bab 6 kesimpulan dan saran

advertisement
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini merupakan bagian akhir dari proses penelitian ini. Bagian ini
dibagi menjadi dua bagian yaitu kesimpulan yang merupakan jawaban terhadap
pertanyaan penelitian, dan saran yang berisikan masukan dan rekomendasi.
6.1
Kesimpulan
Bagian kesimpulan merupakan rangkuman dari hasil penelitian yang
disesuaikan dengan pertanyaan penelitian.
6.1.1
Budaya Bermukim Suku Dayak Ngaju
Budaya bermukim Suku Dayak Ngaju dipengaruhi oleh tiga hal utama
yaitu latar belakang manusia dayak, tempat bermukim, dan aktivitas yang mereka
lakukan. Ketiga hal tersebut saling mempengaruhi satu sama lain dalam suatu
proses perjalanan hidup manusia dayak. Proses ini akan mempengaruhi segala
artefak yang dibangun/dibuat oleh manusia dayak.
Orang dayak merupakan manusia religius karena mereka mempercayai
adanya Sang Pencipta yang menciptakan alam semesta dan segala isinya (Mitos
Penciptaan Jagad Raya). Untuk lebih memahami proses penciptaan, manusia
dayak menggambarkannya dalam simbol-simbol tertentu seperti Batang Garing.
Mereka juga mempercayai bahwa benda-benda alam memiliki roh. Kepercayaan
ini memberikan batasan/aturan bagi manusia dayak untuk memperlakukan dan
mengelola alam secara bijaksana. Sebagai manusia religius, manusia dayak
memiliki banyak ritual sebagai wujud penghormatan terhadap Sang Pencipta dan
penghargaan terhadap roh-roh di alam. Mereka juga memiliki ritual-ritual sebagai
penghormatan dan penghargaan terhadap para leluhur yang telah meninggal.
Artefak seperti sandong, sapundu, dan tiang pantar merupakan salah satu wujud
dari ritual tersebut. Kepercayaan manusia dayak ini dalam perkembangannya
dirumuskan menjadi sebuah agama yang disebut Kaharingan. Sebelumnya disebut
295
agama helo (baca helu: lama) untuk membedakan terhadap agama lain yang
masuk belakangan. Manusia dayak merupakan suku yang suka berkelompok
membentuk komunitas karena itu mereka memiliki hubungan kekerabatan yang
kuat. Komunitas ini berguna dalam kegiatan berladang dan bertahan menghadapi
serangan baik musuh maupun binatang buas. Wujud komunitas ini adalah adanya
perkampungan dan berdirinya betang/huma hai (rumah panjang/rumah besar).
Dalam perkembangannya, rumah panjang menjadi simbol kehidupan komunal,
sebagai identitas yang khas bagi suku dayak.
Latar belakang manusia dayak berpengaruh terhadap cara mereka
bermukim. Memilih lokasi bermukim tidak dilakukan dengan sembarangan, ada
proses ritual yang dilakukan. Demikian juga dalam proses membangun
huniannya. Selain alasan ritual, pemilihan lokasi bermukim juga dipengaruhi oleh
mata pencaharian utama berladang juga mencari ikan, menghindari pendatang,
menghindari musuh baik serangan suku lain (masa hapuno hatetek) maupun
penjajah, dan wabah penyakit. Lokasi bermukim biasanya dipilih berada di tepi
sungai dengan alasan sungai mempermudah dalam transportasi menuju pada
lokasi-lokasi tempat mereka bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup (berladang,
berkebun, berburu, mencari ikan, mencari hasil hutan, menambang emas), sungai
sebagai sumber makanan dan air minum, untuk mempermudah pengawasan
terhadap datangnya musuh atau pendatang, mudah mengawasi perahu, dan sungai
untuk mempermudah aktivitas domestik sehari-hari. Bentuk-bentuk hunian seperti
rumah yang panjang, berbentuk panggung, orientasi ke arah sungai merupakan
wujud adaptasi terhadap tempat mereka bermukim.
Pemilihan lokasi bermukim juga dipengaruhi oleh aktivitas manusia dayak
baik yang berhubungan dengan sesuatu yang sakral maupun kegiatan sehari-hari.
Ada kegiatan ritual yang dilakukan di sungai terkait dengan pemanfaatan sungai
sebagai salah satu sumber kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari, sungai
memberikan manfaat yang besar, baik sebagai sumber memenuhi kebutuhan
hidup seperti untuk air minum, sumber makanan karena kaya akan ikan, juga
untuk kegiatan domestik seperti mandi, cuci, dan kakus. Lanting/batang
merupakan bentukkan yang dibuat untuk aktivitas domestik di tepi sungai.
