Uploaded by common.user61730

askep camar fix

advertisement
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA TN “A” DENGAN GANGGUAN
PERSEPSI SENSORI (HALUSINASI PENDENGARAN) DI RUANG
CAMAR
RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT
LAWANG
Oleh:
BAITYRAHMI ATINA S.Kep
MARIKHA DWI SETYA NINGRUM S.Kep
NILNA EKA SUSANTO S.Kep
KUSTINA NINGSEH S.Kep
RIZAL FIKI S.Kep
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROFESI NERS DIAN HUSADA
MOJOKERTO
2020
1
LEMBAR PENGESAHAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA TN
“A” DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI (HALUSINASI
PENDENGARAN) DI RUANG CAMAR
RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT
LAWANG
LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA INI TELAH DISETUJUI
Pembimbing Institusi
Pembimbing Klinik
…………………………………
………………………………
Mengetahui,
Kepala Ruangan Camar
.........................................
2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kesehatan jiwa merupakan bagian yang integral dari kesehatan. Kesehatan
jiwa bukan sekedar terbebas dari gangguan jiwa, akan tetapi merupakan suatu hal
yang dibutuhkan oleh semua orang. Kesehatan jiwa adalah perasaan sehat dan
bahagia serta
mampu mengatasi tatangan hidup, dapat menerima orang lain
sebagaimana adanya. Serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan
orang lain. (Menkes, 2005)
Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi.
Bentuk halusinasi ini berupa suara-suara yang bising atau mendengung, tapi yang
paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang agak
sempurna. Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai keadaan pasien sedih
atau yang dialamatkan pada pasien itu. Akibatnya pasien bisa bertengkar atau
bicara dengan suara halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap dalam
mendengar atau bicara keras-keras seperti bila ia menjawab pertanyaan seseorang
atau bibirnya bergerak-gerak. Kadang-kadang pasien menganggap halusinasi
dating dari sertiap tubuh atau diluar tubuhnya. Halusinasi ini kadang-kadang
menyenangkan misalnya bersifat teguran, ancaman dan lain-lain.
Persepsi merupakan respon dari reseptor sensoris terhadap stimulus
eksternal,juga pengenalan dan pemahaman terhadap sensoris yang diinterprtasikan
oleh stimulus yang diterima. Jika meliputi rasa kecemasan yang berat maka
kemampuan untuk menilai realita dapat terganggu. Persespsi mengacu pada
respon reseptor sensoris terhadap stimulus . persepsi juga melibatkan kognitif dan
pengertian emosional akan objek yang dirasakan. Gangguan persepsi dapat terjadi
pada proses sensori penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan
pengecapan.
Sehingga kami merasa tertarik untuk membuat makalah mengenai kasus
halusinasi tersebut sampai dengan asuhan keperawatannya.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apakah pengertian dari halusinasi ?
2.
Apa saja teori halusinasi ?
3.
Apa saja jenis – jenis dari halusinasi ?
4.
Apa saja faktor predisposisi yang mempengaruhi halusinasi ?
5.
Apa saja factor prespitasi dari halusinasi ?
3
6.
Apa saja perilaku dari halusinasi ?
7.
Bagaimana sumber koping halusinasi ?
8.
Bagaimana mekanisme koping dari halusinasi ?
9.
Apa saja tahap – tahap halusinasi ?
10.
Apa diagnosa, rencana dan tindakan keperawatan halusinasi ?
1.3
Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian dari halusinasi
2.
Untuk mengetahui teori halusinasi
3.
Untuk mengetahui jenis – jenis dari halusinasi
4.
Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi halusinasi
5.
Untuk mengetahui predisposisi yang mempengaruhi halusinasi
6.
Untuk menegtahui factor prespitasi dari halusinasi
7.
Untuk mengetahui sumber koping halusinasi
8.
Untuk mengetahui mekanisme koping dari halusinasi
9.
Untuk mengetahui tahap – tahap dari halusinasi
10.
Untuk mengetahui diagnosa, rencana dan tindakan keperawatan halusinasi
4
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1
Masalah Utama
Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi
2.2
Proses Terjadinya Masalah
2.2.1
Pengertian
Perubahan persepsi sensori: halusinasi adalah satu gejala gangguan jiwa di
mana klien mengalami perubahan persepsi sensori, seperti merasakan sensasi
palsu berupa suara, penglihatan, pengucapan, perabaan, dan penghiduan. Klien
merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada. Selain itu, perubahan persepsi
sensori: halusinasi bisa juga diartikan sebagai persepsi sensori tentang suatu
objek, gambaran, dan pikiran yang sering terjadi tanpa adanya rangasangan dari
luar meliputi semua sistem penginderaan (pendengaran, penglihatan, penciuman,
perabaan, atau pengecapan).
Suatu keadaan dimana seseorang mengalami perubahan pada pola stimulus
yang mendekat yang diprakarsai secara internal dan eksternal) disertai dengan
suatu pengurangan berlebih-lebihan atau kelainan berespons terhadap stimulus .
Gangguan penyerapan persepsi pancaindra tanpa adanya rangsangan dari luar.
Gangguan ini dapat terjadi pada sistem penginderaan pada saat kesadaran individu
tersebut penuh dan baik. Maksudnya rangsangan terjadi pada saat klien dapat
menerima rangsangan dari luar dan dari individu sendiri. Dengan kata lain klien
berespons terhadap rangsangan yang tidak nyata, yang hanya dirasakan oleh klien
dan tidak dapat dibuktikan
2.2.2
1)
Teori Yang Menjelaskan Halusinasi
Teori Biokimia
Terjadi sebagai respon metabolisme terhadap stress yang mengakibatkan
terlepasnya zat halusinogenik neurotik.
2)
Teori Psikoanalisa
Merupakan respons pertahanan ego untuk melawan rangsangan dari luar yang
mengancam dan ditekan untuk muncul dalam alam sadar.
2.2.3
Jenis Halusinasi
Berikut ini akan dijelaskan mengenai ciri-ciri yang objektif dan subjektif pada
klien halusinasi.
Jenis Halusinasi
Halusinasi Dengar
Data Objektif

Bicara
atau 
5
Data Subjektif
Mendengar suara-
Jenis Halusinasi
(klien mendengar
suara/ bunyi yang
tidak
ada
hubungannya
dengan
stimulus
yang
nyata/
lingkungan).
Data Objektif
tertawa sendiri

Marah-marah
tanpa sebab

Mendekatkan
telinga
ke
arah
tertentu

Menutup
telinga
Halusinasi

MenunjukPenglihatan
nunjuk kerah tertentu.
(klien
melihat 
Ketakutan
gambaran
yang pada sesuatu yang
jelas/
samar tidak jelas.
terhadap
adanya
stimulus yang nyata
dari lingkungan dan
orang lain tidak
melihatnya).
Data Subjektif
suara atau kegaduhan.

Mendengar suara
yang mengajak bercakapcakap.

Mendengar suara
menyuruh
melakukan
sesuatu yang berbahaya.
Halusinasi
Penciuman
(klien
mencium
suatu bau yang
muncul dari sumber
tertentu
tanpa
stimulus
yang
nyata)
Halusinasi
Pengecapan
(klien merasakan
sesuatu yang tidak
nyata,
biasanya
merasakan
rasa
makanan yang tidak
enak).

Mengendusendus seperti sedang
membaui bau bauan
tertentu.

Menutup
hidung

Membaui
baubauan seperti bau darah,
urine, feses, dan terkadang
bau-bau
tersebut
menyenangkan bagi klien.

Sering
meludah.

