Uploaded by User93990

RP3KBT 4 KELOMPOK 4 MM 55A - TRI KUNCORO P. H.

advertisement
RUBRIK PENILAIAN 2: LAPORAN RP3KBT
MATA KULIAH
:
Berpikir Strategis
SKS
:
2
TAHUN
:
2021
TUGAS KE
:
4
PERTEMUAN
:
4
Laporan RP3KBT No: 4
Judul RP3KBT
: PERAN LATAR BELAKANG BUDAYA UNTUK
PENGEMBANGAN BERPIKIR STRATEGIS
Kelompok Nomor
:4
Anggota Kelompok, Nomor & Nama Mahasiswa :
1. 20911010 / Natasha Anggia
2. 20911011 / Septian Vairy
3. 20911012 / Tri Kuncoro Prasetyo Hutomo
4. _______________ / _______________________________________
DIMENSI
Tata Tulis
Cara Penyajian data
Kualitas Usulan Program
RP2KBT
Kualitas Referensi
Final Score (100%)
Bobot (%)
25%
25%
25%
Nilai (1-10)
Nilai Total
25%
100%
KOMENTAR :
___________________________________________________________________________
___
___________________________________________________________________________
_____________
Saya menyatakan bahwa dalam tugas ini tidak terdapat plagiarisme. Apabila kemudian
terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar saya sanggup menerima sanksi apapun
sesuai peraturan yang berlaku di UII dan hukuman Allah SWT.
Tanggal Pengumpulan: 14 Februari 2021
Tanggal Pemeriksaan:
Tanda Tangan Mahasiswa:
Tanda Tangan Dosen:
Tri Kuncoro P. H.
(Trias Setiawati, Dra, M.Si, Dr)
PERAN LATAR BELAKANG BUDAYA UNTUK PENGEMBANGAN BERPIKIR
STRATEGIS PT. TRIAS
“Rancangan Program Pelatihan dan Pengembangan Bagi Karyawan Bertalenta (RP3KBT)”
Disusun Oleh:
Kelompok 4
1.
Natasha Anggia
20911010
2.
Septian Vairi
20911011
3.
Tri Kuncoro P.H.
20911012
Dosen Pengampu:
Dr. Dra. Trias Setiawati, M.Si
PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS BISNIS DAN EKONOMIKA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2021
2
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah, rahmat,
dan inayah-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan tugas untuk menyusun rancangan
program pelatihan dan pengembangan bagi karyawan bertalenta (RP3KBT) pada perusahaan
kami PT. TRIAS yang bergerak di bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah. Semoga
rancangan ini bisa bermanfaat bagi kami kelompok penyusun dan bagi stakeholder lainnya.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Dr. Dra. Trias Setiawati, M.Si sebagai dosen
matakuliah berpikir strategis yang telah memberikan kami kesempatan untuk menyusun
RP3KBT yang sangat bermanfaat ini.
Penyusunan RP3KBT adalah tugas yang diberikan kepada tim penyusun sebagai
syarat kelulusan mata kuliah “Berpikir Strategis”. Judul RP3KBT kami ini adalah “PERAN
LATAR
BELAKANG
BUDAYA
UNTUK
PENGEMBANGAN
BERPIKIR
STRATEGIS PT. TRIAS”. Hasil dari RP3KBT ini diharapkan memberikan kami
pemahaman dalam mengintegrasi dan menyelaraskan perbedaan latar belakang budaya antar
anggota/ karyawan perusahaan dalam usaha mencapai pemikiran strategis guna mengambil
keputusan strategis.
Kesempurnaan hanya milik Allah SWT, Tim penyusun menyadari bahwa
penyusunan RP3KBT ini memiliki banyak kekurangan mengingat terbatasnya kemampuan
dan wawasan yang kami miliki. Kami mengharapkan seluruh pihak dapat memberikan saran
dan kritikan yang membangun bagi penulisan RP3KBT selanjutnya. Terima Kasih.
Yogyakarta, 9 Februari 2021
Kelompok 4
3
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
……………………………………………
2
KATA PENGANTAR
……………………………………………
3
DAFTAR ISI
……………………………………………
4
RINGKASAN EKSEKUTIF
……………………………………………
6
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
……………………………………………
7
B. Rumusan Masalah
……………………………………………
7
C. Tujuan Penulisan
……………………………………………
8
D. Manfaat Penulisan
……………………………………………
8
A. Acuan Penelititan Terdahulu
…………………………………………….
9
B. Landasan Teori
…………………………………………….
12
A. Pendekatan Penelitian
…………………………………………….
16
B. Lokasi Penelitian
…………………………………………….
16
C. Instrumen Penelitian
…………………………………………….
16
D. Uji Instrumen Data
…………………………………………….
16
E. Jenis Data
…………………………………………….
16
F. Populasi dan Sampel
…………………………………………….
17
G. Metode Pengambilan Data
…………………………………………….
17
H. Teknik Pengumpulan Data
…………………………………………….
17
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
18
V.
USULAN AKHIR PROPOSAL
…………………………………………….
…………………………………………….
…………………………………………….
29
…………………………………………….
31
I.
II.
III.
KAJIAN PUSTAKA
METODE PENELITIAN
27
PROGRAM RP3KBT
VI.
REKOMENDASI DALAM
PROSES IMPLEMENTASI
RP3KBT
VII.
KESIMPULAN DAN SARAN
4
VIII. DAFTAR PUSTAKA
…………………………………………….
32
IX.
…………………………………………….
33
LAMPIRAN-LAMPIRAN
5
RINGKASAN EKSEKUTIF
Penyusunan Rancangan Program Pelatihan dan Pengembangan Bagi Karyawan
Bertalenta (RP3KBT) ini disusun oleh kelompok 4 yang beranggotakan Natasha Anggia,
Septian Vairy, dan Tri Kuncoro P. H. dalam rangka ingin mengetahui dan memahami
bagaimana mengintegrasi dan menyelaraskan perbedaan latar belakang budaya anggota/
karyawan dalam suatu perusahaan. Proses ini nantinya diharapkan dapat digunakan untuk
pencapaian pemikiran strategis guna mengambil keputusan strategis.
Metode yang kami gunakan adalah metode kualitatif lewat wawancara tentang
kepribadian, pandangan atau persepsi oleh anggota kelompok. Dari hasil wawancara, kami
refleksikan pada landasan teori serta analisis untuk kemudian diperoleh gambaran output
program yang dapat dinilai sebagai acuan untuk dapat membangun dan mengembangkan
intuisi dan analisis guna mengoordinir dua hal tersebut. Serta memberikan saran yang
membangun terkait intuisi dan analisis untuk berpikir strategis.
Setiap anggota memiliki kelebihan dan cara masing-masing dalam berinteraksi,
berdiskusi, berpendapat, dan menghadapi masalah dalam rangka membangun dan
mengembangkan pemikiran strategis. Tetapi karena keterbatasan pengalaman membuat hal
tersebut masih harus dikembangkan guna melatih pemikiran yang strategis tersebut.
Keywords: budaya, mengintegrasi, menyelaraskan, pemikiran strategis, keputusan strategis
6
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penulisan
Sebuah organisasi atau perusahaan biasanya memiliki tujuan yang ingin diraih
berdasarkan latar belakang perusahaan tersebut. Di dalam meraih tujuan tersebut
perusahaan tak jarang menghadapi masalah-masalah yang datang. Terkadang kendala
yang muncul adalah pencapaian visi dan penciptaan misi tidak sejalan antar anggota
perusahaan dikarenakan perbedaan persepsi dan gaya komunikasi serta pola pemikiran
yang disebabkan oleh perbedaan latar belakang budaya. Sehingga tak jarang pemikiran
yang strategis sulit untuk dicapai, sehingga keputusan yang diambil dalam penyelesaian
masalah masih kurang tepat.
