Bagaimana Sentral Sistem Membantu Proses Transformasi Perusahaan 21 Jul 2016 Strategi Bisnis Perusahaan Penulis : Imanuel Iman dilihat 6.862 kali Transformasi Hanya perusahaan yang bernyali dan mau melakukan lompatan besar yang berani melakukan Transformasi. Menjalankan proses Transformasi tidaklah mudah. Semakin besar perubahan yang dilakukan, semakin besar pula potensi penolakan, risiko kegagalan dan turbulensi yang akan terjadi. Dalam melakukan Transformasi, prinsip kehati-hatian menjadi hal mutlak yang perlu diperhatikan. Dari pengalaman Sentral Sistem membantu perusahaan-perusahaan melakukan Transformasi, inilah hal yang perlu diketahui lebih dulu. 1. Proses Transformasi bukan berarti MENGUBAH TOTAL praktek bisnis Transformasi adalah mempertahankan praktek bisnis yang sudah baik, yang berhasil membuat perusahaan bertahan sampai saat ini dan mengubah total (Transformasi) kelemahan serta permasalahan yang terjadi di perusahaan. Dengan metode ini kegagalan fatal dari proses transformasi akan dapat dihindari. 2. Pemimpin harus mempersiapkan mental menghadapi turbulensi yang akan terjadi Setiap perubahan pasti akan menimbulkan turbulensi. Turbulensi yang muncul biasanya akibat adanya perlawanan terhadap perubahan yang terjadi. Perlawanan akan datang dari personel yang tidak menyukai perubahan karena sudah nyaman dengan kondisi yang ada atau yang memiliki kepentingan. Mereka secara sadar atau tidak akan melakukan gerakan perlawanan yang berdampak pada turbulensi perusahaan. Menghadapi situasi seperti ini, Pemimpin jangan salah mengartikan turbulensi sebagai sinyal kegagalan dari proses Transformasi. Hadapi turbulensi dan lakukan perbaikan. Jika Pemimpin menyerah, maka Pemimpin akan terjebak pada konsep PDCA keliru (Plan Do Cancel Again). Dalam proses Transformasi, Pemimpin jangan mengharapkan hasil instan karena perubahan memerlukan proses dan waktu. Untuk menghindari turunnya motivasi akibat proses yang panjang, perusahaan perlu membuat sasaran antara, yakni sasaran jangka pendek. Sasaran antara dapat membantu meningkatkan motivasi bahwa perubahan memang sudah berhasil atau berjalan di rel yang benar. 3. Pelaksanaan proses Transformasi harus dilakukan pada 2 area Area Pola Pikir Salah satu penghambat besar dari perubahan adalah pola pikir lama yang masih kita gunakan sebagai landasan perilaku keseharian kita. Terkadang tanpa disadari kita masih menggunakan pola pikir lama meski zaman sudah berubah. Secara fisik kita hidup di tahun 2016, namun mungkin pola pikir kita masih di tahun 2010. Sebagai contoh: Sekarang ini sistem manajemen sudah berubah dari sistem analisa kemarin sampai dengan hari ini, ke sistem analisa ke depan (prediction analysis). Dan juga sudah berubah dari sistem pengendalian masalah ke sistem pencegahan masalah. Pola pikir lama ini mengakibatkan pemimpin hanya fokus mengurus masalah harian, bekerja seperti layaknya pemadam kebakaran. Banyak sekali perusahaan yang masih memfokuskan sistem keuangan pada pencatatan, padahal pencatatan sudah terlambat, sudah terjadi. Saat ini sistem keuangan harus lebih difokuskan pada kontrol: product costing, budgeting (prediksi laba rugi) dan cost control operational. Banyak Pemimpin yang mengharapkan hasil yang lebih baik namun dalam kesehariannya hanya sibuk pada urusan rutin, padahal tanpa adanya perubahan (improvement), mustahil perusahaan dapat menjadi lebih baik. Ingat bahwa mengerjakan rutin hanya akan mendapatkan hasil yang rutin. Menjalankan proses Transformasi harus disertai dengan langkah mengidentifikasi Pola Pikir yang kurang tepat, yang bahkan terkadang sudah menjadi budaya pada perusahaan dan melakukan proses rekayasa Pola Pikir. Perubahan pola pikir akan membuat orang menjadi termotivasi untuk berubah. Area Pengetahuan Sekadar memiliki karyawan yang baik, yang memiliki motivasi tinggi untuk berubah, tidaklah cukup tanpa disertai dasar keilmuan terkait masalah yang dihadapi. Tanpa dilandasi dasar keilmuan yang memadai, karyawan hanya akan mengandalkan intuisi yang terkadang berdampak pada proses uji coba yang berkepanjangan. Sering pula karyawan hanya mengandalkan pengalaman sebelumnya sebagai acuan untuk perbaikan. Padahal secara teoritis, jika pengalaman sebelumnya manjur, tentunya sekarang ini sudah tidak akan ada masalah. Oleh karena itu kita harus selalu berpikir untuk mencari solusi pengetahuan lain di luar apa yang sudah kita terapkan saat ini. Dengan pengalaman melakukan observasi di lebih dari 100 perusahaan nasional dan multinasional serta pengalaman dalam melakukan transformasi dan improvement, Sentral Sistem memiliki banyak alternatif praktek terbaik yang diterapkan perusahaan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang beragam. Pengalaman tersebut menjadi bekal Sentral Sistem dalam membantu perusahaan melakukan transformasi. Dalam menjalankan Konsultasi transformasi atau konsultasi improvement lainnya, Sentral Sistem memberi jaminan keberhasilan. Oleh karena itu Sentral Sistem membuat program konsultasi dengan sistem success fee. Sistem Konsultasi bebas biaya, di mana biaya konsultasi diambil dari sebagian efisiensi yang berhasil dicapai melalui program transformasi atau program improvement yang dilaksanakan. Baca Juga: Menerapkan Strategi Unik dalam Perusahaan Belajar Strategi Bisnis Perusahaan dari Konsep Berpikir Pemain Catur Ketahui Cara Membuat Action Plan yang Benar untuk Mencapai Target Perusahaan —— Sentral Sistem merupakan Konsultan Strategi Manajemen yang fokus pada Peningkatan Kinerja Perusahaan, yakni Kinerja Bisnis, Mutu, Produktivitas, Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) dan Lingkungan. Servis lainnya berupa konsultasi dan training ISO 9001, ISO 14001, OHSAS 18001, IATF 16949, ISO 17025, ISO 13485, ISO 27001, ISO 50001, ISO 22000, GMP, AS 9100, AS 9120, dll. Hubungi kami di sini atau telepon 021-29067201-3. CFPR Method on AHP Model Materi Kuliah MKB3692 (Logika dan Sistem Digital) » Transformasi Dokumentasi ISO 9001:2015 23 Nov 2016 | Hanya Kata Biasa Semarang (Holiday Inn), 23 November 2016. Excecutive briefing pendokumentasian ISO 9001:2015. Untuk materi monggo dapat di-download gratis di link ini. ISO 9001:2015 tambahan dan penekanannya pada risk management yang salah satu metodenya dapat menggunakan metode FMEA, contohnya dapat dilihat disini. karena seminar ini pesertanya ada dari pendidikan dan industri manufaktur jadi isi materi tidak melulu membahas dari sudut pandang pendidikan/penyedia jasa. Urutan dokumen yang harus ada pada ISO 1: Manul mutu 2: Prosedur 3: Instruksi kerja 4: Bukti kerja (rekaman mutu) Batas tenggat perubahan ISO adalah September 2018 Konsep Dasar ISO 9001: 2015 1. Pendekatan Proses, harus ada nilai output dari input asalnya, misalnya peta bisnis proses 2. PDCA : plan (), Do (), Check (), Action () P-> D-> C-> jika sesuai maka NP, yang dilihat: efektifitas proses 3. Pemikiran berbasis resiko (manajemen resiko), semangat risk based thinking Perbedaan purchasing dan outsourcing: 1. Purchasing: tidak punya proses berdasarkan kapasitas atau pertimbangan ekonomi 2. Outsourcing: punya proses namun ada pertimbangan ekonomi maupun kapasitas Manual mutu pada ISO 9001:2008 poin wajibnya hanya 3 hal: – ruang lingkup – peta proses – daftar sop dan referensinya (klausul berapa) selain itu boleh saja dihapus dari manul mutu yang kita miliki. Analisa SWOT dapat disertakan ke dalam dokumen : Kebijakan mutu (clause 5.2) dan Sasaran mutu Perbedaan prinsip 2015 dari 2008 1. Tidak ada SOP wajib 2. People involvement menjadi people engagement (highly motivate to contribute) Kepuasan pelanggan dapat diukur melalui: 1. survey 2. wawancara 3. komplain 4. pujian 5. loss bussiness Dokumen penunjang sasaran mutu: 1. Penetapan sasaran mutu 2. Rencana bisnis 3. Action plan 4. Renstra 5. RIP Pengertian ISO 9001 dan Apakah Perlu Sertifikat? 21 Jun 2017 Manajemen Mutu Penulis : Marketing Sentral Sistem Consulting dilihat 20.582 kali ISO 9001 adalah standar internasional yang menetapkan persyaratan untuk Sistem Manajemen Mutu. ISO 9001 pertama kali diterbitkan pada tahun 1986 oleh ISO (International Organization for Standardization), sebuah badan internasional yang terdiri dari badan standar nasional yang beranggotakan lebih dari 160 negara. Sejak pertama diterbitkan, ISO 9001 mengalami 2 kali perubahan minor (1994, 2008) dan 2 kali perubahan major (2000, 2015). Versi terkini ISO 9001 adalah ISO 9001 2015. ISO 9001 lebih berisi persyaratan yang harus dipenuhi oleh perusahaan, di mana cara untuk memenuhi persyaratan tersebut diserahkan ke masing-masing perusahaan tergantung dari jenis dan kompleksitas dari masing-masing industri. Misalnya: ISO 9001 mewajibkan perusahaan memiliki kebijakan dan sasaran mutu. Perusahaan bisa menetapkan sendiri Kebijakan dan Sasaran Mutu yang sesuai dengan karakter perusahaan. ISO 9001 mewajibkan perusahaan untuk memiliki sumber daya yang baik. Sumber daya manusia dan infrastruktur. Bentuk evaluasi sumber daya manusia atau cara memastikan bahwa pekerja sudah berkompeten (seperti bukti SIM sebagai bukti bahwa pengemudi sudah memiliki kompetensi mengendarai kendaraan dengan baik dan benar) ditetapkan sendiri oleh perusahaan. Demikian juga cara menetapkan infrastruktur yang baik, termasuk pemeliharaan infrastruktur ditetapkan oleh perusahaan. ISO 9001 mewajibkan perusahaan untuk memiliki standar sebagai acuan untuk bekerja, untuk menghindari kesalahan. Bentuk standar acuan bisa ditetapkan oleh perusahaan sesuai karakter unik dari masing-masing perusahaan. Jadi ISO 9001 tidak