Uploaded by User109621

mewacanakan kembali demokrasi pancasila

advertisement
i
Sebuah Polemik
Denny JA, Rocky Gerung, Christianto Wibisono, Ali Munhanif,
Mun’im Sirry, Akhmad Sahal, Anick HT, Hatta Taliwang, Fahd
Pahdepie, Taufan Hunneman, Zeng Wei Jian, Syaefudin
Simon, Satrio Arismunandar, Jonminofri, Jojo Rahardjo, Dr.
Umar S. Bakry, Hendrajit, Geisz Chalifah, Trisno S. Sutanto.
Editor
Anick HT
Design & Layout
Futih Aljihadi
Cetakan Pertama, Juni 2017
Penerbit
Inspirasi.co Book Project
(PT CERAH BUDAYA INDONESIA)
Menara Kuningan lt. 9G
Jalan HR. Rasuna Said Kav V Blok X-7, Jakarta Selatan
[email protected] | http://inspirasi.co
ii
Sebuah Polemik
Denny JA, Rocky Gerung, Christianto Wibisono,
Ali Munhanif, Mun’im Sirry, Akhmad Sahal,
Anick HT, Hatta Taliwang, Fahd Pahdepie, Taufan
Hunneman, Zeng Wei Jian, Syaefudin Simon, Satrio
Arismunandar, Jonminofri, Jojo Rahardjo, Dr. Umar
S. Bakry, Hendrajit, Geisz Chalifah, Trisno S. Sutanto.
iii
iv
DAFTAR ISI
Pengantar
Paska Pilkada Jakarta: Perlunya Menegaskan
Komitmen pada Demokrasi Pancasila yang Diperbarui:
Denny JA | ix
Bab I: Mengapa Demokrasi Pancasila Perlu Ditegaskan
Kembali | 1
1. Analisis Survei Nasional LSI, 19 Mei 2017
Mewacanakan Kembali Demokrasi Pancasila
(Yang Diperbarui) - Denny JA | 3
2. Paska Pilkada Jakarta: Apakah Kebhinekaan Kita
Terancam? - Denny JA | 11
3. Paska Pilkada Jakarta: Jangan Benturkan
Keindonesiaan Versus KeIslaman - Denny JA | 21
4. Haruskah HTI Dibubarkan? - Denny JA | 29
5. Renungan Paska Pilkada dan Pengadilan Ahok:
Pro Keberagaman Versus Pro Keberagaman di
Pilkada Jakarta - Denny JA | 37
6. Bangkitnya Politik Identitas: Persepsi Terancam
di Balik Aksi Lilin pro Ahok vs Demo Anti Ahok
- Denny JA | 47
v
Bab II: Pro Kontra Demokrasi Pancasila | 61
1. Demokrasi Pancasila yang Diperbarui, Apanya? Mun’im Sirry | 63
2. Memperbarui Cara Pandang Dan Cara Praktek
Demokrasi Pancasila - M. Hatta Taliwang | 71
3. Meneguhkan kembali Demokrasi Pancasila yang
Diperbarui - Taufan Hunneman | 101
4. Demokrasi Pancasila - Zeng Wei Jian | 107
5. Benarkah Kita Terbelah? - Anick HT | 113
6. Ahok Effect dan Pudarnya Demokrasi Pancasila Syaefudin Simon | 123
7. Upaya Memperbarui Demokrasi Pancasila - Satrio
Arismunandar | 129
8. Momentum Pelembagaan Pancasila - Ali
Munhanif | 143
9. Bug pada Demokrasi Pancasila - Jonminofri | 157
10. Membangun Demokrasi Pancasila Setelah Pilkada
Jakarta 2017 - Jojo Rahardjo | 165
11. Memaknai Demokrasi Pancasila Yang Diperbarui
- Dr. Umar S. Bakry | 177
12. Pancasila, Kawah Candradimuka, dan Anti
Absolutisme - Akhmad Sahal | 185
vi
13. Perlukah Kita Memperbarui Demokrasi
Pancasila? - Fahd Pahdepie | 193
14. Saatnya Seluruh Komponen Bangsa Menggagas
Rekonstruksi Nasional - Hendrajit | 199
15. Demokrasi Pancasila yang Diperbarui;
Pancasila bukan Panacea - Rocky Gerung | 213
Pembaruan Demokrasi Pancasila dan Ancaman
“NKRI Bersyariah” - Akhmad Sahal | 219
16. Demokrasi Pancasila yang Diperbarui;
Indonesia 4.0 No 4 Sedunia Dalam Kualitas
Pada Seabad 2045 - Christianto Wibisono | 229
17. Demokrasi Pancasila Dalam Praktek - Geisz
Chalifah | 249
18. Membincang Ulang Demokrasi Pancasila Trisno S. Sutanto | 259
Epilog
Indonesia Akan Dibawa Ke Mana? - Denny JA | 271
vii
viii
PENGANTAR
Paska Pilkada Jakarta
Perlunya Menegaskan Komitmen
pada Demokrasi Pancasila yang
Diperbarui
Denny JA
Juan Linz dan Alfred Stephan dua ahli dunia soal demokrasi. Mereka memberikan formula untuk mengenali
negara yang masih dalam tahap transisi demokrasi, dan
negara yang sudah dalam tahap konsolidasi demokrasi.
Transisi demokrasi masil labil dan masih mungkin
kembali pada sistem lama yang otoriter. Sebaliknya konsolidasi demokrasi sudah stabil dan mengakar. Negara
yang berada dalam tahap konsolidasi sukar untuk kembali ke era otoriter.
Apa yang membedakan dua kondisi demokrasi itu? Ujar
Linz dan Stephan, dalam negara konsolidasi demokrasi,
aturan main demokrasi menjadi “the only game in town.”
Para elit berpengaruh bisa berkompetisi mengenai segala
hal. Namun mereka sepakat dan tidak mempertanyakan
ix
lagi bahwa mekanisme demokrasi yang menjadi aturan
main bersama itu. Kuncinya demokrasi sebagai “the
only game in town.”
Bagaimana dengan Indonesia paska pilkada Jakarta
2017? Kebalikannya. Kita melihat masih “too many games
in town.” Terlalu banyak gagasan yang dipertarungkan
untuk menjadi aturan mainnya. Belum ada mekanisme
tunggal yang dihormati sebagai “the only game in town.”
Dan ini beresiko.
Para elit, politisi berpengaruh, pemimpin pemerintahan,
pengusaha, pemimpin partai, pemimpin ormas berpengaruh, pemimpin organisasi keagamaan, intelektual
dan opinion makers yang didengar, mereka semua boleh saja berbeda pandangan dan kepentingan. Itu hanya
tidak bermasalah, sekali lagi, itu hanya tidak merusak,
jika mereka semua bersepakat untuk tunduk pada aturan main yang sama dan dihormati.
Yang menjadi masalah jika aturan main bersama itu
semakin kurang berwibawa, semakin dirasakan kurang
akomodatif bagi perkembangan baru. Yang menjadi problem jika para elit ini jutru sedang menggugat aturan
main bersama itu. Akibatnya konflik kepentingan dan
perbedaan persepsi para elit justru akan membawa
Indonesia pada ambang kehancuran.
x
Inilah renungan terjauh refleksi dari ruang publik
Indonesia paska pilkada Jakarta. Persaingan antar kandidat dalam pilkada sudah selesai. Hasil KPUD soal
pilkada sudah disahkan. Namun konflik gagasan dan
embrio platform justru terus membara, berbeda bahkan
bertentangan soal bagaimana aturan main bersama itu
sebaiknya.
Tulisan ini adalah renungan berisi empat pokok isu
strategis paska pilkada Jakarta. Pertama, menjelaskan
aneka embrio platform yang berbeda dan saling bertentangan yang ada saat ini mengenai kemana Indonesia
harus dibentuk. Aneka platform itu ikut bertarung mewarnai pilkada DKI 2017.
Kedua, argumen mengenai mengapa para elit perlu
menegaskan komitmen pada demokrasi pancasila yang
diperbarui. Juga dijelaskan apa beda demokrasi pancasila yang diperbarui dengan demokrasi Pancasila era
Sukarno dan Suharto. Dijelaskan pula dimana bedanya
Demokrasi Pancasila yang diperbarui dengan demokrasi
liberal yang kini berlaku di dunia barat.
Ketiga, penjelasan soal apa yang kurang dalam praktek
demokrasi Indonesia saat ini agar mencapai platform
ideal Demokrasi Pancasila yang diperbarui itu.
xi
Keempat, apa yang semua kita bisa kerjakan untuk
ikut mengkonsolidasikan Demokrasi Pancasila yang
dIperbarui.
-000Empat platform gagasan terbaca ikut bertarung dalam
pilkada Jakarta. Ada gagasan demokrasi modern seperti
di negara maju yang sangat anti diskriminasi, dan juga
sangat tidak suka dengan isu agama di ruang publik.
Ada juga gerakan yang mencoba menyelinap untuk
mengajak Indonesia kembali ke sistem sebelum amandemen UUD 45. Mereka mencari momentum agar
dalam pilkada DKI terjadi pula breakthrough untuk memasukkan gagasan kembali pada demokrasi pancasila
lama. Istilah yang populer di kalangan ini, demokrasi
yang dipraktekkan sekarang sudah kebablasan dan terlalu jauh.
Ada pula gerakan yang menjadikan momentum kasus
Al Maidah untuk sekaligus memasukkan konsep negara
Islam, atau setidaknya NKRI bersyariah. Ini gerakan
yang menginginkan prinsip hukum agama semakin diterapkan dalam ruang publik.
Ada pula platform gagasan yang mempertahankan sistem demokrasi yang ada di Indonesia saat ini, namun
xii
perlu lebih diperbarui. Kita sebut saja ini gagasan Demokrasi Pancasila yang diperbarui.
Gagasan yang tidak berada di kubu Ahok hanya gagasan
NKRI bersyariah ataupun negara Islam. Sedangkan di
kubu Anies Baswedan, dan juga Agus Harimurti jauh
lebih beragam. Semua penganut gagasan di atas juga
berkumpul di belakang Anies dan Agus.
Selesai pilkada, empat gagasan itu terus bertarung. Dugaan saya puncak pertarungan empat gagasan itu justru
nanti di pilpres 2019.
Sambil mendukung calon presidennya masing-masing,
empat gagasan itu mencoba membuat agenda sendiri.
Jika bisa membuat calon presiden berhutang budi pada
mereka untuk menjadikan agenda gagasan itu sebagai
program nasional.
-000Langkah paling strategis paska pilkada Jakarta mengajak
para elite yang berpengaruh untuk menegaskan komitmen kembali pada Demokrasi Pancasila yang diperbarui.
Dua alasannya. Mayoritas pemilih Indonesia ada di
platform itu. Goresan agama yang mendalam pada
batin publik Indonesia juga membuat platform itu lebih
mengakar.
xiii
Demokrasi Pancasila yang diperbarui pastilah berbeda
dengan negara Islam model Timur Tengah. Berbeda pula,
ia dengan Demokrasi Pancasila sebelum amandemen
UUD 45. Namun ia berbeda pula dengan demokrasi
liberal yang dipraktekkan negara barat saat ini.
Survei nasional dilakukan LSI Denny JA sejak 2005
sampai 2016. Juga survei Jakarta yang dilakukan terakhir di bulan April 2017. Ketika ditanya, apakah ibu
bapak menginginkan Indonesia menjadi negara Islam
seperti Timur Tengah, negara demokrasi liberal seperti
negara barat, atau negara demokrasi pancasila (tak didefinisikan detail semua gagasan itu)?
Jawaban pemilih. sejak 2005 sampai kini tak banyak
berubah. Yang inginkan negara Islam selalu di bawah 10
persen. Yang inginkan demokrasi liberal juga selalu di
bawah 10 persen. Yang inginkan Demokrasi Pancasila
selalu di atas 70 persen.
Negara Islam tidak mengakar dalam batin rakyat Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam. Demokrasi
liberal barat juga masih asing bagi mayoritas publik
Indonesia. Demokrasi Pancasila itu yang diidealkan.
Jika soal Demokrasi Pancasila itu didetailkan, ingin
kembali dalam sistem politik era Orde Baru tanpa kebebasan seperti sekarang, atau sistem demokrasi seperti
xiv
sekarang? Mayoritas memilih Demokrasi seperti saat
ini.
Negara Islam tidak akan cocok jika dipaksakan ke Indonesia. Ia ditolak oleh mayoritas pemilih Muslim sendiri.
Dunia modern sudah pula sampai pada kultur citizenship. Siapapun warga negara, apapun agamanya, mereka
punya hak politik yang sama dan perlindungan hukum
yang sama. Negara modern tidak mendiskriminasikan
hak warga negara semata karena identitas sosialnya, termasuk agama.
Demokrasi Pancasila era Soekarno dan Suharto juga
tidak pas jika dipaksakan kembali berlaku. Dwi fungsi
militer, hadirnya utusan golongan yang tidak dipilih di
MPR, presiden sebagai mandataris MPR, pembatasan
pada kebebasan berasosiasi dan kebebasan berpendapat
itu masa lalu. Mencoba membawa kembali Indonesia
sebelum amandemen UUD 45 juga ditolak mayoritas
pemilih dalam aneka survei nasional.
Demokrasi liberal ala barat dengan civil liberty yang
penuh, dan ruang publik yang kurang friendly dengan
agama juga tidak mengakar. Memaksakan demokrasi
liberal justru akan membuat antipati publik luas atas
prinsip demokrasi secara menyeluruh.
xv
Harus diterima bahwa prinsip demokrasi hanya akan
kuat jika ia dikawinkan dengan kultur lokal yang dominan di sebuah wilayah. Untuk kasus Indonesia, goresan agama dalam batin masyarakat sangat dalam.
Demokrasi yang ingin mengakar harus mengakomodasi
kondisi itu dalam sistem kelembagaannya.
Hadirnya kementerian agama misalnya tak dikenal dalam demokrasi liberal barat. Namun untuk indonesia,
kementrian agama sebuah kompromi yang seharusnya
diambil. Evolusi kesadaran publik mayoritas Indonesia
menghendaki pemerintah ikut mengurus agama publik.
Itu yang tak ada dalam demokrasi liberal barat.
-000Sungguhpun demikian, platform Demokrasi Pancasila yang diperbarui perlu dikonsolidasikan. Tiga isu di
bawah ini yang perlu ditambahkan agar Demokrasi
Pancasila yang diperbarui itu bisa diterima sebagai “the
only game in town.” Ia akan diterima karena akomodatif
terhadap aneka keberagaman yang ada.
Pertama, justru karena demokrasi ini memberikan peran agama yang lebih besar di ruang publik, perlu dibuat
sebuah undang undang Perlindungan Kebebasan dan
Umat bergama.
xvi
UU ini mengatur bagaimana Pancasila yang sentral
dalam demokrasi dioperasionalkan di ruang publik.
Dengan demikian, praktek dan keberagaman paham
agama yang ada terlindungi sangat kuat, sebagaimana
yang dipahat dalam sila pertama Pancasila.
Kementrian agama sudah mulai menyusun draftnya.
Jika bisa, sebelum pilpres 2019, draft itu sudah disempurnakan dan final. Kita ingin dalam UU itu, aturan
dibuat untuk lebih melindungi keberagaman agama dan
kebebasan mereka beribadah dan bersosialisi di ruang
publik.
Kedua, mengakomodasi luasnya spektrum gagasan
yang ada dalam masyarakat. Sejauh itu semua masih
dalam bentuk gagasan, ia dibolehkan belaka untuk hidup di ruang publik. Yang dilarang hanya gagasan yang
merekomendasikan kekerasan seperti terorisme. Atau
gagasan yang dipaksakan dengan kekerasan.
Akibatnya spektrum yang paling kanan dan yang paling kiri harus dibolehkan hidup. Melarang hak hidup
gagasan, seberapapun ektremnya, kecuali yang merekomendasikan kekerasan dan kriminal, akan membuat
aturan main bersama tidak akomodatif.
Misalnya, pemerintah dan para elite harus menerima
adanya kebebasan beropini bagi yang paling kanan:
xvii
gagasan negara Islam, dan yang paling kiri: gagasan
LGBT, untuk menjadi wacana.
Semua negara demokrasi modern membolehkan hak
hidup aneka gagasan selucu dan senorak apapun. Prinsipnya ucapan Voltaire: Saya tak setuju pandangan tuan.
Tapi hak tuan menyatakan pandangan itu akan saya bela.
Yang dibela bukan isi gagasan itu tapi hak hidupnya untuk ikut mewarnai dan bertarung di ruang publik.
Tak hanya pemerintah, tapi elite Indonesiapun kadang
tak siap dengan prinsip Voltaire itu. Misalnya mereka
yang mengaku pro keberagaman. Ketika diskusi LGBT
dilarang, mereka marah dan melawan. Tapi ketika diskusi HTI soal khilafah Islam dilarang, mereka senang
dan mendukung.
Padahal prinsip Hak Asasi Manusia dan Demokrasi
Modern menjamin hak hidup aneka gagasan sejauh masih dalam bentuk gagasan, dan tidak menyerukan kekerasan ataupun tindakan kriminal.
Mengapa negara demokrasi modern bahkan membolehkan gagasan intoleran di ruang publik? Sangat
simpel alasannya. Di samping itu bagian dari Hak Asasi
Manusia, gagasan ekstrem dan intoleran itu tak pernah
mendapatkan dukungan mayoritas. Gagasan itu berhenti hanya menjadi estalase keberagaman saja.
xviii
Ketiga, prinsip kedua itu harus juga diikuti tegaknya
law enforcement aparatur negara. Ini sepenuhnya harus disadari pemerintah. Ketika demokrasi masih labih
seperti sekarang, pemerintah harus hadir! Pemerintah
harus tegas dan keras melindungi keberagaman itu.
Jika tidak, kebebasan yang ada justru digunakan untuk
menindas yang lemah.
-000Inilah buah paling manis selesai pilkada Jakarta 2017.
Lahir hikmah keharusan kita untuk meneguhkan kembali komitmen pada Demokrasi Pancasila yang diperbarui. Jika tidak, semua akan melawan semua.
Masing-masing kita bisa berperan sesuai dengan pengaruh dan kapasitasnya. Satu saja targetnya. Kita ingin
Demokrasi Pancasila yang diperbarui semakin lama semakin menjadi “the only game in town.”
Dengan demikian, politik kita semakin stabil. Keberagaman gagasan yang ada juga terakomodasi, sesuai
dengan evolusi kesadaran publik Indonesia.
Tentu saja konsep demokrasi pancasila yang diperbarui
di atas banyak kelemahannya. Tapi alternatif lain, akan
lebih banyak lagi kelemahannya dan tidak mengakar.
xix
Kumpulan tulisan di buku ini langkah pertama untuk
mewacanakan kembali pentingnya Pancasila sebagai
perekat. Pancasila itu kemudian diterjemahkan ke dalam sistem kelembagaan pemerintahan.
Sebanyak 18 penulis, aktivis, pemikir dan intelektual
menyumbangkan gagasannya dalam buku ini. Sebuah
survei nasional oleh LSI Denny JA pada bulan Mei 2017
sudah dibuat pula untuk menguji daya terima publik
atas gagasan Demokrasi Pancasila yang diperbarui.
Buku ini diharapkan menstimulasi perumusan Demokrasi Pancasila yang lebih solid. Seperti yang dikatakan
seorang filsuf: Tak ada kekuatan yang lebih powerful
dibandingkan sebuah ide yang waktunya sudah datang.
Mungkinkah waktu bagi ide “Demokrasi Pancasila
(Yang Diperbarui) sudah datang? []
1 Juni 2017
xx
BAB I
MENGAPA DEMOKRASI
PANCASILA PERLU
DITEGASKAN KEMBALI
1
2
Analisis Survei Nasional LSI, 19 Mei 2017
Mewacanakan Kembali
Demokrasi Pancasila (Yang
Diperbarui)
Denny JA
Woodrow Wilson tipe pemimpin yang sangat jarang.
Awalnya ia seorang akademisi ilmu politik yang dihormati dan kemudian menjadi presiden dari John Hopkins
University (1902-1910). Namun situasi politik pelan pelan menuntunnya terpilih menjadi presiden Amerika
Serikat dua periode (1913-1921).
Ia menjadi pemimpin politik dan akademik sekaligus.
Ketika ditanya apa yang membuatnya sukses sebagai
pemimpin, dan berhasil memimpin universitas dan negara, Wilson menjawab: Telinga seorang pemimpin harus terbuka dalam gelombang yang sama dengan suara
komunitasnya dan suara rakyatnya.
Dengarkan suara mereka yang kau pimpin. -Dengarkan
dengan telinga yang benar. Itu kiat sederhana Wilson.
3
Saatnya kitapun membuka telinga, mendengar suara
rakyat. Saatnya kita mendengar bagaimana pandangan
rakyat seluruh Indonesia soal situasi muthakir? Bagaimana mereka melihat polarisasi masyarakat terutama
setelah pilkada Jakarta.
Selama ini yang kita dengar hanya suara elite saja. Atau
suara rakyat Jakarta saja. Bagaimana dengan suara
rakyat Indonesia di 34 propinsi?
-000Mayoritas publik Indonesia, sebanyak 72.5 persen, tak
nyaman dengan berlanjutnya polarisasi masyarakat pro
dan kontra Ahok. Polarisasi itu dinilai sudah melampaui
persoalan pilkada dan potensial melonggarkan kebersamaan sebagai satu bangsa.
Sebesar 75 persen rakyat menginginkan pemerintah
beserta penentu kecenderungan masyarakat menegaskan kembali komitmen menjadikan demokrasi pancasila sebagai perekat. Namun demokrasi pancasila yang
dimaksud bukan pola kenegaraan era Orde Baru dan
bukan sistem sebelum amandemen UUD 45.
Demikianlah salah satu temuan survei nasional LSI
Denny JA. Survei nasional ini dibuat khusus untuk
membaca situasi nasional paska pilkada Jakarta. Res-
4
ponden sebanyak 1200 dipilih berdasarkan multi stage
random sampling. Wawancara tatap muka dengan responden dilakukan serentak di 34 propinsi dari tanggal
5-10 mei 2017.
Survei ini dibiayai sendiri sebagai bagian layanan publik
LSI Denny JA. Margin of error plus minus 2.9 persen.
Survei dilengkapi dengan riset kualitatif seperti FGD,
media analisis, dan depth interview nara sumber.
-000Pilkada Jakarta menarik perhatian nasional. Sebanyak 75.8 persen penduduk Indonesia mengetahui dan
mengikuti kontroversi yang muncul dalam pikada. Hanya 9. 5 persen yang menyatakan tak mengikuti dan tak
tahu soal pilkada Jakarta. Sisanya, 14.3 persen menjawab
rahasia atau tak menjawab.
Berlarutnya kontroversi pilkada Jakarta hingga lahirnya gerakan lilin dan pro kontra membuat kekhawatiran. Sebesar 72.5 persen merasa tak nyaman. Mayoritas
itu berpandangan polarisasi itu tak lagi sehat. Hanya sebesar 8.7 persen menyatakan polarisasi yang ada tidak
mengkhawatirkan. Sisanya 18.8 rahasia dan tak jawab.
Mayoritas publik ingin pemerintah dan penentu kecenderungan untuk lebih membuat upaya ekstra mere-
5
katkan masyarakat. Tapi sistem kenegaraan apa yang
dipilh yang bisa merekatkan kembali masyarakat?
Hanya 2.3 persen publik Indonesia menginginkan
demokrasi liberal seperti yang dipraktekkan di Barat.
Kecilnya prosentase ini sangat mengagetkan. Kata liberal dan kata barat di belakang kata demokrasi mungkin
punya konotasi negatif dalam kesadaran publik.
Hanya 8.7 persen yang menginginkan Indonesia mengadopsi negara Islam seperti di Timur Tengah. Sungguhpun 85 persen penduduk Indonesia Muslim namun hanya sedikit sekali menginginkan agama menjadi bentuk
negara.
Mayoritas publik 74 persen menginginkan demokrasi Pancasila sebagai sistem negara dan perekat. Kata
Pancasila di belakang demokrasi itu sudah sedemikian
mengakar dalam benak publik. Sebanyak 15 persen rahasia dan tak menjawab.
-000Besarnya rakyat Indonesia yang menginginkan demokrasi pancasila bervariasi di aneka segmen masyarakat.
Namun di semua segmen itu, mayoritas menginginkan
Demokrasi Pancasila.
6
Tapi apakah demokrasi pancasila yang dimaksud oleh
responden? Yang pasti 68, 7 persen menyatakan itu
bukan demokrasi pancasila era Orde Baru. Itu bukan
demokrasi pancasila sebelum amanden UUD 45.
Elemen penting demokrasi pancasila Orde Baru sudah
ditinggalkan sejak era reformasi dan turunnya Suharto.
Dwi fungsi militer, utusan golongan yang tak dipilih di
MPR, presiden sebagai mandataris MPR, dan terbatasnya kebebasan berserikat serta beropini, itu elemen
Orde Baru yang tidak disukai rakyat masa kini.
Namun demokrasi pancasila yang lebih detail, yang
disetujui publik luas, memang sulit dieksplor melalui
kuesioner survei opini publik.
Saya (Denny JA) mencoba menyusun konsep demokrasi
pancasila yang diperbarui. Data survei dan instrumen
riset lain menjadi fondasinya.
Ini lima elemen demokrasi pancasila yang diperbarui.
Tambahan kata “yang diperbarui” di belakang demokrasi
pancasila sebagai pembeda dengan demokrasi pancasila
era pak Harto.
Bisa pula digunakan bahasa dunia digital. Jika demokrasi
pancasila masa Pak Harto disebut demokrasi pancasila
7
1.0, maka demokrasi pancasila yang diperbarui, disebut
demokrasi pancasila 2.0.
Pertama, demokrasi pancasila mengadopsi mekanisme
politik umumnya demokrasi seperti di negara maju.
Demokrasi pancasila juga mengadopsi aneka hak asasi
manusia yang dirumuskan PBB.
Itu persyaratan minimal sebuah sistem kenegaraan untuk sah disebut demokrasi modern. Termasuk di dalam
prinsip itu kesamaan hak sosial politik ekonomi semua
warga negara, apapun identitas sosialnya. Hak persamaan kaum minoritaspun sentral untuk dilindungi.
Kedua, namun berbeda dengan demokrasi di dunia
barat, agama memainkan peran sentral dalam mayoritas
perilaku warga. Hadirnya kementerian agama menjadi
modifikasi demokrasi pancasila. Di negara demokrasi
lain, tak mengenal kementerian agama.
Ketiga, hadirnya UU yang melindungi kebebasan agama dan kepercayaan masyarakat. Justru karena peran
agama yang lebih besar dalam prilaku masyarakat, perlu
ada UU yang melindunginya.
Aneka aturan soal agama saat ini berserak serak dalam
aneka peraturan lain. Saatnya itu semua disatukan, namun dalam kerangka UU yang lebih melindungi kebe-
8
basan agama. UU itu belum ada dan sedang dimatangkan di kementrian agama.
Keempat, Pancasila menjadi perekat bangsa. Keberagaman agama dan kepercayaan di Indonesia menjadikan
Pancasila sebagai simbol kebersamaan. Masing-masing
tokoh berpengaruh agama melihat Pancasila sebagai
“common ground,” titik tengah yang bisa disepakati.
Dan akan jauh lebih mengakar jika Pancasila dilegitimasi
sebagai mutiara yang terdapat dalam ajaran agama dan
kepercayaannya sendiri.
Kelima, pemerintah di bawah presiden dimandatkan
konstitusi dan undang undang menjaga dan melindungi
keberagaman itu. Gagalnya pemerintah menjaga keberagaman dan persatuan dapat menjadi bahan untuk memecat presiden.
-000Presiden Jokowi baru saja menyerukan masyarakat untuk menghentikan semua aksi yang memperuncing polarisasi. Ujar presiden, hentikan saling hujat, saling fitnah, saling demo, karena kita bersaudara.
Seruan presiden itu sejalan dengan temuan survei LSI
Denny JA yang ingin semua kita merekatkan kembali
9
kebersamaan. Tanggal 20 Mei 2017 menjadi momentum yang baik untuk kembali menegaskan demokrasi
pancasila yang diperbarui untuk dijadikan aturan main
bersama.
Jangan terlalu lama kita berkubang dalam peristiwa
yang sudah lewat. Segetir apapun peristiwa itu. Satukan
enerji mencari titik temu aturan main bersama di ruang
publik agar harmoni, bersatu dan damai menaungi aneka keragaman dan kepentingan.
Kita jadikan “Demokrasi Pancasila yang diperbarui”
(apapun namanya sejauh dengan substansi yang sama)
sebagai “the only game in town.”
[]
10
Paska Pilkada Jakarta
Apakah Kebhinekaan Kita
Terancam?
Denny JA
Keberagaman, ujar Robert Casey, harga yang harus kita
bayar jika ingin hidup dalam dunia modern yang kompleks. Apa yang dikatakan Robert Casey sudah menjadi
“common wisdom,” diaminkan oleh mayoritas.
Merawat keberagaman, hidup damai dalam perbedaan,
saling menghormati berbagai persepsi di ruang publik,
menjadi fondasi utama bangunan demokrasi modern.
Namun benarkah keberagaman di Indonesia kini terancam? Benarkah fondasi Pancasila goyah paska kalahnya
Ahok dan menangnya Anies?
Selesai pilkada Jakarta, saya membaca banyak kegelisahan. Aneka Isu negatif meluas terutama di social media:
di facebook, twitter dan berbagai kelompok WA.
Misalnya isu itu seperti ini. Setelah pilkada Jakarta, kini
pilkada Jabar diserbu isu agama serupa. Bersiaplah. Isu
11
agama akan meluas dan digunakan untuk mengalahkan
tokoh moderat di aneka pilkada lain. Mendung untuk
keberagaman Indonesia.
Atau, selamat merayakan kemenangan pilkada Jakarta.
Bersenang-senanglah di atas runtuhnya fondasi keberagaman bangsa. Tanpa sadar mereka tak hanya merayakan kemenangan pilkada. Tapi sebenarnya mereka merayakan kalahnya fondasi keberagaman Indonesia.
Atau, mereka yang memberi peluang politisasi agama,
harap catat. Pada waktunya, mereka sendiri akan ditelan
oleh gelombang itu. Mereka mengira politisasi agama
hanya alat sesaat saja untuk pilkada. Mereka lupa, politisasi agama itu akan menjadi monster yang melahap
mereka dan keberagaman kita.
Dari nada dan aura aneka berita tersebut ada kekhawatiran yang meluas. Seolah kalahnya Ahok di Jakarta menjadi penanda kalahnya komunitas pro keberagaman.
Atau menangnya Anies-Sandi di Jakarta akan membawa
gerbong semakin dominannya syariah Islam di dunia
publik.
Benarkah kekhawatiran itu? Sedang terancamkah kebhinekaan kita?
12
Saya mengapresiasi kekhawatiran itu, dan positif atas
upaya menjaga keberagaman. Namun saya membantah
kekhawatiran itu dengan tiga hal. Pertama, data. Kedua,
data. Ketiga, data!
-000Saya memegang data sebelas kali survei Jakarta sejak
Maret 2016 sampai April 2017. LSI melakukan survei
paling banyak dibanding lembaga survei lain. Dinamika
opini publik dan persepsi aneka segmentasi pemilih terbaca jelas dalam sebelas kali survei itu.
Tak benar kalahnya Ahok berarti kalahnya semangat keberagaman. Yang mengalahkan Ahok di Jakarta adalah
melting pot, kumpulan aneka kepentingan. Mereka disatukan oleh persepsi yang sama: Ahok harus dikalahan.
Titik!
Memang ada alasan tak ingin memilih Ahok semata
karena Ahok berbeda agama. Namun jauh lebih banyak di segmen itu menolak Ahok bukan karena agama
Ahok, tapi persepsi mereka atas arogansi Ahok. Bukan
karena agama Ahok tapi karena Ahok dianggap menista
agama mereka.
Apakah benar Ahok menista agama? Pengadilan yang
akan memutuskan. Namun mayoritas pemilih punya
13
persepsi Ahok menista agama, seperti yang terekam
dalam survei berkali-kali.
Mereka dengan sentimen agama adalah the angry voters,
pemilih yang marah. Yang dominan di kalangan segmen
ini bukanlah pemilih yang begitu taat dan saleh dengan
agamanya. Umumnya mereka bukanlah pendukung
syariat Islam di dunia publik.
Banyak pula segmen anti Ahok yang justru aktivis keberagaman, HAM, dan demokrasi. Bagi mereka Ahok
buruk untuk keberagaman. Demokrasi Indonesia masih labil. Di tangan pemimpin yang tak sensitif dengan
pernyataan publik soal agama, akan membuat fondasi
keberagaman yang labil itu semakin goyah.
Bagi mereka, justru untuk meneguhkan keberagaman,
Ahok harus dikalahkan. Tentu saja mereka pro Pancasila.
Jika ditanya, ibu bapak sekalian, apakah ibu bapak
inginkan demokrasi modern seperti barat, negara Islam
seperti di Timur Tengah, atau negara Pancasila?
Yang inginkan negara Islam, syariah Islam di ruang
publik, di bawah 10 persen. Di atas 70 persen pemilih
Jakarta, termasuk yang memilih Anies-Sandi menginginkan Pancasila.
14
Data membantah kekhawatiran itu. Yang mengalahkan
Ahok bukan minoritas pendukung negara Islam, tapi
justru mayoritas pendukung negara Pancasila!
Itu adalah data, bukan teori, bukan harapan!
-000Sering ditanyakan, mengapa pendukung Anies Sandi
yang pro keberagaman bersedia bekerja sama dengan
aneka kelompok intoleran? Bukankah ini berarti memberi panggung bagi membesarnya kelompok yang anti
keberagaman?
Jawaban atas pertanyaan ini adalah visi dan fakta sejarah, bukan lagi data. Demokrasi membolehkan semua
warga negara yang sah untuk berkumpul, mendukung
atau melawan siapapun.
Begitulah mozaik isu publik yang terjadi dalam praktek
demokrasi modern. Untuk satu isu, aneka kelompok
yang berbeda bisa menyatu dalam satu posisi yang sama.
Namun menghadapi isu lain yang berbeda, mereka
yang bersatu itu bisa bahkan saling berhadapan. Bersatu
atau berhadapan, itu tergantung dengan isu sosial yang
datang.
15
Tak usah heran dan itu biasa saja jika dalam kubu yang
anti Ahok itu berkumpul kelompok yang sebenarnya
bertentangan. Ada FPI, HTI yang dianggap garis keras.
Namun ada juga aktivis keberagaman dan HAM di sana.
Ada NU. Ada Muhammadiyah.
Visi demokrasi membolehkan mereka berkumpul dan
bersatu. Tak ada prinsip demokrasi yang dilanggar. Namun bersatunya mereka hanya untuk isu pilkada saja.
Mereka diikat kepentingan yang sama mengalahkan
Ahok. Mengapa Ahok harus dikalahkan? Mereka punya
alasan berbeda bahkan bertentangan.
Survei LSI sudah mengujinya. Ketika ditanya apakah
sebaiknya Indonesia menerapkan sistem negara Islam?
Pendukung anti Ahok itu terpolarisasi pro dan kontra
saling berhadapan.
Di kalangan anti Ahok dan pendukung Anies, lebih
banyak yang kontra negara Islam ketimbang yang pro.
Ini juga data.
-000Mengapa kelompok yang pro keberagaman di kubu
Anies Sandi membiarkan garis keras mendapat panggung dan semakin eksis di ruang publik?
16
Begitulah visi demokrasi modern. Di Amerika Serikat,
ada KKK yang rasialis kulit putih. Ada pula kelompok
Elijah Mohammad yang rasialis kulit hitam. Mereka
dibolehkan hidup di ruang publik. Merekapun dibolehkan ikut pemilu, ikut berkampanye. Mereka dibebaskan
memilih siapa yang harus didukung dan dilawan.
Yang dilarang kemudian, bukan gagasannya yang dianggap rasialis. Yang dilarang hanya jika mereka melakukan
tindakan kriminal.
Ujar John Rawls, jika kelompok toleran ternyata tidak
toleran kepada kelompok intoleran, maka kelompok
toleran itu berubah karakternya menjadi kelompok intoleran.
Kelompok yang toleranpun harus ikhlas bahwa ruang
publik itu milik bersama. Demokrasi dan HAM baik
teori ataupun praktek, membolehkan kelompok intoleran di ruang publik.
Sejauh masih dalam dunia gagasan, gagasan yang toleran dan intoleran sama-sama dibolehkan hidup. Dalam
pasar bebas dunia gagasan, mereka dipersilahkan bersaing meyakin publik.
Yang dilarang adalah tindakan kriminal, kekerasan dan
hate speech. Namun larangan itu berlaku bukan hanya
17
untuk pelaku gagasan yang intoleran. Ia juga diterapkan
untuk pelaku gagasan yang toleran.
Mengapa demokrasi modern tidak takut dengan gagasan
intoleran yang mungkin akan mematikan demokrasi itu
sendiri?
Dalam kurva pasar bebas dunia ide, gagasan intoleran
umumnya hanya minoritas saja, di ekstrem kiri atau
kanan. Mayoritas publik tetaplah pelaku gagasan toleran.
-000Kemenangan Anies Sandi justru kemenangan isu kebhinekaan yang lebih kokoh. Kebhinekaan justru labil
jika diwarnai ketimpangan sosial. Kebhinekaan justru
negatif jika tidak disertai kuatnya rasa persatuan.
Menang telaknya Anies-Sandi di putaran kedua justru
karena gagasan itu: kebhinekaan yang berkeadilan sosial
dan diwarnai rasa persatuan yang kuat.
Dengan isu di atas, Anies-Sandipun menang dalam segmen pemilih kelas menengah. Tanpa isu kebhinekaan,
semata isu agama, Anies-Sandi hanya menang di pemilih menengah bawah saja. Anies akan menang tipis atau
bahkan kalah tipis.
18
Justru isu kebhinekaan yang membuat Anies-Sandi tak
hanya menang, tapi menang telak. Ini juga data.
Saya senang ikut merumuskan tema itu bersama Anies
Baswedan. Digitroops di bawah Fahd Pahdepie membuatkan videonya. Digitroops memainkan isu itu secara
massif di media sosial.
Saya juga senang ikut membantu Prabowo tampil tegas sekali soal isu keberagaman itu. Digitroops juga
membuat video Prabowo dengan pernyataan sangat
tegas. Ujar Prabowo, saya menjadi orang pertama yang
akan menurunkan Anies-Sandi jika tak setia pada kebhinekaan, Pancasila dan NKRI.
Kebhinnekaan kita tidak terancam dengan kalahnya
Ahok dan menangnya Anies. Kebhinekaan kita justru
sedang dalam proses diperkokoh dgn isu keadilan sosial
dan persatuan.
Pilkada sudah selesai. Mari kita move on, melangkah ke
depan. Yang menang didukung dan dibantu. Yang kalah
dihormati dan dirangkul.
Keberagaman akan terus tumbuh di Indonesia. Bahkan
jika Batman, Superman, Ironman dan tokoh superhero
lain bersatu sekalipun untuk menghapus keberagaman,
mereka tak akan berhasil. []
19
20
Paska Pilkada Jakarta
Jangan Benturkan
Keindonesiaan Versus
KeIslaman
Denny JA
Marcus Garvey tokoh kontroversial. Namun tetap ada
kutipan darinya yang layak dikenang. Ujarnya membangun sistem pada sebuah bangsa, tapi tidak mengambil
elemen terbaik kultur dominan bangsa itu, sama dengan
menegakkan pohon tanpa akar.
Dengan kata lain, itu bukan saja pekerjaan yang sia-sia.
Namun itu kebodohan paling elmenter. Sistem apapun
yang akan ditegakkan disana justru akan dilawan oleh
mayoritas masyarakatnya sendiri. Perlawanan itu akan
sangat kokoh karena didukung oleh kultur yang sudah
mengakar.
Berangkat dari kutipan itu, kitapun melihat Indonesia
paska pilkada Jakarta. Membangun Indonesia modern,
membangun keberagaman, tanpa menegaskan kesamaannya dengan interpretasi terbaik dari kultur dominan
di Jakarta (Indonesia), itu sebuah blunder yang fatal!
21
Mayoritas masyarakat harus justru harus diyakinkan.
Sistem politik yang ingin kita bangun itu sejalan belaka dengan pemahaman terbaik keyakinannya. Platform
nasional yang ingin ditegakkan hanyalah ekspresi berbeda dari interpretasi terbaik kulturnya sendiri.
Namun apakah kultur dominan di Indonesia yang tak
boleh diabaikan?
-000LSI Denny JA sudah melakukan survei nasional berkalikali sejak tahun 2005 hingga tahun ini, 2017. Dua fakta
kultural ini harus selalu dijadikan referensi.
Pertama, agama dalam batin publik Indonesia sangat
mendalam. Pemahaman mereka atas ajaran agama akan
mewarnai orientasi, pilihan dan pedoman prilaku. Hanya di bawah 20 persen dari rakyat Indonesia yang menyatakan (self-claim) agama tidak menjadi bagian penting aktivitas pribadi dan publiknya.
Kedua, Demokrasi Pancasila, apapun definisinya, dianggap lebih dari 70 persen rakyat Indonesia sebagai
platform nasional Indonesia yang paling mereka pilih.
Walaupun mayoritas rakyat itu Muslim, hanya di bawah
10 persen populasi Indonesia yang menginginkan nega-
22
ra Islam. Dan ternyata hanya di bawah 10 persen populasi Indonesia yang menginginkan demokrasi liberal
seperti di dunia barat.
Dari survei itu: Agama dan Demokrasi Pancasila menjadi
kunci. Sistem apapun yang ingin kita jadikan platform
nasional, harus dikemas sedemikian rupa bahwa sistem
itu mengakar para interpretasi terbaik dari agama dan
Demokrasi Pancasila.
