Uploaded by shafirashabrina12

46 tahun yang lalu hidup seorang anak perempuan ketiga dari 5 bersaudara

advertisement
Mentari bersinar memancarkan kehangatan, udara segar dimana-mana,
pemandangan sekitar tampak begitunya nyata setelah hujan tadi malam mengguyur
bumi . Saat ini soimah hanya mempelajari apa yang ia lihat disekitar lingkungannya,
soimah bermain-main menikmati sepanjang kanak-kanaknya. Ia sangat begitu
terkejut setelah terjadinya pembentrokan yang datang kewilayah sumatra, soimah
pun begitu takut orang-orang sekitar rumahnya pun hanya bisa berdiam diri agar bisa
terhindar dari pembentrokan itu.
Pukul 01.00 pagi semua tertidur lelap. Soimah terbangun dan mengintip
keluar kamar karena mendengar suara ayahnya.
“aku harus melindungi keluargaku, aku tidak akan berpisah dengan mereka”
(sambil mondar-mandir)
Suara mobil terdengar dari luar rumahnya, soimah sangat begitu takut.
“tok..tok..”(terdengar dari luar seseorang mengetuk rumahku)
“siapa ya?”(sahut ayah soimah sambil membukakan pintu)
“maaf pak, kami mendapatkan tugas dari negara untuk membawa bapak”
“saya tidak ada hubungannya dengan negara!”(ayah soimah berkeras)
“kalau begitu bapak harus ikut kami!!”
Dengan paksaan ayah soimah pun dibawa, ia tidak tahu harus berbuat
apa. Sampai diluar rumah ayahnya meronta-ronta dan melawan mereka, tetapi
mereka telah membawa ayahnya pergi entah kemana. Tangisan soimah terpecahkan
ia berteriak sehingga keluarganya bangu. Mereka juga sangat terpukul melihat apa
yang telah terjadi.
Pagi pun menjelang, soimah duduk di pinggir sungai dekat rumahnya,
dia begitu tidak menyangka bahwa pembrontak yang menamakan dirinya partai
komunis Indonesia ini telah membawa ayahnya pergi. Dan ia telah medapat
informasi ternyata ayahnya pernah ikut bergabung dengan mereka.
“hmm, panas matahari begitu menyengatku aku harus pulang kerumah agar mereka
tidak khawati dengan ku”(ocehan soimah)
Tidak berapa lama soimah sampai dirumahnya.
“assalamu’alaikum, ini kenapa?, ada apa? Abang.. kakaak.. ada apa?
(mengajak bicara mereka)
“aku akan melihatnya sendiri!”(sambil berjalan kearah kamar ibu soimah)
Ternyata ibu soimah stres dan kehilangan kendali. Soimah mendekati
ibunya dan memeluknya, kakak dan abangnya melarang ia dan melepaskan pelukan
itu, ibunya pun mendorong soimah hingga jatuh kelantai. Soimahpun sangat sedih
melihat ibunya seperti itu. Pada akhirnya mereka dibawa oleh adik ibunya untuk
tinggal bersama dan ibu soimah dibawa oleh orang-orang berpakaian putih yang
dipanggil oleh adik ibu soimah.
“bu..bulekkk... ibu... mau dibawa kemana?”(tanyaku tersedu-sedu)
“ibu kalian aman kok”(merangkul kami memberi semangat)
Perlahan-lahan sang mentari bersembunyi bergantian dengan malam
gelap. Mereka telah tiba di kota bulek soimah tinggal.
“nah kalian tidur dikamar ini ya, karena kamar sudah disiapkan untuk kalian”
(bulek berbicara dan meninggalka kami)
“kak..bang.. aku kangen semuanya dirumah kita kangen ayah ibu”(rengek soimah)
“iya kakak juga kita semua harus kuat”(kakak bilang)
“abang juga begitu”(sambung abang soimah)
Esokan harinya soimah bangun kesiangan. Ia melihat pemandangan sekitar
begitu sepi, senyap, seperti hanya dia yang ada disitu. Soimah pun keluar kamar
ternyata semua tidak ada dirumahnya. Ia bergegas kekamar mandi dan bersih-bersih.
Setelah soimah selesai buleknya sudah pulang. Soimah langsung bertanya-tanya
kakak dan abangnya dimana.
“bulek mana yang lain?”(tanya soimah)
“mereka bersama kakak no.2 bulek adik pertama ibu mu mah”(jelas bulek)
“kenapa mereka disana bulek?(soimah penasaran)
“tidak apa-apa mah, sudah jangan kamu pikiri mah”(mengalihkan penasaran soimah)
Sekarang hari dimana soimah melanjutkan pendidikan ke bangku SD kelas
5. Untuk mencapai kesekolah soimah harus berjuang melewati sungai yang lebar dan
perjalanan yang bermeter-meter, cukup jauh dari rumah buleknya.
