PROPOSAL PENELITIAN PENGARUH LIKUIDITAS, INFLASI, PERTUMBUHAN EKONOMI DAN NILAI PASAR TERHADAP PROFITABILITAS (Studi Pada Sub Sector Textile Dan Garmen Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Dari Tahun 2015-2019) OLEH DEWI ASYIFA MUTMAINA NIM B1B1 17 191 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI 2020 i PENGARUH LIKUIDITAS, INFLASI, PERTUMBUHAN EKONOMI DAN NILAI PASAR TERHADAP PROFITABILITAS (Studi Pada Sub Sector Textile Dan Garmen Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Dari Tahun 2015-2019) PROPOSAL OLEH DEWI ASYIFA MUTMAINA NIM B1B1 17 191 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI 2020 ii iii HALAMAN PENGESAHAN Skripsi Oleh : Dewi Asyifa Mutmaina telah dipertahankan didepan dewan penguji pada tanggal ........................................................ berdasarkan SK Dekan. Nomor. ./UN29.6/PP/.............................dan dinyatakan LULUS Dewan Penguji Ketua : (………………………………) Sekretaris : (………………………………) Anggota : 1. (………………………………) 2. (………………………………) 3. (………………………………) Mengetahuai KetuaJurusanManajemen Dr. Juharsah,SE.,M.Si NIP.19750401 200501 1 001 iv PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN Yang bertandatangan dibawah ini : Nama : Dewi Asyifa Mutmaina NIM : B1B1 17 191 Jurusan/Program studi : Manajemen Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi, yang saya tulis ini benar-benar tulisan saya dan bukan merupakan plagiasi baik Sebagian atau seluruhnya. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil plagiasi, baik sebagian atau seluruhnya, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku Kendari, ….., ……, 2020 Dewi Asyifa Mutmaina v KATA PENGANTAR Alhamdulillahirabbilalamin, puji dan syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat, taufiq, dan hidayahNya, sehingga Proposal Penelitian yang berjudul “Pengaruh Likuiditas, Inflasi, Pertumbuhan Ekonomi Dan Nilai Pasar Terhadap Profitabilitas (Studi Pada Sub Sector Textile Dan Garmen Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Dari Tahun 2015-2019) ” dapat terselesaikan guna untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Manajemen (S.M) pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Halu Oleo Kendari. Sebagai manusia yang tidak luput dari keterbatasan atau kekurangan, penulis menyadari bahwa proposal penelitian ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu segala saran dan kritikan yang bersifat membangun sangat diharapkan demi perbaikan proposal penelitian ini. Kendari, 2020 Dewi Asyifa Mutmaina vi DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL ........................................................................... HALAMAN JUDUL............................................................................... HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................... HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN .......................... HALAMAN KEASLIAN TULISAN ..................................................... KATA PENGANTAR ............................................................................ DAFTAR ISI ........................................................................................... DAFTAR TABEL ................................................................................... DAFTAR GAMBAR .............................................................................. DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... BAB I BAB II i ii iii iv v vi vii ix x xi PENDAHULUAN .................................................................. 1 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5. Latar Belakang .............................................................. Rumusan Masalah ......................................................... Tujuan Penelitian .......................................................... Manfaat penelitian ......................................................... Ruang Lingkup Penelitian ............................................. 1 7 8 8 9 KAJIAN PUSTAKA .............................................................. 10 2.1 10 10 13 23 30 32 34 38 2.2 2.3 Kajian Teori .................................................................. 2.1.1 Pecking Order Theory ...................................... 2.1.2 Profitabilitas ...................................................... 2.1.3 Likuiditas .......................................................... 2.1.4 Pertumbuhan Ekonomi ..................................... 2.1.5 Inflasi ................................................................ 2.1.6 Nilai Pasar ......................................................... Kajian Penelitian terdahulu ........................................... 2.2.1 Penelitian terdahulu pengaruh Likuiditas Terhadap Profitabilitas ...................................... 2.2.2 Penelitian terdahulu pengaruh inflasi terhadap profitabilitas ....................................... 2.2.3 Penelitian terdahulu pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap profitabilitas ........................ 2.2.4 Penelitian terdahulu pengaruh nilai pasar terhadap profitabilitas ....................................... Kerangka Konseptual dan Hipotesisi ........................... 2.3.1 Kerangka Konseptual .......................................... 2.3.2 Hipotesis .............................................................. vii 38 41 44 47 49 49 51 BAB III METODE PENELITIAN ....................................................... 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6. 3.7 Lokasi dan waktu Penelitian ....................................... Populasi dan Sampel Penelitian ................................... Jenis dan Sumber Data ................................................. Metode Pengumpulan Data ......................................... Metode Pengelolahan Data .......................................... Metode Analisis Data dan Pengujian Hipotesis .......... Definisi Operasional Variabel ..................................... DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ viii 58 58 59 61 62 62 63 73 DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Tingkat Profitabilitas pada Perusahaan Sub-Sector Tekstil dan Garmen dari tahun 2015-2019 ............................................... 5 Tabel 3.1 Daftar Perusahaan yang Memenuhi Kriteria Sampel .............. 60 Tabel 3.2 Definisi Operasional Variabel ................................................ 73 ix DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 2.1. Kerangka Konsep ....................................................................... x 51 DAFTAR LAMPIRAN Gambar Halaman Peta Jurnal ............................................................................................. xi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan pada dasarnya merupakan suatu unit kegiatan yang menyediakan barang dan jasa bagi masyarakat dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Suatu perusahaan akan selalu terus meningkatkan posisi keuangannya suapaya dapat terus bertahan dan mempunyai daya saing yang tinggi. Apalagi, perusahaan-perusahaan yang berperan sebagai market leader, mereka akan terus berupaya untuk terus mempertahankan posisinya di dunia usaha moderen ini dengan cara mencermati dan menganalisis kinerja euangan perusahaan. Salah satunya adalah dengan menganalisis kinerja keuangan suatu perusahaan (Dominica Dian Alicia : 2017). Dalam menganalisis data keuangan perusahaan diperlukan suatu ukuran tertentu dan ukuran yang sering digunakan dalam menganalisis laporan keuangan ialah rasio keuangan. Rasio dalam analisis keuangan mengambarkan suatu hubungan dan perbandingan antara jumlah tertentu dengan jumlah yang lain pada pos laporan keuangan yang lain (Dominica Dian Alicia : 2017). Analisis rasio dapat dilakukan dengan berbagai macam, diantaranya menggunakan rasio profitabilitas. Menurut G.I Kususma (2019) profitabilitas (profitability) adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba melalui operasional 1 2 usahanya dengan menggunakan data aset yang dimilki oleh perusahaan. Menurut sukojo dan Soebiyantoro (2017) profitabilitas menjadi pertimbangan yang cukup penting bagi investor dalam keputusan investasi. Profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan niali perusahaan akan meningkat. Profitabilitas juga mempunyai arti penting dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang, karena profitabilitas menunjukan apakah badan usaha (perusahaan) mempunyai prospek yang baik dimasa yang akan datang atau malah sebaliknya (Surya Sanjaya dan M. Fajri Risky ;2018). Rasio profitabilitas dapat diukur menggunakan Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE). Dimana Retun On Asset (ROA) merupakan rasio untuk menunjukan seberapa jauh aset perusahaan digunakan secara efektif untuk menghasilan laba, rasio ini merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaa, khususnya menyangkut profitabilitas perusahaan (Surya Sanjaya dan M. Fajri Risky ;2018). Semakin tinggi Return On Asset menunjukan perusahaan semakin efektif menghasilkan laba bersih atas aset yang dimiliki perusahaan. Sedangkan Return On Equity merupakan rasio profitabilitas yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memberi keuntungan bagi pemegang saham biasa (pemilik modal) dengan menunjukan laba bersih yang tersedia untuk modal pemegang saham yang telah digunakan perusahaan (Almira & Wiagustimi : 2020). ROE yang timggi mencerminkan perusahaan berhasil menghasilkan keuntungan dari modal sendiri. 3 Selain mengguankan rasio profitabilitas, rasio yang biasa digunakan untuk menganalisis laporan keuangan adalah rasio likuiditas. Rasio likuiditas menunjukan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban finansialnya dengan segera (Amanah R. et, al : 2014). Rasio ini berguna untuk mengetahui seberapa besar aset likuid yang bisa di ubah menjadi kas untuk membayar tagihan yang tak terduga. Likuiditas merupakan hal yang sangat penting karena menyangkut kepercayaan kreditur terhadap perusahaan dalam hal kemampuan perusahaan dalam memenuhi liabilitasnya yang jatuh tempo. Tingkat likuiditas ini selalu menjadi perhatian penting bagi para penganalisa laporan keuangan untuk mengatahui apakah perusahaan mampu memenuhi liabilitas keuangannya yang jatuh tempo (Dominicia Dian Alicia :2017). Pengukuran rasio likuiditas yang biasa digunakan adalah Curent Ratio (CR). Current Ratio merupakan gambaran kemampuan seluruh aktiva lancar dalam menjamin utang lancarnya (Moeljadi, 2006:68) Current ratio dapat dijadikan sebagai dasar perhitungan dari likuiditas jangka pendek yang paling utama karena mencakup seluruh komponen aktiva lancar dan seluruh komponen hutang lancar tanpa membedakan tingkat likuiditasnya. Apabila aktiva lancarnya melebihi utang lancarnya, maka dapat dilakukan likuiditas, aktiva lancar terdapat cukup kas ataupun yang dapat dikonversikan menjadi uang kas di dalam waktu singkat, sehingga dapat memenuhi kewajibannya. Dalam mendapatkan laba (keuntungan), suatu perusahaan tidak hanya bergantung pada lingkungan internal perusahaan saja tetapi juga lingkungan eksternal perusahaan yaitu pertumbuhan ekonomi. Secara teoritis, fluktuasi 4 ekonomi mempengaruhi seluruh perusahaan. Pertumbuhan ekonomi yang bertambah bisa menaikan profit perusahaan dan kondisi ekonomi makro yang yang berubah berpengaruh pada kemampuan perusahaan. Kemampuan perusahaan dapat terlihat didalam keuntungan yang diterima perusahaan (K. Anugrah, et al: 2020). Menurut H. Susanti, et al (2017) mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses yang mencerminkan aspek dinamis dari suatu perekonomian menggambarkan bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu. Selain pertumbuhan ekonomi faktor eksternal yang harus di perhatikan perusahaan dalam memperoleh keuntungan (laba) maksimal yaitu inflasi. Menurut Mankiw, 2006 secara garis besar inflasi terjadi pada kenaikan harga dan dalam waktu yang lama . proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus menerus disebut inflasi kenaikan harga ini diukur dengan menggunakan indeks harga. Selain itu, inflasi juga menaikan penghasilan dan anggaran perusahaa. Peningkatan dana produksi yang lebih tinggi dari kenaikan nilai jual yang diperoleh perusahaan akan berakibatatas penurunan profitabilitas perusahaan, dan kebalikannya jika kenaikan dana produksi lebih sedikit daripada kenaikan nilai jual perusahaan (produsen), profitabilitas perusahaan akan meningkat (Eduardus.2012). Selain likuiditas, dan pertumbuhan ekonomi, yang harus diperhatikan dalam suatu perusahaan yaitu nilai pasar. Secara teoritis, Nilai pasar adalah harga saham yang terjadi di pasar bursa tertentu yang terbentuk oleh permintaan dan penawaran saham oleh para pelaku pasar (Sejati & Prastiwi, 2015). Nilai pasar (market value) adalah harga saham yang paling mudah ditentukan karena merupakan harga dari 5 suatu saham perusahaan pada pasar yang sedang berlangsung atau sudah tutup, yang didasarkan pada bursa utama oleh pelaku pasar sebagai konsekuensi dari posisi tawar antara penjual dan pembeli saham, sehingga nilai pasar menunjukan fluktuasi dari harga saham dimana harga saham sekarang mencerminkan sepenuhnya informasi pada masa lampau, informasi yang dipublikasikan dan informasi yang tidak dipublikasikan. Fenomena tingkat profitabilitas dengan menggunakan rasio Return On Asset (ROA) yang terjadi pada perusahaan sub-sector tekstil dan garmen yang tercatat di Bursa Efek Indonesia tahun 2015-2019 dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 1.1 Tingkat Profitabilitas dengan indikator Return On Asset pada Perusahaan Sub-Sector Tekstil dan Garmen dari tahun 2015-2019. Kode 2015 2016 2017 Bank ARGO (0.84) % (0.22) % (0.15) % ERTX 10.0 % 3.0 % -3.0 % ESTI (18.4%) 6.3 % (2.8 %) INDR 1.3 % 0.2 % 0.3 % PBRX 2.38 % 2.45 % 1.50 % RICY 1% 1% 1% SRIL 7.0 % 6,27 % 5.70 % SSTM (1.94) % (2.52) % (4.21) % TRIS 6.6 % 3.42 % 3.63 % UNIT 8% 20 % 25 % Sumber : www.idx.com dan www.sahamok.com 2018 (0.9) % 1.7 % 2.3 % 7.7 % 2.89 % 1% 6.20 % 50 % 3.13 % 12 % 2019 (0.9) % 1.2 % (4.6 %) 5.5 % 2.4 % 1% 5.62 % -4 % 2.03 % 16 % Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa fenomena yang terjadi pada sebuah perusahaan sub-sektor tektil dan garmen setiap tahunnya memperoleh profit (laba) yang berbeda-beda, karena pada dasarnya profitabilitas sangat penting bagi sebuah perusahaan. Profitabilitas bisa memberikan pengetahuan tentang besarnya tingkat laba yang diperoleh suatu perusahaan dalam satu periode tertentu. Dan profitabilitas 6 suatu perusahaan akan mempengaruhi kebijakan para investor atas investasi yang dilakukan. Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba akan dapat menarik para investor untuk menanamkan dananya guna memperluas usaha perusahaan, sebaliknya jika tingkat profitabilitas rendah pada suatu perusahaan akan menyebabkan para investor menarik dananya. Sedangkan bagi perusahaan itu sendiri profitabilitas dapat digunakan sebagai evaluasi atas efektivitas pengelolaan suatu perusahaan tersebut. Dari beberapa penelitian terdahulu terdapat perbedaan temuan hasil penelitian tentang, pengaruh likuiditas terhadap profitabilitas, dimana Alshatti (2015), Sattar (2019) menemukan bahwa likuiditas berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap profiabilitas, sedangkan menurut Madushanka & jathurika (2018), Khan et al (2017), Sattar (2019) dan Akthar (2016) menemukan bahwa likuiditas berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas, dan beberapa penelitia lainnya menemukan bahwa likuiditas berpengaruh negatig dan signifikan terhadap profitabilitas menurut Khan (2017). Sedangkan untuk pertumbuhan ekonomi terhadap profitabilitas terdapat beberapa perbedaan dari hasil temuan yang dilakukan oleh beberapa penelitian terdahulu dimana Moussa (2019) mengungkapakan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap profitabilitas dan berbeda dengan temuan Adekola yang menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas. Dan untuk penelitian terdahulu tentang pengaruh inflasi terhadap profitabilitas juga terdapat perbedaan temuan hasil yang dilakukan oleh peneliti terdahulu. Dimana Awan (2014), Jeevitha (2019) menemukan bahwa 7 inflasi berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap profitabilitas, berbeda dengan hasil yang ditemukan oleh Dewi (2019) yang menemukan bahwa inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas, dan juga Awan (2014) menemukan bahwa inflasi berpengaruh negatif tapi tidak signifikan terhadap profitabilitas dan juga inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas dengan menggunakan pengukuran yang berbeda. Dan pada pengaruh nilai pasar terhadap profitabilitas juga terdapat beberapa penelitian terdahulu yang menemukan hasil yang berbeda-beda. Dimana rosikah (2018) menemukan hasil bahwa nialai pasar berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap profitabilitas. Tetapi hasil tersebut beda dengan penelitian yang dilakukan oleh Akgun (2018) yang menemukan bahwa nialai pasar berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis mengambil judul “Pengaruh Likuiditas, Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai Pasar Terhadap Profitabilitas (Studi Pada Sub-Sektor Tekstil dan Garmen yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2019)”. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang di kaji yaitu sebagai berikut : 1. Apakah likuiditas berpengaruh terhadap profitabilitas ? 2. Apakah pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap profitabilitas ? 3. Apakah inflasi berpengaruh terhadap profitabilitas ? 4. Apakah nilai pasar berpengaruh terhadap profitabilitas ? 8 5. Apakah likuiditas, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan nilai pasar berpengaruh terhadap profitabilitas ? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengkaji pengaruh likuiditas terhadap profitabilitas. 2. Untuk mengkaji pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap profitabilitas. 3. Untuk mengkaji pengaruh inflasi terhadap profitabilitas. 4. Untuk mengkaji pengaruh nilai pasar terhadap profitabilitas. 5. Untuk mengkaji pengaruh likuiditas, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan nilai pasar terhadap profitabilitas. 1.4. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat yang dapat berguna bagi beberapa pihak, antara lain sebagai berikut : 1.4.1 Manfaat Teoritis Penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya, serta diharapkan dapat melengkapi temuan-temuan yang berhubungan dengan pengaruh Likuiditas, Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai Pasar terhadap Profitabilitas. 9 1.4.2 Manfaat Praktis 1.4.2.1 Bagi Akademis Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan memberi pengetahuan tentang pengaruh likuiditas, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan nilai pasar terhadap profitabilitas pada perusahaan Tekstil dan Garmen dan menjadi bahan referensi dan bukti empiris bagi peneliti yang hendak mengkaji bidang yang sama dengan penelitian ini. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Untuk lebih terarahnya penelitian yaang akan dilakukan, maka penulis melakukan pembatasan ruang ligkup penelitian yakni janya menganalisis pengaruh Likuiditas, Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai Pasar terhadap Profitabilitas pada perusahaan Tekstil dan Garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Pecking Order Theory Myers dan Majluf (1984) mengembangkan pecking order theory sebagai suatu teori alternatif keputusan pendanaan perusahaan, di mana perusahaan akan berusaha mendanai investasinya berdasarkan urutan risiko. Terdapat 3 sumber pendanaan dalam perushaan yaitu : laba ditahan, hutang dan ekuitas. Oleh karena itu, investor akan mengharapkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi terhadap penggunaan ekuitas dibandingkan hutang. Pandangan perusahaan, laba di tahan merupakan sumber sumber pendanaan yang lebih baik dibandingkan hutang, dan hutang merupakan sumber pendanaan yang lebih baik dibandingkan ekuitas. Pecking order theory yang dikemukakan oleh Myres dan Majluf (1984) menggunakan dasar pemikiran bahwa tidak ada suatu target debt to equity ratio tertentu dan tentang hirarki sumber danan yang paling disukai oleh perusahaan. Esensi teori ini adalah adanya dua jenis modal external financing dan internal financing. Teori ini menjelaskan mangapa perusahaan mengapa perusahaan mengapa perushaan yang profitable umumnya menggunakan utang dalam jumlah yang sedikit. Hal tersebut bukan disebabkan karena perushaan mempunyai target 10 11 debt ratio yang rendah, tetapi karena mereka memerlukan external financing yang sedikit. Perusahaan yang kurang profitable akan cenderung menggunakan utang yang lebih besar karena dua alasan, yaitu : (1) dana intenal tidak mencukupi, dan (2) utang merupakan sumber eksternal yang lebih disukai. Pecking Order Theory ini muncul jika biaya mengeluarkan saham baru melebihi biaya lain dan keuntungan dari hutang. Biaya yang dikeluarkan sebagai akibat pecking order ini adalah biaya transaksi dan pengeluaran saham baru dan biaya-biaya yang timbul sebagai akibat informasi yang dimiliki oleh pihak manajemen mengenai prospek perusahaan. Konsekuensi biaya ini adalah perusahaan akan mendanai kesempatan investasi yang dimiliki dengan laba ditahan, kemudian dengan hutang bebas risiko, dan dengan hutang berisisko, yang pada akhirnya akan menggunakan saham. Teori pecking order membuat hirarki sumber dana, yaitu dari internal (laba ditahan), dan eksternal (utang dan saham). Pemilihan sumber eksternal menurut Myers dan Majluf 1984 disebabkan karena adanya asimetri informasi antara manajemen dan pemegang saham. Dengan demikian, pihak manajemen mungkin berpikir bahwa harga saha saat ini sedang overvalue (terlalu mahal) sehingga manajemen menerbitkan saham baru dengan harga yang lebih mahal dari yang seharusnya. Adanya simestri informasi ini mengakibatkan terjadinya gap antara pengelola dan pemilik perusahaan yang mungkin terjadinya moral hazard pengelola, sehingga harga saham tidak mencerminkn informasi secara penuh tentang kondisi perusaahaan. Menurut Myres (1984), Pecking order theory menjelaskan mengapa perusahaan yang mempunyai tingat keuntungan yang lebih tinggi justru mempunyai 12 tingkat hutang yang lebih kecil, dikarenakan perusahaan yang profitabilitasnya tinggi memiliki sumber dana internal yang berlimpah. Secara spesifik, perusahaan mempunyai urutan-urutab preferensi dalam penggunaan dana. Smart, Megginson, dan Gitman (2004) menyebutkan skenario urutan dalam pecking order theory adalah sebagai berikut : a. Perusahaan lebih memilih untuk menggunakan sumber dana dari dalam atau pendanaan internal dari pada pendanaan ekternal. Dana internal tersebut diperoleh dari laba ditahan yang dihasilkan dari kegiatan operasional perusahaan. b. Jika pendanaan eksternal diperlukan, maka perusahaan aan memilik pertama kali mulai dari sekuritas yang paling aman, yaitu hutang yang paling rendah risikonya, turun kehutang yang lebih berisiko, sekuritas hybrid seperti oblogasi konversi, saham preferen, dan yang terakhir saham biasa. c. Terdapat kebijakan deviden yang konstan, yaitu perusahaan akan menetapkan jumlah pembayaran deviden konstan, tidak terpengatuh seberapa besarnya perusahaan tersebut untung atau rugi. d. Untuk mengantisipasi kekurangan persediaan kas karena adanya kebijakan deviden yang konstan dan fluktuasi dari tingkat keuntungan, serta kesempatan investasi, maka perusahaan akan mengambil portofolio investasi yang lancar tersedia. 13 Pecking order theory ini dapat menjelaskan mengapa perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan yang tinggi justru mempunyai tingkat hutang yang kecil. 2.1.2 Profitabilitas 2.1.2.1 Definisi Profitabilitas Pada umumnya profitabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu pada tingkat penjualan, asset dan modal saham tertentu. Kinerja suatu perusahaan dpat dkatakan baik apabila tingkat profitabilitas perusahaan dikelolanya tinggi atau dengan kata lain dapat memaksimalkan keuntungan. Profitabilitas suatu perusahaan dapat dinilai melalui berbagai cara tergantung pada laba dan aktiva atau modal yang diperbandingkan satu dengan lainnya. Profitabilitas umumnya diukur dengan membandingkan laba yang diperoleh perusahaan dengan jumlah perkiraan indikator keberhasilan perusahaan seperti jumlah aktiva perusahaan maupun penjualan dan investasi, sehingga dapat diketahui efektifitas pengelolaan keuangan dan aktiva oleh perusahaan. Profitabilitas (profitability) adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba melalui operasional usahanya dengan menggunakan data aset yang dimiliki oleh perusahaan (G.I Kusuma : 2019) . Rasio profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (Minanari ; 2018). Menurut Jorenza (2015) mengatakan bahwa profitabilitas 14 adalah kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri. Analisa Ika Fanindya (2013) mengatakan bahwa, rasio profitabilitas terdiri atas dua jenis yaitu, rasio yang menunjukan profitabilitas dalam kaitanya dengan penjualan (margin laba kotor dan margin laba bersih), dan profitabilitas dalam kaitannya dengan investasi yaitu return on equity (ROE). Profitabilitas merupakan salah satu faktor yang secara teoritis menentukan nilai suatu perusahaan (I.L lubis et, al 2017). Perusahaan yang menghasilkan laba besar dan stabil akan menarik para investor, karena secara otomatis akan menguntukan investor. Kemampuan perusahaan yang besar untuk menghasilkan laba juga menunjukan manajemen perusahaan yang baik, sehingga menumbuhkan kepercayaan pada investor. Menurut Sukojo dan Soebiyantoro (2017) profitabilitas menjadi pertimbangan yang cukup penting bagi investor dalam keputusan investasi. Profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan akan meningkat. Rasio profitabilitas adalah rasio yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga memberikan gambaran tentang tingkat efektivitas manajemen dalam melaksanakan kegiatan operasinya (Surya Sanjaya dan M. Fadjri Rizky ; 2018). Efektifitas disini dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi perusahaan. 15 Kebijakan yang diambil perusahaan menentukan laba dapat dilihat dari tingkat profitabilitasnya. Profitabilitas dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk menilai keberhasilan suatu perusahaan dalam menggunakan modal kerja secar efektif dan efisien untuk menghasilkan tingkat laba tertentu yang diharapkan. Bagi perusahaan padaumumnya masalah profitabilitas sangat penting daripada laba, karena laba yang besar dapat memastikan bahwa perusahaan tersebut telah bekerja dengan efisien. Dengan demikian yang harus diperhatikan oleh perusahaan adalah tidak hanya bagaimana usaha untuk memperbesar laba, namun yang lebih penting adalah bagaimana meningkatkan profitabilitas (Surya Sanjaya dan M. Fajri Risky ;2018). Menurut Kasmir (2012:196) bahwa profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Profitabilitas merupakan faktor yang seharusnya mendapat perhatian yang khusus karena untuk dapat melangsungkan hidup suatu perusahaan maka perusahaan tersebut haruslah dalam keadaan yang menguntungkan. Tanpa adanya keuntungan (profit), maka akan sulit bagi perusahaan untuk menarik modal dari luar. Profitabilitas juga mempunyai arti penting dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka panjang, karena profitabilitas menunjukan apakah badan usaha tersebut mempunyai prospek yang baik dimasa yang akan datang (Surya Sanjaya dan M. Fajri Risky ;2018). Profitabilitas ini menguraikan ukuran kinerja perusahaan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih bedasarkan tingkat aset tertentu dengan 16 menggunakan rasio Return On Asset (ROA), dan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih berdasarkan modal saham tertentu dengan menggunakan Return On Equity (ROE). Lebih lanjut perusahaan dengan ukuran besar tentu saja menginginkan laba yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan perusahaan kecil. Dengan laba yang dimiliki perusahaan maka prospek masa depan perusahaan dapat diketahui. Perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi maka mencerminkan adanya penerimaan yang tinggi. Untuk mengetahui profitabiluas perusahaan dapat digunakan rasio-rasio profitabilitas. Dari definisi-definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dan keberhasilan perusahaan dalam memperoleh laba yang hubungannya dengan penjualan, aktiva maupun investasi. 2.1.2.2 Tujuan Rasio Profitabilitas Tujuan profitabilitas berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba yang memuaskan sehingga pemodal dan pemegang saham akan meneruskan untuk menyediakan modal bagi perusahaan (Minanari;2018). Bagi pihak diluar perusahaan, terutama pihak-pihak yang memiliki hubungan atau kepentingan dengan perusahaan. Menurut (Nuri Bisiranawati : 1) tujuan penggunaan rasio profitabilitas bagi perusahaan maupun bagi pihak luar perusahaaan yaitu : 17 Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode tertentu. Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun searang. Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu Untuk menilai besarnya laba bersih sesudan pajak dengan modal sendiri. Untuk mengukur produktivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri. Untuk mengukur produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal sendiri. 2.1.2.3 Manfaat Rasio Profitabilitas Menurut (Nuri Bisiranawati : 2) maanfaat yang diperoleh oleh pihak diluar perusahaan, terutama pihak-pihak yang memiliki hubungan atau kepentingan dengan perusahaan. Manfaat penggunaan rasio profitabilitas adalah sebagai berikut: Mengetahui besarnya tingkat laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode. Mengetahui posisi laba perusahaan perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang. Mengetahui perkembangan laba dari waktu ke waktu. Mengetahui besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. 