Uploaded by User86257

LP PSIKOSOSIAL

advertisement
LAPORAN PENDAHULUAN PSIKOSOSIAL
A. Konsep psikososial
1. Definisi psikososial
Psikososial adalah suatu kondisi yang terjadi pada individu yang
mencakup aspek psikis dan sosial atau sebaliknya. Psikososial menunjuk pada
hubungan yang dinamis antara faktor psikis dan sosial, yang saling
berinteraksi dan memengaruhi satu sama lain. Psikososial sendiri berasal dari
kata psiko dan sosial. Kata psiko mengacu pada aspek psikologis dari individu
(pikiran, perasaan dan perilaku) sedangkan sosial mengacu pada hubungan
eksternal individu dengan orang-orang di sekitarnya (Pusat Krisis Fakultas
Psikologi UI). Istilah psikososial berarti menyinggung relasi sosial yang
mencakup faktor-faktor psikologis (Chaplin, 2011).
Masalah-masalah psikososial menurut (Nanda, 2012) yaitu :
a. Berduka
b. Keputusasaan
c. Ansietas
d. Ketidakberdayaan
e. Risiko penyimpangan perilaku sehat
f. Gangguan citra tubuh
g. Koping tidak efektif
h. Koping keluarga tidak efektif
i. Sindroma post trauma
j. Penampilan peran tidak efektif
k. HDR situasional
2. Kecemasan
a. Pengertian kecemasan
Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar,
yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan
emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik. Ansietas dialami secara
subjektif dan dikomunikasikan secara interpersonal. Ansietas berbeda
dengan rasa takut yang merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu
yang berbahaya. Ansietas adalah respon emosional terhadap penilaian
tersebut yang penyebabnya tidak diketahui. Sedangkan rasa takut
mempunyai penyebab yang jelas dan dapat dipahami (Stuart, 2007).
Ansietas adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung
oleh situasi. Ketika merasa cemas, individu merasa cemas, individu
merasa tidak nyaman atau takut atau mungkin memiliki firasat akan
ditimpa malapetaka padahal ia tidak mengerti mengapa emosi yang
mengancam tersebut terjadi. Tidak ada objek yang dapat diidentifikasi
sebagai stimulus ansietas. Ansietas merupakan alat peringatan internal
yang memberikan tanda bahaya kepada individu (Viedebeck, 2008).
Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang
sama disertai respon autonom (sumber sering kali tidak spesifik atau tidak
diketahui oleh individu), perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi
terhadap bahaya. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang
memperingatkan individu akan adanya bahaya dan memampukan individu
untuk bertindak menghadapi ancaman (Nurarif & Kusuma, 2013).
b. Penyebab
Penyebab kecemasan menurut (Nurarif & Kusuma, 2013) yaitu :
1) Perubahan dalam (status ekonomi, lingkungan, status kesehatan, pola
interaksi, fungsi peran, status peran)
2) Pemajanan toksin
3) Terkait keluarga
4) Herediter
5) Infeksi/kontaminan interpersonal
6) Penularan penyakit interpersonal
7) Krisis maturasi, krisis situasional
8) Stres, ancaman kematian
9) Penyalahgunaan zat
10) Ancaman pada (status ekonomi, lingkungan, status kesehatan, pola
interaksi, fungsi peran, status peran, konsep diri)
11) Konflik tidak disadari mengenai tujuan penting hidup
12) Konflik tidak disadari menenai nilai yang esensial/penting
13) Kebutuhan tidak dipenuhi
c. Gejala-gejala kecemasan menurut (Nurarif & Kusuma,2013) yaitu :
1) Gejala perilaku dari kecemasan yaitu : penurunan produktivitas,
gerakan yang ireleven, gelisah, melihat sepintas, insomnia, kontak mata
yang buruk, mengekspresikan kekawatiran karena perubahan dalam
peristiwa hidup, agitasi, mengintai dan tampak waspada.
