Uploaded by User84926

LP ibu hamil

advertisement
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN Pre-Eclampsia
DEPARTEMEN
KEPERAWATAN MATERNITAS
OLEH :
MIFTAKHUL MAKMUR
202010461011036
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2021
LAPORAN PENDAHULUAN
A. Konsep Kehamilan
a. Kehamilan
i. Pengertian Kehamilan
Ada beberapa pengertian kehamilan dari berbagai sumber,
diantaranya:
1. Kehamilan adalah masa kehamilan dimulai dari konsepsi
sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari
(40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid
terakhir (Prawirohardjo, 2007, p.125).
2. Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari
spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau
implantasi. Pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterine
mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan
(Hanafiah, 2008, p. 213).
3. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin.
Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan
7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan
dibagi dalam 3 triwulan, yaitu triwulan pertama dimulai dari
konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat
sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ke-7 sampai 9 bulan
(Prawiroharjo, 2008, p. 89).
b.
Kehamilan Trimester III
Menurut Novaria dan Budi (2007) trimester III merupakan masa
kehamilan yang dimulai dari usia kehamilan 7 bulan atau 28 minggu
sampai 9 bulan atau 40 minggu.
Dalam kurun waktu tersebut terjadi beberapa pertumbuhan janin
yang meliputi:
1. Minggu ke 28 sampai 31
Pada minggu ini tejadi perkembangan janin sebagai berikut:
a. Janin masih leluasa berputar didalam rahim
b. Berat janin mencapai 1000 gram
c. Janin dapat menghisap jari
d. Kulit tipis merah yang ditutupi lemak disebut vernik
e. Pertumbuhan kepala mulai lambat, ukurannya sebanding
ukuran tubuh
f. Organ dalam sudah lengkap
g. Panjang janin mencapai 35 cm
2.
Minggu 32 sampai 33
a. Janin mulai memasuki posisi siap lahir yaitu bokong
diatas dan kepala dibawah
b. Janin masih mempunyai cukup
ruang berenang
bebas menendang dan jungkir balik dalam air ketuban.
c. Kulit janin merah dan keriput
d. Panjang janin 40-45 cm
3. Minggu 34 sampai 35
Perkembangan pada saat ini adalah tersaringnya cahaya yang
akan masuk ke dalam rongga rahim. Mata berkembang
sepenuhnya dan janin lebih banyak bergerak.
4.
Minggu 36 sampai 37
a. Merupakan bayi premature
b. Menghilangnya kerutan diwajah karena
menutupi wajah dan kulit disekeliling bayi
c. Turunnya kepala kerongga panggul
d. Panjang janin sekitar 46 cm
e. Berat badan bayi mencapai 2500 gram
lemak
5. Minggu 38 sampai 39
Pada minggu ini kepala janin masuk dalam rongga panggul
disertai dengan berkurangnya tendangan keras janin
6.
Minggu ke 40 dan seterusnya
a. Merupakan periode siap lahir
b. Perkembangan janin telah sempurna
c. Kondisi siap siaga untuk persalinan karena tanggal
kelahiran sudah dekat
d. Varniks masih ada sampai bayi lahir namun secara
umum sebagian lanugo sudah hilang
e. Panjang bayi mencapai 48-50 cm
f. Berat badan bayi sekitar 2750-3000 gram
Pada saat memasuki tahap kelahiran biasanya didahului dengan
rasa sakit. Rasa sakit disebabkan karena kontraksi rahim yang
membuka serviks untuk jalan bayi, plasenta dan membranus.
c. Primigravida Trimester III
i. Pengertian
Pada trimester ke tiga ini perut ibu sudah membesar, maka
para calon ibu sudah akan mempersiapkan untuk kehadiran si
bayi baru dalam keluarga. Pada tahap ini dimungkinkan muncul
berbagai perasaan emosional yang berbeda-beda. Kegembiraan
untuk bertemu bayi baru atau mungkin ada kekuatiran dengan
kesehatan bayi. Pada saat ini calon ibu akan mulai berfikir
tentang persalinan, dengan tambahan perubahan emosi, tubuh
secara fisik juga mengalami perubahan pada trimester akhir ini.
Perubahan-perubahan tersebut meliputi sakit punggung karena
beban berat tubuh, payudara, konstipasi, pernapasan, sering
kencing, masalah tidur, varises, kontraksi perut, bengkak, kram
kaki dan cairan vagina. Sehingga pada masa ini perlu persiapan
yang sangat matang dari para calon ibu (Suririnah, 2004).
Pada trimester III terjadi lebih mengarah kepada
keselamatan dirinya dan bayinya, dimana muncul rasa takut
terhadap nyeri, kekhawatiran tentang perilakunya dan
kemungkinan ia kehilangan kendali diri selama persalinan,
ketidaknyamanan fisik dan gerakan janin yang mengganggu
istirahat ibu, peningkatan ukuran abdomen serta posisi yang
nyaman sulit didapat (Bobak, Lowdermik, Jensen, 2004, p.184).
ii.
Primigravida
Primigravida adalah ibu yang baru hamil untuk pertama
kalinya (chapman, 2006). Biasanya ibu hamil yang pertama kali
hamil belum mengetahui tentang tanda-tanda persalinan dan
persiapan persalinan karena mereka belum pernah mengalami
dan merasakan hal tersebut, sehingga banyak ibu hamil
primigravida yang datang ke tempat pelayanan kesehatan sudah
dalam keadaan terlambat dan belum menyiapkan perlengkapan
persalinan.
Masa kehamilan adalah masa dari adanya pembuahan
(konsepsi) sampai lahirnya seorang bayi. Kehamilan yang normal
berlangsung selama 280 hari atau 40 minggu atau 10 bulan,
dengan catatan 1 bulan terdiri dari 4 minggu (Saidun, 2001).