Berpikir strategis memiliki tujuan yaitu bagaimana cara untuk menemukan ide-ide
yang strategis yang unggul, yang mampu untuk bersaing dan menciptakan visi yang lebih
baik. Kemampuan berpikir secara strategis tentunya sangat dibutuhkan di dalam sebuah
perusahaan. Gaya berpikir yang strategis sudah pasti salah satu aspek yang perlu dikuasai
atau dimiliki oleh seluruh anggota perusahaan, terutama manajer.
Selain, dituntut harus berpikir strategis untuk menyelesaikan masalah, manajer juga
harus berpikir strategis untuk menyelaraskan anggota-anggota perusahaannya agar dapat
saling terintegrasi dan memiliki persepsi yang sama dalam menanggapi suatu
permasalahan. Persepsi yang sama bukan berarti tidak menerima masukan, tetapi
menerima masukan secara luas dan membawanya ke dalam satu ide strategis yang sesuai
dengan visi dan misi perusahaan. Hal inilah yang penting bagi seorang manajer selaku
pihak yang merencanakan, mengorganisir, dan mengevaluasi kinerja perusahaan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah kami jelaskan, kami merumuskan beberapa
permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana cara menyelaraskan perbedaan latar belakang budaya antar anggota
perusahaan?
7
2. Bagaimana cara mengintegrasi perbedaan latar belakang budaya antar anggota
perusahaan agar diperoleh persamaan persepsi yang berguna untuk menunjang
visi dan misi perusahaan?
C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah, kami memiliki tujuan penelitian yaitu :
1. Untuk mengetahui dan memahami bagaimana cara menyelaraskan perbedaan
latar belakang budaya antar anggota perusahaan
2. Untuk mengetahui dan memahami bagaimana mengintegrasi perbedaan latar
belakang budaya antar anggota perusahaan agar diperoleh persamaan persepsi
yang berguna untuk menunjang visi dan misi perusahaan
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan dari penelitian ini adalah akan tercipta kondisi
yang kondusif di suatu perusahaan dalam rangka mencapai visi dan misi, dikarenakan
antar anggota karyawan yang berbeda latar belakang budaya dapat saling selaras dan
terintegrasi dalam menjalankan perusahaannya.
8
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Acuan Penelitian Terdahulu
Jurnal 1
(Fusch, Fusch, Booker, & Fusch, 2016)
Globalisasi memiliki pengaruh yang mendalam bagi pemimpin saat ini dan
dalam lingkungan kerja. Seorang pemimpin harus mengadaptasi gaya manajemen,
aturan-aturan, tugas-tugas, dan strategi-strategi untuk bekerja dengan orang-orang
yang berbeda latar belakang budaya. Hal ini dikarenakan organisasi semakin beragam
khususnya mengenai jenis kelamin, usia, ras, suku, dan orientasi seksual. Kebudayaan
harus dapat diterima secara sosial dan konsisten dengan kebutuhan dan nilai-nilai
dalam suatu perusahaan.
Jurnal 2
(Morcos, 2018)
Kita dapat mendefinisikan budaya dalam empat cara. Pertama, setiap budaya
adalah unik, dan tidak ada jawaban tunggal yang benar. Meskipun jika organisasi
memiliki tujuan yang sama dalam menciptakan kepuasan karyawan, namun caranya
dapat berbeda-beda. Kedua, budaya memberikan kita petunjuk jelas untuk
menemukan karyawan potensial yang sesuai dengan perusahaan. Ketika perusahaan
merekrut karyawan, yang cenderung lebih berkembang di lingkungan perusahaan,
maka peluang keberhasilan pencapaian tujuan perusahaan akan meningkat signifikan.
Ketiga, kebudayaan seperti cairan dan tumbuh secara organic, perlu ditanam
dan dipelihara seperti relationship. Keempat, beberapa organisasi dapat meningkatkan
budaya internal menjadi bagian dari identitas eksternal dan membedakan dengan yang
lain.
9
Jurnal 3
(Obaji, Olaolu, & Daniel, 2020)
Kebudayaan merupakan konsep jelas yang sering digunakan untuk
mendeskripsikan sebuah perusahaan, alasan tingkah laku orang-orang, sebagai
petunjuk tindakan, sebuah penyebab untuk hukuman dan pujian, atau identifikasi
kualitas. Budaya menuntun cara entitas dan kelompok dalam suatu organisasi untuk
berhubungan antar anggota dan dengan pihak luar. Hal ini merupakan keunggulan
kompetitif terdepan dari organisasi berperforma tinggi. Pada akhirnya akan
membentuk budaya organisasi yang baik, yang didefinisikan sebagai program kolektif
dari pemikiran-pemikiran yang membedakan satu organisasi dengan organisasi
lainnya.
Jurnal 4
(Tedla, 2016)
Model budaya organisasi Denison (1990) disajikan sebagai konsep framework
utama dalam pembelajaran. Di dalamnya mencakup empat elemen penting :
a. Adaptability
b. Misi
c. Konsistensi
d. Pengikutsertaan
Alasan dibalik teori budaya organisasi adalah persepsi manajer bahwasanya
budaya organisasi merupakan faktor penting yang mempengaruhi efektifitas
organisasi.
Manajer bisnis menggunakan teori budaya organisasi untuk menempatkan isuisu bisnis yang berbeda dalam organisasi. Budaya organisasi yang efektif mencakup :
(a) Strategi yang sukses;
(b) Kepemimpinan efektif;
(c) Kinerja karyawan yang baik;
(d) Filsafat etis.
Dalam budaya organisasi yang efektif, anggota organisasi memahami cara
berinteraksi dengan berbagai pemangku kepentingan karena setiap organisasi
10
memiliki budaya organisasi yang berbeda yang mencakup berbagai perilaku dalam
organisasi.
Jurnal 5
(Tran, 2017)
Budaya dominan (Google) dalam organisasi tergantung pada lingkungan di
mana perusahaan mengoperasikan tujuannya, sistem kepercayaan pada karyawan, dan
gaya manajemen perusahaan. Budaya kolaboratif menghadirkan tenaga kerja yang
terdesentralisasi dengan unit terpadu dan bekerja sama menemukan solusi untuk
masalah atau kegagalan.
Pada perusahaan Google, memberi perhatian pada bagaimana karyawan
bekerja dan membantu mengoreksi kesalahan mereka adalah penting daripada
menegaskan kerusakan dan menyalahkan seseorang yang menjadi penyebab.
Perusahaan lebih tertarik pada sesuatu yang menjadi penyebab kemudian
memperbaikinya dengan cepat dan efisien.
Jurnal 6
(da Costa, Pereira, Pereira, & Jeronimo, 2018)
Budaya dapat dikatakan memiliki beberapa tingkatan, menjadi level yang
mana fenomena terlihat dan tidak terlihat. Tingkat ini bervariasi dari yang mungkin
untuk dilihat dan dirasakan (artefak), hingga yang tidak disadari namun secara
mendalam tertanam (asumsi dasar) yang didefinisikan sebagai esensi budaya. Di
antara kedua tingkatan ini, ada keyakinan, nilai, norma, dan aturan perilaku yang
digunakan sebagai cara menggambarkan budaya mereka sendiri maupun pihak lain.
Hal inilah yang memberikan organisasi “identitas” dan “kepemilikan”.
11
Landasan Teori
Sebagai landasan teori, kami mengacu pada Buku “Learning to Think Strategically”
karya Julia Sloan.
Aturan Kebudayaan dalam Pemikiran Strategis
Jaringan yang rumit dari eksekutif, manajer, professional, entrepreneur, konsumen,
penyuplai, pemangku saham, pemerintah, dan kompetitor dari latar belakang budaya berbeda
di dunia global sangat mempengaruhi pengambilan keputusan strategis. Ekspatriat, repatriat,
dan nasionalis masuk dalam pengembangan kapasitas untuk menciptakan dan menciptakan
ulang strategi inovatif, berkelanjutan, dan adaptif.
Pemikiran strategis yang sukses tidak terjadi secara vakum. Strategi inovatif,
berkelanjutan, adaptif, dan kemenangan dapat terjadi ketika hal tersebut dapat dirombak dan
di-frame ulang pada dasar asumsinya dan organisasinya. Ini artinya proses perubahan frame
dengan mendukung penggunaan proses refleksi kritis untuk menantang setiap orang secara
konstruktif termasuk dalam proses strategis.
