Uploaded by User102335

18.04.1057 bab1

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
1.1.1 Gambaran Umum PT Bukit Asam (Persero) Tbk
Sejarah pertambangan batubara yang berada di Tanjung Enim dimulai sejak zaman
kolonial Belanda pada tahun 1919 dengan menggunakan metode penambangan terbuka di
wilayah operasi pertama, yaitu di Tambang Air Laya. Selanjutnya mulai 1923 beroperasi
dengan metode penambangan bawah tanah hingga 1940, sedangkan produksi untuk
kepentingan komersial dimulai pada tahun 1938.
Seiring dengan berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda di tanah air, para karyawan
Indonesia kemudian berjuang menuntut perubahan pada status tambang menjadi
pertambangan nasional. Pada 1950. Pemerintah RI kemudian mengesahkan pembentukan
Perusahaan Negara Tambang Arang Bukit Asam (PN TABA). Pada tahun 1981 Perusahaan
Negara TABA kemudian mengubah status perusahaannya menjadi Perseroan Terbatas
dengan nama PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk, yang selanjutnya disebut
Perseroan. Dalam rangka meningkatkan pengembangan industri batubara di Indonesia, pada
1990 Pemerintah menetapkan penggabungan Perum Tambang Batubara dengan Perseroan.
Sesuai dengan program yang telah dilaksanakan yaitu pengembangan ketahanan energi
nasional, pada tahun 1993 Pemerintah menugaskan Perseroan untuk dapat mengembangkan
usaha briket batubara. Kemudian pada 23 Desember 2002, Perseroan mencatatkan diri
sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode “PTBA”.
Pada tahun 2003 PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) berubah status
menjadi PT.Tambang Batubara Bukit Asam (Persero), Tbk. Kemudian pada tahun 2008 PT
Tambang Batubara Bukit Asam (Persero), Tbk. Berubah menjadi PT. Bukit Asam (Persero),
Tbk.
PT Tambang Bukit Asam Tbk atau PTBA kini telah mengembangkan kompetensinya
sebagai perusahaan energi melalui bisnis Pembangkit Listrik Tenaga Uap atau dikenal
dengan PLTU. Awalnya dimulai dari PLTU 3 x 10 Mega Watt (MW) dimulut Tambang
Tanjung Enim. Yang beroperasi di tahun 2013. Kemudian dilanjutkan dengan PLTU 2x 8
1
MW di pelabuhan tarahan beroperasi tahun 2014. PLTU ini awalnya direncanakan dibuat
untuk memenuhi kebutuhan energi operasional PT Bukit Asam sendiri di Tambang Tanjung
Enim dan Pelabuhan Tarahan.
Setelah mengembangkan kompetensinya dalam Pembangkit Listrik Tenaga Uap
ternyata PT Tanjung Enim memiliki kelebihan daya sebesar 6 MW, Perusahaan akhirnya
melakukan inisiatif untuk menjual kelebihan daya tersebut ke PLN yang dimulai sejak mei
2013. Kemudian pada pertengahan Desember 2013. Mengalami Kelebihan 4-10 MW dari
PLTU Pelabuhan Tarahan dan dibeli oleh PT PLN. Tercatat pada Annual Report PTBA
tahun 2013, disebutkan bahwa terdapat potensi pendapatan penjualan kelebihan daya listrik
sebesar 16 MW dari kedua PLTU tersebut dapat mencapai Rp 49,05 miliar per tahun.
Keuntungan utama yang didapatkan PTBA dengan adanya PLTU milik sendiri
adalah adanya ketersediaan pasokan listrik untuk operasional. Dengan adanya PLTU milik
sendiri maka perusahaan memperoleh bonus penghasilan tambahan dari penjualan listrik dan
dapat mengoptimalkan produksi batubara tanpa menambah kapasitas transportasi. Karena
dapat langsung menggunakan bahan bakar batubara berkalori rendah yang tidak ekonomis
untuk dijual. Perusahaan dapat menurunkan biaya produksi pada biaya listrik dan biaya
operasional secara signifikan dengan cara mengganti pasokan listrik dari PT PLN.
Perusahaan juga dapat fokus pada usaha penjualan batubara berkalori tinggi.