menstandarisasi cara, tidak membatasi kreativitas perusahaan. ISO 9001 hanya memberikan pedoman karakteristik Sistem Manajemen Mutu yang baik, dalam bentuk persyaratan yang harus dipenuhi perusahaan untuk dapat diakui sebagai perusahaan yang telah memenuhi kriteria persyaratan yang telah ditetapkan oleh ISO 9001. Secara konsep apa yang dituntut oleh ISO 9001 adalah sangat baik dan juga merupakan karaketeristik dari semua perusahaan unggul, walaupun perusahaan tersebut tidak disertifikasi ISO 9001. Perusahaan harus menetapkan Customer bagi perusahaan dan mendefinisikan mutu dari kacamata Customer Perusahaan harus memahami isu internal dan eksternal sebagai masukan untuk membangun Sistem Manajemen Mutu Perusahaan harus memahami keinginan dan tuntutan dari stakeholder sebagai masukan untuk membangun sistem manajemen mutu Perusahaan harus mengidentifikasi risiko dan peluang yang dapat mempengaruhi operasional dan pencapaian tujuan perusahaan. Dan melakukan tindakan untuk mengurangi efek negatif dan menangkap peluang. Perusahaan menetapkan Kebijakan dan Sasaran Mutu Kebijakan Mutu menjadi pedoman dalam menyusun sistem, operasional bisnis perusahaan Perusahaan memiliki program kerja untuk mencapai sasaran mutu Perusahaan harus memahami keinginan pelanggan dan memastikan kesepakatan dengan pelanggan bisa dipenuhi Perusahaan harus memiliki sistem untuk mengatur pekerjaan sehingga perusahaan dapat mengirim produk atau pelayanan tepat waktu sesuai janji dengan Customer o Perusahaan harus memiliki sistem untuk memastikan produk atau pelayanan dapat memenuhi persyaratan pelanggan dan peraturan terkait produk o Perusahaan harus menyediakan dan memastikan bahwa karyawan yang bekerja telah memiliki kompetensi yang sesuai (Sumber Daya Manusia). o Perusahaan harus menyediakan infrastruktur yang sesuai, dan menjaga kondisi infrastruktur dalam keadaan baik (Mesin/ Infrastruktur). o Perusahaan harus menetapkan metode pembelian untuk mendapatkan material yang baik, dan melakukan kontrol atas material untuk memastikan material yang akan digunakan adalah material yang berkualitas baik (Material). o Perusahaan harus menetapkan lingkungan kerja yang baik, sesuai kebutuhan untuk menghasilkan produk dan layanan yang baik (Lingkungan). o Perusahaan harus menetapkan metode kerja yang baik, sebagai acuan dalam bekerja untuk menghindari kesalahan (Metode). Perusahaan harus memiliki sistem kontrol untuk memastikan produk atau pelayanan telah memenuhi persyaratan pelanggan dan peraturan terkait produk sebelum diserahkan ke Customer Perusahaan harus memastikan bahwa alat ukur yang digunakan untuk mengukur produk atau pelayanan telah sesuai, misalnya dikalibrasi atau ditera ketika terjadi ketidaksesuaian terhadap produk atau pelayanan, perusahaan memiliki sistem pengendalian terhadap produk atau pelayanan yang tidak sesuai Perusahaan harus memiliki sistem corrective action untuk menganalisa penyebab masalah pada sistem dan melakukan perbaikan terhadap akar penyebab masalah, sehingga masalah tidak terulang Perusahaan harus memeriksa apakah sistem yang telah ditetapkan dijalankan dengan konsisten melalui program audit Perusahaan harus mengetahui tingkat kepuasan pelanggan terhadap produk atau layanan perusahaan. Perusahaan harus melakukan review secara berkala. Review terhadap pencapaian kinerja (sasaran mutu) dan efektifitas sistem manajemen mutu perusahaan. Perusahaan harus memiliki sistem untuk meningkatkan kinerja operational (improvement) Perusahaan harus mengendalikan standar, sehingga hanya standar yang terbaru yang digunakan untuk bekerja Perusahaan harus mengendalikan record, sehingga record mudah dicari, tidak hilang, dan sewaktu-waktu dapat diakses untuk keperluan analisa atau keperluan telusur saat terjadi masalah. ISO 9001 bersifat sukarela, bukan merupakan kewajiban. Walaupun bersifat sukarela, namun karena apa yang dituntut oleh ISO 9001 bagus, maka beberapa perusahaan mewajibkan supplier mereka untuk mengikuti standar ISO 9001 untuk menjaga perusahaan mendapat pasokan produk atau pelayanan yang baik. Perusahaan bisa saja menggunakan ISO 9001 sebagai acuan dalam mengembangkan Sistem Manajemen perusahaan, walaupun perusahaan tidak berkeinginan untuk mendapatkan sertifikat ISO 9001. Baca juga: Apa Itu ISO 9001? Pahami Kegunaannya, Bukan Pasalnya Jangan Percaya Biaya ISO 9001 yang Mahal, Padahal Sebenarnya Gratis! —— Sentral Sistem merupakan Konsultan Strategi Manajemen yang fokus pada Peningkatan Kinerja Perusahaan, yakni Kinerja Bisnis, Mutu, Produktivitas, Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) dan Lingkungan. Servis lainnya berupa konsultasi dan training ISO 9001, ISO 14001, OHSAS 18001, IATF 16949, ISO 17025, ISO 13485, ISO 27001, ISO 50001, ISO 22000, GMP, AS 9100, AS 9120, dll. Hubungi kami di sini atau telepon 021-29067201-3. Apa Itu ISO 9001? Pahami Kegunaannya, Bukan Pasalnya 18 Mar 2017 Manajemen Mutu Penulis : Marketing Sentral Sistem Consulting dilihat 44.892 kali Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh perusahaan yang belum mengetahui ISO 9001: “Apa sih gunanya ISO 9001? Customer kami tidak minta ISO 9001, lalu buat apa kita ISO 9001? Dengan adanya ISO 9001 cost jadi naik, jadi tambah repot”. Menjawab pertanyaan ini, kami sering mengilustrasikan ISO 9001 seperti franchise. Franchise makanan yang baik memiliki standar yang jelas, yang harus diikuti oleh karyawan, sehingga rasa masakan bisa sama di setiap cabang. Rasa masakan tidak tergantung dari koki yang memasak makanan tersebut. Menerapkan ISO 9001 artinya membuat standar yang menjadi pedoman dalam operasional perusahaan. Perusahaan yang baik akan lebih bergantung pada sistem, bukan orang. Kenapa harus bergantung pada Sistem? Karena orang pada saatnya akan berganti, baik karena regenerasi, pensiun, atau pindah ke perusahaan lain. Jika perusahaan tidak memiliki pedoman operasional yang baku, maka cara kerja akan berubah-ubah tergantung pada mandornya. Saat mendapat mandor yang baik, maka hasilnya akan baik, namun saat mandornya tidak baik, hasilnya juga akan menjadi tidak baik. ISO 9001 mengarahkan perusahaan memiliki “PEDOMAN OPERASIONAL YANG TERBAIK UNTUK MENGHASILKAN KUALITAS YANG TERBAIK”. ISO 9001 tidak berisi aturan yang harus diikuti, namun berisi pedoman bagi perusahaan yang ingin memiliki sistem operasional yang baik. Bagi pemimpin atau perusahaan yang masih mencari petunjuk bagaimana mengelola operasional yang baik, perusahaan dapat menggunakan ISO 9001 sebagai referensi. Terlepas perusahaan akan disertifikasi atau tidak, ISO 9001 bisa menjadi referensi pedoman yang cukup lengkap dalam mengelola operasional perusahaan. [KETAHUI: BIAYA ISO 9001 SEBENARNYA GRATIS] Dalam menjelaskan ISO 9001, kami tidak menaruh fokus pada penjelasan pasalpasal seperti layaknya belajar Undang-undang. Tetapi kami lebih berfokus pada “Reason Behind”, yakni alasan yang melatar belakangi adanya pasal tersebut. Sebagai contoh, persyaratan ISO 9001 menuntut adanya management review. Kami menjelaskan bahwa management review adalah mereview pencapaian kinerja. Semua perusahaan tentunya harus memiliki meeting rutin membahas pencapaian kinerja dan melakukan tindakan aksi saat kinerja yang telah ditetapkan tidak tercapai. Business plan meeting yang biasa dilakukan oleh perusahaan bisa diclaim sebagai management review. Bonus Tip: Jangan fokus mempelajari interpretasi dari pasal, tetapi pelajari reason behind dari persyaratan tersebut sehingga kita bisa mengetahui alasan dan kegunaannya. Dengan memahami kegunaannya, perusahaan atau pemimpin menjadi sadar bahwa hal tersebut memang perlu dan bagus untuk perusahaan. Baca juga: Jadwal Training ISO dari Sentral Sistem Pengertian ISO 9001 dan Apakah Perlu Sertifikat? Bagaimana Sentral Sistem Membantu Proses Transformasi Perusahaan 7 Prinsip Manajemen Mutu ISO 9001:2015 Perbedaan ISO 9001:2008 vs ISO 9001:2015 dalam Audit Stage I —— Sentral Sistem merupakan Konsultan Strategi Manajemen yang fokus pada Peningkatan Kinerja Perusahaan, yakni Kinerja Bisnis, Mutu, Produktivitas, Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) dan Lingkungan. Servis lainnya berupa konsultasi dan training ISO 9001, ISO 14001, OHSAS 18001, IATF 16949, ISO 17025, ISO 13485, ISO 27001, ISO 50001, ISO 22000, GMP, AS 9100, AS 9120, dll. Hubungi kami di sini atau telepon 021-29067201-3. 7 Prinsip Manajemen Mutu ISO 9001:2015 25 Sep 2016 Manajemen Mutu Penulis : M. Rofii W. N. dilihat 69.751 kali Prinsip Manajemen dalam kaitannya dengan Sistem Manajemen Mutu tertuang dalam ISO 9001. Arti prinsip sendiri merupakan suatu kebenaran umum maupun individu yang dijadikan seseorang atau kelompok sebagai pedoman dalam berpikir dan bertindak. Begitu juga halnya Prinsip Manajemen Mutu dalam ISO 9001 tahun 2015, yang menjadi pedoman bagi siapa saja yang menerapkannya. Berbeda dengan ISO 9001:2008 yang memiliki 8 Prinsip Mutu, pada ISO 9001:2015 hanya terdapat 7 Prinsip Manajemen Mutu. No ISO 9001:2008 ISO 9001:2015 1 Customer Focus Customer Focus 2 Leadership Leadership 3 Involvement of People Engagement of People 4 Process Approach Process Approach 5 System Approach to Management Improvement 6 Continual Improvement Evidance Based Decision Making 7 Factual Approach Decision Making 8 Mutual Beneficial Suppliers Relationship Management Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas satu per satu, apa saja pengertian dari 7 Prinsip Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015. 