Uploaded by User85134

SKRIPSI Dimas PJ - Hubungan BTD terhadap Tax Avoidance dengan Manajemen Laba sebagai Variabel Moderasi

advertisement
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS TRISAKTI
SKRIPSI
HUBUNGAN BOOK TAX DIFFERENCES TERHADAP TAX AVOIDANCE
DENGAN MANAJEMEN LABA SEBAGAI VARIABEL MODERASI
Diajukan oleh:
DIMAS PRIHANDANA JATI
023001804067
UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN DARI SYARAT-SYARAT
GUNA MENCAPAI GELAR
SARJANA AKUNTANSI
2020
i
FACULTY OF ECONOMICSAND BUSINESS
TRISAKTI UNIVERSITY
THESIS
THE RELATIONSHIP OF BOOK TAX DIFFERENCES ON TAX
AVOIDANCE WITH EARNING MANAGEMENT AS MODERATED
VARIABLE
Submitted By:
DIMAS PRIHANDANA JATI
023001804067
SUBMITTED IN PARTIAL FULFILLMENT OF THE REQUIREMENTS
FOR AWARD OF
BACHELOR DEGREE OF ACCOUNTING
2020
ii
UNIVERSITAS TRISAKTI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
TANDA PERSETUJUAN SKRIPSI
1. Nama
: Dimas Prihandana Jati
2. N.I.M
: 023001804067
3. Jurusan
: Akuntansi
4. Bidang/Konsentrasi Skripsi : Akuntansi Keuangan
5. Judul Skripsi
: Hubungan Book Tax Differences terhadap Tax
Avoidance dengan Manajemen Laba sebagai
Variabel Moderasi
Jakarta, Agustus 2020
Mengetahui,
Menyetujui,
Ketua Program Studi Akuntansi
Pembimbing Skripsi
(Dr. Murtanto SE., M.Si., CA.)
(Prof. Dr. Etty Murwaningsari, Ak.,MM., CA.)
i
TRISAKTI UNIVERSITY
FACULTY OF ECONOMICS AND BUSINESS
THESIS APPROVAL FORM
1. Name
: Dimas Prihandana Jati
2. N.I.M
: 023001804067
3. Majoring
: Accounting
4. Concentrated
: Financial Accounting
5. Thesis Title
: The Effect of Book Tax Differences to Tax Avoidance with
Earning Management as Moderating Variable
Jakarta, August 07th 2020
Mengetahui,
Menyetujui,
Ketua Program Studi Akuntansi
Pembimbing Skripsi
(Dr. Murtanto SE., M.Si., CA.)
(Prof. Dr. Etty Murwaningsari, Ak.,MM., CA.)
ii
UNIVERSITAS TRISAKTI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
TANDA PENGESAHAN SKRIPSI
1. Nama
: Dimas Prihandana Jati
2. N.I.M
: 023001804067
3. Jurusan
: Akuntansi
4. Bidang/Konsentrasi Skripsi : Akuntansi Keuangan
5. Judul Skripsi
: Hubungan Book Tax Differences terhadap Tax
Avoidance dengan Manajemen Laba sebagai
Variabel Moderasi
PANITIA PENGUJI SKRIPSI
Tanggal: Agustus 2020
Tanggal: Agustus 2020
Tanggal: Agustus 2020
Telah disetujui dan diterima untuk memenuhi sebagian dari persyaratan guna
memperoleh gelar Sarjana Akuntansi.
Jakarta, Agustus 2020
Ketua Program Studi Akuntansi
(Dr. Murtanto SE., M.Si., CA.)
iii
TRISAKTI UNIVERSITY
FACULTY OF ECONOMICS AND BUSINESS
THESIS ENDORSEMENT
1. Name
: Dimas Prihandana Jati
2. N.I.M
: 023001804067
3. Major
: Accounting
3. Concentrated
: Financial Accounting
4. Thesis Title
: The Relationship of Book Tax Differences on Tax Avoidance
with Earning Management as Moderated Variable
THESIS EXAMINER COMMITTEE
Date: August
2020
Date: August 2020
Date: August
2020
Approved and accepted to fulfill some requirements in obtaining bachelor degree of
economics
Jakarta, August 07th 2020
Head of Accounting Department
(Dr. Murtanto SE., M.Si., CA.)
iv
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama
: Dimas Prihandana Jati
NIM
: 023001804067
Jurusan
: Akuntansi
Menyatakan bahwa skripsi ini adalah murni hasil karya sendiri. Apabila saya mengutip
dari karya orang lain, maka saya mencantumkan sumbernya sesuai dengan ketentuan
yang berlaku. Saya bersedia dikenakan sanksi pembatalan skripsi ini apabila terbukti
melakukan tindakan plagiat.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
v
SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN UNTUK DIPUBLIKASI
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama
: Dimas Prihandana Jati
NIM
: 023001804067
Jurusan
: Akuntansi
Menyatakan bahwa saya bersedia untuk mempublikasikan skripsi ini atas nama saya
dan Dosen Pembimbing setelah dilakukan penulisan kembali (rewrite).
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
vi
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat,
hidayah, dan karunia-Nya, atas seizin-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian ini
dengan baik. Dalam penelitian ini penulis mengangkat judul “Hubungan Book Tax
Difference terhadap Tax Avoidance dengan Manajemen Laba sebagai Variabel
Moderasi”. Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi sebagian dari syaratsyarat guna mencapai gelar Sarjana Akuntansi di Universitas Trisakti.
Penulis menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari
kontribusi positif, meliputi bimbingan dan dorongan baik moril maupun materiil oleh
berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1.
Allah SWT, atas segala nikmat, anugerah, rahmat, dan pertolongan-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik;
2.
Orangtua penulis, Alm. Bapak Tri Asmara Giri Sudrajat atas segala perjuangan
semasa hidupnya yang menginspirasi penulis. Ibu Daryanti atas seluruh
pengorbanan serta kasih sayangnya hingga mengantarkan penulis berada di fase
kehidupan saat ini. Serta adik penulis, dr. Ajeng Dwi Restiantie atas supportnya
selama ini;
3.
Istri penulis, Poetrie Aliza Saridane atas kesabarannya mendukung penulis dalam
segala aspek kehidupan kami. Anakku, Khaleva Andaru Zarhan yang menjadi
oasis atas segala kesulitan dan kebuntuan penulis;
4.
Prof. Dr. Etty Murwaningsari, Ak. MM. CA., selaku Dosen Pembimbing Skripsi
dan yang sudah bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk
memberikan arahan, saran, serta semangat dalam proses penyelesaian skripsi ini;
5.
Bpk. Murtanto Amin, Ak., CA., M.M., selaku selaku Ketua Program Studi
Akuntansi Universitas Trisakti;
6.
Bpk. Wahyudiroso, SE., MM., selaku dosen wali yang telah memberikan
dukungan dan bimbingan;
7.
Seluruh Dosen yang terlibat dalam program studi Akuntansi Universitas Trisakti
yang telah menginspirasi, memotivasi, dan menambah khasanah keilmuan penulis
selama menimba ilmu di Universitas Trisakti;
vii
8.
Seluruh Staf Akademik, Staf Keuangan, Staf Perkuliahan, Staf Perpustakaan dan
seluruh Civitas Akademika Program Ekstensi Universitas Trisakti pada program
studi Akuntansi Universitas Trisakti;
9.
Bpk. Jon Suryauda Soedarso selaku Kepala KPP Madya Tangerang atas
supportnya kepada penulis selama ini;
10. Bpk. Kumara Candra Ratri Raden selaku Kepala Seksi Penagihan atas bimbingan
dan dukungannya dari awal masa kuliah sampai penulis berhasil menuntaskan
perkuliahan saat ini. Kakak Tami dan Kakak Isti atas supportnya yang istimewa
kepada penulis selama ini;
11. Keluarga Besar penulis atas supportnya, Bpk. Sudijono, Mas Aris, Mba Esti, Mas
Awan, Mba Sila, Mas Enggo, Teh Windy, Sheryl, Malik, Saka dan Rayyan;
12. Rekan seperjuangan penulis (Akuntansi Trisakti Dejepe) Angelina Moedakh,
Ryan Agatha, Pinurba Anandita dan Irma Renataria Siregar yang telah mewarnai
persaingan masa perkuliahan di Universitas Trisakti selama ini;
13. Ari, Agyl, Winda, Sondang, Ayu, Fiqie dan lain-lain teman seperjuangan
seperbimbingan yang selalu memberikan masukan, semangat dan motivasi;
14. Ilmam, Rifqa, Nyunyun, Adnan, Wahyu, Diram, Alifah, Muna, serta rekan-rekan
perkuliahan penulis lainnya.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dan memiliki
banyak ruang untuk perbaikan. Oleh karena itu, penulis senantiasa mengharapkan
saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pihak guna peningkatan manfaat
dari skripsi ini di masa mendatang. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat
memberikan kontribusi yang baik bagi pihak yang berkepentingan.
Jakarta, Agustus 2020
Penulis
Dimas Prihandana Jati
viii
DAFTAR ISI
Halaman
TANDA PERSETUJUAN SKRIPSI .................................................................
i
THESIS APPROVAL FORM ............................................................................
ii
TANDA PENGESAHAN SKRIPSI ...................................................................
iii
THESIS ENDORSEMENT ................................................................................
iv
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ...........................................
v
SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN UNTUK DIPUBLIKASIKAN ........
vi
KATA PENGANTAR .........................................................................................
vii
DAFTAR ISI ........................................................................................................
ix
DAFTAR TABEL ...............................................................................................
xiii
DAFTAR GAMBAR ..........................................................................................
xiv
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................
xv
ABSTRAK ...........................................................................................................
xvi
ABSTRACT ......................................................................................................... xvii
BAB I
BAB II
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................
1
1.2 Perumusan Masalah......................................................................
9
1.3 Tujuan Penelitian..........................................................................
10
1.4 Manfaat Penelitian........................................................................
11
1.5 Sistematika Penulisan Skripsi ......................................................
13
TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1 Tinjauan Literatur.........................................................................
14
2.1.1 Rerangka Teoritis ................................................................
14
2.1.1.1 Teori Agensi ........................................................... 114
2.1.1.2 Book Tax Diferences ...............................................
16
2.1.1.2.1 Perbedaan Permanen...............................
19
2.1.1.2.2 Perbedaan Temporer ...............................
20
2.1.1.3 Rekonsiliasi Fiskal ..................................................
25
2.1.1.3.1 Koreksi Fiskal Positif .............................
26
ix
2.1.1.3.2 Koreksi Fiskal Negatif ............................
29
2.1.1.4 Fixed Asset ..............................................................
34
2.1.1.5 Intangible Asset ......................................................
35
2.1.1.6 Manajemen Laba.....................................................
36
2.1.1.7 Tax Avoidance ........................................................
38
2.1.2 Penelitian Terdahulu ..........................................................
42
2.2 Kerangka Konseptual ...................................................................
46
2.3 Pengujian Hipotesis ......................................................................
48
2.3.1 Pengaruh fixed asset terhadap tax avoidance .....................
48
2.3.2 Pengaruh intangible asset terhadap tax avoidance ..............
49
2.3.3 Pengaruh sales growth terhadap tax avoidance ...................
50
2.3.4 Pengaruh deferred tax expense terhadap tax avoidance ......
50
2.3.5 Manajemen Laba dalam pengaruhnya antara fixed asset
terhadap tax aviodance........................................................
51
2.3.6 Manajemen Laba dalam pengaruhnya antara fixed asset
terhadap tax aviodance........................................................
52
2.3.7 Manajemen Laba dalam pengaruhnya antara fixed asset
terhadap tax aviodance........................................................
52
2.3.8 Manajemen Laba dalam pengaruhnya antara fixed asset
terhadap tax aviodance........................................................
BAB III
53
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian ...................................................................
56
3.2 Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran ...........................
57
3.3 Teknik Pengumpulan Data ...........................................................
69
3.4 Populasi dan Sampel ....................................................................
70
3.5 Teknik Penarikan Sampel ............................................................
71
3.6 Metode Analisis ..........................................................................
71
3.6.1 Statistik Desktiptif ...............................................................
71
3.6.2 Analisis Regresi Data Panel ................................................
72
3.6.3. Pemilihan Model Regresi ...................................................
73
3.6.4. Uji Asumsi Klasik ..............................................................
74
x
3.6.5 Uji Hipotesis ........................................................................
BAB IV
77
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskriptif Objek Penelitian ..........................................................
82
4.2 Analisis Statistik Deskriptif .........................................................
83
4.3 Analisis Hasil Penelitian ..............................................................
88
4.3.1 Pemilihan Model Regresi Persamaan 1 ..............................
88
4.3.2 Pemilihan Model Regresi Persamaan 2 ...............................
92
4.4 Uji Asumsi Klasik ........................................................................
97
4.4.1 Uji Asumsi Klasik Persamaan 1 ..........................................
98
4.4.2.Uji Asumsi Klasik Persamaan 2 .......................................... 100
4.5 Uji Regresi Data Panel ................................................................. 103
4.5.1 Analisis Persamaan Regresi ............................................... 103
4.5.2 Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R2) ............................ 114
4.5.3 Uji Signifikansi Simultan (Uji F) ........................................ 115
4.5.4 Uji Signifikansi Parsial (Uji t) ............................................. 117
4.6 Pembahasan Hasil Penelitian ....................................................... 124
BAB V
SIMPULAN, KETERBATASAN DAN IMPLIKASI
5.1 Simpulan ...................................................................................... 130
5.2 Keterbatasan Penelitian ................................................................ 134
5.3 Implikasi dan Saran ...................................................................... 135
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 137
LAMPIRAN ......................................................................................................... 142
xi
DAFTAR TABEL
Tabel
Keterangan
Halaman
2.1
Penelitian Terdahulu ..........................................................................
42
4.1
Kriteria Pemilihan Sampel .................................................................
83
4.2
Statistik Deskriptif Data Penelitian ....................................................
84
4.3
Uji Chow – Persamaan 1 ....................................................................
90
4.4
Uji Hausman – Persamaan 1 ..............................................................
91
4.5
Uji Pemilihan Model Regresi – Persamaan 1 ....................................
92
4.6
Uji Chow – Persamaan 2 ....................................................................
94
4.7
Uji Hausman – Persamaan 2 ..............................................................
95
4.8
Uji Lagrange Multiplier – Persamaan 2 .............................................
96
4.9
Uji Pemilihan Model Regresi – Persamaan 2 ....................................
97
4.10
Uji Multikolinearitas – Persamaan 1 ..................................................
99
4.11
Uji Heteroskedastisitas – Persamaan 1 .............................................. 100
4.12
Uji Multikolinearitas – Persamaan 2 .................................................. 102
4.13
Hasil Uji Asumsi Klasik..................................................................... 103
4.14
FEM dengan Cross-section Weight & White (diagonal) ................... 104
4.15
REM dengan White (diagonal) .......................................................... 108
4.16
Uji Koefisien Determinasi– Persamaan 1 .......................................... 115
4.17
Uji Koefisien Determinasi – Persamaan 2 ......................................... 115
4.18
Uji Signifikansi Simultan – Persamaan 1........................................... 117
4.19
Uji Signifikansi Simultan – Persamaan 2........................................... 118
4.20
Hasil Uji t – Persamaan 1 ................................................................... 119
4.21
Hasil Uji t – Persamaan 2 ................................................................... 103
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar
2.1
Keterangan
Halaman
Kerangka Konseptual .........................................................................
xiii
47
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Keterangan
1.
Daftar Sampel Perusahaan
2.
Hasil Olah Data E-Views versi 9
xiv
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk meneliti hubungan antara variable
independen yaitu book tax difference dengan variable dependen yaitu tax avoidance.
Lebih jauh secara khusus, penelitian ini berusaha menguji pos-pos dalam laporan
keuangan yang merupakan proksi dari book tax difference yang berkaitan erat dengan
adanya indikasi terjadinya tax avoidance oleh perusahaan. Variabel independen berupa
book tax difference diproksikan dengan fixed asset, intangible asset, sales growth, dan
beban pajak tangguhan. Penelitian ini juga menggunakan variable moderasi berupa
manajemen laba serta variable control yaitu ukuran perusahaan, leverage, profitabilitas
dan operational cash flow.Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive
sampling dengan jumlah sampel sebanyak 49 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI) dalam rentang waktu antara tahun 2016 – 2018. Karakterisitk data
yang digunakan berupa data panel dimana terdapat 2 kali analisis persamaan regresi
yaitu persamaan regresi pertama yang menggunakan metode fixed effect model dan
persamaan regresi kedua yang menggunakan random effect model.
Hasil pengujian dari penelitian ini menunjukkan bahwa fixed asset dan sales
growth memiliki pengaruh yang positif terhadap tax avoidance. Sementara itu
intangible asset dan beban pajak tangguhan diketahui memiliki pengaruh yang
negative terhadap tax avoidance. Adapun hasil dari moderasi yang dilakukan variable
manajemen laba terhadap 4 (empat) variable independen dalam penelitian ini
menunjukkan bahwa manajemen laba tidak dapat memoderasi pengaruh antara fixed
asset, intangible asset, sales growth, dan beban pajak tangguhan terhadap tax
avoidance. Hasil ini ditunjukkan dari tidak adanya nilai probabilitas variabel yang
signifikan atas moderasi keempat variable independen tersebut.
Kata kunci : Book tax difference, Tax Avoidance, Manajemen Laba, Fixed Asset,
Intangible Asset, Sales Growth, Beban Pajak Tangguhan, Ukuran Perusahaan,
Leverage, Profitabiiltas, , ROA, Operational Cash Flow
xv
ABSTRACT
This research was conducted with the aim to examine the relationship between
independent variables, namely book tax difference with the dependent variable,
namely tax avoidance. Furthermore, specifically, this study seeks to examine the items
in the financial statements which are a proxy of the book tax difference that is closely
related to the existence of indications of tax avoidance by the company. The
independent variable in the form of book tax difference is proxied by fixed assets,
intangible assets, sales growth, and deferred tax expense. This study also uses
moderation variables in the form of earnings management and control variables
namely company size, leverage, profitability and operational cash flow. The sample
selection is done by purposive sampling method with a total sample of 49 companies
listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI) in the time span between 2016 - 2018.
Data characteristics used in the form of panel data where there are 2 times the
regression equation analysis is the first regression equation using the fixed effect
model method and the second regression equation using the random effect model.
Test results from this study indicate that fixed assets and sales growth have a
positive effect on tax avoidance. Meanwhile intangible assets and deferred tax expense
are known to have a negative effect on tax avoidance. The results of moderation by
earnings management variables on 4 (four) independent variables in this study indicate
that earnings management cannot moderate the influence of fixed assets, intangible
assets, sales growth, and deferred tax burden on tax avoidance. This result is shown
from the absence of significant variable probability values for the moderation of the
four independent variables.
Keywords : Book tax difference, Tax Avoidance, Earning Management, Fixed Asset,
Intangible Asset, Sales Growth, Deferred Tax Expense, Company Size, Leverage,
Profitability, ROA, Operational Cash Flow
xvi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem perpajakan di Indonesia sejak tahun 2007 telah menganut sistem selfassessment yang artinya Wajib Pajak berkewajiban melaksanakan kewajiban
perpajakannya seperti menghitung, melapor dan menyetorkan pajaknya sendiri secara
benar. Hal ini bertolak belakang dengan sistem perpajakan yang berlaku di Indonesia
sebelum dilaksanakannya reformasi perpajakan jilid kedua pada tahun 2007 yaitu
menganut sistem official assessment. Sistem ini menerapkan ketentuan bahwa
regulator, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak, berwenang menentukan jumlah
pajak yang harus dibayar oleh setiap Wajib Pajak atau dalam bahasa lain dapat
diartikan bahwa regulator berperan mengambil inisiatif awal pemenuhan kewajiban
perpajakan. Sementara dengan sistem self assessment saat ini, Wajib Pajak yang
memegang kendali untuk mengambil inisiatif awal dalam pelaksanaan kewajiban
perpajakannya dengan menghitung jumlah pajak yang harus dibayar lalu melakukan
penyetoran dan pelaporan SPT Masa maupun SPT Tahunan.
Dalam mencapai keberhasilannya sistem ini menuntut kesadaran Wajib Pajak
untuk secara jujur dapat melaksanakan kewajiban perpajakannya dengan benar.
Namun sebagaimana terafirmasi dalam benak banyak pihak bahwa membayar pajak
bukanlah hal yang menyenangkan, sebagaimana diungkapkan oleh Listokin dan
Schizer (2013) bahwa hanya segelintir orang yang dengan senang hati membayar
pajak. Untuk itu dalam tugasnya mengamankan penerimaan negara, regulator juga
1
2
memiliki alat untuk memastikan bahwa Wajib Pajak telah melaksanakan kewajiban
perpajakannya sesuai ketentuan saah satunya melalui pemeriksaan pajak.
Penerimaan negara dari sector pajak telah menjadi tulang punggung APBN
selama ini dimana pada APBN tahun 2020 penerimaan pajak ditargetkan mencapai Rp
1.865,7 triliun atau sekitar 83,5% dari total rencana penerimaan negara dalam APBN
tahun 2020. Namun telah menjadi perhatian banyak pihak bahwa untuk negara sebesar
Indonesia, tax ratio yang kita miliki saat ini masih jauh dari kata memuaskan. Dikutip
dari media Kontan bahwa pada tahun 2018 tax ratio Indonesia berada di angka 11,6%
sementara pada tahun 2019 berada di angka 12,2%. Apabila dibandingkan dengan
lower middle income country lainnya tax ratio yang dimiliki negara-negara tersebut
rata-rata sebesar 17,7%.
Bercermin dari tax ratio yang masih jauh dari harapan dan kenyataan bahwa
realisasi penerimaan pajak dalam beberapa tahun terakhir selalu tidak mencapai target
yang ditetapkan. Maka dari itu regulator perlu mengambil langkah-langkah strategis
secara lebih intensif dan terukur. Namun hal ini perlu menjadi catatan bersama
khususnya Wajib Pajak yang memiliki peran besar dalam menentukan keberhasilan
pembangunan di negara ini melalui pajak yang dibayarkannya.
Akan tetapi sebagaimana ungkapan yang telah disebut sebelumnya bahwa
membayar pajak bukan merupakan hal yang menyenangkan bagi banyak orang maka
mereka senantiasa mencari cara untuk melakukan penghindaran diri dari kewajiban
perpajakannya. Menurut James Kressler terdapat 2 (dua) jenis penghindaran pajak
yaitu penghindaran pajak yang diperbolehkan (Acceptable Tax Avoidance) dan
penghindaran pajak yang yang tidak diperbolehkan (Unacceptable Tax Evasion).
3
Beragam cara dan modus dilakukan dalam upaya menghindari pajak, Ronen Palan
(2008) menyebutkan bahwa suatu transaksi dapat dikatakan melakukan penghindaran
pajak apabila melakukan paling tidak salah satu dari tindakan-tindakan seperti wajib
pajak berusaha untuk membayar pajak lebih sedikit dari yang seharusnya terutang
dengan memanfaatkan kewajaran interpretasi hukum pajak. Wajib pajak berusaha agar
pajak dikenakan atas keuntungan yang di declare dan bukan atas keuntungan yang
sebenarnya diperoleh atau wajib pajak mengusahakan penundaan pembayaran pajak.
Adapun di dalam penelitian ini penulis memfokuskan masalah pada penghindaran
pajak yang diperbolehkan (Tax Avoidance), yang dilakukan secara legal dengan
memanfaatkan celah di dalam aturan perpajakan atau yang memanfaatkan grey area
antara tax compliance dan tax evasion.
Manajemen laba dapat menjadi salah satu cara bagi Wajib Pajak, selanjutnya
disebut perusahaan, untuk melakukan tax avoidance dengan memanfaatkan celah yang
muncul akibat adanya perbedaan peraturan yang berlaku antara pajak dan akuntansi.
Pajak mengatur secara rigid mengenai definisi penghasilan, objek pajak dan
penerapannya melalui Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan. Sementara akuntansi menerapkan peraturan berdasarkan Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang mengatur secara umum definisi,
pengakuan, penyajian, dan pengungkapan item dalam laporan keuangan termasuk di
dalamnya pendapatan dan beban.
Keduanya memiliki tujuan yang berbeda, jika Undang-Undang No. 36 Tahun
2008 tentang Pajak Penghasilan mendefinisikan bertujuan untuk memberikan arahan
dan ketentuan dalam rangka menghitung penghasilan kena pajak sehingga tujuan
4
utama sistem perpajakan, yaitu pemungutan pajak yang adil, terdapatnya kepastian
hukum, dan terjaganya penerimaan negara yang berasal dari pajak, dapat tercapai. Di
sisi lain PSAK bertujuan untuk menghasilkan laporan keuangan yang kredibel dan
reliable sehingga dapat diandalkan oleh para pengguna laporan keuangan dalam
mengambil keputusan dan melindungi para pengguna dari informasi yang
menyesatkan.
Perbedaan tujuan tersebut menyebabkan beberapa aturan pajak menetapkan
penghasilan dan biaya secara spesifik, sehingga laba menurut akuntansi berbeda
dengan laba menurut pajak. Perbedaan inilah yang pada akhirnya memicu yang disebut
Book Tax Gap atau Book Tax Differences. Book Tax Difference merupakan salah satu
topik riset yang banyak diteliti oleh periset pajak dan akuntansi. Book Tax Difference
sering dianggap sebagai ukuran perencanaan pajak, tax avoidance, dan manajemen
laba untuk tujuan pajak. Book-tax differences terbentuk karena disebabkan oleh
perbedaan temporer dan perbedaan permanen. Perbedaan temporer terjadi karena
terdapat perbedaan waktu pengakuan penghasilan dan beban antara laporan keuangan
fiskal dengan laporan keuangan komersial, sementara perbedaan permanen terjadi
karena terdapat peraturan yang berbeda antara standar akuntansi keuangan dengan
peraturan perundang-undangan perpajakan (Eka Persada, 2010).
Selanjutnya penelitian ini mencoba menggunakan manajemen laba sebagai
variable moderasi dalam menilai pengaruhnya terhadap tax avoidance. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Sundvik (2017) yang dimuat dalam Nordic Tax Journal
menyatakan bahwa perusahaan privat cenderung melakukan manajemen laba dalam
menghadapi perubahan tarif pajak yang akan berlaku. Sementara Lin et al. (2014)
5
menyatakan bahwa perusahaan privat cenderung melakukan income shifting ketika
akan diberlakukannya tarif pajak baru yang lebih rendah. Tang (2015) menjelaskan
bahwa tingkat kesesuaian yang tinggi antara pelaporan keuangan secara akuntansi dan
fiscal memiliki kaitan yang kuat dengan minimnya upaya manajemen laba dan
penghindaran pajak yang dilakukan. Berdasarkan hal-hal tersebut dapat disimpulkan
bahwa manajemen laba dilakukan dalam upaya perusahaan menghindari membayar
pajak dengan benar dan dalam upaya meminimalisasi pembayaran pajak (Zommerman
dan Goncharov, 2004).
Book-tax difference (BTD) sedniri sering dijadikan sebagai suatu indikator
suatu perusahaan melakukan apakah tindakan penghindaran pajak atau tidak dan juga
berkaitan dengan manajemen laba dan persistensi laba. Hasil penelitian yang dilakuka
oleh Sismi dan Martani (2014) menunjukkan bahwa komponen large positive normal
book-tax difference (LPNBTD) tidak berpengaruh terhadap persistensi laba.
Sementara abnormal book-tax difference (ABTD) akan berpengaruh secara negative
terhadap persistensi laba, begitu pula large negative normal book tax difference
(LNNBTD) yang berpengaruh secara negatif terhadap persistensi laba. Kemudian
Tang dan Firth (2011) menyatakan bahwa Book Tax Differences dapat digunakan
untuk menemukan indikasi terjadinya itax management dan earning management.
Dalam penelitiannya yang dilakukan terhadap perusahaan di China, dinyatakan bahwa
earning management dapat dijelaskan sebesar 7,4% melalui Abnormal BTD,
kemudian tax management dapat dijelaskan sebesar 27,8% melalui Abnormal BTD
dan korelasi dari interaksi antara earning management dengan tax management dapat
dijelaskan sebesar 3,2% melalui Abnormal BTD. Menarik kesimpulan dari beberapa
6
penelitian tersebut dapat dinyatakan bahwa baik Book Tax Difference atau manajemen
laba berpengaruh terhadap indikasi tax avoidance yang dilakukan perusahaan.
Sebagaimana diketahui bahwa laporan keuangan dan juga SPT baik Masa
maupun Tahunan merupakan dokumen utama yang digunakan oleh regulator dalam
menilai kebenaran pemenuhan kewajiban perpajakan. Berdasarkan pengalaman
penulis, regulator seringkali melakukan analisa dengan membandingkan nilai yang
terkandung di dalam laporan keuangan dengan yang terkandung di dalam SPT Masa
atau SPT Tahunan kemudian melakukan ekualisasi terhadap keduanya untuk melihat
apakah terdapat potensi pajak yang belum terlaporkan. Dengan mengetahui laporan
keuangan yang memiliki kualitas laba rendah dan dihubungkan dengan indikasi
adanya upaya tax avoidance maka ini dapat menjadi cara bagi regulator dalam
meningkatkan basis datanya demi menunjang upaya penggalian potensi pajak yang
optimal.
Sejalan dengan upaya peningkatan penggalian potensi pajak, salah satu cara
yang dilakukan regulator melalui kegiatan pemeriksaan pajak. Untuk itu telah terbit
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-15/PJ/2018 tentang Kebijakan
Pemeriksaan yang di antaranya mengatur mengenai revitalisasi proses bisnis
pemeriksaan meliputi penyusunan Daftar Sasaran Prioritas Penggalian Potensi,
Kebijakan Pemeriksaan untuk menguji pemenuhan kewajiban perpajakan dan
Kebijakan Pemeriksaan untuk Tujuan lain. Hadirnya peraturan ini menegaskan niat
regulator untuk mengintensifkan penggalian potensi perpajakan dengan melakukan
pemeriksaan terhadap baik WP Badan maupun WP Orang Pribadi yang termasuk
dalam daftar sasaran prioritas penggalian potensi pajak yang memiliki indikasi
7
ketidakpatuhan tinggi di antaranya melalui modus perencanaan pajak secara agresif
(Aggressive Tax Planning) yang berujung pada penghindaran pajak (Tax Avoidance).
