Uploaded by icakicok

4.CROUP SYNDROME

advertisement
CROUP SYNDROME
DEFINISI
 Croup adalah terminologi umum yang mencakup suatu grup
penyakit heterogen yang mengenai laring, infra/subglotis,
trakea dan bronkus. Karakteristik sindrom croup adalah batuk
yang menggonggong, suara serak, stridor inspirasi, dengan
atau tanpa adanya obstruksi jalan napas2
KLASIFIKASI
 Viral Croup (laringotrakeobronhotis)
 Ditandai dengan gejala-gejala prodromal infeksi pernafasan:
gejala obstruksi saluran pernafasan berlangsung selama 3-5
hari. Usia ± 6 tahun. Stridor (+), Batuk (sepanjang waktu),
Demam (+) yang tinggi, durasi 2-7 hari, Keluarga sejarah (+),
kecenderungan oleh asma (-).
 Spasmodic Croup
 Spasmodic croup, batuk hebat, terdapat faktor atopik, tanpa
gejala prodromal, anak tiba-tiba bisa mendapatkan obstruksi
saluran pernapasan, biasanya pada malam hari sebelum
menjelang tidur, serangan terjadi sebentar kemudian kembali
normal.
KLASIFIKASI
 Ringan: Ditandai dengan batuk menggonggong keras yang kadang-kadang
muncul, Stridor yang tidak dapat terdengar saat pasien istirahat/tidak
beraktivitas atau tidak ada kegiatan dan teradapat retraksi dada ringan.
 Moderat/Sedang: Ditandai dengan batuk menggonggong yang sering timbul,
Stridor lebih bisa mendengar ketika pasien beristirahat atau tidak aktivitas,
retraksi dinding dada yang sedikit terlihat, tetapi tanpa gangguan pernapasan
yaitu gawat napas (repiratory distress).
 Berat: Ditandai dengan sering batuk menggonggong yang sering timbul,
Inspirasi stridor lebih bisa mendengar saat aktivitas pasien atau kurang istirahat,
akan tetapi, lebih terdengar jelas ketika pasien beristirahat, dan kadang-kadang
disertai dengan stridor ekspirasi, retraksi dinding dada, juga terdapat gangguan
pernapasan.
 Gagal napas mengancam: Batuk kadang-kadang tidak jelas, stridor positif
(kadang sangat jelas ketika pasien beristirahat), terdapat sedikit gangguan
kesadaran (letargi), dan kelesuan.
EPIDEMIOLOGI
 Sindrom Croup biasanya terjadi pada anak usia 6 bulan-6
tahun, dengan puncaknya pada usia 1-2 tahun. Akan tetapi,
croup juga dapat terjadi pada anak berusia 3 bulan dan di atas
15 tahun meskipun angka prevalensi untuk kejadian ini cukup
kecil.
 Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada
anak perempuan, dengan rasio 3:2.
ETIOLOGI
 Viral
 Viral croup / laryngotrakeitis akut yang disebabkan oleh
Human ParainfluenzaVirus terutama tipe 1 (HPIV–1), HPIV-2,
HPIV-3, dan HPIV-4 terdapat pada sekitar 75% kasus.
 Bakteri
 Bakteri yang dapat menyebabkan batuk dapat dibagi menjadi
beberapa antara lain, difteri laring, trakeitis bakteri,
laryngotrakeobronkitis, dan
laryngotrakeobronkopneumonitis.
 Penyebab lain:
 Mekanik
Benda asing
Pasca pembedahan
Penekanan massa ekstrinsik
 Alergi
Sembab angioneurotik
MANIFESTASI KLINIS
Karakteristik
Viral Croup
Spasmodic Croup
6 bulan – 6 tahun
6 bulan – 6 tahun
Gejala prodromal
Ada
Tidak jelas
Stridor
Ada
Ada
Batuk
Sepanjang waktu
Terutama malam hari
Ada (tinggi)
Bisa ada, tidak tinggi
2-7 hari
2-4 jam
Riwayat keluarga
Tidak ada
Ada
Predisposisi asma
Tidak ada
Ada
Usia
Demam
Lama sakit
DIAGNOSIS
 Sistem paling sering digunakan untuk mengklasifikasikan
croup beratnya adalah Skor Westley;
Skor Westley: Klasifikasi keparahan batuk
Jumlah poin yang ditugaskan untuk fitur ini
Ciri
0
1
2
3
4
Retraksi Dinding
Tidak ada Ringan
Moderat Parah
dada
Dengan
Stridor
Tidak ada
Diam
agitasi
Dengan
Sianosis
Tidak ada
agitasi
Tingkat kesadaran Normal
Udara masuk
Normal
5
Diam
Bingung
Penurunan
Menurun
tajam
 Skor total ≤ 2 menunjukkan batuk ringan. Batuk
menggonggong karakteristik dan suara serak yang mungkin
ada, tetapi tidak ada stridor saat istirahat.
