Uploaded by User84608

01 KJ Januari 2021

advertisement
KHOTBAH JANGKEP
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
Januari 2021
Tema: Tahun Baru Kesempatan Baru
Khotbah Jangkep Januari 2021
1
DAFTAR TEMA PERAYAAN IMAN
BULAN JANUARI 2021
Minggu, 1 Januari 2021 ............................................................................. 3
Tahun Baru (Putih)
Keseimbangan Hidup Kristen
Minggu, 3 Januari 2021 ............................................................................. 4
Minggu Setelah Natal (Putih)
Menjadi Anak Terang
Kamis, 6 Januari 2021 ................................................................................ 5
Minggu Efipani (Putih)
Banyak Tantangan, Teruslah Berkarya
Minggu, 10 Januari 2021 .......................................................................... 6
Hari Pembaptisan Yesus-Minggu I Setelah Epifani (Hijau)
Memaknai Baptisan Roh Kudus
Minggu, 17 Januari 2021 ....................................................................... 21
Minggu Biasa I- Minggu ke-2 Setelah Epifani (Hijau)
Dipanggil Untuk Berani Berkata dan Berkarya Tentang Kebenaran
Minggu, 24 Januari 2021 ....................................................................... 37
Minggu Biasa II-Minggu ke-3 Setelah Epifani (Hijau)
Keseimbangan Hidup Sorgawi dan Duniawi
Minggu, 31 Januari 2021 ....................................................................... 54
Minggu Biasa III-Minggu ke-4 Setelah Epifani (Hijau)
Bijak Dalam Bertindak
2
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
Minggu, 1 Januari 2021
Tahun Baru (Putih)
TEMA PERAYAAN
Keseimbangan Hidup Kristen
TUJUAN:
DAFTAR BACAAN:
Bacaan I
Tanggapan
Bacaan II
Bacaan Injil
: wahyu 3:1-13
: Mazmur 8
: Wahyu 21:1-6a
: Matius 25:31-46
KETERANGAN:
Bahan Kotbah Jangkep ada di dalam buku masa Advent dan Natal 2021
yang diterbitkan oleh LPP Sinode GKJ dan GKI Wilayah Jawa Tengah
Khotbah Jangkep Januari 2021
3
Minggu, 3 Januari 2021
Minggu Setelah Natal (Putih)
TEMA PERAYAAN IMAN
Menjadi Anak Terang
TUJUAN:
DAFTAR BACAAN:
Bacaan I
Tanggapan
Bacaan II
Bacaan Injil
: Yeremia 31:7-14
: Mazmur 147:12-20
: Efesus1:3-14
: Yohanes 1:(1-9),10-18
KETERANGAN:
Bahan Kotbah Jangkep ada di dalam buku masa Advent dan Natal 2021
yang diterbitkan oleh LPP Sinode GKJ dan GKI Wilayah Jawa Tengah
4
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
Rabu, 6 Januari 2021
Efipani (Putih)
TEMA PERAYAAN IMAN
Banyak Tantangan, Teruslah Berkarya
TUJUAN:
DAFTAR BACAAN:
Bacaan I
Tanggapan
Bacaan II
Bacaan Injil
: Yeremia 31:7-14
: Mazmur 147:12-20
: Efesus1:3-14
: Yohanes 1:(1-9),10-18
KETERANGAN:
Bahan Kotbah Jangkep ada di dalam buku masa Advent dan Natal 2021
yang diterbitkan oleh LPP Sinode GKJ dan GKI Wilayah Jawa Tengah
Khotbah Jangkep Januari 2021
5
Minggu, 10 Januari 2021
Hari Pembaptisan Yesus-Minggu I Setelah Epifani (Hijau)
TEMA PERAYAAN IMAN
Roh Kudus Dan Baptisan
TUJUAN:
Umat mampu menjalani hidup sebagai pribadi, keluarga, jemaat, untuk
berkarya di dunia dengan mengandalkan Kuasa ALLAH yang telah hadir
dan diterima dalam Karya Baptisan atas setip umatNya.
DAFTAR BACAAN:
Bacaan I
Tanggapan
Bacaan II
Bacaan Injil
: Kejadian 1:1-5
: Mazmur 29
: Kisah Para Rasul 19:1-7
: Markus 1:4-11
DAFTAR AYAT LITURGIS
Berita Anuggerah
: Matius 1:21-23
Petunjuk Hidup Baru
: Matius 2:11
Persembahan
: Kejadian 4:3, 4
DAFTAR NYANYIAN LITURGIS
Bahasa Indonesia
Nyanyian Pujian
: KJ 65: 1, 2
Nyanyian Penyesalan
: KJ 83:1-5
Nyanyian Kesanggupan
: KJ 370:1, 2
Nyanyian Persembahan
: KJ367:1Nyanyian Pengutusan
: KJ255:1, 2
Bahasa Jawa
Kidung Pamuji
Kidung Panelangsa
Kidung Kesanggeman
Kidung Pisungsung
Kidung Pangutusan
: KPJ 21:1-3
: KPJ 47:1, 2
: KPJ 155:1, 3
: KPJ 161:1: KPJ 428:1, 2
Pdt Sugeng Prasetya, S.Pd, S.Th, M.Div (GKJ Klaten)
6
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
DASAR PEMIKIRAN
Baptisan sebagai pelayanan sekaligus pengalaman spiritual
yang bersifat khusus, kekhususannya terletak pada makna simbolis
yang terkait langsung dengan nilai dasar iman hidup Kristen, di
dalam baptisan ada makna pembasuhan dosa oleh darah Yesus yang
dikorbankan sebagai sumber keselamatan. Selain makna simbol,
baptis juga diyakini sebagai lambang kehadiran Kuasa Tuhan di
dalam hidup orang yang dibaptiskan, ia menerima hadirnya Roh
Kudus. Hal ini berarti bahwa baptis menjadi titik awal sebuah
perjalanan karya, pertumbuhan iman, dan bahkan pengalaman
spiritual yang menggambarkan telah hadir sepenuhnya kuasa
Sang Ilahi di dalam kehidupan orang yang dibaptiskan. Kuasa itu
akan memberi daya, menjadi sumber kekuatan, juga sebagai
bentuk perlindungan Tuhan yang mendatangkan keselamatan.
Yesus juga melewati masa menerima pengalaman dan pelayanan
spiritual berupa baptisan yang dilaksanakan oleh Yohanes Pembaptis.
Mulai dari inilah jemaat diperhadapkan dengan satu kenyataan
iman yang sangat besar maknanya. Sekalipun Yesus sebagai Ilahi,
namun dalam kemanusiaanNya, Yesus berkenan menerima
baptisan Yohanes di Sungai Yordan, sekalipun baptisan Yohanes
adalah baptisan pertobatan, Yesus rela memulai karyanya dengan
berdiri sejajar dengan manusia para pendosa. Namun demikian,
dalam baptisanNya ada hal yang berbeda yang terjadi, yaitu
turunnya Roh Allah menyerupai merpati, disertai suara Ilahi:
“Engkaulah AnakKu yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan...”
Melalui Baptisan yang dialami oleh Yesus, kita berkeyakinan
bahwa makna yang serupa akan terjadi pada baptisan orang-orang
percaya saat ini. Sehingga kita mendapat peneguhan iman, panggilan
pelayanan, dan karya kesaksian kita semua di muka bumi ini. Ada
Roh dan perkenan Allah atas diri setiap orang yang menerima
baptisan.
Khotbah Jangkep Januari 2021
7
KETERANGAN BACAAN
Kejadian 1:1-5
Kitab Kejadian memiliki posisi kunci dan strategis dalam
memberikan informasi mengenai Sang Pencipta, proses penciptaan
alam semesta, makhluk hidup, termasuk manusia. Di dalam kitab
ini situasi semesta pra penciptaan digambarkan dalam keadaan:
kosong, gelap gulita, tidak berbentuk, bercampur aduk, tanpa ada
kehidupan.
Kedaulatan Allah sebagai Sang Pencipta tergambar nyata di
awal ayat kitab ini, dengan gambaran Roh Allah melayang-layang
yang artinya keberadaan Allah itu tanpa batas, berkuasa melampaui
batas ruang, tempat, dan waktu. Selanjutnya Allah berfirman:
“Jadilah terang.” serta terang itu terjadi; dan Allah memberi nama
terang itu sebagai siang; dan gelap itu sebagai malam. Artinya
Allah yang tidak terbatas itu, memulai babak baru menempatkan
batas waktu dalam keberadaanNya, Allah yang bebas melayanglayang itu, kini rela mengikatkan diri dengan satuan waktu yang
disebut hari berdasarkan silih bergantinya siang dan malam.
Sekalipun demikian Allah tetap sebagai pribadi yang Maha
Kuasa tak terbatas dalam karya dan pekerjaanNya, dari sejak dunia
terbentuk hingga selama-lamanya, Dialah Allah yang Maha Kuasa.
Mazmur 29
Pasal ini ditulis sebagai syair puisi. Terdiri dalam 3 bagian isi:
ayat 1-2 panggilan beribadah; ayat 3-9 frasa tentang 7 suara Tuhan;
ayat 10-11 sebagai penutup yang menegaskan bahwa Tuhan akan
memberikan kekuatan, berkat, dan kesejahteraan kepada umatNya.
Daud disebut sebagai penulis syair ini, mengungkapkan
kedahsyatan dan kemuliaan Tuhan laksana kekuatan badai yang
menerpa alam semesta ini. Penggambaran ini bukan sebagai
8
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
kekuatan murka Tuhan, namun kekuatan kuasa Tuhan atas
seluruh ciptaanNya.
Alam semesta yang dilanda kuasaNya akan bergelora, baik
itu: laut, bukit, gunung, pohon-pohon di hutan, binatang liar. Alam
semesta bergelora menyatakan hormat kepada Tuhan atas segala
kekuatan dan kuasaNya, juga membuktikan bahwa alam semesta
ini diciptakan oleh Tuhan sehingga memiliki sikap hormat dan
tunduk kepada Sang Penciptanya.
Kisah Para Rasul 19:1-7
Karya pelayanan Rasul Paulus hanya mengandalkan kuasa
Roh Kudus yang turun mendiami hidupnya sebagai Rasul. Pekerjaan
mewartakan Injil sampai ke ujung bumi, dihayati oleh Rasul Paulus
sebagai pekerjaan Roh Kudus sendiri yang bekerja di dalam
dirinya. Roh Kudus akan hadir memenuhi orang yang percaya dan
dibaptis dalam Nama Tuhan Yesus.
Praktek dan pengalaman spiritual yang akan terjadi atas
pelayanan baptisan, diyakini dan dihidupi oleh Paulus disepanjang
karya pelayanannya. Bahkan tanda-tanda karya Roh Kudus yang hadir
kepada setiap orang pasca baptisan dicatat dalam kisah ini, yaitu
orang tersebut mulai berkata-kata dalam bahasa roh dan bahkan
bernubuat. Artinya orang tersebut hidup sebagai pribadi yang baru,
dari hidup lama yang berorientasi kepada dunia fana, setelah baptisan
hidup berubah menjadi pribadi yang lebih agung memiliki
orientasi hidup yang bernilai jauh ke tempat pengharapan kekal.
Markus 1:4-11
Pelayanan Yohanes Pembaptis sebagai pewarta kabar baik,
berita keselamatan dari Tuhan untuk seluruh umat manusia, seruan
pertobatan bagi orang berdosa, dan warta tentang Injil Yesus
Kristus Juru Selamat manusia; dilakukan oleh Yohanes sebagai
orang yang mengambil peran menjadi trigger, pendobrak, dan
Khotbah Jangkep Januari 2021
9
juga pelaku tunggal sebelum rasul-rasul lain melanjutkannya.
Hasil dari karya pewartaan Yohanes yaitu mendorong sejumlah
orang berdiri berjajar dalam antrian panjang di tepi sungai
Yordan untuk mengaku dosanya dan menerima baptisan tanda
pertobatan dan pengampunan dosa.
Pembaptisan menjadi alat dan tanda terjadinya komitmen
seseorang akan memulai hidup baru. Setiap orang berdosa yang
mendengar seruan pertobatan yang diteriakkan oleh Yohanes
mendapat harapan akan pengampunan, serta kesempatan untuk
membuat komitmen hidup baru, meninggalkan hidup lama yang
penuh noda dan dosa. Bersamaan dengan itu, Yohanes
mewartakan akan hadirnya pribadi yang jauh lebih berkuasa dari
dirinya, dimana kuasa Yohanes untuk membaptis orang dengan
air, namun Dia yang akan datang kemudian itu akan membaptis
dengan Roh Kudus. Pribadi tersebut mempunyai kuasa yang
besar, sehingga untuk membungkuk dan membuka tali kasutNya
saja, Yohanes merasa tidak layak. Siapa pribadi yang dimaksud?
Yesus. Dialah yang dimaksudkannya. Tak lama dari seruan
itu, ternyata Yesus turut serta dalam antrian arak-arakan orang
untuk meminta baptisan dari Yohanes. Hingga tiba giliran Yesus,
Yohanes tersungkur ragu menolak dan menyampaikan alasan
ketidaklayakannya untuk membaptis Yesus waktu itu. Namun
Yesus tetap meminta supaya Yohanes membaptisNya di Sungai
Yordan sama seperti orang-orang tersebut. Tetapi ternyata ada
yang berbeda dari baptisan yang diterima Yesus, yaitu saat Yesus
keluar dari dalam air, diikuti dengan turunnya Roh dari langit,
sesuatu menyerupai burung merpati turun keatas Yesus, serta
suara yang berseru: “Engkaulah AnakKu yang Kukasihi, KepadaMulah
Aku berkenan...” Artinya baptisan Yesus bukan baptisan pertobatan,
tetapi pentahbisan dan pengutusan dari Tuhan Allah Bapa kepada
Yesus, supaya di dalam nama Yesus karya penyelamatan dari
10
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
Tuhan terjadi di bumi melalui karya pelayanan Yesus, Anak Allah
yang berkenan kepadaNya.
POKOK DAN ARAH PEWARTAAN
Sebagai pribadi kristen pelayanan baptisan merupakan
pengalaman setiap pribadi umat. Bobot baptisan sebagai simbol
pertobatan dan pembasuhan dosa oleh pengorbanan darah Tuhan
Yesus, ungkapan percaya seseorang terhadap Tuhan Allah
sumber keselamatan, serta momen menerima Roh Kudus
seutuhnya terjadi juga di dalam peristiwa baptisan jemaat saat
ini. Artinya renungan ini bermaksud mengingatkan kepada
seluruh jemaat, bahwa dirinya adalah pribadi yang telah
diselamatkan Tuhan melalui peristiwa baptisan, serta di dalam
dirinya memiliki kuasa Ilahi yaitu Roh Kudus yang akan menjadi
sumber kekuatan dan pertolongan umat melaksanakan karya
pelayanan bagi Tuhan dan sesama di bumi.
Renungan ini juga menggugah komitmen umat supaya
hidupnya pasca baptisan benar-benar membuahkan gambar
hidup baru, jangan sampai gambar hidupnya tidak ada perubahan
dan perbedaan yang berarti. Umat didorong menyatakan buahbuah kehidupan sebagai orang yang telah menerima karya
baptisan; selalu hidup dengan semangat berkarya, melayani
Tuhan, hidup dalam cinta kasih, menjaga kekudusan, dan bersaksi
mewartakan pertobatan dan pengampunan dosa di dalam nama
Tuhan Yesus Juru Selamat manusia.
Khotbah Jangkep Januari 2021
11
KHOTBAH JANGKEP BAHASA INDONESIA
MEMAKNAI BAPTISAN,
BERKARYA DENGAN KUASA ROH KUDUS
Salam Sejahtera... Saudara sekalian yang dikasihi Tuhan Yesus.
Di awal renungan ini, mari kita mencermati bersama-sama
tentang sakramen baptis. Dapat kita pastikan, bahwa setiap jemaat
sebagai anggota gereja baik itu statusnya warga jemaat anak apalagi
warga jemaat dewasa, pasti sudah menerima pelayanan baptisan.