296
Beberapa aktivitas juga berpengaruh terhadap bentuk hunian panggung.
Mata pencaharian berladang, berpengaruh pada pemanfaatan bagian kolong
hunian untuk kegiatan mengolah hasil ladang, selain itu mereka memanfaatkan
kolong hunian untuk memelihara ternak, kolong hunian juga dimanfaatkan
sebagai tempat kegiatan komunal, aktivitas lainnya adalah pandai besi dimana
suku dayak biasa mengolah sendiri peralatan kerja mereka seperti mandau,
dohong, mata tombak, dan lain-lain. Aktivitas berladang juga berpengaruh
terhadap munculnya varian-varian artefak lain seperti tingkap dan pasah dukuh
(rumah kebun). Walaupun mata pencaharian utama sebagian besar manusia dayak
adalah berladang namun mencari ikan juga merupakan salah satu mata
pencaharian, bahkan menjadi mata pencaharian utama bagi manusia dayak yang
tidak memiliki lahan untuk berladang. Bentuk hunian panggung yang berada di
atas air maupun hunian yang mengapung merupakan wujud dari implikasi mata
pencaharian sebagai nelayan. Posisi hunian di atas air mempermudah mereka
dalam bekerja dan mengawasi hasil tangkapan mereka yang biasanya diletakkan
dalam keramba, dan kolong dapat dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan
perahu.
Lokasi bermukim, mata pencaharian, aktivitas domestik dan aktivitas
lainnya akan membentuk pola perilaku yang tetap (habitus). Pola perilaku ini
dimulai dari manusia dayak lahir hingga meninggal. Kehidupan manusia dayak
dimulai ketika mereka lahir, masa anak-anak dilalui dengan melakukan aktivitas
bermain dan belajar untuk mengenal alam serta melatih kemampuan, masa remaja
dijalani dengan bermain dan membantu orang tua baik di hunian maupun bekerja,
masa dewasa merupakan masa manusia dayak untuk bekerja memenuhi kebutuhan
hidup dan memulai hidup berkeluarga, sedangkan aktivitas dimasa tua tetap
melakukan seperti pada masa sebelumnya sesuai dengan kemampuannya sambil
melakukan transfer pengetahuan kepada keturunannya (anak dan cucu). Proses
kehidupan ini dilakukan dan dijalani manusia dayak secara turun temurun. Sungai,
hutan, ladang serta hunian merupakan media pembentuk pola perilaku tersebut.
Kemampuan berenang, mengendarai perahu dan mencari ikan akan dibentuk di
sungai. Sungai juga merupakan tempat untuk bermain dan rekreasi selain untuk
memenuhi kebutuhan hidup. Kemampuan meniup sumpit (menyipet) dan teknik
297
berburu dibentuk di hutan. Seperti sungai, hutan juga merupakan tempat bermain,
rekreasi, dan tempat bekerja. Ladang merupakan tempat bekerja utama manusia
dayak. Bagi anak-anak dan remaja, ladang merupakan tempat untuk belajar
mengenal mata pencaharian utama, mereka melakukan kegiatan berkebun untuk
mempelajari proses bercocok tanam sekaligus membantu orang tua. Hunian dan
ruang terbuka didekatnya (karatak lewu) merupakan pusat kehidupan manusia
dayak. Hunian merupakan tempat manusia dayak dilahirkan, tempat bermain
anak-anak dan remaja, tempat bekerja, tempat melakukan transfer ilmu
pengetahuan, tempat kegiatan ritual, tempat meninggal, dikuburkan dekat hunian,
diantar ke surga, dan peristirahatan terakhir (makam diletakkan dekat hunian).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa budaya bermukim
merupakan proses kehidupan (profan maupun sakral) yang berisikan dinamika
hubungan antara manusia, tempat, dan aktivitas yang berlangsung di tempat
tersebut. Hubungan ini dilatar belakangi budaya manusia yang selalu dipegang
secara turun temurun sebagai tradisi. Termasuk di dalamnya simbol-simbol yang
digunakan untuk menggambarkan siapa manusia tersebut. Latar belakang manusia
ini mempengaruhi pemilihan tempat sebagai lokasi bermukim. Ada unsur-unsur
kebiasaan yang digunakan untuk memilih tempat bermukim. Salah satu unsur
kebiasaan itu adalah aktivitas yang selama ini dilakukan yang meliputi aktivitas
domestik dan aktivitas memenuhi kebutuhan hidup (mata pencaharian). Tempat
bermukim dan aktivitas-aktivitas tersebut kemudian akan membentuk pola
perilaku. Secara ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 6.1.
