Teori Uang dan Permintaan Uang

advertisement
MODEL KEBIJAKAN MONETER ISLAMI
A. Latar Belakang Masalah
Pasca perang dunia II dan runtuhnya Unisoviet, menandai kebangkitan
pemikiran liberalisme kapitalis di dunia, dengan amerika sebagai negara pusat
perkembangan pemikiran tersebut. Keadaan pasca perang ini dan dijadikan
momentum terbaik bagi pemikiran liberalisme kapitalis untuk merekonstruksi ulang
segala sistem yang secara global, termasuk sistem ekonomi dunia.
Selama beberapa dekade, sistem ekonomi dunia dibentuk dan dilaksanan
dengan berdasarkan atas pemikiran liberalis kapitalis yang bebas dari nilai dan
bertujuan hanya untuk mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya dari sumber
daya yang terbatas. Salah satu instrumen yang dipergunakan adalah bunga yang
kemudian menjadi ruh bagi sistem ekonomi kapitalis.
Negara-negara yang mau tidak mau harus berhubungan dengan negara
lain, mau tidak mau harus menyesuaikan sistem ekonominya dengan sistem
ekonomi yang dianut oleh dunia. Termasuk dalam sistem kebijakan moneternya.
Pergerakan
ekonomi
dalam
sistem
ekonomi
konvensional
sangat
bergantung pada sistem bunga. Begitu pentingnya bunga dalam sistem liberalisme
kapitalis ini, maka dalam kebijakan moneternya struktur suku bunga selalu menjadi
salah satu instrumen moneter dalam membuat sebuah kebijakan moneter.
Kebijakan Moneter adalah suatu usaha dalam mengendalikan keadaan
ekonomi makro agar dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan melalui
pengaturan jumlah uang yang beredar dalam perekonomian. Usaha tersebut
dilakukan agar terjadi kestabilan harga dan inflasi serta terjadinya peningkatan
output keseimbangan. Hampir semua sektor ekonomi kapitalis terait dengan
sistem bunga sehingga sektor moneter lebih cepat berkembang dari pada sektor
moneter. Hal ini disebabkan karena sektor moneter lebih cepat memberikan
keuntungan dari pada sektor rill.
Dalam Sistem ekonomi Kapitalis, alat yang dipergunakan untuk menilai
suatu barang atau jasa adalah uang. Uang yang dimaksud disini sebuah benda
yang dijamin oleh negara nilai dan kekuatannya untuk dapat ditukarkan dengan
benda apa pun yang memiliki nilai nominal yang sama. Dalam hal ini negaranegara di dunia menggunakan uang kertas (fiat money) sebagai alat ukur menilai
suatu barang atau jasa. Sebagai institusi yang memberikan jaminan atas uang
yang telah dikeluarkannya tersebut, maka negara berkewajiban untuk menjaga
1
nilai uang tersebut agar selalu stabil yang tetap. Untuk melaksanakan kewajiban
tersebut, negara mengeluarkan keputusan-keputusan yang disebut sebagai
kebijakan moneter.
Krisis perumahan subprime mortage yang baru-baru ini terjadi di Amerika
telah membuat keadaan ekonomi Amerika menjadi libung. Limbungnya ekonomi
Amerika secara otomatis merdampak juga pada negara-negara lain. Hal ini
membuktikan bahwa sistem ekonomi kapitasil tidak sekuat dan sekokoh yang
terlihat.
Kondisi tersebut menjadi trigger bagi sistem ekonomi alternatif untuk
menggantikan sistem pemikiran kapitalisme liberalis yang dipergunakan oleh dunia
saat ini. Salah satu sistem ekonomi alternatif yang ditawarkan adalah sistem
ekonomi Islam. Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai kebijakan
moneter negara dari sudut pandang ekonomi Islam. Untuk menjelaskan mengenai
hal tersebut, maka kami membuat tiga pertanyaan yang akan menjelaskan
mengenai kebijakan moneter islam.
B. Teori Uang dan Permintaan Uang
1. Uang, Fungsi Uang, dan Nilai Waktu Uang dalam Islam

Uang
Uang berkembang dan berevolusi mengikuti perkembangan sejarah. Dari
perkembangan sejarah, uang dapat dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Uang barang (commodity money) : alat tukar yang memiliki nilai komoditas
atau bisa diperjualbelikan apabila barang tersebut digunakan bukan sebagai
uang. Namun tidak semua barang bisa menjadi uang, diperlukan tiga
kondisi utama, agar suatu barang bisa dijadikan uang, antara lain:

Kelangkaan (scarcity), yaitu persediaan barang itu harus terbatas.

Daya tahan (durability), barang tersebut harus tahan lama.

Nilai tinggi, maksudnya barang yang dijadikan uang harus bernilai
tinggi, sehingga tidak memerlukan jumlah yang banyak dalam
melakukan transaksi.
Dalam sejarah, pemakaian uang barang juga pernah disyaratkan barang
yang digunakan sebagai barang kebutuhan sehari-hari seperti garam.
Namun kemudian uang komoditas atau uang barang ini dianggap
mempunyai banyak kelemahan. Di antaranya, uang barang tidak memiliki
pecahan, sulit untuk disimpan dan sulit untuk diangkut. Kemudian pilihan
2
terhadap barang yang bisa digunakan sebagai uang, jatuh pada logamlogam mulia, seperti emas dan perak. Ada sejumlah alasan mengapa emas
dan perak dipilih sebagai uang. Kedua logam tersebut memiliki nilai tinggi,
langka dan dapat diterima secara umum sebagai alat tukar. Kelebihan
lainnya, emas dan perak dapat dipecah menjadi bagian-bagian yang kecil
dengan tetap mempunyai nilai yang utuh. Selain itu logam mulia ini juga
tidak mudah susut atau rusak
2. Uang tanda/kertas (token money), ktika uang logam masih digunakan
sebagai uang resmi dunia, ada beberapa pihak yang melihat peluang
meraih keuntungan dari kepemilikan mereka atas emas dan perak. Pihakpihak ini adalah bank, orang yang meminjamkan uang dan pandai emas
(goldsmith) atau toko-toko perhiasan. Mereka melihat bukti peminjaman,
penyimpanan atau penitipan emas dan perak di tempat mereka juga bisa
diterima di pasar.
Kelebihan : biaya pembuatan rendah, pengirimannya mudah, penambahan
dan pengurangan lebih mudah dan cepat, serta dapat dipecah-pecahkan
dalam jumlah berapapun.
Kekurangan: ini tidak bisa dibawa dalam jumlah yang besar dan karena
dibuat dari kertas, sangat mudah rusak.
3. Uang giral (deposit money), Uang giral adalah uang yang dikeluarkan oleh
bank-bank komersial melalui pengeluaran cek dan alat pembayaran giro
lainnya. Uang giral ini merupakan simpanan nasabah di bank yang dapat
diambil setiap saat dan dapat dipindahkan kepada orang lain untuk
melakukan pembayaran. Artinya cek dan giro yang dikeluarkan oleh bank
manapun bisa digunakan sebagai alat pembayaran barang, jasa dan utang.
Kelebihan uang giral sebagai alat pembayar adalah:

Kalau hilang dapat dilacak kembali sehingga tidak bisa diuangkan
oleh yang tidak berhak.