Sekalipun peristiwa baptisan sudah tidak bisa diingat dan dirasakan,
karena dilaksanakan pada saat masih bayi melalui permohonan
orang tua saudara masing-masing, dan setelah dewasa secara
pribadi menyatakan pengakuan percaya sidhi, namun segala bobot
yang menjadi isi dan makna baptisan juga terjadi sepenuhnya di
dalam diri saudara. Ada pengampunan dosa oleh kuasa darah Tuhan
Yesus yang dikorbankan diatas salib, menetes bersama air baptisan
dan membasuh dosa, ada turunnya Roh Kudus memeteraikan
keselamatan dan menjadi Roh Allah yang mendiami hati, dan ada
kuasa Tuhan yang bekerja menopang kehidupan. Jadi sesungguhnya
“ora baen-baen lan ngedab-edabi“ (bhs Jawa) hidupnya orang yang
menerima tanda baptisan dalam nama Allah Bapa, Putera, dan
Roh Kudus itu, karena ia menerima peristiwa dan pengalaman
hidup spiritual yang luar biasa, terutama peran hadirnya Roh Kudus
di dalam hati orang tersebut. Kehadiran Roh Kudus itu menyatakan
kehadiran Tuhan Allah pribadi di dalam diri orang yang
dibaptiskan. Sekalipun baptis itu sendiri tidak menyelamatkan,
tetapi percaya dan iman orang kepada Tuhan Yesuslah yang
menyelamatkan, maka baptisan yang hadir dengan bobot dan isi
turunnya Roh Kudus ke dalam diri orang yang dibaptis, adalah
baptisan yang didasari pertobatan dan iman percaya saudara.
12
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
Namun demikian saudara, segala bobot dan isi makna
baptisan itu akan tajam terlihat serta berfungsi dengan maksimal
didalam kehidupan seseorang, atau sebaliknya menjadi tumpul
dan kabur tanpa bekas. Sepenuhnya tergantung peran masingmasing orang serta kerelaannya menjalani hidup di dalam
pimpinan Roh Kudus. Jika orang itu secara sadar dan bahkan
penuh kerinduan hidupnya dipakai untuk kemuliaan Tuhan dan
secara sukarela memberi hidupnya dituntun oleh kuasa Roh
Kudus, bahkan dengan segala perjuangan menanggalkan ego,
hawa nafsu kedagingan, serta nilai-nilai duniawi dalam hidupnya;
maka ia akan hidup sebagai pribadi yang berkarya, melayani, dan
bersaksi secara ‘ngedab-edabi’. Hal ini bukan sebagai mimpi, juga
bukan bentuk kejumawaan; tetapi justru inilah kemestian yang
seharusnya terjadi bagi setiap orang yang telah menerima
pelayanan spiritual dan hidup di dalam karya baptisan.
Kehadiran Roh Kudus seiring di dalam pelayanan baptisan
dialami oleh Yesus sendiri, pada waktu Yesus dibaptis oleh Yohanes
waktu Yesus keluar dari dalam air Sungai Yordan, bersama itu
pula diikuti turunnya Roh atas diri Yesus (Markus 1:10). Demikian
pula, Rasul Paulus menegaskan kepada para muridnya di kota
Efesus supaya mereka menerima Roh Kudus dengan cara dibaptis
dalam nama Yesus (Kisah Rasul 19:4-6). Daya kekuatan Allah
sendiri yang hadir melalui Roh Kudus di dalam diri orang yang
dibaptiskan. Artinya orang yang dibaptis mendapat kekuatan
Ilahi, yaitu kekuatan yang membawa kebesaran dan kuasa Tuhan
Allah sendiri; untuk memberi daya, kekuatan, dan kuasa di dalam
setiap orang yang dibaptis sehingga dapat berkarya, bersaksi, dan
melayani di tengah dunia. Bahkan karyanya mampu mendatangkan
hasil yang membuat dunia semakin dipulihkan dari segala macam
kekacauan, kegelapan, dan kerusakan (Kejadian 1:1-2).
Khotbah Jangkep Januari 2021
13
Saudara-saudara, mari saat ini kita menoleh dengan segala
kejujuran dan kesadaran penuh, mendalami bagaimana hidup kita
sebagai orang-orang yang telah menerima dan mengalami
pelayanan spiritual baptisan? Buah-buah karya Roh Kudus apa
yang sudah terwujud melalui hidup kita? Bagaimana pula situasi
keluarga, gereja, masyarakat dan dunia dengan kehadiran kita,
orang-orang yang sudah hidup dengan karya baptisan ini,
memberi pengaruh dan sumbangsih positif berupa apa saja
kehidupan orang-orang pasca baptisannya?
Ingat, setelah menerima baptisan, Yesus berkarya hingga
mengorbankan diriNya disalib untuk menebus dan menyelamatkan
manusia dari hukuman dosa, para murid Paulus berkata-kata dan
bernubuat, bersaksi dan melayani, bersekutu dan menjaga
kekudusan hidup gereja yang berdampak menghadirkan
kedamaian dan kesejahteraan bersama. Kehadiran gereja yang
anggotanya adalah orang-orang yang sudah menerima baptisan,
juga gereja yang terus melayankan baptisan kepada mereka yang
percaya, semestinya diikuti juga dengan hadirnya kuasa Tuhan
atas diri orang-orang tersebut menyatakan karya-karya Tuhan
melalui Karya Roh Kudus di tengah keluarga, gereja, dan dunia.
Semestinya pula, dunia ini semakin tertata, hidup dalam suasana
terang, jauh dari kekacauan, dan semakin menjadi tempat hidup
yang indah dan nyaman dihuni bersama-sama. Kalau yang terjadi
sebaliknya; keluarga Kristen hidup dalam konflik dan kerusakan,
gereja kehilangan cahaya terangnya, orang Kristen dalam
baptisan jatuh kedalam berbagai problem dan dosa yang sama
dilakukan oleh orang-orang dunia tanpa baptisan. Jika ini yang
ternyata terjadi, dapat dipastikan orang Kristen tidak bisa tampil
‘ngedab-edabi’ di tengah dunia yang semakin dikuasai oleh roh
kehancuran ini.
14
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
Mari kita kembali membawa hidup ini didalam kuasa dan
kebesaran Tuhan, dengan mengingat-ingat kembali arti dan
makna serta bobot isi baptisan yang sudah kita terima dari Tuhan.
Setiap umat hidup kembali di dalam sikap sukarela menyerahkan
hidup selalu dipimpin oleh Roh Kudus, meminta agar Tuhan
dengan KuasaNya menolong kita untuk sanggup hidup dalam
kekudusan dan kesucian, diberi kekuatan menang dari segala
godaan dan cobaan, dihindarkan dari segala perbutan dosa, serta
memohon supaya Tuhan memberi kemampuan hidup penuh
kasih, ketaatan, kesetiaan, rendah hati, damai dengan setiap
orang, lemah lembut, sabar, serta giat selalu di dalam pekerjaan
Tuhan: bersaksi, bersekutu, dan melayani.
Berkarya dengan Kuasa Roh Kudus, kiranya menjadi
kesadaran yang selalu terbangun di dalam benak sanubari setiap
orang yang telah menerima karya pelayanan baptisan. Ya, didalam
kesadaran saudara dan saya. Hanya dengan kuasa Roh Kuduslah,
seluruh tanggung jawab karya kesaksian, persekutuan, dan
pelayanan kita akan beroleh kekuatan dan wibawanya. Kuasa Roh
Kudus itu, sungguh sudah ada di dalam setiap orang yang dengan
pertobatan disertai percaya menerima pelayanan baptisan, ya di
dalam diri saudara sekalian. Jadi saat ini saudara semua diajak
kembali untuk turut serta bekerja bersama Tuhan dan segala
kuasaNya, mengubah dunia ini menuju dunia yang penuh
sejahtera, tertata damai, terbebas dari kekacauan, hidup didalam
terang, dan mengalami berkat, kesejahteraan, serta kekuatan.
Amin.
Khotbah Jangkep Januari 2021
15
KHOTBAH JANGKEP BAHASA JAWA
NEGESI BAPTIS, MAKARYA SRANA ROH SUCI
Salam rahayu, para sadherek ingkang kinasih wonten ing Gusti
Yesus.
Ing wiwitaning khotbah punika, sumangga kula lan panjenengan
sesarengan nitipriksa bab tegesing peladosan baptis ingkang kita
tampeni, kanthi pangertosan bilih saben pasamuwan minangka
warganing pasamuwan kanthi status pasamuwan anak dereng
sidhi, punapa pasamuan diwasa sidhi; mestinipun sampun sami
nampi peladosan sakramen baptis. Sanajan ta kedadosan baptis saha
raosipun sampun mboten saged kaemut-emut lan dipunraosaken
malih kelampahanipun, awit sampun katindakaken nalika taksih
bayi lumantar pamundhuting para tiyang sepuh kita, lan
sasampunipun diwasa secara pribadi kita sami mratelakaken
kapitadosan sidhi, ananging sedaya bobot, isi, tuwin tegesipun
baptis ugi dumados sawetahipun ing salebeting gesang kula lan
panjenengan sedaya. Wonten apuraning dosa dening kuwaos
rahipun Gusti Yesus, ingkang dipunkurbanaken ing kajeng salib
tumetes sesarengan toya baptisan lan mbilas dosa; wonten ugi
tumedhaking Roh Suci dados meterai utawi ecaping kawilujengan
lan Roh Allah ingkang makuwon ing manah; saha wonten kuwaos
saking Sang Yehuwah Allah ingkang makarya nyangga gesang.
Dados sayektosipun gesanging tiyang ingkang nampi baptisan
wonten ing Asmaning Allah Rama, Putra, tuwin Roh Suci punika:
“ora baen-baen lan ngedab-edabi”, awit tiyang punika sampun
nampeni satunggaling kedadosan lan pengalaman gesang spiritual
ingkang saestu ngedab-edabi, mirungganipun ngraosaken nampi
tumedhaking Roh Suci ing manahipun tiyang punika. Rawuh
tumedhaking Roh Suci mratelakaken rawuhipun Sang Yehuwah
Allah pribadi wonten gesanging tiyang ingkang kabaptisaken.
Sanajan ta, baptis punika mboten milujengaken, ananging pracaya
16
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
saha iman dhateng Gusti Yesus ingkang milujengaken, pramila
baptis ingkang saged ndhatengaken bobot, isi, saha teges utami
tumedhaking Roh Suci ing lebet gesanging tiyang ingkang
kabaptisaken, inggih punika baptis ingkang lumampahipun
atetales pamratobating tiyang saking dosanipun, lan iman pracaya
tiyang punika dhateng Gusti Yesus.
Sanadyan ta mekaten para sadherek, sedaya bobot, isi, lan
tegesing baptisan badhe tandhes ngatingal sarta gadhah fungsi
maksimal ing tiyang punika, punapa kosokwangsulipun badhe
dados kethul, luntur, samar-samar malah blas tanpa tilas babar
pisan, sawetahipun gumantung dhateng peran saben pribadi
piyambak-piyambak sarta sepinten agenging raos iklas
manahipun tiyang punika anggenipun nglampahi gesangipun
adhedasar panuntuning Roh Suci. Menawi tiyang punika secara
sadhar lan malah kebak ing raos tumemen masrahaken
gesangipun supados kaagem dados piranti ngluhuraken
Asmanipun Gusti Allah, saha gesang tansah tinuntun Roh Suci,
mbudidaya saged gesang nilar raos dhiri/ego, hawa nepsu
kedagingan, sarta rupi-rupi kadonyan ing gesangipun; mila tiyang
punika mesthi badhe gesang minangka pribadi ingkang makarya
arupi lelados lan paseksi kanthi ngedab-edabi. Perkawis punika
boten namung ngimpi kelampahanipun, ugi sanes wujuding
“kesombongan rohani” sawantah; nanging punika malah
perangan ingkang asipat samesthinipun utawi kudu (Indonesia:
semestinya) lumampah tumrap saben tiyang ingkang nampeni
peladosan spiritual saha nggegesang tegesing baptisan wonten
ing dhirinipun.
Rawuh tumedhaking Roh Suci punika kelampahanipun
sairing kaliyan peladosan baptisan ingkang ugi dipuntampeni
piyambak dening Gusti Yesus. Nalika Gusti Yesus dipunbaptis
dening Yohanes, pinuju Gusti Yesus medal saking toya Lepen
Khotbah Jangkep Januari 2021
17
Yarden, sesarengan punika ugi tumedhakipun Roh Suci ing sak
nginggil mustakanipun Gusti Yesus (Markus 1:10). Mekaten ugi,
Rasul Petrus nandhesaken dhumateng para muridipun inggih
pasamuwan ing kitha Efesus, supados pasamuwan ing ngriku
sami nampeni Roh Suci kanthi cara dipunbaptis wonten ing
Asmanipun Gusti Yesus (Lelakone Para Rasul 19:4-6). Daya
kekiyatan saking Gusti Allah piyambak ingkang rawuh lumantar
Sang Roh Suci ing lebet dhirinipun para tiyang ingkang kabaptis.
Tegesipun bilih saben tiyang ingkang kabaptis punika pikantuk
kekiyatan Ilahi, inggih punika kekiyatan ingkang mbekta
kaluhuran lan kuwaosing Gusti Allah piyambak, kangge ndayani,
ngiyataken, lan paring daya kuwaos wonten ing saben tiyang
ingkang kabaptis, ngantos tiyang punika saged makarya, atur
paseksi, lan lelados ing satengahing jagad punika. Malah
pakaryanipun saged ndhatengaken asil ingkang damel pulihing
jagat saking sedaya kawontenan semrawut, peteng, lan
sawernaning karisakan (Purwaning Dumadi 1:1-2).
Para sadherek, sumangga ing wekdal punika kula lan
panjenengan sami kanthi kebaking raos jujur lan ing kawontenan
sadhar sawetahipun, sesarengan nyuraos kados pundi gesang
kula panjenengan sami minangka para tiyang ingkang sampun
nampeni lan ngalami peladosan spiritual baptisan? Woh-woh
pakaryaning Roh Suci punapa kemawon ingkang sampun maujud
lumantar gesang kula panjenengan? Ugi niti priksa kados pundi
kawontenan gesang brayat, pasamuwan, masyarakat, saha jagad
kanthi wontenipun kula lan panjenengan, tiyang-tiyang ingkang
sampun gesang kanthi baptisan punika. Saged ndamel daya lan
sumbangsih positif arupi punapa kemawon gesangipun para
tiyang sasampunipun nampi baptisan?
Sami emuta dhateng Gusti Yesus, sasampunipun baptisan.
Gusti Yesus makarya ngantos ngurbanaken sariranipun sinalib kagem
18
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
nebus lan milujengaken manungsa saking ukuman dosa, para
muridipun Paulus wicanten lan meca, paseksi lan lelados, manunggil
lan njagi kasucening gesang pasamuwan ingkang tundhanipun
ndhatengaken pengaruh ageng ndhatengaken katentreman lan
karaharjan ingkang ageng. Wontenipun pasamuwan ingkang
anggotanipun inggih punika para tiyang ingkang sampun kabaptis,
ugi pasamuwan ingkang teras kemawon ngladosaken baptisan
dhumateng para tiyang ingkang sami pracaya, samesthinipun
gesangipun ugi dipunsarengi dening rawuh kuwaosing Gusti Allah
ing atasing para tiyang punika supados sami mratelakaken
pakaryaning Gusti Allah lumantar pakaryaning Roh Suci ing
tengah gesangipun brayat, pasamuwan, lan jagad. Mekaten ugi
sampun dados samesthinipun, jagad punika kawontenanipun
sansaya tumata, gesang ing kawontenan padhang, tebih saking
karibedan, lan sansaya saged dados papan gesang ingkang endah
lan sekeca dipunangge mapan gesang sesarengan. Menawi
ingkang dumados kosok wangsulipun, brayat Kristen gesang ing
salebeting pasulayan lan karisakan, pasamuwan kecalan sorot
padhangipun, tiyang Kristen ing salebeting baptisanipun
dhumawah ing salebeting mawarni-warni perkawis lan dosa
ingkang nyami rupi dipunlampahi dening para tiyang ing jagad
kang tanpa baptisan. Menawi punika ingkang kelampahan, saged
dipunpesthekaken bilih tiyang Kristen mboten badhe saged
mratelaken tanda ‘ngedab-edabi’ ing tengahing jagad ingkang
sansaya dipunkuwaosi lan dipunrisak dening rohing karisakan.
