PROLOG I Key dan Kyra. Dua orang dengan raga yang berbeda, tapi hati mereka yang sama. Bisa dikatakan mereka SAHABAT. Dari kapan? Mungkin sejak detik pertama mereka melihat betapa indahnya dunia. Kata orang sih, laki-laki dan perempuan itu nggak bisa hanya sekadar jadi sahabat. Laki-laki dan perempuan itu seperti dua kutub magnet yang berbeda dan bisa saling tarik menarik satu sama lain. Tapi sepertinya, hal itu nggak berlaku untuk mereka berdua. Terlalu “mainstream” katanya. Sumber: https://cerpin.com/pemandangan-malam-penuh-bintang/ “Kamu tahu Key, hal apa yang lebih indah dari tempat ini?” Kyra membuka suara setelah sekian lama mereka diam. “Hal yang lebih indah dari tempat yang paling kita sukai maksudmu?” Key tampak menautkan alis mendengar pertanyaan Kyra. “Iya.” Kyra mengangguk. “Entahlah, aku nggak pernah bisa membayangkan hal yang lebih indah dari ini. Aku selalu suka tempat ini. Pikiranku selalu tenang kalau ada di sini. Apalagi berdua denganmu.” Key tersenyum penuh arti. Kyra hanya diam dan tidak menanggapi pernyataan Key. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu. “Jadi, apa yang lebih indah dari tempat ini?” Key melanjutkan ucapannya dan membuat Kyra segera membuang segala pikiran tentang kejadian itu. “Kamu akan tahu sendiri jawabannya.” Setelah menjawab itu, Kyra menautkan jemari tangannya pada jemari tangan sahabatnya itu sebelum kemudian menutup mata dan mengatakan, “Sepertinya Tuhan sangat menyayangiku, hingga menghadirkan kamu di sini.” Tambah Kyra dalam hati. Kalian pasti sudah menduga kalau cerita ini tentang Key dan Kyra. Ya, benar! Tapi lebih tepatnya Key, Kyra, dan orang-orang di sekitar mereka. PROLOG II “Hot green tea satu dan chocolava cake dua.” perintah Kyra pada pelayan yang berdiri di sampingnya. “Dan satu lagi, hot chocolate satu tanpa gula.” lanjutnya. Pelayan tersebut mencatat pesanan Kyra dan mengatakan 10 menit lagi pesanannya akan datang. Kyra melihat ke luar cafe melalui jendela kaca di sampingnya. Di luar hujan cukup deras sehingga tidak banyak orang yang berjalan-jalan di sekeliling cafe. Cafe ini memang tempat favoritnya jika sedang ingin menyendiri- Ralat, atau sedang ingin berdua bersama Key, sahabatnya yang entah sudah berapa lama ditunggunya. “Kebiasaan!” Kyra melihat ke badannya yang tiba-tiba menghangat karena dilapisi jaket oleh seseorang dan melihat ke arah orang itu. “Key!” spontan Kyra terkejut karena tindakan sahabatnya itu. “Selalu nggak pakai jaket kalau cuaca dingin gini. Aku nggak mau ya diomelin mama kamu kalau kamu sakit.” Celoteh Key saat sudah duduk di depan Kyra. “Bawel!” Tak berapa lama