Uploaded by User73491

DAMPAK PANDEMI COVID-19 TERHADAP

advertisement
DAMPAK PANDEMI COVID-19 TERHADAP
PEMBELAJARAN SECARA ONLINE DI INDONESIA
TUGAS KELOMPOK 5
Diajukan untuk memenuhi nilai UAS Semester 4
DONY PRASETIYO (12184048)
IRSYAD RAFIF AL-HAKIM (12184844)
BAYU AJI PANGESTU (12182662)
FRIYATNO HALOMOAN RUMAPEA ( 12183413)
LORENSIA KEWA GERODA (12184843)
Program Studi Sistem Informasi
Fakultas Teknik dan Informatika
Universitas Bina Sarana Informatika
Jakarta
2020
1
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT,
yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada akhirnya penulis
dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. (Tugas kelompok matakuliah Metode
Penelitian Semester 4)* ini penulis sajikan dalam bentuk buku yang sederhana.
Adapun judul (Penelitian)*, yang penulis ambil sebagai berikut, “Dampak
Pandemi COVID-19 Terhadap Pembelajaran Secara Online Di Indonesia ”.
Tujuan penulisan (Tugas kelompok matakuliah Metode Penelitian
Semester 4)* ini dibuat sebagai salah satu syarat uas semester 4 Universitas Bina
Sarana Informatika. Sebagai bahan penulisan diambil berdasarkan hasil penelitian
(eksperimen), observasi dan beberapa sumber literatur yang mendukung penulisan
ini. Penulis menyadari bahwa tanpa bimbingan dan dorongan dari semua pihak,
maka penulisan (Penelitian)* ini tidak akan berjalan lancar. Oleh karena itu pada
kesempatan ini, ijinkanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada
semua pihak yang membantu dalam menyelesaikan tugas kelompok ini.
Akhir kata semoga (Penelitian)* ini dapat berguna bagi penulis
khususnya dan bagi para pembaca yang berminat pada umumnya.
Bekasi, 15 Juni 2020
Penulis
Kelompok 5
2
DAFTAR ISI
JUDUL PENELITIANi
Kata Pengantarii
Daftar Isiii
BAB I
PENDAHULUAN4
1.1 Latar Belakang Masalah4
1.2 Perumusan Masalah4
1.3 Tujuan Penelitian5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA6
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN7
3.1 Metode Pendekatan7
3.2 Langkah Penelitian8
3.3 Data dan Sumbernya9
3.3.1 Data9
3.3.2 Sumber Data9
3.4 Teknik Pengumpulan Data9
3.5 Teknik Analisa Data10
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN11
4.1 Pemaparan Data dan Analisis Data11
4.2 Pembahasan16
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI20
5.1 Kesimpulan20
5.2 Rekomendasi20
DAFTAR PUSTAKA
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pandemik COVID-19 adalah krisis kesehatan yang pertama dan terutama di
dunia. Banyak negara memutuskan untuk menutup sekolah, perguruan tinggi dan
universitas. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi gusar dengan adanya fakta
tersebut. Organisasi Internasional yang bermarkas di New York, AS, itu menangkap
bahwa pendidikan menjadi salah satu sektor yang begitu terdampak oleh virus
corona. Parahnya lagi, hal itu terjadi dalam tempo yang cepat dan skala yang luas.
Berdasarkan laporan ABC News 7 Maret 2020, penutupan sekolah terjadi di lebih
dari puluhan negara karena wabah COVID-19.
Penyebaran virus corona ini pada awalnya sangat berdampak pada dunia
ekonomi yang mulai lesu, tetapi kini dampaknya dirasakan juga oleh dunia
pendidikan. Kebijakan yang diambil oleh banyak negara termasuk Indonesia
dengan meliburkan seluruh aktivitas pendidikan, membuat pemerintah dan lembaga
terkait harus menghadirkan alternatif proses pendidikan bagi peserta didik maupun
mahasiswa yang tidak bisa melaksanakan proses pendidikan pada lembaga
pendidikan. Berdasarkan data yang diperoleh dari UNESCO, saat ini total ada 39
negara yang menerapkan penutupan sekolah dengan total jumlah pelajar yang
terpengaruh mencapai 421.388.462 anak.
