Uploaded by User80360

Pergeseran dalam Indeks Kelaparan Global

advertisement
PERGESERAN DALAM INDEKS KELAPARAN GLOBAL (GLOBAL HUNGER INDEX) 2000-2017: IMPLIKASI TERHADAP KEBIJAKAN
PERTANIAN, PANGAN DAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA Agus Pakpahan
75
PERGESERAN DALAM INDEKS KELAPARAN GLOBAL (GLOBAL HUNGER
INDEX) 2000-2017: IMPLIKASI TERHADAP KEBIJAKAN PERTANIAN, PANGAN,
DAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA
Shift in Global Hunger Index 2000-2017: Implications to Agricultural Policy,
Food and Quality of Indonesian Human Resources
Agus Pakpahan
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Jalan Tentara Pelajar No. 3B, Bogor 16111
*Korespondensi penulis. E-mail: [email protected]
Naskah diterima: 25 Februari 2018
Direvisi: 1 Maret 2018
Disetujui terbit: 3 Maret 2018
ABSTRACT
The main objective of this paper is to show that the concept of food security should not be separated from
hunger given that measures, such as of food sufficiency per capita or household food purchasing power, cannot
by themselves indicate the quality of human resources in one country. There exists an X-factor between food
sufficiency per capita on the one hand, and human resources quality on the other hand, that must be analysed. In
2017, the Global Hunger Index (GHI) values of 14 achieved by developing countries managed to match those of
developed countries. This opens the opportunity, particularly for Indonesia, to re-examine non-income variables
and establish policy frameworks to solve hunger. A key component to the issue is the persistent lack of animal
protein consumption in Indonesia and elsewhere. This paper suggests that animal protein must be produced in a
way that economically cheap and frees the production system from environmental deterioration and problems
arising from antibiotic resistance.
Keywords: food, hunger, food security, human resources, Global hunger Index
ABSTRAK
Tujuan utama tulisan ini adalah untuk menunjukkan bahwa konsep ketahanan pangan tidak terlepas dari
konsep kelaparan dimana konsep yang terakhir ini menguraikan dimensi kualitas sumber daya manusia. Ukuran
kecukupan pangan per kapita atau daya beli pangan rumah tangga tidak dapat dengan sendirinya menunjukkan
kualitas sumber daya manusia di satu negara. Di antara kecukupan pangan per kapita di satu sisi dan kualitas
sumberdaya manusia di sisi lain terdapat faktor X. Faktor X adalah faktor yang harus dipahami dalam upaya
mengintegrasikan antara konsep ketahanan pangan dan kualitas sumberdaya manusia dalam waktu yang
bersamaan. Keberhasilan 14 negara berkembang mencapai status Indeks Kelaparan Global (IKG) yang sama
dengan IKG negara maju pada 2017 membuka peluang negara-negara berkembang, khususnya Indonesia, untuk
mengambil pelajaran dari negara-negara tersebut dalam rangka memahami faktor X, khususnya faktor nonpendapatan, dalam rangka menemukan solusi kelaparan bagi Indonesia. Salah satu komponen strategis yang
paling mendesak adalah bagaimana mengatasi kekurangan konsumsi protein hewani yang telah berlangsung
selama ini. Namun demikian, sistem produksi protein hewani yang perlu dibangun adalah sistem produksi protein
hewani yang terbebas dari masalah resistensi antibiotika dan keberlanjutan lingkungan hidup.
Kata kunci: makanan, kelaparan, ketahanan makanan, kualitas sumberdaya manusia, indeks kelaparan global
PENDAHULUAN
Tulisan ini dilandasi oleh pandangan bahwa
konsep ketahanan pangan tidak boleh
dipisahkan dengan konsep peningkatan kualitas
sumber daya manusia (SDM) mengingat tingkat
kecukupan pangan per kapita atau tingginya
daya beli konsumen pangan pada suatu bangsa
belum tentu mengandung makna bahwa kualitas
SDM dari bangsa yang bersangkutan sudah
mencapai kondisi yang baik. Di antara aktivitas
konsumsi pangan dan kualitas hidup SDM
masih terdapat faktor X, yaitu faktor yang
kompleks dan yang perlu dipahami dan
ditangani dengan baik, apabila kualitas hidup
SDM terkait dengan ketahanan pangan
diharapkan makin meningkat. Dalam rangka
76
mendapatkan
ragam
pengetahuan
yang
diperlukan sebagai landasan perumusan
kebijakan
ketahanan
pangan
dengan
mengintegrasikan
penyelesaian
masalah
kelaparan yang diukur oleh peningkatan kualitas
SDM, diperlukan pendekatan lintas disiplin
(Johnson 1986).
Permasalahan ketahanan pangan atau
kelaparan
merupakan
gambaran
akan
rendahnya kapasitas produksi pangan dan
rendahnya kemampuan memanfaatkan institusi,
lingkungan dan sumber daya alam dalam arti
yang seluas-luasnya dalam menciptakan
kualitas hidup secara keseluruhan dan kualitas
SDM dalam arti khusus. Fenomena tersebut
bukanlah hal yang baru. Orientasi pengukuran
kelaparan
yang
dikembangkan
oleh
International Food Policy Research Institute
(IFPRI) yaitu perumusan Indeks Kelaparan
Global (IKG) (Global Hunger Index (IKG) dapat
dimanfaatkan sebagai instrumen untuk dapat
melihat, antara lain, apakah untuk mencapai
tingkat IKG negara maju suatu negara harus
sudah menjadi negara maju terlebih dahulu?
IFPRI (2017) menunjukkan bahwa, berdasarkan
indeks komposit IKG yang menyatukan aspek
kekurangan nutrisi, anak-anak berusia kurang
dari lima tahun yang mengalami kondisi tubuh
kurus kering (child wasting), kuntet (stunting)
atau tingginya tingkat mortalitas dari kelompok
usia tersebut, ternyata suatu negara tidak harus
menjadi negara maju terlebih dahulu untuk bisa
mencapai status tingkat kelaparan sama dengan
negara maju. Hal ini diperlihatkan oleh fakta 14
negara berkembang mencapai nilai IKG < 5,0
pada tahun 2017 (von Grebmer 2017).
Globalisasi yang berlangsung dalam proses
yang makin cepat telah membentuk pola
konsumsi
pangan
di
negara-negara
berkembang mengikuti perkembangan pola
konsumsi yang terjadi di negara-negara maju.
Negara maju yang dimaksud di sini adalah
negara-negara Barat seperti Eropa Barat dan
Amerika Serikat. Upaya mengatasi kelaparan
dengan menggunakan IKG negara maju
bukanlah suatu proses pembaratan pola
konsumsi
pangan
di
negara-negara
berkembang. Pencapaian IKG sebagaimana
yang berlaku di negara-negara maju perlu
ditafsirkan sebagai tujuan untuk mengatasi
kelaparan dengan cara atau kebijakan yang
terbuka, sesuai dengan situasi, kondisi, dan
potensi di masing-masing negara berkembang.
Kecenderungan negara-negara berkembang
mengadopsi
pola
pangan
Barat
akan
menimbulkan kompleksitas permasalahan yang
lebih besar. Hasil riset Fabiosa (2006) yang
Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 35 No. 2, Desember 2017: 75-90
menggunakan istilah “Westernization of Asian
Diets”, menunjukkan telah terjadinya pola
pembaratan konsumsi pangan Indonesia yaitu
semakin dominannya pola pangan berbasis
pada gandum. Dengan nilai elastisitas
permintaan terhadap gandum atas perubahan
pendapatan yang tinggi menyebabkan beras
menjadi komoditas inferior.
Padahal beras
merupakan pangan pokok bangsa Asia.
Terbentuknya selera baru tersebut pada
gilirannya mengancam infrastruktur ketahanan
pangan seperti jaringan irigasi dan lahan-lahan
yang sudah menggunakan nilai investasi yang
sangat besar. Pertanian yang sifatnya relatif
permanen dengan dukungan infrastruktur yang
sangat kompleks dan memerlukan biaya tinggi
untuk mewujudkan dan memeliharanya itu akan
rusak dengan sendirinya apabila permintaan
untuk produk-produk yang dihasilkannya relatif
sudah berkurang jauh. Pandangan yang serupa
disampaikan juga
oleh
Pingali (2006).
Sedangkan Pan et. al. (2012) menyatakan
bahwa mengekspor fast food ke Asia sama
dengan mengekspor penyakit gula (diabetes) ke
Asia (Pan et al. 2012, Harrel et al. 2015).
Dengan demikian, walaupun IKG yang
menjadi target perubahan adalah untuk
mencapai
IKG
negara-negara
Barat,
pemaknaannya perlu disesuaikan dengan
karakteristik intrinsik dari setiap negara
berkembang yang bersangkutan. Pandangan
dan hasil penelitian, antara lain, Fabiosa (2006),
Pingali (2006), Pan et al. (2012) dan Harrel et al.
(2015) perlu menjadi pertimbangan dalam
proses mencapai IKG dengan nilai sama
dengan IKG negara maju.
