Uploaded by User37272

BAB 2

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Masyarakat
Manusia pada umumnya dilahirkan seorang diri, namun
demikian mengapa harus hidup bermasyarakat? Seperti diketahui
manusia pertama telah ditakdirkan untuk hidup bersama dengan
manusia lain yaitu istrinya yang bernama Hawa. Banyak cerita-cerita
tentang manusia yang hidup menyendiri seperti Robinson Crusoe.
Akan tetapi pengarangnya tidak bisa membuat suatu penyelesaian
tentang hidup seorang diri tadi, karena kalau dia mati berarti
riwayatpun akan habis pula. Maka kemudian muncullah tokoh “Friday”
sebagai teman Robinson Crusoe. Walaupun temannya itu pria juga,
namun hal itu membuktikan bahwa pengarang sudah mempunyai
perasaan tentang kehidupan bersama antar manusia. Begitu pula
tokoh Tarzan didalam film. Ia diberi pasangan seorang wanita sebagai
teman hidupnya, yang kemudian berketurunan pula, dan seterusnya.
Apabila kita membaca cerita-cerita dari dunia wayang, maka
tokoh-tokoh seperti Arjuna yang sering bertapa dan menyendiri,
akhirnya kembali pada saudara-saudaranya. Bertapa dan menyendiri
hanyalah untuk sementara, dan bersifat temporer.
Memang apabila manusia dibandingkan dengan makhluk hidup
lainnya seperti hewan, dia tak akan dapat hidup sendiri. Seekor anak
13
ayam, walaupun tanpa induk, mampu mencari makan sendiri;
demikian pula hewan-hewan lain seperti kucing, anjing, harimau,
gajah dan sebagainya. Manusia tanpa manusia lainnya pasti akan
mati. Bayi misalnya, harus diajar makan, berjalan, bermain-main dan
lain sebagainya : jadi sejak lahir, manusia berhubungan dengan
manusia lainnya. Lagi pula, manusia tidak dikarunia Tuhan dengan
alat-alat fisik yang cukup untuk dapat hidup sendiri. Harimau misalnya,
diberi kuku dan gigi yang kuat untuk mencari makan sendiri. Burung
diberi sayap untuk terbang jauh; katak diberi alat-alat khusus untuk
dapat hidup di darat maupun tempat-tempat berari. Ikan diberi alat
khusus untuk dapat hidup sendiri di air. Akan tetapi manusia tidak
demikian. Alat-alat fisiknya tidak sekuat hewan, akan tetapi dia diberi
alat-alat untuk bertahan yang sangat ampuh dan istimewa, jauh lebih
sempurna daripada alat-alat fisik hewan yaitu pikiran. Pikiran tadi tak
dapat secara langsung digunakan sebagai alat hidup, akan tetapi
dapat dimanfaatkan untuk mencari alat-alat material yang diperlukan
untuk kehidupan.
Hewan-hewan seperti sapi, keledai, kuda, sanggup hidup di
udara dingin tanpa pakaian. Manusia tak mungkin, tapi dengan
menggunakan daya fikir dia menciptakan pakaian untuk melindungi
diri terhadap terik matahari, hujan dan udara dingin. Dalam
menghadapi alam sekeliling, manusia harus hidup berkawan dengan
manusia-manusia lain dan pergaulan tadi mendatngkan kepuasan
14
bagi jiwanya. Apabila manusia hidup sendirian, misalnya dalam
keadaan terkurung didalam sebuah ruangan yang tertutup sehingga ia
tidak dapat mendengarkan suara orang lain atau hak dapat melihat
orang lain, maka akan terjadi gangguan dalam perkembangan
jiwanya. Naluri manusia untuk selalu hidup dengan orang lain
gregariousness dan karena itu manusia juga disebut social animal
(=hewan sosial); hewan yang mempunyai naluri untuk senantiasa
hidup bersama.
Di dalam hubungan antara manusia dengan manusia lain, yang
agaknya paling penting adalah reaksi yang timbul sebagai akibat
hubungan-hubungan tadi. Reaksi tersebutlah yang mengakibatkan
tindakan seseorang menjadi bertambah luas. Misalnya, kalau
seseorang menyanyi, dia memerlukan reaksi, entah yang berwujud
pujian atau celaan yang kemudian merupakan dorongan bagi
tindakan-tindakan selanjutnya. Di dalam memberikan reaksi tersebut
ada suatu kecenderungan manusia untuk memberikan keserasian
dengan tindakan-tindakan orang lain. Mengapa ? oleh karena sejak
dilahirkan, manusia sudah mempunyai dua hasrat atau keinginan
pokok sebagaimana dikemukakan oleh Soerjono Soekanto (1990 :
124 – 125) yaitu :
1. Keinginan
untuk
menjadi
satu
dengan
manusia
lain
di
sekelilingnya (yaitu masyarakat).