2) Gejala afektif dari kecemasan yaitu : gelisah, distres, kesedihan yang
mendalam, ketakutan, perasaan tidak adekuat, berfokus pada diri
sendiri,
peningkatan
berlebihan,
rasa
kewaspadaan,
nyeri
yang
iritabilitas,
meningkatkan
gugup
senang
ketidakberdayaan,
peningkatan rasa ketidakberdayaan yang persisten, bingung, menyesal,
ragu/tidak percaya diri dan khawatir.
3) Gejala fisiologis dari kecemasan yaitu : wajah tenang, tremor tangan,
peningkatan keringat, peningkatan ketegangan, gemetar, tremor, suara
bergetar.
4) Gejala simpatik dari
kecemasan
yaitu
:
anoreksia, eksitasi
kardiovaskular, diare, mulut kering, wajah merah, jantung berdebardebar, peningkatan tekanan darah, peningkatan denyut nadi,
peningkatan reflek, peningkatan frekuensi pernapasan, pupil melebar,
kesulitan bernafas, vasokontriksi superfisial, lemah dan kedutan pada
otot.
5) Gejala parasimpatik dari kecemasan yaitu : nyeri abdomen, penurunan
tekanan darah, penurunan denyut nadi, diare, mual, vertigo, letih,
gangguan tidur, kesemutan pada extremitas, sering berkemih, anyanganyangan, dorongan segera berkemih
6) Gejala kognitif dari kecemasan yaitu : menyadari gejala fisiologis,
bloking fikiran, konfusi, penurunan lapang persepsi, kesulitan
berkonsentrasi, penurunan kemampuan untuk belajar, penurunan
kemampuan
untuk
memecahkan
masalah,
ketakutan
terhadap
konsekuensi yang tidak spesifik, lupa, gangguan perhatian, khawatir,
melamun, cenderung menyalahkan orang lain.
d. Tingkat cemas menurut (Stuart, 2007) adalah sebagai berikut :
1) Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan
sehari-hari; ansietas ini menyebabkan individu menjadi waspada dan
meningkatkan lapang persepsinya. Ansietas ini dapat memotivasi
belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas.
2) Ansietas sedang memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang
penting dan mengesampingkan yang lain. Ansietas ini mempersempit
lapang persepsi individu. Dengan demikian, individu mengalami tidak
perhatian yang selektif namun dapat berfokus pada lebih banyak area
jika diarahkan untuk melakukannya.
3) Ansietas berat sangat mengurangi lapang persepsi individu. Individu
cenderung berfokus pada sesuatu yang rinci dan spesifik serta tidak
berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi
ketegangan. Individu tersebut memerlukan banyak arahan untuk
berfokus pada area lain.
4) Tingkat panik dari ansietas berhubungan dengan terperangah, ketakutan
dan teror. Hal yang rinci terpecah dari proporsinya. Karena mengalami
kehilangan kendali, individu yang mengalami panik tidak mampu
melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panik mencakup
disorganisasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan aktivitas
motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang
lain, persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang
rasional. Tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan; jika
berlangsung terus dalam waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan dan
kematian.
e. Rentang respons
Respons adaptif
Antisipasi
Respon maladaptif
Ringan
Sedang
Berat
Panik
Skema 1. Rentang Respon Cemas
(Stuart, 2007)
f. Faktor pendukung
1) Faktor predisposisi
Menurut (Suart, 2007) berbagai teori telah dikembangkan untuk
menjelaskan asal ansietas :
a) Dalam pandangan psikoanalitis, ansietas adalah konflik emosional
yang terjadi antara dua elemen kepribadian: id dan superego. Id
mewakili dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan
superego mencerminkan hati nurani dan dikendalikan oleh norma
budaya. Ego dan Aku, berfungsi menengahi tuntutan dari dua
elemen yang bertentangan tersebut dan fungsi ansietas adalah
mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
b) Menurut pandangan interpersonal, ansietas timbul dari perasaan
takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal.