6.1.2 Faktor-faktor
yang
Mempengaruhi
Place
Attachment
dan
Implikasinya
Untuk menemukan place attachment yang dialami Suku Dayak
Ngaju, dilakukan dengan mempelajari dan memahami budaya bermukim mereka.
Aspek-aspek dalam budaya bermukim yang tetap bertahan dari masa ke masa baik
disadari maupun tidak disadari dan tidak berubah walaupun telah terjadi
perubahan zaman, masuknya pendatang, perubahan kepercayaan, perkembangan
kota, perubahan mata pencaharian, dan lain-lain merupakan poin penting untuk
menemukan place attachment.
298
MANUSIA
Ritual
Simbol
Mitos
Identitas
Agama
Budaya
Bermukim
Suku
Dayak
Ngaju
Proses
Bermukim
TEMPAT
Kekerabatan
Aktivitas
Domestik
Mata
Pencaharian
AKTIVITAS
Gambar 6.1: Diagram Aspek-aspek Hubungan Manusia, Tempat, dan Aktivitas
dalam Budaya Bermukim Suku Dayak Ngaju
Pada masa lalu (tradisional), keterikatan Suku Dayak terhadap tempat
merupakan ikatan secara spiritual. Tempat merupakan sarana manusia dayak lahir
dan menerima roh (arwah), menjalani masa kecil dan remaja di tempat tersebut,
masa dewasa untuk bekerja mungkin tidak selalu ada di tempat itu namun disaat
akan meninggal akan kembali pulang, meninggal dan dikubur di tempat itu,
setelah tinggal tulang-tulang maka akan dibawa dan diletakkan di tempat itu, dan
pada akhirnya melalui tempat itu, roh akan diantar menuju surga. Tulang-tulang
kemudian diletakkan pada sandong yang melambangkan roh telah diantar ke
surga.
Pada masa sekarang di Kampung Pahandut, keterikatan secara spiritual
sudah tidak lagi seperti masa tradisional. Hasil penelitian menunjukkan
keterikatan dipengaruhi 3 faktor, yaitu: 1) Faktor fisik, meliputi kepemilikan
lahan/hunian berdasarkan warisan dan lama tinggal, pada sungai dan kampung
yang memberikan identitas diri; 2) Faktor sosial, meliputi kekerabatan dan
kewajiban melaksanakan kegiatan ritual; dan 3) Faktor budaya, temuan
299
menunjukkan bahwa budaya dan ritual masa lalu tercermin dalam tata hunian
suku dayak. Faktor kedua dan ketiga merupakan perwujudan dari jejak kehidupan
spiritual masa lalu (tradisional). Dari ketiga faktor yang mempengaruhi
keterikatan, faktor budaya merupakan yang utama karena mempengaruhi hunian
sebagai wujud arsitektur, faktor sosial sendiri berada dalam lingkup budaya.
Berkaitan dengan hunian, batang garing sebagai simbol perikehidupan
orang dayak secara “tidak sadar” terwujud dalam tatanan ruang dalam hunian
yang terus secara berkesinambungan berlanjut pada perkembangan hunian suku
dayak hingga saat ini. Pemahaman terhadap ritual masa lalu dan kekerabatan yang
pernah muncul pada rumah panjang (betang) berpengaruh pada tata ruang hunian
masa kini. Ruang-ruang yang ada merupakan reproduksi dari pemahaman
terhadap kehidupan sosial dan makna ritual yang pernah ada pada masa lalu yang
terkonsepsi dalam benak orang dayak. Ruang yang tercipta merupakan
pengejawantahan dari kehidupan sosial dan kehidupan ritual.
Dari pemaparan tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa Suku
Dayak Ngaju tradisional mengalami keterikatan secara spritual yaitu dari roh
(lahir) kembali menjadi roh (mati) dan diantar ke surga melalui hunian sebagai
wadahnya. Sedangkan pada masa sekarang, keterikatan yang muncul merupakan
keterikatan simbolisme terhadap penciptaan (pencipta, sesama, dan alam) dan
kehidupan spiritual masa lalu yang terkonsepsi dalam benak sebagai orang dayak.
Keterikatan tersebut disebabkan oleh faktor identitas diri; konsepsi makna simbol
dan kegiatan ritual; kewajiban dan partisipasi dalam kegiatan ritual; memori; serta
mental dan spiritual berkaitan dengan supranatural. Wujud keterikatan tersebut
terlihat pada tata ruang hunian mereka (material) dan munculnya falsafah baru
yaitu falsafah huma betang (non-material) berdasarkan wujud hunian masa lalu
(betang). Dalam simpulan tersebut, budaya merupakan bagian terkuat yang
mengikat Suku Dayak Ngaju. Istilah culture place attachment merupakan hal
yang tepat untuk menunjukkan model keterikatan yang dialami Suku Dayak
Ngaju.
