Uploaded by User57329

7212-21991-1-SM

advertisement
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERLINDUNGAN HUKUM KORBAN TINDAK PIDANA
PENUSUKAN DALAM PERADILAN PIDANA
Nur Rima Cessio Magistri1*, Nyoman Serikat Putra Jaya2
1Fakultas Hukum, Universitas Jenderal Soedirman
2Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro
[email protected]
ABSTRACT
The Indonesian Criminal Code and Laws so far have not specifically and clearly regulated the sanctions or
fines applied to the perpetrators of stabbing crimes. This is what requires the renewal of criminal law in terms
of specific arrangements regarding the stabbing criminal act. This article aims to find out, study and explain
how the Legal Protection of Criminal Victims, especially the Penalties Crime in Criminal Justice. The results of
the study stated that the stabbing could be categorized as premeditated murder as stipulated in Article 340 of
the Criminal Code which stated that it was threatened because of a murder with a plan (moord), as well as
regulated in Article 6 of Law Number 5 of 2018 concerning Eradication of Terrorism Criminal Acts which stated
the Threat of Violence which caused a Violence fear or terror.
Keywords: Legal Protection; Stabbing Crimes; Criminal Justice.
ABSTRAK
KUHPidana dan Undang-undang hingga saat ini belum ada yang mengatur secara khusus dan jelas
mengenai sanksi atau pun denda yang diterapkan kepada pelaku tindak pidana penusukan.Hal ini lah yang
memerlukan pembaharuan hukum pidana dalam hal pengaturan secara khusus mengenai tindak pidana
penusukan.Artikel ini bertujuan untuk mengetahui, mengkaji dan menjelaskan bagaimanakah Perlindungan
Hukum Korban Tindak Pidana khususnya Tindak Pidana Penusukan dalam Peradilan Pidana. Hasil penilitiian
menyatakan bahwa Penusukan dapat dikategorikan dalam pembunuhan berencana sebagaimana diatur
dalam Pasal 340 KUHPidana yang menyatakan diancam karena pembunuhan dengan rencana (moord), serta
diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 5 tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme
yang menyatakan Ancaman Kekerasan yang menimbulkan rasa takut atau teror..
Kata Kunci: Perlindungan Hukum; Tindak Pidana Penusukan; Peradilan Pidana
*
Corresponding Author
82
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
A. PENDAHULUAN
Indonesia
merupakan
Hukum
negara
Pidana
yaitu
suatu
ketentuan
hukum.
hukum/undang-undang yang menentukan perbuatan
Sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 Ayat (3)
yang dilarang untuk dilakukan dengan ancaman
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
sanksi terhadap pelanggaran larangan tersebut.
Tahun 1945 (yang selanjutnya disebut UUD 1945)
Banyak ahli berpendapat bahwa Hukum Pidana
(Maksum, 2015). UUD 1945 merupakan hierarki
menempati tempat tersendiri dalam sistemik hukum,
tertinggi dalam Peraturan Perundang-undangan di
hal ini disebabkan karena hukum pidana tidak
Indonesia. Karena Indonesia adalah sebuah negara
menempatkan
hukum maka setiap perbuatan masyarakat di negara
memperkuat norma-norma di bidang hukum lain
Indonesia harus berdasarkan pada Peraturan
dengan
Perundang-undangan di Indonesia.
pelanggaran norma-norma di bidang hukum lain.
norma
menetapkan
tersendiri,
ancaman
akan
sanksi
tetapi
atas
Masyarakat harus mendapatkan perlindungan
Asas hukum pidana sebagaimana diatur dalam Pasal
hukum, karena masyarakat merupakan manusia
1 ayat 1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana
yang merupakan mahluk sosial yang mempunyai
(KUHPidana) yang menyatakan bahwa hukum
hubungan antara satu dengan yang lain (Wahidin,
pidana bersumber pada peraturan tertulis (undang-
2000). Dalam menjalani kehidupan, manusia tidak
undang) disebut juga sebagai asas legalitas. Asas
bisa terlepas dari hukum, karena dari awal lahir
legalitas
hingga pada saat kematian pun selalu membutuhkan
perlindungan pada undang-undang pidana yang
hukum. Manusia saling berhubungan antara satu
melindungi rakyat terhadap pelaksanaan kekuasaan
dengan yang yang lain, sehingga seringkali
yang tanpa batas dari pemerintah. Tujuan hukum
menimbulkan konflik antara satu dengan yang
pidana adalah untuk melindungi kepentingan orang
lainnya sehingga harus ada perlindungan (Hidayat,
perseorangan
2016). Perlindungan berfungsi untuk mengayomi
masyarakat. Tujuan hukum pidana di Indonesia
seseorang terhadap orang yang lebih lemah.
harus sesuai dengan falsafah Pancasila yang mampu
Perlindungan hukum dapat diartikan segala upaya
membawa kepentingan yang adil bagi seluruh warga
pemerintah untuk menjamin adanya kepastian hukum
negara. Hukum pidana di Indonesia bertujuan untuk
untuk memberi perlindungan kepada warganya agar
mengayomi seluruh rakyat Indonesia.
bertujuan
atau
untuk
hak
memberikan
asasi
manusia
sifat
dan
hak-haknya sebagai seorang warga negara tidak
Tindak Pidana diatur dalam Kitab Undang-
dilanggar, dan dikenakan sanksi bagi seseorang
undang Hukum Pidana (yang selanjutnya disebut
yang melanggar peraturan tersebut sesuai dengan
KUHPidana) disebut dengan istilah Strafbaarfeit atau
peraturan yang berlaku, dan akan mendapatkan
biasa disebut delik. Istilah Strafbaarfeit adalah
konsekuensi terutama pada hukum pidana.
peristiwa yang dapat dipidana atau perbuatan yang
83
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
dapat dipidana. Sedangkan delik dalam bahasa asing
atau fasilitas internasional dipidana dengan pidana
disebut delict artinya yaitu suatu perbuatan yang
penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama
pelakunya dapat dikenakan hukuman.
20 (dua puluh) tahun, pidana penjara seumur hidup,
Penusukan termasuk kedalam salah satu
atau pidana mati” (Folman, 2018).
tindak pidana karena merupakan perilaku seseorang
Menurut Satjipto Rahardjo, penegakan hukum
yang melanggar hukum yang berlaku dalam suatu
merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide
negara. Penusukan merupakan suatu tindakan untuk
dan konsep-konsep menjadi kenyataan. Secara
menghilangkan nyawa seseorang dengan cara
konsepsional, pengertian penegakan hukum terletak
melanggar hukum, maupun yang tidak melawan
pada kegiatan hubungan nilai-nilai yang ada di dalam
hukum.
kaidah-kaidah dan sikap akhir untuk menciptakan,
Dalam
peraturan
perundang-undangan
belum ada peraturan khusus yang mengatur
memelihara
mengenai
dapat
Penegakan hukum pidana adalah suatu usaha untuk
dikategorikan kedalam pembunuhan berencana
mewujudkan ide-ide tentang kedilan dalam hukum
sebagaimana diatur dalam Pasal 340 KUHPidana
pidana dalam kepastian hukum dan kemanfaatan
yang menyatakan bahwa “Barang siapa sengaja dan
sosial menjadi kenyataan hukum dalam kepastian
dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa
hukum dan kemanfaatan sosial menjadi kenyataan
orang lain, diancam karena pembunuhan dengan
hukum dalam setiap hubungan hukum (Ediwarman,
rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana
2012)
penusukan.
Penusukan
dan
mempertahankan
kedamaian.
penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu,
KUHPidana dan Undang-undang hingga saat
paling lama dua puluh tahun. Selain diatur didalam
ini belum ada yang mengatur secara khusus dan
KUHPidana penusukan juga diatur dalam Pasal 6
jelas mengenai sanksi atau pun denda yang
Undang-Undang Nomor 5 tahun 2018 tentang
diterapkan kepada pelaku tindak pidana penusukan.
