Aidit Dan Ilmu Ekonomi

advertisement
Aidit Dan Ilmu Ekonomi
Inilah yang sering dikhotbahkan oleh kaum positivistik: “ilmu pengetahuan haruslah
objektif, harus bebas nilai.” Mereka menuntut agar ilmu pengetahuan, termasuk ilmu
ekonomi, dibebaskan dari kepentingan dan keberpihakan. Karena itu, mereka
mengibarkan panji-panji ‘ilmu untuk ilmu’.
Tetapi Dipa Nusantara Aidit, Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI), menolak kesimpulan
itu. Bagi Aidit, pandangan bahwa ilmu harus objektif hanyalah khayalan belaka. Persis
dengan fantasi orang yang bermimpi tentang perdamaian permanen di bawah sistim
kapitalisme dan imperialisme.
Menurut Aidit, ilmu-ilmu sosial, termasuk ilmu ekonomi, sepenuhnya mencerminkan
kepentingan klas atau golongan sosial di dalam masyarakat. Karena itu, llmu ekonomi
pastilah memihak kepentingan salah satu klas atau golongan sosial tertentu.
Aidit, yang memakai analisa suprastruktur dan basisstruktur dari Karl Marx,
menempatkan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari suprastruktur dari bangunan sebuah
masyarakat. Karenanya, Aidit berkesimpulan, “ilmu pengetahuan hanyalah alat bagi klas
berkuasa untuk mempertahankan kekuasaannya.”
Namun, ilmu pengetahuan juga menjadi senjatanya klas tertindas. Dalam konteks ini, ilmu
pengetahuan bisa dipergunakan sebagai alat pembebasan kaum tertindas. Lahirlah slogan
“ilmu untuk revolusi”. Berbeda dengan kubu ‘ilmu untuk ilmu’ yang mengaku netral, kubu
‘ilmu untuk revolusi’ terang-terang menyatakan keberpihakan, yakni kepada rakyat.
1
Begitu juga dalam konteks masyarakat Indonesia. Problem pokoknya adalah sisa-sisa
feodalisme dan imperialisme. Karenanya, Aidit menyimpulkan, “ilmu akan dipergunakan
sebanyak-banyaknya oleh mereka yang menguasai kehidupan ekonomi di negara kita,
yaitu kaum imperialis dan tuan tanah beserta kaki tangannya untuk mempertahankan
diri.”
Namun, jangan lupa, Aidit adalah pengusung teori ‘dua aspek kekuasaan negara’. Menurut
Aidit, kekuasaan negara Republik Indonesia kala itu (di bawah Bung Karno) punya dua
aspek, yakni pro-rakyat dan anti-rakyat. Aspek pro-rakyat, yang dipimpin oleh Soekarno,
telah mendorong kebijakan progressif-revolusioner, terutama melalui Manifesto Politik
1959 (Manipol) dan Deklarasi Ekonomi (Dekon). Kedua kebijakan itu menyediakan
landasan dan arah menuju masyarakat Indonesia yang sosialistik.
Sebaliknya, aspek anti-rakyat mewakili kepentingan imperialis, komprador, kapitalis
birokrat dan tuan tanah. Mereka berusaha keras menghambat dan mensabotase
kebijakan progressif tersebut. Dalam lapangan ekonomi, mereka menghendaki semua
aset ekonomi, termasuk tanah, tetap berada di tangan segelintir pemilik modal asing dan
tuan tanah.
Di dalam medan pertarungan itu, ilmu ekonomi tak mungkin netral. Dua aspek kekuasaan
negara yang bertarung, yakni aspek pro-rakyat versus anti-rakyat, berusaha
menggunakan ilmu ekonomi untuk melayani kepentingan masing-masing. Jadinya, ilmu
ekonomi tidak mungkin bebas nilai atau terbebas dari kepentingan.
Baiklah, kita lihat konteks jaman itu. Saat itu, melalui Manipol dan Dekon, pemerintahan
Soekarno berjuang keras untuk membangun Indonesia menuju cita-cita sosialisme.