Simpulan dari temuan tersebut kemudian dikaitkan dengan teori dari
Lefebvre, Bourdieu (Sub bab 5.3) dan place attachment dari Stokols dan
Shumaker; Proshansky, Fabian dan Kaminoff; Low dan Altman; Pellow; Cooper
300
Marcus; Hummon; Low; Hidalgo dan Hernandez; Teddy, Nikora dan Guerin;
Scannell dan Gifford; Raymond, Brown dan Weber (Sub bab 2.2, Sub bab 3, Sub
bab 5.3, Gambar 2.7, Gambar 5.32) maka didapatkan rumusan:
Keterikatan pada tempat yang dialami Suku Dayak Ngaju berada dalam
lingkup budaya (cultural place attachment) yaitu secara spiritual terhadap
tempat sebagai wadah menerima roh (lahir) sampai roh diantar menuju
surga (keterikatan dari roh kembali menjadi roh), terhadap aspek identitas,
sosial spritual, supranatural, simbolisme dalam lingkup budaya masa lalu
yang terkonsepsi dan terpola dalam pikiran dan benak manusia yang
tereproduksi dalam wujud material (arsitektur) dan non material (filosofi).
Model place attachment yang muncul merupakan penekanan terhadap
suatu proses hubungan antara manusia (actor), tempat (place), dan
aktivitas (activity) dalam lingkup cultural bonding.
Secara diagram dapat dilihat pada Gambar 6.2 dan Gambar 6.3. Gambar 6.3
menunjukkan hasil penelitian ini berada dalam lingkup keterikatan terhadap faktor
budaya (cultural bonding).
Stokols dan
Shumaker (1981);
Proshansky,
Lima dimensi
Fabian &
dalam place
Kaminoff (1983,
attachment
1995), Cooper
yaitu: continuity,
Marcus (1992);
distinctivenes,
Pellow (1992);
symbolism,
Low (1992);
attachment, dan
Hummon (1992);
familiarity
Teddy, Nikora
dan Guerin
(2008)
Hidalgo dan
Hernandez (2001)
Fokus: social
dan physical
Scannell dan Gifford (2010):
model place attachment pada
3 dimensi, yaitu person
(individual, grup), process
(affect, cognitive, behavior),
dan place (social, physical)
Proses yang berhubungan dengan budaya
(symbolism) yang mendasari place
attachment (Low, 1992):
• Ikatan berdasarkan silsilah/keturunan
• Pertalian yang timbul akibat kehilangan
lahan atau penghancuran
• Ikatan ekonomis Ikatan secara kosmologi
• Pertalian keyakinan atau agama, ziarah
sekular, partisipasi dalam perayaan acara
kebudayaan
• Kisah cerita meliputi sejarah dan
pemberian nama terhadap tempat
Raymond, Brown dan Weber (2010): model
place attachment yang melibatkan tiga hal
yaitu personal (place identity, place
dependence, rootedness), community
(neighborhood attachment, familiarity,
belongingness), dan natural environmental
(connectedness to nature, environmental
identity, affinity to nature)
Keterikatan pada tempat berada dalam lingkup budaya (cultural place attachment)
yaitu secara spiritual terhadap tempat sebagai wadah menerima roh sampai roh
diantar menuju surga, terhadap aspek identitas, sosial spritual, supranatural,
simbolisme dalam lingkup kultural masa lalu yang terkonsepsi dan terpola dalam
pikiran dan benak manusia yang tereproduksi dalam wujud material (arsitektur) dan
non material (filosofi).
Model place attachment yang muncul merupakan penekanan terhadap suatu proses
hubungan antara manusia (actor), tempat (place), dan aktivitas (activity) dalam
lingkup cultural bonding.
