/kgBB).
Tekanan pleura merupakan cermin tekanan di dalam rongga toraks. Perbedaan tekanan yang
ditimbulkan oleh pleura berperan penting dalam proses respirasi.
10
FISIOLOGI RESPIRASI INSPIRASI DAN EKSPIRASI
Respirasi adalah proses krusial bagi kehidupan manusia, di mana oksigen diambil dan
karbon dioksida dilepaskan. Inspirasi, fase penting dalam respirasi, melibatkan kontraksi otototot pernapasan utama seperti diafragma dan otot-otot interkostal untuk memperluas rongga
dada. Kontraksi ini, terutama oleh diafragma, menarik rongga dada ke bawah, menciptakan
tekanan udara yang lebih rendah di dalam paru-paru dibandingkan dengan lingkungan
eksternal. Hasilnya, udara mengalir masuk melalui saluran pernapasan.
Mekanisme fisiologi respirasi inspirasi ini membutuhkan koordinasi otot-otot
pernapasan, di antaranya diafragma dan otot-otot interkostal. Diafragma, sebagai otot utama,
terletak di bawah paru-paru dan berkontraksi untuk memperluas rongga dada, memfasilitasi
masuknya udara. Otot-otot interkostal, terletak di antara tulang rusuk, ikut berkontraksi untuk
memperluas rongga dada, memungkinkan udara masuk ke paru-paru.Selain kontraksi otot,
inspirasi juga melibatkan perubahan tekanan di dalam paru-paru. Kontraksi otot pernapasan
menyebabkan rongga dada membesar, menciptakan tekanan negatif yang memungkinkan
udara masuk melalui saluran pernapasan. Udara, dalam proses inspirasi, melewati saluran
pernapasan yang terdiri dari rongga hidung, faring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus, hingga
mencapai alveoli. Alveoli, struktur kecil di ujung saluran pernapasan, bertanggung jawab untuk
pertukaran gas vital antara udara dan darah (Agustina, M. et al., 2022).
Ekspirasi, yang merupakan fase pengeluaran udara dari paru-paru, memegang peran
penting dalam siklus pernapasan, memungkinkan tubuh untuk membuang karbon dioksida
yang dihasilkan oleh aktivitas sel dan komponen gas lainnya.
Mekanisme fisiologi respirasi ekspirasi mencakup serangkaian proses yang terjadi di
dalam sistem pernapasan manusia. Setelah inspirasi selesai, otot-otot pernapasan berelaksasi
dan rongga dada berkontraksi. Ini menyebabkan tekanan udara di dalam paru-paru meningkat,
mendorong udara yang mengandung karbon dioksida keluar melalui saluran pernapasan. Tidak
hanya itu, ekspirasi melibatkan kontribusi dari otot-otot pernapasan, terutama otot-otot perut.
Saat terjadi ekspirasi, otot-otot perut, termasuk diafragma dan otot-otot interkostal internal,
berkontraksi untuk membantu mengeluarkan udara dari paru-paru. Proses ekspirasi juga
melibatkan saluran pernapasan, di mana udara yang mengandung karbon dioksida dikeluarkan
11
melalui bronkus, bronkiolus, dan akhirnya alveoli. Alveoli, struktur kecil di ujung saluran
pernapasan, memainkan peran kunci dalam pertukaran gas antara udara dan darah. Secara
keseluruhan, mekanisme fisiologi respirasi ekspirasi merupakan tahap krusial dalam sistem
pernapasan manusia, memfasilitasi pengeluaran karbon dioksida yang dihasilkan oleh aktivitas
sel dan menjaga keseimbangan gas dalam tubuh (Akhwan, N., 2019).