Kebudayaan menuntun kita untuk memberikan perhatian. Hal ini memberikan outline
dari pola yang harus diakui, dan memberikan penghargaan pada pembelajarannya. Pola
spesifik menuntun kita pada ketakutan dan skeptis tentang apa yang kita bisa percaya dan
tidak, di mana bisa memberi nilai, dan nilai apa yang diberikan pada pola dan frame tertentu.
Budaya itu sendiri, bagaimanapun juga bukan faktor pembeda dalam proses
pembelajaran pemikiran strategis. Kebudayaan merupakan satu faktor yang mempengaruhi
pengalaman. Proses berpikir strategis sering terlepas dari kebudayaan, karena pemikiran
strategis dikendalikan oleh proses pembelajaran informal, bukan dengan budaya.
Menurut Khalid Alaya, kebudayaan nasional menjadi tidak relevan dalam berpikir
dan belajar. Penelitian luas pada kebudayaan manajemen di Timur tengah memunculkan
penemuan, yang mengklaim pada “tindakan orang-orang dan …organisasi beroperasi pada
jalan yang sama terlepas dari lokasi mereka, … terlepas dari kebudayaan atau pengalaman
historis masyarakat.
12
Sering terjadi, kita menemukan kebudayaan sebagai penutup dari sisa, frustasi,
pertanyaan tak terjawab tentang proses berpikir strategis—terutama ketika kita bekerja
dengan eksekutif dari luar kebudayaan kita.
Semua kebudayaan memiliki adat dan nilai yang tertanam yang membantu kita
menentukan apa yang kita tahu, bagaimana kita mengetahuinya, dan bagaimana kita tahu
tingkat keamanan atau ketidakamanan untuk menggunakan tantangan, dialog, dan refleksi
kritis dengan konteks organisasi.
Meskipun kebudayaan itu sendiri bukan hal utama dalam pembelajaran berpikir
strategis, kebudayaan memiliki dampak terlihat dalam pola yang kita pelajari untuk
mengakuinya dan frame yang digunakan pada outline dan data strategis, informasi, dan
keputusan. Sebagai contoh, kebudayaan menentukan cara menilai kelayakan kredit untuk
mergers, hal ini mempengaruhi mengapa kita memprediksi stabilitas politik dari investasi,
yang mempengaruhi bagaimana kita menilai kepercayaan pemerintah propinsi atau menteri
deputi untuk joint venture, dan hal itu menentukan bagaimana kita merencanakan strategi
pemasaran.
Perombakan dan Pengulangan Frame Lintas Budaya
Dalam konteks budaya, kita belajar frame pertama kita, mana yang baik dan mana
yang buruk. Kita belajar untuk melihat situasi dalam cara berbeda dan membuat keputusan
yang sesuai dengan frame. Kita juga belajar derajat nilai yang diberikan pada analisis dan
intuisi. Kebudayaan melatih kita secara tacit dalam pengetahuan.
Perombakan mewajibkan bahwa kita harus menantang dan menguji diri sendiri, orang
lain, lingkungan, kepercayaan, dan asumsi yang mendukung tradisi organisasi. Kita harus
bersedia untuk lepas dari zona nyaman dan ketidakpastian. Kita perlu hidup dengan semua
yang menghantui kita sebagai hasil dari perombakan frame : Bagaimana jika pertanyaan kita
ditertawakan? Bagaimana jika data/ informasi berkontradiksi dengan yang biasa diterima?
Bagaimana jika kita tidak tahu jawaban dari pertanyaan kita sendiri? Bagaimana jika kita
membantai “sacred cow” atau sesuatu yang kebal dari kritik atau pertanyaan?
Waktu dan klien dari seluruh penjuru dunia berkomentar bahwa secara actual sangat
penting untuk membebaskan diri dari hal-hal mendalam karena domain pembelajaran tidak
membiarkan mereka menyerahkan diri tentang otentifikasi mereka.
13
“Tingkat komitmen dan determinasi personal dan organisasi lebih penting dalam
pemikiran strategis dibandingkan setiap frame kulturasi.”
Ketika klien berhasil mencapai langkah perombakan, proses berpikir strategis
terbebas secara identik dengan kebudayaan, karena proses tersebut dikendalikan oleh
pembelajaran informal, bukan kebudayaan.
Setiap Orang dapat Belajar Berpikir Strategis
Skenario
Abo merupakan seorang pemikir strategis dari Afrika. Negara yang memiliki tingkat
buta huruf dan ekonomi, politik, social yang mengerikan. Negaranya mendapatkan
keberuntungan karena menjadi bagian dari pengembangan nasional yang dilakukan oleh
pemerintah. Sehingga Abo pada akhirnya diundang dalam rangka pekerjaan pengembangan
strategi karena kontribusi, pertanyaan yang berwawasan, dan kecerdasan yang baik. Dia
merupakan ahli strategis yang berpengalaman karena memang hal tersebut adalah proses
pembelajaran informal, bukan berdasar pada budaya, gender, kelas, kecerdasan, dan
pendidikan.
Abo merupakan pemikir strategis berpengalaman yang tidak membaca maupun
menulis, dia berpikir pada tingkat mendalam dan memiliki kapablitas refleksi kritis yang luar
biasa.
Untuk menebus waktu hilangnya menempuh pendidikan kognitif, akhirnya dia
mengambil kesempatan untuk mendaftar pada program literasi, yang menunjang karirnya
sebagai pemikir strategis.
Berikut ini 7 sugesti dalam memperkenalkan pemikiran strategis pada lintas budaya sosionasional :
1. Klarifikasi maksud, karena pembelajaran lebih mudah jika fokus pada hal eksplisit
2. Ambil dan seleksi secara mandiri. Pilih mereka yang ingin menjadi pemikir strategis.
Ijinkan orang-orang untuk seleksi mandiri di awal, untuk membuat model dan
momentum
14
3. Berikan ijin untuk menggunakan analisa mendalam, level mendalam dalam
pembelajaran yang berisi proses refleksi kritis pada penyelidikan, tantangan, refleksi,
dan pengujian
4. Sediakan banyak informasi tentang proses pemikiran strategis
5. Gunakan proses pengembangan informal, seperti pelatihan dan mentoring, dan
bersabarlah pada frame yang dibutuhkan, jangan menekan orang lain untuk terpaku
pada hasil
6. Jangan berasumsi. Klarifikasi fakta yang sama-sama diketahui.
7. Cegah menggunakan “kebudayaan” sebagai alasan untuk tidak mengembangkan
pemikiran strategis. Proses pembelajaran informal dan atributnya yang diwajibkan
adalah manusia, bukan kebudayaan.
Kesimpulannya, kita harus memahami apa pengaruh kira melakukan frame sebagaimana
mempertahankan asumsi dan kepercayaan. Penting bagi kita memahami pembelajaran
framework yang sesuai dengan kebudayaan. Pembelajaran untuk perombakan dan reframe
meyakini bahwa pengaruh budaya harus terjadi dalam pembelajaran berpikir strategis.
Memang, hal ini dapat sedikit ataupun banyak menantang kebudayaan satu dengan yang lain,
tetapi hal ini adalah bagian dari adaptasi manusia yang bisa dipelajari (inklusif).
15
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Pada penelitian ini, teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data yaitu dengan cara
wawancara. Wawancara adalah proses tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih yang
dilakukan secara langsung (Dewi, 2015). Adapun wawancara dilakukan kepada karyawan
PT. TRIAS kemudian memverifikasi serta memperluas informasi yang diperoleh.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan dengan terintegrasi pada platform chatting, kuesioner online, dan
panduan Curriculum Vitae (CV) dengan metode wawancara yang dapat dilakukan di tempat
masing-masing.
C. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah : objek penelitian dan sekaligus
peneliti yaitu anggota kelompok 4 (Natasha Anggia, Septian Vairy, Tri Kuncoro P. H.)
platform Whatsapp, Kuesioner online, dan Panduan Lembar CV.