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang
Hal ini lah yang memerlukan pembaharuan hukum
menyatakan bahwa “Setiap Orang yang dengan
pidana dalam hal pengaturan secara khusus
sengaja menggunakan Kekerasan atau Ancaman
mengenai tindak pidana penusukan. Rumusan
Kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau
masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah
rasa
meluas,
mengenai bagaimana unsur-unsur tindak pidana
menimbulkan korban yang bersifat massal dengan
penusukan dalam peradilan pidana dan bagaimana
cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa
perlindungan
dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan
penusukan dalam peradilan pidana.
takut
terhadap
orang
secara
hukum
korban
tindak
pidana
kerusakan atau kehancuran terhadap Objek Vital
Terkait dengan penelitian ini, sebelumnya
yang Strategis, lingkungan hidup atau Fasilitas Publik
telah ada yang melakukan penelitian yang pada
84
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
B. METODE PENELITIAN
pokoknya berfokus pada tindak pidana penipuan
bisnis online (Amalia, Siswanto, & WN, 2017).
Penelitian tentang Tindak Pidana Penusukan
Penelitian yang kedua berfokus pada tindak pidana
ini menggunakan metode pendekatan yang berupa
kekerasan terhdap anak yang dilakukan oleh anak
pendekatan konseptual (Conceptual Approach) dan
(Wijaya, 2017). Penelitian yang ketiga berfokus pada
Pendekatan
penegakan hukum terhadap tindak pidana yang
konseptual yaitu dilakukan dengan menjabarkan
terkait dengan ujaran kebencian (Chandra, 2017).
konsep dari Tindak Pidana Penusukan sendiri berupa
Penelitian selanjutnya yang dibuat dalam bentuk
pengertian, doktrin, dan asas hukum. Pendekatan
jurnal internasional yaitu Correlation between theory
Undang-Undang yaitu dengan menelaah semua
of criminal liability and criminal punishment toward
undang-undang dan regulasi yang berkaitan dengan
corporation in indonesia criminal justice”, didalamnya
Hukum Pidana. Jenis Data yang digunakan di dalam
membahas
tentang
penelitian hukum adalah data sekunder yang
pertanggungjawaban pidana terhadap tindak pidana
diperoleh dari bahan hukum primer dan bahan
korporasi (Sudira, 2014). Penelitian berikutnya
hukum sekunder. Teknik yang digunakan untuk
berfokus pada Tindak Pidana Penipuan Berbasis
memperoleh sumber hukum primer dalam penelitian
Transaksi Elektronik (Rohmanto, 2019).
ini dilakukan dengan cara mengumpulkan, mencari,
tentang
korelasi
Berdasarkan penelitian sebelumnya terdapat
Perundang-undangan.
menginventarisasi,
mengkaji
Pendekatan
dan
melakukan
perbedaan yang menunjukan kebaruan dalam
penelusuran studi kepustakaan yang berhubungan
penelitian ini yaitu penulis membahas mengenai
dengan
tindak pidana penusukan yang belum diatur secara
mengatur tentang legalitas. Metode analisis data
khusus
yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
dalam
peraturan
perundang-undangan.
Tujuan dari penulisan ini yaitu untuk mengetahui,
mengkaji
dan
Perlindungan
khususnya
menjelaskan
Hukum
Tindak
Korban
Pidana
peraturan
perundang-undangan
yang
kualitatif.
bagaimanakah
Tindak
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pidana
Penusukan
dalam
Indonesia
merupakan
negara
hukum,
Peradilan Pidana.Berdasarkan uraian latar belakang
sehingga masyarakat harus taat dengan peraturan
permasalahan di atas maka judul yang diangkat
dan norma-norma yang berlaku. Hukum merupakan
adalah
aturan untuk mengatur tingkah laku manusia dalam
sebagai
berikut:
TINJAUAN
YURIDIS
TERHADAP PERLINDUNGAN HUKUM KORBAN
kehidupan
TINDAK
Pembangunan
PIDANA
PENUSUKAN
DALAM
PERADILAN PIDANA.
agar
tertib
nasional
(Manarisip,
Indonesia
2012)
bertujuan
mewujudkan manusia Indonesia yang adil, makmur,
85
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
sejahtera dan damai berdasarkan Pancasila dan
ancaman pidana lima belas tahun, bila pelaku
Undang-Undang Dasar 1945.
melakukan tindak pidana pembunuhan dengan cara
Pancasila adalah sumber dari segala sumber
disengaja, dimana perbuatan pelaku menyebabkan
hukum, Pancasila sebagai dasar untuK dan ideologi
hilangnya nyawa seseorang dilakukan dengan
dan waktu yang sama secara filosofis bangsa
segera yaitu waktu antara niat dan perbuatan
Indonesia, keadilan maka sosial bagi seluruh rakyat
sehingga memberikan kesempatan untuk berpikir
Indonesia digunakan untuk membangun kembali
tentang cara pelaksanaan penusukan, maka berlaku
lembaga-lembaga keadilan dalam sistem peradilan
Pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman penjara
pidana Indonesia, khususnya di sub-sistem Polisi
seumur hidup atau selama-lamanya dua puluh tahun
dengan implementasi referensi Pasal 16 (1) huruf
penjara karena tindak pidana penusukan yang
ayat I dan 18 ayat (1) Undang-Undang - Undang
direncanakan lebih dahulu. Direncanakan lebih
Nomor 2 tahun 2002 polisi Indonesia untuk
dahulu (voorbedachte rade) menunjukan suatu ruang
penghentian
Jangan
selalu
waktu yang tidak demikian sempit dan tidak pula
yaitu
sistem
demikian lama. Hukum Pidana (KUHP) peninggalan
kompensasi lebih suka hukuman pidana, tetapi juga
pemerintah Hindia-Belanda yang tentunya telah
mereka berlaku keadilan restoratif sebagai aspek
tertinggal oleh
hasil
kehidupan masyarakat (Yosuki, & Tawang, 2018).
menggunakan
dan
kasus
sistem
hasil
pidana
peradilan
pemulihan
asset
kejahatan
kemajuan yang terjadi dalam
1. Unsur-Unsur Tindak Pidana Penusukan dalam
(Sudarsono, 2015).
Peradilan Pidana
Secara yuridis tindak pidana adalah segala
tingkah laku manusia yang bertentangan dengan
Simons mengatakan bahwa strafbaar feit ialah
hukum, dapat dipidana, yang diatur dalam hukum
kelakuan yang diancam pidana, yang bersifat
pidana. Tindak pidana penusukan dapat dikenakan
melawan
salah satu dari pasal-pasal dalam KUHP tentang
kesalahan dan dilakukan oleh orang yang mampu
menghilangkan nyawa seseorang, yang dapat dibagi
bertanggung jawab. Van Hamel menyatakan istilah
menjadi dua kelompok yaitu yang disengaja dan tidak
strafbaar feit itu sebagai kelakuan manusia yang
disengaja. Seperti Pasal 338 KUHP dengan
dirumuskan dalam undang-undang, melawan hukum
ancaman pidana lima belas tahun, bila pelaku
yang patut dipidana dan dilakukan dengan kesalahan
melakukan tindak pidana pembunuhan dengan cara
(Krismen, 2013)
hukum
yang
berhubungan
dengan
disengaja, dimana perbuatan pelaku menyebabkan
Tindak pidana pembunuhan diatur dalam
hilangnya nyawa seseorang, yang dapat dibagi
KUHPidana termasuk dalam kejahatan terhadap jiwa
menjadi dua kelompok yaitu yang disengaja dan tidak
orang, yang diatur dalam Bab XIX yang terdiri dari 13
disengaja. Seperti Pasal 338 KUHP dengan
pasal, yakni Pasal 338 sampai dengan Pasal 350.
86
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
Secara terminologis pembunuhan adalah perbuatan
melukai orang lain. Pada delik kelalaian (culpa) orang
menghilangkan nyawa, atau mematikan. Sedangkan
juga dapat dipidana jika ada kesalahan, misalnya
menurut KUHPidana istilah pembunuhan adalah
Pasal 359 KUHP yang menyebabkan matinya
suatu kesengajaan menghilangkan nyawa orang lain.
seseorang, contoh lainnya seperti yang diatur dalam
Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Pasal 188 dan Pasal 360 KUHP.
