Uploaded by common.user63452

BAB 2

advertisement
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 HIV/AIDS
2.1.1 Definisi
HIV (human immunedeficiency virus) merupakan virus yang menyerang
sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh rentan terhadap berbagai penyakit.
Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) dapat diartikan sebagai kumpulan
gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat
infeksi oleh virus HIV, khususnya menyerang limfosit T serta menurunnya jumlah
CD4 yang bertugas melawan infeksi. AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi
HIV. Sindrom muncul akibat berkurangnya zat kekebalan tubuh (CD4) yang terjadi
sekitar 5 – 10 tahun setelah terinfeksi virus HIV telah menjadi AIDS dengan
ditandai jumlah CD4 kurang dari 200 sel per µL darah sebagai kriteria ambang
batas. Penderita AIDS digolongkan menjadi 2 yaitu AIDS penderita yang belum
menunjukan gejala klinis tetapi telah terinfeksi virus HIV dan menunjukan gejala
klinis (Brasshers,2008).
Human Immuno Deficiency Virus (HIV) yaitu virus yang merusak system
kekebalan tubuh manusia. Sedangkan, Aquired Immuno Deficiency Syndrome
(AIDS) adalah kumpulan gejala-gejala penyakit yang disebabkan atau didapat
karena hilangnya kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit (Direktorat
Rehabilitasi Tuna Susila1995: 4).
Secara struktural morfologinya, virus HIV sangat kecil sama halnya dengan
virus-virus lain, bentuk virus HIV terdiri atas sebuah silinder yang dikelilingi
pembungkus lemak yang melingkar-melebar. Dan pada pusat lingkaran terdapat
untaian RNA atau ribonucleic acid. Bedanya virus HIV dengan virus lain, HIV
dapat memproduksi selnya sendiri dalam cairan darah manusia, yaitu pada sel darah
putih. Sel-sel darah putih yang biasanya dapat melawan segala virus, lain halnya
dengan virus HIV, virus ini justru dapat memproduksi sel sendiri untuk merusak sel
darah putih (Harahap, 2008: 42).
Virion HIV berbentuk sferis dan memiliki inti berbentuk kerucut, dikelilingi
oleh selubung lipid yang berasal dari membran sel hospes. Inti virus mengandung
protein kapsid terbesar yaitu p24, protein nukleokapsid p7/p9, dua kopi RNA
genom, dan tiga enzim virus yaitu protease, reverse transcriptase dan integrase .
Protein p24 adalah antigen virus yang cepat terdeteksi dan merupakan target
antibodi dalam tes screening HIV. Inti virus dikelilingi oleh matriks protein
dinamakan p17, yang merupakan lapisan di bawah selubung lipid. Sedangkan
selubung lipid virus mengandung dua glikoprotein yang sangat penting dalam
proses infeksi HIV dalam sel yaitu gp120 dan gp41. Genom virus yang berisi gen
gag, pol, dan env yang akan mengkode protein virus. Hasil translasi berupa protein
prekursor yang besar dan harus dipotong oleh protease menjadi protein mature (
Jawet, 2001).
HIV dapat menyebabkan sistem imun mengalami beberapa kerusakan dan
kehancuran, lambat laun sistem kekebalan tubuh manusia menjadi lemah atau tidak
memiliki kekuatan pada tubuhnya, maka pada saat inilah berbagai penyakit yang
dibawa virus, kuman dan bakteri sangat mudah menyerang seseorang yang sudah
terinfeksi HIV. Kemampuan HIV untuk tetap tersembunyi adalah yang
menyebabkannya virus ini tetap ada seumur hidup, bahkan dengan pengobatan yang
efektif (Gallant, 2010: 16).
2.1.2 EPIDEMIOLOGI
Masalah HIV/AIDS
adalah masalah kesehatan masyarakat
yang
memerlukan perhatian yang sangat serius dan telah mengalami perubahan dari
epidemik rendah menjadi epidemik terkonsentrasi dalam 4 tahun terakhir.
Peningkatan ini terjadi pada kelompok orang berperilaku berisiko tinggi tertular
HIV yaitu para pekerja seks komersial dan pengguna NAPZA suntikan di 6
provinsi: DKI Jakarta, Papua, Riau, Bali, Jabar, dan Jawa Timur (concentrated level
of epidemic) (Depkes RI, 2006).
Gambar 1. Kumulatif kasus HIV di kota Semarang tahun 1995-2018
(Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Semarang, 2018)
Kasus HIV di kota Semarang dari tahun 1995 sampai tahun 2018 mengalami
kecenderungan peningkatan kasus. Berdasarkan gambar 1 diatas dapat dilihat
bahwa data kasus HIV terendah pada tahun 2005 sebesar 101 penyakit. Kasus
terbanyak pada tahun 2012 sebesar 520 penyakit sedangkan tahun 2017 mengalami
peningkatan kasus HIV yaitu sebesar 523 penyakit dan pada tahun 2018 mengalami
penurunan kasus sebesar 149 penyakit.
Gambar 2. Kasus HIV Berdasarkan Jenis Kelamin Di Semarang Tahun
2011-2018 (Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Semarang, 2018)
Karakteristik responden pada jenis kelamin pada kasus HIV di kota
Semarang pada tahun 2011 sampai tahun 2018 terdapat kasus terbanyak pada laki
laki. Dapat dilihat bahwa data kasus HIV hanya pada tahun 2012 kasus HIV yang
menyerang perempuan tertinggi yaitu sebesar 266 kasus dan laki-laki sebesar 251
kasus. Tahun 2017 mengalami peningkatan kasus HIV yang signifikan pada lakilaki dan perempuan yaitu sebesar 339 kasus dan perempuan sebesar 195 kasus.
Sedangkan untuk tahun 2018 kasus mengalami kecenderungan penurunan yaitu 92
kasus pada laki-laki dan 57 kasus pada perempuan.
Gambar 3. Karakteristik Responden Pada Kelompok
Karakteristik responden pada kelompok risiko dibagi menjadi 8 kategori
yaitu pelanggan perilaku seksual, pasangan risiko tinggi, lelaki seksual lelaki,
waria, penasun, wanita perilaku seksual, pria perilaku seksual, dan lain-lain. Dari
gambar 3, Kelompok Risiko paling banyak kasus terjadi pada kelompok pelanggan
pekerja seksual sebesar 31% dan paling sedikit terdapat pada kelompok pria pekerja
seksual yaitu sebesar 1%.
