Uploaded by arifahnurm10

Analisis Faktor Kepatuhan Remaja terhadap Peraturan Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah

advertisement
SKRIPSI
ANALISA FAKTOR KEPATUHAN REMAJA TERHADAP PERATURAN
DAERAH KAWASAN TANPA ROKOK DI SEKOLAH WILAYAH
KECAMATAN BULUKUMPA KABUPATEN BULUKUMBA
Oleh :
MUHAMMAD FIKRI HADJU
C11114350
Pembimbing :
dr. MUHAMMAD HUSNI CANGARA, Ph.D, Sp.PA, DFM
DISUSUN SEBAGAI SALAH SATU SYARAT UNTUK MENYELESAIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
PANITIA UJIAN SIDANG SKRIPSI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
Skripsi dengan judul “Analisa Faktor Kepatuhan Remaja Terhadap
Peraturan Kawasan Tanpa Rokok Di Sekolah Wilayah Kecamatan Bulukumpa
Kabupaten Bulukumba” telah disetujui, diperiksa, dan dipertahankan di hadapan Tim
Penguji Skripsi Bagian Ilmu Kedokteran Forensik
dan Medikolegal Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin pada :
Hari/Tanggal : Rabu/ 22 November 2017
Waktu
: 10.00 WITA
Tempat
: Rumah Sakit Universitas Hasanuddin
Pembimbing,
dr. Muhammad Husni Cangara, Ph.D, Sp.PA, DFM
NIP. 19770409 200212 1 002
Panguji 1
Penguji 2
Dr. dr. Berti Julian Nelwan, DFM., M.Kes., Sp.PA
Dr. dr. Rina Masadah, Sp.PA, M.Phil, DFM
NIP. 19670718 199903 1 002
NIP.
19670429 199202 2 002
,
ii
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
TELAH DISETUJUI UNTUK DICETAK DAN DIPERBANYAK
Skripsi dengan judul :
Analisa Faktor Kepatuhan Remaja Terhadap Peraturan Kawasan Tanpa
Rokok Di Sekolah Wilayah Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba
Makassar,
November 2017
Pembimbing,
dr. Muhammad Husni Cangara, Ph.D, Sp.PA, DFM
NIP. 19770409 200212 1 002
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Telah disetujui untuk dibacakan pada seminar hasil di Bagian Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
dengan judul :
“Analisa Faktor Kepatuhan Remaja Terhadap Peraturan Kawasan Tanpa
Rokok Di Sekolah Wilayah Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba”
Hari/Tanggal : Senin/ 13 November 2017
Waktu
: 13.00 WITA
Tempat
: Rumah Sakit Universitas Hasanuddin
Makassar, 13 November 2017
Pembimbing,
dr. Muhammad Husni Cangara, Ph.D, Sp.PA, DFM
NIP. 19770409 200212 1 002
iv
LEMBAR PERNYATAAN ANTI PLAGIARISME
Dengan ini saya menyatakan bahwa seluruh skripsi ini adalah hasil karya
saya. Apabila ada kutipan atau pemakaian dari hasil karya orang berupa tulisan, data,
gambar atau ilustrasi baik yang telah dipublikasi atau belum dipublikasi, telah
direferensi sesuai dengan ketentuan akademis.
Saya menyadari plagiarisme adalah kejahatan akademik, dan melakukannya
akan menyebabkan sanksi yang berat berupa pembatalan skripsi dan akademik
lainnya.
Makasaar, 13 November 2017
Muhammad Fikri Hadju
C11114350
v
ANALISA FAKTOR KEPATUHAN REMAJA TERHADAP PERATURAN
KAWASAN TANPA ROKOK DI SEKOLAH WILAYAH KECAMATAN
BULUKUMPA KABUPATEN BULUKUMBA
ABSTRAK
Latar Belakang : Merokok merupakan sebuah kebiasaan yang menimbulkan dampak
yang buruk bagi si perokok dan orang-orang disekitarnya. Kawasan Tanpa Rokok
merupakan upaya pemerintah untuk menurunkan jumlah perokok pemula dan
menjaga kesehatan lingkungan dari asap rokok. Pada tahun 2015, Kabupaten
Bulukumba menetapkan Peraturan Daerah No. 2 tentang Kawasan Tanpa Rokok.
Tujuan : Untuk mengetahui faktor-faktor kepatuhan remaja terhadap Peraturan
Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah wilayah Kecamatan Bulukumpa Kabupaten
Bulukumba.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observartional analitik dengan
rancangan penelitian cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara quota
sampling dengan total 97 orang. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan p
value = 0,05 menggunakan program SPSS. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan
Bulukumpa Kabupaten Bulukumba pada bulan Agustus – September 2017.
Hasil : Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dari 97 siswa yang merokok
terdapat 54 orang yang patuh (59,5%) dan 43 orang yang tidak patuh (40,5%). Tidak
terdapat hubungan antara latar belakang perilaku merokok (0,510), pengetahuan
tentang bahaya kandungan rokok (0,106), pengetahuan tentang kawasan tanpa rokok
(0,258), sikap kepala sekolah/ penanggung jawab (0,572) dan adanya hubungan
terbalik antara tersedianya sarana dan prasarana (0,003) terhadap kepatuhan remaja
pada peraturan kawasan tanpa rokok.
Kesimpulan : Tidak ada hubungan antara latar belakang perilaku merokok,
pengetahuan tentang bahaya kandungan rokok, pengetahuan tentang kawasan tanpa
rokok, sikap kepala sekolah/penanggung jawab, tersedianya sarana dan prasarana
terhadap kepatuhan remaja pada peraturan kawasan tanpa rokok di sekolah
SMA/sederajat di Kacamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
Kata kunci : Kawasan Tanpa Rokok, Kepatuhan, Remaja
vi
ANALYSIS OF ADOLESCENT FACTORS TO REGULATION OF NON
SMOKING AREA IN SCHOOL SUB-DISTRICT OF BULUKUMPA
DISTRICT OF BULUKUMBA
ABSTRACT
Background : Smoking is a habit that had a bad impact on the smoker and the people
around him. The Non smoking area is a government effort to reduce the number of
beginner smokers and maintain environmental health from cigarette smoke. In 2015,
the District of Bulukumba stipulates Regional Regulation No. 2 about Non Smoking
Area.
Objective : To know the factors of adolescent adherence to Regulation of Non
Smokng Area in school Sub-District of Bulukumpa District of Bulukumba.
Method : This research is an observational analytic study with cross sectional study
design. Sampling was done by quota sampling with total 97 people. Data analysis
using Chi-square test with p value = 0,05 using SPSS program. This research was
conducted in Bulumpa sub-district in August – September 2017.
Results : The results of this study indicate that of 97 students who smoked there were
54 obedient peple (59m5%) dan 43 disobedient people (40,5%). There is no
correlation between background of smoking behavior (0,510), knlowledge about
danger of cigarette content (0,106), knowledge of non smoking area (0,258),
principal/ responsibility attitude (0,572) and existaence of inverse and infrastructur
(0,003) to adolescent adherence to non smoking area regulation.
Conclusion : there is no correlation between background of smoking behavior,
knowledge about danger of cigarette content, knowledge about non smoking area,
atitude of principal/ responsibitlity, availabililty of facilies and infrastructure to
adolescent obedience to non smoking area regulation in high school / equal in Subdistrict of Bulukumpa District of Bulukumba.
Keyword : Non smoking area, obedience, adolescent.
vii
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta‟ala. yang
telah melimpahkan rahmat dan anugerah-Nya kepada kita semua dengan segala
keterbatasan yang penulis miliki, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan
skripsi ini dalam rangka penyelesaian studi di semester akhir dalam mengikuti
jenjang preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Shalawat serta salam
senantiasa tercurah atas junjungan Nabi Muhammad Shallallahu „Alaihi Wasallam,
keluarga, sahabat serta para pengikutnya yang senantiasa istiqamah di jalan Islam.
Dengan rahmat dan petunjuk Yang Maha Kuasa, kemudian disertai usaha,
doa, serta arahan dan bimbingan dokter pembimbing, maka skripsi yang berjudul
“Analisa Faktor Kepatuhan Remaja Terhadap Kawasan Tanpa Rokok Di
Sekolah Wilayah Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba” dapat
terselesaikan.
Dalam penyusunan dan penulisan skripsi ini, penulis menemui hambatan–
hambatan, tetapi atas izin Allah kemudian bantuan dan dukungan dari berbagai pihak,
hambatan tersebut dapat teratasi.
Dengan tulus ikhlas dan rendah hati penulis mengucapkan terima kasih yang
tak terhingga kepada Allah SWT kemudian orangtua tercinta Ayahanda Veni Hadju
dan Helmi Arbie atas doa, ketulusan, dan kasih sayangnya selama ini, serta kepada
saudaraku-saudaraku tersayang atas perhatian, motivasi dan bantuan selama ini.
Ucapan terima kasih penulis haturkan pula kepada :
viii
1. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, para Pembantu Dekan,
staf Pengajar, dan tata usaha yang telah memberikan bantuan dan bimbingan
kepada penulis.
2. dr. Muhammad Husni Cangara, Ph.D., Sp.PA., DFM selaku dosen
pembimbing yang telah memberikan berbagai bimbingan dan pengarahan
dalam pembuatan dan membantu kami dapat menyelesaikan skripsi ini tepat
waktu.
3. Dr. dr. Berti Julian Nelwan, DFM., M.Kes., Sp.PA selaku penguji dalam
skripsi ini yang telah meluangkan waktunya untuk turut memberikan
perbaikan ataupun saran dalam penulisan skripsi ini.
4. Dr. dr. Rina Masadah, Sp.PA, M.Phil, DFM selaku penguji dalam skripsi ini
yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan saran yang membangun
kepada penulis.
5. dr.Tjiang Sari Lestari selaku KPM Departemen Ilmu Kedokteran Forensik
dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
6. Staf pengajar dan karyawan Departemen Ilmu Kedokteran Forensik
dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Pimpinan, staf
pengajar, dan seluruh karyawan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
7. Rekan-rekan seperjuangan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
Angkatan 2014 (Neutrof14vine) atas kebersamaan, bantuan, dan motivasi
selama ini.
8. Teman-teman sepembimbing Gianina Helena, Astri Dewi, dan Lukman yang
telah berjuang bersama dalam penyelesaian skripsi ini.
ix
9. Seluruh pihak yang tidak sempat disebutkan satu per satu yang telah
membantu penulis selama penyusunan skripsi ini.
Akhirnya, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun
dari semua pihak demi penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bisa
berkontribusi dalam perbaikan upaya kesehatan dan bermanfaat bagi semua pihak.
Makassar,
Penulis
x
November 2017
DAFTAR ISI
Table of Contents
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................................. iv
KATA PENGANTAR .......................................................................................................... viii
DAFTAR ISI........................................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ................................................................................................................. xiii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang Permasalahan ........................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................................... 3
1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................................................... 4
1.3.1 Tujuan Umum ...................................................................................................... 4
1.3.2 Tujuan Khusus ..................................................................................................... 5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................................6
2.1 Rokok ............................................................................................................................. 6
2.1.1 Pengertian Rokok ................................................................................................. 6
2.1.2 Kandungan Rokok ............................................................................................... 7
2.2 Peraturan Kawasan Tanpa Rokok................................................................................... 7
2.2.1 Penjelasan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri
No. 188/MENKES/PB/I/2011 No. 7 Tahun 2011 Tentang Pedoman Kawasan Tanpa
Rokok 7
2.2.2 Penjelasan Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba Nomor 2 Tahun 2015
Tentang Kawasan Tanpa Rokok ................................................................................. 10
2.3 Teori Kepatuhan ........................................................................................................... 14
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN .......................................16
3.1 Konsep Penelitian......................................................................................................... 16
3.2 Hipotesis Penelitian ...................................................................................................... 16
BAB 4 METODE PENELITIAN ...........................................................................................18
4.1 Rancangan Penelitian ................................................................................................... 18
xi
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................................................................ 18
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian.................................................................................... 18
4.3.1 Populasi Penelitian ............................................................................................. 18
4.3.2 Sampel Penelitian .............................................................................................. 18
4.4 Variabel Penelitian ....................................................................................................... 19
4.5 Instrumen Penelitian dan Teknik Pengambilan Data .................................................... 21
4.6 Analisis Data ................................................................................................................ 21
BAB 5 HASIL PENELITIAN .......................................................................................................22
5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ............................................................................. 22
5.2 Karakteristik Demografi Responden ............................................................................. 22
5.3 Pengaruh Latar Belakang Perilaku Merokok terhadap Kepatuhan ............................... 23
5.4 Pengaruh Pengetahuan Tentang Bahaya Kandungan Rokok terhadap Kepatuhan ........ 25
5.5 Pengaruh Pengetahuan Tentang KTR terhadap Kepatuhan ........................................ 26
5.6 Pengaruh Tersedianya Sarana dan Prasarana terhadap Kepatuhan ............................... 27
5.7 Pengaruh Perilaku Merokok Kepala Sekolah/Penanggung Jawab terhadap Kepatuhan 28
5.8 Pengaruh Sikap Kepala Sekolah/Penanggung Jawab terhadap Kepatuhan ................... 29
BAB 6 PEMBAHASAN ........................................................................................................31
BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................................................36
7.1 Kesimpulan .................................................................................................................. 36
7.2 Saran ............................................................................................................................ 36
Daftar Putaka .........................................................................................................................38
Lampiran 1 .............................................................................................................................40
Lampiran 2 . Lembar pengantar penelitian .............................................................................41
Lampiran 3 . Lembar kuesioner penelitian .............................................................................42
Lampiran 4. Lembaran skoring kuesioner ..............................................................................48
Lampiran 5. Hasil Data ..........................................................................................................52
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 5.1. Karakteristik Responden .................................................................................23
Tabel 5.2. Pengaruh Latar Belakang Perilaku Merokok .................................................. 24
Tabel 5.3. Pengaruh Pengetahuan Tentang Bahaya Kandungan Rokok .......................... 25
Tabel 5.4. Pengaruh Pengetahuan Tentang Kawasan Tanpa Rokok ................................ 26
Tabel 5.5. Pengaruh Tersedianya sarana dan prasarana ...................................................28
Tabel 5.6. Pengaruh Perilaku Merokok Kepala Sekolah/ Penanggung Jawab ................ 29
Tabel 5.7. Pengaruh Sikap Kepala Sekolah/Penanggung Jawab .................................. 30
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Permasalahan
Merokok merupakan sebuah kebiasaan yang dapat memberikan kenikmatan
bagi si perokok, namun dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi si perokok
dan orang-orang disekitarnya (Soetjiningsih, 2010). Merokok banyak disukai
oleh semua kalangan, baik orang tua maupun remaja, walaupun sebagian besar
dari mereka mengetahui akibat buruk dari rokok.
