berita daerah kota bekasi

advertisement
BERITA DAERAH
KOTA BEKASI
NOMOR : 54
2013
SERI : E
PERATURAN WALIKOTA BEKASI
NOMOR 54 TAHUN 2013
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA BEKASI
NOMOR 52 TAHUN 2011 TENTANG SISTEM DAN PROSEDUR
PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH KOTA BEKASI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA BEKASI,
Menimbang
: bahwa berdasarkan Pasal 6 Peraturan Pemerintah
Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntasi
Pemerintahan, maka Peraturan Walikota Bekasi Nomor
52
Tahun
2011
tentang
Sistem
dan
Prosedur
Pengelolaan Keuangan Daerah dipandang perlu untuk
diubah
yang
perubahannya
ditetapkan
dengan
Peraturan Walikota.
Mengingat
: 1.
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1996 tentang
Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Bekasi
( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996
Nomor 111, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3663);
1
2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara
Republik
Indonesia
Tahun
1999
Nomor
75,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3851) sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang
Komisi
Pemberantasan
Tindak
Pidana
Korupsi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002
Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4250);
3.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan
Negara
Indonesia
Tahun
(Lembaran
2003
Negara
Nomor
47,
Republik
Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
4.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan
Republik
Negara
Indonesia
Tahun
(Lembaran
2004
Negara
Nomor
5,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4355);
5.
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4400);
6.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem
Perencanaan
Pembangunan
Nasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4421);
2
7.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah
(Lembaran
Tahun 2008
Negara
Nomor
59,
Republik
Indonesia
Tambahan
Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
8.
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat
dan
Pemerintahan
Republik
Indonesia
Daerah
(Lembaran
Tahun
2004
Negara
Nomor
126,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4438);
9.
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5049);
10. Peraturan Pemerintah Nomor
23
Tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
Umum
(Lembaran
Tahun 2005
Negara
Nomor
48,
Republik
Indonesia
Tambahan
Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4502);
3
11. Peraturan Pemerintah Nomor
tentang
Dana
Republik
Perimbangan
Indonesia
Tahun
55
Tahun 2005
(Lembaran
2005
Negara
Nomor
137,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4575);
12. Peraturan Pemerintah Nomor
57
Tahun 2005
tentang Hibah kepada Daerah (Lembaran Negara
Republik
Indonesia
Tahun
2005
Nomor
139,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4577);
13. Peraturan Pemerintah Nomor
58
Tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4578);
14. Peraturan
Pemerintah
Nomor
8
Tahun
2006
tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi
Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2006
Nomor
25,
Tambahan
Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4614);
15. Peraturan Pemerintah Nomor
38
Tahun 2007
tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara
Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota ( Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4737);
4
16. Peraturan Pemerintah Nomor
tentang
Standar
71
Akuntansi
Tahun 2010
Pemerintahan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5165);
17. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana
telah
beberapa
kali
diubah
terakhir
dengan
Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang
Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor
54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah;
18. Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor 04 Tahun
2007 tentang Pokok Pengelolaan Keuangan Kota
Bekasi (Lembaran Daerah Tahun 2007 Nomor 4
Seri A);
19. Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor 03 Tahun
2008 tentang Urusan Pemerintahan Wajib dan
Pilihan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintah Kota
Bekasi (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 3
Seri E);
20. Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor 05 Tahun
2004 tentang Lembaga Teknis Daerah Kota Bekasi
(Lembaran Daerah Tahun 2004 Nomor 05 Seri D)
sebagaimana
telah
diubah
dengan
Peraturan
Daerah Kota Bekasi Nomor 05 Tahun 2010 tentang
Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Bekasi
Nomor 05 Tahun 2004 tentang Lembaga Teknis
Daerah Kota Bekasi (Lembaran Daerah Tahun 2010
Nomor 05 Seri D).
5
Memperhatikan :
1. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006
tentang
Pedoman
Pengelolaan
Keuangan
Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah
terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 21 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua
Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13
Tahun
2006
tentang
Pedoman
Pengelolaan
Keuangan Daerah;
2. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun
2011 tentang Pedoman Pemberian
Hibah dan
Bantuan Sosial yang Bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah.
MEMUTUSKAN:
Menetapkan
: PERATURAN WALIKOTA TENTANG PERUBAHAN
ATAS PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 52
TAHUN 2011 TENTANG SISTEM DAN PROSEDUR
PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH KOTA BEKASI.
Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Walikota Bekasi Nomor 52 Tahun
2011 tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah Kota
Bekasi (Berita Daerah Tahun 2011 Nomor 52 Seri A) diubah sebagai
berikut:
1. Diantara Pasal 5 dan Pasal 6 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 5A
sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 5A
Sistem dan Prosedur Akuntansi sebagaimana dimaksud Pasal 5 huruf d
mulai berlaku efektif setelah dikeluarkannya Peraturan Menteri Da
lam Negeri tentang Penerapan Sistem Akuntansi Berbasis Akrual pada
Pemerintah Daerah/Kota.
2. Ketentuan Lampiran IV diubah dengan perubahan
tercantum dalam Lampiran Peraturan Walikota ini.
sebagaimana
6
Pasal II
Peraturan Walikota ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Walikota ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kota
Bekasi.
Ditetapkan di Kota Bekasi
pada tanggal 03 Desember 2013
WALIKOTA BEKASI,
Ttd/Cap
RAHMAT EFFENDI
Diundangkan di Bekasi
pada tanggal 03 Desember 2013
SEKRETARIS DAERAH KOTA BEKASI,
Ttd/Cap
RAYENDRA SUKARMADJI
BERITA DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2013 NOMOR 54 SERI E
7
LAMPIRAN IV
: PERATURAN WALIKOTA BEKASI
Nomor
: 54 Tahun 2013
Tanggal
: 03 Desember 2013
SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH
4.1 PENDAHULUAN
Dalam
rangka
melaksanakan
ketentuan
pasal
6
ayat
(3)
Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan serta ketentuan pasal 232 ayat (2) Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah sebagaimana yang telah diubah dengan Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007, maka perlu disusun Sistem Akuntansi
Keuangan Daerah sebagai pedoman dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan
akuntansi keuangan daerah di Kota Kota Bekasi.
4.2
TUJUAN SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH
Tujuan dari Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) Kota Bekasi adalah:
a. Menjaga aset Pemerintah Kota Bekasi dan seluruh SKPD dibawahnya
melalui pencatatan, pemrosesan dan pelaporan transaksi keuangan yang
konsisten sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan;
b. Menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu tentang penggunaan
anggaran maupun kegiatan keuangan Pemerintah Kota Bekasi secara
keseluruhan, yang berguna sebagai dasar penilaian kinerja, untuk
menentukan ketaatan terhadap otorisasi anggaran dan untuk tujuan
akuntabilitas;
c. Menyediakan informasi yang dapat dipercaya tentang posisi keuangan
suatu SKPD dan Pemerintah Kota Bekasi secara keseluruhan;
d. Menyediakan informasi keuangan yang berguna untuk perencanaan,
pengelolaan dan pengendalian kegiatan dan keuangan pemerintah daerah
secara efisien dan efektif.
8
4.3
SUBSISTEM PADA SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH
Sistem akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) terdiri dari 2 subsistem
akuntansi yaitu:
a. Sistem Akuntansi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SA-SKPD) yang
dilaksanakan PPK-SKPD yang menghasilkan laporan keuangan berupa
Laporan Realisasi Anggaran, Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan.
b. Sistem Akuntansi Satuan Kerja Pengelola keuangan Daerah (SA-SKPKD)
yang dilaksanakan oleh fungsi akuntansi SKPKD. Fungsi akuntansi
SKPKD,
disamping
menjalankan
fungsi
akuntansi
SKPKD
selaku
Bendahara Umum Daerah (BUD) berfungsi juga untuk mengkonsolidasi
laporan keuangan seluruh SKPD yang menghasilkan laporan keuangan
pemerintah daerah berupa Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan
Aliran Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan.
4.4 CIRI POKOK AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH
a. Basis Akuntansi
Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah
adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja dan pembiayaan
dalam Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Saldo Anggaran Lebih dalam
Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL) jika anggaran masih
berbasis kas.
Basis akrual untuk pengakuan asset, kewajiban dan
ekuitas dana dalam neraca. Basis akrual untuk pengakuan pendapatan,
beban dan surplus/defisit pada Laporan Operasional serta Ekuitas pada
Laporan Perubahan Ekuitas.
b. Sistem Pembukuan Berpasangan
Sistem pembukuan berpasangan didasarkan atas persamaan dasar
akuntansi pemerintahan yaitu Aset = Kewajiban + Ekuitas Dana.
Persamaan akuntansi tersebut digunakan dalam basis akrual untuk
menghasilkan Laporan Operasional (LO).
9
c. Dana Tunggal
Dana tunggal merupakan tempat dimana pendapatan dan belanja
pemerintah dipertanggungjawabkan sebagai kesatuan tunggal.
d. Desentralisasi Pelaksanaan Akuntansi
Kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan dilaksanakan oleh unit-unit
akuntansi di setiap SKPD (SKPD sebagai entitas akuntansi). Sedangkan
SKPKD sebagai entitas pelaporan keuangan daerah disamping sebagai
entitas akuntansi.
e. Bagan Perkiraan Standar
Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah menggunakan perkiraan standar
yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri yang berlaku untuk tujuan
penganggaran maupun akuntansi.
f. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
Sistem
Akuntansi
melakukan
Pemerintah
pengakuan,
Daerah
penilaian,
mengacu
pencatatan,
pada
SAP
dalam
penyajian
dan
pengungkapan terhadap transaksi keuangan dalam rangka penyusunan
laporan keuangan.
4.5 RUANG LINGKUP
Ruang lingkup SAPD dalam Peraturan WaliKota Bekasi ini berlaku untuk
seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Kota Bekasi.
Tidak termasuk dalam ruang lingkup Peraturan Walikota Bekasi ini adalah:
a. Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)
b. Badan usaha Milik Negara/Badan usaha Milik Daerah
c. Bank dan Lembaga Keuangan Milik Pemerintah/Pemerintah Daerah
4.6 PENGERTIAN ISTILAH AKUNTANSI
1. Buku Besar adalah daftar yang berisikan mutasi dan saldo perkiraanperkiraan/rekening-rekening yang akan menghasilkan laporan keuangan.
Mutasi dan saldo perkiraan dalam buku besar diperoleh dari hasil posting
pembukuan dari buku jurnal;
2. Buku Jurnal adalah daftar dari hasil proses penjurnalan yang berisi
10
transaksi debet dan kredit yang mencakup nama perkiraan/rekening dan
jumlahnya;
3. Buku Besar Pembantu adalah daftar lebih rinci yang dibuat sebagai
pendukung saldo dalam buku besar. Misalnya, buku besar piutang pajak
hotel didukung dengan buku pembantu piutang pajak hotel yang berisi
nama-nama debitur dan jumlah tunggakannya.
4. Daftar Perkiraan Standar atau Daftar Kode Rekening Standar adalah
daftar perkiraan/rekening buku besar yang ditetapkan dan disusun
secara sistematis untuk memudahkan perencanaan dan pelaksanaan
anggaran, serta pembukuan dan pelaporan keuangan pemerintah daerah;
5. Dokumen Sumber adalah dokumen yang digunakan sebagai sumber atau
bukti untuk memproses data/transaksi;
6. Ekuitas
Dana
adalah
kekayaan
bersih
pemerintah
daerah
yang
merupakan selisih antara aset dan kewajiban pemerintah daerah;
7. Jurnal adalah proses pencatatan transaksi keuangan pemerintah daerah
berdasarkan dokumen sumber ke buku jurnal. Penjurnalan adalah awal
dari proses akuntansi yang akan bermuara ke laporan keuangan.
8. Laporan Arus Kas (LAK) adalah laporan yang menggambarkan arus kas
selama periode tertentu dan posisi kas pada tanggal pelaporan;
9. Laporan Realisasi Anggaran (LRA) adalah laporan yang menggambarkan
perbandingan
antara
anggaran
pendapatan
dan
belanja
dengan
realisasinya dalam satu periode tertentu yang menunjukkan ketaatan
terhadap peraturan dan/atau ketentuan perundang-undangan;
10. Neraca adalah laporan yang menyajikan informasi posisi keuangan
pemerintah yaitu aset, utang dan ekuitas dana pada suatu tanggal
tertentu;
11. Memo Jurnal/Memo Pembukuan adalah memo atau catatan yang dibuat
oleh kepala fungsi akuntansi yang berisi perintah untuk melakukan
penjurnalan
disertai
perkiraan/rekening
yang
akan
dijurnal
dan
jumlahnya yang ditujukan untuk staf fungsi akuntansi.
12. Perkiraan/Rekening/Akun adalah rincian pos/satuan terkecil dalam
akuntansi dan laporan keuangan dimana setiap transaksi keuangan akan
dibukukan.
13. Posting adalah proses pemindahan saldo-saldo transaksi debet dan kredit
dalam buku jurnal ke buku besar sesuai perkiraan/rekeningnya masingmasing;
11
14. Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) adalah s e r a n g k a i a n
prosedur
manual
maupun
yang
terkomputerisasi mulai
dari pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran
dengan
pelaporan
posisi
keuangan
dan
sampai
operasi keuangan
Pemerintah Daerah;
15. Sistem Akuntansi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SA-SKPD) adalah
sub sistem dari SAPD yang berupa serangkaian prosedur manual maupun
yang
terkomputerisasi
mulai
dari
pengumpulan
data,
pencatatan,
pengikhtisaran sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi
keuangan pada Satuan Perangkat Kerja Daerah;
16. Sistem Akuntansi Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SASKPKD) adalah sub sistem dari SAPD yang berupa serangkaian
prosedur
manual
maupun
yang
terkomputerisasi
mulai
dari
pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran sampai dengan
pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan Bendahara Umum
Daerah dan penyusunan laporan keuangan Pemerintah Daerah;
17. Sistem Pembukuan Berpasangan adalah cara pembukuan dimana satu
transaksi akan mempengaruhi sisi debet dan sisi kredit dari perkiraan
buku besar;
18. Standar Akuntansi Pemerintahan, yang selanjutnya disebut SAP,
adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam pengakuan,
pengukuran,
pencatatan
dan
pelaporan
transaksi
keuangan
Pemerintah.
4.7 BAGAN KODE REKENING
Untuk keperluan akuntansi perlu diatur bagan kode rekening standar agar
mudah
mengidentifikasi
SKPD/unit
serta
nama
rekening
atas
suatu
transaksi. Bagan kode perkiraan tersebut digunakan dalam buku jurnal
maupun buku besar dan buku besar pembantu. Bagan kode rekening
tersebut diatur sebagai berikut:
12
Kode SKPD
Kode Rekening
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
.
.
.
Kode
Urusan
Bagan
perkira
an
Kode Bidang
Kewenan
gan
Kelompok
perkira
an
Kode Unit
Jenis
perkira
an
Kode
Subuni
t
Obyek
perkira
an
Rincian
obyek
perkira
an
Bagan perkiraan terdiri atas:
a. Perkiraan 1 (satu) menunjukan aset;
b. Perkiraan 2 (dua) menunjukan kewajiban;
c. Perkiraan 3(tiga) menunjukan ekuitas;
d. Perkiraan 4 (empat) menunjukan pendapatan-LRA;
e. Perkiraan 5 (lima) menunjukan belanja;
f. Perkiraan 6 (enam) menunjukan transfer;
g. Perkiraan 7(tujuh) menunjukan pembiayaan;
h. Perkiraan 8 (delapan) menunjukan pendapatan-LO;dan
i. Perkiraan 9 (sembilan) menunjukan beban;
13
Contoh:
1
0
0
0
5
2
0
0
0
1
1
4
.
.
.
Urusan
Wajib
Belanja
Bidang
Kesehat
an
Belanja
Langsu
ng
Unit Dinas
Kesehat
an
Belanja
Pegawai
Subunit
Puskes
mas
Honorarium
PNS
Honorarium
PNS
Lainnya
4.8 PROSEDUR AKUNTANSI
Dalam bagian ini akan diuraikan prosedur akuntansi di SKPD maupun di
SKPKD. Masing-masing prosedur akuntansi tersebut akan diuraikan lagi
sebagai berikut:
1. Prosedur Akuntansi Pendapatan
2. Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas
3. Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas
4. Prosedur Akuntansi Beban
5. Prosedur Akuntansi Barang Milik Daerah (BMD)
6. Prosedur Akuntansi Selain Kas
14
A. PROSEDUR AKUNTANSI SKPD
1. Prosedur Akuntansi Pendapatan
Prosedur akuntansi pendapatan pada SKPD mencakup seluruh pendapatan
yang telah dianggarkan dalam APBD yang dikelola SKPD. Pelaksanaan
prosedur akuntansi pendapatan meliputi 4 hal yaitu: dokumen sumber,
media pencatatan, fungsi-fungsi akuntansi yang terkait dan prosedur
pembukuannya.
a. Pendapatan dapat dibagi atas beberapa tipe sebagai berikut:
1) Pendapatan Pajak/retribusi tipe A
a)
Pendapatan Pajak tipe A:
PPKD (Dispenda) atau SKPD yang berwenang akan menerbitkan
Surat Ketetapan Pajak terkait. Selain disampaikan kepada WP,
SKP tersebut akan didistribusikan kepada PPK-SKPD. Surat
Ketetapan Pajak akan menjadi dokumen sumber dalam mengakui
dan mencatat pendapatan daerah.
Contohnya:
-
Pendapatan Pajak Bumi dan bangunan;
-
Pendapatan Pajak Reklame;
-
dll.
b)
Pendapatan Retribusi tipe A :
Pada
saat
Bendahara
Wajib
Retribusi
Penerimaan
(WR)
akan
melakukan
menerbitkan
pembayaran,
Tanda
Bukti
Pembayaran (TBP) yang akan diserahkan PPK-SKPD serta WP.
Berdasarkan TBP tersebut, PPK-SKPD akan mencatat pengakuan
pendapatan.
Contohnya:
-
Pendapatan Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan
Mayat;
-
Pendapatan Retribusi Pelayanan Kesehatan;
-
Pendapatan Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan;
15
-
Pendapatan Retribusi Pelayanan Pasar;
-
Pendapatan Retribusi Pemakaian Kekayaan daerah;
-
Pendapatan Retribusi Rumah Potong Hewan.
-
Retribusi izin gangguan/keramaian;
2) Pendapatan Pajak/Retribusi Tipe B (Self Assesment)
a) Wajib
Pajak
terhutang
(WP)
melakukan
dilanjutkan
Berdasarkan
dengan
pembayaran
perhitungan
terhadap
pembayaran
pajak
tersebut,
Bendahara
pajak
tersebut.
Penerimaan
mengeluarkan Tanda Bukti Pembayaran (TBP).
Contohnya:
-
Pendapatan Pajak Hotel
-
Pendapatan Pajak Restorsn
b) PPKD ataupun Dinas yang berwenang akan menerbitkan Surat
Ketetapan Retribusi (SKR) untuk masa satu periode yang harus
dibayar oleh Wajib Retribusi (WR). SKR tersebut kemudian
diserahkan kepada WR dan salinannya didistribusikan kepada
PPK-SKPD sebagai dasar pencatatan piutang.
Contohnya:
-
Retribusi parkir.
3) Pendapatan Pajak Tipe C
Wajib Pajak (WP) mendatangi lokasi pembayaran pajak. Di saat
tersebut dilakukan pembayaran pajak. Pada saat WP membayar
pajak, Bendahara Penerimaan akan memberikan Tanda Bukti
Pembayaran (TBP) dan Surat Ketetapan Pajak (SKP). TBP dan SKP
tersebut akan didistribusikan ke PPK-SKPD untuk dijadikan dasar
pencatatan penerimaan pembayaran pajak tersebut. TBP juga akan
diserahkan kepada WP.
Contohnya:
-
Pendapatan Pajak Reklame;
16
-
Pendapatan BPHTB(Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Ban
Pendapatan Retribusi Izin Mendirikan Bangunan;
-
Pendapatan Retribusi Pemakaian Kekayaan daerah;
b. Dokumen Sumber
Dokumen sumber adalah semua bukti/dokumen transaksi/kejadian yang
dijadikan dasar dilakukannya pembukuan. Dokumen sumber tersebut
antara lain dapat berupa:

Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKP-Daerah) merupakan dokumen
yang dibuat oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah khususnya
Pejabat Pengelola Pendapatan untuk menetapkan Pajak Daerah atas
wajib pajak;

Surat Ketetapan Retribusi (SKR) merupakan dokumen yang dibuat
oleh Pejabat PKD untuk menetapkan retribusi atas wajib retribusi;

Surat
Tanda
Setoran
(STS)
merupakan
dokumen
yang
diselenggarakan Bendahara Penerimaan atau Pejabat Penatausahaan
pada SKPD untuk menyetorkan penerimaan daerah;

Bukti Transfer merupakan dokumen atau bukti atas transfer
penerimaan daerah;

Nota Kredit bank merupakan dokumen atau bukti dari bank yang
menunjukkan adanya transfer uang masuk ke rekening kas umum
daerah;

Surat
Tanda
Setoran
(STS)
merupakan
dokumen
yang
diselenggarakan Bendahara Penerimaan atau Pejabat Penatausahaan
pada SKPD untuk menyetorkan penerimaan daerah;
Dokumen sumber diatas dilengkapi juga dengan dokumen-dokumen
pendukung antara lain:

Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD) merupakan dokumen yang
diselenggarakan Bendahara Pembantu Penerimaan atau Bendahara
Penerimaan pada SKPD untuk menyetorkan penerimaan daerah;

Bukti transaksi pendapatan lainnya.
17
b. Media Pencatatan
Media pencatatan merupakan sarana untuk merekam transaksi penerimaan
kas yang telah melalui proses verifikasi kebenaran legalitas formalnya.
Media pencatatan tersebut meliputi:
1. Jurnal
Merupakan media pertama kali digunakan untuk merekam semua
transaksi atau kejadian yang dilakukan secara kronologis sesuai
dengan tanggal transaksi atau tanggal kejadiannya.
2. Buku besar
Buku besar digunakan untuk mencatat peringkasan (posting) semua
transaksi atau kejadian, yang bersumber dari catatan dalam jurnal.
Buku besar ini dibuat untuk memudahkan dalam penyusunan
laporan keuangan yaitu neraca dan LRA.
3. Buku besar pembantu
Buku besar pembantu dibuat untuk merekam transaksi yang lebih
rinci dari buku besar.
Buku ini dibuat disesuaikan dengan
kepentingan dalam penyusunan laporan keuangan, dan unsur
pengendalian manajemen.
c. Fungsi-fungsi akuntansi yang terkait
Fungsi akuntansi di SKPD dilaksanakan oleh PPK-SKPD beserta staf
dibawahnya. Petugas/Pejabat yang terkait dengan fungsi – fungsi akuntasi
dalam pelaksanaan prosedur penerimaan kas yaitu:

Petugas Verifikasi (Fungsi Verifikasi)

Petugas Pembukuan (Fungsi Pencatatan)

Pejabat Otorisasi (Fungsi Otorisasi)
18
d. Prosedur Pembukuan
Penjelasan prosedur pembukuan pendapatan adalah sebagai berikut:

Petugas verifikasi menerima dan menelaah dokumen transaksi
pendapatan
dari
bendahara
penerimaan.
Penelaahan
tersebut
menyangkut kelengkapan bukti, dan kebenaran legalitas formal bukti
tersebut.
Jika dokumen tersebut sudah lengkap dan legalitas
formalnya sudah benar, maka dokumen tersebut diteruskan kepada
petugas pembukuan keuangan untuk diproses lebih lanjut.
Jika
dokumen transaksi tersebut belum memenuhi persyaratan verifikasi,
maka
dokumen
tersebut
dikembalikan
kepada
bendahara
penerimaan untuk dilengkapi;

Petugas pembukuan keuangan berdasarkan dokumen transaksi yang
telah diverifikasi melakukan pencatatan transaksi pendapatan ke
dalam buku jurnal secara periodik.
Teknis pencatatannya dapat
dilihat pada jurnal standar.

Petugas pembukuan
keuangan
mencetak
buku
jurnal
harian,
kemudian buku jurnal tersebut beserta bukti-bukti pendukungnya
diserahkan kepada pejabat otorisasi (PPK-SKPD).

Pejabat otorisasi menelaah kebenaran penjurnalan baik pembebanan
rekening, debet/kredit maupun jumlahnya dengan dibandingkan
bukti
pendukungnya.
Kalau
sudah
sesuai,
pejabat
otorisasi
menandatangani buku jurnal harian dan mengembalikannya kepada
petugas pembukuan untuk dilakukan posting. Apabila belum sesuai
maka petugas pembukuan melakukan pembetulan atas jurnal yang
dilakukan.

Petugas pembukuan keuangan menerima hasil pencetakan buku
jurnal yang telah ditandatangani oleh pejabat otorisasi, kemudian
dilakukan posting semua transaksi dalam buku jurnal pendapatan ke
dalam buku besar dan buku besar pembantu terkait sesuai dengan
nama/kode rekening berkenaan.
19

Petugas pembukuan keuangan mencetak buku besar dan atau buku
besar
pembantu
setiap
bulan
(akhir
minggu
ke-4).
Hasilnya
diteruskan kepada petugas verifikasi untuk diteliti kebenaran posting
transaksi dari buku jurnal ke buku besar dan atau buku besar
pembantu sesuai dengan kode/nama rekening berkenaan. Jika hasil
postingnya benar, maka buku besar dan atau buku besar pembantu
disampaikan kepada pejabat otorisasi untuk ditandatangani. Jika
hasil postingnya salah, maka disampaikan kembali kepada petugas
pembukuan keuangan untuk dikoreksi sesuai dengan disposisi dari
petugas verifikasi.

Petugas pembukuan keuangan mengarsipkan Buku Jurnal, Buku
Besar
dan
Buku
Besar
Pembantu
dengan
baik,
setelah
ditandatangani oleh pejabat otorisasi.

Petugas verifikasi mengarsipkan bukti-bukti pendukung yang telah
digunakan.
4) Hasil Eksekusi Jaminan
a) Jaminan adalah uang yang dipakai sebagai jaminan atas transaksi yang
telah disepakati sampai batas waktu yang telah ditentukan (jika
transaksi tidak ditepati sesuai dengan waktu yang ditentukan, uang
tersebut hilang).
Contohnya:
uang jaminan perizinan pemasangan iklan, uang jaminan pekerjaan dll.
Pihak ketiga akan membayar uang jaminan kepada Bendahara Penerimaan
SKPD/PPKD bersamaan dengan pembayaran perizinan, misal perizinan
pemasangan iklan.
b) Dokumen Sumber
Dokumen sumber adalah semua bukti/dokumen transaksi/kejadian
yang dijadikan dasar dilakukannya pembukuan. Dokumen sumber
tersebut antara lain dapat berupa:

Bukti Transfer merupakan dokumen atau bukti atas transfer
penerimaan daerah;
20

Nota Kredit bank merupakan dokumen atau bukti dari bank yang
menunjukkan adanya transfer uang masuk ke rekening kas umum
daerah;

Surat
Tanda
Setoran
(STS)
merupakan
dokumen
yang
diselenggarakan Bendahara Penerimaan atau Pejabat Penatausahaan
pada SKPD untuk menyetorkan penerimaan daerah;
Dokumen sumber diatas dilengkapi juga dengan dokumen-dokumen
pendukung antara lain:
-
Peraturan yang menjadi dasar pembayaran jaminan
-
Perhitungan yang menjadi dasar pembayaran jaminan
2. Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas
Prosedur penerimaan kas pada SKPD mencakup seluruh penerimaan kas
yang telah dianggarkan dalam APBD yang dikelola SKPD. Pelaksanaan
prosedur akuntansi penerimaan kas meliputi 4 hal yaitu: dokumen sumber,
media pencatatan, fungsi-fungsi akuntansi yang terkait dan prosedur
pembukuannya.
a. Dokumen Sumber
Dokumen sumber adalah semua bukti/dokumen transaksi/kejadian yang
dijadikan dasar dilakukannya pembukuan. Dokumen sumber tersebut
antara lain dapat berupa:

Bukti
Transfer
merupakan
dokumen
atau
bukti
atas
transfer
penerimaan daerah;

Nota Kredit bank merupakan dokumen atau bukti dari bank yang
menunjukkan adanya transfer uang masuk ke rekening kas umum
daerah;

Surat perintah pemindahbukuan.

Surat Tanda Setoran (STS) merupakan dokumen yang diselenggarakan
Bendahara Penerimaan atau Pejabat Penatausahaan pada SKPD untuk
menyetorkan penerimaan daerah;
21
Dokumen sumber diatas dilengkapi juga dengan dokumen-dokumen
pendukung antara lain:

Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKP-Daerah) merupakan dokumen yang
dibuat oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah khususnya Pejabat
Pengelola Pendapatan untuk menetapkan Pajak Daerah atas wajib
pajak;

Surat Ketetapan Retribusi (SKR) merupakan dokumen yang dibuat oleh
Pejabat PKD untuk menetapkan retribusi atas wajib retribusi;

Bukti transaksi penerimaan kas lainnya.
b. Media Pencatatan
Media pencatatan merupakan sarana untuk merekam transaksi penerimaan
kas yang telah melalui proses verifikasi kebenaran legalitas formalnya.
Media pencatatan tersebut meliputi:
(1) Jurnal
Merupakan media pertama kali digunakan untuk merekam semua
transaksi atau kejadian yang dilakukan secara kronologis sesuai dengan
tanggal transaksi atau tanggal kejadiannya.
(2) Buku besar
Buku besar digunakan untuk mencatat peringkasan (posting) semua
transaksi atau kejadian, yang bersumber dari catatan dalam jurnal.
Buku besar ini dibuat untuk memudahkan dalam penyusunan laporan
keuangan yaitu neraca dan LRA.
(3) Buku besar pembantu
Buku besar pembantu dibuat untuk merekam transaksi yang lebih rinci
dari buku besar.
dalam
Buku ini dibuat disesuaikan dengan kepentingan
penyusunan
laporan
keuangan,
dan
unsur
pengendalian
manajemen.
c. Fungsi-fungsi akuntansi yang terkait
Fungsi akuntansi di SKPD dilaksanakan oleh PPK-SKPD beserta staf
dibawahnya. Petugas/Pejabat yang terkait dengan fungsi – fungsi akuntasi
dalam pelaksanaan prosedur penerimaan kas yaitu:
22

Petugas Verifikasi (Fungsi Verifikasi)

Petugas Pembukuan (Fungsi Pencatatan)

Pejabat Otorisasi (Fungsi Otorisasi)
d. Prosedur Pembukuan
Penjelasan prosedur pembukuan penerimaan kas adalah sebagai berikut:

Petugas verifikasi menerima dan menelaah dokumen transaksi
penerimaan kas dari bendahara penerimaan. Penelaahan tersebut
menyangkut kelengkapan bukti, dan kebenaran legalitas formal bukti
tersebut.
Jika dokumen tersebut sudah lengkap dan legalitas
formalnya sudah benar, maka dokumen tersebut diteruskan kepada
petugas pembukuan keuangan untuk diproses lebih lanjut.
Jika
dokumen transaksi tersebut belum memenuhi persyaratan verifikasi,
maka
dokumen
tersebut
dikembalikan
kepada
bendahara
penerimaan untuk dilengkapi;

Petugas pembukuan keuangan berdasarkan dokumen transaksi yang
telah diverifikasi melakukan pencatatan transaksi penerimaan kas ke
dalam buku jurnal secara periodik.
Teknis pencatatannya dapat
dilihat pada jurnal standar.

Petugas pembukuan
keuangan
mencetak
buku
jurnal
harian,
kemudian buku jurnal tersebut beserta bukti-bukti pendukungnya
diserahkan kepada pejabat otorisasi (PPK-SKPD).

Pejabat otorisasi menelaah kebenaran penjurnalan baik pembebanan
rekening, debet/kredit maupun jumlahnya dengan dibandingkan
bukti
pendukungnya.
Kalau
sudah
sesuai,
pejabat
otorisasi
menandatangani buku jurnal harian dan mengembalikannya kepada
petugas pembukuan untuk dilakukan posting. Apabila belum sesuai
maka petugas pembukuan melakukan pembetulan atas jurnal yang
dilakukan.

Petugas pembukuan keuangan menerima hasil pencetakan buku
jurnal yang telah ditandatangani oleh pejabat otorisasi, kemudian
dilakukan posting semua transaksi dalam buku jurnal penerimaan
kas ke dalam buku besar dan buku besar pembantu terkait sesuai
dengan nama/kode rekening berkenaan.
23

Petugas pembukuan keuangan mencetak buku besar dan atau buku
besar
pembantu
setiap
bulan
(akhir
minggu
ke-4).
Hasilnya
diteruskan kepada petugas verifikasi untuk diteliti kebenaran posting
transaksi dari buku jurnal ke buku besar dan atau buku besar
pembantu sesuai dengan kode/nama rekening berkenaan. Jika hasil
postingnya benar, maka buku besar dan atau buku besar pembantu
disampaikan kepada pejabat otorisasi untuk ditandatangani. Jika
hasil postingnya salah, maka disampaikan kembali kepada petugas
pembukuan keuangan untuk dikoreksi sesuai dengan disposisi dari
petugas verifikasi.

Petugas pembukuan keuangan mengarsipkan Buku Jurnal, Buku
Besar
dan
Buku
Besar
Pembantu
dengan
baik,
setelah
ditandatangani oleh pejabat otorisasi.

Petugas verifikasi mengarsipkan bukti-bukti pendukung yang telah
digunakan.
3. Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas
Prosedur pengeluaran kas pada SKPD mencakup seluruh pengeluaran kas
yang telah dianggarkan dalam APBD yang dikelola SKPD.
Pelaksanaan
prosedur akuntansi pengeluaran kas meliputi 4 hal yaitu: dokumen
sumber/pendukung, media pencatatan, fungsi-fungsi akuntansi
yang
terkait dan prosedur pembukuan.
a. Dokumen sumber/pendukung
Dokumen sumber untuk pencatatan transaksi pengeluaran kas adalah
sebagai berikut:

Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) merupakan dokumen yang
diterbitkan oleh BUD/Kuasa BUD untuk mencairkan uang pada
bank yang ditunjuk; atau

Nota Debet Bank merupakan dokumen atau bukti dari bank yang
menunjukkan adanya transfer uang keluar dari rekening kas umum
daerah.

Kuitansi pembayaran merupakan dokumen sebagai tanda bukti
pembayaran;

Bukti transaksi pengeluaran kas lainnya;
24
Dokumen sumber tersebut biasanya didukung oleh dokumen-dokumen
pendukung seperti:

Surat Pertanggungjawaban Pengeluaran;

Surat Penyediaan Dana (SPD);

Surat Perintah Membayar (SPM);

Bukti tanda terima barang/jasa;
b. Media Pencatatan
Media
pencatatan
merupakan
sarana
untuk
merekam
transaksi
pengeluaran kas yang telah melalui proses verifikasi kebenaran legalitas
formalnya. Media pencatatan yang digunakan untuk transaksi pengeluaran
kas sama dengan yang digunakan pada transaksi penerimaan kas yaitu
meliputi:
(1) Jurnal
(2) Buku besar
(3) Buku besar pembantu
c. Fungsi-fungsi akuntansi yang terkait
Pejabat/Petugas yang terkait dengan fungsi – fungsi akuntasi dalam
pelaksanaan prosedur pengeluaran kas yaitu:

Petugas Verifikasi (Fungsi verifikasi)

Petugas Pembukuan (Fungsi pencatatan)

Pejabat Otorisasi (Fungsi Otorisasi)
d. Prosedur Pembukuan
Prosedur pembukuan pengeluaran kas adalah sebagai berikut:

Petugas verifikasi menerima dan menelaah dokumen transaksi
pengeluaran kas dari bendahara pengeluaran. Penelaahan tersebut
menyangkut kelengkapan bukti, dan kebenaran legalitas formal bukti
tersebut.
Jika dokumen tersebut sudah lengkap dan legalitas
formalnya sudah benar, maka dokumen tersebut diteruskan kepada
25
petugas pembukuan keuangan untuk diproses lebih lanjut.
Jika
dokumen transaksi tersebut belum memenuhi persyaratan verifikasi,
maka
dokumen
tersebut
dikembalikan
kepada
bendahara
pengeluaran untuk dilengkapi;

Petugas pembukuan keuangan berdasarkan dokumen transaksi yang
telah diverifikasi melakukan pencatatan transaksi pengeluaran kas
ke dalam buku jurnal secara periodik. Teknis pencatatannya dapat
dilihat pada jurnal standar.

