Uploaded by nitsafaikoh

husaini contoh kuesioner kating

advertisement
Hubungan Antara Persepsi Jenis Pola Asuh Orang Tua Terhadap
Risiko Perilaku Bullying Siswa di SMA Triguna Utama Ciputat
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)
oleh :
Ari Nur Husaini
109104000010
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1434 H/2013
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah
satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 Keperawatan di Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas islam negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan jiplakan dari hasil karya orang lain, maka saya bersedia
menenrima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, Juli 2013
(Ari Nur Husaini)
ii
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi dengan Judul :
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI JENIS POLA ASUH ORANG
TUA TERHADAP RISIKO PERILAKU BULLYING SISWA DI
SMA TRIGUNA UTAMA CIPUTAT
Telah disetujui dan diperiksa oleh pembimbing skripsi
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Disusun Oleh ;
Ari Nur Husaini
NIM : 109104000010
Pembimbing I
Pembimbing II
Ns. Eni Nur’aini Agustini, S.Kep, Msc
Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB
NIP: 198008022006042001
NIP : 197311061005012003
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1433 H/2013 M
iii
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi dengan judul
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI JENIS POLA ASUH ORANG
TUA TERHADAP RISIKO PERILAKU BULLYING SISWA DI
SMA TRIGUNA UTAMA CIPUTAT
Telah disetuji dan dipertahankan dihadapan penguji oleh :
Ari Nur Husaini
109104000010
Pembimbing I
Pembimbing II
Ns. Eni Nur’aini Agustini, S.Kep, MSc
NIP. 198008022006042001
Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB
NIP . 197311061005012003
Penguji I
Penguji II
Yenita Agus, M.Kep, Sp.Mat, Ph.D
NIP. 197206082006042001
Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB
NIP . 197311061005012003
Penguji III
Ns. Eni Nur’aini Agustini, S.Kep, MSc
NIP. 198008022006042001
iv
LEMBAR PENGESAHAN
SIDANG UJIAN SKRIPSI
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Ciputat, Juli 2013
Mengetahui,
Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Ns. Waras Budi Utomo, S.Kep, MKM
NIP. 19790520 200901 1012
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Prof. DR.(Hc), dr. M.K, Tadjudin, Sp. And
v
RIWAYAT HIDUP
Nama
: Ari Nur Husaini
Tempat, Tgl lahir
: Sumedang, 14 mei 1991
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Agama
: Islam
Alamat
: Dusun Kaum no. 25 RT 03 RW 04 Desa Jatisari, Kecamatan
Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Kode pos : 45362
Hp
: 085216041866
Email
: [email protected]
Riwayat Pendidikan :
1. TK Cut Nyak Dhien Tanjungsari
(1996-1997)
2. SDN Tanjungsari 2
(1997-2003)
3. MtsN Ciwaringin Cirebon
(2003-2006)
4. MAN Model Ciwaringin Cirebon
(2006-2009)
5. S-1 Keperawatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(2009-2013)
vi
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Skripsi, Juni 2013
Ari Nur Husaini, NIM: 109104000010
Hubungan antara Persepsi Jenis Pola Asuh Orang Tua Terhadap Risiko
Perilaku Bullying Siswa di SMA Triguna Utama Ciputat
Xii + 85 halaman + 8 tabel + 2 bagan + 8 lampiran
ABSTRAK
Salah satu kenakalan remaja yang sering terjadi adalah perilaku bullying.
Bullying adalah penindasan terhadap seseorang yang lebih kuat kepada yang lebih
lemah, dan dilakukan berulang kali baik oleh individu atau kelompok. Bullying
memiliki dampak yang buruk, sehingga harus dikurangi kejadiannya. Salah satu yang
menyebabkan bullying adalah pola asuh orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk
melihat hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku
bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat.
Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan desain deskirptif korelatif dan teknik
sampling stratified random sampling. Jumlah sampel yang digunakan adalah 71.
Penelitian dilakukan pada Juni 2013. Pengumpulan data menggunakan data
demografi, kuesioner persepsi jenis pola asuh orang tua dan risiko perilaku bullying.
Hasil uji instrumen penelitian didapatkan hasil reliabilitas sebesar 0,913 untuk
persepsi pola asuh dan 0,915 untuk risiko perilaku bullying.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden 43,7 % memiliki
persepsi pola asuh demokratis dan memiliki risiko perilaku bullying rendah sebesar
77,8 %. Hasil uji statistik menggunakan uji Lambda dengan α=0,05 diperoleh hasil
bahwa ada hubungan yang signifikan antara persepsi jenis pola asuh orang tua
terhadap risiko perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat (p
value=0,000) dengan nilai r= 0,583. Berdasarkan penelitian ini, sekolah bersama
orang tua siswa diharapakan dapat lebih memperhatikan bullying, dan tidak
menganggap bullying sebagai hal yang biasa terjadi di sekolah, dan dapat juga
melakukan kerja sama dengan bidang keperawatan untuk pencegahan sampai
penanggulangan bullying seperti, penyuluhan tentang problem solving, manajemen
marah, atau penyuluhan bullying beserta dampak dan cara menanganinya.
Kata kunci: Persepsi jenis pola asuh, Perilaku bullying, remaja.
Daftar bacaan : 70 (1996-2013)
vii
ABSTRACT
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE
SCHOOL OF NURSING
ISLAMIC STATE UNIVERSITY (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Undergraduates Thesis, Juny 2013
Ari Nur Husaini, NIM: 109104000010
The Correlation between Student’s Perceptions of Parenting Types with
Bullying Behavior among study in SMA Trigua Utama Ciputat
Xii + pages + 8 tables + 2 charts + 8 attachments
One of adolescent mischief that often happens is bullying behavior. Bullying
is oppression against someone stronger to weaker, and done repeatedly either by
individuals or groups. Bullying has a bad impact, so it must be reduced. One of the
causes of bullying are parenting types. So the purpose of study is This study aimed to
examine the relationship between perceptions of patterns in parenting on the risk
bullying behavior of students in SMA Triguna Utama Ciputat.
The type of this study is quantitative with descriptive correlative design by
use stratified random sampling technique among 71 student. The study was
conducted in June 2013. Collecting data using demographic data, the questionnaire of
perception in parenting patterns and the risk of bullying behavior. The questionnaire
of student’s perception of parenting types
and the risk of bullying behavior
conducted in this study
The reliability test showed 0.913 on the student perception questionnaire and
0,915 on risk of bullying behavior questionnaire. The results showed that the majority
of respondents (43.7%) have a democratic parenting types and 77,8% of the
responden have low risk bullying behavior. Results of statistical tests using Lambda
test with α = 0.05 obtained results that there is the significant relationship between the
perception of patterns of parenting on risk behavior in high school students bullying
Main Triguna Chester (p value = 0.000) r = 0.583. Based on this study, both of
parents and teacher are expected to pay more attention to bullying, and do not
consider bullying as a common problem in schools. More over the conclusion of this
study for nursing have show the need of bullying prevention such as health education
about problem solving, anger management , counseling and the bullying
management.
Keywords: adolescent, bullying behavior, parenting types.
References : 70 (1996-2013)
viii
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas
berkah dan rahmatnya peneliti dapat menyelesaikan penelitian ini. Sholawat dan
salam senantiasa terlimpahkan kepada nabi akhir jaman Sayyidina wa Maulana
Muhammad SAW, karena perantara beliaulah kita selaku umatnya saat ini dapat
mengetahui yang mana hak dan bathil. Berkat kuasa dan kehendak Allah SWT,
penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul : Hubungan Antara Persepsi
Jenis Pola Asuh Orang Tua Terhadap Risiko Perilaku Bullying Siswa di SMA
Triguna Utama Ciputat
Dalam menyelesaikan penelitian ini peneliti menemukan cukup banyak
hambatan dan kesulitan. Sehingga dalam penelitian ini peneliti mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga penelitian
dapat terselesaikan.
Maka dari itu sudah sepatutnya peneliti mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang sedalam-dalamnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr (Hc). dr. M.K. Tajudin, Sp.And dan Drs. H. Achmad Gholib,
MA, selaku Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Waras Budi Utomo, S.Kep.,Ners.,MKM selaku Ketua Program Studi
Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
ix
3. Ibu Ns. Eni Nur’aini Agustini S.Kep. Msc sebagai sekertaris program studi
ilmu keperawatan dan dosen pembimbing 1 saya yang telah mencurahkan
waktu dan pemikiran demi terselesaikanya penelitian ini.
4. Ibu Ernawati S.Kep.,M.Kep, S.KMB sebagai dosen pembimbing 2 saya yang
tidak kenal lelah memberikan waktu luang dan masukan-masukan yang
berharga demi terselesaikanya penelitian ini.
5. Ibu Ita Yuanita, S,Kp, M.Kep sebagai dosen pembimbing akademik yang
selalu memberikan pengarahan dan motivasi untuk lebih baik dari sejak
semester 1.
6. Segenap bapak dan ibu dosen di Program studi ilmu keperawatan yang telah
mendidik dan memberikan ilmu yang berharga kepada saya.
7. Segenap staf dan karyawan fakultas dan jurusan yang banyak membantu
dalam bidang administrasi.
8. Ibu Dwi Rini Listiowati S.Pd selaku guru bp SMA Triguna Utama Ciputat
yang cukup banyak membantu peneliti di lapangan.
9. Seluruh teman – teman psik 2009 yang telah berjuang bersama-sama dalam
suka dan duka.
10. Ucapan Terima kasih dan bangga kepada ayahanda H.Isyam Basri dan Ibunda
tercinta Hj. Juju Julihati. Yang selalu memberikan doa dan dukungan baik
psikis maupun materil, serta didikan dan nasehatnya yang selalu peneliti ingat.
11. Kakak saya Hj.Ane handayani dan suami, Aziz Heikal dan Istri, Serta kedua
adik saya Ammy Heryuni dan Annisa Nur (almarhumah).
x
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PERNYATAAN ................................................................................ i
LEMBAR PERSETUJUAN .............................................................................. ii
LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................. iii
RIWAYAT HIDUP .............................................................................................. v
ABSTRAK ......................................................................................................... vi
ABSTRACT ...................................................................................................... vii
KATA PENGANTAR ..................................................................................... viii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... x
DAFTAR TABEL ........................................................................................... xiv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xvi
RIWAYAT HIDUP ........................................................................................ xvii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................... 1
B. Perumusan Masalah ............................................................................. 7
C. Pertanyaan Penelitian .......................................................................... 8
D. Tujuan Penelitian................................................................................. 8
E. Manfaat Penelitian ............................................................................... 9
F. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Remaja
1. Pengertian Remaja ......................................................................... 10
xi
2. Tahap Perkembangan Remaja ....................................................... 11
3. Pertumbuhan dan Perkembangan pada Remaja............................. 12
4. Tugas Perkembangan Remaja ....................................................... 17
5. Kenakalan Remaja ......................................................................... 18
B. Persepsi
1. Pengertian persepsi ........................................................................ 19
2. Jenis-jenis perspsi .......................................................................... 20
3. Syarat terjadinya persepsi .............................................................. 21
4. Proses terjadinya persepsi…………………………………… ...... 21
C. Pola Asuh orang tua
1. Pengertian Pola Asuh orang tua ………………………………. .. 22
2. Jenis Pola Asuh Orang tua……………………………………... .. 24
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pola Asuh Orang Tua………...29
D. Bullying
1. Definisi Perilaku Bullying ............................................................ 30
2. Bentuk-bentuk Bullying ............................................................... 31
3. Faktor-faktor penyebab terjadi Bullying ...................................... 33
4. Peran-peran dalam Perilaku Bullying ........................................... 37
5. Dampak Bullying .......................................................................... 37
6. Penanggulangan Bullying ............................................................. 39
E. Kerangka Teori .................................................................................. 41
BAB
III
KERANGKA KONSEP,
OPERASIONAL
HIPOTESIS,
DAN
DEFINISI
A. Kerangka Konsep .............................................................................. 43
xii
B. Hipotesis ............................................................................................ 43
C. Definisi Operasional .......................................................................... 44
BAB IV METODELOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian ............................................................................... 46
B. Populasi dan Sampel Penelitian ........................................................ 46
1. Populasi ........................................................................................ 46
2. Sampel .......................................................................................... 46
a. Kriteria Inklusi ......................................................................... 47
C. Waktu dan Tempat Penelitian ........................................................... 48
D. Instrumen Penelitian .......................................................................... 48
1. Data Demografi ............................................................................. 49
2. Kuisioner Pola Asuh Orang Tua .................................................... 50
3 Kuisioner Risiko Perilaku Bullying ................................................ 51
E. Uji Validitas dan Reabilitas Instrumen .............................................. 52
F. Tahapan Penelitian ............................................................................. 54
G. Pengolahan data................................................................................. 55
1. Data Coding ................................................................................... 55
2. Data Editing ................................................................................... 55
3. Data Structure ................................................................................ 55
4. Data Entry ...................................................................................... 56
5. Data Cleaning ................................................................................ 56
H. Analisa Data ...................................................................................... 56
1. Analisa Univariat ......................................................................... 56
2. Analisa Bivariat ............................................................................ 61
xiii
I. Etika Penelitian ................................................................................... 58
BAB V HASIL PENELITIAN
A. Gambaran umum SMA Triguna Utama Ciputat .................................... 60
B. Analisa Univariat ................................................................................... 60
1. Gambaran Demografi Responden .................................................... 61
a. Jenis Kelamin ................................................................................... 61
b. Kelas................................................................................................. 61
2. Persepsi pola asuh orang tua ............................................................ 62
3. Gambaran Risiko Perilaku Bullying Siswa .................................... 63
4. Analisa Bivariat ................................................................................ 63
BAB VI PEMBAHASAN
A. Analisa Univariat ................................................................................... 66
1. Gambaran persepsi jenis pola asuh orang tua siswa di SMA Triguna
Utama Ciputat ………………………………………………….......66
2. Gambaran risiko perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama
Ciputat…………………………………………………………….. 70
B. Analisa Bivariat………………………………………………………...73
C. Ketrbatasa Peneliti…………………………………………………….. 77
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan……………………………………………………………. 78
B. Saran …………………………………………………………………..81
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Definisi Operasional…………………………………………………….. 45
Table 4.2 Distribusi Pernyataan kuisioner Pola Asuh Orang Tua…………………. 54
Table 4.3 Distribusi Pernyataan Kuisioner Risiko Perilaku Bullying……………… 55
Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin……………………… 65
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelas ……………………. 66
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Persepsi Jenis Pola Asuh Orang Tua ……………… 67
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Risiko Perilaku Bullying siswa …………………… 68
Tabel 5.5 Hubungan Antara Persepsi Jenis Pola Asuh Orang Tua Terhadap Risiko
Perilaku Bullying………………………………………………………….69
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Teori………………………………………………………... 42
Gambar 3.1 Kerangka konsep………………………………………………………. 43
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
1. Lampiran 1 Lembar Persetujuan Responden
2. Lampiran 2 Data Diri Responden
3. Lampiran 3 Kuisioner Penelitian
4 . Lampiran 4 Hasil Uji Validitas
5. Lampran 5 Hasil Penelitian
6. Lampiran 6 Surat Ijin Uji Validitas
7. Lampiran 7 Surat Ijin Penelitian
8. Lampiran 8 surat izin studi pendahuluan
xvii
RIWAYAT HIDUP
Nama
: Ari Nur Husaini
Tempat, Tgl lahir
: Sumedang, 14 mei 1991
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Agama
: Islam
Alamat
: Dusun Kaum no. 25 RT 03 RW 04 Desa Jatisari, Kecamatan
Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Kode pos : 45362
Hp
: 085216041866
Email
: [email protected]
Riwayat Pendidikan :
1. TK Cut Nyak Dhien Tanjungsari
(1996-1997)
2. SDN Tanjungsari 2
(1997-2003)
3. MtsN Ciwaringin Cirebon
(2003-2006)
4. MAN Model Ciwaringin Cirebon
(2006-2009)
5. S-1 Keperawatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(2009-2013)
xviii
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang tumbuh dan berkembang, dan salah satu
tahap dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia yaitu masa remaja.
Masa remaja adalah masa dimana terjadi transisi dari masa anak-anak menuju
masa dewasa, yang mencangkup perubahan baik secara biologis, kognitif, dan
sosio-emosional (Santrock, 2007). Kata remaja yang dalam bahasa inggris
adolescence berasal dari kata latin adolescere yang berarti tumbuh atau
tumbuh menjadi dewasa (Hurlock, 2012). Sedangkan batasan usia untuk
remaja adalah 12 – 24 (World Health Organization, 2007 dalam Efendi dan
Mahfudhi, 2009).
Pada remaja terjadi perubahan biologis, hal ini berkaitan dengan anatomi
dan fisiologi, dimana dipengaruhi dari fungsi kelenjar hipofisis yang
mengelurakan hormon, seperti hormon genotrop yang mempercepat fungsi
kematangan
sel
telur
dan
sperma,
serta
mempengaruhi
hormon
adrenokortikotropik yang berfungsi mempengaruhi kelenjar suprenalis,
testosteron, estrogen, yang mempengaruhi pertumbuhan anak sehingga terjadi
percepatan pertumbuhan (Monks dan Knoers, 2004). Perubahan fisik ini dapat
dilihat pada pertumbuhan tubuh (badan menjadi makin panjang dan tinggi),
mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan
mimpi basah pada laki-laki) dan tanda – tanda seksual sekunder yang tumbuh
(Sarwono, 2012).
1
2
Perkembangan kognitif atau biasa juga disebut perkembangan intelek
adalah suatu kemampuan untuk melakukan abstraksi, serta berpikir logis dan
cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru
(Ali, 2010). Menurut Santrock (2007), contoh dari perubahan kognitif adalah
remaja dapat mengingat sebuah puisi, mengerjakan soal matematika,
membayangkan bagaimana menjadi orang terkenal. Maka perkembangan
kognitif ini dapat dikatakan sebagai perubahan pemikiran dan intelegensi
individu.
Perkembangan selanjutnya adalah perkembangan sosio-emosial. Emosi
individu biasanya tampak jelas pada perubahan tingkah lakunya. Remaja
biasanya memiliki kondisi emosi yang berkobar-kobar, energi yang besar,
sedangkan pengendalian diri belum sempurna, sehingga sering mengalami
perasaan yang tidak aman, tidak tenang, dan khawatir kesepian (Ali, 2010).
Sehingga dapat dikatakan bahwa emosi remaja masih labil.
Perubahan emosi berkaitan dengan perubahan sosial. Ada dua perubahan
sosial yang terjadi, pertama remaja akan lebih dekat dengan teman sebayanya
dan memisahkan diri dari orang tua dengan maksud menemukan jati diri,
remaja
membentuk kelompok dan mengekspresikan segala potensi yang
dimiliki sehingga hal ini membuat remaja sangat rentan terhadap pengaruh
teman sebaya dalam hal sikap, penampilan, dan perilaku. Perubahan sosial
yang kedua adalah remaja mulai menyukai lawan jenis (Monks dan Knoers,
2004). Pada masa ini remaja cenderung ingin mencoba hal – hal baru, baik hal
positif maupun negatif, hal negatif yang dicoba salah satunya adalah
kenakalan remaja.
3
Menurut Santrock (2007), menjelaskan bahwa Kenakalan remaja
merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima
secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal. Sedangkan pendapat lain
menyebutkan kenakalan remaja adalah perbuatan yang dilakukan oleh anak
remaja yang bersifat melawan hukum, anti sosial, anti susila, dan menyalahi
norma-norma agama (Sudarsono, 2012).
Selama beberapa tahun terakhir masalah kenakalan remaja menjadi
masalah pokok bagi masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di kotakota besar, selain kejadianya terus meningkat, kualitas kenakalanya juga
cenderung meningkat, data kriminalitas dari MABES Polri menunjukan
bahwa selama tahun 2007, tercatat sekitar 3100 orang pelaku tindak pidana
adalah remaja berusia 19 tahun atau kurang, jumlah tersebut pada tahun 2008
dan 2009 masing-masing meningkat mejadi sekitar 3300 remaja dan 4200
remaja (Badan Pusat Statistik, 2010).
Dilihat dari barbagai kenakalan remaja di sekolah, salah satu yang sering
terjadi adalah perilaku bulying, perilaku bullying sendiri adalah tindakan
negatif yang dilakukan seseorang atau lebih, yang dilakukan berulang – ulang
dan terjadi dari waktu ke waktu (Olweus, 1993 dalam Hazalden Foundation,
2007). Bullying memiliki arti yang berbeda-beda di setiap negara, tapi pada
umumnya kasus bullying sering terjadi antara senior kepada juniornya.
