BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tingginya kasus kesakitan dan kematian ibu di banyak Negara berkembang terutama disebabkan oleh perdarahan persalinan, eklamsia, sepsis, dan komplikasi keguguran. Sebagian besar penyebab utama kesakitan dan kematian ibu tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui upaya pencegahan yang efektif. Asuhan kesehatan ibu selama dua dasawarsa terakhir terfokus kepada : keluarga berencana untuk lebih mensejahterakan anggota masyarakat. Asuhan neonatal terfokus untuk memantau perkembangan kehamilan mengenai gejala dan tanda bahaya, menyediakan persalinan dan kesediaan menghadapi komplikasi. Proses persalinan merupakan saat yang paling menegangkan dan mencemaskan bagi wanita, apalagi jika persalinan tersebut merupakan persalinan pertamanya. Saat mengetahui dirinya hamil ibu harus beradaptasi dengan berbagai perubahan, mulai dari perubahan fisik sampai perubahan psikologis yang dapat mempengaruhi emosinya. Setelah dihadapkan dengan perubahan-perubahan saat hamil sekarang ibu mulai dihadapkan dengan proses persalinannya, dan pastilah bagi para calon ibu yang baru pertama kali hamil mereka belum mengetahui apa yang harus dilakukan saat persalinan terjadi nanti, mulai dari bagaimana cara mengejan yang baik dan berbagai kecemasan lain yang akan dihadapinya nanti. Persalinan pada primigravida adalah persalinan yang terjadi pada wanita yang baru pertama kali hamil (Endjun, 2004). Asuhan persalinan kala I, II, III, dan IV memegang kendali penting pada ibu selama persalinan karena dapat membantu ibu dalam mempermudah proses persalinan, membuat ibu lebih yakin untuk menjalani proses persalinan serta untuk mendeteksi komplikasi yang mungkin terjadi selama persalinan dan ketidaknormalan dalam proses persalinan.Dalam makalah ini membahas teoritis Asuhan keperawatan persalinan. 1 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah Asuhan Keperawatan pada persalinan kala I ? 2. Bagaimanakah Asuhan Keperawatan pada persalinan kala II ? 3. Bagaimanakah Asuhan Keperawatan pada persalinan kala III ? 4. Bagaimanakah Asuhan Keperawatan pada persalinan kala IV ? 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan pada persalinan kala I 2. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan pada persalinan kala II 3. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan pada persalinan kala III 4. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan pada persalinan kala IV 2 BAB 2 TINJAUAN TEORI 2.1 Pengertian Persalinan adalah kontraksi uterus yang menyebabkan dilatasi serviks dan mendorong janin melalui jalan lahir. (Gary cunningham F, dkk. 2005). Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan progresif pada serviks, dan diakhiri dengan pelepasan plasenta (Saifuddin, dkk 2006). Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37 – 42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. (Nurhati. 2009). Persalinan adalah proses pengeluaran (kelahiran) hasil konsepsi yang dapat hidup di luar uterus melalui vagina ke dunia luar. Proses tersebut dapat dikatakan normal atau spontan jika bayi yang dilahirkan berada pada posisi letak belakang kepala dan berlangsung tanpa bantuan alat-alat atau pertolongan, serta tidak melukai ibu dan bayi. Pada umumnya proses ini berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam. (Jenny J. S. Sondakh, M. Clin. Mid. 2013). 2.2 Tanda Mulainya Persalinan Beberapa tanda-tanda dimulainya proses persalinan menurut (Jenny J. S. Sondakh, M. Clin. Mid. 2013) adalah sebagai berikut: 1. Terjadinya his persalinan Sifat his persalinan adalah: Pinggang terasa sakit dan menjalar ke depan Sifatnya teratur, interval makin pendek, dan kekuatan makin besar Makin beraktivitas (jalan), kekuatan akan makin bertambah. 2. Pengeluaran lendir dengan darah Terjadinya his persalinan mengakibatkan terjadinya perubahan pada serviks yang akan menimbulkan: 3 Pendataran dan pembukaan Pembukaan menyebabkan lendir yang terdapat pada kanalis serviks lepas Terjadinya perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah. 3. Pengeluaran cairan Pada beberapa kasus persalinan akan terjadi pecah ketuban. Sebagian besar, keadaan ini terjadi menjelang pembukaan lengkap. Setelah adanya pecah ketuban, diharapakan proses persalinan akan berlangsung kurang dari 24 jam. 4. Hasil-hasil yang didapatkan pada pemeriksaan dalam Perlunakan serviks Pendataran serviks Pembukaan serviks Secara umum, persalinan berlangsung alamiah, tetapi tetap diperlukan pemantauan khusus karena ibu memiliki kondisi kesehatan yang berbedabeda, sehingga dapat mengurangi risiko kematian ibu dan janin pada saat persalinan. Selain itu, selama kehamilan ataupun persalinan dapat terjadi komplikasi yang mungkin terjadi karena kesalahan penolong dalam persalinan, baik tenaga non-kesehatan seperti dukun ataupun tenaga kesehatan khususnya bidan. Adapun faktor-faktor yang dapat memengaruhi jalannya proses persalian adalah penumpang (passenger), jalan lahir (passage), kekuatan (power), posisi ibu (positioning), dan respon psikologis (psychology response). 1. Penumpang (passenger) Penumpang dalam persalian adalah janin dan plasenta. Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai janin adalah ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan posisi janin, sedangkan yang perlu diperhatikan pada plasenta adalah letak, besar dan luasnya. 2. Jalan lahir (passage) Jalan lahir terbagi atas 2 yaitu, jalan lahir keras dan jalan lahir lunak. Halhal yang perlu diperhatikan dari jalan lahir keras adalah ukuran dan bentuk tulang panggul, sedangkan yang perlu diperhatikan pada jalan lahir lunak 4 adalah segmen bawah uterus yang dapat meregang, serviks, otot dasar panggul, vagina, dan introitus vagina. 3. Kekuatan (power) Faktor kekuatan dalam persalinan dibagi atas 2, yaitu: Kekuatan primer (kontraksi involunter) Kontraksi berasal dari segmen atas uterus yang menebal dan dihantarkan ke uterus bawah dalam bentuk gelombang. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan kontraksi involunter ini antara lain frekuensi, durasi, dan intensitas kontraksi. Kekuatan primer ini mengakibatkan serviks menipis (effacement) dan berdilatasi sehingga janin turun. Kekuatan sekunder (kontraksi volunter) Pada kekuatan ini, otot-otot diafragma dan abdomen ibu berkontraksi dan mendorong keluar isi ke jalan lahir sehingga menimbulkan tekanan intraabdomen. Tekanan ini menekan uterus pada semua sisi dan menambah kekuatan dalam mendorong keluar. Kekuatan sekunder tidak memengaruhi dilatasi serviks, tetapi setelah dilatasi serviks lengkap, kekuatan ini cukup penting dalam usaha untuk mendorong keluar dari uterus dan vagina. 