1 Kristus dan Penderitaan Makalah yang disampaikan dalam Diskusi Online Wesleyan Talk Tanggal 12 Mei 2020 Oleh: Pdt. Tahir Widjaja, MTh Pengantar Mengapa Tuhan sepertinya tidak bertindak untuk mengusir dan menghancurkan segala kejahatan dan bencana yang menyebabkan penderitaan? Mengapa Dia yang Mahakuasa sepertinya membiarkan segala bencana dan penderitaan ini terjadi? Kalau memang Dia adalah Mahabaik mengapa Dia tidak menolong ku/kita? Ataukah benar seperti yang dikatakan orangorang yang tidak percaya, bahwa semua bencana dan kejahatan ini membuktikan bahwa Tuhan itu tidak mahakuasa dan tidak mahabaik? Bagi beberapa orang, mempertanyakan kemahakuasaan Tuhan dan kebaikan Tuhan adalah pertanyaan yang kurang beriman tetapi sebenarnya secara eksistensial, pertanyaan ini akan selalu muncul dan meminta jawaban dari kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan. 1 Tesis dan keyakinan yang ingin disampaikan dalam artikel kecil ini adalah bahwa Kristus adalah jawaban ultimat dari Tuhan Allah terhadap persoalan kejahatan dan kerusakan baik moral maupun alamiah yang menyebabkan penderitaan bagi manusia. Tuhan Allah menjawab dengan tuntas masalah kejahatan dan penderitaan melalui Kristus yang telah menyediakan dirinya mati bagi manusia berdosa dan dibangkitkan memberikan pengharapan dan kehidupan manusia. Jawaban ini bagi beberapa orang terdengar klise tetapi menurut saya, belum ada jawaban baik dari ateisme, deisme, humanisme, dan segala isme dan kepercayaan lainnya, lebih daripada Kristus yang menjadi manusia, mati dan bangkit kembali. Kejahatan (Evil) dan Penderitaan (Suffering/Pain) Sebagai pengantar, kita perlu memberikan penjelasan bahwa yang disebut “evil” dalam dunia teologi dan fifsafat itu mencakup baik “moral evil” yaitu kejahatan yang membawa penderitaan yang disebabkan atau dilakukan oleh manusia baik secara individu maupun secara kelompok. Sedangkan Natural Evil (Kejahatan alamiah) adalah kejahatan yang tidak berhubungan langsung dengan tindakan moral manusia seperti wabah, gempa, angin topan, tsunami, meteor dan lain sebagainya.2 1 Dalam Teologi dan Filsafat, persoalan ini dibahas dalam tema besar Theodicy. Pembahasan standard mengenai ini dapat dibaca dalam buku John Hick, sedangkan bacaan populer yang sudah diterjemahkan adalah tulisantulisan dari Philip Yancey John Hick, Evil and the God of Love (New York: Palgrave Macmillan, 2010); Philip Yancey, Where Is God When It Hurts? A Comforting, Healing, Guide for Coping with Hard Times (Grand Rapid Michigan, 49530: Zondervan, 1990). 2 Hick, Evil and the God of Love, 3–12. 2 Dalam world view nya pemikiran rasionalisme Barat, kejahatan karena Kuasa Kegelapan dari Satan, memang tidak dibicarakan, tetapi dalam world view kita orang Asia, kejahatan karena kuasa kegelapan dapat kita masukkan sebagai salah satu kategori Evil (Kejahatan).3 Kita tidak memungkiri bahwa ada penderitaan dan kesakitan yang terjadi karena dosa manusia baik secara langsung dan pribadi maupun secara sosial, misalnya pola makan yang salah akan membawa kita kepada penyakit, atau ketidakpedulian masyarakat terhadap lingkungan akan menjadi penyebab banjir, kebakaran hutan, maupun polusi.4 Tetapi sesudah PD ke-2, khususnya peristiwa Holocoust, masalah kejahatan dibedakan antara kejahatan yang dianggap “biasa” dan kejahatan yang luar biasa (radical evil) seperti genocide, pembunuhan dan penyiksaan terhadap anak-anak dan wanita, serta kejahatan mengerikan lainnya. Radical Evil ini menjadi satu tantangan yang serius bagi orang-orang