Petugas pembukuan
keuangan
mencetak
buku
jurnal
harian,
kemudian buku jurnal tersebut beserta bukti-bukti pendukungnya
diserahkan kepada pejabat otorisasi (PPK-SKPD).

Pejabat otorisasi menelaah kebenaran penjurnalan baik pembebanan
rekening, debet/kredit maupun jumlahnya dengan dibandingkan
bukti
pendukungnya.
Kalau
sudah
sesuai,
pejabat
otorisasi
menandatangani buku jurnal harian dan mengembalikannya kepada
petugas pembukuan untuk dilakukan posting. Apabila belum sesuai
maka petugas pembukuan melakukan pembetulan atas jurnal yang
dilakukan.

Petugas pembukuan keuangan menerima hasil pencetakan buku
jurnal yang telah ditandatangani oleh pejabat otorisasi, kemudian
dilakukan posting semua transaksi dalam buku jurnal ke dalam
buku besar dan buku besar pembantu terkait sesuai dengan
nama/kode rekening berkenaan.

Petugas pembukuan keuangan mencetak buku besar dan atau buku
besar
pembantu
setiap
bulan
(akhir
minggu
ke-4).
Hasilnya
diteruskan kepada petugas verifikasi untuk diteliti kebenaran posting
transaksi dari buku jurnal ke buku besar dan atau buku besar
pembantu sesuai dengan kode/nama rekening berkenaan. Jika hasil
postingnya benar, maka buku besar dan atau buku besar pembantu
disampaikan kepada pejabat otorisasi untuk ditandatangani. Jika
hasil postingnya salah, maka disampaikan kembali kepada petugas
pembukuan keuangan untuk dikoreksi sesuai dengan disposisi dari
petugas verifikasi.
26

Petugas pembukuan keuangan mengarsipkan Buku Jurnal, Buku
Besar
dan
Buku
Besar
Pembantu
dengan
baik,
setelah
ditandatangani oleh pejabat otorisasi.

Petugas verifikasi mengarsipkan bukti-bukti pendukung yang telah
digunakan.
4. Prosedur Akuntansi Barang Milik Daerah (BMD)
Prosedur akuntansi BMD pada SKPD mencakup transaksi berkaitan dengan
aset tetap, persediaan dan Konstruksi dalam Pengerjaan.
Prosedur
akuntansi BMD meliputi serangkaian proses pengklasifikasian/pengkodean,
pencatatan, perhitungan penyusutan, perhitungan nilai Konstruksi Dalam
Pengerjaan, dan pelaporan terhadap transaksi BMD yang dikuasai oleh
SKPD.
Pembahasan prosedur BMD dalam bagian ini lebih menekankan
pada akuntansi dan pelaporan (pengadministrasian dokumen/catatan)
berkaitan dengan transaksi barang milik daerah (BMD).
Penatausahaan
BMD
secara
fisik
dilakukan
oleh
pengurus
barang/bendahara barang yang ada di SKPD, yang diatur dengan pedoman
pengelolaan BMD tersendiri. Hasil laporan BMD secara fisik dari pengurus
barang harus disampaikan kepada Pejabat PPK SKPD (Fungsi Akuntansi),
untuk dilakukan rekonsiliasi kebenaran fisik dan administrasi sebelum
dilaporkan dalam laporan keuangan SKPD.
Laporan BMD secara fisik dari Pengurus Barang yang disampaikan secara
periodik antara lain berupa:

Laporan Barang Bulanan;

Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) per 30 Juni;

Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) per 31 Desember;

Laporan Inventarisasi

Buku Inventaris dan Buku Induk Inventaris

Laporan hasil opname fisik persediaan per 31 Desember

Laporan hasil opname fisik Konstruksi Dalam Pengerjaan per 31
Desember
Disamping membuat laporan periodik diatas, pengurus barang juga
membuat kartu-kartu pencatatan antara lain:
27

Kartu Inventaris Barang menurut penggolongan barang (tanah, peralatan
dan mesin, gedung dan bangunan, jalan irigasi dan jaringan, aset tetap
lainnya dan konstruksi dalam pengerjaan)

Kartu Inventaris Ruangan

Kartu Pemeliharaan Barang
Adapun transaksi/kejadian yang berhubungan dengan aset tetap/BMD
adalah sebagai berikut:

Pengadaan aset tetap yang telah disediakaan anggarannya dalam APBD
yaitu Belanja Modal aset tetap terkait;

Pengadaan barang habis pakai (ATK, obat-obatan dll) yang telah
disediakan anggarannya dalam APBD yaitu belanja barang dan jasa;

Pengadaan aset tetap yang telah disediakan anggarannya dalam APBD,
namun penyelesaiannya melewati akhir tahun anggaran. Hal ini harus
dibukukan sebagai Konstruksi Dalam Pengerjaan pada akhir tahun
anggaran;

Penerimaan hibah berupa aktiva tetap;

Penerimaan aset tetap dari dana BOS;

Pembelian secara kredit merupakan transaksi pembelian aset tetap yang
pembayarannya dilakukan dimasa yang akan datang;

Retur pembelian kredit merupakan pengembalian aset tetap yang telah
dibeli secara kredit;

Pemindahtanganan atas aktiva tetap/BMD tanpa konsekuensi kas
seperti donasi aset tetap kepada pihak ketiga;

Perolehan aset tetap/BMD akibat adanya tukar menukar (ruislaag)
dengan pihak ketiga;

Rehab berat aset tetap yang menambah umur manfaat, menambah
kapasitas dsb sehingga harus dikapitalisasi;

Penambahan nilai aset tetap berdasarkan temuan BPK;

Perhitungan penyusutan aset tetap dan penghapusan aset tetap.
28
a. Dokumen Sumber dan Dokumen Pendukung
Dokumen
sumber
yang
dimaksud
adalah
semua
bukti/dokumen
transaksi/kejadian yang terjadi selama tahun anggaran berkenaan, kecuali
pencatatan saldo awal BMD.
Dokumen sumber dari transaksi berkaitan
dengan BMD adalah bukti memorial/memo jurnal/memo pembukuan yang
dilampiri dengan dokumen pendukung berupa:

BA penerimaan barang;

Surat Keputusan Penghapusan Barang;

Surat Keputusan Mutasi Barang (antar SKPD);

BA pemusnahan barang;

BA serah terima barang;

BA penilaian;

BA penyelesaian pekerjaan;

Dokumen lainnya yang sah
Bukti
memorial/memo
jurnal/memo
pembukuan
dimaksud
memuat
informasi mengenai jenis/nama BMD/aset, kode rekening, klasifikasi BMD,
nilai transaksi yang dijurnal debet dan kredit, tanggal transaksi dan atau
kejadian.
b. Media Pencatatan
Media pencatatan yang digunakan untuk merekam transaksi dan atau
kejadian dalam prosedur akuntansi BMD berupa:
(1) Buku Jurnal;
(2) Buku Besar;
(3) Buku Besar Pembantu;
c. Fungsi-fungsi akuntansi yang terkait
Pejabat/petugas yang terkait dengan fungsi – fungsi akuntasi dalam
pelaksanaan prosedur akuntasi BMD yaitu:

Petugas Verifikasi (Fungsi Verifikasi)
29

Petugas Pembukuan (Fungsi Pencatatan)

Pejabat Otorisasi (Fungsi Otorisasi)
d. Prosedur pembukuan
Petugas verifikasi menerima dokumen transaksi berkaitan dengan BMD dari
pihak
terkait
(bendahara
pengeluaran
dan/atau
pengurus
barang),
kemudian meneliti kebenaran formal dan kelengkapan bukti transaksi
tersebut. Jika tidak memenuhi persyaratan verifikasi, maka dokumen
transaksi tersebut dikembalikan kepada pihak yang terkait agar dilengkapi.
Jika
telah
memenuhi
persyaratan
verifikasi
maka
petugas verifikasi
melakukan langkah sebagai berikut:

Untuk transaksi belanja modal, petugas verifikasi memilah dokumen
sumber transaksi pengeluaran, apakah dengan menggunakan SP2D
LS Belanja Modal ataukah dengan menggunakan Dana UP/GU/TU
(Kas
di
Bendahara
Pengeluaran).
Umumnya
pengadaan
BMD
menggunakan SP2D LS Belanja Modal. Dokumen sumber dan
pendukungnya yang berkaitan dengan BMD yang sudah diverifikasi
kemudian diserahkan kepada petugas pembukuan.

Untuk transaksi berkaitan dengan pengadaan persediaan (ATK, obatobatan, material lainnya) yang dianggarkan dalam APBD, petugas
verifikasi akan melakukan kegiatan seperti diatas;

Untuk transaksi penambahan/pengurangan atau penyusutan BMD
yang tidak mempengaruhi kas (tidak menggunakan SP2D maupun
kas di bendahara pengeluaran SKPD seperti penghapusan aset, aset
dari dana BOS, donasi dsb), petugas verifikasi membuat bukti
memorial
sebagai
dasar
pencatatan
bagi
petugas
pembukuan
transaksi berkaitan dengan BMD;

Petugas pembukuan mencatat dokuman sumber (SP2D, SPJ, bukti
memorial) yang diterima ke dalam Buku Jurnal sesuai dengan
disposisi
dari
petugas
verifikasi.
berkaitan dengan BMD ke
Teknis
pencatatan
transaksi
dalam buku jurnal dapat dilihat pada
Jurnal Standar;
30

Petugas pembukuan BMD mencetak buku jurnal harian, mingguan,
bulanan, semesteran dan tahunan.
Buku jurnal yang dicetak
diteruskan kepada petugas verifikasi untuk meneliti kebenaran
pencatatan dalam Buku Jurnal, sebelum ditandatangani oleh pejabat
otorisasi. Dokumen transaksi yang telah selesai dibukukan dalam
Buku Jurnal Umum dikembalikan kepada petugas verifikasi untuk
disimpan dengan baik.

Petugas pembukuan BMD menerima hasil pencetakan Buku Jurnal
yang telah ditandatangani oleh pejabat bidang akuntansi, kemudian
dilakukan posting semua transaksi BMD dalam Buku Jurnal ke
dalam buku besar dan buku besar pembantu terkait sesuai dengan
nama/kode rekening berkenaan.

Petugas pembukuan BMD mencetak buku besar dan atau buku besar
pembantu
setiap
akhir
bulan
(akhir
minggu
ke-4).
Hasilnya
diteruskan kepada petugas verifikasi untuk diteliti kebenaran posting
transaksi BMD dari Buku Jurnal ke buku besar dan atau ke buku
besar pembantu sesuai dengan kode/nama rekening berkenaan.
Jika hasil postingnya benar, maka buku besar dan atau buku besar
pembantu
disampaikan
kepada
pejabat
otorisasi
untuk
ditandatangani. Jika hasil postingnya salah, maka disampaikan
kembali kepada petugas pembukuan transaksi BMD untuk dikoreksi
sesuai dengan disposisi dari petugas verifikasi.

Petugas pembukuan transaksi BMD mengarsipkan Buku Jurnal,
Buku Besar dan Buku Besar Pembantu
dengan baik,
setelah
ditandatangani oleh pejabat otorisasi.
5. Prosedur Akuntansi Beban
Prosedur akuntansi beban pada SKPD mencakup seluruh beban yang telah
dimanfaatkan SKPD. Beban adalah pengorbanan yang dikeluarkan pemda
untuk mendapat masa manfaat dimasa kini dan dimasa akan datang.
Manfaat yang dimaksud adalah manfaat atas penggunaan sumber daya.
Manfaat yang dirasakan tersebut
akibat pengeluaran biaya yang terjadi.
Pelaksanaan prosedur akuntansi beban meliputi 4 hal yaitu: dokumen
sumber/pendukung, media pencatatan, fungsi-fungsi akuntansi
yang
terkait dan prosedur pembukuan.
31
a. Dokumen sumber/pendukung
Dokumen sumber untuk pencatatan transaksi beban adalah sebagai
berikut:

Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) merupakan dokumen yang
diterbitkan oleh BUD/Kuasa BUD untuk mencairkan uang yang
dianggap beban; atau

Bukti memorial untuk beban bunga, beban penyusutan dan beban
lain yang memiliki karakteristik bukti yang sama ;

Naskah Perjanjian Hibah (NPH) untuk beban hibah dan utang hibah;

Berita Acara Serah Terima Barang yang telah diverifikasi PPK SKPD;

Nota Permintaan Dana (NPD) dan Daftar Barang yang telah
diverifikasi PPK-SKPD dan telah dibayar Bendahara Pengeluaran
(untuk pembelian persediaan dengan mekanisme GU);

Bukti transaksi beban lainnya;
Dokumen sumber tersebut biasanya didukung oleh dokumen-dokumen
pendukung seperti:

Surat Pertanggungjawaban Pengeluaran;

Dokumen perjanjian utang;

Berita Acara Stock Opname;

Berita Acara Pemeriksaan Barang;
b. Media Pencatatan
Media pencatatan merupakan sarana untuk merekam transaksi beban yang
telah melalui proses verifikasi kebenaran legalitas formalnya.
Media
pencatatan yang digunakan untuk transaksi beban sama dengan yang
digunakan pada transaksi lainnya yaitu meliputi:
(1) Jurnal
(2) Buku besar
(3) Buku besar pembantu
c. Fungsi-fungsi akuntansi yang terkait
32
Pejabat/Petugas yang terkait dengan fungsi – fungsi akuntasi dalam
pelaksanaan prosedur pengeluaran kas yaitu:

Petugas Verifikasi (Fungsi verifikasi)

Petugas Pembukuan (Fungsi pencatatan)

Pejabat Otorisasi (Fungsi Otorisasi)
d. Prosedur Pembukuan
Prosedur pembukuan pengeluaran kas adalah sebagai berikut:

Petugas verifikasi menerima dan menelaah dokumen transaksi
pengeluaran kas dari bendahara pengeluaran. Penelaahan tersebut
menyangkut kelengkapan bukti, dan kebenaran legalitas formal bukti
tersebut.
Jika dokumen tersebut sudah lengkap dan legalitas
formalnya sudah benar, maka dokumen tersebut diteruskan kepada
petugas pembukuan keuangan untuk diproses lebih lanjut.
Jika
dokumen transaksi tersebut belum memenuhi persyaratan verifikasi,
maka
dokumen
tersebut
dikembalikan
kepada
bendahara
pengeluaran untuk dilengkapi;

Petugas pembukuan keuangan berdasarkan dokumen transaksi yang
telah diverifikasi melakukan pencatatan transaksi pengeluaran kas
ke dalam buku jurnal secara periodik. Teknis pencatatannya dapat
dilihat pada jurnal standar.

Petugas pembukuan
keuangan
mencetak
buku
jurnal
harian,
kemudian buku jurnal tersebut beserta bukti-bukti pendukungnya
diserahkan kepada pejabat otorisasi (PPK-SKPD).

Pejabat otorisasi menelaah kebenaran penjurnalan baik pembebanan
rekening, debet/kredit maupun jumlahnya dengan dibandingkan
bukti
pendukungnya.
Kalau
sudah
sesuai,
pejabat
otorisasi
menandatangani buku jurnal harian dan mengembalikannya kepada
petugas pembukuan untuk dilakukan posting. Apabila belum sesuai
maka petugas pembukuan melakukan pembetulan atas jurnal yang
dilakukan.
33

Petugas pembukuan keuangan menerima hasil pencetakan buku
jurnal yang telah ditandatangani oleh pejabat otorisasi, kemudian
dilakukan posting semua transaksi dalam buku jurnal ke dalam
buku besar dan buku besar pembantu terkait sesuai dengan
nama/kode rekening berkenaan.

Petugas pembukuan keuangan mencetak buku besar dan atau buku
besar
pembantu
setiap
bulan
(akhir
minggu
ke-4).
Hasilnya
diteruskan kepada petugas verifikasi untuk diteliti kebenaran posting
transaksi dari buku jurnal ke buku besar dan atau buku besar
pembantu sesuai dengan kode/nama rekening berkenaan. Jika hasil
postingnya benar, maka buku besar dan atau buku besar pembantu
disampaikan kepada pejabat otorisasi untuk ditandatangani. Jika
hasil postingnya salah, maka disampaikan kembali kepada petugas
pembukuan keuangan untuk dikoreksi sesuai dengan disposisi dari
petugas verifikasi.

Petugas pembukuan keuangan mengarsipkan Buku Jurnal, Buku
Besar
dan
Buku
Besar
Pembantu
dengan
baik,
setelah
ditandatangani oleh pejabat otorisasi.

Petugas verifikasi mengarsipkan bukti-bukti pendukung yang telah
digunakan.
6. Prosedur Akuntansi Selain Kas
Prosedur akuntansi selain kas pada SKPD meliputi serangkaian proses
mulai dari pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan
yang berkaitan dengan semua transaksi atau kejadian selain kas yang dapat
dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. Prosedur
akuntansi selain kas meliputi transaksi/kejadian sebagai berikut:

Pengesahan pertanggungjawaban pengeluaran melalui mekanisme uang
persediaan/ganti
uang/uang
tambahan
yang
diajukan
pengeluaran SKPD kepada fungsi perbendaharaan/BUD.
bendahara
Dalam PP-
24/2005 PSAP No.2 Paragraf 32 disebutkan bahwa untuk pengeluaran
melalui bendahara pengeluaran, pengakuan belanja terjadi pada saat
pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh unit yang
mempunyai fungsi perbendaharaan (BUD). Ini berarti sebelum ada
pengesahan dari SKPKD/BUD dalam bentuk penerbitan SP2D GU atau
34
SP2D Nihil atas SPJ yang diajukan, maka pengeluaran oleh Bendahara
Pengeluaran belum dapat diakui sebagai belanja definitif. Penerbitan
SP2D GU, masuk dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas sehingga
tidak masuk dalam pembahasan bagian ini. Penerbitan SP2D Nihil
merupakan transaksi non kas dan masuk dalam pembahasan bagian ini.

Koreksi kesalahan pembukuan/pencatatan merupakan koreksi terhadap
kesalahan dalam membuat jurnal
tersebut telah diposting ke buku
besar dan buku besar pembantu;

Penyesuaian terhadap akun tertentu dalam rangka menyusun laporan
keuangan pada akhir tahun;

Reklasifikasi akibat koreksi yang ditemukan dikemudian hari;

Penerimaan/pengeluaran hibah selain kas;

Pembelian secara kredit;

Retur pembelian kredit.
a.
Dokumen Sumber/Pendukung
Dokumen
sumber
memorial/memo
dari
transaksi
jurnal/memo
selain
pembukuan
kas
yang
adalah
dilampiri
bukti
dengan
dokumen pendukung antara lain:

SP2D Nihil sebagai pengesahan pertanggungjawaban dana UP/GU
atau TU yang diajukan sebelumnya;

SPJ yang berkaitan dengan SP2D-UP/GU dan SP2D-TU;

Bukti kesalahan pencatatan dalam pembukuan;

Hasil perhitungan rekening2 akrual pada akhir tahun seperti utang,
piutang;

Dokumen lainnya yang sah.
b. Media Pencatatan
Media pencatatan yang digunakan untuk merekam transaksi dan atau
kejadian dalam prosedur akuntansi selain kas berupa:
(1) Buku Jurnal;
(2) Buku Besar;
35
(3) Buku Besar Pembantu.
c. Fungsi-fungsi akuntansi yang terkait
Petugas/Pejabat yang terkait dengan fungsi – fungsi akuntasi dalam
pelaksanaan prosedur akuntasi selain kas yaitu:

Petugas Verifikasi (Fungsi verifikasi)

Petugas Pembukuan (Fungsi pencatatan)

Pejabat Otorisasi (Fungsi otorisasi)
d. Prosedur pembukuan
Prosedur pembukuan untuk transaksi non kas di SKPD adalah sebagai
berikut:

Petugas verifikasi menerima dokumen transaksi selain kas (berupa
SPJ atau bukti lainnya), kemudian meneliti kelengkapan dan
kebenaran formal atas dokumen tersebut.
Jika telah memenuhi
persyaratan verifikasi, maka dibuatkan bukti memorial dan dokumen
tersebut diteruskan kepada petugas pembukuan untuk diproses lebih
lanjut. Jika belum memenuhi persyaratan verifikasi, maka dokumen
tersebut dikembalikan kepada pihak terkait untuk dilengkapi;

Petugas pembukuan mencatat bukti memorial yang diterima ke
dalam Buku Jurnal sesuai dengan disposisi dari petugas verifikasi.
Teknis pencatatan transaksi berkaitan dengan non kas ke
dalam
buku jurnal dapat dilihat pada Jurnal Standar;

Petugas pembukuan mencetak buku jurnal harian, mingguan,
bulanan, semesteran dan tahunan.
diteruskan
kepada
petugas verifikasi
Buku jurnal yang dicetak
untuk
diteliti
kebenaran
pencatatan dalam Buku Jurnal Umum, sebelum ditandatangani oleh
pejabat otorisasi (pejabat PPK). Dokumen transaksi yang telah selesai
dibukukan dalam Buku Jurnal dikembalikan kepada
petugas
verifikasi untuk disimpan (diarsip) dengan baik.
36

Petugas pembukuan menerima hasil pencetakan Buku Jurnal yang
telah ditandatangani oleh pejabat PPK, kemudian dilakukan posting
semua transaksi tersebut dalam Buku Jurnal ke dalam buku besar
dan buku besar pembantu terkait sesuai dengan nama/kode
rekening berkenaan.

Petugas pembukuan mencetak buku besar dan atau buku besar
pembantu
setiap
akhir
bulan
(akhir
minggu
ke-4).
Hasilnya
diteruskan kepada petugas verifikasi untuk diteliti kebenaran posting
transaksi non kas dari Buku Jurnal ke buku besar dan atau ke buku
besar pembantu sesuai dengan kode/nama rekening berkenaan.
Jika hasil postingnya benar, maka buku besar dan atau buku besar
pembantu disampaikan kepada pejabat PPK untuk ditandatangani.
Jika hasil postingnya salah, maka disampaikan kembali kepada
petugas pembukuan untuk dikoreksi sesuai dengan disposisi dari
petugas verifikasi.

Petugas pembukuan mengarsipkan Buku Jurnal, Buku Besar dan
Buku Besar Pembantu
dengan baik,
setelah ditandatangani oleh
pejabat PPK.
37
B. PROSEDUR AKUNTANSI SKPKD
1. Prosedur Akuntansi Pendapatan
Prosedur
akuntansi
pendapatan
pada
SKPKD
mencakup
seluruh
pendapatan di SKPKD. Prosedur akuntansi pendapatan meliputi 4 hal yaitu
dokumen sumber/pendukung, media pencatatan, fungsi-fungsi akuntansi
yang terkait dan prosedur pembukuan.
a. Jenis-jenis Pendapatan pada SKPKD adalah sebagai berikut:
1). Pendapatan Asli Daerah
a) PAD melalui Penetapan
PAD melalui penetapan diakui dan dijurnal setelah diterbitkannya
Surat Ketetapan oleh PPKD (Dispenda) untuk pajak, BPPT untuk
retribusi atau Tim TPTGR untuk pendapatan TPTGR yang
mengindikasikan adanya hak Pemda atas suatu pendapatan.
Contohnya:
-
Pendapatan dari penggunaan fasos atau fasum;
-
Pendapatan dari cicilan TPTGR.
b) PAD Tanpa Penetapan
PAD
Tanpa
Penetapan
dicatat
ketika
pihak
ketiga
telah
melakukan pembayaran ke Kas Daerah.
Contohnya:
-
Pendapatan PAD lainnya.
2). Pendapatan Transfer
Pendapatan Transfer diakui dan dicatat saat adanya PMK definitif dari
dana transfer yang akan diterima oleh Pemerintah Daerah.
Contohnya:
-
Pendapatan Bagi Hasil Sumber Daya Alam
38
b. Dokumen Sumber/pendukung
Dokumen sumber transaksi pendapatan di SKPKD antara lain:

Peraturan Menteri Keuangan (PMK) mengenai bagian transfer daerah
dari pusat.

Peraturan Gubernur (Pergub) mengenai bagian transfer daerah dari
provinsi.

Bukti
Transfer
merupakan
dokumen
atau
bukti
atas
transfer
penerimaan pendapatan dari WP/WR;

Nota Kredit Bank merupakan dokumen atau bukti dari bank yang
menunjukkan adanya transfer uang masuk ke rekening kas umum
daerah;
Dokumen sumber tersebut didukung oleh dokumen-dokumen pendukung
antara lain:

Juknis dari PMK atau Pergub;

Surat Permohonan Pencairan dari Walikota kepada Gubernur;

Surat Tanda Setoran (STS);

Surat ketetapan retribusi (SKR);

Laporan pendapatan dari bendahara penerimaan; dan

Bukti transaksi pendapatan lainnya.
b. Media Pencatatan
Media pencatatan untuk transaksi pendapatan di SKPKD sama dengan
media pencatatan di SKPD yaitu:

Jurnal

Buku besar

Buku besar pembantu
39
c. Fungsi-fungsi akuntansi yang terkait
Pejabat/Petugas yang terkait dengan fungsi – fungsi akuntasi dalam
pelaksanaan prosedur pendapatan yaitu:

Petugas Verifikasi (Fungsi verifikasi)

Petugas Pembukuan (Fungsi pencatatan)

Pejabat Otorisasi (Fungsi Otorisasi)
d. Prosedur pembukuan
Secara
umum
dipersamakan
prosedur
dengan
pembukuan
prosedur
pendapatan
pembukuan
di
SKPKD
pendapatan
di
dapat
SKPD,
perbedaannya hanya pelaksanaan fungsi verifikasi, pembukuan dan
otorisasi
dilaksanakan
di
SKPKD
(Dispenda).
Prosedur
pembukuan
pendapatan di SKPKD (Dispenda) adalah sebagai berikut:

Petugas verifikasi menerima dan menelaah dokumen pendapatan dari
pihak terkait (WP/WR,BUD, Bank, Kas Daerah, bukti transfer dari
pihak ketiga dsb). Penelaahan tersebut menyangkut kelengkapan
bukti, dan kebenaran legalitas formal bukti tersebut. Jika dokumen
tersebut sudah lengkap dan legalitas formalnya sudah benar, maka
dokumen tersebut diteruskan kepada petugas pembukuan keuangan
untuk diproses lebih lanjut. Jika dokumen transaksi tersebut belum
memenuhi
persyaratan
verifikasi,
maka
dokumen
tersebut
dikembalikan kepada pihak terkait untuk dilengkapi;

Petugas pembukuan keuangan berdasarkan dokumen transaksi yang
telah diverifikasi melakukan pencatatan transaksi pendapatan ke
dalam buku jurnal secara periodik.
Teknis pencatatannya dapat
dilihat pada jurnal standar.

Petugas pembukuan
keuangan
mencetak
buku
jurnal
harian,
kemudian buku jurnal tersebut beserta bukti-bukti pendukungnya
diserahkan kepada pejabat otorisasi (kepala fungsi akuntansi di
SKPKD)
40

Pejabat otorisasi menelaah kebenaran penjurnalan baik pembebanan
rekening, debet/kredit maupun jumlahnya dengan dibandingkan
bukti
pendukungnya.
Kalau
sudah
sesuai,
pejabat
otorisasi
menandatangani buku jurnal harian dan mengembalikannya kepada
petugas pembukuan untuk dilakukan posting. Apabila belum sesuai
maka petugas pembukuan melakukan pembetulan atas jurnal yang
dilakukan.

Petugas pembukuan keuangan menerima hasil pencetakan buku
jurnal yang telah ditandatangani oleh pejabat otorisasi, kemudian
dilakukan posting semua transaksi dalam buku jurnal ke dalam
buku besar dan buku besar pembantu terkait sesuai dengan
nama/kode rekening berkenaan.

Petugas pembukuan keuangan mencetak buku besar dan atau buku
besar
pembantu
setiap
bulan
(akhir
minggu
ke-4).
Hasilnya
diteruskan kepada petugas verifikasi untuk diteliti kebenaran posting
transaksi dari buku jurnal ke buku besar dan atau buku besar
pembantu sesuai dengan kode/nama rekening berkenaan. Jika hasil
postingnya benar, maka buku besar dan atau buku besar pembantu
disampaikan kepada pejabat otorisasi untuk ditandatangani. Jika
hasil postingnya salah, maka disampaikan kembali kepada petugas
pembukuan keuangan untuk dikoreksi sesuai dengan disposisi dari
petugas verifikasi.

Petugas pembukuan keuangan mengarsipkan Buku Jurnal, Buku
Besar
dan
Buku
Besar
Pembantu
dengan
baik,
setelah
ditandatangani oleh pejabat otorisasi.

Petugas verifikasi mengarsipkan bukti-bukti pendukung yang telah
digunakan.
2. Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas
Prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPKD mencakup seluruh
penerimaan kas di kas daerah
(seluruh
penerimaan dari
rekening
pendapatan dan penerimaan pembiayaan yang dikelola SKPKD maupun
pendapatan di SKPD). Prosedur akuntansi penerimaan kas meliputi 4 hal
yaitu
dokumen
sumber/pendukung,
media
pencatatan,
fungsi-fungsi
akuntansi yang terkait dan prosedur pembukuan.
41
a. Dokumen Sumber/pendukung
Dokumen sumber transaksi penerimaan kas di SKPKD antara lain:

Bukti Transfer merupakan dokumen atau bukti atas transfer
penerimaan daerah;

Nota Kredit Bank merupakan dokumen atau bukti dari bank yang
menunjukkan adanya transfer uang masuk ke rekening kas umum
daerah;

Surat perintah pemindahbukuan;
Dokumen sumber tersebut didukung oleh dokumen-dokumen pendukung
antara lain:

Surat Tanda Setoran, atas setoran penerimaan yang disetorkan
langsung ke rekening Kas Daerah;

Surat ketetapan pajak daerah (SKP-Daerah);

Surat ketetapan retribusi (SKR);

Laporan penerimaan kas dari bendahara penerimaan; dan

Bukti transaksi penerimaan kas lainnya.
b. Media Pencatatan
Media pencatatan untuk transaksi penerimaan kas di SKPKD sama dengan
media pencatatan di SKPD yaitu:

Jurnal

Buku besar

Buku besar pembantu
c. Fungsi-fungsi akuntansi yang terkait
Pejabat/Petugas yang terkait dengan fungsi – fungsi akuntasi dalam
pelaksanaan prosedur penerimaan kas yaitu:

Petugas Verifikasi (Fungsi verifikasi)

Petugas Pembukuan (Fungsi pencatatan)

Pejabat Otorisasi (Fungsi Otorisasi)
42
d. Prosedur pembukuan
Secara umum prosedur pembukuan penerimaan kas di SKPKD dapat
dipersamakan dengan prosedur pembukuan penerimaan kas di SKPD,
perbedaannya hanya pelaksanaan fungsi verifikasi, pembukuan dan
otorisasi dilaksanakan di SKPKD. Prosedur pembukuan penerimaan kas di
SKPKD adalah sebagai berikut:

Petugas verifikasi menerima dan menelaah dokumen penerimaan kas
dari pihak terkait (BUD, Bank Kas Daerah, bukti transfer dari pihak
ketiga dsb). Penelaahan tersebut menyangkut kelengkapan bukti, dan
kebenaran legalitas formal bukti tersebut.
Jika dokumen tersebut
sudah lengkap dan legalitas formalnya sudah benar, maka dokumen
tersebut diteruskan kepada petugas pembukuan keuangan untuk
diproses lebih lanjut.
memenuhi
Jika dokumen transaksi tersebut belum
persyaratan
verifikasi,
maka
dokumen
tersebut
dikembalikan kepada pihak terkait untuk dilengkapi;

Petugas pembukuan keuangan berdasarkan dokumen transaksi yang
telah diverifikasi melakukan pencatatan transaksi penerimaan kas ke
dalam buku jurnal secara periodik.
Teknis pencatatannya dapat
dilihat pada jurnal standar.

Petugas pembukuan
keuangan
mencetak
buku
jurnal
harian,
kemudian buku jurnal tersebut beserta bukti-bukti pendukungnya
diserahkan kepada pejabat otorisasi (kepala fungsi akuntansi di
SKPKD)

Pejabat otorisasi menelaah kebenaran penjurnalan baik pembebanan
rekening, debet/kredit maupun jumlahnya dengan dibandingkan
bukti
pendukungnya.
Kalau
sudah
sesuai,
pejabat
otorisasi
menandatangani buku jurnal harian dan mengembalikannya kepada
petugas pembukuan untuk dilakukan posting. Apabila belum sesuai
maka petugas pembukuan melakukan pembetulan atas jurnal yang
dilakukan.
43

Petugas pembukuan keuangan menerima hasil pencetakan buku
jurnal yang telah ditandatangani oleh pejabat otorisasi, kemudian
dilakukan posting semua transaksi dalam buku jurnal ke dalam
buku besar dan buku besar pembantu terkait sesuai dengan
nama/kode rekening berkenaan.

Petugas pembukuan keuangan mencetak buku besar dan atau buku
besar
pembantu
setiap
bulan
(akhir
minggu
ke-4).
Hasilnya
diteruskan kepada petugas verifikasi untuk diteliti kebenaran posting
transaksi dari buku jurnal ke buku besar dan atau buku besar
pembantu sesuai dengan kode/nama rekening berkenaan. Jika hasil
postingnya benar, maka buku besar dan atau buku besar pembantu
disampaikan kepada pejabat otorisasi untuk ditandatangani. Jika
hasil postingnya salah, maka disampaikan kembali kepada petugas
pembukuan keuangan untuk dikoreksi sesuai dengan disposisi dari
petugas verifikasi.

Petugas pembukuan keuangan mengarsipkan Buku Jurnal, Buku
Besar
dan
Buku
Besar
Pembantu
dengan
baik,
setelah
ditandatangani oleh pejabat otorisasi.

Petugas verifikasi mengarsipkan bukti-bukti pendukung yang telah
digunakan.
3. Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas
Prosedur pengeluaran kas pada SKPKD mencakup seluruh pengeluaran kas
yang telah dianggarkan dalam APBD (termasuk yang dikelola SKPKD
maupun SKPD) yaitu unsur belanja dan pengeluaran pembiayaan. Prosedur
akuntansi
pengeluaran
kas
meliputi
4
hal
yaitu
dokumen
sumber/pendukung, media pencatatan, fungsi-fungsi akuntansi
yang
terkait dan prosedur pembukuan.
44
a. Dokumen Sumber/pendukung
Dokumen sumber untuk transaksi pengeluaran kas di SKPKD antara lain:

Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) merupakan dokumen yang
diterbitkan oleh BUD/Kuasa BUD untuk mencairkan uang pada
bank yang ditunjuk;

Nota Debet Bank merupakan dokumen atau bukti dari bank yang
menunjukkan adanya transfer uang keluar dari rekening kas umum
daerah;
Dokumen sumber tersebut didukung dengan bukti-bukti pendukung antara
lain:

Kuitansi pembayaran merupakan dokumen sebagai tanda bukti
pembayaran;

Surat penyediaan dana (SPD);

Surat perintah membayar (SPM);

Laporan pengeluaran kas dari bendahara pengeluaran;

Bukti tanda terima barang/jasa;

Bukti transaksi pengeluaran kas lainnya.
b. Media Pencatatan
Media pencatatan untuk transaksi pengeluaran kas di SKPKD sama dengan
media pencatatan pengeluaran kas di SKPD yang antara lain meliputi:

Jurnal

Buku besar

Buku besar pembantu
c. Fungsi-fungsi akuntansi yang terkait
Pejabat/Petugas yang terkait dengan fungsi – fungsi akuntasi dalam
pelaksanaan prosedur pengeluaran kas yaitu:

Petugas Verifikasi (Fungsi verifikasi)

Petugas Pembukuan (Fungsi pencatatan)

Pejabat Otorisasi (Fungsi Otorisasi)
45
d. Prosedur pembukuan
Prosedur pembukuan pengeluaran kas di SKPKD pada intinya sama dengan
prosedur di SKPD, hanya fungsi pelaksananya saja yang disesuaikan
dengan struktur di SKPKD. Prosedur pembukuan tersebut adalah sebagai
berikut:

Petugas verifikasi menerima dan menelaah dokumen transaksi
pengeluaran kas dari fungsi perbendaharaan/BUD di SKPKD.
Penelaahan tersebut menyangkut kelengkapan bukti, dan kebenaran
legalitas formal bukti tersebut.
Jika dokumen tersebut sudah
lengkap dan legalitas formalnya sudah benar, maka dokumen
tersebut diteruskan kepada petugas pembukuan keuangan untuk
diproses lebih lanjut.
memenuhi
Jika dokumen transaksi tersebut belum
persyaratan
verifikasi,
maka
dokumen
tersebut
dikembalikan kepada BUD untuk dilengkapi;

Petugas pembukuan keuangan berdasarkan dokumen transaksi yang
telah diverifikasi melakukan pencatatan transaksi pengeluaran kas
ke dalam buku jurnal secara periodik. Teknis pencatatannya dapat
dilihat pada jurnal standar.