1. Customer Focus Fokus Customer adalah prioritas utama dari Sistem Manajemen Mutu. Bentuk aplikasinya adalah dengan memberikan semua kebutuhan yang melebihi harapan Customer untuk ketercapaian kepuasan pelanggan. Sehingga keberlangsungan hidup perusahaan akan terjamin dalam jangka waktu yang panjang. 2. Leadership Setiap pimpinan yang ada di perusahaan memiliki peran sebagai pelatih yang memiliki target sesuai sasaran perusahaan melalui pemberdayaan karyawan, pembuat keputusan berdasarkan data dan fakta (decision maker) serta membuat standard sistem manajemen perusahaan yang diwariskan untuk genarasi berikutnya. 3. Engagement of People Menciptakan dan memberikan nilai lebih kepada Customer akan lebih mudah bila didukung oleh personal yang kompeten, mampu diberdayakan dan terlibat di semua tingkatan di seluruh Perusahaan. Bentuk aplikasinya adalah dengan mempromosikan pendekatan proses dan pentingnya kontribusi setiap tingkatan di Perusahaan. 4. Process Approach Sistem manajemen mutu yang telah ditetapkan di perusahaan bukan dibuat berdasarkan pendekatan departemen, akan tetapi berdasarkan proses murni yang ada di perusahaan dengan melibatkan seluruh pihak yang terkait. 5. Improvement Perusahaan yang sukses dan mampu bertahan dalam persaingan adalah Perusahaan yang fokus dalam improvement (peningkatan). Bentuk aplikasinya adalah dengan selalu melakukan perubahan melalui peningakatan berkelanjutan baik internal dan eksternal yang disesuaikan dengan iklim perubahan terkini. Sehingga perusahaan akan selalu siap menghadapi persaingan dengan para kompetitor. 6. Evidence Based Decision Making Membuat keputusan berdasarkan data dan fakta. Bentuk aplikasinya adalah setiap menetapkan kesimpulan dari sebuah permasalahan ditetapkan berdasarkan analisis fakta dan data yang diperoleh selama melakukan analisa. Sehingga keputusan yang diambil akan menghasilkan keputusan yang produktif dan tepat sasaran. 7. Relationship Management Untuk mempertahankan kesuksesan Perusahaan harus mengelola hubungannya dengan pihak-pihak yang berkepentingan (interested parties) diantaranya adalah para pemasoknya, mitra kerja, karyawan, pemerintah, masyarakat, dll. Baca juga: Yang Harus Diketahui tentang Perubahan ISO/TS 16949 menjadi IATF 16949:2016 Perbedaan ISO 9001:2008 vs ISO 9001:2015 dalam Audit Stage I Tidak Ada Pasal Khusus Tindakan Pencegahan pada ISO 9001:2015? Mengenal Teknik Audit Turtle Diagram ---Sentral Sistem merupakan Konsultan Strategi Manajemen yang fokus pada Peningkatan Kinerja Perusahaan, yakni Kinerja Bisnis, Mutu, Produktivitas, Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) dan Lingkungan. Servis lainnya berupa konsultasi dan training ISO 9001, ISO 14001, OHSAS 18001, IATF 16949, ISO 17025, ISO 13485, ISO 27001, ISO 50001, ISO 22000, GMP, AS 9100, AS 9120, dll. Hubungi kami di sini atau telepon 021-29067201-3. Perbedaan ISO 9001:2008 vs ISO 9001:2015 dalam Audit Stage I 31 Oct 2016 Manajemen Mutu Penulis : M. Rofii W. N. dilihat 18.776 kali Perbedaan ISO 9001:2008 vs ISO 9001:2015, membuat banyak perusahaan yang bertanya-tanya seperti apakah bentuk audit yang dilakukan oleh Badan Sertifikasi khususnya mengenai Audit Stage I. Berikut ini tabel perbedaan ISO 9001:2008 vs ISO 9001:2015 dalam audit stage I. No ISO 9001:2008 ISO 9001:2015 1 Company Manual (Level 1) Company Profile 2 Organization Structure Organization Manual, termasuk Organizati Structure Chart, Policy & Objectives, Busin Process Mapping (include Core Process) 3 Quality Procedure Context of organization (List of internal & external issues, Needs & Expectation of Interested Parties) 4 Quality Objectives List of procedures and documented inform 5 Mandatory Procedures Summaries of management review 6 - Summaries of internal audit Bila kita perhatikan secara seksama mandatory dokumen yang diperlukan untuk Stage I antara versi ISO 9001:2008 dengan ISO 9001:2015 hampir sama. Perbedaan terletak pada versi ISO 9001:2015, perusahaan diminta untuk membuat documented information mengenai Context of Organisation yaitu External and Internal Issues, Needs and Expectations of Interested Parties. Bahkan Manual Mutu masih dipergunakan di ISO 9001:2015 sebagai Documented Information yang menjelaskan Ruang Lingkup Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015. Baca juga: Pengertian ISO 9001 dan Apakah Perlu Sertifikat? 7 Prinsip Manajemen Mutu ISO 9001:2015 Tidak Ada Pasal Khusus Tindakan pada ISO 9001:2015 --Sentral Sistem merupakan Konsultan Strategi Manajemen yang fokus pada Peningkatan Kinerja Perusahaan, yakni Kinerja Bisnis, Mutu, Produktivitas, Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) dan Lingkungan. Servis lainnya berupa konsultasi dan training untuk ISO 9001, ISO 14001, OHSAS 18001, IATF 16949, ISO 17025, ISO 13485, ISO 27001, ISO 50001, ISO 22000, GMP, AS 9100, AS 9120, dll. Hubungi kami di sini atau telepon 021-29067201-3. Sejarah Perkembangan Standar ISO 9001 ISO pertama kali diterbitkan pada tahun 1987 yaitu seri/keluarga ISO 9000:1987 yang terdiri atas seri ISO 9000:2007 terdiri atas : - ISO 9001 : Disain, produksi, instalasi dan Pelayanan (20 elemen) - ISO 9002 : Produksi dan Instalasi (18 elemen) - ISO 9003 : Inspeksi dan Tes (12 elemen) Selanjutnya seri/keluarga ISO 9000 mengalami perubahan (edisi2) yaitu ISO 9000:1994 sebagaimana versi sebelumnya dengan penambahan elemen untuk melengkapi beberapa jenis produk dan jenis industri sehingga serinya menjadi : - ISO 9001 : Disain, produksi, Instalasi dan Pelayanan (20 elemen) - ISO 9002 : Produksi, Instalasi dan Pelayanan (19 elemen) - ISO 9003 : Inspeksi dan Tes (16 elemen) Dan pada perubahan berikutnya (edisi 3) pada tahun 2000 yang mengalami perubahan besar dengan satu standar yang mengacu pada konsistensi proses kerja. Pada perubahan ini maka seri/keluarga ISO 9000 yang terdiri atas ISO 9001, ISO 9002 dan ISO 9003 menjadi satu standar persyaratan pemastian mutu yaitu ISO 9001:2000. Sehingga di versi 2000 ini mencakup beberapa seri yaitu : - ISO 9000:2000 – Quality Management System – Fundamental and vocabulary replacing ISO 9001 (Dasar dan Istilah Sistem Manajemen Mutu) - ISO 9001:2000 – Quality Management System – Requirements replacing ISO 1994 versions of ISO 9001, ISO 9002, and ISO 9001 (Persyaratan Sistem Manajemen Mutu) - ISO 9004:2000 – Quality Management System – Guidance for performance improvement replacing ISO 9004 (Panduan untuk Perbaikan Kinerja) Pada versi 2000 inilah digabungkan ketiga standar ISO 9001, 9002 dan 9003 menjadi satu standar yaitu 9001. Prosedur desain dan pengembangan disyaratkan hanya jika organisasi berkaitan secara langsung dengan aktivitas penciptaan produk baru dan apabila organisasi tidak berkaitan dengan aktivitas tersebut dapat dikecualikan. Pada ISO 9000:2000 dimasukkan Prinsip-Prinsip Manajemen Mutu (Quality Management Principles) sebagai dasar dalam melaksanakan Sistem Manajemen Mutu dan istilah 'Quality Assurance' tidak digunakan lagi dan digantikan dengan istilah 'Quality Management System Requirements'. Pada ISO 9001:2000 tidak lagi dikenal 20 elemen, tetapi lebih pada proses bisnis yang terjadi dalam organisasi atau yang disebut dengan Business Proces Mapping (Pemetaan Proses Bisnis). Setiap organisasi harus memetakan proses bisnisnya dan menjadikannya bagian utama dalam Pedoman Mutu dengan mewajibkan 6 prosedur yang harus terdokumentasi, yaitu prosedur Control of Document, Control of Record, Control of Non conforming Product, Internal Audit, Corrective Action & Preventive Action and Mangement Review. Pada perkembangan berikutnya, (edisi 4) terbitlah ISO 9001: 2008 sebagai bentuk penyempurnaan atas revisi tahun 2000. Perbedaan antara seri ISO9001:2000 dengan ISO 9001:2008 tidak terlalu signifikan namun lebih menekankan pada efektivitas proses yang dilaksanakan dalam organisasi tersebut. Jika pada seri ISO 9001:2000 mengatakan harus dilakukan corrective dan preventive action, maka seri ISO 9001:2008 menetapkan bahwa proses corrective dan preventive action yang dilakukan harus secara efektif berdampak positif pada perubahan proses yang terjadi dalam organisasi. Selain itu, penekanan pada kontrol proses outsourcing menjadi bagian yang harus dikendalikan. Perubahan yang paling baru adalah ISO 9001:2015 yang sudah dijelaskan dalam catatan sebelumnya (tentang ISO 9001:2015 terbaru/new version). Secara ringkas disimpulkan bahwa : Edisi 1 – ISO 9000:1987 (20 elements) Edisi 2 – ISO 9000:1994 (small revision) Edisi 3 – ISO 9001:2000 (process approach) Edisi 4 – ISO 9001:2008 (minor revision) Edisi 5 – ISO 9001:2015 (New Structure & Risk Based Thinking) Filosofi ISO 9001 Filosofi ISO 9001:2008 Tulis Apa Yang Anda Kerjakan Kerjakan Apa Yang Anda Tulis Periksa dan Tinjau Lakukan Peningkatan Berkelanjutan Filosofi ISO 9001:2015 Apa Yang Terbaik Buat Perusahaan Itulah Yang Terbaik Buat Mutu Evaluasi dan Tingkatkan di Januari 31, 2016 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest Contoh "Memahami Risiko Perusahaan" Bahwa dengan telah ditetapkannya Visi dan Misi serta mempertimbangkan perubahan lingkungan eksternal maupun internal bisnis PT. X, yang berpotensi menimbulkan berbagai jenis risiko, maka perlu mengelola semua risiko tersebut secara sistematis dan terstruktur dalam rangka meningkatkan kepastian tercapainya tujuan dan sasaran perusahaan. Pengelolaan risiko diperlukan dalam rangka penguatan penerapan Sistem Manajemen Mutu terkait dengan penegakan praktek bisnis dan dapat memberikan nilai tambah yang sesuai dengan harapan para stakeholders. PT. X yang memproduksi dan memasarkan produk Y dalam operasinya tetap memperhatikan aspek mutu, memberikan kepuasan kepada pelanggan dan masyarakat melalui produk dan pelayanan yang berkualitas, mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja serta pelestarian lingkungan hidup. Untuk itu dalam menetapkan arah bisnis selalu mempertimbangkan faktor faktor risiko yang berpotensi merugikan perusahaan dengan terlebih dulu menganalisis risikonya. Dengan semakin banyaknya ketidakpastian serta cepatnya perubahan lingkungan usaha, baik internal maupun eksternal, maka akan berdampak kepada makin kompleksnya risiko usaha yang harus dihadapi perusahaan. Maka dalam rangka meningkatkan kemampuan perusahaan di dalam menghadapi setiap perubahan, penerapan manajemen risiko menjadi kebutuhan mutlak guna mengurangi dan mencegah terjadi kerugian yang mengganggu kelangsungan usaha. Untuk dapat mengelola risiko yang mungkin terjadi, maka Kebijakan Manajemen yang dilakukan di PT.X. maupun di setiap unit kerja/anak perusahaan dengan menerapkan proses manajemen risiko dengan langkah langkah sebagai berikut : 1. Mendeteksi/mengidentifikasi risiko sedini mungkin pada setiap aktivitas yang berhubungan dengan bidang usaha yang ada. 2. Melakukan pengukuran tingkat / besarnya setiap risiko, dengan memperhitungkan besarnya dampak dan kemungkinan terjadinya peluang risiko. 