Uploaded by User78841

15PerbandinganJenisPidanaNorwegiaBelandaIndonesia

advertisement
Perbandingan Jenis Pidana dan Tindakan dalam KUHP Norwegia,
Belanda, Indonesia, dan RUU KUHP Indonesia
Oleh: Ahmad Bahiej*
Abstrak
Negara Norwegia, Belanda, dan Indonesia merupakan negara-negara yang
menganut sistem dua jalur (double track system) dalam pemberian sanksi bagi
orang yang telah terbukti melakukan tindak pidana. Sistem dua jalur ini berarti
negara dapat menjatuhkan sanksi yang bersifat pidana (nestapa/penal) dan sanksi
yang bersifat tindakan (measure). Pembandingan dalam hal jenis pidana dan
tindakan dalam keempat model ini didapatkan beberapa titik perbedaan dalam
beberapa hal, di antaranya dalam hal jenis sanksi, baik yang berupa sanksi pidana
maupun tindakan, berat sanksi, dan aturan pemidanaan masing-masing sanksi.
Komparasi ini perlu dilakukan untuk mendukung upaya pembaharuan hukum
pidana Indonesia di masa depan. Hal-hal yang baik dalam hukum pidana negara
lain dapat dijadikan sebagai acuan untuk dapat atau tidaknya dimasukkan ke
dalam RUU KUHP.
Kata kunci : pidana, tindakan, KUHP Norweia, KUHP Belanda, KUHP
Indonesia, RUU KUHP
A. Pendahuluan
Pidana merupakan salah satu masalah pokok dalam hukum pidana
selain tindak pidana dan pertanggungjawaban pidana. Dalam penggunaan
istilah bahasa Indonesia sehari-hari, pembedaan istilah antara "pidana" dan
"hukuman" terletak pada sifat kekhususan dan keumuman kata yang
bersangkutan. Sebagai sebuah buku standar baku penggunaan bahasa
Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia membedakan antara kedua
istilah tersebut dalam sifat keumuman dan kekhususannya. Hukuman
lebih bersifat umum dan pidana lebih bersifat khusus. Pidana merupakan
bagian dari hukuman.
Dalam kamus tersebut disebutkan bahwa hukuman adalah siksa dan
sebagainya yang dikenakan terhadap orang yang melanggar undangundang dan sebagainya atau keputusan yang dijatuhkan oleh hakim atau
*
Dosen Hukum Pidana pada Fakultas Syari'ah Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga Yogyakarta dan Kandidat Doktor Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta.
Ahmad Bahiej: Perbandingan Jenis Pidana dan Tindakan…
2
hasil atau akibat menghukum.1 Pidana diartikan hukuman kejahatan
(tertentu [misal] pembunuhan, perampokan, korupsi, dan sebagainya).2
Dengan demikian, berdasar Kamus Besar Bahasa Indonesia, pidana
merupakan bagian dari hukuman.
Dalam bahasa Belanda, pidana berasal dari kata straf yang dibedakan
dengan hukuman. Pidana merupakan istilah sempit yang berkaitan dengan
hukum pidana, sedangkan hukuman merupakan istilah umum yang dapat
menunjuk pada sanksi dalam lapangan hukum perdata, administrasi,
disiplin, atau dalam hukum pidana sendiri.3
Secara umum sistem sanksi yang dicantumkan dalam KUHP di
berbagai negara dikenal ada dua macam sistem, yaitu sistem dua jalur
(double track system) dan sistem satu jalur (single track system). Sistem dua jalur
(double track system) merupakan sistem sanksi yang mengenal adanya sanksi
pidana (penal) dan tindakan (measure/maatregel) secara tersendiri. Norwegia,
Belanda, dan Indonesia merupakan negara-negara yang menganut sistem
dua jalur ini (double track system).
Namun demikian terdapat perbedaan dan persamaan dari jenis
pidana dan tindakan dari beberapa negara tersebut di atas, walaupun
keempat menganut sistem yang sama. Oleh karena itu, dalam tulisan ini
akan dilakukan kajian perbandingan jenis pidana dan tindakan dalam
KUHP Norwegia, Belanda, Indonesia serta RUU KUHP Indonesia.4
B. Uraian Singkat tentang KUHP Norwegia, Belanda
1. KUHP Norwegia
KUHP Norwegia tahun 1902 yang mulai berlaku pada tahun 1905
dan telah mengalami beberapa perubahan sampai tahun 1961, menurut
Johannes Andenaes merupakan KUHP paling modern di Eropa pada saat
diundangkannya. Ia merupakan hasil pertama ide-ide pembaharuan yang
dikemukakan oleh Internationale Kriminalistische Vereinigung (IKV) atau
International Association for Criminology, karena rancangan KUHP ini berasal
dari suatu panitia yang diketahui oleh Prof. Bernhard Getz yang
1
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997), p. 360.
