Uploaded by User64079

Kimia Fisik Pangan 2020

advertisement
Ahmad Zaki Mubarok
Kimia Fisik Pangan
2014
1
Kristalisasi adalah proses dimana kristal padat dari
suatu zat terlarut terbentuk pada suatu larutan.
Komponen terlarut dipisahkan dari larutan dengan
membuat suatu kondisi sehingga larutan menjadi
lewat jenuh/supersaturated, sehingga zat terlarut
mengkristal.
Kristalisasi hanya dapat terjadi pada larutan
supersaturated.
Fase cair yang tersisa setelah pembentukan kristal
disebut ‘mother liquor’.
Suatu larutan dapat dibuat menjadi lewat
jenuh/ supersaturated dgn beberapa cara,
diantaranya:
Penghilangan pelarut dengan evaporasi,
membran separasi atau freeze
concentration.
Pendinginan larutan (kelarutan menurun
dengan penurunan temperatur)
2
PEMEKATAN LIQUID
Proses pemekatan dapat dilakukan dengan
beberapa cara yaitu
EVAPORASI
MEMBRAN SEPARASI/MEMBRAN
SEPARATION
PEMEKATAN DENGAN PEMBEKUAN /
FREEZE CONCENTRATION
PEMEKATAN dg EVAPORASI
Evaporasi adalah proses penghilangan air dengan
proses pemanasan/pendidihan.
Pemekatan dengan metode ini sudah dilakukan
pada beberapa proses pengolahan yaitu: konsentrat
jeruk, pasta tomat, dan susu kondensasi.
Evaporasi juga digunakan untuk memekatkan
garam dan gula sebelum proses refining.
3
PEMEKATAN dgn MEMBRAN SEPARASI
Dasar pemisahan dengan membran adalah
perbedaan permeabilitas membran semipermeable
terhadap ukuran molekul yang berbeda.
Molekul berukuran lebih kecil akan melewati
membran dengan mudah daripada yang berukuran
lebih besar.
4
PEMEKATAN dgn PEMBEKUAN
Sebagian air dapat dibekukan menjadi kristal es
untuk membuat suatu konsentrat.
Selanjutnya kristal es dipisahkan dengan
menggunakan suatu sistem pemisahan (umumnya
dengan sentrifugasi).
Aplikasi pemekatan dengan pembekuan sudah
banyak dilakukan pada jus buah, kopi, dan teh.
Bahan pangan berkualitas lebih baik (karena tidak
ada aplikasi panas).
5
Tahapan kristalisasi
6
Proses kristalisasi meliputi 2 tahap:
1. Nucleation / nukleasi
2. Crystal growth / pertumbuhan kristal
1. Nucleation
Misalnya suatu larutan terdiri dari satu zat terlarut murni
dan satu pelarut murni.
Kejenuhan didefinisikan sebagai konsentrasi maksimum zat
terlarut yang dapat eksis dalam larutan dengan pelarut
tertentu dan pada suhu tertentu.
Jika larutan jenuh ini lebih terkonsentrasi atau didinginkan
perlahan-lahan, zat terlarut masih tinggal di dalam larutan.
Larutan tersebut kemudian dikatakan lewat jenuh/
supersaturated.
Ketika tingkat kejenuhan
larutan meningkat, zat
terlarut mulai membentuk
aggregat/kumpulan dalam
larutan dalam suatu
‘klaster’.
Pada tingkat kejenuhan
rendah, klaster yang
terbentuk kecil dan tidak
stabil.
Namun, ketika tingkat kejenuhan tertentu tercapai, klaster
akan menjadi stabil dan cukup besar untuk membentuk suatu
kristal.
Pada titik ini , klaster menjadi ‘nuclei’, yaitu partikel padat yang
dapat tumbuh menjadi kristal.
7
2. Crystal Growth
Kristal tumbuh disekitar
nuklei/inti sebagai akibat dari
pengendapan zat terlarut
dari larutan jenuh.
Kelarutan kristal
Campuran antara kristal dan mother liquor
disebut dengan “magma”.
Magma mengandung kristal dengan berbagai
ukuran.
Kristal yang kecil memiliki spesific surface yang
lebih besar dibandingkan kristal yang berukuran
besar.
