hubungan ketidakpatuhan pengobatan dan stigma pada keluarga

advertisement
450
Joesoef Simbolon : Hubungan Ketidakpatuhan Pengobatan dan Stigma .................................
WAHANA INOVASI
VOLUME 3 No.2
JULI-DES 2014
ISSN : 2089-8592
HUBUNGAN KETIDAKPATUHAN PENGOBATAN DAN
STIGMA PADA KELUARGA DENGAN PERAWATAN
KEMBALI PASIEN SKIZOFRENIA DI RSJ DAERAH
PROVINSI SUMATERA UTARA
Joesoef Simbolon
Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara
Jl. Karya Bakti No. 34 Medan
ABSTRACT
Schizophrenia is a chronic psychotic
disorder which always relapses. The data
obtained from the Medical Record of the
Mental Hospital of North Sumatera
Province showed that in 2013, 65% of
the patients of schizophrenia treated
experienced a relapse and caused their
rehospitalization. The high rate of relapse
in the patients of schizophrenia is
predicted to be related to medication nonadherence and family stigma.
The purpose of this explanatory
survey study was to analyze the
relationship between the medication nonadherence and family stigma and the
rehospitalization of the patients of
schizophrenia in the Mental Hospital of
North Sumatera Province. The population
of this study in 2013 were 956 families of
the patients of schizophrenia having
treatment in the Mental Hospital of North
Sumatera Province and 87 of them were
selected to be the samples for this study
through the non probability sampling and
consecutive techniques. The primary data
were obtained through questionnairebased interviews. The data obtained were
analyzed through univariate and bivariate
analysis by means of Chi-square test.
The result of this study showed that
medication non-adherence and family
stigma had significant relationship with the
rehospitalization of the patients of
schizopherenia in the Mental Hospital of
North Sumatera Province (p < 0.05).
The management of the Mental
Hospital of North Sumatera Province is
suggested (1) to improve the extension
program through family education focused
on expression in the family, and (2) to
make a policy focusing on the importance
of community empowerment in the
process of helping the recovery of the
patients of schizophrenia.
Keywords : Non-adherence,
Family
Stigma, Rehospitalization
PENDAHULUAN
Skizofrenia merupakan salah satu
gangguan jiwa berat. Pasien skizofrenia
seringkali memerlukan rawat inap di
rumah sakit dengan berbagai alasan.
Perawatan kembali pasien dengan
skizofrenia lebih tinggi bila dibandingkan
dengan pasien gangguan mental berat
lainnya. Medikasi dapat mengurangi
gejala 70% sampai 85% pada seseorang
yang pertama kali didiagnosis sebagai
skizofrenia namun 60% pasien akan
mengalami perawatan ulang (Linden,
2005).
American Psychiatric Association
(APA) (1995), menyebutkan bahwa 1%
populasi penduduk dunia menderita
skizofrenia. Penelitian yang sama oleh
WHO juga menjelaskan bahwa prevalensi
skizofrenia dalam masyarakat berkisar
antara satu sampai tiga per mil penduduk
dan di Amerika Serikat penderita skizofrenia lebih dari dua juta orang.
Skizofrenia lebih sering terjadi pada populasi urban dan pada kelompok sosial
ekonomi rendah (Sadock, 2004).
Menurut
hasil
penelitian
di
Indonesia, terdapat sekitar 1-2% penduduk yang menderita skizofrenia yang
berarti 2-4 juta jiwa dan dari jumlah
tersebut diperkirakan penderita skizofrenia yang aktif sekitar 700.000-1,4
juta jiwa. Menurut pendapat Irmansyah
(2006), bahwa penderita yang dirawat di
rumah sakit jiwa di Indonesia hampir 70%
karena skizofrenia (Wicakna, 2001).
Survey Kesehatan Mental Rumah
Tangga oleh Jaringan Epidemiologik
451
Joesoef Simbolon : Hubungan Ketidakpatuhan Pengobatan dan Stigma .................................
Psikiatrik Indonesia menjelaskan gangguan kesehatan jiwa berdasarkan lokasi
di Indonesia adalah sebagai berikut :
Bangli (Bali) 10,7%, Banjarmasin 15%,
Palembang 17,1%, Semarang 17,3%,
Solo 19,1%, Manado 19,1%, Padang
19,7%, Jakarta 20,0%, Bogor 20,6%,
Jambi 23,2%, Banda Aceh 24,1% (Bahar,
1995).
Kronisitas gangguan skizofrenia merupakan salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam
penatalaksanaan,
meskipun pengobatan farmakologik merupakan pilihan utama dalam penatalaksanaan. Hampir semua pasien skizofrenia kronis mengalami kekambuhan
berulang kali sehingga mengakibatkan
defisit ketrampilan personal dan vokasional. Kekambuhan dapat disebabkan
oleh ketidakpatuhan minum obat, gejala
yang refrakter terhadap pengobatan
peristiwa kehidupan yang menimbulkan
stres, kerentanan individu terhadap stres,
ekspresi emosi keluarga yang tinggi, serta
yang tidak kalah penting adalah dukungan
keluarga dalam penatalaksanaan penyakit
ini.