D. Uji Instrumen Penelitian
Mengingat penelitian ini bersifat kualitatif, maka untuk menguji instrumen penelitian,
peneliti memanfaatkan pertanyaan untuk mengetahui seberapa relevan kemampuan dalam
berdialog anggota kelompok ketika dihadapkan pada studi kasus yang ada pada organisasi.
E. Jenis Data
Data yang didapatkan adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung yaitu data
primer. Menurut Sugiyono (2012), data primer adalah sumber data yang langsung
memberikan data kepada pengumpul data. Data tersebut diperoleh langsung dari subjek
penelitian tanpa media perantara berupa opini orang secara individual atau kelompok. Data
primer didapatkan dari wawancara dan CV milik karyawan yang nantinya akan dijadikan
sebagai dasar acuan dalam penyusunan RP3KBT.
16
F. Populasi dan Sampel
Sampel diambil dari populasi anggota perusahaan yang berperan sebagai pendiri perusahaan
(Natasha Anggia, Septian Vairy, dan Tri Kuncoro P. H.)
G. Metode Pengambilan Data
Pengambilan data dalam RP3KBT adalah menggunakan metode wawancara. (Yusuf
Muri 2014) menjelaskan bahwa Wawancara adalah suatu kejadian atau suatu proses interaksi
antara pewawancara (interviewer) dan sumber informasi atau orang yang diwawancarai
(interviewe) melalui komunikasi langsung. Dapat pula dikatakan bahwa wawancara
merupakan percakapan tatap muka (face to face) antara pewawancara dengan sumber
informasi, di mana pewawancara bertanya langsung tentang suatu objek yang diteliti dan
telah dirancang sebelumnya.
H. Teknik Pengumpulan Data
Berdasarkan metode pengambilan data, kami menggunakan teknik analisis kualitatif
dalam menyusun RP3KBT ini. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk
memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku,
persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain (Moloeng, 2014) secara holistik dan dengan cara
deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan
dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah
17
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
GAMBARAN KUALITAS SDM DI INDONESIA DALAM BIDANG STRATEGIC
THINKING
Budaya adalah warisan sosial yang mengintegrasikan komunikasi antar generasi
dalam membangun suatu bangsa. Keaneragaman budaya yang dimiliki bangsa terbentuk
sesuai dengan budaya di masing-masing masyarakat. Keanekaragaman budaya yang dimiliki
bangsa Indonesia adalah bentuk kekayaan warisan yang dimiliki bangsa Indonesia. Perbedaan
akan suku, adat istiadat, agama, bahasa dan etnis menjadikan Indonesia sebagai negara
berjuta budaya besar dalam lingkup dunia.
Sebagaimana
dipaparkan
oleh
Barnouw
dalam
buku
Matsumoto
(2004)
mendefinisikan budaya sebagai sekumpulan sikap, nilai, keyakinan, dan perilaku yang
dimiliki bersama oleh sekelompok orang yang dikomunikasikan dari satu generasi ke
generasi berikutnya lewat bahasa atau beberapa sarana komunikasi lain. Sebagaimana kita
ketahui bahwa bangsa Indonesia adalah negara penghasil berbagai macam budaya yang
sangat besar, ternyata di Indonesia budaa dan nilai banyak mempengaruhi dalam
pengambilan suatu keputusan. Salah satu contohnya adalah pada budaya Jawa. Suku Jawa
memiliki pengruh yang sangat kuat dan memiiki keanekaragaman yang unik.
Dalam prakteknya budaya mengambil peran dalam pengambilan keputusan. Sebagai
cotoh seperti masyarakat jawa dengan budaya “manut” nya. Dalam penelitian yang dilakukan
Gugus Adab, dkk, pada tahun 2012 yang berjudul “Budaya Manut Dalam Pengambilan
Keputusan di Jawa” dengan subyek masyarakat Solo dan informan para mahasiswa
ditemukan bahwa responden merasa dirinya ditengah-tengah antara sosok manut dan tidak
manut. Kecenderungan responden menjawab fenomena manut dalam pengambilan keputusan
adalah dengan manut atasan atau keputusan terbanyak dan teman. Sedangkan sosok yang
paling menjadi panutan adalah orang tua, dan dampak dari manut adalah hasil yang
diinginkan tidak sesuai harapan.
Pengambilan keputusan yang didasari pada sikap manut tidak lain disebabkan oleh
adanya suara lain yang lebih dominan serta adanya tekanan dari kelompok. Adanya rasa
takut, malu dan sungkan dalam memberikan solusi atau alternatif-alternatif lainnya dalam
18
pengambilan keputusan. Fenomena manut dalam pengambilan keputusan dapat terjadi seperti
manut terhadap atasan atau keputusan terbanyak atau teman. Peristiwa seperti ini seringkali
dijumpai dalam forum-forum yang sifatnya formal maupun informal. Adanya contoh yang
dipaparkan diatas mengenai budaya manut dalam pengambilan keputusan memiliki implikasi
terhadap adanya pengaruh baik secara keseluruhan maupun sebagian bahwa budaya
Indonesia berpengaruh terhadap pola berikir strategis. Namun, terlepas dapat dijadikan
landasan atau acuan mengenai haltersebut, fakta menunjukkan bukti bahwa budaya masih
memiliki peran dalam pengambilan keputusan.
GAMBARAN ANGGOTA KELOMPOK DAN KUALITAS ANGGOTA DALAM
BIDANG STRATEGIC THINKING
PT. Trias
merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa
penyelenggaraan haji dan umroh. Didirikan oleh tiga profesional muda dengan keahlian
masing-masing, Trias selalu akan memberikan pelayanan terbaik dari sisi akomodasi hingga
logistik. Sebagai perusahaan jasa yang terdaftar di Amphuri dan Kemenag RI serta
memberangkatkan jamaah terbanyak pada kurun waktu 10 tahun terakhir, menjadikan PT.
Trias mendapatkan Rekor Muri 2018 sebagai perusahan jasa penyelenggaraan Haji dan
Umroh terbesar.
Visi :
Menjadi perusahaan jasa penyelenggaraan Haji dan Umroh terbesar se-Asia Tenggara
Misi :
1. Menggandeng agen perjalanan, akomodasi, dan logistik yang berkualitas di seluruh
Asia Tenggara
2. Memberikan jam penyelenggaraan umroh dengan intensitas yang tinggi
3. Selalu memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah
4. Menciptakan kestabilan, keselarasan, keharmonisan antara seluruh anggota
perusahaan dan jamaah
19
Anggota kelompok/ organisasi dalam penulisan ini terdiri dari 3 orang dari latar
belakang pendidikan akademik yang berbeda serta kebudayaan yang berbeda. Hal ini
membuat kami saling melengkapi satu sama lain dengan persepsi dan pemikiran yang
berbeda untuk kemudian dilakukan penyelarasan dan pengintegrasian.
Natasha Anggia
Anggota perusahaan yang berasal dari Kepulauan Riau. Latar belakang pendidikan S1
Manajemen Dakwah, konsentrasi bidang Manajemen Haji dan Umrah. Perusahaan jasa yang
bergerak pada pelayanan penyelenggaraan haji dan umrah ini tentu membutuhkan karyawan
dengan keterampilan yang unggul sesuai keahlian dan kompetensi yang dimiliki dalam
pengelolaan travel dan administrasi perjalanan haji dan umrah. Dengan latar belakang Ilmu
manajemen dakwah dan fokus pada manajemen haji dan umrah diharapkan dapat
memberikan kontribusi dan penguatan terhadap berbagai problematika bagi keberlangsungan
hidup perusaahaan.
Septian Vairy
Anggota perusahaan dari latar belakang S1 Manajemen Dakwah, berasal dari Riau.
Dengan pandangan dari ilmu Manajemen dakwah, sebuah dialog, diskusi, dan debat yang
diberikan selalu berdasarkan syariat. Ilmu manajemen bukan hanya sekedar ilmu tata kelola
sebuah lembaga atau organisasi yang berlatar belakang ekonomi melainkan bagaimana tata
kelola yang baik sesuai syariat Islam. Dengan latar belakang Ilmu manajemen dakwah ini
diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap masalah tata kelola sebuah perusahaan
sejalan dengan norma dan aturan agama Islam.