Fisiologi Inspirasi
Fisiologi Ekspirasi
Respirasi Dada
Muskulus interkostalis kontraksi → tulang Muskulus interkostalis relaksasi → tulang
rusuk terangkat rongga → dada membesar, rusuk turun→rongga dada menyempit,
paru-paru mengembang→tekanan udara paru-paru
mengecil→
tekanan
udara
rongga paru-paru di luar naik → udara dari rongga paru-paru naik dan di luar turun
luar masuk ke paru-paru
→udara keluar dari paru-paru
Respirasi Perut
Otot diafragma kontraksi→ diafragma Otot
datar
rongga
dada
dan
diafragma
relaksasi→
diafragma
paru-paru melengkung rongga dada dan paru-paru
mengembang→ tekanan udara rongga mengecil → tekanan udara rongga paruparu-paru turun → udara dari luar masuk paru naik → udara keluar dari paru-paru
ke paru-paru
12
VENTILASI PARU-PARU DAN PERAN ALVEOLI
Ventilasi paru-paru adalah proses penting dalam sistem pernapasan yang melibatkan
pengisian dan pengosongan udara dari paru-paru. Proses ini terdiri dari dua tahap utama:
inspirasi dan ekspirasi. Inspirasi dimulai dengan kontraksi otot-otot pernapasan, seperti
diafragma dan otot-otot interkostal, yang memperluas rongga dada. Akibatnya, tekanan udara
di dalam paru-paru menurun, dan udara mengalir masuk melalui saluran pernapasan. Ekspirasi
terjadi ketika otot-otot pernapasan berelaksasi, menyebabkan rongga dada menyusut dan
menghasilkan peningkatan tekanan udara di dalam paru-paru, sehingga udara dikeluarkan
(Airlangga, P. & Rahardjo, P., 2022).
Alveoli, struktur kantung kecil di ujung saluran pernapasan, memainkan peran kritis
dalam pertukaran gas. Ketika udara mencapai alveoli pada saat inspirasi, oksigen beralih dari
udara ke dalam darah, sedangkan karbon dioksida berpindah dari darah ke udara dalam proses
yang disebut difusi. Permukaan yang luas dan tipis dari alveoli memfasilitasi pertukaran gas
ini dengan efisien. Selain itu, alveoli mengandung lapisan tipis pembuluh darah kapiler,
menciptakan lingkungan yang optimal untuk pertukaran gas. Oksigen yang diambil oleh darah
dari alveoli dibawa ke seluruh tubuh, sementara karbon dioksida yang dihasilkan oleh sel-sel
tubuh diangkut kembali ke alveoli untuk dikeluarkan saat ekspirasi (Qhastalani, et al., 2016).
Dengan demikian, proses ventilasi paru-paru dan peran kritis alveoli bekerja bersamasama untuk memastikan pasokan oksigen yang memadai ke darah dan pengeluaran karbon
dioksida dari tubuh, mendukung fungsi respirasi yang esensial untuk kehidupan.
13
FAKTOR YANG MEMENGARUHI TERJADINYA VENTILASI PARU-PARU
Aktivitas ventilasi paru-paru dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu (Lamtiar, R. & Saiallagan,
F., 2019) :
1. Aktivitas Otot Pernapasan:
Tingkat kontraksi otot-otot pernapasan, terutama diafragma dan otot-otot interkostal,
mempengaruhi volume rongga dada dan, oleh karena itu, ventilasi paru-paru. Aktivitas
otot yang lebih tinggi meningkatkan ventilasi.
2. Kapasitas Elastis Paru-paru:
Elastisitas paru-paru memengaruhi seberapa cepat paru-paru dapat mengembang dan
mengempis. Kehilangan elastisitas, seperti pada penyakit paru obstruktif kronis
(PPOK), dapat mengurangi ventilasi.
3. Tekanan Atmosfer:
Perbedaan tekanan antara atmosfer dan paru-paru memengaruhi aliran udara.
Penurunan tekanan atmosfer atau peningkatan tekanan dalam paru-paru dapat
meningkatkan ventilasi.
4. Kondisi Lingkungan:
Faktor-faktor seperti ketinggian tempat dan komposisi udara mempengaruhi tekanan
parsial oksigen dan karbon dioksida, yang dapat memodulasi ventilasi paru-paru.
5. Aktivitas Metabolik Tubuh:
Tingkat aktivitas fisik dan metabolisme tubuh dapat meningkatkan kebutuhan oksigen,
yang dapat memicu peningkatan ventilasi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
6. Kondisi Kesehatan:
Penyakit atau gangguan pernapasan, seperti asma atau pneumonia, dapat memengaruhi
kemampuan paru-paru untuk melakukan ventilasi dengan efisien.