Perawatan kembali pasien skizofrenia disebabkan adanya hendaya akibat
penyakitnya, ketidakpatuhan terhadap
pengobatan dan efek samping pengobatan terutama extrapyramidal symptoms
(EPS), isolasi sosial, pendapatan yang
rendah serta tidak mempunyai tempat
tinggal. Prasangka (prejudice) dan stigma
yang menyertai pasien skizofrenia
menyebabkan kesulitan yang dihadapi
pasien skizofrenia bertambah. Kondisi
pasien ini menyebabkan keluarga bingung
dan terbebani. Keluarga menghadapi
masalah yang muncul secara dramatis
dan menimbulkan beban, berupa beban
subjektif maupun beban objektif bagi
pasien skizofrenia dan keluarganya.Bagi
pasien skizofrenia, hal tersebut menjadikan halangan untuk mendapat perlakuan yang layak, kesulitan dalam mencari pekerjaan dan sebagainya. Penelitian
yang dilakukan di Singapura memperlihatkan terdapat 73% responden mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan,
52% mengalami rendah diri dan 51% dimusuhi akibat menderita skizofrenia.
Sementara
bagi
keluarga
memiliki
anggota keluarga yang mengalami skizofrenia menimbulkan aib bagi keluarga
dan membuat mereka mengalami isolasi
sosial.
Menurut survey yang dilakukan oleh
Otto F Wahl (1999) menjelaskan masyarakat merupakan sumber stigma yang
utama. Adanya lelucon tentang rumah
sakit jiwa dan tentang penderita gangguan jiwa sangat sering dijumpai dalam
media
ataupun
pada
masyarakat.
Keluarga dan penderita yang seharusnya
terluka oleh lelucon tersebut kehilangan
hak untuk marah dan akhirnya terbawa
untuk ikut menikmatinya. Stigma jika
dibiarkan akan mengukuhkan pelecehan
masyarakat terhadap penderita. Masyarakat berhak menjauhi, mengucilkan,
menganggap penderita skizofrenia sebagai lelucon yang dapat dipermainkan dan diolok-olok (Irmansyah, 2001).
Masalah stigma, dalam penanggulangan pasien skizofrenia ternyata
masih merupakan kendala yang cukup
berarti. Pada berbagai kalangan, stigma
tersebut dapat tampak dalam bentuk
keinginan memasukkan setiap anggota
masyarakat yang dicurigai menderita
gangguan jiwa ke rumah sakit jiwa.
Mempunyai anggota keluarga yang
menderita skizofrenia bukanlah hal yang
mudah, sehingga peranan keluarga
sangat penting dalam penatalaksanaan
pasien (Durand, 2007).
Menurut data yang diperoleh dari
Medical Record Rumah Sakit Jiwa
Daerah Provinsi Sumatera Utara tahun
2007, pasien gangguan jiwa yang dirawat
berjumlah 1.487 orang, dari jumlah tersebut penderita skizofrenia adalah sebanyak 1.283 orang (88,15%).
Pada
tahun 2013 pasien gangguan jiwa yang di
rawat berjumlah 1.794 orang, dari jumlah
tersebut penderita skizofrenia sebanyak
1.643 orang (90,09%). Dari 1643 orang
pasien skizofrenia yang dirawat pada
tahun 2013
sebanyak 1593 orang
(96,76%) mengalami remisi, dan dari
jumlah tersebut penderita yang mengalami kekambuhan sebanyak 956 orang
penderita (65%). Data diatas menunjukkan adanya peningkatan pasien dengan
skizofrenia dari tahun ke tahun di Rumah
Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera
Utara dan juga menunjukkan tingginya
angka kekambuhan pada pasien skizofrenia (Medical Record RSJ Daerah
Provinsi Sumatera Utara, 2013).
Berdasarkan latar belakang tersebut,
maka penulis telah melakukan penelitian
yang berjudul “Hubungan Ketidakpatuhan
Pengobatan dan Stigma Pada Keluarga
452
Joesoef Simbolon : Hubungan Ketidakpatuhan Pengobatan dan Stigma .................................
Dengan Perawatan Kembali Pasien
Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah
Provinsi Sumatera Utara”.
Belum ada data tentang hubungan
ketidakpatuhan pengobatan dan stigma
yang dialami keluarga dengan perawatan
kembali pasien skizofrenia di Rumah
Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera
Utara.
METODE PENELITIAN
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan
penelitian survei Explanatory Research
dengan desain cross sectional yang
bertujuan menjelaskan hubungan antara
variabel-variabel penelitian melalui pengujian hipotesis (Sudigdo, 2002) yaitu
untuk mengetahui hubungan ketidakpatuhan terhadap pengobatan dan stigma
pada keluarga dengan perawatan kembali
yaitu frekwensi rawat inap dalam dua
tahun terakhir.
2. Lokasi dan Waktu Penelitian
2.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah
Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera
Utara, dengan alasan perawatan pasien
skizofrenia cenderung berulang apapun
bentuk sub tipe penyakitnya. Hampir
separuh pasien skizofrenia yang diobati
dengan pelayanan standar akan kambuh
dan membutuhkan perawatan kembali.