2 Ibid. p. 766.
3 Andi Hamzah, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), p. 27.
4 RUU KUHP yang ditelaah dalam artikel ini adalah RUU KUHP yang telah
terup-date pada bulan November 2005. RUU KUHP ini penulis download dari
www.legalitas.org sebagai situs resmi Direktorat Jenderal Perundang-undangan
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia pada tanggal 22 Oktober 2007.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 7, No. 4, Agustus 2008
Ahmad Bahiej: Perbandingan Jenis Pidana dan Tindakan…
3
merupakan anggota aktif dari IKV.5 Menurut Marc Ancel, KUHP
Norwegia ini merupakan hasil pengaruh dari gerakan social defence yang
merupakan perkembangan lebih lanjut dari aliran modern.6
Namun bagaimanapun juga, KUHP Norwegia tidak menunjukkan
sebagai program pembaharuan radikal. Hal ini tidak seperti RUU KUHP
Italia 1921 atau RUU KUHP Swedia 1957 yang mengesampingkan RUURUU hukuman tradisional, kesalahan dan pertanggungjawaban pidana.
Salah satu ciri khas istimewa dari KUHP Norwegia ini adalah
dikombinasikannya ide-ide baru dengan RUU-RUU tradisional. Selain itu
juga didasarkan pada hasil perbandingan hukum pidana.7
Sistematika KUHP Norwegia terdiri dari tiga bagian. Bagian
pertama merupakan Bagian Umum yang berisi ruang lingkup berlakunya
KUHP Norwegia, pidana dan tindakan koreksi (penal and correctional
measures), pertahanan diri serta mempertahankan orang lain dan harta
benda, mens rea dan pertanggungjawaban pidana. Sedangkan bagian kedua
memuat kejahatan (felonies) dan bagian ketiga memuat pelanggaran
(misdemeanors).
Jenis pidana dan tindakan dalam KUHP Norwegia diatur dalam satu
bab yaitu Bagian I Bab II dengan judul Penal and Correctional Measures
(Pidana dan Tindakan Koreksi) Pasal 15 sampai dengan Pasal 39. Hal
demikian mirip dengan RUU KUHP yang mengatur pidana dan tindakan
dalam satu bab namun dalam bagian yang terpisah.
2.
KUHP Belanda
KUHP Belanda 1886 sebagai induk dan sumber utama dari KUHP
Indonesia saat ini merupakan kodifikasi hukum pidana yang mengalami
beberapa kali perubahan. Sejarah kodifikasi ini dimulai pada saat
Napoleon Bonaparte dari Perancis menjajah wilayah Netherland tahun
1795-1813. Pada tanggal 1 Februari 1808 diberlakukan sebuah kitab
hukum pidana di negara Belanda dengan nama Crimineel Wetboek voor het
Koningrijk Holland (Penal Code for the Kingdom of Holland). KUHP ini tidak
berlaku lama karena tiga tahun kemudian, pada tanggal 1 Maret 1811,
Kerajaan Belanda menggabungkan diri dengan Kekaisaran Perancis. Mulai
saat itu, KUHP Perancis 1810 diberlakukan juga di negara Belanda.
Namun setelah Belanda memproklamirkan kemerdekaannya dari koloni
Perancis tahun 1813, dimulailah babak baru kodifikasi hukum pidana
5 The Norwegia Penal Code, translated by Harald Schjoldager, Introduction by Prof.
Dr. John. Andenaes, (New York: Fred B. Rothman & Co, 1961), p. 1.
6 Barda Nawawi Arief, Kebijakan Legislatif dalam Penanggulangan Kejahatan dengan
Pidana Penjara, (Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 1996), p. 121.
7 The Norwegian Penal Code, Ibid.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 7, No. 4, Agustus 2008
Ahmad Bahiej: Perbandingan Jenis Pidana dan Tindakan…
4
Belanda yang mandiri walaupun masih berkiblat pada KUHP Perancis.
Beberapa revisi dilakukan terhadap KUHP ini sampai tahun 1870.
Tahun 1827 RUU KUHP Belanda disusun dan didiskusikan di
Parlemen. Namun RUU ini gagal disetujui karena kemiripannya dengan
KUHP Perancis dan KUHP Belanda 1809.
RUU KUHP Belanda kedua diajukan pada tahun 1839 di mana
peran akademisi universitas di Belanda semakin besar, terutama setelah A.
E. J. Modderman yang pada tahun 1863 menyusun disertasinya dengan
judul De Hervorming van onze Straftwetgeving (The Reform of Our Criminal
Legislation).8 Ide-idenya kemudian dituangkan ke dalam RUU KUHP
Belanda saat dia memimpin panitia pembentukan hukum pidana Belanda
tahun 1870 sebagai cikal bakal KUHP Belanda 1886.
KUHP Belanda yang berlaku sekarang, mulai diberlakukan pada
bulan September 1886 dan sempat mengalami beberapa perubahan secara
tambal sulam sampai tahun 1994. KUHP Belanda 1886 inilah yang dengan
asas konkordansi diberlakukan di Indonesia pada waktu Indonesia
menjadi jajahan Belanda. Oleh karena itu tidak asing lagi banyak kemiripan
antara KUHP Belanda dan KUHP Indonesia jika keduanya dibandingkan.