Merokok memberikan konsekuensi yang signifikan baik kesehatan fisik,
psikologis serta ekonomis. Dampak merokok terhadap kesehatan telah diketahui
secara luas. Lebih dari 4.000 bahan kimia telah diidentifikasi dalam asap
tembakau. Banyak di antarnya beracun, beberapa bersifat radioaktif. Lebih dari 40
diketahui menyebabkan kanker. Bahan-bahan kimia ini terutama terkonsentrasi di
dalam tar, yaitu cairan cokelat lengket yang terkondensasi dari asap tembakau.
Tembakau menghasilkan begitu banyak bahan kimia karena sangat tingginya
suhu (sampai 900° C) yang ditimbukan di ujung rokok yang menyala ketika
dihisap oleh perokok (Crofton dan Simpson, 2009).
Merokok juga menyebabkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit di seluruh
dunia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kosen pada 2010 bahwa
12,7% kematian akibat penyakit yang terkait dengan merokok, dengan total
190.260 jiwa terdiri dari 100,680 jiwa laki-laki dan perempuan sebesar 89.580
jiwa. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh rokok di Indonesia mencapai Rp.
245,41 Trilyun (53,20%) dan produkivitas yang hilang akibat kesakitan dan
disabilitas terkait merokok sebesar Rp. 105,3 Trilyun (40,60%). Biaya untuk
1
rawat inap sebesar Rp. 1,85 Trilyun (5,51%) dan biaya untuk rawat jalan sebesar
Rp. 0,26 Trilyun (0,96%) (Kosen, 2012). Beban ekonomi yang terkait dengan
tembakau ini hampir 4 kali lipat lebih besar daripada pendapatan negara dari
cukai rokok tahun 2010 ( Rp. 63,2 Trilyun).
Prevalensi perokok di Indonesia adalah terbesar ke 3 dunia setelah Negara
Cina dan India. Menurut survey WHO pada tahun 2002, jumlah perokok di
Indonesia sangat mengkhawatirkan, lebih dari setengah populasi merupakan
perokok aktif, terdapat 63,5% perokok laki-laki, dan 4,5% perokok perempuan.
Ditemukan juga bahwa sekitar 69,1 % pria Indonesia berusia 20 tahun atau lebih
merokok secara reguler dengan jumlah yang lebih tinggi di daerah pedesaan yaitu
74% (Jamal, 2006).
Anak-anak dari keluarga merokok cenderung mengikuti jejak yang sama
dengan orang tuanya. Remaja yang berasal dari keluarga konservatif akan lebih
sulit untuk terlibat dengan rokok atau obat-obatan dibandingkan dengan keluarga
yang permisif dan yang mempunyai pengaruh paling kuat yaitu orang tuanya
sendiri sebagai figur perokok dil ingkungannya (Nasution, 2007). Dan menurut
Sumiyati (2007), faktor orang tua yang menyebabkan perilaku merokok pada
remaja adalah 20,41%.
Pemerintah berupaya untuk mengurangi jumlah perokok pemula melalui
Peraturan Pemerintah (PP) nomor 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan
yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Pasal 25
PP 109 Tahun 2012 dengan jelas dikatakan setiap orang dilarang menjual produk
tembakau menggunakan mesin layan diri, kepada anak di bawah usia 18 tahun,
dan kepada perempuan hamil. Pada pasal 26 dikatakan pemerintah melakukan
2
pengendalian iklan produk tembakau. Dalam rencana pembangunan jangka
menengah nasional 2015 sampai 2019, ditargetkan bisa menurunkan jumlah
perokok pemula dari angka 7 lebih mnjadi 5,2%. Tetapi pada tahun 2016
angkanya naik menjadi 8,8% (Depkes, 2017)
Pada tahun 2014, telah terdapat 127 kabupaten / kota di 32 provinsi yang
memiliki Peraturan Darah (Perda) terkait Kawasan Tanpa Rokok. Langkah ini
sangat penting demi melindungi masyarkat dari ancaman gangguan kesehatan
akibat lingkungan yang tercemar asap rokok (Depkes, 2014). Pemerintah
Kabupaten Bulukumba juga telah menetapkan Peraturan Daerah (Perda) No. 2
Tahun 2015 tentang kawasan tanpa rokok, yang bertujuan untuk terciptanya
kawasan sehat yang sesuai dengan PP No. 109 Tahun 2012 (Fajar, 2015). Sangat
banyak juga publikasi ilmiah terkait rokok, buku-buku yang diterbitkan terkait
dampak rokok, dan komunitas yang bertujuan untuk mengurangi jumlah perokok
karena dampak yang ditimbulkan sangat buruk baik itu untuk individu atau untuk
Negara.
Dari penelitian ini, peneliti ingin melihat faktor-faktor apakah yang
mempengaruhi kepatuhan remaja terhadap Peraturan Kawasan Tanpa Rokok
khususnya di lingkungan sekolah yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA) /
sederajat.
1.2 Rumusan Masalah
Penerapan Perda tentang Kawasan Tanpa Rokok merupakan salah satu upaya
pemerintah untuk mengurangi dampak dari rokok dan solusi yang tepat untuk
menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih. Salah satu kawasan yang penting
adalah sekolah terutama sekolah menengah atas atau sederajat.
Berdasarkan masalah yang dihadapi tersebut maka penting diketahui
3
a) Bagaimanakah pengaruh latar belakang perilaku merokok dengan kepatuhan
remaja terhadap Peraturan
Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah wilayah
Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
b) Bagaimanakah pengaruh pengetahuan tentang bahaya kandungan rokok
dengan kepatuhan remaja terhadap Peraturan Kawasan Tanpa Rokok di
Sekolah wilayah Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
c) Bagaimanakah pengaruh pengetahuan tentang peraturan Kawasan Tanpa
Rokok dengan kepatuhan remaja terhadap Peraturan Kawasan Tanpa Rokok
di Sekolah wilayah Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
d) Bagaimanakah pengaruh sarana dan prasarana dengan kepatuhan remaja
terhadap Peraturan Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah wilayah Kecamatan
Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
e) Bagaimanakah pengaruh perilaku merokok kepala sekolah / penanggung
jawab dengan kepatuhan remaja terhadap Peraturan Kawasan Tanpa Rokok di
Sekolah wilayah Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
f) Bagaimanakah pengaruh sikap kepala sekolah / penanggung jawab dengan
kepatuhan remaja terhadap Peraturan Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah
wilayah Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor kepatuhan
remaja terhadap Peraturan Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah wilayah
Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
4
1.3.2 Tujuan Khusus
a) Mengetahui pengaruh latar belakang perilaku merokok terhadap
kepatuhan remaja pada Peraturan
Kawasan Tanpa Rokok di
Sekolah wilayah Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
b) Mengetahui pengaruh pengetahuan tentang bahaya kandungan
rokok terhadap kepatuhan remaja pada Peraturan Kawasan Tanpa
Rokok di Sekolah wilayah Kecamatan Bulukumpa Kabupaten
Bulukumba.
c) Mengetahui pengaruh pengetahuan tentang peraturan Kawasan
Tanpa Rokok terhadap kepatuhan remaja pada Peraturan Kawasan
Tanpa Rokok di Sekolah wilayah Kecamatan Bulukumpa
Kabupaten Bulukumba.
d) Mengetahui pengaruh sarana dan prasarana terhadap kepatuhan
remaja pada Peraturan Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah wilayah
Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
e) Mengetahui
pengaruh
penanggung jawab
perilaku
merokok
kepala
sekolah
/
terhadap kepatuhan remaja pada Peraturan
Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah wilayah Kecamatan Bulukumpa
Kabupaten Bulukumba.
f) Mengetahui pengaruh sikap kepala sekolah / penanggung jawab
terhadap kepatuhan remaja pada Peraturan Kawasan Tanpa Rokok
di Sekolah wilayah Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
5
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Rokok
2.1.1 Pengertian Rokok
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009
Tentang Kesehatan, rokok merupakan salah satu zat adiktif yang bila
digunakan dapat mengakibatkan bahaya kesehatan bagi individu dan
masyarakat. Zat adiktif lain sebagaimana yang telah ditetapkan pemerintah
meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau, padat, cairan,
dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan
kerugian bagi dirinya dan atau masyarakat sekelilingnya.
Berdasarkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri
Dalam Negeri No. 188/MENKES/PB/I/2011 No. 7 Tahun 2011 Tentang
Pedoman Kawasan Tanpa Rokok telah disebutkan bahwa rokok adalah salah
satu produk tembakau yang dimaksudkan untuk dibakar, dihisap, dan atau
dihirup termasuk rokok kretek, rokok putih, cerutu, atau bentuk lainnya
yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana Tabacum, Nicotiana Rustica, dan
spesies lainnya atau sintesisnya yang asanya mengandung nikotin dan tar,
dengan atau tanpa bahan tambahan.
Kebiasaan
merokok
mendatangkan
banyak
bahaya,
yaitu
meningkatkan angka kematian pada penderita asma, pneumonia, influenza
dan penyakit sitem pernapasan lainnya. Sebagian besar pendertia penyakit
paru obstruktif kronik adalah akibat menghirup asap rokok. Angka infeksi
sisem pernapasan berkurang pada orang yang berhenti merokok dibandingkan
dengan yang tetap merokok (Djojodibroto, 2014).
6
2.1.2 Kandungan Rokok
Nikotin adalah zat, atau bahan senyawa pyrrolidine yang terdapat
dalam nicotiana tabacum, nicotiana rustica dan spesies lainnya atau
sintetisnya yang bersifat adiktif dapat mengakibatkan ketergantungan.
Tar adalah kondensat asap yang merupakan total residu dihasilkan
saat Rokok dibakar setelah dikurangi Nikotin dan air, yang bersifat
karsinogenik.
Kandungan
naftalene
lain,
seperti: gas CO, aceton (bahan pembuat cat),
(bahan pembuat kapur barus), arsenic (elemen metaloid, yang
membentuk sejumlah komponen beracun), methanol (bahan bakar roket),
vinyl chloride (bahan plastic PVC), phenol butane (bahan bakar korek
api), potassium nitrat (bahan baku pembuatan bom dan pupuk), polonium-201
(bahan radioaktif), ammonia (bahan untuk pencuci lantai), DDT (digunakan
untuk racun
serangga), hydrogen cyanide (gas beracun), dan cadmium
(digunakan untuk aki mobil).
2.2 Peraturan Kawasan Tanpa Rokok
2.2.1 Penjelasan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri
Dalam Negeri No. 188/MENKES/PB/I/2011 No. 7 Tahun 2011 Tentang
Pedoman Kawasan Tanpa Rokok
Pengaturan Pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok oleh pemerintah
ini bertujuan untuk :
1. Memberikan acuan bagi pemerintah daerah dalam menetapkan
Kawasan Tanpa Rokok.
2. Memberikan perlindungan yang efektif dari bahaya asap rokok.
3. Memberikan ruang dan lingkungan yang bersih dan sehat bagi
masyarakat.
7
4. Melindungi kesehatan masyarakat secara umum dari dampak
buruk merokok baik secara langsung maupun tiddak langsung.
Pada peraturan ini, disebutkan bahwa pemerintah daerah wajib
menetapkan Kawasan Tanpa Rokok di setiap wilayahnya. Kawasan
Tanpa Rokok yang tercantum adalah :
1. Fasilitas pelayanan kesehatan
Suatu
alat
dan/atau
tempat
yang
digunakan
untuk
menelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif,
preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh
pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
2. Tempat proses belajar mengajar
Gedung yang digunakan untuk kegiatan belajar, mengajar,
pendidikan dan/atau pelatihan.
3. Tempat anak bermain
Area tertutup maupun terbuka yang digunkan untuk kegiatan
bermain anak-anak.
4. Tempat ibadah
Bangunan atau ruang tertutup yang memiliki ciri-ciri tertentu
yang khusus dipergunakan untuk beribadah bagi para pemeluk
masing-masing agama secara permanen, tidak termasuk tempat
ibadah keluarga.
5. Angkutan umum
Alat angkutan bagi masyarakat yang dapat berupa kendaraan
darat, air, dan udara biasanya dengan kompensasi.
8
6. Tempat kerja
Tiap ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka, bergerak atau
tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau yang dimasuki ternaga
kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber
atau sumber-sumber bahaya.
7. Tempat umum
Semua tempat tertutup yang dapat diakses oleh masyarakat
umum dan/atau tempat yang dapat dimanfaatkan bersama-sama
untuk kegiatan masyarkat yang dikelola oleh pemerintah,
swasta, dan masyarakat.
8. Tempat lainnya yang ditetapkan
Tempat terbuka yang dapat dimanfaatkan bersama-sama untuk
kegiatan masyarakat.