1.2 Perumusan Masalah
Kampus dan sekolah di Indonesia mulai menerapkan kebijakan kegiatan belajar
mengajar dari jarak jauh atau kuliah online. Semua orang lantas mengambil jarak
demi memutus rantai penularan COVID-19. UNESCO sendiri menyediakan
dukungan langsung ke negara-negara, termasuk solusi untuk pembelajaran jarak
jauh yang inklusif. Kebijakan ini berdampak pada hampir 421,4 juta anak-anak dan
remaja di dunia. Negara yang terkena dampak Covid-19 menempatkan respons
nasional dalam bentuk platform pembelajaran dan perangkat lain seperti
pembelajaran jarak jauh.
4
Korban akibat wabah covid-19, tidak hanya pendidikan di tingkat Sekolah
Dasar/Madrasah Ibtidaiyah, Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Stanawiyah,
dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, tetapi juga perguruan tinggi.
Seluruh jenjang pendidikan dari sekolah dasar/ibtidaiyah sampai perguruan tinggi
(universitas) baik yang berada dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
RI maupun yang berada dibawah Kementerian Agama RI semuanya memperoleh
dampak negatif karena pelajar, siswa dan mahasiswa “dipaksa” belajar dari rumah
karena pembelajaran tatap muka ditiadakan untuk mencegah penularan covid-19.
Padahal tidak semua pelajar, siswa dan mahasiswa terbiasa belajar melalui Online.
Apalagi guru dan dosen masih banyak belum mahir mengajar dengan menggunakan
teknologi internet atau media sosial terutama di berbagai daerah.
1.3 Tujuan Penelitian
Dengan begitu banyaknya total pelajar yang terpengaruh akibat covid-19 yang
mengakibatkan penutupan sekolah selama berbulan-bulan, Bahkan di Indonesia
Pemerintah telah meniadakan Ujian Nasional (UN) untuk tahun 2020, mulai dari
tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).
Pembelajaran secara online menjadi pilihan terakhir sekolah untuk mendidik
murid-muridnya, berbagai macam metode pembelajaran secara online digunakan
mulai dari grup chat sampai video conference, Seberapa efektifkah pembelajaran
secara daring ini digunakan apakah mampu menyamai pembelajaran tatap muka
secara langsung, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi
mengenai dampak dan kendala dari pandemik COVID-19 terhadap kegiatan belajar
mengajar secara online/daring.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam suatu penelitian diperlukan dukungan hasil-hasil penelitian yang
telah ada sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian tersebut.
Berdasarkan artikel yang ditulis the conversation (2020), menunjukan
adanya ketimpangan akses media pembelajaran, yang semakin dalam antara anakanak dari keluarga ekonomi mampu dan kurang mampu, dan ditemukan bahwa
hanya sekitar 28% responden yang menyatakan anak mereka belajar dengan
menggunakan media daring/online. Di Jawa Timur 40% responden menyatakan
anak merekan mendapatkan pembelajaran daring. Di NTB pembelajaran
onlinekurang dari 10% dan di NTT kurang dari 5%, selebihnya melalui offline
buku. Disimpulkan semakin terpencil provinsi tersebut, maka semakin kecil
persentase siswa yang mendapatkan pembelajaran secara online.
Dalam penelitian yang dilakukan EduPsyCouns jurnal (2020), murid dirasa
belum ada budaya belajar jarak jauh karena selama ini sistem belajar yang
dilaksanakan adalah melalui tatap muka. Dengan diterapkannya pembelajaran jarak
jauh membuat murid perlu waktu ubtuk beradaptasi dan mereka menghadapi
perubahan baru yang secara tidak langsung akan mempengaruhi daya serap belajar
mereka. Karena murid tidak bisa berinteraksi dengan teman-temannya, bermain dan
bercanda serta bertatap muka dengan para gurunya.
6
BAB III
METODOLOI PENELITIAN
3.1 Metode Pendekatan
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan
pendekatan Analisis Data Sekunder (ADS). ADS merupakan suatu metode dengan
memanfaatkan data sekunder sebagai sumber data utama. Memanfaatkan data
sekunder yang dimaksud yaitu menganalisa data yang sudah matang yang diperoleh
dari Lembaga atau instansi untuk kemudian diolah.