Muntah

Merasakan
rasa
seprti darah, urine, atau
feses.
Halusinasi
Perabaan
(klien merasakan
sesuatu
pada
kulitnya tanpa ada
stimulus
yang
nyata).
Halusinasi
Kinestetik
(klien
merasa
badannya bergerak
dalam
suatu
rangsangan
atau
anggota badannya
bergerak).
Halusinasi Viseral
(perasaan tertentu
timbul
dalam

Menggaruk
Mengatakan pada
garuk
permukaan serangga di permukaan
kulit.
kulit.

Merasa
seperti
tersengat listrik.

Melihat bayangan,
sinar, bentuk geometris,
kartun, melihat hantu, atau
monster.

Memegang

Mengatakan
kakinya
yang badannya melayang
dianggapnya
udara
bergerak sendiri.
ke

Memegang

Mengatakan
badannya
yang perutnya menjadi mengecil
dianggapnya berubah setelah minum soft drink.
6
Jenis Halusinasi
tubuhnya).
2.2.4
Data Objektif
bentuk dan tidak
normal
seperti
biasanya.
Data Subjektif
Faktor Presdiposisi
Faktor predisposisi adalah faktor risiko yang mempengaruhi jenis dan
jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress.
Diperoleh baik dari klien maupun keluarga. Faktor presdiposisi ini meliputi faktor
perkembangan, sosiokultural, biokimia, psikologis, dan genetik.
1)
Faktor perkembangan
Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan interpersonal
terganggu, maka individu akan mengalami stres dan kecemasan.
2)
Faktor Sosiokultural
Berbagai
faktor
di
masyarakat
dapat
menyebabkan
seseorang
merasa
disingkirkan, sehingga orang tersebut merasa kesepian di lingkungan yang
membesarkannya.
3)
Faktor Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Jika seseorang
mengalami stress yang berlebihan, maka di dalam tubuhnya akan dihasilkan suatu
zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti buffofenon dan
dimethytranferase (DMP).
4)
Faktor Psikologis
Hubungan intrapersonal yang tidak harmonis serta adanya peran ganda
bertentangan yang sering diterima oleh seseorang akan mengakibatkan stres dan
kecemasan yang tinggi dan berakhir pada gangguan orientasi realitas.
5)
Faktor Genetik.
Gen yang berpengaruh dalam skizofrenia belum diketahui, tetapi hasil studi
menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat
berpengaruh pada penyakit ini.
2.2.5
Faktor Pesipitasi
Faktor presipitasi yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai
tantangan, ancaman, atau tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk
menghadapinya. Adanya rangsangan dari lingkungan,seperti partisipasi klien
dalam kelompok, terlalu lama tidak diajak berkomunikasi, objek yang ada di
lingkungan, dan juga suasana sepi atau terisolasi sering menjadi pencetus
terjadinya halusinasi. Hal tersebut dapat meningkatkan stres dan kecemasan yang
merangsang tubuh mengeluarkan zat halusinogenik.
7
2.2.6
Perilaku
Respons klien terhadap halusinasi dapat berupa rasa curiga, takut, tidak
aman, gelisah dan bingung, berperilaku yang merusak diri, kurang perhatian, tidak
mampu mengambil keputusan, serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan
tidak nyata. Rawlins dan Heacock (1993) mencoba memecahkan masalah
halusinasi berlandaskan atas hakikat keberadaan seorang individu sebagai
makhluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga
halusinasi dapat dilihat dari lima dimensi yaitu sebagai berikut :
1)
Dimensi Fisik
Manusia dibangun oleh sistem indera untuk menanggapi rangsangan eksternal
yang diberikan oleh lingkungannya. Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa
kondisi fisik seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat – obatan,
intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama.
2)
Dimensi Emosional
Perasaan cemas yang berlebihan karena p\roblem atau masalah yang tidak dapat
diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa
perintah memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah
tersebut hingga berbuat sesuatu terhadap ketakutannya
3)
Dimensi Intelektual
Dimensi intelektual menerangkan bahwa individu yang mengalami halusinasi
akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi
merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan, tetapi
pada saat tertentu menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh
perhatian klien dan tidak jarang akan mengontrol semua perilaku klien.
4)
Dimensi Sosial
Dimensi sosial pada individu yang mengalami halusinasi menunjukan
kecenderungan untuk 0menyendiri. Individu asyik dengan halusinasinya seolah –
olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial,
kontrol diri dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi
dijadikan sistem kontrol oleh individu tersebut, sehingga jika perintah halusinasi
berupa ancaman, maka hal tersebut dapat mengancam dirinya atau orang lain.
Oleh karena itu aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan pada
klien yang mengalami halusinasi
5)
Dimensi Spiritual
Manusia diciptakan tuhan sebagai makluk sosial, sehingga interaksi dengan
manusia lainnya merupakan kebutuhan yang mendasar. Klien yang mengalami
halusinasi cenderung menyendiri hingga proses diatas tidak terjadi. Individu tidak
8
sadar dengan keberadaannya dan halusinasi menjadi sistem kontrol dalam
individu tersebut. Saat halusinasi menguasai dirinya, individu kehilangan kontrol
terhadap kehidup\an nyata.
2.2.7
Sumber Koping
Sumber koping merupakan suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan
strategi seseorang. Individu dapat mengatasi stres dan ansietas dengan
menggunakan sumber koping yang ada dilingkungannya. Sumber koping tersebut
dijadikan sebagai modal untuk menyelesaikan masalah. Dukungan sosial dan
keyakinan budaya dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang
menimbulkan stres dan mengadopsi strategi koping yang efektif.
2.2.9
Mekanisme Koping
Mekanisme koping merupakan tiap upaya yang diarahkan pada
pengendalian stres, termasuk upaya penyelesaian masalah secara langsung dan
mekanisme pertahanan lain yang digunakan untuk melindungi diri.
2.2.10 Tahapan Halusinasi
1)
Tahap I (Non – psikotik)
Pada tahap ini halusinasi mampu memberikan rasa nyaman pada klien, tingkat
orientasi sedang. Secara umum pada tahap ini halusinasi merupakan hal yang
menyenangkan bagi klien.
Karakteristik:
a)
Mengalami kecemasan, kesepian, rasa bersalah, dan ketakutan
b)
Mencoba berfokus pada fikiran yang dapat menghilangkan kecemasan
c)
Pikiran dan pengalaman sensorik masih ada dalam kontrol kesadaran
Perilaku yang muncul:
a)
Tersenyum atau tertawa sendiri
b)
Menggerakan bibir tanpa suara
c)
Pergerakan mata yang cepat
d)
Respon verbal lambat, diam dan berkonsentrasi
2)
Tahap II (Non – psikotik)
Pada tahap ini biasanya klien bersikap menyalahkan dan mengalami tingkat
kecemasan berat. Secara umum halusinasi yang ada dapat menyebabkan antipati.
Karakteristik:
a)
Pengalaman sensori menakutkan atau merasa dilecehkan oleh pengalaman
tersebut
b)
Mulai merasa kehilangan kontrol
c)
Menarik diri dari orang lain
Perilaku yang muncul:
9
a)
Terjadi peningkatan dneyut jantung, pernafasan 0dan tekanan darah
b)
Perhatian terhadap lingkungan menurun
c)
Konsentrasi terhadap pengalaman sensoripun menurun
d)
Kehilangan kemampuan dalam membedakan antara halusinasi dan realita
3)
Tahap III (Psikotik)
Klien biasanya tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, tingkat kecemasan berat
dan halusinasi tidak dapat ditolak lagi.
Karakteristik:
a)
Klien menyerah dan menerima pengalaman sensorinya
b)
Isi halusinasi menajadi atraktif
c)
Klien menjadi kesepian bila pengalaman sensorinya berakhir
Perilaku yang muncul:
a)
Klien menuruti perintah halusinasinya
b)
Sulit berhubungan dengan orang lain
c)
Perhatian terhadap lingkungan sedikit atau sesaat
d)
Tidak mampu mengikuti perintah yang nyata
e)
Klien tampak tremor dan berkeringat
4)
Tahap IV (Psikotik)
Klien sudah sangat dikuasai oleh halusinasi dan biasanya klien terlihat panik
Perilaku yang muncul:
a)
Resiko tinggi menciderai
b)
Agitasi
c)
Tidak mampu merespon rangsangan yang ada
Timbulnya perubahan persepsi sensori halusinasi biasanya diawali dengan
seseorang yang menarik diri dari lingkungannya karena orang tersebut menilai
dirinya rendah. Bila klien mengalami halusinasi dengar dan lihat atau salah
satunya yang menyuruh pada kejelekan, maka akan beresiko terhadap perilaku
kekerasan.
10
2.3
Pohon Masalah
Effect
Resiko Tinggi Perilaku Kekerasan
Core Problem Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi
Causa
Harga Diri Rendah
Isolasi Sosial
Koping Individu Inefektif
Regimen Terapeutik Inefektif
2.4
Masalah Keperawatan Yang Mungkin Muncul
1.
Resiko tinggi perilaku kekerasan
2.
Perubahan persepsi sensori : halusinasi
3.
Isolasi sosial
4.
Harga diri rendah kronis
2.5
Data Yang Perlu Dikaji
Masalah
Keperawatan
Gangguan
Sensori
Persepsi:
Halusinasi
Data yang perlu dikaji
Subjektif:
1)
Klien mengatakan mendengar sesuatu
2)
Klien mengatakan melihat bayangan putih
3)
Klien mengatakan dirinya seperti disengat listrik
4)
Klien mencium bau – bauan yang tidak sedap,
seperti feses
5)
Klien mengatakan kepalanya melayang diudara
6)
Klien mengatakan dirinya merasakan ada sesuatu
yang berbeda pada dirinya
Objektif:
1)
Klien terlihat bicara atau tertawa sendiri saat dikaji
2)
Bersikap seperti mendengarkan sesuatu
3)
Berhenti bicara ditengah – tengah kalimat untuk
mendengarkan sesuatu
4)
Disorientasi
5)
Konsentrasi rendah
6)
Pikiran cepat berubah – ubah
7)
Kekacauan alur pikiran
2.6
Diagnosa Keperawatan
Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi
11
2.7
Rencana Tindakan Keperawatan
1.
Tindakan keperawatan untuk klien

