Uploaded by common.user99585

20201 B1B117191 SYIFA NASKAH

advertisement
PROPOSAL PENELITIAN
PENGARUH LIKUIDITAS, INFLASI, PERTUMBUHAN
EKONOMI DAN NILAI PASAR TERHADAP
PROFITABILITAS
(Studi Pada Sub Sector Textile Dan Garmen Yang Terdaftar Di
Bursa Efek Indonesia Dari Tahun 2015-2019)
OLEH
DEWI ASYIFA MUTMAINA
NIM B1B1 17 191
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2020
i
PENGARUH LIKUIDITAS, INFLASI, PERTUMBUHAN
EKONOMI DAN NILAI PASAR TERHADAP
PROFITABILITAS
(Studi Pada Sub Sector Textile Dan Garmen Yang Terdaftar Di
Bursa Efek Indonesia Dari Tahun 2015-2019)
PROPOSAL
OLEH
DEWI ASYIFA MUTMAINA
NIM B1B1 17 191
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2020
ii
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi Oleh
: Dewi Asyifa Mutmaina
telah dipertahankan didepan dewan penguji pada tanggal ........................................................
berdasarkan SK Dekan. Nomor. ./UN29.6/PP/.............................dan dinyatakan
LULUS
Dewan Penguji
Ketua
:
(………………………………)
Sekretaris
:
(………………………………)
Anggota
: 1.
(………………………………)
2.
(………………………………)
3.
(………………………………)
Mengetahuai
KetuaJurusanManajemen
Dr. Juharsah,SE.,M.Si
NIP.19750401 200501 1 001
iv
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Yang bertandatangan dibawah ini :
Nama
:
Dewi Asyifa Mutmaina
NIM
:
B1B1 17 191
Jurusan/Program studi
:
Manajemen
Fakultas
:
Ekonomi dan Bisnis
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi, yang saya tulis ini benar-benar
tulisan saya dan bukan merupakan plagiasi baik Sebagian atau seluruhnya.
Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil plagiasi,
baik sebagian atau seluruhnya, maka saya bersedia menerima sanksi atas
perbuatan tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku
Kendari, ….., ……, 2020
Dewi Asyifa Mutmaina
v
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbilalamin, puji dan syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah
SWT, atas segala limpahan rahmat, taufiq, dan hidayahNya, sehingga Proposal
Penelitian yang berjudul “Pengaruh Likuiditas, Inflasi, Pertumbuhan
Ekonomi Dan Nilai Pasar Terhadap Profitabilitas (Studi Pada Sub
Sector Textile Dan Garmen Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
Dari Tahun 2015-2019) ” dapat terselesaikan guna untuk memenuhi salah satu
syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Manajemen (S.M) pada Jurusan
Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Halu Oleo Kendari. Sebagai
manusia yang tidak luput dari keterbatasan atau kekurangan, penulis menyadari
bahwa proposal penelitian ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu segala
saran dan kritikan yang bersifat membangun sangat diharapkan demi perbaikan
proposal penelitian ini.
Kendari,
2020
Dewi Asyifa Mutmaina
vi
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ...........................................................................
HALAMAN JUDUL...............................................................................
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .....................................
HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN ..........................
HALAMAN KEASLIAN TULISAN .....................................................
KATA PENGANTAR ............................................................................
DAFTAR ISI ...........................................................................................
DAFTAR TABEL ...................................................................................
DAFTAR GAMBAR ..............................................................................
DAFTAR LAMPIRAN ...........................................................................
BAB I
BAB II
i
ii
iii
iv
v
vi
vii
ix
x
xi
PENDAHULUAN ..................................................................
1
1.1
1.2
1.3
1.4
1.5.
Latar Belakang ..............................................................
Rumusan Masalah .........................................................
Tujuan Penelitian ..........................................................
Manfaat penelitian .........................................................
Ruang Lingkup Penelitian .............................................
1
7
8
8
9
KAJIAN PUSTAKA ..............................................................
10
2.1
10
10
13
23
30
32
34
38
2.2
2.3
Kajian Teori ..................................................................
2.1.1 Pecking Order Theory ......................................
2.1.2 Profitabilitas ......................................................
2.1.3 Likuiditas ..........................................................
2.1.4 Pertumbuhan Ekonomi .....................................
2.1.5 Inflasi ................................................................
2.1.6 Nilai Pasar .........................................................
Kajian Penelitian terdahulu ...........................................
2.2.1 Penelitian terdahulu pengaruh Likuiditas
Terhadap Profitabilitas ......................................
2.2.2 Penelitian terdahulu pengaruh inflasi
terhadap profitabilitas .......................................
2.2.3 Penelitian terdahulu pengaruh pertumbuhan
ekonomi terhadap profitabilitas ........................
2.2.4 Penelitian terdahulu pengaruh nilai pasar
terhadap profitabilitas .......................................
Kerangka Konseptual dan Hipotesisi ...........................
2.3.1 Kerangka Konseptual ..........................................
2.3.2 Hipotesis ..............................................................
vii
38
41
44
47
49
49
51
BAB III METODE PENELITIAN .......................................................
3.1
3.2
3.3
3.4
3.5
3.6.
3.7
Lokasi dan waktu Penelitian .......................................
Populasi dan Sampel Penelitian ...................................
Jenis dan Sumber Data .................................................
Metode Pengumpulan Data .........................................
Metode Pengelolahan Data ..........................................
Metode Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ..........
Definisi Operasional Variabel .....................................
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................
viii
58
58
59
61
62
62
63
73
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Tingkat Profitabilitas pada Perusahaan Sub-Sector Tekstil dan
Garmen dari tahun 2015-2019 ...............................................
5
Tabel 3.1 Daftar Perusahaan yang Memenuhi Kriteria Sampel ..............
60
Tabel 3.2 Definisi Operasional Variabel ................................................
73
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
2.1. Kerangka Konsep .......................................................................
x
51
DAFTAR LAMPIRAN
Gambar
Halaman
Peta Jurnal .............................................................................................
xi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perusahaan pada dasarnya merupakan suatu unit kegiatan yang menyediakan
barang dan jasa bagi masyarakat dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dan
dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Suatu perusahaan akan selalu terus
meningkatkan posisi keuangannya suapaya dapat terus bertahan dan mempunyai
daya saing yang tinggi. Apalagi, perusahaan-perusahaan yang berperan sebagai
market leader, mereka akan terus berupaya untuk terus mempertahankan posisinya
di dunia usaha moderen ini dengan cara mencermati dan menganalisis kinerja
euangan perusahaan. Salah satunya adalah dengan menganalisis kinerja keuangan
suatu perusahaan (Dominica Dian Alicia : 2017).
Dalam menganalisis data keuangan perusahaan diperlukan suatu ukuran
tertentu dan ukuran yang sering digunakan dalam menganalisis laporan keuangan
ialah rasio keuangan. Rasio dalam analisis keuangan mengambarkan suatu
hubungan dan perbandingan antara jumlah tertentu dengan jumlah yang lain pada
pos laporan keuangan yang lain (Dominica Dian Alicia : 2017).
Analisis rasio dapat dilakukan dengan berbagai macam, diantaranya
menggunakan rasio profitabilitas. Menurut G.I Kususma (2019) profitabilitas
(profitability) adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba melalui operasional
1
2
usahanya dengan menggunakan data aset yang dimilki oleh perusahaan. Menurut
sukojo dan Soebiyantoro (2017) profitabilitas menjadi pertimbangan yang cukup
penting bagi investor dalam keputusan investasi. Profitabilitas yang tinggi
menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif
sinyal tersebut dan niali perusahaan akan meningkat.
Profitabilitas juga mempunyai arti penting dalam usaha mempertahankan
kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang, karena profitabilitas
menunjukan apakah badan usaha (perusahaan) mempunyai prospek yang baik
dimasa yang akan datang atau malah sebaliknya (Surya Sanjaya dan M. Fajri Risky
;2018). Rasio profitabilitas dapat diukur menggunakan Return On Asset (ROA) dan
Return On Equity (ROE).
Dimana Retun On Asset (ROA) merupakan rasio untuk menunjukan seberapa
jauh aset perusahaan digunakan secara efektif untuk menghasilan laba, rasio ini
merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaa,
khususnya menyangkut profitabilitas perusahaan (Surya Sanjaya dan M. Fajri
Risky ;2018). Semakin tinggi Return On Asset menunjukan perusahaan semakin
efektif menghasilkan laba bersih atas aset yang dimiliki perusahaan. Sedangkan
Return On Equity merupakan rasio profitabilitas yang menggambarkan kemampuan
perusahaan dalam memberi keuntungan bagi pemegang saham biasa (pemilik
modal) dengan menunjukan laba bersih yang tersedia untuk modal pemegang
saham yang telah digunakan perusahaan (Almira & Wiagustimi : 2020). ROE yang
timggi mencerminkan perusahaan berhasil menghasilkan keuntungan dari modal
sendiri.
3
Selain mengguankan rasio profitabilitas, rasio yang biasa digunakan untuk
menganalisis laporan keuangan adalah rasio likuiditas. Rasio likuiditas menunjukan
kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban finansialnya dengan segera
(Amanah R. et, al : 2014). Rasio ini berguna untuk mengetahui seberapa besar aset
likuid yang bisa di ubah menjadi kas untuk membayar tagihan yang tak terduga.
Likuiditas merupakan hal yang sangat penting karena menyangkut kepercayaan
kreditur terhadap perusahaan dalam hal kemampuan perusahaan dalam memenuhi
liabilitasnya yang jatuh tempo. Tingkat likuiditas ini selalu menjadi perhatian
penting bagi para penganalisa laporan keuangan untuk mengatahui apakah
perusahaan mampu memenuhi liabilitas keuangannya yang jatuh tempo (Dominicia
Dian Alicia :2017).
Pengukuran rasio likuiditas yang biasa digunakan adalah Curent Ratio
(CR). Current Ratio merupakan gambaran kemampuan seluruh aktiva lancar dalam
menjamin utang lancarnya (Moeljadi, 2006:68) Current ratio dapat dijadikan
sebagai dasar perhitungan dari likuiditas jangka pendek yang paling utama karena
mencakup seluruh komponen aktiva lancar dan seluruh komponen hutang lancar
tanpa membedakan tingkat likuiditasnya. Apabila aktiva lancarnya melebihi utang
lancarnya, maka dapat dilakukan likuiditas, aktiva lancar terdapat cukup kas
ataupun yang dapat dikonversikan menjadi uang kas di dalam waktu singkat,
sehingga dapat memenuhi kewajibannya.
Dalam mendapatkan laba (keuntungan), suatu perusahaan tidak hanya
bergantung pada lingkungan internal perusahaan saja tetapi juga lingkungan
eksternal perusahaan yaitu pertumbuhan ekonomi. Secara teoritis, fluktuasi
4
ekonomi mempengaruhi seluruh perusahaan. Pertumbuhan ekonomi yang
bertambah bisa menaikan profit perusahaan dan kondisi ekonomi makro yang yang
berubah berpengaruh pada kemampuan perusahaan. Kemampuan perusahaan dapat
terlihat didalam keuntungan yang diterima perusahaan (K. Anugrah, et al: 2020).
Menurut H. Susanti, et al (2017)
mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi
merupakan suatu proses yang mencerminkan aspek dinamis dari suatu
perekonomian menggambarkan bagaimana suatu perekonomian berkembang atau
berubah dari waktu ke waktu.
Selain pertumbuhan ekonomi faktor eksternal yang harus di perhatikan
perusahaan dalam memperoleh keuntungan (laba) maksimal yaitu inflasi. Menurut
Mankiw, 2006 secara garis besar inflasi terjadi pada kenaikan harga dan dalam
waktu yang lama . proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus
menerus disebut inflasi kenaikan harga ini diukur dengan menggunakan indeks
harga. Selain itu, inflasi juga menaikan penghasilan dan anggaran perusahaa.
Peningkatan dana produksi yang lebih tinggi dari kenaikan nilai jual yang diperoleh
perusahaan akan berakibatatas penurunan profitabilitas perusahaan, dan
kebalikannya jika kenaikan dana produksi lebih sedikit daripada kenaikan nilai jual
perusahaan (produsen), profitabilitas perusahaan akan meningkat (Eduardus.2012).
Selain likuiditas, dan pertumbuhan ekonomi, yang harus diperhatikan dalam
suatu perusahaan yaitu nilai pasar. Secara teoritis, Nilai pasar adalah harga saham
yang terjadi di pasar bursa tertentu yang terbentuk oleh permintaan dan penawaran
saham oleh para pelaku pasar (Sejati & Prastiwi, 2015). Nilai pasar (market value)
adalah harga saham yang paling mudah ditentukan karena merupakan harga dari
5
suatu saham perusahaan pada pasar yang sedang berlangsung atau sudah tutup,
yang didasarkan pada bursa utama oleh pelaku pasar sebagai konsekuensi dari
posisi tawar antara penjual dan pembeli saham, sehingga nilai pasar menunjukan
fluktuasi dari harga saham dimana harga saham sekarang mencerminkan
sepenuhnya informasi pada masa lampau, informasi yang dipublikasikan dan
informasi yang tidak dipublikasikan.
Fenomena tingkat profitabilitas dengan menggunakan rasio Return On Asset
(ROA) yang terjadi pada perusahaan sub-sector tekstil dan garmen yang tercatat di
Bursa Efek Indonesia tahun 2015-2019 dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 1.1 Tingkat Profitabilitas dengan indikator Return On Asset pada
Perusahaan Sub-Sector Tekstil dan Garmen dari tahun 2015-2019.
Kode
2015
2016
2017
Bank
ARGO
(0.84) %
(0.22) %
(0.15) %
ERTX
10.0 %
3.0 %
-3.0 %
ESTI
(18.4%)
6.3 %
(2.8 %)
INDR
1.3 %
0.2 %
0.3 %
PBRX
2.38 %
2.45 %
1.50 %
RICY
1%
1%
1%
SRIL
7.0 %
6,27 %
5.70 %
SSTM
(1.94) %
(2.52) %
(4.21) %
TRIS
6.6 %
3.42 %
3.63 %
UNIT
8%
20 %
25 %
Sumber : www.idx.com dan www.sahamok.com
2018
(0.9) %
1.7 %
2.3 %
7.7 %
2.89 %
1%
6.20 %
50 %
3.13 %
12 %
2019
(0.9) %
1.2 %
(4.6 %)
5.5 %
2.4 %
1%
5.62 %
-4 %
2.03 %
16 %
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa fenomena yang terjadi pada sebuah
perusahaan sub-sektor tektil dan garmen setiap tahunnya memperoleh profit (laba)
yang berbeda-beda, karena pada dasarnya profitabilitas sangat penting bagi sebuah
perusahaan. Profitabilitas bisa memberikan pengetahuan tentang besarnya tingkat
laba yang diperoleh suatu perusahaan dalam satu periode tertentu. Dan profitabilitas
6
suatu perusahaan akan mempengaruhi kebijakan para investor atas investasi yang
dilakukan. Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba akan dapat menarik
para investor untuk menanamkan dananya guna memperluas usaha perusahaan,
sebaliknya jika tingkat profitabilitas rendah pada suatu perusahaan akan
menyebabkan para investor menarik dananya. Sedangkan bagi perusahaan itu
sendiri profitabilitas dapat digunakan sebagai evaluasi atas efektivitas pengelolaan
suatu perusahaan tersebut.