Menurut Sugiyono (2011), metode penelitian kualitatif adalah metode yang
yang berlandaskan pada filsafat post positivism, digunakan untuk meneliti pada
kondisi yang alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrunen kunci, pengambilan
sampel sumber data dilakukan secara purposive dan dan snowball, Teknik
pengumpulan dengan tri-angggulasi, analisi data bersifat induktif atau kualitatif,
dan hasil penelitian lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
Sedangkan untuk penelitian deskriptif yang digunakan ini bertujuan untuk
mendeskripsikan, mencatat, analisis dan menginterpresentasikan kondisi-kondisi
yang sekarang ini terjadi atau ada. Dengankata lain penelitian ini bertujuan untuk
memperoleh informasi-informasi mengenai kondisi saat ini dan melihat kaitan
antara variable yang diteliti (Mardalis, 2007 : 26).
Untuk data sekunder yang diperoleh dari instansi atau lembaga disajikan
kedalam bentuk instrument penelitian yang telah teruji, kemudian diolah. Data
sekunder yang digunakan adalah dokumentasi data berupa Studi Eksploratif
Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Proses Pembelajaran Secara Online.
Selanjutnya data ini akan diidentifikasi melalui instrument penelitian bersifat
kualitatif untuk melihat dampak dan kendala pembelajaran online selama
pandemik.
7
3.2 Langkah Penelitian
Langkah penelitian ini diartikan sebagai pola pelaksanaan penelitian yang
menunjukan adanya rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian,
proses pemilihan teori yang dipakai dan Teknik analisis data yang akan digunakan.
8
3.3 Data dan Sumbernya
Data dan sumberdata dalam penelitian ini dibuat terpisah agar terlihat jelas
perbedaan dari dua bentuk data tersebut.
3.3.1
Data
Data merupakan keseluruhan objek penelitian yang akan menjadi materi
dalam penelitian.
1. Studi Eksploratif Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Proses
Pembelajaran Online di Sekolah Dasar.
2. ‘Riset dampak COVID-19: potret gap akses online ‘Belajar dari
Rumah’ dari 4 provinsi.
3. Survei KPAI terkait pembelajaran jarak jauh.
3.3.2
Sumber Data
Sumber data merupakan lokasi atau tempat data dapat diperoleh
berdasarkan jenis data yang diperlukan dalam upaya memecahkan masalah. Sumber
data dalam penelitian ini diantaranya:
1. EduPsyCouns Jurnal
2. Website “theconversation.com”
3. Website “kpai.go.id”
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan Teknik-teknik ilmiah untuk memperoleh data
sistematis demi keperluan analisis dan dilakukan menurut standart penelitian
kualitatif digunakan untuk meneliti permasalahan yang mendalam seperti fenomena
social atau pengkajian organisasi, yang biasa digunakan dalam ilmu-ilmu social.
Data yang diteliti biasanya berupa berupa kalimat-kalimat.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan Teknik studi dokumentasi, dokumen
memiliki arti barang-barang tertulis. Melakukan studi dokumentasi, peneliti
menyelidiki benda-benda tertulis seperti surat, arsip foto, notulen rapat, jurnal,
artikel ilmiah, dan lain-lain. Studi Dokumentasi ini berupa pengumpulan data-data
tertulis secara objektif dari materi-materi/teori, peraturan atau surat keputusan
penting serta berbagai informasi dan data terkait yang dianggap dapat mendukung
9
penulis mengembangkan penelitian. Studi Dokumentasi ini dikembangkan melalui
data-data penelitian atau riset Lembaga/media resmi terkait.
3.5 Teknik Analisa Data
Bogdan menyatakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun
secara sistematis data yang diperoleh dari catatan lapangan dan bahan-bahan lain,
sehingga mudah dipahami, dan temuanya dapat diinformasikan kepada orang lain
(Sugiyono, 2009 : 334).
Data yang akan dianalisis akan disederhanakan dan memudahkan data untuk
ditafsirkan serta menguji hipotesis
dan membuat interpretasi data dan hasil
penelitian yang digunakan untuk memutuskan menyusun data-data apa yang akan
dilaporkan dan menguraikannya kedalam kesimpulan.
10
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pemaparan Data dan Analisis Data
Setelah peneliti melakukan penelitian terkait dengan pembelajaran online
selama masa pandemic corona dengan menggunakan data sekunder dari
Lembaga/media yang terkait dapat dipaparkan temuan penelitian sebagai berikut.