Dapat dipindahtangankan dengan cepat dan ongkos yang rendah.

Tidak diperlukan uang kembali sebab cek dapat ditulis sesuai
dengan nilai transaksi.
Kekurangan uang giral : Namun di balik kelebihan sistem ini, sesungguhnya
tersimpan bahaya besar. Kemudahan perbankan menciptakan uang giral –
ditambah dengan instrumen bunga bank -- membuka peluang terjadinya
3
uang beredar yang lebih besar daripada transaksi riilnya. Inilah yang
kemudian menjadi pertumbuhan ekonomi yang semu (bubble economy).

Fungsi Uang dalam Ekonomi
Dalam system perekonomian manapun, fungsi utama uang adalah sebagai alat
tukar (medium of exchange). Ini adalah fungsi utama uang. Dari fungsi utama ini,
diturunkan fungsi-fungsi yang lain seperti uang sebagai standard of value
(pembakuan nilai), store of value (penyimpan kekayan), unit of account (satuan
penghitungan) dan standard of defferred payment (pembakuan pembayaran
tangguh). Mata uang manapun niscaya akan berfungsi seperti ini.
Namun ada satu hal yang sangat berbeda dalam memandang uang, antara
sistem kapitalis dengan sistem Islam. Dalam sistem perekonomian kapitalis, uang
tidak hanya sebagai alat tukar yang sah (legal tender) melainkan juga sebagai
komoditas. Menurut sistem kapitalis, uang juga dapat diperjualbelikan dengan
kelebihan baik on the spot maupun secara tangguh. Lebih jauh, dengan cara
pandang demikian, maka uang juga dapat disewakan (leasing).
Dalam Islam, apapun yang berfungsi sebagai uang, maka fungsinya hanyalah
sebagai medium of exchange. Ia bukan suatu komoditas yang bisa dijualbelikan
dengan kelebihan baik secara on the spot maupun bukan.