4. Posisi ibu (positioning) Posisi ibu dapat memengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi persalinan. Perubahan posisi yang diberikan pada ibu bertujuan untuk menghilangkan rasa letih, memberi rasa nyaman, dan memperbaiki sirkulasi. Posisi tegak (contoh: posisi berdiri, berjalan, duduk, dan jongkok) memberi sejumlah keuntungan, salah satunya adalah memungkinkan gaya gravitasi membantu penurunan janin. Selain itu, posisi ini dianggap dapat mengurangi kejadian penekanan tali pusat. 5. Respon psikologis (psychology response) Respon psikologi ibu dapat dipengaruhi oleh: Dukungan ayah bayi/pasangan selama proses persalinan Dukungan kakek-nenek (saudara dekat) selama persalinan Saudara kandung bayi selama persalinan. 5 2.3 Tahapan persalianan Tahapan persalinan terdiri atas kala I (kala pembukaan), kala II (kala pengeluaran janin), kala III (pelepasan plasenta), dan kala IV (kala pengawasan/ observasi/ pemulihan). (Jenny J. S. Sondakh, M. Clin. Mid. 2013). 1. Kala I (Kala pembukaan) Kala I dimulai pada saat persalianan mulai (pembukaan nol) sampai pembukaan lengkap (10 cm). Proses ini terbagi dalam 2 fase, yaitu: a. Fase laten: berlangsung selama 8 jam, serviks membuka sampai 3 cm. b. Fase aktif: berlangsung selama 7 jam, serviks membuka dari 4 cm sampai 10 cm, kontraksi lebih kuat dan sering, dibagi dalam 3 fase: Fase akselerasi: dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm. Fase dilatasi maksimal: dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm. Fase deselerasi: pembukaan menjadi lambat sekali, dalam waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi lengkap. Proses di atas terjadi pada primigravida ataupun multigravida, tetapi pada multigravida memiliki jangka waktu yang lebih pendek. Pada primigravida, kala I berlangsung ± 12 jam, sedangkan pada multigravida ± 8 jam. 2. Kala II (Kala pengeluaran janin) Gejala utama kala II adalah sebagai berikut: 1. His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit, dengan durasi 50 sampai 100 detik. 2. Menjelang akhir kala I, ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran cairan secara mendadak. 3. Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan mengejan akibat tertekannya pleksus Frankenhauser. 4. Kedua kekuatan his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga terjadi: - Kepala membuka pintu 6 - Subocciput bertindak sebagai hipomoglion, kemudian secara berturut-turut lahir ubun-ubun besar, dahi, hidung dan muka, serta kepala seluruhnya. 5. Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putar paksi luar, yaitu penyesuaian kepala pada punggung. 6. Setelah putar paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi ditolong dengan cara : - Kepala dipegang pada os occiput dan di bawah dagu, kemudian ditarik dengan menggunakan cunam ke bawah untuk melahirkan bahu depan dan ke atas untuk melahirkan bahu belakang. - Setelah kedua bahu lahir, ketiak dikait untuk melahirkan sisa badan bayi. - Bayi lahir diikuti oleh air ketuban. 7. Lamanya kala II untuk primigravida 1,5-2 jam dan multigravida 1,5-1 jam. 3. Kala III (Pelepasan plasenta) Kala III dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Proses lepasnya plasenta dapat diperkirakan dengan mempertahankan tanda-tanda dibawah ini. 1. Uterus menjadi bundar. 2. Uterus terdorong ke atas karena plasenta dilepas ke segmen bawah rahim. 3. Tali pusat bertambah panjang. 4. Terjadi semburan darah tiba-tiba. Cara melahirkan plasenta adalah menggunakan tehnik dorsokranial. Pengeluaran Selaput Ketuban. Selaput janin biasanya lahir dengan mudah, namun kadang-kadang masih ada bagian plasenta yang tertinggal. Bagian tertinggal tersebut dapat dikeluarkan dengan cara: 1. Menarik pelan-pelan. 2. Memutar atau memilinnya seperti tali. 3. Memutar pada klem. 4. Manual atau digital. 7 Plasenta dan selaput ketuban harus diperiksa secara teliti setelah dilahirkan. Apakah setiap bagian plasenta lengkap atau tidak lengkap. Bagian plasenta yang diperiksa yaitu permukaan maternal yang pada normalnya memiliki 6-20 kotiledon, permukaan fetal, dan apakah terdapat tanda-tanda plasenta suksenturia. Jika plasenta tidak lengkap, maka disebut ada sisa plasenta. Keadaan ini dapat menyebabkan perdarahan yang banyak dan infeksi. Kala III terdiri dari 2 fase, yaitu: 1. Fase pelepasan plasenta Beberapa cara pelepasan plasenta antara lain: a. Schultze Proses lepasnya plasenta seperti menutup payung. Cara ini merupakan cara yang paling sering terjadi (80%). Bagian yang lepas terlebih dulu adalah bagian tengah, lalu terjadi retroplasental hematoma yang menolak plasenta mula-mula bagian tengah, kemudian seluruhnya. Menurut cara ini, perdarahan biasanya tidak ada sebelum plasenta lahir dan berjumlah banyak setelah plasenta lahir. b. Duncan Berbeda dengan sebelumnya, pada cara ini lepasnya plasenta mulai dari pinggir 20%. Darah akan mengalir keluar antara selaput ketuban. Pengeluarannya juga serempak dari tengah dan pinggir plasenta. 2. Fase pengeluaran plasenta Perasat-perasat untuk mengetahui lepasnya plasenta adalah: a. Kustner Dengan meletakkan tangan disertai tekanan di atas simfisis, tali pusat ditegangkan, maka bila tali pusat masuk berarti belum lepas. Jika diam atau maju berarti sudah lepas. b. Klein 8 Sewaktu ada his, rahim didorong sedikit. Bila tali pusat kembali berarti belum lepas, diam atau turun berarti lepas. (cara ini tidak digunakan lagi). c. Strassman Tegangkan tali pusat dan ketok pada fundus, bila tali pusat bergetar berarti plasenta belum lepas, tidak bergetar berarti sudah lepas. Tanda-tanda plasenta telah lepas adalah rahim menonjol di atas simfisis, tali pusat bertambah panjang, rahimbundar dan keras, serta keluar darah secara tiba-tiba. 4. Kala IV (Kala pengawasan/ observasi/ pemulihan) Kala IV dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam postpartum. Kala ini terutama bertujuan untuk melakukan observasi karena perdarahan postpartum paling sering terjadi pada 2 jam pertama. Darah yang keluar selama perdarahan harus ditakar sebaik-baiknya. Kehilangan darah pada persalinan biasanya disebabkan oleh luka pada saat pelepasan plasenta dan robekan pada serviks dan perineum. Rata-rata jumlah perdarahan yang dikatakan normal adalah 250 cc, biasanya 100-300 cc. Jika perdarahan lebih dari 500 cc, maka sudah dianggap abnormal, dengan demikian harus dicari penyebabnya. Penting untuk diingat: jangan meninggalkan wanita bersalin 1 jam sesudah bayi dan plasenta lahir. Sebelum pergi meninggalkan ibu yang baru melahirkan, periksa ulang terlebih dahulu dan perhatikanlah 7 pokok penting berikut: 1. Kontraksi rahim: baik atau tidaknya diketahui dengan pemeriksaan palpasi. Jika perlu lakukan masase dan berikan uteronika, seperti methergin, atau ermetrin dan oksitosin. 2. Perdarahan: ada atau tidak, banyak atau biasa. 3. Kandung kemih: harus kosong, jika penuh, ibu dianjurkan berkemih dan kalau tidak bisa, lakukan kateter. 4. Luka-luka: jahitannya baik atau tidak, ada perdarahan atau tidak. 