Penyusunan penelitian ini sebagian besar terinspirasi dari penelitian yang
dilakukan oleh Blaylock et al., (2012) dan Desai & Dharmapala (2009). Penelitian
yang dilakukan oleh Blaylock et al., menghasilkan temuan bahwa dalam melihat
hubungan antara Book Tax Differences dengan persistensi laba perlu juga melihat
sumber terjadinya Book Tax Differences tersebut. Ada dua sumber terjadinya Book
Tax Differences menurut penelitian tersebut yaitu, akibat adanya manajemen laba yang
dilakukan perusahaan dan akibat adanya upaya penghindaran pajak. Blaylock et al.,
menemukan bahwa perusahaan dengan Large Positive Book Tax Differences (LPBTS)
tinggi yang berasal dari adanya upaya penghindaran pajak menghasilkan persistensi
akrual yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan dengan LPBTD tinggi lainnya.
Sementara perusahaan dengan LPBTD tinggi yang berasal dari manajemen laba yang
dilakukan perusahaan menghasilkan peristensi laba dan persistensi akrual yang lebih
rendah dibanding perusahaan dengan LPBTD lainnya. Blaylock berupaya untuk
menegaskan bahwa penting bagi investor untuk melihat sumber terjadinya Tax Book
Differences dalam menilai kualitas laba yang dihasilkan perusahaan. Selain itu
penelitian ini juga terinspirasi dari penelitian yang dilakukan oleh Desai dan
Dharmapala (2009) yang menjelaskan hubungan antara Manajemen laba, Tax Shelter
dan Book Tax Alignment. Hasil penelitian menunjukkan tax avoidance terjadi dari hasil
tindakan manipulasi laba yang dilakukan oleh manajemen sehubungan dengan konflik
kepentingan yang terjadi antara manajemen (agen) dan pemegang saham (principal)
sebagaiaman yang diutarakan dalam teori agensi.
8
Untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih berkualitas, penelitian ini
menggunakan beberapa variable kontrol diantaranya adalah ukuran perusahaan,
leverage, profitabilitas dan arus kas operasional. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Lanis dan Richardson (2012) dinyatakan bahwa ukuran perusahaan
memiliki pengaruh positif terhadap tax avoidance. Kemudian leverage juga terbukti
memiliki pengaruh positif terhadap tax avoidance mengacu kepada penelitian yang
dilakukan oleh Dharma dan Ardiana (2016). Merle et al., (2019) juga mneyatakan
bahwa leverage berpengaruh positif terhadap transfer pricing yang biasa digunakan
sebagai proksi tax avoidance. Variabel profitabilitas digunakan untuk mengetahui
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Menurut Darmawan dan
Sukartha (2014) profitabilitas berpengaruh positif terhadap tax avoidance. Sementara
itu perusahaan dengan arus kas operasional yang tinggi cenderung melakukan tax
avoidance secara agresif (Kim dan Jang, 2018).
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah tidak
menggunakan Book Tax Differences sebagai variabel independent secara langsung
melainkan penggunaan beberapa determinan Book Tax Differences sebagai variabel
independen untuk menjelaskan pengaruhnya terhadap Tax Avoidance. Tujujan dari hal
tersebut adalah menangkap gambaran apakah akun-akun keuangan yang ikut
membentuk terjadinya Book Tax Differences dapat memengaruhi secara langsung
terhadap Tax Avoidance. Hal ini dilakukan dengan maksud memberikan gambaran
bagi regulator untuk memerhatikan secara spesifik pos-pos di dalam laporan keuangan,
yang menghasilkan laba fiskalnya berbeda dengan laba akuntansi (Book Tax
Diffference), yang dapat mengindikasikan adanya upaya perusahaan melakukan
9
penghindaran pajak. Juga yang menjadi perbedaan adalah digunakannya manajemen
laba sebagai variable moderasi bertujuan untuk memastikan pengaruh antara book tax
difference terhadap tax avoidance. Karena dalam banyak penelitian manajemen laba
sering ditempatkan sebagai variable independen alih-alih sebagai variabel moderasi.
Berdasarkan hal tersebut, penulis merasa termotivasi mengangkat penelitian dengan
judul “Hubungan Book Tax Differences terhadap Tax Avoidance dengan
Manajemen Laba sebagai variabel moderasi”.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini Book Tax Difference diproksikan melalui beberapa
determinan yang sering digunakan dalam perhitungan untuk menentukan Book Tax
Difference di antaranya yang dilakukan oleh Boubaker dan Dridi (2016) yang
menggunakan determinan berupa nilai kotor goodwill, nilai perubahan investasti pada
aktiva tetap, perubahan pendapatan, aktivitas operasi luar negeri dan harga saham.
Sementara itu Tang dan Firth (2010) menggunakan determinan berupa nilai investasi
yang tergambar dalam perubahan nilai kotor aktiva tetap dan aktiva tidak berwujud,
perubahan pendapatan, kompensasi kerugian secara fiscal dan akuntansi serta
perbedaan tarif pajak yang dikenakan terhadap perusahaan dan rata-rata tarif pajak
yang dikenakan terhadap grup perusahaan. Lalu Ahnan dan Murwaningsari (2019)
dalam penelitiannya menggunakan current tax, arus kas operasi, perbedaan temporer
dan perbedaan permanen sebagai proksi dari Book Tax Difference. Mengacu kepada
hal-hal tersebut di dalam penelitian ini penulis menggunakan proksi Book Tax
Difference berupa nilai perubahan pada aktiva tetap dan aktiva tidak berwujud untuk
10
menangkap nilai investasi perusahaan, nilai perubahan pendapatan untuk mendapatkan
gambaran kinerja perusahaan, serta beban pajak tangguhan yang mencerminkan
perbedaan temporer antara ketentuan fiskal dan akuntansi. Untuk itu demi mendaptkan
gambaran akun-akun keuangan yang secara spesifik berpengaruh terhadap Tax
Avoidance maka perlu dirumuskan masalah-masalah yang akan diselesaikan melalui
penelitian ini. Adapun rumusan masalah tersebut sebagai berikut :
a. Apakah Fixed Asset berpengaruh terhadap Tax Avoidance ?
b. Apakah Intangible Asset berpengaruh terhadap Tax Avoidance ?
c. Apakah Sales Growth berpengaruh terhadap Tax Avoidance ?
d. Apakah Deferred Tax Expense berpengaruh terhadap Tax Avoidance ?
e. Apakah Manajemen Laba memoderasi pengaruh Fixed Asset terhadap Tax
Avoidance ?
f. Apakah Manajemen Laba memoderasi pengaruh Intangible Asset terhadap Tax
Avoidance ?
g. Apakah Manajemen Laba memoderasi pengaruh Sales Growth terhadap Tax
Avoidance ?
h. Apakah Manajemen Laba memoderasi pengaruh Deferred Tax Expense
terhadap Tax Avoidance ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang penelitian dan rumusan masalah yang telah
dijelaskan sebelumnya, penelitian ini diharapkan dapat mencapai beberapa tujuan
sebagai berikut :
11
a. Untuk menguji pengaruh Fixed Asset terhadap Tax Avoidance
b. Untuk menguji pengaruh Intangible Asset terhadap Tax Avoidance
c. Untuk menguji pengaruh Sales Growth terhadap Tax Avoidance
d. Untuk menguji pengaruh Deferred Tax Expense terhadap Tax Avoidance
e. Untuk menguji pengaruh Manajemen Laba dalam memoderasi pengaruh Fixed
Asset terhadap Tax Avoidance
f. Untuk menguji pengaruh Manajemen Laba dalam memoderasi pengaruh
Intangible Asset terhadap Tax Avoidance
g. Untuk menguji pengaruh Manajemen Laba dalam memoderasi pengaruh Sales
Growth terhadap Tax Avoidance
h. Untuk menguji pengaruh Manajemen Laba dalam memoderasi pengaruh
Deferred Tax Expense terhadap Tax Avoidance
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberikan manfaat positif
terhadap aspek pengetahuan, penelitian, dan juga bagi Direktorat Jenderal Pajak
dalam membuat kebijakan perpajakan dalam tugasnya sebagai tulang punggung
penerimaan negara.
Manfaat yang diharapkan tersebut antara lain sebagai berikut :
a. Manfaat Akademis
Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian – penelitian
sebelumnya yang telah dilakukan baik di dalam maupun luar negeri. Lokus
penelitian adalah perusahaan-perusahaan yang terdapat di Indonesia dengan
12
harapan memberikan gambaran lebih dekat mengenai apa yang terjadi di
sekitar kita sehingga sebagai akademisi dapat mencerna pembelajaran dari
keadaan tersebut. Penelitian ini juga mendasarkan pada teori-teori akuntansi
dan perpajakan yang dapat digunakan sebagai dasar untuk pengembangan
penelitian-penelitian sejenis lainnya. Melalui penelitian ini penulis berharap
dapat memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan dalam dunia akuntansi
dan perpajakan di Indonesia.
b. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangsih pemikiran dari
penulis kepada regulator, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak, dalam
rangka peningkatan tax ratio dan intensifikasi penggalian potensi pajak.
Dengan memanfaatkan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
panduan bagi para fiscus untuk mencermati bagian-bagian tertentu di dalam
laporan keuangan yang berpotensi terdapat tax avoidance di dalamnya.
Penelitian ini diharapkan dapat membantu secara teknis dalam pengembangan
kriteria penyusunan Daftar Sasaran Prioritas Penggalian Pajak sebagaimana
termuat dalam SE-15/PJ/2008 tentang Kebijakan Pemeriksaan yang diterbitkan
Direktorat Jenderal Pajak. Penelitian ini juga diharapkan dapat membantu para
investor untuk memilih portofolio yang bebas dari masalah penghindaran pajak
yang dapat merugikan investor di kemudian hari.
13
1.5 Sistematika Penulisan
Penulis menyusun skripsi ini berdasarkan sistematika penulisan yang baik
dengan tujuan memudahkan pengguna dalam memahami materi yang coba penulis
sampaikan melalui skripsi ini. Skripsi ini terdiri dari lima bab, dimana tiap-tiap bab
berisi pembahasan materi sebagai berikut :
BAB I:
PENDAHULUAN
Pada bab ini dijelaskan latar belakang penulis mengangkat penelitian ini,
rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penelitian, metodologi
penulisan, dan sistematika penulisan karya akhir.
BAB II:
TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Pada bab ini materi yang disampaikan berisi tinjauan literatur, kerangka
konseptual, dan pengembangan hipotesis.
BAB III: METODE PENELITIAN
Pada bab ini terdapat rancangan penelitian, definisi operasional variabel
dan pengukuran, prosedur pengumpulan data, dan metode analisis data.
BAB IV: ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini disampaikan bagian-bagian pengujian dan hasil penelitian
berupa deskripsi data, analisis data, dan pembahasan hasil penelitian.
BAB V:
SIMPULAN, KETERBATASAN, DAN IMPLIKASI
Pada bab ini penulis menyampaiakn simpulan atas hasil analisis dan
pembahasan penelitian, keterbatasan penelitian dan implikasi penelitian
beserta saran untuk penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1 Tinjauan Literatur
2.1.1 Kerangka Teoritis
2.1.1.1 Teori Agensi
Dalam menjalankan perusahaan umumnya para pemegang saham diwakili
manajemen Manajemen yang bertindak secara day to day untuk memastikan
perusahaan beroperasi dengan baik dan optimal. Keadaan ini menggambarkan
adanya hubungan antara pemegang saham (principal) dengan manajemen (agen)
dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan serta memaksimalkan nilai
perusahaan. Oleh karena itu diyakini manajemen yang memegang peranan penting
dalam mengambil keputusan (Desai dan Dharmapala, 2006) akan menjalankan
perusahaan sesuai dengan cara yang diinginkan oleh pemegang saham (principal)
yang telah mendelegasikan kewenangannya (Jensen dan Meckling, 1976). Namun
dalam prakteknya hubungan ini seringkali memunculkan permasalahan, dimana
manajemen mengambil keputusan yang bertentangan dengan kepentingan
pemegang saham. Hal ini terjadi dikarenakan adanya asimetri informasi,
perbedaan tingkat informasi yang dimiliki oleh manajemen dengan pemegang
saham.
14
15
Hal ini juga ditegaskan oleh Jensen dan Meckling (1976) yang menyatakan
bahwa manajemen (agen) tidak akan selalu bertindak untuk keuntungan pemilik
karena memiliki kepentingannya sendiri. Permasalahan ini kemudian akan
menimbulkan yang disebut dengan biaya agensi yaitu penurunan kesejahteraan
yang dinilai secara nominal yang dialami oleh pemilik karena adanya perbedaan
dari kepentingan pemegang saham dan agen (Godfrey et al., 2010). Biaya agensi
sendiri menurut Jensen dan Meckling (1976) terbagi menjadi tiga, yaitu Bonding
Cost, Monitoring Cost dan Residual Loss. Bonding cost adalah biaya yang muncul
sehubungan dengan adanya jalinan ikatan kepentingan antara manajemen (agen)
dengan pemilik (principal) dimana biaya tersebut ditanggung oleh manajemen
(agen) agar dapat memenuhi dan mengimplementasikan mekanisme yang
menunjukkan keberpihakan manajemen (agen) terhadap kepentingan pemilik
(principal). Monitoring Cost adalah biaya yang dibutuhkan untuk melakukan
pemantuan terhadap manajemen (agen). Residual Loss adalah biaya yang muncul
akibat adanya keputusan manajemen (agen) yang tidak sejalan dengan
kepentingan pemilik (principal) yang mengakibatkan berkurangnya kesejahteraan
pemilik (principal).
Dalam hubungannya dengan perpajakan, manajemen diyakini melakukan
penghindaran pajak guna memaksimalkan pendapatan (Yorke et al, 2006). Dengan
melakukan
penghindaran
pajak
maka
manajemen
bermaksud
untuk
meminimalisasi jumlah pajak yang harus dibayar sehingga laba setelah pajak yang
diperoleh perusahaan menjadi meningkat. Dengan demikian diharapkan
16
manajemen dapat memperoleh insentif kinerja yang lebih besar. Hal ini senada
dengan yang disampaikan oleh Ettredge (2008) dimana alasan manajemen
melakukan manajemen laba karena ingin meminimalkan laba kena pajak namun
disisi lain ingin melaporkan kenaikan laba kepada pemegang saham. Hal tersebut
yang mendorong dilakukannya penghindaran pajak dimana menurut Desai dan
Dharmapala (2006), masalah tersebut akan muncul ketika terjadi perbedaan cara
antara manajer dan pemegang saham dalam mengevaluasi biaya dan manfaat
penghindaran pajak.
Dalam upaya mengurangi konflik kepentingan yang mungkin terjadi maka
penting bagi perusahaan untk menerapkan mekanisme corporate governance
secara baik. Sartori (2010) mengungkapkan bahwa perusahaan dengan struktur
corporate governance yang baik akan mendorong perusahaan tersebut untuk
memenuhi
kewajiban
perpajakannya
secara
baik
serta
meningkatkan
kepatuhannya terhadap ketentuan perpajakan. Corporate Governance adalah
kombinasi dari mekanisme yang memastikan manajemen (agen) menjalankan
perusahaan demi keuntungan para pemangku kepentingan, diantaranya pemegang
saham, kreditur, supplier, karyawan dan pihak terkait lainnya (Goergen dan
Renneboog, 2006).
2.1.1.2 Book Tax Differences
Book Tax Difference adalah selisih besaran yang muncul antara laba secara
fiskal dengan laba menurut akuntansi (Tang, 2011). Book Tax Difference sering
digunakan di dalam penelitian dalam menguji pengaruhnya terhadap kualitas laba
17
yang dilaporkan di dalam laporan keuangan perusahaan atau adanya indikasi
tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen perusahaan. Laba fiskal
sendiri berdasarkan definisi yang terdapat di dalam PSAK Nomor 46 tentang
Akuntansi Pajak Penghasilan adalah laba selama satu periode yang dihitung
berdasarkan peraturan perpajakan dan yang menjadi dasar penghitungan pajak
penghasilan. Dari pernyataan tersebut dapat terlihat bahwa yang menyebabkan
perbedaan antara laba fiskal dan laba akuntansi adalah adanya perbedaan konsep
dan ketentuan dalam masing-masing sistem pelaporan baik secara fiskal atau
secara akuntansi (Plesko, 2004). Perhitungan laba akuntansi mengacu kepada
standar yang ditetapkan di dalam PSAK sementara laba fiskal mengacu kepada
peraturan perpajakan dalam hal ini UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan.
Perusahaan dalam menyusun laporan keuangan membagi tujuannya
berdasarkan 2 (dua) hal yaitu untuk Laporan Keuangan untuk tujuan Komersial
dan Laporan Keuangan untuk tujuan Perpajakan (Fiskal). Laporan Keuangan
Komersial dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai posisi keuangan,
kinerja keuangan, dan arus kas entitas sehingga dapat dijadikan dasar pengambilan
keputusan bagi para stakeholder terkait. Sementara Laporan Keuangan Fiskal
dimaksudkan untuk memberikan perhitungan nilai laba fiskal yang menjadi
penghasilan kena pajak guna menghitung beban pajak yang harus dibayarakan
kepada negara.
18
Perbedaan tujuan ini pada akhirnya menyebabkan munculnya Book Tax
Difference atas selisih nilai laba fiskal dan laba akuntansi. Ragam perbedaan
ketentuan di dalam akuntansi komersial dan akuntansi fiskal secara garis besar
dibagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu Perbedaan Temporer dan Perbedaan Permanen
Tang dan Firth (2011) membedakan Book Tax Difference menjadi dua
komponen, yaitu Normal Book Tax Difference (NBTD) dan Abnormal Book Tax
Difference (ABTD). NBTD digunakan untuk melihat apakah terdapat perbedaan
ketentuan yang mengatur antara ketentuan secara akuntansi maupun ketentuan
perpajakan dalam hal ini UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.
Sementara ABTD digunakan untuk mendeteksi apakah terjadinya perbedaan laba
secara fiskal dan laba secara akuntansi akibat dari adanya tindakan earnings
management, tax management, dan interaksinya (seperti peningkatan dalam laba
akuntansi namun sebaliknya beban pajak yang terjadi lebih rendah dari yang
seharusnya).
Hanlon (2005) dalam penelitiannya membagi Book Tax Difference
menjadi tiga bagian yaitu large positive book tax differences (LPBTD), large
negative book tax differences (LNBTD), dan small book tax differences (SBTD).
LPBTD terjadi apabila terdapat selisih yang besar dari nilai laba secara akuntansi
yang lebih tinggi dibanding nilai laba secara fiskal. LNBTD terjadi apabila
terdapat selisih yang besar dari nilai laba secara akuntansi yang lebih rendah
dibanding nilai laba secara fiskal. Sementara SBTD terjadi apabila hanya terjadi
sedikit selisih antara nilai laba secara akuntansi dengan nilai laba secara fiskal.
19
Perusahaan yang memiliki SBTD cenderung dianggap lebih aman bagi investor
karena terjadinya kesesuaian (conformity) antara laba menurut akuntansi dan laba
menurut
fiskal
yang
berdampak
pada
baiknya
kualitas
laba
karena
mengindikasikan tingkat earning management dan tax avoidance yang rendah
(Tang, 2015) .
2.1.1.2.1 Perbedaan Permanen
Menurut Formigoni et al. (2009) perbedaan permanen terjadi ketika
adanya pengakuan terhadap biaya atau pendapatan dalam ketentuan akuntansi
namun tidak diakui dalam secara fiskal. Sementara Drake (2013)
mengungkapkan bahwa perbedaan permanen muncul dari adanya perbedaan
dalam laporan keuangan secara fiskal dan laporan keuangan komersial dimana
terdapat pendapatan atau beban yang diakui di satu laporan namun tidak di
laporan lainnya. Perbedaan permanen mengakibatkan adanya laba atau rugi
menurut akuntansi (pre-tax income) yang berbeda secara tetap dengan laba
atau rugi menurut fiskal (taxable income).
Dalam ketentuan fiskal dikenal adanya objek pajak. Objek pajak
berdasarkan pengertian di dalam UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan
Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun
(sebagaiamana diatur lebih lenjut di dalam Pasal 4 UU nomor 36 Tahun 2008).
20
Selain itu, dalam ketentuan fiskal juga terdapat pengenaan pajak atas
penghasilan secara final.
Dalam hal terdapat laba akuntansi yang bukan merupakan objek pajak
sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a s.d huruf s UU Nomor 36
Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan atau telah dikenakan pajak secara final
berdasarkan Pasal 4 ayat (2) UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan maka atas laba tersebut tidak dimasukkan lagi sebagai komponen
laba fiskal yang digunakan untuk menghitung beban pajak. Begitu pula halnya
apabila terdapat biaya yang mengurangi laba secara akuntansi namun tidak
diperbolehkan berdasarkan ketentuan fiskal untuk mengurangi laba fiskal
maka biaya tersebut akan dikoreksi dalam perhitungan laba secara fiskal.
Ketentuan mengnai biaya-biaya yang diperbolehkan untuk diakui secara fiskal
diatur lebih lanjut dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a s.d huruf m UU Nomor 36
Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Hal-hal tersebut yang kemudian
mendorong munculnya perbedaan laba akuntansi dan laba fiskal akibat adanya
perbedaan ketentuan berdasarkan PSAK dan ketentuan di dalam UndangUndang Perpajakan dalam hal ini disebut Perbedaan Permanen.
2.1.1.2.2
Perbedaan Temporer
Definisi dari perbedaan temporer yaitu perbedaan yang terjadi akibat
dari adanya perbedaan ketentuan secara fiskal dan secara akuntansi dalam
pengakuan waktu serta biaya dalam menghitung laba. Perbedaan temporer
dapat dibagi menjadi 2 (dua) yaitu perbedaan waktu positif dan perbedaan
21
waktu negatif. Perbedaan waktu positif terjadi apabila ketentuan akuntansi
mengakui beban lebih lambat daripada pengakuan beban berdasarkan
ketetntuan pajak. Perbedaan waktu positif juga terjadi ketika penghasilan
untuk tujuan pajak diakui lebih lambat daripada penghasilan yang diakui
menurut ketentuan akuntansi. Sementara itu perbedaan waktu negatif
bertindak sebaliknya yaitu terjadi ketika ketentuan perpajakan mengakui
beban lebih lambat daripada pengakuan beban dalam ketentuan akuntansi.
Perbedaan waktu negatif juga terjadi apabila penghasilan diakui secara lebih
lambat menurut akuntansi dibandingkan menurut ketentuan pajak.
Penyebab perbedaan temporer dapat terjadi berdasarkan hal-hal sebagai
berikut:
1) Metode Penyusutan dan Amortisasi
Ketentuan akuntansi dan ketentuan perpajakan pada dasarnya
menggunakan mekanisme yang berbeda dalam menilai umur suatu
aktiva. Metode akuntansi mengukur umur aktiva atau masa manfaat
berdasarkan umur ekonomis atau besaran waktu penggunaan suatu
aktiva dapat memberikan manfaat ekonominya. Metode ini
menyandingkan pengeluaran dalam mendapatkan aktiva dengan
manfaat yang diberikan selama umur ekonomis aktiva tersebut.
Sementara ketentuan perpajakan menetapkan umur suatu aktiva
berdasarkan pengelompokan atas jenis aktiva tersetbu. Ketentuan
perpajakan menetapkan ada empat kelompok (Kelompok I – IV) dan
22
jenis bangunan permanen dan tidak permanen untuk metode depresiasi
harta berwujud (aktiva tetap). Sementara untuk harta tidak berwujud
ditetapkan ada empat kelompok (Kelompok I – IV) jenis barang.
Untuk itu ketentuan perpajakan tidak menilai umur aktiva berdasarkan
manfaat ekonomisnya dan tidak menyandingkan konsep pengeluaran
dan penghasilan atas pemanfaatan aktiva tersebut (Zain, 2008).
2) Metode Penilaian Persediaan
Dalam ketentuan akuntansi, dikenal beberapa metode dalam
menentukan persediaan, bagi perusahaan dagang untuk menetapkan
harga pokok penjualan sementara bagi perusahaan manufaktur untuk
menetapkan harga pokok produksi. Metode tersebut diantaranya
metode identifikasi spesifik (spesific identification), First in First Out
(FIFO), Last in First Out
(LIFO), serta harga perolehan yang
diperoleh dengan dirata-ratakan antara semua harga perolehan dalam
suatu periode (weighted average). Di dalam ketentuan perpajakan,
metode penilaian persediaan yang digunakan terbatas kepada metode
First in First Out (FIFO) dan Weighted Average. Hal ini sebagaimana
diatur dalam dalam pasal 10 ayat (6) UU Nomor 36 Tahun 2008
tentang Pajak Penghasilan. Perbedaan penggunaan metode depresiasi
dalam penyusunan laporan komersial dan laporan keuangan untuk
tujuan perpajakan akan menimbulkan perbedaan temporer sehingga
pada akhirnya menghasilkan nilai laba kotor yang berbeda. Namun,
23
perbedaan tersebut tidak bersifat tetap karena akan di dalam periode
berikutnya nilai-nilai tersebut akan saling terkompensasikan..
3) Penghapusan piutang
Di dalam ketentuan akuntansi, piutang dinyatakan sebesar jumlah
tagihan bruto dikurangi dengan nilai taksiran atas jumlah piutang yang
tidak dapat tertagih. Jumlah tagihan bruto atau piutang kotor disajikan
pada neraca diikuti dengan dimunculkannya nilai penyisihan untuk
piutang diragukan atau taksiran jumlah piutang yang tidak dapat
tertagih. Dalam akuntansi dikenal dua metode penghapusan piutang,
yaitu:
a. Metode langsung
Metode ini mengakui kerugian piutang pada saat diketahui
adanya piutang yang benar-benar tidak dapat tertagih sesuai
dengan kebijakan perusahaan atau pernyataan debitur. Sehingga
pengakuan kerugian piutang sebagai beban dilakukan sesuai
dengan tahun terjadinya penghapusan piutang tersebut.
b. Metode cadangan
Metode ini biasa disebut juga allowance method, dilakukan
dengan cara membentuk cadangan kerugian pada setiap akhir
periode senilai jumlah taksiran atas piutang diragukan atau
piutang yang kemungkinan tidak dapat tertagih pada periode
berikutnya. Metode ini mengakui beban kerugian penghapusan
24
piutang pada saat pembentukan cadangan. Ketika piutang nyatanyata tidak dapat ditagih maka piutang tersebut dihapus dan tidak
ada lagi pembebanan kerugian penghapusan piutang karena sudah
diakui sebelumnya pada saat pembentukan cadangan kerugian
piutang.
Penghapusan
piutang
dilakukan
dengan
cara
mengkreditkannya kepada akun cadangan kerugian piutang yang
diletakkan di debit.
Sementara itu di dalam ketentuan perpajakan, tidak diakui
pengakuan atau pembentukan cadangan kerugian piutang sebagai
biaya atau pengurang penghasilan kena pajak kecuali pembentukan
cadangan piutang tak tertagih usaha tertentu, seperti usaha bank dan
sewa guna usaha, cadangan untuk usaha asuransi, cadangan
penjaminan untuk LPS, cadangan biaya reklamasi pertambangan dan
kehutanan serta cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat
pembuangan limbah industri sebagaimana diatur dalam Pasal 9 ayat
(1) huruf c UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.
Penghapusan piutang yang diakui sebagai kerugian piutang adalah
pada saat atau periode dimana piutang tersebut nyata-nyata sudah tidak
dapat ditagih dengan syarat telah dibebankan pada laporan keuangan
komersial, daftar piutang yang dihapus tersebut harus diserahkan ke
otoritas perpajakan, telah diserahkan perkara penagihannya ke
Pengadilan Negeri dan syarat lainnya berdasarkan ketentuan di dalam
25
Pasal 6 ayat (1) huruf h UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan. Perbedaan pengakuan pembebanan kerugian piutang ini
bersifat temporer dan pada akhirnya nilai tersebut akan saling
terkompensasi pada periode selanjutnya.
2.1.1.3 Rekonsiliasi Fiskal
Perbedaan laba akuntansi dan laba fiskal yang timbul akibat standar
perhitungan laba yang berbeda antara akuntansi komersial dengan perpajakan
menyebabkan perusahaan setiap tahunnya harus melakukan rekonsiliasi fiskal
untuk medapatkan nilai pajak terutang. Rekonsiliasi fiskal merupakan
penyesuaian-penyesuaian terhadap laporan keuangan komersial berdasarkan
ketentuan peraturan perpajakan di Indonesia dan dilakukan pada akhir periode
pembukuan dan sebelum masa pelaporan SPT Tahunan. Perbedaan tersebut secara
umum dikelompokkan ke dalam perbedaan permanen dan perbedaan temporer
atau waktu (Martini dan Persada, 2009). Menurut Resmi (2009) teknik rekonsiliasi
fiskal dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1.
Jika suatu penghasilan diakui menurut akuntansi tetapi tidak diakui menurut
fiskal, rekonsiliasi dilakukan dengan mengurangkan sejumlah penghasilan
tersebut dari penghasilan menurut akuntansi yang berarti mengurangi laba
menurut akuntansi.
2.
Jika suatu penghasilan tidak diakui menurut akuntansi tetapi diakui menurut
fiskal, rekonsiliasi dilakukan dengan menambah sejumlah penghasilan
26
tersebut pada penghasilan menurut akuntansi yang berarti menambah laba
menurut akuntansi.
3.
Jika suatu biaya atau pengeluaran tidak diakui menurut akuntansi tetapi diakui
sebagai pengurang penghasilan bruto menurut fiskal, rekonsiliasi dilakukan
dengan mengurangkan sejumlah biaya atau pengeluaran tersebut dari biaya
menurut akuntansi yang berarti menambah laba menurut akuntansi.