Kalangan medis menghitung masa kehamilan sejak
menstruasi terakhir, bukan sejak terjadinya pembuahan, sebab
yang bisa diketahui pasti adalah hari haid terakhir. Kehamilan
terjadi bila pada masa ovulasi diadakan persetubuhan sehingga
sel telur dan sel mani (sperma) bertemu. Kehamilan adalah suatu
krisis maturitas yang dapat menimbulkan stress, tetapi berharga
karena wanita tersebut menyiapkan diri untuk memberi
perawatan dan mengemban tanggung jawab yang lebih besar
(Bobak, Lowdermis, Jensen, 2004).
d. Tanda-Tanda Persalinan
Persalinan merupakan suatu proses pengeluaran hasil
konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke
dunia luar yang terdiri dari kala I sampai kala IV (Prawirohardjo,
2005, p.180).
Tanda-tanda persalinan adalah sama, walaupun proses
persalinannya berbeda pada setiap wanita. Dengan mengetahui
tanda-tanda persalinan, anda akan mengerti kapan saat yang tepat
untuk pergi ke Rumah Bersalin dan apa saja yang perlu dilakukan
(Sholihah, 2008, p.92). Tanda-tanda persalinan meliputi:
i. Mulainya Kontraksi Rahim
Secara umum, pertanda awal bahwa ibu hamil siap
melahirkan adalah mengejannya rahim atau dikenal
dengan istilah kontraksi. Kontraksi disertai rasa mules
serta sakit dipinggang dan paha. Ada juga kontraksi yang
bukan merupakan tanda akan melahirkan, tandatandanya
kontraksi ini datang sebelum waktunya dan sehari hanya
sekali atau dua kali. Kontraksi yang sesungguhnya akan
muncul dan menghilang secara teratur dengan intensitas
makin lama makin meningkat. Kontraksi terjadi simetris
di kedua sisi perut mulai dari bagian atas dekat saluran
telur ke seluruh rahim, dan nyeri tidak berkurang dengan
istirahat atau elusan. Ketika kontraksi mulai teratur,
mulailah untuk menghitung waktunya. Catatlah lamanya
waktu antar satu kontraksi dengan kontraksi berikutnya.
Persalinan akan terjadi bila kontraksi menjadi semakin
dekat 40 detik antara kontraksi lainnya. Secara garis besar,
proses kontraksi hingga pembukaan ialah:
1. Pada kontraksi awal buka 1-3 cm, sang ibu
diisyaratkan untuk bersiap-siap. Suami harus siaga
dan segera bersiap ke Rumah Bersalin.
2. Pada kontraksi buka 4-6 cm, seluruh persiapan
sudah harus selesai. Bidan akan melakukan
tindakan medis awal. Sementara suami sudah
harus memilih kamar dimana sang istri nanti akan
beristirahat pasca persalinan.
3. Kontraksi rahim akan terus berlangsung sampai
buka 10 cm. Pada saat ini disertai rasa sakit, nyeri
atau kenceng yang semakin lama semakin
meningkat.
4. Kontraksi ini datang dan hilang secara teratur.
Apabila kontraksi terjadi setiap 5 menit sekali itu
tandanya bayi mulai siap untuk dilahirkan.
5. Pada bagian vagina akan keluar cairan lendir
disertai darah karena dorongan kontraksi yang
membuka mulut rahim.
6. Karena kontraksi pula, maka ketuban akan pecah
dan keluar cairan jernih putih kekuningan dalam
jumlah banyak pada vagina.
ii. Keluarnya Lendir Berdarah
Sumbatan yang besar pada mulut rahim terlepas
sehingga menyebabkan keluarnya lendir yang berwarna
kemerahan bercampur darah. Pengeluaran darah dan
lendir dapat terjadi beberapa hari sebelum persalinan. Jika
terjadi perdarahan yang hebat harus segera datang ke
tenaga kesehatan.
iii. Air Ketuban Pecah
Proses penting menjelang persalinan adalah
pecahnya air ketuban. Jika ketuban yang menjadi tempat
perlindungan bayi saja sudah pecah, maka sudah saatnya
sang bayi harus keluar. Bila ibu hamil merasakan ada
cairan yang merembes keluar dari vagina dan keluarnya
tidak dapat ditahan tetapi disertai rasa mules atau rasa
sakit, bila dipastikan dia mengalami ketuban pecah dini,
yakni ketuban pecah sebelum terdapat tanda-tanda
persalinan (Indarti, 2006).
iv. Persalinan Palsu
Ketika mendekati aterm, banyak wanita yang
mengeluh mengalami kontraksi uterus yang terasa nyeri,
yang mungkin menunjukkan permulaan persalinan. Tetapi
meskipun terjadi kontraksi, kemajuan dilatasi serviks tidak
terjadi. Keadaan ini disebut persalinan semu. Disini tidak
terjadi triple descending gradient aktivitas uterus. Terjadi
aktifitas uterus yang sebaliknya, kekuatan kontraksi bagian
bawah uterus hampir sama besar dengan kontraksi bagian
atas. Karena itu, dilatasi serviks tidak terjadi dan nyeri
karena kontraksi uterus sering dirasakan pada punggung
bawah (Liewellyn, 2002).
Menurut Huliana (2001) tanda –tanda persalinan yaitu:
1. Kontraksi
Pada awal proses persalinan kontraksi
akan sering terjadi dan lebih teratur. Selain itu,
waktunya lebih lama dan kekuatannya lebih sering
dengan kemajuan persalinan. Frekuensi kontraksi
minimal 2x dalam 10 menit yang mengakibatkan
perubahan serviks (JNPK-KR, 2007, p.89).
2. Pengeluaran darah dan lendir
Selama kehamilan mulut rahim
tersumbat oleh gumpalan lendir yang lengket.