2.1.3 Etilogi
Penyakit HIV/AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus
yang menyebabkan penurunan daya kekebalan tubuh. HIV termasuk genus
retrovirus dan tergolong ke dalam family lentivirus. Infeksi dari family lentivirus
ini khas ditandai dengan sifat latennya yang lama, masa inkubasi yang lama,
replikasi virus yang persisten dan keterlibatan dari susunan saraf pusat (SSP).
Sedangkan ciri khas untuk jenis retrovirus yaitu dikelilingi oleh membran lipid,
mempunyai kemampuan variasi genetik yang tinggi, mempunyai cara yang unik
untuk replikasi serta dapat menginfeksi seluruh jenis vertebrata. HIV dianggap
suatu penyakit yang menarik. Hal ini terjadi akibat adanya penularan cross-species
(zoonosis) dari primate (simpanse) yang terinfeksi Simian Immunodeficiency Virus
(SIV) ke manusia (Dipiro, 2008).
AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II,
LAV, RAV. Yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV)
yang berupa angent viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah
dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T. Jenis virus HIV yaitu HIV-1 dan
HIV-2, tetapi sebagian besar kasus di seluruh dunia pada tahun 1992 disebabkan
oleh virus HIV-1, meskipun endemik virus HIV-2 jarang dijumpai di Amerika
Serikat. Retrovirus memiliki genom yang mengkode reverse transcriptase yang
memungkinkan DNA diterjemahkan RNA, maka virus dapat membuat salinan
DNA dari genomnya sendiri dalam sel pejamu (Nugroho,2011).
2.1.4 Patogenesis
Mekanisme utama infeksi HIV dimulai setelah virus masuk ke dalam
tubuhpejamu. Setelah masuk ke dalam tubuh pejamu, HIV terutama akan
menginfeksiCD4 limfosit, juga menginfeksi makrofag, sel dendritik, serta sel
mikroglia. Selubung protein yaitu gp120 memanfaatkan antigen CD4 sebagai
reseptor untuk perlekatanawal. Kemudian terjadi perubahan bentuk dimana gp120
membutuhkan koreseptor (biasanya ko-reseptor chemokine CCR5), sehingga
memungkinkan selubung protein kedua yaitu gp41 untuk berinteraksi dengan
membran sel pejamu dan memungkinkan HIV masuk ke dalam sel. RNA dari HIV
kemudian akan membentuk DNA serat ganda oleh enzim reverse transcriptase.
Setiap hasil replikasi DNA ini selanjutnya akan menghasilkan virus baru.
Kemudian virus baru ini akanberkembang di dalam membran sel.
Gambar 4. Siklus Hidup HIV
(Hoffmann et.al, 2012)
Setelah HIV masuk ke dalam tubuh, rangkaian terjadinya penyakit
AIDSdimulai.
Tahap-tahap
terjadinya
penyakit
AIDS
meliputi
infeksi
primer,penyebaran virus ke organ limfoid, masa laten, penyakit klinis dan
kematian. Waktu antara infeksi primer berkembang menjadi penyakit klinis sekitar
10 tahun (Hoffmann et.al, 2012).
Tabel 1. Klasifikasi Infeksi HIV
Kelas
Kriteria
Stadium klinis I
1.Asimtomatik
Asimtomatik
2.Limfadenopati generalisata persisten
Total CD4 : >500/ml
Stadium klinis II
1.Penurunan berat badan 10%
Sakit ringan
2.ISPA berulang (sinusitis, tonsillitis,
Total CD4 : 200-499/ml
otitismedia danfaringitis)
3.Herpes zoster
Stadium klinis III
1.Penurunan berat badan >10%
Sakit sedang
2.Diare kronis > 1 bulan
3.Kandidiasis oral
4.TB Paru
5.Limfadenopati generalisata persisten
Stadium klinis IV
1.HIV wasting syndrome
Sakit berat (AIDS)
2.Pneumonia pneumositis
Total CD4 : < 200/ml
3.Herpes simpleks > 1 bulan
4.Kandidiasis esophagus
5.TB paru
6.Sarkoma Kaposi
7.Retinitis
8.CMV
9.Toksoplasmosis
10.Ensefalopati HIV
11.Meningitis
12.Limfoma
13.Karsinoma
14.Nefropati dan kardiomiopati terkait
HIV
(WHO,2010)
2.1.5 Penularan
Cara penularan HIV sampai saat ini diketahui melalui hubungan seksual
(homoseksual maupun heteroseksual) serta secara non seksual seperti melalui
kontak dengan darah/produk darah, parenteral dan transplasenta. Virus HIV sampai
saat ini terbukti hanya menyerang Sel limposit T sebagai sasarannya. Vehikulum
yang dapat membawa virus HIV keluar tubuh dan menularkan kepada orang lain
melalui berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh yang terbukti menularkan diantaranya
semen, cairan vagina atau servik dan darah penderita (Kathy, 2009).
Cara penularan yang diketahui melalui :
a. Transmisi seksual
Penularan HIV melalui hubungan seksual baik heteroseksual maupun homoseksual
merupakan penularan yang sering terjadi.
1. Transmisi virus HIV pada homoseksual
Cara hubungan seksual anogenital merupakan perilaku seksual dengan risiko
tinggi bagi penularan HIV. Khususnya bagi mitra seks yang pasif menerima
ejakulasi semen dari seseorang pengidap HIV. Hal ini disebabkan mukosa rektum
yang sangat tipis dan mudah mengalami perlukaan pada saat berhubungan seksual
secara anogenital. Di Amerika Serikat lebih dari 50 % pria homoseksual di daerah
urban tertular HIV melalui hubungan seks anogenital tanpa pelindung (Ridwan,
2011).
2. Transmisi virus HIV pada heteroseksual
Penularan heteroseksual dapat terjadi dari laki – laki ke perempuan atau sebaliknya.
Di Negara Afrika penderita HIV/AIDS mendapat infeksi melalui hubungan
heteroseksual tanpa kondom. Transmisi dari laki – laki pengidap HIV/AIDS ke
perempuan pasangannya lebih sering terjadi dibandingkan dengan perempuan
pengidap HIV ke pria pasangannya (Ridwan, 2011).
b. Transmisi non seksual
1. Transmisi Parenteral
Transmisi ini terjadi akibat penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya (alat
tindik) yang tidak steril atau telah terkontaminasi seperti pada penyalagunaan
narkotika suntik yang menggunakan jarum suntik secara bersama – sama. Risiko
tertular transmisi secara parenteral kurang dari 1 % dapat terjadi pada penggunaan
jarum suntik yang terkontaminasi kontak dengan kulit yang lecet, sekret atau bahan
yang terinfeksi.