Nilai Waktu Uang dalam Islam
Dalam islam tidak dikenal adanya time value of money, yang dikenal dalah
economic value of time. Teori time value of money adalah kekeliruan besar karena
mengambil dari ilmu teori pertumbuhan populasi, dan tidak ada dalam ilmu finance.
Dalam menghitung pertumbuhan populasi rumusnya : Pt = P0 (1+r). Rumus ini
diadopsi begitu saja dalam ilmu finance sebagai teori bunga majemuk menjadi FV
= PV (1+r). Future Value danalogikan dengan jumlah populasi tahun ke t, present
value dari uang dianalogikan dengan jumlah uang di tahun ke 0, sedangkan tingkat
suku bunga dianalogikan dengan pertumbuhan populasi. Ini keliru besar, karena
uang bukanlah makhluk hidup yang dapat berkembang biak dengan sendirinya.
Economic value of time digunakan dalam menghitung nisbah bagi hasil di bank
syariah.
Dalam
proses
penentuan
nisbah
ini,
return
on
capital
harus
diperhitungkan. Return on capital tidak sama dengan return on money. Return on
capital tergantung pada jenis bisnisnya dan berkaitan dengan sector riil, sedangkan
return on money berkaitan dengan interest rate. Penentuan nisbah bagi hasil
ditentukan di awal, dan untuk itu digunakan projected return. Jika kemudian actual
return dari bisnis yang dibiayai tidak sama dengan angka proyeksinya, maka yang
4
digunakan adalah angka actual, bukan angka proyeksi. Hal ini menunjukkan bahwa
islam tidak mengenal time value of money.
Konsep Uang dalam Islam
Uang
Capital
Flow Concept
Stock Concept
Variabel yang
mempunyai
dimensi waktu
atau mengalir
sepanjang
waktu
Variabel yang
mengukur suatu
kuantitas pada
suatu waktu
tertentu
Analogi : Air yang masuk dan keluar dari kolam air adalah aliran (flow),
sedangkan air yang berada pada kolam tersebut dalam jangka waktu tertentu
adalah persediaan (stock), Pendapatan (Income) adalah flow sedangkan
kekayaan (wealth) adalah stock
C. Teori Permintaan Uang dalam Ekonomi Konvensional
Teori permintaan uang dalam ekonomi konvensional dibagi menjadi 3
kelompok, yaitu teori permintaan uang sebelum Keynes, teori permintaan uang
menurut Keynes, dan teori perminataan uang setelah Keynes
Teori Permintaan Uang Sebelum Keynes
MV = PT
Dimana :
M : Jumlah uang yang beredar (penawaran uang)
V : Tingkat kecepatan perputaran uang (velocity), yaitu berapa kali uang
berpindah tangan dari satu pemilik kepada pemilik lain dalam satu periode
tertentu
P : Harga barang / jasa yang ditukarkan
5
T : Jumlah (volume) barang/jasa yang menjadi obyek transaksi
Dalam versi lain, jumlah atau volume barang yang diperdagangkan (T) diganti
dengan output riil (O) sehingga persamaaannya berubah menjadi
MV=PO=Y
Dalam teori permintaan uang ini Irving Fisher mengasumsikan bahwa
keberadaan uang pada hakikatnya adalah flow concept dimana keberadaan uang
atau permintaan uang tidak dipengaruhi oleh suku bunga akan tetapi besar
kecilnya uang akan ditentukan oleh kecepatan perputaran uang tersebut.
Sedangkan menurut kaum Cambridge yang diwakili Marshall dan Pigou, uang
adalah alat penyimpan kekayaan, dan bukan sebagai alat pembayaran. Menurut
Cambridge permintaan uang tunai dipengaruhi oleh tingkat bunga, jumlah
kekayaan yang dimiliki, harapan tingkat bunga dimasa yang akan datang, dan
tingkat harga. Namun dalam jangka pendek faktor-faktor tersebut bersifat konstan
atau berubah secara proporsional terhadap pendapatan.
Md = kY
Dimana:
Md : Jumlah permintaan uang
k : konstanta yang menunjukkan presentase jumlah uang tunai yang dipegang
terhadap pendapatan
Y : Pendapatan nominal
Teori Fisher didasarkan pendapatan transaksi (transaction approach), sedangkan
Teori
Cambridge
didasarkan
kepada
pendekatan
kebutuhan
masyarakat
memegang uang tunai (cash balance approach).
Teori Permintaan Uang Menurut Keynes
Teori keuangan yang dikemukakan Keynes pada umumnya menerangkan 3
hal, yaitu : (1) Tujuan-tujuan masyarakat untuk meminta (menggunakan uang), (2)
faktor-faktor yang menentukan tingkat bunga, (3) efek perubahan penawaran uang
terhadap kegiatan ekonomi negara.
Terkait dengan tujuan-tujuan masyarakat untuk meminta (memegang) uang,
maka dapat diklasifikasikan atas 3 motif utama, yaitu :
1. Motif transaksi (transaction motive), motif ini timbul karena uang digunakan
untuk melakukan pembayaran secara reguler terhadap transaksi yang
dilakukan. Besarnya permintaan uang untuk tujuan transaksi ini ditentukan oleh
besarnya tingkat pendapatan (MDt = f(Y), artinya semakin besar tingkat
pendapatan yang dihasilkan, maka jumlah uang diminta untuk transaksi juga
mengalami peningkatan demikian sebaliknya.
6
2. Motif berjaga-jaga (precautionary motive), selain untuk membiayai transaksi,
maka uang diminta pula oleh masyarakat untuk keperluan di masa mendatang
yang sifatnya berjaga-jaga. Besarnya permintaan uang untuk berjaga-jaga
ditentukan oleh besarnya tingkat pendapatan pula. Semakin besar tingkat
pendapatan permintaan uang untuk berjaga-jaga pun semakin besar. MDp =
f(Y)
3. Motif spekulasi (speculation motive), pada suatu sistem ekonomi modern diman
lembaga keuangan masyarakat sudah mengalami perkembangan yang sangat
pesat mendorong masyarakatnya untuk menggunakan uangnya bagi kegiatan
spekulasi, yaitu disimpan atau digunakan untuk membeli surat-surat berharga,
seperti obligasi pemerintah, saham, atau instrumen lainnya. Faktor yang
mempengaruhi besarnya permintaan uang dengan motif ini adalah besarnya
suku bunga, dividen surat-surat berharga, ataupun capital gain, fungsi
permintaannya adalah MDs = f(i).
Dari ketiga motif diatas, maka formula untuk permintaan uang menurut Keynes
adalah:
MD = MDt + MDp + MDs
Teori Permintaan Uang Setelah Keynes
Teori permintaan setelah Keynes adalah teori permintaan uang untuk tujuan
transaksi oleh Baumol :
R= (n-1)iY/2n = iY/2n2
Sedangkan teori permintaan uang untuk spekulasi dijelaskan oleh Tobin :
E = i+g
Dimana :
i = Bunga
g = Keuntungan modal
Sehingga orang yang memegang surat berharga sejumlah (B) mengharapkan
memperoleh pendapatan total (RT) sebesar :
RT = B x e = B (i+g)
Resiko total (T) yang dialami seseorang yang memegang surat berharga
sejumlah (B) adalah, sedang (δg) adalah resiko yang dihadapi dalam memegang
surat berharga
T = B x δg dan B = T/δg
7
Memasukkan persamaan B = T/δg ke persamaan sebelumnya, maka diperoleh
RT = T (i+g)/ δg
Menurut Friedman, seseorang atau perusahaan memegang uang tunai lebih
kepada alasan kepuasan (utility) sebagaimana barang tahan lama lainnya. Formula
:
Md = k(r1,.........,rj)y
Dimana :
Md : Permintaan uang tunai
r : tingkat pengembalian (rate of return)
1,…..j : jenis kekayaan, termasuk tingkat bunga
Menurut Friedman jumlah uang yang diminta tergantung tingkat pendapatan
nasional. Perbedaan friedman dan Keynes adalah Friedman menyatakan bahwa
nilai k bukan sesuatu yang konstan. Nilai k dapat berubah-ubah tergantung
perubahan tingkat bunga dan faktor lain yang dapat diramalkan, dan Friedman
tidak menganggap bahwa pendapatan selalu terjadi pada tingkat full employment,
tapi bisa saja terjadi pada tingkat di bawah full employment
Teori Permintaan Uang dalam Ekonomi Islam
Fungsi Uang Dalam Ekonomi Islam:

Sarana penukar

Penyimpan Nilai

Bukan barang dagangan/komoditi
Teori Permintaan Uang Menurut Mazhab Iqtishoduna
Md

= Md trans + Md Prec
Menurut mazhab ini, permintaan uang hanya ditujukan untuk transaksi dan
berjaga-jaga atau untuk investasi.

Permintaan uang untuk transaksi merupakan fungsi dari
tingkat
pendapatan yang dimiliki oleh seseorang (berhubungan positif)
Permintaan Uang menurut Mazhab Mainstream
Md
= Md trans + Md Prec
Md
= f (Y/μ)
Dimana :
Md
= Permintaan Uang dalam masyarakat Islam
Y
= Pendapatan
μ
= tingkat biaya karena menyimpan uang dalam bentuk kas
8

Menurut Metwally permintaan uang dikategorikan untuk transaksi dan
berjaga-jaga

Landasan filosofis dari teori dasar permintaan uang untuk berjaga-jaga,
bahwa Islam mengarahkan sumber daya yang ada untuk alokasi secara
maksimum dan efisien.Pelarangan penimbunan Uang atau Hoarding money
merupakan kejahatan penggunaan uang yang harus diperangi.