Melalui surat edaran bertanggal 24 maret 2020 Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan mengatur pelaksanaan Pendidikan pada masa darurat penyebaran
corona virus. Kebijakan “Belajar dari Rumah” ini tepat untuk mencegah
penyebaran COVID-19 di lingkungan sekolah, survei yang dilakukan artikel
“Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI)” menunjukan implementasi
kebijakan “Belajar dari Rumah”.
INOVASI mensurvei 300 orang tua siswa sekolah dasar di 18 kabupaten dan
kota di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB),
Kalimantan Utara, dan Jawa Timur, menunjukan sebagai berikut:
1. 95% responden mengatakan sekolah anak mereka sudah menerapkan
kebijakan tersebut.
2. 76% responden mengatakan sekolah telah mengimplementasikan
kebijakan itu lebih awal.
3. 28% responden menyatakan anak mereka belajar dengan menggunakan
media daring, media konfrensi belajar atau aplikasi belajar online.
4. 66% responden mengatakan masih menggunakan media belajar offline
dengan menggunakan buku dan lembar kerja siswa.
5. 6% orang tua mengatakan tidak tahu.
6. 40% responden di Jawa Timur menyatakan anak mereka mendapatkan
pembelajaran daring.
7. 10% responden mendapatkan pembelajaran daring di NTB.
8. 5% responden di NTT menyatakan mendapat pembelajaran online.
9. 87% siswa memperoleh manfaat dari penyampaian materi oleh guru.
11
10. 65% siswa yang mendapatkan kesempatan sesi tanya jawab antara siswa
dan guru.
11. 39% siswa yang belajar online orang tua bekerja sebagai karyawan
pemerintah.
12. 26% siswa yang belajar online orang tua bekerja sebagai wiraswasta.
13. 34% orang tua yang anaknya mendapat pembelajaran online latar belakang
Pendidikan minimal S1.
14. 43% orang tua siswa yang mendapat pembelajaran online latar belakang
Pendidikan SMA.
15. 47% orang tua bekerja sebagai petani anak mereka tidak diberikan tugas
dari sekolah.
16. 47% siswa yang tidak mendapat tugas dari sekolah orang tua mereka
berlatar Pendidikan SD.
17. 62% orang tua menyatakan anak-anak menjalankan hidup lebih sehat dan
mandiri.
18. 61% mendapat pengetahuan lebih banyak tentang kesehatan termasuk
COVID-19.
19. 56% anak lebih sering membantu orang tua.
20. 53% anak memiliki kesempatan lebih banyak untuk mempelajari
keterampilan hidup seperti mencuci, memasak, dan sejenisnya.
12
Gambar IV.1 Grafik The Conversation
Gambar IV.2 Grafik The Conversation
Gambar IV.3 Grafik The Conversation
Data yang peneliti peroleh dari EduPsyCouns Jurnal yang telah melakukan
penelitian terkait “Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Proses Pembelajaran
Online di Sekolah Dasar di Tangerang”.Dengan melakukan wawancara terhadap 6
guru dan orang tua sebagai responden.
13
Tabel IV.1
Profil Responden EduPsyCouns Jurnal
Initial
Jenis Kelamin
Usia
Status
Pendidikan
R1
Laki-laki
27
Menikah
S1
R2
Perempuan
38
Menikah
S1
R3
Perempuan
46
Menikah
S1
R4
Laki-laki
38
Single
S1
R5
Perempuan
44
Menikah
S1
R6
Laki-laki
36
Menikah
S1
Daftar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebagai berikut:
1. Jelaskan dampak pandemic COVID 19 yang dialami murid pada
kegiatan belajar mengajar?
2. Jelaskan dampak pandemic COVID 19 yang dialami orang tua pada
kegiatan belajar mengajar?
3. Jelaskan dampak pandemic COVID 19 yang dialami guru pada
kegiatan belajar mengajar?
Seorang dari responden (R6) memberikan pernyataan:
“para murid di “paksa” belajar jarak jauh tanpa sarana dan prasarana
memadai di rumah”(R6).
Responden lain memberikan pernyataan sebagai berikut:
“Murid belum ada budaya belajar jarak jauh karena selama ini sistem belajar
dilaksanakan adalah melalui tatap muka.”(R5).