Kawasan Tanpa Rokok juga dapat menyediakan tempat khusus
untuk merokok dengan memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Merupkan ruang terbuka atau ruang yang berhubungan
langsung dengan udara luar sehingga udara dapat
bersirkulasi dengan baik.
2. Terpisah dari gedung/tempat/ ruang utama dan ruang lain
yang digunakan untuk beraktivitas
3. Jauh dari pintu masuk dan keluar.
4. Jauh dari tempat orang berlalu-lalang.
9
2.2.2 Penjelasan Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba Nomor 2
Tahun 2015 Tentang Kawasan Tanpa Rokok
Isi pada peraturan daerah Kabupaten Bulukumba No. 2 Tahun
2015 kurang lebih sama dengan Peraturan Bersama Menkes dan
Mendagri No. 188?MENKES/PB/I/2011 No. 7 Tahun 2011.
Pimpinan
atau
penanggung
jawab
tempat
tersebut
wajib
menerapkan Kawasan Tanpa Rokok. Setiap orang dilarang untuk
merokok,
menjual,
mengiklankan
dan
mempromosikan
produk
tembakau di tempat atau area yang dinyatakan sebagai Kawasan Tanpa
Rokok. Pimpinan atau penanggung jawab tempat tesebut dapat
menyediakan tempat khusus untuk merokok dengan ketentuan tertentu.
Setiap orang dilarang menjual produk tembakau menggunakan
mesin layan diri, kepada anak dibawah usia 18 tahun, dan kepada
perempuan hamil.
Pemerintah daerah juga harus melakukan pengendalian iklan
produk tembakau yang di lakukan pada media luar ruang. Ketentuan
untuk pemasangan iklan produk tembakau sebagai berikut :
1. Tidak diletakkan di Kawasan Tanpa Rokok.
2. Tidak diletakkan di jalan utama atau protokol.
3. Harus diletakkan sejajar dengan bahu jalan dan tidak boleh
memotong jalan atau melintang.
4. Tidak boleh melebihi ukuran 72 m2.
5. Tidak boleh melanggar ketentuan tata ruang yang telah ditetapkan
oleh pemerintah Daerah.
Pemerintah daerah juga dapat menyelenggarakan iklan layanan
10
masyarakat mengenai bahaya menggunakan rokok, untuk memenuhi
akses tersedianya informasi dan edukasi kesehatan masyarakat.
Pemerintah juga mengharapkan peran serta dari masyrakat dalam
menyukseskan Kawasan Tanpa Rokok untuk mewujudkan tempat atau
lingkungan yang bersih dan sehat serta bebas dari asap rokok. Peran
masyarakat bisa dalam bentuk sebagai berkut :
1. Pengaturan Kawasan Tanpa Rokok diligkungan masing-masing.
2. Penyampaian saran, masukan, dan pendapat dalam penetapan,
pelaksanaan, dan evaluasi kebijakan penyelenggaraan Kawasan
Tanpa Rokok.
3. Keikutsertaan dalam kegiatan penyelenggaraan dan pengendalian
penyelenggaraan Kawasan Tanpa Rokok melalui pengawasan
sosial.
Pemerintah daerah memfasilitasi adanya peran dari masyarakat
dalam bentuk penyediaan bantuan yang diperlukan bagi terwujudnya
Kawasan Tanpa Rokok.
Bupati juga melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap
penyelenggaraan Kawasan Tanpa Rokok di daerah. Pembinaan dan
pengawasan dilakukan daengan membentuk tim yang ditetapkan
dengan keputusan bupati. Bupati juga dapat melimpahkan kepada
camat untuk pembinaan dan pengawasan dalam tingkat desa dan
kelurahan.
Bupati melakukan pembinaan atas penyelenggaran program tersebut
dengan cara :
11
1. Mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok.
2. Mencegah perokok pemula dan melakukan konseling untuk
tidak merokok.
3. Memberikan
informasi,
edukasi,
dan
pengembangan
kemampuan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat.
4. Bekerja sama dengan badan / atau lembaga internasional atau
organisasi kemasyarakatan untuk menyelenggarakan Kawasan
Tanpa Rokok.
5. Memberikan penghargaan kepada orang yang telah berjasa
dalam membantu penyelnggaraan Kawasan Tanpa Rokok.
Bupati melakukan pengawasan dengan mengambil tindakan
administratif terhadap pelanggaran ketentuan dalam peraturan daerah.
Pengawasan ini dilakukan untuk mengetahui ketaatan setiap orang
terhadap ketentuan tentang penjualan, iklan sponsor, dan Kawasan
Tanpa Rokok, dan mengetahui ketaatan pimpinan atau penaggung
jawab Kawasan Tanpa Rokok terhadap ketentuan penyelenggaran
Kawasan Tanpa Rokok.
Pimpinan atau penanggung jawab Kawasan Tanpa Rokok wajib
melakukan pengawasan terhadap setiap orang yang merokok,
memproduksi, menjual mengiklankan, dan/atau mempromosikan
produk tembakau di Kawasan Tanpa Rokok yang menjadi wilayah
kerjanya. Dalam hal ini, pimpinan atau penanggung jawab berwenang:
a) Menegur setiap orang yang merokok, memproduksi, menjual,
mengiklankan, dan / atau mempromosikan produk tembakau di
12
Kawasan Tanpa Rokok yang menjadi wilayah kerjanya.
b) Memerintahkan setiap orang yang tidak mengindahkan teguran
untuk meninggalkan Kawasan Tanpa Rokok.
c) Menghentikan penjualan, iklan, dan / atau promosi produk
tembakau.
Setiap orang, lembaga dan / atau badan yang melanggar ketentuanketentuan yang telah ditetapkan, dikenakan sanksi administratif.
Sanksi tersebut dapat berupa :
a) Teguran.
Teguran diberikan dalam bentuk teguran lisan, kemudian
teguran tertulis yang dilaksanakan 3 tahapan. Jika teguran tidak
diindahkan maka dikenakan sanksi berupa denda administratif,
pembekuan dan/atau pencabutan izin.
b) Pembekuan dan/atau pencabutan izin.
c) Denda administratif.
Denda untuk perorangan paling sedikit Rp 50.000,- dan paling
banyak Rp 100.000,- untuk setiap kali pelanggaran. Denda
untuk lembaga/ badan paling sedikit Rp 1.000.000,00 dan/atau
penegelan. Denda ini dapat disetor ke kas daerah jika
pemerintah daerah dapat menyelesaikan permasalahan tanpa
melalui pengadilan.
d) Sanksi lain seseuai ketentuan perundang-undangan
13
2.3 Teori Kepatuhan
Ada beberapa teori yang menjelaskan
tentang perilaku di bidang
kesehatan, seperti teori ABC yang dicetuskan oleh Sulzer, Azaroff dan Mayer
tahun 1977, Teori Reaction-action yang dicetuskan oleh Fesbein dan Ajzen
pada tahun 1980, Teori Thought and Feeling yang dirumuskan oleh WHO
pada tahun 1984 dan Teori Preced-Proced yang dicetuskan oleh Lawrence
Green tahun 1991. Dari sekian banyak teori perilaku kesehatan yang ada,
Teori Lawrence Green merupakan yang paling populer dan paling banyak
digunakan karena mudah dimengerti. Teori Lawrence Green membagi faktor
yang mempengaruhi perilaku kesehatan masyarakat menjadi 3 faktor utama,
faktor predisposisi (Predisposing factor), faktor pemungkin (Enabling factor)
dan faktor penguat (reinforcing factor) (Notoatmojo, 2003).
Untuk
Mempelajari
faktor
yang
mempengaruhi
kepatuhan
pelaksanaan Perda KTR, teori yang paling cocok digunakan adalah Teori
Lawrence Green tentang kesehatan. Kepatuhan terhadap Perda KTR pada
dasarnya merupakan perilaku orang-orang yang berada pada suatu kawasan
untuk tidak merokok di wilayah tersebut.Kepatuhan pelaksanaan Perda KTR
sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat yang berada di wilayah tersebut
beserta penanggung jawab pada wilayah tersebut (Devhy, 2014).
Dalam pendekatan menggunakan teori Lawrence Green, faktor
predisposisi bagi remaja di Sekolah meliputi : latar belakang perilaku
merokok, pengetahuan tentang bahaya kandungan rokok, pengetahuan
tentang peraturan yang berlaku. Faktor pemungkin yaitu ketersediaan sarana
dan prasarana yang dapat berupa : penyediaan fasilitas pendukung seperti
pemberian stiker tanda dilarang merokok, poster dan juga sarana / prasarana
14
lainnya yang dapat menunjang untung berlangsungnya peraturan tersebut.
Faktor penguat merupakan tauladan yang bisa diambil dari orang
berpengaruh di wilayah tersebut, meliputi : perilaku merokok dan sikap
kepala sekolah/ penanggung jawab.
15
BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Konsep Penelitian
Faktor Predisposisi :
1. Latar Belakang Perilaku
Merokok
2. Pengetahuan tentang
bahaya kandungan rokok
3. Pengetahuan tentang
peraturan Kawasan Tanpa
Rokok
Faktor Pemungkin :
Kepatuhan terhadap
peraturan Kawasan
Tanpa Rokok
1. Tersedianya sarana dan
prasarana penunjang
Faktor Penguat :
1. Sikap dan perilaku
merokok kepala sekolah/
penanggung jawab
3.2 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan konsep penelitian diatas, dapat disusun hipotesis sebagai
berikut :
1. Latar Belakang perilaku merokok
mempengaruhi kepatuhan remaja
terhadap peraturan Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah wilayah Kecamatan
Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
16
2. Pengetahuan tentang bahaya kandungan rokok mempengaruhi kepatuhan
remaja terhadap peraturan Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah wilayah
Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
3. Pengetahuan tentang peraturan Kawasan Tanpa Rokok mempengaruhi
kepatuhan remaja terhadap peraturan Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah
wilayah Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
4.
Tersedianya sarana dan prasarana mempengaruhi kepatuhan remaja
terhadap peraturan Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah wilayah Kecamatan
Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
5. Perilaku Merokok penanggung jawab wilayah mempengaruhi kepatuhan
remaja terhadap peraturan Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah wilayah
Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
6. Sikap Penanggung jawab
mempengaruhi kepatuhan remaja terhadap
peraturan Kawasan Tanpa Rokok di sekolah wilayah Kecamatan
Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
17
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat observasional dengan
rancangan yang digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas dengan
variabel tergantung yaitu dengan cross-sectional analitik.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Pengambilan data pada penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kecamatan
Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi-selatan. Data ini diambil
selama 2 bulan, yaitu Bulan Juli dan Bulan Agustus tahun 2017.
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian
4.3.1 Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah semua siswa SMA atau sederajat yang
berada di wilayah Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba.
4.3.2 Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini diambil dari semua anggota populasi yaitu siswa
laki-laki yang merokok dan bersedia mengisi kuisioner di SMA atau sederajat
wilayah Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba
Jumlah sampel minimal diambil menurut rumus Slovin (2010) untuk
jumlah populasi yang diketahui, yaitu
n = N : (1+Ne2)
Keterangan
n = Jumlah sampel
18
N = Total Populasi yaitu jumlah siswa laki-laki SMA atau sederajat di Kecamatan
Bulukumpa (1.115)
e = Tingkat Kesalahan yang diinginkan (0,10%)
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, jumlah sampel minimal yang
dibutuhkan adalah 92 orang.
4.4 Variabel Penelitian
Variabel
Definisi Operasional
Cara Ukur
Skala
Nominal
Variabel Terikat
Kepatuhan
Kepatuhan remaja terhadap
Responden
Terhadap
peraturan Kawasan Tanpa Rokok
mengisisi
Peraturan
dinilai menggunakan kuisioner
kuisioner
Kawasan Tanpa
untuk mendeskripsikan
secara
Rokok di
kepatuhannya di sekolah. Yaitu
mandiri
Sekolah
remaja tidak merokok di sekolah
Variabel Bebas
Latar Belakang
Latar Belakang perilaku merokok
Responden
Perilaku
dipengaruhi oleh lingkungan atau
mengisisi
merokok
tidak
kuisioner
Nominal
secara
mandiri
Pengetahuan
Pengetahuan remaja tentang bahaya
Responden
tentang bahaya
kandungan pada rokok
mengisisi
kandungan
kuisioner
19
Nominal
rokok
secara
mandiri
Pengetahuan
Pengetahuan masyarakat tentang
Responden
tentang
peraturan KTR yang ditetapkan
mengisisi
peraturan
yaitu Peraturan Bersama Menkes
kuisioner
Kawasan Tanpa
dan Mendagri Tahun 2011 dan
secara
Rokok
Peraturan Daerah Kabupaten
mandiri
Nominal
Bulukumba No. 2 Tahun 2015.
Sarana dan
Fasiltas yang mendukung
Observasi
prasarana
berlangsungnya Kawasan Tanpa
menggunakan
Rokok merupakan stiker dan
lembar
spanduk yang diletakkan di sekitar
observasi
Nominal
sekolah.
Perilaku
Guru adalah wali kelas di setiap
Wawancara
merokok guru
sekolah.
terstruktur
Nominal
menggunakan
kuisioner
Sikap
Penanggung jawab adalah Kepala
Wawancara
penanggung
sekolah.
terstruktur
jawab
menggunakan
kuisioner
20
Nominal
4.5 Instrumen Penelitian dan Teknik Pengambilan Data
Data variabel terikat dan data variabel bebas untuk variabel latar belakang
perilkau merokok, pengetahuan tentang bahaya kandungan rokok, pengetahuan
tentang Peraturan Kawasan Tanpa Rokok dikumpulkan dengan kuisioner
(terlampir) yang diisi oleh responden. Variabel sarana dan prasarana diambil
dari hasil observasi sesuai form observasi (terlampir), dan variabel untuk guru
dan
penanggung
jawab
dikumpulkan
melalui
wawancara
tersturktur
menggunakan kuisioner (terlampir).