7. Sistem Saraf:
Sistem saraf, khususnya sistem saraf otonom, dapat mengatur tingkat ventilasi paruparu. Misalnya, stimulasi saraf parasimpatis dapat menurunkan laju ventilasi.
8. Kapasitas Vital:
Kapasitas vital paru-paru, yang mencakup volume inspiratori maksimal dan volume
ekspiratori maksimal, mempengaruhi jumlah udara yang dapat dihirup atau dikeluarkan
dalam satu siklus pernapasan.
14
DIFUSI DAN PERFUSI DALAM SISTEM RESPIRASI
1. Pengertian Difusi:
Difusi adalah proses gerakan molekul gas, seperti oksigen dan karbon dioksida,
melintasi membran sel atau membran alveoli untuk mencapai keseimbangan
konsentrasi. Dalam konteks sistem respirasi, difusi terjadi di alveoli, di mana oksigen
dari udara dihirup beralih ke darah, dan karbon dioksida dari darah beralih ke udara
(Putra, A. & Astara M., 2016).
2. Mekanisme Difusi:
● Pada fase inspirasi, oksigen masuk ke dalam alveoli, menciptakan gradien konsentrasi
yang tinggi di dalam alveoli dan rendah di dalam kapiler darah di sekitarnya.
● Molekul oksigen bergerak dari konsentrasi tinggi (alveoli) ke konsentrasi rendah
(darah) melalui membran alveoli dan membran kapiler.
● Sebaliknya, karbon dioksida, yang dihasilkan oleh sel-sel tubuh, bergerak dari darah
yang kaya karbon dioksida menuju alveoli yang memiliki konsentrasi yang lebih
rendah.
3. Pengertian Perfusi:
Perfusi merujuk pada aliran darah melalui pembuluh darah ke jaringan dan organ.
Dalam konteks sistem respirasi, perfusi berkaitan dengan aliran darah yang mencapai
kapiler paru-paru di sekitar alveoli untuk memfasilitasi pertukaran gas (Laitupa, &
Amin, 2016).
4. Mekanisme Perfusi:
● Darah yang mengandung karbon dioksida mencapai kapiler paru-paru melalui
pembuluh darah.
● Pertukaran gas terjadi di antara alveoli dan kapiler, di mana oksigen masuk ke dalam
darah dan karbon dioksida keluar dari darah menuju alveoli.
● Darah yang diperkaya oksigen kemudian kembali ke jantung dan akan didistribusikan
ke seluruh tubuh untuk mendukung metabolisme sel dan fungsi organ.
Difusi dan perfusi bekerja bersama-sama untuk memastikan pertukaran gas yang efisien di
tingkat membran alveoli, menjaga keseimbangan oksigen dan karbon dioksida dalam darah,
dan mendukung kebutuhan oksigen tubuh serta pengeluaran karbon dioksida yang dihasilkan
oleh sel-sel.
15
VOLUME UDARA DAN KAPASITAS PARU-PARU
Pada dasarnya spirometer terdiri dari drum/tong terisi udara yang mengapung dalam
rang berisi air. Sewaktu seseorang menghirup dan menghembuskan udara dari dan ke dalam
drum melalui suatu selang yang menghubungkan mulut dengan wadah udara, drum naik
turun dalam wadah air
Volume udara paru-paru (Wasid, A. & Misbachus, 2021):
1. Volume Udara Tidal (VT): Volume udara yang diinspirasi atau diekspirasi dalam satu
siklus pernapasan normal. Biasanya berkisar antara 500-700 mililiter.
2. Volume Udara Sisa (ERV): Volume udara yang masih dapat diekspirasi setelah
ekspirasi normal. Ini berkisar antara 1000-1200 mililiter.
3. Volume Udara Cadangan Inspiratori (IRV): Volume udara maksimal yang dapat
diinspirasi setelah inspirasi normal. Biasanya sekitar 2500-3000 mililiter.
