analisis pengaruh tegangan injeksi terhadap kinerja motor induksi

advertisement
ANALISIS PENGARUH TEGANGAN INJEKSI TERHADAP KINERJA MOTOR INDUKSI
TIGA FASA ROTOR BELITAN
(Aplikasi pada Laboratorium Konversi Energi Listrik FT-USU)
Tondy Zulfadly Ritonga, Syamsul Amien
Konsentrasi Teknik Energi Listrik, Departemen Teknik Elektro
Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (USU)
Jl. Almamater, Kampus USU Medan 20155 INDONESIA
e-mail: [email protected]
Abstrak
Motor induksi merupakan motor yang paling umum digunakan pada berbagai peralatan industri
karena kelebihannya dan rancangannya yang sederhana, murah dan mudah didapat. Dalam tulisan
ini dibahas pengaruh besar tegangan yang diinjeksikan ke rotor terhadap kecepatan motor, dari
pengajuan yang telah dilakukan diperoleh bahwa makin besar tegangan injeksi maka kecepatan
motor berkurang tetapi sebaliknya torsi akan makin besar. Namun dalam penggunaannya motor
induksi diperlukan untuk beroperasi pada kecepatan yang di inginkan dan lebih baik untuk
pengoperasian kinerja motor. Sehingga untuk mengatur kecepatan motor induksi rotor belitan dapat
dilakukan berbagai cara, salah satunya adalah dengan metode injeksi tegangan pada rotor. Dengan
mengatur besar tegangan yang diinjeksikan pada rotor akan diperoleh pengaturan kecepatan motor.
Kata Kunci: Motor induksi, torsi dan kecepatan
1. Pendahuluan
Pada saat ini motor induksi adalah motor
yang paling banyak digunakan dalam dunia
industri maupun rumah tangga. Motor induksi
memiliki keuntungan antara lain motor ini
memiliki konstruksi yang sederhana, relatif
murah dan mudah dalam pemeliharaannya
dibandingkan dengan motor DC [2,5].
Pada penggunaannya motor induksi
ataupun rotor belitan sering dibutuhkan untuk
beroperasi pada torsi yang diharapkan. Untuk
memperoleh torsi dan kecepatan yang
diharapkan pada motor induksi rotor belitan
dapat dilakukan dengan cara, salah satunya
adalah dengan metode tegangan injeksi pada
rotor menggunakan sumber tegangan luar.
Metode ini memiliki rentang pengaturan yang
cukup lebar dan membutuhkan alat yang
sederhana [2,5].
Tetapi dalam prakteknya tidaklah sama
karena berbagai pengaruh tegangan dalam
kinerja motor tersebut. Sehingga penulisan ini
akan mencoba menganalisis pengaruh tegangan
injeksi terhadap kinerja motor induksi tiga fasa
jenis rotor belitan pada saat beroperasi. Oleh
karena itu perlu dilakukan suatu kajian baik
berupa analisis maupun penelitian di
laboratorium untuk melihat bagaimana pengaruh
injeksi tegangan terhadap torsi tersebut [2].
2. Tegangan Injeksi pada Motor Induksi
Tiga Fasa Rotor Belitan
Motor asinkron atau motor induksi
biasanya dikenal sebagai motor induksi yang
merupakan motor arus bolak-balik yang paling
luas penggunaannya. Penamaan ini berasal dari
kenyataan bahwa arus rotor pada motor ini bukan
diperoleh dari sumber tertentu tetapi merupakan
arus yang terinduksi sebagai akibat adanya
perbedaan relatif antara putaran rotor dengan
putaran medan putar yang dihasilkan oleh arus
stator. Motor induksi terdiri dari dua bagian yaitu
stator dan rotor dimana stator dihubungkan ke
sumber tegangan AC. Rotor tidak dihubungkan
secara listrik ke pencatu daya, tetapi mempunyai
arus diinduksikan kedalamnya oleh kerja trafo
dari stator. Oleh sebab itu stator kadang-kadang
dianggap sebagai primer dan rotor sebagai
skunder motor [3].