15
2. Keinginan
untuk
menjadi
satu
dengan
suasana
alam
di
sekelilingnya.
Untuk dapat menghadapi dan menyesuaikan diri dengan kedua
lingkungan tersebut di atas, manusia menggunakan fikiran, perasaan
dan kehendaknya. Di dalam menghadapi alam sekelilingnya seperti
udara yang dingin, alam yang kejam dan lain sebagainya, manusia
menciptakan rumah, pakaian dan lain-lain. Manusia juga harus
makan, agar badannya tetap sehat, untuk itu dia dapat mengambil
makanan sebagai hasil dari alam sekitarnya, dengan menggunakan
akalnya. Di laut, manusia akan menjadi nelayan untuk menangkap
ikan, apabila alam sekitarnya hutan, maka manusia akan berburu
untuk mencari makanannya. Kesemuanya itu menimbulkan kelompokkelompok sosial atau social group di dalam kehidupan manusia ini.
Kelompok-kelompok sosial tersebut merupakan himpunan atau
kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama. Hubungan tersebut
antara lain menyangkut kaitan timbal balik yang saling pengaruh
mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling tolong
menolong. Akan tetapi timbul suatu pertanyaan, apakah setiap
himpunan manusia dapat dinamakan kelompok sosial ? untuk itu
diperlukan beberapa persyaratan tertentu sebagaimana dikemukakan
oleh Soejono Soekanto (190 : 125 – 126) antara lain :
1. Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan
sebagian dari kelompok yang bersangkutan.
16
2. Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan
anggota yang lainnya.
3. Ada suatu factor yang dimiliki bersama, sehingga hubungan
antara mereka bertambah erat. Factor tadi dapat merupakan nasib
yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideology
politik yang sama dan lain-lain. Tentunya factor mempunyai
musuh bersama, dapat pula menjadi factor pengikat/pemersatu.
4. Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku
5. Bersistem dan berproses.
Seorang sosiolog di dalam menelaah masyarakat manusia
akan banyak berhubungan dengan kelompok-kelompok sosial, baik
yang kecil seperti misalnya kelompok keluarga, ataupun kelompokkelompok besar seperti masyarakat desa, masyarakat kota, bangsa
dan lain. Sebagai sosiolog, dia sekaligus merupakan anggota salah
satu kelompok sosial ilmiawan peneliti akan kian sadar bahwa
sebagian dari kepribadiannya terbentuk oleh kehidupan berkelompok
dan dia hanya merupakan unsur yang mempunyai kedudukan dan
peranan yang kecil.
Suatu
kelompok
sosial
cenderung
untuk
tidak
menjadi
kelompok yang statis, akan tetapi selalu berkembang serta mengalami
perubahan-perubahan yang dialaminya, atau bahkan sebaliknya dapat
mempersempit ruang lingkupnya. Manusia merupakan makhluk yang
bersegi jasmani (raga) dan rohaniah (jiwa). Segi rohaniah manusia
17
terdiri dari fikiran dan perasaan apabila diserasikan itulah yang
kemudian menjadi landasan gerak segi jasmaniah manusia.
Segi rohaniah manusia di dalam proses pergaulan hidup
dengan sesamanya menghasilkan kepribadian. Proses pembentuk
kepribadian dalam diri manusia berlangsung terus-menerus sampai
dia mati. Proses pembentukan kepribadian seseorang dipengaruhi
oleh beberapa factor, baik yang berasal dari dirinya sendiri maupun
yang berasal dari lingkungan. Kepribadian mencakup pelbagai unsure
yang pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari
bagian-bagian yang saling berkaitan. Dengan demikian, maka suatu
masyarakat sebenarnya merupakan system adaktif, oleh karena
masyarakat merupakan wadah untuk memenuhi pelbagai kepentingan
dan tentunya juga untuk dapat bertahan. Namun di samping itu
masyarakat sendiri juga mempunyai pelbagai kebutuhan yang harus
dipenuhi, agar masyarakat itu dapat hidup terus. Kebutuhankebutuhan itu adalah sebagai dikemukakan oleh Soejono Soekanto
(1990 : 28) antara lain sebagai berikut :
1. Adanya populasi dan population replacement
2. Informasi
3. Energy
4. Materi
5. Sistem komunikasi
6. System distribusi
18
7. System organisasi sosial
8. System pengendalian sosial
9. Perlindungan warga masyarakat terhadap ancaman-ancaman
yang tertuju pada jiwa dan harta bendanya.