C. Jenis Pidana
Menurut KUHP Norwegia jenis pidana dan ketentuan-ketentuannya
diatur dalam Pasal 15-38. Pidana pokok (ordinary punishments) terdiri dari:
1. pidana penjara (imprisonment)
2. pidana jailing
3. pidana denda (fine)
Dalam keadaan tertentu, hak-hak seseorang dapat dihapuskan. Hakhak yang dihapuskan ini disebutkan dalam Pasal 29, yaitu:
1. Hak untuk menduduki jabatan publik yang mana karena
perbuatannya menyebabkan tidak mendapatkan keuntungan atau
tidak bernilai (loss of public office for which the convict, because of the offence,
has proved himself unfit or unworthy).
2. Hak untuk memegang jabatan atau ikut dalam pekerjaan tertentu yang
karena perbuatannya mengakibatkan tidak mendapatkan keuntungan
atau dia mungkin akan menyalahgunakannya yang memerlukan
kepercayaan publik tingkat tinggi selama lebih dari lima tahun atau
selamanya (loss for a definite period of up to five years, or forever, of the right to
hold office or to pursue a certain occupation for the convict, because of his offense,
8
The Dutch Penal Code, translated by Louise Rayar and Stafford Wadswoth,
(Colorado: Fred B. Rothman, 1997), p. 2.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 7, No. 4, Agustus 2008
Ahmad Bahiej: Perbandingan Jenis Pidana dan Tindakan…
5
has proved to be unfit, or which he might misuse, or for which a high degree of
public confidence is required).
Selanjutnya dalam Pasal 15 disebutkan bahwa a person may be sentenced
to loss of rights in addition to, or instead of, other punishment (garis bawah dari
penulis). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pidana pencabutan
hak ini dapat merupakan pidana pokok, pidana tambahan atau sebagai
pidana pengganti dari hukuman lain. Selanjutnya KUHP Norwegia
menentukan pula bahwa depreviation of rights may be substituted for other
punishment where the law specifies confinement for at least one year as punishment for
analisa act.
Pasal 16 KUHP Norwegia menyebutkan adanya pidana pelengkap
(supplementary punishments ) yang dapat dikombinasikan dengan pidanapidana yang tersebut dalam Pasal 15, yaitu:
1. Pencabutan hak-hak tertentu sebagaimana disebutkan dalam Pasal 30
dan Pasal 31 (deprivation of rights as stated in section 30 and 31). Hak-hak
yang dapat dicabut itu adalah hak untuk menjadi anggota angkatan
bersenjata (the right to serve in the armed forces) dan hak suara pada
peblisit publik dan pemilihan umum (the right to vote in public plebiscites
and elections).
2. Pembuangan dari tempat tertentu (banishment from specified places).
3. Penyitaan barang-barang tertentu (confiscation of specific objects).
Menurut KUHP Belanda, pidana diatur dalam Bab II Buku I Pasal
9-36. Pasal 9 menyebutkan bahwa sanksi pidana terdiri atas pidana pokok
(Pasal 9:1a) dan pidana tambahan (Pasal 9:1b). Pidana pokok (principal
penalties) terdiri dari:
1. pidana penjara (imprisonment)
2. pidana kurungan (detention)
3. Pidana kerja sosial (community service)
4. pidana denda (fine)
Adapun pidana tambahan (additional penalties) terdiri dari:
1. pencabutan hak-hak tertentu (deprivation of specific rights)
2. penempatan pada lembaga pendidikan negara (committal to a State
workhouse)
3. perampasan barang (forfeiture)
4. pengumuman putusan hakim (publication of the judgement)
Dalam KUHP Norwegia yang terjemahan ke dalam bahasa Inggris
oleh Harald Schjoldager, pidana pokok perampasan kemerdekaan
dibedakan menjadi imprisonment dan jailing. Imprisonment dipandang sebagai
jenis pidana yang lebih berat daripada jailing, namun kedua diancamkan
terhadap tindak pidana kejahatan (felony) dan pelanggaran (misdemeanor).
Perbedaannya terletak pada jumlah lamanya pidana. Untuk kejahatan
SOSIO-RELIGIA, Vol. 7, No. 4, Agustus 2008
Ahmad Bahiej: Perbandingan Jenis Pidana dan Tindakan…
6
dapat dipidana dengan imprisonment lebih dari tiga bulan atau jailing yang
lebih dari enam bulan kecuali ditentukan lain. Sedangkan untuk
pelanggaran tidak demikian. Di samping itu, terdapat perbedaan dalam
pelaksanannya. Untuk kejahatan yang dijatuhi imprisonment dapat dikenakan
“tutupan tersendiri” (solitary confinement), sedangkan untuk jailing tidak dapat
diterapkan. Pasal 22 KUHP Norwegia juga menetapkan bahwa two days of
jailing correspond to one day of imprisonment.