5. Plasenta atau selaput ketuban harus lengkap. 6. Keadaan umum ibu, tekanan darah, nadi, pernapasan dan masalah lain. 7. Bayi dalam keadaan baik. 9 BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN INTRANATAL 3.1 Pengkajian Pengkajian data yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Pengkajian awal untuk mengidentifikasi kebutuhan akan tindakan segera. a. Periksa kondisi ibu dan janin untuk mengetahui adanya tanda komplikasi kehamilan. b. Tanyakan usia kehamilan. c. Kaji pengeluaran per vagina untuk mengetahui tanda-tanda persalinan. 2. Pengkajian selanjutnya a. Meninjau ulang catatan ANC bila ada. b. Bila tidak tersedia, tanyakan riwayat kesehatan, kehamilan dan persalinan yang lalu (paritas, bedah sesar/uterus, berat badan bayi lahir, dan masalah lain bila ada). c. Menanyakan tentang kehamilan saat ini (adakah masalah). d. Menanyakan tentang riwayat dan kemajuan persalinan saat ini, kondisi ibu dan janin (keluhan his, pengeluaran per vagina, gerak janin, istirahat, makan, BAK, BAB terakhir). 3. Pemeriksaan fisik dan penunjang a. Ukur tanda-tanda vital (tekanan darah, suhu, denyut nadi, dan pernapasan). b. Keadaan fisik secara umum (edema, warna dan kelembapan kulit, refleks patela). c. Abdomen dan uterus (pemeriksaan leopold, his, luka bekas operasi, denyut jantung janin). d. Jalan lahir dan genetalia (pemeriksaan luar dan dalam). e. Kandung kemih (penuh/kosong). f. Rektum dan anus (adanya feses, hemoroid). g. Darah (hemoglobin, golongan), bila belum pernah dilakukan h. Protein urine (jika ada dugaan preeklampsia). 10 Pengkajian Kala I 1. Riwayat pasien a. Keluhan Utama Pada kasus persalinan, informasi yang harus di dapat dari pasien adalah kapan mulai terasa ada kencang-kencang di perut, bagaimana intensitas dan frekuensinya, apakah ada pengeluaran cairan dari vagina yang berbeda dari air kemih, apakah ada pengeluaran lendir yang disertai darah, serta pergerakan janin untuk memastikan kesejahteraannya. b. Riwayat sekarang Catat tanda persalinan seperti his yang teratur, frekuensi, interval, adanya ruptur, selaput ketuban dan status emosional. c. Pola makan Data ini penting untuk diketahui agar bisa mendapatkan gambaran bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya selama hamil sampai dengan masa awal persalinan. Data fokus mengenai asupan makanan pasien adalah : 1) Kapan atau jam berapa terakhir kali makan 2) Makanan apa yang dimakan 3) Jumlah makanan yang dimakan d. Pola minum Pada masa persalinan, data mengenai intake cairan sangat penting karena akan menentukan kecenderungan terjadinya dehidrasi. Data yang perlu dikaji yang berkaitan dengan intake cairan adalah : 1) Kapan terakhir kali minum 2) Berapa banyak yang diminum 3) Apa yang diminum Pada pertengahan sampai akhir kala I biasanya pasien akan sangat membutuhkan cairan, bukan makanan. Disamping pasien sudah tidak berselera lagi untuk makan karena rasa sakit akibat his, juga karena 11 pengeluaran keringat yang bertambah sehingga membutuhkan pemasukan cairan lebih banyak. e. Pola istirahat Istirahat sangat diperlukan oleh pasien untuk mempersiapkan energi menghadapi proses persalinannya, hal ini akan lebih penting lagi jika proses persalinannya mengalami pemanjangan waktu pada kala I. Data yang perlu dikaji yang berhubungan dengan istirahat pasien adalah: 1) Kapan terakhir tidur 2) Berapa lama tidurnya f. Aktivitas sehari-hari Kita perlu mengkaji aktivitas sehari-hari pasien karena data ini memberikan gambaran kita tentang seberapa berat aktivitas yang biasa dilakukan pasien dirumah. Jika di akhir kehamilannya pasien melakukan aktivitas yang terlalu berat dikhawatirkan pasien akan merasa kelelahan sampai akhirnya dapat menimbulkan penyulit pada masa bersalin. f. Pemeriksaan fisik Dilatasi uteri 0-3 cm posisi fetus, his antara 5-30 menit dan berlangsung selama 10-30 menit vagina mengeluarkan cairan pink, coklat, ruptur, keluhan, DJJ (Detak Jantung Janin) terdengar lebih jelas di umbilikus. Melakukan pemeriksaan TTV : TD, N, S, RR. g. Kontraksi tekanan uterus dilatasi cerviks dan penurunan karakteristik yang menggambarkan kontraksi uterus : Frekuensi, internal, intensitas, durasi, tonus istirahat h. Penipisan cerviks Effacementmendahului dilatasi cerviks pada kehamilan pertama dan sering diikuti pembukaan dalam kehamilan berikutnya. i. Pembukaan cerviks Sebagian besar tanda-tanda yang menentukan bahwa kekuatan kontraksi uterus yang efektif dan kemajuan persalinan. 12 j. Palpasi abdomen (Leopold) untuk memberikan informasi jumlah fetus, letak janin, penurunan janin. k. Pemeriksaan vagina.Dilakukan pengkajian yang meliputi : pembukaan serviks,selaput ketuban,presentasi janin, station. l. Tes diagnostik dan laboratorium : spesimen urin, tes darah, ruptur membrane, cairan amnion: warna, karakter dan jumlah. Partograf Partograf adalah alat bantu untuk membantu mengobservasi kemajuan kala I persalinan dan memberikan informasi untuk membuat keputusan klinik. Tujuan utama penggunaan partograf adalah : 1. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks dengan pemeriksaan dalam. 2. Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan normal. Dengan demikian, juga dapat mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya partus lama. 3. Data lengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu, kondisi bayi, grafik kemajuan proses persalinan. Jika digunakan dengan tepat dan konsisten, partograf akan membantu penolong persalinan untuk: 1. Mencatat kemajuan persalinan. 2. Mencatat kondisi ibu dan janinnya. 3. Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran. 4. Menggunakan informasi yang tercatat untuk identifikasi dini penyulit persalinan. 5. Menggunakan informasi yang tersedia untuk membuat keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu. Halaman depan partograf menginstruksikan observasi dimulai pada fase aktif persalinan dan menyediakan lajur dan kolom untuk mencatat hasil pemeriksaan selama fase aktif persalinan, yaitu: 1. Informasi tentang ibu 13 Meliputi nama, umur, gravida, para, abortus, nomor catatan medis/nomor puskesmas, tanggal dan waktu mulai dirawat, serta waktu pecahnya selaput ketuban. 2. Kondisi janin DJJ, warna dan adanya air ketuban, penyusupan kepala janin. 3. Kemajuan persalinan Pembukaan serviks, penurunan bagian terbawah atau presentasi janin, garis waspada dan garis bertindak. 4. Jam dan waktu Waktu mulainya fase aktif persalinan, waktu aktual saat pemeriksaan atau penilaian. 5. Kontraksi uterus Frekuensi kontraksi dalam waktu 10 menit, lama kontraksi dalam detik. 6. Obat dan cairan yang diberikan Oksitosin, obat, dan cairan IV yang diberikan. 