2. Transmisi Transplasenta
Penularan dari ibu yang mengidap HIV positif kepada janin yang dikandungnya.
Penularan dapat terjadi sewaktu hamil, melahirkan dan waktu menyusui.
3. Transmisi melalui darah atau produk darah
4. Transplantasi organ dan jaringan tubuh yang terinfeksi HIV
(Graber,2006)
Transplantasi organ potensial meningkatkan HIV/AIDS yang telah
dicangkokan pada orang yang sehat, maka virus HIV akan menyebar keseluruh
tubuh (Elseveir, 2008).
2.1.6 Gejala Infeksi
Beberapa penderita menampakkan gejala yang menyerupai mononucleosis
infeksiosa dalam waktu beberapa minggu setelah terinfeksi. Gejalanya berupa
demam, ruam-ruam, pembengkakan kelenjar getah bening dan rasa tidak enak
badan yang berlangsung selama 3-14 hari. Sebagian besar gejala akan menghilang,
meskipun kelenjar getah bening tetap membesar. Dalam waktu beberapa bulan
setelah terinfeksi, penderita bisa mengalami gejala-gejala ringan secara berulang
yang belum benar-benar menunjukkan suatu AIDS (Gunawan S, 2007).
Gejala-gejala infeksi HIV dalam waktu beberapa tahun sebelum terjadinya
infeksi atau tumor yang khas untuk AIDS adalah:
1. Pembengkakan kelenjar getah bening
2. Penurunan berat badan
3. Demam yang hilang-timbul
4. Perasaan tidak enak badan
5. Lelah
6. Diare berulang
7. Anemia
8. Thrush (infeksi jamur di mulut).
2.1.7 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik utama dari penderita AIDS pada umumnya ada 2 hal antara lain
tumor dan infeksi oportunistik :
a. Manifestasi tumor diantaranya :
1. Sarkoma kaposi: kanker pada semua bagian kulit dan organ tubuh.
2. Limfoma ganas: terjadi setelah sarkoma kaposi dan menyerang syaraf.
b. Manifestasi oportunistik diantaranya :
1. Manifestasi pada paru
a. Pneumonia Pneumocystis (PCP)
Infeksi paru PCP dengan gejala sesak nafas, batuk kering dan demam.
b.
Cytomegalo Virus (CMV)
Infeksi virus yang menyebabkan penyakit mata dan menimbulkan kebutaan.
c. Mycobacterium avilum
Infeksi bakteri yang dapat menyebabkan demam kambuhan, masalah pada
pencernaan, dan kehilangan berat badan yang parah.
d. Mycobacterium tuberculosis (TB)
Infeksi bakteri yang menyerang paru, dan dapat menyebabkan meningitis (radang
selaput otak).
2) Manifestasi pada gastrointestinal
Tidak ada nafsu makan, diare kronis, berat badan turun lebih dari 10% per bulan.
c. Manifestasi Neurologis
Kelainan syaraf yang umum adalah ensefalitis, meningitis, demensia, mielopati dan
neuropati perifer (Siregar, 2008).
2.1.8 Diagnosa
Diagnosis pada infeksi HIV dilakukan dengan dua metode yaitu metode
pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium
meliputi uji imunologi dan uji virologi.
a). Diagnosis klinik
Sejak tahun 1980 WHO telah berhasil mendefinisikan kasus klinik dan sistem
stadium klinik untuk infeksi HIV. WHO telah mengeluarkan batasan kasus infeksi
HIV untuk tujuan pengawasan dan merubah klasifikasi stadium klinik yang
berhubungan dengan infeksi HIV pada dewasa dan anak. Pedoman ini meliputi
kriteria diagnosa klinik yang patut diduga pada penyakit berat HIV untuk
mempertimbangkan memulai terapi antiretroviral lebih cepat (Read, 2007).
b). Diagnosis Laboratorium
Metode pemeriksaan laboratorium dasar untuk diagnosis infeksi HIV dibagi dalam
dua kelompok yaitu :
1). Uji Imunologi
Uji imunologi untuk menemukan respon antibody terhadap HIV-1 dan
digunakan sebagai test skrining, meliputi enzyme immunoassays atau enzyme –
linked immunosorbent assay (ELISAs) sebaik tes serologi cepat (rapid test). Uji
Western blot atau indirect immunofluorescence assay (IFA) digunakan untuk
memperkuat hasil reaktif dari test krining.
Uji yang menentukan perkiraan abnormalitas sistem imun meliputi jumlah
dan persentase CD4+ dan CD8+ T-limfosit absolute. Uji ini sekarang tidak
digunakan untuk diagnose HIV tetapi digunakan untuk evaluasi.
Deteksi antibodi HIV
Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien yang diduga telah terinfeksi HIV.
ELISA dengan hasil reaktif (positif) harus diulang dengan sampel darah yang sama,
dan hasilnya dikonfirmasikan dengan Western Blot atau IFA (Indirect
Immunofluorescence Assays). Sedangkan hasil yang negatif tidak memerlukan tes
konfirmasi lanjutan, walaupun pada pasien yang terinfeksi pada masa jendela
(window period), tetapi harus ditindak lanjuti dengan dilakukan uji virologi pada
tanggal berikutnya. Hasil negatif palsu dapat terjadi pada orang-orang yang
terinfeksi HIV-1 tetapi belum mengeluarkan antibodi melawan HIV-1 (yaitu, dalam
6 (enam) minggu pertama dari infeksi, termasuk semua tanda-tanda klinik dan
gejala dari sindrom retroviral yang akut. Positif palsu dapat terjadi pada individu
yang telah diimunisasi atau kelainan autoimune, wanita hamil, dan transfer maternal
imunoglobulin G (IgG) antibodi anak baru lahir dari ibu yang terinfeksi HIV-1.
Oleh karena itu hasil positif ELISA pada seorang anak usia kurang dari 18 bulan
harus di konfirmasi melalui uji virologi (tes virus), sebelum anak dianggap
mengidap HIV-1.
Rapid test
Merupakan tes serologik yang cepat untuk mendeteksi IgG antibodi terhadap
HIV-1. Prinsip pengujian berdasarkan aglutinasi partikel, imunodot (dipstik),
imunofiltrasi atau imunokromatografi. ELISA tidak dapat digunakan untuk
mengkonfirmasi hasil rapid tes dan semua hasil rapid tes reaktif harus dikonfirmasi
dengan Western blot atau IFA.
