Uploaded by nandayusril31

lp-ckr-maya

advertisement
LAPORAN PENDAHULUAN
CEDERA KEPALA RINGAN
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Praktik Klinik
Stase Keperawatan Medikal Bedah
Disusun oleh
MAYA DWI LESTARI
SN201166
PROGAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2020/2021
I.
KONSEP PENYAKIT
A. Definisi
Cidera
otak
merupakan
kerusakan
akibat
perdarahan
atau
pembengkakan otak sebagai respon terhadap cedera dan menyebabkan
peningkatan tekanan intra kranial (Smeltzer, 2010). Cidera kepala adalah
suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai
perdarahan intersisial dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya
kontinuitas otak (Mutaqin, 2014).
Cidera kepala ringan adalah cidera karena tekanan atau kejatuhan
benda tumpul yang dapat menyebabkan hilangnya fungsi neurologi
sementara atau menurunnya kesadaran sementara, mengeluh pusing, nyeri
kepala tanpa adanya kerusakan lain (Smeltzer, 2010).
Cidera kepala ringan adalah trauma kepala dengan GCS: 13-15 yang
dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia akan tetapi kurang dari 30
menit, tidak terdapat fraktur tengkorak serta tidak ada kontusio serebral
dan hematoma (Price, 2013).
Kesimpulannya, cedera (trauma) kepala ringan atau cidera otak ringan
adalah kehilangan kesadaran selama kurang dari 30 menit, akibat dari
benturan eksternal apapun ke kepala yang dapat menyebabkan trauma
kepala.
B. Etiologi
Menurut Mansjoer (2012), penyebab cedera kepala terdiri dari
kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh, kecelakaan industri, serangan dan
yang berhubungan dengan olah raga, trauma akibat persalinan. Menurut
cidera kepala penyebab sebagian besar kematian dan kecacatan utama
pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat :
1. Kecelakaan lalu lintas
2. Jatuh
3. Trauma akibat persalinan: sewaktu lahir dibantu dengan forcep atau
vakum
4. Pukulan
5. Cidera olah raga
6. Luka tembus peluru dari cedera tembus lainnya.
C. Manifestasi Klinik
Menurut Mansjoer (2012), cidera kepala ringan umumnya ditandai
oleh gejala-gejala yang ringan, dan durasi berlangsungnya pun hanya
sebentar. Beberapa gejala yang mungkin dialami oleh pasien adalah :
1.
Sinkope tidak lebih dari sepuluh menit
2.
GCS : 13-15
3.
Tidak terdapat kelainan neurologis
4.
Mual atau muntah
5.
Pusing atau nyeri kepala ringan yang timbul segera atau bertahap
6.
Pandangan kabur
7.
Terlihat bengong atau linglung
8.
Mudah marah atau kesal
9.
Perubahan pola tidur, misalnya susah tidur atau tidur lebih lama dari
biasanya
10. Telinga berdenging
11. Merasa lemas atau lelah
12. Mengalami gangguan keseimbangan tubuh
13. Nyeri kepala dapat timbul segera atau bertahap.
D. Komplikasi
Menurut Price (2013), berikut ini adalah komplikasi yang dapat terjadi
apabila cidera kepala tidak ditangani dengan tepat, yaitu :
1. Epilepsi pasca trauma
Epilepsi pasca trauma adalah suatu kelainan dimana kejang terjadi
beberapa waktu setelah otak mengalami cedera karena benturan di
kepala. kejang merupakan respon terhadap muatan listrik abnormal di
dalam otak. kejang terjadi pada sekitar 10% penderita yang mengalami
cedera kepala hebat tanpa adanya luka tembus di kepala dan pada
sekitar 40% penderita yang memiliki luka tembus di kepala. kejang bisa
saja baru terjadi beberapa tahun kemudian setelah terjadinya cedera.
2. Afasia
Penderita tidak mampu memahami atau mengekspresikan kata-kata.
3. Apraksia
Ketidakmampuan untuk melakukan tugas yang memerlukan
ingatan atau serangkaian gerakan. Kelainan ini jarang terjadi dan
biasanya disebabkan oleh kerusakan pada lobus parietalis.