Dengan
demikian
maka
setiap
masyarakat
mempunyai
komponen-komponen dasarnya sebagaimana dikemukakan Soejono
Soekanto (1990 : 28 – 29) yakni :
1. Populasi, yakni warga-warga suatu masyarakat yang dilihat dari
sudut pandangan kolektif. Secara sosiologis maka aspek-aspek
sosiologis yang perlu dipertimbangkan, misalnya :
a. Aspek-aspek genetic yang konstantan
b. Variabel-variabel genetic
c. Variabel-variabel demografis
2. Kebudayaan, yakni hasil karya, cipta dan rasa dari kehidupan
bersama yang mencakup :
a. Sistem lambang-lambang
b. Informasi
3. Hasil-hasil kebudayaan material
4. Organisasi sosial, yakni jaringan hubungan antara warga-warga
yang bersangkutan, yang antara lain mencakup :
a. Warga masyarakat secara individual
b. Peranan-peranan
c. Kelompok-kelompok sosial
19
d. Kelas-kelas sosial
5. Lembaga-lembaga sosial dan sistemnya
Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa masyarakat
senantiasa merupakan suatu system, oleh karena mencakup pelbagai
komponen dasar yang saling berkaitan secara fungsional.
Pengertian
masyarakat
sebagaimana
dikemukakan
oleh
Koentjaraningrat (1990 : 143 – 144) adalah sebagai berikut istilah ma
syarakat adalah istilah yang paling lazim dipakai untuk menyebut
kesatuan-kesatuan manusia, baik dalam tulisan ilmiah maupun dalam
bahasa sehari-hari. Dalam bahasa Inggris dipakai istilah society yang
berasal dari kata socius, yang berarti “kawan”. Istilah masyarakat
sendiri berasal dari asal kata Arab “Syaraka” yang berarti “ikut serta,
berpartisipasi”.
Masyarakat memang adalah sekumpulan manusia yang saling
“bergaul” atau dengan istilah ilmiah, saling “berinteraksi” namun tidak
semua kumpulan dapat dikatakan masyarakat karena masyarakat itu
sendiri mempunyai ikatan yang membuat suatu kesatuan manusia itu
menjadi suatu masyarakat yaitu pola tingkah laku yang khas
mengenai semua factor kehidupannya dalam batas kesatuan itu. Lagi
pula, pola itu harus bersifat mantap dan kontinyu, dengan perkataan
lain, pola khas itu harus sudah menjadi adat istiadat yang khas.
Disamping itu harus juga mempunyai cirri-ciri lain, yaitu suatu rasa
identitas di antara para warga atau anggotanya, bahwa mereka
20
memang merupakan suatu kesatuan khusus yang berbeda dari
kesatuan-kesatuan lainnya, tingkah lakunya terikat oleh berbagai
norma secara keseluruhan dari berbagai faktor kehidupan, serta
mereka saling berinteraksi di dalamnya dengan memanfaatkan
berbagai macam prasarana yang memungkinkan para warganya
untuk berinteraksi secara intensif.
Berdasarkan uraian di atas maka defenisi mengenai konsep
masyarakat adalah sebagai berikut sebagaimana dikemukakan
Koentjaraningrat (1990 : 145 – 146) : bahwa “masyarakat adalah
kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu system adat
istiadat yang bersifat kontinyu, dan terikat oleh suatu rasa identitas
bersama”.
Pengertian tentang masyarakat telah banyak dikemukakan oleh
beberapa ahli sarjana. Menurut Mac Iver dan Charles H. Page yang
dikutip oleh Soejono Soekanto (1986 : 20), bahwa yang dimaksud
masyarakat adalah merupakan suatu system dari kebiasaan dan tata
cara, dari wewenang dan kerjasama antara berbagai kelompok dan
penggolongan, dari pengawsan tingkah laku serta kebebasankebebasan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah ini kita
namakan masyarakat. Masyarakat merupakan jalinan hubungan
sosial. Dan masyarakat selalu berubah.
21
Sedangkan menurut Ralph Linton dalam Soejono Soekanto (1990 :
20), menyatakan bahwa masyarakat adalah merupakan setiap
kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja sama cukup lama
sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri
mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang
dirumuskan dengan jelas.
Di samping itu ahli sosiologis Indonesia telah memberikan pula
pengertian tentang masyarakat, antara lain Selo Soemardjan dalam
Soejono Soekanto (1990 : 20), mengatakan bahwa “Masyarakat
adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan
kebudayaan”. Koentjaraningrat (1980 : 157) mengatakan bahwa :
“Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul, atau
dengan istilah ilmiah saling berinteraksi.”