Tujuan keperawatan untuk klien
a.
Klien mengenali halusinasi yang dialaminya
b.
Klien dapat mengontrol halusinasinya
c.
Klien mengikuti program pengobatan secara optimal

Tindakan Keperawatan
a.
Membantu klien mengenali halusinasinya
Diskusi adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu klien
mengenali halusinasinya. Perawat dapat berdiskusi dengan klien terkait isi
halusinasi (apa yang didengar atau dilihat), waktu yang terjadi, frekuensi
terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul dan perasaan
klien saat halusinasi muncul (komunikasinya sama dengan pengkajian diatas)
b.
Melatih klien mengontrol halusinasi
Perawat dapat melatih empat cara dalam mengendalikan halusinasi pada klien.
Keempat cara tersebut sudah terbukti mampu mengontrol halusinasi seseorang.
Keempat cara tersebut adalah menghardik halusinasi, bercakap – cakap dengan
orang lain, melakukan aktivitas yang terjadwal dan mengonsumsi obat secara
teratur
1)
Menghardik halusinasi
Menghardik halusinasi adalah cara mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan
cara menolak halusinasi yang muncul. Pasien dilatih untuk mengatakan tidak
terhadap halusinasi yang muncul atau tidak memedulikan halusinasinya. Jika ini
dapat dilakukan, pasien akan mampu mengendalikan diri dan tidak mengikuti
halusinasi yang muncul. Berikut ini tahapan intervensi yang dilakukan perawat
dalam mengajarkan pasien.
a)
Menjelaskan cara menghardik halusinasi
b)
Memperagakan cara menghardik
c)
Meminta pasien memperagakan ulang
d)
Memantau penerapan cara menguatkan perilaku pasien
2)
Bercakap-cakap dengan orang laim
Bercakap-cakap dengan orang lain dapat membantu mengontrol halusinasi. Ketika
pasien bercakap-cakap dengan orang lain, terjadi distraksi, focus perhatian pasien
akan beralih dari halusinasi ke percakapan yang dilakukan dengan orang lain.
3)
Melakukan aktivitas yang terjadwal
Untuk mengurangi resiko halusinasi muncul lagi adalah dengan menyibukkan diri
melakukan aktivitas yang teratur. Dengan beraktivitas secara terjadwal, pasien
12
tidak akan mengalami banyak waktu luang sendiri yang sering kali mencetuskan
halusinasi oleh karena itu halusinasi dapat dikontrol dengan cara beraktivitas
secara teratur dari bangun pagi sampai tidur malam. Tahapan intervensi perawat
dalam memberikan aktivitas yang terjadwal yaitu :
a)
Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi
b)
Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh pasien
c)
Melatih pasien melakukan aktivitas
d)
Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai aktivitas yang sudah dilatih.
Upayakan pasien mempunyai aktivitas mulai dari bangun pagi sampai dengan
tidur malam.
e)
Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan, memberikan penguatan terhadap
perilaku pasien yang positif.
4)
Minum obat secara teratur
Minum obat seacara teratur dapat mengontrol halusinasi. Pasien juga harus dilatih
untuk minum obat secara teratur sesuai dengan program terapi dokter. Pasien
gangguan jiwa yang dirawat dirumah sering mengalami putus obat sehingga
pasien mengalami kekambuhan. Jika kekambuhan terjadi, untuk mencapai kondisi
seperti semula akan membutuhkan waktu. Oleh karena itu, pasien harus dilatih
minum obat sesuai program dan berkelanjutan. Berikut ini intervensi yang dapat
dilakukan perawat agar pasien patuh minum obat.
a)
Jelaskan kegunaan obat
b)
Jelaskan akibat jika putus obat
c)
Jelaskan cara mendapatkan obat/berobat
d)
Jelaskan cara minum obat dengan prinsip 5 benar (benar obat, benar
paasien, benar cara, benar waktu, dan benar dosis)
2.
Tindakan keperawatan untuk keluarga klien
1)
Tujuan tindakan untuk keluarga
Keluarga dapat merawat klien dirumah dan menjadi sistem pendukung yang
efektif untuk klien
2)
Tindakan keperawatan
Keluarga merupakan faktor vital dalam penanganan klien gangguan jiwa dirumah.
Hal ini mengingat keluarga adalah sistem pendukung terdekat dan orang yang
bersama – sama dengan klien selama 24 jam. Keluarga sangat menentukan apakah
klien akan kambuh atau tetap sehat. Keluarga yang mendukung klien secara
konsisten akan membuat klien mampu mempertahankan program pengobatan
secara optimal. Namun demikian, jika keluarga tidak mampu merawat maka klien
13
akan kambuh bahkan untuk memulihkannya kembali akan sangat sulit. Oleh
karena itu, perawat harus melatih keluarga klien gangguan jiwa dirumah.
Pendidikan kesehatan kepada keluarga dapat dilakukan melui tiga tahap. Tahap
pertama adalah menjelaskan tentang masalah yang dialami oleh klien dan
pentingnya peran keluarga untuk mendukung klien. Tahap kedua adalah melatih
keluarga untuk merawat klien dan yang ketiga yaitu melatih keluarga untuk
merawat klien langsung.
Informasi yang perlu disampaikan kepada keluarga meliputi pengertian halusinasi,
jenis halusinasi yang dialami oleh klien, tanda dan gejala halusinasi, proses
terjadinya halusinasi, catra merawat klien halusinasi (cara berkomunikasi, cara
pemberian obat, dan pemberian aktivitas kepada klien), serta sumber – sumber
pelayanan kesehatan yang bisa dijangkau.
Berdasarkan referensi Tujuan Umum dan Tujuan Khusus Halusinasi :
NO. DIAGNOSA
TUJUAN
1.
Gangguan
TUM : pasien dapat
Sensori
mengontrol halusinasi
Persepsi
: yang dialaminya
Halusinasi
TUK 1 :
1.
Pasien
dapat
membina
hubungan
saling percaya
2.
Kriteria
evaluasi
:
setelah
dilakukan 2 x interaksi
pasien
menunjukkan
tanda – tanda percaya
kepada
perawat
:
ekspresi
wajah
bersahabat,
menunjukkan
rasa
senang, ada kontak
mata,
mau
menyebutkan
nama,
mau menjawab salam,
mau
duduk
berdampingan dengan
perawat,
bersedia
mengungkapkan
masalah yang dihadapi.
14
INTERVENSI
TUK 1 :
1.
Bina hubungan saling
percaya dengan menggunakan
prinsip komunikasi terapi
utik.
2.
Sapa pasien dengan
rama baik verbal maupun non
verbal.
3.
Perkenalkan
nama,
nama panggilan dan tujuan
perawat berkenalan.
4.
Tanyakan
nama
lengkap dan nama panggialan
yang disukai pasien
5.
Buat kontrak yang
jelas
6.
Tujukkan sikap jujur
dan menepati janji setiap kali
interaksi.
7.
Tunjukkan
sikap
empati dan menerima apa
adanya
8.
Beri perhatian kepada
pasien
dan
perhatian
kebutuhan dasar pasien.
9.
Tanyakan