7. Kondisi ibu Nadi, tekanan darah, temperatur tubuh, dan urin (volume, aseton, protein). Halaman belakang patograf merupakan bagian untuk mencatat hal- hal yang terjadi selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Itulah sebabnya bagian ini disebut catatan persalinan. Catatan persalinan ini terdiri dari data atau informasi umum kala I, kala II, kala III, bayi baru lahir, dan kala IV. Pengkajian Kala II a. Data umum Peningkatan tekanan darah 5-10 mmHg, peningkatan RR, nadi kurang dari 100, diaphoresis. b. Kontraksi 2-3 menit, intensitas kuat, lamanya 50-70 detik pembukaan servik 10 cm, pendataran 100%, peningkatan pengeluaran darah dan 14 lendir, cairan amnion, perineum menonjol, keluar feses pada saat melahirkan dan distensi kandung kemih. c. Tanda yang menyertai kala II Keringat terlihat tiba-tiba diatas bibir, gerakan ekstremitas, pembukaan serviks, his lebih kuat dan sering, ibu merasakan tekanan pada rektum, merasa ingin BAB, ketuban +/-, perineum menonjol, anus dan vulva membuka, gelisah, pada waktu his kepala janin tampak di vulva, meningkatnya pengeluaran darah dan lendir, kepala turun di dasar panggul, perasaan panas dan tegang pada perineum, tremor, kelelahan, emosi labil, takut, gelisah, ketidakpercayaan dan merintih. d. Monitoring terhadap : His (frekuensi, kekuatan, jarak, intensitas), keadaan janin (penurunan janin melalui vagina), kandung kemih penuh/tidak, pernapasan, suhu, nadi dan tekanan darah (setiap 30 menit). e. Pemantauan Janin Beberapa hal dari janin yang harus selalu diperhatikan adalah: 1. Denyut jantung janin (DJJ) 2. Denyut normal 120-160 kali/menit. Perubahan DJJ, pantau setiap 15 menit. Variasi DJJ dari DJJ dasar. Pemeriksaan auskultasi DJJ setiap 30 menit. Adanya air ketuban dan karakteristiknya (jernih, keruh, kehijauan/tercampur mekonium). 3. Adanya penyusupan kepala janin. f. Durasi kala II → kemajuan pada kala II : Primigravida berlangsung 45– 60 menit, multipara berlangsung 15 – 30 menit. Pengkajian Kala III a. Data umum Ibu kelelahan, pucat, sianosis, tekanan darah lebih dari 100/70 mmHg, kemungkinan syok, nyeri abdomen, mules, pusing, tremor dan 15 kedinginan, mengobservasi tanda-tanda dari ibu, perubahan tingkat kesadaran atau perubahan pernafasan. b. Data obstetric Perubahan uterus (discoid-globular), uterus bundar dan keras, keadaan kandung kemih penuh atau kosong, perdarahan pervagina, normalnya 250300 ml, janin lahir efisiotomi. c. Pengkajian setelah janin lahir, tinggi fundus uteri, setinggi pusat, pelepasan plasenta ada dua macam, yaitu: 1. Schulze, Pelepasan plasenta dimulai dari bagian bawah plasenta tidak ada perdarahan sebelum plasenta lahir, ada perdarahan setelah plasenta lahir. 2. Duncan, Pelepasan plasenta dari pinggir plasenta bagian lateral ada perdarahansedikit-sedikit. d. Mengobservasi kontraksi, perdarahan, robekan jalan lahir dan perineum, kandung kemih dan TTV 1 jam pertama selama 15 menit. a) Pemantauan kontraksi Uterus yang berkontraksi normal harus keras ketika di sentuh. Jika segmen atas uterus keras tetapi perdarahan menetap, maka pengkajian segmen bawah penting untuk dilakukan. Uterus yang lunak, hipotonik, dan longgar menunjukkan uterus tidak berkontraksi dengan baik. Atoni uterus merupakan penyebab utama perdarahan postpartum segera. Hemostatis uterus yang efektif dipengaruhi oleh kontraksi jalinan serat-serat otot miometrium. Pemantauan kontraksi pada kala III dilakukan selama melakukan manejemen aktif kala III, sampai dengan sesaat setelah plasenta lahir. Pemantauan kontraksi dilanjutkan selama satu jam berikutnya dalam kala IV. b) Pemantauan robekan jalan lahir dan perineum Tindakan pemantauan lainnya yang penting untuk dilakukan adalah memperhatikan dan menemukan penyebab perdarahan dari laserasi atau robekan perineum dan vagina. Penilaian perluasan laserasi atau episiotomi diklasifikasikan berdasarkan luasnya robekan. 16 Perawat melakukan pengkajian terhadap robekan jalan lahir dan perineum. Pengkajian ini dilakukan seawal mungkin sehingga perawat segera menentukan derajat robekan dan teknik jahitan yang tepat yang akan digunakan sesuai kondisi pasien. Perawatmemastikan apakah jumlah darah yang keluar adalah akibat robekan jalan lahir atau karena pelepasan plasenta. c) Pemantauan kandung kemih Pemantauan kandung kemih dengan palpasi yaitu untuk menentukan jumlah distensi (peregangan) kandung kemih harus dilakukan saat melakukan palpasi di fundus. Kandung kemih yang penuh akan menekan uterus ke atas dan ke sebelah kanan garis tengah. Posisi ini akan menyebabkan uterus berelaksasi. Akibatnya akan terjadi perdarahan. d) Pemantauan TTV Pada kala III, TTV yang diperiksa di antaranya: Tinggi fundus uteri, yang di antaranya bertujuan untuk mengetahui masih adakah janin di dalam uterus. Kontraksi uterus, untuk memastikan tidak terjadi inersia uterus. Kandung kemih, karena kandung kemih yang penuh akan mengganggu kontraksi uterus. e) Pemantauan perdarahan Melakukan pengkajian perdarahan yang meliputi : mengukur jumlah darah, disertai dengan bekuan darah atau tidak. Pengkajian Kala IV a. Tanda tanda vital : Vital sign dapat memberikan data dasar untuk diagnosa potensial, komplikasi seperti perdarahan dan hipertermia. Pada kala IV observasi vital sign sangat penting untuk mengetahui perubahan setelah melahirkan seperti : pulse biasanya stabil sebelum bersalin selama 1 jam pertama dan mengalami perubahan setelah terjadi persalinan yaitu dari cardiovaskuler. 17 Pemeriksaan fundus dan tingginya, selama waktu itu pengosongan kandung kemih mempermudah pengkajian dan hasilnya lebih tepat. b. Kandung kemih : Dengan observasi dan palpasi kandung kemih. Jika kandung kemih menegang akan mencapai ketinggian suprapubik dan redup pada perkusi. c. Lochea : Jumlah dan jenis lochea dikaji melalui observasi perineum ibu dan kain dibawah bokong ibu. Jumlah dan ukuran gumpalan darah jika dilihat dicatat hasil dan bekuannya. d. Perineum : Perawat menanyakan kepada ibu atau menganjurkan untuk mengiring dan melenturkan kembali otot otot panggul atas dan dengan perlahan-lahan mengangkat bokong untuk melihat perineum. e. Temperatur : Temperatur ibu diukur saat satu jam pertama dan sesuaikan dengan keadaan temperatur ruangan. Temperatur biasanya dalam batas normal selama rentang waktu satu jam pertama,kenaikan pada periode ini mungkin berhubungan dengan dehidrasi atau kelelahan. f. Kenyamanan : Kenyamannan ibu dikaji dan jenis analgetik yang didapatkan selama persalinan akan berpengaruh terhadap persepsi ketidak nyamanannya. 3.2 Diagnosis 3.2.1. Kala I Fase laten 1. Nyeri b.dagen cedera biologis (intensitas kontraksi). 2. Ketakutan b.d persalinan dan menjelang kelahiran. Fase aktif 1. Risiko infeksi terhadap maternatal b.d prosedur invasif (pemeriksaan vagina berualang). 2. Gangguan eliminasi urin b.d bedrest. 3. Ansietas b.d ancaman pada status terkini (ketidaktahuan tentang situasi persalinan) 4. Koping ketidakefektifan b.d kurang percaya diri dalam kemampuan mengatasi masalah(persalinan). 