Uploaded by User99537

BUNDEL FERMENTASI

advertisement
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan lengkap praktikum Biokimia dengan judul “Fermentasi”, yang telah
disusun oleh:
Nama
: Yunanda Fitri Ramadhani
NIM
: 1313142011
Kelas
: Kimia B
Kelompok
: VI (enam)
telah diperiksa oleh asisten dan koordinator asisten dan dinyatakan diterima.
Makassar,
Koordinator Asisten
Andi Candra
Januari 2015
Asisten
Dipo Ade Putra Iskandar
Mengetahui,
Dosen Penanggung Jawab
Prof. Dr. Sudding, M.Si
.
NIP. 19571220 198602 2 001
I.
JUDUL PERCOBAAN
Fermentasi
II.
TUJUAN PERCOBAAN
Untuk mempelajari kemampuan memfermentasi amilum, glukosa, fruktosa,
galaktosa, oleh beberapa jenis inokulum murni ragi roti (Saccharomyces sereviceae),
ragi tape, dan inokulum murni Rhizopus oligosporus.
III. TINJAUAN PUSTAKA
Fermentasi meruPakan proses perubahna kimia yang disebabkan oleh aktivitas
mikroorganisme untuk memperoleh energy dengan memecah substrat untuk
pertumbuhan dan metabolism dari mikoorganisme tersebut. Proses fermentasi untuk
menghasilkan energy berupa ATP berlangsung secara anaerob atau tanpa bantuan
oksigen. Dimana ATP yang dihasilkan hanya dengan fosforilasi tingkat subsrat
sepanjang terdapat pasokan NAD+ yang cukup untuk menerima electron saat oksidasi.
Fermentasi terbagi atas fermentasi alcohol dan fermentasi asam laktat. Dimana
fermentasi alcohol berlangsung oleh mikoorganisme melalui pelepasan CO2 dan
pembentukan etanol. fermentasi asam laktat oleh fungi dan bakteri tanpa melepas
CO2, umumnya digunakan pada pembuatan keju dan yogurt (Campbel, 2002: 174).
Fermentasi menggunakan mikroorganisme, dimna mikroorganisme dapat
memecah pati menjadi senyawa yang lebih sederhana. Pati merupakan polisakarida
yang tersususn atas 20% amilosa dan juga kandungan 80% amilopektin. Dimana
amilosa dapat larut sedangkan amilopektin tidak dapat larut bila ditiraturasi secara
parsial, dan membentuk D-glukosa apabila dihidrolisis sempurnanya, namun
hidrolisis parsialnya menghasilkan maltos dan isomaltosa (Fessenden, 1982: 354).
Glukosa dapat diperoleh dengan menghidrolisis amilum dengan asam amino.
Namun, apabila dihidrolisis dengan amilase akan membentuk maltose. Hasil
hidrolisis amilum dipengaruhi oleh reaktannya. Pada hidrolisis amilum dengan enzim
ataupun dengan mikoorganisme. Seperti halnya hidrolisis amilum dengan bakteri
tertentu akan menghasilkan sakarida yang lebih sederhana (Sumardjo, 2009: 228).
Hasil hidrolisis pati menjadi senyawa yang lebih sederhana oleh adanya
mikroorganisme dapat diidentifikasi dengan penetesan iodium. Apabila pati telah
mengalami hidrolisis maka akan Nampak zona jernih di atas pemrukaan media.
Pemilihan kapang dan khamir dapat mempengaruhi proses fermentasi. Misalnya pada
penggunaan kapang mampu menghidrolisis pati walaupun terdapat perbedaan
kesempurnaan pada hasil hidrolisisnya. Sehingga kapang dan khamir yang sesuai
dapat mempengaruhi proses hidrolisis pati serta fermentasinya. Dimana, kapang dapat
mengkonversi pati menjadi glukosa, khamir dapat mengkonversi glukosa menjadi
etanol dan karbon dioksida pada proses fermentasi (Meliawati, 2006: 102).
Proses fermentasi pada 24 jam pertama merupakan konsumsi gula yang tinggi
untuk pertumbuhan Rhizopus oryzae. Glukosa menjadi sumber pembentuk energi dan
pembentuk CO2. Dalam pembentuk energi glukosa difermentasi oleh Rhizopus
oryzae menjadi asam laktat, etanol dan asam organic lainnya serta energy. Dan pada
pembentukan CO2, glukosa diubah menjadi biomassa (Pramudyanti, 2004: 22).