4. Agnosia
Agnosia merupakan suatu kelainan dimana penderita dapat melihat
dan merasakan sebuah benda tetapi tidak dapat menghubungkannya
dengan peran atau fungsi normal dari benda tersebut. Penyebabnya
adalah kelainan fungsi pada lobus parietalis dan temporalis, dimana
ingatan akan benda-benda penting dan fungsinya disimpan.
5. Amnesia
Amnesia adalah hilangnya sebagian atau seluruh kemampuan untuk
mengingat peristiwa yang baru saja terjadi atau peristiwa yang sudah
lama berlalu. Amnesia hanya berlangsung selama beberapa menit
sampai beberapa jam (tergantung kepada beratnya cedera) dan akan
menghilang dengan sendirinya. pada cedera otak yang hebat, amnesia
bisa bersifat menetap.
6. Edema serebri dan herniasi
Herniasi otak adalah kondisi medis yang sangat berbahaya di mana
jaringan otak menjadi berpindah dalam beberapa cara karena
peningkatan tekanan intrakranial (tekanan di dalam tengkorak).
Herniasi Otak merupakan pergeseran dari otak normal melalui atau
antar wilayah ke tempat lain karena efek massa.Biasanya ini komplikasi
dari efek massa baik dari tumor, trauma, atau infeksi.
7. Defisit neurologi
8. Infeksi
sistemik
osteomeilitis).
(pneumonia,
ISK,
abses
otak,
meningitis,
9. Osifikasi heterotropik (nyeri tulang pada sendi yang menunjang berat
badan).
10. Edema pulmonal
Edema paru dapat diakibatkan dari cedera pada otak yang
mengakibatkan
cedera
cushing.peningkatan
pada
otak
yang
mengakibatkan
reflex
pada tekanan darah sistemik terjadi pada
responsdari system saraf simpatis pada peningkatan TIK. Peningkatan
vasokontriksi tubuh umum ini menyebabkan lebih banyak aliran darah
ke paru- paru. Perubahan permeabilitas pembuluh darah paru berperan
pada proses dengan memungkinkan cairan berpindah ke dalam alveolis.
11. Kejang
Kejang terjadi kira- kira 10% dari pasien cedera kepala selama fase
akut. Perawat harus membuat persiapan terhadap kemungkinan kejang
dengan spatel lidah dengan diberi bantalan atau jalan nafas oral
disamping tempat tidur dan peralatan penghisap dekat dalam jangkauan.
Pagar tempat tidur harus tetap dipasang, dari bantalan pada pagar engan
bantal atau busa untuk meminimalkan resiko sekunder terhadap cedera
karena kejang. Selama kejang, perawat jangan pernah mencoba
memaksakan apapun diantara gigi atau membuka rahang. Pasien harus
dimiringkan untuk memudahkan mengalirnya sekresi atau mudah
dihisap. Gerakan pasien harus di restrain hanya cukup untuk mencegah
memukul obyek, yang menyebabkan memer atau cedera.Satu-satunya
tindakan medis terhadap kejang adalah obat. Diazepam adalah obat
yang paling banyak digunakan dan diberikan secara perlahan melalui
intra vena karena obat ini menekan pernapasan maka frekuensi dan
irama pernapasan pasien harus di pantau dengan cermat.
E. Patofisiologi dan Pathway
Menurut Mansjoer (2012), cidera kepala terjadi karena beberapa hal
diantanya karena terjatuh, dipukul, kecelakaan dan trauma saat lahir yang
bisa mengakibatkan terjadinya gangguan pada seluruh sistem dalam tubuh.
Bila trauma ekstra kranial akan dapat menyebabkan adanya leserasi pada
kulit kepala selanjutnya bisa perdarahan karena mengenai pembuluh darah.