1.1.2 Program Binaan Lingkungan PT Bukit Asam
1. Bencana Alam
2. Pendidikan
3. Kesehatan
4. Sarana dan Prasarana
5. Pelestarian alam sosial kemasyarakatan
6. Peningkatan Kapasitas Mitra Binaan.
2
1.1.3 Logo dan Makna Perusahaan
Gambar 1.1
Logo PT Bukit Asam (Persero) Tbk
Sumber: Dokumen Perusahaan
Makna Logo
Menggambarkan Bumi, Tanah, dan Matahari
1. Pada simbol ini berasal dari huruf B dan ditransformasikan secara abstrak sehingga
menjadi simbol matahari yang terbit dari bumi yang mencerminkan awal dari masa
depan yang sangat cerah.
2. Warna kuning kemerahan mencerminkan matahari (energi), warna coklat kemerahan
menunjukkan lingkungan yang subur, warna biru mencerminkan “Corporate
Image”.
3. Kata Bukit Asam digunakan sebagai nama logo, dirangkaikan pada simbol logo
sebelah kanan dengan bagian bawah segaris. Serta nama logo yang dirangkaikan
dengan simbol logo merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
1.1.4 Visi Misi PT Bukit Asam (Persero) Tbk
1. Visi
“Menjadi perusahaan energi berbasis batubara yang ramah lingkungan”.
2. Misi
a. Fokus kepada core competency dan pertumbuhan yang berkesinambungan
b. Memberikan tingkat pengembalian yang optimal kepada pemegang saham
c. Meningkatkan budaya korporasi yang mengutamakan kinerja
d. Memberikan kontribusi pengembangan ekonomi nasional
e. Memberikan kontribusi yang maksimal dalam
f. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelestarian lingkungan.
3
1.1.5 Struktur Organisasi PT Bukit Asam (Persero) Tbk
Direktur Utama
Direktur
Pengembangan
Usaha
SM keuangan
Korporat
Sekretaris
Perusahaan
SM Satuan
Pengawasan
Intern
SM
Manajemen
Resiko dan
sistem
manajemen
perusahaan
SM
Evaluasi
Kinerja
Anak
Perusahaan
Direktur Keuangan
SM Strategi
Korporasi &
eksploitasi
Pengembangan
dan H&D
SM
pengembangan
Bisnis
SM
Engineering
dan Optimasi
Direktur SDM &
Umum
SM SDM Stratejik
SM
Perbendaharaan &
anggaran
SM SDM
Operasional
SM Akuntasni &
Perpajakan
SM Pengelola
Aset, layanan
umum dan Balitas
SM Teknologi
Informasi
SM Hukum &
Regulasi
Direktur Op. Produksi
PGS. Direktur
Niaga
GM Unit Pertambangan
SM
Pemasaran
dan penjualan
Deputi GM Unit Pertambangan
SM Perencanaan Tambang
SMP. Non Swakelola
SM
Pengadaan
Korporat
SM Penambangan Swakelola
SM Perawatan
SM Pengelolaan Lingkungan
& Penunjang Tambang
SM Tanggung
Jawab Sosial
Perusahaan
Gamber 1.2
SM Penanganan & angkutan barang
Struktur Organisasi
GM Unit Pelabuhan Tarahan
Sumber: Dokumen Perusahaan
GM Unit Dermaga Kertapati
GM Unit Pertambangan Ombilin
4
1.2 Latar Belakang Penelitian
Pada era globalisasi saat ini, perubahan sangat cepat terjadi, dimulai dari kemajuan
teknologi, sistem perdagangan secara globalisasi, dan stabilitas ekonomi politik dunia yang
ditandai dengan adanya peningkatan jumlah kompetitior yang berada di luar negeri dan
dalam negeri, organisasi ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja eksternal dan
internalnya agar dapat bersaing secara global. Maka dari itu perusahaan diharuskan dapat
beradaptasi dengan keadaan saat ini yang semakin modern dan menuntut sebuah organisasi
harus bergerak mengikuti perubahan yang ada. Dalam menghadapi kondisi tersebut maka
perusahaan memerlukan strategi unggul untuk bersaing agar dapat memiliki posisi dalam
pasar. Strategi unggul dalam hal ini adalah perusahaan harus melakukan pengembangan
terhadap suatu sistem dan pradigma baru melalui Good Corporate Governance atau tata
kelola perusahaan yang baik.