Kekambuhan pada pasien skizofrenia
dapat disebabkan karena ketidakpatuhan
terhadap pengobatan, stigma pada
keluarga dan tidak adanya dukungan
keluarga. Dukungan
keluarga sangat
penting dalam penatalaksanaan pasien
skizofrenia.
2.2. Waktu Penelitian
Penilitian dilakukan
2014.
MARET-MEI
3. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah
keluarga pasien skizofrenia yang mengalami kekambuhan yang dirawat di
Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi
Sumatera Utara dalam satu tahun yang
berjumlah 956 orang.
Sampel dalam penelitian ini adalah
keluarga pasien skizofrenia yang menjalani perawatan kembali di Rumah Sakit
Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara
yang berjumlah 87 orang.
4. Metode Pengumpulan Data
Data primer adalah data yang diperoleh melalui wawancara langsung yang
berpedoman pada kuesioner yang telah
disusun dan melakukan wawancara
kepada keluarga pasien skizofrenia yang
mencakup variabel independen yaitu :
ketidak patuhan pengobatan, stigma pada
keluarga, dengan variabel dependen
perawatan kembali yaitu frekwensi rawat
inap dalam dua tahun terakhir.
Data sekunder merupakan data yang
diperoleh dan catatan atau dokumen di
Medical Record di Rumah Sakit Jiwa
Daerah Provinsi Sumatera Utara yang
relevan dengan tujuan penelitian.
5. Variabel Penelitian
Variabel Independen/data demografik
dalam penelitian ini.
a. Keluarga pasien skizofrenia adalah
salah seorang anggota keluarga yang
merawat pasien, bertanggung jawab
terhadap kesehatan pasien dan dapat
mengambil keputusan berkaitan dengan pengobatan. Dapat tinggal serumah dengan pasien atau berdekatan rumah dan berinteraksi dengan pasien sekurang-kurangnya 10
jam per minggu. Bersedia ikut serta
dalam penelitian dan menanda
tangani lembar persetujuan responden tertulis.
b. Ketidakpatuhan terhadap pengobatan
adalah berbagai perilaku seperti
enggan mencari bantuan, menolak
pengobatan, tidak menepati perjanjian yang telah dibuat, kunjungan
yang
tidak teratur, terminasi dini
tanpa seizin dokter pengobatan dan
tidak mengikuti nasehat dokter seperti
mematuhi penggunaan obat, merubah gaya hidup.
c. Stigma pada keluarga adalah label
atau tanda tidak adanya penerimaan
sosial pada keluarga pasien skizofrenia dan masyarakat yang memandang negatif penyakit skizofrenia.
d. Umur adalah jumlah tahun hidup
yang dihitung sejak tanggal lahir
sampai dengan tahun terakhir pada
saat penelitian yang dinyatakan
dalam tahun.
453
Joesoef Simbolon : Hubungan Ketidakpatuhan Pengobatan dan Stigma .................................
e.
f.
Pendidikan adalah jenis pendidikan
terakhir yang pernah dijalani sampai
akhir jenjang pendidikan.
Pekerjaan adalah kegiatan rutin yang
dilakukan dan menghasilkan pendapatan.
Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian
ini adalah frekwensi perawatan dalam dua
tahun terakhir yaitu jumlah kunjungan
rawat inap yang dialami pasien dalam dua
tahun terakhir yang dapat diperolah dari
anamnesis pada keluarga dan catatan
medis pasien skizofrenia.
6. Metode Analisis Data
Analisis univariat untuk mengetahui
gambaran deskriptif dengan menampilkan
tabel frekwensi.
Analisis bivariat dilakukan untuk
mengetahui hubungan variabel independen ketidakpatuhan terhadap pengobatan, stigma pada keluarga dengan
variabel dependen perawatan kembali
pasien skizofrenia digunakan uji Chi
Square pada tingkat kepercayaan 95% (α
=0,05), sehingga bila ditemukan hasil
analisis statistik p<0,05 maka variabel
diatas dinyatakan mempunyai hubungan
secara signifikan.
HASIL PENELITIAN
Analisis Univariat
Karakteristik Responden
Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi umur, hubungan dengan
pasien, jenis kelamin, pekerjaan, dan
pendidikan. Hasil penelitian berdasarkan
karakteristik menunjukkan bahwa responden yang berumur diatas 40 tahun
ada 37 orang (42,5%) dan paling sedikit
berumur di bawah 30 tahun ada 19 orang
(21,8%). Pendidikan paling banyak SLTA
ada 60 orang (69%), dan paling sedikit
berpendidikan SD ada 1 orang (1,1%).
Jenis kelamin responden paling banyak
laki-laki ada 60 orang (69%) dan paling
sedikit perempuan ada 27 orang (31%).
Pekerjaan paling banyak wiraswasta ada
52 orang (59,8%), paling sedikit PNS ada
2 orang (2,3%). Hubungan dengan pasien
paling banyak sebagai saudara laki-laki
ada 30 orang (34,5%) dan paling sedikit
sebagai
ibu ada
2 orang (2,3%).
Karakteristik responden tersebut dapat
dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Individu
No Karakteristik Responden
N
1.
