Uploaded by User78156

buletin2017b

advertisement
BULETIN IKATAN
(INFORMASI PENGKAJIAN DAN DISEMINASI INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN)
ISSN: 9772088-8929
VOLUME 7, NOMOR 1, TAHUN 2017
DAFTAR ISI
Penanggung Jawab
Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
Banten
Dewan Redaksi
Resmayeti Purba
ST. Rukmini
Mayunar
Pepi Nur Susilawati
Redaksi Pelaksana
Asep Wahyu
Septi Kusumawati
Alamat Redaksi
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten
Jl. Ciptayasa KM. 01 Ciruas, Serang-Banten 42182
Telp. (0254) 281055, Fax. (0254) 282507
Email: [email protected]
Keragaan Produktivitas Padi Gogo di Kabupaten
Lebak
Yusarman ............................................................ 1
Pemanfaatan
Bakteri
Endofit
dalam
Mengendalikan Penyakit hawar Daun Bakteri pada
Padi
Sri Kurniawati .................................................... 9
Keragaan Usaha Produktif Gapoktan Penerima
Program Pengembangan Usaha Agribisnis
Pedesaan (PUAP) di Provinsi Banten
Sri Lestari ........................................................... 18
Pemanfaatan Tanaman Refugia untuk
Mengendalikan Hama dan Penyakit Tanaman Padi
Ulima Darmania Amanda .................................. 29
Respon Peserta Temu Lapang terhadap Teknologi
Budidaya Sapi di Kabupaten Tangerang
Rika Jayanti Malik ............................................. 46
Karakteristik dan Penilaian Pengunjung terhadap
Pelayanan Stand BPTP Banten Dalam Acara
Pameran Banten Expo
Dewi Widiyastuti dan Septi Kusumawati ........... 55
Dampak Keberadaan Perpustakaan Digital
terhadap Perkembangan Perpustakaan Khusus
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten
Sri Maryani ........................................................ 62
Buletin IKATAN (Informasi Pengkajian dan Diseminasi Inovasi Teknologi Pertanian) menerima
naskah hasil pengkajian dan diseminasi inovasi teknologi dari phak lain yang memenuhi kriteria
sebagaimana tercantum dalam pedoman bagi penulis di halaman sampul majalah ini.
KERAGAAN PRODUKTIVITAS PADI GOGO DI KABUPATEN LEBAK
Yusarman
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten
Jln. Ciptayasa KM. 01, Ciruas, Serang, Banten 42182
Telp. (0254) 281055; Fax (0254) 282507
email : [email protected]
ABSTRAK
Kegiatan kajian produktivitas padi gogo dilaksanakan pada bulan Januari-April 2016 di
lahan petani di Desa Cirinten, Kecamatan Cirinten, Kabupaten Lebak. Kajian menggunakan
acak kelompok dengan 6 perlakuan dan diulang 5 kali. Sebagai perlakuan adalah 5 varietas
padi gogo yaitu: Situbagendit, Towuti, Inpago 8, Inpago 5, dan Varietas Lokal sebagai
pembanding.
PENDAHULUAN
Pemerintah telah melakukan upaya pemenuhan kebutuhan beras nasional
melalui
penerapan teknologi, perluasan areal tanam. Namun dalam pelaksanaan Program Peningkatan
Produksi Beras Nasional (P2BN) masih banyak tercurah pada lahan sawah irigasi, di lain
pihak laju pertambahan produktivitas lahan sawah semakin menurun akibat setiap tahun
terjadi konversi lahan. Dampak konversi lahan terus menerus mengakibatkan luas lahan
sawah semakin berkurang, maka alternatif yang dapat dipilih adalah pemanfaatan dan
pengembangan lahan kering secara optimal.
Lahan kering di Kabupaten Lebak dapat dimanfaatkan untuk budidaya padi gogo.
Pemanfaatan lahan kering oleh petani masih konvensional dengan penanaman padi gogo
menggunakan varietas lokal. Tingkat produksi padi gogo di petani rata-rata 1-2 ton/ha.
Sedangkan potensi produktivitas VUB padi gogo dapat mencapai 2-3 ton/ha (Anonimous,
2013). Beberapa varietas padi gogo yang sudah di lepas Badan Litbang adalah : Batu Tegi,
Towoti, Situ Patenggang, Situ Bagendit, Inpago-4, Inpago-5, Inpago-6. Penyebaran dan
adopsi penggunaan varietas unggul baru padi gogo oleh petani terhambat, karena benih
unggul tidak tersedia secara tepat, yaitu tepat Varitas, mutu, jumlah, waktu dan harga (6
tepat).
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
1
Oleh karena itu, dalam upaya diseminasi VUB padi gogo dilakukan kajian adaptif
varietas unggul baru di lahan petani. Kajian bertujuan untuk mengetahui keragaan
produktivitas VUB padi gogo di lahan kering pada Kabupaten Lebak.
METODOLOGI
Kegiatan kajian dilaksanakan di lahan petani di Desa Cirinten, Kecamatan Cirinten,
Kabupaten Lebak. Kajian menggunakan rancangan percobaan menggunakan Rancangan
Acak Kelompok dengan 6 perlakuan dan diulang 5 kali. Sebagai perlakuan adalah 5 varietas
padi gogo yaitu: Situbagendit, Towuti, Inpago 8, Inpago 5, sebagai pembanding varietas
lokal. Petakan pengkajian disesuaikan ukuran lahan petani seluas 1,5-2,0 ha. Penanaman
padi gogo dilakukan pada Januari 2016 dengan sitem tugal.
Benih yang digunakan merupakan benih bermutu yang terdiri atas : varietas
Situbagendit (kelas FS/label putih), Towuti (kelas FS/label putih), Inpago-5 (kelas FS/label
putih), Inpago-8 (kelas SS/label ungu) dan Batutegi (kelas SS/label ungu) dan lokal sebagai
pembanding. Budidaya padi gogo terdiri dari : a). penyiapan dan pengolahan tanah,
pemberian pupuk kandang 500-1000 kg/ha, b). penanaman benih padi gogo dilakukan
dengan cara dilarik pada permukaan lahan antara larikan dengan jarak tanam 20-30 cm, c).
pemupukan dilakukan dua kali, pupuk pertama diberikan pada umur 20-25 hari dan
pemupukan kedua dilakukan pada umur 35-40 hari; pupuk yang diberikan : 200 kg Urea/ha;
100 kg SP-36/ha dan 300 kg/NPK Phonska, d). Pengendalian hama dan penyakit
menggunakan pestisida kimia, e). pemeliharaan (pengendalian gulma pada umur 10-15 hari
setelah tanaman tumbuh atau menjelang pemupukan pertama, penyiangan kedua dilakukan
pada umur 30-45 hari atau menjelang pemupukan susulan, f). panen dan pasca panen
(dilakukan pada umur 110-130 hari dengan sistem babat bawah, kemudian digebot).
Parameter yang diamati adalah : perkembangan tinggi tanaman dan jumlah anakan pada
umur 30, 45 dan 60 HST serta komponen hasil pada saat panen yang meliputi : jumlah
anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah, dan persentase gabah isi. Data pengamatan
pertumbuhan tanaman dan komponen hasil dicatat dalam bentuk Form Isian. Selanjutnya
data ini ditabulasi dan dianalisa untuk bahan penyusunan laporan. Data dianalisis secara
statistik dan deskriptif.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
2
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pertumbuhan Padi Gogo
Pada pertanaman padi gogo di Kabupaten Lebak terlihat pertumbuhan awal padi gogo
kurang optimal hal ini dicirikan dengan persentase tumbuh hanya 70-75%, sedangkan
persentase pertumbuhan padi gogo yang optimal harus lebih besar dari 90%. Persentase daya
tumbuh Inpago-8 berkisar 71-75%; Inpago-5 berkisar 70-72%; Batutegi berkisar 71-73%;
Towuti berkisar 70-71%. Walaupun benih yang digunakan dari BB Padi. Dampak dari daya
tumbuh padi gogo kurang optimal ini sehingga mempengaruhi hasil padi gogo yang dapat
dipanen.
Hasil pengamatan perkembangan tanaman
padi gogo menunjukkan bahwa tinggi
tanaman pada umur 30, 45 dan 60 HST, dimana varietas lokal lebih tinggi dibanding varitas
lainnya, tetapi varietas Inpago-8 lebih tinggi dibanding varietas Towuti, Batutegi,
Situbagendit dan Inpago-5 (Tabel 1).
Tabel 1. Tinggi tanaman padi gogo pada berbagai umur.
Inpago-5
30 HST
27,38
Tinggi tanaman
45 HST
48.80
60 HST
70,45
Inpago-8
29,66
52,35
75,56
Situbagendit
26,45
48,80
61,60
Towuti
26,56
48,50
62,89
Batutegi
26,72
46,40
61,67
Varietas lokal
30,30
54,25
78,41
Varietas
Hasil pengkajian padi gogo menunjukkan bahwa jumlah anakan pada umur 30, 45 dan
60 HST, terlihat varietas Inpago-8 memiliki jumlah anakan lebih tinggi dibanding varietas
Towuti, Batutegi, Situbagendit, Inpago-5 dan varietas lokal (Tabel 2).
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
3
Tabel 2. Jumlah anakan padi gogo di Kabupaten Lebak
Varietas
30 HST
27,38
29,66
26,45
26,56
26,72
22,32
Inpago-5
Inpago-8
Situbagendit
Towuti
Batutegi
Varietas Lokal
Jumlah anakan
45 HST
48.80
52,35
48,80
48,50
46,40
38,42
60 HST
70,45
75,56
61,60
62,89
61,67
50,42
Komponen Hasil Padi Gogo
Komponen hasil padi gogo di Kabupaten Lebak dilihat pada Tabel 3. Jumlah anakan
produktif per rumpun padi gogo terbanyak ditemukan pada varietas Inpago-8, yaitu 9,7
rumpum dan jumlah anakan produktif terendah pada varietas Batutegi, yaitu 5,2 rumpun.
Jumlah malai per rumpun padi gogo di Kabupaten Lebak tertinggi adalah varietas
Inpago-8 yaitu
10,4 malai dan terendah adalah varietas Batutegi,sebesar 6,1 malai.
Selanjutnya panjang malai padi gogo tertinggi di Kabupaten Lebak ditampilkan varietas
Inpago-8 mencapai 22,4 cm dan terpendek varietas lokal yaitu 18,3 cm. Berdasarkan data
komponen hasil menunjukkan bahwa varietas Inpago-8 diduga adaptif dikembangkan
karena menampilkan jumlah anakan produktif, panjang malai dan jumlah malai per rumpun
lebih tinggi dibanding varietas Towuti, Batutegi, Situbagendit, Inpago-5 dan varietas lokal.
Tabel 3. Jumlah anakan produktif, panjang malai dan jumlah malai per rumpun padi gogo di
Kabupaten Lebak
Jumlah anakan
produktif/rumpun
5,2
5,8
6,0
7,3
9,7
5,8
Varietas
Batutegi
Towuti
SituBagendit
Inpago- 5
Inpago-8
Varietas lokal
Panjang malai
(cm)
18,9
19,3
19,4
21,2
22,4
18,3
Jumlah malai/
rumpun
6,1
6,4
6,3
7,2
10,4
6,7
Komponen hasil padi gogo yang meliputi jumlah gabah bernas dan jumlah gabah
hampa per rumpun serta produktivitas padi gogo pada lokasi Kabupaten Lebak dapat dilihat
pada Tabel 4.
Pada lokasi di
terbanyak yaitu :
Lebak varietas Inpago-8 menampilkan jumlah gabah bernas/malai
115,50
butir/malai dan jumlah gabah bernas/ malai terendah 94,55
butir/malai pada varietas Towuti. Selanjutnya jumlah gabah hampa terbanyak ditemukan
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
4
pada varietas Lokal.
Komponen hasil jumlah gabah bernas yang ditampilkan varietas
Inpago-8 di Kab. Lebak lebih sedikit dibanding hasil penelitian ditempat lain. Pirngadi et
al., (2007), melaporkan bahwa padi gogo yang ditanam sesuai musimnya yaitu pada bulan
Oktober mampu memberikan hasil jumlah gabah bernas per rumpun rata-rata
154 butir/
malai sedangkan padi gogo yang ditanam di luar musim hanya memperoleh jumlah gabah
bernas berkisar 60-120 butir/ malai. Diduga jumlah bernas padi gogo kurang optimal di
Kabupaten n Lebak terjadi karena budidaya padi gogo dilakukan tidak pada waktu musim
tanam padi gogo. Dampak jumlah gabah bernas yang kurang optimal ini menyebabkan
produktivitas padi gogo hanya 0,69-1,98 t/ha atau dibawah potensinya yaitu lebih dari 2,5
t/ha.
Tabel 4. Jumlah gabah bernas/malai, jumlah gabah hampa/malai, produksi (t/ha) padi gogo di
Kabupaten Lebak
Varietas
Batutegi
Towuti
SituBagendit
Inpago- 5
Inpago-8
Varietas lokal
Jumlah gabah
bernas/malai
(butir)
95,20
94,45
97,11
102,40
115,50
99,56
Jumlah gabah
hampa/malai
(butir)
22,55
23,08
22,66
22,33
17,49
23,21
Produksi
(t/ha)
0,87a
0,74a
0,93a
1.10b
1,98c
0,78a
Produktivitas padi gogo tertinggi di Kabupaten Lebak diperoleh varietas Inpago-8
yaitu 1,98 t/ha dan terendah pada varietas Towuti yaitu 0,74 t/ha. Kondisi ini
menggambarkan bahwa varietas Situbagendit cocok dikembangkan di Pandeglang dan di
Lebak varietas Inpago-8. Produktivitas padi gogo varitas Inpago-8 dan Situbagendit berkisar
1,59-1,98 t/ha lebih rendah dari produktivitas padi gogo di lokasi lain. Hasil pengkajian
varietas Situbagendit, Batutegi dan Towuti di Kabupaten Garut diperoleh produktivitas
berturut-turut 2,3; 2,1 dan 2,0 t/ha (Nurbaeti et al., 2006). Hasil pengkajian di Lampung
diperoleh produktivitas Situbagendit sebesar 2,01 t/ha (Barus, 2006). Selanjutnya hasil
penelitian di Kuningan-Jawa Barat diperoleh produktivitas padi gogo Situbagendit sebesar
2,18 t/ha,dan Batutegi 2,12 t/ha (Pirgandi et al., 2007). Dari penelitian Toha dan Darajat
(2006) menunjukkan bahwa varietas Batutegi dan Situbagendit mempunyai potensi hasil > 2
t/ha. Pada pengkajian di Kab.Lebak,
padi gogo ditanam diluar musim yaitu
bulan
Januari/Februari diperoleh produktivitas 1,5-1,99 t/ha. Hasil pengkajian di wilayah Jawa
Barat menggunakan varietas Situbagendit dan ditanam sesuai jadwal musim produktifitas
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
5
mencapai 2,1 t/ha, Batu Tegi 2,2 t/ha dan Towuti 2,8 t/ha, sedangkan padi lokal hanya
mampu 1,0 t/ha (Sujitno et al., 2011).
Rendahnya hasil yang diperoleh pada pengkajian di Kab. Lebak hal ini diduga karena
padi gogo dapat ditanam diluar musim, dengan curah hujan yang cukup tinggi sehingga
suhu menjadi rendah. Rendahnya suhu menjadi problem pada padi gogo karena suhu optimal
berkisar 24-26oC (Toha, 2007a). Pada dasarnya keberhasilan dalam budidaya padi gogo
sangat dipengaruhi oleh faktor iklim terutama curah hujan. Padi gogo memerlukan air
sepanjang pertumbuhannya dan kebutuhan air tersebut. Penanaman padi gogo dengan curah
hujan tinggi produksinya akan
menurun karena penyerbukan kurang intensif karena
memerlukan penyinaran matahari penuh. Kondisi ini menyebabkan produktivitas padi gogo
kurang optimal. Namun berdsarkan
komponen hasil (panjang malai, jumlah anakan
produktif), padi gogo Inpago-8 adaptif berkembang di Kab. Lebak.
Selain faktor iklim, produksi padi gogo juga dipengaruhi oleh tingkat serangan hama.
Hama tanaman padi gogo yang menyerang di lokasi pengkajian adalah lalat buah (larvanya
menyerang anakan muda, anakan yang sedang tumbuh); dan walang sangit yang menyerang
buah padi yang masak susu dengan cara mengisap cairan didalamnya dan menyebabkan buah
hampa atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna coklat, pada daun terdapat bercak
bekas isapan dan buah padi berbintik-bintik hitam. Selain diserang hama walang sangit, padi
gogo juga diserang penyakit blas yang disebabkan oleh jamur. Menurut Toha (2007) penyakit
blas merupakan masalah utama padi gogo karena mampu merusak tanaman padi pada fase
pertumbuhan dan fase generatif sehingga
dapat menurunkan hasil 9,6-39,0%. Akibat
serangan penyakit ini, hasil panen padi gogo varitas Inpago-5, Inpago-8, Situbagendit,
Batutegi dan Towuti di Kabupaten Lebak lebih rendah 35% dibandingkan potensi hasilnya.
Tingkat serangan hama dan penyakit padi gogo juga disebabkan disekitar tanaman
padi gogo baru dilakukan panen padi sawah sehingga hama pada tanaman padi sawah
berpindah dan menyerang tanaman padi gogo yang berada pada fase generatif (pengisian
bulir padi).
Pengendalian telah dilakukan menggunakan pestisida Dharmabas Kilptop
namun kurang efektif dan serangan walang tidak terkendali. Sedangkan penyakit blas
dikendalikan dengan penyemprotan fungsida
berbahan aktif fenobukanazol
namun
serangannya tidak dapat dikendalikan.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
6
KESIMPULAN
Padi gogo yang adaptif di Desa Cirinten, Kecamatan Cirinten Kabupaten Lebak adalah
varietas Inpago- 8 dengan produktivitas 1,98 t/ha.
Penanaman
padi
gogo
sebaiknya
dilakukan pada musim tanam, yaitu bulan Oktober.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2013 Balai Penkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat. Pengelolaan
Tanaman dan Sumberdaya terpadu (PTT) padi Gogo. Leaflet.
Barus, J. 2009. Peningkatan hasil varietas unggul padi gogo dengan teknologi PTT. Prosiding
Seminar Nasional Padi 2009 : 925-732.
Kuntyastuti, H., dan Sunaryo, L.
2002. Efesiensi Pemupukan dan Pengairan pada
Kedelai di Tanah Vertisol Kahat K. Prosiding Seminar Pengelolaan Sumber
Daya Lahan dan Hayati pada Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian.
PPTP. Malang.485p.
Pirngadi, K., H.M. Toha dan B. Nuryanto, 2007. Pengaruh Pemupukan N terhadap
pertumbuhan dan hasil padi gogo dataran sedang. Prosiding: Apresiasi Hasil Penelitian
Padi 2007 :325-338.
Ruswandi, A.,B. Susanto, Yayat. 2009. Potensi peningkatan produksi padi mellalui
pengembangan padi gogo di Jawa Barat selatan: Studi Kasus di Lokasi primatani
Kabupaten Garut. J. Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, 12 (2):99107
Sujitno, E, T.Fahmi dan S.Teddy.2011. Kajian adaptasi beberapa varietas unggul padi gogo
pada lahan kering dataran rendah di Kabupaten Garut. J. Pengkajian dan
Pengembangan Teknologi Pertanian, 14 (1):62-69
Sujitno E. T. Fahmi dan S. Teddy. 2011. Kajian Adaptasi Beberapa Varietas Unggul Padi
Gogo pada lahan kering dataran rendah di Kabupaten Garut. Jurnal Pengkajian dan
Pengembangan Teknologi Pertanian Vol.14 (1):62-69.
Toha, H.M. 2007. Peningkatan produktivitas padi gogo melalui penerapan pengelolaan
tanaman terpadu dengan introduksi varietas unggul. Jurnal Penelitian Pertanian
Tanaman Pangan 26 (3):180-187.
Toha, H.M. 2007a. Pengembangan padi gogo menunjang program P2BN. Apresiasi Hasil