Dari beberapa penelitian terdahulu terdapat perbedaan temuan hasil penelitian
tentang, pengaruh likuiditas terhadap profitabilitas, dimana Alshatti (2015), Sattar
(2019) menemukan bahwa likuiditas berpengaruh positif tetapi tidak signifikan
terhadap profiabilitas, sedangkan menurut Madushanka & jathurika (2018), Khan
et al (2017), Sattar (2019) dan Akthar (2016) menemukan bahwa likuiditas
berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas, dan beberapa penelitia
lainnya menemukan bahwa likuiditas berpengaruh negatig dan signifikan terhadap
profitabilitas menurut Khan (2017). Sedangkan untuk pertumbuhan ekonomi
terhadap profitabilitas terdapat beberapa perbedaan dari hasil temuan yang
dilakukan
oleh
beberapa
penelitian
terdahulu
dimana
Moussa
(2019)
mengungkapakan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif tapi tidak
signifikan terhadap profitabilitas dan berbeda dengan temuan Adekola yang
menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan
terhadap profitabilitas. Dan untuk penelitian terdahulu tentang pengaruh inflasi
terhadap profitabilitas juga terdapat perbedaan temuan hasil yang dilakukan oleh
peneliti terdahulu. Dimana Awan (2014), Jeevitha (2019) menemukan bahwa
7
inflasi berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap profitabilitas, berbeda
dengan hasil yang ditemukan oleh Dewi (2019) yang menemukan bahwa inflasi
berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas, dan juga Awan (2014)
menemukan bahwa inflasi berpengaruh negatif tapi tidak signifikan terhadap
profitabilitas dan juga inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap
profitabilitas dengan menggunakan pengukuran yang berbeda. Dan pada pengaruh
nilai pasar terhadap profitabilitas juga terdapat beberapa penelitian terdahulu yang
menemukan hasil yang berbeda-beda. Dimana rosikah (2018) menemukan hasil
bahwa nialai pasar berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap profitabilitas.
Tetapi hasil tersebut beda dengan penelitian yang dilakukan oleh Akgun (2018)
yang menemukan bahwa nialai pasar berpengaruh positif dan signifikan terhadap
profitabilitas.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis mengambil judul
“Pengaruh Likuiditas, Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai Pasar
Terhadap Profitabilitas (Studi Pada Sub-Sektor Tekstil dan Garmen yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2019)”.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang di kaji yaitu sebagai berikut :
1. Apakah likuiditas berpengaruh terhadap profitabilitas ?
2. Apakah pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap profitabilitas ?
3. Apakah inflasi berpengaruh terhadap profitabilitas ?
4. Apakah nilai pasar berpengaruh terhadap profitabilitas ?
8
5. Apakah likuiditas, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan nilai pasar
berpengaruh terhadap profitabilitas ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengkaji pengaruh likuiditas terhadap profitabilitas.
2. Untuk mengkaji pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap profitabilitas.
3. Untuk mengkaji pengaruh inflasi terhadap profitabilitas.
4. Untuk mengkaji pengaruh nilai pasar terhadap profitabilitas.
5. Untuk mengkaji pengaruh likuiditas, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan
nilai pasar terhadap profitabilitas.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat yang dapat berguna
bagi beberapa pihak, antara lain sebagai berikut :
1.4.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan untuk melakukan
penelitian selanjutnya, serta diharapkan dapat melengkapi temuan-temuan yang
berhubungan dengan pengaruh Likuiditas, Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai
Pasar terhadap Profitabilitas.
9
1.4.2 Manfaat Praktis
1.4.2.1 Bagi Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan memberi
pengetahuan tentang pengaruh likuiditas, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan nilai
pasar terhadap profitabilitas pada perusahaan Tekstil dan Garmen dan menjadi
bahan referensi dan bukti empiris bagi peneliti yang hendak mengkaji bidang yang
sama dengan penelitian ini.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Untuk lebih terarahnya penelitian yaang akan dilakukan, maka penulis
melakukan pembatasan ruang ligkup penelitian yakni janya menganalisis pengaruh
Likuiditas, Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai Pasar terhadap Profitabilitas
pada perusahaan Tekstil dan Garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori
2.1.1 Pecking Order Theory
Myers dan Majluf (1984) mengembangkan pecking order theory sebagai
suatu teori alternatif keputusan pendanaan perusahaan, di mana perusahaan akan
berusaha mendanai investasinya berdasarkan urutan risiko. Terdapat 3 sumber
pendanaan dalam perushaan yaitu : laba ditahan, hutang dan ekuitas. Oleh karena
itu, investor akan mengharapkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi terhadap
penggunaan ekuitas dibandingkan hutang. Pandangan perusahaan, laba di tahan
merupakan sumber sumber pendanaan yang lebih baik dibandingkan hutang, dan
hutang merupakan sumber pendanaan yang lebih baik dibandingkan ekuitas.
Pecking order theory yang dikemukakan oleh Myres dan Majluf (1984)
menggunakan dasar pemikiran bahwa tidak ada suatu target debt to equity ratio
tertentu dan tentang hirarki sumber danan yang paling disukai oleh perusahaan.
Esensi teori ini adalah adanya dua jenis modal external financing dan internal
financing. Teori ini menjelaskan mangapa perusahaan mengapa perusahaan
mengapa perushaan yang profitable umumnya menggunakan utang dalam jumlah
yang sedikit. Hal tersebut bukan disebabkan karena perushaan mempunyai target
10
11
debt ratio yang rendah, tetapi karena mereka memerlukan external financing yang
sedikit. Perusahaan yang kurang profitable akan cenderung menggunakan utang
yang lebih besar karena dua alasan, yaitu : (1) dana intenal tidak mencukupi, dan
(2) utang merupakan sumber eksternal yang lebih disukai.
Pecking Order Theory ini muncul jika biaya mengeluarkan saham baru
melebihi biaya lain dan keuntungan dari hutang. Biaya yang dikeluarkan sebagai
akibat pecking order ini adalah biaya transaksi dan pengeluaran saham baru dan
biaya-biaya yang timbul sebagai akibat informasi yang dimiliki oleh pihak
manajemen mengenai prospek perusahaan. Konsekuensi biaya ini adalah
perusahaan akan mendanai kesempatan investasi yang dimiliki dengan laba ditahan,
kemudian dengan hutang bebas risiko, dan dengan hutang berisisko, yang pada
akhirnya akan menggunakan saham. Teori pecking order membuat hirarki sumber
dana, yaitu dari internal (laba ditahan), dan eksternal (utang dan saham). Pemilihan
sumber eksternal menurut Myers dan Majluf 1984 disebabkan karena adanya
asimetri informasi antara manajemen dan pemegang saham. Dengan demikian,
pihak manajemen mungkin berpikir bahwa harga saha saat ini sedang overvalue
(terlalu mahal) sehingga manajemen menerbitkan saham baru dengan harga yang
lebih mahal dari yang seharusnya. Adanya simestri informasi ini mengakibatkan
terjadinya gap antara pengelola dan pemilik perusahaan yang mungkin terjadinya
moral hazard pengelola, sehingga harga saham tidak mencerminkn informasi
secara penuh tentang kondisi perusaahaan.
Menurut Myres (1984), Pecking order theory menjelaskan mengapa
perusahaan yang mempunyai tingat keuntungan yang lebih tinggi justru mempunyai
12
tingkat hutang yang lebih kecil, dikarenakan perusahaan yang profitabilitasnya
tinggi memiliki sumber dana internal yang berlimpah. Secara spesifik, perusahaan
mempunyai urutan-urutab preferensi dalam penggunaan dana. Smart, Megginson,
dan Gitman (2004) menyebutkan skenario urutan dalam pecking order theory
adalah sebagai berikut :
a. Perusahaan lebih memilih untuk menggunakan sumber dana dari
dalam atau pendanaan internal dari pada pendanaan ekternal. Dana
internal tersebut diperoleh dari laba ditahan yang dihasilkan dari
kegiatan operasional perusahaan.
b. Jika pendanaan eksternal diperlukan, maka perusahaan aan memilik
pertama kali mulai dari sekuritas yang paling aman, yaitu hutang
yang paling rendah risikonya, turun kehutang yang lebih berisiko,
sekuritas hybrid seperti oblogasi konversi, saham preferen, dan yang
terakhir saham biasa.
c. Terdapat kebijakan deviden yang konstan, yaitu perusahaan akan
menetapkan jumlah pembayaran deviden konstan, tidak terpengatuh
seberapa besarnya perusahaan tersebut untung atau rugi.
d. Untuk mengantisipasi kekurangan persediaan kas karena adanya
kebijakan deviden yang konstan dan fluktuasi dari tingkat
keuntungan, serta kesempatan investasi, maka perusahaan akan
mengambil portofolio investasi yang lancar tersedia.
13
Pecking order theory ini dapat menjelaskan mengapa perusahaan yang
mempunyai tingkat keuntungan yang tinggi justru mempunyai tingkat hutang yang
kecil.
2.1.2 Profitabilitas
2.1.2.1 Definisi Profitabilitas
Pada umumnya profitabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan
dalam menghasilkan laba selama periode tertentu pada tingkat penjualan, asset dan
modal saham tertentu. Kinerja suatu perusahaan dpat dkatakan baik apabila tingkat
profitabilitas perusahaan dikelolanya tinggi atau dengan kata lain dapat
memaksimalkan keuntungan. Profitabilitas suatu perusahaan dapat dinilai melalui
berbagai cara tergantung pada laba dan aktiva atau modal yang diperbandingkan
satu dengan lainnya.
Profitabilitas umumnya diukur dengan membandingkan laba yang diperoleh
perusahaan dengan jumlah perkiraan indikator keberhasilan perusahaan seperti
jumlah aktiva perusahaan maupun penjualan dan investasi, sehingga dapat
diketahui efektifitas pengelolaan keuangan dan aktiva oleh perusahaan.
Profitabilitas (profitability) adalah kemampuan perusahaan memperoleh
laba melalui operasional usahanya dengan menggunakan data aset yang dimiliki
oleh perusahaan (G.I Kusuma : 2019) .
Rasio profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
laba (Minanari ; 2018). Menurut Jorenza (2015) mengatakan bahwa profitabilitas
14
adalah kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dalam hubungannya
dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri. Analisa Ika Fanindya (2013)
mengatakan bahwa, rasio profitabilitas terdiri atas dua jenis yaitu, rasio yang
menunjukan profitabilitas dalam kaitanya dengan penjualan (margin laba kotor dan
margin laba bersih), dan profitabilitas dalam kaitannya dengan investasi yaitu
return on equity (ROE).
Profitabilitas merupakan salah satu faktor yang secara teoritis menentukan
nilai suatu perusahaan (I.L lubis et, al 2017). Perusahaan yang menghasilkan laba
besar dan stabil akan menarik para investor, karena secara otomatis akan
menguntukan investor. Kemampuan perusahaan yang besar untuk menghasilkan
laba juga menunjukan manajemen perusahaan yang baik, sehingga menumbuhkan
kepercayaan pada investor.
Menurut Sukojo
dan
Soebiyantoro (2017)
profitabilitas
menjadi
pertimbangan yang cukup penting bagi investor dalam keputusan investasi.
Profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga
investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan akan meningkat.
Rasio profitabilitas adalah rasio yang bertujuan untuk mengetahui
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga
memberikan gambaran tentang tingkat efektivitas manajemen dalam melaksanakan
kegiatan operasinya (Surya Sanjaya dan M. Fadjri Rizky ; 2018). Efektifitas disini
dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi perusahaan.
15
Kebijakan yang diambil perusahaan menentukan laba dapat dilihat dari tingkat
profitabilitasnya.
Profitabilitas dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk menilai
keberhasilan suatu perusahaan dalam menggunakan modal kerja secar efektif dan
efisien untuk menghasilkan tingkat laba tertentu yang diharapkan. Bagi perusahaan
padaumumnya masalah profitabilitas sangat penting daripada laba, karena laba
yang besar dapat memastikan bahwa perusahaan tersebut telah bekerja dengan
efisien. Dengan demikian yang harus diperhatikan oleh perusahaan adalah tidak
hanya bagaimana usaha untuk memperbesar laba, namun yang lebih penting adalah
bagaimana meningkatkan profitabilitas (Surya Sanjaya dan M. Fajri Risky ;2018).
Menurut Kasmir (2012:196) bahwa profitabilitas adalah kemampuan
perusahaan dalam mencari keuntungan. Profitabilitas merupakan faktor yang
seharusnya mendapat perhatian yang khusus karena untuk dapat melangsungkan
hidup suatu perusahaan maka perusahaan tersebut haruslah dalam keadaan yang
menguntungkan. Tanpa adanya keuntungan (profit), maka akan sulit bagi
perusahaan untuk menarik modal dari luar.
Profitabilitas juga mempunyai arti penting dalam usaha mempertahankan
kelangsungan hidupnya dalam jangka panjang, karena profitabilitas menunjukan
apakah badan usaha tersebut mempunyai prospek yang baik dimasa yang akan
datang (Surya Sanjaya dan M. Fajri Risky ;2018). Profitabilitas ini menguraikan
ukuran kinerja perusahaan yang digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba bersih bedasarkan tingkat aset tertentu dengan
16
menggunakan rasio Return On Asset (ROA), dan untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba bersih berdasarkan modal saham tertentu
dengan menggunakan Return On Equity (ROE).
Lebih lanjut perusahaan dengan ukuran besar tentu saja menginginkan laba
yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan perusahaan kecil. Dengan laba yang
dimiliki perusahaan maka prospek masa depan perusahaan dapat diketahui.
Perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi maka mencerminkan adanya
penerimaan yang tinggi. Untuk mengetahui profitabiluas perusahaan dapat
digunakan rasio-rasio profitabilitas.
Dari definisi-definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa rasio profitabilitas
adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dan keberhasilan
perusahaan dalam memperoleh laba yang hubungannya dengan penjualan, aktiva
maupun investasi.
2.1.2.2 Tujuan Rasio Profitabilitas
Tujuan profitabilitas berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk
mendapatkan laba yang memuaskan sehingga pemodal dan pemegang saham akan
meneruskan untuk menyediakan modal bagi perusahaan (Minanari;2018).
Bagi pihak diluar perusahaan, terutama pihak-pihak yang memiliki
hubungan atau kepentingan dengan perusahaan. Menurut (Nuri Bisiranawati : 1)
tujuan penggunaan rasio profitabilitas bagi perusahaan maupun bagi pihak luar
perusahaaan yaitu :
17

Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam
satu periode tertentu.

Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun
searang.

Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu

Untuk menilai besarnya laba bersih sesudan pajak dengan modal sendiri.

Untuk mengukur produktivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan
baik modal pinjaman maupun modal sendiri.

Untuk mengukur produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang
digunakan baik modal sendiri.
2.1.2.3 Manfaat Rasio Profitabilitas
Menurut (Nuri Bisiranawati : 2) maanfaat yang diperoleh oleh pihak diluar
perusahaan, terutama pihak-pihak yang memiliki hubungan atau kepentingan
dengan perusahaan. Manfaat penggunaan rasio profitabilitas adalah sebagai berikut:

Mengetahui besarnya tingkat laba yang diperoleh perusahaan dalam
satu periode.

Mengetahui posisi laba perusahaan perusahaan tahun sebelumnya
dengan tahun sekarang.

Mengetahui perkembangan laba dari waktu ke waktu.

Mengetahui besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal
sendiri.
18

Mengetahui produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang
digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri.
2.1.2.4 Pengukuran Profitabilitas
Jenis pengukuran profitablitas yang sering di gunakan dalam amenganalisis
laporan keuangan yaitu Return On Asset dan Return On Equity. Pernyataan ini
didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Madushanka tahun 2018, Tanveer
Bagh, Sadaf Razzaq, Tahir Azad, Idress Liaqad dan Muhammad Asif Khan tahun
2017 dan juga penelitian yang dilakukan oleh Ali Sulieman Alshatti, tahun 2015.
1. Return On Asset (ROA)
Return On Asset (ROA) adalah termaksud ke dalam rasio profitabilitas.
Dalam analisis laporan keuangan rasio ini paling sering disoroti, pasalnya mampu
menunjukan keberhasilan perusahaan menghasilkan keuntungan, Return On Asset
(ROA) mampu mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan pada
masa lalu untuk kemudian di proyeksikan dimasa yang akan datang.
Return On Assets dipakai untuk mengevaluasi apakah manajemen telah
mendapat imbalan yang memadai (reasobable return) dari aset yang dikuasainya.
Rasio ini merupakan ukuran yang berfaedah jika seseorang ingin mengevaluasi
seberapa baik perusahaan telah memakai dananya. Oleh karena itu, Return On
Assets kerap kali dipakai oleh manajemen puncak untuk mengevaluasi unit-unit
bisnis di dalam suatu perusahaan multinasional (Henry Simamora, 2000:530).
19
Return on asset (ROA) yang sering disebut juga return on investment adalah
pengukuran kemampuan perusahaan secara keseluruhan di dalam menghasilkan
keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia di dalam perusahaan
(Kasmir 2012;197).