Sedangkan definisi kata kerja “to bully” dalam Oxford Advanced Learner’s
Dictionary adalah tindakan yang menimbulkan rasa sakit atau menyakiti orang
lain untuk kepentingan sendiri.
4
Dalam kenyataan sehari-hari bullying dapat terjadi dalam bentuk
penyiksaan atau pelecehan secara fisik, verbal maupun psikologis. Contoh
bullying fisik adalah menampar, menimpuk, dan menginjak kaki. Contoh
bullying non fisik adalah memaki, dan menghina. Contoh bullying psikologis
adalah memandang sinis, dan mempermalukan (Yayasan Sejiwa, 2008).
Perilaku ini pada kalangan remaja di sekolah dapat dikatakan sebagai
fenomena gunung es, karena kasus-kasus hanya sedikit yang terangkat
kepermukaan dan itu juga apabila terdapat kasus yang besar yang dilaporkan,
namun pada kenyataanya perilaku ini sudah sangat melekat di dunia
pendidikan di Indonesia. Penyebab kasus bullying sedikit yang terangkat ke
permukaan adalah sekolah cenderung menutupi kasus bullying seperti
senioritas sebab jika diketahui publik, mereka khawatir sekolahnya akan
mendapat reputasi buruk (Astuti, 2008).
Bullying seringkali dianggap masalah yang sepele, padahal ini merupakan
masalah yang cukup serius bagi siswa di Indonesia. Sebuah survei yang
dilakukan oleh organisasi Plan Indonesia (2008) yang dilakukan di empat kota
besar yakni Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Bogor terhadap 1500 siswa
SMA dan 75 guru, hasilnya 67,9 persen menganggap terjadi kekerasan di
sekolah berupa kekerasan verbal, psikologis, dan fisik, pelaku kekerasan
umumnya teman, kakak kelas, adik kelas, guru, dan siswa yang menjadi
preman di sekolah (kompas.com). Data lain yang tercatat oleh Yayasan Sejiwa
(2008), hasil survei yang dilakukan pada workshop antibullying (2006) pada
sekitar 250 peserta, 94,9% peserta yang hadir menyatakan bahwa memang
terjadi bullying di sekolah-sekolah di Indonesia.
5
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya bullying antara lain faktor
keluarga, teman sebaya, dan pengaruh media (Quiroz dkk, 2006). Sedangkan
menurut pendapat lain menyebutkan ada 7 faktor penyebab terjadinya bullying
yaitu perbedaan kelas, tradisi senioritas, senioritas, keluarga yang tidak rukun,
situasi sekolah yang tidak harmonis, karakter individu/kelompok, dan
persepsi/nilai yang salah atas perilaku korban (Astuti, 2008)
Terdapat faktor keluarga, keluarga merupakan sekolah pertama anak,
dimana anak mulai mempelajari semuanya dari mulai keluarga yang ada di
rumah dan pada akhirnya akan menjadi nilai dan perilaku yang dia anut ( hasil
imitasi). Maka dari itu pola asuh penting kaitanya sebagai hal yang
mempengaruhi perilaku anak, sehingga dapat dikatakan pola asuh orang tua di
rumah dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan perilaku bullying.
Selain itu, tipe orang tua di rumah yang suka memaki, membandingkan,
melakukan kekerasan fisik maka anakpun akan menganggap benar bahasa
kekerasan (Haryana, 2004 dalam Yayasan Sejiwa, 2008). Jadi jelas bullying
itu dapat mulai tertanam sejak anak masih berusia dini sehingga harus ada
upaya yang maksimal untuk mencegah “benih” tersebut tumbuh berkembang
dirumah, yang kemudian akan berlanjut ke sekolah. (Priyatna, 2010).
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Maghfiroh & Rahmawati (2009),
yang dilakukan pada 73 siswa/siswi di Bantul Yogyakarta, mendapatkan hasil
ada hubungan negatif antara iklim sekolah dengan kecenderungan perilaku
bullying. semakin negatif iklim suatu sekolah makin tinggi kecenderungan
perilaku bullying. Sebaliknya semakin positif iklim sekolah maka semakin
rendah kecenderungan perilaku bullying. Peneliti menemukan iklim sekolah
6
memberi sumbangan sebesar 21% terhadap kecenderungan perilaku bullying.
Atas dasar tersebut peneliti ini menyarankan untuk penelitian berikutnya
tentang kecenderungan perilaku bullying dilakukan dengan faktor-faktor
lainya seperti pola asuh orang tua, pengaruh teman sebaya dan sebagainya.
Peneltitian lainya yang dilakukan oleh Kismartani (2010) menunjukan
bahwa secara umum masyarakat mengidentifikasi pola asuh keluarga sebagai
faktor yang paling mempengaruhi perilaku bullying. Pola asuh keluarga disini
adalah bagaimana pola asuh orang tua terhadap anaknya di rumah.
Dampak bullying sendiri akan terjadi dalam jangka waktu lama dan
cenderung terbawa sampai dewasa. Bullying menyebabkan seorang anak yang
menjadi korban akan terhambat dalam aktualisasi diri. Bullying tidak memberi
rasa aman dan nyaman, sehingga akan membuat para korban takut dan
terintimidasi, rendah diri, serta tidak merasa berharga, sulit berkonsentrasi
dalam belajar, tidak bergerak untuk bersosialisasi dengan lingkungan, tidak
ingin sekolah, pribadi yang tidak percaya diri dan sulit berkomunikasi, akan
menyebabkan prestasi belajarnya merosot, mungkin pula para korban bullying
akan kehilangan rasa percaya diri kepada lingkungan yang banyak menyakiti
dirinya (Yayasan Sejiwa, 2008). Selain itu pula kegagalan dalam mengatasi
bullying akan menyebabkan tindakan agresi yang lebih jauh (Pearce dan Eliot
2002, dalam Astuti, 2008). Jadi penting untuk menangani bullying agar dapat
mencegah dampak buruk yang di timbulkanya.
Melihat pemaparan di atas peneliti merasa tertarik untuk meneliti
hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku
bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat. Persepsi ini untuk melihat
7
bagaimana anak mempersepsikan tentang pola asuh yang orang tua terapkan
padanya. SMA Triguna Utama di pilih karena jaraknya dekat dengan tempat
tinggal peneliti, sehingga diharapkan akan memudahkan dalam penelitianya
dan menghemat biaya. SMA ini tergolong sekolah yang cukup besar, dan
berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti lakukan dalam hal ini wawancara
terhadap guru BP dan 10 orang siswanya didapatkan bahwa terdapat kejadian
bullying di sekolahnya seperti bullying fisik, verbal, dan psikologis.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan :
1. Hasil survei yang dilakukan Yayasan Sejiwa terhadap sekitar 250 orang
peserta
workshop
antibullying
2006,
menunjukan
94,9%
peserta
menyatakan terjadi bullying di sekolah – sekolah di Indonesia. Dan dalam
survei yang dilakukan oleh Organisasi kemanusian Plan Indonesia (2008)
di empat kota besar di Indonesia pada 1500 siswa dan 75 guru, menunjukan
bahwa 67,9% menganggap terjadi bullying di sekolah.
2. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya bullying adalah keluarga,
teman sebaya dan pengaruh media.( Quiroz dkk, 2006)
3. Penelitian yang dilakukan oleh Kusmartani (2010) menunjukan bahwa
faktor pola asuh keluarga adalah yang paling mempengaruhi perilaku
bullying.
4. Studi pendahuluan yang dilakukan dengan cara wawancara terhadap guru
BP dan 10 orang siswa SMA Triguna Utama Ciputat menyatakan bahwa di
sekolahnya terjadi perilaku bullying, meliputi bullying fisik, verbal, dan
psikologis.
8
Maka peneliti merumuskan masalah peneltian sebagai berikut, apakah ada
hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku
bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat?
C. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana gambaran siswa di SMA Triguna Utama Ciputat ?
2. Bagaimana persepsi jenis pola asuh orang tua siswa di SMA Triguna Utama
Ciputat ?
3. Bagaiman tingkat risiko perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama
Ciputat ?
4. Bagaimana hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap resiko
perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat ?
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara
persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku bullying siswa di
SMA Triguna Utama Ciputat.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi gambaran demografi siswa di SMA Triguna Utama Ciputat.
b. Mengidentifikasi persepsi jenis pola asuh orang tua siswa di SMA Triguna
Utama Ciputat.
c. Mengidentifikasi tingkat risiko Perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama
Ciputat.
d. Mengidentifikasi hubungan antara jenis pola asuh orang tua terhadap risiko
perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat.
9
E. Manfaat Penelitian
1. Ilmu Keperawatan
Penelitian ini dapat menjadi referensi dalam penelitian yang akan datang serta
dapat menambah wawasan dalam bidang ilmu keperawatan jiwa, anak, maupun
keluarga. Serta diharapkan dapat menambah teori yang sudah ada mengenai
bagaimana persepsi pola asuh orang tua terhada risiko perilaku bullying.
2. SMA Triguna Utama
Dapat mencegah atau mengurangi sedini mungkin dampak buruk dari bullying
ketika sudah mengetahui data tentang bullying maupun bagaimana persepsi
pola asuh orang tua yang dapat mempengaruhi perilaku tersebut, sehingga
dapat memaksimalkan potensi siswa maupun siswi di SMA Triguna Utama
Ciputat. Bagi BP juga dapat mempunyai data bagaimana tingkat risiko perilaku
bullying di sekolah sehingga dapat meminimalisirnya.
3. Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam konteks
keilmuan dan metodologi penelitian yang baik dan benar, serta memberikan
pengalaman yang berharga sebagai peneliti pemula. Hasil dari penelitian ini
juga dapat digunakan untuk penelitian yang akan datang.
F. Ruang Lingkup Penelitian
Jenis dari penelitian ini adalah kuantitatif, dengan menggunakan desain
deskriptif korelatif. Penelitian ini dilakukan di SMA Triguna Utama Ciputat
yang melibatkan kelas X, XI IPA, dan XI IPS. Penelitian ini dilakukan untuk
melihat apakah ada hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua
terhadap risiko perilaku bullying siswa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Remaja
1. Pengertian Remaja
Masa remaja adalah salah satu tahap perkembangan manusia, kata remaja
(adolescence) berasal dari bahasa latin yaitu “adolescare” yang artinya
tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Remaja merupakan suatu masa peralihan
dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang dimulai dengan adanya
kematangan seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun
atau menjelang dewasa muda (Soetjiningsih, 2004). Sedangkan menurut
Nototatmojdo (2007) menjelaskan sebagian besar masyarakat sesuai budayanya
mengkategorikan remaja pada usia awal 10-13 tahun dan berakhir pada usia
18-22 tahun. Menurut Wong, dkk (2009) remaja adalah bila seorang anak telah
mencapai umur 10-20 tahun.
Berikut beberapa definisi remaja lainya :
a. Menurut UU No.1 tahun 1979 tentang kesejehteraan anak, remaja adalah
yang belum mencapai usia 21 tahun dan belum menikah.
b.
Menurut UU perburuhan tahun 1997, anak dianggap remaja apabila
mencapai usia 15-18 tahun.
c. Menurut UU perkawinan No.1 tahun 1979, seorang anak dianggap remaja
apabila sudah cukup matang, usia 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun
untuk laki-laki
10
11
Jadi dari beberapa pengertian remaja di atas dapat disimpulkan bahwa
remaja adalah salah satu tahap perkembangan manusia, berupa masa
peralihan dari anak-anak menjadi dewasa dimulai pada usia 10 – 22 tahun dan
belum menikah.
2. Tahap Perkembangan Remaja
Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada tiga tahap
perkembangan remaja, yaitu :
a. Remaja awal (early adolescence)
Remaja awal ini masih terheran – heran akan perubahan yang terjadi
pada dirinya dan dorongan–dorongan yang menyertai perubahan–perubahan
itu. Dan pada saat ini mereka mulai menyukai lawan jenis dan menjadi lebih
mudah terangsang. Mereka memiliki kepekaan yang berlebihan terhadap
lawan jenis.
b. Remaja madya (middle adolescence)
Remaja pada tahapan ini membutuhkan banyak teman-teman sehingga
mereka akan merasa senang apabila punya banyak teman dan diterima oleh
teman-temanya, selain itu remaja ini mempunyai kecenderungan narsistik,
yaitu menyukai diri sendiri dan orang-orang yang sama dengan dirinya. Pada
masa ini terjadi kebingungan seperti memilih yang mana yang peka atau
tidak peduli, optimis atau pesimis, idealis atau materialis, dan sebagainya,
remaja pria juga sudah harus membebaskan dari oedispus complex (perasaan
cinta pada ibu sendiri seperti pada masa anak-anak) dengan cara mempererat
hubungan dengan teman-temanya.
12
c..Reamaja akhir ( late adolescence)
Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa yaitu ditandai
dengan pencapaian lima hal, yaitu :
1) Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek
2) Egonya untuk mencari kesempatan bersatu dengan orang lain dan
dalam
pengalaman-pengalaman baru.
3) Terbentuknya identitas seksual yang tidak akan berubah lagi
4) Egosentrisme (memusatkan perhatian pada diri sendiri) menjadi
kesimbangan antara kepentingan sendiri dan orang lain
5) Tumbuhnya “dinding” yang menjadi pemisah diri pribadinya dan
masyarakat umum (Sarwono, 2012).
3. Pertumbuhan dan perkembangan pada remaja
Masa remaja mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cepat,
pertumbuhan dan perkembangan itu adalah biologis, kognitif, dan sosioemosional (Santrock, 2007).
a. Pertumbuhan biologis
Pertumbuhan adalah suatu proses perubahan fisiologis yang
bersifat progresif dan kontinu dan berlangsung dalam periode tertentu.
Pertumbuhan ini bersifat kuantitatif dan berkisar hanya pada aspek fisik
individu (Ali, 2010). Perubahan yang pesat di masa remaja juga biasa
disebut dengan masa puberitas. Puberitas adalah sebuah periode dimana
kematangan fisik begitu pesat, yang melibatkan perubahan hormonal dan
tubuh, yang terutama berlangusung di masa remaja awal. Hormon adalah
13
zat kimia yang kuat yang diciptkan oleh kelenjar endokrin dan dibawa
keseluruh tubuh melalui aliran darah (Santrock, 2007).
Pesatnya perubahan akan menyebabkan kejutan kepada remaja,
sebagai contoh pakaian yang dimilki oleh remaja sering kali tidak dapat
digunakan lagi, dan harus membeli lagi baju baru. Pada remaja putri ada
perasaan seolah-olah belum dapat menerima kenyataan bahwa tanpa
dibayangkan sebelumnya payudaranya membesar. Oleh sebab itu
seringkali gerak-gerik remaja menjadi canggung dan tidak bebas,
gangguan yang terjadi karena pesatnya pertumbuhan fisik seperti ini biasa
disebut dengan gangguan regulasi (Ali, 2010).
Pertumbuhan fisik meliputi dua hal, yakni internal dan eksternal.
Perubahan internal contohnya perubahan alat pencernaan makanan,
bertambah besarnya berat dan ukuran jantung dan paru-paru, dan
bertambah sempurnanya kelenjar endokrin atau kelamin dan seluruh
bagian tubuh. Sedangkan perubahan eksternal contohnya bertambahnya
tinggi badan, bertambah lingkar tubuh, ukuran dan panjang lingkar tubuh,
ukuran organ seks, munculnya tanda-tanda kelamin sekunder (Hurlock
E.B, 1991 dalam Ali, 2010).
Selain itu ada juga faktor- faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik :
a. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu,
yaitu 1) Sifat jasmaniah yang diwariskan oleh orang tuanya
14
Anak yang orang tuanya bertumbuh tinggi cenderung lebih lekas menjadi
tinggi dari pada anak dengan orang tuanya bertumbuh pendek, dalam hal
ini dapat dikatakan juga faktor genetik.
2) Kematangan
Faktor kematangan mempengaruhi pertumbuhan fisik, sebagai contoh
anak yang berumur tiga bulan walaupun diberikan makanan bergizi
supaya menunjang otot kakinya agar dapat berjalan, tidak mungkin
berhasil jika usianya sebelum lebih dari sepuluh bulan.
b. Faktor Eksternal
1) Kesehatan
Anak yang sering sakit-sakitan pertumbuhan fisiknya akan terhambat.
2) Makanan
Makanan yang bergizi akan membuat anak tumbuh dengan pesat
dibandingkan anak yang tidak mendapatkan makanan yang bergizi.
3) Stimulasi Lingkungan
Individu yang tubuhnya sering dilatih oleh lingkungannya untuk
meningkatkan percepatan pertumbuhannya, akan berbeda dengan yang
tidak mendapatkan latihan (Ali, 2010). Oleh karna adanya faktor-faktor
internal dan eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan individu, maka
akan menyebabkan pertumbuhan fisik bervariasi setiap orangnya.
b. Perubahan Kognitif
Kemampuan pemikiran remaja yang sedang berkembang, membuat
cakrawala kognitif yang baru. Pemikiran mereka semakin abstrak, logis,
15
dan idealis, dan lebih cenderung memantau dunia sosial. Menurut Piaget
(2001 dalam Gunarsa 2012), remaja termotivasi untuk memahami
dunianya karena hal ini merupakan suatu bentuk adaptasi biologis. Remaja
secara aktif mengkontruksi dunia kognitifnya sendiri, mereka juga
melibatkan
gagasan–gagasan
baru
karena
informasi
ini
dapat
meningkatkan pemahaman mereka (Ali, 2010).
Ketika mengkontruksikan dunianya yang akhirnya meningkatkan
pemahamannya, remaja menggunakan skema. Skema adalah sebuah
konsep
atau
kerangka
mengorganisasikan
dan
kerja
mental
yang
menginterprestasikan
diperlukan
informasi.
untuk
Remaja
menggunakan dan mengadaptasikan skema kedalam dua proses, yaitu
asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah memasukan informasi baru
kedalam pengetahuan yang sudah ada, dalam asimilasi skema yang sudah
ada tidak mengalami perubahan. Akomodasi adalah menyesuaikan sebuah
skema yang sudah ada terhadap masuknya informasi baru (Santrock,
2007).
Tahap- tahap perkembangan kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2007), individu berkembang
melalui empat tahap kognitif, yaitu sensorimotor, pra-oprasional motor,
operasi konkret, dan operasi formal. Setiap tahap yang tergantung pada
usia ini memiliki cara berfikir yang berbeda, sedangkan remaja sendiri
termasuk kedalam tahap operasional formal, yaitu remaja bernalar secara
lebih abstrak, idealis, dan logis.
16
c. Perubahan emosional
Definisi emosi sendiri menurut Chaplin (1989 dalam Ali, 2010)
adalah suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencangkup
perubahan- perubahan yang disadari, yang sifatnya mendalam dari
perubahan perilaku. Sedangkan Perubahan sosio-emosional adalah
perubahan relasi individu dengan orang lain, emosi, kepribadian dan
konteks sosial (Santrock, 2007).
Dalam hal ini emosi memilki peranan penting dalam tingkah laku
individu termasuk dalam masalah sosial ini saling berkaitan. Daniel
Goleman (1995 dalam Ali, 2010) mengemukakan sejumlah ciri utama
pikiran emosional sebagai bukti bahwa emosi memainkan peranan penting
dalam pola pikir maupun tingkah laku individu. Adapun ciri utama pikiran
emosional
tersebut
adalah
respon
yang
cepat
tetapi
ceroboh,
mendahulukan perasaan kemudian pemikiran, memperlakukan realitas
sebagai realitas simbolik, masa lampau diposisikan sebagai masa sekarang,
realitas yang ditentukan oleh keadaan (Ali).
Remaja biasanya memiliki energi yang besar, emosi berkobarkobar sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Selain itu
perkembangan emosi remaja juga di pengaruhi beberapa faktor, yaitu
perubahan jasmani, perubahan pola interaksi dengan orang tua, perubahan
interkasi dengan teman sebaya, perubahan pandangan luar, perubahan
interaksi dengan sekolah (Ali, 2010). Dengan perbedaan faktor-faktor
17
tersebut perkembangan emosi remaja sangat dimungkin berbeda satu sama
lain.
d. Perubahan Sosial
Perkembangan sosial terjadi karena adanya hubungan sosial yang
berubah karena adanya dorongan rasa ingin tahu terhadap segala sesuatu
yang ada disekitarnya. Hubungan sosial ini berawal dari rumah yang
kemudian dilanjutkan disekolah dan dilanjutkan lagi ketempat yang lebih
luas yaitu pergaulan teman sebaya. Pergaulan adalah juga sesuatu untuk
memperkembangkan aspek sosial anak. Seorang anak membutuhkan anak
lain atau kelompok yang kira-kira sebaya. Melalui hubungan dengan
lingkungan sosialnya, anak sengaja atau tidak sengaja, langsung atau tidak
langsung terpengaruh kepribadiannya (Gunarsa, 2004).