(Sangalang, 2013)
Gambar 6.2:
Diagram Struktur Pengembangan Teori Place Attachment
301
MANUSIA
TEMPAT
Spiritual
Identitas
Simbol
Falsafah
CULTURAL
BONDING
Ritual
Sosial
Memori
AKTIVITAS
Gambar 6.3: Konsep Model Culture Place Attachment dalam Hubungan antara
Manusia, Tempat, dan Aktivitas
Tabel 6.1:
Perbandingan Penelitian Mengenai
Sebelumnya dengan Hasil Penelitian
Place
Attachment
yang
PENELITIAN PLACE ATTACHMENT
Sebelum
Tahun 1990
Tahun
19902000
Tahun 2013
Tahun
2000-2012
Metode penelitian
kualitatif
(fenomenologis)
• Metode penelitian kuantitatif
• Metode penelitian mix
method (kuantitatif dan
kualitatif)
Objek tempat:
Objek tempat beragam: built
hunian
environment dan natural
environment
• Fokus pada dimensi sosial
• Fokus pada
dimensi sosial dan
• Fisik hanya wadah
dimensi fisik
• Budaya bagian dari
dimensi sosial
• Budaya bagian dari
dimensi sosial
• Keterikatan pada
dimensi sosial lebih
kuat dari dimensi
fisik
Meletakkan
pondasi bagi
penelitian
selanjutnya
Mengembangkan hasil temuan
penelitian sebelumnya
(Keterikatan pada Tempat untuk Hunian
di Tepi Sungai-Referensi Suku Dayak
Ngaju di Palangka Raya)
Metode penelitian kualitatif (grounded)
Objek tempat: hunian dan lingkungan
permukiman Suku Dayak Ngaju
Temuan:
Keterikatan yang dialami Suku Dayak
Ngaju terfokus pada 3 dimensi yaitu fisik,
sosial, dan budaya (berdiri sendiri, lepas
dari dimensi sosial). Dari ketiganya,
dimensi budaya yang terkuat, dan dimensi
sosial sendiri merupakan bagian dari
budaya. Budaya tersebut adalah kehidupan
spiritual (dari roh kembali ke roh),
simbolisme dalam lingkup budaya masa
lalu (penciptaan dan simbol kehidupan),
dan sosial dalam kewajiban spritual.
Memperkaya hasil temuan penelitian
sebelumnya dan sekaligus memberi
masukan baru dengan munculnya dimensi
budaya
(Sumber: hasil kajian pustaka dan temuan penelitian, 2013)
302
6.1.3
Proses dalam Penelitian secara Metodologis
Pemilihan metode dalam penelitian ini dipengaruhi oleh tantangan yang
dilontarkan
peneliti-peneliti
sebelumnya.
Penelitian
dengan
topik
place
attachment masih terbuka lebar untuk diteliti dalam lingkup bidang keilmuan,
kajian, tema, objek, komunitas, dan lain-lain. Penelusuran terhadap penelitianpenelitian sebelumnya menunjukkan bahwa topik ini sangat banyak dilakukan
terutama dalam periode tahun 2000 ke atas (sampai 2012). Dalam penelusuran
ditemukan bahwa penelitian ini dimulai dari peneliti-peneliti fenomenologi.
Temuan-temuan
berupa
definisi
dan
faktor-faktor/variabel-variabel
yang
dihasilkan kemudian menjadi rujukan bagi peneliti-peneliti berikutnya. Penelitian
sesudahnya lebih banyak melakukan pengujian hipotesa berdasarkan temuantemuan tersebut sehingga pemilihan metode kuantitatif lebih banyak dipilih.
Dalam penelusuran pustaka sampai saat ini, belum ditemukan kajian place
attachment terhadap Suku Dayak Ngaju yang berdiam di tepi sungai. Namun
penelusuran pustaka yang terbatas tidak terlalu kuat untuk memperkuat klaim ini.
Untuk itu pemilihan metode penelitian yang tepat sangat penting karena tujuan
penelitian untuk mengembangkan teori dalam lingkup place attachment.
Mengembangkan yang dimaksud adalah dapat memperkaya yang sudah ada
maupun menemukan hal-hal yang baru sehingga penelitian ini bukan menguji
hipotesa. Untuk itu metode kualitatif yang dipilih dalam penelitian ini.
Place attachment merupakan fenomena yang sudah ditemukan banyak
jawaban melalui penelitian-penelitian sebelumnya, karena itu penelitian ini tidak
menggunakan fenomena sebagai pijakan. Jawaban dari penelitian-penelitian
sebelumnya belum tuntas dalam lingkup teoritis sehingga masih bisa
dikembangkan. Dalam lingkup kualitatif maka dipilih metode grounded research.
Tujuannya adalah mengembangkan teori dasar menurut data-data yang ditemukan.
Kesulitan penerapan metode ini adalah tujuan penelitian yang jelas ingin
mengembangkan teori dalam lingkup place attachment. Hasil-hasil temuan
sebelumnya akan sangat berpengaruh dalam pola pikir saat turun ke lapangan.