18 3.2.2 Kala II 1. Nyeri b.d agen cedera biologis (mengejan dan meregangnya perineum). 2. Risiko perdarahan b.d komplikasi kehamilan (pecah ketuban). 3.2.3 Kala III 1. Koping individu tidak efektif b.d selesainya proses persalinan yang berbahaya bagi neonatus dan kurang pengalaman merasakan tahap ketiga persalinan. 2. Keletihan b.d kelesuan fisiologis (pengeluaran energi selama persalinan dan kelahiran). 3. Risiko kekurangan velume cairan b.d kehilangan cairan aktif (penurunan intake cairan yang hilang selama proses persalinan). 3.2.4 Kala IV 1. Risiko perdarahan b.d komplikasi pascapartum (Atonia uterus setelah melahirkan). 2. Nyeri b.d agen cedera biologis (terputusnya kontuinitas jaringan akibat proses persalinan). 3. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif (setelah persalinan) 4. Ketidakefektifan pemberian ASI b.d kurangnya pengetahuan orang tua tentang tehnik menyusui. 3.3 Intervensi Kala I Fase Laten No. 1. Dx Tujuan dan Kriteria Hasil Nyeri b.d agen 1. Kontrol Nyeri cedera biologis(intens Setelah dilakukakan itas kontraksi). tindakan keperawatan selama 1x4 jam, px dapat mengontrol nyeri, dengan Kriteria Hasil: 1. Melaporkan nyeri 19 Intervensi Terapi Relaksasi 1. Gambarkan rasionalisasi dan manfaat relaksasi serta jenis relaksasi yang tersedia (misalnya, musik, dan bernapas dengan yang terkontrol 2 menjadi 4 2. Mengenali kapan nyeri terjadi 1 menjadi 5. 3. Menggunakan tindakan pencegahan 1 menjadi5 4. Menggunakan tindakan pengurangan (nyeri) tanpa analgesik 1 menjadi4 Ket : 1: Tidak pernah menunjukkan 2: Jarang menunjukkan 3: Kadang menunjukkan 4: Sering menunjukkan 5: Secara konsisten menunjukkan 2. 2. 3. 4. 5. ritme) Ciptakan lingkungan yang tenang dan tanpa distraksi dengan lampu yang redup dan suhu lingkungan yang nyaman Dorong px untuk mengambil posisi yang nyaman dengan pakaian longgar dan mata tertutup Minta px rileks dan merasakan sensasi yang terjadi Tunjukkan dan praktikkan tehnik relaksasi pada px Perawatan Intrapartum 1. Monitor tingkat nyeri selama kontraksi 2. Gunakan tehnik pernapasan (relaksasi). 3. Sediakan alternatif metode pengurangan nyeri yang konsisten dengan tujuan pasien (misalnya massage atau gosokan pada pinggang ( teori gate kontrol terhadap nyeri). 4. Menganjurkan untuk memberikan air hangat untuk mengompres pinggang bawah. 5. Berikan analgesi untuk mendukung kenyamanan dan relaksasi selama persalinan. Ketakutan b.d 1. Kontrol diri terhadap Tehnik Menenangkan mekanisme ketakutan pelepasan 1. Pertahankan sikap 20 berasal dari dalam(persalin an dan menjelang kelahiran). Setelah dilakukakan tindakan keperawatan selama 1x4 jam, px dapat menghilangkan atau mengurangi perasaan takut, tegang atau ketidaknyamanan, dengan Kriteria Hasil: 1. Menghilangkan penyebab ketakutan. Dengan mempertahankan pada skala 3. 2. Mencari informasi untuk mengurangi rasa takut. Ditingkatkan dari 1 menjadi 3. 3. Menggunakan tehnik relaksasi untuk mengurangi rasa takut. Ditingkatkan dari 2 menjadi 4. 4. Mempertahankan konsentrasi. Dipertahankan pada skala 4. 5. Mengontrol respon takut. Ditingkatkan dari 2 menjadi 3. Ket: 1: Tidak menunjukkan 2 : Jarang menunjukkan 3 : Kadang-kadang menunjukkan 4 : Sering menunjukkan 5 : Dilakukan secara konsisten. 21 2. 3. 4. 5. yang tenang dan hatihati. Kurangi stimuli yang menciptakan perasaan takut maupun cemas. Yakinkan keselamatan dan keamanan klien. Meminta keluarga membantu klien tenang saat persalinan. Instruksikan klien untuk menggunakan metode mengurangi kecemasan (misalnya, tehnik bernapas dalam, distraksi, mendengarkan musikmusik lembut). Terapi Relaksasi 1. Gambarkan rasionalisasi dan manfaat relaksasi serta jenis relaksasi yang tersedia (misalnya, musik, dan bernapas dengan ritme) 2. Ciptakan lingkungan yang tenang dan tanpa distraksi dengan lampu yang redup dan suhu lingkungan yang nyaman 3. Dorong px untuk mengambil posisi yang nyaman dengan pakaian longgar dan mata tertutup 4. Minta px rileks dan merasakan sensasi yang terjadi 5. Tunjukkan dan praktikkan tehnik relaksasi pada px Persiapan Melahirkan 1. Ajarkan ibu dan pasangannya mengenai tandatanda persalinan 2. Jelaskan prosedur monitor secara rutin yang mungkin akan dilakukan selama proses persalinan 3. Ajarkan ibu dan pasangan mengenai tehnik pernapasan dan relaksasi yang akan digunakan selama persalinan 4. Ajarkan pasangan melakukan sesuatu untuk memberi kenyamanan pada ibu selama proses persalinan (misalnya, menggosok punggung, dan memposisikan ibu senyaman mungkin) Fase Aktif No. 1. Dx Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Risiko infeksi 1. Kontrol risiko : proses Kontrol Infeksi infeksi terhadap 1. Bersihkan lingkungan dilakukakan dengan baik setelah maternatal b.d Setelah tindakan keperawatan digunakan untuk setiap prosedur selama 1x3 jam, pasien pasien. dapat mengerti, 2. Ganti peralatan invasif mencegah, perawatan per pasien (pemeriksaan mengeliminasi atau sesuai protokol institusi. mengurangi risiko 3. Cuci tangan sebelum vagina terkena infeksi, dengan dan sesudah kegiatan berualang) Kriteria Hasil: perawatan pasien. 22 4. Anjurkan pasien 1. Mencari mengenai tehnik informasi terkait mencuci tangan dengan kontrol infeksi tepat. Dapat 5. Batasi jumlah ditingkatkan dari pengunjung. 1 menjadi 3. 6. Pakai sarung tangan 2. Mengidentifikasi steril saat melakukan faktor risiko pemeriksaan vagina. infeksi 7. Jaga lingkungan aseptik Dapat yang optimal selama dipertahankan pemeriksaan vagina. pada 3. 3. Memonitor faktor Perlindungan Infeksi dilingkungan yang 1. Monitor adanya tanda berhubungan dan gejala infeksi dengan risiko sistemik dan lokal. infeksi 2. Monitor kerentanan Dapat terhadap infeksi. ditingkatkan dari 3. Batasi jumlah 2 menjadi 4. pengunjung. 4. Mempertahankan 4. Ajarkan pasien dan lingkungan yang keluarga mengenai tanda bersih dan gejala infeksi dan Dapat kapan harus dipertahankan melaporkannya kepada pada 4. pemberi layanan kesehatan. Ket: 5. Ajarkan pasien dan 1: Tidak menunjukkan keluarga bagaimana cara 2 : Jarang menunjukkan menghindari infeksi. 3 : Kadang-kadang menunjukkan 4 : Sering menunjukkan 5 : Secara konsisten menunjukkan 2. Gangguan eliminasi urin b.d bedrest. 1. Eliminasi urin Kateterisasi Urin Setelah dilakukakan tindakan keperawatan selama 1x3 jam, pasien dapat mengeliminasi urin, dengan Kriteria Hasil: 23 1. Jelaskan prosedur dan rasionalisasi kateterisasi. 2. Pasang alat dengan tepat. 3. Berikan privasi dan tutupi pasien dengan 1. Pasien mengosongkan kandung kemih sepenuhnya 2. Pola eliminasi pasien tidak terganggu 3. Ada keinginan mendesak untuk berkemih. Ditingkatkan dari 2 menjadi 4. Ket : 1: Berat 2 : Cukup berat 3 : Sedang 4 : Ringan 5 : Tidak ada 3. Ansietas b.d ancaman pada status terkini (ketidaktahuan tentang situasi persalinan) 1. Kontrol diri baik untuk kesopanan. 