Mesin induksi pada umumnya banyak
digunakan karena beberapa hal :
1. Bentuk yang sederhana dan konstruksinya
yang kuat.
2. Memiliki efisiensi yang tinggi saat keadaan
normal, tidak diperlukan sikat maka rugi-rugi
gesek berkurang serta power faktor yang baik.
3. Dapat distart pada keadaan diam, tidak
diperlukan motor tambahan untuk start, tidak
perlu disinkron, startnya sederhana.
Selain itu motor induksi juga memiliki
kelemahan, diantaranya :
1. Arus starting nya cukup tinggi.
2. Kecepatan dapat menurun sejalan dengan
kenaikan beban.
3. Pada torsi start memiliki kekurangan.
Motor induksi adalah motor listrik arus
bolak-balik (ac)
yang
paling banyak
dipergunakan, karena konstruksinya yang kuat
dan karakteristik kerjanya yang baik. Secara
umum motor induksi tiga fasa memiliki dua
komponen dasar yaitu stator (komponen yang
diam) dan rotor (bagian berputar), bagian stator
dipisahkan dengan bagian rotor oleh celah
udara yang sempit (air gap). Konstruksi motor
induksi dapat diperlihatkan pada Gambar 1
Gambar 1 Konstruksi Motor Induksi[3]
komponen stator adalah bagian terluar dari
motor yang merupakan bagian yang diam dan
mengalirkan arus fasa. Rangka luarnya terbuat
dari baja maupun aluminium, sedangkan intinya
berupa lapisan-lapisan yang terbuat dari baja
silicon untuk mengurangi rugi-rugi histerisis
dan edy current. Sedangkan pada rotor motor
induksi tiga fasa dibedakan menjadi rotor
sangkar (squirrel cage) rotor dan rotor belitan
(wound rotor). Dimana rotor sangkar (squirrel
cage) terdiri dari inti silinder yang berlapislapis dengan slot (alur) yang parallel sebagai
tempat untuk membawa konduktor rotor,
sedangkan rotor belitan (wound rotor) terdiri
dari inti silinder yang berlapis-lapis, akan tetapi
konduktor rotorrya berupa gulungan tiga fasa
yang digulung dengan jumlah kutub yang sama
dengan jumlah kutub stator [3,4] .
Motor induksi adalah peralatan pengubah
energi listrik ke bentuk energi mekanik.
Perubahan energi ini bergantung pada
keberadaan fenomena alami magnetik, medan
listrik, gaya mekanis dan gerak. Jika pada stator
diberikan tegangan tiga fasa, maka pada belitan
stator akan mengalir arus tiga fasa, arus ini
menghasilkan medan magnet yang berputar
dengan kecepatan sinkron (ns). Medan magnet
ini memotong belitan rotor sehingga pada
belitan rotor akan diinduksikan tegangan seperti
hanya tegangan yang diinduksikan dalam lilitan
skunder transformator oleh fluksi yang
dihasilkan pada belitan primer. Rangkaian rotor
merupakan rangkaian tertutup, baik melalui
cincin ujung atau tahanan luar. Arus yang
mengalir dalam belitan rotor berada dalam
medan magnet yang dihasilkan stator, sehingga
pada belitan rotor akan dihasilkan gaya (F).
Gaya ini akan menghasilkan torsi (τ) dan jika
torsi yang dihasilkan lebih besar dari torsi
beban, maka rotor akan berputar dengan
kecepatan nr yang searah dengan medan putar
stator [3,4] .
Untuk memperjelas prinsip kerja motor
induksi tiga fasa, maka dapat dijabarkan dalam
langkah–langkah berikut : [2.6]
1. Pada keadaan beban nol ketiga fasa stator
yang dihubungkan dengan sumber tegangan
tiga fasa yang seimbang menghasilkan arus
pada tiap belitan fasa.