Pengenaan pajak terhadap aset produktif yang menganggur merupakan
strategi utama yang digunakan mazhab ini.
Permintaan Uang menurut Mazhab Alternatif
Md
= f (rb, y,p,S,X,Y)[θ]
+ +-+++
Dimana :
rb
= rasio bagi hasil antara shahibul maal dan
bank atau lembaga
S
= Total pengeluaran nasional
y
= Pendapatan riel
P
= tingkat harga atau inflasi
X
= Variabel sosio ekonomi
Y
= Kebijakan pemerintah

mudaharib dalam
keuangan
Menurut Choudhury, (1997), permintaan uang adalah representasi dari
keseluruhan kebutuhan transaksi dalam sektor riil. Semakin tinggi kapasitas
dan volume sektor riil meningkat, maka permintaan uang akan meningkat
Konsep uang dalam Islam
Dalam membicarakan mengenai kebijakan moneter dalam Islam, maka
pembahasan mengenai uang sebagai faktor pokok yang diatur dalam kebijakan
meneter Islam tersebut. Dengan mengetahui posisi uang dalam perekonomian Islam,
maka diharapkan dapat muncul kebijakan-kebijakan meneter yang tepat dan Islami.
Dari literatur yang telah kami baca, maka secara garis besar terdapat dua
perbedaan pokok antara konsep uang dalam Islam dengan konsep uang dalam
perekonomian konvensional, yaitu:
a. Perbedaan dalam hal fisik atau nilai intrinsik uang
b. Perbedaan dalam hal cara atau metode mempergunakan uang tersebut.
9
Bagi kalangan umat Islam, membahas mengenai mata uang sebenarnya bukan
merupakan hal yang baru. Umat Islam telah lama akrab dengan mata uang yang
terbuat dari emas dan perak, yang disebut sebagai dinar dan dirham. Dinar dan dirham
menurut sejarah sebenarnya telah lama dikenal oleh orang arab jauh sebelum Islam
datang. Mata uang ini diperoleh dari hasil perdagangan yang mereka lakukan dengan
negara-negara sekitar. Pedagang arab yang pulang dari Syam, mereka membawa
dinar Romawi (Byzantium), dan dari Irak mereka membawa dirham perak Persia
(Sassanid).
Setelah Islam datang, Rasulullah SAW mengakui (men-taqrir) berbagai
muamalat yang menggunakan dinar Romawi dan dirham Persia. Beliau juga mengakui
standar timbangan yang berlaku di kalangan kaum Quraisy untuk menimbang berat
dinar dan dirham.
Tentang ini Rasulullah SAW bersabda:
"Timbangan berat (wazan) adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran
(mikyal) adalah takaran penduduk Madinah." (HR. Abu Dawud dari An Nasa’i).
Dalam menjabarkan hukum-hukumnya, rasulullah juga seringkali menggunakan
ukuran-ukuran standard berupa dinar dan dirham, sebagai contoh:
QS: At-Thaubah (34):
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebahagian besar dari orangorang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan
jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang
yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka
beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.
Ayat tersebut melarang praktik menimbun harta (kanzul mal), Islam hanya
mengkhususkan larangan penimbunan harta untuk emas dan perak. Larangan ini
merujuk pada fungsi emas dan perak sebagai uang atau alat tukar (medium of
exchange)
Islam juga mengaitkan emas dan perak dengan hukum-hukum Islam lainnya,
misalnya:
10
Sabda Rasulullah:
“Bahwa di dalam (pembunuhan) jiwa itu terdapat diyat berupa 100 unta dan terhadap
pemilik emas (ada kewajiban) sebanyak 1.000 dinar” (HR an-Nasa’i dan Amru bin
Hazam).
Sabda Rasulullah:
“Tangan itu wajib dipotong, (apabila mencuri) 1/4 dinar atau lebih.” (HR Imam Bukhari,
dari Aisyah r.a.).
Zakat uang yang ditentukan Allah Swt berkaitan dengan emas dan perak. Allah
Swt. juga telah menentukan nisab zakat tersebut dengan emas dan perak.
Rasulullah saw. telah menetapkan emas dan perak sebagai uang sekaligus
sebagai standar uang. Setiap standar barang dan tenaga yang ditransaksikan akan
senantiasa dikembalikan kepada standar tersebut.
Hukum-hukum tentang pertukaran mata uang (money changer) dalam Islam
yang terjadi dalam transaksi uang selalu hanya merujuk pada emas dan perak, bukan
dengan yang lain. Hal ini adalah bukti yang tegas bahwa uang tersebut harus berupa
emas dan perak, bukan yang lain.
Nabi saw. Bersabda:
”Emas dengan mata uang (bisa terjadi) riba, kecuali secara tunai” (HR Imam
Bukhari).
Dari argumentasi-argumentasi yang telah dikemukakan diatas, maka dapat
ditarik kesimpulan bahwa Islam mengakui dinar dan dirham sebagai mata uang dan
medium yang cocok sebagai urkuran untuk menilai suatu barang dan jasa dalam
kegiatan bermuamalah.
Dalam ekonomi Islam, uang bukanlah modal. Uang hanya berfungsi hanya
apabila ditukarkan dengan benda yang nyata atau digunakan untuk membeli jasa. Oleh
karena itu uang tidak dapat dijual beli secara kredit. Dalam pengelolaan uang tersebut,
Rasulullah juga melarang adanya praktik riba yaitu menarik bunga (tambahan) melalui
proses pinjaman. Rasulullah bahkan melarang pertukaran antar uang dengan benda
berharga lainya dengan pertukaran yang tidak sama, hal ini dilakukan untuk
menghindari masuknya riba kedalam sistem perekonomian melalui cara yang tidak
diketahui.
11
Sabda Rasulullah:
َّ ‫ب َوال ِفضَّةُ بِال ِف‬
ٍٍ «‫س َواء‬
َ ِ‫س َوا ٌء ب‬
َ ‫ض ِة َوالبُ ُّر بِالبُ ِ ِّر َمثَالً بِ َمث َ ٍل‬
ُ ‫»الذَّ َه‬
ِ ‫ب بِالذَّ َه‬
Emas (boleh ditukar) dengan emas, perak dengan perak, gandung dengan
gandum dengan ukuran yang sama. (HR: Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn
Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit)
Sabda Rasulullah:
“ Rasulullah saw melarang menjual perak dengan emas secara piutang (tidak tunai).”
(HR: Hadis Nabi riwayat Muslim dari Bara’ bin ‘Azib dan Zaid bin Arqam)
Sabda Rasulullah:
“ Janganlah kamu menjual emas dengan emas kecuali sama (nilainya) dan janganlah
menambahkan sebagian atas sebagian yang lain; janganlah menjual perak dengan
perak kecuali sama (nilainya) dan janganlah menambahkan sebagaian atas sebagian