Sedangkan menurut Sutedi (2012:1) Good Corporate Governance adalah suatu
proses dan struktur yang digunakan oleh organ perusahaan (pemegang saham/pemilik
modal, Komisaris/ Dewan pengawas, dan Direksi) untuk meningkatkan keberhasilan usaha
dan akuntabilitas perusahaan guna tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya
yang berlandaskan peraturan perundang-undangan dan nilai-nilai etika dalam perusahann.
Dari hasil pemaparan pengertian GCG menurut sutedi dapat disimpulkan bahwa
Good Corporate Governance adalah suatu proses yang mana untuk mengendalikan dan
mengarahkan perusahaan agar dapat meningkatkan keberhasilan perusahaan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Saat ini Pentingya penerapan prinsip-prinsip GCG sudah diatur dalam peraturan
Menteri Negara BUMN Nomor: PER-01/MBU/2011 tentang penerapan tata kelola
perusahaan yang baik pada BUMN dan sebagaimana telah diubah dengan peraturan Menteri
Negara BUMN Nomor: PER-09/MBU/2012, Menteri Negara BUMN juga mendefinisikan
GCG atau tata kelola perusahaan yang baik. BUMN adalah salah satu ujung tombak roda
perekonomian Negara, perusahaan dituntut mengambil langkah komprehensif terhadap
assetnya agar dapat menghasilkan keuntungan berbentuk pemasukan kas sehinngga
memiliki nilai tambah perusahaan (Pusat Pengembangan Internal Audit, 2015:2).
5
Untuk terjaminnya penerapan Good Corporate Governance yang efektif dan efisien
perusahaan dapat mengukur dengan cara melihat bagaimana tingkat Keterbukaan informasi,
Akuntabilitas, Pertanggungjawaban, Kemandirian, dan Keadilan dalam perusahaan tersebut.
Hal ini dijelaskan pada peraturan Menteri Negara BUMN: PER-09/MBU/2012, bahwa
manfaat ini akan terlihat dalam jangka panjang yaitu kinerja perusahaan yang tinggi (High
Performance) serta citra perusahaan yang baik.
Sehingga saat ini Good Corporate Governance sudah diterapkan diseluruh negara,
hal ini terjadi dikarenakan perusahaan mempercayai sistem GCG sebagai jaminan
kelangsungan hidup perusahaan yang akan terlihat jangka panjang. Indonesia sudah mampu
menerapkan prinsip Good Corporate Governane akan tetapi masih jauh dari kata sempurna.
Berikut penjelasan mengenai peringkat Indonesia yang dilihat dari beberapa negara asia
yang menerapkan GCG.
Gambar 1.3
Peringkat Penerapan GCG di Asia
Sumber: CG Watch 2016
Dari data diatas dapat dilihat bahwa menurut hasil survei ACGA (Asian Corporate
Governance Assosiation) yang mana pada survei ini menghitung nilai negara berdasarkan
penilaian kinerja negara. Sehingga yang berada diposisi atas adalah Australia pada tahun
2016, selanjutnya Singapore berada di dua teratas. Hongkong dan Jepang berada di posisi
yang sama yaitu tiga teratas, dan Indonesia berada di bawah Philipina. Menurut survei
ACGA adanya ekosistem GCG adalah sebagai faktor pembeda antara keberhasilan dan
kegagalan sistem jangka panjang.
6
Akan tetapi tidak cukup jika hanya melakukan perhitungan menggunakan ACGA
sehingga perlu adanya perhitungan menggunakan CLSA berdasarkan gambar 1.3 yang mana
CLSA ini adalah untuk menghitung nilai negara berdasarkan jumlah penilaian bottom-up
perusahaan yang berada di bawah cakupan CLSA di Asia. Menurut perhitungan CLSA
bahwa Australia dapat mempertahankan kepemimpinan yang jelas dalam survei CG Watch
2016 dan yang menduduki posisi kedua adalah Jepang, pada perhitungan CLSA ini
Indonesia berada di atas Korea.
Dijelaskan pada hasil survei ACGA diatas, bahwa survei ini menghitung nilai negara
berdasarkan penilaian kinerjanya. Sehingga perlu diketahui arti atau maksud dari kinerja itu
sendiri adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
pegawai/karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang
diberikan kepada masing-masing organ dalam perusahaan tersebut (Mangkunegara dalam
Noor, 2012:100).