Dari pengertian yang dikemukakan para ahli di atas dapat
disimpulkan bahwa masyarakat merupakan satu kesatuan sistem
yang kompleks yang didalamnya terdiri dari bagian-bagian atau
unsure-unsur yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi
secara timbale balik. Dalam situasi relasi antar unsur-unsur yang ada
di tengah-tengah masyarakat tidak saja saling bekerja sama ke arah
pencapaian tujuan atau pemenuhan kebutuhannya, akan tetapi tidak
jarang antar unsur tersebut terjadi situasi konflik kepentingan.
Konflik atau pertentangan yang saling terjadi pada masyarakat
disebabkan karena perbedaan norma dari berbagai kelompok sosial
22
dan individu yang tidak mampu menyesuaikan diri di antara norma
yang ada pada kelompok tersebut. Dalam situasi demikian kejahatan,
penyimpangan dan penyelewengan dapat terjadi.
B. Pengertian Anak Terlantar
Tujuan
Pembangunan
Nasional
pada
dasarnya
adalah
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan seluruh masyarakat
Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Oleh karena itu pembangunan manusia Indonesia seutuhnya haruslah
dimulai sedini mungkin yakni dari anak dan bahkan dari mulai sejak ia
masih berada dalam kandungan Ibu.
Anak merupakan potensi bangsa sehingga perlu disiapkan dan
dikembangkan untuk kematangan pribadinya, agar kemudian dapat
berperan serta dan memberikan sumbangan yang nyata kepada
kepentingan keluarga, masyarakat bangsa dan negara. Salah satu
usaha dalam rangka pembinaan kesejahteraan anak adalah dengan
melakukan pengawasan terhadap pertumbuhan, perkembangan dan
pemeliharaan anak.
Suatu peristiwa mulai dari bersatunya sel mani ayah dengan sel
telur ibu, pada kandungan ibunya dan berakhir pada akil baliqnya
seorang remaja.Pada masa ini tidak tertutup kemungkinan adanya
beberapa
hal
yang
dapat
mengganggu
pertumbuhan
dan
23
perkembangan anak, sebagaimana dikemukakan dalam buku modul
keluarga bahagia sejahtera (1990/1991 : 132 – 133) yaitu :
1. Anak-anak dengan gangguan pendengaran, berbicara dan berfikir
Contohnya adalah anak bisu tuli. Perkembangan berbicara dimulai
sejak dini dikala bayi baru lahir yaitu dengan menangis kuat-kuat
dan mencapai fungsinya pada usia 3 tahun.
2. Anak-anak dengan gangguan bergerak
Contohnya anak-anak dengan kelumpuhan yang kaku. Awal dari
gerak yang mantap pada anak di mulai pada usia anak 3 bulan
yaitu dengan menggenggam sesuatu yang diberikan pada
tanggannya dengan erat. Pada bulan ke 11 (sebelas) keterampilan
memegang mengalami perkembangan yang pesat dan hamper
sempurna.
3. Anak-anak dengan gangguan penglihatan
Keadaan gangguan proses penglihatan mengakibatkan sebagian
besar anak menderita mata juling. Dalam keadaan normal, reflex
tertentu yang menyebabkan mata melihat dengan kedua biji
matanya dimulai sejak usia 6
bulan dan mencapai puncak
perkembangan pada usia 3 tahun. Sehingga langkah-langkah
untuk perbaikan harus sudah diambil sebelum anak berusia 4
tahun.
4. Anak-anak dengan gangguan sosial
24
Adalah gangguan perkembangan berbicara dan sosial di antaranya
hubungan antar manusia, tingkah laku sosial misalnya pelacuran
dan kriminalitasnya, tidak berhasil di sekolah atau dalam
pekerjaannya.
Untuk mencegah terjadinya gangguan tersebut, maka perlu
dilakukan pemeliharaan terhadap anak yaitu dengan merawat dan
mengurus untuk keselamatan atau kebaikan anak. Cara yang efektif
untuk memperlancar kerjasama ekonomi antar jenis kelamin dan
menjamin adanya ikatan yang erat yang mutlak perlu antara ibu dan
anak sebagaimana dikemukakan oleh William A. Haviland R. G.
Soekadijo (1993 : 75) ialah dengan membentuk kelompok-kelompok
penghuni lingkungan yang mencakup semua orang dewasa dari
semua jenis kelamin. Perdebatan sifat peranan pria dan wanita
dewasa, seperti yang ditetapkan oleh kebudayaan yang berbedabeda, mengharuskan anak untuk berhubungan erat dengan orang
dewasa dari jenis kelamin yang sama untuk dijadikan model dari
peranan orang dewasa yang tepat. Adanya pria dan wanita dewasa
dalam kelompok lingkungan yang sama memenuhi kebutuhan itu.