Sehingga kristal yang sangat kecil lebih terlarut dan
dapat dalam kondisi keseimbangan dengan mother
liquor.
8
Kelarutan kristal
Tingkat kelarutan kristal yang berukuran kecil berhubungan
dengan ukurannya sesuai persamaan Kelvin:
ln β
β = konsentrasi larutan
= tegangan permukaan antara larutan dan senyawa terlarut
V = volume molar senyawa terlarut
R = konstanta gas (8,314 J/mol.K)
T = suhu (Kelvin)
L = ukuran partikel
n = jumlah ion per molekul (n=1 jika senyawa tidak
terdisosiasi, misalnya gula)
Contoh soal:
Berapa ukuran nuklei kristal sukrosa dalam
keseimbangan dengan mother liquor pada kondisi
superjenuh 115% pada suhu 20 oC?
Diketahui tegangan permukaan antara kristal
sukrosa dan larutan sebesar 0,003 J/m2. Densitas
kristal sukrosa sebesar 1600 kg/m3. Berat molekul
sukrosa = 342.
9
Jawab:
V = M/ρ = 342/1600 = 0,00021375 m3/mol
R = 8,314 J/K.mol
Untuk sukrosa, n=1.
4
ln β
ln 1,15
7,5
0,1398
10
4
0,00021375 0,003
1 8,314 293
7,5 !
DIAGRAM FASE LARUTAN
Misalkan suatu larutan pada
titik A, kemudian suhu
diturunkan hingga mencapai
titik A’. Pada kondisi
tersebut es dapat mulai
terbentuk. Pembentukan es
tidak dimulai pada suhu 0
oC, karena fruktosa
menyebabkan penurunan
titik beku larutan.
10
DIAGRAM FASE
Semakin banyak jumlah es
yang terbentuk, larutan akan
semakin terkonsentrasi dan
titik beku akan semakin
menurun. Komposisi larutan
dan temperature es dan
larutan akan berubah
sepanjang coexistence line
sampai mencapai titik C.
Kemudian keseluruhan
system akan membeku,
membentuk es dan kristal
gula. Titik C disebut eutectic
point, yaitu perpotongan
antara eutectic temperature
dan eutectic composition.
DIAGRAM FASE
Misalnya dari titik A,
dilakukan evaporasi untuk
menghilangkan air sehingga
mencapai titik B. Kemudian
dilakukan pendinginan,
ketika mencapai titik B’
maka akan terbentuk kristal
fruktosa.2H2O, dimana
larutan akan semakin encer
dan mengikuti coexistence
line hingga titik C ketika es
mulai terbentuk.
11
DIAGRAM FASE
Dengan demikian,
pendinginan larutan pada
komposisi dibawah eutectic
composition akan
menyebabkan terbentuknya
es (seperti yang diharapkan
pada freeze concentration),
sedangkan pendinginan
diatas eutectic composition
akan menyebabkan
terbentuknya kristal gula
(seperti yang diharapkan
pada manufaktur gula)
KURVA PENDINGINAN
Air Murni
Dimulai dari titik A,
temperature akan turun
dengan bertambahnya
waktu. Pendinginan akan
berlanjut hingga mencapai
titik B dimana temperature
dibawah titik beku (0 oC).
Hal ini terjadi karena
diperlukan undercooling
untuk proses nukleasi es.
Kemudian suhu akan naik
ke 0 oC dan akan konstan
hingga seluruh air akan
membeku.
12
KURVA PENDINGINAN
Larutan Gula
Pendinginan akan
menurunkan suhu larutan
hingga mencapai titik B’, hal
ini dikarenakan titik beku
larutan lebih rendah dari air
murni. Kemudian terjadi
nukleasi pembentukan
kristal es, dan dilanjutkan
dengan terbentuknya kristal
es.
KURVA PENDINGINAN
Larutan Gula
Temperatur terus turun
hingga titik D’. Pada titik D’
terjadi nukleasi
pembentukan kristal gula.
Kemudian terjadi
pembentukan kristal
fruktosa-air hingga semua
materi menjadi beku(titik
F’).
13
Referensi:
Walstra, P. 2003. Physical Chemistry of Foods.
Berk, Z. 2009. Food Process Engineering and Technology.
TERIMA KASIH
14
Download