Ada karakteristik yang unik dari perkembangan sosial remaja,
yaitu berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan untuk
bergaul, adanya upaya untuk memilih nilai-nilai sosial, meningkatnya
kesadaran akan lawan jenis, dan mulai tampak kecenderungan mereka
untuk memilih karier tertentu. Akan tetapi perkembangan sosial setiap
remaja tentu saja tidak akan sama karena dipengaruhi oleh keluarga,
sekolah dan masyarakat (Ali, 2010).
4. Tugas Perkembangan Remaja
Tugas perkembangan remaja yaitu memfokuskan pada bagaimana
meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan menjadi perilaku dan sikap
18
dewasa. Menurut Havighurst (1961) tugas perkembangan remaja adalah
sebagai berikut:
a. Mencapai hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya baik pria
maupun wanita.
b. Mencapai peran sosial pria dan wanita.
c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif.
d. Mencapai dan mengharapkan perilaku sosial yang bertanggung jawab.
e. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang – orang dewasa
lainya.
f. Mempersiapkan karir ekonomi.
g. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
h. Memperoleh peringkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk
berperilaku mengembangkan ideologi (Hurlock, 2012)
5. Kenakalan Remaja
a. Pengertian kenakalan Remaja :
Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah
juvenile delinquency, merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang
disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial yang berakibat mereka
mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang (Kartono,1997).
Menurut Santrock (2007), kenakalan remaja merupakan kumpulan dari
berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga
terjadi tindakan kriminal. Sedangkan menurut Sudarsono (2012), kenakalan
remaja adalah perbuatan/kejahatan/pelanggaran yang dilakukan oleh anak
19
remaja yang bersifat melawan hukum, anti sosial, anti susila, dan menyalahi
norma – norma agama.
Jadi kenakalan remaja adalah segala sesuatu perilaku remaja yang
bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat yang sampai
pada tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja. Adapun kenakalan
remaja yang sering terjadi di sekolah adalah perilaku bullying.
b. Jenis – jenis kenakalan remaja
Jensen (1985) membagi kenakalan remaja menjadi 4 jenis, yaitu :
a) Kenakalan remaja yang menimbulkan korban fisik pada orang lain.
Seperti : perkelahian, pembunuhan, perampokan, dan lain-lain.
b) Kenakalan yang menibulkan korban materi : perusakan, pencurian,
pemerasan, dan lain-lain.
c) Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain.
Seperti pelacuran, penyalahgunaan obat, dan lain-lain.
d) Kenakalan yang melawan status, Seperti : mengingkari status sebagai
pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan
cara minggat dari rumah, dan lain-lain. (Sarwono, 2012)
B. Persepsi
Walgito (2001) menjelaskan persepsi adalah suatu proses pengoganisasian,
penginterpresatasian, terhadap rangsang yang diterima oleh individu, sehingga
merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi
dalam diri individu. Menurut pendapat Maramis (1999) menyebutkan bahwa
20
persepsi adalah daya mengenal barang kualitas atau hubungan dan perbedaan
antara hal ini melalui proses mengamati, mengetahui, atau mengartikan setelah
pancaindra mendapat rangsang (Sunaryo, 2002).
Marliyah (2004) menjelaskan persepsi adalah penafsiran unik terhadap
situasi dan bukan merupakan pencarian yang benar terhadap situasi. Sedangkan
menurut Seamon dan Kenrick (1994) persepsi adalah sesuatu yang melibatkan
proses organisasi dan interprestasi dari stimulus-stimulus untuk memberikan
makna-makna tertentu. Menurut Rakhmat (2000) penyimpulan informasi dan
penafsiran kesan dari pengalaman akan objek, peristiwa, dan hubunganhubungan yang diperoleh inilah yang akhirnya akan membentuk persepsi
(Marliyah, 2004).
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah
penafsiran individu terhadap stimulus-stimulus yang datang padanya melalui
panca indra terhadap situasi.
2. Jenis-jenis Persepsi
Ada dua macam persepsi yaitu :
a. External perception adalah persepsi yang terjadi karena adanya rangsang
yang datang dari luar individu.
b. Self-perception adalah persepsi yang terjadi karena adanya rangsang yang
berasal dari dalam diri individu, dalam hal ini yang menjadi objek adalah
dirinya sendiri (Sunaryo, 2002)
21
3. Syarat Terjadinya Persepsi
Persepsi adalah suatu proses yang didahului pengindraan, yaitu dengan
diterimanya stimulus oleh reseptor, diteruskan ke otak atau pusat saraf yang di
organisasikan dan diinterprestasikan sebagai proses psikologis. Akhirnya individu
menyadari apa yang dilihat dan didengarkan. Berikut syarat terjadinya persepsi :
a. Adanya Objek : objek → stimulus → alat indra (reseptor).
Stimulus berasal dari luar individu (langsung mengenai alat indra/reseptor)
dan dari dalam diri individu (langsung mengenai saraf sensoris yang bekerja
sebagai reseptor).
b. Adanya perhatian sebagai langkah pertama untuk mengadakan persepsi.
c. Adanya alat indra sebagai reseptor penerima stimulus.
d. Saraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak (pusat
saraf/pusat kesadaran). Dari otak dibawa melalui saraf motoris sebagai alat
untuk mengadakan respons (Sunaryo, 2002).
4. Proses Terjadinya Persepsi
Persepsi melewati tiga proses, yaitu :
a. Proses Fisik (kealaman) : Objek → stimulus → reseptor atau alat indra.
b. proses fisiologis : stimulus → saraf sensoris → otak.
c. Proses Psikologis : Proses dalam otak sehingga individu menyadari stimulus
yang diterima.
Penelitian yang dilakukan oleh Rahman (2008) menunjukan bahwa
semakin positif remaja mempersepsikan pola asuh ayah dan ibunya, maka
semakin positif pula perilaku disiplin remaja tersebut. Penyebabnya adalah peran
22
keluarga dapat memberikan dasar pembentukan sikap, watak, tingkah laku, moral
dan pendidikan pada anak, yang semua itu mampu di persepsi remaja secara
positif, sehingga berdampak positif pula pada kualitas kepribadian remaja, dalam
hal ini pada perilaku disiplinya. Hal ini menunjukan bahwa persepsi dapat
mempengaruhi perilaku.
Hurlock (2005) menyatakan bahwa persepsi individu dapat memotivasi
perilakunya lebih lanjut. objek persepsi yang dinilai tidak menyenangkan maka
perilakunya negatif, sebaliknya individu yang mempersepsikan suatu objek secara
positif, maka akan mengkondisikan individu secara psikologis sebagai motivasi
untuk berperilaku positif.
C. Pola Asuh Orang Tua
1. Pengertian Pola Asuh Orang Tua
Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dimana anak dapat
berinteraksi. Pengaruh keluarga dalam pembentukan dan perkembangan
kepribadian sangatlah besar artinya. Orang tua memiliki tanggung jawab
untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai
tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan
bermasyarakat.
Setiap anak sangat membutuhkan lingkungan keluarga, rasa aman yang
diperoleh dari ibu dan rasa terlindung dari ayah. Rasa aman dalam keluarga
merupakan salah satu syarat bagi kelancaran proses perkembangan anak,
kekhawatiran dan kecemasan yang terlihat pada orang dewasa dan remaja bila
ditelusuri ternyata merupakan akibat peristiwa-peristiwa yang berkaitan
23
dengan hilangnya rasa aman pada usia muda (Gunarsa, 2004). Dalam
mengasuh anaknya, orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di
lingkungannya. Di samping itu, orang tua juga diwarnai oleh sikap-sikap
tertentu dalam memelihara, membimbing, dan mengarahkan putra-putrinya.
Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang
berbeda-beda, karena setiap masing-masing orang tua mempunyai pola
pengasuhan tertentu yang beda pula. Pola asuh orang tua merupakan interaksi
antara orang tua dengan anak. Selama proses pengasuhan orang tua itulah
yang memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak.
Menurut Santrock (2004), mendefinisikan pengasuhan orang tua adalah
aktivitas kompleks termasuk banyak perilaku spesifik yang dikerjakan secara
individu dan bersama-sama untuk mempengaruhi pembentukan karakter anak.
Sedangkan menurut Wahyuningsih dkk (2003), menjelaskan pola asuh sebagai
seluruh cara perlakuan orang tua yang diterapkan pada anak.
Dalam mengasuh anaknya, orang tua cenderung menggunakan pola asuh
tertentu. Penggunaan pola asuh tertentu ini memberikan sumbangan dalam
mewarnai perkembangan terhadap bentuk- bentuk perilaku sosial tertentu pada
anaknya. Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara anak dan orang tua
selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Pengasuhan ini berarti orang tua
mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk
mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam
masyarakat (Santrock, 2004). Jadi pola asuh orang tua adalah perlakuan orang
24
tua yang di terapkan pada anaknya, untuk membentuk karakter anak dan
dalam mencapai kedewasaan anaknya.
2. Jenis Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh terbentuk karena adanya dua hal yaitu demandignes dan
responsivnes. Demandignes standar yang berkaitan dengan kontrol perilaku
yang ditetapkan oleh orang tua kepada anaknya, sedangkan responsiveness
adalah respon orang tua kepada anaknya yang berkaitan dengan kehangatan
dan dukungan (Baumrind, 1991 dalam Santrock, 2007). Pendapat Baumrind
menjelaskan bahwa orang tua sebaiknya tidak bersikap menghukum maupun
bersikap menjauh namun sebaiknya orang tua mengembangkan aturan-aturan
dan hangat terhadap mereka. Dalam hal ini Baumrind (1971) dalam Fathi
(2011) menjelaskan 3 gaya pola asuh yaitu : authoritative, authoritarian, dan
permissive.
a. Authoritative (Demokratis)
Gaya pengasuhan orang tua yang bergaya otoratif. Mendorong remaja
untuk mandiri namun masih membatasi dan mengendalikan aksi-aksi mereka.
Memberikan komunikasi terbuka dan kehangatan dalam mengasuh. Ciri yang
kental pada pola pengasuhan ini adalah diskusi antara anak dan orang tua.
Kerja sama yang berjalan baik antara anak dan orang tua. Anak
diakui
eksistensinya. Kebebasan berekspresi diberikan kepada anak dengan tetap
berada dibawah pengawasan orang tua. Pola asuh ini biasa juga disebut pola
asuh demokratis.
25
Menurut Cole dan Hall (1970) dalam Rahman (2008), mengemukakan
bahwa suasana terbuka dan kondusif yang ada pada pola asuh demokratis
menyebabkan remaja menjadi lebih berkembang serta memiliki kemampuan
menghadapi konflik yang terjadi dengan orang lain. Hal tersebut dipertegas
oleh Shapiro (2001) yang menjelaskan bahwa ayah dan ibu dengan pola asuh
demokratis menyebabkan anak tidak tergantung dan tidak berperilaku
kekanak-kanakan, mendorong untuk berprestasi, kreatif dan disukai banyak
orang serta responsif (Rahman, 2008).
b. Authoritarian (Otoriter)
Pola asuh ototiter ini bersifat menghukum dan membatasi dimana orang
tua sangat memaksakan remaja mengikuti dan menghormati usaha-usaha yang
dilakukan oleh orang tuanya, serta komunikasi tertutup, sehingga tidak
memberikan kesempatan kepada anak untuk berkomunikasi secara verbal. Ciri
khas pola asuh ini diantaranya kekuasaan orang tua dominan jika tidak boleh
dikatakan mutlak, anak yang tidak mematuhi orang tua akan mendapatkan
hukuman yang keras, pendapat anak tidak didengarkan sehingga anak tidak
memiliki eksistensi dirumah, tingkah laku anak dikontrol degan sangat ketat.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa pola
asuh otoriter memiliki ciri pokok tidak demokratis dan menerapkan kontrol
yang kuat. Hal ini berbeda dengan pola asuh otorotatif (demokratis) yang
berciri demokrasi dan menerapkan kontrol. Berbeda pula dengan pola asuh
permisif yang berciri demokratis, tetapi tanpa memberikan kontrol. Dengan
pendekatan yang tidak demoratis dan pemberian kontrol yang ketat dalam pola
26
asuh otoriter, maka tidak mengherankan pola asuh otoriter memiliki banyak
akibat negatif terhadap anak (Widyarini, 2009)
Penelitian yang dilkukan oleh Anggaraningtyas dkk (2010) menunjukan
hasil bahwa remaja yang mempersepsikan orang tuanya memberikan pola asuh
otoriter mempunyai hubungan yang signifikan dengan kecenderungan perilaku
agresi. Hal ini sejalan dengan pendapat Steinberg (1993) dalam Hasugian
(2012) menjelaskan bahwa remaja yang tumbuh dalam keluarga dengan pola
asuh Otoriter (Authoritarian) cenderung menjadi individu yang bergantung
pada orang lain, pasif, kurang mampu bersosialisasi, kurang percaya diri, dan
kurang berminat pada hal-hal yang menyangkut inteletualitas.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Asmaliah (2008) menunjukan hasil
semakin positif persepsi remaja awal terhadap pola asuh orang tua ototrier
maka semakin rendah motivasi berprestasinya, dan semakin negatif persepsi
remaja awal terhadap pola asuh. Artinya jika remaja awal ini semakin
mempersepsikan bahwa pola asuh yang diterapkan kepadanya adalah otoriter,
makan akan semakin rendah motivasi untuk berprestasi dari remaja tersebut.
Orang tua dengan pola asuh otoriter tidak menyadari bahwa dengan pola
yang lebih banyak menuntut terhadap anak ini telah mengikis kehangatan
hubungan dengan anak. Anak tidak menemukan suasana yang memungkinkan
untuk mengekspresikan pikiran atau perasaanya. Padahal kehangatan dalam
hubungan orang tua dan anak merupakan prasyarat bagi kesejahteraan
psikologis bagi anak maupun orang tua (Widyarini, 2009)
27
c. Permissive (permisif / Mengabaikan)
Gaya pengasuhan orang tua dimana orang tua memberikan kebebasan
penuh kepada anaknya. Cirinya orang tua bersifat longgar, tidak terlalu
memberikan bimbingan dan kontrol, perhatian pun terkesan kurang. Kendali
anak sepenuhnya terdapat pada anak itu sendri.
Pola asuh permisif juga memiliki dampak yang tidak baik juga bagi anak.
Menurut Surbakti (2009) Akibat penerapan pola asuh permisif adalah anak
akan bertindak sekehendak hati, tidak mampu mengendalikan diri, tingkat
kesadaran mereka rendah, menganut pola hidup bebas, nyaris tanpa aturan,
selalu memaksakan kehendak, tidak mampu membedakan baik dan buruk,
kemampuan berkompetensi yang rendah, tidak mampu menghargai prestasi
dan kerja keras, mudah putus asa, daya juang rendah, tidak produktif, dan
kemampuan mengambil keputusan rendah.
Patterson & Stouthamer (1984) dalam Santrock (2007) menjelaskan bahwa
kurangnya pengawasan yang memadai dari orang tua merupakan aspek
pengasuhan yang paling sering berkaitan dengan kenakalan remaja. Pendapat
ini didukung oleh Surbakti (2009) yaitu akibat penerapan pola asuh permisif
remaja akan merasa bebas melakukan apa yang saja sesuai keinginan mereka,
pola asuh permisif juga merupakan metode yang paling cepat menghancurkan
masa depan remaja. Tipe pola asuh permisif juga membawa dampak lebih
buruk dalam hal prestasi belajar dari pada pola asuh otoriter (Palupi dan
Wrasasti, 2013).
28
Setelah dijelaskan mengenai berbagai jenis pola asuh, maka dapat
disimpulkan bahwa pola asuh otoritatif (demokrasi) adalah yang paling efektif,
seperti pendapat yang diungkapkan oleh Steinberg & Silk (2002) dalam
Santrock (2007) pola pengasuhan otoritatif (demokratis) merupakan pola
pengasuhan yang paling efektif, karena ;
a.
Orang
tua
otoritatif
mencapai
keseimbangan
yang
baik
antara
pengendalian dan otonomi, memberikan peluang kepada anak-anak dan
remaja untuk mengembangkan kemandirian sambil memberika standar,
batasan dan bimbingan yang diperlukan oleh anak-anak (Rauter & Conger,
1995).
b.
Orang tua otoritatif cenderung lebih banyak melibatkan anak-anaknya
dalam dialog verbal dan membiarkan mereka mengeksprsikan pandanganpandanganya (Kuczynski & Lollis, 2002). Jenis diskusi keluarga seperti ini
dapat membantu anak-anak memahami relasi sosial dan hal-hal yang
dibutuhkan untuk menjadi seorang yang kompeten.
c.
Kehangatan dan keteribatan yang diberikan oleh orang tua yang otoritattif
membuat anak lebih bersedia menerima pendidikan orang tua (Sim, 2000)
Setiap orang tua tentunya memiliki gaya pengasuhan yang berbeda beda,
namun dalam kehidupan sehari-hari orang tua mungkin melakukan kombinasi
dari gaya pengasuhan, akan tetapi hanya satu gaya pengasuhan yang dominan
(Baumrind 1991, dalam Santrock, 2007)
29
3. Faktor – faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua
Ada beberapa hal yang mempengaruhi jenis pola asuh yang digunakan orang
tua menurut Hurlock (2012), yaitu :
a. Pola asuh yang diterima orang tua waktu masih anak – anak.
Orang tua memiliki kecenderungan yang besar menerapkan pola asuh yang
mereka terima dari orang tua mereka pada anaknya.
b. Pendidikan orang tua
Orang tua yang mendapatkan pendidikan yang baik, cenderung
menerapkan pola asuh yang lebih demokratis ataupun permisif
dibandingkan dengan orang tua yang pendidikanya terbatas. Pendidikan
membantu orang tua untuk lebih memahami kebutuhan anak.
c. Kelas sosial
Perbedaan dari kelas sosial orang tua mempengaruhi pemilihan pola asuh.
Orang tua dari kelas sosial menengah cenderung lebih permisif
dibandingkan dari orang tua kelas sosial bawah.
d. Konsep tentang peran orang tua
Setiap orang tua memeiliki konsep tentang bagaimana seharusnya dia
berperan. Orang tua dengan konsep tradisional cenderung memilih pola
asuh yang ketat dibandingkan orang tua dengan konsep non-tradisional.
e. Kepribadian orang tua
Kepribadian memepengaruhi bagaimana mereka menginterprestasikan pola
asuh yang mereka terapkan. Orang tua yang berkepribadian tertutup dan
30
konservatif cenderung akan memperlakukan anaknya dengan ketat dan
otoriter.
f. Kepribadian anak
Anak yang ekstrovert akan bersikap lebih terbuka terhadap rangsanganrangsangan yang datang padanya dibandingkan anak yang introvert.
g. Faktor nilai yang dianut orang tua
Seperti paham „equalitarian‟ dimana kedudukan anak sejajar dengan orang
tua. Namun kebanyakan di Negara timur, orang tua masih lebih cenderung
manghargai kepatuhan anak.
h. Usia anak
Tingkah laku dan sikap orang tua terhadap anaknya di pengaruh oleh usia
anak. Orang tua lebih memberikan dukungan dan dapat menerima sikap
ketergantungan anak usia pra sekolah dari pada remaja.
D. Bullying
1. Definisi Perilaku Bullying
Banyak pakar bullying yang mendebatkan tentang definisi bullying.
Definisi yang sering digunakan adalah definisi Olweus (1993 dalam Hazalden
Foundation 2007), yang menjelaskan bullying sebagai suatu penindasan
tehadap seorang siswa yang dilakukan berulang kali dari waktu ke waktu yang
berdampak negatif dan dilakukan oleh satu siswa atau lebih .
Sedangkan definisi lain menyebutkan bahwa bullying adalah suatu
keadaan dimana terjadi penyalahgunaan kekuasaan/kekuatan yang dilakukan
31
oleh seseorang atau kelompok. Pihak yang kuat disini tidak hanya kuat secara
fisik, akan tetapi bisa juga kuat secara mental, dan korban bullying tidak
mampu mempertahankan dirinya karena lemah secara fisik maupun secara
mental (Yayasan Sejiwa, 2008).