18 Mengetahui produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri. 2.1.2.4 Pengukuran Profitabilitas Jenis pengukuran profitablitas yang sering di gunakan dalam amenganalisis laporan keuangan yaitu Return On Asset dan Return On Equity. Pernyataan ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Madushanka tahun 2018, Tanveer Bagh, Sadaf Razzaq, Tahir Azad, Idress Liaqad dan Muhammad Asif Khan tahun 2017 dan juga penelitian yang dilakukan oleh Ali Sulieman Alshatti, tahun 2015. 1. Return On Asset (ROA) Return On Asset (ROA) adalah termaksud ke dalam rasio profitabilitas. Dalam analisis laporan keuangan rasio ini paling sering disoroti, pasalnya mampu menunjukan keberhasilan perusahaan menghasilkan keuntungan, Return On Asset (ROA) mampu mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan pada masa lalu untuk kemudian di proyeksikan dimasa yang akan datang. Return On Assets dipakai untuk mengevaluasi apakah manajemen telah mendapat imbalan yang memadai (reasobable return) dari aset yang dikuasainya. Rasio ini merupakan ukuran yang berfaedah jika seseorang ingin mengevaluasi seberapa baik perusahaan telah memakai dananya. Oleh karena itu, Return On Assets kerap kali dipakai oleh manajemen puncak untuk mengevaluasi unit-unit bisnis di dalam suatu perusahaan multinasional (Henry Simamora, 2000:530). 19 Return on asset (ROA) yang sering disebut juga return on investment adalah pengukuran kemampuan perusahaan secara keseluruhan di dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia di dalam perusahaan (Kasmir 2012;197). Menurut Hery (2015 : 228) mengatakan bahwa return on asset (ROA) adalah rasio yang menunjukan seberapa besar kontribusi aset dalam menciptakan laba bersih. Menurut Harahap (2010) mengambarkan perputaran aktiva diukur dari penjualan. Semakin besar rasio ini maka semakin baik dan hal ini berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat mendapatkan return dan meraih laba dalam memberikan pengembalian kepada penanam modal. Retun On Asset (ROA) adalah rasio keuangan perusahaan yang berhubungan dengan profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan atau laba pada tingkat pendapatan, aset dan modal saham tertentu (Hanafi dan Halim 2003). Semakin tinggi Return On Asset (ROA) suatu perusahaan, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai perusahaan. Return On Asset (ROA) merupakan rasio untuk menunjukan seberapa jauh aset perusahaan digunakan secara efektif untuk menghasilkan laba (Surya Sanjaya dan M. Fajri Risky ;2018). ROA didapatkan dari membagi laba bersih dengan total aset. Rasio ini merupakan rasio keungan yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan, khususnya menyangkut profitabilitas perusshaan. Semakin tinggi ROA 20 menunjukan perusahaan semakin efektif menghasilkan laba bersih atas aset yang dimiliki perusahaan. (Surya Sanjaya dan M. Fajri Risky ;2018) juga menjabarkan bahwa ROA adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat aset tertentu. Return On Asset (ROA) adalah rasio profitabilitas yang menunjukan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan (Almira & Wiagustimi : 2020). Kinerja perusahaan dikatakan baik, jika menghasilkan ROA yang tinggi dan menunjukan laju peningkatan dari waktu ke waktu akan menunjukan kinerja perusahaan semakin baik, oleh karena itu harga saham akan meningkat yang menyebabkan tingkat return semakin besar, sehingga ROA dikatakan mempunyai pengaruh terhadap retun saham. ROA menunjukan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atas aktiva yang dipergunakan (Margaretha, 2005:21). Semakin tinggi rasio, semakin baik keadaan suatu perusahaan. Apabila tingkat ROA itu rendah, tidak selalu berarti buruk. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka penulis menarik kesimpulan bahwa Return On Asset (ROA) adalah analisis yang membandingkan antara laba bersih dan total aktiva. Rasio ini bertujuan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang tersedia. Rumus untuk mencari nilai Return On Asset menurut Hery, 2015:228 adalah sebagai berikut : 21 Earning After Tax Retur On Asset = X 100% Total Assets Keterangan : Earning After Tax (EAT) : Laba Setelah Pajak Total Assets : Total Aktiva 2. Return On Equity ROE atau return on equity adalah bagian dari rasio profitabilitas, yang dalam pengukurannya difungsikan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih setelah pajak dari pemanfaatan modal yang dimilikinya. Semakin baik (tinggi) nilai return on equity (ROE) perusahaan, maka semakin baik kinerjanya dalam memperoleh laba bersih setelah pajak (earnings after tax). Return On Equity adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih berdasarkan modal saham tertentu. (Surya Sanjaya & M. Fajri Rizky : 2019). Return On Equity adalah rasio profitabilitas yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memberi keuntungan bagi pemegang saham biasa (pemilik modal) dengan menunjukan laba bersih yang tersedia untuk modal pemegang saham yang telah digunakan perusahaan (Almira & Wiagustimi : 2020). ROE yang timggi mencerminkan perusahaan berhasil menghasilkan keuntungan dari modal sendiri. 22 Hasil pengembalian atas Modal . Return On Equity (ROE) adalah rasio yang menunjukan seberapa besar kontribusi modal dalam menciptakan laba bersih (Hery, 2015 : 230). Return On Equity (ROE) merupakan salah satu pengukuran bagi kinerja keuangan perusahaan dan merupakan salah satu rasio profitabilitas (Surya Sanjaya & M. Fajri Rizky : 2019). Rasio ini merupakan rasio aba bersih yang tersedia bagi pemilik perusahaan dengan jumlah ekuitas, sehingga variabel disamping menunjukan tingkat hasil return pemilik juga merupakan ukuran efisien penggunaan modal. Menurut Sutrisno (2013;229) Return On Equity ini sering disebut dengan rate of return on Net Worth yaitu kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan sendiri yang dimiliki, sehingga ROE ini ada yang menyebut sebagai rentabilitas modal sendiri. Return On Equity atau rentabilitasi modal sendiri merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini semakin baik, artinya posisi pemilik perusahaan semakin kuat, demikian sebaliknya (Kasmir 2014 : 204). Berdasarkan penjelasan diatas penulis menarik kesimpulan bahwa Return On Equity merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan modal sendiri. Return On Equity merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income) yang tersedia bagi pemilik perusahaan atas modal yang mereka tanamkan. 23 Dengan demikian Return On Equity dapat dihitung dengan rumus: Earning After Tax Return On Equity = X 100% Modal Sendiri Dengan perhitungan rumus diatas akan didapat dan diketahui seberapa besar pengembalian atas equity yang dihasilkan oleh perusahaan dengan membandingkan laba setelah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini mengukur seberapa banyak keuntungan yang menjadi hak pemilik modal sendiri. Karena itu digunakan angka laba setelah pajak. 2.1.3 Likuiditas 2.1.3.1 Definisi Likuiditas Likuiditas sering didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendek dan, oleh karena itu, dapat dilihat sebagai ukuran risiko bahwa perusahaan tidak akan dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Selain mengukur risiko jangka pendek, likuiditas juga terkait dengan kinerja dan kelangsungan hidup perusahaan jangka panjang. Rasio likuiditas menunjukan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban finansialnya dengan segera ( Amanah R. et, al : 2014). Rasio ini berguna untuk mengetahui seberapa besar aset likuid yang bisa di ubah menjadi kas untuk membayar tagihan yang tak terduga. Apabila perusahaan tidak mampu membayar tagihan tersebut maka bisa terancam mengalami kebangkrutan. Likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansialnya pada saat jatuh tempo (Moeljadi, 24 2006:67). Tingkat likuiditas yang tinggi menunjukan bahwa perusahaan tidak mengalami kesulitas membayar kewajibannya dalam jangka pendek, sehingga kreditur tidak perlu khawatir dalam memberikan pinjaman. Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio-rasio ini dapat dihitung melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan hutang lancar. Likuiditas dapat diartikan sebagai tingkat kemampuan suatu perusahaan untuk dapat membayar hutang-hutangnya yang telah jatuh tempo (Kasmir, 2013). Menurut Uly Dewi, 2016 rasio likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kesempatan perusahaan membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Likuiditas tidak hanya berkenaan dengan keadaan keseluruhan keuangan perusahaan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuannya mengubah aktiva lancar tertentu menjadi uang kas. Suatu perusahaan yang mempunyai alat-alat likuid sedemikian besarnya sehingga mampu memenuhi segala kewajiban financialnya yang segera harus terpenuhi, dan dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut likuid, dan sebaliknya apabila suatu perusahaan tidak mempunyai alat-alat likuid yang cukup untuk memenuhi segala kewajiban financialnya yang segera harus terpenuhi, maka perusahaan tersebut dikatakan perusahaan insolvable. Rasio likuiditas adalah rasio yang mengambarkan kemampuan perushaan dalam memenuhi kewajiban keunganny dalam jangka pendek (Dedi S. : 2017). 25 Rasio likuiditas menurut Fahmi (2014:69) menjelaskan bahwa, “digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendek secara tepat waktu. Kewajiban yang harus dipenuhi adalah hutang jangka pendek, serta mengukur apakah operasi perusahaan tidak akan terganggu bila kewajiban jangka pendek itu segera ditagih”. Likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajibannya saat jatuh tempo (U.P Hanie & M. Saifi : 2018). Perushaan dikatakan liquid apabila mampu menjadikan aktiva menjadi kas tanpa penurunan nilai, sehingga perusahaan dapat segera membayar kewajibannya agar dapat melanjutkan aktivitas-aktivitas perusahaan. Likuiditas merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong terjadi perusahaan harga saham (S. Octaviani et, al :2017). Likuiditas tinggi menunjukan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Likuiditas perusahaan dapat di ukur dengan rasio lancar (current ratio). Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) likuiditas merupakan perihal yang menggambarkan posisi uang kas pada suatu perusahaan serta juga kemampuannya untuk dapat melunasi kewajiban hutang itu tepat pada waktu jatuh tempo. Suatu perusahaan dapat dikatakan likuid apabila perusahaan tersebut mampu melunasi kewajiban finansial jangka pendek maupun kewajiban jangka panjangnya yang jatuh tempo pada tahun bersangkutan. Sebaliknya, jika suatu perusahaan tidak mampu melunasi kewajiban finansialnya digolongkan kedalam perusahaan yang likuid. Berdasarkan beberapa pendapat dapat di simpulkan bahwa likuiditas merupakan suatu kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban 26 finansial jangka pendek maupun jangka panjang yang jatuh tempo pada tahun bersangkutan yang harus segera dipenuhi. 2.1.3.2 Tujuan dan Manfaat Likuiditas Tujuan dan manfaat rasio likuiditas menurut (Kasmir) dalam jurnal (Dina Indah Sari :2017) antara lain : 1. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih. 2. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar secara keseluruhan. 3. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan sediaan atau piutang. 4. Untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah sediaan yang ada dengan modal kerja perusahaan. 5. Untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang. 6. Sebagai alat perencanaan kedepan, terutama yang berkaitan dengan perencanaan kas dan utang. 7. Untuk kondisi dan posisi likuiditas perusahaan dari waktu ke waktu dengan membandingkannya untuk beberapa periode. 8. Untuk melihat kelemahan yang dimiliki perusahaan. 9. Menjadi pemicu bagi pihak manajemen untuk memperbaiki kinerjanya. 27 2.1.3.3 Pengukuran Likuiditas Dalam mengukur likuiditas ada tiga rasio yang digunakan untuk menganalisis rasio likuiditas yaitu, Current Ratio (CR), Quick Ratio (QR) dan Cash Ratio. Pernyataan ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh (Uly Dewi, : 2016). 1. Current Ratio (CR) Rasio yang umum digunakan dalam analisis laporan keuangan adalah rasio lancar (current ratio), dimana current ratio memberikan ukuran kasar tingkat likuiditas perusahaan. Menurut (Hery, 2015) Current Ratio merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang segera jatuh tempo dengan menggunakan aset lancar yang tersedia. Current Ratio merupakan gambaran kemampuan seluruh aktiva lancar dalam menjamin utang lancarnya (Moeljadi, 2006:68). Current ratio dapat dijadikan sebagai dasar perhitungan dari likuiditas jangka pendek yang paling utama karena mencakup seluruh komponen aktiva lancar dan seluruh komponen hutang lancar tanpa membedakan tingkat likuiditasnya. Apabila aktiva lancarnya melebihi utang lancarnya, maka dapat dilakukan likuiditas, aktiva lancar terdapat cukup kas ataupun yang dapat dikonversikan menjadi uang kas di dalam waktu singkat, sehingga dapat memenuhi kewajibannya. Rasio lancar (Current Ratio) adalah ukuran yang umum yang digunakan atas solvensi jangka pendelk, kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi 28 kebutuhan utang ketika jatuh tempo (Weston, 2008). Rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan dalam memenuhi atau membayar kewajiban atau utang lancar (utang jangka pendek) dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai sediaaan (Kasmir,2010). Menurut Uly Dewi, 2016 bahwa Curent Ratio merupakan perbandingan antara aktiva lancar dan kewajiban lancar dan merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan suatu perusahaan memenuhi kewajiban jagka pendeknya. Dengan kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang dimilki perusahaan untuk menutupi kewajiban jangka pendeknya yang jatuh tempo dengan menghitung perbandingan antara aktiva dengan hutang pada perusahaan. Aktiva Lancar Current Ratio = Hutang Lancar Aktiva lancar (current asset) merupakan harta yang dimiliki perusahaan yang dapat dijadikan uang tunai dalam waktu yang singkat (kurang satu tahun). Komponen aktiva lancar lazimnya terdiri dari kas, kas dibank, surat-surat berharga piutang, persediaan, biaya dibayar di muka, dan aktiva lancar lainnya. Kewaijaban lancar (current liabilities) merupakan kewajiban jangka pendek perusahaan yang harus dilunasi dalam waktu paling lama satu tahun. Komponen kewajiban lancar biasanya terdiri dari utang dagang, utang bank satu tahun, utang wesel, utang gaji, utang pajak, utang deviden, pendapatan diterima di muka, utang jangka panjang yang jatuh tempo serta utang jangkapendek lainnya. Dari hasil pengukuran rasio, apabila current ratio rendah dapat dikatakan bahwa tingkat 29 likuiditas perusahaan sedang tidak baik, namun apabila current ratio tinggi belum tentu mengindikasikan kondisi perusahaan sedang baik. Hal ini dapat saja terjadi karena kas tidak digunakan sebaik mungkin. 