Petugas pembukuan
keuangan
mencetak
buku
jurnal
harian,
kemudian buku jurnal tersebut beserta bukti-bukti pendukungnya
diserahkan kepada pejabat otorisasi (kepala fungsi akuntansi di
SKPKD).

Pejabat otorisasi menelaah kebenaran penjurnalan baik pembebanan
rekening, debet/kredit maupun jumlahnya dengan dibandingkan
bukti
pendukungnya.
Kalau
sudah
sesuai,
pejabat
otorisasi
menandatangani buku jurnal harian dan mengembalikannya kepada
petugas pembukuan untuk dilakukan posting. Apabila belum sesuai
maka petugas pembukuan melakukan pembetulan atas jurnal yang
dilakukan.
46

Petugas pembukuan keuangan menerima hasil pencetakan buku
jurnal yang telah ditandatangani oleh pejabat otorisasi, kemudian
dilakukan posting semua transaksi dalam buku jurnal ke dalam
buku besar dan buku besar pembantu terkait sesuai dengan
nama/kode rekening berkenaan.

Petugas pembukuan keuangan mencetak buku besar dan atau buku
besar
pembantu
setiap
bulan
(akhir
minggu
ke-4).
Hasilnya
diteruskan kepada petugas verifikasi untuk diteliti kebenaran posting
transaksi dari buku jurnal ke buku besar dan atau buku besar
pembantu sesuai dengan kode/nama rekening berkenaan. Jika hasil
postingnya benar, maka buku besar dan atau buku besar pembantu
disampaikan kepada pejabat otorisasi untuk ditandatangani. Jika
hasil postingnya salah, maka disampaikan kembali kepada petugas
pembukuan keuangan untuk dikoreksi sesuai dengan disposisi dari
petugas verifikasi.

Petugas pembukuan keuangan mengarsipkan Buku Jurnal, Buku
Besar
dan
Buku
Besar
Pembantu
dengan
baik,
setelah
ditandatangani oleh pejabat otorisasi.

Petugas verifikasi mengarsipkan bukti-bukti pendukung yang telah
digunakan.
4. Prosedur Akuntansi Barang Milik Daerah (BMD)
Prosedur akuntansi BMD pada SKPKD dapat dipersamakan dengan
prosedur akuntansi BMD pada SKPD. Hal ini dikarenakan pada intinya
SKPKD adalah unit kerja seperti SKPD pada umumnya. Pelaksanaan fungsi
akuntansi di SPKD dilaksanakan di PPK-SKPD, sementara di SKPKD
dilaksanakan Bidang Akuntansi.
Sebagai unit kerja, SKPKD juga memiliki pengurus barang yang bertugas
menatausahakan barang milik daerah sebagaimana unit kerja yang lain
pada umumnya. Laporan dan catatan yang diselenggarakan pengurus
barang di SKPKD sama dengan yang diselenggarakan di SKPD (dapat dilihat
pada Prosedur Akuntansi Barang Milik Daerah (BMD) di SKPD.
47
Prosedur
akuntasi
BMD
di
SKPKD
yang
meliputi,
dokumen
sumber/dokumen pendukung, media pencatatan, fungsi akuntansi terkait
dan prosedur pembukuan dapat dipersamakan dengan yang dilaksanakan
di SKPD, dapat dilihat Prosedur Akuntansi Barang Milik Daerah (BMD) di
SKPD. Perbedaannya hanya pada pelaksana fungsi akuntansi yang di SKPD
dilaksanakan oleh PPK-SKPD, sedangkan di SKPKD dilaksanakan oleh
Kepala fungsi Akuntansi di SKPKD.
5. Prosedur Akuntansi Beban
Prosedur akuntansi beban pada SKPKD mencakup seluruh beban yang
telah dimanfaatkan SKPKD. Beban adalah pengorbanan yang dikeluarkan
pemda untuk mendapat masa manfaat dimasa kini dan dimasa akan
datang. Manfaat yang dimaksud adalah manfaat atas penggunaan sumber
daya. Manfaat yang dirasakan tersebut
akibat pengeluaran biaya yang
terjadi. Pelaksanaan prosedur akuntansi beban meliputi 4 hal yaitu:
dokumen sumber/pendukung, media pencatatan, fungsi-fungsi akuntansi
yang terkait dan prosedur pembukuan.
a. Dokumen sumber/pendukung
Dokumen sumber untuk pencatatan transaksi beban adalah sebagai
berikut:

Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) merupakan dokumen yang
diterbitkan oleh BUD/Kuasa BUD untuk mencairkan uang yang
dianggap beban; atau

Bukti memorial untuk beban bunga, beban penyusutan dan beban
lain yang memiliki karakteristik bukti yang sama ;

Naskah Perjanjian Hibah (NPH) untuk beban hibah dan utang hibah;

Berita Acara Serah Terima Barang yang telah diverifikasi PPK SKPD;

Nota Permintaan Dana (NPD) dan Daftar Barang yang telah
diverifikasi PPK-SKPD dan telah dibayar Bendahara Pengeluaran
(untuk pembelian persediaan dengan mekanisme GU);

Bukti transaksi beban lainnya;
Dokumen sumber tersebut biasanya didukung oleh dokumen-dokumen
pendukung seperti:
48

Surat Pertanggungjawaban Pengeluaran;

Dokumen perjanjian utang;

Berita Acara Stock Opname;

Berita Acara Pemeriksaan Barang;
b. Media Pencatatan
Media pencatatan merupakan sarana untuk merekam transaksi beban yang
telah melalui proses verifikasi kebenaran legalitas formalnya.
Media
pencatatan yang digunakan untuk transaksi beban sama dengan yang
digunakan pada transaksi lainnya yaitu meliputi:
(1) Jurnal
(2) Buku besar
(3) Buku besar pembantu
c. Fungsi-fungsi akuntansi yang terkait
Pejabat/Petugas yang terkait dengan fungsi – fungsi akuntasi dalam
pelaksanaan prosedur akuntansi beban yaitu:

Petugas Verifikasi (Fungsi verifikasi)

Petugas Pembukuan (Fungsi pencatatan)

Pejabat Otorisasi (Fungsi Otorisasi)
d. Prosedur Pembukuan
Prosedur pembukuan akuntansi beban adalah sebagai berikut:

Petugas verifikasi menerima dan menelaah dokumen transaksi
pengeluaran kas dari bendahara pengeluaran. Penelaahan tersebut
menyangkut kelengkapan bukti, dan kebenaran legalitas formal bukti
tersebut.
Jika dokumen tersebut sudah lengkap dan legalitas
formalnya sudah benar, maka dokumen tersebut diteruskan kepada
petugas pembukuan keuangan untuk diproses lebih lanjut.
Jika
dokumen transaksi tersebut belum memenuhi persyaratan verifikasi,
maka
dokumen
tersebut
dikembalikan
kepada
bendahara
pengeluaran untuk dilengkapi;

Petugas pembukuan keuangan berdasarkan dokumen transaksi yang
telah diverifikasi melakukan pencatatan transaksi pengeluaran kas
49
ke dalam buku jurnal secara periodik. Teknis pencatatannya dapat
dilihat pada jurnal standar.

Petugas pembukuan
keuangan
mencetak
buku
jurnal
harian,
kemudian buku jurnal tersebut beserta bukti-bukti pendukungnya
diserahkan kepada pejabat otorisasi (PPK-SKPD).

Pejabat otorisasi menelaah kebenaran penjurnalan baik pembebanan
rekening, debet/kredit maupun jumlahnya dengan dibandingkan
bukti
pendukungnya.
Kalau
sudah
sesuai,
pejabat
otorisasi
menandatangani buku jurnal harian dan mengembalikannya kepada
petugas pembukuan untuk dilakukan posting. Apabila belum sesuai
maka petugas pembukuan melakukan pembetulan atas jurnal yang
dilakukan.

Petugas pembukuan keuangan menerima hasil pencetakan buku
jurnal yang telah ditandatangani oleh pejabat otorisasi, kemudian
dilakukan posting semua transaksi dalam buku jurnal ke dalam
buku besar dan buku besar pembantu terkait sesuai dengan
nama/kode rekening berkenaan.

Petugas pembukuan keuangan mencetak buku besar dan atau buku
besar
pembantu
setiap
bulan
(akhir
minggu
ke-4).
Hasilnya
diteruskan kepada petugas verifikasi untuk diteliti kebenaran posting
transaksi dari buku jurnal ke buku besar dan atau buku besar
pembantu sesuai dengan kode/nama rekening berkenaan. Jika hasil
postingnya benar, maka buku besar dan atau buku besar pembantu
disampaikan kepada pejabat otorisasi untuk ditandatangani. Jika
hasil postingnya salah, maka disampaikan kembali kepada petugas
pembukuan keuangan untuk dikoreksi sesuai dengan disposisi dari
petugas verifikasi.

Petugas pembukuan keuangan mengarsipkan Buku Jurnal, Buku
Besar
dan
Buku
Besar
Pembantu
dengan
baik,
setelah
ditandatangani oleh pejabat otorisasi.

Petugas verifikasi mengarsipkan bukti-bukti pendukung yang telah
digunakan.
50
6. Prosedur Akuntansi Selain Kas
Prosedur akuntansi selain kas pada SKPKD meliputi serangkaian proses
mulai dari pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan
yang berkaitan dengan semua transaksi atau kejadian selain kas yang dapat
dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. Prosedur
akuntansi selain kas meliputi transaksi/kejadian sebagai berikut:
a. Koreksi kesalahan pembukuan/pencatatan merupakan koreksi terhadap
kesalahan dalam membuat jurnal
tersebut telah diposting ke buku
besar dan buku besar pembantu;
b. Penyesuaian terhadap akun tertentu dalam rangka menyusun laporan
keuangan pada akhir tahun;
c. Reklasifikasi akibat koreksi yang ditemukan dikemudian hari.
a. Dokumen Sumber/Pendukung
Dokumen sumber dari transaksi selain kas adalah bukti memorial/memo
jurnal/memo pembukuan yang dilampiri dengan dokumen pendukung
antara lain:

Bukti kesalahan pencatatan dalam pembukuan;

Hasil perhitungan rekening2 akrual pada akhir tahun seperti utang,
piutang;

Perhitungan reklasifikasi utang jangka panjang untuk mengakui
bagian lancar atas utang jangka panjang;

Dokumen lainnya yang sah.
b. Media Pencatatan
Media pencatatan yang digunakan untuk merekam transaksi dan atau
kejadian dalam prosedur akuntansi selain kas yaitu berupa:
(1) Buku Jurnal;
(2) Buku Besar;
(3) Buku Besar Pembantu.
51
c. Fungsi-fungsi akuntansi yang terkait
Petugas/Pejabat yang terkait dengan fungsi – fungsi akuntasi dalam
pelaksanaan prosedur akuntasi selain kas yaitu:

Petugas Verifikasi (Fungsi verifikasi)

Petugas Pembukuan (Fungsi pencatatan)

Pejabat Otorisasi (Fungsi otorisasi)
e. Prosedur pembukuan
Prosedur pembukuan untuk transaksi non kas di SKPKD adalah sebagai
berikut:

Petugas verifikasi menerima dokumen transaksi selain kas (berupa
SPJ atau bukti lainnya), kemudian meneliti kelengkapan dan
kebenaran formal atas dokumen tersebut.
Jika telah memenuhi
persyaratan verifikasi, maka dibuatkan bukti memorial dan dokumen
tersebut diteruskan kepada petugas pembukuan untuk diproses lebih
lanjut. Jika belum memenuhi persyaratan verifikasi, maka dokumen
tersebut dikembalikan kepada pihak terkait untuk dilengkapi;

Petugas pembukuan mencatat bukti memorial yang diterima ke
dalam Buku Jurnal sesuai dengan disposisi dari petugas verifikasi.
Teknis pencatatan transaksi berkaitan dengan non kas ke
dalam
buku jurnal dapat dilihat pada Jurnal Standar;

Petugas pembukuan mencetak buku jurnal harian, mingguan,
bulanan, semesteran dan tahunan.
diteruskan
kepada
petugas verifikasi
Buku jurnal yang dicetak
untuk
diteliti
kebenaran
pencatatan dalam Buku Jurnal, sebelum ditandatangani oleh pejabat
otorisasi (Kepala Fungsi Akuntansi SKPKD). Dokumen transaksi yang
telah selesai dibukukan dalam Buku Jurnal dikembalikan kepada
petugas verifikasi untuk disimpan (diarsip) dengan baik.

Petugas pembukuan menerima hasil pencetakan Buku Jurnal yang
telah ditandatangani oleh Kepala Fungsi Akuntansi, kemudian
dilakukan posting semua transaksi tersebut dalam Buku Jurnal ke
dalam buku besar dan buku besar pembantu terkait sesuai dengan
nama/kode rekening berkenaan.
52

Petugas pembukuan mencetak buku besar dan atau buku besar
pembantu
setiap
akhir
bulan
(akhir
minggu
ke-4).
Hasilnya
diteruskan kepada petugas verifikasi untuk diteliti kebenaran posting
transaksi non kas dari Buku Jurnal ke buku besar dan atau ke buku
besar pembantu sesuai dengan kode/nama rekening berkenaan.
Jika hasil postingnya benar, maka buku besar dan atau buku besar
pembantu disampaikan kepada Kepala Fungsi Akuntansi untuk
ditandatangani. Jika hasil postingnya salah, maka disampaikan
kembali kepada petugas pembukuan untuk dikoreksi sesuai dengan
disposisi dari petugas verifikasi.