Sebanyak 85 persen dari populasi Indonesia beragama
Islam. Mayoritas rakyat harus justru diyakinkan platform nasional yang akan ditegakkan berangkat dari nilai
terbaik Islam sendiri.
Karena itu ini juga warning untuk pemimpin, politisi,
aktivis, ulama, opinion makers, dan penentu kecenderungan. Jangan pernah menghadap-hadapkan antara
Keindonesiaan vesus keislaman, kebhinekaan versus Islam, Pancasila versus Islam, demokrasi versus Islam.
Jangan pernah membuat publik luas seolah harus memilih antara Keindonesiaan atau Keislaman, Pancasila atau
Islam, Kebhinekaan atau Islam, demokrasi atau Islam?
Ini akan membuat dua hal. Platform nasional yang akan
kita terapkan tak akan pernah mengakar dan ditolak.
23
Lebih jauh, Indonesia akan mengalami keretakkan kultural yang parah.
-000Pancasila adalah platform yang simbolik. Ia bukan
sistem politik ekonomi yang operasional seperti kapitalisme atau komunisme. Justru itu sekaligus juga kekuatannya. Pancasila lebih bisa diinterpretasi sesuai kemajuan peradaban.
Dibandingkan semua platform lain, Pancasila menjadi ikon keindonesiaan yang sudah mengakar. Langkah
berikutnya meyakinkan mayoritas Muslim bahwa Pancasila itu mutiara yang digali dari ajaran terbaik Islam
sendiri.
Di bawah ini, ikhtiar yang kuat secara konsep dan efek
praktisnya. Aneka sila Pancasila disandingkan dengan
ayat ajaran Al Quran sendiri.
Sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa.
Ayat Al_Quran: Dialah Allah, yang Maha Esa (QS: Al
Ikhlas- 1)
Sila kedua: Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
24
Ayat Al-Quran: Hendaklah kamu menjadi manusia
yang adil (QS: An Nisa: 135)
Sila ketiga: Persatuan Indonesia
Ayat Al-Quran: Dan kami jadikan kamu berbangsabangsa dan bersuku-suku supaya saling kenal- mengenal
(QS: Al Hujurat: 13)
Sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Ayat Al-Quran: Sedangkan keputusan mereka
(diputuskan) dengan musyawarah antara mereka (QS:
Asy Syuro: 38)
Sila Kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Ayat Al Quran: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
berbuat adil dan melakukan kebaikan (QS: An Nahl: 90)
Penting untuk disebarkan seluasnya. Pancasila itu
digali dari akar spiritual bangsa Indonesia sendiri.
Dengan sendirinya, ia ikut digali dari ajaran Islam.
Keindonesiaan menjadi mutiara dari Keislaman sendiri.
-000-
25
Bagaimana dengan hak dan perlindungan hukum kaum
minoritas?
Dalam Pancasila, warga negara minoritas juga dilindungi
dan diperlakukan sama. Melindungi dan memberikan
hak hak kewarga negaraan yang sederajat itu bagian
dari prinsip negara modern yang tak bisa dihindari dan
harus terus dilindungi.
Dalam Demokrasi Pancasila, semua warga negara apapun agamanya bisa menjadi pemimpin. Ini juga harga
mati unruk membangun sistem demokrasi modern.
Namun tentu saja setiap individu bebas memilih pemimpinnya, baik seagama ataupun tidak. Itu sepenuhnya
hak individu, tergantung persepsi individu itu sendiri.
Warga Kristen yang memilih pemimpin beragama Kristen, warga Muslim yang memilih pemimpin Muslim,
wanita yang ingin memilih pemimpin wanita, kulit
hitam yang ingin memilih pemimpin kulit hitam, itu
semua sah saja. Itu bagian dari hak asasi manusia yang
juga dilindungi. Bahkan mereka dibolehkan berkampanye atas pilihannya sebagai bagian dari kebebasan beropini dan berasosiasi.
Seorang aktivis feminis boleh berkampanye untuk memilih pemimpin wanita yang dianggap akan lebih peka
26
dengan perjuangan wanita. Pendeta boleh berkhotbah
di gereja menyerukan umat memilih domba Allah yang
kini berjuang dalam pemilu. Hal yang sama untuk ulama yang juga dibolehkan berkampanye memilih pemimpin satu agama.
Apakah dengan demikian mustahil terpilih pemimpin
minoritas? Jawabnya semua serba mungkin. John F kennedy yang katolik terpilih di Amerika yang mayoritasnya
Protestan. Obama yang kulit hitam terpilih dalam pemilu yang mayoritas pemilihnya kulit putih.
Dan Teras Narang yang beragama minoritas di proponsi Kalimantan Tengah terpilih di sana yang mayoritas
pemilihnya Muslim. Teras Narang terpilih dua kali pula
untuk dua periode jabatan gubernur. Itu semua tergantung dari crafmanship tokoh yang bersangkutan
-000Kapankah demokrasi modern di Indonesia stabil? Dengan mengacu pada uraian di atas, demokrasi modern
akan stabil di Indonesia, ketika mayoritas publik Indonesia, yang minoritas ataupun Muslim, meyakini bahwa
demokrasi dan Pancasila itu adalah mutiara dari ajaran
agamanya sendiri. Dan bagi yang muslim, itu semua
adalah mutiara dari ajaran Islam sendiri.
27
Ke sanalah para pemimpin, aktivis, intelektual, ulama,
politisi harus berjuang. []
28
Haruskah HTI Dibubarkan?
Denny JA
“Jika kita tak bisa menyamakan perbedaan, kita tetap
bisa membuat dunia lebih aman agar perbedaan kita
bisa tumbuh berdampingan dengan damai.”
Itu kutipan John F Kennedy yang layak menjadi pedoman bagi siapapun yang ingin membangun negara modern dan peradaban. Suka atau tak suka, evolusi
peradaban menuju pada semakin beragamnya gagasan
dan gaya hidup. Semakin modern sebuah masyarakat,
semakin ia mengalami diversity.
Seruan paling bijak menghadapi hukum alam evolusi
peradaban: Hiduplah damai dalam keberagaman itu.
Musuh bersama bukan perbedaan gagasan. Apapun
gagasan itu. Musuh bersama adalah kekerasan dan pemaksaan kehendak yang membuat keberagaman itu tak
bisa berdampingan secara damai.
Dengan prinsip di atas, saya menyarankan pemerintah
untuk lebih berhati-hati mengambil langkah hukum
membubarkan sebuah organisasi. Harus direnungkan
29
dengan keras, langkah itu justru akan lebih mampu
merawat keberagaman Indonesia? Atau justru akan
mencabik-cabik keberagaman Indonesia lebih jauh.
Adakah peluang HTI mengubah haluan negara Indonesia? Adakah peluang HTI mengubah NKRI menjadi
khilafah? Adakah kekerasan sistematis yang dilakukan
HTI yang membahayakan ruang publik kita?
Dua alasan di bawah ini membuat saya menyarankan
pemerintah lebih berhati-hati membubarkan sebuah organisasi.
-000Pertama, adakah peluang HTI mengubah haluan negara?
Mengubah haluan negara hanya bisa lewat parlemen
dan pemerintahan. Membuat UU saja membutuhkan
proses ketat lobi partai politik di DPR dan pemerintahan eksekutif. Bulak balik berbulan-bulan belum tentu
DPR dan pemerintah selesai merumuskan sebuah UU.
Apalagi untuk mengubah konstitusi negara. Selama era
reformasi sejak 1998, hampir 20 tahun lalu, amandemen
konstitusi hanya terjadi satu kali.
30
Tentu saja perangkat politik yang bisa mengubah haluan
negara hanya partai politik. Tanpa partai politik, tak ada
pintunya mengubah haluan negara.
Sementara empat partai politik terbesar partai sangat
kuat elemen nasionalisnya. PDIP, Golkar, Gerindra,
Demokrat, selaku empat partai terbesar harus ditaklukkan dulu untuk mengubah haluan negara. Mungkinkah
PDIP, Golkar, Gerindra, Demokrat mendukung Khilafah HTI misalnya? Itu hal yang mustahil. Atau dalam
bahasa gaul, di balik itu “hil yang mustahal!
Di luar DPR, opini publik Indonesia punya nada yang
sama. Silahkan dilakukan survei nasional. Di atas 70
persen populasi Indonesia mengidealkan Demokrasi Pancasila. Hanya di bawah 10 persen yang inginkan
negara Islam.
Dari 10 persen itu, jauh lebih sedikit lagi yang menginginkan sistem khilafah meleburkan NKRI dalam
pan nasionalisme yang menjadi gagasan HTI tersebut.
Bagaimana bisa mengubah batin Indonesia yang sudah
terbentuk mengakar ratusan tahun?
Baik dari sisi politik formal, ataupun opini publik, tak
ada celah mengubah haluan negara.
31
Satu satunya cara mengubah haluan negara dengan angkat senjata memimpin pemberontakan. Maukah dan
mampukah HTI melakukannya?
Yang akan dilawan oleh siapapun yang melakukan pemberontakan senjata tak hanya TNI. Mereka juga perlu
melawan para pengusaha, media, civil society dan mayoritas penduduk Indonesia.
Dengan melihat realitas praktis di atas, tak ada yang ditakutkan dengan gagasan ataupun eksistensi HTI. Ibarat
taman bunga, kembang HTI hanya tumbuh kecil saja di
pojok sana. Ia tak akan bisa memakan dan menyeragamkan ribuan bunga yang berbeda di taman itu.
-000Kedua: Bukankah keberagaman itu tak terhindarkan?
Saya tak setuju pandangan tuan. Tapi hak tuan menyampaikan pandangan itu akan saya bela sampai mati. Itu
pernyataan terkenal dari Voltaire. Sikap Voltaire menjadi spirit demokrasi.
Bahkan dalam khazanah yang lebih tua, Islampun punya prinsip yang sama: tak ada paksaan dalam agama.
Jika agama saja tak perlu dan tak bisa dipaksa, apalagi
gagasan yang lebih rendah dari sakralitas agama.
32
Keberagaman adalah ongkos yang tak terhindari untuk hidup di dunia modern. Apa daya begitu banyak
gagasan dan gaya hidup, termasuk ideologi, pemikiran
yang berbeda dan saling bertentangan.
Hak Asasi Manusia dan Demokrasi lahir justru untuk
mengatur keberagaman itu agar bisa hidup berdampingan dengan damai.
Pastilah yang fanatik sunni tak suka dengan fanatik syiah. Begitu pula sebaliknya. Yang fanatik percaya Tuhan
tak suka yang fanatik anti Tuhan. Begitu pula sebaliknya.
Yang fanatik hetroseksual tak suka LGBT. Yang fanatik
pro keberagaman tak suka gagasan yang anti keberagaman dan yang intoleran.
Tapi apa daya? Itu semua evolusi kesadaran masingmasing individu. HAM lahir untuk melindungi hak
individu meyakini semua gagasan di atas. Di dunia
modern, yang unik, lucu, norak, ekstrem lahir tak
terhindari. Suka atau tak suka, silahkan telan!
Demokrasi lahir untuk memberikan semua gagasan itu
kesempatan yang sama hidup dan bertarung di ruang
publik secara damai. Yang ekstrem A punya hak hidup.
Yang ekstrem anti A diberikan hak hidup yang sama. Silahkan bersinerji dengan cerdas dan non-kekerasan.
33
Justru dari sinergi ribuan gagasan yang berbeda, bahkan
bertengangan, bisa saling kupas, saling isi, saling tambah, saling kurang, menjadi sintesa kultural yang lebih
tinggi.
Yang dilarang hanyalah pemaksaan dengan kekerasan
dan tindakan kriminal. Itu sebabnya mengapa KKK
yang sangat rasis dan memuja supremasi kulit putih
tetap boleh hidup di Amerika Serikat. Hak hidup yang
sama diberikan kepada Nation of Islam yang memuja
supremasi kulit hitam.
Pasar bebas demokrasi memiliki hukumnya sendiri.
Mereka yang ekstrem selalu minoritas. Gagasan mereka
akan dilawan bukan saja oleh ektrem di ujung lainnya.
Mereka juga akan dilawan oleh mayoritas yang ada di
tengah.
Namun pertukaran gagasan antar mereka yang beragaman itu memajukan peradaban. Gerakan supremasi
kulit hitam misalnya bisa tetap memberikan inspirasi
pentingnya keadilan ekonomi bagi kulit hitam. Selalu
mungkin ada akar ketimpangan ekonomi di balik gagasan ekstrem itu. Hadirnya kelompok ekstrem itu bisa
menjadi simulasi perbaikan sistem makro.
Satu satunya yang diharamkan dalam keberagaman
adalah kekerasan, pemaksaan kehendak dan krimi-
34
nal. Pelaku kekerasan dari KKK yang membunuh dan
menyalip kulit hitam dikejar aparat dan dihukum keras.
Film Holywood Missipi Burning sangat epik menggambarkan itu.
Tapi organisasi KKK dan gagasan supremasi kulit putih
dibiarkan hidup. Individu tak boleh dipenjara hanya
karena gagasannya.
HTI, seaneh apapun gagasannya dapat diperlakukan
serupa. Namun, sekali ada pimpinan dan pengikut HTI
melakukan kekerasan, ia harus ditindak.
Prinsip ini berlaku juga untuk organisasi lain. Bahkan
pembela Pancasilapun jika melakukan kekerasan harus
pula ditindak.
Kekerasan, bukan gagasan, yang menjadi musuh bersama.
-000Kita menghargai upaya pemerintah untuk merawat keberagaman. Justru karena kita cinta keberagaman. Justru karena kita membela Pancasila. Justru karena kita
rindukan demokrasi. Kita memberi saran pemerintah untuk lebih berhati-hati membubarkan organisasi.
Pikirkan presedennya. Pikirkan apa yang disebut “unintended consequence,” efek tak terduga.
35
Organisasi dapat dibubarkan. Tapi gagasan di dalamnya selalu bisa tumbuh justru dalam bentuk yang lebih
berbahaya jika bergerak di bawah tanah. Gagasan apapun lebih baik resmi dan terpantau, ketimbang tak resmi dan gerilya diam diam.
Kita tidak hidup 24 jam melalukan kebaikan dan keburukan. Lebih baik individunya yang dihukum jika ia
terbukti melakukan kejahatan. Itupun harus lewat pengadilan. []
36
Renungan Paska Pilkada dan Pengadilan Ahok
Pro Keberagaman Versus Pro
Keberagaman
di Pilkada Jakarta
Denny JA
Huston Smith seorang scholar terpandang ahli perbandingan agama. Bukunya The World’s Religion terjual
lebih dari 2 juta kopi. Ia mendalami aneka agama dan
keberagaman pandangan di dalamnya.
Kutipan yang terkenal dari Huston Smith: “All Isms end
up in schism.” Semua paham yang ada, agama ataupun
ideologi sekuler, ketika berevolusi dan membesar akan
berakhir dalam spektrum penafsiran yang bertentangan. Selalu terjadi schism, polarisasi pandangan dalam
batin internal agama atau ideologi itu.
Dalam Islam, misalnya, lahir Sunni versus Syiah. Dalam
Kristen, lahir Katolik versus Protestan. Dalam Marxisme, lahir komunisme versus Marxis yang anti komunisme.
37
Kadang pertengkaran Sunni versus Syiah, lebih keras ketimbang Islam vs Kristen. Hal yang sama terjadi dalam
pertengkaran internal Protestan vs Katolik. Atau antar
penganut paham Marxisme A VS Marxisme B, Kapitalisme A VS Kapitalisme B, Demokrasi A VS Demokrasi
B, Nasionalisme A VS Nasionalisme B, dan aneka isme
lainnya.
Dalam pilkada Jakarta, kita juga menyaksikan pertengkaran dua jenis aktivis, intelektual yang keduanya
mengklaim pro keberagaman. Pertengkaran dua kubu
ini tak kalah sengitnya.
Yang satu pro Ahok, yang satu anti Ahok. Yang satu
mengharamkan digunakannya UU penistaan agama
untuk Ahok, yang satu membolehkan bahkan menganjurkan. Yang satu menolak bekerja sama dengan kelompok yang dianggap intoleran, yang satu tidak mempermasalahkannya.
-000Data sudah berbicara. Yang menangkan Anies-Sandi
bukanlah semata Islam radikal, sebagaimana banyak diulas media barat.
AROPI (Asosiasi Riset Opini Publik) asosiasi lembaga
survei pertama di Indonesia. Di tahun 2009, AROPI
38
berhasil mematahkan dua UU di MK yang melarang
diumumkannya quick count di hari pemilu. Berkat perjuangan AROPI, kini kita menikmati quick count. Kita
tahu siapa yang menang pemilu sebelum KPU memutuskan seminggu atau sebulan kemudian.
AROPI baru saja mengumumkan temuannya. Penganut
Islam Radikal, jika didefisinikan menginginkan Indonesia menjadi negara Islam, hanyalah di bawah 10
persen dari populasi Jakarta. Mustahil komunitas 10
persen semata bisa memenangkan Anies-Sandi yang
memperoleh 58 persen dukungan.
Terdapat lebih dari 90 persen pemilih Jakarta yang tidak
mengidealkan negara Islam. Mereka pro keberagaman.
Mereka pro demokrasi. Justru di segmen ini, kontribusi
paling besar kemenangan Anies Sandi.
Dalam komunitas 90 persen populasi Jakarta, terdapatlah
dua kubu pro keberagaman itu. 42 persen di kubu Ahok.
48 persen di kubu Anies.
Pro keberagaman versus pro keberagaman. Ternyata
populasi pro keberagaman yang memilih Anies-Sandi
lebih banyak dibandingkan pro keberagaman yang
memilih Ahok.
39
Mengapa? Apa perbedaan sesungguhnya dari konsep
pro keberagaman pro Ahok vesus pro keberagaman
kontra Ahok?
Dua kubu pro keberagaman itu terpolarisasi dalam perbedaan atas tiga isu penting. Memang belum ada konsep
utuh menyeluruh masing masing kubu untuk menggambarkan konsep mereka. Saya mencoba mengkonstruksikannya dari serpihan argumen yang berserakan.
Untuk memudahkan analisa, saya sebut saja pro Keberagaman yang memilih Ahok dengan Kelompok A.
Yang satunya kelompok kontra A.
Isu satu: Ahok baik atau buruk untuk keberagaman?
Kelompok A: Ahok baik untuk keberagaman. Jika ia
terpilih apalagi di ibu kota akan menjadi contoh revolusioner. Bahwa mayoritas dan minoritas kini tak menjadi
masalah di ruang publik.
Ahok yang triple minority (agama, etnis, pendatang),
dipilih oleh mayoritas populasi DKI dalam pemilu bebas
dan langung. Ini lompatan signifikan bagi perjuangan
tanpa diskriminasi.
40
Virus ini segera menjadi pesan ke suluruh air. Indonesia
sudah berada dalam kultur demokrasi dan kebhinekaan
yang matang. Sangat sangat matang.
Kelompok kontra A: Ahok buruk untuk keberagaman.
Justru untuk kepentingan keberagaman, Ahok harus dikalahkan.
Ia tidak peka dengan emosi massa, apalagi yang sensitif
soal agama. Kehadiran Ahok justru memberikan panggung kepada Islam garis keras untuk tampil dan membesar.
Kita memang butuh tokoh minoritas untuk menang
dalam teritori mayoritas sebagai contoh. Tapi tokohnya
harus yang friendly, yang bersahabat, yang tidak dianggap mengancam. Ahok bukan tipe itu. Ia bahkan berkasus “menista” agama mayoritas.
Ahok harus dikalahkan bukan karena ia minoritas. Ia
harus dikalahkan karena dapat lebih merusak keberagaman yang masih labil. Jika yang dicap menista agama
menang, polarisasi akan semakin merusak keberagaman yang masih labil.
Kita harus menunggu tokoh minoritas lain yang lebih
sesuai. Spirit mengalahkan Ahok justru untuk keberagaman jangka panjang yang lebih stabil.
41
Isu dua: Perlu atau Dilarang menerapkan UU Penistaan Agama?
Kelompok A: Jangan pernah menggunakan UU penistaan agama. UU itu bertentangan dengan sistem
demokrasi. Kali ini Ahok korbannya. Besok lusa pihak
lain atau anda sendiri.
Menggunakan UU penistaan agama merupakan penghianatan atas prinsip demokrasi, HAM dan Kebhinekaan.
Siapapun yang mendukung penerapan UU penista agama penghianat keberagaman!
Kelompok kontra A: Bahkan di negara demokrasi seperti Denmark, Kanada dan Jerman, UU Penistaan agama
juga diterapkan. Itu hal yang sah saja. Sejarah masing
masing negara menghasilkan nuansa demokrasi yang
berbeda.
Toh UU itu pernah diuji melalui proses lembaga demokratis di MK. Dalam proses ini UU itu diperkuat. UU itu
hadir dalam hukum nasional. Law enforcement atas UU
yang ada justru bagian demokrasi.
Silahkan UU itu dibawa kembali untuk dibanding ke MK.
Atau dihapus oleh UU Perlindungan Umat Beragama
yang baru. Tapi sekali UU itu masih ada, masih berlaku
pastilah ia sah, halal, dan sesuai dgn prinsip demokrasi
untuk dieksekusi.
42
Isu Ketiga: Boleh atau dilarang bekerja sama dengan
kelompok toleran dalam pilkada/pemilu?
Kelompok A: Jangan pernah bekerja sama dengan
kelompok intoleran, spt FPI, HTI, dll. Mereka anti keberagaman. Bekerja sama dengan mereka itu seperti
memelihara anak macan. Ketika membesar, dirimu pun
akan dilahapnya. Keberagaman dalam bahaya.
Mereka yang bekerja sama dengan kelompok intoleran
menghianati keberagaman. Itu sama dengan memelihara
perusak di rumah sendiri.
Kelompok kontra A: Demokrasi itu untuk semua, apalagi ormas yang berbadan hukum yang sah. Bekerja sama
dengan siapapun yang dibolehkan hukum nasional adalah pilihan taktis yang valid belaka. Mereka yang dianggap intoleran punya hak sosial yang sama, yang dilindungi konstitusi.
Apakah kerja sama dalam pilkada Jakarta akan membuat kelompok intoleran membesar? Pasar bebas dunia
gagasan akan membuat kelompok apapun yang ekstrem
tetap minoritas.
Dunia modern selalu multi isu. Hal yang biasa di satu
isu, aneka kelompok bersatu untuk sebuah kepentingan.
43
Untuk isu lain, kelompok yang bersatu itu bahkan bertentangan. Itulah demokrasi. Take it easy!
Tak ada masalah membuat koalisi politik yang taktis
untuk satu kepentingan. Itu hal yang lazim belaka.
-000Para pendukung pro keberagaman harus mulai membuka mata. Bahwa ada schism, ada banyak mazhab dalam
paham keberagaman sendiri.
Mereka harus menyadari hukum gagasan seperti yang
disebut Huston Smith: “Every ism end up in schism.”
Jangan merasa gagasan kubu mereka sebagai satu satunya pewaris yang sah pejuang keberagaman. Di luar
mereka seolah murtad belaka.
Pada titik inilah kita mengaminkan John Rawls ketika
ia mengatakan: Kelompok toleran yang tidak toleran
kepada hak hidup gagasan yang berbeda dengan mereka
(yang mereka anggap gagasan intoleran), sesungguhnya
sudah mengubah watak mereka sendiri menjadi bagian
dari kelompok intoleran.
Apakah ini berarti kita harus mendukung gagasan
intoleran? NO! Kita lawan gagasan mereka di ruang
44
publik. Namun kita hormati hak hidup mereka selama
mereka memang ormas yang sah berdasarkan hukum
Indonesia.
Tapi pemerintah harus menjadi wasit yang tegas menghukum siapapun yang melakukan kekerasan, pemaksaan dan kriminal.
Jika ruang publik seperti ini bisa terbentuk di Indonesia,
saya menyebutnya sistem Demokrasi Pancasila yang
diperbarui. []
45
46
Bangkitnya Politik Identitas:
Persepsi Terancam di Balik Aksi
Lilin pro Ahok vs Demo Anti
Ahok
Denny JA
George S Patton oleh sejarahwan dianggap satu dari panglima perang paling sukses dalam sejarah. Ia memimpin
tentara Amerika Serikat sukses memenangkan perang
dunia kedua.
Ia membagi pengalamannya dalam perang. Ujarnya
suatu ketika: rasa takut yang mengendap cukup dalam
di hati seorang individu jusru bisa menjelma menjadi
kekuatan ekstra untuk berjuang. Rasa takut yang dialami bersama oleh sebuah kelompok, karena merasa survival kelompoknya terancam, justru menjadi enerji luar
biasa untuk melawan.
Saya menggunakan kutipan Geoge S Patton untuk memahami gerakan anti Ahok ataupun pro Ahok. Lama
saya merenung, enerji apakah gerangan yang membuat
pilkada Jakarta sedemikian semarak, baik sebelum kampanye dimulai, dan setelah pilkada selesai.
47
Tak pernah terjadi sebelumnya, gerakan pro kontra seorang kandidat sepanas, seheboh, dan se “wow” kasus
Ahok di Pilkada Jakarta 2017. Tak pernah terjadi sebelumnya di aneka pilkada, begitu banyak massa terlibat
bahkan dari luar teritori yang mempunyai hak memilih
untuk pilkada.
Melalui renungan jenderal Patton di atas, saya menangkap adanya rasa takut, dan persepsi terancam baik di
kubu pro Ahok ataupun Anti Ahok. Rasa takut dan terancam? Ya! Itu yang membuat gerakan pro dan kontra
menjadi super heboh, melampaui rata rata.
Aksi 411, 212 yang kontra Ahok, begitu emosional dan
melibatkan ratusan ribu bahkan mungkin jutaan massa.
Hal yang sama, aksi lilin pro Ahok paska Ahok dipenjara
juga emosional dan terjadi di banyak kota.
Ini fenomena bangkitnya politik identitas paska reformasi. Sentimen politik berdasarkan agama dan etnik
kembali mengemuka. Apakah sebabnya? Bagaimana
menciptakan sistem kelembagaan makro agar sentimen
politik identitas itu justru akhirnya bersinergi positif.
-000-
48
Rasa takut dan persepsi terancam dialami oleh mereka
yang pro Ahok ataupun anti Ahok. Memang belum ada
abstraksi komprehensif menggambarkan jenis rasa takut di dua kubu yang bertentangan itu.
Saya cukup beruntung karena mendengar batin kelompok ini. Sejak maret 2016 hingga tulisan ini dibuat, Mei
2017, saya (LSI Denny JA) melakukan sebelas kali survei
opini publik Jakarta, dan satu survei nasional. Saya aktif membaca puluhan berita setiap hari sebagai peneliti
ataupun konsultan politik soal pilkada Jakarta.
Saya ikuti aneka sosial media: facebook, twitter dan WA
grup dua kelompok yang bersebrangan pro dan kontra
Ahok. Dari aktivitas saya menyelami batin pilkada Jakarta, tergambar jenis ketakutan dan persepsi terancam
itu.
Pertama, Rasa Takut dan Persepsi Terancam di kubu Pro
Ahok
Empat jenis rasa takut dan terancam ini berkombinasi.
Setelah Ahok divonis penjara, di bulan Mei pula, membangkitkan sebagian akan memori Tragedi Mei 1998.
Itu situasi ketika kekerasan menimpa etnis Tionghoa.
Itu kondisi ketika etnis Tionghoa menjadi sasaran amuk
massa.
49
Masih gelap hingga kini seberapa banyak korban yang
sebenarnya, baik kurban nyawa terutama kurban kekerasan seksual. Banyak warga etnis Tionghoa yang migrasi ke luar negeri untuk sementara ataupun permanen.
Memori tersebut menjadi penambah enerji kekuatan
pro Ahok. Harus dilakukan reaksi yang agak ekstra
agar kasus Ahok tidak menimpa etnis minoritas pada
umumnya. Demikian yang terbaca.
Tersingkirnya Ahok dalam pilkada Jakarta juga dikhawatirkan menjadi presden yang akan diulang di tempat lain. Kesempatan minoritas untuk ikut menjadi
pemimpin dalam sebuah teritori akan tertutup. Isu minoritas agama dan etnis ternyata ampuh dimobilisasi
terlepas sebagus apapun kinerja kandidat minoritas itu.
Di balik itu, dikwatirkan pula berkuasanya aksi massa
melampaui instrumen politik yang lebih tertata. Ada
bayangan aksi massa ini yang berhasil menekan para
hakim menjatuhkan vonis penjara buat Ahok melampaui tuntutan Jaksa. Ada kekhawatiran aksi massa ini
menuntun pada mobokrasi, berkuasanya tokoh yang semata populer di mata aksi massa walau tidak kompeten.
Yang paling dikwatirkan tentu bangkitnya Islam Politik.
Kekalahan Ahok dianggap buah karya signifikan dari
50
politisasi isu agama. Pelan pelan Indonesia dikhawatirkan menjelama menjadi NKRI bersyariah.
Karena itu, sebelum terlambat, hanya ada satu kata:
Lawan! Jika perlu gunakan lobi internasional untuk
menekan. Mereka juga khawatir pemerintahan Jokowi
akhirnya tunduk pada sentimen massa dalam rangka
pilpres 2019.
Isu kebangsaan, keberagaman, kebebasan sipil, kesetaraan warga negara terlepas apapun identitas sosialnya,
dikwatirkan mengendur.
Kombinasi rasa takut dan persepi terancam di atas menjadi kekuatan luar biasa. Karena persepsi itu gerakan
lilin, solidaritas Ahok, pawai kebhinekaan meluas ke
banyak kota.
Kedua, Rasa Takut dan Persepsi Terancam Kubu Kontra
Ahok.
Kubu kontra Ahok juga memiliki rasa ketakutan dan
persepsinya sendiri. Ahok dianggap hanya fenomena
dari ekonomi politik yang lebih besar.
Ada kekwatiran munculnya dominant minority. Ahok
jika terpilih sebagai gubernur akan menjadi pintu masuk
paling signifikan bagi dominant minority.
51
Istilah itu mengacu pada lahirnya kelompok etnis minoritas tapi sangat dominan. Mereka tak hanya menguasai dan dominan atas ekonomi sebuah negara. Namun
mereka juga mulai mengarah berkuasa untuk jabatan
politik dan budaya.
Sudah menjadi pengetahuan umum. Dari katakanlah
50 orang terkaya Indonesia, sangat dan sangat mayoritas datang dari warga etnis Tionghoa. Ada kekwatiran
etnis Tionghoa tak hanya puas dengan dominasi bisnis,
namun segera pula menguasai politik.
Bangunan sebuah bangsa akan rentan jika yang dominan
justru yang minoritas. Ini akan menjadi rumput kering
yang mudah disulut menjadi keresahan emosional.
Persepsi di atas bercampur pula dengan rasa kwatir
mayoritas warga menjadi powerless majority. Mereka
hanya banyak dalam jumlah, namun tak berdaya dalam
ekonomi dan politik.
Kekhwatiran ini menghinggapi tak hanya massa, namun
juga elit. Tak hanya mereka yang kuat dan keras sentimen Islamnya. Tapi juga itu menghantui mereka yang
menyebut dengan bangga kaum pribumi.
Ketakutan ini semakin disulut oleh apa yang dipersepsikan dengan arogan minoritas. Di sinilah titik paling
lemah dari Ahok. Bukan hanya ia minoritas secara etnik
52
dan agama. Tapi ia tercatat dan dipersepsikan sebagai
minoritas yang arogan.
Ia memaki seorang ibu dengan sebutan maling. Ia menyatakan bersedia membunuh 2000 orang demi 10 juta
penduduk. Ibu yang menangis digusur dikatakannya
bermain sinetron. Di TV enteng saja ia berulang menyebut taik taik.
Persepsi minoritas yang arogan itu menemui puncaknya
ketika Ahok bicara soal Al Maidah. Akumulasi kemarahan sebelumnya menjadikan kasus Al Maidah sebagai
titik temu.
Dibalik besarnya gelombang Al Maidah, itu tak hanya
sentimen agama yang bekerja. Namun ia juga menjadi
kanalisasi kemarahan publik luas atas “minoritas arogan” yang dipersepsikan ke Ahok.
Kasus minoritas yang arogan menjadi lebih tersulut oleh
kisah yang menimpa gubernur NTB Tuan guru bajang.
Ia dimaki juga oleh seseorang dengan sebutan “dasar
pribumi, tiko!” Kebetulan steven yang memaki itu seorang minoritas pula.
Ada yang mengartikan tiko sebagai tikus kotor. Ada
yang mengartikan babi dan anjing. Di era sosial media,
segera kisah itu menyulut sensitivitas banyak orang
53
muslim dan pribumi. Mereka semakin kwatir minoritas
tak hanya berkuasa tapi juga arogan, dan enteng saja
menghina. Mentang-mentang!
Bisa jadi kekhawatiran itu berlebihan. Namun dalam
emosi massa, persepsi itu menyebar efektif. Kasus ini
ikut pula menyumbangkan kekalahan telak Ahok.
Hal di atas sempat terekam dalam batin komunitas pro
dan kontra Ahok. Sebagian faktual. Mungkin juga sebagian ilusi. Sebagian nyata. Mungkin pula sebagian hanya
imajinasi. Sebagian murni. Sebagian mungkin rekayasa.
Namun semua itu bersinergi membentuk persepsi. Dan
politik adalah persepsi.
-000Rasa takut dan persepsi di atas sangat nyata. Emosi itu
ikut membangkitkan kembali dan menyulut politik
identitas. Sistem politik ekonomi bagaimana yang harus kita kembangkan untuk mengakomodasi sentimen
di atas? Lalu bagaimana kita bisa mengolahnya menjadi
sinergi yang positif?
Politik identitas adalah pengelompokan politik berdasarkan sentimen identitas sosial (agama, etnis, ras,
gender, orientasi seksual). Ini identitas paling tua dalam
54
politik praktis. Kekuatan sentimen ini mengendur atau
menguat sepanjang sejarah. Yang pasti ia tak pernah
memudar hingga ke era digital dan post-modern.
Kalangan Marxis pernah mengecam munculnya politik
identitas. Ia dianggap mengaburkan pengelompokkan
politik yang seharusnya bersandar pada kelas saja: buruh verus pemodal.
Kalangan liberalis juga banyak mengecam tampilnya
politik identitas. Bagi mereka sebaiknya pengelompokkan
politik sudah bergeser hanya pada ideologi modern,
partai politik, atau program kerja (public policy).
Namun politik identitas menunjukkan sumbangan yang
positif bagi munculnya kesetaraan warga negara. Politik
kulit hitam bergerak menuntut persamaan hak. Kaum
feminis bersuara soal emansipasi. Agamawan berseru
dihapusnya diskriminasi. Kini kaum gay lesbian meminta perlindungan hukum bagi hak sosialnya.
Rasa tak adil yang dialami sebuah grup identitas acapkali memicu lahirnya politik identitas. Kesetaraan warga
negara apapun identitas sosialnya menjadi buah paling
manis gerakan politik identitas. Suka atau tidak, kultur
modern kesetaraan warga negara, apapun identitasnya,
sumbangan gerakan ini, kini menjadi fondasi negara
modern.
55
Umumnya politik identitas ini tumbuh di kalangan minoritas yang memang powerless. Lebih ironi lagi, sentimen itu kadang juga tumbuh di kalangan mayoritas
yang powerless.
Jika minoritas yang powerless, itu jamak belaka. Tapi jika
mayoritas yang powerless itu kasus khusus dan berbahaya. Contohnya kulit hitam di Afrika Selatan, melawan
dominant minority kulit putih. Atau Kelompok Syiah di
Irak melawan dominan minority Sunni. Atau suku Hutus
melawan dominan minority suku Tutsi di Rwanda.
Namun jika politik identitas dimainkan berlebihan,
disertai kekerasan, ia justru berpotensi merusak ruang
publik sebuah negara yang beragam. Tantangan negara
dan bangsa yang beragam membuat politik identitas itu
tetap berada dalam porsi yang normal.
Tapi apakah ukuran porsi normal itu? Bisakah politik
identitas itu diakomodasi tapi tetap memberikan sinergi
yang positif?
Banyak yang bisa kita kerjakan bersama untuk Indonesia, termasuk proposal ini. Saya menyebutnya Demokrasi Pancasila yang diperbarui.
Empat komponen di bawah ini saling melengkapi. Satu
tak terpisahkan dari yang lain. Ada yang bersifat kelem-
56
bagaan. Ada yang bersifat craftmanship peran aktor.
Dan ada yang bersifat kultural.
Ini empat unsur Demokrasi Pancasila yang diperbarui.
Pertama, menegaskan persamaan hak warga negara dan
mengakui semua jenis hak asasi yang sudah disetujui
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Di era demokrasi, semua warga, apapun identitas sosialnya, memiliki hak yang sama, bahkan untuk memimpin.
Mengadopsi aneka hak asasi yang diakui PBB membuat
Indonesia mengakomodasi puncak peradaban.
Kedua, toleransi hadirnya peran agama di ruang publik.
Berbeda dengan demokrasi liberal, demokrasi pancasila
memiliki kementerian agama. Pemerintah ikut berperan menjaga harmoni agama warga.
Ada satu hal yang perlu ditambahkan: UU Perlindungan Umat Beragama. Justru karena dosis agama di negeri Pancasila itu lebih dibandingkan negara demokrasi
liberal, perlu ada aturan hukum tingkat tinggi. Namun
UU itu lebih diarahkan untuk menjamin keberagaman
agama serta kepercayaan.
Ketiga, pemerintah diamanatkan bertindak tegas dan
keras menjaga keberagaman itu. Seseorang tak boleh
dipenjara hanya karena punya mimpi atau punya cita
57
cita sosial, atau memiliki gagasan senorak atau selucu
apapun. Bahkan tak ada paksaan dalam agama. Apalagi
untuk paham yang sekuler, tiada paksaan pula.
Namun sekali individu atau kelompo melakukan kekerasan dan kriminal, mereka harus cepat ditindak negara. Bukan gagasan, tapi kekerasan yang membuat seseorang harus ditindak secara hukum.
Keempat, kultur politik yang sabar untuk mematangkan
demokrasi. Walau secara hukum, minoritas memiliki
hak untuk memimpin, namun dibutuhkan kematangan kultural agak lama untuk membuat minoritas bisa
memimpin mayoritas secara damai dan diterima.
Amerika Serikat merdeka tahun 1776. Baru di tahun
1953, lebih 170 tahun kemudian bisa terpilih seorang
presiden yang bukan protestan: John F Kennedy yang
katolik. Baru di tahun 2008, lebih 230 tahun kemudian
bisa terpilih yang bukan kulit putih: Obama yang kulit
hitam. Dan kini 240 tahun kemudian, capres wanita di
AS selalu kalah.
Semua diterima sebagai evolusi kultural yang lumrah
belaka. Hukum sudah mengatur persamaan hak sosial
mayoritas dan minoritas. Namun kematangan kultur
menerima minoritas menjadi pemimpin itu sebuah
58
proses yang lebih panjang. Itu juga membutuhkan jenis pemimpin minoritas yang tidak dianggap ancamam
oleh mayoritas.
-000Demokrasi itu seperti bunga Lisianthus. Ia cantik dan
sangat berharga. Namun butuh kesabaran merawatnya.
Merawat bunga Lisianthus memerlukan suhu yang pas,
air yang cukup, dan tahapan perkembangan yang natural. Keinginan mempercepat mekarnya bunga Lisianthus justru bisa membuat bunga itu mati.
Hal yang sama dengan demokrasi. Tak bisa kita menyatakan “bim salabim” lalu demokrasi yang ideal langsung
tumbuh di Indonesia.
Kasus pro dan kontra Ahok menjadi proses belajar yang
berharga. Seperti yang dikatakan Jendral George S Patton, marilah kita mengenali rasa takut dan persepsi
terancam di masing masing kubu. Marilah kita berdiri
menggunakan sepatu pihak sana.
Demokrasi Pancasila yang diperbarui bisa menjadi titik
awal kita mencari solusi kelembagaan bersama untuk
ruang publik Indonesia ke depan. []
59
60
BAB II
MENGAPA DEMOKRASI
PANCASILA PERLU
DITEGASKAN KEMBALI
61
62
Demokrasi Pancasila yang
Diperbarui, Apanya?
Mun’im Sirry
Asisten Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre
Dame, USA
Saya menyambut ajakan Sdr. Denny JA untuk merejuvenasi peran Pancasila setelah tampak meredup dan
bahkan cenderung “menghilang” pasca Reformasi 1998.
Ajakan Denny itu menjadi lebih signifikan karena dua
alasan. Pertama, beberapa perkembangan mutakhir,
terutama Pilkada Jakarta, telah memperlihatkan ancaman nyata tentang apa yang disebut Denny “Indonesia [yang] akan terkoyak dan tidak stabil.” Seperti
diprediksi, dampak perseteruan antar-pendukung calon
pasangan gubernur yang menyeret isu agama dan SARA
secara umum ke dalam pusaran politik berjangkauan
luas melampaui periode Pilkada itu sendiri.
Kedua, absennya diskursus Pancasila dalam hampir dua
dekade terakhir justeru dibarengi dengan menguatnya
63
radikalisme agama. Fenomena intoleransi agama belakangan sudah sampai pada level yang sangat mengkhawatirkan. Walaupun tidak ada kekerasan agama yang
massif seperti terjadi di Maluku pada awal runtuhnya
Order Baru, tapi pelanggaran terhadap kelompok minoritas terus meningkat dari tahun ke tahun. Di sinilah
letak pentingnya meneguhkan komiteman pada Pancasila untuk menjaga dan memperkuat ke-bhinneka-an.
Namun Sdr. Denny JA bukan sekedar menyerukan agar
komitmen pada demokrasi Pancasila kembali diteguhkan, melainkan juga mengajak memikirkan kembali “Pancasila yang diperbarui.” Sepanjang tulisannya,
Denny menggunakan kalimat pasif “Pancasila yang
diperbarui”, dan bukan “memperbarui Pancasila”. Saya
tidak ingin menebak-nebak pilihan kalimat pasif tersebut, tapi menarik didiskusikan lebih lanjut: Apanya dari
demokrasi Pancasila yang perlu diperbarui?