4.
Jika suatu biaya atau pengeluaran diakui menurut akuntansi tetapi tidak diakui
sebagai pengurang penghasilan bruto menurut fiskal, rekonsiliasi dilakukan
dengan menambahkan sejumlah biaya/ pengeluaran tersebut pada biaya
menurut akuntansi yang berarti mengurangi laba menurut akuntansi.
Maka dapat disimpulkan disini rekonsiliasi fiskal adalah penyesuaian
koreksi pendapatan dan beban antara akuntansi komersial dengan akuntansi
perpajakan. Penyesuaian tersebut dibagi menjadi dua, yaitu Koreksi Fiskal
Positif dan Koreksi Fiskal Negatif.
2.1.1.3.1 Koreksi fiskal positif
Koreksi fiskal positif adalah pengurangan biaya dan/atau penambahan
pendapatan yang diakui dalam laporan laba rugi komersial yang mengakibatkan
penambahan jumlah pajak penghasilan (pph) terutang. Menurut Resmi (2009)
beberapa hal yang dapat digolongkan sebagai koreksi fiskal positif apabila :
a.
Pendapatan menurut fiskal lebih besar daripada menurut akuntansi atau suatu
penghasilan diakui menurut fiskal tetapi tidak diakui menurut akuntansi.
27
b.
Biaya atau pengeluaran menurut fiskal lebih kecil daripada menurut akuntansi
atau suatu biaya atau pengeluaran tidak diakui menurut fiskal tetapi tidak
diakui menurut akuntansi.
Menurut Wibowo (2012), terdapat jenis koreksi fiskal positif di antaranya:
a.
Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen,
termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada
pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi.
b.
Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang
saham, sekutu, atau anggota.
c.
Pembentukan atau pemupukan dana cadangan kecuali :
1) Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain
yang menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan
pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutang.
2) Cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang
dibentuk oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
3) Cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan.
4) Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan.
5) Cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan.
6) Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah
industri untuk usaha pengolahan limbah industri.
d.
Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi
dwiguna, dan asuransi beasiswa, yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi,
28
kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai
penghasilan bagi Wajib Pajak yang bersangkutan.
e.
Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan
dan minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam
bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan
pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan.
f.
Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham
atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan
sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan.
g.
Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, kecuali sumbangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf i sampai dengan huruf m
serta zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang
dibentuk atau disahkan oleh pemerintah atau sumbangan keagamaan yang
sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima
oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah, yang
ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
h.
Pajak Penghasilan.
i.
Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib
Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya.
29
j.
Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan
komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham.
k.
Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana
berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di
bidang perpajakan
l.
Persediaan
yang
jumlahnya
melebihi
jumlah
berdasarkan
metode
penghitungan yang sudah ditetapkan dalam Pasal 10 UU Nomor 36 Tahun
2008 tentang Pajak Penghasilan.
m. Penyusutan
yang
jumlahnya
melebihi
jumlah
berdasarkan
metode
penghitungan yang sudah ditetapkan dalam Pasal 10 UU Nomor 36 Tahun
2008 tentang Pajak Penghasilan.
n.
Biaya yang ditangguhkan pengakuannya.
2.1.1.3.2 Koreksi fiskal negatif
Koreksi fiskal negatif ialah penambahan biaya dan/atau pengurangan
pendapatan yang diakui dalam akuntansi komersial yang mengakibatkan
pengurangan jumlah pajak penghasilan terutang. Menurut Resmi (2009) bebrapa
hal yang dapat digolongkan sebagai koreksi fiskal negatif apabila :
1.
Penghasilan menurut fiskal lebih kecil daripada menurut akuntansi atau suatu
penghasilan tidak diakui menurut fiskal (bukan objek pajak) tetapi diakui
menurut akuntansi.
2.
Biaya atau pengeluaran menurut fiskal lebih besar daripada menurut akuntansi
atau suatu biaya diakui menurut fiskal tetapi tidak diakui menurut akuntansi.
30
3.
Suatu pendapatan telah dikenakan pajak penghasilan bersifat final.
Menurut Wibowo (2012), terdapat jenis koreksi fiskal negatif di antaranya:
1.
Penghasilan yang telah dikenakan PPh Final (berdasarkan Pasal 4 ayat (2) UU
Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan) antara lain :
a.
Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi
dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh
koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi.
b.
Penghasilan berupa hadiah undian.
c.
Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif
yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau
pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang
diterima oleh perusahaan modal ventura.
d.
Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau
bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah
dan/atau bangunan.
2.
Penghasilan yang bukan merupakan objek pajak (berdasarkan Pasal 4 ayat (3)
UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan) antara lain :
a.
Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil
zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh
pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau
sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang
diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang
31
dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima
sumbangan yang berhak, yang ketentuannya diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Pemerintah sepanjang tidak ada hubungan dengan
usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak
yang bersangkutan.
b.
Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan
lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial
termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha
mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan sepanjang tidak ada hubungan dengan
usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak
yang bersangkutan.
c.
Warisan.
d.
Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti
saham atau sebagai pengganti penyertaan modal.
e.
Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari
Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali yang diberikan oleh bukan Wajib
Pajak, Wajib Pajak yang dikenakan pajak secara final atau Wajib Pajak
yang menggunakan norma penghitungan khusus (deemed profit).
32
f.
Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan
dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi
dwiguna, dan asuransi beasiswa.
g.
dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas
sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara,
atau badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha
yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat :
-
dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan.
-
bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha
milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan
yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima
persen) dari jumlah modal yang disetor.
h.
Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja
maupun pegawai.
i.
Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana
dimaksud pada huruf h, dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan
dengan Keputusan Menteri Keuangan.
j.
Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan
komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan,
perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan
kontrak investasi kolektif.
33
k.
Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura
berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan
menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan
pasangan usaha tersebut :
-
Merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang
menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan
atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
l.
sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.
Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur
lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
m. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang
bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan
pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya,
yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan
pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu
paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang
ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan.
n.
Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur
lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
34
o.
Persediaan yang jumlahnya kurang jumlah berdasarkan metode
penghitungan yang sudah ditetapkan dalam Pasal 10 UU No.36 Tahun
2008 tentang Pajak Penghasilan.
p.
Penyusutan yang jumlahnya kurang jumlah berdasarkan metode
penghitungan yang sudah ditetapkan dalam Pasal 10 UU No.36 Tahun
2008 tentang Pajajk Penghasilan.
2.1.1.4 Fixed Asset
Aset (Aktiva) merupakan hal yang sangat penting dan sering kali menjadi
objek penelitian di kalangan praktisi maupun akademisi. Aset menggambarkan
kekayaan pemilik atau perusahaan dalam menciptakan manfaat di masa depan.
Sebagaimana diketahui dalam dunia akuntansi bahwa Aset (Aktiva) terbagi
menjadi 3 (dua) jenis yaitu Aktiva Lancar, Aktiva Tetap dan Aktiva Tidak
Berwujud.
Pengertian Aktiva lancar sendiri menurut Donald E, Kieso (2008:220)
yang diterjemahkan oleh Emil Salim:
“Kas dan aktiva lainnya yang diharapkan dapat dikonversi menjadi kas, dijual,
atau dikonsumsi dalam satu tahun atau dalam satu siklus operasi, tergantung mana
yang paling lama.”
Sementara itu Aktiva Tetap berdasarkan PSAK nomor 16 tentang Aset
Tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau
penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk
35
tujuan administratif dan diharapkan digunakan selama lebih dari satu periode.
Berdasarkan hal tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa aktiva tetap
memiliki karakteristik berupa barang berwujud, memiliki masa manfaat lebih dari
satu periode, dan digunakan dalam kegiatan operasi perusahaan. Kepemilikan
aktiva tetap bagi perusahaan sangat penting karena selain berperan dalam
menghasilkan produk atau manfaat juga memberikan jaminan kemampuan dalam
usaha meningkatkan permodalan melalui pencarian pinjaman ke pihak bank
ataupun pihak lain.
2.1.1.5 Intangible Asset
PSAK nomor 19 tentang Aset Tidak Berwujud memberikan definisi aset
tidak berwujud (intangible asset) sebagai aset non-moneter yang dapat
diidentifikasi tanpa adanya wujud fisik, adanya pengendalian atau kontrol
terhadapnya
dan
memberikan
keuntungan
ekonomis
di
masa
depan.
Pengidentifikasian aktiva tidak berwujud dapat dilihat dari sifatnya yang dapat
dibedakan atau yang timbul dari adanya kontrak perjanjian atau hal legal lainnya.
Sementara terdapat pengendalian apabila mampu membatasi akses dari pihak lain
terhadap penggunaan aktiva tersebut. Keuntungan ekonomis dapat muncul dari
adanya pendapatan dari penjualan barang atau jasa serta manfaat lainnya dari
penggunaan aktiva tersebut. Pengakuan nilai aktiva tidak berwujud pada awalnya
menggunakan harga perolehan setelah itu entitas dapat memilih untuk
menggunakan model biaya atau model revaluasian untuk mengukur nilai dari
aktiva tidak berwujud tersebut.
36
Dyreng at al. (2008) menjelaskan bahwa pengeluaran penelitian dan
pengembangan merupakan proksi yang sesuai untuk mengukur intangible asset
karena pengeluaran penelitian dan pengembangan merupakan deductible expense
(biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan menurut UU Nomor 36 Tahun
2008 tentang Pajak Penghasilan). Biaya penelitian dan pengembangan yang tidak
memiliki wujud fisik juga dapat memudahkan perusahaan melakukan manipulasi
besarnya biaya pengeluaran ini (Richardson et al., 2013). Transaksi ini seringkali
bersifat unik, salah satunya karena ketidaktersediaan pasar yang kuat sehingga
penilaian subjektif terkait hal ini dapat dieksploitasi secara maksimal oleh banyak
perusahaan.
2.1.1.6 Manajemen Laba
Manajemen laba adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh
manajemen untuk memanipulasi nilai laba dengan memanfaatkan diskresi yang
ada di dalam ketentuan akuntansi namun tetap sejalan dengan prinsip-prinsip di
dalam standar akuntansi keuangan dan kemudian menggunakan diskresi tersebut
untuk mencapai tingkat laba yang diinginkan oleh manajemen (Belkoui, 2017).
Manajemen laba juga terjadi ketika manajer menggunakan pertimbangannya
sendiri dalam pembuatan laporan keuangan dan dalam menyusun transaksi untuk
mengubah informasi dalam laporan keuangan yang dapat mennyesatkan
pemangku kepentingan terhadap kinerja ekonomi perusahaan atau untuk
memengaruhi kontrak perjanjian yang berkaitan dengan nilai yang terlapor dalam
laporan keuangan (Healy dan Wahlen, 1999).
37
Pendapat lain dikemukakan Schipper (1989) yang mendefinisikan
manajemen laba sebagai serangkaian perilaku yang dilakukan untuk mengubah
laporan keuangan eksternal dengan tujuan agar para manajer dapat memperoleh
keuntungan bagi diri mereka pribadi. Selanjutnya, Phillips et al. (2003)
mendefinisikan manajemen laba sebagai strategi menciptakan laba akuntansi
dengan menggunakan keputusan manajerial yang terkait dengan diskresi dalam
akuntansi dan arus kas operasi. Berdasarakan beberapa definisi manajemen laba
tersebut, dapat disimpulkan bahwa manajemen laba merupakan aktivitas yang
dilakukan oleh manajemen dengan memanipulasi laporan keuangan untuk
mencapai berbagai tujuan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Healy (1985), Healy &
Wahlen (1999), Beneish (2001) dan (Scott, 2009) dinyatakan beberapa alasan yang
mendasari tindakan manajemen melakukan manajemen laba. Alasan tersebut
antara lain upaya window-dressing dalam rangka initial public offering (IPO),
meningkatkan kompensasi yang diterima manajer sekaligus memberikan jaminan
keamanan atas pekerjaan mereka, penghindaran pelanggaran kontrak pinjaman,
menjaga ekspektasi para investor dan menjaga reputasi perusahaan, mengurangi
regulatory cost atau meningkatkan regulatory benefit dalam tujuan perusahaan
melakukan initial public offering (IPO). Pendapat lain dikemukakan oleh Ruiz et
al. (2016) yang menyimpulkan bahwa motivasi yang menyebabkan manajer
melakukan manajemen laba diantaranya adalah motivasi kontrak, kompensasi, dan
38
pinjaman, kemudian motivasi pasar modal dan terakhir motivasi terkait jenis
perusahaan.
Penelitian yang dilakukan oleh Dechow et al. (1995) menunjukkan bahwa
motivasi untuk melakukan manajemen laba lebih besar pada perusahaan yang
memiliki perjanjian hutang untuk menghindari adanya risiko pembatalan
perjanjian hutang tersebut. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa kompensasi
manajer cenderung menjadi insentif untuk dilakukannya manajemen laba karena
hal semacam ini dapat meningkatkan rencana kompensasi atau bonus mereka
(Holthausen et al., 1995; Shuto, 2007). Hal ini senada dengan penelitian yang
dilakukan oleh Healy (1985) yang menemukan bukti yang konsisten dengan
hipotesis bahwa manajer melakukan manajemen laba dengan menurunkannya ke
bawah atau mengurangi laba yang dilaporkan ketika bonus para manajer berada
pada titik yang maksimal.
2.1.1.7 Tax Avoidance
Dalam suatu perencanaan penerimaan negara, pajak merupakan tulang
punggung penerimaan terbesar yang mendukung terwujudnya pembangunan suatu
negara. Pengertian pajak menurut Rachmat Soemiitro (1979) adalah sejumlah
iuran dari rakyat kepada negara yang sifatnya memaksa dengan tidak mendapatkan
imbal balik secara langsung yang mana digunakan untuk membiayai pengeluaran
umum. Namun walalupun karakter pajak memiliki sifat yang dapat dipaksakan
atau wajib, tidak semua orang bersedia dengan sukarela menjalankan kewajiban
perpajakannya dengan sebenar-benarnya. Berangkat dari hal tersebut maka banyak
39
terjadi upaya penghindaran pajak (tax avoidance) yang dilakukan oleh para wajib
pajak.
Terdapat banyak pengertian mengenai penghindaran pajak yang
disampaikan oleh beberapa peneliti terdahulu. Menurut Slemrod (2014)
penghindaran pajak didefinisikan sebagai tindakan yang legal, tidak melanggar
atura, yang tujuannya untuk mengurangi kewajiban pajak perusahaan. Sementara
mnenurut Shevlin (2010) penghindaran pajak adalah upaya manajemen untuk
mengurangi kewajiban pajak melalui perencanaan pajak yang dapat bersifat legal,
masih dipertanyakan atau bahkan ilegal. Beberapa peneliti memiliki pandangan
berbeda terkait sifat legal dari penghindaran pajak. Dyreng et al., (2008)
menyampaikan bahwa masih banyak terdapat area perpajakan yang belum jelas,
juga disebut grey area, khususnya menganai transaksi yang kompleks sehingga
memunculkan interpretasi yang masih diperdebatkan terkait legalitas upaya
penghindaran pajak. Hal ini senada dengan yang disampaikan Lim (2011) yang
medefinisikan penghindaran pajak sebagai penghematan pajak yang timbul dari
metode pengurangan pajak umum yang mana terkadang legalitas untuk
meminimalkan kewajiban pajak masih dipertanyakan. Sementara itu Aumeerun et
al., (2016) menyatakan bahwa penghindaran pajak adalah upaya meminimalisasi
kewajiban pajak dalam koridor hukum, sementara itu penggelapan pajak adalah
tindakan ilegal yang dilakukan untuk menghindar dari kewajiban membayar pajak.
Annuar et al. (2014) menyampaikan bahwa manfaat utama dari tindakan
penghindaran pajak adalah adanya kas yang dapat dihemat atas kewajiban pajak
40
yang terhindarkan. Penghematan kas ini kemudian berdampak pada adanya
peningkatan likuiditas arus kas perusahaan yang dapat digunakan oleh perusahaan
untuk rencana kegiatan operasional lainnya baik di masa ini maupun di masa
mendatang yang dapat berupa ekspansi bisnis, penambahan portofolio investasi,
pembelian aset tetap baru maupun hal lainnya yang dapat membawa manfaat
keuntungan bagi perusahaan serta pemegang saham.
Dalam melihat indikasi adanya tax avoidance yang dilakukan perusahaan,
terdapat beberapa variabel keuangan yang berdasarkan penelitian terdahulu relatif
berhubungan dengan tax avoidance. Hanlon et al. (2005) menyatakan bahwa
tingkat kesesuaian pembukuan menurut akuntansi dan fiskal , book tax
conformity, memiliki kaitan dengan tax avoidance. Ketika tingkat kesesuaian
pembukuan antara akuntansi dan fiskal tinggi, maka setiap peningkatan
pendapatan perusahaan akan berdampak lurus dengan peningkatan pajak yang
harus dibayarkan. Namun hal tersebut cenderung dihindari oleh perusahaan
sehingga mendorong munculnya book tax differences yang mana dicurigai salah
satu dari pelaporan laba antara laba menurut akuntansi atau laba menurut fiskal
dilaporkan secara oportunis. Di sisi lain menurut Atwood et al. (2012) bagi
perusahaan dengan tingkat book tax conformity yang rendah cenderung lebih
mudah bagi perusahaan untuk melakukan penghindaran pajak melalui strategi
book tax differences. Sehingga pada negara-negara yang mengatur ketentuan book
tax conformity yang rendah, perusahaan cenderung melakukan penghindaran
pajak.
41
Atwood et al. (2012) juga menyampaikan bahwa tax avoidance seperti dua
sisi mata uang yang sama dimana manajemen dimotivasi dari insentif peningkatan
laba yang dilaporkan dan penurunan kewajiban pembayaran pajak. Akan tetapi
peghindaran pajak memunculkan dampak buruk terhadap penerimaan negara yang
mana seharusnya dapat digunakan untuk pembangunan negara. Dalu et al. (2012)
juga menyampaikan bahwa negara yang mengalami peningkatan jumlah
penggelapan pajak dan penghindaran pajak, tingkat investasi campuran yang
rendah. Hal ini mengindikasikan pertumbuhan ekonomi yang rendah sehingga
akan berdampak negatif pula pada nilai perusahaan publik.
Menurut Bird dan Nozemack (2016) terdapat beberapa cara yang
dilakukan perusahaan dalam kerangka tax avoidance seperti inversi, manipulasi
transfer pricing, dan penggunaan tax haven dalam tujuannya untuk
memaksimalkan keuntungan. Tax avoidance sendiri sebenarnya mempunyai
beberapa karakteristik, seperti sifat transaksinya yang semu, transaksinya
dilaksanakan tanpa makna ekonomis berarti, tidak terdapat unsur risiko dan
memiliki indikasi untuk memanfaatkan celah-celah dalam aturan perpajakan.
Dalam menangkal praktik penghindaran pajak yang dilakukan perusahaan terdapat
beberapa kebijakan yang dapat diambil oleh negara untuk mengatasi hal tersebut.
Beberapa pendekatan yang dapat diambil menurut Fuest et al. (2013) adalah :
1. Memperluas pemajakan berbasis residen berupa pengetatan aturan
Controlled Foreign Company (CFC rules)
42
2. Memperluas pemajakan berbasis sumber. Hal ini dapat dilakukan dengan
mengadakan perjanjian dengan negara-negara lain dalam bentuk tax treaty.
3. Melakukan reformasi perpajakan, hal ini meliputi pengenalan konsep
pemajakan berupa formula pembagian hasil atau pemajakan berbasis
tujuan.
4. Reformasi aturan pelaporan dan transparansi dalam dunia internasional
yang mewajibkan konsultan pajak untuk melaporkan skema penghindaran
pajak atau county by country report (CBCR) atas investor multinasional.
2.1.2
Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian telah dilakukan sebelumnya untuk mengetahui
hubungan antara Book Tax Difference terhadap Manajemen Laba, Book Tax
Difference terhadap Tax Avoidance serta hubungan ketiganya. Beberapa
penelitian sebelumnya yang telah dilakukan antara lain :
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No
1
Nama Peneliti
Judul Penelitian
Mihir A. Desai & Earnings
Hasil Penelitian
Management, Corporate
Tax
Avoidance
Dhammika
Corporate Tax Shelters, berhubungan dengan kegiatan
Dharmapala
and Book Tax Alignment
(2009)
manipulatif
termasuk
pengalihan pendapatan yang
dilakukan
dalam
kerangka
manajemen laba dan didasari
43
oleh kepentingan manajemen
dalam permasalahan agency
theory
2
Woen Jae Kim & Relationship Between Tax Cash flow from operations dan
Geun Bae Jang Avoidance
(2018)
Financial
Korea’s
and
Key rasio dari non current assets
Indicators
in terhadap non current financing
Construction berpengaruh
Waste Disposal Industry
secara
positif
signifikan
terhadap
tax
avoidance.
Sementara
debt
dependency
berpengaruh
secara negatif terhadap tax
avoidance
3
Jeong Ho Kim & The Study on the Effect and Firm
Size,
Chae Chang Im Determinants of Small – Leverage,
(2017)
Medium
Sized
Profitability,
Operating
Cash
Entities Flow, Capital Intensity, R&D
Conducting Tax Avoidance Intensity dan Growth Rate
berpengaruh terhadap corporate
tax avoidance pada SmallMedium Sized Entities (SME)
4
Merle
(2019)
et
al., Tax havens and transfer Ukuran
pricing intensity: Evidence
perusahaan
dan
leverage berpengaruh positifi
44
From the French CAC – 40 terhadap
listed firms
transfer
pricing.
Sementara intangible assets dan
effective tax rate berpengaruh
negatif
terhadap
transfer
pricing
5
Annouar
Houria (2017)
& The Determinants of Tax
Ukuran
perusahaan
dan
Avoidance within
profitabilitas
berpengaruh
Corporate Groups :
signifikan
Evidence from Moroccan
avoidance. Sementara Debts
Groups
dan intangible Asset memiliki
terhadap
pengaruh
yang
terhadap
tax
Kemudian
tax
medium
avoidance.
intra-group
transactions
multinationality
dan
berpengaruh
tidak signifikan terhadap tax
avoidance.
6
Philomina
Transfer Pricing, Earnings Manajemen laba berpengaruh
Acquah (2017)
Management,
Avoidance
and
Tax positif terhadap tax avoidance
dalam
perusahaan
jasa
keuangan maupun perusahaan
45
non-jasa keuangan. ROA dan
Umur perusahaan berpengaruh
negatif terhadap tax avoidance
baik dalam perusahaan jasa
keuangan
maupun
non-jasa
keuangan. Leverage dan ukuran
Perusahaan (Size) berpengaruh
negatif terhadap tax avoidance
dalam
perusahaan
non-jasa
keuangan. Tangible asset dan
Growth potential berpengaruh
positif terhadap tax avoidance
dalam perusahaan non- jasa
keuangan.
7
Hotman T Pohan Analisis Pengaruh
Kepemlikan institusi dan beban
(2009)
Kepemilikan Institusi,
pajak
Rasio Tobin Q, Akrual
berpengaruh
Pilihan, Tarif Efektif
penghindaran pajak. Sementara
Pajak, dan Biaya Pajak
perataan laba, pengaruh rasio
Ditunda Terhadap
Toin’s Q, akrual dan tarif pajak
tangguhan
tidak
terhadap
46
8
9
Penghindaran Pajak Pada
efektif berpengaruh terhadap
Perusahaan Publik
penghindaran pajak.
Dennis Sundvik A review of earnings
Perusahaan privat cenderung
(2017)
management in private
melakukan manajemen laba
firms in response to tax
dalam menghadapi perubahan
rate changes
tarif pajak yang lebih rendah
Tanya Tang & Can Book-Tax Differences Book
Michael
Firth Capture
(2011)
Management
Tax
Differences
Earnings menggambarkan
and
pengaruh
Tax terhadap Earning Management
Management?
dan Tax Management
Empirical Evidence from
China
2.2 Kerangka Konseptual
Dalam mempermudah memahami alur pemikiran yang dikembangkan di
dalam penelitian ini maka disusun kerangka konseptual. Kerangka konseptual
menggambarkan hubungan antara beberapa variabel yang terlibat di dalam penelitian.
Book Tax Differences yang digunakan sebagai variabel independen di dalam
penelitian ini diproksikan melalui Fixed Asset, Intangible Asset, Sales Growth, dan
Deferred Tax Expense. Di dalam penelitian ini, penulis berusaha menggambarkan
47
pengaruh dari terdapatnya Book Tax Differences di dalam laporan keuangan
perusahaan terhadap adanya kemungkinan terjadinya Tax Avoidance yang dilakukan
oleh perusahaan dengan dimoderasi oleh Manajemen Laba. Hubungan antar variabel
tersebut dituangkan dalam model kerangka konseptual sebagaimana terdapat pada
gambar 2.1 berikut :
Var. Independen
Book Tax Differences
H1
Fixed Asset
(PPE)
Var. Dependen
H1
Tax Avoidance
(TAXAV)
H5
Intangible
Asset (INT)
H2
H6
H7
H8
Sales
Growth
(SALES)
H3
H4
Deferred
Tax Expense
(DTE)
Manajemen
Laba (EM)
Firm Size (Sz)
Leverage (LEV)
Var. Moderasi
Profitability (RoA)
Operational Cash
Flow (CFO)
Var. Kontrol
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual
48
2.3 Pengujian Hipotesis
Untuk mengetahui hubungan antar variable di dalam penelitian ini dilakukan
beberapa pengujian hipotesis. Adapun pengujian hipotesis yang dilakukan sebagai
berikut :
2.2.1
Pengaruh Fixed Asset terhadap Tax Avoidance
Beberapa cara dilakukan dalam upaya penghindaran pajak diantaranya
dengan memanfaatkan perbedaan ketentuan fiscal dengan ketetntuan berdasarkan
PSAK. Salah satu yang menjadi perbedaan adalah terkait penyusutan (depresiasi)
aktiva tetap. Ketentuan fiscal hanya mengakui penyusutan secara garis lurus atau
saldo menurun. Sementara di dalam PSAK nomor 16 tentang Aset Tetap diatur
jenis depresiasi aktiva tetap diantaranya metode garis lurus, metode saldo
menurun, dan metode unit produksi.
Selain perbedaan metode penyusutan juga terdapat perbedaan metode
penentuan jangka waktu penyusutan dimana dalam ketentuan fiscal dilakukan
pengelompokan berdasarkan jenis aktiva tetap sementara di dalam ketentuan
akuntansi diukur berdasarkan masa manfaat aktiva tetap tersebut. Mengacu kepada
hal tersebut maka semakin banyak nilai aktiva tetap yang dimiliki perusahaan tentu
akan memengaruhi perbedaan nilai penyusutan dalam hal metode yang digunakan
secara akuntansi berbeda dari yang diperbolehkan dalam ketentuan fiskal. Hal inI
sejalan dengan pernyataan Kim dan Jeong (2006) bahwa perusahaan dengan nilai
asset yang tinggi cenderung melakukan tax avoidance. Dan berdasarkan penelitian
49
yang dilakukan oleh Acquah (2017) yang menyatakan tangible asset berpengaruh
terhadap tax avoidance maka diyakini aktiva tetap berpengaruh terhadap
terjadinya upaya tax avoidance.
H1
2.2.2
: Fixed Asset berpengaruh positif terhadap Tax Avoidance
Pengaruh Intangible Asset tehadap Tax Avoidance
Penyusutan atas biaya perolehan barang dilakukan tidak hanya terhadap
aktiva tetap namun juga aktiva tidak berwujud atau biasa dikenal amortisasi.
Seringkali transaksi antar perusahaan umumnya akuisisi kepemilikan perusahaan
menghasilkan suatu goodwill yang merupakan aktiva tidak berwujud namun
memiliki nilai yang signifikan. Hal ini dipengaruhi antara lain karena nilai jual
merek, kepercayaan konsumen atas kualitas produk merek, atau tingkat optimisme
bahwa perusahaan dapat menghasilkan manfaat lebih di masa depan. Hal ini tidak
dapat dilihat wujudnya namun diyakini keberadaannya, seperti hal nya dengan
Hak Cipta, Hak atas Kekayaan Intelektual dan Paten atas hasil riset penemuan.
Seperti halnya pada aktiva tetap, perbedaan metode amortisasi dapat
menghasilkan perbedaan nilai yang terlapor dalam Laporan Keuangan untuk
tujuan Perpajakan atau Laporan Keuangan Perusahaan pada umumnya. Dalam
penelitian yang dilakukan Kim dan Im (2017) menyatakan bahwa intensitas
perusahaan dalam melakukan research & development berpengaruh terhadap tax
avoidance. Seperti diketahui bahwa hasil dari kegiatan research & development
biasanya berbentuk intangible asset. Oleh karena itu, diyakini bahwa besarnya
nilai aktiva tidak berwujud dapat memengaruhi terjadinya tax avoidance.
50
H2
2.2.3
: Intangible Asset berpengaruh positif terhadap Tax Avoidance
Pengaruh Sales Growth terhadap Tax Avoidance
Besarnya pertumbuhan nilai penjualan pada umumnya akan berimplikasi
lurus dengan pertumbuhan laba baik secara akuntansi maupun fiscal. Hal ini terjadi
karena pada umumnya perusahaan telah menetapkan Net Profit Margin atas
produk yang dijual. Sehingga ketika nilai penjualan meningkat maka otomatis nilai
laba juga meningkat. Pengecualian dapat terjadi apabila terdapat biaya-biaya non
rutin yang terjadi pada operasional perusahaan di dalam suatu periode tertentu.
Sementara itu berangkat dari pernyataan Listokin dan Schizer (2013)
bahwa hanya segelintir orang yang senang membayar pajak maka perusahaan akan
melakukan upaya-upaya untuk meminimalisasi laba dalam rangka tax avoidance.