Western blot
Digunakan untuk konfirmasi hasil reaktif ELISA atau hasil serologi rapid tes
sebagai hasil yang benar-benar positif. Uji Western blot menemukan keberadaan
antibodi yang melawan protein HIV-1 spesifik (struktural dan enzimatik). Western
blot dilakukan hanya sebagai konfirmasi pada hasil skrining berulang (ELISA atau
rapid tes). Hasil negative Western blot menunjukkan bahwa hasil positif ELISA
atau rapid tes dinyatakan sebagai hasil positif palsu dan pasien tidak mempunyai
antibodi HIV-1. Hasil Western blot positif
menunjukkan keberadaan antibodi HIV-1 pada individu dengan usia lebih dari 18
bulan.
Indirect Immunofluorescence Assays (IFA)
Uji ini sederhana untuk dilakukan dan waktu yang dibutuhkan lebih sedikit
dan sedikit lebih mahal dari
uji Western blot. Antibodi Ig dilabel dengan
penambahan fluorokrom dan akan berikatan pada antibodi HIV jika berada pada
sampel. Jika slide menunjukkan fluoresen sitoplasma dianggap hasil positif
(reaktif), yang menunjukkan keberadaan antibodi HIV-1.
Penurunan sistem imun
Progresi infeksi HIV ditandai dengan penurunan CD4+ T limfosit, sebagian
besar sel target HIV pada manusia. Kecepatan penurunan CD4 telah terbukti dapat
dipakai sebagai petunjuk perkembangan penyakit AIDS. Jumlah CD4 menurun
secara bertahap selama perjalanan penyakit. Kecepatan penurunannya dari waktu
ke waktu rata-rata 100 sel/tahun.
2). Uji Virologi
Tes virologi untuk diagnosis infeksi HIV-1 meliputi kultur virus, tes
amplifikasi asam nukleat / nucleic acid amplification test (NAATs) , test untuk
menemukan asam nukleat HIV-1 seperti DNA arau RNA HIV-1 dan test untuk
komponen virus (seperti uji untuk protein kapsid virus (antigen p24)).
Kultur HIV
HIV dapat dibiakkan dari limfosit darah tepi, titer virus lebih tinggi dalam
plasma dan sel darah tepi penderita AIDS. Pertumbuhan virus terdeteksi dengan
menguji cairan supernatan biakan setelah 7-14 hari untuk aktivitas reverse
transcriptase virus atau untuk antigen spesifik virus.
NAAT HIV-1 (Nucleic Acid Amplification Test)
Menemukan RNA virus atau DNA proviral yang banyak dilakukan untuk
diagnosis pada anak usia kurang dari 18 bulan. Karena asam nuklet virus mungkin
berada dalam jumlah yang sangat banyak dalam sampel. Pengujian RNA dan DNA
virus dengan
amplifikasi PCR, menggunakan
metode enzimatik untuk
mengamplifikasi RNA HIV-1. Level RNA HIV merupakan petanda prediktif
penting dari progresi penyakit dan menjadi alat bantu yang bernilai untuk
memantau efektivitas terapi antivirus.
Uji antigen p24
Protein virus p24 berada dalam bentuk terikat dengan antibodi p24 atau dalam
keadaan bebas dalam aliran darah indivudu yang terinfeksi HIV-1. Pada umumnya
uji antigen p24 jarang digunakan dibanding teknik amplifikasi RNA atau DNA HIV
karena kurang sensitif. Sensitivitas pengujian meningkat dengan peningkatan
teknik yang digunakan untuk memisahkan antigen p24 dari antibodi anti-p24
(Read, 2007).
2.1.9 Terapi Pengobatan
Pengobatan HIV/AIDS ada 3 macam yaitu:
1. Pengobatan suportif
Dimaksudkan untuk meningkatkan kondisi umum ODHA yaitu dengan cara
pemberian gizi, obat, vitamin dan kondisi psikososial yang baik. Dengan cara
ini, ODHA dapat melakukan aktivitas layaknya manusia sehat.
2. Pengobatan terhadap infeksi oportunistik
Dilakukan karena kekebalan tubuh ODHA sangat menurun. Pola infeksi
oportunistik berbeda-beda tergantung pada pola mikroba dalam tubuh ODHA
dan kondisi lingkungannya.
3. Pengobatan antiretroviral
Dimaksudkan untuk mengurangi jumlah virus di dalam tubuh. Biasanya obat
antiretroviral dipakai dalam dua atau tiga kombinasi untuk mencegah
resistensi.
2.2 Terapi Antiretroviral (ARV)
2.2.1 Definisi
Terapi antiretroviral berarti mengobati infeksi HIV dengan obat-obatan,
tetapi tidak dapat membunuh virusnya. Meskipun demikian, obat tersebut dapat
memperlambat pertumbuhan virus. Setiap jenis/golongan ARV menyerang HIV
dengan cara yang berbeda (Djoerban, 2000).
2.2.2 Tujuan
Tujuan dari terapi menggunakan ARV adalah untuk menekan secara
maksimal pertumbuhan atau replikasi virus HIV. Mekanismenya adalah dengan
cara menurunkan jumlah viral load dalam darah. Respon terapi yang lama dapat
disebabkan peningkatan jumlah viral load dalam darah. Hal lain yang tidak kalah
penting adalah meningkatkan jumlah CD4 dalam darah, karena sel CD4 yang
rendah dapat berisiko menyebabkan peningkatan infeksi oportunistik (Dipiro,
2008).
2.2.3 Prinsip pengobatan ARV
Prinsip pengobatan untuk infeksi HIV dari Center for Disease Control and
Prevention (CDC):
1. Replikasi HIV yang berlangsung terus-menerus menyebabkan sistem imun
rusak dan berkembang menjadi AIDS, infeksi HIV selalu merugikan dan dalam
jangka panjang yang bebas dari disfungsi sistem imun sangat jarang
terjadi.
2. Kadar RNA HIV dalam plasma menunjukkan besarnya replikasi dan berkaitan
dengan laju destruksi limfosit T CD4, sedangkan hitungan sel T CD4
menunjukkan tingkat keparahan sistem imun akibat HIV yang sudah terjadi.
Pada seseorang yang terinfeksi oleh HIV, perlu dilakukan pengukuran periodik
berkala kadar RNA HIV plasma dan hitung sel CD4 untuk menentukan risiko
perkembangan penyakit serta mengetahui test yang tepat untuk memulai atau
memodifikasi regimen terapi antiretroviral.
