Uploaded by User82227

LAPORAN PRAKTIKUM TUMBUHAN

advertisement
LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI UMUM
“KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN”
Oleh :
Nama
: VRISCA ANJELINE
NIM
: 180210102099
Kelas
:C
Kelompok
:6
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019
I.
JUDUL
Keanekaragaman tumbuhan
II. TUJUAN
2.1 Mengetahui kapasitas vital paru-paru manusia.
III. DASAR TEORI
Salah satu membedakan tumbuhan adalah dengan mengetahui apakah
mereka memiliki sistem jaringan vaskuler yang ekstensif, sel-sel yang bergabung
menjadi tabung-tabung yang mentranspor air dan nutrien ke seluruh tubuh tumbuhan.
Kebanyakan tumbuhan mempunyai sistem jaringan vaskular yang kompleks
sehingga disebut dengan tumbuhan vaskuler. Tumbuhan yang tidak mempunyai
sistem transpor yang ekstesif disebut tumbuhan nonvaskuler atau briofit (Campbell
et al, 2012: 170).
Pada paku-pakuan yang biasa kita lihat ialah generasi sporofit. Daundaunnya merupakan merupakan satu-satunya bagian tumbuhan yang tampak diatas
tanah, berasal dari batang bawah tanah –rizom- yang juga mengeluarkan akar-akar,
seluruh struktur ini membentuk generasi sporofit dewasa. Pada awal musim panas,
bercak-bercak kecoklatan tampak dibagian bawah anak daun. Setiap bercak disebut
Sorus dan berisi banyak sporangium di atas tangkai-tangkai. Di dalam setiap
sporangium, selsel induk spora menjalani meiosis sehingga terbentuk empat spora.
Jika kelembaban menurun, sel-sel bibir berdinding tipis dari setiap sporangium
terpisah dan anulus membuka dengan perlahan-lahan. Lalu dengan gerak yang cepat,
anulus itu meletik ke muka dan mengeluarkan spora-sporanya (Kimball, 1994: 340).
Paku secara teratur memiliki pergantian cara kawin antara asexuil dengan
sexuil. Paku yang biasa kita lihat adalah penghasil spora, disebut sporofit (fit =
phyta= tanaman). Disebelah ventral terbentuk sporangium penghasil spora.
Sporangium membentuk kumpulan yang disebut sorus (jamak : sori). Spora
bersebar,tumbuh menjadi penghasil gamet : gametofit. Gametofit menghasilkan
antheridium (alat kelamin jantan), di dalamnya dihasilkan gamet-gamet jantan. Di
tempat lain pada tumbuhan yang sama dibentuk archegonium (alat kelamin betina),
didalamnya dihasilkan gamet betina. Gamet jantan aktif dan bergerak menuju gamet
betina yang pasif. Zigot yang terjadi dari hasil perkawinan tumbuh jadi sporofit baru
(Yatim, 2014: 258-259).
Jika spora paku-pakuan terbawa angin dan sampai pada habitat yang sesuai
(lagi-lagi, lembab dan rindang), maka akan berkecambah menjadi benang-benang
sel. Masing-masing tumbu menjadi protalus, yaitu struktur berbentuk jantung kecil,
hijau, lagi pipih. Tumbuh di permukaan tanah dan terhambat oleh filamen tipis yang
dinamakan rizoid. Struktur ini juga menyerap air dan mineral dari tanah. Sel-sel
protalus haploid dan merupakan generasi gametofit yang dewasa. Dibagian
bawahnya terdapat organ-organ seks: anteridia untuk pembentukan sperma dan
arkegonia untuk pembentukan telur. Bila terdapat banyak air, sperma dilepas dan
berenang menuju arkegonium. Biasanya pada protalus lain, karena kedua macam
Sejumput lumut terdiri atas banyak pucuk berdaun, yang karena haploid,
tergolong generasi gametofit. Pada lumut Plytrichun commune yang umum dijumpai,
ada tiga macam pucuk berdaun: betina, jantan, steril. Pucuk jantan mudah dibedakan
dari dua lainnya karena puncaknya datar. Potongan melintang melalui ujung
tumbuhan jantan menunjukkan organ reproduksi jantan, yaitu anteridia, berisikan
sperma. Melalui tumbuhan betina akan tampak arkegonia berbentuk botol, yaitu
organ reproduksi betina, masing-masing berisikan satu telur dalam ruang dekat
dasarnya. Pada awal musim jika terdapat banyak air, sperma disebarkan dari
anteridia oleh percikan air hujan ke tumbuhan terdekat. Pada tumbuhan betina,
sperma itu berenang menuju arkegonia, mungkin mengikuti gradian konsentrasi gula
yang dikeluarkan dari arkegonia. Sperma itu berenang kebawah melalui saluran
arkegonium ke telurnya, dan terjadilah pembuahan. Zigot yang terbentuk merupakan
sel pertama pada generasi sporofit (Kimball, 1994: 339).
Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan pelopor (perintis), yang tumbuh di
suatu tempat sebelum tumbuhan lain mampu tumbuh. Ini terjadi karena tumbuhan
lumut berukuran kecil tetapi membentuk koloni yang dapat menjangkau area yang
luas. Jaringan tumbuhan yang mati menjadi sumber hara bagi tumbuhan lumut lain
dan tumbuhan yang lainnya. Klasifikasi tradisional menggabungkan pula lumut hati
ke dalam Bryophyta. (Kimball, 1994: 340).
Tumbuhan lumut dibedakan dalam dua kelas yaitu Hepaticae (lumut hati),
dalam tubuh lumut hati terdapat tempat penyimpanan air. Sebagian besar dari lumut
hati mempunyai tubuh yang tipis seperti kulit yang tumbuh memipih rata di atas
medium tanahnya. Musci (lumut daun), tubuhnya terdiri dari puncak tegak dengan
beberapa anak daun yang amat kecil tersusun dalam pilian. Lumut daun tumbuh
diberbagai tempat seperti tempat yang kering . lumut daun membentuk badan-badan
yang berupa bantalan sedangkan yang hidup di tanah hutan membentuk lapisan
seperti babut tetapi jarang hidup di air sehingga memperlihatkan struktur yang
bermacam-macam (Waluyo, 2010: 90).
Tumbuhan lumut yang biasa kita lihat itu adalah tumbuhan penghasil
gamet : gametofit. Anteridium dan arkegonium pada batang tersendiri, meskipun
mungkin rhizoid bersatu. Gamet jantan dan betina bersatu, zigot tumbuh menjadi
sporofit. Sporofit menghasilkan sporangium, di dalamnya dibentuk spora. Tersebar
tumbuh menjadi gametofit baru. Seperti halnya paku, gamet jantan mencari gamet
betina dalam medium air. Itulah sebabnya maka lumut dan paku dikenal sebagai
tumbuhan air, membutuhkan substrat air dalam pembiakan (Yatim,2014:259).
Siklus hidup semua tumbuhan darat mengalami pergiliran diantara dua
generasi organisme multiseluler: gametofit dan sporofit. Setiap generasi
memunculkan generasi yang lain, proses yang disebut pergiliran generasi. Tipe siklus
reproduksi ini dievolusikan pada berbagai kelompok alga namun tidak terjadi pada
Charophyta, alga yang berkerabat paling dekat dengan tumbuhan darat. Pergiliran
generasi dibedakan oleh fakta bahwa siklus hidup mencakup organisme haploid
multiseluler maupun organisme diploid multiseluler. Nama-nama dari kedua
generasi multiseluler dalam siklus hidup tumbuhan mengacu pada sel-sel repoduksi
yang dihaslikan. Gametofit haploid dinamai demikian karena dihasilkan melalui
pembelahan mitosis dari gamet haploid- sel telur dan sel sperma-yang berfusi selama
fertilisasi membentuk zigod diploid. Pembelahan mitosis zigot menghasilkan
sporofit yang diploid dan multiseluler. Meiosis pada sporofit dewasa menghasilkan
spora haploid, sel-sel reproduktif yang dapat berkembang menjadi organisme haploid
baru tanpa berfusi dengan sel lain (Campbell et al, 2012: 168).