3. Melakukan analisis dan evaluasi terhadap sumber risiko dan penyebab terjadinya risiko, sebagai dasar untuk memetakan dan mengendalikan risiko yang signifikan. 4. Menyusun rencana strategi pengendalian terhadap risiko yang mempunyai prioritas tinggi/risiko signifikan. 5. Melakukan kegiatan strategi pengendalian risiko yang membahayakan kelangsungan hidup perusahaan. 6. Melakukan komunikasi, konsultasi, review dan pemantauan, risiko secara terus menerus, khususnya yang mempunyai dampak cukup signifikan terhadap kondisi perusahaan. Pengelolaan Risiko Eksternal Pengelolaan risiko eksternal adalah pengelolaan risiko yang berhubungan dengan lingkungan di luar PT X dan dapat diprediksi sejak awal, antara lain : (dapat dibuat Tabel Risiko) - lingkungan hukum, - kondisi sosial-budaya, - persaingan bisnis, - fluktuasi harga dan inflasi. Sedangkan Risiko eksternal yang tidak dapat diprediksi sejak awal, antara lain : - perubahan politik nasional, - regulasi & perubahan kebijakan pemerintah, - termasuk hal-hal berupa perubahan iklim dan force majeure seperti bencana alam. Dampak yang ditimbulkan oleh risiko eksternal antara lain berupa : - kerugian finansial, - penurunan reputasi perusahaan, - keterbatasan kesempatan manajemen untuk bertindak. Strategi pengelolaan risiko yang paling sesuai adalah mitigasi risiko dengan meminimalkan risiko yang mungkin terjadi setelah operasional berjalan, yaitu: 1. Antisipasi sejak dini dengan melakukan transfer risiko, yaitu mengasuransikan portofolio bisnis yang sedang berjalan. 2. Memeriksa kembali target dan sasaran perusahaan secara realistis guna melakukan efisiensi sumber dana perusahaan. 3. Melakukan negosiasi ulang terhadap pihak kreditur untuk cicilan pembayaran hutang jangka menengah dan jangka panjang. Pengelolaan Risiko Internal Pengelolaan risiko internal adalah pengelolaan risiko yang berhubungan dengan lingkungan di dalam PT X, yaitu : (dapat dibuat Tabel Risiko) - pengelolaan operasional terhadap bisnis yang sudah berjalan, - pengelolaan pembentukan usaha baru, - pengelolaan kerja sama operasi, - pengelolaan pemanfaatan teknologi baru/investasi, - pengelolaan kepatuhan terhadap peraturan dan undang-undang serta - pengelolaan SDM. Dampak yang ditimbulkan oleh risiko internal antara lain : - penurunan laba perusahaan, - penurunan kemampuan pendanaan perusahaan, - pelanggaran hukum, - penurunan produktifitas SDM dan - keterbatasan kesempatan manajemen untuk bertindak. Strategi pengelolaan risiko yang paling sesuai adalah mitigasi risiko, yaitu meminimalkan risiko yang mungkin terjadi dengan cara : 1. Mendisiplinkan penggunaan anggaran yang ditetapkan sesuai Anggaran Perusahaan serta kepatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan. 2. Melaksanakan pemantauan, evaluasi dan bimbingan secara rutin terhadap bisnis yang sedang berjalan, bisnis baru dan kerjasama operasi, agar dapat mencapai target dan sasaran yang ditetapkan. 3. Melaksanakan tata kelola perusahaan secara benar dengan mentaati kepatuhan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku untuk setiap aktifitas yang akan dijalankan. 4. Melakukan penempatan SDM yang sesuai dengan kemampuan dan keahliannya serta memberlakukan sistem renumerasi dan perencanaan karir yang transparan. Dokumen Terkait : ISO 9001:2015 klausul 6 di Januari 31, 2016 3 komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest Contoh "Komitmen dengan Stakeholders" Manajemen memahami dan sadar bahwa perusahaan hanya dapat menjalankan dan meneruskan misi dan mencapai visi jika kita mengerti, bertanggung jawab dan menjaga keseimbangan empat kebutuhan pokok dari stakeholders dalam bisnis kita yakni pelanggan, pekerja, pemegang saham, dan komunitas. Panduan dasar kita yang berhubungan dengan stakeholders adalah : Pelanggan: a. Untuk memberikan nilai tambah produk dengan konsisten memenuhi standar dan spesifikasi yang telah disetujui. b. Hanya menerima kontrak jika kita yakin kita dapat memenuhi persyaratan pelanggan kita dan dimana persyaratan itu sesuai dengan keahlian dan aktifitas bisnis kita. Pekerja: a. Untuk memastikan bahwa lingkungan dan kondisi kerja dapat digunakan untuk bekerja secara efektif, aman dan higienis bagi semua pekerja. b. Untuk memberikan suasana dimana pekerja diberikan kesempatan untuk memaksimalkan potensi mereka dan untuk berpartisipasi dalam operasional bisnis. Pemegang Saham: a. Memimpin bisnis kita sesuai dengan semua persyaratan yang sah dan untuk moral tertinggi dan standar etika. b. Untuk merencanakan dan melakukan semua peluang bisnis dengan cara professional, dengan mempertimbangkan resiko terhadap terhadap laba. c. Untuk melakukan perencanaan menghasilkan laba kepada laba. dan peningkatan yang progresip dalam Komunitas: a. Untuk menciptakan kesempatan kerja untuk komunitas setempat. b. Untuk meminimalisasi kerusakan yang diciptakan oleh bisnis terhadap lingkungan sekitar. Sistem manajemen mutu kita adalah sarana untuk memenuhi keinginan stakeholder dengan pelaksanaan yang konsisten dan efektif dengan menyediakan program untuk perbaikan secara terus menerus, dalam semua area/proses operasi. Dokumen Terkait : ISO 9001:2015 klausul 4.2 di Januari 31, 2016 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest Contoh "Konteks Organisasi" Dalam rangka mencapai Visi dan Misi Perusahaan serta ditetapkan Kebijakan Mutu maka dalam pencapaian kemajuan organisasi, diarahkan pada : 1. Pengelolaan perusahaan yang sehat dan pada jalur yang benar. 2. Meningkatkan penambahan modal baik dari setoran pemilik dan penambahan laba usaha. 3. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terdidik, profesional dan memiliki dedikasi yang tinggi bagi kemajuan perusahaan. 4. Meningkatkan peran teknologi informasi dalam mendukung proses dan kualitas pengambilan keputusan khususnya bagi top manajemen dalam menyelesaikan permasalahan dan membantu pekerjaan dengan lebih efektip dan efisien. 5. Meningkatkan kualitas pekerjaan yang dapat menciptakan tingkat kepuasan yang tinggi kepada pelanggan. 6. Meningkatkan pelayanan yang dapat meningkatkan kepuasan pelanggan. Sejalan dengan kondisi persaingan di dunia jasa kontruksi semakin ketat, maka Perusahaan/Organisasi harus lebih memetakan kondisi perusahaan saat ini. Salah satunya dengan melalukan analisis SWOT (Strength-Weakness-Opportunity-Threat) yaitu analisis mengenai kekuatan dan kelemahan yang dimiliki organisasi yang dilakukan melalui telaah terhadap kondisi internal organisasi, serta analisis mengenai peluang dan ancaman yang dihadapi organisasi yang dilakukan melalui telaah terhadap kondisi eksternal organisasi. ANALISIS SWOT a. Kekuatan ( Strengths ) 1. Memiliki jaringan cabang yang luas di seluruh daerah Propinsi X 2. Memiliki SDM yang loyal, potensial dan dengan kualitas baik. 3. Memiliki jajaran menajemen yang berdedikasi. b. Kelemahan ( Weaknesses ) 1. Koordinasi dan k omunik asi terbuk a belum berjalan optimal. 2. Sistim informasi dan teknologi belum memadai 3. Banyak melakukan outsourcing c. Kesempatan (Oportunities ) 1. Kondisi perekonomian Propinsi X sedang bagus 2. Semangat bersama membangun daerah sdalam rangka meningkatkan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarkat secara menyeluruh. 3. Wilayah propinsi X luas serta memiliki banyak pulau-pulau dan pedesaan d. Tantangan / Ancaman (Threats) 1. Semakin banyak yang bisnis di bisnis maka persaingan semakin tajam. 2. Pelangga akan semakin kritis dalam memilih perusahaan yang terbaik. 