Berkaitan dengan hal tersebut pertumbuhan penjualan yang mendorong
pertumbuhan perusahaan dapat memicu terjadinya tax avoidance dengan tujuan
untuk mendapatkan pendapatan setelah pajak yang lebih besar. Hal ini sejalan
dengan Kim dan Chae (2017) yang menyatakan sales growth berpengaruh
terhadap tax avoidance. Oleh karena itu, semakin besar nilai pertumbuhan
penjualan maka semakin besar pula indikasi perusahaan melakukan tax avoidance.
H3
2.2.4
: Sales Growth berpengaruh positif terhadap Tax Avoidance
Pengaruh Deferred Tax Expense terhadap Tax Avoidance
Perbedaan Temporer dan Perbedaan Permanen antara ketentuan fiscal dan
akuntansi akan menghasilkan baik Beban Pajak Tangguhan atau Aset Pajak
Tangguhan. Beban Pajak Tangguhan terjadi ketika laba secara fiscal lebih kecil
51
dibandingkan dengan laba secara akuntansi. Akibatnya tercipta beban pajak
tangguhan yang menjadi kewajiban perusahaan untuk dibayarkan di periode
berikutnya. Semakin besar nilai beban pajak tangguhan yang muncul
mengindikasikan semakin banyaknya perbedaan cara yang dilakukan manajemen
dalam mengelola transaksi-transaksi dalam perusahaannya antara yang diatur
dalam ketentuan fiscal maupun yang diatur secara akuntansi.
Penelitian Plesko (2002) menunjukkan bahwa semakin tinggi perbedaan
yang terjadi antara laba fiskal dan laba akuntansi menunjukkan semakin besarnya
diskresi akuntansi yang dilakukan manajemen. Besarnya diskresi manajemen
tersebut tercermin dalam beban pajak tangguhan yang dapat digunakan untuk
mendeteksi adanya praktik penghindaran pajak pada perusahaan. Hal tersebut
turut mendorong keyakinan penulis bahwa deferred tax expense (beban pajak
tangguhan) berpengaruh terhadap tax avoidance.
H4
2.2.5
: Deferred Tax Expense berpengaruh positif terhadap Tax Avoidance
Manajemen Laba dalam pengaruhnya antara Fixed Asset terhadap Tax Avoidance
Pemanfaatan aktiva tetap dalam tujuannya untuk meminimalisasi beban
pajak dapat dilakukan dengan cara memperpanjang masa manfaat aktiva tetap atau
memperbanyak jumlah kepemilikan aktiva tetap. Aktivitas tersebut yang
dilakukan dalam rangka manajemen laba dapat memperbesar beban depresiasi
periode berjalan sehingga meminimalisasi laba fiskal yang berdampak pada
berkurangnya beban pajak yang dibayarkan kepada negara. Penggunaan unsur
52
depresiasi aktiva tetap sebagai bagian manajemen laba juga dijelaskan oleh
Zmijewski dan Hagerman (1981).
Hal tersebut merupakan salah satu tujuan dari upaya manajemen laba untuk
tujuan perpajakan yakni meminimalisasi beban pajak yang dibayar. Kim dan Jeong
(2006) menyatakan bahwa perusahaan dengan nilai asset yang besar cenderung
melakukan praktik tax avoidance. Dengan moderasi dari variabel manajemen laba
yang menurut Acquah (2017) berpengaruh terhadap terjadinya tax avoidance maka
diyakini manajemen laba memperkuat pengaruh dari fixed asset terhadap tax
avoidance.
H5
: Manajemen Laba memperkuat terjadinya pengaruh antara Fixed Asset
terhadap Tax Avoidance
2.2.6
Manajemen Laba dalam pengaruhnya antara Intangible Asset terhadap Tax
Avoidance
Sebagaimana cara kerja beban depresiasi pada aktiva tetap, begitu pula
yang terjadi pada amortisasi aktiva tidak berwujud. Salah satu yang sering menjadi
perhatian pada aktiva tidak berwujud adalah bagaimana menentukan penilaian
terbaik dalam menemukan nilai aktiva tidak berwujud secara tepat. Tentu ada
berbagai pandangan dalam menilai aktiva tidak berwujud dikarenakan melibatkan
unsur pandangan subjektif.
Keyakinan seseorang atas nilai aktiva tidak berwujud bisa berbeda dengan
pandangan orang lain. Peran manajemen laba dalam hal ini di antaranya dapat
dilakukan dengan meningkatkan nilai aktiva tidak berwujud sehingga akan
53
memperbesar beban amortisasinya. Hal ini dapat terjadi dan sulit untuk diketahui
sepanjang fiskus tidak melakukan uji kewajaran atas nilai aktiva tidak berwujud
yang biasanya hanya dilakukan saat adanya pemeriksaan wajib pajak. Fungsi
manajemen laba dalam kaitannya dengan tax avoidance diyakini terjadi
berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Desai dan Dharmapala (2009). Sejalan
dengan hal tersebut maka diyakini manajemen laba dapat memperkuat terjadinya
pengaruh antara intangible asset terhadap tax avoidance.
H6
: Manajemen Laba memperkuat terjadinya pengaruh antara Intangible
Asset terhadap Tax Avoidance
2.2.7
Manajemen Laba dalam pengaruhnya antara Sales Growth terhadap Tax
Avoidance
Tumbuhnya tingkat penjualan seringkali menjadi ukuran keberhasilan
manajemen dalam mengelola perusahaan. Dalam penyusunan rencana dan
anggaran kerja, pertumbuhan penjualan senantiasa menjadi prioritas dalam
memproyeksikan target pendapatan di masa mendatang. Sejalan dengan hal
tersebut, bertumbuhnya penjualan pada akhirnya juga akan meningkatkan
kemakmuran para pemilik perusahaan. Berkaitan dengan teori agensi dimana
memungkinkan terjadinya asimetri informasi antara manajemen dengan pemilik
perusahaan. Harapan manajemen untuk mendapatkan insentif atas kinerja dapat
mendorong dilakukannya manajemen laba untuk memaksimalkan pendapatannya
yang salah satunya juga dilakukan dengan cara mengurangi beban pajak yang
harus dibayar.
54
Sehingga ketika penjualan meningkat yang seharusnya berimplikasi pada
meningkatnya beban pajak yang harus dibayar maka di sisi lain manajemen
terpacu untuk mencari cara memasukkan unsur biaya-biaya tambahan guna
meminimalisasi laba fiskal dan beban pajak. Tindakan ini tentunya meliputi
manajemen laba dengan tujuan meminimalisasi jumlah pajak yang dbayar
perusahaan. Berdasarkan penelitian Desai dan Dharmapala (2009) yang meyakini
bahwa tindakan tax avoidance berasal dari tindakan manipulatif laporan keuangan
dalam kegiatan manajemen laba. Penulis meyakini bahwa manajemen laba
memperkuat terjadinya pengaruh antara sales growth terhadap tax avoidance.
H7
: Manajemen Laba memperkuat terjadinya pengaruh antara Sales Growth
terhadap Tax Avoidance
2.2.8
Manajemen Laba dalam pengaruhnya antara Deferred Tax Epense terhadap Tax
Avoidance
Metode income shifting umum digunakan dalam upaya perusahaan
melakukan manajemen laba. Hal ini melibatkan adanya perbedaan temporer yang
terjadi antara ketentuan secara fiscal dan secara akuntansi. Sundvik (2017) dalam
penelitiannya mengungkapkan adanya upaya perusahaan melakukan manajemen
laba guna merespons penurunan tarif pajak. Hal yang lazim dilakukan dalam
keadaan tersebut adalah income shifting dimana perusahaan menempatkan laba
fiscal yang lebih besar pada saat tarif pajak menjadi lebih rendah sehingga tercipta
keuntungan bagi perusahaan. Peristiwa ini dalam prosesnya memunculkan beban
pajak tangguhan.
55
Oleh karena itu, adanya beban pajak tangguhan diyakini merupakan
indikasi terjadinya tax avoidance. Dengan moderasi dari variabel manajemen laba
yang menurut Sheckleford dan Shevlin (2001) yang menjelaskan bahwa
perusahaan cenderung melakukan income shifting sebagai bagian dari srategi
penghindaran pajak maka diyakini manajemen laba memperkuat pengaruh dari
deferred tax expense terhadap tax avoidance.
H8
: Manajemen Laba memperkuat pengaruh antara Deferred Tax Expense
terhadap Tax Avoidance
56
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan hubungan korelasi untuk
melihat bagaimana hubungan-hubungan baik pengaruh sebab maupun akibat yang
terjadi antar variable. Penelitian mengambil data menggunakan data sekunder yang
didapat melalui situs web Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id), situs web Kinerja
Emiten yang dikelola laman Kontan (www.emiten.kontan.co.id) dan situs web
perusahaan masing-masing. Metode yang digunakan berupa statistik deskriptif dan
statistik interferensial yang dilakukan dengan mengolah data berupa angka-angka
kemudian digambarkan dalam table dan grafik untuk memudahkan pembacaan
karakteristik data. Kemudian dilakukan analisa untuk mendapatkan kesimpulan atas
hubungan antara variabel yang satu dengan variable lainnya. Penelitian menggunakan
metode regresi data panel untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari gabungan data
cross-sectional dan data time-series. Dalam melakukan perhitungan statistik,
penelitian dilakukan dengan bantuan aplikasi E-Views.
Subjek penelitian merupakan seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia dalam kurun waktu tahun 2016 sampai dengan 2018 dengan
kondisi dimana seluruh pos-pos keuangan yang dibutuhkan di dalam penelitian ini
dilaporkan oleh perusahaan di dalam laporan keuangan ataupun laporan tahunannya.
Objek penelitian ini adalah Tax Avoidance, di mana penelitian berusaha
56
57
mengungkapkan pos-pos keuangan yang merupakan proksi dari Book Tax Difference
dapat mencerminkan pengaruhnya terhadap Tax Avoidance yang dilakukan
perusahaan.
3.2 Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran
Penelitian menggunakan 4 jenis variabel yaitu variabel independen, variabel
dependen, variable moderasi dan variable control. Berikut ini dijelaskan mengenai
definisi dari masing-masing variabel yang digunakan di dalam penelitian ini beserta
dengan model pengukuran yang mengambil referensi dari penelitian-penelitian
terdahulu.
3.2.1 Variabel Independen
Variabel independent atau bebas adalah variabel yang dapat mempengaruhi
hasil variable dependen atau terikat baik secara positif maupun negatif (Sekaran dan
Bougie, 2013). Terdapat 4 (empat) macam variabel independent yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu:
3.2.1.1 Fixed Asset
Pengertian Fixed Asset (Aktiva Tetap) berdasarkan PSAK nomor 16 adalah
aktiva aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan
barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif
dan diharapkan digunakan selama lebih dari satu periode. Kata kunci dari pengertian
tersebut adalah keberwujudan, digunakan untuk kegiatan operasional dan memiliki
masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun.
57
58
Aktiva tetap dicatat berdasarkan nilai perolehannya dan kemudian disusutkan
secara berkala sepanjang masa manfaatnya. Penyusutan aktiva tetap tersebut
memunculkan beban depresiasi yang menjadi pengurang laba operasional. Aktiva
Tetap seringkali menjadi ukuran mengenai tingkat kekayaan perusahaan. Selain itu
aktiva tetap juga dijadikan acuan mengenai return acceptability yang diterima
perusahaan dibandingkan dengan nilai investasi yang telah dikeluarkan dalam bentuk
aktiva tetap.
Dalam mengukur nilai aktiva tetap di dalam penelitian ini menggunakan cara
yang dilakukan oleh Boebaker dan Dridi (2016) dimana nilai yang diambil adalah
perubahan besaran nilai kotor aktiva tetap (gross PPE) yang dimiliki perusahaan antara
periode saat ini dengan periode sebelumnya. Hal ini juga dapat mencerminkan tingkat
agresifitas perusahaan dalam berekspansi dan menanamkan investasinya. Model
pengukuran atas nilai fixed asset disajikan sebagai berikut :
βˆ† 𝑃𝑃𝐸 =
Keterangan
βˆ† 𝑃𝑃𝐸
𝑃𝑃𝐸 𝑖, 𝑑 − 𝑃𝑃𝐸 𝑖, 𝑑 − 1
𝑃𝑃𝐸 𝑖, 𝑑 − 1
:
: besar perubahan nilai gross PPE antara periode saat ini dengan
periode sebelumnya
PPE i,t
: Nilai gross PPE pada perusahaan i dalam periode t
PPE i,t-1
: Nilai gross PPE pada perusahaan i dalam periode sebelumnya
3.2.1.2 Intangible Asset
Di dalam PSAK nomor 19 disebutkan bahwa pengertian dari Aset Tidak
Berwujud adalah aset non-moneter yang dapat di identifikasi tanpa wujud fisik, ada
58
59
unsur pengendalian dan memberikan keuntungan ekonomis di masa depan. Dalam
mengukur nilai intangible asset dalam penelitian ini menggunakan referensi dari
peneilitian Boubaker dan Dridi (2016) yang menggunakan nilai perubahan antara
goodwill pada periode saat ini dibandingkan goodwill pada periode sebelumnya.
Untuk menangkap gambaran determinan Book Tax Difference secara lebih luas maka
dilakukan sedikit modifikasi pada pengukuran yang sebelumnya dilakukan Boubaker
dan Dridi (2016) yaitu memperluas nilai yang diambil bukan hanya goodwill tapi
keseluruhan intagible asset yang dimiliki perusahaan.
Hal ini karena dalam ketetntuan perpajakan di Indonesia, amortisasi dilakukan
tidak hanya atas goodwill melainkan intangible asset lainnya sebagaimana diatur
dalam Pasal 11A UU Nomor 36 Tahun 20008 tentang Pajak Penghasilan. Oleh karena
itu, model pengukuran atas intangible asset disajikan sebagai berikut :
βˆ† 𝐼𝑁𝑇 =
Keterangan
βˆ† 𝐼𝑁𝑇
𝐼𝑁𝑇 𝑖, 𝑑 − 𝐼𝑁𝑇 𝑖, 𝑑 − 1
𝐼𝑁𝑇 𝑖, 𝑑 − 1
:
: besar perubahan nilai gross intangible asset antara periode saat ini
dengan periode sebelumnya
INT i,t
: Nilai gross intangible asset pada perusahaan I dalam periode t
INT i,t-1
: Nilai gross intangible asset pada perusahaan i dalam periode
sebelumnya
3.2.1.3 Sales Growth
Sales growth adalah nilai kenaikan atas jumlah penjualan yang terjadi dari
periode saat ini dibanding periode sebelumnya. Pertumbuhan penjualan yang tinggi
59
60
akan berimplikasi pada meningkatnya nilai pendapatan. Di sisi lain, pertumbuhan
penjualan juga akan mendorong perusahaan untuk melakukan investasi secara lebih
demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar di masa depan. Hal ini sejalan dengan
yang dikatakan Pandey (2001) bahwa perusahaan yang tingkat pertumbuhan
penjualannya meningkat dengan cepat perlu untuk melakukan penambahan aset
tetapnya. Dengan demikian pertumbuhan perusahaan yang tinggi akan menyebabkan
perusahaan mencari pendanaan yang lebih besar untuk membeli tambahan aset tetap.
Devie (2003) menyampaikan bahwa sales growth perusahaan dalam
manajemen keuangan diukur berdasarkan perubahan penjualan. Analisis atas tren
pertumbuhan penjualan sangat berguna dalam menilai tingkat profitablitas perusahaan.
Pertumbuhan penjualan dapat terjadi karena dihasilkan beberapa faktor antara lain
perubahan harga, perubahan volume penjualan, akuisisi dan perubahan nilai tukar
(Subramanyam, 2014).
Untuk mengukur sales growth maka digunakan pengukuran yang mengacu pada
Tang (2017) dengan model sebagai berikut :
βˆ† 𝑆𝐴𝐿𝐸𝑆 =
Keterangan
βˆ† 𝑆𝐴𝐿𝐸𝑆
𝑆𝐴𝐿𝐸𝑆 𝑖, 𝑑 − 𝑆𝐴𝐿𝐸𝑆 𝑖, 𝑑 − 1
𝑆𝐴𝐿𝐸𝑆 𝑖, 𝑑 − 1
:
: besar perubahan nilai penjualan antara periode saat ini dengan periode
sebelumnya
SALES i,t
: Nilai penjualan pada perusahaan i dalam periode t
SALES i,t-1 : Nilai penjualan pada perusahaan i dalam periode sebelumnya
3.2.1.4 Deferred Tax Expense
60
61
Dalam mencatat pajak tangguhan terdapat 2 (dua) pendekatan yang dilakukan
yaitu pendekatan asset dan liabilitas. Dari sudut pandang asset, pajak tangguhan
merupakan jumlah pajak penghasilan yang dapat dipulihkan pada masa mendatang
dikarenakan adanya beberapa hal yang diakibatkan oleh adanya perbedaan temporer
seperti akumulasi kerugian pajak atau kredit pajak yang belum dikompensasikan,
perbedaan metode penyusutan dan penentuan masa manfaat aktiva. Berbeda halnya
dengan mengacu pada pendekatan liabilitas pajak tangguhan yang timbul dikarenakan
perbedaan perlakuan pengakuan baik pendapatan maupun beban antara ketentuan
perpajakan (fiskal) dengan standar akuntansi keuangan (komersial). Perbedaan
temporer yang terjadi karena adanya perbedaan waktu pengakuan pendapatan atau
beban mengakibatkan keduanya diakui pada periode yang berbeda ini memang tidak
terhindarkan dengan adanya perbedaan ketentuan antara pajak dan akuntansi namun
hal ini hanya bersifat sementara karena pada akhirnya selisih nilai tersebut akan
terkoreksi satu sama lain pada masa mendatang.
Definisi beban pajak tangguhan sendiri menurut Philips et al., (2003) adalah
beban yang muncul akibat adanya perbedaan sementara (temporer) antara laba secara
akuntansi dan laba secara fiscal. Sementara menurut Waluyo (2014) beban pajak
tangguhan adalah jumlah beban pajak yang muncul dari adanya pengakuan liabilitas
pajak tangguhan sementara manfaat pajak tangguhan berasal dari pengakuan asset
pajak tangguhan. Beban pajak tangguhan mengacu pada liabilitas pajak tangguhan
dikalikan dengan tarif pajak pada saat kewajiban direalisasikan. Hal ini sejalan dengan
pernyataan di dalam par 30 PSAK nomor 46 bahwa pengukuran pajak yang
ditangguhkan akan dihitung dengan menggunakan tarif yang berlaku di masa yang
61
62
akan datang. Adapun metode pengukuran beban pajak tangguhan dalam penelitian ini
dilakukan dengan mengambil referensi pada penelitian Rachmawati (2010) dan
Warsono (2017) yaitu dengan membagi beban pajak tangguhan dengan total asset pada
periode sebelumnya. Model pengukuran tersebut dapat disajikan sebagai berikut :
𝐷𝑇𝐸 𝑖, 𝑑 =
Keterangan
π΅π‘’π‘π‘Žπ‘› π‘ƒπ‘Žπ‘—π‘Žπ‘˜ π‘‡π‘Žπ‘›π‘”π‘”π‘’β„Žπ‘Žπ‘› 𝑖, 𝑑
𝑇𝐴 𝑖, 𝑑 − 1
:
DTE i,t
: Deferred tax expense pada perusahaan i dalam periode t
Beban
Pajak : Nilai beban pajak tangguhan yang tersaji di dalam Laporan
Tangguhan i,t
TA i,t-1
3.2.2
Laba Rugi pada perusahaan i dalam periode t
: Total asset pada perusahaan i dalam periode sebelumnya
Variabel Dependen
Variabel dependen (terikat) adalah variabel yang menjadi tujuan utama dalam
penelitian (Sekaran dan Bougie, 2013). Tujuan utama dari penelitian adalah
bagaimana hasil penelitian dapat mengungkapkan terkait faktor apa saja yang
berpengaruh terhadap variabel dependen tersebut. Penulis memilih menggunakan Tax
Avoidance sebagai variable dependen dengan tujuan memetakan unsur-unsur yang
berpengaruh pada penghindaran pajak yang dapat merugikan penerimaan negara
melalui pajak.
Tax Avoidance (Penghindaran pajak) adalah serangkaian upaya untuk
meminimalisasi kewajiban pembayaran pajak dengan cara-cara yang masih berada di
dalam koridor hukum, sementara itu tax evasion (penggelapan pajak) adalah
62
63
serangkaian upaya yang dilakukan secara ilegal untuk menghindari kewajiban
membayar pajak (Aumeerun et al., 2016). Sementara menurut Lim (2011)
penghindaran
pajak
adalah upaya tax saving yang dilakukan dengan metode
pengurangan pajak secara umum namun terkait legalitas untuk meminimalisasi
kewajiban pajak tersebut kadangkala masih menjadi pertanyaan.
Di dalam penelitian ini metode pengukuran Tax Avoidance menggunakan
Current ETR (CETR) sebagaimana mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh
Murwaningsari
dan
Ahnan
(2019).
Current
ETR
dihitung
dengan
cara
membandingkan beban pajak kini dengan laba bersih sebelum pajak. Model tersebut
dapat dirumuskan sebagai berikut :
𝐢𝐸𝑇𝑅 𝑖, 𝑑 =
Keterangan
𝐢𝐸𝑇𝑅 𝑖, 𝑑
π‘‡π‘Žπ‘₯ 𝐸π‘₯𝑝 𝑖, 𝑑
𝑃𝑇𝐡𝐼 𝑖, 𝑑
:
: Current Effective Tax Ratio digunakan sebagai proksi untuk
menghitung adanya upaya Tax Avoidance pada perusahaan i dalam
periode t
Tax Exp : Beban pajak yang dibayarkan perusahaan pada perusahaan i dalam
i,t
periode t
PTBI i,t
: Pre-tax before income yaitu nilai laba bersih sebelum pajak pada
perusahaan i dalam periode t
3.2.3 Variabel Moderasi
Menurut Sugiyono (2014) variabel moderasi merupakan variabel yang
mempengaruhi hubungan antara variabel dependen dan variabel independen dengan
63
64
cara menjadikan hubungan keduanya lebih kuat atau sebaliknya menjadikan hubungan
keduanya lebih lemah. Bentuk dari variabel moderasi sendiri dapat berupa kualitatif
maupun kuantitatif. Untuk itu di dalam penelitian ini, penulis menggunakan variabel
moderasi untuk mengetahui apakah dengan adanya variabel moderasi menjadikan
hubungan antara variabel independen dan variabel dependen lebih kuat atau lebih
lemah serta apakah variabel moderasi tersebut mampu untuk memoderasi hubungan
antara variabel independen dan variabel dependen. Penulis dalam hal ini menggunakan
variabel moderasi berupa Manajemen Laba.
Definisi dari manajemen laba adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh
manajemen untuk memanipulasi nilai laba dengan memanfaatkan diskresi yang ada di
dalam ketentuan akuntansi namun tetap sejalan dengan prinsip-prinsip di dalam
standar akuntansi keuangan dan kemudian menggunakan diskresi tersebut untuk
mencapai tingkat laba yang diinginkan oleh manajemen (Belkoui, 2017). Sementara
menurut (Davidson, 2004) manajemen laba adalah proses pengambilan langkahlangkah yang dipilih secara sengaja namun tetap dalam kerangka prinsip akuntansi
yang berlaku umum dengan tujuan menghasilkan tingkat laba yang diharapkan untuk
dilaporkan kepada stakeholder. Sundvik (2017) mengungkapkan bahwa perusahaan
cenderung melakukan manajemen laba dalam merespons adanya perubahan tarif
pajak. Sementara Tang (2015), Watrin, et al. (2014) dan Blaylock, et al. (2015)
menerangkan bahwa manajemen laba memengaruhi tingkat kesesuaian antara
pembukuan untuk tujuan komersial dan tujuan fiskal.
Terdapat ragam jenis pengukuran untuk menghitung manajemen laba
diantaranya model modified Jones (1995), model Healy (1985), Model DeAngelo
64
65
(1986), model Kothari (2005), namun dalam penelitian ini dipilih menggunakan
metode Stubben (2010). Metode Stubben (2010) memfokuskan penelitian pada
pendapatan diskresioner dibandingkan dengan akrual diskresioner. Temuan dari
penelitiannya menunjukkan bahwa penggunaan ukuran pendapatan diskresioner
memberikan perkiraan yang secara substansial tidak terlalu bias dan juga kesalahan
pengukurannya relatif kecil dibandingkan dengan model akrual. Metode perhitungan
manajemen laba menurut Stubben terbagi menjadi 2 yaitu revenue model dan
conditional revenue model. Adapun model perhitungan yang digunakan dala m
penelitian ini adalah conditional revenue model yang formulanya disajikan sebagai
berikut :
βˆ†ARit = α + β1βˆ†Rit + β2 βˆ†Rit×SIZEit + β3βˆ†Rit×AGE it+ β4βˆ†Rit×AGE_SQ it +
β5βˆ†Rit×GRMit + β6βˆ†Rit×GRM_SQit +ε it
Keterangan
:
Δ𝐴𝑅 𝑖,
: Perubahan piutang akhir tahun pada perusahaan i dalam periode t
ΔR i,t
: Perubahan pendapatan pada perusahaan i dalam periode t
SIZE i,t
: Ukuran perusahaan i dalam periode t
AGE i,t
: Umur perusahaan i dalam periode t
GRM i,t
: Gross Ratio Margin pada perusahaan i dalam periode t
SQ
: Nilai kuadrat
α
: Konstanta
65
66
β
: Koefisien
ε
: Error
3.2.4
Variabel Kontrol
Penelitian ini menggunakan beberapa variabel kontrol dengan tujuan untuk
memastikan hasil pengujian memiliki kulitas yang lebih akurat dan mengurangi
kemungkinan bias dari gangguan komponen determinan lainnya yang terkait dengan
variabel dependen.
3.2.4.1 Firm Size
Ukuran perusahaan (firm size) menunjukkan skala besar kecilnya suatu
perusahaan. Hal ini turut menunjukkan kekuatan perusahaan dalam menghadapi
berbagai kompetisi dan tantangan di depan. Semakim besar suatu perusahaan maka
semakin kuat dalam menghadapi turbulensi yang dapat mengganggu operasional
perusahaan. Ukuran perusahaan (firm size) yang menunjukkan besar kecilnya
perusahaan dapat dilihat dari nilai equity, nilai perusahaan ataupun hasil nilai aktiva
dari suatu perusahaan. Ukuran perusahaan sendiri menurut Badan Standardisasi
Nasional terbagi menjadi 3 (tiga) kategori yaitu perusahaan besar, perusahaan
menengah, dan perusahaan kecil.
Variabel ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan logaritma natural
dari nilai total aset, sebagaimana juga dilakukan Hung et al. (2018) serta Ahnan dan
Murwaningsari (2019). Adapaun model pengukuran tersebut dapat disajikan sebagai
berikut :
Sz i,t = Ln TA i,t
Keterangan
:
66
67
Sz I,t
: Ukuran perusahaan pada perusahaan I dalam periode t
Ln TA I,t
: Log natural dari nilai total asset pada perusahaan I dalam periode t
3.2.4.2 Leverage
Leverage adalah rasio keuangan yang digunakan untuk mengetahui seberapa
jauh ekuitas suatu perusahaan dibiayai dengan penggunaan hutang (Kasmir, 2013).
Rasio leverage memperbandingkan nilai antara ekuitas dengan liabilitas. Leverage
seringkali digunakan untuk menilai kemampuan suatu perusahaan
dalam
menggunakan aktiva yang dimiliki untuk memperbesar penghasilan (return) bagi
pemegang saham. Tingginya tingkat
leverage mengartikan bahwa tingkat
ketidakpastian atas yang return dapat diperoleh akan semakin tinggi pula. Semakin
tinggi tingkat leverage maka semakin tinggi pula tingkat resiko yang mungkin terjadi
selain itu semakin tinggi pula tingkat return yang diharapkan.
Terdapat beberapa metode perhitungan untuk mendapatkan variabel Leverage
namun penelitian ini menggunakan metode pengukuran yaitu perhitungan Debt to
Asset Ratio (DAR). Debt to Asset Ratio merupakan rasio utang yang digunakan
untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva. Semakin
tinggi persentase Debt to Assets Ratio maka semakin besar risiko keuangan yang akan
dihadapi oleh kreditur maupun pemegang saham. Adapun model pengukuran
Leverage menggunakan DAR (Ahnan dan Murwaningsari, 2019) dapat disajikan
sebagai berikut :
𝐿𝐸𝑉 𝑖, 𝑑 =
Keterangan
πΏπ‘–π‘Žπ‘π‘–π‘™π‘–π‘‘π‘–π‘’π‘  𝑖, 𝑑
𝑇𝐴 𝑖, 𝑑
:
67
68
LEV
I,t : Leverage perusahaan I pada periode t
Liabilities I,t
: Total Liabilities perusahaan I pada periode t
TA I,t
: Total Assets perusahaan I pada periode t
3.2.4.3 Profitabilitas
Profitabilitas merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
pendapatan dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki baik aktiva maupun
ekuitas perusahaan. Profitabiltas seringkali dijadikan ukuran bagi investor maupun
kreditor dalam menilai baik atau buruknya kinerja perusahaan. Menurut Kieso,
Weygant, dan Warfield (2014:215) profitabilitas adalah:
“Profitability ratio is a ratio that measures the success or operation of a
company for a certain period of time”.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat profitabilitas akan
menggambarkan posisi laba perusahaan dan kesuksesan perusahaan. Dalam penelitian
ini pengukuran profitabilitas menggunakan nilai Return on Assets (ROA). ROA
merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan berdasarkan jumlah investasi yang telah ditanamkan di
dalam perusahaan. Adapun model pengukuran ROA menggunakan referensi dari
penelitian Hung et.al, (2018) dan Koouba & Jarboui (2017) dapat disajikan sebagai
berikut :
𝑅𝑂𝐴 𝑖, 𝑑 =
Keterangan
𝑃𝐡𝑇 𝑖, 𝑑
𝐴𝑣𝑔. 𝑇𝐴 𝑖, 𝑑
:
68
69
ROA i,t
: Return on Assets pada perusahaan i dalam periode t
PBT i,t
: Profit before taxes; pendapatan ssebelum dikurangi pajak pada
perusahaan ini dalam periode t
Avg. TA : Average Total Assets pada perusahaan i dalam periode t; nilai total
i,t
asset awal tahun ditambah total asset akhir tahun dibagi dua
3.2.4.4 Operational Cash Flow
Operational Cash Flow adalah kas yang timbul dari dilakukannya kegiatan
operasi perusahaan yang berkaitan dengan penerimaan kas, pengeluaran kas,
pendapatan dan biaya-biaya. Aliran kas ini menggambarkan bagaimana kinerja
perusahaan dalam mendapatkan keuntungan dan kemudian mengubahny menjadi kas.