Sumangga kula panjenegan sami wangsul mbeta gesang
punika ing salebeting kuwaos lan kaagunganipun Gusti Allah,
kanthi sami ngemut-emut malih teges, makna, lan bobot isining
baptisan ingkang sampun dipuntampeni saking Gusti Allah. Saben
umat wangsul ing salebeting sikep masrahaken kanthi suka lila,
gesang tansah dipuntuntun dening Roh Suci, nyuwun supados
Gusti kanthi Kuwaosipun mitulungi kula panjenengan sami sagah
Khotbah Jangkep Januari 2021
19
gesang ing salebeting kasucen, dipunparingi kekiyatan saged
unggul saking sedaya panggodha lan pacoben, dipunsingkiraken
saking sedaya tumindak dosa, sarta nyenyuwun supados Gusti
Allah maringi kesagedan gesang kebak katresnan, tuhu, kasetyan,
andhap asor, tentrem kaliyan saben tiyang, paramarta, sabar,
sarta tansah sengkut ing saben pakaryaning Gusti Allah arupi:
paseksi, patunggilan, lan paladosan.
Selajengipun, makarya kanthi Kuwaosing Roh Suci, mugi
dados kesadaran ingkang tansah kabangun ing salebeting batos
saben tiyang ingkang sampun nampeni pakaryaning baptisan.
Inggih, ing salebeting kesadharan panjenengan saha kula. Namung
kanthi kuwaosing Roh Suci, sedaya tanggel jawab mujudaken
pakaryan: paseksi, patunggilan, lan peladosan kula panjenengan
sami badhe pikantuk kekiyatan lan kawibawanipun. Kuwaosing
Roh Suci punika, saestu sampun wonten ing salebeting saben tiyang
ingkang kanthi pamratobat sinarengan pitadosipun nampeni
peladosan baptisan, inggih ing salebeting sarira panjenengan
sedaya. Dados ing wekdal punika para sadherek sedaya kaatag
wangsul malih kagem ndherek sesarengan makarya kaliyan Gusti
lan sedaya kuwaosipun, ngewahi kawontenan jagad punika
tumuju jagad ingkang kebak karaharjan, tumata tentrem, uwal
saking karuwetan, gesang ing salebeting padhang, lan ngrasuk
gesang ing salebeting berkah, karaharjan, sarta kekiyatan. Amin
20
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
Minggu, 17 Januari 2021
Minggu Biasa I- Minggu ke-2 Setelah Epifani (Hijau)
TEMA PERAYAAN IMAN
Dipanggil Untuk Berani Berkata dan Berkarya Tentang Kebenaran
TUJUAN:
1. Umat diingatkan serta sadar kembali terhadap status hidupnya
sebagai murid Yesus di dunia ini.
2. Umat kembali melaksanakan panggilan sebagai murid Yesus, berani
bersaksi dan menyatakan kebenaran di bumi.
DAFTAR BACAAN:
Bacaan I
Tanggapan
Bacaan II
Bacaan Injil
: 1 Samuel 3:1-10, (11-20)
: Mazmur 139:1-6, 13-18
: 1 Korintus 6:12-20
: Yohanes 1:43-51
DAFTAR AYAT LITURGIS
Berita Anuggerah
: Yesaya 50:4
Petunjuk Hidup Baru
: Roma 10:9-10
Persembahan
: Lukas 21:4
DAFTAR NYANYIAN LITURGIS
Bahasa Indonesia
Nyanyian Pujian
: KJ 19:1-3
Nyanyian Penyesalan
: KJ 28:1-3
Nyanyian Kesanggupan
: KJ 306:1, 3
Nyanyian Persembahan
: KJ 344:1Nyanyian Pengutusan
: KJ376:1, 4
Bahasa Jawa:
Kidung Pamuji
Kidung Panelangsa
Kidung Kesanggeman
Kidung Pisungsung
Kidung Pangutusan
: KPJ 96:1, 4
: KPJ 84:1, 3
: KPJ 159:1-3
: KPJ 171:1: KPJ 353:1, 3
Pdt Sugeng Prasetya, S.Pd, S.Th, M.Div (GKJ Klaten)
Khotbah Jangkep Januari 2021
21
DASAR PEMIKIRAN
Keberanian berkata dan berkarya dengan menyandang sebutan
sebagai orang Kristen pengikut Tuhan Yesus, menjadi seruan yang
perlu ditekankan setiap waktu kepada seluruh jemaat, supaya
jemaat selalu tergugah hatinya terhadap komitmen hidup
imannya, eling lan waspadha (mawas diri), menjaga kesaksian dan
kualitas hidup yang terbaik, serta hidupnya memberi dampak
positif di tengah dunia.
Status sebagai murid Yesus juga menjadi dasar pijakan hidup
orang Kristen dalam menjaga nilai-nilai karakter luhurnya: kasih,
murah hati, rendah hati, sukacita, sabar, jujur, damai dengan
semua orang, tekun, giat bekerja, dan kebaikan yang lainnya.
Melalui karakter luhur inilah peran sebagai garam dan terang
dunia akan diwujudkan dan memberi dampak nyata di tengah
dunia. Tutur kata dan karya orang Kristen sebagai sarana
bersaksi, seharusnya akan nampak perbedaannya dengan yang
dikerjakan orang pada umumnya.
KETERANGAN BACAAN
1 Samuel 3:1-10, (11-20)
Kitab 1-2 Samuel tidak bisa terpisah dengan Kitab 1-2 RajaRaja dalam PL (+ 600 SM). Melalui keduanya, rajutan sejarah
bangsa Israel dan kepemimpinannya dapat tergambar secara
utuh. Tiga tokoh sentral: Samuel, Saul dan Daud menjadi latar
belakang sejarah kepemimpinan hingga kebangsaan bagi Israel
baik statusnya sebagai umat pilihan Tuhan maupun salah satu
bangsa di muka bumi ini.
Nama kitab dan isi kisahnya diambil dari tokoh utamanya
yaitu Samuel, seorang anak lelaki dari seorang ayah bernama
Elkana dan ibu kandung Hana. Selain Hana, ada isteri Elkana yang
lain yaitu Penina. Kelahiran Samuel tergolong unik, setelah
22
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
bertahun-tahun Hana belum hamil, suatu hari disaat Hana
beribadah kepada Tuhan di Bait Allah yang di Silo, ia berdoa
berlama-lama di halaman Bait Suci, hingga Imam Eli yang melihatnya
menyangka bahwa ia mabuk. Namun Hana mengungkapkan isi
hatinya kepada Imam Eli bahwa ia tidak mabuk tetapi sedang
berdoa meminta kepada Tuhan agar diberi anak. Melalui Imam
Eli, Tuhan mendengar doa Hana dan menjanjikan bahwa tahun
depan ia akan mengandung dan melahirkan. Janji Tuhan Ya dan
Amin, akhirnya Hana mengandung dan melahirkan anak laki-laki
diberi nama Samuel. Pada bagian pasal 3 menceritakan perjalanan
Samuel setelah beranjak besar, dimana dia oleh ibunya
dipersembahkan kepada Tuhan dan tinggal bersama Imam Eli di
Bait Allah. Sampai suatu hari Samuel mengalami perjumpaan
dengan Tuhan Allah di dalam mimpinya. Mulai waktu itulah,
Samuel diteguhkan bahwa dirinya dipilih dan diutus Tuhan untuk
menjadi Nabi dan Hakim di tengah-tengah umat Tuhan yaitu
bangsa Israel. Sekalipun waktu menerima peneguhan ini, Samuel
masih tergolong anak yang masih kecil, namun panggilan dari
Tuhan ini terus menggema di dalam hidup Samuel hingga masa
dewasanya, ia sungguh-sungguh menggenapi dan menunaikan
panggilan tersebut. Melalui mimpi ini juga, Samuel dalam masa
mudanya langsung diperhadapkan dengan peristiwa penyimpangan
hidup anak-anak Imam Eli, dan teguran keras dari Tuhan kepada
Imam Eli dan keluarganya harus disampaikan oleh Samuel.
Peristiwa itu bagi Samuel sebagai alat uji kemurnian batin dalam
menyatakan kebenaran, artinya Samuel tetap harus dengan segala
rasa hormat, namun tidak boleh sungkan sekalipun harus menegur
orang yang jauh lebih tua ataupun punya pengaruh besar dan
diseganinya. Hendaknya ya katakan ya, tidak katakan tidak.
Mazmur 139:1-6, 13-18
Mazmur 139 ini merupakan syair berisi ungkapan isi hati
Daud yang kagum kepada Tuhan Allah yang Maha Tahu. Kesadaran
Khotbah Jangkep Januari 2021
23
ini dirasakan Daud sebagai suatu kekuatan tersendiri bagi hidupnya,
dimana Daud yakin segala perbuatannya di bumi ini Tuhan
mengetahuinya, maka hal ini membuat Daud menjadi lebih
berhati-hati menjalani hidup ini, supaya segala yang diperbuatnya
berkenan dihadapan Tuhan.
Pada bagian ayat 13-18, Tuhan Maha Tahu digambarkan
terkait dengan peristiwa kelahiran dan keberadan seseorang
sebagai ciptaan, dari proses pembentukan sampai nasib orang
tersebut di muka bumi, sudah diketahui oleh Tuhan. Pada bagian
akhir Mazmur 139 ini, menjadi semacam rangkuman pengetahuan
dan pengakuan Daud terhadap pribadi Tuhan Allah Yang Maha
Tahu itu (Mazmur 139: 23, 24). Hidup di hadapan Tuhan Allah
Yang Maha Tahu harus hidup apa adanya, tidak ada yang
tersembunyi; maka selidikilah aku artinya biarlah hidup kita
diawasi dan diperhatikan Tuhan, dengan harapan jika ada yang
salah bisa langsung ditegur dan dibenarkan; ujilah aku artinya
hidup kita siap diteliti kebenarannya; dengan harapan agar
hidupnya senantiasa terkendali jauh dari kesalahan dan
penyesatan.
1 Korintus 6:12-20
Surat Rasul Paulus kepada Jemaat Korintus ini berisi nasehat
dan ajaran supaya jangan hidup di dalam percabulan. Menyampaikan
nasehat serta ajaran yang berkaitan dengan etika kehidupan
seperti ini bukan hal mudah, apalagi jika yang diajar dan
dinasehati adalah orang-orang yang sudah kita kenal dan kita
pandang kehidupan rohaninya sudah sedemikian matang; ada
kekuatiran takut tersinggung atau dianggap terlampau masuk ke
urusan pribadi. Namun ternyata bagi Paulus tidak demikian,
dengan segala wibawa dan keyakinan Paulus mengajar, menegur
dan menasehati dengan gamblang hal etika hidup orang Kristen
dalam hal menjaga kekudusan hidup dari percabulan.
24
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
Ayat 12-20 secara utuh dan terperinci disampaikan Paulus
sebagai nasehat dan teguran kepada orang-orang Kristen di Korintus
supaya mereka kudus dan terhindar dari percabulan. Ayat 12-13:
Paulus mengingatkan bahwa ada hal yang menajiskan dan
mengkuduskan tubuh kita. Tegasnya bahwa belum tentu yang
halal itu mesti berguna, dan yang baik itu mesti bermanfaat; tetapi
Paulus mengajarkan supaya kita menjadi pribadi yang tidak
mengikatkan diri dengan hal-hal lahiriah duniawi belaka. Ayat
14-18: hal-hal yang membuat kita bisa terikat harus dilepaskan,
ingat bahwa manusia bukan hanya hidup di dunia, tetapi akan
menuju keabadian kekal. Salah satu yang bisa mengikat manusia
yaitu percabulan, ini harus dilepaskan, dengan cara kita diminta
senantiasa mengikatkan diri kepada Tuhan, maka roh kita akan
menjadi satu dengan Tuhan. Ayat 19-20: Kita diingatkan kepada
nilai dasar hidup orang Kristen yang hakiki, yang bisa menjamin
terlepasnya segala macam ikatan kita dengan hal lahiriah duniawi,
karena hidup kita telah ditebus dan dibayar lunas oleh Tuhan
Yesus, maka tubuh kita ini adalah bait Roh Kudus. Maka kita wajib
memuliakan Allah dengan tubuh suci kita masing-masing.
Yohanes 1:43-51
Kesaksian Yohanes Pembaptis, tertuang dan didokumentasikan
abadi di dalam seluruh tulisan Injil Yohanes. Nilai penting yang
tertulis dalam perikop bacaan ini yaitu peristiwa Yesus sedang
memilih orang-orang untuk menjadi murid-muridNya. Ada diantara
yang terpanggil menjadi murid Yesus, mereka sebelumnya murid
Yohanes Pembaptis, salah satunya yaitu Andreas (Yoh 1:40).
Demikian pula diantara murid-murid Yesus ada yang memiliki
pertalian saudara. Cara dan peristiwa yang menyertai proses
pemanggilan mereka masing-masing memiliki keunikannya.
Filipus secara langsung diajak oleh Tuhan Yesus: “Ikutlah Aku.”
(Yoh 1:43). Sementara yang lain oleh ajakan saudara-saudara
mereka yang sudah lebih dahulu bertemu dan menjadi murid
Khotbah Jangkep Januari 2021
25
Yesus. Seperti yang terjadi terhadap Natanael, diajak oleh Filipus
dengan berita bahwa dia telah bertemu Yesus anak Yusuf dari
Nasaret, sesuai isi yang tertulis pada Kitab Musa (ayat 45), namun
Natanael meragukannya; hingga akhirnya saat Natanael bertemu
langsung dengan Yesus, tiba-tiba Yesus sanggup menyatakan
mengetahui dengan tepat keberadaan Natanael sebelum dia
bertemu Yesus, yaitu berdiri di bawah pohon ara. Berdasarkan
pernyataan ini, membuka mata hati Natanael, sebab ia kagum
bagaimana Yesus bisa mengenal dan melihat keberadaannya
dengan tepat jauh waktu sebelum ia bertemu Yesus. Hingga
akhirnya Natanael yakin dan berucap: “Rabi Engkau Anak Allah,
Engkau Raja orang Israel” (Yoh 1:49).
Ini semua menunjukkan bahwa orang-orang yang dipilih oleh
Tuhan Yesus untuk turut bekerja bersamaNya mewartakan
kebenaran, berita sukacita, dan juga kesaksian tentang nama
Tuhan Yesus Juruselamat Dunia, mereka adalah orang-orang
biasa namun membuat keputusan yang luar biasa; yaitu mengikut
Tuhan Yesus kemanapun Dia pergi, menjadi muridNya sekalipun
harus meninggalkan keluarga, kampung halaman, pekerjaan, dan
beraneka kesenangan pribadi, semua ditinggalkan demi keputusan
menjadi pengikut dan murid Yesus yang sejati.
POKOK DAN ARAH PEWARTAAN
Menyampaikan secara menarik dan mendalam Injil Yohanes
1:43-51. Penekanan memperhatikan sikap orang-orang yang mau
berkomitmen menjadi murid Yesus. Mereka orang-orang biasa
tetapi mampu membuat keputusan hidup yang luar biasa.
Dilanjutkan menyandingkan peristiwa pemanggilan para murid
Yesus dengan Samuel dalam bacaan 1 Samuel 3:1-20. Berikan
penekanan dan ambil sejumlah ayat-ayat kunci, bahwa Samuel juga
orang biasa bahkan masih anak-anak, tetapi bersedia merespon
panggilan Tuhan, ini contoh keputusan sikap yang luar biasa.
26
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
Melalui Mazmur 139 mengingatkan sikap mawas diri yang
harus selalu dimiliki oleh setiap jemaat dalam menjaga kesucian
hidup agar pantas untuk berkata dan berkarya sebagai wujud
kesaksian hidup imannya. Serta (1 Korintus 6:12-20) standar moral
bersedia hidup tidak sama dengan dunia, melepaskan diri dari segala
keterikatan hawa nafsu kedagingan dan duniawi, dan mengikatkan
diri kepada Tuhan; menjadi tekanan menuju kesimpulan dan
penutup: berkata dan berkarya menjadi sarana menyatakan
kesaksian iman dan kebenaran, akan terjadi jika nilai-nilai luhur
karakter hidup orang Kristen senantiasa dijaga kualitasnya, maka
hidupnya juga akan menjadi garam dan terang dunia.