4. Volume Udara Cadangan Ekspiratori (ERV): Volume udara maksimal yang dapat
diekspirasi setelah ekspirasi normal. Ini berkisar antara 700-1200 mililiter.
Kapasitas Paru-paru (Syahda, AI., & Damayanti, I., 2016):
1. Kapasitas Vital Paru-paru (VC): Jumlah maksimal udara yang dapat diinspirasi dan
diekspirasi dalam satu siklus pernapasan maksimal. Ini adalah jumlah dari volume tidal,
volume cadangan inspiratori, dan volume cadangan ekspiratori.
2. Kapasitas Inspiratori Fungsional (IC): Jumlah maksimal udara yang dapat diinspirasi
setelah ekspirasi normal. Ini adalah jumlah dari volume tidal dan volume cadangan
inspiratori.
3. Kapasitas Residual Fungsional (FRC): Jumlah udara yang tetap ada dalam paru-paru
setelah ekspirasi normal. Ini adalah jumlah dari volume residu dan volume ekspirasi
sisa.
4. Kapasitas Paru-paru Total (TLC): Jumlah udara maksimal yang dapat diakomodasi oleh
paru-paru setelah inspirasi maksimal. Ini adalah jumlah dari volume inspiratori
maksimal dan volume paru-paru residu.
16
KELAINAN DAN PENYAKIT PADA SISTEM RESPIRASI
Gangguan pada pernafasan dapat disebabkan oleh adanya gangguan atau kelainan pada
organ penyusun sistem pernafasan. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh faktor keturunan,
kebiasaan merokok, penggunaan obat terlarang, oleh virus atau pun bakteri (Syofyan. 2018).
Pada beberapa orang memiliki faktor genetik berupa alergi yang dapat menimbulkan
penyempitan pada bronkus. Akibat penyempitan akan membuat kekurangan oksigen dan
merasa sesak nafas. Penyakit seperti ini lebih kita kenal sebagai asma.
Kebiasaan merokok sangat bepotensi besar dalam merusak paru-paru. Dalam rokok
terkandung nikotin yang bersifat racun dan dapat menimbulkan kanker atau karsinogenik.
Rokok juga dapat menyebabkan kita terserang bronkitis (Annashr et al. 2022). Bronkitis
merupakan peradangan pada bronkus. Radang pada bronkus ini akan membuat tubuh kita
menghasilkan lendir sebagi reaksi perlawanan terhadap penyakit yang masuk. Lendir pada
saluran bronkus akan menganggu jalannya pernafasan karena menimbulkan penyempitan pada
jalan udara yang masuk atau pun keluar dalam bronkus (Syofyan. 2018).
17
Beberapa kelainan dan penyakit pada sistem respirasi manusia antara lain sebagai
berikut:
1. Asma adalah gangguan pada rongga saluran pernapasan yang diakibatkan oleh kontraksi otot
polos pada trakea dan mengakibatkan penderita sulit bernapas. ditandai dengan kontraksi yang
kaku dari bronkiolus . Asma biasanya disebabkan oleh hipersensitivas bronkiolus (disebut
asma bronkiale) terhadap benda-benda asing di udara. penyebab penyakit ini juga dapat terjadi
dikarenakan faktor psikis dan penyakit menurun.
2. Tuberkulosis (TBC) : merupakan penyakit spesifik yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosae. Bakteri ini dapat menyerang semua organ tubuh, tetapi yang
paling sering adalah paru-paru dan tulang. Penyakit ini menyebabkan proses difusi oksigen
yang terganggu karena adanya bintik-bintik kecil pada dinding alveolus. Keadaan ini
menyebabkan : · Peningkatan kerja sebagian otot pernapasan yang berfungsi untuk pertukaran
udara paru-paru · Mengurangi kapasitas vital dan kapasitas pernapasan · Mengurangi luas
permukaan membran pernapasan, yang akan meningkatkan ketebalan membran pernapasan
sehingga menimbulkan penurunan kapasitas difusi paru-paru.
3. Faringitis : merupakan peradangan pada faring sehingga timbul rasa nyeri pada waktu
menelan makanan ataupun kerongkongan terasa kering. Gangguan ini disebabkan oleh infeksi
bakteri atau virus dan dapat juga disebabkan terlalu banyak merokok. Bakteri yang biasa
menyerang penyakit ini adalah Streptococcus pharyngitis.
