14 BAB II KAJIAN TEORITIS A. Hakekat Belajar 1

advertisement
14
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. Hakekat Belajar
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan aktivitas kearah perubahan tingkah laku melalui interaksi
aktif individu terhadap lingkungan (pengalaman). Definisi belajar menurut para
ahli antara lain. Menurut Gagne (1984) belajar merupakan kegiatan yang
kompleks, yang kemudian didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu
organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman. Belajar juga diartikan
sebagai seperangkat proses kognitif yang merubah sifat stimulasi lingkungan,
melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru. Hasil belajar tersebut
berupa kapabilitas, dimana setelah belajar individu akan memiliki keterampilan,
pengetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah berasal dari :
a. Stimulasi yang berasal dari lingkungan.
b. Proses kognitif yang dilakukan oleh pebelajar atau peserta didik.
Belajar terdiri dari 3 komponen penting yaitu, kondisi eksternal, kondisi
internal, dan kondisi belajar. Dari sini dapat kita ketahui bahwa:
a. Belajar merupakan proses interaksi antara “keadaan inetrnal dan proses kognitif
siswa” dengan “stimulus dari lingkungan”.
b. Proses kognitif tersebut menghasilkan suatu hasil belajar. Hasil belajar tersebut
terdiri dari informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap,
dan sikap kognitif. Sedangkan menurut Gagne, hasil belajar terdiri dari:
14
14
15
c. Informasi verbal, yaitu kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam
bentuk bahasa, baik lesan maupun tertulis. Pemilikan informasi verbal
memungkinkan individu berperan dalam kehidupan.
d. Keterampilan intelektual, yaitu kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan
dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan lambang.
Keterampilan intelek terdiri dari diskriminasi jamak, konsep konkret dan
terdefinisi, dan prinsip.
e. Strategi kognitif, yaitu kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktifitas
kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah
dalam memecahkan masalah.
f. Keterampilan motorik, yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak
jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak
jasmani.
g. Sikap, yaitu kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian
terhadap objek tersebut.
Fase-fase Belajar, terdiri dari :
a. Persiapan untuk belajar, pada tahap ini dilakukan tindakan mengarahkan
perhatian, pengharapan, dan mendapatkan kembali informasi.
b. Perolehan dan unjuk perbuatan, tahap ini digunakan untuk persepsi selektif,
sandi semantik, pembangkitan kembali dan respons, serta penguatan.
c. Alih belajar, tahap ini meliputi pengisyaratan untuk membangkitkan, dan
pemberlakuan secara umum.
16
Menurut Skinner, belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka
responsnya menjadi lebih baik. Dalam belajar ditemukan adanya hal-hal berikut:
a.
Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons belajar.
b.
Respons dari pelajar.
c.
Konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut. Perkuat terjadi pada
stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut, misalnya adanya sanksi
tertentu bagi siswa yang melanggar.
Skinner juga memiliki sebuah pandangan yang disebut dengan teori Skinner
yang dapat digunakan oleh guru untuk menyusun program pembelajaran, dengan
memperhatikan 2 hal penting, yaitu (a). Pemilihan stimulus yang deskriptif, (b).
Penggunaan penguatan. Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan teori
kondisioning operan sebagai berikut:
a.
Mempelajari keadaan kelas. Guru mencari dan menemukan peilaku siswa
yang positif dan negatif. Perilaku negatif akan dihilangkan dan perilaku
positif akan diperkuat.
b.
Membuat daftar penguat positif. Guru mencari perilaku yang lebih disukai
oleh siswa, perilaku yang kena hukuman, dan kegiatan luar sekolah yang
dapat dijadikan penguat.
c.
Memilih dan menentukan urutan tingkah laku yang dipelajari serta jenis
penguatannya.
d.
Membuat program pembelajaran. Program pembelajran ini berisi urutan
perilaku yang dikehendaki, penguatan, waktu mempelajari perilaku, guru
mencatat perilaku dan penguat yang berhasil dan tidak berhasil.
17
B.
Pengertian Model Pembelajaraan
1.
Model Pembelajaraan
Model pembelajaran adalah sebuah tatanan dalam proses belajar mengajar
dengan tujuan mencapai hasil belajar yang baik. Menurut bapak Sukanto dkk
(dalam Trianto, 2007:5), model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang
melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman
belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Jenis model pembelajaran diantara
nya, model pembelajaran kontektual, model pembelajaran kooperatif, model
pembelajaran nernasis masalah, model pembelajaran quantum, dan model
pembelajaran tematik. Masing-masing mempunyai prinsip sendiri, yang jelas
model pembelajaran di harapkan mampu menghasilkan prestasi belajar yang
unggul dan berdaya saing.
Dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia, model merupakan pola atau acuan.
Menurut Mills (Sukrijono, 2010:45) model adalah bentuk retresentrasi akurat
sebagai proses actual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang
mencoba bertindak berdasarkan model itu. Dari beberapa pengertian diatas maka
dapat disimpulkan bahwa model adalah suatu acuan yang digunakan dalam suatu
proses tertentu baik secara individu maupun kelompok.
C. Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Masalah belajar adalah masalah bagi setiap manusia, dengan belajar
manusia memperoleh keterampilan, kemampuan sehingga terbentuklah sikap dan
18
bertambahlah ilmu pengetahuan. Jadi hasil belajar itu adalah suatu hasil nyata
yang dicapai oleh siswa dalam usaha menguasai kecakapan jasmani dan rohani di
sekolah yang diwujudkan dalam bentuk raport pada setiap semester. Untuk
mengetahui perkembangan sampai di mana hasil yang telah dicapai oleh
seseorang dalam belajar, maka harus dilakukan evaluasi. Untuk menentukan
kemajuan yang dicapai maka harus ada kriteria (patokan) yang mengacu pada
tujuan yang telah ditentukan sehingga dapat diketahui seberapa besar pengaruh
strategi belajar mengajar terhadap keberhasilan belajar siswa. Hasil belajar siswa
menurut W.Winkel (dalam buku Psikologi Pengajaran 1989:82) adalah
keberhasilan yang dicapai oleh siswa, yakni prestasi belajar siswa di sekolah yang
mewujudkan dalam bentuk angka.
Menurut Winarno Surakhmad (dalam buku, Interaksi Belajar Mengajar,
(Bandung: Jemmars, 1980:25) hasil belajar siswa bagi kebanyakan orang berarti
ulangan, ujian atau tes. Maksud ulangan tersebut ialah untuk memperoleh suatu
indek dalam menentukan keberhasilan siswa. Dari definisi di atas, maka dapat
diambil kesimpulan bahwa hasil belajar adalah prestasi belajar yang dicapai siswa
dalam proses kegiatan belajar mengajar dengan membawa suatu perubahan dan
pembentukan tingkah laku seseorang.
Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil,
setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filsafatnya.
Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum
yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa suatu proses
belajar mengajar tentang suatu bahan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila
19
tujuan pembelajaran khususnya dapat dicapai. Untuk mengetahui tercapai
tidaknya tujuan pembelajaran khusus, guru perlu mengadakan tes formatif pada
setiap menyajikan suatu bahasan kepada siswa. Penilaian formatif ini untuk
mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai tujuan pembelajaran khusus yang
ingin dicapai. Fungsi penelitian ini adalah untuk memberikan umpan balik pada
guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar dan melaksanakan
program remedial bagi siswa yang belum berhasil. Karena itulah, suatu proses
belajar mengajar dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan
pembelajaran khusus dari bahan tersebut.
2. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar dapat dipengaruhi oleh berbagai hal. Secara umum Hasil
belajar dipengaruhi 3 hal atau faktor Faktor-faktor tersebut akan saya uraikan
dibawah ini, yaitu :
a.
Faktor internal (faktor dalam diri)
Faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar yang pertama adalah Aspek
fisiologis. Untuk memperoleh hasil Hasil belajar yang baik, kebugaran tubuh dan
kondisi panca indera perlu dijaga dengan cara: makanan/minuman bergizi,
istirahat, olah raga. Tentunya banyak kasus anak yang prestasinya turun karena
mereka tidak sehat secara fisik.
Faktor internal yang lain adalah aspek psikologis. Aspek psikologis ini
meliputi : inteligensi, sikap, bakat, minat, motivasi dan kepribadian. Faktor
psikologis ini juga merupakan faktor kuat dari hasil belajar, intelegensi memang
bisa dikembangkan, tapi sikap, minat, motivasi dan kepribadian sangat
20
dipengaruhi oleh faktor psikologi diri kita sendiri. Oleh karena itu, berjuanglah
untuk terus mendapat suplai motivasi dari lingkungan sekitar, kuatkan tekad dan
mantapkan sikap demi masa depan yang lebih cerah. Berprestasilah.
b. Faktor eksternal (faktor diluar diri)
Selain faktor internal, hasil belajar juga dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Faktor eksternal meliputi beberapa hal, yaitu:
1) Lingkungan sosial, meliputi : teman, guru, keluarga dan masyarakat.
2) Lingkungan non-sosial, meliputi : kondisi rumah, sekolah, peralatan, alam
(cuaca). Non-sosial seperti hal nya kondiri rumah (secara fisik), apakah rapi,
bersih, aman, terkendali dari gangguan yang menurunkan hasil belajar. Sekolah
juga mempengaruhi hasil belajar, dari pengalaman saya, ketika anak pintar
masuk sekolah biasa-biasa saja, prestasi mereka bisa mengungguli temanteman yang lainnya. Tapi, bila disandingkan dengan prestasi temannya yang
memiliki kualitas yang sama saat lulus, dan dia masuk sekolah favorit dan
berkualitas, prestasinya biasa saja. Artinya lingkungan sekolah berpengaruh.
cuala alam, berpengaruh terhadap hasil belajar.
D. Model Pembelajaran cooperative type STAD
1.
Pengertian Model Pembelajaran cooperative type STAD
Pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD)
yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John
Hopkin (dalam Slavin, 1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling
sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh
21
guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif. Student Teams
Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif
yang paling sederhana.
Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang
merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru
menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan
bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh
siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh
saling membantu.
Model
Pembelajaran
Kooperatif
tipe
STAD
merupakan
pendekatan
Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara
siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi
pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Guru yang menggunakan STAD
mengajukan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu mengunakan
presentasi Verbal atau teks.
2.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD
Menurut Maidiyah (1998: 7-13) langkah-langkah pembelajaran kooperatif
tipe STAD adalah sebagai berikut:
1) Persiapan STAD
 Materi
Materi pembelajaran kooperatif tipe STAD dirancang sedemikian rupa
untuk pembelajaran secara kelompok. Sebelum menyajikan materi pembelajaran,
22
dibuat lembar kegiatan (lembar diskusi) yang akan dipelajari kelompok kooperatif
dan lembar jawaban dari lembar kegiatan tersebut.