Populasi anak-anak merupakan kelompok
konsumen pangan yang paling strategis untuk
dijadikan sasaran kebijakan mengingat tinggirendahnya
kualitas
anak-anak
akan
menentukan
tinggi-rendahnya
kualitas
masyarakat dimana mereka menjadi remaja,
dewasa dan tua. IFPRI mengembangkan model
pengukuran kualitas hidup manusia dengan
menggunakan model kelaparan yang terkait
langsung dengan populasi anak-anak dengan
usia kurang dari lima tahun. Dalam model ini
kelaparan dinyatakan oleh variabel kualitas
hidup manusia, yaitu: (1) kekurangan pangan
dengan ukuran pangsa populasi yang nilai kalori
dalam konsumsi pangannya tidak mencukupi
kebutuhan atau berada di bawah standar
(undernourishment); (2) pangsa anak-anak di
bawah usia lima tahun yang memiliki ukuran
berat badan lebih rendah dari kondisi normal
(kurus) pada patokan tinggi badan tertentu,
sebagai akibat kurang gizi yang bersifat akut
PERGESERAN DALAM INDEKS KELAPARAN GLOBAL (GLOBAL HUNGER INDEX) 2000-2017: IMPLIKASI TERHADAP KEBIJAKAN
PERTANIAN, PANGAN DAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA Agus Pakpahan
(child wasting); (3) pangsa populasi anak-anak
di bawah usia lima tahun dengan ukuran tubuh
kuntet sebagai gambaran kurang nutrisi secara
kronis (child stunting), dan (4) tingkat kematian
anak-anak dengan usia di bawah lima tahun
sebagai dampak dari kekurangan nutrisi dan
lingkungan yang tidak sehat (child mortality)
(von Grebmer 2017).
IFPRI menyatukan ke empat ukuran
kelaparan tersebut di atas ke dalam satu indeks
komposit yang dinamakan Indeks Kelaparan
Global (IKG). Hasil penelitian tentang IKG yang
dilakukan IFPRI merupakan pengetahuan yang
sangat
penting
bagi
negara-negara
berkembang, terutama bagi Indonesia. Hasil
studi IFPRI berdasarkan data 119 negara
menggambarkan bahwa tingkat kelaparan dunia
pada 2017 telah berkurang 27% dari tingkat
kelaparan yang terjadi pada tahun 2000. Namun
demikian, untuk Indonesia pergeseran dari
kelompok kelaparan serius ke kelompok sedang
belum terwujud (von Grebmer 2017). Dengan
demikian, fenomena pergeseran yang cepat dari
tingkat kelaparan yang buruk ke tingkat
kelaparan yang lebih baik, yang terjadi di negara
lain
dapat
dijadikan
sebagai
bahan
pembelajaran bagi Indonesia.
Tulisan ini memanfaatkan metoda yang
dikembangkan oleh dan menggunakan hasil
yang didapat IFPRI untuk mendapatkan
gambaran
kelompok-kelompok
negara
berkembang sesuai dengan IKG pada tahun
2000 dan 2017, serta pergeserannya di dalam
periode tersebut. Adapun untuk pembahasan
digunakan berbagai sumber data atau
pengetahuan hasil riset, teori yang cocok untuk
digunakan serta sumber-sumber lain yang
relevan. Tulisan ini dilaksanakan melalui
tahapan analisis sebagai berikut: Pertama,
mengambil nilai IKG 2000 dan nilai IKG 2017
sebagai
bahan
informasi
dasar
untuk
mengetahui nilai IKG pada kedua periode
tersebut dan mengetahui pola pergeseran IKG
negara-negara berkembang dalam periode
tersebut. Kedua, mengidentifikasi IKG negaranegara berkembang yang bergeser ke IKG
negara maju dan negara-negara berkembang
dengan nilai IKG tetap seperti pada kondisi
awalnya. Ketiga, mengidentifikasi negaranegara berkembang yang bergeser dari
kelompok kelaparan sedang ke kelompok
kelaparan rendah atau ke kelompok kelaparan
negara maju. Keempat, menganalisis faktorfaktor yang menyebabkan pergeseran atau yang
menghambat pergeseran.
77
TINJAUAN KONSEPTUAL KETAHANAN
PANGAN DAN KELAPARAN
Pangan merupakan kebutuhan manusia
yang tidak akan pernah berhenti selama
manusia hidup. Kebutuhan pangan masyarakat
dunia, apabila diukur dengan pertambahan
penduduk dunia dari sekitar 2 milyar jiwa pada
tahun 1950 menjadi 6 milyar jiwa pada tahun
2000, atau meningkat sebanyak 4 milyar yang
mana peningkatan ini sama dengan dua kali
jumlah penduduk pada titik awal perhitungan,
menunjukkan produksi pangan dunia telah lebih
dari cukup sehingga jumlah menduduk dunia
berkembang sangat pesat. Selanjutnya, para
pakar memperkirakan bahwa penduduk dunia
pada tahun 2050 akan mencapai sekitar 9
milyar sampai dengan 12 milyar jiwa, tergantung
pada asumsi pertumbuhan penduduk yang
digunakan. Pertambahan jumlah penduduk
sebanyak 3 milyar dari jumlah penduduk tahun
2000 kebutuhan pangannya diperkirakan akan
terpenuhi apabila produksi pangan dunia
mampu ditingkatkan sekitar 70% dari posisi
sekarang (FAO 2009, FAO tanpa tahun).
Konsep ketahanan pangan sebagaimana
berkembang dewasa ini pada umumnya lebih
terfokus pada sisi produksi pangan dan sisi
daya beli konsumen terhadap pangan yang
tersedia di pasar. Oleh karena itu, diskusi
tentang kebijakan ketahanan pangan lebih pada
penanganan lingkungan dan faktor-faktor
produksi untuk menghasilkan produk pertanian
atau sering diistilahkan komoditas pangan.
Kemudian, apabila produksi melebihi kebutuhan
pangan penduduk dan penduduk memiliki daya
beli yang cukup kuat, maka situasi tersebut
dapat dikatakan situasi ketahanan pangan yang
memadai.
Dalam kerangka berpikir di atas terdapat
satu aspek yang tidak dimasukkan ke dalam
kerangka analisis ketahanan pangan, yaitu
konsumsi pangan dengan kualitas hidup
konsumen. Kualitas hidup konsumen tidak
diukur dalam model ketahanan pangan pada
umumnya. Adapun parameter utama yang
diukur adalah konsumssi pangan perkapita atau
konsumsi rumah tangga pada suatu periode
waktu dan wilayah tertentu. Dengan demikian,
belum tentu individu yang terpenuhi kebutuhan
kalorinya tetapi kebutuhan protein atau nutrisi
lainnya tidak terpenuhi akan memiliki kualitas
hidup yang baik. Dengan demikian, untuk
mencapai kualitas hidup sumber daya manusia
sesuai dengan yang diharapkan diperlukan
konsepsi tentang kualitas ketahanan pangan
yang lebih terukur lagi dari ketahanan pangan
78
ini. IFPRI mendekati permasalahan ini dengan
menggunakan konsep kelaparan.
Konsep kelaparan menurut IFPRI adalah
konsep yang mengintegrasikan ciri-ciri khusus
yang terjadi pada individu manusia dalam suatu
populasi pada ruang dan waktu yang telah
didefinisikan. Ciri-ciri khusus individu tersebut
adalah fakta bahwa yang bersangkutan terbukti
kekurangan asupan kalori sesuai dengan
standar kesehatan yang berlaku, kekurangan
nutrisi, bertubuh kuntet (stunting) atau bertubuh
kurus-kering (child wasting) dan tidak mampu
hidup mencapai umur lima tahun.
Dalam tulisan ini konsep kelaparan yang
dibangun oleh IFPRI dapat dikatakan sejalan
dengan konsep kualitas ketahanan pangan.
Dikatakan kualitas mengingat yang diukur bukan
jumlah konsumsi pangan per kapita tetapi
karakteristik
konsumen
menurut
derajat
“kesehatannya” berdasarkan suatu komposit
indeks yang dinamakan IKG. Berdasarkan nilai
IKG ini, IFPRI mengelompokkan negara-negara
di dunia ke dalam enam kelompok: (1) IKG < 5,0
adalah nilai indeks untuk tingkat kelaparan di
negara maju; (2) 5,0<IKG < 9,9 sebagai ukuran
tingkat kelaparan rendah; (3) 10,0 < IKG < 19,9
sebagai ukuran kelaparan pada tingkat sedang
(moderate); (4) 20,0<IKG<34,9 sebagai ukuran
kelaparan serius; (5) 35,0 <IKG< 49,9 sebagai
ukuran tingkat kelaparan membahayakan
(alarming); dan (6) IKG > 50,0 sebagai ukuran
kondisi kelaparan yang sangat berbahaya.
Dalam tulisan ini, faktor X dijadikan simbol
faktor-faktor yang belum diketahui. Faktor X ini
perlu diteliti dalam rangka menjawab pertanyaan
mengapa
dalam
dunia
yang
semakin
mengglobal ini ternyata pergeseran status
kelaparan dari negara-negara berkembang
mencapai status kelaparan seperti yang terjadi
di negara-negara maju sangatlah lambat.