(KUHP) dibedakan antara lain kejahatan yang dimuat
Menurut macam perbuatannya, tindak pidana
dalam Buku II dan Pelanggaran yang dimuat dalam
aktif (positif), perbuatan aktif juga disebut perbuatan
Buku
menjadi
materil adalah perbuatan untuk mewujudkannya
“kejahatan” dan “pelanggaran“ itu bukan hanya
diisyaratkan dengan adanya gerakan tubuh orang
merupakan dasar bagi pembagian KUHP kita
yang berbuat, misalnya Pencurian (Pasal 362 KUHP)
menjadi Buku ke II dan Buku ke III melainkan juga
dan Penipuan (Pasal 378 KUHP). Tindak Pidana
merupakan dasar bagi seluruh sistem hukum pidana
pasif dibedakan menjadi tindak pidana murni dan
di dalam perundang-undangan secara keseluruhan.
tidak murni. Tindak pidana murni, yaitu tindak pidana
III.
Pembagian
tindak pidana
Menurut cara merumuskannya, dibedakan
yang dirumuskan secara formil atau tindak pidana
dalam tindak pidana formil (formeel Delicten) dan
yang pada dasarnya unsur perbuatannya berupa
tindak pidana materil (Materiil Delicten). Tindak
perbuatan pasif, misalnya diatur dalam Pasal
pidana formil adalah tindak pidana yang dirumuskan
224,304 dan 552 KUHP.Tindak Pidana tidak murni
bahwa larangan yang dirumuskan itu adalah
adalah tindak pidana yang pada dasarnya berupa
melakukan perbuatan tertentu. Misalnya Pasal 362
tindak pidana positif, tetapi dapat dilakukan secara
KUHP yaitu tentang pencurian. Tindak Pidana materil
tidak aktif atau tindak pidana yang mengandung
inti larangannya adalah pada menimbulkan akibat
unsur terlarang tetapi dilakukan dengan tidak
yang dilarang, karena itu siapa yang menimbulkan
berbuat, misalnya diatur dalam Pasal 338 KUHP, ibu
akibat
tidak menyusui bayinya sehingga anak tersebut
yang
dilarang
itulah
yang
dipertanggungjawabkan dan dipidana.
meninggal.
Menurut bentuk kesalahan, tindak pidana
Dengan
kata
lain
berdasarkan
pada
dibedakan menjadi tindak pidana sengaja (dolus
pengertian yang dikemukakan oleh Lamintang bahwa
delicten) dan tindak pidana tidak sengaja (culpose
delik pembunuhan termasuk dalam delik materiil
delicten). Contoh tindak pidana kesengajaan (dolus)
(materieel delict), yang merupakan suatu delik yang
yang diatur di dalam KUHP antara lain sebagai
dirumuskan secara materiil, yakni delik yang baru
berikut: Pasal 338 KUHP (pembunuhan) yaitu
dapat dianggap telah selesai dilakukan oleh
dengan sengaja menyebabkan hilangnya nyawa
pelakunya apabila timbul akibat yang dilarang (akibat
orang lain, Pasal 354 KUHP yang dengan sengaja
konstitutif
87
atau
constitutief-gevolg)
yang
tidak
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
dikehendaki oleh Undang-Undang. Menurut Adami
dibagi menjadi dua macam unsur, yaitu Unsur
Chazawi perbuatan menghilangkan nyawa orang lain
Subyektif dan Unsur Obyektif.
terdapat 3 syarat yang harus dipenuhi, yaitu adanya
Dalam KUHPidana tidak ada ketentuan
wujud perbuatan, adanya suatu kematian, dan
tentang arti kemampuan bertanggungjawab. Yang
adanya hubungan sebab akibat (causal verband)
berhubungan
antara perbuatan dan akibat yang ditimbulkan (Batas,
jawab adalah Pasal 44 KUHPidana (Punuh, 2015).
2016). Ketiga syarat tersebut merupakan satu
Sedangkan yang dirumuskan dalam Pasal 44
kesatuan yang bulat, meskipun dapat dibedakan
KUHPidana yang hanya mengenai ketidakmampuan
akan tetapi apabila salah satu syarat di atas tidak
bertanggung
terpenuhi maka delik pembunuhan dianggap tidak
dalam tubuhnya atau terganggu karena penyakit, dan
terjadi. Maka dapat disimpulkan bahwa delik
tidak mampu bertanggungjawab atas perbuatannya
pembunuhan dapat terjadi apabila adanya wujud
karena jiwa yang masih muda. Jadi, jika pelaku tidak
perbuatan serta adanya kematian (orang lain) dan
mampu bertanggungjawab, pelaku akan dilepaskan
keduanya ada hubungan sebab akibat antara
dari seluruh tuntutan hukum.
dengan
jawab
kemampuan bertanggung
karena
jiwa
yang
cacat
perbuatan dan akibat yang ditimbulkan yakni
Alasan penghapus pidana dapat dibedakan
kematian. Bahwa akibat dari kematian haruslah
menjadi dua bagian antara lain, alasan pembenar
disebabkan dari perbuatan itu apabila tidak ada
dan alasan pemaaf. Alasan pembenar berkaitan
causal verband antara keduanya yakni suatu
dengan perbuatan dan alasan pemaaf berkaitan
perbuatan dengan akibat yang ditimbulkan yakni
dengan sikap batin seseorang. Salah satu yang
matinya orang lain maka delik pembunuhan dianggap
termasuk dalam alasan pembenar adalah daya
tidak terjadi.
paksa dan pembelaan terpaksa. Dalam Pasal 48
Setiap tindak pidana yang terdapat di dalam
KUHP, dinyatakan bahwa siapa pun yang melakukan
KUHPidana dapat dijabarkan kedalam unsur-unsur.
perbuatan tindak pidana karena pengaruh daya
Unsur sebagai syarat untuk dapat dipidananya suatu
paksa, tidak dipidana. Daya paksa merupakan
perbuatan dari pelaku dan yang muncul dari bagian
perbuatan
umum kitab undang-undang dan asas hukum umum.
fungsi batinnya tidak dapat bekerja secara normal
Untuk menjabarkan suatu rumusan delik ke dalam
karena adanya tekanan-tekanan dari luar, orang itu
unsur-unsurnya, maka
yang harus diperhatikan
dapatdimaafkan kesalahannya. Pembelaan terpaksa,
terlebih dahulu adalah suatu tindakan manusia,
terdiri dari dua kata yaitu pembelaan dan terpaksa.
dimana
telah
Pembelaan yang dimaksud memilki arti bahwa
melakukan sesuatu tindakan yang dilarang oleh
harus ada hal-hal yang memaksa terlebih dahulu
undang-undang. Unsur-unsur setiap tindak pidana
sebelum
tindakan
seseorang
tersebut
88
yang
dilakukan
terdakwa melakukan
orang,
dimana
perbuatannya.
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
Sedangkan, terpaksa diartikan tidak ada jalan lain
Keluarga, dan harta bendanya, serta bebas dari
bagi yang terkena untuk pada saat-saat itu
Ancaman yang berkenaan dengan kesaksian yang
melakukan serangan.
akan, sedang, atau telah diberikannya; ikut serta
2. Perlindungan Hukum Korban Tindak Pidana
dalam proses memilih dan menentukan bentuk
Penusukan dalam Peradilan Pidana
perlindungan dan dukungan keamanan; memberikan
Perlindungan adalah suatu perbuatan untuk
keterangan tanpa tekanan; mendapat penerjemah;
melindungi, memberikan pertolongan. Sedangkan
bebas dari pertanyaan yang menjerat; mendapat
hukum menurut J.C.T. Simorangkir dan Woerjono
informasi mengenai perkembangan kasus; mendapat
Sastropranoto adalah peraturan-peraturan yang
informasi mengenai putusan pengadilan;mendapat
bersifat memaksa yang menentukan tingka laku
informasi
=]manusia dalam lingkungan masyarakat yang dibuat
dirahasiakan identitasnya; mendapat identitas baru;
oleh badan-badan resmi yang berwajib (Simorangkir,
mendapat tempat kediaman sementara; mendapat
& Sastropratnoto, 2010). Perlindungan hukum
tempat kediaman baru; memperoleh penggantian
sebagai suatu gambaran dari fungsi hukum, yaitu
biaya
konsep di mana hukum dapat memberikan suatu
mendapat nasihat hukum; memperoleh bantuan
keadilan, ketertiban, kepastian, kemanfaatan dan
biaya hidup sementara sampai batas waktu
kedamaianDalam
Perlindungan
negara
hukum,
perlindungan
hukum mencerminkan kewajiban dan tanggung
melindungi,
menegakkan
transportasi
hal
terpidana
sesuai
berakhir;
dengan
dan/atau
dibebaskan;
kebutuhan;
mendapat
pendampingan.