Dia juga menambahkan pernyataan bahwa:
14
“guru tidak semua mahir menggunakan teknologi internet atau media sosial
sebagai sarana pembelajaran”(R5).
Beberapa respondenmemberikan pernyataan :
“belum ada sistem baku yang menjadi pegangan dalam pembelajaran jarak
jauh” (R3).
Mirip dengan ini,responden lain memberikan pernyataan sebagai berikut:
“belum ada sistem yang baku dalam mengawasi pelajar, siswa dan guru dalam
menjalankan proses belajar melalui jarak jauh” (R2).
Responden lainnya menambahkan:
“biaya pembelian kuota internet bertambah” (R1).
Seorang responden mennyatakan bahwa:
“saya sebagai orang tua harus meluangkan lebih ekstra waktu kepada anak
anak mendampingi belajar online“(R3).“perlu biaya tambahan pembelian
pulsa kuota internet” (R4). “Saya pikir, anak-anak kehilangan jiwa social,
jika di sekolah mereka bias bermain berinteraksi dnegan teman-temnanya
tetapi kali ini mereka tidak bisa”(R5).
Beberapa respondenmemberikan pernyataan sebagai berikut:
“sekolah diliburkan terlalu lama membuat anak-anak jenuh” (R6).
Mirip dengan ini,responden lain memberikan pernyataan sebagai berikut:
“anak-anak mulai jenuh di rumah dan pingin segera ke sekolah bermain
dengan temantemannya” (R2).
Beberapa responden lainnya memberikan pernyataan sebagai berikut:
“orang tua ikut jadi sebagai guru mendampingi anaknya” (R1).
Mirip dengan ini,responden lain memberikan pernyataan sebagai berikut:
15
“saya ikut belajar mendampingi anak saya” (R3).
Peneliti juga mengambil data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI) yang melakukan kajian tentang penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)
di masa pandemic COVID-19 dengan melakukan survei terhadap 1.700 gabungan
siswa dari jenjang TK sampai SMA di 20 provinsi dan 54 kabupaten/kota sebagai
berikut:
1. 95,4% siswa
menggunakan telepon genggam/handphone untuk
melaksanakan PJJ.
2. 23,9% siswa menggunakan laptop untuk melaksanakan PJJ.
3. 2,4% siswa menggunakan computer/PC.
4. 53,6% responden menyatkan tidak memiliki wifi di rumahnya.
5. 46,6% memiliki wifi dirumahnya.
6. 79,9% responden menyatakan bahwa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)
berlangsung tanpa interaksi guru-siswa, dan mengaku bahwa dalam hal
ini guru hanya memberikan dan menagih tugas.
7. 20,1% responden yang menyatakan ada terjadi interaksi antara siswa
dengan guru selama PJJ.
8. 77,8% siswa mengeluh tugas menumpuk karena seluruh guru
memberikan tugas dengan waktu yang sempit.
9. 37,1% responden mengeluhkan waktu pengerjaan tugas sempit,
sehingga membuat siswa kurang istirahat dan kelelahan.
10. 42,2% responden mengatakan tidak memiliki kuota internet untuk
melakukan video konfrensi.
11. 15,6% responden tidak memiliki peralatan PJJ yang memadai seperti
laptop/handphone dengan spesifikasi memadai untuk belajar daring.
12. 76,7% siswa tidak senagn dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
13. 23,3% siswa menyatakan merasa senang dengan PJJ.
4.2 Pembahasan
1. Pemerataan Akses Pembelajaran Online
Berdasarkan hasil temuan penelitian diatas dalam penerapan proses
pembelajaran online di seluruh wilayah Indonesia terdapat perbedaan yang
16
besar antar provinsi terlihat dengan semakin terpencil provinsi tersebut,
maka semakin kecil persentase siswa yang mendapatkan pembelajaran via
online, perbandingan terlihat jelas antara provinsi Jawa Timur dengan
provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dikarenakan akses internet yang belum merata di daerah terpencil, dan
sumber daya manusia yang belum mampu menggunakan teknologi.
Meskipun kabupaten/kota telah lebih dahulu mengimplementasikan
kebijakan belajar jarak jauh lebih awal dari surat edaran Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan, belum ada sistem yang baku dalam
menjalankan dan mengawasi proses pelajar, siswa dan guru dalam
menjalankan proses belajar melalui jarak jauh. Sehingga ada pengaruh
antara latar belakang Pendidikan orang tua dan ekonomi cenderung
berkontribusi pada kepemilikan akses belajar online.