Proyek Demokrasi yang Belum Selesai
Implisit dalam argumen Sdr. Denny JA adalah bahwa
Pancasila merupakan proyek demokrasi yang belum
selesai sehingga perlu terus diperbarui. Ini merupakan
lompatan pemikiran yang pentingnya setelah sebelumnya Nurcholish Madjid (Cak Nur) menyerukan
agar Pancasila dijadikan sebagai ideologi terbuka. Saya
64
melihat Cak Nur membuka jalan agar Pancasila terbuka untuk ditafsirkan ulang, dan Denny JA berijtihad
merekonstruksi demokrasi Pancasila yang lebih relevan
dalam konteks Indonesia saat ini di mana peran asertif
Islam di ruang publik semakin tak terelakkan.
Terlepas bahwa ijtihad Denny ini perlu penjabaran lebih
detail, upaya meneguhkan demokrasi Pancasila yang
diperbarui yang digagasnya perlu menjadi diskursus
dan perdebatan publik. Dalam alam kebebasan pasca
runtuhnya Order Baru, kata “Pancasila” menjadi istilah
ingin terus dihindarkan dalam perbincangan publik. Jika
ada yang menyebutnya, biasanya dimaksudkan untuk
meledek atau memojokkan pihak tertentu. Penyebutan
kata “Pancasila” diidentikkan dengan menghadirkan
kembali rezim Order Baru (Orba).
Kesan negatif seperti ini sepenuhnya dapat dipahami.
Sepanjang zaman Orba, Pancasila telah dijadikan instrumen kekuasaan untuk menindas lawan-lawan politik. Ketika represi terhadap politik Islam tidak mempan
dengan cara mereduksi aspirasi politik Muslim ke dalam
satu partai politik yang dikontrol oleh negara, pemerintahan Orba mengharuskan semua partai politik dan organisasi massa untuk menjadikan Pancasila sebagai asas
tunggal. Penyeragaman ideologi yang dilakukan secara
represif oleh Orba mendapat reaksi keras dari sebagian
kalangan. Memang, organisasi-organisasi keagamaan
65
besar seperti NU dan Muhammadiyah tidak kesulitan
menerima kebijakan asas tunggal Pancasila karena, bagi
mereka, secara prinsipil Pancasila tidak bertentangan
dengan Islam. Namun demikian, cara-cara represi rezim
Orba untuk memaksakan penyeragaman ideologi tersebut telah menjadikan Pancasila berstigma negatif.
Itulah sebabnya sesaat setelah Orba tumbang eforia
keterbukaan diiringi dengan sentimen anti-kebijakan
Orba terkait Pancasila. Misalnya, sidang Majelis Permusyarakatan Rakyat (MPR) pertama pasca Reformasi
yang mengesahkan sistem multi-partai dan perluasan
hak-hak sipil juga menghentikan indoktrinasi Pancasila
(P4) yang digunakan rezim Suharto untuk mensosialisasikan Pancasila. Dengan banyaknya partai Islam yang
lahir pasca Reformasi yang menjadikan Islam sebagai
asasnya, maka filsafat negara multi-agama Pancasila tidak lagi menjadi “common denominator”. Dengan kata
lain, penghapusan undang-undang yang mengharuskan
asal tunggal hanya menambah momentum bagi menjamurnya dan menguatnya Islam politik.
Perlu segera ditambahkan, menghidupkan kembali P4
bukanlah pilihan di era demokrasi seperti sekarang. Ketika Cak Nur menggagas supaya Pancasila menjadi ideologi terbuka, dia ingin mengatakan bahwa negara tidak
lagi punya hak monopoli untuk menafsirkannya. Kini
kita melihat buahnya: Seorang Denny JA menawarkan
66
tafsir “demokrasi Pancasila yang diperbarui”. Tiga aspek
demokrasi Pancasila yang diperbarui yang disebutkan
Denny (memberikan peran agama yang lebih besar di
ruang; mengakomodasi luasnya spectrum gagasan; dan
law enforcement) memberikan pijakan dasar tapi terlalu
dini untuk dievaluasi karena perlu penjabaran lebih lanjut. Sambil menunggu penjabaran itu, saya ingin urun
rembuk mendiskusikan “apanya” yang diperbarui.
Diperbarui Dari dan Diperbarui Untuk…
Apa yang akan saya tulis berikut ini diinspirasikan oleh
wacana yang berkembang dalam kajian kebebasan beragama (religious freedom): bebas dari apa dan untuk apa
(from dan for). Yang pertama disebut kebebasan dalam
pengertian negatif (misalnya, bebas dari pemaksaan,
persekusi) dan kedua disebut kebebasan positif (misalnya, kebebasan untuk melaksanakan ajaran agama).
Dari model “kebebasan negatif ” dan “kebebasan positif ” ini saya ingin mengelaborasi – walaupun sebagai
singkat – demokrasi Pancasila yang diperbarui dari apa
dan untuk apa. Kenapa distingsi ini penting? Sebab, pertama, penting agar kita dapat menyusun strategi yang
tepat. Sdr. Denny JA menyebut beberapa platform untuk mengonsolisasikan gagasannya, tapi tanpa distingsi
yang jelas saya khawatir strategi konsolidasi itu tidak
67
tepat sasaran. Kedua, distingsi itu diperlukan supaya
kita tahu tahapan-tahapan yang perlu dilakukan supaya
dampak demokrasi Pancasila yang diperbarui berjangkauan luas. Misalnya, seseorang tidak mungkin dapat
bebas untuk melaksanakan ajaran agama sebelum dia
bebas dari restriksi dan persekusi.
Kita masing-masing dapat membuat daftar dari apa saja
demokrasi Pancasila perlu diperbarui. Misalnya, diperbarui dari kesan negatif yang melekat dari cara rezim
Orba menerapkannya. Diperbarui dari tafsir tunggal
yang monopolistik. Diperbarui dari identifikasi Pancasila sebagai proyek Orba. Diperbarui dari pemahaman
bahwa Pancasila adalah ideologi tertutup. Diperbarui
dari kesan bahwa Pancasila sudah outdated dan perlu
diganti dengan ideologi lain, dan seterusnya. Poin-poin
ini bukan hanya dapat terus ditambahkan, tapi juga perlu dijabarkan lebih lanjut. Pemahaman terhadap dari
apa demokrasi Pancasila diperbarui dapat memantapkan keimanan kita pada Pancasila sebagai ideologi yang
dibutuhkan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Langkah berikutnya ialah aspek positif dari gagasan
demokrasi yang diperbarui. Untuk apa Pancasila diperbarui? Lagi-lagi, kita dapat menyusun daftar apa yang
ingin dicapai dari proyek (saya gunakan kalimat positif)
“memperbarui demokrasi Pancasila.” Diperbarui untuk
mengembalikan ruh dan nilai-nilai ideal yang dicita-ci68
takan oleh para pencetusnya. Diperbarui untuk menjaga keutuhan Indonesia yang plural. Diperbarui untuk
membendung ideologi-ideologi lain yang mengancam
ke-bhinneka-an kita sebagai bangsa dengan agama dan
etnik yang beragam, dan seterusnya. Peneguhan aspek
positif ini bermanfaat untuk menumbuhkan rasa bangga pada ideologi pemersatu tersebut. Tanpa rasa bangga
dengan Pancasila mustahil kita akan betul-betul terpanggil untuk menjunjung dan memperjuangkannya.
Akhirul kalam, tentu saja, skema “apanya” yang diperbarui dari demokrasi Pancasila di atas bukan satu-satunya model. Sebagai urun rembuk, model inipun perlu
diperdebatkan. Tapi, tak ada yang meragukan bahwa
ajakan Sdr. Denny JA untuk meneguhkan demokrasi
Pancasila yang diperbarui perlu menjadi perbincangan
publik yang luas.
69
70
Memperbarui Cara Pandang
Dan Cara Praktek Demokrasi
Pancasila
M. Hatta Taliwang
Direktur Institut Soekarno Hatta (ISH)
Demokrasi Pancasila.
“Karena pangkal tolak demokrasi Pancasila adalah kekeluargaan dan gotong royong, maka demokrasi tidak mengenal kemutlakan golongan, baik kemutlakan karena
kekuatan fisik, kemutlakan karena kekuatan ekonomi,
kemutlakan karena kekuasaan, *maupun kemutlakan
karena besarnya jumlah suara. Kehidupan demokrasi
Pancasila tidak boleh diarahkan utk semata mata mengejar kemenangan dan kepentingan pribadi atau golongan
sendiri, apalagi ditujukan untuk mematikan golongan
yang lain, selama golongan ini termasuk dalam warga
Orde Baru, warga Pancasila dan UUD45 Azas demokrasi
Pancasila sebenarnya telah diatur secara konstitusional,
ialah mengikut sertakan semua golongan yang mempunyai kepentingan dalam kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan dengan jalan musyawarah untuk mufakat”
71
Presiden Soeharto dalam pidatonya di awal kekuasaannya pd 16 Agustus 1967.
A. PENDAHULUAN
Sejujurnya saya kurang memahami apa yang dimaksud
Dr. Denny JA dengan frasa: Demokrasi Pancasila Yang
Diperbarui. Apa pembaruan dalam konsep atau pembaruan dalam cara prakteknya. Saya merasa bahwa dari
segi konsep Demokrasi Pancasila sudah cukup komprehensif dan tak ada yang perlu kita perbarui. Urgensinya
hemat kami adalah dalam cara pandang dan cara praktek Demokrasi Pancasila itu yang perlu selalu kita perbarui atau update.
Mengacu kepada buku “Liberalisasi Ideologi Negara
Pancasila” karya Prof. Dr. Kaelan, M.S. maka Ideologi Pancasila sebagai filosofi bangsa dan dasar Negara
Indonesia yang dengan susah payah dirumuskan dan
diperjuangkan oleh pendiri bangsa, dewasa ini ditenggelamkan, dimarjinalkan dalam realisasi kebijakan
kenegaraan. Tinggal hanya sebatas rumusan verbal dalam Pembukaan UUD 1945, sedangkan dalam realisasi
praksis justru mengagungkan dan mendasarkan pada
filsafat liberal. Hal ini bisa kita lihat dalam putusan-putusan yang dikeluarkan oleh pemerintah/negara baik
pusat maupun di daerah yang mendasarkan pada filosofi liberalisme.
72
Dalam aspek kehidupan masyarakat Indonesia dalam
bernegara saat ini jauh dari mencerminkan identitas
kenegaraan yang berlandaskan filosofi Pancasila.
Proses terbentuknya Negara Indonesia bukanlah sebagai proses kesepakatan individu karena adanya ‘homo
homini lupus’, karena adanya penindasan individu lain
dalam kebebasan alamiah, melainkan suatu proses kesepakatan, konsensus antar elemen bangsa yang membentuk suatu bangsa dan Negara Indonesia. Unsur-unsur
tersebut meliputi suku bangsa, ras, golongan, budaya,
agama bahkan juga kalangan kerajaan-kerajaan serta
secara geografis terdiri atas beribu-ribu pulau dengan
local-wisdom-nya masing-masing, yang unsur-unsur itu
telah ada sebelum negara Indonesia terbentuk.
Proses terbentuknya ideologi bangsa Indonesia berbeda
dengan ideologi-ideologi besar lainnya seperti liberalisme, komunisme, sosialisme, dan lain sebagainya.
Pancasila digali dan dikembangkan oleh para pendiri
negara dengan melalui pengamatan, pembahasan dan
konsensus yang cermat.
Nilai-nilai Pancasila yang bersumber dari budaya yang
dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri disublimasikan
menjadi suatu prinsip hidup kebangsaan dan kenegaraan bagi bangsa Indonesia. Berdasarkan proses kau-
73
salitas perumusan dan pembahasan Pancasila tersebut
maka sumber materi yang merupakan nilai-nilai kultural dan religius, pada hakekatnya dari bangsa Indonesia
sendiri. Dengan lain perkataan lain bangsa Indonesia
pada hakikatnya merupakan kausa meterialis bagi Pancasila.
I. BELAJAR DARI BUTON
Untuk meyakinkan bahwa nilai nilai dasar Pancasila itu
merupakan “produk” Indonesia asli kita telaah sejenak
tentang Kesultanan Buton di Sulawesi Tenggara. Bagi
intelektual yang keranjingan ilmu dari BARAT atau dari
NEGARA LAIN, mungkin bijak juga jika belajar kearifan dari lokal Indonesia yang nilainya tidak kurang
mulia. Misalnya tentang kerajaan Buton yang kemudian
berkembang menjadi Kesultanan Buton.
Pelajaran Pertama: MENGHORMATI PEREMPUAN.
Pada periode Kerajaan antara thn 1322 sd Abad ke 16,
dipimpin oleh 6 Raja diantaranya 2 orang raja perempuan yaitu Wa Kaa Kaa dan Bulawambona. Kedua raja
ini merupakan bukti bahwa sejak masa lalu derajat
kaum perempuan sudah mendapat tempat yang istimewa dalam masyarakat Buton.
74
Kedua: KESULTANAN DEMOKRATIS.
Pada periode kerajaan berubah jadi kesultanan (abad
ke 16), demokrasi memegang peranan penting. Sultan
bukan berdasarkan keturunan namun dipilih oleh Siolimbona, dewan yang terdiri dari 9 orang penguasa dan
penjaga adat Buton.
Ketiga, SULTAN PUASA SEX.
Setiap sultan berjanji untuk tidak lagi tidur dengan permaisuri demi menghindari lahirnya putra mahkota saat
mereka bertahta. Karena bila sampai lahir seorang putra, maka kesultanan tidak lagi melalui proses demokrasi melainkan diwariskan kepada keturunannya.
Keempat: SANGGUP MENERIMA HUKUMAN MATI
Saat pelantikan, sultan terpilih akan membuat sumpah
untuk menjalankan UU negara yang disebut Murtabat Tujuh, dan menerima konsekuensi digantikan atau
bahkan kehilangan nyawa bila melanggar UU tersebut
(Sultan ke - VIII La Cila Maradan Ali (Gogoli yi Liwoto. 1647–1654), diadili dan diputuskan untuk dihukum
mati dengan cara leher dililit dengan tali)
75
Kelima: PATUH PADA FALSAFAH KESULTANAN
Falsafah hidup Kesultanan Buton ini lahir pada akhir
abad ke-16 M. Falsafah Hidup Kesultanan Buton meliputi:
1. Agama (Islam)
2. Sara (pemerintah)
3. Lipu (Negara)
4. Karo (diri pribadi/ rakyat)
5. Arataa (harta benda)
Kita akan bahas falsafah diatas dibandingkan dengan
PANCASILA.
II. “PANCASILA” VERSI BUTON
Soekarno adalah salah seorang pemimpin pejuang kemerdekaan yang gandrung menggali nilai-nilai perjuangan dari nilai-nilai luhur budaya bangsanya. Salah
satu buah pemikirannya adalah tentang PANCASILA.
Entah karena mmbaca riwayat Kesultanan Buton atau
kebetulan, ternyata ada kemiripan antara Pancasila
versi Soekarno dengan Pancasila versi Kesultanan Buton buah karya Sultan La Elangi Dayanu Ikhsanuddin
(1578-1615 M), Sultan Buton ke-4.
76
Perhatikan Falsafahnya:
1. Taat pada ajaran Agama (Islam). Bandingkan dengan sila I Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Tegakkan pemerintahan (SARA) yang adil. Bandingkan dengan sila 2 Pancasila; Kemanusiaan
Yang Adil dan Beradab
3. Negara(LIPU) Yang Utuh dan Bersatu. Bandingkan
dengan sila 3 Pancasila: Persatuan Indonesia
4. Diri/Pribadi-Rakyat atau KARO yang bijak Bandingkan dengan sila 4 Pancasila: Kerakyatan Yang
Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Harta benda (ARATAA) harus dilindungi dan berguna bagi kepentinagn umum. Bandingkan dengan
sila 5 Pancasila: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat
Indonesia
Soekarno mendapat penghargaan dari Univ Al Azhar
Kairo atas pemikirannya tentang Pancasila. Syeikh Mahmud Syaltut menyatakan: “penggali Pancasila itu adalah
Qaida adzima min quwada harkat al-harir fii al-balad
al-Islam (Pemimpin besar dari gerakan kemerdekaan di
negeri-negeri Muslim). Malahan, Demokrasi Terpim-
77
pin, yang di dalam negeri diperdebatkan, justru dipuji
oleh syeikh Al-Azhar itu sebagai, “lam yakun ila shuratu
min shara asy syuraa’ allatiy ja’alha al-Qur’an sya’ana
min syu’un al-mu’minin” (tdk lain hanyalah salah satu
gambaran dari permusyawaratan yang djadikan oleh Al
Quran sebagai dasar bagi kaum beriman). Pemimpin
Arab berkata; kami satu ras tapi terpecah atas berbagai
bangsa. Indonesia beragam ras/suku BERSATU karena PANCASILA. Mengapa kita kurang bangga dengan
karya dan budaya bangsa kita yang telah dihargai sedemikian tinggi oleh bangsa luar?
B. DEMOKRASI PANCASILA.
I. Prinsip-prinsip pokok Demokrasi Pancasila adalah
sebagai berikut..
1. Kedaulatan ada ditangan rakyat (UUD 1945)
2. Pengambilan keputusan berdasar musyawarah
3. Terdapat partai politik dan juga organisasi
sosial politik yang berfungsi untuk
menyalurkan aspirasi rakyat.
4. Pelaksanaan Demokrasi Pancasila dilakukan
dengan Pemilihan Umum untuk Dewan
Perwakilan Rakyat.
78
5. Perlindungan hak asasi manusia
6. Badan peradilan merdeka yang berarti tidak
terpangaruhi kekuasaan pemerintah dan kekuasaan lain.
7. Keseimbangan antara hak dan kewajiban
8. Pelaksanaan kebebasan yang bertanggung jawab
secara moral kepada Tuhan YME, diri sendiri,
masyarakat, dan negara ataupun orang lain.
9. Menjunjung tinggi tujuan dan juga cita-cita
nasional
10. Pemerintah patuh pada hukum, dijelaskan dalam UUD 1945 yang berbunyi: Indonesia adalah
negara berdasarkan hukum (rechtstaat) dan tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtstaat).
Pemerintah berdasar dari sistem konstitusi (hukum
dasar) tidak bersifat absolutisme (kekuasaan tidak terbatas). Kekuasaan yang tertinggi ada di tangan rakyat.
II. Asas Demokrasi Pancasila
Dalam sistem demokrasi Pancasila, terdapat dua asas
sebagai berikut:
79
1.Asas Kerakyatan.
Pengertian asas kerakyatan adalah asas kesadaran untuk cinta kepada rakyat, manunggal dengan nasib dan
cita-cita rakyat, serta memiliki jiwa kerakyatan atau
menghayati keasadaran senasib dan secita-cita dengan
rakyat.
2.Asas Musyawarah.
Pengertian asas musyawarah adalah asas yang memperhatikan aspirasi dan kehendak seluruh rakyat yang
jumlahnya banyak dan melalui forum permusyawaratan
untuk menyatukan pendapat serta mencapai kesepakatan bersama atas kasih sayang, pengobarbanan untuk kebahagian bersama.
C. DEMOKRASI PANCASILA SATU KESATUAN
DENGAN UUD 45 YANG DISAHKAN TANGGAL 18
AGUSTUS 1945.
Demokrasi Pancasila pada dasarnya penjabarannya
secara garis besar sudah tertuang dalam UUD 45 yang
disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Karena itu
Demokrasi Pancasila tidak bisa dipisahkan dengan
UUD 45 yang disahkan tanggal 18 Agustus 1945.
80
Demokrasi Pancasila tidak pernah akan klop atau tidak
akan cocok dengan UUD 2002 hasil Amandemen. Mengapa? Karena Demokrasi Pancasila mensyaratkan
adanya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai
pemegang kekuasaan tertinggi negara.
Dalam pasal 1 ayat 2 UUD 1945, kekuasaan negara tertinggi ada di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya
oleh MPR. Dengan demikian, MPR adalah lembaga
negara tertinggi sebagai penjelmaan seluruh rakyat Indonesia. Sebagai pemegang kekuasaan negara yang tertinggi MPR mempunyai tugas pokok, yaitu:
1.Menetapkan UUD
2.Menetapkan GBHN;
3.Memilih dan mengangkat Presiden dan Wakil Presiden
Wewenang MPR
1. Membuat putusan-putusan yang tidak dapat dibatalkan oleh lembaga negara lain, seperti penetapan GBHN yang pelaksanaannya ditugaskan kepada
Presiden
2. Meminta pertanggungjawaban presiden/mandataris
mengenai pelaksanaan GBHN
81
3. Melaksanakan pemilihan dan selanjutnya mengangkat Presiden dan Wakil Presiden
4. Mencabut mandat dan memberhentikan presiden
dalam masa jabatannya apabila presiden/mandataris sungguh-sungguh melanggar haluan negara dan
UUD. serta melanggar undang-undang.
D. INDIKATOR DAN FAKTA KEKACAUAN SISTEM
KETATANEGARAAN KITA.
Banyak intelektual yang masih percaya bahwa Jokowi
akan mampu atasi masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa. Kami yang sejak awal kritis terhadap
Jokowi dianggap underestimate thdp Jokowi dan sering
dikuliahi oleh pembela2 Jokowi. Berkali kali kami
katakan bahwa persoalan bangsa kita bukan semata
pada FIGUR PEMIMPIN/PRESIDEN tapi ada masalah
berat pada sistem. Kami sering menganalogikan dengan
mobil. Sebagus apapun SUPIRnya mobil Indonesia ini
ada masalah di MESIN, di AC dll. Jadi yang dibutuhkan
SUPIR dengan TIM MONTIR yang membenahi sistem
mobil ini. Apakah SUPIR JOKOWI BISA MERANGKAP
MONTIR? Kami sangsi karena SIM B saja mungkin
belum punya. Itulah esensi yang membedakan cara
pandang kami dengan sebagian teman terhadap
JOKOWI. Jadi tak ada ketidaksukaan pribadi kami
82
terhadap JOKOWI. Beberapa waktu yang lalu kami
pernah tulis fakta/ indikasi bahwa ADA MASALAH
SERIUS DALAM SISTEM KETATANEGARAAN KITA
YANG SANGAT MEMPENGARUHI OUTPUT KITA
SEBAGAI BANGSA. Dan juga tentu mempengaruhi
KINERJA PRESIDEN.
I. Fakta/Indikasi yang aneh:
1. Banyak orang orang pintar dan baik tetapi TIDAK
TERSERAP oleh SISTEM KENEGARAAN KITA.
Tapi banyak orang yang biasa-biasa saja bahkan bermasalah bisa mendapat POSISI MENENTUKAN.
Salah satu sebabnya karena ada yang kurang baik
dalam SISTEM KEPARTAIAN (sistem pendanaan,
kaderisasi, rekruitmen, promosi dll. Masalah dalam
sistem kepartaian ini bisa diulas khusus.).
2. Sudah belasan tahun kita punya LEMBAGA TINGGI
NEGARA seperti DPD RI. Bukan salah anggotanya
mereka tidak berfungsi optimal tetapi SISTEMnya
yang tidak jelas sehingga praktis kita (NEGARA)
mengeluarkan biaya untuk tugas simbolik saja. Ini
pun bisa dibedah panjang lebar.
3. Pada saat PEMILU LEGISLATIF, semua caleg bernyanyi TINGGI GUNUNG SERIBU JANJI. Karena
memang LIDAH TAK BERTULANG. Mereka dipi-
83
lih langsung OLEH RAKYAT. Sampai di SENAYAN
yang dominan diperjuangkan adalah SUARA PARTAI karena distel oleh LEMBAGA FRAKSI. Partainya disetel oleh PEMILIK MODAL. Sehingga kami
pernah tulis DEMOKRASI KITA: Dari Rakyat, Oleh
Rakyat Untuk Konglomerat. Tak ada yang salah
dengan kader partai dan caleg tapi lagi-lagi sistemnya. Lebih gila lagi WAKIL RAKYAT BISA DIGUSUR DARI SENAYAN OLEH PARTAI. Tentu saja
semua situasi tersebut mempengaruhi output DPR
yang berkaitan dengan fungsi PENGAWASAN,
LEGISLASI DAN ANGGARAN. Tentu saja sangat
MERUGIKAN RAKYAT, BANGSA DAN NEGARA
secara keseluruhan sebagai sebuah SISTEM.
4. DPR punya kewenangan lain: melakukan fit and
proper test terhadap calon HAKIM AGUNG, calon
GUB BI, calon KAPOLRI, Calon Panglima TNI, calon
Dubes, calon KPK dll. Padahal rekruitmen calon
anggota DPR saja oleh partai msh dipertanyakan
kualitasnya. Tiba-tiba mereka menjadi PENGUJI
utk jabatan2 strategis negara. Sehingga yang terjadi
SANDIWARA dibiayai negara. Tak ada yang salah
dengan anggota DPR, tapi SISTEM itu ANEH. Dan
untuk keanehan itu NEGARA mesti membayar.
Meskipun ada yang menyatakan bahwa peran DPR
tsb untuk memberi legitimasi bahwa Pejabat penting
tersebut sudah dapat stempel dari rakyat melalui
84
wakilnya. Namun tetap mengandung keanehan
apalagi kalau direfer ke UUD 45 18 Agustus 1945
di mana kewenangan mengangkat pejabat pejabat
tinggi tersebut merupakan eksklusif kewenangan
Presiden.
5. Secara teoretis PRESIDEN butuh grip yang kuat ke
Propinsi dan Daerah utk mensukseskan program
yang disampaikan saat kampanye. Oleh sistem otonomi dan demokrasi liberal Presiden bisa berbeda
partai dengan Gubernur/Bupati/Walikota. dalam
banyak kasus, terkadang Gub atau Bupati lebih loyal kepada Ketua Partai daripada ke Presiden. Atau
Bupati sering mengabaikan arahan Gubernur dll.
Tidak tegas lagi rantai komando kepemimpinan.
Bagaimana bisa menjadi PRESIDEN EFEKTIF atau
GUBERNUR EFEKTIF kalau situasinya seperti itu.
Lagi lagi ini masalah kesisteman.
6. Setelah amandemen UUD45 tidak dikenal lagi
LEMBAGA TERTINGGI NEGARA yaitu MPR
RI. Semua menjadi Lembaga Tinggi Negara(LTN).
*Praktis LTN seperti Lembaga Kepresidenan, MA,
BPK, DPR, DPD, MK, KPK dll jadi “KERAJAAN”
masing2. Egocentrisme lembaga mengental. MPR
sebagai tempat mempertanggungjawabkan tugas
di masa akhir jabatan tidak diperlukan. Rakyat
tidak tahu apa kerja mereka, tahu tahu bubar jalan.
85
Presiden yang memimpin 250 juta rakyat cukup di
SK kan oleh KPU. Selesai tugasnya tidak merasa
perlu pamit secara terhormat di depan MPR. Ya aneh
saja. Sistem ini hemat kami TIDAK MEMBANGUN
RASA BERTANGGUNG JAWAB Mau berhasil atau
gagal. Tidak ada reward dan punishment*Tidak ada
yang perlu dirisaukan. *Malah bisa ikut Pilpres atau
kontes lagi.
7. Belum lagi bila bicara SISTEM EKONOMI YANG
SUPER LIBERAL. Sejak LoI ditandatangani hingga
lahir lk 115 UU yang diarahkan asing (Bank Dunia
dkk) INDONESIA praktis tidak berdaulat lagi dalam
SDA, Perbankan, Tanah, Air, Retail dll. Ambil contoh
perbankan kalo Pemerintah mau membangun
proyek besar, sementara bank-bank dikuasai asing,
apa mungkin bisa dapat supporting dana. Padahal
bank asing kerjanya menyedot sumber daya
keuangan rakyat Indonesia bagaikan vacum cleaner
menyedot debu. Seratus disedot paling banyak 18
yang diputar di Indonesia lagi. Selebihnya diputar di
negeri yang lebih menguntungkan. Sistem ekonomi
Neoliberal merusak sistem politik negara berdaulat.
Mekanisme dan institusi demokrasi, seperti
pemilihan umum, lembaga perwakilan rakyat,
dan partai politik, dimanipulasi sedemikian rupa
sekedar sebagai alat menciptakan konsensus dengan
rakyat. Sementara proses pengambilan keputusan
86
politik secara real diambil alih oleh institusi-institusi
global yang tidak pernah mendapat mandat rakyat,
seperti IMF, Bank Dunia, WTO, dan lain-lain. Kalau
saya bertanya apakah bergabungnya Indonesia ke
Masyarakat Ekonomi ASEAN atas persetujuan
rakyat? Pasti jawabannya bingung. Sejak kapan
rakyat ditanya. Dalam kampanye Pemilupun tak ada
caleg yang bertanya. Tahu-tahu rakyat dicemplungin
aja. Entah akan jadi apa rakyat Indonesia di MEA,
ora mikir!
8. KPK dibentuk oleh DPR dan Pemerintah dengan
UU. Pd saat UU mau diperbaiki terkesan KPK “
melawan” dengan berbagai cara lewat LSM yang
mereka bina. Bahkan pernah mempermalukan
Presiden ketika Presiden mengajukan calon Kapolri
dengan buru buru mentersangkakan calon Kapolri.
9. MK dipilih oleh DPR dan disahkan dengan SK
Presiden.Tapi 9 orang itu bisa membatalkan UU
yang disahkan 560 orang anggota DPR dan disetujui
Presiden. Saya bukan ahli hukum. Cuma merasa
aneh saja.
Kalau saya tulis semua tentang KEANEHAN-KEANEHAN DAN MASALAH SISTEM KETATANEGARAAN
PASCA REFORMASI ini pasti tidak cukup 50 halaman.
87
Saya tidak tahu apakah para profesor perancang amandemen UUD 45 menyadari atau tidak fakta-fakta ini.
Kami sudah mencoba mengumpukan ahli-ahli tatanegara untuk mendiskusikan dan mencari SOLUSI atas
problem SISTEM KONSTITUSI INI tapi mengundang
ahli2 Tatanegara itu bagaikan mengangkat batu besar
ke atas bukit. Hanya sedikit Profesor Tata Negara yang
rendah hati dalam urusan ini. Problem konstitusi ini
yang berat mengganjal kinerja Presiden, sehebat apapun Presiden itu. Inilah agenda prioritas kalau Indonesia sungguh mau berubah. Saya kira perlu kebesaran
jiwa pendukung Jokowi untuk memahami kompleksitas
masalah ini, agar tidak membabi buta membela tanpa memahami masalah besar(SISTEM) yang dihadapi
Presiden.
*II.*Cita cita pendiri negara kita dengan dicapainya kemerdekaan antara lain untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi semua rakyat. Setelah 70an tahun
kemerdekaan cita cita tsb bukannya makin mendekat
tapi malah makin menjauh dan meredup. Separuh
penduduk Indonesia masih hidup dengan pendapatan
di bawah 2 USD/hari/kapita. Segelintir manusia hidup
dengan kemakmuran luar biasa. Ada 40an orang punya
kekayaan lbh dari 1000 trilyun. Ada 4 orang terkaya setara dengan 100 juta harta orang miskin.
88
Ini sebuah ironi dan tragedi di tengah melimpahnya
kekayaan alam Indonesia. Ada yang sering dikesampingkan oleh politisi dan ahli ekonomi karena dihantui tuduhan rasialis bahwa sesungguhnya dari berbagai
catatan sejarah salah satu tujuan kemerdekaan itu adalah untuk mengangkat derajat kaum inlander/pribumi
(bumi putera) karena nasib mereka yang dianiaya oleh
penjajahan Belanda dengan menempatkan mereka sebagai warganegara kelas tiga di negerinya sendiri. Ini
bukan soal rasialisme tapi ini menyangkut keadilan
politik dan keadilan ekonomi bagi mereka. Namun
apa yang terjadi nasib kaum inlander/pribumi tetaplah
menjadi kelas tiga secara ekonomi meskipun sdh 70 tahun merdeka.
Apakah realitas itu hanya kesalahan kebijakan Penguasa? Atau semata karena penyimpangan dalam penegakkan aturan main? Saya kira bukan semata karena masalah masalah tsb.
Henry Veltemeyer menyatakan: “Proses akumulasi kekayaan disatu sisi, penghisapan serta pemiskinan disisi
lain, bukan terjadi secara alamiah tetapi berdasarkan
suatu desain kebijakan politik-ekonomi yang kini kita
kenal sebagai Neoliberalisme dan Globalisasi Kapitalis”
Jadi ada masalah masalah mendasar berkaitan dengan
paham dan sistem dalam kita melaksanakan amanat
Konstitusi Proklamasi 1945 khususnya dalam bidang
89
ekonomi. Kalau memang jalan, paham dan sistem yang
kita pilih on the track maka seharusnya pemerataan kesejahteraan dan keadilan ini makin mendekat. Bukannya
makin menjauh dan meredup, menjadilkan mayoritas
rakyat kehilangan harapan. Problem dan kontradilksi
ini harusnya menjadi agenda utama kalau TRISAKTI
mau dilaksanakan oleh Penguasa Baru secara konsekwen dan konsisten.
2. Makin banyak orang yang dipenjarakan makin
meningkat jenis, kuantitas dan kualitas kejahatan di
tingkat bawah maupun yang dilakukan elite (korupsi
dan kejahatan krah putih). Secara teori mestinya makin
banyak yang masuk penjara makin banyak yang takut
berbuat jahat. Bagaimana menjelaskan realitas demikian? Ini sesuatu yang kompleks untuk dirinci dalam ruang terbatas ini. Secara sederhana kita bisa simpulkan
telah terjadi kerusakan dalam sistem nilai karena ada
yang keliru dalam pendidikan (termasuk pendidikan
agama), kesalahan dalam sistem hukum dan penegakkannya, sistem budaya dll sehingga OUTPUTnya menghasilkan manusia MANUSIA YANG KEHILANGAN
KEMANUSIAANNYA.
3. Di negara yang relatif sehat sistemnya, ekonomi
tumbuh dari hasil kerja keras rakyatnya secara produktif
karena pertanian, pariwisata, industri dll tumbuh sehat.
Misalnya di Korea, Jepang, China, Malaysia dan Thailand
90
dll. Mayoritas rakyatnya MAKAN DARI KERINGAT
MEREKA SECARA BENAR. Mereka tumbuhmemakai istilah alm Prof Dr Hartojo Wignyowijotodari EKONOMI FRONT OFFICE. Namun di Indonesia
diduga sebagian rakyatnya hidup dari korupsi dan
perputaran uang korupsi (terutama saat PILKADA,
PILEG, PILPRES, PILKADES di mana banyak UANG
GELAP BERPUTAR), sebagian hidup dari percikan jual
beli narkoba, sebagian dari jual beli manusia (prostitusi
dan TKW), sebagian dari uang PENYELUDUPAN,
PERJUDIAN, PREMAN dll yang oleh Prof Hartojo
Wignyowijoto disebut sebagai EKONOMI BACK
OFFICE.
Kita tidak tahu seberapa besar EKONOMI BACK OFFICE ini menopang ekonomi Indonesia. Baru-baru ini
sebuah lembaga menyiarkan uang gelap berputar di Indonesia terus meningkat. Thn 2014 sj sekitar 250 triliun.
Ini menjelaskan bgmana orang yang tidak kerja keras
tapi bisa hidup makmur. Yang jelas makin besar sumbangan ekonomi back office berarti makin besar kerusakan moral dan kerusakan sistem dalam masyarakat
Indonesia.
Apa yang kami beberkan di atas, merupakan indikasi
kegagalan sistem demokrasi liberal, yang sebenarnya
kita sudah belajar dari kegagalan demokrasi liberal tahun 1950 sampai dengan 1959 berdasarkan UUD 50.
91
Sebuah sistem yang telah dikritik secara pedas oleh
Sekarno dengan kalimatnya yang terkenal
“Berilah bangsa ini satu demokrasi yang tidak jegal-jegalan. Sebab demokrasi yang membiarkan seribu macam
tujuan bagi golongan atau perorangan akan menenggelamkan kepentingan nasional dalam arus malapetaka.”
ujar Presiden Soekarno dalam pidatonya tahun 1957.
Kritiknya makin pedas terhadap demokrasi liberal, yang
dinilainya sebagai demokrasi dengan politik rongrong
merongrong, rebut merebut, jegal menjegal dan fitnah
memfitnah.”
Sekitar tahun 1953 setelah berhenti dari KSAD (pasca 17
Okt 1952) Nasution menulis kritik terhadap demokrasi
liberal: “Bahwa tangan yang harus memegang aparatur
itu, yakni kekuasaan politik, adalah seharusnya teguh.
Akan tetapi umum mengetahui bhw pemerintah kita
adalah labil, karena belum pernah diadakan Pemilihan
Umum dan adanya berpuluh puluh partai politik. Tiap
pemerintah harus berkoalisi dan disusun dari selusin
partai, sehingga kelahirannya berdasarkan kompromikompromi.
Maka itu tak mungkin ada gezag (wibawa) tak mungkin
ada kekuasaan yang tegas dan teguh, karena tiada satu
partaipun yang dapat memerintah. Dan untuk memperbaiki aparatur negara perlu adanya kekuasaan politik
92
yang tegas. Yang menjadi syarat mutlak usaha usaha
stabilisasi keamanan negara. Rakyat mengharapkan
pimpinan dari Dwitunggal Soekarno Hatta yang disegani, dijunjung dan dihormati oleh seantero, akan
tetapi Dwitunggal itu tak berdaya karena menurut UUDS
50 mereka cuma perlambang dan bukan penanggung
jawab pemerintahan. Kekuasaan memerintah oleh
UUDS50 diserahkan ke partai partai yang berbentuk
sistem parlementer.” (Buku: MEMENUHI PANGGILAN
TUGAS jilid 3 hal 245). Dalam halaman 252 Nasution
menulis: “Sistem pemilu dan konstitusi kita th 50an
merintangi slagordening (pengikatan persatuan semua
kekuatan). Sistem ini selalu meluangkan kesempatan
bagi masing masing kelompok bahkan masing masing
tokoh untuk kepentingan sempit. Tidak mungkin tertegak suatu grand strategi, suatu strategi besar dengan
kepemimpinan yang bernilai kenegarawanan.”
E. TAWARAN SOLUSI.
Untuk menghentikan proses kerusakan bangsa ini kami
dan kawan-kawan telah coba tawarkan KEMBALI KE
PEMIKIRAN AWAL DARI PENDIRI NEGARA KITA
yakni yang tertuang dalam UUD45 yang disahkan
tanggal 18 Agustus 1945. Sudah panjang adu argumentasi
soal ini. Kami yakin ini jalan yang bisa menyelamatkan
NKRI. Bahwa ada kekurangan kami dkk juga sdh
93
tawarkan ada cara dan jalan untuk mengatasinya yang
kami rangkum dalam kata bahwa UUD45 itu UNTUK
DISEMPURNAKAN. Ini juga sdh melewati perdebatan
panjang. Bila jalan ini pun tak bisa disepakati dan mau
lanjut dengan jalan sesat monggo aja.
F. KEMBALI KE UUD45 18 AGUSTUS 1945 SAMA
DENGAN MASUK LAGI KE ERA KEGELAPAN?
Hampir menjadi kesadaran umum bahwa praktek
demokrasi liberal sekarang telah membuat bangsa kita
menjadi tidak jelas arah dan tujuannya, nasionalisme
menjadi buram, sekelompok orang menjadi sangat kaya
raya, sebagian besar rakyat jadi miskin, manusia jadi
serakah dan materialistik, hidup sangat individualistik. Budaya hedonisme, exibishionisme, narsisme mewabah. Semangat kekeluargaan, sopan santun, saling
menghargai menjadi runtuh. Perpecahan bangsa setiap
saat mengancam. Manusia Indonesia seakan kehilangan
jati diri. Kedaulatan Pemodal lbh dominan dari Kedaulatan Negara dll
Sekarang sejarah berulang kembali, UUD45 hasil
Amandemen 2002, ternyata berimplikasi luas terhadap
tatanan kehidupan bermasyarakat kita. Secara politik,
ekonomi, sosial budaya, keamanan dan lain lain telah
sangat liberal. Banyak kalangan resah dan gelisah.
94
Sehingga timbul anggapan KITA TELAH TERSESAT
karena itu kita harus kembali ke TITIK AWAL kita
berangkat, yaitu kembali ke roh perjuangan awal kita
mendirikan negara ini, yaitu yang tertuang dalam
Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 45. Kita kembali
kesini dulu, sebagai layaknya orang yang tersesat
mencari titik start berangkatnya, agar bisa menyusur
jalan benar. Maka makin menguat keyakinan bahwa
kembali ke UUD45 18 AGUSTUS 1945 (UNTUK
DISEMPURNAKAN ITU), adalah cara bijak. Bukan
dengan melanjutkan Amandemen yang akan makin
menyesatkan.
Namun gagasan kembali ke UUD45 18 AGUSTUS 1945;
selalu dicurigai sebagai upaya mengajak kembali ke era
kegelapan, era penindasan, era fasisme, era militerisme,
selama 32 tahun kekuasaan Soeharto atau kediktatoran
seperti zaman jelang akhir kekuasaan Soekarno.
Padahal penerapan UUD45 di era Soekarno juga
mendapat kritik dari Bung Hatta dll. Demikian juga di
era Soeharto mendapat kritik keras dari Jen AH Nasution, M Natsir, Ali Sadikin dll yang tergabung dalam
Petisi 50 serta gerakan mahasiswa 1974 dan 1977/1978.
Artinya apa yang diterapkan oleh Soekarno di akhir
kekuasaannya maupun selama 32 tahun Soeharto
berkuasa bukanlah yang IDEAL.
95
Dengan kata lain UUD45 18 Agustus 1945 BELUM
PERNAH DIIMPLEMENTASIKAN DENGAN BENAR
SEPENUHNYA SEHINGGA KITA MESTI BERJUANG
TERUS UNTUK MELAKSANAKAN DENGAN
MURNI DAN KONSEKWEN.