perasaan
pasien dan masalah yang yang
dihadapi pasien.
10.
Dengarkan
dengan
penuh perhatian ekspresi
perasaan pasien.
NO. DIAGNOSA
2.
TUJUAN
INTERVENSI
TUK 2 :
1.
Pasien
dapat
mengenal halusinasi
2.
Kriteria
evaluasi :
Setelah dilakukan 1x
interaksi
pasien
menyebutkan
isi,
waktu,
frekuensi,
situasi dan kondisi
yang
menimbukan
halusinasi
3.
Setelah 2 x
interaksi
pasien
menyatakan perasaan
dan responnya saat
mengalami halusinasi :
marah, takut sedih,
senang, cemas dan
jengkel
TUK 2:
a.
Adakan kontak sering
dan singkat secara bertahap
b.
Observasi tingkah laku
pasien
terkait
dengan
halusinasinya (dengar, liat,
penghidu, raba, kecap) jika
menemukan pasien yang
sedang halusinasi.
1.
Tanyakan
apakah
pasien mengalami sesuatu
(halusinasi dengar, lihat,
penghidu, raba, kecap)
2.
Jika pasien menjawab
ya, tanyakan apa yang sedang
dialaminya.
3.
Katakan
bahwa
perawat
percaya
pasien
mengalami
hal
tersebut,
namun perawat sendiri tidak
mengalaminya (dengan nada
bersahabat tanpa menudu atau
menghakimi)
4.
Katakan bahwa ada
pasien lain yang mengalami
hal yang sama
5.
Katakan
bahwa
perawat akan membantu
pasien.
Jika pasien tidak sedang
berhalusinasi
klarifikasi
tentang adanya pengalaman
halusinasi, diskusikan dengan
pasien :
6.
Isi,
waktu
dan
frekuensi terjadinya halusinasi
( pagi, siang, sore, malam/
sering dan kadang – kadang )
7.
Situasi dan kondisi
yang menimbulkan halusinasi.
c.
Diskusikan
dengan
pasien apa yang dirasakan jika
terjadi halusinasi dan beri
kesempatam
untuk
mengungkapkan perasaannya.
d.
Diskusikan
dengan
pasien apa yang dilakukan
untuk mengatasi perasaan
tersebut.
e.
Diskusikan
tentang
dampak yang akan dialaminya
bila
pasien
menikmati
halusinasinya.
15
NO. DIAGNOSA
3.
TUJUAN
INTERVENSI
TUK 3:
1.
Pasien
dapat
mengontrol
halusinasinya
2.
Kriteria
evaluasi :
a.
Setelah
dilakukan ....x interaksi
pasien
menyebutkan
tindakan yang biasanya
dilakukan
untuk
mengendalikan
halusinaya.
b.
Setelah
....x
interaksi
pasien
menyebutkan cara baru
mengontrol
halusinasinya.
c.
Setelah
...x
interaksi pasien dapat
memilih
dan
memeragakan
cara
mengatasi halusinasi
(dengar,
liat,
penghidung,
raba/kecap)
d.
Setelah
...x
interaksi
pasien
melaksanakan
cara
yang telah dipilih
untuk mengendalikan
halusinasinya.
e.
Setelah
...x
pertemuan
pasien
mengikuti
terapi
aktifitas kelompok.
TUK 3 :
a.
Identifikasi bersama
pasien cara atau tindakan
yang dilakukan jika terjadi
halusinasi
(tidur,
marah,
menyibukkan diri dll)
b.
Diskusikan data yang
digunakan pasien
1.
Jika
cara
yang
digunakan adaptif pujian.
2.
Jika
cara
yang
digunakan
maladaptif
diskusikan kerugian cara
tersebut.
c.
Diskusinakn cara baru
untuk memutus/ mengontrol
timbulnya halusinasi
1.
Katakan pada diri
sendiri bahwa ini nyata
2.
Menemui orang lain
(perawat/teman/anggota
keluarga) untuk menceritakan
tentang halusinasinya.
3.
Membuat
dan
melaksanakan jadwal kegiatan
sehari – hari yang telah
disusun.
4.
Meminta
keluarga/
teman/ perawat menyapa jika
sedang berhalusinasi
d.
Bantu pasien memilih
cara yang sudah dianjurkan
dan latih untuk mencobanya
e.
Beri kesempatan untuk
melakukan cara yang dipilih
dan dilatih, jika berhasil beri
pujin.
f.
Pantau
pelaksanaan
yang telah dipilih dan dilatih,
jika berhasil beri pujian.
g.
Anjurkan
pasien
mengikuti terapi aktifitas
kelompok, orientasi realita
stimulasi persepsi.
TUK 4 :
a.
Anjurkan klien untuk
memberitahu keluarga jika
terjadi halusinasi
b.
Diskusikan
dengan
keluarga (pada saat keluarga
berkunjung atau pada saat
kunjungan rumah).
TUK 4 :
1.
Klien
dapat
dukungan dari keluarga
jika
terjadi
halusinasinya.
2.
Kriteria
evaluasi :
a.
Setelah
...x
16
NO. DIAGNOSA
TUJUAN
INTERVENSI
interaksi
keluarga
dapat
membina
hubungan
saling
percaya
dengan
perawat
b.
Setelah
...x
interaksi
keluarga
dapat
menyebutkan
pengertian, tanda dan
tindakan
untuk
mengendalikan
halusinasi.
1.
Gejala halusinasi yang
dialami klien
2.
Cara
yang
dapat
dilakukan klien dan keluarga
untuk memutus halusinasi
3.
Cara merawat anggota
keluarga yang halusinasi
dirumah : memberi kegiatan,
jangan biarkan sendiri, makan
bersama, berpergian bersama
4.
Beri informasi waktu
follow up, kapan perlu
mendapat bantuan, halusinasi
tidak terkontrol dan resiko
menciderai orang lain
TUK 5 :
1.
Diskusikan
dengan
klien dan keluarga tentang
dosis, frekuensi dan manfaat
obat
2.
Anjurkan klien minta
sendiri obat pada perawat dan
merasakan manfaatnya
3.
Anjurkan klien bicara
dengan
dokter
tentang
manfaat dan efek samping
obat yang dirasakan
4.
Diskusikan
akibat
berhenti obat tanpa konsultasi
5.
Bantu
klien
menggunakan obat dengan
prinsip 5 tepat
TUK 5 :
1.
Klien
dapat
memanfaatkan
obat
dengan baik.
2.
Kriteria
evaluasi :
a.
Setelah
...x
interaksi
klien dan
keluarga
dapat
menyebutkan manfaat
obat, dosis dan efek
samping obat
b.
Setelah
...x
interaksi klien dapat
mendemonstrasikan
penggunaan
obat
dengan benar
c.
Setelah
...x
interaksi klien dapat
informasi
tentang
manfaat
dan
efek
samping obat
d.
Setelah
...x
interaksi
klien
memahami
akibat
berhentinya obat tanpa
konsultasi
e.
Setelah
...x
interaksi klien dapat
menyebutkan prinsip
lima benar penggunaan
obat
17
BAB III
TINJAUAN KASUS
Tanggal MRS
: 16 Maret 2020
Tanggal Dirawat di Ruangan : 16 Maret 2020
Tanggal Pengkajian
: 17 Maret 2020
Ruang Rawat
: Camar
I.
IDENTITAS PASIEN
Nama
: Tn. A
Umur
: 22 Tahun
Alamat
: Blitar
Pendidikan
: SD
Agama
: Islam
Status
: Belum menikah
Pekerjaan
:-
Jenis Kel.
: Laki-laki
No. RM
: 1209XX
II.
ALASAN MASUK
a.
Data Primer
Klien mengatakan bahwa dia sendiri yang minta untuk di rawat di RSJ agar bisa
lebih tenang dan berkembang.
b.
Data Sekunder
Dari data RM klien 4 bulan terakhir tidak teratur minum obat dan 2 minggu
terakhir pasien mengamuk dan berbicara kasar pada saudara, berteriak
membanting barang, memukul ibu, mondar mandir, pasien jarang mandi, bicara
ngelantur dan tertawa sendiri.
c.
Keluhan Utama Saat Pengkajian
Klien mengatakan dibisikin ibunya untuk bekerja dan dia bingung karena selama
ini klien sudah memberi uang terhadap ibunya.
III.
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG (FAKTOR PRESIPITASI)
Klien mengatakan dia marah-marah dirumahnya karena disuruh bekerja dari pada
