04.0_Apakah SEI Dapat Dipertanggungjawabkan Secara

advertisement
Apakah Sistem Ekonomi Islam
Dapat Dipertanggungjawabkan
Secara Ilmiah ?
PENDAHULUAN
-Bab ini membahas/menjawab keraguan dari sebagian
kalangan tentang kebenaran Islam dan sistem Ekonomi
Islam,
-Sebab Segala sesuatu yang diberi label “Islam” biasanya
selalu diidentikan dengan sesuatu yang bersifat subyektif
dan tidak ilmiah. Karena sesuatu yang bersifat subyektif
dan tidak ilmiah inilah dianggap-nya tidak rasional
sehingga JAUH DARI KEBENARAN.
-penyebutan tidak ilmiah juga dikarenakan Islam
mengikutsertakan wahyu Tuhan (Allah SWT) dalam
pemecahan masalah kehidupan manusia
-Oleh sebab itu, perlu di jawab dari judul bab kali ini
-dalam Sistem Ekonomi Islam perlu adanya pembahasan
secara mendalam terhadap ranah ilmiah, khususnya
“kebenaran” itu sendiri yang mampu dicapai oleh Islam.
Sub-Bab yang di Bahas:
1. Kebenaran menurut manusia, sesungguhnya apa dan
bagaimana?
2. Tingkatan-tingkatan kebenaran yang mampu dicapai
manusia itu sampai sejauh mana dlm sub-bab ini
kebenaran ilmiah akan dibahas secara mendalam.
3. Kebenaran ilmiah yang mampu dicapai oleh Islam
dlm sub-bab ini posisi dari sistem ekonomi Islam akan
ditunjukkan secara khusus.
Apakah “Benar” itu ?
1. Produk pemikiran manusia disebut masuk kategori
ilmiah sangat ditentukan oleh definisi benar.
2. Termasuk bangunan ilmu pengetahuan yg dilahirkan
manusia disebut ilmu pengetahuan yang ilmiah, alat
ukurnya adalah apa yang dimaksud dengan “benar”
3. Jika manusia tidak tepat dalam mendefinisikan tentang
“benar,” maka manusia tidak akan pernah memperoleh
kebenaran selamanya.
Apakah “Benar” itu ?
1. Segala proses yang dilakukan manusia sangat
ditentukan oleh pengetahuan manusia itu sendiri
terhadap definisi “benar”.
2. Benar menurut manusia ialah suatu pernyataan yang
sama dengan kenyataan. Contohnya; jika ada orang
yang mengatakan bahwa “gunung itu ada”, pernyataan
itu dikatakan “benar” apabila pada kenyataan gunung
itu benar-benar ada, dan pernyataan itu dapat
dikatakan “salah” apabila gunung itu ternyata tidak
ada.
Apakah “Benar” itu ?
1. Itulah yg dimaksud benar menurut manusia yaitu
PERNYATAAN = KENYATAAN
2. Benar menurut manusia adalah nyata (empirisme), jika tidak
empiris maka tidak benar.
3. Kalau sudah benar, berarti itu ilmiah, karena pengetahuan
terkategori ilmiah, pengetahuan itu syaratnya harus benar.
4. Setelah manusia tahu tentang definisi benar, maka ternyata ada
banyak hal yang ingin diketahui manusia selanjutnya.
5. Berkaitan dengan banyaknya pengetahuan yg ingin
diketahui dan diperoleh manusia, maka dapatlah
dibuat tingkatan-tingkatan pengetahuan yg dapat
dicapai oleh manusia.
PENGETAHUAN TINGKAT 1
PENGETAHUAN
TINGKAT 1
1. Ciri utamanya adalah keinginan dari manusia untuk
mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan
obyek-obyek yang terindera secara langsung.
2. Sehingga disebut PENGETAHUAN LANGSUNG/KEBENARAN
LANGSUNG
3. Selain itu, untuk memperoleh pengetahuan ini,
manusia harus memiliki 4 syarat dasar yang
menjadikannya sebagai manusia yang sudah mampu
berfikir (berakal=akal yang sempurna)
SYARAT BERFIKIR
1.