Faktor – faktor yang mempengaruhi lama fermentasi yaitu: substrat, suhu, pH,
oksigen, dan pH yang digunakan. Dimana substrat yaitu bahan baku fermentasi
sebagai penghasil energy bagi mikroba. Misalnya karbohidrat yang dikonversi oleh
Saccharomyces cereviceae menjadi etanol oleh enzi, invertase dan zimase. Jika
substratnya adalah disakarida, maka enzim invertase akan mengkonversinya menjadi
monosakarida dan enzim zimase akan mengubah monosakarisa menjadi etanol. Suhu
optimum pembentukan fermentasi yaitu pada 30°C - 35°C puncak produksi. Jika suhu
rterlalu rendah, proses akan lambat, dan jika terlalu tinggi maka khamir akan mati /
rusak. Dan produksi maksimal etanol dapat dicapai pada pH 4,5. Serta mikroba
pemilihannya yang tepat mempengaruhi proses fermentasi pada konversi adanya gula
menjadi alcohol (Azizah, 2012: 74-75).
Pengaruh pH pada proses fermentasi mempengaruhi prose fermentasi.
Bertambahnya waktu fermentasi akan menurunkan kadar glukosa sehingga aktivitas
ragi menurun sesuai dengan berkurangnya substrat dan nutrient yang tersedia. Hal ini
juga berpengaruh pada jumlah asam organic yang terbentuk sebagai residu dalam
pembuatan bioetanol seiring dengan penurunan aktivitas ragi. Reaksi pembentukan
etanol dari glukosa berlangsun sesuai persamaan reaksi:
C6H12O6 → 2C2H5OH + 2CO2
(glukosa)
(etanol) (karbon dioksida)
Pemanfaatan fermentasi mikoroganisme secara konvensional sering dijumpai
pada pembuatan makanan dan minuman tradisional ytang memberikan aroma dan cita
rasa yang khas. Misalnya pada pembuatan beraneka macam tempe (tempe kedelai,
tempe bunguk, tempe ampas kacang tanah, atau tempe bungkil dengan menggunakan
Rhizopus oligosporus, Rhizopus arhizus), pada fermentasi oncom dengan
menggunakan Neurospora intermedia, fermentasi tauco dengan Rhizopus oryzae,
pembuatan kecap dengan Aspergilus oryzae, dan lain-lain (Gandjar, 2006: 126).
Proses
fermentasi
menggunakan
amilum
dengan
adanya
ragi
dapat
diidentifikasi apakah khamir dan kapang dapat menghidrolisis amilum menjadi
senyawa yang lebih sederhana dengan beberapa pengujian. Yaitu uji benedict, uji
fehling, dan uji tollens. Ketiga pereaksi ini akan menghasilkan uji positif pada gula
pereduksi, dimana fehling juga demikian, dan uji tollens akan menghasilkan cermin
perak (Sumardjo, 2009: 237).
IV. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
1.
Autoclaft
1 buah
2.
Batang pengaduk
1 buah
3.
Botol semprot
1 buah
4.
Gelas kimia 25 ml
3 buah
5.
Gelas ukur 10 ml
1 buah
6.
Gelas ukur 25 ml
2 buah
7.
Lap kasar dan halus
1 buah
8.
Pipet tetes
1 buah
9.
Plat tetes
1 buah
10. Rak tabung reaksi
1 buah
11. Spatula
1 buah
12. Tabung reaksi
15 buah
B. Bahan
1.
Amilum 1 %
(C6H10O5)n
2.
Aquades
(H2O)
3.
Fruktosa
(C6H12O6)
4.
Galaktosa
(C6H12O6)
5.
Glukosa
(C6H12O6)
6.
Iod 0,1%
(I2)
7.
Pereaksi benedict
(Cu2+)
8.
Pereaksi tollens
(Ag(NH2)2OH)
9.
Kapas penutup
10. Ragi roti
11. Ragi tape
12. Ragi tempe
V. PROSEDUR KERJA
A. Tes hidrolisis pati
1.
Suspensi ragi roti, ragi tape, dan ragi tempe dilarutkan ke dalam 25 ml aquades
2.
Sebanyak 1 ml larutan amilum dimasukkan ke 10 lubang plat tetes dan diberi
penomoran 1-10
3.
Pada plat tetes nomor 2,3,4 ditambahkan masing-masing 1 ml suspense ragi roti,
ragi tape, dan ragi tempe, lubang 5,6,7 ditambahkan 1 ml suspensi ragi tape dan
lubang 8,9,10 ditambahkan 1 ml suspense ragi tempe. Dan nomor 1 ditambahkan
air sebagai kontrol
4.