Pada saat persalinan dimulai, pintu rahim mulai
membuka. Gumpalan lendir akan terlepas
bersamaan dengan pemisahan dan selaput
ketuban dari dinding rahim. Akibatnya darah kecil
terputus sehingga darah dan lendir keluar berupa
cairan lengket berwarna merah muda dari vagina
yang disebut bloody show.
v. Selaput ketuban pecah
Jika air ketuban keluar sebelum tanda-tanda
persalinan dengan cara merembes, mengalir atau langsung
keluar banyak dari vagina harus segera ketempat
pelayanan Kesehatan.
vi. Rasa Nyeri
Kadang-kadang timbul rasa nyeri pada
selangkangan atau bokong akibat masuknya bagian paling
rendah janin ke rongga panggul.
Tanda-tanda persalinan dimulai oleh adanya rasa
sakit karena adanya kontraksi his yang datang lebih kuat,
sering dan teratur. Keluar lendir darah yang lebih banyak
karena robekan-robekan kecil pada servik, terkadang
ketuban pecah dengan sendirinya, pada pemeriksaan
dalam didapat serviks yang mendatar dan pembukaan
jalan lahir sudah ada.
e. Persalinan
i. Pengertian persalinan
Persalinan adalah proses pergerakan keluar janin,
plasenta dan membran dari dalam rahim melalui jalan
lahir. Berbagai perubahan terjadi pada sistem reproduksi
wanita dalam hitungan hari dan minggu sebelum
persalinan dimulai (Bobak, Lowdermild, Jensen 2004, p.
245).
Persalinan merupakan suatu proses alami yang
ditandai oleh terbukanya serviks, diikuti dengan lahirnya
bayi dan plasenta melalui jalan lahir. Penolong persalinan
perlu memantau keadaan ibu dan janin untuk mewaspadai
secara dini terjadinya komplikasi. Disamping itu,
penolong persalinan juga berkewajiban untuk
memberikan dukungan moril dan rasa nyaman kepada ibu
yang sedang bersalin (DepKes RI, 2008).
ii. Proses Persalinan
1. Tanda-tanda persalinan normal
a. Perut mules secara teratur
b. Mulesnya sering dan lama
c. Keluarnya lendir bercampur darah dari
jalan lahir
d. Keluarnya air ketuban dari jalan lahir
2. Tanda-tanda persalinan patologi
a. Perdarahan lewat jalan lahir
b. Tali pusat atau tangan bayi keluar dari
jalan lahir
c. Ibu tidak kuat untuk mengejan
d. Ibu mengalami kejang
e. Air ketuban keluar dan berbau
f. Ibu gelisah
g. Ibu merasakan sakit yang hebat
Proses persalinan, menurut (varney et al, 2007) terdiri dari
3 tingkatan atau 3 kala sebagai berikut yaitu:
a. Kala satu persalinan merupakan permulaan kontraksi
persalinan
sejati yang ditandai oleh perubahan
serviks yang progresif dan diakhiri dengan pembukaan
lengkap (10 cm) pada primigravida kala I berlangsung
kira-kira 13 jam, sedangkan pada multigravida kira-
b.
c.
d.
e.
f.
g.
kira 7 jam. Kala satu dibagi menjadi dua fase yaitu
laten dan aktif.
Fase laten yaitu adalah periode waktu dari awal
persalinan hingga ke titik ketika pembukaan mulai
berjalan secara progresif yang umumnya dimulai sejak
kontraksi mulai muncul hingga pembukaan 3-4 cm
atau permulaan fase aktif berlangsung dalam 78 jam.
Selama fase laten berlangsung bagian presentasi
mengalami penurunan sedikit hingga tidak sama
sekali. Kontraksi terjadi lebih stabil selama fase laten
seiring dengan peningkatan frekuensi, 8 durasi dan
intensitas dari setiap 10 menit sampai 20 menit,
berlangsung 15 detik sampai 20 detik, dengan
intensitas ringan.
Fase aktif adalah periode waktu dari awal kemajuan
aktif
pembukaan hingga pembukaan menjadi
komplet dan mencakup fase transisi. Pembukaan
umumnya dimulai dari 3-4 cm (atau pada akhir fase
laten) hingga 10 cm dan berlangsung selama 6 jam.
Penurunan bagian presentasi janin yang progresif
terjadi selama akhir fase aktif dan selama dua
persalinan.
Fase akselerasi, yaitu dalam waktu 2 jam pembukaan 3
cm menjadi 4 cm.
Fase dilatasi, yaitu dalam waktu 2 jam pembukaan
sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm.
Fase deselerasi, yaitu pembukaan menjadi lambat
kembali dalam waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi
lengkap.
Fase transisi selama terjadi, wanita mengakhiri kala
satu persalinan pada saat hampir memasuki dan
sedang mempersiapkan diri untuk kala dua persalinan.
Sejumlah besar tanda dan gejala, termasuk perubahan
perilaku, telah diidentifikasi sebagai petunjuk transisi
ini. Tanda dan gejala fase transisi diantaranya adalah
adanya tekanan pada rektum, berulang kali pergi ke
kamar mandi, tidak mampu mengendalikan keinginan
untuk mengejan, ketuban pecah, penonjolan dan
pendataran rektum dan perinium, bunyi dengkuran
pada saat mengeluarkan napas.
h. Kala dua persalinan dimulai dengan dilatasi lengkap
serviks dan diakhiri dengan kelahiran bayi. Menurut
Depkes RI (2002), beberapa tanda dan gejala
persalinan kala II adalah:
a. Ibu merasakan ingin meneran bersamaan
terjadinya kontraksi
b. Ibu merasakan peningkatan tekanan pada
rectum atau vaginanya
c. Perineum terlihat menonjol
d. Vulva_vagina dan sfingter ani terlihat
membuka
e. Peningkatan pengeluaran lender darah
Pada kala II his terkoordinir, kuat, cepat dan lama,
kira-kira 2-3 menit sekali. Kepala janin telah turun
masuk ruang panggul sehingga terjadi tekanan
pada otot-otot dasar panggul yang secara
reflektoris timbul rasa mengedan. Karena tekanan
pada rectum, ibu seperti ingin buang air besar
dengan tanda anus terbuka. Pada waktu his kepala
janin mulai terlihat, vulva membuka dan perineum
meregang. Dengan his mengedan yang terpimpin
akan lahirlah kepala dengan diikuti seluruh badan
janin. Kala II pada primi: 1 ½ - 2 jam, pada multi
½ - 1 jam (Mochtar, 2002)
i.