18
4. Bronkitis : Penyakit bronkitis karena peradangan pada bronkus (saluran yang membawa
udara menuju paru-paru). Penyebabnya bisa karena infeksi kuman, bakteri atau virus.
Penyebab lainnya adalah asap rokok, debu, atau polutan udara.
5. Pneumonia : adalah peradangan paru-paru dimana alveolus biasanya terinfeksi oleh cairan
dan eritrosit berlebihan. Infeksi disebarkan oleh bakteri dari satu alveolus ke alveolus lain
hingga dapat meluas ke seluruh lobus bahkan seluruh paru-paru. Umumnya disebabkan oleh
bakteri streptokokus (Streptococcus), Diplococcus pneumoniae, dan bakteri Mycoplasma
pneumoniae.
6. Emfisema Paru-paru : disebabkan karena hilangnya elastisitas alveolus. Alveolus sendiri
adalah gelembung-gelembung yang terdapat dalam paruparu. Pada penderita emfisema,
19
volume paru-paru lebih besar dibandingkan dengan orang yang sehat karena karbondioksida
yang seharusnya dikeluarkan dari paru-paru terperangkap didalamnya. Asap rokok dan
kekurangan enzim alfa-1-antitripsin adalah penyebab kehilangan elastisitas pada paru-paru ini.
7. Dipteri : merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium
diphterial yang dapat menimbulkan penyumbatan pada rongga faring (faringitis) maupun laring
(laringitis) oleh lendir yang dihasilkan oleh bakteri tersebut
8. Asfiksi : adalah gangguan dalam pengangkutan oksigen ke jaringan yang disebabkan
terganggunya fungsi paru-paru, pembuluh darah, ataupun jaringan tubuh. Misalnya alveolus
yang terisi air karena seseorang tenggelam. Gangguan yang lain adalah keracunan karbon
monoksida yang disebabkan karena hemoglobin lebih mengikat karbon monoksida sehingga
pengangkutan oksigen dalam darah berkurang.
9. Kanker Paru-paru : Penyakit ini merupakan pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali
di dalam jaringan paru-paru. Kanker ini mempengaruhi pertukaran gas di paru-paru dan
menjalar ke seluruh bagian tubuh. Merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus
kanker paruparu pada pria dan sekitar 70% kasus pada wanita. Semakin banyak rokok yang
dihisap, semakin besar resiko untuk menderita kanker paru-paru. Tetapi tidak menutup
kemungkinan perokok pasif pun mengalami penyakit ini. Penyebab lain yang memicu penyakit
ini adalah penderita menghirup debu asbes, kromium, produk petroleum, dan radiasi ionisasi.
10. Laringitis : radang pada laring. Penderita serak atau kehilangan suara. Penyebabnya antara
lain karena infeksi, terlalu banyak merokok, minum alkohol, dan terlalu banyak serak.
11. Sinusitis : radang pada sinus. Sinus letaknya di daerah pipi kanan dan kiri batang hidung.
Biasanya di dalam sinus terkumpul nanah yang harus dibuang melalui operasi.