Menurut Hery (2015 : 228) mengatakan bahwa return on asset (ROA)
adalah rasio yang menunjukan seberapa besar kontribusi aset dalam menciptakan
laba bersih.
Menurut Harahap (2010) mengambarkan perputaran aktiva diukur dari
penjualan. Semakin besar rasio ini maka semakin baik dan hal ini berarti bahwa
aktiva dapat lebih cepat mendapatkan return dan meraih laba dalam memberikan
pengembalian kepada penanam modal.
Retun On Asset (ROA) adalah rasio keuangan perusahaan yang
berhubungan
dengan
profitabilitas
mengukur
kemampuan
perusahaan
menghasilkan keuntungan atau laba pada tingkat pendapatan, aset dan modal saham
tertentu (Hanafi dan Halim 2003). Semakin tinggi Return On Asset (ROA) suatu
perusahaan, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai perusahaan.
Return On Asset (ROA) merupakan rasio untuk menunjukan seberapa jauh
aset perusahaan digunakan secara efektif untuk menghasilkan laba (Surya Sanjaya
dan M. Fajri Risky ;2018). ROA didapatkan dari membagi laba bersih dengan total
aset. Rasio ini merupakan rasio keungan yang digunakan untuk mengukur kinerja
perusahaan, khususnya menyangkut profitabilitas perusshaan. Semakin tinggi ROA
20
menunjukan perusahaan semakin efektif menghasilkan laba bersih atas aset yang
dimiliki perusahaan.
(Surya Sanjaya dan M. Fajri Risky ;2018) juga menjabarkan bahwa ROA
adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat aset tertentu.
Return On Asset (ROA) adalah rasio profitabilitas yang menunjukan
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan
(Almira & Wiagustimi : 2020). Kinerja perusahaan dikatakan baik, jika
menghasilkan ROA yang tinggi dan menunjukan laju peningkatan dari waktu ke
waktu akan menunjukan kinerja perusahaan semakin baik, oleh karena itu harga
saham akan meningkat yang menyebabkan tingkat return semakin besar, sehingga
ROA dikatakan mempunyai pengaruh terhadap retun saham.
ROA menunjukan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atas
aktiva yang dipergunakan (Margaretha, 2005:21). Semakin tinggi rasio, semakin
baik keadaan suatu perusahaan. Apabila tingkat ROA itu rendah, tidak selalu berarti
buruk.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka penulis menarik kesimpulan
bahwa Return On Asset (ROA) adalah analisis yang membandingkan antara laba
bersih dan total aktiva. Rasio ini bertujuan untuk mengukur efektivitas perusahaan
dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang tersedia.
Rumus untuk mencari nilai Return On Asset menurut Hery, 2015:228
adalah sebagai berikut :
21
Earning After Tax
Retur On Asset =
X 100%
Total Assets
Keterangan :
Earning After Tax (EAT) : Laba Setelah Pajak
Total Assets
: Total Aktiva
2. Return On Equity
ROE atau return on equity adalah bagian dari rasio profitabilitas, yang
dalam pengukurannya difungsikan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba bersih setelah pajak dari pemanfaatan modal yang dimilikinya.
Semakin baik (tinggi) nilai return on equity (ROE) perusahaan, maka semakin baik
kinerjanya dalam memperoleh laba bersih setelah pajak (earnings after tax).
Return On Equity adalah rasio yang digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih berdasarkan modal saham
tertentu. (Surya Sanjaya & M. Fajri Rizky : 2019).
Return On Equity adalah rasio profitabilitas yang menggambarkan
kemampuan perusahaan dalam memberi keuntungan bagi pemegang saham biasa
(pemilik modal) dengan menunjukan laba bersih yang tersedia untuk modal
pemegang saham yang telah digunakan perusahaan (Almira & Wiagustimi : 2020).
ROE yang timggi mencerminkan perusahaan berhasil menghasilkan keuntungan
dari modal sendiri.
22
Hasil pengembalian atas Modal . Return On Equity (ROE) adalah rasio yang
menunjukan seberapa besar kontribusi modal dalam menciptakan laba bersih (Hery,
2015 : 230).
Return On Equity (ROE) merupakan salah satu pengukuran bagi kinerja
keuangan perusahaan dan merupakan salah satu rasio profitabilitas (Surya Sanjaya
& M. Fajri Rizky : 2019). Rasio ini merupakan rasio aba bersih yang tersedia bagi
pemilik perusahaan dengan jumlah ekuitas, sehingga variabel disamping
menunjukan tingkat hasil return pemilik juga merupakan ukuran efisien
penggunaan modal.
Menurut Sutrisno (2013;229) Return On Equity ini sering disebut dengan
rate of return on Net Worth yaitu kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
keuntungan sendiri yang dimiliki, sehingga ROE ini ada yang menyebut sebagai
rentabilitas modal sendiri.
Return On Equity atau rentabilitasi modal sendiri merupakan rasio untuk
mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukan
efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini semakin baik, artinya
posisi pemilik perusahaan semakin kuat, demikian sebaliknya (Kasmir 2014 : 204).
Berdasarkan penjelasan diatas penulis menarik kesimpulan bahwa Return
On Equity merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan modal
sendiri. Return On Equity merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income)
yang tersedia bagi pemilik perusahaan atas modal yang mereka tanamkan.
23
Dengan demikian Return On Equity dapat dihitung dengan rumus:
Earning After Tax
Return On Equity =
X 100%
Modal Sendiri
Dengan perhitungan rumus diatas akan didapat dan diketahui seberapa besar
pengembalian atas equity yang dihasilkan oleh perusahaan dengan membandingkan
laba setelah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini mengukur seberapa banyak
keuntungan yang menjadi hak pemilik modal sendiri. Karena itu digunakan angka
laba setelah pajak.
2.1.3 Likuiditas
2.1.3.1 Definisi Likuiditas
Likuiditas sering didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan untuk
menyelesaikan kewajiban jangka pendek dan, oleh karena itu, dapat dilihat sebagai
ukuran risiko bahwa perusahaan tidak akan dapat memenuhi kewajiban jangka
pendeknya. Selain mengukur risiko jangka pendek, likuiditas juga terkait dengan
kinerja dan kelangsungan hidup perusahaan jangka panjang.
Rasio likuiditas menunjukan kemampuan perusahaan dalam membayar
kewajiban finansialnya dengan segera ( Amanah R. et, al : 2014). Rasio ini berguna
untuk mengetahui seberapa besar aset likuid yang bisa di ubah menjadi kas untuk
membayar tagihan yang tak terduga. Apabila perusahaan tidak mampu membayar
tagihan tersebut maka bisa terancam mengalami kebangkrutan.
Likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan
untuk membayar semua kewajiban finansialnya pada saat jatuh tempo (Moeljadi,
24
2006:67). Tingkat likuiditas yang tinggi menunjukan bahwa perusahaan tidak
mengalami kesulitas membayar kewajibannya dalam jangka pendek, sehingga
kreditur tidak perlu khawatir dalam memberikan pinjaman.
Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan
memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio-rasio ini dapat dihitung melalui
sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan hutang
lancar.
Likuiditas dapat diartikan sebagai tingkat kemampuan suatu perusahaan
untuk dapat membayar hutang-hutangnya yang telah jatuh tempo (Kasmir, 2013).
Menurut Uly Dewi, 2016 rasio likuiditas merupakan suatu indikator
mengenai kesempatan perusahaan membayar semua kewajiban finansial jangka
pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia.
Likuiditas tidak hanya berkenaan dengan keadaan keseluruhan keuangan
perusahaan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuannya mengubah aktiva lancar
tertentu menjadi uang kas. Suatu perusahaan yang mempunyai alat-alat likuid
sedemikian besarnya sehingga mampu memenuhi segala kewajiban financialnya
yang segera harus terpenuhi, dan dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut likuid,
dan sebaliknya apabila suatu perusahaan tidak mempunyai alat-alat likuid yang
cukup untuk memenuhi segala kewajiban financialnya yang segera harus terpenuhi,
maka perusahaan tersebut dikatakan perusahaan insolvable.
Rasio likuiditas adalah rasio yang mengambarkan kemampuan perushaan
dalam memenuhi kewajiban keunganny dalam jangka pendek (Dedi S. : 2017).
25
Rasio likuiditas menurut Fahmi (2014:69) menjelaskan bahwa, “digunakan
untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban
jangka pendek secara tepat waktu. Kewajiban yang harus dipenuhi adalah hutang
jangka pendek, serta mengukur apakah operasi perusahaan tidak akan terganggu
bila kewajiban jangka pendek itu segera ditagih”.
Likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
membayar kewajibannya saat jatuh tempo (U.P Hanie & M. Saifi : 2018).
Perushaan dikatakan liquid apabila mampu menjadikan aktiva menjadi kas tanpa
penurunan nilai, sehingga perusahaan dapat segera membayar kewajibannya agar
dapat melanjutkan aktivitas-aktivitas perusahaan.
Likuiditas merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong terjadi
perusahaan harga saham (S. Octaviani et, al :2017). Likuiditas tinggi menunjukan
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Likuiditas
perusahaan dapat di ukur dengan rasio lancar (current ratio).
Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) likuiditas merupakan perihal yang
menggambarkan posisi uang kas pada suatu perusahaan serta juga kemampuannya
untuk dapat melunasi kewajiban hutang itu tepat pada waktu jatuh tempo.
Suatu perusahaan dapat dikatakan likuid apabila perusahaan tersebut
mampu melunasi kewajiban finansial jangka pendek maupun kewajiban jangka
panjangnya yang jatuh tempo pada tahun bersangkutan. Sebaliknya, jika suatu
perusahaan tidak mampu melunasi kewajiban finansialnya digolongkan kedalam
perusahaan yang likuid. Berdasarkan beberapa pendapat dapat di simpulkan bahwa
likuiditas merupakan suatu kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban
26
finansial jangka pendek maupun jangka panjang yang jatuh tempo pada tahun
bersangkutan yang harus segera dipenuhi.
2.1.3.2 Tujuan dan Manfaat Likuiditas
Tujuan dan manfaat rasio likuiditas menurut (Kasmir) dalam jurnal (Dina
Indah Sari :2017) antara lain :
1. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban atau
utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih.
2. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban
jangka pendek dengan aktiva lancar secara keseluruhan.
3. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban
jangka pendek dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan
sediaan atau piutang.
4. Untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah sediaan yang
ada dengan modal kerja perusahaan.
5. Untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk
membayar utang.
6. Sebagai alat perencanaan kedepan, terutama yang berkaitan dengan
perencanaan kas dan utang.
7. Untuk kondisi dan posisi likuiditas perusahaan dari waktu ke waktu
dengan membandingkannya untuk beberapa periode.
8. Untuk melihat kelemahan yang dimiliki perusahaan.
9. Menjadi pemicu bagi pihak manajemen untuk memperbaiki
kinerjanya.
27
2.1.3.3 Pengukuran Likuiditas
Dalam mengukur likuiditas ada tiga rasio yang digunakan untuk
menganalisis rasio likuiditas yaitu, Current Ratio (CR), Quick Ratio (QR) dan Cash
Ratio. Pernyataan ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh (Uly Dewi,
: 2016).
1. Current Ratio (CR)
Rasio yang umum digunakan dalam analisis laporan keuangan adalah rasio
lancar (current ratio), dimana current ratio memberikan ukuran kasar tingkat
likuiditas perusahaan.
Menurut (Hery, 2015) Current Ratio merupakan rasio untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang
segera jatuh tempo dengan menggunakan aset lancar yang tersedia.
Current Ratio merupakan gambaran kemampuan seluruh aktiva lancar
dalam menjamin utang lancarnya (Moeljadi, 2006:68). Current ratio dapat
dijadikan sebagai dasar perhitungan dari likuiditas jangka pendek yang paling
utama karena mencakup seluruh komponen aktiva lancar dan seluruh komponen
hutang lancar tanpa membedakan tingkat likuiditasnya. Apabila aktiva lancarnya
melebihi utang lancarnya, maka dapat dilakukan likuiditas, aktiva lancar terdapat
cukup kas ataupun yang dapat dikonversikan menjadi uang kas di dalam waktu
singkat, sehingga dapat memenuhi kewajibannya.
Rasio lancar (Current Ratio) adalah ukuran yang umum yang digunakan atas
solvensi jangka pendelk, kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi
28
kebutuhan utang ketika jatuh tempo (Weston, 2008). Rasio yang menunjukan
kemampuan perusahaan dalam memenuhi atau membayar kewajiban atau utang
lancar (utang jangka pendek) dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai
sediaaan (Kasmir,2010).
Menurut Uly Dewi, 2016 bahwa Curent Ratio merupakan perbandingan
antara aktiva lancar dan kewajiban lancar dan merupakan ukuran yang paling umum
digunakan untuk mengetahui kesanggupan suatu perusahaan memenuhi kewajiban
jagka pendeknya.
Dengan kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang dimilki perusahaan
untuk menutupi kewajiban jangka pendeknya yang jatuh tempo dengan menghitung
perbandingan antara aktiva dengan hutang pada perusahaan.
Aktiva Lancar
Current Ratio =
Hutang Lancar
Aktiva lancar (current asset) merupakan harta yang dimiliki perusahaan
yang dapat dijadikan uang tunai dalam waktu yang singkat (kurang satu tahun).
Komponen aktiva lancar lazimnya terdiri dari kas, kas dibank, surat-surat berharga
piutang, persediaan, biaya dibayar di muka, dan aktiva lancar lainnya.
Kewaijaban lancar (current liabilities) merupakan kewajiban jangka pendek
perusahaan yang harus dilunasi dalam waktu paling lama satu tahun. Komponen
kewajiban lancar biasanya terdiri dari utang dagang, utang bank satu tahun, utang
wesel, utang gaji, utang pajak, utang deviden, pendapatan diterima di muka, utang
jangka panjang yang jatuh tempo serta utang jangkapendek lainnya. Dari hasil
pengukuran rasio, apabila current ratio rendah dapat dikatakan bahwa tingkat
29
likuiditas perusahaan sedang tidak baik, namun apabila current ratio tinggi belum
tentu mengindikasikan kondisi perusahaan sedang baik. Hal ini dapat saja terjadi
karena kas tidak digunakan sebaik mungkin.
2. Quick Ratio (QR)
Quick Ratio (QR) merupakan kemampuan perusahaan dalam membayar
membayar kewajiban jagka pendeknya dengan menggunakan aktiva yang lebih
likuid (Pupu Sopini, 2015). Rasio ini hanya membandingkan antara aktiva yang
sangat likuid dengan utang lancar, Kasmir (2013:131).
Formula untuk menguukur Quick Ratio adalah :
Current Assets – Inventories
Quick ratio =
Current Liabillities
Semakin besar nilai Quick Ratio, maka semakin cepat perusahaan dapar
memenuhi segala kewajibannya, sebaliknya jika nilai dari Quick Ratio kecil,
perusahaan akan mengalami hambatan dalam memenuhi segala kewajibannya
sehingga dapat menimbulkkan kerugian pada perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari
seberapa besar aktiva lancar dan perolehan laba yang dimiliki. Pengaruh terhadap
perubahan laba perusahaan adalah jika aktiva lancar yang dimiliki perusahaan
tinggi maka kewajiban jangka pendek yang harus dipenuhi akan rendah karena
biaya yang digunakan tidak terlalu tinggi sehingga pendapatan yang diperoleh
meningkat dalam perusahaan.
30
3. Cash Ratio (CR)
Menurut Uly Dewi (2016), mengatakan bahwa cash ratio merupakan rasio
yang menunjukkan posisi kas yanf dapat menutupi hutang lancar dengan kata lain
cash ratio merupakan rasio yang mengambarkan kemampuan kas yang dimiliki
dalam manajemen kewajiban lancar tahun yang bersangkutan.
Jhon Nasyaroeka (2016) juga berpendapat bahwa Cash ratio merupakan alat
yang digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk
membayar utang. Formula yang digunakan untuk mengukur Cash Ratio yaitu :
Kas
Cash Ratio =
Utang Lancar
Rasio ini mengambarkan kemampuan perusahaan yang sesungguhnya
dalam melunasi kewajiban lancarnya yang akan segera jatuh tempo dengan
menggunakan uang kas atau setara kas yang ada (Felicia Yosephine dan Lauw Tjun,
2016).