jawab yang diberikan dan dijamin oleh negara untuk
menghormati,
dalam
Wujud implementasi perlindungan korban
dan
tindak pidana penusukan sebagai pihak yang
memajukan hak-hak asasi manusia berdasarkan
dirugikan, korbanpun berhak untuk memperoleh
Undang-Undang dan peraturan hukum.
perlindungan atas keamanan pribadi, Keluarga, dan
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 31
harta bendanya, serta bebas dari Ancaman yang
Tahun 2014 tentang Lembaga Perlindungan Saksi
berkenaan dengan kesaksian yang akan, sedang,
dan Korban menyatakan pengertian korban adalah
atau telah diberikannya. Maka sudah sewajarnya
seseorang yang mengalami penderitaan pisik,
apabila nanti korban penusukan mendapatkan
mental, dan atau kerugian ekonomi yang diakibatkan
perlindungan sesuai yang di maksud pasal 5 ayat (1)
oleh suatu tindak pidana. Pasal 5 ayat (1) Undang-
huruf a Undang-undang Perlindungan Saksi dan
Undang Nomor 31 Tahun 2014 (yang selanjutnya
Korban (yang selanjutnya disebut LPSK).
ditulis UU PSK) menjelaskan mengenai hak yang
Berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang No.31
diberikan kepada saksi dan korban yang meliputi:
Tahun
memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi,
korban hak asasi manusia yang berat, korban tindak
89
2014 atau UU PSK menyatakan bahwa
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
pidana terorisme, tindak pidana perdagangan orang,
Jika korban meninggal dunia diatur dalam
korban penyiksaan korban tindak pidana kekerasan
Pasal 7A Ayat (6) Undang-undang Nomor 31 tahun
seksual dan korban penganiayaan berat selain yang
2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban
dimaksud Pasal 5 juga berhak mendapatkan bantuan
menyatakan bahwa LPSK memberikan teknan
berupa medis dan bantuan rehabilitasi serta
kepada pelaku untuk memberikan ganti rugi kepada
psikologis, namun dalam bantuan tersebut diberikan
ahli
berdasarkan keputusan Lembaga Pellindungan Saksi
bertanggungjawab tidak mampu maka sebagai
dan
diadakannya
gantinya LPSK selaku perwakilan dari Negara secara
Pembaharuan terhadap peraturan tersebut agar,
otomatis harus memberikan secara langsung tanpa
ketika ada korban yang dimaksud dalam Pasal 6 ayat
menunggu
(1) UU PSK, Lembaga Perlindungn Saksi dan
Penyidik.
Korban.
Penulis
berharap
waris
korban,
pelaku
jika
ditetapkan
mereka
tersangka
yang
oleh
Korbann sesuai namanya lebih memaksimalkan
Dalam proses penegakan hukum pidana
dalam memberikan perlindungan terhadap para
paling sedikit ada dua pihak yang terkait di dalamnya,
korban, sebab korban yang dimaksud dalam pasal 6
yaitu pihak pelaku tindak pidana (offenders) dan
ayat (1) merupakan korban tindak pidana yang berat
pihak korban kejahatan (victims). Oleh karena itu,
yang semestinya apabila LPSK sebagai lembaga
maka kedua pihak tersebut harus mendapat
yang bertanggung jawab terhadap saksi dan korban
perhatian yang seimbang. Dengan demikian, dalam
mengetahui adanya korban yang dimaksud Pasal 6
proses penyelesaian perkara pidana tidak ada pihak
ayat (1), tanpa menunggu Laporan dari korban.
yang merasa dirugikan baik dipandang dari sudut
Dalam Pasal 7A (1) Undang-undang No 31
penegakan hukum pidana maupun dalam usaha
Tahun 2014 menyatakan Korban kejahatan berhak
penanggulangan kejahatan yang terjadi dalam
mendapat
masyarakat.
restitusi
seperti;
kompensasi
atas
hilangnya penghasiilan mereka; mengganti kerugian
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan
yang disebabkan oleh penderitaan secara langsung
tidak terungkapnya jumlah kriminalitas seperti
yang merupakan hasil dari kejahatan; dan atau biaya
korban yang memang tidak tahu bahwa dirinya
pengantiann perawatan medis dan atau psikologis;
menjadi korban, misalnya kehilangan harta milik yang
Restitusi tersebut dapat diberikan kepada
sama sekali tidak dirasakan, karena harta milik
semua korban termasuk korban penganiayaan dan
tersebut banyak sekali jumlahnya; korban tidak
pemukulan dimana hal ini diatur berdasarkan
mengetahui bahwa secara yuridis ia dapat menuntut
Keputusan Lembaga Perllindungan Saksi dan
kerugian yang ditimbulkan oleh kecurangan pihak
Korban.
lain, misalnya ada kecurangan dalam jual beli barang
konsumsi di toko yang tidak sesuai dengan keadaan
90
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
yang sebenarnya. Dalam hal ini korban tidak tahu
abstrak atau perlindungan tidak langsung, karena jika
atau tidak tahu harus berbuat apa; korban telah
korban tidak membuat permintaaan untuk meminta
bersusah
aparat
perlindungan
penegak hukum, karena dirasakan kerugiannya tidak
mendapatkan
terlalu besar dan dapat diabaikan saja, atau merasa
permohonan tersebut harus di pelajari dan diperiksa
bahwa tidak ada gunanya melaporkan; korban justru
secara rinci saat permohonan yang diajukan dalam
khawatir akan menderita keadaan yang lebih
keadaan mendesak, tekanan dari luar maupun dalam
memalukan jika apa yang dialaminya dilaporkan
dan kerugian yang besar, maka baru LPSK
pada penegak hukum, misalnya dalam hal kejahatan
memberikan perlindungan kepada korban, namun
perkosaan dan kejahatan seksual lainnya sedangkan
Korban sebagai pihak yang dirugikan dalam
korban takut akan terjadinya pembalasan dari pelaku
kejahatan tetapi tidak menerima perhatian secara
jika korban melaporkan kejadian yang menimpa
menyeluruh. Perlindungan korban kejahatan penting
dirinya dan pihaknya merasa tidak ada kepastian
keberadaan penderitaan korban ini penting karena
untuk mendapatkan perlindungan.
keberadaan peneritaan korban kejahata, namun
payah
berhubungan dengan
Perlindungan korban sudah diatur dalam
berakhir
kepada
LPSK,
tidak
perlindungan,
dengan
putusan
bahkan
pengadilan
berakhirnya
1945 mengatur hak asasi manusia pada Pasal 28A
perlindungan, Permohonan yang dibuat oleh korban
sampai 28J, yang menyatakan mengenai hak setiap
atau keluarga dan atau kuasa hukum (advokat)n
orang untuk mendapat atas pengakuan, jaminan,
korban, mendapatkan restitusi serta kompensasi jika
perlindungan, dan kepastian hukum yang adil, serta
korban tidak menjadi aktif mengajukan permintaan
perlakuan
memohon perlindungan korban tidak dapat menerima
sama
di
hadapan
hukum.