Setelah 5 menit, masing-masing lubang 2,5,8 ditambahkan iod 0,1%, setelah 10
menit pada 3,6,9, dan setelah 15 menit pada 4,7,10
5.
Masing-masing perubahan dicatat dan disimpulkan berdasarkan data
B. Fermentasi alcohol
1.
Sebanyak 15 buah tabung reaksi disipakan di atas rak tabung
2.
Larutan pati 1% dimasukkan pada tabung reaksi 1,2,3 ditutup dengan kapas
3.
Hal yang sama dilakukan pada tabung reaksi lain dengan masin-masing larutan
glukosa, fruktosa, dan galaktosa
Ke-12 tabung reaksi disterilisasi pada suhu 110°C selama ± 10 menit
4.
VI. HASIL PENGAMATAN
A. Tes hidrolisis pati
No.
1.
Aktivitas
Lubang 1
4 tetes amilum + 4 tetes H2O
(tak berwarna)
2.
Lubang 2,3,4
(tak berwarna)
Larutan keruh
(tes hidrolisis)
Lubang 5,6,7
4 tetes amilum + 4 tetes suspensi ragi tape
(tak berwarna)
4.
Larutan tak berwarna
(tes hidrolisis)
4 tetes amilum + 4 tetes suspensi ragi roti
3.
Pengamatan
Larutan keruh
(tes hidrolisis)
Lubang 8,9,10
4 tetes amilum + 4 tetes suspensi ragi
Larutan keruh
tempe
(tak berwarna)
5.
Setelah 5 menit, pada lubang 2,5,8
Larutan biru muda (lubang 2),
Campuran + 1 tetes iod 0,1 %
berwarna biru (lubang 5 dan 8)
(keruh)
6.
(tes hidrolisis)
(kuning)
Setelah 10 menit, pada lubang 3,6,9
Larutan berwarna biru
Campuran + 1 tetes iod 0,1 %
(lubang 3,6,9)
(keruh)
(kuning)
7.
Setelah 15 menit, pada lubang 4,7,10
Campuran + 1 tetes iod 0,1 %
(keruh)
8.
(kuning)
Larutan berwarna biru tua
(lubang 4,7,10)
Pada tabung1, sebagai kontrol
Air
+ 1 tetes iod 0,1 %
Larutan berwarna biru
(tak berwarna) (kuning)
B. Fermentasi alcohol
No.
1.
Aktivitas
Masukkan larutan pati 1% pada tabung 1,2,3
Pengamat
Larutan tak berwarna
(tutup dengan kapas), dan disterilisasi
2.
Masukkan larutan glukosa pada tabung 4,5,6
Larutan tak berwarna
(tutup dengan kapas), dan disterilisasi
3.
Masukkan larutan fruktosa pada tabung 7,8,9
Larutan tak berwarna
(tutup dengan kapas), dan disterilisasi
4.
Masukkan larutan galaktosa pada tabung
Larutan tak berwarna
10,11,12 (tutup dengan kapas), dan disterilisasi
5.
Tambahkan ragi roti pada tabung reaksi 1,4,7,10
Larutan keruh
dan diinkubasi
6.
Tambahkan ragi roti pada tabung reaksi 2,5,8,11
Larutan keruh
dan diinkubasi
7.
Tambahkan ragi roti pada tabung reaksi 3,6,9,12
Larutan keruh
dan diinkubasi
8.
9.
Memeriksa adanya gas CO2 dengan
Tabung 1 terdapat CO2,
menggoyang-goyangkan setiap percobaan
tabung 2-12 tidak ada CO2
Memeriksa adanya bau alkohol dengan mencium
Tabung 1-6 dan 8-12 tidak
bau pada mulut tabung
terdapat bau alcohol,
Tabung 7 ada bau alcohol
10.