2. Quick Ratio (QR) Quick Ratio (QR) merupakan kemampuan perusahaan dalam membayar membayar kewajiban jagka pendeknya dengan menggunakan aktiva yang lebih likuid (Pupu Sopini, 2015). Rasio ini hanya membandingkan antara aktiva yang sangat likuid dengan utang lancar, Kasmir (2013:131). Formula untuk menguukur Quick Ratio adalah : Current Assets – Inventories Quick ratio = Current Liabillities Semakin besar nilai Quick Ratio, maka semakin cepat perusahaan dapar memenuhi segala kewajibannya, sebaliknya jika nilai dari Quick Ratio kecil, perusahaan akan mengalami hambatan dalam memenuhi segala kewajibannya sehingga dapat menimbulkkan kerugian pada perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari seberapa besar aktiva lancar dan perolehan laba yang dimiliki. Pengaruh terhadap perubahan laba perusahaan adalah jika aktiva lancar yang dimiliki perusahaan tinggi maka kewajiban jangka pendek yang harus dipenuhi akan rendah karena biaya yang digunakan tidak terlalu tinggi sehingga pendapatan yang diperoleh meningkat dalam perusahaan. 30 3. Cash Ratio (CR) Menurut Uly Dewi (2016), mengatakan bahwa cash ratio merupakan rasio yang menunjukkan posisi kas yanf dapat menutupi hutang lancar dengan kata lain cash ratio merupakan rasio yang mengambarkan kemampuan kas yang dimiliki dalam manajemen kewajiban lancar tahun yang bersangkutan. Jhon Nasyaroeka (2016) juga berpendapat bahwa Cash ratio merupakan alat yang digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang. Formula yang digunakan untuk mengukur Cash Ratio yaitu : Kas Cash Ratio = Utang Lancar Rasio ini mengambarkan kemampuan perusahaan yang sesungguhnya dalam melunasi kewajiban lancarnya yang akan segera jatuh tempo dengan menggunakan uang kas atau setara kas yang ada (Felicia Yosephine dan Lauw Tjun, 2016). 2.1.4 Pertumbuhan Ekonomi (Growth Economy) 2.1.4.1 Definisi Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi atau Growth Economy merupakan proses kenaikan output per kapita yang dimiliki suatu negara dalam jangka panjang aau perubahan tingkat kegiatan ekonomi suatu negara dalam jangka panjang atau perubahan tingkat kegiatan ekonomi suatu negara yang terjadi dalam periode tertentu atau akumulasi dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ekonomi juga di definisikan sebagai 31 proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik dalam periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat di artikan sebagai proses kenaikan kapasitas produkasi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Adanya, pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses yang mencerminkan aspek dinamis dari suatu perekonomian menggambarkan bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu (H. Susanti, et,al : 2017). Dalam ilmu ekonomi terdapat bebrapa teori pertumbuhan di mana para ekonom mempunyai pandangan yang berbeda tentang proses pertumbuhan suatu perekonomian. Menurut Untoro (2010:39) pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat dalam jangka panjang. Menurut Kunzets (Sukimo, 2006:132), pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari Negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan output perkapita yang dimiliki suatu negara. 32 2.1.4.2 Pengukuran Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Dengan demikian untuk menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai perlu dihitung pendapatan nasional ril menurut harga tetap yaitu pada harga-harga yang berlaku ditahun dasar yang di pilih. Jadi pertumbuhan ekonomi mengukur presetasi dari perkembangan suatu perekonomian (Sukimo, 1991) (I. Nuraini :2017). Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat diukr dengan membandingkan Gross National Product (GNP) dan Gross Domestic Product (GDP), pada tahun yang sedang berjalan dengan tahun sebelumnya. Kedua tolak ukur ini membantu perhitungan total output perekonomian suatu negara. Adapun, cara mengukur pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat digunakan rumu sebagai berikt : Gt = ((PDBt – PBD-1) / PBD-1)) X 100% Ket : Gt PBDt PBDt-1 = laju pertumbuhan ekonomi = Nilai PDB periode t = nilai PDB periode sebelumnya 2.1.5 Inflasi 2.1.5.1 Definisi Inflasi Inflasi merupakan kecenderungan meningkatnya tingkat harga secara umum dan terus-menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut sebagai inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga barang-barang lain. Kenaikan 33 harga-harga disebabkan oleh faktor-faktor musiman (misalnya menjelang peringatan hari-hari besar), atau yang terjadi sekali saja (dan tidak mempunyai pengaruh lanjutan) tidak disebut inflasi (Kalalo, et. al 2016). Para ekonom mendefinisikan inflasi secara berbeda-beda namun mempunyai arti yang sama yaitu kenaikan harga-harga yang cenderung naik secara terus menerus. Inflasi merupakan kecenderungan meningkatnya tingkat harga secara umum dan terus menerus (Kalalo, et, al : 2016). Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut sebagai inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepasa (mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga barang-barang lain. Kenaikan harga-harga disebabkan oleh faktor-faktor musiman (misalnya menjelang peringatan hari-hari besar), atau yang terjadi sekali saja (dan tidak mempunyai pengaruh lanjutan) tidak disebut inflasi. Milton Friedman dalam Murni (2006) mengatakan inflasi ada di mana saja dan selalu merupakan fenomena moneter yang mencerminkan adanya pertumbuhan moneter yang berlebihan dan tidak stabil. Secara garis besar inflasi terjadi pada kenaikan harga dan dalam waktu yang lama . proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus menerus disebut inflasi kenaikan harga ini diukur dengan menggunakan indeks harga (Mankiw, 2006). Tradelilin (2010:343) mengungkapkan inflasi yang terus meningkatkan menunjukkan sinyal negatif bagi berbagai pihak di pasar modal. Tingkat inflasi yang tinggi pmenyebabkan minat investor untuk membeli saham menurun karena daya beli investor yang menurun, hal ini menyebabkan permintaan saham akan 34 menurun juga, sehingga berdampak pada harga saham ikut menurun (I.M.A. Adikerta & N. Abundanti : 2020). Sementara itu Bank Indonesia memberi pengertian Inflasi yaitu meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut diflasi (www.bi.go.id). Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue), kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak adpat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas pada barang alainnya. 2.5.1.2 Pengukuran Inflasi Menurut M. Natsir (2014:266) rumus yang digunakan untuk menghitung inflasi adalah : IHKn-IHKn-1 INFn = X 100% HKn-1 Keterangan : INFn : inflasi atau deflasi pada waktu (bulan atau tahun) (n) IHKn : indeks harga konsumen pada waktu (bulan atau tahun ) (n) IHKn-1 : indeks harga konsumen pada waktu sebelumnya (bulan atau tahun) (n-1). 35 2.1.6 Nilai Pasar 2.1.6.1 Definisi Nilai Pasar Nilai pasar (market value) merupakan harga barang arau surat berharga yang diindikasikan oleh penawaran pasar, yaitu harga yang tambahan barangnya dapat dijual atau dibeli, pada suatu pasar, niali pasar suatu surat berharga ditentukan oleh nilai penjualan terakhir, untuk surat-surat berharga yang tidak aktif, saat tidak ada penawaran, yang digunakan ialah harga penawaran terakhir, untuk surat berharga yang tidak terdaftar di bursa, nilai pasar ditentukan oleh penjualan terakhir atau ditentukan olehh lembaga penilai, nilai pasar secara terus-menerus berfluktuasi ketika ada berita-berita hangat dan akan sering berubah sepanjang hari. Nilai pasar didefinisikan sebagai es-timasi sejumlah uang yang dapat diperoleh dari hasil penukaran suatu aset atau liabilitas pada tanggal penilaian, antara pembeli yang berminat membeli dengan penjualan yang berminat menjual, dalam suatu transaksi bebas ikatan, yang pemasarannya dilakukan secara layak, di mana kedua pihak masing-masing bertindak atas dasar pemahaman yang dimilikinya kehati-hatian dan tanpa paksaan (SPI, 2013) (R. Khoirudin & D.R. kusuma). Nilai pasar adalah harga dari suatu transaksi yang memenuhi unsur-unsur yaitu pembeli dan penjual berkehendak melakukan transaksi, dalam keadaan pasar terbuka, penjual dan pembeli mempunyai pengetahuan dan informasi yang mencukupi mengenal obyek yang mencukupi mengenal obyek yang ditransaksikan, jangka waktu penawaran mencukupi, dan pembeli/penjual intimewa diabaikan 36 (Hidayati dan Harjanto, 2003) dalam mahaman yang dimilikinya kehati-hatian dan tanpa paksaan (SPI, 2013) (R. Khoirudin & D.R. kusuma). Nilai pasar adalah harga saham yang terjadi di pasar bursa tertentu yang terbentuk oleh permintaan dan penawaran saham oleh para pelaku pasar (Sejati & Prastiwi, 2015). Nilai pasar (Market Value) dapat diukur dengan bebrapa pengukuran, salah satunya dengan market book value ratio (Pangestu & Wujaya, 2014). Market book value ratio merupakan tolak ukur dalam menentukan seberapa jauh perusahaan tersebut memilih peluang investasi. Market book value ratio mencerminkan seberapa besar pasar menilai perusahaan dapat memanfaatkan modalnya dalam menjalankan usaha untuk memenuhi tujuan perusahaan. Semakin besar perusahaan dapat mengelola modalnya dengan baik, maka kesempatan perusahaan untuk bertumbuh akan semakin tinggi sehingga dapat menarik investor untuk menanamkan dananya kedalam perusahaan tersebut. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan, market value adalah harga saham yang paling mudah ditentukan karena merupakan harga dari suatu saham perusahaan pada pasar yang sedang berlangsung atau sudah tutup, yang didasarkan pada bursa utama oleh pelaku pasar sebagai konsekuensi dari posisi tawar antara penjual dan pembeli saham, sehingga nilai pasar menunjukan fluktuasi dari harga saham dimana harga saham sekarang mencerminkan sepenuhnya informasi pada masa lampau, informasi yang dipublikasikan dan informasi yang tidak dipublikasikan. 37 2.1.6.2 Pengukuran Nilai Pasar Market value dapat diukur dengan mengalikan jumlah saham beredar dengan harga saham penutupan pada hari ke-t. Berdasarkan besarnya jumlah saham yang beredar dan harga saham, dapat dilihat ukuran suatu perusahaan. Semakin banyak jumlah saham yang beredar dan semakin tingginya harga saham menunjukan semakin besar ukuran sebuah perusahaan. Menurut Miapuspita et, al (2003), semakin besar market value maka makin lama pula investor menahan kepemilikan sahamnya. Investor melihat market value sebagai ukuran perusahaan. Semakin besar nilai market value menunjukan bahwa perusahaan dengan ukuran besar dan akan memberikan keuntungan tinggi seperti yang diharapkan oleh investor. Adapun untuk menyelesaikan nilai market value ditunukan dalam persamaan sebagai berikut : MV = Ln of (harga pasar perlembar saham X jumlah saham yang beredar) Dimana : Market value : nilai pasar perusahaan dalam periode tertentu Harga pasar saham : harga penutupan (losing price) periode tersebut Saham beredar : jumlah saham beredar dalam periode tersebut Dalam akuntansi, pasar terjadi bilamana suatu entitas melakukan pembelian yang berkenaan dengan inputnya, dan entitas melakukan penjualan yang berkenaan dengan outputnya. Edwards dan Bell dalam Kam (1990) menyebutkan bahwa apabila pasar bisa dikendalikan, baik oleh pialang (brokers), pembeli (buyers), atau 38 penjual (sellers), perbedaan antar aharga pembelian dan penjualan mungkin lebih besar karena perbedaan tersebut kemungkinan termasuk pembayaran monopoli (monopoly payment). Biaya (cost) transportasi dan pemasangan juga akan menimbulkan harga masukan dan keluaran. Tujuan dari manajemen keuangan adalah bukan memaksimumkan profit melainkan memakmurkan kekayaan pra pemegang saham melalui maksimalisasi nilai perusahaan. Kemakmuran pemegang saham akan meningkat apabila harga saham yang dimilikinya meningkat. Sementara itu harga saham yang terbentuk dalam pasar oleh beberapa faktor seperti laba per lembar saham (earning per share), rasio laba terhadap laba per lembar saham, tingkat bungan bebas resiko yang diukur dari tingkat bunga deposito pemerintahan dan tingkat kepastian operasi perusahaan (Sartono, 1996). 2.2 Kajian Penelitian Terdahulu Tinjauan empiris yang relevan dengan penelitian ini diungkapkan sebagai dasar rumusan hipotesis. Beberapa penelitian terdahulu diuraikan sebagai berikut: 2.2.1 Penilitian Terdahulu Pengaruh Likuiditas Terhadap Profitabilitas K.H.I Madushanka, M. Jathurika tahun 2018, dengan judul “ The Impact of Liquidity Ratios on Profitability (with special reference to Listed manufacturing Companies in Sri Lanka)”. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi pengaruh rasio Likuiditas terhadap ptofitabilitas perusahaan manufaktur yang terdaftar di Sri Lanka dan untuk mengetahui hubungan antara likuiditas dan profitabilitas. Analisis ini didasarkan pada 15 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Kolombo selama lima tahun terakhir dari 2012 hingga 2016. Analisis korelasi dan 39 regresi serta statistik deskriptif diterapkan dalam analisis dan temuan menunjukkan bahwa rasio Likuiditas (Quick Ratio) mempunyai hubungan positif dan signifikan dengan profitabilitas perusahaan diantara perusahaan manufaktur yang terdaftar di Sri Lanka. Ali Sulieman Alshatti, tahun 2015 dengan judul “The Effect of the Liquidity Management on Profitability in the Jordian Comersial banks”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris pengaruh manajemen likuiditas terhadap profitabilitas bank-bank komersial Yordania, dan bagaimana bank-bank tersebut dapat menjaga keseimbangan antara likuiditas dan profitabilitas.Tiga belas bank telah dipilih untuk mengekspresikan di seluruh bank komersial Yordania. Indikator likuiditas adalah invesment ratio, quick ratio, capital ratio, net credit facilities/total assets dan liquid assets ratio, sedangkan return on equity (ROE) dan return on asset (ROA) adalah proksi untuk profitabilitas. Model uji stasioner Augmented Dickey Fuller (ADF) digunakan untuk menguji akar unit dalam deret waktu variabel penelitian dan kemudian menguji hipotesis dengan menggunakan analisis regresi. Berdasarkan temuan penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh pengelolaan likuiditas terhadap profitabilitas pada bank umum Yordania yang diukur dengan ROE atau ROA, dimana pengaruh rasio investasi dan quick ratios terhadap profitabilitas bernilai positif jika diukur. oleh ROE, dan pengaruh rasio modal terhadap profitabilitas adalah positif yang diukur dengan ROA, dan pengaruh variabel independen lainnya terhadap kedua ukuran profitabilitas (ROE dan ROA) adalah negatif, peneliti berpendapat bahwa pengaruh 40 negatif ini disebabkan oleh peningkatan volume simpanan yang belum dimanfaatkan di bank komersial Yordania. Tanveer Bagh, Sadaf Razzaq, Tahir Azad, Idress Liaqad dan Muhammad Asif Khan, tahun 2017 dengan judul “The Causative Impact of Liquidity Management on Profitability of Bank in Pakistan : An Empirical Investigation”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengelolaan likuiditas terhadap profitabilitas bank Pakistan periode 2006-2016. Data keuangan sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan auditan dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial. Return on asset (ROA) dan Return on equity (ROE) telah digunakan sebagai ukuran profitabilitas bank, sedangkan Current Ratio (CR) advance to deposit ratio (ADR), Cash deposit ratio (CDR) dan Deposit Assets Ratio (DAR) mewakili manajemen