Dalam literatur keuangan dikenal istilah cash is the king, hal ini mencerminkan betapa
pentingnya kepemilikan kas bagi jalannya opersional perusahaan.
Kinerja perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang tidak diimbangi
dengan kemampuan perusahaan mengubah keuntungan tersebut menjadi kas hanya
akan membuat kinerja perusahaan baik di laporan semata namun pada prakteknya
perusahaan akan kesulitan untuk bergerak. Arus kas operasi juga memiliki peran
penting dalam menentukan perusahaan apakah membutuhkan pembiayaan tambahan
atau tidak. Variabel operational cash flow diukur dengan mengambil nilai arus kas
operasi pada Laporan Arus Kas milik perusahaan (Ahnan dan Murwaningsari, 2019).
3.3. Teknik Pengumpulan Data
69
70
Dalam melakukan penelitian dibutuhkan data-data yang menunjang sebagai
objek penelitian guna mendapatkan hasil penelitian dan kesimpulan yang dituju.
Metode pengumpulan data yang dilakukan di dalam penelitian ini adalah dengan
mengambil data sekunder yang berasal dari laporan keuangan dan laporan tahunan
milik perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia kurun waktu 2016 – 2018.
Selain itu penulis juga melakukan studi kepustakaa untuk menemukan hubunganhubungan yang terjadi di antara variabel-variabel yang terdapat di dalam penelitian ini
berdasarkan jurnal penelitian terdahulu dan literatur baik dalam maupun luar negeri.
3.4 Populasi dan Sampel
3.4.1 Populasi
Pengertian populasi sendiri adalah sekumpulan orang atau kelompok yang
memiliki informasi yang ingin diketahui oleh peneliti (Neuman, 2014). Besarnya
populasi berbanding lurus dengan kesulitan penelitian khususnya dalam tahapan
pengumpulan data. Penelitian ini menggunakan populasi yaitu perusahaan-perusahaan
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (emiten) dimana ketersediaan datanya dirasa
lebih mudah didapat dibanding perusahaan-perusahaan privat.
3.4.2 Sampel
Neuman (2014) mendefinisikan sampel sebagai pilihan peneliti atas satu
kumpulan yang dapat menggeneralisasi populasi. Tentunya semakin besar jumlah
subjek penelitian atas suatu populasi akan semakin mencerminkan nilai sebenarnya
atas suatu fenomena. Namun mengingat keterbatasan dalam penelitian yang dilakukan
dirasa pengambilan sampel cukup mewakili populasi yang ada. Sampel yang
70
71
digunakan dalam perusahaan ini adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia kurun waktu 2016-2018 yang bergerak di bidang manufaktur. Penulis
menetapkan kondisi sampel penelitian yaitu perusahaan yang memiliki seluruh pospos keuangan yang terkait dalam pengujian pada penelitian ini.
3.5 Teknik Penarikan Sampel
Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan metode purposive
sampling (judgement sampling) yang merupakan salah satu bagian dari metode nonprobability sampling, yaitu pemilihan sampel yang dilakukan secara tidak acak
berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Berdasarkan kondisi yang telah ditetapkan
sebelumnya maka anggota populasi yang tidak memenuhi syarat tidak akan dipilih
sebagai
sampel
penelitian. Sampel penelitian mengambil spesifikasi berupa
perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur karena bidang ini dirasa memiliki
informasi keuangan yang lengkap dan mewakili hampir seluruh peristiwa keuangan.
3.6 Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan di dalam penelitian ini sebagai berikut :
3.6.1 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif merupakan jenis statistik yang digunakan untuk
menggambarkan suatu populasi melalui data yang telah dikumpulkan dengan tidak
membuat suatu kesimpulan atas data tersebut
(Sugiyono,
2016).
Cara
menggambarkan data tersebut diantaranya menggunakan tabel, grafik, diagram
71
72
lingkaran, perhitungan penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan standar
deviasi serta perhitungan persentase (Sugiyono, 2016).
3.6.2 Analisis Regresi Data Panel
Regresi data panel merupakan pengembangan dari regresi linier yang
diperuntukkan dalam menganalisa jenis data yang menggabungkan sifat data cross
section dengan time series. Sifat cross section data ditunjukkan oleh data yang terdiri
lebih dari satu entitas (individu), sedangkan sifat time series ditunjukkan oleh setiap
individu memiliki lebih dari satu pengamatan waktu (periode).
Sebelum melakukan analisa menggunakan regresi data panel secara lebih
lanjut maka harus ditentukan terlebih dahulu penggunaan model regresi data panel
yang sesuai dengan karakteristik data yang dimiliki. Terdapat tiga pendekatan yang
dapat digunakan dalam melakukan penentuan model regresi data panel yaitu :
1. Common Effect Model
Common Effect Model menggabungkan data time series dan data
cross section serta menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS) untuk
mengestimasi model data panel tersebut. Model ini merupakan pendekatan
model data panel yang paling sederhana dibanding fixed effect model maupun
random effect model. Hal ini karena pada model ini baik varians dalam crosssection dan time-series tidak dapat dibedakan (Kuncoro, 2012). Metode ini
menggunakan asumsi bahwa perilaku data antar perusahaan sama dalam
berbagai kurun waktu (Widarjono, 2009).
2. Fixed Effect Model
72
73
Model ini mengasumsikan bahwa terdapat intercept yang berbeda antar
individu namun slope untuk tiap individunya tidak berubah seiring waktu
(Gujarati, 2013). Untuk membedakan antara satu individu dengan individu
lainnya dalam model Fixed Effect ini digunakan variable dummy untuk
melihat perbedaan intersep tersebut. Fixed Effect Model sering juga disebut
sebagai model Least Squares Dummy Variable (LDSV).
3. Random Effect Model
Model
ini
muncul karena adanya variasi dalam nilai dan arah
hubungan antar subjek penelitian yang diasumsikan random (Kuncoro, 2012).
Bentuk variasi nilai dan arah hubungan yang random tersebut ditetapkan
sebagai variabel residual. Model ini mengestimasi data panel dengan variabel
residual diperkirakan berhubungan antar waktu dan antar individu.
Keuntungan
dari penggunaan model
ini
adalah menghilangkan
heteroskedastisitas namun syarat penggunaan model ini adalah jumlah crosssection harus lebih banyak dari variabel penelitian. Random Effect Model
(REM) biasa disebut juga dengan Error Component Model (ECM) atau
teknik Generalized Least Square (GLS).
3.6.3
Pemilihan Model
Terdapat beberapa pengujian yang dapat dilakukan untuk menentukan
pemilihan model terbaik untuk mengestimasi regresi data panel, yaitu:
1) Uji Chow
Pengujian ini dilakukan untuk menentukan pemilihan model antara
fixed effect atau common effect dalam pengestimasian data panel. Apabila
73
74
nilai F hitung Λƒ F kritis maka Ho ditolak. Apabila Ho ditolak maka model
terpilih adalah Fixed Effect Model. Hipotesis yang dibentuk dalam Uji
Chow adalah sebagai berikut :
Ho : Common Effect Model
Ha : Fixed Effect Model
2) Uji Hausman
Pengujian ini dilakukan untuk memilih apakah model terbaik antara
Fixed Effect Model atau Random Effect Model. Apabila nilai statistik
Haussman Λƒ nilai kritis Chi-Squares maka Ho ditolak. Dengan demikian
model terbaik untuk digunakan antara kedua model tersebut adalah Fixed
Effect Model. Uji Haussman menggunakan hipotesis sebagai berikut :
Ho : Random Effect Model
Ha : Fixed Effect Model
3) Uji Lagrange Multiplier
Pengujian ini dilakukan untuk memilih model terbaik antara Random
Effect Model atau Common Effect Model. Apabila nilai LM hitung Λƒ nilai
kritis Chi-Squares maka Ho ditolak. Dengan demikian model yang paling
tepat di antara kedua model tersebut adalah Random Effect Model. Uji
Lagrange Multiplier menggunakan hipotesis sebagai berikut :
Ho : Common Effect Model
Ha : Random Effect Model
3.6.4 Uji Asumsi Klasik
74
75
Terdapat beberapa pengujian asumsi klasik dalam regresi linier yaiut
Uji Linieritas, Uji Autokorelasi, Uji Heteroskedastisitas, Uji Multikolinieritas
dan Uji Normalitas. Meskipun begitu, menurut Basuki (2016) tidak perlu
menggunakan keseluruhan uji tersebut dalam regresi data panel. Hal ini
disebabkan oleh :
1. Model
sudah diasumsikan
bersifat
linier sehingga tidak perlu
melakukan Uji Linearitas.
2. Mengacu pada BLUE (Best Linier Unbias Estimator) maka tidak
perlu melakukan Uji Normalitas karena tidak termasuk di syarat yang
wajib dipenuhi.
3. Uji Autokorelasi pada data yang tidak bersifat time-series (cross
section atau panel) menjadi sia-sia. Hal ini dikarenakan autokorelasi
hanya terjadi pada data yang bersifat time-series.
4. Uji Multikolinearitas perlu dilakukan ketika digunakan lebih dari satu
variabel independen. Karena apabila hanya terdapat satu variabel
independen maka tidak akan terjadi multikolinieritas.
5. Pada data cross-section rentan terjadi heteroskedastisitas. Untuk itu
pada pengujian data panel yang lebih dekat kepada karakter data crosssection
dibandingkan
data
time-series
perlu
dilakukan
Uji
Heteroskedastisitas.
Berdasarkan beberapa hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pada
model regresi data panel uji asumsi klasik yang tepat digunakan adalah Uji
75
76
Multikolinieritas dan Uji Heteroskedastisitas saja. Penjelasan terkait Uji
Multikolinearitas dan Uji Heteroskedastisitas adalah sebagai berikut :
1) Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas digunakan untuk melihat ada atau tidaknya
korelasi yang tinggi antara variabel-variabel independen dalam suatu model
regresi linear berganda. Jika ada korelasi yang tinggi diantara variabelvariabel bebasnya, maka hubungan antar variabel bebas terhadap variabel
terikatnya menjadi terganggu. Untuk mengetahui apakah dalam model regresi
terdapat multikolinearitas atau tidak dapat dilihat berdasarkan nilai tolerance
dan varian inflation factor (VIF). Apabila nilai VIF ≥ 10 dan nilai
tolerance
≤
0,1
mengindikasikan
bahwa
model regresi
mengalami
multikolinearitas. Begitu sebaliknya, apabila model regresi mempunyai nilai
VIF ≤ 10 dan nilai tolerance ≥ 0,1 maka model regresi terbebas dari
multikolinearitas.
2) Uji Heteroskedastisitas
Uji untuk melihat apakah terdapat ketidaksamaan varian dari
residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang
memenuhi persyaratan adalah dimana terdapat kesamaan varians dari
residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap atau disebut
homoskedastisitas. Model
regresi
yang
baik
adalah
yang
bersifat
homoskedastisitas (Ghozali, 2013). Metode yang digunakan untuk uji
heteroskedastisitas dalam penelitian ini adalah
Uji
White.
Pengujian
memenuhi persyaratan (Ho diterima yakni tidak terjadi heteroskedastisitas)
76
77
apabila
nilai probabilitas chi-suare Λƒ α 0,05. Sedangkan apabila nilai
probabilitas chi-square Λ‚ α (0.05) maka Ho ditolak yang berarti terjadi
heteroskedastisitas atau data varians tidak sama.
3.6.5
Uji Hipotesis
Setelah melewati serangkaian uji sebelumnya, maka penelitian
dilanjutkan dengan pengujian hipotesis. Pengujian dilakukan dengan
menguji koefisien determinasi atau R Squared (R2). Uji tersebut digunakan
untuk mengukur seberapa jauh
kemampuan
model
regresi
dalam
menerangkan variasi variabel dependen. Selanjutnya dilakukan uji simultan
(uji F) yang bertujuan untuk menunjukkan apakah seluruh variabel independen
di dalam penelitian secara bersama-sama memngearuhi variabel dependen.
Kemudian dilanjutnkan dengan uji parsial (Uji T) yakni uji signifikansi
parameter individual. Uji T digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh
pengaruh variabel independen secara individu terhadap variabel dependen
dengan asumsi variabel lain dianggap konstan
Model regresi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pengujian Hipotesis H1 , H2, H3, dan H4
TAXAV = α + β1ΔPPE + β2 ΔINT + β3 ΔSALES + β4DTE + β5Sz + β6LEV +
β7RoA + β8CFO + ε
Keterangan
TAXAV
:
: Tax Avoidance yang dilakukan perusahaan
77
78
ΔPPE
: besar perubahan nilai gross PPE antara periode saat ini
dengan periode sebelumnya
ΔINT
: besar perubahan nilai gross intangible asset antara periode
saat ini dengan periode sebelumnya
ΔSALES
: Besar pertumbuhan penjualan antara periode saat ini
dibandingkan periode sebelumnya
DTE
Sz
: Nilai beban pajak tangguhan
: Ukuran perusahaan menggunakan Logaritma natural dari
total asset
LEV
: Leverage,
perbandingan
liabilitas
dengan
ekuitas
menggunakan Debt to Equity Ratio (DER)
RoA
: Profitabilitas perusahaan diukur melalui Return on Asset
CFO
: Arus kas operasional perusahaan
ε
: Error
α
: Konstanta
2. Pengujian Hipotesis H5 , H6, H7, dan H8
TAXAV = α + β1ΔPPE + β2 ΔINT + β3 ΔSALES + β4DTE + β5ΔPPE*EM
+ β6 ΔINT*EM + β7 ΔSALES*EM + β8DTE*EM + β9Sz
+ β10LEV + β11RoA + β12CFO + ε
78
79
Keterangan
:
TAXAV
ΔPPE
: Tax Avoidance yang dilakukan perusahaan
: besar perubahan nilai gross PPE antara periode saat ini
dengan periode sebelumnya
ΔINT
: besar perubahan nilai gross intangible asset antara periode
saat ini dengan periode sebelumnya
ΔSALES
: Besar pertumbuhan penjualan antara periode saat ini
dibandingkan periode sebelumnya
DTE
: Nilai beban pajak tangguhan
EM
: Manajemen laba diukur menggunakan nilai discretionary
revenues
Sz
: Ukuran perusahaan menggunakan Logaritma natural dari
total asset
LEV
: Leverage,
perbandingan
liabilitas
dengan
ekuitas
menggunakan Debt to Equity Ratio (DER)
RoA
: Profitabilitas perusahaan diukur melalui Return on Asset
CFO
: Arus kas operasional perusahaan
ε
: Error
79
80
α
: Konstanta
Berdasarkan kedua persamaan tersebut, persamaan pertama disusun
tanpa menyertakan perhitungan variabel moderasi dengan hanya melibatkan
variabel independen, variabel dependen dan variabel kontrol. Kemudian
persamaan kedua disusun dengan melibatkan selurhu variabel untuk
mengetahui pengaruh variabel moderasi apakah dapat memperkuat atau
melemahkan. Untuk mendapatkan hipotesis alternatif digunakan tingkat
signifikansi 5%. Apabila hasil analisis memiliki tingkat signifikansi Λ‚ dari 0,05
dan nilai koefisien regresi sesuai dengan prediksi maka hipotesis alternatif
diterima. Kemudian apabila hasil uji R2 menyatakan mendekati 1 (satu) maka
hasil
tersebut
mengindikasikan
korelasi yang
kuat
antara
variabel
independen dengan variabel dependen. Namun, apabila hasil uji R2
menyatakan mendekati 0 (nol) maka terdapat korelasi yang lemah antara
variabel independen dengan variabel dependen (Ghozali, 2013).
Kemudian dalam pengujian simultan (Uji F) apabila hasil analisis
memiliki tingkat signifikansi Λ‚ dari 0,05 maka dinyatakan bahwa variabel
independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen.
Sementara itu apabila nilai signifikansi Λƒ dari 0,05 maka dinyatakan bahwa
variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap variabel
dependen. Pengujian dilakukan dengan menggunakan tingkat kesalahan 0,05
(α = 5%).
Terakhir dilakukan uji parsial (Uji t) dengan kembali menggunakan
nilai signifikansi sebagai tolak ukur apakah hipotesis alternatif diterima atau
80
81
ditolak. Apabila nilai signifikansi Λ‚ dari 0,05 maka hipotesis alternatif diterima
yang berarti variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap
variabel dependen. Sementara itu apabila nilai signifikansi Λƒ dari 0,05 maka
hipotesis alternatif ditolak. Pengujian dilakukan dengan menggunakan tingkat
kesalahan 0,05 (α = 5%).
81
82
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1
Deskriptif Objek Penelitian
Penelitian ini menggunakan pemilihan sampel dengan metode purposive sampling,
dimana penulis memilih sampel berdasarkan ketersediaan variabel, pada laporan keuangan
perusahaan, yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Pemilihan sampel dilakukan dengan
bantuan aplikasi Microsoft Excel untuk mengeliminasi data-data yang tidak lengkap dan tidak
memenuhi kriteria penelitian. Tujuan dari penggunaan metode ini adalah agar data-data
perusahaan yang disajikan dalam penelitian ini memberikan gambaran yang sebanding
sehingga diharapkan hasil penelitian tidak bersifat bias.
Jumlah populasi dalam penelitian ini meliputi seluruh perusahaan manufaktur yang
terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2016 – 2018. Dimana jumlaah
perusahaan manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia pada periode tersebut
berjumlah 187 perusahaan. Dari jumlah tersebut dilakukan penyaringan data dan pemlihan
sampel sehingga pada akhirnya dipilih 49 sampel perusahaan untuk dilakukan observasi yang
memiliki seluruh variabel keuangan, khususnya intangible asset, dan telah terdaftar sejak 1
Januari 2015 dikarenakan kebutuhan ketersediaan data meliputi tahun sebelumnya dari periode
penelitian serta dengan mengecualikan data outlier sebanyak 4 perusahaan yaitu perusahaan
dengan kode perusahaan KRAS, MBTO, MGNA dan SKBM.
Data observasi dalam penelitian ini memiliki sifat cross section karena memiliki
banyak data observasi dan time series karena terdiri dari beberapa tahun pengamatan sehingga
dapat digolongkan menjadi penelitian data panel (pooled data regression). Adapun rangkaian
proses pemlihan sampel adalah sebagai berikut.
82
83
Tabel 4.1
Kriteria Pemilihan Sampel
No
Kriteria
Jumlah
Ukuran
1
Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di 187
BEI s.d 2018
Perusahaan
2
Telah terdaftar sejak 1 Januari 2015
Perusahaan
3
Memiliki pos Intangible asset dalam 53
Laporan Keuangan
Perusahaan
4
Data Outlier
(4)
Perusahaan
5
Jumlah Sampel
49
Perusahaan
6
Periode Observasi (2016 – 2018)
3
Tahun
7
Jumlah Observasi
147
Perusahaan x tahun
141
Sumber : Diolah oleh penulis dari www.idx.go.id dan output Eviews versi 9
4.2 Analisis Statistik Deskriptif
Berdasarkan data-data yang peneliti observasi, sebelum dilakukan pengujian lebih
lanjut terlebih dahulu dilakukan penyajian data dengan analisis statistik deskriptif untuk
mendapatkan gambaran mengenai data yang dilakukan observasi. Menurut Sugiyono (2016),
statistik deskriptif adalah teknik analisis data yang berupa pengolahan dan penyajian atas data
yang telah dikumpulkan. Analisis statistik ini digunakan untuk melihat gambaran utuh
mengenai bagaimana sebaran data observasi yang diamati dan untuk memberikan interpretasi
dari data yang dikumpulkan.
Melalui statistik deskriptif dapat terlihat pola sebaran data dan gambaran tentang
ukuran pemusatan dan bentuk sebaran data.
Ukuran pemusatan data menggambarkan
bagaimana data terpusat. Penelitian ini menggunakan mean yang menggambarkan rata-rata
dari masing-masing variabel untuk seluruh observasi dalam tiga tahun, serta median atau nilai
tengah yang menggambarkan nilai data yang terletak di tengah kumpulan data yang telah
84
diurutkan. Sementara itu ukuran persebaran data meliputi nilai maksimum dan nilai minimum
untuk menggambarkan nilai ekstrim tertinggi dan terendah dari data, serta deviasi standar
untuk menggambarkan seberapa dekat titik data individu kepada nilai rata-rata atau mean.
Ringkasan sajian data statistik deskriptif tersebut dapat terlihat lebih jelas pada tabel 4.2
berikut.
Tabel 4.2
Statistik Deskriptif Data Penelitian
No
Variabel
Mean
Median
Maximum
Minimum
Std.
Deviasi
1
CETR
0,195431
0,243662
1,318239
-0,471665
0,204287
2
PPE
0,122528
0,073343
1,828268
-0,658000
0,236239
3
INT
0,367225
0,002538
1,327298
-0,918497
1,409072
4
SALES
0,072583
0,071824
0,465159
-0,702004
0,138873
5
DTE
0,001025
-0,000172
0,043279
-0,021951
0,007502
6
SZ
15,23547
15,02077
19,65822
11,98020
15,29908
7
LEV
0,555155
0,448714
5,073297
0,076894
0,727558
8
ROA
0,074710
0,052668
0,634190
-0,927396
0,142479
9
CFO
1649208
169161
27692000
-2567883
4273049
10
EM
-252.3803
-32261.58
1634577
-1489459
322964.7
Sumber : Diolah dari output Eviews 9
4.2.1
Analisis Statistik Deskriptif Variabel Independen
Variabel fixed aset yang digunakan dalam penelitian ini adalah besaran perubahan
nilai property, plant, and equipment dari tahun ini ke tahun sebelumnya. Variabel ini
menggambarkan jumlah peningkatan maupun penurunan nilai investasi perusahaan pada asset
tetap yang dimiliki. Berdasarkan data yang digunakan dalam penelitian, nilai tertinggi pada
85
variabel ini adalah 1,828268 sementara nilai terendah adalah -0,658000 sehingga rentang data
pada variabel ini adalah 2,486268. Kemudian nilai rata-rata atau mean dari variabel ini adalah
0,122528 dengan median sebesar 0,073343. Adapun nilai standar deviasi pada variabel ini
sebesar 0,236239.
Variabel intangible asset yang digunakan dalam penelitian ini adalah besaran
perubahan nilai aset tak berwujud baik goodwill maupun aset tak berwujud lainnya dari tahun
ke tahun dalam periode observasi. Variabel ini menggambarkan jumlah peningkatan maupun
penurunan nilai investasi perusahaan pada asset tak berwujud yang dimiliki. Berdasarkan data
yang digunakan dalam penelitian, nilai tertinggi pada variabel ini adalah 1,327298 sementara
nilai terendah adalah -0,918497 sehingga rentang data pada variabel ini adalah 2,245795.
Kemudian nilai rata-rata atau mean dari variabel ini adalah 0,367225 dengan median sebesar
0,002538. Adapun nilai standar deviasi pada variabel ini sebesar 1,409072.
Variabel sales growth yang digunakan dalam penelitian ini adalah besaran perubahan
nilai penjualan dari tahun ke tahun. Variabel ini menggambarkan jumlah peningkatan maupun
penurunan nilai penjualan bersih yang berhasil dilakukan oleh perusahaan. Berdasarkan data
yang digunakan dalam penelitian, nilai tertinggi pada variabel ini adalah 0.465159 sementara
nilai terendah adalah -0,702004 sehingga rentang data pada variabel ini adalah 1,167163.
Kemudian nilai rata-rata atau mean dari variabel ini adalah 0,072583 dengan median sebesar
0,071824. Adapun nilai standar deviasi pada variabel ini sebesar 0,138873.
Variabel deferred tax expense yang digunakan dalam penelitian ini adalah besar
jumlah beban pajak tangguhan pada tiap tahun fiskal yang dilakukan observasi. Berdasarkan
data yang digunakan dalam penelitian, nilai tertinggi pada variabel ini adalah 0,043279
sementara nilai terendah adalah -0,021951 sehingga rentang data pada variabel ini adalah
86
0,065230. Kemudian nilai rata-rata atau mean dari variabel ini adalah 0,001025 dengan
median sebesar -0,000172. Adapun nilai standar deviasi pada variabel ini sebesar 0,007502.
4.2.2
Analisis Statistik Deskriptif Variabel Dependen
Variabel dependen digunakan dalam penelitian ini adalah Tax avoidance (TAXAV
i,t). Semakin tinggi nilai pada variabel ini maka semakin besar pula kemungkinan melakukan
penghindaran pajak dan begiu pula sebaliknya. Berdasarkan data yang digunakan dalam
penelitian, nilai tertinggi pada variabel ini adalah 1,318239 sementara nilai terendah adalah 0,471665 sehingga rentang data pada variabel ini adalah 1,789904. Kemudian nilai rata-rata
atau mean dari variabel ini adalah 0,195431 dengan median sebesar 0,243662. Adapun nilai
standar deviasi pada variabel ini sebesar 0,204287.
4.2.3
Analisis Statistik Deskriptif Variabel Moderasi
Penelitian ini menggunakan variabel moderasi berupa Manajemen Laba (EM).
Variabel manajemen laba dihitung dengan menggunakan pendekatan yang dilakukan Stubben
(2010) dengan metode conditional revenue model yaitu dari nilai residu hasil regresi
persamaan manajemen laba yang telah dijelaskan di bab sebelumnya. Variabel ini
menggambarkan kemungkinan perusahaan melakukan rekayasa atas laba dengan tidak
berdasarkan kondisi sebenarnya.
Berdasarkan data yang digunakan dalam penelitian, nilai tertinggi pada variabel ini
adalah 1.634.577 sementara nilai terendah adalah -1.489.459 sehingga rentang data pada
variabel ini adalah 3.124.036. Kemudian nilai rata-rata atau mean dari variabel moderasi ini
adalah -252,3803 dengan median sebesar -32.261,58. Adapun nilai standar deviasi pada
variabel ini sebesar 322.964,70.
4.2.4 Analisis Statistik Deskriptif Variabel Kontrol
87
Penelitian ini menggunakan variabel kontrol dengan tujuan untuk membatasi hasil
pengujian dari pengaruh luar. Variabel kontrol yang digunakan dalam penelitian ini adalah
ukuran perusahaan (Sz), leverage (LEV), profitabilitas (ROA) dan operational cash flow
(CFO). Variabel ukuran perusahaan (Sz) didapat dari hasil log natural nilai total aset yang
dimiliki perusahaan. Berdasarkan data yang digunakan dalam penelitian, nilai tertinggi pada
variabel ini adalah 19,65822 sementara nilai terendah adalah 11,98020 sehingga rentang data
pada variabel ini adalah 7,67802. Kemudian nilai rata-rata atau mean dari variabel ini adalah
15,23547 dengan median sebesar 15,02077. Adapun deviasi standar pada variabel ini senilai
15,29908.
Variabel kontrol berikutnya adalah leverage (LEV). Variabel ini menggambarkan
penggunaan dana pinjaman untuk kegiatan perusahaan. Berdasarkan data yang digunakan
dalam penelitian, nilai tertinggi pada variabel ini adalah 5,073297 sementara nilai terendah
adalah 0,076894 sehingga rentang data pada variabel ini adalah 4,996403. Kemudian nilai
rata-rata atau mean dari variabel ini adalah 0,555155 dengan median sebesar 0,448714.
Adapun deviasi standar pada variabel ini senilai 0,727558.
Variabel profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini menggambarkan tingkat
keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan atas kegiatan operasional mereka. Berdasarkan
data yang digunakan dalam penelitian, nilai tertinggi pada variabel ini adalah 0,634190
sementara nilai terendah adalah -0,927396 sehingga rentang data pada variabel ini adalah
1,561586. Kemudian nilai rata-rata atau mean dari variabel ini adalah 0,074710 dengan
median sebesar 0,052668. Adapun deviasi standar pada variabel ini senilai 0,142479.
Variabel kontrol terakhir yang digunakan dalam penelitian ini adalah operational cash
flow (CFO). Variabel ini menggambarkan jumlah penerimaan ataupun pengeluaran kas yang
didapatkan dari kegiatan operasional. Berdasarkan data yang digunakan dalam penelitian, nilai
88
tertinggi pada variabel ini adalah 27.692.000 sementara nilai terendah adalah -2.567.883
sehingga rentang data pada variabel ini adalah 30.259.883. Kemudian nilai rata-rata atau mean
dari variabel ini adalah 1.649.208 dengan median sebesar 169.161. Adapun deviasi standar
pada variabel ini senilai 4.273.049.
4.3 Analisis Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data panel, dimana pengujian atas data
panel melibatkan 3 jenis model pengujian yaitu Common Effect Model, Fixed Effect Model
dan Random Effect Model. Dalam menentukan model mana yang paling tepat digunakan
dalam menganalisa data yang tersedia dalam penelitian ini maka dilakukan beberapa pengujian
terlebih dahulu, yaitu Uji Chow, Uji Hausman dan Uji Lagrange Multiplier. Hasil dari
pengujian-pengujian tersebut akan memberikan rekomendasi penggunaan model pengujian
terbaik berdasarkan sifat data yang tersedia dalam penelitian ini. Sehubungan dengan
penggunaan variabel moderasi di dalam penelitian ini maka terdapat dua persamaan regresi
yang perlu dihitung untuk mendapatkan pengaruh antar variabel.