KUHP Belanda dan Indonesia hanya mengenal pidana penjara
(imprisonment) dan tidak dikenal jailing, tetapi keduanya mengenal kurungan
(detention). Namun RUU KUHP Indonesia tidak lagi mengenal pidana
kurungan. Pidana pokok menurut RUU KUHP Indonesia dalam Pasal 65
terdiri dari:
1. pidana penjara
2. pidana tutupan
3. pidana pengawasan
4. pidana denda
5. pidana kerja sosial
Pidana penjara (imprisonment) menurut Pasal 17 KUHP Norwegia
dapat ditetapkan untuk jangka waktu 21 hari sampai 15 tahun dan untuk
kasus tertentu (Pasal 62) dijatuhkan sampai 20 tahun. Ini berarti minimum
umum pidana penjara menurut KUHP Norwegia adalah 21 hari dan
maksimum umumnya 15 tahun, kecuali kasus tertentu yang mencapai 20
tahun (maksimum khusus 20 tahun).
Pidana penjara dalam KUHP Belanda diatur dalam Pasal 10 seumur
hidup atau penjara selama waktu tertentu. Minimum umum pidana penjara
adalah satu hari dan maksimum umumnya 15 tahun kecuali ditentukan
lain yang mencapai 20 tahun (maksimum khusus 20 tahun).
Hal ini sama dengan RUU KUHP Indonesia yang menetapkan
minimum umum pidana penjara 1 hari. Sedangkan maksimum umum dan
maksimum khususnya sama, yaitu 15 tahun dan 20 tahun.
Pidana mati dan pidana penjara seumur hidup tidak dikenal lagi
dalam KUHP Norwegia. Pidana mati terakhir di Norwegia adalah pada
tahun 1876 saat adanya kasus pengkhianatan terhadap negara. Namun
demikian KUHP Militer Norwegia tetap mempertahankan pidana mati
bagi perbuatan-perbuatan pengkhianatan yang dilakukan selama perang
atau negara dalam keadaaan bahaya. Ini dapat juga diterapkan pada
masyarakat sipil.9 Adapun pidana penjara seumur hidup (life imprisonment)
dihapus dari KUHP Norwegia pada bulan Juni 1981.
9
The Norwegian Penal Code, Ibid, p. 8.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 7, No. 4, Agustus 2008
Ahmad Bahiej: Perbandingan Jenis Pidana dan Tindakan…
7
Demikian pula KUHP Belanda tidak lagi mengenal pidana mati.
Awalnya, pidana mati ini masih dikenal di negeri Belanda yang mengoper
KUHP-nya dari Perancis. Namun pada saat revisi pada tahun 1854, pidana
mati dikurangi penggunaannya dan akhirnya dengan undang-undang
tanggal 17 September 1870 pidana mati dihapuskan di negeri kincir angin
tersebut, tetapi masih diberlakukan di negeri jajahannya (Hindia Belanda).
Hal ini berbeda dengan RUU KUHP Indonesia yang masih
mempertahankan pidana mati dan pidana penjara seumur hidup. Pidana
mati menurut RUU KUHP merupakan pidana pokok yang bersifat khusus
dan selalu diancamkan secara alternatif dengan jenis pidana lain (Pasal 66).
Dipertahankannya pidana mati dan pidana penjara seumur hidup dalam
RUU KUHP ini adalah adanya pertimbangan perlindungan masyarakat
yang harus lebih diutamakan. Namun demikian, pidana mati bergeser
manjadi pidana yang bersifat eksepsional/khusus dengan didasarkan
pemikiran bahwa dilihat dari tujuan pemidanaan dan tujuan
diadakannya/digunakannya hukum pidana, pidana mati pada hakikatnya
bukan sarana utama untuk mengatur dan memperbaiki masyarakat.10
Telah disebutkan di awal bahwa jailing merupakan pidana yang lebih
ringan dari pada imprisonment (pidana penjara). Menurut Section 22 KUHP
Norwegia jailing ditentukan minimum umumnya yaitu 21 hari (sama
dengan pidana penjara) dan maksimum umumnya 20 tahun. Selain itu
jailing dapat digabungkan dengan pidana penjara dengan syarat
berdasarkan permohonan dari terpidana atau setelah mendapatkan
persetujuan darinya (Section 23) .
Pasal 27 KUHP Norwegia menyebutkan :
When the convict is sentenced to a fine, consideration shall be given not only to
the offense he has commited, but also specifically to his economic position and the
amount he can afford to pay
(jika terpidana dihukum denda, pertimbangan tidak hanya diberikan
pada perbuatan yang telah dilakukannya, tetapi secara khusus juga
pada keadaan ekonominya dan besaran denda yang dapat terpidana
bayarkan).