Spora tumbuhan adalah sel-sel reproduktif haploid yang dapat tumbuh
menjadi gametofit haploid multiseluter melalui mitosis. Polimer sporopolenin
menjadikan dinding spora tumbuh kokoh dan resisten terhadap lingkungan yang
keras. Sporofit mempunyai organ multiseluler yang disebut dengan sporangium yang
menghasilkan spora. Di dalam sporangium, sel-sel diploid yang disebut sporosit atau
sel induk spora mengalami meiosis dan menghasilkan spora haploid. Jaringan luar
dari sporangiummelindungi spora yang berkembang hingga mereka dilepaskan ke
udara. Sporangium multiseluler yang menghasilkan spora dengan dinding diperkaya
sporopolenin adalah adaptasi terestrial dari tumbuhan darat (Campbell et al, 2012:
169).
Tumbuhan nonvaskuler saat ini diwakili oleh ytiga filum tumbuhan
herba(tidak berkayu) yang berukuran kecil: lumut hati(filum Heparophyta), lumut
tanduk (filum Anthocerophyta), dan lumut daun (filum Bryophyta). Lumut hati dan
lumut tanduk dinamai berdasarkan bentuknya, ditambah dengan sufiks wort(herbal).
Tidak seperti tumbuhan vasikuler, pada ketiga filum briofit, gametofit merupakan
tahap siklus hidup yang dominan. Mereka lebih besar dan hidup lebih lama daripada
sporofit. Sporofit biasanya muncul hanya sebentar saja (Campbell et al, 2012: 171172).
Gametofit lumut daun, dengan tinggi yang berkisar kurang dari 1 mm
hingga lebih dari 2 mm, biasanya memiliki tinggi kurang dari 15bcm pada
kebanyakan spesies. Helai-helai daun biasanya hanya setebal satu sel, namun
dedaunan yang lebih kompleks dengan tepian yang dilapisi oleh kutikula dapat
ditemukan pada lumut daun-tudung-berambut biasa dan kerabat-kerabat dekatnya.
Sporofit lumut daun biasnya mananjang dan dapat dilihat dengan mata telanjang,
dengan tinggi hingga sekitar 20 cm. Walaupun hijau dan bersifat fotosintetik ketika
mida sporofit akan berubah menjadi coklat kekuningan atau merah kecoklatan
sewaktu siap melepaskan spora (Campbell et al, 2012: 174).
Sejumput lumut terdiri atas banyak pucuknerdaun yang haploid, tergolong
generasi gametofit. Pada lumut Plytrichun commune yang umum dijumpai, ada tiga
macam pucuk berdaun: betina, jantan, dan steril. Pucuk jantan mudah dibedakan dari
dua lainnya karena puncaknha datar. Ptongan melintang melalui ujung tumbuhan
jantan menunjukkan organ reproduksi jantan, yaitu anterida, berisikan sperma.
Melalui tumbuhan betina akan tampak arkegonia berbentuk botol, yaitu organ
reproduksi betina, masing-masing berisikan sel telur dalam ruang terdekat dasarnya.
Pada awal musim jika terdapat banyak air, sperma disebarkan dari anterida oleh
percikan air hujan ke tumbuhan terdekat. Pada tumbuhan betina, sperma itu berenang
menuju arkegonia, mungkin mengikuti gradian konsentrasi gula yang dikeluarkan
oleh arkegonia. Sperma itu berenang ke bawah melalui saluran arkegonium ke
telurnya, dan terjadilah pembuahan (Kimball et al, 1991. 339)
Selama musim panas, setiap sel induk dalam sporangium manjalani meiosis
menghasilkan empat spora haploid, permulaan generasi haploid. Kelembapan yang
menurun menyebabkan cincin geligi di dalam lubang ke dalam sporangium
melengkung keluar. Dengan demikian spora-spora dikeluarkan dengan tenaga
(Kimball et al, 1991. 340).
IV. METODE PRAKTIKUM
4.1 Alat dan Bahan
4.1.1 Alat
a. Mikroskop
b. Loupe
c. Pinset
d. Jarum pentul
e. Silet
4.1.2 Bahan
a. Lumut daun
b. Tumbuhan paku-pakuan
c. Pinus
d. Stobilus betina dan jantan
e. Rumput teki
f. Pacar air
4.2 Skema kerja
4.2.1 Tumbuhan paku-pakuan
Menggambarkan keseluruhan bagian dari bagian tersebut.
Menunjukkan bagian-bagiannya.
4.2.2 Tumbuhan lumut daun
Meletakkan lumut daun diatas kertas.