2.1.4 Pertumbuhan Ekonomi (Growth Economy)
2.1.4.1 Definisi Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi atau Growth Economy merupakan proses kenaikan
output per kapita yang dimiliki suatu negara dalam jangka panjang aau perubahan
tingkat kegiatan ekonomi suatu negara dalam jangka panjang atau perubahan
tingkat kegiatan ekonomi suatu negara yang terjadi dalam periode tertentu atau
akumulasi dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ekonomi juga di definisikan sebagai
31
proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara berkesinambungan
menuju keadaan yang lebih baik dalam periode tertentu.
Pertumbuhan ekonomi dapat di artikan sebagai proses kenaikan kapasitas
produkasi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan
pendapatan nasional. Adanya, pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi
keberhasilan pembangunan ekonomi dalam kehidupan masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses yang mencerminkan aspek
dinamis dari suatu perekonomian menggambarkan bagaimana suatu perekonomian
berkembang atau berubah dari waktu ke waktu (H. Susanti, et,al : 2017). Dalam
ilmu ekonomi terdapat bebrapa teori pertumbuhan di mana para ekonom
mempunyai pandangan yang berbeda tentang proses pertumbuhan suatu
perekonomian.
Menurut Untoro (2010:39) pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan
kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi
dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat dalam
jangka panjang.
Menurut Kunzets (Sukimo, 2006:132), pertumbuhan ekonomi adalah
kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari Negara yang bersangkutan untuk
menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya.
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan
ekonomi adalah kenaikan output perkapita yang dimiliki suatu negara.
32
2.1.4.2 Pengukuran Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian
yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah
dan kemakmuran masyarakat meningkat. Dengan demikian untuk menentukan
tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai perlu dihitung pendapatan nasional ril
menurut harga tetap yaitu pada harga-harga yang berlaku ditahun dasar yang di
pilih. Jadi pertumbuhan ekonomi mengukur presetasi dari perkembangan suatu
perekonomian (Sukimo, 1991) (I. Nuraini :2017).
Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat diukr dengan membandingkan
Gross National Product (GNP) dan Gross Domestic Product (GDP), pada tahun
yang sedang berjalan dengan tahun sebelumnya. Kedua tolak ukur ini membantu
perhitungan total output perekonomian suatu negara.
Adapun, cara mengukur pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat
digunakan rumu sebagai berikt : Gt = ((PDBt – PBD-1) / PBD-1)) X 100%
Ket : Gt
PBDt
PBDt-1
= laju pertumbuhan ekonomi
= Nilai PDB periode t
= nilai PDB periode sebelumnya
2.1.5 Inflasi
2.1.5.1 Definisi Inflasi
Inflasi merupakan kecenderungan meningkatnya tingkat harga secara
umum dan terus-menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat
disebut sebagai inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada
(mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga barang-barang lain. Kenaikan
33
harga-harga disebabkan oleh faktor-faktor musiman (misalnya menjelang
peringatan hari-hari besar), atau yang terjadi sekali saja (dan tidak mempunyai
pengaruh lanjutan) tidak disebut inflasi (Kalalo, et. al 2016).
Para ekonom mendefinisikan inflasi secara berbeda-beda namun
mempunyai arti yang sama yaitu kenaikan harga-harga yang cenderung naik secara
terus menerus. Inflasi merupakan kecenderungan meningkatnya tingkat harga
secara umum dan terus menerus (Kalalo, et, al : 2016). Kenaikan harga dari satu
atau dua barang saja tidak dapat disebut sebagai inflasi, kecuali bila kenaikan
tersebut meluas kepasa (mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga
barang-barang lain. Kenaikan harga-harga disebabkan oleh faktor-faktor musiman
(misalnya menjelang peringatan hari-hari besar), atau yang terjadi sekali saja (dan
tidak mempunyai pengaruh lanjutan) tidak disebut inflasi.
Milton Friedman dalam Murni (2006) mengatakan inflasi ada di mana saja
dan selalu merupakan fenomena moneter yang mencerminkan adanya pertumbuhan
moneter yang berlebihan dan tidak stabil. Secara garis besar inflasi terjadi pada
kenaikan harga dan dalam waktu yang lama . proses kenaikan harga-harga umum
barang-barang secara terus menerus disebut inflasi kenaikan harga ini diukur
dengan menggunakan indeks harga (Mankiw, 2006).
Tradelilin (2010:343) mengungkapkan inflasi yang terus meningkatkan
menunjukkan sinyal negatif bagi berbagai pihak di pasar modal. Tingkat inflasi
yang tinggi pmenyebabkan minat investor untuk membeli saham menurun karena
daya beli investor yang menurun, hal ini menyebabkan permintaan saham akan
34
menurun juga, sehingga berdampak pada harga saham ikut menurun (I.M.A.
Adikerta & N. Abundanti : 2020).
Sementara itu Bank Indonesia memberi pengertian Inflasi yaitu
meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan dari satu atau
dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau
mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut
diflasi (www.bi.go.id).
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa inflasi adalah suatu proses
meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue), kenaikan
harga dari satu atau dua barang saja tidak adpat disebut inflasi kecuali bila kenaikan
itu meluas pada barang alainnya.
2.5.1.2 Pengukuran Inflasi
Menurut M. Natsir (2014:266) rumus yang digunakan untuk menghitung
inflasi adalah :
IHKn-IHKn-1
INFn =
X 100%
HKn-1
Keterangan :
INFn : inflasi atau deflasi pada waktu (bulan atau tahun) (n)
IHKn : indeks harga konsumen pada waktu (bulan atau tahun ) (n)
IHKn-1 : indeks harga konsumen pada waktu sebelumnya (bulan atau
tahun) (n-1).
35
2.1.6 Nilai Pasar
2.1.6.1 Definisi Nilai Pasar
Nilai pasar (market value) merupakan harga barang arau surat berharga
yang diindikasikan oleh penawaran pasar, yaitu harga yang tambahan barangnya
dapat dijual atau dibeli, pada suatu pasar, niali pasar suatu surat berharga ditentukan
oleh nilai penjualan terakhir, untuk surat-surat berharga yang tidak aktif, saat tidak
ada penawaran, yang digunakan ialah harga penawaran terakhir, untuk surat
berharga yang tidak terdaftar di bursa, nilai pasar ditentukan oleh penjualan terakhir
atau ditentukan olehh lembaga penilai, nilai pasar secara terus-menerus berfluktuasi
ketika ada berita-berita hangat dan akan sering berubah sepanjang hari.
Nilai pasar didefinisikan sebagai es-timasi sejumlah uang yang dapat
diperoleh dari hasil penukaran suatu aset atau liabilitas pada tanggal penilaian,
antara pembeli yang berminat membeli dengan penjualan yang berminat menjual,
dalam suatu transaksi bebas ikatan, yang pemasarannya dilakukan secara layak, di
mana kedua pihak masing-masing bertindak atas dasar pemahaman yang
dimilikinya kehati-hatian dan tanpa paksaan (SPI, 2013) (R. Khoirudin & D.R.
kusuma).
Nilai pasar adalah harga dari suatu transaksi yang memenuhi unsur-unsur
yaitu pembeli dan penjual berkehendak melakukan transaksi, dalam keadaan pasar
terbuka, penjual dan pembeli mempunyai pengetahuan dan informasi yang
mencukupi mengenal obyek yang mencukupi mengenal obyek yang ditransaksikan,
jangka waktu penawaran mencukupi, dan pembeli/penjual intimewa diabaikan
36
(Hidayati dan Harjanto, 2003) dalam mahaman yang dimilikinya kehati-hatian dan
tanpa paksaan (SPI, 2013) (R. Khoirudin & D.R. kusuma).
Nilai pasar adalah harga saham yang terjadi di pasar bursa tertentu yang
terbentuk oleh permintaan dan penawaran saham oleh para pelaku pasar (Sejati &
Prastiwi, 2015). Nilai pasar (Market Value) dapat diukur dengan bebrapa
pengukuran, salah satunya dengan market book value ratio (Pangestu & Wujaya,
2014). Market book value ratio merupakan tolak ukur dalam menentukan seberapa
jauh perusahaan tersebut memilih peluang investasi. Market book value ratio
mencerminkan seberapa besar pasar menilai perusahaan dapat memanfaatkan
modalnya dalam menjalankan usaha untuk memenuhi tujuan perusahaan. Semakin
besar perusahaan dapat mengelola modalnya dengan baik, maka kesempatan
perusahaan untuk bertumbuh akan semakin tinggi sehingga dapat menarik investor
untuk menanamkan dananya kedalam perusahaan tersebut.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan, market value adalah
harga saham yang paling mudah ditentukan karena merupakan harga dari suatu
saham perusahaan pada pasar yang sedang berlangsung atau sudah tutup, yang
didasarkan pada bursa utama oleh pelaku pasar sebagai konsekuensi dari posisi
tawar antara penjual dan pembeli saham, sehingga nilai pasar menunjukan fluktuasi
dari harga saham dimana harga saham sekarang mencerminkan sepenuhnya
informasi pada masa lampau, informasi yang dipublikasikan dan informasi yang
tidak dipublikasikan.
37
2.1.6.2 Pengukuran Nilai Pasar
Market value dapat diukur dengan mengalikan jumlah saham beredar
dengan harga saham penutupan pada hari ke-t. Berdasarkan besarnya jumlah saham
yang beredar dan harga saham, dapat dilihat ukuran suatu perusahaan.
Semakin banyak jumlah saham yang beredar dan semakin tingginya harga
saham menunjukan semakin besar ukuran sebuah perusahaan.
Menurut Miapuspita et, al (2003), semakin besar market value maka makin
lama pula investor menahan kepemilikan sahamnya. Investor melihat market value
sebagai ukuran perusahaan. Semakin besar nilai market value menunjukan bahwa
perusahaan dengan ukuran besar dan akan memberikan keuntungan tinggi seperti
yang diharapkan oleh investor.
Adapun untuk menyelesaikan nilai market value ditunukan dalam
persamaan sebagai berikut :
MV = Ln of (harga pasar perlembar saham X jumlah saham yang beredar)
Dimana :
Market value
: nilai pasar perusahaan dalam periode tertentu
Harga pasar saham
: harga penutupan (losing price) periode tersebut
Saham beredar
: jumlah saham beredar dalam periode tersebut
Dalam akuntansi, pasar terjadi bilamana suatu entitas melakukan pembelian
yang berkenaan dengan inputnya, dan entitas melakukan penjualan yang berkenaan
dengan outputnya. Edwards dan Bell dalam Kam (1990) menyebutkan bahwa
apabila pasar bisa dikendalikan, baik oleh pialang (brokers), pembeli (buyers), atau
38
penjual (sellers), perbedaan antar aharga pembelian dan penjualan mungkin lebih
besar karena perbedaan tersebut kemungkinan termasuk pembayaran monopoli
(monopoly payment). Biaya (cost) transportasi dan pemasangan juga akan
menimbulkan harga masukan dan keluaran.
Tujuan dari manajemen keuangan adalah bukan memaksimumkan profit
melainkan memakmurkan kekayaan pra pemegang saham melalui maksimalisasi
nilai perusahaan. Kemakmuran pemegang saham akan meningkat apabila harga
saham yang dimilikinya meningkat. Sementara itu harga saham yang terbentuk
dalam pasar oleh beberapa faktor seperti laba per lembar saham (earning per share),
rasio laba terhadap laba per lembar saham, tingkat bungan bebas resiko yang diukur
dari tingkat bunga deposito pemerintahan dan tingkat kepastian operasi perusahaan
(Sartono, 1996).
2.2 Kajian Penelitian Terdahulu
Tinjauan empiris yang relevan dengan penelitian ini diungkapkan sebagai
dasar rumusan hipotesis. Beberapa penelitian terdahulu diuraikan sebagai berikut:
2.2.1 Penilitian Terdahulu Pengaruh Likuiditas Terhadap Profitabilitas
K.H.I Madushanka, M. Jathurika tahun 2018, dengan judul “ The Impact of
Liquidity Ratios on Profitability (with special reference to Listed manufacturing
Companies in Sri Lanka)”. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi pengaruh
rasio Likuiditas terhadap ptofitabilitas perusahaan manufaktur yang terdaftar di Sri
Lanka dan untuk mengetahui hubungan antara likuiditas dan profitabilitas. Analisis
ini didasarkan pada 15 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Kolombo selama lima tahun terakhir dari 2012 hingga 2016. Analisis korelasi dan
39
regresi serta statistik deskriptif diterapkan dalam analisis dan temuan menunjukkan
bahwa rasio Likuiditas (Quick Ratio) mempunyai hubungan positif dan signifikan
dengan profitabilitas perusahaan diantara perusahaan manufaktur yang terdaftar di
Sri Lanka.
Ali Sulieman Alshatti, tahun 2015 dengan judul “The Effect of the Liquidity
Management on Profitability in the Jordian Comersial banks”. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui secara empiris pengaruh manajemen likuiditas
terhadap profitabilitas bank-bank komersial Yordania, dan bagaimana bank-bank
tersebut dapat menjaga keseimbangan antara likuiditas dan profitabilitas.Tiga belas
bank telah dipilih untuk mengekspresikan di seluruh bank komersial Yordania.
Indikator likuiditas adalah invesment ratio, quick ratio, capital ratio, net credit
facilities/total assets dan liquid assets ratio, sedangkan return on equity (ROE) dan
return on asset (ROA) adalah proksi untuk profitabilitas. Model uji stasioner
Augmented Dickey Fuller (ADF) digunakan untuk menguji akar unit dalam deret
waktu variabel penelitian dan kemudian menguji hipotesis dengan menggunakan
analisis regresi. Berdasarkan temuan penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa
terdapat pengaruh pengelolaan likuiditas terhadap profitabilitas pada bank umum
Yordania yang diukur dengan ROE atau ROA, dimana pengaruh rasio investasi dan
quick ratios terhadap profitabilitas bernilai positif jika diukur. oleh ROE, dan
pengaruh rasio modal terhadap profitabilitas adalah positif yang diukur dengan
ROA, dan pengaruh variabel independen lainnya terhadap kedua ukuran
profitabilitas (ROE dan ROA) adalah negatif, peneliti berpendapat bahwa pengaruh
40
negatif ini disebabkan oleh peningkatan volume simpanan yang belum
dimanfaatkan di bank komersial Yordania.
Tanveer Bagh, Sadaf Razzaq, Tahir Azad, Idress Liaqad dan Muhammad
Asif Khan, tahun 2017 dengan judul “The Causative Impact of Liquidity
Management on Profitability of Bank in Pakistan : An Empirical Investigation”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengelolaan likuiditas terhadap
profitabilitas bank Pakistan periode 2006-2016. Data keuangan sekunder yang
diperoleh dari laporan keuangan tahunan auditan dianalisis menggunakan statistik
deskriptif dan inferensial. Return on asset (ROA) dan Return on equity (ROE) telah
digunakan sebagai ukuran profitabilitas bank, sedangkan Current Ratio (CR)
advance to deposit ratio (ADR), Cash deposit ratio (CDR) dan Deposit Assets Ratio
(DAR) mewakili manajemen likuiditas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ADR,
CDR dan DAR berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA, sedangkan
pengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. CR, ADR, CDR dan DAR
berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROE. Berdasarkan temuan utama,
semua pasar keuangan harus memiliki prosedur, praktik, kebijakan, dan mekanisme
manajemen likuiditas yang disetujui secara komprehensif, yang secara eksklusif
disesuaikan untuk lembaga keuangan mereka, dan manajemen harus bertanggung
jawab untuk menerapkan kebijakan dan strategi ini dengan tepat berdasarkan
prioritas.