yang lain; dan janganlah menjual emas dan perak tersebut yang tidak tunai dengan
yang tunai”. (HR:Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri)
Dalam Islam fungsi uang dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Money as a flow consept
Dalam
Islam,
uang
harus
diputar
terus
menerus
sehingga
dapat
mendatangkan keuntungan yang lebih besar. Bahwa uang bagaikan air yang
mengalir, sehingga uang diibaratkan seperti air. Uang yang berputar untuk
proses produksi akan mendatangkan kemakmuran dan kesehatan ekonomi
masyarakat. Sementara, tertahannya uang akan menyebabkan macetnya
roda perekonomian.
QS: Al Hasyr (7):
Artinya: Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada
RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka
adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan
12
beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan
Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka
tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat
keras hukumannya.
QS: At-Thaubah (35):
Artinya: Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu
dibakar dengannya dahi mereka, Lambung dan punggung mereka (lalu
dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk
dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu
simpan itu."
Nabi bersabda:
“Ketahuilah, Siapa saja di antara kamu yang memelihara harta anak yatim,
sedangkan anak yatim itu memiliki uang (dinar-dirham), maka bisniskanlah,
jangan dibiarkan idle, sehingga nanti uang itu habis dimakan sedeqah/zakat.”
b. Money as public goods
Uang adalah berang yang diperuntukkan bagi masyarakat banyak. Sebagai
barang umum, masyarakat dapat mempergunakannya tanpa ada hambatan
dari orang lain. Oleh karena itu dalam Islam, menumpuk uang sangat
dilarang, karena kegiatan menumpuk uang akan mengganggu orang lain
yang ingin menggunakannya. Secara lebih sederhana digambarkan bahwa
modal adalah milik pribadi, sedangkan uang adalah milik umum.
Islam tidak mengenal konsep time value of money (yang popular dengan istilah—
time is money) sebagaimana dikenal pada konsep ekonomi konvensional. Di dalam
sistem ekonomi Islam, konsep time value of money tidak akan terjadi. Untuk
menganalisis ini, ada ajaran yang kuat dalam Islam, yaitu merujuk pada QS: Al-Ashr
(1-3):
13
Artinya: 1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh
dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat
menasehati supaya menetapi kesabaran.
Surah Al-Ashr (1-3) ini menunjukkan bahwa waktu bagi semua orang adalah
sama kuantitasnya. Namun nilai dari waktu itu akan berbeda antara satu orang dengan
orang lainnya. Perbedaan nilai waktu tersebut adalah bergantung pada bagaimana
seseorang memanfaatkan waktu. Semakin efektif dan efisien seseorang dalam
mengelola waktunya, maka akan semakin besar nilai waktu yang dimilikinya.
Ajaran dalam Islam tersebut mengindikasikan bahwa dalam bisnis selalu
dihadapkan pada keadaan untung dan rugi. Keuntungan dan kerugian tidak dapat
dipastikan untuk masa yang akan datang. Bisnis pada dasarnya adalah hubungan
antara risk dan return. Bisnis bukanlah suatu kegiatan yang akan mendatangkan return
tanpa adanya resiko, sebagaimana dijelaskan dalam konsep time value of money.
Emas dan perak adalah mata uang dunia paling stabil yang pernah dikenal.
Sejak masa awal Islam hingga hari ini, nilai mata uang Islam dwilogam itu secara
mengejutkan tetap stabil dalam hubungannya dengan barang-barang konsumtif.
Seekor ayam pada zaman Nabi Muhammad SAW harganya 1 dirham. Hari ini, lebih
1400 tahun kemudian, harganya kurang lebih masih 1 dirham. Dengan demikian inflasi
adalah nol.
C.
Kebijakan Moneter Konvensional
Instrumen-instrumen pokok dari kebijakan moneter dalam teori konvensional
antara lain adalah:
1. Kebijakan Pasar terbuka. (Open Market Operation). Kebijakan membeli atau
menjual surat berharga atau obligasi di pasar terbuka. Jika bank sentral ingin
menambah suplai uang maka bank sentral akan membeli obligasi, dan
sebaliknya bila akan menurunkan jumlah uang beredar maka bank sentral akan
menjual obligasi.
2. Penentuan Cadangan Wajib Minimum. (Reserve Requirement). Bank sentral
umumnya menentukan angka rasio minimum antara uang tunai (reserve)
dengan kewajiban giral bank (demand deposits), yang biasa disebut minimum
legal reserve ratio. Apabila bank sentral menurunkan angka tersebut maka
14
dengan uang tunai yang sama, bank dapat menciptakan uang dengan jumlah
yang lebih banyak daripada sebelumnya.
3. Penentuan Discount Rate. Bank sentral merupakan sumber dana bagi bankbank umum atau komersial dan sebagai sumber dana yang terakhir (the last
lender resort). Bank komersial dapat meminjam dari bank sentral dengan
tingkat suku bunga sedikit di bawah tingkat suku bunga kredit jangka pendek
yang berlaku di pasar bebas. Discount rate yang bank sentral kenakan
terhadap pinjaman ke bank komersial mempengaruhi tingkat keuntungan bank
komersial tersebut dan keinginan meminjam dari bank sentral. Ketika discount
rate relatif rendah terhadap tingkat bunga pinjaman, maka bank komersial akan
mempunyai kecendrungan untuk meminjam dari bank sentral.
4. Moral Suasion Kebijakan Bank Sentral yang bersifat persuasif berupa
himbauan/bujukan moral kepada bank.
Instrumen-instrumen konvensional yang mengandung unsur bunga (bank
rates, discount rate, open market operation dengan sekuritas bunga yang
ditetapkan didepan) tidak dapat digunakan pada pelaksanaan kebijakan moneter
berbasis Islam.
D. Kebijakan Moneter Islam
Perekonomian jazirah arabia ketika zaman Rasulullah merupakan ekonomi
dagang, bukan ekonomi yang berbasis sumber daya alam. Lalu lintas perdagangan
antara Romawi dan India melalui Arab dikenal sebagai jalur dagang selatan. Maka