Khotbah Jangkep Januari 2021
27
KHOTBAH JANGKEP BAHASA INDONESIA
BERKATA DAN BERKARYA MENYATAKAN KEBENARAN
“Shalom… Semoga Kasih dan Kemurahan dari Tuhan Yesus
Kristus menyertai hidup saudara sekalian.” Amin.
Saudara-saudara yang terkasih, “berkata dan berkarya,
menyatakan kebenaran” menjadi tema renungan kita saat ini. Namun
kendala besar sering menghadang, bahkan memukul keras orangorang Kristen itu sendiri, bagaimana hal itu terjadi sedang mereka
akan bersaksi menyatakan kebenaran, tetapi hidup mereka
sendiri sedang hancur jauh dari kebenaran. Akibatnya kehilangan
kekuatan, kesaksiannya tumpul, hidup di dalam keadaan iman
yang suam-suam kuku. Tentu keadaan seperti ini melemahkan
karya kesaksian, untuk itu mari kita segarkan kembali, panggilan
kita masing-masing sebagai jemaat Kristus di dunia ini supaya kita
semua bisa berkata dan berkarya menyatakan kebenaran dengan
kuat dan gagah berani, tanpa dicacat dan dicela, bahkan berdampak
bagi dunia.
Mari kita simak bacaan Injil Yohanes 1:43-51, Yesus memilih
dan memanggil sejumlah orang menjadi muridNya. Melalui peristiwa
ini ada pelajaran yang bisa kita perhatikan bersama-sama, baik itu
cara unik yang dipakai, orang yang dipilih, sampai respon yang
diberikan oleh orang-orang tersebut saat Yesus memilih mereka
menjadi muridNya. Seperti yang terjadi saat itu, ada seorang bernama
Filipus; kepada orang ini Yesus berkata: “Ikutlah Aku” (ayat 43).
Artinya secara aktif Yesus memilih dan mengajak supaya ia menjadi
muridNya. Pertanyaannya, apakah ada sesuatu yang istimewa dengan
Filipus? Apakah dia orang yang super pandai, berpengetahuan
lebih, atau karena kesalehannya? Tidak ada yang bisa memastikan,
namun yang jelas Filipus langsung merespon ajakan itu, bahkan
langsung saja menghasilkan buah; yaitu ia bersaksi telah bertemu
28
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
dengan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh
para nabi, yaitu Yesus anak Yusuf dari Nazaret (Yoh 1:45).
Kesaksian yang sangat sederhana, tidak memakai bahasa yang
tinggi, teknik komunikasi masa, atau dengan suara menggelegar
yang meggetarkan hati. Tetapi kesaksian Filipus membuat daya tarik
tersendiri, sekalipun ditanggapi dengan penuh ragu dan sedikit
sinis: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” begitu
tanggapan Natanael salah seorang yang mendengar kesaksian Filipus
tentang Yesus. Ternyata tidak masalah, bukan menjadi kerisauan
bersaksi mendapat tanggapan yang seperti itu, bahkan tidak perlu
khawatir kesaksian itu sia-sia. Hal itu pula yang terjadi dengan
kesaksian Filipus, Natanael akhirnya tergerak sekalipun disertai ragu,
tetap melangkah walau hanya sekedar didorong rasa penasaran,
ingin berjumpa dengan Yesus yang disaksikan oleh Filipus.
Luar biasa, Natanael datang mencari Yesus, Natanael
melangkahkan kakinya menuju Yesus, dan akhirnya dia bertatap
muka dengan muka di hadapan Yesus. Tidak berhenti disitu, Yesus
dengan penuh antusias menegur sapa Natanael: "Lihat, inilah
seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Tegur sapa
ini menyentuh hati Natanael, ia merasa mendapat perhatian dan
dikenal secara khusus oleh Yesus. Natanael heran bagaimana
Yesus bisa menegenalnya? Selanjutnya lebih mengherankannya
lagi, sebab Yesus bisa menyatakan dimana dia berada sebelum dia
pergi bersama Filipus menghadap Yesus, dengan tepat Yesus
menyampaikan keberadaan Natanel, yaitu berada di bawah
pohon Ara (Yoh 1:48). Atas pengalaman unik ini pula, hati dan
keyakinan Natanael di teguhkan hingga ia tersungkur sujud dan
berucap: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!"
Sesederhana kisah tersebut, wujud bersaksi melalui berkata
dan berkarya menyatakan kebenaran itu bisa terjadi, tanpa beban
Khotbah Jangkep Januari 2021
29
yang lebih berat dari beban yang berupa apa yang kita takutkan.
Tanpa syarat yang rumit, sesimpel ajakan Yesus:”Ikutlah Aku”
berkata dan berkarya menyatakan kebenaran terjadi.
Lalu jika demikian apa yang sebenarnya menjadi penghalang
saudara bisa bersaksi, berkata dan berkarya menyatakan kebenaran?
Sebagian orang menjadi tumpul untuk bersaksi, yang lainnya
kehilangan keberanian berkata-kata tentang kebenaran, dan mungkin
yang lain menganggap begitu berat dan menakutkan bagi orang
Kristen jika ia harus bersaksi dalam kata dan karya untuk menyatakan
kebenaran di dunia ini. Ingat saudara, di hadapan Tuhan Yesus
kita ini telah dipilih, diselamatkan, dan dilengkapi dengan Roh
Kudus di dalam seluruh hidup kita. Bahkan diutus untuk bersaksi,
itu sudah menjadi kemestian atas hidup kita. Jadi mari kita
melepas segala hal yang membuat keberanian dan kekuatan kita
bersaksi bisa pulih dan senantiasa ada di hidup ini.
Pertama, lepaskan jiwa kita dari keterikatan hawa nafsu,
keberdosaan, terutama percabulan. Terhadap hal-hal ini, jika kita
masih terbelenggu dan terikat olehnya; maka kebenaran hidup
kita akan ternoda, cahaya hidup kudus kita akan tercemar hingga
tidak bisa terpancar kedamaian dan sukacita dari wajah, tutur
kata, dan karya kita, karena hidup kita tidak dalam keadaan tulus
dan murni. Harga hidup kita yang ternoda oleh dosa itu, kini telah
lunas ditebus dan dibayar dengan pengorbanan darah yang mahal,
kudus, tak bercacat dan bernoda yaitu darah Tuhan Yesus yang
sama dengan darah anak domba yang dikorbankan. Lepaskan hidup
ini dari keterikatan terhadap segala bentuk kecemaran dan dosa.
Kedua, buatlah jiwa kita selalu terikat kepada Tuhan, dengan
sikap memiliki relasi yang mendalam, mengasihi Tuhan dengan
segenap hati, jiwa, dan akal budi, bergaul dan beribadah didalam
roh, supaya roh kita dipersekutukan dengan Roh Tuhan, sehingga
30
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
hidup kita akan berkekuatan, penuh wibawa Ilahi, punya keberanian
penuh untuk bersaksi dalam kata dan karya.
Ketiga, menjaga kata dan karya yang kita lakukan berdasar
nilai luhur iman Kristen; berkata dan berkarya dengan ketulusan,
kejujuran, rendah hati, melayani, mengasihi, mengampuni, tidak
merugikan, memberi dampak terhadap kehidupan dengan sesama
yang bersifat melestarikan, membaharui, mendorong kemajuan,
membela yang lemah, mengupayakan kesejahteraan sosial, dan
mengembangkan kehidupan yang baik di tengah kebersamaan.
Saudara-saudara sekalian, kesaksian kita di dalam kata dan
karya menyatakan kebenaran, keberhasilannya bukan masalah
berapa banyak, besar, dan viralnya hasil, tetapi keberhasilan itu
ditentukan saat kita bersedia melakukan kesaksian tersebut
dalam segala keterbatasan, apa adanya diri kita saat bersaksi,
tidak perlu menunggu menjadi orang yang super sempurna tanpa
cacat dan cela, namun lahirkan kesaksian yang berasal dari isi batin
hasil pengalaman dan perjumpaan kita dengan karya Tuhan dan
segala keajaibanNya yang terjadi di dalam hidup kita. Roh Kudus
tidak jauh dari hidup saudara, Dia akan menolong dan memampukan
untuk menyatakan setiap kesaksian tersebut. Ingat, kesaksian
Filipus dipakai Roh Kudus untuk menggerakkan hati Natanael
hingga akhirnya percaya dan menjadi murid Yesus; Samuel dalam
kemudaannya oleh tuntunan Roh Allah dimampukan menyatakan
kebenaran dengan tepat bagi Imam Eli dan keluarganya, sekalipun
isi pernyataannya penuh resiko dan membawa ketidaknyamanan
sebagai yang muda menegur orang yang lebih tua dan terhormat;
namun Samuel menyelesaikan semua dengan tepat. Kini waktunya
bagi saudara sekalian, kembali memulai untuk berani bersaksi
melalui kata dan karya menyatakan kebenaran di dunia. Amin.
Khotbah Jangkep Januari 2021
31
KHOTBAH JANGKEP BAHASA JAWA
NGENDIKA LAN MAKARYA MRATELAKAKEN KAYEKTEN
“Syalom... Mugi Sih lan kamirahan saking Gusti Yesus Kristus
tansah wontena ing gesang para sedherek sadaya.” Amin.
Para sedherek ingkang kinasih, Ngendika lan Makarya
Mratelakaken Kayekten dados irah-irahan renungan wekdal punika.
Ananging pepalang ageng asring dados sandhungan, malah nggebug
tiyang-tiyang Kristen punika piyambak, kadospundi perkawis
punika dumadosipun, ing pundi sagedipun badhe mbabaraken
paseksi lan nyuwantenaken kayekten, menawi gesangipun piyambak
risak lan tebih saking kayekten. Akibatipun kecalan daya kekiyatan,
paseksinipun kethul, gesang pangandelipun kirang mantep. Temtu
kawontenan kados mekaten punika ngringkihaken daya paseksi
kita, awit mekaten sumangga kita segeraken malih timbalan kula
panjenengan sedaya minangka pasamuwanipun Kristus ing jagad
punika, supados kula panjenengan sedaya saged mbabar pangandikan
lan pakaryan mratelakaken kayekten kanthi kiyat lan sembada,
tanpa dipuncacat lan dipundaksia, malah saged ndayani bab
ingkang sae dhateng jagad punika.
Selajengipun sumangga kita suraos sesarengan Injil Yohanes
1:43-51, Gusti Yesus miji lan nimbali sawetawis tiyang dados
muridipun. Saking kedadosan punika wonten piwucal ingkang saged
kita gatosaken sesarengan, sae punika caranipun nimbali ingkang
karaos unik, piyantun ingkang kapiji, ngantos caranipun saben
piyantun anggenipun nanggepi nalika Gusti Yesus miji tiyang punika
dados muridipun. Kados ingkang kelampahan kala semanten, wonten
ingkang nami Filipus; dhateng piyambakipun Gusti Yesus ngendika:
“Melua Aku” (ayat 34). Tegesipun secara aktif saha langsung Gusti
Yesus piyambak ingkang miji lan ngajak supados Filipus dados
muridipun. Pitakenanipun, punapa wonten perangan istimewa
32
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
tumrap dhirinipun, ugi punapa piyambakipun punika piyantun
super lantip, gadhah ngelmu linuwih, utawi awit gesangipun
kebak ing kesalehan? Boten wonten ingkang saged mesthekaken,
namung ingkang cetha Filipus lajeng nanggepi pangajak dados
muridipun Gusti Yesus; malah langsung ngasilaken uwoh ing
pakaryanipun; inggih punika paseksi sampun pinanggih kaliyan
Panjenenganipun, ingkang sinebat dening Nabi Musa ing
salebeting Kitab Taurat lan dening para nabi, inggih punika Gusti
Yesus putraning Yusuf saking Nazaret ( Yoh 1:45).
Paseksi ingkang sanget prasaja, boten ngginakaken basa ingkang
muluk-muluk, mawi teknik komunikasi massa, utawi ngagem swanten
sora ingkang damel getering ati. Nanging paseksinipun Filipus
gadhah daya tarik piyambak, sanadyan dipuntanggepi kanthi
kebaking raos mangu-mangu lan kepara sinis: “Apa ana barang
kang becik saka Nasaret?” Mekaten tanggepaning Natanael salah
setunggaling piyantun ingkang ndherek mireng paseksinipun
Filipus bab Gusti Yesus. Nyatanipun boten masalah, boten dados
kuwatir mbabar paseksi pikantuk tanggapan ingkang kados
mekaten, ugi boten nguwatosi bilih paseksinipun badhe muspra.
Perkawis punika ingkang kelampahan wonten paseksinipun
Filipus, ngantos wusananipun Natanael osik manahipun sanadyan
ta sinarengan raos mangu-mangu, nanging tetep jumangkah nadyan
sadermi kabereg raos penasaran, kepingin pinanggih kaliyan
Gusti Yesus ingkang paseksinipun kacariyos dening Filipus.
Saestu ngedab-edabi, Natanael marek madosi Gusti Yesus,
sukunipun jumangkah tumuju dhateng Gusti Yesus, lan ing wusana
piyambakipun pinanggih aben ajeng kaliyan Gusti Yesus. Boten
namung dumugi ing ngriku, Gusti Yesus kanthi kebaking raos
sumanak uluk salam nyapa dhateng Natanael: “Lah, iku wong
Israel sejati, kang ora kadunungan cidra.” Sapa aruh punika njamah
manahipun Natanael, piyambakipun rumaos pikantuk kawigatosan
Khotbah Jangkep Januari 2021
33
lan dipuntepangi secara khusus dening Gusti Yesus. Natanael
nggumun kadospundi Gusti Yesus saged nepangi piyambakipun?
Lan selajengipun langkung nggumunaken piyambakipun malih,
awit Gusti Yesus saged nyariyosaken ing pundi piyambakipun
dumunung saderengipun kesah sesarengan Filipus marek Gusti
Yesus, kanthi trep Gusti Yesus ngandharaken dunungipun Natanael,
inggih wonten ing sangandhaping uwit anjir/ara (Yoh 1:48).
Saking pengalaman unik punika ugi, batin lan piandelipun Natanael
dipunteguhakan ngantos piyambakipun sumungkem sujud lan
munjuk matur: “Rabi, Panjenengan punika Putraning Allah,
Panjenengan punika Rajanipun Israel.”
Saprasajaning lampah cariyos kasebat, wujud paseksi lumantar
pangucap lan pakaryan mratelakaken kayekten punika saget
dumados, tanpa momotan ingkang linangkung awrat ingkang kita
ajrihi. Tanpa sarat rumit, saprasaja pangajakipun Gusti Yesus:
”Melua Aku” pangucap lan pakaryan mratelakaken kayekten
punika saged dumadi.
Lajeng menawi mekaten punapa sejatinipun ingkang dados
pepalang kagem para sedherek sedaya sagedipun paseksi, ngucap
lan makarya mratelakaken kayekten punika saged kelampahan?
Saperangan tiyang dados kethul paseksinipun, ingkang sanes
kecalan kekendelan wicanten bab kayekten lan mbok bilih
sanesipun gadhah pemanggih kadospundi awrat lan ngajrih-ajrihi
tumrap piyantun Kristen menawi piyambakipun kedah paseksi
ing pangucap lan pakaryan kagem mbabar kayekten ing jagad
punika. Emut para sedherek, ing ngarsanipun Gusti Yesus, kula
panjenengan sedaya punika sampun pinilih, kawilujengaken, lan
dipunjangkepi kanthi Roh Suci ing salebeting gesang panjenengan
lan kula. Malah dipunutus kagem paseksi menika sampun dados
pepesthen ing atas gesang kula panjenengan sedaya. Dados
sumangga kula panjenengan sedaya ngrucat sedaya perkawis ingkang
34
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
ndadosaken kekendelan saha kekiyatan kula panjenengan paseksi
saged pulih lan tansah wonten ing gesang punika.