Ali Raza Sattar, tahun 2019, dengan judul “ Impact of Liquidity on
Profitability : A Case of Comparison in Textile Sector in Pakistan between 2014
and 2015. Tujuan utama dari penelitian ini adalah membandingkan profitabilitas
41
dengan structur modal. Studu ini memilih 127 perusahaan tekstil dan menggunakan
pendekatan panel dinamis untuk analisis data. Dan hasil penelitian diketahui bahwa
aktiva lancar perusahaan berdampak pada rasio profitabilitas. Current liabilities
cenderung menurunkan keuntungan bagi perusahaan, dan diperlukan periode
penagihan untuk bisnis yang ditingkatkan. Faktor financial debt juga merupakan
partisipan utama bagi profitabilitas perusahaan (Tahir & M.B.A. Anuar, 2016). Dan
dari penelitian Ali Raza Sattar, tahun 2019 dengan menggunakan regresi sederhana
yang telah di jalankan di Stata 12 dan hasilnya menunjukan bahwa Curent Ratio
(CR) berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROCE dan ROE pada tahun 2014
namun pada tahun 2015 hasil menunjukan bahwa CR berpengaruh positif namun
tidak signifikan terhadap ROCE dan ROE.
2.2.2 Penelitian Terdahulu Pengaruh Inflasi Terhadap Profitabilitas
Vera Intanie Dewi, Catharina Tan Lian Soei, Felisca Orina Surjoko, tahun
2019, dengan judul “The Impact Of Macroeconomic Faktors On Firm’s
Profitability (Evidance From Fast Moving Consumer Good Firms Listed On
Indonesia Stock Exchange)”. Tujuan utama dari penelitia ini adalah untuk
mengetahui faktor makroecomomi yaitu : tingkat inflasi, tingkat penggangguran,
produk domestik bruto (PDB), dan nilai tukar terhadap profitabilitas perusahaan
yang mencerminkan oleh rasio Return on Asset (ROA). Penelitian ini menggunakan
faktor makroekonomi sebagai variabel bebas, dan rasio ROA sebagai variabel
terikat. Dengan menggunakan metode regresi berganda, keempat faktor makro
ekonomi dan rasio ROA dari perusahaan barang konsumen yang bergerak cepat
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) diuji selama periode 1998-2016 secara
42
tahunan. Hasilnya, diketahui bahwa semua variabel independen berpengaruh
terhadap rasio ROA (profitabilitas perusahaan) dan hasil uji-t parsial menunjukkan
bahwa hanya tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) yang berpengaruh secara
signifikan terhadap profitabilitas perusahaan, sedangkan tiga faktor makroekonomi
lainnya tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas perusahaan.
Maria Rasheed Awan, tahun 2014, dengan judul “Impact of Liquidity,
Leverage, Inflation on Firm Profitability an empirical analysis of Good Sector of
Pakistan”. Tujuan dari penelitian ini yaitu menyelidiki pengeruh leverage, likuiditas
dan inflasi pada profitabilitas perusahaan dari industri makanan Pakistan. Oleh
karena itu, tiga variabel swasembada yang bersifat independen yaitu leverage,
inflasi dan juga likuiditas menjadi pertimbangan untuk mengetahui pengaruhnya
terhadap variabel dependen yaitu pendapatan perusahaan (profitabilitas). Populasi
yang dipilih karena penelitian tertentu ini biasanya adalah sektor bahan makanan
yang melibatkan Pakistan dengan sampel 55 perusahaan. Studi ini menggunakan
data selama periode 2006 hinga 2011. Dengan menggunakan metode analisis
regresi dan kolerasi dilakukan untuk menilai hubungan antara leverage, inflasi,
likuiditas dan profitabilitas perusahaan. Penelitian tersebut sampai pada kesimpulan
bahwa terdapat hubungan negatif yang solid dengan perubahan control leverage,
likuiditas, inflasi dan juga laba perusahaan (profitabilitas). Rasio likuiditas tidak
signifikan berhubungan dengan return on asset dan return on equity. Rasio hutang
berhubungan negatif dengan laba atas aset dan laba atas penjualan. Rasio
profitabilitas berhubungan positif dengan return on asset dan return on equity.
Namun penilaian hati-hati harus diambil dalam kaitannya dengan variasi
43
profitabilitas perusahaan, dengan menjaga visi pentingnya leverage dan likuiditas
perusahaan, yang pada gilirannya akan membantu dalam mengusulkan perubahan
keuangan di masa depan.
Prof. Jeevitha R, Dr. Bimoy Mathew, Ms. Koka Kali Shardha, tahun 2019,
dengan judul “Impact Of Inflation On Bank’s Profitability : A Study on Select
Banks Profitability”. Tujuan utama dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui
dampak inflasi terhadap profitabilitas bank. Untuk mengevaluasi profitabilitas bank
beberapa faktor penentu seperti Return on assets, Return on Equity dan Net profit
dipertimbangkan. Rata-rata indeks harga grosir telah diambil untuk mengevaluasi
dampak inflasi terhadap profitabilitas bank. Selain itu, terdapat banyak faktor
eksternal yang mempengaruhi profitabilitas seperti PDB, manajemen aset, NPA,
kecukupan modal, rasio likuiditas. Untuk studi lima bank sektor publik telah
dipertimbangkan yaitu Bank Negara India, Bank IDBI, Bank Allahabad, Bank
Canara, Bank Nasional Punjab untuk tahun 2014 sampai 2018. Dari penelitian
tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi negatif antara inflasi dan
profitabilitas bank yang artinya jika satu variabel meningkat maka variabel lainnya
menurun. Ketika inflasi naik, suku bunga juga naik. Kenaikan suku bunga
memberikan peluang yang lebih besar bagi bank untuk meningkatkan
keuntungannya. Sementara cost of fund mereka juga meningkat yang bisa
mengurangi keuntungan. Dari penelitian tersebut dapat diketahui bahwa H0
diterima dan alteratif ditolak yang artinya Inflasi tidak berpengaruh terhadap Return
on Assets (ROA), Return on Equity (ROE) dan laba bersih bank sektor publik
terpilih. Inflasi tidak mempengaruhi profitabilitas bank. Ada beberapa faktor
44
internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi profitabilitas bank. Oleh karena
itu, tidak ada hubungan yang signifikan antara Inflasi dan profitabilitas Bank dari
bank sektor publik tertentu di India.
2.2.3 Penelitian Terdahulu Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap
Profitabilitas
Omotayo Ajibike Adekola, tahun 2016, dengan judul “The Effect of Banks
Profitability on Economic Grwoth in Nigeria”. Tujuan dari penelitian ini yaitu
untuk mengetahui bagaimana profitaabilitas industri perbankan mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi di Negeria. Studi ini mengadopsi desain survei dengan
menggunakan ex-post facto. Populasi penelitian diwakili oleh industri perbankan
Nigeria, penelitian ini mencakup periode sepuluh tahun dari 2005 hingga 2014
berdasarkan laporan tahunan dari lima bank terpilih dalam industri perbankan
Nigeria. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa profitabilitas bank berpengaruh
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Nigeria, hal ini diperkuat dengan prob
(F-statistic) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan negatif
antara profitabilitas bank dengan produk domestik bruto di Nigeria. Hasil tersebut
secara khusus mengarah pada kesimpulan bahwa terdapat hubungan langsung
antara profitabilitas bank dan pertumbuhan ekonomi (PDB), berdasarkan hasil studi
kami direkomendasikan bahwa otoritas regulasi harus memastikan bahwa
keuntungan dari proses reformasi perbankan adalah berkelanjutan, CBN harus
mengambil tindakan yang lebih tegas yang bertujuan untuk mencapai kerangka
manajemen risiko sektor perbankan Nigeria karena hal ini akan berdampak positif
pada profitabilitas mereka.
45
Yong Tan dan Chritos Floros, tahun 2012, dengan judul “Bank Profitability
and GDP growht in China : A Note”. Tujuan dari peneliti dalam penelitian ini yaitu
untuk menyelediki tiga jenis determinan yang mempengaruhi profitabilitas
perbankan Cina, aitu variabek spesifik bank, spesifik industri dan variabel
makroekonomi (pertumbuhan PDB). Dan juga untuk mengetahui pengaruh
pertumbuhan PDB terhadap profitabilitas bank di Cina selama periode 2003-2009.
Penelitian ini menggunakan data panel yang tidak seimbang untuk menyelidiki
determinan 101 bank Cina selama periode 2003-2009. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa bank dengan pajak yang lebih rendah dan efisiensi biaya yang
lebih tinggi cenderung memiliki profitabilitas yang lebih tinggi di China. Selain itu,
profitabilitas yang lebih tinggi dari bank-bank Tiongkok dapat dijelaskan oleh
perbankan dan perkembangan pasar saham yang lebih tinggi. Peneliti menunjukkan
bahwa pertumbuhan PDB yang lebih tinggi menyebabkan profitabilitas bank yang
lebih rendah di China. Lebih lanjut, peneliti menemukan bahwa profitabilitas di
industri perbankan Tiongkok secara signifikan dipengaruhi oleh tingkat NPL; ini
mendukung literatur. Selain itu, peneliti melaporkan bahwa bank China dengan
tingkat modal yang lebih tinggi memiliki profitabilitas yang lebih rendah (ini hanya
berlaku untuk NIM). Akhirnya, peneliti berpendapat bahwa penyimpangan dari
struktur pasar persaingan yang sempurna dalam industri perbankan China relatif
kecil.
Mohamed Aymen Ben Moussa dan zohra Hdidar, tahun 2019, dengan tema
“Bank Profitability and Economic Grwoth : Evidence From Tunisia”. Tujuan utama
dari penelitian ini yaitu untuk menyelidiki pengaruh pertumbuhan ekonomi
46
terhadao profitabilitas bank menggunakan sampel 18 bank di Tunisia selama
periode (2000-2017). Peneliti menggunakan ROA (Return on Asset), ROE (return
On Equity) sebagai indikator profitabilitas bank seperti variabel dependen, variasi
spesifik bank lain, pertumuhan ekonomi sebagai variabel independen. Peneliti
menggunakan metode panel untuk regresi 2 bulan. Hasil dari penelitian ini yaitu
bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap
profitabilitas bank.
Aviliani, Hermanto Siregar, Tubagus Nur Ahmad Maulana dan Heni
Hasanah, tahun 2015. Judul “ The Impact of Macroeconomic Condition on The
Bank’s Performance in Indonesia”. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis
pengaruh indikator makroekonomi (meliputi indekks produksi, inflasi, kurs Bank
Indonesia, indeks saham Jakarta, nilai tukar dan harga minyak mentah) terhadap
kinerja bank-bank milik negara. Peneliti menerapkan Vector Error Corection Model
(VECM) pada data perbankan mulai tahun 2006-2013 dan memberikan peneliti
beberapa temuan. Pertama, fungsi impulse response menunjukan respon terbesar
dari biaya overhead bank (BOPO) akibat guncangan makroekonomi; peneliti
berpendapat volatilitas indikator efisiensi bank ini mencerminkan ketidakefisiensi
bank-bank di Indonesia. Kedua, besaran pinjaman dan lending to deposit ratio
(LDR) memberikan respon yang paling lemah akibat guncangan makroekonomi.
Hal ini sejalan dengan hasil dekomposisi varians, dimana variabel makroekonomi
paling sedikit menjelaskan variasi NPL. Ketiga dari semua variabel makroekonomi
yang kami amati, guncangan suku bungan Bank Indonesia secara umum
47
memberikan respon terbesar dari sebagian besar indikator kinerja bank, yang
mendukung penggunaan kurs Bank Indonesia sebagai instrumen moneter efektif.
2.2.4 Penelitian Terdahulu Pengaruh Nilai Pasar Terhadap Profitabilitas
Rosikah, Dwi Kartika Prananigrum, Dzulfikri Azis Muthalib, Muh Irfandy
Azzis, iswar Rohansyah tahun 2018. Dengan judul “ effect of Return on Asset,
Return on Equity, Earning Pers Share on Corporate Value”. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk menganalisis: 1) mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh
return on asset terhadap nilai perusahaan, 2) mengidentifikasi dan menganalisis
pengaruh return on equity terhadap nilai perusahaan, 3) mengidentifikasi dan
menganalisis pengaruh earning per share terhadap kinerja perusahaan, 4)
mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh ROA, ROE, EPS secara silmutan
terhadap nilai perusahaan. Populasi dalam penelitian ini adalah 114 perusahaan
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2006-2010. Sedangkan
pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling dengan
tujuan ,emperoleh sampel yang representatif sesuai dengan kriteria yang ditentukan,
berdasarkan kriteria tersebut maka jumlah sampel akhir yang memiliki data lengkap
dalam penelitian ini berjumlah 32 perusahaan. Data proimer diolah dengan
menggunakan analisis regresi berganda untuk mengukur pengaruh variabel
independen yang terdiri dari : ROA, ROE, EPS indikator nilai perusahaan dengan
Tobin’s Q. Temuan dalam penelitian ini adalah: 1) return on asset berpengaruh
positif terhadap nilai perusahaan, 2) return on equity berpengaruh positif tetapi
tidak signifikan terhadap nilai perusahaan, 3) earning per share berpengaruh positif
48
dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan, 4) return on assets, return on equity,
earning per share berpengaruh signifikan secara simultan pada nilai perusahaan.
Ali Ihsan Akgun, Famil Samiloglu dan Ali Osman Oztop, tahun 2018
dengan judul “ The Impact of Profitability on Market Value Added : Evidence from
Turkish Informatics and Technology Firms. Tujuan penelitian ini yaitu (1) untuk
menguji secara empiris hubungan antara nilai tambah ekonomis (EVA), Return on
Asset (ROA), dan Return on Equity (ROE) dengan Market Value Added (MVA) di
Bursa Efek Instanbul, (2) mengakaji kinerja yang diterapkan oleh perusahaan
teknologi dan informatika Turki selama krisis keuangan global 2008-2009. Sampel
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu semua perusahaan teknologi dan
informatika yang ada di Turki. Penelitian ini menggunakan Profitability sebagai
variabel independen dan menggunakan Market Value Added sebagai variabel
dependen. Penelitian ini menggunakan teknik data panel untuk memperkirakan
model regresi dalam hipotesis. Peneliti juga fokus pada dua teknik yang digunakan
untuk menganalisis data panel seperti efek tetap dan efek acak. Dalam penelitian
ini peneliti mendapatkan dua hasil yaitu (1) peneliti menunjukan bahwa terdapat
hubungan negatif dan signifikan antara MVA dan EVA pada periode pasca krisis
keuangan global, (2) peneliti juga menemukan ada hubungan positif dan signifikan
antara MVA dan EVA pada periode sebelum krisis keuangan global.
49
2.3 Kerangka Konseptual Dan Hipotesis
2.3.1 Kerangka Konseptual
Kerangka konsep merupakan suatu kesatuan kerangka pemikiran yang utuh
untuk mencari jawaban ilmiah terhadap masalah penelitian yang menjelaskan
tentang variabel-variabel, hubungan antara variabel secara teoritis yang
berhubungan dengan hasil penelitian terdahulu yang kebenarannya dapat diuji
secara empiris (Iskandar 2008:55). Kerangka kosep akan menghubungan secara
teoritis antara variabel-variabel penelitian yaitu antara variabel independen dengan
variabel dependen.
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah profitabilitas yang di ukur
menggunakan Return on Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE). Menurut
Sukojo dan Soebiyantoro (2007) profitabilitas menjadi pertimbangan yang cukup
penting bagi investor dalam keputusan investasi. Profitabilitas yang tinggi
menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif
sinyal tersebut dan nilai perusahaan akan meningkat. Investor yang potensial akan
menganalisis dengan cermat kelancaran sebuah perusahaan dan kemampuannya
untuk mendapatkan keuntungan. Semakin baik rasio profitabilitas maka semakin
naik menggambarkan kemampuan tingginya peroleh keuntungan perusahaan.”
Sedangkan variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
likuiditas, pertumbuhan ekonomi inflasi dan nilai pasar. Rasio likuiditas
menunjukan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban finansialnya
dengan segera ( Amanah R. et, al : 2014). Rasio ini berguna untuk mengetahui
50
seberapa besar aset likuid yang bisa di ubah menjadi kas untuk membayar tagihan
yang tak terduga. Apabila perusahaan tidak mampu membayar tagihan tersebut
maka bisa terancam mengalami kebangkrutan. Untuk mengukur likuiditas
menggunakan Curent Ratio (CR). Keberhasilan pembangunan ekonomi dalam
kehidupan masyarakat. Jadi pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari
perkembangan suatu perekonomian dari suatu periode ke periode lainnya. Menurut
Kunzets (dalam Sukimo, 2006:132), pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan
kapasitas dalam jjangka panjang dari Negara yang bersangkutan untuk
menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. Mungkin kenaikan
tersebut dapat terjadi tidak bersamaan, yang penting terdapat kenaikan harga umum
barang secara terus menerus selama satu periode tertentu. Kenaikan yang terjadi
sekali saja meskipun dalam presentase yang besar, bukanlah merupakan inflasi.