3. Laju perkembangan infeksi berbeda antara orang-orang yang terinfeksi oleh
HIV, maka keputusan tentang pengobatan harus disesuaikan orang per orang
berdasarkan tingkat risiko yang ditunjukkan oleh kadar RNA HIV plasma dan
hitung T CD4.
4. Pemakaian terapi kombinasi antiretroviral yang poten untuk menekan replikasi
HIV di bawah kadar yang dapat dideteksi oleh pemeriksaan RNA HIV plasma
yang sensitif akan membatasi kemungkinan munculnya varian HIV yang
resisten terhadap antiretroviral, yaitu faktor utama yang membatasi
kemampuan obat antiretroviral menghambat replikasi virus dan perkembangan
penyakit. Karena itu, tujuan terapi adalah penekanan replikasi HIV semaksimal
yang dapat dicapai.
5. Cara yang paling efektif untuk menekan replikasi HIV dalam jangka lama
adalah pemberian secara simultan kombinasi obat-obat anti-HIV yang efektif
yang belum pernah diterima oleh pasien dan tidak memperlihatkan resistensi
silang dengan obat antiretroviral yang pernah diterima oleh pasien.
6. Setiap obat antiretroviral yang digunakan dalam regimen terapi kombinasi
harus selalu dipakai sesuai jadwal dan dosis yang optimal.
7. Jumlah dan mekanisme kerja obat-obat antiretroviral efektif yang tersedia
masih terbatas, karena telah terbukti tanpa adanya resistensi silang diantara
obat-obat spesifik.
8. Prinsip terapi antiretroviral yang sama juga berlaku pada anak, remaja, dan
dewasa yang terinfeksi oleh HIV.
9. Individu yang terdeteksiinfeksi HIV primer akut harus diterapi dengan terapi
antiretroviral kombinasi untuk menekan replikasi virus.
10. Individu yang terinfeksi oleh HIV, walaupun dengan kadar virus yang dibawah
batas yang dapat dideteksi, tetap dianggap menular. Dengan demikian para
pasien ini harus diberi penyuluhan untuk menghindari perilaku seksual dan
penggunaan NAPZA suntik yang berkaitan dengan penularan HIV.
2.2.4 Mekanisme
Obat-obat antiretroviral terbagi dalam 3 golongan utama yaitu:
1. Entry inhibitor
2. Reverse transcriptase inhibitor NRTI & NNRTI
3. Protease inhibitors (PIs).
Mekanisme aksi obat-obatan antiretroviral berdasarkan golongan:
1. Entry inhibitor
Bekerja dengan cara berikatan dengan submit gp 41 selubung glikoprotein
virus sehingga fusi virus ke target sel dihambat. Satu-satunya obat penghambat
fusi ini adalah enfuvirtid (Depkes RI, 2004).
Obat enfuvirtid diindikasikan untuk infeksi HIV dalam kombinasi dengan
antiretroviral yang lain. Obat ini kontraindikasi terhadap ibu menyusui. Efek
sampingnya meliputi reaksi pada tempat suntikan, diare, mual, muntah, sakit
kepala, reaksi hipersensitifitas dan neuropati perifer (Depkes RI, 2011).
2. Reverse transcriptase inhibitor
a. Nucleoside Reverse Transcriptaase Inhibitor (NRTI)
Analog nukleosid juga disebut sebagai penghambat enzim nukleosid
reverse transcriptase. Targetnya adalah enzim reverse transkriptase dari HIV.
Bekerja sebagai substansi alternatif, mereka bersaing dengan nukleosid fisiologi,
yang membedakannya hanya pada modifikasi minor dalam molekul ribose.
Penggabungan analog nukleosid menginduksi terjadinya kegagalan dari sintesis
DNA, sebagai jembatan fosfodiester yang tidak bisa menstabilkan ikatan ganda
(double strand) (Hoffmann et.al, 2012).
Contoh obat:
a)
Zidovudin (ZDV)
Zidovudin diindikasikan untuk pengobatan infeksi HIV lanjut (AIDS),
awal dan HIV asimtomatik. Konsentrasi dari zidovudin akan meningkat jika
diberikan bersama flukonazole, interferon-B, metadon, valproat, simetidin,
imipramin dan trimetropim. Zidovudin kontraindikasi terhadap pasien dengan
neutropenia dan atau anemia berat. Sedangkan efek sampingnya anemia,
neutropenia dan leukopenia, mual, muntah, anoreksia, sakit perut, dyspepsia, sakit
kepala, ruam, demam, mialgia, insomnia, dan lesu (Depkes RI, 2004).
b) Stavudin (d4T)
Obat ini diindikasikan untuk infeksi HIV dalam kombinasi dengan
antiretroviral yang lain. Obat ini kontraindikasi terhadap ibu menyusui. Efek
sampingnya adalah neuropati perifer, asidosis laktat, gejala saluran cerna dan
lipoatropy (Depkes RI, 2004).
c)
Lamivudin (3TC)
Lamivudin diindikasikan untuk infeksi HIV dalam kombinasi dengan
antiretroviral yang lain. Jika lamivudin diberikan bersama trimetropim akan
meningkatkan konsentrasi dari lamivudin. Obat ini kontraindikasi untuk ibu
menyusui. Efek samping obat ini adalah mual, muntah, diare, nyeri perut, batuk,
sakit kepala, insomnia, malaise dan ruam (Depkes RI, 2004).
d) Zalcitabin (ddC)
Obat ini diindikasikan untuk infeksi HIV lanjut yang tidak tahan terhadap
zidovudin. Obat ini dihentikan segera bila timbul gejala-gejala neuropati rasa
kesemutan, panas dan rasa ditusuk-tusuk. Obat ini kontraindikasi untuk neuropati
perifer dan ibu menyusui. Efek sampingnya adalah neuropati perifer, mual,
muntah, disfagia, anoreksia, diare, sakit perut, konstipasi, faringitis, sakit kepala,
pusing, mialgia, ruam, penurunan berat badan, lesu, demam, nyeri dada, anemia,
leukopenia, trombositopenia, gangguan fungsi hati dan pankreatitis (Depkes RI,
2004).
e)
Didanosine (ddI)
Obat ini diindikasikan untuk infeksi HIV dalam kombinasi dengan
antiretroviral yang lain. Konsentrasi dari didanosine akan meningkat jika diberikan
bersama allopurinol, tenovavir, dan ganciclovir. Sedangkan konsentrasi dari
didanosine akan menurun jika diberikan bersama tiprananvir. Jika didanosine
diberikan bersama hidroksikarbamide akan meningkatkan toksisitas dari
didanosine. Jika didanosine diberikan bersama ribavirin dan stavudine maka akan
meningkatkan risiko efek samping. Obat ini kontraindikasi pada ibu menyusui.