4.6 Analisis Data
Sebelum dilakukan analisis dilakukan cleaning, coding, tabulasi data dan
kemudian data dimasukkan ke dalam komputer. Data primer yang berupa data
deskriptif akan disajikan dalam bentuk tabel dengan gambar atau diagram.
Kemudian data dianalisis menggunakan uji chi-square dan apabila p≤0,05
maka hipotesis nol akan ditolak. Analisis data dilakukan menggunakan
program SPSS (Statistical Package for Social Sciense).
21
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN
5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Atas (SMA) atau
sederajat di Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba SulawesiSelatan. Jumlah sekolah yang dilakukan penelitian yaitu 6 sekolah,
sesuai jumlah sekolah SMA atau sederajat di Kecamatan Bulukumpa.
Sekolah-sekolah tersebut adalah SMAN 2 Bulukumba dan MAN 1
Bulukumba yang terletak di Kelurahan Tanete, SMA 14 Bulukumba di
Desa Salassae, SMKN 8 Bulukumba di Desa Bontominasa, SMKN 11
Bulukumba di Desa Sapobonto, dan MAS Darul Qalam yang terletak
di Desa Barugae.
5.2 Karakteristik Demografi Responden
Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu 97 orang siswa sesuai
kriteria yang telah ditentukan. Informasi didapatkan menggunakan
kuisioner yang dibagikan di sekolah masing-masing.
Jumlah siswa yang paling banyak adalah kelas dua belas (67). Dari
enam sekolah yang dilakukan tempat penelitian, didapatkan paling
banyak berasal dari sekolah SMAN 2 Bulukumba (21). Didapatkan
juga jumlah perokok dengan konsumsi sedang-berat yaitu lebih dari
satu bungkus dalam sehari adalah 23% (Tabel 5.1).
22
Tabel 5.1
Karakteristik Responden
Karakteristik Responden
Frekuensi (f)
Presentasi (%)
X
16
16,5
XI
19
19,6
XII
62
63,9
SMAN 2 Bulukumba
21
21,6
SMAN 14 Bulukumba
19
19,6
MAN 1 Bulukumba
8
8,2
MAS Darul Qalam
10
10,3
SMKN 8 Bulukumba
19
19,6
SMKN 11 Bulukumba
20
20,6
Sedang-Berat(>1bungkus setiap hari)
23
23,7
Ringan (<1bungkus)
74
76,3
Kelas
Sekolah
Riwayat Konsumsi Rokok
5.3 Pengaruh Latar Belakang Perilaku Merokok terhadap Kepatuhan
Latar Belakang Perilaku merokok responden dinilai dengan
menggunakan kuisioner yang berisi 7 buah pertanyaan. Setiap soal
memiliki poin 1 atau 2, jika jumlah poin ≤10 maka interpretasinya
adalah perilaku merokok tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Jika
lebih dari itu maka dinilai sebagai perilaku merokok yang
dipengaruhi oleh lingkungan.
23
Tabel 5.2
Pengaruh Latar Belakang Perilaku Merokok terhadap Kepatuhan KTR di
SMA/Sederajat di Kecamatan Bulukumpa
Kepatuhan
Nilai
Variabel
Patuh,
Tidak Patuh,
f(%)
f(%)
Total
P
Perilaku Merokok
24(52,2%)
22(47,8%)
46(100%)
dipengaruhi oleh lingkungan
0,510
Perilaku Merokok Tidak
30(58,8%)
21(41,2%)
51(100%)
54(59,5%)
43(40,5%)
97(100%)
dipengaruhi oleh lingkungan
Total
Tabel 5.2 menunjukkan jumlah siswa dengan perilaku merokok
yang dipengaruhi oleh lingkungan dan patuh adalah 24, dimana
jumlah ini lebih banyak dari siswa yang tidak patuh yaitu 22 orang,
walaupun perbedaan nilainya tidak jauh. Dari hasil analisis ini juga
didapatkan siswa dengan perilaku merokok tidak dipengaruhi oleh
lingkungan dan patuh adalah 30, dan lebih banyak dari yang tidak
patuh yaitu 21 orang. Dari hasil ini, tidak ditemukan pengaruh
terhadap kepatuhan dengan nilai p ≥ 0,05.
24
5.4 Pengaruh Pengetahuan Tentang Bahaya Kandungan Rokok terhadap
Kepatuhan
Pengetahuan tentang Bahaya Kandungan rokok dinilai
menggunakan kuisioner dengan jumlah pertanyaan 9 soal. Setiap
soal memiliki poin 1 atau 2 sehingga jika total poin ≥16 maka
interpretasinya adalah responden mengetahui tentang bahaya
kandungan rokok.
Tabel 5.3
Pengaruh Pengetahuan Tentang Bahaya Kandungan Rokok terhadap
Kepatuhan KTR di SMA/Sederajat di Kecamatan Bulukumpa
Kepatuhan
Nilai
Tidak
Variabel
Patuh, f(%)
Patuh,
Total
P
f(%)
Pengetahuan Tentang Bahaya
25(48,1%)
27(51,9%)
52(100%)
Kandungan Rokok Baik
0,106
Pengetahuan Tentang Bahaya
29(64,4%)
16(35,6%)
45(100%)
54(59,5%)
43(40,5%)
97(100%)
Kandungan Rokok Kurang
Total
Tabel 5.3 menunjukkan jumlah siswa yang mengetahui tentang
bahaya kandungan rokok dengan baik dan patuh adalah 25 orang,
dan yang tidak patuh lebih banyak yaitu 27 orang, walaupun
perbedaannya sangat sedikit. Dapat dilihat juga jumlah siswa dengan
pengetahuan tentang bahaya kandungan rokok kurang yaitu 29
25
orang, dan lebih banyak dibandingkan yang tidak patuh yaitu 16
orang. Berdasarkan analisis statistik yang dilakukan, tidak adanya
hubungan kepada dua variable tersebut dengan nilai P ≥ 0,05.
5.5 Pengaruh Pengetahuan Tentang KTR terhadap Kepatuhan
Tabel 5.4
Pengaruh Pengetahuan Tentang KTR terhadap Kepatuhan KTR di
SMA/Sederajat di Kecamatan Bulukumpa
Kepatuhan
Nilai
Tidak
Variabel
total
Patuh,
OR
P
Patuh,
f(%)
f(%)
Pengetahuan Tentang
Kawasan Tanpa Rokok
35(60,3%)
23(39,7%)
57(100%)
Baik
0,258
1,6
Pengetahuan Tentang
Kawasan Tanpa Rokok
19(48,7%)
20(51,3%)
39(100%)
54(59,5%)
43(59,5%)
97(59,5%)
Kurang
Total
Pengetahuan
tentang
Kawasan
Tanpa
Rokok
dinilai
menggunakan kuisioner dengan jumlah pertanyaan 10 soal. Setiap
26
soal memiliki poin 1 atau 2 sehingga jika total poin ≥16 maka
interpretasinya adalah responden mengetahui tentang Kawasan
Tanpa Rokok.
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa jumlah siswa yang mengetahui
tentang peraturan kawasan tanpa rokok dengan baik dan patuh adalah
jumlah yang terbanyak yaitu 35 orang (60,3%), sedangkan yang
tidak patuh yaitu 23 orang (39,7%). Hasil ini juga menunjukkan
jumlah siswa yang kurang mengetahui tentang Kawasan Tanpa
Rokok dan patuh adalah 19 orang dan lebih sedikit dari yang tidak
patuh yaitu 20 orang walaupun perbedaannya sangat dekat. Tidak
ditemukan adanya hubungan pada variable ini.
5.6 Pengaruh Tersedianya Sarana dan Prasarana terhadap Kepatuhan
Tersedianya sarana dan prasarana dinilai dengan observasi
langsung oleh peneliti, dengan melihat tiga kategori yaitu adanya
spanduk, pamphlet, atau kawasan khusus rokok. Jika salah satu dari
tiga tersebut ada, maka dinilai tersedianya sarana dan prasarana.
Hanya ada dua sekolah yang tersedia dari enam sekolah.
27
Tabel 5.5
Pengaruh Tersedianya sarana dan prasarana terhadap Kepatuhan KTR di
SMA/Sederajat di Kecamatan Bulukumpa
Kepatuhan
Nilai
Variabel
Tidak
Total
P
Patuh
Patuh
Sarana dan Prasarana Tidak
45(65,2%)
24(34,8%)
69(100%)
Tersedia
0,003
Sarana dan Prasarana Tersedia
Total
9(32,1%)
19(67,9%)
28(100%)
54(59,5%)
43(40,5%)
97(100%)
Tabel 5.5 menunjukkan murid yang sekolah dengan sarana dan
prasarana tersedia dan patuh, yaitu 9 orang dan yang tidak patuh
lebih banyak yaitu 19 orang. Sedangkan murid yang sekolah dengan
sarana dan prasarana tidak tersedia dan patuh ada 45 orang, dan yang
tidak patuh yaitu 69orang. Hasil analisis ini ditemukan hubungan,
tapi terbalik dari hipotesa yang diharapkan.
5.7 Pengaruh Perilaku Merokok Kepala Sekolah/Penanggung Jawab
terhadap Kepatuhan
Perilaku Merokok Kepala Sekolah/ Penanggung Jawab diukur
menggunakan kuisioner yang diisi oleh peneliti, Jika penanggung
jawab tidak merokok disekolah, maka perilaku merokok dinilai baik.
Penilaian penanggung jawab dimasukkan di setiap responden siswa.
28
Tabel 5.6
Pengaruh Perilaku Merokok Kepala Sekolah/Penanggung Jawab terhadap
Kepatuhan KTR di SMA/Sederajat di Kecamatan Bulukumpa
Kepatuhan
Nilai
Variabel
Total
Tidak
P
Patuh, f(%)
Patuh, f(%)
Perilaku Merokok Kepala
Sekolah / Penanggung Jawab
54(55,7%)
43(44,3%)
97(100%)
Baik
Perilaku Merokok Kepala
Sekolah / Penanggung Jawab
0
0
0
54(59,5%)
43(40,5%)
97(100%)
Kurang
Total
Tabel 5.6 menunjukkan bahwa semua kepala sekolah/
penanggung jawab di sekolah tersebut berperilaku merokok baik di
sekolah. Sehingga didapatkan data yang homogen.
5.8 Pengaruh Sikap Kepala Sekolah/Penanggung Jawab terhadap
Kepatuhan
Sikap kepala sekolah / penanggung jawab diukur menggunakan
kuisioner yang diisi oleh peneliti. Kuisioner terdiri dari 5 pernyataan,
jika salah satunya terdapat peryataan yang tidak disetuju, maka
hasilnya adalah kurang.
29
Tabel 5.7
Pengaruh Sikap Kepala Sekolah/Penanggung Jawab terhadap Kepatuhan
KTR di SMA/Sederajat di Kecamatan Bulukumpa
Kepatuhan
Nilai
Variabel
Tidak
Total
P
Patuh, f(%)
Patuh, f(%)
Sikap Kepala Sekolah /
47(54,7%)
39(45,3%)
86(100%)
Penanggung Jawab Baik
0,572
Sikap Kepala Sekolah /
7(63,6%)
4(36,4%)
11(100%)
54(59,5%)
43(40,5%)
97(100%)
Penanggung Jawab Kurang
Total
Tabel 5.7 menunjukkan bahwa siswa yang belajar di sekolah
dengan sikap kepala sekolah / penanggung jawab baik dan patuh
yaitu 47 orang dan yang tidak patuh lebih sedikit yaitu 39 orang.
Dari tabel ini juga didapatkan siswa yang belajar di sekolah dengan
sikap kepala sekolah/penanggung jawab kurang dan patuh lebih
banyak yaitu 7 orang dibandingkan yang tidak patuh yaitu 4 orang.
Dari hasil analisis ini tidak ditemukan adanya hubungan.
30
BAB 6
PEMBAHASAN
Perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk
hidup) yang bersangkutan. Sehingga yang dimaksud dengan perilaku
manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu
sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas. Intervensi terhadap
faktor perilaku secara garis besar dapat dilakukan memalui dua tahap: 1.
Paksaan, mengadopsi perilaku kesehatan dengan cara-cara tekanan, paksaan
yaitu bisa secara tidak langsung dalam bentuk undang-undang atau peraturan.
2. Pendidikan, mengadopsi perilaku kesehatan dengan cara persuasi, bujukan,
imbauan,dll. (Notoatmojo, 2012)
Meskipun perilaku adalah bentuk respons atau reaksi terhadap stimulus,
namun dalam memberikan respons sangat tergantung pada karakteristik atau
faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan. Fakto-faktor yang
membedakan respons berbeda tiap-tiap orang disebut determinan perilaku.
Determinan perilaku dapat dibedakan menjadi dua, yaitu Determinan internal
(karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat given) dan Determinan
ekternal yang termasuk lingkungan fisik, social, budaya, ekonomi, politik,
dan sebagainya (Notoatmojo, 2012).
Jumlah siswa terbanyak pada penelitian ini yaitu siswa SMAN 2
Bulukumba, hal ini dikarekan jumlah siswa pada sekolah ini khususnya lakilaki paling banyak diantara sekolah lain. Hampir sebagian besar siswa lakilaki pada sekolah SMK merupakan perokok, hal ini dapat dilihat dari jumlah
31
siswanya yang sedikit tetapi jumlah perokoknya berbeda sedikit dengan di
sekolah SMA.
Banyaknya jumlah siswa yang patuh dipengaruhi oleh banyak faktor, salah
satu faktor yaitu peraturan yang ditetapkan oleh pihak sekolah agar siswa
tidak merokok di sekolah dan adanya peneguran secara langsung. Tetapi
beberapa siswa masih merokok di sekolah dan melanggar Kawasan Tanpa
Rokok dengan cara bersembunyi atau merokok di tempat yang tidak lihat
oleh pihak sekolah.