Nilai pasar (market value) adalah harga saham yang terjadi di pasar bursa yang
ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham bersangkutan di pasar bursa.
Harga pasar merupakan harga jual saham sebagai konsekuensi dan posisi tawar
antara penjual dan pembeli saham sehingga nilai pasar menunjukan fluktuasi dari
harga saham (Jogiyanto :2000).
51
Gambar 2.1
Kerangka Konsep
Likuiditas
Curent Ratio (CR)
Pertumbuhan
Ekonomi
Profitabilitas
Return On Asset (ROA) dan
Return On Equituy (ROE)
Inflasi
Nilai Pasar
2.3.2 Hipotesis
2.3.2.1 Pengaruh likuiditas (Curent Ratio) terhadap profitabilitas dengan rasio
Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE)
Menurut Mamduh (2004) memaparkan bahwa likuiditas secara umum
diartikan sebagai kemampuan suatu perusahaan memenuhi kewajiban keuangannya
dalam jangka pendek atau yaang harus dibayar.
Titmam et al. (2014) (I. L. Lubis, et, al : 2017), likuiditas adalah “the speed
with which the asset can be convered into cash without loss of value.” Kecepatan
dimana aset dapat dikonversi menjadi uang tunai tanpa kehilangan nilai. Liquidity
ratio adalah “measure of teh ability of a firm to pay its nils in a timely manner when
they come due”. Likuiditas merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk
membayar taguhannya secara tepat waktu ketika tanggal pembayaran sudah tiba
waktunya.
52
Rasio likuiditas di ukur menggunakan curent ratio (CR), di mana curent
ratio adalah rasio yang membandingkan antara jumlah aktiva lancar yang dimiliki
perusahaan dengan hutang jangka pendek”.
ROA (Return On Asset) merupakan indikator yang dapat menggambarkan
keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba, sehingga semakin tinggi
profitabilitas maka semakin tinggi kemampuan perusahan dalam menghasilkan laba
(Rachmawati, 2012). Return On Asset (ROA) digunakan untuk menghitung
kelebihan
kelebihan
return
dari
tangible
asset
milik
perusahaan
dan
mengasumsikannya sebagai intangible asset untuk dihitung sebagai intellectual
capital (Ulum, 2009:33).
ROE (return on equity) adalah bagian dari rasio profitabilitas, yang dalam
pengukurannya difungsikan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba bersih setelah pajak dari pemanfaatan modal yang dimilikinya.
Semakin baik (tinggi) nilai return on equity (ROE) perusahaan, maka semakin baik
kinerjanya dalam memperoleh laba bersih setelah pajak (earnings after tax). return
on equity adalah suatu rasio yang digunakan untuk mengukur laba bersih setelah
pajak (EAT) dengan modal sendiri. Rasio ROE dapat menunjukkan tingkat efisiensi
perusahaan dalam penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi nilai ROE, maka
semakin baik. Itu mengindikasikan bahwa posisi perusahaan akan terlihat semakin
kuat, begitu pun sebaliknya (Kasmir : 2014). Didukung dengan hasil penelitian
tsebelumnya yang dilakukan oleh (Ali Sulieman Alshatti 2015, K.H.I Madushanka
dan M. Jathurika 2015, Ali Raza Sattar, 2020, Ahmad Waleed, Ahmad Tisman
Pasha dan Adeel Akhtar 2016) yang menyatakan bahwa likuiditas memiliki
53
pengaruh signifikan dan positif terhadap profitabilitas. Berdasarkan uraian diatas,
maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut :
H1 : Likuiditas (Curent Ratio) berpengaruh positif signifikan terhadap Profitabilitas
dengan rasio Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE)
2.3.2.2 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Profitabilitas dengan rasio
Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE)
Penelitian tentang Pertumbuhan Economi telah banyak di lakukan, salah
satunya penelitian yang dilakukan oleh Mohamed Aymen Ben Moussa dan zohra
Hdidar, tahun 2019, Peneliti menggunakan ROA (Return on Asset), ROE (return
On Equity) sebagai indikator profitabilitas bank seperti variabel dependen, variasi
spesifik bank lain, pertumuhan ekonomi sebagai variabel independen. Peneliti
menggunakan metode panel untuk regresi 2 bulan. Hasil dari penelitian ini yaitu
bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap
profitabilitas bank.
Menurut Kunzets (Sukimo, 2006:132), pertumbuhan ekonomi adalah
kenaikan kapasitas dalam jjangka panjang dari Negara yang bersangkutan untuk
menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya.
Pertumbuhan ekonomi dapat di artikan sebagai proses kenaikan kapasitas
produkasi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan
pendapatan nasional. Adanya, pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi
54
keberhasilan pembangunan ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Dari penjelasan
di atas peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut :
H2 : Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh positif terhadap Profitabilitas dengan rasio
Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE)
2.3.2.3 Pengaruh Inflasi terhadap Profitabilitas dengan rasio Return On Asset
(ROA) dan Return On Equity
Penelitian tentang Inflasi telah banyak di lakukan, salah satunya penelitian
yang dilakukan oleh Prof. Jeevitha R, Dr. Bimoy Mathew, Ms. Koka Kali Shardha,
tahun 2019, Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi
negatif antara inflasi dan profitabilitas bank yang artinya jika satu variabel
meningkat maka variabel lainnya menurun. Ketika inflasi naik, suku bunga juga
naik. Kenaikan suku bunga memberikan peluang yang lebih besar bagi bank untuk
meningkatkan keuntungannya. Sementara cost of fund mereka juga meningkat yang
bisa mengurangi keuntungan. Dari penelitian tersebut dapat diketahui bahwa H0
diterima dan alteratif ditolak yang artinya Inflasi tidak berpengaruh terhadap Return
on Assets (ROA), Return on Equity (ROE) dan laba bersih bank sektor publik
terpilih. Inflasi tidak mempengaruhi profitabilitas bank. Ada beberapa faktor
internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi profitabilitas bank. Oleh karena
itu, tidak ada hubungan yang signifikan antara Inflasi dan profitabilitas Bank dari
bank sektor publik tertentu di India.
55
Menurut Untoro (2010:39)(Rinaldi Syahputra;2017) pertumbuhan ekonomi
adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang
dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran
masyarakat meningkat dalam jangka panjang.
Menurut Kunzets (Sukimo, 2006:132), pertumbuhan ekonomi adalah
kenaikan kapasitas dalam jjangka panjang dari Negara yang bersangkutan untuk
menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya.
Inflasi merupakan kecenderungan meningkatnya tingkat harga secara umum dan
terus-menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut
sebagai inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (mengakibatkan
kenaikan) sebagian besar dari harga barang-barang lain. Kenaikan hargahargadisebabkan oleh faktor-faktor musiman (misalnya menjelang peringatan harihari besar), atau yang terjadi sekali saja (dan tidak mempunyai pengaruh lanjutan)
tidak disebut inflasi (Kalalo, et, al 2016). Berdasarkan penjelasan diatas peneliti
mengajukan hipotesis sebagai berikut :
H3 : Inflasi berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap profitabilitas dengan rasio
Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE)
2.3.2.4 Pengaruh Nilai Pasar terhadap Profitabilitas dengan rasio Return On
Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE)
Penelitian tentang Nilai Pasar telah banyak di lakukan, salah satunya
penelitian yang dilakukan oleh Ali Ihsan Akgun, Famil Samiloglu dan Ali Osman
56
Oztop tahun 2018 dari penelitian tersebut peneliti mendapatkan hasil bahwa EVA
memiliki hubungan negatif dan signifikan dengan MVA, sedangkan ROA dan ROE
tidak memiliki hubungan signifikan dengan MVA dalam jangka panjang.
Nilai pasar didefinisikan sebagai es-timasi sejumlah uang yang dapat
diperoleh dari hasil penukaran suatu aset atau lia-bilitas pada tanggal penilaian,
antara pembeli yang berminat membeli dengan penjualan yang berminat menjual,
dalam suatu transaksi bebas ikatan, yang pemasarannya dilakukan secara layak, di
mana kedua pihak masing-masing bertindak atas dasar pemahaman yang
dimilikinya kehati-hatian dan tanpa paksaan (SPI, 2013)(R. Khoirudin & D.R.
kusuma).
Nilai pasar menunjukan keadaan perusahaan berdasarkan persepsi investor
yang teraktualisasi melalui harga saham. Secara garis besar nilai pasar perusahaan
merupakan harga seluruh saham yang beredar (closing price). Berdasarkan uraian
diatas peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut :
H4 : Nilai Pasar tidak signifikan terhadap Profitabilitas dengan rasio Return On
Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE)
2.3.2.5 Pengaruh Likuditas, Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai Pasar
terhadap Profitabilitas dengan rasio Return On Asset (ROA) dan Return On
Equity (ROE)
Penelitian tentang likuiditas, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan nilai pasar
banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu dan salah satunya yaitu penelitian
57
yang dilakukan oleh Maria Rasheed Awan, tahun 2014, dengan judul “Impact of
Liquidity, Leverage, Inflation on Firm Profitability an empirical analysis of Good
Sector of Pakistan. Dengan menggunakan metode analisis regresi dan kolerasi
dilakukan untuk menilai hubungan antara leverage, inflasi, likuiditas dan
profitabilitas perusahaan. Penelitian tersebut sampai pada kesimpulan bahwa
terdapat hubungan negatif yang solid dengan perubahan control leverage, likuiditas,
inflasi dan juga laba perusahaan (profitabilitas). Rasio likuiditas tidak signifikan
berhubungan dengan return on asset dan return on equity. Rasio hutang
berhubungan negatif dengan laba atas aset dan laba atas penjualan. Dan rasio
profitabilitas berhubungan positif dengan return on asset dan return on equity.
Dan juga terdapat penelitian terdahulu tentang pertumbuhan ekonomi yang
dilakukan Moussa (2019) mengungkapakan bahwa pertumbuhan ekonomi
berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap profitabilitas dan penelitian
terdahulu tentang nilai pasar yang dilakukan oleh rosikah (2018) menemukan hasil
bahwa nialai pasar berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap profitabilitas.
Berdasarkan uraian diatas peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut :
H5 : Likuditas, Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai Pasar berpengaruh positif
dan signifikan terhadap Profitabilitas dengan rasio Return On Asset (ROA) dan
Return On Equity (ROE).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.1.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah pengaruh Likuiditas, Pertumbuhan Ekonomi,
Inflasi dan Nilai Pasar terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Sub-Sector Tekstil
dan Garmen di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis
data sekunder laporan tahunan (annual report) Sub-Sector Tektil dan Garmen
periode 2015-2019. Laporan tahunan (annual report) Sub-Sector Tekstil dan
Garmen yang telah terpublish melalui website: www.idx.co.id atau website masingmasing perusahaan.
3.1.2 Waktu Penelitian
Data dalam penelitian ini dimulai dari tahun 2015-2019, dimana penelitian
ini mengkaji tentang Pengaruh Likuiditas, Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai
Pasar Terhadap Profitabilitas pada Sub-Sector Tekstil dan Garmen yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia. Jenis penelitian ini adalah penelitian kausalitas (sebabakibat). Penelitian kausalitas adalah penelitian yang ingin mencari penjelasan
dalam bentuk hubungan sebab-akibat (cause-effect) antar beberapa konsep atau
beberapa variabel atau beberapa strategi yang dikembangkan dalam manajemen
(Echo Perdana K. 4 : 2016). Dalam penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh
Likuiditas, Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai Pasar terhadap Profitabilitas.
58
59
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian
3.2.1 Populasi Penelitian
Populasi adalah suatu kesatuan individu atau subyek pada wilayah dan
waktu dengan kualitas tertentu yang akan diamati/diteliti (Supardi, 101:1993).
Apabila seseorang ingin meneliti sebuah elemen yang ada dalam wilayah penelitian
tersebut, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Dalam penelitian ini
adalah perusahaan Sub-Sektor Tekstil dan Garmen go public yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia selama periode 2015-2018. Jumalah populasi penelitian adalah 22
perushaan.
3.3.2 Sampel Penelitian
Menurut Supardi, (101:1993) sampel penelitian adalah bagian dari populasi
yang dijadikan subyek penelitian sebagai “wakil” dari para anggota populasi.
Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling,
dimana seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap
bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi
peneliti. Metode purposive sampling yaitu penarikan sampel dengan pertimbangan
dan kriteri tertentu, untuk digunakan pada kepentingan atau tujuan penelitian (O.D.
Dera Astuti;2018). Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan Sub-Sector
Tekstil dan Garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan data dari
Badan Pusat Statisti (BPS) dengan rentang waktu 2015-2019. Sehingga masingmasing perusahaan dalam populasi tidak memiliki kesempatan yang sama untuk
60
menjadi sampel, kecuali perusahaan yang memenuhi seluruh kriteria penelitian.
Kriteria penelitian yang di tetapkan oleh peneliti yaitu :
1. Perusahaan Tekstil dan Garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI).
2. Perusahaan Tektil dan Garmen yang melampirkan laporan tahunan
(annual report) baik di website Bursa Efek Indonesia (BEI) atau website
perusahaan terkait dari tahun 2015-2019.
Berdasarkan beberapa kriteria yang telah ditentukan, maka diperoleh
sampel penelitian sebanyak 10 perusahaan Sub-Sektor Tekstil dan Garmen.
Tabel 3.1 Daftar Perusahaan yang Memenuhi Kriteria Sampel
No
Kode
Emitan
Tanggal IPO
Perusahaan
1
ARGO
Argo Pantes Tbk
7 Januari 1991
2
ERTX
Eratex Djaya Tbk
21 Agustus 1990
3
ESTI
Ever Shine Tex Tbk
13 Oktober 1992
4
INDR
Ido Rama Synthetic Tbk
3 Agustus 1990
5
PBRX
Pan Brothers Tbk
16 Agustus 1990
6
RICY
Ricky Putra Globalindo Tbk
22 Januari 1991
7
SRIL
Sri Rejeki Isman Tbk
17 Januari 2013
8
SSTM
Sunson Textile Manufactur Tbk
20 Agustus 1997
9
TRIS
Trisula Internasional Tbk
28 Juni 2012
61
10
UNIT
Nusantara Inti Corpora Tbk
18 April 2002
Sumber : Bursa Efek Indonesia dan Saham OK( update 16, Februari 2020)
3.3 Jenis dan Sumber Data
3.4.1 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Data
kuantitatif yaitu data yang berwujud kumpulan angka-angka sedangkan data
sekunder merupakan data yang diperioleh tidak secara langsung (F.M. Efendi &
Ngatno;2018). Data kuantitatif berdasarkan klasifikasi waktu dapat di kategorikan
sebagai data time series (runtut waktu), cross section (data silang atau urutan waktu
tertentu) dan panel data. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah panel
data, yaitu data gabungan anatara data time series dan data cross section.
3.4.2 Sumber Data
Sumber data adalah subyek dari mana data dapat diperoleh.. Sumber data
yang digunakan di dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang
didapat dari pihak yang telah menghimpunya terlebih dahulu. Sumber data yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1. Badan Pusat Statistik (BPS)
2. Laporan tahunan (annual report) untuk semua perusahaan yang terpilih
menjadi anggota sampel.
62
3.4 Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti untuk
mendapatkan data dalam suatu perusahaan. Menurut Suharsimi Arikunto
(2000:134), instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang di pilih dan
digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya menggumpulkan agar kegiatan tersebut
menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Metode pengumpulan data ada 2 yaitu
data primer dan data sekunder.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan data sekunder. Adapun metode
penggumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen. Studi dokumen adalah
jenis pengumpulan data yang meneliti berbagai macam dokumen yang berguna
untuk bahan analisis. Dokumen yang dapat digunakan dalam pengumpulan data
bisa bersumber dari jurnal-jurnal, buku-buku, maupun data-data berupa laporan
keuangan yang bersumber dari website resmi perusahaan.