Jenis Kelamin
Laki-laki
60
Perempuan
27
Jumlah
87
2.
Umur
< 30 tahun
19
30 – 40 tahun
31
> 40 tahun
37
Jumlah
87
3.
Pendidikan
SD
1
SLTP
15
SLTA
60
Akademi
9
S1
2
Jumlah
87
4.
Pekerjaan
PNS
2
Wiraswsata
52
Tani
22
Karyawan Swasta
11
Jumlah
87
5.
Hubungan kekeluargaan dengan pasien
Ibu
2
Bapak
7
Persentase (%)
69,0
31,0
100,0
21,8
35,6
42,5
100,0
1,1
17,2
69,0
10,3
2,3
100,0
2,3
59,8
25,3
12,6
100,0
2,3
8,0
454
Joesoef Simbolon : Hubungan Ketidakpatuhan Pengobatan dan Stigma .................................
No
Karakteristik Responden
Anak
Saudara Perempuan
Saudara Laki-laki
Adik
Jumlah
Karakteristik Pasien Skizofrenia
Karakteristik pasien skizofrenia meliputi jenis kelamin, umur, agama, status
perkawinan, suku bangsa, pendidikan,
urutan anak dalam keluarga dan pengeluaran pasien tiap bulannya. Hasil penelitian berdasarkan karakteristik menunjukkan bahwa pasien paling banyak berjenis
kelamin laki-laki ada 60 orang (69%) dan
jenis kelamin perempuan ada 27 orang
(31%). Umur pasien paling banyak berumur 25-35 tahun ada sebanyak 37 orang
(42,6%) dan paling sedikit berumur di
bawah 25 tahun ada 19 orang (21,8%).
Pasien paling banyak beragama Islam
ada 58 orang (66,7%), dan paling sedikit
beragama Katolik ada 1 orang (1,1%).
Status perkawinan pasien paling banyak
dengan status kawin ada 50 orang
(57,5%) dan status tidak kawin ada 37
N
13
22
30
13
87
Persentase (%)
14,9
25,3
34,5
14,9
100,0
orang (42,5%). Pasien paling banyak
suku Batak ada 26 orang (29,1%) dan
paling sedikit pasien dengan suku Nias
ada 2 orang (2,3%). Pasien paling banyak
berpendidikan SLTP ada 32 orang
(36,8%), dan paling sedikit berpendidikan
S1 ada 6 orang (6,9%). Pasien paling
banyak tidak bekerja ada 76 orang
(87,4%), dan paling sedikit bekerja ada 11
orang (12,6%). Dalam urutan keluarga
paling banyak pasien anak ke 4 ada 24
orang (27,6%), dan paling sedikit anak ke
1 dan ke 7 masing-masing ada 5 orang
(5,7%). Pengeluaran pasien tiap bulannya
paling
banyak
berkisar
antara
Rp.250.000,- s/d Rp. 500.000,- ada 39
orang (44,8%) dan paling sedikit berkisar
antara Rp.100.000,- s/d 250.000,- ada 19
orang (21,8%). Karakteristik pasien
tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2. Distribusi Karakteristik Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Tahun 2009
Persentase
No
Karakteristik Pasien
n
(%)
1. Jenis Kelamin
Laki-laki
60
69,0
Perempuan
27
31,0
Jumlah
87
100,0
2
Umur
<25 Tahun
19
21,8
25 – 35 tahun
37
42,6
>35 tahun
31
35,6
Jumlah
87
100,0
3
Agama
Islam
58
66,7
Protestan
26
29,9
Katolik
1
1,1
Budha
2
2,3
Jumlah
87
100,0
4. Status Perkawinan
Kawin
50
57,5
Tidak kawin
37
42,5
Jumlah
87
100,0
5. Suku Bangsa
Melayu
7
8,0
Mandailing
23
26,4
Jawa
12
13,8
Batak
26
29,9
China
3
3,4
Aceh
5
5,7
455
Joesoef Simbolon : Hubungan Ketidakpatuhan Pengobatan dan Stigma .................................
No
Karakteristik Pasien
n
Jumlah
2
9
87
Persentase
(%)
2,3
10,3
100,0
Jumlah
11
32
29
9
6
87
12,6
36,8
33,3
10,3
6,9
100,0
Jumlah
76
11
87
87,4
12,6
100,0
5
6
15
24
22
10
5
87
5,7
6,9
17,2
27,6
25,3
11,5
5,7
100,0
29
39
19
0
87
33,3
44,8
21,8
0
100,0
Nias
Karo
6.
7.
8.
9.