Persamaan regresi pertama hanya melibatkan variabel independen, variabel dependen
dan variabel kontrol. Sementara persamaan regresi kedua melibatkan seluruh variabel
termasuk variabel moderasi. Setelah ditentukan. Untuk mempermudah memahami sajian data
hasil pengujian yang telah penulis lakukan maka penyajian data tersebut dipisah antara hasil
pengujian terhadap persamaan regresi pertama (Persamaan 1) dan persamaan regresi kedua
(Persamaan 2). Adapun hasil pengujian model tersebut disajikan sebagai berikut.
4.3.1
Pemilihan Model Regresi Persamaan 1
Persamaan ini merupakan persamaan regresi antara variabel independen, variabel
dependen dan variabel kontrol. Tujuan akhir dari perhitungan atas persamaan ini adalah
89
melihat apakah variabel independen dengan keterlibatan variabel kontrol berpengaruh
terhadap variabel dependen.
4.3.1.1 Uji Chow
Pengujian model terbaik yang pertama dilakukan adalah Uji Chow. Pengujian ini
dilakukan untuk menentukan model regresi data panel yang lebih baik diantara Common
Effect Model (CEM) atau juga disebut ordinary least square (OLS) model dengan Fixed Effect
Model (FEM). Hipotesis yang dibangun di dalam pengujian ini yaitu :
•
Ho = common effect model (CEM)
•
Ha = fixed effect model (FEM)
Pengujian dilakukan dengan menggunakan aplikasi EViews versi 9. Adapun tahapan
pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
-
Memunculkan persamaan regresi variabel independen, variabel kontrol dan
variabel dependen
-
Melakukan regresi dengan menggunakan estimation output berupa metode
Fixed Effect Model
-
Menampilkan hasil uji chow melalui menu View > Fixed/Random Effect
Testing > Redundant Fixed Effect- Likelihood Ratio.
Tingkat signifikansi (α) yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 5% (α =
0,05). Dengan demikian, hasil pegujian didasarkan pada ketentuan jika nilai Prob. pada Crosssection Chi-Square Λ‚ α maka Ho ditolak dan Ha diterima sehingga model yang
direkomendasikan adalah Fixed Effect Model. Sebaliknya, jika nilai Prob. pada Cross-section
90
Chi-Square Λƒ α maka Ha ditolak dan Ho diterima sehingga model yang direkomendasikan
adalah Common Effect Model.
Hasil uji chow menunjukkan nilai Prob. pada Cross-section Chisquare sebesar 0,0023.
Nilai tersebut lebih kecil dari α (0,05), dengan demikian berarti Ho ditolak. Untuk itu dapat
disimpulkan bahwa model regresi data panel yang direkomendasikan berdasarkan hasil uji
chow adalah Fixed Effect Model (FEM)
Tabel 4.3
Uji Chow Persamaan 1
Test Summary
Cross-section random
Chi-Sq. Statistik
2.022445
Chi-Sq. d.f.
(47.87)
Prob
0.0023
Sumber : Diolah dari Output Eviews 9
4.3.1.2 Uji Hausman
Pengujian selanjutnya yang dilakukan adalah uji hausman. Pengujian ini dilakukan
untuk menentukan model regresi data panel yang lebih baik diantara random effect model
(REM) dan fixed effect model (FEM). Hipotesis yang diajukan dalam pengujian ini adalah
sebagai berikut:
•
Ho = random effect model (REM)
•
Ha = fixed effect model (FEM)
Pengujian dilakukan dengan menggunakan aplikasi EViews versi 9. Tahapan
pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
-
Memunculkan persamaan regresi variabel independen, variabel kontrol dan
variabel dependen
91
-
Melakukan regresi menggunakan estimation output berupa metode Random
Effect Model
-
Menampilkan hasil uji chow melalui menu View > Fixed/Random Effect
Testing > Correlated Random Effect- Hausman Test
Penentuan model regresi data panel dilakukan dengan cara melihat nilai Prob. pada
Cross-section random untuk kemudian dibandingkan dengan tingkat signifikansi (α). Tingkat
signifikansi (α) yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 5% (α = 0,05). Dengan
demikian, hasil pegujian didasarkan pada ketentuan jika nilai Prob. pada Cross-section random
Λ‚ α maka Ho ditolak dan Ha diterima sehingga model yang direkomendasikan adalah fixed
effect model. Sebaliknya, jika nilai Prob. pada Cross-section random Λƒ α maka Ha ditolak dan
Ho diterima sehingga model yang direkomendasikan adalah random effect model.
Hasil uji hausman menunjukkan nilai Prob. pada Cross-section random sebesar 0,0426
atau sebesar 4,26%. Nilai tersebut lebih kecil dari α (0,05) yang berarti Ho diterima. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa model regresi data panel yang direkomendasikan
berdasarkan hasil uji hausman adalah Fixed Effect Model (FEM)
Tabel 4.4
Uji Hausman Persamaan 1
Test Summary
Chi-Sq. Statistik
Chi-Sq. d.f.
Prob
Cross-section random
15.981943
8
0.0426
Sumber : Diolah dari Output Eviews 9
4.3.1.3 Uji Lagrange Multiplier
Pengujian terakhir yang dilakukan adalah uji lagrange multiplier. Pengujian ini
dilakukan untuk menentukan model regresi data panel yang lebih baik diantara common effect
92
model (CEM) model dan random effect model (REM). Namun dalam pengujian model atas
persamaan regresi pertama ini, dikarenakan hasil uji chow dan uji hausman sebelumnya telah
menunjukkan model terbaik berupa Fixed Effect Model (FEM), tidak perlu lagi dilakukan uji
lagrange multipler. Hasil pengujian model di atas disajikan secara lebih ringkas pada tabel
berikut.
Tabel 4.5
Uji Pemilihan Model Regresi Data Panel Persamaan 1
No
Test
Common Effect
Fixed Effect
Random Effect
1
Uji Chow
x
v
-
2
Uji Hausman
-
v
X
3
Uji Lagrange Multipler
4
Model digunakan
Tidak dilakukan
-
v
-
Sumber : Diolah dari hasil pengujian menggunakan aplikasi Eviews 9
4.3.2
Pemilihan Model Regresi Persamaan 2
Persamaan regresi kedua (Persamaan 2) ini merupakan persamaan regresi yang
melibatkan seluruh variabel, baik variabel independen, variabel dependen, variabel kontrol
dan variabel moderasi. Tujuan akhir dari perhitungan atas persamaan ini adalah melihat
apakah variabel independen dengan keterlibatan variabel kontrol berpengaruh terhadap
variabel dependen. Serta menguji apakah manajemen laba dapat menjadi variabel pemoderasi
pada hubungan antara book tax difference sebagai variabel independen dengan tax avoidance
sebagai variabel dependen.
4.3.2.1 Uji chow
Seperti pengujian sebelumnya pada persamaan 1, pengujian model yang pertama
dilakukan pada persamaan 2 ini adalah Uji Chow. Pengujian ini dilakukan untuk menentukan
93
model regresi data panel yang lebih baik diantara Common Effect Model (CEM) atau juga
disebut ordinary least square (OLS) model dengan Fixed Effect Model (FEM). Hipotesis yang
dibangun di dalam pengujian ini yaitu :
•
Ho = common effect model (CEM)
•
Ha = fixed effect model (FEM)
Pengujian dilakukan dengan menggunakan aplikasi EViews versi 9. Adapun tahapan
pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
-
Memunculkan persamaan regresi variabel dependen, variabel independen,
variabel kontrol, dan variabel moderasi
-
Melakukan regresi dengan menggunakan estimation output berupa metode
Fixed Effect Model
-
Menampilkan hasil uji chow melalui menu View > Fixed/Random Effect
Testing > Redundant Fixed Effect- Likelihood Ratio.
Tingkat signifikansi (α) yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 5% (α =
0,05). Dengan demikian, hasil pegujian didasarkan pada ketentuan jika nilai Prob. pada Crosssection Chi-Square Λ‚ α maka Ho ditolak dan Ha diterima sehingga model yang
direkomendasikan adalah fixed effect model. Sebaliknya, jika nilai Prob. pada Cross-section
Chi-Square Λƒ α maka Ha ditolak dan Ho diterima sehingga model yang direkomendasikan
adalah common effect model.
Hasil uji chow menunjukkan nilai Prob. pada Cross-section Chisquare sebesar 0,0044.
Nilai tersebut lebih kecil dari α (0,05), yang berarti Ho ditolak. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa model regresi data panel yang direkomendasikan berdasarkan hasil uji
chow adalah Fixed Effect Model (FEM)
94
Tabel 4.6
Uji Chow Persamaan 2
Test Summary
Chi-Sq. Statistik
Chi-Sq. d.f.
Prob
Cross-sectin random
1,932502
(47,83)
0,0044
Sumber : Diolah dari Output Eviews 9
4.3.2.2 Uji Hausman
Pengujian selanjutnya yang dilakukan adalah uji hausman. Pengujian ini dilakukan
untuk menentukan model regresi data panel yang lebih baik diantara random effect model
(REM) dan fixed effect model (FEM). Hipotesis yang diajukan dalam pengujian ini adalah
sebagai berikut:
•
Ho = random effect model (REM)
•
Ha = fixed effect model (FEM)
Pengujian dilakukan dengan menggunakan aplikasi EViews versi 9. Tahapan
pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
-
Memunculkan persamaan regresi variabel dependen, variabel independen,
variabel kontrol, dan variabel moderasi
-
Melakukan regresi menggunakan estimation output berupa metode Random
Effect Model
-
Menampilkan hasil uji chow melalui menu View > Fixed/Random Effect
Testing > Correlated Random Effect- Hausman Test
Penentuan model regresi data panel dilakukan dengan cara melihat nilai Prob. pada
Cross-section random untuk kemudian dibandingkan dengan tingkat signifikansi (α). Tingkat
95
signifikansi (α) yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 5% (α = 0,05). Dengan
demikian, hasil pengujian didasarkan pada ketentuan jika nilai Prob. pada Cross-section
random Λ‚ α maka Ho ditolak dan Ha diterima sehingga model yang direkomendasikan adalah
fixed effect model. Sebaliknya, jika nilai Prob. pada Cross-section random Λƒ α maka Ha
ditolak dan Ho diterima sehingga model yang direkomendasikan adalah random effect model.
Hasil uji hausman menunjukkan nilai Prob. pada Cross-section random sebesar 0,2854
atau sebesar 28,54%. Nilai tersebut lebih besar dari α (0,05) yang berarti Ho diterima. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa model regresi data panel yang direkomendasikan
berdasarkan hasil uji hausman adalah Random Effect Model (REM).
Tabel 4.7
Uji Hausman Persamaan 2
Test Summary
Cross-section random
Chi-Sq. Statistik
14,244388
Chi-Sq. d.f.
12
Prob
0,2854
Sumber : Diolah dari Output Eviews 9
4.3.1.3 Uji Lagrange Multiplier
Pengujian terakhir yang dilakukan adalah uji lagrange multiplier. Pengujian ini
dilakukan untuk menentukan model regresi data panel yang lebih baik diantara common effect
model (CEM) model dan random effect model (REM). Hipotesis yang diajukan dalam
pengujian ini adalah sebagai berikut:
•
Ho = common effect model (CEM)
•
Ha = random effect model (REM)
Pengujian dilakukan dengan menggunakan aplikasi EViews versi 9. Tahapan
pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
96
-
Memunculkan persamaan regresi variabel dependen, variabel independen,
variabel kontrol, dan variabel moderasi
-
Melakukan regresi menggunakan estimation output berupa metode Common
Effect Model
-
Menampilkan hasil uji lagrange multiplier melalui menu View >
Fixed/Random Effect Testing > Random Effect – Langrange Multiplier
Penentuan model regresi data panel dilakukan dengan cara melihat nilai Both pada
Breusch-Pagan untuk kemudian dibandingkan dengan tingkat signifikansi (α). Tingkat
signifikansi (α) yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 5% (α = 0,05). Dengan
demikian, hasil pegujian didasarkan pada ketentuan jika nilai Both pada Breusch-Pagan Λ‚ α
maka Ho ditolak dan Ha diterima sehingga model yang direkomendasikan adalah random
effect model. Sebaliknya, jika nilai Both pada Breusch-Pagan Λƒ α maka Ha ditolak dan Ho
diterima sehingga model yang direkomendasikan adalah common effect model.
Hasil uji lagrange multiplier menunjukkan nilai cross-section pada Breusch-Pagan
sebesar 0,0199. Nilai tersebut lebih kecil dari α (0,05) sehingga Ho ditolak. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa model regresi data panel yang direkomendasikan berdasarkan hasil
uji lagrange multiplier adalah Random Effect Model (REM).
Tabel 4.8
Uji Lagrange Multiplier Persamaan 2
Test Summary
Breusch-Pagan
Cross-section
0,0199
Hypoth. Time
0,5883
Both
0,0169
Sumber : Diolah dari Output Eviews 9
Hasil pengujian model di atas disajikan secara lebih ringkas pada tabel berikut.
97
Tabel 4.9
Uji Pemilihan Model Regresi Data Panel Persamaan 2
No
Test
Common Effect
Fixed Effect
Random Effect
1
Uji Chow
x
v
-
2
Uji Hausman
-
x
v
3
Uji Lagrange Multipler
x
-
v
4
Model digunakan
-
-
v
Sumber : Diolah dari hasil pengujian menggunakan aplikasi Eviews 9
4.4 Uji Asumsi Klasik
Berdasarkan hasil pengujian sebelumnya telah terpilih penggunaan model regresi
terbaik untuk selanjutnya diregresikan menggunakan aplikasi Eviews 9 sehingga akan
diketahui pengaruh yang terjadi antar variabel. Pengujian pada persamaan 1 sebelumnya
memunculkan model Fixed Effect Model untuk digunakan dalam pengujian selanjutnya.
Kemudian dalam pengujian pada persamaan 2 sebelumnya memunculkan model Fixed Effect
Model untuk digunakan dalam pengujian selanjutnya.
Setelah melakukan pengujian pemilihan model regresi data panel, langkah selanjutnya
adalah melakukan uji asumsi klasik. Uji asumsi klasik dilakukan agar model regresi memenuhi
asumsi BLUE (Best Linear Unbiased Estimated) atau model yang tidak bias. Terdapat
beberapa pengujian dalam uji asumsi klasik, diantaranya uji normalitas, uji heteroskedastisitas,
uji multikolinearitas dan uji autokorelasi. Menurut Basuki (2016:108), dalam pengujian
dengan menggunakan data panel tidak perlu seluruh uji asumsi klasik tersebut dilakukan
melainkan hanya uji multikolinearitas dan uji heteroskedastisitas saja yang perlu dilakukan.
Hal ini dikarenakan dalam prasyarat BLUE, uji normalitas tidak termasuk sebagai salah satu
syarat tersebut. Kemudian terkait uji autokorelasi disebutkan bahwa hal ini hanya terjadi pada
98
data yang bersifat time series sementara pada data panel hal ini hanya akan menjadi sia-sia
apabila dilakukan.
Seperti pada pengujian dalam pemilihan model, penulis membagi uji asumsi klasik
berdasarkan persamaan regresi pertama (Persamaan 1) dan persamaan regresi kedua
(Persamaan 2).
4.4.1
Uji Asumsi Klasik Persamaan 1
Seperti halnya pada pengujian sebelumnya, persamaan 1 ini merupakan persamaan
regresi yang melibatkan variabel independen, variabel dependen dan variabel kontrol. Tujuan
akhir dari perhitungan atas persamaan ini adalah melihat apakah variabel independen dengan
keterlibatan variabel kontrol berpengaruh terhadap variabel dependen.
4.4.1.1 Uji Mulikolinearitas
Uji Multikolinearitas digunakan untuk melihat ada atau tidaknya korelasi yang tinggi
antara variabel-variabel independen dalam suatu model regresi linear berganda. Jika ada
korelasi yang tinggi diantara variabel-variabel bebasnya, maka hubungan antar variabel bebas
terhadap variabel terikatnya menjadi terganggu. Untuk melihat ada tidaknya multikolinearitas
yang terjadi dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :
a. Menganalisa matriks korelasi antar variabel independen. Jika terdapat korelasi
antar variabel independen yang cukup tinggi (umumnya di atas 0,90), maka hal
ini mengindikasikan terjadi masalah multikolinearitas yang serius pada model
regresi.
b. Melihat nilai tolerance dan variance inflation factors (VIF). Nilai tolerance dan
VIF menunjukan apakah setiap variabel independen dijelaskan oleh variabel
99
independen lainnya. Nilai cut off yang umum digunakan untuk menilai
multikolinearitas adalah sebesar 0,10 untuk nilai tolerance dan 10 untuk VIF
(Ghozali, 2016). Jika hasil perhitungan nilai tolerance menunjukkan nilai ≤
0,10 dan nilai VIF ≥ 10 maka dianggap terdapat masalah multikolinearitas yang
serius pada model regresi.
Penelitian ini menggunakan cara pada poin b yaitu dengan melihat nilai VIF.
Berdasarkan hasil pengujian didapati bahwa seluruh variabel memiliki nilai VIF ≤ 10 sehingga
dapat dikatakan bahwa model regresi ini terbebas dari multikolinearitas. Hasil pengujian
secara lebih lengkap dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.10
Uji Multikolinearitas Persamaan 1
No
Variabel
Coefficient Variance
Uncenterd VIF
Centered VIF
1
PPE
0,005835
1,645441
1,167714
2
INT
0,000140
1,179372
1,075783
3
SALES
0,028183
2,389516
1,533224
4
DTE
5,865253
1,161825
1,118576
5
ROA
0,064019
3,797438
1,859909
6
LEV
0,016909
31,40069
2,379135
7
SZ
0,018980
24272,40
2,125628
8
CFO
3,62E-16
6,759847
1,073258
9
C
4,599636
25252,72
NA
Sumber : Diolah dari Output Eviews 9
100
4.4.1.2 Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk melihat apakah terdapat ketidaksamaan varian
dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang memenuhi
persyaratan adalah dimana terdapat kesamaan varians dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain tetap atau disebut homoskedastisitas. Model regresi yang baik adalah
yang bersifat homoskedastisitas (Ghozali,2013). Metode yang digunakan untuk uji
heteroskedastisitas dalam penelitian ini adalah Uji White. Pengujian memenuhi persyaratan
(Ho diterima yakni tidak terjadi heteroskedastisitas) apabila nilai probabilitas chi-square Λƒ α
(0,05) . Sedangkan apabila nilai probabilitas chi-square Λ‚ α (0.05) maka Ho ditolak yang
berarti terjadi heteroskedastisitas atau data varians tidak sama.
Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa nilai probabilitas sebesar 0,0000 yang
berarti berada di bawah nilai 0,05 (α). Dengan demikian Ho dinyatakan ditolak atau dalam arti
lain bahwa telah terjadi heteroskedastisitas pada data tersebut. Untuk itu dilakukan perbaikan
data pada uji asumsi klasik yaitu dengan cara mengubah GLS weight menjadi Cross Section
Weight. Hasil pengujian secara lebih lengkap dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.11
Uji Heteroskedastisitas Persamaan 1
Test Summary
Breusch-Pagan LM
Chi-Sq. Statistik
1790,629
Chi-Sq. d.f.
1128
Prob
0,0000
Sumber : Diolah dari Output Eviews 9
4.4.2 Uji Asumsi Klasik Persamaan 2
Seperti halnya pada pengujian sebelumnya, persamaan 2 ini merupakan persamaan
regresi yang melibatkan seluruh variabel yaitu variabel independen, variabel dependen,
101
variabel kontrol dan variabel moderasi. Tujuan akhir dari perhitungan atas persamaan ini
adalah melihat apakah variabel independen dengan keterlibatan variabel kontrol berpengaruh
terhadap variabel dependen. Serta menguji apakah manajemen laba dapat menjadi variabel
pemoderasi pada hubungan antara book tax difference sebagai variabel independen dengan tax
avoidance sebagai variabel dependen.
4.4.2.1 Uji Mulikolinearitas
Uji Multikolinearitas digunakan untuk melihat ada atau tidaknya korelasi yang tinggi
antara variabel-variabel independen dalam suatu model regresi linear berganda. Jika ada
korelasi yang tinggi diantara variabel-variabel bebasnya, maka hubungan antar variabel bebas
terhadap variabel terikatnya menjadi terganggu. Untuk melihat ada tidaknya multikolinearitas
yang terjadi dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :
a. Menganalisa matriks korelasi antar variabel independen. Jika terdapat korelasi
antar variabel independen yang cukup tinggi (umumnya di atas 0,90), maka hal
ini mengindikasikan terjadi masalah multikolinearitas yang serius pada model
regresi.
b. Melihat nilai tolerance dan variance inflation factors (VIF). Nilai tolerance dan
VIF menunjukan apakah setiap variabel independen dijelaskan oleh variabel
independen lainnya. Nilai cut off yang umum digunakan untuk menilai
multikolinearitas adalah sebesar 0,10 untuk nilai tolerance dan 10 untuk VIF
(Ghozali, 2016). Jika hasil perhitungan nilai tolerance menunjukkan nilai ≤
0,10 dan nilai VIF ≥ 10 maka dianggap terdapat masalah multikolinearitas yang
serius pada model regresi.
102
Penelitian ini menggunakan cara pada poin b yaitu dengan melihat nilai VIF.
Berdasarkan hasil pengujian didapati bahwa seluruh variabel memiliki nilai VIF ≤ 10 sehingga
dapat dikatakan bahwa model regresi ini terbebas dari multikolinearitas. Hasil pengujian
secara lebih lengkap dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.12
Uji Multikolinearitas Persamaan 2
Variabel
Coefficient Variance
Uncenterd VIF
Centered VIF
PPE
0,004675
1,339988
1,155450
INT
0,000159
1,479341
1,422670
SALES
0,017942
1,619814
1,355097
DTE
5,984597
1,474202
1,452890
ROA
0,034780
2,902353
2,394707
LEV
0,000798
1,858996
1,195054
SZ
0,000281
176,2235
1,772972
CFO
4,73E-17
2,761909
2,402248
EM*PPE
2,31E-13
8,727587
8,666695
EM*INT
4,79E-15
1,692308
1,691870
EM*SALES
2,21E-13
9,377726
9,355398
EM*DTE
2,97E-11
2,037866
2,037682
C
0,063115
168,0059
NA
Sumber : Diolah dari Output Eviews 9
4.4.2.2 Uji Heteroskedastisitas
103
Salah satu karakteristik pada model regresi Random Effect Model (REM)
adalah sifat datanya menhilangkan heteroskedastisitas. Untuk itu pada persamaan 2
dengan model Random Effect Model ini tidak perlu lagi dilakukan uji
heteroskedastisitas. Berdasarkan hasil uji asumsi klasik atas persamaan 1 dan
persamaan 2 tersebut, dapat disimpulkan sebagai berikut.
Tabel 4.13
Hasil Uji Asumsi Klasik
No
1
Model Regresi
Persamaan 1
Asumsi Klasik
Hasil Uji
Perlakuan
Multikolinearitas
Tidak ada
Tidak ada
Heteroskedastisitas
Ada
Cross-section
weight
2
Persamaan 2
Multikolinearitas
Tidak ada
Tidak ada
Heteroskedastisitas
Tidak ada
Tidak ada
Sumber : Diolah dari Output Eviews 9
4.5
Uji Regresi Data Panel
Analisis regresi data panel merupakan tahap pengujian utama dalam penelitian
ini. Ghozali dan Ratmono (2013) menyatakan bahwa ketepatan fungsi regresi sampel
dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dari kelayakan model regresi tersebut
(goodness of fit). Kelayakan model regresi (goodness of fit) dapat diukur secara
statistik dari nilai koefisien determinasi, nilai statistik F, dan nilai statistik t. Ketiga
pengujian tersebut dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut.
4.5.1 Analisis Persamaan Regresi
104
Analisis persamaan regresi pada penelitian ini, sebagaimana telah disebutkan
sebelumnya, dilakukan sebanyak dua kali, yaitu persamaan 1 dengan hanya
melibatkan variabel dependen, variabel independen dan variabel kontrol serta
persamaan 2 yang melibatkan seluruh variabel baik variabel dependen, variabel
independen, variabel kontrol dan variabel moderasi. Adapun bentuk dari persamaan
regresi pertama sebagai berikut.
TAXAV = α + β1ΔPPE + β2 ΔINT + β3 ΔSALES + β4DTE + β5Sz + β6LEV + β7RoA
β8CFO + ε
Setelah melakukan regresi dengan metode fixed effect model dengan crosssection weight dan coef. covariant pada white (diagonal) menggunakan Eviews 9,
maka diperoleh hasil regresi seperti tertera pada Tabel 4.14 berikut.
Tabel 4.14
Fixed Effect Model dengan Cross-section weight & White (diagonal)
Variabel
Coefficient
Std. Error
t-Statistik
Prob.
PPE
0,062709
0,037826
1,657839
0,1010
INT
-0,000357
0,002721
-0,131069
0,8960
SALES
0,077463
0,020501
3,778536
0,0003
DTE
-1,917991
0,620378
-3,091651
0,0027
ROA
-0,254786
0,069013
-3,691867
0,0004
LEV
-0,224590
0,044005
-5,103757
0,0000
SZ
-0,043705
0,017613
-2,481469
0,0150
+
105
CFO
2,75E-09
1,66E-09
1,654715
0,1016
C
0,990269
0,283594
3,491852
0,0008
Weighted Statistiks
R-squared
0,993031
Mean dependent var
1,130328
Adjusted R-squared
0,988625
S.D. dependent var
1,977267
S.E. of Regression
0,145741
Sum squared resid
1,847919
F-statistik
225,3946
Durbin-Watson stat
2,825134
Prob (F-statisic)
0,000000
Sumber : Output Eviews versi 9
Berdasarkan tabel 4.14 tersebut maka diketahui persamaan regresi pertama
(Persamaan 1) dengan menggunakan Fixed Effect Model dengan cross-section weight
dan white (diagonal) adalah sebagai berikut.
TAXAV = 0,990269 + 0,062709 ΔPPE – 0,000357 ΔINT + 0,077463 ΔSALES –
1,917991 DTE - 0,043705 Sz - 0,224590 LEV - 0,254786 RoA
+
2,75e-09 CFO + ε
Berdasarkan persamaan regresi pertama (Persamaan 1) di atas, dapat diketahui
bahwa koefisien regresi variabel fixed aset (ΔPPE i,t) dan pertumbuhan pendapatan
(ΔSALES i,t) memiliki koefisien positif yang berarti hubungan fungsional variabel
independen tersebut berbanding lurus dengan koefisien variabel dependen (TAXAV)
sehingga peningkatan (penurunan) variabel tersebut akan menyebabkan pula
peningkatan (penurunan) pada variabel dependen Tax avoidance (TAXAVi,t).
106
Persamaan regresi pertama diatas juga dapat menjelaskan bahwa koefisien regresi
variabel intangible asset (ΔINT i,t) dan beban pajak tangguhan (DTE i,t) bernilai
negatif yang berarti hubungan fungsional kefua variabel independen tersebut
berbanding terbalik dengan koefisien variabel dependen sehingga peningkatan
(penurunan) variabel tersebut akan menyebabkan peningkatan (penurunan) pada
variabel dependen Tax avoidance (TAXAV i,t).
Sementara itu pada variabel kontrol, yang terdiri dari variabel ukuran
perusahaan, leverage, profitabilitas dan operational cash flow, hanya terdapat variabel
operational cash flow (CFO) yang koefisiennya bernilai positif. Sehingga setiap
peningkatan (penurunan) variabel tersebut akan menyebabkan pula peningkatan
(penurunan) pada variabel dependen Tax avoidance (TAXAV i,t). Di sisi lain variabel
ukuran perusahaan (SZ i,t), leverage (LEV i,t) dan profitabilitas (ROA i,t) memiliki
koefisien negative. Hal ini berarti ketiga variabel tersebut memiliki hubungan
berbanding terbalik dengan variabel dependennya yaitu Tax avoidance (TAXAV i,t).
Penjelasan lebih rinci dari hasil persamaan regresi tersebut adalah sebagai
berikut:
a. Apabila seluruh variabel independen meliputi variabel fixed aset (ΔPPE i,t),
intangible asset (ΔINT i,t), sales growth (ΔSALES i,t) dan beban pajak
tangguhan (DTE I,t), kemudian variabel kontrol yang meliputi ukuran
perusahaan (SZ i,t), leverage (LEV i,t), profitabilitas (ROA i,t) dan operational
cash flow (CFO i,t) dianggap konstan, maka nilai Transfer Pricing
Aggressiveness (TPi,t) adalah 0,990269.
107
b. β1 = 0,062709 artinya jika nilai variabel fixed aset (ΔPPE i,t) perusahaan
mengalami kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance akan
mengalami kenaikan sebesar 0,062709 basis poin dengan asumsi variabel –
variabel lainnya konstan (ceteris paribus).
c. β2 = -0,000357 artinya apabila variabel intangible asset (INT i,t) perusahaan
mengalami kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance akan
mengalami penurunan sebesar 0,000357 basis poin dengan asumsi variabel –
variabel lainnya konstan (ceteris paribus).
d. β3 = 0,077463 artinya jika nilai variabel sales growth (SALES i,t) perusahaan
mengalami kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance akan
mengalami kenaikan sebesar 0,077463 basis poin dengan asumsi variabel –
variabel lainnya konstan (ceteris paribus).
e. β4 = - 1,917991 artinya jika nilai variabel beban pajak tangguhan (DTE i,t)
perusahaan mengalami kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance
akan mengalami penurunan sebesar 1,917991 basis poin dengan asumsi bahwa
faktor lain yang mempengaruhi dianggap konstan (ceteris paribus).
f. β5 = - 0,043705 artinya jika variabel ukuran perusahaan (SZi,t) perusahaan
mengalami kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance akan
mengalami penurunan sebesar 0,043705 basis poin dengan asumsi bahwa
faktor lain yang mempengaruhi dianggap konstan (ceteris paribus).
g. β6 = - 0,224590 artinya jika variabel leverage (LEV i,t) perusahaan mengalami
kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance akan mengalami
108
penurunan sebesar 0.012005 basis poin dengan asumsi bahwa faktor lain yang
mempengaruhi dianggap konstan (ceteris paribus).
h. β7 = - 0,254786 artinya jika variabel profitablitas (ROA i,t) perusahaan
mengalami kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance akan
mengalami kenaikan sebesar 0.012005 basis poin dengan asumsi bahwa faktor
lain yang mempengaruhi dianggap konstan (ceteris paribus).
i. β8 = 2,75e-09 artinya jika variabel operational cash flow (CFO i,t) perusahaan
mengalami kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance akan
mengalami kenaikan sebesar 2,75e-09 basis poin dengan asumsi bahwa faktor
lain yang mempengaruhi dianggap konstan (ceteris paribus).