3.5 Metode Pengolahan Data
Adupun metode pengolahan data setelah data dikumpulkan adalah sebagai
berikut:
1. Editing yaitu menghimpun data-data yang diperlukan.
2. Sortir yaitu menyotir atau menyusun data-data yang telah dikumpulkan
untuk digunakan dalam penelitian ini.
3. Tabulasi yaitu memasukan data ke dalam tabel untuk selanjutnya menjadi
bahan analisis.
63
4. Interprestasi yaitu menjelaskan dan menguraikan data-data berdasarkan
variabel yang diteliti dalam penelitian ini.
5. Penyajian data yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberikan
kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
6. Penarikan kesimpulan.
3.6 Metode Analisis Data dan Pengujian Hipotesis
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
menggunakan regresi data panel dengan bantuan program Eviews-9. Regresi data
panel merupakan teknik regresi yang menggabungkan data time series dengan cross
section. Model regresi adalah model yang digunakan untuk menganalisis pengaruh
dari beberapa variabel independen terhadap satu variabel dependen (Echo Perdana
K. 10: 2016)
Widarjo (2013) mengatakan bahwa, metode regresi data panel mempunyai
beberapa keuntungan jika dibandingkan dengan data time series atau cross section.
Pertama, data panel yang merupakan gabungan dua data time series dan cross
section mampu menyediakan data yang lebih baik banyak sehingga akan
menghasilkan degree of freedoom yang lebih besar. Keuntungan kedua yaitu
dengan menggabungkan informasi dari data time series dan cross section dapat
mengatasi masalah yang timbul ketika ada masalah penghilangan variabel
(ommited-variabel).
Pada penelitian ini menggunakan data panel yaitu gabungan dari data cross
section yang terdiri dari 10 perusahaan Sub-Sektor Tekstil dan Garmen yang
64
terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan data time seriess dalam kurun waktu
5 tahun yaitu tahun 2015-2019 sehingga diperoleh sebanyak 50 observasi. Dengan
menggunakan rumus model regresi data panael yaitu :
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3.......bnXn
Adapun model regresi data panel dalam penelitian ini yaitu :
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + e
Keterangan :
Y
= Profitabilitas
X1
= Likuiditas
X2
= Pertumbuhan Ekonomi
X3
= Inflasi
X4
= Nilai Pasar
e
= error term
3.6.1 Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif adalah tahap awal dalam pemeriksaan data; itu
memungkinkan para peneliti untuk mengambarkan bagian-bagian yang relevan dan
memperoleh data tentang setiap variabel penting (A. H Samo & H. Murad:2019).
Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data
dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah berkumpul
65
sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk
umum atau generalisasi (Sugiyono, 2013:206).
Dalam penelitian ini variabel bebas yaitu likuiditas dengan rasio (Curent
Asset), Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai Pasar, pada sub-sektor Tekstil dan
Garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
3.6.2 Uji Asumsi Klasik
Sebelum model regresi digunakan untuk menguji hipotesis, diperlukan uji
asumsi klasik untuk memastikan bahwa model telah memenuhi kriteria Best Linear
Unbiased Estimator (BLUE). Adapun uji asumsi klasik yang digunakan dalam
penelitian ini adalh uji normalitas, uji multikolerasi, uji heteroskedastisitas, dan uji
outokolerasi.
3.6.2.1 Uji Normalitas Data
Uji normalitas adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mengetahui
apakah data berasal dari populasi yang terdistribusi normal atau berada dalam
sebaran normal (Nuryadi, et, al 2017:79). Terdapat dua cara untuk mendeteksi
apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik dan uji
statistik. Analisis grafik dalam penelitian dilakukan dengan cara melihat grafik
Histrogram dan normal P-Plot.
Uji statistik yang digunakan untuk menguji normalitas residual dalam
penelitian ini adalah uji statistik non paramik Kolmogorov Smirnof. Uji ini diyakini
lebih akurat daripada uji normalitas dengan grafik, karena uji normalitas dengan
66
grafik dapat menyesatkan, jika tidak hati-hati secara virtual akan terlihat normal
(Ghozali:2005). Uji Kolmogorov Smirnof dilakukan dengan membuat hipotesis :
Ho : data residual berdistribusi normal
H1 : data residual tidak besditribusi normal
Apabila Asymptotic Significance lebih besar dari pada 5 persen, maka data
terdistribusi normal (Ghozali:2005).
3.6.2.2 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas merupakan alat uji model regresi untuk menemukan
adanya kolerasi antar variabel bebas (independen) (Echo Perdana K. 47: 2016).
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi kolerasi diantara variabel
independen. Uji multikolinearitas dapat dilakukan dengan uji regresi, dengan niali
patokan VIF (Variance Inflation Factor) dan nilai Tolerance.
Kriteria yang digunakan adalah :
1. Jika nilai VIF di sekitar angka 1-10, maka dikatakan tidak terdapat amasalah
multikolinearitas.
2. Jika nilai Tolerance ≥ 0.10, maka dikatakan terdapat masalah
multikolinearitas.
3.6.2.3 Uji Autokolerasi
Uji autokolerasi merupakan hasil uji model regresi untuk mengetahui
adanya kolerasi antara kesalahan penggangu pada periode tertentu dengan
67
kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya (Echo Perdana K. : 52:2016). Jika
terjadi kolerasi, maka dinamakan ada masalah autokolerasi. Autokolerasi muncul
karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya.
Salah satu uji yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya autokolerasi adalah
dengan menggunakan uji Breush-Godfrey (BG) atau yang biasa dikenal dengan uji
Langrange Multiplier.
3.6.2.4 Uji Heterokedastistas
Uji Heterokedasitisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan
yang lain, salah satu metode formal untuk menguji heteroskedastisitas adalah
dengan menggunkan uji White. Apabila nilai profitabilitas dari Obs*R-squared
lebih besar dari α (5%) maka data tidak bersifat heteroskedastis dan jika niali
profitabilitas dari Obs*R-squared lebih kecil dari α (5%) maka data bersifat
heteroskedastis.
3.6.3 Penentuan Model Estimasi
Widarjono (2013;251) mengatakan bahwa untuk mengistemasi parameter
model dengan data panel, terdapat tiga teknik (model) yang sering ditawarkan yaitu:
3.6.3.1 Common Effect Model
Teknik ini merupakan teknik yang paling sederhana untuk mengistemasi
parameter model data panel, yaitu dengan mengkombinasi data cross section dan
time series sebagai satu kesatuan tanpa melihat adanya perbedaan watu dan entitas
68
(individu). Di mana pendekatan yang sering dipakai adalah ordinary least square.
Model Common Effect mengabaikan adanya perbedaan dimensi individu maupun
waktu atau dengan kata lain perilaku data antar individu sama dalam berbagai kurun
waktu.
3.6.3.2 Fixed Effect Model
Pendekatan model fixed effect mengasumsiakan bahwa intersep dari setiap
individu adalah berbeda sedangkan slope antar individu adalah tetap (sama). Teknik
ini menggunakan variabel dummy untuk menangkap adanya perbedaan intersep
antar individu.
3.6.3.3 Random Effect Model
Bila pada model efek tetap, perbedaan antar-individu dan atau waktu
dicerminkan lewat intercept, maka pada Model Efek Random, perbedaan tersebut
diakomodasi leway erroe. Teknik ini juga memperhitungkan bahwa eror mungkin
berkolerasi sepanjang time series dan cross section.
3.6.4 Teknik Pengujian Model
Widarjono (2007:258) mengatakan bahwa ada tiga uji untuk memilih teknik
estimasi data panel :
69
3.7.4.1 Uji Chow
Uji Chow digunakan untuk memilih apakah model Common Effect atau
Fxed Effect yang lebih telah digunakan. Uji Chow dilakukan dengan hipotesis
sebagai berikut :
H0 : Common Effect Model
H1 : Fixed Effect Model
Aturan pengambilan keputusannya adalah jika profitabilitas untuk CrossSection F < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima sebagai model yang tepat adalah
model Fixed Effect. Sebaliknya jika profitabilitas untuk Cross-section F> 0,05
maka H0 diterima dan H1 ditolak sehingga model yang tepat adalah model Common
Effect.
3.7.4.2 Uji Hausaman
Hausaman telah mengembangkan suat uji untuk memilih apakah metode
fixed effect dan metode random effect lebih baik dari pada common effect.
H0 : Random Effect Model
H1 : Fixed Effect
Model statistik uji Hausman mengikuti distribusi Chi-Squared dengan
degree of frendom <0.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima sehingga model yang
tepat adalah model Fixed Effect. Sebaliknya jika profitabilitas untuk Cross-section
70
F> 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak sehingga model yang tepat adalah model
Random Effect.
3.7.4.3 Uji Langrangge Multipiler (LM)
Uji LM digunakan untuk memilih apakah model Common Effect atau
Random Effect yang lebih tepat digunakan dalam model persamaan regresi data
panel. Setelah diperoleh nilai lM hitung, nilai Nilai hitung akan dibandingkan
dengan nilai Chi Squared tabel dengan derajat kebebasan (degree of rendom)
sebanyak jumlah variabel independen (bebasa) dan alfa atau tingkat signifikansi
sebesar 5%. Apabila nilai LM hitung > Chi Squared tabel maka model yang dipilih
adalah Random Effect, dan sebaliknya apabila nilai LM hitung < Chi Squared tabel
maka model yang dipilih adalah Common Effect.
3.6.2 Pengujian Hipotesis
3.6.1 Uji Stastik (Uji F-test)
Menurut Ghozali (200) mengatakan bahwa Uji statistik F pada dasarnya
menunjukan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model
mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat.
Pengambilan kesimpulan sebagai berikut :
H0
:
β1, β2 = 0 (Variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh
terhadap variabel dependen)
71
H1 : β1, β2 ≠ 0 (Variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap
variabel dependen)
Kriteria pengambilan keputusan dengan membandingkan nilai F-stastistik
dan nilai F-tabel, yaitu sebagai berikut :
1. Jika nilai profitabilitas α > 0,05 maka H0 atau menolak H1, artinya variabel
independen secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap
variabel dependen.
2. Jika nilai profitabilitas α < 0,05 maka H1 diterima atau menolak H0, artinya
variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap
variabel dependen.
3.6.2 Uji Statistik T (Uji t)
Uji ini digunakan untuk melihat signifikan dari hubungan atau pengearuh
variabel bebas terhadap variabel terikat secara individual. Pada penelitian ini
digunakan prosedur uji dua sisi karena pengaruh antar dua variabel dalam
persamaan regresi bisa positif maupun negatif (Widarjo, 2013). Hipotesis dua sisi
ini dapat dinyatakan sebagai berikut :
H0 :β1 = 0 (Variabel independen secara masing-masing tidak berpengaruh terhadap
variabel dependen)
H1 :β1 ≠ 0 (Variabel independen secara masing-masing berpengaruh terhadap
variabel dependen )
72
Kriteria pengambilan keputusan dengan membandingkan nilai t-statistik
dan nilai t-tabel, yaitu sebagai berikut :
1.
Jika nilai probabilitas α > 0,05 maka H0 diterima atau menolak H1, artinya
variabel independen secara masing-masing tidak berpengaruh signifikan
terhadap variabel dependen
2.
Jika nilai probabilitas α < 0,05 maka H1 diterima atau menolak H0, artinya
variabel independen secara masing-masing berpengaruh signifikan terhadap
variabel dependen.
3.6.3 Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan
model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi
adalah antara 0 dan 1. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel
independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang
mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hamper semua
informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali,
2011: 97).
3.7 Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel dapat dikatakan sebagai pembahasan atau
penilaian kegiatan operasionl yang dilakukan untuk mengukur variabel dalan
hipotesis. Dalam penelitian kuantitatis, variabel didefinisikan secara operasional
dan umumnya dibagi menjadi variabel independen, variabel dependen dan variabel
mediasi.
73
Variabel penelitian ini terdirii dari variabel independen dan variabel
dependen. Variabel dependen adaah profitabilitas, sedangkan variabel independen
adalah likuiditas, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan nilai pasar.
3.7.1 Variabel Dependen (Y)
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat
adanya variabel bebas (Sugiyono, 2009). Variabel dependen dalam penelitian ini
adalah profitabilitas yang di ukur dengan Return on Asset (ROA) dan Return On
Equidity.
3.7.2 Variabel Independen (X)
Variabel ini sering disebut dengan variabel bebas. Variabel bebas adalah
variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya
variabel dependen (terikat) (Sugiyono, 2009). Dalam penelitian ini menjadi variabel
bebas adalah likuiditas, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan nilai pasar.
Tabel 3.2 Definisi Operasional Variabel
No
Variabel
Definisi
1
Profitabilitas
profitabilitas adalah rasio Return on Asset
yang
Indikator
digunakan
untuk ROA = earning after
mengukur kemampuan dan tax / total assets X
keberhasilan
dalam
perusahaan 100%.
memperoleh
laba Return On Equity
yang hubungannya dengan
74
penjualan, aktiva maupun ROE = Earning after
investasi..
tax / modal sendiri X
100%
2
Likuiditas
likuiditas merupakan suatu Current Ratio
kemampuan
perusahaan CR = aktiva lancar /
untuk melunasi kewajiban hutang lancar
finansial
jangka
pendek
maupun
jangka
panjang
yang jatuh tempo pada tahun
bersangkutan
yang
harus
segera dipenuhi.
3
Pertumbuhan
Gross
Pertumbuhan
Dosmetik
ekonomi
Ekonomi
Product (GDP)
adalah
kenaikan
output
Gt = ((PDBt – PBD-1)
perkapita
yang
dimiliki
/ PBD-1)) X 100%
suatu negara.
4
Inflasi
Inflasi adalah suatu proses INFn = IHKn – INKnmeningkatnya
harga-harga 1 / HKn-1 X 100%
secara umum dan terusmenerus
(continue),
kenaikan harga dari satu atau
dua barang saja tidak dapat
disebut inflasi kecuali bila
75
kenaikan itu meluas pada
barang lainnya.
5
Nilai Pasar
market value adalah harga Marked valuae
saham yang paling mudah MV = Ln (harga pasar
ditebtukan
karena perlembar saham X
merupakan harga dari suatu jumlah saham yang
saham
pasar
perusahaan
yang
berlangsung
pada beredar)
sedang
atau
sudah
tutup, yang didasarkan pada
bursa utama oleh pelaku
pasar sebagai konsekuensi
dari posisi tawar antara
penjual dan pembeli saham,
sehingga
nilai
pasar
menunjukan fluktuasi dari
harga saham dimana harga
saham
sekarang
mencerminkan sepenuhnya
informasi
lampau,
pada
masa
informasi
yang
dipublikasikan
dan
76
informasi
yang
dipublikasikan.
tidak
DAFTAR PUSTAKA
Adikerta, I Made Angga, and Nyoman Abundanti. 2020. “Pengaruh Inflasi, Return
on Assets, Dan Debt To Equity Ratio Terhadap Harga Saham.” E-Jurnal
Manajemen
Universitas
Udayana
9
(3):
968.
https://doi.org/10.24843/ejmunud.2020.v09.i03.p08.
Ajibike, Omotayo. 2016. “The Effect of Banks Profitability on Economic Growth
in Nigeria.” IOSR Journal of Business and Management 18 (3): 2319–7668.
https://doi.org/10.9790/487X-18320109.
Akgun, Ali Ihsan, Famil Samiloglu, and Ali Osman Oztop. 2018. “The Impact of
Profitability on Market Value Added: Evidence from Turkish Informatics and
Technology Firms.” International Journal of Economics and Financial Issues
8 (4): 105–12.
Alicia, Dominica Dian. 2017. “Pengaruh Likuiditas Terhadap Profitabilitas Pada
Perusahaan Sub Sector Semen Yang Terdaftar Di Buesa Efek Indonesia
Periode 2011-2015,” 1–11.
Almira, Ni Putu Alma Kalya, and Ni Luh Putu Wiagustini. 2020. “Return on Asset,
Return on Equity, Dan Earning Per Share Berpengaruh Terhadap Return
Saham.” E-Jurnal Manajemen Universitas Udayana 9 (3): 1069.
https://doi.org/10.24843/ejmunud.2020.v09.i03.p13.