percaya yang memegang kemahakuasaan dan kemahabaikan Allah dalam segala sesuatu yang terjadi di tengah-tengah kehidupan manusia.5 Free Will Theodicy dan Soul Making Theodicy Para teolog dan orang-orang Kristen sepanjang zaman telah mencoba memberikan jawaban dan respon terhadap masalah bencana, kejahatan dan penderitaan ini dalam hubungan dengan kemahakuasaan dan kebaikan Tuhan Allah itu dalam berbagai bentuk: Pertama, kita perlu memberikan sedikit penjelasan mengenai apakah kejahatan itu 1. Free Will Theodicy. Agustinus (354-430 AD), Bapa Gereja yang paling terkemuka adalah pemberi dasar utama dari Free Will Defense ini. 6 Secara ringkas dapat pemikirannya dapat dijabarkan demikian: a. Tuhan adalah Pencipta yang mahakuasa dan mahabaik dan maha sempurna, menciptakan manusia, malaikat dan alam semesta ini. Dia adalah Pencipta dan penguasa satu-satunya dan tidak ada yang bisa disamakan dan disetarakan dengan Tuhan Allah. (Agustinus menolak pemikiran Manichaisme yang bersifat dualisme) b. Tuhan tidak pernah menciptakan dan sumber dari kejahatan. Kejahatan dan kerusakan bukanlah rancangan Allah dan bertentangan dengan kemahakuasaan dan kemahabaikan Tuhan Allah. Mengutip kitab Kejadian, Agustinus menyatakan bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu dalam kebaikan baik 3 Lihat kritik Bishop Methodist Hwa Yung akan teologi Barat yang kurang memberikan ruang dan perhatian kepada world view keagamaan Timur yang percaya akan kuasa supranatural. Hwa Yung, Mangga Atau Pisang? Sebuah Upaya Pencarian Teologi Kristen Asia Yang Autentik (Surabaya: LIteratur Perkantas Jatim, 2017). 4 Pembahasan yang jelas mengenai masalah pain dapat dibaca dalam karya C.S. Lewis C.S. Lewis, The Problem of Pain (New York: Harper & Row, Publishers, 2001). 5 Lihat Percakapan antara Ivan Karamazov yang mempertanyakan dunia yang diwarnai dengan radikal evil kepada saudaranya Alyosha Fyodor Dostoyevsky, The Brother Karamazov (London: Penguin Book, 2003), 309–21. 6 Hick, Evil and the God of Love, chap. 1 dan 2. 3 c. d. e. f. g. h. bentuk, ukuran, maupun urutan dan susunannya dari yang paling kecil dan sederhana sampai yang paling besar dan komplek. Kejahatan yang membawa kerusakan dan penderitaan itu muncul dari mana kalau kejahatan itu bukan ciptaan? Agustinus mengemukan satu faktor utama kejahatan muncul adalah karena penggunaan kehendak bebas manusia. Tuhan Allah “tidak bisa” menciptakan manusia tanpa memberikan kehendak bebas kepada manusia untuk memilih antara sepenuhnya taat dan mengasihi Tuhan atau mengalihkannya kepada objek lain yang lebih rendah. Kejahatan dan kerusakan muncul karena penggunaan yang salah dari kehendak bebas, yaitu peralihan dari menginginkan Allah sebagai kebaikan tertinggi kepada menginginkan yang lebih rendah dari Allah. Karena manusia menginginkan yang lebih rendah, maka terjadilah kerusakan baik bentuk maupun kedudukan yang seharusnya. Kerusakan dari susunan dan bentuk yang ideal dari kehidupan, ini seperti bangunan yang indah dan kokoh menjadi runtuh karena tidak lagi pada tempatnya. Maka di sini Evil atau kejahatan muncul menimbulkan kerusakan dan penderitaan karena dosa. Evil bukanlah ciptaan Tuhan Allah tetapi muncul karena manusia tidak lagi menginginkan kebaikan yang tertinggi yaitu Tuhan Allah sendiri. Sebagai kesimpulan, Agustinus dalam menjawab persoalan kejahatan dan penderitaan tetap mempertahankan kemahakuasaan dan kebaikan dan hikmat Tuhan Allah, dan meletakkan persoalan ini pada penggunaan free will manusia dan juga para