Dalam hal demokrasi SOEKARNO pernah merumuskan istilah DEMOKRASI TERPIMPIN yang dalam
penerapannnya dianggap berujung ke diktator. Soeharto dalam pidatonya diawal kekuasaannya pd 16 Agustus
1967 merumuskan DEMOKRASI PANCASILA dengan
kalimat yang indah dan bagus seperti kutipan dalam
pendahuluan diatas.
Pidato tersebut sangat menyihir dan paling sering dikutip oleh Petisi 50. Pak Natsirpun tertarik dengan pidato awal Soeharto berkuasa ini, sehingga di awal kekuasaan Soeharto bekas Perdana Menteri dan Tokoh Partai
Masyumi tsb mau mendukung Soeharto.Namun Natsir
pun kecewa dengan Soeharto sehingga bergabung dengan PETISI 50 menentang Soeharto.
Jadi adalah keliru besar bila ada anggapan bhwa kembali
ke UUD45 18 Agustus 1945 sebagai upaya mengajak ke
era diktator dan fasis militeristik. Apalagi zaman telah
berubah, kesadaran atas hak azasi manusia, pemahaman
akan hukum telah meningkat pesat. Militer Indonesia
pun telah belajar banyak atas kekeliruan di masa lalu dan
96
melakukan redefinisi atas perannya di era yang makin
terbuka ini, sehingga tidak mungkin mengulang sejarah
kelam peran yang pernah dimainkan oleh Soeharto.
Di era informasi yang serba terbuka ini di mana tidak
ada lagi kekuatan yang memonopoli informasi, maka
kekuasaan yang akan berlaku otoriter atau diktator akan
selalu dibully (diejek) oleh publik nasional maupun
internasional.
Kita kembali ke UUD 45 18 Agustus 1945 adalah untuk
menemukan kembali jatidiri kita sebagai bangsa yang
hidup dalam alam musyawarah mufakat, kekeluargaan
dan berjuang untuk kemajuan bersama, bukan untuk
saling jegal menjegal dan mengejar kemajuan masing
masing.
Kembali ke UUD45 18 Agustus 1945 adalah upaya kita
kembali ke titik start untuk menemukan roh murni
dari makna terdalam perjuangan para pendiri bangsa
kita, menegakkan nasionalisme kita, karena kita telah
TERSESAT dalam arah yang keliru dalam mencapai
tujuan kemerdekaan kita.
Kembali ke UUD 45 18 Agustus 1945 bukan untuk
mengkeramatkan Konstitusi karena kita tetap punya
ruang UNTUK MENYEMPURNAKAN (misalnya
pembatasan masa jabatan Presiden!) dengan cermat
dan hati hati, bukan perubahan secara serampangan.
97
Karena konstitusi AS pun dirubah secara hati hati, kata
perkata. Tidak asal buang atau memasukkan kalimat
secara “borongan” sehingga kehilangan makna historis
dan filosofis sebgmana yang dimaksud para pendiri
bangsa.
Di era di mana alat komunikasi dan informasi serba terbuka ini masih ada yang berpikir bahwa akan lahir diktator baru karena menggunakan sistem ketatanegaraan
UUD 45 18 Agustus 1945 saya kira terlalu naif. Dulu
Soeharto dengan militerismenya bisa dominan karena
rezim antara lain menguasai komunikasi dan informasi secara telak (monopoli). Sekarang rakyat di Merauke
bisa dalam sekejap tahu apa yang sesungguhnya terjadi
di Jakarta, bagaimana mau berlaku diktator atas mereka?
Karena rakyat mampu mengcounter lewat alat komunikasi yang mereka miliki dari sudut sudut kamarnya?
Jadi sangat konyol menyatakan kembali UUD45 18
Agustus 1945 sebagai upaya kembali ke sistem diktator.
Yang dibutuhkan kesabaran kita untuk terus koreksi
dan koreksi atas konsep ketatanegaraan dalam UUD45.
Biarlah terus menerus terjadi dialektika seperti di era
Soekarno yang dikritik Bung Hatta, atau di era Soeharto
yang dikritik Petisi 50.
98
Dengan cara itu Konstitusi kita akan teruji dan makin
kuat. Bukan dengan membantai seperti yang terjadi
dengan Amandemen yang dilakukan sejak 1999 sd 2002
yang melahirkan UUD 2002 yang sekarang kita rasakan
sebagai ancaman yang akan menghancurkan NKRI. []
Sumber Bacaan:
1. Prof DR Kaelan M.S. Liberalisasi Ideologi
Negara Pancasila.
2. Tulisan DR. Yudi Latif
3. Tulisan DR. Denny JA
4. Tulisan Haris Rusly
5. Tulisan Salamuddin Daeng.
6. Tulisan MHT yang lalu lalu.
7. Dll.
99
100
Meneguhkan Kembali
Demokrasi Pancasila Yang
Diperbarui
Taufan Hunneman
Direktur Executive Indonesia Institute and Public
Policy
Setidaknya ada 3 hal yang bisa diklasifikasi dari tulisan
Denny JA:
1. Fenomena paska pilkada DKI
2. Adanya benturan gagasan dalam ruang politik
3. Agenda ke depan untuk meneguhkan kembali
demokrasi pancasila yang di perbaharui
Sebelum membahas 3 hal ini, saya mengingatkan kembali melalui pendapat dari bapak demokrasi Moh. Hatta
tentang 3 sumber pokok demokrasi yang mengakar di
Indonesia:
1. Sosialisme barat yang membela prinsip prinsip
humanisme
101
2. Ajaran Islam memerintahkan kebenaran dan
keadilan Tuhan dalam masyarakat
3. Kehidupan masyarakat dalam kolektivisme di
desa-desa
Ketiga inilah akar demokrasi yang mengakar dalam kehidupan bangsa indonesia. Ketiga sumber inilah sebenarnya akar dri demokrasi kita karena itu pemahaman
barat-Islam dan kebudayaan lokal tidak bertentangan
satu dengan lainnya namun mendapatkan tempatnya
secara bersmaan dalam demokrasi pancasila
Menyikapi soal fenomena pilkada dan adanya sisipan
agenda yang dilihat oleh Denny JA, sebenernya ini di
mulai dan disebabkan adanya politik identitas yang
dimainkan dalam pilkada dki kali ini. Amrtya Sen
pernah mengungkapkan bahwa setiap manusia tidak
pernah punya identitas tunggal melainkan identitas
yang beragam dalam dirinya karena itu maka setiap
manusia mempunyai banyak persamaan. Karena itu
pilkada DKI justru berbalik atas pengertian Amartya
Sen karena pilkada DKI merumuskan persamaan atas
identitas tunggal sebagai isu sentral dalam pilkada DKI.
Selanjutnya Amartya Sen pun mengkritik pendapat
Samuel Huntington terkait kategorikal peradaban yang
saat ini dikategorikan sangat tidak tepat seperti identik
India yang representatif dari budaya hindu.
102
Dalam pilkada DKI kali ini politik identitas begtu kental
sekali aromanya. Jika di Amerika Serikat identitas politik
yang di mainkan baik oleh komunitas kristen puritan,
hispanik, afro amerika tidak memberikan dampak secara
langsung kemasyarakat karena demokrasi amerika telah
berabad abad perbaikan kualitas demokrasi.
Politik identitas di Indonesia masih sangat rentan
dampaknya dimasyarakat sebab setidaknya ada 2 argumentasi:
1. Umur demokrasi yang terbilang muda. Akibatnya masyarakat belum terbiasa adanya pendekatan kesamaan identitas dalam memilih paslon
2. Adanya bibit radikalisme dalam ideologi di
masyarakat yang kemudian mendapatkan tempatnya dalam politik identitas
Ideologi di masyarakat khususnya ideologi radikalisme
selama 32 tahun era Suharto ternyata belum mati bahkan bekerja dalam ruang senyap dan mendapatkan momentumnya pada saat reformasi dan melalui demokrasi
termanifestasi menjadi partai politik atau ormas.
Benturan gagasan atau platform politik sesuatu yang
tidak diharamkan dalam demokrasi sebagai diskursus
atau proses dialog sangat dianjurkan namun gagasan
103
atau platform yang mengedepankan unsur unsur
kebencian atau penghasutan atas dasar kebencian harus
dieliminasi dalam ruang diskusi politik juga harus di
eliminasi dalam demokrasi.
Sebab demokrasi masih dapat dan diperbolehkan dilakukan pelarangan sebagai bagian dari preventif atas
antisipasi supaya demokrasi tidak terbunuh oleh ideologi yang anti demokrasi.
Tawaran Denny JA untuk kembali mengatur aturan main
bersama harus dilihat dari setidaknya 2 kepentingan:
1. Apakah platform atau gagasan dimaksud bertentangan dengan demokrasi?
2. Aturan main dimaksud apakah kemudian
mengesampingkan konsensus politik yang telah
disepakati bersama baik saat awal berdirinya
negara ini maupun dalam proses politik di
kemudian hari?
Sebab konsensus politik ini menyangkut soal soal prinsip-prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara yang
apabila di sentuh mengakibatkan proses perpecahan
yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.
104
Agenda yang teramat penting saat ini bukan saja merumuskan kembali aturan main atw mempertegas ruang
publik yang selama ini di kacaukan oleh sentimen agama melainkan keberanian menyelamatkam demokrasi pancasila dari rongrongan paham radikalisme atau
cara-cara yang di lakukan untuk melemahkan demokrasi itu sendiri.
Perjalanan bahkan perkembangan demokrasi pancasila dari era ke era memperlihatkan kompromistis akibat
situasi politik dan ini tidak bisa dibenarkan untuk kestabilan watak demokrasi pancasila yang mempunyai akar
sejarahnya.
20 tahun sudah era reformasi, di mana demokrasi berjalan mempunyai kecendrungan ke arah liberalisme
dan ini harus dievaluasi agar paham liberalisme yang
terlalu jauh dapat direvitalisasi untuk kembali ke dalam
demokrasi pancasila yang mempunyai basis budaya.
Inilah momentum yang sangat tepat untuk mulai menyusun agenda bersama untuk merumuskan demokrasi
oancasila sebagaimana jatidiri bangsa ini.
Ajakan Denny JA untuk meneguhkan kembali demokrasi pancasila yang diperbarui sebaiknya jangan dilihat dalam perspektif proses merevisi konsensus yang substantif untuk mencapai titik yang ideal sebab akan terjadi
pengulangan kompromistis politik yang rentan tergerus
105
arus jaman. Namun sebaiknya mulai merumuskan
agenda bersama untuk menyusun kembali demokrasi
pancasila yang sebenar-benarnya sebagaimana jati diri
bangsa.
Keberanian untuk merumuskan demokrasi yang diperbarui hruslah dimulai dari menegakkan aturan yang
jelas atas gagasan kelompok kelompok intoleransi maupun atas gagasan politik yang anti demokrasi.
Karena itu kita harus sepakat bahwa tantangan kedepan
adalah menyelamatkan demokrasi pancasila namun
sebelum masuk dalam agenda merumuskan kembali
demokrasi yang di perbaharui alangkah lebih baik jika
kita mendorong penegakkan hukum atas kelompok,
ormas maupun tindakan yang merongrong demokrasi,
memanipulasi kebebesan dengan mempromosikan gagasan anti demokrasi, kebencian atas dasar suku, agama
dan ras serta mengugat konsensus subtansi atas prinsip
kenegaraan kita. []
106
Demokrasi Pancasila
Zeng Wei Jian
Aktivis, penulis
Senior kita, Denny JA, merilis ajakan merekonstruksi
Demokrasi Pancasila “yang diperbarui”. Dia mengajak
kita berpikir soal landasan filosofis bernegara. Sebuah
ideal, a system, sebagai “the only game in town.”
Baginya, pasca Ahok, ada sesuatu yang memprihatinkan. Sekali pun bagi saya, orang-orang yang berisik soal
keberagaman sambil menuding-nuding kelompok Islam merupakan kelompok ahistoris. Mereka mengidap
delusi.
Ahok kalah bukan karena SARA. Itu cuma alasan dan
alibinya. Raison d’être Ahok tumbang adalah keliru stratak, kalkulasi dan metodologi.
Sejak 98, saya berpikir soal sistem terbaik bagi Indonesia. Semuanya anomali. Akhirnya, saya nyerah. Berhenti
107
memikirkan soal beginian. Perdebatan paling mendasar
adalah sistem vs manusia.
Menurut D. Edwards Deming, sistem lebih penting dari
manusia. Angka perbandingannya 95:5. Kaum Marxis
juga mementingkan sistem. Sedangkan penganut eksistensialis tidak peduli dengan sistem. Manusia jadi pusat
segalanya. Bila manusianya baik, maka sistem apa pun
akan menghasilkan end result yang baik. Begitu juga sebaliknya.
Saya tidak tau mana yang benar. Segalanya relatif. Samasama benar, tergantung situasi dan kondisi partikelir.
Indonesia penuh anomali. Sampe sekarang, saya mengira, adalah sebuah keajaiban Indonesia masih ada. Harry Tjan Silalahi pernah menulis “Indonesia negara bukan-bukan”. Bukan negara agama, bukan sekuler, bukan
demokrasi, juga bukan negara totaliter. Indonesia juga
bukan negara sosialistik, tapi juga bukan kapitalis.
Hanya di Indonesia, empat peradaban hidup berdampingan secara bersamaan: tribal society, agraris, industri
dan informasi teknologi.
Eropa hanya punya masyarakat industri dan IT. Botswana, Mozambique, Lesotho dan sebagainya belum masuk
negara industri. Masih tribal dan agrarian society.
108
Selain itu, ada 1300-an suku dengan lingua franca berbeda mendiami 1700 pulau Indonesia. Di samping 186
kerajaan masih eksis sampai sekarang.
Diam-diam, berbagai faksi terlarang hidup berdampingan saat ini. Pengikut Sudisman, Tan Malakaist, Leninis, Maoist, Pecinta Che Guevara, Tan Ling Djiesme,
Baperki, Stalinist, Rosa Luxemburg, anarco syndicalist,
Trotskyist bergerak di samping marhaenis, wahabi, salafi, syiah, permusi, JI, LDII, kejawen, Jesuit, Freemasonry, Falun Dafa, animisme dinamisme dan ancient alien
theorem.
Faktor geografis dan tipologi antroplogis itu masih dibikin rumit dengan adanya berbagai macam aliran pemikiran, agama, mazhab dan sub sekte. Jurang antara si
miskin dan kaya mengerikan. Menurut Oxfam, empat
orang terkaya memiliki harta setara dengan kekayaan
100 juta penduduk.
Jadi, tidak penting bentuk negara atau sistem apa yang
mesti dianut. Masalah kesejahteraan itu esensinya.
Islam sebagai kelompok mayoritas mesti ditempatkan
di posisi sentral. Tirani minoritas sesuatu yang absurd.
Pluralitas merupakan fakta. Namun fairness tidak berarti porsi sama rata antara mayoritas dan minoritas. Itu
sama saja mengistimewakan minoritas. Sebuah ketidak-adilan bagi mayoritas.
109
Lieus Sungkharisma bilang, apalah arti sebuah nama.
Serupa dengan William Shakepear yang berkata, “What’s
in a name? That which we call a rose by any other name
would smell as sweet.”
Lieus tidak sedang menjadi pujangga. Dia sedang bicara
soal politik. Dia tidak keberatan bila Indonesia jadi
negara Islam. Malah senang. Baginya, justeru minoritas
akan lebih terlindungi. Contohnya Malaysia. Setau saya,
tidak pernah ada pogrom atau hatze anti cina di sana.
Namun definisi “negara Islam” pun multi-interpretasi.
Lebih rumit dari communist state. Antara Soviet Union,
PRC, North Korea dan Cuba saja sudah lain. Sekalipun
sama-sama masuk communist camp. Benar kata Denny
JA, hanya sedikit orang menginginkan negara islam dan
liberal-sekuler. Paling-paling Gunawan Muhamad dan
Salihara yang ngga keberatan dengan tarian telanjang.
Mayoritas orang akan bilang, “That’s insane.”
Ada kesadaran supra di balik alam bawah sadar manusia
Indonesia. Mereka tau, ekstrimitas kiri dan kanan tidak
tepat buat Indonesia.
Kubu intoleran hanya ada dalam hayalan segelintir orang.
Faktanya, di Indonesia tidak pernah ada perempuan
minoritas disiram air dan dipukuli hanya karena dia
pakai liontin salib. Justeru di Eropa dan Amerika kerap
110
ditemukan perempuan muslim dibully dan dipukuli di
pinggir jalan. Hanya karena dia memakai hijab.
Jadi, menurut saya, Demokrasi Pancasila versi “yang
diperbarui” adalah stop menuding orang lain sebagai
kelompok intoleran dan radikal sambil memasang
foto Garuda Pancasila sebagai Profile WA. Menudingnuding orang lain seperti itu justru sebuah penghianatan
Pancasila dan demokrasi itu sendiri. []
111
112
Benarkah Kita Terbelah?
Anick HT
Penulis, Pemimpin Redaksi inspirasi.co
Denny JA meluncurkan tantangan menarik (Denny JA:
Perlunya Menegaskan Komitmen pada Demokrasi Pancasila yang Diperbarui) setelah hingar bingar Pilkada
DKI Jakarta sedemikian menyita perhatian publik dan
menaikkan isu-isu berbasis identitas yang agaknya memang masih kuat sebagai sentimen di negara demokrasi
ini.
Saya ingin menanggapi tulisan itu dalam tiga ranah: pertama, asumsi keterbelahan publik pasca-pilkada DKI
Jakarta dan ancaman terhadap demokrasi. Kedua, tentang istilah demokrasi Pancasila yang diperbarui yang
dilontarkan Denny JA. Dan ketiga; konten pembaruan
demokrasi Pancasila tersebut yang intinya adalah memberi porsi lebih pada pendulum agama.
--0--
113
Tulisan Denny JA diawali dengan asumsi yang berlebihan tentang situasi demokrasi Indonesia pasca-pilkada.
Menurutnya, “Dalam waktu dekat, bukan mustahil
Indonesia akan terkoyak dan tidak stabil.” Bahkan, “bukan tak mungkin demokratisasi di Indonesia mengalami
break-down dan kemunduran yang signifikan.”
Bagi saya, itu asumsi yang sangat berlebihan. Betulkah
isu SARA yang meruyak pada Pilkada DKI beberapa
waktu lalu sebegitu kuat daya rusaknya terhadap fundamen ideologi berbangsa kita? Sebegitu rapuhkah
tatanan demokrasi kita sehingga terancam hancur hanya karena politik Pilkada? Sebegitu lemahkah komitmen kebangsaan para elite politik kita sehingga hanya
karena kepentingan kekuasaan sesaat membuat mereka
menggadaikan ideologi besar kita?
Mungkin saya salah. Tapi saya melihat dan menyimpulkan hingar bingar Pilkada DKI Jakarta agak berbeda dengan apa yang dikhawatirkan secara berlebihan
dalam tulisan Denny JA tersebut. Apa yang disebut keterbelahan dalam Pilkada DKI Jakarta, bagi saya adalah
keterbelahaan dalam konteks politik praktis. Isu SARA
dan politik identitas yang terbukti efektif dalam konteks kasus Ahok bagi saya hanyalah kuda tunggangan
kepentingan politik kecil.
114
Tentu ada sejumlah penunggang kuda yang dari awal
ingin mendesain dan memanfaatkan momentum “kebangkitan” Islam politik ini dengan agenda-agenda
yang lebih ideologis. Pengusung khilafah Islamiyah seperti Hizbut Tahrir Indonesia yang menjadi bagian dari
orkestra besar Aksi Bela Islam salah satunya. Kelompok Bachtiar Nasir yang sejak awal juga identik dengan
kelompok pengusung syariat Islam juga salah duanya.
Tak kurang, Habie Rizieq pun terseret untuk mensofistikasi gerakannya sebagai gerakan ideologis dengan
mendeklarasikan jargon NKRI Bersyariah.
Namun jika dilihat lebih jauh, agenda-agenda ideologis
itu tidak juga mendapatkan space yang cukup di dalam
payung besar Aksi Bela Islam yang berjilid-jilid tersebut.
Segera setelah mereka merasa berhasil mempersatukan
umat, mereka gagap sendiri merumuskan mau dibawa
ke mana “umat yang telah bersatu”. Istilah pecah kongsi
muncul tak begitu lama setelah Aksi 212. Demikian juga
nampaknya ketika menyadari bahwa sebagian umat
yang berlindung di bawah payung besar Aksi Bela Islam
memiliki agenda ideologisnya sendiri, Habieb Rizieq
serta merta merasa terancam kehilangan daya rekatnya.
Untuk itulah nampaknya jargon NKRI Bersyariah
kemudian dimunculkan.
115
Dalam kerangka seperti itu, terlalu simplistik ketika kita
menyimpulkan bahwa agenda besar yang lebih ideologis
tengah mengancam demokrasi kita.
Jikapun terasa efek pengentalan politik identitas, itu
memang terjadi di tingkat umat grassroot yang terlanjur terbakar sentimen keagamaannya. Dan itupun lebih
nampak seperti euforia sementara. Saya tidak yakin jika
euforia semacam ini bisa bertahan hingga pemilu presiden 2019.
--0-Melalui tulisan pendek tersebut, Dennya JA menjelaskan empat platform gagasan yang turut bertarung dalam Pilkada Jakarta, yakni: kelompok yang menginginkan demokrasi modern ala negara maju; kelompok yang
mengajak Indonesia kembali ke sistem sebelum amendemen UUD 1945; kelompok yang ingin mendesakkan
agenda negara Islam atau setidaknya NKRI Bersyariah,
dan kelompok yang ingin mempertahankan demokrasi
yang ada saat ini, namun lebih diperbarui.
Gagasan terakhir inilah yang dipilih oleh Denny JA dengan argumen kuat survei nasional LSI sejak 2005 hingga 2016, bahwa demokrasi Pancasila tetap menjadi pilihan terbesar masyarakat Indonesia, di tengah dua kutub
ekstrem: negara Islam dan negara demokrasi ala Barat.
116
Nah, pada titik ini saya kira memasukkan istilah “diperbarui” dalam platform Demokrasi Pancasila yang diperbarui terlalu terburu-buru dan terkesan agak dipaksakan.
Pertama, survei yang digunakan sebagai rujukan bahkan
tidak memasukkan wording “diperbarui”. Survei-survei
tersebut, ini juga disebutkan dalam tulisan Denny JA,
menggunakan wording yang umum: “apakah ibu bapak
menginginkan Indonesia menjadi negara Islam seperti
Timur Tengah, negara demokrasi liberal seperti negara barat, atau negara demokrasi pancasila (tak didefinisikan detail semua gagasan itu)?”
Kedua, Pancasila dan Demokrasi Indonesia, dalam sejarahnya adalah korpus terbuka yang bisa dimaknai agak
lebih luas. Banyak analisis yang cenderung menyimpulkan bahwa meskipun Pancasila tetap bertahan sejak
negara ini didirikan, namun bisa dibedakan corak pemaknaan Pancasila yang kemudian diterjemahkan dalam sistem demokrasi yang berlaku: pada masa Soekarno Pancasila bisa bermakna “kiri”; pada masa Orde
Baru, Pancasila sama dengan liberalisme; pada masa
SBY, Pancasila bermakna neo-liberalisme. Juga, tarik
menarik pemaknaan Pancasila antara kalangan sekular
nasionalis dan kalangan islamis juga terjadi sejak sidang
BPUPKI. Saat inipun Hizbut Tahrir yang anti demokrasi menolak untuk disebut anti Pancasila, karena mere117
ka bisa memaknai Pancasila dengan cara lain: hanya
sebagai falsafah negara, bukan sebagai ideologi. Di lain
pihak, NU (dan Orde Baru) juga merumuskan sila-sila
Pancasila dalam rumusan islami. Karena itu, bagi NU
Pancasila dan NKRI adalah harga mati.
Jadi, apa yang disebut “pembaruan” dalam tantangan
Denny JA bagi saya masih dalam spektrum perdebatan
pemaknaan terhadap Pancasila yang pernah ada. Mungkin akan lebih tepat jika ia menyebutnya Demokrasi
Pancasila saja, lalu merumuskan rekomendasi pemaknaan ulang terhadap demokrasi macam mana yang lebih pas untuk kondisi Indonesia saat ini.
--0-Lalu, ketika mengulas landasan dan wujud pembaruan
yang dimaksudkan dalam tulisan tersebut, Denny JA
juga agak terjebak pada isu Pilkada DKI Jakarta yang
telah saya bahas:
“Harus diterima bahwa prinsip demokrasi hanya akan kuat jika ia dikawinkan dengan kultur
lokal yang dominan di sebuah wilayah. Untuk
kasus indonesia, goresan agama dalam batin
masyarakat sangat dalam. Demokrasi yang ingin
mengakar harus mengakomodasi kondisi itu dalam sistem kelembagaannya.
118
Hadirnya kementrian agama misalnya tak dikenal dalam demokrasi liberal barat. Namun untuk
indonesia, kementrian agama sebuah kompromi yang seharusnya diambil. Evolusi kesadaran
publik mayoritas Indonesia menghendaki pemerintah ikut mengurus agama publik. Itu yang tak
ada dalam demokrasi liberal barat.”
Ketika ia menulis bahwa “goresan agama dalam batin
masyarakat sangat dalam” tentu kita sangat tahu dan
mengerti. Survei yang dilakukan Pew Research Center
tahun 2015 telah dengan nyata menunjukkan bahwa
95% masyarakat Indonesia merasa bahwa agama adalah
hal terpenting dalam hidup mereka (nomor 3 di dunia
setelah Ethiopia dan Senegal). Artinya, bukan hari ini
saja goresan agama dalam batin masyarakat itu dalam.
Bukan karena Almaidah dan Ahok. Bukan karena Pilkada Jakarta.
Itupun sudah ditunjukkan Denny JA dalam tulisannya, tentang hadirnya Kementerian Agama. Kementerian Agama lahir pada era Soekarno sebagai kompromi
politik. Tentu bisa dirunut lebih banyak lagi, bahwa beberapa hukum positif kita juga adalah hasil kompromi
dengan ajaran Islam, terutama hukum-hukum perdata
(pernikahan, waris). Juga pasal-pasal penodaan agama,
misalnya, yang bias agama mayoritas.
119
Lalu di mana masalahnya? Di mana letak pembaruannya?
Justru, yang terjadi, bagi para penggiat HAM, demokrasi Indonesia masih belum tuntas menyelesaikan persoalan berbasis agama ini, dan menganggap akomodasi
hukum Indonesia terhadap agama (Islam) masih terlalu
besar. Undang-undang Pernikahan 1974, Undang-undang PNPS 1965, Undang-undang Adminduk 2006,
dan ratusan Perda-perda bernuansa syariat di berbagai
daerah adalah beberapa contoh bahwa nuansa agama
dalam hukum kita masih terhitung overdosis. Ironisnya,
Indonesia adalah termasuk negara yang hampir tuntas
merativikasi konvensi-konvensi internasional yang jika
dikomparasikan menjadi tidak sinkron dengan beberapa produk hukum di atas.
--0--
Di luar itu semua, saya mengamini ajakan Denny JA
untuk mengkonsolidasikan ulang demokrasi Indonesia
di tengah ancaman radikalisme dan potensi menguatnya islamisme dalam ranah publik kita. Ini adalah poin
penting pasca Pilkada Jakarta yang seakan memberi
angin segar bagi menguatnya sentimen agama dan etnis. Juga menegaskan bahwa Pancasila dan demokrasi
adalah pilihan terbaik bangsa ini untuk mengelola
negara yang dianugerahi kemajemukan yang luar biasa.
120
Dan kompatibiltas Islam dengan demokrasi harus terus
menerus dikuatkan dalam kerangka merawat keberagaman yang Indah. []
121
122
Ahok Effect dan Pudarnya
Demokrasi Pancasila
Syaefudin Simon
Penulis
Pilkada DKI yang mengharu biru nurani publik,
meninggalkan “sesuatu” yang selama ini telah dianggap selesai: sentimen agama yang bersenggama dengan
demokrasi. Deretan demo massif – baik pra maupun
paska Pilkada – adalah pertunjukan telanjang dari komunitas tertentu yang mengatasnamakan agama untuk menekan demokrasi. Parahnya, demo massif yang
menumpang “kendaraan demokrasi” itu dimanfaatkan
pula oleh kelompok-klompok tertentu yang selama ini
mengusung slogan antidemokrasi. Fenomena tersebut
makin menguat di ranah publik karena adanya Ahok
Effect. Yang mencemaskan Ahok Effect ini akan makin
meluas lagi di masa depan. Ini terjadi, karena “kondisi Indonesia yang beragama (baik warna kulit maupun
agama) merupakan lahan subur untuk menumbuhkan
Ahok Effect.
123
Sebuah status dari Taufan Hidayat di Facebook, Jumat
(5/5) lalu, menohok kelompok demonstran Hizbut
Tahrir: Anda (Hizbut Tahrir) bisa berdemo dengan
mengusung jargon khilafah di negeri demokrasi. Tapi
apakah di negeri khilafah para aktivis demokrasi bisa
berdemo dengan mengusung jargon demokrasi? Sebetulnya pertanyaan Taufan Hidayat di atas bisa ditujukan
kepada komunitas lain–seperti FUI, FPI, dan kelompok
pengusung Wahabi-Salafi.
Kelompok-kelompok tersebut adalah beberapa contoh kelompok yang terus menerus berkampanye antidemokrasi di Indonesia (yang nota bene menganut
sistem demokrasi) dengan menumpang kendaraan
demokrasi itu sendiri. Jika Hizbut Tahrir tujuannya
sudah terformulasikan dengan kelas–sistem khilafah,
sebuah sistem kenegaraan sederhana di masa awal Islam–maka konsep negara yang ditawarkan FUI, FPI,
dan Wahabi-Salafi masih belum terformulasi dengan
jelas. Kenapa demikian? Mereka mungkin masih mencari “icon” negara yang non-demokrasi, tapi berhasil
menyelenggarakan pemerintahan dengan bagus. Dalam
arti, rakyat mepunyai saluran untuk merengkuh hakhak sipilnya di lembaga negara dan negara mempunyai
sistem hukum yang mengakomodasi tuntutan rakyat.
Sayangnya, icon negara semacam itu belum ada di negara yang menganut sistem Islam. Taufan Hidayat seharusnya bisa menantang lebih jauh: tunjukkan negara
124
Islam mana yang bisa menjalankan demokrasi ekonomi
dan hukum seperti negara-negara sekuler di Skandinavia seperti Denmark, Norwegia dan Finlandia. Taufan
bisa berteriak: Semua negara-negara yang memakai
sistem Islam saat ini, jelas-jelas telah mengingkari prinsip-prinsip demokrasi, pluralisme, dan humanisme seperti yang tercantum dalam Piagam Madinah.
Denny JA dalam tulisannya berjudul Jangan Benturkan
Keindonesiaan Versus Keislaman, mengakui bahwa
agama, khususnya Islam, menancap sangat dalam pada
batin bangsa Indonesia. Pemahaman mereka atas ajaran
agama akan mewarnai orientasi dan pedoman perilaku
bangsa Indonesia. Pertanyaannya kemudian: apakah
gambaran itu akan secara otomatis menyebabkan
rakyat Indonesia niscaya memilih negeri bersistem
Islam atau khilafah? Dalam survey LSI Denny, ternyata
mendalamnya keiman-islaman bangsa Indonesia,
tidak serta merta mempengaruhi pilihan dalam sistem
bernegara. Dari 85% lebih umat Islam Indonesia kurang
dari 10 persennya yang menginginkan Indonesia
menjadi Negara Islam. Meski demikian, kentalnya
keislaman tersebut bisa dijadikan instrumen untuk
menggiring massa dalam menolak ide-ide demokrasi
sekuler yang muncul di ranah publik. Dan itulah
yang terjadi ketika mengamati dem antiahok. Allan
Nairn benar ketika menjelaskan bahwa agama adalah
“penekan” demokrasi yang ampuh di Indonesia. Tapi
125
Allan salah ketika membuat kesimpulan linier bahwa
agama dan sistem pemerintahan di Indonesia bersifat
transaksional dan korelatif.
Apa pun alasannya, kasus Pilkada Jakarta cukup menjelaskan bagaimana sentimen agama digunakan untuk
menjatuhkan paslon gubernur non-Islam. Kaum Islamist yang kemudian memberikan contoh Ignasius
Jonan dan Maria Elka Pangestu yang perjalanannya
mulus di kabinet untuk membuktkan bahwa umat Islam
masih komit dengan demokrasi – mereka lupa bahwa
Jonan dan Elka adalah pembantu presiden yang dipilih
atas dasar hak prerogatif presiden. Jelas beda dengan kasus Pilkada DKI.
Benar bahwa Indonesia bukan Negara Islam. Tapi
sebagai anggota puak Melayu, bangsa Indonesia niscaya
tercirikan dengan Islam seperti halnya rakyat Malaysia,
Pathani (Thailand), dan Mindanau. Bambang Pranowo
dalam disertasinya, Islamic Tradition in Rural Jawa
(Monash University) menyatakan bahwa Islam kini teah
menjadi identitas budaya Jawa dan Inonesia. Ini terjadi
karena budaya Jawa telah terserap hampir di semua
infrastrktur politik dan negara Indonesia. Kondisi inilah,
yang mungkin, menyebabkan Denny JA menyarankan
bahwa demokrasi di Indonesia harus memberikan
peran agama yang besar di ruang publik. Untuk itu, tulis
Denny, pemerintah harus membuat Undang-Undang
126
Perlindungan Kebebasan Umat Beragama.
Undang-undang semacam itu sebetulnya sudah ada.
Namun belakangan ini, ketika pemerintah harus
mengakomodasi kepentingan partai-partai politik
berbasis Islam untuk memikat konstituennya, undangundang perlindungan kebebasan beragama menjadi loyo.
Energinya terserap oleh trik-trik partai-partai berbasis
Islam yang mau tak mau harus “menyihir umat” yang
bernostalgi ingin hidup di Negara Islam zaman Rasul.
Itulah sebabnya organisasi semacam Hizbut Tahrir bisa
survive bahkan mampu mengembangkan sayapnya
di Indonesia. Celakanya, Hizbut Tahrir pun mengaku
mengikuti demokrasi Pancasila yang mengakomodasi
peran agama. Hizbut Tahrir tampaknya lupa bahwa
Demokrasi Pancasila hanya melihat dan memandang
agama sebagai esensi, bukan institusi yang menunggangi
negara. Mungkin Hizbut Tahrir bisa belajar dari kaum
Syiah ketika mengakui kekhilafahan Abu Bakar, padahal
hadis Nabi menyatakan sepeninggal Rasul, khalifah
adalah Ali. Kemudian timbul wacana, Abu Bakar adalah
khalifah politik. Dan hadist Nabi yang dimaksud adalah
khalifah spiritual.
Esensi sistem sebuah negara dalam konsep Islam maupun demokrasi sebetulnya hampir sama. Keduanya
menginginkan rakyat yang taat hukum sesuai kesepakatan berasama; rakyat yang hidup dalam platform
127
keadilan tanpa diskriminasi, dan tegaknya kesejahteraan bersama. Bedanya hanya pada, yang pertama menjunjung nama Allah sebagai rujukan tertinggi. Kedua,
menjungung kemanusiaan sebagai rujukan tertinggi.
Sebetulnya, keduanya bisa dipertemukan kalau kita
mendalami dunia sufisme. Seperti dilantunkan Rumi:
Aku mencari Tuhan, yang kutemukan adalah Diriku.
Jika konsep khilafah menjejak pada khasanah sufime
tadi, niscaya Hibut Tahrir pun dapat mengakomodasi
demokrasi. Gibran menyebutkan Yesus sebagai Manusia
Biasa, Qur’an menyebutkan Muhamad sebagai manusia
Biasa, dan Islam meyebukan Manusia adalah khalifah
Allah – atau pengganti Tuhan di muka bumi – maka
kalau bangsa Indonesia mau membuka wawasan
yang menembus langit, sebetulnya tak ada dikhotomi
diametral antara Islam dan demokrasi. Tapi sayang,
sumbu pendek telah membakar emosi umat sebelum
tujuan esensi demokrasi yang (identik dengan Piagam
Madinah) tumbuh berkembang. Pinjam istilah Kyai
Hasyim Muzadi, inti demokrasi Pancasila adalah
musyawarah. Musyawarah adalah kesepakatan. Dan
kesepakatan hanya bisa tercapai jika masing-masing
pihak mau menghargai pendapat dan pikiran pihak lain,
kemudian mengakomodasinya. Seperti kesepakatan
para founding fathers bangsa Indonesia yang menyetujui
Pancasila sebagai Dasar Negara dan kemudian mencoret
tujuh kata (Piagam Jakarta) dalam preambul UUD 45. []
128
Upaya Memperbarui Demokrasi
Pancasila
Satrio Arismunandar
Penulis, praktisi media, peminat masalah sosial-politik
dan hankam
Sesudah sekian lama kita tidak bicara tentang ideologi, apalagi ideologi yang secara spesifik kita namai
“Demokrasi Pancasila,” rasanya menyegarkan membaca bahwa Denny JA mengangkat lagi topik ini. Apapun
latar belakangnya, karena isu ini bersifat cukup strategis
bagi masa depan bangsa, inisiatif Denny patut kita apresiasi.
Dulu pernah ada polemik cukup ramai. Tidak persis
tentang ideologi Demokrasi Pancasila, tetapi tentang
sesuatu yang lebih operasional atau turunan dari
ideologi, yakni sistem “Ekonomi Pancasila.” Topik ini
muncul dan dipelopori oleh ekonom senior UGM,
Prof. Dr. Mubyarto. Namun, para ekonom dari UI, yang
cukup dominan di pemerintahan Orde Baru waktu
129
itu, tampaknya tidak cukup mengapresiasi gagasan
Mubyarto.
Inisiatif Denny tidak muncul dari awang-awang, namun
bersentuhan dengan konteks aktualitas, yakni Pilkada
DKI Jakarta 2017 yang baru saja berlalu. Pilkada yang
oleh sebagian kalangan disebut sebagai Pilkada yang
paling brutal, vulgar, kasar, memecah belah, dan menghalalkan segala cara. Isu SARA (suku, agama, ras, dan
antargolongan) dieksploitasi habis-habisan di sini. Konteks Pilkada DKI ini secara implisit juga tersambung ke
Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019.
Denny memulai dengan narasi pasca Pilkada DKI Jakarta, yang dianggapnya telah membelah publik dan
elit politik secara serius. Sehingga, dalam waktu yang
tak lama, demokratisasi di Indonesia yang dimulai sejak
Reformasi 1998 bisa jadi akan mengalami kemunduran
yang signifikan. Artinya, dalam waktu dekat Indonesia
akan terkoyak-koyak dan tidak stabil. Sedangkan dalam
waktu yang tak lama, demokrasi Indonesia akan berada
dalam ketidakpastian yang berlarut, serta memundurkan semua pencapaiannya.
Ada rekan yang menganggap pernyataan Denny ini berlebihan. Ikatan yang merajut kebangsaan Indonesia dipandang cukup kuat dan ulet, tidak mudah untuk koyak
atau putus begitu saja. Sejarah membuktikan bahwa
130
ikatan bangsa ini sudah melalui banyak ujian dan toh
ternyata tetap bertahan. Ketika Uni Soviet dan Yugoslavia tercerai berai, pecah jadi beberapa negara, Indonesia
yang bertubi-tubi dihantam krisis ekonomi dan politik
ternyata bertahan.
Namun, saya lebih condong ke pandangan Denny untuk bersikap lebih hati-hati. Di dunia yang kita huni
sekarang, perubahan teknologi komunikasi terjadi begitu cepat, dan teknologi-teknologi baru lain juga telah
mengubah dunia secara tak terduga.
Generasi muda sekarang juga tidak mengalami pengalaman kesejarahan yang sama, yang jadi salah satu faktor
pengikat bangsa, seperti generasi ayah dan kakeknya.
Maka, lebih aman untuk tidak taken for granted dengan
apa yang namanya “rajutan tenun kebangsaan.”
Denny meneruskan dengan imbauan bahwa komitmen
semua warga pada Demokrasi Pancasila perlu ditegaskan kembali. Tapi Demokrasi Pancasila yang diperlukan
saat ini bukanlah “Demokrasi Pancasila” seperti yang
diterapkan di zaman Orde Baru, tetapi adalah Demokrasi Pancasila yang sudah diperbarui dengan perkembangan baru.
Menurut Denny, ada empat pokok isu strategis pasca
Pilkada Jakarta. Pertama, menjelaskan aneka embrio
131
platform yang berbeda dan saling bertentangan yang
ada saat ini, mengenai ke mana Indonesia harus dibentuk. Aneka platform itu ikut bertarung mewarnai Pilkada DKI 2017. Meski hasil KPUD soal Pilkada sudah
disahkan, konflik gagasan dan embrio platform justru
terus membara, berbeda, bahkan bertentangan. Yakni, tentang bagaimana sebaiknya aturan main bersama
tersebut.
Kedua, argumen mengenai mengapa para elit perlu menegaskan komitmen pada Demokrasi Pancasila
yang diperbarui. Juga dijelaskan, apa beda Demokrasi
Pancasila yang diperbarui dengan Demokrasi Pancasila sebagaimana yang diterapkan di era Soekarno dan
Soeharto. Dijelaskan pula, dimana bedanya Demokrasi Pancasila yang diperbarui dengan demokrasi liberal
yang kini berlaku di dunia Barat.
Ketiga, penjelasan soal apa yang kurang dalam praktik
demokrasi Indonesia saat ini, agar mencapai platform
ideal Demokrasi Pancasila yang diperbarui itu.
Keempat, apa yang semua kita bisa kerjakan, untuk ikut
mengkonsolidasikan Demokrasi Pancasila yang diperbarui. Denny melanjutkan, platform Demokrasi Pancasila yang diperbarui perlu dikonsolidasikan. Ada tiga
isu yang perlu ditambahkan agar Demokrasi Pancasila
yang diperbarui itu bisa diterima sebagai satu-satunya
132
ideologi yang kita operasionalkan.