Ingkang sepisan, ngrucat jiwa punika saking sedaya jireting
hawa nepsu, patrap dosa, utaminipun laku cabul. Tumrap perkawisperkawis punika, menawi kula panjenengan sedaya taksih kablenggu
lan kaiket ing kuwasanipun, pramila kayekten gesang kula
penjenengan badhe kajemberan, cahya gesang suci kula panjenengan
badhe jember, ngantos boten saged mancaraken katentreman lan
kabingahan saking pasuryan, pitembungan, lan pakaryan kula
panjenengan sami.; awit gesang kula panjenengan sami boten
saged ing kawontenan tulus lan murni. Bobot regining gesang kula
panjenengan sami ingkang kajemberan dosa punika, samangke
sampun lunas dipuntebus lan dipunbayar sarana pangorbananing
rahipun Gusti Yesus ingkang sami kaliyan rahipun cempe ingkang
kinorbanaken. Sumangga gesang punika dipunuwalaken saking
jireting dosa lan sedaya ingkang jember.
Kaping kalih, jiwa kula panjenengan sami punika, dipun
budidaya tansah kaiket nyawiji dhateng Gusti Allah; kanthi sikep
gadhah patunggilan ingkang lebet, nresnani Gusti Allah kanthi
sawetahing manah, jiwa, lan akal budi; mbangun pitepangan
kaliyan Gusti ing salebeting pangabekti ingkang lumampahipun
ing salebeting roh, supados roh kula panjenengan sami
dipuntunggilaken kaliyan Rohipun Gusti Allah; satemah gesang
kula panjenengan sami badhe kagungan kekiyatan, kebak ing
wibawaning Allah, kagungan kekendelan wetah kagem paseksi
ing salebeting tembung lan pakaryan.
Ingkang kaping tiga, tansah njagi pitembungan lan pakaryan
ingkang kula panjenengan sami tindakaken tansah adhedhasar
nilai luhur iman Kristen; mangucap lan makarya kanthi tulus,
jujur, lembah manah, lelados, nresnani, nngpunteni, boten damel
Khotbah Jangkep Januari 2021
35
rugi, paring daya pangaribawa dhateng gesang sesami ingkang
asipat nglestarekaken, nganyaraken, mbereg kemajengan, mbelani
ingkang ringkih, mbudidaya kesejahteraan sosial, lan mbangun
gesang ingkang becik ing tengah gesang sesarengan.
Para sedherek sedaya, paseksi kula panjenengan sami ing
wujud tembung lan pakaryan mratelakaken kayekten, kasilipun
punika boten masalah sepinten kathahipun, agengipun, lan sumebar
(“viral”)-ipun asil; ananging kasilipun punika katemtemtokaken
nalika kula panjenengan sami sumedya nindakaken paseksi ing
salebeting winatesing gesang kita, menapa wontenipun gesang
kita nalika paseksi, boten perlu nengga dados piyantun ingkang
super sempurna tanpa cacat lan cidra, nanging nglairaken paseksi
ingkang asalipun saking isining batin awit wohing olah
pengalaman lan patunggilaning gesang kaliyan pakaryaning Gusti
Allah saha sedaya kaeramanipun ingkang dumadi wonten ing
gesang kula panjenengan sami. Roh Suci boten tebih saking
gesang panjenengan, badhe mitulungi lan nyagedaken kagem
mratelakaken saben paseksi punika. Emut para sedherek,
paseksinipun Filipus dipunagem dening Roh Suci kagem
ngosikaken manahipun Natanael ngantos pitados lan dados
muridipun Yesus; Samuel ing kawontenan anemipun dening
tuntunaning Roh Allah dipunsagedaken mratelakaken kayekten
kanthi jumbuh kagem Imam Eli lan brayatipun, sanadyan isi
paseksinipun kebak resiko lan ndadosaken kawontenan boten
sekeca minangka piyantun anem caos pameleh piyantun ingkang
linangkung sepuh lan kinurmat. Ananging Samuel saged
ngrampungaken sedaya kanthi sae. Sapunika wekdal kagem kula
penjenengan sami, wangsul miwiti supados kebak ing kekendelan
mbabar paseksi, lumantar pitembungan saha pakaryan
mratelakaken kayekten ing jagad. Amin.
36
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
Minggu, 24 Januari 2021
Minggu Biasa II-Minggu ke-3 Setelah Epifani (Hijau)
TEMA PERAYAAN IMAN
Keseimbangan Hidup Sorgawi dan Duniawi
TUJUAN:
1. Menciptakan cara pandang yang benar terhadap nilai-nilai hidup
surgawi dan kehidupan di dunia.
2. Menjelaskan tanggung jawab kehidupan di dunia dengan menerapkan
tata nilai surgawi, supaya dunia dipenuhi kesejahteraan dan syalom
Ilahi.
DAFTAR BACAAN:
Bacaan I
Tanggapan
Bacaan II
Bacaan Injil
: Yunus 3:1-5,10
: Mazmur 62:6-13
: 1 Korintus 7:29-31
: Markus 1:14-20
DAFTAR AYAT LITURGIS
Berita Anuggerah
: Yohanes 17:15-17
Petunjuk Hidup Baru
: Yohanes 17:18
Persembahan
: 1 Tesalonika 5:18
DAFTAR NYANYIAN LITURGIS
Bahasa Indonesia
Nyanyian Pujian
: KJ 4:1-3
Nyanyian Penyesalan
: KJ 39:1,2
Nyanyian Kesanggupan
: KJ 440:1-3
Nyanyian Persembahan
: KJ 450:1Nyanyian Pengutusan
: KJ 363:1,2
Bahasa Jawa
Kidung Pamuji
Kidung Panelangsa
Kidung Kesanggeman
Kidung Pisungsung
Kidung Pangutusan
: KPJ 89:1,2
: KPJ 55:1,2
: KPJ 124:1,3
: KPJ 186:1: KPJ 355:1,2
Pdt Sugeng Prasetya, S.Pd, S.Th, M.Div (GKJ Klaten)
Khotbah Jangkep Januari 2021
37
DASAR PEMIKIRAN
Semakin hari pola dan bahkan gaya hidup manusia dari
generasi ke generasi menunjukkan kecenderungan yang sama,
hingga melahirkan budaya hidup manusia modern yang semua
serba cepat, memanfaatkan teknologi untuk menciptakan kecerdasan
buatan yang semakin hari menjadi bagian hidup manusia itu sendiri.
Tata nilai terhadap hidup juga turut mengalami perubahan warna
dan bahkan kiblat ukurannyapun berganti. Sikap dan perilaku
orang pasti ikut terhempas arus kemodernan zaman sehingga ikut
mengalami pergeseran. Tidak luput dari semua itu, hidup etika,
moral, dan spiritual juga turut dalam perubahan.
Wajah manusia menjadi sangat tidak seimbang, yang
semestinya adalah makhluk religius, berubah menjadi sangat sekuler;
kodrat sebagai makluk sosial berganti menjadi individualis
bahkan egois; mengagungkan hal-hal kebendaan yang sangat
materialis dan meninggalkan nillai-nilai spiritualis yang jauh
bernilai luhur dan abadi. Sifat duniawi semakin menguasai vs
watak sorgawi semakin dijauhi mungkin karena dipandang
irasional. Pewartaan Minggu ini, menjadi sarana menggugah
kesadaran setiap pendengarnya, supaya jalan hidup manusia
dikembalikan pada kiblatnya. Ajakan untuk hidup dalam
keseimbangan, serta membangun nilai harapan bersama agar
manusia kembali didalam segala keluhuran dan kemuliannya
sebagai ciptaan sempurna dari Sang Ilahi.
KETERANGAN BACAAN
Yunus 3:1-5,10
Kisah Yunus, adalah suatu kisah tradisi di dalam Kitab Suci
yang diyakini setiap pembacanya sebab memiliki korelasi histori
dengan kehidupan Umat Pilihan Tuhan yaitu orang-orang Yahudi
dengan hak kesulungan penerima warisan tanah perjanjian dan
pemegang status sebagai umat pilihan TUHAN. Keselamatan
38
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
ekslusif yang dijiwai Yunus sebagai keturunan Yahudi asli, menjadi
penghalang mengapa tugas besar menyerukan pertobatan bagi
keselamatan bangsa lain yaitu orang-orang Niniwe sempat berbelok
tujuannya, hingga Yunus harus dibuang dari kapalnya dan dimangsa
ikan besar di tengah lautan. Sampai akhirnya oleh kedaulatan
TUHAN, Yunus dimuntahkan dari perut ikan besar itu ke daratan.
Kasih TUHAN Allah untuk semua orang, menjadi dasar utama
seruan pertobatan bagi Niniwe. TUHAN Allah tidak menghendaki
kebinasaan tetapi pertobatan, supaya ada keselamatan bagi setiap
manusia yang diciptakanNya. Atas kehendak inilah, TUHAN Allah
mengutus Yunus menyerukan pertobatan orang-orang Niniwe.
Seruan pertobatan itu diperhatikan, didengar, dan di tanggapi
oleh orang-orang Niniwe, baik itu raja, orang dewasa, anak-anak,
sampai seluruh makluk yang ada di Niniwe dibawa dalam
pertobatan yang mendalam kepada TUHAN Allah. Tetapi bagi
Yunus ini tidak sesuai isi dan pandangan hatinya. Yunus
memandang tidak ada bangsa lain yang bisa hidup besar,
menerima kebaikan TUHAN, dan diberi keselamatan keculi suku
bangsanya saja. Karena itu ia mencoba menghindar saat TUHAN
mengutusnya ke Niniwe namun ia malah berangkat ke Tarsus.
Mazmur 62:6-13
Mazmur ini berisi ungkapan kagum kepada kebesaran TUHAN
dalam memberi perlindungan dan keamanan, sehingga pemazmur
merasa tenang dekat dengan TUHAN (ay 1-3). Lebih jelas lagi isi
hati pemazmur dalam menyampaikan pengalamannya berlindung
kepada TUHAN dan mendapatkan rasa tenang itu seutuhnya
tertulis di (ay 6-9).
Pengalaman merasakan perlindungan dari TUHAN ini dimiliki
pemazmur disaat ia sedang menghadapi orang-orang yang berlaku
mengancam, merancangkan kejatuhan, berlaku tidak adil dan
bahkan congkak terhadap pemazmur sendiri. Melalui pengalaman
Khotbah Jangkep Januari 2021
39
tersebut, pemazmur menemukan tempat berlindung bagi jiwanya
sehingga memperoleh ketenangan. Pada bagian akhir (ay 11), ada
nasehat supaya hidup ini jangan bergantung dan melekat pada
harta kekayaan, apalagi kekayaan hasil pemerasan, kecurangan,
dan perampasan.
1 Korintus 7:29-31
Surat Paulus kepada jemaat di Korintus memiliki pesan moral
tentang standar hidup jemaat Kristus di dunia. Pesan ini hasil refleksi
terhadap semua pengajaran Tuhan Yesus dan pergumulan jemaat
di kota Korintus khususnya.
Pada bacaan 1 Korintus 7:29-31, merupakan sebagian dari
nasehat dan ketetapan yang dituliskan Paulus mengenai hidup
seperti waktu dipanggil menjadi jemaat Yesus Kristus. Keadaan
hidup mereka waktu dipanggil secara lahiriah biarkanlah seperti
apa adanya. Tetapi keadaan mereka secara rohani, dari hari ke
hari hidupnya harus semakin menyatakan perubahan menjadi
serupa dengan Yesus Kristus dan semakin berorientasi pada
hidup abadi. Berlaku hidup ‘seolah-olah’ menjadi pesan pada
bagian ay 29-31. Sikap hidup demikian diambil sebagai bentuk
sedang menempatkan prioritas utama menjaga jaminan hidup
abadi diatas segala kepentingan hidup di dunia ini. Hal ini dengan
alasan waktu yang semakin singkat dan beraneka ragam keterikatan
bisa terjadi, terikat dengan: anak dan istri, harta kekayaan, dan
segala macam harta milik yang duniawi ini. Terutama keterikatan
yang berakibat melemahkan nilai-nilai abadi yang seharusnya
dipegang teguh.
Markus 1:14-20
Ayat 14-15, merupakan inti pesan pewartaan Yesus atas orangorang pada saat itu: Bertobatlah dan percayalah kepada Injil,
kerajaan Allah sudah dekat. Seruan pertobatan ini merupakan
seruan lanjutan yang dilakukan oleh Yesus, setelah Yohanes si
40
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
Pembaptis dan Pengkhotbah padang gurun itu mati dipenggal
kepalanya oleh Herodes, ternyata tidak menyurutkan Yesus untuk
tetap menyuarakan seruan yang sama.
Selanjutnya untuk mewartakan pertobatan serta isi Injil
kepada seluruh dunia, Yesus mengajak serta orang-orang menjadi
muridNya. Ayat 16-20, menjadi catatan peristiwa detail bagaimana
satu persatu murid Yesus dipanggilNya. Termasuk dua orang murid
yang bernama Simon dan Andreas, semula mereka adalah nelayan
penjala ikan, lalu dipanggil oleh Yesus untuk menjadi muridNya
dan diutus untuk menjadi penjala manusia (ay 17). Kemudian
Yesus juga memanggil murid-murid yang lainnya yaitu: Yakobus
anak Zebedeus dan Yohanes. Respon mereka hampir sama, yaitu
masing-masing bergegas meninggalkan jala dan perahu mereka,
serta mengikut Yesus kemanapun Dia pergi. Setiap murid ini
gambaran kehidupan orang yang bisa memadukan antara bobot
hidup dunia dan sorgawi, yang mereka lakukan adalah peristiwa
di muka bumi, namun bernilai sorgawi.
POKOK DAN ARAH PEWARTAAN
Mengangkat fakta gaya hidup manusia di zaman modern ini,
terutama gaya hidup materialis, hedonisme, dan keduniawian.
Kesuksesan seorang menjalani hidup di dunia ini selalu diukur
dari sudut pandang tersebut; arti dan makna hidup itu sendiri menjadi
sangat tipis; semua di ukur berdasarkan materi, uang, dan kekayaan.
Mengingatkan panggilan Tuhan Allah kepada setiap orang,
baik panggilan untuk hidup didalam pertobatan, sampai panggilan
didalam melaksanakan perintah TUHAN: mewartakan pertobatan
dari dosa serta keselamatan di dalam Nama Tuhan Yesus dan
memelihara iman setiap umatNya.
Menyegarkan komitmen jemaat untuk bersedia menjadi
penjala manusia, meninggalkan segala macam keterikatan dengan
Khotbah Jangkep Januari 2021
41
hal-hal duniawi, mengikatkan diri dengan TUHAN didalam karya
pelayanan, dan selalu menjadi agen meluaskan warta kerajaan
Allah di muka bumi.
Yang terakhir, mengajak jemaat memiliki kesadaran penuh
bahwa Tuhan Yesus telah mendengar dan senantiasa menolong
hidup mereka sampai selama-lamanya. Sehingga jemaat bisa
menghidupi kehidupan di bumi ini, untuk membangun pengharapan
surgawi.
42
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
KHOTBAH JANGKEP BAHASA INDONESIA
KESEIMBANGAN HIDUP SORGAWI DAN DUNIAWI
Salam Sejahtera, saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan
Yesus.
Fakta tentang kehidupan manusia di dunia modern akhir
tahun 2019 silam hingga pertengahan tahun 2020, diperhadapkan
dengan fenomena yang membuat semua orang di seluruh muka
bumi ini tercengang. Fenomena yang di picu oleh pandemi corona
covid-19 mengubah seluruh sendi kehidupan modern tanpa
kecuali; semua orang tanpa memandang wilayah hunian, suku
bangsa, agama, tingkat peradaban dan kemoderenannya, strata
ekonomi, budaya, dan yang lainnya. Terhadap pandemi ini tidak
ada yang sanggup menaklukkan sekalipun dengan tingkat kecerdasan
dan tingginya ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia di muka
bumi ini. Lockdown...bukan sekedar cara memutus mata rantai,
tapi juga bentuk dan bukti pukulan dahsyat pandemi ini berdampak
melumpuhkan semua sendi kehidupan.