Ansietas juga berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti
perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kerentanan
tertentu. Individu dengan harga diri rendah terutama rentan
mengalami ansietas yang berat.
c) Menurut pandangan perilaku, ansietas merupakan produk frustasi
yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan individu
untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ahli teori perilaku lain
menganggap ansietas sebagai suatu dorongan yang dipelajari
berdasarkan keinginan dari dalam diri untuk menghindari
kepedihan. Ahli teori konflik memandang ansietas sebagai
pertentangan antara dua kepentingan yang berlawanan. Mereka
meyakini adanya hubungan timbal balik antara konflik dan
ansietas: konflik menimbulkan ansietas dan ansietas menimbulkan
perasaan tidak berdaya, yang pada gilirannya meningkatkan
konflik yang dirasakan.
d) Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas biasanya
terjadi dalam keluarga. Gangguan ansietas juga tumpang tindih
antara gangguan ansietas dan depresi.
e) Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor
khusus untuk benzodiazepin, obat-obatan yang meningkatkan
neuroregulator inhibisi asam gama-aminobutirat (GABA), yang
berperan penting dalam mekanisme biologis yang berhubungan
dengan ansietas. Selain itu, kesehatan umum individu dan riwayat
ansietas pada keluarga memiliki efek nyata sebagai predisposisi
ansietas. Ansietas mungkin disertai dengan ganggun fisik dan
selanjutya menurunkan kemampuan individu untuk mengatasi
stressor.
2) Stresor pencetus
Stresor pencetus dapat berasal dari sumber internal dan eksternal, stressor
pencetus dapat diklasifikasikan dalam dua jenis menurut (Riyadi &
Purwanto, 2009):
a) Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan
fisiologis yang akan terjadi atau menurunkan kapasitas untuk
melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Pada ancaman ini, stressor yang
berasal dari sumber eksternal adalah faktor-faktor yang dapat
menyebabkan gangguan fisik (misal; infeksi virus, polusi udara).
Sedangkan yang menjadi sumber internalnya adalah kegagalan
mekanisme fisiologi tubuh (misal; sistem jantung, sistem imun,
pengaturan suhu dan perubahan, fisiologi selama kehamilan).
b) Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan
identitas, harga diri dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.
Ancaman yang berasal dari sumber eksternal yaitu kehilangan orang
yang berarti (meninggal, perceraian, pindah kerja) dan ancaman yang
berasal dari sumber internal berupa gangguan hubungan interpersonal
dirumah, tempat kerja atau menerima peran baru.
3) Penilaian stresor
Pemahaman tentang ansietas perlu integrasi banyak faktor, termasuk
pengetahuan dari perspektif psikoanalitis, interpersonal, perilaku, genetik
dan biologis. Penilaian mendorong pengkajian perilaku dan persepsi
pasien dalam mengembangkan intervensi keperawatan yang tepat.
Penilaian juga menunjukkan berbagai faktor penyebab dan menekankan
hubungan timbal balik antara faktor-faktor tersebut dalam menjelaskan
perilaku yang terjadi. Dengan demikian, pemahaman yang benar tentang
ansietas bersifat holistik (Stuart, 2007).
4) Sumber koping
Individu dapat mengatasi stress dan ansietas dengan menggerakkan
sumber koping di lingkungan. Sumber koping tersebut yang berupa model
ekonomi, kemampuan penyelesaian masalah, dukungan sosial dan
keyakinan
budaya
dapat
membantu
individu
mengintegrasikan
pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping
yang berhasil (Stuart, 2007).
5) Mekanisme koping
Menurut (Stuart, 2007) ketika mengalami ansietas, individu menggunakan
berbagai
mekanisme
koping
untuk
mencoba
mengatasinya;
ketidakmampuan mengatasi ansietas secara konstruktif merupakan
penyebab utama terjadinya perilaku patologis. Pola yang biasa digunakan
individu untuk mengatasi ansietas ringan cenderung tetap domain ketika
ansietas menjadi lebih intens. Ansietas ringan sering
ditanggulangi tanpa pemikiran yang sadar. Ansietas sedang dan berat
menimbulkan dua jenis mekanisme koping:
a) Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan
berorientasi pada tindakan untuk memenuhi tuntutan situasi stress
secara realistis.