Perlindungan terhadap korban kejahatan seperti
korban tindak pidana penusukan
memperoleh
haknnya yang berupa restitusi dan kompensasi.
diteliti
Selain itu kerugian yang dialami para korban
perlindungan korban sudah diatur dalam Undang-
juga dapat berupa mental dan psikis yang saat ini
undang dasar Republik Indonesia Tahun 1945
belum diatur dalam UU LPSK, maka dalam hal ini
mengatur hak asasi manusia pada Pasal 28A sampai
Penulis berpendapat dibutuhkannya kompensasi
28J, yang menyatakan mengenai hak setiap orang
kepada korban yang dalam bentuk biaya hidup
untuk
jaminan,
karena biaya hidup yang diberikan ketika peroses
perlindungan, dan kepastian hukum yang adil, serta
perkara persidangan berlangsung, hal ini akan
perlakuan yang sama di hadapan hukum.Pada saat
memperbaiki mental dan psikis korban, dimana
mengamati Perlindungan hokum terhadap korban
negara maupun pelaku telah memperhatikan korban,
kejahatan penusukan dapat berupa perlindungan
serta jika dibutuhkan korban memperoleh ajaran
mendapat
atas
jika
Untuk
dan
Undang-undang dasar Republik Indonesia Tahun
yang
hukuman.
dan
akan
pengakuan,
91
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
yang bersifat keagamaan seperti memberikan
melakukan kejahatan serupa. Pemidanaan bukan
pembelajaran yang merupakan motifasi bagi para
dimaksudkan
korban dan keluargannya. Oleh karena itu korban
melainkan sebagai upaya pembinaan agi seorang
juga merasa tenang dalam hatinya, maka dari itu
pelaku kejahatan sekaligus upaya preventif terhadap
didalam lembaga perlindungan saksi dan korban
terjadinya kejahatan yang serupa.
sebagai
upaya
balas
dendam
dibutuhkannya seseorang yang mampu memberikan
Sehubungan dengan istilah sistem, dalam ilmu
kompensasi tersebut kepada korban, karena sifart
hukum pidana sering dibicarakan adanya sistem
dari motivasi belajar hal itu akan mendorong korban
pidana dan pemidanaan Dalam Pasal 183 KUHAP
untuk lebih tenang kejiwaanya setelah kejadian yang
menunjukan bahwa hukum acara pidana positif
menimpa korban.
Indonesia menganut sistem pembuktian negatif
Penulis berharap Lembaga Perlindungan
Saksi dan Korban
(negative bewijstheorie) (negative bewijstheorie) atau
diharapkan untuk aktif dalam
yang disebut juga dengan pembuktian Undang-
menangani perlindungan korban, tanpa menunggu
Undang secara negatif (negative wettelijke) (negative
permohonan yang diajukan oleh korban atau
wettelijke). Alasannya karena dalam penerapan
keluarga atau hukum nasihatnya korban, jika
KUHPidana lebih menggunakan cara dan alat-alat
Lembaga tidak mengetahui adanya tindak pidana itu
bukti yang berada dalam Undang-Undang serta
dilakukan, maka informasi permintaan dari polisi atau
dengan keyakinan hakim.
bekerja sama dalam kaitannya dengan kejahatan
Peradilan pidana seharusnya berdasarkan
yang terjadi, polisi untuk lembaga perlindungan saksi
kualitas dan kuantitas dengan penderitaan dan
korban dan kejahatan terkait, sesuai dengan
kerugian yang diderita korban. Dalam Peraturan
Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang
Perundang-undangan yang berlaku belum mengatur
Indonesia polisi Pasal nasional 4 dari tujuan
secara rinci mengenai ganti kerugian yang diberikan
kepolisian nasional Indonesia untuk melakukan
korban tindak pidana penusukan, Sebagaimana
keamanan internal termasuk menjaga ketertiban
diuraikan beberapa bentuk perlindungan terhadap
umum dan keamanan, ketertiban dan aturan hukum,
korban agar perlindungan kepada korban terwujud
pelaksanaan perlindungan , tempat tinggal dan
dan bisa dirasakan oleh koban yakni putusan hakim
pelayanan terhadap perdamaian komunitas dan
yang memuat mengenai ganti rugi, Restitusi dan
masyarakat terbinanya untuk membela hak asasi
Kompensasi.
manusia.
Pemidanaan
Dalam KUHAP istilah ganti rugi diatur dalam
yang
merupakan
tindakan
Pasal 99 ayat (1) dan (2) dengan penekanan pada
seorang penjahat. Pidana dijatuhkan agar pelaku
pengantian biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak
tidak melakukan tindak pidana dan orang lain takut
yang dirugikan atau korban. ini berarti bahwa
92
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
kehilangan yang
dimaksud
adalah
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
kerusakan
undang LPSK terpaku dengan adanya peraturan
material. Sementara itu, kerusakan material tidak
tentang perlindungan diberikan terhadap korban jika
termasuk dalam percakapan hukum acara pidana.
korban membuat permohonan yang diajukan kepada
penggantian kerugian korban berupa memenuhi
LPSK, apabila korban tidak membuat permohonan
kerusakan material dan semua biaya yang telah di
yang diajukan kepada LPSK. Maka ia tidak
keluarkan, dan emossional dari korban. Sedangkan
mendapatkan perlindungan yang berupa restitusi
dari segi kepentingan pelaku, berubah kewajiban
maupun kompensasi.
mereka dilihat sebagai bentuk dari hukuman yang
Dari 3 komponen diatas ialah proteksi yang
dikenakan dan dianggap sebagai sesuatu yang
butuh diterapkan kepada korban, karena sepanjang
konkret, sedangkan restitusi lebih berfokus pada
ini vonis hakim tidak memuatkan ubah kerugian,
tanggung
restitusi
jawab
penulis
konsekuensi
yang
serta
kompensasi,
sehingga
dengan
disebabkan oleh kejahatan sehingga tujuan utama
terdapatnya 3 komponen tersebut proteksi korban
adalah untuk mengatgasi semua kerugian yang
bisa terwujud. Proteksi hukum dalam KUHAP serta
diderita
restitusi,
Undang- Undang Proteksi Saksi Serta Korban belum
kompensasai. Komensasi adalah bentuk dari ganti
bisa dikatakan efisien buat kepentingan serta
rugi yang dapat dilihat dari aspek kemanusiaan dan
penderitaan yang dirasakan korban kejahatan, oleh
hak asasi manusia.
sebab itu KUHAP serta Undang- Undang Proteksi
korban,
Dari
tiga
selain
kompensasi,
komponen
diatas
merupakan
Saksi Serta Korban mengendalikan tentang ubah rugi
perlindungan yang perlu diterapkan kepada korban,
cuma terpaku pada kerugian yang bertabiat materiil
sebab selama ini putusan hakim tidak memuatkan
itupun susah diterapkan kepada korban baik lewat
ganti kerugian, restitusi dan kompensasi, sehingga
lembaga proteksi korban maupun lewat vonis Hakim.
dengan adanya tiga komponen tersebut perlindungan
Karena didalam undang- undang LPSK terpaku
korban dapat terwujud. Perlindungan hukum dalam
dengan terdapatnya peraturan tentang proteksi
KUHAP dan Undang-Undang Perlindungan Saksi
diberikan terhadap korban bila korban membuat
Dan Korban belum dapat dikatakan efektif untuk
permohonan yang diajukan kepada LPSK, apabila
kepentingan dan penderitaan yang dialami korban
korban tidak membuat permohonan yang diajukan
kejahatan, oleh karena itu KUHAP dan Undang-
kepada LPSK. Hingga dia tidak memperoleh proteksi
Undang Perlindungan Saksi Dan Korban mengatur
yang berbentuk restitusi ataupun kompensasi.
tentang ganti rugi hanya terpaku pada kerugian yang
Proteksi
hukum
wajib
cocok
dengan
bersifat materiil itupun sulit diterapkan kepada korban
pandangan hidup pancasila. Indonesia ialah negeri
baik melalui lembaga perlindungan korban ataupun
hukum sepatutnya membagikan proteksi hukum
melalui putusan Hakim. Sebab didalam undang-
terhadap masyarakat masyarakatnya yang cocok
93
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
dengan pancasila spesialnya terhadap korban
Objek Vital yang Strategis, lingkungan hidup atau
kejahatan. Sebab korban merupakan seorang yang
Fasilitas Publik atau fasilitas internasional dapat
sangat dirugikan dalam kejahatan tersebut, Oleh
dikenakan sanksi.
sebab itu proteksi hukum bersumber pada pancasila
Undang-undang
yang
mengatur
tentang
berarti pengakuan serta proteksi hendak harkat serta
pemberian kompensasi restitusi dan bantuan hukum
martabat korban atas dasar nilai keTuhanan,
kepada korban kejahatan diatur dalam Peraturan
kemanusiaan, persatuan ataupun permusyawaratan
pemerintah No.44 Tahun 2008 Tentang Pemberian
dan keadilan sosial.
Kompensasi, Restitusi dan bantuan hukum kepada
Dalam sistem hukum pidana para penegak
saksi dan korban dinyatakan dalam Pasal 2 ayat (1)
hukum dituntut mengedapankan kejujuran serta
menyatakan bahwa korban pelanggaran hak asasi
ketulusan dalam melaksanakan sistem hukum,
manusia
mereka wajib memiliki empati serta kepedulian
Kompensasi.
terhadap
mendapatkan kompensasi sebagaimana disebutkan
penderitaan
korban
tindak
pidana.