Oleh Karena itu, peran pemerintah sangatlah penting, begitu juga
pengelola disetiap tempat yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Tanpa
Rokok dan semua masyarakat yang terlibat di lingkungan itu. Oleh karena itu
pedoman kawasan tanpa rokok akan dapat berhasil jika seluruh masyarakat
ikut berperan dalam mewujudkannya (Shirley dkk, 2016).
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang
untuk merokok, yang diperkirakan memiliki pengaruh juga terhadap
kepatuhan remaja terhadap peraturan kawasan tanpa rokok. Tentu dengan
lingkungan yang baik diharapkan remaja bisa mematuhi aturan kawasan
tanpa rokok. Pada penelitian ini, dapat dilihat bahwa jumlah siswa yang tidak
merokok di sekolah dan latar belakang perilaku merokoknya dipengaruhi
oleh lingkungan yaitu hampir sama dengan yang tidak dipengaruhi oleh
lingkungan. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh variabel yang digunakan
terlalu umum, sehingga tidak terjadi hubungan yang berarti.
Pengetahuan
siswa
tentang
bahaya
kandungan
rokok
tidak
memperlihatkan adanya hubungan terhadap kepatuhan kawasan tanpa rokok.
32
Hal ini disebabkan karena alat pengukuran/ kuisioner yang digunakan pada
penelitian ini tidak membahas pengetahuan remaja secara mendalam tentang
bahaya rokok pada perokok pasif, sehingga pengetahuan yang mendorong
seseorang untuk mematuhi kawasan tanpa rokok tidak diketahui secara pasti.
Hasil penelitian ini mendapatkan bahwa semua perilaku penanggung
jawab adalah baik, yaitu tidak ada kepala sekolah / penanggung jawab
sekolah yang merokok di sekolah. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh sikap
moral yang dimiliki oleh penanggung jawab sebagai pihak yang condong
diikuti atau dilihat oleh siswa.
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus. Newcomb, salah seorang ahli psikologis sosial
menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk
bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Menurut
Allport, sikap mempunyai tiga komponen pokok, yaitu Kepercayaan,
emosional dan kecenderungan untuk bertindak (Notoatmojo, 2012). Sehingga
sikap penanggung jawab pada penelitian ini kurang berpengaruh, dan adanya
faktor-faktor yang lebih dominan.
Program Kawasan Tanpa Rokok ini sangat berpengaruh dengan sikap
Penanggung Jawab jika adanya tindakan yang nyata seperti hukuman yang
tegas bagi pelanggar di tempat yang diberlakukan peraturan ini, sebagaimana
kesehatan masyarakat merupakan kegiatan politik yang harus didukung oleh
pemerintah tempat tersebut. Kekuasaan ini juga merupakan kemampuan
sebuah kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang lain atau
masyarakat lain, sehingga orang lain atau kelompok masyarakat tersebut
33
melaksanakan sesuai dengan apa yang diinginkan pemegang kekuasaan
tersebtut (Achmadi, 2008). Penelitian yang dilakukan prabandari, dkk(2009)
dengan jumlah sampel 463 mahasiswa FK UGM menyebutkan bahwa
sebagian besar mahasiswa berpendapat bahwa sanksi atau denda jika
seseorang merokok di kampus diperlukan. Hal ini menujukkan bahwa sikap
penanggung jawab sangat berperan dalam mengurangi jumlah perokok di
sekolah yang ditetapkan sebagai Kawasan Tanpa Rokok.
Dari 6 sekolah yang dinilai, hanya dua sekolah yang memiliki sarana dan
prasarana peraturan KTR dengan media yang sangat terbatas atau sangat
kurang. Dari data tersebut didapatkan adanya hubungan yang bermakna
antara tersedianya sarana dan prasarana terhadap kepatuhan dengan hasil
tidak tersedianya sarana dan prasarana maka meningkatkan jumlah
kepatuhan. Tentu hasil analisa ini tidak bisa dijadikan sebuah faktor yang
meningkatkan kepatuhan peraturan KTR.
Hal ini mungkin dipengaruhi oleh penilaian yang kurang objektif, dimana
sarana dan prasarana yang tersedia pada 2 sekolah hanya berupa pamphlet
kecil yang terpajang pada sekolah di beberapa titik yang sedikit dan tidak
bisa dilihat semua orang secara langsung karena ukurannya yang kecil.
Sarana dan prasarana harus dimiliki oleh pelaksana kebijakan untuk
menunjang peraturan tersebut berjalan dengan efektif dan efisien. Sarana dan
prasarana yang telah tersedia harus juga senantia diikuti oleh kinerja yang
lebih signifikan ( Azkha, 2013).
Untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan remaja
terhadap Kawasan Tanpa Rokok, maka dibutuhkan penyesuaian dengan teori
34
kepatuhan yang lain seperti determinan perilaku yang lebih spesifik. Faktor
yang perlu digali yaitu faktor internal remaja dan juga faktor eksternal yang
menggali lebih mendalam tentang faktor kepatuhan remaja tersebut. Pada
dasarnya setiap kategori umur dan lokasi pada populasi maka akan
menggambarkan hasil yang berbeda.
Dalam setiap penelitian tentu tidak bisa terbebas dari setiap keterbatasan,
begitu juga dengan penelitian ini. Sumber data pada penelitian ini yaitu data
primer yang sebagian variable diisi langsung oleh siswa. Sehingga adanya
bias hasil karena penilaian dari beberapa siswa remaja tidak menjawab
kuisioner sesuai keadaanya. Instrument kuisioner yang digunakan bukan
kuisioner yang baku digunakan nasional, tetapi improvisasi dari beberapa
jurnal yang dilakukan di Indonesia. Jumlah sample yang didapatkan terlalu
sedikit untuk bisa mendapatkan hasil yang lebih baik.
35
BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitia dan pembahasan maka dapat dibuat beberapa
simpulan sebagai berikut:
1. Latar Belakang Perilaku Merokok tidak mempengaruhi kepatuhan
remaja terhadap peraturan KTR di sekolah.
2. Pengetahuan Tentang Bahaya Kandungan Rokok tidak mempengaruhi
kepatuhan remaja terhadap peraturan KTR di sekolah.
3. Pengetahuan tentang Kawasan Tanpa Rokok tidak mempengaruhi
kepatuhan remaja terhadap peraturan KTR di sekolah.
4. Sarana dan prasarana tidak mempengarui kepatuhan remaja terhadap
peraturan KTR di sekolah.
5. Perilaku Merokok Penanggung Jawab tidak bisa dinilai dapat
mempengaruhi kepatuhan remaja terhadap peraturan KTR di sekolah.
6. Sikap Penanggung Jawab tidak mempengaruhi kepatuhan remaja
terhadap peraturan KTR di sekolah.
7.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitan, pembahasan dan simpulan yang diambil,
maka dapat dirumuskan saran sebagai berikut:
1. Meningkatkan kepatuhan remaja terhadap peraturan KTR dengan
adanya ketegasan yang dilakukan oleh pihak sekolah dengan
memberikan sanksi yang membuat siswa tidak melakukan pelanggaran
kembali.
36
2. Segala upaya untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang
peraturan KTR perlu dilakukan baik dalam bentuk sosialisasi atau
dengan cara lain.
3. Sarana dan prasarana yang mendukung peraturan KTR harus
disediakan di setiap tempat berlakunya peraturan KTR khususnya di
sekolah, dan jumlah yang disediakan harus disesuaikan dengan
keadaan sekolah sehingga semuanya mengetahui adaya peraturan
tersebut.
4. Perlunya penelitian yang lebih lanjut dengan instrument yang lebih
baik dan jumlah sample yang lebih banyak dengan pendekatan yang
lebih spesifk sehingga hasil yang didapatkan jelas.
37
Daftar Putaka
Achmadi UF, 2008. Horison Baru Kesehatan Masyarakat di Indonesia.
Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.
Adams ML, Jason LA, Pokomy S, Hunt Y, 2009. The Relationship
Between Tobacco School Policies and Youth Tobacco Use. Journal
of School Health ; 79(1):17-23
Albers AB et al, 2008. Household Smoking Bans and Adolescent
Antismoking Attidudes and Smokin Initiation : Findings From
Longitudinal Study of Massachusetts Youth Cohort. Pub Health;
98(10):1886-93
Azkha Nizwardi, 2013. Studi Efektivitas Penerapan Kebijakan Perda Kota
Tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dalam Upaya Menurunkan
Perokok Aktif di Suamtera Barat Tahun 2013. Jurnal Kebijakan
Kesehatan Indonesia ; Vol 02 No.4.
Astuti K, 2007. Mencari Prediktor Perilaku Merokok pada Remaja Awal.
Fakultas Psikologi, Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta.
Dalam Jurnal Riset Daerah Kabupaten Bantul, 1-5.
Crofton J dan Simpson D, 2009. Tembakau : Ancaman Global. Jakarta : PT
Elex Media Komputindo. p10
Depkes, 2017. Pemerintah Upakan Pengurangan Jumlah Perokok Pemula.
Dapat diakses di
http://www.depkes.go.id/article/view/17060200002/pemerintahupayakan-pengurangan-jumlah-perokok-pemula-.html
Depkes, 2014. Menkes : pemda Segera Terbitkan Regulasi KTR. Dapat
diakses di
http://www.depkes.go.id/article/view/201406040001/menkes-pemda-segera-terbitkan-regulasi-ktr-.html
Deverell M et al, 2006. Diffusion of Local Restauran Smoking Regulations
in Massachusetts : Identifying Disparities in Health Protection for
Population Subgroups. J Public Health Management Practice ;
12(3):262-9
38
Devhy NLP, 2014. Pengaruh Faktor Pengelola terhadap Kepatuhan
Pelaksanaan Peraturan Daerah Tentang Kawasan Tanpa Rokok pada
Hotel Berbintang di Kabupaten Bandung. Tesis, Universitas
Udayana, Indonesia.
Djojodibroto D, 2014. Bab Lain-lain dalam Respirologi. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC. pp230-231
Fajar, 2015. Bulukumba Terapkan Kawasan Tanpa Rokok. Dapat diakses
di http://fajar.co.id/2015/08/26/bulukumba-terapkan-kawasan-tanparokok/
Jamal S, 2006. Pria desa Berpendidikan Rendah, Perokok Terbanyak.
Jurnal Kedokteran dan Farmasi,33, 152-155.
Kosen S, 2012. Current Burden nd Economic Cost of Major Tobacco
Attributed Diseaes in Indonsia. Singapore : Presented at The World
Conferrence on Tobacco or Healh (WCTHOH)
Nasution IK, 2007. Perilaku Merokok pada Remaja. Program Studi
Psikoklogi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara Medan.
Notoatmojo S, 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat
cetakan Kedua. Jakarta : Rineka Cipta.
Notoatmojo S, 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta :
Rineka Cipta. pp137-140
Prabandari YS, 2009. Kawasan Tanpa Rokok Sebagai Alternatif
Pengendalian Tembakau Studi Efektivitas Penerapan Kebijakan
Kampus Bebas Rokok Terhadap Perilaku dan Status Merokok
Mahasiswa Di Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta. Jurnal
Manajemen Pelayanan Kesehatan, 12(04).
Shirley K F L, Wahyati E Y, Siarif J T, 2016. Kebijakan Tentang Pedoman
KawasanTanpa Rokok Dikaitkan dengan Asas Manfaat. Soepra,
2(1), 104-111
Soetjiningsih, 2010. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya.
Jakarta : Sagung Seto.
Sumiyati, 2007. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap Merokok pada
Remaja. Skripsi Strata Satu, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
39
Lampiran 1
RIWAYAT HIDUP PENULIS
Nama
: Muhammad Fikri Hadju
NIM
: C111 14 350
Tempat Tanggal Lahir : Maros, 7 November 1996
Alamat
: Darul Istiqomah Maccopa Maros, Sulawesi-Selatan
Agama
: Islam
Suku
:-
Nama Orang Tua
Ayah
: Veni Hadju
Ibu
: Helmi Arbie
Riwayat Pendidikan
Tahun 2002 Lulus TK Darul Istiqomah
Tahun 2008 Lulus SDITQ Al-Irsyad Tengaran
Tahun 2011 Lulus MTs Al-Iryad Tengaran
Tahun 2014 Lulus MA Daar El-Qolam Tanggerang
Tahun 2014-Sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
40
Lampiran 2 . Lembar pengantar penelitian
(diisi oleh peneliti)
Tanggal
:...................................................................................................
PENGANTAR
Nama saya Muhammad Fikri Hadju, mahasiswa semester VI Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin, sedang melakukan penelitian tentangFaktor
Kepatuhan Remaja terhadap Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok Di
Sekolah Wilayah Kecamatan Bulukumpa.
Respon yang anda berikan dalam kuisioner ini akan kami rahasiakan. Data
pribadi yang tercantum disebarluaskan secara umum. Dengan demikian, identitas
anda akan terjamin sesuai dengan pernyataan ketersediaan yang anda isi. Kami
meminta bantuan anda untuk mengisi kuisioner ini dengan sejujur-jujurnya,
untuk kesesuaian hasil penelitian dengan data yang ada.
Terima kasih atas perhatian dan partisipasi anda.
Bulukumba, Agustus 2017
Peneliti,
Muhammad Fikri Hadju
41
Lampiran 3 . Lembar kuesioner penelitian
No responden :
KUESIONER PENELITIAN
Latar Belakang Perilaku Merokok, Pengetahuan Tentang Bahaya
Kandungan Rokok, Pengetahuan Tentang Peraturan Kawasan Tanpa
Rokok, dan Kepatuhan Remaja Terhadap Peraturan Kawasan Tanpa
Rokok di Sekolah
I.