Tri Kuncoro P. H.
Anggota kelompok dengan latar belakang pendidikan S1 Matematika, berasal dari
Yogyakarta. Perusahaan yang berproses dengan sistem, tentunya membutuhkan logika dalam
penerapannya. Serta perhitungan yang akurat mengenai laba, rugi, dan penjadwalan. Dengan
kajian bidang matematika, tentu akan mendukung kemajuan dari sistem manajemen
perusahaan.
20
B. PEMBAHASAN
I. PERMASALAHAN SDM INDONESIA DALAM BERPIKIR STRATEGIS
Sumber daya manusia merupakan potensi yang terkandung dalam diri manusia
untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif
yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam
menuju
tercapainya kesejahteraan
kehidupan
dalam tatanan yang
seimbang
dan
berkelanjutan. (Hasiani, 2015)
Perbedaan latar belakang budaya yang dimiliki oleh setiap anggota karyawan dalam
perusahaan ternyata memiliki pengaruh bagaimana seseorang atau karyawan tersebut
berperilaku dan bersikap. Budaya adalah salah satu faktor yang berpengaruh terhadap
kehidupan sosial seseorang. Perbedaan pola berpikir dan berperilaku yang berbeda tidak
hanya disebabkan oleh budaya namun juga latar belakang pendidikan yang berbeda.
Perbedaan tersebut diharapkan mampu menjadi dasar dan alasan dalam proses
pembelajaran berpikir strategis. Perbedaan latar belakang budaya dijadikan sebagai sarana
dalam mengembangkan cara berpikir dan menjadi motivasi bagi anggota lainnya untuk
dapat mengasah intuisi dan rasionalitasnya dalam berpikir strategis
II. PERMASALAHAN DALAM BERPIKIR STRATEGIS
1. Analisis Eksternal
Budaya adalah warisan sosial yang mengintegrasikan komunikasi antar
generasi dalam membangun suatu bangsa. Budaya menjadi salah satu faktor penting
bagaimana seseorang berperilaku dan bertindak dengan pola pergaulan dan cara berpikir
yang dimilikinya. Dalam lingkup perusahaan, karyawan yang memiliki latar belakang
budaya yang berbeda akan mempunyai pola pergaulan yang berbeda pula. Perbedaan
budaya antar anggota karyawan beimplikasi pada bagaimana cara berpikirnya. Perbedaan
tidak hanya pada budaya, namun juga latar belakang pendidikan, daerahm serta karakter
yang dimiliki masing-masing anggota karyawan.
Adanya perbedaan latar belakang oleh masing-masing anggota karyawan
diharapkan dapat memahami segala perbedaan yang ada. Menjadikan setiap perbedaan
sebaagi sebuah keunggulandan kemampuan dalam mewujudkan proses berpikir strategis.
Perbedaan budaya diharapkan mnenjadi alasan yang tepat dalam proses pembelajaran
berpikir strategis. Gambaran dari perbedaan latar belakang budaya disetiap anggota dapat
21
mewakili budaya masyarakat Indonesia dalam skala kecil sehingga dapat menjadi motivasi
anggota kelompok lainnya dalam mengembangkan proses pemikiran strategis.
2. Analisis Internal
Berdasarkan hasil analisis internal melalui metode kuesioner secara online,
pada anggota kelompok yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda maka
diperoleh gambaran kemampuan berpikir strategis yang berbeda-beda dalam setiap
kelompok. Penilaian mengenai proses pengambilan keputusan salah satunya didasarkan
pada beberapa kuesioner. Berdasarkan dari diskusi kelompok dan penilaian kuesioner,
maka diperoleh kesimpulan kualitas anggota kelompok dalam bentuk analisis SWOT,
diantaranya adalah:
• Strength:
1) Secara umum, perbedaan kebudayaan yang dimiliki anggota kelompok memiliki
implikasi pengaruh positif terhadap cara berpikir strategis. Pola komunikasi yang
dilakukan terlihat dari watak atau karakter yang dimiliki anggota kelompok dalam
menunjang pembelajaran berpikir strategis.
2) Perbedaan latar belakang dan pengalaman yang dimiliki anggota kelompok pada
saat berdiskusi dan berdialog menciptakan gagasan serta ide-ide yang smart.
• Weakness:
1)
Kelemahan utama yang ada pada kelompok ini adalah tidak semua watak yang
dimiliki anggota kelompok dapat menunjang berpikir strategis. Watak yang
negatif berpotensi menghambat dama menciptakan ide atau gagasan dalam
berpikir strategis.
2)
Tidak mengintegrasikan budaya yang dimiliki dalam pengembangan berpikir
strategis.
• Opportunity:
1) Keberagaman pendapat, suku, latar belakang pendidikan menjadikan sebuah
tantangan dalam pengembangan pengetahuan mengenai budaya. Selain itu dapat
memperkaya pengetahuan mengenai budaya yang beragam
22
2) Adanya perbedaan dapat memotivasi dan dapat dimanfaatkan oleh anggota
kelompok untuk beradaptasi dan berintrospeksi diri untuk mencapai peluang
berpikir strategis secara lebih baik.
• Threat:
1)
Ancaman yang timbul dari kelompok terletak pada proses komunikasi, dimana
penyimpanan informasi menjadi terhambat disebabkan oleh proses penyampaian
berbeda dengan budaya yang dimiliki maasing-masing individu anggota
kelompok.
2)
Kemampuan adaptasi anggota kelompok harus diimbangi dengan kemampuan
softskil yang dimiliki masing-masing anggota kelompok. Jika tidak, maka akan
mengalami hambatan dan berpengaruh terhadap kinerja anggota kelompok.
Situasi yang diharapkan adalah:
Perbedaan latar belakang yang dimiliki masing-masing anggota kelompok
diharapkan dapat menyadari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Peran latar
belakang budaya dalam pengembanagn beroikir strategis dapat menjadi alasan
bagi anggota kelompok untuk bekerja keras dalam meningkatkan kekuatannya
dab memperbaiki kelemahan agar kemudian dapat memanfaatkan peluang yang
ada serta dapat menghadapi segala ancaman. Selain itu, anggota kelompok dapat
meningkatkan softskill yang dapat menunjang watak yang dimiliki untuk dapat
menutup kekurangan yang ada.
Masalah Kualitas Karyawan
▪
Masih rendahnya minat belajar dan kajian keilmuan dalam mengembangkan diri
untuk menyelaraskan perbedaan latar belakang budaya antar anggota
perusahaan serta menggali potensi mengenal peran budaya dalam proses
berpikir strategis.
▪
Perbedaan watak yang dimiliki berpengaruh terhadap kinerja anggota karyawan
▪
Minimnya pemahaman dalam mengintegrasi perbedaan latar belakang budaya
antar anggota perusahaan agar diperoleh persamaan persepsi.
23
Urutan Prioritas Masalah yang Harus Ditindak Lanjuti
▪ Meningkatkan pemahaman peanan budaya dalam anggota karyawan
▪ Menyelaraskan perbedaan latar belakang budaya antar anggota perusahaan serta
menggali potensi mengenal peran budaya dalam proses berpikir strategis.