Petugas pembukuan mengarsipkan Buku Jurnal, Buku Besar dan
Buku Besar Pembantu
dengan baik,
setelah ditandatangani oleh
Kepala Fungsi Akuntansi.
4.9 JURNAL STANDAR
Pada siklus akuntansi dan pelaporan, jurnal adalah input pertama yang
menjadi sumber data untuk buku-buku besar dan pada akhirnya bermuara
ke pelaporan keuangan. Kesalahan dalam penjurnalan akan mengakibatkan
kesalahan
angka-angka
dalam
buku-buku
besar
dan
akhirnya
mengakibatkan angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan menjadi
tidak wajar. Oleh karena pentingnya jurnal tersebut maka perlu dibuat
standarisasi penjurnalan untuk transaksi-transaksi yang rutin terjadi dalam
operasional pengelolaan keuangan daerah.
Proses penjurnalan sebagai bagian dari proses akuntansi dan pelaporan
keuangan, dilaksanakan oleh fungsi akuntansi yang di SKPD dilaksanakan
oleh
PPK-SKPD
dan
di
SKPKD/BUD
dilaksanakan
oleh
fungsi
akuntansi/pembukuan di SKPKD. Untuk melakukan penjurnalan PPK-SKPD
dan fungsi akuntansi SKPKD mengacu pada sumber-sumber data yang
disampaikan oleh fungsi-fungsi lainnya seperti bendaharawan penerimaan,
bendaharawan
pengeluaran,
pengurus
barang,
fungsi
perbendaharaan
SKPKD, bagian perlengkapan dan lain-lain.
Untuk menghasilkan laporan keuangan yang valid, sumber data yang
disediakan oleh fungsi-fungsi terkait kepada fungsi akuntansi juga harus
valid dan tepat waktu. Untuk itu, alur disposisi dokumen dan ketepatan
waktu penyampaian dokumen kepada fungsi akuntansi harus diutamakan.
53
Pada bagian ini akan diuraikan jurnal berbagai transaksi baik dari sudut
pandang SKPD sebagai Pengguna Anggaran maupun SKPKD/PPKD selaku
BUD. Unit SKPKD selain bertindak sebagai BUD juga bertindak sebagai
pengguna anggaran. Apabila unit SKPKD bertindak sebagai unit Pengguna
Anggaran maka jurnal yang dilakukan sama dengan yang dilakukan oleh
SKPD pada umumnya.
Jurnal-jurnal yang diuraikan dalam jurnal standar ini merupakan jurnal
untuk transaksi-transaksi yang lazim terjadi pada pengelolaan keuangan
daerah. Jurnal-jurnal yang sifatnya sangat khusus misalnya untuk kejadian
luar biasa tidak diatur dalam jurnal standar ini, dan untuk hal-hal seperti itu
hendaknya mengacu pada ketentuan Standar Akuntansi Pemerintahan dan
buletin-buletin teknisnya.
Uraian jurnal pada bagian ini akan dijelaskan per jenis transaksi, baik yang
melibatkan kas, non kas, anggaran maupun non anggaran serta yang
melibatkan SKPD dan SKPKD atau hanya salah satunya. Sebelum masuk
pada jurnal standar, maka perlu diuraikan saldo normal untuk berbagai pos
dalam laporan keuangan serta sifat mutasi tambah dan kurangnya, yang
terlihat pada tabel dibawah ini.
DEBET
KREDIT
POS NERACA
ASET
=
ASET LANCAR
INVESTASI
PANJANG
JK.
ASET TETAP
DANA CADANGAN
KEWAJIBAN
+
EKUITAS DANA
KEWAJIBAN
PENDEK
JK.
EKUITAS
LANCAR
DANA
KEWAJIBAN
PANJANG
JK.
EKUITAS
INVESTASI
DANA
EKUITAS
CADANGAN
DANA
ASET LAINNYA
POS LAPORAN REALISASI ANGGARAN
BELANJA
(Mengurangi
Ekuitas Dana)
PENGELUARAN
PEMBIAYAAN
PENDAPATAN –LRA (Menambah Ekuitas Dana)
PENERIMAAN PEMBIAYAAN
54
PE
POS LAPORAN OPERASIONAL
BEBAN (Mengurangi
Ekuitas Dana)
PENDAPATAN-LO(Menambah Ekuitas Dana)
DEFISIT
DARI
KEGIATAN NON
OPERASIONAL
SURPLUS DARI KEGIATAN NON OPERASIONAL
BEBAN LUAR BIASA
PENDAPATAN LUAR BIASA
POS
BERTAMBAH
BERKURANG
SALDO
NOR
MAL
ASET
Debet
Kredit
Debet
KEWAJIBAN
Kredit
Debet
Kredit
EKUITAS DANA
Kredit
Debet
Kredit
PENDAPATAN-LRA
Kredit
Debet
Kredit
Debet
Kredit
Debet
Kredit
Debet
Kredit
Debet
Kredit
Debet
Penerimaan Pembiayaan
BELANJA
Pengeluaran
Pembiayaan
PENDAPATAN-LO
Surplus dari keg.non
operasional
Pendapatan Luar Biasa
BEBAN
Defisit dari keg.non
operasional
Beban Luar Biasa
55
A. PENDAPATAN &PENERIMAAN KAS
I.Jurnal Standar Pendapatan berdasarkan :
1. Pendapatan Pajak tipe A dan PAD melalui penetapan:
Pendapatan melalui penetapan adalah PPKD (Dispenda) atau Dinas yang
berwenang akan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKP Daerah)
terkait. Selain disampaikan kepada Wajib Pajak (WP), SKP tersebut akan
didistribusikan kepada PPK-SKPD. SKP Daerah tersebut akan menjadi
dokumen sumber dalam mengakui pendapatan pajak daerah. PPK SKPD akan
mencatat “Piutang Pajak (sesuai rincian objek)” di sisi debit dan “Pendapatan –
LO (sesuai rincian objek)” di sisi kredit.
Dokumen Sumber: Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKP Daerah)
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
DR
1.1.03.01.xx
Piutang Pajak (sesuai rincian
objek)
xxx
4.1.x.xx.xx
Pendapatan .......-LO
CR
xxx
u/ mencatat pengakuan piutang pajak dan pendapatan di SKPD
sesuai rincian objek
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
Karena tidak ada kas yang masuk ke kas daerah
56
Paragraf 95 Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) Lampiran I.01 tentang
Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan menyatakan:
Pendapatan-LO diakui pada saat timbulnya hak atas pendapatan tersebut atau
ada aliran masuk sumber daya ekonomi. Pendapatan-LRA diakui pada saat kas
diterima pada Rekening Kas Umum Negara/Daerah
atau
oleh entitas
pelaporan.
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
URAIAN
REKENING
DR
CR
Tidak Dijurnal
SKPKD belum melakukan penjurnalan karena transaksi tersebut belum
melibatkan SKPKD (belum disetor ke Kas Daerah)
Contoh Kasus:
Dispenda mengeluarkan SKP atas Pajak Air Bawah Tanah dari Wajib Pajak
Pengusaha sebesar Rp.5 juta dengan SKP Nomor 150 , atas SKP tersebut PPKDispenda membuat jurnal sebagai berikut:
a. Jurnal di SKPD- Dispenda
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.03.01.xx
4.1.1.07.01
URAIAN
Piutang Pajak Air Bawah Tanah
Pendapatan Pajak Air Bawah
Tanah-LO
DR
CR
5jt
5jt
u/ mencatat pendapatan pajak air bawah tanah
atas terbitnya SKP No. 150
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
Tidak Dijurnal
Saat terbitnya SKP tidak dijurnal pada LRA karena
belum ada Realisasi Kas yang masuk ke Kasda
57
PPK-SKPD dapat melakukan penjurnalan per bukti penerimaan atau dapat
juga melakukan penjurnalan sekaligus untuk mencatat akumulasi bukti
penerimaan setiap harinya/rekap transaksi harian (dipilih salah satu
alternatif). Untuk
SKPD/Pemda
yang menggunakan
aplikasi/software
pengelolaan keuangan lebih baik melakukan penjurnalan setiap transaksi
terjadi, tetapi untuk yang masih manual akan lebih praktis bila melakukan
penjurnalan untuk akumulasi penerimaan bukti penerimaan setiap harinya.
Melanjutkan contoh diatas, misalkan pada hari itu total akumulasi bukti
penerimaan mencapai Rp. 50 juta maka jurnal yang dibuat sama dengan
diatas hanya nilai debet dan kreditnya diganti dengan Rp.50 juta.
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
2. Penerimaan Kas pada Bendahara Penerimaan atas Pendapatan tipe A dan PAD
melalui penetapan
Berdasarkan SKP tersebut, WP akan melakukan pembayaran pajak kepada
Bendahara Penerimaan dengan menyerahkan SKP yang sebelumnya diberikan
oleh dinas yang berwenang. Bendahara penerimaan kemudian akan membuat
Tanda Bukti Pembayaran (TBP) yang disebut Surat Setoran Pajak Daerah
(SSPD). Berdasarkan Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD) dari Bendahara
Penerimaan, PPK-SKPD akan mencatat “Kas di Bendahara Penerimaan” pada
sisi debit dan “Piutang Pajak (sesuai rincian objek)” di sisi kredit.
Dokumen Sumber: Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD)
58
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.1.02.01
URAIAN
DR
Kas di Bendahara Penerimaan
1.1.03.01.xx
CR
xxx
Piutang Pajak ………(rincian
objek)
xxx
u/ mencatat penerimaan kas di Bendahara Penerimaan dan
menghilangkan piutang pajak
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
3.1.02.05.01
URAIAN
DR
Estimasi Perubahan SAL
4.1.x.xx.xx
CR
xxx
Pendapatan ........-LRA
xxx
u/ mencatat penerimaan kas di Bendahara Penerimaan dan
Pendapatan sesuai jenis yang diterima
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
SKPKD belum melakukan penjurnalan karena transaksi tersebut belum
melibatkan SKPKD (belum disetor ke Kas Daerah)
Contoh Kasus:
Bendahara Penerimaan Dispenda menerima pembayaran Pajak Air Bawah
Tanah dari Wajib Pajak (Pajak tipe A) sebesar Rp.5 juta Atas pembayaran
tersebut Bendahara Penerimaan tersebut membuat Bukti Penerimaan STS
dengan Nomor 150, Bendahara Penerimaan belum menyetorkannya ke Kasda.
Atas
transaksi
tersebut,
dengan
berdasarkan
bukti
penerimaan
yang
ditembuskan oleh Bendahara Penerimaan, PPK- Dispenda membuat jurnal
sebagai berikut:
59
a. Jurnal di SKPD- Dispenda
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.1.02.01
URAIAN
Kas di Bendahara Penerimaan
1.1.03.01.xx
DR
5jt
Piutang Pajak Air Bawah
Tanah
u/
CR
5jt
mencatat penerimaan kas di Bendahara
Penerimaan atas Pajak Air Bawah Tanah
dengan Bukti Penerimaan No. 150
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
3.1.02.05.01
Estimasi Perubahan SAL
8.1.01.12.01
xxx
Pendapatan Pajak Air TanahLRA
u/
xxx
mencatat penerimaan kas di Bendahara
Penerimaan atas Pajak Air Tanah dengan Bukti
Penerimaan No. 150
PPK-SKPD dapat melakukan penjurnalan per bukti penerimaan atau dapat
juga melakukan penjurnalan sekaligus untuk mencatat akumulasi bukti
penerimaan setiap harinya/rekap transaksi harian (dipilih salah satu
alternatif). Untuk
SKPD/Pemda
yang menggunakan
aplikasi/software
pengelolaan keuangan lebih baik melakukan penjurnalan setiap transaksi
terjadi, tetapi untuk yang masih manual akan lebih praktis bila melakukan
penjurnalan untuk akumulasi penerimaan bukti penerimaan setiap harinya.
Melanjutkan contoh diatas, misalkan pada hari itu total akumulasi bukti
penerimaan mencapai Rp. 50 juta maka jurnal yang dibuat sama dengan
diatas hanya nilai debet dan kreditnya diganti dengan Rp.50 juta.
60
7. Jurnal di SKPKD selaku BUD
URAIAN
REKENING
DR
CR
Tidak Dijurnal
3. Penyetoran Pendapatan oleh Bendahara Penerimaan ke Kas Daerah
Dokumen Sumber: Surat Tanda Setoran (STS)
a. Jurnal di SKPD
URAIAN
REKENING
2.1.8.01.01
DR
R/K Pusat
1.1.1.02.01
CR
xxx
Kas di Bendahara Penerimaan
xxx
u/ mencatat penyetoran kas dari Bend. Penerimaan
ke Kasda
b. Jurnal di SKPKD
REKENING
1.1.01.01.01
URAIAN
DR
Kas di Kasda
1.1.8.01.xx
CR
xxx
R/K SKPD ...................
u/
mencatat penyetoran
Penerimaan ke Kasda
xxx
kas
dari
Bend.
R/K Pusat/R/K PPKD dan R/K SKPD adalah rekening antara yang merupakan
penghubung
antara
SKPKD/PPKD/BUD
dengan
SKPD.
R/K
Pusat
merupakan bagian kelompok kewajiban jangka pendek untuk sisi SKPD,
sedangkan R/K SKPD merupakan kelompok aset lancar untuk sisi SKPKD
(BUD). Kedua rekening tersebut merupakan rekening timbal balik (reciprocal
accounts) yang akan dieliminasi pada saat proses konsolidasi dalam rangka
penyusunan Laporan Keuangan Pemda.
61
Paragraf 95 Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) Lampiran I.01 tentang
Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan menyatakan:
Pendapatan-LRA diakui pada saat kas diterima pada Rekening Kas Umum
Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan.Pada pendapatan pajak tipe A
ini definitif baru diakui setelah ada penyetoran ke Kasda/STS.
Contoh Kasus:
Bendahara Penerimaan Dispenda menyetorkan pembayaran Pajak Air
Bawah Tanah dari Wajib Pajak (Pajak tipe A) sebesar Rp.5 juta .Atas
pembayaran tersebut Bendahara Penerimaan tersebut membuat Bukti
Penerimaan STS dengan Nomor 150, kemudian Bendahara Penerimaan
menyetorkannya ke Kasda. Atas transaksi tersebut, dengan berdasarkan
STS yang ditembuskan oleh Bendahara Penerimaan, BUD membuat jurnal
sebagai berikut:
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
2.1.8.01.01
1.1.1.02.01
URAIAN
DR
R/K Pusat
CR
5jt
Kas di Bendahara Penerimaan
5jt
u/ mencatat penyetoran kas dari Bend. Penerimaan
ke Kasda
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.01.01.01
URAIAN
DR
Kas di Kasda
1.1.8.01.xx
5jt
R/K SKPD
u/
mencatat penyetoran
Penerimaan ke Kasda
CR
5jt
kas
dari
Bend.
62
4. Pendapatan Pajak tipe B dan PAD Tanpa Penetapan
Wajib Pajak (WP) melakukan perhitungan terhadap pajak terhutang dilanjutkan
dengan melakukan pembayaran pajak tersebut kepada Bendahara Penerimaan.
Berdasarkan pembayaran tersebut, Bendahara Penerimaan mengeluarkan
Tanda Bukti Pembayaran (TBP) yang disebut Surat Setoran Pajak Daerah
(SSPD)dan menyerahkan salinannya kepada PPKD/Dinas yang berwenang,
PPK-SKPD, dan WP. PPK SKPD atau Fungsi Akuntansi PPKD(pada PAD tanpa
penetapan) akan mencatat pengakuan pendapatan dengan menjurnal “Kas di
Bendahara Penerimaan” di debit dan “Pendapatan-LO” di kredit sesuai dengan
jenis pendapatan yang bersangkutan.
Dokumen Sumber: Surat Setoran Pajak Daerah (SSP Daerah)
a. Jurnal di SKPD :
-
Pendapatan Pajak tipe B
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.1.02.01
8.1.x.xx.xx
URAIAN
Kas di Bendahara Penerimaan
DR
CR
xxx
Pendapatan .......-LO
xxx
u/ mencatat pengakuan pendapatan di SKPD sesuai rincian objek
dan Kas diterima di Bendahara Penerimaan.
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
3.1.02.05.01
4.1.xx.xx.xx
URAIAN
Estimasi Perubahan SAL
Pendapatan ......-LRA
DR
CR
xxx
xxx
u/ mencatat pendapatan pada LRA
63
-
Pendapatan PAD Tanpa Penetapan
Pihak ketiga melakukan perhitungan terhadap pajak terhutang dilanjutkan
dengan
melakukan
pembayaran
pajak
tersebut
kepada
Bendahara
Penerimaan PPKD.
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.01.01.01
URAIAN
DR
Kas di Kasda
4.1.x.xx.xx
CR
xxx
Pendapatan .......-LO
xxx
u/ mencatat pengakuan pendapatan di SKPD sesuai rincian objek
dan Kas
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
3.1.02.05.01
URAIAN
DR
Estimasi Perubahan SAL
4.1.xx.xx.xx
CR
xxx
Pendapatan ......-LRA
xxx
u/ mencatat pendapatan pada LRA
5. Penyetoran Pendapatan Pajak tipe B dan PAD Tanpa Penetapan ke Kasda
-
Pendapatan Pajak tipe B
Bendahara Penerimaan akan menyetorkan pendapatan yang telah diterima ke
rekening
kas
daerah.
PPK-SKPD
akan
mencatat
transaksi
penyetoran
pendapatan di buku jurnal dengan “RK PPKD” di debit dan “Kas di Bendahara
Penerimaan” di kredit.
Dokumen Sumber: Slip Setoran ke Bank, STS
a. Jurnal di SKPD
REKENING
2.1.8.01.01
1.1.1.02.01
URAIAN
DR
R/K Pusat
Kas
di
Penerimaan
CR
xxx
Bendahara
xxx
64
u/ mencatat pendapatan yang langsung disetor ke
Kasda oleh Wajib Pajak/Retribusi
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
URAIAN
DR
1.1.1.01.xx
Kas di Kas Daerah (rincian obyek)
xxx
1.1.8.01.xx
R/K SKPD ...................
CR
xxx
u/ mencatat penerimaan kas di Kasda dari hasil
penyetoran
pendapatan
oleh
Wajib
Pajak/Retribusi
-
Pendapatan PAD Tanpa Penetapan
Bendahara Penerimaan PPKD dianggap bagian dari Kasda sehingga ketika
Bendahara Penerimaan PPKD sudah menerima kas jurnalnya ‘Kas di Kasda
“ di debit. Sehingga ketika Bendahara Penerimaan PPKD menyetor ke Kasda
tidak ada jurnal lagi.
LAPORAN OPERASIONAL & LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
6. Pemeriksaan Pendapatan Pajak tipe B
Berdasarkan TBP, PPKD/Dinas yang berwenang akan melakukan pemeriksaan
dan kemudian akan menerbitkan surat ketetapan.
a. Jurnal di SKPD
- Jika terdapat lebih bayar ,maka PPK-SKPD akan mengakui adanya utang
kepada wajib pajak. PPK-SKPD akan menjurnal “Pendapatan…-LO” di
debit dan “Utang” di kredit.
65
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
8.1.x.xx.xx
URAIAN
DR
Pendapatan .......-LO
xxx
2.1.05.xx.xx
CR
Utang
xxx
u/ mencatat utang dan kelebihan pengakuan
pendapatan
- Jika terdapat kurang bayar ,maka PPK-SKPD akan mengakui adanya
piutang
kepada
wajib
pajak. PPK-SKPD akan
menjurnal
“Piutang
Pendapatan…” di debit dan “Pendapatan….-LO” di kredit.
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
DR
4.1.x.xx.xx
Piutang Pendapatan ..........
8.1.x.xx.xx
Pendapatan .......-LO
u/
mencatat utang
pendapatan
dan
CR
xxx
xxx
kelebihan
pengakuan
b. Jurnal di SKPKD
LAPORAN OPERASIONAL & LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
Karena tidak berhubungan dengan
BUD
Contoh Kasus :
1. WP Hotel ”Kartini” menghitung Pajak Hotel yang dibayar untuk bulan
November 201X sebesar Rp 2 jt. WP membayar pajak kepada Bendahara
Penerimaan Dispenda. Bendahara Penerimaan membuat SSPD no.152. Atas
transaksi
tersebut,
dengan
berdasarkan
bukti
penerimaan
yang
ditembuskan oleh Bendahara Penerimaan, PPK- Dispenda membuat jurnal
sebagai berikut:
66
a. Jurnal di SKPD- Dispenda
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.1.02.01
8.1.1.01.01
URAIAN
DR
Kas di Bendahara Penerimaan
CR
2jt
Pajak Hotel-LO
2jt
u/ mencatat pengakuan pendapatan pajak hotel dengan SSPD
no.152 dan Kas diterima di Bendahara Penerimaan Dispenda
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
3.1.02.05.01
4.1.01.01.01
URAIAN
DR
Estimasi Perubahan SAL
CR
xxx
Pajak Hotel-LRA
xxx
u/ mencatat pendapatan pajak hotel pada LRA
b. Jurnal SKPKD-BUD
LAPORAN OPERASIONAL & LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
2. Bendahara Penerimaan membuat STS no.152 atas SSPD no.152 tersebut
dan menyetorkan kasnya ke Kas Daerah. Atas transaksi tersebut Bendahara
Penerimaan menembuskan STS ke PPK-SKPD. Maka jurnal atas transaksi
tersebut adalah:
a. Jurnal di SKPD
URAIAN
REKENING
2.1.8.01.01
1.1.1.02.01
DR
R/K Pusat
Kas
di
Penerimaan
CR
2jt
Bendahara
2jt
u/ mencatat pendapatan yang langsung disetor ke
Kasda oleh Wajib Pajak Hotel
67
c. Jurnal di SKPKD selaku BUD
URAIAN
REKENING
1.1.1.01.01
DR
Kas di Kas Daerah
1.1.8.01.xx
CR
2jt
R/K SKPD
2jt
u/ mencatat penerimaan kas di Kasda dari hasil
penyetoran pendapatan pajak Hotel
3. Setelah diperiksa oleh auditor ternyata WP kurang bayar sebesar Rp
300rb,sehimgga dikeluarkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)
no.102.Atas transaksi tersebut PPK-Dispenda melakukan jurnal sebagai
berikut:
a. Jurnal SKPD-Dispenda
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
4.1.01.01.01
8.1.01.01.01
URAIAN
Piutang Pendapatan Pajak
DR
CR
300rb
Pajak Hotel-LO
300rb
u/ mencatat piutang dan kekurangan pengakuan
pendapatan pajak hotel.
b. Jurnal di SKPKD
LAPORAN OPERASIONAL & LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
Karena tidak berhubungan dengan
BUD
68
c. Penyetoran Pendapatan Pajak tipe C
Pada saat WP membayar pajak, Bendahara Penerimaan akan memberikan
Tanda Bukti Pembayaran (TBP) dan Surat Ketetapan Pajak (SKP). TBP dan SKP
tersebut akan didistribusikan ke PPK-SKPD untuk dijadikan dasar pencatatan
penerimaan pembayaran pajak tersebut. TBP juga akan diserahkan kepada WP.
a. Jurnal di SKPD
PPK-SKPD akan mencatat “Kas di Bendahara Penerimaan” pada sisi debit dan
“Pendapatan Diterima Dimuka” di sisi kredit.
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.1.02.01
2.1.04.xx.xx
URAIAN
DR
Kas di Bendahara Penerimaan
Pendapatan
Dimuka
CR
xxx
Diterima
xxx
u/ mencatat penerimaan kas dari pendapatan
pajak tipe C
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
3.1.02.05.01
4.1.xx.xx.xx
URAIAN
DR
CR
Estimasi Perubahan SAL
Pendapatan ….. -LRA
u/ mencatat pendapatan tipe C pada LRA
b. Jurnal di SKPKD
LAPORAN OPERASIONAL & LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
69
-
Pendapatan pajak tipe C disetor ke Kasda
Atas pajak yang diterima tersebut, Bendahara Penerimaan akan melakukan
penyetoran ke kas daerah dengan mengisi Surat Tanda Setoran (STS)
sebagai tanda bukti penyetoran.
a. Jurnal di SKPD
Berdasarkan
STS
tersebut,
PPK-SKPD
akan
mencatat
penyetoran
pendapatan dengan menjurnal “RK PPKD” di debit dan “Kas di Bendahara
Penerimaan” di kredit.
URAIAN
REKENING
2.1.8.01.01
1.1.1.02.01
DR
R/K Pusat
CR
xxx
Kas
di
Penerimaan
Bendahara
xxx
u/ mencatat kas yang disetor ke Kasda oleh
Bendahara Penerimaan
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
1.1.1.01.xx
1.1.8.01.xx
URAIAN
Kas di Kas Daerah
R/K SKPD
DR
CR
xxx
xxx
u/ mencatat penerimaan kas di Kasda dari hasil
penyetoran
pendapatan
oleh
Bendahara
Penerimaan
- Di akhir tahun dan/atau di akhir periode masa pajak tipe C
a. Jurnal di SKPD
PPKD melakukan pengakuan pendapatan dengan menerbitkan bukti
memorial. Berdasarkan bukti memorial tersebut PPK SKPD akan mencatat
“Pendapatan Diterima Dimuka” di sisi debit dan “Pendapatan- LO (sesuai
rincian objek yang terkait)” di sisi kredit.
70
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
2.1.04.xx.xx
8.1.x.xx.xx
URAIAN
DR
Pendapatan Diterima Dimuka
CR
xxx
Pendapatan .......-LO
xxx
u/ mencatat utang dan kelebihan pengakuan
pendapatan
Contoh kasus :
1. Pengusaha B mengiklankan produknya dengan billboard yang dikenakan
pajak reklame Rp 12jt pertahun mulai bulan Maret 2015 s/d Februari 2016.
Atas Pajak Reklame tersebut dibuat SKP oleh BPPT dan ditembuskan ke
Bendahara Penerimaan serta PPK-DP3JU sebagai SKPD teknis. Pengusaha
B langsung membayar ke Bendahara Penerimaan Rp 30jt, atas pajak
reklame tersebut PPK-DP3JU melakukan jurnal sebagai berikut:
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
DR
1.1.1.02.01
Kas di Bendahara Penerimaan
12jt
2.1.04.01.01
Pendapatan
Dimuka
Diterima
CR
12jt
u/ mencatat penerimaan kas dari pendapatan
pajak reklame
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
3.1.02.05.01
4.1.01.01.02
URAIAN
Estimasi Perubahan SAL
Pajak Reklame -LRA
DR
CR
12jt
12jt
u/ mencatat pendapatan pajak reklame pada LRA
71
b. Jurnal di SKPKD
LAPORAN OPERASIONAL & LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
2. Bendahara Penerimaan DP3JU sebagai SKPD teknis, menyetorkan Rp 12jt
ke Kasda, atas pajak reklame tersebut PPK-DP3JU melakukan jurnal
sebagai berikut:
a. Jurnal di SKPD
REKENING
2.1.8.01.01
1.1.1.02.01
URAIAN
DR
R/K Pusat
CR
12jt
Kas
di
Penerimaan
Bendahara
12jt
u/ mencatat kas yang disetor ke Kasda oleh
Bendahara Penerimaan DP3JU
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
1.1.1.01.01
1.1.8.01.01
URAIAN
Kas di Kas Daerah
R/K SKPD
DR
CR
12jt
12jt
u/ mencatat penerimaan kas di Kasda dari hasil
penyetoran
pendapatan
oleh
Bendahara
Penerimaan
3. Pada akhir tahun dihitung ternyata yang menjadi hak atas pendapatan
reklame adalah 10/12 x 12jt = 10jt. Atas perhitungan tersebut dibuat bukti
memorial oleh PPK-DP3JU dan dibuat jurnal penyesuaian atas pendapatan
reklame tersebut.
72
a. Jurnal SKPD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
2.1.04.01.01
DR
Pendapatan Diterima Dimuka
8.1.01.02.01
CR
10jt
Pajak Reklame-LO
10jt
u/ mencatat utang dan kelebihan pengakuan
pendapatan
7. Penyetoran Pendapatan oleh Wajib Pajak/Retribusi Daerah Langsung ke
Bank/Kas Daerah
Jurnal ini dibuat ketika Wajib Pajak/Retribusi Daerah langsung menyetorkan
pajak/retribusinya
ke
rekening
Kas
Daerah
(tidak
melalui
Bendahara
Penerimaan), setelah disetor ke Kas Daerah baru kemudian STS dan slip
setoran disampaikan ke Bendahara Penerimaan SKPD yang bersangkutan.
Kemudian STS dan slip setoran oleh bendahara penerimaan disampaikan ke
PPK-SKPD, atas dasar STS dan slip setoran tersebut maka oleh PPK-SKPD
dilakukan penjurnalan atas pendapatan tersebut.
Dokumen Sumber: Slip Setoran ke Bank, STS
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
2.1.8.01.01
4.x.x.xx.xx
URAIAN
R/K Pusat
DR
CR
xxx
Pendapatan (rincian obyek) –
LO
xxx
u/ mencatat pendapatan yang langsung disetor ke
Kasda oleh Wajib Pajak/Retribusi
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
3.1.02.05.01
URAIAN
Estimasi Perubahan SAL
DR
CR
xxx
73
4.x.x.xx.xx
Pendapatan (rincian obyek) –
LRA
xxx
u/ mencatat pendapatan yang langsung disetor ke
Kasda oleh Wajib Pajak/Retribusi
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
1.1.1.01.xx
1.1.8.01.xx
URAIAN
Kas di Kas Daerah
DR
CR
xxx
R/K SKPD
xxx
u/ mencatat penerimaan kas di Kasda dari hasil
penyetoran
pendapatan
oleh
Wajib
Pajak/Retribusi
Contoh Kasus:
Wajib Pajak Restoran langsung menyetorkan kewajiban pajaknya sebesar Rp.9
juta ke rekening Kas Daerah di BJB dengan menggunakan STS No. 45. Atas
setoran tersebut Bank mengeluarkan slip setoran. Kemudian setelah disetor,
wajib pajak tersebut menyampaikan STS dan slip setoran bank ke Dinas
Pendapatan sebagai bukti penyetoran yang telah dilakukannya. Atas transaksi
tersebut, jurnal yang dibuat sebagai berikut:
a. Jurnal di SKPD-Dinas Pendapatan
REKENING
2.1.8.01.01
4.1.1.01.14
URAIAN
R/K Pusat
Pajak Hotel Lainnya
DR
CR
9jt
9jt
u/ mencatat pengakuan pendapatan atas STS No.
45 yang langsung disetor ke Kasda oleh Wajib
Pajak/Retribusi
74
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
URAIAN
REKENING
1.1.1.01.01
1.1.8.01.01
DR
Kas di Kas Daerah
CR
9jt
R/K SKPD
9jt
u/ mencatat penerimaan kas di Kasda dari hasil
penyetoran Pajak Hotel Lainnya oleh Wajib Pajak
dengan STS No.45
8. Pendapatan Retribusi Tipe A
Pada
saat
Wajib
Retribusi
(WR)
melakukan
pembayaran,
Bendahara
Penerimaan akan menerbitkan Tanda Bukti Pembayaran (TBP) yang akan
diserahkan PPK-SKPD serta WP.
a. Jurnal SKPD
- Retribusi diterima oleh Bendahara Penerimaan
Berdasarkan TBP tersebut, PPK-SKPD akan mencatat pengakuan pendapatan
dengan menjurnal “Kas di Bendahara Penerimaan” di debit dan “PendapatanLO” di kredit sesuai dengan jenis pendapatan yang bersangkutan
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.1.02.01
8.1.03.xx.xx
URAIAN
Kas di Bendahara Penerimaan
DR
CR
xxx
Retribusi(rincian objek) - LO
xxx
u/ mencatat penerimaan kas di Bendahara Penerimaan dan mencatat
retribusi
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
3.1.02.05.01
4.1.x.xx.xx
URAIAN
Estimasi Perubahan SAL
Retribusi (rincian objek)-LRA
DR
CR
xxx
xxx
u/ mencatat penerimaan kas di Bendahara Penerimaan dan
Pendapatan Retribusi sesuai jenis yang diterima
75
b. Jurnal SKPKD
LAPORAN OPERASIONAL & LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
- Retribusi di setor ke Kas Daerah
Bendahara Penerimaan akan menyetorkan pendapatan yang telah diterima
ke rekening kas daerah dengan mengisi STS dan menyerahkannya saat setor
ke kas daerah. PPK-SKPD akan menerima salinan STS sebagai dasar
melakukan pencatatan akuntansi. Kemudian, PPK-SKPD akan
mencatat
transaksi penyetoran pendapatan di buku jurnal dengan mencatat “RK
PPKD” di debit dan “Kas di Bendahara Penerimaan” di kredit.
a. Jurnal di SKPD
REKENING
2.1.8.01.01
1.1.1.02.01
URAIAN
DR
R/K Pusat
CR
xxx
Kas
di
Penerimaan
Bendahara
xxx
u/ mencatat pengakuan Retribusi
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
1.1.1.01.01
1.1.8.01.01
URAIAN
Kas di Kas Daerah
R/K SKPD
DR
CR
xxx
xxx
u/ mencatat penerimaan kas di Kasda dari hasil
penyetoran retribusi
76
Contoh Kasus:
1. Pengusaha angkutan kota membayar retribusi izin trayek ke Bendahara
Penerimaan Dishub sebesar Rp 7jt. Atas transaksi tersebut Bendahara
Penerimaan membuat STS no.68 .PPK-Dishub menerima salinan STS
no.68 tersebut lalu membuat jurnal sebagai berikut:
a. Jurnal SKPD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.1.02.01
8.2.03.01.02
URAIAN
Kas di Bendahara Penerimaan
DR
CR
7jt
Retribusi izin trayek- LO
7jt
u/ mencatat penerimaan kas di Bendahara Penerimaan dan
menghilangkan piutang pajak
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
3.1.02.05.01
Estimasi Perubahan SAL
4.2.01.01.01
Retribusi izin trayek-LRA
DR
CR
7jt
7jt
u/ mencatat penerimaan kas di Bendahara Penerimaan dan
Pendapatan Retribusi sesuai jenis yang diterima
b. Jurnal SKPKD
LAPORAN OPERASIONAL & LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
2. Bendahara Penerimaan Dishub sebesar Rp 7jt menyetorkan retribusi izin
trayekke Kas Daerah dengan bukti STS dan Slip setoran BJB. Atas bukti
tersebut PPK-Dishub membuat jurnal sebagai berikut:
77
a. Jurnal di SKPD
URAIAN
REKENING
2.1.8.01.01
DR
R/K Pusat
1.1.1.02.01
xxx
Kas
di
Penerimaan
u/
CR
Bendahara
mencatat pengakuan
kendaraan bermotor
Retribusi
xxx
pengujian
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
1.1.1.01.01
1.1.8.01.01
URAIAN
DR
Kas di Kas Daerah
CR
xxx
R/K SKPD
xxx
u/ mencatat penerimaan kas di Kasda dari hasil
penyetoran retribusi izin trayek
9. Pendapatan Retribusi Tipe B
-
PPKD ataupun Dinas yang berwenang akan menerbitkan Surat Ketetapan
Retribusi (SKR) untuk masa satu periode yang harus dibayar oleh Wajib
Retribusi (WR). SKR tersebut kemudian diserahkan kepada WR dan
salinannya didistribusikan kepada PPK-SKPD sebagai dasar pencatatan
piutang.
a. Jurnal SKPD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
4.2.x.xx.xx
2.1.04.xx.xx
URAIAN
DR
Piutang Retribusi ..........
Pendapatan
dimuka
CR
xxx
diterima
xxx
u/ mencatat penerimaan kas di Bendahara Penerimaan dan atas
retribusi tipe B
78
Berdasarkan SKR yang telah diterima, WR akan langsung melakukan
pembayaran retribusi dimuka untuk periode tertentu kepada Bendahara
Penerimaan. Selanjutnya, Bendahara Penerimaan akan membuat Tanda
Bukti Pembayaran (TBP) dan mendistribusikannya ke PPK-SKPD serta WR.
PPK-SKPD akan mencatat penerimaan pembayaran retribusi dengan
menjurnal “Kas di Bendahara Penerimaan” pada sisi debit dan “Piutang
Pendapatan” di sisi kredit.
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.1.02.01
URAIAN
DR
Kas di Bendahara Penerimaan
4.2.x.xx.xx
Piutang
CR
xxx
Retribusi
xxx
..........
u/ mencatat penerimaan kas di Bendahara Penerimaan dan
menghilangkan piutang pajak
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
3.1.02.05.01
Estimasi Perubahan SAL
4.2.02.01.xx
Retribusi (rincian objek) -LRA
DR
CR
7jt
7jt
u/ mencatat penerimaan kas di Bendahara Penerimaan dan
Pendapatan Retribusi tipe B sesuai jenis yang diterima
b. Jurnal SKPKD
LAPORAN OPERASIONAL & LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
79
- Bendahara Penerimaan akan melakukan penyetoran ke kas daerah dengan
mengisi Surat Tanda Setoran (STS) sebagai tanda bukti penyetoran.
Berdasarkan STS yang dilampiri dengan SKR terkait, PPK-SKPD mencatat
penyetoran pendapatan dengan menjurnal “RK Pusat” di debit dan “Kas di
Bendahara Penerimaan” di kredit.
a. Jurnal di SKPD
URAIAN
REKENING
2.1.8.01.01
1.1.1.02.01
DR
R/K Pusat
CR
xxx
Kas
di
Penerimaan
Bendahara
xxx
u/ mencatat pengakuan Retribusi tipe B
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
1.1.1.01.01
1.1.8.01.01
URAIAN
DR
Kas di Kas Daerah
CR
xxx
R/K SKPD
xxx
u/ mencatat penerimaan kas di Kasda dari hasil
penyetoran retribusi tipe B
- Di akhir tahun dan/atau di akhir periode masa retribusi tersebut PPKD
akan melakukan pengakuan atas pendapatan retribusi yang dapat diakui
sebagai pendapatan dengan membuat bukti memorial. Selanjutnya, PPKSKPD akan menerima bukti memorial tersebut untuk dijadikan dasar
pencatatan.
a. Jurnal SKPD
Berdasarkan
bukti
memorial
tersebut
PPK-SKPD
akan
melakukan
pengakuan pendapatan retribusi dan mencatat “Pendapatan Diterima
Dimuka” di sisi debit dan “Pendapatan- LO (sesuai rincian objek yang
terkait)” di sisi kredit
80
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
2.1.04.xx.xx
URAIAN
DR
Pendapatan diterima dimuka
4.2.x.xx.xx
Retribusi
objek)-LO
CR
xxx
(rincian
xxx
u/ mencatat retribusi yang menjdi hak Pemerintah Daerah
b. Jurnal SKPKD
LAPORAN OPERASIONAL & LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
Contoh Kasus:
1. Bendahara Penerimaan BPKAD menerima Retribusi Penggunaan Tanah
Fasos-Fasum dari WR sebesar Rp 24jt. Penggunaan Tanah Fasos-Fasum
berlaku untuk 2 tahun. WR membayar retribusi untuk jangka waktu
bulan Februari 2014 s/d Januari 2016. BPPT membuat SKR no.70 dan
memberikan salinannya kepada PPK-BPKAD. Atas transaksi tersebut
PPK-BPKAD akan melakukan jurnal sebagai berikut:
a. Jurnal SKPD BPKAD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
DR
4.3.01.01.01
Piutang Retribusi Penggunaan
Tanah Fasos-Fasum
24jt
2.1.04.01.01
Pendapatan
dimuka
diterima
CR
24jt
u/ mencatat penerimaan kas di Bendahara Penerimaan dan atas
retribusi Penggunaan Tanah Fasos-Fasum
81
2. Berdasarkan SKR tersebut WR membayar ke Bendahara Penerimaan BPKAD
sebesar 24jt untuk 2 tahun. Bendahara Penerimaan BPKAD membuat STS
no.70 atas penerimaan tersebut dan memberikan salinannya kepada PPK
BPKAD. Atas salinan tersebut PPK BPKAD membuat jurnal sebagai berikut;
a. Jurnal SKPD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.1.02.01
4.2.02.01.02
URAIAN
DR
Kas di Bendahara Penerimaan
Piutang
Penggunaan
CR
24jt
Retribusi
24jt
Tanah Fasos-Fasum
u/ mencatat penerimaan kas di Bendahara Penerimaan dan
menghilangkan piutang retribusi
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
3.1.02.05.01
4.2.02.01.03
URAIAN
Estimasi Perubahan SAL
Retribusi
Tanah
Penggunaan
DR
CR
24jt
24jt
Fasos-Fasum -LRA
u/ mencatat penerimaan kas di Bendahara Penerimaan dan
Pendapatan Retribusi Penggunaan Tanah Fasos-Fasum sesuai
jenis yang diterima
82
a. Jurnal SKPKD
LAPORAN OPERASIONAL & LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
3. Bendahara Penerimaan BPKAD menyetorkan Retribusi Penggunaan Tanah
Fasos-Fasum ke Kasda. Atas transaksi tersebut PPK BPKAD membuat jurnal:
a. Jurnal di SKPD
URAIAN
REKENING
2.1.8.01.01
DR
R/K Pusat
1.1.1.02.01
xxx
Kas
di
Penerimaan
u/
CR
Bendahara
mencatat pengakuan
Tanah Fasos-Fasum
Retribusi
xxx
Penggunaan
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
1.1.1.01.01
1.1.8.01.01
URAIAN
Kas di Kas Daerah
R/K SKPD
DR
CR
xxx
xxx
u/ mencatat penerimaan kas di Kasda dari hasil
penyetoran retribusi Penggunaan Tanah FasosFasum
4. Akhir tahun BPPT membuat bukti memorial atas penggunaan retribusi selama
11 bulan yaitu 11/24 x 24 jt = 11jt. Atas Bukti memorial tersebut PPK BPKAD
akan membuat jurnal sebagai berikut:
83
a. Jurnal SKPD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
2.1.04.01.01
8.2.02.01.03
URAIAN
Pendapatan diterima dimuka
DR
CR
11jt
Retribusi Penggunaan Tanah
11jt
Fasos-Fasum –LO
u/ mencatat retribusi yang menjadi hak Pemerintah Daerah
b. Jurnal SKPKD
LAPORAN OPERASIONAL & LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
10. Pendapatan khusus di PPKD
a. Pendapatan Transfer
PMK(Peraturan Menteri Keuangan) definitif akan menjadi dasar pencatatan
pengakuan pendapatan oleh Fungsi Akuntansi PPKD.
-
Pencatatan saat PMK definitif terbit
Dokumen sumber : PMK definitif
Fungsi Akuntansi PPKD sebagai SKPKD akan mencatat “Piutang Pendapatan”
di debit dan “Pendapatan Transfer...-LO (sesuai rincian objek terkait)” di kredit.
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.03.07.xx
4.2.01.xx.xx
URAIAN
Piutang Pendapatan
Pendapatan Transfer-LO
DR
CR
xxx
xxx
u/ mencatat pengakuan pendapatan transfer dari Pemerintah Pusat
84
-
Pencatatan saat ada transfer kas dari Pemerintah Pusat
Dokumen sumber: Nota Kredit dari KPPN,Rekening Kasda
Selanjutnya,
berdasarkan
PMK
definitif,
Fungsi
Bendahara
akan
menyiapkan dokumen SPP dan SPM untuk pengajuan pencairan dana
setiap bulannya (untuk DAU) sedangkan Pendapatan Transfer lainnya
dokumen pencairannya disiapkan Dispenda selaku PPKD Pendapatan.
Dokumen tersebut kemudian diserahkan kepada Pemerintah Pusat melalui
KPPN (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara) untuk diverifikasi.
Setelah diverifikasi, kemudian KPPN mencairkan dana setiap bulannya dan
menyerahkan Nota Kredit kepada PPKD sebagai bukti pencairan dana.
Berdasarkan Nota Kredit itulah Fungsi Akuntansi akan mencatat adanya
penambahan kas dengan jurnal “Kas di Kas Daerah” di debit dan “Piutang
Pendapatan” di kredit.
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.1.01.xx
1.1.03.07.xx
URAIAN
Kas di Kas
obyek)
Daerah
DR
(rincian
CR
xxx
Piutang Pendapatan
xxx
u/ mencatat kas yang di transfer oleh Pemerintah Pusat
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
3.1.02.05.01
Estimasi Perubahan SAL
8.2.01.xx.xx
Pendapatan Transfer..........-LO
DR
CR
7jt
7jt
u/ mencatat penerimaan kas di Bendahara Penerimaan dan
Pendapatan Transfer sesuai rincian objek yang diterima
85
b. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah
1)
Pendapatan Hibah
-
Pencatatan saat pengakuan
Berdasarkan Naskah Perjanjian Hibah Daerah yang ditandatangani oleh
Menteri Keuangan dan Kepala Daerah, Fungsi Akuntansi PPKD akan mengakui
Pendapatan Hibah dengan mencatat jurnal “Piutang Pendapatan Hibah” di
debit dan “Pendapatan Hibah-LO” di kredit.
Dokumen Sumber: Naskah Perjanjian Hibah
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.03.xx.xx
URAIAN
DR
Piutang Pendapatan Hibah
8.3.xx.xx.xx
CR
xxx
Pendapatan Hibah-LO
xxx
u/ mencatat pendapatan Hibah
-
Pencatatan saat pencairan
Selanjutnya, ketika pencairan hibah terjadi/hibah diterima, maka Fungsi
akuntansi akan menghapus piutang hibah dengan mencatat jurnal “Kas di
Kas Daerah/Barang/Jasa (sesuai jenis hibah yang diperoleh)” di debit dan
“Piutang Hibah” di kredit.
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
DR
1.1.1.xx.xx
Kas di Kas Daerah/Barang/Jasa
xxx
1.1.03.xx.xx
Piutang
Hibah
Pendapatan
CR
xxx
u/ mencatat pencairan kas pada pendapatan Hibah
86
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
3.1.02.05.01
URAIAN
DR
Estimasi Perubahan SAL
4.3.xx.xx.xx
CR
xxx
Pendapatan Hibah-LRA
xxx
u/ mencatat penerimaan kas di Bendahara Penerimaan dan
Pendapatan Hibah LRA
c. Pendapatan Non Operasional-Surplus Penjualan Aset Non Lancar
-
Pencatatan saat pencairan
Surplus penjualan 87aset non 87lancar dalam level PPKD berasal dari aktivitas
pelepasan investasi. Surplus terjadi ketika harga jual dalam pelepasan investasi
lebih tinggi daripada nilai buku investasi tersebut.
Dalam pelepasan investasi, berdasarkan dokumen transaksi yang dimiliki
PPKD, Fungsi Akuntansi PPKD mencatat pelepasan investasi dengan menjurnal
“Kas di Kas Daerah” di debit serta “Surplus Pejualan Aset Non Lancar-Investasi”
dan “Investasi” di kredit.
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.1.xx.xx
URAIAN
Kas
di
Daerah/Barang/Jasa
8.4.01.xx.xx
DR
Kas
Surplus Penjualan Aset
CR
xxx
xxx
Non
Lancar-Investasi
1.2.01.06.xx
Investasi
xxx
u/ mencatat kas yang didapat dari penjualan aset
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
87
REKENING
3.1.02.05.01
7.1.03.xx.xx
URAIAN
DR
Estimasi Perubahan SAL
CR
xxx
Penerimaan PembiayaanLRA
xxx
u/ mencatat penerimaan pembiayaan di LRA atas penerimaan Kas
dari penjualan aset non lancar
d. Pendapatan Non Operasional-Surplus Penyelesaian Kewajiban Jangka Panjang
-
Pencatatan saat pencairan
Surplus penyelesaian kewajiban jangka panjang timbul karena harga perolehan
kembali (nilai yang harus dibayar) lebih rendah dibandingkan dengan nilai
tercatat (carrying value) dari kewajiban tersebut.
Berdasarkan salinan SP2D LS PPKD, Fungsi Akuntansi PPKD akan menghapus
kewajiban yang telah dibayar dan mengakui adanya surplus dari penyelesaian
kewajiban tersebut dengan mencatat jurnal “Kewajiban” di debit serta “Surplus
Penyelesaian Kewajiban Jangka panjang” dan “Kas di Kas Daerah” di kredit.
Dokumen sumber: SP2D LS PPKD, Bukti memorial
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
2.2.03.xx.xx
8.4.02.xx.xx
URAIAN
Kewajiban
CR
xxx
Surplus Penyelesaian
Kewajiban
Panjang
1.1.1.xx.xx
DR
xxx
Jangka
Kas di Kas Daerah
xxx
u/ mencatat kas yang didapat dari penyelesaian kewajiban
88
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
7.2.03.xx.xx
URAIAN
DR
Pengeluaran Pembiayaan-LRA
3.01.02.xx.xx
CR
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
u/ mencatat pengeluran pembiayaan di LRA atas penerimaan Kas
dari penyelesaian kewajiban jangka panjang.
11. Penerimaan Pembiayaan oleh Kas Daerah
Dokumen Sumber : Memo Jurnal, Bukti Penerimaan Pembiayaan
a. Jurnal di SKPD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
Pembiayaan Daerah hanya dikelola di SKPKD/PPKD/BUD sehingga tidak ada
transaksi/jurnal di SKPD.
b. Jurnal di SKPKD selaku pengelola pembiayaan
REKENING
3.1.02.05.xx
6.1.x.xx.xx
URAIAN
DR
Estimasi perubahan SAL
Penerimaan Pembiayaan
(rinc. obyek)
u/
CR
xxx
Daerah
xxx
mencatat penerimaan kas di Kasda dari
penerimaan pembiayaan
Contoh Kasus:
Untuk menutupi defisit APBD, Pemda melakukan pinjaman ke Pemerintah Pusat
sebesar Rp.20 milyar. Pada saat pinjaman tersebut ditransfer ke rekening Kas
Daerah, maka jurnal yang dibuat di SKPKD/BUD adalah sebagai berikut:
89
REKENING
3.1.02.05.xx
6.1.x.xx.xx
URAIAN
DR
Estimasi perubahan SAL
Penerimaan
Pinjaman
Pemerintah Pusat
u/
CR
20M
dari
20M
mencatat penerimaan kas di Kasda dari
penerimaan pinjaman dari Pemerintah Pusat
CATATAN:
Untuk setiap transaksi penerimaan diatas, semua penjurnalan di SKPD
dilakukan oleh fungsi akuntansi di SKPD yang dilaksanakan oleh PPK-SKPD.
Untuk itu, semua dokumen yang diperlukan untuk penjurnalan harus
diberikan tembusannya ke PPK-SKPD secara tepat waktu. Demikian juga
dengan di SKPKD, fungsi akuntansi/pembukuan harus selalu diberikan
tembusan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk penjurnalan secara tepat
waktu.
90
B. PENGELUARAN
1. Penerbitan SP2D UP/TU oleh BUD di SKPKD dan penerimaan SP2D-UP/TU oleh
Bendahara Pengeluaran di SKPD
Penerbitan SP2D UP dan SP2D TU pada intinya adalah pemindahan sebagian
uang di Kas Daerah ke Kas Di Bendahara Pengeluaran. Atas transaksi ini maka
SKPD sebagai penerima kas mencatat penambahan Kas di Bendahara
Pengeluaran sedangkan SKPKD/BUD selaku pihak yang mengeluarkan uang
mencatat pengurangan kas di Kas Daerah.
Dokumen Sumber: SP2D UP/TU
a. Jurnal di SKPD
REKENING
1.1.1.03.01
URAIAN
Kas di Bendahara Pengeluaran
2.1.8.01.01
DR
xxx
R/K Pusat
u/
CR
xxx
mencatat penambahan Kas di Bendahara
Pengeluaran dari penerimaan dana UP/TU
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
URAIAN
REKENING
1.1.8.01.xx
1.1.1.01.xx
R/K SKPD ..................
Kas di Kas Daerah (rincian
obyek)
DR
CR
xxx
xxx
u/ mencatat pengeluaran kas di Kasda untuk
pemberian UP/TU ke SKPD
Contoh Kasus:
Dinas Pendidikan pada awal tahun 2014 menerima SP2D-UP No.001 sebesar
Rp.50 juta, maka jurnalnya:
91
a. Jurnal di SKPD-Dinas Pendidikan (oleh PPK-SKPD)
URAIAN
REKENING
1.1.1.03.01
Kas di Bendahara Pengeluaran
2.1.8.01.01
DR
CR
50jt
R/K Pusat
50jt
u/ mencatat penerimaan SP2D UP No.001
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
1.1.8.01.0x
URAIAN
R/K SKPD Dinas Pendidikan
1.1.1.01.01
DR
CR
50jt
Kas Daerah
50jt
u/ mencatat pengeluaran kas di Kasda atas
penerbitan SP2D UP No.001 ke Dinas Pendidikan
2. Pemberian Panjar oleh Bendahara Pengeluaran SKPD kepada PPTK
