Uploaded by selviafn

Asuhan Gizi Kasus HIV dan Infeksi Oportunistik

advertisement
REVISI
LAPORAN KASUS DIETETIK 2
MASALAH PADA HIV DISERTAI INFEKSI OPORTUNISTIK
Dosen pengampu :
Choirun Nissa, S.Gz, M.Gizi
Fillah Fithra Dieny, S.Gz, M.Si
Ayu Rahadiyanti, S.Gz, MPH
Deny Yudi Fitranti, S.Gz, M.Si
Ahmad Syauqy, S.Gz, MPH, PhD
Disusun oleh :
Selvi Afiani
22030117120016
UNIVERSITAS DIPONEGORO
FAKULTAS KEDOKTERAN
ILMU GIZI
2020
I.
LATAR BELAKANG
Tn. S masuk berusia 37 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan sesak napas
dengan diagnosis awal Obs. Dyspnea dd TB Paru, Febris (demam), dan HIV. Satu tahun
sebelumnya, pasien pernah diopname dengan diagnosa HIV. Pasien mengeluhkan sesak
napas sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, sebelumnya ada batuk sejak 4 bulan yang
lalu, lemas, dan demam sudah 3 hari. Pasien mengalami BAB cair sekali. Berdasarkan
pemeriksaan fisik terdapat sariawan, stomatitis, dan ulkus dikubitus. Tn. S memiliki
riwayat HIV sudah 1 tahun dan dalam terapi ARV. Setelah dilakukan pemeriksaan ulang,
pasien didiagnosa medis pneumonia dan kandidiasis oral.
Tn. S mengalami penurunan berat badan sekitar 3 kg dalam 2 bulan dan mengalami
penurunan nafsu makan. Tn. S memiliki berat badan 56 kg, TB 168 cm, dan LLA 22 cm.
Hasil tanda vital Tn. S, yaitu tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 100 kali/menit, respiratory
rate 20 kali/menit, dan suhu 380C. Hasil lab menunjukkan: Hb 9,7 g/dL, leukosit 2,5
ribu/mm3, eritrosit 4 juta/ mm3, hematokrit 28,9%, trombosit 231 ribu/ mm3, MCV 73 µm3,
MCH 24,3 pg, RDW 16,2%, dan MPV 7 µm3.
Pola makan pasien sebelum masuk rumah sakit, yaitu makan sebanyak 3 kali sehari
dengan makanan utama nasi. Biasanya Tn. S dapat menghabiskan 1,5 sampai 2 centong
nasi, lauk 1 potong ayam atau ikan, 3-5 potong tempe, serta sayur. Sayur yang paling sering
dikonsumsi Tn. S yaitu sayur rawon dan sayur bersantan. Tn. S sering mengonsumsi buah
nanas dan semangka. Setiap makan pasien selalu minum air putih dan dapat menghabiskan
6 gelas dalam sehari. Pasien juga sering mengonsumsi teh 1 gelas sehari.
Sedangkan sehari sebelum masuk rumah sakit, Tn. S mengonsumsi sarapan hanya
nasi 4-5 sdm, asem-asem ikan, dan teh hangat. Pada siang hari, pasien hanya mengonsumsi
jagung rebus. Sedangkan malam hari, pasien tidak makan. Tn. S bekerja sebagai sopir
setiap harinya.
Selama perawatan di rumah sakit, Tn. S mendapatkan infus RL 15 tpm. Melalui
intravena, seperti ranitidin 2x50 mg, paracetamol 1 g, dan ceftriaxon 1 g. Secara oral,
pasien mendapatkan salbutamol 2x4 mg sehari, cetirizine 10 g, paracetamol 3x500 mg
sehari, dan nistatin drop 4x1. Selama perawatan pengobatan ARV dihentikan. Buatlah
PAGT pada Tn. S!
II. SKRINING (DATA UMUM)
A. Pemilihan Metode Skrining
Digunakan skrining menggunakan instrumen MST (Malnutrition Skrining Tools)
karena merupakan salah satu skrining gizi yang cepat, mudah dan cocok digunakan
untuk pasien di rumah sakit dibandingkan dengan alat skrining lain seperti MUST, NRS
2002, MNA, SNAQ, STAMP, PNI dan SGA. Kelebihan dari alat skrining ini adalah
lebih efisien (waktu 30 detik), pertanyaan lebih sederhana, nilai sensitifitas dan
spesifitas 93-95%, nilai keandalan 90-97%, tidak tergantung pada nilai antropometri
dan nilai laboratorium. Meskipun demikikan MST juga memiliki kelemahan yaitu tidak
bisa diterapkan pada asuhan gizi terstandar pasien sakit kritis atau kasus sulit yang
dimana pasien mengalami kesulitan komunikasi.1
B. Pengisian Kuesioner
Nama
: Tn.S
Tanggal Lahir
:-
No. RM
:2
Tabel 1. Skrining MNA Tn.S
PARAMETER
1.
SKOR
Apakah pasien mengalami penurunan berat badan yang tidak
direncanakan/tidak diinginkan dalam 6 bulan terakhir?
-
Tidak
0
-
Tidak yakin (ada tanda-tanda baju menjadi lebiih longgar)
2
-
Ya, ada penurunan BB sebanyak:
2.
a.
1-5 kg
1
b.
6-10 kg
2
c.
11-15 kg
3
d.
>15 kg
4
Tidak tahu berapa kg penurunannya
2
Apakah asupan makan pasien berkurang karena penurunan nafsu
makan/kesulitan menerima makanan?
-
Tidak
0
-
Ya
1
TOTAL SKOR
*Bila skor ≥2: pasien berisiko malnutrisi, konsul ke ahli gizi
2
C. Membuat Kesimpulan Kuisioner
Berdasarkan hasil skrining dengan instrumen MST, Tn.S mendapat skor ≥2
sehingga digolongkan malnutrisi dan diperlukan asuhan gizi terstandar lebih lanjut.
II.
ASESMEN (PENGKAJIAN) GIZI
1.
Pengkajian data riwayat pasien (CH)
Tabel 2. Pengkajian Data Client History
Domain
Data
Interpretasi Data
CH-1.1.1 Umur
37 tahun
Dewasa
CH-1.1.2 Jenis
Laki-laki
-
CH-1.1.10
Terbatas di tempat tidur
Tn.S mengalami ulkus dikubitus
Mobilitas
karena kondisinya yang
yaitu luka terbuka pada area kulit
lemas
yang sering mendapatkan tekanan
Kelamin
dalam waktu yang lama.
CH-2.1.1
Penurunan nafsu makan
Pengaruh dari sariawan, kandiasis
oral
Keluhan Gizi
CH-2.1.5
Didiagnosis kandiasis
Gastrointestinal
oral dan juga memiliki
keluhan stomatitis dan
sariawan
CH-2.1.7
Pemeriksaan Hb 9,7 g/dL
Anemia
Hematologi
CH-2.1.8 Imun
Didiagnosis HIV sejak 1
tahun lalu
CH-2.1.13
Sebelumnya didiagnosis
Respiratory
Obs. Dyspnea dd TB
Paru, diagnosis sekarang
pneunomia
CH-3.1.6
Supir bus
-
Pekerjaan
Kesimpulan: Tn. S (37 tahun) bekerja sebagai sopir didiagnosis memiliki HIV sejak
setahun lalu disertai Obs. Dyspnea dd TB Paru dan setelah pemeriksaan ulang saat
masuk rumah sakit dinyatakan menderita pneunomia dan kandiasis oral.