diam saja. Padahal klien sering memberi uang terhadap keluarganya dan juga dia
marah karena minta dinikahkan tapi belum dinikahkan dan upaya yang dilakukan
pasien yaitu dia meminta dikirim ke RSJ, sehingga keluarga membawa klien ke
18
IGD RSJ pada tanggal 16 Maret 2020 jam 19.30 WIB. Klien datang ke IGD
dengan kondisi tenang
IV.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU (FAKTOR PREDISPOSISI)
1)
Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu ?
√ Ya/Tidak
Klien merupakan pasien lama di RSJRW. Riwayat MRS I tanggal 12 Februari
2018 alasan masuk klien sering menyendiri dan diam, karena dikucilkan oleh
tetangganya dan pernah melakukan tindakan kekerasan kepada adiknya. Usaha
yang dilakukan oleh keluarga adalah membawa klien ke RSJRW.
2)
Faktor Penyebab/Pendukung :
a.
Trauma Usia Pelaku Korban Saksi
1)
Aniaya fisik
: usia 17th pelaku klien korban adik saksi
orangtua
2)
Aniaya seksual
:-
3)
Penolakan
:-
4)
Kekerasan dalam keluarga
:-
5)
Tindakan Kriminal
:-
Jelaskan : klien saat usia 17th pernah memukul adiknya dengan tabung gas karena
klien iri dengan adiknya.
Dx keperawatan : Resiko Perilaku Kekerasan
b.
Pernah melakukan upaya/percobaan/bunuh diri
Pasien mengatakan tidak pernah melakukan upaya percobaan bunuh diri.
c.
Pengalaman masa lalu yg tidak menyenangkan ?
Klien mengatakan saat SMP tidak lulus dan sering dikucilkan oleh tetangganya
Diagnosa keperawatan: harga diri rendah
d.
Pernah mengalami penyakit fisik (termasuk gangguan tumbuh kembang)
Ya
Tidak √
Jelaskan : Klien tidak pernah mengalami trauma pada kepala atau kejang demam
e.
Riwayat Penggunaan NAPZA
Klien mengatakan tidak pernah menggunakan NAPZA
3)
Upaya yang telah dilakukan terkait kondisi diatas dan hasilnya :
Jelaskan :
Upaya yang dilakukan yaitu klien dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan obat
dan pernah dibawa ke RSJ.
4)
Riwayat penyakit keluarga
19
Anggota keluarga yang gangguan jiwa ? Tidak
Kalau ada
:-
Hubungan keluarga
: -
Gejala
: -
Riwayat pengobatan
: -
Diagnosa keperawatan : -
V.
PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL
1.
Genogram
Keterangan :
: Laki-laki
: Garis Pernikahan
: Perempuan
: Garis Keturunan
: Pasien
: Tinggal serumah
: Meninggal
Jelaskan : Klien mengatakan anak pertama dari empat bersaudara, tinggal dengan
kedua orangtuanya dan ke tiga adik perempuannya. Dan yang mengambil
keputusan dalam keluarganya adalah ayahnya. Peran klien dalam keluarga adalah
sebagai anak. Klien dekat dengan ibunya dan yang membawa klien ke RSJ adalah
ibunya.
2.
Konsep Diri
1)
Citra tubuh
Klien mengatakan menyukai wajahnya karena tampan.
2)
Identitas
20
Klien mengatakan jika dia laki-laki dan dapat menerimanya.
3)
Peran
Dirumah pasien berperan sebagai kakak dari ke 3 adiknya.
Dirumah sakit klien berperan sebagai pasien. Klien merasa minder karena tidak
bisa kerja seperti teman seumurannya.
4)
Ideal diri
Klien mengatakan dulu sebelum sakit mempunyai cita cita ingin melanjutkan
sekolah sampai lulus
5)
Harga diri
Klien mengatakan jika dia laki-laki dan dapat menerimanya, dirumah pasien
berperan sebagai kakak dari ke 3 adiknya dan dirumah sakit klien berperan
sebagai pasien dan Klien merasa minder karena tidak bisa bekerja seperti teman
seumurannya serta klien mengatakan ingin cepat keluar dan pulang dari RSJ dan
berkumpul dengan keluarganya.
Diagnosa keperawatan : Harga Diri Rendah
3.
Hubungan sosial
1)
Orang yang berarti
:
Dirumah : Klien dekat dengan ibunya
Di RSJ : Klien tidak dekat dengan pasien lain.
2)
Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat
:
Dirumah : klien tidak mempunyai perkumpulan kelompok .
Di RSJ : Klien jarang berinteraksi dengan pasien lainnya.
3)
Hambatan dlm berhubungan dengan orang lain
Pasien mengatakan bila dirumah hambatannya karena dia dikucilkan oleh
tetangganya
Diagnosa Keperawatan : Isolasi Sosial
4.
Spiritual
1)
Nilai dan keyakinan :
Klien mengatakan bahwa penyakit yang dideritanya adalah ujian dari Allah SWT.
2)
Kegiatan Ibadah :
Selama di RSJ klien tidak pernah menjalankan ibadah sholat karena malas.
Diagnosa Keperawatan : Distress spiritual
21
VI.
PEMERIKSAAN FISIK
1)
Keadaan Umum : keadaan klien cukup , kadang banyak bicara sendiri dan
selalu mondar mandir.
2)
Kesadaran : Composmestis, GCS E4V5M6
3)
Tanda vital :
TD
: 118/66 mm/Hg
N
: 90 x/mnt
S
: 36,4°C
P
: 21 x/mnt
4)
Ukur : BB 71 kg , TB 161 cm
5)
Keluhan Fisik
Klien mengatakan lemas dan mengantuk setelah disuntik tadi pagi.
VII.
STATUS MENTAL
1)
Penampilan (Penampilan usia, cara berpakaian, kebersihan) :
Jelaskan : klien tampak terlihat penampilan rapi, pakaian yang digunakan tidak
terbalik, kuku bersih, mukosa lembab, klien banyak diam, penampilan tidaksesuai
dengan usianya.
2)
Pembicaraan (Frekuensi, volume, jumlah, karakter) :
Frekuensi
: berbicara dengan cepat
Volume
: klien berbicara keras kadang juga diam
Jumlah
: banyak bicara
Karakter
: ketika diajak bicara klien berbicara terus menerus.
Diagnosa Keperawatan : RPK
3)
Aktivitas motorik/ Psikomotor
Kelambatan :
Hipokinesia, hipoaktivitas
Katalepsi
Sub strupor katatonok
Fleksibilitaserea
Jelaskan : klien tidak memiliki keterbatasan aktivitas motorik/psikomotor ketika
dilakukan pengkajian.
Peningkatan :
Hyperkinesia, hiperaktivitas
Grimace
Stereotipi
Otomatisma
√ Gaduh gelisah katatonik
Negativisme
22
Mannerism
Reaksi konversi
Katapleksi
Tremor
Tik
Verbigerasi
Ekhopraxia
Berjalan kaku/rigid
Command automatism
Kompulsif : sebutkan ...
Jelaskan: pasien saat tidak diwawancara pasien terlihat mondar mandir gelisah
Diagnosa Keperawatan : RPK
4)
Mood dan Afek
a.
Mood
Depresi
Ketakutan
Khawatir
Kesepian
Gembira berlebihan/ Euforia
Jelaskan
b.
: Klien mengatakan sedih dan ingin pulang.
Afek
√ Sesuai √
Tumpul
Labil
Tidak sesuai
Jelaskan
: Afek sesuai dengan cerita yang diceritakan ketika diajak bicara
yang menyenangkan pasien expresi wajah tampak senang dan sebaliknya.
5)
Interaksi selama wawancara
Bermusuhan
Tidak kooperatif
Mudah tersinggung
Kontak mata kuramng
Defensif
Curiga
√
Kooperatif
Jelaskan : Kontak mata klien baik dan kooperatif
6)
Persepsi sensori
a.
Halusinasi :
√ Pendengaran