2.
3.
4.
ADA FAKTA YANG TERINDERA
ADA INDERA-INDERA
ADA OTAK
ADA INFORMASI SEBELUMNYA
(MA’LUMAT ASSABIQOH)
1. ADA FAKTA YANG TERINDERA
BUROQ
BERFIKIRLAH TENTANG BUROQ
BUROQ JAMAN NABI
BUROQ JAMAN SEKARANG
APAKAH ITU BUROQ?
2. ADA INDERA
1.
2.
3.
4.
5.
PENGLIHATAN
PENDENGARAN
PENCIUMAN
PENGECAP
PERABA
SYARAT MINIMAL
BERFIKIR
BISAKAH
BERFIKIR?
3. ADA OTAK
HARUS ADA
OTAK TIDAK
SAMA DENGAN
AKAL
4. ADA INFORMASI SEBELUMNYA
BISAKAH TARZAN BERFIKIR:
SAYA INGIN MAKAN DAGING
GORENG?
TIDAK BISA!
PERLU MA’LUMAT
SEBELUMNYA
PENGETAHUAN
TINGKAT 1
1. Cara kerja dari keempat syarat tersebut (proses
befikir) ialah dari obyek (benda tertentu) yang
ditangkap oleh indera secara langsung, kemudian
direfleksikan ke otak, bertemu dengan memori otak
(informasi sebelumnya yang telah disimpan tentang
obyek itu), sehingga menghasilkan pemahaman.
2. Selanjutnya, nilai kebenaran yang dihasilkan dari
proses ini ialah “pasti benar”.
3. Contoh , jika manusia melihat meja,maka dia faham
bahwa itu meja (bisa membedakan dengan kursi dan
benda lainnya), maka pengetahuan ini pasti benar.
Cara kerja pengetahuan tingkat 1
•
1.
2.
3.
4.
Aqal = pemikiran =
kesadaran, memiliki 4
syarat:
Fakta yang terindera
Indera-indera
Otak
Informasi sebelumnya
(ma’lumat as-sabiqoh)
dikaitkan
Faham
PEMIKIRAN TINGKAT I
(kebenaran langsung)
PERINGKAT KEILMUAN
ILMU
PENGETAHUAN
TINGKAT I
MEMPEROLEH
KEBENARAN LANGSUNG
FAKTA
MAKLUMAT
FAHAM
Itu adalah kebenaran langsung
(pengetahuan tk. 1)!
• Bagaimana jika manusia ingin membenarkan
sesuatu yang tidak kelihatan?
• Ingin mengetahui sesuatu di balik tembok?
• Ingin tahu yang ada di dalam tanah?
• Ingin tahu yang ada di dalam samudra?
• Ingin tahu kandungan bumi?
• Ingin tahu yang ada di balik langit?
• Ingin tahu apakah surga itu ada?
• Ingin tahu apakah Tuhan itu ada?
BAGAIMANA CARA
MENGETAHUINYA?
KITA IKUTI SEGMEN SELANJUTNYA...
PENGETAHUAN TINGKAT 2
Pengetahuan Tingkat II
O Dalam pengetahuan, terdapat obyek-obyek yang tidak dapat
terindera secara langsung (obyek ghaib), yaitu :
1. Sesuatu yang tersembunyi
2. Suatu kejadian di masa lampau
3. Sesuatu kejadian di masa yang akan datang
O Syarat untuk mencapai pengetahuan tingkat II ini , yaitu : Harus
ada dalil yang terindera langsung. Dalil artinya penunjuk.
 Selanjutnya, nilai kebenaran dari pengetahuan tingkat II ini ada 3
kemungkinan, yaitu :
1. Pasti benar (wajib aqli)
2. Mungkin benar (jaiz aqli)
3. Pasti salah (mustahil aqli)

1.
2.
3.
4.
Memikirkan
yang ghoib :
Tersembunyi
Terhalang
Lampau
Yang akan
datang


1.
2.
DALIL
3.