Hanya saja, upaya itu terus diganjal oleh imperialisme dan sisa-sisa feodal. Aidit dan
partainya, PKI, berada di kutub Soekarno. Saya kira, dalam konteks itulah kita harus
memahami gagasan Aidit mengenai ‘ilmu ekonomi untuk revolusi’.
Aidit menginginkan ilmu ekonomi bisa menjadi alat untuk memperkuat dan memperhebat
perjuangan dalam mewujudkan cita-cita revolusi. Tentu saja, untuk saat itu, berarti
melikuidasi imperialisme dan sisa-sisa feodal sebagai basis menuju sosialisme Indonesia.
Sayangnya, kata Aidit, upaya ini diganjal oleh masih dipergunakannya ilmu ekonomi
borjuis atau ilmu ekonomi liberal oleh sejumlah pejabat tinggi dan Fakultas Ekonomi di
Indonesia. Salah satu ekonom cum pejabat tinggi yang paling sering ‘diganyang’ oleh
Aidit melalui artikelnya adalah Soemitro Djojohadikoesoemo.
2
“Demi pelaksanaan Dekon dan perkembangan ilmu ekonomi Indonesia yang revolusioner,
teori-teori ekonomi reaksioner Soemitro harus diusir dari perguruan tinggi kita dan dari
alam fikiran para sarjana ekonomi kita,” tulis Aidit.
Pertanyannya kemudian, ilmu ekonomi apa yang direkomendasikan oleh Aidit untuk
menjawab kebutuhan Revolusi Indonesia? Rupanya, ia memberikan jawaban sangat tegas:
Ekonomi Politik Marxis (EPM). Bagi Aidit, EPM merupakan satu-satunya teori ekonomi
yang sanggup mengembangkan teori-teori ekonomi yang revolusioner dan bisa menerangi
jalannya revolusi.
Menurut Aidit, EPM bertitik-tolak dari hukum penyesuaian perkembangan tenaga-tenaga
produktif dan hubungan produksi di dalam masyarakat. Tenaga-tenaga produktif, yang
meliputi tenaga kerja, alat kerja, dan sasaran kerja, merupakan unsur paling dinamis
dalam mendorong maju perkembangan masyarakat. Sementara hubungan produksi, yakni
hubungan antar manusia dengan manusia lainnya dalam proses produksi, tercerminkan
dalam hubungan klas-klas sosial dalam masyarakat berdasarkan relasi mereka terhadap
alat produksi.
Pada kenyatannya, kata Aidit, seringkali hubungan produksi ini merintangi perkembangan
tenaga-tenaga produktif. Karena itu, sebuah revolusi sosial diperlukan untuk merombak
hubungan produksi yang ada agar sejalan dengan tuntutan perkembangan tenaga-tenaga
produktif.
Kita ambil contoh di sektor agraria. Penghambat utama perkembangan tenaga produktif
di pedesaan adalah pemilikan tanah yang terkonsentrasi di tangan tuan tanah. Padahal,
tanah merupakan faktor produksi penting untuk ekonomi pedesaan. Akibatnya, kaum
tani—yang telah menyerahkan tenaga kerjanya untuk mengolah tanah—hidup melarat.
Sebagai jalan keluarnya, kaum marxis menganjurkan perlunya land-reform untuk
mendorong pemilikan tanah yang demokratis. Ini sekaligus untuk menghapus penindasan
tuan tanah terhadap kaum tani.
Yang menarik juga, sebagaimana diungkapkan oleh Aidit, EPM menganggap persoalan
ekonomi integral dengan soal politik. Karena itu, pemecahan soal ekonomi tidak
terpisahkan dari soal-soal politik. Selain itu, politik memberikan arah yang tegas dan
terang-benderang menerangani langkah dan sasaran pembangunan ekonomi.
3
Untuk menguatkan kesimpulannya, Aidit mengutip dalil dari Soekarno di tahun 1940-an:
“Teori marxisme adalah satu-satunya teori ekonomi yang saya anggap kompeten dalam
memecahkan soal-soal sejarah, soal-soal politik, dan soal-soal masyarakat.”
Mahesa Danu
Sumber
Artikel: http://www.berdikarionline.com/aidit-dan-ilmu-ekonomi/#ixzz44Cdtd5gE
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook
4
Download