Tampaknya adanya ketentuan ini menarik perhatian Johannes
Andenaes saat memberikan Introduction pada terjemahan KUHP Norwegia
ini. Andenaes menyatakan bahwa:
An interesting feature of the code is that the provisions for fines never contain
maxima or minima. The provisions originally contained in the code (Section 27)
10
Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, (Bandung: Citra
Aditya Bakti, 1996), p. 99.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 7, No. 4, Agustus 2008
Ahmad Bahiej: Perbandingan Jenis Pidana dan Tindakan…
8
concerning such limitations were repealed in 1946, because such minima and
maxima for fines are regarded as contrary to the idea expressed in Section 27,
that the fine shall be proportional to the economic situation of the convict. The
sentence shall also stipulated a term of imprisonment which will be enforced in
case the fine is not paid (Section 28).11
Yang menjadi perbedaan dengan RUU KUHP Indonesia adalah
bahwa dalam RUU KUHP Indonesia pidana denda diatur juga minimum
umumnya, yaitu Rp. 15.000,00 dan maksimum umumnya ditetapkan
berdasarkan beberapa kategori yaitu:
1. Kategori I Rp. 1.500.000,00
2. Kategori II Rp. 7.500.000,00
3. Kategori III Rp. 30.000.000,00
4. Kategori IV Rp. 75.000.000,00
5. Kategori V Rp. 300.000.000,00
6. Kategori VI Rp. 3.000.000.000,0012
Persamaan RUU KUHP dengan KUHP Norwegia adalah
dicantumkannya ketentuan pidana denda yang didasarkan pada
kemampuan terpidana atau dengan kata lain memperhatikan keadaan
ekonominya. Pasal 81 RUU KUHP Indonesia menyebutkan:
a. Dalam penjatuhan pidana, wajib dipertimbangkan kemampuan
terpidana.
b. Dalam menilai kemampuan terpidana, wajib diperhatikan apa yang
dapat dibelanjakan oleh terpidana sehubungan dengan keadaan
pribadi dan kemasyarakatannya.
c. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) tidak
mengurangi kewajiban untuk tetap menerapkan minimum khusus
pidana denda yang ditetapkan untuk tindak pidana tertentu.
KUHP Indonesia yang merupakan warisan kolonial Belanda dan
sampai sekarang masih diberlakukan, tidak mengenal pidana denda dengan
kategori sebagaimana dalam RUU KUHP Indonesia. Minimum denda
yang harus dibayarkan terpidana adalah 25 sen (Pasal 30 KUHP). Namun
demikian, KUHP Belanda sebagai sumber aslinya telah berubah sama
sekali pidana dendanya sejak tahun 1925 sampai tahun 1983. Pasal 23
KUHP Belanda yang mengatur pidana denda tersebut menentukan batas
minimal denda sebanyak 5 gulden dan mengenal enam kategori denda,
(Pasal 23:4) yaitu:
a. Kategori ke-1 : 500 gulden
11
The Norwegian Penal Code, Ibid, p. 8.
Lihat Pasal 80 ayat (3) Rancangan Undang Undang tentang Kitab UndangUndang Hukum Pidana Indonesia.
12
SOSIO-RELIGIA, Vol. 7, No. 4, Agustus 2008
Ahmad Bahiej: Perbandingan Jenis Pidana dan Tindakan…
b.
c.
d.
e.
f.
9
Kategori ke-2 : 5.000 gulden
Kategori ke-3 : 10.000 gulden
Kategori ke-4 : 25.000 gulden
Kategori ke-5 : 100.000 gulden
Kategori ke-6 : 1.000.000 gulden
Di samping itu dalam Pasal 9 (2) KUHP Belanda ditetapkan bahwa
where a penalty of imprisonment or a penalty of detention, other than detention as
substitute penalty, is imposed, the judge may in addition impose a fine (apabila
pidana penjara atau kurungan, bukan kurungan pengganti, dijatuhkan,
maka hakim dapat menambah lagi dengan mengenakan pidana denda).
Ketentuan demikian tidak ada dalam KUHP Indonesia. Namun dalam
RUU KUHP Indonesia telah diatur dalam Pasal 58 dan Pasal 59 tentang
alternatif pidana pengganti pidana penjara tunggal atau pidana denda
tunggal.
Dengan adanya Pasal 9 (2) ini maka terhadap delik yang diancam
dengan pidana penjara atau kuirungan secara tunggal, atau yang tidak
mencantumkan pidana denda secara alternatif, hakim tetap dapat
menjatuhkan pidana denda. Maksimum denda yang dapat dijatuhkan
terhadap delik yang tidak mencantumkan pidana denda diatur dalam Pasal
23:5, yaitu maksimum denda kategori ke-1 untuk delik pelanggaran dan
maksimum denda kategori ke-3 untuk kejahatan. Pasal 9 (2) ini
mengandung pedoman pemidanaan bagi hakim, namun formulasinya
diintegrasikan dalam aturan tentang pidana.