Mengamati dengan loupe.
Menggambar morfologinya dan tunjukkan bagianbagiannya.
4.2.3 Pinus
Menggambarkan keseluruhan bagian dari bagian tersebut.
Menunjukkan bagian-bagiannya.
4.2.4 Strobilus jantan dan betina
Menggambarkan keseluruhan bagian dari bagian tersebut.
Menunjukkan bagian-bagiannya.
4.2.5 Tumbuhan rumput teki
Menggambarkan keseluruhan bagian dari bagian tersebut.
Menunjukkan bagian-bagiannya.
4.2.6 Tumbuhan pacar air
Menggambarkan keseluruhan bagian dari bagian tersebut.
Menunjukkan bagian-bagiannya.
V. HASIL PENGAMATAN
No Gambar
1.
Keterangan
1. Daun
2.
Daun pinus
1
2
2.
1. Strobilus jantan
2. Sisik
3. Sayap
Srobilus jantan dan betina
1
2
3
1. Gametofit
2. Sporofit
3.
Lumut daun
1
2
4.
1. Sporangium
Paku-pakuan
1
5.
Rumput teki
1
1. Bunga
2. Batang
3. Daun
2
3
6.
Pacar air
1
2
.
3
.
4
.
1.
2.
3.
4.
Daun
Bunga
Batang
Akar
VI. PEMBAHASAN
Berdasarkan klasifikasi lima kingdom maka kingdom Plantae (tumbuhan )
dibagi ke dalam beberapa filum yakni Lumut ( Bryophita ), Paku-pakuan
(Pteridhophyta), serta tumbuhan berbiji (Spermatophyta).Kelima kingdom
diklasifikasikan berdasarkan karakteristik yang khas dari masing-masing organismeorganisme yang menyusunnya.Berdasarkan morfologi atau susunan tubuh tumbuhan
bisa dibedakan lagi atas dua jenis kelompok besar yakni : Tumbuhan Tidak
Berpembuluh (Thallophyta) yang meliputi Lumut (Bryophyta) dan Tumbuhan
Berpembuluh (Tracheophyta ) yang meliputi Paku- pakuan (Pteridophyta ) dan
Tumbuhan Berbiji (Spermatophyta).
Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan yang memiliki klorofil sehingga
dapat berfotosintesis dimana sebagian besar adalah tumbuhan terestrial atau hidup
didarat. Tumbuhan lumut hidup ditempat yang lembab, dilantai dasar hutan, di
pohon, tembok, sumur, dan permukaan batu bata namun ada juga lumut yang
hidupnya di air yang dikenal dengan hidrofit. Lumut yang hidup ditempat yang
lembap dan teduh akan tumbuh subur dan tampak sebagai hamparan hijau.
Tumbuhan paku-pakuan (pterydophyta) adalah tumbuhan kormophyta
karena tubuhnya sudah dapat dibedakan menjadi akar, batang dan daun. Tumbuhan
ini juga disebut dengan thraceophyta karena tubuhan ini sudah memiliki pembuluh.
Tumbuhan ini hidup di tempat yang lembab, hidup diair, menempel dan hidup pada
sisi-sisi tumbuhan.
Struktur dari tumbuhan paku-pakuan yaitu memiliki batang , daun dan akar
yang lengkap. Tumbuhan ini umumnya merupakan tumbuhan herba dengan batang
yang berada didalam tanah dan daun yang duduknya merapat. Struktur daunnya yaitu
menyirip. Pada daun terdapat tumpukan sorus yaitu kumpulan kotak spora.
Kumpulan dari sorus disebut dengan sori. Sporangium pada tumbuhan paku terletak
pada daun dengan tata letak yang sangat bervariasi tergantung dari jenis
tumbuhannya, ada yang terletak dibawah daun, ditengah atau ditepi, ada yang terletak
dibagian atas daun atau menggerombol pada wilayah tertentu pada ujung daun. Alat
reproduksi berupa sporangium yang berisi kotak spora. Didalam kotak spora terdapat
spora bilamana jatuh ditempat yang cocok yaitu ditempat yang lembab maka akan
berkecambah dan membentuk prothalium. Prothalium merupakan fase gametofit
pada tumbuhan paku. Protalium tumbuh menghasilkan alat perkembangbiakan jantan
dan betina, yakni anteridium dan arkegonoium. Sperma dan ovum yang dihasilkan
dari kedua alat perkembangbiakan tersebuut bertemu dan menghasilkan tumbuhan
paku. Tumbuhan paku yang dewasa akan memiliki daun yang menghasilkan spora
sehingga tumbuhan paku yang kita lihat dalam sehari-hari adalah fase sporofit.