Penelitian Padi 2007, 295-323.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
7
Wahyuni, S., Toha dan U.S. Nugraha. 2007. Hasil dan Mutu Benih Padi Gogo pada
Lingkungan Tumbuh Berbeda. Jurnal Penelitian Pertanian Pangan 25 (1):30-37.
Wahyuni, S., Toha dan U.S. Nugraha. 2007. Hasil dan Mutu Benih Padi Gogo pada
Lingkungan Tumbuh Berbeda. Jurnal Penelitian Pertanian Pangan 25 (1):30-37.
Wahyuni, S., 2010. Hasil Padi Gogo dari Sumber Benih yang Berbeda. Jurnal Penelitian
Pertanian Tanaman Pangan 27 (3):135-147.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
8
PEMANFAATAN BAKTERI ENDOFIT DALAM MENGENDALIKAN
PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI PADA PADI
Sri Kurniawati
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten
Jln. Ciptayasa KM. 01, Ciruas, Serang, Banten 42182
Telp. (0254) 281055; Fax (0254) 282507
email : [email protected], [email protected]
Abstrak
Penyakit hawar daun bakteri (HDB) disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv
oryzae (Xoo) merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman padi yang dapat
menyebabkan kehilangan hasil sebesar 10-95%. Salah satu komponen pengendalian penyakit
ini adalah penggunaan agens hayati diantaranya adalah kelompok bakteri endofit. Bakteri
Endofit yang telah berhasil diisolasi dan dikarakterisasi sebagai agens hayati diantaranya
adalah
Pantoea,
Enterobacter,
Methylobacterium,
Agrobacterium,
Bacillus
dan
Streptomyces. Keefektifan bakteri endofit dalam menekan HDB dapat mencapai hingga 70%.
Adapun mekanisme bakteri endofit dalam mengendalikan penyakit melalui kompetisi,
antibiosis, memacu pertumbuhan tanaman dan menginduksi ketahanan tanaman. Peluang
pemanfaatan bakteri endofit dapat berupa kultur bakteri maupun hasil metabolitnya.
Kata Kunci: agens hayati, kresek, metabolit, Xoo
Pendahuluan
Penyakit hawar daun bakteri (HDB) disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv
oryzae (Xoo). Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Jepang tahun 1884, kemudian
menyebar secara luas di Asia seperi di Srilangka, Filipina, dan Pakistan (Yamasaki et al.
2006), termasuk di Indonesia Goto (1998). Penyakit ini merupakan salah satu penyakit
penting di Indonesia yang dapat menyebabkan kehilangan hasil sebesar 10-95% (Triny et al.,
2009). Pada tahun 2011 luas serangan HDB di Indonesia mengalami peningkatan sebesar
26.2% dari rerata luas serangan tahun 2006-2010 (Ditlin Perlintan, 2013).
HDB merupakan penyakit vaskular yang menginfeksi tanaman secara sistemik.
Terdapat 2 jenis gejala yang ditunjukkan oleh penyakit ini yaitu kresek dan hawar daun.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
9
Kresek merupakan gejala yang lebih destruktif dibandingkan dengan hawar daun. Pada
awalnya, daun menjadi kuning pucat dan layu, kemudian mengering dan mati. Gejala ini
muncul pada fase pembibitan dan pembentukan anakan. Adapun gejala hawar daun dapat
terjadi pada semua fase pertumbuhan tanaman terutama fase anakan maksimum sampai
pemasakan. Hawar dimulai dari tepian helaian daun dan terus memanjang sampai ke pelepah.
Hawar berwarna keabuan seperti terkena air panas (lodoh/water-soaked) dan berubah
menjadi keputih-putihan (Nino-Liu et al. 2006), selanjutnya daun menjadi kering seperti
jerami.
Infeksi dimulai dengan masuknya bakteri Xoo melalui hidatoda pada ujung dan tepi
daun. Selanjutnya bakteri tersebut memperbanyak diri di dalam jaringan epidermis kemudian
masuk ke pembuluh pengangkut, lalu menyebar ke jaringan lainnya. Selain melalui hidatoda,
bakteri dapat masuk melalui luka pada akar saat bibit dicabut dari persemaian atau pada daun
yang digunting saat pindah tanam (Suparyono et al. 2004).
Penyebaran penyakit terjadi melalui kontak fisik antara daun yang terinfeksi dengan
daun yang sehat dan melalui aliran irigasi dari satu lahan ke lahan lainnya. Lingkungan yang
lembab dan jarak tanam yang terlalu rapat dapat meningkatkan penyebaran penyakit
(Khaeruni 2001). Selain itu, penyebaran bakteri dapat terjadi melalui benih. Xoo dapat
terbawa benih dan bertahan dalam waktu yang cukup lama di dalam endosperma benih
selama 2-6 bulan (Agarwal dan Sinclair 1987). Bakteri dapat bertahan di tanah selama 1-3
bulan (Ou 1985), gulma (Cyperus rotundus, Leersia oryzoides, Zizania latifolia), padi liar
(Oryza sativa f. spontanea, O. perennis), air irigasi dan air sawah (Nino-Liu et al. 2006).
Upaya pengendalian terhadap penyakit HDB ini perlu dilakukan untuk meminimalisir
kerugian. Adapun komponen pengendalian tersebut meliputi penggunaan varietas tahan,
perlakuan benih, pengaturan jarak tanam, penggunaan pupuk berimbang, pergiliran varietas,
sanitasi, eradikasi, penggunaan bakterisida dan aplikasi agens hayati.
Sejauh ini pengendalian yang dirasakan efektif, mudah dan murah untuk dilakukan
adalah penggunaan varietas tahan. Varietas unggul baru (VUB) tahan HDB diantaranya
adalah Conde, Angke, Inpari 1, Inpari 6 JETE, Inpari 17, Inpari 25, Inpari 31, Inpari 32 dan
Inpari 33. Akan tetapi, ketersediaan benih tersebut terbatas di pasaran dan ini menjadi
kendala tersendiri bagi upaya pengendalian menggunakan varietas tahan.
Perlakuan pada benih padi dapat dilakukan untuk mengurangi intensitas serangan awal
di lapangan. Hal ini perlu dilakukan terutama pada benih yang berasal dari daerah endemis
HDB karena Xoo merupakan patogen terbawa benih. Perlakuan benih yang telah dilaporkan
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
10
adalah dengan cara coating benih dan pencelupan bibit ke dalam antibiotik sebelum pindah
tanam (Durgapal, 1983).
Pemupukan berimbang menjadi salah satu faktor penting dalam pengendalian. Hal ini
dikarenakan dapat mempengaruhi perkembangan penyakit HDB. Penggunaan pupuk N
berlebihan mengakibatkan tanaman lebih rentan terhadap Xoo karena jaringan tanaman
menjadi lebih lunak. Selain itu, pemupukan N yang berlebihan memicu tanaman
memproduksi asam aspartat dan asam fusarat yang lebih banyak dan kedua senyawa ini
merupakan nutrisi yang baik bagi perkembangan Xoo. Selanjutnya, pergiliran varietas,
sanitasi lahan terhadap gulma yang menjadi inang alternatif dari Xoo dan eradikasi terhadap
tanaman sakit akan memutus siklus hidup Xoo serta mengurangi sumber inokulum di
lapangan.
Pengendalian lainnya yang biasa dilakukan adalah dengan bakterisida seperti nickel
dimethyl dithiocarbamate, dithianone, dan phenazine (Gnanamanickam et al., 1994).
Bakterisida terutama yang memiliki kandungan tembaga dan antibiotika seperti streptomycin
memiliki keefektifan yang tinggi dalam mengendalikan Xoo. Namun demikian pengendalian
dengan penggunaan bakterisida sintetik ini memiliki banyak kelemahan diantaranya adalah
memicu terjadinya resistensi patogen, matinya organisme bukan sasaran, pencemaran
lingkungan dan adanya residu pada produk yang dikonsumsi.
Alternatif pengendalian lain yang saat ini banyak dikembangkan adalah penggunaan
agens hayati.
Hal ini menjadi trend pengendalian yang ramah lingkungan untuk
menghasilkan produk yang lebih sehat dikonsumsi karena dapat mengurangi penggunaan
pestisida sintetis. Penggunaan agens hayati ini memiliki prospek yang baik karena efektif,
kompatibel atau sinergi dengan teknik pengendalian lainnya. Salah satu dari agens hayati
tersebut adalah dari kelompok bakteri endofit.
Potensi Agens Hayati Bakteri Endofit dalam Mengendalikan Penyakit HDB
Pemanfaatan agens hayati dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman telah
menjadi salah satu pilihan komponen pengendalian yang dapat disinergikan dengan
komponen pengendalian lainnya. Hal ini seiring dengan meningkatnya isue eco labeling dan
kesadaran masyarakat terhadap produk pertanian yang sehat. Kecenderungan konsumen saat
ini menuntut kualitas komoditas yang memenuhi standar kesehatan dengan mensyaratkan
semua produk konsumsi memenuhi persyaratan Batas Maximum Residu (BMR) pestisida.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
11
Pengertian dan landasan hukum penggunaan agens hayati
Penggunaan ages hayati dalam pengendalian penyakit selaras dengan
UU No. 12
Tahun 1992 tentang Budidaya Tanaman dan PP No.6 Tahun 1995 tentang Perlindungan
Tanaman. Pemanfaatan mikroorganisme antagonis dan musuh alami dalam konsep budidaya
tanaman sehat merupakan bentuk aplikasi prinsip PHT tidak menimbulkan kerugian ekonomi
dan ekologi. Selanjutnya, berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 411 tahun 1995,
pengertian agens hayati adalah setiap organisme yang meliputi spesies, subspesies, protozoa,
cendawan (fungi), bakteri, virus, mikoplasma serta organisme lainnya dalam semua tahap
perkembangannya yang dapat dipergunakan untuk
keperluan pengendalian hama dan
penyakit atau organisme pengganggu, proses produksi, pengolahan hasil pertanian dan
berbagai keperluan lainnya (Supriadi, 2006).
Pengendalian hayati memiliki beberapa keunggulan yaitu: 1) selektivitas tinggi dan
tidak menimbulkan hama/patogen baru, 2) organisme yang digunakan telah tersedia di alam,
3) Organisme yang digunakan dapat mencari dan menemukan inangnya, 4) dapat
memerbanyak diri dan menyebar, 5) hama/patogen tidak menjadi resisten atau kalau terjadi
sangat lambat, dan 6) pengendalian berjalan dengan sendirinya (Van Emden dalam Laba dan
Arifin K., 1998).
Teknik pengendalian dengan menggunakan ages hayati/musuh alami dapat dilakukan
dengan cara :
1. Introduksi yaitu usaha mendatangkan/mengimpor musuh-musuh alami dari luar
negeri/daerah lain untuk dilepaspan di daerah baru. Introduksi dapat ditempuh apabila
hama/patogen yang menyerang suatu tanaman pada umumnya menimbulkan eksplosi dan
diketahui hama/patogen tersebut bukan hama/patogen asli daerah tersebut.
2. Augmentasi yaitu usaha mempertinggi daya guna musuh alami yang telah ada, misalnya
dengan melakukan pembiakan masal dan menyebarkannya kembali ke
alam pada
daerah-daerah yang populasinya masih rendah. Augmentasi dapat dilakukan dengan cara
inokulasi dan inundasi. Inokulasi yaitu pelepasan musuh alami dalam jumlah relatif
sedikit misalkan satu kali dalam satu musim atau tahun dengan tujuan agar musuh alami
tersebut dapat mengadakan kolonisasi dan menyebar luas secara alami. Sedangkan
Inundasi yaitu pelepasan musuh alami dalam jumlah besar pada waktu tertentu untuk
membantu musuh alami yang kurang efektif.
3. Konservasi atau pelestarian musuh alami yaitu upaya mencegah berkurangnya populasi
dan potensi musuh alami yang telah ada dengan cara memelihara kondisi ekologis yang
masih baik dengan tidak menggunakan pestisida atau pengendalian lain yang dapat
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
12
mengganggu efektivitas musuh alami tersebut. (Untung, 1996; Laba dan Arifin, 1998;
BPTPH Jatim, 2000).
Bakteri endofit sebagai agens hayati
Di alam keberadaan patogen dan agens hayati (musuh alami) selalu berdampingan
meskipun demikian salah satu dari populasi ada yang mendominasi dan ada yang
terkalahkan. Fenomena yang terjadi pada tanaman sehat di antara tanaman sakit menunjukkan
adanya sesuatu yang membuat tanaman bertahan terhadap serangan patogen diantaranya
adalah adanya peran dari mikrob seperti bakteri endofit.
Bakteri endofit adalah bakteri yang hidup dalam jaringan tanaman tanpa menimbulkan
gejala penyakit dan dapat diisolasi dari jaringan tanaman yang sudah disterilisasi
permukaannya (Hallman et al., 1997). Sebagian besar mikroorganisme endofit hidup
bersimbiosis mutualisme dengan tumbuhan inangnya, namun interaksi keduanya berbasis
molekuler belum dapat dipahami (Hurek et al., 2011). Beberapa kelompok bakteri endofit
yang secara umum ditemukan pada berbagai tumbuhan yang dibudidayakan adalah Pantoea,
Enterobacter, Methylobacterium, Agrobacterium, dan Bacillus (Susilowati et al., 2010).
Kontribusi bakteri endofit pada pertumbuhan tanaman inang adalah dengan
memproduksi zat pengatur
terhadap patogen dan parasit,
tumbuh tanaman, meningkatkan resistensi tanaman inang
membantu fiksasi nitrogen, dan menghasilkan antibiotik
(Bhore et al., 2010). Selanjutnya menurut Hurek et al. (2011), endofitik selain dapat
menginduksi ketahanan tanaman, menghasilkan sekresi zat yang bersifat antagonis terhadap
patogen juga dapat berkompetisi untuk memperoleh situs kolonisasi dan pengambilan nutrisi.
Penelitian-penelitian tentang pengembangan bakteri endofit sebagai agens biokontrol
terhadap penyakit HDB pada padi telah banyak dilaporkan. Pada umumnya, bakteri endofit
yang berhasil diisolasi dan berpotensi untuk mengendalikan HDB berasal dari kelompok
bakteri Aktinomiset yaitu dari genus Streptomyces. Sebagaimana pada penelitian yang
dilakukan oleh Giyanto dan Rustam (2012) menunjukkan terdapat bakteri endofit pada
tanaman padi yaitu Streptomyces sp. Efektif mengendalikan penyakit HDB hingga 70%.
Selanjutnya Hastuti (2013) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa aplikasi bakteri endofit
Actinomycet PS4-6 di lapangan pada musim kemarau dapat meningkatkan produksi padi
sebesar 17% dibandingkan dengan kontrol. Sedangkan hasil penelitian di rumah kaca
menunjukkan inokulasi Actinomycet AB131-1 pada padi varietas IR64 memberikan hasil
produksi lebih tinggi sebesar 21.8% dan dapat menekan perkembangan penyakit HDB lebih
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
13
baik dibandingkan dengan isolat PS4-16. Hasil sekuensing 16S rDNA menunjukkan semua
isolat tersebut termasuk dalam genus Streptomyces.
Peluang Pengembangan Bakteri Endofit sebagai Agens Hayati
Penggunaan agens hayati dalam pengendalian penyakit memiliki beberapa keunggulan
diantaranya adalah :a) bersifat permanen, dimana agens hayati mapan dalam ekosistem
sehingga populasi patogen dijaga dalam keadaan seimbang; b) bersifat aman, dalam hal ini
tidak memiliki efek samping yang merugikan terhadap lingkungan; dan c) bersifat ekonomis
karena hanya menjaga eksistensi agens terjaga dalam ekosistem (Untung, 1996). Demikian
halnya, endofit sebagai agens hayati secara spesifik berada dalam jaringan tanaman sehingga
tidak terpapar oleh deraan fisik maupun faktor biotis lainnya. Oleh karenanya, keberadaan
bakteri endofit ini akan terus berlanjut sepanjang tanaman inangnya hidup. Berdasarkan hal
tersebut, endofit memiliki peluang besar untuk dikembangkan dimasa mendatang dalam
teknologi pengendalian penyakit yang ramah lingkungan.
Bakteri endofit memiliki prospek yang baik sebagai sumber metabolit sekunder baru
seperti enzim-enzim perombak, zat pengatur tumbuh tanaman, dan antibiotik yang
bermanfaat di bidang bioteknologi, pertanian, maupun farmasi. Hal tersebut tentunya dapat
mengurangi penggunaan pestisida yang membutuhkan biaya yang besar dan berakibat buruk
terhadap lingkungan.
Aplikasi endofit dalam mengendalikan penyakit diantaranya adalah dengan perlakuan
pada benih. Benih direndam dengan suspensi bakteri endofit selama 24 jam selanjutnya
diperam dan disemai. Bakteri endofit akan masuk ke jaringan tanaman melalui jaringan yang
terbuka saat benih berkecambah. Selanjutnya perlakuan pencelupan akar pada suspensi
bakteri endofit dilakukan sesaat sebelum pindah tanam. Saat pencabutan bibit terdapat luka
pada akar dan melalui luka tersebut bakteri endofit masuk ke dalam jaringan tanaman dan
mengkolonisasi lebih awal untuk memicu ketahanan tanaman sebelum infeksi Xoo dari lahan
saat pindah tanam. Selain itu dapat dilakukan penyemprotan pada tanaman. Bakteri akan
masuk melalui lubang-lubang alami tanaman yaitu melalui stomata dan hidatoda.
Tantangan kedepan dalam pengembangan bakteri endofit sebagai agens hayati ini
adalah usaha untuk eksplorasi bakteri endofit maupun metabolit sekunder yang dihasilkannya
memiliki aktivitas tinggi terhadap mikroba patogen, toksisitas rendah terhadap hewan,
manusia maupun tumbuhan, berspektrum luas, memiliki stabilitas baik, mudah dalam
produksi dan aplikasinya, kompatibel dengan pengendalian yang lain dan murah dalam biaya
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
14
produksinya.Selain itu adalah perlu dikembangkan formulasi yang tepat agar aplikasi di
lapangan lebih mudah.
Kedepan, diharapkan terdapat teknologi penggunaan bakteri endofit maupun produk
metabolit atau genetiknya dapat dimanfaatkan dalam pengendalian hama dan penyakit secara
luas. Penerapan teknologi ini tidak terlepas dari kajian sosial yang merupakan komponen
penting dalam keberhasilan penerapan suatu teknologi. Saat ini penggunaan pestisida
kimiawi masih menjadi andalan utama. Sebagian besar petani tidak luput dalam
penggunaannya untuk mengendalikan hama dan penyakit. Karenanya tantangan terbesar