Efek sampingnya neuropati perifer, pankreatitis, diabetes mellitus dan
hipoglikemia (Depkes RI, 2004).
f)
Abacavir (ABC)
Obat ini diindikasikan untuk infeksi HIV dalam kombinasi dengan
antiretroviral yang lain. Konsentrasi abacavir akan menurun jika diberikan
bersama rifampicin, phenobarbital dan fenitoin. Obat ini kontraindikasi pada ibu
menyusui. Efek sampingnya mual, muntah, diare, nyeri perut dan reaksi
hipersensitifitas (Depkes RI, 2004).
g) Analog nukleotida analog adenosine monofosfat: tenofovir
Mekanisme kerja NRTI pada penghambatan replikasi HIV sama dengan
NRTI tetapi hanya memerlukan 2 tahapan proses fosforilasi. Obat ini diindikasikan
untuk infeksi HIV dalam kombinasi dengan antiretroviral yang lain. Jika obat ini
diberikan bersama didanosine maka akan meningkatkan konsentrasi didanosine
dan risiko toksisitas. Obat ini kontraindikasi pada ibu menyusui. Efek sampingnya
mual, muntah, diare, nyeri perut dan gangguan fungsi ginjal (Depkes
RI, 2004).
b.Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NNRTI)
Mekanisme kerja NNRTI tidak melalui tahapan fosforilasi intraseluler
tetapi berikatan langsung dengan reseptor pada reverse transcriptase dan tidak
berkompetisi dengan nukleosida natural (Hoffmann et.al, 2012).
Contoh obat:
a)
Nevirapin (NVP)
Obat ini diindikasikan untuk infeksi HIV dalam kombinasi dengan
antiretroviral yang lain. Jika nevirapin diberikan bersama dengan amprenavir,
aripiprazole, atazanavir, lopinavir dan metadine maka akan menurunkan
konsentrasi dari obat tersebut. Obat ini kontraindikasi pada ibu menyusui. Efek
sampingnya ruam yang berat, demam dan gangguan saluran cerna (Depkes RI,
2004).
b) Efavirenz (EFV)
Obat ini diindikasikan untuk infeksi HIV dalam kombinasi dengan
antiretroviral yang lain. Jika obat ini diberikan bersama amprenavir, aripiprazole,
atazanavir, atorvastatin, diltiazem dan darunavir maka akan mengurangi
konsentrasi dari obat tersebut. Obat ini kontraindikasi pada ibu menyusui. Efek
sampingnya hepatitis, pankreatitis, hiperlipidemia, diabetes dan lipodistropi
(Depkes RI, 2004).
3. Protease Inhibitor (PI)
Mekanisme PI berikatan secara reversibel dengan enzim protease yang
mengkatalisa pembentukan protein yang dibutuhkan untuk proses akhir
pematangan virus. Akibatnya virus yang terbentuk tidak masuk dan tidak mampu
menginfeksi sel lain (Depkes RI, 2004).
Tabel 2. Regimen ARV Lini Pertama dan Lini Kedua untuk ODHA
ZDV+3TC+NVP
ZDV+3TC+EFV
Regimen Lini Pertama
d4T+3TC+NVP
d4T+3TC+EFV
Regimen Lini Kedua
TDF+3TC+EFV
(Depkes RI, 2004)
Berdasarkan literatur Pedoman Nasional Terapi Antiretroviral tahun 2004,
penanganan awal untuk pasien yang baru terdiagnosis HIV/AIDS, digunakan ARV
regimen lini pertama dan dilakukan penggantian terapi jika terjadi resistensi
maupun kegagalan terapi (Depkes RI, 2004).
Tabel 2. Dosis Obat Antiretroviral
Golongan/Nama Obat
Dosis
Nucleoside RTI
Abacavir (ABC)
300 mg setiap 12 jam
Didanosine (ddI)
400 mg sekali sehari
(250 mg sekali sehari if <60 kg)
(250 mg sekali sehari bila diberikan
bersama TDF)
Lamivudine (3TC)
150 mg setiap 12 jam atau 300 mg
sekali sehari
Stavudine (d4T)
40 mg setiap 12 jam
Zidovudine (ZDV)
300 mg setiap 12 jam
Nucleotide RTI
Tenofovir (TDF)
300 mg sekali sehari
Non-nucleoside RTIs
Efavirenz (EFV)
600 mg sekali sehari
Nevirapine (NVP)
200 mg sekali sehari selama 14 hari,
kemudian 200 mg setiap 12 jam
Protease Inhibitors
Indinavir/ritonavir (IDV/r)
800 mg/100 mg setiap 12 jam
Lopinavir/ritonavir (LPV/r)
400 mg/100 mg setiap 12 jam, (533
mg/133 mg setiap 12 jam bila
dikombinasi dengan EFV atau
NVP)
Nelfinavir (NFV)
1250 mg setiap 12 jam
Saquinavir/ritonavir (SQV/r)
1000 mg/100 mg setiap 12 jam atau
1600 mg/200 mg sekali sehari
Ritonavir (RTV, r)
Capsule 100 mg, larutan oral 400
mg/5 ml
(Depkes RI, 2004)
2.3 Evaluasi Penggunaan Obat
Evaluasi penggunaan obat dirumah sakit adalah suatu proses jaminan mutu
yang terstruktur, dilaksanakan terus menerus, dan diotorisasi rumah sakit,
ditujukan untuk memastikan bahwa obat-obatan digunakan dengan tepat, aman
dan efektif dengan tujuan untuk memastikan terapi obat yang tepat.
Evaluasi penggunaan obat merupakan suatu alat penting untuk
menunjukkan bahwa obat-obatan sangat berharga bagi perawatan pasien, dengan
memastikan obat-obatan tersebut digunakan secara aman, efektif dan ekonomis
(Siregar, 2008).
Sasaran evaluasi penggunaan obat dapat diringkas sebagai berikut:
1.
Mengadakan pengkajian penggunaan obat yang efisien dan terus-menerus
2.
Meningkatkan pengembangan standar penggunaan obat
3.
Mengidentifikasi bidang yang perlu untuk materi edukasi berkelanjutan
4.
Meningkatkan kemitraan antar pribadi profesional pelayanan kesehatan
5.