2.
Pengkajian riwayat terkait gizi/makanan (FH)
a. Asupan SMRS
Tabel 3. Pengkajian Asupan Makan SMRS
Domain
Data
Interpretasi
FH-1.1.1.1 Total
Asupan : 248,2 kkal
Asupan kurang yaitu
Asupan Energi
Kebutuhan : 3.257,65 kkal
sebesar 7,61% dari
kebutuhan
FH-1.2.2.1 Jumlah
Nasi 4-5 sdm
Makanan
Ikan 1 ptg
-
Jagung rebus 1 bh
FH-1.2.2.2 Jenis
Makanan pokok dan lauk
-
Makanan
hewani
FH- 1.2.2.3 Pola
3x/hari makanan utama
Siang hanya cemilan
Makan
Kemudian berubah
saja berupa jagung
menjadi 2x/hari
rebus
FH-1.2.2.5 Variasi
Nasi 4-5 sdm, asem-asem
Mengonsumsi
Makanan
ikan, teh hangat, dan
makanan yang kurang
jagung rebus. Sedangkan
bervariasi.
malam hari pasien tidak
makan.
FH-1.5.1.1
Total Asupan : 4,3 g
Asupan Lemak
Kebutuhan : 108,58 g
Asupan kurang yaitu
sebesar 3,96% dari
kebutuhan
FH-1.5.2.1
Total Asupan : 12,5 g
Asupan Protein
Kebutuhan : 123,2 g
Asupan kurang yaitu
sebesar 10,15% dari
kebutuhan
FH-1.5.3.1 Total
Asupan : 42 g
Asupan kurang yaitu
Asupan
Kebutuhan : 446,88 g
sebesar 9,4% dari
kebutuhan
Karbohidrat
FH-1.5.4.1 Total
Asupan: 2,1 g
Asupan serat kurang
Asupan Serat
Kebutuhan: 33,6
yaitu sebesar 6,25%
dari kebutuhan.
Kesimpulan:
Berdasarkan data diatas, dapat disimpulkan bahwa asupan Tn.S sebelum
masuk RS untuk energi, protein, karbohidrat, lemak dan serat kurang dari
kebutuhan.
b. Asupan MRS
Tabel 4. Pengkajian Asupan Makan MRS
Domain
Data
Interpretasi
FH-1.3.2
Infus RL 15 tpm
Ringer laktat adalah larutan steril
Asupan
yang
Cairan
penambah cairan dan elektrolit
tubuh
digunakan
untuk
sebagai
mengembalikan
keseimbangannya
inj ranitidin 2x50 mg
Obat
pennaganan gejala atau
penyakit yang berkaitan dengan
produksi asam berlebih di dalam
lambung.
Efeknya
dapat
mengurangi penyerapan vitamin
B12 dan besi. Kemudian timbul
gejala mual muntah dan diare.
Paracetamol 1 g
Obat untuk meredakan gangguan
nyeri serta demam di tubuh
seseorang
dengan
cara
mengurangi prostaglandin.
Ceftriaxon 1 jam
Obat antibiotik dengan fungsi
untuk mengobati berbagai macam
infeksi bakteri. Efek samping
mual muntah.
FH-3.1
Medikasi
Salbutamol 2x4 mg
Obat untuk mengobati masalah
pernapasan, seperti asma,
bronkitis kronis, dan emfisema.
Efeknya detak jantung lebih
cepat, tidak disertai nyeri dada.
Cetirizine 10 g
Obat untuk mengatasi gejala
alergi, seperti pilek, hidung
tersumbat, mata berair, bersinbersin, rasa gatal pada mata,
hidung atau tenggorokan.
Efeknya pusing, mual muntah,
lemas, bahkan diare.
Paracetamol 3x500 mg
Obat untuk meredakan gangguan
nyeri serta demam di tubuh
seseorang dengan cara
mengurangi prostaglandin.
Nistatin drop 4x1
Obat yang digunakan untuk
mengobati masalah infeksi jamur
seperti di rongga mulut
FH-7.3.1
Aktifitas Tn.S hanya
Aktivitas
terbatas di tempat tidur
Fisik
karena kondisi
-
penyakitnya
Kesimpulan:
Asupan MRS Tn. S tidak diketahui secara jelas, hanya diketahui obat-obatan
yang dikonsumsi.
3. Pengkajian Antropometri (AD)
Tabel 5. Pengkajian Antropometri (Anthropometric Measurements)
Domain
Perhitungan
Interpretasi
AD-1.1.1 Tinggi Badan
168 cm
-
AD-1.1.2 Berat Badan
56 kg
Hari ke 3 di RS
AD-1.1.4 Perubahan
3 kg dalam 2 bulan
Berat Badan
AD-1.1.5 IMT
𝐡𝐡 (π‘˜π‘”)
IMT = (𝑇𝐡 (π‘š)²
56
= (1,68)² = 19,84 kg/m2
Normal
Status Gizi Berdasarkan
67,48%
Gizi buruk
LLA
Kesimpulan:Tn.S memiliki tinggi badan 168 cm dengan berat badan 56 kg sehingga
didapatkan IMT sebesar 19,84kg/m2 yang tergolong status gizi normal, sedangkan
berdasarkan perhitungan status gizi persentil LLA Tn. S tergolong gizi buruk.
4. Pengkajian Data Biokimia (BD)
Tabel 6. Pengkajian Data Biokimia (Biochemical Data)
Domain
Data
Nilai Normal
Satuan
Interpretasi
BD-1.10.1 Hemoglobin
9,7
13,2-17,3
g/dL
Rendah
BD-1.10.2 Hematokrit
28,9
40-54
%
Rendah
BD-1.10.3 MCV
73
80-95
µm3
Rendah
BD-1.10.5 RDW
16,2
11,5-14,5
%
Rendah
Leukosit
2,5
4-11
rb/ul
Rendah
Eritrosit
4
4,5-6,5
Jt/ul
Rendah
Trombosit
231
150-450
rb/mm3 Normal
MCH
24,3
26-34
pg
1.10 Hematologi
7
MPV
7,4-10,4
Rendah
3
µm
Rendah
Kesimpulan:
Nilai biokimia Tn.S untuk Hb, Ht, MCV, RDW, MCH, MPV, leukosit, dan eritrosit
rendah.
5. Pengkajian Data Klinis/ Fisik (PD)
Tabel 7. Pengkajian Data Fisik/Klinis
Domain
Data
Nilai Normal
PD-1.1.1 Keadaan
Ada batuk sejak 4 bulan yang
keseluruhan
lalu, lemas, demam sudah 3 hari,
kurus, kesadaran composmentis.
Interpretasi
Sesak nafas
PD-1.1.3 Sistem
Baru-baru ini
Kardiovaskuler-
didiagnosis
Pernafasan
pneumonia
PD-1.1.5 Sistem
BAB encer berair, sariawan,
Pencernaan
stomatitis, baru-baru ini
didiagnosis kandiasis oral.
PD-1.1.9 Tanda Vital
PD-1.1.9.1 Tekanan 130/90 mmHg
140/90 mmHg
Normal
70-80x/menit
Tinggi
20x/menit
16-20x/menit
Normal
38°C
36 -37 °C
Tinggi
Darah
PD-1.1.9.2
Denyut 100x/menit
Nadi
PD-1.1.9.3
Respiratory Rate
PD-1.1.9.4 Suhu
Kesimpulan:
Tn. S mengalami keluhan terkait dengan penyakitnya seperti batuk, demam, lemas,
sesak nafas, sariawan, stomatitis, dan BAB cair. Selain itu tanda vital Tn.S untuk denyut
nadi dan suhu tergolong tinggi.