Pertama, justru karena demokrasi ini memberikan peran agama yang lebih besar di ruang publik, perlu dibuat
sebuah Undang-Undang Perlindungan Kebebasan dan
Umat Beragama. Pernyataan Denny ini sebetulnya sangat umum, sehingga perlu elaborasi. Peran agama yang
lebih besar di ruang publik itu contohnya seperti apa?
Kedua, mengakomodasi luasnya spektrum gagasan yang
ada dalam masyarakat. Sejauh itu semua masih dalam
bentuk gagasan, ia boleh tetap hidup di ruang publik.
Yang dilarang hanya gagasan yang merekomendasikan
kekerasan, seperti terorisme, atau gagasan yang dipaksakan dengan kekerasan atau tindakan kriminal. Padahal prinsip Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Modern
menjamin hak hidup aneka gagasan sejauh masih dalam
bentuk gagasan, dan tidak menyerukan kekerasan ataupun tindakan kriminal.
Ketiga, prinsip kedua itu harus juga diikuti tegaknya “law
enforcement” aparatur negara yang harus sepenuhnya
disadari pemerintah. Ketika demokrasi masih labil
seperti sekarang, pemerintah harus hadir. Pemerintah
harus tegas dan keras melindungi keberagaman itu.
Jika tidak, kebebasan yang ada justru digunakan untuk
menindas yang lemah.
***
133
Untuk menanggapi Denny, saya mencoba menguraikan
dulu apa yang dimaksud dengan ideologi politik. Dalam
studi sosial, ideologi politik adalah seperangkat etik tertentu tentang hal-hal ideal, prinsip, doktrin, mitos, atau
simbol dari gerakan sosial, lembaga, kelas, atau kelompok besar, yang menjelaskan bagaimana masyarakat harus berjalan.
Ideologi-ideologi politik, termasuk Demokrasi Pancasila, berkaitan dengan berbagai aspek kemasyarakatan.
Antara lain: ekonomi, pendidikan, sistem peradilan, patriotisme, kesejahteraan sosial, dan sebagainya.
Ideologi politik memiliki dua dimensi, yakni tujuan
(bagaimana masyarakat harus berjalan) dan metodemetode. Metode yang dimaksud adalah cara-cara yang
paling tepat untuk mencapai pengaturan yang ideal
tersebut. Ideologi-ideologi juga mengidentifikasi dirinya lewat posisinya dalam spektrum politik (misalnya:
kiri, tengah, kanan), walaupun presisi pemosisian ini
bisa jadi kontroversial. Ideologi juga bisa dibedakan secara jelas dari strategi-strategi politik (misalnya, populisme).
Maka, ketika Denny mengatakan Demokrasi Pancasila
perlu diperbarui, ada pertanyaan besar yang butuh
jawaban. Ada banyak aspek dari Demokrasi Pancasila.
Aspek-aspek mana yang perlu diperbarui? Dan, sebelum
134
aspek-aspek itu diperbarui, apakah kita sudah cukup
jelas atau berada dalam pemahaman yang sama, tentang
apa yang dimaksud dengan “Demokrasi Pancasila” itu
sendiri?
Kalau kita melihat Demokrasi Pancasila dari praktik
nyata yang dilakukan di setiap pemerintahan, sejak
Proklamasi Kemerdekaan, maka Demokrasi Pancasila ternyata punya wajah yang berbeda-beda. Wujud
Demokrasi Pancasila di zaman Soekarno sangat kontras
dengan di zaman Soeharto. Belum lagi kita menyebut
zaman presiden-presiden pasca Soeharto.
Untuk benar-benar diterapkan, Demokrasi Pancasila
harus mempunyai “rumus-rumus turunan” yang lebih
membumi dan operasional. Misalnya, kalau kita bicara
tentang penerapan demokrasi liberal di Amerika Serikat
sebagai suatu ideologi, kita bisa menjabarkan konsepkonsep operasionalnya berupa sistem ekonomi kapitalis.
Tetapi jika kita bicara tentang sistem Ekonomi Pancasila,
sebagai salah satu konsep operasional dari Demokrasi
Pancasila, ternyata belum ada kesatuan pandangan
bagaimana mewujudkan Ekonomi Pancasila. Hal
yang sering disebut sebagai ciri Ekonomi Pancasila
biasanya adalah merujuk ke pasal 33 UUD ’45, yakni:
Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar
atas azas kekeluargaan. Cabang-cabang produksi yang
135
penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh Negara.
Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi
dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan,
berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian,
serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
Tetapi apakah sistem Ekonomi Pancasila itu memang
benar-benar terwujud dalam praktik? Nyatanya, selama
beberapa tahun terakhir, Indonesia yang ber-Demokrasi
Pancasila menerapkan sistem ekonomi neoliberal. Dengan ciri antara lain: Keterbukaan dan ketergantungan
pada kapital asing, ketergantungan pada utang luar negeri, liberalisasi arus keuangan, privatisasi besar-besaran
pada perusahaan negara, penyerahan layanan publik
pada mekanisme pasar, dan liberalisasi perdagangan.
Pertanyaan berikutnya, apa yang harus diperbarui dari
Demokrasi Pancasila? Jika yang diperbarui adalah tentang tujuannya, maka saya berpendapat, hal itu terlalu
prinsipil untuk disebut sebagai sekadar “pembaruan.”
Mengubah tujuan bukanlah sekadar upgrading, seperti kita merenovasi sebuah bangunan. Tetapi ini sudah
136
mengubah total bangunan itu sendiri, sehingga kita
mungkin sudah tidak mengenali sisa-sisa bangunan
lama di dalam wujud bangunan yang baru.
Maka, yang masih dimungkinkan dengan sebutan
“pembaruan” itu adalah dalam hal metode-metode.
Yakni, bagaimana cara-cara yang paling pas untuk mencapai ideal yang diidamkan. Di sini Denny memasukkan peran agama. Demokrasi Pancasila yang diperbarui
ini memberikan peran agama yang lebih besar di ruang
publik.
Sayang, tidak ada penjelasan yang memadai tentang
apa yang dimaksud Denny dengan “peran agama yang
lebih besar” di ruang publik. Apakah itu berarti dominasi perspektif keagamaan dalam memandang, menilai,
mengevaluasi, bahkan menghakimi berbagai isu-isu kemasyarakatan?
Apakah “penerapan perda syariat” termasuk dalam
“peran agama yang lebih besar,” yang dimaksud Denny
tersebut? Isu perda syariat ini pernah ramai di media sosial pada masa kampanye Pilkada DKI Jakarta. Ada tudingan seolah-olah pasangan Anies Baswedan-Sandiaga
Uno sudah membuat “komitmen” dengan ormas-ormas
Islam tertentu yang mendukungnya, untuk menerapkannya di Jakarta. Buat perbandingan, coba kita lihat
contoh Iran.
137
Di Republik Islam Iran, kita kenal konsep velayat-e fakih
(pemerintahan oleh para ahli hukum agama yang adil),
yang menjadi landasan didirikannya rezim gabungan
demokratis dan teokratis di Iran sejak Revolusi Islam
1979. Ada pemilu parlemen dan pemilihan Presiden
yang berlangsung demokratis.
Namun, jika ada undang-undang yang oleh ulama dianggap bertentangan dengan hukum atau ajaran Islam,
undang-undang itu bisa dibatalkan oleh ulama Iran. Jadi
Iran adalah negara yang demokratis di Timur Tengah.
Jauh lebih demokratis daripada Arab Saudi atau monarki-monarki Arab lainnya, dimana kekuasaan diwariskan
turun-temurun. Namun, peran agama juga sangat besar
dan menentukan di Iran.
Sebelum ada pembaruan yang disebutkan Denny, peran
agama pasti sudah ada di ruang publik, meski tidak
sangat dominan. Jadi, sebetulnya tidak ada perubahan
prinsipil dari “Demokrasi Pancasila” format lama. Bedanya hanya dalam gradasi atau level dominasi peran
agama tersebut. Saya menduga, peningkatan peran
agama yang dimaksud Denny itu tidak sampai ke level
seperti di Iran. Jadi peningkatan perannya sebetulnya
juga tidak terlalu drastis.
Ideologi politik sebagian besar berkaitan dengan bagaimana mengalokasikan kekuasaan dan ke arah tujuan
138
mana kekuasaan itu harus digunakan. Masing-masing
ideologi politik mengandung ide-ide tertentu tentang
apa yang dianggap sebagai bentuk sistem pemerintah
terbaik (demokrasi, monarki, teokrasi, khilafah, dan
sebagainya) dan sistem ekonomi terbaik.
Nah, dalam “pembaruan” yang digagas Denny, apakah
ada yang berubah dalam alokasi kekuasaan atau arah
tujuan di mana kekuasaan itu digunakan? Sejauh yang
saya tangkap, tampaknya tidak ada perbedaan yang jelas
atau signifikan, antara kondisi sebelum dan sesudah
pembaruan. Demokrasi Pancasila sebelum dan pasca
pembaruan Denny sebetulnya tidak mengalami perubahan, dalam hal alokasi kekuasaan dan arah tujuan
dimana kekuasaan itu digunakan.
Sedangkan, tentang sistem pemerintah terbaik dan
sistem ekonomi terbaik, pasca pembaruan yang diusulkan Denny, saya juga belum menangkap gambaran
yang jelas. Tapi tampaknya, tidak ada perubahan berarti
dalam sistem pemerintahan. Kita masih punya lembaga Presiden, Wakil Presiden, DPR, MPR, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Kejaksaan Agung, dan sebagainya. Tentang sistem
ekonomi, juga belum ada penjelasan lebih jauh. Padahal
sistem ekonomi ini bersifat krusial. Namun, dalam hal
ini tampaknya juga tidak ada perubahan signifikan.
139
Dari semua uraian di atas, saya berpendapat, gagasan
Denny yang mengusulkan “pembaruan” pada Demokrasi Pancasila, tetap harus diapresiasi. Hal ini karena
memang demokrasi kita harus selalu siap merespon
perkembangan zaman, baik karena dinamika internal
(domestik) maupun perubahan global. Demokrasi kita,
apakah mau disebut dengan Demokrasi Pancasila atau
sebutan lainnya, harus menjadi ideologi terbuka yang
bisa selalu ditafsirkan ulang, untuk menghadapi tantangan zaman.
Namun, “pembaruan” yang digagas Denny adalah sebuah kerja besar dan cukup berat. Denny tentu menyadari hal itu. Bisa dipahami, tidak cukup ruang bagi
Denny untuk menjelaskan gagasan besarnya dalam sebuah artikel pendek, sehingga wajar jika muncul banyak
pertanyaan.
Barangkali, Denny perlu meluangkan lebih banyak
waktu, untuk merinci gagasannya tentang “pembaruan” Demokrasi Pancasila. Hal yang harus dijawab, adalah: Aspek-aspek dan komponen-komponen apa dari
Demokrasi Pancasila itu yang mengalami pembaruan?
Bagaimana bentuk dan isi pembaruan itu? Dan, seberapa mendalam level atau tingkatan perubahannya?
Jika Denny sudah menjabarkan jawaban (paling tidak
secara kasar atau garis besar) atas pertanyaan-per140
tanyaan ini, barulah kita bisa berdiskusi lebih lanjut.
Yakni, untuk mengangkat isu pembaruan Demokrasi
Pancasila ini ke tingkatan yang lebih tinggi (new level).
Seperti yang saya nyatakan di atas, ini memang sebuah
kerja besar dan kerja berat. Denny sudah mengawali
dengan langkah pertama. Tugas kita mendorong Denny,
sekaligus ikut berpartisipasi, dalam menjalani langkahlangkah berikutnya. []
141
142
Momentum Pelembagaan
Pancasila
Ali Munhanif
Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP), Pengajar Ilmu
Politik UIN Jakarta
Ketika Denny JA mengundang saya untuk menulis sebuah tanggapan tentang gagasan Pembaruan Demokrasi Pancasila, sulit bagi saya untuk menyikapi bagaimana
harus menyambut undangan ini. Undangan itu tentu
saja sekaligus tantangan, dan tujuannya juga mulya.
Tetapi segera setelah merenungkan secara mendalam
tantangan itu, perasaan saya diliputi sejumlah kebimbangan.
Pertama, untuk pertamakalinya sejak rezim Orde Baru
beserta perangkat kelembagaannya tumbang pada 1998,
ajakan memperbincangkan kembali Pancasila secara serius dibuka. Tapi bagi kalangan yang mengamati bagaimana Pancasila diposisikan dalam diskursus politik In-
143
donesia, perbincangan tentang itu seperti menghadapi
dua tabu sekaligus.
Tabu karena Pancasila hampir identik dengan alat kelembagaan Orde Baru untuk melegitimasi perilaku
rezim, sehingga membuka kembali perbincangan tentangnya sudah pasti akan dibaca sebagai upaya menghidupkan kembali otoritarianisme, kekerasan, dan penindasan politik.
Tabu yang lain adalah Pancasila terlanjur menjadi kesepakatan oleh hampir semua komponen politik bangsa—baik di partai politik, perkumpulan kedaerahan,
maupun ormas Islam, atau organisasi civil society lain—
sebagai “bentuk final” dari cita-cita kenegaraan. Begitu idealnya mereka memosisikan Pancasila, sehingga
perbincangan kembali Pancasila bisa dituduh sebagai
pelanggaran kesepakatan nasional tadi.
Menyambut niat baik Denny JA tidaklah cukup mengiyakannya saja, tetapi juga mencari celah yang tepat di
mana saya bisa menyumbangkan sisi penting dalam menemukan visi baru demokrasi Pancasila.
Kedua, undangan Denny JA bisa dibilang datang tepat
waktu. Meskipun isu Pancasila adalah isu klasik tentang
hubungan Islam dan negara, undangan tadi datang ketika
144
akhir-akhir ini bangsa Indonesia seperti terbelah akibat
gejolak sosial, politik dan keagamaan yang diakibatkan
oleh proses Pilkada DKI 2017. Kegelisahan utama
akan kebangkitan isu SARA dipicu oleh meningkatnya
mobilisasi agama untuk tujuan-tujuan politis.
Pilkada yang pada awalnya bertujuan memilih pemimpin daerah telah berubah jauh menjadi pintu masuk
mobilisasi SARA yang sudah pasti berpotensi memecah
belah sentimen kebangsaan masyarakat. Pilkada memang berjalan lancar, dan pemenangnya juga sudah
ditetapkan.
Tapi efek mobilisasi SARA dalam Pilkada tadi tampaknya akan mewariskan persoalan sosial politik dan kebudayaan yang jauh melampaui tujuan Pilkada itu sendiri.
Ia memberi pertanda bahwa, jika tidak ditata ulang apa
makna demokrasi Pancasila, bukan tidak mungkin Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menghadapi
ancaman serius di mana ketegangan hubunganAgama
dan Negara akan terus timbul.
Di tingkat ini, bukan saja kita sulit merajut kembali ketegangan di antara keduanya, perpecahan NKRI
yang bersumber pada konflik SARA pun tak terelakkan.
Di situ, ajakan Denny JA untuk membuka diskursus
baru tentang demokrasi Pancasila patut diapresisasi.
145
Isu penting yang diunggah Denny JA adalah posisi agama dalam visi dan praktik demokrasi Pancasila. Benarkah mobilisasi agama akan terus meningkat di masa
depan dan menjadi batu loncatan bagi politik Islam untuk melembagakan visi keagamaan yang melekat dalam
ideologi “Negara Islam”?
Akankah kekuatan mobilisasi agama berlanjut, dan bisa
direproduksi untuk artikulasi kepentingan-kepentingan
politik-agama dalam koridor demokrasi Indonesia?
Harus diakui, mobilisasi agama di ruang publik berkenaan Pilkada DKI Jakarta sangatlah mengagumkan,
sekaligus memilukan.
Bukan saja berhasil memenangkan Calon Gubernur
dan Wakilnya dalam meraih kursi pimpinan daerah di
DKI Jakarta, tetapi juga menghasilkan sebuah capaian
politik-keagamaan yang akan dikenang sepanjang masa
dalam sejarah politik di tanah air, yakni Aksi Bela Islam
212.
Tetapi jika dilihat dari pentingnya isu protes yang
melandasi dukungan terhadapnya, keberhasilan Aksi
212 mengisyaratkan cerita lain. Yaitu bahwa, telah terjadi penyempitan agenda politik dari perjuangan mendirikan negara Islam, penerapan shari’ah, menolak sekularisme, dll., menjadi keprihatinan pada aspek-aspek
146
inti (core issues) dari doktrin agama, termasuk isu tentang penodaan agama, Muslim vs. kafir, menolak shalat
jenazah dan semacamnya.
Karakter mobilisasi politik Islampun bergeser secara
substantif. Di masa lalu politik Islam didefiniskan sebagai “perjuangan ideologis” yang bertujuan menegakkan konstitusi Islam pada negara nasional, di mana institusi dan otoritas agama mengambil peran dalam tata
kelola negara, hukum dan kebudayaan.
Dewasa ini politik Islam telah bertransformasi menjadi
“pergulatan identitas kultural” yang memosisikan diri
sebagai aspirasi menjaga publik dari efek buruk modernisasi, seperti pudarnya tradisimasyarakat relijius,
meluasnya gaya hidup urban, dan perbaikan akhlaq.
Oleh karenanya, sukses Aksi 212 yang didukung oleh
hampir seluruh komponen ormas Islam itu terlihat kontras ketika dibenturkan dengan realitas pahit politik Islam dalam mengarungi demokrasi sejak 1999. Pertama,
dari pemilu ke pemilu perolehan suara partai Islam tidak
pernah meningkat—untuk tidak mengatakan merosot.
Kekuatan elektoral gabungan partai-partai Islam (PPP,
PKB, PAN, PKS dan PBB) tidak beranjak antara 32
dan 36 persen. Artinya, keberhasilan mobilisasi massa
dengan menggunakan simbol dan ritual keagamaan tadi
tidak tercermin dalam mobilisasi elektoral Islam.
147
Kedua, makin terserapnya civil society berbasis Islam ke
dalam pusaran dunia teknokratik akibat terjadinya konvergensi politik (political convergence) antara Islam dan
negara. Konvergensi di sini merujuk pada proses politik
dan kelembagaan di mana agenda kultural dari ideologi
Islam semakin terwadahi dalam institusi penyelenggaraan negara.
Gejala ini memberi jalan bagi aktivis Muslim berpartisipasi dalam urusan birokrasi dan administrasi negara,
baik di kementerian, parlemen maupun lembaga lain.
Akibatknya, kepemimpinan sosial-keagamaan di akar
rumput kehilangan daya tarik, yang untuk kemudian
diambil alih oleh golongan Muslim baru yang bermunculan.
Inilah yang menjelaskan mengapa ormas Islam yang dipandang radikal seperti FPI, FUI dan HTI, atau da`i tak
dikenal pada basis institusi sosial lama seperti NU dan
Muhamnmadiyah, memenangkan hati umat akhir-akhir ini.
Di era Orde Baru, konvergensi Islam dan negara difasilitasi oleh langkah rezim untuk mengakomodasi
kepentingan umat dalam struktur dan lembaga negara.
Di era reformasi, meski partai Islam gagal mencantumkan kembali Piagam Jakarta dalam UUD 1945, konvergensi politik dilangsungkan pada institusi di bawahnya
dan dilakukan dengan cara-cara yang demokratis.
148
Memang tidak akan terjadi transformasi konstitusional
menuju negara Islam, tetapi pelembagaan identitas agama pada institusi-institusi publik kian hari kian mewarnai tata kelola pemerintahan kita.
Hasil penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat
(PPIM) UIN Jakarta (2015) mencatat, sejumlah UU yang
secara eksplisit bermuatan Islam disahkan antara 2004
dan 2013: UU Peradilan Agama, UU Pendidikan Tinggi,
UU Pengelolaan Zakat, UU Wakaf, UU Pengelolaan
Haji, UU Pornografi, dan UU Perbankan Syariah.
Trend ini berjalan paralel dengan disahkannyasekitar
367 legislasi daerah dalam bentuk Perda bernuansa agama (2005-20013). Tak terhitung lagi jumlah Peraturan Gubernur, Bupati atau Walikota yang meneguhkan
pelembagaan identitas Islam di berbagai daerah.
***
Di sinilah meningkatnya mobilisasi agama akhir-akhir
ini harus dimaknai: ia menjadi jembatan bagi arah baru
transformasi, di mana aspek-aspek yang terkait dengan
ideologi negara Islam mengelupas (dislodged) menanggalkan atau tepatnya menyisakan isu-isu inti doktrinal
semisal penodaan agama dan membela fatwa ulama.
Menariknya, isu-isu tadi masih menjadi concernbagi
sebagian elit Islam yang, pada situasi tertentu, berhasil
149
mengolahnya untuk artikulasi kepentingan ekonomi,
politik dan kebudayaan.
Saya berpendapat bahwa proses-proses demokratis dalam mobilisasi agama—sekeras apapun--berjalin kelindan dengan makin kuatnya komitmen umat Islam pada
NKRI dan Pancasila sebagai bentuk final dari cita-cita
kenegaraan.
Ini berarti konflik konstitusional antara Islam dan negara sekuler telah selesai (settled). Proses historis yang
turut menyumbangkan settlement tersebut adalah gerakan Pembaruan Islam pada 1970an dan warisan kebijakan Orde Baru.
Namun karena penataan desain kelembagaan pada institusi-institusi di bawah konstitusi terus berjalan, mobilisasi agama untuk kepentingan politik akan tetap
mewarnai pola kompetisi antar partai dan kelompok
identitas, baik di tingkat nasional maupun di tingkat
provinsial.
Demokrasi tetap membuka ruang bagi kelompok politik
manapun untuk semakin bergerak ke tengah, prgamatis
dan menjadi moderat. Sehingga kemungkinan mobilisasi identitas agama akan melemahkan komitmen pada
Pancasila, masih jauh hal itu terjadi.
150
Apa yang perlu ditekankan dalam perdebatan tentang
“Demokrasi Pancasila yang Diperbarui” adalah proses
yang menegangkan dalam Pilkada DKI yang baru lalu
itu dijadikan momentum untuk mencari format “jalan
demokratis melembagakan Pancasila”.
Karenanya, bukan soal kesesuaian demokrasi dengan
norma-norma Islam Indonesia yang menjadi perbincangan, tetapi bagaimana negara yang berdaulat seperti
NKRI menyelesaikan gerakan-gerakan intoleran yang
selama dua dasawarsa ini menghantui praktik demokrasi kita.
Pertumbuhan pesat gerakan sosial keagamaan yang
mengusung ideologi kekerasan dan revolusi agama
menjadi ancaman serius bagi daya tahan NKRI. Para
pemangku kebijakan dan cendekiawan harus menyadari
bahwa aksi intoleran yang terjadi di Indonesia dewasa
ini adalah bentuk dari upaya menghidupkan ikatan ideologis dan primordial yang terbingkai dalam imaginasi
tentang “negara alternatif ”.
Sentimen akan tatanan alternatif ini terus muncul bersamaan dengan kekecewaan masyarakat akibat buruknya institusi-institusi kenegaraan yang kita bangun
lewat demokrasi. Di mata masyarakat bawah, pemerintahan demokratis bukan saja belum mampu memenuhi
janjinya meningkatkan kesejahteraan, tapi juga gagal
151
dalam menjaga wibawanya akibat lemahnya penegakan hukum, pemberantasan korupsi dan mencegah kekerasan di ruang publik.
Perpaduan antara kekecewaan dan kebebasan inilah
yang menjadi akar dari mudahnya masyarakat dimobilisir untuk bergabung kedalam organisasi dan gerakan
intoleran.
Dan mengamati artikulasi kelompok-kelompok intoleran, terdapat benang merah antara kekerasan
yang timbul dengan sentimen negara alternatif yang
diimpikan. Joel Migdal, sarjana sosial terkemuka
yang mengamati proses pembentukan negara baru,
mengingatkan: akan terjadi pertarungan visi antara
“kekuatan tradisional seperti agamawan dan ulama”
melawan “pemimpin negara yang baru merdeka” pada
pasca Perang Dunia II.
Pertarungan itu memaksa para negarawan untuk
menyelesaikan ketegangan antara keterikatan primordial seperti Islam versus negara yang berorientasi civic.
Jika berhasil, negara tersebut akan tumbuh menjadi negara civic.
Namun jika gagal, ia akan terjebak menjadi negara lemah
(weak state) berhadapan dengan loyalitas tradisional
masyarakatnya.
152
Tantangan kita semua dengan demikian adalah menyikapi dengan tegas aksi-aksi intoleransi atas nama
negara alternatif tadi. Berkaca pada pengalaman seperti
Pakistan, merosotnya otoritas negara dan pemerintah
Pakistan berjalan paralel dengan tingginya mobilisasi organisasi Islam garis keras yang mengedepankan
“sistem Islami” sebagai alternatif dari sistem kenegaraan, meskipun secara formal negara ini memproklamirkan diri sebagai Republik Islam Pakistan.
***
Ada sejumlah strategi yang bisa diambil sebagai landasan
untuk memulai memikirkan secara serius mengenai
pelembagaan Pancasila—yakni menerjemahkan nilainilai kemanusiaan universal versi Indonesia tadi ke
dalam kebijakan dan lembaga negara.
Pertama, memperkuat pemerintah daerah dengan visi
pentingnya menjaga otoritas negara dari rongrongan intoleransi. Intoleransi di daerah mengambil bentuk yang
bervariasi, bergantung pada konfigurasi kekuatan sosial,
politik dan kultural di daerah itu.
Sehingga sudah semestinya pencegahan dini terhadap
potensi intoleransi tidak semata-mata bersandar pada
inisatif pusat, melainkan kepala daerah dan jajarannya
di lini terdepan penangan konflik-konflik intoleran.
153
Pelembagaan Pancasila juga berarti memberdayakan
institusi yang menjadi garda terdepan untuk ketertiban dan keamanan. Pada tingkat kementerian, Menteri
Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam), dituntut untuk bisa lebih tegas terhadap perkumpulan, pergerakan dan organisasi yang jelas-jelas berseberangan dengan Pancasila.
Pada tingkat lembaga dibawahnya, ketegasan itu bisa
dilimpahkan pada institusi kepolisian. Meskipun pemahaman Polisi tentang managemen penanganan organisasi intoleran masih perlu ditingkatkan, nilai strategis
polisi terletak pada dua hal.
Selain mempunyai kewenangan memaksa untuk penegakan ketertiban masyarakat, polisi juga hadir di unit
pemerintahan terendah dalam NKRI, yaitu kecamatan.
Selain itu, untuk kepentingan jangka panjang, pendidikan nilai-nilai civic keindonesiaan sudah saatnya dihidupkan kembali. Pemerintah perlu memiliki cetak
biru kurikulum pendidikan civic yang melandasi terbentuknya NKRI, seperti memperkuat kemajemukan,
kesatuan, dan identitas kebangsaan.
Dalam sejarah masyarakat apapun, pendidikan menjadi
sarana paling efektif dan beradab untuk menyemaikan
norma sosial dan budaya bersama. Bahkan, dengan
154
strategi kurikulum yang baik, pendidikan agama sekalipun bisa diarahkan untuk memperkuat nilai-nilai civic
kebangsaan.
Tanpa sikap tegas soal intoleransi, bukan tidak mungkin
NKRI berdasarkan Pancasila ini gagal menerjemahkan
visinya mengenai negara modern yang maju dan berperadaban dan semakin terjebak menjadi negara lemah;
suatu keadaan di mana negara atau pemerintahan tidak
punya kapasitas kelembagaan untuk menginstitusionalisasikan warganya kedalam visi baru tentang tujuan
bernegara. []
155
156
Bug pada Demokrasi Pancasila
Jonminofri
Penulis, praktisi media
Demokrasi Pancasila tidak berjalan mulus di Indonesia
di mata Denny JA. Seperti pada dunia teknonologi informasi, diduga ada bug pada demokrasi yang berjalan
di Indonesia sejak zaman reformasi. Karena itu, Denny
menawarkan up date untuk menghilangkan bug pada
Demokrasi Pancasila yang diberi nama Demokrasi Pancasila yang Diperbarui.
Seperti pada aplikasi komputer, bug pada Demokrasi
Pancasila sangat mengganggu. Ini kata Denny JA: Indonesia akan berada dalam ketidakpastian yang berlarut
dan memundurkan semua pencapaiannya… jika para
elite yang berpengaruh di negri ini tidak meneguhkan
komitmennya kembali pada Demokrasi Pancasila yang
Diperbarui. Mengerikan, kan?
Para penyusun aplikasi di komputer, sering tidak menjelaskan dengan pasti apa persisnya bug yang meng157
ganggu itu. Mereka hanya mengatakan, “ini ada bug,
harap di-up-date.” Denny pun begitu: tidak menjelaskan
secara tegas apa yang salah pada Demokrasi Pancasila,
dia hanya mengatakan ini penawarnya. Nah, bedanya
dengan aplikasi: up date selalu diberikan oleh penyusun
aplikasi itu, bukan oleh user. Tapi, Demokrasi Pancasila
bukan aplikasi komputer, siapa saja bisa membuat update-nya jika diterima oleh masyarakat Indonesia.
Untuk menerima atau menolak tawaran Denny ini tentu kita mencari jawaban atas dua pertanyaan di bawah
ini. Pertanyaan pertama, apakah benar ada bug di dalamnya? Jangan-jangan kita hanya “gaptek” memainkan
Demokrasi Pancasila, lalu kita menyalahkan demokrasi
Pancasila sebagai aplikasi? Atau ada pihak yang menyalahgunakan Demokrasi Pancasila untuk tujuan lain atau
tujuan jangka pendek yang mementingkan kelompok
sendiri?
Denny memberikan tiga isu yang harus ada pada
Demokrasi Pancasila yang Diperbarui itu.
Isu pertama: memberikan peran agama yang lebih besar
di ruang publik karena itu perlu dibuat UU Perlindungan Kebebasan dan Umat beragama. Hmmm… isu ini
mengundang pertanyaan lebih jauh, seperti apa peran
agama yang lebih besar di ruang publik itu? Bukankah
gagasan yang berkembang sekarang ini adalah mari kita
158
beramai-ramai membawa agama ke dalam hati masing-masing, bukan ke ruang publik?
Di ruang publik seyogianya kita mengedepankan aneka kesamaan sebagai sesama warga negara Indonesia.
Jika mengedepankan perbedaaan, kita cenderung bertikai terus seperti perilaku pendukung calon gubernur
DKI di media sosial. Apa pun yang dilakukan pihak
sana, disalahkan pihak sini. Dan sebaliknya. Mestinya
kita berperilaku seperti anggota keluarga bahagia: selalu
mencari kesamaan agar saling menyayangi berlangsung
panjang.
Praktik Pilkada Jakarta baru-baru ini memberikan pelajaran berharga untuk Indonesia: membawa agama ke
ruang publik membuat luka baru di atas rasa benci lama
pada pihak yang berbeda agama dan ras yang belum
sembuh juga. Sampai kini pihak yang membawa iman
dan agamanya di Pilkada masih bertikai dengan pihak
yang menomorsatukan program. Pilihan membawa agama ke ruang publik hanya akan mempertebal lapisan
diskriminasi pada masyarakat Indonesia. Buntutnya:
warga nonmuslim tidak akan bisa menjadi pemimpin di
negara ini. Hanya perlu mengatakan “pemilih pemimpin nonmuslim masuk neraka”, seorang pemimpin “kafir” yang mereka anggap telah bekerja sangat baik pun
terjungkal dari kursi jabatannya.
159
Persoalan buat kita adalah bukan saja nasib pemimpin
baik itu yang terjungkal. Lebih dari itu, rasa persatuan kita menjadi rusak. Keberagaman berubah arti dari
menghargai perbedaan menjadi mencari-cari perbedaan. Sehingga kita menjadi seperti anggota keluarga
yang selalu mengedepankan perbedaan, yang membuat
semua anggota keluarga itu bertikai tanpa henti. Karena
negara bukan keluarga, penyelesaiannya tidak bisa dengan “pisah ranjang” atau “bercerai”. Indonesia adalah
keluarga sangat besar yang disatukan oleh Tuhan dengan Pancasila dan tidak bisa dipisahkan kecuali terjadi
perang suadara. Ini makna NKRI harga mati yang sering diteriakan banyak orang belakangan ini.
Isu kedua dalam gagasan Demokrasi Pancasila yang
Diperbarui juga mengundang perdebatan panjang. Sebab, dalam isu ini, menurut Denny, kita harus memberikan tempat pada gagasan intoleran dalam Demokrasi
Pancasila. Kata Denny, sepanjang masih dalam bentuk
gagasan, tidak masalah kaum intoleran mengembangkan pahamnya.
Nah, kaum intoleran ini bekerja seperti virus komputer.
Virus komputer dirancang untuk mudah berkembang
biak di dalam sistem. Mereka tidak punya toleransi. Apa
saja yang mereka anggap salah, menyimpang, atau tidak sesuai dengan aturan mereka, akan disikat dengan
kekuatan yang ada pada mereka. Jika kekuatan mereka
160
besar, seperti virus pada komputer, mereka benar-benar
bisa melumpuhkan sistem di mesin pintar itu. Tidak ada
toleransi pada virus. Untuk mengamankan sistem, virus
harus di-delete habis menggunakan program antivirus
yang ampuh. Jika Anda pengguna komputer, jangan
sekali-sekali memasukkan virus ke dalam komputer,
apalagi memberi ruang untuk virus berkembang.
Cara bekerja gagasan intoleran persis seperti virus pada
komputer. Mereka tidak membolehkan atau tidak membiarkan atau melarang hal-hal yang mereka anggap terlarang, atau salah, atau berbeda dengan mereka. Mereka
tidak pernah istirahat menilai orang. Hidupanya sibuk
memberi label pada teman, tetangga, tokoh, atau siapa
saja yang terlihat salah di mata mereka atau melintas di
media. Bila Natal tiba, mereka bergerombol keliling kota
mencari pramuniaga muslim yang mengenakan pakaian
warna merah ala sinterklas. Bila Ramadan datang mereka kerap menutup warung makan yang buka pintu di
siang hari. Di luar Natal dan Ramadan mereka mecari
penjual minuman keras di kafe, restoran, dan tempat
lain. Intinya, mereka sering main hakim sendiri. Mereka berdalih bahwa Tuhan bersama mereka memerangi
maksiat di tengah masyarakat.
Bukankah perang saudara di beberapa negara terjadi
karena kaum intoleran merasa cukup kuat. Sebelum
terjadi perang saudara, mereka tumbuh dari kecil dan
161
membesar. Pada saat mereka semakin kuat, negara dan
kaum toleran akhirnya kewalahan dan kalah menghadapi mereka.
Sedangkan isu ketiga, isu terakhir: ajakan kepada pemerintah menegakkan Law Enforcement.
Sebenarnya bagus juga gagasan Demokrasi Pancasila
Diperbarui ini dilemparkan ke masyarakat. Setidaknya
tulisan ini akan mengajak orang berfikir: bila masyarakat terbelah di dua kutub yang berseberangan
seperti sekarang apa penyebabnya? Apakah benar ada
“bug” pada konsep Demokrasi Pancasila sehingga
kita membutuhkan konsep baru bernama Demokrasi
Pancasila yang Diperbarui? Atau yang terjadi sebenarnya
adalah kita lupa bahwa kita punya Pancasila? Yang kita
ingat hanya bahwa kita adalah orang yang beriman dan
bergama yang takut masuk neraka? Celakanya, ada
orang yang bekerja dengan bayaran untuk meniupniupkan pilih jagoan seiman agar Anda bisa menjawab
pertanyaan malaikat di alam kubur: siapa pilihan Anda
dalam Pemilu/Pilkada?
Jika akhirnya kita mengambil kesimpulan bahwa
Demokrasi Pancasila perlu up date, salah satu isu yang
harus disodorkan adalah elit politik harus mengedepankan kepentingan publik di atas segala-galanya, dan
elit politik membuat karangan bunga ketika menerima
162
jabatan baru dengan pesan: Saya berjanji tidak akan korupsi. []
163
164
Membangun Demokrasi
Pancasila
Setelah Pilkada Jakarta 2017
Jojo Rahardjo
Penulis, bekerja untuk disasterchannel.co
Ilmu pengetahuan terus berkembang. Teknologi juga
berkembang. Ilmu pengetahuan dan teknologi saling
mempengaruhi. Jika teknologi berkembang, maka ilmu
pengetahuan juga akan terdorong untuk berkembang.
Begitu juga neuroscience juga berkembang pesat karena
teknologi untuk menganalisa kerja otak sudah berkembang jauh.
Electroencephalography (EEG), Functional Magnetic
Resonance Imaging (fMRI), dan Magnetoencephalography (MEG) adalah beberapa teknologi yang sudah
berkembang lebih dahulu dan kemudian mendorong
perkembangan neuroscience menjadi lebih jauh lagi.
165
Apa kaitan itu semua dengan Membangun Demokrasi
Pancasila?
Baru-baru ini Denny JA melempar keprihatinannya tentang Indonesia yang tidak mustahil akan terkoyak dan
tidak stabil. Denny dalam tulisannya yang berjudul Tentang “Perlunya Menegaskan Komitmen pada Demokrasi
Pancasila yang Diperbarui” menyampaikan bahwa dalam waktu tak lama, bukan tak mungkin demokratisasi
di Indonesia yang dimulai sejak Reformasi 1998 mengalami break-down dan kemunduran yang signifikan.
Sebagaimana kita tahu, Pilkada Jakarta yang baru saja
berlalu adalah pilkada paling panas dan menyita waktu
dan energi semua orang di negeri ini. Di bawah ini adalah beberapa peristiwa menonjol dalam pilkada Jakarta
kemarin. Semua peristiwa ini mungkin akan berulang
lagi pada pilkada lain atau pilpres berikutnya, sehingga
perlu merenungkan tesis Denny di atas.
1. Ujaran kebencian dan permusuhan bebas disebarkan baik secara langsung maupun melalui
berbagai media oleh timses ataupun oleh siapa
pun. Padahal sudah ada aturan yang melarang
itu. Seorang paslon bisa disebut kafir saat kampanye atau saat dikaitkan dengan kampanye,
padahal kata “kafir” memiliki konotasi negatif
atau sebuah stigma. Mungkin kata kafir boleh
166
saja disebut saat pengajian di mesjid yang dihadiri secara tertutup. Paslon tertentu juga
sering disebut di tempat terbuka sebagai orang
yang menghalangi masyarakat untuk masuk
surga. Itu tentu juga ujaran kebencian dan permusuhan.
2. Ancaman atau perbuatan kriminal bebas
dilakukan. Paslon tertentu dianjurkan atau didorong untuk dibunuh muncul di berbagai tempat umum. Di hadapan polisi atau penegak hukum itu bisa dilakukan, juga termasuk di depan
kamera yang merekamnya. Sangat mungkin
perbuatan ini akan meluas dilakukan oleh masyarakat umum.
3. Muncul pertentangan antara dalil agama dan
hukum positif saat kampanye atau saat dikaitkan dengan kampanye. Dalil agama yang
bertentangan dengan hukum positif bebas
dikampanyekan, misalnya dalil agama yang
mengatakan: “tidak boleh memilih kafir untuk
menjadi pemimpin”.
4. Penegakan hukum tidak dilaksanakan. Penegak
hukum menunggu laporan dari masyarakat,
karena nampaknya penegak hukum tidak
memiliki “pegangan” yang pasti dalam kasus
seperti di nomor 1, 2, dan 3.
167
Menurut Denny Ada 4 platform gagasan yang ikut bertarung dalam Pilkada Jakarta yang baru berlalu kemarin.
Pertarungan 4 platform itu akan semakin mengemuka
pada pilpres 2019 nanti. Empat gagasan itu adalah: 1.
Demokrasi modern, 2. Sistem sebelum amandemen
UUD 1945, 3. Konsep negara Islam, 4. Demokrasi Pancasila yang diperbarui.
Keadaan yang memprihatinkan bakal terjadi jika para
elit yang berpengaruh di negeri ini tidak meneguhkan
komitmennya kembali pada demokrasi pancasila yang
diperbarui. Itu akan terbukti jika semakin tak ada aturan main bersama yang berwibawa, akomodatif, dan
disepakati sebagai “the only game in town.” Demikian
tambah Denny.
Berdasarkan pada survey nasional yang dilakukan LSI
Denny JA sejak 2005 sampai 2016 dan juga survei Jakarta yang dilakukan terakhir di bulan April 2017, Denny
ingin mengajak para elit yang berpengaruh untuk menegaskan komitmen kembali pada Demokrasi Pancasila yang diperbarui. Sejak 2005 sampai kini hasil survey
itu tak banyak berubah. Yang meinginkan negara Islam
selalu di bawah 10 persen. Yang inginkan demokrasi
liberal juga selalu di bawah 10 persen. Yang inginkan
Demokrasi Pancasila selalu di atas 70 persen.
168
Apa yang Perlu Dilakukan?
Martin Seligman, pelopor neuroscience dalam 2 dekade
lebih menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan kurang
mempelajari apa yang positif atau potensi positif yang
terpendam selama ini dari manusia. Neuroscientist yang
lain seperti Shawn Achor menyebutkan, bahwa jika potensi positif itu ditumbuhkan maka kita bisa menjadi
lebih kreatif, inovatif, lebih memiliki solusi, cenderung
pada kebajikan, tidak mudah depresi, mudah pulih dari
gangguan psikologi dan tubuh menjadi lebih sehat.
Potensi positif itu sangat berkaitan dengan kondisi di
otak kita. Jika otak kita memiliki kondisi yang maksimal
maka otak kita disebut memiliki positivity.
Dari berbagai penelitian neuroscience sepanjang 2 dekade
lebih itu ditemukan adanya lima unsur positivity yang
perlu ditumbuhkan oleh kita menurut Martin Seligman,
yaitu PERMA: 1. Positive emotions, 2. Engagement, 3.