malaikat. Pandangan yang dikemukakan oleh Agustinus ini telah menjadi pandangan klasik dan paling umum dipegang oleh kekristenan Barat dan modern sampai sekarang ini. John Wesley dalam masalah theodicy ini juga memegang posisi pandangan ini. Jadi John Wesley tidak membuat satu theodicy yang baru dan khas. John Wesley membagi masalah kejahatan dalam tiga kategori penyebabnya: natural, moral dan penal (hukuman).7 2. Soul Making Theodicy. Sebelum Agustinus, sebenarnya Ireneus (130-202 AD), Bapa Gereja Latin, telah memberikan penjelasan mengenai masalah kejahatan dan penderitaan ini dari sudut pandang yang berbeda dari Agustinus. Walaupun pandangan ini tidak begitu mengemuka dan populer, tetapi juga mempengaruhi beberapa pemikir Kristen seperti Schleiermacher, John Hick dan juga dalam beberapa pemikiran CS Lewis. a. Penjelasan Agustinus bagi John Hick yang mengangkat kembali pemikiran Ireneus, masih meninggalkan pertanyaan yang tidak terjawab, yaitu 7 Pembahasan mengenai theodicy Wesley dapat dibaca dalam buku Thomas C. Oden, John Wesley’s Scriptural Christianity: A Plain Exposition of His Teaching on Christian Doctrine (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1994), 101–32; G.F. Hubbartt, “The Theodicy of John Wesley,” The Asbury Seminarian 12, no. 2 (1958): 15–18; Jerry Walls, “As The Waters Cover The Sea: John Wesley On The Problem Of Evil,” Faith and Philosophy 13, no. 4 (1996): 534–62. 4 b. c. d. e. f. darimanakah keinginan manusia dalam free will nya itu untuk memilih melawan Tuhan dan bukan menaatinya, padahal manusia dicipta dari ex nihilo artinya belum tercemar oleh dosa dan memang belum ada dosa. Bukankah Adam dan Hawa diberikan lingkungan yang “sempurna” di taman Eden dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Tuhan dan juga dengan binatang dan alam. Pertanyaan darimanakah datangnya keinginan manusia untuk melawan Tuhan, juga dijawab oleh Agustinus bahwa dia tidak tahu darimana datangnya pilihan itu. Ireneus mempunyai pandangan yang unik dan berbeda dari pemikiran yang mendominasi gereja Barat mengenai dosa dan kejatuhan. Bagi Ireneus, kejahatan dan penderitaan di tengah-tengah dunia adalah memang satu keniscayaan dan satu keperluan bagi manusia untuk bertumbuh menuju keserupaan dengan Tuhan. Manusia dicipta menurut gambar Tuhan (image of God) tetapi manusia harus menuju kepada keserupaan (likeness) dengan Tuhan melalui proses pematangan yang hanya mungkin kalau ada penderitaan dan kejahatan. Ketika manusia di tempatkan di taman Eden, manusia diberikan jarak dan pilihan bebas oleh Tuhan untuk memilih tetap mengasihi Tuhan atau mengasihi sesuatu selain Tuhan. Tuhan itu seperti seorang bapak yang baik yang ingin mendidik anak-anaknya, bukan melalui kesenangan tetapi juga melalui pergumulan dan tantangan. Dalam kemahakuasaan dan kebaikan Tuhan Allah, Dia bisa secara rela membatasi dirinya dan membiarkan kejahatan dan penderitaan ada tetapi dengan tujuan untuk pertumbuhan dan kematangan jiwa manusia. Jadi bagi Ireneus, masalah dari segala penderitaan dan kejahatan itu tidak terutama dicari pada penciptaan dan kejatuhan tetapi pada tujuan akhirnya (teleologis) melayani maksud Tuhan Allah bagi manusia. Itulah sebabnya, pengharapan akan kehidupan sesudah kematian dalam Kristus itu menjadi sangat penting dalam menjawab permasalahan penderitaan dan kejahatan yang mungkin saja tidak mendapatkan jawaban selama hidup di tengah-tengah dunia ini. Jadi kesimpulannya adalah bahwa dalam pandangan ini menekankan bahwa penderitaan adalah satu keharusan untuk membentuk manusia menjadi serupa dengan Kristus. Beberapa Review terhadap Kedua Pandangan ini: 1. Kekuatan dari pandangan Free Will Theodicy menekankan jawaban logis terhadap penderitaan dan kejahatan pada kehendak bebas manusia yang disalahgunakan yang kemudian mempengaruhi seluruh aspek hidup baik pribadi, keluarga, masyarakat, 5 2. 