Sehingga penerapan Good Corporate Governance sangat penting bagi perusahaan
guna untuk memperoleh kinerja karyawan yang baik. Individu yang menunjukkan hasil kerja
yang bagus dapat dikatakan sebagai individu yang memiliki kinerja yang tinggi atau baik.
Begitupun sebaliknya, individu yang menunjukkan hasil kerja yang buruk maka dapat
dikatakan bahwa orang tersebut memiliki kinerja yang rendah atau buruk.
Menurut Michel dan Larson dalam Sedarmayanti (2009:319) adapun cara untuk
mengukur bagaimana kinerja karyawan di perusahaan, bisa melakukan penilaian kinerja
dengan mengetahui bagaimana kemampuan, inisiatf, ketepatan waktu, komunikasi, dan
kualitas hasil kerja yang dilakukan karyawan atau organ dalam perusahaan untuk
menggambarkan tingkat pencapaian suatu tujuan yang telah ditetapkan.
Pada saat ini perusahaan dituntut untuk mengembangkan suatu sistem dan paradigma
baru dalam pengelolaan bisnis dan industri. Good Corporate Governance (GCG) atau yang
lebih umum dikenal dengan tata kelola perusahaan yang baik muncul sebagai suatu pilihan
yang bukan saja menjadi formalitas, namun suatu sistem nilai dan kinerja yang baik sangat
penting bagi peningkatan nilai perusahaan di mata investor.
PT XYZ merupakan perusahaan yang berpusat di wilayah sumatera selatan dan
menjadi salah satu BUMN yang berkomitmen untuk menerapkan prinsip-prinsip tata kelola
7
perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Sesuai dengan etika bisnis PT XYZ
yaitu menjalankan bisnis secara profesional tanpa dipengaruhi oleh pihak lain. Hal ini sangat
diperlukan dalam menghadapi berbagai situasi di dalam dunia bisnis untuk mencapai
pertumbuhan yang berlanjut jangka panjang. PT XYZ selalu menjaga dan menjunjung tinggi
penerapan Good Corporate Governance dengan lima prinsipnya, yaitu keterbukaan,
akuntabilitas, tanggungjawab, kemandirian dan kesetaraan.
Dikarenakan ketekunan perusahaan dalam menerapkan prinsip Good Corporate
Governance, maka pada Tahun 2014 PT XYZ dapat menduduki peringkat ke-16 dari 50
perusahaan yang menerapkan Good Corporate Governance. Berikut data yang didapat dari
Indonesian Institute of Directorship 2014 mengenai daftar perusahaan yang telah
menerapkan Good Corporate Governance di Indonesia.
(bersambung)
8
(sambungan)
(bersambung)
9
(sambungan)
Gambar 1.4
Peringkat penerapan GCG di Indonesia
Sumber: Indonesian Institute of Directorship 2014
Dari hasil tabel diatas, dapat dilihat bahwa pada tahun 2014 PT XYZ mampu
bersaing dengan 49 perusahaan lainnya yang ada di Indonesia. akan tetapi peringkat 16 ini
masih berada dibawah perusahaan tambang lainnya, sehingga hal ini masih menjadi
permasalahan yang terus dihadapi oleh perusahaan, permasalahan disebabkan oleh belum
maksimalnya penerapan GCG diperusahaan, sedangkan penerapan GCG sangat penting bagi
keberlangsungan perusahaan tambang, dengan adanya penerapan GCG dapat menaikkan
citra perusahaan dan menghasilkan kinerja yang baik. GCG di PT XYZ masih belum
maksimal dikarenakan seluruh karyawan belum mengerti bagaimana pentingnya penerapan
GCG ini sendiri. Akan tetapi dengan pencapaian peringkat 16 ini perusahaan terus berupaya
dalam memperbaiki sistem dan pradigma dalam perusahaan sehingga untuk tahun
berikutnya dapat mencapai peringkat terbaik. Adapun untuk dapat menjamin efektivitas
penerapan tata kelola perusahaan yang baik, maka PT XYZ menggunakan beberapa
pedoman dalam pelaksanaannya yaitu:
1. Board Manual
2. Panduan tata kelola perusahaan
3. Kode etik berperilaku
4. Sistem pelaporan pelanggaran (SPP)
10
Pada Penerapan prinsip-prinsip GCG dalam PT XYZ, memungkinkan PT XYZ
Tanjung Enim untuk memperbaharui kinerja karyawan sehingga dapat berdampak positif
terhadap naiknya kinerja perusahaan yang pada akhirnya akan menambah nilai perusahaan.