likuiditas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ADR, CDR dan DAR berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA, sedangkan pengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. CR, ADR, CDR dan DAR berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROE. Berdasarkan temuan utama, semua pasar keuangan harus memiliki prosedur, praktik, kebijakan, dan mekanisme manajemen likuiditas yang disetujui secara komprehensif, yang secara eksklusif disesuaikan untuk lembaga keuangan mereka, dan manajemen harus bertanggung jawab untuk menerapkan kebijakan dan strategi ini dengan tepat berdasarkan prioritas. Ali Raza Sattar, tahun 2019, dengan judul “ Impact of Liquidity on Profitability : A Case of Comparison in Textile Sector in Pakistan between 2014 and 2015. Tujuan utama dari penelitian ini adalah membandingkan profitabilitas 41 dengan structur modal. Studu ini memilih 127 perusahaan tekstil dan menggunakan pendekatan panel dinamis untuk analisis data. Dan hasil penelitian diketahui bahwa aktiva lancar perusahaan berdampak pada rasio profitabilitas. Current liabilities cenderung menurunkan keuntungan bagi perusahaan, dan diperlukan periode penagihan untuk bisnis yang ditingkatkan. Faktor financial debt juga merupakan partisipan utama bagi profitabilitas perusahaan (Tahir & M.B.A. Anuar, 2016). Dan dari penelitian Ali Raza Sattar, tahun 2019 dengan menggunakan regresi sederhana yang telah di jalankan di Stata 12 dan hasilnya menunjukan bahwa Curent Ratio (CR) berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROCE dan ROE pada tahun 2014 namun pada tahun 2015 hasil menunjukan bahwa CR berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap ROCE dan ROE. 2.2.2 Penelitian Terdahulu Pengaruh Inflasi Terhadap Profitabilitas Vera Intanie Dewi, Catharina Tan Lian Soei, Felisca Orina Surjoko, tahun 2019, dengan judul “The Impact Of Macroeconomic Faktors On Firm’s Profitability (Evidance From Fast Moving Consumer Good Firms Listed On Indonesia Stock Exchange)”. Tujuan utama dari penelitia ini adalah untuk mengetahui faktor makroecomomi yaitu : tingkat inflasi, tingkat penggangguran, produk domestik bruto (PDB), dan nilai tukar terhadap profitabilitas perusahaan yang mencerminkan oleh rasio Return on Asset (ROA). Penelitian ini menggunakan faktor makroekonomi sebagai variabel bebas, dan rasio ROA sebagai variabel terikat. Dengan menggunakan metode regresi berganda, keempat faktor makro ekonomi dan rasio ROA dari perusahaan barang konsumen yang bergerak cepat yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) diuji selama periode 1998-2016 secara 42 tahunan. Hasilnya, diketahui bahwa semua variabel independen berpengaruh terhadap rasio ROA (profitabilitas perusahaan) dan hasil uji-t parsial menunjukkan bahwa hanya tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) yang berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas perusahaan, sedangkan tiga faktor makroekonomi lainnya tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas perusahaan. Maria Rasheed Awan, tahun 2014, dengan judul “Impact of Liquidity, Leverage, Inflation on Firm Profitability an empirical analysis of Good Sector of Pakistan”. Tujuan dari penelitian ini yaitu menyelidiki pengeruh leverage, likuiditas dan inflasi pada profitabilitas perusahaan dari industri makanan Pakistan. Oleh karena itu, tiga variabel swasembada yang bersifat independen yaitu leverage, inflasi dan juga likuiditas menjadi pertimbangan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap variabel dependen yaitu pendapatan perusahaan (profitabilitas). Populasi yang dipilih karena penelitian tertentu ini biasanya adalah sektor bahan makanan yang melibatkan Pakistan dengan sampel 55 perusahaan. Studi ini menggunakan data selama periode 2006 hinga 2011. Dengan menggunakan metode analisis regresi dan kolerasi dilakukan untuk menilai hubungan antara leverage, inflasi, likuiditas dan profitabilitas perusahaan. Penelitian tersebut sampai pada kesimpulan bahwa terdapat hubungan negatif yang solid dengan perubahan control leverage, likuiditas, inflasi dan juga laba perusahaan (profitabilitas). Rasio likuiditas tidak signifikan berhubungan dengan return on asset dan return on equity. Rasio hutang berhubungan negatif dengan laba atas aset dan laba atas penjualan. Rasio profitabilitas berhubungan positif dengan return on asset dan return on equity. Namun penilaian hati-hati harus diambil dalam kaitannya dengan variasi 43 profitabilitas perusahaan, dengan menjaga visi pentingnya leverage dan likuiditas perusahaan, yang pada gilirannya akan membantu dalam mengusulkan perubahan keuangan di masa depan. Prof. Jeevitha R, Dr. Bimoy Mathew, Ms. Koka Kali Shardha, tahun 2019, dengan judul “Impact Of Inflation On Bank’s Profitability : A Study on Select Banks Profitability”. Tujuan utama dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui dampak inflasi terhadap profitabilitas bank. Untuk mengevaluasi profitabilitas bank beberapa faktor penentu seperti Return on assets, Return on Equity dan Net profit dipertimbangkan. Rata-rata indeks harga grosir telah diambil untuk mengevaluasi dampak inflasi terhadap profitabilitas bank. Selain itu, terdapat banyak faktor eksternal yang mempengaruhi profitabilitas seperti PDB, manajemen aset, NPA, kecukupan modal, rasio likuiditas. Untuk studi lima bank sektor publik telah dipertimbangkan yaitu Bank Negara India, Bank IDBI, Bank Allahabad, Bank Canara, Bank Nasional Punjab untuk tahun 2014 sampai 2018. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi negatif antara inflasi dan profitabilitas bank yang artinya jika satu variabel meningkat maka variabel lainnya menurun. Ketika inflasi naik, suku bunga juga naik. Kenaikan suku bunga memberikan peluang yang lebih besar bagi bank untuk meningkatkan keuntungannya. Sementara cost of fund mereka juga meningkat yang bisa mengurangi keuntungan. Dari penelitian tersebut dapat diketahui bahwa H0 diterima dan alteratif ditolak yang artinya Inflasi tidak berpengaruh terhadap Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE) dan laba bersih bank sektor publik terpilih. Inflasi tidak mempengaruhi profitabilitas bank. Ada beberapa faktor 44 internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi profitabilitas bank. Oleh karena itu, tidak ada hubungan yang signifikan antara Inflasi dan profitabilitas Bank dari bank sektor publik tertentu di India. 2.2.3 Penelitian Terdahulu Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Profitabilitas Omotayo Ajibike Adekola, tahun 2016, dengan judul “The Effect of Banks Profitability on Economic Grwoth in Nigeria”. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana profitaabilitas industri perbankan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Negeria. Studi ini mengadopsi desain survei dengan menggunakan ex-post facto. Populasi penelitian diwakili oleh industri perbankan Nigeria, penelitian ini mencakup periode sepuluh tahun dari 2005 hingga 2014 berdasarkan laporan tahunan dari lima bank terpilih dalam industri perbankan Nigeria. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa profitabilitas bank berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Nigeria, hal ini diperkuat dengan prob (F-statistic) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan negatif antara profitabilitas bank dengan produk domestik bruto di Nigeria. Hasil tersebut secara khusus mengarah pada kesimpulan bahwa terdapat hubungan langsung antara profitabilitas bank dan pertumbuhan ekonomi (PDB), berdasarkan hasil studi kami direkomendasikan bahwa otoritas regulasi harus memastikan bahwa keuntungan dari proses reformasi perbankan adalah berkelanjutan, CBN harus mengambil tindakan yang lebih tegas yang bertujuan untuk mencapai kerangka manajemen risiko sektor perbankan Nigeria karena hal ini akan berdampak positif pada profitabilitas mereka. 45 Yong Tan dan Chritos Floros, tahun 2012, dengan judul “Bank Profitability and GDP growht in China : A Note”. Tujuan dari peneliti dalam penelitian ini yaitu untuk menyelediki tiga jenis determinan yang mempengaruhi profitabilitas perbankan Cina, aitu variabek spesifik bank, spesifik industri dan variabel makroekonomi (pertumbuhan PDB). Dan juga untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan PDB terhadap profitabilitas bank di Cina selama periode 2003-2009. Penelitian ini menggunakan data panel yang tidak seimbang untuk menyelidiki determinan 101 bank Cina selama periode 2003-2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bank dengan pajak yang lebih rendah dan efisiensi biaya yang lebih tinggi cenderung memiliki profitabilitas yang lebih tinggi di China. Selain itu, profitabilitas yang lebih tinggi dari bank-bank Tiongkok dapat dijelaskan oleh perbankan dan perkembangan pasar saham yang lebih tinggi. Peneliti menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB yang lebih tinggi menyebabkan profitabilitas bank yang lebih rendah di China. Lebih lanjut, peneliti menemukan bahwa profitabilitas di industri perbankan Tiongkok secara signifikan dipengaruhi oleh tingkat NPL; ini mendukung literatur. Selain itu, peneliti melaporkan bahwa bank China dengan tingkat modal yang lebih tinggi memiliki profitabilitas yang lebih rendah (ini hanya berlaku untuk NIM). Akhirnya, peneliti berpendapat bahwa penyimpangan dari struktur pasar persaingan yang sempurna dalam industri perbankan China relatif kecil. Mohamed Aymen Ben Moussa dan zohra Hdidar, tahun 2019, dengan tema “Bank Profitability and Economic Grwoth : Evidence From Tunisia”. Tujuan utama dari penelitian ini yaitu untuk menyelidiki pengaruh pertumbuhan ekonomi 46 terhadao profitabilitas bank menggunakan sampel 18 bank di Tunisia selama periode (2000-2017). Peneliti menggunakan ROA (Return on Asset), ROE (return On Equity) sebagai indikator profitabilitas bank seperti variabel dependen, variasi spesifik bank lain, pertumuhan ekonomi sebagai variabel independen. Peneliti menggunakan metode panel untuk regresi 2 bulan. Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas bank. Aviliani, Hermanto Siregar, Tubagus Nur Ahmad Maulana dan Heni Hasanah, tahun 2015. Judul “ The Impact of Macroeconomic Condition on The Bank’s Performance in Indonesia”. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh indikator makroekonomi (meliputi indekks produksi, inflasi, kurs Bank Indonesia, indeks saham Jakarta, nilai tukar dan harga minyak mentah) terhadap kinerja bank-bank milik negara. Peneliti menerapkan Vector Error Corection Model (VECM) pada data perbankan mulai tahun 2006-2013 dan memberikan peneliti beberapa temuan. Pertama, fungsi impulse response menunjukan respon terbesar dari biaya overhead bank (BOPO) akibat guncangan makroekonomi; peneliti berpendapat volatilitas indikator efisiensi bank ini mencerminkan ketidakefisiensi bank-bank di Indonesia. Kedua, besaran pinjaman dan lending to deposit ratio (LDR) memberikan respon yang paling lemah akibat guncangan makroekonomi. Hal ini sejalan dengan hasil dekomposisi varians, dimana variabel makroekonomi paling sedikit menjelaskan variasi NPL. Ketiga dari semua variabel makroekonomi yang kami amati, guncangan suku bungan Bank Indonesia secara umum 47 memberikan respon terbesar dari sebagian besar indikator kinerja bank, yang mendukung penggunaan kurs Bank Indonesia sebagai instrumen moneter efektif. 2.2.4 Penelitian Terdahulu Pengaruh Nilai Pasar Terhadap Profitabilitas Rosikah, Dwi Kartika Prananigrum, Dzulfikri Azis Muthalib, Muh Irfandy Azzis, iswar Rohansyah tahun 2018. Dengan judul “ effect of Return on Asset, Return on Equity, Earning Pers Share on Corporate Value”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis: 1) mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh return on asset terhadap nilai perusahaan, 2) mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh return on equity terhadap nilai perusahaan, 3) mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh earning per share terhadap kinerja perusahaan, 4) mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh ROA, ROE, EPS secara silmutan terhadap nilai perusahaan. Populasi dalam penelitian ini adalah 114 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2006-2010. Sedangkan pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling dengan tujuan ,emperoleh sampel yang representatif sesuai dengan kriteria yang ditentukan, berdasarkan kriteria tersebut maka jumlah sampel akhir yang memiliki data lengkap dalam penelitian ini berjumlah 32 perusahaan. Data proimer diolah dengan menggunakan analisis regresi berganda untuk mengukur pengaruh variabel independen yang terdiri dari : ROA, ROE, EPS indikator nilai perusahaan dengan Tobin’s Q. Temuan dalam penelitian ini adalah: 1) return on asset berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, 2) return on equity berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap nilai perusahaan, 3) earning per share berpengaruh positif 48 dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan, 4) return on assets, return on equity, earning per share berpengaruh signifikan secara simultan pada nilai perusahaan. Ali Ihsan Akgun, Famil Samiloglu dan Ali Osman Oztop, tahun 2018 dengan judul “ The Impact of Profitability on Market Value Added : Evidence from Turkish Informatics and Technology Firms. Tujuan penelitian ini yaitu (1) untuk menguji secara empiris hubungan antara nilai tambah ekonomis (EVA), Return on Asset (ROA), dan Return on Equity (ROE) dengan Market Value Added (MVA) di Bursa Efek Instanbul, (2) mengakaji kinerja yang diterapkan oleh perusahaan teknologi dan informatika Turki selama krisis keuangan global 2008-2009. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu semua perusahaan teknologi dan informatika yang ada di Turki. Penelitian ini menggunakan Profitability sebagai variabel independen dan menggunakan Market Value Added sebagai variabel dependen. Penelitian ini menggunakan teknik data panel untuk memperkirakan model regresi dalam hipotesis. Peneliti juga fokus pada dua teknik yang digunakan untuk menganalisis data panel seperti efek tetap dan efek acak. Dalam penelitian ini peneliti mendapatkan dua hasil yaitu (1) peneliti menunjukan bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara MVA dan EVA pada periode pasca krisis keuangan global, (2) peneliti juga menemukan ada hubungan positif dan signifikan antara MVA dan EVA pada periode sebelum krisis keuangan global. 