Tumbuhan biji (Spermatophyta) merupakan golongan tumbuhan dengan
ciri khas ialah adanya suatu organ yang berupa biji. Spermatophyta dibagi menjadi 2
yaitu tumbuhan biji terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan biji tertutup
(Angiosermae).
Pada tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae), kami mengamati
tumbuhan pinus (pinus merkusii). Pinus merupakan salah satu tanaman monoktil
yang mempunyai ciri khas dengan daunnya yang memipih seperti jarum dan
berkelompok atau berupa sisik. Tumbuhan pinus umum tumbuh di Sumatra utara
hingga ketinggian 2000 m dpl.
Tumbuhan
pinus
secara
morfologinya
memiliki tujuh bagian
yaitu mulai dari akar, batang, tangkai, daun, bunga, buah dan biji yang masingmasing berciri khas serta mempunyai fungsi yang berbeda pula untuk tumbuhan itu
sendiri. Tumbuhan pinus memiliki akar dengan sistem akar tunggang yang
berfungsi memberi kekuatan yang lebih besar kepada batang, dan juga daerah
perakaran menjadi luas hingga dapat menyerap air dan zat-zat makanan yang lebih
banyak. Batang Pohon Pinus merkusii mempunyai batang yang dibagian bawahnya
lebih besar dan ke ujung semakin mengecil, jadi batangnya dapat dipandang sebagai
suatu kerucut atau limas yang memanjang. Tangkai nya berbentuk bulat. Daun pinus
berbentuk daun. Buah dari pinus berbentuk kerucut. Bijinya berbentuk pipih dan
bulat telur dilengkapi dengan sayap, dihasilkan pada setiap dasar bunga atau sisik
buah, setiap sisik menghasilkan dua biji, biji biasanya berwarna putih kekuningan.
Pada tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae), kita mengamati rumput
teki ( monokotil) dan pacar air (dikotil). Pada tumbuhan berbiji tertutup monokotil
yaitu rumput teki. Tumbuhan monokotil memiliki cirri-ciri yaitu daun pada embrio
hanya satu helai, tulang daun biasanya sejajar atau melengkung, batang umumnya
tidak mengalami pertumbuhan menebal/sekunder, bunganya dengan bagian-bagian
berjumlah tiga atau kelipatannya,biasanya berukuran kecildan tidak menyolok.
Rumput teki (Cyperus rotundus L.) dapat ditemukan diberbagai tempat.
Pada pengamatan yang kami lakukan, rumput teki memiliki akar serabut, diakar
terdapat umbi yang berfungsi sebagai penyimpanan cadangan makanan dan
perkembangan vegetative, daun yang sejajar, batang yang berbentuk segitiga,
memiliki bunga yang terletak di ujung . Pada bagian samping bunga tersebut terdapat
daun penumpu sebanyak 3 yang berfungsi untuk menumpu bunga. Ciri-ciri khusus
dari rumput teki yaitu memiliki batang yang berbentuk segitiga dan diakar terdapat
umbi sebgai tempat penyimpanan cadangan makanan.
Pada tumbuhan berbiji tertutup dikotil, kami mengamati pacar air.
Tumbuhan pacar air mudah ditemukan di lingkungan sekitar kita, pada tumbuhan
pacar air terdapat beberapa ciri yang memiliki yaitu akar tunggang, tulang daunnya
menyirip dan menjari, Pada akar dan batang, terdapat kambium dan dapat tumbuh
serta berkembang menjadi besar, Batangnya bercabang-cabang, jumlah kelopak
bunganya dua, empat, lima, atau kelipatannya, pembuluh pengangkutnya teratur
dalam lingkaran/cincin, tipe berkas pengangkut kolateral terbuka, bagian bungan
berjumlah empat,lima atau kelipatannya.
VII. PENUTUP
Download