Kepentingan terhadap korban( kesejahteraan serta
yang
berat
Korban
berhak
memperoleh
Penusukan
berhak
dalam Peraturan pemerintah No.44 Tahun 2008.
kebahagiaan) wajib jadi titik orientasi serta tujuan
Proteksi korban pada KUHAP penegakan
akhir dalam penyelenggaraan sistem hukum.
hukum kelemahan mendasar merupakan tidak
Dalam contoh kasus Penusukan yang terjadi
terpenuhinya hak korban kejahatan dalam proses
kepada Wiranto, Penusukan termasuk kedalam
penangan masalah pidana ataupun akibat yang wajib
pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam
ditanggung oleh korban kejahatan sebab proteksi
Pasal 340 KUHPidana yang menyatakan bahwa
hukum terhadap korban kejahatan tidak memperoleh
barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih
peraturan yang secara spesial mengendalikan
dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena
menimpa tindak pidana penusukan. Perihal ini bisa
pembunuhan dengan rencana (moord ) (moord),
dilihat dalam KUHAP sedikit Pasal- Pasal yang
dengan pidana mati atau pidana penjara seumur
mangulas tentang korban, pembahasannya juga
hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua
tidak fokus terhadap eksistensi korban tindak pidana
puluh tahun .
melainkan cuma bagaikan masyarakat negeri biasa
Selain melanggar KUHPidana pelaku telah
yang memiliki hak yang sama dengan masyarakat
melanggar Pasal 6 Undang-Undang Nomor 5 tahun
negeri yang yang lain. Sebutan yang digunakan
2018
Pidana
dalam kedudukan dan peran korban. Semacam
Terorisme yang menyatakan bahwa setiap orang
dalam Pasal 160 ayat 1b kitab undang- undang
yang dengan sengaja menggunakan Kekerasan yang
hukum kegiatan pidana disebutkan kalau“ yang awal
mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap
didengar keterangannya merupakan korban yang jadi
tentang
Pemberantasan
Tindak
94
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
saksi”. Dengan demikian posisi korban tindak pidana
ketua sidang atas permintaan orang itu dapat
dalam KUHAP hannyalah bagaikan saksi dari
menetapkan untuk menggabungkan perkara gugatan
sesuatu masalah pidana yang sekedar buat
ganti kerugian kepada perkara pidana itu (Wibowo,
meyakinkan kesalahan terdakwa ataupun tersangka.
2016).
Proteksi hukum wajib cocok dengan pandangan
Pasal 99 ayat (1) KUHAP menyebutkan bahwa
hidup pancasila. Indonesia ialah negeri hukum
Apabila pihak yang dirugikan minta penggabungan
sepatutnya membagikan proteksi hukum terhadap
perkara
masyarakat masyarakatnya yang cocok dengan
sebagaimana dimaksud Pasal 98, maka pengadilan
pancasila spesialnya terhadap korban kejahatan.
negeri menimbang tentang kewenangannya untuk
Sebab korban merupakan seorang yang sangat
mengadili gugatannya tersebut, tentang kebenaran
dirugikan dalam kejahatan tersebut, Oleh sebab itu
dasar gugatan dan tentang hukum penggantian biaya
proteksi hukum bersumber pada pancasila berarti
yang dirugikan tersebut. Ayat (2) kecuali dalam hal
pengakuan serta proteksi hendak harkat serta
pengadilan negeri menyatakan tidak berwenang
martabat korban atas dasar nilai keTuhanan,
mengadili gugatan sebagaimana dimaksud ayat (1)
Kemanusiaan, persatuan ataupun permusyawaratan
atau gugatan tidak dapat diterima, putusan hakim
dan keadilan sosial.
hanya
gugatannya
memuat
pada
tentang
perkara
penetapan
pidana
hukuman
Dalam sistem hukum pidana para penegak
pengantian biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak
hukum dituntut mengedapankan kejujuran serta
yang dirugikan. Ayat (3) berbunyi, putusan mengenai
ketulusan dalam melaksanakan sistem hukum,
ganti
mereka wajib memiliki empati serta kepedulian
kekuatan tetap apabila putusan pidananya juga
terhadap
mendapat kekuatan hukum tetap.
penderitaan
korban
tindak
pidana.
kerugian
dengan
sendirinya
mendapat
Kepentingan terhadap korban( kesejahteraan serta
Pasal 100 ayat (1) KUHAP menyatakan bahwa
kebahagiaan) wajib jadi titik orientasi serta tujuan
apabila terjadi penggabungan perkara perdata dan
akhir dalam penyelenggaraan sistem hukum.
perkara pidana maka pengabungan itu dengan
Kedudukan korban dan perlindungannya tidak
sendirinya berlangsung dalam pemeriksaan tinggat
diatur khusus sebagaimana dikemukakan pada bab-
banding. Ayat (2) menyatakan apabila terhadap
bab terdahulu, korban dalam KUHAP hanya diatur
suatu perkara pidana tidak diajukan permintaan
dalam beberapa Pasal saja. Pasal 98 ayat (1)
banding, maka permintaan banding mengenai
KUHAP menyatakan bahwa Jika suatu perbuatan
putusan ganti rugi tidak diperkenankan.
yang menjadi dasar dakwaan di dalam suatu
Pasal 98- 100 KUHAP ialah Pasal- Pasal yang
pemeriksaan perkara pidana oleh pengadilan negeri
berkaitan dengan hak korban dalam menuntut ubah
menimbulkan kerugian bagi orang lain, maka hakim
kerugian. Mekanisme yang ditempuh merupakan
95
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
mencampurkan masalah gugatan ubah kerugian
disana keberadaan korban kejahatan diperjuangkan
pada masalah pidana. Penggabungan masalah ubah
oleh negeri yang diwakili jaksa penuntut universal
kerugian ialah syarat yang terdapat dalam KUHAP(
dalam peradilan Proteksi korban ialah salah satu
Yulia, 2013). Tetapi syarat Pasal- Pasal tersebut
subsistem dari sistem hukum pidana. Makna sistem
susah diterapkan apalagi tidak terdapat korban yang
dalam bermacam teori yang berpandangan itu tidak
menuntut syarat ubah kerugian dalam KUHAP,
senantiasa jelas serta tidak pula seragam. Dalam
karena dalam prosedurnya di anggap sangat rumit
sistem hukum pidana para penegak hukum dituntut
sekali. Sebab buat mengajukan gugatan ubah rugi
mengedapankan kejujuran serta ketulusan dalam
dikira
yang
melaksanakan sistem hukum, mereka wajib memiliki
mengunakan biayanya diucap bayaran masalah
empati serta kepedulian terhadap penderitaan korban
perdata supaya masalah tersebut bisa di jalankan
tindak pidana. Kepentingan terhadap
cocok syarat majelis hukum. Supaya masalah pidana
kesejahteraan serta kebahagiaan) wajib jadi titik
tentang ganti- rugi ataupun konpensasi tidak susah
orientasi serta tujuan akhir dalam penyelenggaraan
buat diterapkan terpaut dengan proteksi korban
sistem hukum.
dalam
ranah
masalah
perdata
korban(
kejahatan, telah sepantasnya penuntut universal
Undang-undang Nomor 31 tahun 2014 tentang
kedepanya sanggup mencampurkan antara tuntutan
Perlindungan Saksi dan Korban pada Pasal 28
serta gugatan terpaut dengan ubah rugi yang wajib
menyatakan bahwa perlindungan disebutkan dalam
diberikan korban kejahatan. Menimpa gugatan
ayat (1) huruf a sampai huruf d menyatakan bahwa
pidana yang diajukan Jaksa penuntut universal
Perlindungan LPSK terhadap Saksi dan atau Korban
dalam positanya termuat kerugian- kerugian ataupun
diberikan dengan syarat mengenai sifat pentingnya
penderitaan yang dirasakan oleh korban tindak
keterangan Saksi dan atau Korban; tingkat Ancaman
pidana kejahatan berikutnya petitumnya muat
yang membahayakan; hasil analisis tim medis atau
perhohonan
ganti-
psikolog terhadap Saksi dan atau Korban; dan rekam
dimohonkan
kepada
rugi,
kompensasi
majelis
hakim
yang
supaya
jejak tindak pidana yang pernah dilakukan.