BENAR
SYARAT DALIL :
Harus terindera secara
langsung (pemikiran
Tk. I)
PENILAIAN DALIL :
Hanya 1 alternatif
membenarkan: pasti
benar (wajib aqli)
Lebih dari 1 alternatif
membenarkan:
mungkin benar
mungkin salah
(jaiz aqli)
Tidak ada alternatif
membenarkan: pasti
salah (mustahil aqli)
Pengetahuan Tingkat II..Lajtan
O Untuk memperoleh kebenaran yang pasti dalam masalah yang
ghaib, dapat ditempuh dengan menggunakan metode aqliyah.
O Namun dalam perkembangan Selanjutnya, dalam metode aqliyah
terdapat metode ilmiah yang merupakan upaya lanjutan sebagai
penelitian untuk mengkaji syarat dari tingkat ini, yaitu dalil yg
terindera. Karena metode ilmiah hanya dapat menggunakan dalil yg
terindera saja.
O Untuk mengkaji dalil yg terindera dilakukan proses yg dikenal
dengan riset/penelitian dgn menggunakan METODE ILMIAH atau
metode eksperimental.
O Dalam metode ilmiah ini pun terdapat tambahan tahapan berupa
pengujian ilmiah.
O Pengujian ilmiah adl sebuah proses uji coba terhadap suatu obyek di
laboratorium.
Pengetahuan Tingkat II..Lajtan
O Metode ilmiah memang dapt diandalkan untuk mengetahui berbagai
rahasia alam.
O Namun sayangnya metode ilmiah dijadikan oleh para ilmuwan
sebagai metode satu-satunya untuk memperoleh kebenaran.
Sedangkan metode aqliyah sebagai induknya ditinggalkan.
O Akibatnya, metode ilmiah tdk hanya digunakan utk meneliti obyekobyek alam saja (yg bisa diteliti di laboratorium), namun juga utk
meneliti obyek-obyek sosial kemanusiaan-kemasyarakatan.
O Padahal Obyek obyek-obyek sosial kemanusiaan-kemasyarakatan
tidak dapat diteliti oleh skala laboratorium yang ada, sehingga perlu
adanya pengetahuan lain, dengan metode lain tentunya, untuk
menjawab persoalan hidup manusia yang tidak dapat terjamah oleh
pengetahuan ilmiah. Disinilah peran pengetahuan agama
dibutuhkan oleh manusia untuk menjawab persoalan yg terkait
obyek sosial kemanusiaan-sosial kemasyarakatan.
O Hasil pengetahuan dari metode ilmiah disebut ilmu-ilmu murni
seperti, ilmu kimia, biologi, fisika, matematika, dsb.
+/- 95% = Ghalabatu Dzon/diduga kuat
100% = Yaqin/benar
+/- 75% = Dzon/dugaan
mengetahui sesuatu yang kemungkinan
benarnya lebih besar daripada salahnya.
+/- 50% = Syak/ragu
mengetahui sesuatu yang kemungkinan
benar atau salahnya sama
+/- 25% = Wahm/lemah
mengetahui sesuatu
dengan kemungkinan salah lebih besar
daripada benarnya.
0% = Kidzib/salah
 Pemikiran tingkat 2 ini kemudian dikembangkan oleh





manusia menjadi metode ilmiah.
Pengembangannya dibantu dengan ilmu statistika.
Dalil yang digunakan adalah banyaknya sampel dari populasi
atau banyaknya pengulangan dari pengujian.
Tingkat kebenaran yang dicari dengan metode ilmiah
sesungguhnya hanya sebatas “kidzib” 0% sampai “ghalabatu
dzan”+-95% (dengan simbol Ho dan H1). Sehingga
kebenarannya relatif
Kebenaran dengan metode ini sekarang dianggap sebagai
satu-satunya kebenaran yang absah yang dapat diterima oleh
“seluruh manusia”.
Metode ilmiah bahkan mengabaikan kebenaran “yakin” yang
dapat dicapai oleh aqal manusia (hanya karena tidak harus
menggunakan prosedur metode ilmiah yang ada).