Definisi bullying menurut Ken Rigby (dalam Astuti, 2008) adalah sebuah
hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan kedalam aksi, menyebabkan
seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau
sekelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan
dilakukan dengan perasaan senang. Flynt dan Marton (2006), juga
menyebutkan perilaku bullying adalah perilaku agresi yang dilakukan secara
bebas dengan tujuan melukai orang lain secara penuh dan dilakukan secara
terus menerus.
Dari beberapa definisi di atas diperoleh kesimpulan bahwa bullying adalah
suatu bentuk agresi yang dilakukan oleh orang yang merasa berkuasa kepada
orang yang dianggap lemah untuk keuntungan atau kepuasan mereka sendiri
baik dilakukan oleh individu atau kelompok dengan tujuan untuk menyakiti
korbanya dan dilakukan dengan berulang-ulang.
2. Bentuk – bentuk Bullying
Astuti (2008) menjelaskan bentuk-bentuk bullying sebagai berikut :
a. Fisik adalah menganiaya secara fisik, seperti menggigit, mengunci,
menarik rambut, memukul, menendang, dan mengintimidasi korban di
ruangan atau dengan mengitari, memelintir, menonjok, mendorong,
32
mencakar, meludahi, mengancam, merusak barang-barang korban,
penggunaan senjata dan perbuatan kriminal.
b. Non-Fisik terbagi dalam bentuk verbal dan non-verbal.
1) Verbal: berkata-berkata yang menyakitkan korban, mengatai,
memeras, mengancam, menghasut, intimidasi, barkata jorok pada
korban, menyebarkan kejelekan korban.
2) Non-verbal, terbagi menjadi langsung dan tidak langsung :
a) Tidak langsung : seperti memanipulasi pertemanan, mengasingkan,
tidak mengikutsertakan, mencurangi.
b) Langsung : seperti gerakan kasar atau membahayakan, menatap
dengan sinis, menggeram, atau menakuti.
Menurut Yayasan Sejiwa (2008), bentuk-bentuk perilaku bullying adalah fisik,
verbal, dan mental/psikologis, contoh bullying mental / psikologis adalah
mempermalukan didepan umum, mendiamkan, mengucilkan, meneror lewat sms
atau email, memandang yang merendahkan, memelototi, dan mencibir.
Sedangkan Olweus (1993) memaparkan contoh tindakan negatif yang termasuk
dalam bullying antara lain;
a. Mengatakan hal yang tidak menyenangkan atau memanggil seseorang dengan
julukan yang buruk.
b. Mengabaikan atau mengucilkan seseorang dari suatu kelompok karena suatu
tujuan.
c. Memukul, menendang, menjegal atau menyakiti orang lain secara fisik.
33
d. Mengatakan kebohongan atau rumor yang keliru mengenai seseorang atau
membuat siswa lain tidak menyukai seseorang dan hal-hal semacamnya.
3. Faktor-faktor penyebab terjadinya Bullying
Terdapat tujuh faktor yang menyebabkan terjadi bullying menurut Astuti
(2008) :
a. Perbedaan kelas
Seringkali perbedaan kelas menjadi penyebab terjadinya bullying,
sebagai contoh perbedaan kelas di sekolah, senior akan cenderung
melakukan tindakan bullying kepada juniornya karena merasa berkuasa.
Selain itu perbedaan kelas disni juga termasuk perbedaan gender, agama,
ekonomi, etnisitas atau rasisme. Sebagai contoh perbedaan kelas ekonomi,
seseorang yang berada pada ekonomi yang berbeda dengan tingkatan
ekonomi mayoritas kelompoknya cenderung menjadi korban bullying.
b. Tradisi senioritas
Tradisi yang diwariskan oleh seniornya dahulu seringkali dijadikan alasan
melakukan bullying, contohnya seperti tradisi kelas x tidak boleh melewati
kelas y, dan apabila dilanggar akan mendapatkan sanksi berupa teguran dan
lain sebaginya, dan tradisi ini berlangsung terus menerus.
d. Senioritas
Penyebab senioritas ini datang dari diri siswanya sendiri dengan
alasan untuk menunjukan diri atau mencari popularitas, ajang balas
dendam, atau mungkin menunjukan kekuasaan.
e. Keluarga yang tidak rukun
34
Masalah yang terjadi pada keluarga seperti perceraian orang tua,
kurangnya komunikasi, ketidak harmonisan orang tua, masalah sosial
ekonomi, dan lain-lain dapat menjadi penyebab perilaku bullying.
f. Iklim sekolah yang tidak harmonis
Situasi sekolah sebagai lembaga pendidikan juga dapat menjadi
penyebab perilaku bullying, sebagai contoh peraturan sekolah yang tidak
ditegakkan, minimnya pengawsan dari guru, dan tidak layaknya bimbingan
etika dari guru.
g. Karakter individu atau kelompok
Dendam, iri hati, adanya hasrat ingin menguasai, ingin mendapatkan
popularitas dapat menjadi salah satu penyebab perilaku bullying.
h. Persepsi yang salah atas perilaku korban
Korban sering merasa bahwa dirinya memang pantas diperlakukan
seperti itu (di-bully), sehingga tidak ada usaha untuk menghentikan
tindakan itu walaupun dilakukan berulang-ulang.
Sedangkan Quiroz dkk (2006) mengemukakan tiga faktor yang dapat
menyebabkan perilaku bullying, sebagai berikut :
a. Keluarga
Anak akan meniru perilaku yang dia lihat dikeluarganya, baik itu orang
tua maupun kakak kandungnya, sehingga menjadi nilai atau perilaku yang dia
anut, jika anak di besarkan di lingkungan keluarga yang mentoleransi
kekerasan atau perilaku bullying maka anak akan beranggapan bahwa perilaku
bullying adalah perilaku yang wajar dilakukan untuk membina suatu hubungan
35
atau untuk mencapai apa yang dia inginkan. Menurut Haryana (dalam Yayasan
Sejiwa, 2008), karena faktor orang tua di rumah yang tipe suka memaki,
membandingkan atau melakukan kekerasan fisik, maka anak pun menganggap
benar bahasa kekerasan. Hal ini juga berhubungan dengan bagaimana pola
asuh orang tua di rumah.
b. Teman sebaya
Teman sebaya adalah salah satu penyumbang besar dalam perilaku
bullying, disebabkan oleh adanya teman sebaya yang meberikan pengaruh
negatif dengan cara menyebarkan ide baik itu secara aktif maupun secara pasif.
Selain itu remaja juga cenderung mengikuti apa yang teman sebayanya lakukan
(konformitas). Remaja berkeinginan untuk tidak lagi tergantung pada
keluarganya dan mulai mencari dukungan dan rasa aman dari kelompok
sebayanya.
c. Pengaruh media
Media membawa pengaruh kepada remaja karena remaja cenderung
ingin mencoba dan penasaran dengan apa yang dilihatnya, seperti di tv, sebagai
contoh perilaku bullying seperti di sinetron – sinetron di Indonesia yang
banyak sekali mengajarkan bullying.
Sedangkan menurut Gentile & Bushman (2012) menjelaskan sedikitnya ada 6
faktor risiko yang menyebabkan seseorang menjadi pelaku bullying yaitu :
a. Kecenderungan dalam permusuhan
Dalam kehidupan sehari-hari terkadang permusuhan tidak dapat dihindari,
merasa dimusuhi akan membuat anak ingin membalas dendam.
36
b. Kurangnya perhatian
Kurangnya perhatian dari orang tua akan menyebabkan si anak
mencari perhatian diluar rumahnya dengan cara menunjukan kekuatan dan
popularitasnya diluar rumah.
c. Gender sebagai laki-laki
Seringkali orang beranggapan bahwa gender sebagi laki-laki harus kuat
dan tidak dapat dikalahkan oleh laki-laki lain hal ini pada akhirnya akan
membeuat orang cenderung agresif secara fisik.
d. Riwayat sebagai korban kekerasan
Seorang yang pernah menjadi korban kekerasan khususnya dari orang tua
cenderung melakukan kekerasan juga kepada temanya diluar rumah.
c. Riwayat berkelahi
Kadang seseorang yang pernah berkelahi cenderung akan melakukanya
lagi, ini bisa terjadi kemungkinan karena mereka senang untuk dipuji.
d. Terpapar kekerasan dari media
Tv, film, atau video game adalah media yang biasa menjadi contoh
perilaku kekerasan pada anak yang pada akhirnya akan ditiru oleh anak,
maka dari itu orang tua harus dapat melakukan pendampingan ketika anak
dibawah umur sedang menonton tv, film,atau video game agar anak tidak
terinspirasi untuk melakukannya. Menurut Nugraha (2012), contoh
37
perilaku bullying yang banyak disaksikan di tv adalah perilaku bullying
yang ada pada serial kartun Doraemon.
4. Peran – peran dalam perilaku bullying
a. Bully yaitu siswa yang dikategorikan sebagai pemimpin, berinisiatif dan
aktif terlibat dalam perilaku bullying.
b. Asisten bully, juga terlibat aktif dalam perilaku bullying, namun dia
cenderung bergantung atau mengikuti perintah bully.
c. Rincofer adalah mereka yang ada ketika kejadian bullying terjadi, ikut
menyaksikan, menertawakan korban, memprofokasi bully, mengajak
siswa lain untuk menonton dan sebagainya.
d. Defender adalah orang yang berusaha membela dan membantu korban,
seringkali akhirnya mereka menjadi korban juga.
e. Outsider adalah orang-orang yang tahu bahwa hal itu terjadi, namun
tidak melakukan apapun, seolah-olah tidak peduli.(Salmivalli et al.
1996).
5. Dampak Bullying
Akibat bullying pada diri korban timbul perasaan tertekan oleh perilaku
menguasai korban (Rigby,1996;Fontaine,1991;Sharp&Smith, 1994 dalam
Astuti, 2007). Akibat bullying bagi korban menyebabkan dirinya mengalami
kesakitan fisik dan psikologis, kepercayaan diri self-esteem) yang merosot,
malu, trauma, tidak mampu menyerang balik, merasa sendiri, serba salah, dan
takut sekolah (school phobia), dimana dia tidak merasa ada yang menolong,
dalam kondisi selanjutnya ditemukan bahwa korban kemudian mengasingkan
38
diri dari sekolah, atau menderita ketakutan sosial (social phobia), bahkan
cenderung ingin bunuh diri (Astuti)
Selain dampak-dampak bullying yang telah dipaparkan diatas, penelitianpenelitian yang dilakukan baik di dalam maupun luar negeri menunjukkan
bahwa bullying mengakibatkan dampak-dampak negatif sebagai berikut:
a. Gangguan psikologis, misalnya rasa cemas berlebihan dan kesepian (Rigby,
2003).
b. Konsep diri sosial korban bullying menjadi lebih negatif karena korban
merasa tidak diterima oleh teman-temannya, selain itu dirinya juga
mempunyai pengalaman gagal yang terus-menerus dalam membina
pertemanan, yaitu di bully oleh teman dekatnya sendiri (Djuwita, dkk ,
2005).
c. Korban bullying merasakan stress, depresi, benci terhadap pelaku, dendam,
ingin keluar sekolah, merana, malu, tertekan, terancam, bahkan ada yang
menyilet-nyilet tangannya (Djuwita, dkk , 2005).
d. Membenci lingkungan sosialnya, tidak mau berangkat ke sekolah (Forero et
all 1999).
e. Keinginan untuk bunuh diri (Kaltiala & Heino, 1999).
f. Kesulitan konsentrasi, rasa takut berkepanjangan dan depresi (Bond, 2001).
g. Cenderung kurang empatik dan mengarah ke psikotis (Banks, 1993).
h. Pelaku bullying yang kronis akan membawa perilaku itu sampai dewasa,
akan berpengaruh negatif pada kemampuan mereka untuk membangun dan
memelihara hubungan baik dengan orang lain.
39
i. Korban akan merasa rendah diri, tidak berharga (Rigby, 1999).
j. Gangguan pada kesehatan fisik: sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batukbatuk,
gatal-gatal,
sakit
dada,
bibir
pecah-pecah
(Rigby,
2003).
(www.psychologymania.com)
6. Penanggulangan Bullying
Melihat dari dampaknya yang besar sudah seharusnya bullying ini
menjadi lebih diperhatikan, di Indonesia program untuk menghentikan
bullying belum difikirkan secara khusus oleh sekolah atau Departemen
Pendidikan, bagi Departemen Pendidikan penanganan masalah bullying
masih merupakan bagian dari peraturan etika sekolah yang berada dibawah
wewenang petugas atau guru bimbingan atau penyuluhan, sementara sekolah
tidak memasukan bullying ini kedalam program khusus, padahal untuk
menangani bullying ini memerlukan metode penanganan khusus, dan
dilakukan oleh guru atau petugas khusus yang telah dilatih khusus mengenai
bullying (Astuti, 2008).
Beberapa contoh metode dan pelatihan yang dilakukan disekolah-sekolah di
Amerika serikat, Australia, dan Eropa serta beberapa negara lain :
a. Peer partnering / befriending : bagian dari intervensi prososial melaui
pemanfaatan peer group untuk mendampingi, menjaga murid-murid
yang kecil dan lemah yang rawan menjadi korban bullying,
aktivitasnya adalah support dan “pelajaran” agar percaya diri, termpil
40
membuat
tugas
sekolah,
mudah
beradaptasi
dan
membuat
pertemanan.
b. Peer mentoring : mengenal, bicara, berempati dan mendampingi siswa,
lingkungan dan pelajaran yang di perolehnya. Membimbing agar
siswa memperoleh self-esteem agar percaya diri, mampu memecahkan
masalah dan mempunyai arti bagi orang lain, mentoring bisa
dilakukan dengan role play.
c. Mengefektifkan mentoring dan mediasi : secara aktif mendengar,
membantu memberikan feed back atas masalah yang di hadapi siswa
menggunakan metode “saya” yang berfokus pada feeling, dan hindari
menyalahkan (blaming).
d. Share responsibility : jika ada bullying yang melibatkan kelompok ,
maka kelompok tersebut harus bertanggung jawab membuat sesuatu
memperbaiki sikap terutama pada korban dan komunitasnya
e. Supporting network : mengumpulkan, menyeleksi, dan mengelolah data
dan informasi terbaru dengan rekan sesama orang tua,guru, murid dan
pihak lain yang mengetahui masalah bullying.
f.
PEACE
pack
:
(p)reparation,
(e)ducation,(a)ction
(c)oping,
(e)valuation. Paket ini melibatkan semua pihak yang berada disekolah,
yakni staf, guru, orang tua murid dan murid.
g. Melakukan kontrol dan komunikasi dengan anak : mengajak anak
untuk mampu berkomunikasi dan mengutarakan pendapat tentang
masalah masing-masing sehari-hari.
41
h. Intervensi sosial-kognitif oleh adults & children together-againts
violence yang menugaskan orang tua dan orang dewasa untuk
melindungi
membentuk
anak-anak
lingkungan
dari
kekerasan
pembelajaran
dan
yang
luka-luka
berfokus
dengan
pada
keterampilan fisik dan sosial yang non-agresif (Fuantes & Silva, the
community psychologist, vol. 37,#2 spring, 2004 dalam Astuti 2008)
E. Kerangka Teori
Kerangka teori yang di gunakan dalam penelitian ini adalah teori perilaku
Lawrance Green, teori ini menjelaskan bahwa faktor perilaku ditentukan oleh
tiga faktor utama yaitu : faktor predisposisi ( disposing faktor) adalah faktor
yang mempermudah atau mempredisposisi perilaku seseorang, faktor
pemungkin (enabling faktor) adalah faktor yang memungkinkan atau
memfasilitasi suatu tindakan , faktor penguat (reinforcing faktor) adalah faktor
yang mendorong atau memperkuat perilaku dan berikut skemanya :
42
Remaja






Batasan usia 10 – 20 tahun
Perubahan yang terjadi pada remaja :
biologis,
kognitif,
dan
sosioemosional
Faktor Predisposisi
 Persepsi jenis pola asuh
orang tua
(demokratis,
otoriter, dan permesif)
Faktor Penguat
Pengaruh media
Iklim sekolah
yang tidak
harmonis
Keluarga yang
tidak rukun
Persepsi yang
salah tentang
perilaku korban
Risiko perilaku bullying di
sekolah
Faktor Pemungkin
 Perbedaan kelas
 Tradsisi senioritas
 Senioritas
 Karakter individu
atau kelompok
Non fisik
Fisik
verbal
Non verbal/psikologis
Gambar 2.1 Kerangka Teori Penelitian
Sumber : Modifikasi Kerangka teori perilaku Lawrence Green( 1980), Quiroz dkk
(2006). WHO (2010), Astuti (2008), Baumrind (dalam Fathi, 2011), Santrock
(2007),Wong dkk (2009)
BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI
OPERASIONAL
A. Kerangka konsep
Dalam penelitian ini variabel yang akan diteliti adalah variabel independen
dan variabel dependen. Variabel independen dari penelitian in adalah persepsi jenis
pola asuh orang tua. Sedangkan variabel dependen adalah risiko perilaku bullying
siswa. Sehingga kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Risiko perilaku
bullying siswa di
SMA Triguna Utama
Ciputat
Persepsi jenis pola
asuh orang tua
Gambar 3.1 Kerangka konsep
B. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1. Ada hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku
bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat
43
44
C. Definisi Operasional
No
Variabel
1
Persepsi
jenis pola
asuh
orang tua
Definisi
Operasional
Penafsiran anak
tentang jenis
perlakuan orang
tua yang
diterapkan
padanya, untuk
membentuk
karakter anak dan
dalam mencapai
kedewasaan
anaknya. Dalam
hal ini terdapat
tiga jenis pola
asuh orang tua
yaitu: demokratis,
otoriter, permisif,
dan campuran.
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Menghitung skor persepsi
pola asuh sebagai berikut :
(4) Sangat Sesuai (SS)
(3) Sesuai (S)
(2) Tidak Sesuai (TS)
(1) Sangat Tidak Sesuai
(STS).
Kuisioner yang
digunakan adalah
parental authority
questionnaire (PAQ)
yang dibuat oleh Buri
(1991) dan
dikembangkan oleh
Dwairy dkk (2006), yang
diterjemahkan kedalam
bahasa Indonesia.
kuisioner ini terdiri dari
30 pernyataan, dan
responden harus memilih
satu jawaban yang paling
sesuai. Setiap jenis pola
asuh dibuat 10
pernyataan, sehingga
skor tertinggi dari salah
satu jenis pola asuh
tersebut adalah 40 dan
skor terendahnya adalah
10.
1. Skor yang
tertinggi pada salah
satu dari 3 jenis pola
asuh tersebut,
menunjukan salah
satu jenis pola asuh
tersebut(demokratis,
otoriter, dan
permisif).
2.jika skornya sama
untuk dua atau tiga
jenis pola asuh
tersebut, maka pola
asuhnya campuran.
Skala
Ukur
Nominal
45
2
Risiko
perilaku
bullying
Risiko untuk
melakukan suatu
bentuk agresi
yang dilakukan
oleh orang yang
merasa berkuasa
kepada orang
yang dianggap
lemah untuk
keuntungan atau
kepuasan mereka
sendiri baik
dilakukan oleh
individu atau
kelompok dengan
tujuan untuk
menyakiti
korbanya dan
dilakukan dengan
berulang-ulang.
Bullying ada tiga
bentuk, yaitu :
fisik,verbal,dan
non verbal (
psikologis).
Menghitung skor risiko
perilaku bullying dengan
arah favorable dan
unfavorable (sesuai dan
tidak sesuai) dengan skala
Likert. Penilaian yang
favorable adalah sebagai
berikut :
(4) Sangat Sesuai (SS)
(3) Sesuai (S)
(2) Tidak Sesuai (TS)
(1) Sangat Tidak Sesuai
(STS).
Sedangkan unfavorable
penilaianya adalah sebagai
berikut :
(4) Sangat tidak sesuai (
STS)
(3) Tidak Sesuai (TS)
(2) Sesuai (S)
(2) Sangat Sesuai (SS)
(STS)
Kuisioner yang
1. Tinggi jika skor
digunakan adalah
≥ mean (44)
kuisioner resiko perilaku
bullying yang dibuat oleh 2. Rendah jika, jika
Atfiyanah (2013), yang
skor < mean (44)
direvisi oleh penulis dan
sesuai dengan bentukbentuk perilaku bullying,
terdiri dari 29
pernyataan. Dengan skor
tertinggi adalah 116 dan
skor terendah adalah 29
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Ordinal
BAB IV
METODELOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini mengkaji hubungan antara perspsi jenis pola asuh orang tua
tehadap risiko perilaku bullying pada siswa SMA Triguna Utama Ciputat.