Ini tidak berarti bahwa hanya keluargalah satu-satunya unit
yang dapat memenuhi persyaratan itu. Dalam teori, bentukanbentukan lain juga mungkin. Misalnya, kelompok-kelompok anak
dapat dibesarkan oleh pasangan-pasangan yang terlatih yang terdiri
atas ahli-ahli pria dan wanita. Seperti di universal dari keluarga
25
manusia, meskipun fungsinya sendiri bersifat universal. Jelas bahwa
ada faktor-faktor lain yang harus dilibatkan.
Dalam buku modul keluarga bahagia sejahtera (1990/1991 :
134-135) di kemukakan mengapa dilakukan pemeliharaan terhadap
anak yaitu :
a. Anak adalah makhluk hidup yang memerlukan “makanan dan
minuman”. Ibarat tanaman yang berharga anak perlu dipelihara
dengan hati-hati dan penuh kasih saying agar ia dapat tumbuh
dan berkembang dengan sehat.
b. Sebagai makhluk hidup, anak mempunyai perasaan. Ia ingin
diperhatikan, ia akan gembira bila kenyang dan ia akan menangis
pula jika lapar atau merasa sakit.
c. Lima tahun pertama dalam kehidupan anak merupakan tahun
yang amat penting. Untuk itu pada masa-masa balita (dibawah
umur lima tahun) anak perlu mendapat perhatian dan kasih
sayang. Anak yang tidak mendapat kasih sayang waktu masih
bayi, akan mengalami tekanan jiwa seumur hidup. Haus kasih
sayang adalah penderitaan yang dialami seorang anak yang
jarang dielus, digendong atau dicium. Sehingga anak kecil yang
kurang mendapat perhatian secara naluriah berusaha menarik
perhatian orang tuanya dengan terus-menerus ngompol, merajuk,
cengeng atau sakit-sakitan. Bahkan anak-anak remaja yang
mengalami “kurang perhatian” dari orang tua dan lingkungan
26
sekitarnya akan memperlihatkan perilaku yang menyimpang
seperti mabuk-mabukan, suka berkelahi, kebut-kebutan dengan
motor dan sebagainya.
Jadi pokok utama adalah “perhatian” yang merupakan salah satu
faktor penentu ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan anak.
d. Anak adalah jaminan atau modal bagi kebahagiaan dan
kesejahteraan masa depan bangsa. Sejak dini kesehatan anak
perlu dijaga, dipelihara bahkan ditingkatkan. Anak yang sehat
membentuk bangsa yang sehat dan kuat di masa depan.
e. Secara alami, ibu ditakdirkan untuk mengandung anak dalam
rahimnya. Ini berarti antara ibu dan anak yang masih dalam
kandungan ada ikatan bathin yang erat. Peranan ibu sangat
menonjol dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak
agar dapat tumbuh dan berkembang secara sempurna.
Makna pendidikan tidaklah semata-mata kita menyekolahkan
anak ke sekolah untuk menimba ilmu pengetahuan, namun lebih luas
daripada itu. Seorang anak akan tumbuh kembang dengan baik
manakala ia memperoleh pendidikan yang paripura (komprehensif),
agar ia kelak menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat,
bangsa, negara dan agama. Anak yang demikian ini adalah anak yang
sehat dalam arti luas, yaitu sehat fisik, mental-emosional, mentalintelektual, mental-sosial dan mental-spiritual. Pendidikan itu sendiri
27
sudah harus dilakukan sedini mungkin di rumah maupun di luar
rumah, formal di institu pendidikan, dan non formal di masyarakat.
Berbicara soal pendidikan, menyangkut tiga hal pokok, seperti
dikemukakan oleh Dadang Hawari (1996 : 156) yaitu :
1. Aspek Kognitif
Adalah kemampuan anak untuk menyerap ilmu pengetahuan yang
diajarkan. Hal ini berhubungan dengan kemampuan intelektual dan
taraf kecerdasan anak didik.
2. Aspek Afektif
Adalah kemampuan anak untuk merasakan dan menghayati apa
yang diajarkan, yang telah diperolehnya dari aspek kognitif di atas.
Sehingga daripadanya timbullah motivasi untuk mengamalkan atau
melakukan apa-apa yang telah dimilikinya itu.
3. Aspek Psikomotor
Adalah kemampuan anak didik untuk merubah sikap dan perilaku
sesuai dengan ilmu yang telah dipelajari (aspek kognitif) dan ilmu
yang telah dihayatinya (aspek afektif).