 Perilaku
menyerang
digunakan
untuk
menghilangkan
atau
mengatasi hambatan pemenuhan kebutuhan
 Perilaku menarik diri digunakan untuk menjauhkan diri dari sumber
ancaman, baik secara fisik maupun psikologis
 Perilaku kompromi digunakan untuk mengubah cara yang biasa
dilakukan individu, mengganti tujuan atau mengorbankan aspek
kebutuhan personal
b) Mekanisme pertahanan ego membantu mengatasi ansietas ringan dan
sedang. Tetapi karena mekanisme tersebut berlangsung secara relatif
pada tingkat sadar dan mencakup penipuan diri dan distorsi realitas,
mekanisme ini dapat menjadi respons maladaptif terhadap stress.
g. Penatalaksanaan kecemasan
1) Penatalaksanaan farmakologi
Pengobatan untuk anti kecemasan terutama benzodiazepine, obat ini
digunakan untuk jangka pendek dan tidak dianjurkan untuk jangka
panjang
karena
pengobatan
ini
menyebabkan
toleransi
dan
ketergantungan. obat anti kecemasan nonbenzodiazepine, seperti
buspiron (Buspar) dan berbagai antidepresan juga digunakan (Isaacs,
2005)
2) Penatalaksanaan non farmakologi
a) Distraksi
Distraksi merupakan metode untuk menghilangkan kecemasan
dengan cara mengalihkan perhatian pada hal-hal lain sehingga
pasien akan lupa terhadap cemas yang dialami. Stimulus sensori
yang menyenangkan menyebabkan pelepasan endorfin yang
bisa menghambat stimulus cemas yang mengakibatkan lebih sedikit
stimuli cemas yang ditransmisikan ke otak (Potter & Perry, 2005).
Salah satu distraksi yang efektif adalah dengan memberikan
dukungan
spiritual
(membacakan
doa
sesuai
agama
dan
keyakinannya), sehingga dapat menurunkan hormon-hormon
stressor, mengaktifkan hormon endorfin alami, meningkatkan
perasaan rileks dan mengalihkan perhatian dari rasa takut, cemas dan
tegang, memperbaiki sistem kimia tubuh sehingga menurunkan
tekanan darah serta memperlambat pernafasan, detak jantung,
denyut nadi dan aktivitas gelombang otak. Laju pernafasan yang
lebih dalam atau lebih lambat tersebut sangat baik menimbulkan
ketenangan, kendali emosi, pemikiran yang lebih dalam dan
metabolisme yang lebih baik.
b) Relaksasi
Terapi relaksasi yang dilakukan dapat berupa relaksasi,
meditasi, relaksasi imajinasi dan visualisasi serta relaksasi progresif
(Isaacs, 2005).
c) Pengetahuan
Memberikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien
tentang proses penyakit yang spesifik, menjelaskan patofisiologi dari
penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan
fisiologi dengan cara yang tepat, menggambarkan proses penyakit
dengan cara yang tepat, mengidentifikasi kemungkinan penyebab
dengan cara yang tepat, menyediakan informasi pada pasien tentang
kondisi dengan cara yang tepat, mendiskusikan perubahan gaya
hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa
yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit,
mendiskusikan pilihan terapi atau penanganan, mendukung pasien
untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan
cara yang tepat atau diindikasikan, merujuk pasien pada grup atau
agensi di komunitas lokal dengan cara yang tepat,
menginstruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan dengan cara yang
tepat (Nurarif & Kusuma,2013).
Pada penelitian (Riyani, 2013) didapatkan hasil 92% dari
seluruh pasien mengalami kecemasan, 5,4 % lainnya mengalami
ketidakberdayaan, 2,7% mengalami berduka dan 2,7% sisanya
mengalami gangguan citra tubuh. Dalam penelitian ini disebutkan
untuk menyelesaikan masalah ansietas, perawat perlu mengetahui
penyebab ansietas klien. Jika penyebabnya merupakan kurangnya
pengetahuan mengenai kondisi kesehatan klien, pemberian
informasi mengenai kondisi klien serta intervensi yang akan
diberikan kepada klien dapat menurunkan ansietas secara signifikan.