dalam perakitan teknologi pengendalian menggunakan bakteri endofit atau agens hayati
lainnya adalah dapat menyamai atau bahkan melebihi penggunaan pestisida kimiawi dalam
hal keefektifan, efisiensi dan kemudahan dalam aplikasinya.
Pemanfaatan agens hayati ini perlu didukung dengan komponen pengendalian lain yang
sinergi. Dalam hal ini pemahaman masyarakat petani terhadap konsep pengendalian hama
terpadu (PHT) perlu ditingkatkan. Prinsip PHT seperti pengamatan/monitoring di lapangan
merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam pengendalian hama dan penyakit. Hal ini
dikarenakan banyak pertanaman dapat terselamatkan dari serangan suatu hama dan penyakit
ketika terdeteksi awal dan dilanjutkan dengan pengendalian yang sesuai dengan
kebutuhannya. Prinsip lainnya adalah budidaya tanaman sehat yang menjadi dasar
keberhasilan dalam usaha tani, diamana tanaman yang sehat terawat lebih tahan terhadap
suatu hama dan penyakit.
PENUTUP
Pemanfaatan bakteri endofit sebagai agens pengendali hayati pada penyakit HDB
memiliki keunggulan yaitu bersifat aman, ekonomis dan mudah dalam hal aplikasinya.
Namun demikian, keberhasilan
dalam penerapan teknologi tersebut, membutuhkan
dukungan dari semua pihak. Mulai dari Lembaga Penelitian, Lembaga Pendidikan, Lembaga
Teknis dan pihak terkait lainnya. Prospek pemanfaatan agens hayati dapat ditingkatkan
peranannya dengan pengawalan teknologi aplikasi yang tepat oleh petugas pertanian sehingga
efektifitas penggunaan agens hayati ini dapat dirasakan dengan baik oleh petani.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
15
DAFTAR PUSTAKA
Agarwal VK, Sinclair JB. 1987. Principles of Seed Pathology. Florida (US): CRC Press, Inc.
[BPTPH] Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura VI Jawa Timur. 2000.
Pengembangan Agen Hayati di Jawa Timur. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah
Propinsi Jawa Timur. 31 hal.
Bhore S, Nithya R, Loh CY. 2010. Screening of Endophytic Bacteria Isolated from leaves of
Sambung Nyawa [Gynura procumbens (Lour.) Merr] for Cytokinin-like Campound.
Bioinformation.5(5):191-197.
[Ditlin Perlintan] Direktorat Perlindungan Tanaman. 2013. Laporan Tahunan Direktorat
Perlindungan Tanaman Pangan Tahun 2012. Direktorat Perlindungan Tanaman
Pangan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Kementerian Pertanian. Jakarta.(ID)
Durgapal, J.C. (1983) Management of bacterial blight of rice by nursery treatment preliminary evaluation. Indian Phytopathology 36, 146-149.
Giyanto dan Rustam. 2012. Perakitan teknik pengendalian penyakit tanaman padi ramah
lingkungan berbasis bakteri agens hayati dan metabolis sekundernya. Laporan Proyek
Penelitian DP2M DIKTI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Gnanamanickam SS, Priyadarisini VB, Narayanan NN, Vasudevan P, Kavitha S. 1994. An
overview of bacterial blight disease of rice and strategies for its management. Review
article. Current science 77(11):1435-1443.
Goto M. 1998. Kresek and pale yellow leaf systemic symptoms of bacterial leafblight of rice
caused by Xanthomonas oryzae. PI Dis Rep 48:858-861.
Hallmann J, Quadt-Hallmannn A, Mahaffee WF, Kloepper JW. 1997. Bacterial endophytes in
agricultural crops. Can J Microbiol 43:895-914.
Hastuti, RD. 2013. Potensi Aktinomiset Endofit dalam Mengendalikan Penyakit Hawar Daun
Bakteri pada Tanaman Padi (Oryza sativa). Article. IPB-Bogor. Diunduh pada
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/61273 tanggal 20 Juni 2013.
Hurek BR, Hurek T. 2011. Living inside Plants: bacterial Endophytes. Current Opinion in
Plant Pathology.14(4):435-443.
Khaeruni AR. 2001. Masalah penyakit HDB pada padi dan pemecahannya. Journal
Penelitian Pertanian Tanaman Pangan 25:108-109.
Laba, I.W dan Arifin K. 1998. Pelestarian Parasitoid dan Predator dalam Pengendalian Hama
Tanaman. Jurnal Litbang Pertanian. XVII(4): 122 – 129.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
16
Nino-Liu DO, Ronald PC, Bogdanove AJ. 2006. Xanthomonas oryzae pathovar: model
pathogens of a model crop. Mol Plant Pathol 7(5):303-324.
Ou SH. 1985. Rice diseases 2nd Ed. Commonwealth Mycological Institute.380 pp.
Suparyono dan Sudir. 1992. Perkembangan penyakit bakteri hawar daun pada stadia tumbuh
yang berbeda dan pengaruhnya terhadap hasil padi. Media Penelitian Sukamandi No.
12: 6-9
Suparyono, Sudir, Suprihanto. 2004. Pathotype profile of Xanthomonas oryzae pv. oryzae
isolates from the rice ecosystem in Java. Indonesian Journal of Agricultural Science 5
(2): 63-69.
Supriadi. 2006. Analisis Resiko Agens Hayati untuk Pengendalian Patogen pada Tanaman.
Jurnal Litbang Pertanian. 25(3): 75 – 80.
Susilowati DN, Hidayatun N, Tasliah, Muiya K. 2010. Keragaman Bakteri Endofitik
Diisolasi dari empat Varietas Padi dengan Metode ARDRA. Berita Biologi.10(2):241248.
Triny SK, Suryadi Y, Sudir, Machmud M. 2009. Penyakit bakteri padi dan cara
pengendaliannya. Di dalam: Daradjat AA, Setyono, Makarim AK, Hasanuddin A,
editor. Padi Inovasi Teknologi Produksi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. hlm 499-530.
Untung, K. 1996. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu..Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta. 268 hal.
Yamasaki RAD, Murata N, Suwa T. 2006. Studies on the culture of Xanthomonasoryzae. J
Bacteriol 42:946-949.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
17
KERAGAAN USAHA PRODUKTIF GAPOKTAN PENERIMA PROGRAM
PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP)
DI PROVINSI BANTEN
Sri Lestari
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten
Jln. Ciptayasa KM. 01, Ciruas, Serang, Banten 42182
Telp. (0254) 281055; Fax (0254) 282507
email : [email protected], [email protected]
ABSTRAK
Kajian ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang keragaan usaha produktif
gapoktan penerima dana BLM PUAP. Pengkajian dilaksanakan di Provinsi Banten pada
bulan November – Desember 2016 terhadap Gapoktan penerima dana BLM PUAP tahun
2008-2015. Untuk memberikan gambaran gapoktan penerima PUAP, dikumpulkan data
primer yang berasal dari Penyelia Mitra Tani (PMT) dan sekunder yang berasal dari laporan
PUAP serta penelulusuran data statistik dari Badan Pusat Statistik. Data ditabulasi dan
dibahas secara deskriptif. Sejak tahun 2008-2015 provinsi Banten telah menerima dana
PUAP sebesar Rp 130,9 milyar untuk 1309 gapoktan di 1309 desa/kelurahan atau sebesar
84.4% dari total jumlah desa/kelurahan se-provinsi Banten. Jumlah LKM-A di provinsi
Banten yaitu sebanyak 158 (seratus lima puluh delapan) LKM-A atau sebesar 12.07% dari
total gapoktan penerima PUAP di provinsi Banten. Persentase rata-rata usaha produktif
kegiatan agribisnis PUAP sesuai dengan Rencana Usaha Bersama (RUB) di Provinsi Banten
yaitu untuk tanaman pangan sebesar 37.4%, perkebunan 3.5%, hortikultura 17.7%,
peternakan 7.6% serta off farm sebesar 38%. Usaha tanaman pangan didominasi oleh
komoditas padi. Usaha perkebunan didominasi oleh komoditas cengkeh, coklat, kopi, lada,
melinjo, manggis, pepaya dan pisang. Usaha hortikultura di Kota Tangerang didominasi oleh
tanaman budidaya tanaman hias anggrek Golden Shower, dendrobium serta bromelia. Usaha
peternakan yang memanfaatkan dana PUAP didominasi oleh jenis ternak domba. Usaha off
farm didominasi oleh usaha industri rumah tangga (pengolahan emping melinjo), bakulan,
kios pupuk dan usaha penggilingan padi.
Kata kunci : Keragaan, usaha produktif, PUAP
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
18
PENDAHULUAN
Salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi permasalahan kekurangan modal,
khususnya bagi masyarakat petani di perdesaan adalah melalui program PUAP
(Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan) yang dumulai sejak tahun 2008 (Litbang,
2015). Salah satu kegiatan pokok PUAP tahun 2008 adalah penyaluran dana Bantuan
Langsung Masyarakat (BLM) kepada Gapoktan berupa penguatan permodalan yang
digunakan untuk ; (1) budidaya tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perkebunan, dan
(2) usaha non budidaya meliputi usaha industri rumah tangga pertanian, pemasaran skala
kecil/bakulan, dan usaha lain berbasis pertanian (Tan et al, 2010).
Sesuai arahan dari Tim PUAP pusat bahwa alokasi dana BLM PUAP yang dituangkan
dalam bentuk Rencana Usaha Bersama (RUB) sebaiknya didominasi oleh kegiatan produktif
berbasis off farm (non budidaya). Hal ini bertujuan agar dapat meminimalisir tingkat
kemacetan pengembalian dana PUAP tersebut. Usaha produktif berbasis on farm (budidaya)
sangat dipengaruhi oleh faktor alam seperti cuaca, ketersediaan air, hama dan penyakit.
Sehingga faktor-faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap hasil panen yang pada akhirnya
mempengaruhi pengembalian dana pinjaman dari BLM PUAP.
Kajian ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang keragaan usaha Gapoktan
penerima PUAP di Provinsi Banten.
METODOLOGI
Pengkajian dilaksanakan di Provinsi Banten pada bulan November – Desember 2016
terhadap Gapoktan penerima dana BLM PUAP tahun 2008-2015. Untuk memberikan
gambaran gapoktan penerima PUAP, dikumpulkan data primer yang berasal dari Penyelia
Mitra Tani (PMT) dan sekunder yang berasal dari laporan PUAP serta penelusuran data
statistik dari Badan Pusat Statistik. Data ditabulasi dan dibahas secara deskriptif dengan
menggunakan data yang berasal dari laporan PMT mengenai profil beberapa gapoktan PUAP
yang memiliki success story dalam hal pemanfaatan dana BLM PUAP.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keragaan Gapoktan Penerima PUAP Tahun 2008-2015
Program pencairan dana BLM PUAP di Provinsi Banten dilaksanakan pada tahun 2008
sampai dengan tahun 2015. Sejak tahun 2016, pencairan dana BLM PUAP sudah berakhir
dikarenakan hampir sebagian besar desa yang ada di Provinsi Banten telah mendapatkan dana
tersebut. Sebaran gapoktan penerima dana BLM PUAP tertera pada Tabel 1. Menurut BPS
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
19
(2016), jumlah desa dan kelurahan yang ada di Provinsi Banten pada tahun 2015 sebanyak
1551. Yang artinya, sebesar 84,4% dari total desa/kelurahan yang ada telah menerima dana
BLM PUAP. Adapun desa/kelurahan yang belum mendapatkan dana tersebut dikarenakan
oleh keterlambatan pengusulan dari Tim Teknis PUAP tingkat kabupaten kepada Tim PUAP
tingkat pusat. Selain itu, suatu desa/kelurahan tidak menerima dana BLM PUAP dapat
disebabkan oleh desa yang bersangkutan tidak bersedia menerima dana BLM tersebut
dikarenakan alasan internal masing-masing desanya.
Tabel 1. Sebaran Gapoktan penerima PUAP 2008-2015 Provinsi Banten
No.
1
Kabupaten/Kota
Kabupaten Lebak
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
57 116
10
68
50
38
2
2
Kabupaten Serang
107
81
30
43
34
24
-
-
319
3
Kabupaten Pandeglang
37
116
31
41
32
33
32
13
335
4
Kabupaten Tangerang
60
59
15
11
16
6
-
-
167
5
Kota Tangerang
3
4
-
-
-
-
-
-
7
6
Kota Serang
22
25
15
1
-
-
-
-
63
7
Kota Cilegon
10
19
9
4
-
-
-
-
42
8
Kota Tangerang Selatan
2
4
5
9
5
7
-
3
35
298
424
115
177
137
108
32
18
1.309
Total
Jumlah
341
Sumber : Yusron et al (2015)
Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A)
Sasaran program PUAP antara lain adalah berkembangnya Gapoktan yang dimiliki dan
dikelola oleh petani untuk menjadi kelembagaan ekonomi. Untuk mewujudkan hal tersebut,
setiap Gapoktan didampingi oleh Penyelia Mitra Tani (PMT) yang ahli dibidang keuangan
mikro untuk mengarahkan Gapoktan menuju Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA). BPTP Banten juga berperan dalam pembentukan LKM-A dengan melakukan
pendampingan dan pelatihan yang dalam pelaksanaannya bekerjasama dengan PMT.
Pendampingan pengembangan LKM-A oleh BPTP Banten dan PMT dilaksanakan
dengan inisiasi pelatihan Manajamen Dasar LKM-A dan pendampingan langsung. Materi
pelatihan Manajemen Dasar LKM-A meliputi beberapa aspek diantaranya: (1) aspek
organisasi, (2) aspek pengelolaan LKM-A dan (3) kinerja pengelolaan LKM-A. Aspek
organisasi meliputi: penataan kepengurusan, kelengkapan AD/ART, penyusunan rencana
kerja, mendorong penyelenggaraan Rapat Anggota Tahunan (RAT) dan memfasilitasi
Gapoktan menuju Badan Hukum.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
20
Aspek Pengelolaan LKM-A meliputi cara penyaluran dana PUAP kepada anggota,
aturan dalam penyaluran dana, distribusi dana dan pembukuan serta pelaporan. Aspek kinerja
pengelolaan LKM-A merupakan kemandirian Gapoktan dalam menghimpun pendanaan di
luar dana dari pemerintah, seperti simpanan atau yang lainnya. Gapoktan yang telah diikutkan
pada pelatihan manajemen dasar LKM-A diberikan pendampingan intensif agar membentuk
LKM-A.
Sesuai Laporan Akhir PUAP 2015, jumlah LKM-A provinsi Banten sebanyak 115.
Pada tahun 2016 ada penambahan jumlah LKM-A dari kabupaten Serang sebanyak 43. Akan
tetapi LKM-A tersebut belum diregistrasi oleh Tim Teknis Kabupaten Serang. Sebaran LKMA pada tahun 2016 dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Sebaran LKM-A di Provinsi Banten
No.
Kabupaten/Kota
Jumlah Gapoktan
Jumlah LKM-A
341
319
335
167
7
63
42
35
1.309
48
52
16
30
0
8
3
1
158
1
2
3
4
5
6
7
8
Kabupaten Lebak
Kabupaten Serang
Kabupaten Pandeglang
Kabupaten Tangerang
Kota Tangerang
Kota Serang
Kota Cilegon
Kota Tangerang Selatan
TOTAL
Sumber : Yusron et al (2016)
Dari 158 LKM-A tersebut, beberapa diantaranya ada yang sudah berbadan hukum dan
ada yang belum berbadan hukum.
Keragaan Usaha Produktif
Tanaman Pangan
Untuk tanaman pangan, alokasi tertinggi yaitu di Kabupaten Pandeglang (53,6%) dan
yang terendah di kota Tangerang Selatan (5,4%). Alokasi usaha produktif tanaman pangan
pada 8 kabupaten/kota di provinsi Banten ditunjukkan oleh Gambar 1. Jenis tanaman pangan
yang dominan diusahakan oleh petani penerima dana BLM PUAP yaitu padi. Jenis tanaman
pangan yang lain seperti jagung, kedelai dan ubi kayu kurang diminati oleh petani pengguna
dana BLM PUAP. Salah satu gapoktan yang sukses dalam pemanfaatan dana PUAP untuk
usaha tanaman pangan yaitu Gapoktan Pelita yang berada di Desa Pangkalan, Kecamatan
Sobang, Kabupaten Pandeglang. Jumlah anggota yang memanfaatkan dana PUAP untuk
usaha tanaman pangan sebanyak 420 orang dengan luas areal pesawahan 325 ha. Nilai R/C
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
21
ratio yang dihasilkan sebesar 4,2 yang menandakan bahwa usaha budidaya padi ini layak
dilakukan (Arief, 2013).
Gambar 1. Alokasi usaha produktif tanaman pangan pada 8 kabupaten/kota di
Provinsi Banten
Perkebunan
Alokasi usaha produktif perkebunan pada 8 kabupaten/kota di Provinsi Banten
ditunjukkan oleh Gambar 2. Alokasi dana terbesar pada usaha perkebunan berada di Kota
Cilegon (11,7%), urutan kedua ditempati oleh Kabupaten Pandeglang (5,7%) dan terendah
berada di Kota Tangerang (0%).
Di Kota Cilegon petani memanfaatkan dana BLM PUAP untuk budidaya pisang. Luas
panen tanaman pisang sebanyak 81.406 rumpun. Populasi terbesar berada di Kecamatan
Cilegon (56.711 rumpun) dan Pulomerak (12.256 rumpun) (BPS Kota Cilegon, 2017).
Umumnya petani PUAP Kabupaten Pandeglang memanfaatkan dana BLM PUAP untuk
usaha perkebunan pohon tangkil (melinjo). Melinjo merupakan bahan baku produk olahan
emping yang merupakan makanan khas dari Banten. Selain melinjo, komoditas lainnya yang
memanfaatkan dana PUAP yaitu coklat, manggis, pepaya dan pisang. Di Kabupaten
Pandeglang, Gapoktan Berkah Tani yang berada di Desa Cipicung, Kecamatan Cikedal
memanfaatkan dana PUAP untuk usaha pembibitan tanaman coklat dengan nilai R/C ratio
sebesar 1,7. Desa Cipicung termasuk kategori desa dataran sedang dengan Luas wilayah
keseluruhan 156 ha, dengan prosentasi lahan darat yang cukup luas yaitu sebesar 70 ha, maka
perlu dilakukan optomalisasi lahan agar lahan darat yang ada menjadi lebih produktif. Oleh
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
22
sebab itulah gapoktan mengalokasikan dana PUAP untuk pembenihan bibit Coklat / kakao
(Saefulhak, 2013).
Di Kota Serang, petani PUAP memanfaatkan dana tersebut untuk modal perkebunan
cengkeh, kopi dan lada. Pada tahun 2012, produksi tanaman cengkeh di Kota Serang
sebanyak 86,4 ton yang berasal dari Kecamatan Curug dan Taktakan, tanaman kopi sebanyak
750 ton berasal dari Kecamatan Taktakan serta tanaman lada sebanyak 26,15 ton yang berasal
dari Kecamatan Taktakan dan Curug (BPS kota Serang, 2017).
Gambar 2. Alokasi usaha produktif perkebunan pada 8 kabupaten/kota di Provinsi
Banten
Hortikultura
Untuk usaha hortikultura, alokasi tertinggi yaitu di Kota Tangerang (58,6%) dan yang