ILMU PENGETAHUAN TINGKAT
II
KEBENARAN
TIDAK
LANGSUNG
1.
2.
3.
4.
TERSEMBUNYI
TERHALANG
LAMPAU
YANG AKAN DATANG
METODOLOGI
ILMIAH
ILMU MURNI
Pengetahuan Tingkat III..hlm 129
 Dalam tingkat ini, pengetahuan yang ingin diperoleh manusia adalah
pengetahuan tentang pemanfaatan ilmu-ilmu murni yang telah
mereka dapatkan dari pengetahuan tingkat II.
 Cara kerjanya yaitu dengan melakukan proses rekayasa
(engineering) terhadap temuan-temuan murni yang berasal dari
pengetahuan tingkat II.
 Hal ini bertujuan agar manusia bisa mendapatkan produk-produk
yang memiliki nilai guna yang lebih tinggi bagi manusia
 Selanjutnya, ilmu pengetahuan yang diperoleh dalam tingkatan ini
digolongkan sebagai kelompok ilmu-ilmu terapan (applied
sciences). Contohnya teknik mensin, teknik elektro, teknik
kimia, kedokteran, pertanian, peternakan.
ILMU PENGETAHUAN TINGKAT III
REKAYASA ILMU
MURNI
METODOLOGI ILMIAH
BERNILAI
GUNA
ILMU TERAPAN
Pengetahuan Tingkat IV..hlm 131
 Dalam tingkatan ini, pengetahuan yang diinginkan adalah
pengetahuan tentang hakikat dibalik fenomena yang ada dari
seluruh alam semesta ini.
 Jika dikerucutkan, pertanyaan yang paling mendasar ialah apakah
alam semesta, manusia dan kehidupan ini ada yg menciptakan,
ataukah Pencipta itu tidak ada?
 Kemudian, dikarenakan metode yang digunakan pada tingkatan ini
tetap sama, yaitu metode ilmiah.
 maka, jawaban yang didapatkan ialah hanya materi yang bersifat
kekal dan azali (Hukum Kekekalan Materi dan Energi), sedangkan
Tuhan itu tidak ada.
 Berbagai pengujian ilmiah yang dilakukuan oleh para ilmuwan untuk
menjawab “kebenaran” dari teori yang ada tetap merujuk pada satu
kesimpulan, yaitu hilangnya posisi dan peran agama dalam semua
kancah ilmu pengetahuan, karena dogma-dogma agama tidak bisa
dibuktikan secara ilmiah. Lihat sejarah sekularisme.
Pengetahuan Tingkat IV..hlm 131
 Metode Ilmiah Versus Metode Aqliyah
 Diketahui sebelumnya bahwa metode ilmiah merupakan bagian dari metode
aqliyah. Metode ilmiah memiliki kelebihan dalam hal kepentingan riset atau
penelitian yang obyek-obyeknya bisa diuji dalam skala laboratorium.
 Namun, tidak (sangat lemah) untuk obyek-obyek yang tidak bisa diuji dalam
laboratorium. Oleh karena itu, berbagai “kebenaran” yang ada, dapat
ditumbangkan dengan metode aqliyah. Selanjutnya, untuk mencari
“kebenaran” yang nilainya pasti benar dengan metode aqliyah dapat
menggunakan 3 dalil (penunjuk), yaitu manusia, alam semesta dan
kehidupan itu sendiri, yang kesemuanya bersifat “pasti terbatas”, yang
maksudnya ialah hal tersebut tidak akan pernah kekal, kehendaknya tidak
mutlak dan tidak bisa berdiri sendiri dalam berbagai hal.
 Jadi, kesimpulan yang “pasti benar” dari proses metode aqliyah ini ialah
manusia, alam semesta dan kehidupan itu mustahil bersifat azali (kekal),
dan manusia, alam semesta serta kehidupan ini pasti ada Penciptanya.
 Dan jawaban dari pengetahuan tingkat 4 ini bersifat hitam-putih, tidak ada
jawaban abu-abu, sehingga tidak ada alternatif jawaban ketiga.