Dengan bukti terdapatnya negara-negara
berkembang yang mampu bergeser statusnya
dari tingkat kelaparan rendah atau apalagi dari
tingkat kelaparan sedang mencapai tingkat
kelaparan negara maju, hal ini memberikan
sinyal bahwa tingginya tingkat pendapatan,
pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi,
atau infrastruktur, memang sangat diperlukan
tetapi hal tersebut bukanlah hal yang mutlak
untuk memperbaiki kualitas ketahanan pangan
suatu bangsa.
Pada waktu yang bersamaan, fakta yang
menunjukkan bahwa nilai IKG tidak bergeser ke
kelas IKG yang lebih baik dalam periode waktu
17 tahun (2000-2017) juga memberikan sinyal
penting. Fenomena ini menunjukkan bahwa di
dalam negara dimana IKG tidak bergeser ke
Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 35 No. 2, Desember 2017: 75-90
kelompok yang lebih baik selama 17 tahun
terdapat faktor penghambat yang perlu
diidentifikasi dan segera dihilangkan. Hal ini
penting mengingat percuma saja pembangunan
dijalankan apabila hasilnya malahan berdampak
negatif bagi bangsa dan negara tersebut
sebagaimana
tergambar
dalam
tingkat
kelaparan yang tetap tinggi.
Sebagian besar negara berkembang pada
tahun 2000 berada pada kelompok kelaparan
sedang, serius, dan tinggi. Pada Tahun 2017,
status negara berkembang pada umumnya
sudah bergeser ke kelompok kelaparan sedang
dan serius. Hal ini menandakan telah terjadinya
kemajuan selama 17 tahun. Namun demikian,
status tingkat kelaparan Indonesia sangat
disayangkan selama 17 tahun tersebut belum
bisa bergeser dari kelompok kelaparan serius ke
kelompok yang lebih baik.
Untuk
dapat
menjelaskan
fenomena
pergeseran nilai IKG dari periode 2000 ke IKG
2017, atau nilai IKG yang tidak berubah sejalan
dengan periode waktu tersebut, faktor X akan
diuraikan secara mendetail.
IFPRI sebagai Sumber IKG
Menurut
IFPRI,
masalah
kelaparan
merupakan masalah yang kompleks. Kelaparan
biasanya dipahami sebagai kondisi yang
membuat individu atau masyarakat menderita
akibat dari kekurangan asupan kalori yang
dialami oleh individu atau masyarakat yang
dibicarakan.
FAO mendefinisikan kekurangan makanan
(food deprivation) atau kekurangan gizi
(undernourishment), sebagai kondisi konsumsi
pangan
yang
kekurangan
kalori untuk
memberikan jumlah minimum energi yang
diperoleh dari makanan yang diperlukan oleh
setiap individu untuk hidup secara sehat dan
produktif, sesuai dengan jenis kelamin, usia,
ukuran tubuh, dan level aktivitas tubuh.
Kebutuhan akan energi ini bervariasi menurut
negara dengan kisaran 1650 sampai dengan
lebih dari 2000 kilokalori per orang per hari
untuk negara berkembang pada tahun 2016
(von Grebmer 2017).
Kekurangan
nutrisi
(undernutrition)
merupakan situasi yang sangat berbeda dengan
kekurangan kalori dan menunjukkan secara
nyata kekurangan salah satu atau seluruhnya
dari hal berikut: energi, protein, serta vitamin
dan mineral yang esential. Kekurangan nutrisi
merupakan hasil dari kekurangan asupan
makanan baik dalam arti jumlah maupun
kualitas, rendahnya kemampuan mendapatkan
PERGESERAN DALAM INDEKS KELAPARAN GLOBAL (GLOBAL HUNGER INDEX) 2000-2017: IMPLIKASI TERHADAP KEBIJAKAN
PERTANIAN, PANGAN DAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA Agus Pakpahan
nutrisi akibat infeksi atau penyakit lain, atau
kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Akhirnya,
kondisi tersebut diakibatkan oleh faktor-faktor
termasuk rendahnya ketahanan pangan rumah
tangga, rendahnya fasilitas kesehatan setelah
ibu melahirkan atau kurangnya fasilitas
perawatan anak-anak; atau kekurangan akses
terhadap pelayanan kesehatan, air bersih dan
sanitasi (IFPRI, 2017).
Malnutrisi merujuk pada situasi yang lebih
luas terhadap kedua aspek sekaligus yaitu
kekurangan nutrisi dan kelebihan nutrisi.
Dengan
demikian
malnutrisi
merupakan
masalah ketidak-seimbangan pangan dan gizi.
IKG menggabungkan pengertian-pengertian
dimensi kelaparan di atas ke dalam satu
indikator komposit yang menggambarkan
kekurangan kalori dan nutrisi mikro sekaligus.
IKG terdiri atas empat komponen (von Grebmer
2017):
1. Kekurangan Nutrisi (undernourishment):
pangsa populasi yang berada dalam kondisi
kekurangan nutrisi berdasarkan asupan
kalori kurang dari jumlah minimal yang
diperlukan;
2. Anak-anak Tidak Terawat (child wasting):
Pangsa populasi anak-anak berusia kurang
dari lima tahun yang kondisi badannya tidak
terawat diukur oleh berat badan relatif
terhadap tinggi badannya lebih rendah dari
yang seharusnya (kurus), sebagai gambaran
kekurangan nutrisi akut.
3. Anak-anak Bertubuh Kerdil/Kuntet (child
stunting): Pangsa anak-anak berusia kurang
dari lima tahun yang tubuhnya kerdil/kuntet
dengan ukuran tinggi tubuh di bawah standar
sesuai
usianya,
menggambarkan
kekurangan nutrisi kronis.
4. Tingkat kematian anak-anak (child mortality):
tingkat kematian anak-anak berusia kurang
dari lima tahun, sebagai akibat dari
gabungan kekurangan nutrisi dan lingkungan
yang tidak sehat.
KELOMPOK NEGARA NENURUT NILAI
INDEKS KELAPARAN GLOBAL (IKG) DAN
POSISI INDONESIA
Hasil penelitian IKG pada tahun 2000
menunjukkan bahwa hanya tiga negara
berkembang dengan nilai IKG yang tergolong
nilai IKG negara maju, yakni: Belarus, Chile dan
Kuwait. Negara berkembang yang memiliki Nilai
IKG pada tahun 2000 yang tergolong tingkat
79
kelaparan rendah, sedang dan serius masingmasing terdapat 29, 31 dan 26 negara. Adapun
negara berkembang yang tergolong tingkat
kelaparan
membahayakan
dan
sangat
berbahaya masing-masing ada 28 dan 9 negara
(Tabel lampiran 1). Kondisi pada tahun 2017
menunjukkan hal yang berbeda.
Jumlah negara berkembang yang memiliki
IKG sama dengan negara maju bertambah dari
tiga negara pada tahun 2000 menjadi 14 negara
pada tahun 2017. Negara-negara tersebut
adalah: Belarus, Bosnia & Herzegovina, Chile,
Croatia, Cuba, Estonia, Kuwait, Latvia,
Lithuania, Montenegro, Republik Slovakia, Turki,
Ukraine, dan Uruguay. Adapun negara
berkembang yang tergolong kelaparan rendah,
sedang dan serius pada 2017 masing-masing
29, 24 dan 44 negara. Sebagian besar negara
berkembang yang pada tahun 2000 tergolong
dalam kelompok kelaparan membahayakan
telah bergeser ke tingkat kelaparan serius
(Tabel lampiran 2).
Sebagaimana telah disinggung, Belarus,
Chile dan Kuwait berada pada posisi yang sama
pada tahun 2000 dan 2017, yaitu telah
mencapai indeks kelaparan sama dengan
negara maju. Dari tiga negara pada 2000,
negara berkembang yang mencapai IKG sama
dengan negara maju pada 2017 bertambah
menjadi 14. Artinya, dalam 17 tahun telah
bertambah 11 negara berkembang mampu
mencapai indeks kelaparan sama dengan
indeks negara maju, yaitu IKG < 5. Dalam
periode tersebut, dari 11 negara berkembang,
dua negara melompat dari IKG kelaparan
sedang dan 9 negara bergeser dari IKG
kelaparan rendah ke IKG <5 (Tabel 1).
Pada 2000 sebagian penyebaran negara
berkembang dalam kelompok IKG Sedang,
Serius, dan Bahaya relatif merata yaitu masingmasing 31 negara, 26 negara dan 28 negara.
Pada 2017, sebagian besar negara berkembang
berada dalam kelompok IKG Serius (44 negara).
Peningkatan negara dalam kelompok kelaparan
Serius ini merupakan dampak positif dari
pergeseran negara dengan IKG Bahaya pada
2000 menjadi IKG Serius pada 2017. Posisi
Indonesia, sebagaimana telah disinggung, pada
2000 dan 2017 berada pada kelompok
kelaparan yang sama yaitu kelaparan Serius
(Tabel lampiran 1 dan Tabel Lampiran 2).