terendah di Kabupaten Lebak (2,9%). Alokasi usaha produktif hortikultura pada 8
kabupaten/kota di Provinsi Banten ditunjukkan oleh Gambar 3. Jenis hortikultura yang
dibudidayakan di Kota Tangerang yaitu jenis tanaman hias. Kota Tangerang Selatan
menempati urutan kedua (40,3%) setelah Kota Tangerang. Kota Tangerang Selatan juga
terkenal dengan produksi tanaman hiasnya. Jenis tanaman hias yang dominan dibudidayakan
pada kedua kota tersebut yaitu anggrek Golden Shower dan Dendrobium serta Bromelia.
Gapoktan yang sampai saat ini dominan bergerak di bidang agribisnis tanaman hias yaitu
Gapoktan Maju Bersama dan Gapoktan Pamulang Barat yang berasal dari Kota Tangerang
Selatan. Gapoktan Maju Bersama sudah memiliki Badan Hukum Koperasi sedangkan
Gapoktan Pamulang Barat belum memiliki Badan Hukum. Dana BLM PUAP dimanfaatkan
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
23
oleh 20 orang anggota Gapoktan Maju Bersama untuk usaha budidaya tanaman anggrek
sedangkan yang memanfaatkan dana PUAP pada Gapoktan Pamulang Barat (untuk usaha
tanaman hias Bromelia) sekitar 29 orang (Malik, 2013).
Gambar 3. Alokasi usaha produktif hortikultura pada 8 kabupaten/kota di Provinsi
Banten
Peternakan
Untuk usaha peternakan, alokasi tertinggi yaitu di Kota Tangerang Selatan (15%) dan
yang terendah di Kota Serang (0,1%). Alokasi usaha produktif peternakan pada 8
kabupaten/kota di Provinsi Banten ditunjukkan oleh Gambar 4.
Gambar 4. Alokasi usaha produktif peternakan pada 8 kabupaten/kota di Provinsi
Banten
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
24
Di Kota Tangerang Selatan, gapoktan yang mengusahakan ternak domba yaitu
Gapoktan Cabe Ilir yang beralamat di Desa Pondok Cabe Ilir, Kecamatan Pamulang, Kota
Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Usaha peternakan domba merupakan usaha yang
menjanjikan dan diminati oleh sebagian anggota gapoktan dikarenakan wilayah gapoktan
yang memiliki banyak tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan sehingga mudah untuk
pakan ternaknya, di tambah lagi dengan luasnya lahan tidur yang bisa dimanfaatkan untuk
pengembangan ternak domba. Ada perubahan setelah anggota menerima dana PUAP, banyak
anggota yang saat ini telah memiliki kambing domba lebih dari 15 ekor yang sebelumnya
hanya 5 ekor. Tentunya semakin banyak domba yang dikelola maka semakin besar
keuntungan yang didapat sehingga manfaat program ini sangat dirasakan oleh para anggota
untuk meningkatkan pendapatan keluarga (Malik, 2013).
Off Farm
Untuk usaha off farm, alokasi tertinggi yaitu di Kota Serang (66,3%) dan yang terendah
di Kota Tangerang (14,9%). Alokasi usaha produktif Off Farm pada 8 kabupaten/kota di
Provinsi Banten ditunjukkan oleh Gambar 5. Usaha produktif Off Farm berupa bakulan,
pengolahan industri pertanian serta usaha lain berbasis pertanian misalnya saja usaha
pengepul hasil pertanian, kios pupuk serta usaha penggilingan padi.
Gambar 5. Alokasi usaha produktif Off Farm pada 8 kabupaten/kota di Provinsi
Banten
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
25
Bagi gapoktan penerima dana BLM PUAP, usaha penggilingan padi merupakan usaha
yang cukup menjanjikan. Hasil penelitian Mauliddar et al (2013) menunjukkan bahwa nilai
R/C ratio dari usaha penggilingan padi menunjukkan angka lebih dari 1,0.
Hal ini
menandakan bahwa usaha penggilingan padi layak untuk dilakukan. Di Provinsi Banten,
gapoktan yang memanfaatkan dana BLM PUAP untuk usaha penggilingan padi diantaranya
yaitu Gapoktan Artha Jaya dan Gapoktan Abadi Sejahtera yang berlokasi di Kabupaten
Tangerang. Gapoktan Artha Jaya terletak di Kampung Pagedangan RT 05/02, Desa
Rancabango, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang. Gapoktan ini merupakan gabungan
dari 4 kelompok tani; Tani Harapan, Tani Mulya, Tani Asih dan Tani Mekar. Gapoktan ini
didirikan pada tanggal 22 Juni 2009 (Novaly, 2013). Sedangkan Gapoktan Abadi Sejahtera
terletak di Desa Cireundeu, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang. Gapoktan ini berdiri
sejak tahun 2008 dan merupakan gabungan dari 3 kelompok tani; Umbu Leuit, Cisalak dan
Poktan Mandiri (Nurdiyanti, 2013). Gapoktan Artha Jaya dan Abadi Sejahtera merupakan
contoh gapoktan yang usaha tani padinya mengalami perkembangan. Kedua gapoktan
tersebut juga memiliki usaha penggilingan padi yang beroperasi hingga saat ini.
Selain itu, pemanfatan dana BLM PUAP juga diperuntukkan bagi industri pengolahan
emping melinjo. Menurut Saefulhak (2013), Gapoktan Berkah Tani yang berlokasi Desa
Cipicung Kecamatan Cikedal Kabupaten Pandeglang memanfaatkan dana BLM PUAP untuk
pengolahan emping melinjo. Wilayah Cipicung memiliki hasil perkebunan berupa melinjo,
sehingga sebagian besar masyarakatnya memiliki usaha pengolahan emping. Untuk
memudahkan pemasaran, maka gapoktan menfasilitasi kepada para pengrajin emping agar
bisa memasarkan hasil olahannya melalui gapoktan. Dengan mudahnya akses pasar melalui
gapoktan, maka para pengrajin mendapatkan akses yang mudah untuk memasarkan produk
mereka dengan harga yang bagus.
Hasil penelitian Andriani et al (2015) menunjukkan bahwa pengolahan emping melinjo
di Kecamatan Wates Kabupaten Blitar menghasilkan nilai R/C ratio lebih dari 1. Di
Kabupaten Pandeglang, pengolahan emping melinjo pada Gapoktan Berkah Tani
menunjukkan nilai R/C ratio sebesar 1,1. Pengolahan ini memanfaatkan dana BLM PUAP
sebagai modal usahanya. Hasil penelitian Hudaya (2006) juga menunjukan bahwa nilai R/C
ratio pengolahan emping melinjo sebesar 2,81. Hal ini menandakan bahwa usaha ini sangat
layak untuk dilakukan. Pengrajin emping melinjo biasanya memberdayakan kaum wanita
sebagai pengrajin. Menurut penelitian Amin et al (2016), kontribusi tenaga kerja wanita pada
usaha emping melinjo terhadap pendapatan keluarga pada bulan Januari 2016 di kabupaten
Batang Provinsi Jawa Tengah rata-rata sebesar 61,71%. Di Gapoktan Berkah Tani yang
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
26
terletak di Kabupaten Pandeglang, pengrajin emping melinjo yang terdiri dari tenaga kerja
wanita menghasilkan pendapatan Rp 30.000/ hari (Saefulhak, 2013). Sehingga diharapkan
kaum wanita dapat menopang pendapatan suaminya sehingga kesejahteraan keluarga dapat
tercapai.
KESIMPULAN
Provinsi Banten dari tahun 2005-2015 telah menerima dana PUAP sebesar Rp 130,9 milyar
untuk 1.309 gapoktan dan telah terbentuk Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis 158 LKM-A.
Usaha produktif Gapoktan penerima dana PUAP terdiri dari tanaman pangan sebesar 37,4%,
perkebunan 3,5%, hortikultura 17,7%, peternakan 7,6% serta off farm sebesar 38%.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, M. N., S. Supardi, S. N. Awami. 2016. Kontribusi Tenaga Kerja Wanita Pada Usaha
Emping Melinjo Terhadap Pendapatan Keluarga (Studi Kasus Di Desa Sukomangli
Kecamatan Reban Kabupaten Batang). Jurnal Mediagro 26 Vol. 12 (2) 2016 : 26-38.
Andriani, D. R. , F. Dwi. 2015. Analisis Kelayakan Usaha Dan Strategi Pengembangan
Agroindustri Emping Melinjo Skala Rumah Tangga Di Desa Wates Kecamatan
Wates Kabupaten Blitar. Jurnal Agrise Volume 15 (1) : 53-62.
Arief, A.R. 2013. Profil Gapoktan Model “PELITA”. Laporan PMT.
Badan Pusat Statistik Provinsi Banten. 2016. Provinsi Banten Dalam Angka 2016. CV.
Dharmaputra. 466 halaman.
Badan Pusat Statistik Kota Cilegon. 2017. Luas Panen Buah-buahan Menurut Jenisnya per
Kecamatan Tahun 2014 (Pohon).
https://cilegonkota.bps.go.id/linkTabelStatis
/view/id/97. [diakses tanggal 21 November 2017].
Badan Pusat Statistik Kota Serang. 2017. Produksi Tanaman Perkebunan Di Kota Serang.
https://serangkota.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/12.
[diakses
tanggal
21
November 2017].
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian. 2015. Bunga Rampai
“Kemandirian Modal Petani dalam Perspektif Kebijakan PUAP”. IAARD Press,
Jakarta.
Hudaya, A. R. 2006. Analisis Usahatani Biji Melinjo dan Emping Melinjo (Gnetum gnemon
L). Jurnal Agrijati 3 (1) : 51-59.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
27
Malik, F. 2013. Profil Gapoktan Model “MAJU BERSAMA”. Laporan PMT.
Malik, F. 2013. Profil Gapoktan Model “PAMULANG BARAT”. Laporan PMT.
Malik, F. 2013. Profil Gapoktan Model “CABE ILIR”. Laporan PMT.
Mauliddar, A. N., M. B. Darus, L. Fauzia. 2013. Analisis Kelayakan Usaha Penggilingan
Padi Di Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang. Journal on Social
Economic of Agriculture and Agribusiness Vo. 2 (4). https://jurnal.usu.ac.id/
index.php/ceress/article/view/7851. [diakses tanggal 22 November 2017].
Nurdiyanti, E. 2013. Profil Gapoktan Artha Jaya. Laporan
Novaly, R. 2013. Profil Gapoktan Abadi Sejahtera. Laporan
Saefulhak, A. 2013. Profil Gapoktan Model “BERKAH TANI”. Laporan PMT.
Tan, SS, H. Hermawan, A. Djauhari. 2010. Pengkategorian Gapoktan dan Pola Penggunaan
Dana BLM PUAP (Studi Kasus Kabupaten Ngawi dan Blitar, Propinsi Jawa Timur).
Prosiding Semnar Nasional Pengkajian dan Diseminasi Inovasi Pertanian
Mendukung Program Strategis Kementerian Pertanian. Ciruas, 9-11 Desember
2010.
Yusron, M., D. Haryani, S. Lestari, Y. Astuti, A. Pullaila, Suhartin. 2015. Laporan Akhir
PUAP TA 2015. BPTP Banten, Litbang Kementerian Pertanian.
Yusron, M, S. Lestari, Y. Astuti, A. Pullaila, Suhartin. 2016. Laporan Akhir PUAP Tahun
2016. BPTP Banten, Litbang Kementerian Pertanian.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
28
PEMANFAATAN TANAMAN REFUGIA UNTUK MENGENDALIKAN HAMA DAN
PENYAKIT TANAMAN PADI
Ulima Darmania Amanda
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten
Jln. Ciptayasa KM. 01, Ciruas, Serang, Banten 42182
Telp. (0254) 281055; Fax (0254) 282507
email : [email protected], [email protected]
ABSTRAK
Aplikasi pestisida yang tidak tepat dapat berdampak negatif dengan memicu ledakan
populasi hama akibat resistensi atau resurgensi. Dampak tersebut dapat dikurangi melalui
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan memanfaatkan agen hayati. Rekayasa ekologi
berupa pemanfaatan tanaman refugia berperan sebagai mikrohabitat agen hayati dari OPT
tanaman utama. Refugia dapat menyediakan tempat berlindung secara spasial dan/atau
temporal bagi musuh alami hama, seperti predator dan parasitoid, serta mendukung
komponen interaksi biotik pada ekosistem, seperti polinator. Beberapa tanaman refugia yang
dapat digunakan sebagai agen hayati dari OPT tanaman padi antara lain: akar wangi,
kangkung hutan, jagung, kacang panjang, dan wijen. Modifikasi lahan pada sistem tanam
polikultur menggunakan tanaman refugia dapat dilakukan melalui inter cropping, strip
cropping, alley cropping, tanaman pinggiran (hedgerows), insectary plant, beetle bank,
tumbuhan mulsa hidup, dan tanaman penutup tanah (cover crop).
Kata kunci: Refugia, padi, OPT, rekayasa ekologi
PENDAHULUAN
Penggunaan pestisida merupakan salah satu bentuk adaptasi petani padi terhadap
perubahan iklim, baik pada musim kering maupun basah, yang juga berpengaruh secara nyata
terhadap pendapatan usahatani (Zaenun et al., 2017). Aplikasi pestisida secara intensif dapat
mendukung produktivitas padi sawah, namun disisi lain dapat merusak keseimbangan alami
ekosistem di lahan pertanian. Terganggunya rantai makanan alami dapat meningkatkan
populasi hama akibat resistensi dan berkurangnya populasi musuh alami yang mampu
mengendalikan populasi hama (Muhibah dan Leksono, 2015). Selain perubahan iklim dan
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
29
aplikasi pestisida yang tidak tepat, peningkatan populasi hama juga dapat diakibatkan oleh
teknik budidaya dan fenologi tanaman (Heviyanti dan Mulyani, 2016).
Penggunaan pestisida kimiawi yang tidak tepat, dapat memberikan dampak negatif
terhadap petani dan konsumen, lingkungan, dan organisme non-target (Yuantari et al., 2015).
Organisme non-target seringkali berupa musuh alami hama (predator, parasitoid, dan patogen
serangga) dan serangga bermanfaat (penyerbuk, detrifora, dll).
Ketidakmampuan pestisida dalam mengendalikan hama juga berdampak negatif dengan
memicu ledakan populasi hama akibat resistensi atau resurgensi. Resistensi adalah proses
perubahan sensitivitas yang diwariskan dalam populasi hama yang tercermin dalam
kegagalan berulang suatu pestisida untuk mengendalikan hama sesuai dengan dosis
rekomendasi. Resurgensi wereng cokelat merupakan proses peningkatan populasi setelah
aplikasi insektisida dengan laju pertumbuhan yang lebih tinggi dari yang tidak diaplikasi
insektisida. Resurgensi merupakan proses perubahan fisiologi tanaman sehingga lebih disukai
oleh hama tertentu, atau ada rangsangan pestisida terhadap hama yang mendukung
kelangsungan pada satu atau beberapa fase hidupnya (Baehaki et al., 2016). Seringkali
fenomena tersebut memunculkan atau meningkatkan status suatu jenis hama dari bukan hama
menjadi hama penting setelah paparan insektisida.
Dampak negatif dari penggunaan pestisida dapat dikurangi melalui Pengendalian Hama
Terpadu (PHT) dengan memanfaatkan agen hayati. Rekayasa ekologi berupa tanaman refugia
dapat digunakan sebagai mikrohabitat agen hayati dari hama tanaman utama. Tulisan ini
bertujuan untuk menguraikan dasar teori dan penelitian terkait pemanfaatan tanaman refugia
dalam mengendalikan OPT tanaman padi. Metode yang digunakan dalam penulisan adalah
penelusuran literatur.
TANAMAN REFUGIA
Semua organisme di alam, termasuk hama tanaman budidaya, mempunyai musuh
alaminya. Keberadaan musuh alami OPT dapat melemahkan, mengurangi fase reproduktif,
sampai membunuh OPT. Namun musuh alami tersebut belum tentu mampu menjadi faktor
penekan perkembangan populasi hama akibat tidak tersedianya makanan dan tempat
berlindung (refugia) (Heviyanti dan Mulyani, 2016). Refugia adalah mikrohabitat yang
menyediakan tempat berlindung secara spasial dan/atau temporal bagi musuh alami hama,
seperti predator dan parasitoid, serta mendukung komponen interaksi biotik pada ekosistem,
seperti polinator atau serangga penyerbuk (Keppel et al., 2012). Studi mengenai refugia,
khususnya di Indonesia masih sangat minimal (Gambar 1.).
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
30
Gambar 1. Distribusi publikasi studi mengenai refugia
[Sumber: Keppel et al., 2012].
Tanaman refugia mempunyai potensi menyokong mekanisme sistem yang meliputi
perbaikan ketersediaan makanan alternatif seperti nektar, serbuk sari, dan embun madu;
menyediakan tempat berlindung atau iklim mikro yang digunakan serangga predator untuk
bertahan melalui pergantian musim atau berlindung dari faktor-faktor ekstremitas lingkungan
atau pestisida; dan menyediakan habitat untuk inang atau mangsa alternatif (Landis et al.,
2000).
Biaya Refugia
Hermanto et al. (2014) melakukan analisis biaya untuk budidaya padi seluas satu hektar
selama satu musim tanam. Biaya produksi budidaya padi pada pertanaman dengan PHT
berbasis rekayasa ekologi (PHT-RE) hanya sedikit lebih tinggi sebesar Rp. 160.000
dibandingan pada pertanaman PHT konvensional (PHT-K). Biaya produksi pada PHT-RE
sebesar Rp 11.625.000,-, sedangkan pada PHT-K sebesar Rp 11.465.000,-. Dari perhitungan
hasil panen diperoleh total pendapatan sebesar Rp 26.500.000,- pada lahan PHT-RE dan Rp
26.000.000,- pada lahan PHT-K. Dari perhitungan pendapatan diperoleh keuntungan dari
lahan PHT-RE lebih tinggi yaitu sebesar Rp 14.775.000,- sedangkan dari lahan PHT-K
sebesar Rp 14.535.000,-.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
31
Salah satu faktor memengaruhi biaya produksi pertanaman dengan refugia adalah pola
konfigurasi pada lahan pertanian. Sebagai ilustrasi hasil studi Hyde et al. (2000) pada lahan
pertanian jagung transgenik di United States. Pemerintah membuat regulasi agar produsen
jagung menanam setidaknya 20% tanaman refugia sebagai bagian dari program Insect
Resistance Management. Menanam refugia dalam susunan strips merupakan metode dengan
biaya paling rendah dibandingkan dengan susunan block maupun bentuk-U (Gambar 2).
Peningkatan Biaya
Tenaga Kerja per-acre
atau 0,4 ha
(Rupiah, kurs
16/01/2018)
Rp. 506,71 - 1000,09
Rp. 2000,17 - 4000,35
Gambar 2. Konfigurasi pertanaman refugia memengaruhi biaya produksi [Sumber:
Hyde et al., 2000].
Jenis Tanaman Refugia
Jenis-jenis tanaman yang berpotensi sebagai refugia antara lain: tanaman berbunga,
gulma berdaun lebar, tumbuhan liar yang ditanam atau yang tumbuh sendiri di areal
pertanaman, dan sayuran (Horgan et al., 2016). Kriteria tanaman yang dapat digunakan
sebagai strip vegetasi refugia (vegetation strips) adalah:

Tanaman harus ditanam dari biji tanpa perlu pindah tanam (transplanting)

Tanaman harus cepat tumbuh, mampu bersaing dengan gulma, dan mudah dalam
perawatan

Tanaman harus cepat berbunga

Tanaman harus memiliki buah atau struktur vegetatif yang bernilai ekonomis bagi petani,
baik untuk konsumsi atau komersial

Tanaman harus dapat berproduksi baik dalam budidaya minimum

Tanaman harus bersifat mengusir atau tidak disukai oleh hama tanaman utama

Tanaman harus dapat menarik Arthropoda yang menguntungkan baik sebagai
mikrohabitat maupun sumber nektar atau serbuk sari.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
32
Tanaman refugia berpotensi digunakan sebagai agen hayati pada tanaman pangan,
hortikultura, tanaman hias, maupun tanaman industri dan perkebunan. Beberapa refugia pada
tanaman pangan (padi) dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Tanaman refugia yang dapat digunakan sebagai PHT OPT tanaman padi
No.
1.
Flora refugia
Kangkung hutan (Ipomoea crassicaulis
(Benth.) B. L. Rob.)
Peran
Referensi
Mengendalikan diversitas
herbivora
Sari dan Yanuwiadi,
2014; Azmi et al., 2014
menyeimbangkan populasi
serangga herbivora,
predator, dan polinator
Setyadin et al., 2017
Akar wangi (Vetiveria zizanioides (L.)
Nash).
2.
Jagung (Zea mays)
Kacang panjang (Vigna cylindrica)
3.
Wijen (Sesamum indicum)
Temu Wiyang (Emilia sonchifolia)
Pujiastuti, 2015
meningkatkan populasi
parasitoid telur wereng
Anagrus nilaparvatae
Zhu et al., 2013
Meningkatkan jumlah
musuh alami
Maisyaroh et al., 2012
Pacar air (Impatiens balsamina)
4.
Putri malu (Mimosa pudica)
Sawi langit (Vernonia cinereal)
Semanggi (Marsilea crenata)
Kayambang (Pistia startiotes)
Salah satu serangga predator OPT tanaman padi adalah kumbang koksi. Kumbang
koksi dari famili Coccinellidae biasa ditemukan hidup pada tanaman budidaya dan pada
gulma yang menghasilkan nektar dan serbuk sari (Nur et al., 2014). Beberapa tanaman yang
dapat menyokong keberadaan kumbang koksi dapat dilihat pada Tabel 3.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
33
Tabel 3. Tanaman yang mendukung keberadaan kumbang koksi
Sumber
nektar

Fungsi
Sumber
pollen
-
Synedrella nodiflora (L.) Gaertn
-
-

Capparidaceae
Cleome rutidosperma DC
-
-
-
Malvaceae
Sida rhombifolia L.
-
-

Mimosaceae
Mimosa pudica L.
-

-
Papilionaceae
Crotalaria striata DC

-

Scrophulariaceae
Lindernia crustacea (L.) F.v.M
-
-

Verbenaceae
Lantana camara L.