Amanah, Raghilia, and Devi Farah Azizah. 2012. “Pengaruh Rasio Likuiditas Dan
Rasio Profitabilitas Terhadap Harga Saham (Studi Pada Perusahaan Indeks
LQ45 Periode 2008-2012).” Jurnal Administrasi Bisnis 12 (1): 1–10.
Ambarita, Indah. 2018. “Manajemen Keuangan - Dana Jangka Pendek,” no. July
2016.
ASAD, MUZAFFAR. 2012. “Working Capital Management and Corporate
Performance of Textile Sector in Pakistan.” Paradigms 6 (1): 100–114.
https://doi.org/10.24312/paradigms060101.
Aviliani, Aviliani, Hermanto Siregar, Tubagus Nur Ahmad Maulana, and Heni
Hasanah. 2015. “The Impact of Macroeconomic Condition on The Banks
Performance in Indonesia.” Buletin Ekonomi Moneter Dan Perbankan 17 (4):
379–402. https://doi.org/10.21098/bemp.v17i4.503.
Awan, Maria Rasheed. 2014. “Impact of Liquidity, Leverage, Inflation on Firm
Profitability an Empirical Analysis of Food Sector of Pakistan.” IOSR Journal
of Business and Management 16 (1): 104–12. https://doi.org/10.9790/487x-
i
1617104112.
Bagh, Tanveer, Sadaf Razzaq, Tahir Azad, Idrees Liaqat, and Muhammad Asif
Khan. 2017. “The Causative Impact of Liquidity Management on Profitability
of Banks in Pakistan: An Empirical Investigation.” International Journal of
Academic Research in Economics and Management Sciences 6 (3).
https://doi.org/10.6007/ijarems/v6-i3/3151.
Bisinariwati, Nuri. n.d. “Rasio Keuangan,” 1–16.
Dewi, Vera Intanie, Catharina Tan Lian Soei, and Felisca Oriana Surjoko. 2019.
“The Impact of Macroeconomic Factors on Firms’ Profitability (Evidence
from Fast Moving Consumer Good Firms Listed on Indonesian Stock
Exchange).” Academy of Accounting and Financial Studies Journal 23 (1): 1–
6.
Dwi, Eris, and Agung Febrianto. 2015. “Pengaruh Rasio Likuiditas Dan
Solvabilitas Terhadap” 4 (8): 94–101.
Efendi, Fiona Mutiara, and Ngatno Ngatno. 2018. “Pengaruh Return On Assets
(ROA Terhadap Harga Saham Dengan Earning PerShare (EPS) Sebagai
Intervening (Studi Kasus Pada Perusahaan Sub SektorTekstil Dan Garmen
Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2016).” Jurnal
Administrasi Bisnis 7 (1): 1. https://doi.org/10.14710/jab.v7i1.22568.
Fanindya, Ika, and Shiddiq Nur Rahardjo. 2013. “Kebijakan Utang , Dan
Kepemilikan Manajerial Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa
Efek Indonesia Periode 2009 – 2011 )” 2: 1–10.
FARIANTIN, HJ. ERVIVA. 2019. “Pengaruh Return on Asset (Roa) Dan Net
Profit Margin (Npm) Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Farmasi Tbk
Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.” Ganec Swara 13 (1): 136.
https://doi.org/10.35327/gara.v13i1.73.
gerald edsel yermia egam, ventje hat dan sonny pangerapan. 2017. “Pengaruh
Return on Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM)
Dan Earning Per Share (EPS) Terhadap Harga Saham Perusahaan Yang
Tergabung Dalam Indeks LQ45 Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 20132015.” Problems of a Mature Economy 5 (1): 45–61.
https://doi.org/10.1007/978-1-349-15400-5_6.
Guan, Yang, Chunli Chu, Chaofeng Shao, Meiting Ju, Erfu Dai, César da Silva
Chagas, Helena Saraiva Koenow Pinheiro, et al. 2016. “Analisis Profitabilitas
Dalam Menilai Kinerja Keuangan Oada PT. Taspen (Persero) Medan.” Media
Konservasi
2
(1):
11–40.
http://dx.doi.org/10.1016/j.ecoenv.2017.03.002%0Ahttp://www.fordamof.org/files/Sistem_Agroforestri_di_Kawasan_Karst_Kabupaten_Gunungk
udul_Untuk_Pengelolaan_Telaga_Sebagai_Sumber_Air_Berkelanjutan.pdf%
0Ahttps://extension.msstate.edu/sites/default/files/pu.
Hanafi, Mamduh M. 2007. “Analisis Laporan Keuangan Edisi Kedua,” no.
November: 7–9.
Hanie, Ummu Putriana. 2018. “Pengaruh Rasio Likuiditas Dan Rasio Leverage
Terhadap Harga Saham Studi Pada Perusahaan Indeks LQ45 Periode 20142016.” Jurnal Administrasi Bisnis (JAB) 58 (1): 95–102.
Hery. 2017. “Analisis Laporan Keuangan,” 2015.
Hidayat, Taufik. 2016. “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja
Manajerial.”
Akuntabilitas
7
(1):
706–17.
https://doi.org/10.15408/akt.v7i1.2646.
Khoirudin, Rifki, and Desta Rizky Kusuma. 2017. “Kewajaran Nilai Pasar Saham
Perusahaan Pasca Right Issue.” Jurnal Ilmu Ekonomi Dan Pembangunan 16
(1). https://doi.org/10.20961/jiep.v16i1.2316.
Lubis, Ignatius Leonardus, Bonar M Sinaga, and Hendro Sasongko. 2017.
“Pengaruh Profitabilitas, Sruktur Modal, Dan Likuiditas Terhadap Nilai
Perusahaan.” Jurnal Aplikasi Bisnis Dan Manajemen 3 (3): 458–65.
https://doi.org/10.17358/jabm.3.3.458.
Madushanka, K. H. I., and M Jathurika. 2018. “The Impact of Liquidity Ratios on
Profitability.” International Research Journal of Advanced Engineering and
Science
3
(4):
157–61.
https://www.irjaes.com/pdf/V3N4Y18IRJAES/IRJAES-V3N4P297Y18.pdf.
Marjan, jorenza chiquita sumanti dan. 2015. “Analysis Of Managerial Ownership ,
Debt Policy And Profitability On Dividend Policy” 3 (1): 1141–51.
Minanari. 2529. “Pengaruh Profitabilitas, Manajemen Laba Dan Kebijakan
Deviden Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empiris Pada Perusahaan
Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2016.”
Moeljadi. 2006. “Manajemen Keuangan 1: Pendekatan Kuantitatif Dan Kualitatif,”
2006.
Mohamed Aymen Ben Moussa, and Zohra Hdidar. 2019. “Bank Profitability and
Economic Growth : Evidence From Tunisia.” European Journal of Economic
and
Financial
Research
3
(4):
81–96.
https://doi.org/10.5281/zenodo.3360735.
Nuraini, Ida. 2017. “Kualitas Pertumbuhan Ekonomi Daerah Kabupaten / Kota Di
Jawa Timur.” Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 15: 79–93.
Nuryadi, Tutut Dewi Astuti, Endang Sri Utami, And Martinus Budiantara. 2017.
Dasar-Dasar Statistika Penelitian. http://lppm.mercubuana-yogya.ac.id/wpcontent/uploads/2017/05/Buku-Ajar_Dasar-Dasar-Statistik-Penelitian.pdf.
Octaviani, Santi, and Dahlia Komalasarai. 2017. “Pengaruh Likuiditas,
Profitabilitas, Dan Solvabilitas Terhadap Harga Saham (Studi Kasus Pada
Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia).” Jurnal
Akuntansi. 3 (2): 77–89.
Perdana, Echo. 2016. Olah Data Skripsi Dengan SPSS 22. Lab Kom Manajemen
Fe Ubb.
prof. jeevitha R, Dr. Binoy Mathew. Ms. koka Kali Shardha. 2019. ““ Impact Of
Inflation On Bank ’ S Profitability ” A Study On Select” 6 (6): 38–44.
Rosikah et al. 2018. “Effects of Return on Asset , Return On Equity , Earning Per
Share on Corporate Value.” The International Journal of Engineering and
Science (IJES 7 (3): 6–14. https://doi.org/10.9790/1813-0703010614.
Samo, Asif Hussain, and Hadeeqa Murad. 2019. “Impact of Liquidity and Financial
Leverage on Firm’s Profitability – an Empirical Analysis of the Textile
Industry of Pakistan.” Research Journal of Textile and Apparel 23 (4): 291–
305. https://doi.org/10.1108/RJTA-09-2018-0055.
Satisfaction, Job, Shujaat Farooq, and Usman Ahmed. 2016. “Pakistan Institute of
Development Economics , Islamabad Twenty-Third Annual General Meeting
and Conference of the Pakistan Society of Development Underemployment ,
Education , And” 46 (4).
Sattar, Ali Raza. 2020. “Impact of Liquidity on Profitability : A Case of
Comparison in Textile Sector in Pakistan between 2014 and 2015” 9 (1): 13–
19.
shaheen, sadia, dan qaisar ali malik. 2012. “The Impact of Capital Intensity , Size
of Firm And Profitability on Debt Financing In Textile Industry of Pakistan
Sadia Shaheen ( Principal Author ) Foundation University Islamabad Qaisar
Ali Malik ( Corresponding Author ) Assistant Professor , Foundatio,” 1061–
66.
Simanjorang, Regina Christine. 2020. “Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Dan
Inflasi Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Makanan Dan Minuman Di”
4: 442–49.
Soebiantoro, sujoko ugy. 2007. “Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham , Leverage
, Faktor Intern Dan Faktor Ekstern Terhadap Nilai Perusahaan ( Studi Empirik
Pada Perusahaan Manufaktur Dan Non Manufaktur Di Bursa Efek Jakarta ),”
no. 1976: 41–48.
Suhardi, Afrizal. 2019. “Bagaimana Pecking-Order Theory Menjelaskan Struktur
Permodalan Bank Di Indonesia ?,” no. April.
Suhendro, Dedi. 2017. “Analisis Profitabilitas Dan Likuiditas Untuk Menilai
Kinerja Keuangan Pada PT Siantar Top Tbk.” Jurnal Ekonomi Dan Bisnis
Islam 4 (2): 218–35.
Sulieman Alshatti, Ali. 2014. “The Effect of the Liquidity Management on
Profitability in the Jordanian Commercial Banks.” International Journal of
Business
and
Management
10
(1):
62–71.
https://doi.org/10.5539/ijbm.v10n1p62.
Supardi. 1990. “Populasi Dan Sampel Penelitian,” no. April 1952: 100–108.
Susanti, Hewi. 2017. “Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Dan Pengeluaran
Pemerintah Aceh Terhadap Pendapatan Asli Daerahprovinsi Aceh Setelah
Tsunami.” Jurnal Ekonomi Dan Kebijakan Publik Indonesia 4 (1): 1–12.
Syahputra, Rinaldi. 2017. “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia (1990-2016).” Jurnal Samudra
Ekonomika
1
(2):
183–89.
https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/8498/M Eko Yansyah
Putra S.E..pdf?sequence=1.
Talha, Mohammad, S. Benjamin Christopher, and A. L. Kamalavalli. 2010.
“Sensitivity of Profitability to Working Capital Management: A Study of
Indian Corporate Hospitals.” International Journal of Managerial and
Financial
Accounting
2
(3):
213–27.
https://doi.org/10.1504/IJMFA.2010.034115.
Tan, Yong, and Christos Floros. 2012. “Bank Profitability and GDP Growth in
China: A Note.” Journal of Chinese Economic and Business Studies 10 (3):
267–73. https://doi.org/10.1080/14765284.2012.703541.
Tandelilin, Eduardus. n.d. “Portofolio Dan Investasi, Teori Dan Aplikasi,” 129713.
Then, Richard. 2018. “Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Nilai Pasar (Market
Value) Dengan Profitabilitas Sebagai Variabel Mediasi Pada Perusahaan Ritel
Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2016.” National
Conference
of
Creative
Industry,
no.
September:
5–6.
https://doi.org/10.30813/ncci.v0i0.1308.
Waleed, Ahmad, Ahmad Tisman Pasha, and Adeel Akhtar. 2016. “Exploring the
Impact of Liquidity on Profitability: Evidence from Banking Sector of
Pakistan.” Journal of Internet Banking and Commerce 21 (3).
https://doi.org/10.2139/ssrn.2899817.
Watung, Rosdian, and Ventje Ilat. 2016. “Pengaruh Return on Asset (Roa), Net
Profit Margin (Npm), Dan Earning Per Share (Eps) Terhadap Harga Saham
Pada Perusahaan Perbankan Di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015.”
Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi 4 (2): 518–29.
https://doi.org/10.35794/emba.v4i2.13108.
www.idx.co.id. 2020. “Emiten Yang Terdafaftar Di Bursa Efek Indonesia.”
http:www.idx.co.id 06/09/2020 30 (X): 52–54.
www.sahamok.com.“Perusahaan Perbankan Yang Tercatat Di Bursa Efek
Indonesia.” http:www.sahamok.com 06/09/2020.
www.bps.go.id “Badan Pusat Statistik”. http:www.bps.go.id 06/09/2020 33 (X):
23-24
Lampiran
No.
1
Gap
Terdapat perbedaan
temuan hasil
penelitian tentang;
Pengaruh Likuiditas
terhadap Profitabilitas
Temuan
likuiditas berpengaruh
positif tapi tidak signifikan
Likuiditas berpengaruh
negatif tapi tidak signifikan
likuiditad berpengaruh
Positif & signifikan
2
3
4
Terdapat perbedaan
temuan hasil
penelitian tentang;
Pengaruh Inflasi
terhadap Profitabilitas
Terdapat perbedaan
temuan hasil
penelitian tentang;
PengaruhPertumbuhan
Ekonomi terhadap
Profitabilitas
Terdapat perbedaan
temuan hasil
penelitian tentang;
Pengaruh Nilai Pasar
terhadap Profitabilitas
(Nilai Perusahaan)
Peneliti
Ali Suleiman Alshatti (2015), Ali Raza Sattar (2019),
Likuiditas berpengaruh
negatif & signifikan
K.H.I Madushanka & M. Jathurika (2018),
Tanveer Bagh, Sadaf Razzaq, Tahir Azad,
Idress Liaqad dan Muhammad Asif Khan
(2017), Ali Raza Sattar (2019), Ahmad
Waleed, Ahmad Tisman Pasha dan Adeel
Akhtar (2016)
Tanveer Bagh, Sadaf Razzaq, Tahir Azad, Idress Liaqad dan
Muhammad Asif Khan (2017),
Inflasi berpengaruh Positif
tapi tidak signifikan
Mariia Rasheed Awan (2014), Prof. Jeevitha R, Dr. Bimoy Mathew, Ms.
Koka Kali Shardha (2019),
Inflasi berpengaruh negatif
tapi tidak signifikan
Mariia Rasheed Awan (2014),
Inflasi berpengaruh Positif
& signifikan
Vera Intanie Dewi, Catharina Tan Lian Soe, Felisca Orina Surjoko
(2019)
Inflasi berpengaruh negatif
& signifikan
Mariia Rasheed Awan (2014),
Pertumbuhan Ekonomi
berpengaruh Positif tapi
tidak signifikan
Pertumbuhan Ekonomi
berpengaruh negatif tapi
tidak signifikan
Pertumbuhan Ekonomi
berpengaruh Positif &
signifikan
Mohammed Aymen Ben Moussa dan Zohra Hdidar (2019),
Pertumbuhan Ekonomi
berpengaruh negatif &
signifikan
Omotayo Ajibeke Adekola (2016),
Nilai Pasar berpengaruh
Positif tapi tidak signifikan
Rosikah, Dwi Kartika Prananigrum, Dzulfikri Azis Muthalib, Muh
Irfandy Azzis, iswar Rohansyah (2018),
Nilai Pasar berpengaruh
negatif tapi tidak signifikan
Nilai Pasar berpengaruh
Positif & signifikan
Rosikah, Dwi Kartika Prananigrum, Dzulfikri Azis Muthalib, Muh
Irfandy Azzis, iswar Rohansyah (2018), Ali Ihsan Akgun, Famil
Samiloglu dan Ali Osman Oztop (2018),
Nilai Pasar berpengaruh
negatif & signifikan
Ali Ihsan Akgun, Famil Samiloglu dan Ali Osman Oztop (2018),
Metode
Download