penglihatan

Perabaan
23

Pengecapan

Penghidu
b.
Ilusi

Ada
√ Tidak ada
Jelaskan : Klien mengatakan mendengar suara ibunya yang menyuruhnya bekerja
dan mendengarnya sewaktu-waktu, saat sendirian. Respon pasien terhadap respon
adalah bingung.
Diagnosa keperawatan: gangguan persepsi sensori (halusinasi pendengaran)
7)
Proses Pikir
a.
Arus Pikir

Koheren

Inkoheren

Sirkumtansial

Asosiasilonggar

Tangensial

Flight of Idea

Blocking
√ Perseverasi

Logorhoe

Neologisme

Clang

Main kata-kata

Lain-lain . . .
Association
Jelaskan : Klien selalu berulang-ulang menceritakan bila dia dirumah selalu
dimarahi karena tidak bekerja padahal dia sudah memberi uang pada keluarganya
dan ia iri dengan ke 3 adiknya karena hanya mereka yang disayang oleh
orangtuanya.
b.
Isi Pikir

Obsesif

Fobia, sebutkan….

Ekstasi

Waham

Fantasi

Agama

Alienasi

Somatic/hipokondria

Pikiran bunuh diri

Kebesaran
√ Preokupasi

Kejar/curiga

Pikiran isolasi social

Nihilistic

Ide yang terkait

Dosa

Pikiran rendah diri

Sisip pikir

Pesimisme

Siar pikir

Pikiran magis

Control pikir

Pikiran curiga

Lain-lain: sosial isolation
24
Jelaskan
: Ketika bercerita bahwa dia dikucilkan oleh tetangganya, dia juga
merasa hanya ke 3 adiknya yang disayang dan topik pembicaraannya selalu
diulang-ulang.
c.
Bentuk pikir

Realistic

Non realistic

Dereistik
√ Otistik
Jelaskan : Klien mengatakan lebih suka sendiri karena dia sering mendengar
halusinasinya
Diagnosa keperawatan : gangguan poses pikir (arus pikir, isi pikir, bentuk pikir)
8)
Kesadaran

Orientasi (waktu, tempat, orang )
Jelaskan
: klien tidak mengalami disorientasi waktu, tempat, orang. Dengan
cara
Waktu : “mas sekarang pagi, siang atau malam ? klien menjawab pagi”
Tempat : “mas sekarang ada dimana? klien menjawab dirumah sakit jiwa”
Orang : “mas ingat nama saya siapa? klien menjawab mbak ami”

Meninggi

Menurun

Kesadaran berubah

Hipokinesia

Confusion

Sedasi

Stupor
Jelaskan : kesadaran pasien masih bagus karena ketika diwawancarai pasien masih
menjawab dengan benar dan sadar
9)
Memori

Gangguan daya ingat jangka panjang

Gangguan daya ingat jangka pendek

Gangguan daya ingat saat ini
Jelaskan : klien tidak mengalami gangguan pada memori pasien saat ditanya usia
saat ini ia menjawab dengan benar, saat ditanya daya ingat jangka pendek klien
dapat mejelaskan menu makanan kemarin sore, pada saat ini pasien bisa
menjelaskan menu yang ia makan saat pagi hari tadi.
Dx Kep : Tidak ada masalah keperawatan
25
10)
Tingkat Konsentrasi dan Berhitung
a.
Konsentrasi

Mudah beralih

Tidak mampu berkonsentrasi
Jelaskan : klien sedikit mampu diajak konsentrasi saat diwawancara.
b.
Berhitung
Jelaskan : klien tidak mampu berhitung pembagian dan perkalian karena hanya
lulusan SD.
Diagnosa Keperawatan : Gangguan proses pikir : Berhitung
11)
Kemampuan Penilaian

Gangguan ringan

Gangguan bermakna
Jelaskan : ketika klien ditanya bekerja itu baik atau tidak klien menjawab baik.
12)
Daya Tilik Diri

Mengingkari penyakit yang diderita

Menyalahkan hal-hal diluar dirinya √
Jelaskan : klien mengatakan bahwa penyebabnya adalah keluarganya
Diagnosa keperawatan : gangguan proses pikir (daya tilik diri)
VIII.
KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG
1.
Kemampuan klien memenuhi kebutuhan
√
Perawatan kesehatan