4. Pastikan pencahayaan yang tepat untuk visualisasi anatomi yang tepat. 5. Pertahankan tehnik aseptik yang ketat. 6. Posisikan pasien dengan tepat. 7. Bersihkan daerah sekitar meatus uretra dengan larutan anti bakteri, saline steril, atau air steril. 8. Masukkan dengan lurus atau retensi kateter ke dalam kandung kemih. 9. Gunakan ukuran kateter yang sesuai. 10. Hubungkan retensi kateter ke kantung sisi tempat tidur ssrainase atau pada kantung kaki. 11. Amankan kateter pada kulit dengan plester yang sesuai. 12. Tempatkan kantung drainase di bawah permukaan kandung kemih. 13. Pertahankan sistem drainase kemih tertutup dan terhalang. 14. Monitor intake dan output. kecemasan Pengurangan Kecemasan Setelah dilakukakan tindakan keperawatan selama 1x3 jam, pasien dapat mengurangi perasaan takut, tegang atau gelisah, dengan Kriteria Hasil: 24 1. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan 2. Jelaskan semua prosedur termasuk sensasi yang akan dirasakan yang mungkin akan dialami pasien selama prosedur/ 1. 2. Mencari informasi untuk mengurangi kecemasan. Dipertahankan pada 3. Menggunakan tehnik relaksasi untuk mengurangi kecemasan. Ditingkatkan dari 2 menjadi 4. Ket: 1: Tidak dilakukakan 2 : Jarang dilakukan 3 : Kadang-kadang dilakukan 4 : Sering dilakukan 5 : Dilakukan secara konsisten tindakan persalinan dilakukan. 3. Berikan informasi faktual terkait diagnosis, perawatan dan prognosis selama persalinan. 4. Instruksikan pasien untuk menggunakan tehnik relaksasi. 5. Kaji untuk tanda verbal dan non velbal kecemasan. Tehnik Menenangkan 1. Pertahankan sikap yang tenang dan hati-hati. 2. Kurangi stimuli yang menciptakan perasaan takut maupun cemas. 3. Yakinkan keselamatan dan keamanan klien. 4. Meminta keluarga membantu klien tenang saat persalinan. 5. Instruksikan klien untuk menggunakan metode mengurangi kecemasan (misalnya, tehnik bernapas dalam, distraksi, mendengarkan musik-musik lembut). Pengajaran: Prosedur/Perawatan 1. Jelaskan pada pasien atau orang terdekat mengenai kapan dan dimana tindakan akan dilakukan. 2. Informasikan pada pasien atau orang terdekat mengenai lama tindakan akan berlangsung. 3. Beri gambaran yang jelas tentang proses 25 persalinan. 4. Jelaskan prosedur/penanganan persalinan. 4. Koping, ketidakefektifa n b.d kurang percaya diri dalam kemampuan mengatasi masalah (persalinan). 1. Koping Peningkatan Koping Setelah dilakukakan tindakan keperawatan selama 1x3 jam, masalah Koping, ketidakefektifan dapat teratasi, dengan Kriteria Hasil: 1. Gunakan pendekatan yang tenang dan memberikan jaminan. 2. Berikan suasana penerimaan. 3. Dukung sikap pasien terkait dengan harapan yang realistis sebagai upaya untuk mengatasi perasaan ketidakberdayaan. 4. Dukung pasien untuk mengidentifikasi kekuatan dan kemampuan diri. 5. Bantu pasien untuk mengidentifikasi sistem dukungan yang tersedia. 6. Instruksikan pasien untuk menggunakan tehnikrelaksasi sesuai dengan kebutuhan. 1. Menyatakan penerimaan terhadap situasi. Dapat dipertahankan pada 3. 2. Menggunakan sistim dukungan personal. Dapat ditingkatkan dari 1 menjadi 3. 3. Mendapatkan bantuan dari profesional kesehatan. 4. Melaporkan Peningkatan Sistem peningkatan Dukungan kenyamanan psikologis. 1. Identifikasi respon Dapat psikologis terhadap dipertahankan situasi dan ketersediaan pada 4. sistem dukungan. 2. Identifikasi tingkat Ket: dukungan keluarga. 1: Tidak menunjukkan 3. Monitor situasi keluarga 2 : Jarang menunjukkan saat ini dan jaringan 3 : Kadang-kadang dukungan yang ada. menunjukkan 4 : Sering menunjukkan Pengalihan 5 : Secara konsisten menunjukkan 1. Motivasi klien untuk memilih tehnik pengalihan yang 26 diinginkan (contohnya musik, atau latihan pernapasan dalam) 2. Sarankan klien untuk berlatih tehnik distraksi/ pengalihan sebelum waktu yang dibutuhkan. 3. Dorong partisipasi keluarga dan oranng terdekat lainnya untuk mengalihkan klien. 4. Gunakan satu tehnik pengalihan atau digabung dengan tehnik pengalihan lainnya, yang sesuai. Intervensi Kala II No. Dx 1. Nyeri b.d agen cedera biologis(meng ejan dan meregangnya perineum). Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) 1. Kontrol Nyeri Intervensi (NIC) Terapi Relaksasi Setelah dilakukakan tindakan keperawatan selama 1x3 jam, px dapat mengontrol nyeri, dengan Kriteria Hasil: 1. Melaporkan nyeri yang terkontrol 2 menjadi 4 2. Mengenali kapan nyeri terjadi 1 menjadi 5 3. Menggunakan tindakan pencegahan 1 menjadi 5 4. Menggunakan tindakan pengurangan (nyeri) tanpa analgesik 1 menjadi 4 27 1. Gambarkan rasionalisasi dan manfaat relaksasi serta jenis relaksasi yang tersedia (misalnya, musik, dan bernapas dengan ritme) 2. Ciptakan lingkungan yang tenang dan tanpa distraksi dengan lampu yang redup dan suhu lingkungan yang nyaman 3. Dorong px untuk mengambil posisi yang nyaman dengan pakaian longgar dan mata tertutup 4. Minta px rileks dan merasakan sensasi yang terjadi 5. Tunjukkan dan praktikkan tehnik relaksasi pada px Ket : Pengaturan Posisi 1: Tidak pernah menunjukkan 2: Jarang menunjukkan 3: Kadang-kadang menunjukkan 4: Sering menunjukkan 5: Secara konsisten menunjukkan 2. Risiko perdarahan b.d komplikasi kehamilan (pecah ketuban) 1. Kontrol risiko Setelah dilakukakan tindakan keperawatan selama 1x3 jam, px dapat mengerti, mencegah, mengeliminasi atau mengurangi risiko perdarahan, dengan Kriteria Hasil: 1. Memonitor faktor risiko perdarahan individu 2 menjadi 4 2. Mengontrol risiko perdarahan 2 menjadi 4 3. Menyesesuaikan strategi kontrol risiko 1 menjadi 4. Ket : 1. : Tidak pernah menunjukkan 28 1. Jangan menempatkan klien pada posisi yang bisa meningkatkan nyeri. 2. Tinggikan kepala tempat tidur. 3. Tempatkan barang secara berkala dalam jangkauan klien. 4. Tempatkan perubahan posisi tempat tidur dalam jangkauan klien. Pencegahan Perdarahan 1. Monitor dengan ketat risiko terjadinya perdarahan pada pasien. 2. Monitor tanda dan gejala perdarahan yang menetap. 3. Monitor TTV. 4. Pertahankan agar pasien tetap tirah baring jika terjadi perdarahan aktif. 5. Hindarkan pemberian injeksi (IV, IM, atau subkutan) dengan cara yang tepat. 2. : Jarang menunjukkan 3. : Kadang-kadang menunjukkan 4. : Sering menunjukkan 5. : Secara konsisten menunjukkan Intervensi Kala III No. Dx 1. Koping ketidakefekt ifan b.d kurang percaya diri dalam kemampuan mengatasi masalah (selesainya proses persalinan yang berbahaya b agi neonatus dan kurang pengalaman merasakan tahap ketiga persalinan). Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) 1. Koping Intervensi (NIC) Peningkatan sistem dukungan Setelah dilakukakan tindakan keperawatan selama 1x2 jam, masalah Koping, ketidakefektifan dapat teratasi, dengan Kriteria Hasil: 1. Identifikasi respon psikologis terhadap situasi dan ketersediaan sistem dukungan. Identifikasi tingkat dukungan keluarga. Monitor situasi keluarga saat ini dan jaringan dukungan yang ada. 2. 