49 2.3 Kerangka Konseptual Dan Hipotesis 2.3.1 Kerangka Konseptual Kerangka konsep merupakan suatu kesatuan kerangka pemikiran yang utuh untuk mencari jawaban ilmiah terhadap masalah penelitian yang menjelaskan tentang variabel-variabel, hubungan antara variabel secara teoritis yang berhubungan dengan hasil penelitian terdahulu yang kebenarannya dapat diuji secara empiris (Iskandar 2008:55). Kerangka kosep akan menghubungan secara teoritis antara variabel-variabel penelitian yaitu antara variabel independen dengan variabel dependen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah profitabilitas yang di ukur menggunakan Return on Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE). Menurut Sukojo dan Soebiyantoro (2007) profitabilitas menjadi pertimbangan yang cukup penting bagi investor dalam keputusan investasi. Profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan akan meningkat. Investor yang potensial akan menganalisis dengan cermat kelancaran sebuah perusahaan dan kemampuannya untuk mendapatkan keuntungan. Semakin baik rasio profitabilitas maka semakin naik menggambarkan kemampuan tingginya peroleh keuntungan perusahaan.” Sedangkan variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu likuiditas, pertumbuhan ekonomi inflasi dan nilai pasar. Rasio likuiditas menunjukan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban finansialnya dengan segera ( Amanah R. et, al : 2014). Rasio ini berguna untuk mengetahui 50 seberapa besar aset likuid yang bisa di ubah menjadi kas untuk membayar tagihan yang tak terduga. Apabila perusahaan tidak mampu membayar tagihan tersebut maka bisa terancam mengalami kebangkrutan. Untuk mengukur likuiditas menggunakan Curent Ratio (CR). Keberhasilan pembangunan ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Jadi pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian dari suatu periode ke periode lainnya. Menurut Kunzets (dalam Sukimo, 2006:132), pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jjangka panjang dari Negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. Mungkin kenaikan tersebut dapat terjadi tidak bersamaan, yang penting terdapat kenaikan harga umum barang secara terus menerus selama satu periode tertentu. Kenaikan yang terjadi sekali saja meskipun dalam presentase yang besar, bukanlah merupakan inflasi. Nilai pasar (market value) adalah harga saham yang terjadi di pasar bursa yang ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham bersangkutan di pasar bursa. Harga pasar merupakan harga jual saham sebagai konsekuensi dan posisi tawar antara penjual dan pembeli saham sehingga nilai pasar menunjukan fluktuasi dari harga saham (Jogiyanto :2000). 51 Gambar 2.1 Kerangka Konsep Likuiditas Curent Ratio (CR) Pertumbuhan Ekonomi Profitabilitas Return On Asset (ROA) dan Return On Equituy (ROE) Inflasi Nilai Pasar 2.3.2 Hipotesis 2.3.2.1 Pengaruh likuiditas (Curent Ratio) terhadap profitabilitas dengan rasio Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) Menurut Mamduh (2004) memaparkan bahwa likuiditas secara umum diartikan sebagai kemampuan suatu perusahaan memenuhi kewajiban keuangannya dalam jangka pendek atau yaang harus dibayar. Titmam et al. (2014) (I. L. Lubis, et, al : 2017), likuiditas adalah “the speed with which the asset can be convered into cash without loss of value.” Kecepatan dimana aset dapat dikonversi menjadi uang tunai tanpa kehilangan nilai. Liquidity ratio adalah “measure of teh ability of a firm to pay its nils in a timely manner when they come due”. Likuiditas merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk membayar taguhannya secara tepat waktu ketika tanggal pembayaran sudah tiba waktunya. 52 Rasio likuiditas di ukur menggunakan curent ratio (CR), di mana curent ratio adalah rasio yang membandingkan antara jumlah aktiva lancar yang dimiliki perusahaan dengan hutang jangka pendek”. ROA (Return On Asset) merupakan indikator yang dapat menggambarkan keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba, sehingga semakin tinggi profitabilitas maka semakin tinggi kemampuan perusahan dalam menghasilkan laba (Rachmawati, 2012). Return On Asset (ROA) digunakan untuk menghitung kelebihan kelebihan return dari tangible asset milik perusahaan dan mengasumsikannya sebagai intangible asset untuk dihitung sebagai intellectual capital (Ulum, 2009:33). ROE (return on equity) adalah bagian dari rasio profitabilitas, yang dalam pengukurannya difungsikan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih setelah pajak dari pemanfaatan modal yang dimilikinya. Semakin baik (tinggi) nilai return on equity (ROE) perusahaan, maka semakin baik kinerjanya dalam memperoleh laba bersih setelah pajak (earnings after tax). return on equity adalah suatu rasio yang digunakan untuk mengukur laba bersih setelah pajak (EAT) dengan modal sendiri. Rasio ROE dapat menunjukkan tingkat efisiensi perusahaan dalam penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi nilai ROE, maka semakin baik. Itu mengindikasikan bahwa posisi perusahaan akan terlihat semakin kuat, begitu pun sebaliknya (Kasmir : 2014). Didukung dengan hasil penelitian tsebelumnya yang dilakukan oleh (Ali Sulieman Alshatti 2015, K.H.I Madushanka dan M. Jathurika 2015, Ali Raza Sattar, 2020, Ahmad Waleed, Ahmad Tisman Pasha dan Adeel Akhtar 2016) yang menyatakan bahwa likuiditas memiliki 53 pengaruh signifikan dan positif terhadap profitabilitas. Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut : H1 : Likuiditas (Curent Ratio) berpengaruh positif signifikan terhadap Profitabilitas dengan rasio Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE) 2.3.2.2 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Profitabilitas dengan rasio Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE) Penelitian tentang Pertumbuhan Economi telah banyak di lakukan, salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Mohamed Aymen Ben Moussa dan zohra Hdidar, tahun 2019, Peneliti menggunakan ROA (Return on Asset), ROE (return On Equity) sebagai indikator profitabilitas bank seperti variabel dependen, variasi spesifik bank lain, pertumuhan ekonomi sebagai variabel independen. Peneliti menggunakan metode panel untuk regresi 2 bulan. Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas bank. Menurut Kunzets (Sukimo, 2006:132), pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jjangka panjang dari Negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. Pertumbuhan ekonomi dapat di artikan sebagai proses kenaikan kapasitas produkasi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Adanya, pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi 54 keberhasilan pembangunan ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Dari penjelasan di atas peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut : H2 : Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh positif terhadap Profitabilitas dengan rasio Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE) 2.3.2.3 Pengaruh Inflasi terhadap Profitabilitas dengan rasio Return On Asset (ROA) dan Return On Equity Penelitian tentang Inflasi telah banyak di lakukan, salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Prof. Jeevitha R, Dr. Bimoy Mathew, Ms. Koka Kali Shardha, tahun 2019, Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi negatif antara inflasi dan profitabilitas bank yang artinya jika satu variabel meningkat maka variabel lainnya menurun. Ketika inflasi naik, suku bunga juga naik. Kenaikan suku bunga memberikan peluang yang lebih besar bagi bank untuk meningkatkan keuntungannya. Sementara cost of fund mereka juga meningkat yang bisa mengurangi keuntungan. Dari penelitian tersebut dapat diketahui bahwa H0 diterima dan alteratif ditolak yang artinya Inflasi tidak berpengaruh terhadap Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE) dan laba bersih bank sektor publik terpilih. Inflasi tidak mempengaruhi profitabilitas bank. Ada beberapa faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi profitabilitas bank. Oleh karena itu, tidak ada hubungan yang signifikan antara Inflasi dan profitabilitas Bank dari bank sektor publik tertentu di India. 55 Menurut Untoro (2010:39)(Rinaldi Syahputra;2017) pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat dalam jangka panjang. Menurut Kunzets (Sukimo, 2006:132), pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jjangka panjang dari Negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. Inflasi merupakan kecenderungan meningkatnya tingkat harga secara umum dan terus-menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut sebagai inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga barang-barang lain. Kenaikan hargahargadisebabkan oleh faktor-faktor musiman (misalnya menjelang peringatan harihari besar), atau yang terjadi sekali saja (dan tidak mempunyai pengaruh lanjutan) tidak disebut inflasi (Kalalo, et, al 2016). Berdasarkan penjelasan diatas peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut : H3 : Inflasi berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap profitabilitas dengan rasio Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE) 2.3.2.4 Pengaruh Nilai Pasar terhadap Profitabilitas dengan rasio Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE) Penelitian tentang Nilai Pasar telah banyak di lakukan, salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Ali Ihsan Akgun, Famil Samiloglu dan Ali Osman 56 Oztop tahun 2018 dari penelitian tersebut peneliti mendapatkan hasil bahwa EVA memiliki hubungan negatif dan signifikan dengan MVA, sedangkan ROA dan ROE tidak memiliki hubungan signifikan dengan MVA dalam jangka panjang. Nilai pasar didefinisikan sebagai es-timasi sejumlah uang yang dapat diperoleh dari hasil penukaran suatu aset atau lia-bilitas pada tanggal penilaian, antara pembeli yang berminat membeli dengan penjualan yang berminat menjual, dalam suatu transaksi bebas ikatan, yang pemasarannya dilakukan secara layak, di mana kedua pihak masing-masing bertindak atas dasar pemahaman yang dimilikinya kehati-hatian dan tanpa paksaan (SPI, 2013)(R. Khoirudin & D.R. kusuma). Nilai pasar menunjukan keadaan perusahaan berdasarkan persepsi investor yang teraktualisasi melalui harga saham. Secara garis besar nilai pasar perusahaan merupakan harga seluruh saham yang beredar (closing price). Berdasarkan uraian diatas peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut : H4 : Nilai Pasar tidak signifikan terhadap Profitabilitas dengan rasio Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE) 2.3.2.5 Pengaruh Likuditas, Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai Pasar terhadap Profitabilitas dengan rasio Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE) Penelitian tentang likuiditas, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan nilai pasar banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu dan salah satunya yaitu penelitian 57 yang dilakukan oleh Maria Rasheed Awan, tahun 2014, dengan judul “Impact of Liquidity, Leverage, Inflation on Firm Profitability an empirical analysis of Good Sector of Pakistan. Dengan menggunakan metode analisis regresi dan kolerasi dilakukan untuk menilai hubungan antara leverage, inflasi, likuiditas dan profitabilitas perusahaan. Penelitian tersebut sampai pada kesimpulan bahwa terdapat hubungan negatif yang solid dengan perubahan control leverage, likuiditas, inflasi dan juga laba perusahaan (profitabilitas). Rasio likuiditas tidak signifikan berhubungan dengan return on asset dan return on equity. Rasio hutang berhubungan negatif dengan laba atas aset dan laba atas penjualan. Dan rasio profitabilitas berhubungan positif dengan return on asset dan return on equity. Dan juga terdapat penelitian terdahulu tentang pertumbuhan ekonomi yang dilakukan Moussa (2019) mengungkapakan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap profitabilitas dan penelitian terdahulu tentang nilai pasar yang dilakukan oleh rosikah (2018) menemukan hasil bahwa nialai pasar berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap profitabilitas. Berdasarkan uraian diatas peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut : H5 : Likuditas, Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai Pasar berpengaruh positif dan signifikan terhadap Profitabilitas dengan rasio Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE). BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.1.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah pengaruh Likuiditas, Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai Pasar terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Sub-Sector Tekstil dan Garmen di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis data sekunder laporan tahunan (annual report) Sub-Sector Tektil dan Garmen periode 2015-2019. Laporan tahunan (annual report) Sub-Sector Tekstil dan Garmen yang telah terpublish melalui website: www.idx.co.id atau website masingmasing perusahaan. 3.1.2 Waktu Penelitian Data dalam penelitian ini dimulai dari tahun 2015-2019, dimana penelitian ini mengkaji tentang Pengaruh Likuiditas, Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai Pasar Terhadap Profitabilitas pada Sub-Sector Tekstil dan Garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jenis penelitian ini adalah penelitian kausalitas (sebabakibat). Penelitian kausalitas adalah penelitian yang ingin mencari penjelasan dalam bentuk hubungan sebab-akibat (cause-effect) antar beberapa konsep atau beberapa variabel atau beberapa strategi yang dikembangkan dalam manajemen (Echo Perdana K. 4 : 2016). Dalam penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh Likuiditas, Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai Pasar terhadap Profitabilitas. 58 59 3.2 Populasi dan Sampel Penelitian 3.2.1 Populasi Penelitian Populasi adalah suatu kesatuan individu atau subyek pada wilayah dan waktu dengan kualitas tertentu yang akan diamati/diteliti (Supardi, 101:1993). Apabila seseorang ingin meneliti sebuah elemen yang ada dalam wilayah penelitian tersebut, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Dalam penelitian ini adalah perusahaan Sub-Sektor Tekstil dan Garmen go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2015-2018. Jumalah populasi penelitian adalah 22 perushaan. 3.3.2 Sampel Penelitian Menurut Supardi, (101:1993) sampel penelitian adalah bagian dari populasi yang dijadikan subyek penelitian sebagai “wakil” dari para anggota populasi. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, dimana seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi peneliti. Metode purposive sampling yaitu penarikan sampel dengan pertimbangan dan kriteri tertentu, untuk digunakan pada kepentingan atau tujuan penelitian (O.D. Dera Astuti;2018). Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan Sub-Sector Tekstil dan Garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan data dari Badan Pusat Statisti (BPS) dengan rentang waktu 2015-2019. Sehingga masingmasing perusahaan dalam populasi tidak memiliki kesempatan yang sama untuk 60 menjadi sampel, kecuali perusahaan yang memenuhi seluruh kriteria penelitian. Kriteria penelitian yang di tetapkan oleh peneliti yaitu : 1. Perusahaan Tekstil dan Garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). 