6. Comparative Standard
Tabel 8. Comparative Standard
Domain
Kebutuhan
CS-1.1 Estimasi Kebutuhan Energi
3.257,65 kkal
CS-1.1.2 Metode Estimasi
BMR menggunakan Mifflin
Kebutuhan Energi
CS-2.1 Estimasi Kebutuhan Lemak 108,58 gram
CS-2.2.1 Total estimasi
123,2 gram
kebutuhan protein
CS-2.3 Estimasi Kebutuhan
Karbohidrat
446,88 gram
CS-2.4 Estimasi Kebutuhan Serat
56 x 36
= 33,6 gram
60
CS-3.1 Estimasi Kebutuhan Cairan 2.240 ml
CS-3.1.2 Metode Estimasi
40 ml x KgBB
Kebutuhan Cairan
CS-4.1.1 Estimasi Kebutuhan
56 x 650
= 606,66 RE
60
Vitamin A
CS-4.1.2 Estimasi Kebutuhan
56 x 90
= 84 mg
60
Vitamin C
CS-4.1.3 Estimasi Kebutuhan
56 x 15
= 14 mcg
60
Vitamin D
CS-4.1.4 Estimasi Kebutuhan
56 x 15
= 14 mcg
60
Vitamin E
CS-4.1.9 Estimasi Kebutuhan Folat
56 x 400
CS-4.1.10 Estimasi Kebutuhan
56 x 1,3
= 373,33 mcg
60
60
= 1,21 mg
Vitamin B6
CS-4.1.11 Estimasi Kebutuhan
56 x 4
= 3,73 mg
60
Vitamin B12
CS-4.2.1 Estimasi Kebutuhan
56 x 1000
60
= 933 mg
Kalsium
CS-4.2.3 Estimasi Kebutuhan Besi
56 x 9
60
= 8,4 mg
CS-4.2.8 Estimasi Kebutuhan Zn
56 x 11
CS-4.2.13 Estimasi Kebutuhan
56 x 30
60
60
= 10,26 mg
= 28 mcg
Selenium
III.
DIAGNOSIS GIZI
1. Peningkatan Kebutuhan Energi dan Protein (NI-5.1) berkaitan dengan peningkatan
permintaan zat gizi karena infeksi kronis sebagai komplikasi penyakit HIV yang
ditandai dengan BAB yang encer, penurunan berat badan yang tak terduga (>5% dalam
2 bulan), asupan makan yang tidak memenuhi kebutuhan zat gizi (E: 7,61% ,P:3,96% ,
L:10,15% , KH:9,4%),
serta kondisi terkait dengan HIV (sariawan, stomatitis,
kandiasis oral, sesak nafas, pneumonia, batuk, dan demam).
2. Perubahan Nilai Laboratorium terkait Gizi (NC-2.2) berkaitan dengan perubahan
metabolik akibat penyakit HIV dan pneumonia yang ditandai oleh hemoglobin rendah
(9,7 g/dL), hematocrit rendah (28,9%), MCV rendah (73 µm3), Eritrosit rendah (4 juta/
mm3), leukosit rendah (2,5 ribu/mm3), MCH rendah (24,3 pg), dan RDW tinggi
(16,2%).
IV.
INTERVENSI
A. Tujuan Intervensi
1.
Meningkatkan asupan makan sesuai kemampuannya hingga memenuhi
kebutuhan, serta mempertahankan berat badan.
2.
Menormalkan nilai laboratorium dengan berusaha memenuhi asupan zat gizi yang
terkait, namun tetap dibantu dengan obat/suplemen.
B. Perencanaan (Planning)
1.
Pemberian Preskripsi Diet
a) Jenis diet
: Diet TKTP 3.257,65 kkal
b) Rute makanan
: Oral
c) Modifikasi bentuk makanan
: Lunak
d) Jadwal pemberian makanan
: Makanan lunak diberikan 3x makanan
utama dan 3x selingan
e) Rekomendasi makronutrien bertahap dimulai dari pemenuhan 80% dari
kebutuhan hingga seluruhnya.
Frekuensi
Ketentuan Zat Gizi
Hari
Jenis Diet
1-3
Diet
TKTP 3x
makanan
lunak utama dan 3x P = 123,2 gram
makanan E = 2.600 kkal
2.600 kkal (bubur selingan
L = 86,6 gram
nasi + nasi tim)
KH = 331,95 gram
Segera sesuai Diet
TKTP 3x
kemampuan
makanan
lunak utama dan 3x P = 123,2 gram
Tn.S
3.257,65
kkal selingan
(bubur nasi + nasi
tim)
makanan E = 3.257,65 kkal
L = 108,58 gram
KH = 446,88 gram
1) Energi diberikan tinggi yaitu melalui perhitungan REE (mifflin) + 20%
(HIV simtomatik) + 13% (demam) yang disesuaikan dengan faktor
aktivitas dan faktor stres yang dialami Tn.S sehingga didapatkan
kebutuhan energi sebesar 3.257,65 kkal. Pemenuhan ini dilakukan secara
bertahap dimulai dengan 80% kecukupan hingga sepenuhnya. 2
2) Lemak diberikan tinggi 30% dari total kalori yaitu sebesar 108,58 gram,
namun dapat diberikan bertahap yaitu sebesar 86,6 gram (80% dari
kebutuhan). Tingkatkan lemak tak jenuh yang ada pada minyak nabati,
biji-bijian, kacang-kacangan, selai kacang dan alpukat. Menambahkan
lemak omega-3 ke dalam diet yaitu ada pada ikan seperti herring, tuna
ringan kaleng, mackerel, salmon dan ikan sarden. Sumber lain termasuk
gandum, tahu, susu kedelai, kacang kedelai dan makanan berbahan dasar
kedelai. Kemudian kurangi lemak jenuh yang ditemukan pada daging, susu
murni dan keju.3
3) Protein diberikan tinggi yang dihitung dengan 2,0 x KgBB yang diberikan
tambahan 10% karena termasuk ke dalam HIV dengan Infeksi
Oportunistik, sehingga protein diberikan sebesar 123,2 gram/hari. Makan
protein setiap kali pada orang dewasa atau yang lebih tua dengan HIV
untuk mempertahankan otot.4
4) Pemberian asupan karbohidrat merupakan hasil pengurangan antara
jumlah energi dengan kebutuhan lemak dan protein yaitu sebesar 446,88
gram atau sebesar 55% dari total kalori, pemberian ini dilakukan bertahap
dimulai dengan 331,95 gram. Sebaiknya menghindari diet kaya
karbohidrat sederhana seperti daging merah dan olahan, desserts, serta
kentang goreng karena dapat memperparah sesan nafas.5
5) Pemberian serat sesuai kebutuhan yaitu sebesar 33,6 gram/hari. Konsumsi
berserat tinggi juga dapat memepertahankan cairan yang hilang akibat
diare. Sumber serat tinggi seperti roti gandum, gandum utuh sereal,
kacang-kacangan, buah-buahan dan sayuran. Makan buah-buahan dan
sayuran lunak seperti pisang, labu, dan wortel. 3
6) Cairan diberikan sesuai kebutuhan dengan perhitungan 40ml/KgBB yaitu
sebesar 2.240 ml. Cairan tambahan direkomendasikan dalam kasus
dehidrasi yaitu kehilangan cairan melalui diare atau berkeringat.
f) Rekomendasi Mikronutrien
1) Pemberian zat besi (8,4 mg), vitamin B12 (3,73 mg), dan folat (373,33
mcg) sesuai kebutuhan untuk mengatasi anemia. Sumber makanan yang
dikonsumsi yaitu daging merah, unggas, kerang, telur, sayuran, lentil,
kacang-kacangan, dan beberapa sereal.3
2) Pemberian vitamin A (606,66 RE) dan Zn (10,26 mg) sesuai kebutuhan.