2. Arus pada tiap fasa menghasilkan fluksi
bolak-balik yang berubah-ubah.
3. Amplitudo fluksi yang dihasilkan berubah
secara sinusoidal dan arahnya tegak lurus
terhadap belitan fasa.
4. Akibat fluksi yang berputar timbul GGL
pada stator motor yang besarnya adalah :
𝑑Φ
𝑒1 = −𝑁1
(1)
𝑑𝑡
atau
𝐸1 = 4,44𝑓𝑁1 𝛷
(2)
5. Penjumlahan ketiga fluksi bolak-balik
tersebut disebut medan putar yang berputar
dengan kecepatan sinkron ns, besarnya nilai
ns ditentukan oleh jumlah kutub p dan
frekuensi stator f yang dirumuskan dengan :
ns ī€Ŋ
120 ī‚´ f
p
(3)
6. Fluksi yang berputar tersebut akan
memotong batang konduktor pada rotor.
Akibatnya pada kumparan rotor timbul
tegangan induksi (GGL) sebesar E2 yang
besarnya :
𝐸2 = 4,44𝑓𝑁2 𝛷𝑚
(4)
7.
8.
9.
10.
dimana :
đ‘Ŧ𝟐 = Tegangan induksi pada rotor saat
rotor dalam keadaan diam (Volt)
đ‘ĩ𝟐 = Jumlah lilitan kumparan rotor
𝜱𝒎 = Fluksi maksimum (Wb)
ns
= Medan putar stator (rpm)
Karena
kumparan
rotor
merupakan
rangkaian tertutup, maka GGL tersebut akan
menghasilkan arus I2.
Adanya arus I2 di dalam medan magnet akan
menimbulkan gaya F pada rotor.
Bila kopel mula yang dihasilkan oleh gaya F
cukup besar untuk memikul kopel beban,
rotor akan berputar searah medan putar
stator.
Perputaran rotor akan semakin meningkat
hingga mendekati kecepatan sinkron.
Perbedaan kecepatan medan stator (ns) dan
kecepatan rotor (nr) disebut slip (s) dan
dinyatakan dengan :
sī€Ŋ
ns ī€­ nr
ī‚´ 100%
ns
Torsi motor adalah kekuatan yang
menghasilkan rotasi. Torsi terdiri dari gaya yang
bekerja pada jarak. Torsi, seperti bekerja, di
ukur adalah pound-feet (lb-ft). Namun, torsi
tidak seperti tempat bekerja, mungkin ada
meskipun gerakan tidak terjadi, atau dapat juga
dirumuskan dengan :
𝑇𝑒 =
3đŧ22 𝑅2 ×60
𝑠×2𝜋 𝑛𝑠
(7)
Dari Persamaan 7 dapat dilihat bahwa torsi
motor yang dihasilkan tergantung pada besarnya
arus dan tegangan injeksi yang di supply di rotor
[3,6].
Diagam aliran daya motor induksi tiga
fasa dapat dilihat dari Gambar 3
(5)
11. Pada saat rotor dalam keadaan berputar,
besarnya tegangan yang terinduksi pada
kumparan rotor akan bervariasi tergantung
besarnya slip. Tegangan induksi ini
dinyatakan dengan E2s yang besarnya
𝐸2𝑠 = 4,44f𝑁2 𝛷𝑚 (volt)
(6)
dimana :
E2s = tegangan induksi pada rotor dalam
keadaan berputar (volt)
f2 = s.f = frekuensi rotor (frekuensi
tegangan induksi pada rotor
dalam keadaan berputar)
12. Bila ns = nr, tegangan tidak akan terinduksi
dan arus tidak akan mengalir pada kumparan
rotor, karenanya tidak dihasilkan kopel.