-
-
Famili
Asteraceae
Spesies
Ageratum conyzoides L.
Refugia
-
Sumber: Nur et al., 2014
Pemilihan jenis tanaman refugia untuk PHT pada suatu tanaman utama juga harus
mempertimbangkan kompatibilitas interaksi biotik yang ingin dimanipulasi. Arachis pintoi
(Krapov. & W.C. Greg.) dan Ageratum conyzoides (Linn.) diketahui tidak sesuai dikombinasi
sebagai tanaman refugia, karena berpengaruh negatif terhadap tingkat parasitasi parasitoid
pada hama tanaman belimbing Bactrocera carambolae Drew & Hancock (Meiadi et al.,
2015).
Mekanisme Tanaman Refugia dalam PHT
Pemanfaatan tanaman refugia melalui rekayasa ekologi merupakan bagian dari
teknologi pengendalian hama terpadu (PHT) yang bertujuan pencapaian keseimbangan
biologi hama dan musuh alami agar berada di bawah ambang ekonomi. Rekayasa ekologi
sebagai bagian dari PHT dapat dilakukan melalui: rasionalisasi masukan pestisida dengan
menghindari penggunaan insektisida pada awal pertanaman, manipulasi detritivora
menggunakan pupuk organik, sistem integrasi palawija pada tanaman padi (SIPALAPA),
rotasi palawija setelah tanaman padi (ROPALAPA), penggunaan tanaman perangkap,
pengaturan waktu tanam, pemberian bahan organik untuk meningkatkan musuh alami, dan
manipulasi vegetasi pada pematang dengan diversifikasi flora refugia (Baehaki et al., 2016).
Aplikasi insektisida dalam konsep PHT baru dapat dilakukan apabila hasil dari beberapa
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
34
teknik pengendalian tidak efektif sehingga insektisida merupakan alternatif terakhir yang
secara selektif dapat mengendalikan hama sasaran (Heviyanti dan Mulyani, 2016).
Pada pertanaman polikultur padi-palawija/bunga terjadi dinamika dialektika (dua arah)
berupa hubungan antara dua komoditas dengan musuh alami dan hama, sedangkan hubungan
komoditas dengan hama dan musuh alami pada pertanaman monokultur mempunyai
dinamika yang monoton (Gambar 3). Sistem polikultur dapat menurunkan potensi serangan
hama pada tanaman melalui pembatasan fisis atau khemis bagi hama untuk menemukan
inangnya serta meningkatkan kelulushidupan dan aktivitas musuh alami pada agroekosistem
(Kurniawati dan Martono, 2015).
Gambar 3. Dinamika-dialektika hubungan antara dua komoditas dengan musuh alami
dan hama [Sumber: Baehaki, 2005].
Musuh alami OPT di pertanaman padi sawah dapat berupa predator, parasitoid, dan
patogen. Selain konservasi musuh alami OPT, tanaman refugia juga dapat mendukung
kehadiran serangga bermanfaat seperti polinator dan detritivor. Rangkaian efek dari
kehadiran parasitoid dan polinator dapat dilihat pada Gambar 4.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
35
a). Parasitoid
Populasi hama berkurang
b). Polinator
Meningkatnya hasil panen
hingga dibawah ambang
batas ekonomi
Lebih banyak jumlah
Meningkatnya laju polinasi pada tanaman pangan
proporsi hama yang mati
Meningkatnya kebugaran
Meningkatnya kebugaran (fitness) individu parasitoid
(fitness) individu parasitoid
Parasitoid berkumpul pada
Jumlah pollinator meningkat
tanaman berbunga
Ukuran koloni meningkat
Meningkatnya kebugaran (fitness) larva maupun polinator dewasa
Meningkatnya jumlah sarang penyimpan pollen
Meningkatnya proporsi lebah dengan pollen pada corbiculae (keranjang
pollen)
Meningkatnya jumlah pollen/nectar yang dikonsumsi polinator
Polinator berkumpul pada tanaman berbunga
Keterangan: Tanda panah menunjukkan kecenderungan nilai efek serta tingkat kesulitan mencapainya
Gambar 4. Hirarki efek yang mungkin terjadi pada a) parasitoid serangga hama dan b) polinator
di agroekosistem dengan tanaman berbunga (Wratten et al.2012)
Predator adalah binatang yang memburu, memakan, dan menghisap cairan tubuh hewan
lain. Sebagian besar predator bersifat polifag, yaitu memangsa jenis binatang yang berbeda,
lainnya bersifat kanibal. Predator yang dijumpai pada areal pertanaman padi sawah antara lain
berasal dari famili Coccinelidae, Gerridae, Gryllidae, Coenagrionidae, Lycosidae, Staphylinidae,
dan Tetragnathidae (Heviyanti dan Mulyani, 2016). Banyak jenis predator yang memangsa
wereng, tetapi hanya beberapa yang mempunyai potensi menurunkan populasi wereng, antara
lain Lycosa pseudoannulata (Ordo Araneida; Famili Lycosidae), Paederus sp. (Ordo Coleoptera;
Famili Coccinellidae), Ophionea sp. (Ordo Coleoptera; Famili Carabidae), Coccinella sp. (Ordo
Coleoptera; Famili Coccinellidae) dan Cyrtorhinus lividipennis (Ordo Hemiptera; Famili
Miridae) (Santosa dan Sulistyo, 2007).
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
36
Penggerek batang padi (PBP) yang ditemui di Indonesia PBP kuning (Scirpophaga
incertulas Walker), diikuti oleh PBP merah jambu (Sesamia inferens Walker), PBP bergaris
(Chilo suppressalis Walker), PBP kepala hitam (Chilo polychrysus Meyrick), dan PBP putih
(Scirpophaga innotata Walker). Spesies terakhir mempunyai distribusi yang terbatas pada daerah
pasang surut dan tadah hujan (Wilyus et al. 2013). Parasitoid yang potensial untuk PBP putih
adalah Tetrastichus sp., Telenomus sp., dan Trichogramma sp.. Telenomus sp. adalah spesis yang
paling dominan pada pertanaman padi dataran rendah (<200 Mdpl), sementara Tetrastichus sp.
mendominasi pada pertanaman padi di dataran tinggi (> 500 Mdpl) (Junaedi, Yunus, dan
Hasriyanty 2016).
Ghahari et al. (2008) mendata keanekaragaman fauna predator dan parasitoid sawah di Iran
sebagai berikut: 25 spesies predator berasal dari 7 ordo dan 11 famili, dan 37 spesies parasitoid
berasal dari 2 ordo dan 8 famili. Tauruslina et al., (2015) melakukan studi keanekaragaman
musuh alami pada ekosistem padi sawah di daerah endemik dan non-endemik wereng batang
cokelat Nilaparvata lugens di Sumatera Barat. Spesies predator dominan yang ditemukan di
daerah endemik adalah Cytorhinus lividipennis (Hemiptera: Myridae), Verania discolor
(Coleoptera: Coccinelidae), Araneus inustus (Araneae: Araneidae), sedangkan di daerah nonendemik adalah Oxypes javanus (Araneae: Oxyopidae), Ophionea nigrofasciata (Coleroptera:
Carabidae). Anagrus sp. (Hymenoptera: Mymaridae) merupakan parasitoid telur wereng dan
parasitoid yang dominan ditemukan, sedangkan Metarrhizium sp. (Monililiales: Moniliaceae)
yang menginfeksi wereng merupakan patogen yang ditemukan di daerah endemik.
PEMANFAATAN TANAMAN REFUGIA
Modifikasi lahan pada sistem tanam polikultur padi - refugia dapat dilakukan melalui inter
cropping, strip cropping, alley cropping, menanam tanaman pinggiran (hedgerows), menanam di
tengah lahan pertanaman sebagai „pulau bunga‟ atau insectary plant, menanam beetle bank,
menanam tumbuhan mulsa hidup atau tanaman penutup tanah (cover crop). Sistem tanam strip
cropping, inter cropping (Gambar 5), dan alley cropping adalah menanam refugia di antara
tanaman utama (sistem lorong atau baris) yang berfungsi sebagai tanaman perangkap, atau
sebagai sumber pakan musuh alami (Kurniawati dan Martono, 2015).
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
37
Gambar 5. Contoh susunan petak percobaan refugia melalui inter cropping
[Sumber: Anggara et al., 2015].
Tanaman penutup tanah dapat juga berfungsi sebagai mulsa, yaitu menurunkan suhu tanah,
meningkatkan kelembaban relatif (relative humidity/ RH), dan membuat air lebih mudah tersedia
(Kumar et al., 2013). Insectary plant adalah tumbuhan berbunga yang ditanam bersamaan
dengan tanaman budidaya sebagai sumber pakan dan inang alternatif bagi serangga (Altieri &
Nichols, 2004). Insectary plant analog dengan fungsi high diversity vegetation patches (Gambar
6).
Gambar 6. High diversity vegetation patches (HDVP) pada sawah padi di Mindanao,
Philippines [Sumber: Horgan et al., 2016].
Beetle banks (Gambar 7) adalah tumbuhan berbunga atau rumput yang ditanam
memanjang pada lahan sebagai habitat musuh alami dan/atau serangga berguna “beneficial
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
38
insects” (Bentrup, 2008). Beetle banks juga dapat dibuat pada rumah kaca, rumah plastik, atau
rumah kassa.
Gambar 7. Beetle banks [Sumber: Bentrup, 2008].
Praktik
polikultur
melalui
multicropping
sawah
surjan
juga
dibuktikan
lebih
menguntungkan dibandingkan monocropping sawah non-surjan melalui penelitian Henuhili dan
Aminatun (2013). Ekosistem sawah surjan memiliki kelimpahan jenis musuh alami lebih baik
daripada ekosistem sawah non-surjan. Perbandingan pengelolaan teknis sawah surjan dan
nonsurjan dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Perbandingan cara pengelolaan ekosistem sawah monocropping dan multicropping
Pengolahan tanah
Pola tanam
Pengendalian
serangga hama
Pengendalian
gulma
Pemupukan
Sawah Surjan
Pembuatan alur (bagian yang direndahkan)
dan guludan (bagian yang ditinggikan)
Multicropping; bagian alur ditanami padi,
bagian guludan ditanami campuran palawija
Guludan petak 1: kacang tanah, jagung, cabai,
bayam, rumput kalanjana, singkong
Guludan petak 2: kacang tanah, jagung, ubi
jalar, kacang Panjang, cabai, dan ada pohon
pisang dan pepaya
Aplikasi insektisida (Matador) pada saat padi
siap berbiji (sekitar umur 2 bulan)
- Penyiangan I: 2 minggu setelah tanam
dengan cara digaruk manual
- Penyiangan II: saat tanaman padi umur
25-35 hari
- Aplikasi herbisida (Rambason): saat
tanaman padi umur 2 minggu
- Pupuk dasar: TS dan urea sebelum tanam
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
Sawah Non-Surjan
Tidak ada alur dan
guludan, semua rata
(lembaran)
Monocropping
Sama dengan sawah
surjan
Sama dengan sawah
surjan
Sama dengan sawah
39
-
Pemupukan I: setelah penyiangan I (15
HST) dengan pupuk Ponska dan ZA
- Pemupukan II: 30-35 HST dengan pupuk
Ponska dan ZA
[Sumber: Henuhili dan Aminatun, 2013].
surjan
AREAL PERSAWAHAN REFUGIA DI INDONESIA
Lahan persawahan dengan pertanaman refugia terdapat di Gampong Paya Demam Dua,
Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur (Gambar 8). Lahan tersebut dikelola oleh kelompok tani
padi Beringin Jaya. Tanaman bunga ditanam di pematang sawah sepanjang tepi jalan MedanBanda Aceh (Hendri, 2017).
Gambar 8. Persawahan padi-refugia di Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur
[Sumber: Hendri, 2017].
Pagar jalan dengan tanaman bunga refugia juga terdapat pada areal persawahan di
Belitang, Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan (Gambar 9). Tanaman bunga
ditanam untuk mengusir hama, namun keindahan bunga-bunga yang mekar membingkai areal
hijau persawahan juga menarik wisatawan untuk berdatangan (Salim, 2018).
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
40
Gambar 9. Persawahan padi-refugia di Belitang, Ogan Komering Ulu (OKU) Timur,
Sumatera Selatan [Sumber: Salim, 2018].
KESIMPULAN
Tanaman refugia dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan OPT pada tanaman padi.
Refugia dapat menyediakan tempat berlindung secara spasial dan/atau temporal bagi musuh
alami hama, seperti predator dan parasitoid, serta mendukung komponen interaksi biotik pada
ekosistem, seperti polinator. Beberapa tanaman refugia yang dapat digunakan sebagai agen
hayati tanaman padi antara lain: akar wangi, kangkung hutan, jagung, kacang panjang, dan wijen.
Modifikasi lahan pada sistem tanam polikultur menggunakan tanaman refugia dapat dilakukan
melalui inter cropping, strip cropping, alley cropping, tanaman pinggiran (hedgerows), insectary
plant, beetle bank, tumbuhan mulsa hidup, dan tanaman penutup tanah (cover crop).
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
41
DAFTAR PUSTAKA
Altieri, M.A. & C.I. Nichols. 2004. Biodiversity and Pest Management in Agroecosystem. 2nd
Edition. Haworth Press Inc., New York. 236 p.
Anggara, A. Wahyana, D. Buchori, dan Pudjianto. 2015. “Kemapanan Parasitoid Telenomus
Remus (Hymenoptera : Scelionidae) pada Agroekosistem Sederhana dan Kompleks.” Jurnal
HPT 3 (3): 111–25.
Azmi, S. Liliana, A.S. Leksono, B. Yanuwiadi, dan E. Arisoesilaningsih. 2014. “Diversitas
Arthropoda Herbivor Pengunjung Padi Merah di Sawah Organik di Desa Sengguruh,
Kepanjen.” J-Pal 5 (1): 57–64.
Baehaki, S.E., E.H. Iswanto, dan D. Munawar. 2016. “Resistensi Wereng Cokelat terhadap
Insektisida yang Beredar di Sentra Produksi Padi.” Penelitian Pertanian Tanaman Pangan
35 (2): 99–108.
Baehaki, S.E., N.B.E. Irianto, dan S.W. Widodo. 2016. “Rekayasa Ekologi dalam Perspektif
Pengelolaan Tanaman Padi Terpadu.” Iptek Tanaman Pangan 11 (1): 19–34.
Bentrup, G. 2008. Conservation Buffers: Design Guidelines for Buffers, Corridors, and
Greenways. Department of Agriculture, Forest Service, Southern Research Station.
http://www.fwrc.msstate.edu/pubs/fieldborder.pdf.
Ghahari, H., R. Hayat, M. Tabari, H. Ostovan, dan S. Imani. 2008. “A Contribution to The
Predator and Parasitoid Fauna of Rice Pests in Iran, and a Discussion on The Biodiversity
and IPM in Rice Fields.” Linzer Biologische Beitraege 40 (1): 735–64.
Hendri, S. 2017. Berfungsi Mengurangi Hama Padi, Petani Diminta Tanam Bunga Refugia.
http://aceh.tribunnews.com/2017/07/09/berfungsi-mengurangi-hama-padi-petani-dimintatanam-bunga-refugia. [Diakses Kamis, 1 Februari 2018].
Henuhili, V. dan T. Aminatun. 2013. “Konservasi Musuh Alami sebagai Pengendali Hayati
Hama dengan Pengelolaan Ekosistem Sawah.” Jurnal Penelitian Saintek 18 (2): 29–40.
Hermanto, A., G. Mudjiono, dan A. Afandhi. 2014. “Penerapan PHT Berbasis Rekayasa Ekologi
terhadap Wereng Batang Coklat Nilaparvata lugens Stal (Homoptera: Delphacidae) dan
Musuh Alami pada Pertanaman Padi.” Jurnal HPT 2 (2): 79–86.
Heviyanti, M. dan C. Mulyani. 2016. “Keanekaragaman Predator Serangga Hama Pada Tanaman
Padi Sawah (Oryzae sativa, L.) di Desa Paya Rahat Kecamatan Banda Mulia, Kabupaten
Aceh Tamiang.” Agrosamudra 3 (2): 28–37.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
42
Horgan, F.G., A.F. Ramal, C.C. Bernal, J.M. Villegas, A.M. Stuart, dan M.L.P. Almazan. 2016.
“Applying Ecological Engineering for Sustainable and Resilient Rice Production Systems.”
Procedia Food Science 6 (2016). Elsevier Srl: 7–15. doi:10.1016/j.profoo.2016.02.002.
Hyde, J., M.A. Martin, P.V. Preckel, C.L. Dobbins, dan C.R. Edwards. 2000. “The Economics of
Within-Field Bt Corn Refuges.” AgBioForum 3 (1): 63–68.
Junaedi, E., M. Yunus, dan Hasriyanty. 2016. “Jenis dan Tingkat Parasitasi Parasitoid Telur
Penggerek Batang Padi Putih (Scirpophaga innotata WALKER) di dua Ketinggian Tempat
BerbedaA di Kabupaten Sigi.” Jurnal Agroekbis 4 (3): 280–87.
Keppel, G., K.P. Van Niel, G.W. Wardell-Johnson, C.J. Yates, M.Byrne, L. Mucina, A.G.T.
Schut, S.D. Hopper, dan S.E. Franklin. 2012. “Refugia: Identifying and understanding safe
havens for biodiversity under climate change.” Global Ecology and Biogeography 21 (4):
393–404. doi:10.1111/j.1466-8238.2011.00686.x.
Kumar, L., Mk. Yogi, dan J. Jagdish. 2013. “Habitat Manipulation for Biological Control of
Insect Pests: A Review.” Research Journal of Agriculture and Forestry Sciences 1 (10):
27–31.
http://www.isca.in/AGRI_FORESTRY/Archive/v1/i10/5.ISCA-RJAFS-2013-
064.pdf.
Kurniawati, N. dan E. Martono. 2015. “Peran Tumbuhan Berbunga sebagai Media Konservasi
Artropoda Musuh Alami.” Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia 19 (2): 53–59.
doi:10.22146/jpti.16615.
Landis, D.A., S.D. Wratten, dan G.M. Gurr. 2000. “Habitat Management to Conserve Natural
Enemies of Arthropod Pests in Agriculture.” Annu. Rev. Entomol. 45: 175–201.
Maisyaroh, W., B. Yanuwiadi, A.S. Leksono, dan Zulfaidah PG. 2012. “Spatial and Temporal
Distribution of Natural Enemies Visiting Refugia in A Paddy Field Area in Malang.”
Agrivita Journal of Agricultural Science 34 (1): 67–74. doi:10.2298/IJGI1403293C.
Meiadi, Muhamad Luthfie Tri, Toto Himawan, dan Sri Karindah. 2015. “Pengaruh Arachis
pintoi dan Ageratum conyzoides terhadap Tingkat Parasitasi Parasitoid Lalat Buah pada
Pertanaman Belimbing.” HPT 3 (1): 44–53.
Muhibah, T.I. dan A.S. Leksono. 2015. “Ketertarikan Arthropoda terhadap Blok Refugia
(Ageratum conyzoides L., Capsicum frutescens L., dan Tagetes erecta L.) dengan Aplikasi
Pupuk Organik Cair dan Biopestisida di Perkebunan Apel Desa Poncokusumo.” Jurnal
Biotropika 3 (3): 123–27.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
43
Nur, S., A. Ngatimin, N. Agus, dan A.P. Saranga. 2014. “The Potential of Flowering Weeds as
Refugia for Predatory Insects at Bantimurung-Bulusaraung National Park , South
Sulawesi.” Journal of Tropical Crop Science 1 (2): 25–29.
Pujiastuti, Y. 2015. “Peran Tanaman Refugia Terhadap Kelimpahan Serangga Herbivora pada
Tanaman Padi Pasang Surut.” In Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal, 1–9.
Palembang.
Salim, M.G. 2018. 10 Potret sawah dengan pagar bunga, cantik dan baik untuk usir
hamahttps://www.brilio.net/wow/10-potret-sawah-dengan-pagar-bunga-cantik-dan-baikuntuk-usir-hama-1801031.html. [Diakses Kamis, 1 Februari 2018].
Santosa, S.J. dan J. Sulistyo. 2007. “Peranan Musuh Alami Hama Utama Padi pada Ekosistem
Sawah.” Innofarm 6 (1): 1–10. doi:10.1073/pnas.0703993104.
Sari, R.P. dan B. Yanuwiadi. 2014. “Efek Refugia pada Populasi Herbivora di Sawah Padi
Merah Organik Desa Sengguruh, Kepanjen, Malang.” Jurnal Biotropika 2 (1): 14–19.
Setyadin, Y., S.H. Abida, H. Azzamuddin, S.F. Rahmah, dan A.S. Leksono. 2017. “Efek Refugia
Tanaman Jagung (Zea mays) dan Tanaman Kacang Panjang (Vigna cylindrica) pada Pola
Kunjungan Serangga di Sawah Padi (Oryza sativa) Dusun Balong, Karanglo, Malang.”
Biotropika 5 (2): 54–58.
Tauruslina, A.E., T. Yaherwandi, dan H. Hamid. 2015. “Analisis Keanekaragaman Hayati
Musuh Alami pada Ekosistem Padi Sawah di Daerah Endemik dan Non Endemik Wereng
Batang Coklat Nilaparvata lugens di Sumatera Barat.” In Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon.,
1:581–89. doi:10.13057/psnmbi/m010334.
Wilyus, F.N., A. Johari, S. Herlinda, C. Irsan, dan Y. Pujiastuti. 2013. “Keanekaragaman,
Dominasi, Persebaran Spesies Penggerek Batang Padi dan Serangannya pada Berbagai
Tipologi Lahan di Provinsi Jambi.” J. HPT Tropika 13 (1): 87–95.
Wratten, S.D., M. Gillespie, A. Decourtye, E. Mader, dan N. Desneux. 2012. “Pollinator Habitat
Enhancement: Benefits to Other Ecosystem Services.” Agriculture, Ecosystems and
Environment 159. Elsevier B.V.: 112–22. doi:10.1016/j.agee.2012.06.020.
Yuantari, M.G.C., B. Widianarko, dan H.R. Sunoko. 2015. “Analisis Risiko Pajanan Pestisida
terhadap Kesehatan Petani.” Kemas 10 (2): 239–45. doi:ISSN 1858-1196.
Zaenun, S., T. Ekowati, dan E.D. Purbajanti. 2017. “Daya Adaptasi Perubahan Iklim Terhadap
Pedapatan Petani Padi di Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal.” Agromedia 35 (1): 58–64.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
44
Zhu, Pingyang, Geoff M. Gurr, Zhongxian Lu, Kongluen Heong, Guihua Chen, Xusong Zheng,
Hongxing Xu, dan Yajun Yang. 2013. “Laboratory Screening Supports The Selection of
Sesame (Sesamum Indicum) to Enhance Anagrus spp. Parasitoids (Hymenoptera:
Mymaridae) Of Rice Planthoppers.” Biological Control 64 (1). Elsevier Inc.: 83–89.
doi:10.1016/j.biocontrol.2012.09.014.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
45
RESPON PESERTA TEMU LAPANG TERHADAP TEKNOLOGI BUDIDAYA SAPI DI
KABUPATEN TANGERANG
Rika Jayanti Malik
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten
Jln. Ciptayasa KM. 01, Ciruas, Serang, Banten 42182
Telp. (0254) 281055; Fax (0254) 282507
email : [email protected], [email protected]
ABSTRAK
Temu lapang adalah kegiatan pertemuan antara peneliti, penyuluh dan para petani untuk
saling tukar menukar teknologi/informasi sehingga didapatkan teknologi yang akan
dikembangkan sesuai potensi wilayah. BPTP Banten berupaya melaksanakan percepatan
diseminasi teknologi melalui kegiatan temu lapang. Kegiatan temu lapang dilaksanakan di
kelompok Bina Karya pada 18 November 2016. Kegiatan bertujuan untuk mengetahui respon
peserta terhadap teknologi dan pelayanan dalam temu lapang. Metode pengambilan data
menggunakan pendekatan personal dengan teknik survey yaitu dengan mengisi kuesioner yang
berisikan tentang penilaian terhadap teknologi dan pelayanan. skor nilai yang diberikan yaitu
nilai 0 - ≤ 1 (kurang puas), nilai > 1 - ≤ 2 (puas), nilai > 2 - ≤ 3 (sangat puas). Data yang
diperoleh ditabulasi dan dianalisis secara diskriptif. Hasil kegiatan menunjukkan peserta sangat
puas terhadap teknologi perkandangan, pakan, reproduksi, pencegahan dan pengendalian
penyakit dan pengolahan limbah yang telah diterapkan kelompok Bina Karya. Peserta juga
sangat puas terhadap pelayanan BPTP Banten dalam pelaksanaan temu lapang.
PENDAHULUAN