▪ Membuka cara berpikir yang luas sehingga mampu menciptakan perspektif atau
persepsi baru dalam memandang perbedaan budaya
A.) Alternatif Usulan RP3KBT
Berdasarkan pada analisis eksternal dan internal mengenai kualitas sumber daya
manusia pada perusahaan, terdapat masalah yang dihadapi. Sehingga perlu adanya program
alternatif usulan RP3KBT
•
Studi Kasus dan Diskusi/ Dialog Kelompok
Studi kasus merupakan suatu pembelajaran dan pembahasan mengenai kasus
pada topik tertentu yang nyata pernah ada atau sedang terjadi untuk kemudian
direfleksikan menjadi permasalahan yang sedang dihadapi. Studi kasus ini
mewajibkan setiap anggota kelompok untuk melakukan diskusi agar melatih
pemikiran yang strategis. Pada diskusi yang dilakukan selama 4 periode waktu, akan
terlihat karakter tiap individu berdasarkan latar belakang budaya mereka. Dari sini,
masing-masing akan memahami karakter tiap individu sehingga pencapaian solusi
pada studi kasus dapat selaras sesuai karakter masing-masing anggota kelompok
Keunggulan :
Diskusi atau dialog pada studi kasus menuntut setiap anggota kelompok untuk
berperan aktif menyampaikan ide-ide, gagasan, dan argument yang membangun
sehingga tercipta kemampuan untuk mengembangkan pemikiran strategis
Kelemahan :
Studi yang fokus pada suatu kasus menyebabkan setiap anggota kelompok hanya
terfokus pada satu permasalahan saja. Sehingga kurang adanya eksplorasi pada
pemikiran dan informasi lain yang terkait. Spontanitas dalam mengemukakan ide
kadang kala hanya didominasi oleh mereka yang gemar berbicara dan memiliki
pengetahuan lebih luas disbanding lainnya.
24
•
Mengikuti Workshop Pelatihan
Workshop adalah pertemuan dari sekelompok orang yang memiliki minat, keahlian,
dan profesi tertentu untuk aktif dalam suatu diskusi dan kegiatan intensif pada suatu
subjek dan proyek tertentu.
Keunggulan :
Partisipan dalam workshop dapat bertemu dengan partisipan lain yang belum
pernah kenal, dari tempat yang jauh, atau disipilin ilmu berbeda. Sehingga dapat
terjalin koneksi yang luas. Serta biasanya menghadirkan pembicara dari luar kota
yang sekaligus dapat memberikan ilmu bermanfaat
Kelemahan :
Kadangkala, bertemu dengan orang baru menjadikan seseorang canggung untuk
berdiskusi. Workshop juga dinilai menghabiskan biaya lebih besar karena
menghadirkan pembicara sebagai instruktur dalam dialog/ diskusi.
•
Program Magang
Program magang merupakan suatu program dimana peserta mengajukan proposal
untuk dapat bekerja di suatu perusahaan multinasional.
Keunggulan :
Seseorang mampu menempatkan diri secara langsung sebagai karyawan di suatu
perusahaan multinasional, dimana banyak sekali karyawan dari berbagai latar
belakang budaya di sana. Program ini mampu menambah pengalaman kerja sekaligus
kemampuan berinteraksi dengan karyawan dari latar belakang budaya lain, sehingga
peserta magang tersebut dituntut untuk adaptif agar tercipta keefektifan dalam
bekerja.
Kelemahan :
Program magang membutuhkan proposal yang mungkin memakan waktu lama
untuk pengerjaannya. Juga harus mencari perusahaan yang sekiranya sesuai dengan
tujuan pembelajaran yaitu menyelaraskan dan mengintegrasi perbedaan latar belakang
budaya.
25
B.) Tujuan RP3KBT
Adapun tujuan penyusunan RP3KBT ini adalah sebagai berikut :
•
Membantu karyawan memahami peran latar belakang budaya dari tiap
karyawan dalam perusahaan.
•
Membantu karyawan untuk dapat menyelaraskan dan mengintegrasikan
persepsi yang berbeda karena latar belakang budaya yang berbeda.
C.) Strategi yang Dipilih
Berdasarkan pilihan alternatif usulan, kelompok penulis memilih “Program
magang di perusahaan multinasional”
Keunggulan
Seseorang mampu menempatkan diri secara langsung sebagai karyawan di suatu
perusahaan multinasional, dimana banyak sekali karyawan dari berbagai latar
belakang budaya di sana. Program ini mampu menambah pengalaman kerja sekaligus
kemampuan berinteraksi dengan karyawan dari latar belakang budaya lain, sehingga
peserta magang tersebut dituntut untuk adaptif agar tercipta keefektifan dalam
bekerja.
Kelemahan :
Program magang membutuhkan proposal yang mungkin memakan waktu lama
untuk pengerjaannya. Juga harus mencari perusahaan yang sekiranya sesuai dengan
tujuan pembelajaran yaitu menyelaraskan dan mengintegrasi perbedaan latar belakang
budaya.
Sebenarnya kelemahan ini dapat dijadikan suatu keunggulan, mengingat
pengajuan proposal membutuhkan kemampuan pelobian yang baik. Sehingga dari
mulai proses pelobian hingga diterima dalam program magang, termasuk dalam
pembelajaran untuk memahami latar belakang budaya yang berbeda antar organisasi
satu dengan yang lain.
26
V. USULAN AKHIR PROPOSAL PROGRAM RP3KBT
Judul Program : “Menerapkan Lima Atribut Kritis Dalam Pengembangan Berpikir
Strategis dari Budaya yang Berbeda-beda.
Indonesia dengan keanekaragaman latar belakang budaya yang berbeda dari Sabang
sampai Merauke merupakan bentuk kekayaan yang semestinya dijaga kelestariannya.
Perbedaan budaya, suku, bahasa, agama dan adat istiadat memiliki karakteristik yang
berbeda-beda disetiap wilayahnya. Adanya perbedaan latar belakang budaya yang dimiliki
bangsa Indonesia pastinya menjadikan setiap individu memiliki karakteristik yang berbedabeda yang kemudian akan mempengaruhi kemmapuan berpikir strategis mereka salah satunya
dalam bentuk pengambilan keputusan.
Budaya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dalam
pengambilan keputusan. Keberagaman budaya yang dimiliki oleh setiap individu semestinya
menjadikan seseorang kaya akan pengalaman yang didapat secara informal untuk kemudian
memudahkannya dalam mengembangkan kemampuan berpikir strategis. Namun, terkadang
perbedaan budaya yag dimiliki oleh setiap individu justru berimplikasi pada pengambilan
keputusan yang didalamnya terdapat perbedaan dan perdebatan yang tidak bisa dihindari.
Perlu diketahui bahwa penting untuk setiap individu terutama bagi seoranng manajer
untuk mengtahui karakteristik dan pola pikir anggota karyawannnya yang memiliki latar
belakang budaya yang berbeda untuk memudahkan proses pengambilan kepuutusan.
Tujuannya bukan untuk menjatuhkan karakter budaya setiap individu namun agar antar
karyawan satu dan karyawan lainnya lebih toleran.
Selai itu, kita juga perlu memahami bahwa proses pengambilan keputusan merupakan
suatu kemampuan berpikir strategis yang tidak sepenuhnya dipengaruhi atau berasal dari
budaya. Terlepas dari budaya, proses pengambilan keutusan juga diperoleh dari kemampuan
berpikir strategis yang dikembangka secara formal. Bedanya adalah, budaya hanya salah satu
faktor yang membentuk kerangka pikir individu terhadap suatu masalah atau mengenai
situasi atau kondisi yang dihadapi.terdapat lima atribut kritis yang cukup penting untuk
dikembangkan dalam proses pengambilan keputusan dalam proses pembelajaran berpikir
startegis.
Dalam hal ini kami mengadakan program magang di perusahaan multinasional untuk
mengembangkan pemikiran strategis dan menerapakan lima atribut kritis suntuk melihat dan
27
mengintegrasikan perbedaan latar belakang budaya antar anggota perusahaan agar diperoleh
persamaan persepsi.
Tujuan Program Magang di Perusahaan Multinasional
a. Mengintegrasikan perbedaan latar belakang budaya antar anggota perusahaan agar
diperoleh persamaan persepsi.
b. Untuk memberikan peserta berbagai proses penerapan lima atribust dalam setiap
individu
c. Meningkatkan dan mengembangkan proses berpikir strategis dalam pengambilan
keputusan
d. Menyelaraskan perbedaan latar belakang budaya antar anggota perusahaan
Hasil yang di harapkan
a. Setiap individu dapat menerapkan lima atribut kritis dalam kehidupan mereka
b. Indivdu menjadi lebih mudah dalam mengambil keputusan strategis
c. Setiap inndividu dapat mengintegrasikan perbedaan latar belakang budaya antar
anggota perusahaan agar diperoleh persamaan persepsi
d. Memberikan pemahaman budaya sebagai salahh satu hal yang mempengaruhi dalam
setiapproses pegambilan keputusan strategis.