Tingkat vitamin A , B12, dan seng yang rendah terkait dengan
perkembangan penyakit yang lebih cepat.5
3) Pemberian vitamin C sesuai kebutuhan yaitu 84 mg telah dikaitkan dengan
peningkatan CD4 sehingga memperlambat perkembangan penyakit
menjadi AIDS.6
4) Pemberian selenium (28 mcg) dan vitamin D (14 mcg) sesuai dengan
kebutuhan karena selenium dan tingkat serum 25-hidroksi vitamin D dapat
memperlambat perkembangan HIV.7
5) Pemberian vitamin B6 sesuai kebutuhan dikaitkaitkan dengan peningkatan
kelangsungan hidup, memfasilitasi metabolisme dan penyerapan lemak
dan protein; membantu membuat sel darah merah.
6) Pemberian kalsium sesuai kebutuhan yaitu sebesar 933 mg berfungsi untuk
membangun tulang dan gigi yang kuat, penting untuk fungsi jantung dan
otot, serta pembekuan darah dan kekebalan tubuh. Sumber makanannya
yaitu susu, daun hijau, udang, ikan kering, kacang-kacangan, lentil, kacang
polong, dll.2
7) Pemberian vitamin E sesuai kebutuhan yaitu 14 mcg/hari untuk
melindungi struktur sel dan memfasilitasi resistensi melawan penyakit.2
2.
Pemberian Konseling Gizi
a) Konseling Saat Rawat Inap
Tabel 9. Konseling Tn.S saat Rawat Inap
Pelaksanaan Konseling Gizi
Hari, tanggal
Kamis, 23 April 2020
Jam
Dilakukan pada jam 15.00
Tempat
Di ruang Mawar 451
Topik
Memberikan edukasi terkait diet untuk pasien
Materi
1. Memberikan motivasi kepada Tn S
pentingnya
memenuhi asupan sesuai kebutuhan untuk kondisi tubuh
dan penyakitnya
2. Memberikan penjelasan mudah mengenai penyakit Tn.S
dan komplikasinya yang kemudian dikaitkan dengan
kebutuhan gizi
3. Menjelaskan terkait dengan kegunaan pemberian diet
rendah karbohidrat agar senantiasa keluarga dapat
mendukung keberlangsungannya
4. Memberikan solusi untuk keluhan yang diderita Tn S
berupa tips-tips mengatasi kesulitan karena sakit di area
mulut
5. Menyarankan untuk melakukan aktivitas fisik agar
pernafasannya dapat kian membaik
6. Memberikan tips-tips untuk menjaga hygine sanitasi
yang baik
Sasaran
Tn S dan keluarga
Waktu
Penjelasan: 10 menit
Tanya jawab: 5 menit
Metode
Diskusi dan tanya jawab
Media
Secara langsung, membawa leaflet
Evaluasi
Mengevaluasi asupan makan Tn S esok hari
3.
Koordinasi dengan profesi kesehatan lain
Tabel 10. Koordinasi dengan Profesi Kesehatan Lain
Pertemuan
Hal yang
ke-
dilakukan
1
Output
Kesehatan
- Mengetahui
Diagnosis
medis Tn. S
Profesi
diagnosis Dokter
medis dan intervensi yang
akan dilakukan berkaitan
dengan penyakitnya
- Mengetahui
perkembangan
dan
manifestasi dari penyakit
pasien
2
3
Kondisi
fisik, Mendapatkan
data
untuk Perawat
klinis pasien
assessment AD dan PD
Data
Mendapatkan
laboratorium
laboratorium untuk dikaitkan kesehatan
data Analis
dengan penggunaan diet dan
juga evaluasi diet.
5
Penyediaan
menu
Menu sampai kepada Tn. S Pramusaji
sesuai tepat waktu dan sesuai dengan
dengan
preskripsi
preskripsi diet
diet
dan tepat waktu
C. IMPLEMENTASI
1. Jenis diet : Diet TKTP 2600 kkal dan Diet TKTP 3257,65 kkal
2. Bentuk makanan : Lunak
3. Menu Diet TKTP 3257,65 kkal
Tabel 11. Rekomendasi Menu Tn.S
Waktu
Menu
Bahan
URT
Berat
(gram)
Beras merah
1/4 cup
25
Pukul
Wortel
¼ bh
30
07.00
Brokoli
1 ptg
30
Telur, ayam cincang,
Telur puyuh
2 btr
20
dan tahu bacem
Daging ayam
1 ptg sdg
40
Tahu
1 ptg kcl
40
Kecap
1 sdt
5
Jus jambu biji
Jambu biji
1 bh bsr
100
Selingan
Bubur kacang hijau
Kacang hijau
½ cup
50
09.00
dan jagung
Jagung
3 sdm
30
Santan
1 gls
200
Gula merah
2 sdm
10
Pisang
Pisang
1 bh
50
Siang
Nasi tim beras merah
Beras merah
6 sdm
60
Pukul
Sop campur
Tahu
1 ptg bsr
100
Daging sapi
1 ptg
50
Wortel
¼ bh
30
Tempe
1 ptg sdg
50
Kecap
1 sdt
5
Markisa
1/2 bh
50
Semangka
1 ptg kcl
50
Alpukat
½ bh
50
Mangga
½ bh
50
Sirup pepaya
3 sdm
30
Pagi
Bubur nasi merah
12.00
Tim tempe bacem
Punch Buah
Selingan
Es batu
Secukupnya
Air
1 gls
200
Agar jelly
1 bks
20
Telur ayam
1 bh
50
Santan
1 bks
50
Gula pasir
1 sdm
10
Alpukat
1 sdm
100
Makaroni
1/2 gls
50
Keju
1 ptg
30
Susu
½ gls
100
Daging
1 ptg sdg
50
Wortel
¼ bh
30
Jamur
½ gls
50
Brokoli
1 ptg
50
Mentega
1 sdt
5
Pepaya
Pepaya
1 bh
100
Jus buah susu
Apel
1 bh
200
Susu full cream
½ gls
100
Pudding alpukat
15.00
Malam
Sup pasta susu
18.00
Selingan
20.00
Tabel 12. Kecukupan Kebutuhan Rekomendasi Menu
Zat Gizi
E
L
P
KH
Serat
Vit.A
Vit.C
B6
B12
Ca
Fe
Zn
Kecukupan%
99
109
108
83
137
200
500
272
123
181
300
175
V. PERENCANAAN MONITORING – EVALUASI GIZI
A. Antropometri (AD)
Tabel 13. Monitoring Antropometri
Indikator
Berat
Target Pencapaian
- Tn. S tidak mengalami
badan,
penurunan berat badan
IMT.
dalam 3 hari kedepan.
Metode
- Dilakukan dengan
penimbangan berat
- Mempertahankan
status gizi
badan 3 hari setelah hari
ini.