Pendidikan
SD
SLTP
SLTA
Akademi
S1
Pekerjaan
Tidak Bekerja
Bekerja
Anak ke
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah
Pengeluaran Pasien (Bulan)
> Rp. 500.000,Rp. 250.000,- s/d Rp. 500.000,Rp. 100.000,- s/d Rp. 250.000,Rp. 50.000,- s/d Rp. 100.000,Jumlah
Kondisi Pasien Selama Perawatan
Kondisi pasien selama mendapatkan
perawatan pasien yang meliputi lama
menderita sakit, usia pada saat menderita
pertama kali, jumlah rawatan inap dalam
dua tahun terakhir, lama perawatan yang
terakhir, dan keadaan ketika pulang dari
perawatan. Berdasarkan hasil penelitian
diperoleh pasien yang menderita skizofrenia paling banyak diatas 2 tahun
ada 59 orang (67,9%), paling sedikit
kurang dari 2 tahun ada 28 orang
(32,1%). Usia pada saat menderita
pertama kali paling banyak antara 25-29
tahun ada 27 orang (31%), dan paling
sedikit berusia 16 – 19 tahun ada 11
orang (12,6%). Usia pasien pada saat
pertama kali di rawat paling banyak
berusia 25 – 29 tahun ada 26 orang
(29,9%), dan paling sedikit saat pertama
kali dirawat pada usia 16 – 19 tahun ada
10 orang (11,5%). Pasien yang di rawat
inap dalam dua tahun terakhir paling
banyak 3-4 kali ada 42 orang (48,3,%)
dan paling sedikit kurang dari 2 kali ada
15 orang (17,2%). Perawatan yang
dilakukan terakhir kali pada pasien
skizofrenia paling banyak lebih dari 1
tahun ada 45 orang (51,7%), dan paling
sedikit kurang dari 6 bulan ada 14 orang
(16,1%). Lama perawatan yang dilakukan
terakhir kali 6 bulan – 1 tahun ada 36
orang (41,4%). Keadaan pasien setelah
pulang dari rawatan paling banyak dalam
kondisi membaik ada 54 orang (62,1%),
dan paling sedikit dalam kondisi tetap ada
10 orang (11,5%).
456
Joesoef Simbolon : Hubungan Ketidakpatuhan Pengobatan dan Stigma .................................
Tabel 3. Distribusi Berdasarkan Kondisi Pasien Skizofrenia Selama Perawatan di
Rumah Sakit Jiwa Tahun 2009
Persentase
No
Kondisi Pasien Skizofrenia
n
(%)
1
Lamanya Pasien Menderita Skizofrenia
< 2 tahun
28
32,1
>2 tahun
59
67,9
Jumlah
87
100,0
2.
Usia pada saat menderita pertama kali
> 35 tahun
15
17,2
30 – 35 tahun
19
21,8
25 – 29 tahun
27
31,0
20 – 24 tahun
15
17,2
16 – 19 tahun
11
12,6
Jumlah
87
100,0
3.
Usia Pada Saat Pertama Kali Dirawat
> 35 tahun
15
17,2
30 – 35 tahun
19
21,8
25 – 29 tahun
26
29,9
20 – 24 tahun
17
19,5
16 – 19 tahun
10
11,5
Jumlah
87
100,0
4.
Jumlah rawat inap dalam 2 tahun terakhir
< 2 kali
15
17,2
2 – 4 kali
42
48,3
> 4 kali
30
34,5
Jumlah
87
100,0
5.
Lama perawatan yang terakhir
< 6 bulan
20
23,0
6 bulan – 1 tahun
36
41,4
> 1 tahun
31
35,6
Jumlah
87
100,0
6.
Keadaan setelah pulang dari rawatan
Memburuk
10
11,5
Tetap
23
26,4
Membaik
54
62,1
Jumlah
87
100,0
Ketidakpatuhan Pasien Skizofrenia
Terhadap Pengobatan
Ketidakpatuhan pasien skizofrenia
terhadap pengobatan yang meliputi
alasan dirawat kembali, di rawat setelah
tidak minum obat, jenis obat yang dimakan, alasan tidak makan obat dan
faktor ketidakpatuhan. Dari hasil penelitian diperoleh alasan pasien skizofrenia
dirawat paling banyak karena gejala
terlihat kembali pada keadan semula/
bertambah ada 71 orang (81,6%) dan
paling sedikit karena tidak ada yang
merawat pasien skizofrenia ada 6 orang
(6,9%). Pasien yang dirawat setelah tidak
minum obat paling banyak kurang dari 6
bulan ada 64 orang (73,6%), dan paling
sedikit 6 bulan s/d 2 tahun ada 23 orang
(26,4%). Untuk jenis obat yang diminum
pasien skizofrenia paling banyak 2
sampai 3 jenis obat ada 49 orang
(56,3%), dan paling sedikit minum 1 jenis
obat ada 6 orang (6,9%). Alasan pasien
skizofrenia tidak minum obat paling
banyak disebabkan karena pasien menganggap dirinya sudah sembuh ada 76
orang (87,4%), paling sedikit alasannya
karena karena keluarga menganggap
pasien sudah sembuh tanpa berkonsultasi ada 4 orang (4,6%).
Faktor ketidakpatuhan pasien skizofrenia disebabkan karena sehubungan
dengan pasien paling banyak yang menjawab ”ada” 48 orang (55,2%), dan paling
sedikit menjawab ”tidak ada” 39 orang
(44,8%). Sehubungan dengan pengobatan/efek samping paling banyak menjawab ”ada” 57 orang (65,5%), dan paling
457
Joesoef Simbolon : Hubungan Ketidakpatuhan Pengobatan dan Stigma .................................
sedikit menjawab ”tidak ada” 30 orang
(34,5%). Sehubungan dengan dukungan
lingkungan paling banyak menjawab ”ada”
48 orang (55,2%), dan paling sedikit
menjawab ”tidak ada” 39 orang (44,8%).