Sebagai contoh misalnya, dikatakan pendidikan agama
Islam (dalam hal ini shalat) baru dikatakan berhasil secara
paripurna, bila anak itu :
a. Memahami/mengetahui secara intelektual hal ikhwal yang
berhubungan dengan shalat (aspek kognitif).
28
b. Merasakan/menghayati makna serta manfaat dan hikmah
shalat baginya (aspek afektif).
c. Melaksanakan amalan shalat secara fisik dengan menjalankan
shalat lima waktu (aspek psikomotor).
Di samping itu tumbuh kembang anak seutuhnya dipengaruhi
oleh empat faktor yang saling berinteraksi satu dengan lainnya,
sebagaimana dikemukakan oleh Dadang Hawari (1996 : 158 – 167)
yaitu :
1. Faktor Organobiologik
Perkembangan mental-intelektual (taraf kecerdasan) dan mental
emosional (taraf kesehatan jiwa) banyak ditentukan sejauh mana
perkembangan susunan saraf pusat (otak) dan kondisi fisik organ
tubuh lainnya. Tumbuh kembang anak secara fisik sehat,
memerlukan makanan yang baik dan bermutu. Terlebih-lebih bagi
tumbuh kembang otak, bahan baku utama adalah gizi protein.
Perkembangan organ otak sudah dimulai sejak bayi dalam
kandungan hingga bayi berusia 4 – 5 tahun (usia balita). Pada saat
itu struktur otak baik dalam jumlah sel-sel otak, maupun ukuran
besarnya sel-sel itu sudah terbentuk sempurna, dengan catatan
bahan baku utama (gizi protein) mencukupi dan tidak ada
gangguan penyakit yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan otak itu. Bila apa yang disebutkan di atas adalah
tumbuh kembang otak dalam arti struktur organiknya; maka
29
tumbuh kembang selanjutnya adalah dalam arti fungsional otak
tersebut.
Oleh karena itu seorang ibu yang sedang hamil, kondisi fisik dan
mentalnya harus prima agar bayi dalam kandungannya dapat
tumbuh kembang dengan baik, dan tiada kesulitan di kala ibu
melahirkan. Dan manakala bayi telah lahir berilah ASI kalau
memungkinkan hingga usia 2 tahun. Dan selanjutnya berilah bayi
tersebut gizi makanan yang baik dan halal, imunisasi, pemeriksaan
rutin ke dokter dan sebagainya sehingga anak tumbuh kembang
dengan sehat hingga dewasa.
2. Faktor Psiko-Edukatif
Tumbuh kembang anak secara kejiwaan (mental intelektual dan
mental emosional) yaitu IQ dan EQ, amat dipengaruhi oleh sikap,
cara dan kepribadian orang tua dalam mendidik anak-anaknya.
Dalam tumbuh kembang anak terjadi proses “imitasi” dan
“identifikasi” anak terhadap kedua orang tuanya. Oleh karena itu
sudah
sepatutnya
orang
tua
mengetahui
beberapa
aspek
pengetahuan dasar yang penting sehubungan dengan tumbuh
kembang jiwa anak (kepribadian) yaitu :
a. Tumbuh kembang anak memerlukan dua jenis “makanan”, yaitu
makanan bergizi untuk pertumbuhan otak dan fisiknya (lihat di
atas), dan makanan dalam bentuk “gizi mental”. Bentuk
“makanan” yang kedua ini berupa kasih saying, perhatian,
30
pendidikan dan pembinaan yang bersifat kejiwaan/psikologi
(non fisik), yang dapat diberikan orang tua dalam kehidupan
sehari-harinya.
b. Sikap-sikap
yang
merupakan
daya
kemampuan
dan
kompetensi anak yaitu :
1) Sikap pertama adalah kemampuan untuk percaya pada
kebaikan orang lain.
Istilah yang diberikan oleh Erickson adalah kepercayaan
dasar (basic trust). Anak yang mengalami banyak waktu
tanpa kata-kata, tanpa diajak bicara, tanpa senyum dan
tanpa interaksi dengan sekelilingnya, lama-kelamaan akan
mengundurkan diri dari pergaulan. Anak akan menyendiri
dan puas dengan dirinya sendiri, tidak lagi memerlukan dan
memperdulikan
pengaruh
luar,
dan
akibatnya
amat
disayangkan kelak bila telah menginjak dewasa. Anak-anak
seperti ini kelak tidak lagi mampu menjadi calon anggota
masyarakat yang baik di masa depan, tidak mengerti
persyaratan apa yang diperlukan untuk menjadi manusia
yang baik dan potensial.