Kala III (kala pengeluaran uri)
Kala tiga persalinan dimulai dengan saat proses
kelahiran bayi selesai dan berakhir dengan lahirnya
plasenta. Proses ini dikenal sebagai kala persalinan
plasenta. Kala tiga persalinan berlangsung rata-rata
antara 5-10 menit. Adapun kala tiga terbagi dalam dua
fase yaitu:
a. Pelepasan plasenta adalah hasil penurunan
mendadak ukuran kavum uterus selama dan
setelah kelahiran bayi, sewaktu uterus
berkontraksi
mengurangi
isi
uterus.
Pengurangan ukuran uterus secara bersamaan
berarti penurunan area pelekatan plasenta.
b. Pengeluaran plasenta adalah dimulai dengan
penurunan plasenta ke dalam segmen bawah
uterus. Plasenta kemudian keluar melewati
serviks ke ruang vagina atas, dari arah plasenta
keluar.
c. Menurut Depkes RI (2002) tanda-tanda
lepasnya plasenta mencakup beberapa atau
semua hal dibawah ini:
i. Perubahan bentuk dan tinggi fundus.
Sebelum
bayi
lahir
dan
miometrium mulai berkontraksi,
uterus berbentuk bulat penuh (diskoit)
dan tinggi fundus biasanya turun
sampai dibawah pusat. Setelah uterus
berkontraksi dan uterus terdorong ke
bawah, uterus menjadi bulat dan
fundus berada diatas pusat (sering kali
mengarah kesisi kanan).
ii. Tali pusat memanjang
Tali
pusat
terlihat
keluar
memanjang atau terjulur melalui vulva
dan vagina (tanda Ahfeld).
iii. Semburan darah tiba-tiba
Darah yang terkumpul dibelakang
plasenta akan membantu mendorong
plasenta keluar dan dibantu oleh gaya
gravitasi. Semburan darah yang secara
tiba-tiba menandakan darah yang
terkumpul
diantara
melekatnya
plasenta dan permukaan maternal
plasenta (darah retroplasenter) keluar
melalui tepi plasenta yang terlepas.
Setelah bayi lahir kontraksi rahim
istirahat sebentar. Uterus teraba keras
dengan fundus uterus setinggi pusat,
dan berisi plasenta yang menjadi tebal
2x sebelumnya. Beberapa saat
kemudian timbul his pelepasan dan
pengeluaran uri. Dalam waktu 5-10
menit plasenta terlepas, terdorong
kedalam vagina akan lahir spontan
atau sedikit dorongan dari atas simfisis
atau fundus uteri. Seluruh proses
biasanya berlangsung 5-30 menit
setelah bayi lahir. Pengeluaran
plasenta disertai dengan pengeluaran
darah kira-kira 100-200 cc (Mochtar,
2002).
Menurut Depkes RI (2002), manajemen aktif kala
III yaitu:
i. Beri oksitosin 10 unit IM waktu dua menit
setelah bayi lahir.
ii. Lakukan penegangan tali pusat terkrndali.
iii.Segera lakukan masase pada fundus uteri
setelah plasenta lahir.
j.
Kala IV
Kala pengawasan selama 2 jam setelah plasenta
lahir untuk mengamati keadaan ibu terutama bahaya
perdarahan postpartum.
5. Persiapan Persalinan
a. Persiapan Persalinan
Kehadiran seorang bayi, pasti akan menimbulkan reaksi pada
orangorang disekitarnya. Agar reaksi ini tidak menjadi prahara, sejak
dini orang tua perlu mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan
untuk menjelang persalinan/kelahiran bayi. Persiapan persalinan
meliputi:
1) Persiapan fisik
a) Senam hamil tua
Pada umumnya, sejak trimester ketiga, para ibu telah
mempersiapkan diri untuk menyambut kehadiran si buah hati.
Dengan demikian penting bagi ibu untuk memelihara kebugaran
tubuhnya dengan mencoba latihan ringan, seperti senam hamil.
Ibu dapat meluangkan waktu beberapa saat untuk berjalan kaki
pada pagi hari untuk melakukan relaksasi.
Contoh latihan yang bisa dilakukan ibu hamil antara lain:
(1) Posisi jongkok
Ini adalah posisi yang dapat dicoba dalam persalinan karena
akan memudahkan janin melewati jalan lahir. Latihlah posisi
ini setiap hari selama beberapa menit.
(2) Posisi bersila
Ini adalah duduk dengan menyilangkan kaki semampunya
pakai alas, atau bersandarlah pada tembok. Dengan
mengambil posisi ini, oto-otot ibu akan menguat dan panggul
menjadi lentur. Gunakan alat bantu seperti bantal jika posisi
ini sulit untuk dilakukan.
b) Gizi yang seimbang
Semakin besar dan tua kehamilan maka semakin banyak asupan
yang dibutuhakan oleh ibu dan janinnya. Vitamin sangat
dibutuhkan bagi ibu dan janin. Disamping itu, ibu harus ingat
bahwa ibu dalam kandungannya sangat membutuhkan makanan
yang cukup. Tetapi juga jangan terlalu berlebihan, sebab hal ini
bisa mengakibatkan bayi besar dan berpengaruh pada proses
persalinan.
c) Istirahat yang cukup
Jika lelah segeralah istirahat, hiperaktifitas gerakan bayi karena
ibunya terlalu aktif dapat menyebabkan lilitan tali pusat.
d) Kursus mengurus bayi
Jauh dari keluarga sebaiknya mangikuti kursus mangurus bayi.