Sehubungan dengan dokter paling
banyak menjawab ”tidak ada” 60 orang
(69%), dan paling sedikit ”ada” 37 orang
(31%).
Ketidakpatuhan pasien skizofrenia
terhadap pengobatan paling banyak tidak
patuh ada 59 orang (67,8%) dan paling
sedikit patuh terhadap pengobatan ada 28
orang (32,2%).
Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Ketidakpatuhan Pengobatan Pasien
Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Tahun 2009
Persentase
No
Ketidakpatuhan
n
(%)
1.
Alasan tidak mau berobat secara teratur
Keluarga tidak siap mempunyai anggota keluarga yang sakit
71
81,6
jiwa.
Merupakan penyakit akibat guna guna.
10
11,5
Penyakit yang tidak bisa disembuhkan.
6
6,9
Jumlah
87
100,0
2.
Ketidakpatuhan bisa terjadi setelah minum obat teratur
selama
Lebih dari 2 tahun
64
73,6
6 bulan s/d 2 tahun
23
26,4
Kurang dari 6 bulan
0
0,0
Jumlah
87
100,0
3
Jenis obat yang diminum
>4 jenis
32
36,8
2 jenis s/d 3 jenis
49
56,3
1 jenis
6
6,9
Jumlah
87
100,0
4
Alasan menolak minum obat
Pasien menganggap dirinya sudah sembuh
76
87,4
Efek samping obat
7
8,0
Keluarga menganggap pasien sudah sembuh tanpa
4
4,6
berkonsultasi
Jumlah
87
100,0
5.
Ketidakpatuhan pasien
Tidak patuh
59
67,8
Patuh
28
32,2
Jumlah
87
100,0
6.
Faktor ketidakpatuhan
a. Sehubungan dengan pasien
- Ada
48
55,2
- Tidak ada
39
44,8
Jumlah
87
100,0
b. Sehubungan dengan pengobatan/efek samping
- Ada
57
65,5
- Tidak ada
30
34,5
Jumlah
87
100,0
c. Sehubungan dengan dukungan lingkungan
- Ada
48
55,2
- Tidak ada
39
44,8
Jumlah
87
100,0
d. Sehubungan dengan dokter
- Ada
27
31,0
- Tidak ada
60
69,0
Jumlah
87
100,0
458
Joesoef Simbolon : Hubungan Ketidakpatuhan Pengobatan dan Stigma .................................
Stigma Anggota Keluarga Terhadap
Pasien Skizofrenia
Stigma anggota keluarga terhadap
pasien dari tiap-tiap item pertanyaan yaitu
pada item pertanyaan tentang khawatir
diperlakukan berbeda paling banyak
jawaban dengan kategori sangat sering
ada 46 orang (52,9%), dan paling sedikit
tidak sama sekali ada 8 orang (9,2%).
Pada item pertanyaan tentang khawatir
orang-orang akan mengetahui masalah-
nya paling banyak jawaban dengan
kategori sangat sering ada 43 orang
(49,4%) dan paling sedikit dengan
kategori tidak sama sekali ada 8 orang
(9,2%). Pada item pertanyaan tentang
merasa perlu menyembunyikan kenyataan paling banyak jawaban dengan
kategori sangat sering ada 50 orang
(57,5%) dan paling sedikit dengan
kategori kadang-kadang ada 8 orang
(9,2%).
Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Stigma Anggota Keluarga di Rumah Sakit
Jiwa Tahun 2009
No
Stigma Anggota Keluarga
Jumlah
Persentase
Ringan
7
8,0
Sedang
33
37,9
Berat
47
54,0
Jumlah
87
100,0
Frekuensi
Rawat
Inap
Pasien
Skizofrenia
Frekuensi rawat inap pasien skizofrenia paling banyak lebih dari 2 kali
ada 63 orang (72,4%) dan paling sedikit
kurang atau sama dengan 2 kali ada 24
orang (27,6%). Frekuensi rawat inap
pasien skizofrenia dapat dilihat pada tabel
berikut ini :
Tabel 6. Distribusi Pasien Skizofrenia Berdasarkan Frekuensi Rawat Inap di Rumah
Sakit Jiwa Tahun 2009
No
Frekuensi Rawat Inap
Jumlah
Persentase
Rendah (≤ 2 kali)
24
27,6
Tinggi (> 2 kali)
63
72,4
Jumlah
87
100,0
Analisis Bivariat
Hubungan
Ketidakpatuhan
Pasien
Skizofrenia Dengan Frekuensi Rawat
Inap
Adanya hubungan ketidakpatuhan
pasien skizofrenia dengan frekuensi rawat
inap diperoleh yaitu pasien yang tidak
patuh maka frekuensi rawat inap akan
lebih dari dua kali sebanyak 59 orang
(100%), pasien yang patuh maka frekuensi rawat inap kurang atau sama
dengan dua kali sebanyak 24 orang
(85,7%). Pada pasien yang patuh frekuensi rawat inapnya lebih dari dua kali
sebanyak 4 orang (14,3%). Hasil uji chisquare variabel ketidakpatuhan pasien
skizofrenia dengan frekuensi rawat inap
diperoleh p = 0,000 < 0,05, artinya terdapat hubungan signifikan ketidakpatuhan pasien skizofrenia dengan frekuensi rawat inap, dimana ketidakpatuhan
pengobatan akan mengakibatkan frekuensi rawat inap yang tinggi.