20
DAFTAR ISTILAH
bilirubin Pigmen empedu, yaitu produk sisa yang berasal dari penguraian hemoglobin sewaktu
pemecahan sel darah merah tua
bronkiolus Saluran napas halus bercabang di dalam paru
diafragma Suatu lembaran tot rangka berbentuk kubah yang membentuk dasar dari rongga
thoraks; otot inspiratorik utama eritrosit Sel darah merah, yaitu kantung hemoglobin
terbungkus membran plasma yang mengangkut O2 dan dalam derajat yáng lebih rendah, CO2
dan H+ dalam darah
esofagus Tabung lurus berotot yang terentang dari faring hingga lambung
hemoglobin Molekul protein besar berisi besi yang ditemukan di dalam eritrosit dan berikatan
serta mengangkut sebagian besar O2 dalam darah; juga mengangkut sebagian CO2
dan H+ dalam darah
homeostasis Pemeliharaan kondisi fisikokimia lingkungan cairan internal yang merendam selsel tubuh yang relatif stabil melalui aktivitas sistem tubuh yang sangat terpadu dan terkendali
kantung pleura Kantung tertutup berdinding rangkap yang memisahkan masing-masing paru
dari dinding choraks kapasitas vital Volume maksimal udara yang dapat dikeluarkan dalam
satu kali bernapas setelah inspirasi maksimal
kapiler Pembuluh darah paling halus yang berdinding tipis dan berpori, tempat terjadinya
pertukaran antara darah dan jaringan sekitar melalui dindingnya
Metabolisme Pertukaran bahan dan energi antara organisme dan lingkungan-nya dan
transpormasi bahan dan energi ini di dalam organisme tersebut
organ Unit struktural tersendiri yang terdiri dari dua jenis atau lebih jaringan primer yang
tersusun untuk melakukan satu atau lebih fungsi khusus; sebagai contoh, lambung
respirasi Keseluruhan proses-proses yang melaksanakan per-pindahan pasif terus-menerus O2
dari atmosfer ke jaringan, serra perpindahan pasif terus-menerus CO2 yang dihasilkan secara
metabolis dari jaringan ke atmosfer
respirasi internal Proses metabolik intrasel yang dilaksanakan di dalam mitokondria yang
menggunakan O2 dan menghasilkan CO2 selama pengambilan energi dari molekul nutrien
21
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, M., Zainuri, I. & Janes C. (2022). Pengaruh Pemberian Progressive Muscular
Relaxation (PMR) Terhadap Kadar Saturasi Oksigen Pada Pasien TBC. Perpustakaan
Universitas Bina Sehat : https://repositori.stikes-ppni.ac.id/handle/123456789/1141.
Airlangga, P. & Rahardjo, P. (2022). Anestesiologi dan Terapi Intensif Fisiologi Pernapasan.
https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=r0kEAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA18&dq=info:7TB_RMsoUMJ:scholar.google.com/&ots=ZntQOIds_6&sig.
Akhwan, N. (2019). Penurunan Tingkat Cemas Dengan Relaksasi Nafas Dalam. Universitas
Muhammadiyah Semarang.` 103/D3.Kep/I/2019
Annashr, N. N., Maharani, R., & Heriana, C. (2022). Faktor Yang Berhubungan Dengan
Gangguan Pernafasan Pada Pekerja Pt. X Kabupaten Sumedang. Prepotif: Jurnal
Kesehatan Masyarakat, 6(1), 554-563.
Laitupa, & Amin. (2016). Ventilasi dan Perfusi. Jurnal Respirasi, Vol. 2 No. (1), 29-34.
Lamtiar, R. & Saiallagan, F. (2019). Korelasi Indeks Massa Tubuh dengan Kapasitas Vital
Paksa Paru. Nommensen Journal of Medicine, Vol 5 No. (1), 11-13.
Munawir. (2020). Modul pembelajaran SMA biologi Kelas XI: sistem respirasi
Putra, A. & Astara M. (2016). Fisiologi Ventilasi dan Pertukaran Gas. Journal Respiratory,
Vol 1 No. (1), 30.
Qhastalany, Intarniati, & Miranti, P. (2016). Gambaran Hispatologi Pada Saluran Pernapasan.
Diponegoro University : https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5.
Syahda, AI., & Damayanti, I. (2016). Hubungan Kapasitas Vital Paru-Paru dengan Daya Tahan
Cardiorespiratory pada Cabang Olahraga Sepak Bola. Jurnal Terapan Ilmu
Keolahragaan (JTIKOR), Vol. 1 No. (1), 24-48.
Syofyan, H. (2018). Modul Biologi Dasar (Psd 113). Universitas Esa Unggul.
Tjitrosomo, H. BIOLOGI, Fifth Edition. Institut Pertanian Bogor.
Wasid, A. & Misbachus. (2021). Pengukuran Volume Paru-Paru Berbasis Mikrokontroler
Arduino. Jurnal Informatika dan Komputasi, Vol. 15, No. (01), 16-24.
Download