 Menetapkan siswa dalam kelompok
Kelompok siswa merupakan bentuk kelompok yang heterogen. Setiap
kelompok beranggotakan 4-5 siswa yang terdiri dari siswa yang berkemampuan
tinggi, sedang dan rendah. Bila memungkinkan harus diperhitungkan juga latar
belakang, ras dan sukunya. Guru tidak boleh membiarkan siswa memilih
kelompoknya sendiri karena akan cenderung memilih teman yang disenangi saja.
Sebagai pedoman dalam menentukan kelompok dapat diikuti petunjuk berikut
(Maidiyah, 1998:7-8):

Merangking siswa
Merangking siswa berdasarkan hasil belajar akademiknya di dalam kelas.
Gunakan informasi apa saja yang dapat digunakan untuk melakukan rangking
tersebut. Salah satu informasi yang baik adalah skor tes.

Menentukan jumlah kelompok
Setiap kelompok sebaiknya beranggotakan 4-5 siswa. Untuk menentukan
berapa banyak kelompok yang dibentuk, bagilah banyaknya siswa dengan empat.
Jika hasil baginya tidak bulat, misalnya ada 42 siswa, berarti ada
delapan
kelompok yang beranggotakan empat siswa dan dua kelompok yang
beranggotakan lima siswa. Dengan demikian ada sepuluh kelompok yang
dibentuk.
akan
23

Membagi siswa dalam kelompok
Dalam melakukan hal ini, seimbangkanlah kelompok- kelompok yang
dibentuk yang terdiri dari siswa dengan tingkat hasil belajar rendah, sedang
hingga hasil belajarnya tinggi sesuai dengan rangking. Dengan demikian tingkat
hasil belajar rata- rata semua kelompok dalam kelas kurang lebih sama.

Mengisi lembar rangkuman kelompok
Isikan nama-nama siswa dalam setiap kelompok pada lembar rangkuman
kelompok (format perhitungan hasil kelompok untuk pembelajaran kooperatif tipe
STAD).

Menentukan Skor Awal
Skor awal siswa dapat diambil melalui Pre Test yang dilakukan guru sebelum
pembelajaran kooperatif tipe STAD dimulai atau dari skor tes paling akhir yang
dimiliki oleh siswa. Selain itu, skor awal dapat diambil dari nilai rapor siswa pada
semester sebelumnya.

Kerja sama kelompok
Sebelum memulai pembelajaran kooperatif, sebaiknya diawali dengan
latihan-latihan kerja sama kelompok. Hal ini merupakan kesempatan bagi setiap
kelompok untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan dan saling mengenal
antar anggota kelompok.

Jadwal Aktivitas
STAD terdiri atas lima kegiatan pengajaran yang teratur, yaitu penyampaian
materi pelajaran oleh guru, kerja kelompok, tes penghargaan kelompok dan
laporan berkala kelas.
24
3.
Tujuan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah prestasi belajar akademik
siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya,
serta pengembangan keterampilan social. Menurut Nur Citra Utomo dan C. Novi
Primiani (2009:9),”didesain untuk memotivasi siswa-siswa supaya kembali
bersemangat dan saling menolong untuk mengembangkan keterampilan yang
diajarkan oleh guru”.
1) Fase-fase Student Teams Achievement Division (STAD)
Sintakmatik menurut ibrahim (dalam Trianto,2007:54), terdapat enam
langkah utama atau tahapan dalam pembelajaran dengan menggunakan model
cooperative tipe STAD, yaitu disajikan pada tabel:
Fase – Fase
Fase1:
Perilaku Guru
Menyampaikan Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran
tujuan dan memotivasi yang ingin dicapai pada materi tersebut dan
siswa
memotivasi siswa untuk belajar.
Fase2 : Menyajikan atau Guru menyampaikan informasi kepada siswa
menyampaikan informasi
dengan cara demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase 3 : Mengorganisir Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya
siswa
ke
kelompokkelompokbelajar
dalam membentuk kelompok belajar dan membantu setiap
kelompok agar melakukan transis isecara efisien.
25
Fase 4 : Membimbing Guru membimbing kelompok-kelompok belajar
kelompok
belajar
dan pada saat siswa mengerjakan tugas.
bekerja
Fase 5 : Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi
yang dipelajari atau masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya.
4.
Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran kooperatif tipe STAD
Menurut Slavin (1995:17) Model Pembelajaran kooperatif tipe STAD
memiliki kelebihan dan kekurangan.
1.
Kelebihan pembelajaran kooperatif tipe STAD:
a. Murid aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama.
b. Murid bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi
norma-norma kelompok.
c. Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan
keberhasilan kelompok.
d. Interaksi antar murid seiring dengan peningkatan kemampuan mereka
dalam berpendapat.
2.
Kekurangan pembelajaran kooperatif tipe STAD:
a. Berdasarkan karakteristik STAD jika dibandingkan dengan pembelajaran
konvensional (yang hanya penyajian materi dari guru), pembelajaran
menggunakan model ini membutuhkan waktu yang relative lama, dengan
26
memperhatikan tiga langkah STAD yang menguras waktu seperti
penyajian materi dari guru, kerja kelompok dan tes individual/kuis.
b. Model ini memerlukan kemampuan khusus dari guru. Guru dituntut
sebagai fasilitator, mediator, motivator dan evaluator (Isjoni,2010:62).