membagikan vonis ataupun mengabulkan gugatan
Oleh karena itu kedudukan dan peran korban
dan tuntunya jaksa penuntut universal. Perihal
akan sangat tergantung pada peradilan pidana yang
tersebut berarti sekali menimpa proteksi terhadap
dianut dan dijalankan negara. Jika suatu perbuatan
korban kejahatan. Perihal demikian bisa dicoba
dirumuskan sebagai perbuatan pidana, maka segala
apabila korban belum memperoleh ubah rugi dari
upaya yang perlu dilakukan terhadap perbuatan itu
pelakon. Karena hukum buat manusia spesialnya
menjadi hak monopoli aparat penegak hukum.
orang yang dirugikan( korban) tindak pidana. Apabila
Korban cukup memberikan laporan atau pengaduan,
syarat gugatan digabungkan dengan tuntutan, hingga
tindakan selanjutnya diserahkan kepada aparat
96
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
penegak hukum (polisi). Laporan atau pengaduan
dirinya tidak takut dan dengan sukarela untuk
berguna bagi kepolisian untuk melakukan tindakan
melaporkan perkara yang ia alami kepada penyidik.
penyelidikan. Dengan demikian dalam tingkat
Apabila ganti-rugi tidak didapatkan dan peran korban
penyelidikan kedudukan dan peran korban sebatas
tidak dianggap, maka dapat dikatakan nasib korban
sebagai pelapor dan pembuat aduan. Apabila dalam
memang tragis. Ia sudah mengalami penderitaan,
penyelidikan tersebut kepolisian mendapat kepastian
kerugian atau kehilangan sebagai akibat dari tindak
akan tindak pidana yang terjadi, maka langkah
pidana sama sekali tidak mendapat hak sedikitpun
selanjutnya
penyidikan.
untuk memilih reaksi macam apa dan bagaimana
Peradilan pidana selama ini lebih mengutamakan
cara pelaksanaannya yang layak diberikan terhadap
perlindungan kepentingan pelaku tindak pidana.
pelaku atau paling tidak apa yang harus diperbuat
Padahal peran penegak hukum dalam peradilan
atau dibebankan kepada pelaku untuk meringankan
pidana
berwenang
penderitaannya sebagai korban. Bahkan seringkali
menjatuhkan sanksi pidana, hanya terbatas pada
posisi dan keadaannya dieksploitasi oleh birokrasi
pemberian perlindungan kepada tersangka atau
peradilan demi untuk memperlancar tugas-tugas
terdakwa dan menganggap bahwa kepentingan
normatif yang mereka emban. Kedudukan tidak
dalam memberikan perlindungan kepada korban
menguntungkan yang dialami korban dalam sistem
tindak pidana diwakili oleh jaksa penuntut umum.
peradilan pidana sekarang ini tidak terlepas dari
Lebih baiknya jaksa penuntut umum memiliki
konsekuensi pemisahan yang tajam antara bidang
peraturan yang baku memuat tentang kerugian atau
hukum pidana dengan hukum perdata. Perselisihan
penderitaan korban kejahatan yang harus di
yang terjadi dalam bidang hukum perdata dianggap
kembalikan oleh pelaku tindak pidana, sebab
urusan privat mereka yang berselisih, sehingga
penuntut umum institusi yang mewakili korban tindak
penyelesaiannya di serahkan sepenuhnya oleh para
pidana kejahatan.
pihak. Dengan hal tersebut untuk memberikan peran
adalah
sebagai
melakuakan
institusi
yang
Pengungkapan suatu kasus kejahatan oleh
kepada korban, ia diberi wewenang untuk meminta
korban selamanya tidak berjalan mulus, banyak
ganti rugi yang nantinya diwakili oleh jaksa penuntut
korban yang enggan dan merasa takut untuk
umum.
melaporkan kejadian yang mereka alami, berbagai
ancaman
dan
teror
yang
menakutkan
Proteksi tidak terlepas dari proteksi terhadap
atas
korban, proteksi sangatlah berarti spesialnya kepada
keselamatan dirinya dan keluarganya menjadi alasan
korban. Sebeb korban merupakan pihak yang sangat
penghambat peranan korban tindak pidana dalam
dirugikan dalam kejahatan pidana, hingga hukum
sistem peradilan pidana.Oleh sebab itu peran ganti
wajib sanggup melindungi terhadap kepentingan dan
rugi terhadap korban sangat perlu diterapkan, agar
hak- hak korban. Proteksi hak- hak korban tindak
97
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
pidana kejahatan penusukan belum terdapat pasal
Dengan demikian sistem peradilan pidana
tentu yang mengendalikan menimpa hak- hak
pasti memiliki bagian- bagian yang bisa diucap pula
korban. Dalam KUHAP mengendalikan syarat terpaut
bagaikan sub- sistem, yang bekerja secara sinergis
dengan
restitusi,
buat menggapai tujuan penegakan hukum pidana.
kompensasi yang jelas terhadap korban kejahatan,
Sub- sistem dari peradilan pidana tersebut terdiri dari
dan didalam Undang- Undang Lembaga Proteksi
kepolisian, kejaksaan, majelis hukum( kehakiman),
Saksi serta Korban muat syarat peratuaran pasal
serta
yang jelas, tegas menimpa proteksi hukum restitusi,
institusional ataupun non- institusional.
proteksi
hukum
semacam
lembaga
koreksi,
baik
yang
bertabiat
kompensasi terhadap korban tindak pidana semacam
Di Indonesia tindak pidana terjalin ataupun
lembaga proteksi saksi serta korban membagikan
dilaporkan ataupun diadukan aksi kepada penyelidik
proteksi yang berbentuk restitusi ataupun proteksi
serta penyidik. Penyelidikan dicoba polisi buat
kompensasi dan lembaga dorongan hukum semenjak
mencari serta menciptakan sesuatu pristiwa yang
terdapatnya korban. Bila proteksi terhadap korban,
diprediksi bagaikan tindak pidana guna memastikan
dikala pelakon diresmikan bagaikan terdakwa,
bisa tidaknya dicoba penyidikan. Apabila dalam
tersangka, proteksi tersebut belum dapat dialami
penyelidikan tersebut didapat kepastian kalau
jikalau mengacu pada undangundang LPSK, karena
kejadian yang terjalin ialah tindak pidana, hingga
dalam proses korban buat memperoleh proteksi
polisi hendak melaksanakan penyidikan. Perihal
menunggu
tersebut
vonis
majelis
hukum
yang
telah
supaya
bisa
mencari
ataupun
menetapkan tersangka bagaikan terpidana yang
mengumpulkan fakta guna membuat cerah tentang
telah berkekuatan hukum.
tindak pidana yang terjalin serta menciptakan
Dalam sistem peradilan pidana diharapkan
tersangkanya. Aksi tingkatan penyelidikan serta
bisa melaksanakan guna hukum pidana baik hukum
penyidikan tersebut ialah rangkaian tidakan yang
kegiatan pidana( hukum resmi) ataupun hukum
dicoba oleh kepolisian.
pidana materiilnya. Dengan berjalannya sistem
Oleh sebab itu peran serta kedudukan korban
peradilan pidana sepatutnya ditegakan keadilan,
hendak sangat bergantung pada peradilan pidana
kepastian hukum, hak asasi manusia dalam rangka
yang dianut serta dijalankan negeri. Bila sesuatu
proteksi hukum semacam restitusi kompensasi
perbuatan
terhadap korban. Bagi Sudikno Mertokusumo serta
pidana, hingga seluruh upaya yang butuh dicoba
A. Pitlo, menafsirkan undang- undang tidak boleh
terhadap perbuatan itu jadi hak dominasi aparat
menyimpang dari sistem perundang - undangan
penegak hukum. Korban lumayan membagikan
(Tutik, 2012).
laporan
diformulasikan
ataupun
bagaikan
pengaduan,
aksi
perbuatan
berikutnya
diserahkan kepada aparat penegak hukum( polisi).