Karena perdarahan yang terjadi terus – menerus dapat menyebabkan
hipoksia sehingga tekanan intra kranial akan meningkat. Namun bila
trauma mengenai tulang kepala akan menyebabkan robekan dan terjadi
perdarahan juga. Cidera kepala intra kranial dapat mengakibatkan laserasi,
perdarahan dan kerusakan jaringan otak bahkan bisa terjadi kerusakan
susunan syaraf kranial terutama motorik yang mengakibatkan terjadinya
gangguan dalam mobilitas.
Pathway
Terkena
peluru
Benda tajam
Trauma
tajam
Ekstra
Kranial
/ kulit kepala
Peningkatan
TIK
Trauma
tumpul
Kecelakaan, terjatuh,
trauma persalinan,
penyalahgunaan
obat/alkohol
Intra Kranial
/ Jaringan otak
Tulang Kranial
Terputusnya
kontinuitas jaringan
kulit, otot, dan
vaskuler
Perdarahan,
hematoma
Trauma
Kepala
Terputusnya
kontinuitas
jaringan Tulang
Jaringan otak
rusak (kontusio,
laserasi
Autoregulasi
Kejang
Gangguan
suplai darah
Iskemia
Penurunan
Kesadaran
Resiko
Injury
Hipoksia
Resiko
perfusi
serebral
tidak efektif
Peregangan
duramen dan
pembuluh
darah
Nyeri
Bedrest
Total
Akumulasi
Cairan
Bersihkan
Jalan Nafas
Tidak Efektif
Kompresi
batang otak
Gangguan
Mobilitas
Fisik
F. Penatalaksaan Medis dan Keperawatan
Menurut Price (2013), berikut ini adalah penatalaksanaan medis dan
keperawatan yang dapat diberikan pada klien dengan cidera kepala, yaitu:
1. Medis
a) Terapi oksigen
b) Pengobatan anti edema dengan larutan hipertonis yaitu manitol 20 %
atau glukosa 40 % atau gliserol 10 %.
c) Apabila kejang, berikan diazepam 10 mg intravena secara perlahanlahan dan dapat diulangi 2x jika masih kejang, bila tidak berhasil
berikan penitoin 15 mg/kg bb.
d) Untuk cidera kepala terbuka diperlukan antibiotik
2. Keperawatan
a) Observasi 24 jam, menganjurkan klien untuk bed rest
b) Membersihkan jalan napas dari muntahan, perdarahan dan debris
c) Menghentikan semua perdarahan dengan menekan arterinya,
perhatikan cedera intraabdomen dan dada.
II. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Status riwayat kesehatan
a) Keluhan utama, berisi keluhan yang paling utama dirasakan oleh
pasien.
b) Riwayat masuk rumah sakit
Berisi riwayat pasien, alasan pasien bisa sampai masuk rumah sakit,
dan riwayat apakah pasien mempunyai riwayat pernah dirawat inap
c) Riwayat keseatan sekarang
Berisi riwayat pasien semenjak pasien mengeluh sakit di rumah
sampai pasien mendapat penganan di RS.
b. Pola Gordon
a) Aktifitas dan istirahat
Gejala
: Merasa lemah,lelah,kaku hilang keseimbangan
Tanda
: Perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, ataksia cara
berjalan
tidak
tegap,
masalah
dlm
keseimbangan,
cedera/trauma ortopedi, kehilangan tonus otot.