Sasaran Program
Karyawan perusahaan
Uraian Kelemahan
Program magang membutuhkan proposal yang mungkin memakan waktu lama untuk
pengerjaannya. Juga harus mencari perusahaan yang sekiranya sesuai dengan tujuan
pembelajaran yaitu menyelaraskan dan mengintegrasi perbedaan latar belakang budaya
28
VI. REKOMENDASI DALAM PROSES IMPLEMENTASI RP3KBT
Program Magang
1. Menentukan pola dan bentuk magang (pendampingan atau membantu terjun langsung
dalam membantu permasalahan dan pengambilan keputusan)
2. Menentukan persyaratan magang
3. Penetapan lokasi
4. Pembuatan proposal
5. Teknis magang dengan program shifting dari 10 karyawan magang, 1 hari hanya 2-3
karyawan masuk.
Dosen Pembimbing Magang
Dra. Trias Stiawati, M.Si, Ph.D
Jadwal Pelaksanaan
Pelaksanaan dilakukan selama 1 bulan
Diperkirakan pada :
Senin, 2 Agustus 2021 sampai dengan Jumat, 27 Agustus 2021
Aktif pada hari kerja Senin hingga Jumat, dengan sistem shifting berdasarkan aturan
pembatasan sosial selama pandemi.
Tempat dan waktu Pelaksanaan
Perusahaan PT Sari Husada (SGM)
Jalan Kusumanegara No 173, Muja Muju, Kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta
29
Anggaran yang dibutuhkan
A. Anggaran Belanja Operasional
1. Alat tulis kantor @ 50.000 untuk 10 peserta
Rp 500.000,-
2. Uang transport @300.000 untuk 10 peserta (1 bulan)
Rp 3.000.000,-
3. Uang makan @300.000 untuk 10 peserta (1 bulan)
Rp 3.000.000,-
B. Biaya Honorarium
1. Honorarium instruktur/ narasumber @5.000.000 untuk dosen
Rp 5.000.000,-
pembimbing
TOTAL
Rp 11.500.000,-
30
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Budaya memiliki pengaruh dan implikasi yang kuat dalam kaitannya dengan
pengambilan keputusan. Meskipun budaya bukan sebagai faktor utama dalam berfikir
strategis tetapi budaya dapat mendorong sesorang untuk menjadi pemikir strategis. Berbagai
macam tantangan muncul dalam lingkungan bisnis yang sangat global mengharuskan manajer
atau pemimpin perusahaan untuk lebih mengetahui terkait dengan pemahaman budaya yang
dimiliki anggota karyawannya. Beragam keanekaragaman latar belakang budaya, etnik,
kewarganegaraan diharapkan mampu mendorong dan menciptakan pemikir-pemikir strategis
yang handal bagi keberlangsungan perusahaan.
Pengembangan pemikiran strategis berdasarkan lima atribut yang telah
dipaparkan di atas, adaptasi dan seni dalam anggota masih terdapat beberapa kelemahan di
dalamnya. Oleh karena itu dibutuhkannya latihan dengan keseriusan dan kesungguhan agar
dapat mengembangkan pemikiran strategis.
Saran
Diharapkan dapat meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan melalui lintas
budaya, memaksimalkan pengetahuan budaya untuk menciptakan serta mengembangkan
berpikir strategis melalui pendekatan-pendekatan yang interaktif. Setiap individu atau seluruh
elemen yang ada didalam perusahaan untuk dapat memperkuat pengetahuan mereka
mengenai sejauh mana suatu budaya dapat mempengaruhi proses pemikiran strategis.
31
VIII. DAFTAR PUSTAKA
da Costa, R. L., Pereira, C. S., Pereira, L., & Jeronimo, C. (2018). The Influence of Culture in
International Leadership. Journal of International Business and Economics, 73-88.
Fusch, G. E., Fusch, C. J., Booker, J. M., & Fusch, P. I. (2016). Why Culture Matters in
Business Research. Journal of Social Change, 39-47.
Hasiani, F. (2015). Analisis Kualitas Sumber Daya Manusia dan Pengaruhnya Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Pelalawan.
Morcos, M. (2018). Organisational Culture : Definitions and Trends.
Obaji, N., Olaolu, D., & Daniel, C. O. (2020). Impact of Organisational Culture and Strategic
Management on Organisational Performance.
Sloan, J. (2006). Learning to Think Strategically. Burlington: Butterworth-Heinemann.
Tedla, T. B. (2016). The Impact of Organizational Culture on Corporate Performance.
Tran, S. K. (2017). GOOGLE : A Reflection of Culture, Leader, and Management.
International Journal of Corporate Social Reponsibility.
32
IX.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Kuesioner Pengaruh Budaya Terhadap Pengambilan Keputusan (Berpikir
Strategis)
Tata cara pengisian kuesioner dengan penilaian angka: 1 (sangat tidak setuju), 2 ( tidak
setuju), 3 (netral), 4 (setuju), 5 ( sangat setuju).
No
1
Pertanyaan
Kuncoro
Kesukesesan kelompok lebih penting disbanding
kesuksesan individu
2
Pegawai tidak seharusnya tidak setuju dengna
keputusan manajemen
3
Pegawai seharusnya hanya mengejar target mereka
sendiri disbanding kesejahteraan kelompok
4
Proseedur standard operasi (SOP) sangat membantu
pegawai dalam pekerjaannya
5
Manjer sebaiknya membuat sebagian besar keputusan
tanpa harus berkonsultasi dengan bahwahan
6
Kesejahteraan kelompok lebih penting disbanding
penghargaan individu
7
Sangat penting bagi manajer untuk menggunakan
otoritas dan kekuasaannya ketik berhadapan dengan
bawahan
8
Manajer berharap pegawai mengikuti instruksi dan
prosedur dengan sesuai mungkin
9
Individual diungkinkan melepaskan target mereka
demi tujuan mencapai kesuksesan kelompok
10
Manajer seharusnya sesekali menanyakan pendapat
pegawai
11
Peraturan dan regulasi merupakan hal penting karena
berfungsi sebagai pemberitahuan kepada pegawai apa
yang diharapkan organisasi dari mereka
12
Dapat diterima oleh anggota-anggota kelompok
33
Anggia
Septian
dalam pekerjaan merupakan hal yang penting
13
Manajer seharusnya menghindari hubungan sosial
diluar pekerjaan dengan pegawai
14
Manajer seharusnya mendorong loyalitas kelompok
meskipun target individu harus dikorbankan
15
Manajer seharusnya tidak mendelegasikan tugas
penting kepada pegawai
16
Sangat penting untuk menjelaskan secara detail
mengenai persyaratan dan instruksi kerja agar
pegawai mengetahui apa yang seharusnya mereka
kerjakan
17
Instruksi operasional sangat penting bagi pegawai
dalam pekerjaannya
Kuesioner
Nama:
Catatan: Beri Font Merah sebagai jawaban
1. The company's sales aren't where they should be. You:
1) Don't worry about it; that's a sales problem. All you can do is put the message out
there.
2) Wait to see if the owner/president/CEO approaches you and asks for your input.
3) Ask the owner/president/CEO sales team if you can do anything to help.
4) Prepare an agenda, research options, and
call a meeting with the
owner/president/CEO and sales team to brainstorm marketing ideas
2. Your website is pretty good (you think), but you don't really know how it's
performing, so you:
1) Think to yourself, "That's really not my department; it's an IT issue."
2) Suggest the IT department start using web analytics to measure the site's
effectiveness and let you know if they find anything useful.
3) Start researching Google analytics to see what type of information is available.
34
4) Start generating and reviewing analytics and tweaking the website to improve
effectiveness.
3.
Your CEO tells you it's time to beef up your social media. Do you:
1) Hope it's a phase that will pass.