98
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
Laporan ataupun pengaduan bermanfaat untuk
sangat butuh diterapkan, supaya dirinya tidak
kepolisian buat melaksanakan aksi penyelidikan.
khawatir serta dengan sukarela buat memberi tahu
Dengan demikian dalam tingkatan penyelidikan
masalah yang dia natural kepada penyidik. Apabila
peran serta kedudukan korban sebatas bagaikan
ganti- rugi tidak didapatkan serta kedudukan korban
pelapor serta pembuat aduan. Apabila dalam
tidak dikira, hingga bisa dikatakan nasib korban
penyelidikan
menemukan
memanglah tragis. Dia telah hadapi penderitaan,
kepastian hendak tindak pidana yang terjalin, hingga
kerugian ataupun kehabisan bagaikan akibat dari
langkah
melakuakan
tindak pidana sama sekali tidak menemukan hak
penyidikan. Peradilan pidana sepanjang ini lebih
sedikitpun buat memilah respon berbagai apa serta
mengutamakan proteksi kepentingan pelakon tindak
gimana metode penerapannya yang layak diberikan
pidana. Sementara itu kedudukan penegak hukum
terhadap pelakon ataupun sangat tidak apa yang
dalam peradilan pidana bagaikan institusi yang
wajib diperbuat ataupun dibebankan kepada pelakon
berwenang menjatuhkan sanksi pidana, cuma
buat meringankan penderitaannya bagaikan korban.
terbatas pada pemberian proteksi kepada terdakwa
Apalagi
ataupun
kalau
dieksploitasi oleh birokrasi peradilan demi buat
kepentingan dalam membagikan proteksi kepada
memperlancar tugas - tugas normatif yang mereka
korban tindak pidana diwakili oleh jaksa penuntut
emban. Peran tidak menguntungkan yang dirasakan
universal. Lebih baiknya jaksa penuntut universal
korban dalam sistem peradilan pidana saat ini ini
mempunyai peraturan yang baku muat tentang
tidak terlepas dari konsekuensi pembelahan yang
kerugian ataupun penderitaan korban kejahatan yang
tajam antara bidang hukum pidana dengan hukum
wajib di kembalikan oleh pelakon tindak pidana,
perdata. Perselisihan yang terjalin dalam bidang
karena penuntut universal institusi yang mewakili
hukum perdata dikira urusan privat mereka yang
korban tindak pidana kejahatan.
berselisih, sehingga penyelesaiannya di serahkan
tersebut
berikutnya
tersangka
Pengungkapan
kepolisian
merupakan
serta
menyangka
sesuatu
acapkali
posisi
serta
keadaannya
permasalahan
seluruhnya oleh para pihak. Dengan perihal tersebut
kejahatan oleh korban selamanya tidak berjalan
buat membagikan kedudukan kepada korban, dia
lembut, banyak korban yang enggan serta merasa
diberi wewenang buat memohon ubah rugi yang
khawatir buat memberi tahu peristiwa yang mereka
nantinya diwakili oleh jaksa penuntut universal.
natural, bermacam ancaman serta teror yang
menakutkan
atas
keselamatan
dirinya
D. SIMPULAN
serta
keluarganya jadi alibi penghambat peranan korban
Peraturan tindak pidana penusukan belum diatur
tindak pidana dalam sistem peradilan pidana. Oleh
secara khusus namum KUHPidana yang menyatakan
karena itu kedudukan ubah rugi terhadap korban
bahwa Penusukan dapat dikategorikan dalam
99
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang
Pasal 340 KUHPidana yang menyatakan diancam
(KUHAP). Jurnal Media Hukum. Vol 23 (No.2),
karena pembunuhan dengan rencana (moord), serta
pp. 128-136.
diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 5 tahun
2018
tentang
Pemberantasan
Tindak
Hukum
Acara
Pidana
Sudarsono. C. (2015). Pelaksanaan Mediasi Penal
Pidana
dalam
Penyelesaian
Tindak
Pidana
Terorisme yang menyatakan Ancaman Kekerasan
Penganiayaan. Unnes Law Journal, Vol.4,
yang menimbulkan rasa takut atau Seharusnya
(No.1), pp.20-34.
tindak pidana penusukan diatur secara khusus
Chandra. (2017). Correlation between theory of
mengenai peraturan perundang-undangannya dan
criminal liability and criminal punishment
korban tindak pidana penusukan harus mendapatkan
toward corporation in indonesia criminal
perlindungan hukum serta Pelaku tindak pidana
justice. Jurnal Dinamika Hukum, Vol.17, (No.
diberikan sanksi yang memberikan efek jera kepada
1), pp.105-111.
pelaku tersebut.
Ediwarman. (2012). Paradoks Penegakan Hukum
Pidana
dalam Perspektif
Kriminologi di
DAFTAR PUSTAKA
Indonesia. Jurnal Kriminologi Indonesia, Vol.8,
BUKU
(No.1), pp. 38-51.
Simorangkir, J.C.T., &
Sastropratnoto, Woerjono.
Hidayat, E. (2016). Perlindungan Hak Asasi Manusia
(2010). Hukum Indonesia. Jakarta: Gunung
dalam Negara Hukum Indonesia. Jurnal Raden
Agung.
Intan Lampung, Vol.8, (No.2), pp. 80-87.
Yulia. (2013). Viktimologi Perlindungan Hukum
Batas, Ewis M. (2016). Tindak Pidana Pembunuhan
terhadap Korban Kejahatan. Yogyakarta:
Berencana Menurut Pasal 340 KUHPidana.
Graha ilmu.
Lex Crimen, Vol. V, (No.2), pp.118-125.
Folman, P. (2018). Penanggulangan Tindak Pidana
SKRIPSI
Terorisme. Binamulia Hukum, Vol. 7, pp.141-
Wijaya, Feiby V. (2017). Tinjauan Yuridis terhadap
156
Tindak Pidana Kekerasan Terhadap Anak
Manarisip, M. (2012 ). Eksistensi Pidana Adat dalam
Universitas
Hukum Nasional. Lex Crimen, Vol.I, (No.4), pp.
yang
dilakukan
oleh
anak.
Hassanudin
24-40.
Maksum, M. (2015). Penerapan Hukum Jaminan
JURNAL
Fidusia dalam kontrak Pembiayaan Syari”ah.
Wibowo, A. (2016). Sumbangan Pemikiran Hak Asasi
Jurnal Cita Hukum, Vol.3, (No.1), pp.1-10.
Manusia
Terhadap
Pembaharuan
Kitab
100
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia
Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
Rohmanto. (2019). Penegakan Hukum terhadap
Tindak Pidana Penipuan Berbasis Transaksi
Elektronik. Jurnal Penelitian Hukum, Vol.19,
(No.1), pp.31-51.
Wahidin, S.(2000). Perlindungan Hukum terhadap
Masyarakat akibat Pemberitaan Pers. Jurnal
Ilmu Hukum, Vol.7, (No.13), pp.130-137.
Punuh,
Stedy
R.
Bertanggungjawab
(2015).
dalam
Kemampuan
Pasal
44
KUHPidana. Lex Crimen, Vol. IV, (No.3),
pp.83-89.
Sudira, I Ketut. (2014). The Construction of Penal
Mediation Model in Handling Family Negclect
Cases in the Future. International Journal of
Education and Research, Vol.2, (No.8), pp.
429-438.
Tutik, Titik T. (2012). Hakikat Keilmuan Ilmu Hukum
ditinjau dari Sudut Filsafat Ilmu dan Teori Ilmu
Hukum. Mimbar Hukum, Vol.24, (No.3),
pp.444-458.
Krismen, Y.(2014). Pertanggungjawaban Pidana
Korporasi dalam Kejahatan Ekonomi. Jurnal
Ilmu Hukum. Vol.4, (No.1), pp. 133-160.
Yosuki, Aska., & Tawang, Dian Adriawan Daeng.
(2018). Kebijakan Formulasi Terkait Konsepsi
rechterlijk pardon (permaafan hakim) dalam
pembaharuan hukum pidana di Indonesia.
Jurnal Hukum Adigama, Vol.1, (No.1), pp.1-25.
Amalia, Rizki., Siswanto, Heni., & WN, Damanhuri.
(2017). Analisis Yuridis Penegakan Hukum
Pidana Terhadap Tindak Pidana Penipuan
101
Bisnis Online. POENALE ; Jurnal Bagian
Hukum Pidana, Vol.5, (No.3), pp.1-11.
Download