Dengan asumsi tidak semua guru mampu menjadi fasilitator, mediator,
motivator dan evaluator dengan baik. Solusi yang dapat dijalankan adalah
meningkatkan mutu guru oleh pemerintahan seperti mengadakan kegiatankegiatan akademik yang bersifat wajib dan tidak membebankan biaya
kepada guru serta melakukan pengawasan rutin secara insindental.
Disamping itu, guru sendiri perlu lebih aktif lagi dalam mengembangkan
kemampuannya tentang pembelajaran.
E. Analisis dan Pengembangan Materi Pelajaran yang Diteliti
Pengembangan materi pelajaran yang akan dibahas pada materi sistem gerak
meliputi keluasan dan kedalaman materi yang diteliti, karakteristik materi ajar,
bahan dan media pembelajaran, strategi pembelajaran dan evaluasi pembelajaran
1.
Keluasan dan Kedalaman Materi
a)
Peta Konsep Materi Sistem Gerak
Sistem gerak yaitu suatu sistem yang dapat menghasilkan gerakan yang
terdiri dari tulang dan otot serta di bantu oleh persendian tulang sebgai alat gerak
pasif karena tidak dapat bergerak sndiri dan otot sbagai alat gerak aktif karena
dapat berkontraksi dan berelaksasi. Penghubung antar tulang terdapat persendian
sehingga memudahkan untuk melakukan pergerakan.
27
Bagan 2.1 Peta konsep sistem gerak
Berdasarkan peta konsep di atas materi sistem gerak memiliki komponenkomponen didalamnya, yang mana antara setiap komponen tersebut saling
berkaitan satu dengan yang lainnya. Sistem gerak memiliki bahasan atau sub
konsep diantaranya pengertian sistem gerak, ciri-ciri sistem gerak, dan jenis-jenis
tulang, otot, dan sendi.
Manusia memiliki kemampuan untuk bergerak dan melakukan aktivitas,
seperti berjalan, berlari, menari dan lain-lain. Bagaimana manusia dapat
melalakukan gerakan? Kemampuan melakukan gerakan tubuh pada manusia
didukung adanya sistem gerak, yang merupakan hasil kerja sama yang serasi antar
organ sistem gerak, seperti rangka (tulang), persendian, dan otot.
Fungsi rangka (tulang) adalah sebagai alat gerak pasif, yang hanya dapat
bergerak bila dibantu oleh otot. Berdasarkan bentuknya tulang dibedakan menjadi
28
tulang pipa, tulang pipih, tulang pendek, sedangkan berdasarkan pada zat
penyusun dan sturkturnya tulang dibedakan menjadi tulang rawan dan tulang
keras. Fungsi persendian adalah menghubungkan antara tulang yang satu dengan
tulang yang lainnya. Fungsi otot adalah sebagai alat gerak aktif, yang dapat
menggerakkan organ lain sehingga terjadi suatu gerakan. Untuk lebih jelasnya
dalam membahas system gerak ini, akan diuraikan satu persatu, sebagai berikut
yaitu rangka (tulang), sendi dan otot.
a. Rangka (Tulang)
Rangka atau tulang pada tubuh manusia termasuk salah satu alat gerak pasif
karena tulang baru akan bergerak bila digerakkan oleh otot. Sedangkan unsur
pembentuk tulang pada manusia adalah unsur kalsium dalam bentuk garam yang
direkatkan oleh kalogen. Dalam perkembangannya bentuk tulang dan rangka
tubuh yang disusun nya dapat mengalami kelainan yang disebabkan oleh
gangguan yang dibawa sejak lahir, infeksi penyakit, faktor gizi atau posisi tubuh
yang salah. Hubungan antar tulang yang satu dengan tulang yang lainnya,
dihubungkan oleh persendian (sendi). Pada manusia terdapat lima bentuk
persendian, yaitu:
1) Sendi engsel yaitu sendi yang dapat digerakkan satu arah.
2) Sendi peluru yaitu sendi yang memungkinkan gerakkan ke semua arah.
3) Sendi pelana yaitu sendi yang bergerak ke dua arah (samping dan ke depan).
4) Sendi geser yaitu persendian tempat ujung tulang yang satu menggeser ujung
tulang yang lain.
5) Sendi putar persendian tempat tulang yang satu berputar mengelilingi tulang
lainnya yang bertindak sebagai poros.
29
1. Macam-Macam Organ Penyusun Sistem Gerak
Gambar 2.1 Torso kerangka manusia
Fungsi Rangka Pada Manusia
Kerangka pada tubuh manusia memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu :
a. sebagai penegak tubuh.
b. sebagai pembentuk tubuh.
c. sebagai tempat melekatnya otot (otot rangka).
d. sebagai pelindung bagian tubuh yang penting.
e. sebagai tempat pembentukkan sel darah merah.
f. sebagai alat gerak pasif.
Kerangka manusia dapat dikelompokan menjadi 3 yaitu :
a. Bagian Tengkorak.
b. Bagian Badan.
c. Bagian Anggota Gerak.
1. Bagian Tengkorak (Kepala).
30
Tersusun dari tulang pipih yang berfungsi sebagai tempat pembuatan sel-sel
darah merah dan sel-sel darah putih. Terdiri dari : satu tulang dahi; dua tulang
tapis; dua tulang hidung; dua tulang ubun-ubun; dua tulang pipi; dua tulang langitlang; dua tulang baji; dua tulang pelipis; dua tulang air mata; dua tulang rahang
atas; satu tulang lidah; satu tulang tengkorak; dua tulang rahang bawah.
Gambar 2.2 Bagian Tengkorak Kepala
2.