Berdasarkan pendekatan penelitian, peneliti menggunakan pendekatan
kuantitatif. Pendekatan kuantitatif lebih berdasarkan pada data yang dapat
dihitung
untuk
menghasilkan
penafsiran
kuantitatif
yang
kokoh
(Hikmat,2007).
Pada penelitian kuantitatif ini jenisnya adalah deskriptif korelatif. Peneliti
menggunakan desain ini karena ingin mengetahui hubungan antara persepsi
jenis pola asuh orang tua (variabel independen) terhadap resiko perilaku
bullying (variabel dependen).
B. Populasi dan sampel penelitian
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan unit subjek atau objek dengan karakteristik
tertentu yang akan diteliti (Hidayat, 2007). Populasi dari penelitian ini
adalah seluruh siswa SMA Triguna Utama Ciputat kelas X dan XI yang
berjumlah 104 siswa. Kelas XII tidak dapat menjadi responden, karena telah
selesai melakukan ujian nasional sehingga sudah sudah tidak ada kegiatan
belajar lagi di sekolah tersebut.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti atau sebagian
jumlah dari karakteristik yang dimilki oleh populasi. Dalam penelitian
46
47
keperawatan kriteria sampel meliputi kriteria inklusi dan ekslusi, dimana
kriteria tersebut menentukan dapat dan tidaknya sampel tersebut digunakan
(Hidayat, 2007).
a.Kriteria inklusi :
1) Siswa kelas X dan XI SMA Triguna Utama Ciputat
2) Bersedia menjadi responden.
Untuk pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik
random sampling yaitu
stratified random sampling (pengambilan sampel
secara acak stratifikasi). Jika suatu populasi mempunyai unit yang mempunyai
karakteristik yang berbeda-beda atau heterogen, maka teknik pengambilan
sampel
yang
tepat
digunakan
adalah
stratified
random
sampling
(Notoatmodjo, 2006). Teknik ini menggunakan perwakilan populasi dari
setiap tingkatan atau jenjang dalam hal ini di random masing-masing mewakili
kelas X dan XI IPA dan XI IPS.
Pengambilan jumlah sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus yang
dikembangkan oleh Sugiyono (2008) dari Isaac dan Michael :
(
)
Keterangan :
λ = 1,96 (Derajat kepercayaan 95% CI/Confidence Interval dengan alfa (α)
sebesar 5%)
N = Jumlah Populasi = 104
P = 0,828 (proporsi pola asuh otoriter terhadap perilaku bullying remaja
pada penelitian Annisa tahun 2012)
48
Q = 1-P = 1-0,828 = 0,17
d = penyimpangan terhadap populasi atau derajat ketepatan yang diinginkan
= 0,05
n = sampel
(
)
n = 70,20 dibulatkan menjadi 71
Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu 71 orang. Diketahui jumlah
populasi 104, yaitu kelas X berjumlah 46 siswa, XI IPA berjumlah 26 orang
siswa. XI IPS sebanyak 32 orang siswa. Maka besar sampel untuk setiap
kelas adalah :
C. Waktu dan Tempat
1. Waktu
Waktu penelitian dilaksanakan pada juni 2013
2. Tempat
Peneltian ini dilakukan di SMA Triguna Utama Ciputat.
D. Instrument Penelitian
Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
adalah kuisioner dalam bentuk skala likert, dimana responden harus menjawab
pernyataan yang paling sesuai dengan dirinya. Menurut Azwar (2012), untuk
49
aspek keprilakuan harus selalu dirumuskan dalam arah favorable yaitu berisi
konsep keprilakuan yang sesuai atau mendukung atribut yang diukur, selain
itu juga diukur dengan arah unfavorable, yaitu yang bertentangan atau tidak
mendukung ciri perilaku yang dikehendaki oleh indikator keprilakuanya.
Responden memilih jawaban untuk setiap pernyataan yang menunjukan
kesetujuan (favourable) atau yang ketidaksetujuan (unfavourable), dengan
empat kategori jawaban yaitu SS (sangat sesuai), S (sesuai), TS (tidak sesuai),
STS (sangat tidak sesuai).
Untuk pengumpulan datanya sendiri peneliti akan menggunakan satu data
demografi dan dua kuisioner, yaitu :
1. Data demografi, yaitu :
a. Jenis kelamin,
b. Kelas
2. Kuisioner Pola Asuh Orang Tua
Parenteral authority Quistionare ( PAQ) yang dibuat oleh Buri (1991)
dan dikembangkan oleh Dwairy dkk (2006), yang peneliti beserta rekannya
seorang guru bahasa inggris terjemahkan kedalam bahasa Indonesia,
kuisioner ini bertujuan untuk mengetahui jenis pola asuh orang tua mana
yang paling dominan digunakan oleh orang tua responden. Pola asuh orang
tua sendiri menurut Boumrind (dalam Fathi 2011) ada tiga jenis yaitu :
demokratis, otoriter, dan permisif.
Kuisioner ini terdiri dari 30 pernyataan, setiap jenis pola asuh digambarkan
oleh 10 pernyataan, yang pada akhirnya skor tertinggi yang diperoleh pada
salah satu
dari tiga pola asuh tersebut menunjukan pola asuh tersebut.
50
Sebagai contoh apabila skor yang diperoleh oleh responden setelah mengisi
PAQ didapatkan skor pada pola asuh authoritative (demokratis) adalah 36,
sedangkan skor pada authoritarian (otoriter), dan permissive (permisif)
adalah 10 dan 12. Maka responden tersebut termasuk pola asuh orang tua
authoritative (demokratis) karena skor yang terbesar didapatkan pada pola
asuh tersebut. Apabila skor yang didapat ternyata sama pada dua atau tiga
jenis pola asuh, maka pola asuh orang tuanya termasuk dalam pola asuh
campuran.
No Pola asuh
1.
Indikator
authoritarian 
(Otoriter)

2.
authoritative 
(otoritatif/
demokratis)

3.
permissive
(permisif)


No
Pernyataan
Orang tua bersifat 7,12,18,25
membatasi,
menghukum
dan
hanya
sedikit
melakukan
2, 3, 9, 26,
komunikasu verbal
Mendesak
anak 29
untuk
mengikuti 16
petunjuk dan usaha
orang tua
Mendorong
anak 8, 22, 27
untuk bebas tetapi 15
tetap
memberikan
batasan
dan
mengendalikan
tindakan anak
Pembuatan
aturan 11, 20, 23,
30
dikeluarga
4, 5
diterapkan
berdsarkan
aturan
bersama
Orang tua bersifat 6, 14, 19, 24
serba
bebas
( 1, 10
membolehkan )
Tidak memberikan
pengawasan
dan 13,17,21, 28
pengarahan
pada
tingkah laku anak
Jumlah
4
6
4
6
6
4
51
30
Jumlah
Table 4.2 Distribusi Pernyataan kuisioner Pola Asuh Orang tua
3. Kuisioner Risiko Perilaku bullying
Kuisioner ini digunakan dengan mengetahui risiko siswa dalam melakukan
bullying ini dibuat oleh Atfiyanah (2013) yang telah dimodifikasi oleh
peneliti, kuisioner ini menggunakan skala model likert yang memilki empat
alternatif jawaban yaitu : SS ( sangat sesuai), S ( sesuai), TS ( tidak sesuai),
STS ( sangat tidak sesuai). yang terdiri dari 39 pernyataan dngan arah
favorable dan unfavorable.
No
1
2
3
bullying
Verbal
Fisik
Psikis
Indikator
 Mengejek
 Mencela
 Menggoda
 Nama
julukan
 Memukul
 Menendan
g
 Mendoron
g
 Merusak
Barang
 Mencuri
 Menganca
m
Jumlah
Favorable
33, 37
22
9,15,19
13,30
Unfavorable
1, 4
7, 11
26, 28
12,25
Jumlah
4
3
5
4
2,21,34
23,29,35
5,17
27,32,38
18
3
20
16
4
4
3
4
6, 10, 39
8, 14, 36
24
31
4
4
39
Table 4.3 Distribusi Pernyataan Kuisioner Risiko Perilaku Bullying
Jumlah item pernyataan ada 28. Dihitung mneggunakan skor favorable
dengan skor 4 untuk jawaban SS, skor 3 untuk S, skor 2 untuk TS, dan 1 untuk
52
STS. Hasil ukur dari kuisioner ini adalah tinggi dan rendah. Dengan perhitungan
menggunakan rumus dari Azwar (2012) :
1. X ≥ mean (44)
tinggi
2. X < mean
rendah
E. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen
1.
Uji Validitas
Validitas adalah pengukuran dan pengamatan yang berarti keandalan
instrumen dalam mengumpulkan data dapat mengukur apa yang seharusnya
diukur. (Nursalam, 2008). Uji validitas dapat menggunakkan rumus Pearson
Product Moment dengan rumus sebagai berikut :
(
√[
)
(
(
) ][
)(
)
(
) ]
Keterangan :
= koefisien korelasi
= jumlah skor item
= jumlah skor total (item)
= jumlah responden
Hasil penghitungan tiap-tiap item akan dibandingkan dengan tabel nilai
product moment. Jika r hitung lebih besar dari table r tabel pada taraf
signifikansi 5% maka instrumen yang diujicobakan dinyatakan valid.
53
Peneliti melakukan uji coba pada 34 siswa SMA YADIKA Sumedang
karena karakteristiknya sama dengan tempat yang akan diteliti nantinya.
Kemudian hasil dari uji coba, hasilnya dianalisa menggunakan rumus
Pearson Product Moment dengan bantuan perangkat lunak computer. Dari
hasil analisis didapatkan bahwa r tabel (n-2) < r hitung atau 0,349 < r hitung
pada semua kuisioner persepsi pola asuh, dan pada risiko perilaku bullying
dari 39 item terdapat 11 item yang tidak valid (r table > r hitung) kemudian
11 item tersebut dihilangkan, sehingga terdapat 28 item valid untuk risiko
bullying dan sudah mewakili dari bentuk-bentuk bullying.
2.
Uji Reabilitas
Reabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila
fakta atau kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkali-kali dalam waktu
yang berlainan. Teknik pengujian pada penelitian ini menggunakan teknik
Alpha Crombach (α), dalam uji reliabilitas r hasil adalah alpha. Ketentuannya
apabila r alpha > r tabel maka pertanyaan tersebut reliabel. Sebaliknya
apabila r alpha < r tabel maka pertanyaan tersebut tidak reliabel
(Notoatmodjo, 2006).
Rumus :
[
][
(
)
]
Keterangan :
= Koefisien reliabilitas yang dicari
k
= banyak butir pertanyaan atau banyaknya soal
= jumlah varians butir
= Varian total
54
Dari hasil uji reabilitas yang dilakukan oleh peneliti di SMA YADIKA
Sumedang, terhadap 34 responden, dengan menggunakan bantuan software
komputer diperoleh nilai Alpha Cronbach (α) dari variable persepsi pola asuh
orang tua sebesar 0,913 (koefisien reabilitas tinggi) dan variable risiko perilaku
bullying diperoleh nilai Alpha Cronbach (α) sebesar 0,915 (koefesien reabilitas
tinggi), melihat dari nilai yang diperoleh maka dapat dinayatakan bahwa kedua
kuisioner tersebut realibel dan dapat digunakan.
F. Tahapan penelitian
1. Tahap persiapan :
a. Dimulai dengan perumusan masalah.
b. Menentukan variable penelitian.
c. Melakukan studi kepustakaan untuk mendapatkan gambaran dan landasan
teoritis yang tepat.
d. Menentukan lokasi penelitian
e. Melakukan studi pendahuluan.
f. Menentukan, menyusun, dan menyiapkan alat ukur yang akan digunakan
dalam penelitian ini yaitu skala jenis pola asuh orang tua dan skala risiko
perilaku bullying.
g. Mengajukan izin ke sekolah yang akan diteliti.
h. Melakukan uji coba alat ukur ( try out) di sekolah berbeda namun
kriterianya masih sama yakni setingkat SMA.
2. Tahapan pengambilan data :
a. Menjelaskan tujuan penelitian dan melakukan informed consent
55
b. Membagikan kuisioner dan menjelaskan cara pengisianya
c. Melakukan skoring terhadap hasil kuesioner yang telah diisi oleh
responden
d. Menghitung dan mencatat tabulasi data yang diperoleh, kemudian
membuat tabel data
e. Melakukan analisis data dengan menggunakan metode statistik untuk
menguji hipotesis penelitian
3. Tahapan pembahasan :
a. Menginterprestasikan dan membahas hasil analisis statistik berdsaarkan
teori.
b. Merumuskan hasil penelitian yang diperoleh dan membahasnya.
G. Pengolahan data
Pengolahan data terdiri dari serangkaian tahapan yang harus dilakukan
agar data siap untuk di uji statistik dan dilakukan analisis/interprestasi.
1. Data Coding
Data coding yaitu merupakan kegiatan mengklarifikasi data dan memberi
kode untuk masing – masing kelas sesuai dengan tujuan dikumpulaknya
data.
2. Data Editing
Data editing adalah penyuntingan data dilakukan sebelum proses
pemasukan data.
3. Data Structure
56
Data structure dikembangkan sesuai dengan analisis yang akan dilakukan
dan jenis perangkat lunak yang digunakan.
4. Data Entry
Data entry meupakan proses pemasukan data ke dalam program atau
fasilitas analisis data.
5. Data Cleaning
Data cleaning merupakan proses pembersihan data setelah data di entri
(Amran, 2012)
H. Analisa data
Analisa data yang akan digunakan menggunakan program komputer, yang
terdiri dari dua macam analisa data, yaitu univariat dan bivariat.
1.
Analisis univariat
Analisa
Univariat
digunakan
untuk
mejelaskan
atau
mendeskiripsikan karakteristik masing-masing variabel yang dimiliki.
Varabel independen persepsi jenis pola asuh orang tua dan variable
dependen risiko perilaku bullying selain itu analisis univariat digunakan
juga untuk melihat distribusi frekuensi dari jenis kelamin dan kelas.
2. Analisis Bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara
variabel dependen dan independen. Yaitu untuk mengetahui hubungan
antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku bullying.
Analisa data yang digunakan adalah uji korelasi Lambda. Hasil penelitian
dibandingkan p-value dengan signifikan alpha 0,05. Apabila p-value lebih
kecil dari alpha (0,05) maka ada hubungan yang bermakna antara variabel
57
independen dengan variabel dependen dan apabila p-value lebih besar dari
alpha (0,05) maka tidak ada hubungan antara variabel independen dan
variabel dependen.
Uji korelasi Lambda digunakan untuk menguji korelasi dua
variabel dimana salah satu variabelnya nominal. Dalam penelitian ini
variabel persepsi jenis pola asuh orang tua adalah nominal dan variabel
risiko perilaku bullying adalah ordinal.
I. Etika penelitian
Hidayat (2008) menjelaskan ada tiga masalah etika dalam penelitian
keperawatan, yaitu :
1. Informed Consent
Informed Consent dilakukan sebelum melakukan penelitian.
Informed Consent ini berupa lembar persetujuan untuk menjadi responden.
Pemberian informed Consent bertujuan agar subjek mengerti maksud dan
tujuan penelitian dan mengetahui dampaknya. Jika subjek bersedia untuk
menjadi responden atau bagian yang diteliti, maka subjek harus
menandatangani lembar persetujuann namun apabila subjek menolak maka
peneliti harus menghormati keputusan tersebut
2. Anonimity ( Tanpa Nama)
Anonimity, berarti tidak perlu mencantumkan nama pada lembar
pengumpulan data (kuisioner). Peneliti hanya menuliskan kode pada
lembar penelitian tersebut.
3. Confidentially (Kerahasiaan)
58
Bagian ini menjelaskan masalah-masalah responden yang harus
dirahasiakan
dalam
penelitian.
Kerahasian
informasi
yang
telah
dikumpulkan dijamin kerahasian oleh peneliti, hanya kelompok data
tertentu yang akan dilaporkan dalam hasil penelitian.
Sedangkan menurut Nursalam (2009), bahwa secara umum prinsip etika
penelitian/pengumpulan data dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Prinsip manfaat
Penelitian harus dilaksanakan tanpa mengakibatkan penderitaan pada subjek.
Terlebih lagi jika menggunakan tindakan khusus.
2. Bebas dari eksploitasi
Partisipasi subjek dalam penelitian, harus dihindarkan dari keadaan yang
tidak
menguntungkan.
Peneliti
harus
meyakinkan
subjek
bahwa
penelitianya tidak akan merugikan subjek dalam hal apapun.
3. Resiko ( benefits ratio)
Peneliti harus hati-hati mempertimbangkan risiko dan keuntungan yang
akan berakibat pada subjek pada setiap tindakan.
BAB V
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum SMA Triguna Utama Ciputat
SMA Triguna Utama Ciputat terletak di kota Tangerang Selatan tepatnya di Jalan
Ir. Juanda km 2, Ciputat Rt. 02/Rw 04, Kampung Utan, Cempaka Putih, Kecamatan
Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, yang berjarak sekitar 8 km dari
Pusat Pemerintahan Kota Taengerang Selatan. Secara Topografi SMA Triguna Utama
Ciputat berada pada ketinggian 44 m dari permukaan laut.
Sebelah barat SMA Triguna Utama Ciputat berbatasan dengan Kecamatan
Pamulang. Sebelah timur berbatasan dengan DKI Jakarta. Sebelah Utara berbatasan
dengan Kecamatan Pondok Aren. Kemudian sebelah selatan berbatasan dengan
Kecamatan Pamulang.
Kawasan di SMA Triguna Utama Ciputat ini berbatasan langsung dengan
wilayah bisnis dan jasa serta berdekatan dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta yang merupakan pusat pendidikan islam. Lokasi SMA ini sangat
strategis karena merupakan wilayah inti dari pengembangan kota serta pengembangan
pendidikan karena memang lokasinya yang sangat berdekatan dengan UIN
B. Analisa Univariat
1. Gambaran Demografi Responden
Penelitian ini dilakukan pada bulan juni 2013 dengan responden sebanyak 71
orang siswa/siswi di SMA Triguna Utama Ciputat, yang memenuhi kriteria inklusi
yang ditentukan sebelumnya. Tehnik pengambilan data dengan menggunakan 3 buah
kuisioner, yaitu : data demografi, kuisioner persepsi jenis pola asuh orang tua, dan
kuisioner risiko perilaku bullying, dan siswa/siswi yang menjadi responden mengisi
sendiri kuisioner tersebut.
60
61
Karakteristik responden disini terdiri dari jenis kelamin dan kelas, yang mana
datanya sebagai berikut :
a. Jenis Kelamin
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Frekuensi
Persentase (%)
Laki-laki
32
45
Perempuan
39
55
71
100%
Total
Tabel 5.1 menunjukkan distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis
kelamin. Hasil ini menunjukkan bahwa responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak
32 orang (45%) dan responden perempuan sebanyak 39 orang (55%).
b. Kelas
Table 5.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelas
Kelas
Frekuensi
Persentase %
X
31
44
XI
40
56
Total
71
100%
Tebel 5.2 Menunjukan bahwa distribusi Frekuensi Responden berdasarkan
kelas adalah kelas X berjumlah 31 orang (44%), kelas XI 40 orang (56%)
62
2. Persepsi Jenis Pola Asuh Orang Tua
Variabel persepsi jenis pola asuh orang tua merupakan variabel independen,
maksud dari persepsi jenis pola asuh orang tua anak adalah bagaimana penafsiran
anak tentang jenis perlakuan orang tua yang diterapkan padanya, untuk membentuk
karakter anak dan dalam mencapai kedewasaan anaknya. Pola asuh dibagi menjadi 4,
yaitu : demokratis (Authoritatif) , Otoriter (Authoritarian) , Permisif (Permesiive) , dan
Campuran. Tabel dibawah ini menggambarkan bagaimana distribusi frekuensi persepsi
jenis pola asuh orang tua siswa di SMA Triguna Utama Ciputat.
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Persepsi Jenis Pola Orang tua Siswa di SMA Triguna
Utama Ciputat
Persepsi Jenis Pola Asuh
Jumlah
Persentase (%)
demokratis
31
43,7
Otoriter
28
39,4
Permisif
6
8,4
Campuran
6
8,4
Jumlah
71
100%
Orang tua
Tabel 5.3 menunjukan hasil bahwa persepsi jenis pola asuh orang tua yang
dominan adalah demokratis sebanyak 31 orang (43,7%), otoriter 28 orang (39,4%),
campuran dan permisif masing-masing 6 orang
3. Gambaran Risiko Perilaku Bullying Siswa di SMA Triguna Utama Ciputat
Variabel risiko perilaku bullying dibagi menjadi tiga hasil pengukuranya yaitu :
tinggi, sedang, dan rendah. Table 5.4 akan menggambarkan bagaimana gambaran
distribusi frekuensi risiko perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat
63
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Risiko Perilaku Bullying siswa di SMA Triguna Utama
Ciputat
Risiko Perilaku
jumlah
Persentase ((%)
Tinggi
38
53,5%
Rendah
33
46,5 %
jumlah
71
100%
Bullying
Tabel 5.4 menunjukan bahwa bullying terbanyak adalah termasuk kriteria tinggi
sebanyak 38 orang (53,5%) dan rendah sebanyak 33 orang (46,5%).