Kemudian setelah dilakukannya persamaan regresi pertama (Persamaan 1)
dengan hasil seperti pada tabel 4.15 di atas selanjutnya dilakukan analisis regresi
terhadap persamaan 2 yang melibatkan variabel moderasi untuk mengetahui apakah
variabel moderasi dapat memperkuat atau melemahkan hubungan antara variabel
independen dengan variabel dependen. Adapun persamaan regresi kedua (Persamaan
2) disajikan seperti berikut ini.
TAXAV = α + β1ΔPPE + β2 ΔINT + β3 ΔSALES + β4DTE + β5ΔPPE*EM + β6
ΔINT*EM + β7 ΔSALES*EM + β8DTE*EM + β9Sz + β10LEV + β11RoA + β12CFO + ε
Setelah melakukan regresi dengan metode random effect model dengan coef.
covariant pada white (diagonal) menggunakan Eviews 9, maka diperoleh hasil regresi
seperti tertera pada tabel berikut.
Tabel 4.15
Random Effect Model dengan White (diagonal)
109
Variabel
Coefficient
Std. Error
t-Statistik
Prob.
PPE
0.132815
0.116737
1.137726
0.2573
INT
-0.001648
0.010864
-0.151691
0.8797
SALES
0.198926
0.116395
1.709063
0.0898
DTE
-4.361302
2.055864
-2.121396
0.0358
ROA
0.288683
0.170305
1.695089
0.0925
LEV
-0.056325
0.024392
-2.309208
0.0225
SZ
-0.016773
0.015934
-1.052652
0.2945
CFO
3.87E-09
6.20E-09
0.624932
0.5331
ΔPPE*EM
-3.60E-08
4.83E-07
-0.074463
0.9408
ΔINT*EM
-2.22E-08
4.70E-08
-0.472668
0.6372
ΔSALES*EM
3.96E-07
4.29E-07
0.922587
0.3579
DTE*EM
-3.73E-07
3.82E-06
-0.097645
0.9224
C
0.425959
0.238045
1.789401
0.0759
Weighted Statistiks
R-squared
0,178808
Mean dependent var
0.137453
Adjusted R-squared
0,103006
S.D. dependent var
0.174562
S.E. of Regression
0,165471
Sum squared resid
3.559481
F-statistik
2.358878
Durbin-Watson stat
1.840725
Prob (F-statisic)
0,008906
Sumber : Output Eviews versi 9
110
Berdasarkan tabel 4.15 tersebut maka diketahui persamaan regresi kedua
(Persamaan 2) dengan menggunakan Random Effect Model dengan coef. covariant
pada white (diagonal) adalah sebagai berikut.
TAXAV = 0,425959 + 0,132815 ΔPPE - 0,001648 ΔINT + 0,198926 ΔSALES – 4,361302
DTE - 3,60E-8 ΔPPE*EM - 2,22E-08 ΔINT*EM + 3,96E-07 ΔSALES*EM - 3,73E-07
DTE*EM - 0, 016773 Sz - 0,056325 LEV + 0,288683 RoA + 3,87E-09 CFO + ε
Berdasarkan persamaan regresi kedua (Persamaan 2) di atas yang memuat
moderasi dari variabel manajemen laba, dapat diketahui bahwa koefisien regresi
variabel fixed aset (ΔPPE i,t) dan pertumbuhan pendapatan (ΔSALES i,t) memiliki
koefisien positif yang berarti hubungan fungsional variabel independen tersebut
berbanding lurus dengan koefisien variabel dependen (TAXAV i,t) sehingga
peningkatan (penurunan) variabel tersebut akan menyebabkan pula peningkatan
(penurunan) pada variabel dependen Tax avoidance (TAXAV i,t).
Hal ini juga terjadi pada hasil moderasi antara manajemen laba dengan nilai
sales growth dimana hasilnya bernilai positif sehingga setiap peningkatan (penurunan)
variabel tersebut akan menyebabkan pula peningkatan (penurunan) pada variabel
dependen Tax avoidance (TAXAV i,t). Persamaan regresi kedua tersebut juga dapat
menjelaskan bahwa koefisien regresi variabel intangible asset (ΔINT i,t) dan beban
pajak tangguhan (DTE i,t) bernilai negatif yang berarti hubungan fungsional kefua
variabel independen tersebut berbanding terbalik dengan koefisien variabel dependen
sehingga peningkatan (penurunan) variabel tersebut akan menyebabkan peningkatan
(penurunan) pada variabel dependen Tax avoidance (TAXAV i,t).
111
Hal yang sama pun terjadi pada hasil moderasi antara manajemen laba dengan
fixed aset, moderasi manajemen laba dengan intangible aset, dan moderasi manajemen
laba dengan beban pajak tangguhan. Koefisien pada ketiga hasil moderasi tersebut
bernilai negative yang berarti terjadi hubungan yang tidak searah antara ketiga hasil
moderasi tersebut terhadap variabel dependen tax avoidance (TAXAV i,t).
Sementara itu pada variabel kontrol, yang terdiri dari variabel ukuran
perusahaan, leverage, profitabilitas dan operational cash flow, terdapat variabel
profitabilitas (ROA) dan variabel operational cash flow (CFO) yang koefisiennya
bernilai positif. Sehingga setiap peningkatan (penurunan) pada kedua variabel tersebut
akan menyebabkan pula peningkatan (penurunan) pada variabel dependen Tax
avoidance (TAXAV i,t). Di sisi lain variabel ukuran perusahaan (SZ i,t) dan leverage
(LEV i,t) memiliki koefisien negative. Hal ini berarti kedua variabel tersebut memiliki
hubungan berbanding terbalik dengan variabel dependennya yaitu Tax avoidance
(TAXAV i,t). Penjelasan lebih rinci dari hasil persamaan regresi tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Apabila seluruh variabel independen meliputi variabel fixed aset (ΔPPE i,t),
intangible asset (ΔINT i,t), sales growth (ΔSALES i,t) dan beban pajak
tangguhan (DTE I,t), kemudian variabel kontrol yang meliputi ukuran
perusahaan (SZ i,t), leverage (LEV i,t), profitabilitas (ROA i,t) dan operational
cash flow (CFO i,t) serta variabel moderasi antara manajemen laba dengan
setiap variabel independen dianggap konstan, maka nilai Tax avoidance
(TAXAV i,t) adalah 0,425959.
112
b. β1 = 0,132815 artinya jika nilai variabel fixed aset (ΔPPE i,t) perusahaan
mengalami kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance akan
mengalami kenaikan sebesar 0,132815 basis poin dengan asumsi variabel –
variabel lainnya konstan (ceteris paribus).
c. β2 = -0,001648 artinya apabila variabel intangible asset (INT i,t) perusahaan
mengalami kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance akan
mengalami penurunan sebesar 0,001648 basis poin dengan asumsi variabel –
variabel lainnya konstan (ceteris paribus).
d. β3 = 0,198926 artinya jika nilai variabel sales growth (SALES i,t) perusahaan
mengalami kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance akan
mengalami kenaikan sebesar 0,198926 basis poin dengan asumsi variabel –
variabel lainnya konstan (ceteris paribus).
e. β4 = -4,361302 artinya jika nilai variabel beban pajak tangguhan (DTE i,t)
perusahaan mengalami kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance
akan mengalami penurunan sebesar 4,361302 basis poin dengan asumsi bahwa
faktor lain yang mempengaruhi dianggap konstan (ceteris paribus).
f. β5 = -3,60E-8 artinya jika hasil moderasi antara variabel manajemen laba (EM
i,t) dengan fixed aset (ΔPPE i,t) perusahaan mengalami kenaikan sebesar 1
basis poin, maka nilai tax avoidance akan mengalami penurunan sebesar
3,60E-8 basis poin dengan asumsi bahwa faktor lain yang mempengaruhi
dianggap konstan (ceteris paribus).
g. β6 = -2,22E-08 artinya jika hasil moderasi antara variabel manajemen laba
(EM i,t) dengan intangible asset (ΔINT i,t) perusahaan mengalami kenaikan
113
sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance akan mengalami penurunan
sebesar 2,22E-08 basis poin dengan asumsi bahwa faktor lain yang
mempengaruhi dianggap konstan (ceteris paribus).
h. β7 = 3,96E-07 artinya jika hasil moderasi antara variabel manajemen laba (EM
i,t) dengan variabel sales growth (SALES i,t) perusahaan mengalami kenaikan
sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance akan mengalami kenaikan
sebesar 3,96E-07 basis poin dengan asumsi bahwa faktor lain yang
mempengaruhi dianggap konstan (ceteris paribus).
i. β8 = -3,73E-07 artinya jika hasil moderasi antara variabel manajemen laba
(EM i,t) dengan variabel beban pajak tangguhan (DTE i,t) perusahaan
mengalami kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance akan
mengalami penurunan sebesar 3,73E-07 basis poin dengan asumsi bahwa
faktor lain yang mempengaruhi dianggap konstan (ceteris paribus).
j. Β9 = -0,016773 artinya jika variabel ukuran perusahaan (SZi,t) perusahaan
mengalami kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance akan
mengalami penurunan sebesar 0,016773 basis poin dengan asumsi bahwa
faktor lain yang mempengaruhi dianggap konstan (ceteris paribus).
k. Β10 = -0,056325 artinya jika variabel leverage (LEV i,t) perusahaan
mengalami kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance akan
mengalami penurunan sebesar 0,056325 basis poin dengan asumsi bahwa
faktor lain yang mempengaruhi dianggap konstan (ceteris paribus).
l. Β11 = 0,288683 artinya jika variabel profitablitas (ROA i,t) perusahaan
mengalami kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance akan
114
mengalami kenaikan sebesar 0,288683 basis poin dengan asumsi bahwa faktor
lain yang mempengaruhi dianggap konstan (ceteris paribus).
m. Β12 = 3,87E-09 artinya jika variabel operational cash flow (CFO i,t)
perusahaan mengalami kenaikan sebesar 1 basis poin, maka nilai tax avoidance
akan mengalami kenaikan sebesar 3,87E-09 basis poin dengan asumsi bahwa
faktor lain yang mempengaruhi dianggap konstan (ceteris paribus).
4.5.2
Analisis Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur sejauh mana kemampuan
model dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2013). Nilai koefisien
determinasi dalam penelitian ini didapat dengan cara meregresi model penelitian
dimana persamaan 1 menggunakan metode fixed effect model dan persamaan 2
menggunakan metode random effect model. Kemudian dilihat nilai Adjusted Rsquared pada hasil regresi kedua persamaan tersebut. Rentang nilai Adjusted Rsquared berada pada angka 0 (nol) sampai dengan 1 (satu). Semakin kecil nilai dari
Adjusted R-squared maka menunjukkan kemampuan variabel independen dalam
menjelaskan variabel dependen sangat terbatas. Sebaliknya, jika nilai Adjusted Rsquared semakin besar (mendekati satu) dapat diartikan bahwa variabel-variabel
independen dan variabel terkait lainnya mampu memberikan hampir seluruh informasi
yang diperlukan untuk memprediksi variabel dependen.
Berdasarkan hasil pengujian pada persamaan 1 didapat hasil nilai dari Adjusted
R-squared berada pada angka 0,988625. Hal ini berarti variabel independen serta
variabel kontrol yang digunakan dapat menjelaskan variasi dari variabel dependen
115
sebesar 98,86%. Sisanya yang sebesar 1,14% dijelaskan oleh faktor-faktor lain di luar
model penelitian. Kemudian dilakukan regresi pada persamaan 2 dengan metode
random effect model. Dengan menggunakan langkah yang sama dengan yang
dilakukan pada persamaan 1 didapat hasil Ajusted R-squared sebesar 0,103006. Hal
ini menandakan keberadaan variabel independen, variabel kontrol serta variabel
moderasi yang ada hanya dapat menjelaskan variasi dari variabel dependen sebesar
10,30%. Sisanya yang sebesar 89,70% dijelaskan oleh faktor-faktor lain di luar model
penelitian. Hasil pengujian analisis koefisien determinasi kedua persamaan tersebut
dapat dilihat pada Tabel 4.16 dan 4.17 berikut.
Tabel 4.16
Uji Koefisien Determinasi Persamaan 1
Weighted Statistics
R-squared
0,993031
Mean dependent var
1,130328
Adjusted R-squared
0,988625
S.D. dependent var
1,977267
S.E. of Regression
0,145741
Sum squared resid
1,847919
F-statistic
225,3946
Durbin-Watson stat
2,825134
Prob (F-statisic)
0,000000
Sumber : Output Eviews versi 9
Tabel 4.17
Uji Koefisien Determinasi Persamaan 2
Weighted Statistics
R-squared
0,178808
Mean dependent var
0.137453
116
Adjusted R-squared
0,103006
S.D. dependent var
0.174562
S.E. of Regression
0,165471
Sum squared resid
3.559481
F-statistic
2.358878
Durbin-Watson stat
1.840725
Prob (F-statistic)
0,008906
Sumber : Output Eviews versi 9
4.5.3
Uji Signifikansi Simultan
Uji signifikansi simultan atau biasa juga disebut Uji-F dilakukan untuk
menguji pengaruh variabel-variabel independen secara bersama-sama (simultan)
terhadap variabel dependen. Pada persamaan 1 dalam penelitian ini, uji-F dilakukan
untuk menguji variabel independen maupun variabel kontrol terhadap variabel
dependen yaitu tax avoidance. Adapun hipotesis yang digunakan dalam model
penelitian ini adalah sebagai berikut.
•
Ho = seluruh variabel independen dan kontrol dalam model secara simultan
tidak
berpengaruh terhadap tax avoidance
•
Ha = seluruh variabel independen dan kontrol dalam model secara simultan
berpengaruh terhadap tax avoidance.
Uji-F dilakukan dengan cara melihat probabilitas dari F-statistik pada hasil
regresi yang dilakukan dengan bantuan program Eviews 9. Jika nilai probabilitas dari
F-statistik lebih kecil daripada nilai α = 0,05, maka Ho ditolak yang berarti variabel
independen terbukti secara bersama-sama (simultan) berpengaruh terhadap variabel
dependen. Berdasarkan hasil pengujian pada persamaan 1 didapat hasil bahwa nilai
117
Prob (F-statistik) adalah 0,000000. Hasil ini berada di bawah nilai α yaitu 0,05. Dengan
demikian Ho dinyatakan ditolak yang berarti bahwa seluruh variabel independen dan
kontrol dalam model secara simultan berpengaruh terhadap tax avoidance.
Pada persamaan 2 dalam penelitian ini juga dilakukan hal serupa dimana hasil
uji-F didapat dengan meregresikan model penelitian yang melibatkan variabel
independen, variabel kontrol, variabel moderasi dan variabel dependen. Hipotesis
yang digunakan dalam persamaan 2 adalah sebagai berikut.
•
Ho = seluruh variabel baik variabel independen, variabel kontrol maupun
variabel moderasi dalam model penelitian secara simultan tidak berpengaruh
terhadap tax avoidance
•
Ha = seluruh variabel baik variabel independen, variabel kontrol maupun
variabel moderasi dalam model penelitian secara simultan berpengaruh
terhadap tax avoidance
Berdasarkan hasil pengujian didapat bahwa nilai Prob (F-statistic) pada
pengujian persamaan 2 sebesar 0,008906. Nilai ini pun berada di bawah nilai α yaitu
0,05. Dengan demikian Ho dinyatakan ditolak sehingga dapat disimpulkan seluruh
variabel baik variabel independen, variabel kontrol maupun variabel moderasi dalam
model penelitian secara simultan berpengaruh terhadap tax avoidance.
Hasil uji signifikansi simultan atau uji-F terhadap kedua persamaan tersebut
dapat dilihat lebih jelas pada tabel 4.18 dan 4.19 berikut.
Tabel 4.18
Uji Signifikansi Simultan Persamaan 1
118
Weighted Statistics
F-statistik
225,3946
Prob (F-statistic)
0,000000
Durbin-Watson stat
2,825134
Sumber : Output Eviews versi 9
Tabel 4.19
Uji Signifikansi Simultan Persamaan 2
Weighted Statistics
F-statistik
2.358878
Prob (F-statistic)
0,008906
Durbin-Watson stat
1.840725
Sumber : Output Eviews versi 9
4.5.4
Uji Signifikansi Parsial
Uji-t dilakukan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel yang
terlibat di dalam model penelitian secara parsial terhadap variabel dependen.
Pengujian terhadap hipotesis dalam penelitian ini pertama-tama disusun hipotesis nol
(Ho) yaitu hipotesis yang berlawanan dengan teori yang akan dibuktikan. Selanjutnya
disusun hipotesis alternatif (Ha) yaitu, hipotesis yang sesuai dengan teori yang akan
dibuktikan. Jika suatu variabel independen memiliki nilai Prob. dibawah tingkat
signifikansi sebesar 0,05 maka variabel tersebut akan dinilai berpengaruh signifikan
terhadap variabel dependen. Dengan demikian, maka Ha diterima. Namun, jika nilai
Prob. Di atas tingkat signifikansi 0,05, maka Ha ditolak dan Ho diterima.
119
Hasil uji signifikansi parsial (uji-t) didapat dari hasil regresi baik pada
persamaan 1 maupun persamaan 2. Berdasarkan regresi yang telah dilakukan
dihasilkan pula nilai probabilitas tiap-tiap variabel yang terlibat di dalam penelitian.
Adapun nilai probabilitas dari tiap variabel persamaan 1 dapat dilihat lebih jelas pada
tabel berikut.
Tabel 4.20
Hasil Uji t Persamaan 1
Variabel
PPE
Coefficient
Prob.
Tingkat Sig.
0,062709
0,1010
0,05
Signifikansi
Tidak
Signifikan
INT
-0,000357
0,8960
0,05
Tidak
Signifikan
SALES
0,077463
0,0003
0,05
Signifikan
DTE
-1,917991
0,0027
0,05
Signifikan
ROA
-0,254786
0,0004
0,05
Signifikan
LEV
-0,224590
0,0000
0,05
Signifikan
SZ
-0,043705
0,0150
0,05
Signifikan
CFO
2,75E-09
0,1016
0,05
Tidak
Signifikan
Sumber : Diolah dari Output Eviews versi 9
Berdasarkan data yang terlihat pada tabel 4.21 di atas dengan menggunakan
tingkat signifikansi (α) sebesar 0,05 (5%) diketahui bahwa dari 8 variabel yang
digunakan dalam model persamaan 1 terdapat 5 variabel yang menunjukkan hasil
120
signifikan yaitu variabel sales growth, beban pajak tangguhan, profitabilitas, leverage,
dan ukuran perusahaan. Sementara itu 3 variabel lainnya menunjukkan hasil yang tidak
signifikan yaitu fixed aset, intangible asset dan operational cash flow.
Kemudian dilakukan juga hal yang sama terhadap persamaan 2 yaitu
meregresikan persamaan 2 namun dengan menggunakan metode Random Effect
Model (REM). Hasil dari pengujian tersebut dapat dilihat pada tabel 4.21 berikut.
Tabel 4.21
Hasil Uji t Persamaan 2
Variabel
PPE
Coefficient
0.132815
Prob.
0.2573
Tingkat Sig.
0,05
Signifikansi
Tidak
Signifikan
INT
-0.001648
0.8797
0,05
Tidak
Signifikan
SALES
0.198926
0.0898
0,05
Cukup
Signifikan
DTE
-4.361302
0.0358
0,05
Signifikan
ROA
0.288683
0.0925
0,05
Cukup
Signifikan
LEV
-0.056325
0.0225
0,05
Signifikan
SZ
-0.016773
0.2945
0,05
Tidak
Signifikan
CFO
3.87E-09
0.5331
0,05
Tidak
Signifikan
121
ΔPPE*EM
-3.60E-08
0.9408
0,05
Tidak
Signifikan
ΔINT*EM
-2.22E-08
0.6372
0,05
Tidak
Signifikan
ΔSALES*EM
3.96E-07
0.3579
0,05
Tidak
Signifikan
DTE*EM
-3.73E-07
0.9224
0,05
Tidak
Signifikan
Sumber : Diolah dari Output Eviews versi 9
Berdasarkan data yang terlihat pada tabel 4.22 di atas dengan menggunakan
tingkat signifikansi (α) sebesar 0,05 (5%) diketahui bahwa dari 12 variabel yang ada
dalam model persamaan 2 hanya terdapat 2 variabel yang menunjukkan hasil
signifikan beban pajak tangguhan dan leverage. Sementara itu 2 variabel menunjukkan
hasil cukup signifikan dimana nilai prob. yang dihasilkan berada pada rentang 5% ≤
prob ≤ 10% yaitu variabel sales growth dan profitabilitas. Sementara itu 8 variabel
lainnya menunjukkan hasil yang tidak signifikan yaitu fixed aset, intangible asset,
ukuran perusahaan dan operational cash flow serta termasuk dalam bagian yang tidak
signifikan adalah hasil moderasi antara manajemen laba dengan setiap variabel
independen yang ada.
Berdasarkan penjelasan pada bab III sebelumnya telah disebutkan kegunaan
regresi atas persamaan 1 dan persamaan 2. Persamaan 1 dalam model penelitian ini
digunakan untuk menjawab hipotesis yang dibangun antara lain hipotesis 1 (H1),
hipotesis 2 (H2), hipotesis 3 (H3) dan hipotesis 4 (H4). Sementara itu terhadap hipotesis
5 (H5), hipotesis 6 (H6), hipotesis 7 (H7) dan hipotesis 8 (H8) digunakan persamaan 2
122
untuk mengetahui hasil pengujian terhadap hipotesis-hipotesis tersebut. Adapun hasil
pengujian terhadap seluruh hipotesis tersebut disajikan sebagai berikut.
a. Pengujian pengaruh antara variabel fixed aset terhadap variabel tax avoidance
Berdasarkan hasil pengujian yang telah disajikan pada tabel 4.21 di atas
diketahui bahwa variabel fixed aset (PPE i,t) memiliki nilai koefisien 0,062709
dan nilai Prob. sebesar 0,1010. Nilai Prob. tersebut yang lebih besar dari nilai
α (0,05) mengindikasikan bahwa pada tingkat keyakinan sebesar 95% nilai
fixed aset yang dimilki perusahaan berpengaruh positif namun tidak signifikan
terhadap indikasi adanya tax avoidance yang dilakukan oleh perusahaan. Oleh
sebab itu, H1 yang menyatakan bahwa “fixed aset berpengaruh positif terhadap
tax avoidance” dinyatakan diterima.
b. Pengujian pengaruh antara variabel intangible asset terhadap variabel tax
avoidance
Berdasarkan hasil pengujian yang telah disajikan pada tabel 4.21 di atas
diketahui bahwa variabel intangible asset (INT i,t) memiliki nilai koefisien 0,062709 dan nilai Prob. sebesar 0,8960. Nilai Prob. tersebut yang lebih besar
dari nilai α (0,05) mengindikasikan bahwa pada tingkat keyakinan sebesar 95%
nilai intangible yang dimilki perusahaan berpengaruh negative dan tidak
signifikan terhadap indikasi adanya tax avoidance yang dilakukan oleh
perusahaan. Oleh sebab itu, H2 yang menyatakan bahwa “intangible asset
berpengaruh positif terhadap tax avoidance” dinyatakan ditolak.
c. Pengujian pengaruh antara variabel sales growth terhadap variabel tax
avoidance
123
Berdasarkan hasil pengujian yang telah disajikan pada tabel 4.21 di atas
diketahui bahwa variabel sales growth (SALES i,t) memiliki nilai koefisien
0,077463 dan nilai Prob. sebesar 0,0003. Nilai Prob. tersebut yang lebih kecil
dari nilai α (0,05) mengindikasikan bahwa pada tingkat keyakinan sebesar 95%
nilai pertumbuhan penjualan yang dibukukan oleh perusahaan berpengaruh
positif dan signifikan terhadap indikasi adanya tax avoidance yang dilakukan
oleh perusahaan. Oleh sebab itu, H3 yang menyatakan bahwa “sales growth
berpengaruh positif terhadap tax avoidance” dinyatakan diterima.
d. Pengujian pengaruh antara variabel beban pajak tangguhan terhadap variabel
tax avoidance
Berdasarkan hasil pengujian yang telah disajikan pada tabel 4.21 di atas
diketahui bahwa variabel beban pajak tangguhan (DTE i,t) memiliki nilai
koefisien -1,917991 dan nilai Prob. sebesar 0,0027. Nilai Prob. tersebut yang
lebih kecil dari nilai α (0,05) mengindikasikan bahwa pada tingkat keyakinan
sebesar 95% nilai pertumbuhan penjualan yang dibukukan oleh perusahaan
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap indikasi adanya tax avoidance
yang dilakukan oleh perusahaan. Oleh sebab itu, H4 yang menyatakan bahwa
“beban pajak tangguhan berpengaruh positif terhadap tax avoidance”
dinyatakan ditolak.
e. Pengujian pengaruh manajemen laba dalam pengaruhnya antara variabel fixed
aset terhadap variabel tax avoidance
Berdasarkan hasil pengujian yang telah disajikan pada tabel 4.22 di atas
diketahui bahwa moderasi manajemen laba (EM i,t) dengan variabel fixed aset
124
(PPE i,t) memiliki nilai koefisien -3.60E-08 dan nilai Prob. sebesar 0.9408.
Nilai Prob. tersebut yang lebih besar dari nilai α (0,05) mengindikasikan
variabel manajemen laba tidak dapat memoderasi pengaruh antara fixed aset
terhadap indikasi adanya tax avoidance yang dilakukan oleh perusahaan. Oleh
sebab itu, H5 yang menyatakan bahwa “manajemen laba memperkuat pengaruh
antara fixed aset terhadap tax avoidance” dinyatakan ditolak.
f. Pengujian pengaruh manajemen laba dalam pengaruhnya antara variabel
intangible asset terhadap variabel tax avoidance
Berdasarkan hasil pengujian yang telah disajikan pada tabel 4.22 di atas
diketahui bahwa moderasi manajemen laba (EM i,t) dengan variabel intangible
asset (INT i,t) memiliki nilai koefisien -2.22E-08 dan nilai Prob. sebesar
0.6372. Nilai Prob. tersebut yang lebih besar dari nilai α (0,05)
mengindikasikan variabel manajemen laba tidak dapat memoderasi pengaruh
antara intangible asset terhadap indikasi adanya tax avoidance yang dilakukan
oleh perusahaan. Oleh sebab itu, H6 yang menyatakan bahwa “manajemen laba
memperkuat pengaruh antara intangible asset terhadap tax avoidance”
dinyatakan ditolak.
g. Pengujian pengaruh manajemen laba dalam pengaruhnya antara variabel sales
growth terhadap variabel tax avoidance
Berdasarkan hasil pengujian yang telah disajikan pada tabel 4.22 di atas
diketahui bahwa moderasi manajemen laba (EM i,t) dengan variabel sales
growth (SALES i,t) memiliki nilai koefisien 3,96E-07 dan nilai Prob. sebesar
0,3579. Nilai Prob. tersebut yang lebih besar dari nilai α (0,05)
125
mengindikasikan variabel manajemen laba tidak dapat memoderasi pengaruh
antara sales growth terhadap indikasi adanya tax avoidance yang dilakukan
oleh perusahaan. Oleh sebab itu, H7 yang menyatakan bahwa “manajemen laba
memperkuat pengaruh antara sales growth terhadap tax avoidance” dinyatakan
ditolak.
h. Pengujian pengaruh manajemen laba dalam pengaruhnya antara variabel beban
pajak tangguhan terhadap variabel tax avoidance
Berdasarkan hasil pengujian yang telah disajikan pada tabel 4.22 di atas
diketahui bahwa moderasi manajemen laba (EM i,t) dengan variabel beban
pajak tangguhan (DTE i,t) memiliki nilai koefisien -3.73E-07 dan nilai Prob.
sebesar 0,9224. Nilai Prob. tersebut yang lebih besar dari nilai α (0,05)
mengindikasikan variabel manajemen laba tidak dapat memoderasi pengaruh
antara beban pajak tangguhan terhadap indikasi adanya tax avoidance yang
dilakukan oleh perusahaan. Oleh sebab itu, H8 yang menyatakan bahwa
“manajemen laba memperkuat pengaruh antara beban pajak tangguhan
terhadap tax avoidance” dinyatakan ditolak.
4.6
Pembahasan Hasil Penelitian
4.6.1
Pembahasan pengaruh fixed aset terhadap tax avoidance
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa fixed
aset berpengaruh secara positif terhadap tax avoidance namun sifatnya tidak
signifikan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dikemukakan oleh Philomina
Acquah (2017) yang menyatakan bahwa aktiva berwujud memiliki pengaruh yang
positif terhadap tax avoidance. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan
126
oleh Kim dan Jeong (2006) yang memyatakan bahwa perusahaan dengan nilai asset
yang tinggi cenderung melakkan tax avoidance. Hasil ini pula sejalan dengan hipotesis
yang dikemukakan pad awal bagian penelitian yang menyatakan fixed aset
berpengaruh positif terhadap tax avoidance.
Hal ini didasari dengan adanya kemungkinan bahwa perusahaan menerapkan
metode depresiasi secara fiscal yang berbeda dengan metode yang diterapkan secara
akuntansi. Perbedaan metode depresiasi menyebabkan munculnya pajak tangguhan
yang pada akhirnya mengakibatkan adanya book tax difference. Perbedaan metode
depresiasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh perusahaan untuk berusaha mengurangi
kewajiban pajaknya melalui praktik tax avoidance.