3. 4. 5. bangsa dan bahkan alam lingkungan. Kejahatan dan penderitaan yang dialami selalu mengingatkan kita untuk kembali kepada Dia. 8 Pandangan Soul Making Theodicy menekankan pada maksud dan tujuan daripada penderitaan dan kejahatan yang ada untuk membentuk manusia menjadi satu pribadi yang makin serupa dengan Tuhan Sang Pencipta. Kedua pandangan ini lebih bersifat metafisika atau pemikiran yang logis dan intelektual untuk membuktikan bahwa Tuhan itu tetaplah mahakuasa dan mahabaik walaupun di tengah-tengah dunia ada kejahatan dan penderitaan. Ini mungkin sesuai dengan konteks kekristenan Barat yang menghadapi tantangan dari rasionalisme, atheisme dan skeptisme tetapi menurut penulis, kedua pandangan ini belum menjawab persoalan kejahatan dan penderitaan secara nyata. Jawaban dari kedua pandangan ini sulit untuk diterapkan khususnya dalam pastoral ketika berhadapan dengan pertanyaan mengapa ada radical evil. Penderitaan atau kesakitan dalam beberapa ukuran memang dapat diterima sebagai sesuatu yang harus dialami untuk mendapatkan suatu hasil yang lebih baik. Misalnya, dulu kita harus minum obat yang sangat pahit untuk dapa sembuh; atau misalnya para olahragawan harus mengalami sakit otot bila mau mendapatkan kekuatan otot yang membuat dia menjadi pemenang. Atau kita berbuat salah dan kita menerima konsekuensinya. Tetapi apakah memang ada maksud baik yang bisa timbul daripada kejahatan yang sangat brutal dan radikal mengerikan misalnya, perkosaan dan pembunuhan dengan sadis terhadap anak-anak kecil, genoside, dan juga pertanyaan yang timbul dari natural evil yang mengerikan. Dapatkah kita mengatakan kepada ibu yang anaknya diperkosa dan dibunuh bahwa ada Tuhan memang menetapkan itu terjadi atau mengizinkan itu (hampir tidak ada bedanya) atau ada maksud kebaikan Tuhan yang akan diberikan melalui peristiwa ini? Ini memerlukan sekedar jawaban rasional tetapi tindakan belas kasih. Kristus Yesus: Allah yang Turut Menderita Tanpa membuang kedua pendekatan theodicy ini, menurut saya kita perlu kembali kepada jawaban yang paling esensial dari Tuhan Allah di dalam Alkitab. Kekristenan adalah mengenai Kristus dan karya-Nya, jawaban terhadap kejahatan dan penderitaan ada di dalam Kristus sendiri yang telah berinkarnasi, mati di atas kayu salib, bangkit dan hidup serta akan datang kembali untuk kedua kalinya. Ini berarti jawaban Tuhan Allah terhadap persoalan manusia yaitu dosa, kejahatan dan penderitaan bukan terutama melalui rumusan logika berpikir tetapi melalui tindakan dari Sang Kebenaran itu sendiri. Sesudah berulang kali Tuhan Allah berbicara kepada umat-Nya melalui para nabi-nabi, maka di zaman akhir ini, Dia berbicara 8 Theng Huat Leow, “The ‘Augustinian’ and ‘Irenanean’ Models of Theodicy: Possibilities for Reconciliation” (Paper, Theodicy Class TTC, Singapore, 2010). 6 melalui Kristus sendiri. Dia adalah Sang Firman yang menjadi manusia. (Yohanes 1:4; Ibrani 1:1). 