C. Analisa Bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel dependen
dan independen. Persepsi jenis pola asuh orang tua adalah variabel dependen, dan risiko
perilaku bullying adalah variabel independen. Uji bivariat ini menggunakan uji korelaasi
Lambda dengan tingkat kemaknaan 0.05 (α = 5%). Analisa hubungan antara persepsi
jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama
Ciputat akan disajikan pada table 5.5
Tabel 5.5 Hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku
bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat
persepsi pola asuh * risiko perilaku bullying Crosstabulation
risiko perilaku bullying
rendah
.persepsi pola asuh
demokrasi
Count
Expected Count
otoriter
Count
Expected Count
tinggi
Total
25
6
31
14.4
16.6
31.0
7
21
28
13.0
15.0
28.0
64
permesif
Count
0
6
6
2.8
3.2
6.0
1
5
6
Expected Count
2.8
3.2
6.0
Count
33
38
71
33.0
38.0
71.0
Expected Count
campuran
Total
Count
Expected Count
Tabel 5.5 menunjukan bahwa jenis persepsi pola asuh orang tua yang paling
banyak adalah demokrasi adalah 31 orang dengan tingkat risiko perilaku bullying pada
risiko rendah yaitu 25 orang (80,6%) dan pada risiko perilaku bullying rendah 6 orang
(19,4%). Jadi pada persepsi pola asuh demokratis paling banyak adalah berisiko rendah
terhadap perilaku bullying. Berbeda dengan pola asuh otoriter dan campuran yang mana
tingkat risiko perilaku bullying lebih banyak pada tingkat tinggi, sedangkan untuk
persepsi pola asuh orang tua permisif ada 6 orang (100%) berisiko perilaku bullying
tinggi.
Uji statistik yang digunakan untuk melihat hubungan antara persepsi jenis pola
asuh orang tua terhadap risiko perilaku bullying adalah uji korelasi Lambda dengan
tingkat kemaknaan 0,05 (α = 5%). Dari hasil uji tersebut didapatkan bahwa nilai p =
0,000 lebih kecil dari 0,05 (menunjukan ada hubungan yang signifikan) dan r = 0,576
(kekuatan hubungan sedang), maka ini menunjukan bahwa Ha diterima, sehingga dapat
dikatakan bahwa ada hubungan yang sedang antara persepsi jenis pola asuh orang tua
terhadap risiko perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat.
BAB VI
PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara
persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku bullying siswa di SMA
Triguna Utama Ciputat. Penelitian ini dilakukan pada bulan juni 2013. Penelitian
dilakukan dengan sampel sebanyak 71 siswa/siswi SMA Triguna Utama Ciputat.
Pengumupulan data menggunakan satu data demografi dan dua macam kuisioner
yang terdiri dari kuisioner persepsi jenis pola asuh orang tua dan kuisioner risiko
perilaku bullying. Berikut ini dijelaskan mengenai hasil penelitian yang terdiri dari
analisa univariat, bivariat, dan keterbatasan penelitian.
A. Analisa Univariat
1. Gambaran Persepsi Jenis Pola Asuh Orang Tua Siswa di SMA Triguna
Utama ciputat
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 71 siswa di SMA
Triguna Utama Ciputat didapatkan untuk siswa yang mempersepsikan pola
asuh orang tuanya demokratis berjumlah 31 orang (43,7%), diikuti pola asuh
otoriter 28 orang (39,4%), campuran 6 orang (8,4%), dan permisif 6 orang
(8,4%). Disini terlihat bahwa persepsi pola asuh yang paling dominan adalah
demokratis dan otoriter.
Hurlock (2005) menyatakan bahwa persepsi individu dapat memotivasi
perilakunya lebih lanjut. objek persepsi yang dinilai tidak menyenangkan maka
perilakunya negatif, sebaliknya individu yang mempersepsikan suatu objek
secara positif akan mengkondisikan individu secara psikologis sebagai motivasi
66
67
untuk berperilaku positif. Persepsi pola asuh orang tua yang positif akan
membuat dampak yang positif juga. Penyebabnya adalah orang tua dapat
memberikan dasar pembentukan sikap, watak, tingkah laku, moral dan
pendidikan pada anak, yang semua itu mampu di persepsi remaja secara positif,
sehingga berdampak positif pula pada kualitas kepribadian remaja, dalam hal
ini pada perilaku disiplinya (Rahman, 2008).
Pola asuh sendiri adalah aktivitas kompleks termasuk banyak perilaku
spesifik
yang
dikerjakan
secara
individu
dan
bersama-sama
untuk
mempengaruhi pembentukan karakter anak (Santrock, 2004).
Hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi pola asuh demokratis dan
otoriter adalah yang paling mendominasi. Remaja mempersepsikan pola asuh
demokratis, karena remaja oleh orang tuanya didorong untuk mandiri namun
masih dibatasi dan dikendalikan aksi-aksinya, diberikan komunikasi terbuka
dan kehangatan dalam pengasuhanya. Ciri yang kental pada pola pengasuhan
ini adalah adanya diskusi antara anak dan orang tua, kerja sama yang berjalan
baik antara anak dan orang tua, anak diakui eksistensinya, dan kebebasan
berekspresi diberikan kepada anak dengan tetap berada dibawah pengawasan
orang tua (Baumrind, 1971 dalam Fathi, 2011).
Pola pengasuhan demokratis memiliki banyak manfaat. Surbakti (2009)
menjelaskan tentang manfaat pola asuh demokratis yaitu : dapat menghargai
pendapat orang lain, menghormati perbedaan pendapat, membangun dan
membina dialog, menghindarkan sikap mau menang sendiri, memupuk
persaudaraan dan persahabatan, mengedepankan sikap tenggang rasa,
membangun kerja sama, kepemimpinan kolektif, menumbuhkan sikap kritis,
67
68
menghormati kesetaraan peran, menumbuhkan semangat gotong royong,
mengembangkan potensi diri.
Pola asuh yang paling dominan berikutnya adalah pola asuh ototiter yaitu
sebanyak 28 orang (39,4%). Pola asuh ini bersifat menghukum dan membatasi
dimana orang tua sangat memaksakan remaja mengikuti dan menghormati
usaha-usaha yang dilakukan oleh orang tuanya, serta komunikasi tertutup,
sehingga tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk berkomunikasi
secara verbal (Baumrind, 1971 dalam Fathi, 2011). Widyarini (2009)
mengemukakan bahwa pola asuh otoroter memiliki ciri pokok tidak
demokratis dan menerapkan kontrol yang kuat, maka tidak mengherankan
pola asuh otoriter memiliki banyak akibat negatif terhadap anak.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut diatas, kita dapat menyimpulkan orang tua
dengan pola asuh otoriter tidak menyadari bahwa dengan pola yang lebih
banyak menuntut terhadap anak ini telah mengikis kehangatan hubungan
dengan anak. Anak tidak menemukan suasana yang memungkinkan untuk
mengekspresikan pikiran atau perasaanya. Padahal kehangatan dalam
hubungan orang tua dan anak merupakan prasyarat bagi kesejahteraan
psikologis bagi anak maupun orang tua (Widyarini, 2009).
Pola asuh campuran didapatkan peneliti yaitu sebanyak 6 orang (8,4 %),
yang terdiri campuran semua jenis pola asuh (demokratis, otoriter, dan
permisif) sebanyak 2 orang (33,3%) dan pola asuh campuran yang terdiri dari
pola asuh otoriter dan demokratis ada 4 siswa (66,6%), dan tidak ditemukan
pada penelitian ini pola asuh demokratis dan permsif atau otoriter dan
permisif.
68
69
Pola asuh permisif yang peneliti temukan adalah sebanyak 6 orang (8,4%),
ini merupakan persepsi pola asuh paling sedikit dibandingkan dengan persepsi
siswa tentang pola asuh lainya. hasil ini berbeda dengan hasil penelitian
Annisa (2012) yang dilakukan di SMK Cikini, yang mana pola asuh ibu
permisifnya cukup besar, yaitu 21 orang (23,1%) dari 91 orang responden.
Pola asuh permisif adalah gaya pengasuhan orang tua yang memberikan
kebebasan penuh kepada anaknya. Cirinya orang tua bersifat longgar, tidak
terlalu memberikan bimbingan dan kontrol, perhatian pun terkesan kurang.
Kendali anak sepenuhnya terdapat pada anak itu sendri. (Baumrind, 1971
dalam Santrock, 2011).
Surbakti (2009) menjelaskan akibat penerapan pola asuh permisif remaja
akan merasa bebas melakukan apa saja sesuai keinginan mereka, pola asuh
permisif juga merupakan metode yang paling cepat menghancurkan masa
depan remaja. Selain itu menurut Palupi dan Puspita (2013) pola asuh permisif
menyebabkan dampak yang lebih buruk daripada pola asuh otoriter dalam hal
prestasi belajar.
Pada masa remaja juga seseorang akan mengalami perubahan hubungan
dengan orang tua, yaitu akan mengalami kerenggangan. Kerenggangan ini
semakin lama semakin terasa antara kedua belah pihak, hubungan dalam
bentuk percakapan semakin jarang. Akhirnya hubungan mereka mengesankan
usaha melepaskan diri karena ingin berdiri sendiri. Disini mulailah masa
penuh kontraindikasi antara orang tua dan remaja. Disatu pihak remaja merasa
tidak dimengerti oleh orang tua. Sebaliknya orang tua tidak mengetahui isi
hatinya para remaja. Kesimpangsiuran dalam hal pandangan dan pendapat ini
69
70
menyebabkan kehidupan yang berbeda
(Gunarsa, 2012). Maka dari itu
penting bagi orang tua untuk melakukan komunikasi yang terbuka dengan
remajanya agar remaja merasa lebih dimengerti dan didengarkan, namun tetap
memberikan kontrol yang baik.
Dalam hubungan orang tua dan remaja yang perlu dicatat dan dijadikan
pegangan utama adalah persepsi remaja itu sendiri, bukan pandangan orang
tua atau orang dewasa lainya karena jika remaja memandang suatu hal sebagai
ketidakadilan, maka dia akan bereaksi sesuai dengan pandanganya itu sendiri,
walaupun semua orang mengatakanya sebagai hal yang biasa saja dan adil
(Sarwono, 2012).
Setiap orang tua tentunya memiliki gaya pengasuhan yang berbeda beda,
namun dalam kehidupan sehari-hari orang tua mungkin melakukan kombinasi
dari gaya pengasuhan, akan tetapi hanya satu gaya pengasuhan yang dominan
(Baumrind 1991, dalam Santrock, 2007). Perbedaan pola asuh terjadi karena
banyak faktor, menurut Hurlock (2012) menjelaskan faktor-faktor yang
mempengaruhi pola asuh orang tua yaitu : pola asuh yang diterima orang tua
ketika masih kecil, pendidikan orang tua, kelas sosial, konsep tentang peran
orang tua, kepribadian orang tua, kepribadian anak, faktor nilai yang dianut
orang tua, dan usia anak.
2. Gambaran Risiko Perilaku Bullying Siswa di SMA Triguna Utama Ciputat
Bullying adalah penindasan tehadap seorang siswa yang dilakukan
berulang kali dari waktu ke waktu yang berdampak negatif dan dilakukan oleh
satu siswa atau lebih
(Olweus, 1993 dalam Hazalden Foundation 2007).
Sedangkan definisi lain menyebutkan bahwa bullying adalah suatu keadaan
70
71
dimana terjadi penyalahgunaan kekuasaan/kekuatan yang dilakukan oleh
seseorang atau kelompok. Pihak yang kuat disini tidak hanya kuat secara fisik,
akan tetapi bisa juga kuat secara mental, dan korban bullying tidak mampu
mempertahankan dirinya karana lemah secara fisik maupun secara mental
(Yayasan Sejiwa, 2008).
Sedangkan risiko perilaku bullying itu sendiri adalah risiko untuk
melakukan suatu bentuk agresi yang dilakukan oleh orang yang merasa
berkuasa kepada orang yang dianggap lemah untuk keuntungan atau kepuasan
mereka sendiri baik dilakukan oleh individu atau kelompok dengan tujuan
untuk menyakiti korbanya dan dilakukan dengan berulang-ulang. Maksud dari
risiko disini karena perilaku bullying yang ditelitinya belum terjadi dan peneliti
melakukan penilaian dari kuisioner yang dibagikan, jadi hasilnya dilihat tingkat
risiko atau tingkat kecenderungan dari perilaku bullying. Hasil dari
pengkuranya adalah tinggi, sedang dan rendah.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, risiko perilaku bullying siswa
adalah paling banyak risiko perilaku bullying tinggi yaitu berjumlah 38 siswa
(53,5%). Hal ini menunjukan bahwa risiko perilaku bullying siswa yang paling
banyak di SMA Triguna Utama Ciputat adalah tinggi
Hasil peneltian ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan Annisa
(2012) tentang perilaku bullying siswa SMK Cikini, dengan karakteristik
responden yang hampir sama, akan tetapi Annisa hanya membaginya menjadi
dua, yaitu melakukan bullying dan tidak melakukan bullying, yang hasilnya 56
orang (61,5%) dari 92 orang melakukan bullying, dan yang tidak melakukan
71
72
bullying berjumlah 35 orang (38,5%). Hal ini menunjukan memang terjadi
bullying di tingkat SMA/SMK.
Hasil penelitian ini berbeda dengan yang didapatkan oleh Basyiruddin
(2010) tentang penalaran moral dan perilaku bullying di santri Madrasah
Aliyah Assaadah Serang banten. Pada penelitianya ini skor bullying yang
berada pada kategori tinggi hanya 15 orang (19, %) dari 80 responden, dan
yang paling banyak justru pada kategori sedang 51 orang (63,3%), peneliti
berasumsi bahwa perbedaanya ini karena perbedaan lingkungan, dalam hal ini
Basyiruddin (2010) melakukanya di lingkungan pesantren yang lebih positif.
Penelitian Maghfiroh & Rachawati (2009) menunjukan bahwa semakin baik
iklim/lingkungan sekolah, semakin sedikit kecenderungan perilaku bullying,
iklim sekolah sendiri memberikan sumbangan sebesar 21% terhadap perilaku
bullying.
Pada penelitian ini tingkat risiko perilaku bullying yang tinggi paling
banyak pada responden kelas XI yaitu dari 35 responden yang berisiko perilaku
bullying tinggi, sebanyak 21 responden (60%) berasal dari responden kelas XI.
Artinya kelas XI disini lebih banyak yang berisiko perilaku bullying tinggi
dibanding kelas X. Ini sesuai dengan pendapat Astuti (2008), yang menjelaskan
bahwa biasanya bullying dilakukan dari senior ke junior, dikarenakan senior
merasa lebih berkuasa atau memang meneruskan tradisi yang sudah ada,
sehingga berujung pada perilaku bullying. Selain itu kelas XI juga adalah yang
menjadi panitian MOS (masa orientasi siswa) yang mana banyak dijadikan
ajang pembulian dari mereka kelas X sebagai siswa baru, dan ini sudah
dianggap hal biasa di Indonesia.
72
73
Pada penelitian di SMA Triguna Utama ini jumlah responden perempuan
lebih banyak dari pada laki-laki yaitu berjumlah 39 orang (55%). Hasilnya akan
berbeda apabila penelitian ini dilakukan di SMK yang mana jurusan yang ada
didalamnya lebih banyak yang diminati oleh laki-laki. Seperti pada penelitian
Annisa (2012) yang dilakukan di SMK Cikini, dimana jumlah responden lakilakinya berjumlah 85,7%.
B. Analisa Bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel
dependen dan independen. Yaitu untuk mengetahui hubungan antara persepsi
jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku bullying. Analisa data yang
digunakan adalah uji korelasi Lambda. Hasil penelitian dibandingkan p-value
dengan signifikan alpha 0,05. Apabila p-value lebih kecil dari alpha (0,05)
maka ada hubungan yang bermakna antara variabel independen dengan
variabel dependen dan apabila p-value lebih besar dari alpha (0,05) maka tidak
ada hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Hasil uji
statistik yang peneliti lakukan menunjukan bahwa ada hubungan yang sedang
antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadapa risiko perilaku bullying ( p
= 0,000, r = 0,576). Hasil penelitian tersebut sesuai dengan penelitian Annisa
(2012) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara pola asuh ibu denga
perilaku bullying remaja dan sesuai juga dengan Penelitian Mayasari (2008)
yang mendapatkan bahwa ada hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang
tua dengan kenakalan remaja siswa kelas XI SMU Laboratorium Malang.
Penelitian lainya juga yang sesuai adalah penelitian Eyefni (2011) yang
mendapatkan hasil ada hubungan antara pola asuh orang tua terhadap perilaku
73
74
agresif serta Murtiani (2011) ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan
kenakalan remaja.
Hasil
dari
penelitian
ini
menunjukan
bahwa
siswa
yang
mempersepsikan pola asuh orang tua demokratis ada 31 orang (43,7 %),
dengan risiko perilaku bullying rendah 25 orang (80,6%) dan tinggi 6 orang
(19,4%). Siswa yang mempersepsikan pola asuh orang tuanya otoriter ada 28
orang (39,4%), dengan risiko perilaku bullying rendah 7 orang (25%), tinggi 21
orang (75,0%). Siswa yang mempersepsikan pola asuh orang tuanya permisif
ada 6 orang (8,4 %) yang mana seluruh dari siswa ini (100%) memiliki risiko
perilaku bullying tinggi. Selajutnya siswa yang mempersepsikan pola asuh
orang tuanya campuran ada 6 orang (6,4%), dengan risiko perilaku bullying
rendah 1 orang (16,7%), dan tinggi 5 orang (83,3%).
Pola asuh yang paling ideal yang dapat diterapkan orang tua (ayah dan
ibu) dalam pengasuhan remaja adalah pengasuhan demokratis. Cole dan Hall
(1970
dalam Rahman, 2008) mengemukakan bahwa suasana terbuka dan
kondusif yang ada pada pola asuh demokratis menyebabkan remaja menjadi
lebih berkembang serta memiliki kemampuan menghadapi konflik yang terjadi
dengan orang lain. Hal tersebut dipertegas oleh Shapiro (2001 dalam Rahman,
2008) yang menjelaskan bahwa ayah dan ibu dengan pola asuh demokratis
menyebabkan anak tidak tergantung dan tidak berperilaku kekanak-kanakan,
mendorong untuk berprestasi, kreatif dan disukai banyak orang serta responsif.
Pola asuh demokratis dari hasil penelitian menunjukan bahwa risiko
perilaku bullying rendah sebanyak 80,6 % dan tinggi 19,4%. Hal ini jelas
bahwa pola asuh demokratis ini paling banyak risiko perilaku bullying rendah,
74
75
meskipun masih ada yang sedang dan tinggi, ini dikarenakan masih ada faktor
lain seperti teman sebaya, lingkungan/iklim sekolah, media, dll. Hasil
penelitian ini juga sesuai dengan penelitian Annisa (2012) yang menunjukan
bahwa sebagian besar yang menerima pola asuh demokratis adalah nonperilaku bullying.
Kaitanya dengan persepsi pola asuh yang terjadi pada remaja adalah
semakin positif remaja mempersepsikan pola asuh ayah dan ibunya, semakin
positif pula perilaku disiplin remaja tersebut. Rahman (2008) menyebutkan
bahwa persepsi remaja terhadap pola asuh demokratis ayah dan ibu dapat
mempengaruhi terbentuknya perilaku disiplin remaja, karena peran keluarga
dapat memberikan dasar pembentukan sikap, watak, tingkah laku, moral dan
pendidikan pada anak, yang semua itu mampu di persepsi remaja secara positif.
Persepsi siswa terhadap jenis pola asuh orang tua otoriter menunjukan
sebanyak 75% yang memiliki risiko perilku bullying tinggi. Hasil ini sesuai
dengan penelitian Annisa (2012) bahwasanya pola asuh ibu otoriter yang
paling banyak perilaku bullying yaitu 82,8%. Penelitian lainya juga
menunjukan hal yang sama yaitu persepsi pola asuh otoriter mempunyai
hubungan yang signifikan dengan kecenderungan perilaku agresi pada remaja
(Anggaraningtyas dkk, 2010).