Didalam kursus ini, akan diajarkan bagaimana cara mulai
memandikan bayi sampai mengurus bayi. Libatkan suami untuk
mengikuti kursus, karena hal ini akan sangat membantu nanti.
2) Persiapan Mental
a) Hindari stress
Keadaan emosi yang mudah berubah pada saat hamil tentu saja
mempengaruhi orang-orang disekitarnya. Oleh sebab itu,
keluarga harus toleransi terhadap perubahan yang dialami. Sikap
yang harus diambil adalah dengan jalan mengungkapakan segala
perasaan yang dialami, sehingga dengan begitu ibu hamil itu
sendiri merasa dihargai.
b) Hilangkan rasa was-was
Rasa was-was wajar terjadi pada setiap ibu hamil, apalagi
kehamilan pertama. Berbagai rasa was-was itu dapat dihindari
dengan cara memeriksakan secara rutin kehamilannya.
c) Persiapan mental suami dan anak
Selain istri suami dan anak yang lain juga harus siap mental.
Dimana mereka merasa diabaikan oleh kehadiran sibuah hati. Ini
memicu kecemburuan terhadap anak yang masih dalam
kandungan (Sholihah, 2008, pp.23-25).
Persiapan persalinan merupakan salah satu program pada desa Siaga
yaitu desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan
kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi
masalahmasalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara
mandiri. Dalam program desa siaga dimana para bidan desa, tokoh
masyarakat, ikut aktif berperan menangani kesehatan dan membantu
persalinan kepada ibu hamil dan ibu melahirkan dan melakukan
pemeriksaan ibu (Depkes, 2004).
Beberapa persiapan persalinan yang perlu ibu hamil lakukan yaitu:
a.
Ibu hamil harus menayakan kepada bidan atau dokter kapan tanggal
perkiraan persalinan.
b. Suami dan keluarga mendampingi ibu hamil saat periksa ke fasilitas
pelayanan kesehatan (Puskesmas/RB/ BPS/RS).
c.
Suami dan keluarga harus menyiapakan tabungan untuk biaya
persalinan nanti.
d. Suami, keluarga dan masyarakat menyiapkan kendaraan atau
transportasi jika sewaktu-waktu diperlukan.
e.
Ibu hamil harus merencanakan akan
(Puskesmas/RB/BPS/RS).
melakukan
persalinan
f.
Ibu hamil akan melahirkan ditolong oleh bidan atau dokter kandungan
di fasilitas pelayanan kesehatan.
Ibu hamil harus merencanakan ikut keluarga berencana (KB) dan
menanyakan caranya kepada petugas kesehatan.
h. Suami dan keluarga harus menyiapkan orang yang bersedia menjadi
donor darah jika sewaktu-waktu diperlukan.
g.
Ada lima komponen penting dalam rencana atau persiapan persalinan yaitu:
1) Rencana Persalinan
Idealnya suatu keluarga mempunyai kesempatan untuk membuat suatu
rencana persalinan. Untuk persiapan persalinan sebaiknya pasangan suami
istri mendiskusikannya dengan bidan, dokter atau ahli kandungan yang
menangani. Hal-hal yang harus digali dan diputuskan dalam membuat
rencana persalinan tersebut meliputi :
a) Tempat Persalinan
Tempat melahirkan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan jarak
tempuh dari rumah. Hal ini menghindari terjadinya kelahiran bayi di
tengah perjalanan menuju tempat pelayanan. Jika kelahiran terjadi di
rumah bersalin, sebaiknya suami mempersiapkan tempat rujukan untuk
mengatasi jika terjadi sesuatu pada ibu bayi pada proses persalinan yang
dapat membahayakan ibu dan janin (Huliana, 2001).
b) Memilih persalinan di rumah
Wanita yang memilih untuk melahirkan di rumah mempunyai berbagai
alasan untuk keputusan mereka. Beberapa ibu di dalam hatinya merasa
bahwa disinilah bayi mereka harus dilahirkan, beberapa lainnya merasa
bahwa mereka akan santai di rumah, beberapa sangat menghargai privasi
yang bisa mereka dapatkan dirumah dan kebebasan untuk melakukan apa
yang mereka pilih, lainnya menganggap rumah sakit menakutkan dan
mereka takut harus menjalani banyak tindakan medis jika mereka
melahirkan disana (Nolan, 2003, p.145).
c) Persalinan di Rumah Sakit
Wanita hamil yang memilih melahirkan di rumah sakit mersa tenang
karena banyak dokter dan bidan berjaga di sana, sebagian lainnya merasa
bahwa melahirkan dengan peralatan teknologi tinggi lebih aman,
sebagian tertarik oleh fasilitas khusus yang ditawarkan rumah sakit
misalnya program melahirkan di kolam air, meskipun boleh dikatakan
bahwa layanan ini juga bisa didapat dari luar rumah sakit, misalnya
dengan menyewa kolam renang (Nolan, 2003, p.145).
a. Perlengkapan untuk persalinan
1) Perlengkapan ibu
a) Kartu periksa hamil
b) Alat mandi seperti handuk besar satu buah, handuk kecil dua
buah, sabun, sikat dan pasta gigi.
c) Pakaian ganti seperti:
(1)
Baju atasan dengan kancing depan
(2)
Kain panjang atau sarung
(3)
Kutang
(4)
Gurita Ibu
(5)
Pembalut
2) Perlengkapan bayi a) Popok bayi
b) Baju Bayi
c) Celana panjang bayi
d) Gurita bayi
e) Kaos tangan bayi
f)
Topi bayi
g) Selimut bayi
h) Perlengkapan mandi seperti sabun bayi, bedak bayi dan waslap.