9 Di dalam keseluruhan karya dari Kristus, kita dapat melihat kasih Allah dan kuasa Allah yang Maha itu dinyatakan bukan menurut cara berpikir manusia tetapi pikiran dan hikmat dari Tuhan. Manusia dalam penderitaan dan keberdosaan lebih memerlukan Juruselamat dan Penebus daripada Guru Selamat dan Formulasi Kebenaran. Manusia memerlukan kehadiran Tuhan, dan anugerah Nya sehingga dapat menyadari status dan keberadaannya yang papa dan karena itu berharap kepada Dia saja 1. Inkarnasi Kristus menyatakan bahwa Tuhan yang Roh adanya yang tak terselami dengan kerelaan, kuasa dan kasihNya sendiri telah mengambil rupa manusia. Dia merasakan persoalan dan pergumulan seperti yang dialami oleh manusia. Dia bukan Tuhan yang jauh tetapi menjadi dekat dan sama dengan kita. Dialah Allah Immanuel. 2. Kristus yang mati menjadi kurban untuk menebus dosa kita. Karena Tuhan bersedia mengambil rupa manusia, maka Dia layak dan mampu untuk menjadi penebus bagi dosa manusia. Di atas salib, Kristus telah menerima penghinaan, penolakan, isolasi diri, dan ditinggalkan oleh Bapa dan manusia. Kristus adalah Tuhan yang menjadi manusia untuk menerima segala hukuman atas kuasa dosa, maut dan kegelapan. Dia adalah Allah yang turut menderita bersama kita dan untuk kita. Dialah Kristus Sang Penebus. 3. Kristus yang hidup dan bangkit. Kristus yang mati dan menebus kita adalah juga Tuhan yang bangkit dan memberi hidup kita. Kristus yang telah menderita dan mati adalah juga Kristus yang bangkit dan hidup. Ini adalah jawaban terhadap penderitaan dan kejahatan tetapi juga adalah kemenangan yang Tuhan berikan kepada setiap orang yang percaya. Kristus adalah Kristus yang bersama dengan kita “berperang” melawan kuasa dosa, kuasa kegelapan dan kuasa maut. Dialah Kristus yang Menang 4. Kristus yang akan datang menyempurnakan dalam kemuliaan sempurna. Kristus yang bangkit dan naik ke sorga dan akan datang kembali untuk menyempurnakan segala sesuatu. Kedatangan dan kemuliaan Kristus itu adalah satu pengharapan kita akan menerima kasih dan keadilan yang sempurna melampaui segala kejahatan dan penderitaan di tengah-tengah dunia. Dia adalah Kristus Sang Anak Domba Allah yang akan menegakkan Kerajaan Nya secara sempurna. Dialah Kristus yang Mulia. Kesimpulan dan aplikasi: 1. Tuhan bukanlah sumber kejahatan tetapi dalam providensia-Nya, Dia bisa mengizinkan kejahatan dan penderitaan terjadi. John Lennox dalam bukunya yang terbaru dengan bijaksana menyatakan : “Pengajaran Kristen sangatlah jelas bahwa tidak semua bencana dan penyakit adalah penghukuman Allah (seperti dalam kasus Ayub) namun ada 9 Kazoh Kitamori sebagaimana dikutip dalam bukunya AA Yewangoe menyatakan bahwa Allah memecahkan penderitaan manusia melalui penderitaanNya sendiri. Lihat A.A. Yewangoe, Theologia Crucis Di Asia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 224. 7 perkara-perkara yang memang merupakan penghakiman Allah dan Allah ingin manusia bertobat (mis. 1 Korintus 11:20). … Waspadalah atas siapa pun yang menafsirkan rasa sakit akibat kejahatan alamiah (termasuk COVID-19) sebagai sebuah penghakiman ilahi. Namun setara dengan itu, waspadalah juga terhadap siapa pun yang berkata bahwa Allah tidak bersuara melalui pandemi ini” 10 2. Dia mengizinkan tetapi Dia tidak membiarkan kita menghadapi sendiri karena Dia tahu kita tidak mampu sebagai manusia berdosa yang jatuh. Dia bersama kita dalam menghadapi penderitaan ini. Tetapi Dia sudah naik ke sorga, apakah Dia kembali meninggalkan kita? Dia tetap hadir melalui Roh Kudus, melalui gereja dan melalui setiap pribadi yang disentuh oleh kasih Nya. Di manakah Allah ketika penderitaan itu datang dan terjadi? Pertanyaan ini seharusnya ditukar menjadi Di manakah gereja sebagai tubuh Kristus ketika penderitaan itu terjadi dan datang? Kita adalah tangan, mulut, kaki, telinga Tuhan di tengah-tengah dunia yang menderita. Yang paling utama bukan mempertanyakan Tuhan, tetapi mempertahankan apakah gereja sebagai tubuh Kristus ada dan berkarya di tengah-tengah penderitaan mewakili Kristus? 