Bagian Badan
Bagian badan terbagi menjadi 5 kelompok, yaitu :
a) Ruas-ruas tulang belakang ( 33 ruas ).
b) Tulang rusuk ( 12 pasang ) terdiri dari : tujuh pasang tulang rusuk sejati;
tiga pasang tulang rusuk palsu; dua pasang tulang rusuk melayang.
c) Tulang dada, terdiri dari :tulang hulu, tulang badan, tulang pedangpedangan.
31
d) Gelang bahu terdiri dari : dua tulang selangka (kiri dan kanan); dua tulang
belikat (kiri dan kanan).
e) Gelang panggul terdiri dari : dua tulang duduk (kiri dan kanan); dua tulang
usus (kiri dan kanan); dua tulang kemaluan (kiri dan kanan).
Gambar 2.3 Tulang Bahu dan Gelang Panggul
3. Bagian Anggota Gerak
Anggota gerak dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu : a). anggota gerak atas
(tangan kiri dan kanan) terdiri dari : dua tulang pengumpil; dua tulang lengan atas;
dua tulang hasta; enam belas tulang pergelangan tangan; sepuluh tulang telapak
tangan; dua puluh delapan ruas tulang jari tangan.
Gambar 2.4 Anggota Gerak Atas
32
b). anggota gerak bawah (kaki kiri dan kanan) terdiri dari : dua tulang paha; dua
tulang tempurung lutut; dua tulang kering; dua tulang betis; empat belas tulang
pergelangan kaki; sepuluh tulang telapak kaki; dua puluh delapan ruas tulang jari
kaki.
Gambar 2.5 Anggota Gerak Bawah
4. Jenis dan Fungsi Tulang
Gambar 2.6 Tulang Rawan pada Tulang Rusuk
33
Menurut jenisnya tulang pada manusia dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
a. Tulang Rawan
Tulang rawan tersusun dari sel-sel tulang rawan, ruang antar sel tulang
rawan banyak mengandung zat perekat dan sedikit zat kapur, bersifat lentur.
Tulang rawan banyak terdapat pada tulang anak kecil dan pada orang dewasa
banyak terdapat pada ujung tulang rusuk, laring, trakea, bronkus, hidung, telinga,
antara ruas-ruas tulang belakang. Mengapa bila anak-anak mengalami patah
tulang, cepat menyambung kembali ? Hal ini dikarenakan pada anak-anak masih
banyak memiliki tulang rawan, sehingga bila patah mudah menyambung kembali.
Proses perubahan tulang rawan menjadi tulang keras, disebut osifikasi.
b. Tulang Keras
Tulang keras dibentuk oleh sel pembentuk tulang (osteoblas) ruang antar sel
tulang keras banyak mengandung zat kapur, sedikit zat perekat, bersifat keras.Zat
kapur tersebut dalam bentuk kalsium karbonat (CaCO3) dan kalsium fosfat (Ca
(PO4)2) yang diperoleh atau dibawa oleh darah. Dalam tulang keras terdapat
saluran havers yang didalamnya terdapat pembuluh darah yang berfungsi
mengatur kehidupan sel tulang. Tulang keras berfungsi untuk menyusun sistem
rangka. Contoh tulang keras yaitu; tulang paha, tulang lengan, tulang betis, tulang
selangkangan.
c. Bentuk Tulang
Menurut bentuknya tulang terbagi 4 macam, yaitu :
34
1). tulang pipa bentuknya bulat, panjang dan tengahnya berongga. Contohnya
:tulang paha, tulang lengan atas, tulang jari tangan. Berfungsi sebagai tempat
pembentukan sel darah merah.
2). Tulang pipih bentuknya pipih (gepeng) contohnya tulang belikat, tulang dada,
tulang rusuk berfungsi sebagai tempat pembentukan sel darah merah dan sel darah
putih.
3). Tulang pendek bentuknya pendek dan bulat contohnya ruas-ruas tulang
belakang, tulang pergelangan tangan, tulang pergelangan kaki berfungsi sebagai
tempat pembentukan sel darah merah dan sel darah putih.
4). Persendian pada kerangka tubuh manusia terdapat kurang lebih 200 tulang
yang saling berhubungan. Hubungan antar tulang disebut sendi atau artikulasi.
Pada sistem gerak manusia, persendian mempunyai peranan penting dalam proses
terjadinya gerak. Menurut sifat gerakannya persendian (sendi) dapat dibedakan
menjadi tiga (3 macam) yaitu :
a. Sendi Mati yaitu persendian yang tidak memiliki celah sendi sehingga tidak
memungkinkan terjadinya pergerak kan, misalnya persendian antar tulang
tengkorak.
b. Sendi Kaku yaitu persendian yang terdiri dari ujung-ujung tulang rawan,
sehingga masih memungkinkan terjadinya gerak yang sifatnya kaku, misalnya
persendian antara ruas- ruas tulang sendi kaku.
c. Sendi Gerak yaitu persendian yang terjadi pada tulang satu dengan tulang yang
lain tidak dihubungkan dengan jaringan sehingga terjadi gerakan yang bebas.
35
Sedangkan sendi gerak dapat dibedakan menjadi 6 macam, tetapi pada saat ini
hanya akan dibahas 4 macam sendi, diantaranya:
1) Sendi Engsel yaitu persendian yang dapat digerakan kesatu arah.Contohnya
:persendian antara tulang paha dengan tulang betis, persendian antara tulang
lengan dengan tulang hasta.