Ia sangat bersemangat dalam mewujudkan mimpinya,membanggakan ayah ibunya
yang sudah entah dimana, masih hidup atau tidak, dan membanggakan buleknya
yang sudah ia anggap menjadi ibu angkat dia.
“soimaahhhh.... main yuukk..”(teman soimah mengajaknya bermain)
“sayaaaa, sebentar ya. Buu aku pergi main ya?”(bersiap-siap pergi dan meminta izin)
“yaudah jangan sore kali pulangnya ya mah”(izin ibu angkatnya(bulek))
“iya bu, assalamu’alaikum”(soimah bersalaman dan berpamitan)
Bintang dan bulan telah menyinari gelapnya malam. Soimah pun sangat
giat belajar karena tahun ini ia menghadapi ujian kelulusan di SDnya. Ia pun bertekat
jika bisa ia melanjutkan ke menengah pertama.
Berapa bulan berlalu soimah pun lulus dengan nilai yang baik. Ia masuk sekolah negri
menengah pertama. Soimah begitu sangat senang melihat sekolah yang baru dan
teman-teman yang baru.
“ahh jadi makin semangat aku belajar, aku harus banggakan semua orang-orang yang
aku sayang”(gumam soimah)
Suatu saat hari dimana ia merasa harus membantu buleknya, karena ia
tidak bisa membayar uang sekolah Soimah pun harus berjualan sebelum pergi
sekolah dan sepulang sekolah, ia juga harus menempuh jalan-jalan dari rumahkerumah, dan sampai-sampai tidak bisa membayar uang ujian soimah harus ujian
dibalik jendela mendengar guru membacakan soal dan ia menjawabnya.
3 tahun berlalu soimah lulus sekolah menengah pertama dan ia ingin sekali
menlanjutkan lagi ke jenjang sekolah menengah atas. Kemudian soimah lulus dengan
nilai yang cukup baik lalu ia melanjutkan sekolah lagi. Ia juga harus menempuh jarak
yang jauh dari rumah kesekolahnya.
“bu saya pergi yah, assalamu’alaikum”(pamit soimah)
“iya belajar yang benar, hati-hati assalamu’alaikum”(menerima jabat tangan soimah,
memberi semangat )
“iya buuuu....”(sambil berlari keluar rumah)
Saat dimana soimah berulang tahun, ibunya(bulek) merayakan kecilkecilan untuk membuat bahagia soimah, mereka begitu sangat menikmati momentmoment itu. umur yang beranjak dewasa soimah tidak berharap banyak-banyak ia
hanya mendoakan ayah, ibu, abang, kakaknya yang sudah entah dimana, tidak ada
kabar yang datang kepadanya, dia berharap hanya ingin membahagiakan ibu
angkatnya, yang sebenarnya bukan ibu kandungnya karena dia lah yang telah
mengasuh soimah sewaktu kecil hingga usia yang beranjak dewasa.
Tahun,bulan,hari,jam,detik pun berlalu hingga sudah terlewati 3 tahun,
soimah lulus dari sekolah menengah atasnya. Soimah pun akan pergi merantau ke
Medan, karena sudah ada yang melamarnya. Ternyata itu semua tidak direstui oleh
ibunya. Soimah pun bertekat untuk tetap pergi bukan ada alasan apa-apa melainkan
ibunya takut soimah kenapa-kenapa, dikarenakan soimah keturunan PKI yang
terkenal beringas dan kejam.
“buuuu izinkan aku yaaa... aku akan baik-baik saja kok”(sambil terisak soimah
berbicara)
“takuuuttt... itu yang ibu rasakan, ibu takut kenapa-kenapa dengan mu soimah!”
(balas ibu)
“tidak bu, percayalah aku akan baik-baik saja, nanti kalau aku sudah sampai diMedan
aku akan memberi tahu ibu dan ibu boleh datang menemui aku”(jelas soimah)
“hhmmm yaudah ibu akan mendo’akanmu, ibu percaya Allah akan melindungi mu
disana nak”(pasrah dan memberi kepercayaan)
“iya bu besok pagi aku akan berangkat keMedan bu”
“iya nak iyaiya”
Keesokan harinya Soimah pun pergi dan berpamitan, di perjalanan ia
bergumam.