PEMIKIRAN TINGKAT IV
PENCURI
PEMBUKTIAN
DIADILI
Tertangkap
VONIS
BENAR ATAU SALAH?
Hukuman 2 tahun penjara
Harus ada dalil:
1. Barang bukti
2. Saksi-saksi
BENAR ATAU SALAH?
PEMIKIRAN TINGKAT II
PEMIKIRAN TINGKAT IV
?
Terdakwa: Mengapa harus 2 tahun penjara?
BENAR ATAU SALAH?
Hakim: BENAR
Terdakwa: Dasarnya apa?
Hakim: KUHP !
Terdakwa: Mengapa harus dengan KUHP?
BENAR ATAU SALAH?
Hakim: BENAR
Terdakwa: Dasarnya apa?
Hakim: UU PERADILAN
Terdakwa: Mengapa harus dengan UU PERADILAN?
BENAR ATAU SALAH?
Hakim: BENAR
Terdakwa: Dasarnya apa?
Hakim: UUD 45 !
Terdakwa: Mengapa harus dengan UUD 45?
BENAR ATAU SALAH?
Hakim: BENAR
Terdakwa: Dasarnya apa?
Hakim: PANCASILA
Terdakwa: Mengapa harus berdasarkan PANCASILA?
BENAR ATAU SALAH?
Hakim: BENAR
Terdakwa: Dasarnya apa?
Hakim: Kesepakatan para PENDIRI NEGARA !
Terdakwa: Mengapa harus mengikuti PENDIRI NEGARA?
BENAR ATAU SALAH?
Hakim: BENAR
Terdakwa: Dasarnya apa?
Hakim: NILAI-NILAI LUHUR BANGSA INDONESIA
Terdakwa: Mengapa harus sesuai NILAI-NILAI LUHUR?
BENAR ATAU SALAH?
Hakim: BENAR
Terdakwa: Dasarnya apa?
Hakim: Dari NENEK MOYANG Bangsa Indonesia !
Terdakwa: Mengapa harus mengikuti NENEK MOYANG?
BENAR ATAU SALAH?
Hakim: BENAR
Terdakwa: Dasarnya apa?
Hakim: DARI NENEK MOYANGNYA LAGI
Terdakwa: Nenek moyangnya lagi dari mana?
Hakim: DARI NENEK-NENEK MOYANGNYA LAGI
Terdakwa: Nenek-nenek moyangnya lagi dari mana?
Akan berhenti sampai pertanyaan apa?
Dari mana asal:
MANUSIA, ALAM DAN KEHIDUPAN?
PEMIKIRAN
AQIDAH !
Pengetahuan Tingkat V..hlm 145
 Dalam tingkatan ini, pengetahuan yang ingin dicapai ialah hakikat
tujuan Pencipta menciptakan kehidupan ini. Untuk mengetahui
jawabannya, maka ada 3 kemungkinan yang dapat difikirkan
manusia, yaitu :
1. Manusia harus menemui Pencipta untuk mempertanyakannya
2. Pencipta yang akan memberi informasi kepada manusia
3. Pencipta tidak memberikan informasi kepada manusia
Kemungkinan ke-2 lah yang dapat diterima secara aqliyah.
Pengetahuan Tingkat V..hlm 145
 Kemudian, dengan fakta yang ada, Kitab Suci (khususnya al-Qur’an)
dapat digunakan sebagai dalil yang diteliti dalam metode aqliyah.
Kesimpulan yang didapat dengan nilai yang “pasti benar” ialah
bahwa al-Qur’an itu kitab yang pasti berbahasa Arab. Menurut akal
manusia, ada 3 kemungkinan terhadap fakta al-Qur’an tersebut,
yaitu :
 1.
Al-Qur’an itu kitab karangan Bangsa Arab
 Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami
wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat
(saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu
selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (QS. Al-Baqarah :
23)
 Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang
kebenaran Al Quran itu tidak dapat ditiru walaupun dengan
mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa. Jadi, al-Qur’an
bukanlah karangan bangsa Arab, karena mereka tidak akan pernah
mampu untuk membuat karya serupa dengan al-Qur’an.