3. Sulitnya perizinan dalam industri ini. Berdasarkan hasil analisis SWOT sebagaimana disebutkan diatas maka organisasi, manajemen dan sumber daya manusia pada Perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang siap bersaing dan mempunyai kemampuan di dalam menjalankan penerapan manajemen mutu guna menjaga kelangsungan usaha dan melaksanakan pekerjaan sesuai lingkup perusahaan serta mampu mencapai sasaran-sasaran organisasi selama 3 – 5 tahun ke depan dalam memenuhi kebutuhan dan harapan dari para stakeholder. Dokumen Terkait : ISO 9001:2015 klausul 4.1 di Januari 31, 2016 2 komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest Postingan Lebih BaruPostingan LamaBeranda Langganan: Postingan (Atom) PELATIHAN PEMAHAMAN ISO 9001 SERIES - UIN JAKARTA http://lpm.uinjkt.ac.id/lpm-laksanakan-pelatihan-awarness-iso-90012015/ Mengapa berubah ke ISO 9001:2015 Mengapa ISO 9001 berubah ke versi terbaru ? Pertanyaan ini selalu muncul setiap ada perubahan versi dalam Sistem Manajemen Mutu. Jawabannya adalah dunia sangat ini sudah berubah. Dunia bergerak dinamis baik konteks maupun lingkungannya. Saat ini standar ISO 9000 telah terbukti secara konsisten menjadi standar yang paling populer di dunia dan bahkan telah menjadi platform atau pedoman dasar dalam mengelola perusahaan dan organisasi di seluruh dunia khususnya dalam meningkatkan manajemen mutu. Saat ini ISO 9001 telah memasuki tahap baru sebagai Standar Terdepan (the Future Standar) yang terbukti dan diakui secara global mampu meningkatkan kinerja organisasi dan menjadi bagian integral serta berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan. Alasan lainnya perubahan ISO 9001:2015 lainnya adalah : a. Meningkatkan kemampuan organisasi untuk memuaskan p elanggan b. Mempertahankan relevansi manajemen dengan pendekatan proses dan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action). c. Mempunyai relevansi dan mengintegrasikan dengan sistem manajemen lainnya (dimana ke depan seluruh sistem manajemen yang diterbitkan memiliki klausul yang sama sehingga memudahkan dalam pemahaman dan penerapannya secara bersama-sama). d. Mencerminkan kebutuhan dari semua kelompok pengguna d an lingkungan operasi yang semakin kompleks. e. Menetapkan dasar yang konsisten selama 15 tahun ke depan. di Januari 10, 2016 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest Tidak ada komentar: Posting Komentar Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda Poin-poin Perubahan ISO 9001:2015 Ada beberapa poin-poin perubahan ISO 9001:2015, yaitu : a. Perubahan Struktur Klausul. Bila pada ISO 9001:2008 terdapat 8 klausul, maka pada ISO 9001:2015 ada 10 klausul yaitu klausul 4 konteks organisasi, klausul 5 kepemimpinan, klausul 6 perencanaan, klausul 7 pendukung, klausul 8 operasional, klausul 9 tentang evaluasi performa dan klausul 10 tentang Improvement. b. Perusahaan harus fokus ke masa depan (forward looking). Poin ini tercantum dalam klausul 4, yaitu Context of the organization. Perusahaan/organisasi melakukan identifikasi dan analisa terhadap faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi keberlangsungan hidupnya seperti faktor internal (misalnya kebijakan, strategi, sumber daya, sasaran, nilai-nilai, dan informasi) dan faktor eksternal (perilaku pelanggan, ekonomi, sosial dan kultural, teknologi, persaingan, dan regulasi). Disamping itu perusahaan harus fokus pada kepuasan pelanggan melalui pemahaman siapa pelanggannya dan apa yang menjadi kebutuhan pelanggan. c.Mendefinisikan adanya Risk based thinking yatu perusahaan/organisasi harus melakukan mengelola risiko. ISO 9001:2015 tidak hanya menggunakan pendekatan tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan dalam menangani sebuah masalah, tetapi mulai merambah ke manajemen resiko dimana organisasi nantinya diminta mengadopsi prinsip manajemen resiko seperti risk and opportunities, risk avoidance, risk mitigation, dan risk acceptance. Artinya risiko harus dianalisa atau dideterminasi sedemikian hingga pada saat membuat perencanaan. Risiko dianggap sebagai suatu kesatuan yang tidak dipisahkan dari sistem. Dengan mengambil pendekatan yang berbasis resiko, organisasi diharapkan menjadi lebih proaktif ketimbang reaktif, senantiasa mencegah dan mengurangi efek yang tidak dikehendaki, dan selalu mempromosikan perbaikan sistem yang berkelanjutan (continoual improvement). Ketika manajemen resiko diterapkan, secara otomatis tindakan pencegahan akan dilakukan. Minimal ada tiga risiko yang harus dikelola, yaitu kegagalan produk (barang dan jasa), kerugian pelanggan (keselamatan dan ekonomis) dan kerugian organisasi. Persyaratan tersebut tercantum dalam klausul 6 tentang Planning. d. Menetapkan pentingnya competency based, yang tercantum dalam klausul 7.2 tentang competence. Kompetensi SDM menjadi fokus karena kinerja perusahaan ditentukan oleh kinerja setiap orang atau pegawainya, pegawai akan berkinerja jika memiliki kompetensi yang dibutuhkan. Untuk itu dibutuhkan identifikasi kompetensi yang dibutuhkan, memastikan bahwa personil yang mempengaruhi kepuasan pelanggan dan mutu produk adalah kompeten, melakukan pengembangan (training,coaching,supervision). e. Menekankan pada interested parties/pihak-pihak yang berkepentingan_selain pelanggan itu sendiri, terdapat pihak lain yang berkepentingan, seperti lembaga sertifikasi, regulator, pemegang saham, masyarakat). f. Sistem pendokumentasian dengan ketentuan baru yaitu bila pada edisi sebelumnya dokumentasi seakan menjadi syarat utama sebagai bukti penerapan ISO 9001 dimana ada pemahaman yang berbeda antara dokumen dan rekaman (penyatua istilah dokumen dan rekaman) maka standar ISO 9001:2015 ketentuan dokumentasi dihapuskan dan diganti dengan istilah Documented Information/Informasi yang Terdokumen. Hal ini ditujukan agar sistem dokumentasi di standar ini disusun sesuai dengan kebutuhan perusahaan atau organisasi. Prinsip Manajemen Mutu Prinsip Manajemen Mutu pada ISO 9001:2008 terdiri atas 8 prinsip dan pada versi terbaru ISO 9001:2015 berubah menjadi 7 Prinsip Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015. Berikut ini 7 Prinsip Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 : 1. Customer Focus (Fokus Pada Pelanggan) Organisasi harus berfokus untuk memenuhi dan mempertinggi kebutuhan pelanggan. Organisasi harus berupaya untuk menerima masukan dari pelanggan dan secara aktif melakukan perbaikan untuk kepuasan pelanggan dengan cara proaktif menetapkan apa yang terbaik untuk pelanggan dan reaktif ketika ada masukan dan keluhan dari pelanggan. 2. Leadership (Kepemimpinan) Peran Top manajemen dalam mengelola kepemimpinan sangatlah penting untuk memastikan seluruh bagian organisasi memahami dengan baik tujuan apa yang hendak dicapai dalam menerapkan sistem manajemen. Top Manajemen harus mampu menerjemahkan dan mensosialiasikan visinya ke seluruh bagian organisasi untuk mencapai keberhasilan organisasi. 3. Engagement of People (Keterlibatan Orang-orang) Organisasi harus melibatkan seluruh orang-orangnya agar secara dalam terlibat dan melibatkan secara penuh untuk bertanggung jawab dalam menciptakan nilai lebih untuk pelanggan. Semua anggota organisasi harus merasa mempunyai tanggung jawab yang sama dalam mencapai tujuan organisas. 4. Process Approach (Pendekatan Proses) Setiap organisasi harus menyadari bahwa aktivitas yang ada di organisasi adalah satu kesatuan proses yang saling terhubung sehingga setiap bagian harus memahami tidak hanya tugas bagiannya, tetapi juga tugas bagian yang berkaitan dengannya agar semuanya bisa bersinergi secara bersama-sama. 5. Improvement (Peningkatan) Organisasi harus aktif merespon setiap perubahan internal maupun eksternal yang dapat mempengaruhi nilai produk atau pelayanan di mata pelanggan. Organisasi dituntut untuk melakukan perbaikan dan pengembangan serta peningkatan untuk memberikan nilai tambah terhadap nilai produk atau pelayanan di mata pelanggan. 6. Evidence-based Descision Making (Pengambilan keputusan berbasis bukti) Organisasi dalam melakukan evaluasi dan pengambilan sebuah keputusan baik terhdap suatu permasalahan maupun pengembangan harus didukung dengan bukti yang kuat agar agar keputusan yang diambil tepat. Salah pendekatannya adalah sebagaimana metode audit yaitu pendekatan 5W + 1 H dapat dipakai untuk mendapatkan pokok permasalahan sehingga keputusannya bisa dipertanggung jawabkan. 7. Relationship Management (Hubungan kerjasama dengan berbagai pihak) Organisasi harus menjaga hubungan yang baik dan berkomunikasi secara aktif dengan berbagai pihak demi sebuah kemajuan usaha. Kerjasama dan hubungan baik dengan berbagai pihak khususnya pihak ketiga (supplier, subkontraktor, distributor) sangat dibutuhkan oleh organisasi karena dalam setiap aktivitas bisnisnya selalu saling membutuhkan. Strategi Mudah Penerapan ISO 9001:2015 ISO 9001:2015 telah terbit dan perusahaan harus bersiap-siap menerapkan ISO 9001 versi 2015 ini. Bagaimana cara penerapannya? Berikut ini hal-hal yang harus menjadi fokus apabila perusahaan ingin menerapkan ISO 9001:2015 dengan mudah, yaitu : a. Top Manajemen harus mampu mendemonstrasikan organisasi yang dipimpinnya. Manajemen harus mampu menjelaskan visi dan misi, kebijakan, posisi perusahaan saat ini, harapan dari pihak yang berkepentingan. b. Top Manajemen harus berfokus ada performa perusahaan dengan pendekatan pemikiran berbasis resiko (risk-based thinking) dan konsep rencanakan – lakukan – periksa – perbaiki (Plan – Do – Check – Action) yang diterapkan di seluruh level organisasi. c. Dengan konsep PDCA maka ISO 9001 tidak terlalu banyak persyaratan dokumen dan form artinya tidak lagi terlalu mempersoalkan dokumen, tidak ada lagi pemisahan antara prosedur dan form. Keduanya kini disebut informasi terdokumentasi sehingga salah satu diantara keduanya sudah mewakili. d. Penerapan ISO 9001:2015tidak lagi bergantung pada Perwakilan Manajemen (Management Representative) yangsebelumnya bertanggung jawab terhadap penerapan ISO 9001. Saat ini tanggung jawab penerapannya menjadi tanggung jawab bagiannya masing-masing. Berdasarkan hal diatas maka penerapan SMM ISO 9001:2015 menjadi lebih sederhana dan mudah diadopsi oleh setiap organisasi/perusahaan. Hal-hal yang baik selama penerapannya di versi sebelumnya dapat tetap dilanjutkan karena hal itu merupakan best practices (seperti adanya SOP) untuk menjadi tujuan perusahaan dan keberhasilan dimasa datang. Contoh "Konteks Organisasi" Dalam rangka mencapai Visi dan Misi Perusahaan serta ditetapkan Kebijakan Mutu maka dalam pencapaian kemajuan organisasi, diarahkan pada : 1. Pengelolaan perusahaan yang sehat dan pada jalur yang benar. 