Hiruk pikuk manusia modern dengan segala kebisaannya di
segala sendi kehidupan, seketika terdiam; seolah tidak berdaya
dan tidak punya apa-apa untuk di agung-agungkan. Kodrat dasar
hidup manusia tersentil untuk kembali pada kiblatnya sebagai
ciptaan sempurna namun penuh dengan kekurangan dan
keringkihannya pula. Sebagai makhluk sosial namun sudah
sedemikian rupa jatuh kedalam sikap individual, dan baru sadar
kehilangan kodrat sebagai makluk sosial justru disaat segala
sesuatu yang bersifat sosial dibatasi pelaksanaannya: tidak boleh
berjabatan tangan dengan setiap orang, duduk harus dibuat
berjauhan, pertemuan berkelompok dengan sejumlah orang
termasuk pertemuan ibadah harus dihindarkan, sebaliknya dulu
perjumpaan dengan anggota keluarga hanya mendapat porsi
Khotbah Jangkep Januari 2021
43
waktu seluangnya saja, kini setiap hari tinggal, bekerja, belajar
dan bahkan beribadah pun di rumah bersama keluarga. Dulu
hampir seluruh hari dipergunakan untuk beraktifitas meninggalkan
rumah, namun saat dilanda pandemi corona semua harus mau
berada di rumah.
Keadaan itu memaksa setiap manusia untuk menyadari
betapa berharga dan istimewanya arti hidup sebagai makluk
sosial di hadapan Tuhan dan sesama. Rasa merindukan adanya
pertemuan, berjabatan tangan, tegur sapa dan canda tawa dengan
sanak saudara sekalian menjadi kebutuhan yang membangkitkan
kesadaran manusia menghargai luhurnya arti kehidupan itu
sendiri. Harta kekayaan, jabatan, dan segala hal keduniawian
disadari bukan jaminan yang mampu menjawab pergumulan
hidup manusia, dan kesadaran setiap orang untuk kembali
mencari hadirat TUHAN sebagai Pribadi Ilahi yang diandalkan
mulai bernyala di hati setiap orang: mereka yang selama ini jarang
berdoa, pergi beribadah, membaca Kitab Suci, memuji Tuhan; kini
dengan segala kesadaran mencari TUHAN dalam laku ibadah
mereka bahkan bersama-sama keluarga masing-masing.
Pertobatan tidak ada batas waktunya untuk disebut terlambat.
Semua bentuk perubahan dari kerusakan menuju kebaikan,
keberdosaan menuju kekudusan, di hadapan TUHAN semua
berlangsung tanpa batas waktu dan tidak ada kata terlambat.
Bacaan Kitab Yunus 3:1-5,10 mencontohkan pertobatan tanpa
batas waktu. Raja dan seluruh rakyat Kota Niniwe menerima
teguran dan sekaligus kesempatan untuk bertobat dari segala
dosa dan kesalahannya kepada TUHAN. Melalui Yunus seruan
pertobatan dan pengampunan akan diterima Niniwe jika ada
pertobatan, berita ini disuarakan TUHAN dengan tujuan
penyelamatan. TUHAN menciptakan seluruh umat manusia di
muka Bumi ini, tidak untuk dibinasakan tetapi diselamatkan.
44
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
Keselamatan dari TUHAN itu berlaku untuk semua orang, atas
semua suku bangsa di dunia, dan keselamatan yang membawa
kedamaian. Niniwe luar biasa, saat seruan untuk bertobat itu
diterima, dari Raja sampai seluruh rakyatnya bahkan binatang
dan orang-oarang yang ada di tengah keluarga masing-masing
langsung merendahkan diri dalam pertobatan dan penyesalan
yang sangat mendalam di hadirat TUHAN. Pertobatan dan penyesalan
dengan segala kerendahan hati itu digambarkan dengan sikap:
berpuasa, mengenakan kain kabung, dan duduk dilantai diatas
abu (Yunus 3:5); disertai penyesalan dan pengakuan atas dosadosa mereka kepada TUHAN. Akhirnya TUHAN berkenan menerima
pertobatan Niniwe dan diselamatkan (Yunus 3:10).
Bentuk pertobatan bagi orang Kristen pada saat ini, seperti
yang diajarkan Rasul Paulus kepada Jemaat di Kota Korintus,
tertulis di dalam bacaan 1 Korintus 7:29-31. Pertobatan itu bukan
persoalan perubahan wujud fisik, keadan status seseorang belaka;
namun lebih kepada perubahan batin, karakter hidup yang baru,
dan kerelaan melepaskan diri dari segala keterikatan terhadap
hal-hal duniawi. Paulus juga mengajarkan wujud hidup didalam
pertobatan itu berupa prinsip hidup: ”seolah-olah.” Artinya saat
kita masih hidup di dunia ini, namun kita bersikap seolah-olah sudah
selayaknya menjalani hidup didalam kekekalan; sikap ini perlu
dimiliki agar jangan ada seorang pun yang sudah percaya kepada
Tuhan Yesus serta menerima pembaruan hidup dalam pertobatannya,
namun selama masih tinggal di dunia ini hidupnya kembali terikat
dengan hal-hal yang fana dan terlepas dari pengharapan hidup
abadi yang penuh kesempurnaan nanti. Inilah masa penantian
yang waktunya hanya singkat saja kata Paulus, maka jangan
sampai kita melepaskan diri dari karya penyelamatan yang sudah
dianugerahkan TUHAN kepada setiap orang yang percaya kepada
Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan penebus dosanya.
Khotbah Jangkep Januari 2021
45
Sedangkan Tuhan Yesus sendiri mengajarkan dengan jelas di
dalam Injil Markus 1:14-20 bahwa kehidupan manusia di dunia ini
harus diikuti dengan keyakinan bahwa di dalam Nama Yesus
barang siapa yang bertobat dan percaya kepadaNya ia akan
dikaruniai keselamatan. Percaya dan bertobat ini harus dilakukan
secepatnya, mumpung masih ada waktu sebelum tiba pada saatnya
Kerajaan Allah itu akan datang kedunia. Hal ini mengandung arti
bahwa sekalipun kita masih hidup di bumi, tetapi pengharapan
akan turut serta menerima mahkota kemuliaan dari TUHAN dan
tinggal kekal di KerajaanNya harus selalu diingat, dinanti dan
diharapkan kedatangannya, serta menjaga agar hidup iman kita
tidak tergoyahkan oleh beraneka ragam peristiwa yang bisa
melemahkan iman.
Merenungkan dan merangkai setiap sumber bacaan tersebut,
membawa kita pada kesimpulan ajaran yang bisa kita petik
intinya sebagai berikut:
Pertama, anugerah penyelamatan manusia dari segala kerusakan
dan kebinasaan karena dosa telah diberikan TUHAN melalui
Yesus Kristus sebagai penebus dosa dan Juruselamat manusia.
Kedua, setiap orang yang sudah bertobat dan percaya kepada
Yesus sebagai TUHAN dan Juru selamatnya, wajib menjalani
kehidupan di dunia ini dengan seimbang. Selalu memelihara
imannya, tidak mudah goyah terhadap segala godaan di dunia,
mengisi hidup dengan pertobatan, serta melepaskan diri dari
segala pengaruh dunia dan berbuat “seolah-olah” tidak memiliki
harta dunia, terikat oleh beragam status, dan tidak mempunyai
hak milik terhadap harta dunia.
Ketiga, untuk menjaga kehidupan dunia seimbang dengan harapan
hidup surgawi; yang diperlukan adalah membangun pertobatan
sepanjang waktu ketika kita masih hidup di bumi ini.
46
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
Saudara sekalian yang terkasih di dalam nama TUHAN Yesus
Kristus,
Mewujudkan keseimbangan hidup duniawi dengan surgawi,
juga bisa tercermin dari sikap orang-orang yang dipanggil dan
dipilih menjadi murid Yesus, diantaranya Simon dan Andreas. Mereka
adalah para nelayan yang sehari-harinya bekerja menjala ikan di
danau Galilea. Mereka dipanggil dan dipilih oleh Yesus untuk menjadi
muridNya, dan Yesus berkata kepada mereka: “Mari ikutlah Aku
dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” mereka langsung
menanggapi dan menerimanya (Markus 1:18) bahkan meninggalkan
jala dan pekerjaan tersebut. Peristiwa ini menggambarkan bagaimana
pekerjaan sorgawi menjadi murid dan mengikut Yesus menjadi
pilihan yang berharga, menjadi penjala manusia lebih utama dari
pada penjala ikan, yang surgawi dan abadi mendapat perhatian
diatas yang duniawi dan fana. Bagaimana dengan hidup saudara?
Sudahkan kehidupan duniawi seimbang dengan sorgawi? Atau mana
yang lebih utama memberikan tenaga, pikiran, waktu, harta untuk
hal-hal duniawi atau dengan segala kerelaan saudara tinggalkan
hal-hal duniawi dan: “Mari ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan
penjala manusia.” Amin.
Khotbah Jangkep Januari 2021
47
KHOTBAH JANGKEP BAHASA JAWA
KESEIMBANGAN GESANG KASWARGAN LAN KADONYAN
Salam rahayu, para sederek ingkang kinasih ing Gusti Yesus,
Kasunyatan gesanging manungsa ing zaman modern wekdal
punika, wonten ing pungkasan tahun 2019 dumugi pertengahan
tahun 2020, dipun abenajengaken kaliyan kasunyatan gesang
ingkang ndamel sedaya manungsa ing salumahing jagad punika
gonjang-ganjing kami tenggengen. Kasunyatan kelampahanipun
kawiwitan saking wontenipun pandemi wabah virus corona
covid-19, saking punika ndadosaken jagad ewah saknalika ing
sedaya sendi gesang masyarakat modern; sedaya manungsa tanpa
mawang wilayah panggenan, suku bangsa, agami, tingkat
peradaban lan kemoderenan gesangipun, drajad ekonomi,
budaya, lan sanes-sanesipun. Dhateng pandemi punika, dereng
wonten ingkang saged nelukaken sanajan kanthi ngginakaken
kapinteran pikiranipun, saha drajad ilmu pengetahuan inggil
ingkang dupun gadahi manungsa ing jagad wekdal punika.
Lockdown....mboten namung sakdremi istilah lan ugi cara medhot
mata rantai sumebaring pandemi covid 19, ananging sejatinipun
ugi minangka wujud lan bukti gebug ingkang ageng dening
pandemi dhateng sedaya gesanging manungsa.
Mobah mosik gesanging manungsa modern kanthi sedaya
kasagedanipun ing sedaya babagan gesang, saknalika kendel tanpa
suwanten, kados-kados tanpa daya lan mboten gadah napa-napa
ingkang saged kaagung-agungaken. Kodrat dasaring manungsa kaosik
supados wangsul dhateng kiblatipun minangka manungsa titah
sampurna nanging ugi titah ingkang kebak dening kekirangan lan
karingkihanipun ugi. Minangka makluk sosial nanging sampun
semanten rupi dawah ing saklebeting patrap individual, lan nembe
sami sadhar menawi kecalan kodrat minangka makluk sosial malah
48
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
ing wegdal nalika sedaya ingkang asipat sosial dipun batesi
tumandukipun: mboten pareng salaman kalih saben tiyang,
lungguhipun kedah dipun damel mawi jarak ingkang arang-arang,
pepanggihan manunggil kelompok kaliyan sagolongan tiyang
kalebet pepanggihan pangibadah kedah dipun inggati; kosok
wangsulipun rumiyin pepanggihan kaliyan anggota brayat namung
pikantuk porsi wekdal sak longgare utawi sak koberipun kemawon,
sak punika saben dinten kedah ing griyo, nyambut damel, sinau,
lan malah pangibadah ugi ing griya sesarengan brayat. Rumiyin
meh sedaya dinten dipun ginakaken aktifitas nilar griya, nanging
nalika pandemi corona sedaya kedah purun ing griya.
Kawontenan punika meksa saben tiyang purun ngrumosi
mendahane ageng ajinipun lan mirungganipun manungsa sinebat
makluk sosial ing ngarsanipun Gusti Allah lan sesami. Rasa kangen
wontening pepanggihan, salaman, uluk salam sinarengan guyon,
gojekan kaliyan para kadang dados kabetahan ingkang saget
mbangkitaken kesadaraning manungsa ngajeni sepinten luhuring
maknaning gesang punika piyambak. Banda kasugihan, kelanggahan
lan sedaya perkawis kadonyan dipunakeni sanes jaminan ingkang
sanggup paring jawaban tumrap pergumulan gesanging manungsa,
lan dados pambereg sadaring sedaya manungsa kagem wangsul
madosi kalenggahan Agungipun Gusti Allah, minangka Pribadi
Ilahi ingkang dipun andelaken wiwit murup ing atining saben
manungsa: manungsa ingkang sakwetawis dangu punika awisawis ndedonga, ngibadah, maca kitab suci, ngluhuraken Gusti;
sakmangke kanthi sedaya kesadaranipun sami madosi Gusti Allah
ing salebeting lampah ngibadah malah sesarengan kaliyan
keluwarganipun piyambak-piyambak.
Mratobat mboten wonten tapel wates wekdal telatipun. Sedaya
wujud ewah-ewahan saking kahanan risak tumuju sae, kahanan
dosa tumuju suci, ing ngarsanipun Gusti sedaya lumampahipun
Khotbah Jangkep Januari 2021
49
tanpa wates wegdal lan mboten wonten tembung telatipun. Waosan
Kitab Yunus 3:1-5,10 paring conto pamratobat tanpa winates ing
wegdal. Raja lan sedaya rakyat kitha Niniwe nampi pameleh lan ugi
kaparingan wekdal mratobat saking sedaya dosa saha kalepatanipun
dhumatheng Gusti Allah. Lumantar Yunus, dawuh supados mratobat
saha apuraning dosa badhe dipun paringaken dhateng ingkang
purun mratobat, pawartos punika dipun suwantenaken dening
Gusti Allah kanthi ancas supados kawilujengan kebabar. Gusti Allah
nitahaken sedaya umat manungsa ing bumi, mboten karancang
kasirnakaken ananging supados dipun wilujengaken. Kawilujengan
saking Gusti Allah punika lumampahipun kagem sedaya manungsa,
suku bangsa ing salumahing jagad, saha kaslametan ingkang
ndatengaken katentreman. Niniwe saestu ngedab-edabi, nalikanipun
swanten sora supados sami mratobat dipun tampeni, saking Raja
ngantos dumugi masyarakat, malah sato kewan ingon lan tiyangtiyang ingkang wonten ing tengah-tengah brayatipun lajeng sami
ngasoraken dhiri ing salebeting sikap mratobat saha nggetuni
kanthi sak lebet-lebetipun sedaya dosa-dosa ing ngarsanipun
Gusti Allah. Pamratobat saha nggetuni kanthi kebaking raos
andhap asor lan ngasoraken sarira punika dipun gambaraken
lumantar patrap: pasa, ngagem kain kabung, lan sami lenggah
ngandap sila ing sak nginggiling awu (Yunus 3:5); dipun sarengi
ugi raos kedhuwung lan ngakeni dosa-dosanipun wonten ngarsaning
Gusti Allah. Wusananipun Gusti Allah kersa nampi pamratobatipun
Niniwe lan dipun wilujengaken (Yunus 3:10).