B. Biokimia (BD)
Tabel 14. Monitoring Biokimia
Indikator
Target Pencapaian
Metode
Hemoglobin,
Kadar hemoglobin,
- Dilakukan
Hematokrit,
eritrosit dan hematokrit
pemeriksaan lab
eritrosit
selama 1 minggu
oleh tenaga medis
-
lain setiap 1 minggu
-
Nilai
MPV, Dapat nornal dalam
Dilakukan
RDW,
MCV, beberapa waktu
pemeriksaan oleh
MCH
Nilai leukosit
tenaga medis lain, ahli
Dapat nornal dalam
gizi harus terus
beberapa waktu
memonitoring
perkembangannya.
C. Klinis/ fisik (PD)
Tabel 15. Monitoring Fisik-Klinis
Indikator
Target Pencapaian
Metode
Denyut jantung
Denyut jantung dan suhu
Pengukuran dilakukan
dan suhu
berangsung normal dalam
dengan pemeriksaan rutin 3
3 hari
hari sekali oleh perawat dan
terus dipantau
Batuk, sesak nafas Batuk dan sesak nafas
membaik dalam 1 minggu
Sariawan,
Sariawan dan stomatitis
stomatitis
membaik dan mampu
makan dengan baik
perkembangannya oleh ahli
gizi.
D. Asupan makanan (FH)
Tabel 16. Monitoring Asupan Makan
Indikator
Target Pencapaian
Metode
Asupan makan
Asupan makan Tn S dalam Dilakukan dengan
seminggu dapat membaik
pengecekan langsung sisa
dan adekuat (minimal
makanan atau recall sehari
menghabiskan ≥80%
sekali setelah makan.
makanan yang disediakan)
Cairan
Asupan cairan Tn S dapat
Dilakukan dengan
mencukupi kebutuhan
pengecekan langsung dan
hariannya sebesar ±2,5 L
juga berkoordinasi dengan
bagian yang memberikan
cairan intravena setiap hari.
VI. PEMBAHASAN KASUS
Tn. S (37 tahun) didiagnosis HIV sejak setahun lalu. Kemudian setelah masuk RS
karena datang dengan tanda dan gejala baru akhirnya dilakukan pemeriksaan ulang, pasien
didiagnosa medis pneumonia dan kandidiasis oral. HIV adalah virus yang bekerja lambat
yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk masuk ke tubuh seseorang dan
menghasilkan penyakit. Orang yang terinfeksi HIV sistem pertahanannya akan terganggu
dan seiring waktu, virus lain, bakteri, jamur, dan parasit akan memanfaatkan kesempatan
ini untuk semakin melemahkan tubuh dan menyebabkan berbagai penyakit dan kondisi,
seperti pneumonia, TB, kanker, kandidiasis mulut, diare, herpes oral luka, dan pengecilan
otot. Inilah sebabnya mengapa infeksi dan kondisi yang ditemukan pada terinfeksi HIV
individu disebut oportunistik. Saat ini, tidak ada obat untuk HIV / AIDS atau vaksin untuk
mencegah infeksi HIV. Beberapa terapi dapat mencegah, mengobati, atau bahkan
menyembuhkan banyak infeksi oportunistik dan meringankan gejala yang terkait dengan
HIV / AIDS seperti demam, batuk, gatal, nafsu makan buruk, sulit bernapas atau menelan,
dan diare kronis. Tahapan HIV Tn.S sudah memasuki stage 3 symptomatic dimana sudah
mengalami penurunan berat badan, diare kronis, demam yang berkepanjangan, kandiasis
oral, dan pneumonia.3
Pada awal masuk rumah sakit Tn.S mendapatkan skrining dengan metode MST
karena merupakan salah satu skrining gizi yang cepat, mudah dan cocok digunakan untuk
pasien di rumah sakit. Skor yang didapatkan yaitu 2 sehingga tergolong malnutrisi dan
diperlukan asuhan gizi lebih lanjut.
Dilihat dari pengukuran antropometri Tn.S memiliki berat badan 56 kg dengan tinggi
badan 168 dan LiLA 22 cm. Berdasarkan data tersebut didapatkan status gizi berdasarkan
IMT yang tergolong normal yaitu 19,84 kg/m2. Sedangkan jika status gizi dihitung
berdasarkan persentil LiLA didapatkan hasil 67,48% dimana itu tergolong gizi buruk.
Kemudian sejak 2 bulan ini Tn.S mengalami penurunan berat badan sebesar 3 kg atau
sekitar 5%. Penurunan
berat badan pada HIV dipengaruhi oleh peningkatan REE,
pengurangan asupan makanan, malabsorbsi nutrisi, perubahan metabolisme yang
kompleks, dan pemborosan zat gizi terkait dengan infeksi oportunistik.2
Berdasarkan data biokimia Tn. S Nilai biokimia untuk Hb, Ht, MCV, RDW, MCH,
MPV, leukosit, dan eritrosit rendah. Nilai hemoglobin yang rendah menandakan terjadinya
anemia yang merupakan keadaan dimana jumlah sel darah merah tidak mencukupi
kebutuhan fisiologis tubuh, konsekuensinya ialah penurunan kapasitas angkut oksigen.
Nilai hematokrit yang rendah adalah sebanding dengan terjadinya anemia, dimana
hematokrit penting untuk mengevaluasi anemia. Terdapat tiga mekanisme terjadinya anemia
pada infeksi HIV: penurunan produksi sel darah merah, peningkatan destruksi sel darah
merah, dan prosuksi sel darah merah yang inefektif. Penurunan produksi eritrosit
kemungkinan disebabkan oleh infiltrasi sumsum tulang oleh neoplasma, atau infeksi
pengobatan myelosupresive, penurunan produksi eritropeitin endogen, atau infeksi HIV
itu sendiri. Selanjutnya peningkatan destruksi eritrosit (hemolisis) atau destruksi imatur
dari eritrosit di lien sering terjadi pada infeksi HIV, anemia hemolitik dapat disebabkan
oleh auto antibodi eritrosit dan hemolisis juga mungkin berkembang dari obat-obatan yang
dikonsumsi. Kemudian produksi eritrosit yang inefektif dapat disebabkan oleh defisiensi
nutrisi yang menjadi bahan baku pembentuk eritrosit, sehingga anemia akibat hal ini
disebut anemia nutrisional atau paling sering adalah defisiensi zat besi, asam folat dan
Vitamin B12.5
Kemudian leukosit dari Tn.S yang rendah dapat disebabkan karena infeksi virus,
stress atau infeksi oportunistik. Mean Corpuscular Volume (MCV) mengukur besar ratarata sel darah merah. MCV yang rendah berarti ukuran sel darah merahnya lebih kecil dari
ukuran normal. Biasanya hal ini disebabkan oleh kekurangan zat besi atau penyakit kronis.
Sedangkan Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) masing-masing mengukur jumlah dan
kepekatan hemoglobin. Sementara Red Blood Cell Distribution Width (RDW) mengukur
kisaran ukuran sel darah merah. Hasil tes ini dapat membantu mendiagnosis jenis anemia
dan kekurangan beberapa vitamin.8 Pemeriksaan RDW dan MPV relatif sering dilakukan,
RDW memiliki hubungan yang kuat dengan biomarker infamasi lain seperti laju endap
darah (LED)2 dan C-reactive protein (CRP). Biomarker RDW dan MPV terbukti
berhubungan dengan berbagai penyakit inflamasi, termasuk pneumonia. Dimana nilai
RDW dengan satuan % diukur menggunakan metode flow cytometry dengan nilai normal
11,5-14,5%.9 Nilai MPV dengan satuan fL diukur menggunakan metode flow cytometry
dengan nilai normal 7,0-11,0 fL.10
Berdasarkan pengkajian fisik/klinis Tn. S mengalami keluhan terkait dengan
penyakitnya seperti batuk, demam, lemas, sesak nafas, sariawan, stomatitis, dan BAB cair.