2) Sikap kedua adalah sikap terbuka. Kalau sikap ini
digabungkan dengan sikap kepercayaan dasar di atas, anak
akan menjadi terbuka dan terus terang terhadap orangorang sekitarnya. Sikap ini akan berhasil menciptakan
31
dorongan dan rangsangan terhadap sikap ingin tahu, sikap
mau belajar. Keadaan ini dinamakan otonomi dan inisiatif.
3) Sikap yang ketiga adalah anak mampu menerima kata tidak
atau kemampuan pengendalian diri terhadap orang lain atau
terhadap hal-hal yang mengecewakan.
4) Keterpaduan ketiga sikap di atas yaitu kepercayaan dasar,
keterbukaan dan kemampuan menerima kata tidak, akan
menghasilkan
anggota
masyarakat
baru
dan
sehat,
mempunyai potensi untuk bisa sekolah dan bergaul dengan
baik
di
dalam
maupun
di
luar
keluarganya
tanpa
pengawasan yang ketat (mampu mandiri).
3. Faktor Sosial Budaya
Faktor sosial budaya penting bagi tumbuh kembang anak dalam
proses
pembentukan
Perubahan-perubahan
kepribadian
sosial
kelak
yang
di
serba
kemudian
cepat
hari.
sebagai
konsekuensi globalisasi, modernisasi, industrialisasi, dan iptek
telah
mengakibatkan
perubahan-perubahan
pada
nilai-nilai
kehidupan sosial dan budaya. Perubahan mana antara lain pada
nilai moral, etik, kaidah agama dalam pendidikan anak di rumah,
pergaulan dan perkawinan. Perubahan-perubahan nilai sosial
budaya tersebut disebabkan karena pada masyarakat yang
sedang dan telah menjalani modernisasi, terjadi pergeseran pola
hidup dari yang semula bercorak sosial religious kepada pola
32
individual materialistis dan sekuler. Salah satu dampak perubahan
sosial budaya tersebut adalah terancamnya lembaga perkawinan
yang merupakan lembaga pendidikan dini bagi anak dan remaja.
Dalam masyarakat modern telah terjadi perubahan dalam cara
pendidikan anak dan remaja di keluarga. Misalnya orang tua
memberikan banyak kelonggaran dan “serba boleh” (greater
permissiveness) kepada anak dan remaja. Demikian pula pola
hidup konsumtif telah mewarnai kehidupan anak dan remaja di
perkotaan, yang salah satu dampaknya adalah kenakalan remaja
dan penyalahgunaan narkoba, alcohol, dan zat adiktif lainnya
(NAZA).
Selain kondisi keluarga sebagai lembaga pendidikan di rumah,
juga kondisi/kualitas sekolah sebagai lembaga pendidikan formal
besar pengaruhnya bagi tumbuh kembang anak. Demikian pula
kondisi masyarakat sebagai lembaga pendidikan non formal tidak
kalah pentingnya bagi tumbuh kembang anak. Jadi, sesungguhnya
tumbuh kembang anak sehat atau tidak (sehat fisik, mental dan
sosial), tergantung pada interaksi antara ketiga kutub “lembaga
pendidikan di rumah (keluarga), di sekolah dan di masyarakat”.
4. Faktor Agama
Orang tua mempunyai tanggung jawab besar terhadap tumbuh
kembang anak agar bila dewasa kelak berilmu dan beriman.
33
Jika keempat faktor ini dapat terpenuhi maka anak akan
tumbuh dan berkembang dengan sehat sehingga anak akan
memiliki :
a. Kondisi fisik yang prima
b. Kecerdasan/IQ (Mental Intelektual) yang tinggi
c. Kondisi kesehatan jiwa/kepribadian yang matang, mantap serta
penuh percaya diri (mental-emosional yang stabil)
d. Integritas kepribadian yang tinggi (mental sosial yang adaptif)
e. Iman yang teguh dan taqwa (agama).
Hal ini sesuai dengan pengertian “sehat” oleh Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO), 1984, dalam buku Al-Qur’ Ilmu
Kedokteran Jiwa dan Ilmu Kesehatan Jiwa (1996 : 158)
menyebutkan bahwa yang disebut “sehat” itu adalah sehat dalam
arti fisik, psikologis, sosial dan spiritual.
Sebaliknya anak-anak yang dibesarkan dengan tidak
melaksanakan hal-hal seperti yang tersebut di atas akan
mengalami
gangguan
pertumbuhan
dan
perkembangannya.