Transportasi

Tempat tinggal

Keuangan dan kebutuhan lain
Jelaskan : Klien mengatakan jika ia pulang ia akan menjaga kondisi pasien seperti
kontrol pada waktunya dan minum obat secara rutin, dan akan dijemput
menggunakan mobil oleh keluarganya, klien tinggal bersama keluarganya dan
untuk keuangan klien akan bekerja.
2.
Kegiatan hidup sehari-hari
a.
Perawatan diri
1)
Mandi
Klien mandi sebanyak 2x, dan tanpa bantuan orang lain
2)
Berpakaian, berhias dan berdandan
Klien berpakaian sendiri dengan benar.
3)
Makan :
Klien makan sehari 3 kali kadang habis kadang tidak
26
4)
Toileting (BAK, BAB)
Klien mampu BAB dan BAK secara mandiri
b.
Nutrisi
1)
Berapa frekuensi makan dan frekuensi kudapan dalam sehari
Frekuensi makan klien 3x/hari yaitu pagi siang dan sore dan kudapan 2x sehari
2)
Bagaimana nafsu makannya
Pasien mengatakan lebih sering habis pada kudapan dari pada makan
3)
Bagaimana berat badannya
Berat badannya 71 kg
c.
Tidur
1)
Istirahat dan tidur
Tidur siang, lama: 10.00 s/d 12
Tidur malam, lama: 20.00 s/d 04.30 jam
Aktivitas sebelum/sesudah tidur: mondar mandir
2)
Gangguan Tidur
Insomnia
√
Hypersomnia
√
Parasomnia √
√
√
Lain – lain √
√
Jelaskan : tidak ada masalah keperawatan
√
3.
Kemampuan lain – lain

Mengantisipasi kebutuhan hidup
Klien mengatakan ingin segera pulang agar bisa membantu ibunya ngarit

Membuat keputusan berdasarkan keinginannya
Klien mengatakan selalu ingin membuat keputusan berdasarkan keinginannya

Mengatur penggunaan obat dan melakukan pemeriksaan kesehatan sendiri.
Klien minum obat diatur oleh perawat pada waktu pagi dan sore
Diagnosa keperawatan: koping tidak efektif
4.
System pendukung
Ya
Tidak
Keluarga
√
Terapis
√
√
√√
√
Teman sejawat
Kelompok social
Jelaskan :
√
√
√
√
27
√
√
Klien mengatakan bahwa keluarga, perawat dan dokter slalu memberi dukungan
dan berharap agar dirinya cepat sembuh dan segera pulang
IX.
MEKANISME KOPING
Saat ada masalah pasien tidak mau menceritakan ke siapapun dan lebih
menyendiri
Diagnosa keperawatan : isolasi sosial
X.
MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN

Masalah dengan dukungan kelompok, spesifiknya
Pasien tidak memiliki perkumpulan kelompok

Maslaah berhubungan dengan lingkungan, spesifiknya
Pasien dikucilkan oleh lingkungannya karena pasien pernah melakukan kekerasan
ke adiknya dan sering marah-marah.

Masalah berhubungan dengan pendidikan, spesifiknya
Pasien sekolah hanya sampai smp tapi tidak lulus

Masalah berhubungan dengan pekerjaan, spesifiknya
Pasien bekerja hanya mengarit disawah

Masalah berhubungan dengan perumahan, spesifiknya
Tidak ada masalah karena orangtuanya mau menerima dia saat pulang kerumah.

Masalah berhubungan dengan ekonomi, spesifiknya
Untuk memenuhi kebutuhan, pasien membantu orangtuanya di sawah

Masalah berhubungan dengan pelayanan kesehatan, spesifiknya
Pasien kontrol di pkm / rsj

Masalah lainnya, spesifiknya klien tidak memiliki masalah lainnya.
Diagnosa: isolasi sosial
XI.
ASPEK PENGETAHUAN
Apakah klien mempunyai masalah yang berkaitan dengan pengetahuan yang
kurang tentang suatu hal?
Bagaimana pengetahuan klien/ keluarga saat ini tentang penyakit/ gangguan juwa,
perawatan,
dan
penatalaksanaannya
faktor
yang
memperberat
maslaah
(presipitasi), obat-obatan atau lainnya. Apakah perlu diberikan tambahan
pengetahuan yang berkaitan dengan spesifiknya masalah tsb.