3) Perlengkapan ayah
Menurut Novaria dan Budi (2007) perlengkapan yang bisa dibawa
suami saat persalinan adalah :
a) Jam tangan
b) Kartu atau kunjungan pemeriksaan kehamilan, KTP, beserta
fotocopinya.
c) Alat mandi seperti sikat gigi, sabun dan pasta gigi
d) Makanan kecil
e) Baju ganti
4) Pendamping persalinan
Dukungan suami saat persalinan sangat dibutuhkan. Melahirkan
adalah perjuangan yang membutuhkan dukungan suami. Suami
dapat memberikan dukungan jauh sebelum saat kelahiran tiba,
kehadiran suami menjelang saat persalinan akan membuat istri lebih
tenang dan lebih siap dalam menghadapi proses persalinan. Apabila
memungkinkan, suami sebaiknya menemani istri di ruang bersalin.
Kehadiran suami, sentuhan tangannya, doa dan kata-kata penuh
motivasi yang diucapkannya akan membuat istri merasa lebih kuat
dan tabah menghadapi rasa sakit dan berjuang untuk melahirkan
bayinya (Musbikin, 2005, p.265).
5) Transportasi
Letak tempat tinggal yang jauh dengan fasilitas kesehatan dan sulit
dijangkau serta ketidakadaan biaya untuk mencapai fasilitas
kesehatan merupakan masalah di sebagian besar wilayah di
Indonesia, oleh sebab itu penting untuk pengadaan ambulan desa
yang bisa memfasilitasi ibu hamil yang perlu dirujuk atau dibawa ke
pelayanan kesehatan seperti bidan, puskesmas, ataupun Rumah
Sakit, ambulans desa tidak harus dalam bentuk mobil ambulans
tetapi dapat berupa alat transportasi lain yang dapat membawa ibu
hamil ke tempat pelayanan kesehatan seperti becak, mobil roda
empat milik warga yang dipinjamkan (Pusdiknakes, 2003).
6) Biaya
Keluarga sebaiknya dianjurkan untuk menabung sejumlah uang
sehingga dana akan tersedia untuk asuhan selama kehamilan dan jika
terjadi kegawatan, karena banyak sekali kasus dimana ibu tidak
mencari asuhan atau mendapatkan asuhan karena tidak mempunyai
dana yang diperlukan untuk persalinan (Pusdiknakes, 2003).
7) Donor darah
Donor darah juga perlu dipersiapkan untuk persalinan. Ini tambahan
darah bisa langsung ditangani, jadi ibu hamil perlu mencari orang
yang golongan darahnya sama dan bersedia untuk mendonorkan
darahnya (Pusdiknakes, 2003).
8) Pengambil keputusan utama
Sebelum bersalin ibu hendaknya mempersiapkan siapa yang akan
mengambil keputusan bila akan dilaksanakan tindakan pada ibu.
Biasanya pengambil keputusan utama adalah suami. Dan ibu juga
merupakan penambil keputusan kedua bila nanti keputusan utama
tidak ada (Pusdiknakes, 2003).
Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas
kesehatan rujukan atau yang memiliki sarana lebih lengkap
diharapkan mampu menyelamatkan para ibu dan bayi baru lahir.
Meskipun sebagian besar ibu menjalani persalinan normal, namun
sekitar 10-15 % di antaranya akan mengalami masalah selama
persalinan dan kelahiran sehingga perlu dirujuk ke fasilitas rujukan,
sangatlah sulit untuk menduga kapan penyulit itu terjadi, sehingga
kesiapan untuk merujuk ibu dan atau bayinya ke fasilitas kesehatan
rujukan secara optimal dan tepat waktu jika penyulit terjadi. Setiap
tenaga penolong atau fasilitas pelayanan, harus mengetahui lokasi
fasilitas
rujukan
terdekat
yang
mampu
untuk
melayani
kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir (Departemen
Kesehatn Republik Indonesia, 2004).
Pada saat kunjungan antenatalcare, jelaskan bahwa petugas
kesehatan, klien dan suami akan selalu berupaya untuk
mendapatkan pertolongan terbaik, termasuk kemungkinan rujukan
setiap ibu hamil jika terjadi penyulit. Pada saat terjadi penyulit
sering kali tidak cukup waktu dan membuat rencana rujukan
sehingga
keterlambatan dalam membuat keputusan dapat
membahayakan jiwa klien. Anjurkan pada ibu untuk membahas
rujukan dan membuat rencana rujukan dengan suami dan
keluarganya serta tawarkan untuk berbicara dengan suami dan
keluarganya untuk menjelaskan antisipasi rencana rujukan
(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004).
Selain hal-hal di atas, yang perlu menjadi pertimbangan adalah
letak tempat tinggal yang jauh dengan fasilitas kesehatan dan sulit
dijangkau serta ketidakadaan biaya untuk mencapai fasilitas
kesehatan merupakan masalah di sebagian besar wilayah di
Indonesia, oleh sebab itu penting untuk pengadaan ambulans desa
yang bisa memfasilitasi ibu hamil yang perlu dirujuk atau dibawa ke
pelayanan kesehatan seperti bidan, puskesmas, ataupun rumah sakit.
Ambulans desa tidak harus dalam bentuk mobil ambulans tetapi
dapat berupa alat transportasi lain yang dapat membawa ibu hamil
ke tempat pelayanan kesehatan seperti becak, mobil roda empat
milik warga yang dipinjamkan (Kementrian Pemberdayaan
Perempuan RI, 2004).