2) Sendi Putar yaitu persendian yang dapat digerakan secara berputar contohnya
persendian antara tulang leher dengan tulang atlas, persendian antara hasta dengan
tulang pengumpil.
3) Sendi Peluru yaitu persendian yang dapat digerakan ke segala arah contohnya
persendian antara gelang bahu dengan tulang lengan atas, persendian antara
gelang panggul dengan tulang paha.
4) Sendi Pelana yaitu persendian yang dapat digerakan kedua arah contohnya
persendian pada ibu jari tangan, persendian antara tulang pergelangan tangan
dengan tulang tapak tangan.
b. Otot
Coba perhatikan apa yang akan terjadi apabila manusia tidak Memiliki otot ?
Manusia tidak akan dapat melakukan pergerakan, sebab otot merupakan alat gerak
aktif yang sangat penting bagi manusia. Menurut jenisnya, ada 3 macam otot,
yaitu : otot polos, otot lurik, otot jantung.
36
Gambar 2.7 Otot
1. Ciri-Ciri Otot
a. Ciri-ciri otot polos
1) Bentuknya gelondong, kedua ujungnya meruncing dan dibagian
tengahnya menggelembung.
2) Mempunyai satu inti sel.
3) Tidak memiliki garis-garis melintang (polos).
4) Bekerja diluar kesadaran, artinya tidak dibawah petah otak, oleh karena
itu otot polos disebut sebagai otot tak sadar.
5) Terletak pada otot usus, otot saluran peredaran darah otot saluran kemih,
dll.
b. Ciri-ciri otot lurik
1) Bentuknya silindris, memanjang.
2) Tampak adanya garis-garis melintang yang tersusun seperti daerah gelap.
dan terang secara berselang-seling ( lurik ).
3) Mempunyai banyak inti sel.
37
4) Bekerja dibawah kesadaran, artinya menurut perintah otak, oleh karena
itu otot lurik disebut sebagai otot sadar.
5) Terdapat pada otot paha, otot betis, otot dada, otot.
c. Ciri-ciri otot jantung
1) otot jantung ini hanya terdapat pada jantung. Strukturnya sama seperti
otot lurik, gelap terang secara berselang seling dan terdapat percabangan
sel.
2) kerja otot jantung tidak bisa dikendalikan oleh kemauan kita, tetapi
bekerja sesuai dengan gerak jantung. Jadi otot jantung menurut
bentuknya seperti otot lurik dan dari proses kerjanya seperti otot polos,
oleh karena itu disebut juga otot spesial.
2. Gerak dan Kerja Otot
a. Kerja Otot Manusia
Otot manusia bekerja dengan cara berkontraksi sehingga otot akan
memendek, mengeras dan bagian tengahnya menggelembung membesar. Karena
memendek maka tulang yang dilekati oleh otot tersebut akan tertarik atau
terangkat. Kontraksi satu macam otot hanya mampu untuk menggerakkan tulang
kesatu arah tertentu. Agar tulang dapat kembali ke posisi semula, otot tersebut
harus mengadakan relaksasi dan tulang harus ditarik ke posisi semula. Untuk itu
harus ada otot lain yang berkontraksi yang merupakan kebalikan dari kerja otot
pertama. Jadi, untuk menggerakkan tulang dari satu posisi ke posisi yang lain,
kemudian kembali ke posisi semula diperlukan paling sedikit dua macam otot
dengan kerja yang berbeda.
38
Berdasarkan cara kerjanya, otot dibedakan menjadi otot antagonis dan otot
sinergis. otot antagonis menyebabkan terjadinya gerak antagonis, yaitu gerak otot
yang berlawanan arah. Jika otot pertama berkontraksi dan otot yang kedua
berelaksasi, sehingga menyebabkan tulang tertarik/terangkat atau sebaliknya. Otot
sinergis menyebabkan terjadinya gerak sinergis, yaitu gerak otot yang bersamaan
arah. Jadi kedua otot berkontraksi bersama dan berelaksasi bersama.
1) Gerak Antagonis
Contoh gerak antagonis yaitu kerja otot bisep dan trisep pada lengan atas
dan lengan bawah. Otot bisep adalah otot yang mempunyai dua tendon (dua
ujung) yang melekat pada tulang dan terletak di lengan atas bagian depan.Otot
trisep adalah otot yang mempunyai tiga tendon (tiga ujung) yang melekat pada
tulang dan terletak di lengan atas bagian belakang. Untuk mengangkat lengan
bawah, otot bisep berkontraksi dan otot trisep berelaksasi. Untuk menurunkan
lengan bawah, otot trisep berkontraksi dan otot bisep berelaksasi.
2) Gerak Sinergis
Gerak sinergis terjadi apabila ada 2 otot yang bergerak dengan arah yang
sama. Contoh : gerak tangan menengadah dan menelungkup. Gerak ini terjadi
karena kerja sama antara otot pronator teres dengan otot pronator kuadratus.
Contoh lain gerak sinergis adalah gerak tulang rusuk akibat kerja sama otot-otot
antara tulang rusuk ketika kita bernapas.