Menyempurnakan pelayanan pasien yang digunakan
6.
Mengurangi risiko tuntutan hukum pada rumah sakit
7.
Mengurangi biaya rumah sakit dan perawatan pasien sebagai akibat dosis yang
akurat, efek samping yang lebih sedikit, dan waktu perawatan yang lebih
singkat (Siregar, 2008).
Menurut WHO (1998), penggunaan obat secara rasional jika memenuhi
kriteria :
1. sesuai dengan indikasi penyakit,
2. tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau,
3. diberikan dengan dosis yang tepat,
4. cara pemberian dengan interval waktu yang tepat,
5. lama pemberian yang tepat, dan
6. obat yang diberikan harus efektif dengan mutu yang terjamin dan aman.
2.4 Interaksi obat
2.4.1 Definisi Interaksi Obat
Interaksi obat adalah sebagai modifikasi efek satu obat akibat obat lain
yang diberikan pada awalnya atau diberikan bersamaan atau bila dua atau lebih
obat berinteraksi sedemikian rupa sehingga keefektifan atau toksisitas satu obat
atau lebih berubah (Aslamet.al, 2003).
Interaksi obat adalah peristiwa dimana aksi suatu obat diubah atau
dipengaruhi oleh obat lain yang diberikan bersamaan atau hampir bersamaan
(Smith & Aronson, 2002).
2.4.2 Obat yang terlibat dalam interaksi
Interaksi obat melibatkan 2 jenis obat yaitu :
1.
Obat obyek
Obat yang kemungkinan besar menjadi obyek interaksi atau efeknya dipengaruhi
oleh obat lain, umumnya adalah obat yang memenuhi ciri-ciri: obat-obatan dengan
efek terapi sempit, artinya antara dosis toksis dan dosis terapi tersebut
perbandingannya tidak besar. Kenaikan sedikit saja dosis obat sudah menyebabkan
efek toksis.
2.
Obat presipitan
Obat yang dapat mengubah aksi atau efek obat lain untuk dapat mempengaruhi
aksi atau efek obat lain, maka obat presipitan umumnya adalah obat yang
mempunyai ciri :
a. Obat dengan ikatan protein kuat, sehingga akan menggeser ikatan protein obat
lain yang lemah. Obat-obat yang tergusur ini kemudian kadar bebasnya dalam
darah akan meningkat, terutama meningkatnya efek toksis.
b. Obat-obatan dengan kemampuan menghambat atau menginduksi enzim-enzim
yang memetabolisir dalam hati. Obat-obat sebagai perangsang enzim akan
mempercepat eliminasi obat-obat lain sehingga kadar dalam darah lebih cepat
hilang, sedangkan obat yang dapat menghambat metabolisme akan
meningkatkan kadar obat sehingga terjadi efek toksis (David, 2002).
2.4.3 Mekanisme Interaksi Obat
Interaksi obat berdasarkan mekanisme interaksinya dapat dibagi menjadi
tiga golongan besar, yaitu :
1. Interaksi Farmasetik
Interaksi ini merupakan interaksi fisika-kimia dimana terjadi reaksi
fisikakimia antara obat-obat sehingga mengubah atau menghilangkan aktifitas
farmakologinya.
2. Interaksi Farmakokinetik
Interaksi ini terjadi bila obat presipitan mempengaruhi dan mengubah
proses absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi.
a. Interaksi tahap absorbsi
Interaksi ini dapat terjadi melalui cara: adanya perubahan motilitas
gastrointestinal, kelasi (pengikatan molekul-molekul obat tertentu oleh senyawa
logam sehingga absorbsi akan berkurang karena terbentuknya kompleks),
makanan juga akan menurunkan absorbsi obat-obat tertentu.
b. Interaksi tahap distribusi
Interaksi dalam tahap distribusi terjadi terutama bila obat dengan ikatan
protein yang kuat menggusur obat lain dengan ikatan protein yang lemah dari
tempat ikatannya pada protein plasma, akibatnya kadar obat bebas yang akan
tergusur ini akan lebih tinggi dalam darah dan terjadi peningkatan efek toksik
(Aslam et.al, 2003).
c. Interaksi tahap metabolisme
Interaksi dalam proses metabolisme dapat terjadi dengan 2 kemungkinan,
yaitu :
1) Pemacuan enzim
Suatu obat presipitan dapat memacu metabolisme obat obyek sehingga
mempercepat eliminasi obat tersebut. Kenaikan kecepatan eliminasi akan diikuti
dengan menurunnya kadar obat dalam darah sehingga mengurangi efek terapi,
karena kadar optimal obat tidak tercapai.
2) Penghambatan enzim
Metabolisme suatu obat juga dapat dihambat oleh obat lain. Obat-obat yang
mempunyai kemampuan untuk menghambat enzim yang memetabolisir obat lain
disebut penghambat enzim. Akibatnya adalah peningkatan kadar obat dalam darah
karena terhambatnya proses eliminasi obat, akan menyebabkan meningkatnya
kadar obat sehingga menimbulkan efek toksis (Aslam et.al, 2003).
d. Interaksi tahap ekskresi
Obat dieliminasi melalui ginjal dengan filtrasi glomerulus. Obatyang
mempengaruhi ekskresi obat melalui ginjal dapat mempengaruhi konsentrasi obat
lain dalam plasma. Adanya obat larut dalam air yang mendasarkan ekskresinya
melalui ginjal sebagai eliminasi utamanya, yaitu obat yang tanpa lebih dulu
dimetabolisme dalam hati (Aslam et.al, 2003).
3. Interaksi Farmakodinamik
Pada interaksi farmakodinamik terjadi perubahan efek obat obat obyek
yang disebabkan oleh obat presipitan karena pengaruhnya pada tempat kerja obat,
interaksi farmakodinamik dapat dibedakan menjadi :
a. Interaksi langsung
Interaksi langsung terjadi jika dua obat atau lebih bekerja pada tempat atau
reseptor yang sama atau bekerja pada tempat yang berbeda tetapi dengan hasil efek
akhir yang sama atau hampir sama. Interaksi dua obat pada tempat yang sama dapat
tampil sebagai antagonisme atau sinergisme. Interaksi langsung ini dapat terbagi
lebih lanjut sebagai berikut :
1) Antagonisme pada tempat yang sama
Antagonisme adalah keadaan dimana efek dua obat pada tempat yang sama
saling berlawanan.
2) Sinergisme pada tempat yang sama
Sinergisme adalah interaksi dimana efek dua obat yang bekerja pada tempat
yang sama yang saling memperkuat.