Widyarini (2009) menyebutkan bahwa pola asuh otoriter memiliki ciri
pokok tidak demokratis dan menerapkan kontrol yang kuat. Hal ini berbeda
dengan pola asuh demokratis yang memberikan kebebasan dan menerapkan
kontrol. Berbeda pula dengan pola asuh permisif yang berciri bebas, tetapi
tanpa memberikan kontrol. Dengan pendekatan yang tidak demokratis dan
75
76
pemberian kontrol yang ketat dalam pola asuh otoriter, maka tidak
mengherankan pola asuh otoriter memiliki banyak akibat negatif terhadap anak
(widyarini, 2009).
Dibandingkan dengan jenis pola asuh yang lainya, pola asuh demokrasi
merupakan pola asuh yang paling memadai diterapkan kepada remaja dan
anggota keluarga lainya, karena dalam sistem pola asuh demokrasi aspirasi
setiap individu terakomodasi dengan baik sehingga individu dihormati sesuai
dengan kapasitas dan kapabilitasnya (Surbakti, 2009). Pendapat yang sama
juga diungkapkan oleh Steinberg & Silk (2002 dalam Santrock, 2007) pola
pengasuhan otoritatif (demokratis) merupakan pola pengasuhan yang paling
efektif, karena ;
a. Orang tua otoritattif mencapai keseimbangan
yang baik antara
pengendalian dan otonomi, memberikan peluang kepada anak-anak dan
remaja untuk mengembangkan kemandirian sambil memberika standar,
batasan dan bimbingan yang diperlukan oleh anak-anak (Rauter & Conger,
1995)
b. Orang tua otoritatif cenderung lebih banyak melibatkan anak-anaknya
dalam dialog verbal dan membiarkan mereka mengeksprsikan pandanganpandanganya (Kuczynski & Lollis, 2002). Jenis diskusi keluarga seperti
ini dapat membantu anak-anak memahami relasi sosial dan hal-hal yang
dibutuhkan untuk menjadi seorang yang kompeten,
c. Kehangatan dan keteribatan yang diberikan oleh orang tua yang
demokratis membuat anak lebih bersedia menerima pendidikan orang tua
(Sim, 2000).
76
77
C. Keterbatasan Peneliti
Dalam melakukan penelitian ini masih terdapat keterbatasan peniliti,
sehingga masih perlu disempurnakan lagi, berikut adalah keterbatasan peneliti :
1. Penelitian ini dilakukan hanya pada kelas X dan XI karena kelas XII sudah
libur setelah menghadapi UN, sehingga tidak menggambarkan risiko
perilaku bullying secara keseluruhan di SMA Triguna Utama Ciputat,yaitu
kelas X, XI, dan XII.
2. Penelitian ini tidak melihat responden apakah tinggal dengan kedua orang
tuanya, hanya salah satu dari orang tua, atau tidak diasuh oleh orang
tuanya.
3. Peneltian ini dilakukan setelah siswa melakukan ujian kenaikan kelas, yang
dikhawatirkan siswa sudah merasa lelah dan tidak fokus dalam mengisi
kuisioner penelitian yang dibagikan.
77
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil
penelitian di SMA Triguna Utama Ciputat, dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Jumlah responden perempuan lebih banyak yaitu 39 orang atau (55%)
2. Perspsi pola asuh orang tua siswa yang paling mendominasi adalah demokratis
31 orang (43,7%) dan dilanjutkan otoriter 28 orang (39,4 %)
3. Gambaran tingkat risiko perilaku bullying siswa adalah yang paling banyak
tinggi 38 orang (53,3%)
4. Hasil uji statistik menunjukan hubungan yang sedang anatara variabel persepsi
jenis pola asuh orang tua terhadap variabel risiko perilaku bullying (p = 0,000, r
= 0, 583).
5. Mayoritas responden yang mempersepsikan jenis pola asuh orang tuanya
demokratis, memiliki risiko perilaku bullying rendah berbeda dengan persepsi
jenis pola asuh lainya yang mayoritas berada pada tingkat risiko perilaku
bullying tinggi.
B. Saran
1. Bagi SMA Triguna Utama Ciputat
a. Setelah dilihat dari hasil penelitian, tingkat risiko perilaku bullying tinggi cukup
banyak yakni hampir setengahnya, maka hasil penelitian ini dapat dijadikan
pertimbangan bagi pihak sekolah untuk melakukan pengawasan yang labih lagi,
78
79
baik itu dari kepala sekolah, wali kelas, guru mata pelajaran, guru bp, maupun
penjaga keamanan sekolah, agar ketika nampak indikasi bullying, harus
dlakukan minimal peneguran atau larangan melakukan itu, dan harus dirubah
pemikiran bahwa bullying adalah perilaku yang wajar di sekolah-sekolah yang
ada di Indonesia, karena mengingat dampak bullying sangat banyak tidak
hanya bagi korban, pelaku, bahkan bagi yang menyaksikan bullying sendiri.
b. Adanya kerja sama yang baik antara pihak sekolah dengan orang tua. Orang tua
juga dapat melaporkan apabila anaknya terindikasi menjadi korban bullying,
dan apabila ada laporan seperti itu seyogyanya sekolah cepat tanggap
menanganinya agar masalah bullying ini tidak terjadi berlarut-larut atau
menjadi budaya disekolah tersebut.
c. Menjalin kerja sama dengan bidang keperawatan untuk bersama melakukan
pencegahan sampai dengan penanggulangan bullying.
2. Penelitian Selanjutnya
a. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan yang bermakna antara
persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku bullying siswa. Maka
dari itu, peneliti menyarankan untuk penelian yang akan datang untuk
dilakukan penelitian sejenis seperti dilihat bagaimana jika yang mengasuhnya
bukan ayah atau ibu kandung atau mungkin tidak tinggal satu rumah.
b. Pada penelitian selanjutnya dapat juga melihat pola asuh orang tua yang mana
yang paling berpengaruh terhadap perilaku bullying. Selain itu masih ada
variabel-variabel lain yang diduga ada hubunganya dengan perilaku bullying
yang masih dapat diteliti lebih lanjut.
80
c. Lebih selektif lagi dalam menentukan responden, seperti dilihat bagaimana
jumlah anak dalam keluarga tersebut, pekerjaan orang tua, pendidikan orang
tua dan lain-lain.
d. Penelitian selanjutnya yang akan dilakukan di SMA/SMK sebaiknya
memperhatikan juga jadwal akademik sekolah, seperti UN yang mana nantinya
sampel akan lengkap dari kelas X,XI, dan XII. Selain itu sebisa mungkin
sebaiknya tidak dilakukan saat ujian kenaikan kelas, karena dikhawatirkan akan
mengganggu konsentrasi siswa baik dalam ujiannya maupun dalam mengisi
kuisioner. Jadi peneliti harus punya perkiraan waktu yang tepat untuk
pengambilan data.
3. Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan
a. Hasil penelitian ini dapat menambah ilmu dibidang keperawatan jiwa, anak,
maupun keluarga. Dari hasil penelitian yang menunjukan tingginya risiko
perilaku bullying remaja, perawat dapat melakukan upaya-upaya untuk
mencegah atau menanggulangi bullying, perawat dapat memberikan asuhan
keperawatan bagi para pelaku atau korban bullying,
b. Perawat
dapat juga memberikan penyuluhan mengenai manajemen marah,
problem solving, atau koping yang baik terhadap masalah. Tidak kalah penting
adalah penyuluhan terkait perilaku bullying serta dampaknya bagi remaja,
mengingat masih sangat sedikit penanganan bullying di Indonesia.
c. Kaitanya dengan keperawatan keluarga adalah pada penelitan ini pola asuh
orang tua demokratis menunjukan tingkat risiko bullying rendah yang paling
banyak, berbeda denga pola asuh lain yang menunjukan paling banyak risiko
81
tinggi. Maka dari itu dapat juga menjadi pertimbangan ketika melakukan
penyuluhan kepada keluarga mengenai jenis-jenis pola asuh serta kelebihan dan
kekurangan dari cara pola asuh tersebut maupun pola asuh yag mana yang
paling berpengaruh terhadap perilaku bullying.
Daftar Pustaka
Ali, Zaidin. Pengantar keperawatan keluarga. Jakarta : EGC, 2010.
Anggaraningtyas dkk. Hubungan antara Koping Stress dan Persepsi Pola Asuh
Otoriter dengan Kecenderungan Perilaku Agresi pada Remaja yang
dimoderasi oleh konformitas Teman Sebaya pada Siswa Kelas XI SMK
Muhammadiyah 4 Boyolali. Skripsi Fakultas Kedokteran Univeristas Sebelas
Maret. 2010
Annisa. Hubungan Antara Pola Asuh Ibu Dengan perilaku Bullying Remaja. Skripsi
S1 Fakultas Ilmu Keperawatan. Universitas Indonesia. Depok, 2012.
Asmaliah. Hubungan Antara Persepsi Remaja Awal Terhadap Pola Asuh Orang Tua
Otoriter dengan motivasi berprestasi di SMPN 13 Malang. Skripsi. Fakultas
Psikologi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrohim Malang. 2009
Astuti, Poni Retno. Meredam Bullying: 3 Cara Efektif Menanggulangi Kekerasan
pada Anak. Jakarta: Grasindo, 2008.
Atfiyanah. Hubungan Antara Sensation Seeking dan Konformitas Teman Sebaya
Terhadap Kecenderungan Perilaku Bullying Siswa SMA Triguna Tangerang.
Skripsi S1 Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah
Jakarta, 2013.
Amran, Yuli. Pengolahan dan Analisis Data Statistik di Bidang Kesehatan. Jakarta :
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah, 2012.
Azwar, Saifuddin. Penyusunan Skala Psikologi. Edisi 2.Yoyakarta : Pustaka Pelajar,
2012.
Basyiruddin, Farkhan. Hubungan antara penalaran moral dengan perilaku bullying
para santri madrasah aliyah Pondok Pesantren Assa’adah Serang Banten.
Skiripsi S1. Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2010.
Badan Pusat Statistik (BPS). Profil Kriminalitas Reamaja 2010. diunduh pada 20
maret
2013,
dari
http://www.bps.go.id/hasil_publikasi/flip_2011/4401003/files/search/searchtex
t.xml
Dwairy dkk . Parenting Styles In Arab Socieies : A first Cross-Regional Research
Study. Jurnal of Cros Cultural Psychologi. Vol. 37 No.3. May 2006 1-18.
Sage Publication : 2006.
Efendi,Ferry & Mahfudhi .Keperawatan Kesehatan komunitas. Jakarta : Salemba
medika, 2009.
Ekowarni, E.. Kenakalan Remaja: Suatu Tinjauan Psikologi. Bulletin Psikologi. 2:
24-27,1993.
Eyefni, Yeye (2011) Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perilaku Agresif
pada siswa Kelas 2L2 dan Kelas 2M3 di SMK N 5 padang. Diakses pada 28
agustus 2013, dari http://repository.unand.ac.id/18031/
Fathi, Bunda. Mendidik anak dengan Al-Qur’an sejak janin.Jakarta : Oasis, 2011.
Flynt, S.W. Morton, R.C. Alabama. Elementary Principals’ Perception of Bullying.
Education, 2, 187-191, 2006.
Friedman, M. Marilyn. Keperawatan Keluarga : Teori dan Praktik. Jakarta :
EGC,1998.
Gentile, D. A. & Bushman, B. J. (in press). Reassessing media violence effects using
a risk and resilence approach to understanding aggression. Psychology of
Popular Media Culture, 2012.
Gunarsa Yulia SD.,Singgih D. Gunarsa. Psikologi Remaja. Jakarta : Libri, 2012.
Gunarsa, Singgih D. Dari Anak Sampai Usia Lanjut .Jakarta : BPK Gunung Mulia,
2004.
Hasugian, Shem Malekhi. Hubungan Antara Persepsi Terhadap Pola Asuh Orang
Tua tipe penelantar Dengan Perilaku Agresif Remaja. Skripsi Universitas
Katolik Soegijapranata Semarang. 2012
Hazalden Foundation. Bullying Frequently Asked Questions. Olweus bullying
prevention program, 2007.
Hidayat, A.Aziz Alimul. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta :
Salemba Medika, 2007.
Hikmat, Mahi M. Karya Ilmiah
Universitas Al-Ghifari, 2007.
dan Metode Penelitian. Bandung : LPPM
Hurlock, Elizabeth B. Perkembangan anak jilid 1. Edisi keenam. Alih bahasa :
Tjandrasa & Zakarsih. Jakarta : Erlangga, 2005.
B. Psikologi Perkembangan : suatu pendekatan sepanjang rentang
kehidupan. Terjemahan ( edisi kelima). Jakarta : Erlangga, 2012.
Islamina, Sabila. menyelesaikan fenomena kenakalan remaja artikel diakses 10
jaunari
2013,
dari
http://news.detik.com/read/2012/10/04/104232/2054307/471/menyelesaikanfenomena-kenakalan-remaja
Indria, Karina ,Nindyawati,dan Ayu Dwi. Kajian Konformitas dan Kreatifitas
Affective Remaja. Jurnal Provita Vol.3 No. 1 Mei 2007.Fakultas psikologi
Untar Jakarta dan Yayasan Obor, 2007.
Kaman,Colleen ,” What country has the most bullies?” artikel diakses pada
November 2012, dari http://www.latitudenews.com/story/what-country-hasthe-most-bullies-2/
Kartono,Kartini. Patologi Sosial. Jakarta: CV. Rajawali, 1997.
Kismartani, Dian Ade. Studi Deskriptif : Identifikasi Masyarakat Mengenai Faktorfaktor yang Mempengaruhi Bullying. Skripsi S1 Fakultas Psikologi, UNIKA.
2010
Kompas.com. “4 Siswi ini bicara anti “Bullying” di Jerman,” kompas.com , diakses
pada
februari
2012,
dari
http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/17/08520342/4.Siswi.Ini.Bicara.Anti.
Bullying.di.Jerman
Maghrfirah , Ufah & Rahmawati Mira Aliza. Hubungan antara iklim sekolah dengan
kecenderungan perilaku bullying. psikohumanika vol 1, no.1, 2009.
Marliyah, lina, Fransischa IR, Tommy, Suyasa. Persepsi terhadap dukungan orang tua
dan pembuatan keputusan karir remaja. Jurnal provitae vol 1, no 1 2004.
Monks & Knoers. Psikologi perkembangan.Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press. 2004
Mayasari, Elok Dyan . Hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua dengan
kenakalan pada siswa kelas XI IPS di SMU Laboratorium Malang. Diakses
pada
28
agustus
2013
dari
http://library.um.ac.id/freecontents/index.php/pub/detail/hubungan-antara-persepsi-pola-asuh-orang-tuadengan-kenakalan-pada-siswa-kelas-xi-ips-di-smu-laboratrium-malang-elokdyan-mayasari-36261.html
Murtiani, Ninik. Hubungan Antara Pola Asuh Orang Tua dengan Kenakalan Remaja
di RW V Kelurahan sidokare Kecamatan Sidoarjo diakses pada 8 agustus 2013
dari http://www.dianhusada.ac.id/jurnalimg/jurper1-7-nin.pdf
Nograhany Widhi K. 5 Kasus Bullying SMA di Jakarta. artikel di akses pada 2
desember
2012
dari
http://news.detik.com/read/2012/07/31/105747/1979089/10/3/
Notoatmodjo, Soekidjo. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Edisi revisi. Jakarta :
Rineka Cipta, 2006.
. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni, Edisi Revisi.Jakarta:
Rineka Cipta, 2007.
Nursalam, Konsep dan Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan :
pedoman skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Ilmu Keperawatan. Edisi 2.
Jakarta : Salemba Medika, 2008.
Nugraha, Arie. Representasi Realitas Bullying Dalam Serial Kartun Doraemon. Tesis
Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas
Indonesia. Depok, 2012.
Oxford University. Oxford Advanced Learner’s Dictionary : Six Editions. New York
: Oxford University Press, 2000.
Palupi dan Wrasasti. Hubungan Antara Motivasi Berprestasi dan Persepsi Terhadap
Pola Asuh Orang tua dengan Prestasi Belajar Mahasiswa Psikologi Angkatan
2010 Universitas Airlangga Surabaya. Jurnal psikologi Pendidikan dan
Perkembangan UNAIR. 2013
Prayitno. Dasar Teori dan Praktis Pendidikan. Jakarta : Grasindo, 2009.
Psychologymania.com. Dampak bullying bagi siswa. Jendela dunia psikologi.
Diakses
pada
25
februari
2013
dari
http://www.psychologymania.com/2012/06/dampak-bullying-bagi-siswa.html
Plan Indonesia. Learning without fear thorough fottbal.2011. Artikel diakses pada 11
maret 2013 dari https://plan-international.org/learnwithoutfear/resources/learnwithout-fear-through-football
Priyatna, Andi. Let’s End Bullying: Memahami, Mencegah & Mengatasi Bullying.
Jakarta: PT Elex Media Komputindo. 2010
Puspitasari, Lisa. hubungan antara persepsi terhadap pola asuh orang tua yang
otoritatif dengan kecerdasan emosional pada remaja Madya di SMAN 2 Kudus
kelas X dan XI. Skripsi. Program Studi Psikologi. Fakultas Kedokteran.
Universitas Diponogoro. 2012
Quiroz ,Hilda Clarise dkk .” bullying in school : fighting the bully bettle” national
school safety center, 2006.
Rahman, Istianah A. Hubungan antara persepsi terhadap pola asuh demokratis ayah
dan ibu dengan perilaku disiplin remaja. UIN alaudin Makasar : Jurnal Lentera
Pendidikan. 2008
Salmivalli, dkk. Bullying as a Group Process : Participant Roles and Their
Realations to Social Status Within The groups. In Aggresivve Behavior. Vol
22.1996
Sarwono, S. W. Psikologi Remaja, Edisi Revisi., Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2012.
Sarwono,Sarlito W & Eko A.Meinarno. Psikologi sosial. Jakarta : Salemba
humanika, 2009.
Santrock. Jhon W. Life-Span Development. New York : McGraw-Hill, 2002.
. Remaja jilid 2, edisi kesebelas. Jakarta : Erlangga, 2007.
Senders,CE & Phye GD. Bullying implication for the class room. California :
Elsevier academic press, 2004.
Soetjiningsih.. Tumbuh Kembang Remaja Dan Permasalahannya. Jakarta: Sagung
Seto, 2004.
Suprajitno. Asuhan keperawatan Keluarga.Jakarta : EGC, 2004.
Suyanto dan Narwoko. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana
Media Group,
2004.
Sudarsono. Kenakalan Remaja. Jakarta : Rineka Cipta, 2012.
Sugiyono. Metode Penelitian Kunatitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.
2008.
Sunaryo. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC, 2002.
Surbakti E.B. Kenalilah Anak Remaja Anda. Jakarta : Elex Media Komputindo. 2009
Wahyuningsih,Wiwit, Jash, Metta Rahmadiana. Mengkomunikasikan moral kepada
anak. Jakarta : Elex Media Komputindo, 2003.
Widyarini, Nilam. Relasi Orang Tua & Anak. Jakarta : Elex Media Komputindo.
2009
Wiggins, J.A, dan Zanden, J.V. Social Psychology, fifth edition. New York: Mc.
Graw-Hill, 1994.
Wong, dkk. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong. Edisi 6, Volume 1. Jakarta : EGC, 2002.
Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa). Bullying Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan
Lingkungan Sekitar Anak. Jakarta: Grasindo, 2008.
LAMPIRAN 1
INFORMED CONSENT
Assalamua’laikum Wr.Wb.
Salam sejahtera.
Nama : Ari Nur Husaini
NIM : 109104000010
Saya adalah mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang sedang
mengerjakan skripsi dengan judul : Hubungan Antara Persepsi Jenis Pola Asuh Orang
Tua Terhadap Risiko Perilaku Bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat.
Dalam rangka pengumpulan data, dengan segala kerendahan hati, saya
megharapkan kesedian anda untuk meluangkan waktu untuk mengisi kuisioner yang
telah disediakan. Kerahasiaan jawaban anda akan dijaga dan hanya diketahui oleh
peneliti. Tidak ada jawaban yang benar atau salah, jawaban dikatakan benar apabila
yang paling sesuai dengan anda. Jadi dimohon diisi dengan sejujur-jujurnya yang
paling sesuai dengan anda.