b) Sirkulasi
Gejala
: Perubahan tekanan darah atau normal,
Perubahan
frekuensi jantung (bradikardia, takikardia yg diselingi
bradikardia
disritmia
c) Integritas ego
Gejala : Perubahan tingkah laku atau kepribadian
Tanda
: Cemas,mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung,
depresi
d) Eliminasi
Gejala : Inkontensia kandung kemih/usus mengalami
gangguan
fungsi
e) Makanan/cairan
Gejala
:Mual, muntah dan mengalami perubahan selera
Tanda
: Muntah,gangguan menelan
f) Neurosensori
Gejala : Kehilangan kesadaran sementara,amnesia seputar kejadian,
vertigo, sinkope, tinitus, kehilangan pendengaranPerubahan dlm
penglihatan spt ketajamannya, diplopia, kehilangan sebagain lapang
pandang, gangguan pengecapan dan penciuman
Tanda : Perubahan kesadaran bisa sampai koma, Perubahan status
mental, Perubahan pupil, Kehilangan penginderaan, Wajah tdk
simetris, Genggaman lemah tidak seimbang, Kehilangan sensasi
sebagian tubuh
g) Nyeri/kenyamanan
Gejala : Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yg berbeda
biasanya lama
Tanda : Wajah menyeringai, respon menarik pada ransangan nyeri
nyeri yg hebat,merintih
h) Pernafasan
Tanda : Perubahan pola nafas, nafas berbunyi, stridor, tersedak,
ronkhi,mengi
i) Keamanan
Gejala
: Trauma baru/trauma karena kecelakaan
Tanda
:
Fraktur/dislokasi,gangguan
penglihatan,
Kulit
:
laserasi,abrasi,perubahan warna,tanda batle disekitar telinga,adanya
aliran cairan dari telin ga atau hidung, Gangguan kognitif, Gangguan
rentang gerak, Demam
c. Pemeriksaan fisik
a) Breathing, berisi pemeriksaan fisik paru, pernafasan pasien apakah
menggunakan alat bantu pernapasan, SPO2
b) Blood, berisi pemeriksaan fisik jantung, tekanan darah pasien, HR
c) Brain, berisi tingkat kesadaran, keadaan umum, apakah ada
sumbatan pembuluh darah otak
d) Bladder, berisi eliminasi urin pasien, apakan terpasang DC, BAK
pasien
e) Bowel, berisi eliminasi feses pasien, makanan yang dikonsumsi,
BAB pasien
f) Bone, berisi tingkat kekuatan otot pasien
d. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Barbara (2012), berikut ini adalah beberapa pemeriksaan
penunjang yang dapat dilakukan pada klien dengan cidera atau trauma
kepala:
a) CT-Scan : mengidentifikasi adanya hemoragik, menentukan ukuran
ventikuler, pergeseran jaringan otak.
b) Angigrafi serebral : menunjukan kelainan sirkulasi cerebral seperti
pergeseran jaringan otak akibat edema, perdarahan dan trauma.
c) X-Ray : mendeteksi adanya perubahan struktur tulang.
d) EEG : untuk memperlihatkan keberadaan atau berkembangnya
patologis.
e) BAER (Basic Auditori Evoker Respon) : menentukan fungsi korteks
dan batang otak.
f) PET (Position Emission Tomniography) : menunjukkan aktifitas
metabolisme pada otak.
g) Punksi lumbal css : dapat menduga adanya perubahan sub arakhnoid.
h) Kimia atau elektrolit darah : mengetahui ketidakseimbangan yang
berperan dalam peningkatan TIK atau perubahan status mental.
i) Analisa gas darah : menunjukkan efektifitas dari pertukaran gas dan
usaha pernafasan.
2. Diagnosa Keperawatan
Menurut SDKI (2017), Diagnosa keperawatan utama pasien
mencakup berikut ini:
1) Bersihan jalan nafas tidak efektif (D.0001) berhubungan dengan
benda asing dalam jalan nafas
2) Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054) berhubungan dengan nyeri
3) Nyeri akut (D.0077) berhubungan dengan agen cedera fisik
4) Resiko perfusi serebral tidak efektif (D.0016) berhubungan dengan
cedera kepala
3. Intervensi Keperawatan
Diagnosa
Bersihan jalan
nafas
tidak
efektif
(D.
0001)
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Setelah dilakukan tindakan Latihan batuk efektif (01006)
keperawatan selama ...x24 Manajemen jalan nafas
jam, bersihan jalan nafas 1.
Monitor
klien dapat teratasi dengan
status
pernafasan
dan
kriteria hasil :
oksigenasi
sebagaimana
Bersihan jalan nafas (L.
mestinya
01001)
2.
Monitor
a. Dyspnea menurun
tanda dan gejala infeksi
b. Nafas cuping hidung
saluran napas
menurun
3.
Berikan
c. Sianosis menurun
posisi semi-fowler
d. Pola nafas membaik
4.