Kopel ditimbulkan jika nr < ns
Untuk mempermudah analisis motor
induksi, digunakan metoda rangkaian ekivalen
per–fasa. Motor induksi dapat dianggap sebagai
transformator dengan rangkaian sekunder
berputar. Rangkain ekivalen dapat diperhatikan
pada Gambar 2
Gambar 2 Rangkaian ekivalen motor induksi
tiga fasa [3,5].
Gambar 3 Diagram aliran daya motor induksi
[6]
Dimana :
Pts = rugi-rugi tembaga pada belitan stator
(Watt)
Pi
= rugi-rugi inti pada stator (Watt)
Pcu = daya yang transfer melalui celah
udara (Watt)
Ptr = rugi-rugi tembaga pada belitan rotor
Pmek = daya mekanik keluaran (output)
(Wattt)
Pa&g = rugi-rugi gesek dan angin (Watt)
Pb
= stray losses (Watt)
Jika motor memiliki slip ring, maka kita
dapat mengakses rangkaian rotor, dimana kita
dapat menambah tahanan luar atau sumber
tegangan luar. Dalam pengaturan motor induksi
pengguanaan tegangan luar lebih efektif
dibanding dengan tahanan luar.
Untuk rangkaian ekivalen motor induksi
tegagan injeksi dapat kita anggap pada Gambar
4. Abaikan cabang rangkaian magnetisasi dan
konsentrasi pada impedansi belitan. Pada
rangkaian ini terminal slipring tidak di hubung
singkat melainkan dihubungkan dengan sumber
tegangan luar Vi. Magnitudo tegangan adalah
variabel. Rangkaian ekivalen dapat diperhatikan
pada Gambar 4 [1,5].
R1
X1
sX2
I1
R2
I2
Vs
sE2
Vi AC
Rangkaian ekivalen pada Gambar 4(b)
adalah modifikasi dari Gambar 4(c). Semua
variabel dan parameter adalah dilihat dari sisi
stator menggunakan rasio perbandingan belitan
N1/N2 diasumsikan bahwa motor terhubug Y, Vs
dan Vi adalah teganagan fasa ke netral. Arus
motor I’2 adalah :
đŧ′2 =
𝑉′
𝑉𝑠 − 𝑖
𝑠
𝑅′
(𝑅1 + 2 )+𝑗𝑋𝑒𝑞
(9)
𝑠
Untuk nilai tegangan yang diinjeksikan dimana
𝑉𝑖1 < 𝑉𝑖2 < 𝑉𝑖3 , maka karakteristik torsi
kecepatannya dapat di lihat pada Gambar 5.
(a)
R1
X1
R2
s
X2
I1
I2
Vs
Vi
s
E2
(b)
R1 ī€Ģ
R'2
s
Xeq
I’2 = 11
Vi
s
Vs
AC
(c)
Gambar 4 Rangkaian ekivalen motor induksi
dimana slipring dihubungkan dengan Vi
(tegangan injeksi)
(a) Rangkaian ekivalen normal. (b)
Modifikasi dengan membagi tegangan
dan impedansi dengan slip s. (c)
Rangkaian ekivalen dilihat dari sisi
stator [1,5].
Frekuensi dari E2 adalah sama dengan
frekuensi tegangan sumber Vs. Sedangkan
frekuensi fr tergantung pada kecepatan motor n
dan frekuensi stator fs.
fr = sfs =
dan
𝑛𝑠 − 𝑛
𝑛𝑠
𝑛𝑝
𝑓𝑠 = (1 −
𝑛
120𝑓𝑠
𝑝
) 𝑓𝑠
fr = fs − 120
(8)
Seperti ditunjukkan pada Gambar 4(a) kita dapat
memodifikasi rangkaian ekivalen pada rotor
menjadi seperti Gambar 4(b) dengan membagi
tegangan dan impedansi dengan slip s. Bentuk
baru motor induksi ini menjaga agar arus rotor
tidak berubah-ubah. Rangkaia ini menjadi lebih
sesuai sebagai representasi dari motor induksi.