2) Wait to see what she comes up with.
3) Start researching social media so you'll be ready when she tells you what she
wants.
4) Offer to conduct research online, talk with other distributor and develop a social
media plan.
4. You aren't attending management meetings, so you:
a. Count yourself lucky — that's one fewer meeting to attend!
b. Ask attendees to fill you in on what's said in meetings that affects marketing.
c. Suggest to the CEO that you should be in meetings, but you won't say anything.
d. Demand to attend meetings because you need to know what's going on to effectively
market the company and contribute to the management process.
5. You've noticed several of your competitors offering online ordering (through their
website), but you know making the conversion would come out of your budget, so you:
a. Don't say anything; you need your budget for your existing marketing plan.
b. Wait until the owner/president/CEO suggests it and let the IT department lead the
initiative.
c. Suggest to the owner/president/CEO that the company consider online ordering in the
future.
d. Develop a plan and budget to move your company toward online ordering.
6. You know your company is not aggressive enough it its marketing, you:
1) Do nothing; your job is pretty manageable. Why rock the boat?
2) Ask the owner/president/CEO if he'd like you to do anything differently.
3) Suggest that your budget be increased so you can afford to build on your existing
marketing efforts.
4) Research marketing tactics and find new no-cost/low-cost ways to more aggressively
market the company.
7. When it comes to developing an annual marketing plan and budget you:
a. Just do what's always been done. Nobody's ever asked for a detailed plan, so why
bother?
35
b. There's just no time; you have too many other day-to-day responsibilities.
c. You've tried, but you always get interrupted with other tasks or asked to "put out
fires."
d. If you have to, you go off-site for a day or two to get it done and delegate or
postpone your daily tasks.
8. You have an annual marketing plan and budget. Mid-year, you learn about a great
opportunity but it will cost approximately 5% of your budget. You:
1) Ignore it. You have a plan and are sticking with it.
2) Put it on the calendar for next year.
3) Ask the owner/president/CEO to increase the budget.
4) Come up with a plan to work it into this year's budget and present it to the
owner/president/CEO.
9. Your owner/president/CEO has asked you to step up the company's marketing, but you
don't quite know how. You:
1) Try to find another job that's more in line with your skill set.
2) Suggest hiring a consultant.
3) Ask friends, coworkers and associates what they would do if they were you.
4) Take classes, read books, work with a consultant, and anything else you can do to
learn the skills you need.
10. You're actively seeking to more aggressively market the company and its products. You:
1) Do more of what you've always done.
2) Try one or two new strategies and tactics you've been considering.
3) Look at best practices in the electrical distribution industry.
4) Look at best practices in other industries.
36
Curiculum Vitae Karyawan PT. Trias
Karyawan 1: Natasha Anggia
A. Identitas Diri
Nama
: Natasha Anggia
Tempatnanggal Lahir : Letung, 21 Juli 1998
Alamat
: JI. Kampung Tengah Letung RT/RW 002/002 Letung, Jemaja,
Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau
Jenis Kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Handphon
: 085264163120
Status
: Belum Menikah
Email
: [email protected]
Nama Ayah
Aprizal
Nama Ibu
Hartini
B. Riwayat Pendidikan
1. Pendidikan Formal
a. TK Sri Kemuning Letung (2002-2003)
b. SD Negeri 001 Letung (2004-2010)
c. SMP Negeri 1 Jemaja (2011-2013)
d. SMA IT Yapidh (Yayasan Perguruan Islam Darul Hikmah) Bekasi
(2014-2016)
e. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (2016-2020)
2. Pendidikan Non-Formal
a. Pondok Pesantren Darul Hikmah Kota Bekasi (2014-2016)
b. Rumah Qur’an JogJa (2017-2020)
C. Prestasi/Penghargaan
1. Juara 2 MHQ 5 juz dan Tilawah Kabupaten Kepulauan Anambas
2. Juara I MHQ 10 juz Kabupaten Kepulauan Anambas
3. Presenter Konferensi Pengabdian Masyarakat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
D. Pengalaman Organisasi
1. Koordinator Divisi Ibadah (IPDHA) Ikatan Pelajar Darul Hikmah Akhwat
(2014-2015)
37
2. Pengurus Divisi Bahasa Arab UKM (SPBA) Studi dan Pengembangan Bahasa
Asing UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2017-2018)
3. Anggota UKM Al-Mizan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
4. Pengajar Rumah Qur’an Jogja (2017-2020)
5. Anggota Organisasi Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas-Yogyakarta
Karyawan 2 : Septian Vairi
A. Identitas Diri
Nama
: Septian Vairi
Tempatnanggal Lahir
: Pekanbaru, 07 September 1998
Alamat
: JI. Serai, Perum. Harmoni Residence. Blok D7.
Kelurahan Tangkerang Barat, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota
Pekanbaru, Provinsi Riau
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Agama
: Islam
Handphon
: 081258787811
Status
: Belum Menikah
Email
: [email protected]
Nama Ayah
Vairizon
Nama Ibu
Maylan
B. Riwayat Pendidikan
a. Pendidikan Formal
i. TK Pertiwi Provinsi Kota Pekanbaru (2001-2004)
ii. SD Negeri 002 Senapelan (2004-2010)
iii. SMP IT Al-Azhar Syifa Budi Pekanbaru II (2011-2013)
iv. SMA IT Al-Azhar Syifa Budi Pekanbaru II(2014-2016)
v. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (2016-2020)
b. Pendidikan Non-Formal
i. Master Taekwondo Club (2014-2019)
C. Prestasi/Penghargaan
a. Juara 1 ASL (2015)
b. Juara 3 Open tournament Taekwondo kelas Over 87 (2017)
38
D. Pengalaman Organisasi
a. Anggota Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK) SMA Al-Azhar Syifa
Budi Pekanbaru (2013-2014)
b.
Ketua Divisi Bela Negara Osis SMA Al-Azhar Syifa Budi Pekanbaru
(2014-2015)
c. Wakil Ketua Dojang RA-One Taekwondo Club (2017-2019)
E. Pengalaman Kerja
a. Anggota administrasi PT. Mas Artha Sarana (2016-2017)
b. Petugas Lapangan PT. Pusaka Indrapuri (2017-2019)
Karyawan 3 : Tri Kuncoro Prasetyo Hutomo
A. Identitas Diri
Nama
: Tri Kuncoro Prasetyo Hutomo
Tempat/ tanggal Lahir
: Yogyakarta, 29 Mei 1991
Alamat
: Mantrijeron MJ 3/ 872 Yogyakarta
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Agama
: Islam
Handphon
: 08989489494
Status
: Belum Menikah
Email
: [email protected]
Nama Ayah
: Wahyono (Alm)
Nama Ibu
: Sri Yuniarsih, S. E.
B. Riwayat Pendidikan
a. Pendidikan Formal
i. TK Dharma Siddaya (1995-1996)
ii. SD Negeri 2 Timuran Yogyakarta (1997-2003)
iii. SMP Negeri 16 Yogyakarta (2003-2006)
iv. MAN Yogyakarta 2 (2006-2009)
v. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (2009-2014)
39
b. Pendidikan Non-Formal
Toefl and Conversation Program Global English, Kampung Inggris,
Pare, Kediri, Jawa Timur (2019)
C. Pengalaman Organisasi
a. Ketua Calon Mubaligh MAN Yogyakarta 2 (2007-2008)
b. Anggota Pleton Inti Pasukan Khusus MAN Yogyakarta 2 (2006-2008)
c. Kepala Departemen Bidang Usaha Himpunan Mahasiswa Matematika
UGM (2010-2011)
D. Pengalaman Kerja
a. Chief Editor CV BukuOryzaee Android Publisher Yogyakarta (2015-2017)
b. Pengajar Matematika tetap Neutron Kediri Jawa Timur (2017-2020)
c. Freelance Journalist Quality Magazine Jakarta (2019-2020)
d. Pengajar Matematika Bimbingan Belajar Indonesia Mind Center
Yogyakarta (2020)
40
41
Download