Selain itu tanda vital Tn.S untuk denyut nadi dan suhu tergolong tinggi. Tanda-tanda
tersebut merupakan serangkaian kondisi yang menandai derajat keparahan dari HIV yang
diderita Tn.S, dimana tahapan HIV Tn.S sudah memasuki stage 3 symptomatic yang
ditandai dengan penurunan berat badan, diare kronis, demam yang berkepanjangan,
kandiasis oral, dan pneumonia. Batuk berkepanjangan dan sesak nafas merupakan salah
satu manifestasi dari komplikasi pneumonia Tn.S. Sedangkan kondisi lemas yang dialami
Tn.S diduga sebagai dampak dari anemia, kelelahan pada infeksi HIV berkaitan dengan
gangguan fungsional fisik, distres psikologi dan penurunan kulitas hidup. Meskipun
penyebab kelelahan pada anemia bersifat multifaktorial, namun diduga anemia merupakan
penyebab paling berpengaruh ada kelelahan.5
Berdasarkan data diatas, dapat disimpulkan bahwa asupan Tn.S sebelum masuk RS
untuk energi, protein, karbohidrat, lemak dan serat kurang dari kebutuhan. Asupan yang
kurang ini dapat dikaitkan dengan penurunan nafsu makan yang dialami Tn.S yang
disebabkan oleh komplikasi penyakit infeksi yang dideritanya terutama yang terjadi pada
mulut seperti sariawan, stomatitis, dan kandiasis oral. Selain itu juga dapat disebabkan
karena efek obat ARV yang rutin dikonsumsi, dimana salah satu dampaknya adalah
penurunan nafsu makan. Sedangkan Asupan MRS Tn. S tidak diketahui secara jelas, hanya
diketahui obat-obatan yang dikonsumsi, yang menjadi perhatian adalah saat ini
pengobatan ARV Tn.S dihentikan. Penghentian obat tersebut dikarenakan baru
ditegakannya diagnosis infeksi opportunistik Tn.S sehingga pemberian ARV setidaknya
diberikan lagi 2 minggu setelah pengobatan infeksi tersebut.11
Berdasarkan data assesmen maka diagnosis masalah Tn.S yaitu Peningkatan
Kebutuhan Zat Gizi (NI-5.1) berkaitan dengan peningkatan permintaan zat gizi karena
infeksi kronis sebagai komplikasi penyakit HIV yang ditandai dengan BAB yang encer,
penurunan berat badan yang tak terduga (5% dalam 2 bulan), asupan makan yang tidak
memenuhi kebutuhan zat gizi, kondisi terkait dengan HIV (sariawan, stomatitis, kandiasis
oral, sesak nafas, pneumonia, batuk, dan demam). Dan Perubahan Nilai Laboratorium
terkait Gizi (NC-2.2) berkaitan dengan perubahan metabolik akibat penyakit HIV dan
pneumonia yang ditandai oleh hemoglobin rendah (9,7 g/dL), hematocrit rendah (28,9%),
MCV rendah (73 µm3), Eritrosit rendah (4 juta/ mm3), leukosit rendah (2,5 ribu/mm3),
MCH rendah (24,3 pg), dan RDW tinggi (16,2%)
Berdasarkan diagnosis tersebut intervensi yang dilakukan yaitu pemberian diet
TKTP 3257,65 kkal yang dimulai dari pemenuhan 80% kebutuhan. Diet yang diberikan
bertekstur lunak hal itu karena kemampuan makan Tn.S yang kurang baik, yaitu adanya
luka pada bagian mulut. Pemberian makronutrien yang pertama yaitu energi diberikan
tinggi yang didapatkan melalui perhitungan REE (mifflin) + 20% (HIV simtomatik) + 13%
(demam) yang disesuaikan dengan faktor aktivitas dan faktor stres. Penambahan REE 20%
karena peningkatan metabolisme, peningkatan kebutuhan energi, dan penipisan nutrisi.
Efek ini sering terjadi secara sinergis dan hasilnya adalah penurunan berat badan.
Sedangkan penambahan 13% berikutnya adalah untuk memenuhi peningkatan kebutuhan
energi akibat demam yang dialami Tn. S.
Makronutrien berikutnya yaitu lemak diberikan tinggi 30% dari total kalori yaitu
sebesar 108,58 gram, namun dapat diberikan bertahap yaitu sebesar 86,6 gram (80% dari
kebutuhan). Lemak tinggi diberikan karena bukti menunjukkan bahwa oksidasi lemak
meningkat seiring dengan infeksi HIV.4 Sumber asam lemak Omega-3 dianjurkan untuk
membantu mengurangi efek peradangan serta meningkatkan profil lipid. Tingkatkan
lemak tak jenuh yang ada pada minyak nabati, biji-bijian, kacang-kacangan, selai kacang
dan alpukat. Kemudian kurangi lemak jenuh yang ditemukan pada daging, susu murni dan
keju, kemudian juga juga minyak trans.3
Protein diberikan tinggi yang dihitung dengan 2,0 x KgBB dengan tambahan 10%
yaitu sebesar 123,2 g/hari karena termasuk ke dalam HIV dengan Infeksi Oportunistik.
Jumlah dan jenis protein yang direkomendasikan didasarkan pada kebutuhan untuk
pemeliharaan dan penyimpanan protein. Protein tambahan kemungkinan dibutuhkan
dalam beberapa kasus inflamasi dan demam. Kemudian kehilangan protein akibat
peningkatan kebutuhan karena infeksi harus dipulihkan dengan peningkatan asupan
protein.12
Pemberian asupan karbohidrat merupakan hasil pengurangan antara jumlah energi
dengan kebutuhan lemak dan protein yaitu sebesar 446,88 gram atau sebesar 55% dari total
kalori, pemberian ini dilakukan bertahap dimulai dengan 331,95 gram. Karbohidrat
dipecah dalam tubuh menjadi glukosa (kadang-kadang disebut gula). Ini adalah sumber
utama energi. Sebaiknya menghindari diet kaya karbohidrat sederhana seperti daging
merah dan olahan, desserts, serta kentang goreng karena dapat memperparah sesak nafas.5
Selanjutnya pemberian serat sesuai kebutuhan yaitu sebesar 33,6 gram/hari.
Konsumsi berserat tinggi juga dapat memepertahankan cairan yang hilang akibat diare.
Sumber serat tinggi seperti roti gandum, gandum utuh sereal, kacang-kacangan, buahbuahan dan sayuran. Makan buah-buahan dan sayuran lunak seperti pisang, labu, dan
wortel. Cairan diberikan sesuai kebutuhan dengan perhitungan 40ml/KgBB yaitu sebesar
2.240 ml. Cairan tambahan direkomendasikan dalam kasus dehidrasi yaitu kehilangan
cairan melalui diare atau berkeringat. Minum lebih banyak cairan oralit untuk mencegah
dehidrasi.3
Rekomendasi mikronutrien untuk Tn. S yaitu pemberian zat besi (8,4 mg), vitamin
B12 (3,73 mg), dan folat (373,33 mcg) sesuai kebutuhan untuk mengatasi anemia.
Pemberian vitamin A (606,66 RE) dan Zn (10,26 mg) sesuai kebutuha. Tingkat vitamin A.
B12, dan seng yang rendah terkait dengan perkembangan penyakit yang lebih cepat.