Relationships, 4. Meaning, 5. Accomplishment. Jika kita
memiliki semua 5 unsur positivity, maka kita disebut
memiliki positivity atau kebahagiaan yang penuh.
Kelima unsur positivity ini dapat menjadi dasar bagi
penjabaran dari 5 pasal dalam Pancasila, karena penjabaran Pancasila harus berkembang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dalam hal ini adalah
neuroscience. Penjabaran itu sebagai berikut:
169
1. Pasal 1, Ketuhanan yang maha esa menggambarkan
perlunya memiliki sifat-sifat baik tuhan yang perlu
dimiliki oleh manusia. Neuroscience menyebutkan
bahwa kegiatan spirituality adalah kecenderungan
paling mendasar dalam diri manusia yang menghasil positivity yang besar dan dapat bertahan untuk
waktu yang lama.
2. Pasal 2, Kemanusiaan yang adil dan beradab dijabarkan oleh neuroscience dan Golden Rule: “Lakukan apa yang kamu ingin orang lain lakukan pada
kamu.” Neuroscience menjabarkannya sebagai perlunya melakukan kebajikan, karena menghasilkan
positivity yang besar. Itu juga berarti: kita tidak
bisa melakukan apa yang kita tidak ingin orang
lain melakukan pada kita (kejahatan, permusuhan
atau kebencian). Golden Rule dinyatakan oleh para
antropolog sebagai dasar dari hukum positif. Kita
tidak bisa menyatakan atau mengajarkan secara
terbuka di muka umum (pada mereka yang berbeda-beda keyakinan) misalnya tentang orang lain sebagai kafir (punya konotasi buruk) atau orang lain
tidak akan masuk surga atau agama tertentu lebih
baik atau juga yang semacam itu. Alasannya sederhana, karena itu tidak mencerminkan Golden Rule.
Itu juga tidak mencerminkan kebajikan yang idealnya dilakukan oleh kita untuk orang lain sebagaimana yang diajarkan oleh neuroscience.
170
3. Pasal 3, Persatuan Indonesia dijabarkan oleh neuroscience sebagai perlunya bekerja sama secara
terus-menerus sebagai makhluk sosial yang menghasilkan rasa secure yang menghasilkan positivity.
4. Pasal 4, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan
dijabarkan dengan neuroscience, yaitu relationships
menjadi acuan utama dalam pengambilan keputusan atau dalam menentukan kebijakan negara. Relationships dalam neuroscience berarti hubungan
timbal-balik atau saling membutuhkan yang menghasilkan positivity. Semua sederajat dalam pengambilan keputusan atau bukan di tangan individu atau
segolongan yang memiliki otoritas lebih tinggi. Cara
pengambilan keputusan dan definisi perwakilan
menjadi lebih dinamis selalu disesuaikan dengan
perkembangan teknologi atau ilmu pengetahuan.
5. Pasal 5, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menurut neuroscience adalah tercapainya
tujuan akhir yang dicita-citakan manusia sejak
awal peradaban manusia yang pertama kali, yaitu
perasaan positif atau juga perasaan bahagia yang
penuh. Pasal kelima ini ini menggambarkan tercapainya lima unsur positivity yang disebutkan di atas
yang menjadi tujuan akhir untuk dicapai atau diperoleh bagi seluruh rakyat Indonesia.
171
Dari penjabaran Pancasila di atas, maka setidaknya
perlu dibuat aturan baru atau merevisi aturan yang sudah ada yang berkaitan dengan pilkada atau pilpres sebagaimana berikut ini:
1. Mengatur soal-soal apa yang boleh dilakukan saat
pilkada, meski itu bertentangan dengan dalil-dalil agama:
a. Ada penegasan melalui UU, bahwa dalil-dalil
agama derajatnya berada di bawah hukum
positif.
b. Tidak menggunakan dalil-dalil agama untuk
mendiskreditkan calon.
c. Tidak menggunakan dalil-dalil agama untuk
menyebar kebencian atau permusuhan.
d. Kegiatan keagamaan yang dikaitkan dengan
politik hanya bisa dilakukan di tempat ibadah
yang tertutup, bukan di tempat umum.
2. Mengatur tentang bagaimana penegak hukum bertindak:
a. Memproses hukum dengan cepat bagi mereka
yang melakukan pelanggaran aturan nomor
1 agar pelanggaran tidak merebak atau tidak
menghasilkan ekses yang berbahaya.
172
b. Melarang penegak hukum menggunakan simbol
atau atribut keagamaan dalam tugasnya seharihari, karena penegak hukum bekerja untuk
semua, maka ia harus bebas dari pengaruh
agama apa pun.
c. Membuat tim khusus yang bertugas mencari
pelanggaran yang disebut dalam pasal-pasal di
huruf 1.
3. Mengembangkan neuroscience sebagai program
nasional untuk menumbuhkan positivity secara luas di
masyarakat.
a. Masuk ke sekolah dan universitas sebagai pelajaran ekstrakurikuler
b. Sosialisasi melalui media elektronik dan media
lainnya seperti program keluarga berencana
dulu dilaksanakan.
c. Pejabat pemerintah di tingkat atas dan wakil
rakyat mendapat pembekalan positivity.
Penutup
Positivity atau neuroscience adalah salah satu ilmu pengetahuan yang sedang berkembang pesat. Kehidupan
modern sekarang ini terbentuk oleh ilmu pengetahuan
173
yang berkembang. Sehingga idealnya demokrasi Pancasila juga dijabarkan dengan ilmu pengetahuan.
Neuroscience sejak 2 dekade lebih telah diaplikasi pada
banyak aspek kehidupan. Salah satu yang paling populer
adalah untuk menghasilkan produktifitas di perusahaanperusahan besar. Badan dunia seperti PBB pun mulai
mengkaitkan GDP, persoalan sosial, kesejahteraan atau
kemajuan sebuah negeri dengan neuroscience. Sejak
tahun 2013, World Happiness Report diterbitkan setiap
tahun. Dalam laporan ini terlihat kaitan Positivity atau
Happiness dengan pencapaian sebuah negeri dalam
berbagai soal.
Inggris sudah menerapkan positivity untuk menjadi
program nasional, yaitu di sekolah-sekolah. Setidaknya
siswa mendapat ilmu pengetahuan tentang bagaimana memaksimalkan otaknya saat di sekolah dan nanti
saat mereka bekerja untuk masyarakat. Demikian juga
negeri-negeri maju lainnya sudah menerapkan neuroscience.
Bahkan neuroscience mengungkap perbuatan-perbuatan yang menghasilkan positivity ternyata sudah diajarkan oleh spirituality sejak ribuan tahun lalu. Spirituality
harus terus dihidupkan karena berakar sangat kuat di
Indonesia. Neuroscience menyebut bahwa kebajikan
akan menghasilkan positivity dan positivity akan meng174
hasilkan kebajikan. Begitu seterusnya. Jika itu sebuah
lingkaran, maka lingkaran itu akan semakin besar dan
kuat setiap hari. []
175
176
Memaknai Demokrasi Pancasila
Yang Diperbarui
Dr. Umar S. Bakry
Direktur Lembaga Survei Nasional (LSN)
Lewat tulisan berjudul “Paska Pilkada Jakarta: Perlunya
Menegaskan Komitmen pada Demokrasi Pancasila yang
Diperbarui”, Denny JA membawa kita pada suasana
kebatinan politik dalam sidang BPUPKI 1945. Saat itu
para tokoh bangsa bahu membahu merumuskan dasar
negara sebagai pedoman bersama untuk mengatur
kehidupan berbangsa dan bernegara. Perdebatan keras
terjadi, terutama antara kelompok tokoh Islam dan
Nasionalis-sekuler. Kalangan Islam berprinsip bahwa
agama tidak dapat dipisahkan dari urusan kenegaraan,
karena Islam menurut mereka tidak hanya mengatur
hubungan antara manusia dengan Tuhan saja, melainkan
juga hubungan sesama manusia, lingkungan dan alam
semesta. Kalangan Nasionalis adalah kelompok yang
berprinsip bahwa ad-Din wa ad-Daulah (agama dan
negara) harus dipisahkan secara tegas dan proporsional,
177
dengan keyakinan bahwa fungsi agama hanya mengurusi
ajaran-ajaran yang berkaitan dengan kehidupan akhirat
dan urusan pribadi saja. Negara merupakan masalah
politik yang berurusan dengan duniawi.
Kala itu Soekarno sudah mengungkapkan kekhawatirannya secara terbuka mengenai implikasi negatif
yang akan muncul jika kalangan Islam memaksakan
kehendaknya. Ia cemas kalau banyak bagian dari negara ini akan memisahkan dari Republik Indonesia
yang mendasarkan diri pada agama Islam. Tokoh Nasionalis-sekuler, Soepomo, juga menegaskan bahwa jika
negara Islam diciptakan di Indonesia maka sudah pasti
persoalan minoritas dan masalah-masalah kelompok
kecil agama dan yang lainnya akan muncul. Meskipun
Islam menjamin kelompok agama lain sebaik mungkin,
kelompok-kelompok minoritas tersebut tetap tidak
merasakan keterlibatannya dalam negara.
Akhirnya para pendiri bangsa menyepakati Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara. Rezim Soekarno
menetapkan Demokrasi Pancasila sebagai satu-satunya
sistem yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Rezim Soeharto selama 30 tahun juga mendasarkan diri pada Demokrasi Pancasila. Namun demikian pemerintahan otoritarian Soekarno maupun
Soeharto mengimplementasikan Demokrasi Pancasila
sesuai dengan penafsirannya sendiri. Bukan berdasar178
kan kesepakatan nasional yang bersumber dari dialog
pemikiran dari berbagai elemen bangsa. Akibatnya,
baik Demokrasi Pancasila semasa Soekarno maupun
Soeharto mendapatkan penolakan warga dalam bentuk
runtuhnya kedua rezim tersebut.
Kegagalan Demokrasi Pancasila versi Soekarno dan Soeharto membangunkan kembali wacana tentang Islam
dan Negara, termasuk isu tentang Negara berazaskan
Islam. Setidaknya diskursus tentang perlunya kejelasan
relasi antyara Islam dan Negara mencuat kembali pada
awal era Reformasi. Indikator paling jelas diantaranya
adalah menguatnya gagasan pencantuman syariat Islam
dalam dalam amandemen UUD 1945 setiap kali dilaksanakan sidang tahunan MPR hasil Pemilu 1999. Di lain
pihak upaya perlawanan dari kaum Nasionalis-sekuler
terhadap integrasi Islam dan Negara juga tidak pernah redup. Salah satu contohnya ketika Presiden PKS
Hidayat Nur Wahid akan dilantik menjadi Ketua MPR
konon sempat diminta bersumpah untuk setia pada
Pancasila, UUD, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.
Pilkada DKI Jakarta 2017 sekali lagi telah menjadi manifestasi nyata dari masih adanya pergulatan antara kalangan Islam dan Nasionalis-sekuler dalam kehidupan
politik di Republik ini. Tak dapat disangkal, Pilkada Jakarta telah membuat warga terbelah. Apa yang dikhawatirkan Soepomo dan Soekarno menjadi nyata. Sebab
179
itu saya sepakat dengan Denny JA, dalam waktu dekat
bukan mustahil Indonesia akan terkoyak dan tidak stabil, jika kita tidak berusaha keras merumuskan kembali
sistem berbangsa dan bernegara dalam bentuk aturan
main yang berwibawa, akomodatif, dan disepakati sebagai “the only game in town”.
Setelah hampir dua dasawarsa hidup di era Reformasi,
kita baru menyadari bahwa Republik ini ternyata belum
memiliki sebuah sistem politik yang disepakati dan
dihormati oleh semua elemen bangsa. Sebuah sistem
yang semua warganya merasa terlibat dalam ruh yang
sama. Pilkada Jakarta tiba-tiba menyentak kesadaran
bersama kita sebagai bangsa bahwa masih ada masalah
mendasar dalam kehidupan bersama yang belum kita
selesaikan. Yakni membangun sebuah sistem yang
menjadi landasan bersama yang dapat menjadi common
denominator seluruh warga, semua kelompok, semua
agama, dan semua kepentingan.
Denny JA menawarkan sebuah konsep yang diberi
nama “Demokrasi Pancasila yang Diperbarui”. Menurut Denny, konsep demokrasi ini berbeda dengan
Demokrasi Pancasila era Soekarno maupun Soeharto.
Demokrasi Pancasila yang Diperbarui juga tidak
dimaksudkan untuk menjadikan Indonesia sebagai
negara demokrasi liberal seperti yang berlaku di Barat,
juga bukan mengarahkan menjadi negara Islam seperti
180
di Timur Tengah. Semua sistem tersebut tidak cocok
dipaksanakan di Indonesia. Dalam berbagai survei yang
dilakukan LSI maupun LSN, terbukti tidak lebih dari
10 persen publik yang menghendaki sistem demokrasi
liberal, bentuk negara Islam, maupun sistem Demokrasi
Pancasila era Soekarno dan Soeharto.
Paska Pilkada Jakarta, Denny JA mengajak kita merenung
dan mendiskusikan akan dibawa kemana negara
Indonesia dengan konsep Demokrasi Pancasila yang
diperbarui. Para elit, politisi berpengaruh, pemimpin
pemerintahan, pengusaha, pemimpin partai, pemimpin
ormas berpengaruh, pemimpin organisasi keagamaan,
intelektual dan opinion makers yang berbeda pandangan,
perlu didengar. Demokrasi Pancasila yang diperbarui
tidak boleh menjadi sistem yang rapuh sebagaimana
Demokrasi Pancasila versi Soekarno dan Soeharto
yang dibangun semata-mata dari pemahaman subyektif
penguasa. Demokrasi Pancasila yang diperbarui
hendaklah dirumuskan berdasarkan pemahaman intersubyektif seluruh elemen bangsa (termasuk yang selama
ini kita identifikasi sebagai kelompok garis keras).
Sehingga dengan demikian sistem Demokrasi Pancasila
kita yang baru benar-benar dapat menjadi rule of the
game yang berwibawa dan tahan lama.
Menurut Denny JA prinsip demokrasi apapun hanya
akan kuat jika dikawinkan dengan kultur lokal yang
181
dominan. Untuk konteks Indonesia, goresan agama dalam batin masyarakat terbukti sangat mendalam. Sebab
itu Demokrasi Pancasila yang kita perbaharui baru akan
bisa mengakar dan memiliki daya tahan jika mengakomodasi kondisi itu dalam sistem kelembagaannya.
Saya menafsirkan kultur lokal yang dominan itu sebagai
keyakinan mayoritas masyarakat. Sebab itu Demokrasi
Pancasila yang diperbarui (jika tidak cepat lapuk seperti Demokrasi Pancasila versi Soekarno dan Soeharto)
harus akomodatif terhadap keyakinan mayoritas masyarakat Indonesia.
Pergulatan panas kelompok Islam dan Nasionalissekuler, sebagaimana terjadi dalam Pilkada Jakarta
2017, menurut saya akan terus berulang atau menyebar
ke daerah-daerah lain apabila kita tidak segera memiliki
aturan main yang akomodatif terhadap keyakinan
mayoritas. Dalam konteks ini, saya setuju dengan
gagasan Denny JA yang merekomendasikan peran agama
yang lebih besar di ruang publik, sehingga praktek dan
keberagaman paham agama yang ada terlindungi sangat
kuat. Saya juga setuju bahwa pemerintah perlu membuat
UU untuk lebih melindungi keberagaman agama dan
kebebasan mereka beribadah dan bersosialisasi di ruang
publik. Spektrum gagasan yang ada dalam masyarakat
juga harus diakomodasi. Tidak boleh di Republik ini
orang dihukum karena memiliki gagasan atau opini
yang berbeda.
182
Namun dalam konteks mengakomodasi kultur
dominan atau keyakinan mayoritas masyarakat, saya
sedikit gagasan saya yang berbeda dengan Denny JA.
Menurut saya, mengakomodasi keyakinan mayoritas
berarti menjadikan nilai-nilai (values) mayoritas
publik sebagai sumber perilaku dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Dengan demikian jika
keyakinan atau values yang diyakini mayoritas publik
menolak perilaku LGBT (misalnya), kita harus dapat
menghormati keyakinan atau values tersebut. Dengan
kata lain, kebebasan berekspresi sebagaimana kita
rekomendasikan dalam sistem Demokrasi Pancasila
yang diperbarui tetap harus peka terhadap keyakinan
agama dari mayoritas publik. Jika Negara mentoleransi
berbagai bentuk perilaku dan ekspresi kebebasan yang
tidak parallel dengan values mayoritas maka kelompok
mayoritas akan merasa tergores karena diabaikan
keyakinannya.
Kelompok mayoritas yang merasa tidak nyaman hidup
dalam sistem yang berlaku, berpotensi menimbulkan
instabilitas dalam sistem itu sendiri. Menurut saya,
Demokrasi Pancasila yang diperbarui akan bernasib
sama dengan Demokrasi Pancasila versi Soekarno
dan Soeharto jika tidak mengakomodasi keyakinan
mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama Islam.
Sudah jelas bahwa mayoritas ummat Islam Indonesia
183
menolak bentuk negara Islam. Yang mereka harapkan
adalah penghormatan terhadap nilai-nilai dan
keyakinan keagamaan mereka.
Ini hanya merupakan salah satu contoh dari koreksi
kecil saya terhadap pemikiran besar Denny JA. Berbagai
wacana dari aneka kelompok masyarakat terbuka untuk
diberikan guna memaknai, mengisi dan melengkapi
gagasan Demokrasi Pancasila yang diperbarui yang
dilontarkan pendiri LSI tersebut. Bagi saya, Denny JA
dengan gagasannya itu dapat disebut sebagai seorang
negarawan yang selalu peduli pada keselamatan negara
dan bangsanya. Jika ide besar Denny JA ini dianggap
angin lalu oleh semua elemen bangsa, terutama oleh
para politisi berpengaruh, bukan mustahil masyarakat
Indonesia bisa terbelah seperti warga Jakarta selama
Pilkada. []
184
Pancasila, Kawah
Candradimuka, dan Anti
Absolutisme
Akhmad Sahal
Kandidat PhD, University of Pennsylvania, Amerika
Serikat. Pengurus Cabang Istimewa NU Amerika
Dalam pidatonya tentang Pancasila yang masyhur itu,
Sukarno berbicara tentang Pancasila sebagai Weltanschauung, sebuah pandangan tentang dunia dan kehidupan. Di mata Bung Karno, Pancasila merupakan
“dasar filsafat”, philosophische grondslag. Yakni, sebuah
fondasi yang berfungsi sebagai perekat kebhinnekaan,
sekaligus sebagai payung persatuan kebangsaan.
Tapi di sisi lain, Bung Karno juga menyadari bahwa kehidupan politik senantiasa mengandung “perjuangan
faham.” Kehidupan politik meniscayakan bukan hanya
pertukaran tapi juga pertarungan ide-ide, bukan hanya
deliberasi, tapi juga kontestasi gagasan. Secara berseloroh Bung Karno pernah berkata, “tak ada sebuah negara
185
yang hidup yang tak mengandung ‘kawah Candradimuka’ yang ‘mendidih’di mana pelbagai ‘faham’ beradu di
dalam badan perwakilannya. Tak ada sebuah negara
yang dinamis ‘kalau tidak ada perjuangan faham di dalamnya’.
Bertolak dari pandangan Sukarno di atas, bisa kita simpulkan bahwa sejak awal, Pancasila tak pernah diniatkan untuk menjadi ideologi yang kekal, tertutup, dan
absolut. Sebagai Weltanchauung bangsa Indonesia, Pancasila senantiasa berada dalam “kawah candradimuka”
politik yang diwarnai oleh “perjuangan faham.” Artinya, Bung Karno sedari awal mengakui bahwa Pancasila
mesti dilihat sebagai ideologi yang fleksibel, senantiasa
diperbarui di tengah konteks sosial politik yang senantiasa berubah, dan membuka diri terhadap perkembangan dan modifikasi diri, karena adanya kesadaran
bahwa masyarakat Indonesia yang majemuk merupakan “tatanan-dalam-proses.”
Dengan kata lain, penerimaan terhadap Pancasila mengandaikan sikap penolakan terhadap faham politik
yang mengklaim berlaku mutlak dan absolut. Pancasila menampik absolutisme. Sebagai rumusan yang
mangkus dan sangkli dari ikhtiar bangsa kita untuk
mencapai persatuan dalam perbedaan, Pancasila menegaskan dirinya sebagai paham yang bertentangan secara
diematral dengan absolutisme.
186
Perspektif Bung Karno tentang Pancasila sebagai “anti
absolutisme” di atas menarik untuk ditengok kembali manakala kita hendak berbicara tentang “demokrasi
Pancasila yang diperbarui,” seperti diusulkan oleh Denny J.A dalam tulisannya baru-baru ini. Upaya memperbarui demokrasi Pancasila ini penting dan mendesak
untuk dilakukan, setidaknya karena dua hal:
Pertama, untuk waktu yang lama, telah terjadi semacam
disenchantment of Pancasila, lenyapnya marwah Pancasila, akibat ulah Orde Baru yang secara terstruktur,
sistematis dan masif melakukan manipulasi terhadap
dasar negara kita Di masa Orde Baru, Pancasila dikeramatkan dan di-sakti-kan. Pada saat yang sama, penafsirannya dimonopoli penguasa, dan dianggap identik
dengan penguasa. Siapapun yang menentang penguasa
langsung dicap menentang Pancasila.
Kedua, makin maraknya wacana “negara Islam, “NKRI
bersyariah,” atau “Khilafah” yang mendasarkan diri pada
paham keagamaan yang absolutis dan mutlak-mutlakan. Mereka gemar mengklaim, lebih baik memilih
dasar Syariah karena syariah datang dari Allah, sedang
Pancasila itu hasil buatan manusia. Di mata mereka, jika
hukum Allah adalah hukum yang hendak diterapkan,
mau tak mau hasil yang akan tercipta adalah sebuah
kehidupan sosial yang tanpa cacat. Probemnya adalah,
mereka seringkali merasa mewakili suara Tuhan, meski187
pun tak jelas dari mana dan bagaimana ‘mandat’ itu bisa
mereka perolah. Akibatnya, mereka merasa berhak untuk memaksakan paham keIslamannya sebagai satu-satunya “the law of the land” di Indonesia. Inilah sikap
yang mencerminkan apa yang disebut Bung Karno sebagai ‘egoisme-agama’ yang menafikan karakter dasar
Indonesia yang berbhinneka.
Dalam situasi semacam itulah kita membutuhkan
penyegaran kembali pancasila: untuk menangkis sikap
absolut yang sewenang-wenang: sikap mereka yang
mengklaim kesempurnaan karena merasa mewakili suara Tuhan.
Dalam perspektif yang lebih luas, upaya memperbarui demokrasi Pancasila seperti diusulkan Denny J.A.
bisa juga dikaitkan dengan falsafah dan karakteristik demokrasi modern itu sendiri. Sejarah demokrasi modern adalah sejarah kebebasan individu modern
dan pembebasannya dari absolutisme kekuasaan sistem
feodal dan aristoktat yang mencirikan Abad Pertengah-an. Sejak akhir abad ke 17, seiring dengan semakin
kokohnya perdagangan dan Pencerahan di tanah Eropa,
muncul kesadaran di kalangan masyarakat Barat akan
pentingnya kebebasan dan persamaan individu. Mereka
merasa letih dengan perang Katolik dan Protestan yang
berlarut-larut, di samping juga sudah muak dengan
tatanan sosial politik yang represif.
188
Mereka kemudian merancang suatu tatanan baru berdasarkan rasionalitas, yang melindungi hak dan kebebasan warga negara, mengakhiri perang agama dan
mencegah bercokolnya kembali absolutisme. Untuk
itu, kedaulatan mesti bersumber pada rakyat; pluralisme dan toleransi mesti dijaga; serta kekuasaan mesti
dibatasi dan dikontrol. Demokrasi merupakan pengejawantahan tiga inti modernitas, yakni rasionalitas, kebebasan, dan persamaan.
Demokrasi pada intinya adalah mekanisme pengaturan
kehidupan publik yang mendasarkan diri pada kontrak
sosial. Karena itu, ia bersandar pada aturan yang disepakati bersama. Dengan demikian, ia niscaya berwatak
sekuler karena dasar legitimasinya bukanlah kitab suci
agama tertentu, melainkan rasionalitas publik. Tujuannya agar kekuasaan bisa dikontrol dan dikoreksi, juga
agar absolutisme yang menyulut perang agama tidak
terulang lagi.
Demokrasi merayakan pluralisme dan toleransi, karena
pertukaran dan pertengkaran pikiran dalam pasar bebas
ide-ide justru memungkinkan masyarakat untuk mengoreksi kesalahannya sendiri dan berkembang maju. Suara minoritas mendapat hak hidup yang sama dengan
pendapat mayoritas. Politik di sini bukan ajang pertarungan antara “kawan” dan “musuh” yang gampang
menyulut kerelaan untuk mati demi keyakinan buta ter189
hadap agama tertentu. Politik dalam arti liberal adalah
ajang bagi kompromi dan negosiasi.
Dasar filsafatnya bertumpu pada kombinasi dari dua
cara pandang terhadap manusia, katakan saja cara pandang yang optimistis dan pesimistis.
Optimisme yang saya maksud adalah pandangan yang
melihat manusia sebagai makhluk yang bisa mengatur
diri mereka sendiri dan pada saat yang sama bisa berkembang ke arah kemungkinannya yang paling kaya.
Optimisme inilah yang mendasari demokrasi karena
esensi demokrasi adalah mengatur diri sendiri (self
rule). Optimisme ini pula yang oleh John Stuart Mill,
dalam traktatnya, On Liberty, dianggap sebagai alasan
kenapa kebebasan individu dan pluralisme harus
dipertahankan dari ancaman tirani mayoritas. Karena,
hanya dengan kebebasan dan keragaman pandanganlah
manusia bisa selalu memperbaiki kesalahannya.
Namun, bersamaan dengan itu, demokrasi modern juga
melantunkan semacam ketidakpercayaan (distrust)
terhadap manusia, termasuk mereka yang berkuasa.
Demokrasi memandang manusia dengan tatapan curiga.
Manusia tidak digambarkan sebagai sosok yang ikhlas
tanpa pamrih dan memikirkan orang lain, melainkan
sosok yang bisa culas, ambisius, dan hanya memikirkan
diri sendiri. Inilah yang saya sebut pandangan pesimistis
terhadap manusia (atau realistis?).
190
Atas dasar kecurigaan semacam inilah tatanan republik
melembagakan kontrol dan pengawasan terhadap
kekuasaan. Ungkapan James Madison, salah satu
founding fathers Amerika, di dalam The Federalist
Papers menarik untuk disimak. “If men were angels
no government would be necessary. If angels were to
govern men, neither external nor internal control on
government would be necessary.” Karena manusia
bukan malaikat, maka kontrol internal dan eksternal
terhadap kekuasaan menjadi niscaya.
Kombinasi antara optimisme dan pesimisme inilah
yang mendasari tatanan demokrasi modern. Yakni
sistem yang menampung kepercayaan terhadap
kebaikan manusia, melembagakan kecurigaan terhadap
watak manusia, dan mengakui bahwa manusia bisa
korup dan salah. Karena itu, rule of law sebagai sistem
kontrol terhadap negara maupun masyarakat agar tak
sewenang2 menjadi hal yang niscaya.
Yang khas dari demokrasi modern: tak ada pretensi untuk menjadi sistem yang sempurna, absolut, dan berlaku
abadi. Demokrasi justru bertolak dari ketidaksempurnaan, sehingga selalu ada peluang untuk koreksi dan
perbaikan di kemudian hari. Inilah yang membedakannya dengan absolutisme dlam Islamisme, misalnya, yang
mengklaim bersifat lengkap dan berlaku abadi karena
bersandar pada Kedaulatan Tuhan (Hakimiyyah).
191
‚Äč alhasil, upaya menyegarkan kembali demokrasi PanW
casila adalah suatu penegasan bahwa Pancasila merupakan proses negosiasi terus menerus dari sebuah bangsa
yang tak pernah tunggal dan seragam, dan tak perlu ditunggalkan dan diseragamkan. Sebagaimana dinyatakn
Bung Karno, Pancasila merupakan Weltanschauung
bangsa Indonesia yang tak bisa dipahami sebagai sesuatu yang absolut, kekal dan kedap dari perkembangan
zaman, karena Pancasila berada dalam “kawah candradimuka” kehidupan sosial politik yang selalu berkembang. Masyarakat selalu merupakan tatanan dalam
proses yang mengakui ketaksempurnaan sistem apapun
yang diciptakan manusia dan menampik ilusi tentang
kesempurnaan yang menjadi ciri utama absolutisme. []
192
Perlukah Kita Memperbarui
Demokrasi Pancasila?
Fahd Pahdepie
Penulis, pegiat komunitas diskusi Ciputat School
Beberapa waktu yang lalu, Denny JA melemparkan sebuah wacana mengenai pentingnya memperbarui gagasan demokrasi Pancasila. Denny JA menyebutnya
sebagai “Demokrasi Pancasila yang Diperbarui” (Perlunya Menegaskan Komitmen pada Demokrasi Pancasila
yang Diperbarui, 2017).
Berpijak pada asumsi “terbelahnya” masyarakat Indonesia, terutama terpotret dalam fenomena Pilkada DKI Jakarta yang seolah memisahkan dua kubu pro-Ahok dan
anti-Ahok, Denny JA mengemukakan kegelisahannya
mengenai klaim Pancasila yang hanya dinisbatkan pada
kubu pro-Ahok saja, sementara kubu yang tidak mendukung Ahok lantas dianggap sebagai kelompok yang
anti-Pancasila (Baca tulisan Denny JA lainnya, Jangan
Benturkan Keindonesiaan versus Keberagaman, 2017).
193
Hal tersebut dilandasi fenomena menguatnya politik
identitas pasca-Pilkada DKI yang mencuatkan dua sentimen: Pertama, kelompok pro-Ahok yang mengklaim
mereka pembela NKRI dan Pancasila. Kedua, berlawanan dengan kelompok anti-Ahok, digawangi kelompok-kelompok dengan basis massa muslim, adalah
mereka yang dianggap terlalu banyak membawa agama
ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara—bahkan
ditengarai ingin membentuk NKRI Bersyariah.
Pada gilirannya kedua kubu ini berseteru dan saling
memperdebatkan platform apa yang paling tepat untuk dipakai dalam berbangsa dan bernegara? Melalui
tulisannya, Denny JA berusaha membentangkan spektrum gagasan bernegara yang muncul pasca-Pilkada
DKI Jakarta yang dipertarungkan dua kubu besar tadi.
Ia menyebutnya sebagai empat platform yang bertarung
dalam konteks Pilkada DKI Jakarta.
Pertama, platform yang mengandaikan demokrasi liberal seperti di negara-negara maju di mana agama dipaksa
absen sepenuhnya dalam urusan politik dan pemerintahan. Kedua, yang mencoba menyelinap dengan menguatkan kembali gagasan kembali pada UUD 1945.
Ketiga, platform yang mengandaikan masuknya sistem
dan tata nilai Islam ke dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara; Mulai dari kelompok HTI yang ingin mendi194
rikan khilafah, hingga gagasan Bachtiar Natsir dan
Habib Rizieq mengenai NKRI Bersyariah. Dan yang keempat, yang kemudian dipilih Denny JA, platform yang
ingin mempertahankan pola dan gaya demokrasi yang
sudah berjalan di Indonesia saat ini, namun dengan beberapa pembaruan; Demokrasi Pancasila yang Diperbarui.
Sepaham dengan Denny JA, platform keempat inilah
yang ingin kita konsolidasikan sebagai the only game in
town. Namun, bagaimana memahami ‘Demokrasi Pancasila yang Diperbarui’ ini?
Manurut hemat saya, agaknya kosa pembaruan dalam
‘Demokrasi Pancasila yang Diperbarui’ harus merujuk
pada kebutuhan untuk menentukan posisi ‘demokrasi’
dan ‘Pancasila’ dalam demokrasi Pancasila itu sendiri.
Apakah demokrasi menjadi poros utamanya atau justru
Pancasila menjadi kalibrator? Apakah keduanya harus
selalu bersifat atas-bawah?
Bagi Denny JA, demokrasi Pancasila harus menganut
prinsip-prinsip demokrasi modern seperti diterapkan
di berbagai negara maju, sementara Pancasila (termasuk aspek agama di dalamnya, sebagaimana terdapat
dalam sila pertama) diperlakukan sebagai nilai yang
mendampingi prinsip demokrasi tersebut, atau mewarnainya. Ia menulis, “Harus diterima bahwa prinsip
195
demokrasi hanya akan kuat jika ia dikawinkan dengan
kultur lokal yang dominan di sebuah wilayah. Untuk kasus Indonesia, goresan agama dalam batin masyarakat
sangat dalam. Demokrasi yang ingin mengakar harus
mengakomodasi kondisi itu dalam sistem kelembagaannya.”
Melalui pernyataan, saya menduga bahwa Denny JA
meyakini bahwa prinsip demokrasi (dan HAM) harus
selalu lebih tinggi daripada Pancasila ketika diperlakukan sebagai jangka ukur tertentu dalam menilai sesuatu.
Jika terdapat persoalan baru yang dihadapi bangsa, misalnya, pertama-tama ia harus dipertanyakan: Apakah
bertentangan dengan prinsip demokrasi? Jika tidak, ia
barus bisa lolos ke pertanyaan kedua: Apakah ia sesuai
atau tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila?
Apakah memosisikan demokrasi dan pancasila dengan
komposisi semacam ini sudah tepat? Agaknya saya
memiliki pendapat yang berbeda.
Dalam hemat saya, mungkin menarik untuk menemukan konsensus baru dalam memahami perkawinan
demokrasi dan Pancasila ini jika kita meminjam istilah
‘Jalan Ketiga’-nya Keynesianisme. Jika kita tempatkan
Pancasila sebagai ideologi bangsa yang bersifat final dan
demokrasi sebagai gagasan pembandingnya yang terus
berkembang sesuai zaman, maka ada tiga jenis pendekatan untuk memperlakukan keduanya.
196
Pertama, mereka yang menganggap bahwa Pancasila
sudah menjadi korpus tertutup dan segala hal di sekeliling
Pancasila harus menyesuaikan kepadanya. Spektrum
paling kanan kelompok pertama ini mungkin diwakili
oleh mereka yang menginginkan kembali pada UUD
1945 dan berusaha memusnahkan golongan apapapun
yang tidak sejalan dengan Pancasila. Menurut saya istilah
‘NKRI Harga Mati’ atau ‘Pancasila Harga Mati’, dalam
konteks gagasan, agaknya sangat fundamentalistik.
Meskipun jika kita bicara nasionalisme, tentu itu akan
sangat penting.
Kedua, mereka yang menganggap Pancasila harus
menyesuaikan pada apa yang terjadi dalam dunia
demokrasi yang terus berkembang. Demokrasi harus
menjadi panglima dan Pancasila bertugas mendampinginya saja. Denny JA menurut saya berada pada posisi
ini. Bukankah agak rancu membayangkan Pancasila
yang melahirkan demokrasi Indonesia dipaksa harus
sesuai dengan apa yang terjadi di Amerika Serikat?
Bagi mereka yang mengimani Pancasila secara kaffah
dan tak bisa ditawar lagi, tentu ateisme tak boleh hidup
di Indonesia karena tak sejalan dengan sila pertama.
Tetapi, bukankah demokrasi modern seperti di Amerika
Serikat membolehkannya? Bagaimana dengan LGBT?
Khilafahisme? Ini problem dari jalan kedua.
197
Bagi saya, mungkin kita perlu jalan ketiga. Demokrasi
dan Pancasila didudukkan sejajar dan saling berdialog
satu sama lain. Tidak patrimonial. Pancasila dianggap
sebagai korpus terbuka dan demokrasi modern tidak
dianggap sebagai jangka ukur, tetapi sebagai referensi
saja untuk menemukan keselarasan-keselarasan. Semua
yang dibolehkan demokrasi moderen tidak mesti
dibolehkan Pancasila, begitu juga sebaliknya. Tetapi
dicari mana yang paling relevan dan sesuai dengan
konteks yang berlaku.
Dengan mendudukkan Pancasila dan demokrasi pada
posisi yang sejajar, maka Demokrasi Pancasila akan
terus menjadi platform yang berkembang. Ia akan
menjadi gagasan yang selalu membelum, tidak final,
dan terus menerus berusaha menemukan format yang
sesuai seiring perkembangan zaman. Dengan demikian,
barangkali memang tak perlu ada pembaruan apapun.
Sebab dalam dirinya sendiri Demokrasi Pancasila
adalah sebuah platform yang selalu memperbarui
dirinya sendiri. []
198
Saatnya Seluruh Komponen
Bangsa Menggagas
Rekonstruksi Nasional
Hendrajit
Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global
Future Institute.
Meskipun belum terang benar ihwal gagasan seputar
Demokrasi Pancasila yang diperbarui, saya menyambut baik prakarsa Bung Denny JA membahas wacana
ini. Setidaknya Bung Denny telah memberi ruang bagi
berbagai komponen strategis bangsa, untuk membincangkan kembali Pancasila, Dasar Falsafah bangsa yang
sepertinya sejak era Pasca Reformasi terkesan mati suri.
Ada dalam tiada.
Dalam keikutsertaan saya secara pribadi dengan
berbagai kalangan yang menghendaki kaji ulang Undang-Undanbg Dasar 1945 hasil empat kali amandemen
dalam beberapa tahun belakangan ini, masalah krusial
bangsa kita saat ini bukan soal demokrasi. Melainkan
199
adanya gerakan secara sistematis untuk mematikan
jatidiri dan karakter khas kita sebagai bangsa.
Maka itu, untuk melengkapi beberapa pandangan dan
tanggapan yang dipresentasikan beberapa kawan lainnya, izinkan saya untuk fokus mengulas sekilas Pancasila itu sendiri.
Sebab setelah menyelami ihwal Pancasila berikut
sejarah dan asal-usulnya sejak para founding fathers
(bapak Pendiri Bangsa) berkumpul dan bermusyawarah
untuk mufakat sejak Mei hingga 18 Agustus 1945
Dalam Rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), tak berlebihan
jika saya katakan bahwa lahirnya Pancasila sebagai
falsafah negara atau dasar negara, sejatinya merupakan
buah dari lokal jenius bangsa Indonesia. Yang lahir
dari pertemuan pikiran sadar dan alam bawah sadar
kearifan lokal bangsa Indonesia. Sehingga kalaupun
Bung Denny JA berpandangan perlunya memperbarui
Demokrasi Pancasila, yang tentunya saya belum punya
bayangan sama-sekali model dan formatnya seperti
apa, saya kira kita harus bertumpu pada pola pikir
dan cara pandang yang tadi saya maksud. Pancasila
adalah personfikasi dari kekuatan kepribadian bangsa.
Maka sudah seharusnya jika dalam merancang dan
menggagas sistem politik baru apakah Demokrasi
Pancasila atau apapun namanya, harus bertumpu pada
200
kesadaran bahwa Pancasila adalah wujud dari kearifan
lokal bangsa. Wujud dari sebuah keyakinan yang telah
menjelma menjadi sebuah kenyataan yang membara.
Menyadari hal itu, bukan suatu kebetulan ketika salah
seorang founding fathers kita Bung Karno berpidato di
rapat pleno BPUPKI pada 1 Juni 1945, justru menawarkan pokok bahasan tentang apa landasan dan fondasi
bangsa yang mau didirikan, dan bukannya membahas
apa bentuk negara seperti kerajaaqn atau republik. Sebab sebagai seorang arsitek, saya bisa bayangkan imajinasi yang ada di benak Bung Karno. Bahwa kalau dianalogikan sebagai rumah, maka Pancasila itu fondasi.
Bukan pilar atau pancangan bangunan yang modelnya
bisa disesuaikan dengan model bangunan rumah itu
sendiri.
Itu sebab saya tidak setuju dengan Pancasila sebagai
salah satu dari empat pilar, yang mana Pancasila dan
UUD 1945 diposisikan tidak dalam satu persenyawaan
dan satu tarikan nafas. Padahal dalam Pembukaan UUD
1945 secara tersurat nyata jelas bahwa Pancasila itulah yang menjadi ruh dari UUD 1945. Yang menjiwai
batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945.
Jadi bagaimana mungkin muncul logika empat pilar
sehingga Pancasila dan UUD 1945 dalam posisi paralel?
Dalam kekacauan pola pikir dan cara padang seperti
201
itu, pada perkembangannya Pancasila telah keluar dari
jatidirina sebagai dasar falsafah negara dan fondasi.
Praktis, negeri kita merupakan negara tanpa filsafat.
Padahal, kalau menilik kesejarahannya, Pancasila sebagai fondasi atau dasar negara sejak periode 1945-1965
di era Sukarno, maupun yang kemudian berlanjut pada
periode 1967-1998, maka Pancasila berhasil membuktikan dirinya bukan saja merupakan ketahanan budaya,
melainkan juga mampu menjelma menjadi ketahanan
nasional.
Dalam tataran ini kontribusi para pemuka agama, utamanya dari kalangan tokoh pergerakan kemerdekaan
yang punya otoritas keagamaan seperti Wahid Hasyim,
Ki Bagus Hadikusumo, dan Haji Agus Salim, nyatanya
cukup besar dalam ikut mengisi kandungan dari yang
sekarang kita kenal sebagai Pancasila.
Para founding fathers telah berhasil kut andil mempersenyawakan daya spiritual agama (ruh) ke dalam
Pancasila. Bukan mempersenyawakan agama dan negara dalam kerangka ideologis sebagaimana sangkaan
banyak kalangan dan para sejarawan sejak dulu hingga
kini.
202
Maka itu ketika muncul pandangan mengenai urgensi
untuk memperbahrui Demokrasi Pancasila atas dasar
adanya pandangan bahwa telah terjadi ketidakserasian
antara agama dan negara, saya kira kurang tepat sasaran.