2. Meningkatkan penambahan modal baik dari setoran pemilik dan penambahan laba usaha. 3. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terdidik, profesional dan memiliki dedikasi yang tinggi bagi kemajuan perusahaan. 4. Meningkatkan peran teknologi informasi dalam mendukung proses dan kualitas pengambilan keputusan khususnya bagi top manajemen dalam menyelesaikan permasalahan dan membantu pekerjaan dengan lebih efektip dan efisien. 5. Meningkatkan kualitas pekerjaan yang dapat menciptakan tingkat kepuasan yang tinggi kepada pelanggan. 6. Meningkatkan pelayanan yang dapat meningkatkan kepuasan pelanggan. Sejalan dengan kondisi persaingan di dunia jasa kontruksi semakin ketat, maka Perusahaan/Organisasi harus lebih memetakan kondisi perusahaan saat ini. Salah satunya dengan melalukan analisis SWOT (Strength-Weakness-Opportunity-Threat) yaitu analisis mengenai kekuatan dan kelemahan yang dimiliki organisasi yang dilakukan melalui telaah terhadap kondisi internal organisasi, serta analisis mengenai peluang dan ancaman yang dihadapi organisasi yang dilakukan melalui telaah terhadap kondisi eksternal organisasi. ANALISIS SWOT a. Kekuatan ( Strengths ) 1. Memiliki jaringan cabang yang luas di seluruh daerah Propinsi X 2. Memiliki SDM yang loyal, potensia l dan dengan kualitas baik. 3. Memiliki jajaran menajemen yang berdedikasi. b. Kelemahan ( Weaknesses ) 1. Koordinasi dan k omunik asi terbuk a belum berjalan optimal. 2. Sistim informasi dan teknologi belum memadai 3. Banyak melakukan outsourcing c. Kesempatan (Oportunities ) 1. Kondisi perekonomian Propinsi X sedang bagus 2. Semangat bersama membangun daerah sdalam rangka meningkatkan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarkat secara menyeluruh. 3. Wilayah propinsi X luas serta memiliki banyak pulau-pulau dan pedesaan d. Tantangan / Ancaman (Threats) 1. Semakin banyak yang bisnis di bisnis maka persaingan semakin tajam. 2. Pelangga akan semakin kritis dalam memilih perusahaan yang terbaik. 3. Sulitnya perizinan dalam industri ini. Berdasarkan hasil analisis SWOT sebagaimana disebutkan diatas maka organisasi, manajemen dan sumber daya manusia pada Perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang siap bersaing dan mempunyai kemampuan di dalam menjalankan penerapan manajemen mutu guna menjaga kelangsungan usaha dan melaksanakan pekerjaan sesuai lingkup perusahaan serta mampu mencapai sasaran-sasaran organisasi selama 3 – 5 tahun ke depan dalam memenuhi kebutuhan dan harapan dari para stakeholder. Dokumen Terkait : ISO 9001:2015 klausul 4.1 Contoh "Komitmen dengan Stakeholders" Manajemen memahami dan sadar bahwa perusahaan hanya dapat menjalankan dan meneruskan misi dan mencapai visi jika kita mengerti, bertanggung jawab dan menjaga keseimbangan empat kebutuhan pokok dari stakeholders dalam bisnis kita yakni pelanggan, pekerja, pemegang saham, dan komunitas. Panduan dasar kita yang berhubungan dengan stakeholders adalah : Pelanggan: a. Untuk memberikan nilai tambah produk dengan konsisten memenuhi standar dan spesifikasi yang telah disetujui. b. Hanya menerima kontrak jika kita yakin kita dapat memenuhi persyaratan pelanggan kita dan dimana persyaratan itu sesuai dengan keahlian dan aktifitas bisnis kita. Pekerja: a. Untuk memastikan bahwa lingkungan dan kondisi kerja dapat digunakan untuk bekerja secara efektif, aman dan higienis bagi semua pekerja. b. Untuk memberikan suasana dimana pekerja diberikan kesempatan untuk memaksimalkan potensi mereka dan untuk berpartisipasi dalam operasional bisnis. Pemegang Saham: a. Memimpin bisnis kita sesuai dengan semua persyaratan yang sah dan untuk moral tertinggi dan standar etika. b. Untuk merencanakan dan melakukan semua peluang bisnis dengan cara professional, dengan mempertimbangkan resiko terhadap terhadap laba. c. Untuk melakukan perencanaan menghasilkan laba kepada laba. dan peningkatan yang progresip dalam Komunitas: a. Untuk menciptakan kesempatan kerja untuk komunitas setempat. b. Untuk meminimalisasi kerusakan yang diciptakan oleh bisnis terhadap lingkungan sekitar. Sistem manajemen mutu kita adalah sarana untuk memenuhi keinginan stakeholder dengan pelaksanaan yang konsisten dan efektif dengan menyediakan program untuk perbaikan secara terus menerus, dalam semua area/proses operasi. Dokumen Terkait : ISO 9001:2015 klausul 4.2 Contoh "Memahami Risiko Perusahaan" Bahwa dengan telah ditetapkannya Visi dan Misi serta mempertimbangkan perubahan lingkungan eksternal maupun internal bisnis PT. X, yang berpotensi menimbulkan berbagai jenis risiko, maka perlu mengelola semua risiko tersebut secara sistematis dan terstruktur dalam rangka meningkatkan kepastian tercapainya tujuan dan sasaran perusahaan. Pengelolaan risiko diperlukan dalam rangka penguatan penerapan Sistem Manajemen Mutu terkait dengan penegakan praktek bisnis dan dapat memberikan nilai tambah yang sesuai dengan harapan para stakeholders. PT. X yang memproduksi dan memasarkan produk Y dalam operasinya tetap memperhatikan aspek mutu, memberikan kepuasan kepada pelanggan dan masyarakat melalui produk dan pelayanan yang berkualitas, mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja serta pelestarian lingkungan hidup. Untuk itu dalam menetapkan arah bisnis selalu mempertimbangkan faktor faktor risiko yang berpotensi merugikan perusahaan dengan terlebih dulu menganalisis risikonya. Dengan semakin banyaknya ketidakpastian serta cepatnya perubahan lingkungan usaha, baik internal maupun eksternal, maka akan berdampak kepada makin kompleksnya risiko usaha yang harus dihadapi perusahaan. Maka dalam rangka meningkatkan kemampuan perusahaan di dalam menghadapi setiap perubahan, penerapan manajemen risiko menjadi kebutuhan mutlak guna mengurangi dan mencegah terjadi kerugian yang mengganggu kelangsungan usaha. Untuk dapat mengelola risiko yang mungkin terjadi, maka Kebijakan Manajemen yang dilakukan di PT.X. maupun di setiap unit kerja/anak perusahaan dengan menerapkan proses manajemen risiko dengan langkah langkah sebagai berikut : 1. Mendeteksi/mengidentifikasi risiko sedini mungkin pada setiap aktivitas yang berhubungan dengan bidang usaha yang ada. 2. Melakukan pengukuran tingkat / besarnya setiap risiko, dengan memperhitungkan besarnya dampak dan kemungkinan terjadinya peluang risiko. 3. Melakukan analisis dan evaluasi terhadap sumber risiko dan penyebab terjadinya risiko, sebagai dasar untuk memetakan dan mengendalikan risiko yang signifikan. 4. Menyusun rencana strategi pengendalian terhadap risiko yang mempunyai prioritas tinggi/risiko signifikan. 5. Melakukan kegiatan strategi pengendalian risiko yang membahayakan kelangsungan hidup perusahaan. 6. Melakukan komunikasi, konsultasi, review dan pemantauan, risiko secara terus menerus, khususnya yang mempunyai dampak cukup signifikan terhadap kondisi perusahaan. Pengelolaan Risiko Eksternal Pengelolaan risiko eksternal adalah pengelolaan risiko yang berhubungan dengan lingkungan di luar PT X dan dapat diprediksi sejak awal, antara lain : (dapat dibuat Tabel Risiko) - lingkungan hukum, - kondisi sosial-budaya, - persaingan bisnis, - fluktuasi harga dan inflasi. Sedangkan Risiko eksternal yang tidak dapat diprediksi sejak awal, antara lain : - perubahan politik nasional, - regulasi & perubahan kebijakan pemerintah, - termasuk hal-hal berupa perubahan iklim dan force majeure seperti bencana alam. Dampak yang ditimbulkan oleh risiko eksternal antara lain berupa : - kerugian finansial, - penurunan reputasi perusahaan, - keterbatasan kesempatan manajemen untuk bertindak. Strategi pengelolaan risiko yang paling sesuai adalah mitigasi risiko dengan meminimalkan risiko yang mungkin terjadi setelah operasional berjalan, yaitu: 1. Antisipasi sejak dini dengan melakukan transfer risiko, yaitu mengasuransikan portofolio bisnis yang sedang berjalan. 2. Memeriksa kembali target dan sasaran perusahaan secara realistis guna melakukan efisiensi sumber dana perusahaan. 3. Melakukan negosiasi ulang terhadap pihak kreditur untuk cicilan pembayaran hutang jangka menengah dan jangka panjang. Pengelolaan Risiko Internal Pengelolaan risiko internal adalah pengelolaan risiko yang berhubungan dengan lingkungan di dalam PT X, yaitu : (dapat dibuat Tabel Risiko) - pengelolaan operasional terhadap bisnis yang sudah berjalan, - pengelolaan pembentukan usaha baru, - pengelolaan kerja sama operasi, - pengelolaan pemanfaatan teknologi baru/investasi, - pengelolaan kepatuhan terhadap peraturan dan undang-undang serta - pengelolaan SDM. Dampak yang ditimbulkan oleh risiko internal antara lain : - penurunan laba perusahaan, - penurunan kemampuan pendanaan perusahaan, - pelanggaran hukum, - penurunan produktifitas SDM dan - keterbatasan kesempatan manajemen untuk bertindak. Strategi pengelolaan risiko yang paling sesuai adalah mitigasi risiko, yaitu meminimalkan risiko yang mungkin terjadi dengan cara : 1. Mendisiplinkan penggunaan anggaran yang ditetapkan sesuai Anggaran Perusahaan serta kepatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan. 2. Melaksanakan pemantauan, evaluasi dan bimbingan secara rutin terhadap bisnis yang sedang berjalan, bisnis baru dan kerjasama operasi, agar dapat mencapai target dan sasaran yang ditetapkan. 