Karakteristik
1. Nama
:
2. Umur
:
th
3. Alamat
:
4. Nama Sekolah :
II. Latar Belakang Perilaku Merokok
1. Apakah anda merokok?
a. Ya
b. Tidak
2. Apakah anda menghabiskan >1 bungkus rokok setiap hari ?
a. Ya
b. Tidak
3. Apakah alasan anda merokok karena terpengaruh orang lain ?
a. Ya
b. Tidak
4. Apakah anda merokok pada pertama kali bersama teman-teman ?
a. Ya
b. Tidak
5. Apakah orang tua anda merokok ?
a. Ya
b. Tidak
6. Apakah orang-orang di sekitar lingkungan anda juga merupakan perokok ?
a. Ya
b. Tidak
7. Apakah iklan rokok yang menarik dapat membuat anda ingin mencoba
produk tersebut ?
a. Ya
b. Tidak
8. Apakah iklan rokok yang menarik dapat membuat anda ingin mencoba
produk tersebut ?
a. Ya
b. Tidak
9. Apakah menurut anda, merokok merupakan lambang kejantanan seorang pria?
42
a. Ya
b. Tidak
III. Pengetahuan Tentang Bahaya Kandungan Rokok
1. Apakah anda mengetahui bahaya dari kandungan rokok ?
a. Ya
b. Tidak
2.
Selain tar dan nikotin, apakah anda mengetahui kandungan berbahaya lainnya
didalam rokok ?
a. Tahu
b. Tidak tahu
3.
Apakah kandungan seperti gas CO, aceton, arsenic, methanol, dll juga terdapat
didalam sebatang rokok ?
a. Ya
b. Tidak
4.
Apakah anda mengetahui efek dari zat berbahaya didalam rokok tersebut dapat
mengakibatkan bahaya pada tubuh ?
a. Tahu
b. Tidak tahu
5. Apakah anda mengetahui rokok dapat membahayakan kesehatan paru- paru?
a. Tahu
b. Tidak tahu
6. Apakah anda mengetahui rokok dapat membahayakan kesehatan organ lain selain
paru-paru ?
a. Tahu
b. Tidak tahu
7. Menurut anda, apakah organ seperti : ginjal, pankreas, kantung kemih, dan leher
rahim dapat juga terganggu akibat rokok ?
a. Ya
b. Tidak
8.
Dari pengetahuan mengenai bahaya rokok yang anda ketahui, menurut anda
apakah rokok juga dapat menyebabkan gangguan kehamilan pada wanita ?
a. Ya
b. Tidak
9. Apakah rokok dapat mengganggu kesehatan tulang dan darah ?
a. Ya
b. Tidak
43
IV. Pengetahuan Tentang Peraturan Kawasan Tanpa Rokok
1.
Apakah anda mengetahui mengenai Kawasan Tanpa Rokok ?
a. Tahu
b. Tidak Tahu
2. Apakah anda mengetahui bahwa pemerintah telah mengeluarkan peraturan
mengenai Kawasan Tanpa Rokok melalui Peraturan Bersama Menteri Kesehatan
dan Menteri Dalam Negeri No.188/MENKES/PB/I/2011 No. 7 Tahun 2011
Tentang Pedoman Kawasan Tanpa Rokok ?
a. Tahu
b. Tidak tahu
3.
Apakah anda mengetahui bahwa bupati juga mengeluarkan peraturan
Kawasan Tanpa Rokok melalui Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba Nomor
2 Tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR)?
a. Tahu
b. Tidak tahu
4. Apakah anda mengetahui bahwa tempat belajar mengajar merupakan
Kawasan Tanpa Rokok ?
a. Tahu
b. Tidak tahu
5.
Apakah anda mengetahui bahwa peraturan mengenai Kawasan Tanpa
Rokok juga berlaku di tempat-tempat umum?
a. Tahu
b. Tidak tahu
6.
Apakah anda mengetahui bahwa peraturan mengenai Kawasan Tanpa
Rokok juga berlaku di tempat kerja?
a. Tahu
b. Tidak tahu
7. Apakah anda mengetahui bahwa peraturan mengenai Kawasan Tanpa Rokok
juga berlaku di tempat ibadah?
a. Tahu
b. Tidak tahu
8. Apakah anda mengetahui bahwa peraturan mengenai Kawasan Tanpa Rokok
juga berlaku di fasilitas kesehatan?
a. Tahu
b. Tidak tahu
9. Apakah anda mengetahui mengenai sanksi yang diberikan pemerintah pada
pelanggar peraturan Kawasan Tanpa Rokok ?
a. Tahu
b. Tidak tahu
10. Apakah anda mengetahui bahwa pemerintah bulukumba akan memberikan
denda maksimal Rp. 100.000,- pada pelanggar Kawasan Tanpa Rokok ?
a. Ya
b. Tidak tahu
44
V. Kepatuhan Terhadap Peraturan Kawasan Tanpa Rokok
1. Apakah anda merokok di sekolah?
A. Ya
B. Tidak
2. Jika Ya, Apakah anda merokok di Tempat khusus merokok?
A. Ya
B. Tidak
3.
Apakah anda ditegur ketika merokok di sekolah?
A. Ya
B. Tidak
4. Jika anda tidak merokok di sekolah, sebutkan alasanya :
A. Ada Sanksi
B. Etika
C. Kesadaran Pribadi
D. Lainya (sebutkan): …
45
Form Observasi
Tersedianya sarana dan prasarana sebagai Penunjang Peraturan
Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah
No. Kuisioner
Tgl berkunjung
Hasil Observasi
:[
]
:
: 1. Tersedia
Jam
2. Tidak Tersedia
A. Informasi Umum
1. Nama Sekolah
:
2. Alamat
:
3. Desa
:
4. Kecamatan
:
5. Kabupaten
:
B. Indikator
1. Ada tanda kawasan tanpa rokok disekitar sekolah berupa spanduk
A. Ada
B. Tidak
2. Ada tanda dilarang merokok berupa poster atau pamflet
A. Ada
B. Tidak
3. Ada tempat khusus merokok di sekitar sekolah
A. Ada
B. Tidak
46
KUISIONER PENELITIAN
Perilaku Merokok dan Sikap oleh Guru dan Penanggung Jawab
terhadap Peraturan Kawasan Tanpa Rokok
A. Karakterisrtik
1. Nama
:
2. Umur
:
th
3. Jenis Kelamin :
4. Pendidikan :
5. Nama Sekolah :
6. Jabatan
B. Perilaku Merokok
1. Apakah anda merokok?
A. Ya
B. Tidak
2. Bila Ya, apakah anda merokok di sekolah?
A. Ya
B. Tidak
3. Apakah anda merokok di tempat khusus merokok?
A. Ya
B. Tidak
C. Sikap
1. Asap rokok tidak hanya berdampak pada perokok tetapi pada orang
disekitarnya
A. Setujur
B. Tidak setuju
2. Kegiatan merokok di dalam ruangan di tempat apapun harus
dilarang
A. Setuju
B. Tidak Setuju
3. Perda KTR pada sekolah dibuat bukan untuk melarang orang
merokok tetapi untuk mengatur
A.Setuju
B. Tidak Setuju
4. Penerapan Perda KTR pada sekolah merupakan tanggung jawab
guru/Kepala sekolah
A. Setuju
B. Tidak Setuju
47
Lampiran 4. Lembaran skoring kuesioner
I.
Perilaku Merokok dan Latar Belakang Perilaku merokok
No
1
Pertanyaan
Apakah anda merokok?
Ya
Tidak
Apakah anda menghabiskan >1 bungkus rokok setiap hari ?
2
Ya
Tidak
Apakah alasan anda merokok karena terpengaruh orang lain?
3
Ya
Tidak
Apakah anda merokok pada pertama kali bersama teman4
teman?
Ya
Tidak
Apakah orang tua anda merokok ?
5
Ya
Tidak
Apakah orang-orang di sekitar lingkungan anda juga
6
merupakan perokok ?
Ya
Tidak
Apakah iklan rokok yang menarik dapat membuat anda ingin
7
mencoba produk tersebut ?
Ya
Tidak
Apakah iklan rokok yang menarik dapat membuat anda ingin
8
mencoba produk tersebut ?
Ya
Tidak
Apakah menurut anda, merokok merupakan lambang
9
kejantanan seorang pria?
Ya
Tidak
*7-10 : Perilaku merokok dipengaruhi oleh lingkungan
11-14 : Perilaku merokok tidak dipengaruhi ole ingkungan
48
Skor
Tidak
Diberi Skor
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
II.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
*9-15
Pengetahuan Tentang Bahaya Merokok
Pertanyaan
Apakah anda mengetahui bahaya dari kandungan
rokok ?
Ya
Tidak
Selain tar dan nikotin, apakah anda mengetahui
kandungan berbahaya lainnya didalam rokok ?
Ya
Tidak
Apakah kandungan seperti gas CO, aceton, arsenic,
methanol, dll juga terdapat didalam sebatang rokok ?
Ya
Tidak
Apakah anda mengetahui efek dari zat berbahaya
didalam rokok tersebut dapat mengakibatkan bahaya
pada tubuh ?
Ya
Tidak
Apakah anda mengetahui rokok dapat membahayakan
kesehatan paru- paru?
Ya
Tidak
Apakah anda mengetahui rokok dapat membahayakan
kesehatan organ lain selain paru-paru ?
Ya
Tidak
Menurut anda, apakah organ seperti : ginjal, pankreas,
kantung kemih, dan leher rahim dapat juga terganggu
akibat rokok ?
Ya
Tidak
Dari pengetahuan mengenai bahaya rokok yang anda
ketahui, menurut anda apakah rokok juga dapat
menyebabkan gangguan kehamilan pada wanita ?
Ya
Tidak
Apakah rokok dapat mengganggu kesehatan tulang dan
darah ?
Ya
Tidak
: Tidak mengetahui bahaya kandungan merokok
16-18 : mengetahui bahaya kandungan merokok
49
Skor
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
III.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Pengetahuan Tentang Peraturan KTR
Pertanyaan
Apakah anda mengetahui mengenai Kawasan Tanpa Rokok
?
Ya
Tidak
Apakah anda mengetahui bahwa pemerintah telah
mengeluarkan peraturan mengenai Kawasan Tanpa Rokok
melalui Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri
Dalam Negeri No.188/MENKES/PB/I/2011 No. 7 Tahun
2011 Tentang Pedoman Kawasan Tanpa Rokok ?
Ya
Tidak
Apakah anda mengetahui bahwa bupati juga mengeluarkan
peraturan Kawasan Tanpa Rokok melalui Peraturan Daerah
Kabupaten Bulukumba Nomor 2 Tahun 2015 tentang
Kawasan Tanpa Rokok (KTR)?
Ya
Tidak
Apakah anda mengetahui bahwa tempat belajar mengajar
merupakan
Kawasan Tanpa Rokok ?
Ya
Tidak
Apakah anda mengetahui bahwa peraturan mengenai
Kawasan Tanpa Rokok juga berlaku di tempat-tempat
umum?
Ya
Tidak
Apakah anda mengetahui bahwa peraturan mengenai
Kawasan Tanpa Rokok juga berlaku di tempat kerja?
Ya
Tidak
Apakah anda mengetahui bahwa peraturan mengenai
Kawasan Tanpa Rokok juga berlaku di tempat ibadah?
Ya
Tidak
Apakah anda mengetahui bahwa peraturan mengenai
Kawasan Tanpa Rokok juga berlaku di fasilitas kesehatan?
Ya
Tidak
Apakah anda mengetahui mengenai sanksi yang diberikan
pemerintah pada pelanggar peraturan Kawasan Tanpa Rokok
?
50
Skor
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
Ya
Tidak
Apakah anda mengetahui bahwa pemerintah bulukumba
10
akan memberikan denda maksimal Rp. 100.000,- pada
pelanggar Kawasan Tanpa Rokok ?
Ya
Tidak
*10-15 : Tidak mengetahui tentang Peraturan KTR
16-20 : mengetahui tentang peraturan KTR
51
1
2
1
Lampiran 5. Hasil Data
No.