Kemudian pemberian vitamin C sesuai kebutuhan yaitu 84 mg telah dikaitkan dengan
peningkatan CD4 sehingga memperlambat perkembangan penyakit menjadi AIDS. 6
Pemberian selenium (28 mcg) dan vitamin D (14 mcg) sesuai dengan kebutuhan karena
selenium dan tingkat serum 25-hidroksi vitamin D dapat memperlambat perkembangan
HIV.7 Pemberian vitamin B6 sesuai kebutuhan dikaitkaitkan dengan peningkatan
kelangsungan hidup, memfasilitasi metabolisme dan penyerapan lemak dan protein, serta
membantu membuat sel darah merah. Pemberian kalsium sesuai kebutuhan yaitu sebesar
933 mg berfungsi untuk membangun tulang dan gigi yang kuat, penting untuk fungsi
jantung dan otot, serta pembekuan darah dan kekebalan tubuh. Sumber makanannya yaitu
susu, daun hijau, udang, ikan kering, kacang-kacangan, lentil, kacang polong, dll.
Pemberian vitamin E sesuai kebutuhan yaitu 14 mcg/hari untuk melindungi struktur sel
dan memfasilitasi resistensi melawan penyakit. 2
Selain diberikan preskripsi diet, Tn. S juga diberikan konseling gizi yang dilakukan
ahli gizi secara langsung di ruang instalasi gizi agar Tn. S mendapatkan edukasi lebih
lanjut mengenai penyakitnya dan juga jenis diet yang dianjurkan, akhir dari sesi konseling
itu diharapkan Tn. S dapat meningkatkan asupannya. Kemudian konseling juga dilakukan
saat Tn. S dengan keluarganya agar dapat membantu dan mendukung pola makan dan
kebiasaan makan yang sesuai anjuran sehingga terciptanya status gizi dan kesehatan yang
baik. Selanjutnya dilakukan monitoring dan evaluasi dari segi antropometri, biokimia,
fisik/klinis hingga perilaku makannya dimana hal itu tentu saja membutuhkan bantuan
tenaga medis dan kesehatan lain.
VI.
KESIMPULAN
Berdasarkan data dari hasil pengamatan studi kasus Tn. S dapat diambil
kesimpulan bahwa Tn. S mengalami malnutrisi berdasarkan hasil skrining MST. Tn. S
memiliki diagnosis awal Obs. Dyspnea dd TB Paru, Febris (demam), dan HIV yang
kemudian dilakukan pemeriksaan ulang dan mendapat didiagnosa medis pneumonia dan
kandidiasis oral. Hasil assessment teridentifikasi masalah bahwa Tn. S memiliki masalah
pada asupan, dan abnormalitas laboratorium. Kondisi tersebut yang mendasari intervensi
diet TKTP Tn.S dengan tekstur lunak secara bertahap dimulai dari pemenuhan 80%
kebutuhan kemudian berlanjut
hingga 100% pemenuhan kebutuhan. Dalam
pelaksanaannya dibantu oleh berbagai tenaga kesehatan lain dan dimonitoring secara
berkala berdasarkan antropometri, biokimia, fisik-klinis, dan asupannya.
LAMPIRAN
1. LEAFLET
2. PERHITUNGAN STATUS GIZI PERSENTIL LLA
𝐿𝐿𝐴 π‘Žπ‘˜π‘‘π‘’π‘Žπ‘™
%deviasi dari standar = π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘– π‘ π‘‘π‘Žπ‘›π‘‘π‘Žπ‘Ÿ (π‘π‘Žπ‘˜π‘’ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘£π‘Žπ‘Ÿπ‘‘) x 100%
22
= 32,6 x 100%
= 67,48% (Gizi Buruk)
3. PERHITUNGAN KEBUTUHAN GIZI
a. Perhitungan REE (Mifflin)
REE
= (10 x BB) + (6,25 x TB) – (5 x Umur) + 5
= (10 x 56) + (6,25 x 168) – (5 x 37) + 5
= 560 + 1.050 – 185 + 5
= 1430 kkal
REE (HIVsimtomatik)
= REE + 20%(REE)
= 1.430 + (20% x 1.430)
= 1.430 + 286
= 1.716 kkal
REE (koreksi demam)
= REE + 13% REE
= 1.716 + (13% x 1716)
= 1.716 + 223,08
= 1.939 kkal
b. Energi
= REE x FA x FS
= 1.939 x 1,2 x 1,4
= 3.257,65 kkal
c. Protein
= 2,0 x KgBB (+10%)
= (2,0 x 56) + 10%(2,0 x 56)
= 123,2 gram
d. Lemak
= 30% x Energi : 9
= 30% x 3.257,65 kkal : 9
= 108,58 gram
e. Karbohidrat
= Energi – (protein + lemak)
= 3.257,65 kkal – (492,8 + 977,29)
= 1.787,55 : 4
= 446,88 gram
4. HASIL ANALISIS RECALL
a.
Recall 1
==========================================================
Result
==========================================================
Nutrient
analysed
recommended
percentage
value
value/day
fulfillment
_________________________________________________________________
energy
1287,1 kcal
2198,9 kcal
59 %
PUFA
9,6 g
cholesterol
93,1 mg
protein
63,0 g(19%)
46,0 g(12 %)
137 %
fat
25,6 g
carbohydr.
204,4 g
dietary fiber
6,1 g
retinol
39,9 µg
phytic acid 1198,0 mg
calcium
207,6 mg
1200,0 mg
17 %
magnesium
226,6 mg
280,0 mg
81 %
niacineequiv.
0,0 mg
15,0 mg
0%
zinc
5,9 mg
12,0 mg
49 %
iron
6,3 mg
15,0 mg
42 %
Vit. B1
0,6 mg
1,1 mg
50 %
Vit. B2
0,5 mg
1,3 mg
41 %
niacine
13,1 mg
Vit. B6
1,1 mg
1,6 mg
71 %
pantoth. acid
3,2 mg
tot. fol.acid
124,0 µg
Vit. B12
1,1 µg
2,0 µg
56 %
Vit. C
31,9 mg
60,0 mg
53 %
Vit. A
120,4 µg
800,0 µg
15 %
b. Recall 2
==========================================================
Analysis of the diet pla
==========================================================
Food
Amount
energy
carbohydr.
_________________________________________________________________
nasi putih
ikan kakap
cabe merah
tomato. cherry. fresh
daun kemangi mentah
belimbing wuluh
jagung muda berjanggel
50 g
50 g
5g
10 g
5g
30 g
80 g
65,0 kcal
41,9 kcal
1,4 kcal
2,1 kcal
1,1 kcal
9,6 kcal
47,2 kcal
14,3
0,0
0,3
0,5
0,3
2,2
11,0
g
g
g
g
g
g
g
teh
gula pasir
5g
20 g
2,5 kcal
77,4 kcal
0,5 g
20,0 g
Meal analysis: energy 248,2 kcal (100 %), carbohydrate 49,0 g (100 %)
==========================================================
Result
==========================================================
Nutrient
analysed
recommended
percentage
value
value/day
fulfillment
_________________________________________________________________
energy
248,2 kcal
2198,9 kcal
11 %
PUFA
0,4 g
cholesterol
22,0 mg
protein
12,1 g(19%)
46,0 g(12 %)
26 %
fat
1,2 g
carbohydr.
49,0 g
dietary fiber
1,8 g
retinol
5,5 µg
phytic acid
79,2 mg
calcium
17,4 mg
1200,0 mg
1%
magnesium
48,0 mg
280,0 mg
17 %
niacineequiv.