Anak-anak dengan orang tua bekerja sebagai karyawan pemerintah
dan wiraswasta dan berpendidikan SMA sampai minimal S1 dapat belajar
dengan media daring. Sebaliknya anak-anak yang orang tua mereka bekerja
sebagai petani dan hanya berpendidikan SD, sama sekali tidak diberikan
tugas oleh sekolah. Artinya anak-anak dari kelompok rentan lebih banyak
yang tidak belajar dibandingkan anak-anak yang berasal dari keluarga
ekonomi mampu.
2. Masalah Teknis
Agar proses pembelajaran secara online berjalan dengan lancar
maka dibutuhkan media dan alat pendukung dalam kegiatan belajar
mengajar, serta SDM yang mampu untuk menggunakan media dengan
efektif. Penggunaan computer PC/laptop menjadi alat yang dirasa paling
nyaman dalam kegiatan belajar secara online untuk melakukan panggilan
video konfrensi dengan baik. Karena harganya yang tidak murah tidak
semua
siswa
memiliki
PC/laptop
banyak
siswa
lebih
memilih
menggunakan telepon genggam/handphone sebagai alat untuk terhubung
dengan guru dan teman-temannya selama kegiatan belajar dari rumah.
17
Selama masa pandemic COVID-19 internet menjadi salah satu
kebutuhan yang penting untuk tetap terhubung dengan dunia luar salah
satunya pembelajran online dari survei yang di di lakukan KPAI lebih dari
50% dari 1.700 siswa tidak memiliki wifi dirumahnya, padahal wifi sangat
penting agar pembelajaran dapat berlangsung secara teleconference. Biaya
kuota menjadi salah satu keluhan dari orang tua siswa selama
berlangsungnya pembelajaran secara online, dikarenakan mereka perlu
manambah biaya pengeluaran untuk khusus membeli pulsa/kuota internet.
Dalam proses kegiatanya siswa SD membutuhkan orang tua untuk
menggunakan teknologi/media pembelajaran daring sehingga orang tua
juga perlu menyempatkan waktu untuk mendapingi anak dalam belajar
online, para pengajar senior juga belum sepenuhnya mampu menggunakan
perangkat atau fasilitas penunjang kegiatan pembelajaran online secara
efektif dan diperlukan pendampingan dan juga pelatihan terlebih dahulu.
3. Dampak Terhadap Murid
Selama penerapannya Pembelajaran jarak jauh harus dikaji
kefektifitasannya mengingat tujuannya sebagai sarana untuk kegiatan
belajar dalam masa pandemic COVID-19. Berdasarkan data dari survei
KPAI 77% dari 1.700 siswa tidak senang dengan pembelajaran jarak jauh,
hasil penelitian melihat ada beberapa factor yang membuat siswa merasa
tidak senang dalam kegiatan belajar secara daring.
Belum adanya budaya belajar jarak jauh karena selama ini karena
selama ini sistem belajar dilaksanakan adalah melalui tatap muka, membuat
para murid di “paksa” belajar jarak jauh tanpa sarana dan prasarana
memadai di rumah, Mayoritas murid mengatakan pembelajaran jarak jauh
berlangsung tanpa interaksi guru dengan siswa, dan dalam hal ini guru
hanya akan memberikan dan menagih tugas. Tugas yang diberikan oleh
seluruh guru dalam waktu yang berdekatan menyebabkan tugas menumpuk
serta pengerjaan tugas yang sempit membuat siswa kurang istirahat dan
kelelahan, yang dirasa ini menjadikan kegiatan belajar tidak efektif dan
memberatkan para siswa.
18
Orang tua siswa berpendapat anak-anak kehilangan jiwa social
mereka, jika di sekolah mereka bisa bermain berinteraksi dengan temantemnanya tetapi kali ini mereka tidak bisa. Sebagaian siswa juga merasa
jenuh di rumah dan pingin segera ke sekolah dan bertemu teman-temannya,
meskipun pindidikan formal penting kehidupan social anak-anak juga tidak
kalah penting. Selain kegiatan belajar daring siswa juga mendapat
pengetahuan tentang hidup lebih sehat dan mandiri, dan mendapat banyak
informasi dan pengetahuan tentang kesehatan termasuk COVID-19.