2 Korintus 1:3-4 berbunyi: “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacammacam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” Kita melihat tindakan dan sikap orang Kristen sepanjang zaman terhadap bencana dan penderitaan adalah seperti yang dinyatakan oleh Martin Luther: “Kita berkorban menjaga kota. Dokter-dokter Kristen tidak boleh meninggalkan rumah sakit, pejabat-pejabat Kristen tidak boleh melarikan diri, pendeta-pendeta Kristen tidak boleh mengabaikan jemaatnya. Wabah ini tidak menghapus tanggung jawab kita: wabah ini mengubah tanggung jawab kita menjadi salib-salib, yang mana kita harus siap untuk mati.” 11 3. Kita menantikan langit dan bumi yang baru melalui kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Pengharapan ini bukanlah ilusi tetapi jangkar bagi hidup kita sekarang ini. Banyak hal yang terjadi, kita tidak memiliki jawabannya di dunia ini, tetapi mari berjalan terus dalam iman, pengharapan dan kasih, maka nanti kita akan memahami karena berjumpa dengan Sang Hidup dan Hikmat. 11 John C. Lennox, Where Is God on A Coronavirus World? ( Di Manakah Allah Dalam Dunia Dengan Virus Corona) (Surabaya: LIteratur Perkantas Jatim, 2020), 68. Bandingkan dengan pendapat John Piper bahwa virus Corona adalah memang dikirim oleh Allah. John Piper, Coronavirus and Christ (Crossway: Wheaton, Illionis, 2020), 42. 8 “Terry Waite menyatakan bahwa sepertinya kekristenan tidak mengurangi penderitaan dengan cara apapun. Yang dilakukannya adalah memampukan kita untuk menerimanya, menghadapinya, memecahkannya, dan akhirnya mengubahnya” 12 God weeps with us so that we may one day laugh with him Jürgen Moltmann 12 Philip Yancey, Mengapa Engkau Meninggalkan Aku? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), 120. 9 Bacaan dan Kepustakaan: Dostoyevsky, Fyodor. The Brother Karamazov. London: Penguin Book, 2003. Hick, John. Evil and the God of Love. New York: Palgrave Macmillan, 2010. Hubbartt, G.F. “The Theodicy of John Wesley,.” The Asbury Seminarian 12, no. 2 (1958): 15–18. Lennox, John C. Where Is God on A Coronavirus World? ( Di Manakah Allah Dalam Dunia Dengan Virus Corona). Surabaya: LIteratur Perkantas Jatim, 2020. Leow, Theng Huat. “The ‘Augustinian’ and ‘Irenanean’ Models of Theodicy: Possibilities for Reconciliation.” Paper presented at the Theodicy Class TTC, Singapore, 2010. Lewis, C.S. The Problem of Pain. New York: Harper & Row, Publishers, 2001. Oden, Thomas C. John Wesley’s Scriptural Christianity: A Plain Exposition of His Teaching on Christian Doctrine. Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1994. Piper, John. Coronavirus and Christ. Crossway: Wheaton, Illionis, 2020. Walls, Jerry. “As The Waters Cover The Sea: John Wesley On The Problem Of Evil,.” Faith and Philosophy 13, no. 4 (1996): 534–62. Yancey, Philip. Mengapa Engkau Meninggalkan Aku? Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016. ———. Where Is God When It Hurts? A Comforting, Healing, Guide for Coping with Hard Times. Grand Rapid Michigan, 49530: Zondervan, 1990. Yewangoe, A.A. Theologia Crucis Di Asia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009. Yung, Hwa. Mangga Atau Pisang? Sebuah Upaya Pencarian Teologi Kristen Asia Yang Autentik. Surabaya: LIteratur Perkantas Jatim, 2017.