“aku harus berani aku tidak boleh takut, walaupun aku keturunan PKI aku harus
menjaga nama baik keluarga, aku harus berani”(tekat soimah)
Sesampai diMedan Soimah sampai diterminal bis, ternyata kedanganannya
sudah ada yang menyambut Soimah. Dari sisi belakang Soimah ada tangan yang
menyentuh lengannya.
“eehhhh??!!!(soimah terkejut)
“heeiiii... kamu sudah sampai”(balas sang pelamar Soimah)
“oh yaa hehe, iya barusan saja aku sampai ”(tersipu malu)
“ya sudah, sini aku bawakan tas kamu. Malam ini kamu di tempat orang tuaku saja
bersama mereka karena mereka juga sudah menunggu mu disana”
(sambil membawakan tas soimah dan membawanya naik ke sepeda motor yang
melamar Soimah)
Tidak berapa lama mereka sampai dirumah orang tua pelamar Soimah.
Soimah hanya bisa bersikap seperti biasanya.
Malam menjelang dibelakang rumah ada pemandangan terhampar luas sawahsawah, pohon-pohon yang berada di pinggir sawah, kerlap-kerlip lampu teplok
tetangga yang belum memakai listrik.
“hmm udara yang dingin, angin berhembus pelan melewati sela-sela rambutku,
sungguh suasana yang masih terbayang dan kurindukan saat masih di tempat
kelahiranku”(oceh Soimah)
Ternyata bayangan hitam dari belakang datang mendekati ku.
“huuhhh dingin yah mah?!”(celetuk Bayu)
Ya, Bayu nama itulah yang pernah melamarku. Bayu Soekanto nama
panjangnya, ia anak sulung dari 2 bersaudara, ia t erbilang sudah sukses(sudah ada
pekerjaan yang ia pegang.Pertama aku kenal dia sewaktu aku duduk di kelas 2 SMA.
“ha..hhmm.. uuhhhh iya”(balas Soimah)
“kamu tidak kedinginan?, oia bagaimana dengan hari ini di sini?”
“hahaa... dikampungku sudah biasa seperti ini yu. Hari ini cukup nyaman kok enak”
“oh ya?
“yaa” (balas Soimah singkat)
Tiba-tiba senyap seketika hanya ada suara jangkrik yang bernyanyi-nyayi
untuk membuat terasa malam yang begitu gelap cuman hanya tampak sinar
rembulan ditemani bintang yang berada di sampingnya. Dan terlihat kunang-kunang
yang indah berterbangan berserakan dimana-mana.
“mah...”(gumam bayu)
“ hmm”
“bagaimana dengan lamaranku kemarin”(membuat pertanyaan kepada Soimah)
“ya yu hmm aku tidak bisa yuu...”(muka sedih)
“haaa?, kenapa mah”(suara kecewa bayu)
“maaf yuu”(balas Soimah singkat)
“huh(mengela nafas panjang dan perasaan kecewa)
“hmmm maaf yu maaf aku ga bisa nolak lamaran mu”(tersenyum malu)
“?????”(memandang Soimah dengan dalam)
“yuuuu...? bayyyuuuu...?”(tegun Soimah terhadap Bayu)
“hahaaa....”(Bayu tertawa dan mengacak-acak rambut Soimah)
“aahhhh kamu yuuu iiss uuhh”(sambil membenarkan rambutnya)
“hmmm sini-sini, kamuu itu yaaaaa...”(Bayu memeluk Soimah)
Mereka berdua tenggelam dalam hangatnya pelukan.
Sebulan kemudian mereka sudah menjalin rumah tangga, mereka masih tinggal
bersama orang tua Bayu lalu disisi lain Soimah telah mengandung anak pertamanya.
Bayu sangat perhatian dengan Soimah, sampai-sampai ada hal sedikit yang
mengganjal Soimah,Bayu langsung bersiaga.
“kamuu harus jaga kesehatanmu ini akan jadi momen pertama kita mempunyai buah
hati kita”(berbicara dengan Soimah sambil mengelus perut buncit Soimah yang
semakin besar dan mendekati hari kelahiran)
“iyaahhh mas. Kamu udah baik sekalia”(Soimah melepas senyum)
Hari kelahiran anak pertama yang begitu membuat bahagia keluarga kecil
Soimah dan Bayu ini. Anak sulung berjenis kelamin laku-laki yang diberi nama Yazid
Wibowo. Anak yang begitu lucu begitu mirip dengan Soimah membuat semua orang
melihatnya begitu geram ingin menggendongnya.