Selama sekolah diliburkan anak-anak juga lebih sering membantu orang
tua dan mendapat banyak kesempatan mempelajari keterampilan hidup
seperti mencuci, memasak dan sejenisnya, serta mampu menggunakan
teknologi dengan lebih bermanfaat salah satunya belajar.
19
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengolahan data dan pembahasan mengenai dampak pandemic
COVID-19 terhadap pembelajran online maka diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.
Akses belajar online yang dilaksanakan selama masa pandemic terjadi
tidak pemerataan akses dimana provinsi atau daerah yang terpencil hanya
sebagain kecil yang menerima pembelajaran online dari sekolahnya.
Faktor ekonomi keluarga dan latar belakang pendidikan berkontribusi
pada kepemilikan akses belajar online. Hal ini disebabkan karena tidak
adanya pemerataan akses internet di wilayah terpencil dan sumber daya
manusia yang belum mampu menggunakan teknologi.
2.
Penggunaan teknologi dan media untuk melakukan pembelajaran online
memiliki banyak masalah tidak semua siswa memiliki handphone,
computer/laptop untuk digunakan dalam belajar daring. Akses internet
juga menjadi masalah, dalam hal ini pengeluaran orang tua bertambah
untuk membeli pulsa/kuota internet karena tidak semua siswa memiliki
wifi di rumahnya.
3.
Selama Pembelajaran Jarak Jauh berlangsung, banyak siswa tidak senang
dengan pembelajaran online, dikarenakan dalam praktiknya siswa di
“paksa” belajar dari rumah yang sangat berbeda dengan kebiasaan siswa
dalam belajar di sekolah. Dalam pelaksanaannya tidak adanya interaksi
antara guru dengan murid, Serta banyaknya tugas yang diberikan oleh
seluruh guru dalam waktu yang berdekatan. Siswa juga dapak banyak
kesempatan untuk mempraktikan keterampilan sehari-hari seperti
memasak, mencuci dan sejenisnya.
20
5.2 Rekomendasi
Kesiapan pemerintah dan sekolah dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh
menjadi hal vital seperti peraturan dalam pelaksanaan dan mengawasi selama
pembelajaran jarak jauh. Pemerataan akses internet ke seluruh wilayah Indonesia,
dan memberikan akses internet khusus kepada guru dan siswa untuk belajar secara
online. Ada beberapa rekomendasi yang harus dipikirkan oleh pihak terkait:
1. Pemerintah perlu membuat peraturan yang mengatur tentang PJJ agar
kegiatan belajar berjalan efektif dan tidak adanya pihak yang merasa
diberatkan karena harus mengikuti PJJ.
2. Guru/pengajar masih banyak yang belum bisa menggunakan teknologi, hal
ini perlu adanya pelatihan bagi guru di setiap sekolah agar guru dapat
mengajar seefektif mungkin dan siswa tidak dirugikan.
3. Alat atau perangkat penunjang belajar online seperti computer/PC tidak
semua siswa memiliki oleh karena itu pemerintak dan sekolah perlu
mimikirkan solusi dalam penggunaan alat yang dapat diakses oleh semua
siswa.
21
DAFTAR PUSTAKA
MEDIA INDONESIA. (2020, 04 27). Survei KPAI: Mayoritas Siswa tak Senang Pembelajaran
Jarak
Jauh.
Retrieved
from
Media
Indonesia:
https://m.mediaindonesia.com/read/detail/307985-survei-kpai-mayoritassiswa-tak-senang-pembelajaran-jarak-jauh
Purwanto, A., Pramono, R., Asbari, M., Santoso, P. B., Wijayanti, L. M., Hyun, C. C., &
Putri, R. S. (2020). Studi Eksploratif Dampak COVID-19 Terhadap Proses
Pembelajaraan Online di Sekolah Dasar. EduPsyCouns Jurnal, 12.
THE CONVERSATION. (2020, 05 02). Riset dampak COVID-19: potret gap akses online
'Belajar dari Rumah' dari 4 Provinsi. Retrieved from The Conversation:
https://theconversation.com/riset-dampak-covid-19-potret-gap-akses-onlinebelajar-dari-rumah-dari-4-provinsi-136534
22
Download