Padahal grounded mempunyai aturan dasar harus “kepala kosong” saat masuk ke
wilayah penelitian. Kepala kosong disini dalam artian tidak terpengaruh teori
apapun termasuk teori yang akan dikembangkan. Namun masuk ke dalam wilayah
303
studi benar-benar kepala kosong juga tidak mungkin, harus dibekali pengetahuan
terhadap lokasi yang akan diteliti apalagi lokasi memiliki karakteristik khusus
terutama etnis yang menjadi objek kajian. Salah satu cara untuk mengisi
pengetahuan terhadap lokasi adalah memahami budaya bermukim. Untuk lebih
mempermudah saat masuk wilayah studi maka budaya bermukim yang dipahami
adalah budaya bermukim masa lalu yang sampai saat ini masih dilakukan Suku
Dayak Ngaju. Untuk mengetahui budaya bermukim masa lalu perlu dilakukan
kajian-kajian. Untuk itu penelitian ini menggunakan metode yang lain untuk
mengetahui budaya bermukim masa lalu yaitu penelusuran pustaka dan observasi
pada tempat-tempat yang masih belum mengalami akulturasi. Metode yang
digunakan adalah case study. Dengan metode ini didapatkan budaya bermukim
masa lalu Suku Dayak Ngaju dan pengetahuan ini kemudian dibawa masuk ke
lokasi penelitian. Secara diagram dapat dilihat pada gambar berikut.
BUDAYA
Nilai-nilai religi,
sosial, mitos,
simbol, filosofi, dll
Metode CASE STUDY
(observasi, wawancara,
literatur)
BUDAYA
BERMUKIM
ASPEK-ASPEK
BUDAYA BERMUKIM
YANG SALING
MEMPENGARUHI
DENGAN BUILT
ENVIRONMENT
ARTEFAK
Built Environment
BACKGROUND
MASUK KE
LOKASI
PENELITIAN
Metode GROUNDED
Gambar 6.4:
Diagram Proses Pemanfaatan Metode Case Study
Budaya bermukim yang kemudian ditemukan dalam lokasi penelitian
kemudian dikomparasi dengan hasil temuan dari case study sehingga budaya
bermukim yang masih tetap dapat lebih dideskripsikan dan diekplorasi. Hasil dari
komparasi ini yang menjadi jalan menemukan hal-hal yang berkaitan dengan
place attachment.
304
6.2
Pengaruh Hasil Penelitian terhadap Keilmuan Arsitektur
Hasil penelitian keterikatan pada tempat yang dialami Suku Dayak Ngaju
tradisional memberikan sumbangan pada kajian makna pada arsitektur (meaning
of architecture). Makna menurut Rapoport (1990:178) menunjukkan komunikasi
non-verbal dari lingkungan kepada manusia. Sumbangan terhadap makna dari
penelitian ini dindikasikan dari sesuatu yang suci (sanctity) seperti simbol dan
peristiwa ritual, dan kehidupan spritual. Ekspresi arsitektur dari makna terwujud
pada tata ruang hunian dan elemen-elemen yang ada di lingkungan hunian seperti
bangunan sandong yang merupakan wujud makna spritual dari mengantar roh ke
surga. Hunian Suku Dayak, khususnya pada balai merupakan ekspresi makna
sentral (pusat) dari kehidupan mereka karena pada tempat ini proses transfer ilmu
pengetahuan dan tradisi disampaikan para orang tua kepada keturunannya.
Ekspresi arsitektur pada tata ruang hunian Suku Dayak Ngaju yang
terbentuk dipengaruhi oleh tiga aspek yang saling berkaitan yaitu aspek budaya,
aspek sosial, dan aspek fungsi ruang. Aspek budaya meliputi simbolisasi batang
garing dan pengalaman ritual; aspek sosial meliputi kekerabatan dan hubungan
sosial dalam kegiatan keagamaan; sedangkan aspek fungsi meliputi aktivitas
sehari-hari dan aktivitas dalam kegiatan keagamaan.
Hunian
Suku
Dayak
Ngaju
memiliki
bentuk
geometris
empat
persegipanjang, bagian dalamnya dibagi-bagi dalam bentuk yang sama sesuai
dengan fungsinya masing-masing. Bentuk tersebut membentuk ruang-ruang yaitu
ruang tidur (karung), ruang berkumpul (balai), dapur (dampuhan), teras
(henderasi), dan karayan. Ruang-ruang ini dari masa lalu hingga sekarang tetap
ada dalam masing-masing bentuk hunian dan memiliki fungsi yang tetap sama,
baik itu dalam bentuk rumah panjang, rumah besar maupun hunian tunggal.
Hanya ada pengembangan terhadap ruang berkumpul (balai) yang saat ini
berkembang menjadi ruang tamu dan ruang keluarga pada hunian tunggal. Ukuran
tertentu tidak menjadi suatu yang penting karena ukuran-ukuran ruang dalam
hunian Suku Dayak Ngaju masa lalu tidak berdasarkan unsur metrik tapi
berdasarkan ukuran tubuh kepala keluarga, kebutuhan, dan pengalaman, karena
305
itu bangunan dan ruang-ruang hunian mereka tidak ada yang memiliki ukuran
yang sama.