1. Menyatakan penerimaan 3. terhadap situasi. Dapat dipertahankan pada 3. 2. Menggunakan Pengalihan sistim dukungan personal. 1. Motivasi klien untuk Dapat ditingkatkan memilih tehnik dari 1 menjadi 3. pengalihan yang 3. Mendapatkan diinginkan (contohnya bantuan dari musik, atau latihan profesional pernapasan dalam) kesehatan. 2. Sarankan klien untuk 4. Melaporkan berlatih tehnik peningkatan distraksi/ pengalihan kenyamanan sebelum waktu yang psikologis. dibutuhkan. Dapat 3. Dorong partisipasi dipertahankan keluarga dan oranng pada 4. terdekat lainnya untuk mengalihkan klien. Ket : 4. Gunakan satu tehnik 1. : Tidak pernah pengalihan atau menunjukkan digabung dengan 29 2. : Jarang menunjukkan 3. : Kadang menunjukkan 4. : Sering menunjukkan 5. : Secara konsisten menunjukkan 2. Keletihan b.d kelesuan fisiologis (pengeluara n energi selama persalinan dan kelahiran). 1. Kelelahan : efek yang mengganggu Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x2 jam masalah teratasi dengan Kriteria hasil : 1. Penurunan energi 1 menjadi 4 2. Gangguan aktivitas fisik1 menjadi 4 3. Gangguan pada rutinitas 1 menjadi 4. Ket: 1 : Berat 2 : Cukup berat 3 : Sedang 4 : Ringan 5 : Tidak ada 2. Istirahat Setelah dilakukakan tindakan keperawatan selama 1x2 jam, pasien dapat memulihkan mental dan fisik setelah persalinan, dengan Kriteria Hasil: 1. Dapat beristirahat secara fisik 3 menjadi 5 30 tehnik pengalihan lainnya, yang sesuai. Manajemen Lingkungan 1. Ciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung. 2. Sediakan lingkungan yang aman dan bersih. 3. Sesuaikan suhu ruangan yang paling menyamankan ibu, jika memungkinkan. 4. Hindari paparan dan aliran udara yang tidak perlu, terlalu panas, maupun terlalu dingin. Terapi Relaksasi 1. Ciptakan lingkungan yang tenang dan tanpa distraksi dengan lampu yang redup dan suhu lingkungan yang nyaman, jika memungkinkan. 2. Dorong pasien untuk mengambil posisi yang nyaman dengan pakaian yang longgar dan mata tertutup. 3. Dapatkan perilaku yang menunjukkan terjadinya relaksasi, misalnya bernapas dalam, pernapasan perut, menguap atau bayangan yang menenangkan. 4. Dorong pengulangan praktik-praktik 2. Dapat Beristirahat secara mental 3 menjadi 5 3. Dapat Beristirahat secara emosional 2 menjadi 4 4. Energi pulih setelah istirahat 3 menjadi 5 5. Tampak segar setelah istirahat. 3. Risiko kekurangan velume cairan b.d kehilangan cairan aktif (penurunan intake cairan yang hilang selama proses persalinan). Ket : 1 : Sangat terganggu 2 : Banyak terganggu 3 : Cukup terganggu 4 : Sedikit terganggu 5 : Tidak terganggu 1. Keseimbangan cairan Setelah dilakukakan tindakan keperawatan selama 1x2 jam, masalah teratasi, dengan Kriteria Hasil: 1. Turgor kulit 1 menjadi 5 2. Keseimbangan intake dan output dalam 24 jam 1 menjadi 5 3. Kelembapan membran mukosa 1 menjadi 5 4. Tekanan darah 1 menjadi 5 5. Denyut nadi radial 1 menjadi 5 Ket : 1 : Sangat terganggu 2 : Banyak terganggu 3 : Cukup terganggu 4 : Sedikit terganggu 5 : Tidak terganggu 31 tertentu secara berkala. 5. Evaluasi dan dekomuntasikan respon terhadap terapi relaksasi. Monitor Cairan 1. Tentukan faktor-faktor risiko yang mungkin menyebabkan ketidakseimbangan cairan (misalnya, kehilangan albuumin, malnutrisi, poliuria, muntah). 2. Tentukan apakah pasien mengalami kehausan atau gejala perubahan cairan (misalnya, pusing, melamun, ketakutan, mual, berkedut). 3. Periksa isi ulang kapiler dengan memegang tangan pasien pada tinggi yang sama seperti jantung dan menekan jari tengah selama lima detik, lalu lepaskan tekanan dan hitung waktu sampai jarinya kembali merah (yaitu, harus kurang dari 2 detik). 4. Periksa turgor kulit dengan memegang jaringan sekitar tulang seperti tangan atau tulang kering, mencubit kulit dengan lembut, pegang dengan kedua tangan dan lepaskan (dimana, kulit akan turun kembali dengan cepat jika pasien terhidrasi dengan baik). 5. Monitor TTV. 6. Monitor asupan dan pengeluaran. Manajemen Cairan 1. Jaga intake/asupan yang akurat dan catat output pasien. 2. Monitor status hidrasi (misalnya, membran mukosa lembab, denyut nadi adekuat, dan tekanan darah ortostatik). 3. Monitor TTV pasien. 4. Berikan terapi IV seperti yang ditentukan. 5. Berikan cairan dengan tepat. 6. Dukung pasien dan keluarga untuk membantu dalam pemberian makanan yang baik. Pengurangan Perdarahan: Uterus Postpartum 1. Kaji riwayat obstetrik dan catatan persalinan terkait dengan faktor risiko perdarahan 32 postpartum. 2. Letakkan es di fundus. 3. Tingkatkan frekuensi pijatan fundus. 4. Evaluasi adanya distensi kandung kemih. 5. Dukung pengosongan kandung kemih atau pesang kateter pada kandung kemih yang menegang. 6. Mintalah perawat tambahan untuk membantu pada saat diperlukan prosedur gawat darurat dan untuk merawat bayi yang baru lahir. 7. Tinggikan tungkai. 8. Pasang infus IV. 9. Monitor TTV maternatal setiap 15 menit atau lebih sering. 10. Diskusikan kondisi yang ada dengan tim perawat untuk penyediaan layanan dalam mengawasi status ibu. Intervensi Kala IV No. Dx 1. Risiko perdarahan b.d komplikasi pascapartum(At onia uterus setelah melahirkan). Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) 1. Kontrol risiko Setelah dilakukakan tindakan keperawatan selama 1x3 jam, px dapat mengerti, mencegah, mengeliminasi atau 33 Intervensi (NIC) Pencegahan Perdarahan 1. Monitor dengan ketat risiko terjadinya perdarahan pada pasien. 2. Monitor tanda dan gejala perdarahan yang menetap. mengurangi risiko perdarahan, dengan Kriteria Hasil: 3. Monitor TTV. 4. Pertahankan agar pasien tetap tirah baring jika terjadi perdarahan aktif. 5. Hindarkan pemberian injeksi (IV, IM, atau subkutan) dengan cara yang tepat. 1. Memonitor faktor risiko perdarahan individu 2 menjadi 4 2. Mengontrol risiko perdarahan Pengurangan Perdarahan: 2 menjadi 4 Uterus Postpartum 3. Menyesesuaikan strategi kontrol 1. Kaji riwayat obstetrik dan risiko 1 menjadi catatan persalinan terkait 4. dengan faktor risiko perdarahan postpartum. Ket : 2. Letakkan es di fundus. 3. Tingkatkan frekuensi 1. : Tidak pernah pijatan fundus. menunjukkan 4. Evaluasi adanya distensi 2. : Jarang kandung kemih. menunjukkan 5. Dukung pengosongan 3. : Kadang-kadang kandung kemih atau menunjukkan pasang kateter pada 4. : Sering kandung kemih yang menunjukkan menegang. 5. : Secara konsisten 6. Mintalah perawat menunjukkan tambahan untuk membantu pada saat diperlukan prosedur gawat darurat dan untuk merawat bayi yang baru lahir. 7. Tinggikan tungkai. 8. Pasang infus IV. 9. Monitor TTV maternatal setiap 15 menit atau lebih sering. 10. Diskusikan kondisi yang ada dengan tim perawat untuk penyediaan layanan dalam mengawasi status ibu. 2. Nyeri b.d agen cedera biologis (terputusnya kontuinitas 1. Kontrol Nyeri Setelah tindakan dilakukakan keperawatan 34 Manajemen Nyeri 1. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang jaringan akibat proses persalinan). selama 1x2 jam, px dapat mengontrol nyeri, dengan Kriteria Hasil: 1. Kontrol Nyeri 2. Setelah dilakukakan tindakan keperawatan selama 1x4 jam, px dapat mengontrol nyeri, dengan Kriteria Hasil: 1. 3. meliputi lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, atau beratnya nyeri dan faktor pencetus. Observasi adanya petunjuk nonverbal mengenai ketidaknyamanan. Gali bersama pasien faktor-faktor yang dapat menurunkan atau memperberat nyeri. Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa nyeri akan dirasakan, dan antisipasi dari ketidaknyamanan akibat prosedur. Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan (misalnya, suhu ruangan, pencahayaan suara bising). Melapor 4. kan nyeri yang terkontrol 2 menjadi 4 2. Mengenali kapan nyeri terjadi 1 menjadi 5 5. 3. Menggunakan tindakan pencegahan 1 menjadi 5 4. Menggunakan tindakan pengurangan (nyeri) tanpa analgesik 1 Manajemen Lingkungan menjadi 4 1. Ciptakan lingkungan Ket : yang tenang dan 1: Tidak pernah mendukung. menunjukkan 2. Sediakan lingkungan 2: Jarang yang aman dan bersih. menunjukkan 3. Pertimbangkan sumber3: Kadang sumber menunjukkan ketidaknyamanan, 4: Sering seperti balutan yang menunjukkan lembab, posisi selang, 5: Secara konsisten balutan yang tertekan, menunjukkan seprei kusut, maupun lingkungan yang mengganggu. 4. Sesuaikan suhu ruangan yang paling 35 menyamankan ibu, jika memungkinkan. 5. Hindari paparan dan aliran udara yang tidak perlu, terlalu panas, maupun terlalu dingin. 6. Posisikan pasien untuk memfasilitasi kenyamanan (misalnya, gunakan gunakan prinsip-prinsip keselarasan tubuh, sokong dengan bantal, imobilisasi bagian tubuh yang nyeri) Pemberian Analgesik 1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan keparahan nyeri sebelum mengobati pasien. 2. Cek perintah pengobatan meliputi, obat, dosis, dan frekuensi obat analgesik yang diresepkan. 3. Cek adanya riwayat alergi obat. 4. Berikan kebutuhan kenyamanan dan aktivitas lain yang dapat membantu relaksasi untuk memfasilitasi penurunan nyeri. 5. Dokumentasikan respon terhadap analgesik dan adanya efek samping. 3. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif (setelah persalinan) 1. Keseimbangan cairan Setelah dilakukakan tindakan keperawatan selama 1x2 jam, masalah teratasi, dengan Kriteria Hasil: 36 Manajemen Cairan 1. Jaga intake/asupan yang akurat dan catat output pasien. 2. Monitor status hidrasi (misalnya, membran mukosa lembab, denyut nadi adekuat, dan tekanan 1. Tekanan darah 1 menjadi 5 2. Kelembapan membran mukosa 2 menjadi 5 3. Turgor kulit 1 menjadi 5 Ket : 1 : Sangat terganggu 2 : Banyak terganggu 3 : Cukup terganggu 4 : Sedikit terganggu 5 : Tidak terganggu 4. Ketidakefektifan 1. pemberian ASI darah ortostatik). 3. Monitor TTV pasien. 4. Berikan terapi IV seperti yang ditentukan. 5. Berikan cairan dengan tepat. 6. Dukung pasien dan keluarga untuk membantu dalam pemberian makanan yang baik. Pengurangan Perdarahan: Uterus Postpartum Kaji riwayat obstetrik dan catatan persalinan terkait dengan faktor risiko perdarahan postpartum. 2. Letakkan es di fundus. 3. Tingkatkan frekuensi pijatan fundus. 4. Evaluasi adanya distensi kandung kemih. 5. Dukung pengosongan kandung kemih atau pesang kateter pada kandung kemih yang menegang. 6. Mintalah perawat tambahan untuk membantu pada saat diperlukan prosedur gawat darurat dan untuk merawat bayi yang baru lahir. 7. Tinggikan tungkai. 8. Pasang infus IV. 9. Monitor TTV maternatal setiap 15 menit atau lebih sering. 10. Diskusikan kondisi yang ada dengan tim perawat untuk penyediaan layanan dalam mengawasi status ibu. Pengetahuan Pendidikan Orangtua : Bayi menyusui 37 1. b.d kurangnya pengetahuan orang tua tentang tehnik menyusui Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama1x2 jam,pasien dapat meningkatkan pemahaman tentang menyusui yang disampaikan perawat, dengan Kriteria hasil: 1. Tentukan pengetahuan, kesiapan dan kemampuan orangtua dalam belajar mengenai cara menyusui bayi. 2. Ajarkan orangtua cara menyiapkan susu formula dan pemilihannya. 3. Berikan informasi mengenai dot bayi pada orangtua. 4. Berikan informasi mengenai pemberian makanan padat dalam diet selama tahun pertama. 5. Ajarkan orangtua keterampilan dalam merawat bayi baru lahir. 1. Ibu dapat mempraktikkan tehnik yang tepat untuk menempelkan bayi ke payudara. Dapat ditingkatkan dari 1 (tidak ada pengetahuan) menjadi 4 (pengetahuan Pengajaran : Nutrisi Bayi 0-3 banyak). Bulan 2. Menunjukkan posisi bayi yang 1. Berikan orangtua materi tepat saat tertulis yang sesuai menyusui. dengan kebutuhan Dapat ditingkatkan pengetahuan yang telah dari 1 (tidak ada diidentifikasi. pengetahuan) 2. Instruksikan orangtua menjadi 4 untuk memberi makanan (pengetahuan pada bayi hanya ASI banyak). untuk tahun pertama 3. Menunjukkan (tidak ada makanan tehnik yang tepat padat sebelum 4 bulan). untuk memutuskan 3. Instruksikan orangtua hisapan bayi. untuk menghindari Dapat ditingkatkan menempatkan sereal dari 1 (tidak ada dalam botol (hanya susu pengetahuan) formula / ASI). menjadi 4 4. Instruksikan orangtua (pengetahuan untuk menghindari banyak). penggunaan madu atau sirup jagung. Ket : 5. Instruksikan orangtua 1 : Tidak ada untuk membuang sisa pengetahuan susu formula dan 2 : Pengetahuan membersihkan botol 38 terbatas 3 : Pengetahuan sedang 4 : Pengetahuan banyak 5 : Pengetahuan sangat banyak setiap memberikan bayi. selesai kepada 3.4 Implimentasi Sesuai dengan rencana tindakan 3.5 Evaluasi Sesuai dengan respon masing-masing klien terhadap intervensi keperawatan yang diberikan dihubungkan dengan tujuan intervensi dankriteria evaluasi. 39 BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan Persalinan adalah proses pengeluaran (kelahiran) hasil konsepsi yang dapat hidup di luar uterus melalui vagina ke dunia luar. Proses tersebut dapat dikatakan normal atau spontan jika bayi yang dilahirkan berada pada posisi letak belakang kepala dan berlangsung tanpa bantuan alat-alat atau pertolongan, serta tidak melukai ibu dan bayi. Pada umumnya proses ini berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam. (Jenny J. S. Sondakh, M. Clin. Mid. 2013). Tahapan persalinan terdiri atas kala I (kala pembukaan), kala II (kala pengeluaran janin), kala III (pelepasan plasenta), dan kala IV (kala pengawasan/ observasi/ pemulihan). 4.2 Saran 1. Bagi penyusun, agar lebih giat lagi dalam mencari referensi-referensi dari sumber rujukan, karena dengan semakin banyak sumber yang di dapat semakin baik makalah yang dapat disusun. 2. Bagi Institusi, agar dapat menyediakan sumber-sumber bacaan baru, sehingga dapat mendukung proses belajar mengajar. 3. Bagi pembaca, agar dapat memberikan masukan yang bersifat membangun demi kesempurnaan penyusunan makalah ini. 40