Tabel 7. Distribusi Ketidakpatuhan Pengobatan Dengan Frekuensi Rawat Inap Pasien
Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Tahun 2009
Frekuensi rawat Inap
KetidakNo
Jumlah
X²
P
Rendah
Tinggi
patuhan
(< 2 kali)
(> 2 kali)
1.
Tidak patuh
0
0,0
59
100,0
59
100,0
65,612
0,000
2.
Patuh
24
85,7
4
14,3
28
100,0
Jumlah
24
27,6
63
72,4
87
100,0
459
Joesoef Simbolon : Hubungan Ketidakpatuhan Pengobatan dan Stigma .................................
Hubungan Stigma Pada Keluarga
Dengan Frekuensi Rawat Inap Pasien
Skizofrenia
Hubungan stigma pada keluarga
dengan frekuensi rawat inap pasien
skizofrenia dari hasil penelitian diperoleh
stigma pada keluarga paling banyak
dengan kategori di atas rata-rata (derajat
berat) pada frekuensi rawat inap lebih dari
dua kali sebanyak 47 orang (100%).
Stigma pada keluarga paling sedikit
dengan nilai rata-rata (derajat sedang)
pada frekuensi rawat inap kurang dari dua
kali sebanyak 5 orang (71,4%), dan
stigma derajat sedang pada frekuensi
rawat inap lebih dari dua kali sebanyak 2
orang (28,6%).
Tabel 8. Distribusi Stigma Anggota Keluarga Dengan Frekuensi Rawat Inap pada
Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Tahun 2009
Frekuensi rawat Inap
No
Stigma
Jumlah
X²
P
Rendah
Tinggi
(< 2 kali)
(> 2 kali)
1. Berat
0
0,0
47
100,0
47
100,0
39,498
0,000
2. Sedang
5
71,4
2
28,6
7
100,0
3
Ringan
19
57,6
14
42,4
33
100,0
24
27,6
63
72,4
87
100,0
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Adanya faktor ketidakpatuhan sehubungan dengan pasien (55,2%),
sehubungan dengan pengobatan
(65,5%) dan lingkungan (55,2%)
adalah merupakan bagian dari ketidakpatuhan pengobatan sedangkan
faktor yang sehubungan dengan
dokter (69.9%) tidak ada dilaporkan
oleh responden.
2. Keluarga yang menjadi responden
mengalami stigma 72,4 % yaitu
stigma derajat berat (100%), stigma
derajat ringan (42,4%) dan stigma
derajat sedang (28,6%) pada frekuensi rawat inap yang tinggi (> 2
kali). Pada frekuensi rawat inap yang
rendah (≤ 2 kali) keluarga juga mengalami stigma 27,6% yaitu stigma
derajat ringan (57,6%) dan stigma
derajat sedang (71,4%).
3. Adanya hubungan ketidakpatuhan
pengobatan dan stigma pada keluarga (p<0,05) mempunyai hubungan yang signifikan dengan frekwensi rawat inap pasien skizofrenia.
2.
3.
4.
5.
Saran
1. Perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan program-program penyuluhan
berupa edukasi keluarga yang ditekankan pada dukungan keluarga
sebagai primary support group dan
pengurangan expressed emotion
dalam lingkungan keluarga untuk
mencegah kekambuhan yang menyebabkan tinggi frekuensi rawat inap
pasien skizofrenia.
Adanya upaya melibatkan pasien
dalam bersosialisasi/rehabilitasi dan
upaya melibatkan tilikan yang baik
sehubungan dengan keadaan pasien
pada saat ini yang secara bersamaan
juga akan meningkatkan kepatuhan
pasien dalam menghadapi proses
terapi yang harus dijalani.
Adanya stigma keluarga dan pasien
harus dikoreksi, dengan memberikan
penyuluhan sehingga semua proses
terapi dapat dilakukan dengan baik
untuk mengurangi kekambuhan dan
mempercepat kesembuhan.
Rumah Sakit Jiwa sebagai suatu
instansi kesehatan jiwa harus lebih
aktif memberikan penyuluhan dan
edukasi tentang penyakit skizofrenia,
cara pemberian obat dan efek
samping serta peningkatan kognitif,
sosial dan kapasitas kerja pasien
melalui program rehabilitasi yang ada
di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi
Sumatera Utara.
Masyarakat hendaknya mau mengerti, memahami dan menolong
pasien serta keluarga dalam menghadapi situasi yang terjadi di lingkungannya, sehingga pasien dan
keluarga merasa diterima dan dihargai apa adanya dengan demikian
460
Joesoef Simbolon : Hubungan Ketidakpatuhan Pengobatan dan Stigma .................................
kekambuhan dapat dicegah atau tidak
terjadi.