3. Melaksanakan tata kelola perusahaan secara benar dengan mentaati kepatuhan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku untuk setiap aktifitas yang akan dijalankan. 4. Melakukan penempatan SDM yang sesuai dengan kemampuan dan keahliannya serta memberlakukan sistem renumerasi Dokumen Terkait : ISO 9001:2015 klausul 6 dan perencanaan karir yang transparan. Filosofi ISO 9001 Filosofi ISO 9001:2008 Tulis Apa Yang Anda Kerjakan Kerjakan Apa Yang Anda Tulis Periksa dan Tinjau Lakukan Peningkatan Berkelanjutan Filosofi ISO 9001:2015 Apa Yang Terbaik Buat Perusahaan Itulah Yang Terbaik Buat Mutu Evaluasi dan Tingkatkan Teknik Audit Untuk ISO 9001:2015 Penjelasan Siklus PDCA Kunci sukses penerapan ISO 9001 agar berjalan dengan optimal pada siklus PDCA ( Plan – Do – Check – Act) -nya. PDCA harus dilakukan oleh setiap orang dan harus menjadi mindset atau menjadi bagian dari sebuah pekerjaan. Siklus PDCA yang juga dikenal dengan Deming Cycle (dikembangkan oleh W. Edward Deming) ini bermuara pada continual improvement (peningkatan berkelanjutan) yang secara terus menerus bergerak ke arah yang lebih baik. Plan : organisasi mengembangkan pemahaman yang sistematis kegiatan mutu organisasinya dan harapan dari berbagai pemangku kepentingan, dalam hal ini mereka menetapkan tujuan dan proses yang diperlukan untuk memberikan hasil sesuai dengan kebijakan organisasi. Do : adalah titik di manana organisasi menjalankan sistem manajemen mutu yang dibuat. Check : memantau, mengukur dan melaporkan hasil, dan untuk memverifikasi apakah tujuan yang direncanakan telah dipenuhi. Dari evaluasi ini, langkah-langkah lebih lanjut dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil lebih baik. Act : Perbaikan yang berkelanjutan. Pada umumnya, organisasi melaksanakan aktivitas Plan dan Do tapi banyak yang belum melakukan aktivitas lainnya yaitu Check dan Action. Biasanya karena kesibukan atau merasa bahwa kegiatan tersebut sudah direncanakan kemudian dijalankan maka seolah-olah pekerjaan tersebut telah selesai serta sehingga terkadang melupakan beberapa kesalahan yang sering muncul atau malah tidak sempat sama sekali memperbaiki kinerja kita di karenakan menganggap bahwa kita telah melakukan tindakan terbaik. Tahapan berikutnya adalah Checkyang merupakan suatu kegiatan terkiat dengan pemeriksaan yaitu bagaimana mengevaluasi hasil suatu pekerjaan sehingga dapat diukur kinerjanya. Dengan begitu sejauhmana pencapaian kinerja kita atas pekerjaan dapat terlihat. Sedangkan Action adalah bagaimana memperbaiki pekerjaan berdasarkan hasil evaluasi. Tindakan Action ini dapat menjadi dasar dalam melaksanakan konsep Plan sehingga menjadi sebuah siklus tanpa henti dalam melakukan perbaikan terus menerus dan berkesinambungan. Jadi konkritnya dengan siklus PDCA ini kita dapat menjadikan salah satu pijakan dalam melakukan peningkatan berkelanjutan/terus-menerus pada aktivitas pekerjaan sehingga pekerjaan kita semakin berkembang ke arah yang lebih baik. Pemecahan Masalah dengan Konsep PDCA Siklus PDCA terdiri atas 4 langkah yaitu : P = PLAN (Merencanakan) D = Do (Melaksanakan rencana) C = Check (Memeriksa apakah sesuai dengan yang diinginkan) A = Act Contoh : PLAN (Menindaklanjuti untuk mencegah timbulnya masalah berulang) 1. Masalah : Kurangnya/rendahnya penerapan ISO 9001 dalam satu Departemen A 2. Data-data yang ada : - Produk gagal/salah mencapai 30 buah setiap bulannya - Hasil temuan audit terdapat 2 Major 3. Target : Meningkatkan implementasi ISO pada Departemen A dengan - Mengurangi produk gagal menjadi 10 buah/bulan - Mengurangi jumlah temuan menjadi 0 Major pada akhir bulan Maret 2014 4. Mencari akar masalah : - Supervisor belum dilakukan pelatihan - Aktivitas QC hanya pada akhir produksi - Ketersediaan IK/SOP terbatas (hanya disimpan oleh Manager) DO 1. Melaksanakan pelatihan bagi Supervisor pada Departemen A temasuk pegawai baru yang ada di Departemen tersebut. 2. Memastikan aktivitas Quality Control secara penuh dikendalikan dan dilakukan pengawasan secara lebih ketat. 3. Memasang IK pada setiap lokasi kerja sehingga mudah dibaca dan menggandakan SOP agar mudah dibaca oleh semua karyawan. CHECK Data-data yang diukur setelah dilakukan evaluasi : - Produk gagal/salah menurun menjadi 15 buah setiap bulannya - Hasil temuan audit adalah 0 Major dan 2 Minor Selanjutnya dilaksanakan dan dievaluasi secara terus-menerus untuk mencapai target yang sudah ditetapkan. ACT Melakukan Tindakan Nyata (memberikan keputusan) atas pencapaian target dengan cara (misal) : 1. Menetapkan standarisasi kerja dengan membuat SOP suatu pekerjaan. 2. Memastikan tim yang terlibat mempunyai akses atas SOP yang sudah dibuat 3. Menetapkan target pada setiap Departemen sebagai ukuran keberhasilan pekerjaan Selanjutnya apabila satu masalah sudah terpecahkan maka dilanjutkan dengan penyelesaian masalah berikutnya. Sasaran Mutu harus SMART Sasaran mutu adalah sesuatu yang diinginka atau dituju terkait dengan mutu. Sasaran mutu secara umum didasarkan atas kebijakan mutu organisasi. Sasaran mutu secara umum ditetapkan untuk fungsi dan tingkat yang relevan di dalam organisasi [ ISO 9001:2015]. Berdasarkan definisi diatas, maka organisasi harus menetapkan sasaran mutu yang biasanya didasarkan atas Rencana Bisnis Perusahaan maupun Misi Perusahaan dan diukur secara tahunan. Adapun persyaratan penyusunan Sasaran Mutu Perusahaan yang baik mengacu pada konsep SMART : 1. Spesific (sasaran harus jelas dan tidak mengandung pengertian ganda). 2. Measurable (sasaran harus bisa diukur, bisa jumlah, nilai, presentase) 3. Achievable (sasaran harus yang bisa untuk dicapai/tidak terlalu muluk atau tidak terlalu rendah) 4. Realiable (sasaran harus yang masuk akal dan nyata) 5. Time Frame (sasaran harus ada batas waktu /jangka waktu pencapaian jelas). Umumnya setelah dibuat Kebijakan Perusahaan kemudian diterjemahkan dalam bentuk Rencana Bisnis maka Perusahaan kemudian menetapkan sasaran mutu masing masing bagian atau masing masing Departemen. Dengan adanya Sasaran Mutu akan mempermudah evaluasi kinerja masingmasing Departemen. Selanjutnya setiap Departemen harus melakukan kaji ulang atas pencapaian sasaran mutu tersebut. Untuk sasaran yang tidak memenuhi target dapat dievaluasi apakah target yang ditetapkan terlalu tinggi atau penerapan pekerjaan yang belum berjalan dengan baik. Sedangkan sasaran mutu mancapai target dapat dijadikan sebaga standarisasi untuk dapat dijalankan atau bahkan ditingkatkan. Menulis Temuan Audit dengan PLOR Audit internal merupakan salah satu mata rantai dalam penerapan sistem manajemen mutu ISO9001. Audit internal sifatnya wajib dan harus dilaksanakan dan karena pentingnya evaluasi atas pelaksanaan, maka semakin serius perusahaan melakukan audit internal maka semakin bagus sistem manajemen yang dijalankan. Persyaratan ISO 9001 sendiri mensyaratkan pelaksanaan audit dilakukan minimal 1 kali dalam 1 tahun. Biasanya dalam sebuah audit muncul suatu temuan yang terjadi di masing-masing Departemen/Bagian. Bahwa tujuan audit adalah untuk mencari perbaikan kerja maka diharapkan baik Auditor maupun Auditee melepas conflict of interest yang terjadi di antara keduanya. Biasanya temuan tersebut muncul akibat adanya KETIDAK SESUAI DENGAN PERSYARATAN Standar ISO 9001 dan bukan untuk mencari sebuah kesalahan baik pribadi atau organisasi. Penekanan ini semata- mata dilakukan untuk menghilangkan hambatan – hambatan dalam pelaksanaan audit seperti Auditee yang menyembunyikan fakta pada saat diperiksa oleh Auditor. Ada hal penting yang perlu diketahui oleh Auditor bahwa dalam menuliskan sebuah temuan audit harus berpijak pada kaidah PLOR : 1. Problem (masalah yang ditemukan). 2. Location (lokasi/departemen ditemukannya masalah) 3. Objective (bukti temuan yang terjadi/terlihat) 4. Reference (dokumen yang mendasari_standar,SOP/IK,persyaratan teknis, peraturan) Dengan berpijak pada kaidah diatas maka pihak Auditee dapat melakukan tindakan perbaikan atas temuan audit tersebut dengan mudah untuk kemajuan perusahaan. Pengendali Dokumen dan Rekaman (Document Controller) Dalam ISO 9001:2015, tidak ada lagi istilah "dokumen" dan "record" atau yang populer disebut "rekaman mutu". Istilah dokumen dan record (atau rekaman) sekarang diganti menjadi "Dokumen yang Terdokumentasi" (documented information). Apa informasi terdokumentasi? ISO 9001: 2015 mendefinisikan informasi terdokumentasi sebagai data yang diperlukan untuk dikendalikan dan dikelola oleh organisasi. Dijelaskan pula bahwa persyaratan mengenai Informasi Terdokumentasi adalah sebagai berikut : a) Membuat dan memperbarui informasi didokumentasikan. b) Dikontrol dan tersedia khususnya dan sesuai dengan yang diperlukan oleh organisasi. c) Perlindungan yang memadai. d) Ketentuan Distribusi yang berlaku misalnya akses, pengambilan, penggunaan, penyimpanan, pengendalian perubahan, retensi dan disposisi. Disamping itu ISO 9001 : 2015 tidak mewajibkan perusahaan memiliki Quality Manual (Pedoman Mutu). Menurut ISO 9001:2008, Quality Manual adalah dokumen yang wajib dibuat oleh organisasi yang mengadopsi standar manajemen mutu ISO9001:2008. Dokumen ini berisi profil perusahaan, lingkup usaha, kebijakan-kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan penerapan sistem manajemen mutu. Dokumen ini juga harus memuat referensi prosedur-prosedur yang berlaku, struktur organisasi, dan lain-lain. Sedangkan bagi perusahaan yang mengadopsi ISO 9001:2015, Quality Manual tidak mewajibkan adanya dokumen tersebut. Saya sebagai Konsultan menyarankan