Suasana kebatinan bangsa sejauh yang saya serap saat
ini, bukan pada perlunya Demokrasi Pancasila diperbarui. Melainkan adanya kegelisahn yang semakin menguat bahwa sejak reformasi 1998 hingga kini, para elit
strategis bangsa justru semakin menjauhi dan menafikan
kodrat Pancasila sebagai dasar falsafah negara yang saya
ibaratkan seperti fondasi rumah itu tadi.
Celakanya, tren ini justru berlangsung dan semakin
intensif di bawah payung produk-produk hukum dan
perundang-undangan sebagai derivasi atau turunan
langsung dari Undang-Undang Dasar 1945 hasil empat
kali amandemen.
Perkembangan inilah yang terus-terang sungguh merisaukan. Sebab sontak, saya teringat penulis Swedia,
Jury Lina. Dalam bukunya Architects of Deception the
Concealed History of Freemasonry berpandangan bahwa ada tiga cara untuk melemahkan dan menjajah suatu
negeri:
· Kaburkan sejarahnya.
203
· Hancurkan bukti-bukti sejarahnya agar tak bisa
dibuktikan kebenarannya.
· Putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya,
katakan bahwa leluhurnya itu bodoh dan
primitif.
Barang tentu yang dimaksud Jury Lina adalah ketika
negara asing berupaya menaklukkan sebuah bangsa
melalui cara dan sarana-sarana non-militer, atau yang
kerap saya istilahkan sebagai Perang Nir-Militer.
Dengan makna lain, penaklukkan suatu negara melalui
serangan-serangan non-militer ke sektor ideologi, politik-ekonomi, dan sosial-budaya.
Ironisnya, seperti diutarakan oleh Profesor. Dr. Kaelan,
M.S, dalam bukunya bertajuk Liberalisasi Ideologi Negara Pancasila, Guru Besar Fakultas Filsafat Universitas
Gajah Mada itu menulis bahwa justru Bangsa Indonesia
sendirilah yang saat ini merupakan satu-satunya bangsa
di dunia yang telah mengubur jatidirinya dalam-dalam.
Meskipun provokatif, namun pandangan Prof Kaelan
tersebut rasa-rasanya beralasan untuk menggugah kembali kesadaran dan keterlenaan kita saat ini akibat eforia
reformasi sejak 1998.
204
Betapa perkembangan saat ini bukan karena Demokrasi Pancasila mengalami stagnasi. Justru karena sebagai
fondasi negara Pancasila telah diabaikan dibuat mati
suri. Dibilang mati belum, namun dibilang hidup dia
kehilangan daya hidup dan vitalitasnya. Maka yang
mengkhwatirkan kemudian, bangsa dan negara kita
saat ini justru mengalami de-spiriualisasi agama. Dan
demoralisasi spiritual.
Itulah hakekat sesungguhnya dalam memaknai dan
membaca serangkaian peristiwa dan rentetan episode
menyusul merebaknya kasus Surah al Maidah ayat 51
yang bermuara pada Aksi bela Islam 411 212.
Kalau mau membuat Demokrasi Pancasila sesuai
ajakan bung Denny JA, saya kira ini merupakan sebuah
momentum yang amat bagus bagi semua komponen
strategis bangsa untuk kembali berpaling pada sejarah
asal usul Pancasila. Sebagai dasar untuk secara bersamasama melakukan Rekonstruksi Nasional. Kenapa?
Banyak kalangan boleh saja tahu sejarah muasal lahirnya Pancasila. Namun hanya segelintir orang yang menyadari betapa lahirnya Pancasila sejatinya merupakan
pertemuan antara pikiran sadar dan bawah sadar masyarakat di bumi nyusanbtara, yang dilahirkan melalui
wasilah berbagai komponen strategis masyarakat di
bumi nusantara yang dipercaya kala itu sebagai para
205
utusan di Sidang BPUPKI dan Sidang Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945.
Sehingga tal berlebihan jika Pancasila kita pandang
sebagai maha karya yang lahir dari local genius atau
kearifan lokal bangsa. Dengan makna lain, Pancasila
merupakan hasil daya cipta para bapak pendiri bangsa, utamanya Bung Karno. yang kelak menjadi presiden
pertama RI.
Maka selain cukup beralasan, dalam perkembangan
kesejarahannya, sejarah telah membuktikan ketika fondasi rumah tidak beres maka krisis dan kekacauan memancar di bangunan rumah dan interior design dalam
rumah. Itulah akar masalah di permukaan yang berlangsung saat ini yang titik puncaknya menjelma dalam
Aksi Bela Islam 411 dan 212.
Menyadari hal itu solusinya bukan pembaruan tapi rekonstruksi nasional. Mengembalikan Pancasila pada
kodrat dan jatidirinya sebagai dasar negara atau fondasi, dan bukan sebagai salah satu dari empat pilar. Lantas, bagaimana solusi yang kiranya bisa menjembantani
upaya ke arah rekonstruksi nasional seperti yang saya
maksud?
Usul sederhana saya, hidupkan kembali filsafat Pancasila. Tanpa dijembatani oleh hidupnya filsafat Pancasila,
206
maka kalau dianalogikan dalam Islam, Pancasila hanya
berhenti sebagai syariat. Tapi tidak pernah beranjak jadi
tarekat, hakekat dan makrifat. Kita sebagai bangsa akan
gagal menyerap hikmah dan ibrah dari Pancasila.
Maka kita perlu menggagas gerakan yang mana berbagai
komponen strategis bangsa tergugah kesadarannya
untuk menghidupkan kembali Filsafat Pancasila. Apalagi
negara kita ini, sejak runtuhnya Kerajaan Majapahit,
filsafat kita pun pada gilirannya ikut punah bersamanya.
Padahal kalau kita pelajari sejarah pergolakan politik
Jepang, sekadar sebagai rujukan perbandingan, yang
kemudian mengubah era Shogun Tokugawa ke era
Restorasi Meiji pada 1867, ternyata bukan dengan serta
merta gara-gara tekanan dan paksaan dari Komodor
Perry. Melainkan karena para elit Jepang sudah
siap lahir-batin. Sudah punya kontra skema untuk
menghadapi skema Komodor Perry yang semangatnya
adalah hendak menjajah atau mengkolonisasi Jepang.
Tekanan eksternal Komodor Perry justru dijadikan
stimulator bagi kalangan progresif di internal para elit
nasional Jepang dan memanfaatkan momentum untuk
melakukan gerakan progresif revolusioner di internal
Jepang itu sendiri, seraya menyingkirkan kaum konservatif dan reaksioner yang selama ini bersembunyi dan
mengatas-namakan Shogun Tokugawa.
207
Sebab sebelum adanya ancaman dari Komodor Perry,
di kalangan intelektual Jepang sudah terjadi pergolakan
pemikiran dan filsafat.
Sehingga ketika Jepang akhirnya tunduk pada desakan
Komodor Perry untuk membuka daerah-derah pelabuhannya kepada Barat, Jepang justru memanfaatkan
terjalinnya kontak dengan Barat, untuk mempelajari
kekuatan rahasia keberhasilan negara negara Eropa dan
Amerika. Sebab para elit progresif Jepang sudah punya
skema, strategi dan sistem untuk menangkal pengaruh
asing.
Sehingga Jepang sebagai kekuatan kolektif bangsa sudah
siap lahir-batin untuk berubah dan berhadapan dengan
pengaruh budaya dan peradaban dari negeri dan bangsa
asing, yang dalam hal ini berasal dari budaya dan
peradaban Barat.
Sehingga akhirnya Jepang bukan saja mampu menyerap
keunggulan Barat, namun saat yang sama malah mengilhami Jepang untuk menghidupkan jatidiri dan budaya
bangsanya untuk pergerakan maju ke depan yang bersifat progresif. Bukan mundur ke belakang yang bersifat
retrogresif. Dengan begitu, Jepang berhasil jadi negara
maju dan modern, seraya tetap jadi Jepang dan tidak
jadi kebarat-baratan.
208
Suasana kebatinan seperti di Jepang inilah yang tidak
ada di kalangan para elit strategis bangsa kita menjelang
kejatuhan Suharto pada Mei 1998. Alhasil, berbede
dengan succes story Restorasi Meiji 1867, lengsernya
Suharto justru jadi pintu masuk liberalisasi politik
dan ekonomi yang sejatinya atas tuntunan dari skema
kepentingan beberapa korporasi multinasional dari
Amerika Serikat, Eropa Barat, Jepang, dan bahkan saat
ini Cina.
Dengan kata lain, Indonesia Pasca Suharto, ditandai
oleh ketidaksiapan para elit strategis untuk menyusun
kontra skema terhadap kepentingan kapitalisme global
sehingga kita tidak punya skema, strategi dan sistem.
Dalam konteks inilah, menarik jika bung Denny JA
menggulirkan sebuah wacana menarik tentang Pembaruan Demokrasi Pancasila. Jangan-jangan, urgensi
pembaruan Demokrasi Pancasila disebabkan karena
reformasi sejak 1998 berjalan tanpa tuntunan skema,
stretegi dan sistem.
Kembali ke perbandingannya dengan Jepang. Mengapa
Jepang bisa begitu sedangkan kita ketika jalin kontak
dengan Barat malah jadi orang yang kehilangan jatidiri?
Jawabnya sederhana, karena kita tidak punya filsafat,
begitu masuk pengaruh luar, malah memicu pikiran
dan jiwa kita semakin kacau dan tidak tertata.
209
Maka itu, Filsafat Pancasila bisa jadi jembatan menuju
rekonstruksi nasional atas dasar rujukan dan landasan
yang tepat. Sebab melalui Filsafat Pancasila, kita akan
disadarkan kembali betapa Pancasila telah ada pada
bangsa Indonesia dan telah melekat pada bangsa
Indonesia dalam kehidupan sehari-hari berupa nilai
adat istiadat, nilai-nilai kebudayaan serta nilai-nilai
religius.
Nilai-nilai tersebut yang kemudian diangkat dan
dirumuskan oleh para pendiri bangsa (Founding
Fathers) diolah yang kemudian disahkan oleh Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18
Agustus 1945. Berdasarkan itu, maka pada hakekatnya
bangsa Indonesia ber-Pancasila dalam tiga asas atau
Tri Prakara (menurut istilah Prof Notonegoro) yang
rinciannya adalah sebagai berikut:
Pertama, Bahwa unsur-unsur Pancasila sebelum disahkan secara yuridis menjadi dasar filsafat negara, sudah
dimiliki oleh Bangsa Indonesia sebagai asas dalam adat
istiadat dan kebudayaan dalam arti luas (Pancasila Asas
Kebudayaan).
Kedua, Demikian juga unsure-unsur Pancasila telah terdapat pada Bangsa Indonesia sebagai asas-asas dalam
agama-agama (nilai-nilai religius) (Pancasila Asas Religius).
210
Ketiga, Unsur-unsur tadi kemudian diolah, dibahas dan
dirumuskan secara seksama oleh para pendiri negara
dalam Sidang-Sidang BPUK, Panitia Sembilan. Setelah
bangsa Indonesia merdeka rumusan Pancasila calon
dasar negara tersebut kemudian disahkan oleh PPKI
sebagai Dasar Filsafat Negara Indonesia dan terwujudlah
Pancasila sebagai asas kenegaraan (Pancasila asas
kenegaraan). (Kaelan: hal 42, 2015).
Dengan begitu jelaslah sudah, bahwa agenda strategis
yang mendesak adalah Rekonstruksi Nasional atas
dasar Pancasila sebagai dasar filsafat negara atau fondasi
bangunan rumah, baru kemudian kita musyawarahkan
bangunan dan interior desgin baru macam apa yang
sesuai dengan perkembangan dan tantangan zaman.
Selain daripada itu, sudah saatnya untuk menggagas kembali gerakan sadar geopolitik sebagai Ilmunya
Ketahanan Nasional. Geopolitik yang secara sederhananya bersendikan pemahaman tentang geoekonomi, geostrategic (lokasi dan letak geografis negeri kita dengan
negara lain) dan geokultural, pada perkembangannya
sangat membantu kita untuk kembali kenal diri, tahu
diri, dan tahu harga diri.
Terkait gagasan tersebut, maka gagasan Bung Denny JA
untuk menggulirkan wacana memperbarui Demokrasi
Pancasila, kiranya patut kita beri apresiasi yang setinggi211
tingginya. Setidaknya, Pancasila akan kembali jadi
pokok bahasan publik setelah sekian lama kita abaikan,
sehingga seolah-olah tidak ada. []
212
Demokrasi Pancasila yang
Diperbarui; Pancasila bukan
Panacea
Rocky Gerung
Dosen di Departemen Filsafat Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Indonesia (FIB-UI)
I
Setiap kali kita menghadapi krisis politik, acuan penyelesaiannya adalah Pancasila. Seolah-olah ia adalah Panacea, diminta “turun tangan” mengobati segala penyakit.
Tetapi realisasi dari “turun tangan” itu pernah justru
sangat menyakitkan: Orde Baru sangat ringan tangan
menghukum oposisi dengan Pancasila.
Memang, dalam sejarah politik kita, Pancasila lebih dipraktekkan sebagai ideologi penutup kritik, ketimbang
sebagai pembuka dialog. Bahkan setelah reformasi, ideologi ini terasa atavistik, karena klaim Sukarnoistik-nya
tampil dominan.
213
Kini, di hari-hari ini, ia juga terasa eksklusif karena dijadikan batas untuk mendefinisikan pendukung rezim
dan pengeritiknya. Bahkan diperluas menjadi penentu:
siapa yang pluralis, siapa yang fundamentalis. Pancasila jadi alat ukur politik. Alat ukur yang kaku bagi kebinekaan.
Akibatnya kelenturan kulturalnya hilang. Ia mengalami
reifikasi. Lalu, ada upaya melenturkan kembali hari-hari
ini.
II
Terbuka atau terselubung, ada psikologi lama yang kini
diedarkan lagi di masyarakat: pengeritik rezim adalah
anti pluralisme, juncto Pancasila. Psikologi ini tumbuh
dari arogansi yang memandang kritik kepada rezim sebagai ancaman pada kebinekaan.
Suatu psikologi yang tadinya menyudutkan, lalu kini
membelah masyarakat, karena kalkulasi politik yang
terbalik di Ibukota. Intelektualisasi bahkan diperlihatkan
untuk menebalkan batas antara pendukung dan
pengeritik rezim. Dibungkus dengan slogan-slogan
teoretis, Pancasila dijadikan alat “fit and proper test”
kebinekaan. Suatu metode naif dalam berpolitik.
214
Bila pada zaman Orba teknik ini dipraktekkan dengan
bantuan kaum intelektual yang dikendalikan negara,
di era ini teknik yang sama justeru dikerjakan oleh
elemen-elemen masyarakat sipil (yang juga terpelajar)
yang panik terhadap gejala delegitimasi rezim.
Semacam voluntarisme kekanak-kanakan memang sedang merebak di kalangan ini karena gugup dan gagap
melihat kapasitas rezim yang ternyata tak cukup “fit and
proper”.
Reaksi protektif itu menghasilkan sikap eksklusivisme.
Sikap inilah yang justeru makin menutup “percakapan
kewarganegaraan” untuk mencari “cara hidup bersama”
melalui Pancasila.
III
Memang hanya “cara hidup bersama” itu yang maksimal
dapat diupayakan melalui Pancasila. Bukan “tujuan hidup
bersama”. Jadi, obsesi untuk merumuskan “tujuan hidup
bersama” adalah fatalistik karena Pancasila itu sendiri
bukan suatu ideologi yang koheren. Hermeneutiknya
menyebar kemana-mana. Bahkan bisa paradoksal.
Misalnya, preskripsi “Ketuhanan” dalam sila ke-1 dapat
dibatalkan oleh prasyarat “Kerakyatan” pada sila ke-4.
Secara filosofis “Ketuhanan” dan “Kerakyatan” adalah
215
dua imperatif yang bertolak belakang. Sangat unik tentu
bila sintesanya adalah: “Kerakyatan yang berketuhanan”
atau “Ketuhanan yang berkerakyatan”. Tidak saja unik,
tapi juga aneh.
Apakah kita siap masuk dalam suatu debat konseptual
yang tajam seperti itu demi memperoleh kedalaman
diskursus tentang Pancasila, atau kita hindari itu demi
dalil “harga mati”?
Sebaliknya, bila Pancasila dibebaskan terbuka mengalami penafsiran, maka semua ideologi politik besar dapat
memilih bermukim di salah satu silanya. Hizbut Tahrir
misalnya, bila mau, dapat mengajukan argumen bahwa
sebagai aspirasi politik ia sejalan dengan sila ke-1 dan
sila ke-5. Islam mencakup aspek teologis sekaligus sosiologis.
Demikian halnya penganut Marxisme. Ia berhak mendalilkan aspirasi sosialnya sebagai sejalan dengan jiwa
sila ke-2 dan ke-5, misalnya. Tetapi bagaimana mungkin
itu dimungkinkan, bila yang mungkin hanyalah versi
“bukan ini, bukan itu”, versi rezim yang kini diikuti oleh
para intelektualnya, yang sebetulnya bertujuan “politics
of exclusion”. Bukan negara agama tapi bukan negara
sekuler, bebas berbeda tapi bukan liberal. Titik!
216
IV
Hambatan untuk memulai suatu pemaknaan baru dan
pengayaan Pancasila adalah mental atavistik yang kini
beredar justru di kalangan terpelajar. Jadi, upaya membuka dialog politik dengan platform Pancasila, sudah
dibatasi sejak awal oleh kondisi eksklusivisme tadi.
Padahal, suatu dialog otentik membutuhkan kesetaraan
posisi warganegara. Tak ada kejujuran mencapai konsensus bila satu pihak menyandang stigma fundamentalis, dan yang lain menikmati arogansi pluralis.
Saya simpulkan begini: Pancasila bukan ideologi yang
koheren. Ia mengandung dalam dirinya kondisi hermeneutik. Justru bagus untuk memulai percakaan
demokratis. Tetapi mental atavistik justeru terbawa dalam cara menafsirkannya hari-hari ini. Justru buruk untuk mengawali percakapan demokratis itu.
Tetapi, hal yang lebih urgen sebetulnya bukan soal kapasitas Pancasila sebagai ideologi, melainkan praktek material kehidupan berbangsa. Ideologi tak pernah mampu menghasilkan keadilan.
Kebijakan negaralah yang harus menyediakannya. Dan
kebijakan itu adalah hasil dari kapasitas konseptual
kepala negara. []
217
218
Pembaruan Demokrasi
Pancasila dan Ancaman “NKRI
Bersyariah”
Akhmad Sahal
Kandidat PhD, University of Pennsylvania, Amerika
Serikat. Pengurus Cabang Istimewa NU Amerika
Dalam tulisannya “Perlunya Menegaskan Komiten pada
Demokrasi Yang Diperbarui,” Denny J.A. mengajukan
platform pembaruan demokrasi Pancasila sebagai alternatif yang dipilihnya ketimbang platform-platform
politik lain yang menyeruak belakangan ini, termasuk
platform Negara Islam atau NKRI Bersyariah.
Di mata Denny J.A., platform Negara Islam yang menghendaki agar prinsip hukum Islam diterapkan dalam
ruang publik tidak cocok jika dipaksakan di Indonesia.
Bukan hanya karena mayoritas muslim Indonesia yang
moderat lebih memilih mendukung Pancasila dan menolak ide Negara Islam. Tapi juga karena NKRI berdiri
di atas faham kebangsaan modern, di mana basis keang-
219
gotaannya ditentukan bukan oleh agama seperti pada
masa pra modern, melainkan nasionalitas. Dan prinsip
kesetaraan warga negara yang terangkum dalam konsep
citizenship adalah pilar utama kebangsaan kita.
Pembaruan demokrasi Pancasila seperti diusulkan Denny J.A. memang merupakan suatu keniscayaan saat ini
apabila kita ingin membela Pancasila dan NKRI di tengah maraknya radikalisme Islam yang ingin menegakkan Khilafah dan membuang NKRI sama sekali, atau
masih tetap memakai NKRI tapi dengan diganti karakter kebinekannnya menjadi NKRI Bersyariah.
Wacana tentang NKRI Bersyariah gencar dikampanyekan oleh Front Pembela Islam (FPI) dan ormas radikal lain. Dalam berbagai kesempatan, imam besar FPI
Rizieq Shihab menyatakan tekadnya untuk mewujudkan penerapan syariah dalam bingkai Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Bagi FPI, NKRI Bersyariah merupakan manifestasi pelaksanaan sila pertama Pancasila,
yang menurut mereka merupakan sila tentang tauhid.
Dalam salah satu ceramahnya, Rizieq Shihab menyatakan: “Ketuhanan yang Maha Esa tidak lain dan tidak
bukan adalah laa ilaaha illallah (tiada Tuhan selain Allah). Nah jika asas-nya sudah tauhid, maka segala bentuk perundang-undangan yang bertentangan dengan
nilai-nilai luhur ketuhanan yang Maha Esa secara otomatis harus dibatalkan.”
220
Dengan mengibarkan panji “NKRI bersyariah,” FPI
selintas tampak mengakui keabsahan NKRI, berbeda
dengan HTI yang memvonis NKRI sebagai thaghut
dan kafir. Namun pengakuan tersebut hanyalah pintu
masuk bagi FPI cs untuk menggolkan agenda penerapan
syariah sebagai hukum nasional. Bisa dikatakan, Negara
bersyariah adalah Piagam Jakarta dalam versinya yang
baru. Dengan demikian, perbedaan antara FPI dan
HTI sejatinya hanya pada level taktik/ metode. Tujuan
mereka sebenarnya sama, yakni penegakan Negara
Syariah, entah dengan nama Khilafah (yang melampaui
sekat-sekat nation-state), atau negara dalam kerangka
nation-state.
Pancasila: Bertuhan Tuhannya Sendiri
Problem utama platform NKRI Bersyariah bukanlah
pada pemahaman para pendukungnya bahwa sila Ketuhanan Yang Maha Esa identik dengan tauhid, melainkan pada pemutlakan pemahaman tersebut sebagai
satu-satunya makna sila pertama Pancasila. Lebih-lebih
lagi kalau dari situ kemudian disimpulkan bahwa konsekuensi dari sila pertama adalah bahwa NKRI mesti
berdasarkan syariah, yang dianggap sebagai buah dari
keyakinan tauhid itu sendiri. Muslim yang mengakui
Pancasila juga banyak yang memaknai sila pertama sebagai sejalan dengan prinsip tauhid. Masalah baru mun221
cul ketika pemahaman itu dimutlakkan sebagai ukuran
tunggal dalam memaknai sila pertama Pancasila. Dan
itulah sikap para pendukung NKRI Bersyariah.
Pemonopolian tafsir sila pertama semacam itu jelas
bertentangan secara diametral dengan ide dasar Pancasila itu sendiri, yang merupakan common platform
bagi bangsa Indonesia yang berbineka. Pancasila dipilih sebagai dasar negara karena dengan cara itulah kebhinnekaan terjaga. Ikatan politik yang mendasarinya
bukanlah sentimen primordial, melainkan kesatuan
sebagai bangsa. Pancasila menjadi titik temu yang menyatukan warga Muslim dan non-Muslim dalam persaudaraan kebangsaan. Para pendiri bangsa kita menyadari, tuntutan menerapkan Piagam Jakarta dalam
konteks Indonesia yang majemuk akan berujung pada
perpecahan bangsa dan sektarianisme politiik.
Watak Pancasila sebagai common platform kebhinnekaan tercermin, misalnya, pada rumusan Sukarno dalam
pidatonya tentang Pancasila yang monumental pada 1
Juni 1945: “Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia
hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen
menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang
Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad
SAW, orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut
kitab-kitab yang ada padanya.”
222
Dengan menyatakan “bertuhan Tuhannya sendiri,”
Sukarno tak hanya mengakui karakter keberagamaan
bangsa Indonesia yang beragam. Sang proklamator juga
menegaskan kesetaraan hak penganut agama. Seorang
penganut agama, sembari meyakini kebenaran agamanya, dituntut juga untuk mengakui hak para penganut
agama lain untuk meyakini kebenaran agama mereka.
Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas
meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak mendesakkan sudut pandang agamanya
untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Tak ada sudut pandang agama
apa pun yang boleh mendominasi sudut pandang agama lain. Tak ada satu kelompok agama mana pun yang
berhak menilai agama lain dari sudut pandang sendiri.
Bung Karno lantas mewanti-wanti agar bangsa Indonesia “berTuhan secara kebudayaan” dengan saling menghormati antar pemeluk agama, dan tak terjebak dalam
apa yang ia sebut sebagai “egoisme agama.”
Egoisme agama semacam ini niscaya bertentangan dengan visi Bung Karno tentang Negara Indonesia sebagai
“semua milik semua,” bukan hanya menjadi milik satu
golongan tertentu, mayoritas atau minoritas. Kata Bung
Karno: “Kita hendak mendirikan suatu negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat
semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan
223
Islam buat Indonesia, tapi Indonesia buat Indonesia,
semua buat semua.”
Ketuhanan yang maha Esa mesti dipahami secara kebudayaan. Kata Bung Karno: “Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara kebudayaan, yakni tiada “egoisme
agama”. Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara
yang bertuhan! Marilah kita amalkan, jalankan agama,
baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.”
Dari sini menjadi jelas, pemutlakan pemahaman tentang
sila pertama seperti yang dilakukan FPI cs dengan NKRI
Bersyariah pada dasarnya adalah “egoisme-agama” yang
justru membatalkan karakter kebhinnekaan yang note
bene adalah raison d’etre NKRI.
Negara Pancasila Sudah Syar’i
Probem serius lain: jargon “NKRI Bersyariah” mengasumsikan bahwa NKRI yang mendasarkan diri pada
Pancasila tak sejalan dengan Syariah, bahkan mungkin
dianggap bertentangan dengan Syariah. Karena itu mereka mendesakkan platform NKRI Bersyariah.
224
Pandangan semacam ini jelas menyelisihi sikap dan
pandangan mayoritas musli Indonesia yang direpresentasikan oleh NU dan Muhammadiyah. Bagi dua ormas
islam terbesar Indonesia tersebut, Negara Pancasila untuk konteks Indonesia justru sesuai dengan prinsip Syariah, justru syar’i.
Dengan keputusannya itu, NU dan Muhammadiyah selintas tampak tidak menerapkan syariah dalam bernegara. Tapi itu hanya lahiriahnya saja. Dari segi substansi,
mereka justru menerapkan tujuan utama syariah, yakni
merealisasikan kemaslahatan bersama yang notabene
merupakan tujuan syariah. NU dan Muhammadiyah
menyadari, tuntutan menegakkan dawlah Islamiyah
atau khilafah dalam konteks Indonesia yang majemuk
akan berujung pada perpecahan bangsa dan sektarianisme politiik yang justru bertentangan dengan prinsip
maslahat.
Dalam Sidang Tanwir 2012 di Bandung, Muhammadiyah menegaskan posisinya bahwa Pancasila merupakan
konsensus nasional terbaik untuk bangsa yang majemuk
untuk mencapai cita-cita nasional. NKRI bagi Muhammadiyah merupakan negara perjanjian atau kesepakatan (Darul ‘Ahdi), negara kesaksian atau pembuktian
(Darus Syahadah), dan negara yang aman dan damai
(Darussalam).
225
Negara Perjanjian adalah negara yang didirikan atas
tegakkan dan dibangun atas dasar perjanjian dan kesepakatan di antara warganya. Selain sebagai Negara Perjanjian, NKRI juga merupakan Negara Kesaksian atau
Darus Syahadah. Syahadah yang merupakan kata dalam
bahasa Arab mengandung arti kesaksian, tapi juga bisa
berarti pembuktian. Dengan begitu, Darus Syahadah
adalah negara di mana warga negara atau kelompok
warga negara berlomba-lomba memberikan kesaksian
dan pembuktian kepada warga atau kelompok warga
negara lain tentang usaha dan kontribusi mereka dalam
mewujudkan cita-cita nasional. Dalam istilah Al-Qur’an
yang sangat popular di Muhammadiyah, fastabiqul
khairat (berlomba-lombalah dalam kebaikan). Dengan
begitu, Negara Kesaksian secara normatif menuntut
warganya untuk memberikan pengabdian mereka bagi
negara, sebagai manifestasi komitmen mereka terhadap
cita-cita bersama. Pengabdian warga Negara ini termanifestassikan, misalnya, dalam sikap taat hukum dan taat
konstitusi.
Begitu juga dengan NU. Berdasarkan pertimbangan
keagamaan yang diyakini oleh para ulama NU, NU
mengambil sikap secara tegas menerima Pancasila, dan
sikap itu diambil berdasar pertimbangan fikih (hukum
Islam). Dengan demikian, menurut NU, tidak ada alasan
untuk mempertentangkan antara Islam dan Pancasila
sebagai bentuk final. NU tidak lagi mempersoalkan
226
antara negara Pancasila dengan negara Islam.
Gus Dur dalam artikelnya “NU dan Negara Islam,”
menegaskan penolakannya terhadap ide negara Islam
karena hal itu memberangus heterogenitas Indonesia.
Ia juga memaparkan bahwa sikap NU yang menerima
keabsahan NKRI bersandar pada keputusan Muktamar
NU tahun1935 di Banjarmasin bahwa kawasan Hindia
Belanda wajib dipertahankan secara agama. Alasannya:
kaum muslim bisa bebas menjalankan ajaran Islam. Selain itu, di kawasan itu dahulu sudah ada Kerajaan Islam. Atas dasar itulah NU menyatakan komitmennya
kepada republik kita, yang berdasarkan Pancasila dan
bukan Islam. Ini ditunjukkan, misalnya, dengan Resolusi Jihad mempertahankan republik yang dikeluarkan
PBNU pada 22 Oktober 1945.
Walhasil, NKRI tidak dirancang untuk mengistimewakan
satu keompok agama di atas kelompok agama lain.
NKRI tak diniatkan untuk memperlakukan kaum
minoritas sebagai the others. Baik yang Muslim maupun
yang non-Muslim sama-sama menjadi pemilik yang
sah republik kita, republik yang dalam bahasa Sukarno
disebut sebagai “negara semua untuk semua,” di mana
egoisme agama melalui platform NKRI Bersyariah tak
mendapat tempat. Menegakkan NKRI Bersyariah sama
halnya dengan menabuh lonceng kematian bagi NKRI.
[]
227
228
Demokrasi Pancasila yang Diperbarui;
Indonesia 4.0 No 4 Sedunia
Dalam Kualitas Pada Seabad
2045
Christianto Wibisono
Ketua Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia
Pollster terkemuka Denny JA mengusulkan pembaruan
Demokrasi Pancasila untuk rekonsiliasi pasca kemelut
konflik SARA pilgub DKI yang bekepanjangan dengan
pola intrik makar ala Ken Arok 1182-1227 abad 13 yang
memakan korban Ken Ahok modern abad 21.
Denny mengandalkan pembaruan Pancasila untuk bisa
mengatasi konflik antar agama myoritas dan agama minoritas dengan sistim demokrasi “kuantitatif ” dalam
supremasi hukum yang menjamin HAK minoritas.
DR Rocky Gerung mengingatkan agar jangan terlalu
mensakralkan Pancasila menjadi sangat atavistic dan
229
menganggap sebagai panacea, obat generic untuk
segala simtom penyakit tanpa memahami akar masalah
dan sumber penyakit yang diderita oleh nation state
Indonesia.
Hemat saya, tidak ada ideology yang khas local, domestic, kabalistic semuanya pasti ada essensi dan substansi universalnya. Benci, cemburu, dengki dan iri adalah
suatu gejala manusia universal yang ada pada manusia
segala bangsa, suku, agama, ras, keturunan ditambah
factor perbedaan kelas yang baru di teorikan secara
massif dalam Marxisme oleh Karl Marx.
Tapi benih nya sudah dikenal sejak zaman baheula
dimana saja, termasuk ideology menggantungkan diri
pada ratu adil sebagai penguasa baru menggantikan
pengusaha lama. Biasanya yang baru itu kemudian juga
akan menjadi tamak, rakus, korup dan bangkrutlah
rezim itu justru karena KKN dari dalam tubuhnya
sendiri, bukan oleh invasi atau agresi dari luar. Yang
barangkali hanya berupa pemicu atau paku terakhir di
peti mati rezim lama yang bangkrut total.
Maka terjadilah suksesi antar dinasti pada pelbagai imperium baik pada tingkat sub regional kawasan maupun
imperium raksasa seperti dinasti Tiongkok, Mongol,
Romawi, Persia, Turki, Mogul hingga akhir abad pertengahan; abad XVI.
230
Ketika Eropa Barat mengalami skisma besar setengah
millennium, 5 abad atau 500 tahun lalu dengan
munculnyaMartin Luther di tahun 1517 mematerikan
doktrinnya merevisi altar fundamental gereja Katolik
Roma.
Menarik untuk dicatat bahwa dualism Tuhan vs Setan
muncul sejak Torat Yahudi ditulis Musa dan mengilhami
Zarathustra memakai dualism Ahura Mazda The Good
dan Angra Manyu The Devil. Spirit konflik antara Good
dan Evil dalam “dongeng” Kabil membunuh adiknya
Habil karena cemburu kinerja Habil lebih diperkenan
oleh Tuhan, menjadi sumber “hatred ideology” para
pelaku kekerasan terorisme politik bernuansa agama
abad 21.
Dalam konteks konflik ideology dan filsafati itulah
kita melihat itikad unifikasi Bung Karno untuk
menyatupadukan bangsa Indonesia dari pelbagai
suku dan etnis menempa solidaritas suatu nation state
modern yang melampaui etnis, suku, ras dan agama.
Ini memang suatu lompatan luarbiasa karena nation
state modern di Eropa juga baru dikenal setelah Treaty of Wesphalia 15 Mei 1648 setelah Perang Agama
berkepanjangan di Eropa pasca Reformasi Kristen Protestan Martin Luther. Perhatikan juga bahwa Perang
Salib antara penganut Kristen dan Islam sudah ber231
langsung hampir 200 tahun 1095-1291 memperebutkan
Eropa Selatan dan wilayah Israel Palestina.
Presiden Richard Nixon menulis buku Leaders mengingatkan bahwa tradisi demokrasi dengan suksesi tertib
memang diawali dari Barat yaitu Magna Charta 15 Juni
1215 yang membatasi kekuasaan absolut raja oleh elite
aristokrasi. Sementara di Timur Genghis Khan 11621227 menegakkan imperium otoriterMongolia dan Ken
Arok mendirikan dinasti Singasari.
Kublai Khan cucu Genghis Khan akan mengirim ekspedisi untuk menghukum raja Singasari, Kertanegara
yang berani memotong hidung utusan nya 1293. Karena
inteligen Kublai tidak cerdas mereka tidak sadar bahwa,
Kertanegara sudah lengser oleh raja Kediri, Jayakatwang. Ekspedisi Kublai diarahkan oleh Raden Wijaya
menghukum Jayakatwang dan meruntuhkan Kediri.
Ekspedisi Kublai pulang ke Tiongkok sedang Raden
Wijaya mendirikan imperium Majapahit yang bertahan
134 tahun (1293-1527). Pada periode Majapahit itulah
Laksamana ZhengHe (1371-1433) memimpin ekspedisi
pada dinasti Ming (1368-1644) dan sebagian Wali Sanga
pendakwah agama Islam memimpin pengIslaman Jawa
berbuntut runtuhnya Majapahir dan lahirnya kerajaan
local Islam Nusantara.
232
Semua kesultanan local itu dalam visi Bung Karno tidak
mampu membangun imperium ketiga mengikuti jejak
Sriwijaya dan Majapahit.Pidato Lahirnya Pancasila 1
Juni 1945 jelas memastikan bahwa Indonesia merdeka
adalah nation state modern, bukan teokrasi kafilah dan
juga tidak mutlak steril sekuler melainkan menghormati
agama dan pemeluknya sebagai perwujudan hak asasi
manusia yang paling fundamental yang tidak dicampuri
negara.
Inilah trobosan Indonesia sebagai negara non teokrasi
non kalifah meskipun mayoritas penduduknya Muslim.
Sementara pada tingkat global dan universal juga
terjadi pertarungan antara kekuatan yang mengacu
pada “Pancasila” dan kekuatan kalifah syariah seperti
yang terjadi di Turki dan Mesir. Ataturk adalah penegak
ideology non kafilah diikuti oleh Nasser di Mesir.
Sementara itu riwayat skisma internal Syiah dan Sunni,
antara Iran dan Saudi Arabia masih terus berlangsung
hingga era Donald Trump yang 21 Mei 2017 ini akan
mengadakan KTT dengan Arab Saudi, GGC dan sekaligus ber KTT dengan Sri Paus dan Israel untuk mengupayakan perdamaian tuntas Israel Palestina.
Dalam masalah konflik Islam religi vs Islam politik yang
menyangkut factor sangat eksistensial bagi negara ini,
maka jelas Pancasila memang harus menjadi ideology
233
yang kuat untuk melawan tarikan “syariahime dan kilafahsime”. Bila tidak, maka Indonesia tidak akan survive
bila dipaksa memilih antara Pancasila dan “Piagam Jakarta”.
Pancasila itu sendiri memang tidak untuk di sacral kan.
Justru harus diterapkan dalam kehidupan sehari hari,
dengan pelbagai political behavior yang mencerminkan
nilai luhur yang terkandung dalam istilah yang
sebetulnya tidak muluk muluk tapi sangat esensial bagi
masyarakat di tingkat grass roots.
Sayang memang bila Pancasila itu dijadikan semacam
“keris Empu Gandring” yang hanya dipakai untuk
menikam lawan politik tapi bukan dijadikan “tolok
ukur” atau benchmasking pelaksanaan ideology negara
secara konkret membumi. Sama dengan San Min Chu
I di Tiongkok yang gagal karena rezim Kuo Min Tang
yang mencetuskan gagasan itu di bawah Sun Yat Sen,
dibajak oleh rezim warlord Chiang KaiShek dan korup
membangkrutkan Tiongkok hingga tergusur oleh rezim
Kung Chan Tang Partai Komunis Tiongkok di bawah
Mao Zedong.
Tapi setelah 30 tahun menerapkan Marxisme, Deng
Xiao Ping kapok dengan kegagalan rezim leninis Marxis
untuk mendeliver sembako di pasar, maka Deng tegas
menyatakan bahwa Tiongkok akan kembali ke pasar,
234
sebab pasar lebih tua dari Marxisme. Sedang Marxisme
yang dibajak oleh oligarki partai yang korup gagal
meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kemakmuran
ekonomi Tiongkok.
Kita di Indonesia tidak bisa lepas dari konflik ideology
dan konflik political behavior elite politik yang
bersumber pada dikotomi “good vs evil” yang bersifat
universal, generic dan tidak bisa di stereotyping sebagai
politik identitas, suku, ras, agama, kelas, nation state.
Orang, dinasti, nation state bisa berubah behaviournya
dari baik menjadi buruk, dari good menjadi evil.
Akhirnya golden rule Jayabaya yang akan berlaku,
bahwa at the end of the day, di ujungnya yang salah akan
terhukum, yang benar akan terselamatkan meskipun
mengalami penzoliman sementara.
Golden rule hukum karma sangat valid dan kita harus
percaya bahwa dalam sejarah ummat manusia dari
pelbagai imperium Tuhan itu tidak pilih kasih memilih
suatu bangsa atau ras dan agama tertentu untuk
memperolah berkat berlimpah secara tidak “adil”.
Sampai abad ke XVI semua bangsa pernah diberi
“kenikmatan” memiliki penguasa local yang “direstui”
oleh kekuatan supranatural Tuhan Yang Maha Kuasa.
Sejarah mengenal imperium Accadia, Assiria, Babilonia,
235
Cartago, Mesir, Persia, Romawi, Tiongkok, Yunani
bahkan Sriwijaya dan Majapahit dengan bukti kinerja
candi Borobudur didirikan 830 setara piramida Mesir
dan Tembok Besari Tiongkok.
Sejak abad XVI muncul imperium global yang diawali
oleh penjarahan harta karun Indian Amerika di Amerika Selatan oleh Spanyol. Prof Paul Kennedy menyebut
ini era Pax Hispanica, Spanyol menjadi negara terkaya
dunia karena menjarah harta karun emas berlian Indian
Amerika.
Harta karun itu akan membuat Spanyol malas dan dilanda inflasi serta akan merosot setelah kekalahan oleh Inggris. Setelah itu Pax Neerlandica, Belanda memonopoli
perdagangan rempah rempah Nusantara, menjadi negara terkaya didunia.
Sejarah juga mencatat Indonesia adalah satu satunya
negara bekas terjajah yang justru dibebani melunasi utang kepada negara induk kolonialnya senilai US$
1,130 milyar dalam perjanjian KMB Desember 1949. Ini
suatu ironi dan blunder demokrasi akibat terlalu percaya janji AS bahwa AS akan mengucurkan bantuan besar besaran untuk RI setelah berdamai dengan Belanda.
Ternyata yang direalisasi hanya feasibility dan kredit
ekspor lunak untuk Semen Gresik dan Pupuk Sriwijaya.
236
Utang itu akan dilunasi hingga sisa US$ 171 juta pada
1956. Kemudian pada 1967 Indonesia menasionalisasi
semua perusahaan Belanda yang akan menjadi blunder
juga karena berakibat menghancurkan sistim logistic
nasional ketika KPM diambil alih tanpa persiapan.
Sejak itu ongkos angkut dari Pontianak ke Jakarta lebih
mahal dari Shanghai Jakarta dan hingga detik ini beaya
logistic antar pulau di Indonesia menjadi komponen
logistic termahal sedunia. Ini yang akan ditrobos oleh
Presiden Jokowi dengan strategi pembangunan Poros
Maritim.
Secara geopolitik juga akan menghasilkan sinergi
dengan Belt Road Initiative Presiden Xi Jin Ping
yang baru diresmikan 15 Mei 2017 dengan pelbagai
proyek infrastruktur Transeurasia lewat darat maupun
maritime.