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten melaksanakan pendampingan
program pengembangan kawasan sapi di Kabupaten Tangerang. Lokasi pendampingan sesuai
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 830 Tahun 2016 tentang Lokasi Pengembangan Kawasan
Pertanian Nasional. Salah satu dasar pertimbangan penentuan lokasi pendampingan yaitu
populasi sapi tertinggi di Provinsi Banten yaitu berada di Kabupaten Tangerang.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
46
Berdasarkan Badan Pusat Statistik Provinsi Banten (2014), populasi sapi potong 54.898
ekor dan 3 wilayah dengan sebaran tertinggi berada di Kabupaten Tangerang 40.534 ekor
(73,8%), Serang 6.106 ekor (11,1%), dan Lebak 4.238 (7,7%). Dominasi populasi sapi potong
disebabkan adanya 7 feedloter (perusahaan pelaksana penggemukan sapi potong), dan dukungan
Pemerintah Kabupaten Tangerang yang mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2011
tentang tata ruang wilayah untuk pengembangan sektor peternakan tahun 2011-2031 di 13
kecamatan.
Kecamatan Tigaraksa merupakan salah satu wilayah yang ditetapkan sebagi lokasi
pengembangan kawasan sapi potong. BPTP Banten bersama Dinas Pertanian dan Peternakan
Kabupaten Tangerang melaksanakan pendampingan di Kelompok Bina Karya. BPTP Banten
melakukan pendampingan teknologi budidaya ternak dan Dinas secara teknis membatu
menyediakan sarana dan prasana pemeliharaan sapi potong. Tujuan pendampingan yaitu
membentuk model kelompok peternak yang menerapkan teknologi dan dapat dijadikan
percontohan bagi peternak maupun kelompok lainnya. Kerjasama kegiatan pendampingan BPTP
Banten dan Dinas meliputi: 1) peningkatan populasi sapi melalui bantuan ternak, instensif
menerapkan inseminasi buatan, peningkatan pengetahuan peternak tentang teknologi reproduksi
dan manajemen perkawinan, 2) peningkatan bobot badan harian sapi potong melalui pemberian
pakan tambahan menggunakan bahan lokal, dan adanya rumah pakan, 3) display/kebun hijauan
pakan ternak yang menampilkan beberapa jenis rumput unggul dan tersedianya mesin pencacah
rumput, dan 4) pemeliharaan sapi potong ramah lingkungan melalui pengolahan limbah
(pembuatan pupuk organik) dan adanya instalasi biogas kapasitas 4 m 3.
BPTP Banten berupaya melaksanakan percepatan diseminasi teknologi budidaya sapi
potong melalui kegiatan temu lapang. Sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 35 Tahun 2009
bahwa temu lapang adalah kegiatan pertemuan antara peneliti, penyuluh dan para petani untuk
saling tukar menukar teknologi/informasi sehingga didapatkan teknologi yang akan
dikembangkan sesuai potensi wilayah. Peserta temu lapang berasal dari beragam pihak yang
memiliki kepentingan di bidang peternakan, sehingga dapat diperoleh data dan informasi tentang
respon peserta temu lapang. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui respon peserta temu lapang
terhadap teknologi budidaya di Kabupaten Tangerang.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
47
METODOLOGI
Lokasi temu lapang di Kelompok Bina Karya, Desa Cileles, Kecamatan Tigaraksa,
Kabupaten Tangerang. Pelaksanaan temu lapang pada 18 November 2016. Jumlah peserta 80
orang terdiri atas anggota kelompok Bina Karya dan perwakilan kelompok peternak se
Kecamatan Tigaraksa, peneliti, penyuluh, swasta dan pemangku kebijakan yang diwakili oleh
Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tangerang.
Teknologi budidaya sapi potong yang ditampilkan di Kelompok Bina Karya meliputi
sistem perkandangan, manajemen pakan, manajamen reproduksi dan sistem perkawinan,
pelayanan pencegahan dan pengobatan penyakit dan pengolahan limbah. Harapannya peserta
dapat termotivasi menerapkan sebagian maupun keseluruhan teknologi yang diterimanya.
Metode pegambilan data menggunakan pendekatan individu (survei) dengan teknik
mengisi kuesioner (memberikan penilaian terhadap komponen teknologi). Adapun komponen
teknologi yang dinilai meliputi: 1) perkandangan, 2) pakan: display budidaya rumput gajah,
pembuatan pakan olahan (fermentasi/silase), pembuatan comin block, pemberian pakan
tambahan, 3) reproduksi: fasilitas kandang jepit, pelayanan IB, dan pelayanan pengobatan
gangguan reproduksi, 4) pelayanan pencegahan dan pengobatan penyakit, dan 5) pengolahan
limbah (pembuatan pupuk organik dan biogas). Selain penilaian komponen teknologi, peserta
juga secara aktif dilibatkan dalam penilaian pelaksanaan temu lapang dengan kriteria penilaian
meliputi fasilitas, keramahan dan kesopanan panitia, kesesuaian dan kejelasan materi. Adapun
skor nilai yang diberikan yaitu nilai 0 - ≤ 1 (kurang puas), nilai > 1 - ≤ 2 (puas), nilai > 2 - ≤ 3
(sangat puas). Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis secara diskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Wilayah
Kecamatan Tigaraksa merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang dengan luas
5.279 ha. Wilayahnya termasuk kategori dataran rendah dengan ketinggian 44 m dpl. Batas
wilayah dan beberapa desa lingkup Kecamatan Tigaraksa ditampilkan pada Gambar 1.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
48
Gambar 1. Peta Kecamatan Tigaraksa
Cileles merupakan salah satu desa di Kecamatan Tigaraksa dengan luas 578,32 ha dan
jumlah penduduk Desa Cileles 7.117 orang. Jarak Desa Cileles dengan ibu kota kecamatan relatif
dekat yaitu 7 km, sedangkan jarak dengan ibu kota kabupaten 9 km dengan waktu tempuh 30
menit. Adapun jarak dengan ibu kota provinsi mencapai 80 km dengan waktu tempuh 2,5 jam.
Akses jalan menuju Desa Cileles baik dari ibu kota provinsi maupun kabupaten kategori mudah
(secara fisik melalui jalan raya (aspal) dan jalan desa telah menggunakan betonisasi).
Status lahan sawah, kebun, dan lahan tidur lainnya di Desa Cileles didominasi milik
pengembang. Masyarakat dapat memanfaatkan lahan tersebut melalui sistem perizinan yang
disetujui Kepala Desa. Adapun sawah status milik petani rata-rata sekitar 0,25 ha. Pemanfaatan
lahan milik pengembang dioptimalkan untuk tanaman pangan dan kebun hijauan pakan ternak
sekaligus lokasi penggembalaan ternak.
Karekteristik Kelompok
Salah satu Kelompok Ternak yang telah terdaftar yaitu kelompok Bina Karya. Kelompok
yang terbentuk atas satu visi yaitu pengembangan sapi potong. Kelompok Bina Karya terbentuk
pada tahun 2010 dengan jumlah anggota 20 orang. Struktur kepengurusan terdiri atas ketua
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
49
(Ahmad), sekretaris (Saepudin) dan bendahara (Suryadi). Support pemerintah berawal dari tahun
2011 dengan adanya bantuan sapi potong pejantan sebanyak 4 ekor.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten mulai mendapingi kelompok Bina Karya
pada tahun 2013. Di tahun yang sama kelompok Bina Karya mendapatkan bantuan ternak sapi
potong 18 ekor (17 ekor betina dan 1 pejantan). Pembinaan terus berlangsung sampai dengan
tahun 2016 total sapi yang dipelihara kelompok mencapai 53 ekor.
Awal pembentukan kelompok, fokus usaha pada pola pembibitan. Mengingat hasil yang
dirasakan anggota membutuhkan waktu yang lama, maka sistem usaha kombinasi dengan pola
penggemukan (3-4 bulan). Kurun waktu 1 tahun, kelompok mampu menjual sapi potong
pejantan kisaran bobot 200-250 kg dengan harga Rp 15.000.000,- s/d Rp 18.000.000,Karakteristik anggota kelompok Bina Karya meliputi umur, pendidikan, kepemilikan
ternak dan luas lahan hijauan pakan ternak. Mayoritas anggota kelompok Bina Karya di
dominasi oleh umur 38-54 tahun. Pendidikan anggota kelompok Bina Karya didominasi oleh
tamat SD. Luas lahan HPT yang dikuasai peternak 300 – 6.800 m2. Kategori kepemilikan ternak
sapi potong rendah diartikan rata-rata kepemilikan 2-5 ekor. Mata pencaharian anggota
kelompok adalah petani.
Karakteristik tersebut menggambarkan bahwa anggota kelompok memiliki kemampuan
membaca dan menulis. Sehingga pendampingan dapat menggunakan metode pertemuan
/pembelajaran dengan media cetak, slide show maupun audio visual. Pemilihan metode dan
teknik serta media yang tepat tentunya dapat membantu percepatan diseminasi teknologi.
Percepatan diseminasi dengan memperhatikan karakteristik petani diharapkan mampu
mempercepat proses adopsi teknologi. Tahapan adopsi dimulai dari proses kesadaran hingga
penerapan teknologi. Adapun untuk menggugah minat banyak metode yang dapat dilakukan,
salah satunya yaitu melalui temu lapang teknologi. Adapun indikator keberhasilan temu lapang
dapat dilihat dari respon peserta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal (motivasi,
pengalaman berusaha tani dan luas lahan garapan) berkorelasi atau berhubungan nyata dengan
respon petani (Rukka, dkk. 2006).
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
50
Respon Peserta Temu Lapang
Temu dilaksanakan pada 18 November 2016 di lokasi kelompok Bina Karya. Peserta
berjumlah 80 orang terdiri atas anggota kelompok Bina Karya, peternak perwakilan kelompok se
Kecamatan Tigaraksa, peneliti, penyuluh dan pemangku kebijakan dari dinas. Sebagai
narasumber yaitu Kepala BPTP Bantan, Kepala Bidang Produksi Peternakan Kabupaten
Tangerang dan Manajer PT. Lembu Setia Abadi Jaya.
Teknik diseminasi yang digunakan pada temu lapang yaitu ceramah, diskusi dan
kunjungan lapang. Ceramah dan diskusi antar peserta dan narasumber. Kombinasi teknik ini
diharapkan mampu membuka wawasan sekaligus meningkatkan pengetahuan peternak.
Hasil penelitian Mardiyanto, dkk (2016) melaporkan bahwa hasil uji Wilcoxon
menunjukkan pelatihan secara signifikan meningkatkan pengetahuan peserta sekaligus
meggambaran bahwa ceramah pada pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan petani.
Indikator keberhasilan temu lapang terlihat dari respon tingkat kepuasan pesertanya.
Menurut Hanafi, dkk (2011) bahwa respon adalah tanggapan seseorang berupa jawaban (sikap,
tindakan) terhadap suatu rangsangan yang diterimanya. Rangsangan berasal dari luar diri
seseorang tersebut. Respon peserta temu lapang terhadap teknologi ditampilkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Respon peserta temu lapang terhadap teknologi yang ditampilkan pada temu lapang.
Rata-rata
No.
Teknologi yang Dinilai
Kategori
Nilai
1.
Perkandangan
2,7
Sangat Puas
2.
Pakan
a. Display/percontohan budidaya rumput gajah
2,4
Sangat Puas
b. Pembuatan pakan olahan (fermentasi/silase)
2
Puas
c. Pembuatan comin block
1,9
Puas
d. Pemberian pakan tambahan (penggemukan)
2,2
Sangat Puas
3.
Reproduksi
a. Fasilitas Kandang Jepit
2,4
Sangat Puas
4.
5.
b. Pelayanan IB
2,6
Sangat Puas
c. Pelayanan pengobatan gangguan reproduksi
Pelayanan pencegahan dan pengobatan penyakit
Pengolahan limbah
a. Pupuk Organik
1,9
2,1
Puas
Sangat Puas
2,2
Sangat Puas
2,1
Sangat Puas
b. Biogas
Total rata-rata nilai
2,3
Sangat Puas
Keterangan: Nilai 0 - ≤ 1 (kurang puas), nilai > 1 - ≤ 2 (puas), nilai > 2 - ≤ 3 (sangat puas)
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
51
Respon peserta temu lapang terhadap teknologi budidaya sapi menunjukkan kategori
sangat puas. Informasi ini menggambarkan bahwa kelompok Bina Karya dapat dijadikan
kelompok model bagi peternak sapi disekitarnya. Kelompok model merupakan kelompok yang
mampu menjadi fasilitas percontohan bagi peternak baik anggota maupun bukan dan kelompok
lain. Harapannya kelompok model dapat dijadikan sarana pembelajaran budidaya sapi yang baik
dan benar.
Peserta temu lapang sangat puas terhadap perkandangan, karena sistem perkandangan yang
digunakan kelompok Bina Karya merupakan kandang koloni yang dikelola oleh kelompok.
Kandang dengan ukuran 6 m x 12 m berbahan kayu dengan lantai semen dan beratap
menunjukkan anggota kelompok berupaya memperhatikan kesejahteraan ternak. Kondisi sapi
dalam kandang tidak berdesakan dan dikelompokkkan berdasarkan statusnya.
Peserta temu lapang sangat puas terhadap teknologi pakan, karena secara langsung menilai
tentang pertanaman rumput gajah yang berada di kebun kelompok. Selain itu juga peserta
mengamati tentang pembuatan pakan olahan (silase), comin block dan pakan tambahan
penggemukan. Mayoritas peserta temu lapang belum secara intensif menerapkan teknolofi
pakan, sehingga temu lapang diharapkan dapat menjadi sarana penggugah motivasi/minat.
Penilaian peserta terhadap teknologi reproduksi menunjukkan sangat puas karena fasilitias
yang tersedia di kelompok Bina Karya merupakan sarana penting dalam pelayanan inseminasi
buatan (IB). Fasilitas yang ditampilkan berupa kanang jepit dan keberhasilan IB yang telah
dilakukan petugas. Kabupaten Tangerang merupakan wilayah adopsi teknologi IB, sehingga
peternak sudah merasa butuh terhadap pelayanan IB.
Teknologi pengolahan limbah juga mendapatkan nilai yang sangat memuaskan karena
kelompok Bina Karya mulai menerapkan konsep pemeliharaan ternak yang ramah lingkungan.
Sarana yang ditampilkan yaitu rumah kompos dengan ukuran 9,5 m x 5 m dan biogas dengan
kapasitas 4 m3. Produk yang ditampilkan yaitu pupuk organik yang telah dikemas. Meskipun
produk pupuk organik atas dasar pesanan, akan tetapi setiap produksi kelompok Bina Karya
mampu menghasilkan 10 ton.
Respon peserta terhadap teknologi merupakan indikator keberhasilan pelaksanaan temu
lapang sekaligus menjadi dasar pertimbangan dalam percepatan diseminasi teknolgi. Sesuai
penelitian Hanafiah, dkk (2002) yang meneliti tentang respon peserta terhadap teknologi
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
52
pencegahan dan pengendalian parasite. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa responden
memberikan tanggapan sangat memuaskan 17,65% dan memuaskan 64,7% serta cukup
memuaskan 17,65% pada manfaat obat cacing pada ternak domba. Hasil ini menggambarkan
bahwa ternak yang telah terserang parasite dapat diobati secara efektif menggunakan obat.
Dalam penelitiannya juga disampaikan bahwa melalui pertemuan responden mengerti,
mempunyai motivasi dan telah berupaya mengbati ternak yang terjangkit penyakit cacing.
Selain respon peserta terhadap teknologi, perlu juga digali informasi tentang respon peserta
terhadap pelaksanaan temu lapang. Peserta diajak kooperatif dalam menilai fasilitas, perilaku
pelaksana, materi dan narasumber dalam temu lapang. Respon peserta terhadap pelaksnaan temu
lapang ditampilkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Respon peserta temu lapang terhadap pelaksanaan temu lapang
No.
Nilai Pelayanan
Rata-rata nilai
Kategori
1. Fasilitas temu lapang
2,7
Sangat Puas
2. Keramahan panitia
2,9
Sangat Puas
3. Kesopanan panitia
2,7
Sangat Puas
4. Kesesuaian materi
2,3
Sangat Puas
5. Penjelasan materi
2,6
Sangat Puas
Total rata-rata nilai
2,7
Sangat Puas
Keterangan: Nilai 0 - ≤ 1 (kurang puas), nilai > 1 - ≤ 2 (puas), nilai > 2 - ≤ 3 (sangat puas)
Tabel 2 menggambarkan bahwa tim penyelenggara temu lapang mampu memberikan
pelayanan prima. Sebagaimana prinsip BPTP Banten yaitu terdepan dalam pelayanan dan
mengutamakan kualitas melalui sikap senyum, sapa dan salam. Sikap ini sangat dibutuhkan agar
peserta merasakan suasana yang nyaman dalam menentukan penilaian terhadap pelaksanaan
temu lapang.
KESIMPULAN
Temu lapang merupakan salah satu metode diseminasi yang efektif untuk menggugah
minat peternak dalam menerapkan teknologi. Respon peserta temu lapang sagat puas terhadap
teknologi perkandangan, pakan, reproduksi, pencegahan dan pengendalian penyakit dan
pengolahan limbah yang telah diterapkan kelompok Bina Karya. Respon peserta terhadap
pelaksanaan temu lapang menujukkan kategori sangat puas, sehingga pelayanan BPTP Banten
dalam temu lapang dirasakan efektif.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
53
DAFTAR PUSTAKA
Hanafi Hano, T. Kurnianita, D. H. Susanti. 2011. Pengkajian Respon Peternak Terhadap
Program Swasembada Daging Sapi (PSDS) 2014 Di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Seminar Nasional
Teknologi Peternakan dan Veteriner 2011. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Peternakan.
Hanafiah Ahmad, Beriajaya, Dwi Yulistiani. 2002. Respon Peternak Domba Terhadap Teknologi
Penggunaan Obat Cacing: Studi Kasus Di Desa Tegalsari, Kabupaten Purwakarta.
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2002. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Peternakan.
Mardiyanto Tri Cahyo dan Tri Reni Prastuti. 2016. Efektivitas Pelatihan Teknologi Budidaya
Bawang Putih Varietas Lokal Ramah Lingkungan dengan Metode Ceramah di Kabupaten
Karanganyar. Jurnal Agraris Vol. 2 No. 1 Januari 2016.
Rukka Hermaya, Buhaerah, Sunaryo. 2006. Hubungan Karakteristik Petani dengan Respon
Petani Terhadap Penggunaan Pupuk Organik Pada Padi Sawah (Oryza sativa L.). Jurnal
Agrisistem Vol. 2 No. 1 Juni 2006.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
54
KARAKTERISTIK DAN PENILAIAN PENGUNJUNG TERHADAP PELAYANAN
STAND BPTP BANTEN DALAM ACARA PAMERAN BANTEN EXPO
Dewi Widiyastuti dan Septi Kusumawati
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten
Jln. Ciptayasa KM. 01, Ciruas, Serang, Banten 42182
Telp. (0254) 281055; Fax (0254) 282507
email : [email protected], [email protected]
ABSTRAK
Banten Expo merupakan acara yang rutin digelar oleh Pemerintah Provinsi Banten untuk
memperingati ulang tahun Provinsi Banten. Salah satu kegiatan Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten dalam
menyebarluaskan hasil penelitian, pengembangan dan inovasi di bidang pertanian berupa
aktivitas yang memperkenalkan hasil produksi atau memperlihatkan hasil-hasil kajian BPTP
Banten. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan penilaian pengunjung terhadap
pelayanan pada Stand pameran Banten Expo. Pameran dilaksanakan di Hall 9-10 Gedung
Indonesia Conventiom Exhibition (ICE) Tangerang Selatan selama tiga hari mulai tanggal 16
sampai dengan 18 November 2017. Responden pengkajian berasal dari pengunjung yang
mengunjungi stand BPTP Banten sebanyak 35 orang. Metode pelaksanaan dilakukan melalui
wawancara perorangan menggunakan kuisioner sebagai panduan wawancara dengan jumlah 3
soal yang memuat pertanyaan tentang cara penyampaian dan kompetensi petugas, kebersihan
dan kerapihan stand pameran dan tampilan/tata letak stand pameran yang dikategorikan menjadi
5 kategori yaitu sangat tidak puas, tidak puas, kurang puas, puas dan sangat puas. Sedangkan
Penilaian pengunjung terhadap pelayanan Banten Expo berupa cara penyampaian dan
kompetensi info guide, kebersihan dan kerapihan stand pameran dan tampilan atau tata letak
stand pameran BPTP Banten pada kegiatan pameran Banten Expo 2017. Karakteristik
pengunjung pameran dalam kajian ini mencakup umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan
profesi pengunjung pameran. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel
dan grafik. Hasil menunjukkan bahwa kerakteristik pengunjung rata-rata berumur 39 tahun
dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 19 orang dan perempuan sebanyak 16 orang. Tingkat
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
55
pendidikan pengunjung sarjana sebanyak 25 orang yang berprofesi sebagai PNS dan karyawan
masing-masing 16 dan 13 orang. Sedangkan Penilaian pengunjung terhadap cara penyampaian
dan kompetensi info guide, kebersihan dan kerapihan stand pameran serta tampilan/tata letak
stand pameran BPTP Banten pada kegiatan pameran Banten Expo 2017 memberikan nilai puas
masing-masing sebesar 54,29%, 60% dan 51,43% dan yang memberikan nilai sangat puas
masing-masing sebesar 45,71%, 40% dan 37,14%.
Kata kunci: Karakteristik, pameran, pengunjung, pelayanan
PENDAHULUAN
Banten Expo merupakan acara yang rutin digelar oleh Pemerintah Provinsi Banten untuk
memperingati ulang tahun Provinsi Banten. Setiap tahun Banten Expo menampilkan stand
Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Provinsi Banten, pelaku bisnis barang dan jasa, serta
program pelayanan publik dan binaan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten berperan serta dalam kegiatan pameran
tersebut.
Salah satu kegiatan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten harus dapat menyebarluaskan hasil penelitian,
pengembangan dan inovasi di bidang pertanian. Pameran yang dilakukan oleh BPTP Banten
berupa aktivitas yang memperkenalkan hasil produksi atau memperlihatkan hasil-hasil kajian
BPTP Banten. Kegiatan pameran merupakan salah satu metode penyuluhan melalui info guide
kepada pengunjung yang bertujuan untuk memberikan pelayanan dan informasi teknologi
pertanian yang dibutuhkan pengunjung (Badan Litbang, 2017).
Pameran adalah pertunjukan (hasil karya seni, barang hasil produksi, dan sebagainya)