Tabung 1-3 dilakukan uji benedict dan uji tollens Uji benedict
Tabung 1 dan 3 : Tabung 2 : endapan merah
Uji tollens
Tabung 1- 3 : tidak ada
cermin perak
VII. PEMBAHASAN
Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari kemampuan memfermentasi
amilum, glukosa, fruktosa, dan galaktosa oleh beberapa jenis inokulum murni ragi
roti (Saccharomyces cereviceae), ragi tape, dan inokulum murni Rhizopus
oligosporus. Dimana percobaan ini dilakukan melalui dua tahapan percobaan, yaitu:
A. Tes hidrolisis pati
Percobaan ini dilakukan untuk menguji amilum atau pati yang dihidrolisis
menjadi glukosa dengan penambahan mikroba yaitu ragi roti, rage tape, dan ragi
tempe dalam suspensinya. Mikroba pada beberapa jenis jenis ragi ini disuspensikan
dengan air agar mudah direaksikan pada fasa cair. Percobaan ini menggunakan plat
tetes sebagai media yang telah diisi amilum 1% pada nomor plat tetes 1-10.
Lubang plat tetes nomor 2,3,4 diisi dengan suspensi ragi roti, lubang plat tetes
nomor 5,6,7 diisi dengan suspensi ragi tape, dan lubang plat tetes nomor 8,9,10 diisi
dengan suspensi ragi tempe, serta lubang plat tetes nomor 1 diisi dengan aquades
sebagai kontrol. Penambahan suspensi ragi berfungsi untuk membandingkan ragi
mana yang dapat menghidrolisis pati menjadi monomer-monomernya, yaitu
monosakarida / oligosakarida. Pada lubang yang diisi suspensi ragi roti menghasilkan
larutan keruh. Hal ini sesuai denga teori, dimana ragi roti mengandung kapang dan
khamir, dimana kapang dapat menghidrolisis pati (Katrika, 2014: 6). Pada lubang
yang diisi suspensi ragi tempe juga menghasilkan larutan keruh, dikarenakan amilum
telah terhidrolisis menjadi amilopektin. Hal ini sesuai dengan teori dimana ragi tempe
terdiri atas kapang (Rhizopus oligosporus) dapat mengkonversi pati menjadi glukosa
(Tim Dosen Biokimia, 2014: 1). Menurut reaksi:
HOCH2
O
HOCH2
HOCH2
OH
O
OH
HOCH2
OH
O
O
H2O
OH
H2O
OH
O
O OH
OH
HOCH2
HOCH2
OH
OH
glukosa
OH
O
OH
(pati)
OH
O
O
O
OH
amilopektin
Lubang yang diisi suspensi ragi tape menghasilkan larutan keruh. Hal ini
sesuai dengan teori, dimana ragi tape terdapat mikroba Rhizopus aspergillus yang
dapat menghidrolisis amilum menjadi glukosa (Bsuka, 2014: 1).
Interval waktu tertentu, setiap plat ditambah dengan larutan iod 0,1 N yang
berfungsi untuk mengetahui pembentukan kompleks dengan perubahan warna
menjadi biru tua dan saat pati terhidrolisis maka warna biru akan semakin memudar
atau hilang seiring lamanya proses hidrolisis (Fessenden, 1982: 354). Setiap plat tetes
yang tambahkan dengan iod berubah menjadi warna biru dengan intensitas warna
yang berbeda. Plat nomor 2 menghasilkan warna bitu muda, plat nomor 1,3,5,6,8,9
berwarna biru, dan plat nomor 4,7,10 berwarna biru tua yang diperoleh tidak sesuai
dengan teori, dimana semakin lama waktu yang digunakan maka amilum semakin
terhidrolisis dan intensitas warna biru akan semakin memudar (Fessenden, 1982:
354). Adapun reaksi antara sakarida dan larutan iod, yaitu:
(C6H10O5)n + H2O + I2
(sakarida)
(C6H10O5)nI + H2
(kompleks iodin amilum)
B. Fermentasi alkohol
Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari kemampuan memfermentasi
amilum, glukosa, fruktosa, dan galaktosa oleh bebrapa jenis mikroba yaitu ragi roti,
ragi tape, tagi tempe yang ditandai dengan terbentuknya alkohol dan karbon dioksida.
Percobaan ini dilakukan dengan mengisis 3 tabung reaksi dengan amilum,
glukopsa, fruktosa, dan galaktosa. Setiap tabung ditutup dengan kapas dan
disterilisasi pada suhu 110ºC. atbung reaksi ditutup dengan kapas berfungsi agar tidak
ada oksigen yang masuk karena fermentasi yang dilakukan adalah reaksi anaerob
yang tidak memerlukan adanya oksigen. Tabung disterilisasi untuk mematikan
mikoorganisme yang dapat mengganggu proses fermentasi. Dan pada tabung yang
berisis amilum ditambahkan suspense ragi roti, ragi tape, dan ragi tempe. Dan
dilakukan hal yang sama pada tabung yang berisis glukosa, fruktosa dan galaktosa.