Dibalik ruang-ruang yang memang fungsional tersebut, terdapat pengaruh
budaya dan hubungan sosial dalam wujud simbol dan aktivitas. Seperti yang telah
dijelaskan pada sub bab 5.1.4, pengaruh simbol dan kegiatan ritual sangat
mempengaruhi pola tata ruang hunian. Ruang-ruang dianalogikan seperti
pembagian alam dalam simbol batang garing, dan tata letak ruang-ruang
dianalogikan dengan prosesi ritual yang menunjukkan tiga relasi (manusia dengan
Tuhan, manusia dengan manusia lainnya, manusia dengan alam) menurut
pemahaman Suku Dayak Ngaju masa lalu.
Berdasarkan fungsi, Norberg-Schulz (1977:111-112) membagi fungsi
arsitektur menjadi empat, yaitu: 1) Physical control, berkaitan dengan hubungan
antara bangunan dengan lingkungannya dan bergantung pada kegiatan manusia
yang harus dilayani oleh bangunan, perannya meliputi pengontrolan iklim (udara,
kelembaban, temperatur, dan lain-lain), cahaya, suara, bau, debu, asap, serangga,
manusia, dan radioaktif; 2) Functional frame, berkaitan dengan tingkah laku dan
kegiatan manusia yang harus diwadahi oleh bangunan, mempresentasikan struktur
kegiatan yang berkaitan dengan spatial, topologi, serta karakter dinamis dari
fungsi; fungsi ini harus mampu beradaptasi dengan kegiatan yang kompleks; 3)
Social millieu, manfaat bangunan secara sosial dapat menunjukkan ekspresi status,
peran, kelompok, perkumpulan, institusi, dan sekelompok bangunan yang
mempresentasikan sistem sosial; dan 4) Cultural symbolization, arsitektur
merupakan simbol budaya, objek budaya dan hasil karya manusia yang bertujuan
mewadahi aktivitas manusia.
Temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa hunian Suku Dayak
Ngaju dipengaruhi budaya (simbol dan pengalaman ritual) dan aktivitas (sosial
dan ritual). Temuan tersebut dapat memperkaya teori fungsi dari Norberg-Schulz
di atas, terutama pada functional frame dan cultural symbolization. Pada
functional frame, ruang-ruang pada hunian Suku Dayak terbentuk karena untuk
memenuhi aktivitas sehari-hari, hubungan sosial sekaligus kegiatan ritual; hal
tersebut menunjukkan bahwa ruang yang sama dapat beradaptasi untuk memenuhi
kebutuhan yang berbeda. Pada cultural symbolization, susunan ruang pada hunian
306
Suku Dayak Ngaju merupakan analogi dari simbolisasi batang garing tentang
alam (alam atas dan alam manusia). Susunan ruang juga merupakan simbolisasi
prosesi ritual yang terwujud pada tiga relasi, yaitu antara manusia dengan Tuhan,
dengan manusia lainnya, dan dengan alam.
Berkaitan dengan pola yang terbentuk pada hunian Suku Dayak,
Salingaros (2008;220) mengungkapkan bahwa arsitektur dapat dibedakan menjadi
dua bahasa, yaitu pattern language dan form language. Pattern language
dikondisikan sebagai interaksi antara manusia dengan lingkungannya, yang
menetapkan bagaimana dan kemana manusia secara alami untuk berjalan, tidur,
masuk dan bergerak ke sebuah bangunan, menikmati ruang dalam atau ruang luar,
dan merasa nyaman atau tidak dalam sebuah taman. Pattern language merupakan
seperangkat solusi yang mengoptimalkan built environment yang dapat
meningkatkan kehidupan dan kesejahteraan manusia, merupakan kombinasi
bentuk geometri dan pola perilaku sosial yang dapat mengakomodasi aktivitas
manusia. Setiap pattern language akan berbeda pada setiap cara kehidupan dan
perilaku, yang dipengaruhi oleh iklim, geografi, budaya, dan tradisi (Salingaros,
2008:220). Sedangkan form language adalah murni sebuah bentuk geometri, yang
terdiri dari elemen bentuk seperti lantai, dinding, plafon, partisi, dan semua
komponen arsitektural, yang mempresentasikan bentuk tertentu dan gaya sebuah
bangunan (Salingaros, 2008:220). Salingaros ingin menyatakan bahwa sebuah
built environment yang baik adalah mengkombinasikan antara pattern language
dan form language. Jika hanya menggunakan built environment saja yang sudah
baku, belum tentu built environment tersebut akan cocok dengan penggunanya.