Adapun Menurut Pabundu (2010:23) mengenai keterkaitan Good Corporate
Governance dengan kinerja adalah suatu penerapan prinsip-prinsip Good Corporate
Governance akan berdampak terhadap kinerja perusahaan, dikarenakan Good Corporate
Governance sebagai sebuah sistem nilai yang memiliki kumpulan core value (keterbukaan,
kemandirian, akuntabilitas, pertanggung jawaban, dan kesetaraan) dimana nilai ideal dari
apa yang dinilai baik oleh semua pihak dalam mengelola perusahaannya.
Dengan adanya penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governace (keterbukaan,
kemandirian, akuntabilitas, pertanggung jawaban, dan kesetaraan) yang baik, maka akan
mempermudah perusahaan dalam mengetahui bagaimana prinsip-prinsip GCG ini
berdampak pada kineja karyawan yang ada diperusahaan, karena kinerja yang baik dapat
dilihat dari adanya keterbukaan sesama organ dalam perusahaan, dan sehingga dapat
mengetahui apa yang menjadi kendala yang ada diperusahaan tersebut. Adapun pertanggung
jawaban menjadi hal penting dalam perusahaan karena dengan adanya salah satu elemen
prinsip GCG ini dapat melihat bagaimana karyawan melakukan perkerjaan dengan kualitas
yang baik sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan. Berikut hasil pencapaian kinerja
karyawan PT XYZ tahun 2016-2017 yang cenderung meningkat.
92,00%
90,00%
88,00%
86,00%
84,00%
82,00%
Tahun 2016
Kuartal I
Kuartal II
Tahun 2017
Kuartal III
Kuartal IV
Gambar 1.5
Grafik Pencapaian Kinerja Karyawan PT XYZ
Sumber: Internal Perusahaan PT XYZ
11
Di tahun 2016 pada kuartal 1 sampai kuartal 3 pencapaian kinerja PT XYZ sebesar
85% dan pada kuartal 4 mengalami kenaikan sebesar 2% menjadi 87% yang mana pada
tahun 2016 ini belum banyaknya permintaan produksi batu bara, sehingga pada tahun 2017
kuartal 1 sampai kuartal 3 pencapaian kinerja PT XYZ meningkat sebesar 3% menjadi 90%,
pada akhir tahun 2016 pencapaian kinerja hanya sebesar 87% dan untuk kuartal ke 4 masih
dalam proses penilaian sehingga pihak PT XYZ belum bisa memberikan data kepada
peneliti. Adapun penyebab dari kenaikan pencapaian kinerja pada tahun 2017 ini
dikarenakan bulan Januari sampai September mengalami peningkatkan penjualan Low to
medium range calorie untuk memenuhi permintaan pasar yang berasal dari China, India,
Kamboja, dan Vietnam. Berikut data mengenai data penjualan yang dilakukan hasil kerja
keras karyawan PT XYZ untuk memenuhi permintaan pasar ekspor.
Tabel 1.1
Hasil Penjualan
Tahun
(Januari –
Pendapatan
Volume
Total
Penjualan
Produksi
Laba Bersih
September)
2016
Rp 10,04 Triliun 15,14 Juta Ton
12,98 Juta Ton
Rp 2.625,8 Milyar
2017
Rp 13,22 Triliun 17,24 Juta Ton
16,91 Juta Ton
Rp 1.051,7 Milyar
Sumber: Internal Perusahaan PT XYZ
Dari data diatas menjelaskan bahwa hasil pendapatan yang diperoleh Tahun 2017
sebesar Rp 13,22 Trilun naik 31,7% dibandingkan Tahun 2016 sebesar Rp 10,04 Triliun,
kemudian volume penjualan pada Tahun 2017 meningkat sebesar 17,24 Juta Ton
dibandingkan Tahun 2016 yaitu sebesar 15,14 juta ton, total produksi yang mana pada tahun
2016 hanya sebesar 12,98 juta ton, pada tahun 2017 mengalami kenaikan sehingga
memperoleh total produksi sebesar 16,91 juta ton. Adapun laba bersih yang diperoleh PT
XYZ pada periode Januari – 30 September 2017 sebesar Rp 2.625,8 Milyar laba bersih ini
meningkat dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2016 yang hanya memperoleh laba bersih
sebesar Rp 1.051,7 Milyar. Adanya peningkatan ini adalah hasil upaya terus-menerus yang
12
dilakukan perusahaan dalam melakukan penetrasi pasar untuk menjual batu bara yang
bersifat Low to medium range calorie. Meningkatnya pendapatan, volume penjualan, total
produksi, dan laba bersih PT XYZ ini dilakukan oleh karyawan yang kompeten dan
melakukan seluruh pekerjaan sesuai dengan prinsip Good Corporate Governance sehingga
perusahaan mengalami keuntungan yang maksimal.