Penyakit/gangguan jiwa √
28

Sistem pendukung

Faktor presipitasi

Penatalaksanaan

Lain-lain, jelaskan
Klien mengatakan gangguan jiwa itu edan
XII.
ASPEK MEDIS
1.
Diagnosa Medis : F.O6.8
2.
Diagnosa Multi Axis :
Axis I : F.06.8 - Hebephrenic Schizophrenia
3.
Terapi medis :
-
Inj. Diazepam
-
Inj. Haloperidol 5 mg
29
XIII.
ANALISA DATA
No.
1
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
DATA
DS : pada saat 17 tahun px pernah memukul
adiknya dengan tabung gas
DO :
Pasien bila bercereita tentang adiknya dia
selalu marah-marah dan mengepal ngepal tangan
Bila berbicara klien berbicara dengan
cepat dan klien berbicara keras
pasien saat tidak diwawancara pasien
terlihat mondar mandir gelisah
Resiko Perilaku
Kekerasan
DS :
- Klien mengatakan saat SMP tidak lulus dan
sering dikucilkan oleh tetangganya
- Klien merasa minder karena tidak bisa kerja
seperti teman seumurannya.
-
DO : - Pasien terlihat lebih banyak
sendiri dengan pasien lain dan jarang
2
berinteraksi dengan pasien lainnya.
-
Harga diri rendah
Klien mengatakan di rumah klien tidak
mempunyai perkumpulan kelompok dan
Klien
mengatakan
bila
dirumah
hambatannya karena dia dikucilkan oleh
tetangganya
3
4
DS : Klien mengatakan mendengar suara ibunya
yang menyuruhnya bekerja dan mendengarnya
sewaktu-waktu, saat sendirian. Respon pasien
terhadap respon adalah bingung.
DO :
Pasien tampak berbicara, tersenyum dan
tertawa sendiri
Pasien tampak mondar – mandir
Bentuk pikir pasien otistik
DS : Klien selalu berulang-ulang menceritakan
bila dia dirumah selalu dimarahi karena tidak
bekerja
DO : - jenis arus pikir perseverasi
30
Gangguan sensori
persepsi :
Halusinasi
pendengaran
Gangguan proses
pikir (arus pikir)
5
6
DS : Klien bercerita bahwa dia dikucilkan oleh
tetangganya, dia juga merasa hanya ke 3 adiknya
yang disayang
DO :
- topik pembicaraannya selalu diulangulang.(Preokupasi)
DS :
- Klien mengatakan di rsj tidak dekat
dengan
pasien
lain
dan
Gangguan proses
pikir (isi pikir)
jarang
berinteraksi dengan pasien lainnya.
-
Klien mengatakan di rumah klien tidak
mempunyai perkumpulan kelompok dan
Klien
mengatakan
bila
dirumah
Isolasi sosial
hambatannya karena dia dikucilkan oleh
tetangganya
DO :
7
8
Tampak menyendiri dan melamun
Tampak mondar mandir
DS : klien mengatakan beragama islam
DO :
Distress spiriual
Pasien di rsj tidak pernah solat
DS : Klien mengatakan selalu ingin membuat Koping
tidak
keputusan berdasarkan keinginannya
efektif
DO : Klien minum obat diatur oleh perawat pada
waktu pagi dan sore
XIV.
DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko Perilaku Kekerasan
2. Harga diri rendah
3. Gangguan sensori persepsi (halusinasi pendengaran)
4. Gangguan proses pikir (arus pikir)
5. Gangguan proses pikir (isi pikir)
6. Isolasi sosial
7. Distress spiriual
8. Koping tidak efektif
31
XV.
POHON MASALAH
RPK
Menciderai diri sendiri dan orang lain
Gangguan Sensori Persepsi
: Halusinasi
Efek
Core Problem
Causa
Isolasi Sosial
Harga Diri Rendah
Koping Individu
Regimen Terapeutik
Inefektif
XVI.
Inefektif
PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi Pendengaran
Lawang,
03
Desember
2019
Mahasiswa yang mengkaji
Kelompok 6
32
TINDAKAN KEPERAWATAN JIWA
Nama
: TN”A”
No CM
:1209xx
No
Tujuan
TUM
:
pasien
dapat
mengontrol halusinasi yang
dialaminya
TUK 1 :
1.
Pasien dapat membina
hubungan saling percaya
2.
Kriteria
evaluasi
:
setelah dilakukan 2 x interaksi
pasien menunjukkan tanda –
tanda percaya kepada perawat :
ekspresi
wajah
bersahabat,menunjukkan rasa
senang, ada kontak mata, mau
menyebutkan
nama,
mau
menjawab salam, mau duduk
berdampingan dengan perawat,
bersedia
mengungkapkan
masalah yang dihadapi.
Kriteria Hasil
Tindakan
Keperawatan
- Klien dapat
· Bina
membina hubungan
saling percaya
saling percaya
· Adakan
-
sering dan singkat
Klien dapat
hubungan
kontak
mengenal
secara bertahap
halusinasinya; jenis,
· Observasi tingkah
isi, waktu, dan
laku klien terkait
frekuensi halusinasi,
halusinasinya
respon terhadap
· Tanyakan keluhan
halusinasi, dan
yang
tindakan yg sudah
klien
dilakukan
· Jika klien tidak
- Klien
sedang
dapat menyebutkan
berhalusinasi
dan mempraktekan
klarifikasi
cara mengntrol
adanya pengalaman
halusinasi yaitu
halusinasi,
dengan menghardik,
diskusikan
dengan
bercakap-cakap
klien
tentang
dengan orang lain,
halusinasinya
terlibat/ melakukan
SP I
dirasakan
kegiatan, dan minum Identifikasi
tentang
jenis
obat
halusinasi Klien
- Klien dapat
Identifikasi
dukungan keluarga
halusinasi Klien
dalam mengontrol
Identifikasi
halusinasinya
halusinasi Klien
33
isi
waktu
- Klien dapat minum
Identifikasi
obat dengan bantuan
frekuensi halusinasi
minimal
- Mengungkapkan
Klien
halusinasi sudah
hilang atau
terkontrol
Identifikasi
situasi
yang menimbulkan
halusinasi
Identifikasi respons
Klien
terhadap
halusinasi
Ajarkan
Klien
menghardik
halusinasi
Anjurkan
Klien
memasukkan
cara
menghardik
halusinasi
jadwal
dalam
kegiatan
harian
SP II
Evaluasi
jadwal
kegiatan
harian
Klien
Latih
Klien
mengendalikan
halusinasi
dengan
cara bercakap-cakap
dengan orang lain
Anjurkan
Klien
memasukkan dalam
jadwal
harian
34
kegiatan
DOKUMENTASI HASIL ASUHAN KEPERAWATAN TANGGAL 17 MARET
2020 ,SELASA
TINDAKAN KEPERAWATAN
1.
BHSP
EVALUASI
S: pasien mengatakan
“selamat pagi mas, nama saya amy.
“pagi juga mbak”
Nama mas siapa dan senang dipanggil
“iya mbak amy, nama saya amirul,
siapa?”
biasa dipanggil irul”
“bagaimana perasaan mas hari ini?”
“saya senang sekali”
2.
“saya mendengar suara ibu saya
Membantu pasien mengenali
halusinasi
menyuruh untuk bekerja dari pada diam
“mas mendengar bisikan apa?”
saja”
3.
“saya mendengar sewaktu-waktu”
Membantu pasien mengenali isi
halusinasi
“saya mendengar suara itu kadang-
4.
kadang saja”
Membantu pasien mengidentifikasi
waktu terjadimya halusinasi
“pada waktu sendiri”
“ biasanya suara itu muncul kapan?”
“saya merasa bingung bila saya
5.
mendengar suara itu dan saya lebih
Membantu pasien mengidentifikasi
frekuensi halusinasi
sering menyendiri ketika suara itu
“seberapa sering suara itu muncul?”
muncul.”
6.
“jika suara itu muncul lagi, saya harus
Membantu pasien mengidentifikasi
situasi yang menyebabkan
melakukan seperti yang mbak amy
halusinanasinya muncul
lakukan.”
“disaat apa suara itu muncul mas ?”
“baik mbak, saya akan melakukannya.”
7.
O : -pasien mau diajak berjabat tangan
Mengidentifikasi respon pasien
terhadap halusinasi
- Adanya kontak mata
“ lalu saat mas mendengar suara itu apa
- Pasien mengantuk mondar-mandir
yang mas lakukan?”
- Pasien terlihat berbicara sendiri
8. Mengajarkan pasien menghardik
- Pasien memperagakan cara
9.
halusinasi
menghardik
“bila mas mendengar suara itu lagi
A : -pasien mampu BHSP
yang harus mas lakukan adalah
-
pasien mampu mengenali isi, waktu,
menutup telinga dan mengatakan
frekuensi, situasi dan respons saat
pergi-pergi kamu tidak nyata”
halusinasi itu muncul
Menganjurkan pasien cara
menghardik halusinasi dalam jadwal
- Pasien mampu mempraktekkan cara
menghardik
35
harian
- Pasien mampu mengontrol halusinasi
“tadi kita kan sudah berlatih cara
P: pasien :
menghardik halusinasi, lalu kita
- diskusikan mengontrol halusinasi
masukkan kegiatan tersebut ke jadwal
dengan cara bercakap-cakap
harian. Kita lakukan 3 kali dalam sehari
- diskusikan latihan mengontrol
ya.”
halusinasi dan memasukkan kedalam
jadwal latihan
Perawat: lanjutkan sp 2
1.mengevaluasi jadwal kegiatan harian
2. melatih paasien mengendalikan
halusinasi dengan bercakap-cakap
dengan orang lain.
36
DOKUMENTASI HASIL ASUHAN KEPERAWATAN TANGGAL 18 MARET
2020 ,Rabu
Tindakan keperawatan
1. Mengevaluasi
evaluasi
jadwal
kegiatan S : “selamat pagi mbak “
harian
“iya masih ingat mbak:
“selamat pagi mas, masih ingat saya?”
“sampean mbak amy ya “
“bagaimana kabarnya hari ini?”
“baik mbak”
“bagaimana latihan kemarin? Apakah “iya mbak, sudah”
sudah dijalankan?”
2. Melatih
pasien
“oh iya jadi begitu mbak”
mengendalikan “seperti ini ya mbak, tolong saya mulai
halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengar suara-suaranya ayo mengobrol
dengan orang lain
dengan saya”
“Nah sekarang saya tambahi lagi yaitu “iya mbak saya akan latihan terus
dengan cara bercakap-cakap dengan secara rutin”
orang lain ya mas, coba sekarang “iya mbak”
praktekkan”
O:
3. Menganjurkan pasien memasukkan -
Memperhatikan
kegiatan bercakap-cakap dengan orang -
Senyum
lain dalam jadwal kegiatan harian
Kontak mata kooperatif
-
“seperti kemarin ya mas, dimasukkan -
Pasien bisa mempraktekkan cara
dalam jadwal kegiatan dan dilakukan bercakap-cakap
sehari 3 kali”
A:
pasien
mampu
mengontrol
halusinasi
-pasien
mampu
memeperagakan
bercakap- cakap
P : pasien:
- diskusikan
latihan
mengontrrol
halusinasi dengan cara melakukan
kegiatan dan memasukkan kedalam
jadwal harian
Perawat: lanjutkan sp 3
1. mengevaluasi
jadwal
kegiatan
harian klien
2. melatih
halusinasi
kegiatan.
1
klien
dengan
mengendalikan
melakukan
Download