 Total skor 3-5 diklasifikasikan sebagai croup moderat. Hal ini
menyajikan dengan mendengar stridor mudah, tetapi dengan
beberapa tanda-tanda lain.
 Hal ini juga menyajikan dengan stridor jelas, tetapi juga fitur
ditandai dinding dada indrawing.
 Sebuah nilai total ≥ 12 menunjukkan yang akan adanya
kegagalan pernapasan . Batuk menggonggong dan stridor
mungkin tidak lagi menonjol pada tahap ini.
 PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Bila ditemukan peningkatan leukosit >20.000/mm3 yang
didominasi PMN, kemungkinan telah terjadi superinfeksi,
misalnya epiglotitis.
 Steeple sign
TATALAKSANA
 Croup ringan dapat ditangani di rumah dengan perawatan
penunjang, meliputi pemberian cairan oral, pemberian ASI atau
pemberian makanan yang sesuai.
 Anak dengan croup berat harus dirawat di rumah sakit untuk
perawatan sebagai berikut:
 Steroid. Beri dosis tunggal deksametason (0.6 mg/kgBB
IM/oral) atau jenis steroid lain dengan dosis yang sesuai, dan
dapat diulang dalam 6-24 jam (lihat lampiran 2 untuk
deksametason dan prednisolon).
 Epinefrin (adrenalin). Beri 2 ml adrenalin 1/1 000
ditambahkan ke dalam 2-3 ml garam normal, diberikan dengan
nebulizer selama 20 menit.
 Antibiotik. Tidak efektif dan seharusnya tidak diberikan.
 Pada anak dengan croup berat yang memburuk, dipertimbangkan
pemberian:
 1. Oksigen
 Hindari memberikan oksigen kecuali jika terjadi obstruksi
saluran respiratorik. Tanda tarikan dinding dada bagian bawah
ke dalam yang berat dan gelisah merupakan indikasi dilakukan
trakeostomi (atau intubasi) daripada pemberian oksigen.
Penggunaan nasal prongs atau kateter hidung atau kateter
nasofaring dapat membuat anak tidak nyaman dan
mencetuskan obstruksi saluran respiratorik.
 Walaupun demikian, oksigen harus diberikan, jika mulai
terjadi obstruksi saluran respiratorik dan perlu
dipertimbangkan tindakan trakeostomi.
 2. Intubasi dan trakeostomi
 Jika terdapat tanda obstruksi saluran respiratorik seperti tarikan dinding dada
bagian bawah ke dalam yang berat dan anak gelisah, lakukan intubasi sedini
mungkin.
 Jika tidak mungkin, rujuk anak tersebut ke rumah sakit yang memungkinkan untuk
dilakukan intubasi atau tindakan trakeostomi dengan cepat.
 Jika tidak mungkin, pantau ketat anak tersebut dan pastikan tersedianya fasilitas
untuk secepatnya dilakukan trakeostomi, karena obstruksi saluran respiratorik
dapat terjadi tiba-tiba.
 Trakeostomi hanya boleh dilakukan oleh orang yang berpengalaman.
 Perawatan penunjang
 Hindari manipulasi yang berlebihan yang dapat memperberat obstruksi (misalnya
pemasangan infus yang tidak perlu).
 Jika anak demam (≥ 39ºC) yang tampaknya menyebabkan distres, berikan
parasetamol.
 Pemberian ASI dan makanan cair.
 Bujuk anak untuk makan, segera setelah memungkinkan.
Download