Adapun beberapa hasil penelitian terdahulu yang telah dilakukan mengenai variabel
pengaruh Good Corporate Governance terhadap kinerja. Syahbani (2014) Menyatakan
bahwa penerapa GCG secara bersama-sama tidak berpengaruh nyata terhadap kinerja. Pada
hasil penelitian yang dilakukan Ardila (2013) menghasilkan bahwa penerapan GCG tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja SDM. Bukhori (2012) yang menyimpulkan
bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara mekanisme internal GCG terhadap
kinerja perusahaan. Dalam 3 penelitian diatas tidak terdapat pengaruh GCG terhadap kinerja,
akan tetapi pada penelitian yang dilakukan oleh Amri, Haryono, dan Warso (2016)
menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif terhadap kinerja,
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan
judul “Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance (GCG) terhadap Kinerja
Karyawan pada PT XYZ”.
1.3 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, permasalahan yang dapat dirumuskan oleh penulis
yaitu:
1. Bagaimana Penerapan Good Corporate Governance pada PT XYZ.
2. Bagaimana Kinerja Karyawan pada PT XYZ.
3. Bagaimana pengaruh Good Corporate Governance terhadap Kinerja Karyawan pada
PT XYZ.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu
untuk mengetahui dan menganalisis:
1. Penerapan Good Corporate Governance pada PT XYZ.
2. Kinerja Karyawan pada PT XYZ.
13
3. Pengaruh penerapan good corporate governance terhadap kinerja karyawan.
1.5 Kegunaan Penelitian
1.5.1
Aspek Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positif bagi
perkembangan ilmu sosial, khususnya ilmu bidang manajemen sumber daya manusia dalam
hal meningkatkan Pengaruh Penerapan Prinsip-prinsip Good Corporate Governance
terhadap kinerja karyawan untuk mencapai tujuan perusahaan.
1.5.2
Aspek Praktis
Dengan adanya penelitian ini, penulis berharap dapat memberikan kontribus positif
yang berguna kepada berbagai pihak, diantaranya bagi penulis pribadi, penelitian ini
diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan menulis. Sedangkan bagi
perusahaan, penelitian ini diharapkan berguna dalam memberikan informasi tambahan bagi
perusahaan tentang prinsip-prinsip dalam penerapan Good Corporate Governance pada PT
XYZ. Serta dapat dijadikan perbandingan dalam penelitian serupa dimasa yang akan datang.
1.6 Waktu dan Periode Penelitian
Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Good
Corporate Governance terhadap Kinerja Karyawan pada PT XYZ. Penelitian ini dilakukan
dari bulan September 2017 sampai Desember 2017.
1.7 Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran secara garis besar mengenai isi dari penelitian ini maka
dikemukakan susunan dan rangkaian masing-masing bab sebagai berikut:
BAB I: PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan gambaran umum objek penelitian, latar belakang penelitian identifikasi
dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, serta sistematika penulisan.
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi mengenai landasan teori Good Corporate Governance dan kinerja karyawan
yang berkaitan dengan penelitian, hasil penelitian, dan kerangka pemikiran.
14
BAB III: METODE PENELITIAN
Bab in menjelaskan mengenai jenis penelitian yang akan dilakukan, meliputi jenis penelitian
yang digunakan, operasionalisasi variabel dan skala pengukuran, teknik sampling dan
pengambilan sampel, pengujian validitas, pengujian reliabilitas, teknik analisis data, dan
pengujian hipotesis.
BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan objek penelitian, analisis data, dan pembahasan dari analisis data.
BAB V: PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan dari hasil penelitian beserta saran bagi perusahaan maupun untuk
penelitian selanjutnya.
15
Download