3. Ketidakberdayaan
a. Pengertian
Ketidakberdayaan adalah persepsi seseorang bahwa tindakannya
tidak akan memengaruhi hasil secara bermakna, kurang pengendalian yang
dirasakan terhadap situasi terakhir atau yang baru saja terjadi. Pada
ketidakberdayaan,
pasien
mungkin
mengetahui
solusi
terhadap
masalahnya, tetapi percaya bahwa hal tersebut diluar kendalinya untuk
mencapai solusi tersebut (Wilkinson, 2007).
Ketidakberdayaan adalah kondisi ketika individu atau kelompok
merasa tidak memiliki kendali personal atas peristiwa atau situasi tertentu
yang memengaruhi cara pandang, tujuan dan gaya hidup. Kebanyakan
individu mengalami perasaan tidak berdaya dalam berbagai tingkatan
disejumlah situasi berbeda. Diagnosis ini dapat digunakan untuk
menggambarkan individu yang berespons terhadap hilangnya kendali
dengan
menunjukkan
sikap
apati,
marah
atau
depresi.
Suatu
ketidakberdayan yang berkepanjangan dapat mengarah pada keputusasaan
(Carpenito-Moyet, 2013).
Faktor yang berhubungan dengan ketidakberdayaan menurut
Walkinson (2007) yaitu :
1) Lingkungan perawatan kesehatan
2) Program yang terkait dengan penyakit (misalnya, jangka panjang, sulit
dan kompleks)
3) Interaksi interpersonal
4) Gaya hidup keputusasaan
5) Penyakit kronis atau terminal
6) Komplikasi yang mengancam kehamilan
b. Batasan karakteristik menurut NANDA (2012) yaitu:
1) Bergantung pada orang lain
2) Depresi karena gangguan fisik
3) Tidak berpatisipasi dalam perawatan
4) Menyatakan asing
5) Menyatakan keraguan tentang kinerja peran
6) Menyatakan frustasi terhadap ketidakmampuan untuk melaksanakan
aktivitas sebelumnya
7) Menyatakan kurang kontrol
8) Menyatakan rasa malu
c. Tindakan keperawatan menurut (Nurarif & Kusuma, 2013) :
Self-eficacy enhancement :
1) Bantu pasien untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat
menimbulkan ketidakberdayaan
2) Diskusikan dengan pasien tentang pilihan yang realistis dalam
perawatan
3) libatkan pasien dalam pengambilan keputusan tentang perawatan
4) Jelaskan alasan setiap perubahan perencanaan terhadap pasien
5) Dukung pengambilan keputusan
6) Kaji kemampuan untuk pengambilan keputusan
7) Beri penjelasan kepada pasien tentang proses penyakit
Self Esteem Enhancement
1) Tunjukkan rasa percaya diri terhadap kemampuan pasien untuk
mengatasi situasi
2) Dorong pasien mengidentifikasi kekuatan dirinya
3) Ajarkan keterampilan perilaku yang positif melalui bermain peran,
model peran, diskusi
4) Dukung peningkatan tanggung jawab diri, jika diperlukan
5) Buat statement positif terhadap pasien
6) Monitor frekuensi komunikasi verbal pasien yang negatif
7) Dukung pasien untuk menerima tantangan
8) Kaji alasan untuk mengkritik atau menyalahkan diri sendiri
9) Lakukan kolaborasi dengan sumber-sumber lain (petugas dinas
sosial, perawat spesialis klinis dan layanan keagamaan).
4.
Keputuasaan
a. Pengertian
Keputusasaan
adalah
keadaan
emosional
subjektif
yang
berkepanjangan ketika individu tidak menemukan alternatif atau pilihan
pribadi guna memecahkan masalah yang dihadapi atau mencapai hal yang
diinginkan dan tidak dapat mengerahkan energi demi kepentingannya
sendiri guna menetapkan sejumlah tujuan. Keputuasaan berbeda dari
ketidakberdayaan, yakni ketika seseorang yang putus asa tidak
menemukan solusi atas permasalahannya atau cara untuk mencapai hal
yang diinginkan, sekalipun ia memegang kendali atas kehidupannya.
Seseorang yang tidak berdaya mampu melihat alternatif atau jawaban atas
permasalahannya, namun tidak mampu melakukan upaya apapun karena
kurangnya kendali atau sumber daya yang dimiliki (Carpenito- Moyet,
2013).