Data pada Tabel Lampiran 3 menunjukkan
dari 31 negara berkembang, Turki dan Ukraina
merupakan negara yang mampu melompat dari
negara dengan IKG kelompok kelaparan sedang
pada 2000 berhasil menjadi negara tergolong
IKG <5.0 (negara maju). Sedangkan, 29 negara
Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 35 No. 2, Desember 2017: 75-90
80
Tabel 1. Pengelompokkan negara menurut pergeseran IKG dari negara belum tergolong IKG
negara maju pada 2000 menjadi IKG negara maju pada 2017
Nili IKG 2000 <5,0
Nilai IKG 2017 <5,0
Perubahan dari status IKG
sebelumnya menjadi IKG <
5,0
Keterangan
1. Belarus
1. Belarus
tetap
2. Chile
2. Bosnia &
Herzegovina
5,0<IKG<9,9 (kelaparan
rendah)
3. Kuwait
3. Chile
Tetap
4. Kroasia
5,0<IKG<9,9 (kelaparan
rendah)
5. Kuba
5,0<IKG<9,9 (kelaparan
rendah)
Pada tahun 2017, IFPRI
menampilkan terdapat 14
negara berkembang
dengan status kelaparan
berdasarkan IKG sama
dengan kelaparan yang
terjadi di negara maju. Dari
ke 14 negara tersebut, tiga
negara: Belarus, Chile dan
Kuwait merupakan negara
yang menempati status
yang sama sejak tahun
2000.
6. Estonia
5,0<IKG<9,9 (kelaparan
rendah)
7. Kuwait
tetap
8. Latvia
5,0<IKG<9,9 (kelaparan
rendah)
9. Lithuania
5,0<IKG<9,9 (kelaparan
rendah)
10. Montenegro
-
11. Slovakia
5,0<IKG<9,9 (kelaparan
rendah)
12. Turki
10,0<IKG<19,9 (kelaparan
sedang)
13. Ukraina
10,0<IKG<19,9 (kelaparan
sedang)
14. Uruguay
5,0<IKG<9,9 (kelaparan
rendah)
Turki dan Ukraina
menunjukkan keistimewaan
dalam mengatasi kelaparan
versi IFPRI yaitu dalam
tempo 17 tahun mampu
mewujudkan indeks IKG
dari kelaparan sedang ke
tingkat kelaparan
sebagaimana yang terjadi
di negara maju.
Sedangkan negara lainnya
telah berhasil bergeser dari
tingkat kelaparan IKG
negara maju dari status
sebelumnya sebagai IKG
kelaparan rendah.
Sumber: IFPRI (2017) (Diolah)
lainnya mampu bergeser dari IKG sedang ke
kelompok IKG rendah pada 2017 (Tabel
lampiran 3).
Faktor X sebagai Penjelas Pergeseran Indeks
Kelaparan Global (IKG)
Tabel lampiran 4 menyajikan data negara,
pendapatan per kapita (nominal) tahun 2017,
nilai IKG 2017, rasio pangsa pengeluaran rumah
tangga dalam belanja pangan terhadap total
pengeluaran rumah tangga (W), rasio pangsa
pengeluaran pangan negara-negara (dalam
tabel) terhadap pangsa pengeluaran pangan
Indonesia, dan rasio pendapatan per kapita
terhadap pendapatan per kapita Indonesia.
Belarus, Chile, dan Kuwait merupakan
negara berkembang yang sejak tahun 2000
sudah mencapai tingkat IKG negara maju.
Prestasi ini berlanjut sampai dengan tahun
2017, dengan 11 negara berkembang lain
sebagai pendatang baru yang menuaikan
prestasi mencapai IKG sama dengan negara
maju. Tingkat pendapatan per kapita Belarus
tahun 2017 adalah US$ 5787. Tingkat
pendapatan Belarus ini hanya 1,48 kali lebih
besar daripada tingkat pendapatan per kapita
Indonesia. Terlebih lagi Bosnia & Herzegovina,
rasio tingkat pendapatan per kapitanya
dibanding Indonesia hanya 1,12 kali dari
pendapatan per kapita Indonesia. Hal yang
mencolok apabila dipandang dari pendapatan
per kapita ini dan dibandingkan dengan
pendapatan per kapita Indonesia adalah
PERGESERAN DALAM INDEKS KELAPARAN GLOBAL (GLOBAL HUNGER INDEX) 2000-2017: IMPLIKASI TERHADAP KEBIJAKAN
PERTANIAN, PANGAN DAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA Agus Pakpahan
Ukraina yaitu 0,58 kali pendapatan per kapita
Indonesia. Namun demikian, mengapa Ukraina
yang gambaran tingkat pendapatan per
kapitanya lebih rendah dari Indonesia atau
mengapa Belarus dan Bosnia & Herzegovina
yang penapatan per kapitanya tidak terlalu jauh
dari Indonesia mampu mencapai nilai IKG bisa
mencapai atau sama dengan nilai IKG negara
maju?
Semakin tinggi nilai IKG, semakin tinggi
tingkat kelaparan yang digambarkan dalam
suatu negara. Nilai IKG Indonesia dalam tempo
17 tahun (2000-2017) hanya berkurang dari
25,5 poin (2000) menjadi 22 poin (2017), hanya
berkurang 3,5 poin selama 17 tahun, atau hanya
berkurang 0,21 poin per tahun. Dengan laju
penurunan hanya 0,21 poin per tahun maka
untuk mencapai nilai IKG 5,0, atau pengurangan
17 poin diperlukan waktu sekitar 80 tahun lagi,
ceteris paribus. Fakta ini memberikan pesan
bahwa untuk mewujudkan ketahanan pangan
berkualitas sama dengan ketahanan pangan
versi IFPRI, Indonesia memerlukan bukan
hanya inovasi untuk mengatasi kelaparan ini
dengan cerdas tetapi juga diperlukan fokus dan
energi yang sangat besar apabila memang
peningkatan SDM menjadi prioritas nasional.
Ukraina perlu ditelaah lebih mendalam
mengingat
negara
ini
memperlihatkan
keunggulan yang sifatnya unik, yaitu tingkat
pendapatan per kapitanya lebih rendah dari
Indonesia,
tetapi
pencapaian
mengatasi
kelaparan di negara ini sangat fantastik, yaitu
meloncat dari kelompok IKG tingkat kelaparan
sedang menjadi negara dengan nilai IKG sama
dengan negara maju. Informasi yang disajikan
pada Tabel lampiran 4 menunjukkan bahwa
Ukraina ini memang unik, yaitu walaupun tingkat
pendapatan per kapitanya lebih rendah daripada
tingkat pendapatan perkapita Indonesia, pangsa
pengeluaran rumah tangga untuk pangan di
Ukraina lebih rendah daripada pangsa
pengeluaran rumah tangga untuk pangan di
Indonesia. Dengan rasio pendapatan per kapita
Ukraina 0,58 daripada tingkat pendapatan per
kapita Indonesia, pangsa pengeluaran rumah
tangga Ukraina untuk belanja pangan berada
pada posisi 82% dari pengeluaran pangan
rumah tangga Indonesia. Dilihat dari sudut
pandang ini, harga riil pangan di Ukraina
kurang-lebih hanya 82 % dari harga riil pangan
di Indonesia.
Semakin rendah pangsa
pengeluaran pangan rumah tangga maka
semakin sejahtera rumah tangga tersebut
(Working 1943, Seale 2003).
Model Ukraina ini, walaupun tingkat
pendapatan dan pangsa pengeluaran pangan
mirip dengan Vietnam, tetapi nilai IKG Vietnam
81
masih berada pada nilai 16,0 atau berada pada
tingkat kelaparan Sedang. Memang tingkat
kelaparan Vietnam pada tahun 2000 masih
bernilai IKG sama dengan 28,6, lebih tinggi dari
Indonesia yang memiliki nilai IKG 25,5. Namun
demikian, nilai IKG 2017 yang dicapai Vietnam
adalah 16,0, sedangkan IKG Indonesia pada
2017 masih bernilai 22,0. Artinya, Vietnam
dengan tingkat pendapatan per kapita yang
lebih rendah daripada Indonesia mampu
mengatasi kelaparan sampai pada tingkat
kelaparan Sedang sedangkan Indonesia tetap
saja berada pada tingkat kelaparan Serius
(Tabel lampiran 4).
Contoh
lainnya
adalah
Malaysia.
Pendapatan per kapita Malaysia hampir duasetengah kali lipat pendapatan per kapita
Indonesia. Tidak seperti Ukraina dengan tingkat
pendapatan yang lebih rendah dari Indonesia
bisa mencapai IKG sama dengan IKG negara
maju, Malaysia masih tetap tergolong sebagai
negara
dengan
tingkat
IKG
yang
menggambarkan kelaparan Sedang. Karena itu,
fakta Ukraina ini menjadi bahan penting bagi
Indonesia dan bagi negara lain yang masih
mengalami tingkat kelaparan yang masih jauh
dari tingkat kelaparan di negara maju. Tentu
saja prestasi ke 14 negara yang mampu
mencapai nilai IKG sama dengan IKG negara
maju, walaupun tingkat pendapatannya sudah
melebihi pendapatan per kapita Indonesia, tetap
penting mengingat tingkat pendapatan negaranegara tersebut pada umumnya masih jauh dari
tingkat pendapatan negara-negara maju. Ke 14
negara
tersebut
memperlihatkan
aspek
nonpendapatan yang tidak kalah pentingnya
apabila suatu negara akan mengatasi masalah
ketahanan
pangan
yang
berdimensi
peningkatan kualitas SDM dari bangsa tersebut
(Tabel lampiran 4).