Pengetahuan Tingkat V..hlm 145
2. Al-Qur’an itu kitab karangan Muhammad
 Hal ini langsung dibantah oleh akal manusia sendiri dengan menilik
beberapa argumen, yaitu :
 a.
Muhammad juga anggota bangsa Arab
 b.
Banyak hadis shahih yang berasal dari Muhammad sendiri
yang tidak dapat dibandingkan dengan al-Qur’an
 c.
Muhammad adalah seseorang yang ummi
Pengetahuan Tingkat V..hlm 145
3.Al-Qur’an itu kitab yang berasal dari Pencipta
 Hal ini merupakan jawaban yang “pasti benar”. Selanjutnya, jika
mempertanyakan tujuan dari Pencipta (Allah SWT) menciptakan
alam semesta, manusia dan kehidupan ini dapat dilihat dari
informasi yang terdapat di dalam al-Qur’an itu sendiri. Tujuan utama
dari penciptaan manusia ini ialah untuk menjadi abdullah
(penyembah Allah) dan khalifatullah (wakil Allah) di muka bumi
ini.
 Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat : 56)
 Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi." (QS. Al-Baqarah : 30)
Pengetahuan Tingkat V..hlm 145
 Terdapat 3 dimensi Syari’at Islam yang menjabarkan keterikatan
manusia dengan Syari’at Islam itu sendiri.
 1.
Dimensi Satu
 Dalam hal ini Syari’at Islam mengatur hubungan antara manusia dengan
Penciptanya secara langsung. Seperti : ‘Aqoid dan Ibadah
 2.
Dimensi Dua
 Dalam hal ini Syari’at Islam mengatur hubungan manusia dengan dirinya
sendiri. Seperti : Makanan, pakaian, dan Akhlak
 3.
Dimensi Tiga
 Dalam hal ini mengatur hubungan manusia dengan sesamanya dalam
bermasyarakat dan bernegara. Seperti : Sistem Ekonomi Islam
 Selanjutnya, gambaran sistem kehidupan yang utuh dan menyeluruh
dari Islam (Nidzom Islam) inilah pengetahuan tingkat V yang
sebenarnya. Bukan hanya itu, jawaban atas pertanyaan dasar dari
segala materi ini pun telah terjawab, yaitu bahwa Sistem Ekonomi Islam
dapat dipertanggungjawabkan secara metode aqliyah dimana metode
ilmiah tidak mampu menjawabnya.
 mengapa>? Karena akal manusia bersifat terbatas, manusia butuh
wahyu untuk mengetahui hal-hal di luar jangkauan akalnya
ILMU PENGETAHUAN TINGKAT V
PANCARAN DARI
PANDANGAN HIDUP
GAMBARAN TENTANG
PENGATURAN KEHIDUPAN
1.
2.
3.
4.
5.
SISTEM PEMERINTAHAN
SISTEM EKONOMI
SISTEM SOSIAL
SISTEM HUKUM
SISTEM PENDIDIKAN
Aturan hidup
ISLAM
Pengetahuan Tingkat 6..hlm 155
 Pengetahuan tingkatan ini akan muncul ketika manusia benar-benar
telah menerapkan dan mengamalkan Nidzom Islam di tingkatan V.
Dalam tingkatan ini, pengetahuan yang ingin dicapai ialah produkproduk ijtihad dari para mujtahid untuk memecahkan berbagai
persoalan kehidupan manusia yang baru, yang senantiasa
berkembang sedemikian dinamis dan kompleksnya seperti sekarang
ini.
ILMU PENGETAHUAN TINGKAT VI
PENGATURAN
KEHIDUPAN DI
DUNIA
MUNCUL PROBLEM BARU
1.
2.
3.
4.
BAGAIMANA PEMECAHANNYA?
BAGAIMANA MEMPERTAHANKANNYA?
BAGAIMANA MENGEMBANGKANNYA?
BAGAIMANA MENYEBARLUASKANNYA?
MUJTAHID
ISLAM
SUMBER
 Dwi CondroTriono, Ph.D
Download