Wujuding pamratobat tumrap tiyang Kristen wekdal sakmenika,
kados ingkang dipun wucalaken dening Rasul Paulus dhateng
Pasamuwan ing Kitha Korintus, sinerat ing waosan 1 Korintus
7:29-31. Pamratobat punika mboten namung perkawis ewahing
wujud fisik, punapadene namung adhedhasar kawontenan status
setunggaling tiyang kemawon; nanging langkung saking punika
wonten ing ewah-ewahan batin, karakter gesang anyar lan raos
50
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
rila eklas ngluwari diri saking sedaya kawontenan kaiket dening
perkawis kadonyan. Paulus ugi mbabar piwucal wujuding gesang
ing salebeting pamratobat punika arupi gesang mawi prinsip:
“kaya-kaya/kados-kados” (bhs Indonesia: “seolah-olah”). Tegesipun
nalika kula panjenengan sami taksih gesang ing bumi, nanging
kula panjenengan sami nggadahi sikap “kados-kados” sampun
kadosdene nglampahi gesang ing alam langgeng; patrap mekaten
punika perlu dipun gadhahi supados sampun ngantos wonten
setunggal tiyang ingkang sampun sami pracaya dhateng Gusti
Yesus sarta nampi anyaring gesang lumantar pamratobatipun,
nanging sakdangunipun taksih manggen ing jagad punika
gesangipun wangsul malih kaiket dening perkawis-perkawis ingkang
muspra lan ucul saking pangajeng-ajenging gesang langgeng ingkang
kebak kasampurnan tembenipun. Punika mangsa ngwantu-antu
ingkang wegdalipun namung rikat kemawon ngendikanipun Rasul
Paulus, mila sampun ngantos kula panjenengan sami ngeculaken diri
kita saking pakaryan kawilujengan ingkang sampun kanugrahaken
Gusti Allah kagem saben tiyang ingkang pracaya dhateng Yesus
Kristus minangka Juru Wilujeng lan panebusing dosa.
Wondene Gusti Yesus piyambak paring piwucal kanthi cetha
wonten ing Injil Markus 1:14-20 bilih gesangipun manungsa ing
jagad punika kedah dipun sarengi kanthi keyakinan bilih wonten
ing Asmanipun Gusti Yesus, sok sintena ingkang mratobat lan
pitados dhateng Gusti Yesus, tiyang punika badhe nampi sihrahmat
kawilujengan. Pitados lan mratobat punika kedah enggal
dipunlampahi, mumpung taksih wonten wegdal sakderengipun
mangke ndungkap rawuhipun Kratoning Allah ing tengahing bumi.
Perkawis punika ngemu teges bilih sanadyan kula panjenengan
sami taksih gesang ing jagad, ananging pengajeng-ajeng badhe
nderek nampeni mahkuthaning kamulyan saking Gusti Allah lan
mapan ing kelanggengan Kedatoning Allah kedah tansah dipun
emut-emut lan dipun antu-antu dhatengipun, sarta njagi supados
Khotbah Jangkep Januari 2021
51
iman kula panjenengan sami mboten goyah dening maneka-werni
kedadosan ingkang saget ngringkihaken iman.
Ngraos-raosaken saha ngronce saben sumber waosan ayatayat kasebat, nuntun kula panjenengan sami dhateng ringkesaning
piwucal ingkang saged kita pethik mekaten:
Sepisan, Sihrahmat milujengaken manungsa saking karisakan lan
kamuspran awit karana dosa Gusti Allah sampun maringaken Yesus
Kristus minangka panebus dosa lan Juru Wilujenging manungsa.
Kaping kalih, saben tiyang ingkang sampun mratobat lan pitados
dhateng Yesus minangka Gusti Allah lan Juru Wilujengipun, kedah
nglampahi gesang ing jagad punika kanthi seimbang. Tansah njagi
iman, mboten gampil keguh dhateng sedaya godhaning jagad,
ngiseni gesang kanthi patrap mratobat, sarta ngluwari gesang
saking sedaya godhaning jagad lan tumindak “kaya-kaya” mboten
nggadahi bandha donya, kaiket dening mawarni-warni status, lan
mboten nggadahi hak melik dhateng bandha donya.
Kaping tiga, supados saged njagi gesang ing jagad punika seimbang
kaliyan pengajeng-ajeng gesang kaswargan, ingkang dipun betahaken
inggih punika mbangun pamratobat sak lamining wekdal nalika
kula penjenengan sami taksih gesang ing jagad punika.
Para sederek ingkang kinasih ing Asmanipun Gusti Yesus Kristus...
Mujudaken keseimbangan gesang jagad kaliyan kaswargan,
ugi saged kagambar saking sikap tiyang-tiyang ingkang dipun timbali
lan pinilih dados muridipun Yesus; ing antawisipun Simon lan
Andreas. Sanak sedherek punika para juru amek ulam ingkang
saben dintenipun nyambut damel njala ulam ing gisiking Galilea.
Para sedherek punika dipun timbali lan pinilih dening Gusti Yesus
supados dados muridipun, lan Gusti Yesus ngandika dhateng para
tiyang punika: ”Ayo melua Aku, lan kowe bakal padha tak dadekake
juru amek wong” para sedherek punika lajeng nanggepi lan nampeni
52
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
(Markus 1:18) malah nilar jala lan pedamelanipun. Kedadosan
punika nggambaraken kados pundi panyambutdamel kaswargan
dados murid lan ndherek Gusti Yesus dados pilihan ingkang aji,
dados tukang njala/amek wong langkung utama tinimbang tukang
njala ulam, ingkang asipat kaswargan lan langgeng pikantuk
kawigatosan sak kelangkung inggil saking ingkang kadonyan.
Kados pundi gesang panjenengan para sederek sedaya...? Punapa
sampun timbang antawisipun gesang kadonyan kaliyan kaswargan...?
Utawi pundi ingkang linangkung utami nyaosaken tenaga, pikiran,
wegdal, bandha kagem perangan-perangan kadonyan punapa
kanthi sedaya lilaning manah, para sederek kersa nilar peranganperangan kadonyan lan... ”Ayo melua Aku, lan kowe bakal padha
tak dadekake juru amek wong.” Amin.
Khotbah Jangkep Januari 2021
53
Minggu, 31 Januari 2021
Minggu Biasa III-Minggu ke-4 Setelah Epifani (Hijau)
TEMA PERAYAAN IMAN
Bijak Dalam Bertindak
TUJUAN:
Jemaat dapat menggunakan pengetahuan maupun talentanya dengan
bijaksana.
DAFTAR BACAAN:
Bacaan I
Tanggapan
Bacaan II
Bacaan Injil
: Ulangan 18:15-20
: Mazmur 111
: 1 Korintus 8:1-13
: Markus 1:21-28
DAFTAR AYAT LITURGIS
Berita Anugerah
: Roma 3:23-24
Petunjuk Hidup Baru
: Yakobus 3:13
Dasar Persembahan
: Amsal 11:25
DAFTAR NYANYIAN LITURGIS
Bahasa Indonesia
Nyanyian Pujian
: KJ 6:1, 4
Nyanyian Penyesalan
: KJ 25:1-3
Nyanyian Kesanggupan
: KJ 402:1, 3
Nyanyian Persembahan
: KJ 288:1-…
Nyanyian Pengutusan
: KJ 400:1, 3
Bahasa Jawa
Kidung Pamuji
Kidung Panelangsa
Kidung Kesanggeman
Kidung Pisungsung
Kidung Pangutusan
: KPJ 29:1-3
: KPJ 52:1, 2
: KPJ 78:1, 3
: KPJ 170:1, 2
: KPJ 91:1, 2
Pdt.Elia Dwi Praseyo, M.Si (GKJ Sabda Sumunar)
54
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
DASAR PEMIKIRAN
Di dalam Amsal 8:12 tertulis: “Aku, hikmat, tinggal bersamasama dengan kecerdasan, dan aku mendapat pengetahuan dan
kebijaksanaan.” Ayat ini menyatakan bahwa hikmat (kebijaksanaan)
tidak bisa dipisahkan dari pengetahuan dan oleh karena itu setiap
orang harus berusaha mendapatkan dan memiliki kedua hal
tersebut. Namun fenomena di masyarakat memperlihatkan
kecenderungan banyak orang berlomba-lomba untuk mengejar
pengetahuan saja, supaya dianggap yang paling tahu, paling
pintar, sehingga bisa membanggakan/menyombongkan diri.
Pengetahuan dianggap sebagai hal yang paling utama lalu dikejar
mati-matian, namun melupakan hikmat. Sehingga ketika sudah
memiliki pengetahuan pun, perilaku/tindakan dalam menggunakan
pengetahuan tersebut jauh dari kata bijak. Pengetahuan pada
akhirnya tidak selalu membawa kebaikan, justru menjadi pemicu
masalah dalam kehidupan manusia. Melalui ibadah minggu ini,
kita diingatkan untuk mencari hikmat, supaya senantiasa bijak
dalam bertindak.
KETERANGAN BACAAN
Ulangan 18:15-20
Bacaan pertama ini berisi pesan sekaligus peringatan kepada
umat Israel, ketika nanti hidup di tanah Kanaan, mereka harus
berhati-hati dalam belajar. Ayat 15-20 ini mengingatkan supaya
umat hanya mendengarkan suara nabi Tuhan. Umat harus
mendengar dan belajar dari sumber yang benar, karena itu akan
menuntun mereka untuk terus hidup dengan benar. Oleh
karenanya dalam bagian ini, melalui nabi Musa, Tuhan
menyatakan akan membangkitkan nabi di tengah-tengah umat
Israel. Nabi inilah yang akan menyampaikan firman dan perintahperintah dari Tuhan. Setiap tindakan umat Israel lakukan harus
sesuai dengan apa yang disampaikan nabi utusan Tuhan.
Khotbah Jangkep Januari 2021
55
Jika memerhatikan ayat-ayat sebelumnya dalam perikop ini
(ay 9-14) berisi perintah kepada umat Israel untuk setia kepada
Allah. Mereka diingatkan agar tidak “belajar” dari penduduk asli
Kanaan dalam hal ritual ibadah yang tidak diperkenankan Allah.
Jangan sampai umat ini tergoda dan jatuh pada praktik ritual
ibadah yang dianggap sebagai kekejian di hadapan Tuhan. Agama
penduduk Kanaan masih melakukan praktik pengorbanan
manusia atau meminta petunjuk dari peramal dan petenung yang
meminta pertolongan dari roh orang mati. Itu semua harus
dihindari, supaya tindakan dan perilaku umat Israel tidak bercela
di hadapan Tuhan.
Mazmur 111
Mazmur 111 mengajarkan manusia untuk memiliki rasa takut
kepada Allah. Ayat 2-9 menggambarkan berbagai karya dan
perbuatan yang dilakukan oleh Tuhan Allah. Allah menyatakan
kebajikan-Nya, melalui perbuatan-perbuatan yang ajaib. Melalui
setiap karya yang dilakukan-Nya, Allah hendak menyatakan
keadilan, juga menyatakan diri-Nya yang pengasih dan
penyayang, serta pemeliharaan bagi umat-Nya. Manusia harus
mengetahui dan mengakui perbuatan-perbuatan Tuhan yang
besar dan ajaib, keadilanNya yang kekal, pemeliharaanNya yang
tiada henti. Pengetahuan tentang Tuhan Allah dengan segala
perbuatannya yang luar biasa ini, menuntun manusia untuk
mengakui keagungan Tuhan Allah, dan pengakuan ini
menumbuhkan sikap hormat, tunduk, dan takut kepada Allah.
Pengetahuan seperti ini juga membawa kepada kesadaran akan
keterbatasan dan kelemahan diri sebagai manusia. Senantiasa
mengakui bahwa apa yang dimiliki berasal dari Tuhan, akan
menghindarkan diri dari sikap sombong di hadapan Allah dan
sesama manusia. Inilah sikap takut akan Tuhan, dan inilah yang
menjadi awal dari hikmat.
56
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
1 Korintus 8:1-13
Rasul Paulus mengingatkan sisi bahaya dari pengetahuan yang
dimiliki oleh manusia. Ketika merasa bahwa dengan pengetahuan
yang dimilikinya maka otomatis membuat dirinya sebagai orang
yang bijak dan berhikmat. Di satu sisi, pengetahuan sangat
berguna dalam kehidupan manusia sebab pengetahuan ini akan
menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan
dan bertindak. Namun di sisi lain, pengetahuan juga bisa
mendorong seseorang menjadi sombong, menganggap dirinya
sebagai yang paling tahu. Pengetahuan harus dialasi dengan hikmat
dan untuk mendapatkan hikmat maka kasih adalah dasarnya.
Pengetahuan akan Allah yang Esa pencipta langit dan bumi, dan
Yesus Kristus sebagai penyelamat kehidupan, melepaskan orang
percaya dari belenggu pemahaman dan keyakinan akan berhalaberhala dan juga terkait makanan/daging persembahan untuk
berhala. Makanan dilihat sebagai makanan biasa yang tidak akan
membawa dampak secara rohani sebab pada dasarnya berhalaberhala itu tidak punya kuasa apa-apa dibandingkan dengan Tuhan.
Bagi yang tidak memiliki pengetahuan seperti ini, itu artinya
mereka masih terbelenggu oleh pemahaman/pengetahuan akan
daging persembahan kepada berhala. Belenggu ini membuat
mereka takut untuk memakannya karena menganggap makanan
yang dipersembahkan kepada berhala ini akan memengaruhi
keselamatannya.
Kelompok pertama yang memiliki pengetahuan bahwa daging
persembahan kepada berhala tidak apa-apa jika dimakan, adalah
kondisi ideal. Tetapi pengetahuan ini harus dialasi kasih kepada
Allah (dan sesama). Artinya, pengetahuan ini jangan sampai
membuat sombong lalu tidak peduli kepada saudara-saudara yang
lain yang masih “terbelenggu” oleh pemahaman tentang daging
persembahan berhala. Tindakan yang tidak peduli kepada kelompok
kedua, akan menjadi sandungan dalam kehidupan bersama. Hal
yang baik dan benar pun harus dilakukan dengan bijak.
Khotbah Jangkep Januari 2021
57
Markus 1:21-28
Perikop menceritakan pelayanan Tuhan Yesus di Kapernaum.
Ketika Yuhan Yesus mengajar di rumah ibadat, banyak orang yang
takjub ketika mendengar pengajaranNya. sebab DIA mengajar
dengan penuh kuasa. Banyak orang tentu menerima pengetahuan
dan kebenaran dari Tuhan Yesus. Bagian yang menarik dari
bacaan ini adalah munculnya pengakuan Yesus. Di ayat 23-24
diceritakan ada orang yang kerasukan roh jahat dan orang itu
berteriak menantang Yesus sambil menyatakan bahwa dia tahu
siapa sebenarnya Yesus: “Yang Kudus dari Allah”.
Sebuah pernyataan yang luar biasa, menunjukkan bahwa
yang mengucapkan ini mengaku sungguh-sungguh tahu siapa
Yesus sebenarnya. Justru yang menyatakan ini adalah orang yang
dirasuki oleh roh jahat. Itu artinya roh jahat tahu siapa Yesus. Roh
jahat yang merasuki tubuh seseorang dalam rumah ibadat itu
memiliki pengetahuan tentang siapa Yesus. Tapi pengetahuan ini
membuat mereka arogan di hadapan Yesus, dan justru akhirnya
“berkonfrontasi” dengan Yesus. Bahkan di tengah orang banyak
roh jahat ini berteriak dan menantang Tuhan Yesus. Tentu saja,
pengetahuan yang tidak sejalan dengan Tuhan, tidak membawa
kebaikan. Roh jahat ini pun terusir, oleh kuasa Yesus.
POKOK DAN ARAH PEWARTAAN
Selain menjadi pintar atau berpengetahuan, maka yang tidak
kalah penting adalah menjadi bijak atau berhikmat. Tanpa hikmat
atau kebijaksanaan, maka pengetahuan biasanya akan menggiring
seseorang menjadi arogan, bukan hanya di depan sesama manusia
bahkan juga dihadapan Tuhan. Hikmat akan menuntun untuk
senantiasa takut akan Tuhan dan selalu melandaskan kasih
kepada Allah dan sesama dalam setiap tindakan yang diambil.
Melalui tindakan yang bijaksana, maka pengetahuan akan
menjadi berkat, dan bukan sebaliknya.
58
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
KHOTBAH JANGKEP BAHASA INDONESIA
BIJAK DALAM BERTINDAK
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus.
Pepatah mengatakan; “Bagaikan padi, makin berisi makin
merunduk”. Pepatah ini mengajarkan tentang sikap hidup yang
bijaksana, yaitu ketika semakin memiliki pengetahuan justru
membuat orang semakin rendah hati, bukan malah menjadi
sombong karena merasa yang paling tahu. Adanya pepatah ini
tentunya menunjukkan bahwa dalam kenyataan, yang ada justru
sebaliknya. Banyak orang yang semakin berisi bukannya semakin
merunduk-rendah hati, tetapi malah semakin tegak-sombong.