Untuk membiayai operasional kegiatan, adakalanya PPTK meminta uang muka
dari bendahara pengeluaran SKPD, uang muka itu setelah dibelanjakan maka
akan di-SPJ-kan kembali kepada Bendahara Pengeluaran dengan disertai
bukti-bukti pengeluaran.
Dokumen Sumber: Bukti Pembayaran/Pemberian Panjar
a. Jurnal di SKPD
REKENING
1.1.4.07.01
URAIAN
Panjar Kegiatan
1.1.1.03.01
Kas di Bendahara Pengeluaran
u/
DR
CR
xxx
xxx
mencatat pengeluaran kas di Bendahara
Pengeluaran untuk pemberian panjar
Pada saat pemberian panjar ke PPTK/Pihak Ketiga, maka SKPD mencatat
timbulnya piutang (panjar kegiatan) dan berkurangnya kas di Bendahara
Pengeluaran.
92
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
URAIAN
REKENING
DR
CR
Tidak Dijurnal
Contoh Kasus:
Pada tanggal 5 Juni 2014, PPTK Kegiatan A meminta panjar kepada Bendahara
Pengeluaran Dinas Pendidikan sebesar Rp.10 juta, maka jurnal yang dibuat di
SKPD Dinas Pendidikan (oleh PPK-SKPD) untuk pemberian panjar adalah
sebagai berikut:
REKENING
URAIAN
1.1.4.07.01
Panjar Kegiatan
1.1.1.03.01
Kas
di
Pengeluaran
u/
DR
CR
10jt
Bendahara
10jt
mencatat pengeluaran kas di Bendahara
Pengeluaran untuk pemberian panjar kepada
PPTK Kegiatan A.
3. Pertanggungjawaban Panjar oleh PPTK kepada Bendahara Pengeluaran SKPD
Dokumen
Sumber:
Pertanggungjawaban
panjar
yang
disertai
Bukti
Pembayaran/Kwitansi dsb
a. Jurnal di SKPD
REKENING
1.1.1.03.01
1.1.4.07.01
URAIAN
Kas di Bendahara Pengeluaran
Panjar Kegiatan
DR
CR
xxx
xxx
u/ mencatat pertanggungjawaban panjar oleh PPTK
kepada Bendahara Pengeluaran
93
Setelah panjar dipertanggungjawabkan oleh PPTK/Pihak Ketiga berarti
Bendahara Pengeluaran telah siap untuk membuat SPJ pengeluaran. Atas
transaksi
tersebut,
maka
Panjar
Kegiatan
dikredit
sebesar
yang
dipertanggungjawabkan dan dipindahkan ke Uang Muka Operasional.
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
URAIAN
REKENING
DR
CR
Tidak Dijurnal
Contoh Kasus:
Atas panjar kegiatan sebesar Rp.10 juta yang diberikan oleh Bendahara
Pengeluaran, sebesar Rp. 8 juta dipertanggungjawabkan oleh PPTK Kegiatan A
pada tanggal 30 Juni 2008 dan sisanya Rp.2 juta disetorkan kembali ke
Bendahara Pengeluaran. Jurnal yang dibuat di SKPD untuk mencatat
pertanggungjawaban panjar sebagai berikut:
REKENING
1.1.1.03.01
URAIAN
DR
Kas di Bendahara Pengeluaran
1.1.4.07.01
CR
8jt
Panjar Kegiatan
8jt
u/ mencatat pertanggungjawaban panjar oleh PPTK
Kegiatan A kepada Bendahara Pengeluaran
4. Pengembalian Sisa Panjar oleh PPTK kepada Bendaharawan Pengeluaran SKPD
Dokumen
Sumber:
Pertanggungjawaban
panjar
yang
disertai
Bukti
Pembayaran/Kwitansi dsb.
a. Jurnal di SKPD
REKENING
1.1.1.03.01
URAIAN
Kas di Bendahara Pengeluaran
1.1.4.07.01
Panjar Kegiatan
u/
DR
CR
xxx
xxx
mencatat penerimaan kembali kas oleh
Bendahara Pengeluaran dari pengembalian sisa
panjar
94
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
URAIAN
REKENING
DR
CR
Tidak Dijurnal
Contoh Kasus:
Atas panjar kegiatan sebesar Rp.10 juta yang diberikan oleh Bendahara
Pengeluaran, sebesar Rp. 8 juta dipertanggungjawabkan oleh PPTK Kegiatan A
pada tanggal 30 Juni 2008 dan sisanya Rp.2 juta disetorkan kembali ke
Bendahara Pengeluaran. Jurnal yang dibuat di SKPD untuk mencatat
pengembalian panjar dari PPTK kepada Bendahara Pengeluaran sebagai
berikut:
REKENING
1.1.1.03.01
URAIAN
Kas di Bendahara Pengeluaran
1.1.4.07.01
Panjar Kegiatan
u/
DR
CR
2jt
2jt
mencatat penerimaan kembali kas oleh
Bendahara Pengeluaran dari pengembalian sisa
panjar oleh PPTK Kegiatan A
5. Pengesahan APBD
Pada akuntansi berbasis akrual, saat pengesahan APBD oleh legislatif dimana
telah ditetapkan Estimasi Pendapatan dan Estimasi Belanja setiap SKPD.
Berdasarkan pengesahan tersebut masing-masing PPK-SKPD melakukan jurnal
sebagai berikut:
95
c.
Jurnal di SKPD
Dokumen sumber : APBD setiap SKPD setelah pengesahan.
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
DR
CR
3.1.02.01.01
Estimasi Pendapatan
xxx
3.1.02.03.01
Apropriasi Belanja
xxx
3.1.02.05.01
Estimasi Perubahan SAL
xxx
u/ mencatat pengesahan Pendapatan dan Belanja oleh Pihak
Legislatif.
6. Pengesahan SPJ oleh Pengguna Anggaran
-
Pencatatan Beban atas SP2D-GU oleh BUD di SKPKD
Dokumen Sumber: Berkas SPJ yang disertai Bukti Pembayaran/Kwitansi dsb
Pada Akuntansi berbasis akrual pengeluaran kas tidak hanya mempengaruhi
belanja tapi juga mempengaruhi beban. Walaupun tidak semua Beban harus
didahului dengan pengeluaran Belanja. Hal tersebut seperti yang dipaparkan
dalam
PP-71/2010
PSAP
Lampiran
I
Paragraf
96
yang
menyebutkan
bahwa:”Beban diakui pada saat timbulnya kewajiban, terjadinya konsumsi,
atau terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa. Oleh karena
itu, pada saat pengesahan SPJ oleh Pengguna Anggaran jurnal yang dibuat
baik di SKPD maupun di SKPKD.
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
DR
8.x.x.xx.xx
Beban (rincian obyek)
xxx
1.1.1.03.01
Kas
di
Pengeluaran
Bendahara
CR
xxx
u/ mencatat beban sesuai rincian objek dimana
pengeluarannya melalui SP2D GU
96
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
URAIAN
REKENING
DR
CR
Tidak Dijurnal
7. Penerbitan SP2D-GU oleh BUD di SKPKD dan penerimaan SP2D-GU oleh
Bendahara Pengeluaran di SKPD
-
Pencatatan Beban atas SP2D-GU oleh BUD di SKPKD
Dokumen Sumber: Berkas SPJ yang disertai Bukti Pembayaran/Kwitansi dsb
Pada Akuntansi berbasis akrual pengeluaran kas tidak hanya mempengaruhi
belanja tapi juga mempengaruhi beban. Walaupun tidak semua Beban harus
didahului dengan pengeluaran Belanja. Hal tersebut seperti yang dipaparkan
dalam
PP-71/2010
PSAP
Lampiran
I
Paragraf
96
yang
menyebutkan
bahwa:”Beban diakui pada saat timbulnya kewajiban, terjadinya konsumsi,
atau terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa. Oleh karena
itu, pada saat Penerbitan SP2D-GU oleh BUD di SKPKD dan penerimaan SP2DGU oleh Bendahara Pengeluaran di SKPD jurnalnya sebagai berikut;
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
-
Pencatatan Belanja atas SP2D-GU oleh BUD di SKPKD
Sesuai PP-71/2010 PSAP Lampiran I Paragraf 97: Khusus pengeluaran melalui
Bendahara
Pengeluaran
pengakuan
Belanja
terjadi
pada
saat
pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh unit yang
mempunyai fungsi perbendaharaan (BUD). Penerbitan SP2D-GU atas SPJ
UP/GU yang diajukan oleh Bendahara Pengeluaran SKPD dapat diartikan
sebagai pengesahan belanja SKPD oleh fungsi perbendaharaan pemda (BUD).
Oleh karena itu, pada saat penerbitan SP2D-GU pengeluaran yang di-SPJ-kan
sudah dapat diakui sebagai belanja definitif.
97
Daur hidup dana GU dapat dijelaskan dengan bagan di bawah ini:
SPPG
SPMG
SP2D
-
Penggunaan
dana
SPJG
Dokumen Sumber: SP2D-GU
c. Jurnal di SKPD
REKENING
1.1.1.03.01
2.1.8.01.01
URAIAN
Kas di Bendahara Pengeluaran
DR
CR
xxx
R/K Pusat
xxx
u/ mencatat penambahan Kas di Bendahara
Pengeluaran dari penerimaan dana GU
5.x.x.xx.xx
3.1.02.05.01
Belanja (rincian obyek)
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
u/ mencatat belanja definitif sebesar nilai belanja
yang telah disahkan SPJ-nya dengan terbitnya
SP2D GU
Pada saat penerbitan SP2D GU ada dua jurnal yang dibuat di SKPD. Jurnal
pertama yaitu untuk mencatat penerimaan kas atas penggantian uang dan
jurnal kedua yaitu untuk mengakui belanja definitif.
d. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
1.1.8.01.xx
1.1.1.01.xx
URAIAN
R/K SKPD ...................
Kas di Kas Daerah
DR
CR
xxx
xxx
u/ mencatat pengeluaran kas di Kasda untuk
pemberian GU ke SKPD
Contoh Kasus:
Pada tanggal 31 Agustus 2014 Dinas PU mengajukan SPJ Bulan Agustus
sekaligus SPM-GU sebagai penggantian uang untuk SPJ tersebut sebesar Rp.50
juta yang terdiri dari rekening belanja sebagai berikut:
98
URAIAN
REKENING
JML
5.2.2.01.01
Belanja Alat Tulis kantor
Rp. 10 jt
5.2.2.05.03
Belanja Bahan Bakar Minyak/Gas dan
Pelumas
Rp. 20 jt
5.2.2.05.07
Belanja
Perawatan
Bermotor Lainnya
Rp. 20 jt
Kendaraan
JUMLAH
Rp. 50 jt
Pada tanggal 2 September 2014, terbit SP2D-GU No.055 atas SPJ diatas
dengan nilai Rp. 50 juta dengan rincian rekening sama dengan SPJ yang
diajukan. Jurnal untuk transaksi tersebut adalah:
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
DR
9.2.2.01.01
Beban Alat Tulis kantor
10jt
9.2.2.05.03
Beban
Bahan
Bakar
Minyak/Gas dan Pelumas
20jt
9.2.2.05.07
Beban Perawatan Kendaraan
Bermotor Lainnya
20jt
1.1.1.03.01
Kas
di
Pengeluaran
Bendahara
CR
50jt
u/ mencatat beban definitif sebesar nilai belanja
yang telah disahkan SPJ-nya dengan terbitnya
SP2D GU No. 055
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
1.1.1.03.01
2.1.8.01.01
URAIAN
Kas di Bendahara Pengeluaran
DR
CR
50jt
R/K Pusat
50jt
u/ mencatat penambahan Kas dari penerimaan
SP2D GU No. 055
5.2.2.01.01
Belanja Alat Tulis kantor
10jt
99
5.2.2.05.03
Belanja
Bahan
Bakar
Minyak/Gas dan Pelumas
20jt
5.2.2.05.07
Belanja Perawatan Kendaraan
Bermotor Lainnya
20jt
3.1.02.05.01
Estimasi
Perubahan
50jt
SAL
u/ mencatat belanja definitif sebesar nilai belanja
yang telah disahkan SPJ-nya dengan terbitnya
SP2D GU No. 055
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
URAIAN
REKENING
1.1.8.01.0x
1.1.1.01.01
R/K SKPD
Kas Daerah
DR
CR
50jt
50jt
u/ mencatat pengeluaran kas di Kasda untuk
penerbitan SP2D GU No.055 ke SKPD Dinas PU
8. Penerbitan SP2D-GU Nihil oleh BUD di SKPKD dan penerimaan SP2D-GU Nihil
oleh Bendahara Pengeluaran di SKPD (pada akhir periode/tahun anggaran)
Penerbitan SP2D GU Nihil pada intinya sama dengan SP2D GU biasa, yaitu
sama-sama berfungsi sebagai pengesahan atas SPJ Pengeluaran (UP/GU) yang
diajukan oleh Bendahara Pengeluaran, perbedaannya yaitu pada SP2D-GU
Nihil tidak terdapat penggantian dana atas SPJ yang diajukan. SP2D GU Nihil
biasanya diterbitkan pada akhir tahun anggaran dimana pagu anggaran untuk
SKPD yang bersangkutan sudah habis sehingga tidak ada lagi penggantian
uang.
100
Dokumen Sumber: SP2D-GU Nihil
a. Jurnal di SKPD
REKENING
5.x.x.xx.xx
URAIAN
DR
Belanja (rincian obyek)
3.1.02.05.01
CR
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
u/ mencatat belanja definitif sebesar nilai belanja
yang telah disahkan SPJ-nya
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
URAIAN
REKENING
DR
CR
Tidak Dijurnal
Contoh Kasus:
Sama dengan contoh kasus untuk SP2D GU (Nomor 7) diatas, hanya saja yang
diterbitkan bukan SP2D GU biasa tetapi SP2D GU Nihil, maka jurnalnya di
SKPD:
REKENING
URAIAN
DR
5.2.2.01.01
Belanja Alat Tulis kantor
10jt
5.2.2.05.03
Belanja
Bahan
Bakar
Minyak/Gas dan Pelumas
20jt
5.2.2.05.07
Belanja Perawatan Kendaraan
Bermotor Lainnya
20jt
3.1.02.05.01
Estimasi
Perubahan
CR
50jt
SAL
u/ mencatat belanja definitif sebesar nilai belanja
yang telah disahkan SPJ-nya dg terbitnya SP2D
GU Nihil No. 055
Pada saat penerbitan SP2D GU Nihil, SKPKD/BUD tidak melakukan jurnal
apapun karena tidak ada pengeluaran kas di Kas Daerah.
101
9. Penerbitan SP2D-TU oleh BUD di SKPKD dan Penerbitan SP2D-TU Nihil oleh
Bendahara Pengeluaran di SKPD
SP2D TU Nihil merupakan pengesahan atas SPJ TU yang diajukan oleh
Bendahara Pengeluaran SKPD. Menurut asal dananya terdapat dua jenis SPJ
yang diajukan oleh Bendahara Pengeluaran, yaitu SPJ UP/GU yang berasal
dari dana UP/GU dan SPJ TU yang berasal dari dana TU. Berbeda dengan dana
UP/GU yang sifatnya daur ulang (revolving), dana TU sifatnya sekali
pakai/tidak ada penggantian dan apabila ada sisa dana TU maka harus disetor
pada saat penyampaian SPJ ke BUD. Karena tidak ada penggantian, maka
setiap SPJ TU yang diterima oleh BUD akan selalu dijawab dengan penerbitan
SP2D TU Nihil kecuali apabila SPJ TU tersebut ditolak.
Daur hidup dana TU dapat dijelaskan dengan bagan di bawah ini:
SPPT
SPMT
SP2D
SP2D-TU
Nihil
Penggunaan
dana
SPM-TU
Nihil
SPJT
SPP-TU
Nihil
Dari bagan diatas terlihat bahwa daur hidup dana TU tidak bersifat daur ulang
seperti dana UP/GU. Daur hidup dana TU merupakan siklus yang
diawali
dengan SPP-TU dan berakhir dengan SP2D TU Nihil.
- Penerbitan SP2D-TU oleh BUD
a. Jurnal di SKPD
Dokumen Sumber: SP2D-TU
REKENING
1.1.1.03.01
URAIAN
Kas di Bendahara Pengeluaran
2.1.8.01.01
R/K Pusat
u/
DR
CR
xxx
xxx
mencatat penambahan Kas di Bendahara
Pengeluaran dari pengajuan dana TU ke Kas
Daerah
102
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
URAIAN
REKENING
1.1.8.01.0x
DR
R/K SKPD
1.1.1.01.01
CR
xxx
Kas Daerah
xxx
u/ mencatat pengeluaran kas di Kasda untuk
penerbitan SP2D GU No.055 ke SKPD Dinas PU
-
Penerbitan SP2D-TU Nihil oleh BUD
Dokumen Sumber: SP2D-TU Nihil
a. Jurnal di SKPD
Jurnal di SKPD ada dua yaitu jurnal untuk mencatat penyetoran sisa dana
TU (apabila ada) dan jurnal untuk mengakui belanja definitif
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
2.1.8.01.01
URAIAN
DR
R/K Pusat
1.1.1.03.01
xxx
Kas di Bendahara Pengeluaran
u/
CR
xxx
mencatat pengurangan Kas di Bendahara
Pengeluaran dari penyetoran sisa dana TU ke Kas
Daerah
5.x.x.xx.xx
Belanja (rincian obyek)
3.1.02.05.01
Estimasi Perubahan SAL
xxx
xxx
u/ mencatat belanja definitif sebesar nilai belanja
yang telah disahkan SPJ-nya
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
8.x.x.xx.xx
1.1.1.03.01
URAIAN
DR
Beban (rincian obyek)
Kas
di
Pengeluaran
CR
xxx
Bendahara
xxx
u/ mencatat beban dan penggunaan dana TU dari
Kas Bendahara Pengeluaran
103
c. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
URAIAN
DR
1.1.1.01.xx
Kas di Kas Daerah (rincian obyek)
xxx
1.1.8.01.xx
CR
R/K SKPD
u/
xxx
mencatat penerimaan
penyetoran sisa TU
kas
di
Kasda
dari
Jurnal di SKPKD hanya dilakukan apabila ada penyetoran sisa dana TU,
apabila dana TU habis maka di SKPKD tidak ada jurnal.
Contoh Kasus:
Pada tanggal 1 Maret Dinas Kesehatan menerima SP2D TU senilai Rp.20 juta.
Tanggal 30 Maret dana TU tersebut di-SPJ-kan sebesar Rp.19 juta dan sisanya
Rp.1 juta disetor ke Kas Daerah dengan STS No.089. Rincian belanja untuk
dana TU tersebut sebagai berikut:
REKENING
URAIAN
SPJ
SPJ
TU
TU
SISA
5.2.2.01.01
Belanja
Alat
kantor
Tulis
5 jt
5.2.2.05.03
Belanja Bahan Bakar
Minyak/Gas
dan
Pelumas
5 jt
5 jt
0
5.2.2.05.07
Belanja
Perawatan
Kendaraan
Bermotor Lainnya
10 jt
9 jt
1 jt
19 jt
1 jt
JUMLAH
Atas
DANA
tersebut
oleh
Bendahara
20 jt
Pengeluaran
5 jt
langsung
0
dimintakan
pengesahannya ke BUD dengan menggunakan SPM TU Nihil. Kemudian dengan
berdasarkan SPJ TU, bukti setoran sisa dana TU dan SPM TU Nihil, pada tanggal 2
Aprl 2014 BUD mengeluarkan SP2D TU Nihil No.077. Jurnal yang dibuat pada
saat penerbitan dan penerimaan SP2D TU Nihil tersebut sebagai berikut:
104
a. Jurnal di SKPD-Dinas Kesehatan
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
2.1.8.01.01
URAIAN
DR
R/K Pusat
1.1.1.03.01
1jt
Kas
di
Pengeluaran
u/
Bendahara
1jt
mencatat pengurangan Kas di Bendahara
Pengeluaran dari penyetoran sisa dana TU bulan
Maret 2014 ke Kas Daerah dengan STS No.089
5.2.2.01.01
Belanja Alat Tulis kantor
5jt
5.2.2.05.03
Belanja
Bahan
Bakar
Minyak/Gas dan Pelumas
5jt
5.2.2.05.07
Belanja Perawatan Kendaraan
Bermotor Lainnya
9jt
3.1.02.05.01
CR
Estimasi Perubahan SAL
19jt
u/ mencatat belanja definitif sebesar nilai belanja
yang telah disahkan SPJ-nya dengan terbitnya
SP2D TU Nihil no. 077
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
DR
9.2.2.01.01
Beban Alat Tulis kantor
5jt
9.2.2.05.03
Beban Bahan Bakar Minyak/Gas
dan Pelumas
5jt
9.2.2.05.07
BebanPerawatan
Kendaraan
Bermotor Lainnya
9jt
1.1.1.03.01
Kas
di
Pengeluaran
Bendahara
CR
19jt
u/ mencatat beban definitif sebesar nilai belanja
yang telah disahkan SPJ-nya dengan terbitnya
SP2D TU Nihil no. 077
105
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
URAIAN
REKENING
1.1.1.01.01
Kas Daerah
1.1.8.01.0x
DR
1jt
R/K SKPD Dinas Kesehatan
u/
CR
1jt
mencatat penerimaan kas di Kasda
penyetoran sisa TU dengan STS No.089
dari
10. Penerbitan SP2D-LS Belanja oleh BUD di SKPKD dan penerimaan SP2D-LS
Belanja oleh Bendahara Pengeluaran di SKPD (untuk selain Belanja Modal)
Jurnal untuk penerbitan dan penerimaan SP2D LS Belanja dibedakan untuk
Belanja Modal dan Selain Belanja Modal. Untuk SP2D LS Belanja Modal, jurnal
di SKPD juga menjurnal
penambahan aset dari realisasi belanja modal,
sedangkan untuk SP2D LS Non Belanja Modal jurnal yang dibuat di SKPD
hanya untuk pengakuan belanja defintif.
Dokumen Sumber: SP2D-LS non Belanja Modal
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
5.x.x.xx.xx
URAIAN
Belanja (rincian obyek)
3.1.02.05.01
DR
CR
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
u/ mencatat realisasi belanja melalui pembayaran
langsung (LS) dari rekening Kasda
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
9.x.x.xx.xx
2.1.8.01.01
URAIAN
Beban (rincian obyek)
R/K Pusat
DR
CR
xxx
xxx
u/ mencatat realisasi belanja melalui pembayaran
langsung (LS) dari rekening Kasda
106
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
(1) Apabila tidak ada potongan Pihak Ketiga yang dipotong oleh Kas Daerah
URAIAN
REKENING
1.1.8.01.xx
DR
R/K SKPD ...................
1.1.1.01.xx
CR
xxx
Kas di Kas Daerah (rincian
obyek)
xxx
u/ mencatat pengeluaran kas di kasda untuk
realisasi belanja melalui pembayaran langsung
(LS)
(2) Apabila ada potongan Pihak Ketiga yang dipotong oleh Kas Daerah
REKENING
1.1.8.01.xx
URAIAN
DR
R/K SKPD .......................
CR
xxx
1.1.1.01.xx
Kas di Kas Daerah (rincian
obyek)
xxx
7.1.1.xx.xx
Penerimaan
obyek)
xxx
PFK
(rincian
u/ mencatat pengeluaran kas di kasda untuk
realisasi belanja melalui pembayaran langsung
(LS) dan penerimaan potongan Perhitungan Fihak
Ketiga (PFK)
7.1.1.xx.xx
Penerimaan PFK (rincian obyek)
2.1.1.xx.xx
Utang PFK (rincian obyek)
u/
xxx
mencatat pengakuan utang sebesar
penerimaan PFK yang belum disetor
xxx
nilai
Contoh Kasus:
Pada tanggal 25 Oktober 2008, Bappeda menerima SP2D LS No.077 untuk
kegiatan A senilai Rp.10 juta. Rincian rekening belanjanya yaitu untuk
Honorarium Tim/Panitia Pelaksana Kegiatan (5.2.1.01.01) dengan potongan PPh
21 Rp.250 ribu, jadi jumlah netto yang diterima Rp.9.750.000. Jurnal untuk
transaksi tersebut adalah:
a. Jurnal di SKPD-Bappeda
107
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
5.2.1.01.01
URAIAN
Honorarium
Kegiatan
3.1.02.05.01
DR
Tim/Panitia
Pelaksana
CR
10jt
Estimasi Perubahan SAL
u/
10jt
mencatat realisasi belanja melalui pembayaran
langsung (LS) dari rekening Kasda dengan SP2D LS
No.077
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
9.2.1.01.01
2.1.8.01.01
URAIAN
Beban
Honorarium
Pelaksana Kegiatan
DR
Tim/Panitia
CR
10jt
R/K Pusat
10jt
u/ mencatat realisasi beban melalui pembayaran langsung
(LS) dari rekening Kasda dengan SP2D LS No.077
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENI
NG
1.1.8.01.
xx
URAIAN
R/K SKPD Bappeda
1.1.1.01.
01
Kas Daerah BPD Bali R/K 0001
7.1.1.04.
01
Penerimaan PFK - PPh Ps. 21
DR
CR
10jt
9,75jt
250rb
u/ mencatat pengeluaran kas di kasda untuk realisasi belanja
melalui pembayaran langsung (LS) dan penerimaan
potongan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) dg SP2D LS
No.077
7.1.1.04.
01
Penerimaan PFK - PPh Ps. 21
250rb
108
2.1.1.03.
01
Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) PPh
Pusat
250rb
u/ mencatat pengakuan utang sebesar nilai penerimaan PFK
yang belum disetor
12. Penerbitan SP2D-LS oleh BUD di SKPKD dan penerimaan SP2D-LS oleh
Bendahara Pengeluaran di SKPD (untuk Belanja Modal)
Berbeda dengan SP2D LS non Belanja Modal, pada saat menerima SP2D LS
Belanja Modal, SKPD disamping mencatat realisasi belanja modal, juga
mengakui penambahan aset dari kapitalisasi belanja modal yaitu dengan
menggunakan jurnal korolari.
Dokumen Sumber: SP2D-LS Belanja Modal
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
5.2.3.xx.xx
URAIAN
Belanja Modal (rincian obyek)
3.1.02.05.01
DR
xxx
Estimasi Perubahan SAL
u/
CR
xxx
mencatat realisasi belanja modal melalui
pembayaran langsung (LS) dari rekening Kasda
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.3.x.xx.xx
2.1.8.01.01
URAIAN
Aset Tetap (rincian obyek)
DR
CR
xxx
R/K Pusat
xxx
u/ mencatat pengakuan aset sebesar belanja
modal yang direalisasikan
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
(1) Apabila tidak ada potongan Pihak Ketiga yang dipotong oleh Kas Daerah
REKENING
1.1.8.01.xx
URAIAN
R/K SKPD .................
DR
CR
xxx
109
Kas di Kas Daerah (rincian
obyek)
1.1.1.01.xx
xxx
u/ mencatat pengeluaran kas di kasda untuk
realisasi belanja melalui pembayaran langsung
(LS)
(2) Apabila ada potongan Pihak Ketiga yang dipotong oleh Kas Daerah
URAIAN
REKENING
1.1.8.01.xx
DR
R/K SKPD .......................
CR
xxx
1.1.1.01.xx
Kas di Kas Daerah (rincian
obyek)
xxx
7.1.1.xx.xx
Penerimaan
obyek)
xxx
PFK
(rincian
u/ mencatat pengeluaran kas di kasda untuk
realisasi belanja melalui pembayaran langsung
(LS) dan penerimaan potongan Perhitungan Fihak
Ketiga (PFK)
7.1.1.xx.xx
Penerimaan PFK (rincian obyek)
2.1.1.xx.xx
Utang PFK (rincian obyek)
u/
xxx
mencatat pengakuan utang sebesar
penerimaan PFK yang belum disetor
xxx
nilai
Contoh Kasus:
Pada tanggal 22 Juli 2014, BKD menerima SP2D LS No.037 untuk kegiatan A
senilai Rp.22 juta. Rincian rekening belanjanya yaitu untuk Belanja modal
Pengadaan komputer/PC (rekening 5.2.3.12.02) dengan potongan PPN Rp.2
juta dan PPh 22 Rp.300 ribu, jadi jumlah netto yang diterima Rp.19.700.000.
Jurnal untuk transaksi tersebut adalah:
110
a. Jurnal di SKPD-BKD
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
5.2.3.12.02
3.1.02.05.01
URAIAN
Belanja
Modal
komputer/PC
DR
Pengadaan
CR
22jt
Estimasi Perubahan SAL
22jt
u/ mencatat realisasi belanja modal melalui
pembayaran langsung (LS) dari rekening Kasda
dengan SP2D LS No.037
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
1.3.2.11.02
Komputer/PC
2.1.8.01.01
R/K Pusat
DR
CR
22jt
22jt
u/ mencatat pengakuan aset sebesar belanja modal
yang direalisasikan
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
1.1.8.01.0x
URAIAN
DR
R/K SKPD - BKD
CR
22jt
1.1.1.01.01
Kas Daerah BPD Bali R/K
0001
19,7jt
7.1.1.05.01
Penerimaan PFK - PPN
Pusat
2jt
7.1.1.04.02
Penerimaan PFK Ps. 22
300rb
PPh
u/ mencatat pengeluaran kas di kasda untuk
realisasi belanja melalui pembayaran langsung
(LS) dan penerimaan potongan Perhitungan Fihak
Ketiga (PFK) dg SP2D LS No.077
7.1.1.05.01
Penerimaan PFK - PPN Pusat
2jt
111
7.1.1.04.02
Penerimaan PFK 22
PPh Ps.
300rb
2.1.1.03.01 Utang Perhitungan Fihak Ketiga
(PFK) PPh Pusat
u/
2,3jt
mencatat pengakuan utang sebesar
penerimaan PFK yang belum disetor
nilai
13. Pengeluaran Pembiayaan oleh Kas Daerah
Pengeluaran Pembiayaan hanya dilakukan di SKPKD selaku BUD, SKPD tidak
mengelola Pembiayaan Daerah. Pengeluaran Pembiayaan antara lain untuk
pembentukan dana cadangan, penyertaan modal/investasi, pembayaran pokok
utang dan pemberian pinjaman daerah.
Dokumen Sumber : Bukti Pengeluaran Pembiayaan
a. Jurnal di SKPD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
b. Jurnal di SKPKD selaku pengelola pembiayaan
REKENING
6.2.x.xx.xx
3.1.02.05.01
URAIAN
Pengel.
Pembiayaan
(rincian obyek)
DR
Daerah
Estimasi Perubahan SAL
CR
xxx
xxx
u/ mencatat pengeluaran kas di Kasda untuk pengeluaran
pembiayaan
Contoh Kasus:
Pada 1 Juni 2014 PPKD menerbitkan SP2D No.090 untuk Pembayaran Cicilan
Pokok Utang yang Jatuh Tempo kepada Pemerintah sejumlah Rp.100 juta, maka
jurnalnya di SKPKD adalah:
112
REKENING
URAIAN
DR
6.2.3.01.01
Pembayaran Cicilan Pokok
Utang yang Jatuh Tempo
kepada Pemerintah
100jt
3.1.02.05.01
CR
Estimasi Perubahan
100jt
SAL
u/ mencatat pengeluaran kas di Kasda untuk
pembayaran pokok utang dengan SP2D No,090
14. Penyetoran Penerimaan PFK oleh Kas Daerah/BUD
Secara periodik SKPKD/BUD selaku wajib pungut, menyetorkan uang PFK yang
telah dipungutnya. PFK tersebut antara lain pungutan IWP, Taspen, Askes, Pajakpajak, Taperum dan PFK Lainnya.
Dokumen Sumber: Bukti Setor, SSP dsb
a. Jurnal di SKPD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
b. Jurnal di SKPKD
REKENING
7.2.1.xx.xx
URAIAN
DR
Pengeluaran PFK (rincian obyek)
1.1.1.01.xx
CR
xxx
Kas di Kas Daerah (rincian
obyek)
xxx
u/ mencatat pengeluaran kas di Kasda untuk
penyetoran potongan PFK
2.1.1.xx.xx
Utang PFK (rincian obyek)
7.2.1.xx.xx
Pengeluaran
obyek)
u/
PFK
xxx
(rincian
mencatat pengurangan
penyetoran
utang
xxx
PFK
sebesar
113
Contoh Kasus:
Pada 1 Juni 2014 PPKD, menyetorkan saldo PFK yang telah dipungutnya. Uraian
PFK yang disetor sebagai berikut:
REKENING
URAIAN
JUMLAH
7.2.1.01.01
Pengeluaran PFK - IWP
7.2.1.03.01
Pengeluaran PFK- Askes
7.2.1.04.01
Pengeluaran PFK - PPh Ps. 21
20jt
7.2.1.04.02
Pengeluaran PFK - PPh Ps. 22
3jt
7.2.1.05.01
Pengeluaran PFK - PPn Pusat
30jt
10jt
2jt
JUMLAH
65jt
Maka jurnal yang dibuat di SKPKD/BUD adalah sebagai berikut:
REKENING
URAIAN
DR
7.2.1.01.01
Pengeluaran PFK - IWP
7.2.1.03.01
Pengeluaran PFK- Askes
7.2.1.04.01
Pengeluaran PFK - PPh Ps. 21
20jt
7.2.1.04.02
Pengeluaran PFK - PPh Ps. 22
3jt
7.2.1.05.01
Pengeluaran PFK - PPn Pusat
30jt
1.1.1.01.xx
CR
10jt
2jt
Kas di Kas Daerah (rincian
obyek)
65jt
u/ mencatat pengeluaran kas di Kasda untuk
penyetoran potongan PFK
2.1.1.07.01
Utang Perhitungan Fihak Ketiga
(PFK) IWP
10jt
2.1.1.02.01
Utang Perhitungan Fihak Ketiga
(PFK) Askes
2jt
2.1.1.03.01
Utang Perhitungan Fihak Ketiga
(PFK) PPh Pusat
23jt
2.1.1.04.01
Utang Perhitungan Fihak Ketiga
30jt
114
(PFK) PPN Pusat
7.2.1.01.01
Pengeluaran PFK - IWP
7.2.1.03.01
10jt
Pengeluaran PFK- Askes
2jt
7.2.1.04.01
Pengeluaran PFK - PPh Ps.
21
20jt
7.2.1.04.02
Pengeluaran PFK - PPh Ps.
22
3jt
7.2.1.05.01
Pengeluaran
Pusat
u/
PFK
-
mencatat pengurangan
penyetoran
PPn
utang
30jt
PFK
sebesar
115
C. PENERIMAAN DAN PENYETORAN PFK OLEH BENDAHARA PENGELUARAN
SKPD
Bendahara Pengeluaran SKPD sebagai wajib pungut, wajib melakukan
pungutan PFK (diantaranya pajak-pajak) atas pembayaran kepada pihak
ketiga dengan dana yang dikelolanya (Dana UP dan TU).
1. Penerimaan Potongan PFK oleh Bendaharawan Pengeluaran
Dokumen Sumber: Bukti Pemotongan PFK oleh Bendahara Pengeluaran
a. Jurnal di SKPD
REKENING
1.1.1.03.01
URAIAN
DR
Kas di Bendahara Pengeluaran
7.1.1.xx.xx
Penerimaan
obyek)
u/
PFK
–
xxx
mencatat penerimaan kas di
Pengeluaran dari pemotongan PFK
Penerimaan PFK – (rincian obyek)
2.1.1.xx.xx
Utang PFK – (rincian obyek)
u/
xxx
(rincian
7.1.1.xx.xx
mencatat penambahan utang
pemotongan yang belum disetor
CR
Bendahara
xxx
xxx
PFK
sebesar
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
Contoh Kasus :
Pada akhir bulan November 2014, Bendahara Pengeluaran Dinas PU membuat
SPJ Pengeluaran GU dengan total pengeluaran Rp. 30 juta, dari jumlah
tersebut pengeluaran yang dipotong pajaknya adalah pengeluaran senilai Rp 22
juta atas pembelian ATK kepada rekanan CV.ABC. Atas pembelian tersebut
dikenakan potongan PPN Rp.2 juta dan PPh 22 Rp. 300 ribu sehingga jumlah
yang dibayarkan kepada rekanan sebesar Rp.19.700.000.
116
Jurnal untuk mencatat pembuatan SPJ Pengeluaran di SKPD adalah
sebagai berikut:
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
9.2.4.07.02
URAIAN
DR
Beban ATK
1.1.1.03.01
CR
30 jt
Kas di Bendahara Pengeluaran
30 jt
u/ mencatat pengeluaran kas atas pembelian
beban di bendahara pengeluaran sebesar buktibukti yang di-SPJ-kan pada bulan November
2014
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
5.2.4.07.02
URAIAN
DR
Belanja ATK
30 jt
3.1.02.05.01 Estimasi Perubahan SAL
u/
CR
30 jt
mencatat pengeluaran kas di bendahara
pengeluaran sebesar bukti-bukti yang di-SPJ-kan
pada bulan November 2014
Jurnal di SKPD atas pemotongan PPN dan PPh 22 tersebut adalah sebagai
berikut:
REKENING
URAIAN
DR
1.1.1.03.01
Kas di Bendahara Pengeluaran
7.1.1.05.01
Penerimaan PFK - PPn Pusat
7.1.1.04.02
Penerimaan PFK Ps. 22
u/
2,3jt
2 jt
PPh
300rb
mencatat penerimaan kas di
Pengeluaran dari pemotongan PFK
7.1.1.05.01
Penerimaan PFK - PPn Pusat
2jt
7.1.1.04.02
Penerimaan PFK 22
300rb
PPh Ps.
CR
Bendahara
117
2.1.1.04.01
Utang Perhitungan Fihak Ketiga
(PFK) PPN Pusat
2 jt
2.1.1.03.01
Utang Perhitungan Fihak Ketiga
(PFK) PPh Pusat
300rb
u/
mencatat penambahan utang
pemotongan yang belum disetor
PFK
sebesar
2. Penyetoran Potongan PFK oleh Bendaharawan Pengeluaran
Dokumen Sumber: Bukti Penyetoran PFK
a. Jurnal di SKPD
REKENING
URAIAN
DR
7.2.1.xx.xx
Pengeluaran PFK – (rincian obyek)
xxx
1.1.1.03.01
Kas di Bendahara Pengeluaran
u/
2.1.1.xx.xx
7.2.1.xx.xx
xxx
mencatat pengeluaran kas di
Pengeluaran untuk penyetoran PFK
Utang PFK – (rincian obyek)
Bendahara
xxx
Pengeluaran PFK – (rincian
obyek)
u/
mencatat pengurangan
penyetoran
CR
utang
xxx
PFK
sebesar
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
118
D. PENYESUAIAN/KOREKSI PENDAPATAN
1. Koreksi Pendapatan
Jurnal ini dilakukan untuk melakukan koreksi atas pembebanan rekening
pendapatan (salah pembebanan rekening pendapatan).
Dokumen Sumber : Memo Jurnal, STS awal (yang akan dikoreksi pembebanan
pendapatannya)
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
4.x.x.xx.xx
4.x.x.xx.xx
URAIAN
Pendapatan 1 (rincian obyek)
DR
CR
xxx
Pendapatan 2 (rincian obyek)
xxx
u/ mencatat koreksi pembebanan belanja dari
rekening pendapatan 1 dipindahkan ke rekening
pendapatan 2
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
8.x.x.xx.xx
8.x.x.xx.xx
URAIAN
Pendapatan 1 (rincian obyek)
DR
CR
xxx
Pendapatan 2 (rincian obyek)
xxx
u/ mencatat koreksi pembebanan belanja dari
rekening pendapatan 1 dipindahkan ke rekening
pendapatan 2
b. Jurnal di SKPKD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
119
Contoh Kasus:
Dinas Lingkungan Hidup salah membebankan Pendapatan Retribusi Pelayanan
Persampahan/Kebersihan ke Rekening Pelayanan Kesehatan sebesar Rp. 10 juta,
dan pendapatan tersebut telah disetor/ telah ada STS-nya, maka jurnal
koreksinya:
a. Jurnal di SKPD Dinas Lingkungan Hidup
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
4.1.2.01.01
Retribusi Pelayanan Kesehatan LRA
4.1.2.01.02
Retribusi Pelayanan
Kebersihan-LRA
DR
CR
10 jt
Persampahan/
10 jt
u/ mencatat koreksi pembebanan belanja dari
rekening
Retribusi
Pelayanan
Kesehatan
dipindahkan ke rekening Retribusi Pelayanan
Persampahan/Kebersihan pada LRA
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
8.1.2.01.01
Retribusi Pelayanan Kesehatan -LO
8.1.2.01.02
Retribusi Pelayanan
Kebersihan-LO
DR
CR
10 jt
Persampahan/
10 jt
u/ mencatat koreksi pembebanan belanja dari
rekening
Retribusi
Pelayanan
Kesehatan
dipindahkan ke rekening Retribusi Pelayanan
Persampahan/Kebersihan
pada
Laporan
Operasional
b. Jurnal di SKPKD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
120
2. Pengurangan Pendapatan dari Bukti Penerimaan
Jurnal ini dilakukan untuk melakukan koreksi atas kesalahan kelebihan
pembebanan rekening pendapatan tipe B, yang mana kesalahan tersebut
ditemukan pada saat pendapatan tersebut belum disetorkan ke rekening Kas
Daerah.
Dokumen Sumber : Bukti Penerimaan di Bendahara Penerimaan.
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
8.1.5.01.01
1.1.1.02.01
URAIAN
Pendapatan ...(rincian objek)-LO
DR
CR
xxx
Kas di Bendahara Penerimaan
Xxx
u/ mencatat koreksi atas kelebihan pencatatan
pendapatan di Bukti Penerimaan
b. Jurnal di SKPKD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
Contoh Kasus:
Bendahara Penerimaan Dinas Kesehatan salah membuat Bukti Penerimaan atas
Pendapatan Retribusi Pelayanan Kesehatan. Ia membuat Bukti Penerimaan
sebesar Rp.15 juta seharusnya Rp.10 juta (kelebihan Rp.5 juta) dan atas
penerimaan tersebut sudah terlanjur dijurnal dan dicatat di pembukuannya akan
tetapi belum disetor ke Kas Daerah (belum ada STS), maka jurnal koreksinya:
a. Jurnal di SKPD Dinas Kesehatan
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
8.3.01.01.01
1.1.1.02.01
URAIAN
Retribusi Pelayanan Kesehatan
Kas di Bendahara Penerimaan
DR
CR
5 jt
5 jt
u/ mencatat koreksi atas kelebihan pencatatan
pendapatan di Bukti Penerimaan sebesar Rp.5jt
121
b. Jurnal di SKPKD
URAIAN
REKENING
DR
CR
Tidak Dijurnal
3. Pengurangan Pendapatan dari STS
Jurnal ini dilakukan untuk melakukan koreksi atas kesalahan kelebihan
penyetoran rekening pendapatan ke rekening Kas Daerah oleh Bendahara
Penerimaan.
Dokumen Sumber : Surat Tanda Setoran (STS), Rekapitulasi penerimaan
harian
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
8.x.x.xx.xx
8.3.02.01.01
URAIAN
DR
Pendapatan .... (rincian obyek)LO
xxx
Pendapatan Lainnya-LO
CR
xxx
u/ mencatat koreksi atas kelebihan pembebanan
pendapatan pada STS No ...
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
4.x.x.xx.xx
4.3.02.01.01
URAIAN
DR
Pendapatan .... (rincian obyek)LRA
xxx
Pendapatan Lainnya--LRA
CR
xxx
u/ mencatat koreksi atas kelebihan pembebanan
pendapatan pada STS No ...
REKENING
1.1.1.02.01
2.1.8.01.01
URAIAN
Kas di Bendahara Penerimaan
R/K Pusat
DR
CR
1 jt
1 jt
122
u/
mencatat penerimaan kas di Bendahara
Penerimaan
dari
Kas
Daerah
atas
pengembalian kelebihan pendapatan
b. Jurnal di SKPKD
REKENING
1.1.8.01.xx
1.1.1.01.xx
URAIAN
R/K SKPD ........................
DR
CR
xxx
Kas di Kas Daerah ... (rincian
obyek)
xxx
u/ mencatat pengurangan Kas di Kas Daerah atas
koreksi kelebihan pencatatan pendapatan di STS
No....
Contoh Kasus:
Pada 20 Desember 2014 Bendahara Penerimaan Dinas Pendapatan menyetorkan
pajak Hotel Bintang Lima ke Kas Daerah sebesar Rp.20 juta. Setelah dilakukan
perhitungan ulang bukti penerimaan dan rekap penerimaan harian ternyata
jumlah pajak yang seharusnya disetor bukan Rp.20 juta, tetapi Rp.19 juta
sehingga ada kelebihan setor sebesar Rp.1 juta yang harus dikembalikan Kasda ke
Bendahara Penerimaan. Jurnal atas kasus tersebut adalah sebagai berikut:
a. Jurnal di SKPD Dinas Pendapatan
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
1.1.1.02.01
URAIAN
Kas di Bendahara Penerimaan
2.1.8.01.01
4.1.5.01.01
CR
1 jt
R/K Pusat
u/
4.1.1.01.02
DR
1 jt
mencatat penerimaan kas di Bendahara
Penerimaan
dari
Kas
Daerah
atas
pengembalian kelebihan pendapatan
Pajak Hotel Bintang Lima
Pendapatan Lainnya-LRA
1 jt
1 jt
u/ mencatat koreksi atas kelebihan pembebanan
pendapatan pada STS No 001
123
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
8.1.1.01.02
8.3.02.01.01
URAIAN
Pajak Hotel Bintang Lima-LO
DR
CR
1 jt
Pendapatan Lainnya-LO
1 jt
u/ mencatat koreksi atas kelebihan pembebanan
pendapatan pada STS No 001
b. Jurnal di SKPKD
REKENING
1.1.8.01.0x
1.1.1.01.01
URAIAN
R/K SKPD Dinas Pendapatan
DR
CR
1 jt
Kas Daerah
1 jt
u/ mencatat pengurangan Kas di Kas Daerah atas
koreksi kelebihan pencatatan pendapatan di STS
No 001
4. Pengurangan Pendapatan dari Bukti Penerimaan dan STS
Jurnal ini dilakukan untuk melakukan koreksi atas kelebihan pendapatan
yang telah dibukukan oleh Bendahara Penerimaan di Bukti Penerimaan, jurnal
serta dokumen akuntansi lainnya serta pendapatan tersebut juga telah
disetorkan ke Kas Daerah dengan menggunakan STS. Untuk kasus ini,
pendapatan diterima melalui Bendahara Penerimaan SKPD dan kesalahan baru
diketahui atau koreksi baru dilakukan setelah pendapatan tersebut disetor ke
Kas Daerah. Kesalahan ini merupakan kesalahan perhitungan pembebanan
pajak/retribusi ke WP/Retribusi sehingga ada pengembalian pajak/retribusi ke
WP/retribusi.Dimana pendapatan tersebut adalah pendapatan tipe B.
Dokumen Sumber : Bukti Penerimaan dan Surat Tanda Setoran (STS)
124
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
1.1.1.02.01
URAIAN
Kas di Bendahara Penerimaan
2.1.8.01.01
3.1.02.01.01
CR
xxx
R/K Pusat
u/
4.x.xx.xx.xx
DR
Xxx
mencatat penerimaan kas di Bendahara
Penerimaan
dari
Kas
Daerah
atas
pengembalian kelebihan pendapatan
Pendapatan .... (rincian obyek)
xxx
Estimasi Perubahan SAL
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
DR
4.xx.x.xx.xx
Pendapatan .... (rincian obyek)
2.1.01.xx.xx
Utang... (rincian obyek)
CR
xxx
xxx
u/ mencatat koreksi atas kelebihan pembebanan
pendapatan pada STS No ...
2.1.01.xx.xx
Utang... (rincian obyek)
1.1.1.02.01
Kas
di
Penerimaan
xxx
Bendahara
xxx
u/ mencatat pengembalian kelebihan pendapatan
ke wajib pajak/retribusi
b. Jurnal di SKPKD
REKENING
1.1.8.01.xx
1.1.1.01.xx
URAIAN
R/K SKPD ......................
Kas di Kas Daerah ... (rincian
obyek)
DR
CR
xxx
xxx
u/ mencatat pengurangan Kas di Kas Daerah atas
koreksi kelebihan pencatatan pendapatan di STS
No....
125
Contoh Kasus:
Wajib pajak hotel telah menyetorkan Pajak Hotel Bintang Lima sebesar Rp.20 juta
langsung ke rekening Kas Daerah dengan menggunakan STS No. 001. STS
tersebut kemudian oleh wajib pajak diserahkan ke Bendahara Penerimaan Dinas
Pendapatan sebagai bukti pelunasan pajak. Setelah dilakukan perhitungan ulang
ternyata jumlah pajak yang seharusnya disetor bukan Rp.20 juta, tetapi Rp.19
juta
sehingga ada kelebihan pembayaran sebesar Rp.1 juta yang harus
dikembalikan ke Wajib Pajak melalui Bendahara Penerimaan. Jurnal atas kasus
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Jurnal di SKPD Dinas Pendapatan
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
1.1.1.02.01
URAIAN
Kas di Bendahara Penerimaan
2.1.8.01.01
3.1.02.01.01
CR
1 jt
R/K Pusat
u/
4.1.1.01.02
DR
1 jt
mencatat penerimaan kas di Bendahara
Penerimaan
dari
Kas
Daerah
atas
pengembalian kelebihan pendapatan
Pajak Hotel Bintang Lima-LRA
1 jt
Estimasi Perubahan SAL
1 jt
u/ mencatat koreksi atas kelebihan pembebanan
pendapatan pada STS No 001
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
8.1.1.01.02
Pajak Hotel Bintang Lima-LO
2.1.01.xx.xx
Utang... (rincian obyek)
DR
CR
1 jt
1 jt
u/ mencatat koreksi atas kelebihan pembebanan
pendapatan pada STS No 001
2.1.01.xx.xx
1.1.1.02.01
Utang... (rincian obyek)
Kas di Bendahara Penerimaan
1 jt
1 jt
126
u/ mencatat pengembalian kelebihan pendapatan
ke wajib pajak/retribusi
b. Jurnal di SKPKD
REKENING
1.1.8.01.0x
1.1.1.01.xx
URAIAN
R/K SKPD Dinas Pendapatan
Kas Daerah
DR
CR
1 jt
1 jt
u/ mencatat pengurangan Kas di Kas Daerah atas
koreksi kelebihan pencatatan pendapatan di STS
No 001
127
E. PENYESUAIAN/KOREKSI BELANJA
1. Koreksi Belanja
Jurnal ini dilakukan untuk melakukan koreksi atas pembebanan belanja (salah
pembebanan rekening belanja).
Dokumen
Sumber
:
Memo
Jurnal,
SP2D
awal
(yang
akan
dikoreksi
pembebanan belanjanya)
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
5.x.x.xx.xx
5.x.x.xx.xx
URAIAN
Belanja 1 (rincian obyek)-LRA
DR
CR
xxx
Belanja 2 (rincian obyek)-LRA
xxx
u/ mencatat koreksi pembebanan belanja dari
rekening belanja 2 dipindahkan ke rekening
belanja 1
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
9.x.x.xx.xx
9.x.x.xx.xx
URAIAN
Belanja 1 (rincian obyek)-LO
DR
CR
xxx
Belanja 2 (rincian obyek)-LO
xxx
u/ mencatat koreksi pembebanan belanja dari
rekening belanja 2 dipindahkan ke rekening
belanja 1
b. Jurnal di SKPKD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
128
Contoh Kasus:
Terdapat kesalahan pembebanan belanja pada SP2D No.089, dimana seharusnya
belanja yang dibebankan adalah Honorarium Tim/Panitia Pelaksana Kegiatan
sebesar Rp 1 juta tetapi salah dibebankan ke Honorarium Tim Pengadaan Barang
dan jasa. Jurnal yang dibuat di PPK-SKPD atas kesalahan tersebut adalah:
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
5.2.1.01.01
Honorarium Tim/Panitia Pelaksana
Kegiatan
5.2.1.01.02
Honorarium Tim Pengadaan Barang
dan jasa
DR
CR
1 jt
1 jt
u/ mencatat koreksi pembebanan belanja dari
rekening Honorarium Tim Pengadaan Barang dan
jasa dipindahkan ke rekening Honorarium
Tim/Panitia Pelaksana Kegiatan
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
9.2.1.01.01
Beban Honorarium Tim/Panitia
Pelaksana Kegiatan
9.2.1.01.02
Beban Honorarium Tim Pengadaan
Barang dan jasa
u/
DR
CR
1 jt
1 jt
mencatat koreksi pembebanan beban dari
rekening Honorarium Tim Pengadaan Barang dan
jasa dipindahkan ke rekening Honorarium
Tim/Panitia Pelaksana Kegiatan
2. Pengurangan Belanja (Kontra Pos)
Jurnal ini dilakukan untuk melakukan koreksi atas kelebihan pembebanan
belanja atas rekening belanja tertentu.
Dokumen Sumber : Bukti Setoran ke Kas Daerah atas kelebihan belanja, SP2D
yang akan dikoreksi.
129
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
3.1.02.01.01
URAIAN
DR
Estimasi Perubahan SAL
5.x.x.xx.xx
CR
xxx
Belanja (rincian obyek)
xxx
u/ mencatat pengurangan belanja
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
2.1.8.01.01
URAIAN
DR
R/K Pusat
9.x.x.xx.xx
CR
xxx
Beban...(rincian obyek)
xxx
u/ mencatat pengurangan belanja
b. Jurnal di SKPKD
REKENING
URAIAN
DR
1.1.1.01.xx
Kas di Kas Daerah (rincian obyek)
xxx
1.1.8.01.xx
R/K SKPD ....................
u/
CR
xxx
mencatat penyetoran ke Kas Daerah
pengurangan belanja
atas
Contoh Kasus:
Pada tanggal 1 Juli 2014 di Dinas PU terjadi pengembalian Honorarium Pegawai
Honorer/Tidak Tetap sebesar Rp 1,5 juta dengan STS No. 046 ke Kas Daerah.
Sebelumnya beban belanja tersebut dibayarkan dengan SP2D No. 234 tanggal 1
April 2008. Jurnal atas transaksi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Jurnal di SKPD
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
3.1.02.01.01
URAIAN
Estimasi Perubahan SAL
DR
CR
1,5jt
130
5.2.1.02.02
Honorarium
Pegawai
Honorer/Tidak Tetap
1,5jt
u/ mencatat pengembalian belanja dengan STS No.
046
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
2.1.8.01.01
9.2.1.02.02
URAIAN
R/K Pusat
DR
CR
1,5jt
Beban Honorarium Pegawai
1,5jt
Honorer/Tidak Tetap
u/ mencatat pengembalian belanja dengan STS No.
046
b. Jurnal di SKPKD
REKENING
1.1.1.01.01
1.1.8.01.0x
URAIAN
Kas di Kas Daerah
R/K SKPD Dinas PU
DR
CR
1,5jt
1,5jt
u/ mencatat penyetoran ke Kas Daerah atas
pengembalian belanja dengan STS No. 046
131
F. JURNAL PENYESUAIAN AKHIR PERIODE
1. Pengakuan Nilai Persediaan Akhir Tahun
Jurnal ini dilakukan untuk memunculkan saldo akhir persediaan di Neraca
(per 31 Desember) seluruh SKPD dan SKPKD.
Dokumen Sumber : Memo Jurnal, Hasil Inventarisasi Fisik Persediaan
a. Jurnal di SKPD (untuk menjurnal saldo persediaan di SKPD)
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
1.1.5.xx.xx
Persediaan – (rincian obyek)
9.1.3.01.01
Beban Persediaan ......
DR
CR
xxx
xxx
u/ mengakui nilai persediaan akhir sebesar sisa
persediaan menurut inventarisasi fisik