Sedangkan untuk pengorganisasian ambulans desa disesuaikan
dengan kondisi atau kesepakatan masing-masing daerah dan dapat
dilakukan dengan penginventarisasian kendaraan di desa yang dapat
diikutsertakan, membuat jadwal pendayagunaan kendaraan untuk
membawa pasien dan mencari dukungan dana dari pengusaha
setempat untuk biaya operasional, semua kegiatan tersebut
dilakukan oleh Kepala Desa.
B. Konsep Preeklamsia
a. Definisi Preeklamsia
Preeklamsia merupakan kesatuan penyakit yang langsung
disebabkan oleh kehamilan, sebab terjadinya masih belum jelas
(Sofian, 2015). Definisi preeklamsia adalah penyakit dengan tandatanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena
kehamilan, atau dapat timbul lebih awal bila terdapat perubahan pada
hidatidiformis yang luas pada vili dan korialis (Mitayani, 2012).
Menurut definisi Manuaba, (1998) mendefinisikan bahwa
preeklamsia (toksemia gravidarum) merupakan tekanan darah tinggi
yang disertai dengan proteinuria (protein dalam air kemih), atau
edema (penimbunan cairan), yang terjadi pada kehamilan 20 minggu
sampai akhir minggu pertama setelah persalinan (Sukarni, 2013).
Preeklamsia dan eklamsia adalah kumpulan gejala yang timbul
pada ibu hamil, bersalin, dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias
hipertensi, proteinuria, dan edema, yang kadang-kadang disertai
konvulsi sampai koma. Ibu hamil tersebut tidak menunjukkan tandatanda kelainan-kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya (Sofian,
2015).
Risiko cedera pada janin yaitu berisiko mengalami bahaya atau
kerusakan fisik pada janin selama proses kehamilan dan persalinan
(Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
2. Klasifikasi Preeklamsia
Menurut Sofian (2015), preeklamsia dibagi menjadi 2 golongan yaitu
preeklamsia ringan dan preeklamsia berat.
a. Preeklamsia ringan
Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi
berbaring terlentang, atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih, atau kenaikan
sistolik 30 mmHg atau lebih. Cara pengukuran sekurang-kurangnya pada 2 kali
pemeriksaan dengan jarak periksa 1 jam, sebaiknya dengan selang waktu 6 jam.
Edema umum, kaki, jari tangan, serta wajah, atau kenaikan berat badan 1 kg atau
lebih per minggu. Proteinuria kwantitatif 0,3 gr atau lebih per liter, kwalitatif 1+
atau 2+ pada urin kateter atau midstream.
b. Preeklamsia berat
Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih, proteinuria 5 gr atau lebih per
liter, Oliguria, adalah jumlah urin kurang dari 500 cc per 24 jam. Adanya
gangguan serebral, gangguan visus, serta rasa nyeri di epigastrium. Dan terdapat
edema paru dan sianosis.
3. Etiologi Preeklamsia
Penyebab preeklamsia sampai sekarang belum diketahui secara pasti,
tetapi Pada umumnya disebabkan oleh (vasopasme arteriola). Faktor – faktor lain
yang dapat diperkirakan akan mempengaruhi timbulnya preeklamsia yaitu sebagai
berikut (sutrimah, 2015).
a. Usia Ibu
Usia merupakan usia individu terhitung mulai saat individu dilahirkan
sampai saat berulang tahun, semakin cukup usia, tingkat kematangan dan kekuatan
seseorang akan lebih matang dalam proses berfikir. Insiden tertinggi pada kasus
preeklampsia pada usia remaja atau awal usia 20 tahun, namun prevalensinya
meningkat pada wanita dengan usia diatas 35 tahun.
b. Usia Kehamilan
Preeklampsia biasanya akan muncul setelah usia kehamilan minggu ke
20, gejalanya yaitu kenaikan tekanan darah. Jika terjadi di bawah usia kehamilan
20 minggu, masih dikategorikan dalam hipertensi kronik. Sebagian besar kasus
preeklampsia terjadi pada minggu > 37 minggu dan semakin tua usia kehamilan
maka semakin berisiko terjadinya preeklampsia.
c. Paritas
Paritas merupakan keadaan seorang ibu yang melahirkan janin lebih dari
satu. Menurut Manuaba paritas adalah wanita yang pernah melahirkan dan dibagi
menjadi beberapa istilah:
1) Primigravida: seorang wanita yang telah melahirkan janin untuk pertama
kalinya.
2) Multipara: seorang wanita yang telah melahirkan janin lebih dari satu kali. 3)
Grande Multipara: wanita yang telah melahirkan janin lebih dari lima kali.
d. Riwayat Hipertensi / preeklamsia
Riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya adalah faktor utama.
Kehamilan pada wanita yang memiliki riwayat preeklampsia sebelumnya
berkaitan dengan tingginya kejadian preeklampsia berat, preeklampsia onset dini,
dan dampak perinatal yang buruk (Lalenoh, 2018).
e. Genetik
Riwayat preeklampsia pada keluarga juga dapat meningkatkan risiko
hampir tiga kali lipat adanya riwayat preeklampsia. Pada ibu dapat meningkatkan
risiko sebanyak 3,6 kali lipat (Lalenoh, 2018).
f. Penyakit Terdahulu (Diabetes Militus)
Jika sebelum hamil ibu sudah terdiagnosis diabetes, kemungkinan akan
terkena preeklampsia meningkat 4 kali lipat. Sedangkan untuk kasus hipertensi,
prevalensi preeklampsia pada ibu dengan hipertensi kronik lebih tinggi dari pada
ibu yang tidak menderita hipertensi kronik.
g. Obesitas
Terjadinya peningkatan risiko munculnya preeklampsia pada setiap
peningkatan indeks masa tubuh. Sebuah studi kohort mengemukakan bahwa ibu
dengan indeks masa tubuh >35 akan memiliki risiko mengalami preeklampsia
sebanyak 2 kali lipat.
h. Bad Obstetrik History
Ibu hamil yang pernah mempunyai riwayat preeklampsia, kehamilan
molahidatidosa,
dan
kehamilan
ganda
kemungkinan
akan
mengalami
preeklampsia pada kehamilan selanjutnya, terutama jika diluar kehamilan
menderita tekanan darah tinggi menahun.