4.6.2
Pembahasan pengaruh intangible asset terhadap tax avoidance
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa
intangible asset berpengaruh negative terhadap tax avoidance dan juga sangat tidak
signifikan pengaruhnya. Merle et al. (2019) mengemukakan di dalam penelitiannya
bahwa intangible asset berpengaruh negative terhadap transfer pricing dimana transfer
pricing sendiri seringkali digunakan sebagai proksi dari tax avoidance. Sementara itu
hal ini tidak sejalan dengan hipotesis yang dikemukakan penulis pada bagian awal
penelitian dimana penulis berkeyakinan bahwa intangible asset berpengaruh positif
terhadap tax avoidance.
Ketentuan perpajakan khususnya pasal 11A UU nomor 36 Tahun 2008 tentang
Pajak Penghasilan mengatur mengenai amortisasi atas perolehan harta tidak berwujud
sehingga memungkinkan perusahaan untuk melakukan amortisasi baik atas goodwill
maupun asset tak berwujud lainnya.
Namun dalam pengamatan penulis ketika
127
menyusun sampel penelitian ditemukan bahwa banyak perusahaan yang tidak
memasukkan unsur amortisasi dalam perbedaan temporer kewajiban perpajkaannya
melainkan hanya memasukkan unsur penyusutan saja. Hal ini tentunya dapat menjadi
jawaban atas tidak signifikannya pengaruh intangible asset terhadap tax avoidance.
Selain itu dalam praktiknya di Indonesia khususnya pada sector industry manufaktur
mayoritas perusahaan tidak mengakui adanya kepemilikian asset tak berwujud di
dalam laporan keuangannya sehingga objek penelitian pun menjadi terbatas dan tidak
dapat memberikan gambaran yang menyeluruh.
4.6.3
Pembahasan pengaruh sales growth terhadap tax avoidance
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa sales
growth berpengaruh secara positif signifikan terhadap tax avoidance. Hal ini sejalan
dengan hipotesis yang dikemukakan penulis pada bagian awal penelitian. Selain itu
pernyataan ini pula memiliki kesamaan dengan hasil penelitian yang dikemukakan
oleh Kim dan Chae (2017) yang menyatakan bahwa sales growth berpengaruh positif
terhadap tax avoidance.
Sales growth atau pertumbuhan penjualan secara umum akan berimplikasi
pada meningkatnya keuntungan yang diraih perusahaan. Kenaikan pada nilai
penjualan yang dibukukan perusahaan biasanya diikuti pula dengan biaya operasional
maupun harga pokok penjualan atau produksi yang diakui oleh perusahaan. Hal ini
berbanding lurus dikarenakan untuk menjual lebih banyak maka perusahaan
membutuhkan effort yang lebih besar sehingga secara langsung akan meningkatkan
pula biaya operasional maupaun harga pokok produksi / penjualan.
128
Ketentuan di dalam pasal 6 dan pasal 9 UU nomor 36 Tahun 2008 mengatur
mengenai biaya yang boleh dan tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto.
Semakin besar nilai biaya yang dimuat oleh perusahaan memunculkan semakin
banyak variasi jenis biaya tersebut. Tentunya atas biaya-biaya tersebut perlu diteliti
lebih jauh mana yang boleh digolongkan sebagai pengurang penghasilan bruto dan
mana yang tidak boleh digolongkan sebagai pengurang penghasilan bruto. Hal ini
menjadi salah satu celah yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan dalam menerapkan
praktik tax avoidance.
4.6.4
Pembahasan pengaruh deferred tax expense terhadap tax avoidance
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa deferred tax expense memiliki
pengaruh yang negative signifikan terhadap tax avoidance. Mengacu kepada hasil
penelitian ini maka hipotesis awal yang dikemukakan penulis yang menyatakan
deferred tax expense berpengaruh positif terhadap tax avoidance dinyatakan ditolak.
Pernyataan deferred tax expense berpengaruh negative terhadap tax avoidance
dapat dipahami dikarenakan deferred tax expense mengartikan bahwa jumlah
kewajiban pajak yang dibayarkan oleh perusahaan secara fiscal lebih besar
dibandingkan yang diakui secara komersial pada laporan keuangan. Hal ini berarti
perusahaan sangat memenuhi compliance atas kewajiban perpajakannya. Makna dari
pengaruh negative tersebut berimbas pada manfaat pajak tangguhan yang merupakan
kebalikan dari beban pajak tangguhan. Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat
disimpulkan pula bahwa semakin besar nilai manfaat pajak tangguhan maka semakin
besar pula kemungkinan perusahaan melakukan tax avoidance.
4.6.5
Pembahasan manajemen laba dalam pengaruhnya antara fixed aset,
129
intangible asset, sales growth dan deferred tax expense terhadap tax
avoidance
Penggunaan variabel moderasi dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat
adanya pengaruh manajemen laba sebagai variabel moderasi apakah dapat
mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa manajemen laba tidak dapat
memoderasi pengaruh antara setiap variabel independen, baik fixed aset, intangible
asset, sales growth maupun deferred tax expense, terhadap tax avoidance. Hal ini
terlihat dari nilai probabilitas hasil moderasi variabel-variabel tersebut yang berada di
atas tingkat signifikansi 5% sehingga pengaruh dari moderasi ini sifatnya tidak
signifikan. Hal ini berbeda dengan hipotesa awal yang dikemukakan penulis bahwa
manajemen laba dapat memperkuat pengaruh antara variabel independen terhadap tax
avoidance sebagai variabel dependen.
Penggunaan variabel moderasi memang memunculkan banyak resiko
dikarenakan interaksi antar variabel yang jumlahnya banyak. Salah satunya terjadi
dalam penelitian ini dimana manajemen laba yang diperoleh dari nilai residu hasil
analisis regresi persamaan menggunakan metode conditional revenue model (Stubben,
2010) ternyata tidak dapat memoderasi hubungan antara variabel independen dengan
variabel dependen. Selain itu berdasarkan hasil uji goodness of fit persamaan 1 (tanpa
melibatkan variabel moderasi) diketahui nilai Adj. R-squared sebesar 98,86% yang
mana menunjukkan hasil yang sangat tinggi bahwa seluruh variabel yang digunakan
di dalam model penelitian tersebut sudah menjelaskan hampir seluruhnya terhadap
variabel dependen. Sehingga berdasar hal tersebut pula keberadaan manajemen laba
130
sebagai variabel moderasi tidak begitu diperlukan dan sekaligus mementahkan
hipotesis yang dikemukakan oleh penulis pada awal bagian penelitian.
BAB V
SIMPULAN, KETERBATASAN DAN IMPLIKASI
5.1 Simpulan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara book tax difference
sebagai variabel independen terhadap tax avoidance sebagai variabel dependen,
dimana variebl independent dalam penelitian ini menggunakan proksi nilai fixed asset,
intangible asset, sales growth dan bebn pajak tangguhan untuk mengetahui pada
praktiknya variabel apa saja yang perlu dicermati dalam melihat adanya kemungkinan
perusahaan melakukan tax avoidance. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk
mengetahui apakah manajemen laba dapat memoderasi hubungan antara kedua
variabel tersebut. Penelitian ini mengambil sampel perusahaan manufaktur yang
terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2016 – 2018. Pengambilan
sampel menggunakan metode purposive sampling dengan mengacu pada kriteria
kepemilikan pos intangible asset pada laporan keuangan perusahaan serta dengan
mengecualikan data outlier. Berdasarkan hal tersebut telah terpilih 147 data untuk
dilakukan observasi.
Dalam penelitian ini dilakukan dua kali analisis regresi dimana regresi
pertamaan pertama dilakukan untuk mendapatkan pengujian untuk hipotesis variabel
independent yang berpengaruh positif terhadap variabel dependen. Sementara regresi
pada persamaan kedua dilakukan untuk mendapatkan pengujian atas hipotesis
vvariabel manajemen laba sebagai variabel moderasi mampu memperkuat hubungan
131
antara book tax difference sebagai variabel indpenden terhadap tax avoidance sebagai
variabel dependen. Hasil pengujian terhadap hipotesis-hipotesis tersebut sebagaimana
telah diuraikan pada Bab IV, disimpulkan sebagai berikut :
a. Fixed asset yang pada penelitian ini menggunakan nilai perubahan atas nilai
gross PPE dari tahun ke tahun berdasarkan hasil pengujian diketahui
berpengaruh positif tax avoidance. Hal ini menandakan terjadinya hubungan
yang searah antara kedua variabel tersebut. Sehingga apabila nilai fixed asset
mengalami peningkatan maka nilai tax avoidance pun akan meningkat dan
begitu pula sebaliknya apabila nilai fixed asset mengalami penurunan maka
nilai tax avoidance pun akan mengalami penurunan. Berrdasarkan hal tersebut,
kepemilikan fixed asset pada perusahaan manufaktur yang terdaftar pada BEI
selain memiliki dampak pada berjalannya kegiatan operasional perusahaan
juga memiliki dampak perpajakan yang harus dicermati oleh otoritas
perpajakan. Hasil penelitian ini sejalan dengan Philomina Acquah (2017) yang
menyatakan bahwa aktiva berwujud memiliki pengaruh yang positif terhadap
tax avoidance.
b. Intangible asset yang pada penelitian ini menggunakan nilai perubahan atas
nilai gross intangible asset baik dalam bentuk goodwill maupun asset tak
berwujud lainnya dari tahun ke tahun berdasarkan hasil pengujian diketahui
berpengaruh negative terhadap tax avoidance. Hal ini menandakan terjadinya
hubungan yang tidak searah atau berbanding terbalik antara kedua variabel
tersebut. Sehingga apabila nilai intangible asset mengalami peningkatan maka
nilai tax avoidance akan mengalami penurunan dan begitu pula sebaliknya
132
apabila nilai fixed asset mengalami penurunan maka nilai tax avoidance akan
mengalami peningkatan. Berdasarkan hal tersebut, kepemilikan intangible
asset pada perusahaan manufaktur yang terdaftar pada BEI tidak begitu
berdampak pada kewajiban perpajakan perusahaan tersebut. Hasil penelitian
ini sejalan dengan Merle et al. (2019) mengemukakan di dalam penelitiannya
bahwa intangible asset berpengaruh negative terhadap transfer pricing dimana
transfer pricing sendiri seringkali digunakan sebagai proksi dari tax avoidance.
c. Sales growth yang pada penelitian ini menggunakan nilai perubahan atas niai
penjualan bersih yang berhasil dibukukan perusahaan dari tahun ke tahun,
Berdasarkan hasil pengujian diketahui variabel sales growth berpengaruh
positif terhadap tax avoidance. Hal ini menandakan terjadinya hubungan yang
searah antara kedua variabel tersebut. Sehingga apabila nilai sales growth
mengalami peningkatan maka nilai tax avoidance pun akan meningkat dan
begitu pula sebaliknya apabila nilai sales growth mengalami penurunan maka
nilai tax avoidance pun akan mengalami penurunan. Berrdasarkan hal tersebut,
terjadinya pertumbuhan nilai penjualan pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar pada BEI selain berpotensi memberikan keuntungan lebih pada
perusahaan juga memiliki dampak perpajakan berupa meningkatnya
kemungkinan perusahaan melakukan tax avoidance yang mana hal ini tentunya
perlu menjadi perhatian otoritas perpajakan. Hal ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Kim dan Chae (2017) yang menyatakan bahwa sales
growth berpengaruh positif terhadap tax avoidance.
133
d. Beban pajak tangguhan (deferred tax expense) yang pada penelitian ini
didapatkan dari nilai beban pajak tangguhan dibagi dengan nilai pendapatan
sebelum pajaknya, berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa beban pajak
tangguhan berpengaruh negative terhadap tax avoidance. Hal ini menandakan
terjadinya hubungan yang tidak searah atau berbanding terbalik antara kedua
variabel tersebut. Sehingga apabila nilai beban pajak tangguhan mengalami
peningkatan maka nilai tax avoidance akan mengalami penurunan dan begitu
pula sebaliknya apabila nilai beban pajak tangguhan mengalami penurunan
maka nilai tax avoidance akan mengalami peningkatan. Berdasarkan hal
tersebut, keberadaan nilai beban pajak tangguhan dan manfaat pajak tangguhan
perlu dicermati lebih lanjut. Beban pajak tangguhan menandakan adanya
kewajiban perpajakan yang secara fiscal lebih besar dikeluarkan pada suatu
tahun fiscal namun dibukukan lebih rendah pada laporan keuangan secara
komersial. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan dapat dikatakan memenuhi
compliance atas kewajiban perpajakannya dengan baik. Namun hal sebaliknya
justru terjadi atas keberadaan manfaat pajak tangguhan yang perlu dicermati
lebih lanjut oleh otoritas perpajakan.
e. Manajemen laba sebagai variabel moderasi antara variabel fixed asset dengan
variabel tax avoidance pada penelitian ini, berdasarkan hasil pengujian
diketahui bahwa nilai probabilitas lebih besar dari nilai signifikansi (5%)
sehingga pengaruh dari moderasi bersifat tidak signifikan. Untuk itu
keberadaan manajemen laba tidak dapat memoderasi hubungan antara variabel
fixed asset terhadap variabel tax avoidance.
134
f. Manajemen laba sebagai variabel moderasi antara variabel intangible asset
dengan variabel tax avoidance pada penelitian ini, berdasarkan hasil pengujian
diketahui bahwa nilai probabilitas lebih besar dari nilai signifikansi (5%)
sehingga pengaruh dari moderasi bersifat tidak signifikan. Untuk itu
keberadaan manajemen laba tidak dapat memoderasi hubungan antara variabel
intangible asset terhadap variabel tax avoidance.
g. Manajemen laba sebagai variabel moderasi antara variabel sales growth
dengan variabel tax avoidance pada penelitian ini, berdasarkan hasil pengujian
diketahui bahwa nilai probabilitas lebih besar dari nilai signifikansi (5%)
sehingga pengaruh dari moderasi bersifat tidak signifikan. Untuk itu
keberadaan manajemen laba tidak dapat memoderasi hubungan antara variabel
sales growth terhadap variabel tax avoidance.
h. Manajemen laba sebagai variabel moderasi antara variabel beban pajak
tangguhan dengan variabel tax avoidance pada penelitian ini, berdasarkan hasil
pengujian diketahui bahwa nilai probabilitas lebih besar dari nilai signifikansi
(5%) sehingga pengaruh dari moderasi bersifat tidak signifikan. Untuk itu
keberadaan manajemen laba tidak dapat memoderasi hubungan antara variabel
beban pajak tangguhan terhadap variabel tax avoidance.
5.2
Keterbatasan
Penulis menyadari adanya keterbatasan yang terjadi di dalam penelitian ini
diantaranya :
a. Periode observasi dalam penelitian ini mengambil periode antara tahun 2016 2018. Tentunya semakin besar rentang waktu observasi maka semakin besar
135
pula data yang dapat dianalisa sehingga akan menghasilkan kesimpulan yang
lebih komprehensif.
b. Pengambilan sampel terbatas pada perusahaan manufaktur yang terdaftar pada
Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara itu diketahuikemudian bahwa tidak
seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI memiliki pos intangible
asset sehingga pengujiannya tidak dapat dilakukan secara menyeluruh.
c. Variabel fixed asset dan intangible asset yang menggunakan nilai gross serta
variabel beban pajak tangguhan didapatkan penulis dari pembacaan terhadap
Catatan atas Laporan Keuangan (CALK). Hal ini memunculkan kerentanan
atas terjadinya human error pada sisi penulis yang masih terbatas
pengetahuannya sehingga dimungkinkan adanya penyajian informasi yang
kurang lengkap.
5.3
Implikasi dan Saran
Penelitian ini sebagaimana disebutkan sebelumnya memiliki tujuan untuk melihat pospos mana saja di dalam laporan keuangan yang menyumbang pada potensi terjadinya
tax avoidance. Untuk itu berdasarkan hasil penelitian ini penulis merasa perlu untuk
memberikan pandangan serta saran kepada pihak-pihak terkait sebagaimana berikut :
1. Otoritas Perpajakan
Direktorat Jenderal Pajak selaku otoritas perpajakan di Indonesia telah
mengeluarkan
peraturan
nomor
SE-15/PJ/2018
tentang
Kebijakan
Pemeriksaan. Sektor manufaktur selama ini selalu menjadi salah satu sector
yang menyumbang penerimaan perpajakan terbesar di tanah air. Berdasarkan
hasil penelitian ini, penulis bermaksud memberikan sumbangsih saran yang
136
diharapkan berguna untuk proses intensifikasi perpajkaan ke depannya. Penulis
merasa perlu dipertimbangkan pembentukan clustering sector industry dimana
terhadap industry manufaktur perlu ditekankan perhatian lebih kepada pos
keuangan berupa nilai fixed asset, sales growth serta manfaat pajak tangguhan
yang berpotensi lebih besar menyumbang indikasi terjadinya tax avoidance
yang dilakukan perusahaan. Sementara pada sector industri lainnya
dikembangkan penekanan pada beberapa pos tertentu yang berdasarkan hasil
penelitian menyumbang indikasi adanya upaya tax avoidance yang dilakukan
perusahaan.
2. Penelitian selanjutnya
Penulis merasa perlu untuk memperluas sasaran observasi dimana penggunaan
sampel tidak hanya berpaku pada perusahaan manufaktur melainkan juga pada
sector keuangan dan sector digital yang sedang berkembang pada saat ini.
Dengan demikian hasil penelitian dirasa dapat lebih menyeluruh.
137
DAFTAR PUSTAKA
Acquah, P. (2017). Transfer Pricing , Earnings Management , And Tax
Avoidance. University Of Ghana, (10550751).
Ahnan, Z. M., & Murwaningsari, E. (2019). The Effect Of Book-Tax Differences, And
Executive Compensation On Earnings Persistence With Real Earnings
Management As Moderating Variable. 10(5). Https://Doi.Org/10.7176/Rjfa
Aisyah Rachmawati, N., & Martani, D. (2014). Pengaruh Large Positive Abnormal
Book-Tax Differences Terhadap Persistensi Laba. In Jurnal Akuntansi Dan
Keuangan Indonesia (Vol. 11, Issue 2).
Anouar, D. (2017). The Determinants Of Tax Avoidance Within Corporate Groups:
Evidence From Moroccan Groups. International Journal Of Economics, Finance
And
Management
Sciences,
5(1),
57.
Https://Doi.Org/10.11648/J.Ijefm.20170501.15
Barker, J., & Brickman, S. (N.D.). Transfer Pricing As A Vehicle In Corporate Tax
Avoidance. In The Journal Of Applied Business Research (Vol. 33, Issue 1).
Blaylock Candidate, B., & Wilson, R. (2010). Tax Avoidance, Large Positive BookTax Differences, And Earnings Persistence. Http://Ssrn.Com/Abstract=1524298
Dridi, W., & Adel, B. (2016). Book-Tax Differences And The Persistence Of Earnings
And Accruals: Tunisian Evidence. Asian Social Science, 12(6), 193–202.
Https://Doi.Org/10.5539/Ass.V12n6p193
Eka Persada, A. (2010). Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Book Tax Gap Dan
Pengaruhnya Terhadap Persistensi Laba (Vol. 7, Issue 2).
138
Forum
On
Book
And
Tax
Accounting
Conformity.
(2009).
Www.Ustreas.Gov/Press/Releases/Ls421.Htm.
Hanlon, M., & Slemrod, J. (2007). What Does Tax Aggressiveness Signal? Evidence
From Stock Price Reactions To News About Tax Aggressiveness.
Http://Ssrn.Com/Abstract=975252
Höglund, H., & Sundvik, D. (N.D.). Financial Reporting Quality And Outsourcing Of
Accounting Tasks: Evidence From Small Private Firms Financial Reporting
Quality And Outsourcing Of Accounting Tasks 2.
Ikatan Akuntansi Indonesia. (2008). Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (Psak)
No. 16 Aset Tetap, 16(14), 1–11.
Ikatan Akuntansi Indonesia. (2010). Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (Psak)
No. 19 Aset Tidak Berwujud, 19(19).
Ikatan Akuntansi Indonesia. (2018). Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (Psak)
No. 46 Pajak Penghasilan. November.
Inger, K. K., Hansen, T. B., Mansi, S. A., Salbador, D. A., & Seago, W. E. (2012).
Relative Valuation Of Alternative Methods Of Tax Avoidance.
Kim, J. H. (N.D.). The Study On The Effect And Determinants Of Small-And
Medium-Sized Entities Conducting Tax Avoidance. In The Journal Of Applied
Business Research (Vol. 33, Issue 2).
Kim, W. J., & Jang, G. B. (2018). Relationship Between Tax Avoidance And Key
Financial Indicators In Korea’s Construction Waste Disposal Industry. In
Academy Of Accounting And Financial Studies Journal (Vol. 22, Issue 3).
Kurniasih, L., & Suranta, S. (2017). Journal Of Finance And Banking Review Earnings
139
Management, Corporate Governance And Tax Avoidance: The Case In
Indonesia.
J.
Fin.
Bank.
Review,
2(4),
28–35.
Www.Gatrenterprise.Com/Gatrjournals/Index.Html
Lee, H.-A. (2016). The Usefulness Of The Tax Avoidance Proxy: Evidence From
Korea. In The Journal Of Applied Business Research (Vol. 32, Issue 2).
Lestari, R. D., Rachmawati, S., Pajak, P., Rachmawati, D. S., Ekonomi, F., Bisnis, D.,
& Trisakti, U. (2018). Perencanaan Pajak Dan Book Tax Differences Terhadap
Persistensi Laba Dengan Variabel Moderating Kualitas Laba. In Indonesian
Journal Of Accounting And Governance Issn (Vol. 2, Issue 2).
Lisowsky, P. (2008). Seeking Shelter: Empirically Modeling Tax Shelters Using
Financial Statement Information. In Boston University Accounting Seminar
Series. Http://Ssrn.Com/Abstract=1089148
Lopo Martinez, A., Bossonello, T., & De Souza, T. (N.D.). Book-Tax Differences,
Earnings Persistence And Tax Planning Before And After The Adoption Of Ifrs
In Brazil.
Martinez, A. L., & Bassetti, M. (2016). Firm Life Cycle, Book-Tax Differences And
Earnings Persistence. Revista De Educação E Pesquisa Em Contabilidade
(Repec), 10(2), 145–159. https://doi.org/10.17524/Repec.V10i2.1312
Meiza, R. (2009). Pengaruh Karakteristik Good Corporate Governance Dan Deferred
Tax Expense Terhadap Tax Avoidance (Studi Empiris Pada Perusahaan
Manufaktur Yang Listing Di Bei Tahun 2010-2013) Artikel Ilmiah Program Studi
Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang Wisuda Periode Maret
2015. Www.Idx.Co.Id
140
Merle, R., Al-Gamrh, B., & Ahsan, T. (2019). Tax Havens And Transfer Pricing
Intensity: Evidence From The French Cac-40 Listed Firms. Cogent Business And
Management, 6(1). Https://Doi.Org/10.1080/23311975.2019.1647918
Permata, A. D., Nurlaela, S., & Wahyuningsih, E. M. (2018). Pengaruh Size, Age,
Profitability, Leverage Dan Sales Growth Terhadap Tax Avoidance. Jurnal
Akuntansi Dan Pajak, 19(1), 10. Https://Doi.Org/10.29040/Jap.V19i1.171
Purba, D. M. (2018). To Cite This Article: Darwin Marasi Purba, The Influence Of
Earnings Management, Audit Quality And Ceo Duality On Tax Avoidance. In
The Accounting Journal Of Binaniaga (Vol. 03, Issue 01).
Sekaran, Uma Dan Bougie. 2013. Metodologi Penelitian Untuk Bisnis: Buku 1.
Jakarta: Penerbit Salemba Empat.
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D. Bandung:
Alfabeta.
Sundvik, D. (2017). A Review Of Earnings Management In Private Firms In Response
To
Tax
Rate
Changes.
Nordic
Tax
Journal,
2017(1),
151–161.
Https://Doi.Org/10.1515/Ntaxj-2017-0011
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: Se-15/Pj/2018 Tentang Kebijakan
Pemeriksaan.
Susilowati, A., Dewi, R. R., & Wijayanti, A. (2020). Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Tax Avoidance. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi,
20(1), 131. https://doi.org/10.33087/Jiubj.V20i1.808
Suyono, E., Ekonomi, F., Bisnis, D., & Soedirman, J. (2017). Bebagai Model
Pengukuran Earnings Management: Mana Yang Paling Akurat. In Dechow &
141
Dichev Model. De Angelo Model.
Tang, T., Firth, M., Chang, M., Cox, S., Mills, L., Robinson, J., & Schwab, C. (2011).
Can Book-Tax Differences Capture Earnings Management And Tax
Management?
Empirical
Evidence
from
China.Http://ssrn.Com/Abstract=1679190
Tang, T. Y. H. (2019). The Value Implications Of Tax Avoidance Across Countries.
Journal
Of
Accounting,
Auditing
And
Finance,
34(4),
615–638.
Https://Doi.Org/10.1177/0148558x17742821
Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2008 Tentang
Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak
Penghasilan.
Zimmermann, J., & Goncharov, I. (N.D.). Earnings Management When Incentives
Compete: The Role Of Tax Accounting In Russia
LAMPIRAN I
DAFTAR KODE PERUSAHAAN SAMPLE PENELITIAN
No
Nama Perusahaan
Kode Perusahaan
1 Akasha Wira International Tbk.
ADES
2 Argha Karya Prima Industry Tbk
AKPI
3 Asahimas Flat Glass Tbk.
AMFG
4 Asia Pacific Fibers Tbk
POLY
5 Astra International Tbk.
ASII
6 Astra Otoparts Tbk.
AUTO
7 Bentoel Internasional Investam
RMBA
8 Berlina Tbk.
BRNA
9 Bumi Teknokultura Unggul Tbk
BTEK
10 Champion Pacific Indonesia Tbk
IGAR
11 Charoen Pokphand Indonesia Tbk
CPIN
12 Chitose Internasional Tbk.
CINT
13 Darya-Varia Laboratoria Tbk.
DVLA
14 Eratex Djaja Tbk.
ERTX
15 Fajar Surya Wisesa Tbk.
FASW
16 Garuda Metalindo Tbk.
BOLT
17 Goodyear Indonesia Tbk.
GDYR
18 Grand Kartech Tbk.
KRAH
19 H.M. Sampoerna Tbk.
HMSP
20 Impack Pratama Industri Tbk.
IMPC
21 Indal Aluminium Industry Tbk.
INAI
22 Indo Komoditi Korpora Tbk.
INCF
23 Indo Kordsa Tbk.
BRAM
24 Indocement Tunggal Prakarsa Tb
INTP
25 Indofarma (Persero) Tbk.
INAF
26 Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
ICBP
27 Indofood Sukses Makmur Tbk.
INDF
28 Indopoly Swakarsa Industry Tbk
IPOL
29 Industri Jamu dan Farmasi Sido
SIDO
30 Japfa Comfeed Indonesia Tbk.
JPFA
31 Kalbe Farma Tbk.
KLBF
32 Keramika Indonesia Assosiasi T
KIAS
33 Kimia Farma Tbk.
KAEF
34 Mandom Indonesia Tbk.
TCID
35 Merck Tbk.
MERK
36 Nippon Indosari Corpindo Tbk.
ROTI
37 Pan Brothers Tbk.
PBRX
38 Pyridam Farma Tbk
PYFA
39 Ricky Putra Globalindo Tbk
RICY
40 Semen Baturaja (Persero) Tbk.
SMBR
41 Semen Indonesia (Persero) Tbk.
SMGR
42 Sierad Produce Tbk.
SIPD
43 Solusi Bangun Indonesia Tbk.
SMCB
44 Steel Pipe Industry of Indones
ISSP
45 Sumi Indo Kabel Tbk.
IKBI
46 Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk.
AISA
47 Tunas Alfin Tbk.
TALF
48 Ultra Jaya Milk Industry & Tra
ULTJ
49 Unilever Indonesia Tbk.
UNVR
LAMPIRAN 2
HASIL OLAH DATA E-VIEWS VERSI 9
1. UJI CHOW (PERSAMAAN 1)
Ho
: CEM
Ha
: FEM
Prob. ≤ 5% maka Ho ditolak. Model terpilih FEM
2. UJI HAUSMAN (PERSAMAAN 1)
Ho
: REM
Ha
: FEM
Prob. ≤ 5% maka Ho ditolak. Model terpilih FEM
3. UJI CHOW (PERSAMAAN 2)
Ho
: CEM
Ha
: FEM
Prob. ≤ 5% maka Ho ditolak. Model terpilih FEM
4. UJI HAUSMAN (PERSAMAAN 2)
Ho
: CEM
Ha
: FEM
Prob. ≤ 5% maka Ho ditolak. Model terpilih FEM
5. UJI LAGRANGE MULTIPLIER (PERSAMAAN 2)
Ho
: FEM
Ha
: REM
Prob. ≤ 5% maka Ho ditolak. Model terpilih REM
6. UJI HETEROSKEDASTISITAS (PERSAMAAN 1)
7. UJI MULTIKOLINEARITAS (PERSAMAAN 1)
8. UJI MULTIKOLINEARITAS (PERSAMAAN 2)
9. ANALISIS REGRESI PERSAMAAN 1
UJI F-SIMULTAN
Prob ≤ 5% maka Ho ditolak
UJI PARSIAL t
Prob ≤ 5% -> Signifikan
Prob ≤ 10% -> Cukup Signifikan
Prob ≥ 10% -> Tidak Signifikan
GOODNESS OF FIT (R2)
Adj. R-squared 98,86 %
10. ANALISIS REGRESI PERSAMAAN 2
UJI F-SIMULTAN
Prob ≤ 5% maka Ho ditolak
UJI PARSIAL t
Prob ≤ 5% -> Signifikan
Prob ≤ 10% -> Cukup Signifikan
Prob ≥ 10% -> Tidak Signifikan
GOODNESS OF FIT (R2)
Adj. R-squared 10,30%
Download