perekonomian Arab pada zaman Rasulullah bukanlah perekonomian yang terbelakang.
Pada zaman Rasulullah telah terjadi:
-
Valuta asing dari Persia dan Romawi yang dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat
arab, bahkan menjadi alat bayar resminya adalah dinar dan dirham.
-
Sistem devisa bebas ditetapkan, tidak ada larangan sedikitpun larangan dan
batasan untuk mengimpor dinar atau dirham.
-
Transaksi tidak tunai diterima secara luas dikalangan pedagang.
-
Cek dan promissory note telah lazim digunakan, misalnya Umar bin Khatab r.a
menggunakan instrumen ini ketika mengimpor barang-barang yang baru dari Mesir
ke Madinah
15
-
Instrumen factory (anjak piutang) yang baru populer tahun 1980-an telah dikenal
dengan nama al-hiwalah, hanya bedanya al-hiwalah tidak menggunakan instrumen
bunga.
Pada masa itu, apabila penerimaan akan uang meningkat, maka dinar dan
dirham diimpor. Sebaliknya, bila permintaan uang turun, barang impor nilai emas dan
perak yang terkandung dalam dinar dan dirham sama dengan nilai nominalnya. Dari
paparan diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa di zaman Rasulullah sudah tidak
asing lagi dengan masalah kebijakan moneter.
Dalam perkenomian konvensional permintaan akan uang oleh setiap individu sangat
dipengaruhi oleh tingkat transaksi dan tingkat suku bunga. Permintaan spekulatif akan
uang pada dasarnya dipacu oleh fluktuasi tingkat bunga. Penurunan tingkat bunga
yang disertai dengan harapan bertambah akan merangsang orang untuk tetap
menyimpan uangnya. Karena tingkat bunga yang seringkali fluktuasi, uang yang
sengaja disimpanpun akan terus menerus berubah.
Dalam perekonomian Islam, permintaan terhadap uang akan lahir terutama dari
motif transaksi dan tindakan berjaga-jaga yang ditentukan pada umumnya oleh
tingkatan pendapatan uang dan distribusinya. Makin merata distribusi pendapatan,
makin besar permintaan akan uang untuk tingkatan pendapatan agregat tertentu.
Dalam perekonomian Islam, sektor perbankan tidak mengenal instrumen suku
bunga yang menetapkan tingkat keuntungan di muka. Sistem keuangan Islam
menerapkan sistem pembagian keuntungan dan kerugian. Besar kecilnya pembagian
keuntungan yang diperoleh nasabah perbankan islami ditentukan oleh besar kecilnya
pembagian keuntungan yang diperoleh bank dari kegiatan investasi dan pembiayaan
yang dilakukan di sektor riil. Jadi dalam sistem keuangan Islam, hasil dari investasi dan
pembiayaan yang dilakukan bank di sektor riil yang menentukan besar kecilnya
pembagian keuntungan di sektor moneter. Jika investasi dan produksi di sektor riil
berjalan dengan lancar, maka hasil pada sektor moneter akan terus meningkat.
Namun tidak adanya instrumen bunga di dalam ekonomi Islam menimbulkan
pertanyaan besar, bagaimana mengelola kebijakan moneter dengan ketiadaan sistem
bunga; bagaimana kebijakan moneter dapat berperan efektif untuk mencapai sasaran
perekonomian Islam; bagaimana mekanisme untuk menyamakan permintaan dan
penawaran tanpa kehadiran bunga sebagai instrumen pengatur.
Variabel yang diformulasikan dalam kerangka kebijakan moneter Islam adalah
stok uang, bukan tingkat suku bunga. Bank sentral harus mengarahkan kebijakan
moneternya untuk mendorong pertumbuhan dalam penawaran uang yang cukup untuk
membiayai pertumbuhan potensial dalam output jangka menengah dan jangka panjang
16
demi mencapai harga yang stabil dan tujuan-tujuan sosio ekonomi Islam. Sasarannya
haruslah untuk menjamin bahwa pengembangan moneter yang tidak berlebihan
melainkan cukup untuk sepenuhnya dapat mengeksploitasi kapasitas perekonomian
untuk menawarkan barang dan jasa bagi kesejahteraan sosial umum. Tingkat
pertumbuhan yang ingin dicapai haruslah stabil, realistis dan dapat bertahan dalam
jangka menengah dan panjang bukan yang tidak realistis dan naik turun.
Permintaan uang hanya untuk keperluan transaksi dan berjaga-jaga.
Permintaan uang yang rill dilarang. Penimbunan mata uang dilarang sebagaimana
peninbunan barang juga dilarang. Transaksi talaqqi rukban dan kali bi kali dilarang.
Tansaksi tidak tunai boleh dialakukan, namun melarang transaksi future tanpa ada
barangnya.
Stabilitas nilai uang mencerminkan stabilitas harga yang pada akhirnya akan
mempengaruhi realisasi pencapaian tujuan pembangunan suatu Negara, seperti
pemenuhan kebutuhan dasar, pemerataan distribusi, perluasan kesempatan kerja,
pertumbuhan ekonomi riil yang optimum dan stabilitas ekonomi.
Stabilitas nilai uang juga ditegaskan oleh Chapra (Al Quran Menuju Sistem
Moneter yang Adil), kerangka kebijakan moneter dalam perekonomian Islam adalah
stok uang, sasarannya haruslah menjamin bahwa pengembangan moneter yang tidak
berlebihan melainkan cukup untuk sepenuhnya dapat mengeksploitasi kapasitas
perekonomian untuk menawarkan barang dan jasa bagi kesejahteraan sosial umum.
Pelaksanaan kebijakan moneter (operasi moneter) yang dilakukan otoritas
moneter sebagai pemegang kendali money supply untuk mencapai tujuan kebijakan
moneter dilakukan dengan menetapkan target yang akan dicapai dan dengan
instrumen apa target tersebut akan dicapai.
Stabilitas nilai dari mata uang merupakan prioritas utama dalam kegiatan
manajemen moneter, karena stabilitas tersebut akan mencerminkan stabilitas harga
yang pada akhirnya akan mempengaruhi realisasi pencapaian tujuan pembangunan
suatu Negara, seperti pemenuhan kebutuhan dasar, pemerataan distribusi pendapatan
dan kekayaan, perluasan kesempatan kerja, tingkat pertumbuhan ekonomi riil yang
optimum dan stabilitas ekonomi.
Manajemen moneter melalui suku bunga cenderung memperkecil permintaan
uang untuk kegiatan-kegiatan pemenuhan kebutuhan pokok dan investasi yang
produktif. Di samping itu cenderung memperbesar permintaan uang untuk kegiatan
non produktif dan spekulatif. Hal demikian pada akhirnya berakibat pada kegagalan