Gambar 5 Karakteristik torsi kecepatan dengan
injeksi tegangan pada rotor [1].
Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa
tegangan yang diinjeksikan cenderung
mengurangi torsi maksimum dari motor
induksi dan mengurangi kecepatan pada torsi
maksimum. Keuntungan metode ini adalah
berkurangnya arus start dan juga rugi inti
karena arus start dan rugi inti adalah
berbanding lurus dengan kuadrat tegangan
terminal. Tetapi harus diingat bahwa
tegangan terminal tidak boleh melebihi nilai
ratingnya karena akan merusak isolasi
belitannya. Sehingga cenderung mengurangi
kecepatan pada motor induksi. Dari tulisan
ini
ditunjukkan
bahwa
kita
dapat
memperoleh rentang pengaturan yang cukup
lebar melalui metode ini [1].
3. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada jam 14.00
sampai dengan 17.00 pada tanggal 22 April
2014 di Laboratorium Konversi Energi Listrik
FT-USU.
Objek penelitian ini adalah melakukan
pengukuran terhadap motor induksi dengan
menginjeksikan tegangan pada rotor.
Untuk menganalisis hubungan antara nilai
tegangan injeksi terhadap torsi dan kecepatan
pada motor induksi, maka dilakukan pengujian
dengan menaikkan tegangan injeksi yang
diberikan ke rotor motor melalui autotrafo pada
kondisi berbeban. Pada penelitian ini, pengujian
dilakukan dengan sembilan nilai penaikan
tegangan injeksi, yaitu nilai tegangan
nominalnya 300 volt dan tegangan injeksinya 0,
4, 8, 12, 16, 20, 24, 28 dan 32 volt.
Berdasarkan tujuan dari penelitian ini
maka dilakukan langkah-langkah sebagai
berikut:
a. Pengumpulan data yaitu dengan metode
dokumentasi dan observasi.
b. Mempersiapkan alat dan bahan untuk
penelitian.
c. Mengkondisikan objek penelitian ini dengan
memastikan bahwa motor induksi dapat
beroperasi dengan pengaturan tegangan
terminal motor.
d. Mengkondisikan alat ukur agar memiliki
validitas yang baik yang harus disetting
dengan benar.
e. Tahap pengambilan data yang meliputi arus
dan putaran terhadap tegangan.
f. Tahap analisis data dengan menggunakan
analisis matematis untuk memecahkan
masalah dan memperoleh kesimpulan dalam
penelitian. Analisis ini adalah mengadakan
perhitungan-perhitungan
berdasarkan
persamaan
yang
berlaku
didalam
perhitungan torsi dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut :
Torsi 𝑇𝑒 =
3đŧ22 𝑅2 ×60
𝑠×2𝜋 𝑛𝑠
Adapun rangkaian percobaan untuk
pengujian pengaruh jatuh tegangan terhadap
torsi dan kecepatan pada motor induksi dapat
dilihat pada Gambar 6.
R
S
T
A1
A3
P
T
A
C
1
n
V1
GD
MI
T
S1
V2
N
S2
PTAC2
K
L
R
S
T
W 3Φ
S3
P
T
D
C
Gambar 6 Rangakain Percobaan injeksi
tegangan
4. Hasil dan Analisis Pengukuran
Pengaruh injeksi tegangan motor induksi
yang dilakukan dalam percobaan ini adalah
sebagai simulasi penambahan tegangan pada
industri yang banyak menggunakan motor
induksi tiga fasa sebagai alat penunjang proses
produksi. Adapun cara penambahan tegangan
pada motor induksi tiga fasa salah satunya
adalah metode injeksi teganagan pada rotor,
untuk itu penulis melakukan pengujian injeksi
tegangan terhadap Torsi dan Kecepatan motor
induksi tiga fasa pada dunia industri.
Dari hasil pengujian injeksi tegangan
motor induksi tiga fasa rotor belitan pada pada
kondisi berbeban di dapat seperti Tabel 1.