2 tahun berlalu Bowo tumbuh besar. Dan Soimah melahirkan anak kedua
yang berjenis kelamin perempuan. Ini sangat di syukuri oleh Soimah dan Bayu
disamping itu mereka juga menempati rumah baru
“mass... aku sangat bersyukur sekali, ya Allah engkau telah memberikan suami dan 2
anak sepasang yang membuat lengkap hidup ku”
“iya kita harus selalu bersyukur mah, atas semua rezeki yang diberikan Allah kepada
kita”( sambil merangkul Soimah)
Tahun berganti tahun dengan beranjak besar kedua anak Soimah dan Bayu.
Mereka pun dianugrahkan anak kembar dengan jenis kelamin perempuan. Tetapi
Soimah bukan bahagia melainkan kecewa dan sedih karena anaknya yang kembar
tetapi yang lahir diluan diambil atau diberikan Bayu kepada adik perempuannya.
Karena adiknya tidak bisa mempunyai anak sehingga Bayu rela memberikan anaknya
kepada adiknya, yang membuat Soimah sedih tetapi ia terus harus bersabar sampaisampai Ibu Bayu begitu berubah dengannya saat itu, untuk memberikan anaknya
yang satu dan diberikan kepada adik Bayu.
Disisi lain setelah kejadian itu.
“mas, kenapa sih mas harus anak kita mas?(Soimah tersedu-sedu)
“tidak apa-apa lah mah, toh dia juga bisa mengurus Fina mas?, aku juga bisa
mengurusnyaaaa!!, Fina belum merasakan ASI dari ibu kandungnya mas!?
(terisak tangis Soimah dan berkeras kepada Bayu)
Dari peristiwa tersebut Soimah dengan sabar dan kuat selalu meminta
perlindungan kepada Allah. Anak-anaknya sudah tumbuh semakin dewasa. Tahundemi tahun terlewati, anak sulung Soimah dan Bayu menikah, dan mereka
mempunyai 1 orang cucu. Soimah begitu bahagia dengan kehidupan yang ia jalani
sekarang. Dari yang melahirkan anak kembarnya Soimah mempunya kelebihan yang
bisa melihat alam yang tidak bisa dilihat kesat mata bagi orang normal
ketika didaerah rumahnya lagi gempar-gempar mendapat informasi jika daerah
rumah yang ditempati Soimah sekarang ada berkeliaran “makhluk ghaib” yang tiap
malam mengganggu masyarakat dilingkungan daerah rumahnya. Soimah pun
mencoba melihat apa yang terjadi sehingga warga menjadi heboh. Soimah
mengambil kesimpulan ia melihat disekitar rumahnya memang banyak terutama
dibarisan rumah Soimah terkadang juga Soimah melihat sosok itu.
“tidak kenapa-kenapa kok, “mereka” tidak mengganggu kita disini”
(berbicara kepada anaknya)
“beneran mak? Tpi adek pernah dengar suara-suara yang membuat adek takut di
tengah malam sewaktu terbangun mak”(fina anak terakhir Soimah)
“iya dek, jangan diganggu ya”(mempertegas)
“ohiayaiya mak”
“makanya rajin sholat,baca Al-Qur’an, biar tidak diganggu”(menghibur fina)
“iya maaakkk pastii”(semangat fina)
Dan hal yang paling disyukuri Soimah dari semuanya hidup dia yang
sekarang lebih-lebih baik dari hidupnya yang lalu, hidup bersama keluarga kecilnya
sudah mempunyai cucu dari anak sulung Soimah. Dan Soimah pernah mempunyai
impian.
“dek mamak hanya pingin kalian sukses bisa beli rumah sendiri, berangkatkan
mamak bapak naik haji, beli rumah yang nyaman buat mamak bapak”
(Awala obrolan Soimah dengan fina)
“hm iyaiya mak do’ai la adek sama kakak biar selalu sukses bisa banggai dan
bahagiakan semuanya mak”(balas fina)
“pasti dek, tidak tertinggal kalau buat anak-anak mamak”
“hehee iyaiya mak”
“yaudah belajar lah yang bener dek sana, periksa, ada tugas tidak buat
besok”(memberi semangat)
“ohiya mak, yaudah deh adek belajar ya mak, heheee”(pergi belajar)
Pesan Moral
:
*selalu bersemangat dalan mengejar cita-cita yang tinggi dibarengi dengan selalu
berdo’a, berusaha, pantang menyerah
*membahagiakan dan membanggakan kedua orang tua yang bercucuran keringat
mencari rezeki untuk kehidupan
*jangan pernah mengecewakan orang tua, selalu ingat pesan orang tua, bersyukur
dari apa yang telah ada di kehidupanmu sekarang.
Download