0,0 mg
15,0 mg
0%
zinc
0,7 mg
12,0 mg
6%
iron
0,7 mg
15,0 mg
5%
Vit. B1
0,2 mg
1,1 mg
16 %
Vit. B2
0,1 mg
1,3 mg
7%
niacine
2,0 mg
Vit. B6
0,2 mg
1,6 mg
14 %
pantoth. acid
0,8 mg
tot. fol.acid
29,4 µg
Vit. B12
0,4 µg
2,0 µg
20 %
Vit. C
15,4 mg
60,0 mg
26 %
Vit. A
50,5 µg
800,0 µg
6%
5. HASIL ANALISIS REKOMENDASI MENU
==============================================================
Analysis of the diet pla
==============================================================
Food
Amount
energy
carbohydr.
_______________________________________________________________________
SARAPAN
beras merah giling
carrot
broccoli
telur puyuh
daging ayam
50 g
30 g
30 g
20 g
40 g
179,0 kcal
13,5 kcal
8,4 kcal
37,0 kcal
114,0 kcal
37,6
3,2
1,5
0,3
0,0
g
g
g
g
g
tahu
kecap
jambu biji
40 g
5g
100 g
30,4 kcal
3,0 kcal
50,9 kcal
0,8 g
0,3 g
11,9 g
Meal analysis: energy 436,1 kcal (13 %), carbohydrate 55,5 g (15 %)
SELINGAN PAGI
kacang hijau
jagung kuning pipil baru
santan (kelapa dan air)
gula aren
pisang raja
50 g
30 g
200 g
10 g
50 g
58,0 kcal
32,4 kcal
212,2 kcal
36,9 kcal
46,0 kcal
10,4
7,5
9,2
9,4
11,7
g
g
g
g
g
45,1
0,0
3,2
1,9
8,5
0,3
18,8
5,6
3,6
3,7
8,5
2,9
g
g
g
g
g
g
g
g
g
g
g
g
0,0
0,6
7,6
10,0
7,4
g
g
g
g
g
35,4
0,4
51,6
0,0
3,2
2,5
2,5
0,0
9,8
g
g
g
g
g
g
g
g
g
Meal analysis: energy 385,5 kcal (12 %), carbohydrate 48,3 g (13 %)
SIANG
beras merah giling
daging sapi
carrot
tahu
tempe kedele murni
kecap
gula aren
passion fruit
semangka
avocado
mangga masak
papaya syrup
60 g
50 g
30 g
100 g
50 g
5g
20 g
50 g
50 g
50 g
50 g
30 g
214,8 kcal
134,4 kcal
13,5 kcal
76,0 kcal
99,5 kcal
3,0 kcal
73,8 kcal
21,5 kcal
16,0 kcal
80,5 kcal
32,5 kcal
11,7 kcal
Meal analysis: energy 777,4 kcal (24 %), carbohydrate 102,1 g (27 %)
SELINGAN SIANG
agar jelly
telur ayam
santan (kelapa saja)
gula pasir
avocado
20 g
50 g
50 g
10 g
100 g
0,0 kcal
77,6 kcal
177,0 kcal
38,7 kcal
161,1 kcal
Meal analysis: energy 454,3 kcal (14 %), carbohydrate 25,5 g (7 %)
MALAM
makaroni
cheese hard whole milk (chedd
susu dancow
daging ayam
carrot
broccoli
jamur coklat mentah
mentega
pepaya
50 g
30 g
100 g
50 g
30 g
50 g
50 g
5g
100 g
176,5 kcal
120,9 kcal
463,9 kcal
142,4 kcal
13,5 kcal
14,0 kcal
13,5 kcal
35,5 kcal
39,0 kcal
Meal analysis: energy 1019,2 kcal (31 %), carbohydrate 105,4 g (28 %)
SELINGAN MALAM
apel
minuman susu ultra / ultra milk
200 g
100 g
118,1 kcal
66,0 kcal
30,6 g
4,8 g
Meal analysis: energy 184,0 kcal (6 %), carbohydrate 35,4 g (10 %)
===============================================================
Result
===============================================================
Nutrient
analysed
recommended
percentage
value
value/day
fulfillment
_______________________________________________________________________
_______
energy
3256,6 kcal
2198,9 kcal
148 %
PUFA
17,8 g
protein
133,4 g(16%)
46,0 g(12 %)
290 %
fat
118,7 g
carbohydr.
372,2 g
dietary fiber
46,3 g
retinol
841,5 µg
phytic acid
2444,5 mg
calcium
1697,5 mg
1200,0 mg
141 %
magnesium
723,3 mg
280,0 mg
258 %
niacineequiv.
0,0 mg
15,0 mg
0%
zinc
18,3 mg
12,0 mg
153 %
iron
32,5 mg
15,0 mg
216 %
Vit. B1
1,8 mg
1,1 mg
168 %
Vit. B2
2,5 mg
1,3 mg
191 %
niacine
27,5 mg
Vit. B6
3,3 mg
1,6 mg
209 %
pantoth. acid
11,2 mg
tot. fol.acid
495,6 µg
Vit. B12
4,6 µg
2,0 µg
230 %
Vit. C
426,7 mg
60,0 mg
711 %
Vit. A
1302,3 µg
800,0 µg
163 %
DAFTAR PUSTAKA
1. Herawati, Triwahyu S, Alamsyah A. Metode Skrining Gizi di Rumah Sakit dengan
MST lebih Efektif Dibanding SGA. Malang: Program Magister Manajemen Rumah
Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. 2014; 28(1).
2. HIV/AIDS: A Guide For Nutritional Care and Support. 2nd Edition. Food and Nutrition
Technical Assistance Project, Academy for Educational Development,Washington DC,
2004.
3. Cheung Pauline, Gonzalez Monica, Grant Sonia M, dkk. “Eating Tips” A Nutrition
Guide for People Living with HIV/AIDS. New York Amerika Serikat: God’s Love We
Deliver. 2010.
4. Mahan LK, dan Escott-Stump S. Krause’s Food, Nutrition and Diet Therapy. 14th Ed.
Philadelphia Pennsylvania, Saunders. USA. 2017.
5. Fasitasari, Minidian. "Terapi gizi pada lanjut usia dengan penyakit paru obstruktif
kronik (PPOK)." Sains Medika 5.1 (2013): 50-61.
6. Coyne-Meyers K, Trombley LE: A review of nutrition in human immunodeficiency
virus infection in the era of highly active antiretroviral therapy, Nutr Clin Prac 19:340,
2004.
7. Baum MK, et al: Effect of micronutrient supplementation on disease progression in
asymptomatic antiretroviral-naïve, HIV-infected adults in Botswana: a randomized
clinical trial, JAMA 310:2154, 2013.
8. Hitung
Darah
Lengkap.
Yayasan
Spiritia.
2014.
Diakses
pada
http://spiritia.or.id/artikel/detail/9.
9. Braun E, Kheir
width a prognostic predictor in adult patients with community acquired Pneumonia?
BMC Infec Dis 2014;14:129.
10. Karadag-Oncel E, Ozsurekci Y, Kara A, Karahan S, Cengiz AB, Ceyhan M. The value
of mean platelet volume in the determination of community acquired pneumonia in
children. Ital J Pediatr 2013;8:39-116.
11. Tim Penyusun. Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral pada Orang
Dewasa. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.2011.
12. Nelms, Marcia, et al. Nutrition Theraphy and Pathophysiology 2e. 2011.
Download