Selanjutnya Pasal 9 (3) KUHP Belanda menyatakan bahwa in case in
which the law allows the imposition of analisa additional penalty, this penalty may be
imposed either separately or in conjunction with principal penalties and in conjunction
with ather additional penalties (dalam hal UU membolehkan penjatuhan
pidana tambahan, maka pidana tambahan ini dapat dijatuhkan secara
terpisah (sebagai pidana yang berdiri sendiri) atau bersama-sama dengan
pidana pokok, dan dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana
tambahan lainnya). Ketentuan ini pun tidak ada dalam KUHP maupun
dalam RUU KUHP.
Pasal 9 a KUHP Belanda mengatur tentang pengampunan oleh
hakim (rechterlijkpardon). Hal ini tidak dikenal juga dalam KUHP Norwegia
dan KUHP Indonesia. Namun RUU KUHP Indonesia telah mengaturnya
dalam Pasal 55 (2).
Hal lain yang tidak diatur dalam KUHP Norwegia adalah pidana
bersyarat. Pidana bersyarat diatur dalam KUHP Belanda dan KUHP
Indonesia. Dalam KUHP Belanda diatur dalam Pasal 14a-k. Pidana
bersyarat atau tidak dilaksanakannya pidana dengan syarat dapat
dijatuhkan dalam hal:
SOSIO-RELIGIA, Vol. 7, No. 4, Agustus 2008
10
Ahmad Bahiej: Perbandingan Jenis Pidana dan Tindakan…
1.
Where a penalty of not more than one year’s imprisonment or a penalty of
detention, other than detention as a substitute penalty, or a fine is imposed, the
judge may order that these penalties shal not be executed in whole ao in part.
2. Where a penalty of not less than one year’s and not more than three year’s
imprisonment is imposed, the judge may order that part of the penalty, being not
more than one third, shall not be executed.
3. The judge may in addition arder that additional penalties imposed shall not be
executed in whole or in part.
Jika ketentuan ini dibandingkan dengan KUHP Indonesia, maka
sekilas terdapat kesamaan. Namun ternyata point ke-2 di atas tidak ada
dalam KUHP Indonesia. Di samping itu dalam Pasal 14c:2 KUHP
Belanda juga ditentukan syarat-syarat khusus, yaitu :
1. Membayar seluruh atau sebagian kompensasi dari kerusakan yang
ditimbulkan.
2. Penempatan pada lembaga perawatan yang waktunya tidak melebihi
masa percobaan.
3. Menyetor sejumlah uang jaminan yang tidak melebihi dari perbedaan
antara maksimum denda yang diancamkan dan denda yang
dijatuhkan.
4. Menyetor sejumlah uang yang ditetapkan hakim ke dana kompensasi
korban perlukaan akibat kejahatan (the criminal injuries compensation fund)
taua untuk lembaga yang bertujuan melindungi kepentingan korban
tindak pidana. Jumlahnya tidak melebihi denda maksimum untuk
delik yang bersangkutan.
5. Syarat-syarat kusus lainnya.
Telah disebutkan di awal bahwa pencabutan hak tertentu
dicantumkan dalam KUHP Norwegia sebagai jenis pidana pokok (ordinary
punishment) dan dicantumkan pula dalam pidana pelengkap (supplemtary
punishment). Hak yang dicabut sebagai pidana pokok berupa hak
menduduki jabatan tertentu atau memegang pakerjaan tertentu (section 29).
Sedangkan hak yang dicabut sebagai jenis pidana pelengkap adalah hak
untuk menjadi anggota angkatan bersenjata (the right to serve in the armed
forces) dan hak suara pada peblisit publik dan pemilihan umum (the right to
vote in public plebiscites and elections).
Hal ini berbeda dengan RUU KUHP Indonesia yang mengenal
pidana pencabutan hak sebagai jenis pidana tambahan saja (Pasal 67).
Hak-hak yang dapat dicabut itu disebutkan dalam Pasal 91, yaitu :
1. Hak memegang jabatan pada umumnya atau jabatan tertentu.
2. Hak menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian
Negara Republk Indonesia.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 7, No. 4, Agustus 2008
Ahmad Bahiej: Perbandingan Jenis Pidana dan Tindakan…
3.
11
Hak memilih dan dipilih dalam pemilihan yang diadakan berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Hak menjadi penasehat hukum atau pengurus atas penetapan
pengadilan.
5. Hak menjadi wali, wali pengawas, pengampu, atau pengampu
pengawas, atas orang yang bukan anaknya sendiri.
6. Hak menjalankan kekuasaan bapak, menjalankan perwalian atau
pengampu atas anaknya sendiri; dan/atau
7. Hak menjalankan profesi tertentu.
Dalam KUHP Belanda terdapat pidana tambahan yang tidak ada
dalam KUHP Indonesia maupun KUHP Norwegia yaitu committal to a state
workhouse (penempatan pada lembaga pendidikan negara). Pidana
tambahan ini diatur dalam Pasal 32 yang menyatakan :
1. In case specified by law, the judge may order that the convicted person be commited
to a State workhouse for not less than three months and not more than three
years.