4. Patofisiologi
Pada preeklamsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan ritensi
garam serta air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteiola glomelurus.
Dalam beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya
dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh
mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik, sehingga usaha untuk
mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi
(Sofian, 2015).
Sedangkan kenaikan berat badan serta edema yang disebabkan oleh
penimbunan air yang yang berlebihan dalam ruangan interstisial belum diketahui
penyebabnya, mungkin karena retensi air serta garam. Proteinuria dapat
disebabkan oleh spasme arteliola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus
(Sofian, 2015).
5. Tanda dan Gejala Preeklamsia
Menurut Mitayani (2012), preeklamsia memiliki dua gejala yang sangat
penting yaitu hipertensi dan proteinuria yang biasanya tidak disadari oleh wanita
hamil. Penyebab dari kedua masalah diatas yaitu sebagai berikut:
a. Tekanan darah
Peningkatan tekanan darah merupakan tanda peningkatan awal yang
penting pada preeklamsia. Tekanan diastolik adalah tanda prognostik yang lebih
andal dibandingkan dengan tekanan sistolik. Pada tekanan diastolik sebesar 90
mmHg atau lebih yang terjadi terus-menerus menunjukkan keadaan abnormal.
b. Kenaikan berat badan
Peningkatan berat badan yang tiba-tiba mendahului serangan
preeklamsia serta bahkan kenaikan berat badan (BB) yang berlebihan adalah tanda
pertama preeklamsia pada sebagian wanita. Peningkatan berat badan normal ialah
0,5 kg per minggu. Apabila 1 kg dalam seminggu, maka kemungkinan terjadinya
preeklamsia harus dicurigai. Peningkatan berat badan terutama disebabkan karena
retensi cairan serta selalu dapat ditemukan sebelum timbulnya gejala edema yang
tampak jelas seperti kelopak mata yang bengkak atau jaringan tangan yang
membesar.
c. Proteinuria
Pada preeklamsia ringan, proteinuria hanya minimal positif satu, positif
dua, atau tidak sama sekali. Pada kasus berat proteinuria dapat ditemukan serta
dapat mencapai 10 g/dL. Proteinuria hampir selalu timbul kemudian dibandingkan
hipertensi serta kenaikan berat badan (BB) yang berlebihan.
Adapaun gejala-gejala subyektif yang dirasakan pada preeklamsia yaitu sebagai
berikut.
1) Nyeri kepala
Jarang ditemukan pada kasus ringan, namun akan sering terjadi pada
kasus-kasus berat. Nyeri kepala sering terjadi pada daerah frontal dan oksipital,
dan tidak sembuh dengan pemberian analgesik biasa.
2) Nyeri epigastrium
Adalah keluhan yang sering ditemukan pada preeklamsia berat. Keluhan
ini disebabkan oleh tekanan pada kapsula hepar akibat edema atau perdarahan.
3) Gangguan penglihatan
Keluhan penglihatan yang tertentu dapat disebabkan oleh spasme
arterial, iskemia, serta edema retina serta pada kasus-kasus yang langka
disebabkan oleh ablasio retina. Pada preeklamsia ringan tidak ditemukan tandatanda subjektif.
6. Faktor Ibu Hamil Dengan Preeklamsia Dengan Risiko Cedera Pada
Janin
Faktor terjadinya risiko cedera pada janin tarkait dengan kejadian ibu
hamil dengan preeklamsia berat menurut Standar Diagnosis Keperawatan
Indonesia (SDKI) 2017 yaitu sebagai berikut:
a. Usia ibu (<15 tahun atau >35 tahun)
b. Paritas banyak
c. Riwayat persalinan sebelumnya
d. Pola makan yang tidak sehat
7. Komplikasi
Menurut Mitayani (2012), komplikasi yang dialami bergantung pada
derajat preeklamsia yaitu antara
lain: 1. Komplikasi pada ibu
a. Eklamsia.
b. Solusio plasenta.
c. Perdarahan subkapsula hepar.
d. Kelainan pembekuan darah disseminated intravascular coagulation (DIC).
e. Sindrom HELLP (hemolysis, elevated, liver, enzymes, dan low platelet
count). f. Ablasio retina.
g. Gagal jantung hingga shok dan kematian.
2. Komplikasi pada janin
1. Terhambatnya pertumbuhan dalam uterus.
2. Premature
3. Asfiksia neonatorum.
4. Kematian janin dalam uterus.
5. Peningkatan angka kematian dan kesakitan perinatal.
8. Pencegahan
Pencegahan preeklamsia atau diagnosis dini dapat mengurangi kejadian
dan menurunkan angka kesakitan serta kematian (Sofian, 2012).
1.
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali
tandatanda sedini mungkin (preeklamsia ringan), lalu diberikan pengobatan yang
cukup agar penyakit tidak menjadi lebih berat.
2.
Selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya preeklamsia jika ada
faktorfaktor predisposisi.
3.
Berikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur, ketenangan, serta
pentingnya mengatur diit rendah garam, lemak, serta karbohidrat dan tinggi
protein, juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan.
9. Penanganan Preeklamsia
Tujuan utama penanganan yaitu untuk mencegah terjadinya preeklamsia
dan eklamsia, hendaknya janin lahir hidup serta trauma pada janin seminimal
mungkin (Sofian, 2015).
Download