Form language pada suatu tempat mungkin memenuhi keinginan penggunanya di
tempat tersebut, tapi form language yang sama diterapkan di tempat yang lain
belum tentu memenuhi keinginan panggunanya. Karena itu perlu adanya metode
desain yang adaptif yaitu mengkombinasikan pattern language dan form language
yang saling melengkapi satu sama lainnya (Salingaros, 2008:222).
Hunian Suku Dayak Ngaju dapat menjadi salah satu contoh dari metode
desain yang adaptif seperti yang disampaikan Salingaros. Sebagai sebuah bentuk
geometris (form language), bentuk hunian juga disesuaikan dengan pattern
languagenya yaitu kondisi iklim, lokasi di tepi sungai, aktivitas domestik,
307
keamanan, aktivitas bekerja, sosial kekerabatan, dan latar belakang budaya
(simbol, ritual, tradisi). Pattern language dapat menunjukkan budaya yang
diekpresikan dalam wujud arsitektur (Rapoport, 1969). Mata pencaharian berbeda
akan berbeda lokasi hunian tersebut, jika berladang maka hunian berada di atas
“bukit”, namun jika sebagai nelayan maka hunian berada di atas air (contoh
hunian di Desa Danau Tundai). Bentuk hunian memanjang karena dipengaruhi
masalah keamanan, pada saat aman maka hunian tunggal dianggap lebih cocok
sebagai tempat tinggal. Bentuk hunian tumbuh, jika hunian disesuaikan dengan
pertambahan anggota keluarga maka hunian didisain dapat ditambah ke bagian
kiri atau kanan (contoh betang Tumbang Gagu), sedangkan jika hunian dibangun
sesuai dengan jumlah anggota keluarga maka hunian didisain dengan jumlah
ruang yang sesuai dengan jumlah penghuninya (contoh betang Tumbang
Malahoi). Jadi hunian Suku Dayak Ngaju merupakan produk arsitektur yang telah
mengadopsi metode desain kombinasi pattern language dan form language.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka arsitektur Suku Dayak Ngaju adalah
arsitektur yang terwujud sebagai ekspresi spiritual (form follow spiritual),
simbolisasi budaya (form follow culture) dan aktivitas (form follow function).
6.3
Saran
Penelitian ini bukan akhir dari pencarian hal-hal baru dalam lingkup place
attachment, masih perlu dilakukan penelitian-penelitian lanjutan. Untuk itu,
disampaikan beberapa masukan terkait dengan penelitian place attachment.
1.
Penelitian ini difokuskan pada Suku Dayak yang tinggal di tepi sungai,
sedangkan Suku Dayak juga ada yang tinggal tidak di tepi sungai dan suku
pengembara, untuk itu dapat dilakukan penelitian terhadap suku-suku
tersebut. Penelitian juga dapat dilanjutkan dengan meneliti Suku Dayak yang
lainnya yang tinggal di tepi sungai-sungai besar yang ada di Kalimantan
mupun pada suku-suku lain yang berada di pulau-pulau lainnya di Indonesia.
Penelitian lanjutan dapat dilakukan untuk menguji, mengoreksi, melengkapi
bahkan membantah model cultural place attachment hasil penelitian ini.
308
2.
Place attachment pada awalnya merupakan konsep pemikiran dari barat,
pemilihan metode grounded merupakan cara untuk menggali dari dasar
tentang place attachment berdasarkan konsep timur, yang dalam hal ini
menggunakan referensi suku lokal yang ada di Indonesia. Metode yang
dilakukan pada penelitian ini belum tentu merupakan metode terbaik untuk
meneliti tentang place attachment. Namun cara menemukan place attachment
berdasarkan budaya bermukim merupakan kunci untuk lebih dalam
memahami karakter objek penelitian. Memahami budaya bermukim akan
lebih mengetahui perbedaan dari etnis-etnis lokal yang ada di Indonesia
maupun dari luar walaupun memiliki karakteristik tempat tinggal yang sama.
3.
Pada tataran praktis, memahami budaya bermukim dan keterikatan etnis
tertentu yang tinggal di kampung yang merupakan cikal bakal sebuah kota,
secara umum dapat memberikan masukan berharga bagi perencanaan dan
perancangan kota ke depannya. Keberadaan kampung tersebut beserta segala
keunikannya harus menjadi identitas kota. Secara khusus, pengenalan budaya
bermukim dan keterikatan harus dilakukan dalam seluruh kegiatan
perencanaan dan perancangan yang berkaitan dengan perumahan dan
permukiman, baik itu informal maupun formal.
309
( halaman ini sengaja dikosongkan )
310
Download