39
b. Kelainan Tulang dan Otot
1. Kelainan Pada Tulang (rangka)
Kelainan dan gangguan pada tulang dapat disebabkan oleh beberapa Faktor,
misalnya karena kelainan yang dibawa sejak lahir, infeksi penyakit, karena
makanan atau kebiasaan posisi tubuh yang salah. Beberapa contoh kelainan pada
tulang dan rangka, antara lain :
a. Kifosis
Yaitu kelainan tulang punggung membengkok ke depan, dikarenakan kebiasaan
duduk/bekerja dengan posisi membungkuk.
b. Skoliosis
Yaitu kelainan tulang punggung membengkok ke samping, ini dapat tejadi
pada orang yang menderita sakit jantung yang menahan rasa sakitnya, sehingga
terbiasa miring dan mengakibatkan tulang punggungnya menjadi miring.
c. Lordosis
Yaitu kelainan tulang punggung membengko ke belakang, dikarenakan
kebiasaan tidur yang pinggangnya diganjal bantal.
d. Rakhitis
Yaitu kelainan pada tulang akibat kekurangan vitamin D, sehingga kakinya
berbentuk X atau O.
e. Polio
Yaitu kelainan pada tulang yang disebabkan oleh virus, sehingga keadaan
tulangnya mengecil dan abnormal.
40
2. Kelainan Pada Otot
Kelainan otot pada manusia dapat diakibatkan adanya gerak dan kerja otot.
Hal Ini dapat terjadi akibat gangguan faktor luar maupun faktor dalam. Faktor luar
dapat diakibatkan karena kecelakaan dan serangan penyakit, sedang faktor dalam
bisa terjadi karena bawaan atau kesalahan gerak akibat otot yang tidak pernah
dilatih. Beberapa contoh kelainan pada otot, diantaranya:
a.
Tetanus kelainan otot yang tegang terus menerus yang disebabkan oleh racun
bakteri.
b.
Atrofi otot kelainan yang menyebabkan otot mengecil akibat serangan virus
polio atau karena otot tidak difungsikan lagi untuk bergerak, akibat lumpuh.
c.
Kaku leher (stiff) Kelainan yang terjadi karena gerak hentakan yang
menyebabkan otot Trapesius meradang.
d.
Kram kelainan otot yang terjadi karena aktivitas otot yang terus menerus
sehingga otot menjadi kejang.
e.
Keseleo (terkilir) kelainan otot yang terjadi jika gerak sinergis salah satu otot
bekerja berlawanan arah.
2. Karakteristik Materi Ajar
a. Abstrak dan Kongkret
Biologi merupakan salah satu dari cabang ilmu pengetahuan. Hakikat dari
ilmu sains adalah memiliki materi yang abstrak dan kongkret. Di dalam kajiannya
biologi membahas mengenai semua kehidupan mahluk hidup, tidak hanya
tumbuhan dan hewan yang hidup di muka bumi sekarang yang dibahas tetapi
tumbuhan dan hewan yang hidup di masa lampau juga dibahas di dalam materi
41
biologi. Oleh karena itu biologi terbagi ke dalam beberapa sub konsep yang
didalamnya terdapat materi yang termasuk ke dalam kategori kongkret dan
abstrak.
Organ tumbuhan, organ hewan, alam dan lingkungan adalah hal yang
kongkret. Hal itu dikarenakan semua materi tersebut dapat diamati oleh panca
indra. Materi sistem gerak merupakan sebuah materi yang termasuk ke dalam
kongkret.
Materi sistem gerak ini memiliki sifat yang kongkret sehingga untuk
mempelajarinya diperlukan suatu upaya untuk mempermudah mempelajari materi
ini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru adalah menerapkan model
pembelajaran yang mampu memotivasi siswa untuk belajar dan meningkatkan
hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah
model pembelajaran Cooperative Type Student Teams Achievment (STAD).
Penerapan
model
pembelajaran
Cooperative
Type
Student
Teams
Achievment (STAD) harus didukung oleh penggunaan media dan bahan ajar yang
inovatif. Sehingga pembelajaran yang bersifat abstrak akan mudah dipahami
siswa.
b. Perubahan Perilaku Belajar
Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam materi sistem gerak pada
ranah afektif
yaitu siswa dapat berperilaku ilmiah. Sehingga selain terdapat
perubahan kognitif yang tadinya tidak tau menjadi tau, siswa juga mampu untuk
berperilaku secara ilmiah seperti displin, tanggung jawab dan santun dalam
mengajukan pertanyaan dan beragumentasi, berpendapat secara ilmiah dan kritis,
42
responsive dan proaktif dalam setiap tindakan di dalam kelas (Pemendikbud No
54, Tahun 2014).
3. Bahan dan Media
Bahan pembelajaran adalah materi yang diberikan kepada siswa pada saat
berlangsungnya proses belajar mengajar. Bahan ajar yang cocok dalam materi
sistem gerak diantaranya LKS, Torso dan bahan ajar elektrik yang bersumber dari
internet serta buku pegangan siswa. Hal ini dikarenakan supaya siswa mampu
untuk mengenali informasi dan mengumpulkan informasi sendiri dengan begitu
wawasan yang akan didapatkan oleh siswa akan luas. Selain itu, melalui bahan
ajar siswa diantarkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan pada
materi sistem gerak.
Media pembelajaran merupakan bagian dari sumber belajar yang di
dalamnya termasuk media dan alat bantu pembelajaran. Media merupakan segala
sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, yang dapat merangsang pikiran, perasaan,
dan kemauan siswa sehingga mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya
(Rustaman, 2003: 134).