Umur
Sekolah
Kelas
Konsumsi Rokok
Kepatuhan
Teguran
Sarana Prasarana
Perilaku PJ
Sikap PJ
1
17
SMAN 14 Bulukumba
12
>1 bungkus rokok setiap hari
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
2
17
SMAN 14 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
3
17
SMAN 14 Bulukumba
12
>1 bungkus rokok setiap hari
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
4
17
SMAN 14 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
5
17
SMAN 14 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
6
17
SMAN 14 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
7
17
SMAN 14 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
8
17
SMAN 14 Bulukumba
12
>1 bungkus rokok setiap hari
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
9
17
SMAN 14 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
10
18
SMAN 14 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
11
17
SMAN 14 Bulukumba
11
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
12
16
SMAN 14 Bulukumba
11
>1 bungkus rokok setiap hari
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
13
16
SMAN 14 Bulukumba
11
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
14
17
SMAN 14 Bulukumba
11
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
15
17
SMAN 14 Bulukumba
11
>1 bungkus rokok setiap hari
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
16
17
SMAN 14 Bulukumba
11
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
17
17
SMAN 14 Bulukumba
11
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
18
16
SMAN 14 Bulukumba
11
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
19
16
SMAN 14 Bulukumba
11
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
20
17
SMKN 8 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
21
17
SMKN 8 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
22
17
SMKN 8 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
23
16
SMKN 8 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
24
17
SMKN 8 Bulukumba
12
>1 bungkus rokok setiap hari
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
25
17
SMKN 8 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
26
17
SMKN 8 Bulukumba
12
>1 bungkus rokok setiap hari
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
27
17
SMKN 8 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
28
17
SMKN 8 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
29
18
SMKN 8 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
30
18
SMKN 8 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
31
18
SMKN 8 Bulukumba
12
>1 bungkus rokok setiap hari
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
32
17
SMKN 8 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
33
17
SMKN 8 Bulukumba
12
>1 bungkus rokok setiap hari
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
34
16
SMKN 8 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
35
17
SMKN 8 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
36
17
SMKN 8 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
37
17
SMKN 8 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
38
17
SMKN 8 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
39
17
MAN 1 Bulukumba
12
>1 bungkus rokok setiap hari
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
40
17
MAN 1 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
41
19
SMKN 11 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
52
42
17
MAN 1 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
43
17
MAN 1 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
44
18
MAN 1 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
45
17
MAN 1 Bulukumba
11
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
46
16
MAN 1 Bulukumba
11
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
47
18
MAN 1 Bulukumba
10
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
48
16
SMAN 2 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
49
16
SMAN 2 Bulukumba
12
>1 bungkus rokok setiap hari
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
50
17
SMAN 2 Bulukumba
12
>1 bungkus rokok setiap hari
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
51
17
SMAN 2 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
52
18
SMAN 2 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
53
17
SMAN 2 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
54
17
SMAN 2 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
55
17
SMAN 2 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
56
17
SMAN 2 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
57
17
SMAN 2 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
58
16
SMKN 11 Bulukumba
10
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
59
17
SMAN 2 Bulukumba
12
>1 bungkus rokok setiap hari
Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
60
18
SMAN 2 Bulukumba
12
>1 bungkus rokok setiap hari
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
61
17
SMAN 2 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
62
17
SMAN 2 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
63
17
SMAN 2 Bulukumba
12
>1 bungkus rokok setiap hari
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
64
17
SMAN 2 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
65
16
SMAN 2 Bulukumba
10
>1 bungkus rokok setiap hari
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
66
16
SMAN 2 Bulukumba
10
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
67
17
SMAN 2 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
68
18
SMAN 2 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tersedia
Baik
Baik
69
17
SMAN 2 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Kurang
70
17
MA Darul Qalam
11
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Kurang
71
16
MA Darul Qalam
11
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Kurang
72
17
MA Darul Qalam
11
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Kurang
73
17
MA Darul Qalam
11
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Kurang
74
20
MA Darul Qalam
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Kurang
75
17
MA Darul Qalam
11
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Kurang
76
21
MA Darul Qalam
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Kurang
77
17
MA Darul Qalam
11
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Kurang
78
15
MA Darul Qalam
10
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Kurang
79
17
MA Darul Qalam
11
>1 bungkus rokok setiap hari
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Kurang
80
16
SMKN 11 Bulukumba
10
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
81
17
SMKN 11 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
82
19
SMKN 11 Bulukumba
12
>1 bungkus rokok setiap hari
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
83
18
SMKN 11 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
84
16
SMKN 11 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
53
85
16
SMKN 11 Bulukumba
12
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
86
15
SMKN 11 Bulukumba
11
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
87
16
SMKN 11 Bulukumba
10
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
88
15
SMKN 11 Bulukumba
10
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
89
16
SMKN 11 Bulukumba
10
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
90
16
SMKN 11 Bulukumba
10
>1 bungkus rokok setiap hari
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
91
17
SMKN 11 Bulukumba
10
>1 bungkus rokok setiap hari
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
92
16
SMKN 11 Bulukumba
10
>1 bungkus rokok setiap hari
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
93
15
SMKN 11 Bulukumba
10
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
94
17
SMKN 11 Bulukumba
10
<1 bungkus rokok
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
95
18
SMKN 11 Bulukumba
12
>1 bungkus rokok setiap hari
Tidak Patuh
Tidak
Tidak Tersedia
Baik
Baik
96
15
SMKN 11 Bulukumba
10
<1 bungkus rokok
Tidak Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
97
16
SMKN 11 Bulukumba
10
>1 bungkus rokok setiap hari
Patuh
Ya
Tidak Tersedia
Baik
Baik
54
Latar Belakang Perilaku Merokok
No P1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
P2
2
2
2
1
2
2
1
1
1
1
1
2
1
1
1
2
2
1
1
1
1
2
2
2
2
2
1
2
2
2
1
1
2
1
1
1
1
2
1
1
P3
2
2
2
1
2
2
2
2
2
1
2
2
1
1
1
2
2
1
1
1
2
2
2
2
1
1
2
2
2
2
2
2
2
1
1
2
2
2
2
2
P4
2
2
2
2
2
2
1
1
2
2
2
1
1
1
2
1
1
1
2
2
1
2
1
1
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
2
1
1
P5
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
55
P6
1
1
1
1
1
2
1
1
2
2
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
2
1
2
1
1
1
1
1
1
2
2
1
1
1
1
1
1
1
P7
1
1
1
1
1
2
1
1
2
1
1
1
1
1
1
2
2
1
1
1
1
1
2
2
2
2
1
1
2
1
1
2
2
2
1
1
1
1
1
1
Total
1
1
1
1
1
2
1
1
2
2
2
1
1
1
2
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
11
11
11
9
11
14
9
9
13
11
11
9
8
7
10
12
12
8
9
9
9
11
11
11
12
11
11
11
12
11
10
12
13
10
8
9
9
12
9
9
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
2
2
1
2
2
1
2
1
1
2
1
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
2
1
1
1
2
2
1
1
1
2
1
2
2
1
1
1
1
2
1
1
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
2
1
1
1
1
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
56
1
2
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
2
1
2
2
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
2
2
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
2
2
1
2
1
1
1
1
2
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
2
2
2
1
1
2
1
2
2
1
1
2
2
2
1
1
1
1
1
2
1
1
2
1
1
1
2
1
2
1
1
2
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
11
13
11
13
11
7
13
10
11
14
10
11
13
11
14
12
10
8
8
9
10
9
12
11
9
10
11
11
10
11
11
12
10
11
10
10
10
10
10
11
9
10
11
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
2
2
2
2
1
1
2
1
1
2
2
2
1
1
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
1
1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
1
57
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
2
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
12
10
11
13
10
10
13
7
9
10
11
11
10
9
Pengetahuan Tentang Bahaya Kandungan Rokok
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
P1
P2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
2
1
1
1
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
P3
1
1
2
2
1
2
2
1
2
1
1
2
1
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
2
1
1
1
1
P4
2
1
2
2
2
2
2
1
1
1
2
2
1
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
P5
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
2
2
1
2
2
1
2
1
2
2
P6
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
1
1
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
58
P7
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
2
2
2
1
2
2
2
2
P8
2
1
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
1
2
1
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
P9
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
2
1
1
2
2
Total
16
14
17
18
16
17
17
14
15
13
17
18
16
18
18
18
18
17
15
16
11
12
12
12
10
12
10
9
12
10
16
13
16
15
15
14
14
14
16
16
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
2
1
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
2
2
1
1
1
2
1
1
2
1
1
2
1
1
1
1
2
2
1
1
2
2
1
2
1
1
2
2
1
1
1
1
1
1
2
2
1
1
2
1
2
1
1
2
2
1
1
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
1
1
2
2
1
1
1
1
1
1
2
2
1
1
2
1
2
1
1
1
1
2
1
1
2
1
2
2
1
2
2
1
1
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
2
1
2
2
1
1
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
59
2
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
1
1
2
1
2
1
2
2
2
2
1
2
1
1
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
1
1
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
1
1
2
2
2
2
2
2
1
1
2
2
2
1
2
2
1
2
1
2
1
2
2
1
2
1
2
2
2
1
1
1
1
2
1
2
2
1
2
16
12
18
18
14
10
17
17
17
15
18
17
13
17
16
17
15
10
18
17
14
12
15
16
15
17
16
16
15
14
17
16
17
11
15
15
16
18
14
16
18
15
18
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
1
1
2
1
2
1
2
1
1
2
2
2
1
2
1
2
1
1
1
2
2
1
2
2
1
1
2
2
1
2
1
2
2
2
2
1
2
2
1
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
60
2
2
2
1
1
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
1
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
1
1
1
1
2
1
2
2
2
1
1
2
1
2
2
17
13
16
12
14
17
17
18
11
16
18
13
17
13
Pengetahuan Tentang Kawasan Tanpa Rokok
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
P1
P2
2
2
2
1
1
1
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
P3
2
1
2
1
2
1
1
2
2
2
1
2
1
1
1
2
1
2
2
2
1
2
1
1
1
1
2
2
1
1
1
1
2
2
1
2
1
1
1
1
P4
2
1
2
1
2
1
1
2
2
1
1
2
1
1
1
2
2
2
1
1
2
1
1
1
1
1
2
2
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
P5
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
1
P6
1
2
1
2
2
1
1
1
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
2
2
2
2
2
2
1
1
61
P7
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
2
2
2
1
1
2
2
2
P8
2
2
2
2
2
2
2
1
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
2
1
1
P9
2
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
1
1
P10
2
1
2
1
2
1
1
2
2
1
1
2
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
2
1
2
1
1
2
2
1
1
2
2
1
1
1
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
2
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
Total
19
16
19
15
19
13
15
18
19
14
15
20
17
16
11
18
18
19
15
17
14
16
16
16
15
16
20
18
16
18
13
14
19
17
16
13
13
16
12
12
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
2
1
2
2
1
1
2
2
2
1
2
1
2
1
2
1
1
2
2
2
2
1
2
2
1
2
2
2
2
1
2
2
1
1
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
2
1
1
2
1
2
1
2
1
2
1
1
1
1
1
1
2
2
1
2
2
1
1
1
2
1
1
2
2
2
1
2
1
1
2
2
1
2
2
2
1
1
2
2
1
1
2
1
2
1
2
1
2
1
1
1
1
1
1
2
2
1
1
1
1
1
1
2
1
1
2
1
2
1
2
1
1
1
2
1
2
1
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
1
1
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
1
2
2
2
2
2
1
2
1
1
2
2
1
1
2
2
2
1
1
2
2
1
1
1
1
2
2
2
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
2
2
1
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
62
1
1
2
2
1
1
2
2
2
1
2
2
1
1
2
1
1
1
2
2
2
2
2
2
1
1
2
2
1
1
1
1
1
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
1
1
2
2
2
2
2
1
1
2
1
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
2
2
2
1
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
1
2
2
2
1
1
2
1
1
1
2
1
2
1
2
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
2
2
1
1
2
2
1
1
1
2
1
2
1
1
2
1
1
1
2
1
2
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
2
2
1
1
1
2
1
2
1
2
1
2
14
13
20
18
13
11
17
16
20
13
17
15
18
11
13
12
12
15
16
16
17
13
16
18
13
14
15
18
11
12
17
18
17
10
18
16
18
17
19
13
20
16
20
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
1
2
2
1
2
1
2
2
2
1
1
2
1
1
1
2
2
1
2
1
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
2
63
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
1
1
1
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
1
1
1
2
1
1
2
2
1
2
1
2
2
2
1
1
1
2
1
1
2
1
1
2
1
2
1
20
16
15
17
15
16
15
20
18
15
19
12
20
16
Lampiran 6. Analisis Data
Test Validitas dan Realibitas Kuisioner Latar Belakang Perilaku Merokok
Correlations
v1_nomor1
v1_nomor1
v1_nomor2
v1_nomor3
v1_nomor4
v1_nomor5
v1_nomor6
v1_nomor7
totalskor
1
**
.042
-.068
.102
.357
-.089
.522*
.001
.862
.776
.669
.122
.709
.018
20
20
20
20
20
20
20
20
.667**
1
-.042
.068
.153
.408
.089
.612**
.862
.776
.519
.074
.709
.004
Pearson Correlation
.667
Sig. (2-tailed)
N
v1_nomor2
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
.001
N
v1_nomor3
20
20
20
20
20
20
20
20
Pearson Correlation
.042
-.042
1
.408
.153
-.102
.312
.442
Sig. (2-tailed)
.862
.862
.074
.519
.669
.181
.051
20
20
20
20
20
20
20
20
-.068
.068
.408
1
.167
.167
.218
.389
.776
.776
.074
.482
.482
.355
.090
20
20
20
20
20
20
20
20
Pearson Correlation
.102
.153
.153
.167
1
.688**
.491*
.667**
Sig. (2-tailed)
.669
.519
.519
.482
.001
.028
.001
20
20
20
20
20
20
20
20
Pearson Correlation
.357
.408
-.102
.167
.688**
1
.491*
.667**
Sig. (2-tailed)
.122
.074
.669
.482
.001
.028
.001
20
20
20
20
20
20
20
20
*
*
1
.570**
N
v1_nomor4
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
v1_nomor5
N
v1_nomor6
N
v1_nomor7
Pearson Correlation
-.089
.089
.312
.218
.491
.709
.709
.181
.355
.028
.028
20
20
20
20
20
20
20
20
*
**
.442
.389
**
**
**
1
Sig. (2-tailed)
N
totalskor
.522
Sig. (2-tailed)
.018
.004
.051
.090
.001
.001
.009
20
20
20
20
20
20
20
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
Case Processing Summary
N
Cases
Valid
Excludeda
Total
%
20
100.0
0
.0
20
100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.