Pola Konsumsi Protein Hewani
Pola konsumsi protein hewani yang tinggi
merupakan penciri pola konsumsi pangan
bangsa-bangsa negara maju. Pola konsumsi
protein jarang mendapatkan perhatian secara
serius, bahkan makna protein yang berarti yang
utama, yang pertama, atau yang terpenting,
yang berasal dari bahasa Yunani yaitu proteus,
belum banyak dipahami. Dimensi kelaparan
sebagaimana yang digambarkan oleh IKG, bagi
negara-negara berkembang dapat dipastikan
sebagai akibat dari kekurangan konsumsi
protein hewani.
Rata-rata pangsa pengeluaran per kapita per
sebulan (desa dan kota) Indonesia untuk
belanja konsumsi protein hewani (ikan, daging,
82
telur dan susu) pada September 2014 adalah
8,8% dari total pengeluaran pangan sebesar
Rp74.359. Dengan demikian, pengeluaran per
kapita (desa dan kota) Indonesia untuk membeli
ikan, daging, telur dan susu Rp6.543 per bulan
atau per hari sekitar Rp218 per kapita (sebulan
diasumsikan 30 hari). Selanjutnya, data BPS
pada tahun 2010 menunjukkan bahwa tingkat
konsumsi protein hewani sesuai dengan
kelompok diatas adalah 13,45 gram per kapita
per hari. Tingkat konsumsi protein hewani
tersebut sangat sedikit dibandingkan dengan
tingkat konsumsi protein hewani bangsa Eropa
yang tercatat mencapai rata-rata 66,7 gram/
kapita/hari pada 1999 (de Boer 2006).
Dengan mengasumsikan dalam satu tahun
terdapat 365 hari, maka konsumsi protein per
kapita per tahun bangsa Eropa mencapai
24.345 gram. Konsumsi bangsa Eropa sekitar 5
kali lebih banyak daripada konsumsi protein
hewani
bangsa
Indonesia.
Hasil
riset
Grasgruber, Cacek, Kalina, dan Sebera (2014)
memperkuat
secara
meyakinkan
bahwa
pentingnya protein hewani dalam menyumbangkan perannya terhadap kualitas hidup manusia
digambarkan oleh rata-rata tinggi badan suatu
bangsa. emakin baik tingkat konsumsi
proteinnya, semakin tinggi rata-rata tinggi badan
suatu bangsa. Untuk kelompok negara-negara
ASEAN, rata-rata tinggi badan tinggi pria
dewasa Indonesia adalah yang terpendek
(ASEAN Average Height, inquirer.net). Hasil
riset akhir-akhir ini banyak menunjukkan bahwa
perkembangan
tinggi
badan
merupakan
gambaran yang menunjukkan apakah suatu
bangsa makin sejahtera atau sebaliknya. Faktor
tinggi badan ini secara nyata dipengaruhi oleh
tingkat konsumsi protein hewani (Grasgruber et
al. 2014, van Zanden et al. 2014)
Dengan demikian, berdasarkan struktur pola
konsumsi
pangan
seperti
yang
telah
digambarkan, Indonesia memerlukan strategi
dan kebijakan yang serius untuk mengejar
ketertinggalan dalam hal pemenuhan kebutuhan
protein ini. Namun demikian, strategi dan
kebijakan yang harus ditempuh perlu dirancang
agar berkorelasi positif dengan arah dan target
pencapaian
ketahanan
pangan
yang
berkualitas.
INTEGRASI IKG DAN LINGKUNGAN HIDUP
Kearney (2010) mengelompokkan faktor
utama penyebab perubahan dan pembentuk
kecenderungan dalam konsumsi pangan
masyarakat dunia, mencakup: sosial-ekonomi,
urbanisasi, kebijakan perdagangan, liberalisasi
Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 35 No. 2, Desember 2017: 75-90
pasar, peningkatan pendapatan, partisipasi
wanita dalam ekonomi, dan sikap atau
preferensi konsumen. Kecenderungan dan
perubahan pola konsumsi tersebut akan
berpengaruh dan memberikan dampak yang
besar terhadap sistem produksi dan kualitas
lingkungan hidup. Dengan perkataan lain
perubahan tersebut akan berdampak terhadap
keberlanjutan sistem pangan masyarakat dunia.
Sebagai ilustrasi, setiap peningkatan konsumsi
satu kilogram protein daging akan meningkatkan
6 kg protein nabati (Pimentel adn Pimentel
2006, Smill, 2000). Artinya, terdapat trade-off
antara memproduksi protein hewani untuk
memenuhi konsumen akan protein hewani
dengan memproduksi protein nabati sebagai
bahan pangan yang langsung dikonsumsi
manusia. Selain itu, akan diperlukan sumber
daya alam yang jauh lebih banyak untuk
memproduksi protein hewani, dan ini akan
berdampak negatif terhadap lingkungan hidup.
Data pada Tabel lampiran 5 menunjukkan
perubahan yang terjadi dalam hal konsumsi
pangan yang dikelompokkan kedalam tujuh
jenis komoditas, selama 4 dekade untuk negara
berkembang dan negara maju dengan
memisahkan Republik Rakyat Tiongkok (RRT)
sebagai bagian analisis tersendiri. Dapat dilhat
bahwa kecenderungan peningkatan konsumsi
pangan berupa daging, gula, gandum, minyak
nabati dan beras bagi negara berkembang
masih terus meningkat dengan peningkatan
tertinggi dialami oleh minyak nabati yaitu 199 %;
dan peningkatan kedua dan ketiga masingmasing dialami oleh gula dan daging. Konsumsi
gandum dan beras juga masih meningkat
dengan peningkatan masing-masing 87 dan
13%. Sedangkan untuk konsumsi pangan
kelompok polong dan umbi-umbian telah
mengalami penurunan masing-masing sebesar
41% dan 13%.
Kecenderungan pola konsumsi masyarakat
RRT secara struktural serupa dengan pola
perkembangan konsumsi pangan masyarakat
negara berkembang pada umumnya, hanya saja
skala atau ukuran pertumbuhannya jauh lebih
besar. Peningkatan konsumsi daging di RRT
berdasarkan ukuran dan periode di atas
mencapai 349% atau 2,93 kali lebih banyak
daripada peningkatan hal yang sama yang
terjadi di negara berkembang; peningkatan
konsumsi gula RRT mencapai 305% atau 2,4
kali peningkatan konsumsi gula di negara
berkembang; dan, peningkatan konsumsi
minyak nabati, gandum dan beras masingmasing mencapai 680%, 131% dan 24%.
Sedangkan untuk konsumsi polong dan umbiumbian bagi RRT dan negara berkembang pada
umumnya sudah cenderung menurun.
PERGESERAN DALAM INDEKS KELAPARAN GLOBAL (GLOBAL HUNGER INDEX) 2000-2017: IMPLIKASI TERHADAP KEBIJAKAN
PERTANIAN, PANGAN DAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA Agus Pakpahan
Tabel 2. Pangsa pengeluaran pangan desa
dan kota di Indonesia, per September
2014
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
Jumlah
Komoditas
Padi-padian
Umbi-umbian
Ikan
Daging
Telur dan susu
Sayur-sayuran
Kacang-kacangan
Buah-buahan
Minyak dan lemak
Bahan minuman
Bumbu-bumbuan
Konsumsi lainnya
Makanan jadi
Tembakau dan sirih
2014
6,83
0,46
3,94
1,93
2,95
3,45
1,22
2,12
1,50
1,62
0,92
0,93
12,56
6,03
46,45
Sumber: BPS, 2014
Konsumsi pangan untuk negara maju
menampakkan adanya gejala yang sudah
mendekati kejenuhan bagi jenis pangan seperti
daging,
tetapi
sebaliknya
bagi
negara
berkembang masih merupakan komoditas
pangan yang mewah. Hal tersebut digambarkan
secara lebih lengkap oleh peningkatan
konsumsi daging, gula, gandum, dan beras
relatif
terhadap
peningkatan/penurunan
konsumsi negara berkembang untuk masingmasing komoditas tersebut: yaitu 0,12 kali
negara berkembang; -0,04 kali negara
berkembang; dan 0,06 kali negara berkembang;
serta -1,4 kali negara berkembang. Sedangkan
perilaku kecenderungan konsumsi minyak
nabati mengalami lonjakan lebih dari 100%
untuk ketiga kelompok negara di atas dengan
RRT mengalami lonjakan tertinggi yaitu 680%.
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa
tekanan terhadap pertanian dan lingkungan
yang terjadi di negara-negara berkembang jauh
lebih tinggi daripada yang terjadi di negaranegara maju. Oleh karena itu pula integrasi
antara konsumsi pangan dan kesehatan dengan
sumber daya alam dan lingkungan yang
dibutuhkan untuk pertanian pangan sangatlah
diperlukan.
Di negara maju integrasi yang kuat antara
pertanian, pangan, sumber daya alam dan
lingkungan terjadi melalui proses industrialisasi
yaitu proses transformasi ekonomi dari ekonomi
berbasis pertanian ke ekonomi berbasis industri.