pencapaian tujuan pembangunan ekonomi Negara. Oleh karena permintaan uang
untuk konsumsi yang berlebihan dan spekulasi cenderung tidak stabil. Maka keadaan
17
ini dapat mengakibatkan ketidakstabilan bagi perekonomian secara keseluruhan.
Dengan demikian permintaan uang harus diarahkan pada upaya untuk investasi
produktif.
Manajemen moneter Islami adalah manajemen moneter yang berdasarkan
pada nilai-nilai Islam yang diharapkan akan menciptakan stabilitas harga dan
perekonomian yang kondusif sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap
pencapaian tujuan pembangunan ekonomi.
Sesuai dengan ajaran Islam, manajemen moneter yang efisien dan adil tidak
berdasarkan pada mekanisme bunga, melainkan dengan menggunakan instrumen
utama yaitu:
1. Value judgement yang dapat menciptakan suasana yang memungkinkan alokasi
dan distribusi sumber yang sesuai dengan ajaran Islam. Pada dasarnya sumber
daya merupakan amanah dari Allah yang pemanfaatannya dilakukan secara efisien
dan efektif. Berdasarkan nilai-nilai Islam, permintaan uang harus dimanfaatkan
untuk memenuhi kebutuhan dasar dan investasi yang produktif bukan untuk
konsumsi yang berlebihan, pengeluaran-pengeluaran non produktif dan spekulatif.
2. Kelembagaan yang berkaitan dengan kegiatan social ekonomi dan politik yang
salah satunya dapat menciptakan mekanisme harga yang dapat meningkatkan
efisiensi dalam pemanfaatan sumber.
3. Mekanisme lembaga perantara keuangan yang beroperasi berdasarkan system
bagi hasil (profit dan loss sharing). Dalam system ini permintaan uang akan
dialokasikan dengan syarat hanya untuk proyek-proyek yang bermanfaat dan
hanya kepada debitur yang mampu mengelola proyek secara efisien. Dengan
persyaratan tersebut diharapkan dapat meminimalisasikan permintaan uang untuk
pemanfaatan tidak berguna, non produktif dan spekulatif. Selain itu dapat
menciptakan masyarakat yang memiliki jiwa kewirausahaan sekalipun dari
golongan miskin. Karena wirausahawan dapat menghasilkan output, perluasan
kesempatan kerja dan pemenuhan kebutuhan dasar.
Untuk menciptakan keseimbangan antara money demand dan money supply
banyak pendekatan praktis yang dapat digunakan untuk memperkirakan permintaan
uang yang konsisten dengan realisasi pencapaian tujuan sosio ekonomi dengan
kerangka stabilitas harga dan kemudian memantapkan rentangan target pertumbuhan
penawaran uang yang akan membantu tercapainya kecukupan permintaan ini secara
memungkinkan. Pentargetan moneter sebanding dengan perputaran uang yang dapat
diprediksikan secara nalar pada periode yang tepat. Di dalam mencapai pertumbuhan
money supply yang sesuai dengan target, diperlukan instrument-instrumen yang
18
digunakan oleh bank sentral agar dapat menciptakan keselarasan antara pertumbuhan
money supply yang ditargetkan dan yang actual terjadi.
Dalam hal pencapaian target pertumbuhan M, bank sentral memiliki peran
penting dalam mengatur pertumbuhan Mo atau high-powered money. Terdapat tiga
sumber utama yang mempengaruhi high powered money (Mo), yaitu:
1. Pinjaman pemerintah kepada bank sentral, merupakan sumber terbesar dari deficit
angggaran pemerintah. Berlebihnya deficit anggaran pemerintah mengakibatkan
beban yang sangat berat bagi sector moneter untuk menjaga stabilitas serta
kebijakan moneter yang sehat sangat sulit dicapai. Ekspansi moneter hanya dapat
dikontrol bila sumber utama dari high powered money dapat diatur dengan baik.
2. Kredit bank sentral kepada bank komersial yang dapat dikendalikan dengan
mekanisme bagi hasil sebagai pengganti sistem bunga. Dengan prinsip
mudharabah berarti bank sentral harus lebih berhati-hati dalam menyalurkan
pinjamannya kepada bank komersial, di lain pihak bank komersial juga harus lebih
berhati-hati menyalurkan kreditnya kepada para debitur.
3. Surplus neraca pembayaran, pada negara yang mengalami surplus ekspansi
moneter
akan
terjadi
bila
pemerintah
menguangkan
surplus
dengan
membelanjakannya secara domestik. Jika suatu negara mengalami surplus
pembayaran, pengeluaran pemerintah harus diatur menurut kapasitas ekonomi
untuk menghasilkan penawaran riil, sehingga tidak terjadi inflasi sebagai akibat
surplus neraca pembayaran.
Jika high-powered money diatur dengan mengontrol anggaran deficit
pemerintah, maka ada batas fluktuasi jangka pendek pada volume uang yang
sebanding hubungannya dengan tabungan yang dikumpulkan. Oleh karena itu
instrumen moneter yang dapat diterapkan dalam perekonomian Islam dapat ditempuh
dengan dua instrumen besar yaitu kontrol kuantitatif penyaluran kredit dan
merealisasikan tujuan sosio ekonomi.
1. Kontrol kuantitatif penyaluran kredit
a. Statutory Reserve Requirement
Biasanya disebut juga Giro Wajib Minimum yaitu simpanan minimum bank-bank
umum dalam bentuk giro di Bi yang besarnya ditetapkan oleh BI berdasarkan
persentase tertentu dari dana pihak ketiga (5% untuk rupiah dan 3% dana pihak
ketiga yang berbentuk mata uang asing). GWM ini adalah kewajiban bank
dalam rangka mendukung pelaksanaan prinsip kehati-hatian perbankan serta
juga
mempunyai
peran
sebagai
instrument
moneter
yang
berfungsi
mengendalikan jumlah uang yang beredar.
19
b. Credit Ceiling
Instrumen reserve requirement belum menjamin keberhasilan manajemen
moneter. Sebab hal itu dapat menyebabkan ekspansi kredit melampui jumlah
yang ditargetkan. Hal ini terjadi karena aliran dana yang dapat diperkirakan
tetap masuk dalam system perbankan hanya yang berasal dari mekanisme
mudharabah bank sentral dengan bank konvensional sedangkan aliran dari
sumber lain sulit ditentukan secara akurat. Hal ini juga mempengaruhi
hubungan reserves dan ekspansi kredit. Maka perlu untuk dipertimbangkan
credit ceiling untuk menjamin total kredit yang disalurkan konsisten dengan