4. Strategi Pembelajaran
Sebuah
tujuan
pembelajaran
akan
tercapai
apabila
guru
mampu
mengembangkan strategi di dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga akan
menciptakan suasana pembelajaran sesuai dengan apa yang diharapkan. Menurut
Romizowsky (1981, h. 214) dalam Rusmono (2012, h. 22) strategi pembelajaran
adalah kegiatan yang digunakan seseorang dalam usaha untuk memilih metode
atau model pembelajaran. Sedangkan menurut Suprijono, A., (2015, h. 102)
43
menyatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan kegiatan yang dipilih dapat
memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
Strategi pembelajaran yang dilakukan dalam pembelajaran sistem gerak
dapat menggunakan strategi Question Student Have yang mampu meningkatkan
kualitas pembelajaran (Dian, A. R., 2009). Dalam bukunya Active Learning
Silberman (2005, h. 19) mengatakan bahwa strategi Question Student Have
merupakan cara pembelajaran siswa aktif yang tidak membuat siswa takut untuk
mempelajari apa yang siswa harapkan dan butuhkan. Langkah pertama yang
dilakukan pada strategi ini yaitu guru menyiapkan suatu bacaan mengenai materi
sistem gerak kepada siswa. Bacaan yang diberikan harus menimbulkan
interprestasi agar siswa mudah terangsang untuk bertanya (Silberman, 2003, h.
75).
Selain itu juga strategi Active Knowledge Sharing dapat meningkatkan hasil
belajar siswa pada materi sistem gerak (Marita, H., 2012). Pada awal kegiatan
pembelajaran guru menanyakan kepada siswa tentang pengetahuannya mengenai
materi sistem gerak kemudian guru menyampaikan pendahuluan sebelum masuk
ke dalam materi agar siswa mengetahui materi yang akan dibahas, guru
menyampaikan secara garis besar mengenai materi sistem gerak. Setelah kegiatan
awal disampaikan, guru meminta siswa untuk berdiskusi dengan teman
sekelompoknya terkait materi sistem gerak. Setelah siswa selesai berdiskusi maka
selanjutnya guru meminta perwakilan setiap kelompok untuk membagikan
informasi hasil diskusinya ke kelompok lain.
44
5. Sistem Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu komponen penting di dalam proses pembelajaran.
Hal ini dikarenakan suatu evaluasi dapat mengukur hasil belajar siswa sehingga
dapat mengetahui apakah strategi pembelajaran yang diterapkan mampu untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan atau tidak. Menurut Rusman
(2008, h. 11) evaluasi merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan
dan mengkomunikasikan suatu informasi bagi keperluan pengambilan keputusan,
evaluasi selalu mengandung proses. Proses evaluasi harus tepat terhadap tipe
tujuan yang biasanya ditanyakan dalam bahasa perilaku. Beberapa tingkah laku
yang sering muncul serta menjadi perhatian para guru adalah tingkah laku yang
dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu pengetahuan intelektual
(cognitive), keterampilan (skills), dan values atau attitudes atau yang
dikategorikan ke dalam affective domain.
Evaluasi pada materi sistem gerak dapat menggunakan evaluasi kognitif,
afektif, dan psikomotor. Evaluasi kognitif berupa pemberian soal test untuk
mengetahui pengetahuan siswa mengenai materi sistem gerak. Dengan pemberian
soal test ini diharapkan dapat mengukur ketercapaian KD 3 tentang pengetahuan
(kognitif) yaitu Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta
kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem gerak pada manusia. Test tulis
ini bisa berupa soal pilihan ganda atau esai, test tulis diberikan pada saat sebelum
dilaksanakannya proses pembelajaran (pretest) dan sesudah dilaksanakannya
proses pembelajaran.
45
Selain penilaian kognitif, pada materi sistem gerak juga dapat menerapkan
penilaian afektif yaitu dengan cara membuiat lembar observasi kinerja, lembar
penilaian dari lembar penilaian antar teman. Indikator penilaian sikap yang
diharapkan berdasarkan KD 2 yaitu adanya perubahan sikap siswa menjadi pribadi
yang memiliki sikap ilmiah. Sikap ilmiah yang diharapkan oleh Pemendikbud No
59 Tahun 2014 diantaranya sikap disiplin, tanggung jawab dan santun dalam
mengajukan pertanyaan dan argumentasi, berpendapat secara ilmiah dan kritis,
responsif dan proaktif dalam setiap tindakan di dalam kelas.
Ranah penilaian yang terakhir adalah ranah psikomotor yang dapat
diterapkan di dalam proses pembelajaran sistem gerak. Penilaian psikomotor dapat
menggunakan lembar observasi. Menurut Suprijono, A., dalam bukunya (2015, h.
158) mengatakan bahwa observasi merupakan tekhnik penilaian yang dilakukan
dengan menggunakan pedoman bservasi berupa sejumlah indikator perilaku yang
akan diamati. Teknik penilaian observasi ini dilakukan selama proses
pembelajaran berlangsung sehingga dapat mengamati aktivitas yang dilakukan
oleh siswa selain itu juga dapat mengukur keterampilan siswa yang diekpresikan
pada sebuah penyajian hasil diskusi melalui media presentasi. Penilaian
keterampilan di dalam materi sistem gerak pada KD 4 dalam Permendikbud No 59
Tahun 2014 diharapkan siswa dapat menciptakan perubahan tingkah laku dengan
ditandai siswa mampu untuk mendeskripsikan pengertian dari sistem gerak pada
manusia dan dapat membedakan fungsi tulang rawan, tulang keras, otot dan sendi
sebagai penyusun rangka tubuh.
46
Dari evaluasi tersebut peneliti dapat memperoleh data yang kongkrit untuk
mengetahui bagaimana pencapaian hasil belajar siswa dan berhasil atau tidaknya
perbandingan model pembelajaran Cooperative Type Student Teams Achievment
(STAD) dalam peningkatan hasil belajar siswa.
Download