2. Perusahaan Tektil dan Garmen yang melampirkan laporan tahunan (annual report) baik di website Bursa Efek Indonesia (BEI) atau website perusahaan terkait dari tahun 2015-2019. Berdasarkan beberapa kriteria yang telah ditentukan, maka diperoleh sampel penelitian sebanyak 10 perusahaan Sub-Sektor Tekstil dan Garmen. Tabel 3.1 Daftar Perusahaan yang Memenuhi Kriteria Sampel No Kode Emitan Tanggal IPO Perusahaan 1 ARGO Argo Pantes Tbk 7 Januari 1991 2 ERTX Eratex Djaya Tbk 21 Agustus 1990 3 ESTI Ever Shine Tex Tbk 13 Oktober 1992 4 INDR Ido Rama Synthetic Tbk 3 Agustus 1990 5 PBRX Pan Brothers Tbk 16 Agustus 1990 6 RICY Ricky Putra Globalindo Tbk 22 Januari 1991 7 SRIL Sri Rejeki Isman Tbk 17 Januari 2013 8 SSTM Sunson Textile Manufactur Tbk 20 Agustus 1997 9 TRIS Trisula Internasional Tbk 28 Juni 2012 61 10 UNIT Nusantara Inti Corpora Tbk 18 April 2002 Sumber : Bursa Efek Indonesia dan Saham OK( update 16, Februari 2020) 3.3 Jenis dan Sumber Data 3.4.1 Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Data kuantitatif yaitu data yang berwujud kumpulan angka-angka sedangkan data sekunder merupakan data yang diperioleh tidak secara langsung (F.M. Efendi & Ngatno;2018). Data kuantitatif berdasarkan klasifikasi waktu dapat di kategorikan sebagai data time series (runtut waktu), cross section (data silang atau urutan waktu tertentu) dan panel data. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah panel data, yaitu data gabungan anatara data time series dan data cross section. 3.4.2 Sumber Data Sumber data adalah subyek dari mana data dapat diperoleh.. Sumber data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang didapat dari pihak yang telah menghimpunya terlebih dahulu. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : 1. Badan Pusat Statistik (BPS) 2. Laporan tahunan (annual report) untuk semua perusahaan yang terpilih menjadi anggota sampel. 62 3.4 Metode Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data dalam suatu perusahaan. Menurut Suharsimi Arikunto (2000:134), instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang di pilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya menggumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Metode pengumpulan data ada 2 yaitu data primer dan data sekunder. Pada penelitian ini peneliti menggunakan data sekunder. Adapun metode penggumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen. Studi dokumen adalah jenis pengumpulan data yang meneliti berbagai macam dokumen yang berguna untuk bahan analisis. Dokumen yang dapat digunakan dalam pengumpulan data bisa bersumber dari jurnal-jurnal, buku-buku, maupun data-data berupa laporan keuangan yang bersumber dari website resmi perusahaan. 3.5 Metode Pengolahan Data Adupun metode pengolahan data setelah data dikumpulkan adalah sebagai berikut: 1. Editing yaitu menghimpun data-data yang diperlukan. 2. Sortir yaitu menyotir atau menyusun data-data yang telah dikumpulkan untuk digunakan dalam penelitian ini. 3. Tabulasi yaitu memasukan data ke dalam tabel untuk selanjutnya menjadi bahan analisis. 63 4. Interprestasi yaitu menjelaskan dan menguraikan data-data berdasarkan variabel yang diteliti dalam penelitian ini. 5. Penyajian data yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. 6. Penarikan kesimpulan. 3.6 Metode Analisis Data dan Pengujian Hipotesis Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan regresi data panel dengan bantuan program Eviews-9. Regresi data panel merupakan teknik regresi yang menggabungkan data time series dengan cross section. Model regresi adalah model yang digunakan untuk menganalisis pengaruh dari beberapa variabel independen terhadap satu variabel dependen (Echo Perdana K. 10: 2016) Widarjo (2013) mengatakan bahwa, metode regresi data panel mempunyai beberapa keuntungan jika dibandingkan dengan data time series atau cross section. Pertama, data panel yang merupakan gabungan dua data time series dan cross section mampu menyediakan data yang lebih baik banyak sehingga akan menghasilkan degree of freedoom yang lebih besar. Keuntungan kedua yaitu dengan menggabungkan informasi dari data time series dan cross section dapat mengatasi masalah yang timbul ketika ada masalah penghilangan variabel (ommited-variabel). Pada penelitian ini menggunakan data panel yaitu gabungan dari data cross section yang terdiri dari 10 perusahaan Sub-Sektor Tekstil dan Garmen yang 64 terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan data time seriess dalam kurun waktu 5 tahun yaitu tahun 2015-2019 sehingga diperoleh sebanyak 50 observasi. Dengan menggunakan rumus model regresi data panael yaitu : Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3.......bnXn Adapun model regresi data panel dalam penelitian ini yaitu : Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + e Keterangan : Y = Profitabilitas X1 = Likuiditas X2 = Pertumbuhan Ekonomi X3 = Inflasi X4 = Nilai Pasar e = error term 3.6.1 Analisis Deskriptif Analisis deskriptif adalah tahap awal dalam pemeriksaan data; itu memungkinkan para peneliti untuk mengambarkan bagian-bagian yang relevan dan memperoleh data tentang setiap variabel penting (A. H Samo & H. Murad:2019). Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah berkumpul 65 sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono, 2013:206). Dalam penelitian ini variabel bebas yaitu likuiditas dengan rasio (Curent Asset), Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai Pasar, pada sub-sektor Tekstil dan Garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). 3.6.2 Uji Asumsi Klasik Sebelum model regresi digunakan untuk menguji hipotesis, diperlukan uji asumsi klasik untuk memastikan bahwa model telah memenuhi kriteria Best Linear Unbiased Estimator (BLUE). Adapun uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalh uji normalitas, uji multikolerasi, uji heteroskedastisitas, dan uji outokolerasi. 3.6.2.1 Uji Normalitas Data Uji normalitas adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mengetahui apakah data berasal dari populasi yang terdistribusi normal atau berada dalam sebaran normal (Nuryadi, et, al 2017:79). Terdapat dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik. Analisis grafik dalam penelitian dilakukan dengan cara melihat grafik Histrogram dan normal P-Plot. Uji statistik yang digunakan untuk menguji normalitas residual dalam penelitian ini adalah uji statistik non paramik Kolmogorov Smirnof. Uji ini diyakini lebih akurat daripada uji normalitas dengan grafik, karena uji normalitas dengan 66 grafik dapat menyesatkan, jika tidak hati-hati secara virtual akan terlihat normal (Ghozali:2005). Uji Kolmogorov Smirnof dilakukan dengan membuat hipotesis : Ho : data residual berdistribusi normal H1 : data residual tidak besditribusi normal Apabila Asymptotic Significance lebih besar dari pada 5 persen, maka data terdistribusi normal (Ghozali:2005). 3.6.2.2 Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas merupakan alat uji model regresi untuk menemukan adanya kolerasi antar variabel bebas (independen) (Echo Perdana K. 47: 2016). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi kolerasi diantara variabel independen. Uji multikolinearitas dapat dilakukan dengan uji regresi, dengan niali patokan VIF (Variance Inflation Factor) dan nilai Tolerance. Kriteria yang digunakan adalah : 1. Jika nilai VIF di sekitar angka 1-10, maka dikatakan tidak terdapat amasalah multikolinearitas. 2. Jika nilai Tolerance ≥ 0.10, maka dikatakan terdapat masalah multikolinearitas. 3.6.2.3 Uji Autokolerasi Uji autokolerasi merupakan hasil uji model regresi untuk mengetahui adanya kolerasi antara kesalahan penggangu pada periode tertentu dengan 67 kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya (Echo Perdana K. : 52:2016). Jika terjadi kolerasi, maka dinamakan ada masalah autokolerasi. Autokolerasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Salah satu uji yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya autokolerasi adalah dengan menggunakan uji Breush-Godfrey (BG) atau yang biasa dikenal dengan uji Langrange Multiplier. 3.6.2.4 Uji Heterokedastistas Uji Heterokedasitisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain, salah satu metode formal untuk menguji heteroskedastisitas adalah dengan menggunkan uji White. Apabila nilai profitabilitas dari Obs*R-squared lebih besar dari α (5%) maka data tidak bersifat heteroskedastis dan jika niali profitabilitas dari Obs*R-squared lebih kecil dari α (5%) maka data bersifat heteroskedastis. 3.6.3 Penentuan Model Estimasi Widarjono (2013;251) mengatakan bahwa untuk mengistemasi parameter model dengan data panel, terdapat tiga teknik (model) yang sering ditawarkan yaitu: 3.6.3.1 Common Effect Model Teknik ini merupakan teknik yang paling sederhana untuk mengistemasi parameter model data panel, yaitu dengan mengkombinasi data cross section dan time series sebagai satu kesatuan tanpa melihat adanya perbedaan watu dan entitas 68 (individu). Di mana pendekatan yang sering dipakai adalah ordinary least square. Model Common Effect mengabaikan adanya perbedaan dimensi individu maupun waktu atau dengan kata lain perilaku data antar individu sama dalam berbagai kurun waktu. 3.6.3.2 Fixed Effect Model Pendekatan model fixed effect mengasumsiakan bahwa intersep dari setiap individu adalah berbeda sedangkan slope antar individu adalah tetap (sama). Teknik ini menggunakan variabel dummy untuk menangkap adanya perbedaan intersep antar individu. 3.6.3.3 Random Effect Model Bila pada model efek tetap, perbedaan antar-individu dan atau waktu dicerminkan lewat intercept, maka pada Model Efek Random, perbedaan tersebut diakomodasi leway erroe. Teknik ini juga memperhitungkan bahwa eror mungkin berkolerasi sepanjang time series dan cross section. 3.6.4 Teknik Pengujian Model Widarjono (2007:258) mengatakan bahwa ada tiga uji untuk memilih teknik estimasi data panel : 69 3.7.4.1 Uji Chow Uji Chow digunakan untuk memilih apakah model Common Effect atau Fxed Effect yang lebih telah digunakan. Uji Chow dilakukan dengan hipotesis sebagai berikut : H0 : Common Effect Model H1 : Fixed Effect Model Aturan pengambilan keputusannya adalah jika profitabilitas untuk CrossSection F < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima sebagai model yang tepat adalah model Fixed Effect. Sebaliknya jika profitabilitas untuk Cross-section F> 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak sehingga model yang tepat adalah model Common Effect. 3.7.4.2 Uji Hausaman Hausaman telah mengembangkan suat uji untuk memilih apakah metode fixed effect dan metode random effect lebih baik dari pada common effect. H0 : Random Effect Model H1 : Fixed Effect Model statistik uji Hausman mengikuti distribusi Chi-Squared dengan degree of frendom <0.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima sehingga model yang tepat adalah model Fixed Effect. Sebaliknya jika profitabilitas untuk Cross-section 70 F> 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak sehingga model yang tepat adalah model Random Effect. 3.7.4.3 Uji Langrangge Multipiler (LM) Uji LM digunakan untuk memilih apakah model Common Effect atau Random Effect yang lebih tepat digunakan dalam model persamaan regresi data panel. Setelah diperoleh nilai lM hitung, nilai Nilai hitung akan dibandingkan dengan nilai Chi Squared tabel dengan derajat kebebasan (degree of rendom) sebanyak jumlah variabel independen (bebasa) dan alfa atau tingkat signifikansi sebesar 5%. Apabila nilai LM hitung > Chi Squared tabel maka model yang dipilih adalah Random Effect, dan sebaliknya apabila nilai LM hitung < Chi Squared tabel maka model yang dipilih adalah Common Effect. 3.6.2 Pengujian Hipotesis 3.6.1 Uji Stastik (Uji F-test) Menurut Ghozali (200) mengatakan bahwa Uji statistik F pada dasarnya menunjukan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Pengambilan kesimpulan sebagai berikut : H0 : β1, β2 = 0 (Variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap variabel dependen) 71 H1 : β1, β2 ≠ 0 (Variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen) Kriteria pengambilan keputusan dengan membandingkan nilai F-stastistik dan nilai F-tabel, yaitu sebagai berikut : 1. Jika nilai profitabilitas α > 0,05 maka H0 atau menolak H1, artinya variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. 2. Jika nilai profitabilitas α < 0,05 maka H1 diterima atau menolak H0, artinya variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. 3.6.2 Uji Statistik T (Uji t) Uji ini digunakan untuk melihat signifikan dari hubungan atau pengearuh variabel bebas terhadap variabel terikat secara individual. Pada penelitian ini digunakan prosedur uji dua sisi karena pengaruh antar dua variabel dalam persamaan regresi bisa positif maupun negatif (Widarjo, 2013). Hipotesis dua sisi ini dapat dinyatakan sebagai berikut : H0 :β1 = 0 (Variabel independen secara masing-masing tidak berpengaruh terhadap variabel dependen) H1 :β1 ≠ 0 (Variabel independen secara masing-masing berpengaruh terhadap variabel dependen ) 72 Kriteria pengambilan keputusan dengan membandingkan nilai t-statistik dan nilai t-tabel, yaitu sebagai berikut : 1. Jika nilai probabilitas α > 0,05 maka H0 diterima atau menolak H1, artinya variabel independen secara masing-masing tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen 2. Jika nilai probabilitas α < 0,05 maka H1 diterima atau menolak H0, artinya variabel independen secara masing-masing berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. 3.6.3 Koefisien Determinasi (R2) Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara 0 dan 1. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hamper semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2011: 97). 3.7 Definisi Operasional Variabel Definisi operasional variabel dapat dikatakan sebagai pembahasan atau penilaian kegiatan operasionl yang dilakukan untuk mengukur variabel dalan hipotesis. Dalam penelitian kuantitatis, variabel didefinisikan secara operasional dan umumnya dibagi menjadi variabel independen, variabel dependen dan variabel mediasi. 73 Variabel penelitian ini terdirii dari variabel independen dan variabel dependen. Variabel dependen adaah profitabilitas, sedangkan variabel independen adalah likuiditas, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan nilai pasar. 3.7.1 Variabel Dependen (Y) Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat adanya variabel bebas (Sugiyono, 2009). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah profitabilitas yang di ukur dengan Return on Asset (ROA) dan Return On Equidity. 3.7.2 Variabel Independen (X) Variabel ini sering disebut dengan variabel bebas. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat) (Sugiyono, 2009). Dalam penelitian ini menjadi variabel bebas adalah likuiditas, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan nilai pasar. Tabel 3.2 Definisi Operasional Variabel No Variabel Definisi 1 Profitabilitas profitabilitas adalah rasio Return on Asset yang Indikator digunakan untuk ROA = earning after mengukur kemampuan dan tax / total assets X keberhasilan dalam perusahaan 100%. memperoleh laba Return On Equity yang hubungannya dengan 74 penjualan, aktiva maupun ROE = Earning after investasi.. tax / modal sendiri X 100% 2 Likuiditas likuiditas merupakan suatu Current Ratio kemampuan perusahaan CR = aktiva lancar / untuk melunasi kewajiban hutang lancar finansial jangka pendek maupun jangka panjang yang jatuh tempo pada tahun bersangkutan yang harus segera dipenuhi. 