Lakukan
e. Frekuensi
nafas
fisioterapi dada
membaik
5.
Ajarkan
pasien batuk efektif
6.
Kolaborasi
pemberian mukolitik atau
ekspektoran
Gangguan
Setelah dilakukan tindakan Dukungan ambulasi (I.06171)
Mobilitas Fisik keperawatan selama ...x24 1. Identifikasi adanya nyeri
(D.0054)
jam,
mobilitas
fisik
atau keluhan fisik
membaik dengan kriteria 2. Identifikasi toleransi fisik
hasil :
melakukan ambulasi
Mobilitas fisik (L.05042)
3. Libatkan keluarga untuk
a. Pergerakan ektremitas
membantu pasien dalam
meningkat
meingkatkan ambulasi
b. ROM meningkat
4. Ajarkan ambulasi sederhana
c. Kekuatan
otot
meningkat
Nyeri akut
Setelah dilakukan tindakan Manajemen nyeri (I.08066)
(D.0077)
keperawatan selama ...x24
a. Kaji karakteristik nyeri
jam, nyeri akut menurun
secara komprehensif
dengan kriteria hasil :
b. Berikan
teknik
Tingkat nyeri (L.08066)
nonfarmakologis
untuk
a. Keluhan
nyeri
mengurangi nyeri
menurun
c. Jelaskan penyebab pemicu
b. Meringis menurun
nyeri
c. Gelisah menurun
d. Ajarkan
teknik
d. Frekuensi
nadi
nonfarmakologis
untuk
membaik
mengeurangi nyeri
e. Kolaborasi
pemberian
analgesik
Resiko perfusi Setelah dilakukan tindakan Manajemen peningkatan
serebral tidak
keperawatan selama 3x24 tekanan intracranial (I.06198)
efektif
jam, perfusi serebral dapat Pemantauan Tekanan
(D.0016)
efektif kembali dengan Intrakranial (I. 06198)
kriteria hasil:
1. Monitor tanda/gejala
Perfusi serebral (L.02014)
peningkatan TIK
a. Tingkat
kesadaran 2. Monitor TD
meningkat
3. Monitor tingkat kesadaran
b. Gelisah menurn
4. Pertahankan posisi kepala
c. Sakit kepala menurun
dan leher yang netral
5. Meminimalkan stimulus
dengan menyediakan
lingkungan yang tenang
6. Kolaborasi dengan dokter
pemberian diuretic osmosis
4. Evaluasi Keperawatan
Menurut Moorhead Sue (2013), evaluasi keperawatan adalah
mengukur
keberhasilan
dari
rencana
dan
pelaksanaan
tindakan
keperawatan yang dilakukan dalam memenuhi kebutuhan klien. Ada tiga
kriteria hasil evaluasi, yaitu:
a. Tujuan tercapai : Jika klien menunjukkan perubahan sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan.
b. Tujuan tercapai sebagian : jika klien menunjukkan perubahan sebagian
dari standar dan kriteria yang telah ditetapkan
c. Tujuan tidak tercapai : Jika klien tidak menunjukkan perubahan dan
kemajuan sama sekali dan bahkan timbul masalah baru
DAFTAR PUSTAKA
Mutaqqin, A. (2013). Buku ajar asuhan keperawatan klien dengan gangguan
sistem persyarafan. Jakarta : Salemba medika.
Brunner & Suddarth. (2013). Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol 3.
Jakarta: EGC
Long Barbara C. (2012). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan) Jilid 3. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan
Keperawatan
Mansjoer, A dkk. (2012). Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta:
Media Aesculapius
Price, S. A. (2013). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, alih
bahasa: Peter Anugerah, Buku Kedua, edisi 4, Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2012). Buku Ajar Keperawatan
Medikal BedahBrunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:
Definisi Dan Indicator Diagnostic. Jakarta: DPP PPNI
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia:
Definisi Dan Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta: DPP PPNI
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia:
Definisi Dan Tindakan Keperawatan. Jakarta: DPP PPNI
Download