Dalam konteks perjalanan hidup bangsa kita, maka
pada era Indonesia 1.0 periode 1945-1966 meskipun
konstitusi mengalami amandeman dan perubahan, tapi
modul dasar Pancasila, tetap substansi dan essensinya.
Era 1.0 di bawah Presiden Sukarno ini mengalami
pelbagai adaptasi konsitusi, mulai dari Maklumat Wk
Presiden no X 16 Oktober 1945 yang merubah sistim
cabinet presidensial ke parlementer sehingga Presiden
Sukarno diganti oleh PM Sutan Syahrir pada 14
November 1945.
237
Dibalik formalitas itu ada “black campaign” isu bahwa
Bung Karno dan Bung Hatta, tidak disukai oleh Sekutu
karena dianggap kolaborator Jepang karena keduanya
terkait dengan Putera, lembaga mobilisasi rakyat
pengerah romusha Jepang.
Dalam konteks political behavior ini memang harus
diakui bahwa sulit memahami “kompromi” maupun
toleransi yang dipraktekkan oleh para tokoh elite nasional Indonesia dizaman perjuangan kemerdekaan sebelum dan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.
Sebelum kemerdekaan, sejak Belanda memberi kesempatan kepada elite nasional untuk ikut dalam Volksraad atau Dewan Rakyat 1908 maka elite terpecah dua.
Golongan yang menyambut baik dan menerima tawaran
dan peluang untuk duduk dalam badan “legislative” itu
disebut golongan ko(operatif).
Di pihak lain, Bung Karno, Hatta, Syahrir dan lain lain
yang menolak disebut golongan non ko. Dalam perspektif
jangka panjang, kita sekarang tentu tidak boleh dan tidak
bisa lagi mencap golongan ko sebagai “antek kolonialis
Hindia Belanda”. Sebab diantara mereka ada tokoh
pejuang kepentingan rakyat seperti Mohamad Husnie
Thamrin yang harus dihargai perjuangannya melalui
jalur Volksraad untuk masyarakat Jakarta. Karena itulah
namanya diabadikan dalam proyek perbaikan kampong
238
yang menjadi percontohan Bank Dunia, oleh Gubernur
Ali Sadikin.
Dalam konteks sejarah kita maka posisioning elite kita
yang tidak bisa mengelak dari turbulensi geopolitik
dan tekanan opini internasional tidak hanya terjadi di
era digital medsos 2017 tapi juga sudah berlangsung
sejak perjuangan kemerdekaan dan ditengah negosiasi
dengan Belanda pun terjadi konflik internal dikalangan
elite kita yang saling mempergunakan propaganda
populisme dan xenophobia.
Pada era Indonesia 1.0 ini selama 5 tahun pertama, berperan dwitunggal Sukarno Hatta memayungi dwitunggal Syahrir Amir Syarifuddin. Presiden Sukarno menjadi
Perdana Menteri cabinet presidensial pertama kemudian diganti oleh Syahrir lalu Amir Syarifudin yang tragis
ikut pemberontakan PKI Madiun 1948 dan diganti oleh
Bung Hatta sampai RIS diakui melalui KMB.
Setelah itu Natsir dan Sukiman dari Masyumi jadi PM
ke 5 dan ke 6 disusul Wilopo dan Ali Sastroamijoyo dari
PNI sebagai PM ke 7 dan ke 8. PM ke 9 Burhanudin
Harahap dari Masyumi menyelenggarakan pemilu terbersih dalam sejarah RI menghasilkan 4 besar partai pemenang PNI, Masyumi, NU, PKIdan Ali Sastroamijoyo
menjadi satu satunya orang Indonesia yang sampai waktu itu survive dan sukses menjadi PM tidak berurutan.
239
Biasanya kultur Indonesia sekali berkuasa bila turun
akan sulit untuk “come back” apalagi bila system
politiknya semakin otoritarian.
Pada tahun 1957 kabinet Ali Sastroamijoyo bubar dan
Presiden Sukarno menunjuk dirinya sendiri menjadi
formatur serta mengangkat tokoh non partai Ir Djuanda sebagai Perdana Menteri RI ke-10 dan mulai memasukkan militer dalam kabinet. KSAD Nasution malah
diangkat jadi Penguasa Perang Pusat sebab negara dinyatakan dalam keadaan perang sejak jatuhnya kabinet
Ali II hasil pemilu 1955.
Konstituante gagal menyelesaikan tugas karena dead
lock voting 4 kali antara kubu Pancasila vs kubu Piagam
Jakarta dan Presiden Sukarno mendekritkan kembali
ke UUD 1945 pada 5 Juli 1959 dan mulai memimpin
langsung sistim presidensial sebagai PM sejak Kabinet
Kerja 10 Juli 1959.
Bung Karno akanmembubarkan DPR hasil pemilu
diganti dengan DPRGR yang sebagian besar anggotanya
diangkat oleh Presiden dan hanya sebagian kecil anggota
DPR terpilih 1955.
Bung Karno hanya akan menjadi “presiden otoriter”
praktis selama 5 tahun, sebab sejak 1 Oktober 1965
ketika Pangkostrad Mayjen Soeharto mbalelo menolak
240
lapor ke Halim sebetulnya wangsit kepresidenan sudah
berangsur pindah ke capres RI ke-2 yang akan menerima
Supersemat pada 11 Maret 1966.
Yang terjadi di Indonesia 1966 adalah turbulensi
domestic nasional yang berdampak durian runtuh bagi
Paman Sam yang sedang terpojok di Vietnam oleh
invasi Vietcong. Dalam sekejap RI berubah dari poros
Jakarta Pnom Penh Hanoi Beijing Pyongyang, menjadi
anti komunis, anti RRT dan memutuskan hubungan
dengan Beijing.
Indonesia 2.0 yang anti komunis, akan survive 32 tahun
dengan slogal Demokrasi Pancasila yang menertibkan
partai menjadi 2 buah dan 1 Golkar yang enggan disebut
partai karena merasa lebih “bersih” dari citra partai yang
gagal era Orde Lama. Soeharto secara otoriter berkuasa
32 tahun sejak 1966 ditengah gelombang Perang Dingin
dan “dipelihara” oleh 7 presiden AS sejak Johnson,
Nixon, Ford, Carter, Reagan, Bush hingga Clinton.
Presiden Soeharto memobilisasi ideologi Pancasila
melekat dengan eksistensi pribadinya. Dalam suatu
pidato yang memicu reaksi Petisi 50 Soeharto
mempersonifikasi dirinya sebagai satu satunya yang bisa
mempertahankan ideology Pancasila.
241
Lebih baik menculik seorang anggota MPR supaya tidak
tercapai quorum 2/3 untuk merubah Pancasila (baca:
yang mau mengganti dirinya sebagai Presiden adalah
lawan Pancasila). P4 yang berlangsung 20 tahun, tidak
bisa mempertahankan Soeharto yang akan mengalami
tekanan politik dan lengser 21 Mei 1998. Elite politik
meninggalkan Soeharto yang mengalami hukum karma
unik dari pre destinasi supranatural.
Pada 18 Maret 1966 Soeharto menggunakan supersemar
untuk menahan 15 menteri cabinet Dwikora II. Pada
20 Mei 1997 Soeharto ditinggalkan oleh 15 menteri
kabinetnya yang mbalelo tidak mau duduk dalam
cabinet lagi, sehingga Soeharto lengser 21 Mei 1998.
Kembali terjadi siklus daur ulang Ken Arok, Soeharto
sangat marah dengan perilaku Wapresnya Habibie yang
dinilai mengkhianati sehingg sampai wafatnya Soeharto
tidak bersedia di bezoek oleh Habibie.
Dalam situasi seperti itulah Habibie secara ajaib
memimpin Indonesia 3.0 transisi menuju kematangan
demokrasi yang mendadak lahir setelah Soeharto
berhenti diluar dugaan dan scenario pakar manapun.
Habibie segera memperlihatkan jiwa besar dengan
membebaskan tahanan politik, mengizinkan terbitnya
kembali Tempo yang dibreidel karena memberitakan
korupsi pembelian kapal selam ex Jerman oleh dirinya,
tidak bersedia dicalonkan karena ditolak laporan
pertanggunganjawabnya oleh MPR hasil pemilu 1999.
242
Justru yang terjadi pada pergantian presiden ke-3 oleh
presiden ke-4, terjadi lagi maneuver politik yang diluar
“fatsoen (kepatutan) politik. Abdurahman Wahid dari
PKB yang lebih kecil dari PDIP justru menang dalam
voting di MPR karena maneuver Poros Tengah ciptaan
Ketua MPR Amien Rais. Tapi anomaly ini hanya
berlangsung 21 bulan sebab pada Juli 2001, MPR yang
sama akan memakzulkan Gus Dur dan mendudukkan
Megawati sebagai presiden RI ke-5 yang memang
berhak sebagai ketum partai pemenang kursi terbanyak
di MPR.
Meskipun putra proklamator dan presiden pertama,
Megawati sebagai petahana akan dikalahkan oleh
mantan Menko nya SBY sebagai presiden RI ke-6
dalam 2 kali pemilu 2004 dan 2009. SBY akan survive
menjalani 2 masa jabatan dengan mengganti pasangan
wapresnya dari Jusuf Kalla ke Boediono.
Secara ajaib, Jusuf Kalla akan come back pada pemilu
2014 sebagai wapres mendampingi presiden ke-7 Joko
Widodo. Semua ini masih era Indonesia 3.0 pasca
Reformasi 1998.
Bagaimana prospek dan perspektif Indonesia 4.0 suatu
Indonesia yang diharapkan bisa mendeliver ideology
Pancasila secara konkret. Bukan sebagai ideology
atavistic muluk luhur yang tidak mampu memproduksi
deliverables, kerja nyata yang dinikmati rakyat banyak.
243
Tercermin dari behavior elitenya mempraktekkan nilai
luhur Pancasila. Pusat Data Bisnis Indonesia sudah
menelusuri sejarah politik ekonomi bisnis Indonesia
danmenemukan bahwa kata kuncinya adalah bagaimana
menekan ICOR yang 6,4 menjadi 2 atau 3.
Mengamati semua rezim ekonomi politik sejak etatisme
sosialistis kiri Orla Indonesia 1.0, rezim developmentalis
Orba Indonesia 2.0 dan turbulensi Indonesia 3.0 maka
bila elite Indonesia mawas diri untuk menerapkan
golden rule, meritocracy, maka Indonesia akan
melampaui era transisi dan bertransformasi menjadi
negara demokrasi matang, dewasa dan modern dan
mentas menjadi negara kelas menengah berpendapatan
US$ 50.000 pada usia seabad 2045.
Dalam pameo elite sebetulnya oposisi juga menikmati
kompensasi sama dengan partai pendukung pemerintah.
Boleh dan bisa pendapat debat sengit di DPR, asal
pendapatan nya sama (artinya gaji, remunerasi, insentif
proyek dsb dsb) oposisi menerima bagian yang sama
dengan pendukung pemerintah.
Jadi yang diminta adalah kesadaran untuk menghormati
aturan main, khususnya kesabaran menunggu term
masa jabatan kepresidenan. Ibarat main sepak bola,
tentu orang harus menghormati masa 2x 45 menit serta
244
jedah untuk mengganti pemain dan tidak setiap detik,
menit waktu minta paksa ganti pemain menggotong
petahana keluar lapangan.
Sekarang kansudah dibatasi 2 kali masa jabatan 10 tahun
jadi harus bersabar tidak sembarangan memakzulkan
petahana presiden ataupun gubernur. Sportivitas,
keksatriaan, itu yang menjadi suri tauladan dari elite
panutan kepada masyarakat.
Tentunya bukan hanya dalam adegan dilayar TV saling
berpelukan tapi di lapangan grass roots terjadi clack
campaign dan fitnah yang bermuara pada kebencian
antar sara yang menyulut ideology kebencian yang
bila meledak menjadi SARA ala Mei 1998 akan bisa
menghancurkan Indonesia bahkan melenyapkannya
seperti Uni Soviet dan Yugoslavia.
Sungguh tidak nyaman ketika mendengar emosi
Presiden RI ke7 Rabu 17 Mei 2017 yang menggunakan
istilah gebuk terhadap mereka yang mau mengkudeta
secara inkonstitusional persis seperti adegan emosional
Presiden ke-2 di pesawat setelah melawat ke Yugoslavia
dan Uni Soviet pada 13 September 1989.
Dengan segala hormat kepada seluruh elite, sudah tiba
waktunya elite Indonesia mawas diri dan mengentaskan
diri dari penyakit Ken Arok abad primitive, menghalal-
245
kan segala cara untuk berkuasa dengan memfitnah adu
domba dan mempermainkan kebencian emosi rakyat
secara tidak terkendali sebab dampaknya bisa seperti
api bunuh diri yang membakar rumah kita sendiri.
Jika seluruh energy hiruk pikuk sekitar pilgub ini dikerahkan secara positif pastilah pertumbuhan ekonomi
kita bisa mencapai 7 % atau bahkan double digit. Dengan pertumbuhan 7 % saja, pendapatan per kapita kita
bakal double setiap 7 tahun. Itu artinya dalam 28 tahun
sejak 2017 sampai 2045 pendapatan per kapita kita akan
mencapai US$7.000 pada 2024, US$ 14.000–2031, US$
28.000-2038 dan US$ 56.000 tepat seabad RUI 2045.
Jawaban dan tanggungjawab atas pencapaian itu bukan
tergantung pada Donald Trump, Xi JinPing atau Putin
atau seorang Jokowi, tapi juga pada seluruh elite yang
terlibat dalam pengelolaan nation state Indonesia.
Anda ini sedang menjadi salah satu dari 10.000 elite
yang menentukan nasib Indonesia dengan behavior
anda sebagai politisi “bunuh diri” atau ikut dalam barisan negarawan melestarikan eksistensi Indonesia.
Apakah kita akan menjadi Indonesia 4.0 yang mampu
mengorbitkan RI menjadi no 4 sedunia dalam kualitas
pada usia seabad 2045 dan bukan sekedar kuantitas
seperti sekarang dengan peringkat kinerja yang terpuruk
246
disbanding negara lain karena tingkah laku elite politik
yang tidak terpuji dan tidak mendukung kinerja optimal
nation state modern Indonesia.
Jangan salahkan Tuhan bila RI jadi Yugoslavia atau Uni
Soviet, salahkan diri anda sendiri karena surat Al Rad
yang jadi favorit Bung Karno mengingatkan: “Tuhan
tidak akan memperbaiki nasib suatu bangsa bila bangsa
itu sendiri tidak ingin memperbaiki nasibnya.”
Saya sendiri percaya bahwa jumlah elite dan massa
yang “baik” lebih banyak dari keluarga Lot. Yang
menyebabkan Tuhan menghukum Sodom dan Gomora
karena jumlah orang baik “kurang sari 5 orang”. Kita
percaya bahwa Indonesia masih memenuhi syarat
kuantitatif untuk bertobat dan diselamatkan seperti
Niniwe dizaman Nabi Junus.
Syaratnya mudah, laksanakan Pancasila secara praktis,
sehari hari, perilaku yang tidak munafik, yang mendeliver, janji, program dan kinerja secara tuntas, lugas dan
konkret. Tidak perlu di teorikan, dikeramatkan, dimobilisasi, indoktrinasi lagi, malah sudah memuakkan dan
menjengkelkan.
Hanya perlu didelivery konkret seperti makanan yang
disajikan ojek Uber sesuai kebutuhan dan timing. Jangan
tunggu sampai 2019, tapi harus di deliver sekarang juga.
247
Tantangannya adalah apakah kita terpuruk lenyap dari
peta geopolitik seperti Yugoslavia dan Uni Soviet atau
kita melejit jadi nation state no 4 sedunia dalam kualitas
pada Seabad Indonesia 2045. []
248
Demokrasi Pancasila Dalam
Praktek
Geisz Chalifah
Pengamat politik, Mantan pengurus KAHMI
Denny JA menulis poin-poin gagasan wacana demokrasi Pancasila yang diperbarui, untuk diskusikan bersama
agar mendapat rumusan demokrasi pancasila yang disepakati bersama secara kekinian.
Tulisan itu merujuk pada konteks pilkada DKI Jakarta
dimana pertarungan gagasan dan kompetisi antar pasangan calon maupun pendukung berlangsung sengit dan
mendebarkan.
Sengit karena media sosial menjadi ladang ekspresi kebencian dan ratusan berita hoax yang dikirim dan di
viralkan ke segenap pendukung maupun lawan politik.
Mendebarkan karena ada kekhawatiran Pilkada DKI
akan berujung pada kericuhan sosial dan disintegrasi
bangsa.
249
Sesungguhnya Indonesia sudah terbiasa mengadakan
pesta demokrasi yang rutin dilakukan baik pemilihan
Presiden maupun pemilihan Gurbernur maupun Bupati
dan Walikota.
Perbedaan pilihan di masyarakat sudah rutin terjadi
dan tak memiliki efek apapun setelah pilpres maupun
pilkada selesai. Kehidupan kembali berjalan normal,
semua konflik berujung di Mahkamah Konstitusi dan
ketika palu di ketuk maka semua kembali pulang baik
yang kalah maupun yang menang menerima. Kembali
bekerja dalam profesinya masing-masing.
Kesadaran rakyat untuk tidak memperpanjang persoalan dalam setiap Pilpres maupun pilkada merupakan
peradaban yang sehat, karena berbeda dalam pilihan
adalah hal biasa yang menang maupun yang kalah telah
ditentukan nasibnya dalam kotak suara.
Namun yang tak biasa adalah dalam menyikapi perbedaan itu sendiri dan lebih aneh lagi ketika elit politik
dan aparat Negara malah menunjukkan sikap sebaliknya.
250
Kasus Pilkada DKI Berkaca Dengan Sikap SBY
Dalam pilpres 2014 pertarungan antara Prabowo dan
Jokowi juga merupakan pertarungan yang sengit, saling
mengklaim sebagai paling NKRI disatu sisi dan paling
Islam disisi lainnya. Klaim-klaim sepihak itu memasuki
ranah masyarakat luas, berbagai keluarga dan komunitas terbelah.
Namun kemanan dan kenyamanan tetap kondusif. SBY
sebagai Presiden melakukan tugas menjaga segalanya
berlangsung dengan proporsional .
Tidak nampak secara kasat mata ada pemihakan dari
aparat maupun birokrasi terhadap salah satu pasang
calon.
Dengan segala kekurangannya SBY telah menunjukkan
dirinya sebagai presiden dengan bersikap proporsional,
aparat kepolisian dan birokrasi tetap sebagai fungsinya
tidak nampak dalam kepermukaan dengan berfihak
pada salah satu pasangan calon.
SBY menjaga agar turunnya dia sebagai presiden dalam
mengakhiri masa jabatan dengan terhormat dan berwibawa.
251
Berbeda dengan pilkada kali ini, aparat kepolisian sangat
nampak dan kasat mata memberikan dukungan pada
Basuki Tjahaya Purnama dan Djarot Saiful Hidayat.
Situasi yang memanas di lapisan bawah di perparah
dengan aparat birokrasi yang terkesan memberikan
pemihakan, kartu Jakarta Lansia yang belum di agendakan dan disetujui oleh DPRD tiba-tiba sudah mulai
di berikan melalui Bank DKI tanpa ada legalitas, aparta
kepolisian berkali-kali melakukan panggilan pada
pasangan calon Agus-Sylvi maupun Anies-Sandi dengan
kasus-kasus yang sumir dan terkesan dipaksakan.
Hanya sekedar untuk memberi kesan negativ dimata
pemilih tapi berlaku sebaliknya terhadap pasangan
Basuki dan Djarot, bahkan aparat polisi ikut terlibat
dalam mengamankan pembagian sembako diminngu
tenang yang jelas – jelas melanggar aturan KPUD.
Jokowi Dalam Praktek Demokrasi
Presiden Jokowi yang dipilih dalam pilpres 2014 dan
salah satu alasan masyarakat memilihnya adalah dia dari
masyarakat sipil biasa akan lebih mengamankan hak –
hak rakyat, yang dinilai jauh berbeda dengan Prabowo
yang berlatar belakang militer dan punya kasus-kasus
masa lalu.
252
Ada ketakutan bila memilih Prabowo maka demokrasi
yang sedang dibangun akan mundur kembali mengingat
Prabowo adalah salah satu jendral dimasa orba yang
sepak terjangnya memiliki banyak persoalan dimasa
lalu.
Namun demikian ternyata persepsi yang digaungkan
di masa pilpres menjadi bertolak belakang setelah pilpres selesai. Prabowo dalam berbagai persoalan politik
yang hangat terkesan tampil sebagai negarawan yang
mendinginkan suasana dan tidak mengambil kesempatan untuk memanfaatkan situasi untuk membalas kekalahan didalam pilpres.
Menariknya Presiden Jokowi yang dicitrakan moderat
karena berlakang belakang sipil malah tidak terampil
dalam menunjukkan sisi kenegarawanan. Sebagai Presiden yang selayaknya netral dan menjadi pemimpin untuk semua namun bersikap sebaliknya.
Jokowi baik secara implisit maupun eksplisit secara
terang benderang memberikan dukungan pada Basuki
Tjahaya Purnama. Dalam berbagai kesempatan Jokowi member signal pada masyarakat melalui media atas
dukungannya pada BTP.
Sikap Jokowi yang demikian itu menjadikan aparat
kepolisian di bawah kendalinya maupun Luhut Binsar
253
Panjaitan sebagai menteri kordinator tanpa malu-malu
memberikan pengamanan dan dukungan dalam pilkada
DKI ini yang terefleksi dalam berbagai kesempatan.
Demokrasi Pancasila menurut Denny perlu diperbahrui
Saya tak begitu tertarik dengan wacana pembaruan Pancasila, karena pancasila sebagai ideologi Negara sudah
diterima secara mutlak oleh seluruh lapisan masyarakat.
Adapaun sekat – sekat perbedaan politik dan segmentasi didalam masyarakat dalam kejadian pilkada kemarin
lebih kepada tidak taatnya elit politik dalam aturan main
yang telah disepakati bersama.
Partai politik yang menjadi alat kontrol pemerintah
menjadi lemah, karena penguasa dan partai berada
dalam satu barisan bekerja sama untuk memenangkan
calon tertentu.
Demokrasi yang sudah berlangsung sejak di praktekkan
pasca reformasi dan secara gradual mulai berlangsung
dalam koridor, kembali mundur secara etika karena
pemerintah (Penguasa/Presiden) tidak komited terhadap etika demokrasi yang selayaknya dijaga dan dikembangkan secara formal maupun non formal.
254
Adapun sekat-sekat politik aliran dan sebagainya adalah
keniscayaan dalam sebuah Negara yang bhineka. Tak
ada di Negara demokrasi manapun ada batasan dalam
memilih seorang calon gurbernur berdasarkan, kedekatan kelompok, suku, agama, maupun isu primordial
lainnya.
Bahkan isu perempuan dalam kompetisi politik seringkali menjadi pertimbangan untuk menetapkan pasangan
calon.
Pemilih tidak bisa dikurung pikirannya dengan batasan
hanya boleh memilih dengan krteria tertentu seperti
kinerja dan kompetensi.
Ada banyak spektrum dalam benak pemilih dalam
menjatuhkan pilihan.
Dalam semua segi itu yang menjadi acuan utama adalah
aturan main yang adil dan proporsional. Untuk itu di
perlukan sikap pemerintah yang jelas, tegas dan taat
pada aturan main yang telah disepakati bersama.
Islam Sebagai Agama Mayoritas
Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas dalam setiap moment politik selalu menjadi wacana, ada
255
yang bersikeras untuk memisahkan agama dalam politik namun dalam situasi dan kesempatan lain yang mewacanakan hal demikian bersikap sebaliknya dengan
membangun opini bahwa calon yang didukungnya itu
adalah calon yang berkesesuaian dengan etika maupun
prasarat yang didengungkan dalam Islam.
Penolakan Islam dalam politik dalam prakteknya hanyalah soal siapa calon yang diunggulkan, karena siapapun elite di republik ini faham bahwa islam tidak bisa
dipisahkan dengan politik.
Bahkan sejarah negeri ini dipenuhi oleh heroisme yang
berlatar belakang agama dalam melawan penindasan
kolonial. Namun isu pemilahan maunpun wacana demikian akan selalu ada sesuai kepentingan situasi pemilu maupun dalam kepentingan lain.
Bangunan wacana Ahistoris itu saat ini menariknya
dibenturkan oleh wacana kebhinekaan. Solah kebhineka-an menjadi hal suci dan menjadi kotor bila islam
ditampilkan diruang publik, provokasi lucu dan konyol
semacam itu, sudah lama terjadi dan bila dirunut keberbagai kasus tidak ada satupun yang konsisten dalam meyulut isu demikian. BTP yang dikesankan tokoh
kebhinekaan dan dipropangadakan dengan alasan kinerja, berkali-kali mendapat ruang dan diperjuangkan
dengan wacana keislaman di ruang publik, seperti gelar
sunan, santri dan lain sebagainya.
256
Juga berbagai acara zikir akbar juga forum-forum
shalawatan yang dibuat dan diacarakan demi memikat
hati pemilih Islam.
Demokrasi Pancasila Tak Perlu Menolak Politik
Aliran
Demokrasi Pancasila yang hidup dinegara dengan berbagai keberagaman menjadi absur kehadirannya bila
menolak politik aliran karena politik aliran adalah bagian dari keberagaman itu sendiri.
Demokrasi Pancasila sebaliknya harus memberikan
ruang yang lebar untuk semua segmen saling beradu
gagasan secara rasional, argumentatif. Semua kelompok
memiliki cara pandang dan ide untuk membangun
sebuah Negara modern namun ditengah ide dan gagasan
itu maka aturan main harus ditegakkan.
Aturan main tentu saja dikawal oleh lembaga yudikatif
yang kompeten dan berwibawa. Tak boleh lagi penguasa
ikut bermain dalam sebuah kontestasi dan berfihak pada
pasangan calon tertentu dengan melibatkan aparat di
bawah untuk member dukungan karena bila demikian
maka demokrasi yang baru dibangun belasan tahun
akan kembali surut kebelakang dan butuh waktu lama
untuk membangunnya kembali.
257
Kepercayaan masyarakat dalam mengikuti aturan
bergantung dari elit politik dalam mentaatinya. Karena
elite politik lah yang dilihat dan menjadi contoh nyata,
bukan teks aturan berupa undang-undang yang hanya
di atas kertas. []
258
Membincang Ulang
Demokrasi Pancasila
Trisno S Sutanto
Pendiri MADIA (Masyarakat Dialog Antar Agama)
Agaknya efek gempa politik yang diakibatkan oleh
Pilkada DKI tanggal 19 April lalu masih akan dirasa
sampai jangka waktu cukup panjang. Paling tidak sampai Pilpres 2019.
Alasannya jelas. Pilkada DKI yang baru lalu merupakan Pilkada dengan “aroma Pilpres” sangat kuat sejak
putaran pertama. Ketiga figur yang bersaing, setidaknya dalam pandangan publik, semacam mewakili ketiga figur yang mewarnai Pilpres 2014: SBY, Jokowi, dan
Prabowo. Dan kesan ini makin kuat saat putaran kedua
yang seakan mengulang sejarah pertarungan Pilpres
lalu itu. Tidak heran bila banyak orang menyebut, Pilkada DKI merupakan ajang foreplay bagi Pilpres 2019.
259
Tetapi ada soal lain yang membuat gempa politik Pilkada
DKI itu akan bergema lebih panjang. Pertarungan politik yang baru berlalu itu telah memecah belah kelompok-kelompok masyarakat karena politisasi SARA yang
brutal dan penyebaran kebencian (hate spin) lewat media-media sosial. Sudah banyak tali pertemanan dan
grup-grup chatting WA bubar hanya karena perbedaan
calon yang didukung. Sementara status-status di Facebook dan kicauan di Twitter dipenuhi oleh sumpah
serapah dan maki-makian yang tersebar luas dan cepat.
Pada titik ini muncul kegelisahan–atau bahkan ketakutan–di kalangan masyarakat luas, apakah eksistensi
Indonesia sebagai negara Bhinneka Tunggal Ika masih
mampu bertahan? Jika saat Pilkada DKI saja sudah sedemikian parah perpecahan yang terjadi, bagaimana
nanti dalam Pilpres 2019? Bukankah politisasi SARA
dan penyebaran kebencian akan berlipat ganda? Lalu
apakah demokrasi Pancasila masih akan mampu bertahan sebagai model pengelolaan politik? Jika tidak, haruskah kita mencari alternatif lainnya? Jika ya, perlukah
demokrasi Pancasila itu diperbarui?
260
Bukan Hanya Mangkok Kosong
Tentu saja sangat sulit, kalau bukannya mustahil, memberi jawaban serba pasti terhadap rentetan pertanyaan
yang kini menggelisahkan banyak orang itu. Sementara,
pada saat bersamaan, beredar luas lewat media-media
sosial kampanye kelompok-kelompok yang menawarkan alternatif terhadap Pancasila di satu pihak, dan seruan-seruan untuk mempertahankannya (plus “NKRI
harga mati”) di pihak lain.
Di dalam konteks itulah ajakan Denny JA untuk membicarakan ulang apa yang disebutnya sebagai “demokrasi Pancasila yang diperbarui” perlu disambut, walau
terasa problematis. Dan persoalan utama dari ajakan itu
justru terletak pada kata “Pancasila”. Sebab, seperti tampak dalam sejarah, imbuhan Pancasila bisa dilekatkan
pada berbagai bentuk rezim pemerintahan, mulai dari
demokrasi terpimpin Soekarno, rezim otoriter-militeristik Soeharto, sampai euforia – ada yang menyebutnya
democrazy – pasca Mei 1998. Tidak heran jika seorang
peneliti asal Belanda, Justus van der Kroef, dulu pernah
mengibaratkan Pancasila seperti “mangkok kosong”:
Anda bisa mengisinya dengan model pemerintahan apa
saja!
261
Penilaian van der Kroef itu memang kontroversial, dan
pernah memancing kritik tajam dari alm. Pdt. Eka Darmaputera dalam disertasinya yang terkenal (Darmaputera, 1988). Namun, terlepas dari kritik itu, apa yang
ditunjuk van der Kroef ada benarnya juga. Maksud saya
begini:
Pada satu sisi harus ditegaskan, Pancasila sebenarnya
merupakan kumpulan nilai-nilai luhur yang, boleh dibilang, akan disepakati oleh semua orang: Ketuhanan,
Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi, dan Keadilan
Sosial. Rasanya sulit dibantah bahwa nilai-nilai itu
merupakan aspirasi bagi setiap orang, apapun latar
belakang suku, agama, ras, budaya, dstnya. Dengan cara
yang jenius itulah Soekarno mampu memberi landasan
yang mempersatukan kebhinnekaan, dan mengolahnya
sebagai energi politik yang maha dahsyat guna mencapai
kemerdekaan.
Tetapi, pada sisi lain, kita segera menyadari betapa problematisnya ketika nilai-nilai luhur itu akan diterjemahkan menjadi sistem kehidupan bersama. Masing-masing
nilai luhur itu membuka ruang interpretasi sangat luas
dan beragam, yang bentuk akhirnya sangat ditentukan
oleh wawasan kebangsaan maupun situasi pertarungan
politik yang riil pada setiap masa.
262
Ambillah contoh nilai luhur yang sudah kerap diperbincangkan: sila pertama Pancasila, “Ketuhanan Yang
Maha Esa”. Jika kita menelusuri latar sejarah perumusannya, setidaknya kita akan menemukan tiga pemahaman berbeda mengenai frase itu. Pertama, visi Soekarno, sebagaimana dituangkan dalam Pidato 1 Juli 1945
yang mahsyur, yakni suatu visi tentang negara yang
ber-Tuhan secara kebudayaan dengan “tanpa egoisme
agama”. Visi kedua tampil sebagai hasil deliberasi “Panitia Sembilan” yang mempersiapkan bahan untuk pleno
dalam masa persidangan kedua BPUPK (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan)--apa yang
kemudian dikenal sebagai “Piagam Jakarta”. Akhirnya,
visi ketiga, adalah rumusan yang kita terima sampai
sekarang sebagai hasil sidang PPKI (Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia) tanggal 18 Agustus 1945 yang
sekaligus mengesahkan UUD 1945 (uraian lebih rinci
dapat ditemukan dalam Sutanto, 2016).
Yang lebih menarik adalah ketika menelisik perdebatan
bagaimana nilai luhur itu diterjemahkan ke dalam
batang tubuh UUD 1945. Dalam persidangan tanggal
13 Juli 1945, K.H. Wachid Hasjim mengingatkan bahwa
“buat masyarakat Islam penting sekali perhubungan antara Pemerintah dan masyarakat”. Karena itu ia
263
mengusulkan dua usulan perubahan yang kemudian
menimbulkan perdebatan: (1) bahwa yang dapat
menjadi Presiden adalah orang Indonesia asli “yang
beragama Islam”; dan (2) ada penegasan bahwa
“Agama negara ialah agama Islam, dengan menjamin
kemerdekaan orang-orang yang beragama lain, untuk
dsb.” Usulan itu didukung oleh Soekiman. Tetapi tokoh
Muslim lainnya dan pejuang kemerdekaan, H. Agus
Salim langsung menolak usulan itu yang, menurut dia,
akan mementahkan kompromi yang sudah dicapai. “Jika
Presiden harus orang Islam, bagaimana halnya terhadap
Wakil Presiden, duta-duta, dsbnya,” tanya Agus Salim.
“Apakah artinya janji kita untuk melindungi agama
lain?” (Lihat rekaman perdebatannya dalam Kusuma,
ed., 2009, h. 314. Cetak miring ditambahkan.)
Pertanyaan Agus Salim itu sungguh menohok. Memang
benar, Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas
penduduk, perlu mendapat tempat di negara yang baru
diproklamasikan kemerdekaannya. Tetapi hal itu tidak boleh menafikan kelompok-kelompok keagamaan
lainnya – atau bahkan kelompok yang “meniadakan
Tuhan” (ateis) maupun mereka yang meyakini banyak
Tuhan (politeis).
264
“Dapatkah dengan asas negara itu kita mengakui kemerdekaan keyakinan orang yang meniadakan Tuhan?
Atau keyakinan agama yang mengakui Tuhan berbilangan atau berbagi-bagi?” tulis Agus Salim. “Tentu
dan pasti! Sebab undang-undang dasar kita, sebagai
juga undang-undang dasar tiap-tiap negara yang mempunyai adab dan kesopanan mengakui dan menjamin
kemerdekaan keyakinan agama, sekadar dengan batas yang tersebut tadi itu, yaitu asal jangan melanggar
hak-hak pergaulan dan orang masing-masing, jangan
melanggar adab kesopanan ramai, tertib keamanan dan
damai” (Salim, 1951/52, h. 125).
Mengelola Kebhinnekaan
Saya sengaja mengambil contoh perdebatan tentang sila
pertama Pancasila itu, yakni tentang tempat dan peran
agama dalam suatu tatanan negara yang demokratis.
Dan kita melihat dari perdebatan para pendiri negara
adanya semangat dan imperatif untuk menjamin kesetaraan bagi seluruh kelompok masyarakat, termasuk
kelompok-kelompok keagamaan.
265
Persoalan itulah yang dewasa ini, pasca Pilkada DKI,
menantang kehidupan dan praktik demokrasi kita sebagai akibat politisasi SARA yang brutal dan penyebaran kebencian. Karena itu, seperti dianjurkan Denny JA,
upaya untuk menemukan “demokrasi Pancasila yang
diperbarui” juga harus menjawab tantangan fundamental tersebut.
Untuk itu dibutuhkan niat dan upaya politik kenegaraan yang sungguh-sungguh guna menegaskan prinsip-prinsip dasar tatanan demokratis, yang setidaknya
mencakup tiga asas penting ini. Pertama, asas inklusif
dan non-diskriminatif, di mana semua kelompok masyarakat, di dalamnya termasuk kelompok keagamaan,
mempunyai hak dan kewajiban konstitusional yang
sama oleh karena mereka merupakan warga negara
yang setara. Kedua asas ini merupakan terjemahan lebih
lanjut dari prinsip kewarganegaraan (citizenship) yang
menjadi landasan tatanan demokratis.
Kedua, asas kebebasan dan toleransi beragama, sebab
kebebasan tidak boleh mengancam toleransi dan sebaliknya toleransi tidak boleh mematikan kebebasan. Di
sini dibutuhkan law enforcement yang sungguh-sungguh guna menjaga baik kebebasan pada satu pihak,
266
maupun toleransi pada pihak lain. Dan hanya dengan
ini kemajemukan agama di Indonesia tidak perlu menjadi ancaman yang dapat membuyarkan persatuan.
Terakhir, asas ketiga, adalah meritokrasi sebagai satu-satunya tolok ukur yang diperbolehkan dalam sistem
demokrasi. Itu berarti, seorang (calon) pemimpin publik hanya boleh dinilai berdasarkan karya nyata dan
pengabdiannya bagi masyarakat luas, bukan oleh karena asal usul suku, ras, keyakinan, atau bahkan orientasi
seksualnya. Karena itu, politisasi SARA dan penyebaran
kebencian seharusnya tidak mendapat tempat dalam
mekanisme demokratis.
Menurut saya, itulah arah perjuangan politik kenegaraan ke depan jika memang serius ingin memperbarui
demokrasi Pancasila. Dan hanya melalui itulah Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika dapat terus dipertahankan! []
Rujukan
Darmaputera, Eka, 1988, Pancasila and the Search for
Identity and Modernity in Indonesian Society: A Cultural
and Ethical Analysis, Leiden: E.J. Brill.
267
Kusuma, RM. A.B. (ed.), 2009, Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945: Memuat Salinan Dokumen Otentik
Badan Oentoek Menyelidiki Oesaha2 Persiapan Kemerdekaan, edisi revisi, Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Hukum Universitas Indonesia.
Salim, H. Agus, 1951/52, “Kementerian Agama dalam
Republik Indonesia”, diterbitkan dalam buku Agenda Kementerian Agama, Jakarta: Departemen Agama,
1951/1952, h. 123 – 128. Teks asli yang lengkap dapat
diunduh lewat tautan https://app.box.com/s/f1oo2bqtp08v1b08gdxb.
Sutanto, Trisno S., 2016, “Pancasila dan Persoalan Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan: Membaca ulang
Hubungan Agama-Negara di Indonesia”, dalam Alamsyah M. Dja’far dan Atikah Nur’aini (eds.), Hak atas
Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan di Indonesia:
Buku Sumber, Jakarta: Wahid Foundation, h. 15 – 82.
268
EPILOG
269
270
Indonesia Akan Dibawa Ke
Mana?
Denny JA
Victor Hugo suatu ketika berkata: Nothing is more
powerful than an idea whose time has come. Tak ada
yang lebih berkuasa dari sebuah gagasan yang waktunya
sudah datang.
Waktu bagi Demokrasi Pancasila yang diperbarui sudah
datang. Kita membutuhkan aturan main bersama di ruang publik sebagai the only game in town. Saya buatkan
kesimpulan dalam bentuk pointers. Di bawah ini lima
hal pokok percakapan kunci yang penting ke depan
mengenai kebersamaan kita selaku satu bangsa.
1) Sudah pasti kita tak bisa sepakat mengenai kemana
negara harus diarahkan? Tak ada masalah jika setiap
partai dan individu mengembangkan mimpinya sendiri.
Mimpi tak bisa dipaksa untuk diseragamkan. Agama
saja tak bisa dipaksakan, apalagi gagasan dan mimpi.
271
2) Tapi kita bisa dan harus mensepakati cara main bersama di ruang publik. Harus bersetuju mengenai rule
of the game, bagaimana mempertarungkan aneka policy
dan mimpi.
Harus ada cara main di ruang bersama yang mesti dihormati dan dihayati.
Dan cara main bersama di ruang publik itu kita upayakan
menjadi “the only game in town”
Amandemen konstitusi UUD 45 sudah memberi arah:
aturan mainnya sistem demokrasi (yang tahapannya
disesuaikan dengan evolusi kesadaran kolektif Indonesia)
3) Dalam aturan main itu
-
Hak asasi manusia tak bisa dilanggar. Termasuk
hak berpendapat dan hak berorganisasi.
Setiap individu boleh menyatakan pendapatnya
berdasarkan paham yang ia yakini, termasuk
agama.
Tak bisa dilarang, bahkan harus dihormati,
orang bepolitik dengan gagasan, termasuk gagasan agama.
272
-
Di Indonesia, gagasan agama menggores sangat
dalam. Mustahil menciptakan sistem apapun
yang mengakar tanpa mempertimbangkan agama di ruang publik
-
Yang kita larang hanya kekerasan dan kriminal,
apapun gagasan di baliknya.
-
Pemerintah perlu hadir lebih tegas dan keras
tapi tetap tunduk pada aturam hukum. Pemerintah berada dalam hukum, bukan di luar hukum.
4) Agar aturan main itu punya legitimasi dan bermakna,
ia harus berangkat dari realitas Indonesia dan berbuah
baik
-
Menghormati keberagaman yang ada, baik prinsip mayoritas ataupun hak minoritas
Terasa keadilan sosialnya, kuat rasa persatuannya, dan berbuah kemakmuran
5) Mayoritas publik menyukai jika sistem yang merangkum elemen di atas diberi nama Demokrasi Pancasila
(yang diperbarui karena yang publik maksud bukan
demokrasi pancasila era Pak Harto: dwi fungsi ABRI,
dll)
273
Ini percakapan yang sebisa mungkin tuntas dalam
lima tahun ini. Semoga 25 tahun reformasi (5 pemilu)
di tahun 2023, demokrasi pancasila sudah mengalami
konsolidasi. []
Jika kita tak ingin Indonesia berubah menjadi negara
Islam, atau negara sekuler yang ekstrem, atau kembali
ke negara otoriter, saatnya kita tegaskan kembali
komitmen untuk demokrasi pancasila yang diperbarui.
Langkah pertama kerja penting itu mendetailkan
dan menyepakati elemen fundamental bangunan
kelembagannya. Buku kecil itu awal dari kerja besar itu.
274
275
276
Download