(KBBI, 2017). Pada pameran diperagakan teknologi yang dibutuhkan pengguna disertai
penjelasannya oleh pemandu. Melalui pameran, akan terjadi proses interaktif antara pengguna
teknologi dan pemandu pameran sehingga pengguna dapat mengenal dan memahami teknologi
yang diperagakan dan pemandu akan memperoleh umpan balik yang bermanfaat bagi
pengembangan inovasi ke depan (Junaidi, 2017).
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
56
Salah satu upaya peningkatan kualitas stand pameran Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian (BPTP) Banten dilakukan penilaian pengunjung. Penilaian pengunjung dapat dijadikan
sebagai salah satu tolok ukur kualitas stand pameran. Menurut (Yahya dan Lubis, 2017)
Pengunjung merupakan seorang yang memakai atau menikmati barang ataupun jasa yang
diinginkannya. Karakterisitik pengunjung akan berbeda satu dengan yang lain dan dapat
mempengaruhi dalam pengambilan keputusan bagi para pengunjung.
Pengunjung pameran merupakan seseorang yang mengunjungi stand, melihat dan bertanya
tentang informasi teknologi yang dipertunjukan pada stan yang bertujuan untuk menggali
sedalam-dalamnya informasi dalam menerapkan pengembangan teknologi di daerahnya.
Semakin banyak instansi yang dilibatkan maka semakin banyak stan pameran yang memberikan
informasi teknologi melalui pengunjung/masyarakat dalam memperluas penyebaran informasi
teknologi untuk mencapai program pembangunan di bidang pertanian.
METODE
Pengkajian dilaksanakan di Hall 9-10 Gedung Indonesia Conventiom Exhibition (ICE)
Tangerang Selatan selama tiga hari mulai tanggal 16 sampai dengan 18 November 2017.
Responden pengkajian berasal dari pengunjung yang mengunjungi stand BPTP Banten sebanyak
35
orang. Metode pelaksanaan dilakukan melalui wawancara perorangan menggunakan
kuisioner sebagai panduan wawancara dengan jumlah 3 soal yang memuat pertanyaan tentang
cara penyampaian dan kompetensi petugas,
kebersihan dan kerapihan stand pameran dan
tampilan/tata letak stand pameran yang dikategorikan menjadi 5 kategori yaitu sangat tidak puas,
tidak puas, kurang puas, puas dan sangat puas. Sedangkan Penilaian pengunjung terhadap
pelayanan Banten Expo berupa cara penyampaian dan kompetensi info guide, kebersihan dan
kerapihan stand pameran dan tampilan atau tata letak. Karakteristik pengunjung pameran dalam
kajian ini mencakup umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan profesi pengunjung pameran.
Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. karakteristik
pengunjung dapat menggambarkan kondisi pengunjung secara umum.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
57
HASIL DAN PEMBAHASAN
I.
Karakteristik Pengunjung
Umur pengunjung pameran berkisar antara 19 sampai dengan 58 tahun dan terbanyak umur
pengunjung antara 39 sampai dengan 48 tahun. Umur pengunjung yang datang di Pameran
Banten Expo disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1. Umur Pengunjung Pameran (tahun)
Jenis kelamin pengunjung laki-laki sebanyak 19 orang dan perempuan sebanyak 16 orang.
Jenis kelamin pengunjung yang datang ke Pameran Banten Expo dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Jenis Kelamin Pengunjung Pameran
Tingkat pendidikan pengunjung mulai dari SMU/sederajad sampai dengan sarjana. Ratarata tingkat pendidikan pengunjung adalah sarjana sebanyak 25 orang, SMU/sederajad 8 orang
dan diploma hanya 2 orang. Pengunjung yang datang memiliki pendidikan yang tinggi karena
lokasi Pameran Banten Expo berada di tengah kota yaitu Tangerang Selatan dapat dilihat pada
gambar 3.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
58
Gambar 3. Tingkat Pendidikan Pengunjung Pameran
Profesi pengunjung pameran beragam antara lain PNS, karyawan, pengusaha dan lain-lain.
Profesi pengunjung sangat didominasi oleh PNS dan karyawan masing-masing 16 orang dan 13
orang, sedangkan pengusaha sebanyak 5 orang dan lain-lain hanya1 orang. Dapat dilihat pada
Gambar 4.
Gambar 4. Profesi Pengunjung Pameran
II.
Penilaian Pengunjung Terhadap Pelayanan Stand Pameran BPTP Banten
Hasil penilaian pengunjung dari segi cara penyampaian dan kompetensi petugas sebagai
info guide pada pameran Banten Expo 2017, dapat dilihat pada tabel 1. Persentase penilaian
menyatakan bahwa pengunjung puas dan sangat puas 54,29% dan 45,71%. Begitu juga dengan
kebersihan dan kerapihan stand pameran pengunjung menyatakan puas dan sangat puas dengan
persentase masing-masing 60% dan 40%. Sedangkan pada tampilan/tataletak stand pameran
yang menyatakan puas dan sangat puas mendapatkan persentase sebesar 51,43 dan 37,14% dan
yang menyatakan kurang puas sebesar 8,57% disebabkan kurang puas ukuran stand yang kurang
luas dan banyaknya pengunjung yang datang.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
59
Tabel 1. Penilaian Pengunjung Terhadap Pelayanan Stand BPTP Banten
No.
Partanyaan
Sangat
tidak puas
Tidak
puas
Kurang
puas
Puas
Sangat
puas
1.
Cara penyampaian dan kompetensi info
guide
0
0
0
54,29
45,71
2.
Kebersihan dan kerapihan stand pameran
0
0
0
60,00
40,00
3.
Tampilan/tata letak stand pameran
0
0
8,57
51,43
37,14
KESIMPULAN
Kerakteristik pengunjung rata-rata berumur 39 tahun dengan jenis kelamin laki-laki
sebanyak 19 orang dan perempuan sebanyak 16 orang. Tingkat pendidikan pengunjung sarjana
sebanyak 25 orang, yang berprofesi sebagai PNS dan karyawan masing-masing sebanyak 16 dan
13 orang.
Penilaian pengunjung terhadap cara penyampaian dan kompetensi info guide, kebersihan
dan kerapihan stand pameran serta tampilan/tata letak stand pameran BPTP Banten pada
kegiatan pameran Banten Expo 2017 memberikan nilai puas masing-masing sebesar 54,29%,
60% dan 51,43% dan yang memberikan nilai sangat puas masing-masing sebesar 45,71%, 40%
dan 37,14% .
DAFTAR PUSTAKA
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian. 2017. Unit Kerja.
http://www.litbang.pertanian.go.id/unker/. [Diakses tanggal 23 Oktober 2017].
Junaidi, H. 2017. Persepsi Pengunjung Pameran Terhadao Materi Teknologi Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Maluku Utara. Jurnal Perpustakaan Pertanian Volume 26 (1).
http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jpp/article/view/7710/6694.
[Diakses
tanggal 30 Oktober 2017].
Kamus besar Bahasa Indonesia. Pengertian pameran. 22 November 2017. https://kbbi.web.id/
pamer. [Diakses tanggal 20 Oktober 2017].
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
60
Yahya, A.O., Lubis, D.P. 2017. Efektivitas Pameran Sebagai Media Komunikasi Pemasaran
Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kota Bogor. Jurnal Sains Komunikasi dan
Pengembangan Masyarakat (JSKPM) Volume 1 (2): 183-194. https://repository.unri.ac.id
/xmlui/bitstream/handle/123456789/5056/UNTUK%20JURNAL.pdf?sequence=1.
[Diakses tanggal 30 Oktober 2017].
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
61
DAMPAK KEBERADAAN PERPUSTAKAAN DIGITAL
TERHADAP PERKEMBANGAN PERPUSTAKAAN KHUSUS BALAI PENGKAJIAN
TEKNOLOGI PERTANIAN BANTEN
Sri Maryani
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten
Jln. Ciptayasa KM. 01, Ciruas, Serang, Banten 42182
Telp. (0254) 281055; Fax (0254) 282507
email : [email protected], [email protected]
RINGKASAN
Studi terhadap pengaruh keberadaan perpustakaan digital terhadap perkembangan
perpustakaan “khusus” telah dilakukan di perpustakaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
Banten. Studi dilakukan dengan cara mengamati buku tamu elektonik, data sirkulasi ragam
pustaka dan pemanfaatan jurnal online seperti science direct yang dilanggan oleh Pustaka Bogor.
Pengguna perpustakaan dapat dengan mudah memperoleh ragam informasi bahan pustaka baik
dari dalam maupun luar negeri. Science direct dan repository bisa dengan mudah diakses dari
masing masing meja kerja. Data jumlah pengujung diperoleh dari buku tamu elektronik, data
peminjaman bahan pustaka diperoleh dari buku peminjaman, sedangkan pemanfaatan Science
direct dan repository diperoleh dari komputer perpustakaan. Hasil studi menunjukkan bahwa
telah terjadi penurunan jumlah pengunjung perpustakaan dari tahun 2013 – 2014 sebesar
29,84%, sedangkan data peminjaman bahan pustaka tercetak seperti jurnal ilmiah, majalah
ilmiah penurunannya tidak nyata yaitu 7,16% pada tahun 2014 dan tahun 2015 sebesar 6,42%.
Keberadaan perpustakaan digital dan internet hanya berpengaruh terhadap jumlah pengunjung
perpustakaan, tetapi kurang berpengaruh terhadap aktivitas peminjaman bahan pustaka tercetak.
Kata Kunci : Perpustakaan, digital, khusus, pengunjung
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
62
PENDAHULUAN
Perpustakaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten adalah perpustakaan
yang berada di lingkup institusi penelitian, termasuk ke dalam kategori perpustakaan “khusus”
mempunyai tugas untuk menyediakan dan memberikan layanan informasi kepada penggunanya,
terutama bagi peneliti dan penyuluh di lingkungan institusinya serta pemangku kepentingan di
bidang subyek yang sama. Sebagai perpustakaan khusus, perpustakaan BPTP Banten sudah
menerapkan sistem pelayanan terbuka, artinya perpustakaan memberi kebebasan kepada
pengunjungnya untuk dapat memilih sendiri koleksi yang diinginkannya dari rak. Untuk
mencatat jumlah pengunjung yang masuk ke perpustakaan disediakan buku tamu elektronis.
Perpustakaan digital menurut Digital Library Federation dalam Pendit, P.L.( 2008), adalah
“organisasi yang menyediakan sumberdaya, termasuk pegawai yang terlatih khusus untuk
memilih, mengatur, menawarkan akses, memahami, menyebarkan, menjaga integritas, dan
memastikan keutuhan karya digital sedemikian rupa sehingga, koleksi tersedia dan terjangkau
oleh komunitas yang membutuhkannya”.
Ketersediaan jurnal elektonis makin dirasakan manfaatnya oleh pengguna yang selama ini
kurang memiliki akses terhadap publikasi mutakhir yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Perpustakaan digital secara ekonomis lebih menguntungkan dibanding perpustakaan tradisonal,
karena institusi dapat berbagi koleksi sekaligus dapat mengurangi kebutuhan informasi tercetak.
Pada tahun 2008 perpustakaan BPTP Banten terpilih sebagai salah satu pengembangan
perpustakaan MODEL (Management, Organization, Development, Electronic, Library) yaitu
system pengelolaan perpustakaan semidigital yang dirancang berdasarkan pendekatan
manajemen dan organisasi berorientasi pengguna dengan mensinergikan pengembangan
sumberdaya manusia, infrastruktur, sumberdaya informasi, anggaran dan system layanan.
Perpustakaan MODEL dirancang untuk meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar
perpustakaan dalam memanfaatkan secara efektif dan efisien sumber-sumber informasi Iptek
bidang pertanian yang tersedian di unit kerja masing-masing, baik di tingkat nasional maupun
internasional (Maksum dan Mei Rochjat Darmawiredja, 2007).
Keberadaan jurnal online seperti science direct yang dilanggan oleh Pustaka Bogor
memudahkan pengguna untuk mendapatkan informasi dari luar negeri secara gratis. Sedangkan
untuk mendapatkan informasi dalam negeri bisa di unduh dari aplikasi repository Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Untuk mendapatkan akses jurnal perpustakaan di
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
63
UK/UPT lingkup Badan Litbang Kementerian Pertanian mendapatkan 2 buah password dari
PUSTAKA, satu untuk pengguna dan satu untuk pengelola. Pengguna perpustakaan dapat
dengan mudah memperoleh ragam informasi bahan pustaka baik dari dalam maupun luar negeri.
Untuk mengakses Science direct dan repository harus menggunakan fasilitas perpustakaan
digital.
Untuk melihat pengaruh keberadaan perpustakaan digital terhadap perpustakaan BPTP
Banten dilkukan suatu kajian dengan cara melakukan pengamatan terhadap jumlah pengunjung,
aktivitas peminjaman ragam pustaka dan pemanfaatan referensi digital dari tahun 2013 – 2015.
METODOLOGI
Penelitian pengaruh keberadaan perpustakaan digital terhadap perkembangan perpustakaan
konvensional dilakukan di perpustakaan BPTP Banten. Alat yang digunakan untuk
mengumpulkan data berupa komputer yang diletakan di meja penerima tamu. Pengunjung
perpustakaan mengisi buku tamu eletronik sebelum mencari informasi yang diperlukan.
Data pengunjung terdiri dari peneliti, penyuluh, teknisi litkayasa, dosen, mahasiswa,
pelajar, petani, staf dinas, swasta, dan umum yang tercatat dalam computer di kompilasi setiap
bulan. Data jumlah pengunjung yang digunakan selama 3 (tiga) tahun, tahun 2013 sampai
dengan 2015.
Publikasi atau bahan pustaka yang dibaca atau dipinjam terdiri dari buku, majalah ilmiah,
majalah umum, laporan tahunan, laporan kegiatan, makalah ilmiah, paket teknologi (petunjuk
teknis), skripsi/thesis, statistic, kliping surat kabar, CD Room, VCD/DVD, dicatat dalam buku
peminjaman. Data sirkulasi ditabulasi setiap bulan. Baik data pengunjung maupun data sirkulasi
kemudian dianalisa secara deskriftip. Kemudian data permintaan penelusuran yang pada
umumnya diminta oleh para peneliti dan penyuluh disandingkan dalam bentuk tabel.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jumlah pengunjung perpustakaan BPTP Banten tahun 2013- 2015 disajikan pada Tabel 1
dan sirkulasi ragam pustaka yang dipinjam pada tahun yang sama disajikan pada Tabel 2.
Kunjungan pengguna ke perpustakaan menurun sejak diperkenalkannya Perpustakaan digital.
tahun 2013. Pada tahun 2013, jumlah pengunjung perpustakaan sebanyak 579 orang, dan pada
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
64
tahun 2014 sebanyak 408 orang, sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 289 orang. Jumlah
pengunjung tahun 2014 turun sebesar 29,84% jika dibandingkan tahun 2013, sedangkan pada
tahun 2015 turun 4,63% dibanding tahun 2014. Pada Tabel 1 terlihat bahwa penurunan terjadi
hampir diseluruh profesi, pengunjung, dimana penurunan nyata terjadi pada profesi mahasiswa
dan pelajar.
Perpustakaan BPTP Banten sebenarnya merupakan perpustakaan hybrid yaitu
perpaduan antara perpustakaan khusus yang masih tradisional dan perpustakaan digital yang
dikoordinir oleh PUSTAKA Bogor.
Tabel 1. Jumlah pengunjung Perpustakaan BPTP Banten selama 3 tahun.
Profesi pengunjung
Peneliti
Penyuluh
Litkayasa
Mahasiswa
Pelajar
Dinas
Umum
Jumlah
2013
Orang
%
138
23,83
67
11,57
52
8,98
177
30,57
114
19,69
3
0,52
28
4,84
579
100
2014
Orang
%
135
33,08
59
14,46
15
3,68
112
27,45
66
16,18
1
0,25
20
4,90
408
100
2015
Orang
%
120 30,86
45
11,57
29
7,45
95
24,42
80
20,56
4
1,03
16
4,11
389
100
Tabel 2. Jumlah ragam pustaka yang dipinjam oleh berbagai profesi.
Jenis Koleksi
Buku
Majalah ilmiah
Majalah umum
Laporan kegiatan
Paket Teknologi (leaflet, brosur,
liptan)
Data Statistik
Jumlah
2013
Judul
%
201 60,00
80 23,88
11
83,2
9
2,69
6
1,79
28
335
8,36
100
2014
Judul
151
93
22
7
5
%
48,55
29,90
7,07
2,25
1,61
33
311
10,61
100
2015
Judul
%
150
51,55
40
13,74
24
8,25
24
8,25
13
4,47
40
291
13,74
100
Pada Tabel 2 terlihat penurunan ragam pustaka yang dipinjam, peminjaman buku secara
keseluruhan menurun sebesar 7,16% pada tahun 2014. Sedangkan pada tahun 2015
penurunannya 6,43%, sedangakan peminjaman buku statistik terus meningkat,
Keberadaan perpustakaan semi-digital seperti perpustakaan MODEL yang diperkenalkan
oleh PUSTAKA Bogor berpengaruh nyata terhadap jumlah pengunjung ke Perpustakaan BPTP
Banten, berdasarkan data jumlah pengunjung selama 3 tahun (2013-2015).
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
65
KESIMPULAN
Kesimpulan
Hasil kajian menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah pengunjung yang datang ke
perpustakaan.
Hal ini menunjukkan bahwa pengguna perpustakaan BPTP Banten sebagian
penelitinya sudah mengakses jurnal yang dilanggan PUSTAKA Bogor dan berangsur-angsur
beralih pada perpustakaan digital. Berkaitan dengan perubahan dan perkembangan tersebut
pustakawan harus memfasilitasi kebutuhan peneliti serta tanggap, proaktif, menerima, dan
berusaha untuk meresponnya secara efektif dalam rangka memenuhi harapan pengguna. Ke
depan pengguna diharapkan dapat menelusuri sendiri atau memesan informasi yang diperlukan
kepada pustakawan.
Jumlah pengunjung perpustakaan BPTP Banten menurun sebesar 29,84% pada tahun 2014
dan 4,63% tahun 2015. Sedangkan jumlah pemanfaatan ragam pustaka tercetak relativ stabil baik
sebelum maupun sesudah pemanfaatan perpustakaan digital.
DAFTAR PUSTAKA
Hartinah, S. 2014. Metode Penelitian Perpustakaan, Cetakan ke 2 edisi 1. Modul 1-9. Penerbit
Universitas Terbuka, Tangerang Selatan.
Saleh, A.R dan Komalasari, R. 2010.
Manajemen Perpustakaan. Cetakan ke 5 Penerbit
Universitas Terbuka, Tangerang Selatan.
Maksum dan Darmawiredja., M.R. 2007.
Perpustakaan MODEL UK/UPT Departemen
Pertanian : Suatu Pendekatan Manajemen dan Organisasi, Vol. 16 (2) , 2007. p. 35 – 42.
Pendit, P.L. 2008. Perpustakaan Digital dari A sampai Z, Penerbit : Cita Karyakarsa Mandiri
Jakarta, 2008. p. 308.
Buletin IKATAN Vol. 7 No. 2 Tahun 2017
66
BULETIN IKATAN
(INFORMASI PENGKAJIAN DAN DISEMINASI INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN)
PEDOMAN PENULISAN UNTUK BULETIN INFORMASI PENGKAJIAN DAN DISEMINASI
INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN (IKATAN)
1. Buletin IKATAN Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten memuat berbagai tulisan yang dikemas dalam
bahasa ilmiah populer yang bersumber dari dari hasil-hasil maupun tunjauan (review) mengenai
penelitian/pengkajian di bidang pertanian yang belum pernah dipulikasi.
2. Artikel diketik menggunakan program Microsoft Word, ukuran kertas A4, huruf Times New Roman 12, spasi
1,5 maksimal 10 halaman (termasuk tabel dan gambar). Naskah besarta soft copy-nya dikirim kepada Redaksi
Buletin IKATAN.
3. Struktur/susunan artikel sebagai berikut : Judul, Nama dan Institusi Penulis, Abstrak, Kata Kunci,
Pendahuluan, Metodologi, Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan, Daftar Pustaka.
4. Judul: singkat dan jelas, menggambarkan isi pokok tulisan, informatif, menggunakan bahasa Indonesia yang
baik dan benar serta ditulis dengan huruf besar.
5. Nama dan Institusi Penulis: nama penulis ditulis lengkap tanpa gelar, nama penulis pertama merupakan
penulis utama, institusi (penulis pertama, kedua dan seterusnya) ditulis secara lengkap.
6. Abstrak: menggambarkan isi naskah yang memuat ringkasan tulisan mulai pendahuluan hingga kesimpulan.
Ditulis dengan huruf Times New Roman 12, spasi 1, maksimal 150 kata. Di bawah abstrak dicantumkan Kata
Kunci.
7. Pendahuluan: menjelaskan informasi tentang kondisi, potensi, signifikasi kemajuan IPTEK dan
penerapannya, permasalahan dan alasan yang melatarbelakangi perlunya dilakukan penelitian/kajian tersebut.
8. Metodologi: menjelaskan bagaimana cara melakukan penelitian/pengkajian memuat waktu dan tempat, bahan
dan alat, metode dan teknik pengambilan data, analisis data dan tahapan kegiatan (kerangka pikir) yang jelas.
9. Hasil dan Pembahasan: disajikan dalam satu kesatuan. Hasil menguraikan secara objektif tentang informasi/
data yang diperoleh, bila perlu dapat ditampilkan dalam bentuk tabel, gambar dan lain-lain. Pembahasan,
menginterpretasikan hasil yang dicapai dan menjelaskan secara logis tentang ide dan argumen yang
mengambarkan jawaban terhadap pemecahan persoalan dan tujuan yang mendukung pernyataan untuk
menarik kesimpulan.
10. Kesimpulan: uraian singkat yang mengemukakan hal-hal penting tentang hasil kegiatan yang sesuai dengan
tujuan penelitian/pengkajian dan disertai saran tindak lanjut.
11. Daftar Pustaka: disusun secara alfabetis dengan format :
a. Untuk terbitan berkala: nama penulis, tahun terbit, judul naskah pustaka, nama terbitan, volume dan
nomor serta halaman.
b. Untuk buku: nama penulis, tahun terbit, judul naskah pustaka, nama penerbit dan kota terbit.
c. Untuk internet: nama penulis, judul atrikel, tahun terbit, alamat yang diunduh.
Contoh penulisan pustaka bulletin:
Susiyanti, Nurmayulis, A. Fatmawati. 2012. Keragaman Plasma Nutfah Tanaman Garut (Marantaanundinacea L.)
di Provinsi Banten dan Potensi Pengembangannya. Bul IKATAN 2012, Volume 2 (1): 24-38
Contoh penulisan pustaka buku:
Sprapto H.S. dan Sutarman T. 1982. Bertanam Kacang Hijau. Penebar Swadaya. Jakarta
Contoh penulisan pustaka internet:
Sarmoko. Jamu Obat Herbal Terstandar (OHT) dan Fitofarmaka [Internet]. 2009. [Diunduh Februari 2010].
Tersedia di: https://moko31.wordpress.com/2009/05/01/jamu-obat-herbal-terstandar-oht-dan-fitofarmaka/
Download