Industrialisasi membuka peluang migrasi tenaga
kerja dari pertanian ke nonpertanian yang
83
didorong oleh insentif nilai tambah melalui
spesialisasi sumber daya manusia. Untuk
negara maju baru seperti Korea Selatan atau
Jepang, proses transformasi di negara ini
berpola sama dengan yang pernah terjadi di
negara-negara maju terdahulu. Perbedaannya
hanya saja proses transformasi di Korea
Selatan dan Jepang terjadi sangat cepat yaitu
setiap 1% penurunan produk domestik bruto
(PDB) pertanian dalam PDB nasional diikuti oleh
penurunan jumlah tenaga kerja pertanian lebih
dari 2%. Implikasi dari hal ini sangatlah penting
yaitu pengurangan jumlah petani memberikan
peluang terjadinya luas lahan per petani
meningkat, misalnya untuk kasus di Hokkaido,
Jepang, selama 40 tahun rata-rata luas lahan
per petani di sana meningkat dari sekitar 4
hektar pada 1965 menjadi sekitar 16 hektar
pada 2005. Gambaran yang lebih memberikan
stimulan pemikiran kita adalah kejadian di
Amerika Serikat dimana industrialisasi di negara
ini telah memberikan rata-rata luas lahan
pertanian per petani dewasa ini sekitar 200
hektar. Dengan semakin luasnya ukuran lahan
per petani, maka kesempatan intensifikasi ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam pertanian
menjadi semakin terbuka. Pada akhirnya
tekanan terhadap lingkungan per unit produk
atau per tenaga kerja menjadi semakin kecil.
Model ini telah memuat negara-negara maju
sebagai region yang mengalami surplus pangan
(Pakpahan, 2013).
Konsumsi pangan terkait erat dengan
lingkungan hidup dan sumber daya alam.
Keterkaitan pertama adalah keterkaitan dalam
hubungan input produksi-output produksi berupa
pangan. Keterkaitan kedua adalah keterkaitan
ketersediaan bahan organik baik berupa sisasisa atau sampah organik pangan atau bentuk
bahan organik lain seperti kotoran ternak atau
sampah
industri
pangan,
yang
dapat
dikembalikan menjadi input dalam sistem
produksi pangan. Dalam paradigma berpikir
sekarang yang sifatnya linier maka “sampah
organik” tersebut belum diintegrasikan secara
komprehensif.
Bagi negara berkembang yang pada
umumnya berada di lingkungan tropika, posisi
sampah organik ini sangat penting selain
jumlahnya menempati proporsi yang lebih besar
dari total sampah padat inorganik yang
dihasilkan suatu region, ketersediaannya juga
dapat dikonversi menjadi bahan organik yang
sangat diperlukan untuk pertanian modern.
Selama ini sampah organik hanya dilihat
sebagai bahan untuk dijadikan kompos atau
energi biogas (Ahmad et al. 2007), dengan
memanfaatkan
teknologi
biokonversi
Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 35 No. 2, Desember 2017: 75-90
84
menggunakan Hermetia illucens (Agrawal et al.
2011), misalnya, selain “kompos” bermutu tinggi
dan bahan pupuk cair, dapat diperoleh juga
protein, lemak dan substansi kimia lainnya yang
terdapat dalam wujud maggot, prepupae,
pupae, atau lalat dewasa. Sumber protein ini
bisa dijadikan bahan pakan untuk ikan atau
unggas, menggantikan sebagian tepung ikan
yang selain selama ini diimpor juga harganya
semakin mahal, sebagai upaya peningkatan
konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia
yang diketahui masih sangat rendah ini. Selain
itu penggunaan maggot sebagai sumber protein
akan memberikan dampak positif terhadap
kelestarian sumber daya laut dan menghemat
lahan untuk tempat pembuangan sampah serta
menciptakan linkungan yang bersih dari patogen
yang membahayakan seperti Salmonella sp.
dan Coli sp. (Lalander et al. 2013, Pakpahan
2015, Liu et al. 2008, Banks 2014).
PENUTUP
IFPRI sebagai lembaga riset kebijakan
pangan dunia telah memelopori berkembangnya
kebijakan pangan dengan menggunakan istilah
kelaparan yang diukur oleh tingkat kualitas
hidup manusia, khususnya kualitas hidup anakanak dalam selang usia kurang dari lima tahun,
yang dibangun ke dalam satu ukuran indeks
komposit dinamakan Indeks Kelaparan Global
(IKG). Berdasarkan data IKG 2000 dan IKG
2017 secara umum tingkat kualitas hidup SDM
secara global dapat dikatakan telah meningkat
yaitu berkurangnya jumlah negara yang pada
tahun 2000 sebagian besar tergolong pada
tingkat kelaparan membahayakan dan sangat
membahayakan. Pada tahun 2017 sebagian
besar dari kelompok tersebut telah bergeser ke
kelompok tingkat kelaparan serius atau sedang.
Pergeseran paling penting telah terjadi
dengan bertambahnya 11 negara yang
sebelumnya berstatus kelaparan sedang atau
rendah pada IKG 2000 menjadi 14 negara
dengan status IKG kelaparan sama dengan
tingkat kelaparan negara maju pada 2017. Bukti
bahwa negara berkembang mampu mencapai
tingkat kelaparan sama dengan tingkat
kelaparan negara maju merupakan hal yang
sangat penting dalam upaya mengatasi
kelaparan di negara berkembang dan sekaligus
pula membangun konsep ketahanan pangan
yang ukurannya bukan konsumsi per kapita lagi
tetapi peningkatan kualitas hidup SDM dari
suatu bangsa atau negara.
Indonesia selama 17 tahun (2000-2017)
menunjukkan perkembangan yang statis, yaitu
status ketahanan pangan Indonesia apabila
diukur
oleh
kualitas
hidup
SDM-nya
sebagaimana digambarkan oleh IKG yang tidak
berubah yaitu masih tergolong di dalam
kelompok kelaparan yang serius. Berdasarkan
perkiraan kasar, apabila tingkat penurunan
kelaparan Indonesia sama dengan yang dicapai
selama 17 tahun yang lalu, maka Indonesia
baru akan mencapai tingkat kelaparan negara
maju dengan nilai IKG kurang dari 5,0 (IKG<5,0)
memerlukan waktu 80 tahun lagi.
Hal ini
mengandung implikasi yang sangat penting bagi
Indonesia apabila peningkatan kualitas SDM
menjadi prioritas dan pembangunan pertanian
terutama dalam elemen ketahanan pangan
orientasinya dikembangkan ke aspek-aspek
yang sifatnya strategis untuk peningkatan
kualitas SDM Indonesia. Sangat rendahnya
tingkat konsumsi protein hewani bangsa
Indonesia merupakan faktor utama dalam
tingginya nilai IKG Indonesia selama ini.
Pengalaman 14 negara berkembang yang
mampu mencapai IKG negara maju, khususnya
Ukraina yang tingkat pendapatan per kapitanya
lebih rendah daripada pendapatan per kapita
Indonesia, atau negara lainnya yang tingkat
pendapatan perkapitanya tidak berbeda jauh
dari Indonesia, merupakan bukti empiris yang
sangat penting dalam menunjukkan bahwa
pendapatan per kapita penting tetapi ada aspek
nonpendapatan
yang
perannya
dalam
menurunkan kelaparan bisa lebih penting
sebagaimana ditunjukkan oleh 14 negara di
atas, khususnya Ukraina.
“Harga riil” antara pangan dan nonpangan
diperlihatkan oleh rata-rata pangsa pengeluaran
pangan rumah tangga. Semakin tinggi nilai
pangsa pengeluaran pangan rumah tangga
menunjukkan bahwa “harga riil pangan”
semakin mahal. Diukur oleh nilai ini, maka
diperoleh gambaran bahwa “harga riil” pangan
di Indonesia jauh lebih mahal dibandingkan
dengan harga pangan di 14 negara yang
diuraikan di atas. Tingkat kelaparan Indonesia
yang diukur oleh IKG, yang masih tetap
tergolong dalam kelompok kelaparan yang
membahayakan,
juga
menggambarkan
rendahnya asupan protein terutama protein
hewani.
Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana
diuraikan di atas disampaikan saran sebagai
berikut: (a) Konsep ketahanan pangan
sebagaimana yang berlaku dewasa ini perlu
diintegrasikan dengan konsep kelaparan
sebagaimana yang digambarkan dalam konsep
IKG yang dikembangkan IFPRI. Dengan
PERGESERAN DALAM INDEKS KELAPARAN GLOBAL (GLOBAL HUNGER INDEX) 2000-2017: IMPLIKASI TERHADAP KEBIJAKAN
PERTANIAN, PANGAN DAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA Agus Pakpahan
demikian dimensi kuantitatif ketahanan pangan
berdasarkan sudut pandang produksi atau pasar
akan bersenyawa dengan konsep kualitas hidup
SDM yang digambarkan dalam komponen IKG;
(b) Negara-negara berkembang, khususnya
Indonesia, perlu melakukan penelitian yang
mendalam atas kasus 14 negara berkembang
yang mencapai prestasi penanggulangan
kelaparan di negaranya sehingga mampu
mencapai tingkat kelaparan yang terdapat di
negara-negara maju. Fokus penelitian adalah
menemukan variabel nonpendapatan yang
kiranya berdampak nyata pada upaya
mengembangkan pola konsumsi pangan yang
mampu
mencegah
terjadinya
kelaparan
sebagamana
didefinisikan
di
atas;
(c)
Rendahnya tingkat konsumsi protein hewani
masyarakat Indonesia perlu dijadikan perhatian
utama dalam membangun sistem produksi
protein hewani yang murah, menyelesaikan
masalah lingkungan hidup dan sekaligus juga
menyelesaikan masalah resistensi antibiotika
(antibiotic resistence) sebagaimana yang telah
menjadi permasalahan di negara maju
sekarang.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis menyampaikan terima kasih kepada
semua pihak yang telah berperan dalam proses
penerbitan tulisan ini, terutama disampaikan
kepada Kepala PSEKP yang telah memotivasi
dan memfasilitasi penulisan artikel ini. Ucapan
terima kasih juga disampaikan kepada para
anggota Dewan Redaksi dan Redaksi
Pelaksana serta Mitra Bestari Jurnal Forum
Penelitian Agro Ekonomi atas saran dan
masukannya.
DAFTAR PUSTAKA
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2014. Pengeluaran
untuk konsumsi penduduk Indonesia. Buku I.
Survey Sosial Ekonomi Nasional. Jakarta (ID):
Badan Pusat Statistik.
Agrawal N, Chacko M, Ramachandran M, Thian M.
2011. Assessing the commercial viability of BSF
as biodiesel and animal feed. University of
California at Berkeley.Report
Prepared for the
London School of Hygiene and Tropical Medicine.
Prepared by from the University of California
Berkeley, Haas School of Business. Berkeley
(US): University of California Berkeley.
Ahmad R, Jilani G, Arshad M, Zahir ZA, Khalid A.
2007. Bio-conversion of organic wastes for their
recycling in agriculture: an overview of
85
perspectives and prospects. Annals of Microbiol.
57(4):471-479.
Banks IJ. 2014. To assess the impact of black soldier
fly (hermetia illucens) larvae on faecal reduction in
pit latrines. PhD thesis. London School of Hygiene
and
Tropical
Medicine.
doi:10.17037/PUBS.01917781
de Boer J, Helms M, Aiking H. 2006. Protein
consumption and sustainability: diet diversity in
EU-15. Ecological Econ. 59: 267-274.
[FAO] Food and Agriculture Organization. Tanpa
tahun. How to Feed the World in 2050. [Internet].
[cited 2017 Oct 20].
Availabel from:
http://www.fao.org/fileadmin/templates/wsfs/docs/
expert_paper/How_to_Feed_the_World_in_2050.
pdf
Fabiosa JF. 2006. Westernization of the Asian diet:
the case of rising wheat consumption in
Indonesia.
Iowa
State
University Digital
Repository CARD Reports and Working Paper 42006. Iowa (US): Iowa State University.
FAO, 2009.Global agriculture towards 2050. High
Level Expert Forum, Rome, 12-13 October 2009.
Rome (IT): Food and Agriculture Organization.
Grasgruber P, Cacek J, Kalina T, Sebera M. 2014.
Role of nutrition and genetics as key determinants
of the positive height trend. Econ Human Biol.
15:81–100.
Harrell M, Ussery E, Greene-Cramer B, Ranjit N,
Sharma
SV.
2015.
The
influence
of
“westernization” on nutrition and physical activity
behaviors of adolescents in New Delhi, India: are
we exporting an epidemic of obesity? J of Applied
Res on Children: Informing Policy for Children at
Risk, Volume 6 Issue 2 Nutrition and Food
Insecurity Article 10.
Johnson GL. 1986. Research methodology for
economists - philosophy and practice. New York
(US): Macmillan.
Kearney J. 2010. Food consumption Trends and
Drivers. Phil. Trans. R. Soc. B (2010) 365: 27932807. doi: 10.1098/rstb.2010.0149.
Lalander C, Diener S, Magri ME, Zurbrugg C.
Lindstrom A, Vinneras B. 2013. Faesal sludge
management with the larvae of the black soldier
fly (hermetia illucens) - from a hygiene aspect. Sci
Total
Environ
458-460:312-8.
doi:
10.1016/j.scitotenv.2013.04.033
Liu Q, Tomberlin JK, Brady JA, Sanford MR, Yu Z.
2008. Black soldier fly (diptera: stratiomidae)
larvae reduce escherichia coli in dairy manure.
Environ Entomol. 37(6): 525-530.
Pakpahan A. 2013. Membalik arus guremisasi petani
dan pertanian.
Orasi Profesor Riset, Badan
Litbang, Kementrian Pertanian-Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia, Bogor, 13 Nopember
2013. Bogor (ID): Badan Litbang Pertanian.
86
Pakpahan A. Turning waste into healthy economy.
Opinion. The Jakarta Post, March 7, 2015.
Pan A, Malik V, Hu FB. 2012. Exporting diabetes to
Asia: the impact of western-style fast food.
Circulation
126(2):163–165.
doi:10.1161/CIRCULATIONAHA.112.115923.
Pimentel D, Pimentel M. 2006. Sustainability of meatbased and plant-based diets and the environment.
American Journal of Clinical Nutrition 78: 660S663. Dalam De Boer J, Helms M, Aiking H.
Protein consumption and sustainability: diet
diversity in EU-15. Ecological Econ. 59:267-274.
Pingali P. 2006. Westernization of Asian diets and the
transformation of food systems: Implications for
research and policy. Food Policy 32:281–298.
Seale J, Regmi A, Bernstein J. 2003. International
evidence on food consumption patterns. Technical
Bulletin Number 1904, Electronic Report from The
Economic Research Service, United States
Department of Agriculture, October 2003).
Washington, DC (US): United States Department
of Agriculture.
Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 35 No. 2, Desember 2017: 75-90
Smill V. 2000. Feeding the world: a challenge for the
twenty-first century. Cambridge, MA (UK): The
MIT Press. Dalam De Boer J, Helms M, Aiking H.
Protein consumption and sustainability: diet
diversity in EU-15. Ecological Econ. 59:267-274.
van Zanden JL, Baten J, d’Ercole JM, Rijpma A,
Timmer M. eds. 2014. How Was Life?: Global
Well-being since 1820. OECD Publishing. doi:
10.1787/9789264214262-en.
von Grebmer K, Bernstein J, Brown T, Prasai N,
Yohannes Y. 2017. Global hunger index 2017.
Washington DC (US): IFPRI.
von Grebmer K, Bernstein J, Hossain N, Brown T,
Prasai N, Yohannes Y, Patterson F, Sonntag A,
Zimmerman SM, Towey O, Foley C. 2017. The
concept of the global hunger index. [Internet].
[cited
2017
Mar
22].
Avalilable
from:
https://www.ifpri.org/publication/concept-globalhunger-index-1 http://IKG.ifpri.org/about/
Working H. 1943. Statistical laws of family
expenditure. J Amer Stat. Assoc. 38(221): 43-56.
PERGESERAN DALAM INDEKS KELAPARAN GLOBAL (GLOBAL HUNGER INDEX) 2000-2017: IMPLIKASI TERHADAP KEBIJAKAN
PERTANIAN, PANGAN, DAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA Agus Pakpahan
87
Tabel lampiran 1. Pengelompokan negara menurut IKG, 2000
Nilai IKG
1.
2.
Negara yang termasuk di dalamnya
IKG < 5,0 (situasi negara
maju)
5,0<IKG<9,9 (tingkat
kelaparan rendah)
3.
10,0<IKG<19,9 (Tingkat
kelaparan sedang)
4.
20,0<IKG<34,9 (tingkat
kelaparan serius)
5.
35,0<IKG<49,9 (tingkat
kelaparan
membahayakan)
6.
IKG>50.0 (tingkat
kelaparan sangat
berbahaya)
Sumber: IFPRI, 2017 (diolah)
Belarus, Chile, dan Kuwait
Bosnia & Herzegovina, Kroasia, Kuba, Estonia, Latvia,
Lithuania, Republik Slowakia, Uruguay, Romania, Costarica,
Macedonia FYR, Argentina, Bulgaria, Jamaika, Fiji, Lebanon,
Armenia, Georgia, Columbia, Jamaica, Fiji, Lebanon, Peru,
Panama, Kyrgyz Rep., Algeria, Azerbaijan, dan Suriname
Turki, Ukraina, Brazil, Kazakhstan, Rusia, Meksiko, Yordania,
Trinidad & Tobago, Saudi Arabia, Tunisia, Cina, Iran, Moldova,
Armenia, Georgia, Colombia, Kyrgyz Rep., Algeria, Suriname,
Malaysia, Maroko, Thailand, Paraguay, El Salvador, Oman,
Rep. Dominika, Venezuela, Afrika Selatan, Mauritius, Guyana,
dan Mesir
Peru, Panama, Azerbaijan, Albania, Turkmenistan, Uzbekistan,
Mongolia, Nikaragua, Gabon, Honduras, Ekuador, Vietnam,
Ghana, Bolivia, Filipina, Guatemala, Swaziland, Indonesia, Irak,
Gambia, Lesotho, Bostwana, Mauritania, Sri Lanka, Namibia,
dan Cote d Ivore
Senegal, Kenya, Nepal, Kamerun, Kamboja, Togo, Mianmar,
Benin, Nigeria, Rep. Kongo, Bangladesh, Malawi, Laos, Burkina
Faso, Korea Utara, Guenia, Mali, Tajikistan, Tanzania,
Mozambique, Guinea-Bissau, Djibouti, India, Pakistan,
Zimbabwe, Liberia, Yemen, dan Madagaskar
Rwanda, Ethiopia, Angola, Afganistan, Niger, Zambia, Sierra
Leone, Chad, dan Republik Afrika Tengah
Jumlah
negara
3
29
31
26
28
9
Tabel lampiran 2. Pengelompokkan negara menurut IKG, 2017
Nilai IKG
1.