Di tengah masyarakat, banyak peristiwa yang memperlihatkan
adanya kecenderungan orang berlomba-lomba untuk mengejar
pengetahuan, supaya dianggap yang paling tahu, paling pintar,
sehingga bisa membanggakan/menyombongkan diri. Mencantumkan
gelar akademis adalah hal yang wajar, karena itu menunjukkan
keahlian orang tersebut sesuai dengan pendidikan yang telah
ditempuhnya. Namun tidak jarang ada fenomena di mana orang
sengaja memamerkan gelar akademisnya dan bahkan sampai ada
orang yang “membeli gelar” dan mencantumkannya, padahal
orang itu tidak menjalani proses pendidikan sama sekali. Pamer
gelar akademis untuk menunjukkan bahwa dirinya seolah-olah
adalah orang yang paling hebat, paling pintar dan paling tahu.
Pengetahuan dianggap sebagai hal yang paling utama lalu
dikejar mati-matian, namun banyak orang melupakan hikmat.
Sehingga ketika sudah memiliki pengetahuan pun, perilaku/tindakan
dalam menggunakan pengetahuan tersebut jauh dari kata bijak.
Pengetahuan pada akhirnya tidak selalu membawa kebaikan,
justru menjadi pemicu masalah dalam kehidupan manusia.
Khotbah Jangkep Januari 2021
59
Manusia memang makhluk pembelajar, tetapi belajar itu
tidak boleh sembarangan. Kitab Ulangan 18:15-20, mengingatkan
umat Israel untuk hanya mendengar dan belajar kepada nabi-nabi
yang diutus oleh Tuhan. Para nabi inilah yang akan menyampaikan
firman dan kehendak Tuhan Allah. Umat Israel dilarang untuk
belajar kepada bangsa Kanaan. Mengapa tidak boleh? Sebab jika
mereka belajar kepada bangsa Kanaan, yang ada mereka justru
ikut melakukan praktik ibadah yang tidak diperkenankan Allah.
Mereka belajar menyembah kepada allah lain, ikut melakukan ritual
yang menjadi kekejian di hadapan Tuhan; pengurbanan manusia,
mengikuti peramal, petenung, penyihir, pemantera dan meminta
bantuan roh orang-orang mati. Jika ini yang terjadi, pembelajaran
dan pengetahuan yang umat Israel dapatkan tidak membawa
kepada kebaikan, justru membuat mereka tidak setia kepada
Tuhan Allah yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir.
Pengetahuan seharusnya membawa hidup manusia pada
kebaikan. Untuk bisa mencapai hal ini maka pengetahuan harus
disertai dengan hikmat. Untuk bisa memiliki hikmat, syaratnya
adalah takut akan Tuhan. Mazmur 111 mengajarkan hal ini. Dalam
ayat 2-9 berisi pernyataan akan perbuatan-perbuatan Allah yang
luar biasa. Pengetahuan tentang Tuhan Allah dengan segala
perbuatannya yang luar biasa, menuntun manusia untuk mengakui
keagungan Tuhan Allah. Allah yang penuh kuasa, benar dan adil,
setia pada janji, dan selalu menyatakan kasih pemeliharaan kepada
umat-Nya. Pengakuan akan semua hal ini menumbuhkan sikap
hormat, tunduk, dan takut kepada Allah. Pengetahuan seperti ini
juga membawa kepada kesadaran akan keterbatasan dan
kelemahan diri sebagai manusia. Senantiasa mengakui bahwa apa
yang dimiliki berasal dari Tuhan, akan menghindarkan diri dari
sikap sombong di hadapan Allah dan sesama manusia. Inilah sikap
takut akan Tuhan dan inilah yang menjadi awal dari hikmat.
60
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
Jemaat terkasih di dalam Tuhan Yesus.
Takut akan Tuhan menuntun seseorang menjadi rendah hati,
merunduk di hadapan Allah dan sesama manusia, jauh dari sikap
arogan dengan pengetahuan yang dimiliki. Injil Markus 1:21-28
menceritakan pelayanan Tuhan Yesus di Kapernaum. Ketika
Tuhan Yesus mengajar di rumah ibadat, banyak orang yang takjub
ketika mendengar pengajaranNya. DIA mengajar dengan penuh
kuasa. Banyak orang tentu menerima pengetahuan dan kebenaran
dari Tuhan Yesus. Bagian yang menarik dari bacaan ini adalah
munculnya pengakuan Yesus. Di ayat 23-24 diceritakan ada orang
yang kerasukan roh jahat dan orang itu berteriak menantang
Yesus sambil menyatakan bahwa dia tahu siapa sebenarnya Yesus:
“Yang Kudus dari Allah”. Sebuah pernyataan yang luar biasa,
menunjukkan bahwa yang mengucapkan ini sungguh-sungguh
tahu siapa Yesus sebenarnya. Justru yang menyatakan ini adalah
orang yang dirasuki oleh roh jahat. Itu artinya roh jahat tahu siapa
Yesus. Roh jahat yang merasuki tubuh seseorang dalam rumah
ibadat itu memiliki pengetahuan tentang siapa Yesus. Tapi
pengetahuan ini membuat mereka arogan di hadapan Yesus dan
justru akhirnya “berkonfrontasi” dengan Yesus. Roh jahat tahu
siapa Yesus sesungguhnya, tapi pengetahuan ini tidak membuat
mereka memiliki rasa takut kepada Tuhan Allah. Bahkan di tengah
orang banyak roh jahat ini berteriak dan menantang Tuhan Yesus.
Tentu saja, pengetahuan yang tidak sejalan dengan Tuhan, tidak
membawa kebaikan. Roh jahat ini pun terusir, oleh kuasa Yesus.
Takut akan Tuhan mestinya juga menuntun seseorang untuk
tidak arogan di depan sesama. Itu yang disampaikan oleh rasul
Paulus kepada jemaat di Korintus. Rasul Paulus mengingatkan sisi
bahaya dari pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Di satu sisi,
pengetahuan sangat berguna dalam kehidupan manusia, sebab
pengetahuan ini akan menjadi salah satu bahan pertimbangan
dalam mengambil keputusan dan bertindak. Namun di sisi lain,
Khotbah Jangkep Januari 2021
61
pengetahuan juga bisa mendorong seseorang menjadi sombong,
menganggap dirinya sebagai yang paling tahu. Pengetahuan harus
dialasi dengan hikmat dan rasul Paulus menambah satu unsur
lagi, yaitu kasih.
Pengetahuan akan Allah yang Esa pencipta langit dan bumi
dan Yesus Kristus sebagai penyelamat kehidupan, melepaskan
orang percaya dari belenggu pemahaman dan keyakinan akan
berhala-berhala dan juga terkait makanan/daging persembahan
untuk berhala. Makanan dilihat sebagai makanan biasa yang tidak
akan membawa dampak secara rohani, sebab pada dasarnya berhalaberhala itu tidak punya kuasa apa-apa dibandingkan dengan
Tuhan. Bagi kelompok ini, makan daging yang dipersembahkan
kepada berhala tidak menjadi masalah.
Tetapi bagi yang belum memiliki pengetahuan seperti ini,
mereka ini masih terbelenggu oleh pemahaman/pengetahuan
akan daging persembahan kepada berhala. Belenggu ini membuat
mereka takut untuk memakannya karena menganggap makanan
yang dipersembahkan kepada berhala ini akan memengaruhi
keselamatannya.
Kelompok pertama yang memiliki pengetahuan bahwa daging
persembahan kepada berhala tidak apa-apa jika dimakan, adalah
kondisi ideal. Tetapi pengetahuan ini dalam menerapkannya harus
dialasi kasih kepada Allah dan sesama. Artinya, pengetahuan ini
jangan sampai membuat sombong lalu tidak peduli kepada
saudara-saudara yang lain yang masih “terbelenggu” oleh
pemahaman tentang daging persembahan berhala. Tindakan yang
tidak peduli kepada kelompok kedua, akan menjadi sandungan
dalam kehidupan bersama. Hal yang baik dan benar pun harus
dilakukan dengan bijak.
62
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
Jemaat yang dikasihi Tuhan.
Hari ini kita diajak untuk senantiasa takut kepada Allah, sebab
Dia adalah sumber hidup kita. Semua pengetahuan, ketrampilan,
maupun talenta yang kita miliki asalnya adalah dari Tuhan. Oleh
karena itu, ketika kita menggunakannya dalam setiap tindakan
kita, kita harus mengunakannya dengan bijaksana, di dalam
hikmat dan kasih. Sudahkah kita mewujudkannya?
Kita harus introspeksi. Sebagai contoh; apa yang kita lakukan
saat mengadakan pertemuan pendalaman Alkitab (PA)? Mungkin
masih ada yang menggunakan pertemuan ini untuk berdebat
panjang lebar, saling menunjukkan pengetahuannya tentang
Alkitab, tidak mau kalah. Tanpa sadar justru saling menyalahkan
dan merendahkan. Kegiatan yang mestinya membawa orang
semakin dekat kepada Allah, semakin dekat dan merindukan
firman Tuhan, namun hasil dari kegiatan yang seperti ini adalah
sakit hati dan kebencian. Ini hanya contoh, tindakan yang tidak
bijaksana, pengetahuan yang tidak membawa kebaikan. Semoga
ini tidak terjadi dalam komunitas kita, dan semoga kita
dimampukan untuk semakin bijak dalam bertindak. Amin.
Khotbah Jangkep Januari 2021
63
KHOTBAH JANGKEP BAHASA JAWA
TUMINDAK KANTHI WICAKSANA
Pasamuwan ingkang binerkahan déning Gusti,
Wonten bebasan ing basa Indonésia; “bagaikan padi, semakin
berisi semakin merunduk”. Bebasan punika nèlakaken tuladhaning
gesang kanthi wicaksana, inggih punika sangsaya pinter mesthinipun
sangsaya lembah manah lan andhap asor, sanès gumunggung.
Bebasan punika dados pepènget kagem sok sintena ingkang
rumaos gadhah kapinteran utawi kawruh mesthinipun sangsaya
lembah manah, sanadyan kasunyatanipun kathah ingkang malah
kosokwangsulipun.
Ing satengahing masyarakat, kathah tiyang ingkang ngegungaken
kapinteranipun supados ketingal linuwih tinimbang sanèsipun.
Contonipun, gelar akademis punika pancèn pratandha bilih tiyang
punika kagungan kapinteran ingkang mirunggan kanthi ngangsu
kawruh, lan boten kléntu menawi tiyang ingkang sampun
ngrampungaken sekolah punika lajeng nyerat gelar akademisipun. Ananging malah dados perkawis ingkang awon lan boten pantes
menawi tiyang punika nyerat gelar akademis-ipun kanthi manah
ingkang gumunggung, kamangka gelar akademis-ipun sanès karana
nindakaken pasinaon ingkang lumrah kepara malah tumbas gelar.
Kapinteran pancèn perkawis ingkang wigati, ananging sampun
ngantos kècalan kawicaksananan. Awit tiyang ingkang pinter
ananging boten wicaksana punika malah badhé ndhatengaken
perkawis ing gesang padintenan. Anggènipun sinau ugi boten saged
sembrono. Kitab Pangandharing Torèt 18:15-20 ngèmutaken
supados bangsa Israèl punika sinau lan mirengaken saking para
nabi ingkang kautus déning Gusti kemawon, sanès saking bangsa
Kanaan, awit saking para nabi punika kita saged sinau sabda lan
64
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
karsanipun Gusti Allah. Menawi sinau saking bangsa Kanaan,
bangsa Israèl malah nindakaken pangibadah ingkang boten
cunduk kaliyan karsanipun Gusti Allah. Menawi kados makaten,
pasinaon ingkang dipun tindakaken déning bangsa Israèl malah
boten ndhatengaken tentrem rahayu, ananging momotan.
Kapinteran mesthinipun ndhatengaken kabecikan lan tentrem
rahayu, pramila betahaken kawicaksanan. Kawicaksanan badhé
dipun tampi déning saben tiyang ingkang ngabekti kanthi ajrih
asih dhateng Gusti Allah. Mekaten ingkang kaserat ing Jabur
Masmur 111. Gusti Allah punika sang ratu adil, maha kuwaos,
tansah netepi prajanji lan tansah nèlakaken pangrimatipun.
Manungsa ingkang ngakeni pakaryanipun Gusti ingkang kados
mekaten mesthinipun ugi tuwuh rasa pangrasa bilih manungsa
punika sejatosipun winates lan kathah kakiranganipun. Pramila
menawi kita manungsa tansah ngakeni bilih sedaya samubarang
mirunggan bab kapinteran punika peparingipun Gusti, manungsa
mesthinipun boten badhé gumunggung lan ngegungaken dhiri.
Punika ingkang nèlakaken pinangka tiyang ingkang ngabekti
kanthi ajrih asih dhateng Gusti Allah.
Pasamuwan ingkang binerkahan déning Gusti.
Injil Markus 1:21-28 nyariosaken bab Gusti Yésus ingkang
leladi ing kitha Kapernaum. Menawi kita gatosaken, wonten cariyos
bab tiyang ingkang kapanjingan dhemit, lajeng nèlakaken pengaken
bilih Gusti Yésus punika ingkang asipat suci, kagunganipun Gusti
Allah. Tegesipun dhemit punika wanuh lan nggadahi pangertosan
bab sinten Gusti Yésus punika. Ananging sanadyan dhemit punika
wanuh kaliyan Gusti Yésus, punika boten ateges lajeng
ngasoraken dhiri lan medal saking tiyang punika. Dhemitipun
kepara malah gumunggung lan malah nantang Gusti Yésus. Nalika
Gusti Yésus nundhung dhemit punika, dhemitipun lajeng medal
saking badanipun tiyang wau.
Khotbah Jangkep Januari 2021
65
Sisih sanès, Rasul Paulus ngèmutaken dhateng pasamuwan
ing kitha Korinta, bilih kapinteran sanadyan migunani sanget ing
gesang padintenan kedah dipun dhasari kaliyan bab ingkang
wigati, kejawi kawicaksanan lan ajrih asih dhateng Gusti. Bab
wigati ingkang kedah dados dhasaring kapinteran utawi kawruh
inggih punika, katresnan. Tresna dhateng sinten? Boten sanès inggih
punika tresna dhateng Gusti Allah, ingkang dipun wujudaken ing
gesang padintenan lan sesami. Tiyang ingkang nggadhahi katresnan,
punika ketingal saking tumindakipun. Mirunggan bab tetedhan
sesajening brahala. Tiyang ingkang tresna dhateng Gusti Allah,
boten badhé natoni manahipun sedhèrèk nunggil kapitadosan
ingkang ringkih imanipun, kanthi gumunggung lajeng nedha
sesajening brahala saking kapitadosan sanès. Tiyang ingkang
tresna dhateng Gusti Allah badhé njagi tumindakipun temahan boten
dados sandhungan tumrap sedhèrèk nunggil kapitadosanipun.
Saking punika, katresnan pinangka dhasaring tumindak wicaksana
ingkang nyampurnakaken kapinteran utawi kawruhipun.
Pasamuwan ingkang binerkahan déning Gusti
Dinten punika kita sesarengan kaèmutaken supados tansah
mujudaken pangabekti kanthi ajrih asih dhateng Gusti Allah, pinangka
pengaken bilih Panjenenganipun tuking pitulungan lan berkah.
Kapinteran punapa déné kawruh punika ugi pinangkanipun
saking Gusti Allah. Pramila, sumangga kapinteran punika kita
ginakaken kanthi wicaksana lan kebak ing katresnan.
Sumangga kita ndadar manah kita ing satengahing peladosan
punapa déné ing satengahing panyuraos kitab suci (PA),
umpaminipun, punapa panjenengan lan kula taksih nengenaken
kapinteran kita kanthi gumunggung? Peladosan punapa déné
panyuraos kitab suci lan sanèsipun mesthinipun ndhatengaken
tentrem rahayu lan ndadosaken sangsaya rumaket dhateng Gusti,
sanès raos getun, boten karenan, punapa malih mutung. Mugi ing
satengahing patunggilan kita tansah mbudidaya tumindak
ingkang wicaksana linambaran katresnan. Amin.
66
Panduan Merayakan Liturgi Gereja
Download