2. In the case of committal to a State workhouse, the provisions of articles 13, 14,
15-17 and 22 are applicable, provided that periods of committal to State work
house are considered as being consecutive where they are inteerupted by detention
alone.
3. Where a custodial sentence has been imposed as the principal penalty, the
additional penalty shall commence on the day of the termination of the principal
penalty.
Ada keistimewaan KUHP Norwegia lain adalah bahwa KUHP ini
mengatur adanya penangguhan hukuman (the suspended sentence). Bahkan
menurut Johannes Andenaes, Norwegia merupakan negara pertama kali di
Eropa yang menggunakan sistem penangguhan ini dan sekarang menjadi
salah satu karakter istimewa dalam praktek hukum pidana Norwegia.13
Penangguhan hukuman di Norwegia diatur secara khusus pada tahun
1894. Dalam KUHP Norwegia, penangguhan hukuman diatur dalam Pasal
52-54. Dalam KUHP Indonesia penangguhan hukuman ini tidak dikenal.
Sedangkan menurut RUU KUHP Indonesia, penangguhan ini telah
dicantumkan khususnya mengenai pidana mati (Pasal 88), yaitu ditunda
dengan masa percobaan selama 10 tahun dengan pertimbangan :
1. Reaksi masyarakat terhadap terpidana tidak terlalu besar.
2. Terpidana menunjukkan rasa menyesal dan ada harapan untuk
diperbaiki.
3. Kedudukan terpidana dalam penyertaan tindak pidana tidak terlalu
penting.
13
The Norwegian Penal Code, Ibid,. p. 9.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 7, No. 4, Agustus 2008
12
4.
Ahmad Bahiej: Perbandingan Jenis Pidana dan Tindakan…
Ada alasan yang meringankan.
D. Jenis Tindakan
Jenis tindakan (measures) menurut KUHP Norwegia diatur dalam
Pasal 39-39b. Syarat ditetapkannya tindakan ini jika seseorang melakukan
tindak pidana dalam keadaan kegilaan (insanity), tidak sadar (unconsciousness),
tidak sadar yang disebabkan karena mabuk yang disengaja (voluntary
intoxication), kekurangsadaran yang bersifat temporal dan dilakukan oleh
seseorang yang kurang berkembang atau rusak kemampuan mentalnya
secara permanen dan jika terdapat bahaya karena pelaku akan mengulangi
perbuatannya. Untuk itu demi tujuan keamanan (purposes of safety) hakim
dapat :
1. menunjuk atau melarang pelaku pada tempat tinggal tertentu (assign or
forbid him a certain place of residence).
2. menempatkannya di bawah pengawasan polisi atau petugas
percobaan yang ditunjuk secara khusus pada jarak waktu yang terpola
(place him under the supervision of the police or the specially appointed probation
afficer at designated intervals).
3. melarang pelaku mengkonsumsi minuman beralkohol (forbid to consume
alcoholic beverages).
4. menempatkan pelaku pada perawatan pribadi yang dipercaya (place him
in reliable private care).
5. menempatkan pelaku pada rumah sakit mental, sanatorium, rumah
perawatan, atau lembaga pendidikan, di mana mungkin, sesuai dengan
ketentuan umum yang diumumkan Raja (place him in a mental hospital,
sanatorium, nursing home, or workhouse, where possible, in accordance with
general provision promulgated by the King).
Dalam Section 39a disebutkan bahwa hakim dapat menjatuhkan
penahanan untuk pencegahan (preventive detention), yakni jika pelaku akan
mengulangi tindak pidana–tindak pidana tertentu lagi (residivis). Tindak
pidana-tindak pidana itu disebutkan secara limitatif dalam Pasal 39a.
Namun demikian tindakan keamanan yang disebutkan dalam 39 bagi
pelaku abnormal maupun preventif detention yang disebutkan dalam Pasal
39a tidak dipandang sebagai pidana.
Bab khusus tentang tindakan dimasukkan ke dalam KUHP Belanda
berdasar UU 22 Mei 1958, Staatblaad 296 dan diubah dengan UU 31
Maret 1983, S. 153. Pasal-pasalnya ada yang mengalami perubahan sampai
tahun 1994. Bab ini terdiri dari dua bagian. Bab Pertama tentang
Confiscation and Deprivation of the Unlawfully Obtained Gains (Pasal 36a-f), dan
Baba Kedua tentang Committal to Psychiatric Hospital and Placement on Analisa
Entrustment Order (Pasal 37-38i).
SOSIO-RELIGIA, Vol. 7, No. 4, Agustus 2008
Ahmad Bahiej: Perbandingan Jenis Pidana dan Tindakan…
13
Dalam Bab Pertama disebutkan tiga jenis tindakan, yaitu:
1. Penyitaan barang-barang tertentu (confiscation of seized objects) (Pasal
36b).
2. Kewajiban membayar sejumlah uang kepada negara untuk mencabut
keuntungan yang diperoleh secara melawan hukum (Pasal 36e).
3. Kewajiban membayar sejumlah uang kepada negara untuk
kepentingan korban (Pasal 36f).