3) Sinergisme pada tempat yang berbeda, dengan efek yang sama atau hampir
sama.
Obat-obat dengan efek akhir yang sama atau hampir sama, walaupun tempat
kerja atau reseptornya berbeda, bila diberikan bersamaan akan memberikan
efek yang saling memperkuat.
b. Interaksi tidak langsung
Interaksi tidak langsung terjadi bila obat presipitan mempunyai efek yang berbeda
dengan obat obyek, tetapi efek obat presipitan tersebut akhirnya dapat mengubah
efek obat obyek (Smith & Aronson, 2002).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian non-eksperimental. Data
penelitian diperoleh dari berkas rekam medik yang dikumpulkan dengan metode
retrospektif kemudian dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel
dan persentase.
3.2 Obyek Penelitian
Obyek penelitian adalah data penggunaan antiretroviral pada pasien
HIV/AIDS dengan penyakit penyerta di Instalasi Rawat Jalan RSUD Tugurejo
Semarang periode Januari 2017-September 2019.
3.3 Subyek Penelitian
Pasien di Instalasi Rawat Jalan RSUD Tugurejo Semarang dengan diagnosis
HIV/AIDS dengan penyakit penyerta periode Januari 2017–September 2019.
3.4 Teknik Sampling
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive
sampling.
3.5 Variabel Penelitian
3.5.1 Kriteria inklusi
1. Pasien yang didiagnosa HIV/AIDS dengan penyakit penyerta dan mendapatkan
pengobatan antiretroviral di Instalasi Rawat Jalan RSUD Tugurejo Semarang
periode Januari 2017–September 2019.
2. Pasien dengan data rekam medik lengkap yang meliputi identitas pasien (nomor
rekam medik, usia, jenis kelamin, tanggal periksa, diagnosa penyakit dan
keluhan), serta data obat (nama obat, dosis obat, aturan pakai obat).
3.5.2 Kriteria ekslusi
Pasien yang didiagnosa HIV/AIDS tetapidata rekam medik tidak lengkap.
3.6 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah lembar pengumpul data pasien HIV/AIDS
dengan penyakit penyerta di Instalasi Rawat Jalan RSUD Tugurejo Semarang
periode Januari 2017–September 2019.
Bahan penelitian yang digunakan adalah catatan rekam medik dari pasien
rawat jalan dengan diagnosis HIV/AIDS dengan penyakit penyerta yang
mendapatkan pengobatan ARV di RSUD Tugurejo Semarang Januari 2017–
September 2019.
3.7 Skema kerja
Jalannya penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu:
1. Tahap pertama adalah pembuatan proposal penelitian dengan bantuan dosen
pembimbing kemudian diajukan kepada direktur RSUD Tugurejo Semarang
sebagai syarat mendapatkan ijin penelitian.
2. Tahap kedua adalah pengurusan surat ijin penelitian. Surat ijin penelitian
diajukan dan ditandatangani oleh Ketua Program S1 Farmasi Sekolah Tinggi
Ilmu Farmasi “Yayasan Pharmasi” Semarang. Selanjutnya surat diajukan
kepada Direktur RSUD Tugurejo Semarang melalui kepala bagian diklat
sebagai prosedur resmi untuk melaksanakan penelitian di RSUD Tugurejo
Semarang.
3. Tahap ketiga adalah melakukan observasi di bagian Rekam Medik di RSUD
Tugurejo Semarang untuk mengetahui jumlah populasi pasien HIV/AIDS.
4. Tahap keempat tahap penelusuran dan pengumpulan data yang dilakukan
dengan penelusuran dan pencatatan data rekam medik. Data yang diambil
meliputi:
a. Identitas pasien : nomor rekam medik, usia, jenis kelamin, tanggal periksa,
dan penyakit penyerta.
b. Data obat yang diberikan pada pasien: nama obat, dosis, aturan pakai dan
interaksi.
c. Data hasil uji laboratorium yang meliputi hemoglobin dan jumlah sel CD4.
5. Tahap kelima adalah pengolahan dan analisis data. Data yang diperoleh
dianalisa secara deskriptif untuk mengetahui penggunaan antiretroviral pada
pasien HIV/AIDSdengan penyakit penyerta di Instalasi Rawat Jalan RSUD
Tugurejo Semarang periode Januari 2017–September 2019.
6. Tahap keenam adalah penarikan kesimpulan atas data yang diperoleh.
Penyusunan Proposal
Perijinan
Observasi
Melakukan penelusuran dan
pengumpulan data berdasar data
rekam medik
Data pasien:
1. No rekam medik
2. Usia
3. Jenis kelamin
4. Tanggal periksa
5. Penyakit penyerta
Data obat:
1. Nama obat
2. Dosis
3. Aturan pemakaian
Analisis data
Kesimpulan
Gambar 5. Skema Alur Penelitian
Data laboratorium:
Hemoglobin
Jumlah sel CD4
3.8 Analisis Data
Data penggunaan ARV untuk pasien HIV/AIDS dengan penyakit penyerta
di RSUD Tugurejo Semarang periode Januari 2017–September 2019 yang telah
diperoleh selanjutnya diolah dan dilakukan analisis data menggunakan metode
deskriptif sebagai berikut:
1. Profil subyek penelitian adalah menghitung jumlah dan persentase pasien
HIV/AIDS dengan penyakit penyerta di Instalasi Rawat Jalan RSUD Tugurejo
Semarang periode Januari 2017–September 2019 menurut beberapa karakter
yaitu usia, jenis kelamin, dan penyakit penyerta.
2. Profil penggunaan obat-obat antiretroviral pada pasien rawat jalandengan
menghitung jumlah dan persentase penggunaannya.
3. Persentase jumlah sel CD4 pada pasien HIV/AIDS dengan penyakit penyerta di
Instalasi Rawat Jalan RSUD Tugurejo Semarang Periode Januari 2017–
September 2019.
4. Persentase kesesuaian penggunaan obat-obat antiretroviral pada pasien rawat
jalanberdasarkan parameter tepat pasien, tepat obat dan tepat dosis yang
dibandingkan dengan literatur.
5. Pengkajian interaksi obat yang terjadi pada pasien HIV/AIDSdengan penyakit
penyerta di Instalasi Rawat Jalan RSUD Tugurejo Semarang periode Januari
2017–September 2019
6. Data yang diperoleh dari hasil penelusuran data kemudian diolah menjadi
bentuk persentase (%) dan disajikan dalam bentuk tabel.
Download