Keputusasaan adalah kondisi subjektif yang ditandai dengan
individu memandang hanya ada sedikit bahkan tidak ada alternatif atau
pilihan pribadi dan tidak mampu memobilisasi energi demi kepentingan
sendiri (NANDA, 2012). Keputusasaan menggambarkan bahwa seseorang
percaya tidak ada penyelesaian untuk masalahnya (“tidak ada jalan
keluar”). Bagi beberapa pasien, keputusasaan dapat menjadi faktor resiko
bunuh diri (Wilkinson, 2007).
b. Batasan karakteristik menurut NANDA (2012)
1) Menutup mata
2) Penurunan afek
3) Penurunan selera makan
4) Penurunan respons terhadap stimulus
5) Penurunan verbalisasi
6) Kurang inisiatif
7) Kurang keterlibatan dalam asuhan
8) Pasif
9) Mengangkat bahu sebagai respons terhadap orang yang mengajak
bicara
10) Gangguan pola tidur
11) Meninggalkan orang yang mengajak bicara
12) Isyarat verbal (misalnya isi putus asa “saya tidak dapat”, menghela
napas
c. Faktor yang berhubungan dengan keputusasaan menurut Nanda (2012)
yaitu :
1) Diasingkan
2) Penurunan kondisi fisiologis
3) Stres jangka panjang
4) Kehilangan kepercayaan pada kekuatan spiritual
5) Kehilangan kepercayaan pada nilai penting
6) Pembatasan aktivitas jangka panjang
7) Isolasi sosial
d. Tindakan keperawatan menurut Carpenito-Moyet (2013) yaitu :
1) Tunjukkan empati untuk mendorong klien menyampaikan keraguan,
ketakutan dan kekhawatirannya
2) Tentukan adanya risiko bunuh diri
3) Dorong klien untuk mengungkapkan mengapa dan bagaimana
harapan menjadi hal yang penting dalam kehidupannya
4) Dorong klien mengungkapkan bagaimana harapan menjadi sesuatu
yang tidak pasti dan harapannya yang tidak terwujud
5) Ajarkan
cara
mengatasi
aspek-aspek
keputusasaan
dengan
memisahkannya dari aspek-aspek harapan
6) Kaji dan mengerahkan sumber daya dalam diri individu (otonomi,
kemandirian,
rasionalitas,
pemikiran
kognitif,
fleksibilitas,
spiritualitas)
7) Bantu klien mengidentifikasi sumber-sumber harapan (misalnya
hubungan antar-sesama, keyakinan, hal-hal yang ingin dicapai)
8) Ciptakan lingkungan yang mendukung ekspresi spiritual
9) Bantu klien mengembangkan tujuan jangka panjang dan jangka
pendek yang realistis (berkembang dari tujuan yang sederhana ke
tujuan yang lebih kompleks, dapat menggunakan “poster tujuan”
untuk mengindikasikan jenis dan waktu untuk mencapai tujuan yang
spesifik).
10) Ajari klien cara mengantisipasi pengalaman yang menyenangkan
(misalnya berjalan-jalan, membaca buku favorit, menulis surat)
11) Kaji dan mengerahkan sumber daya di luar diri individu (orang
terdekat, tim layanan kesehatan, kelompok pendukung, Tuhan atau
kekuatan yang lebih tinggi)
12) Bantu klien menyadari bahwa ia dicintai, disayangi dan merupakan
sosok penting dalam kehidupan orang lain, terlepas dari kondisi
kesehatannya yang menurun
13) Dorong klien untuk menceritakan kekhawatirannya pada orang lain
yang pernah mempunyai masalah atau penyakit yang sama dan telah
memiliki pengalaman positif dalam mengatasi masalah tersebut
dengan koping yang efektif
14) Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, aktivitas keagamaan,
hubungan dengan Tuhan, makna dan tujuan berdoa)
15) Beri klien waktu dan kesempatan untuk becermin pada makna
penderitaan, kematian dan menjelang ajal
16) Lakukan perujukan sesuai indikasi (misalnya konseling, pemuka
agama)
Download
Study collections