2.
IKG < 5,0 (situasi
negara maju)
5,0<IKG<9,9
(Tingkat
kelaparan rendah)
3.
10,0<IKG<19,9
(tingkat kelaparan
sedang)
4.
20,0<IKG<34,9
(tingkat kelaparan
serius)
5.
Negara yang termasuk di dalamnya
Belarus, Bosnia & Herzegovina, Chile, Kroasia, Kuba, Estonia, Kuwait,
Latvia, Lithuania, Montenegro, Slovakia, Turki, Ukraina, dan Uruguay
Romania, Costarica, Macedonia FYR, Argentina, Brazil, Bulgaria,
Kazakhstan, Rusia, Mexico, Serbia, Jordan, Trinidad & Tobago, Saudi
Arabia, Tunisia, China, Iran, Moldova, Armenia, Georgia, Columbia,
Jamaica, Fiji, Lebanon, Peru, Panama, Kyrgyz Republic, Algeria,
Azerbaijan, dan Suriname
Malaysia, Maroko, Thailand, Paraguay, Albania, El Salvador, Oman,
Rep. Dominika, Turkmenistan, Venezuela, Uzbekistan, Afrika Selatan,
Mauritius, Mongolia, Nikaragua, Guyana, Gabon, Honduras, Ekuador,
Mesir, Vietnam, Ghana, Bolivia, dan Senegal
Filipina, Guatemala, Kenya, Swaziland, Indonesia, Nepal, Kamerun,
Kamboja, Togo, Mianmar, Iraq, Gambia, Lesotho, Benin, Botswana,
Mauritania, Nigeria, Sri Lanka, Rep. Kongo, Namibia, Bangladesh, Cote
de Ivori, Malawi, Laos, Burkina Faso, Korea Utara, Guinea, Mali,
Tajikistan, Tanzania, Mozambik,
Guenia-Bissau, Djibouti, India, Rwanda, Uganda, Ethiopia, Angola,
Pakistan, Afganistan, Zimbabwe, Haiti, Timor Leste, dan Niger
Liberia, Sudan, Yemen, Zambia, Madagaskar, Sierra Leone, dan Chad
35,0<IKG<49,9
(tingkat kelaparan
membahayakan)
6. IKG>50,0 (tingkat
Republik Afrika Tengah
kelaparan sangat
berbahaya)
Sumber: IFPRI, 2017 (diolah)
Jumlah
negara
14
29
24
44
7
1
88
Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 35 No. 2, Desember 2017: 75-90
Tabel lampiran 3. Pengelompokkan negara menurut pergeseran IKG dari negara tergolong IKG
kelaparan sedang menjadi IKG kelaparan rendah pada periode 2000 ke 2017
Negara dengan nilai 0<IKG<19,9
(Tingkat Kelaparan Sedang)
Tahun 2000
Status IKG tahun 2017
Turki dan Ukraina
Bergeser ke IKG negara maju,
IKG <5,0
Brazil, Kazakhstan, Rusia,
Meksiko, Yordania, Trinidad &
Tobago, Saudi Arabia, Tunisia,
Cina, Iran, Moldova, Armenia,
Georgia, Colombia, Kyrgyz Rep.,
Algeria, dan Suriname
Bergeser ke 5,0<IKG<9,9
(Tingkat Kelaparan Rendah)
Malaysia, Maroko, Thailand,
Paraguay, El Salvador, Oman,
Tetap pada tingkat kelaparan
sedang, 10<IKG<19,9
Rep. Dominika, Venezuela,
Afrika Selatan, Mauritius, Guyana,
dan Mesir
Keterangan
Bedasarkan hasil penelitian IFPRI
mengenai Global Hunger Index,
terdapat dua (2) negara yang pada
tahun 2000 masih berstatus
kelaparan sedang ternyata dalam
tempo 17 tahun mampu mencapai
nilai indeks IKG menyamai negara
maju: Turki dan Ukraina.
Negara lainnya yang mampu
bergeser ke status tingkat kelaparan
rendah: Brazil, Kazakhstan, Rusia,
Yordania,Trinidad dan Tobago, Saudi
Arabia, Tunisia, RRT, Iran, Moldova,
Armenia, Georgia, Kolumbia, Kyrzyg,
Algeria, dan Suriname.
Negara dengan IKG pada status
masih sama dengan tingkat
kelaparan sedang:
Malaysia, Maroko, Thailand
Paraguay, El Salvador Oman, Rep.
Dominika, Venezuela, Afrika
Selatan,Mauritius,
Guyana, dan Mesir
Sumber: IFPRI, 2017 (diolah).
PERGESERAN DALAM INDEKS KELAPARAN GLOBAL (GLOBAL HUNGER INDEX) 2000-2017: IMPLIKASI TERHADAP KEBIJAKAN
PERTANIAN, PANGAN, DAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA Agus Pakpahan
Tabel lampiran 4.
Pendapatan per kapita (nominal), nilai IKG 2017, pangsa pengeluaran pangan
rumah tangga (%), rasio pangsa pengeluaran rumah tangga negara dalam tabel
terhadap pangsa pengeluaran pangan rumah tangga Indonesia, dan rasio
pendapatan per kapita negara dalam tabel terhadap pendapatan per kapita
Indonesia
Pangsa
pengeluaran
pangan
rumah
tangga
(%)
Rasio pangsa
pengeluaran
rumah tangga
negara dalam
tabel terhadap
pangsa
pengeluaran
pangan Indonesia
Rasio
pendapatan
perkapita
terhadap
pendapatan per
kapita
Indonesia
Pendapatan
per kapita
(nominal)
tahun 2017
Nilai IKG
2017
1. Belarus
5787
<5
36,4
0,783
1,48
2. Bosnia & Herzegovina
4365
<5
31,1
0,669
1,12
3. Chile
13663
<5
15,3
0,329
3,51
4. Kroasia
12046
<5
30,5
0,656
3,09
5. Kuba
7465
<5
-
1,92
6. Estonia
17891
<5
0,439
4,59
7. Kuwait
29240
<5
-
7,51
8. Latvia
14188
<5
20,0
0,431
3,64
9. Lithuania
15090
<5
23,2
0,499
3,84
10. Montenegro
6718
<5
19,0
0,409
1,72
11. Slovakia
16412
<5
17,7
0,381
4,21
12. Turki
9826
<5
21,5
0,462
2,52
13. Ukraina
2262
<5
38,1
0,820
0,58
14. Uruguay
16639
<5
18,2
0,391
4,27
15. Republik Rakyat Tiongkok
8481
7,5
25,0
0,538
2,16
16. Malaysia
9623
10,2
20,6
0,443
2,47
17. Vietnam
2306
16,0
35
0,334
0,59
18. Thailand
6265
10,6
25,7
0,553
1,61
19. Indonesia
3895
22,0
46,45
1,00
1,00
6,4
0,137
14,2
0,306
Negara
20. Amerika Serikat
21. Jepang
89
20,4
Sumber: (1) Data Pangsa Pengeluaran Pangan untuk Indonesia, BPS. Data untuk negara lainnya:
http://www.euromonitor.com/; (2) Pendapatan per kapita statisticstime.com/economy/countries-byprojected-gdp-capita.php
Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 35 No. 2, Desember 2017: 75-90
90
Tabel lampiran 5. Kecenderungan perkembangan konsumsi negara berkembang, negara maju dan
Republik Rakyat Tiongkok 1983-2003 (dalam kilokalori per kapita per hari)
1963
1983
2003
Perubahan 19632003 (%)
147
210
369
119
Gula
75
128
170
127
Polong
167
113
99
-41
Umbi
178
157
154
-13
Minyak nabati
80
145
239
199
Gandum
245
453
457
87
Beras
580
694
655
13
Daging
833
929
958
15
Gula
349
337
328
-6
Pulses
40
29
37
-7,5
Umbi
145
112
112
-23
Minyak nabati
241
385
494
105
Gandum
592
559
627
6
Beras
188
145
153
-19
Daging
90
192
644
349
Gula
18
54
75
305
Pulses
143
50
17
-88
Umbi
255
222
176
-31
Minyak nabati
35
95
273
680
Gandum
194
534
448
131
Beras
637
962
790
24
Kelompok Negara
Negara Berkembang Daging
Negara Maju
Republik Rakyat
Tiongkok
Sumber: Kearny (2010)
Download