Tabung reaksi ini diinkubasi dalam autoclaft agar reaksi dapat berlangsung maksimal.
Setelah diuji dengan menggoyangkan tabung, dideteksi adanya bau alcohol pada
tabung reaksi 7 yang berisi fruktosa dan ragi roti, serta adanya CO2 hanya pada
tabung reaksi 1 yang berisi amilum menjadi glukosa, lalu menjadi alcohol dan CO2
oleh adanya mikroba Saccharomyces cereviceae. Seharusnya terjadi uji positif di
tabung yang ditambahkan amilum, glukosa, fruktosa, galaktosa dengan ragi roti dan
ragi tape (Tim Dosen Biokimia, 2014: 1). Reaksi fermentasi yaitu:
C6H12O6 → 2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP
(glukosa)
(etanol)(karbon dioksida)
Pengujian tabung yang berisi amilum dan ketiga jenis ragi, menghasilkan
endapan merah pada tabung 2 yang berisi amilum dan ragi tape ketika ditambahkan
pereaksi benedict. Hal ini sesuai denga teori, namun ragi roti dan ragi tempe juga
dapat mengkonversi amilum menjadi glukosa, dan kemudian dapat mereduksi
pereaksi benedict akibat ion Cu2+ yang tereduksi menjadi Cu2O yang berupa endapan
merah bata oleh glukosa tersebut (Sumardjo, 1990: 237). Reaksinya yaitu:
HOCH3
HO
COOH
O
+
OH
glukosa
OH
2Cu2+
O
+ H2O
OH
O
+
C
H
HO
OH
Cu2O
endapan
merah bata
+
2 H+
Pengujian dengan pereaksi tollens tidak ada yang membentuk cermin perak.
Hal ini tidak sesuai dengan teori, dimana amilum dapat mengkonversi menjadi
glukosa oleh ragi roti, ragi tape, ragi tempe yang kemudian dapat mereduksi tollens
dengan terbentuknya cermin perak (Ag), yang melekat pada dinding tabung
(Sumardjo, 2009: 238). Reaksinya yaitu:
HOCH3
HO
COONH2
O
+
OH
O
Ag(NH2)2OH
OH
glukosa
OH
O
+
C
H
HO
Ag
+
H 2O
cermin perak
OH
Penyimpangan yang terjadi pada percobaan disebabkan bahan yang digunakan
telah terkontaminasi dengan zat lain atau mikroba lain sehingga rekasi tidak
berlangsung sebagaimana mestinya.
VIII. PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa ragi roti,
ragi tape, dan ragi tempe dapat mengkonversi amilum menjadi gula sederhana oleh
adanya kapang (Rhizopus atau Asspergillus). Dan hanya ragi roti dan ragi tape yang
dapat mengkonversi gula menjadi alcohol dan karbon dioksida oleh adanya khamis
yang sama pada kedua ragi yaitu Saccharomyces cereviceae.
B. Saran
Diharapkan agar memperhatikan kebersihakn alat yang digunakan serta bahanbahan untuk percobaan masih murni (tidak terkontaminasi) oleh zat lain karena
proses fermentasi dapat terganggu oleh mikroba dan dapat merusak proses percobaan.
DAFTAR PUSTAKA
Azizah, dkk. 2012. Pengaruh Lama Fermentasi Terhadap Kadar Alkohol, pH, dan
Produksi Gas pada Proses Fermentasi Bioetanol dari Whey dengan Substitusi
Kulit Nanas. Jurnal Aplikasi Teknologi Panas, Vol. 12, No. 2.
Fessenden, dkk. 2012. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.
Gandjar, Indrawati, dkk. 2006. Mikologi Dasar dan Terapan. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
Melliawati, Ruth, dkk. 2006. Seleksi Mikroorganisme Potensial untuk Fermentasi
Pati Sagu. Jurnal Biodiversitas, Vol. 7, No. 2.
Pramudyanti, Idayu R, dkk. 2004. Pengaruh Pengaturan pH dengan CaCO3 terhadap
Produksi Asam Laktat dari Glukosa oleh Rhizopus Oryzae. Jurnal
Bioteknologi, Vol.1, No. 1.
Reece, Campbell, dkk. 2013. Kinetika Reaksi Fermentasi Glukosa Hasil Hidrolisis
Pati Biji Durian Menjadi Etanol. Kimia Stundent Journal, Vol.2, No. 1.
Sumardjo, Damin, 2009. Pengantar Kimia. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Download