(10)
Adapun peralatan yang digunakan pada
pengujian ini adalah sebagai berikut :
1. Satu unit Motor induksi 3 fasa (berfungsi
sebagai motor)
Tipe : Rotor Belitan
Spesifikasi : - AEG Type C AM 112 MU 4 R1
- Δ / Y 220/ 380 V ; 10,7 / 6,2 A
- 2,2 Kw, cos φ 0,67
- 1410 rpm, 50 Hz
- Kelas isolasi : B
2. Empat unit LCR multimeter TES 27124.
3. Satu unit wattmeter 3 fasa Yokogawa
Electric Works Ltd.
4. Satu unit PT AC.
5. Satu unit PT DC.
6. Kabel secukupnya.
Tabel 1. Data hasil pengujian injeksi tegangan
motor induksi tiga fasa rotor belitan
pada kondisi berbeban.
V = 300 volt
RL = 100 Ohm
Dari Tabel 1 terlihat kecepatan tertinggi
diperoleh pada saat tegangan injeksi 0 volt yaitu
1430 rpm dan putaran terendah diperoleh pada
saat tegangan injeksi 32 volt yaitu 1404 rpm.
Berdasarkan data–data yang diperoleh
pada Tabel 1 maka dilakukan perhitungan untuk
mendapatkan torsi pada setiap tahap penaikan
nilai tegangan injeksi. Torsi dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan berikut :
Torsi 𝑇𝑒 =
3đŧ22 𝑅2 ×60
𝑠×2𝜋 𝑛𝑠
(11)
Setelah dilakukan perhitungan, maka
diperoleh torsi motor dalam keadaan berbeban
yang ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil analisis data injeksi
tegangan pada motor induksi yang berbeban.
Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa penaikan
torsi dan penurunan kecepatan akan sebanding
dengan penaikan nilai tegangan injeksi (Vi) pada
motor AC. Hubungan antara tegangan injeksi
dengan putaran dan tegangan injeksi dengan
torsi dapat dilihat pada Gambar 7 dan 8
Gambar 7 Grafik tegangan injeksi vs kecepatan
motor induksi.
Gambar 8 Grafik tegangan injeksi vs torsi
motor induksi.
5. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian dan analisis
perhitungan yang dilakukan, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1. Pada saat motor dibebani dengan beban
yang konstan dan di berikan tegangan
injeksi terjadi penurunan kecepatan, torsi
yang dihasilkan motor semakin besar,
karena torsi adalah tenaga atau gaya yang
dihasilkan oleh suatu motor yang digunakan
untuk memikul beban, semakin besar
torsinya semakin berat mesin itu bekerja
dengan beban yang konstan.
2. Pada hasil pengujian didapatkan bahwa
ketika dibebanin dengan beban konstan
putaran turun sedikit saja, tetapi arus
semakin naik.
6. Referensi
[1]. Panjaitan,
Augus
Penniel.
2010.
“Pengaturan Kecepatan Motor Induksi Tiga
Fasa Rotor Belitan Dengan Injeksi
Tegangan Pada Rotor”. Medan : Repository
USU.
[2]. Saputra, M. Arfan. 2014.“Analisis Pengaruh
Jatuh Tegangan Terhadap Kinerja Motor
Induksi Tiga Fas Rotor Belitan”.Medan :
Repository USU.
[3]. Sumanto. 1991. Mesin Arus Searah.
Yogyakarta: Andi Offset.
[4]. Rijono,Yon. 1997. Dasar Teknik Tenaga
Listrik. Yogyakarta: Andi.
[5]. Wijaya, Mochtar. 2001. “Dasar-Dasar Mesin
Listrik”. Jakarta : Djambatan.
[6]. Zuhal. “Dasar Teknik Tenaga Listik dan
Elektronika Daya”, Penerbit Gramedia
pustaka Utama, Jakarta, 2000.
Download