3 Pertumbuhan Gross Pertumbuhan Dosmetik ekonomi Ekonomi Product (GDP) adalah kenaikan output Gt = ((PDBt – PBD-1) perkapita yang dimiliki / PBD-1)) X 100% suatu negara. 4 Inflasi Inflasi adalah suatu proses INFn = IHKn – INKnmeningkatnya harga-harga 1 / HKn-1 X 100% secara umum dan terusmenerus (continue), kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila 75 kenaikan itu meluas pada barang lainnya. 5 Nilai Pasar market value adalah harga Marked valuae saham yang paling mudah MV = Ln (harga pasar ditebtukan karena perlembar saham X merupakan harga dari suatu jumlah saham yang saham pasar perusahaan yang berlangsung pada beredar) sedang atau sudah tutup, yang didasarkan pada bursa utama oleh pelaku pasar sebagai konsekuensi dari posisi tawar antara penjual dan pembeli saham, sehingga nilai pasar menunjukan fluktuasi dari harga saham dimana harga saham sekarang mencerminkan sepenuhnya informasi lampau, pada masa informasi yang dipublikasikan dan 76 informasi yang dipublikasikan. tidak DAFTAR PUSTAKA Adikerta, I Made Angga, and Nyoman Abundanti. 2020. “Pengaruh Inflasi, Return on Assets, Dan Debt To Equity Ratio Terhadap Harga Saham.” E-Jurnal Manajemen Universitas Udayana 9 (3): 968. https://doi.org/10.24843/ejmunud.2020.v09.i03.p08. Ajibike, Omotayo. 2016. “The Effect of Banks Profitability on Economic Growth in Nigeria.” IOSR Journal of Business and Management 18 (3): 2319–7668. https://doi.org/10.9790/487X-18320109. Akgun, Ali Ihsan, Famil Samiloglu, and Ali Osman Oztop. 2018. “The Impact of Profitability on Market Value Added: Evidence from Turkish Informatics and Technology Firms.” International Journal of Economics and Financial Issues 8 (4): 105–12. Alicia, Dominica Dian. 2017. “Pengaruh Likuiditas Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Sub Sector Semen Yang Terdaftar Di Buesa Efek Indonesia Periode 2011-2015,” 1–11. Almira, Ni Putu Alma Kalya, and Ni Luh Putu Wiagustini. 2020. “Return on Asset, Return on Equity, Dan Earning Per Share Berpengaruh Terhadap Return Saham.” E-Jurnal Manajemen Universitas Udayana 9 (3): 1069. https://doi.org/10.24843/ejmunud.2020.v09.i03.p13. Amanah, Raghilia, and Devi Farah Azizah. 2012. “Pengaruh Rasio Likuiditas Dan Rasio Profitabilitas Terhadap Harga Saham (Studi Pada Perusahaan Indeks LQ45 Periode 2008-2012).” Jurnal Administrasi Bisnis 12 (1): 1–10. Ambarita, Indah. 2018. “Manajemen Keuangan - Dana Jangka Pendek,” no. July 2016. ASAD, MUZAFFAR. 2012. “Working Capital Management and Corporate Performance of Textile Sector in Pakistan.” Paradigms 6 (1): 100–114. https://doi.org/10.24312/paradigms060101. Aviliani, Aviliani, Hermanto Siregar, Tubagus Nur Ahmad Maulana, and Heni Hasanah. 2015. “The Impact of Macroeconomic Condition on The Banks Performance in Indonesia.” Buletin Ekonomi Moneter Dan Perbankan 17 (4): 379–402. https://doi.org/10.21098/bemp.v17i4.503. Awan, Maria Rasheed. 2014. “Impact of Liquidity, Leverage, Inflation on Firm Profitability an Empirical Analysis of Food Sector of Pakistan.” IOSR Journal of Business and Management 16 (1): 104–12. https://doi.org/10.9790/487x- i 1617104112. Bagh, Tanveer, Sadaf Razzaq, Tahir Azad, Idrees Liaqat, and Muhammad Asif Khan. 2017. “The Causative Impact of Liquidity Management on Profitability of Banks in Pakistan: An Empirical Investigation.” International Journal of Academic Research in Economics and Management Sciences 6 (3). https://doi.org/10.6007/ijarems/v6-i3/3151. Bisinariwati, Nuri. n.d. “Rasio Keuangan,” 1–16. Dewi, Vera Intanie, Catharina Tan Lian Soei, and Felisca Oriana Surjoko. 2019. “The Impact of Macroeconomic Factors on Firms’ Profitability (Evidence from Fast Moving Consumer Good Firms Listed on Indonesian Stock Exchange).” Academy of Accounting and Financial Studies Journal 23 (1): 1– 6. Dwi, Eris, and Agung Febrianto. 2015. “Pengaruh Rasio Likuiditas Dan Solvabilitas Terhadap” 4 (8): 94–101. Efendi, Fiona Mutiara, and Ngatno Ngatno. 2018. “Pengaruh Return On Assets (ROA Terhadap Harga Saham Dengan Earning PerShare (EPS) Sebagai Intervening (Studi Kasus Pada Perusahaan Sub SektorTekstil Dan Garmen Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2016).” Jurnal Administrasi Bisnis 7 (1): 1. https://doi.org/10.14710/jab.v7i1.22568. Fanindya, Ika, and Shiddiq Nur Rahardjo. 2013. “Kebijakan Utang , Dan Kepemilikan Manajerial Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2009 – 2011 )” 2: 1–10. FARIANTIN, HJ. ERVIVA. 2019. “Pengaruh Return on Asset (Roa) Dan Net Profit Margin (Npm) Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Farmasi Tbk Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.” Ganec Swara 13 (1): 136. https://doi.org/10.35327/gara.v13i1.73. gerald edsel yermia egam, ventje hat dan sonny pangerapan. 2017. “Pengaruh Return on Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM) Dan Earning Per Share (EPS) Terhadap Harga Saham Perusahaan Yang Tergabung Dalam Indeks LQ45 Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 20132015.” Problems of a Mature Economy 5 (1): 45–61. https://doi.org/10.1007/978-1-349-15400-5_6. Guan, Yang, Chunli Chu, Chaofeng Shao, Meiting Ju, Erfu Dai, César da Silva Chagas, Helena Saraiva Koenow Pinheiro, et al. 2016. “Analisis Profitabilitas Dalam Menilai Kinerja Keuangan Oada PT. Taspen (Persero) Medan.” Media Konservasi 2 (1): 11–40. http://dx.doi.org/10.1016/j.ecoenv.2017.03.002%0Ahttp://www.fordamof.org/files/Sistem_Agroforestri_di_Kawasan_Karst_Kabupaten_Gunungk udul_Untuk_Pengelolaan_Telaga_Sebagai_Sumber_Air_Berkelanjutan.pdf% 0Ahttps://extension.msstate.edu/sites/default/files/pu. Hanafi, Mamduh M. 2007. “Analisis Laporan Keuangan Edisi Kedua,” no. November: 7–9. Hanie, Ummu Putriana. 2018. “Pengaruh Rasio Likuiditas Dan Rasio Leverage Terhadap Harga Saham Studi Pada Perusahaan Indeks LQ45 Periode 20142016.” Jurnal Administrasi Bisnis (JAB) 58 (1): 95–102. Hery. 2017. “Analisis Laporan Keuangan,” 2015. Hidayat, Taufik. 2016. “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Manajerial.” Akuntabilitas 7 (1): 706–17. https://doi.org/10.15408/akt.v7i1.2646. Khoirudin, Rifki, and Desta Rizky Kusuma. 2017. “Kewajaran Nilai Pasar Saham Perusahaan Pasca Right Issue.” Jurnal Ilmu Ekonomi Dan Pembangunan 16 (1). https://doi.org/10.20961/jiep.v16i1.2316. Lubis, Ignatius Leonardus, Bonar M Sinaga, and Hendro Sasongko. 2017. “Pengaruh Profitabilitas, Sruktur Modal, Dan Likuiditas Terhadap Nilai Perusahaan.” Jurnal Aplikasi Bisnis Dan Manajemen 3 (3): 458–65. https://doi.org/10.17358/jabm.3.3.458. Madushanka, K. H. I., and M Jathurika. 2018. “The Impact of Liquidity Ratios on Profitability.” International Research Journal of Advanced Engineering and Science 3 (4): 157–61. https://www.irjaes.com/pdf/V3N4Y18IRJAES/IRJAES-V3N4P297Y18.pdf. Marjan, jorenza chiquita sumanti dan. 2015. “Analysis Of Managerial Ownership , Debt Policy And Profitability On Dividend Policy” 3 (1): 1141–51. Minanari. 2529. “Pengaruh Profitabilitas, Manajemen Laba Dan Kebijakan Deviden Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2016.” Moeljadi. 2006. “Manajemen Keuangan 1: Pendekatan Kuantitatif Dan Kualitatif,” 2006. Mohamed Aymen Ben Moussa, and Zohra Hdidar. 2019. “Bank Profitability and Economic Growth : Evidence From Tunisia.” European Journal of Economic and Financial Research 3 (4): 81–96. https://doi.org/10.5281/zenodo.3360735. Nuraini, Ida. 2017. “Kualitas Pertumbuhan Ekonomi Daerah Kabupaten / Kota Di Jawa Timur.” Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 15: 79–93. Nuryadi, Tutut Dewi Astuti, Endang Sri Utami, And Martinus Budiantara. 2017. Dasar-Dasar Statistika Penelitian. http://lppm.mercubuana-yogya.ac.id/wpcontent/uploads/2017/05/Buku-Ajar_Dasar-Dasar-Statistik-Penelitian.pdf. Octaviani, Santi, and Dahlia Komalasarai. 2017. “Pengaruh Likuiditas, Profitabilitas, Dan Solvabilitas Terhadap Harga Saham (Studi Kasus Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia).” Jurnal Akuntansi. 3 (2): 77–89. Perdana, Echo. 2016. Olah Data Skripsi Dengan SPSS 22. Lab Kom Manajemen Fe Ubb. prof. jeevitha R, Dr. Binoy Mathew. Ms. koka Kali Shardha. 2019. ““ Impact Of Inflation On Bank ’ S Profitability ” A Study On Select” 6 (6): 38–44. Rosikah et al. 2018. “Effects of Return on Asset , Return On Equity , Earning Per Share on Corporate Value.” The International Journal of Engineering and Science (IJES 7 (3): 6–14. https://doi.org/10.9790/1813-0703010614. Samo, Asif Hussain, and Hadeeqa Murad. 2019. “Impact of Liquidity and Financial Leverage on Firm’s Profitability – an Empirical Analysis of the Textile Industry of Pakistan.” Research Journal of Textile and Apparel 23 (4): 291– 305. https://doi.org/10.1108/RJTA-09-2018-0055. Satisfaction, Job, Shujaat Farooq, and Usman Ahmed. 2016. “Pakistan Institute of Development Economics , Islamabad Twenty-Third Annual General Meeting and Conference of the Pakistan Society of Development Underemployment , Education , And” 46 (4). Sattar, Ali Raza. 2020. “Impact of Liquidity on Profitability : A Case of Comparison in Textile Sector in Pakistan between 2014 and 2015” 9 (1): 13– 19. shaheen, sadia, dan qaisar ali malik. 2012. “The Impact of Capital Intensity , Size of Firm And Profitability on Debt Financing In Textile Industry of Pakistan Sadia Shaheen ( Principal Author ) Foundation University Islamabad Qaisar Ali Malik ( Corresponding Author ) Assistant Professor , Foundatio,” 1061– 66. Simanjorang, Regina Christine. 2020. “Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Dan Inflasi Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Makanan Dan Minuman Di” 4: 442–49. Soebiantoro, sujoko ugy. 2007. “Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham , Leverage , Faktor Intern Dan Faktor Ekstern Terhadap Nilai Perusahaan ( Studi Empirik Pada Perusahaan Manufaktur Dan Non Manufaktur Di Bursa Efek Jakarta ),” no. 1976: 41–48. Suhardi, Afrizal. 2019. “Bagaimana Pecking-Order Theory Menjelaskan Struktur Permodalan Bank Di Indonesia ?,” no. April. Suhendro, Dedi. 2017. “Analisis Profitabilitas Dan Likuiditas Untuk Menilai Kinerja Keuangan Pada PT Siantar Top Tbk.” Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Islam 4 (2): 218–35. Sulieman Alshatti, Ali. 2014. “The Effect of the Liquidity Management on Profitability in the Jordanian Commercial Banks.” International Journal of Business and Management 10 (1): 62–71. https://doi.org/10.5539/ijbm.v10n1p62. Supardi. 1990. “Populasi Dan Sampel Penelitian,” no. April 1952: 100–108. Susanti, Hewi. 2017. “Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Dan Pengeluaran Pemerintah Aceh Terhadap Pendapatan Asli Daerahprovinsi Aceh Setelah Tsunami.” Jurnal Ekonomi Dan Kebijakan Publik Indonesia 4 (1): 1–12. Syahputra, Rinaldi. 2017. “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia (1990-2016).” Jurnal Samudra Ekonomika 1 (2): 183–89. https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/8498/M Eko Yansyah Putra S.E..pdf?sequence=1. Talha, Mohammad, S. Benjamin Christopher, and A. L. Kamalavalli. 2010. “Sensitivity of Profitability to Working Capital Management: A Study of Indian Corporate Hospitals.” International Journal of Managerial and Financial Accounting 2 (3): 213–27. https://doi.org/10.1504/IJMFA.2010.034115. Tan, Yong, and Christos Floros. 2012. “Bank Profitability and GDP Growth in China: A Note.” Journal of Chinese Economic and Business Studies 10 (3): 267–73. https://doi.org/10.1080/14765284.2012.703541. Tandelilin, Eduardus. n.d. “Portofolio Dan Investasi, Teori Dan Aplikasi,” 129713. Then, Richard. 2018. “Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Nilai Pasar (Market Value) Dengan Profitabilitas Sebagai Variabel Mediasi Pada Perusahaan Ritel Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2016.” National Conference of Creative Industry, no. September: 5–6. https://doi.org/10.30813/ncci.v0i0.1308. Waleed, Ahmad, Ahmad Tisman Pasha, and Adeel Akhtar. 2016. “Exploring the Impact of Liquidity on Profitability: Evidence from Banking Sector of Pakistan.” Journal of Internet Banking and Commerce 21 (3). https://doi.org/10.2139/ssrn.2899817. Watung, Rosdian, and Ventje Ilat. 2016. “Pengaruh Return on Asset (Roa), Net Profit Margin (Npm), Dan Earning Per Share (Eps) Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Perbankan Di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015.” Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi 4 (2): 518–29. https://doi.org/10.35794/emba.v4i2.13108. www.idx.co.id. 2020. “Emiten Yang Terdafaftar Di Bursa Efek Indonesia.” http:www.idx.co.id 06/09/2020 30 (X): 52–54. www.sahamok.com.“Perusahaan Perbankan Yang Tercatat Di Bursa Efek Indonesia.” http:www.sahamok.com 06/09/2020. www.bps.go.id “Badan Pusat Statistik”. http:www.bps.go.id 06/09/2020 33 (X): 23-24 Lampiran No. 1 Gap Terdapat perbedaan temuan hasil penelitian tentang; Pengaruh Likuiditas terhadap Profitabilitas Temuan likuiditas berpengaruh positif tapi tidak signifikan Likuiditas berpengaruh negatif tapi tidak signifikan likuiditad berpengaruh Positif & signifikan 2 3 4 Terdapat perbedaan temuan hasil penelitian tentang; Pengaruh Inflasi terhadap Profitabilitas Terdapat perbedaan temuan hasil penelitian tentang; PengaruhPertumbuhan Ekonomi terhadap Profitabilitas Terdapat perbedaan temuan hasil penelitian tentang; Pengaruh Nilai Pasar terhadap Profitabilitas (Nilai Perusahaan) Peneliti Ali Suleiman Alshatti (2015), Ali Raza Sattar (2019), Likuiditas berpengaruh negatif & signifikan K.H.I Madushanka & M. Jathurika (2018), Tanveer Bagh, Sadaf Razzaq, Tahir Azad, Idress Liaqad dan Muhammad Asif Khan (2017), Ali Raza Sattar (2019), Ahmad Waleed, Ahmad Tisman Pasha dan Adeel Akhtar (2016) Tanveer Bagh, Sadaf Razzaq, Tahir Azad, Idress Liaqad dan Muhammad Asif Khan (2017), Inflasi berpengaruh Positif tapi tidak signifikan Mariia Rasheed Awan (2014), Prof. Jeevitha R, Dr. Bimoy Mathew, Ms. Koka Kali Shardha (2019), Inflasi berpengaruh negatif tapi tidak signifikan Mariia Rasheed Awan (2014), Inflasi berpengaruh Positif & signifikan Vera Intanie Dewi, Catharina Tan Lian Soe, Felisca Orina Surjoko (2019) Inflasi berpengaruh negatif & signifikan Mariia Rasheed Awan (2014), Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh Positif tapi tidak signifikan Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh negatif tapi tidak signifikan Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh Positif & signifikan Mohammed Aymen Ben Moussa dan Zohra Hdidar (2019), Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh negatif & signifikan Omotayo Ajibeke Adekola (2016), Nilai Pasar berpengaruh Positif tapi tidak signifikan Rosikah, Dwi Kartika Prananigrum, Dzulfikri Azis Muthalib, Muh Irfandy Azzis, iswar Rohansyah (2018), Nilai Pasar berpengaruh negatif tapi tidak signifikan Nilai Pasar berpengaruh Positif & signifikan Rosikah, Dwi Kartika Prananigrum, Dzulfikri Azis Muthalib, Muh Irfandy Azzis, iswar Rohansyah (2018), Ali Ihsan Akgun, Famil Samiloglu dan Ali Osman Oztop (2018), Nilai Pasar berpengaruh negatif & signifikan Ali Ihsan Akgun, Famil Samiloglu dan Ali Osman Oztop (2018), Metode