64
.667
.667
.009
Pearson Correlation
N
.612
.491
.570
20
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
N of Items
.656
7
65
Test Validitas dan Realiblitas Kuisioner Pengetahuan Tentang Bahaya
Kandungan Rokok
Correlations
v2nomor1
Pearson
v2nomor
v2nomor
v2nomor
v2nomor
v2nomor
v2nomor
v2nomor
v2nomor
v2nomor
totalskorv
1
2
3
4
5
6
7
8
9
2
.538*
.385
.601**
.341
.664**
.560*
.105
.664**
.715**
.014
.094
.005
.142
.001
.010
.660
.001
.000
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
.538*
1
.685**
.664**
.538*
.601**
.319
.245
.601**
.748**
.001
.001
.014
.005
.171
.299
.005
.000
1
Correlatio
n
Sig. (2tailed)
N
v2nomor2
Pearson
Correlatio
n
Sig. (2-
.014
tailed)
N
v2nomor3
Pearson
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
.385
.685**
1
.533*
.385
.492*
.599**
.272
.698**
.760**
.094
.001
.015
.094
.027
.005
.246
.001
.000
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
**
**
*
1
**
**
.390
.369
**
.873**
.000
.000
.089
.110
.000
.000
20
20
20
20
20
20
1
**
.341
.454
*
**
.748**
.001
.142
.044
.001
.000
Correlatio
n
Sig. (2tailed)
N
v2nomor4
Pearson
.601
.664
.533
.811
.818
.818
Correlatio
n
Sig. (2-
.005
.001
.015
20
20
20
20
.341
.538
*
.385
**
.142
.014
.094
.000
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
.664**
.601**
.492*
.818**
.664**
1
.453*
.302
.798**
.841**
.001
.005
.027
.000
.001
.045
.196
.000
.000
tailed)
N
v2nomor5
Pearson
.811
.664
.664
Correlatio
n
Sig. (2tailed)
N
v2nomor6
Pearson
Correlatio
n
Sig. (2tailed)
66
N
v2nomor7
20
20
20
.390
.341
.453
*
.005
.089
.142
.045
20
20
20
20
20
.105
.245
.272
.369
.454*
.660
.299
.246
.110
20
20
20
.664**
.601**
.001
Pearson
20
20
*
.319
**
20
20
20
20
1
*
**
.715**
.010
.171
.044
.001
.000
20
20
20
20
20
.302
.454*
1
.302
.465*
.044
.196
.044
.196
.039
20
20
20
20
20
20
20
.698**
.818**
.664**
.798**
.664**
.302
1
.935**
.005
.001
.000
.001
.000
.001
.196
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
**
**
**
**
**
**
**
*
**
1
.560
.599
20
.454
.664
Correlatio
n
Sig. (2tailed)
N
v2nomor8
Pearson
Correlatio
n
Sig. (2tailed)
N
v2nomor9
Pearson
Correlatio
n
Sig. (2-
.000
tailed)
N
totalskorv
Pearson
.715
2
Correlatio
.748
.760
.873
.748
.841
.715
.465
.935
n
Sig. (2-
.000
.000
.000
.000
.000
.000
.000
.039
.000
20
20
20
20
20
20
20
20
20
tailed)
N
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Case Processing Summary
N
Cases
Valid
Excluded
a
Total
%
20
100.0
0
.0
20
100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of Items
.912
9
67
20
Test Validitas dan Realibitias Kuisioner Pengetahuan Tentang Kawasan Tanpa
Rokok
Correlations
v3nomor1
Pearson
v3nomor1
v3nomor2
v3nomor3
v3nomor4
v3nomor5
v3nomor6
v3nomor7
v3nomor8
v3nomor9
v3nomor10
1
.408
.105
.250
.140
.459
*
.250
**
.250
.327
.074
.660
.288
.556
.042
.288
.001
.288
.159
.001
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
.408
1
.471
*
.272
-.229
.187
-.068
.272
.102
.134
.525
.036
.246
.332
.429
.776
.246
.669
.574
.017
20
.667
totalskorv3
.679
**
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
v3nomor2
Pearson
*
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
v3nomor3
Pearson
.074
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
.105
.471
*
1
-.105
.308
.168
-.105
-.105
.419
.435
.660
.036
.660
.186
.478
.660
.660
.066
.055
.009
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
.327
**
-.111
.444
*
-.250
-.145
.332
.160
.001
.641
.050
.288
.541
.153
20
20
20
20
20
20
20
1
*
.327
.327
.210
.275
.520
.013
.160
.160
.374
.241
.019
20
20
20
20
20
20
20
*
1
-.076
**
.115
.150
.749
.001
.630
.527
.004
.567
**
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
v3nomor4
Pearson
20
.250
.272
-.105
.288
.246
.660
20
20
20
1
.688
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
v3nomor5
Pearson
20
.546
*
.140
-.229
.308
.327
.556
.332
.186
.160
20
20
20
20
*
.187
.168
.042
.429
.478
.001
.013
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
.250
-.068
-.105
-.111
.327
-.076
1
.444
*
.167
.218
.332
.288
.776
.660
.641
.160
.749
.050
.482
.355
.153
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
*
.327
**
*
1
.167
.218
.482
.355
.002
20
20
20
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
v3nomor6
Pearson
.459
.688
**
.546
.688
.618
**
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
v3nomor7
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
v3nomor8
Pearson
**
.272
-.105
.444
.001
.246
.660
.050
.160
.001
.050
20
20
20
20
20
20
20
.667
.688
.444
.655
**
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
68
20
v3nomor9
Pearson
.250
.102
.419
-.250
.210
.115
.167
.167
1
.288
.669
.066
.288
.374
.630
.482
.482
20
20
20
20
20
20
20
20
.327
.134
.435
-.145
.275
.150
.218
.218
.159
.574
.055
.541
.241
.527
.355
.355
.000
20
20
20
20
20
20
20
20
20
**
.332
.520
**
.332
.764
**
.594
**
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
v3nomor10
Pearson
.000
.006
20
20
20
**
1
.764
.672
**
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
totalskorv3
Pearson
.679
**
.525
*
.567
*
.618
.655
**
.594
**
.001
20
20
**
1
.672
Correlation
Sig. (2-tailed)
.001
.017
.009
.153
.019
.004
.153
.002
.006
.001
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
N
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Case Processing Summary
N
Cases
Valid
Excluded
a
Total
%
20
100.0
0
.0
20
100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of Items
.734
10
69
20
Deskripsi dan Normalitas Data
Descriptives
totalskor
Statistic
Std. Error
Mean
10.52
.157
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound
10.20
Upper Bound
10.83
5% Trimmed Mean
10.52
Median
11.00
Variance
2.377
Std. Deviation
1.542
Minimum
7
Maximum
14
Range
7
Interquartile Range
2
Skewness
Kurtosis
totalskorv2 Mean
.040
.245
-.061
.485
15.12
.241
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound
14.64
Upper Bound
15.60
5% Trimmed Mean
15.26
Median
16.00
Variance
5.651
Std. Deviation
2.377
Minimum
9
Maximum
18
Range
9
Interquartile Range
3
Skewness
-.739
.245
Kurtosis
-.356
.485
15.91
.262
totalskorv3 Mean
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound
15.39
Upper Bound
16.43
5% Trimmed Mean
15.96
Median
16.00
Variance
6.668
Std. Deviation
2.582
Minimum
10
Maximum
20
70
Range
10
Interquartile Range
4
Skewness
-.225
.245
Kurtosis
-.773
.485
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnov
Statistic
df
a
Shapiro-Wilk
Sig.
Statistic
df
Sig.
totalskor
.160
97
.000
.955
97
.002
totalskorv2
.180
97
.000
.909
97
.000
totalskorv3
.112
97
.004
.959
97
.004
a. Lilliefors Significance Correction
Latar Belakang Perilaku Merokok * Kepatuhan Terhadap KTR
Crosstabulation
Kepatuhan Terhadap KTR
Patuh
Latar Belakang Perilaku
Dipengaruhi Lingkungan
Merokok
Count
% within Latar Belakang
Tidak Patuh
Total
24
22
46
52.2%
47.8%
100.0%
44.4%
51.2%
47.4%
24.7%
22.7%
47.4%
30
21
51
58.8%
41.2%
100.0%
55.6%
48.8%
52.6%
30.9%
21.6%
52.6%
54
43
97
55.7%
44.3%
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%
55.7%
44.3%
100.0%
Perilaku Merokok
% within Kepatuhan
Terhadap KTR
% of Total
Tidak Dipengaruhi
Count
Lingkungan
% within Latar Belakang
Perilaku Merokok
% within Kepatuhan
Terhadap KTR
% of Total
Total
Count
% within Latar Belakang
Perilaku Merokok
% within Kepatuhan
Terhadap KTR
% of Total
71
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
df
a
1
.510
.206
1
.650
.433
1
.510
.433
b
Asymp. Sig. (2-
Fisher's Exact Test
.545
N of Valid Cases
.325
97
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 20.39.
b. Computed only for a 2x2 table
Pengetahuan Bahaya Kandungan Rokok * Kepatuhan Terhadap KTR
Crosstabulation
Kepatuhan Terhadap KTR
Patuh
Pengetahuan Bahaya
Tahu
Kandungan Rokok
Count
% within Pengetahuan
Tidak Patuh
Total
25
27
52
48.1%
51.9%
100.0%
46.3%
62.8%
53.6%
25.8%
27.8%
53.6%
29
16
45
64.4%
35.6%
100.0%
53.7%
37.2%
46.4%
29.9%
16.5%
46.4%
54
43
97
55.7%
44.3%
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%
55.7%
44.3%
100.0%
Bahaya Kandungan Rokok
% within Kepatuhan
Terhadap KTR
% of Total
Tidak Tahu
Count
% within Pengetahuan
Bahaya Kandungan Rokok
% within Kepatuhan
Terhadap KTR
% of Total
Total
Count
% within Pengetahuan
Bahaya Kandungan Rokok
% within Kepatuhan
Terhadap KTR
% of Total
Chi-Square Tests
72
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
df
a
1
.106
1.997
1
.158
2.636
1
.104
2.619
b
Asymp. Sig. (2-
Fisher's Exact Test
.151
N of Valid Cases
.079
97
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 19.95.
b. Computed only for a 2x2 table
Pengetahuan tentang KTR * Kepatuhan Terhadap KTR Crosstabulation
Kepatuhan Terhadap KTR
Patuh
;Pengetahuan tentang KTR
Tahu
Count
Tidak Patuh
Total
35
23
58
60.3%
39.7%
100.0%
64.8%
53.5%
59.8%
36.1%
23.7%
59.8%
19
20
39
48.7%
51.3%
100.0%
35.2%
46.5%
40.2%
19.6%
20.6%
40.2%
54
43
97
55.7%
44.3%
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%
55.7%
44.3%
100.0%
% within ;Pengetahuan
tentang KTR
% within Kepatuhan
Terhadap KTR
% of Total
Tidak Tahu
Count
% within ;Pengetahuan
tentang KTR
% within Kepatuhan
Terhadap KTR
% of Total
Total
Count
% within ;Pengetahuan
tentang KTR
% within Kepatuhan
Terhadap KTR
% of Total
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
a
1
.258
.850
1
.357
1.277
b
df
Asymp. Sig. (2-
73
Likelihood Ratio
1.276
1
.259
Fisher's Exact Test
.301
N of Valid Cases
.178
97
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 17.29.
b. Computed only for a 2x2 table
Tersedianya sarana dan prasarana KTR * Kepatuhan Terhadap KTR
Crosstabulation
Kepatuhan Terhadap KTR
Patuh
tersedianya sarana dan
Tidak Tersedia
Count
prasarana KTR
Tidak Patuh
Total
45
24
69
65.2%
34.8%
100.0%
83.3%
55.8%
71.1%
46.4%
24.7%
71.1%
9
19
28
32.1%
67.9%
100.0%
16.7%
44.2%
28.9%
9.3%
19.6%
28.9%
54
43
97
55.7%
44.3%
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%
55.7%
44.3%
100.0%
% within tersedianya sarana
dan prasarana KTR
% within Kepatuhan
Terhadap KTR
% of Total
Tersedia
Count
% within tersedianya sarana
dan prasarana KTR
% within Kepatuhan
Terhadap KTR
% of Total
Total
Count
% within tersedianya sarana
dan prasarana KTR
% within Kepatuhan
Terhadap KTR
% of Total
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio
df
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
1
.003
7.539
1
.006
8.895
1
.003
Fisher's Exact Test
N of Valid Cases
Exact Sig. (2-
a
8.829
b
Asymp. Sig. (2-
.004
97
74
.003
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12.41.
b. Computed only for a 2x2 table
Perilaku PJ * Kepatuhan Terhadap KTR Crosstabulation
Kepatuhan Terhadap KTR
Patuh
perilakuPJ
Baik
Count
Tidak Patuh
Total
54
43
97
% within perilakuPJ
55.7%
44.3%
100.0%
% within Kepatuhan
100.0%
100.0%
100.0%
55.7%
44.3%
100.0%
54
43
97
% within perilakuPJ
55.7%
44.3%
100.0%
% within Kepatuhan
100.0%
100.0%
100.0%
55.7%
44.3%
100.0%
Terhadap KTR
% of Total
Total
Count
Terhadap KTR
% of Total
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
N of Valid Cases
.
a
97
a. No statistics are computed
because perilakuPJ is a constant.
75
Sikap PJ * Kepatuhan Terhadap KTR Crosstabulation
Kepatuhan Terhadap KTR
Patuh
Sikap PJ
Kurang
Count
Tidak Patuh
Total
7
4
11
% within SikapPJ
63.6%
36.4%
100.0%
% within Kepatuhan
13.0%
9.3%
11.3%
7.2%
4.1%
11.3%
47
39
86
% within SikapPJ
54.7%
45.3%
100.0%
% within Kepatuhan
87.0%
90.7%
88.7%
48.5%
40.2%
88.7%
54
43
97
55.7%
44.3%
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%
55.7%
44.3%
100.0%
Terhadap KTR
% of Total
Baik
Count
Terhadap KTR
% of Total
Total
Count
% within SikapPJ
% within Kepatuhan
Terhadap KTR
% of Total
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
df
Likelihood Ratio
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
1
.572
.059
1
.808
.324
1
.569
Fisher's Exact Test
N of Valid Cases
Exact Sig. (2-
a
.319
b
Asymp. Sig. (2-
.750
97
a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.88.
b. Computed only for a 2x2 table
76
.408
Download