bahwa sebaiknya perusahaan yang sudah memiliki Quality Manual selama ini berlaku boleh digunakan terus saat menerapkan standar ISO terbaru nanti karena didalam pedoman mutu tersebut perusahaan dapat menuliskan tentang bahasan kondisi perusahaan dalam konteks organisasi (SWOT) dan analisis risiko. Tanpa adanya Quality Manual tentunya kita akan kesulitan dimana menguraikan hal tersebut. Terkait istilah Informasi Terdokumentasi diatas ternyata tidak serta merta perusahaan meninggalkan dokumen atau rekaman, justru dengan informasi terdokumen ini membuat perusahaan seperti dilepas namun terikat. Artinya dengan ketidakwajiban prosedur membuat implementasi tidak konsisten yang pada akhirnya prosedur menjadi sangat penting. Walaupun prosedur wajib sudah tidak lagi meminta dokumen yang dibutuhkan antara lain: diwajibkan 1. Kebijakan Mutu 2. Sasaran Mutu 3. Ruang Lingkup sistem manajemen mutu (SMM) 4. Apa pun yang diperlukan untuk mendukung proses operasional 5. tetapi ISO 9001:20015 Apa pun yang diperlukan untuk memastikan bahwa proses yang dilakukan seperti yang direncanakan 6. Bukti untuk menunjukkan kesesuaian produk / Jasa 7. Hasil kajian persyaratan yang berkaitan dengan produk dan jasa 8. Konfirmasi bahwa persyaratan desain dan pengembangan telah dipenuhi 9. Output dari proses desain dan pengembangan 10. Hasil evaluasi, pemantauan kinerja, dan re-evaluasi penyedia eksternal 11. standar Definisi karakteristik produk dan jasa, termasuk kegiatan yang akan dilakukan dan hasil yang akan dicapai 12. Informasi yang diperlukan untuk mempertahankan traceability 13. Hasil perubahan ketentuan produksi dan pelayanan 14. Pelepasan produk atau layanan kepada pelanggan, termasuk orang otorisasi rilis 15. Tindakan yang diambil pada output yang tidak sesuai baik itu pada proses, produk, dan jasa, termasuk konsesi yang diperoleh 16. Hasil kegiatan pemantauan dan pengukuran 17. Bukti pelaksanaan program audit dan hasil audit 18. Bukti hasil tinjauan manajemen 19. Bukti ketidaksesuaian dan tindakan yang diambil, dan hasil dari setiap tindakan korektif 20. Bukti bahwa pemantauan dan pengukuran sumber daya dilakukan 21. Standar kalibrasi 22. Bukti kompetensi CONTOH [Temuan dan Tindak Lanjut] Ketidaksesuaian/Nonconformance --PLOR It was found in Purchasing, Engineering, and Workshop that Monitoring objectives measurement have not been completed properly against the Objectives Statement on attach. 04 of Quality Document QD-01. The target measurement between the Objectives Statement and the Monitoring objectives did not matched of each other. This is not compliance with requirement ISO 10.2 Ketidaksesuain dan tindakan koreksi Management Representative, Doc. Control, Internal Audit Analisa Akar Masalah/Root Cause Analysis Why 1: quality objective measurement was not complete / not effective Why 2: the target measurement between the objectives statement and the monitoring objectives did not match of each other Why 3: management representatives did not verified both data Perbaikan/Correction Correction: to improve the Quality Objectives and its target, so matched to the on attach. 04 of Manual Mutu MM-01 Tindakan Perbaikan/Corrective Action Corrective action: identify and verify quality objective in all work function and ensure that quality objective achievement are observed and measured within periodical basis Rabu, 23 November 2016 APA ITU STANDAR BARU ISO 45001 ??? Marunda Project Sebagai diketahui bahwa standar sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang diakui adalah OHSAS 18001:2007. Standar ini merupakan standar penerapan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang dibuat oleh beberapa lembaga sertifikasi dan lembaga standarisasi kelas dunia seperti BSI (British Standard International).Standar ini digunakan sebagai patokan dalam menyusun suatu sistem manajemen yang berfokus untuk mengurangi dan menekan kerugian dalam kesehatan, keselamatan dan bahkan properti. Melalui OHSAS 18001:2007 untuk memastikan bahwa resiko kecelakaan kerja ditekan hingga pada resiko yang dapat ditoleransi, meyakinkan pemberi kerja atau pelanggan bahwa proses pekerjaan selalu menggunakan aturan kesehatan dan keselamatan kerja yang baku dan global.Saat ini International Organization for Standardization akan mengeluarkan standar baru dalam penerapan Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja (SMK3) menggantikan standar OHSAS 18001 menjadi standar ISO 45001. Standar baru ini direncanakan pada akhir tahun 2016 namun sepertinya diundur pada akhir tahun 2017.Jadi pada dasarnya ISO 45001 adalah standar internasional yang menetapkan persyaratan untuk sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja dengan panduan untuk penggunaannya, untuk memungkinkan suatu organisasi untuk secara proaktif meningkatkan nya kinerja K3 dalam mencegah cedera dan gangguan kesehatan. Apa yang baru pada ISO 45001 nantinya ??? Perbedaan OHSAS 18K dengan ISO 45K adalah : 1. Berkaitan dengan struktur. ISO 45001 yag didasarkan pada ISO Guide 83 (“Annex SL”) yang menetapkan struktur tingkat tinggi. Struktur ini bertujuan untuk memfasilitasi proses implementasi dan integrasi beberapa sistem manajemen secara harmonis, terstruktur dan efisien. 2. Fokus pada “konteks organisasi”. Organisasi seharusnya tidak hanya mempertimbangkan apa isu K3 yang secara langsung berdampak pada mereka, akan tetapi juga melibatkan masyarakat lebih luas dan bagaimana kerja mereka bisa juga berdampak pada komunitas di sekitarnya. 3. OHSAS 18001 mendelegasikan tanggung jawab kesehatan dan keselamatan kerja pada manajer K3, ketimbang mengintegrasikannya dalam sistem operasi organisasi. ISO 45001 menuntut penggabungan dari aspek kesehatan dan keselamatan kerja dalam keseluruhan sistem manajemen organisasi, dengan demikian mendorong top manajemen untuk memiliki peran kepemimpinan yang kuat terhadap sistem manajemen K3. 4. ISO 45001 berfokus pada mengidentifikasi dan mengendalikan risiko daripada bahaya, sebagaimana dipersyaratkan dalam OHSAS 18001. ISO 45001 mempersyaratkan organisasi untuk memperhitungkan bagaimana pemasok dan kontraktor mengelola resikonya. 5. Konsep dasar yang berubah, seperti risiko, pekerja dan tempat kerja. 6. Istilah definisi baru seperti: monitoring, pengukuran, efektivitas, kinerja dan proses K3. Perubahan kunci dalam ISO 45001 Konteks Bisnis: Bab 4.1, isu eksternal dan internal, memperkenalkan klausul baru untuk penentuan dan pemantauan sistematis mengenai konteks bisnis. Pekerja dan pihak-pihak lain yang berkepentingan: Bab 4.2 memperkenalkan peningkatan fokus pada kebutuhan dan harapan bagi pekerja dan pihak-pihak lain yang berkepentingan serta keterlibatan pekerja. Ini untuk secara sistematis mengidentifikasi dan memahami faktor-faktor yang perlu dikelola melalui sistem manajemen. Manajemen risiko dan peluang: Dijelaskan dalam bab 6.1.1, 6.1.2.3, 6.1.4, perusahaan harus menentukan, mempertimbangkan dan, jika perlu, mengambil tindakan untuk mengatasi risiko atau peluang yang mungkin berdampak (baik secara positif atau negatif) kemampuan dari sistem manajemen untuk menyampaikan hasil yang diinginkan, termasuk meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja di tempat kerja. Komitmen kepemimpinan dan manajemen: Dinyatakan dalam bab 5.1, ISO 45001 memiliki penekanan yang lebih kuat pada manajemen puncak untuk secara aktif terlibat dan bertanggung jawab atas keefektifan sistem manajemen. Tujuan dan Kinerja: Diperkuat fokus pada tujuan sebagai pendorong perbaikan (bab 6.2.1.6.2.2) dan evaluasi kinerja (Bab 9.1.1). Persyaratan yang diperluas terkait dengan: Partisipasi, konsultasi dan partisipasi pekerja (5.4) Komunikasi (7.4): Lebih preskriptif berkenaan dengan “mekanika” komunikasi, termasuk penentuan apa, kapan dan bagaimana berkomunikasi. Pengadaan, termasuk proses alih daya, dan kontraktor (8.1.4) Ini sekilas tentang ISO 45001 dan ulasannya akan dilanjutkan lebih dalam bila informasiinformasi baru yang berkaitan dengan standar tersebut. di November 23, 2016 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest MEMAHAMI KONTEKS ORGANISASI DENGAN MUDAH Sebagaimana diketahui bahwa ISO 9001:2015 telah memperkenalkan klausul baru yaitu konteks organisasi. Klausul 4.1 Memahami organisasi dan konteksnya. Pada klausul ini menyebutkan bahwa organisasi harus menetapkan isu-isu eksternal dan internal yang relevan dengan tujuan dan arah strategis dan yang mempengaruhi kemampuannya untuk mencapai hasil yang diinginkan dan sistem manajemen mutu. Organisasi harus memantau dan meninjau informasi tentang isu-isu eksternal dan internal. Klausul 4.2 Memahami kebutuhan dan harapan pihak-pihak berkepentingan Karena pengaruhnya atau pengaruh potensial pada kemampuan organisasi untuk secara konsisten menyediakan produk dan layanan yang memenuhi kebutuhan pelanggan dan persyaratan hukum dan peraturan yang berlaku, organisasi harus menetapkan: a) pihak yang berkepentingan yang relevan dengan sistem manajemen mutu b) persyaratan dan pihak yang berkepentingan yang relevan dengan sistem manajemen mutu. Organisasi harus memantau dan meninjau informasi tentang pihak-pihak yang berkepentingan dan persyaratan yang relevan mereka Banyak yang bertanya-tanya bagaimana mengimplementasikannya dalam perusahaan. Sebelumnya saya pernah memberikan contoh tentang bagaimana menyusun sebuah konteks organisasi selain menggunakan metode SWOT (Strong-Weakness-Opportunity-Treat), namun ada yang masih belum jelas. Pada kesempatan ini saya untuk kali keduanya menjelaskan secara mudah melalui gambar.