target moneter. Credit ceiling diprioritaskan pada pembiayaan yang ditujukan
pada sector-sektor penting seperti pertanian, ekspor, industri, pertambangan
dan energi dan lain-lain.
c. Government Deposit
Bank sentral mempunyai kewenangan untuk memindahkan demand deposit
pemerintah yang ada pada bank sentral ke dan dari bank komersial.
Fungsinya sama seperti operasi pasar terbuka yang mempengaruhi reserves
bank komersial secara tidak langsung.
d. Common Pool
Common pool adalah instrument yang mensyaratkan bank-bank komersial
untuk menyisihkan sebagian dari deposit yang dikuasai dalam proporsi tertentu
yang berdasarkan kesepakatan bersama guna menanggulangi masalah
likuiditas suatu bank.
e. Moral Suasion
Instrumen ini dalam bentuk kontak-kontak personal, konsultasi antara bank
komersial dengan bank sentral. Dengan cara ini bank sentral lebih cepat dan
mampu memonitor kekuatan dan masalah yang dihadapi bank komersial dan
lebih jelas dan tepat memberikan saran-saran guna mengatasi permasalahan
yang dihadapi perbankan.
f.
Change In The Profit and Loss Sharing Ratio
Dalam mekanisme mudharabah terdapat keuntungan yang berubah-ubah
sehingga rasio bagi hasil dan rugi ditentukan oleh keuntungan. Untuk itu perlu
adanya variasi rasio bagi laba dan rugi untuk aktivitas mudharabah yang
dikeluarkan oleh bank sentral kepada bank komersial dan juga untuk para
20
deposan kepada wirausahawan yang melakukan transaksi deposit dan
pembiayaan dengan akad mudharabah di bank komersial.
g. Sertifikat Investasi Mudharabah Antar bank Syariah (Sertifikat IMA)
Instrumen yang digunakan oleh bank-bank syariah yang kelebihan dana untuk
mendapatkan keuntungan dan di lain pihak sebagai sarana penyedia dana
jangka pendek bank-bank syariah yang kekurangan dana. Sertifikat ini
berjangka waktu 90 hari, diterbitkan oleh kantor pusat bank syariah dengan
format dan ketentuan standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Pembayaran akan dilakukan oleh bank syariah penerbit sebesar nilai nominal
ditambah imbalan bagi hasil.
h. Sertifikat Wadiah Bank Indonesia
Instrumen Bank Indonesia yang sesuai dengan syariah Islam yang digunakan
dalam operasi pasar terbuka. Instrumen ini digunakan untuk mengendalikan
uang beredar dengan jalan menambah atau mengurangi jumlah uang yang
beredar di masyarakat melalui bank syariah. Instrumen ini juga dijadikan
sebagai sarana penitipan dana jangka pendek khususnya bagi bank yang
mengalami kelebihan likuiditas. Operasionalnya, SWBI memiliki nilai nominal
minimum Rp 500 jt dengan jangka waktu yang dinyatakan dalam hari
(misalnya: 7 hari; 14 hari; 30 hari). Pembayaran dan pelunasan SWBI melalui
debit/kredit rekening giro bank yang ada di Bank Indonesia. Jika jatuh tempo
dana akan dikembalikan beserta bonus yang ditentukan berdasarkan
parameter sertifikat IMA.
2. Merealisasikan tujuan sosio ekonomi
a. Treating the Created Money as Fay
Uang
yang
diciptakan
bank
sentral
berasal
dari
pelaksanaan
hak
prerogratifnya. Hal ini membawa keuntungan bagi bank sentral karena biaya
yang dikeluarkan untuk menciptakan uang lebih kecil daripada nilai nominalnya
(money seigniorage). Oleh karena itu dengan adanya seigniorage maka wajar
jika bank sentral menyisihkan sebagian dananya sebagai fay/pajak untuk
membiayai proyek-proyek yang dapat memperbaiki kondisi social ekonomi
masyarakat miskin dan dapat mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan
dan kekayaan.
b. Goal oriented allocation of credit
21
Alokasi pembiayaan perbankan berdasarkan tujuan pemanfaatan akan
memberikan manfaat yang optimum bagi semua pelaku bisnis, akan
menghasilkan barang dan jasa yang dapat terdistribusi ke semua lapisan
masyarakat. Namun, dalam kenyataannya hal ini sulit terjadi, karena dana yang
dapat dihimpun oleh perbankan umumnya berasal sebagian besar dari
penabung kecil, namun pemanfaatannya dalm bentuk kredit lebih tertuju pada
pengusaha-pengusaha besar. Keengganan perbankan menyalurkan kredit
pada usaha kecil karena adanya risiko yang lebih tinggi dan pengeluaran yang
lebih besar dalam pembiayaan usaha kecil, namun disertai dengan berbagai
persyaratan yang sulit bagi mereka. Akibatnya pertumbuhan dan kelangsungan
usaha kecil menjadi terancam padahal usaha kecil berpotensi memperluas
kesempatan kerja, menghasilkan produksi dan dapat memperbaiki distribusi
pendapatan.
Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya skim penjaminan bagi bagi bank
dalam berpartisipasi pada pembiayaan usaha-usaha produktif yang tidak
menyalahi nilai-nilai Islam. Dalam skim penjaminan, perusahaan diteliti
kemampuan berusaha dan manajemennya. Bila dirasakan kurang namun
memiliki prospek yang baik, maka dibantu dengan program-program pelatihan
sehingga perusahaan dapat memanfaatkan dan mengelola dananya dengan
baik. Kemudian perusahaan ini didaftar oleh pengelola skim penjaminan.
Melalui skim penjaminan ini, bank tidak diharuskan meminta jaminan kepada
perusahaan yang mengajukan permohonan pembiayaan.
22
DAFTAR PUSTAKA
Chapra, Umer, Al Qur’an Menuju Sistem Moneter yang Adil, Dana Bhakti Prima Yasa,
Yogyakarta, 1997
Chapra M. Umer, Masa Depan Ilmu Ekonomi Sebuah Tinjauan Islam, Jakarta: Gema
Insani Press, 2000, Tazkia Cendikia.
Chapra M. Umer, Sistem Moneter Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 2000, Tazkia
Cendikia.
Muhammad, Kebijakan Fiskal dan Moneter Dalam Ekonomi Islam, Jakarta: Salemba
Empat, 2002.
Antonio M. Syafi’i, Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik, Jakarta: Gema Insani Press,
2001, Tazkia Cendikia.
Huda, Nurul, dkk, Ekonomi Makro Islami Pendekatan Teoritis, Kencana, Jakarta, 2008
Muhammad, Kebijakan Fiskal dan Moneter dalam Ekonomi Islam, Salemba Empat,
Jakarta, 2002
23
Download