Atas bantuan dan kerja sama anda, saya ucapkan terima kasih.Apakah anda bersedia
menjadi responden dalam penelitian ini :
YA / TIDAK
Tertanda
(responden)
LAMPIRAN 2
Data Diri responden
1. Jenis Kelamin : L / P
2. Kelas
: X / XI…… ( IPA / IPS)
Petunjuk Pengisian Kuisioner
1. Berikut ini ada tiga macam kuisioner yang harus di isi,yaitu : (1) Parenteral
authority Quisionare ( PAQ) untuk megetahui jenis pola asuh yang orang tua
terapkan di rumah,(2) Konformitas teman sebaya, (3) risiko perilaku bullying
2. Bacalah setiap pernyataan yang paling sesuai dengan anda dengan tanda checklist
( √) dengan salah satu pilihan jawaban dari 4 macam pilihan, yaitu :
SL
SR
JR
TP
jika
jika
jika
jika
SELALU
SERING
JARANG
TIDAK PERNAH
dengan anda
dengan anda
dengan anda
dengan anda
3. Tidak ada jawaban benar atau salah, jawaban dianggap benar jika paling sesuai
dengan anda.
Contoh
No Pernyataan
1
Saya suka belajar setiap malam
SL SR JR
√
TP
LAMPIRAN 3
kuisioner persepsi jenis pola asuh
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Pernyataan
SS
Orang tua saya berfikir bahwa didalam rumah seorang anak
harus punya caranya sendiri untuk tumbuh menjadi dewasa.
Meskipun saya tidak setuju dengan orang tua saya, mereka
memaksa saya untuk mengikuti apa yang mereka anggap
benar, karna mereka menganggap itu untuk kebaikan saya.
Setiap kali orang tua saya mengatakan pada saya untuk
melakukan sesuatu, mereka mengahrapkan saya untuk
melakukanya segera tanpa mengajukan pertanyaan.
Setelah kebijakan keluarga ditetapkan, orang tua saya
membahasa bersama-sama mengapa kebijakan itu di tetapkan
dalam keluarga
Orang tua saya mengizinkan saya untuk bertanya ketika aturan
dalam keluarga tidak sesuai
Orang tua saya berfikir bahwa seorang anak bebas membuat
keputusan sendiri dan melakukan apa yang dinginkanya,
meskipun tidak sesuai dengan keinginan orang tua.
Orang tua saya tidak mengijinkan saya untuk mempertanyakan
setiap keputusan yang mereka buat.
Orang tua saya ikut langsung dalam aktifitas dan pengambilan
keputusan untuk anak – anaknya melalui penalaran dan
disiplin.
Orang tua saya merasa bahwa untuk mendidik anak-anak
mereka dalam berprilaku adalah dengan cara yang mereka
inginkan.
Orang tua saya berfikir bahwa saya tidak perlu mematuhi
aturan dan kebiasaan karna sudah ada lembaga yang mendidik
saya
Saya mengerti apa yang orang tua inginkan, tapi saya bebas
untuk mendiskusikan keinginan saya dengan mereka ketika
saya merasa tidak sesuai
Menurut orang tua saya, bahwa orang tua yang bijak hrus
mengajarkan anak – anaknya untuk menuruti aturan – aturan
yang talah ditetaapkan oleh irang tua.
Orang tua saya jarang memberi contoh dan pedoman perilaku
untuk saya
Orang tua saya melakukan apa yang anak – anak inginkan di
dalam keluarga, ketika membuat keputusan
Orang tua saya selalu memberikan bimbingan dan arahan
S
TS
STS
16
secara rasional dan obyektif
Orang tua saya akan marah jika saya tidak setuju dengan
mereka.
SS
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
Orang tua saya berfikir bahwa sebagian besar masalah dalam
lingkungan sosial saya akan terselesaikan jika mereka tidak
membatasi kegiatan, keinginan, dan pengambilan keputusan
saya, karna saya sudah dewasa.
Orang tua saya akan menghukum saya jika saya tidak
mengikuti keinginan dan harapan mereka
Orang tua saya membiarkan saya untuk memutuskan hal
terpenting dalam hidup saya tanpa harus meminta persetujuan
dari mereka
Orang tua saya meminta pendapat anak-anaknya untuk
dijadikan pertimbangan ketika membuat keputusan keluarga,
tetapi mereka tidak memutuskan sesuatu hanya karna anakanak menginginkanya
Meskipun saya tidak setuju dengan orang tua saya, mereka
memaksa saya untuk mengikuti apa yang mereka anggap
benar, karna mereka menganggap itu untuk kebaikan saya.
Orang tua saya tidak beranggapan bahwa mereka bertanggung
jawab langsung untuk membimbing perilaku saya.
Orang tua saya memberikan arahan dalam perilaku dan
kegiatan saya, dan mereka ingin saya mengikutinya, tapi
mereka bersedia untuk mendengarkan kepentingan saya dan
mendiskusikanya.
Orang tua saya membiarkan saya membangun pandangan
sendiri mengenai masalah keluarga, dan mereka mengizinkan
saya untuk melakukan apa yang saya inginkan
Orang tua saya merasa bahwa masalah di masyarkat akan
terselesaikan jika orang tua memaksa anaknya untuk
mengikuti apa yang orang tua inginkan
Orang tua saya selalu mengatakan apa yang mereka
inginkan,dan bagaimana mereka mengharapkan saya utnuk
melakukanya
Orang tua saya member arahan dan perilaku yang jelas utnuk
kegiatan saya, tapi mereka juga mengerti ketika saya tidak
setuju dengan mereka.
Orang tua saya tidak mengarahkan perilaku, kegiatan, dan
keinginan dari anak – anak dalam keluarga
Saya tahu apa yang orang tua inginkan dan mereka
menegaskan bahwa saya memenuhi harapan-harpan itu hanya
S
TS
STS
untuk menghormati otoritas mereka.
Jika orang tua saya membuat keputusan yang menyakiti saya,
mereka bersedia mendiskusikan keputusan itu dan mengakui
jika mereka melakukan kesalahan
Kuisioner risiko perilaku bullying
30
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
Pernyataan
SS S TS
Saya tidak akan melakukan kekerasan dengan menggunakan kaki
(menendang)
Saya tidak pernah berniat mengolok-olok teman saya
Saya tidak akan mencela teman yang prestasinya tidak bagus
Saya berteriak ketika siswa lain sedang belajar
Saya suka mengambil uang milik siswa lain tanpa sepengetahuanya
Saya tidak akan mengolok-olok teman saya dengan nama panggilan atau
julukan
Saya akan memberi nama julukan yang buruk kepada siswa yang tidak
saya suka, dan itu merupakan hal yang biasa menurut saya.
Saya akan meneror siswa lain dengan menggunakan benda tajam
Ketika seorang teman menitipkan barang miliknya, saya akan
menjaganya dengan baik
Saya akan menyenggol teman hingga jatuh
Saya senang mengganggu kegiatan siswa lain yang tidak saya suka
Saya akan menampar teman yang membuat saya jengkel
Sah saja bila mempunyai keinginan untuk mencela orang lain yang lebih
rendah tingkatanya daripada saya
Ketika berhadapan dengan siswa yang bersikap “songong”, saya akan
menendangnya
Sebagai siswa yang baik, saya akan memamnggi teman sesuai dengan
namanya
Saya suka membantu siswa lain belajar dengan tenang
Saya akan menyobek buku pelajaran siswa yang menyebalkan
Sikap saling menghargai akan selalu saya jaga
Saya akan menginjak kaki siswa lain yang menghalangi jalan saya
Saya akan memanggil teman dengan nama-nama binatang, karena itu
merupakan hal yang wajar menurut saya
Saya akan mengototri baju siswa lain yang saya inginkan
“bodoh” adalah kata yang tepat ketika saya akan mengejek orang lain
Saya akan memukul siswa yang tidak mau mengikuti perintah saya
Saya mendukung teman yang suka menendang atau memukul
Saya akan mengancam teman agar dia taat dan patuh kepada saya
Saya suka menyinggung teman saya dengan perkataan yang tidak baik
Saya senang bila dapat merusak kendaraan siswa lain
Saya akan mengambil handphone yang saya suka bagaimanapun caranya
STS
LAMPIRAN 4
UJI VALIDITAS DAN REABILITAS
1. Validitas dan Reabilitas Jenis Pola Asuh Orang Tua
Case Processing Summary
N
Cases
Valid
a
Excluded
Total
%
34
100.0
0
.0
34
100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of Items
.913
30
Item-Total Statistics
Cronbach's
Scale Mean if
Item Deleted
Scale Variance if Corrected ItemItem Deleted
Total Correlation
Alpha if Item
Deleted
VAR00001
72.5294
226.863
.396
.912
VAR00002
73.0000
222.182
.557
.909
VAR00003
72.6176
224.425
.453
.911
VAR00004
72.8529
224.675
.562
.909
VAR00005
72.7353
217.958
.636
.908
VAR00006
73.4412
218.315
.715
.907
VAR00007
72.4706
225.348
.494
.910
VAR00008
72.5588
221.224
.604
.909
VAR00009
72.2941
228.153
.385
.912
VAR00010
73.9706
232.029
.414
.912
VAR00011
72.9118
221.174
.519
.910
VAR00012
72.2941
224.093
.606
.909
VAR00013
73.6176
227.334
.359
.913
VAR00014
72.5294
225.893
.501
.910
VAR00015
72.0882
230.325
.359
.912
VAR00016
72.8824
228.774
.352
.913
VAR00017
72.0000
228.303
.476
.911
VAR00018
73.3235
225.741
.381
.913
VAR00019
72.8824
228.774
.352
.913
VAR00020
72.6471
223.266
.503
.910
VAR00021
72.8529
224.675
.562
.909
VAR00022
73.2353
219.155
.563
.909
VAR00023
72.0000
228.303
.476
.911
VAR00024
72.5294
225.893
.501
.910
VAR00025
72.9118
221.174
.519
.910
VAR00026
73.6176
227.334
.359
.913
VAR00027
72.4706
225.348
.494
.910
VAR00028
73.5000
222.621
.611
.909
VAR00029
72.6176
224.425
.453
.911
VAR00030
73.0000
222.182
.557
.909
2. Validitas dan Reabilitas risiko perilaku bullying
Case Processing Summary
N
Cases
Valid
a
Excluded
Total
%
34
100.0
0
.0
34
100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of Items
.897
39
Item-Total Statistics
Cronbach's
Scale Mean if
Item Deleted
Scale Variance if Corrected ItemItem Deleted
Total Correlation
Alpha if Item
Deleted
VAR00001
65.7647
208.549
.251
.897
VAR00002
65.0882
210.689
.106
.899
VAR00003
64.9706
198.393
.599
.892
VAR00004
65.7059
206.456
.390
.896
VAR00005
65.6176
210.001
.137
.898
VAR00006
65.9412
210.178
.103
.899
VAR00007
65.6471
201.023
.432
.894
VAR00008
65.3529
206.235
.274
.897
VAR00009
65.6765
203.256
.459
.894
VAR00010
66.1176
207.077
.414
.896
VAR00011
65.3824
202.243
.279
.898
VAR00012
65.1471
202.190
.436
.894
VAR00013
65.7059
203.305
.450
.894
VAR00014
66.0588
204.239
.487
.894
VAR00015
65.6471
206.720
.266
.897
VAR00016
65.7647
198.791
.591
.892
VAR00017
65.8824
201.622
.574
.893
VAR00018
65.6176
203.213
.306
.897
VAR00019
65.7647
201.216
.511
.893
VAR00020
65.7059
207.062
.232
.897
VAR00021
65.1176
200.349
.393
.895
VAR00022
65.6471
200.599
.466
.894
VAR00023
65.4706
197.893
.601
.891
VAR00024
65.4412
204.072
.246
.898
VAR00025
65.5588
200.678
.428
.894
VAR00026
65.6471
203.205
.468
.894
VAR00027
65.7941
200.047
.589
.892
VAR00028
65.7941
201.987
.499
.893
VAR00029
65.8235
201.544
.583
.892
VAR00030
66.0294
204.151
.529
.894
VAR00031
66.1176
215.986
-.188
.900
VAR00032
65.8824
203.804
.539
.893
VAR00033
65.6176
203.152
.387
.895
VAR00034
65.7059
199.184
.613
.892
VAR00035
65.7353
197.534
.573
.892
VAR00036
65.7647
196.791
.648
.891
VAR00037
65.8235
198.210
.672
.891
VAR00038
65.9118
202.568
.493
.893
VAR00039
66.2059
207.502
.429
.895
Validitas setelah item tidak valid dibuang
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of Items
.915
28
Item-Total Statistics
Cronbach's
Scale Mean if
Item Deleted
Scale Variance if Corrected ItemItem Deleted
Total Correlation
Alpha if Item
Deleted
VAR00003
45.1176
139.865
.627
.910
VAR00004
45.8529
147.463
.407
.915
VAR00007
45.7941
143.199
.404
.914
VAR00009
45.8235
143.968
.489
.912
VAR00010
46.2647
147.655
.419
.914
VAR00012
45.2941
142.941
.468
.912
VAR00013
45.8529
143.766
.494
.912
VAR00014
46.2059
145.744
.461
.913
VAR00016
45.9118
141.356
.558
.911
VAR00017
46.0294
143.726
.538
.911
VAR00019
45.9118
142.447
.528
.911
VAR00021
45.2647
140.746
.442
.914
VAR00022
45.7941
141.138
.518
.912
VAR00023
45.6176
140.001
.599
.910
VAR00025
45.7059
143.547
.372
.915
VAR00026
45.7941
145.562
.405
.913
VAR00027
45.9412
141.572
.602
.910
VAR00028
45.9412
144.299
.451
.913
VAR00029
45.9706
142.332
.629
.910
VAR00030
46.1765
145.059
.545
.912
VAR00032
46.0294
144.757
.555
.911
VAR00033
45.7647
143.155
.447
.913
VAR00034
45.8529
141.099
.612
.910
VAR00035
45.8824
139.258
.592
.910
VAR00036
45.9118
139.113
.645
.909
VAR00037
45.9706
140.090
.682
.909
VAR00038
46.0588
143.330
.527
.911
VAR00039
46.3529
147.872
.451
.913
LAMPIRAN 5
HASIL PENELITIAN
JENIS KELAMIN
Frequency
Percent
Valid Percent
32
39
71
45
55
100
45
55
100
Valid Laki-laki
Perempuan
Total
Cumulative
Percent
45
55
100
KELAS
Frequency
Valid XI
X
Total
Percent
40
31
71
Valid Percent
56
44
100
Cumulative
Percent
56
44
100
56
44
100
HASIL UJI NORMALITAS
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Bullying
N
Pola Asuh
71
71
44.4225
79.2394
1.04289E1
10.29489
Absolute
.112
.108
Positive
.112
.071
Negative
-.070
-.108
Kolmogorov-Smirnov Z
.946
.912
Asymp. Sig. (2-tailed)
.332
.377
Normal Parameters
a
Mean
Std. Deviation
Most Extreme Differences
a. Test distribution is Normal.
HASIL UJI LAMBDA
Case Processing Summary
Cases
Valid
N
persepsi pola asuh *
Missing
Percent
N
71 100.0%
risiko perilaku bullying
Total
Percent
0
.0%
N
Percent
71 100.0%
persepsi pola asuh * risiko perilaku bullying Crosstabulation
risiko perilaku bullying
rendah
persepsi pola asuh
demokratis
Count
6
31
14.4
16.6
31.0
7
21
28
13.0
15.0
28.0
0
6
6
2.8
3.2
6.0
1
5
6
Expected Count
2.8
3.2
6.0
Count
33
38
71
33.0
38.0
71.0
Count
Expected Count
permesif
Count
Expected Count
campuran
Total
Total
25
Expected Count
otoriter
tinggi
Count
Expected Count
Directional Measures
Asymp. Std. Approx.
Value
Nominal by
Nominal
Lambda
Symmetric
persepsi pola asuh
Dependent
Error
a
b
T
Approx.
Sig.
.466
.093
4.639
.000
.375
.103
3.073
.002
risiko perilaku
bullying Dependent
Goodman and
persepsi pola asuh
Kruskal tau
Dependent
risiko perilaku
bullying Dependent
a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null
hypothesis.
c. Based on chi-square approximation
.576
.110
3.732
.000
.199
.069
.000
c
.382
.106
.000
c
KEMENTERIAN AGAMA
UNT\TERSITAS ISLAM NEGERI ( UIN )
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
Telp.
: (62-21)74716718 Fax : (62-21) 7404985
Website : www.uinjkt.ac.id; E-mail : [email protected]
Jl. Kertamukti No. 5 Pisangan Ciputat 15419
Ciputat,
Nomor : Un.0llFl0/KM.01.2&t,%tZAtS
Juni 2013
Lampiran : : Permohonan Izin Uji Validitas dan Retibilitas
Hal
Kepada Yang Terhormat,
Kepala Sekolah SMA Yadika
Kabupaten Sumedang
di
Sumedang
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Dalam rangka penyelesaian tugas akhir perh.rliahan mahasiswa
diperlukan pen)rusunan Skripsi yang berjudul "Hubungan Antara Persepsi
Jenis Pola Asuh Orang Tua Terhadap Risiko Perilaku Buliying Siswa di
SMA Triguna Utama Ciputat ".
Sehubungan dengan itu kami mohon diberikan izin melaksanakan uji
validitas dan relibilitas atas nama :
Nama
Ari NurHusaini
NIM
r09104000010
Semester
VIII
Program Studi
IImu Keperawatan
Fakultas
K^edokteran dan Ilmu Kesehatan
UIN Syarif
Hidayatullah lakarta
Demikian atas perhatian dan bantuan saudara kami ucapkan terima
kasih.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Widjajakusumah, AIF., PFK
Tembusan:
Dekan FKIK
KEMENTERIAN AGAMA
UMYERSTTAS rSLAM NEGERT ( rirN )
SYARIF HIDAYATULLAII JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
Telp.
: (62-21) 74716718 Fax : (62-21\ 7404985
Website : www.uinjkt.ac.id; E-mail : [email protected]
Jl. Kertamukti No. 5 Pisangan Ciputat 15419
,
Nomor
Lampiran
Hal
: Un.0l/Fl0/KM.0l .2l*.ulq /2013
Ciputat, Juni 2013
:-
: Permohonan Izin Penelitian
Kepada Yang Terhorma!
Kepala Sekoiah SMA Triguna Utama
di
Ciputat
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Dalam rangka penyelesaian tugas akhir perkuliahan mahasiswa
diperlukan penyusunan Skripsi yang berjudul "Hubungan Antara Persepsi
Jenis Pola Asuh Orang Tua Terhadap Risiko Perilaku Bullying Siswa di
SMA Triguna Utama Ciputat ".
Sehubungan dengan
penelitian atas nama :
itu kami mohen diberikan izin melaksanakan
Nama
Ari Nur Husaini
NtM
109r04000010
Semester
VM
Program Studi
Ilmu Keperawatan
Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
Demikian atas perhatian dan bantuan saudara kami ucapkan terima
kasih.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
.Djauhari Widjajakusumah, AIF-, PFK
Tembusan:
Dekan FKIK
-t
KEMENTERHN AGAMA
LTNTVERSTTAS rSLAM NEGERT ( UrN )
SYARIF HIDAYATT]LLAI{ JAI(ARTA
FAKT]LTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
Telp.
: (62-21) 74716718 Fax : (62-21) 7404985
Website : www.uinjkt.ac.id; E-mail : [email protected]
Il. Kertamukti No. 5 Pisangan Ciputat 15419
Nomor : Un.01lFl0/KM.0l.2l
Lampiran
Hal
:
:
Ciputat,
Maret 2013
/2013
-
Permohonan Izin Studi Pendahuluan
Kepada Yang Terhormat,
Kepala Sekolah SMK Triguna Utama
di
Ciputat
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Dalam rangka penyelesaian tugas akhir perkuliahan
mahasiswa
diperlukan penyusunan Skripsi yang berjudul "Hubungan Antara Pengaruh
Teman Sebaya Dengan Kecenderungan Perilaku Bullying".
Sehubungan dengan itu kami mohon diberikan izin melaksanakan studi
pendahuluan atas nama :
Nama
Ari Nur Husaini
NIM
109104000010
Semester
VUI
Program Studi
Ilmu Keperawatan
Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
UN Syarif
Hidayatullah Jakarta
Demikian atas perhatian dan bantuan saudara kami ucapkan terima
kasih.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
A.n. Dekan
tu Dekan
idang
ademik,
Pe
/Or. ff Vf Oi auhari Widj aj akusumah,
.
Tembusan:
Dekan FKIK
I
::i:'1:H>-
.
AIF., PFK
Download