b. Jurnal di SKPKD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak dijurnal
Contoh Kasus:
Pada 31 Desember 2014 pada Dinas PU berdasarkan inventarisasi fisik, diketahui
terdapat sisa persediaan barang sebagai berikut: Persediaan Alat Tulis kantor
senilai Rp.2 juta, Persediaan Alat Listrik senilai Rp. 3 juta dan Persediaan
Material/Bahan Lainnya senilai Rp. 1 juta, sedangkan pembelian Alat Tulis kantor
senilai Rp.4 juta, Persediaan Alat Listrik senilai Rp. 6 juta dan Persediaan
Material/Bahan Lainnya senilai Rp. 2 juta, maka jurnal yang dibuat oleh PPKSKPD Dinas PU untuk mengakui nilai persediaan akhir adalah sebagai berikut:
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
DR
1.1.5.01.01
Persediaan Alat Tulis kantor
3 jt
1.1.5.02.01
Persediaan Alat Listrik
2 jt
CR
132
1.1.5.03.07
Persediaan
Lainnya
Material/Bahan
9.1.5.01.01
Beban Alat Tulis kantor
9.1.5.02.01
Beban Alat Listrik
9.1.5.03.07
Beban
Lainnya
1 jt
3 jt
2 jt
Material/Bahan
1 jt
u/ mengakui nilai persediaan akhir sebesar sisa
persediaan menurut inventarisasi fisik
2. Depresiasi
Berdasarkan daftar barang dan kebijakan akuntasi yang dimiliki oleh
Pemerintah Daerah, PPK-SKPD pada akhir tahun akan membuat bukti
memorial untuk mengakui depresiasi atau penyusutan atas aset tetap yang
dimiliki. PPK-SKPD akan mencatat penyusutan aset tetap dengan menjurnal
”Beban Penyusutan” di debit dan ”Akumulasi penyusutan” di kredit di
jurnal umum.
Dokumen Sumber: bukti memorial
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
9.1.05.xx.xx
1.3.07.01.xx
URAIAN
Beban penyusutan
Akumulasi Penyusutan...
DR
CR
xxx
xxx
u/ mengakui beban penyusutan pada akhir tahun
3. Penyesuaian Sewa Dibayar Dimuka
Pemerintah Daerah perlu membuat jurnal penyesuaian pada akhir periode
untuk transaksi pembayaran biaya sewa yang masa manfaatnya lebih dari satu
tahun anggaran yang dicatat dengan pendekatan beban oleh Pemda. Pada
akhir tahun, berdasarkan Surat Perjanjian Sewa, PPK-SKPD akan membuat
bukti memorial untuk penyesuaian beban sewa. PPK-SKPD akan mencatat
133
penyesuaian beban sewa dengan jurnal ”Sewa dibayar di muka” di debit dan
”Beban sewa” di kredit pada buku jurnal.
Dokumen Sumber: bukti memorial, Surat Perjanjian Sewa.
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
1.1.06.xx.xx
URAIAN
Sewa dibayar di muka
9.1.02.02.xx
DR
CR
xxx
Beban sewa...
xxx
u/ mengakui beban sewa pada akhir tahun
4. Beban Penyisihan Piutang
Merupakan penghapusan piutang Pemerintah Daerah yang tidak tertagih.
Terdapat dua metode yang dapat dilakukan terkait dengan penghapusan
piutang tak tertagih, yaitu:
1) Metode Langsung (Direct Write Off Methods): langsung menghapus
piutang, ketika piutang tersebut benar-benar tidak dapat tertagih.
Dalam metode langsung (direct write off method), berdasarkan Surat
Keputusan Kepala Daerah tentang Penghapusan Piutang Tak Tertagih,
Fungsi Akuntansi PPKD akan menghapus piutang dengan jurnal ”Beban
Penyisihan Piutang” di debit dan ”Piutang” di kredit.
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
9.1.08.xx.xx
1.1.04.xx.xx
URAIAN
Beban Penyisihan Piutang
Piutang...
DR
CR
xxx
xxx
u/ mengakui beban penyisihan pada akhir tahun
134
2)
Metode
terhadap
Penyisihan
(Allowance
sejumlah
persentase
Methods):
piutang
melakukan
Pemerintah
penyisihan
Daerah
yang
diestimasi tidak dapat tertagih di masa yang akan datang. Penyisihan
piutang ini dibuat berdasarkan jumlah piutang atau saldo umur
piutang yang diperlihatkan dalam neraca akhir periode. Melalui metode
ini, Pemerintah Daerah setiap tahun memiliki cadangan piutang tidak
tertagih. Ketika telah ada ketetapan suatu piutang tidak tertagih
(ditunjukkan dengan Surat Keputusan Kepala Daerah), pada saat
tersebut cadangan piutang akan dihapus menjadi beban penyisihan
piutang.
Dalam metode penyisihan (allowance method), Setiap akhir tahun,
berdasarkan laporan neraca atau laporan golongan umur piutang
Pemerintah daerah akhir periode, Fungsi Akuntansi PPKD akan
membuat cadangan piutang tak tertagih. Fungsi Akuntansi PPKD akan
mencatat jurnal ”Beban Penyisihan Piutang” di debit dan ”Penyisihan
Piutang tak Tertagih”
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
9.1.08.xx.xx
1.1.05.xx.xx
URAIAN
DR
Beban Penyisihan Piutang
Penyisihan
Tertagih
Piutang
CR
xxx
Tak
xxx
u/ mengakui beban penyisihan pada akhir tahun
Pada saat terbit Surat Keputusan Kepala Daerah tentang Penghapusan
Piutang, maka Fungsi Akuntansi PPKD akan menghapus piutang yang
sudah nyata-nyata tidak dapat tertagih itu dengan jurnal ”Penyisihan
Piutang Tak Tertagih” di debit dan ”Piutang” di kredit.
135
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
1.1.05.xx.xx
Penyisihan Piutang Tak Tertagih
1.1.04.xx.xx
DR
CR
xxx
Piutang...
xxx
u/ menghapus piutang tak tertagih
Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi di atas berupa
bukti memorial yang dilampiri dengan bukti transaksi jika tersedia. Bukti
memorial tersebut sekurang-kurangnya memuat informasi mengenai tanggal
transaksi dan/atau kejadian, kode rekening, uraian transaksi dan/atau
kejadian, dan jumlah rupiah.
5. Penyesuaian Kewajiban
a. Kewajiban jangka pendek
Jurnal ini untuk memunculkan saldo utang jangka pendek di Neraca (per
31 Desember) baik di SKPD maupun SKPKD. Kewajiban jangka pendek
tersebut meliputi: Utang Bunga (khusus SKPKD), Utang Pajak, Utang hibah
dan Utang Jangka Pendek Lainnya. Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK)
tidak perlu dibuatkan jurnal penyesuaian karena sudah dijurnal pada saat
penerimaan potongan PFK.
Dokumen Sumber : Memo Jurnal, Hasil Inventarisasi Utang.
a. Jurnal di SKPKD (untuk menjurnal saldo kewajiban jangka pendek per 31
Desember di SKPD)
Contohnya: Utang Bunga dan utang hibah dijurnal ketika terjadi beban.
Dilakukan jurnal ketika tanggal jatuh tempo bunga. Jurnalnya sebagai
berikut:
REKENING
9.1.03.01.xx
2.1.05.03.xx
URAIAN
Beban Bunga
Utang Bunga – (rincian obyek)
DR
CR
xxx
xxx
u/ mengakui kewajiban bunga
136
Selanjutnya, Bendahara PPKD membuat SPP dan kemudian diserahkan ke
Fungsi Akuntansi PPKD untuk diverifikasi. Setelah selesai diverifikasi,
Fungsi Akuntansi PPKD akan menyiapkan SPM. SPM kemudian diserahkan
ke PPKD untuk diotorisasi. Berdasarkan SPM yang telah diotorisasi, Kuasa
BUD akan menerbitkan SP2D. SP2D selanjutnya diserahkan ke PPKD untuk
kemudian didistribusikan ke Fungsi Akuntansi PPKD. Fungsi Akuntansi
PPKD akan mencatat penghapusan utang bunga dan pengeluaran kas,
dengan jurnal “Utang Bunga” dan “Kas di Kas Daerah” di kredit.
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
2.1.05.03.xx
URAIAN
Utang Bunga
1.1.1.01.01
DR
CR
xxx
Kas di Kas Daerah
xxx
u/ mengakui pembayaran utang
Selain itu, pada saat bersamaan Fungsi Akuntansi PPKD juga perlu
mencatat transaksi pembayaran bunga tersebut secara basis kas untuk
memenuhi kebutuhan penyusunan LRA dan Laporan Perubahan SAL
dengan menjurnal “Belanja Bunga” di debit dan “Ekuitas SAL - Estimasi
Perubahan SAL” di kredit.
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
5.1.03.03.xx
3.1.02.05.01
URAIAN
Belanja Bunga
Estimasi Perubahan SAL
DR
CR
xxx
xxx
u/ mengakui pembayaran utang
137
b. Kewajiban jangka panjang
Dalam
rangka
mengurangi
defisit
,
adakalanya
Pemerintah
Daerah
melakukan pinjaman jangka panjang. Berdasarkan nota kredit yang
menunjukkan telah masuknya penerimaan pembiayaan ke rekening kas
daerah, Fungsi Akuntansi PPKD mengakui adanya kewajiban jangka
panjang dengan mencatat jurnal “Kas di Kas Daerah” di debit dan
“Kewajiban Jangka Panjang (sesuai rincian objek terkait)” di kredit.
-
Pencatatan saat penerimaan uang dari Utang Jangka Panjang
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
URAIAN
1.1.1.01.01
Kas di Kas Daerah
2.2.6.xx.xx
Kewajiban
Panjang...
DR
CR
xxx
Jangka
xxx
u/ mengakui penerimaan kas dari kewajiban jangka
panjang
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
URAIAN
3.1.02.05.01
Estimasi Perubahan SAL
7.1.04.XX.XX
DR
CR
xxx
Penerimaan Pembiayaan
xxx
u/ mengakui penerimaan pembiayaan dari utang
jk panjang di LRA
-
Pencatatan saat Pembayaran Kewajiban
PPKD menyerahakan Dokumen Perjanjian Utang kepada Bendahara PPKD
sebagai
dasar
pembuatan
SPP
LS
pengeluaran
pembiayaan
untuk
membayar kewajiban jangka panjang Pemda. Bendahara PPKD kemudian
menyerahkan SPP LS tersebut kepada Fungsi Akuntansi PPKD untuk
diverifikasi dan kemudian disiapkan SPM LS terkait. SPM LS tersebut
diserahkan kepada PPKD untuk diotorisasi. SPM LS yang diterbitkan oleh
PPKD kemudian diserahakan kepada Kuasa BUD untuk diverifikasi lagi dan
138
diterbitkan SP2D LS terkait. SP2D LS tersebut diserahakan ke Bendahara
Pengeluaran PPKD sebagai dasar pencairan dana untuk pembayaran
kewajiban jangka panjang. Salinan SP2D LS itu kemudian diserahakn
kepada Fungsi Akuntansi PPKD yang kemudian menjurnal “Kewajiban
Jangka Panjang (sesuai rincian objek terkait)” di debit dan “Kas di Kas
Daerah” di kredit.
LAPORAN OPERASIONAL
REKENING
2.2.xx.xx.xx
URAIAN
DR
Kewajiban Jangka Panjang
1.1.1.01.01
xxx
Kas di Kas Daerah
u/
mengakui
jk.panjang
CR
xxx
pembayaran
utang/kewajiban
Selain itu, pada saat bersamaan, Fungsi Akuntansi PPKD juga mencatat
pembayaran kewajiban jangka panjang dengan basis kas untuk memenuhi
kebutuhan
penyusunan
LRA
dan
Laporan
Perubahan
SAL
dengan
menjurnal “Pengeluaran Pembiayaan” di debit dan “Ekuitas SAL - Estimasi
Perubahan SAL” di kredit.
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
REKENING
7.2.03.03.xx
3.1.02.05.01
URAIAN
Pengeluaran Pembiayaan
DR
CR
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
u/ mengakui pembayaran utang di LRA
Contoh Kasus :
Pada 31 Desember 2008 di Dinas Pendidikan terdapat tunggakan pembayaran
rekening listrik sebesar Rp. 3 juta dan rekening telepon Rp. 1,5 juta. Tunggakan
139
rekening tersebut rencananya baru akan dibayar pada bulan Januari 2009. Atas
tunggakan rekening tersebut jurnal yang dibuat oleh PPK-SKPD Dinas Pendidikan
adalah sebagai berikut:
URAIAN
REKENING
9.1.4.01.01
2.1.6.01.01
DR
Beban listrik & telpon
Utang
Lainnya
Jangka
CR
4,5jt
Pendek
4,5jt
u/ mengakui kewajiban jangka pendek akhir periode
-
Pencatatan saat Reklasifikasi Kewajiban Jangka Panjang
Jurnal ini untuk mereklasifikasi porsi kewajiban jangka panjang yang akan
jatuh tempo dalam waktu kurang dari 1 tahun. Transaksi ini hanya terjadi di
SKPKD selaku pengelola kewajiban jangka panjang.
Dokumen Sumber: Memo Jurnal, Hasil Perhitungan Reklasifikasi Kewajiban
Jangka Panjang
a. Jurnal di SKPD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
b. Jurnal di SKPKD
REKENING
2.2.xx.xx.xx
1.1.04.xx.xx
URAIAN
Kewajiban Jangka
(rincian obyek)
DR
Panjang
Bagian Lancar Utang Jangka
–
CR
xxx
xxx
Panjang
u/ mengurangi kewajiban jangka panjang sebesar
porsi yang akan direklasifikasi menjadi
kewajiban jangka pendek
140
Contoh Kasus:
Per 31 Desember 2008 Pemerintah Kota XYZ mempunyai saldo utang kepada
pemerintah pusat sebesar Rp.23 milyar, dari jumlah tersebut jumlah cicilan pokok
yang akan jatuh tempo/harus dibayar dalam waktu satu tahun kedepan adalah
sebesar Rp.2,7 milyar. Atas utang tersebut jumlah bunga yang jatuh tempo
(accrue) per 31 Desember 2014 setelah dihitung adalah sebesar Rp.300 juta, maka
jurnal yang dibuat oleh fungsi akuntansi di SKPKD sebagai berikut:
REKENING
URAIAN
DR
2.2.1.03.01
Kewajiban Jangka Panjang –
Utang Pemerintah Pusat
2,7M
1.1.04.xx.xx
Bagian Lancar Utang Jangka
CR
2,7M
Panjang
u/ mengurangi kewajiban jangka sebesar porsi
yang akan direklasifikasi menjadi kewajiban
jangka pendek
Jurnal yang dibuat untuk mengakui utang bunga per 31 Desember 2014 adalah
sebagai berikut:
REKENING
9.1.03.01.xx
2.1.05.03.xx
URAIAN
Beban Bunga
DR
CR
300jt
Utang
Bunga
kepada
Pemerintah Pusat
300jt
u/ mengakui utang bunga akhir periode
6. Penyesuaian Kapitalisasi Belanja Modal menjadi Aset Tetap
Jurnal ini dilakukan untuk menyesuaikan kembali saldo kapitalisasi aset tetap
yang telah dilakukan pada saat penerimaan SP2D-LS Belanja Modal. Hal ini
dilakukan karena ada kemungkinan jumlah yang telah dikapitalisasi pada saat
penerimaan SP2D-LS belanja modal belum mencakup seluruh nilai aset tetap,
atau sebaliknya, jumlah yang telah dikapitalisasi tersebut ternyata melebihi
141
nilai perolehan riil aset tetap yang bersangkutan. Jadi pada intinya jurnal ini
adalah untuk mengkoreksi nilai aset tetap sebesar nilai perolehan riilnya.
Dokumen Sumber: Memo Jurnal, Hasil Penelitian Kapitalisasi Belanja Modal,
Hasil inventarisasi aset tetap dan SP2D-LS Belanja Modal yang bersangkutan.
a. Jurnal di SKPD
(1) Apabila jumlah akumulasi kapitalisasi belanja modal ternyata melebihi
nilai perolehan riil
REKENING
9.x.xx.xx.xx
URAIAN
Beban.............
1.3.x.xx.xx
DR
CR
xxx
Aset Tetap (rincian obyek)
xxx
u/ menyesuaikan/mengurangi saldo aset tetap
sebesar nilai belanja modal yang tidak dapat
dikapitalisasi
(2) Apabila jumlah akumulasi kapitalisasi belanja modal ternyata kurang
dari nilai perolehan riil
REKENING
1.3.xx.xx.xx
URAIAN
Aset Tetap (rincian obyek)
9.1.xx.xx.xx
DR
xxx
Beban..............
u/
menyesuaikan/menambah saldo
sebesar nilai perolehan riilnya
CR
xxx
aset
tetap
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
Contoh Kasus:
Selama 2014, di SKPD Sekretariat Daerah terdapat pengadaan tanah untuk kantor
yang diadakan dengan beberapa kali tahapan pembebasan lahan. Jumlah
realisasi belanja modal pengadaan tanah kantor sampai dengan akhir tahun
senilai Rp.20 milyar. Setelah dilakukan penelitian ternyata terdapat biaya-biaya
142
lain yang seharusnya dikapitalisasi tetapi belum termasuk dalam belanja
modal. Biaya-biaya tersebut diantaranya biaya tim pengadaan lahan yang
dianggarkan pada Honorarium Tim/Panitia Pelaksana Kegiatan Rp 150jt, biaya
mobilitas tim pengadaan yang dianggarkan dalam Belanja perjalanan dinas Rp
50jt dan belanja lain-lain Rp 50jt yang berhubungan dengan perolehan lahan
tersebut. Total realisasi biaya-biaya tersebut pada akhir tahun anggaran
berjumlah 250 juta. Jadi total belanja yang telah dikapitalisasi Rp. 20 milyar
dan jumlah yang harus ditambahkan dalam nilai kapitalisasi aset sebesar
Rp.250 juta sehingga total nilai aset seharusnya Rp.20,250 milyar. Jurnal yang
dibuat di SKPD Setda adalah sebagai berikut:
REKENING
1.3.01.01.01
9.x.xx.xx.xx
9.x.xx.xx.xx
9.x.xx.xx.xx
URAIAN
Tanah Kantor
DR
CR
250jt
Honorarium
Tim/Panitia
Pelaksana Kegiatan
150jt
Beban perjalanan dinas
50jt
Beban lain-lain
50 jt
u/ menyesuaikan/menambah saldo aset tetap
sebesar nilai perolehan riilnya
7. Kapitalisasi Belanja selain Belanja Modal menjadi Aset Tetap
Jurnal ini untuk mengakomodasi kemungkinan pengadaan aset tetap yang
dibiayai dengan belanja selain belanja modal.
Dokumen Sumber: Memo Jurnal, Hasil Perbandingan Mutasi Aset Tetap
dengan Belanja Modal, SP2D-LS/SPJ Belanja yang bersangkutan
a. Jurnal di SKPD
REKENING
URAIAN
1.3.x.xx.xx
Aset Tetap (rincian obyek)
9.x.xx.xx.xx
Beban ...................
DR
CR
xxx
xxx
u/ menambah saldo aset tetap dari kapitalisasi
belanja non modal (perolehan aset dari belanja
non modal)
143
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
URAIAN
REKENING
DR
CR
Tidak Dijurnal
Contoh Kasus:
Dari hasil inventarisasi aset dan perbandingan mutasi tambah aset tetap
dengan realisasi belanja modalnya, ternyata pada Dinas Kesehatan terdapat
pengadaan kamera digital senilai Rp.2,5 juta yang belum dikapitalisasi. Setelah
diteliti
ternyata
pengadaan
kamera
tersebut
didanai
dengan
belanja
bahan/material lainnya yang termasuk dalam belanja barang dan jasa dan
bukan belanja modal. Jurnal yang dibuat PPK-SKPD untuk mengkapitalisasi
aset tetap tersebut sebagai berikut:
REKENING
1.3.2.15.01
9.x.xx.xx.xx
URAIAN
Kamera
Beban bahan/material
DR
CR
2,5jt
2,5jt
u/ menambah saldo aset tetap dari kapitalisasi
belanja non modal (perolehan aset dari belanja
non modal)
8. Penyesuaian Nilai Aset Tetap dari Hasil Inventarisasi
Umumnya dari hasil inventarisasi aset akan ditemukan aset-aset yang
pengadaannya bukan dari APBD yang diserahkan pengelolaannya kepada
pemerintah daerah. Oleh karena itu aset tetap tersebut harus diakui sebagai
aset pemerintah daerah. Contohnya aset yang berasal dari Hibah, Pengadaan
aset tetap dari dana BOS dan lain-lain.
144
Dokumen Sumber: Memo Jurnal, Hasil Inventarisasi Aset
a. Jurnal di SKPD
REKENING
1.3.x.xx.xx
URAIAN
DR
Aset Tetap (rincian obyek)
9.1.05.02.xx
CR
xxx
Beban Hibah.......
xxx
u/ menambah saldo aset tetap dari pengakuan
pertambahan aset dari hasil inventarisasi yang
belum diakui sebelumnya
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
Contoh Kasus:
Pada Badan Kepegawaian Daerah, tahun 2014 mendapat sepeda motor hibah dari
pemerintah
pusat
dengan
nilai
perolehan
Rp.10
juta.
Jurnal
untuk
mengkapitalisasi aset tersebut adalah:
REKENING
URAIAN
DR
1.3.2.02.12
Alat-alat
angkutan
darat
bermotor sepeda motor
10jt
9.1.05.02.01
Beban
Pusat
Hibah
Pemerintah
CR
10jt
u/ menambah saldo aset tetap dari pengakuan
pertambahan aset dari hasil inventarisasi yang
belum diakui sebelumnya
9. Reklasifikasi Aset Tetap yang Rusak Berat
Dari hasil inventarisasi aset akan diketahui jumlah dan nilai aset tetap yang
rusak berat. Aset yang rusak berat tersebut harus dikeluarkan dari klasifikasi
aset tetap dan dimasukkan ke dalam klasifikasi aset lain-lain.
145
Dokumen Sumber: Memo Jurnal, Daftar dan Nilai Aset Tetap Kondisi Rusak Berat
a. Jurnal di SKPD
URAIAN
REKENING
DR
1.5.5.01.01
Aset Lain-lain
xxx
1.3.x.xx.xx
Akumulasi Penyusutan Aset Ttp
(rinc. obyek)
xxx
1.3.x.xx.xx
Aset Tetap (rincian obyek)
CR
xxx
u/ mengeluarkan aset tetap kondisi rusak berat dari
saldo aset tetap dan akan direklasifikasi menjadi
aset lain-lain
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
Contoh Kasus:
Dari hasil inventarisasi diketahui bahwa pada Badan Kesbang dan Linmas
terdapat mobil dinas yang rusak berat dan tidak dapat lagi digunakan untuk
operasional dan sedang diusulkan penghapusannya. Mobil tersebut dibeli pada
tahun 1988 dengan harga perolehan Rp.25 juta dan akumulasi penyusutan
sampai dengan akhir tahun 2014 berjumlah Rp.20 juta, jadi nilai buku aset
tersebut Rp.5 juta. Jurnal untuk mereklasifikasi aset tersebut menjadi aset lainlain adalah sebagai berikut:
REKENING
URAIAN
DR
1.5.5.01.01
Aset Lain-lain
5jt
1.3.7.01.01
Akumulasi
Penyusutan
Aset
Tetap Peralatan dan Mesin
20jt
1.3.2.02.03
Alat-alat angkutan darat bermotor
station wagon
CR
25jt
u/ mengeluarkan aset tetap kondisi rusak berat dari
saldo aset tetap dan akan direklasifikasi menjadi
aset lain-lain
146
Contoh Kasus:
Pada Dinas Pendidikan, tahun 2014 mendapat laporan dari SDN Harba telah di
lakukan pembelian 1 unit Komputer dari dana BOS pemerintah pusat dengan nilai
perolehan Rp.10 juta. Jurnal untuk mengkapitalisasi aset tersebut adalah:
REKENING
URAIAN
1.3.02.11.02
9.1.05.02.xx
DR
Peralatan Kantor-Komputer
CR
10jt
Beban Hibah Dana Bos Pemerintah
Pusat
10jt
u/ menambah saldo aset tetap dari pengakuan
pertambahan aset dari hasil inventarisasi yang
belum diakui sebelumnya
10. Penyusutan Aset Tetap
Jurnal ini untuk menyajikan nilai penyusutan aset tetap di Neraca per 31
Desember.
Dokumen
Sumber:
Kartu
Inventaris
Barang
(KIB),
Daftar
Perhitungan
Penyusutan Aset Tetap
a. Jurnal di SKPD
REKENING
URAIAN
9.1.07.xx.xx
Beban Penyusutan
1.3.xx.xx.xx
Akumulasi Penyusutan
(rinc. obyek)
DR
CR
xxx
Aset
Ttp
xxx
u/ mencatat penyusutan aset tetap tahun berjalan
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
147
Contoh Kasus:
Dari
hasil
perhitungan
menurut
daftar
aset
tetap
di
Dinas
Pertanian,
penyusutan/depresiasi aset tetap peralatan dan mesin pada tahun 2014
berjumlah Rp.125juta, gedung dan bangunan Rp.20 juta dan aset tetap lainnya
Rp.12 juta, maka jurnal di PPK-SKPD untuk mengakui penyusutan tersebut
adalah sebagai berikut:
REKENING
9.1.07.01.01
URAIAN
Beban Penyusutan
DR
CR
157jt
1.3.07.01.01
Akumulasi Penyusutan Aset
Tetap Peralatan dan Mesin
125jt
1.3.07.01.02
Akumulasi Penyusutan Aset
Tetap Gedung dan Bangunan
20jt
1.3.07.01.04
Akumulasi Penyusutan Aset
Tetap Aset Tetap Lainnya
12jt
u/ mencatat penyusutan aset tetap tahun berjalan
11. Pengakuan Konstruksi Dalam Pengerjaan
Jurnal ini untuk memunculkan nilai konstruksi dalam pengerjaan (aset tetap yang
masih dalam proses pengerjaan) per 31 Desember. Jurnal ini akan mereklasifikasi
kembali jumlah belanja modal yang telah dikorolarikan menjadi aset tetap pada
waktu menerima SP2D-LS Belanja Modal.
Dokumen Sumber: Daftar Konstruksi Dalam Pengerjaan beserta laporan kemajuan
fisik dan keuangannya, SP2D Belanja Modal untuk pembayaran konstruksi yang
bersangkutan.
a. Jurnal di SKPD
REKENING
1.3.6.01.01
1.3.x.xx.xx
URAIAN
Konstruksi Dalam Pengerjaan
Aset Tetap (rincian obyek)
DR
CR
xxx
xxx
u/ mengakui konstruksi dalam pengerjaan sebesar
porsi aset tetap yang belum diselesaikan sampai
dengan akhir periode
148
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
URAIAN
REKENING
DR
CR
Tidak Dijurnal
Contoh Kasus:
Pada Dinas PU, per 31 Desember 2014 ada pekerjaan pembangunan gedung
kantor yang
realisasi fisiknya masih belum
mencapai 100%. Pembangunan
gedung tersebut didanai dengan Belanja modal Pengadaan konstruksi/pembelian
gedung kantor dengan total realisasi sampai dengan akhir tahun berjumlah
Rp.250 juta. Pada saat pembayaran termin dengan SP2D LS Belanja Modal, nilai
yang dibayarkan telah langsung dijurnal kapitalisasinya (korolarinya) sehingga
nilai tersebut harus dikeluarkan lagi dari nilai aset tetap dipindahkan ke
konstruksi dalam pengerjaan. Jurnal yang dibuat di SKPD untuk mengakui
konstruksi dalam pengerjaan adalah sebagai berikut:
REKENING
1.3.6.01.01
1.3.3.01.01
URAIAN
DR
Konstruksi Dalam Pengerjaan
CR
250jt
Gedung kantor
250jt
u/ mengakui konstruksi dalam pengerjaan sebesar
porsi aset tetap yang belum diselesaikan sampai
dengan akhir periode
1. Penyetoran Sisa Kas di Bendahara Pengeluaran ke Kas Daerah
Jurnal ini dilakukan pada saat SKPD menyetorkan sisa kas akhir di Bendahara
Pengeluaran ke Kas Daerah pada akhir tahun anggaran yang bersangkutan
atau pada awal tahun anggaran berikutnya.
Dokumen
Sumber:
STS/Bukti
penyetoran
sisa
kas
akhir
Bendahara
Pengeluaran ke Kas Daerah, SPJ Bendahara Pengeluaran Akhir Tahun
Anggaran yang dilengkapi dengan buku kas umum
149
a. Jurnal di SKPD
URAIAN
REKENING
2.1.8.01.01
1.1.1.03.01
DR
R/K Pusat
CR
xxx
Kas di Bendahara Pengeluaran
xxx
u/ mencatat penyetoran sisa kas di Bendahara
Pengeluaran ke Rekening Kas Daerah
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
URAIAN
DR
1.1.1.01.xx
Kas di Kas Daerah ... (rincian
obyek)
xxx
1.1.8.01.xx
R/K SKPD ...........................
CR
xxx
u/ mencatat penerimaan sisa kas di Bendahara
Pengeluaran yang disetor ke Rekening Kas
Daerah
Contoh Kasus:
Pada tanggal 31 Desember 2014 Bendahara Pengeluaran Dinas PU menyetorkan
sisa kasnya sebesar Rp.10 juta ke rekening kas daerah dengan STS No.099. Atas
transaksi tersebut jurnal yang dibuat sebagai berikut:
a. Jurnal di SKPD
REKENING
2.1.8.01.01
1.1.1.03.01
URAIAN
DR
R/K Pusat
Kas
di
Pengeluaran
CR
10jt
Bendahara
10jt
u/ mencatat penyetoran sisa kas di Bendahara
Pengeluaran ke Rekening Kas Daerah dengan
STS No. 009
150
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
URAIAN
REKENING
1.1.1.01.01
1.1.8.01.0x
Kas Daerah
R/K SKPD Dinas PU
DR
CR
10jt
10jt
u/ mencatat penerimaan sisa kas di Bendahara
Pengeluaran Dinas PU yang disetor dengan STS
No. 099
151
G. JURNAL PENUTUP
1. Menutup pendapatan dan belanja ke Surplus/Defisit
a. Jurnal di SKPD
REKENING
4.x.x.xx.xx
5.x.x.xx.xx
URAIAN
DR
Pendapatan (rincian obyek)
CR
xxx
Belanja (rincian obyek)
xxx
Surplus/Defisit
xxx
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
2. Menutup penerimaan dan pengeluaran pembiayaan ke Pembiayaan Netto
a. Jurnal di SKPD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
b. Jurnal di SKPKD (selaku unit pengelola pembiayaan)
REKENING
6.1.x.xx.xx
URAIAN
DR
Penerimaan Pembiayaan
(rincian
CR
xxx
obyek)
6.2.x.xx.xx
Pengeluaran
Pembiayaan
xxx
(rincian obyek)
6.4.1.01.01
Pembiayaan Netto
xxx
152
3. Menutup Surplus/Defisit ke SILPA
a. Jurnal di SKPD
URAIAN
REKENING
Surplus/Defisit
3.1.1.01.01
DR
CR
xxx
SILPA
xxx
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
URAIAN
DR
CR
DR
CR
Tidak Dijurnal
4. Menutup Pembiayaan Netto ke SILPA
a. Jurnal di SKPD
REKENING
URAIAN
Tidak Dijurnal
b. Jurnal di SKPKD (selaku unit pengelola pembiayaan)
REKENING
6.4.1.01.01
3.1.1.01.01
URAIAN
Pembiayaan Netto
SILPA
DR
CR
xxx
xxx
153
F. JURNAL KONSOLIDASI
Jurnal ini dilakukan pada saat konsolidasi dalam rangka penyusunan laporan
keuangan pemerintah daerah. Jurnal ini dilakukan untuk menghilangkan
rekening timbal balik (reciprocal accounts) yaitu R/K SKPD di SKPKD/PPKD
dan R/K Pusat di SKPD. Jurnal ini dilakukan oleh SKPKD pada saat
konsolidasi, jurnalnya adalah sebagai berikut:
REKENING
2.1.8.01.01
URAIAN
DR
R/K Pusat
CR
xxx
1.1.8.01.xx
R/K SKPD Dinas 1
xxx
1.1.8.01.xx
R/K SKPD Dinas 2
xxx
dan
seterusnya
(R/K
SKPD
semua SKPD)
154
G. JURNAL BALIK
Jurnal ini dilakukan pada awal tahun, tujuannya untuk mengembalikan saldo
rekening-rekening akrual yang dijurnal pada waktu jurnal penyesuaian pada
akhir tahun menjadi nihil kembali pada awal tahun.
1. Jurnal Balik Saldo Persediaan
Jurnal ini dilakukan untuk mengembalikan saldo persediaan menjadi nihil
pada awal tahun.
Dokumen Sumber: Memo Jurnal, Jurnal Penyesuaian
a. Jurnal di SKPD (untuk menjurnal balik saldo persediaan di SKPD)
REKENING
9.1.03.xx.xx
1.1.5.xx.xx
URAIAN
Beban Persediaan...........
DR
CR
xxx
Persediaan – (rincian obyek)
xxx
2. Jurnal Balik Saldo Piutang
Jurnal ini dilakukan untuk mengembalikan saldo piutang menjadi nihil pada
awal tahun.
a. Jurnal di SKPD (untuk menjurnal balik saldo piutang di SKPD)
REKENING
3.1.2.01.01
1.1.3.xx.xx
URAIAN
Beban Piutang
DR
CR
xxx
Piutang – (rincian obyek)
xxx
b. Jurnal di SKPKD (untuk menjurnal balik saldo piutang di SKPKD)
REKENING
3.1.2.01.01
1.1.3.xx.xx
URAIAN
Beban Piutang
Piutang – (rincian obyek)
DR
CR
xxx
xxx
155
3. Jurnal Balik Kewajiban Jangka Pendek
Jurnal ini dilakukan untuk mengembalikan saldo kewajiban jangka pendek
menjadi nihil pada awal tahun dari penerimaan pembiayaan.
a. Jurnal di SKPD (untuk menjurnal saldo utang di SKPD)
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
b. Jurnal di SKPKD (untuk menjurnal saldo utang 31 Desember di SKPKD)
REKENING
2.1.x.xx.xx
URAIAN
Kewajiban Jangka Pendek
DR
–
CR
xxx
(rincian obyek)
7.1.01.xx.xx
Penerimaan Pembiayaan
xxx
4. Jurnal Balik Reklasifikasi Kewajiban Jangka Panjang
Jurnal ini dilakukan pada awal tahun untuk mengembalikan porsi kewajiban
jangka panjang yang telah direklasifikasi menjadi kewajiban jangka pendek
pada waktu jurnal penyesuaian di akhir tahun.
a. Jurnal di SKPD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
b. Jurnal di SKPKD
REKENING
2.1.4.xx.xx
URAIAN
DR
Bag. Lcr Utang Jk Panjang
xxx
CR
– (rincian obyek)
2.2.x.xx.xx
Kewajiban Jangka Panjang –
xxx
(rincian obyek)
156
5. Jurnal Balik Saldo Konstruksi Dalam Pengerjaan
Jurnal ini untuk mengembalikan saldo konstruksi dalam pengerjaan menjadi
nihil pada awal tahun
a. Jurnal di SKPD
REKENING
1.3.x.xx.xx
1.3.6.01.01
URAIAN
Aset Tetap (rincian obyek)
DR
CR
xxx
Konstruksi Dalam Pengerjaan
xxx
b. Jurnal di SKPKD selaku BUD
REKENING
URAIAN
DR
CR
Tidak Dijurnal
4.10 PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN
A. PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN SKPD
1. Ketentuan Umum
Laporan keuangan yang dihasilkan pada tingkat SKPD dihasilkan melalui
proses akuntansi lanjutan yang dilakukan oleh PPK-SKPD. Jurnal dan posting
yang telah dilakukan terhadap transaksi keuangan menjadi dasar dalam
penyusunan laporan keuangan.
Dari 7 Laporan Keuangan wajib yang terdapat dalam PP 71/2010, terdapat 5
Laporan Keuangan yang dibuat oleh SKPD, yaitu:
157
a. Laporan Realisasi Anggaran (LRA);
b. Neraca;
c. Laporan Operasional (LO);
d. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE); dan
e. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
Bagan berikut menunjukkan proses penyusunan Laporan Keuangan
SKPD:
Menyiapkan kertas
kerja
mengisi Neraca Saldo
sblm Penyesuaian
Jurnal Penyesuaian
Penyusunan LO,
membuat jurnal
penutup LO dan NS
stlh penutupan LO
Penyusunan LRA,
membuat jurnal
penutup LRA dan NS
stlh penutupan LRA
Neraca Saldo Setelah
Penyesuaian
Penyusunan Neraca,
membuat jurnal
penutup akhir dan
NS akhir
Membuat Laporan
Perbahan Ekuitas
Membuat Catatan
atas Laporan
Keuangan
2. Pihak-Pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam prosedur penyusunan laporan keuangan
adalah :
a. Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK-SKPD)
b. Pengguna Anggaran
3. Langkah-Langkah Teknis
Langkah 1 (Menyiapkan Kertas Kerja)
PPK-SKPD menyiapkan kertas kerja (worksheet) sebagai alat untuk menyusun
Laporan Keuangan. Kertas kerja adalah alat bantu yang digunakan dalam proses
158
pembuatan Laporan Keuangan. Kertas kerja berguna untuk mempermudah proses
pembuatan laporan keuangan yang dihasilkan secara manual.
Format dokumen kertas kerja (worksheet)
Penggunaan
format
dalam
hal
ini
disesuaikan
dengan
kebutuhan
yang
berkembang. Contoh format kertas kerja di bawah ini menunjukkan informasi
minimal yang harus ada disetiap pengembangan berikutnya.
Kode
Neraca
Uraian
Rekening
Saldo (NS)
D
K
Penyesuaian
D
K
NS Setelah
Penyesuaian
D
K
Langkah 2 (Pengisian Neraca Saldo)
PPK-SKPD melakukan rekapitulasi saldo-saldo buku besar menjadi neraca saldo.
Angka-angka neraca saldo tersebut diletakkan di kolom “Neraca Saldo” yang
terdapat pada kertas kerja. Berikut adalah contoh proses penyusunan kertas
kerja dalam SKPD A akan digunakan sebagai contoh dalam ilustrasi berikut:
Langkah 3 (Jurnal Penyesuaian)
PPK-SKPD membuat jurnal penyesuaian. Jurnal ini dibuat dengan tujuan
melakukan penyesuaian atas saldo pada akun-akun tertentu dan pengakuan
atas transaksi-transaksi yang bersifat akrual. Jurnal penyesuaian tersebut
diletakkan dalam kolom “Penyesuaian” yang terdapat pada kertas kerja.
Jurnal penyesuaian yang diperlukan antara lain digunakan untuk:
a. Koreksi kesalahan/pemindahbukuan
b. Pencatatan jurnal yang belum dilakukan (accrual atau prepayment)
c. Pencatatan piutang, persediaan dan atau aset lainnya pada akhir tahun
159
Langkah 4 (Neraca Saldo Setelah Penyesuaian)
PPK-SKPD
melakukan penyesuaian
atas
neraca
saldo
berdasarkan
jurnal
penyesuaian yang telah dibuat sebelumnya. Nilai yang telah disesuaikan
diletakkan pada kolom ”Neraca Saldo Setelah Penyesuaian” yang terdapat pada
Kertas Kerja.
Langkah 5(Membuat LRA, membuat jurnal penutup LRA, dan Neraca Saldo
setelah Penutupan LRA)
Berdasarkan neraca saldo yang telah disesuaikan, Fungsi Akuntansi SKPD
mengidentifikasi akun-akun yang termasuk dalam komponen laporan realisasi
anggaran (kode rekening yang berawalan 4, 5, dan 6) dan kemudian membuat
“Laporan Realisasi Anggaran”.
Bersamaan dengan pembuatan LRA, Akuntansi SKPD juga membuat jurnal
penutup untuk menutup akun-akun LRA. Prinsip penutupan ini adalah membuat
nilai akun-akun LRA menjadi 0.
Kemudian, setelah membuat jurnal penutupan, Akuntansi SKPD menyusun
neraca saldo setelah penutupan LRA.
Berikut adalah format LRA SKPD:
160
SKPD
LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0
(Dalam Rupiah)
NO.
URAIAN
1 PENDAPATAN
PENDAPATAN ASLI DAERAH
2
3
Pendapatan Pajak Daerah
4
Pendapatan Retribusi Daerah
5
Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
6
Lain-lain PAD yang sah
Jumlah Pendapatan Asli Daerah (3 s/d 6)
7
8
9
LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH
10
11
Pendapatan Hibah
12
Pendapatan Dana Darurat
13
Pendapatan Lainnya
Jumlah Lain-lain Pendapatan yang Sah (11 s/d 13)
14
JUMLAH PENDAPATAN (7 + 14)
15
16
17 BELANJA
BELANJA OPERASI
18
19
Belanja Pegawai
20
Belanja Barang
21
Bunga
22
Subsidi
23
Hibah
24
Bantuan Sosial
Jumlah Belanja Operasi (19 s/d 24)
25
26
BELANJA MODAL
27
28
Belanja Tanah
29
Belanja Peralatan dan Mesin
30
Belanja Gedung dan Bangunan
31
Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan
32
Belanja Aset Tetap Lainnya
33
Belanja Aset Lainnya
Jumlah Belanja Modal (28 s/d 33)
34
35
BELANJA TAK TERDUGA
36
37
Belanja Tak Terduga
Jumlah Belanja Tak Terduga (37 s/d 37)
38
JUMLAH BELANJA (25 + 34 + 38)
39
40
41
SURPLUS/DEFISIT (15 - 27)
42
43
44
Anggaran
20X1
Realisasi
20X1
(%)
Realisasi
20X0
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xx
xx
xx
xx
xx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xx
xx
xx
xx
xx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxxx
xxxx
xx
xx
xx
xxx
xxxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
Langkah 6 (Membuat LO, jurnal penutup LO dan Neraca Saldo setelah
Penutupan LO)
Berdasarkan neraca saldo setelah penutupan LRA, Fungsi Akuntansi SKPD
mengidentifikasi
akun-akun
yang
termasuk
dalam
komponen
laporan
operasional(kode rekening yang berawalan 8 dan 9) untuk kemudian membuat
laporan operasional.
Bersamaan dengan pembuatan LO, Fungsi Akuntansi SKPD juga membuat jurnal
penutup untuk menutup akun-akun LO. Prinsip penutupan ini adalah membuat
nilai akun-akun LO menjadi 0.
Kemudian,
setelah
membuat
jurnal
penutupan,
Fungsi
Akuntansi
SKPD
menyusun neraca saldo setelah penutupan LO.
161
SKPD
LAPORAN OPERASIONAL
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0
(Dalam rupiah)
20X1
20X0
Kenaikan/
Penurunan
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
SURPLUS/DEFISIT DARI KEGIATAN NON OPERASIONAL
Surplus Penjualan Aset Nonlancar
Defisit Penjualan Aset Nonlancar
Surplus/Defisit dari Kegiatan Non Operasional Lainnya
JUMLAH SURPLUS/DEFISIT DARI KEGIATAN NON OPERASIONAL(28 s/d 30)
SURPLUS/DEFISIT SEBELUM POS LUAR BIASA (25 + 31)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
POS LUAR BIASA
Pendapatan Luar Biasa
Beban Luar Biasa
POS LUAR BIASA ( 35-36)
SURPLUS/DEFISIT-LO ( 32 + 37)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
URAIAN
KEGIATAN OPERASIONAL
PENDAPATAN
PENDAPATAN ASLI DAERAH
Pendapatan Pajak Daerah
Pendapatan Retribusi Daerah
Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
Pendapatan Asli Daerah Lainnya
Jumlah Pendapatan Asli Daerah( 3 s/d 6 )
LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH
Pendapatan Lainnya
Jumlah Lain-lain Pendapatan yang sah (11 )
JUMLAH PENDAPATAN (7 + 12)
BEBAN
Beban Pegawai
Beban Persediaan
Beban Jasa
Beban Pemeliharaan
Beban Perjalanan Dinas
Beban Penyusutan
Beban Lain-lain
JUMLAH BEBAN (16 s/d 22)
SURPLUS/DEFISIT DARI OPERASI (15-25)
(%)
Langkah 7 (Membuat Neraca, jurnal penutup akhir, dan Neraca Saldo Akhir)
Berdasarkan neraca saldo setelah penutupan LO, Fungsi Akuntansi PPKD
membuat neraca. Bersamaan dengan pembuatan neraca, Fungsi Akuntansi PPKD
membuat jurnal penutup akhir untuk menutup akun surplus (defisit) – LO ke
akun ekuitas.
Kemudian, setelah membuat jurnal penutup akhir, Fungsi Akuntansi PPKD
menyusun neraca saldo akhir. Neraca saldo akhir ini akan menjadi neraca awal
untuk periode akuntansi yang selanjutnya.
162
SKPD
NERACA
PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
Uraian
(Dalam Rupiah)
20X1
20X0
ASET
ASET LANCAR
Kas di Kas Daerah
Kas di Bendahara Pengeluaran
Kas di Bendahara Penerimaan
Investasi Jangka Pendek
Piutang Pajak
Piutang Retribusi
Penyisihan Piutang
Belanja Dibayar Dimuka
Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Negara
Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah
Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Pusat
Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya
Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran
Bagian lancar Tuntutan Ganti Rugi
Piutang Lainnya
Persediaan
Jumlah Aset Lancar (4 s/d 19)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
(xxx)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
(xxx)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
ASET TETAP
Tanah
Peralatan dan Mesin
Gedung dan Bangunan
Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Aset Tetap Lainnya
Konstruksi dalam Pengerjaan
Akumulasi Penyusutan
Jumlah Aset Tetap (24 s/d 30)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
(xxx)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
(xxx)
xxx
DANA CADANGAN
Dana Cadangan
Jumlah Dana Cadangan (34)
xxx
xxx
xxx
xxx
ASET LAINNYA
Tagihan Penjualan Angsuran
Tuntutan Ganti Rugi
Kemitraan dengan Pihak Ketiga
Aset Tak Berwujud
Aset Lain-Lain
Jumlah Aset Lainnya (38 s/d 42)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
JUMLAH ASET (20+31+35+43)
KEWAJIBAN
KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK)
Utang Bunga
Bagian Lancar Utang Jangka Panjang
Pendapatan Diterima Dimuka
Utang Belanja
Utang Jangka Pendek Lainnya
Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (50 s/d 55)
JUMLAH KEWAJIBAN (A56
EKUITAS
EKUITAS
JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (58+61)
163
xxx
xxxx
xxx
xxxx
Langkah 8 (Membuat Laporan Perubahan Ekuitas)
Selanjutnya, Fungsi Akuntansi SKPD membuat laporan perubahan ekuitas
menggunakan data ekuitas awal dan data perubahan ekuitas periode berjalan
yang
salah satunya diperoleh dari laporan opersional yang telah dibuat
sebelumnya. Laporan perubahan ekuitas ini akan menggambarkan pergerakan
ekuitas SKPD. Berikut merupakan contoh format laporan perubahan ekuitas
SKPD.
Berikut merupakan contoh format laporan perubahan ekuitas SKPD.
SKPD
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
NO
1
2
3
4
5
6
7
URAIAN
EKUITAS AWAL
SURPLUS/DEFISIT-LO
DAMPAK KUMULATIF PERUBAHAN KEBIJAKAN/KESALAHAN MENDASAR:
KOREKSI NILAI PERSEDIAAN
SELISIH REVALUASI ASET TETAP
LAIN-LAIN
EKUITAS AKHIR
20X1
20X0
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
Langkah 9 (Membuat Catatan atas Laporan Keuangan)
Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka
yang tertera dalam laporan realisasi anggaran, laporan perubahan SAL, laporan
operasional, laporan perubahan ekuitas, neraca, dan laporan arus kas. Hal-hal
yang diungkapkan di dalam catatan atas laporan keuangan antara lain:
a. Informasi umum tentang entitas pelaporan dan entitas akuntansi;
b. Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan dan ekonomi makro;
c. Ikhtisar pencapaian target keuangan selama tahun pelaporan berikut
kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target;
d. Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakankebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-transaksi
dan kejadian-kejadian penting lainnya; Rincian dan penjelasan masingmasing pos yang disajikan pada lembar muka laporan keuangan;
164
e. Informasi
yang
diharuskan
oleh
Pernyataan
Standar
Akuntansi
Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan;
dan
f. Informasi lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang tidak
disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.
Catatan atas
Laporan Keuangan
SKPD A
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
Bab I
Bab II
Pendahuluan
1.1
Maksud dan tujuan penyusunan laporan keuangan Pemda
1.2
Landasan hukum penyusunan laporan keuangan Pemda
1.3
Sistematika penulisan catatan atas laporan keuangan Pemda
Ekonomi makro, kebijakan keuangan dan pencapaian target kinerja
APBD Pemda
Bab III
2.1
Ekonomi makro
2.2
Kebijakan keuangan
2.3
Indikator pencapaian target kinerja APBD
Ikhtisar pencapaian kinerja keuangan Pemda
3.1
Ikhtisar realisasi pencapaian target kinerja keuangan Pemda
3.2
Hambatan dan kendala yang ada dalam pencapaian target yang
telah ditetapkan
Bab IV
Kebijakan akuntansi
4.1
Entitas akuntansi / entitas pelaporan keuangan daerah Pemda
4.2
Basis
akuntansi
yang
mendasari
penyusunan
laporan
penyusunan
laporan
keuangan Pemda
4.3
Basis
pengukuran
yang
mendasari
keuangan Pemda
4.4
Penerapan kebijakan akuntansi berkaitan dengan ketentuan
yang ada dalam SAP pada Pemda
165
Bab V
Penjelesan pos-pos laporan keuangan Pemda
5.1
Rincian dari penjelasan masing-masing pos-pos pelaporan
keuangan Pemda
5.2
5.1.1
Pendapatan
5.1.2
Beban
5.1.3
Belanja
5.1.4
Aset
5.1.5
Kewajiban
5.1.5
Ekuitas Dana
Pengungkapan atas pos-pos aset dan kewajiban yang timbul
sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan
dan belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas,
untuk entitas akuntansi/entitas pelaporan yang menggunakan
basis akrual pada Pemda.
Bab VI
Penjelasan atas informasi-informasi nonkeuangan Pemda
Bab VII
Penutup
166
Surat Pertanyaan Tanggung
Jawab
SURAT PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB
KEPALA SKPD
DINAS/BADAN/KANTOR……….
Pernyataan Tanggung Jawab
Laporan Keuangan Dinas/Badan/Kantor………… Tahun Anggaran…………..
sebagaimana terlampir adalah merupakan tanggung jawab kami.
Laporan Keuangan tersebut telah disusun berdasarkan sistem pengendalian
internal yang memadai, dan isinya telah menyajikan informasi pelaksanaan
anggaran dan posisi keuangan secara layak sesuai dengan Standar
Akuntansi Pemerintahan.
Jakarta, ……….……………
Kepala Dinas/Badan/Kantor
(…………………..……………………….)
NIP.
167
C. PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN SKPKD/PPKD
Secara umum penyusunan laporan keuangan di SKPKD/PPKD mengikuti
prosedur yang sama dengan penyusunan laporan keuangan di SKPD.
Perbedaannya hanya karena adanya beberapa rekening yang hanya dikelola di
SKPKD
dan
tidak
dijumpai
di
SKPD
seperti
perimbangan, belanja bunga, belanja bantuan
pendapatan
dari
dana
sosial, pembiayaan dan
sebagainya. Selain itu, di PPKD diwajibkan untuk menyusun laporan arus kas
secara periodik dimana hal tersebut tidak dilakukan di SKPD.
Karena perbedaan rekening yang dikelola tersebut maka format laporan
realisasi anggaran dan neraca di SKPKD sedikit berbeda dengan format untuk
SKPD pada umumnya. Format LRA dan Neraca untuk SKPKD/PPKD tersebut
dapat dilihat pada lampiran.
Untuk Laporan Arus Kas, pada intinya PPKD melaporkan arus kas masuk dan
keluar dari rekening kas daerah untuk periode tertentu. Pembagian klasifikasi
arus kas tersebut mencakup:

Arus Kas dari Aktivitas Operasi

Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Nonkeuangan

Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan

Arus Kas dari Aktivitas Nonanggaran
Rincian lebih lanjut mengenai arus kas masuk dan keluar untuk masingmasing aktivitas tersebut diatas dapat dilihat pada format laporan arus kas
pada lampiran.
168
D. PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH
1. Ketentuan Umum
Laporan keuangan PPKD yang dimaksud adalah laporan keuangan yang
dihasilkan melalui proses akuntansi lanjutan yang dilakukan oleh Fungsi
Akuntansi PPKD. Jurnal dan posting yang telah dilakukan menjadi dasar
dalam penyusunan laporan keuangan.
Terdapat 7 Laporan Keuangan yang dibuat oleh PPKD, yaitu:
a. Laporan Realisasi Anggaran (LRA);
b. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL);
c. Neraca;
d. Laporan Operasional (LO);
e. Laporan Arus Kas (LAK);
f. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE); dan
g. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
Bagan berikut menunjukkan proses penyusunan Laporan Keuangan PPKD:
Menyiapkan kertas
kerja
mengisi Neraca
Saldo sblm
Penyesuaian
Jurnal Penyesuaian
Neraca Saldo
Setelah Penyesuaian
Membuat Laporan
Perubahan SAL
Penyusunan Neraca,
membuat jurnal
penutup akhir dan
NS akhir
Penyusunan LO,
membuat jurnal
penutup LO dan NS
stlh penutupan LO
Penyusunan LRA,
membuat jurnal
penutup LRA dan NS
stlh penutupan LRA
Membuat Laporan
Perbahan Ekuitas
Membuat Laporan
Arus Kas
Membuat Catatan
atas Laporan
Keuangan
169
2. Pihak-Pihak Terkait
Pihak-pihak yang melaksanakan penyusunan laporan keuangan pemerintah
daerah adalah sebagai berikut :
a. Fungsi Akuntansi PPKD;
b. Bendahara PPKD;
c. PPKD.
3. Langkah-Langkah Teknis
Langkah 1 (Penyiapan Kertas Kerja)
Fungsi Akuntansi PPKD menyiapkan kertas kerja (worksheet) 6 lajur sebagai alat
untuk menyusun laporan keuangan. Kerta kerja adalah alat bantu yang
digunakan dalam proses pembuatan laporan keuangan. Kertas kerja berguna
untuk mempermudah proses pembuatan laporan keuangan yang dihasilkan secara
manual.
Format dokumen kertas kerja (worksheet)
Penggunaan
format
dalam
hal
ini
disesuaikan
dengan
kebutuhan
yang
berkembang. Contoh format kertas kerja di bawah ini menunjukkan informasi
minimal yang harus ada disetiap pengembangan berikutnya.
Kode
Neraca
Uraian
Rekening
Saldo (NS)
D
K
Penyesuaian
D
K
NS
Setelah
Penyesuaian
D
K
170
Langkah 2 (Pengisian Neraca Saldo)
Fungsi Akuntansi PPKD melakukan rekapitulasi saldo-saldo buku besar menjadi
neraca saldo. Angka-angka neraca saldo tersebut diletakkan di kolom “Neraca
Saldo” yang terdapat pada Kertas Kerja.
Langkah 3 (Jurnal Penyesuaian)
Akuntansi PPKD membuat jurnal penyesuaian. Jurnal ini dibuat dengan tujuan
melakukan penyesuaian atas saldo pada akun-akun tertentu dan pengakuan atas
transaksi-transaksi yang bersifat akrual. Jurnal penyesuaian tersebut diletakkan
dalam kolom “Penyesuaian” yang terdapat pada Kertas Kerja.
Jurnal penyesuaian yang diperlukan antara lain digunakan untuk:

Koreksi kesalahan

Pencatatan jurnal yang belum dilakukan

Pemindahbukuan

Pencatatan piutang dan persediaan pada akhir tahun
Langkah 4 (Neraca Saldo Setelah Penyesuaian)
Fungsi Akuntansi PPKD melakukan penyesuaian atas neraca saldo berdasarkan
jurnal penyesuaian yang telah dibuat sebelumnya. Nilai yang telah disesuaikan
diletakkan pada kolom neraca saldo setelah penyesuaian.
Langkah 5 (Membuat LRA, membuat jurnal penutup LRA, dan Neraca Saldo
setelah Penutupan LRA)
Berdasarkan neraca saldo yang telah disesuaikan, Fungsi Akuntansi PPKD
mengidentifikasi akun-akun yang termasuk dalam komponen Laporan Realisasi
Anggaran (kode rekening yang berawalan 4, 5, 6 dan 7) dan kemudian membuat
“Laporan Realisasi Anggaran”.
Nilai
kolom
debit
dan
kredit
pada
kolom
”Laporan
Realisasi
Anggaran”
dijumlahkan. Akan didapat jumlah yang berbeda antara kedua kolom (tidak
balance). Selisih antara kedua nilai ini merupakan nilai ” SILPA tahun berjalan”.
171
Nilai ini ditempatkan di bawah kolom yang nilainya lebih kecil, sehingga akan
diperoleh nilai yang seimbang antara kolom debit dan kredit.
Bersamaan dengan pembuatan LRA, PPKD juga membuat jurnal penutup untuk
menutup akun-akun LRA. Prinsip penutupan ini adalah membuat nilai akun-akun
LRA menjadi 0.
Kemudian,
setelah
membuat
jurnal
penutupan,
Fungsi
Akuntansi
PPKD
menyusun neraca saldo setelah penutupan LRA.
172
Ilustrasi Laporan Realisasi Anggaran
PPKD
PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0
(Dalam Rupiah)
NO.
URAIAN
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
PENDAPATAN
PENDAPATAN ASLI DAERAH
Pendapatan Pajak Daerah
Pendapatan Retribusi Daerah
Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
Lain-lain PAD yang sah
Jumlah Pendapatan Asli Daerah (3 s/d 6)
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
89
90
91
92
93
94
95
TRANSFER
TRANSFER/BAGI HASIL KE DESA
Bagi Hasil Pajak
Bagi Hasil Retribusi
Bagi Hasil Pendapatan Lainnya
JUMLAH TRANSFER/BAGI HASIL KE DESA (61 s/d 63)
JUMLAH BELANJA DAN TRANSFER (57 + 64)
Anggaran Realisasi
20X1
20X1
(%)
Realisasi
20X0
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xx
xx
xx
xx
xx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xx
xx
xx
xx
xx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
TRANSFER PEMERINTAH PUSAT - LAINNYA
Dana Otonomi Khusus
Dana Penyesuaian
Jumlah Pendapatan Transfer Pemerintah Pusat - Lainnya (18 s/d 19)
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxxx
xx
xx
xx
xxx
xxx
xxxx
TRANSFER PEMERINTAH PROVINSI
Pendapatan Bagi Hasil Pajak
Pendapatan Bagi Hasil Lainnya
Jumlah Transfer Pemerintah Provinsi (23 s/d 24)
Total Pendapatan Transfer (15 + 20 + 25)
xxx
xxx
xxxx
xxxx
xxx
xxx
xxxx
xxxx
xx
xx
xx
xx
xxx
xxx
xxxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xx
xx
xx
xx
xx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
BELANJA MODAL
Belanja Tanah
Belanja Peralatan dan Mesin
Belanja Gedung dan Bangunan
Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan
Belanja Aset Tetap Lainnya
Belanja Aset Lainnya
Jumlah Belanja Modal (46 s/d 51)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
BELANJA TAK TERDUGA
Belanja Tak Terduga
Jumlah Belanja Tak Terduga (55 s/d 55)
JUMLAH BELANJA (43 + 52 + 56)
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxxx
xxxx
xx
xx
xx
xxx
xxxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xx
xx
xx
xx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
PENERIMAAN PEMBIAYAAN
Penggunaan SiLPA
Pencairan Dana Cadangan
Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat
Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya
Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank
Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank
Pinjaman Dalam Negeri - Obligasi
Pinjaman Dalam Negeri - Lainnya
Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara
Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah
Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya
Jumlah Penerimaan (72 s/d 83)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
PENGELUARAN PEMBIAYAAN
Pembentukan Dana Cadangan
Penyertaan Modal Pemerintah Daerah
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Obligasi
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Lainnya
Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara
Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah
Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya
Jumlah Pengeluaran (87 s/d 91)
PEMBIAYAAN NETO (84 - 92)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (67 + 93)
xxxx
xxxx
xx
xxxx
PENDAPATAN TRANSFER
TRANSFER PEMERINTAH PUSAT - DANA PERIMBANGAN
Dana Bagi Hasil Pajak
Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
Jumlah Pendapatan Transfer Dana Perimbangan (11 s/d 14)
LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH
Pendapatan Hibah
Pendapatan Dana Darurat
Pendapatan Lainnya
Jumlah Lain-lain Pendapatan yang Sah (29 s/d 31)
JUMLAH PENDAPATAN (7 + 26 + 32)
BELANJA
BELANJA OPERASI
Belanja Pegawai
Belanja Barang
Bunga
Subsidi
Hibah
Bantuan Sosial
Jumlah Belanja Operasi (37 s/d 42)
SURPLUS/DEFISIT (33 - 65)
PEMBIAYAAN
173
Langkah 6 (Membuat LO, jurnal penutup LO dan Neraca Saldo setelah
Penutupan LO)
Berdasarkan neraca saldo setelah penutupan LRA, PPKD mengidentifikasi akunakun yang termasuk dalam komponen Laporan Operasional (kode rekening yang
berawalan 8 dan 9) untuk kemudian membuat Laporan Operasional.
Bersamaan dengan pembuatan LO, Fungsi Akuntansi PPKD juga membuat jurnal
penutup untuk menutup akun-akun LO. Prinsip penutupan ini adalah membuat
nilai akun-akun LO menjadi 0.
Kemudian,
setelah
membuat
jurnal
penutupan,
Fungsi
Akuntansi
PPKD
menyusun neraca saldo setelah penutupan LO.
174
Ilustrasi Laporan Operasional PPKD
PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
LAPORAN OPERASIONAL
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0
(Dalam rupiah)
20X1
20X0
Kenaikan/
Penurunan
(%)
KEGIATAN OPERASIONAL
PENDAPATAN
PENDAPATAN ASLI DAERAH
Pendapatan Pajak Daerah
Pendapatan Retribusi Daerah
Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
Pendapatan Asli Daerah Lainnya
Jumlah Pendapatan Asli Daerah( 3 s/d 6 )
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
PENDAPATAN TRANSFER
TRANSFER PEMERINTAH PUSAT-DANA PERIMBANGAN
Dana Bagi Hasil Pajak
Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
Jumlah Pendapatan Transfer Dana Perimbangan (11 s/d 14)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
TRANSFER PEMERINTAH PUSAT LAINNYA
Dana Otonomi Khusus
Dana Penyesuaian
Jumlah Pendapatan Transfer Lainnya (18 s/d 19 )
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
TRANSFER PEMERINTAH PROVINSI
Pendapatan Bagi Hasil Pajak
Pendapatan Bagi Hasil Lainnya
Jumlah Pendapatan Transfer Pemerintah Provinsi (23 s/d 24)
Jumlah Pendapatan Transfer (15 + 20 + 25)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
SURPLUS/DEFISIT DARI KEGIATAN NON OPERASIONAL
Surplus Penjualan Aset Nonlancar
Surplus Penyelesaian Kewajiban Jangka Panjang
Defisit Penjualan Aset Nonlancar
Defisit Penyelesaian Kewajiban Jangka Panjang
Surplus/Defisit dari Kegiatan Non Operasional Lainnya
JUMLAH SURPLUS/DEFISIT DARI KEGIATAN NON OPERASIONAL(53 s/d 57)
SURPLUS/DEFISIT SEBELUM POS LUAR BIASA (50 + 58)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
POS LUAR BIASA
Pendapatan Luar Biasa
Beban Luar Biasa
POS LUAR BIASA ( 62-63)
SURPLUS/DEFISIT-LO ( 59 + 64)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
URAIAN
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH
Pendapatan Hibah
Pendapatan Dana Darurat
Pendapatan Lainnya
Jumlah Lain-lain Pendapatan yang sah (29 s/d 31)
JUMLAH PENDAPATAN (7 + 26 + 32)
BEBAN
Beban Pegawai
Beban Persediaan
Beban Jasa
Beban Pemeliharaan
Beban Perjalanan Dinas
Beban Bunga
Beban Subsidi
Beban Hibah
Beban Bantuan Sosial
Beban Penyusutan
Beban Transfer
Beban Lain-lain
JUMLAH BEBAN (36 s/d 47)
SURPLUS/DEFISIT DARI OPERASI (33-48)
175
Langkah 7 (Membuat neraca, jurnal penutup akhir, dan neraca saldo akhir)
Berdasarkan neraca saldo setelah penutupan LO, PPKD membuat neraca.
Bersamaan dengan pembuatan neraca, Fungsi Akuntansi PPKD membuat jurnal
penutup akhir untuk menutup akun surplus (defisit) – LO ke akun ekuitas.
Kemudian, setelah membuat jurnal penutup akhir, Fungsi Akuntansi PPKD
menyusun neraca saldo akhir. Neraca saldo akhir ini akan menjadi neraca awal
untuk periode akuntansi yang selanjutnya.
176
Ilustrasi Neraca PPKD
PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN /KOTA
NERACA
PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
(Dalam Rupiah)
Uraian
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
20X1
20X0
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
(xxx)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
(xxx)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
ASET TETAP
Tanah
Peralatan dan Mesin
Gedung dan Bangunan
Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Aset Tetap Lainnya
Konstruksi dalam Pengerjaan
Akumulasi Penyusutan
Jumlah Aset Tetap (36 s/d 42)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
(xxx)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
(xxx)
xxx
DANA CADANGAN
Dana Cadangan
Jumlah Dana Cadangan (46)
xxx
xxx
xxx
xxx
ASET LAINNYA
Tagihan Penjualan Angsuran
Tuntutan Ganti Rugi
Kemitraan dengan Pihak Ketiga
Aset Tak Berwujud
Aset Lain-Lain
Jumlah Aset Lainnya (50 s/d 54)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxxx
KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK)
Utang Bunga
Bagian Lancar Utang Jangka Panjang
Pendapatan Diterima Dimuka
Utang Belanja
Utang Jangka Pendek Lainnya
Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (62 s/d 67)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
Utang Dalam Negeri - Sektor Perbankan
Utang Dalam Negeri - Obligasi
Premium (Diskonto) Obligasi
Utang Jangka Panjang Lainnya
Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (71 s/d 74)
JUMLAH KEWAJIBAN (68+75)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxxx
xxx
xxxx
ASET
ASET LANCAR
Kas di Kas Daerah
Kas di Bendahara Pengeluaran
Kas di Bendahara Penerimaan
Investasi Jangka Pendek
Piutang Pajak
Piutang Retribusi
Penyisihan Piutang
Belanja Dibayar Dimuka
Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Negara
Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah
Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Pusat
Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya
Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran
Bagian lancar Tuntutan Ganti Rugi
Piutang Lainnya
Persediaan
Jumlah Aset Lancar (4 s/d 19)
INVESTASI JANGKA PANJANG
Investasi Nonpermanen
Pinjaman Jangka Panjang
Investasi dalam Surat Utang Negara
Investasi dalam Proyek Pembangunan
Investasi Nonpermanen Lainnya
Jumlah Investasi Nonpermanen (24 s/d 27)
Investasi Permanen
Penyertaan Modal Pemerintah Daerah
Investasi Permanen Lainnya
Jumlah Investasi Permanen (30 s/d 31)
Jumlah Investasi Jangka Panjang (28 + 32)
JUMLAH ASET (20+33+43+47+55)
KEWAJIBAN
EKUITAS
EKUITAS
JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (76+79)
177
Langkah 8 (Membuat Laporan Perubahan SAL)
Dari Laporan Realisasi Anggaran yang telah dibuat sebelumnya, Fungsi Akuntansi
PPKD dapat menyusun Laporan Perubahan SAL. Laporan Perubahan SAL ini
merupakan akumulasi SiLPA periode berjalan dan tahun-tahun sebelumnya. Berikut
ini merupakan contoh format laporan perubahan SAL PPKD.
PEMERINTAH DAERAH
LAPORAN PERUBAHAN SALDO ANGGARAN LEBIH
PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
URAIAN
20X1
Saldo Anggaran Lebih Awal
Penggunaan SAL sebagai Penerimaan Pembiayaan Tahun Berjalan
Subtotal (1 - 2)
Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran (SiLPA/SiKPA)
Subtotal (3 + 4)
Koreksi Kesalahan Pembukuan Tahun Sebelumnya
Lain-lain
Saldo Anggaran Lebih Akhir (5 + 6 + 7)
XXX
(XXX)
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
20X0
XXX
(XXX)
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
Langkah 9 (Membuat Laporan Perubahan Ekuitas)
Selanjutnya,
Fungsi
Akuntansi
PPKD
membuat
laporan
perubahan
ekuitas
menggunakan data ekuitas awal dan data perubahan ekuitas periode berjalan yang
salah satunya diperoleh dari laporan opersional yang telah dibuat sebelumnya.
Laporan perubahan ekuitas ini akan menggambarkan pergerakan ekuitas PPKD.
Berikut merupakan contoh format laporan perubahan ekuitas PPKD.
Berikut merupakan contoh format laporan perubahan ekuitas PPKD.
178
PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
NO
1
2
3
4
5
6
7
URAIAN
EKUITAS AWAL
SURPLUS/DEFISIT-LO
DAMPAK KUMULATIF PERUBAHAN KEBIJAKAN/KESALAHAN MENDASAR:
KOREKSI NILAI PERSEDIAAN
SELISIH REVALUASI ASET TETAP
LAIN-LAIN
EKUITAS AKHIR
20X1
20X0
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
Langkah 10 (Membuat Laporan Arus Kas)
Laporan arus kas disusun oleh Bendahara Umum Daerah. Inti unsur dari Laporan
arus kas ialah penerimaan kas dan pengeluaran kas. Informasi tersebut dapat
diperoleh dari buku besar kas dan juga jurnal yang telah dibuat sebelumnya.
Semua transaksi terkait arus kas tersebut kemudian diklasifikasikan ke dalam
aktivitas operasi, aktivitas investasi, aktivitas pendanaan, aktivitas transitoris.
Berikut merupakan contoh format laporan arus kas.
179
PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
LAPORAN ARUS KAS
Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0
Metode Langsung
Uraian
No.
1 Arus Kas dari Aktivitas Operasi
2 Arus Masuk Kas
3
Penerimaan Pajak Daerah
4
Penerimaan Retribusi Daerah
5
Penerimaan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
6
Penerimaan Lain-lain PAD yang sah
7
Penerimaan Dana Bagi Hasil Pajak
8
Penerimaan Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam
9
Penerimaan Dana Alokasi Umum
10
Penerimaan Dana Alokasi Khusus
11
Penerimaan Dana Otonomi Khusus
12
Penerimaan Dana Penyesuaian
13
Penerimaan Pendapatan Bagi Hasil Pajak
14
Penerimaan Bagi Hasil Lainnya
15
Penerimaan Hibah
16
Penerimaan Dana Darurat
17
Penerimaan Lainnya
18
Penerimaan dari Pendapatan Luar Biasa
19
Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 18)
20 Arus Keluar Kas
21
Pembayaran Pegawai
22
Pembayaran Barang
23
Pembayaran Bunga
24
Pembayaran Subsidi
25
Pembayaran Hibah
26
Pembayaran Bantuan Sosial
27
Pembayaran Tak Terduga
28
Pembayaran Bagi Hasil Pajak
29
Pembayaran Bagi Hasil Retribusi
30
Pembayaran Bagi Hasil Pendapatan Lainnya
31
Pembayaran Kejadian Luar Biasa
32
Jumlah Arus Keluar Kas (21 s/d 31)
20X1
(Dalam Rupiah)
20X0
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
33
Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (18 - 30)
34 Arus Kas dari Aktivitas Investasi
35 Arus Masuk Kas
36
Pencairan Dana Cadangan
37
Penjualan atas Tanah
38
Penjualan atas Peralatan dan Mesin
39
Penjualan atas Gedung dan Bangunan
40
Penjualan atas Jalan, Irigasi dan Jaringan
41
Penjualan Aset Tetap
42
Penjualan Aset Lainnya
43
Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
44
Penerimaan Penjualan Investasi Non Permanen
45
Jumlah Arus Masuk Kas (36 s/d 44)
46 Arus Keluar Kas
47
Pembentukan Dana Cadangan
48
Perolehan Tanah
49
Perolehan Peralatan dan Mesin
50
Perolehan Gedung dan Bangunan
51
Perolehan Jalan, Irigasi dan Jaringan
52
Perolehan Aset Tetap Lainnya
53
Perolehan Aset Lainnya
54
Penyertaan Modal Pemerintah Daerah
55
Pengeluaran Pembelian Investasi Non Permanen
56
Jumlah Arus Keluar Kas (47 s/d 55)
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
57
XXX
XXX
Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi (45 - 56)
180
58 Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
59 Arus Masuk Kas
60
Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat
61
Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya
62
Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank
63
Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank
64
Pinjaman Dalam Negeri - Obligasi
65
Pinjaman Dalam Negeri - Lainnya
66
Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara
67
Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah
68
Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
69
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
Jumlah Arus Masuk Kas (60 s/d 68)
Arus Keluar Kas
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Obligasi
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Lainnya
Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara
Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah
Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya
Jumlah Arus Keluar Kas (71 s/d 79)
Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pendanaan (69 - 80)
Arus Kas dari Aktivitas Transitoris
Arus Masuk Kas
Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)
Jumlah Arus Masuk Kas (84)
Arus Keluar Kas
Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)
Jumlah Arus Keluar Kas (87)
Arus Kas Bersih dari Aktivitas transitoris (84 - 87)
Kenaikan/Penurunan Kas
Saldo Awal Kas di BUD & Kas di Bendahara Pengeluaran
Saldo Akhir Kas di BUD & Kas di Bendahara Pengeluaran (90+91)
Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan
Saldo Akhir Kas (92+93)
181
Langkah 11 (Membuat Catatan atas Laporan Keuangan)
Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka
yang tertera dalam laporan realisasi anggaran, laporan perubahan SAL, laporan
operasional, laporan perubahan ekuitas, neraca, dan laporan arus kas. Hal-hal yang
diungkapkan di dalam catatan atas laporan keuangan antara lain:

Informasi umum tentang entitas pelaporan dan entitas akuntansi;

Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan dan ekonomi makro;

Ikhtisar pencapaian target keuangan selama tahun pelaporan berikut
kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target;

Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakankebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-transaksi
dan kejadian-kejadian penting lainnya;

Rincian dan penjelasan masing-masing pos yang disajikan pada lembar
muka laporan keuangan;

Informasi
yang
diharuskan
oleh
Pernyataan
Standar
Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka
Akuntansi
laporan
keuangan; dan

Informasi lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang tidak
disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.
182
Catatan Atas Laporan Keuangan PPKD
PEMERINTAH KOTA BEKASI
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
PPKD
PENDAHULUAN
Bab I
Bab II
Pendahuluan
1.1
Maksud dan tujuan penyusunan laporan keuangan PPKD
1.2
Landasan hukum penyusunan laporan keuangan PPKD
1.3
Sistematika penulisan catatan atas laporan keuangan PPKD
Ekonomi makro, kebijakan keuangan dan pencapaian target kinerja
APBD PPKD
2.1
Ekonomi makro
2.2
Kebijakan keuangan
2.3
Indikator pencapaian target kinerja APBD
Bab III
Ikhtisar pencapaian kinerja keuangan PPKD
3.1
Ikhtisar realisasi pencapaian target kinerja keuangan PPKD
3.2
Hambatan dan kendala yang ada dalam pencapaian target
yang telah ditetapkan
Bab IV
Kebijakan akuntansi
4.1
Entitas akuntansi / entitas pelaporan keuangan daerah PPKD
4.2
Basis
akuntansi
yang
mendasari
penyusunan
laporan
keuangan PPKD
4.3
Basis pengukuran yang mendasari penyusunan laporan
keuangan PPKD
183
4.4
Penerapan kebijakan akuntansi berkaitan dengan ketentuan
yang ada dalam SAP pada PPKD
Bab V
Penjelasan pos-pos laporan keuangan PPKD
5.1
Rincian dari penjelasan masing-masing pos-pos pelaporan
keuangan PPKD
5.2
5.1.1
Pendapatan – LRA
5.1.2
Belanja
5.1.3
Transfer
5.1.4
Pembiayaan
5.1.5
Pendapatan – LO
5.1.6
Beban
5.1.7
Aset
5.1.8
Kewajiban
5.1.9
Ekuitas Dana
Pengungkapan atas pos-pos aset cjan kewajiban yang timbul
sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan
dan belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas,
untuk
entitas
akuntansi/entitas
pelaporan
yang
rnenggunakan basis akrual pada PPKD.
Bab VI
Penjelasan atas informasi-informasi non keuangan PPKD
Bab VII
Penutup
184
Surat Pertanyaan Tanggung
Jawab
SURAT PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB
PPKD
Pernyataan Tanggung Jawab
Laporan Keuangan PPKD Tahun Anggaran………….. sebagaimana terlampir adalah
merupakan tanggung jawab kami.
Laporan Keuangan tersebut telah disusun berdasarkan sistem pengendalian intern
yang memadai, dam isinya telah menyajikan informasi pelaksanaan anggaran
dan
posisi
keuangan
secara
layak
sesuai
dengan
Standar
Akuntansi
Pemerintahan.
……………, ………………
PPKD
(…………………………….)
185
E. KONVERSI DARI REKENING PERMENDAGRI KE REKENING SAP
Sebagaimana yang telah disinggung di depan, bahwa terdapat perbedaan antara
rekening laporan realisasi anggaran dalam SAP dengan rekening menurut
permendagri/rekening APBDnya, untuk itu maka diperlukan konversi dari
rekening permendagri/APBD tersebut ke rekening LRA menurut SAP.
Pada bagan di bawah ini akan diuraikan konversi rekening dari rekening LRA versi
Permendagri/APBD (sisi kanan) ke rekening LRA versi SAP (sisi kiri). Untuk
rekening versi Permendagri/APBD hanya diuraikan sampai dengan obyek (4 digit),
uraian rincian obyek dibawahnya mengikuti konversi obyeknya.
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
PENDAPATAN
PENDAPATAN
PENDAPATAN ASLI
DAERAH
PENDAPATAN
DAERAH
Pendapatan
Pajak
Daerah
ASLI
Pendapatan Pajak Daerah
0
Pajak Hotel
0
Pajak Restoran
0
Pajak Hiburan
0
Pajak Reklame
0
Pajak Penerangan Jalan
0
Pajak Pengambilan Bahan
186
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
Galian Golongan C
0
Pajak Parkir
0
Pajak Air Bawah Tanah
0
Pajak
Walet
Sarang
Burung
1
Pajak Lingkungan
1
Pajak Daerah Lainnya
Pendapatan
Retribusi
Daerah
Hasil Retribusi Daerah
0
Retribusi Jasa Umum
0
Retribusi Jasa Usaha
0
Retribusi
Tertentu
Pendapatan
Hasil
Pengelolaa
n
Kekayaan
Daerah
Yang
Dipisahka
n
Perizinan
Hasil
Pengelolaan
Kekayaan Daerah yang
Dipisahkan
0
Bagian
Laba
atas
Penyertaan Modal pada
Perusahaan
Milik
Daerah/BUMD
0
Bagian
Laba
atas
Penyertaan Modal pada
187
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
Perusahaan
Pemerintah/BUMN
0
Lain-lain
Pendapatan Asli
Daerah
yang
Sah
Milik
Bagian
Laba
atas
Penyertaan
Modal
pada
Perusahaan
Milik Swasta
Lain-lain
Pendapatan
Asli Daerah yang Sah
0
Hasil Penjualan Aset
Daerah yang Tidak
Dipisahkan
0
Penerimaan Jasa Giro
0
Penerimaan
Deposito
0
Tuntutan
Kerugian
(TGR)
0
Komisi, Potongan, dan
Selisih Nilai Tukar
Rupiah
0
Pendapatan
Denda
Keterlambatan
Pelaksanaan
Pekerjaan
0
Pendapatan
Pajak
Denda
0
Pendapatan
Retribusi
Denda
0
Pendapatan
Eksekusi
Jaminan
Hasil
atas
1
Pendapatan
dari
Bunga
Ganti
Daerah
188
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
Pengembalian
1
Fasilitas Sosial
Fasilitas Umum
dan
1
Pendapatan
Penyelenggaraan
Pendidikan
Pelatihan
dari
dan
1
Pendapatan
dari
Angsuran/Cicilan
Penjualan
1
Penerimaan Lain-Lain
PENDAPATAN
TRANSFER
Transfer
Pemerintah
Pusat - Dana
Perimbangan
DANA PERIMBANGAN
Bagi Hasil Pajak/Bagi
Hasil Bukan Pajak
Dana
Bagi
Hasil Pajak
0
Bagi Hasil Pajak
Dana
Bagi
Hasil
Bukan
Pajak
(Sumber
Daya
Alam)
0
Bagi
Hasil
Bukan
Pajak/Sumber
Daya
Alam
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi
Umum
0
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
189
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
Dana Alokasi
Khusus
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
0
Dana Alokasi Khusus
LAIN-LAIN
PENDAPATAN
DAERAH YANG SAH
Transfer
Pemerintah
Pusat
Lainnya
Dana Penyesuaian dan
Otonomi Khusus
Dana Otonomi
Khusus
0
Dana Otonomi Khusus
Dana
Penyesuaia
n
0
Dana Penyesuaian
Transfer
Pemerintah
Provinsi
Pendapatan
Bagi Hasil
Pajak
Dana Bagi Hasil Pajak
dari
Provinsi
dan
Pemerintah
Daerah
Lainnya
0
Dana Bagi Hasil Pajak
dari Provinsi
0
Dana Bagi Hasil Pajak
dari Provinsi Lain
0
Dana Bagi Hasil Pajak
dari Kota
0
Dana Bagi Hasil Pajak
dari Kota Lain
LAIN-LAIN
PENDAPATAN
YANG SAH
Pendapatan
Hibah
Pendapatan Hibah
190
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
0
Pendapatan
Hibah
dari Pemerintah
0
Pendapatan
Hibah
dari
Pemerintah
Daerah Lainnya
0
Pendapatan
Hibah
dari
Badan/Lembaga/O
rganisasi
Swasta
Dalam Negeri
0
Pendapatan
Hibah
dari
Kelompok
masyarakat/perora
ngan
0
Pendapatan
Hibah
dari Luar Negeri
Pendapatan
Dana
Darurat
Dana Darurat
0
Pendapatan
Lainnya
Penanggulangan
Korban/Kerusakan
Akibat
Bencana
Alam
Bantuan Keuangan dari
Provinsi
atau
Pemerintah
Daerah
Lainnya
0
Bantuan
Keuangan
dari Provinsi
0
Bantuan
Keuangan
dari Kota
0
Bantuan
Keuangan
dari Kota
191
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
BELANJA
BELANJA
BELANJA OPERASI
Belanja
Pegawai
Belanja Pegawai (dari
BELANJA
TIDAK
LANGSUNG)
0
Gaji dan Tunjangan
0
Tambahan
Penghasilan PNS
0
Belanja
Penerimaan
Lainnya Pimpinan
dan Anggota DPRD
serta KDH/WKDH
0
Biaya
Pemungutan
Pajak Daerah
0
Belanja Perawatan dan
Pengobatan
Belanja Pegawai
BELANJA
LANGSUNG)
(dari
0
Honorarium PNS
0
Honorarium Non PNS
0
Uang Lembur
0
Belanja
Beasiswa
Pendidikan PNS
0
Belanja
Kursus,
Pelatihan,
Sosialisasi
dan
192
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
Bimbingan
PNS
Belanja
Barang
Teknis
Belanja Barang dan Jasa
(BELANJA
LANGSUNG)
0
Belanja Bahan Pakai
Habis Kantor
0
Belanja
Bahan/Material
0
Belanja Jasa Kantor
0
Belanja
Asuransi
0
Belanja
Perawatan
Kendaraan
Bermotor
0
Belanja Cetak
Penggandaan
0
Belanja
Sewa
Rumah/Gedung/G
udang/Parkir
0
Belanja Sewa Sarana
Mobilitas
0
Belanja
Sewa
Berat
1
Belanja
Sewa
Perlengkapan dan
Peralatan Kantor
1
Belanja Makanan dan
Minuman
1
Belanja Pakaian Dinas
dan Atributnya
1
Belanja Pakaian Kerja
Premi
dan
Alat
193
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
1
Belanja
Pakaian
Khusus dan Harihari tertentu
1
Belanja
Dinas
1
Belanja
Perjalanan
Pindah Tugas
1
Belanja
Pemulangan
Pegawai
1
Belanja Pemeliharaan
Belanja Bunga
Perjalanan
Belanja
(BELANJA
LANGSUNG)
Bunga
TIDAK
0
Bunga
Pinjaman
0
Bunga Utang Obligasi
Belanja
Subsidi
Belanja
(BELANJA
LANGSUNG)
0
Belanja Hibah
Utang
Subsidi
TIDAK
Belanja
Subsidi
kepada
Perusahaan/Lemba
ga
Belanja Hibah (BELANJA
TIDAK LANGSUNG)
0
Belanja Hibah kepada
Pemerintah Pusat
0
Belanja Hibah kepada
Pemerintah Daerah
Lainnya
0
Belanja Hibah kepada
Pemerintah Desa
194
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
0
Belanja Hibah kepada
Perusahaan
Daerah/BUMD/BU
MN
0
Belanja Hibah kepada
Badan/Lembaga/O
rganisasi Swasta
0
Belanja Hibah kepada
Kelompok
Masyarakat/Perora
ngan
Belanja
Bantuan
Sosial
Belanja Bantuan Sosial
(BELANJA
TIDAK
LANGSUNG)
0
Belanja
Bantuan
Sosial
Organisasi
Kemasyarakatan
0
Belanja
Bantuan
Partai Politik
Belanja
Bantuan
Keuangan
Belanja
Bantuan
Keuangan
kepada
Provinsi/Kota/Kota
dan
Pemerintahan
Desa
(BELANJA
TIDAK LANGSUNG)
0
Belanja
Bantuan
Keuangan kepada
Provinsi
0
Belanja
Bantuan
Keuangan kepada
Kota/Kota
0
Belanja
Bantuan
Keuangan kepada
Desa
0
Belanja
Bantuan
Keuangan kepada
195
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
Pemerintah
Daerah/Pemerinta
han Desa lainnya
BELANJA MODAL
Belanja Modal (BELANJA
LANGSUNG)
Belanja Tanah
0
Belanja
Modal
Pengadaan Tanah
Belanja
Peralatan
dan Mesin
0
Belanja
Pengadaan
alat Berat
0
Belanja
Modal
Pengadaan
Alatalat
Angkutan
Darat Bermotor
0
Belanja
Modal
Pengadaan
Alatalat
Angkutan
Darat
Tidak
Bermotor
0
Belanja
Modal
Pengadaan
Alatalat Angkutan di
atas Air Bermotor
0
Belanja
Modal
Pengadaan
Alatalat Angkutan di
atas
Air
Tidak
Bermotor
0
Belanja
Modal
Pengadaan
Alatalat
Angkutan
Udara
0
Belanja
Modal
Pengadaan
Alatalat Bengkel
Modal
Alat-
196
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
0
Belanja
Modal
Pengadaan
Alatalat
Pengolahan
Pertanian
dan
Peternakan
1
Belanja
Modal
Pengadaan
Peralatan Kantor
1
Belanja
Modal
Pengadaan
Perlengkapan
Kantor
1
Belanja
Pengadaan
Komputer
Modal
1
Belanja
Pengadaan
Meubelair
Modal
1
Belanja
Modal
Pengadaan
Peralatan Dapur
1
Belanja
Modal
Pengadaan
Penghias Ruangan
Rumah Tangga
1
Belanja
Pengadaan
alat Studio
1
Belanja
Modal
Pengadaan
Alatalat Komunikasi
1
Belanja
Pengadaan
alat Ukur
Modal
Alat-
1
Belanja
Pengadaan
Modal
Alat-
Modal
Alat-
197
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
alat Kedokteran
2
Belanja
Modal
Pengadaan
Alatalat Laboratorium
3
Belanja
Modal
Pengadaan
Alatalat
Persenjataan/Kea
manan
Belanja
Bangunan
dan
Gedung
2
Belanja
Modal
Pengadaan
Konstruksi/Pembel
ian*) Bangunan
Belanja Jalan,
Irigasi dan
Jaringan
2
Belanja
Modal
Pengadaan
Konstruksi Jalan
2
Belanja
Pengadaan
Konstruksi
Jembatan
2
Belanja
Modal
Pengadaan
Konstruksi
Jaringan Air
2
Belanja
Modal
Pengadaan
Penerangan Jalan,
Taman dan Hutan
Kota
2
Belanja
Modal
Pengadaan
Instalasi
Listrik
dan Telepon
2
Belanja
Modal
Pengadaan
Buku/Kepustakaa
Belanja Aset
Tetap
Lainnya
Modal
198
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
n
2
Belanja
Modal
Pengadaan Barang
bercorak Kesenian,
Kebudayaan
2
Belanja
Modal
Pengadaan
Hewan/Ternak dan
Tanaman
BELANJA
TAK
TERDUGA
Belanja
Tak
Terduga
Belanja Tidak Terduga
(BELANJA
TIDAK
LANGSUNG)
0
Belanja Tidak Terduga
TRANSFER
Transfer
Bagi
Hasil
Ke
KAB/KOTA/
DESA
Bagi
Hasil
Pajak
Belanja
Bagi
Hasil
kepada
Provinsi/Kota/Kota
dan Pemerintah Desa
(BELANJA
TIDAK
LANGSUNG
0
Belanja Bagi
Hasil
Pajak
Daerah
Kepada Provinsi
0
Belanja Bagi
Hasil
Pajak
Daerah
Kepada Kota/Kota
0
Belanja Bagi
Hasil
Pajak
Daerah
Kepada
199
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
Pemerintahan Desa
Bagi
Hasil
Retribusi
0
Belanja Bagi
Hasil
Retribusi
Daerah
Kepada Kota/Kota
0
Belanja Bagi
Hasil
Retribusi
Daerah
Kepada
Pemerintahan Desa
PEMBIAYAAN
PEMBIAYAAN DAERAH
PENERIMAAN
DAERAH
PENERIMAAN
PEMBIAYAAN DAERAH
Penggunaan
Sisa Lebih
Perhitunga
n
Anggaran
(SiLPA)
Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran
Tahun
Anggaran
Sebelumnya
0
Pelampauan
Penerimaan PAD
0
Pelampauan
Penerimaan Dana
Perimbangan
0
Pelampauan
Penerimaan Lainlain
Pendapatan
Daerah yang Sah
0
Sisa
penghematan
Belanja atau akibat
lainnya
0
Kegiatan Lanjutan
0
Sisa
Lebih
Perhitungan
200
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
Anggaran
Tahun
Anggaran
Sebelumnya
Pencairan
Dana
Cadangan
Pencairan
Cadangan
0
Hasil
Penjualan
Kekayaan
Daerah Yang
Dipisahkan
Pencairan
Cadangan
Dana
Dana
Hasil
Penjualan
Kekayaan
Daerah
yang dipisahkan
0
Hasil
penjualan
perusahaan milik
daerah/BUMD
0
Hasil penjualan aset
milik
pemerintah
daerah
yang
dikerjasamakan
dengan
pihak
ketiga
Penerimaan
Pinjaman
Daerah
Penerimaan
Daerah
Pinjaman
0
Penerimaan Pinjaman
Daerah
dari
Pemerintah
0
Penerimaan Pinjaman
Daerah
dari
pemerintah daerah
lain
0
Penerimaan Pinjaman
Daerah
dari
lembaga keuangan
bank
201
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
0
Penerimaan Pinjaman
Daerah
dari
lembaga keuangan
bukan bank
0
Penerimaan
hasil
penerbitan Obligasi
Daerah
Penerimaan
Kembali
Pemberian
Pinjaman
Daerah
Penerimaan
kembali
Pemberian Pinjaman
0
Penerimaan
Piutang
Daerah
Penerimaan
kembali
Pemberian
Pinjaman
Penerimaan
Daerah
Piutang
0
Penerimaan
piutang
daerah
dari
pendapatan daerah
0
Penerimaan
piutang
daerah
dari
pemerintah
0
Penerimaan
piutang
daerah
dari
pemerintah daerah
lain
0
Penerimaan
piutang
daerah
dari
lembaga keuangan
bank
0
Penerimaan
piutang
daerah
dari
lembaga keuangan
bukan bank
202
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
Penarikan
Kembali
Penyertaan
Modal
Pemda
(Divestasi)
Penarikan
kembali
Penyertaan Modal Pemda
(Divestasi)
0
PENGELUARAN
DAERAH
Penerimaan
Pengembalian
Investasi
Permanen
Non
PENGELUARAN
PEMBIAYAAN DAERAH
Pembentukan
Dana
Cadangan
0
Penyertaan
Modal
(Investasi)
Pemerintah
Daerah
Pembentukan
Cadangan
Dana
Pembentukan
Cadangan
Dana
Penyertaan
(Investasi)
Daerah
Modal
Pemerintah
0
Badan
usaha
milik
pemerintah (BUMN)
0
Badan
usaha
daerah (BUMD)
milik
0
Badan
swasta
milik
0
Pemberian Dana Bergulir
Pembayaran
Pokok Utang
usaha
Pembayaran
Utang
0
Pokok
Pembayaran
Cicilan
Pokok Utang yang
203
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
Jatuh Tempo kepada
Pemerintah
0
Pembayaran
Cicilan
Pokok Utang yang
Jatuh Tempo kepada
pemerintah
daerah
lain
0
Pembayaran
Cicilan
Pokok Utang yang
Jatuh Tempo kepada
lembaga
keuangan
bank
0
Pembayaran
Cicilan
Pokok Utang yang
Jatuh Tempo kepada
lembaga
keuangan
bukan bank
0
Pembayaran
Cicilan
Pokok Utang sebelum
Jatuh Tempo kepada
Pemerintah
0
Pembayaran
Cicilan
Pokok Utang sebelum
Jatuh Tempo kepada
pemerintah
daerah
lain
0
Pembayaran
Cicilan
Pokok Utang sebelum
Jatuh Tempo kepada
lembaga
keuangan
bank
0
Pembayaran
Cicilan
Pokok Utang sebelum
Jatuh
Tempo
kepada
lembaga keuangan bukan
bank
0
Pelunasan
Obligasi
204
URAIAN REKENING LRA
MENURUT SAP
REKENING PERMENDAGRI (s.d. Obyek)
daerah pada saat jatuh
tempo
1
Pemberian
Pinjaman
Daerah
Pelunasan
Obligasi
daerah sebelum jatuh
tempo
Pemberian
Daerah
Pinjaman
0
Pemberian
Daerah
pemerintah
Pinjaman
kepada
0
Pemberian
Pinjaman
Daerah
kepada
pemerintah daerah lain
WALI KOTA BEKASI,
Ttd/Cap
RAHMAT EFFENDI
Diundangkan di Bekasi
pada tanggal 03 Desember 2013
SEKRETARIS DAERAH KOTA BEKASI,
Ttd/Cap
RAYENDRA SUKARMADJI
BERITA DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2013 NOMOR 54 SERI E
205
Download
Study collections