Mereka itu adalah anak-anak yang kurang beruntung atau yang
lazim disebut anak terlantar yang disebabkan oleh berbagai
macam faktor antara lain anak-anak yang dipelihara dalam
lingkungan keluarga yang mengalami disfingsi keluarga yang
digambarkan oleh para ahli sebagai kondisi keluarga dengan ciri-
34
ciri sebagaimana dikemukakan oleh Dadang Hawari (1996 : 164 –
165) berikut :
a. Kematian salah satu atau kedua orang tuanya
b. Kedua orang tua berpisah atau bercerai
c. Hubungan kedua orang tua tidak baik
d. Hubungan orang tua dan anak tidak baik
e. Suasana rumah tangga yang tegang dan tanpa kehangatan
f. Orang tua sibuk dan jarang di rumah
g. Salah satu atau kedua orang tuanya mempunyai gangguan
kepribadian atau gangguan kejiwaan maupun gangguan fisik
(sakit-sakitan) dan
h. Anak-anak yang dipelihara dalam keluarga yang memiliki anak
terlalu banyak, serta keluarga miskin.
Anak, oleh YB. Suparlan (1990 : 8) diartikan : “Seseorang
yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin”.
Sedangkan
menurut
Departemen
Agama
Republik
Indonesia dalam buku Modul Keluarga Bahagia Sejahtera
(1990/1991 : 133), menurut pengertian yang lazim dipakai, maka
anak adalah :
a. Masa anak dalam kandungan
b. Masa anak balita yang terdiri dari :
1) Bayi berusia 0 – 1 tahun
2) Anak berusia 1 – 5 tahun
35
c. Masa usia sekolah 5 – 12 tahun
d. Masa anak remaja
1) Remaja pertama 12 - 15 tahun
2) Remaja akhir 15 – 21 tahun
Sedangkan pengertian “anak terlantar” oleh YB. Suparlan
(1990 : 9) dikatakan “anak yang karena sebab orang tuanya
melalaikan kewajibannya sehingga kebutuhan anak tidak dapat
terpenuhi dengan wajar baik secara rohani, jasmani maupun
sosial”.
Lebih lanjut ditegaskan dalam buku Petunjuk Pelaksanaan
Penyantunan dan Pengentasan Anak Terlantar (1984 : 5)
dikatakan bahwa “anak terlantar yaitu seseorang yang belum
mencapai usia 21 tahun, belum pernah kawin dan dalam keadaan
terlantar”.
Selanjutnya anak terlantar dirinci sebagai berikut :
a. Yang tidak mempunyai salah satu, kedua orang tua kandung
dan terlantar (yatim, piatu, dan piatu terlantar)
b. Anak yang tidak diakui oleh salah satu atau kedua orang tua
kandungnya dan terlantar dan
c. Anak yang tidak mampu karena sesuatu sebab tidak dapat
terpenuhi kebutuhannya, baik secara jasmani, rohani maupun
sosial secara wajar.
36
Dengan demikian anak terlantar dapat diartikan sebagai
anak-anak yang hidup dan kehidupannya terlantar atau tidak
mendapatkan pemenuhan kehidupan yang wajar baik jasmani,
rohani, maupun sosial.
C. Kebijaksanaan Pemerintah Dalam Penanganan Anak Terlantar
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pembangunan di
segala bidang mempunyai arah kebijaksanaan yang ditetapkan oleh
pemerintah. Salah satu bidang pembangunan tersebut adalah
pembangunan bidang kesejahteraan sosial termasuk di dalamnya
adalah kesejahteraan anak.
Adapun
kebijaksanaan
pemerintah
dalam
pembangunan
bidang kesejahteraan sosial tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pancasila yang terdapat pada sila ke-5 sebagaimana dikemukakan
dalam buku Undang-Undang Dasar 1945 (1986 : 48) yaitu keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana dirumuskan
dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
2. Undang-Undang Dasar 1945 pada alinea ke-4 sebagaimana
tercantum dalam buku Undang-Undang Dasar 1945 (1986 : 48)
yang didalamnya terdapat kalimat untuk memajukan kesejahteraan
umum.
3. Batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945 terdapat pada pasal 34
sebagaimana dikemukakan dalam buku Undang-Undang Dasar
37
1945 (1986 : 65) yang berbunyi fakir miskin dan anak terlantar
dipelihara oleh negara.
4. Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia No. 23/HUK/1996
tentang pola dasar pembangunan kesejahteraan sosial (1996 : 54).
Bab IX pola operasional pembinaan kesejahteraan anak.
D. Kerangka Pikir
SKEMA KERANGKA PIKIR
KEPEDULIAN
MASYARAKAT
1. Bentuk
2. Faktor yang
mempengaruhi
3. Pelaksanaan
ANAK
TERLANTAR
38
Download