Dalam Bab Kedua disebutkan dua jenis tindakan, yaitu:
1. Penempatan ke rumah sakit jiwa untuk orang yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan dalam melakukan tindak pidana karena cacat
jiwa (mental defect) atau sakit jiwa (mental desease) yang membahayakan
dirinya sendiri, orang lain atau keamanan umum (Pasal 37).
2. Penempatan terdakwa yang pada saat delik dilakukan menderita cacat
atau sakit jiwa, ke suatu lembaga berdasarkan surat Entrustment Order
(Perintah Mempercayakan) (Pasal 37a jo. 37d).
Adapun tindakan yang diatur dalam KUHP Indonesia tercantum
dalam Pasal 44 dan 45, yaitu :
1. dimasukkan dalam rumah sakit jiwa
2. dikembalikan kepada orangtuanya
3. diserahkan kepada pemerintah
Tindakan-tindakan ini dikenakan terhadap orang yang tidak atau kurang
mampu bertanggung jawab.
Tampaknya RUU KUHP Indonesia tidak mengenal preventif detention
sebagaimana yang disebutkan dalam KUHP Norwegia. Pasal 101 (1) RUU
menyebutkan:
(1) Setiap orang yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 40 dan Pasal 41 dapat dikenakan tindakan berupa:
a. perawatan di rumah sakit jiwa;
b. penyerahan kepada pemerintah;
c. penyerahan kepada keluarga.
Namun demikian KUHP Norwegia, KUHP Belanda dan RUU
KUHP Indonesia sama-sama menganggap bahwa tindakan dapat
diputuskan bersama dengan pidana. Section 39 (5) KUHP Norwegia
menyatakan if security measures, as mentioned in No. 1 above, are imposed, the
ministry may decide to forgo all or part of the punishment to which a transgressor be
sentenced. Dalam Pasal 36b:3 dan 36f:3 KUHP Belanda juga disebutkan
bahwa tindakan-tindakan tersebut (penyitaan barang tertentu dan
kewajiban membayar sejumlah uang kepada negara untuk kepentingan
korban-pen.) dapat dijatuhkan bersama-sama dengan semua jenis pidana
dan tindakan lainnya. Namun dalam RUU KUHP Indonesia jenis
tindakan yang dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok
SOSIO-RELIGIA, Vol. 7, No. 4, Agustus 2008
14
Ahmad Bahiej: Perbandingan Jenis Pidana dan Tindakan…
diletakkan secara terpisah dan dikenakan bagi orang yang normal atau
dapat bertanggung jawab (Pasal 101 (2)). Tindakan-tindakan tersebut
adalah :
a. pencabutan surat izin mengemudi
b. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana
c. perbaikan akibat tindak pidana
d. latihan kerja
e. rehabilitasi, dan atau
f. perawatan di lembaga.
Penutup
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa jenis
pidana dan tindakan dalam KUHP Norwegia, Belanda, Indonesia, dan
RUU KUHP Indonesia memiliki beberapa titik persamaan. Persamaan ini
adalah wajar karena keempat model menganut sistem yang sama dalam
penerapan sanksi pidana, yaitu double track system. Adapun beberapa titik
perbedaan dalam keempat model lebih dikarenakan adanya upaya
perbaikan sistematis di antara keempat model tersebut.
KUHP Indonesia yang bersumber dari KUHP Belanda patut
memperhatikan KUHP asing ini. Beberapa perbaikan mungkin telah
dilakukan dalam RUU KUHP Indonesia. Meski demikian, upaya
perbaikan dalam RUU KUHP tersebut masihlah layak untuk dilakukan
terus menerus mengingat perkembangan keilmuan hukum pidana di dunia
serta perkembangan kejahatan di masyarakat. Masa pembaharuan hukum
pidana Indonesia harus dijadikan pijakan untuk merombak hukum pidana
Indonesia yang masih berbau kolonial.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 7, No. 4, Agustus 2008
Ahmad Bahiej: Perbandingan Jenis Pidana dan Tindakan…
15
Daftar Pustaka
The Norwegia Penal Code, translated by Harald Schjoldager, Introduction by
Prof. Dr. John. Andenaes, New York: Fred B. Rothman & Co,
1961.
The Dutch Penal Code, translated by Louise Rayar and Stafford Wadswoth,
Colorado: Fred B. Rothman, 1997.
Arief, Barda Nawawi, Kebijakan Legislatif dalam Penanggulangan Kejahatan
dengan Pidana Penjara, Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro, 1996.
_________, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Bandung: Citra Aditya
Bakti, 1996.
Kitab Undang-undang Hukum Pidana, terjemahan Moeljatno, 1978.
Rancangan Kitab Undang Undang Hukum Pidana Tahun 2005, Departemen
Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, diakses dri
www.legalitas.org pada tanggal 22 Oktober 2007.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997.
Hamzah, Andi, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta: Rineka Cipta, 1994.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 7, No. 4, Agustus 2008
Download