6. Disarankan untuk dilakukan penelitian
lebih lanjut dengan waktu yang lebih
lama dan jumlah sampel yang lebih
besar agar didapatkan hasil yang
lebih signifikan.
DAFTAR PUSTAKA
Amir N. 2004. Penggunaan Antipsikiotik
Generasi Kedua (APG-II) LongActing Pada Pasien Skizofrenia
Dengan Kepatuhan Parsial. Dalam
Kumpulan Makalah Ilmiah Konfrensi
Nasional Skizofrenia III.
Amir N. 2013. Mengenal Skizofrenia Lebih
Jauh. Mitra Skizofrenia. Seksi
Skizofrenia PP IDAJI. Edisi 1, JuliSeptember.
Andriza. 2007. Faktor Resiko untuk
Terjadinya Relaps Pada Pasien
Skizofrenia di RSJ Tampan Propinsi
Riau. Tesis
Ayuso-Guiterrez JL, Rio Vega JM. 1997.
Factors Influencing Relapse in The
Long-Term Course of Schizophrenia.
Schizophrenia Research 28; p.199206
Buchanan A. 1998. Treatment Compliance in Schizophrenia. Advance in
Psychiatric Treatment. Vol 4; p227239
Buchanan RW, Carpenter WT. 2005.
Concept of Schizopherenia. In:
Sadock BJ, Sadock VA, eds. Kaplan
& Sadock’s Chomprehensive Texth
book of Psychiatry. 8 ed. Philadelpia: Lipincott Williams & Wilkins,
p.1329
Durand VM, Barlow DH. 2007. Skizofrenia
dan gangguan psikotik lainnya.
Pustaka Pelajar; p227-267
Fenton
WS.
2005.
Schizophrenia:
Integrative Treatment and Functional
Outcomes. In: Sadock BJ, Sadock
VA, eds. Kaplan & Sadock Comprehensive Texbook of Psychiatry.
th
8
ed, vol 1B. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins,
p.1498-99.
Fleischacker WW, Oehl MA, Hummer M.
2003. Factor Influencing Compliance
in Schizophrenia Patients. J Clin
Psychiatry; 64 (suppl 16).p.10-3
Geddes J. 2013. Prevention of Relapse
in Schizophrenia. N. Engl J Med, Vol
346, No. 1 – January 3, 2002.
Avaible from http:/www.nemj.org on
may 1,
Irmansyah. 2001. Pengucilan, Stigma dan
Diskriminasi
pada
Penderita
Skizofrenia. Seksi Skizofrenia. Edisi
Juli-September.
Kane JM, 2013. An Evidence-Based
Strategy
for
Remission
in
Schizophrenia. J Clin Psychiatry; 69
(suppl 3).p.25-30.
Kazadi NJB, Moosa M Ytt, Jeenah FY.
2013. Factors as Sociated With
Relaps In Schizophrenia. SAJP; Vol
14 no 2; 52-60Riuwan. 2005.
Panduan Penyusunan Penelitian
Kesehatan. Jakarta Rineka Cipta.
Kinon BJ, Hill AL, Liu H, Walker SK. 2003.
Olanzapine Orally Disintegrating
Tablets in the Treatment of Acutely
III Non-Compliant Patients with
Schizophrenia International Journal
of
Neuropsychopharmacology;
6.p.97-102
Lauriello J, Bustillo JR, Keith SJ.
Schizophrenia: 2005. Scope of the
Problem. In: Sadock BJ, Sadock VA,
eds. Kaplan & Sadock’s Compreth
hensive Texboox of Psychiatry. 8
ed, vol 1B Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins, p.1345-53.
Linden M, Godemann F, Gaebel W,et al.,
2001. A Prospective Study of
Factors Influencing Adherence to a
Continuous Neuroleptic Treatment
Program in Schizophrenia Patients
During 2 years. Schizofrenia Bulletin;
27,4.p.585-96
461
Joesoef Simbolon : Hubungan Ketidakpatuhan Pengobatan dan Stigma .................................
Pratt SI, Mueser KT, Driscoll M, Wolfe R,
Bartels
SJ.
2006.
Medication
Nonadherence in Older People with
Serious Mental illness; Prevalence
and
Correlates.
Phychiatric
Rehabilitation Journal ; Spring; 29;4.
P.299-309
Sadock BJ, Sadock VA. 2003. Synopsis
th
of Psychiatry. 9 ed. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.p.1012;471-504.
Sena EP de et al. 2003. Relapse in
Patients With Schizophrenia: a
comparison between risperidone and
haloperidol. Rev Bras Psiquiatr;
25(4):220-23
Sudigdo S. 2002. Dasar-dasar Metodologi
Penelitian Klinis. CV. Sagung Seto.
Edisi ke 2
Tattan TM, Creed FH. 2001. Negative
Symptom of Schizophrenia and
Compliance
with
Medication.
Schizophrenia Bulletin; 27,1.p149-55
Wicakna Inu. 2001. Cognitive Behaviour
Therapy, Skizofrenia. Perusahaan
Jawatan. Mitra Edisi 1; p20-2.
Download